Tampilkan postingan dengan label Nonfiksi-memoar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nonfiksi-memoar. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 Agustus 2011

Nenek Hebat dari Saga/Saga No Gabai Bachan (佐賀のがばいばあちゃん)

 

Paska jatuhnya bom atom di Hiroshima tahun 1945, dampak mengerikan peristiwa ini langsung terasa pada sebagian besar rakyatnya , tidak terkecuali  Akihiro dan keluarganya. Bukan hanya harus menghadapi himpitan ekonomi yang makin terpuruk tapi juga harus kehilangan sosok ayah yang menjadi tulang punggung keluarga akibat terpapar radiasi bom atom. Karena itulah, merasa tak sanggup untuk membesarkan Akihiro di Hiroshima maka oleh ibunya Akhiro lantas dititipkan pada neneknya di kota Saga yang terpencil.
Di Saga, Akihiro dan neneknya menjalani kehidupan yang terbilang sangat sederhana. Bermodalkan gaji sebagai petugas kebersihan dan uang titipan ibu Akihiro, mereka memenuhi kebutuhan sehari-sehari ditengah kondisi yang serba kekurangan. Pernah suatu ketika, Akihiro terlibat percakapan dengan neneknya mengenai makan malam mereka yang sangat sederhana hingga membuat hati terenyuh karenanya.



" Nek,dua-tiga hari ini,kita makan kok hanya nasi ya, tanpa lauk?"
Setelah aku berkata begitu sambil tertawa terbahak-bahak, nenekku menjawab,
" Besok nasi pun takkan ada kok."
Aku dan nenek hanya bertatapan mata,kemudian kembali terbahak bersama-sama. (prolog)

Walaupun hidup miskin, Nenek Osano bukan orang yang pantang menyerah dan bersedih pada keadaan. Ia punya ratusan ide yang mampu membuat realita hidup menjadi jungkir balik olehnya. Contohnya saja bagaimana Nenek Osano mendapatkan tambahan penghasilan dan lauk makanan dari hal yang tak terduga-duga. Paku yang sebelumnya dipandang sebagai benda kecil yang tak terperhatikan di jalanan menjadi ladang uang ditangan Nenek Osano melalui magnet yang tersampir dipinggangnya ketika berjalan. Begitupun juga arus sungai yang kerap dianggap tak berharga berubah menjadi supermarket rahasia yang bermanfaat bagi persedian makanan sehari hari.


“Sungguh sayang kalau kita sekedar berjalan. Padahal kalau kita berjalan sambil menarik magnet, lihat, begini menguntungkannya, kalau kita jual, sampah logam lumayan tinggi harganya. Benda yang jatuh pun kalau kita sia-siakan, bisa dapat tulah.” (hal 42)

Tidak hanya sampai disitu, ide neneknya  juga bekerja ketika Akihiro ingin memiliki aktivitas olahraga khusus yang dalam hal ini belajar Kendo. Karena berbentrokan dengan kondisi keuangan dan peralatan yang harus dibeli, Nenek Osano malah menyarankannya mengikuti olah raga lari. Hemat dan sehat juga,kan? Akihiro pun mengikuti anjuran neneknya hingga akhirnya ia pun menjadi atletik sekolah cabang lari yang juara setiap tahun.


Hal-hal itulah yang dilihat dan dialami oleh Akihiro--atau sekarang lebih dikenal dengan nama Yoshichi Shimada-- selama ia tinggal bersama neneknya bertahun-tahun silam. Dan melalui pengalaman demi pengalaman berharga itu jugalah, Akihiro akhirnya memutuskan mengabadikan kisah sang nenek melalui sebuah buku yang diterbitkan tahun 2001 oleh Tokuma Shouten. Kisah sederhana dan menyentuh di buku ini pun kemudian meledak dipasaran setelah penampilan perdanannya dalam sebuah acara talk show" Tetsuko no Heya" yang dibawakan Tetsuko Kuroyanagi (Totto Chan: Gadis Cilik di Jendela.).

Setelah sebelumnya membaca karya Totto Chan, ini adalah kali kedua aku membaca novel karangan Jepang yang juga mengangkat tema filosofi hidup yang memikat. Buku Saga no Gabai Bachan ini juga sama tipisnya dengan Totto Chan dan gampang dicerna karena bahasanya lugas (salut untuk penerjemah Indah S Pratidina yang bekerjasama dengan Prof. Mikihiro Moriyama  sehingga menghasilkan kualitas terjemahan yang bagus)  Lalu ada ilustrasi kecil disetiap akhir bab dan sisipan bonus quote Nenek Osano  di halaman akhir yang terkadang bermakna  nyeleneh tapi memang benar adanya.

So, kalau kamu pengen bacaan bermutu,ringan, dan berharga untuk dikoleksi, novel ini bisa menjadi salah satu kandidat terbaik dalam hunian rak bukumu.

=================

Judul : Saga no Gabai Bachan/ Nenek Hebat Dari Saga
Penulis : Yoshichi Shimada
Penerjemah: Indah S Pratidina- Prof Mikihiro Moriyama
Penerbit: Kansha Books
Terbit : @2011
ISBN : 978-602-97196-2-8
Tebal : 264 hal

=================
Read more »

Sabtu, 18 Juni 2011

Kisah Tragis Oei Hui Lan

Beberapa waktu yang lalu pengguna jejaring sosial Twitter sempat dihebohkan dengan foto yang di upload seorang aktris Indonesia yang sedang berkunjung ke museum Tugu Malang dimana aktris itu berfoto dengan latar belakang gadis berambut panjang dengan mengenakan gaun putih yang dinilai sangat menyeramkan. Usut punya usut, akhirnya barulah diketahui bahwa sosok gadis dalam foto itu tidak lain adalah Oei Hui Lan,putri orang terkaya di Indonesia.

Dan tahun ini Agnes Davonar selaku penulis kembali mencetak ulang novel Oei Hui Lan sesuai foto Oei Hui Lan yang sensasional itu. Wow!!

Menariknya, novel Oei Hui Lan karya Agnes Davonar  ini dikabarkan pernah ditarik dari peredaran buku di Indonesia karena masalah  perizinan dengan pihak keluarga Oei Hui Lan. Karena itulah,setelah semua masalah perizinan selesai, novel ini kembali beredar di Indonesia atas persetujuan oleh keluarga Oei Hui Lan dengan syarat hanya diterbitkan 2 kali dalam setahun. Tidak ayal, novel ini begitu diburu oleh penikmat sastra tanah air yang ingin mengetahui lebih dalam siapa sosok sebenarnya Oei Hui Lan atau lebih dikenal dengan nyonya Wellington Koo yang begitu terkenal di seluruh dunia.

Dalam novel berbau semi autobiografi ini,digambarkan bagaimana permulaan masa kecil dari Oei Hui Lan hingga ia dewasa. Masa kecil yang dimulai dari kehidupannya yang penuh limpahan harta karena ayahnya,Oei Tiong Ham adalah seorang raja gula yang dinobatkan sebagai orang terkaya se Asia Tenggara. Hui Lan sendiri malah tidak mengetahui fakta itu sampai usianya menginjak 15 tahun.

Oei Hui Lan merupakan anak kedua dari istri sah Oei Tiong Ham dan bertempat tinggal di Semarang,Jawa Tengah. Ia dan keluarga menghuni rumah mewah layaknya istana dengan luas mencapai 9,2 hektar. Dideskripsikan pula rumah mereka bergaya arsitektur Italia itu terdiri dari 200 ruangan, paviliun besar,dapur,villa pribadi,serta tidak lupa pula kebun binatang. Rumah ini juga dilengkapi ruang khusus pelayan, ruang pijit,dan taman luas tempat biasa Hui Lan dan Tjong Lan kakaknya biasa bermain. Tidak heran dengan area sebesar itu, mereka sekeluarga membutuhkan kira-kira 40 pembantu yang terdiri dari kepala pelayan atau Majordomo, 50 tukang kebun,berikut tambahan guru les privat dan koki terkenal dari China,Melayu,maupun Eropa.

Semua hal-hal mewah dan termodern kala itu berhasil didapatkan Hui Lan yang notabenenya merupakan anak kesayangan ayahnya. Dari perhiasan,mobil, pesta ala putri Cinderela,hingga berpelesir ke negara tetangga dengan mudahnya. Hui Lan sendiri tipikal gadis tomboy yang senang bersosialisasi dan berbeda dengan Tjong Lan kakaknya yang pendiam dan feminim. Namun, karena masalah Hui Lan yang sepertinya lebih disayang ayahnya membuat Hui Lan dan  Tjong lan kakaknya mengalami pertengkaran setiap harinya. Pernah suatu ketika, Hui Lan yang tidak hanya mendapatkan limpahan materi lebih dari kakaknya tapi juga kepercayaan dari ayahnya untuk dibawa ikut serta ke rumah gundik-gundik ayahnya yang jumlahnya sekitar 8 orang dan memiliki total anak 42 bahkan lebih. Sementara itu, ibu Hui Lan yang berstatus istri sah, ia hanya bersikap acuh tak acuh terhadap hal itu dengan dalih tidak menginginkan adanya perceraian diantara keduanya.

Kehidupan glamor Hui Lan terus berlanjut begitu ia akhirnya menjadi istri Wellington Koo, seorang duda dan diplomat yang menjadi tokoh revolusi Republik Rakyat China, setelah diperkenalkan oleh ibu dan kakaknya. Kehidupan jetset kelas dunia kemudian ia jalani setelah dirinya menjadi istri seorang yang paling berpengaruh di RRC itu. Hui Lan yang kemudian lebih dikenal dengan gelar nyonya Wellington Koo ini pun dekat dengan keluarga Kerajaan Monaco dan Inggris, cukup dekat dengan kakak Presiden Amerika kala itu,dan orang-orang terkenal lainnya. Semua itu bisa dilihat dari foto-fotonya Hui Lan dalam setiap bab novel ini. Dalam foto-foto itu ia  juga terlihat sangat cantik dan berkelas serta selalu mengikuti setiap kegiatan baik dalam urusan politik,amal, maupun pesta pora ala kaum bangsawan dunia.

Tapi sayang, kehidupan ayahnya,Oei Tiong Ham berakhir tragis 5 tahun setelah Hui Lan menikah. Tiong Ham yang memutuskan pindah ke Singapore bersama Lucy Ho si gundik tersayangnya setelah terdesak oleh pajak dari  Pemerintah Hindia Belanda dan juga demi menghabiskan masa tuanya disana. Kemudian ia pun meninggal karena serangan jantung. Hui Lan yang sempat mencurigai  Lucy Ho sebagai dalang dari kematian ayahnya, tidak mampu berbuat apa-apa karena otopsi mayat tidak bisa dilakukan tanpa persetujuan ibunya.Warisan yang ditinggalkan Tiong Ham pun menjadi petaka bagi gundik dan anak-anaknya yang ditinggalkan karena mereka menginginkan harta yang lebih dengan berbagai cara hingga beberapa generasi sesudahnya.

Demikianlah kehidupan Oei Hui Lan  menjadi salah satu putri sekaligus istri terkenal dari Semarang. Hidupnya yang mewah hingga paruh baya, tetapi di akhir hayatnya 'merasa' sangat kesepian. Begitupun dengan ayahnya yang sama sekali tidak betul betul dicintai oleh keluarga besarnya sendiri. Mereka hanya menginginkan harta dan hanyalah Hui Lan lah satu-satunya anak yang tulus menyayangi ayahnya sepenuh hati.

Dalam kisah memukau nan inspiratif ini kita akhirnya bisa mengetahui hikmah besar yang terselip dari perjalanan hidup dari seorang Oei hui Lan. Bahwa gelimangan harta dan ketenaran bukan segala-galanya dan tak mampu membeli sebuah kebahagian sejati seseorang. Rasa cinta, syukur,memberi adalah kuncinya .Dan satu lagi, mungkin kritik pada novel ini lebih pada typo yang cukup banyak dan sangat menganggu kenyamanan membaca. Terlebih novel ini telah direvisi berulang kali seharusnya lebih sempurna dari cetakan sebelumnya. Aku harap penulis lebih memperhatikan hal itu kedepannya.
Akhir kata, seperti kata pepatah China:
Tak ada pesta yang tak berakhir
Begitulah gambaran akhir dari kisah ini.
In Memoriam Oei Hui Lan (1899-1992)
=================

Judul : Kisah Tragis Oei Hui Lan: Putri Orang Terkaya di Indonesia
Penulis : Agnes Davonar
Penerbit: Intibook
Terbit : @2011
ISBN : 978-602-95752-0-0
Tebal : 310 hal

=================

Read more »

Minggu, 10 April 2011

Lelaki Laut

Beberapa tahun belakangan ini, semakin banyaknya  kemunculan  karya sastra dari penulis dalam negeri yang mengambil kampung halamannya sebagai setting cerita. Hal itu tidak terlepas dari keberanian dari para penulis itu sendiri dan juga diiringi permintaan konsumen yang  haus akan karya sastra yang bernilai inspiratif dengan tidak lupa  mengeksplorasi keindahan dari daerah-daerah di Indonesia. Salah satu dari sekian banyak novel inspiratif itu adalah Lelaki Laut. Novel perdana Alamsyah M Dja'far ini, mengusung  kepulauan seribu sebagai setting cerita yang kemudian diungkap melalui kisah nyata dari pengalaman panjang kakak laki-laki penulis sendiri, Ahmad Jarkasyi.

Ahmad Jarkasyi atau akrab dipanggil Bang Jar adalah kakak laki-laki penulis sekaligus tokoh utama dalam novel ini. Ia adalah sosok kakak idola baik,rendah hati,pandai mengayomi, dan mudah bergaul. Tidak salah jika selaku adik, sang penulis merasa kagum dan tiada henti memaparkan kebaikan dari Bang Jar sang kakak di sepanjang cerita.

Semuanya semula terasa baik-baik saja. Namun, perubahan sedikit demi sedikit mulai terasa didalam diri Bang Jar. Menginjak usia remaja, Bang Jar mulai terpengaruh pergaulan buruk dari sekawanan geng kampung. Ia menjadi lebih sering keluar malam hanya untuk berkumpul dengan geng nya. Hal ini lantas membuat kedua orang tuanya kesal dan mulai menasihati setiap perbuatannya yang semakin lama tidak jelas juntrungannya.

Bukannya menurut, semakin hari Bang Jar semakin sering membuat ulah. Puncaknya ketika ia memutuskan  untuk menjadi nelayan Muroami dan berhenti kuliah.  Kedua orang tuanya terutama ayahnya marah besar atas keputusan tanpa dipikir dulu itu. Orang tuanya bisa dikatakan mampu secara ekonomi untuk menyekolahkan Bang Jar hingga lulus kuliah, tapi nyatanya justru Bang Jar malah mengkhendaki menjadi nelayan Muroami,profesi umum yang biasanya dilakukan oleh kebanyakan penduduk kepulauan Seribu. Tapi, apa mau dikata,Bang Jar yang saat itu bergelora oleh semangat untuk bebas, akhirnya berhasil mendapatkan keinginannya itu.

Persoalan lain pun muncul setelah kematian mendadak sang ayah ketika tengah menunaikan ibadah haji. Tidak cukup dengan berita kematian itu, sekeluarga  pun harus mendengar berita buruk dari kelakuan putra mereka, Bang Jar selama berada di rumah bibinya di Jawa. Saat itu,Bang Jar larut pada keterpurukan oleh obat-obatan. Beruntungnya atas dorongan kuat Emak dan keluarga,Bang Jar masuk rehabilitasi dan berhasil melewati tahap-tahap sulit dalam hidupnya itu.

Bang Jar pun lalu menikah dan dikaruniai seorang anak. Disamping itu, Bang Jar juga mulai bekerja pada sebuah majalah Jalan. Dari sinilah ia termotivasi untuk kembali melanjutkan pendidikannya yang dulu sempat tertunda. Apalagi  Alam, sang adik, tak pernah henti untuk memberikan semangat,motivasi dan doa kepada sang kakak tercinta. Tapi takdir telah tergaris untuk kehidupan Bang Jar.  Ia terpaksa harus mengalami suatu kenyataan pahit dari takdir itu sendiri. Manakala  ia hampir menggapai kesuksesannya dalam pendidikan, sehari sebelum ia diwisuda atas keberhasilannya itu.

Novel ini sesungguhnya bercerita mengenai perjalanan hidup Bang Jar selaku pemuda asli Pulau Tidung yang sederhana namun punya rasa  ingin tahu yang besar. Perjalanan hidup yang terlihat biasa namun penuh dengan  lika-liku. Pesan yang disampaikan juga jelas: belajar tak pernah mengenal kata akhir dan tak ada kata terlambat untuk berubah menjadi lebih baik.

Dilain sisi, aku mendapati  hal mengganjal dalam novel ini yang masih belum ketemukan penjelasannya. Contohnya seperti pada saat Bang Jar tergeletak pingsan yang diketahui akibat pengaruh obat-obatan (hal 78). Dalam hal ini, tidak diketahui secara pasti peristiwa dan alasan sebelum Bang Jar, si tokoh utama bisa terseret ke dalam dunia gelap itu. Tidak ada keterangan yang jelas dan memuaskan yang bisa kudapat.

Sejalan dengan itu, ada sedikit kebosanan yang menghinggapiku di awal membaca novel ini. Untunglah, ada adegan film lawas yang sedikit menutupi kebosanan itu. Film lawas yang berjudul Pancasona diceritakan begitu terperinci oleh si penulis, dan entah kenapa pada bagian ini aku merasa tertarik pada unsur-unsur lawas yang tidak pernah aku dapati jika menonton film-film modern masa kini. Aku merasa berada pada era dimana film-film bertema Majapahit atau Sriwijaya lagi nge trend pada zamannya.hehehe

Lebih dari itu, aku sangat menyukai novel ini dari segi  ide cerita,diksi penulis dan alur maju mundur yang terkesan rapi. Kemudian juga bertebarannya kata-kata ilmiah populer dan latin disepanjang cerita yang semakin memperluas pembendaharaan kosa kata bagi para pembaca khususnya bagiku. Selamat membaca.


Pulau Tidung merupakan salah satu kelurahan di Kepulauan Seribu.Pulau ini terbagi dua yaitu, Pulau Tidung Besar dan Pulau Tidung Kecil. Penggunaan wilayah di pulau ini berkembang ke arah wisata bahari seperti menyelam serta penelitian terhadap terumbu karang.
Pulau Tidung yang terdiri dari Tidung Besar dan Tidung Kecil yang dihubungkan oleh jembatan panjang ini terletak di Kepulauan Seribu Selatan bagian barat, dengan jarak tempuh kurang lebih 3 jam perjalanan dari Muara Angke dengan kapal penumpang.Kepulauan Seribu (/wikipedia)
=================

Judul :Lelaki Laut
Penulis : Alamsyah M Dja'far
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit : @2010
ISBN :978-979-22-6462-3
Tebal :193 hal

=================


Read more »

Minggu, 20 Maret 2011

Virus Dreamunus Nekatisimus

Ingin mencoba menikmati pengalaman baru dalam membaca sebuah novel?silahkan mencobanya dengan membaca Virus Dreamunus Nekatisimus, novel perdana dari penulis sekaligus violinist muda berbakat, Putri Rindu Kinasih. Dalam novel ini, pembaca  akan menemukan suguhan pengalaman Putri selaku penulis dalam meraih mimpi-mimpinya sebagai seorang violinist dalam sekumpulan surat-surat yang ditujukan untuk seekor monyet bernama Nyo-Nyo. Meski hanya berupa kumpulan surat,pendekatan emosional yang diberikan oleh penulis terasa sangat nyata, sehingga  selama alur cerita, pembaca seakan diajak ikut serta dalam menelisik segmen demi segmen berbagai pengalaman hidup Putri yang dituang melalui diksi khas remaja yang seru.

Pengalaman  Putri yang ditulis ulang itu dimulai saat ia lahir ke dunia dalam kondisi prematur. Saat itu, dokter telah memvonis dirinya tidak akan bertahan hidup lebih lama karena kondisinya yang tidak stabil. Keluarganya pun hanya bisa pasrah bila akhirnya Putri yang memiliki berat hanya 1 kg itu benar-benar tidak mampu ditolong lagi. Tapi  ternyata Tuhan memiliki rahasia tersendiri. Putri pun selamat dan tumbuh besar seperti anak-anak normal lainnya.

Menginjak usia balita, Putri pun mulai berkenalan dengan alunan musik biola secara tidak sengaja. Semenjak saat itulah ia mulai jatuh cinta pada alat musik itu. Minat Putri  pada musik pun kian bertambah dan ia pun memiliki keinginan untuk belajar musik secara formal melalui kursus musik. Keinginan itu pun terwujud saat Orang tua Putri yang saat itu mengalami kesulitan perekonomian akhirnya bertemu Kristiyanto Christinus, guru violinist pertama Putri, dengan  pembayaran kursusnya melalui sistem barter; orang tua Putri yang berprofesi sebagai guru bahasa Inggris mengajari anak Pak Kris dan begitupun sebaliknya.

Tidak hanya sampai disitu, Putri pun  berjuang dengan keras untuk mewujudkan mimpi terpendamnya sebagai violinist handal dan manggung di orkestra terkenal. Pengalaman sedih ditinggal salah seorang guru ke luar negeri juga memberikan tempaan hidup sekaligus pompa semangat bagi Putri untuk semakin memperkukuh impian besarnya. Putri kemudian melanjutkan langkahnya dengan mengikuti audisi remaja Twilite Youth Orcestra dan bertemu Eric Awuy. Selama beberapa bulan berada disana, Eric kemudian menyarankan Putri untuk memperdalam ilmu musiknya dengan berguru pada Ibu Grace, lulusan musik kenamaan Austria dari sekolah musik Amedeus. Namun, lagi-lagi, karena masalah keuangan yang mencekik, orang tua Putri berinisiatif membicarakan persoalan itu secara pribadi pada ibu Grace. Akhirnya, dengan usaha keras yang tiada henti, Putri pun diterima bersekolah disana.

Selama proses menapaki cita-citanya sebagai violinist  yang tidak mudah untuk diraih ,Virus Dreamunus Nekatisimus memang benar-benar nyata bekerja bagi diri Putri. Virus  itulah yang membuat Putri tetap semangat menjalani kursus musiknya,meski harus pulang pergi dari sekolah Amedeus dengan jarak yang cukup jauh dari rumah. Ditambah lagi,ternyata kerja kerasnya untuk menghasilkan suara biola yang  indah   malah menghasilkan ancaman  drop out dari sekolah Amedeus karena permainannya yang selalu salah. Namun, karena Virus itu jugalah yang pada akhirnya mengantarkannya pada orkestra terkenal sekelas Tübinger Kammerorchester dan satu panggung dengan David Riniker, salah seorang Cellist kenamaan dunia.

Novel Virus Dreamunus Nekatisimus setebal 142 halaman ini, menjadi salah satu bacaan yang menurutku sangat menarik. Novel ini tidak hanya menawarkan humor-humor segar tetapi juga inspirasi lain dalam satu wadah yang mengusung tema "meraih mimpi" dalam hal bermain musik. Meski dilain sisi, secara keseluruhan novel ini membahas tentang seluk beluk musik  yang terkadang kurang di pahami seorang awam musik sepertiku, tapi dalam novel ini Putri mampu mengolah setiap kata-kata asing dalam musik tersebut menjadi kata yang mudah untuk dicerna melalui beberapa perumpaan yang disajikan.

Secara pribadi,kisah nyata Putri dalam meraih mimpinya sebagai violinist ini, seakan memberikan kekaguman tersendiri bagiku. Usahanya yang pantang  menyerah ditengah  keterbatasan, mengajarkan kita arti pentingnya sebuah usaha  kuat untuk mencapai sesuatu. Dan melalui virus Dreamunus Nekatisimus,--virus pemicu kenekatan dalam meriah mimpi-- inilah semuanya dapat kita mulai. Mau mencoba?
=================

Judul : Virus Dreamunus Nekatisimus
Penulis : Putri Rindu Kinasih
Penerbit :Glitzy
Terbit : @2011
ISBN :978-979-22-6394-7
Tebal : 142 hal

=================
Read more »