Tampilkan postingan dengan label youngreaders. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label youngreaders. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 April 2011

Sisters Red

Sisters Red (Dua Saudari Bertudung Merah)
Jackson Pearce @ 2010
Ferry Halim (Terj.)
Penerbit Atria – Cet 1, Februari 2011
432 Hal.

Kehidupan Scarlett dan Rosie March tiba-tiba berantakan ketika seorang pria misterius datang ke rumah mereka di suatu siang. Pria misterius itu tidak hanya merengut nyawa Oma March, hingga menyebabkan mereka harus bertahan hidup berdua, tapi juga mengakibatkan Scarlett kehilangan mata kanannya dan mempunyai bekas luka di sekujur tubuhnya.

Pria yang menawarkan jeruk itu bukanlah manusia sesungguhnya, ia adalah seorang (atau seekor?) Fenris, atau serigala jadi-jadian, atau yang biasa kita kenal dengan sebutan werewolves. Tapi, ow, jangan bayangkan werewolves ini seperti Jacob di Twilight Saga, di sini Fenris itu sangat mengerikan. Awalnya, mereka menyamar sebagai pria ganteng, rapi dan berlaku baik-baik, tapi begitu mereka berubah, sangat mengerikan dan menjijikan. Korban mereka adalah gadis-gadis muda yang gampang tergoda oleh rayuan pria. Mereka biasanya ada di tempat ramai tapi cenderung terpisah, mereka akan menggiring korban ke tempat yang gelap dan sepi dengan segala bujuk rayu, baru kemudian mereka perlahan-lahan berubah menjadi Fenris.

Kejadian mengerikan itu, membuat Scarlett bertekad untuk memburu para Fenris sampai habis. Ia menjadi sangat protektif terhadap Rosie. Meskipun ia menganggap Rosie sebagai rekannya dalam berburu, tapi sangat berat bagi Scarlett membiarkan Rosie berburu sendiri. Rosie yang cantik adalah umpan yang tepat untuk Fenris. Dengan kostum jubah merah lengkap dengan tudungnya, Scarlett dan Rosie memancing para Fenris untuk mendekat. Di balik jubah merah, tersembunyi senjata yang mematikan.

Semakin lama, berburu Fenris menjadi semacam obsesi bagi Scarlett. Baginya jika ia bersantai dan lengah sedikit, berarti akan ada gadis lain yang menjadi korban. Ia merasa tugasnyalah untuk menyelamatkan dunia ini dari Fenris. Tapi tidak bagi Rosie, yang diam-diam jatuh cinta pada sahabat mereka sejak kecil, Silas. Silas tak lain, adalah partner mereka juga dalam berburu. Dan Scarlett kerap marah setiap perhatian mereka berdua teralihkan dari berburu. Sementara Rosie merasa ia harus setia pada Scarlett yang sudah berkorban begitu besar untuk menyelamatkan nyawanya.

Masalahnya sekarang ini, adalah pergerakan Fenris yang semakin cepat, karena mereka sedang berburu Calon Fenris baru – seorang putra ketujuh dari putra ketujuh, tepat sebelum datangnya bulan purnama. Scarlett semakin tegang, sementara Rosie dan Silas – meskipun dengan rasa bersalah – menginginkan kehidupan lain di luar berburu. Mereka berburu hingga ke Atlanta, untuk mencegah jangan sampai Fenris menemukan sang Calon.

Yang pertama menarik perhatian gue, tentu saja covernya. Setelah sekian lama tertunda, akhir gue berhasil mendapatkan novel ini lewat barter dengan My Milky Way. Gue suka dengan ketiga tokoh utama dalam novel ini. Scarlett, yang sangat protektif, sampai-sampai dia lupa ada dunia lain yang begitu luas. Terkadang ia minder dengan luka-lukanya. Si Cantik Rosie, yang rapuh, tapi pintar dalam hal melempar pisau. Ia masih kerap gugup ketika menghadapi Fenris, tapi jadi berani saat orang-orang yang dia sayangi dalam bahaya. Sementara Silas, seolah menjadi sahabat, pelindung, penyeimbang bagi mereka berdua. Memang agak mengerikan ya, ngebayangin dua perempuan, remaja, bertarung melawan serigala jadi-jadian. Kena cakar, udah biasa… nyium bau yang *hueeekkk*, juga biasa… Lempar kapak, ok… lempar pisau… ok juga… Dan yang pasti, jangan sampai Fenris itu lolos, karena mereka akan jadi lebih lapar, dan mencari mangsa lebih banyak.
Read more »

Selasa, 13 Juli 2010

The Leap

The Leap
Jonathan Stroud @ 2001
Hyperion/Miramax Books - 2004
240 Hal.


Charlie tidak percaya kalau sahabatnya, Max, sudah meninggal. Max meninggal karena tercebur ke dalam kolam di sebuah pabrik. Charlie yakin kalau Max masih hidup, tapi Max hanya terjebak di alam lain, dan Charlie merasa ia harus mencari Max.

Semua orang beranggapan Charlie depresi karena kehilangan sahabatnya. Tidak ada yang percaya dengan cerita Charlie. Bahkan Charlie sampai dibawa ke seorang psikiater, agar Charlie mau bicara dan keluar dari rasa kehilangan. Charlie jadi sosok yang menjauh dari keluarganya. Ia memilih berdiam diri karena jika ia bicara orang akan beranggapan ia mulai gila.

Charlie seolah mendapat ‘titik terang’ untuk bertemu Max kembali, ketika ia sadar dalam tidurnya ia bermimpi ada sebuah tempat dan melihat ada sosok Max. Charlie yakin ia bisa bertemu Max lagi. Dan sejak itulah, Charlie melakukan berbagai aktivitas yang melelahkan agar ia bisa tidur cepat dan kembali bermimpi.

Ibunya bahkan psikiaternya merasa kembalinya Charlie beraktivitas adalah hal yang positif. Hanya, James, kakaknya, yang merasa tetap ada sesuatu yang aneh dari diri Charlie. Ia yakin, Charlie menyembunyikan sesuatu.

Mimpi-mimpi Charlie semakin panjang dan tampak mulai ‘nyata’. Charlie kerap menuliskan mimpinya ke dalam buku hariannya. Di mimpinya, Charlie bertemu dengan ‘seseorang’ yang menjadi penunjuk jalan untuk bertemu Max. Charlie jadi semakin aneh. Ia akan marah kalau James membangunkannya.

Charlie semakin masuk ke dalam mimpinya dan makin lama, malah makin jauh dari dunia nyata. James merasa ia harus menyelamatkan Charlie dari apa pun itu.

Gue mendapatkan buku ini dari hasil bookmooch. Udah lama banget, mungkin dari sekitar tahun 2008. Gue me-mooch buku ini pas lagi ‘tergila-gila’ sama The Bartimaeus Trilogy. So far, masih ada 2 buku Jonathan Stroud lagi yang menanti untuk dibaca.

Gue nyaris gak menyelesaikan buku ini. Karena bikin ngantuk. Bukunya ‘sepi’ banget. Gue merasa jadi ikut melayang-layang dalam mimpinya Charlie. Ikut berjalan jauh tapi gak tau di mana tujuan akhirnya. Hanya kalo ada giliran James yang cerita gue jadi merasa ada selingan. Dan hanya di bagian akhir gue jadi ikut-ikutan ‘terburu-buru’, bisa karena gue keburu-buru ‘ngikutin’ James, atau terburu-buru karena pengen cepet selesai.
Read more »

Rabu, 30 Juni 2010

Harry and the Treasure of Eddie Carver

Harry and the Treasure of Eddie Carver (Harry dan Geng Keriput Berburu Harta Karun)
Alan Temperley @ 1997
Hidayat Saleh (Terj.)
GPU – Agustus 2008
512 Hal.

Well… meskipun Percy Pops alias Kolonel Priestly sudah tertangkap dan dipenjara di Penjara Bukit Cony. Tampaknya Harry dan Geng Keriput belum bisa tenang. Ternyata Gestapo Lil justru masih bebas dan masih ada di Fellon Grange. Malahan komplotan mereka bertambah satu orang, yaitu Mad Ruby yang tak lain adalah ibu dari Percy Pops! Wah, urusan jadi tambah kacau, mengingat mereka menyimpan dendam pada Harry dan Geng Keriput.

Sementara itu, Geng Keriput merencanakan sebuah misi mulia, yaitu mencari dana untuk disumbangkan ke Afrika. Untuk itu tentu saja butuh dana besar. Kebetulannnn… Geng Keriput mendengar bahwa ada seorang narapidana bernama Eddie Carver yang menyimpan harta jarahannya di sebuah tempat yang tidak seorang pun mengetahuinya.

Dicarilah jalan untuk mendekati Eddie Carver. Tapi, Komplotan Percy Priestly juga mengincar harta itu. Dan, kebetulan lagi, Eddie Carver meninggal dalam sebuah kecelakaan ‘misterius’ di dalam penjara. Tak lama kemudian, Percy Priestly kabur dari penjara.

Kaburnya Percy Pops tentu saja jadi mimpi buruk untuk Harry dan Geng Keriput. Geng Keriput yang masih terus mencari di mana lokasi harta karun itu berada. Dengan segala riset dan penyelidikan, membawa mereka ke Skotlandia, ke sebuah pulau, di mana diyakini harta itu ada.

Sayang, Kompoltan Percy Pops juga tidak tinggal diam. Dengan segala cara, mereka juga berusaha mengambil harta karun itu. Mulai dari menyandera Harry sampai menyusul ke Skotlandia. Tapi, tetap aja, Harry lebih cerdik dari mereka.

Harry sempat ‘terjebak’ dilema, dan bertanya-tanya, apakah yang dilakukan bibinya dan teman-temannya ini salah apa betul? Mereka ‘mengambil’ sebagian harta orang kaya demi membantu orang-orang miskin. Hmmm… tapi, ternyata Harry menikmati juga tuh, aksinya bersama The Wrinklies…

Buku kedua makin kocak. Gue jadi ngebayangin film komedi kaya’ Home Alone, yang penjahatnya meskipun udah amburadul, berantakan, babak belur, tapi tetap aja bisa beraksi dan bikin ulah baru. Coba ada ilustrasinya, pasti buku ini makin seru dan kocak.
Read more »

Kamis, 11 Februari 2010

Magic or Madness (Rahasia Sihir)

Magic or Madness (Rahasia Sihir)
Justine Larbalestier @ 2005
Meilia Kusumadewi (Terj.)
GPU, Januari 2010
320 hal.

Sejak kecil, ibu Reason Cansino – Serafina, selalu menekankan bahwa sihir itu tidak ada, bahwa sihir itu jahat, dan nenek Reason yang bernama Esmeralda memiliki sihir yang artinya mereka harus menghindar dari Esmeralda. Reason dan Serafina selalu berpindah-pindah. Jika mereka merasa tidak aman di suatu lokasi, mereka akan mencari tempat baru. Serafina mengajari Reason adanya tanda-tanda sihir, seperti bunga-bunga kering, bulu-bulu dan berbagai tanda lainnya. Bahkan Serafina kerap menceritakan berbagai hal mengerikan yang dilakukan Esmeralda untuk memperkuat sihirnya.

Suatu hari, Reason terpaksa ikut dengan Esmeralda untuk tinggal bersamanya karena Serafina jadi gila dan harus masuk rumah sakit jiwa. Reason mengikuti semua yang pernah diajarkan ibunya: jangan pernah menatap Esmeralda, jangan makan atau minum apa pun yang ada di rumah Esmeralda, jangan bersentuhan dengan Esmeralda, jangan menjawab apa pun.

Tapi, Reason agak terkejut ketika mendapati rumah Esmeralda tidaklah semengerikan yang digambarkan Serafina. Ketika Esmeralda tidak ada di rumah, Reason segera menyelidiki rumah itu. Ia menemukan beberapa tanda-tanda seperti yang sudah diberitahu ibunya. Bahkan Reason menemukan ruang bawah tanah dan sebuah kunci. Reason juga berkenalan dengan anak laki-laki bernama Tom, yang tampaknya melihat bahwa Esmeralda adalah sosok yang baik. Tom ini anaknya agak unik, suka menjahit dan merancang busana. Setiap orang yang ia temui, akan selalu dinilai dari pakaiannya, kain apa yang ia pakai. Bahkan, Tom berjanji untuk membuatkan Reason celana kargo. Tom juga bercerita tentang misteri perempuan-perempuan di keluarga Cansino.

Reason berencana akan melarikan diri. Ia memeriksa semua pintu dan jendela. Sampai di suati pagi, ia membuka pintu belakang yang selama ini terkunci, dan mendapati dirinya ada di tempat yang sama sekali berbeda. Di Australia, tempat Reason tinggal, sedang musim panas, tapi di tempat yang ‘seharusnya’ taman belakang rumah Esmeralda malah bersalju! Akhirnya, Reason sadar, bahwa sihir itu benar-benar ada.

Tempat itu ternyata adalah Amerika, di mana ia bertemu dengan Jay-Tee, seorang gadis yang ditugaskan oleh laki-laki misterius untuk menjemput Reason. Laki-laki itu bernama Jason Blake, ia mengincar kekuatan sihir Reason. Sebuah kekuatan sihir yang ternyata tidak disadari oleh Reason. Sementara itu, menyadari Reason menghilang, Tom dan Esmeralda pun mencari Reason ke Amerika – lewat pintu belakang tentunya.

Gue sempat agak tersendat-sendat membaca buku ini. Bukan karena gak bagus, tapi ya… karena faktor-faktor ‘X’… seperti ngantuk, karena ada bagian-bagian yang agak membosankan. Tapi, di buku setebal 320 halaman ini, banyak misterinya, misalnya tentang misteri perempuan di keluarga Cansino yang meninggal muda, ayah Reason yang entah di mana, kenapa Jay-Tee takut sama ayahnya, bahkan keluarga Tom pun ada misteri tersendiri yang tidak terjawab sampai buku ini selesai. Mungkin, di buku-buku selanjutnya, misteri ini bakal terjawab.

Gue sih lumayan suka sama buku ini, soalnya, dari berapa cerita sihir-menyihir yang gue baca, masih ada ‘bau-bau’ Harry Potter. Tapi, untuk ukuran cerita sihir remaja, cerita ini agak gelap dan serius. Sihir di sini bukan jadi ‘penyelamat’ tapi malah ‘mematikan’, karena kalau gak pinter-pinter dipakai, malah akan mengurangi umur si penyihir! Yang menarik juga karakter Reason yang polos dan bakat istimewanya dalam hal matematika, plus juga karakter Tom yang unik (bahkan lucu – menurut gue.. ya jujur aja.. karakter Tom jadi penyegar karena lebih ceria dibanding yang lain).

Read more »

Kamis, 04 Februari 2010

Ghostgirl

Ghostgirl
Tonya Hurley @ 2008
Berlian M. Nugrahani (Terj.)
Penerbit Atria, Cet. IV - Januari 2010
402 Hal.


Memasuki tahun ajaran baru, Charlotte Usher datang dengan semangat tinggi dan rasa percaya diri yang baru. Ia sudah mempersiapkan berbagai rencana untuk menjadi seseorang yang lebih diperhatikan, terutama untuk memikat Damen, cowok pujaannya di Hawthorne High. Sebagai seorang cewek yang amat sangat biasa, mimpi jadi cewek populer memang terasa jauh. Charlotte malah lebih seperti seorang ‘pecundang’. Charlotte seperti ‘hantu’, dicuekin, diacuhkan, bahkan dianggap tidak ada. Apalagi oleh seorang cewek paling populer di sekolah bernama Petula, plus dua anggota gank-nya yang bernama The Wendys. Charlotte pengen banget jadi salah satu di antara mereka, dan demi mencapai tujuan akhirnya – yaitu agar bisa dekat dengan Damen yang ternyata adalah pacar Petula. Charlotte nekad daftar jadi anggota pemandu sorak, meskipun harus dihujani dengan cibiran dan ejekan.

Keberuntungan berpihak pada Charlotte, ketika di kelas fisika, setiap murid diharuskan berpasang-pasangan. Damen yang datang terlambat, terpaksa harus berpasangan dengan Charlotte yang tentu saja dengan suka cita menerimanya. Tapi, ternyata, kesenangan Charlotte hanya sesaat. Charlotte yang gemar makan permen kenyal, meninggal dunia gara-gara permen kesukaannya itu. Gara-gara terlalu heboh, Charlotte jadi tersedak.

Merasa masih punya urusan yang belum terselesaikan di Alam Kehidupan, Charlotte pun tidak bisa menerima bahwa dia sekarang berada di Alam Kematian – bersama-sama dengan Anak-anak Alam Kematian lainnya. Charlotte adalah ‘penumpang’ terakhir, dan setelah itu ‘rombongan’ Anak-anak Alam Kematian siap untuk ‘pindah’ ke Alam Keabadian. Gak hanya di Alam Kehidupan, di Alam Kematian pun, Charlotte masih harus bersekolah, belajar Pendidikan Kematian, bahkan ada Deadtiquette dan harus rajin mengisi DIEary.

Tapi, Charlotte masih punya ‘agenda’, Charlotte masih ingin jadi bagian dari gank populer dan dekat dengan Damen. Untuk itu, Charlotte memanfaatkan tubuh Scarlet, adik Petula yang kebetulan bisa melihat wujud Charlotte yang sekarang. Charlotte dan Scarlet bertukar tempat. Dengan menggunakan tubuh Scarlet, Charlotte bisa bebas berdekatan dengan Damen. Di luar kemauan Charlotte, rencana itu tidaklah mulus. Adakalanya Scarlet tidak rela Charlotte dengan seenaknya bertindak di luar kepribadian Scarlet yang sebenarnya.

Di Alam Kehidupan, rencana kerap berantakan. Di Alam Kematian, Charlotte juga harus berurusan dengan Prue, hantu yang galak dan selalu jutek dengan kehadiran Charlotte. Tempat para hantu bergentayangan adalah sebuah rumah bernama Hawthorne Manor. Para hantu yang kebanyakan meninggal saat remaja itu, harus berjuang keras agar rumah itu tidak dijual dan dihancurkan. Prue dan hantu lainnya marah karena sikap Charlotte yang cuek dan masih terus berurusan dengan para manusia.

Sementara Charlotte berjuang demi menuntaskan urusannya di Alam Kehidupan (hehehe.. biar gak jadi arwah penasaran kali ya), teman-temannya di Alam Kematian berjuang untuk menyelamatkan Hawthorne Manor.

Menurut gue, buku ini termasuk buku yang kocak dan tragis. Gue sih lucu aja membayangkan Charlotte yang mati-matian biar diterima di gank populer. Meskipun dicuekin tapi maju terus pantang mundur. Bercerita tentang kematian, tapi gak spooky. Ternyata meskipun udah meninggal, gak mudah untuk menerima takdir dan kenyataan itu. Mungkin gitu kali ya, gambaran yang namanya ‘arwah penasaran’ ? (kalo itu emang ada). Ketika nyaris mencapai tujuan… ehhhh… semua berubah drastis… poor Charlotte…
Read more »

Selasa, 06 Oktober 2009

The Secret Garden

The Secret Garden: Persahabatan Sejati di Tengah Taman Rahasia
Frances Hodgson Burnett @ 1909
Rien Chaerani (Terj.)
Qanita, Cet. I - Agustus 2009
460 Hal.

Satu lagi karya klasik diterbitin sama Qanita. Kali ini adalah The Secret Garden (dulu kalo gak salah sih, pernah diterbitin sama Gramedia dengan judul Kebun Rahasia – menyesal buku ini hilang).

Cerita tentang Mary Lennox, anak perempuan yang nyaris sebatang kara. Mary lahir di India. Sejak lahir, ibunya langsung menyerahkan pengasuhan Mary kepada seorang ayah – pengasuh dari kalangan penduduk pribumi, karena ia tidak menginginkan anak perempuan. Mary juga praktis tidak pernah bertemu dengan ayahnya yang sibuk dengan pekerjaannya.

Mary tumbuh menjadi anak yang manja, keras kepala dan pemarah. Ia tidak peduli pada apa pun, sama halnya dengan nyaris tidak ada yang peduli dengan dirinya. Bahkan ia hampir saja terlupakan ketika wabah penyakit menyerang dan orang tua serta ayah-nya meninggal karena penyakit itu. Ia terlupakan di tengah rumah yang besar dan sepi, untung saja ada seorang tentara yang menemukannya.

Mary kemudian pergi ke Inggris, tempat di mana pamannya, Mr. Craven tinggal. Ia adalah wali Mary dan tentu saja wajib untuk mengurus Mary sampai ia dewasa. Mr. Craven sangat misterius, ia sering bepergian dan meninggalkan rumahnya yang besar. Mary tinggal bersama para pelayan dan sibuk dengan urusannya masing-masing. Mary boleh bermain di mana saja, asal jangan masuk ke sebuh kebun yang tertutup dan terkunci selama sepuluh tahun.

Mary sempat membuat Martha, salah satu pelayan di rumah itu bingung. Mary terbiasa dilayani, bahkan untuk urusan memakai sepatu dan baju. Tingkah laku Mary juga sangat menyebalkan.

Tapi, ketika ia ‘bertualang’ di luar, menghirup udara segar, dan tentu saja mencari kebun rahasia, membuat Mary jadi lebih ceria, jauh berbeda dari saat ia pertama kali datang. Perkenalannya dengan Dickon – adik Martha, juga memberi warna tersendiri dalam hari-harinya. Dickon yang bersahabat dengan berbagai binatang.

Ternyata ada satu rahasia lagi di rumah itu, rahasia besar yang sampai-sampai para pelayan tidak berani bercerita pada Mary. Rahasia tentang seorang anak laki-laki yang divonis akan segera meninggal, atau hidup dalam keadaan cacat.

Kehadiran Mary membawa perubahan besar bagi kehidupan di rumah besar yang sepi dan suram itu.

Cerita ini khas cerita-cerita persahabatan. Penuh petualangan (meskipun bukan a la Lima Sekawan), penuh rahasia, penuh makanan yang lezatttt… Gue seneng banget sekarang banyak cerita-cerita klasik yang diterbitin lagi. Membuat gue kembali bernostalgia, inget sama bacaan gue waktu masih SD dulu… hehehe..

Read more »

Wicked Lovely (Pesona yang Menawan)

Wicked Lovely (Pesona yang Menawan)
Melissa Marr @ 2008
Monica Dwi Chresnayani (Terj.)
GPU - Juli 2009
368 Hal.

Aislinn tau, dia tidak boleh menatap faery, tidak boleh bicara dengan faery, apalagi menarik perhatian faery. Itulah yang diajarkan neneknya kepada Aislinn. Neneknya selalu mengkhawatirkan keselamatan Aislinn sehubungan dengan faery-faery itu. Tapi, dia tidak pernah tau apa alasannya.

Bagaimana pun Aislinn menghindar, faery-faery tetap berkeliaran di sekitarnya. Apalagi seorang faery dengan ‘wujud’ tampan mendekatinya terus, tak peduli seberapa kuat Aislinn menolaknya.

Kenapa Aislinn yang jadi pilihan? Karena Keenan, sang Raja Musim Panas kaum Faery yakin, Aislinn-lah calon pendamping yang tepat, calon Ratu Musim Panas. Keenan benar-benar berharap akan hal itu. Karena kalau ternyata dugaan Keenan salah, Aislinn harus memegang tongkat musim dingin, dan akan mempengaruhi gadis selanjutnya untuk tidak percaya pada Keenan.

Tapi, Aislinn ingin tetap pada kehidupannya yang mortal. Apalagi ia jatuh cinta pada cowok urakan bernama Seth. Tadinya Seth adalah cowok yang senang gonta-ganti pasangan, sampai akhirnya ia memutuskan untuk menjalin hubungan lebih serius dengan Aislinn. Seth memberikan rasa aman dan nyaman pada Aisilinn yang sering meresa risih karena bisa melihat dan diikuti oleh para fey dan faery. Apalagi Seth tinggal di dalam sebuah gerbong berdinding besi – yang cukup ampuh untuk menjauhkannya dari para fey dan faery itu.

Meskipun Aislinn terus menghindar, Keenan tetap gigih mendekati Aislinn. Dengan memakai glamour – sebuah sarana penyamaran agar tampak seperti mortal – Keenan mendaftarkan diri di sekolah yang sama dengan Aislinn.

Masalah Keenan bukan hanya terletak pada ‘urusan’ mempengaruhi Aislinn, tapi juga ia harus menghadapi Beira, Ratu Musim Dingin, yang tak lain adalah ibunya sendiri. Beira adalah ratu yang kejam. Ia ingin dunia ini selalu dilingkupi oleh musim dingin yang abadi. Beira tidak ingin ada pasangan untuk anaknya yang artinya nyawa Aislinn pun terancam.

Novel ini berbau fantasi dengan nuansa ‘gelap’. Agak-agak berbau-bau gothic. Aislinn adalah tokoh perempuan yang berusaha kuat meskipun punya ketakutan. Tinggal di sebuah daerah yang tingkat kriminalitasnya tinggi, obat-obatan beredar dengan bebas di antara para pemakai.

Gue jadi ikut ‘terjerat’ pesonanya Keenan. Dan sekarang gue lagi baca buku keduanya – yang lebih nyeritain temennya Aislinn, Leslie si penggemar tattoo.

Read more »

Kamis, 20 Agustus 2009

Maximum Ride#4: The Final Warning (Peringatan Terakhir)

Maximum Ride#4: The Final Warning (Peringatan Terakhir)
James Patterson @ 2008
Poppy Damayanti Chusfani (Terj.)
GPU – Juni 2008
320 Hal.

Tampaknya Max, Fang, Angel, Nudge, Iggy, Gasman – plus Total, tidak bisa hidup ‘santai’ sedikit atau menikmati ketenangan barang sesaat. Mereka selalu hidup dalam kewaspadaan ‘tingkat tinggi’. Lengah sedikit, nyawa mereka bisa jadi taruhannya.

Meskipun, nyaris merasakan kenyamanan yang sempurna dan merasakan bahagianya punya orang tua, Max tetap saja tidak percaya dengan Jeb. Ia tahu, Jeb adalah ayahnya, tapi Jeb jugalah yang ‘menjurumuskan’ Max dan anggota kawanannya ke dalam bahaya, dikejar-kejar Flyboy yang salah satu anggotanya ternyata adalah adik tirinya. Segala macam bentuk penelitian, petugas-petugas berseragam, selalu membuat Max curiga. Karena tidak semuanya akan semulus dan selancar pada awalnya. Apa pun itu, Max yakin, pasti hanya berujung pada eksperimen mengerikan yang selalu ia terima sebagai konsekuensi menjadi remaja ‘bersayap’.

Bahkan di dalam rumah ibunya pun, Max dan teman-teman nyaris jadi ‘pizza gepeng’. Ternyata, meskipun relatif aman, masih ada yang mengincar Max dan teman-temannya.

Dr. Martinez, Ibu Max, memperkenalkan mereka pada sekelompok ilmuwan. Meski sempat curiga, Max pun mempercayai mereka, karena Ibunya juga percaya. Brigid dan teman-temannya mengajak Max dan kawan-kawan ke Antartika untuk menyelidiki pemanasan global dan mencari cara pencegahannya. Wow.. satu tugas menyelamatkan dunia yang sangat menarik… Meskipun tempatnya jauh dari kehangatan matahari yang diinginkan Max.

Seperti biasa, di antara orang-orang yang baik, pasti ada satu atau dua orang yang menjadi mata-mata, yang akhirnya membawa Max dan teman-temannya ke dalam jebakan yang berbahaya. Mereka kembali menjadi tawanan sekelompok orang-orang ‘aneh’ yang ingin melenyapkan mereka.

Buku ini gak setebal buku-buku sebelumnya, tingkat ketegangan yang ada juga gak terlalu tinggi. Max makin jago ‘menyindir’ orang. Para kawanan juga di’anugerahi’ kelebihan baru. Misalnya, Angel yang selain bisa membaca pikiran, sekarang bisa berubah jadi binatang, Nudge yang bisa ‘menarik’ besi, Iggy yang bisa ‘merasakan’ warna, bahkan bisa melihat kalau dia berada di tempat yang putih sempurna, Fang yang bisa meleburkan diri dengan warna gelap. Bahkan Total pun ‘berubah’, dia menjadi ‘anjing bersayap’!
Read more »

Selasa, 18 Agustus 2009

Joshua Files: The Invisible City (Kota yang Hilang)

Joshua Files: The Invisible City (Kota yang Hilang)
M. G. Harris
GPU, Juni 2009
384 Hal.

2012 – ramai dibicarakan orang sebagai tahun di mana dunia akan kiamat. Kenapa begitu? Kalau dihubungkan dengan buku ini, tahun itu diambil berdasarkan tahun terakhir di dalam sistem penanggalan atau kalender bangsa Maya. Betul atau tidak? Hmmm… gak tau juga deh…

Itulah yang sedang diselidiki oleh Andres Garcia, seorang arkeolog, sebelum ia dikabarkan tewas. Andres Garcia diberitakan tewas dalam sebuah kecelakaan pesawat yang dikemudikan sendiri oleh dirinya. Josh Garcia, anak Andres, tak percaya bahwa ayahnya meninggal begitu saja. Ia menduga ada konspirasi di balik kematian ayahnya.

Bagi Josh, urusan arkeolog bukanlah hal asing. Ia sering diajak ayahnya berlibur ke situs-situs tempat ayahnya mengadakan penyelidikan. Ia puna berusaha menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi. Ia membuka email-email terakhir yang dikirim ayahnya dan mendapati bahwa pembicaraan tentang codex-codex atau surat-surat berharga mengenai suku Maya, tahun 2012 adalah hal yang sangat berbahaya. Benar saja… tiba-tiba saja rumahnya dibobol maling, tempat kerja ayahnya juga dibongkar.

Bersama dua temannya, Josh nekat pergi ke Meksiko, mencari jejak terakhir yang ditinggalkan ayahnya. Sampai di sana berbagai kejutan menanti. Bukan saja bahwa ternyata Josh memiliki saudara tiri, tapi juga, ternyata ia adalah seorang pewaris takhta yang sangat penting. Sebuah hal yang menjadikannya dewasa dalam sekejap, bukan sekedar seorang bocah berusia 12 tahun lagi.

Perjalanannya sendiri tidaklah mulus, ia harus dikejar-kejar agen rahasia yang mengincar apa yang sedang dicari oleh Josh. Dia pun sampai di sebuah kota di bawah tanah, sebuah kota yang hilang bernama Ek Naab. Di sana ia segera dilantik sebagai seorang pemimpin baru, yang mewarisi apa yang juga dimiliki ayahnya.

Baca buku ini, gue teringat permainan packrat di facebook.. hehehe.. ngumpulin banyak codex buat melengkapi kartu terbesar. Tapi, buku ini menurut gue lumayan ‘rumit’, dan gue agak kesulitan membayangkan kota yang hilang di bawah tanah itu. Gue sempet berharap, kalau bapaknya Josh itu gak meninggal, tapi diculik atau apa gitu… Kaya’nya semua beban yang ada terlalu berat untuk anak sekecil Josh…

Read more »

Selasa, 21 Juli 2009

Anne of Avonlea

Anne of Avonlea
Lucy M. Montgomery
Maria M. Lubis (Terj.)
Qanita, Cet. 1 - 2009
432 Hal.

Ketemu lagi sama Anne… kekocakan, kekonyolan apalagi yang bakal diperbuat sama Anne? Apa dengan makin gede, sifat ceroboh, gak sabarannya bakal berkurang? Yuk… yuk… mari kita ikutin cerita Anne kali ini.

Anne, sekarang berumur 16 tahun. Jadi ibu guru. Dia memilih tinggal bersama Marilla daripada terus melajutkan sekolahnya. Anne yang idealis, bilang, dia akan melakukan pendekatan dari hati-ke-hati untuk menaklukkan murid-murid yang nakal, bukan dengan pukulan atau hukuman yang keras. Anne masih gadis yang penuh ‘imajinasi’ dan terus mencari ‘teman sejiwa’nya.

Berbagai peristiwa terjadi – baik yang hanya berpengaruh di Green Gables atau di Avonlea secara keseluruhan.

Green Gables kedatangan dua tamu cilik – si kembar Davy dan Dora Keith – anak dari kerabat Marilla yang meninggal dunia. Uniknya, meskipun kembar, sifat keduanya jauh berbeda. Dora Keith, anak perempuan yang manis, yang selalu penurut dan pendiam. Sedangkah, Davy Keith, anak laki-laki yang nakal, tapi polos, dia selalu punya jawaban atas apa yang dia lakukan. Davy juga anak yang pengen tahu banyak hal, mirip sama Anne waktu baru dateng ke Green Gables dulu.

Selain itu, banyak pendatang baru lain di Avonlea. Contohnya, Mr. Harrison, tetangga baru Anne dan Marilla, yang kata orang pemarah dan jorok. Ada kejadian lucu yang akhirnya membuat Anne dan Mr. Harrison berteman baik.

Di sekolah, Anne berusaha keras jadi guru yang baik. Tapi, ternyata, susah juga ‘mengendalikan’ anak-anak jadi seperti yang Anne mau tanpa kekerasan. Satu anak yang nakal dan jelas-jelas menunjukkan kebenciannya adalah Anthony Pye. Anak-anak keluarga Pye memang terkenal sebagai anak-anak yang kerap bikin masalah. Dari awal, semua orang bilang, kalau gak bisa bikin Anthony Pye jera hanya dengan kata-kata lembut harus dengan pukulan keras di pantat. Tapi, Anne tetap kukuh dan yakin ia bisa membuat Anthony Pye jatuh hati dengan caranya sendiri. Ternyata, Anne harus menelan kekecewaan karena ia tidak bisa membuktikan kata-kata itu dan ia sangat menyesalinya.

Jiwa romantis Anne berhasil mempertemukan sepasang kekasih yang sempat berpisah jauh dan lama. Di sekolah, ada murid baru bernama Paul Irving. Paul yang pemalu dan cerdas dari awal sudah membuat Anne jatuh hati. Ia kerap menjadikan Paul sebagai ‘role mode’ bagi Davy biar gak nakal. Ibu Paul sudah meninggal dan ayahnya tinggal di Boston karena pekerjaannya. Di Avonlea, Paul tinggal bersama neneknya. Suatu hari, ketika sedang berjalan-jalan dengan Diana, mereka berdua nyasar ke sebuah pondok mungil yang indah, kediaman Ms. Lavender. Nah.. .di sini Anne bener-bener ketemu teman sejiwanya… hehehe… Lewa pertemuan ini, Anne jadi tahu kisah cinta antara Mr. Lavender dan ayah Paul Irving.

Anne yang mulai beranjak remaja juga mulai berpikir tentang cowok idamannya. Bersama Diana Barry, Anne sepakat, bahwa pria idamannya adalah seperti pria-pria yang ada dalam novel favorit mereka, pria dengan tatapan mata sayu dan penuh kata-kata manis. Hahaha.. sampai-sampai Anne jadi gak sadar kalau ada yang diam-diam memperhatikannya… hmmm… siapakah dia???

Gak hanya peristiwa kocak, bahagia yang ada di dalam kisah Anne kali ini. Ada juga kisah sedih dan menggemparkan, misalnya kematian Mr. Thomas Lynde dan badai yang memporak-porandakan Avonlea. Anne juga harus kembali pergi dari Avonlea untuk memperjuangkan cita-citanya yang sempat tertunda.

Dibandingin yang pertama? Hmmm… agak beda ya.. Kalo di Anne of Green Gables, Anne masih kecil, dalam proses penyesuaian, perkenalan dan sangat gak sabaran. Kalo di Anne of Avonlea, Anne udah lebih dewasa, masih sih, suka ‘grabak-grubuk’ – ‘sradak-sruduk’, tapi, itu tuh yang bikin Anne jadi kocak. Biar udah ‘sok’ dewasa, tapi, di dalam hatinya, masih ada jiwa ‘anak-anak’ di dalam hatinya. Beneran lho… gue ketawa-tawa sendiri waktu peristiwa ‘salah sapi’ sama waktu Anne kejeblos di atap gara-gara mau liat piring antik.

Read more »

Rabu, 01 Juli 2009

George’s Secret Key to the Universe

George’s Secret Key to the Universe (Kunci Rahasia George ke Alam Semesta)
Lucy & Stephen Hawking @ 2007
(dengan Christophe Galfard)
Garry Parsons (Ilustrasi)
Andang Sutopo (Terj.)
GPU – Mei 2009
336 Hal.

Hidup George pastinya akan sangat membosankan dan semakin tidak menggairahkan kalau saja si Freddy, babi gendut peliharaannya, gak iseng menerobos pagar pembatas dan ‘mampir’ ke halaman tetangga sebelah yang bak hutan belantara. Ada apa dengan hidup George?

Jadi, George itu termasuk anak yang sering jadi incaran keisengan atau kenakalan teman-temannya di sekolah, dia termasuk anak yang pendiam dan pemalu. Mungkin George sendiri punya alasan untuk itu. Gimana mungkin George gak malu, kalau tiap hari dia bawa bekal makanan yang aneh-aneh? Orang tua George adalah aktivis lingkungan hidup, yang sering mengadakan demonstrasi untuk ‘menyelamatkan dunia dari polusi dan ilmu pengetahuan yang akan menyesatkan dunia’. Jadi, orang tua George memilih polah hidup yang cukup ‘ajaib’ di jaman yang serba modern ini. Misalnya, tidak ada listrik di rumah George - penerangan menggunakan lilin, tidak televisi, radio, apalagi computer yang sangat diidamkan George, semua bahan makanan diambil dari kebun – makanya bekal George ke sekolah bisa berupa muffin brokoli, sandwich bayam, kue labu atau juice apel hasil perasan ibu George sendiri.

Nah, suatu hari, si Freddy ini, satu-satunya hal yang membuat George merasa ‘hidup’, masuk ke pekarangan tetangga misterius. Kenapa misterius? Karena sebenarnya rumah sebelah itu sudah lama tak berpenghuni, penghuni terakhir, seorang pria tua berjenggot pergi begitu saja dan tak pernah kembali. Kebunnya sudah tak terawat. Meski takut dan sudah dilarang oleh orang tuanya, George nekat masuk dan mencari Freddy. Yang dicari ternyata sedang asyik menjilat cairan berwarna ungu yang sempat dikira racun oleh George. Cairan ungu itu adalah blackcurrant juice! Sesuatu yang belum pernah dilihat George.

Itulah awal perkenalan George dengan Annie dan ayahnya, Pak Eric – penghuni baru rumah misterius itu. Pak Eric adalah seorang ilmuwan yang sedang meneliti kemungkinan adanya planet lain yang bisa jadi tempat tinggal bagi manusia. George langsung tertarik dengan rahasia alam semesta. George diajak berkenalan dengan computer yang sangat canggih, tapi manja dan sensitive banget… namanya Cosmos. Dengan bantuan Cosmos, terbukalah sebuah portal (yang kalo di Doraemon, disebut ‘Pintu Ke mana saja’), George pun menyaksikan kelahiran dan kematian sebuah bintang.

George begitu terpesona, sampai-sampai dia tidak konsentrasi dengan pelajaran sekolahnya. Guru George yang nyentrik dan aneh, Dr. Reeper, tak segan-segan menghukum George. Dengan semangat, George bercerita tentang Cosmos, padahal sebelumnya, George sudah berjanji untuk menjaga semua hal yang terjadi di rumah Pak Eric dan merahasiakan semuanya dari siapa pun.

Ternyata, Dr. Reeper bukanlah guru biasa. Bukan kebetulan Dr. Reeper – yang dijuluki Greeper – menjadi guru di sekolah George. Dr. Reeper punya misi sendiri dalam penelitian yang dilakukan oleh Pak Eric. Yang pasti misi itu bukan untuk kebaikan, tapi, untuk dirinya sendiri. Dia pengen menguasai Cosmos untuk dirinya sendiri.

George pun bisa merasakan bertualang layaknya seorang astronot - terkena badai asteroid, nyaris terhisap ke lubang hitam. George jadi punya pandangan baru, bahwa ilmu pengetahuan itu tidak akan merusak bumi kalau digunakan dengan benar.

Buku ini keren banget. Sampai-sampai gue bilang, “Ini akan jadi warisan gue buat Mika. Semoga Mika suka buku ini.” Siapa yang gak tau Stephen Hawking – ilmuwan ngetop itu. Meskipun gue gak tau apa isi buku beliau yang ngetop itu, apa teori-teorinya - selain teori Lubang Hitam. Menarik kan, ketika seorang profesor ngarang buku untuk anak-anak (bersama anaknya sendiri). Di buku ini, diselipin foto-foto luar angkasa yang bagus, juga teori-teori alam semesta yang gak hanya diselipkan dalam percakapan antara George, Annie dan Pak Eric, tapi juga ada box-box kecil untuk tempat penjelasan yang lebih detail. Meskipun begitu, bikin buku ini jadi tambah menarik. Gue jadi inget waktu SD, gue seneng banget liat buku ensiklopedia yang ada gambar-gambar bulan, planet dan foto-foto luar angkasa yang kaya’nya ajaib dan jauhhhh banget (hehehe.. emang jauh sih…).

Dan, gue masih penasaran, apa penyebab Pak Eric dan Dr. Reeper musuhan? Apa masalahnya? Dan, apa yang bikin tangan Dr. Reeper jadi kena luka bakar? Kenapa bapak tua yang ternyata pembimbing Pak Eric dan Dr. Reeper itu pergi dan kemana perginya? Gak ada penjelasan untuk hal-hal ini, karena setiap Annie tanya, pasti aja terpotong. Hmmm… kira-kira kenapa ya? Apa akan dijelasin di George's Cosmic Treasure Hunt?
Read more »

Kamis, 05 Maret 2009

Kira-Kira

Kira-Kira
Cynthia Kadohata
Poppy Damayanti Chusfani (Terj.)
GPU, Februari 2009
200 Hal.

Katie Takeshima, anak perempuan keturunan Jepang yang tinggal di Amerika Serikat. Bersetting masa sesudah perang dunia ke 2, tahun 1950-an, warga keturunan Jepang menjadi warga minoritas yang dipandang sebelah mata oleh warga asli Amerika.

Bersama keluarganya – ayah, ibu dan kakaknya Lynn – awalnya Katie tinggal di Iowa, di mana ayah dan ibunya membuka toko kelontong, dengan harapan akan mendapat untung dengan berjualan barang kebutuhan bagi sesama warga Jepang. Tapi, ternyata, usaha itu tidak kunjung berhasil. Keluarga itu pun memutuskan untuk pindah ke Georgia. Di sana ada paman Katie, Paman Katsuhisa yang sudah lebih dulu mencoba peruntungannya.

Tapi, toh, tak banyak pilihan yang bisa diambil oleh orang tua Katie. Di Georgia, mereka bekerja lebih keras di sebuah perusahaan pengolahan ayam. Katie pun hanya tinggal ditemani Lynn. Sebagai adik, Katie sangat bergantung dengan Lynn, ditambah lagi memang sikap Lynn yang protektif terhadap adiknya. Lynn yang selalu mengajari Katie kata-kata baru – kata favoritnya adalah ‘Kira-Kira’ yang artinya ‘gemerlap’.

Keadaan tak banyak berubah, mereka masih tetap miskin. Katie dan Lynn menabung untuk membantu orang tua mereka mewujudkan mimpi mereka memiliki rumah sendiri. Seorang anggota keluarga baru pun hadir, adik laki-laki yang dipanggil Sammy.

Berbeda dengan Katie, Lynn adalah anak yang cerdas. Di sekolah, ia selalu mendapatkan nilai yang bagus. Pujian selalu datang untuk Lynn. Katie juga sempat cemburu ketika Lynn mempunyai teman bernama Amber. Sikap Lynn jadi berubah, sok dewasa dan membuat Katie selalu dianggap seperti anak kecil.

Tapi, Lynn tetaplah kakak kesayangan Katie. Ketika Lynn tiba-tiba menjadi sakit-sakitan, Katie selalu setia mendampingi Lynn, meskipun terkadang kesabarannya diuji saat Lynn sering berubah-ubah mood.

Dan, Katie harus jadi gadis kecil yang tabah, ketika tiba saatnya Lynn untuk pergi. Tapi, Lynn selalu mengajarkan bahwa selalu ada sesuatu yang ‘gemerlap’ – kira-kira – di balik semua yang terjadi.

Cerita di novel ini sederhana banget, tapi menyentuh. Gak bisa banyak-banyak comment, karena ‘gak terlalu berbekas’ dalam hati gue. Lewat novel ini, Cynthia Kadohata memperoleh penghargaan Newberry Medal.

Read more »

Kamis, 26 Februari 2009

The Mysterious Benedict Society

The Mysterious Benedict Society
Trenton Lee Stewart @ 2007
Carson Ellis (Ilustrasi)
Litter Brown, April 2008 (Soft Cover)
485 Hal

Sebuah iklan di surat kabar menarik perhatian Miss Perumal. Iklan yang isinya mencari anak-anak berbakat yang menginginkan sebuah kesempatan istimewa. Langsung saja iklan ini ia sampaikan ke Reynard Muldoon, yang biasa dipanggil Reynie. Reynie adalah anak yatim piatu yang tinggal di Panti Asuhan Stonetown. Ia anak yang cerdas, tapi sering jadi olok-olokan temannya. Reynie sudah merasa sangat jenuh dengan kesehariannya di panti asuhan itu. Ia tidak boleh masuk ke sekolah berbakat, bahkan tidak juga ke sekolah biasa. Untung ada Miss Perumal yang menjadi pengajarnya. Reynie langsung tertarik dengan iklan itu, berkat bantuan Miss Perumal, Reynie bisa mengikuti tes itu.

Tes yang diadakan itu sangat aneh. Meskipun banyak yang berminat, tapi, hanya sedikit sekali anak-anak yang lolos tes tersebut. Tes-nya juga tidak hanya satu kali, tapi ada beberapa tahap yang harus dilewati Reynie. Belum lagi, ‘tes-tes’ terselubung yang ikut menentukan kelulusan tiap peserta. Hanya empat anak yang lolos dari tes itu. Empat anak dengan keistimewaan dan bakal yang berbeda… yang unik-unik. Tapi, punya satu persamaan… yaitu, kesendirian mereka.

Keempat anak itu – selain tentu saja Reynie – ada: Sticky Washington yang kurus, berkacamata dan berkepala botak, yang jenius, bisa mengingat banyak hal yang ia baca. Sticky punya nama asli George Washington. Lalu, ada Kate Wetherhal – yang selalu membawa ember yang berisi berbagai macam peralatan. Dan, terakhir, si kecil Constance Contraine – selain memang berbadan kecil mungil, Constance memang baru berusia dua tahun! Meskipun kecil, tapi Constance sangat keras kepala. Ia lulus bukan karena kepintarannya, tapi, karena sikap masa bodoh dan cueknya yang menarik perhatian si penilai.

Lalu… siapakah si Penilai ini? Si Penyelenggara sayembara atau tes aneh ini. Dia adalah Mr. Benedict. Seorang laki-laki tua yang punya misi rahasia. Meskipun kesannya misterius, tapi Mr. Benedict ini adalah orang yang kocak. Dan, punya satu ‘penyakit’ aneh, yaitu, dia akan tertidur kalau kebanyakan ketawa.

Mr. Benedict mencurigai adanya sebuah misi atau propaganda yang disebarluaskan melalui televisi, radio atau malah suara-suara ‘tersembunyi’ yang akan membuat kita selalu terngiang-ngiang. Untuk itu, Mr. Benedict mengirim tim kecil ini untuk menyelidiki kegiatan rahasia yang ada di Pulau Nomansan. Dengan briefing singkat, Reynie, Sticky, Kate dan Constance berangkat ke pulau itu dengan misi hidup atau mati.

Di Pulau Nomansan, mereka berempat datang sebagai murid baru yang akan belajar di sebuah institusi yang didirikan oleh Ledroptha Curtain. Tempat itu sangat tertutup dan penuh rahasia. Meskipun isinya adalah anak-anak yang tak kalah berbakatnya dari mereka berempat, tempat itu penuh dengan bahaya. Keempat anak itu harus ekstra hati-hati menjalani misi rahasia mereka ini.

Di L.I.V.E, mereka menemukan banyak kejanggalan, banyak teka-teki, yang harus segera mereka sampaikan ke Mr. Benedict dengan sangat hati-hati. Jika ketahuan, mereka akan segera dikirim sebuah ruang penyiksaan yang konon kabarnya sangat mengerikan.

Untuk mendapatkan informasi dan agar lebih mudah mengamati gerak-gerik Mr. Curtain, mereka berempat pun berusaha keras menjadi Messanger – murid yang punya akses ke fasilitas-fasilitas khusus. Dengan akal Reynie yang cerdik, kepintaran Sticky, kesigapan Kate dan kekeraskepalaan Constance, mereka mencari berbagai cara untuk itu.

Ceritanya menarik, meskipun kadang males juga untuk ‘ngikutin’ program Mr. Curtain yang ambisius. Tapi, tingkah laku, aksi-aksi, kecerdasan dan ide-ide Reynie dan teman-temannya – lalu rasa deg-deg-an, takut mereka ketauan kalo lagi ngumpul malem-malem, membuat gue bertahan mengikuti novel ini sampai selesai. Bahkan, rasa persahabatan mereka juga diuji, ketika Reynie harus mengalahkan rasa nyaman yang ia peroleh ketika duduk Favorit gue adalah Constance – si kecil mungil, yang ngeselin, tapi, seperti kata Reynie – yang gak akan bisa ngebayangin kalo Constance gak ada.

O ya, di buku ini, gak pernah dibilangin siapa nama depan Mr. Benedict, tapi, menurut Om Wikie… kalo kita ngerti Morse, kita bisa tau tuh, nama depan Mr. Benedict di cover buku ini.

Endingnya… tentu saja bahagia… dan, mari kita tunggu petualangan selanjutnya di buku kedua.
Read more »

Minggu, 01 Februari 2009

Spring-Heeled Jack (Jack si Pelompat)

Spring-Heeled Jack (Jack si Pelompat)
Philip Pullman
Yashinta Melati F (Terj.)
GPU – September 2008
128 Hal.

Satu lagi buku Philip Pullman yang lebih ditujukan untuk anak-anak. Tapiii… Karena, gue suka buku-bukunya Philip Pullman, buku yang tipis ini segera masuk jadi daftar bacaan… Dan… selesai hanya dalam waktu singkat.

Ceritanya sih sederhana aja. Ada tiga orang kakak-beradik – Rose, Lily dan Ned Summers. Mereka terpaksa tinggal di Panti Asuhan Alderman Cawn-Plaster Memorial, di kota London, sejak ayah mereka pergi ke Australia dan ibu mereka meninggal dunia. Di panti asuhan itu, mereka dijaga oleh dua orang pengurus yang jahat, bernama Mr. Killjoy dan Miss Gasket. Mungkin buat menggambarkan situasinya nih, bayangkan film atau sinetron a la Ratapan Anak Tiri. Hehehe… Orang-orang jahat dan anak-anak baik hati yang terlantar, tak terurus.

Untungnya, Rose, Lily dan Ned bukanlah anak yang penakut. Mereka memebuat rencana agar bisa kabur dari tempat mengerikan dan menyebalkan itu. Rencana untuk segera kabur dan menumpang kapal menuju Amerika sudah matang. Malam yang direncanakan pun tiba.

Tapi… mana ada rencana yang mulus di awal cerita.. karena kalau mereka berhasil kabur… cerita pun selesai… dan mereka pun hidup bahagia selamanya. Gak.. gak begitu .. masih panjang dan penuh liku-liku. Terpisah satu sama lain, tertangkap Mack si Pelempar Pisau yang jahat banget.

Ada orang-orang yang masih berbaik hati membantu mereka, seperti pasangan kekasih Jim, kelasi dan Polly, pelayan hotel Saveloy. Tapi, tetap saja, kepolosan mereka, malah membuat ketiga bersaudara itu kembali jatuh ke tangan Mr. Killjoy dan Miss Gasket yang licik. Tapiii… si pahlawan penyelamat dan pembela kebenaran pun muncul, dialah Jack si Pelompat. Yang mendengar nama saja sudah bikin merinding…

Dengan kostum merah menyala lengkap dengan tanduk, Jack si Pelompat malah lebih mirip ‘setan’ atau tokoh jahat. Tapi, emang bikin takut dan membuat orang harus berpikir dua kali untuk menghadapinya kalo gak mau mengalami nasib sial. Namanya juga Jack si Pelompat. Aksinya bukan dengan terbang di udara, atau merayap di dinding, atau pake alat-alat canggih seperti Batman, tapi hanya dengan melompat dari atap rumah yang satu kea tap yang lain dengan saaanggaatttt tinggi.

Ceritanya sih simple banget, alur yang mudah ditebak. Yang pasti bisa bikin kita mikir, “Pasti si anu ada hubungannya sama si anu.” Hehehe.. lagi-lagi sinetron style kan?? Tapi, ya itulah, cerita anak-anak gak mungkin dibuat ribet. Yang bikin menarik adalah ilustrasinya, yang bukan hanya sekedar penghias cerita, tapi, tetap menjadi bagian cerita yang gak mungkin dilewatkan.

Kapan ya, seri Sally Lockhart akan ada terjemahannya?
Read more »

Kamis, 14 Agustus 2008

New Moon (Dua Cinta)

New Moon (Dua Cinta)
Stephenie Meyer@2006
Monica Dwi Chrenayani (Terj.)
GPU, Cet. II – Juli 2008
600 Hal.


Setelah Bella hampir saja jadi mangsa vampire, keluarga Cullen, terutama tentunya Edward, makin protektif terhadap Bella. Tapi, ketika mereka harus berhadapan dengan Bella yang sedang terluka, mereka pun harus berusaha keras untuk menahan diri mereka ketika mereka melihat 'darah' di depan mereka.

Secara gak sengaja, waktu Bella sedang merayakan ulang tahunnya yang ke 18 di rumah keluarga Cullen, jari Bella tergores kertas dan terluka. Langsung semua vampire itu tertegun dan menatap Bella dengan 'lapar'. Hanya Carlisle yang dokter, yang tetap brsikap tenang. Pesta pun jadi kacau dan berantakan.

Puncaknya, Edward memutuskan untuk meninggalkan Bella, dengan alasan, karena keluarga Cullen tidak bisa lagi lebih lama tinggal di Forks karena mereka akan terlihat tidak semakin tua dan mereka akan pindah ke LA.

Sejak Edward pergi, hidup Bella jadi seperti robot, statis, 'hidup segan, mati tak mau'. Sampai-sampai, ayahnya, Charlie pun gerah melihatnya. Teman-teman sekolah Bella juga menjauhinya karena sikapnya yang aneh.

Akhirnya, Bella memutuskan untuk berubah. Ia menemui Jacob Black, teman lama yang pernah ia temui di La Push. Tapi, ternyata, Jacob menyimpan rahasia yang gak kalah misterius.

Gara-gara jati diri Jacob yang baru, Bella harus memilih apakah tetap berteman dengan para vampire atau berteman dengan Jacob. Karena berteman dengan keduanya, mungkin malah menimbulkan masalah baru yang bakal membuat mereka saling bertentangan.

Masalah lainnya, adalah Victoria, teman James - vampire yang hampir saja membunuh Bella, ternyata masih berkeliaran untuk balas dendam atas kematian James. Belum lagi, Bella yang kembali harus berhadapan dengan keluarga vampire lain yang gak nyaris gak bisa menahan diri untuk tidak menghisap darah Bella.

Sebenernya, rada cape' juga baca buku ini. Untungnya, di buku kedua ini, masalah gak hanya berputar-putar sama Bella dan Edward. Justru, Edward muncul hanya di awal dan menjelang akhir buku. Kaya'nya si Jacob lebih cool and macho deh, daripada Edward yang katanya berwajah 'beautiful' itu.
Read more »

Twilight

Twilight
Stephenie Meyer@2005
Lily Devita Sari (Terj.)
GPU, Cet. II – Juli 2008
520 Hal.

Isabella Swan harus pindah ke kota kecil bernama Forks untuk tinggal bersama ayahnya, Charlie Swan, karena ibunya Renee memutuskan untuk mengikuti Phil kekasih barunya dalam meniti karir di dunia persepakbolaan. Bella harus kembali ke kota tempat ibunya dulu meninggalkan ayahnya. Suasana Forks yang muram, jarang bermandikan cahaya matahari, seolah mendukung sikap Bella yang sebenarnya tidak antusian untuk kembali ke kota kelahirannya.

Di kota kecil ini, semua seolah sudah saling mengenal. Anak-anak saling berteman, orang tua saling berteman, bahkan mungkin kakek-nenek-buyut mereka juga saling mengenal. Bella sempat merasa kesepian.

Sebagai pendatang baru, segera saja Bella jadi pusat perhatian. Karena, jarang ada anak baru di tempat mereka, dan begitu anak baru datang, segera jadi bahan pembicaraan. Pribadi Bella cenderung tertutup, tapi ia gak menolak diajak berteman dan mudah bergaul tapi tetap saja ada bagian-bagian dari diri Bella yang menjaga jarak. Bahkan ketika Mike Newton, salah seorang temannya mengajak ke acara pesta dansa, Bella menolak dengan alasan ada acara lain yang mengharuskannya pergi keluar kota.

Di Forks High School, ada sekelompok remaja yang berpenampilan aneh dan selalu menyendiri bersama kelompok mereka, yaitu anak-anak keluarga Cullen – Emmet, Rosalie, Edward, Alice dan Jasper. Mereka sangat aneh, wajah mereka selalu tampak dingin, mata mereka diselimuti bayangan gelap, gerakan mereka tampak anggun dan luwes, wajah mereka berwajah tampan dan cantik. Sebuah keindahan yang klasik. Di kantin, meskipun makanan terhidang di depan mereka, tapi, tampaknya mereka tidak pernah menyentuh makanan itu. Mobil yang mereka pakai ke sekolah juga mobil yang tergolong mewah, berbeda dengan anak-anak Forks lainnya. Menurut cerita yang didengar Bella dari teman-temannya, mereka semua adalah anak-anak angkat Dr. Carlisle dan Esme Cullen.

Di dalam pelajaran biologi, kebetulan Bella duduk bersebelahan dengan Edward Cullen. Perkenalan pertama tidak meninggalkan kesan yang baik di mata Bella. Malah Bella mengira ada sesuatu yang salah dengan bau badannya sampai-sampai Edward duduk sejauh mungkin dari Bella. Meskipun geram, tapi Bella penasaran dengan keberadaan Edward Cullen. Bahkan menantikan kedatangannya ketika Edward tidak ada.

Tapi, suatu hari, Edward menyelamatkan Bella dari sebuah kecelakaan. Bella sempat bertanya-tanya pada dirinya sendiri, karena ada sesuatu yang janggal ketika kecelakaan itu terjadi. Mulailah Bella mencari tahu tentang diri Edward Cullen. Kedekatan mulai terjalin di antara mereka, meskipun Edward tetap menutup diri dari pertanyaan-pertanyaan Bella yang penuh rasa curiga dan rasa ingin tahu.

Sampai akhirnya, ketika Bella sedang berjalan-jalan ke La Push, sebuah kawasan reservasi suku Indian, ia berkenala dengan Jacob, anak Billy - teman ayah Bella. Dari Jacob-lah, Bella mendengar sebuah legenda tentang kelompok pemburu yang haus darah. Mereka adalah pemburu dengan kata lain adalah sekelompok vampire. Beruntung mereka tidak memburu manusia, tapi mencari darah segar hewan.

Buntutnya, Edward dan Bella semakin dekat. Pelan-pelan, Bella mulai mengenal seluruh anggota keluarga Cullen dan latar belakang sampai akhirnya mereka menjadi vampire. Demi menghindari kecurigaan orang-orang di sekitar karena mereka tidak pernah bertambah tua, keluarga Cullen kerap berpindah tempat, mencari pemukiman yang minim matahari.

Pergaulannya dengan keluarga vampire pun membuat Bella berada dalam bahaya. Karena, keberadaan Bella di sekitar keluarga Cullen tercium oleh kelompok vampire lain yang lebih berbahaya daripada keluarga Cullen.

Sampai kapan Edward bakal bertahan untuk menjaga Bella dari vampire lain, maupun dari dirinya sendiri? Bisa dibaca dibuku-buku selanjutnya, yaitu New Moon dan Eclipse.

Sebenernya, mungkin ini adalah cerita romance biasa, tapi yang bikin gue tertarik, adalah tokohnya yang manusia biasa plus para vampire. Yang bikin seru ada di bagian-bagian akhir, yaitu bagian ‘perburuan’ James, si vampire jahat yang mengincar Bella. Sempat membuat gue berpikir, “Ngerepotin banget sih, si Bella!”

Harus sabar-sabar membaca bagian ‘telenovela’-nya Bella dan Edward (hehehe.. namanya juga novel romance…). Pasangan yang unik karena Bella adalah cewek yang punya ‘masalah’ dengan koordinasi antara kaki, tangan – dan otak. Hal yang menjadikan Edward amat sangat protektif terhadap Bella. Tapi…hmmm.. rasa-rasanya, koq gampang banget ya, Edward ‘mengakui’ siapa diri dia sebenarnya. Padahal identitas, jati diri adalah hal amat sangat dijaga kerahasiaannya oleh keluarga Cullen selama beratus-ratus tahun lamanya. Hanya karena seorang ‘Bella’, Edward yang sedingin es itu pun langsung ‘meleleh’. Tapi yang luar biasa adalah gimana seorang vampire – meskipun dia ‘vegetarian’ - berusaha mati-matian menjaga seorang manusia untuk tetap jadi manusia.
Read more »

Senin, 21 April 2008

Dragon Keeper (Book 1)

Dragon Keeper (Book 1)
Carole Wilkinson @ 2003
Claudia (Terj.)
Penerbit Matahati, Cet. I – Februari 2008
388 Hal.

Awalnya, Ping, hanyalah seorang budak. Bahkan ia tidak pernah tahu siapa namanya, siapa orang tua dan tidak punya teman. Ia bekerja sebagai pelayan untuk seorang Pengurus Naga bernama Master Lan di sebuah istana di Gunung Huangling. Konon, Kaisar membangun istana di daerah terpencil itu untuk menunjukkan kepada dunia betapa luas wilayah kekuasaannya. Tugas Ping selain melayani berbagai kebutuhan Master Lan yang kerap bersikap kasar padanya, adalah memberi makan binatang- piaraan yang ada di istana itu, yang bukan sembarang binatang, melainkan dua ekor naga milik kaisar. Harusnya, Master Lan-lah yang bertugas merawat naga-naga itu, tapi, karena sangat pemalas, akhirnya, menjadi tugas Ping untuk memberinya makan dan membersihkan kandang naga itu.

Karena tidak mendapatkan perlakukan yang pantas dari Master Lan, Ping kerap harus mencuri sedikit makanan. Entah itu, makanan Master Lan, atau bahkan makanan naga. Ping juga gemar berpetualang ke penjuru istana ketika hari sudah malam dengan mencuri sedikit minyak untuk menyalakan lampu. Satu-satunya teman Ping adalah Hua, seekor tikus kecil.

Suatu hari, Ping merasa bersalah mengambil jatah makanan naga, hingga menyebabkan salah satu naga mati. Ia merasa tibalah suatu saat akan mendapatkan hukuman dari Langit. Kekacauan terjadi ketika rombongan Kaisar datang. Ketika itu, Ping sedang berada di dalam istana. Ia lalu bersembunyi di dalam lemari dan mendengar percakapan Kaisar dan rombongannya. Tiba-tiba Hua menggigit Ping dan membuat Ping berteriak. Dan hebohlah keadaan ketika itu.

Ping melarikan diri ke kandang naga. Salah satu tamu Kaisar adalah Diao, Pemburu Naga, yang nyaris menangkap Danzi, satu-satunya naga yang masih hidup. Ping membantu Danzi melarikan diri dari kejaran pengawal kaisar.

Sejak itu, hidup Ping tidak lagi tenang dan damai. Bersama Danzi, ia memulai petualangan panjang menuju Samudera untuk menyelamatkan sebuah batu misterius yang dilindungi mati-matian oleh Danzi.

Banyak hal-hal yang baru diketahui Ping sejak ia bersahabat dengan Danzi. Ping pun bukan lagi gadis budak yang tidak ada harganya, ia memiliki sebuah kemampuan yang tidak terduga-duga yang membawanya menjadi sahabat Kaisar baru.

Ping tidak hanya menempuh perjalanan yang menegangkan tapi, juga menyenangkan. Dunia Ping, mata Ping jadi lebih terbuka karena Danzi mengajarkan banyak hal baru buat Ping.

Ceritanya bikin terharu dan juga lucu. Masih ada lanjutan kisah petualangan Ping bersama ‘si batu misterius’ itu. Satu lagi, cerita tentang persahabatan….
Read more »

Jumat, 21 Maret 2008

The Spellman Files (Berkas-Berkas Keluarga Spellman)

The Spellman Files (Berkas-Berkas Keluarga Spellman)
Lisa Lutz @ 2007
Berliani M. Nugrahani (Terj.)
Penerbit Atria, Cet. I – Maret 2008
550 Hal.

Ini adalah kisah keluarga yang kocak banget (at least menurut gue, lho…). Tokoh utamanya adalah Isabel Spellman, akrab dipanggil Izzy, berusia 28 tahun. Saat ini bekerja dengan orang tuanya sendiri di Spellman Investigations, sebagai detektif swasta. Tak hanya Izzy, Paman Ray yang gemar mabuk-mabukan dan abang Izzy, David, juga bekerja di perusahaan ini. Tapi, David, akhirnya memutuskan untuk menggunakan akal sehatnya dan keluar dari Spellman Investigations untuk kemudian menjadi seorang pengacara. Lalu, terakhir, adik Izzy, Rae, pun turut bergabung sebagai anggota termuda.

Hidup dikelilingi para detektif swasta (dan juga sebagai seorang detektif swasta) ternyata tidak mudah. Terbiasa menyelidiki kehidupan pribadi orang lain, membuat keluarga ini pun tak bisa melepaskan kebiasaan itu di dalam kehidupan pribadi mereka. Tiada hari tanpa interogasi dan negosiasi. Kamar yang dilengkapi gembok pintu pun tak luput dari ‘aksi pembobolan’ yang dilakukan anggota keluarga sendiri.

Kehidupan pribadi pun ikut jadi korban. Ketika Izzy berkencan dengan seorang dokter gigi, Daniel Castillo, orang tua Izzy mengutus Rae untuk melakukan penyelidikan. Sampai akhirnya, Daniel gak kuat menghadapi keluarga Spellman yang aneh itu.

Izzy memutuskan untuk keluar karena merasa tidak punya privasi lagi. Tapi, sebelum ia benar-benar keluar, orang tuanya memberikan kasus terakhir, kasus yang sudah berusia 12 tahun tapi belum terbongkar juga. Izzy pun serius mengerjakan kasus itu – dengan diikuti berbagai ancaman dan ‘penguntitan’ yang dilakukan orang tuanya. Ini adalah satu-satunya kasus serius yang ada di dalam buku ini.

Keluarga Spellman nyaris terpecah. Lalu, tiba-tiba, Rae menghilang. Izzy merasa ikut bertanggung jawab dan mengerahkan kemampuannya untuk mencari Rae. Setelah kasus menghilangnya Rae, ditambah lagi dengan Paman Ray yang mengalami ‘Akhir Pekan yang Hilang #27’. Hehehe.. layaknya berkas-berkas, setiap kejadian diberi nomer-nomer. Bahkan Izzy punya daftar mantan pacarnya sendiri, lengkap dengan analisanya.

Gue menikmati membaca buku ini. Segala kekonyolan dan kekocakan di keluarga Spellman. Tokoh cerita emang perempuan dewasa, tapi terkadang pola pikirnya rada gak dewasa. Tapi, rasanya, agak hati-hati ya, menempatkan buku ini di kategori buku anak-anak, atau paling gak remaja, karena banyak hal-hal yang rasanya cukup dewasa di dalam buku ini.
Read more »

Minggu, 02 Maret 2008

Blue Jasmine

Blue Jasmine
Kashmira Sheth @ 2004
Hyperion - 2006
186 Hal.

Seema Trivedi, gadis berusia 12 tahun, mengalami banyak pengalaman baru ketika ia harus pindah ke Iowa, Amerika. Ayah Seema adalah seorang peneliti yang mendapat tawaran untuk bekerja di Iowa. Karena itu, mereka sekeluarga harus pindah. Seema harus meninggalkan semua yang dicintainya di India.

Awalnya memang terasa berat bagi Seema. Ia merasa aneh dan merasa tidak akan bisa menyesuaikan diri di Amerika. Apalagi India selalu terbayang-bayang di benaknya. Belun lagi, Seema selalu merasa aneh berada di tengah-tengah orang yang berbeda, suasana yang berbeda.

Tapi, lambat laun, ketika Seema mulai masuk ke sekolah barunya, Seema mendapat sahabat baru yang dengan senang hati membantu Seema menyesuaikan diri. Seema mulai menikmat hari-hari barunya. Logatnya yang aneh dan penampilannya yang berbeda memang sempat membuatnya jadi baha ejekan dan hampir membuat Seema down.

Semakin lama, India tampak semakin jauh. Hal itu pula yang dirasakan Raju, sepupu Seema, ketika Seema pulang ke India saat neneknya sakit. Raju seolah menjauh dan menganggap Seema tidak lagi merasa India sebagai rumahnya.

Seema memang belajar banyak dengan kepindahannya ke Amerika. Seema jadi belajar lebih menghargai arti sebuah persahabatan dan perbedaan.

Novel sederhana tentang persahabatan dan keluarga.
Read more »

Selasa, 01 Januari 2008

I was a Rat! (Dulu Aku Tikus!)

I was a Rat! (Dulu Aku Tikus!)
Philip Pullman
Poppy Damayanti Chusfani (Terj.)
GPU, Desember 2007
256 Hal.

“Dulu aku tikus!,” begitulah kata seorang anak laki-laki yang tiba-tiba saja datang ke rumah pasangan Bob dan Joan di suatu malam. Tentu saja, pasangan tua itu terkejut. Mereka mengira anak laki-laki itu anak hilang yang tidak waras. Tapi, rasa kasihan membuat Bob dan Joan menerima anak aneh itu.

Bob dan Joan, pasangan yang sudah 32 tahun menikah, tapi belum dikaruniai seorang anak. Bob, berprofesi sebagai tukang pembuat sepatu dan Joan bekerja sebagai tukang cuci, dua pekerjaan yang sudah dijalani secara turun-temurun di keluarga mereka.

Mereka memberi nama Roger kepada anak lelaki itu. Tingkah laku anak lelaki itu memang mirip tikus. Ia tidak bisa makan dengan sendok, mampu makan apa saja – apakah itu pensil, kayu-kayu di tempat tidur… apa pun. Bob dan Joan mengajarkan cara makan yang benar, cara mengucapkan terima kasih dan cara menjadi anak yang baik serta sopan pada Roger. Tapi, ya, tetap saja, Roger yang polos itu, masih bertingkah aneh, meskipun ia menyerap semua pelajaran dari Bob dan Joan.

Bob dan Joan membawa Roger ke tempat pelaporan anak hilang, ke kantor polisi dan ke rumah sakit, tapi tidak ada yang merasa kehilangan Roger. Roger pun akhirnya dibawa kembali ke rumah Bob dan Joan. Ia disekolahkan, tapi malah membuat heboh seisi sekolah.

Kelakukan aneh Roger ternyata menyebar dan menarik perhatian berbagai pihak. Sebut saja, Filsuf Royal, seorang filsuf kerajaan yang gemar menganalisa semua tingkah laku manusia. Baginya kasus Roger akan meningkatkan pamornya. Lalu, ada pemilik sirkus yang suka memamerkan makhluk aneh bernama Mr. Tapscrew, yang memaksa Roger untuk bertingkah sebagai binatang pengerat yang mengerikan, dan, ada pula seorang anak bernama Billy, yang meminta Roger membantunya dalam pencurian di sebuah rumah.

Lama-lama, Roger semakin merasa ia bukanlah anak manusia seperti yang ditanamkan Bob dan Joan, tapi sekali tikus tetap menjadi tikus, maka Roger kembali ke gorong-gorong gelap dan menyebabkan kehebohan karena berita di Daily Scourge yang menyebutkan dirinya sebagai monster mengerikan yang bergentayangan di gorong-gorong.

Roger ditangkap, dan berbagai analisa serta kesimpulan bermunculan. Semua ahli ribut mengatakan bahwa Roger itu mirip manusia, harus dibasmi. Hanya satu orang yang mengetahui siapa Roger sebenarnya, dan hanya dia yang bisa menyelamatkan Roger dari eksekusi.

Wow…. Cerita yang menarik banget… menegangkan tapi seru. Seperti membaca dongeng Cinderella dari sisi yang berbeda. Gue lebih suka cerita ini daripada Clock Wound Up yang mengerikan itu.
Read more »