Tampilkan postingan dengan label historical-fiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label historical-fiction. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 September 2012

Gadis Kretek



Gadis Kretek
Ratih Kumala @ 2012
GPU – Cet. I, Maret 2012
275 hal
(Pinjem sama Om Tan)

Boss besar Kretek Djagad Raja sedang sekarat. Dalam keadaan ‘ngelindur’, Pak Raja malah menyebutkan nama seorang perempuan yang karuan membuat istrinya berang dan cemburu. Jeng Yah – demikian nama perempuan itu. Ketiga anak laki-laki mereka pun bertanya-tanya, siapakah Jeng Yah? Bertanya pada ibu mereka sama saja memicu pertengkaran, karena ibunya berkata “Jangan berani-berani menyebut nama perempuan itu!” Waduh…

Maka, Tegar, Karim dan Lebas pun mencari informasi tentang siapakah sosok Jeng Yah itu. Bergulirlah sebuah kisah di balik kesuksesan Kretek Djagad Raja.

Diawali dengan persaingan antara Soedjagad dan Idroes Moeria di masa perang kemerdekaan. Kala itu jaman serba susah. Pada dasarnya Soedjagad dan Idroes ini berteman sejak kecil. Tapi, persaingan diam-diam dalam memperebutkan seorang gadis bernama Roemisa, membuat mereka akhirnya menjauh. Syarat untuk bisa mendapatkan hati sang gadis adalah harus bisa baca-tulis. Sebuah syarat yang berat kala itu.

Awalnya Idroes-lah yang mulai dengan usaha kretek ini. Tapi, selalu saja tak selang berapa lama, muncul kretek sama produksi Soedjagad, entah dengan nama yang berbeda, atau kemasan yang nyaris sama. Tak ketinggalan pula slogan yang menarik hati para konsumen. Tentu saja Idroes gemas. Meskipun ia berhasil memenangkan ‘hati’ Roemisa, tapi tetap saja tak membuat Soedjagad menyerah. Puncaknya adalah ketika tiba-tiba Idroes menghilang kala masa pendudukan Jepang. Nyaris saja Roemisa jatuh ke pelukan Soedjagad.

Persaingan terus berlanjut bahkan sampai pasangan ini memiliki anak perempuan bernama Jeng Yah. Tapi selalu saja, Idroes selalu selangkah lebih maju. Kretek Gadis-lah yang membuat Idroes semakin sukses. Saat itu, seorang pemuda bernama Soeraja tengah dekat dengan Jeng Yah. Pemuda yang tak jelas asal-usulnya ini membuat Jeng Yah jatuh cinta. Mereka nyaris menikah, tapi sayang, peristiwa G30S/PKI membuat rencana mereka berantakan. Soeraja pun menghilang, Kretek Gadis juga sempat mengalami masa koma.

Dan… bagian yang lucu adalah saat pembaca rahasia luka di wajah Soedjagad terbuka apa penyebabnya. Dan terbongkar pula sebuah rahasia lain, yang membuat ketiga anak laki-laki Soedjagad justru merasa bersalah.

Wah, sebuah usaha yang sangat sederhana, melahirkan perusahaan kretek yang kemudian jadi nomer 1. Cover novel ini bisa membuat pembaca bertanya-tanya, siapakah si Gadis Kretek? Si Gadis yang tengah memegang rokok (yang kalo di iklan rokok aja kan gak boleh keliatan ada rokoknya… CMIIW). Tapi, gue suka cover-nya, tampak klasik.

Pembaca juga diberi ‘pengetahuan’ tentang segala sesuatu tentang kretek, mulai dari cara memilih tembakau dan cengkeh, sejarah kretek, bahan pembungkus kretek, plus resep rahasia yang membuat kretek itu jadi ‘enak’.

Tak hanya itu, Soedjagad juga mengajarkan pada anak tertuanya, bagaimana seharusnya seorang pemimpin itu bersikap, bahwa banyak yang menggantungkan hidup pada pabrik kretek mereka. Para buruh bukan hanya pekerja, tapi juga keluarga mereka.

Tapi, kenapa gue merasa porsi si Gadis Kretek ini terlalu singkat ya? Justru begitu panjang kisah cinta Idroes dan Roemisa, plus cerita tentang persaingan Idroes dan Soedjagad.
Read more »

Senin, 30 Juli 2012

The Sherlockian



The Sherlockian
Penerbit: Twelve, Hachette Book Group (2010)
350  hal.
(Pinjam sama Astrid)


Arthur Conan Doyle, sebenarnya rada ‘kesal’ dengan sosok Sherlock Holmes yang ternyata lebih ‘ngetop’ dibandingkan dirinya sendiri – si pencipta tokoh detektif flamboyan yang cerdas itu. Bahkan, para fans Holmes, menganggap sosok itu adalah nyata. Tak jarang Doyle menerima surat yang isi sebenarnya ditujukan kepada Holmes – ada yang minta cariin kucingnya yang hilang lah, minta tangkepin penjahat lah, dan lain-lain.

Maka, di suatu hari, Doyle memutuskan untuk ‘mengakhiri’ kisah Sherlock Holmes dalam ‘Kisah Penutup’ (baca: Memoar Sherlock Holmes). Doyle menerima caci-maki dari para penggemar Holmes yang terkejut. Mereka berduka.

8 tahuh kemudian, lagi-lagi, Doyle membuat kejutan. Dengan ‘memunculkan’ kembali kisah Sherlock Holmes. Kemunculan ini kembali menyisakan misteri, kenapa Holmes muncul kembali? Apa yang terjadi dalam kurun waktu 8 tahun itu?

Sir Arthur Conan Doyle rajin menulis buku harian. Tapi, justru buku harian yang memuat kisah hari-hari selama kurun waktu tersebut hilang.

Tahun 2010, para Sherlockian dikejutkan dengan berita bahwa salah satu anggota Baker Street Irregulars, kelompok Sherlockian yang ekslusif, berhasil menemukan buku harian itu. Tentu saja, para Sherlockian tak sabar menunggu laporan apa isi buku harian itu sebenarnya. Tapi sayangnya, si penemu buku harian itu  justru ditemukan tewas di kamar hotelnya.

Harold White, anggota terbaru dari Baker Street Irregulars, tidak mau menyerahkan perkembangan kasus itu pada polisi. Ia pun mulai melakukan penyelidikan a la ‘Sherlock Holmes’.

Layaknya Sherlock Holmes, baik Doyle maupun Harold memiliki ‘Watson’ mereka sendiri. Doyle dibantu oleh Bram Stroker (yup, sang penulis kisah Drakula), sementara Harold didampingi Sarah, seorang jurnalis yang ingin menjadikan kisah Diary Arthur Conan Doyle ini sebagai kisah ‘comeback’nya ke dunia jurnalistik.

Gue memutuskan untuk memasukkan buku ini ke dalam posting bareng BBI yang temanya ‘Historical Fiction’. Karena, Sir tokoh Arthur Conan Doyle boleh dibilang salah satu penulis yang membuat sejarah dengan tokoh Sherlock Holmes-nya, yang meskipun sudah satu abad, masih tetap memiliki penggemar tersendiri.

Buat gue yang baru saja mulai membaca kisah-kisah Sherlock Holmes, buku ini sangat menarik, sebuah kisah di belakang layar penulisan Holmes. Gak menyangka kan , kalau Doyle justru sebal dengan kesuksesan Sherlock Holmes. 

Reinbach Falls, Switzerland


Gaya penulisannya juga unik. Dua kisah yang berbeda, dengan rentang waktu yang jauh. Hingga akhirnya bertemu di satu titik. Jadi ikutan terharu pas ceritanya selesai.

Yang bikin gue cekikikan adalah saat membayangkan Arthur Conan Doyle dan Bram Stroker harus menyamar jadi perempuan untuk bisa masuk ke dalam sebuah pertemuan yang hanya boleh dihadiri oleh perempuan. Mereka berdua harus mencukur kumis mereka dan rela pake korset. 

Atau, silahkan bayangkan saat pertemuan Baker Street Irregulars, semuanya berdandan ala Sherlock Holmes. Mungkin bakalan tampak lucu, tapi namanya juga nge-fans berat, pastinya bakal diusahakan semirip mungkin dengan sang idola.

Ada thriller, ada juga humornya. 


Tentang penulis (dari goodreads.com):
Graham Moore is a twenty-eight-year-old graduate of Columbia University, where he received his degree in religious history. He grew up in Chicago, which was very cold, and then moved to New York, which was not really as cold, even though people who live there strangely pretend that it is.

He now lives in the not-at-all-cold Los Angeles, despite being the sort of person who thought he would never, ever live in Los Angeles. Life is funny that way.
Read more »

Jumat, 29 Juni 2012

The Postmistress



The Postmistress
Sarah Blake @ 2010
Meggy Soejatmiko (Terj.)
Elex Media Komputindo, Cet. I – April 2012
588  hal.
(Pinjam sama Astrid)

Ini adalah kisah dua perempuan yang bertugas menyampaikan berita. Sama-sama berperan penting dalam kehidupan ‘kelangsungan’ hidup seseorang.

Amerika – masa-masa Perang Dunia II, pemerintah sudah berjanji bahwa tidak akan ada pemuda yang dikirim ke medan perang. Tapi, tetap saja warga was-was. Bisa-bisa sewaktu-waktu tentara Jerman muncul di perairan Amerika.

Harry Vale, setia memantau perairan di di pesisir Franklin, di sekitar daerah tempat ia tinggal. Meskipun banyak yang menganggap remeh usahanya ini. Bahkan ia meminta kepala kantor pos yang baru, Iris James, untuk segera memotong sedikit tiang bendera di depan kantor pos yang terlalu menjulang. Khawatir ini akan menjadi tanda bagi tentara Jerman.

Iris James, si kepala kantor pos baru ini, sangat serius dengan pekerjaannya. Baginya, surat-surat yang masuk ke kantor posnya adalah sangat penting bagi kehidupan seseorang. Bisa saja di salah satu surat itu ada panggilan kerja untuk seorang pencari kerja, surat undangan, surat lamaran pria pada kekasihnya. Jika ini terlambat sampai ke orang yang bersangkutan, maka akan menghambat hari-hari orang lain.

Sementara, nun jauh di London, Frankie Bard, reporter asal Amerika, setia mengabarkan kepada dunia – Amerika tepatnya – akan kondisi perang yang sesungguhnya. Bom yang nyaris dijatuhkan di London setiap malam, orang-orang yang kehilangan sanak-saudara, teman dan tempat tinggal. Frankie mencoba membuka mata, bahwa perang itu sungguh ada. Ia meninggalkan kehidupan yang nyaman demi menyampaikan berita.

Adalah Will Fitch yang jadi benang merah antara kedua perempuan ini. Karena gagal membantu menyelamatkan nyawa seorang ibu saat melahirkan, Will Fitch merasa bersalah, ia pun ingin menebus rasa bersalahnya itu dengan pergi ke London, menjadi sukarelawan di sana. Meski berat, Emma, istrinya melepas kepergian suaminya. Will tak tahu kalau Emma sedang hamil. Dan, Will berjanji akan terus mengirimkan kabar dan segera pulang.

Di awal, kabar itu lancar, sampai suatu malam, terjadi tragedi yang merengut nyawa Will. Saat itu, Frankie yang baru saja berkenalan dengan Will, melihat surat yang akan dikirim Will pada Emma. Kejadian ini, membawanya mengambil keputusan untuk mencari berita dengan mewawancarai para pengungsi. Kembali ia harus menyaksikan peristiwa-peristiwa tragis. Selain itu, masih ada beban – surat Will, dan bahwa ia adalah sebagai salah satu penyampai berita buruk.

Dan, surat yang mengabarkan kematian Will juga tiba di kantor pos tempat Iris. Iris yang melihat bagaimana setiap hari Emma selalu melihat kotak pos-nya, menanti datangnya surat dari Will, tak tega untuk menyampaikan berita ini. Sosok Emma yang begitu rapuh, membuat semua orang ingin melindunginya.

Siapakah yang nantinya akan menyampaikan berita itu ke Emma? Iris atau Frankie? Yang jelas dua-duanya mempunyai beban yang berat.

Inilah cerita perang tapi tanpa dar-der-dor. Malah perangnya sendiri seolah gak ada. Padahal sesungguhnya ada di sekeliling mereka. Coba aja baca, saat Frankie masih sempat minum-minum di klub, atau teman-teman Harry yang masih asyik mancing. Padahal mereka semua juga was-was.

Dan bagaimana, keputusan seseorang bisa sangat mempengaruhi jalan hidup orang lain. Bagaimana juga rasa curiga justru lebih besar ada di tempat yang adem-ayem. Yang bikin sedih, saat seorang ibu melepas anaknya untuk pergi sendiri, biar anaknya selamat, lalu saat seorang anak melihat rumahnya sudah luluh lantak terkena bom dan gak tau keluarganya di mana. Ini adalah bagian-bagian yang bikin sesak. Hiks….

Gue sempat merasa bagian soal tiang bendera itu bagian yang gak penting. Tapi itu justru bagian itu yang jadi ‘penanda’ hubungan antara Iris dan Harry.

Cerita ini juga menggambarkan sosok perempuan yang ‘gagah’. Bukan berarti macho sih. Tapi berani. Frankie Bard dengan berita-beritanya di medan perang – tak sekali nyawanya pun terancam, dan Iris James, si lajang yang sempat jadi bahan omongan di tempat barunya karena penampilannya yang katanya rada gak cocok dengan lingkungan sekitar.

Judulnya sih rada gak nyambung atau menyesatkan kali ya, soalnya ternyata yang paling banyak rasanya justru si Frankie Bard, bukan Iris. Bahkan Emma rasanya juga lebih berperan di sini. 

Dan sekedar intermezo aja sih, di jaman itu sepertinya merokok untuk perempuan jadi hal yang hip, bahkan Emma yang sedang hamil pun masih terus merokok. 

O ya, inilah sosok Edward R. Murrow - wartawan perang yang jadi pembimbing Frankie


Read more »

Senin, 16 Januari 2012

Hotel on the Corner of Bitter and Sweet


Hotel on the Corner of Bitter and Sweet
Jamie Ford @ 2009
Leinovar Bahfein
Penerbit Matahati - Cet. 1, November 2011
398 hal.
(pinjam sama @balonbiru)



“Berapa lama kau akan menungguku, Henry?”

”Selama yang dibutuhkan…”
“Bagaimana kalau aku tetap di sini sampai tua dan ubanan __”
“Kalau begitu aku akan membawakanmu tongkat.”

(hal. 317)

Ah, betapa romantisnya kalimat-kalimat di atas. Didukung dengan cover-nya yang cantik, cuaca dingin-dingin abis hujan :D

Diceritakan dalam dua kurun waktu yang berbeda, tahun 1942 dan 1986, ber-setting di Amerika. Henry, anak laki-laki berusia 11 tahun, hidup dalam masa perang. Sebagai keturunan Cina, tidaklah mudah bagi Henry. Ayah Henry, seorang pria nasionalis sejati, ia sangat membenci Jepang yang sudah memporak-porandakan Cina. Ia sangat mendukung diusirnya rakyat Jepang dari Amerika. Dan ayah Henry menginginkan anaknya untuk menjadi ‘Amerika’, ia tidak diperbolehkan bicara bahasa Canton di rumah. Padahal orang tuanya sendiri tidak begitu paham bahasa Inggris. Di sekolah pun, Henry kerap jadi bahan ejekan. Ditambah lagi, ia wajib memakai bros ‘Aku Orang Cina’ ke mana pun ia pergi. Mungkin tujuannya biar gak dikira orang Jepang dan demi keselamatan Henry sendiri. Di sekolah, Henry bekerja di kantin, membantu menyediakan makan siang untuk para siswa.

Suatu hari, datanglah seorang gadis cantik bernama Keiko. Malang bagi Keiko, meskipun ia lahir di Amerika, tapi tetaplah di mata orang, ia tetap seorang Jepang. Keiko tinggal di kawasan Nihonmachi. Keiko dan Henry sama-sama bekerja di kantin. Dan saat itulah, dimulai persahabatan mereka. Hubungan yang sangat terlarang di mata ayah Henry. Tapi, bahkan, saat Keiko dan keluarganya, beserta warga keturunan Jepang lainnya harus tinggal di dalam kamp pengungsian, Henry tetap setia menemui Keiko dan kerap berkirim surat.

Tapi, hubungan ini tidak mulus. Ayah Henry yang mempunyai kuasa di kalangan keturunan Cina, menggunakan pengaruhnya untuk menjauhkan Henry dan Keiko. Dalam keadaan sakit pun, ayah Henry bisa ‘mensabotase’ surat-menyurat antara Henry dan Keiko. Yang pada akhirnya membuat Henry terpaksa mengalah dan hubungan itu pun terputus.

Tahun 1986, Henry yang baru saja kehilangan istrinya, lewat di depan hotel Panama yang sedang dibongkar. Hotel Panama ini adalah tempat warga Jepang menyimpan barang-barang mereka sebelum mereka dulu dibawa ke kamp pengungsian. Daripada menghancurkan kenangan mereka, para warga Jepang memilih untuk menyimpannya. Meskipun tak tahu kapan bisa diambil lagi.

Tanpa sengaja, Henry melihat sebuah benda yang membawanya kepada kenangan 40 tahun silam. Dan ia pun tergerak untuk mencari potongan kenangan yang lain.

Wahh.. tanpa terasa gue ikut terhanyut dalam kenangan Henry, kenangan akan cinta monyet, saat anak laki-laki 11 tahun berusaha untuk jadi dewasa, mencoba bertanggung jawab atas anak perempuan seusianya dan bahkan pengen ngajak kabur… Begitu lugu…

Buku ini gak hanya melulu soal hubungan Keiko dan Henry, tapi juga menyorot hubungan Henry dengan ayahnya yang kaku, ibunya yang terombang-ambing, antara kadang kasihan sama anaknya, tapi juga harus nurut sama suaminya. Padahal gue pengen lebih mengenal Keiko, tapi sayangnya, justru Henry yang paling dominan. Suka dengan Keiko yang manis.. pinter gambar. Dan uniknya nih, dua anak ini punya soundtrack lagu jazz.


Gue juga tertarik dengan fakta-fakta dalam buku ini. Misalnya Hotel Panama yang memang benar adanya. Dibangun oleh arsitek Jepang di tahun 1910, bernama Sabro Osaza. Sekarang, di dalam hotel ini, dibuat semacam lantai kaca, di mana para pengunjung bisa melihat ke basement di mana masih ada barang-barang yang ditinggalkan warga Jepang.

Penulisnya sendiri, Jamie Ford, adalah seorang keturunan Cina, yang akrab dengan sejarah Chinatown dan Nihonmachi. Kakek buyutnya hijrah ke San Fransisco pada tahun 1865.

Dan gue juga suka endingnya… gak banyak basa-basi… tapi manis…

4 payung cantik untuk Keiko dan Henry

Read more »

Selasa, 29 November 2011

Sarah’s Key

Sarah’s Key
Tatiana de Rosnay @2006
Lily Endang Joeliani (Terj.)
Elex Media Komputindo - 2011
339 Hal.
(Gramedia Plaza Semanggi)

Berlatar belakang sebuah sejarah. Tanggal 16 Juli 1942, penangkapan besar-besaran warga keturunan Yahudi oleh tentara Perancis. Sejumlah 1.129 lelaki, 2.916 perempuan, dan 4.115 anak-anak akhirnya berhasil tertangakap. Mereka dibawa kesebuah tempat bernama Velodroma d’Hiver. Di sana, mereka diperlakukan dengan sangat tidak manusiawi. Tak ada makanan, minuman dan sarana sanitasi yang memadai. Tak dipedulikan juga orang yang sakit, perempuan hamil atau orang tua. Banyak akhirnya yang meninggal di sana. Tempat itu adalah tempat penampungan sementara sebelum mereka dibawa ke Auschwitz. Kenapa jumlah laki-laki lebih sedikit dibanding perempuan dan anak-anak? Karena selama ini yang ‘diangkut’ hanya laki-laki, sementara perempuan dan anak-anak bisa dibilang aman. Makanya, banyak kaum laki-laki yang bersembunyi di tempat persembunyian di bawah tanah

Sebelum terjadinya penangkapan itu, orang-orang Yahudi diharuskan memakai tanda bintang kuning di baju mereka. Sekejap hidup mereka berubah. Berbagai larangan dikenakan untuk mereka. Orang dewasa bungkam, dan anak-anak tak mengerti dengan perubahan ini. Tiba-tiba saja semua orang memandang mereka dengan tatapan menghina, tiba-tiba mereka kehilangan teman-teman dan dijauhi.


Kisah di dalam buku ini di mulai pada malam naas itu. Tanggal 16 Juli 1942, menjadi awal saat-saat terburuk dalam hidup seorang gadis bernama Sarah. Keluarga Starzi

Keluarga Starzynski dijemput oleh tentara Perancis dan kemudian dibawa ke Velodroma d’Hiver. Mengira akan segera kembali, Sarah meminta adiknya Michel untuk bersembunyi di dalam lemari, tempat bermain rahasia mereka. Sarah berjanji akan segera menjemput Michel. Sarah menyimpan kunci lemari itu dengan sangat hati-hati.

Keadaan semakin buruk, karena para lelaki dipisahkan dari istri dan anak mereka. Bahkan akhirnya, para ibu juga harus dipisahkan dengan anak-anak mereka. Sarah tak mau pasrah saja berada dalam kamp yang mengerikan itu. Ia cemas akan keadaan adiknya. Ada salah satu anak di dalam kamp itu yang berniat untuk melarikan diri dan meskipun sulit, akhirnya mereka berdua berhasil lolos. Beruntung masih ada orang-orang Perancis yang berbaik hati mau membantu mereka. Dan dengan segala resiko mau menampung dan membantu Sarah untuk kembali ke rumahnya.

Enam puluh tahun kemudian, seorang wartawati asal Amerika bernama Julia ditugaskan untuk membuat liputan tentang peristiwa penangkapan besar-besaran itu – yang kini dikenal dengan nama Vel d’Hiv. Tak mudah mencari informasi tentang hal itu, karena memang hal itu secara tidak langsung tidak diakui oleh warga Perancis. Banyak yang melupakan peristiwa itu, meskipun pada akhirnya Presiden Jacques Chirac pada tahun 1995 mengakui keterlibatan tentara Perancis dalam penangkapan tersebut.


Saat pencarian data, secara kebetulan Julia menemukan bahwa keluarga Tézac – keluarga suaminya – terhubung dengan Sarah. Julia pun semakin giat mencari data-data dan mulai melibatkan emosi dan perasaannya. Tak peduli bahwa suaminya, Bertrand Tézac tidak setuju dengan rencana itu.

Tindakan Julia menimbulkan pro dan kontra di dalam keluarga Tézac. Julia sendiri selama ini memang tidak terlalu dekat dengan keluarga Tézac. Beruntung ayah mertuanya mau mendukungnya dan membantu Julia menelusuri jejak masa lalu Sarah.

Konflik lain dalam buku ini, adalah tentang kemelut rumah tangga Julia dan Bertrand. Bertrand yang tidak setia, ditambah krisis paruh baya yang membuat Bertrand meminta Julia menggugurkan kandungannya.

Membaca novel ini, ada rasa ngilu dan sedih banget. Gue rela begadang demi nyelesain novel ini, bab-babnya yang pendek, lalu berpindah-pindah antara tahun 1942 dan 2002 membuat jadi speed membaca juga jadi meningkat. Sambil baca di sebelah Mika tidur, yahhh.. gue pun jadi mellow… Bolak-balik gue liat Mika, terus gue pegang tangannya, ciumin pipinya. Sambil ‘mewek-mewek’ dikit.. Hihihi… Isi cerita novel ini sanggup menguras air mata. Membayangkan betapa sedihnya berpisah dengan orang-orang yang dicintai.

Gue sih lebih tertarik baca bagian Sarah, dibanding Julia. Julia menurut gue agak egois, meskipun endingnya dia bikin ayah mertuanya lega. Gue lebih mengerti sikap Sarah yang menjadi lebih keras karakternya. Peristiwa pahit yang dialami mengubah seorang gadis cilik yang ceria menjadi gadis yang tampak lebih dewasa daripada umurnya.

Karakter Julia, seorang yang punya keinginan keras. Saat ia tahu ada hubungan antara apartemen yang akan segera ditinggalinya dengan berita yang akan ditulis, ia menggali lebih jauh. Meskipun resikonya berhadapan dengan keluarga besar sang suami. Ditambah lagi, dalam keadaan hamil muda, emosi Julia sebagai seorang ibu membuatnya merasa harus mencari lebih jauh tentang Sarah.

Ending cerita memang agak klise, tapi gak mengurangi keindahan novel ini. Hmmm coba Julia meng-interview tentara-tentara Perancis yang mungkin masih hidup… pengen tau apa sih yang mereka pikirin waktu ngeliat anak-anak kecil itu.

Buku yang berlatar tragedi Holocaust atau masa-masa pendudukan Nazi sendiri, udah beberapa yang gue baca seperti The Boy in the Striped Pyjamas, Suite Française, The Guernsey Literary and Potato Peel Pie Society, Five Quarters of the Orange, dan Hana’s Suitcase. Dan selalu bikin hati jadi gak enak dan bikin sesak. Membayangkan orang-orang yang masuk ke kamar gas itu… *sigh* Gue jadi merinding…

Rasanya ini review terpanjang gue. Entah mungkin karena banyak emosi yang ikut saat gue membaca buku ini, jadinya pengen semua di'curhatin' di sini. Dan ngeliat covernya, gue membayangkan itu adalah Michel yang 'menjemput' Sarah, terus mereka kembali seperti dulu, ke masa kecil yang bahagia. Saat mereka taunya cuma main, gak tau yang namanya perang itu apa, gak tau apa bedanya jadi orang Yahudi sama orang-orang lainnya.

Novel Sarah’s Key juga udah difilmkan


4,5/5 bintang untuk Sarah.
Read more »

Senin, 27 Juni 2011

The HERetic’s Daughter

The HERetic’s Daughter
Kathleen Kent @2008
Leinovar Bahfein (Terj.)
Matahati, Mei 2011
282 hal.

Berkisah tentang kehidupan di Inggris sekitar tahun 1690 – 1692, masa-masa yang penuh dengan kemunafikan. Keluarga Carrier pindah dari Billerica ke Andover. Tapi kedatangan mereka tidak disambut ramah oleh para penduduk. Mereka dianggap membawa wabah penyakit cacar yang kala itu adalah penyakit yang mematikan. Banyak penduduk terkena cacar, akhirnya meninggal, termasuk nenek Sarah Carrier. Sebab lainnya adalah, karena ibu Sarah, Martha Carrier dianggap sebagai penyihir, penganut aliran sesat, apalagi Martha tidak akan mau datang ke gereja seandainya tidak dipaksa oleh ibunya.

Banyak cerita-cerita miring seputar keluarga Carrier, tentang ayahnya yang mantan pengawal Kerajaan Inggris, tentang perebutan tanah keluarga, belum lagi gosip-gosip yang sering menyudutkan mereka. Jika salah satu tetangga mengalami musibah – dan kebetulan beberapa hari sebelumnya bertengkar dengan Martha, maka mereka akan menuduh semua itu disebabkan sihir Martha Carrier.

Di masa itu, banyak orang-orang tak bersalah dijebloskan ke penjara karena dianggap sebagai penyihir, tak hanya orang tua, tapi anak-anak dari mereka yang tertuduh pun diseret masuk ke penjara. Tujuannya, jika anak-anak itu dimasukkan ke penjara juga, maka orang tua mereka akan mengakui tindakan jahat mereka, bahwa mereka memang penganut aliran sesat.

Di masa itu penganut agama Kristen terpecah dua. Ada yang mengaku sebagai penganut Kristen yang taat, Di setiap khotbahnya, sang Pendeta selalu menekankan akan siksa neraka bagi mereka yang menyimpang. Dan di sisi lain, penganut ajaran seperti Martha Carrier punya pendapat sendiri. Ia teguh pada pendiriannya.

Pada akhirnya, Martha Carrier pun masuk penjara. Tapi, ia dengan teguh tetap tidak mau mengaku bersalah. Satu per satu anaknya pun diseret masuk ke penjara. Sarah yang sering bersimpangan dengan ibunya pelan-pelan mengerti akan keteguhan sikap ibunya. Sama seperti yang lain, Martha Carrier hanya diminta mengaku, tapi tidak diberi kesempatan untuk membela diri.

Orang-orang yang katanya penganut Kristen yang taat, malah saling bergunjing, menyebar berita bohong. Seorang istri kepala polisi tega-teganya merampas baju para tahanan, sedikit memaksa mereka untuk menukar pakaian mereka demi makanan yang lebih layak di dalam penjara.

Awalnya gue agak bingung membaca buku ini. Latar belakang sejarahnya menarik, tentang penyihir Salem – mungkin gue beberapa kali membaca buku dengan latar belakang yang sama. Tapi tetap pengetahuan gue akan hal ini masih minim. Di buku ini juga terlalu sedikit pengantar biar pembaca sedikit jelas dengan sejarah yang melatari buku ini. Hmmm.. jadi inget The Virgin Blue - Tracy Chevallier.

Cerita ini sendiri, di bagian depan pun agak lamban. Tadinya gue berharap ada tanda-tanda kenapa Martha Carrier dianggap sebagai penyihir, atau ada rahasia yang dibagi oleh nenek Sarah. Hanya ada satu buku harian Martha Carrier yang tadi gue bikin bakal menyingkap semua, tapi ternyata sampai akhir pun, gak dikasih tau apa isi buku itu.

Tapi, makin ke belakang, isi buku ini makin bikin miris, bikin gregetan dan membuat gue berpikir, ternyata orang-orang jaman dulu juga udah pada gila. Gak peduli jenis kelamin, bahkan perempuan tua, lagi hamil, anak-anak yang gak jelas apakah mereka bersalah atau gak, asal diisukan sebagai penganut aliran sesat langsung main tangkap dan berakhir di tiang gantungan.

Read more »

Rabu, 27 April 2011

The Virgin Blue

The Virgin Blue (Biru Sang Perawan)
Tracy Chevalier
Lanny Murtiharjana (Terj.)
GPU – Juli 2006
360 Hal.

Perancis tahun 1500an, penuh dengan intrik-intrik yang berhubungan dengan agama. Seorang gadis bernama Isabelle du Moulin, tadinya hanya gadis biasa, anak seorang bidan. Saat rambutnya berubah menjadi merah, ia dipanggil La Rousse. Tadinya itu hanyalah panggilan biasa, tapi ketika seorang pendeta baru datang dan menyebarkan ajaran baru, Isabelle jadi dikucilkan, dianggap punya ‘hubungan batin’ dengan Sang Perawan. Ia harus menutup rapat-rapat rambutnya, agar tak sehelai pun rambut merahnya terlihat.

Karena hamil di luar nikah, Isabelle terpaksa menikah dengan Etienne Tournier. Keluarga Tournier adalah keluarga yang terpandang. Ayah Isabelle membenci mereka. Tinggal di rumah keluarga Tournier, tidak membuat Isabelle merasa tidak nyaman. Hampir semua bersikap memusuhinya, terutama ibu mertuanya, Hannah. Isabelle mempunyai 3 orang anak dari hasil pernikahannya dengan Etienne. Salah satunya perempuan, yang ia beri nama Marie – nama yang menjadi kontroversi pada masa itu.

Saat terjadi pembantaian besar-besaran, keluarga Tournier meninggalkan rumah dan lading pertanian mereka dan pindah ke desa lain.

Dan, selang 4 abad kemudian, Ella Turner pindah ke Perancis mengikuti suaminya yang ditugaskan di sana. Di Perancis, ia kerap merasa terasing. Karena di kota kecil itu, semua orang maunya berbahasa Perancis, dan meskipun berusaha berkomunikasi dengan bahasa Perancis yang masih belepotan, masih saja tidak ditanggapi dan malah dipandang sinis. Para penduduk kerap bergunjing dan mau tahu semua urusan orang lain. Ella menjadi merasa tidak nyaman.

Dari hasil korespondensi dengan kerabatnya, ia pun akhirnya mencari informasi tentang silsilah keluarganya, di mana ternyata nama Turner berasal dari nama Tournier. Dan, mulailah pencarian sejarah yang membawanya pada banyak perubahan. Dalam prosesnya, Ella berkenalan dengan seorang pustakawan, Jean-Paul.

Ella kerap mendapat mimpi-mimpi berwarna biru, biru yang sama seperti yang pernah dilihat Isabelle. Warna biru yang membawa malapetaka dan akhir yang tragis dari hidup anak perempuannya, Marie.

Biasanya gue tertarik membaca fiksi yang ada sejarah-sejarahnya sedikit. Tapi, entah kenapa, membaca buku yang gak terlalu tebal ini rada membuat gue bosan. Mungkin karena gue gak mencernanya dengan ‘sepenuh hati’, makanya gue juga agak gak menangkap inti cerita ini. Selain, bahwa banyak hal tabu di masa itu, bahwa orang lebih percaya takhayul ketimbang ajaran agama.
Read more »

Minggu, 20 Maret 2011

Suite Française

Suite Française
Irène Némirovsky @ 1942
Translated by Sandra Smith
Vintage International Edition - 2007
431 pages

Novel ini mengambil setting sekitar tahun 1940an. Terdiri atas dua bagian, di mana bagian pertama, Storm in June, berkisah tentang awal-awal Perang Dunia II, saat Jerman mulai datang ke Perancis, memborbardir Perancis dengan bom lewat serangan udara.

Para warga mulai sibuk mengungsi ke daerah yang belum diduduki oleh tentara Jerman. Kota Paris penuh dengan pengungsi yang luntang-lantung. Ada pasangan penulis, Gabriel Cortez, yang dalam keadaan seperti ini masih egois, masih terus berusaha mencari tempat nyaman dan nomer satu, lalu pasangan suami istri Michaud, yang masih khawatir kehilangan pekerjaan kalau mereka tidak mengikuti perintah atasan mereka, ada lagi keluarga besar Péricand yang heboh waktu ‘ketinggalan’ bapak mertuanya.

Bagian kedua, Dolce, berkisah tentang masa-masa pendudukan Jerman. Hampir di setiap rumah, menampung satu tentara Jerman. Perasaan mereka terhadap para tentara Jerman sendiri berbeda satu sama lain. Banyak orang-orang tua, terutama wanita, sangat membenci tentara Jerman, karena sudah ‘merampas’ suami dan anak laki-laki mereka sehingga mereka harus hidup sendiri, tapi para kaum muda, terutama perempuan dan anak-anak, pelan-pelan mulai menerima tentara Jerman sebagai bagian dari kehidupan mereka sehari-hari, karena yang mereka lihat adalah tentara Jerman yang baik hati, sopan dan ramah. Para perempuan terkadang mencari kesempatan untuk ‘flirting’ dengan tentara Jerman.

Bahkan ketika akhirnya tentara Jerman pergi, ada sedikit rasa kehilangan. Mereka bingung, antara harus sedih karena kehilangan teman atau harus bahagia karena akhirnya bebas.

Mungkin novel ini gak akan terlalu berkesan buat gue seandainya gue gak tau sedikit latar belakang tentang penulisnya. Irène Némirovsky, seorang penulis yang cukup terkenal di masanya dengan salah satu novelnya yang juga jadi best seller. Tapi karena ia keturunan Yahudi, maka ia menjadi ‘sasaran empuk’ untuk ditangkap, kemudian akhirnya meninggal di Auschwitz pada tahun 1942.

Novel ini sendiri tampaknya seharusnya masih ada lanjutannya. Tapi tidak sempat terselesaikan. Ini bisa dilihat dari appendix yang salah satunya adalah tentang proses penulisan novel ini. Appendix lain berisi korespondensi penulis dengan agen penerbit, dan korespondensi suami penulis dengan pihak-pihak lain ketika mencari keberadaan penulis setelah ditangkap. Beruntung naskah ini berhasil ‘diselundupkan’ oleh salah satu anak mereka, hingga akhirnya bisa diterbitkan dalam bentuk buku.

Biasanya gue termasuk orang yang ‘malas’ membaca appendix. Buat gue yang penting kan isi novelnya sendiri, tapi buku ini ternyata meninggalkan ‘kesan’ yang lebih jauh setelah gue membaca appendix-nya.
Read more »

Minggu, 28 November 2010

The Rossetti Letter

The Rossetti Letter (Surat Rosetti)
Christi Phillips @ 2007
Gita Yuliani (Terj.)
GPU - Oktober 2010
528 Hal.

Claire Donovan, kalang kabut ketika ia tahu bahan untuk disertasinya juga dibahas oleh salah satu ahli sejarah asal Cambridge. Sejarahwan itu akan segera menerbitkan buku tentang Konspirasi Spanyol. Meskipun Claire adalah calon professor, tapi tetap saja, ketika diminta menyampaikan makalah di depan umum, dia sempat pingsan. Kebetulan si sejarawan itu akan mempresentasikan makalahnya di Venesia, Claire pun berniat ingin datang ke sana. Tapi, apa daya, dananya gak ada. Untungnya, Claire diminta untuk menjadi pendamping seorang gadis muda berjalan-jalan ke Venesia, sementara orang tuanya berbulan madu ke Perancis. Semua biaya ditanggung oleh orang tua gadis itu. Buat Claire, inilah kesempatan melihat langsung kota yang menjadi saksi sejarah untuk bahan disertasinya itu. Claire berniat mendatangi langsung tempat-tempat kejadian perkara. Terutama yang berhubungan dengan Surat Rossetti.

Ada apa dengan Surat Rossetti? Alesandra Rossetti adalah seorang pelacur yang cukup terkenal di Venesia pada masanya. Salah satu ‘pelanggannya’ mempunyai kedudukan penting dan berencana untuk mengambil alih kekuasaan di Venesia. Mengetaui konspirasi yang terjadi, Alesandra berniat melaporkan rencana jahat itu. Tapi, nyawanya sendiri nyaris hilang gara-gara hal itu.

Sementara itu, Claire mendatangi perpustakaan di Venesia untuk memperoleh buku-buku yang berhubungan dengan Surat Rossetti, sayangnya, tidak terlalu banyak membantu. Selain karena beberapa buku yang diinginkan hilang karena banjir atau karena sudah diambil duluan oleh si Profesor dari Inggris itu.

Beberapa pertemuan dengan professor Inggris itu tidak berlangsung mulus. Claire selalu merasa terintimidasi dengan sikapnya yang seakan menganggap Claire bodoh.

Kalau saja, cerita di buku yang lumayan tebal ini hanya berkisar tentang teori-teori dan dugaan-dugaan Claire atas apa yang terjadi di masa lalu, maka buat gue, buku ini akan jadi sangat membosankan. Tapi, karena diselang-selingi oleh kejadian di masa yang sebenarnya, diceritakan sendiri oleh Alessandra Rossetti, maka cerita ini jadi lebih menarik. Memang Konspirasi Spanyol itu ada, tapi tokoh Alessandra Rossetti ini hanyalah tokoh rekaan. Gue nyaris menganggap Alessandra Rosseti beneran ada kalau aja gue gak membaca catatan dari penulis.

Endingnya buat gue bagus, karena menuntaskan teka-teki ‘keberadaan’ dan apa yang terjadi sebenarnya dengan Alessandra. Tapi, yang ketebak sih, siapa si cowok yang marah-marah di airport. Ya ketauan aja, kalau nantinya dia bakal ada hubungan sama si Claire.

Buku selajutnya, bakal berkisah tentang 'temuan' Claire selama jadi pengajar di Cambridge -- hehe, ini tentunya atas tawaran dari si Profesor Inggris itu.

Read more »

Rabu, 07 April 2010

Buddha

Buddha: A Story of Enlightenment
Deepak Chopra @ 2007
Rosemary Kesauly (Terj.)
GPU - April 2008
400 Hal.

Raja Suddhodana adalah raja yang haus dengan kekuasaan (tentu aja.. mana ada raja yang diem aja?). Ia berperang untuk menjatuhkan musuh-musuhnya, darah dan kesakitan adalah adrenalin yang terus memacunya, agar musuh-musuh bertekuk lutut dan menyerah di bawah kekuasaannya. Tentu saja, untuk menjaga agar kerajaannya tetap utuh, ia membutuhkan seorang penerus, seorang anak laki-laki.

Anak laki-laki yang ditunggu itu pun lahir. Ia diberi nama Siddhartha. Namun sayang, ibunya, Maya, meninggal beberapa hari setelah kelahiran Pangeran Siddharta. Pendeta-pendeta Brahmana dipanggil untuk meramalkan masa depannya. Pangeran Siddhartha diramal akan menguasai dunia dari empat penjuru mata angin. Mendengar ramalan ini, tentu saja Raja Suddhodana gembira. Tapi, ternyata menguasai dunia di sini bukan dalam arti menjadi raja, tapi menjadi seseorang yang lain.

Raja segera memerintahkan agar pintu-pintu kerajaan ditutup, penduduk yang sakit, yang sudah tua diusir dan dipindahkan ke tempat lain. Sang Pangeran Muda ini tidak boleh melihat adanya penderitaan. Ia harus diajarkan untuk menjadi seorang raja, menjadi prajurit dan calon pemimpin.

Untuk menemaninya, dipanggillah Devadatta, seorang pangeran muda dari salah satu kerajaan yang ditaklukan Raja Suddhodana. Tapi sayang, Devadatta punya misi tersendiri. Bukan menjadi teman, ia malah akan balik menjadi lawan.

Tapi layaknya remaja, Pangeran Siddhartha punya banyak keingintahuan. Temannya hanya Channa, anak seorang pengurus kuda. Pangeran Siddhartha merasa ada yang aneh di dalam kerajaan ini. Ia sering mendengar ‘suara-suara’ di dalam kepalanya sendiri. Ia berbeda dari bagaimana seorang pangeran harus berlaku. Dan ini membuat ayah dan gurunya cemas.

Pangeran Siddhartha pun memilih jalannya sendiri. Di usianya yang ke 29 tahun, ia memilih meninggalkan kehidupan istana, meninggalkan istri dan anaknya dan pergi mengembara menjadi seorang petapa.

Dalam perjalanannya menjadi petapa inilah, Siddhartha yang berganti nama menjadi Gautama – nama keluarga yang sudah lama tidak dipakai, ia mencari guru yang bisa mengajarinya, memberi jawaban atas apa yang dicarinya. Mencari pencerahan dan meninggalkan segala hal yang berbau duniawi.

Ia bertemu dengan banyak petapa, ada yang baik, ada yang ternyata hanya berpura-pura menjadi petapa agar bisa mengundang belas kasihan orang. 45 tahun lamanya ia menjadi seorang petapa, Gautama menjadi seorang Buddha, pengikut pertamanya adalah 5 orang petapa yang di awal-awal sering mengadakan perjalanan bersama Gautama. Pada akhirnya, Gautama menemukan sebuah pencerahan, ia memandang hidup dengan sederhana dan damaiiiii banget.

Sejujurnya gue tidak terlalu mengenal sosok ‘Buddha’. Gue hanya tau dari patung-patung yang ada di Candi Borobudur, kalau Buddha itu bernama Siddhartha Gautama. Hanya itu. Dari buku ini, hanya dua bagian pertama yang bisa gue ‘nikmati’, yaitu bagian pertama saat masih menjadi Siddharta dan bagian kedua ketika udah jadi Gautama. Bagian ketiga, yang judulnya Buddha, rasanya lebih serius, meskipun harus gue akui isinya bagus, justru di bagian ini (mungkin) inti dari pelajaran Buddha. Tapi… ya itu, mungkin karena terlalu serius, gue jadi bosan dan memilih ‘mempercepat’ baca bagian terakhir.

Meskipun gue bukan penganut Buddha, tapi pelajaran-pelajaranya bisa diambil untuk semua orang, bukan hanya untuk penganut Buddha.
Read more »

Selasa, 15 September 2009

The Palace of Illusions (Istana Khayalan)

The Palace of Illusions (Istana Khayalan)
Chitra Banerjee Divakaruni @ 2008
Gita Yuliani K (Terj.)
GPU - Juli 2009
496 Hal.

Drupadi… dari awal kelahirannya sudah membuat orang terpana. Ia lahir dari api. Bergandengan tangan dengan sang kakak, Dre, yang memang diharapkan kelahirannya untuk membalaskan dendam sang ayah kepada Drona, seorang brahmana yang pernah diakui Raja Drupada sebagai sahabat. Kehadirannya sebenarnya tidaklah diharapkan. Maka itu, nama yang diberikan ayahnya pun ‘biasa-biasa’ saja artinya.

Tapi, kisah yang mengiringi hidupnya dari awal tidaklah biasa. Selain karena cara ia dilahirkan, ramalan tentang perjalanan hidupnya pun penuh dengan kisah tragis. Seorang peramal bernama Byasa, berkata bahwa Drupadi akan menikah dengan lima orang laki-laki, ia juga akan menyebabkan perang yang membuat jutaan perempuan menjadi janda, ia akan menyebabkan kematian kakaknya sendiri.

Tak ada yang bisa dilakukan untukmenghindari ramalan itu, selain lebih bersikap bijak. Drupadi, sejak kecil tidaklah mau menjadi seorang perempuan pada umumnya – yang hanya mengenal mengurus suami, bertingkah laku manis dan sopan. Tapi, ia adalah anak yang haus pengetahuan. Setiap Dre belajar, ia akan bersembunyi di balik tirai dan ikut mendengarkan semua pelajaran Dre. Adalah Khrisna, yang selalu menjadi sahabatnya dan gemar mengajukan pertanyaan atau pernyataan yang penuh filosofi.

Ketika tiba waktunya bagi Drupadi untuk menikah, Raja Drupada mengadakan sayembara yang cukup sulit. Sayembara itu sebenarnya hanyalah ‘syarat’, karena dari awal, seorang laki-laki bernama Arjuna, sudah diharapkan (atau dipastikan) akan memenangkan sayembara itu. Tapi, ternyata, Arjuna mempunyai saingan berat, yaitu Karna – seorang anak kusir kuda yang diangkat menjadi raja oleh Duryodana, salah satu dari 100 Kurawa – sepupu Arjuna sekaligus musuh besarnya.

Karena tidak satu kasta, Karna ‘disingkirkan’ dengan tidak hormat. Meskipun Drupadi akhirnya sangat menyesal dengan keputusan itu. Tapi, seperti yang sudah diharapkan, Arjuna-lah yang menjadi sang pemenang dan otomatis menjadi suami Drupadi. Namun, ternyata, Drupadi belum boleh berlega hati, karena, sebagai anak yang patuh pada ibunya, Kunti, dan terbiasa berbagi dengan saudara-saudaranya, Arjuna tidak bisa menolak ketika Kunti meminta-nya ‘berbagi istri’. Itulah awal Drupadi akhirnya menikah dengan para Pandawa.

Dalam kisah ini, penuh dengan balas dendam, hawa nafsu dan penderitaan. Para Pandawa yang terusir dari istana mereka sendiri, akhirnya mempunyai kesempatan untuk membangun istana yang sangat indah yang hampir tidak mungkin bisa dibayangkan dalam benak manusia biasa. Istana Khayalan – nama pemberian Drupadi. Dari awal, si pembuat istana sudah mewanti-wanti agar tidak mengundang orang ke dalam istana tersebut. Tapi, memang dasar manusia, meskipun setengah dewa, ternyata masih memiliki hawa nafsu dan sifat pamer.

Karena kebodohan Yudhistira, mereka semua akhirnya kehilangan segala kemewahan yang dimilikinya. Drupadi yang hampir dipermalukan, mengucapkan sumpah yang akhirnya mengawali semakin meruncingnya hubungan antara Kurawa dan Pandawa.

Peperangan hebat terjadi. Lawan adalah saudara, sahabat dan orang-orang yang mereka kasihi. Balas dendam jadi motif utama.

Baru sekali ini gue baca buku tentang tokoh-tokoh yang selama ini gue hanya tau ada di dunia ‘pewayangan’. Gue baru tau nama-nama para pandawa, anak siapa Gatotkaca dan, sosok Srikandi. Entah bener apa nggak, karena gue gak pernah ngikutin cerita wayang, tapi, kematian semua tokoh-tokoh dalam cerita ini sangat tragis.

Drupadi sendiri digambarkan sebagai sosok perempuan yang menginginkan ‘kesetaraan’ dengan laki-laki, ia juga istri yang setia, ia memilih mendampingi suami-suaminya di pengasingan. Tapi, tetap, ia harus memendam perasaan cinta, rindu dan bersalah sekaligus karena membuat laki-laki lain sengsara.

Ceritanya eksotis banget, penuh dengan ramalan, mantra-mantra, kutukan, astra-astra, dan intrik-intrik yang ‘njelimet. Kata-kata yang puitis, banyak banget filosofinya. Hati-hati kalo mengeluarkan kutukan, karena bakal beneran kejadian dan bikin menderita tujuh turunan.
Read more »

Senin, 16 Maret 2009

Taj Mahal: Kisah Cinta Abadi

Taj Mahal: Kisah Cinta Abadi (Beneath a Marble Sky: A Novel of the Taj Mahal)
John Shors @ 2004
Meithya Rose (Terj.)
Mizan – Cet. VII, Maret 2008
457 Hal.

Waktu baca buku ‘Mehrunissa’ dan ‘Nur Jahan’, gue tau, gimana ‘berdarah-darah’nya sejarah kesultanan Mughal di India. Gimana seorang ayah bisa demikian kejam sama anaknya, atau bahkan, anak yang rela melakukan apa pun demi mendapatkan kedudukan tertinggi sebagai Sultan Mughal, rela membunuh saudaranya sendiri untuk memuluskan jalan dengan berbagai intrik-intrik yang mengerikan.

Seperti yang diketahui, dari tiga anak Sultan Jahangir: Pangeran Khusrau, Pangeran Khuram dan Pangeran Parvis – hanya Pangeran Khuram-lah yang sejak awal dianggap berpotensi menggantikan kedudukan ayahnya.

Memang setelah berbagai pemberontakan, akhirnya, Pangeran Khuram pun naik tahta menggantikan ayahnya. Ia pun bergelar Shah Jahan. Beristrikan Arjumand, yang kemudian diberi gelar Mumtaz Mahal. Shah Jahan dan Mumtaz Mahal memiliki banyak anak – yang paling menonjol di buku ini adalah Pangeran Dara, Putri Jahanara dan Pangeran Aurangzeb. Anak-anak laki-laki yang lain tidaklah terlalu menonjol, sehingga jarang diberi tugas penting oleh ayah mereka, sementara anak-anak perempuan, lebih banyak diasuh oleh para dayang-dayang di dalam harem. Hanya Putri Jahanaralah yang mirip sekali dengan ibunya.

Dalam buku ini, Putri Jahanara membagi kisahnya kepada dua orang cucunya, Gulbadan dan Rurayya tentang sejarah keluarga yang penuh dengan rahasia dan sangat berbahaya. Di masa tuanya, Putri Jahanara harus hidup dalam penyamaran demi keselamatan dirinya dan keluarganya.

Jauh sebelum kedua cucu itu lahir, ketika Putri Jahanara masih hidup di balik Benteng Merah, ketika kakek mereka – Shah Jahan masih berkuasa dan Mumtaz Mahal masih hidup, persaingan terselubung antara Pangeran Dara dan Pangeran Aurangzeb sudah mulai terasa. Mungkin bukan Pangeran Dara yang menghendaki adanya persaingan, tapi sikap Pangeran Aurangzeb yang sangat ambisius menimbulkan percikan-percikan itu.

Pangeran Dara, lebih santun, pendiam dan lebih memilih membaca kitab-kitab sejarah, seni daripada mengasah keterampilan di medan perang. Berbeda dengan Pangeran Aurangzeb, yang dengan senang hati menunjukkan kekuasaannya di arena perang dan bangga dengan luka-luka yang ia dapat. Ia tak segan-segan membunuh dan selalu berdalih dengan mengambil ayat-ayat di kitab suci Al-Qu’ran demi membenarkan tindakannya.

Sementara Jahanara, ia adalah gadis yang cerdas, cerminan ibunya. Tapi, tetap saja, ia tak kuasa menolak ketika harus dinikahkan dengan saudagar kaya oleh ayahnya demi kepentingan kerajaan. Khondamir nama suaminya itu, adalah laki-laki yang kasar, tamak, sombong dan gemar main perempuan. Ia kerap menyalahkan Jahanara karena tak kunjung hamil dan memberinya seorang anak laki-laki.

Jahanara yang sejak kecil bermimpi agar bisa jatuh cinta seperti ayah dan ibunya harus menerima kenyataan. Tapi, Jahanara bukanlah perempuan yang mudah putus asa. Ia mencari jalan agar bisa berada sejauh mungkin dari Khondamir. Kesempatan itu datang setelah kematian ibunya karena melahirkan bayi yang hmmm… kesekian belas.

Jahanara berjanji pada Arjumand untuk selalu menjaga ayahnya. Sementara Shah Jahan yang sangat berduka karena wafatnya Arjumand, mengurung diri di dalam kamar, melupakan tanggung jawabnya sebagai sultan. Demi cintanya pada Arjumand, ia memerintahkan seorang perancang bangunan bernama Ustad Isa untuk membangun sebuah bangunan megah untuk tempat peristirahatan terakhir istrinya dan untuk mengenang cintanya pada Mumtaz Mahal. Bangunan yang harus mencerminkan kecantikan istrinya dan mencerminkan cinta kasihnya yang begitu besar.

Jahanara diperintahkan untuk mengawasi jalannya proyek itu dan mengharuskan Jahanara tinggal di dalam lingkungan Benteng Merah. Seiring dengan berjalannya waktu, ternyata Jahanara dan Isa pun jatuh cinta, tapi, statusnya sebagai seorang istri, menahan dirinya untuk berbuat lebih. Namun, tak disangka-sangka, ternyata Shah Jahan, merestui hubungan itu. Hubungan cinta itu pun berlangsung sembunyi-sembunyi. Jahanara yang ingin memiliki anak, mengatur bagaimana caranya agar Khondamir berpikir bahwa Jahanara mengandung anaknya dan bukan anak dari Isa.

Arjumand - nama anak Jahanara dan Isa - lahir di tengah-tengah perselisihan keluarga yang makin meruncing. Aurangzeb makin melebarkan pengaruhnya untuk melancarkan jalannya sebagai sultan. Ia membenci Dara, membenci para seniman, membenci kaum Hindu. Ketika ayahnya jatuh sakit, kesempatan baginya untuk mengambil alih kepemimpinan. Usaha untuk menghalangi Aurangzeb gagal. Puteri Jahanara ditahan bersama ayahnya, di sebuah menara di Benteng Merah dengan pemandangan yang mengarah ke Taj Mahal. Sedangkan, Pangeran Dara pun dihukum mati.

Kalau mau dibilang ini ‘pure’ tentang kisah cintanya Shah Jahan dan Mumtaz Mahal, rasanya gak juga ya. Malah lebih banyak cerita ‘cinta terlarang’nya Jahanara yang terlalu muluk dan penuh mimpi dan bahasa yang berbunga-bunga. Belum lagi, gimana mungkin, seorang ayah yang notabene seorang sultan – penguasa tertinggi kesultanan yang sangat dihormati – mendukung anaknya untuk perselingkuh. Padahal, taruhannya kan adalah harga diri dan kehormatan para anggota keluarga kesultanan itu sendiri. Kaya’nya di dalam buku ini, gak disebut-sebut adanya pernikahan antara Jahanara dan Isa… jadi sampai tua, mereka gak nikah dong??

Masih gak kebayang gimana seorang anak bisa begitu sadis sama keluarganya sendiri. Dengan enteng, memerintahkan hukuman mati untuk saudara kandungnya sendiri, memenjarakan ayahnya. Meskipun Aurangzeb gak berani untuk menghancurkan Taj Mahal. Bahkan ia membiarkan ayahnya dimakamkan di dalam Taj Mahal, berdampingan dengan Mumtaz Mahal. Karena kalau Aurangzeb – kemudian dikenal dengan nama Sultan Alamgir – memperlakukan ayahnya dengan semena-mena, hanya akan menyulut pemberontakan dari orang-orang yang masih mencintai dan setia pada ayahnya.

Gara-gara membaca buku ini, gue jadi berangan-angan – semoga suatu saat, gue bisa membuktikan sendiri keindahan Taj Mahal… Hmmm….


-> Koboooo... minta covernya ya.. ma kasih :)
Read more »

Minggu, 29 Juni 2008

Nur Jahan: The Queen of Mughal

Nur Jahan: The Queen of Mughal (The Feast of Roses)
Indu Sundaresan @ 2002
Hikmah, Cet, I - Mei 2008
684 Hal.

Setelah 17 tahun, mimpinya jadi kenyataan, Mehrunnisa menjadi istri Sultan Jahangir ke dua puluh dan yang terakhir. Pernikahan ini benar-benar berdasarkan cinta, tidak dicampuri oleh urusan politik. Karena tidak ada darah ningrat dalam diri Mehrunnisa yang akan membawa keuntungan bagi Kesultanan Mughal.

Tapi, ternyata hal ini tidaklah cukup bagi Mehrunnisa, yang kemudian diberi gelar Nur Jahan – Cahaya Dunia – oleh Sultan Jahangir. Ambisi masa kecilnya untuk menjadi seorang ratu, berkembang menjadi ambisi untuk menguasai kedudukan yang lebih tinggi sejauh yang diperkenankan sang Sultan. Nur Jahan ingin menjadi wanita nomer satu di dalam zenana, yang berarti menggeser kedudukan Ratu Jagat Gosini sebagai Padshah Begam.

Nur Jahan juga ingin mempunyai peranan dalam urusan pemerintahan. Ia ingin menguasai Sultan Jahangir. Dan, Sultan Jahangir pun menjadi seolah ‘boneka’ yang memainkan peran atas keinginan Nur Jahan. Demi mempertahankan kedudukannya, Nur Jahan merangkul Ghias Beg, ayahnya, lalu Abul, kakak laki-lakinya dan Pangeran Khurram yang bertunangan dengan Arjumand, keponakan Nur Jahan. Nur Jahan ikut serta dalam pengambilan keputusan tentang kedatangan Inggris dan Portugis di India.

Banyak pihak-pihak yang tidak rela Sultan mereka ‘diperintah’ oleh sang Ratu. Kala itu, amatlah tabu seorang perempuan berperan secara langsung dalam pemerintahan. Tapi, seolah buta dan tuli, Sultan Jahangir tak peduli dengan protes dan meluluskan semua permintaan Nur Jahan demi rasa cintanya.

Ketamakan Nur Jahan malah menghasilkan kekacauan yang akhirnya malah membuatnya jatuh. Tak puas sudah berhasil menikahkan Pangeran Khuram dengan Arjumand, Nur Jahan malah meminta Pangeran Khuram untuk menikah lagi dengan putri semata wayangnya, Ladli. Permintaan itu ditolak Pangeran Khurma. Nur Jahan berang, dan meminta kepada Sultan Jahangir untuk mencoret nama Pangeran Khuram sebagai penerus takhta berikutnya.

Di antara empat putra Sultan Jahangir, hanyalah Pangeran Khuram yang memiliki potensi sebagai Sultan berikutnya. Pangeran Khusrau, setelah pemberontakan merebut mahkota dari ayahnya sendiri, telah dibutakan oleh Sultan Jahangir, dan dikabarkan menjadi setengah gila. Lalu Pangeran Parviz, kerjanya hanya mabuk-mabukan dan sama sekali tidak bisa diandalkan. Terakhir, ada Pangeran Shahryar yang tidak peduli terhadap pemerintahan, selama ia bisa puas bermain-main dengan para dayang-dayangnya.

Pemberontakan demi pemberontakan datang mengancam Kesultanan Mughal. Kesehatan Sultan Jahangir mulai menurun akibat asma yang dideritanya. JuntaI yang dibentuk Nur Jahan pun pecah. Pangeran Khuram memilih untuk memberontak, menghalalkan segala cara, termasuk membunuh saudaranya sendiri, demi mengamankan posisinya sebagai pewaris mahkota berikutnya.

Andai saja, Nur Jahan sedikit lebih sabar, ‘kudeta’ tak disengaja tidak akan terjadi. Tapi, akhirnya, Nur Jahan hidup dalam pengasingan. Namanya pelan-pelan memudar. Dibanding keponakannya, Arjumand yang hanya berperan sebagai ratu selama empat tahun, nama Nur Jahan seolah lewat saja dalam sejarah India. Tapi, tidak ada, ratu yang memiliki koin yang tercetak atas namanya selain Nur Jahan. Paling tidak, Nur Jahan sudah berhasil menancapkan kukunya dalam pemerintahan selama 17 tahun sebagai Ratu Mughal.

Buku kedua ini, sekuel dari Mehrunnisa: The Twentieth Wife, lebih banyak bercerita tentang sepak terjang Mehrunnisa dalam kancah politik. Meskipun dimodifikasi sana-sini, cerita dalam buku ini menggambarkan sejarah India yang ternyata ‘penuh darah’. Bener-bener menunjukkan kalau Mehrunnisa adalah perempuan yang ambisius, keras, terkadang licik.
Read more »

Rabu, 19 September 2007

Gadis Serigala (Wolf Girl)

Gadis Serigala (Wolf Girl)
Theresa Tomlinson
Ferry Halim (Terj.)
Penerbit Atria (Serambi), Juli 2007
486 Hal.

Wulfrun, Cwen – ibunya dan Gode, adiknya, tinggal di lingkungan Biara Whitby yang dikepalai oleh Suster Hild. Cwen menjadi seorang penenun di sana, sementara Wulfrun merawat angsa-angsa mereka. Mereka hidup sangat miskin. Sebelum tinggal di Biara Whitby, mereka tinggal di daerah Fisherhead. Bahkan, Cwen terpaksa menjual Sebbi, kakak laki-laki Wulfrun, sebagai budak. Dan menjual semua harta benda mereka, kecuali sebuah kotak pernikahan.

Di dalam kotak pernikahan itulah sebuah rahasia tersimpan. Wulfrun menemukan sebuah kalung yang sangat indah. Diam-diam, Wulfrun sering memakai kalung itu dan mengagumi dirinya sendiri. Karena kalung itulah, keluarga mereka dicap sebagai pencuri oleh para penghuni biara dan sekitarnya. Wulfrun tertangkap basah ketika sedang bermain dengan kalung itu. Cwen menyerahkan diri untuk ditangkap. Wulfrun yakin ibunya tidak bersalah dan bertekad menyelamatkan ibunya dari tiang gantungan.

Tapi, dari mana Wulfrun bisa mendapatkan bantuan, sementara orang-orang yang selama ini baik, memalingkan muka mereka. Menurut ramalan Fridgyth, ahli ramuan di biara itu, bantuan akan datang dari seseorang yang tak terduga. Dan… ramalan itu terbukti. Bantuan itu datang dari Elfled, seorang putri Raja Oswy dan Ratu Ianfleda yang diserahkan kepada biara. Padahal sehari sebelumnya terjadi pertengkaran antara Wulfrun dan Elfled yang manja itu.

Demi membalas budi Elfled, Wulfrun rela menjadi ‘budak’ Elfled. Wulfrun membantu Elfled dalam pelajaran menulis. Lama-lama mereka berdua menjadi sahabat, meskipun kadang Elfled masih menganggap dirinya lebih tinggi dari Wulfrun. Dengan alasan agar Elfled bisa lebih mengenal dunia luar, Adfrith, calon biarawan, meminta ijin pada Irminburgh, wanita yang diberi tugas mengawasi Elfled, untuk mengajak Elfled berjalan-jalan dengan menunggang kuda dan tentu saja, Wulfrun harus ikut.

Mereka bertiga berjalan ke tempat-tempat yang diduga bisa memberikan informasi yang berharga untuk menyelamatkan Cwen. Sampai akhirnya, mereka bertiga plus Cadmon si pengembala sapi, sampai ke Barmburgh, istana Raja Oswy dam Ratu Ianfleda, orang tua Elfled. Banyak hal yang terduga yang mereka temui dan dengar selama perjalanan panjang mereka itu. Selain menyelamatkan Cwen, ternyata mereka juga harus menyelamatkan kerajaan dari rencana ‘kudeta’ Irminburgh.

Cerita Gadis Serigala ini berlatar belakang sejarah era Anglo-Saxon. Beberapa nama dalam buku ini memang nyata, hanya ada beberapa nama yang dirubah sedikit biar lebih familiar. Nama Wulfrun, Cwen, atau Gode adalah karangan si penulis.

Cerita persahabatan yang sedikit banyak bikin terharu. Elfled yang manja, lama-lama bisa juga bersikap dewasa, yang secara gak langsung, karena pengaruh Wulfrun.

Read more »