Tampilkan postingan dengan label non-fiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label non-fiction. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 Mei 2012

Garis Batas



Garis Batas
GPU – April 2011
510 hal
(Hadiah #GPU100 dari @Gramedia)


untuk Mama di surga tanpa batas

Halaman persembahan dengan kalimat yang membuat gue terharu. Betapa besar cinta seorang Ibu, mendoakan anaknya yang berada di negeri ‘antah-berantah’.

Jika di Selimut Debu, Agustinus Wibowo berkunjung ke Afganistan, sebuah negara yang rawan dengan ‘ranjau’. Di Garis Batas, ia menjelajah negeri-negeri Asia Tengah yang dulu bersatu di bawah naungan Uni Soviet – sebut saja Tajikistan, Kirgizstan, Kazakhstan, Uzbekistan dan Turkmenistan.

Dulu, kalau ngeliat atlas, ngeliat Uni Soviet itu besarrrr banget. Rasanya mungkin menghabiskan setengah halaman dari atlas itu sendiri. Berada di dua benua – Eropa dan Asia (inget kalo dulu ada salah satu pertanyaan kalo ulangan: sebutkan negara yang berada di Eurosia?) Negeri yang dingin – itu yang ada di benak gue – dingin dalam arti cuaca, tapi juga orang-orangnya (berdasarkan pengamatan di foto atau ngeliat di film). Udah gitu, ini negara kaya’nya jagoan banget kalo pas Olimpiade.

Tapi apa iya, setelah mereka masih hidup ‘makmur’ setelah Uni Soviet terpecah dan menjadi negara-negara kecil. Apa iya mereka masih ‘sekuat’ dulu?

Setelah terpecah-pecah, mereka yang dulunya hidup dalam satu negara besar kini menetapkan otoritasnya masing-masing, menentukan batas-batas negara mereka dengan birokrasi yang ribet dan penuh dengan korupsi.

Gue gak akan membahas negara-negara yang dikunjungi Agustinus Wibowo ini satu per satu. Tapi secara garis besar, negara-negara ini hidup dalam kesusahan. Korupsi merajalela, para pria kebanyakan kongkow-kongkow di warung minuman dan mabuk, malas bekerja.

Dari segi fisik sih, perempuannya cantik-cantik, laki-laki juga ganteng… tapi ya itu, ternyata si cowok-cowok ini kebanyakan ‘pemalas’. Meski mengaku beragama Islam, terkadang mereka sama sekali gak merasa perlu sholat atau baca Al-Qur’an. Bahkan mereka gak tau arti syahadat. Bahkan saat Idul Fitri pun tak terasa kalau hari itu adalah hari yang istimewa.

Sejarah yang hebat menjadi latar belakang yang menarik dari negara-negara ini. Keriuhan di pasar-pasar mungkin jadi gambaran perdagangan Jalur Sutera. 


Yang menarik adalah negara terakhir – Turkmenistan. Hehehehe.. aduh terus terang ya, gue ngikik geli baca bagian ini. Membayangkan betapa narsisnya sang pemimpin. OMG … bahkan saat nulis ini pun gue senyum-senyum geli. Gimana gak narsis… Patung emasnya berdiri tegak dan dapat berputar! Foto-nya di mana-mana, tari-tarian, lagu-lagu dan segala puja-puji bagi sang Turkmenbashi. Bahkan ada kitabnya sendiri yang mungkin posisinya lebih tinggi daripada kitab suci. Aduh..duh..duh.. Foto di depan patung jadi salah satu tempat yang wajib untuk para pengantin baru.

Memang sih, dibandingkan dengan Tajikistan, Kirgizstan, Kazakhstan dan Uzbekistan,  Turkmenistan bisa dibilang lebih ‘makmur’. Pendidikan gratis, gedung-gedung megah dengan air mancur, jalanan mulus. Pemandangan yang menyilaukan mata. Tapi, eitss.. tunggu dulu… itu di tengah kota. Coba melongok sedikit ke bagian belakang gedung, masih ada juga pemukiman kumuh.
O ya.. yang ‘unik’ lagi adalah perbatasan antara di mana satu bangunan rumah bisa berada di dua negara. Yang tinggal di rumah itu, bisa makan dan tidur di Negara yang berbeda. Perbatasannya hanyalah sebuah gang kecil yang sepertinya gampang banget ‘diselundupi’.

Ternyata ya, sebuah Negara yang selama ini bersatu, begitu terpisah-pisah oleh garis batas langsung berubah drastis segala aspek kehidupannya. Dan yang tadinya rukun, tiba-tiba bisa saling menjelekka dan merasa dirinya lebih baik daripada yang lain.

O ya, selain bercerita tentang keluh kesah, pengalaman selama perjalanan, di buku ini, Agustinus Wibowo juga bercerita tentang kisah pribadinya menjadi warga keturunan Cina di Indonesia. Tentang diskrimninasi yang ia dan keluarganya alami.

Tau gak sih, kalo baca Selimut Debu dan Garis Batas, hehehe.. kadang gue kasian sama Agustinus Wibowo ini… abis kadang sepertinya menderita banget.. entah karena nyaris ditangkep polisi, ‘diperas’, ditinggal sama mobil angkutan, udah gitu, kalo pun di mobil, jangan bayangkan itu mobil travel yang oke, tapi truk atau bis yang desek-desekan, kadang mogok dan harus ikutan dorong. Belum lagi, pengalamannya naik keledai… Uang pas-pasan, tidur di warung-warung.. belum lagi ngurus perijinan yang ribet.

Tapi, mungkin semua itu terbayar dengan pengalaman yang pastinya belum semua orang mau menjalaninya.
Read more »

Senin, 06 Februari 2012

The Naked Traveler #3

Link
The Naked Traveler #3
Trinity
B – First (2011)
324 hal.
(hasil swap sama @ayund)

Setelah beredar cukup lama, baru sekarang gue akhirnya bisa membaca buku The Naked Traveler #3. Biarpun udah ada bukunya, gue masih cukup rajin buat menengok blog-nya TNT ini. Masih tetap, membuat *ngeces*. Tapi kalo kata Trinity , “Worrying get you nowhere.” Jadi jangan hanya ngeces atau iri, ayo.. segera bikin planning untuk berlibur.

Tapi… yah.. apa boleh buat.. sementara belum ada kesempatan untuk berlibur, gak ada salahnya baca-baca ceritanya Trinity dulu. Masih tetap menghibur dan lucu – malah gak terlalu garing kaya’ dulu. Buat gue, humornya malah lebih segar. Trinity gak malu untuk mentertawakan diri sendiri.

Di buku ketiga ini, tampaknya pembagian bab atau cerita lebih teratur dan sistematis. Membuat pembaca jadi lebih gampang mengikutinya. Gak campur aduk atau berulang-ulang seperti yang gue temui di buku pertama. Mungkin karena Trinity udah lebih canggih dalam menulis.

Gara-gara semakin nge-top dengan TNT-nya atau makin terkenal sebagai travel writer, Trinity kerap mendapat kesempatan istimewa. Sebut aja, berhasil masuk Metro TV plus jalan-jalan ke Sumba gratis.

Cerita yang paling kocak (plus menjijikan) adalah cerita tentang betapa joroknya orang-orang di Cina Daratan, plus cerita tentang Poo Pants Man. Satu lagi yang lucu adalah cerita tentang kendala bahasa di Cina.

Gak hanya bertabur cerita jalan-jalan ke luar negeri, Trinity juga mengajak kita untuk jalan-jalan di Indonesia, dan pengen membuat kita sadar, kalo di Indonesia juga banyak tuh tempat-tempat yang bagus. Jangan demi gengsi atau ‘naik status’ di Facebook atau Twitter, kita terus-terusan milih tempat berlibur ke luar negeri. Dan yang pasti, jangan males browsing atau cari info.

Yuk.. jalan-jalan….

Read more »

Senin, 30 Januari 2012

Ondel-Ondel Nekat Keliling Dunia


Ondel-Ondel Nekat Keliling Dunia
Luigi Pralangga @ 2011
Penerbit Qanita, Cet. I – November 2011
332 Hal.
(swap sama Alvina)

Bekerja di PBB rasanya suatu hal yang keren. Kantornya di Amerika gitu lho… Selama ini kan, kalo ngeliat di film-film, kaya’ya keren banget.. gak semua orang bisa ngator di situ, bahkan pasti susah banget buat masuk ke gedung PBB.

Nah, tersebutlah Luigi Pralangga – yang menyebut dirinya sebagai Ondel-Ondek Nekat di buku ini. Ia beneran nekat melepas pekerjaan di sebuah perusahaan telekomunikasi bergengsi di tanah air demi berjuang di Amerika. Padahal selama ini tempat tujuan impiannya bukanlah Amerika, tapi Kanada. Yah, dengan pikiran positif, Luigi nekat berangkat.

Di Amerika, kerjaan gak langsung enak. Lagi-lagi modal nekat, dan pe-de yang sangat tinggi, akhirnya membuat Luigi berhasil menembus berbagai test dan resmi berkantor di salah satu kantor perutusan/perwakilan Indonesia di PBB. Tapi, ternyata Luigi bukan jadi pekerja kantoran di belakang meja., ia tergabung dalam sebuah misi sebagai ‘peacekeeper’, salah satunya adalah misi di Irak, yaitu tergabung dalam misi inspeksi Senjata Pemusnah Massal (mengerikan bukan?). Dan selanjutnya, ia bergabung dalam UNMIL – misi perdamaian dan kemanusiaan untuk Liberia.

Sebagaian besar buku ini bercerita tentang kehidupan Luigi di Negeri Bau Kelek (yuksss….), negeri yang orang-orangnya berkulit maghrib alias gelap (ooppss… maaf untuk yang berkulit gelap.. bukan gue lho yang nulis.. gue hanya ‘mengutip’).

Sebagaiman Negara yang sedang konflik, kehidupan di sana jauh dari yang namanya enak. Harga serba mahal, lebih miris lagi melihat anak-anak dan para perempuannya. Anak-anak bersekolah dengan membawa bangku sendiri, memakai seragam yang warnanya sudah pudar dan sekolah yang kondisinya menyedihkan. Itu baru sebagian yang beruntung bisa sekolah. Yang lainnya, terpaksa membantu orang tuanya berjualan di pasar, dengan baju yang robek sana-sini. Para perempuan juga bekerja sambil membawa anak-anak mereka yang masih bayi. (mungkin gak jauh beda dengan kondisi di beberapa tempat di Indonesia kali ya)

Tapi mereka ternyata juga mengenal ajang “Miss-Miss’an lho… adanya Miss Liberia dipergunakan sebagai salah satu sarana untuk menyerukan perdamaian. Tugas si Miss Liberia ini menyampaikan berita di kota untuk para penduduk desa, atau sebaliknya.

Yang membuat pekerjaan ini semakin terasa berat adalah harus berjauhan dengan keluarga. Apalagi saat bulan Ramadhan… duh.. rasanya ‘perihhh’… hehehe

Pengalaman yang unik, yang patut di-share ke banyak orang. Untuk memotivasi terutama para kaum muda. Tapi, buat gue, cerita di setiap bab terasa terlalu singkat. Entah mungkin banyak yang pengen diceritain, daripada bukunya ketebelan, jadi diceritakan sesingkat mungkin plus bonus banyolan yang kadang garing, tapi bikin bingung.. apakah ini beneran ataukah khayalan penulis.

Ini pertama kali gue membaca buku bertinta biru. Gak masalah sih. Font-nya besar, jadi enak bacanya. Tapi yang rada bikin ‘masalah’ adalah foto-fotonya. Beberapa ukuran terlalu kecil, dan gak jelas gambarnya apa. Apalagi objek fotonya ‘berkulit gelap’, jadi menambah ketidakjelasan foto itu.

3 ondel-ondel nekat untuk buku ini.

Silahkan kalo mau kenalan sama si Ondel-Ondel Nekat ini di http://pralangga.org/
Read more »

Rabu, 28 Desember 2011

Life Traveler


Life Traveler: Suatu Ketika di Sebuah Perjalanan
Windy Ariestanty @ 2011
Gagas Media – Cet. I, 2011
382 hal.
(via Gramedia Pondok Indah Mall)


"Home is a place where you can find your love, young girl"
(hal. 350)

Semoga gak berlebihan kalo gue bilang, gue menemukan buku yang bagus untuk menutup tahun 2011. Membaca buku ini, gue seolah menemukan sesuatu untuk me-recharge otak gue, energi gue dan berpikir lebih positif menuju tahun 2012.

Banyak hal menarik yang gue temukan sejak gue membuka lembar pertama buku ini. Pertama, daftar isi yang seolah ditulis dengan tulisan tangan, ilustrasi yang cantik, pembatas buku yang seperti potongan boarding pass, plus foto-foto yang keren. Ditambah lagi berbagai tips seputar traveling dan tempat-tempat yang wajib dikunjungi di negara-negara yang ada di buku ini.

Buku ini bukan sekedar buku ‘traveling’ yang hanya memuat info tempat-tempat wisata (ini sih yang terbersit di benak gue pada mulanya, apalah bedanya buku ini dengan buku traveling lain?). Tapi, salah satu cerita di dalam buku ini pernah dimuat di majalah Cleo, dan ini yang mengubah pikiran gue tentang buku ini.

Sepertinya, seorang Windy tidak hanya melakukan perjalanan untuk sekedar bersenang-senang, liburan, tapi juga mencari sesuatu yang untuk mengisi batin (aduh.. bahasa gue…). Baginya, berkenalan dengan orang asing – terutama penduduk setempat – akan memberi nilai lebih dalam sebuah perjalanan. Gue ‘menangkap’ persahabatan yang hangat, ketulusan dan kebahagiaan. Mencoba mencari makna apa artinya ‘pulang’, apa artinya ‘cinta’.

Banyak quote yang bagus, rasanya pengen gue share di sini semua… tapi, kalo ditulis semua… gak seru lagi dong…

Gue mau membuat satu pengakuan…. “bukan buku romance menye-menye yang membuat gue menangis, tapi… buku ini… berhasil membuat gue menitikkan air mata.” Beneran…. Membaca salah satu cerita, tentang bagaimana orang yang sebelumnya ‘asing’, ternyata mampu menawarkan sebuah kehangatan yang tulus.

Dua tulisan terakhir, tak kalah menarik. Windy mengajak dua sahabatnya, Dominique dan Yunika untuk ikut berbagi.


"Tapi saya tidak merasa sendirian. Tidak kesepian. Dan tidak pula merasa terasing
Saya ada bersama mereka. Ya, mereka. Orang-orang yang saya temui di perjalanan

And… I call them: family."

(hal: 158 – 159)
Read more »

Kamis, 27 Oktober 2011

Tweets for Life

Tweets for Life: 200 Wisdoms for a Happy, Healthy, and Balanced Life
Desi Anwar @ 2011
GPU - 2011
428 Hal
(dari kuis #tweetsforlife – via @Gramedia)

Hmmm… untuk menulis ‘review’ buku ini, gue berpikir keras. Buku yang susah buat gue untuk di-review. Ya sudah… cerita dulu aja deh. Buku ini, gue dapet dari hasil menang kuis #tweetsforlife di twitter-nya Gramedia Pustaka Utama. Dapetnya pas di hari terakhir, malah, gue gak ngeh kalo gue menang. Sebenernya, gue juga punya kesempatan untuk dateng ke acara lauching buku ini di Kinokuniya Plaza Senayan, tapi sayang, pas hari itu, Mika sakit, jadi terpaksa gue pulang cepet. Padahal, berharap bisa sekalian minta tanda tangan di buku ini.


Always make time to read a good books.
It adds depth to our thinking and feed our our imagination
(Sediakan selalu waktu untuk membaca buku yang bermutu, karena dapat memperkaya pemikiran and daya khayal kita)

Hal. 50

Fisik bukunya kecil, covernya berwarna kuning, gambar bunga (salah satu hasil jepretan Desi Anwar saat beliau jalan-jalan ke luar negeri – lupa ini diambil di mana). Setiap halaman, ada satu kalimat tweet-nya, plus foto-foto yang cantik.

Buku ini adalah kumpulan-kumpulan tweet-nya Desi Anwar. Awalnya, beliau hanya nge-tweet hal-hal yang remeh-temen, kaya’ hari ini makan apa, tweet pas lagi macet di jalan. Tapi, lama-lama, semakin banyak follower, mau gak mau beliau merasa ‘bertanggung jawab’ untuk men-tweet hal-hal yang lebih bermakna. Makanya lahirlah #tweetsforlife ini.

Always have a book handy.
A good books is a good friend
(Bawalah selalu buku ke mana pun kita pergi, karena buku dapat menjadi teman setia)

Hal. 76


Ditulis dalam dua bahasa – bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Terdiri dari tiga bagian: (1) Taking Care of Your Body (Memelihara Tubuh), (2) My Self and Others (Saya dan Orang Lain) dan (3) Peace Within (Kedamaian di Hati)

Nah, saat nulis ini nih, gue membayangkan momen yang ‘pas’ untuk baca buku ini. Lagi hujan-hujan – jangan lebat sih hujannya, ada angin sepoi-sepoi, duduk deh di teras (kalo ada pake kursi goyang lebih pas), jangan lupa sediain teh atau kopi. Terus, baca deh buku ini… pelan-pelan aja… Setiap kalimat harus dicerna pelan-pelan, diresapi biar bisa nangkep maknanya. Jangan lupa, nikmati juga berbagai foto yang melengkapi tweet itu (atau tweet yang melengkapi foto itu… terserah aja sih, kata Desi Anwar, mana yang enak menurut pembaca). Buku ini pas untuk koleksi atau kado.
Read more »

Senin, 17 Oktober 2011

Selimut Debu

Selimut Debu
Agustinus Wibowo
GPU – Januari 2010
461 Hal.
(swap sama melmarian)

Selama membaca buku ini, sejujurnya, gue hanya bisa ‘bengong’, mencoba membayangkan perjalanan seorang Agustinus Wibowo. Dari beberapa buku bergenre ‘travel’ yang pernah gue baca atau artikel di majalah, nyaris semua pergi ke tempat-tempat yang menyenangkan, bikin iri dengan segala foto-foto yang indah, makanan yang enak-enak dan akomomodasi yang memadai. Ya, sebut aja, tempat-tempat di Eropa, atau Bali, Pulau Komodo, bahkan negara-negara di Afrika pun, tampaknya masih lebih menyenangkan kalau membaca tentang wisata safari-nya meskipun deg-degan, takut kalo-kalo ketemu singa laper.

Tapi, ke Afghanistan, sebuah nama yang kalau gue baca koran atau liat berita di tv isinya perang, bom, penculikan dan segala teror lainnya. Rasanya rada gak ‘waras’ kalo ada orang yang nekat ke sana dengan tujuan melihat ‘keindahan’.

Ke negeri penuh debu itu, seorang diri, dengan modal yang ‘terbatas’, Agustinus Wibowo menelusuri hampir seluruh pelosok Afghanistan. Duh, membaca petualangannya, rasanya miris banget. Mengenakan pakaian tradisional penduduk yaitu shalwar qamiz yang kumal, tidak mandi berhari-hari, tidur menumpang di kedai teh, bepergian dengan truk atau jip yang bolak-balik mogok, bahkan pernah naik traktor. Jalannya tentu tidak mulus – lubang besar-besar, kiri-kanan jurang atau harus menyeberang sungai. Belum lagi, kecopetan dan diperlakukan tidak ‘senonoh’. Apalagi, bepergian di tanah yang mayoritas penduduknya adalah Muslim, bagi seorang Agustinus Wibowo yang non-muslim, masalah agama jadi hal yang sensitif. Meskipun mayoritas orang-orang yang ia temui tergolong baik hati, karena mereka selalu memperlakukan orang asing sebagai tamu, tapi ada saja yang berusaha memerasnya dengan mengenakan tarif kendaraan dengan harga yang tak masuk akal, sengaja ditinggal ketika sedang tidur.

Tapi, ternyata, di balik ‘penderitaan’ dan kesusahan itu, ia bisa melihat keindahan dan keanekaragaman budaya Afghanistan. Mengenal berbagai etnis di Afghanistan, Mendengar penduduk yang saling menjelekkan etnis satu dengan yang lainnya.

Bertualang dengan cara seperti ini, membuat Agustinus Wibowo jadi lebih mudah berinteraksi dengan penduduk setempat. Menginap di rumah penduduk, ia menangkap mimpi-mimpi mereka, mendegar kegetiran dan penderitaan mereka. Sejarah masa lalu yang kelam, penuh dengan perang,

Ada perempuan tak bernama karena selalu terbungkus burqa, tapi di desa lain, perempuan justru berpakaian warna-warni dan bebas bekerja di luar rumah. Peninggalan bersejarah yang dihancurkan, atau kalau pun ada tampak terlupakan.

Akhirnya… kesampaian juga baca Selimut Debu. Buku ini sudah lama ada di wishlist gue. Gue mendapatkan sebuah ‘pandangan’ baru tentang Afghanistan. Pengetahuan gue yang minim, jadi bertambah. Foto-foto yang keren hasil jepretan Agustinus Wibowo membantu untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas. Gue *speechless* ...
Read more »

Minggu, 02 Oktober 2011

Kedai 1001 Mimpi

Kedai 1001 Mimpi
Valiant Budi
Gagas Media, Cet. I - 2011
444 hal.
(pinjem dari Mbak Riana)

Kecintaan pada dongeng 1001 Malam, membuat seorang Valiant Budi nekad untuk menjadi TKI di negeri Arab Saudi. Kenapa memilih ke sana? Ya itu, salah satu alasannya. Akhirnya, ia pun nekat mengirim lamaran sebagai barista di kedai kopi international di Arab Saudi. Tak peduli banyak kisah miris tentang TKI yang selama ini sering terdengar di berita-berita di tanah air. Proses keberangkatan juga tidak mudah, bolak-balik medical check-up dan penantian yang cukup panjang sampai akhirnya Valiant Budi benar-benar berangkat ke tanah Arab.

Valiant Budi – atau di sana akrab dipanggil Vibi – akhirnya bekerja di sebuah kedai kopi bernama Sky Rabbit. Mungkin kalau dibaca, rasanya Vibi ini kesellll terus sepanjang ada di sana. Maunya marah-marah aja. Mulai dari disebut ‘Indunisi’, sering dikira orang Filipina, dikejar-kejar lelaki Arab yang punya kelainan, pelanggan yang gak sabar, sok tau, boss dan rekan sekerja yang gak kalah ngeselin. Kenalan dengan sesama TKI yang juga punya kisah gak kalah ajaib.

Semua jadi satu… culture shock. Gak nyangka di tanah Arab, tempat agama Islam diturunkan, justru segala bentuk kejahatan ada di sana. Hukum dan peraturan gak berlaku untuk warga asli. Sementara warga pendatang, salah sedikit langsung dihukum. Hati-hati banyak muttawa atau polisi gadungan berkeliaran. Susah ngebedain antara yang asli dan yang palsu. Termasuk pasangan muhrim palsu. Karena perempuan pada pakai cadar, jadi gak ketauan deh yang digandeng itu istri beneran atau selingkuhannya. Hehehe…

Di waktu luangnya, Vibi menulis blog dengan tema ‘Arabian Undercover’ yang ternyata menuai caci-maki dan ancaman.

Terlepas dari buku ini, meskipun banyak kisah-kisah menyedihkan dan tragis yang sering kita dengar, entah itu pembantu yang disiksa majikan, pembantu yang dihukum karena kesalahan kecil aja. Dari yang terbaca di sini, orang-orang Arab ini jago ngeles, jadinya, biarpun mereka salah, pada akhirnya, tetap aja si pembantu (baca: TKI) yang jadi salah dan akhirnya dihukum. Tapi, kenapa tetap banyak yang tergoda untuk pergi ke sana, faktornya adalah karena uang, hasil yang ‘berlimpah’ yang bisa dikirim ke kampung. Asal mau ‘menuruti’ keinginan majikan, uang dan kemewahan lainnya akan terjamin. Misalnya mau dijadikan istri yang kesekian, mau ‘diapa-apain’ aja sama majikan, atau bahkan ketemu Om-om Arab di tengah jalan pun bisa langsung dapat uang banyak – asal ya itu, mau diajak ‘ngapain’ aja sama Om-om Arab itu.

Belum lagi, orang-orang Arab yang merasa dirinya kaya banget itu sering bersikap arogan dan merendahkan orang-orang pendatang. Udah ngerasa paling oke, tapi ada aja akalnya, dari norak sampai yang ajaib.

Gak heran sih, kalo Valiant Budi ini, bawaannya kesel dan marah-marah aja. Tapi, gue bolak-balik ketawa, senyum-senyum saat membaca buku ini. Kadang kasian, tapi karena ditulis dengan gaya yang kocak jadinya antara terenyuh, kasian tapi pengen ketawa. Siap-siap tersenyum kecut, senyum geli atau malah 'jijay'. Foto-foto yang sedikit gak terlalu penting buat gue, karena di sini yang ditulis bukan kisah jalan-jalan ke Arab.
Read more »

Kamis, 29 September 2011

Around the World in 80 Dinners

Around the World in 80 Dinners
Cheryl & Bill Jamison
Kania Dewi (Terj.)
Gagas Media, Cet. II - 2010
384 hal.
(pinjem dari Mbak Riana)

Cheryl & Bill Jamison, penulis buku masakan yang kerap melalang buana ke luar negeri untuk berwisata kuliner. Karya-karya mereka sudah diakui dengan beberapa penghargaan di bidangnya. Nah, kali ini, kembali mereka membuat rencana untuk berwisata kuliner ke 10 negara, dengan menggunakan fasilitas frequent flier miles mereka. Perjalanan ini akan memakan waktu selama 3 bulan.

Setelah dipilah-pilah, dipilih-pilih, akhirnya mereka berdua memutuskan 10 negara itu adalah: Indonesia - tempat yang dipilih adalah Bali, Australia, Kaledonia Baru, Singapura, Thailand, India, Cina, Afrika Selatan, Perancis dan berakhir di Brazil.

Dimulailah petualangan pertama mereka di Bali. Sebuah boneka kertas bernama Flat Stanley setia menemani mereka selama perjalanan. Namun malang, nasib Flat Stanley pertama berakhir di tangan kera nakal di Monkey Forest

Tidak hanya restoran-restoran mahal dan ternama yang mereka cicipi, tapi juga makan di sea food di tenda-tenda di Singapura, makan bebek betutu masakan rumah di Balii dan semua itu memberi pengalaman tersendiri untuk mereka. Mereka berdua gak ragu untuk melihat-lihat pasar tradisional dan mencicipi makanan yang aneh-aneh.

Namun, gak selamanya perjalanan mereka mulus. Selain insiden flat Stanley, Cheryl dan Bill sempat terserang demam, ketinggalan kartu ATM dan nyaris kehilangan uang dan paspor gara-gara Bill yang ceroboh meninggalkan jaket di kamar mandi. Belum lagi kemacetan di beberapa tempat dan makanan yang terkadang kurang memuaskan.

Di akhir setiap cerita perjalanan mereka, Cheryl dan Bill membuat sebuah rangkuman tempat di mana mereka menginap, makan dan yang mereka kunjungi. Plus sebuah resep salah satu makanan yang mereka cicipi. Hmmm… lebih oke, kalo resep ini juga dikasih foto kali ya.

Agak pusing sebenernya baca buku ini, terlalu banyak informasi tentang tempat wisata dan makanan, tapi gak punya bayangan, kaya’ apa wujud makanan itu sendiri. Foto-foto yang ditampilkan juga minim banget, kalo pun ada, kecil dan gak berwarna. Terlalu banyak yang mau mereka sharing, buat orang awam kaya’ gue, jadi akan membingungkan.

Meskipun begitu, buku ini sukses membuat gue pengen makan mie tom yam yang seger… pengen es kacang yang menggunung itu… pengen makan sea food tenda di Benhil… pengen makan kare...

Mau liat foto-foto yang lebih lengkap dan berwarna tentunya, bisa berkunjung ke website mereka di: http://www.cookingwiththejamisons.com/

Read more »

Rabu, 18 Mei 2011

Untuk Indonesia yang Kuat: 100 Langkah untuk Tidak Miskin)

Untuk Indonesia yang Kuat: 100 Langkah untuk Tidak Miskin)
Ligwina Hananto @ 2010
Literati – Cet. III, Maret 2011
240 Hal

Apakah anda termasuk orang yang punya gaji tapi selalu habis gak tau ke mana? Mampu beli buku, makan di resto, weekend ke mall, nonton di 21, berlibur – tapi gak punya tabungan? Selamat… berarti anda termasuk yang ‘wajib baca buku ini’. Golongan seperti ini – termasuk gue – yang disebut mbak Ligwina dengan Golongan Menengah.

Nah, di buku ini, beliau mengajak kita untuk ‘berpikir’, berhitung dan lebih aktif dalam mengatur keuangan pribadi kita. Mencoba untuk menjadikan Golongan Menengah jadi ‘barisan’ yang kuat. Karena Golongan Menengah inilah yang nantinya akan membentuk Indonesia di masa depan.

Mungkin bakalan ‘stress’ dan pusing melihat angka-angka yang dipaparkan di sini. Bisa membuat kita ternganga, dan langsung berhitung, berapa banyak yang harus kita tabung dengan kata lain juga, berapa banyak kita harus ‘mengorbankan’ gaya hidup kita sekarang – tapi hasilnya nanti adalah untuk membuat hidup kita di masa depan lebih baik. Misalnya dengan memikirkan yang namanya dana pendidikan anak, dana pensiun. Hitungan dan ilustrasinya sederhana, jauh dari teori-teori ekonomi yang njelimet. Membuat kita yang tadinya pusing jadi lebih tenang.

Nah, salah satu bagian dari buku ini bertema ‘Menabung Saja Tidak Cukup’. Di sini dijelaskan berbagai bentuk investasi, seperti property, reksadana, logam mulia. O ya… satu lagi yang gue dapet, jangan ‘terjebak’ dengan asuransi. Gue ketawa pas baca tentang ‘Sendal Jepit Pendidikan’.

Di bagian akhir (dan ada kartunya juga), ada sebuah list yang berisi ‘100 Langkah Untuk Tidak Miskin’. Awalnya sederhana, misalnya ‘Punya penghasilan’, ‘pergi ke ATM 1 kali seminggu’, ‘mengerti cara memakai kartu kredit’, sampai yang bikin gue merasa ‘woooow.. masih jauh banget.’, misalnya ‘Punya dana darurat’ ‘sekian’ kali penghasilan’, ‘punya property pertama’, punya bisnis pertama.’ Hadoooohhh.. . makin ke belakang, lhooo.. check list-nya makin panjang dan kalo diliat sekarang, rasanya gak mungkinnnnn…!!!

Tapi, beneran deh, setelah membaca buku ini, gue langsung berpikir, ambil kertas, alat tulis, dan mulai mengurai pengeluaran gue sebulan…. Berhitung… berhitung… dan… pusinggg… astaga… harus segera dimulai kalau gue gak mau kalang kabut di hari tua gue.

Gue sih berharap semoga buku ini gak hanya jadi pajangan di lemari buku gue. Gue akan seneng buku ini lecek, yang artinya gue bakal terus membolak-balik buku ini biar gue makin pinter.
Read more »

Jumat, 01 April 2011

Kicau Kacau: Curahan Hati Penulis Galau

Kicau Kacau: Curahan Hati Penulis Galau
Indra Herlambang @2011
GPU – Cet. III, Maret 2011
344 Hal.

Indra Herlambang, nama yang selama ini rasanya lebih gue ‘kenal’ sebagai presenter acara infotainment atau MC, dengan gayanya yang jail dan lucu. Tapi, ternyata, bakatnya tak sekedar cuap-cuap, ia ternyata bisa juga menulis dari yang ringan sampai yang berat , seperti skenario yang memberinya penghargaan piala Citra.

Cover buku yang kuning cerah, seperti ‘memanggil’ untuk dibaca, buku ini ternyata memang menarik. Sekumpulan tulisan Indra di berbagai media cetak, berbagai tema, berbagai ide dan latar belakang. Ada aja yang bisa dijadikan tulisan menarik, misalnya obrolan dengan supir taksi – Indra malah membuat beberapa kategori supir taksi, atau pengalaman ketika mewawancara Miyabi di Jepang, meliput kedatangan Obama yang malah membuatnya masuk angin.

Indra termasuk kategori ‘family man’. Berulang kali terungkap di dalam tulisannya, betapa ia sangat menghormati dan menyayangi kedua orang tuanya. Akrab dengan kakak, adik dan juga para keponakannnya.

Sebuah buku yang menurut gue penuh ‘sentuhan pribadi’, seperti mendengar teman bercerita atau seorang sahabat yang lagi curhat.

Banyak hal sederhana justru jadi sangat menarik melalui tulisan Indra Herlambang. Mengajak kita untuk lebih melihat sekitar kita, mencari hal sederhana untuk bisa dijadikan cerita-cerita unik dan menarik.
Read more »

Minggu, 27 Februari 2011

Habibie & Ainun

Habibie & Ainun
Bacharuddin Jusuf Habibie @ 2010
THC Mandiri – 2010
323 Hal.

48 tahun 10 hari, waktu yang sangat panjang dalam sebuah pernikahan. Hal yang sangat sulit, ketika harus kehilangan pasangan yang mendampingi kita dalam kurun waktu yang sangat lama. Bukan gue sok tau, ya, tapi, putus sama pacar aja, kadang butuh waktu lama untuk recovery perasaan.

Buku ini mengisahkan perjalanan hidup pasangan BJ Habibie dan Ibu Ainun Habibie. Tapi, jangan bayangkan ini sebuah kisah cinta yang romantis. BJ Habibie yang baru pulang dari Jerman, ‘terpesona’ dengan Ibu Ainun, yang padahal dulunya seperti gula jawa (alias item kali ya…), tapi sudah ‘menjelma’ menjadi gadis yang cantik dan anggun.

Percintaan mereka berlangsung kilat. Dalam liburan Pak Habibie yang singkat, mereka bertunangan dan menikah. Untuk selanjutnya, Ibu Ainun diboyong ke Jerman. Di Jerman sendiri, kehidupan mereka belum stabil, kondisi perekenomian mereka masih sangat sederhana. Meskipun pelan-pelan akhirnya mulai meningkat.

Sebagai putra bangsa yang sangat berbakti, atas permintaan Presiden Soeharto, Pak Habibie dan keluarga kembali ke Indonesia. Mencoba merintis cita-cita untuk mempersembahkan hadiah ulang tahun ke 50 untuk Indonesia yaitu sebuah pesawat terbang pertama hasil karya putra-putri Indonesia.

Selama Habibie bertugas, Ibu Ainun selalu setia mendampingi. Dengan senyum dan matanya yang meneduhkan, senantiasa membuat Pak Habibie semangat dalam bertugas.

Mungkin gak banyak yang diceritakan di sini, bagaimana pasang-surut dalam kehidupan rumah tangga mereka. Memang sih, di awal diceritain gimana waktu mereka baru menikah, tapi setelah itu, selebihnya lebih banyak bercerita tentang kiprah BJ Habibie hingga akhirnya beliau menjadi Menristek, kemudian Wapres sampai akhirnya jadi Presiden. Terasa begitu ‘pribadi’ karena Pak Habibie juga bercerita apa yang beliau rasakan. Bahkan ketegasan beliau ketika berhadapan dengan Presiden Soeharto sekali pun.

Di beberapa bab terakhir, baru kembali diceritakan bagaimana ketika Ibu Ainun mulai sakit dan harus dirawat di Jerman karena kondisi cuaca khatulistiwa tidak cocok untuk kesehatan beliau. Dan, BJ Habibie terus mendampingi ibu Ainun hingga tempat peristirahatan terakhir - sebagaiman ibu Ainun mendampingi BJ Habibie dalam tugasnya.

Bagian-bagian akhir memang bagian yang paling menyentuh, di mana justru rasa cinta di antara mereka lebih terlihat dan begitu mendalam. Alur penuturan yang lamban (dan mungkin kalo dipikir-pikir, gak ada hubungannya sama ‘kisah cinta’ mereka berdua), tapi toh, tetap saja, buku ini memberi inspirasi.

Membaca buku ini, rasanya gak ada tuh yang namanya ‘gonjang-ganjing’ dalam pernikahan. Yang ada justru sebuah rumah tangga yang seimbang, saling menghormati dan sama-sama menikmati peran mereka masing-masing dalam rumah tangga. Betapa Pak Habibie yang dalam kesibukannya selalu diingatkan oleh istrinya, dan betapa Pak Habibie begitu menghargai dan mencintai Ibu Ainun.

Ahhh.. such a beautiful love story…
Read more »

Rabu, 20 Oktober 2010

The Naked Traveler

The Naked Traveler
Trinity
C Publishing (Bentang Pustaka), 2008
279 Hal.

The Naked Traveler 2
Trinity
B-First (Bentang Pustaka) 2010
348 Hal.

Gue ‘mengenal’ Trinity lewat blog-nya The Naked Traveler. Membaca sekilas beberapa ceritanya, wah, koq asyik banget ya. Dan ternyata, gue mendapatkan buku The Naked Traveler yang pertama, gratis waktu ada acaranya KuBuGil. Wah… udah lama banget, tapi baru sempet baca sekarang bukunya. Cerita di buku pertama ini, sebagian besar udah gue baca di blog-nya. Dan, sekalian aja lah, gue ‘review’ buku The Naked Traveler yang kedua.

Membaca The Naked Traveler, pembaca gak akan banyak diceritain tentang betapa indahnya suatu tempat atau bangunan, atau tentang makanan-makanan yang enak dan bikin ngiler. Karena ini adalah cerita pengalaman pribadi, bukan cerita untuk dimuat di majalah – yang pastinya harus bagus dan menampilkan gambar indah, justru yang disajikan kadang gak ada indah-indahnya. Tapi, menariknya di sini, kita bakalan dibuat ketawa, senyam-senyum sendiri membaca pengalaman menarik dan konyol selama perjalanan keliling dunia seorang Trinity. Yup, Trinity bukan seorang traveler yang pergi melanglang buana dengan kenyaman first class, tapi dia lebih memilih jalan-jalan a la backpacker, di mana segala keterbatasan, banyak hal unik yang ditemuinya selama perjalanan.

Selama ini gue mikir, waduh, kalo mau keluar negeri harus ‘kaya’ dulu. Tapi ternyata yang penting niat dan nabung! Dan tentu saja, jatah cuti yang banyak. Pinter-pinter ngatur waktu sama kerjaan di kantor. Banyak tips yang tentunya berguna banget, terutama untuk yang pengen ber-backpacking ria. Mungkin emang rada gak cocok sih, kalo yang masih punya anak kecil. Jadi, buat yang masih single, marilah jalan-jalan. Sendiri ok, sama teman ok. Gak punya temen.. bisa cari temen di perjalanan.

Banyak joke-joke dan pengalaman lucu. Misalnya kehebohan nyari toilet, begitu ketemu malah tempat pipis untuk anjing. Atau, serunya berburu hiu. Trinity ini termasuk salah satu penggila kegiatan yang memacu adrenalin, baca aja gimana serunya terjun dari gedung tertinggi.

Baca buku kaya’ begini, selalu bikin gue ngiri. Satu-satunya ‘persamaan’ gue dan Trinity adalah sama-sama pernah makan indomie termahal di airport Denpasar.

Buat yang selalu baca blog-nya, mungkin cerita di sini udah gak asing. Untungnya gaya bercerita Trinity yang kocak membuat baca bukunya jadi tetap menarik. Hanya mungkin kurang foto kali ya. Kalau pun ada gak berwarna. Tapi emang, foto yang ditampilkan pun yang unik, seperti tempat pipis anjing itu.

Semoga di buku-buku selanjutnya, akan ada cerita yang lebih seru, lebih kocak dan mungkin yang gak ada di blog (biar orang lebih penasaran dan pengen baca bukunya).
Read more »

Kamis, 18 Maret 2010

Waktu Aku Sama Mika

Waktu Aku Sama Mika
Indi @ 2009
Homerian Pustaka – Cet. II, Agustus 2009
145 Hal.

Gue menemukan buku ini secara tidak sengaja di Gramedia PIM. Setelah melihat-lihat buku-buku baru, gue iseng menelusuri rak-rak yang lain. Tau-tau gue ngeliat buku ini. Tentu saja, judulnya lah yang menarik perhatian gue. Cover-nya juga lucu. Gue liat isinya sekilas, tampak menarik.

Buku ini berisi kumpulan tulisan dari seorang gadis bernama Indi. Indi ini mengidap penyakit scoliosis, atau adanya gangguan pada tulang belakang Indi, sehingga gak bisa bertumbuh dengan normal. Ia harus selalu pakai penyangga untuk menopang tulangnya, dan sering jadi bahan ejekan teman-temannya. Indi sering kali merasa minder, karena ia tidak bisa seperti anak-anak lainnya.

Tapi, ada seorang pemuda bernama Mika yang memberinya semangat, yang memperlakukannya layaknya seperti orang ‘normal’ lainnya. Untuk Mika-lah, buku ini dipersembahkan. Seluruh tulisan dalam buku ini berpusar pada Mika yang merupakan pahlawan bagi Indi. Tulisan-tulisan indah bagi Mika di surga. (hiks…)

Mika memberi Indi kepercayaan diri, membuat Indi merasa dicintai, disayangi, dan Mika memberikan itu tanpa pamrih, tanpa pernah bertanya dan meminta lebih. Tapi, hubungan mereka banyak mendapatkan tantangan, karena Mika ternyata mengidap penyakit AIDS.

Tulisan-tulisan dalam buku ini menurut gue begitu jujur dan sederhana. Ungkapan-ungkapan rasa sayang yang tak berlebihan dari seorang gadis untuk pacarnya yang sudah tiada. Gue jadi kagum sama sosok mereka berdua, dengan segala kelebihan dan kekurangan mereka, mereka saling memberi semangat.

Gue suka buku ini. Gue pengen My Mika juga punya semangat yang sama dengan Mika (dan juga Indi) di sini (tapi… minus penyakitnya tentunya…)
Read more »

Selasa, 18 Agustus 2009

How the World Makes Love

How the World Makes Love... And What It Taught a Jilted Groom
(Petualangan Keliling Dunia Sang Pecundang Cinta)

Franz Wisner @ 2009
Berliani M. Nugrahani (Terj.)
Serambi, Cet. I – Juni 2009
495 Hal.

Karena gue ‘jatuh cinta’ sama buku Honeymoon with My Brother, gue pun menanti ‘sekuel’-nya dengan tidak sabar. Makanya, begitu buku kedua ini terbit, gue segera menamatkan beberapa buku di rumah, dan membaca buku ini.

Buku ini diawali dengan Franz Wisner yang masih ‘menjomblo’. Masih mencari-cari ‘karakter’ pasangan yang cocok dengan dirinya setelah berbagai peristiwa, perjalanan yang dilaluinya. Ternyata, Franz ‘ketagihan’ jalan-jalan. Ia pun mengajak Kurt, adiknya, untuk kembali ‘berbulan madu’. Tapi, kali ini, bukan hanya sekedar jalan-jalan, tapi mencari apa arti cinta, bagaimana bentuk cinta di berbagai penjuru dunia. Dengan warisan dari La Rue, nenek mereka, Franz dan Kurt kembali berkeliling dunia, berusaha menemukan cinta.

Mereka berkunjung ke Brasil, negara favorit Franz, yang katanya seksi itu. Lalu, ke India, di mana cinta ditentukan oleh perjodohan. Di mana kalo janda, perawan tua atau orang tua tunggal adalah hal yang sangat buruk, ada di halaman paling akhir di kolom kontak jodoh. Atau ke Mesir, yang eksotis, tempat perempuan jarang punya andil dalam menentukan pasangan hidup mereka. Gak ketinggalan juga ke Ceko dan Nikaragua.

Yang paling kocak menurut gue, waktu Franz di Afrika Selatan, tempat di mana, pemandu wisata dan para turis sering jatuh cinta. Gak perlu bertampang keren, yang penting macho dan pemberani.

Di sela-sela perjalanannya keliling dunia, Franz menyempatkan diri untuk kembali ke Amerika. Ia sempat kencan beberapa wanita, tapi ternyata, satu yang menarik hatinya, yaitu si aktris-hippie bernama Tracy. Menjalin hubungan dengan Tracy adalah sebuah langkah baru yang cukup besar. Tracy, adalah tipe wanita yang mungkin berbeda dari kriteria Franz yang lama, selain itu, Tracy juga memiliki anak laki-laki berusia tiga tahun bernama Calvin. Tapi, ternyata ada rasa nyaman ketika Franz berada dekat Tracy.

Tracy-lah yang menjadikan perjalan ke Selandia Baru menjadi perjalanan yang paling romantis, tempat Franz menyadari akan cinta sejatinya.

Tulisan di buku kedua ini lebih ‘bervariasi’. Sekilah sempat ada kesinisan Franz tentang cinta – yah, mengingat dia pernah ditinggalin tunangannya hanya beberapa hari menjelang pernikahan mereka. Tapi, makin lama, makin ke belakang, tulisannya jadi kocak, apalagi membaca berbagai percakapan-percakapan Franz dengan penduduk setempat di negara-negara yang ia datangi. Hmmm… sayang, Indonesia gak masuk daftar kunjungannya kali ini.

Kurt, jarang diikutsertakan dalam buku ini, hanya di beberapa perjalanan, Kurt tampil sekilas. Untuk menjawab pertanyaan pembaca, Kurt pun menulis di beberapa lembar terakhir buku ini.

Di akhir buku ini juga ditulis beberapa definisi ‘cinta’ yang Franz dapatkan dari perjalanannya. Cinta itu ternyata gak rumit koq… Gue jadi berpikir, buku ini pasti lebih keren kalo ada foto-fotonya...
Read more »

Rabu, 22 Juli 2009

Gaul Jadul

Gaul Jadul: Biar Memble Asal Kece
Q Baihaqi
GagasMedia, 2009
280 Hal.

Wahhhh… membaca buku ini, gue serasa ‘terlempar’ lagi ketika gue masih SD. Yup, buku ‘Gaul Jadul’ ini menuliskan tentang apa-apa yang in, yang trend dan happening di tahun 80-an. Mulai dari musik, film, buku, makanan, sampai program-program pemerintah di tahun 80an dibahas di sini. Cover-nya aja ada bling-bling disco ball.

Gue pun sempet terkikik-kikik sendiri, membayangkan gaya gue sendiri di tahun 80an itu. Tapi, maklum deh, karena gue masih SD, gue belom terlalu asyik bergaya-gaya. Yang gue inget (dan dibahas di buku ini), setiap malem minggu, gue wajib nonton film akhir pekan, padalah filmnya bukan untuk anak-anak sih. Gue nonton tuh, film Gita Cinta-nya Rano Karno and Yessy Gusman. Gue pernah ‘ngumpet’ di balik rambut megar tante gue, kalo nonton film serem.

Kalo hari Minggu, acara mulai dari Unyil, terus, acara musik Album Minggu Ini, lalu ada film siang-siang deh. Pernah waktu siang-siang itu ada film Oliver Twist. Nah, ketika itu tv di rumah gue lagi rusak. Kalo dinyalain, harus nunggu lama dulu, baru deh, bener-bener nyala. Dan untungnya, pas lagi film Oliver Twist, si tv hanya ngadat sebentar, jadi kita gak ketinggalan lama untuk nonton film itu.

Satu lagi, biar masih sd, kalo malem gue suka ikutan nonton Charlie’s Angels, Hunter, Remington Steel, terus, sempet ngikutin Dynasty sama Return to Eden. Kalo Little Missy sama Isaura, kaya’nya itu tontonan Nenek gue, deh. Oshin juga wajib untuk ditonton. Karena itu pas jamnya belajar ngaji di rumah, sempet kita nonton Oshin dulu, baru ngajinya dilanjutin. Ow, tentu saja gak ketinggalan serial Losmen, Pondokan, Sartika(?)

Untuk musik, gue belom terlalu ngikutin. Paling sebatas acara Aneka Ria Safari. Tapi, buku… buku-buku Enid Blyton, harus ada di lemari buku gue. Mulai dari Lima Sekawan, St. Claire, si Badung sama Malory Towers. Gue sempet pengen banget sekolah di tempat kaya’ Malory Towers. Dan sekarang, gue menyesal udah menghibahkan buku-buku itu ke sodara gue.

Acara radio yang nyaris gak pernah absen gue ikutin adalah siaran ‘Diary’ sama ‘Catatan si Boy’ di radio Prambors. Tapi, kalo ‘Diary’ buntutnya suka serem sih ceritanya, dan ‘Catatan si Boy’ sukses bikin gue pengen cowok seperti dia. Siapa yang gak mau punya cowok keren, tajir, alim lagi pula pintar? Huehehehe…

Kenapa jadi ngebahas gue ya?? Hehehe… tapi, mari kita bahas bukunya. Gue bukan penggemar buku-buku non-fiksi, jadinya, gue sedikit menganggap buku ini garink. Mau lucu-lucuan, juga kurang kena. Mau santai, sedikit deh. Gue sih, seneng aja, membacanya, buat mengenang masa lalu. Ada yang kurang, kaya’ model baju, kaya’nya hanya dibahas sekilas di film-nya mas Boy, model-model kondang jaman 80an gak disebut-sebut. Terus, aduuhh.. tadi gue inget tuh apalagi yang kurang… tapi, koq jadi lupa ya?? O ya, tempat-tempat gaul yang happening juga gak ada (semoga gue gak terlewat). Atau, lagi saat-saat demam badminton kalo ada kejuaraan Piala Thomas atau Piala Uber… kan seru juga tuh kalo ditulis. Pahlawan olahraga jaman 80an juga gak ada. Tapi, ya, mungkin emang gak bisa dibahas abis di sini kali ya…

Yang pasti, gue ngelewatin bagian ‘Bayi Ajaib’ sama ‘Suzanna’… gue gak mau pas mau tidur, gue terbayang-bayang.. hehehehe..

Sebagai debut pertama… Babah Q, boleh juga… mungkin bisa dibuat buku jilid 2-nya? Meskipun banyak bagian yang kriuukkkk…

Read more »

Senin, 20 April 2009

Honeymoon with My Brother

Honeymoon with My Brother
Bertualang Keliling Dunia Gara-gara Putus Cinta
Franz Wisner @ 2005
Berliani M. Nugrahani (Terj.)
Penerbit Serambi – Cet. II, Desember 2008
485 Hal.

Diputusin pacar kaya’nya udah gak enak banget. Kaya’nya semangat untuk hidup dan beraktivitas lain udah gak ada. Apalagi yang namanya ditinggalin pasangan, calon pendamping, hanya seminggu sebelum hari pernikahan. Kebayang gak, gedung udah ok, catering, dekorasi, undangan udah tersebar dan tinggal menunggu sodara-sodara jauh pada dateng… tau-tau… jeng… jenggggg… si CMP or CMW bilang, “Ma’af, aku gak bisa meneruskan ini semua.” Hah… alesannya? Cuma gak bisa… gak ada penjelasan lain.

Franz Wisner, mengalami hal ini. Harusnya Sea Ranch, sebuah daerah di Pesisir California, jadi saksi ketika mereka mengucapkan sumpah yang sakral itu. Harusnya, kue buatan LaRue, nenek tiri Franz, jadi kue pengantin yang paling indah. Bulan madu ke Kosta Rica juga hanya tinggal kenangan. Annie, ‘mencampakkan’ Franz dengan alasan yang tidak jelas itu.

Beruntung Franz memiliki keluarga, teman-teman yang memberi dukungan. Pesta tetap ada, hanya saja tidak ada mempelai wanitanya. Di Sea Ranch juga, teman-teman Franz menghiburnya. Franz yang tentu saja terpukul, tidak langsung jadi terpuruk dan berlarut-larut dalam kesedihan. Malah ia mengajak adiknya, Kurt, untuk tetap melaksanakan perjalanannya ke Kosta Rika.

Ternyata perjalanan itu memberikan inspirasi positif bagi Franz dan Kurt. Franz yang selama ini tidak terlalu dekat dengan Kurt, merasa inilah saat melakukan sesuatu yang berbeda. Tak hanya kehilangan kekasih, tapi di tempatnya bekerja pun, Franz ‘dicampakkan’ oleh atasannya. Gara-gara ini, rencana ‘gila’ pun disusun. Bersama Kurt, yang juga mengalami masalah rumah tangga, Franz merencakan sebuah ‘bulan madu’ bersama adiknya. Padahal, dia sendiri tidak tahu, bagaimana ia harus menghadapai Kurt yang selama ini tidak terlalu dikenalnya.

Rencana perjalanan segera disusun. Budget segera dihitung – ada dari bonus, ada dari hasil penjualan rumah. Didukung oleh LaRue, mereka pun pergi. Perjalanan mereka pertama menuju ke Eropa Timur. Perjalanan yang tidak selalu mulus, karena di awal saja, mereka sudah harus kehilangan paspor, padahal visa-visa untuk masuk ke negara-negara yang susah sudah diurus dan sudah ok. Kurt, yang lebih santai, selalu punya banyak akal. ‘Kesialan’ kecil di awal tidak menyurutkan langkah mereka.

Di Eropa Timur, mereka berkeliling dengan mobil baru Kurt menuju Rusia, Swedia, Rumania. Di Praha, Franz terlibat hubungan singkat dengan seorang perempuan.

Dari benua Eropa, Franz dan Kurt menuju Asia Tenggara – menuju Indonesia, Thailand, Kamboja, Vietnam. Indonesia… tentu saja mampir ke Bali, tapi, ternyata, buat mereka Bali terlalu ramai – meskipun mereka kagum dengan adu ayam-nya, sampai akhirnya mereka mempersingkat kunjungannya ke Bali dan menyepi ke Lombok dan bertemu sesama backpackers yang ternyata punya ‘dewa’, terus, ke Pulau Komodo demi ngeliat Komodo.

Setelah dari Asia Tenggara, mereka menuju Amerika Utara dan Selatan – Brazil membuat Franz jatuh cinta dan membuatnya ingin berkunjung ke sana sekali lagi.

Perjalanan berakhir di Benua Afrika, yang katanya mereka, merupakan ujian terberat selama perjalanan mereka yang menempuh waktu dua tahun itu. Di sana, semua pelajaran lengkap bisa didapat – tertawa ketika anak-anak kelaparan memeluk kaki mereka, ceria ketika hanya bermain di halaman karena gak ada tv, bahagia bahkan ketika lapar.

Di sela-sela ‘perpindahan’ antar benua, mereka selalu menyempatkan diri untuk pulang ke Amerika, melihat anjing-anjing Kurt, menengok LaRue yang selalu mereka kirimi kartu pos di setiap persinggahan mereka – LaRue yang menempelkan paku-paku di peta, menandai jejak-jejak Franz dan Kurt.

Perjalanan panjang ini membuat Franz semakin bersyukur dengan apa yang dia miliki, dan belajar merelakan apa yang sudah lepas dari dirinya – terutama yang menyangkut soal Annie. Bergaul dengan penduduk setempat dan bernegosiasi sendiri dengan petugas travel, hotel, mereka pun jadi gak percaya dengan yang namanya Lonely Planet. Foto Franz dengan George W. Bush jadi jimat mereka untuk lolos dari dari polisi yang reseh. Banyak hal yang serius, tapi juga kocak. Misalnya saat Franz cerita tentang supir taksi yang paling menyebalkan. Perjalanan panjang mereka ini akhirnya menarik minat koran-koran di Amerika, sehingga Franz pun jad ‘wartawan travel’ dadakan.

Buku-buku traveling begini selalu membuat gue iri, selalu membuat gue bertanya-tanya, kapan gue bisa jalan-jalan, gak usah keliling dunia, tapi keliling Indonesia dulu aja deh… Karena ini cerita perjalanan a la backpacker, tempat-tempat yang didatangi mereka jadinya unik-unik, bukan apa yang ada di brosur biro travel, tapi justru dari rekomendasi teman-teman atau malah penduduk setempat.

Gue ikut ‘terpukau’ dengan perjalanan mereka. Bahkan ikutan ngerasa capek ketika mendekati akhir perjalanan. Serasa pengen cepet-cepet sampai rumah, tapi masih belum mau liburan berakhir. Jarang-jarang, gue bisa suka sama buku non-fiksi seperti ini. Kemasan cerita jalan-jalan bikin menarik. ‘Pelajaran’ didapat dengan cara-cara yang gak terlalu serius, tapi tetap ‘dalam’.
Read more »

Senin, 21 April 2008

Catatan Hati Seorang Istri

Catatan Hati Seorang Istri
Asma Nadia @ 2007
Lingkar Pena, Cet, I - Mei 2007
224 Hal.

Jika kau kira
dengan sebelah sayap
aku akan terkoyak
maka camkanlah
dengan sebelah saya itu
akan kujelajah samudera
dan gemintang di angkasa

(Hal. 45)

Wah, menulis komentar tentang buku ini, rasanya susah banget. Ya.. emang sih, gue gak terlalu bisa menceritakan kembali buku non-fiksi. Apalagi buku ini isinya tentang pengalaman pribadi Penulis atau pun para nara sumber. Jadi, sepertinya, yang bakal gue tulis di bawah ini adalah komentar pribadi untuk buku yang lumayan memberi inspirasi dan nyaris membuat gue menitikkan air mata. (hmmmm… ternyata hati gue masih rada ‘batu’, makanya belum bisa nangis….)

Di buku ini, Asma Nadia menguraikan berbagai bentuk penderitaan perempuan. Bisa dilihat dari puisi di atas. Bukan saja dari segi fisik tapi dari segi perasaan, batinnya… Menggambarkan kuatnya, sabarnya dan tabahnya perempuan biar udah digempur segala macam bentuk cobaan dari yang ringan sampe yang bisa bikin seseorang yang mungkin gak kuat, bakal kehilangan arah dalam hidup.

Gue terus terang, takjub (tapi juga kadang gemas dan sempat berpikir negatif), ketika ada perempuan yang tetap membanggakan suaminya, meskipun suaminya itu ternyata tidaklah sesempurna yang ia impikan. Alasannya, karena si laki-laki adalah hal terbaik yang pernah datang dalam hidupnya (hal. 29). Atau, gimana seorang perempuan masih bisa senyum ketika tahu suaminya ‘bermain ke tempat terlarang’ atau menikah lagi.

Gue pun berpikir, bisakah gue sesabar itu dan bisakah gue tersenyum andaikan gue tau, suami gue berbuat yang tidak baik? Gue rasa nggak… Gue pasti bakal nangis dan meratapi nasib gue… Hehehe.. sekarang aja, dicuekin suami gue sedikit, gue udah sebal banget sama suami gue dan kadang menggunakan air mata untuk meluluhkan hati suami gue…

Sempat terpikir oleh gue, apakah si perempuan itu memang begitu tough… tipiskan bedanya dengan gambaran perempuan ‘bodoh’. Pastinya, kalo lagi gosip-gosip nih, dengan cerita, ada perempuan yang diem aja disakitin suami atau di-duain, atau apa pun lah yang menyebabkan dia menderita, rasanya komentar yang lebih sering gue denger (atau bahkan lebih sering gue ucapkan), adalah, “Bodoh banget sih tuh cewek…!” Padahal, perempuan itu mungkin perempuan yang akan dimuliakan di mata Allah…

Cerita di buku ini yang paling berkesan buat gue adalah yang judulnya, “Jika Saya dan Suami Bercerai?” (Hal 34). Membuat gue sadar betapa tipisnya antara cinta dan benci… Gimana pasangan yang awalnya saling puji, saling cinta dan sayang, tiba-tiba berbalik jadi saling menyerang dan mengumbar kejelekan masing-masing. Dengan cerita ini, gue bilang sama suami gue, harus bisa saling menjaga hati, emosi dan kata-kata. Satu kalimat yang gue suka adalah: “,,, tidak ada seorang pun yang berhak merusak kenangan indah yang dimiliki anak-anak tentang ayah dan bunda mereka.” (Hal. 38).

Semua perempuan berhak untuk bahagia, meskipun ada luka di hati mereka… (Aiihh…)… So, keep fighting, never give up… Mudah-mudahan, gue bisa jadi perempuan yang lebih sabar dan ikhlas… (inilah intinya… Ikhlas….)
Read more »

Senin, 24 Maret 2008

Kick Andy: Kumpulan Kisah Inspiratif

Kick Andy: Kumpulan Kisah Inspiratif
Gantyo Koespradono @ 2008
Penerbit Bentang, Cet. I – Maret 2008
274 Hal.

Buku ini bukan merupakan biografi seorang Andy F. Noya tentang perjalanan karirnya sebagai seorang wartawan. Juga bukan rahasia dapur Kick Andy, salah satu acara talk show di Metro TV di mana Andy F. Noya bertindak sebagai host-nya. Kisah di balik layar Kick Andy hanya diceritakan sedikit saja di bagian awal buku ini. Buku ini memang merupakan beberapa kisah yang pernah tampil di acara Kick Andy yang disiarkan setiap hari Kamis malam.

Kick Andy pada awalnya diciptakan karena pimpinan Metro TV ingin memaksimalkan kemampuan Andy Noya, yang meskipun punya suara biasa-biasa saja, tapi mampu menggali informasi yang ‘disembunyikan’ narasumber. Maka diputuskan untuk membuat sebuah acara talk show dengan format menggabungkan bentuk talk show model Oprah Winfrey dan Larry King. Tapi, sempat ada kekhawatiran, siapa yang akan menonton acara ini?

Tapi, ternyata Kick Andy mampu merebut hati pemirsa televisi di tengah-tengah banyaknya acara sejenis yang lebih menghibur. Karena, coba aja liat, Kick Andy mungkin bisa dibilang ‘garing’ jika dibanding sama Dorce Show, Ceriwis atau Lepas Malam. Tapi, toh, Kick Andy menawarkan sesuatu yang berbeda. Andy Noya bisa juga membuat penontonnya tertawa dengan pertanyaan-pertanyaan simple tapi mampu membangkitkan emosi tamu Kick Andy.

Kick Andy menampilkan tamu-tamu yang berbeda dari talk show lain yang kebanyakan mengundang selebritis. Kick Andy tak hanya mengundang para seleb, tokoh politik, tapi juga orang-orang ‘biasa’ yang mungkin tak pernah kita kenal sebelumnya, seperti Ibu Rabiah – sang Suster Apung, Kiyati, yang mencari ibu kandungnya setelah terpisah selama 30 tahun.

Kick Andy juga mengundang tamu-tamu yang kontroversial, seperti Hercules – preman Tanah Abang, Xanana Gusmao atau Mayor Alfredo.

Kisah-kisah lain dalam buku ini antara lain adalah tentang Anggun C. Sasmi yang memilih jadi warga negara Perancis, Sri Sultan Hamengkubuwono X yang menolak dicalonkan jadi gubernur, pasangan gay yang menikah, anak-anak yang berada dalam LP Anak Tangerang dan masih banyak lagi.

Sesuai motonya, Kick Andy mengajak pemirsa untuk menonton dengan hati, bukan untuk cari gossip terbaru.

Buat gue, gak terlalu istimewa membaca buku ini dibanding menonton langsung acara Kick Andy di televisi. Kesannya datar aja. Banyak kalimat-kalimat yang ditulis berulang kali. Misalnya, tentang Ibu Rubiah yang terpaksa memakai cairan infus yang kadaluarsa (ditulis di hal. 252 dan 254). Bahkan cerita tentang Tiara Lestari yang terpaksa tiduran di atas batu karang selama satu jam, ditulis 2 kali di halaman yang sama (hal. 233)
Read more »

Selasa, 16 Oktober 2007

168 Jam dalam Sandera

168 Jam dalam Sandera: Memoar Jurnalis Indonesia yang Disandera di Irak
Meutya Hafid
Penerbit Hikmah - Cet. 1, September 2007
280 Hal.

Ketika berita tentang penyanderaan dua jurnalis Metro TV di Irak oleh tentara Mujahidin, rasanya, gue ikutan ngerasa deg-degan… mmm… terlalu sering nonton film dan baca berita di Koran, membuat gue ikut ketakutan, akan apa yang bakal terjadi sama Meutya Hafid, reporter, dan Budiyanto, juru kamera yang bertugas di Irak itu. Dan ikut bersyukur ternyata keduanya bisa selamat, tanpa kekurangan satu apapun.

Waktu ada rekonstruksi kejadian di Metro TV pun, gue juga merinding membayangkan keadaan yang sebenarnya (hmmm… agak-agak hiperbola gak sih?)

Dan sekarang, Meutya Hafid menulis pengalamannya selama berada dalam penyanderaan. Di buku ini, Meutya menggambarkan detik-detik awal terjadinya penculikan mereka di sebuah POM bensin. Meskipun sudah dijelaskan bahwa mereka adalah jurnalis yang tidak mempunyai kepentingan politik, tetap saja para penculik itu tidak peduli.

Mereka bertiga, Meutya, Budiyanto, dan Ibrahim, supir yang membawa mereka selama berada di Irak, dibawa ke sebuah gua di gurun pasir, yang untuk melarikan diri pun rasamnua suatu hal yang akan berakhir pada kematian yang sia-sia.

Selama berada dalam penyanderaan, para penyandera bersikap cukup baik pada mereka. Mereka dilayani layaknya tamu yang sedang berkunjung. Disediakan makanan yang enak, yang pastinya bakal menggugah selera seandainya berada dalam keadaan dan tempat yang lebih baik.

Berhari-hari tanpa kepastian, akhirnya setelah gambar bahwa mereka benar-benar disandera, dan presiden SBY juga langsung membuat siaran untuk meminta mereka dibebaskan, akhirnya, kabar bahwa mereka akan dibebaskan pun tiba. Tapi, ternyata, gak semudah itu, kesabaran dan kepasrahan mereka lagi-lagi diuji, karena ternyata, prosesnya gak semudah itu. Di pintu perbatasan pun, ketika mereka tinggal sedikit lagi melintas dan bebas, kendala masih ada dan membuat stress dan putus asa.

Mmmm… di saat-saat seperti itu, kaya’nya keimanan seseorang bener-bener diuji. Pasrah dan sabar, juga berkepala dingin dan gak emosi, itu yang paling penting. Beruntung banget, mereka gak diperlakukan kasar dan semena-mena, malah ketika menjelang pembebasan, justru Meutya merasa kehilangan dua orang teman (yang menyandera mereka), karena sikap mereka yang semakin hari semakin hangat dan bersahabat, meskipun ada batas-batas tertentu yang tetap harus mereka tahan.

Gue jarang suka sama yang namanya buku non-fiksi, tapi, buku ini, hampir aja membuat gue terjaga semalaman, karena pengen buru-buru nyelesainnya. Gue ikutan gemes, tegang dan terharu… rasanya ikutan ngerasain gimana gak sabar dan gregetannya ketika kebebasan itu udah di depan mata, tapi, koq susah banget dicapainya…
Read more »