Tampilkan postingan dengan label Kansha Books. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kansha Books. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Agustus 2012

Ziarah ke Masa Lalu Jepang


Judul Buku: Minamoto no Yoritomo
Penulis: Eiji Yoshikawa
Penerbit: Kansha Books
Cetakan: I, Februari 2012
Tebal: 386 Halaman

Memperbincangkan sastra Jepang, sangat sulit dilepaskan dari sosok bernama Eiji Yoshikawa. Dua karya utamanya; Musashi dan Taiko, menjadi bacaan wajib bagi para pecinta kisah Samurai khususnya, dan sastra Jepang pada umumnya. Kedua buku tersebut juga dianggap mampu menginspirasi dan memotivasi para pembacanya.

Pria bernama asli Hidetsugu Yoshikawa ini dikenal memiliki gaya penulisan yang khas, ia kerap mengekspresikan pandangan-pandangan pada masanya dengan menggunakan setting masa lampau Jepang, era ketika para Samurai dan Shogun berperang menumpahkan darah untuk meraih kehormatan dan kekuasaan. Hasilnya, karya-karya Eiji seakan tak lekang oleh zaman.

Salah satunya karya berjudul Minamoto no Yoritomo ini. Berkisah tentang anak-anak Sama no Kami Yoshitomo, pemimpin klan Minamoto, yang kalah telak dalam Perang Hougen Heiji di Rokujo-Kawara melawan Taira no Kiyomori. Yoshitomo beserta seluruh keluarganya terbunuh, dan hanya menyisakan empat orang anak; Uhyoe no Suke Yoritomo, Otowaka, Imawaka, Shanaou Ushiwaka dan seorang gundik bernama Tokiwa.
Jatuh-Bangun Rezim

Nasib kelimanya jauh lebih beruntung dibanding dengan anggota keluarga klan Minamoto lainnya yang mengalami akhir tragis, mati di ujung pedang para samurai klan Taira. Yoritomo misalnya, anak bungsu Yoshitomo dari istri sah ini, selamat dari hukum pancung berkat hati Kiyomori, yang tidak seperti biasanya, melunak atas bujukan dari ibu tirinya, Ike no Zeni, dan putra sulungnya, Shigemori untuk mengampuni anak musuh bebuyutannya.

Sedangkan Tokiwa dan ketiga anaknya dapat selamat dikarenakan hati Kiyomori yang memang mata keranjang, kepincut oleh kecantikan gundik mendiang Yoshitomo ini. Akhirnya, hukuman yang ddapatkan oleh anak-anak tersebut hanyalah pengasingan, sedangkan Tokiwa sendiri harus rela dinikahkan dengan salah satu anak buah Kiyomori, sebagai siasat pemimpin klan Taira ini mengelabui publik.

Meski menceritakan semua tokoh utamanya hampir secara berimbang, namun kisah Yoritomo dan Ushiwaka-lah poros dari semuanya. Yoritomo, yang diasingkan ke Izu, kemudian mulai menyusun kekuatan dari sisa-sisa pasukan keluarga klan Minamoto. Sedangkan Ushiwaka yang dibuang ke Kuil Kurama, secara diam-diam mendapatkan perhatian dan dukungan dari mantan anak buah ayahnya yang masih setia. Keduanya memiliki misi yang sama; meruntuhkan rezim Taira yang tengah berkuasa.

Ketegaran dan semangat yang pantang menyerah, nampaknya menjadi spirit yang hendak dihembuskan oleh penulis yang paling disukai seantero Jepang ini kepada para pembacanya. Sikap demikian tergambarkan dengan sangat jelas melalui karakteristik tokoh utamanya, Yoritomo. Spirit seorang samurai yang patut diteladani.

Sebagaimana buku-bukunya yang terdahulu, karya ini pun tergolong cukup tebal, meskipun dalam versi Indonesia dibagi menjadi dua jilid, dan semakin mengerek namanya sebagai novelis dunia dengan spesialisasi fiksi histori Jepang. Namun, sebagai sebuah kisah yang lahir dari perkawinan antara fakta sejarah dan imajinasi penulisnya, ketebalan tersebut tidak membuat jenuh pembaca.

Teladan dari Sejarah

Sebagai sebuah fakta sejarah, kisah yang ditawarkan Eiji tersebut dapat kita ketahui melalui lembaran resmi sejarah yang ada, namun bagaimana imajinasi Eiji yang penuh warna sangat menarik untuk dinikmati. Mengingat karya fiksi sebagai hasil dari proses imajinasi, bukan catatan sejarah yang harus menitikberatkan pada data-data faktual. Sehingga ia memiliki dunianya sendiri, yang bisa saja dibengkokkan dari mainstream sejarah.

Menjelajahi halaman demi halaman buku ini, akan membuat kita merenung dan mencoba membandingkan antara masa lalu dan masa kini Jepang dan Indonesia. Ada keterkaitan yang erat antara Jepang modern dengan Jepang masa silam terutama abad ke-12. Jepang hari ini masih kental memperlihatkan pengaruh dari ajaran Bushido, atau kode etik samurai. Namun mereka sukses mentransfer nilai-nilai tersebut ke dalam sikap kerja yang lebih riil, sehingga tidak gamang mengarungi modernitas dan sukses menjadi negara maju.

Sebaliknya, meski memiliki kebudayaan dan akar sejarah yang jauh lebih panjang, di Indonesia semuanya hanya berujung pada mitos-mitos yang jauh dari realitas. Bagaimana kebesaran Majapahit, Sriwijaya, Padjajaran maupun sosok Ratu Adil, sekedar berfungsi meninabobokan masyarakatnya untuk terus menunggu Godot, tanpa memahami filosofinya dalam konteks kekinian. Bahkan kondisi geografis dan demografis yang jauh lebih unggul daripada Jepang pun seolah menjadi mubazir. Sebuah kegagalan yang melahirkan keterbelakangan berkepanjangan.

Peresensi:
Noval Maliki, Pemerhati Buku, Tinggal di Yogyakarta

Sumber: Kompas
Editor :Jodhi Yudono
Read more »

Selasa, 23 Agustus 2011

Nenek Hebat dari Saga/Saga No Gabai Bachan (佐賀のがばいばあちゃん)

 

Paska jatuhnya bom atom di Hiroshima tahun 1945, dampak mengerikan peristiwa ini langsung terasa pada sebagian besar rakyatnya , tidak terkecuali  Akihiro dan keluarganya. Bukan hanya harus menghadapi himpitan ekonomi yang makin terpuruk tapi juga harus kehilangan sosok ayah yang menjadi tulang punggung keluarga akibat terpapar radiasi bom atom. Karena itulah, merasa tak sanggup untuk membesarkan Akihiro di Hiroshima maka oleh ibunya Akhiro lantas dititipkan pada neneknya di kota Saga yang terpencil.
Di Saga, Akihiro dan neneknya menjalani kehidupan yang terbilang sangat sederhana. Bermodalkan gaji sebagai petugas kebersihan dan uang titipan ibu Akihiro, mereka memenuhi kebutuhan sehari-sehari ditengah kondisi yang serba kekurangan. Pernah suatu ketika, Akihiro terlibat percakapan dengan neneknya mengenai makan malam mereka yang sangat sederhana hingga membuat hati terenyuh karenanya.



" Nek,dua-tiga hari ini,kita makan kok hanya nasi ya, tanpa lauk?"
Setelah aku berkata begitu sambil tertawa terbahak-bahak, nenekku menjawab,
" Besok nasi pun takkan ada kok."
Aku dan nenek hanya bertatapan mata,kemudian kembali terbahak bersama-sama. (prolog)

Walaupun hidup miskin, Nenek Osano bukan orang yang pantang menyerah dan bersedih pada keadaan. Ia punya ratusan ide yang mampu membuat realita hidup menjadi jungkir balik olehnya. Contohnya saja bagaimana Nenek Osano mendapatkan tambahan penghasilan dan lauk makanan dari hal yang tak terduga-duga. Paku yang sebelumnya dipandang sebagai benda kecil yang tak terperhatikan di jalanan menjadi ladang uang ditangan Nenek Osano melalui magnet yang tersampir dipinggangnya ketika berjalan. Begitupun juga arus sungai yang kerap dianggap tak berharga berubah menjadi supermarket rahasia yang bermanfaat bagi persedian makanan sehari hari.


“Sungguh sayang kalau kita sekedar berjalan. Padahal kalau kita berjalan sambil menarik magnet, lihat, begini menguntungkannya, kalau kita jual, sampah logam lumayan tinggi harganya. Benda yang jatuh pun kalau kita sia-siakan, bisa dapat tulah.” (hal 42)

Tidak hanya sampai disitu, ide neneknya  juga bekerja ketika Akihiro ingin memiliki aktivitas olahraga khusus yang dalam hal ini belajar Kendo. Karena berbentrokan dengan kondisi keuangan dan peralatan yang harus dibeli, Nenek Osano malah menyarankannya mengikuti olah raga lari. Hemat dan sehat juga,kan? Akihiro pun mengikuti anjuran neneknya hingga akhirnya ia pun menjadi atletik sekolah cabang lari yang juara setiap tahun.


Hal-hal itulah yang dilihat dan dialami oleh Akihiro--atau sekarang lebih dikenal dengan nama Yoshichi Shimada-- selama ia tinggal bersama neneknya bertahun-tahun silam. Dan melalui pengalaman demi pengalaman berharga itu jugalah, Akihiro akhirnya memutuskan mengabadikan kisah sang nenek melalui sebuah buku yang diterbitkan tahun 2001 oleh Tokuma Shouten. Kisah sederhana dan menyentuh di buku ini pun kemudian meledak dipasaran setelah penampilan perdanannya dalam sebuah acara talk show" Tetsuko no Heya" yang dibawakan Tetsuko Kuroyanagi (Totto Chan: Gadis Cilik di Jendela.).

Setelah sebelumnya membaca karya Totto Chan, ini adalah kali kedua aku membaca novel karangan Jepang yang juga mengangkat tema filosofi hidup yang memikat. Buku Saga no Gabai Bachan ini juga sama tipisnya dengan Totto Chan dan gampang dicerna karena bahasanya lugas (salut untuk penerjemah Indah S Pratidina yang bekerjasama dengan Prof. Mikihiro Moriyama  sehingga menghasilkan kualitas terjemahan yang bagus)  Lalu ada ilustrasi kecil disetiap akhir bab dan sisipan bonus quote Nenek Osano  di halaman akhir yang terkadang bermakna  nyeleneh tapi memang benar adanya.

So, kalau kamu pengen bacaan bermutu,ringan, dan berharga untuk dikoleksi, novel ini bisa menjadi salah satu kandidat terbaik dalam hunian rak bukumu.

=================

Judul : Saga no Gabai Bachan/ Nenek Hebat Dari Saga
Penulis : Yoshichi Shimada
Penerjemah: Indah S Pratidina- Prof Mikihiro Moriyama
Penerbit: Kansha Books
Terbit : @2011
ISBN : 978-602-97196-2-8
Tebal : 264 hal

=================
Read more »