Tampilkan postingan dengan label Jackson Pearce. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jackson Pearce. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 April 2012

Sweetly



Sweetly

Melody Violine (Terj.)
Penerbit Atria – Cet. I, November 2011
401 hal.
(Swap sama nophie)

Kenangan buruk tentang menghilangnya saudari mereka tidak pernah hilang dari benak Gretchen dan Ansel. Di masa kecil, ketika mereka bermain-main di hutan, sebuah makhluk bermata kuning yang diyakini Gretchen sebagai penyihir sudah mengambil saudari kembarnya. Sementara Ansel berusaha bersikap realistis bahwa saudarinya itu hilang di dalam hutan.

Beranjak dewasa, nama saudari yang hilang itu masih belum berani diucapkan dengan terang-terangan. Ibu dan ayah mereka meninggal dalam duka. Dan mereka berdua pun diusir dari rumah mereka oleh ibu tiri mereka.

Mobil mereka mogok dan mereka pun ‘terdampar’ di sebuah  kota kecil, Live Oak. Kota yang nyaris ditinggalkan penghuninya. Sebagian penduduknya adalah warga veteran. Salah seorang berbaik hati untuk mengantar mereka ke rumah Sophia Kelly, pemilik toko cokelat yang cantik tapi dibenci oleh penduduk Live Oak. Di rumah ini, Ansel bekerja untuk mendapatkan upah guna memperbaiki mobilnya. Tapi, satu hari… dua hari.. akhirnya mereka pun menetap. Bahkan Ansel jatuh cinta pada Sophia.

Sophia yang cantik ini menyimpan rahasia. Ia kerap dikaitkan dengan menghilangnya gadis-gadis di kota itu setiap kali Festival Cokelat diselenggarakan. Toko cokelat milik Sophia ini adalah toko cokelat turun-temurun. Sophia mewarisi toko ini dari ayahnya yang meninggal ‘tercabik-cabik’.

Gretchen berusaha menyelidiki apa terjadi di balik menghilangnya 8 gadis berusia 18 tahun itu, kenapa Sophia begitu ketakutan setiap mendapatkan kiriman sebuah cangkang, kenapa ia bersikeras mengadakan Festival Cokelat meskipun ia tahu ada penolakan dari warga Live Oak.

Kalau buku pertama, Sisters Red ‘mengadaptasi’ cerita anak-anak Gadis Kecil Bertudung Merah, kali ini Jackson Pearce mengambil latar belakang cerita Hansel and Gretel. Rumah permen yang menarik hati digantikan dengan toko cokelat.

Buat gue, cerita Sweetly lebih ‘menegangkan’. Misterinya lebih bikin penasaran, dari awal dibuat penasaran dengan nama kembaran Gretchen,  belum lagi misteri cangkang dan siapa sebenarnya Sophia? Dan ada hubungan apa antara Sophia dengan Fenris – si serigala jadi-jadian itu, belum lagi misteri adik Sophia, yang bernama Naida. Kalau di Sisters Red, Fenris berulang kali muncul, di buku ini, Fenris jadi makhluk misterius yang baru ketahuan belakangan. Dan kalau di Sisters Red banyak adegan perkelahian, di Sweetly ceritanya lebih kalem… ketegangan muncul bukan dari perburuan Fenris, tapi justru dari rahasia-rahasia yang banyak itu.

Sweetly memang sekuel dari Sisters Red, tapi kalau pun belum baca Sisters Red, gak perlu bingung atau ketinggalan cerita. Ini bukan cerita bersambung, hanya ada benang merah aja yaitu si Fenris.
Read more »

Rabu, 20 April 2011

Sisters Red

Sisters Red (Dua Saudari Bertudung Merah)
Jackson Pearce @ 2010
Ferry Halim (Terj.)
Penerbit Atria – Cet 1, Februari 2011
432 Hal.

Kehidupan Scarlett dan Rosie March tiba-tiba berantakan ketika seorang pria misterius datang ke rumah mereka di suatu siang. Pria misterius itu tidak hanya merengut nyawa Oma March, hingga menyebabkan mereka harus bertahan hidup berdua, tapi juga mengakibatkan Scarlett kehilangan mata kanannya dan mempunyai bekas luka di sekujur tubuhnya.

Pria yang menawarkan jeruk itu bukanlah manusia sesungguhnya, ia adalah seorang (atau seekor?) Fenris, atau serigala jadi-jadian, atau yang biasa kita kenal dengan sebutan werewolves. Tapi, ow, jangan bayangkan werewolves ini seperti Jacob di Twilight Saga, di sini Fenris itu sangat mengerikan. Awalnya, mereka menyamar sebagai pria ganteng, rapi dan berlaku baik-baik, tapi begitu mereka berubah, sangat mengerikan dan menjijikan. Korban mereka adalah gadis-gadis muda yang gampang tergoda oleh rayuan pria. Mereka biasanya ada di tempat ramai tapi cenderung terpisah, mereka akan menggiring korban ke tempat yang gelap dan sepi dengan segala bujuk rayu, baru kemudian mereka perlahan-lahan berubah menjadi Fenris.

Kejadian mengerikan itu, membuat Scarlett bertekad untuk memburu para Fenris sampai habis. Ia menjadi sangat protektif terhadap Rosie. Meskipun ia menganggap Rosie sebagai rekannya dalam berburu, tapi sangat berat bagi Scarlett membiarkan Rosie berburu sendiri. Rosie yang cantik adalah umpan yang tepat untuk Fenris. Dengan kostum jubah merah lengkap dengan tudungnya, Scarlett dan Rosie memancing para Fenris untuk mendekat. Di balik jubah merah, tersembunyi senjata yang mematikan.

Semakin lama, berburu Fenris menjadi semacam obsesi bagi Scarlett. Baginya jika ia bersantai dan lengah sedikit, berarti akan ada gadis lain yang menjadi korban. Ia merasa tugasnyalah untuk menyelamatkan dunia ini dari Fenris. Tapi tidak bagi Rosie, yang diam-diam jatuh cinta pada sahabat mereka sejak kecil, Silas. Silas tak lain, adalah partner mereka juga dalam berburu. Dan Scarlett kerap marah setiap perhatian mereka berdua teralihkan dari berburu. Sementara Rosie merasa ia harus setia pada Scarlett yang sudah berkorban begitu besar untuk menyelamatkan nyawanya.

Masalahnya sekarang ini, adalah pergerakan Fenris yang semakin cepat, karena mereka sedang berburu Calon Fenris baru – seorang putra ketujuh dari putra ketujuh, tepat sebelum datangnya bulan purnama. Scarlett semakin tegang, sementara Rosie dan Silas – meskipun dengan rasa bersalah – menginginkan kehidupan lain di luar berburu. Mereka berburu hingga ke Atlanta, untuk mencegah jangan sampai Fenris menemukan sang Calon.

Yang pertama menarik perhatian gue, tentu saja covernya. Setelah sekian lama tertunda, akhir gue berhasil mendapatkan novel ini lewat barter dengan My Milky Way. Gue suka dengan ketiga tokoh utama dalam novel ini. Scarlett, yang sangat protektif, sampai-sampai dia lupa ada dunia lain yang begitu luas. Terkadang ia minder dengan luka-lukanya. Si Cantik Rosie, yang rapuh, tapi pintar dalam hal melempar pisau. Ia masih kerap gugup ketika menghadapi Fenris, tapi jadi berani saat orang-orang yang dia sayangi dalam bahaya. Sementara Silas, seolah menjadi sahabat, pelindung, penyeimbang bagi mereka berdua. Memang agak mengerikan ya, ngebayangin dua perempuan, remaja, bertarung melawan serigala jadi-jadian. Kena cakar, udah biasa… nyium bau yang *hueeekkk*, juga biasa… Lempar kapak, ok… lempar pisau… ok juga… Dan yang pasti, jangan sampai Fenris itu lolos, karena mereka akan jadi lebih lapar, dan mencari mangsa lebih banyak.
Read more »