Tampilkan postingan dengan label baca bareng BBI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label baca bareng BBI. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 Agustus 2012

Treasure Island


Judul   : Treasure Island
Pengarang    : Robert Louis Stevenson
Penerjemah  : Mutia Dharma
Penyunting    : Ida Wajdi dan Pujia Pernami
Isi                 : H. Mahfudin
Cetakan        : 1, April 2011 , 353 halaman
Penerbit        : Atria




Limabelas orang dalam peti mati—Yo-ho-ho dan sebotol rum”

            Bicara tentang Pulau Harta Karun, tentunya tidak bisa dilepaskan dari bajak laut dan kapal layar bertiang tiga. Dan, kisah tentang para bajak laut yang menguasai lautan dan menyembunyikan harta hasil jarahan atau rampasannya di sebuah pulau terpencil mungkin adalah salah satu kisah petualangan yang paling disukai. Dalam hal ini, novel Treasure Island karya R.L. Stevenson ini adalah epiknya, sang inisiator pertama, karya yang muncul pertama kali dan menginspirasi kisah-kisah lainnya tentang bajak laut. 

          Jauh sebelum bajak laut muncul dalam Peter Pan atau dalam film Pirates of the Caribbean (yang dimainkan dengan sangat bagus sekali oleh Johnny Depp), R.L. Stevenson telah merangkai sebuah cerita hebat tentang bajak laut, yang kemudian disebut-sebut sebagai novel pertama tentang bajak laut. Begitu fenomenalnya novel ini, hampir-hampir tidak ada cerita sejenis lain yang dituliskan sebelumnya, sehingga menjadikan Treasure Island ini begitu dikenang dan masuk dalam 1001 Books to Read before Die.

            Treasure Island bercerita tentang petualangan seorang anak muda berusia 17 tahun bernama Jim Hawkins. Awalnya, Jim hanyalah seorang anak muda biasa yang berupaya membantu keluarganya mengelola penginapan bernama Admiral Benbow. Namun, jalan hidupnya berubah drastis ketika penginapan mereka mendapatkan kunjungan dari seorang bajak laut tua yang pemarah dan sangat menyeramkan bernama Billy Bones dengan bekas luka sayatan di wajahnya. Pria itu membawa serta sebuah peti misterius. Singkat cerita, Adminal Benbow kembali kedatangan tamu asing, bajak laut juga sehingga terjadi semacam pertumpahan darah yang menewaskan Billy. Dengan ketakutan karena penginapan mereka kini menjadi sasaran para bajak laut, Jim dan ibunya membuka peti milik Billy dan menemukan sebuah peta menuju harta karun. Peta inilah yang akan mengubah jalan hidup Jim untuk selamanya.

            Dengan membawa serta Dokter Livesey, Hakim Trelawney, dan Kapten Smollett, berangkatlah Jim untuk mencari harta karun itu dengan sebuah kapal layar bertiang tiga bernama HISPANIOLA. Dalam pelayaran itu, mereka membawa serta seorang tukang masak berkaki pincang, yang ternyata adalah Long John Silver, pimpinan bajak laut paling ganas di dunia. Suatu malam, tanpa sengaja, Jim mendengarkan pembicaraan rahasia antara Silver dan para awak kapal yang dibawanya, ternyata mereka semua adalah anggota bajak laut yang tengah menyamar dan hendak merencanakan makar untuk mengambil alih kapal. Jim tidak tinggal diam. Ia segera melapor pada Kapten Smollett dan kawan-kawan. Sehingga ketika akhirnya HISPANIOLA tiba di pulau harta, yakni Pulau Tengkorak, seluruh awak HISPANIOLA telah terbagi menjadi dua, yakni kelompok orang-orang jujur (dengan Jim di dalamnya) dan kelompok perompak mematikan yang dipimpin oleh Long John Silver. Dan kedua kubu pun saling bertarung. Pistol menyalak, mesiu meledak, sabetan pedang menyayat, dan pukulan terlontar.

            Untungnya, peta masih berada di tangan Hakim Trewlaney sehingga untuk sementara mereka ada di atas angin. Namun, Jim berbuat kesalahan dengan keluar dari kelompok dan kemudian berupaya mengambil alih HISPANIOLA. Dengan keberuntungan, ternyata ia berhasil mengalahkan salah seorang bajak laut dan kemudian mengemudikan HISPANIOLA ke ceruk tersembunyi. Namun, sial, ia tertangkap oleh komplotan Silver saat ia hendak mencari teman-temannya di pulau. Maka, dimulailah upaya besar-besaran untuk menjelajahi pulau demi menemukan harta karun legendaris itu. Apakah Jim berhasil selamat dari cengkraman Long John Silver? Apakah harta karun itu benar-benar ada? Siapakah orang asing yang telah tinggal di Pulau Tengkorak dan mengamati Jim? Silakan dibaca sendiri.

            Treasure Island memiliki cerita yang simpel, namun sangat khas dan berkarakter. Membaca buku ini, kita akan dibawa ke era penjelajahan samudra, saat dunia masih begitu luas dan tak terpetakan, saat mengarungi lautan adalah hal yang cukup berbahaya, dan masa-masa ketika bajak laut merajai lautan. Penggambaran karakter yang khas Inggris, lengkap dengan detail yang mampu menggambarkan masa-masa petualangan zaman lama, benar-benar dapat dijumpai dalam buku ini. Membacanya, kita seolah ikut merasakan hembusan angin samudra, gempuran ombak nan ganas, layar kapal yang terkembang, dan pemandangan Pulau Tengkorak yang muncul di ufuk. Pun, adegan perkelahian dengan pistol dan pedang, serta intrik-intrik yang diselingi dengan humor para gentleman khas Inggris, semuanya diramu apik dalam novel petualangan ini. Ilustrasi menawan di dalamnya juga cukup memberi kesegaran dalam lembar-lembar halamannya. Sungguh, buku luar biasa ini memang harus dibaca (paling tidak sekali) dan menjadi bagian dari perpustakaan pribadi maupun umum, agar semua orang bisa turut terlarut dalam petualangan besar di dalamnya. 

          Resensi ini dibuat dalam rangka posting bareng BBI dengan tema 1001 Books to Read before Die. Mari isi hidup dengan membaca! 
Read more »

Kamis, 28 Juni 2012

Dracula


Judul    : Dracula Pengisap Darah
Penulis : Bram Stoker
Penerjemah/Penyadur   : Olenka Munif
Penyunting                    : Floriberta Aning
Penerbit                        : Narasi
Cetakan                        : Pertama, 2007, 160 halaman.





Ada beberapa makhluk vampire. Dracula adalah vampire jahat yang paling kuat yang pernah ada. Tenaganya setara dengan dua puluh pria dan semakin meningkat setelah hidup lebih dari seribu tahun. Ia mampu mengubah diri menjadi binatang buas…. Ia dapat mengendalikan cuaca, membuat kabut, angin dan badai. Ia dapat mengendalikan makhluk yang hidup berkelompok. Ia tidak memiliki bayangan, dan pantulan sosoknya juga tidak muncul dalam permukaan air atau cermin. Ia dapat berubah menjadi kepingan-kepingan kecil dan menghilang begitu saja. (hlm 90)

Dracula, novel rekaan karya Bram Stoker ini menghadirkan suasana kelam dan suram khas era Gothic. Sebuah cerita horor tentang makhluk supranatural yang  disebut-sebut sebagai salah satu cerita klasik paling menyeramkan yang pernah ditulis dalam bahasa Inggris. Begitu seram dan gelapnya makhluk rekaan dalam novel Bram Stoker ini sehingga tidak terhitung banyaknya film dan buku yang terinspirasi oleh novel ini. Teror dan kengerian yang dibawa oleh makhluk rekaan tersebut begitu gelapnya sehingga banyak pembaca akan bergidik duluan bahkan sebelum membaca novel ini.

Dracula mengisahkan tentang sepak terjang mahkluk gelap yang suka mengisap darah manusia yang masih hidup. Adalah Jonathan, seorang pemuda yang mendapat tugas aneh untuk mengunjungi sebuah properti milik seorang pelanggan nyentrik yang tinggal di wilayah Transilvania, mungkin di sekitar negara Albania di Eropa Timur. Begitu anehnya pelanggan yang mengatakan hendak membeli rumah di Londonitu karena ia tidak pernah terlihat di siang hari dan tidak suka dengan keberadaan cermin. Kastil tempat dia tinggal juga begitu menyeramkan dan mendirikan bulu roma. Karena penasaran, Johnatan pun memutuskan untuk berkeliling ke kastil sang Count Dracula, di mana ia menemukan sebuah rahasia gelap yang sangat kejam sekaligus menyeramkan: peti mati vampire.

Segera setelah itu, Mina—tunangan John—dan temannya Lucy, menjadi korban-korban pertama dari sang Count yang telah “dikapalkan” ke London. Lucy digigit dan ditulari hingga ia meninggal dan berubah menjadi vampire. Setiap malam, ia bangkit dari makamnya demi memperoleh darah segar dari seorang yang masih muda. Arthur, calon suami Lucy dan Jack, teman dekat Lucy yang menyadari keanehan ini segera mengontak profesor Van Helsing, gurunya Jack (ingat dengan film tentang pemburu vampire yang juga bernama Van Helsing?). Dari berbagai literatur yang ia baca, Van Helsing akhirnya menyadari bahwa mereka tengah menghadapi sejenis mahkluk dengan kuasa gelap yang akan menyebarkan kejahatan di muka bumi, yakni Dracula.

Persiapan pun dibuat, beragam perlengkapan disiapkan. Bersama-sama, mereka harus bahu membahu mengejar dan menghalangi upaya Count Dracula yang hendak mencari mangsa di Inggris. Walaupun kuat, ternyata Dracula punya kelemahan. Mereka sangat takut pada aroma bawang putih, salib, dan air suci. Vampir juga dapat dibunuh dengan menancapkan pasak kayu tepat ke jantungnya. Namun, pertma-tama, mereka harus membersihkan dan menyegel peti-peti mati yang dibawa oleh Count Dracula ke Inggris.  Akhirnya, mereka berhasil menghalangi upaya si mahkluk kegelapan, walaupun kali ini Mina terpaksa menjadi korban gigitan sang raja vampire. Mengingat posisinya yang rentan, Dracula pun melarikan diri kembali ke Transilvania dengan satu peti mati yang belum sempat disucikan oleh Van Helsing.

Maka dimulailah pengejaran dan balap adu cepat antara kereta yang mengangkut peti mati Dracula dengan kelompok Van Helsing. Jonathan, Jack, dan Arthur harus berjuang sekuat tenaga menghadang kereta tersebut sementara Van Helsing berjuang menjaga Mina agar tidak kalah di dekat kastil drakula. Pertempuran antara kuasa kegelapan dengan orang-orang dengan keteguhan hati luar biasa pun pecah. Sementara Jonathan dan kelompoknya memacu kuda demi mengejar Drakula, Van Helsing dan Mina harus menghadapi musuh-musuhnya sendiri, tiga wanita vampire peliharaan Drakula. Dengan pengetahuan yang ia miliki, Van Helsing berhasil memasak jantung tiga gadis kegelapan itu sekaligus mensucikan peti mati utama milik sang Drakula di kastilnya. Di lain tempat, Jonathan dan rombongan berhasil mengejar kereta kuda yang mengangkut peti mati berisi drakula. Dengan keberanian serta keteguhan hati yang tak tergoyahkan, ia memasak jantung si raja kegelapan dengan pasak kayu, melenyapkan makhluk gelap tersebut dari muka bumi untuk selamanya.

Membaca versi simplified dari Dracula saja sudah cukup menghadirkan suasana kelam dan muram ala era Gothic. Lalu, bagaimana kesan yang akan muncul saat kita membaca edisi yang asli? Pastinya kesan seram itu akan lebih terasa. Tentang kisah ini sendiri, ada berbagai spekulasi yang berkembang di kalangan para sastrawan sekaligus peneliti sejarah, terkait dengan siapa tokoh yang menjadi inspirasi bagi Bram Stoker untuk menulis novel gelap ini. Ada yang mengaitkan sosok Drakula dengan Vlad Tepes, seorang penguasa di Albaniayang memiliki hobi menyula alias menusuk para musuh dan saingannya pada tiang kayu. Sosok yang benar-benar ada dalam sejarah ini hidup sekitar tahun 1400-an dan begitu ditakuti akan kekejamannya sebelum akhirnya ia dikalahkan oleh pasukan kerajaan Turki Utsmani.

Entah terinspirasi atau tidak, kisah tentang Drakula sendiri sudah cukup membuat pembaca bergidik dan kemunculannya kali pertama dalam bentuk novel telah meneguhkannya sebagai salah satu novel klasik dari era gothic. Sayangnya, saya tidak bisa menemukan versi utuh dari novel ini yang diterbitkan oleh GPU karena saya cek di toko buku on line katanya sudah “tidak tersedia”. Jika melihat versi simplified­-nya yang begitu mendirikan bulu roma, versi aslinya pasti  akan lebih membuat pembaca selalu memasang matanya ke arah jendela, memperhatikan dengan cermat sekiranya ada kelelawar besar dengan taring yang mencuat panjang.
Menurut kepercayaan lama, ada tanda-tanda ketika seorang vampire sedang mencari mangsa. Di tengah, setiap anjing yang ada di desa akan mulai mengaum ke arah bulan… Itulah saat ketika orang-orang kehilangan akal, ketika yang waras menjadi gila, dan yang gila menjadi waras. (100)

Read more »

Selasa, 19 Juni 2012

Chiru’un, Disciples of Luan (Si gadis dari Suku Selatan)



Judul                      : Chiru’un, Disciples of Luan (Si gadis dari Suku Selatan)
Penulis                  : Tasfan
Editor                     : Ratna Mariastuti
Korektor                 : A.S. Sudjatna
Sampul                  : Moon Eclipse Studio
Cetakan                 : Pertama, Mei 2012
Penerbit                 : DIVA Press



                Sekitar tiga tahun yang lalu, dunia fiksi Indonesia sempat dihebohkan oleh novel Tanril, sebuah novel  semisilat-fantasi yang ditulis dengan sangat apik oleh Nafta Shintiel Meika. Tanril begitu memuaskan pembaca yang mengharapkan adanya gebrakan baru dalam dunia fiksi-fantasi lokal sehingga inilah satu di antara sedikit fiksi fantasi lokal yang mendapat bintang empat di Goodreads. Kalau saja bukan karena model lay out­-nya yang memusingkan mata karena setiap dialog dicetak miring semua, tentu banyak yang akan memberi nilai hampir sempurna. Untungnya, penulis tidak berlama-lama menghilang, ia muncul kembali dengan prekuel dari Tanril, yang mengisahkan apakah Luan itu (yang menjadi sesuatu yang begitu misterius di Tanril), apakah Dao Di itu, dan mengapa pergerakan takdir bisa sedemikian cepat di padang-padang rumput selatan dan Zirconia.

                Kisah diawali dengan munculnya Suku Selatan yang menguasai dunia bagian selatan dengan lima konfederasinya. Salah satunya adalah Konfederasi Bayu yang memiliki tugas melindungi sebuah suku suci penjaga rahasia suci alam semesta yang konon telah ada bahkan sebelum Dewa Maha Kuasa dan Maharaja Dunia Clem muncul. Rahasia itu bernama luan, dan inilah kisah tentang rahasia itu. Adalah Chiru’un, seorang gadis kecil bandel yang bersama delapan gadis lainnya dari Suku Selatan telah terpilih sebagai para pewaris luan yang selanjutnya. Mereka semua dikumpulkan oleh Sang Wanita Suci Penguasa Luan, Anbelle yang  bertugas menjaga cahaya pelangi suci, luan itu sendiri.

         Manusia hidup mengabdi pada kewajiban
         Karenanya hatinya sesungguhnya
         Lebih tinggi dari gunung
         Lebih dalam dari lautan
         Karena jiwanya sesungguhnya murni
         Hanya terlihat setelah tempaan dan beban
         Ia bisa mengatasi segalanya dan melepas segalanya
         Itulah inti dari jalan pelangi

                Sembilan anak suci itu kemudian dikumpulkan dan dididik di Balai  Bayourunaa, sebuah bangunan biara di tengah padang rumput tempat Anbelle, sang Tetua Tertinggi Penguasa tinggal. Di tempat inilah Chiru’un dan delapan gadis lainnya ditempa, baik fisik, pikiran, dan terutama hati mereka dalam jalan pelangi. Tidak ada asal-usul, atau karakter, atau perbedaan fisik atau apapun yang dipertahankan disini, mereka semua adalah sama, sesama saudari yang diikat oleh tali pelangi yang menyatukan mereka. Hari-hari dijalani dengan berlatih menyulam dan bersemadi, masuk ke alam pelangi itu sendiri. Dari yang semula hanya menjahit dengan benang biasa, akhirnya sembilan pewaris luan itu bisa mengeluarkan benang-benang cahaya sewarna pelangi dari jari mereka. Inilah wujud luan yang paling dasar.

                Segera saja, mereka larut dalam kegembiraan. Segera saja, mereka berlomba menghasilkan aneka bentuk benang-benang cahaya  yang mampu menipu mata dan bisa digunakan untuk melihat cahaya tak kasat mata. Saat itulah Chiruun mampu memahami potensi besar dalam diri, sebuah luapan energi besar yang harus disalurkan dan dijalankan dengan semestinya, yakni dengan belajar luan. Dan hari demi hari, tahun demi tahun, pelajaran dan didikan diberikan oleh Anbelle dengan segenap kesabaran dan pengetahuan dalam dirinya. Begitu rupa penulis menggambarkan masa delapan tahun pelajaran mereka, lengkap dengan karakterisasi yang sangat kuat dan jalinan cerita yang rumit hingga akhirnya datanglah masa-masa menjelang prahara. Kesembilan penerus luan harus bersiap. Di depan mereka, terbentang masa yang penuh marabahaya yang hanya bisa diatasi oleh jiwa yang pemberani dan memiliki bekal untuk menggunakan  pengetahuan luan. Lalu, bisakah Chiruun dan delapan kawannya lulus sebagai para penguasa luan?  Bagaimana nasib dunia dan suku selatan selanjutnya? Semuanya bergantung pada penguasaan dan pemahaman mereka akan luan itu.

                Chiru’un--dengan jumlah halaman yang lebih dari 500--kurang menampilkan episode-episode khas dari sebuah fiksi fantasi (yakni pengantar, pemicu, konflik, dan penyelesaian). Alurnya mungkin bisa dibilang datar dan agak membosankan karena hampir tidak ditemukan adegan tentang perang secara fisik. Penulis rupanya lebih menonjolkan pengembangan karakter serta konsep antropologis dari bangsa Suku Selatan dan bangsa-bangsa di sekitarnya. Lebih dari itu, penulis bahkan menciptakan bahasanya sendiri, sebagaimana Tolkien. Lebih hebatnya lagi, walaupun bahasa itu rekaan, tapi penulis menyusun kosakatanya secara konsisten, tidak asal comot atau merangkai huruf tak bermakna. Bahasa dalam Chiru’un  begitu metodologis, yang hampir-hampir membuat pembaca percaya bahwa bahasa itu ada. Novel ini juga secara mendetail membahas tentang aspek-aspek geografis dan terutama ciri-ciri fisik dan budaya dari bangsa-bangsa yang berdiam di dunia rekaannya. Sungguh, hampir-hampir novel ini bisa menjadi rujukan antropologis dari dunia fantasi yang diciptakan oleh sang penulis.

                Sebagaimana saya bilang di atas, alur Chiru’un begitu lambat dan hampir-hampir datar. Hal ini berbahaya karena dapat membuat pembaca bosan dan langsung melempar buku ini ke rak. Tapi anehnya, buku ini sama sekali tidak membosankan. Kepiawaian penulis dalam merangkai kata dan kalimat adalah sangat luar biasa, hampir-hampir membuai bak seorang tukang cerita yang kehadirannya sendiri sudah mempesona pembaca. Kita akan diajak ke dunia Luan, belajar tentang diri sendiri dan juga orang lain, serta karakter-karakter manusia pada umumnya. Aneka nasihat dan nilai kehidupan disampaikan dengan begitu bagusnya, dengan typo yang minim dan model penceritaan yang sangat rapi dan menyenangkan.

         Banyak orang di dunia ini mengalami penderitaan dan kesusahan. Tapi, di kelak hari, mereka melihat derita dan kesusahan itu sebagai kenangan indah.”  (hlm 169)


         “Apakah kalian memahami rahasia alam semesta ini: bahwa kebahagiaan sejati tidak ditemukan di masa lalu atau masa depan, melainkan di masa kini.” (hlm 521)

                Begitu banyak pelajaran tentang kehidupan dalam novel ini, saya sendiri sampai terpaku melihat betapa piawainya penulis bertutur tanpa terkesan menggurui, betapa hal-hal besar itu dapat disampaikan melalui sebuah cerita fiksi-fantasi tanpa menghilangkan alur cerita ataupun mengubahnya menjadi sebuah buku motivasi populer. Dan, bagi pembaca yang telah terlebih dulu terpesona dengan Tanril,  maka Chiru’un akan membuat keterpesonaan itu kian lengkap. Akhirnya, apakah luan itu? Apakah yang dimaksud dengan jalan pelangi itu? Bacalah dan Anda akan paham bahwa dalam diri masing-masing insan selalu ada pelangi yang akan mengusir awan kelap dalam jiwa.

                “Luan adalah sinar pembimbing hidup kami. Jalan jiwa dan jantung hati kami. Anyaman kasih an harapan kami. Cahaya kami. Sekarang, dan selamanya.” (hlm 516)

                Selamat berpetualang dalam luan.
                
Read more »

Kamis, 26 April 2012

The Last Secret


Judul               : The Last Secret
Penulis            : Lynn Sholles dan Joe Moore
Penerjemah     : Istiani Prajoko
Penyunting       : Adi Toha
Tebal              : 504 hlm
Cetakan           : April 2012
Penerbit           : Serambi Ilmu Semesta




           Diyakini, Tuhan telah menurunkan 12 tablet kristal kepada pemimpin-pemimpin spiritual  peradaban kuno yang tumbuh dan berkembang selama sejarah peradaban manusia. Tablet yang sama diyakini juga diturunkan kepada Nuh agar ia membuat bahtera raksasa dan mengangkut sepasang binatang di dalamnya agar mereka diselamatkan dalam Banjir Besar. Tablet-tablet kristal itulah yang merupakan kunci untuk menguak apa yang sebenarnya terjadi dengan sejumlah peradaban besar dari dunia kuno yang tiba-tiba menghilang.

Pesan tersebut dipahami oleh peradaban maju Atlantis, kaum Druid yang membangun Stonehenge, orang-orang yang membangun patung moai di pulau Paskah, peradaban Maya di selatan, kaum Mali Afrika barat,  Anasazi—mereka semua lenyap dalam semalam tanpa jejak”. (482)

          Sayangnya, 9 tablet kristal telah dihancurkan, sementara tiga tablet yang tersisa terancam dihancurkan juga oleh kelompok-kelompok rahasia yang disebut-sebut mencengkeram dunia dengan kekuasaannya.  Sementara itu, di dekat reruntuhan Machu Pichu, Peru, seorang wartawan terkenal Cotton Stone menjadi saksi ketika sekelompok ilmuwan menemukan tablet kesepuluh. Penemuan itu disusul dengan munculnya kabut dan gerombolan kunang-kunang yang entah bagaimana membuat orang-orang di sana menjadi gila dan bunuh diri. Semuanya tewas kecuali Cotton dan tablet itu hilang. Ia kemudian diselamatkan oleh seorang petinggi spiritual di kedalaman hutan pegunungan Andes. Peristiwa serupa terulang di reruntuhan peradaban Anasazi di New Mexico. Kabut dan kunang-kunang kembali muncul untuk menghancurkan tablet kristal kesebelas. Tinggal satu tablet yang tersisa dan tidak ada yang mengetahui di mana tablet kedua belas itu disembunyikan.

          Sementara itu, wabah bunuh diri mulai merebak di penjuru dunia. Bahkan, sang Ratu Inggris dan keluarganya tidak luput dari wabah mengerikan ini. Di Vatikan, Sri Paus memerintahkan para pastor di penjuru dunia untuk melakukan prosesi pengusiran setan. Diduga, setan dan iblis telah merasuki manusia dan merenggut jiwa mereka dengan memaksa untuk bunuh diri—sebuah perbuatan dosa yang tidak diterima oleh Tuhan. Saat itu juga, Cotton baru mengetahui kalau yang tengah ia hadapi bukanlah sekelompok persaudaraan rahasia yang hendak menghancurkan sendi-sendi agama besar dunia. Lebih dari itu, ia tengah berperang melawan nefilim atau para malaikat yang jatuh (terbuang) dari surga karena telah terjebak oleh bujuk rayu Lucifer dalam perang besar. Kaum malaikat yang terusir inilah yang kemudian berusaha membalas dendam kapada Tuhan dengan menghancurkan 12 tablet yang konon “ditulis langsung oleh Tuhan”.
Dengan bantuan seorang teman dari Vatikan, Cotton harus berjibaku menemukan kristal terakhir yang akan menyelamatkan umat manusia dari wabah bunuh diri. Ketika ia akhirnya menemukan kristal itu, kabut dan kunang-kunang telah mulai bergolak di kota-kota besar, seluruh dunia terancam oleh wabah bunuh diri yang digerakkan oleh sebuah kuasa kegelapan. Saat itu, baik gereja dan seluruh umat manusia bergantung kepada keteguhan hati Cotton dalam melawan Sang Terbuang. Putri Sang Malaikat yang Terbuang akan memimpin pembersihan terhadap kuasa kegelapan yang hendak menghancurkan manusia.

           Bravo, salut untuk penulisan novel dengan genre yang “campur-aduk-tapi-rapi” seperti The Last Secret ini. Sejak halaman pertama, pembaca sudah diajak tegang dengan peristiwa pembajakan sebuah pesawat berpenumpang 280-an oleh pilotnya sendiri. Sang pilot tiba-tiba menembak dirinya sendiri, membiarkan pesawatnya meledak berkeping-keping di udara. Teknik bercerita “langsung tegang” seperti ini mengingatkan pembaca pada novel-novel Dan Brown atau Michael Chrichton. Bab selanjutnya, penulis membawa pembaca ke puncak pegunungan Andes untuk menemukan artefak dari dunia kuno. Dari sini, pembaca digiring untuk berpetualang ala Indiana Jones. Belum sempat bernapas, penulis memaksa pembaca berkejaran dengan waktu untuk mencari data dan alamat, persis sebagaimana ketegangan dalam novel-novel spionase. Dan, yang terakhir, penulis menjungkir balikkan seluruh konsep “nyata” dalam novel ini dan mengabungkannya dengan genre fantasy-religi tentang nefilim—kaum keturunan malaikat yang jatuh—dan kuasa kegelapan yang mengancam manusia.

          Begitulah, novel penuh warna ini begitu mengasyikan untuk disimak karena rasa dan genrenya yang rame. Dalam alurnya yang cepat dan perpindahan setting yang begitu mendadak, pembaca seperti tidak diberi kesempatan untuk meletakkan buku ini. Setiap akhir bab mengundang misteri lain yang hanya bisa ditemukan jawabannya pada bab-bab berikutnya. Sebagai bonus, ada banyak sekali data dan informasi sejarah faktual yang dibeberkan oleh penulis dalam buku ini, misalnya fakta bahwa obelisk Mesir yang disebut Jarum Cleopatra (Cleopatra Needle) di London ternyata kembar dengan obelisk serupa yang ada di Central Park New York. Banyak juga terminologi khas gerejawi yang bertebaran (misal tentang pertempuran melawan pasukan Iblis di Armagon), pembahasan singkat tentang dunia pararel dan fisika kuantum, serta sedikit pelajaran meditasi dan kesadaran diri.

            “Kita semua berasal dari energi yang sama … dalam segala sesuatuyang kita lakukan, kita harus menghormati seluruh alam semesta. Kita ini adalah hasil pikiran-pikiran kita sendiri.” (hlm 130)
Sepertinya, ada begitu banyak kekayaan data yang begitu berlimpah yang berupaya dijejalkan dalam novel ini. Kualitas inilah yang menjadikan The Last Secret begitu “mengenyangkan” setelah dibaca.          
Read more »

Rabu, 25 April 2012

The Alchemyst, The Secret of the Immortal Nicholas Flamel


Judul   :The Alchemyst, The Secret of the Immortal Nicholas Flamel
Penulis            : Michael Scott
Penerjemah  : Berliani M. Nugrahani
Tata letak       : MAB
Cetakan        : ke-7, Juni 2010
Tebal               : 503 halaman
Penerbit         : Matahati



            Kalau ada ungkapan Don’t judge a book by its cover, maka saya terpaksa mengecualikan novel tebal ini. Sampul depan yang dipenuhi dengan simbol-simbol kuno serta cetakan timbul dari tinta emasnya telah membuat saya jatuh hati pada buku ini, jauh sebelum saya ikut terhanyut dalam petualangan menakjubkan di dalamnya. Boleh percaya boleh tidak, rata-rata orang bisa membaca novel ini antara 1-3 hari, bahkan buku seri keempatnya The Necromancer habis saya lahap hanya dalam waktu 4-5 jam. Rekor ini hanya bisa disamai oleh pembacaan seri Harry Potter yang bisa habis dalam 2-4 malam. Secara umum, seri ini mengambarkan pertempuran antara manusia abadi melawan Ras Tetua yang hendak kembali menguasai dunia.
            Perpaduan antara kisah fantasi klasik dan aksi mendebarkan tiada henti merupakan kunci dari kesuksesan seri The Secret of Nicholas Flamel ini. Mengisahkan tentang kisah seorang Nicholas Flamel yang lahir pada tanggal 28 September 1330 dan diceritakan masih hidup hingga hari ini. Kita mungkin masih mengingat tokoh ini dalam buku Harry Potter dan Batu Bertuah di mana Flamel dikisahkan sebagai penyihir yang mampu memiliki kehidupan yang abadi karena ia mampu membuat ramuan keabadian dari batu bertuah miliknya. Dalam seri ini, sang alchemist bisa hidup abadi karena ia memiliki Codex, sebuah buku kuno karangan Abraham sang Magus yang didalamnya terdapat resep membuat ramuan keabadian.

            Mereka adalah mahkluk hidup yang berpenampilan seperti manusia—kadang-kadang—namun memiliki kekuatan dewa. Mereka telah berkuasa selama puuluhan ribu tahun sebelum mahkluk hidup yang mereka sebut manusia—humani—muncul di muka bumi. Manusia primitif kemudian memuja Ras Tetua sebagai dewa dan iblis … Para dewa dan dewi dalam kepercayaan Yunani dan Mesir, Sumeria dan Lembah Sungai Indus, Teltec dan Celtic, betul-betul ada” (hlm 224)
           
            Kisah diawali dengan cepat oleh dua pasang saudari kembar, Josh dan Sophie Newman. Kedua remaja  berusia 15 tahun ini tidak pernah menyangka bahwa selama ini mereka bekerja sambilan di toko buku milik  seorang manusia abadi. Siang itu, Kamis 13 Mei, hidup mereka berdua langsung berubah ketika beberapa orang dengan mantel panjang hitam mengunjungi toko buku tua milik Nick Flemming tempat Josh bekerja sambilan. Logika dunia modern langsung luluh lantak ketika Josh dan Sophie menyaksikan sendiri pecahnya pertempuran sihir antara Nick dan tamu-tamu itu. Dengan aura rasa mint, Nick menghajar golem-golem (makhluk dari tanah liat) serta menimbulkan ledakan-ledakan bola energi yang luar biasa. Tamu-tamu itu ternyata dipimpin oleh Dr. John Dee, seorang manusia abadi lain yang hendak merebut Codex dari Nick—yang ternyata adalah Nicholas Flamel sang manusia abadi. Sejak saat itulah, Josh dan Sophie baru menyadari bawa apa yang selama ini mereka anggap sebagai mitologi dan legenda ternyata benar-benar ada di dunia nyata.

            Selanjutnya, adegan pertempuran sihir dan pengejaran seolah saling sambung-menyambung tanpa jeda. Mulai dari jembatan Golden Gate di San Franciscohingga ke Alam Bayangan milik Tetua Hecate. Flamel, Josh dan Sophie harus melarikan diri dari komplotan Dee yang disokong oleh  para Tetua Gelap yang berencana untuk mengambil alih dunia manusia, sementara di saat yang sama mereka harus menyelamatkan istri Flamel, Perenelle yang disandera Dee. Seluruh aksi dan perubahan magis dalam buku ini hanya dalam waktu 1-2 hari, sehingga bisa dibayangkan betapa cepatnya cerita bergulir dan betapa banyaknya aksi perang sihir maupun perang fisik yang terjadi. DI penghujung kisah, Josh dan Sophie harus menghadapi kenyataan bahwa mereka berdua adalah sang kembar legendaris yang akan menentukan nasib dunia, si emas dan si perak, satu akan menyelamatkan dunia, dan satu akan menghancurkan dunia.

            Sebagaimana buku-buku lain, sebuah buku fantasi tidak afdol rasanya kalau tidak ada pertempuran akbar. Di penghujung buku, Michael Scott akan menyuguhkan bagaimana ketika pasuka  Deeyang dibantu oleh Tetua Bastet—Dewi Kucing dalam mitologi Mesir dan  Morrigan—Dewi Gagak dalam mitologi Irlandia menyerang Alam Bayangan Dewi Hekate untuk merebut sisa Codex yang disembunyikan Josh. Dalam berbagai peristiwa aneh yang saling berkelindan ini, Josh dan Sophie harus menjalani takdir mereka sebagai senjata pemungkas, mereka harus menguasai sihir api, air, udara, dan tanah. Tapi, terlebih dahulu keduanya harus dibangkitkan, Sophie ternyata memiliki aura perak berbau vanilla, sementara aura Josh adalah perak, yang berbau jeruk. 

            Lebih dari semuanya, selain kepiawaian Scott dalam meramu adegan aksi yang seru, buku ini begitu kaya akan tokoh-tokoh dalam sejarah dan juga mitologi. Dr. John Dee maupun Nicholas Flamel adalah tokoh yang benar-benar hidup di Abad Pertengahan. Begitu pula, dalam novel ini semua mitologi bangsa-bangsa di dunia seolah saling berkelindan dan menyatu, membentuk Ras Tetua dan Alam Bayangan mereka. Selian itu, novel ini juga kaya akan pelajaran dan data sejarah—yang ternyata bisa dipelajari dengan begitu mengasyikan lewat novel karya Scott ini. Semuanya kemudian mengarah pada satu mitos yang sama, mitos yang diakui oleh hampir seluruh kebudayaan di dunia kuno, yakni Mitos Banjir Besar. Bahkan, dengan cerdik Scott mampu meyakinkan pembaca bahwa tokoh-tokoh terkenal dunia seperti Flamel, Dee, Gilgamesh, William Shakespeare, Billy the Kid, Joan of Arc, Lord Mushahi, dan Nicollo Machiaveli (yang mereka ini adalah tokoh-tokoh nyata dalam sejarah) adalah para manusia abadi yang kekuatannya dibangkitkan oleh para Tetua yang memilih mereka.

Semua mitologi dan petualangan ini, diramu dan dijalin begitu rupa dengan asyiknya pada satu kejadian akbar yang begitu rupa menginspirasi peradaban manusia, yakni runtuh antau tenggelamnya pulau Danu Talis (coba diutak-atik pasti mirip Atlantis) yang dikisahkan sebagai tempat tinggal Ras Tetua sebelum mereka pergi ke Alam Bayangan masing-masing. Dalam seri-seri selanjutnya The Magician, The Sorceress, The Necromancer, dan The Warlock; kisah ini akan semakin seru dan makin menunjukkan lini besar dari cerita yang hendak disuguhkan oleh Scott. Buku terakhir, The Enchantress direncanakan akan terbit 27 hari lagi, dan pembaca di seluruh dunia tengah menunggu kelanjutan sekaligus akhir dari petualangan dua kembar legendaris ini.  

Cobalah membaca buku pertama ini, dan mulailah yakin bahwa terkadang, legenda merupakan kebenaran.

Read more »

Kamis, 29 Maret 2012

Pecinan, Suara Hati Sang Wanita Tionghoa

Judul                : Pecinan, Suara Hati Sang Wanita Tionghoa
Penulis             : Ratna Indraswari Ibrahim
Editor              : Elis W dan  A. Elwiq Pr
Sampul            : Gobag Sodor
Tebal               : 246 halaman
Cetakan           : 1, Juli 2011
Penerbit           : Laksana (DIVA Press)



            Lely Kurniawati dan Anggraeni, dua wanita tegar yang berbeda jalan nasibnya. Jika yang satu memiliki jalan hidup yang lumayan lurus dan memudahkan, maka yang satunya lagi menjalani kehidupan dengan penuh perjuangan dan rasa sakit. Bagaimanapun, mereka berdua dipersatukan oleh hal yang sama, yakni keduanya sama-sama wanita keturunan Tionghoa yang menjadi korban tradisi dan keadaan. Seperti sudah jatuh tertimpa tangga, demikian ungkapan yang pas untuk menggambarkan perlakuan buruk yang mereka terima, bahkan untuk kasus Lely, tangga yang menimpanya itu seperti terbuat dari besi yang panas dan terus-menerus membakar kulitnya.
           
“Atik bilang, perempuan Cina yang tidak bisa melahirkan anak laki-laki tidak berharga karena tidak bisa menurunkan marga.” (hlm 237)

Bayangkan saja, bagaimana menjadi anak perempuan Tognghoa yang selalu dinomorduakan setelah anak laki-laki. Betapa perlakuan diskriminatif sudah menjadi hal yang biasa bagi Lely, ketika anak laki-laki dijemput dari sekolah dengan becak, ia harus jalan kaki. Bahkan, setelah menikahpun ia serasa tidak dianggap oleh mertua dan diremehkan oleh suami dan iparnya.  Pun, ketika meletus Gerakan 30 September 1965, kondisi keduanya menjadi semakin terpojok. Sudah dinomorduakan oleh keluarga, mereka juga harus mengalami diskriminasi ras di zaman Orde Baru, padahal baik Lely maupun Anggraeni mencintai negeri ini dengan sepenuh jiwa mereka.

            Papi, kita kan orang Indonesia. Mbah buyut , kakak Papi, dan sepupu Papi orang-orang yang berjuang untuk Indonesia. Apa yang harus ditakutkan? “ (hlm. 46)

            “Tapi biarlah aku Cina, Yang penting, aku pun turunan dari prajurit Pangeran Diponegoro,” (hlm 221)

            Ketika meletus pemberontakan PKI pada tahun 1965, yang membuat pemerintah memiliki semakin banyak alasan untuk menindas etnis Tionghoa, baik keluarga Lely maupun Anggraeni kalut, ada sejumlah kerabat yang eksodus ke luar negeri. Ketika muncul tragedi lain yang lebih memilukan pada tahun 1998, di mana terjadi banyak kasus pemerkosaan pada wanita etnis Tionghoa, kedua wanita itu juga tetap memilih untuk tinggal di Indonesia. Mereka tetap berdagang, bersekolah, dan berjuang untuk melayani suaminya.

            “Kita adalah warga negara Indonesia. Apapun yang terjadi adalah risiko kita sebagai orang Indonesia.” (hlm 102).

            Dua sahabat ini pun bertemu lagi di Malang, pada masa kini. Keduanya sudah sama-sama memiliki keluarga. Anggraeni menikah dengan orang Jawa, sementara Lely menikah dengan pria keturunan Cina; di mana masing-masing rumah tangga memberikan ceritanya sendiri. Lely kemudian meminta sahabatnya agar menuliskan buku biografi tentang dirinya, tentang seorang istri dari sebuah keluarga keturunan Cina yang mengalami manis-asamnya kehidupan. Bahkan, di zaman modern seperti saat ini, kecenderungan mengistimewakan anak laki-laki ini masih begitu mengental dan mengakar kuat di masyarakat. Suami Lely yang begitu dibangga-banggakan keluarganya sebagai putra sulung pertama ternyata tumbuh menjadi pria manja yang selalu lari ke ibunya setiap kali ada masalah. Kecenderungan ini juga yang membuatnya merasa selalu benar dan Lely selalu salah, bahkan ketika sang suami jelas-jelas memiliki WIL (wanita idaman lain). Ini ditambah dengan Lely yang tidak bisa melahirkan anak laki-laki. Sepertinya, segala jerih payahnya, pengorbanan tenaga dan hartanya, hingga kecintaannya yang tak terbagi kepada sang suami tidak bermakna apa-apa di mata suami dan ibu mertuanya.

            Anggraeni di lain pihak, juga harus menghadapi konflik dengan keluarga besarnya. Ia bersyukur mendapatkan suami yang baik dan pengertian seperti Rahman, namun sebagai wanita Cina yang seperempat Jawa, ia juga mengalami masalahnya sendiri. Tentang ibunya yang semakin cerewet, tentang anaknya yang mulai beranjak dewasa, tentang pilihan hidupnya sebagai pegawai negeri; semua itu cukup menyulitkannya juga—walaupun tidak seberat cobaan yang dihadapi Lely. Bagaimanapun, hidup memang tidak sempurna. Ada sejumlah keadaan ketika kita memang sebaiknya tidak menuntut macam-macam, tapi cukup dengan menjalaninya sebagai sesuatu yang bernilai ibadah. Misalnya saja, dalam menghadapi ibunya yang cerewet dan suka mengatur, memang inilah salah satu bentuk balas jasa kecil yang bisa kita persembahkan kepada orang tua karena tidak semua orang memiliki kesempatan yan sangat mulia ini.

            “Apabila kamu sudah kehilangan kedua orang tuamu. Kamu baru bisa tahu bagaimana senangnya meladeni mereka ketika mereka masih hidup. Serepot apapun urusan kita, luangkan waktu. (193).

            Novel Pecinan adalah novel sederhana yang berupaya mengangkat kehidupan dari kaca mata seorang wanita keturunan Tionghoa di Indonesia pada masa-masa ketika keadaan sepertinya sedang tidak berpihak kepada mereka. Kisah Lely dan Anggraeni memberikan pandangan baru tentang bagaimana sulitnya pilihan yang dihadapi oleh kaum Tionghoa pada masa-masa genting paska tahun 1965, penuh dengan tarikan antara nasionalisme dengan keselamatan diri. Terlebih dengan adanya peristiwa Mei 1998, pada masa-masa itulah nasionalisme mereka sebagai bangsa Indonesia benar-benar diuji.

 Dalam halaman-halamannya, buku ini juga menggambarkan kesetiaan seorang istri yang taat pada suaminya, terlalu taat hingga saat ia terus disiksa secara batin pun kesetiaannya sebagai istri tidak meluntur. Kita akan melihatnya dalam sosok Lely. Ketika seorang wanita sudah membulatkan tekad untuk hanya mencintai suaminya, mereka benar-benar mampu membuktikannya. Melalui Pecinan juga, akan terjawab tanya kita mengapa orang Cina gemar berdagang dan mengapa orang pribumi cenderung suka menjadi pegawai pemerintahan; semua diuraikan melalui sudut pandang dua orang wanita keturunan Tionghoa, yang walaupun sedikit subjektif namun masuk akal dan dijelaskan secara gamblang. Juga, tentang berbagai nasihat tentang rumah tangga, tentang berbisnis yang baik, tentang berbakti kepada orang tua, tentang persahabatan yang tak lekang waktu, tentang cinta yang luar biasa, dan tentang indahnya kota Malang tempo dulu. Semuanya bisa ditemukan dalam novel sederhana namun penuh makna ini. 
Read more »

Minggu, 25 Maret 2012

Alfred Hitchcock dan Trio Detektif , Misteri Danau Siluman

Judul               : Alfred Hitchcock dan Trio Detektif , Misteri Danau Siluman  
Penulis            : Alfred Hitchcock,  William Arden
Penerjemah     : Agus Setiadi
Tebal              : 214 halaman
Cetakan          : Mei, 1986
Penerbit          : PT. Gramedia



           
             Adalah luar biasa ketika sebuah cerita dapat membawa kembali pembacanya kepada kenangan masa kecilnya. Lebih luar biasa lagi adalah karena cerita/buku itu begitu membekas dalam benak dan menjadi bagian tak terpisahkan yang turut membentuk masa kecil kita. Bersama Lima Sekawan  Enyd Blynton dan juga majalah Bobo, buku ini adalah salah satu dari buku-buku paling luar biasa yang pernah mewarnai—dan mungkin membentuk—masa kecil saya. Buku anak semacam ini jika kita memandangnya dari kaca mata orang dewasa mungkin banyak “lubang-lubang” dalam alur, plot , dan logika; namun tidak demikian dengan benak anak-anak. Ada banyak sekali petualangan seru yang untuk sejenak mampu mengalahkan kakunya logika. Ada tempat-tempat tersembunyi yang asyik untuk dijelajahi, serta harta karun yang menanti untuk ditemukan. Semua itu jauh lebih berharga daripada sekadar sebuah cerita yang “sempurna” tapi kehilangan semangat anak-anak di dalamnya.

            Alfred Hitchcock dan Trio Detektif  adalah seri petualangan yang idenya dicetuskan oleh sang maestro film misteri, Alfred Hitchcock. Beliau yang menemukan ide, plot dan alur cerita untuk kemudian dituliskan dalam format novel oleh William Arden. Kebetulan, saya menemukan buku ini di pusat buku Shopping Center Taman Pintar Yogyakarta, edisi terbitan tahun 1986 namun masih tampak bersih dan tidak terlalu berdebu. Karena pada bulan Maret 2012 ini, Blogger Buku Indonesia merencanakan posting bareng buku bertema anak, maka saya pun tertarik untuk mengangkat kembali buku petualangan khas anak-anak yang sangat seru ini, yang tampaknya sudah jarang diterbitkan lagi. Dalam seri Misteri Danau Siluman ini, Alfred Hitchcock dan Trio Detektif  kembali bekerja sama untuk mengungkap sebuah kasus yang berkaitan dengan harta karun di Phantom Lake—Danau Siluman. Eh, sebentar, saya perkenalkan dulu siapa Trio Detektif itu:

TRIO DETEKTIF
“Kami Menyelidiki Apa Saja”
???
Penyelidik satu – Jupiter Jones
Penyelidik dua – Pete Crenshaw
Catatan dan Riset – Bob Andrews


            Berawal dari penemuan sebuah peti kuno dari abad ke-19 yang secara tak sengaja dibeli oleh Bibinya Jupiter, misteri kemudian mulai bermunculan. Mulai dari adanya pria berjanggut dan galak, sosok-sosok misterius yang mengobrak-abrik markas Trio Detektif, hantu-hantu bajak laut yang bergentayangan di Pulau Sipress, hingga beraneka rumor serta misteri sejarah yang berkaitan dengan benar/tidaknya keberadaan harta karun tersebut.Trio Detektif pun bahu menbahu dengan Profesor Sejarah San Francisco dan Keluarga Mrs Gunn untuk membongkar salah satu misteri yang paling ramai dibicarakan di kota itu. Mereka harus berkejaran dengan waktu untuk menguak sebuah buku catatan rahasia dari pelaut Angus Gunn yang konon menyembunyikan harta kemilau untuk istrinya. Sebuah misteri yang sebenarnya tetap menjadi desas-desus sekiranya Trio Detektif tidak menyelidikinya. 

            Namun, sebuah petualangan belum terasa menegangkan jika tidak ada musuh atau misteri besar yang melingkupinya. Pencarian harta karun ini dipersulit dengan keberadaan orang asing bernama Java Jim yang senantiasa menguntit Trio detektif. Mereka juga harus berhadapan dengan orang-orang aneh dan penjahat kambuhan yang hobi menjarah benda-benda bersejarah untuk kemudian dijual di pasar gelap. Namun, lebih dari itu semua, Trio Detektif harus waspada dengan misteri paling mengerikan dalam petualangan mereka, karena kemungkinan, harta yang disembunyikan itu juga dijaga oleh hantu siluman!

            Buku petualangan dengan tokoh segerombolan anak-anak yang berupaya mengungkap misteri memang menjadi magnet yang tak tertahankan. Kecenderungan anak yang selalu ingin tahu, penasaran dengan yang namanya misteri, serta rasa haus mereka akan petualangan berhasil diramu sedemikian rupa oleh sang sutradara sehingga menghasilkan seri novel Alfred Hitchcock dan Trio Detektif  yang sangat disayangi anak-anak pada era 1980-1990-an. Sebagaimana karya-karya Lima Sekawan, seri ini berhasil memancing rasa ingin tahu anak untuk membacanya. Judulnya mungkin menyeramkan dan berbau horor, namun seri-seri ini biasanya tidak mengandung elemen horor dalam arti tidak ada hantu atau makhluk jadi-jadian “beneran” di dalamnya. Biasanya, sang penjahatlah yang pura-pura menjadi hantu atau monster. Penyelesaian kasus bisa dirunut secara logis dan sesuai nalar. Misteri tampaknya sekadar digunakan sebagai bumbu untuk membuat cerita semakin menarik. Akhirnya, apakah harta itu benar-benar ada ataukah sekadar rumor? Siapakah sosok berjanggut hitam yang senantiasa menguntit Trio Detektif? Temukan  beragam petualangan seru yang pasti akan sangat dicintai anak-anak, yang sekaligus mengingatkan kembali pembaca pada serunya berpetualang di masa kanak-kanak.

            Berbahagialah mereka yang pernah mengalami petualangan di masa kanak-kanak bersama buku-buku bermutu seperti ini.
            
Read more »

Selasa, 28 Februari 2012

Iklan Pembunuhan

Judul    : Iklan Pembunuhan (A Murder is Announced)
Penulis  : Agatha Christie
Alih bahasa: Joyce K. Isa
Tebal    : 363 halaman
Cetakan: Kedua, 2002
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama



Sebuah iklan aneh muncul di koran di desa kecil, memberitakan tentang akan adanya pembunuhan pada Jum’at 29 Oktober jam setengah tujuh petang di Little Paddocks, sebuah kediaman bersahaja di sebuah desa kecil. Tentu saja berita aneh ini menggemparkan penduduk Chipping Cleghorn, sebuah pedesaan kecil di pelosok Inggris yang warganya saling mengenal. Sang nyonya rumah, Letitia Blacklock pun kelabakan dengan adanya iklan yang nggak wajar ini. Siapa coba orangnya yang mau rumahnya menjadi TKP dari sebuah pembunuhan keji yang akan terjadi beberapa hari ke depan?

            Letitia Blacklock juga sama bingungnya dengan warga lainnya, namun ia menganggap iklan tersebut sebatas angin lalu, dan malah mempersiapkan sebuah jamuan makan malam pada jam dan tanggal itu. Ternyata, banyak warga desa yang tertarik dengan iklan tersebut, mereka datang ke kediaman Little Paddocks untuk membuktikan kebenaran iklan aneh tersebut. Masing-masing tamu tampaknya hanya mengarang-ngarang alasan untuk bisa datang, tapi sebenarnya mereka ingin tahu siapa yang terbunuh. Ketika jam menunjukkan pukul 06.30 petang, lampu tiba-tiba padam dan muncul seorang pria yang membawa lentera menyilaukan. Kemudian terdengar bunyi tembakan dan seluruh tamu di Little Paddocks pun panik. Setelah lampu menyala kembali, ternyata yang terbunuh adalah si pria pembawa senjata itu sendiri, Rudi Scherz, seorang resepsionis di spa lokal yang baru beberapa hari yang lalu meminta uang kepada Letitia. Nyonya rumah sendiri mengalami luka di telinganya akibat terserempet peluru.

            Dari sini, kasus kemudian ditangani oleh Inspektur Craddock yang kemudian menyelidiki keluarga yang tinggal atau berkaitan dengan kediaman Little Paddocks. Keluarga yang tampaknya bersahaja itupun ternyata diketahui memiliki banyak masalah dan masa lalu yang beragam. Beragam intrik dan kelit dari masa lalu keluarga ini semakin menambah rumit penyelidikan, terutama dengan datangnya lebih banyak anggota keluarga yang lain dari Eropa Timur. Craddock pun meminta bantuan kepada Miss Jane Marple, seorang wanita tua yang memiliki analisis yang tajam, dia juga sering diminta bantuannya oleh polisi dalam mengungkap banyak kasus.

            Dengan bantuan Mitzi, tukang masak Nyonya Letitia yang merupakan pelarian dari Eropa Timur, Miss Marple kemudian membuat sebuah perencanaan yang luar biasa cerdik untuk menjebak di pembunuh yang sebenarnya, namun hal ini juga sangat berbahaya. Tiga orang telah terbunuh oleh pembunuh yang sama, Rudi yang ternyata adalah orang yang sengaja disewa oleh sang pembunuh untuk datang ke Little Paddock, Dora Bunner (Bunny) teman terdekat Letitia yang memiliki analisis tajam namun mulutnya kadang suka  “ember bocor” dan dapat membahayakan, serta Miss Murgatroyd yang juag dibunuh karena telah menduga terlalu banyak.

            Jebakan Miss Marple berhasil. Polisi dan seluruh berkumpul bersama di Little Craddock ketika sang pembunuh beraksi kembali. Mereka berlari ke dapur dan menjumpai sang pembunuh sedang berusaha menenggelamkan Mitzi dalam bak cuci. Akhirnya, dari sang pembunuh dapat diketahui bagaimana iklan pembunuhan itu dapat terjadi. Urutannya begini, pada Jum’at, 29 Oktober jam setengah tujuh petang, si pembunuh mengundang Rudi ke Little Paddock. Rudi disuruh menyalakan senter/lentera dari sebuah pintu tersembunyi sementara si pembunuh akan sengaja memutuskan aliran listrik dengan menyiramkan air dari vas bunga ke kabel lampu yang konsleting. Dia kemudian  menyelinap di pintu rahasia dan menembak Rudi dari belakang. Kemudian, si pembunuh sengaja melukai telinganya dengan gunting hingga berdarah, dan kembali bergabung dengan para tamu di ruang tengah. Nah, spoiler kan itu wahahahahaha ….
           
            Iklan Pembunuhan adalah novel Agatha Christie pertama yang saya baca, dan setelah itu saya langsung suka dengan buku-buku beliau. Analisis Miss Marple yang tajam, menjadikannya sebagai tokoh sentral di beberapa novel misteri karya penulis yang satu ini. Saya terutama sangat suka dengan penggambaran wilayah pedesaan Inggris yang dituliskan dengan luar biasa deskriptif oleh sang penulis. Orang-orangnya, lingkungan kehidupannya, intrik-intrik yang berlaku; pelan tapi pasti dunia penyelidikan Miss Marple tanpa sengaja telah menyeret saya untuk menikmati setting novel yang sangat Inggris dan sangat Eropa. Di tambah dengan aneka intrik dan misteri pembunuhan yang diceritakan dengan alur maju, membuat pembacaan karya-karya Agatha Christie begitu khas dan tak terlupakan.

4 bintang karena inilah novel detektif pertama yang saya baca, bahkan sebelum Sherlock Holmes.  Sekarang, ada yang bisa dititipin beli And Then There were None nggak?



Read more »

Rabu, 18 Januari 2012

Mata Air Air Mata Kumari

Judul                           : Mata Air Air Mata Kumari
Penulis                        : Yudhi Herwibowo
Editor Istimewa           : Bandung Mawardi
Tebal                           : 136 halaman
Cetakan                      : 1, 2010
Penerbit                      : Bukukatta



            
            Sebagaimana yang didedarkan dalam bagian pengantarnya yang begitu indah, Mata Air Air Mata Kumari adalah sebuah perziarahan imajinasi-lokalitas dalam ranah fiksi. Sebuah karya yang sekali lagi menunjukkan produktivitas sang penulis dalam menghasilkan bacaan-bacaan bermutu dengan beragam genre, namun dengan tetap memperlihatkan kualitasnya yang piawai. Buku Mata Air Air Mata Kumari adalah kumpulan cerpen karya Yudhi Herwibowo yang pernah dimuat di berbagai media massa, kecuali cerpen Anak Nenang Kawi yang belum terpublikasikan. Sebagaimana karya-karyanya yang banyak mengupas dari sisi sosial budaya, Mata Air Air Mata Kumari adalah himpunan dari aneka kekayaan budaya lokal, terutama Nusa Tenggara Timur dan Papua, dua kawasan di Indonesia Timur yang jarang dilirik sebagai sumber ilham oleh para penulis fiksi.

            Kualitas penulis dalam menyelami kebudayaan di Indonesia bagian timur, riset budaya yang ia lakukan, serta kentalnya unsur-unsur lokalitas yang ia usung, kesemuanya itu menjadikan buku kecil ini terasa berat karena bobot muatannya. Tenggoklah cerpen Kofa  yang dengan begitu indah hendak menyorot kekeringan yang menimpa kota di NTT itu.

            Dulu, dulu sekali, mungkin hampir semua penduduk Kofa bertanya ada apa dengan Tuhan hari itu? Mengapa saat Ia menciptakan hujan, malah tetesan debu yang jatuh? (hlm 15)

            Begitulah penulis dengan piawai menggunakan gejala alam sebagai perlambang pergolakan sosial yang terjadi di sebuh kota kecil di NTT. Ada pula kisah tentang Lama Fa (juru tikam ikan paus). Melalui cerpen yang dikisahkan dengan alur terbalik ini, penulis mengajak pembaca awam tentang kehebatan lama fa yang begitu terkenal di NTT tapi jarang dilirik di wilayah-wilayah Indonesia yang lain. Membacanya, kita serasa diajak mengarungi lautan bersama para penangkap ikan paus tradisional (yang mengingatkan saya pada novel Moby Dick karya Herman Melville). Lebih menakjubkan lagi ketika kisah ini beralur balik, dari ujung kisah ke permulaan, yang awalnya membuat pembaca bingung tetapi semakin ke belakang malah menawarkan sudut cerita yang bagus, yakni pembacaan berulang—membacanya lagi dari belakang hehehe … teknik yang unik.

            Sang pewarna kover, cerpen Mata Air Air Mata Kumari adalah satu-satunya unsur luar negeri dalam buku ini. Bersetting di sebuah wilayah terpencil di negara Nepal, cerita singkat namun mengguras pilu ini seolah hendak mendobrak kecenderungan masyarakat luas yang sangat gemar melabeli orang. Kisah pilu si gadis Kumari, yang berubah dari titisan dewi yang dipuja menjadi pelacur yang terbuang, seolah menyentil rasa kemanusiaan kita yang sering memandang orang lain dari luarnya saja. Ketika rahimnya yang suci bersentuhan dengan pria yang ia cintai sehingga menghasilkan benih calon penghuni kolong langit, masyarakat yang dulu memujanya tiba-tiba membuang sang mantan dewi ke pucuk bukit. Begitu rupa tangisan sang dewi hingga menciptakan mata air yang airnya menghidupi warga yang dulu membuangnya. Seperti tak tahu terima kasih, warga yang geram karena minum dari air mata seorang pelacurpun membunuhsi gadis Kumari dengan keji, yang menciptakan banjir dan genangan air mata yang menutupi desa.

            Simak juga cerpen Keris Kiai Setan Kober, sebilah keris yang meminta banyak tumbal. Keris yang konon dibuat oleh Empu Bayu Aji pada era Padjajaran ini sangat terkenal dalam sejarah karena banyaknya korban. Keris inilah yang kemudian menjadi senjata Arya Penangsang. Lihatlah, dalam cerpen ini, seorang Yudhi mampu menarasikan keganasan dari senjata ini. Lalu, masih ada Dua Mata perak, Anak Nenang Kawi, dan Eksekusi yang membuat pembaca berpikir sejenak berupaya mencari tahu maksud pengarang, sebelum berteriak “Aha, ternyata begitu!” Luar biasa, beraneka warna berpadu dengan cantik dalam buku kecil ini: ada sindiran sosial, lokalitas budaya yang kental, petualangan di pedalaman, hingga sedikit sentilan politik. Satu hal yang jelas, sang penulis mampu mengisahkan semuanya dalam bahasa yang halus, diksi yang sangat kental dengan budaya lokal, serta alur yang mengikat imaji pembaca. Ah, apalah saya ini sehingga berhak menilai karya yang mengagumkan ini dari sudut pandang saya yang masih teramat dangkal ini? Biar pembaca sendiri yang membaca dan memutuskan, bahwa  Mata Air Air Mata Kumari memang unik, dan indah, dan sangat “cerpen” kalau bahasa surat kabar.

            Sebagai penutup, saya kutipkan tulisan yang menghiasi sampul belakang buku ini, yang menurut saya tidak mungkin lebih pas lagi: Buku ini tidak sekadar suguhan kata di atas lembaran kertas. Buku ini menantang peziarahan imajinasi-lokalitas dan penelisikan diri manusia melalui pelbagai peristiwa. Kefasihan menuliskan kepekaan tempat (geografi) juga nengesankan kerja kepengarangan  yang (tetap) sadar dalam lintas batas imajinasi kultural-lokalitas. 
Read more »