Tampilkan postingan dengan label history. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label history. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Oktober 2011

Putri Ong Tien

Putri Ong Tien: Kisah Perjalanan Putri China Menjadi Istri Ulama Besar Tanah Jawa
Winny Gunarti @ 2010
GPU - 2010
200 hal.,
(hasil swap sama gadisgerimis)

Putri Ong Tien – putrid Kaisar Hong Gue di masa Dinasti Ming. Ada apa dengan beliau? Yang menjadi Putri Ong Tien disebut dalam sejarah Indonesia, karena ia adalah salah satu istri ulama besar Indonesia, yaitu Sunan Gunung Jati atau dikenal juga dengan nama Syarif Hidayatullah.

Sebagai putri kaisar, Putri Ong Tien mengikuti semua aturan yang telah ditetapkan oleh kaisar sebagai Anak Langit. Meskipun Kaisar menyayangi Putri Ong Tien, tapi tidak setiap saat mereka bisa bertemu dan berbicara dengan santai. Hari-hari Putri Ong Tien dihabiskan dengan mempelajari kaligrafi Cina dan filsafat Cina. Putri Ong Tien adalah putri yang kritis, kala salah satu selir raja tertimpa musibah, ia merasa iba, tapi tak berdaya untuk membebaskan selir itu dari hukuman raja.

Pada masa itu pula, penyebaran agama Islam sudah sampai ke Cina. Bahkan salah satu daerah di Cina, yaitu kota Xian jadi daerah yang populasi penduduk Islam paling banyak. Terbetik kabar bahwa seorang ulama dari Jawa bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit tanpa obat-obatan seperti yang selama ini dilakukan oleh para tabib Cina. Beliau hanya meminta orang yang sakit itu melakukan gerakan-gerakan sholat dan Insya Allah, sembuhlah orang itu. “Kesaktian’ ulama itu terdengar sampai ke telinga Kaisar. Tapi, sebagai Kaisar itu tidak percaya begitu saja dengan berita itu. Maka diundanglah ulama itu ke Kerajaan dan diminta untuk membuktikan kebenaran atas kesaktiannya itu.

Kaisar sudah mempersiapkan sebuah tebakan. Tapi sayang, Kaisar yang merasa dipermalukan mengusir ulama itu dari istana. Ulama itu – sang Sunan Gunung Jati – akhirnya pergi, tapi meninggalkan ‘penderitaan’ pada Putri Ong Tien. Putri Ong Tien jatuh cinta pada pria yang baru ia lihat. Kecakapan dan tutur kata Sunan Gunung Jati mampu merebut hatinya. Demi bertemu kembali pria pujaannya itu, Putri Ong Tien rela meninggalkan Cina, mengarungi lautan yang ganas menuju tanah Jawa.

Kompleks Pemakaman Keramat Sunan Gunung Jati
via budayacirebon

Putri Ong Tien pun menikah dengan Sunan Gunung Jati dan memeluk agama Islam. Hari-harinya di Cirebon dihabiskan dengan membatik. Ia pun memperkenalkan motif-motif baru. Putri Ong Tien meninggal dunia karena sakit. Ia dimakamkan di Kompleks Pemakaman Keramat Sunan Gunung Jati. Dinding di depan makam Putri Ong Tien dihiasi dengan keramik asal Cina yang ia bawa ketika berlayar ke Tanah Jawa.

Wah, banyak pengentahuan baru yang gue dapat dari membaca buku ini. Salah satunya nih, asal kata kota Palembang. Hihihi.. gue memang orang Palembang yang ‘kafir’. Meskipun gue berpikir, “Pe-de banget putri ini, berlayar jauh-jauh demi cinta.” Halahh…. :D

Tapi gue rada bingung, apakah buku ini dikategorikan sebagai ‘historical fiction’ atau bukan? Dan apa maksudnya dengan fakta-fiksi? Di belakang buku ini kategorinya adalah non-fiksi/sejarah.
Read more »

Rabu, 24 Agustus 2011

Presiden Prawiranegara

Presiden Prawiranegara:

Kisah 207 Hari Syafruddin Prawiranegara Memimpin Indonesia


Akmal Nasery Basral

Mizan Pustaka, Cet. I – Maret 2011

370 hal.



Mungkin tak banyak yang tahu, atau menyadari, bahwa Republik Indonesia pernah dipimpin oleh seorang ‘presiden’ bernama Syafruddin Prawiranegara. Yah, jujur sih… gue aja baru nyadar sekarang.. hehehe…



November 1948, mungkin awal mula dari sejarah ini. Ketika Bung Hatta menjemput Syafruddin Prawiranegara yang kala itu menjabat sebagai Menteri Kemakmuran, untuk segera berangkat ke Bukittinggi. Bukittinggi adalah salah satu wilayah di Indonesia yang tidak termasuk dalam negera federal. Beliau terpaksa meninggalkan istri dan anak-anaknya yang masih kecil-kecil di Yogyakarta. Meskipun menjabat sebagai menteri, tapi kehidupan beliau dan keluarga begitu sederhana. Istri beliau bahkan harus berjualan sukun goreng demi menyambung hidup kala Syafruddin bertugas di Bukittinggi.



Beliau pun akhirnya ‘terjebak’ di Bukittinggi. Bulan Desember 1949, kemerdekaan Indonesia baru berumur 4 tahun. Tapi, rupanya Belanda masih aja ‘penasaran’. Terikat perjanjian yang isinya Belanda harus mengakui kedaulatan Indonesia, ternyata tidak membuat Belanda mundur. Ternyata mereka melakukan serangkaian serangan yang membuat Republik Indonesia kembali berada dalam keadaan genting.



Yogyakarta, kala itu yang menjadi ibukota Indonesia, sudah tidak aman. Rapat darurat diadakan. Jenderal Sudirman, dalam keadaan sakit parah, memilih untuk melakukan perang gerilya. Sampai akhirnya Bung Karno, Bung Hatta dan beberapa orang lainnya dikenakan tahanan rumah, dan kemudian diasingkan ke Bangka.



Untuk menjaga agar Indonesia ‘tetap ada’ dan jangan sampai pemerintahan lumpuh, pejabat pemerintahan di Bukittinggi akhirnya membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia, dengan Mr. Syafrudding Prawiranegara sebagai ketuanya. Keadaan yang tidak aman, memaksa anggota PDRI untuk melakukan perjalanan, berpindah-pindah tempat, melewati hutan rimba. Semua demi menjalankan roda pemerintahan Indonesia.



Kisah lain yang memberi ‘warna’ pada buku ini adalah kisah si Kamil Koto, mantan copet yang akhirnya insyaf, dan ikut dalam perjalanan Syafruddin sebagai tukang pijat. Melalui berbagai kesempatan berbincang dengan Syafruddin, Kamil menemukan banyak hal – selain mendapat jodoh - yang membuatnya menjadi manusia yang lebih b aik pada akhirnya. Tak hanya itu, lewat perbincangan ini pula, kehidupan masa kecil Syafruddin terungkap.



Tapi sayang, di masa-masa Orde Baru, justru peran Syafruddin seolah terlupakan. Ia dianggap tokoh yang berseberangan dengan pemerintah kala itu. Gue sih gak ngerti politik (dan kadang gak mau tau), tapi, ada bagusnya juga kalo para pejabat pemerintahan sekarang nih, baca buku ini.



O ya, satu bagian yang ‘mencuri perhatian’, adalah ketika Bung Karno dan Bung Syahrir ditempatkan di dalam satu rumah saat di pengasingan, Bung Syahrir marah-marah karena Bung Karno yang katanya ‘pandir’ dan ‘bodoh’.



Read more »

Rabu, 17 Agustus 2011

Kuantar ke Gerbang

Kuantar ke Gerbang: Kisah Cinta Ibu Inggit dengan Bung Karno

Ramadhan K.H

Penerbit Bentang – Cet. I, Maret 2011

431 hal.



Waktu pertama belajar sejarah, yang gue ketahui Ibu Negara, istri Bung Karno adalah Ibu Fatmawati. Baru belakangan, dari buku-buku yang gue baca, dari majalah, koran dan lain-lain, gue tahu kalau istri beliau tidak hanya Ibu Fatmawati. Dan baru kemudian lagi, gue tahu, sebelum menikah dengan Ibu Fatmawati, Bung Karno pernah dua kali menikah, dengan Ibu Utari dan Ibu Inggit. Mungkin nama Ibu Utari tidak banyak terdengar, karena pernikahan itu juga hanya seumur jagung. Berbeda dengan Ibu Inggit, meskipun jarang dibahas, tapi beliau adalah sosok yang berpengaruh dalam kehidupan Bung Karno, terutama di awal-awal perjuangan kemerdekaan. Melalu buku ini, yang judulnya menurut gue ‘sangat romantis’, gue pun mengetahui kisah cinta antara Ibu Inggit dan Bung Karno.



Pertemuan itu diawali ketika Kusno (nama kecil Bung Karno) tinggal di rumah Ibu Inggit dan suaminya, Kang Sanusi. Tujuan Bung Karno datang ke Bandung adalah untuk menyelesaikan pendidikannya di Institut Teknologi Bandung. Ibu Inggit pun menerima kedatangan Bung Karno – beserta istrinya, Ibu Utari di rumah itu. Meskip



Sosok Ibu Inggit yang sederhana, penuh kasih dan lemah lembut, ternyata membuat hati Bung Karno ‘bergetar’. Tak peduli usia Ibu Inggit yang jauh lebih tua dan masih berstatus istri orang, Bung Karno ‘nekat’ melontarkan kata cinta. Ibu Inggit pun ternyata tak mampu ‘menolak’ pesona seorang Soekarno. Meskipun masih muda, tapi penuh tekad dan tegas.



Urusan rumah tangga masing-masing pun diselesaikan dengan baik-baik, dan mereka pun menikah. Dalam sosok Ibu Inggit, Bung Karno menemukan sosok seorang ibu mengemongnya dan istri yang melayani dengan setia dan juga seorang teman mau mendengar ide-ide dan pandangan-pandangannya.



Sepak terjang Bung Karno di dunia politik membawa mereka pada keadaan yang tak menentu. Belanda terus mencurigai segala pergerakan Bung Karno, sampai akhirnya beliau dan beberapa temannya dijebloskan ke penjara. Tak mudah bagi Ibu Inggit untuk menengok Bung Karno. Tapi, berkat kesabaran dan doa yang tak putus, mereka bisa bertemu kembali.



Ibu Inggit tetap setia mendampingi bung Karno meskipun harus ikut ke tempat pengasingan, pertama di Pulau Ende, Flores dan kemudian ke Bengkulu. Tak sekali pun Ibu Inggit mengeluh, yang ada justru semangat yang terus diberikan kepada Bung Karno untuk terus berjuang dan sabar. Meskipun di saat berpidato, Bung Karno bolehlah disebut ‘singa podium’, tapi di samping Ibu Inggit, beliau layaknya anak lelaki kecil yang ingin dimanja.



Namun, ternyata di Bengkulu inilah, pernikahan mereka mengalami cobaan. Bung Karno tertarik dengan seorang gadis yang pernah tinggal bersama dengan mereka di rumah – bernama Fatmawati. Bung Karno yang masih muda, ingin mempunyai keturunan sendiri, sementara Ibu Inggit tidak mampu memenuhi keinginan Bung Karno. Bung Karno tetap bersikeras menikahi Fatmawati, dan Ibu Inggit tidak mau dimadu, maka pernikahan mereka pun harus berakhir dengan perceraian.



Meski hatinya sakit dan cemburu, tapi Ibu Inggit tetap mendoakan Bung Karno agar terus selamat dan tetap berjuang untuk kemerdekaan rakyat Indonesia.



… bahwa sesungguhnya aku harus senang pula karena dengan menempuh jalan yang bukan bertabur bunga, aku telah mengantar seseorang sampai di gerbang yang amat berharga.



Hal. 415


Pertama yang menarik perhatian gue, tentu saja judulnya, tapi gue masih ragu-ragu, karena jarang gue berhasil menyelesaikan membaca buku seperti ini. Thanks to Om Tan, yang berbaik hati, merelakan buku ini ‘jalan-jalan’ sebentar ke Jakarta. Dari buku ini, gue gak hanya belajar sejarah, tapi juga ‘mengenal’ sosok seorang Inggit Ganarsih – sosok perempuan yang tak berharap apa-apa, kecuali melayani suami dengan kasih sayang yang tulus.



Buku ini ditulis berdasarkan wawancara langsung dengan Ibu Inggit Ganarsih, dibantu anak angkat Ibu Inggit dan Bung Karno – Ratna Djuami dan Kartika.

Read more »

Senin, 27 Juni 2011

Sendratari Mahakarya Borobudur

Sendratari Mahakarya Borobudur
Timbul Haryono, Sutarno Haryono, Maryono & Soegeng Toekio
Penerbit KPG - 2011
142 hal.

Buku Sendratari Mahakarya Borobudur ini, gue peroleh dari hasil menang quiz di twitter. Buku ini terbagi dari 3 bagian.

Bagian pertama adalah sejarah Borobudur. Dari bagian ini, gue jadi tau, kalo Belanda gak hanya bisa ‘menjajah’ Indonesia, tapi justru ikut membantu di awal restorasi Candi Borobudur ini. Gue jadi bersyukur Borobudur ini gak dihancurkan meskipun saat itu sudah tertutup semak belukar dan dalam kondisi yang rusak.

Candi Borobudur menyimpan banyak filosofi. Dari relief-relief yang terpahat di dinding batu yang melingkar di Candi Borobudur, terlihat berbagai perilaku manusia plus hukuman yang menanti. Candi Borobudur dibangun atas perintah Raja Samaratungga. Saat itu keadaan kacau balau, kejahatan merajalela, saling menindas dan rakyat menderita. Untuk itulah, ayah Raja Samaratungga, merasa wajib untuk membawa rakyatnya ke jalan yang benar. Raja Samaratungga mengaplikasikan keinginan ayahnya ke dalam bentuk candi yang berisi ajaran-ajaran hidup.

Bagian kedua adalah tentang sendratari Mahakarya Borobudur itu sendiri. Tarian ini bercerita tentang riwayat pembangunan Candi Borobudur. Adegan per adegan terpapar dengan rinci di sini. Detail pakaian, aksesoris, musik, tata panggung dan cahaya. Semua dipersiapkan dengan matang, agar pada saat pementasan betul-betul menunjukkan kemegahan Candi Borobudur, dan juga sendratari itu sendiri.

Sementara di bagian terakhir, dijelaskan awal mula terbentuknya ide untuk pementasan sendratari ini. Selain untuk melestarikan budaya sendratari itu sendiri, juga ada keinginan untuk menjadikan Candi Borobudur ini ‘hidup’ di malam hari. Diharapkan dengan adanya sendratari ini, wisatawan baik domestik maupun luar negeri, akan memperoleh pengalaman baru dari kunjungan mereka ke Candi Borobudur.

Di bagian belakang buku ini, selain ada penjelasan tentang istilah-istilah yang dipakai dalam tarian-tariannya, juga ada foto-foto selama pementasan itu sendiri. Foto-fotonya cukup jelas, tapi menurut gue, akan lebih baik kalo disisipkan di bagian dua,. Jadi pembaca gak perlu bolak-balik untuk nyari penjelasan antara adegan yang ditulis dengan fotonya.

Gue membayangkan, seandainya gue bisa menyaksikan pementasan Sendratari Mahakarya Borobudur ini, gue pasti bakal merasa merinding. Ahhh.. jadi pengen ke Borobudur lagi.

Read more »