Tampilkan postingan dengan label chicklit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label chicklit. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 Juli 2011

Cocktail for Three

Cocktail for Three (Klub Koktail)
Sophie Kinsella as Madeleine Wickham
Nurkinanti Laraskusuma (Terj.)
GPU – Juni 2011
440 hal.

Roxanne, Maggie dan Candice, 3 sahabat yang bekerja di sebuah media di London. Tanggal 1 setiap bulannya mereka bertemu di sebuah bar, bernama Manhattan Bar. Yah, untuk sekedar refreshing. Meskipun bekerja di kantor yang sama, tidak berarti tiap hari mereka bertemu.

Roxanne, adalah penulis lepas. Gadis yang penuh percaya diri dan memiliki menjalin hubungan dengan pria yang sudah berkeluarga. Tapi, tak satu pun dari sahabatnya itu tahu siapa pria itu. Ia hanya sesekali datang ke kantor. Tugasnya jalan-jalan ke luar negeri, meliput tempat-tempat penginapan baru. Maggie, si pemimpin redaksi, satu-satunya yang sudah menikah, ambisius dan sedang stress menghadapi peran baru sebagai ibu. Candice, penulis, yang sangat lugu, baik hati dan jujur. Mudah dimanfaatkan orang karena kebaikan hatinya.

Semua berjalan dengan lancer, dan.. asyik-asyik aja gitu. Tapi, ketika di satu pertemuan rutin mereka, pertemuan terakhir sebelum Maggie cuti melahirkan, ada salah satu pramusaji yang membuat Candice tertarik, yang ternyata adalah teman sekolahnya dulu, namanya Heather.

Pertemuan itu membuka luka lama Candice, rasa bersalah terhadap keluarga Heather. Maka, si peri baik hati ini berniat untuk membalas apa yang sudah terjadi, mencoba menghapus kesalahan masa lalu yang disebabkan ayah Candice. Ia membantu Heather mendapatkan pekerjaan di Londoner dan mengajaknya tinggal bersama. Baik Roxanne dan Maggie menyayangkan sikap Candice yang terlau baik.

Lain lagi Roxanne, ia masih harus berurusan dengan pacar gelapnya yang tiba-tiba saja berubah. Lalu Maggie yang sempat mengalami baby blues.

Meskipun sama-sama berkisah tentang perempuan-perempuan di London, usia 30 tahunan ke atas, tapi karakternya beda dengan novel yang memakai nama Sophie Kinsella. Seperti Becky Bloomwood, Tokoh-tokohnya terkesan ‘konyol’. Ceritanya juga lebih ceria.

Kalo di buku ini, tokohnya lebih dewasa, permasalahan juga lebih serius. Yahhh.. ending-nya sih ketebak. Tapi, gak mengurangi rasa tertarik gue sama buku ini.

Mungkin karena gue ‘kecewa’ dengan seri terakhir Shopaholic, gue jadi lebih suka buku ini dan rasa-rasanya jadi pengen baca buku Sophie Kinsella as Madeleine Wickham yang lain. Kadang, abis baca yang ‘berat’, enak juga baca buku-buku kaya’ begini.
Read more »

Rabu, 13 April 2011

Looking for Ward

Looking for Ward
Laurel Osterkamp
80 pages

31 hari menjelang hari pernikahannya, Chloe mendapat email dari Ward, tunangannya. Isinya bukan tentang rayuan atau kata-kata manis menjelang pernikahan, tapi justru tentang Ward yang memberi tahu Chloe bahwa ia akan pergi sementara waktu dan Ward meminta Chloe untuk tidak mencarinya. Singkat dan padat, tapi gak jelas apa alasannya.

Jelas Chloe kalang-kabut. Semua nyaris sudah siap, catering, gereja, bunga, baju pengantin, undangan sudah disebar. Tapi, Chloe sama sekali tidak punya bayangan apa yang terjadi dengan Ward. Padahal di hari terakhir mereka bertemu, semua masih baik-baik saja.

Ia harus menyembunyikan berita ini dari orang tuanya dan berpura-pura semua baik-baik saja. Tapi, rasa khawatir tidak bisa membuatnya untuk tidak bercerita dengan sahabatnya, Bethany. Bahkan ia mengontak Owen, sahabat Ward, yang selama ini hubungan Chloe dan Owen tidak terlalu baik.

Semakin lama, semakin banyak yang ternyata tidak Chloe ketahui tentang diri Ward. Ada banyak rahasia yang disembunyikan Ward selama bertahun-tahun. Dan, akhirnya Chloe pun harus mengambil keputusan apakah akan tetap melanjutkan pernikahannya dengan Ward atau tidak?

E-novella, begitu sebutan untuk novel ini. Percakapan sebagian besar dilakukan dalam bentuk e-mail. Ya, kesan gue sih sebenernya biasa aja. Terkesan ‘cuma’ email-emailan biasa antar teman. Yang bikin gregetan, memang mungkin pengen tau, kenapa sih tiba-tiba si Ward menghilang, apa alasannya, dan apakah di akhir cerita Ward akan muncul lagi kasih berbagai penjelasan, dan apakah Chloe bakal meneriman gitu aja kalau pun Ward muncul. Inilah e-book pertama yang berhasil gue tuntaskan,
Read more »

Minggu, 03 April 2011

Mini Shopaholic

Mini Shopaholic
Sophie Kinsella @2010
Siska Yuanita (Terj.)
GPU – Cet. II, Maret 2011
568 Hal.

Punya anak ternyata gak membuat Rebbeca Brandon (dahulu Bloomwood) jadi berubah lebih bijak dalam urusan shoping-shoping. Becky tetap ‘gemetar’ setiap melihat discount, baginya itu sebuah investasi, meskipun barang dibelinya bukan dalam ukuran untuk dirinya sendiri.

Minnie, si kecil berusia 2 tahun adalah anak yang ‘liar’ dan punya kemauan keras. Meskipun kewalahan mengantur Minnie, Becky tetap tidak terima kalau ada yang bilang anaknya manja. Becky kerap membelikan Minnie baju-baju keluaran desainer ternama, boneka-boneka terbaik. Bahkan Becky sudah ‘berinvestasi’ untuk hadiah ulang tahun Minnie ke 21 kelak. Dan Becky tentu saja sangat bangga, karena baju itu dibeli dengan discount yang besar. Minnie cenderung berbuat ‘kekacauan’ karena sifatnya yang keras itu. Tak hanya di dunia nyata, tapi juga di dunia maya.

London dilanda krisis moneter yang membuat orang harus mengencangkan ikat pinggang. Bisnis Luke juga agak kacau. Dan Becky butuh dana yang sangat besar untuk mewujudkan pesta ulang tahun kejutan untuk Luke. Tanpa kecuali, Becky juga ‘dituntut’ untuk berhemat. Tapi, hemat a la Becky, tentunya beda dengan hemat a la Luke.

Dan, bukan Becky kalau tidak terjerat masalah. Dan bukan Becky juga kalau dia gak bisa mendapatkan bantuan.

Entah kenapa, makin lama gue berasa Becky makin ‘lebay’, masa’ dia nyaris gak berubah dan gak dewasa. Jadi rada ngebosenin juga sih bacanya. Emang lucu, tapi koq gak ada sesuatu yang baru. Mungkin bakal ada sequel yang bercerita hebohnya Becky belanja bareng Minnie remaja, atau Becky di Hollywood, atau Becky menyambut cucu pertama. Tapi apa iya akan seheboh cerita-cerita sebelumnya? Gue jadi lebih suka membaca tulisan Sophie Kinsella di luar Shopaholic series ini.
Read more »

Kamis, 20 Januari 2011

Forget About It (Pura-Pura Lupa)

Forget About It (Pura-Pura Lupa)
Caprice Crane
Jimmy Simanungkalit (Terj.)
Gagas Media – 2010
514 hal.

Hidup Jordan Landau benar-benar membosankan dan tidak menarik. Ia dikelilingi oleh orang-orang yang sering kali memanfaatkan dirinya dan tidak peduli dengan keberadaannya. Sebut saja, ibu kandung Jordan yang tampaknya lebih mencintai adik tirinya, Samantha, daripada Jordan yang memang dari fisik sama sekali tidak mirip dengan ibu kandungnya. Samantha, yang manja. Lalu atasannya, Lydia, yang sering mencuri ide-ide kreatinya, ditambah lagi, Dirk, pacarnya, yang tukang selingkuh, tidak perhatian tapi sok asyik jadi orang. Belum lagi tunggakan sewa apartemen dan kartu kredit semakin menambah keruwetan hidupnya.

Shock karena idenya di-sabotase oleh Lydia, Jordan bersepeda dengan kencang. Tak memperhatikan ada pintu mobil yang terbuka dan ia pun menabraknya. Di rumah sakit, tiba-tiba saja terbersit ide untuk ‘pura-pura amnesia’. Ia mencoba menjadi ‘Jordan Baru’, ya sedikit banyak untuk membalas perbuatan-perbuatan orang-orang yang selama ini mengabaikannya. Hanya satu orang yang tahu permainan Jordan, yaitu sahabatnya, Todd.

Menjadi ‘Jordan Baru’, ia mempunyai kesempatan untuk mencampakkan Dirk, membalas perbuatan Lydia. Bahkan bertemu dengan seorang pria yang baik hati, yang tak lain adalah pria yang tak sengaja membuat Jordan menabrak pintuk mobilnya. Meskipun ada sedikit rasa bersalah karena sudah membohongi Travis, Jordan mencoba menjalani hubungan yang menyenangkan bersama Travis.

Tapi, ternyata… Travis sakit hati karena Jordan mencoba menuntutnya karena kecelakaan itu. Bukan Jordan sih, tapi ini perbuatan ibunya yang berkomplot dengan Dirk. Dan, ternyata, ada rahasia kecil Travis yang membuat Jordan kecewa, sampai akhirnya… Jordan malah amnesia beneran!

Amnesia beneran ini membuat Jordan benar-benar berubah. Dan dengan mudah, ia kembali ‘dimanfaatkan’ oleh Dirk dan ibunya. Jordan malah tidak percaya dengan sahabatnya yang justru ingin membantunya.

Awal cerita ini cenderung membosankan. Seolah gak jelas arah ceritanya mau ke mana. Gue malah jadi menunggu-nunggu kapan si Jordan hilang ingatannya. Mirip-mirip ‘Remember Me?’-nya Sophie Kinsella. Entah kenapa, tokoh ibu dalam chicklit selalu aja ‘nyentrik’, aneh dan sama sekali gak keibuan. Tapi sampa akhir cerita, gue gak mendapat kejutan, atau hal-hal kecil yang membuat gue jadi semakin tertarik membaca cerita ini.
Read more »

Selasa, 18 Januari 2011

He Loves Me Not... He Loves Me

He Loves Me Not... He Loves Me (Dia Benci... Atau Cinta?)
Claudia Carroll @ 2004
Nur Anggraini (Terj.)
GPU - November 2010
448 Hal.

Memiliki gelar bangsawan dan tinggal di sebuah kastil – well… dulunya memang kastil yang megah… - tidak berarti menjadi seorang yang kaya raya. Paling tidak itulah gambaran keluarga Davenport yang tinggal di Davenport Hall. Sebagai keturunan bangsawan Irlandia, nama mereka memang sedikit dikenal, tapi sayangnya bukan untuk hal yang terlalu baik. Portia, sebagai anak tertua, harus selalu berusaha menjaga kewarasannya di tengah-tengah keluarganya yang nyaris hancur. Ayahnya, Lord Jack Davenport, atau lebih dikenal dengan sebuah Blackjack, meninggalkan keluarga mereka untuk berjudi di Las Vegas, dan kabur membawa sisa-sisa uang cash terakhir yang mereka miliki. Ibunya, sang Lady, Lucasta, juga gak kalah nyentrik. Berpenambilan lebih mirip gelandangan daripada bangsawan, memilki ketergantungan dengan gin dan tonik, ditambah lagi kegemarannya akan hal-hal mistis semakin menambah keanehan Lucasta. Sementara itu adiknya, Daisy, meskipun lebih normal tapi tetap saja labil karena patah hati dan kecewa ditinggal oleh ayahnya.

Sebuah ide ditawarkan oleh pengacara keluarga dan sahabat mereka, Steve. Ide untuk menjadikan Davenport Hall sebagai lokasi syuting film. Uang yang mereka terima bisa untuk memperbaiki kondisi rumah mereka yang nyaris hancur.

Namun, di antara orang-orang baik hati yang masih ingin menyelamatkan Davenport Hall, yang sedikit banyak dianggap asset bersejarah, ada juga orang-orang yang ingin mencari muka dan mengambil keuntungan pribadi dari kondisi ini. Mereka adalah anggota Dewan yang ingin mencari muka dan mendapatkan kursi di Parlemen. Pasangan suami-istri Nolan ini ingin menunjukkan bahwa Davenport Hall adalah tempat yang berbahaya, wajib dimusnahkan. Bahkan mereka berniat ingin menghancurkan Davenport Hall dan menjadikannya sebagai kawasan pemukiman murah.

Keluarga Davenport tak berdaya. Karena mereka tidak memiliki uang yang bisa digunakan untuk mempertahankan Davenport Hall.

Di tengah-tengah kekacauan, ada sedikit rona bahagia dalam hidup Portia. Yaitu ketika berjumpa dengan Andrew, tetangga baru mereka. Meskipun berjumpa di dalam kondisi yang memalukan, Andrew melihat bahwa Portia adalah gadis yang istimewa. Portia yang nyaris tidak pernah berkencan karena terlalu sibuk mengurusi keluarganya, sempat tak percaya, bahwa Andrew memilih dirinya. Tapi, ada saja kesalahpahaman yang membuat hubungan mereka tak berlangsung mulus.

Adek gue bilang buku ini rada membosankan. Tapi buat gue, buku ini lumayan juga. Kejutan-kejutan kecil di setiap bab, gosip-gosip seputar para aktris dan aktor yang sedang syuting atau kenyentrikan Lucasta, memberi warna yang menyegarkan dalam buku ini.
Read more »

Rabu, 01 Desember 2010

Special Relationship

Special Relationship
Robyn Sisman @ 1995
Penguin - 1999
393 Hal.


Semua orang punya rahasia ‘gelap’ dalam hidupnya (ssstttt.. gue juga punya... hehehe). Kehidupan Annie Hamilton yang tenang dan adem ayem, sedikit terguncang ketika anaknya, Tom, mempertanyakan status-nya. Annie Hamilton, sedang merintis untuk membuka penerbitan sendiri, punya suami yang sabar dan anak-anak yang manis. Tom, memang merupakan ‘pengecualian’. Tom adalah hasil dari one night stand-nya Annie ketika ia masih kuliah di Oxford dengan seorang pemuda Amerika yang juga belajar di Oxford. Tapi, rahasia ini tetap disimpan rapi oleh Edward, suami Annie dan Annie sendiri. Sampai secara tidak sengaja, Tom menemukan sebuah foto ibunya dengan pria lain yang mirip dengan dirinya, tapi bukan ayah yang selama ini ia kenal. Mulailah Tom mencari data-data pribadi tentang dirinya dan menemukan sebuah keanehan.

Masalahnya, ayah biologis Tom ada di Amerika dan Tom yang emosi berniat mencarinya. Masalahnya lagi, pria itu, yang bernama Jordan Hope, bukanlah pria Amerika biasa, tapi seorang calon Presiden Amerika, yang sedang menunggu detik-detik terakhir. Kalau sampai pers, atau ada orang lain yang tahu rahasia ‘kecil’ ini, bukan tidak mungkin akan mengacaukan segalanya.

Untuk menyelamatkan Jordan dan juga kehidupan rumah tangganya, juga sekaligus, bertemu ibunya dan calon penulis (wow, sambil menyelam, minum air ini namanya), Annie pun terbang ke Amerika.

Sambil membayangkan romantisme masa lalu, Annie berhasil bertemu Jordan. Tentu saja gak terang-terangan, gimana bisa Jordan berkeliaran dengan bebas.

Gak ada yang baru dari novel ini… (ya.. chicklit lah..) tapi tetap aja pengen bacanya. Yang kebayang di benak gue, justru, kalo novel ini jadi sinetron. Tokoh Jordan, pastinya cool, cakep dan kaya raya. Tokoh Annie, cewek cantik, lugu dari keluarga biasa-biasa aja. Lalu, ‘terjadilah’ hubungan singkat. Ceweknya hamil, cowoknya udah keburu pergi entah kemana. Dan beberapa tahun kemudian, si anak hasil hubungan mereka sering banget berdekatan dengan ayahnya, tapi sama-sama gak tau kalo mereka punya hubungan. Ada tokoh antagonis yang tau kisah gelap mereka. Hehehe… sinetron oh sinetron.. Bukan.. gue bukan penggemar sinetron, tapi dikit-dikit tau sih… kan gampang ketebak…

Yang gue suka dari buku ini, cuma covernya yang simple… :)
Read more »

Senin, 19 Juli 2010

Baby Proof

Baby Proof
Emily Giffin @ 2006
St. Martin’s Griffin - 2007
348 hal.

Buat Claudia, menikah adalah karena ia ingin bersama orang yang ia cintai. Tujuannya menikah, bukan untuk memiliki anak atau keturunan. Beruntung ia bertemu Ben yang punya misi dan visi sama. Mereka pun akhirnya menikah.

Tapi, ketika di sekeliling mereka, teman-teman mereka mulai merencakan masa depan dengan ‘anak’, tak urung, Ben pun terpengaruh. Ia mulai meminta Claudia untuk memikirkan kembali pandangannya tentang ‘tidak mau punya anak’. Claudia keukeuh dengan pilihannya. Dan mereka akhirnya memilih untuk berpisah karena kecewa dengan pilihan pasangan mereka.

Wow… ternyata cinta gak bisa menyatukan pandangan mereka, sampai akhirnya mereka lebih memilih untuk berpisah.

Dan setelah perpisahan pun, Claudia tidak bisa benar-benar lepas dari isu seputar ‘anak’. Ada Daphne, adiknya yang sangat ingin punya anak setelah bertahun-tahun menikah, ada Maura, adik/kakak Claudia yang lain, yang punya tiga anak tapi suaminya berselingkuh. Lalu, ada Jess, yang menjalin hubungan dengan pria beristri (yang katanya nih janji mau ninggalin istrinya), yang nekat mau hamil dari pria itu.

Well, ternyata gak setiap orang ingin menikah karena pengen punya anak. Ide cerita yang ‘berat’, tapi jadi ringan di dalam buku ini. Meskipun gue agak kurang ‘merasakan’ chemistry Claudia dan Ben. Apalagi pas di ending cerita (ups… apakah ini sebuah spoiler?)

Ini buku Emily Giffin pertama yang gue baca. Satu lagi hasil bookmooch di tahun 2007 (!). Sebenernya ini yang ketiga kalinya gue baca buku ini. Bukan karena gue suka banget, tapi, di dua kali yang pertama, gue hanya baca sekitar sepertiga buku aja. Baru yang ketiga ini, gue berhasil membaca sampai selesai.
Read more »

Minggu, 20 Juni 2010

Girl Friday

Girl Friday
Jane Green @ 2009
Penguin Books - 2010
401 hal.

Setelah bercerai dari suaminya, Adam, Kit Hangrove pindah ke daerah Highfield. Di sana, ia memulai hidup baru yang lebih ‘sederhana’ bersama kedua anaknya, Tory dan Buckley. Melalui tetangganya, Eddie, Kit mendapatkan pekerjaan baru, menjadi seorang asisten penulis terkenal dan penyediri, Robert McClore. Kit mendapat teman-teman baru, Tracy, yang punya usaha tempat yoga dan Charlie, si perangkai bunga.

Kit juga mulai mencoba menjalin hubungan baru dengan seorang pria yang dikenalkan oleh Tracy, bernama Steve. Tapi, makin lama, Kit sendiri makin tidak nyaman dengan hubungan itu. Meskipun Steve begitu penuh perhatian dengan memberi bunga, parfum dan lain-lain.

Bukan hanya Kit yang jadi tokoh utama di sini. Tapi, juga teman-teman Kit dengan masalahnya sendiri. Tracy, yang kembali menjalin hubungan dengan mantan suaminya dan mengalami KDRT. Tracy berusaha mendekati Robert McClore dengan suatu tujuan. Sementara itu Charlie, mengalami kesulitan financial karena suaminya yang bekerja di Wall Street, ikut terkena dampak krisis moneter.

Belum lagi, Kit yang tiba-tiba kedatangan adik tirinya yang selama ini memang tidak diketahuinya. Annabelle, datang dengan pesona dan kemudaannya, memikat hati mantan suaminya dan juga anak-anaknya. Tanpa ia sadarai, Annabelle juga punya misi ‘tersendiri’.

O ya… gak ketinggalan si penulis yang misterius, Robert McClore. Robert digambarkan sangat terkenal, buku-bukunya selalu jadi best seller. Tapi, ia memilih untuk menyendiri, menghindar dari publikasi dan menyembunyikan masa lalunya yang juga tak kalah dramatis.

Cerita tentang kehidupan sehari-hari di sebuah daerah bernama Dune Road (judul asli buku ini). Gue pikir, tadinya semua cerita bakal berpusat pada Kit, tapi ternyata, yang lain juga gak kalah seru diceritain. Memang sih, Kit tetap dapat porsi yang paling besar.

Well... cerita yang lumayan aja dan menurut gue, cukup ‘serius.
Read more »

Minggu, 30 Mei 2010

If You Could See Me Now

If You Could See Me Now
Cecelia Ahern @ 2005
Harper Collins – 2006
410 hal.

So far, gue sudah membaca 3 buku Cecelia Ahern, dan seperti dua yang sebelumnya, - PS I Love You dan When Rainbow Ends - If You Could See Me Now juga membuat gue ‘tersentuh’.

Ceritanya tentang Elizabeth Egan, perempuan single, yang harus mengurus adiknya yang alcoholic dan anak adiknya, Luke. Trauma karena ditinggal ibunya, membuat Elizabeth jadi orang yang praktis, kadang gak sabaran, apalagi harus berurusan dengan yang namanya ‘mengasuh anak’.

Ditambah lagi, Luke, membuatnya kesal dengan ‘teman khayalan’ yang bernama Ivan. Ivan suka pizza yang ada olive-nya, Ivan begini, Ivan begitu. Elizabeth sampai browsing di internet, mencari referensi tentang menghadapi anak kecil yang punya teman khayalan.

Mungkin, karena Elizabeth pelan-pelan bisa menerima sosok Ivan yang datang dari negeri Ekam Eveileb itu, makanya, Elizabeth pun bisa melihat sosok Ivan pada akhirnya.

Hubungan pertemanan itu menjadi complicated, Elizabeth benar-benar beranggapan Ivan itu ‘visible’. Dia ada di saat Elizabeth butuh dirinya. Ivan hampir ‘melupakan’ tugasnya yang sebenarnya. Dan, nyaris lupa kalau suatu hari dia harus bisa meninggalkan Elizabeth dan Luke.

Tanpa disadari, Elizabeth jatuh cinta pada sosok yang invisible buat orang lain. Elizabeth bahkan tidak sadar kalau orang lain tidak bisa melihat Ivan.

Buat gue, buku ini tentang kisah cinta, kisah persahabatan yang unik. Gue yakin, gak banyak orang yang percaya sama sosok khayalan.. bahkan gue sendiri, gak percaya. Tapi, one thing for sure, looks like keep on dreaming makes someone happier.

Buku ini akhirnya selesai juga, setelah beberapa kali ‘tersalib’ karena gue baca buku yang lainnya. Padahal, buku ini udah ada di rak buku gue sejak tahun 2006, meskipun ini sih buku adek gue.

---- Hey.. kenapa akhir-akhir ini, isi blog ini begitu ringkes ya? Gue lagi agak kesulitan menggambarkan buku yang baru gue baca? Apa karena buku-buku ini kurang ‘nendang’, atau gue yang lagi ‘lack of imagination’? Hmmm….
Read more »

Senin, 12 April 2010

Blue Remembered Heels

Blue Remembered Heels (Sepatu Biru Kenangan)
Nell Dixon @ 2008
Tisa Anggriani (Terj.)
M-Pop (Penerbit Matahati) - Cet. I, Maret 2010
311 Hal.

Charlie, Abbey dan Kip Gifford – 3 bersaudara yang masih sangat muda, terpaksa hidup sendiri karena ditinggal oleh ibu mereka. Mereka tidak tahu ke mana ibu mereka pergi. Di awal-awal mereka terpaksa tinggal dengan Bibi Beatrice.

Mereka bertiga hidup dari menipu. Yup… Charlie yang cantik yang menjadi pemimpin. Menggoda orang-orang – terutama pria, yang kaya raya. Lalu mengambil uang mereka dan kabur. Abbey, sebagai asisten Charlie dan Kip yang rada ‘nerd’ bagian riset.

Setelah melakukan penipuan, biasanya mereka langsung mencari tempat tinggal baru untuk menghilangkan jejak mereka.

Tapi… gara-gara Abbey tersambar petir, rencana mereka untuk menipu Freddie nyaris gagal. Masalahnya, Abbey jadi gak bisa berbohong. Setiap ditanya, ia akan selalu berkata jujur. Karuan Charlie jadi sangat kesal.

Belum lagi, tiba-tiba ada yang seolah mengawasi mereka. Seorang polisi ganteng bernama Mike.

Ternyata urusan dengan Freddie, tidak berhenti sampai di situ saja. Freddie sadar kalau mereka sudah menipunya dan terus mengirimkan ancaman-ancaman lewat telepon.

Akibat tersambar petir, bukan hanya masalah Abbey yang tidak bisa berbohong, tapi juga, Abbey selalu mendapatkan mimpi tentang seorang perempuan bersepatu biru.

Cerita ini menurut gue, biasa aja. Kurang ‘greget’, padahal misteri si sepatu biru mungkin bisa di-ekspos lebih (duhhh… kaya’ gue yang bisa nulis aja). Dan hubungan Freddie dan perempuan bersepatu biru itu rada dipaksakan, gak jelas asal mula dan penyebabnya apa. Ada konflik apa antara Freddie dan perempuan itu. Cerita yang maunya complicated jadi so simple. Karakter-karakternya juga kurang 'kuat'.
Read more »

Minggu, 11 April 2010

Twenties Girl

Twenties Girl
Sophie Kinsella @ 2009
Dell Mass Market International Edition – 2010
497 Hal.

Sadie muncul tepat di hari seharusnya ia dimakamkan. Acara pemakaman hanya dihadiri segilintir orang, padahal umur Sadie mencapai 105 tahun! Sadie memilih ‘menghantui’ cucunya, Lara Lington. Sadie jadi ‘arwah penasaran’ karena ia kehilangan salah satu miliknya yang paling berharga. Ia pun menugaskan Lara untuk mencari barang berharga itu.

Lara Lington, tidak percaya ia bisa melihat hantu. Interupsi Lara di acara pemakaman, membuat ia sempat dikira depresi berat akibat putus cinta sama pacarnya. Lara mengemban tugas yang sangat berat, karena keberadaan barang itu yang tidak diketahui. Padahal, Lara sendiri nyaris tidak mengenal sosok neneknya itu.

Keinginan Sadie ternyata tidak hanya terhenti pada barang itu, tapi ada saja yang aneh. Ia minta Lara berkencan dengan seorang pria yang dianggapnya sangat keren, Lara harus berdandan a la tahun 20an, lalu mengajak pria itu berdansa gaya tahun 20an juga.

Ternyata, barang yang sangat berharga itu menyimpan berjuta rahasia – termasuk rahasia kehidupan seorang Sadie Lancaster.

Awalnya sosok Sadie itu terkesan sangat menggangu, dan reseh banget. Udah gitu Sadie sangat bossy dan egois. Sering banget ‘memaksakan kehendaknya’, sampe-sampe gue kadang kasian sama Lara dan gregetan sama Sadie. Tapi.. gue sedih ketika harus pisah sama Sadie… hiks…

Buku ini adalah salah satu buku yang masuk dalam daftar yang ‘wajib’ gue baca di tahun ini. Beruntung adek gue ternyata duluan beli, jadi gue tinggal pinjem. Ya… Sophie Kinsella adalah salah satu penulis chicklit yang buku-bukunya masih selalu gue baca, karena selalu ada yang lain di tiap bukunya. Beda dengan yang lain, yang rata-rata mirip.

Nah, di buku ini, yang beda dari buku-bukunya yang lain, adalah tokohnya yang berwujud ‘hantu fashionista’. Jangan bayangkan penampilan hantu yang menyeramkan dengan muka pucat seputih-putihnya, rambut panjang terjurai ke depan, mata dengan lingkaran hitam. Wow, Sadie Lancaster tidak seperti itu. Sadie Lancaster, ‘tampil’ dalam wujud gadis remaja tahun 20an. Penampilannya selalu bergaya dengan baju-baju yang trend di tahun 20an.
Read more »

Kamis, 18 Februari 2010

The Marriage Bureau for Rich People

The Marriage Bureau for Rich People
(Biro Jodoh Khusus Kaum Elite)

Farahad Zama @ 2008
Rinurbad (Terj.)
M-Pop (Matahati), Cet. I - Januari 2010
455 Hal.

Setelah memasuki masa pensiun, untuk mengisi hari-harinya, Mr. Ali membuka sebuah biro jodoh. Dengan bayaran 500 rupee untuk setiap keanggotaan, ia akan membantu para pencari jodoh untuk menemukan pasangan bagi mereka dengan membuka iklan di koran. Ternyata, usaha itu menarik banyak peminat – tidak hanya dari kalangan masyarakat India yang beragama Hindu, tapi juga yang beragama Islam dan Kristen. Mr. Ali sendiri adalah warga India yang beragama Islam.

Karena kesibukan yang bertambah, Mr. Ali memutuskan untuk mencari seorang asisten. Ia membuka lowongan kerja di koran. Tapi, ternyata susah juga mendapatkan asisten yang cocok. Tak disangka-sangka, calon potensial justru adalah seorang gadis berkasta Brahmana yang tinggal tak jauh dari rumah Mr. Ali sendiri. Gadis itu bernama Aruna, anak pensiunan seorang guru dengan perekononomian keluarga yang tidak terlalu baik. Ia akhirnya melepas pekerjaannya sebagai pegawai di sebuah toserba karena lebih menyukai pekerjaannya di biro jodoh Mr. Ali.

Beragam orang datang ke biro jodoh Mr. Ali, dengan beragam karakter, beragam permintaan dan beragam permasalahan. Tak jarang Mr. Ali melakukan pendekatatan personal dengan memberikan nasihat demi kesuksesan klien-nya dalam menemukan jodohnya.

Tapi sayang, kadang orang-orang itu kerap lupa akan jasa Mr. Ali dan biro jodohnya. Hanya segelintir yang mengucapkan terima kasih dan mengundang Mr. Ali ke pesta pernikahan mereka ketika sudah berhasil mendapatkan jodohnya.

Kegembiraan orang-orang yang berhasil dalam perjodohan ternyata justru tak berpihak pada Aruna. Kemiskinan membuat Aruna susah dalam mencari pasangan hidupnya. Padahal, sebagai pihak perempuan, ia harus menyerahkan mas kawin untuk mempelai pria dan menyelanggarakan pesta pernikahan. Tapi, tak banyak pilihan untuk Aruna.

Seorang klien bernama Ramanujam datang bersama keluarganya untuk mencari jodoh. Kriterianya adalah gadis cantik, tinggi, putih dan tentu saja dari golongan yang sama. Ramanujam datang dari keluarga kaya, berprofesi sebagai dokter. Tapi, siapa sangka, justru ia jatuh cinta pada asisten Mr. Ali yang sederhana itu. Untuk menikah dengan Aruna, banyak tantangan dari luar, misalnya, Aruna yang akan dianggap bukan anak baik-baik karena menemukan jodohnya sendiri (bukan dari perjodohan yang diatur keluarga), lalu keluarga Ramanujam yang mungkin nantinya akan ‘menyiksa’ Aruna secara lahir dan batin karena dianggap tidak sederajat meskipun sama-sama berasal dari kasta Brahmana. Kisah cinta yang singkat ini ibarat kisah cinta Cinderella rasa India.

Mr. Ali berusaha membuka mata Ramanujam bahwa tak semuanya harus berdasarkan uang. Dan, bagian Mrs. Ali yang mendekati Aruna agar mau mengesampingkan masalah ekonominya.

Mr. Ali sendiri juga kurang beruntung dalam perjodohan anak laki-laki semata wayangnya. Rahmen, anaknya sibuk berdemonstrasi membela kaum petani yang tanahnya diambil pemerintah untuk membangun sebuah pabrik

Rumitnya soal perjodohan di India. Karena jangankan nyari pacar sendiri, kalau sepasang perempuan dan laki-laki ketahuan berduaan, bisa menimbulan gosip-gosip. Ribetnya juga urusan kasta. Ternyata, kasta yang selama ini gue tahu hanya Brahman, Ksatria, Wesya dan Sudra, masih dibagi-bagi lagi. Seperti Brahmana yang masih terbagi jadi Brahmana Niyogi atau Brahmana Waidika.

Belum lagi masalah perekonomian, kalau dari kasta yang sama tapi tingkat perekonomian beda, belum menjamin keberhasilan sebuah perjodohan. Pokoknya, cinta itu datang belakangan, yang penting keluarga, kasta, dan keuangan.

Selama ini, gue sering mendengar kalau umat Islam dan Hindu di India sering berselisih. Tapi, di dalam buku ini, kedua umat beragama itu hidup berdampingan secara damai. Malah saling membantu.

Lokasi buku ini ada di kota Vizag, India – sebuah kota pantai. Makanya seringkali Mr. Ali kepanasan, dan dibawakan minuman segar atau buah-buah segar sama Mrs. Ali. Kalau Mr. Ali udah minum, gue jadi ikutan segar.
Read more »

Senin, 25 Januari 2010

Remember Me?

Remember Me?
Sophie Kinsella @ 2008
Bantam Dell, 2008
430 Hal.

Lexi Smart tidak bisa menutupi rasa kesalnya ketika tahu dirinya gak dapet bonus, padahal masa kerjanya hanya kurang beberapa minggu dari hitungan satu tahun. Sementara teman-temannya sibuk mikirin mau beli apa dengan bonus itu, Lexi hanya bisa senyam-senyum. Suasana hujan, Lexi yang lagi hang-out sama teman-temannya tiba-tiba terjatuh… dan bum… tiba-tiba ia terbangun di rumah sakit London.

Belum lagi Lexi sadar sama apa yang terjadi, Lexi melihat dirinya di kaca sama sekali berbeda dengan apa yang ia tahu – punya tas LV, nyupir Mercedes – padahal ia tahu gak bisa nyupir, ada di kamar Super VIP, lalu… menjabat sebagai Direktur – padahal yang Lexi inget, dia hanyalah karyawan baru, lalu, badan yang super keren, gigi bagus, dan.. oh.. oh… ia sudah menikah dengan seorang pengusaha, lalu mereka tinggal di sebuah rumah yang keren dan canggih banget.

Kecelakaan membuat dirinya hilang ingatan. Memorinya selama tiga tahun ke belakang benar-benar kosong. Yang ia ingat justru kehidupannya yang lama, dengan teman-temannya yang lama. Dia gak kenal teman-teman barunya yang ‘berkelas’, dia gak kenal isi lemarinya yang penuh dengan baju-baju rancangan desainer terkenal, dia bahkan gak inget sudah menikah, dia bahkan gak kenal dirinya sendiri sekarang.

Kehidupan ‘baru’nya benar-benar membuat Lexi gak nyaman. Dia pengen hang out lagi bareng-bareng teman-teman lamanya, yang ternyata sekarang malah menjauhinya. Lexi ternyata dikenal sebagai atasan yang ‘bitchy’, yang ambisius dan punya julukan ‘The Cobra’.

One more… belum lagi inget dengan semuanya, seorang pria bernama Jon, mengaku kalau mereka punya affair!! Lexi mencoba jadi istri yang setia dan berusaha mempertahankan pernikahannya, meskipun udah sebel banget denger istilah ‘loft-style living’… tapi kenapa hatinya justru lebih nyaman kalau dekat Jon?

Sementara Lexi sibuk menggali ingatannya, Lexi juga harus berusaha mendapatkan hati teman-temannya lagi dan berusaha menyelamatkan pekerjaannya dan teman-temannya di kantor.

Wooo… gimana ya, rasanya kalo tiba-tiba terbangun, lalu gak inget apa-apa lagi? Gak kenal diri sendiri dan merasa aneh? Gue gak mau…

Dibanding sama Shopaholic series, buku-buku Sophie Kinsella seperti Remember Me? Undomestic Goddess, Can You Keep a Secret? lebih lucu dan segar. Tokoh-tokohnya gak sekonyol Becky Bloomwood. Sekarang, gue lagi mencari-cari Twenties Girls – bukunya yang paling baru.
Read more »

Selasa, 05 Januari 2010

Weekend in Paris

Weekend in Paris
Robyn Sisman @ 2004
Penguin Books, 2004
389 Hal.

Molly Clearwater, gadis cerdas, suka sama sastra dan seni, kadang-kadang gampang banget mengkhayal. Berkhayal a la tokoh-tokoh sastra klasik dari buku-buku yang sering dibacanya. Bekerja sebagai asisten pribadi seorang boss bernama Malcolm Figg. Boss yang narsis, sok keren, sok macho, sok berkuasa, tapi masih jadi anak ‘mummy’. Molly nekat resign dari kantornya yang bergerak di industri farmasi, gara-gara si Malcolm bilang Molly adalah ‘stupid secretary’, pas di hari seharusnya dia sama bossnya berangkat ke Paris untuk sebuah konperensi kedokteran.

Molly nyaris down, pulang ke flat-nya malu, telp ibunya, pasti bikini bunya panik. Akhirnya, di stasiun kereta, tiba-tiba aja Molly dapat inspirasi. Semua orang tau seharusnya sekarang dia ada di Paris, stasiun Eurostar tiba-tiba ada di depan mata, koper udah siap, lengkap dengan baju baru persiapan untuk ke Paris. Kenapa gak sekalian aja Molly mewujudkan rencana ke Parisnya?

Jadi… dengan nekat, Molly pergi ke Paris. Molly yang baru pertama kali menginjakkan kaki ke Paris, gak punya kenalan, sempat bingung mau ke mana. Nyari-nyari hotel, akhirnya ketemulah sebuah hotel kecil. Di hotel ini, Molly secara tidak sengaja berkenalan dengan perempuan bernama Alice – yang langsung membawa Molly ke club di malam pertamanya di Paris. Di club ini, Molly bertemu cowok Perancis keren bernama Fabrice.

Singkatnya, Molly pun terlibat petualangan romantis (paling gak ini yang ada di pikiran Molly) dengan Fabrice. Fabrice membawanya melihat pemandangan Paris di waktu malam yang indah, bagian-bagian yang terlewatkan oleh turis.

Molly nyaris lupa sama keberadaan Malcolm. Yang ada di pikirannya, hanya menghabiskan waktu bersama Fabrice. Tapi, ternyata, Fabrice nyaris sama dengan Malcolm – merendahkan dirinya, membuat dirinya hampir merasa tidak berharga.

Di Paris, Molly mendapatkan banyak hal baru – teman baru, pengalaman romantis baru, dan kejutan indah yang tak terduga.

Sedikit mengkhayal di awal tahun… ‘ikutan’ Molly jalan-jalan ke Paris, meskipun gak terlalu ‘mengeksploitasi’ keindahan kota Paris, atau makanan yang ‘aneh-aneh’. Ya, seperti biasa, lebih banyak ditekankan pada hal-hal ‘petualangan’ cinta. Coba, bagian Molly nyamar dipanjangin dikit, ngerjain boss-nya. Atau, bagian ‘kejutannya’ ditambah dikit lagi, karena yang harusnya sedikit mengharukan jadi biasa aja.

Tapi, yang gue suka sama Molly, dia gadis yang berani. “It only takes a weekend to change your life…” Hanya tiga hari, Molly jadi tau apa yang sebenernya dia inginkan, bahwa gak seenaknya orang bisa men-judge dia serendah-rendahnya.

Tau gak sihhh… buku ini gue beli October 2006… baru kebaca sekarang.

Read more »

Kamis, 15 Oktober 2009

Behaving Badly (Jangan Bandel, Ya!)

Behaving Badly (Jangan Bandel, Ya!)
Isabel Wolf @ 2003
Lina Jusuf (Terj.)
GPU – November 2007
440 Hal.

Miranda Sweet, adalah seorang ahli ‘psikologi hewan’. Ia sempat menjadi dokter hewan, sebelum mendapat ‘pencerahan’ baru. Tapi, kehidupan pribadinya sendiri tampaknya butuh bantuan psikologi.

Dalam masalah percintaan, Miranda baru saja putus dari tunangannya, Alexander, seorang aktor yang diramalkan akan meroket karirnya. Alasan putusnya yang baru diketahui di tengah-tengah cerita ternyata lucu juga. Yang jelas, Alexander tampak bukan tipe pria pelindung perempuan.

Secara kebetulan, melalui Daisy, sahabatnya baiknya, Miranda mendapatkan seorang klien bernama Caroline yang bermasalah dengan anjingnya. Tak disangka-sangka, Miranda malah bertemu suami Caroline, orang dari masa lalu Miranda yang nyaris membuat hidupnya berantakan. Hidup Miranda terkesan biasa-biasa saja, tapi ternyata ia menyimpan rahasia besar – yang kalau sampai terungkap mungkin akan membuat segalanya hancur. Apalagi, James, suami Caroline itu, adalah seorang Menteri Pendidikan, politisi yang punya pengaruh. Andai Miranda berani membocorkan rahasia mereka, bukan tak mungkin James akan menghancurkan Miranda.

Perasaan bersalah membuat Miranda mencari seseorang dari masa lalunya yang sudah sakiti. Miranda dulu adalah seorang aktivis yang memperjuangkan hak-hak binatang. Sikap polosnya sempat membuat ia terjebak dengan orang yang dulu dikenalnya sebagai Jimmy, yang tak lain adalah James di masa kini. Miranda bertekad mencari anak muda yang ia sakiti dulu. Ia ingin mengakui kesalahannya dan berdamai dengan masa lalunya.

Karir Miranda cukup maju. Semakin banyak client, semakin banyak majalah yang ingin mempublikasikan sosok Miranda. Kesempatan baik untuk membuat prakteknya semakin terkenal. Salah satu klien Miranda bekerja di sebuah majalah dan tertarik untuk memuat profil Miranda. Sengaja Miranda minta seorang fotografer yang mungkin saja sosok anak muda yang ia cari.

Selebihnya, mudah ditebak. Si fotografer memang orang yang ia cari, ternyata mereka berdua saling jatuh cinta dan Miranda terjebak dalam sebuah dilema antara takut mengakui kesalahan masa lalunya atau terus berbohong agar tidak kehilang sang fotografer.

Gue suka nih, chicklit yang begini. Yang isinya bukan cewek konyol, yang payah dalam segala hal. Miranda adalah cewek cerdas dan bertanggung jawab. Dan, serunya buku ini, banyak rahasia-rahasia yang diceritain pelan-pelan, baru terungkap di tengah-tengah bahkan nyaris mendekati akhir. Bacaan ringan, tapi gak bikin langsung menguap setelah selesai dibaca.
Read more »

Minggu, 19 April 2009

Spellbound (Tersihir)

Spellbound (Tersihir)
Jane Green
Monica D.C (Terj.)
GPU – Maret 2009
488 Hal.

Alice Chambers, perempuan usai 30 tahunan, kerap menjadi cover di majalah Tatler terbitan Inggris karena seringnya ia menghadiri acara-acara sosialita. Dengan postur tubuh tinggi semampai, kulit kecokelatan, rambut pirang yang panjang dan lurus, berbalut busana dari desainer terkemuka. Siapa yang tak akan menoleh kepadanya dengan penampilan seperti itu. Tinggal di kawasan bergengsi di London. Mungkin nyaris semua perempuan ingin menggantikan tempatnya sekarang.

Tapi, siapa sangka semua itu dilakukan Alice hanya demi suaminya. Joe Chambers, laki-laki impiannya sejak remaja. Alice, yang dulunya berambut hitam dan keriting, memakai celana jeans dan sweater kumal, bermimpi untuk memiliki rumah di pedesaan dan menikah dengan suasana yang tradisional dan kekeluargaan. Penampilan canggih Alice yang sekarang, adalah semata-mata karena keinginan Joe.

Alice sangat mencintai Joe. Tapi, dasar laki-laki hidung belang. Memiliki istri seperti Alice tidaklah cukup. Joe adalah tipe lelaki petualang. Ia gemar melakukan ‘one night stand’ dengan perempuan-perempuan yang ia temui, entah di café, di pesta-pesta. Joe yang tampan dan mudah bergaul, membuatnya dengan mudah mendekati perempuan-perempuan yang tentu saja dengan senang hati meladeninya.

Joe pun kena batunya, ketika ia berhubungan dengan teman sekantornya sendiri, Josie. Joe dipindahkan ke Amerika. Bagi Alice – dan juga Joe – kepindahan ini dimanfaatkan untuk memperbaharui pernikahan mereka. Joe berjanji pada dirinya sendiri untuk menjadi suami yang baik dan setia pada Alice.

Alice pun segera menyukai Amerika, atau tepatnya sebuah kota kecil bernama Highfield di Connecticut. Di sana Alice menemukan rumah yang selama ini hanya ada dalam mimpinya. Rumah yang ternyata memiliki legenda di kalangan warga Highfield. Segera saja Alice jatuh cinta pada rumah itu dan langsung bekerja keras untuk mewujudkan rumah impiannya itu.

Tanpa disadarinya, hubungannya dengan Joe merenggang. Joe yang tinggal di Manhattan hanya pulang seminggu sekali ke tempat Alice berada. ‘Pertahanan’ Joe diuji. Dengan begitu banyak wanita cantik bersliweran di depannya, mau tak mau, Joe kembali tergoda. Apalagi, Alice berubah – kembali menjadi Alice yang tak peduli dengan penampilan, kembali menjadi Alice yang dikenalnya ketika remaja dulu.

Ketika Alice menyadari, Joe kembali ke kebiasaan lamanya, tak urung Alice terpukul. Ia harus memilih antara menyelamatkan pernikahannya tapi tidak menjadi dirinya sendiri, atau, kehilangan Joe tapi kembali menjadi Alice yang santai.

Hmmm… laki-laki… sekali hidung belang, tetap aja gak akan berubah. Some people don’t change, they just grow older J

Ada bagian yang menurut gue rada dipaksain, atau, gak pas… menurut gue lhooo… misalnya, kenapa Alice harus ‘dipaksain’ jadian atau deket atau suka-sukaan sama Harry, pacar sahabatnya, Emily? Kenapa endingnya, gak dibiarin aja, Alice menikmati masa-masa bahagianya sendiri, di rumah pedesaannya? Dan, coba, cerita tentang rumahnya Alice, yang katanya bekas rumah Rachel Danburry, penulis controversial itu, rada dibanyakin. Biar ada misteri-misterinya dikit gitu, bukan sekadar ‘pemanis’ aja.
Read more »

Minggu, 15 Maret 2009

Citizen Girl

Citizen Girl
Emma McLaughlin & Nicola Kraus
Penguin Books, 2004
307 hal.

Satu kata yang bisa gue berikan untuk buku ini, ‘membosankan’. Mungkin gak pas kalo dibilang book review, karena gue gak selesai bacanya… udah keburu bosen duluan.

Ceritanya, tentang Girl, cewek yang kerja di majalah, punya boss yang aneh, yang meskipun Girl udah berusaha sebaik mungkin, sesempurna mungkin, tetap aja, salah dan Doris, bossnya, bukan termasuk orang yang suka dikasih tau kalo dia salah. Dan akhirnya, Girl pun dipecat.

Girl jadi pengangguran, yang kerjanya cuma tidur-tiduran aja di apartementnya. Someday, Jack, adiknya Girl, datang dan atas ‘perintah’ ibunya, ngajak Girl ke ‘Career Days’. Tadinya, Girl udah pesimis bakal dapet kerjaan dengan cara kaya’ gitu. Di sana dia bahkan kenal sama cowok namanya Buster, yang seneng banget sama YGames.

Terus, Girl ketemu sama Guy, pemilik My Company, website yang membahas tentang isu-isu perempuan. Setelah, melewati test, Girl keterima di My Company. Girl dipercaya untuk menangani ‘anak’ My Company, MsMagazine Jadilah, dia mengundang aktivis perempuan, dan pemimpin majalah perempuan termasuk Doris.

Udah.. sampai sini, gue males nerusinnya. Gak tau deh, cara ceritanya rada ngebosenin. Sempet bingung, sebenernya Buster sama Girl itu pacaran gak sih.

Mungkin karena abis baca Bergdorf Blonde yang lucu, begitu baca ini, koq jadi datar banget.

05.08.01
Read more »

Bergdorf Blondes

Bergdorf Blondes
Plum Sykes
Penguin Books, 2004
312 hal

Buku ini menurutku sih, lumayan lucu. Yup, another chick-lit. Cerita tentang kehidupan kaum ‘jet-set’ di Manhattan. Di awal buku ini, disebutkan, “Bergdorf Blondes are a things, you know, a New York craze. Absolutely everyone wants to be one, but it’s actually trés difficult. You wouldn’t believe the dedication it takes tp be a gorgeous, flaxen-haired, dermatologically perfect New York girl wit a life that’s fabulous beyond beliefe. Honestly, it all requires a level of commitment comparable to, say, learning Hebrew or quitting cigarettes. (page 1).

Tokoh utamanya, seorang cewek yang gak disebutin namanya, cuma dia selalu menyebut Moi. Si Moi ini punya sahabat namanya Julie Bergdorf, cewek blonde yang tajir banget, dia selalu bisa ‘membeli’ apa aja yang dia mau. Kakeknya Julie ini pemilik department store Bergdorf. Tapi, anehnya, meskipun dia bisa beli segalanya yang dia mau, Julie punya penyakit ‘klepto’ di ‘toko’nya sendiri.

Moi sendiri, sebelum ke Manhattan, dia tinggal di Inggris bareng ortunya. Ayahnya orang Inggris, tapi Ibunya, perempuan Amerika yang pengen banget dibilang orang Inggris. Ibunya pengen banget ngejodohin Moi sama tetangga sebelah rumah mereka yang sering disebut-sebut ‘Little Earl’.

Cerita dimulai, waktu si Moi cerita ke Julie kalau ada salah satu teman mereka yang baru aja tunangan dan saling memamerkan cincin pertunangan mereka. Langsung aja Julie bilang, “E-mail me the whole things, lie everyone but me having a fiancé. It’s so unfair.” (page 16). Sepertinya Julie gak mau ketinggalan ‘trend’ tunangan di antara teman-temannya, dia bilang, “Fiancés are so glam!” (page 18)

Akhirnya, mereka berdua (dengan Julie sebagai ‘penggagas’ utama), datang ke pesta demi mencara ‘Potential Husband’. Pokoknya buat Julie, asal cowok itu ‘tidak terlalu kreatif’, maka si cowok bisa dikategorikan sebagai Potential Husband. EO pesta itu temen mereka berdua, yang sering banget ngadain pesta dengan tema ‘Saving bla… bla.. bla…’ Diaturlah supaya mereka berdua bisa duduk di antara cowok-cowok keren dan kaya. Moi ini dari awal udah gak terlalu antusias pergi ke dinner party itu, karena bosan, Moi jalan-jalan keliling ruang pesta, sampai akhirnya ketemulah dia dengan seorang fotografer nge-top, Zach. Bisa ketebak, akhirnya Moi jatuh cinta and pacaran sama Zach, bahkan akhirnya mereka bertunangan. Julie yang punya ide, malah belum dapat PH yang dia impikan itu.

Tapi, ternyata Zach, yang romantis di awal-awal pacaran mereka, malah berubah justru di saat-saat menjelang pesta pertunangan, bahkan akhirnya pertunangan mereka pun bubar. Di pesta pertunangan, Moi sempat berkenalan dengan seorang sutradara muda yang lagi naik daun, Charlie. Charlie sempat digambarkan tertarik sama Moi, tapi Moi malah menjodohkan dia sama Julie.

Kalut karena putus sama Zach, sempat membuat Moi ingin bunuh diri. Tapi di detik-detik terakhir, justru Charlie datang menyelamatkannya.

Moi sempat menjalin hubungan dengan beberapa pria kaya, tapi selalu aja gak mulus. Misalnya, ketika berhubungan dengan Eduardo, seorang ‘bangsawan’ Spanyol, ternyata dia sudah berkeluarga. Terus, coba-coba dekat dengan Patrick Saxton, taunya malah diancam sama istrinya yang rada ‘psikopat’.

Dan, Charlie selalu menjadi ‘penyelamat’ Moi di setiap dia dalam kesulitan, yang malah sempat membuat Moi sebal banget sama Charlie.

Tapi, toh, akhirnya Moi menemukan juga cowok idamannya, the Potential Husband, seperti kata Julie, yang gak lain adalah the ‘Little Earl’. Siapa sih Little Earl ini sebenarnya?

Di buku ini ‘bertebaran’ merk-merk terkenal. Julie bisa dibilang ‘berteman dekat’ sama Emanuel Ungaro, Vera Wang – bahkan Vera Wang ini, waktu Julie mau tunangan, katanya bakalan ‘resign’ kalau Julie gak pakai gaun pengantin rancangannya. Kekonyolan juga ada, misalnya, waktu Julie mau ngadain ‘book club’, tujuannya biar teman-temannya gak hanya tau tentang fashion tapi juga tentang dunia sastra.

Kalau ngebayangin tokoh Julie, yang muncul adalah Paris Hilton, cocok banget kaya’nya sama sosok seorang Julie yang blonde, keturunan keluarga kaya’, rada manja dan centil.

05.07.26



=> 'Bergdorf Blondes' ini udah diterjemahin ke dalam bahasa Indonesia dengan judul "Cewek-Cewek Bergdorf ", tapi sayang... cover-nya, koq gak ceria banget. Gak sesuai dengan betapa 'centil'nya isi buku ini.
Read more »

Minggu, 02 Maret 2008

The Food of Love

The Food of Love (Santapan Cinta)
Anthony Capella @ 2004
Andang H. Sutopo (Terj.)
GPU, Februari 2008
502 Hal.

Laura Patterson, datang ke Roma untuk belajar seni. Tapi, tentu saja rentang waktu satu tahun di Roma tidak mungkin dilewatkan tanpa berkencan dengan cowok-cowok Italia. Lelah dengan cowok Italia yang payah, membuat Laura membuat janji pada dirinya sendiri untuk hanya berkencan dengan cowok yang jago masak. Itulah yang dikatakan Laura pada Carlotta, sahabatnya, via telepon di suatu pagi di sebuah kedai kopi.

Pernyataan itu terdengar oleh Tommaso Masso yang kebetulan juga ada di kedai kopi itu. Tommaso adalah cowok Italia yang gemar berkencan dengan turis-turis. Dinding lemarinya penuh dengan foto perempuan yang pernah berkencan dengannya, yang sebagian besar berambut pirang. Pada kesempatan pertama, Tommaso tidak sempat berkenalan dengan Laura yang menganggapnya hanya cowok iseng. Perjumpaan kedua di sebuah supermarket tidak disia-siakan oleh Tommaso yang secara halus ‘memamerkan’ keahliannya dalam bidang memasak.

Selanjutnya… ajakan kencan tidak dapat ditolak oleh Laura. Tommaso menjanjikan masakan yang paling lezat yang pernah dirasakan oleh Laura. Tapi, masalahnya, Tommaso bukanlah chef. Ia hanya seorang pelayan biasa yang kedudukannya sangat rendah sampai-sampai ia bisa disuruh melakukan pekerjaan ‘kasar’ apa pun. Untuk membuat Laura terpesona, Tommaso minta bantuan sahabatnya, Bruno, yang memang seorang chef.

Bruno, juga tengah jatuh cinta pada seorang gadis yang ditemuinya di pasar sayur. Ia membayangkan sosok gadis itu ketika berkreasi membuat masakan pesanan Tommaso. Dan, memang betul, Laura langsung bertekuk lutut setelah mencicipi masakan yang super duper yummy itu!

Tapi, kejutan gak hanya sampai di situ. Bruno kaget ketika tahu ternyata gadis Tommaso adalah gadis yang sama dengan yang ditemuinya di pasar sayur, gadis yang diam-diam selalu ada dalam pikirannya.

Masalah lain pun timbul. Laura makin tergila-gila pada Tommaso… atau lebih tepatnya ‘masakan’ Tommaso. Tapi, Tommaso mulai kembali pada ‘hobi’nya berkencan dengan para turis. Laura kecewa dan marah. Bruno pun kena getahnya. Laura tak hanya benci pada Tommaso, tapi juga pada Bruno. Padahal Bruno belum sempat mengutarakan perasaannya pada Laura.

Ceritanya lumayan kocak. Mengingatkan gue pada film Rattouille. Selain diajak jalan-jalan ke pelosok-pelosok Italia, pembaca bakalan dibuat ‘lapar’ dengan menu-menu aneh tapi tampaknya enak banget… bener-bener Mamma Mia…. Makanan bukan hanya sekedar makanan untuk memuaskan rasa lapar, tapi dengan bumbu-bumbu tertentu, akan banyak kejutan tak terduga!
Read more »

Selasa, 16 Oktober 2007

Enchanted, Inc.

Enchanted, Inc.
Shanna Swendson
Pepi Smith (Terj.)
GPU, September 2007
408 Hal.

Meskipun sudah setahun tinggal di New York, Katie Chandler yang berasal dari Texas, selalu merasa bahwa New York selalu penuh dengan keajaiban. Ada cewek yang berkeliaran dengan memakai sayap, gargoyle yang kadang ada, kadang tidak, tapi, toh, itu semua rasanya wajar untuk kota seperti New York.

Tapi, Katie tidak pernah menyangka bahwa semua itu bukanlah hal yang biasa, tapi memang ada keajaiban di New York, bahwa memang ada sesuatu yang magis itu.

Bekerja sebagai asisten dari seorang bos yang terkadang semena-mena, membuat Katie terkadang merasa tidak berkembang, bukan sekali Katie tergoda untuk membalas email-email lowongan kerja, kalau saja Katie tidak takut ketahuan si bos bernama Mimi yang aneh itu.

Suatu hari, Katie mendapat email tawaran pekerjaan yang ia anggap sebagai junk-mail. Katie langsung menghapus email itu, tanpa membacanya sedikit pun. Tapi, email itu datang setiap hari dan langsung ditujukan kepadanya. Katie pun tergelitik untuk membalas email itu.

Email itu berasal dari sebuah perusahaan dengan inisial MSI, Inc., singkatan dari Magic, Spells, and Illusions, Inc. Ternyata, menurut observasi yang dilakukan team MSI, Katie mempunyai kekebalan terhadap sihir. Maka itu, ketika Katie melihat ada gadis bersayap tapi, orang-orang tidak merasa aneh, itu memang karena Katie bisa melihat sihir sementara orang lain menganggap semuanya biasa saja.

Katie pun bersemangat menerima pekerjaan barunya. Katie ditempatkan di bagian verifikasi, di mana tugasnya adalah melihat apabila ada sesuatu yang janggal misalnya dalam sebuah surat perjanjian.

Katie tidak pernah menyangka bahwa boss besarnya adalah seorang penyihir legendaris, the one and only, Merlin (hehehehe… nenek moyangnya Nerlin Flood, kah?). DI perusahaan ini, karir Katie berkembang pesat, Katie diajak untuk membuat sebuah strategi pemasaran ketika seorang mantan karyawan MSI berusaha memasarkan mantra-mantra yang berbahaya.

Emang sih, masih disinggung-singgung soal masalah percintaan Katie yang sering banget diajak kencan buta sama teman-teman satu apartemennya, tapi, jadi menarik dengan latar masalah sihir-sihiran itu, lagi-lagi membuat gue jadi merasa ‘senang’ karena menemukan chicklit yang beda, lucu dan unik, karena setelah baca, gue gak mikir, “Ah, basi nih, ceritanya.” Apalagi, dengan tokoh Owen yang menggemaskan itu, yang setiap ngomong mukanya merah melulu… ihhh.. jadi pengen nyubit pipinya…,hehehe… Dan… di buku ini… bersih dari adegan 17 tahun ke atas! Yang paling kocak, adalah bagian cium-mencium kodok…hahaha….
Read more »