Tampilkan postingan dengan label memoir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label memoir. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Oktober 2011

Kedai 1001 Mimpi

Kedai 1001 Mimpi
Valiant Budi
Gagas Media, Cet. I - 2011
444 hal.
(pinjem dari Mbak Riana)

Kecintaan pada dongeng 1001 Malam, membuat seorang Valiant Budi nekad untuk menjadi TKI di negeri Arab Saudi. Kenapa memilih ke sana? Ya itu, salah satu alasannya. Akhirnya, ia pun nekat mengirim lamaran sebagai barista di kedai kopi international di Arab Saudi. Tak peduli banyak kisah miris tentang TKI yang selama ini sering terdengar di berita-berita di tanah air. Proses keberangkatan juga tidak mudah, bolak-balik medical check-up dan penantian yang cukup panjang sampai akhirnya Valiant Budi benar-benar berangkat ke tanah Arab.

Valiant Budi – atau di sana akrab dipanggil Vibi – akhirnya bekerja di sebuah kedai kopi bernama Sky Rabbit. Mungkin kalau dibaca, rasanya Vibi ini kesellll terus sepanjang ada di sana. Maunya marah-marah aja. Mulai dari disebut ‘Indunisi’, sering dikira orang Filipina, dikejar-kejar lelaki Arab yang punya kelainan, pelanggan yang gak sabar, sok tau, boss dan rekan sekerja yang gak kalah ngeselin. Kenalan dengan sesama TKI yang juga punya kisah gak kalah ajaib.

Semua jadi satu… culture shock. Gak nyangka di tanah Arab, tempat agama Islam diturunkan, justru segala bentuk kejahatan ada di sana. Hukum dan peraturan gak berlaku untuk warga asli. Sementara warga pendatang, salah sedikit langsung dihukum. Hati-hati banyak muttawa atau polisi gadungan berkeliaran. Susah ngebedain antara yang asli dan yang palsu. Termasuk pasangan muhrim palsu. Karena perempuan pada pakai cadar, jadi gak ketauan deh yang digandeng itu istri beneran atau selingkuhannya. Hehehe…

Di waktu luangnya, Vibi menulis blog dengan tema ‘Arabian Undercover’ yang ternyata menuai caci-maki dan ancaman.

Terlepas dari buku ini, meskipun banyak kisah-kisah menyedihkan dan tragis yang sering kita dengar, entah itu pembantu yang disiksa majikan, pembantu yang dihukum karena kesalahan kecil aja. Dari yang terbaca di sini, orang-orang Arab ini jago ngeles, jadinya, biarpun mereka salah, pada akhirnya, tetap aja si pembantu (baca: TKI) yang jadi salah dan akhirnya dihukum. Tapi, kenapa tetap banyak yang tergoda untuk pergi ke sana, faktornya adalah karena uang, hasil yang ‘berlimpah’ yang bisa dikirim ke kampung. Asal mau ‘menuruti’ keinginan majikan, uang dan kemewahan lainnya akan terjamin. Misalnya mau dijadikan istri yang kesekian, mau ‘diapa-apain’ aja sama majikan, atau bahkan ketemu Om-om Arab di tengah jalan pun bisa langsung dapat uang banyak – asal ya itu, mau diajak ‘ngapain’ aja sama Om-om Arab itu.

Belum lagi, orang-orang Arab yang merasa dirinya kaya banget itu sering bersikap arogan dan merendahkan orang-orang pendatang. Udah ngerasa paling oke, tapi ada aja akalnya, dari norak sampai yang ajaib.

Gak heran sih, kalo Valiant Budi ini, bawaannya kesel dan marah-marah aja. Tapi, gue bolak-balik ketawa, senyum-senyum saat membaca buku ini. Kadang kasian, tapi karena ditulis dengan gaya yang kocak jadinya antara terenyuh, kasian tapi pengen ketawa. Siap-siap tersenyum kecut, senyum geli atau malah 'jijay'. Foto-foto yang sedikit gak terlalu penting buat gue, karena di sini yang ditulis bukan kisah jalan-jalan ke Arab.
Read more »

Minggu, 27 Februari 2011

Habibie & Ainun

Habibie & Ainun
Bacharuddin Jusuf Habibie @ 2010
THC Mandiri – 2010
323 Hal.

48 tahun 10 hari, waktu yang sangat panjang dalam sebuah pernikahan. Hal yang sangat sulit, ketika harus kehilangan pasangan yang mendampingi kita dalam kurun waktu yang sangat lama. Bukan gue sok tau, ya, tapi, putus sama pacar aja, kadang butuh waktu lama untuk recovery perasaan.

Buku ini mengisahkan perjalanan hidup pasangan BJ Habibie dan Ibu Ainun Habibie. Tapi, jangan bayangkan ini sebuah kisah cinta yang romantis. BJ Habibie yang baru pulang dari Jerman, ‘terpesona’ dengan Ibu Ainun, yang padahal dulunya seperti gula jawa (alias item kali ya…), tapi sudah ‘menjelma’ menjadi gadis yang cantik dan anggun.

Percintaan mereka berlangsung kilat. Dalam liburan Pak Habibie yang singkat, mereka bertunangan dan menikah. Untuk selanjutnya, Ibu Ainun diboyong ke Jerman. Di Jerman sendiri, kehidupan mereka belum stabil, kondisi perekenomian mereka masih sangat sederhana. Meskipun pelan-pelan akhirnya mulai meningkat.

Sebagai putra bangsa yang sangat berbakti, atas permintaan Presiden Soeharto, Pak Habibie dan keluarga kembali ke Indonesia. Mencoba merintis cita-cita untuk mempersembahkan hadiah ulang tahun ke 50 untuk Indonesia yaitu sebuah pesawat terbang pertama hasil karya putra-putri Indonesia.

Selama Habibie bertugas, Ibu Ainun selalu setia mendampingi. Dengan senyum dan matanya yang meneduhkan, senantiasa membuat Pak Habibie semangat dalam bertugas.

Mungkin gak banyak yang diceritakan di sini, bagaimana pasang-surut dalam kehidupan rumah tangga mereka. Memang sih, di awal diceritain gimana waktu mereka baru menikah, tapi setelah itu, selebihnya lebih banyak bercerita tentang kiprah BJ Habibie hingga akhirnya beliau menjadi Menristek, kemudian Wapres sampai akhirnya jadi Presiden. Terasa begitu ‘pribadi’ karena Pak Habibie juga bercerita apa yang beliau rasakan. Bahkan ketegasan beliau ketika berhadapan dengan Presiden Soeharto sekali pun.

Di beberapa bab terakhir, baru kembali diceritakan bagaimana ketika Ibu Ainun mulai sakit dan harus dirawat di Jerman karena kondisi cuaca khatulistiwa tidak cocok untuk kesehatan beliau. Dan, BJ Habibie terus mendampingi ibu Ainun hingga tempat peristirahatan terakhir - sebagaiman ibu Ainun mendampingi BJ Habibie dalam tugasnya.

Bagian-bagian akhir memang bagian yang paling menyentuh, di mana justru rasa cinta di antara mereka lebih terlihat dan begitu mendalam. Alur penuturan yang lamban (dan mungkin kalo dipikir-pikir, gak ada hubungannya sama ‘kisah cinta’ mereka berdua), tapi toh, tetap saja, buku ini memberi inspirasi.

Membaca buku ini, rasanya gak ada tuh yang namanya ‘gonjang-ganjing’ dalam pernikahan. Yang ada justru sebuah rumah tangga yang seimbang, saling menghormati dan sama-sama menikmati peran mereka masing-masing dalam rumah tangga. Betapa Pak Habibie yang dalam kesibukannya selalu diingatkan oleh istrinya, dan betapa Pak Habibie begitu menghargai dan mencintai Ibu Ainun.

Ahhh.. such a beautiful love story…
Read more »

Selasa, 31 Agustus 2010

Sang Pencerah

Sang Pencerah: Novelisasi Kehidupan K.H. Ahmad Dahlan dan Perjuangannya Mendirikan Muhammadiyah
Akmal Nasery Basral @ 2010
Mizan - Cet. I, Juni 2010
461 hal.

Gue nyaris gak tau apa pun tentang KH Ahmad Dahlan, selain ‘mengenalnya’ sebagai nama jalan. Gue gak tau kalo ternyata beliau adalah pendiri Muhammadiyah, bahwa banyak cerita dan fakta menarik dalam sejarah hidup beliau.

Terlahir dengan nama Muhammad Darwis, anak seorang khatib Masjid Gedhe, pemuka agama di lingkungan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Keturunan langsung dari Syaikh Maulana Ibrahim salah satu dari 9 tokoh Wali Songo. Merupakan sebuah keistimewaan memiliki silsilah ini. Nantinya, otomatis jabatan sebagai khatib Masjid Gedhe akan jatuh ke Muhammad Darwis apabila KH Abu Bakar meninggal.

Sebagai anak kiai, sejak kecil Darwis sudah belajar mengaji dan sering diajak ayahnya mendengarkan khutbah di Masjid Gedhe. Batin Darwis terusik ketika dalam salah satu acara pengajian 40 harian meninggal bapak temannya, secara tak sengaja ia mendengar percakapan ibu temannya itu yang terpaksa meminjam uang untuk mengadakan acara itu. Sejak itu, ia mencoba bersikap kritis, tapi, sering tidak mendapat dukungan positif dari bapaknya dan para ulama lainnya.

Ketika remaja, ia sudah dikirim untuk naik haji dan belajar agama di Mekkah. Sepulangnya dari Tanah Suci, dengan pengetahuan yang semakin bertambah, pemikirannya sering kali berbeda dengan para kiai yang masih sangat kaku dan memegang teguh tradisi yang menurut Ahmad Dahlan – nama yang ia peroleh setelah menjadi haji – bertentangan dengan Islam. Baginya, Islam tidaklah menyulitkan umatnya, jadi jika tradisi itu ternyata menyulitkan, sebaiknya disederhanakan saja.

Semakin lama, cara mengajar, cara berpikir bahkan khutbahnya dianggap kontroversial oleh kiai-kiai sekitar, terutama ketika Ahmad Dahlan mengusulkan perubahan arah kiblat – yang akhirnya berujung pada pembongkaran Langgar Kidul yang selama ini dipergunakan Ahmad Dahlan untuk mengajar mengaji.

Belum lagi ketika akhirnya ia bergabung dengan Budi Oetomo, yang dianggap para kiai sebagai perkumpulan kejawen. Ahmad Dahlan pun mendapat sebutan ‘kiai kafir’ Tapi, berbagai cobaan, cercaan dan tuduhan itu tidak membuatnya patah semangat, malah ia semakin giat dalam berusaha membuktikan bahkan apa yang ia sampaikan adalah hal yang benar, bukan bermaksud memecah belah umat Islam sendiri. Beruntung ia didukung oleh istrinya yang sangat sabar, dan murid-muridnya yang setia sampai akhirnya terbentuklah Muhammadiyah.

Jarang-jarang gue suka kalo baca biografi atau memoar seseorang. Karena cara penyampaiannya cenderung datar, monoton, membosankan dan hanya satu arah. Tapi, gue suka baca buku ini. Mungkin karena novel ini dibuat berdasarkan skenario film, mungkin juga karena cara penyampaiannya yang menarik. Jadi bacanya juga enak. Banyak hal yang gue dapat dari buku ini, mulai dari fakta sejarah, dan pemikiran-pemikiran yang simple, tapi sangat masuk akal.

Mungkin kalo ada lagi memoar atau biografi yang dibuat seperti ini, gue bakal lebih banyak lagi baca buku-buku seperti ini.
Read more »

Senin, 20 April 2009

Honeymoon with My Brother

Honeymoon with My Brother
Bertualang Keliling Dunia Gara-gara Putus Cinta
Franz Wisner @ 2005
Berliani M. Nugrahani (Terj.)
Penerbit Serambi – Cet. II, Desember 2008
485 Hal.

Diputusin pacar kaya’nya udah gak enak banget. Kaya’nya semangat untuk hidup dan beraktivitas lain udah gak ada. Apalagi yang namanya ditinggalin pasangan, calon pendamping, hanya seminggu sebelum hari pernikahan. Kebayang gak, gedung udah ok, catering, dekorasi, undangan udah tersebar dan tinggal menunggu sodara-sodara jauh pada dateng… tau-tau… jeng… jenggggg… si CMP or CMW bilang, “Ma’af, aku gak bisa meneruskan ini semua.” Hah… alesannya? Cuma gak bisa… gak ada penjelasan lain.

Franz Wisner, mengalami hal ini. Harusnya Sea Ranch, sebuah daerah di Pesisir California, jadi saksi ketika mereka mengucapkan sumpah yang sakral itu. Harusnya, kue buatan LaRue, nenek tiri Franz, jadi kue pengantin yang paling indah. Bulan madu ke Kosta Rica juga hanya tinggal kenangan. Annie, ‘mencampakkan’ Franz dengan alasan yang tidak jelas itu.

Beruntung Franz memiliki keluarga, teman-teman yang memberi dukungan. Pesta tetap ada, hanya saja tidak ada mempelai wanitanya. Di Sea Ranch juga, teman-teman Franz menghiburnya. Franz yang tentu saja terpukul, tidak langsung jadi terpuruk dan berlarut-larut dalam kesedihan. Malah ia mengajak adiknya, Kurt, untuk tetap melaksanakan perjalanannya ke Kosta Rika.

Ternyata perjalanan itu memberikan inspirasi positif bagi Franz dan Kurt. Franz yang selama ini tidak terlalu dekat dengan Kurt, merasa inilah saat melakukan sesuatu yang berbeda. Tak hanya kehilangan kekasih, tapi di tempatnya bekerja pun, Franz ‘dicampakkan’ oleh atasannya. Gara-gara ini, rencana ‘gila’ pun disusun. Bersama Kurt, yang juga mengalami masalah rumah tangga, Franz merencakan sebuah ‘bulan madu’ bersama adiknya. Padahal, dia sendiri tidak tahu, bagaimana ia harus menghadapai Kurt yang selama ini tidak terlalu dikenalnya.

Rencana perjalanan segera disusun. Budget segera dihitung – ada dari bonus, ada dari hasil penjualan rumah. Didukung oleh LaRue, mereka pun pergi. Perjalanan mereka pertama menuju ke Eropa Timur. Perjalanan yang tidak selalu mulus, karena di awal saja, mereka sudah harus kehilangan paspor, padahal visa-visa untuk masuk ke negara-negara yang susah sudah diurus dan sudah ok. Kurt, yang lebih santai, selalu punya banyak akal. ‘Kesialan’ kecil di awal tidak menyurutkan langkah mereka.

Di Eropa Timur, mereka berkeliling dengan mobil baru Kurt menuju Rusia, Swedia, Rumania. Di Praha, Franz terlibat hubungan singkat dengan seorang perempuan.

Dari benua Eropa, Franz dan Kurt menuju Asia Tenggara – menuju Indonesia, Thailand, Kamboja, Vietnam. Indonesia… tentu saja mampir ke Bali, tapi, ternyata, buat mereka Bali terlalu ramai – meskipun mereka kagum dengan adu ayam-nya, sampai akhirnya mereka mempersingkat kunjungannya ke Bali dan menyepi ke Lombok dan bertemu sesama backpackers yang ternyata punya ‘dewa’, terus, ke Pulau Komodo demi ngeliat Komodo.

Setelah dari Asia Tenggara, mereka menuju Amerika Utara dan Selatan – Brazil membuat Franz jatuh cinta dan membuatnya ingin berkunjung ke sana sekali lagi.

Perjalanan berakhir di Benua Afrika, yang katanya mereka, merupakan ujian terberat selama perjalanan mereka yang menempuh waktu dua tahun itu. Di sana, semua pelajaran lengkap bisa didapat – tertawa ketika anak-anak kelaparan memeluk kaki mereka, ceria ketika hanya bermain di halaman karena gak ada tv, bahagia bahkan ketika lapar.

Di sela-sela ‘perpindahan’ antar benua, mereka selalu menyempatkan diri untuk pulang ke Amerika, melihat anjing-anjing Kurt, menengok LaRue yang selalu mereka kirimi kartu pos di setiap persinggahan mereka – LaRue yang menempelkan paku-paku di peta, menandai jejak-jejak Franz dan Kurt.

Perjalanan panjang ini membuat Franz semakin bersyukur dengan apa yang dia miliki, dan belajar merelakan apa yang sudah lepas dari dirinya – terutama yang menyangkut soal Annie. Bergaul dengan penduduk setempat dan bernegosiasi sendiri dengan petugas travel, hotel, mereka pun jadi gak percaya dengan yang namanya Lonely Planet. Foto Franz dengan George W. Bush jadi jimat mereka untuk lolos dari dari polisi yang reseh. Banyak hal yang serius, tapi juga kocak. Misalnya saat Franz cerita tentang supir taksi yang paling menyebalkan. Perjalanan panjang mereka ini akhirnya menarik minat koran-koran di Amerika, sehingga Franz pun jad ‘wartawan travel’ dadakan.

Buku-buku traveling begini selalu membuat gue iri, selalu membuat gue bertanya-tanya, kapan gue bisa jalan-jalan, gak usah keliling dunia, tapi keliling Indonesia dulu aja deh… Karena ini cerita perjalanan a la backpacker, tempat-tempat yang didatangi mereka jadinya unik-unik, bukan apa yang ada di brosur biro travel, tapi justru dari rekomendasi teman-teman atau malah penduduk setempat.

Gue ikut ‘terpukau’ dengan perjalanan mereka. Bahkan ikutan ngerasa capek ketika mendekati akhir perjalanan. Serasa pengen cepet-cepet sampai rumah, tapi masih belum mau liburan berakhir. Jarang-jarang, gue bisa suka sama buku non-fiksi seperti ini. Kemasan cerita jalan-jalan bikin menarik. ‘Pelajaran’ didapat dengan cara-cara yang gak terlalu serius, tapi tetap ‘dalam’.
Read more »

Selasa, 16 Oktober 2007

168 Jam dalam Sandera

168 Jam dalam Sandera: Memoar Jurnalis Indonesia yang Disandera di Irak
Meutya Hafid
Penerbit Hikmah - Cet. 1, September 2007
280 Hal.

Ketika berita tentang penyanderaan dua jurnalis Metro TV di Irak oleh tentara Mujahidin, rasanya, gue ikutan ngerasa deg-degan… mmm… terlalu sering nonton film dan baca berita di Koran, membuat gue ikut ketakutan, akan apa yang bakal terjadi sama Meutya Hafid, reporter, dan Budiyanto, juru kamera yang bertugas di Irak itu. Dan ikut bersyukur ternyata keduanya bisa selamat, tanpa kekurangan satu apapun.

Waktu ada rekonstruksi kejadian di Metro TV pun, gue juga merinding membayangkan keadaan yang sebenarnya (hmmm… agak-agak hiperbola gak sih?)

Dan sekarang, Meutya Hafid menulis pengalamannya selama berada dalam penyanderaan. Di buku ini, Meutya menggambarkan detik-detik awal terjadinya penculikan mereka di sebuah POM bensin. Meskipun sudah dijelaskan bahwa mereka adalah jurnalis yang tidak mempunyai kepentingan politik, tetap saja para penculik itu tidak peduli.

Mereka bertiga, Meutya, Budiyanto, dan Ibrahim, supir yang membawa mereka selama berada di Irak, dibawa ke sebuah gua di gurun pasir, yang untuk melarikan diri pun rasamnua suatu hal yang akan berakhir pada kematian yang sia-sia.

Selama berada dalam penyanderaan, para penyandera bersikap cukup baik pada mereka. Mereka dilayani layaknya tamu yang sedang berkunjung. Disediakan makanan yang enak, yang pastinya bakal menggugah selera seandainya berada dalam keadaan dan tempat yang lebih baik.

Berhari-hari tanpa kepastian, akhirnya setelah gambar bahwa mereka benar-benar disandera, dan presiden SBY juga langsung membuat siaran untuk meminta mereka dibebaskan, akhirnya, kabar bahwa mereka akan dibebaskan pun tiba. Tapi, ternyata, gak semudah itu, kesabaran dan kepasrahan mereka lagi-lagi diuji, karena ternyata, prosesnya gak semudah itu. Di pintu perbatasan pun, ketika mereka tinggal sedikit lagi melintas dan bebas, kendala masih ada dan membuat stress dan putus asa.

Mmmm… di saat-saat seperti itu, kaya’nya keimanan seseorang bener-bener diuji. Pasrah dan sabar, juga berkepala dingin dan gak emosi, itu yang paling penting. Beruntung banget, mereka gak diperlakukan kasar dan semena-mena, malah ketika menjelang pembebasan, justru Meutya merasa kehilangan dua orang teman (yang menyandera mereka), karena sikap mereka yang semakin hari semakin hangat dan bersahabat, meskipun ada batas-batas tertentu yang tetap harus mereka tahan.

Gue jarang suka sama yang namanya buku non-fiksi, tapi, buku ini, hampir aja membuat gue terjaga semalaman, karena pengen buru-buru nyelesainnya. Gue ikutan gemes, tegang dan terharu… rasanya ikutan ngerasain gimana gak sabar dan gregetannya ketika kebebasan itu udah di depan mata, tapi, koq susah banget dicapainya…
Read more »