Tampilkan postingan dengan label buntelan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label buntelan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Oktober 2012

Hiking Girls




Judul   : Hiking Girls
Pengarang    : Kim Hye Jung
Penerjemah  : Dwita Rizki
Penyunting    : Dian P
Penerbit         : Atria
Cetakan        : Agustus 2012, 276 halaman



Belajar Dewasa dari Jalur Sutra
            Pernahkah membayangkan untuk memadukan antara perjalanan fisik (traveling) sekaligus sebagai perjalanan jiwa (journey)? Adalah sebuah lembaga di Prancis yang pertama kali mencetuskan ide untuk “merehabilitasi” anak-anak salah jalan di Prancis. Bukan dengan memasukkan mereka ke LP anak, tapi dengan mengharuskan para remaja itu untuk ikut serta dalam sebuah perjalanan jauh yang harus ditempuh dengan berjalan kaki. Gagasan inilah yang kemudian mendorong Kim Hye Jung menulis Hiking Girls. Novel ini mengisahkan tentang perjalanan dua gadis remaja bermasalah bernama Eun Sung (yang hobi memukul) dan Bora (yang gemar mencuri) bersama pembimbingnya, Kak Mi Joo. Ketiganya diharuskan mengikuti perjalanan sejauh 1200 km melewati padang tandus di pedalaman China dengan berjalan kaki sebagai ganti dari penjara anak. Yang membuat cerita ini begitu luar biasa adalah jalur yang mereka tempuh. Mereka akan melalui Jalur Sutera yang sangat legendaris.

            “Barat dan Timur bisa memiliki hubungan persahabatan karena pedagang-pedagang yang rela berjalan kaki. Silk Road bukan hanya jalan yang dilalui untuk mendistribusikan sutra dan rempah-rempah. Seni pengobatan, tarian, musik, dan hal-hal lain yang tidak terlihat juga sudah pernah melewati jalanan ini.” (hlm 51)

            Jalur Sutra merentang sejauh ribuan kilometer dari Timur ke Barat, mulai dari Semenanjung Korea, melewati China pedalaman, dan perbatasan dengan  Siberia, berliku-liku menelusuri eksotisme Asia Tengah sebelum tembus ke Timur Tengah, dan masih berlanjut lagi ke Syria dan Asia Barat hingga Turki, sebelum akhirnya berujung tepat di pusat kekuasaan Eropa, kota Roma kuno. Selama ribuan tahun sebelum pelayaran samudra marak, Jalur Sutra memiliki peran yang sangat strategis sebagai penghubung antara dua peradaban. Marco Polo, sang penjelajah dari Italia juga dikabarkan pernah melawati jalur ini, begitu pentingnya jalur legendaris ini sehingga hingga masa modern pun banyak wisatawan yang ingin melakukan napak tilas di jalurnya.

            “Aku kira kota yang sangat tertinggal ini tidak mungkin lebih hebat dari negara-negara Barat, ternyata sangat di luar dugaan, banyak peradaban Barat  yang dimulai dari tempat ini.” (hlm 112).

            Dalam Hiking Girls, penulis akan mengajak pembaca menelusuri salah satu etapedalam Jalur Sutra, yakni jalur antara kota Urumqi  hingga Dunhuang (dua-duanya masuk wilayah RRC). Bagian inilah yang menjadikan novel asal Korea ini semakin menarik. Dengan lugas, penulis mampu menggambarkan eksostisme Asia Tengah yang bergurun pasir. Pun, ceritanya dilengkapi dengan celotehan anak-anak remaja yang bawel dan agak nakal. Eun Sung awalnya menganggap perjalanan ini sia-sia belaka. Ngapain juga berjalan kaki di tengah padang pasir kering dengan rumah-rumah bobrok yang berpasir. Begitu pula Bora, yang sama-sama tidak tahu tujuan dari perjalanan aneh ini. Hanya Kak Mi Joo lah yang dengan begitu sabar (yang diartikan sebagai “nenek sihir bawel” oleh  Eun Sung) sehingga perjalanan ini bisa berlangsung. 

Perlahan demi perlahan, panas gurun yang mendera serta kaki yang terkelupas semakin mewarnai hari-hari dua gadis usil ini. Setiap hari, mereka harus berjalan kaki minimal 20 km agar perjalanan mereka tepat 70 hari ketika sampai di Dunhuang. Tapi, sejak awal memang perjalanan itu tidak mudah. Cuaca yang ekstra panas, kaki yang terluka, kurangnya air minum, makanan yang aneh, hingga ditipu penduduk sekitar yang culas; semua itu hampir-hampir membuat Eun Sung dan Bora menyerah. Namun, dari perjalanan itu pula merka bisa belajar banyak tentang manusia, tentang suku-suku bangsa lain di luar Korea, menginap di tenda-tenda kaum nomaden, dan bermalam di padang rumput luas di kaki langit. Intinya, mereka belajar tentang orang lain—salah satu keterampilan terbesar dalam kehidupan. 

“Di Korea, ada orang baik dan orang jahat, begitu pula dengan di China. Semua orang di dunia berbeda tetapi sama.” (hlm 103)

Tetapi, bukan rintangan fisiklah yang berhasil membuat mereka menyerah. Melainkan, rintangan psikologis dan beban mental dari dalam diri masing-masing. Hampir genap perjalanan itu terselesaikan, Bora tiba-tiba bersikap aneh dan memutuskan kabur. Eun Sung yang tidak tega pun mengikutinya kabur, meninggalkan Kak Mi Joo yang sedang sakit terkena demam. Sekilas, pembaca akan geregetan melihat sikap Bora yang tidak tahu diuntung ini. Tapi, ingatlah bahwa ia dan Eun Sung sama-sama maish remaja dan mereka juga “bermasalah”. Tapi, siapa sangka perjalanan mereka yang seperti fatamorgana itu malah mengarahkan mereka pada oasis kehidupan yang baru. Dikuak pula alasan mengapa Bora bisa bersikap begitu menyebalkan seperti itu, yang sejatinya memang wajar mengingat latar belakang dirinya.  Bahwa setiap orang itu berbeda, unik, dan kepribadiannya terbangun oleh masa lalu mereka, itulah yang rupanya hendak disampaikan buku ini. Tanpa sadar, perjalanan fisik itu telah membuat keduanya sama-sama tumbuh dewasa.

“Kita tidak akan bisa berbuat masalah dengan sesuka hati karena kita harus bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan saat kita sudah dewasa. “ (hlm 140)

Dengan begitu unik, Hiking Girls akan mengajak pembaca untuk menikmati perjalanan menembus eksotisme Jalur Sutra, lengkap dengan jenis pakaian, makanan, dan kebudayaan orang-orang muslim yang bermukim di sana. Di saat yang sama, pembaca akan disuguhi dengan perubahan dan gejolak pertumbuhan jiwa yang dewasa dalam diri Bora dan Eun Sung. Bahkan, si Eun Sung yang sepintas lalu terlihat sangat bermasalah pun ternyata jauh lebih dewasa ketimbang Bora yang dari luar tampak kalem. Memang, sebaiknya tidak memandang orang dari tampilan luarnya saja. Hiking Girls benar-benar sebuah buku unyu yang berjiwa dewasa.
Read more »

Selasa, 02 Oktober 2012

Jokowi, Si Tukang Kayu



Judul               : Jokowi, Si Tukang Kayu
Penulis            : Gatot Kaca Suroso
Penyunting     : Rayina
Korektor        : Siti Aenah
Sampul           : Apung Donggala—Ufukreatif Desain
Cetakan         : 1, September 2012
Penerbit         : Ufuk Fiction



            Buku ini semacam novel inspiratif sederhana tentang seorang sosok bersahaja yang akhir-akhir ini sering menjadi sorotan publik terkait dengan PILKADA Daerah Khusus Ibukota Jakarta 2012. Dialah Jokowi, mantan orang ndeso yang dengan gilang-gemilang berhasil menaklukkan rimba ibukota. Orang Solo yang hampir secara aklamatif akan memimpin Jakarta selama lima tahun ke depan. Joko Widodo, atau yang lebih populer dipanggil Jokowi, adalah sosok bersahaja yang apa adanya tapi juga ada apa-apanya. Begitu banyak kualitas kepemimpinan dalam dirinya: kreativitas, mengayomi, mampu mempersatukan banyak pendapat, dan tidak segan-segan melakukan tindakan yang agak “tidak umum” namun ternyata memang berhasil. Semua kualitas inilah yang menjadikan sosoknya begitu berbeda dan begitu menyedot perhatian publik semenjak beliau menjabat sebagai Walikota Solo hingga kini menjadi Gubernur DKI Jakarta. 

            Ada banyak hal yang turut membentuk Jokowi yang sekarang. Dalam novel Jokowi Si Tukang Kayu  ini, pembaca akan diajak bernostalgia ke Solo pada awal tahun 1970-an. Tentang masa kecil dan remaja Jokowi, begitulah novel ini dimaksudkan. Semua bermula dari pengalaman masa kecilnya yang dididik sebagai anak dari keluarga sederhana, bahkan keluarganya pernah tinggal di bantaran Kali Anyar, Surakarta, bersama para penghuni liar lainnya. Jokowi kecil hidup dengan begitu sederhana: mandi di sungai, bermain layangan si sawah, sesekali bermain di terminal, atau membantu bapaknya mencari kayu ke hutan. Semuanya biasa-biasa saja, tiada yang istimewa. Yang Istimewa adalah bahwa Jokowi kecil mampu menghasilkan jiwa dan sikap yang istimewa dari masa kecilnya yang sangat biasa itu.  
     
Lingkungan yang kumuh tidak menjadikan jiwa, hati, dan pikirannya turut kumuh. Dengan didikan Bapaknya yang tukang kayu serta Ibundanya yang begitu sederhana serta bijak dalam mengarungi hidup, Jokowi pun tumbuh sebagai anak yang terbiasa bekerja keras, bertanggung jawab, dan juga cerdas. Ia begitu beruntung karena tumbuh dengan dikelilingi oleh orang-orang yang bersahaja namun memiliki pandangan hidup yang luar biasa.

“Bapak, Ibu, maupun Mbah Harjo sama-sama pernah memberiku nasihat soal nrima ing pandum, yang intinya rida, ikhlas dengan yang diberikan Gusti Allah. Tapi nerima bukan sekadar nerima. Melainkan dibarengi dengan ikhtiar semampunya. Adapun hasilnya, itu terserah kepada Yang Maha Kuasa” (halaman 125)

Sedari kecil, ia memang sudah menunjukkan sifat-sifat yang sampai hari ini masih diperlihatkan hingga sekarang, yakni aktif bertindak ketimbang sibuk berwacana. Ia membuktikan prinsipnya ini dalam mencari SMA maupun kuliah. Walau gagal masuk di SMA impiannya, SMA I Surakarta, Jokowi remaja tidak putus asa apalagi ngresulo (mengeluh).  Ia berhasil membuktikan bahwa di SMA yang bukan favorit pun ia bisa tetap juara dan mempertahankan prestasi bagusnya.

            Setidaknya, dengan  nekat, aku sudah berusaha mencapai keinginanku, tidak merasa takut sebelum mencoba.” (halaman 100).

             Dengan prinsip yang sama, Jokowi berhasil diterima kuliah di universitas yang benar-benar menjadi favoritnya. Ia masuk sebagai mahasiswa Jurusan Kehutanan, Universitas Gajah Mada. Ia tahu, keluarganya tidak begitu berada, tapi orang tua Jokowi tetap mengedepankan prinsip pentingnya pendidikan sehingga mereka bekerja keras demi membiayai Jokowi. 

            “Tapi, kamu harus tanggung jawab ya. Kalau sudah memulai sesuatu, jangn kamu tinnggal di tengah perjalanan, nanti Bapak bantu sebisanya kalau kamu butuh apa-apa, seperti modal, karena jer basuki mawa bea (untuk bisa berhasil harus ada modal/biayanya).”

Jokowi pun demikian adanya. Pembaca seharusnya kagum dengan semangat pemuda Jokowi, yang ngekos dengan duit sangat pas-pasan, di mana ia juga harus bolak-balik Jogja-Solo setiap akhir pekan demi membantu usaha orang tuanya. Jokowi tahu benar bahwa keluarganya telah berkorban banyak demi kuliahnya, dan ia tidak akan menyia-nyiakan hal itu. Ia pun tumbuh menjadi mahasiswa yang cerdas, aktif berorganisasi, dan memiliki pandangan maju. Kualitas prima ini ia tunjukkan dalam program KKN yang ia ajukan bersama kelompoknya. Bukan sekadar KKN biasa, program yang diluncurkan Jokowi ini berhasil membangun masyarakat desa dengan berbasis kemandirian. Saat berpamitan, mereka meninggalkan desa itu dengan perasaan bangga bahwa semua anak muda di desa itu telah memiliki keterampilan dalam mengolah kayu menjadi mebel. Ia benar-benar anak tukang kayu yang berpandangan ke depan.

Masih ada banyak lagi hal-hal hebat yang bisa diambil dari masa kecil dan masa remaja Jokowi. Semuanya begitu sederhana dan apa adanya, tapi sang penulis berhasil menyarikan nilai-nilai kehidupan mellaui sudut pandang Jokowi yang apa adanya. Novel ini juga sedikit menjawab tanya dan penasaran dari para pembaca, tentang bagaimana masa-masa pacaran Jokowi muda, tentang bagaimana ia sangat suka dengan lagu rock, dan tentu saja, bagaimana ia bisa mendapatkan nama Jokowi—yang ternyata berasal dari seorang pengusaha asal Rusia.

Pun demikian, novel sederhana ini belum mengekplorasi masa-masa dewasa Jokowi, yakni Jokowi sebagai pengusaha mebel hingga akhirnya ia maju sebagai calon Walikota Solo. Seharusnya, bagian inilah yang mendapat porsi lebih, namun sayangnya hanya dibahas sekelumit kecil di penghujung novel. Tampaknya, penulisan novel ini lebih bertujuan untuk mengekplorasi masa kecil dan masa remaja Jokowi. Walaupun begitu, ada begitu banyak hal yang bisa kita jadikan sebagai teladan dan hikmah dari perjalanan seorang Jokowi dalam buku sederhana ini. Paling tidak, buku ini mampu menjawab sebagian tanya tentang sosok Joko Widodo yang akhir-akhir ini begitu rupa mewarnai layar kaca para pemirsa.


Read more »

Rabu, 26 September 2012

(Un)affair


Judul              : (Un)affair
Pengarang      : Yudhi Herwibowo
Editor             : Anton WP
Cetakan          : Pertama, 2012, 172 halaman
Penerbit         : BukuKatta   



            Apakah itu sebuah affair ketika dalam cerita indah itu kedua insan sama-sama mengetahui posisinya masing-masing? Layakkah cinta yang begitu lembut antar dua insan yang berbeda—yang tidak menuntut apa-apa selain sebuah sofa dan rumah kontrakan nan teduh sebagai tempat berteduh dan meluapkan cerita—boleh didakwa sebagai perselingkuhan? Jikalau memang itu harus dianggap demikian, maka alangkah benar jika
cerita dari kota Sendu itu diberi judul “perselingkuhan yang tidak adil” unfair affair --> (Un)affair

            Unaffair adalah kisah tentang Bajja dan Arra, dan Wara, dan Vae, dan akhirnya, Canta. Kelima tokoh dari Kota Sendu yang banyak turun hujan inilah yang mewarnai satu lagi kisah tentang cinta tak kesampaian yang berawal dari sebuah sofa. Adalah Bajja, seorang karyawan penyuka hujan yang tiba-tiba kedatangan sosok wanita asing bernama Arra. Ketika itu, Arra  hendak mencetak buku untuk kekasihnya di kantor Bajja. Keunikan dan kemisteriusannya membuat hati Bajja yang dulunya sekeras baja semenjak perginya Canta menjadi luluh, perlahan demi perlahan. Sebuah sofa usang di rumah kontrakan Bajja menjadi saksi tumbuhnya jalinan bukan-cinta-tapi-lebih-dari-sekadar-sahabat antara keduanya. Di mana hubungan unik antara keduanya itu digambarkan dengan indahnya melalui syair-syair narasi dalam novel kecil ini.

            kita bagai kupu-kupu …
            aku kupu-kupu dengan sepasang sayap yang rapuh
            berharap engkau terus mengiringiku terbang
            menjaga sewaktu-waktu aku jatuh (hlm 85)



MySpace            Lalu, keputusan itu pun datanglah. Si wanita pecinta sofa itu akhirnya pergi, sebagaimana Canta pergi meninggalkan Bajja. Dan kegalauan pun mulai melanda, yang untungnya tak lama. Sebuah kembang dari masa lalu Bajja kembali mekar menghampiri. Adalah Canta, yang memutuskan untuk  tinggal di kota Sendu, demi menikmati ketenangan dan hujannya--yang senantiasa turun. Dan, Bajja pun mendapatkan semangat dan pola hidupnya kembali, hanya untuk kembali digoyahkan oleh kedatangan kembali Arra ke Kota Sendu. Demikianlah cerita itu terus bergulir. Lalu, apakah Bajja akan kembali kepada Arra, ataukah tetap mempertahankan Canta? Biarkan Unaffair yang akan menjawabnya.

            Membaca Unaffair seperti mengingatkan saya dengan pembacaan cerpen. Entahlah, tapi bagi saya aroma sebuah cerpen terasa begitu kuat dari novel yang nyatanya ada beberapa bab ini. Mungkin, saya terlalu membandingkannya dengan karya-karya Mas Yudhi yang terdahulu, terutama yang kumpulan cerpen. Sungguh, rasa sastra itu begitu kental menguar dari lembar-lembar Unaffair, menjadikannya semacam affair yang indah, yang tidak tabu, yang sangat nyaman.

           Unaffair menggunakan bahasa baku yang cenderung formal. Tidak banyak kata gaul apalagi alay yang bersliweran dalam novel kecil ini, bahkan pada candaan si Wara yang agak gokil itu. Namun, keteraturan dan kebakuan itu bukannya membuat kaku tapi justru memperindah novel ini, seolah-olah “mengklasikkannya”.  Pembaca akan tetap mampu menikmati ceritanya terlepas ari penggunaan kata-kata lengkap seperti “engkau” dan “mengudak-udaknya”.

            Hal lain adalah banyaknya bertebaran kalimat-kalimat reflektif yang membuktikan bahwa si penulis memang seorang pengamat kehidupan yang piawai. Di sela-sela romansa dunia Bajja, terselip pandangan penulis tentang ironisnya promo penjual nisan (“beli satu bonus satu”), atau tentang universalitas musik,

musik mungkin universal, tapi kisah di balik lagu itulah yang membuatnya semakin diterima. Itu artinya sebuah kejaidan seperti dalam lagu itu ternyata terjadi pula di tempat-tempat lain. Jadi seseorang tidak perlu terlalu sedih  akan sesuatu, karena di tempat lain pun, ada orang yang bersedih karena hal yang sama.” (halaman 107)

atau tentang pengaruh antara seseorang terhadap lingkungannya

Aku bisa memaklumi. Kadang sesuatuyang ada di sekitar kita, akan kita bentuk seperti diri kita” (halaman 144) *membacanya sambil melirik timbunan di pojokan  #eh

          Ciri lain dari Mas Yudhi yang banyak bertebaran di buku ini adalah penggunaan kalimat-kalimat yang pendek dan seolah terpotong, seperti melambangkan jeda atau ada sesuatu efek yang hendak ditekankan. Dan, Mas Yudhi mampu menerapkan kata-kata berefek ini dengan begitu bagus sehingga bahkan seorang editor seperti saya (hasyah) abaii—yang sebenarnya sudah lazim dalam fiksi.

Mari kita akhiri pembacaan resensi ini dengan satu kutipan galau tapi indah dari salah satu halaman novel ini.

aku bagai mawar merah yang luka
namun tetap merah menyala
karena warna itu sudah kupilih
untukmu, seberapa pun aku luka (hlm 38) MySpace
Read more »

Minggu, 09 September 2012

I Love Monday


Judul               : I Love Monday
Penulis            : Arvan Pradiansyah
Penyunting     : Budhyastuti R.H
Sampul           : ILM Creative
Cetakan         : 1, Maret 2012 (299 hlm)
Penerbit         : Kaifa (Mizan Pustaka)      



            “Bekerja adalah alasan Tuhan menurunkan kita ke dunia ini” (halaman xxviii)

Setiap buku hebat memiliki caranya sendiri dalam mempengaruhi mindset atau pola pikir pembacanya. Beberapa di antaranya menawarkan pandangan/pendapat baru, yang lainnya mengusung model yang sama dengan pendekatan berbeda, sementara yang terakhir—dan ini yang paling jarang—dengan menjungkirbalikkan konsep yang selama ini kita yakini. Dalam hal ini, I Love Monday bisa dibilang mendekati jenis buku yang ketiga, yakni buku yang menjungkirbalikkan secara anggun konsep atau pandangan kita tentang pekerjaan (yang kemudian dilambangkan dengan hari Senin). 

Sudah sejak lama, hari Senin dianggap sebagai hari yang panjang, melelahkan, dan tidak menyenangkan. Senin identik dengan berangkat pagi, dengan tugas yang menumpuk di pekan sebelumnya, dan dengan aneka problema serta tantangan baru di kantor/tempat kerja. Pola pikir seperti ini terbentuk selama bertahun-tahun sejak kita sekolah, di mana Sabtu adalah malam liburan, Minggu adalah hari berlibur, dan Senin “terpaksa” harus bersekolah/bekerja lagi setelah sebelumnya kita dimanjakan dengan liburan. Konsep keliru tentang hari Senin (pekerjaan) inilah yang rupanya hendak ditawarkan oleh sang penulis.


Penulis buku ini, yang juga penulis buku hebat 7 Laws of Happiness,  menawarkan sebuah perubahan paradigma tentang cara kita memandang pekerjaan kita selama ini. Jika selama ini kita memandang bekerja sebagai suatu “kewajiban” (yang mana kewajiban ini biasanya dikaitkan dengan sesuatu yang terpaksa, yang kurang disukai, yang melelahkan), maka selamanya kita akan memandang negatif pekerjaan kita (dan akhirnya membenci atau cepat bosan dalam bekerja). 

Padahal, bekerja itu jika disikapi dengan benar adalah ibadah. Bukankah Tuhan mencintai hamba-hamba-Nya yang bertebaran di muka Bumi untuk mencari nafkah? Bukankah mencari penghidupan untuk diri sendiri dan keluarga itu ibadah? jadi, dengan bekerja sama saja kita telah beribadah (dan mendapatkan pahala). Namun demikian, masih ada saja orang yang mengeluhkan pekerjaan mereka, meskipun mereka sudah tahu bahwa bekerja itu penting dan memang harus dilakukan.

“Tidak adanya semangat kerja sesungguhnya adalah masalah paradigma, bukan masalah perilaku.” (hlm 5)

Mereka yang masih merasa malas bekerja di hari Senin, biasanya adalah orang-orang yang bekerja untuk sekadar mencari uang, yang melihat pekerjaan hanya sebagai sebuah job. Pokoknya, pagi datang, tengah hari makan siang, sore/petang absen pulang, dan awal/akhir bulan gajian. Setiap hari rutinitasnya sama, begitu-begitu saja, berbulan-bulan dan bertahun-tahun. Padahal, semangat yang  tercipta karena uang tidak akan bertahan lama(hlm 36). Pantas saja jika orang-orang seperti ini lekas merasa bosan di kantor dan selalu mengeluh dengan kehidupannya. 

Beda halnya dengan mereka yang melihat pekerjaannya sebagai sebuah karier, atau bahkan sebuah panggilan (yang merupakan tingkat paling tinggi dalam bekerja). Mereka inilah yang akan terus bekerja sepanjang kehidupannya, tidak peduli beratnya tantangan yang menghadang karena mereka telah menemukan posisi/tempat di mana mereka berada. Mereka meyakini bahwa pekerjaan itu memang telah ditakdirkan untuknya, yang terbaik di mana ia bisa mengoptimalisasikan segenap bakat dan kelebihannya.

“Kita jauh lebih bersemangat karena kita sadar bahwa kita bekerja untuk sesuatu yang lebih besar daripada diri kita sendiri.” (hlm 50).

Setelah itu, seseorang bisa naik ke tingkat yang lebih tinggi lagi, yakni menganggap pekerjaannya sebagai bentuk pelayanan terhadap orang lain. Dengan ungkapan-ungkapan bernas dan kata-kata penyemangat nan memikat, Bapak Arvan menunjukkan bahwa bekerja sejatinya adalah melayani dalam arti luas, Bukankah kita diciptakan untuk saling bantu membantu dengan yang lainnya? Bahwa mereka yang bekerja untuk “melayani” akan jauh lebih sukses dari mereka yang hanya bekerja untuk “mencari uang”. Ada unsur spiritual dan kehangatan jiwa dalam “melayani” sehingga paradigma ini akan menjadikan orang lebih bersemangat untuk berkerja.

“Orang-orang berdedikasi padaku karena aku juga mendedikasikan diri kepada mereka”—Toyotomi Hideyoshi. (halaman 110).



Masih ada banyak lagi saran dan pandangan berharga yang patut untuk kita renungkan setelah membaca buku ini. Misalnya saja, penulis menyarankan agar kita mencari pekerjaan dan bukan mencari uang karena kepuasan yang ditimbulkan oleh uang sifatnya hanya sementara. Juga, tentang spiritualitas di tempat kerja, yang dipaparkan dengan begitu lugas dan jauh dari kesan “mengkhotbahi” atau mengurui. Tata letak (lay out)nya juga sangat khas Penerbit Kaifa, yakni nyaman untuk dibaca, dengan font yang pas dan kutipan-kutipan kalimat penting yang dicetak dengan huruf yang lebih besar sebagai penekanan. Begitu enaknya buku ini dibaca hingga tahu-tahu saya sudah sampai ke halaman terakhir, padahal diri ini masih ingin belajar lagi tentang esensi positif dari bekerja.

Dan, ketika akhirnya kita merasakan bahwa kita telah berada di pekerjaan yang  tepat, yang merupakan panggilan jiwa kita, maka hari Senin tidak akan menjadi momok menakutkan lagi. Setiap Minggu malam, pikiran akan dipenuhi dengan semangat setelah seharian disegarkan melalui liburan, Kita akan siap menyongsong hari Senin yang penuh tantangan (juga peluang dan kesempatan emas) dengan pikiran positif.

“Keuntungan terbesar dari bekerja justru dari munculnya perasaan berharga, bermakna, dan berguna bagi orang lain.” (hlm 260).  

Read more »

Kamis, 23 Agustus 2012

Dead Girl Dancing


Judul    : Dead Girl Dancing
Pengarang        : Linda Joy Singleton
Penerjemah      : Maria Susanto
Penyunting        : Diksi Dik
Korektor           : Adi Toha
Cetakan           : 1, Juli 2012 (347 halaman)
Penerbit            : Atria



            Konon, jika ada orang yang sedang koma karena suatu sebab, jiwanya akan melayang sejenak untuk beristirahat sebagai “jeda” untuk memperbaiki jalan nasibnya. Saat jiwa si pemilik tubuh ini beristirahat, maka tubuh kosongnya akan diisi oleh seorang Penghuni Sementara yang akan menjaga agar tubuh itu tetap “bernyawa” dan tetap beraktivitas seperti biasa. Sang Penghuni Sementara adalah orang-orang baik yang telah terpilih, yang memiliki kapasitas dan kualitas diri yang baik untuk beradaptasi dengan benak/tubuh orang lain yang ia huni (dan kalau bisa ikut mengubah jalan hidup si pemilik tubuh ini  tersebut). Nah, Amber adalah contoh Penghuni Sementara ini.

            Semua dimulai dari buku pertama Dead Girl Walking (percayalah walaupun judulnya lumayan menyeramkan namun buku ini jauh dari kesan horor ala zombie, ini lebih mirip novel tentang remaja SMA). Amber tanpa sengajata tertabrak truk pos dan ia mengalami koma. Jiwanya dipindahkan selama sementara ke dalam tubuh Leah, salah seorang teman sekelasnya yang juga koma karena OD. Ternyata, Amber ditugaskan untuk menjadi “Leah” selama beberapa hari, menjalani hidup sebagai Leah untuk memberi kesempatan pada Leah yang asli untuk beristirahat sejenak dari hidupnya (Hah? Err frasa ini agak aneh sih ya?). Setelah beberapa hari menjadi Leah, jiwa Amber berpindah ke  tubuh Sharayah—kakak dari pacar Amber sendiri, Eli.

            Maka, dimulailah petualangan Amber yang masih anak SMA itu untuk menjalani hari-hari sebagai mahasiswi urakan dan liar. Rupanya, Amber ditugaskan untuk mencari tahu mengapa Sharayah yang dulu pintar dan mahasiswi baik-baik tiba-tiba berubah menjadi wanita penggoda yang jarang memberi kabar ke rumah. Sesampainya di tubuh Sharayah, Amber menyadari bahwa gadis ini menyimpan sebuah rahasia kelam dalam hidupnya, tentang pacar rahasianya dan juga tentang seorang penguntit yang diam-diam terus menguntit dan mengiriminya sms dan pesan ancaman.

            Dengan waswas karena ancaman misterius tersebut dan juga ancaman dari Penghuni Kegelapan (semacam versi jahat dari Penghuni Sementara), Amber yang SMA harus mendewasakan diri untuk menjadi Sharayah selama beberapa hari. Bersama teman-teman Sharayah yang urakan habis, Saddie dan Mauve, ketiganya berangkat bersenang-senang ke pantai Venice untuk “bersenang-senang” layaknya mahasiswa. Biasalah, musim panas di pantai berarti berjemur, menggoda cowok-cowok pantai, dan berpesta pora. Selama menjadi Sharayah ini, Amber sedikit demi sedikit mulai memahami mengapa kakaknya Eli yang dulu keren itu bisa berubah menjadi urakan dan tidak bertanggung jawab. Melalui Sharayah, ia juga mengamati bahwa setiap manusia—betapapun tampak tidak acuh dan cueknya mereka dari luar—masing-masing adalah jiwa yang sesekali rapuh, pernah terluka, dan memiliki banyak kekurangan. Ada sebab di setiap sesuatu.

            Sampai akhirnya, Amber menyadari bahwa Sharayah membutuhkan semacam katalis untuk memulihkan diri. Ternyata, suara Sharayah sangat bagus sehingga ia berencana mendaftarkan tubuh pinjaman ini ke kontes semacam American Idol. Dan, apakah Amber akan berhasil menyadarkan kembali Sharayah akan potensi dirinya? Bagaimana dengan si penguntit misterius? Siapakah sebenarnya orang ini? Lalu, masih ada pula si Penghuni Kegelapan yang diam-diam mengincar cahaya kehidupan milik Amber? (seorang Penghuni Kegelapan bisa menyedot habis cahaya kehidupan milik seorang Penghuni Sementara). Bisakah Amber tetap menjalankan misinya sementara ancaman terbesar itu tengah berada di dekatnya? Bersiap menerkam dan menjebaknya saat ia terlena?

            Membaca seri Dead Girl ini memang memberikan makna baru tentang kata “dead”. Alih-alih novel horor ala zombie, seri ini lebih mirip seri motivasi diri untuk remaja. Penulis ibaratnya seperti hendak mengajak pembaca mencoba memandang sesuatu dari sisi orang lain, bukan dari sisi kita semata. Bahwa setiap orang punya masalah, itu pasti. Bahwa setiap manusia memiliki masa lalu, mengalami hal-hal tertentu yang menjadikan mereka seperti mereka yang saat ini. Dengan menyadari bahwa ada alasan dibalik setiap kejadian, ada masa lalu yang membentuk setiap karakter, maka kita akan menyadari bahwa setiap orang memang berbeda dan kita tidak bisa memaksa mereka untuk sama dengan kita.

            Amber yang bisa menghuni tapi tidak selalu bisa 100% mengubah hidup tubuh yang dihuninya juga mengajarkan kepada kita untuk tidak “memaksakan diri” dalam mengubah seseorang. Kita memang wajib menasihati atau mengarahkan seseorang ke jalan yang lebih baik, namun kita tidak bisa memaksakan bahwa mereka harus berubah 100%.  Keputusan terakhir selalu ada pada diri orang yang bersangkutan. Masing-masing kita memiliki pilihan untuk menentukan jalan mana yang akan kita ambil, beserta konsekuensi yang menyertainya. Begitulah caranya kehidupan (atau dalam buku ini, kematian sementara) memberi pengajaran.

            Untuk novelnya sendiri, buku ini ditulis dengan lincah khas anak muda. Sarat dengan nasihat-nasihat inspiratif namun disampaikan dengan tidak memaksa, luwes, dan “anak muda sekali”. Sampai-sampai, kita bisa mengetahui karakter Amber yang memang tidak sempurna tetapi ia tetap memiliki kualitasnya sendiri. Benar-benar mencerminkan sosok remaja SMA yang umum di AS. Gaya bercerita penulis juga asik, ada bumbu-bumbu cinta yang disampaikan dari sudut pandang orang pertama, pokoknya penuh dengan pandangan mata yang melelehkan dan aksi heroic seorang pacar yang memabukkan (hasyah). Ada satu kutipan kalimat motivasi menarik yang diambil Amber dari salah satu buku yang pernah dibacanya, bahwa “Tidak ada yang lebih seksi daripada rasa percaya diri”. (halaman 18).


 ·  · 
Read more »

All Flowers in Shanghai


Judul               : All Flowers in Shanghai
Pengarang       : Duncan Jepson
Penerjemah     : Istiani Prajoko
Penyunting      : Dian Pranasari
Korektor          : Sidik Nugraha
Isi                   : Eri Ambardi
Cetakan           : 1, Juni 2012
Penerbit           : Serambi


                Berbeda dengan kerajaan kuno lainnya yang sudah mati, yang bahasanya menggambarkan bunga dan pohon, China telah berkembang dan bertahan selama lima ribu tahun. Negara ini bertahan hidup dengan memaksa penduduknya agar dengan senang hati mematuhi adat dan aturan kuno, tidak peduli penyiksaan diri dan rasa sakit seperti apapun yang dibutuhkan atau penipuan diri seperti apapun yang diharuskan. (115)

                Petikan di atas mungkin adalah ungkapan yang paling menggambarkan isi dari novel bersampul wanita cantik berbaju peranakan ini. Ketika kebesaran sejarah dan budaya dijunjung tinggi melebihi segalanya, maka apapun harus dikorbankan demi menjamin agar sejarah itu tetap lestari dan terwariskan. Adalah Xiao Feng, anak gadis kedua dari keluarga Feng yang dipaksa untuk menjalani takdir yang bukan miliknya. Awalnya, ia adalah gadis ceria yang bebas, yang senang menangami bunga-bungaan liar bersama kakeknya. Sebagai anak kedua, ia tidak menanggung beban “penerus keluarga” sebagai mana yang ditanggung oleh kakaknya. Berbeda dengan sang kakak yang sejak kecil telah digembleng menjadi wanita yang highclass dan berbudaya, ia tumbuh apa adanya, mencintai bunga dan udara bebas, mencintai pemuda pilihannya.

                Namun, takdir kehidupan sungguh cepat berbelok arah. Sang kakak divonis menderita kanker dan akhirnya meninggal sacara pahit ketika ia tengah bersiap menunggu hari pernikahannya, sebuah pernikahan yang diatur dengan calon suami dari keluarga terpandang. Sebagai anak kedua, Xiao Feng dipaksa oleh Ma untuk menggantikan posisi kakaknya. Ia harus menikah dengan Xiong Fa, pemuda yang sejak dari awal diperuntukkan untuk kakaknya. Dengan hati yang tak rela dan jiwa yang separuh hidup, ia akhirnya memasuki ranah keluarga suaminya, keluarga Sung. Sebagaimana hidup dalam keluarga China yang teguh memegang tradisi, keluarga Sung sangat menjunjung putra sulungnya yang diharapkan tampil menjadi pewaris garis keturunan keluarga. Pria adalah segalanya sementara anak perempuan ada untuk dinikahkan dengan keluarga terpandang. Sebagai istri, Xiao Feng menanggung beban berat untuk melahirkan anak laki-laki yang sehat untuk keluarga Sung.

                Ketika akhirnya anak itu lahir, dan dia perempuan, Feng memutuskan untuk membalas dendam. Semua intrik dan perlakuan kejam yang diterimanya dari keluarga Sung, pengkhianatan yang dilakukan oleh Ma dan Ba (orang tuanya sendiri) dengan menyerahkannya kepada pria yang tidak ia cintai, sebuah kutukan yang memaksanya harus hidup menanggung beban metal dengan menjadi anggota keluarga Sung; semua itu telah menjadikannya kejam. Ia marah karena dirinya adalah perempuan di masa yang salah, ia marah karena anaknya juga perempuan dan bahwa ia juga harus menanggung siksaan sebagai “terlahir sebagai perempuan China” sebagaimana yang telah ia alami. Xiao Feng memutuskan untuk membohongi keluarga Sung dan membuang bayi itu—sebuah keputusan yang kelak akan sangat disesalinya.

Aku tak mau anak perempuan, tak ada gunanya … lemah dan rapuh. Keluarga ini harus menjadi kuat. Anak perempuan diperlakukan dengan buruk oleh semua orang, bahkan keluarga mereka sendiri. (hlm 223).

                Dan, Feng pun menjelma sebagaimana Kakaknya dan Ma-nya yang ambisius. Ia menggelar rencana, hendak membalas dendam pada tradisi yang tidak menguntungkannya sebagai perempuan. Ia menjadi Nyonya Sung yang seutuh-utuhnya, yang glamor, yang suka berfoya-foya, yang penuh intrik dan ambisi. Hanya pelayan setianya nan bersahaja, Yan, yang sesekali mengingatkan dirinya bahwa jauh di dalam dirinya Xiao Feng tetaplih seorang gadis nan rapuh. Waktu berlalu dan ia berhasil mengalahkan saingan-saingannya, ia juga mampu membalaskan dendamnya kepada sang suami tanpa terlihat, dan akhirnya ia mampu melahirkan seorang bayi laki-laki—yang cacat salah satu kakinya. Bayi inilah yang menggugah kesadarannya, yang membangkitkan naluri keibuannya sehingga ia menyesali keputusan untuk membuang anak yang pertama. Perlahan, keadaan mulai membaik. Xiong Fa mulai “mencintainya” sebagai istri, tapi robekan luka di jiwa Xiao Feng tak pernah sembuh. Ia tetap memberontak pada keluarga Sung dengan caranya sendiri tanpa harus dikeluarkan dari wangsa keluarga tersebut.

                Tahun berganti, dan revolusi pun meletus. Cara-cara China yang lama mulai digusur oleh prinsip kesetaraan model sosialis yang dibawa Mao Ze Dong. Kota Shanghai pun tidak luput dari hempasannya. Para bangsawan dan pejabat yang dulu hidup mewah kini dirobohkan satu per satu oleh kekuatan rakyat. Rakyat jelata, pemuda-pemudi yang begitu mudah dipengaruhi oleh paham-paham baru, berubah menjadi kaum revolusioner yang menuntut kesetaraan warga negara. Republik Rakyat China telah tumbuh di atas puing-puing sistem feodalisme yang telah membuat Kerajaan China berdiri selama lima ribu tahun. Dan, sekali lagi, hidup Feng pun berubah.
Novel yang ditulis dengan begitu mendetail ini sekali lagi menyorot tentang keagungan sebuah budaya berbasis prinsip patrinereal, yakni prinsip kekerabatan dari garia ayah/laki-laki. Dengan setting kota Shanghai pada tahun-tahun menjelang perang dan pecahnya revolusi, penulis dengan jeli mampu menggambarkan bagaimana rasanya menjadi perempuan di dalam sebuah keluarga China nan konservatif.

            Hanya saja, walaupun pengarang mengatakan dalam keterangan di bagian belakang buku bahwa ia adalah anak seorang imigran dari China, tampak sekali bahwa novel ini ditulis semata dari pandangan seorang yang besar dan hidup di Barat. Jepson mampu menggambarkan dengan detail segala pernak-pernik khas China, tapi narasinya kurang mampu memunculkan kesan seorang China dalam diri Xiao Feng.  Wanita ini terlalu memberontak, hampir-hampir tidak ada keindahan dalam menjadi seorang wanita China dalam separuh awal bagian buku ini, yang kemudian diperparah lagi dengan keadaan yang tak kalah menggenaskannya di seperempat akhir. Seolah-olah, menjadi perempuan China pada masa itu adalah tidak ada bagus-bagusnya.

            Entahlah, mungkin novel ini—sebagai mana novel-novel lain bertema perempuan China lainnya—ditulis untuk mengkritik konservatisme yang masih begitu kental di China. Sementara, bagian akhir yang begitu murah mungkin mewakili apa yang ada dalam pandangan orang Barat tentang China yang sosialis. Semoga, kelak bisa muncul novel-novel sejenis namun dengan pandangan yang berimbang, sebuah pandangan dari wanita yang hidup dalam cara China, yang tidak hitam-putih tapi ada ruang abu-abu di dalamnya, sebagaimana yang dilakukan oleh seorang Pearl S. Buck.

Read more »

Selasa, 14 Agustus 2012

Dollhouse



Dollhouse
Kourtney – Kim – Khloe Kadarshian
Inosensu Rotorua (Terj.)
Penerbit Esensi - 2012
327 hal
(buntelan dari Penerbit Esensi)

Cover yang eye-catching dengan motif macannya, ditambah dengan nama penulisnya, membuat gue bertanya-tanya, beneran gak ya ini tulisan para The Kadarshians? Jangan-jangan ceritanya sama aja seperti lagi nonton reality show tentang kehidupan mereka, yang penuh dengan party, belanja-belanja dan kehidupan yang mewah itu.

Jujur aja, pertama kali gue tau yang namanya Kim, Khloe dan Kourtney Kadarhsian, adalah saat lagi makan siang di kantor. Waktu itu di kantor baru aja dikasih fasilitas televisi di pantry. Temen gue memindahkan chanel ke salah satu acara reality show-nya The Kadarshians ini. Gue pun bertanya sama temen gue, “Sebenernya siapa sih mereka ini?”  Karena gak pernah kedengaran nyanyi atau main film, tau-tau ngetop aja gitu. Hehehe.. atau gue aja yang kuper kali ya?

Jadi, Dollhouse berkisah tentang kehidupan 3 bersaudara – Kass, Kamille dan Kyle Romero(hmmm.. ya.. perhatikan awalan yang sama dengan nama-nama mereka). Awalnya mereka ini termasuk keluarga selebritis, tapi sejak kematian ayah mereka, yah, terpaksa mereka ‘menurunkan’ standard kehidupan mereka ‘sedikit’.       

Kass, yang paling tua, paling pintar dan paling ‘alim’. Prestasi akademiknya cemerlang. Tapi, sayangnya tidak diikuti dengan kehidupan percintaan yang sukses juga. Karena ‘kutu buku’, Kass jarang melirik para cowok-cowok, padahal Kass gak kalah cantik dari Kamille.

Kamille, yang paling cantik, paling glamour – gambaran yang rasanya paling mendekati cewek-cewek Kadarshians. Ia bermimpi jadi foto model terkenal. Perawatan dirinya sangat mahal. Dan akhirnya.. keberuntungan itu memang datang. Ketika sedang duduk-duduk di café, seorang agent menghampirinya dan memberi tawaran untuk menjadi foto model. Karir Kamille langsung melesat, ditambah lagi ia berpacaran dengan seorang pemain football yang terkenal playboy. Tapi, yah namanya udah cinta mati, gak peduli deh seperti apa gossip yang beredar. Paparazzi selalu menguntit Kamille, reality show pun ingin ikut ambil bagian.  

Lalu, si bungsu, Kyle, si pemberontak. Kyle lebih tertutup dibandingkan dengan dua saudaranya. Sikap ini muncul semenjak ayah mereka dinyatakan tewas saat sedang berlayar. Orang tuanya sering dipanggil ke sekolah karena sikap Kyle yang ‘ajaib’. Terkadang juga secara diam-diam, ia mengambil minuman keras dari lemari ayah tirinya.

Sejujurnya gue ‘lega’ saat membaca buku ini, karena isinya gak terlalu mirip dengan kehidupan asli mereka (eh.. emang gue tau aslinya mereka gimana?). Yahhh..  paling gak beda dengan yang bisa diliat di acara televisi mereka itu. 







Tokoh favorit gue adalah Kyle, yang meskipun gak terlalu banyak porsinya dan meskipun anak bandel, tapi dia sayang sama adik tirinya, Bree. Hehehe.. emang gue selalu lebih suka dengan tokoh yang rada-rada rebellious.

Isi buku ini …yah.. drama banget… Tokoh-tokohnya buat gue lumayan punya konflik yang beragam. Tapi emang sih, kadang gak jauh-jauh dari urusan percintaan.

Yang gue suka adalah isinya yang tentang persahabatan di antara kakak-beradik, gak ada satu sama lain yang merasa tersaingi, malah saling support. Yah, meskipun sempat ada masalah besar antara Kass dan Kamille. Tapi, love conquers it all…  Antara saudara tiri juga gak ada yang namanya permusuhan kaya’ cerita Bawang Merah Bawang Putih.. hehehe…

Tapi, gue sempat bertanya-tanya, "Apa enak ya kalo setiap hari selalu dikuntit kamera? Untuk 'menggerutu' aja gak boleh?"

Well… awal yang baiklah untuk The Kadharsian buat terus bikin tulisan.
Read more »

Selasa, 24 Juli 2012

Kristalisasi

Judul       : Kristalisasi
Penulis   : Ami raditya dan 9 pemenang cerpen favorit pembaca
Cetakan : Pertama, 2012
Penerbit: Gramedia










Sepuluh kisah terpilih dari sepuluh penulis pilihan. Satu buku, dengan 10 warna yang masing-masing adalah berbeda, tapi kesemuanya menampilkan setiap sisi yang luar biasa dari semesta Vandaria. Sebuah semesta rekaan karya anak bangsa yang terbukti begitu dicintai begitu rupa, sehingga menghasilkan aneka hikayat dan legenda menakjubkan yang mewarnai sekaligus mengisi lini masa di bumi Vandaria. Jika Anda masih bingung dengan seri Vandaria ini, atau hendak bertanya apa dan mengapa ini dan itu terjadi di Vandaria, maka Kristalisasi adalah awal yang tepat sebelum Anda memasuki dunia Vandaria, dan ikut mengkristal di dalamnya—seperti 10 penulis kisah dari buku ini.

Kristalisasi adalah kumpulan cerita dari para penulis yang ceritanya telah terpilih oleh pembaca. Kesepuluhnya adalah yang terbaik dalam menampilkan sejumlah peristiwa seru yang terjadi di semesta Vandaria. Mulai dari hikayat pertempuran antara negeri Edenion dengan bangsa manusia, hingga perburuan harta karun nan melegenda, semuanya tersaji komplit dalam buku ini. Acungan jempol perlu juga diberikan pada para illustrator yang telah berjuang keras menangkap sosok-sosok fiktif dalam cerita dan kemudian mewujudkannya menjadi goresan-goresan ilustrasi yang mampu bercerita. 

1. Bisikan Sang Angin
Disetir dengan seru sekali oleh adegan peperangan. Para maniak game dan cerita fantasi dengan setting laga pasti akan menyukai ini. Pertempuran digambarkan begitu rupa dan detail, dan kemudian dibumbui kisah “simpati” dari seorang musuh kepada lawannya.

2. Padamnya Bintang-Bintang Vaeran
Kisah ini adalah yang paling puitis menurut saya. Tentang penyanyi dan penyair dari seorang frameless penyihir alam nan termasyur, Vaeran, yang akhirnya dihukum oleh sang penyihir sendiri. Dari sini, kita bisa menyaksikan “kelemahan” dari bangsaa frameless yang serba-sempurna itu. Kisah ini juga memiliki kaitan dengan salah satu seri novel Vandaria Harta Vaeran karya Pratama Wirya. Lalu, apakah Melviola itu sebuah kode bagi penulis cerita ini?

3. Batu Filsuf
Seorang anak remaja harus menyaksikan betapa setiap sebulan sekali seorang anak manusia dibawa ke Kastel Deimos sebagai bahan untuk membuat Batu Filsuf. Apakah tujuannya dan bagaimanakan nasibnya ketika ia akhirnya malah menolong salah seorang anak yang handak dijadikan persembahan? Cerita ini bersetting semasa pertempuran antara negeri Edenion yang tiran dengan gabungan pasukan manusia dan frameless yang menjunjung kesetaraan.

4. Musim Gugur
Settingnya mirip dengan kisah Harry Potter (lengkap dengan menara astronomi danrumah kacanya), yakni tentang seorang murid di sekolah sihir yang tiba-tiba menyadari bahwa dirinya diikuti oleh seorang naga bening nan misterius. Apa sebenarnya naga itu? Dan apa yang ada dibalik sekolah kuno mereka? Cerita ini rupanya agak menyinggung peradaban kerajaan Hastin, salah satu kerajaan di bumi Vandaria yang muncul di buku Ratu Seribu Tahun.

5. Nyanyian Alam
Entah kenapa saya paling suka dengan kisah ini. Penulis dengan lihai mampu menyisipkan pesan tentang pelestarian hutan melalui setting cerita fantasi yang dituliskan dengan lembut sekali. Kisah ini adalah tentang seorang wanita yang dapat berbicara dengan tumbuh-tumbuhan. Tak dinyata, nyanyiannya nan merdu itulah yang berjasa menyelamatkan seisi desa dari bencana.

6. Padang Hijau Atap Merah
Cerita ini juga sangat bagus, ditulis dengan rapi dan endingnya menyenangkan. Beginilah model kisah fantasy yang saya suka, yang tetap membawa unsur muram dan ngeri namun ditutup dengan bijaksana sekali sehingga pembaca puas. Kisahnya adalah tentang seorang anak manusia yang ingin belajar sihir pada seorang frameless penyihir nan sombong. Dari cerita ini, kita bisa tahu kenapa frameless jago sekali soal sihir dan bagaimana seorang manusia (yang sebenarnya tidak berbakat sihir) bisa menjadi seorang penyihir di Vandaria.

7. Relik Agung Gallizur
Bagi pecinta cerita petualangan dan pencarian harta karun, kisah ini bisa menjadi jagoan utama. Alkisah ada tiga orang pencari pusaka yang menemukan seorang asing tengah memegang salah satu pusaka yang mereka cari. Siapakah pria asing yang mengalami amnesia dan tidak tahu siapa dirinya itu? Dan, mengapa salah satu relik agung Gallizur bisa berada di tangannya? Jadilah saksi sebuah novel yang terangkum dalam sebuah cerita, plus bonus twist yang menyenangkan di bagian penghujung.

8. Di Bawah Bulan Separuh
Kisah ini adalah yang paling muram di antara 10 cerita dalam Kristalisasi. Ditulis dengan sudut pandang orang pertama, kisah ini sukses mengobok-obok batin pembaca dengan kondisi psikologis seorang anak remaja yang terbuang. Penulis menyorot batin si anak, dan sepertinya dengan cara itu berusaha menunjukkan sesuatu yang penting kepada pembaca. Sayangnya, endingnya agak menggantung sehingga efek “memberi tahu secara tersirat” itu jadi kurang terasa geregetnya. Mau tanya: Si Anak itu sebenarnya siapa? Kasihan yang belum terlalu akrab dengan dunia Vandaria karena mereka pasti bertanya-tanya (atau saya nya saja yang terlalu telmi kali ya? hehehe).

9. Beri Kami Damai
Sang penyusun hikayat, Ami Raditya, rupanya tidak mau ketinggalan. Karyanya ini seperti mengungkapkan tujuan atau maksud dirinya menciptakan Vandaria dengan perang-perang besar di dalamnya. Secara apik, melalui peran seorang penyair yang bertugas menyemangati (atau memanas-manasi) prajurit yang hendak terjun ke medan perang. Bahwa perang itu sia-sia, hanya membawa kesedihan dan luka, itulah yang mungkin hendak ditekankan oleh sang penulis.

10. Pentagon
Karena penulisnya sama dengan penulis Takdir Elir, tentu saja kisah ini memiliki keterkaitan erat dengan buku itu. Di dalamnya, Anda yang sudha lebih dulu membaca Takdir ELir akan mengetahui masa kecil Liarra serta awal mula pertemuan dan persahabatan antara pangeran ALthor dan Pangeran Xaliber. 

Selamat kepada 10 penulis yang telah terlebih dulu membuktikan secara nyata bahwa mereka benar-benar jatuh cinta dan berhasil melebur dalam dunia Vandaria. Kisah-kisah mereka yang terkumpul dalam buku ini membuktikan bahwa Vandaria menawarkan dunia dan cerita yang tak habis-habis untuk dituliskan dan diceritakan ulang, bukti bahwa Vandaria memang benar-benar mengajak siapa saja untuk turut mengkristal dalamnya. 
Read more »

Rabu, 18 Juli 2012

Kisah-Kisah Cinta Terlarang Paling Dikenang Sepanjang Masa


Judul   : Kisah-Kisah Cinta Terlarang Paling Dikenang Sepanjang Masa
Penulis            : Anton WP
Layout isi : Yudhi Herwibowo
Penerbit : bukuKatta
Cetakan Pertama : 2012




            Kisah cinta, apa pun wujud dan penghujungnya, adalah salah satu dari ragam kisah cerita yang selalu dicari dan diperdengarkan ulang dalam panggung perjalanan sejarah. Pertautan antara dua hati dan dua kasih, yang diikuti dengan pertautan segala apa yang sebelumnya menyertai masing-masing dari keduanya, adalah salah satu elemen yang turut memperindah dunia fana ini. Pun, tidak selalu kedua hati mampu terpaut serasi tanpa dihalangi. Berbagai tempat dan peradaban di penjuru dunia diwarnai oleh aneka kisah cinta tak sampai, kisah cinta yang tak direstui dengan berbagai alasan. Ketika cinta itu menjadi terlarang (atau dilarang), bukan berarti keindahan dan kemolekannya turut menghitam. Alih-alih, sejumlah pasangan pecinta yang menjalani kisah terlarang itu mampu membuktikan kisahnya sebagai salah satu dari kisah-kisah teragung dan paling dikenal di dunia.
            Anton WP, penulis yang produktif ini kembali membuktikan kepiawaianya mengolah kata dalam buku kumpulan kisah cinta tak sampai ini. Kisah-kisah besar ditata dan diceritakan ulang, dengan bahasa tulis yang tak kalah mendayu-dayu, menghasilkan untaian enam kisah cinta yang begitu menyadarkan benak pembaca akan besarnya kekuatan cinta. Walaupun tipis dan sederhana, buku ini mampu membawa pembaca dalam romantisme kisah cinta yang sempat mewarnai jalannya panggung dunia.

1. Pyramus dan Thisbe
            Bersetting di masa pebangunan Menara Babeldi negeri Babilonia, kedua insan dari keluarga yang bermusuhan ini tidak mampu menolak hasrat cinta yang timbul antara keduanya. Apa daya, kedua pihak orang tua tidak suka dan berupaya memutuskan jalinan cinta kasih mereka. Hanya sebuah tragedi, yang seharusnya hanyalah karena waktu yang tak tepat, yang bisa menyatukan keduanya di penghujung hidupnya.

2. Paris dan Helen
            Paris dari Troya mencintai Helen, yang adalah permaisuri dari Raja Sparta. Kecantikannya membuat ia alpa dan nekat “menculik” Helen ke Troya. Keduanya memang saling jatuh cinta, tapi apa daya ikatan itu memang tak seharusnya ada. Takdir besar pun terjadi berawal dari kisah keduanya, sebuah perang besar kolosal yang mengoyak dan akhirnya meruntuhkan kejayaan Sparta. Karena wanita, runtuhlah sebuah kerajaan raksasa. Karena wanita pula, muncul cerita kolosal tentang Perang Troya dan Taktik Kuda Troya nan legendaris itu.

3. Tristan dan Isolde
            Tristan, putra dari seorang bangsawan, jatuh cinta pada Isolde—putri dari bangswan lainnya. Tristan terluka oleh racun yang ditorehkan oleh Paman Isolde saat ia mengalahkannya dalam duel. Hanya Isolde yang mampu menyembuhkan racun di tubuh Tristan, dan ternyata Isolde pula yang mampu menyembuhkan kegersangan hati sang pangeran. Keduanya saling jatuh cinta, padahal Isolde telah dipinang Raja Mark. Intrik dan siasat jelek pun mengotori kesucian cinta mereka, hingga akhirnya, keduanya hanya bisa dipersatukan dalam alam lainnya lewat sebuah tragedi yang bakal dikenang para pecinta sepanjang masa.

4. Lancelot dan Guinevere
            Lancelot, salah satu dari Ksatria Meja Bundar jatuh cinta kepada Guinevere, istri dari raja Arthur. Percintaan mereka yang sebenarnya suci akhirnya dinodai oleh mata jahat Modred, keponakan Arthur yang culas. Terkuaklah hubungan terlarang di antara keduanya. Hingga, akhirnya, untuk menghindari tragedi yang menjelang, kedua pecinta harus merelakan dirinya berpisah satu sama lain.

5. Paolo dan Francesca
            Sebuah kisah yang jarang dikenal, padahal begitu mewakili dahsyatnya kekuatan cinta. Mungkin, inilah kisah cinta jarak jauh (long distance relationship) pertama yang dicatat dalam ranah cerita cinta dunia. Keduanya dipertemukan dalam pernikahan yang penuh tipu daya, di mana sang pengantin pria sebenarnya wakil dari kakaknya yang seorang raja. Apa daya, keduanya jatuh cinta, membuat marah sang raja nan berhati angkara. Percintaan dan perselingkuhan pun tak terhindarkan, dan Paolo harus menghadapi duel maut untuk mempertahunkan cintanya pada kekasih hatinya.

6. Romeo dan Juliet
            Pembaca pasti sudah sering membaca tentang kisah cinta (dari Barat) yang dikatakan paling agung sepanjang masa ini. Seorang pemuda jatuh cinta pada anak gadis dari keluarga musuhnya. Hubungan mereka segera mendapatkan cobaan begitu rupa sehingga sebuah rencana pun disusun untuk mengakalinya. Sayangnya, rencana indah itu berujung tragedi dengan tewasnya kedua pecinta. Mungkin, tragedi itu memang harus ada, untuk menyatukan kedua keluarga yang telah bermusuhan sejak zaman dulu kala.
Kadang, kekuatan cinta memang begitu luar biasa dalam mengubah dunia. Namun, cinta juga menuntut pengorbanan yang begitu rupa. Bagi para pecinta sejati, seperti mereka yang dikisahkan dalam buku ini, tidak ada yang salah ketika seseorang berkorban demi cinta. Oh, cinta, engkau memperindah dunia, tapi juga sering kali membuat galau hati manusia.  



Read more »