Selasa, 24 Januari 2006

Senyum Untuk Calon Penulis

Judul : Senyum untuk Calon Penulis
Penulis : Eka Budianta
Penerbit : Pustaka Alvabet
Cetakan : 1, September 2005
Tebal : 274 hal
ISBN : 979-3064-17-X

Judul Buku ini sangat menarik dan sangat spesifik dalam menentukan siapa kira-kira target pembaca buku ini. Dari judulnya yang spesifik pembaca akan segera mengetahui apa kira-kira yang terdapat dalam isi buku ini dan berharap bahwa buku ini akan menjawab berbagai pertanyaan yang selalu muncul dalam benak seseorang ketika ia akan menulis.

Dalam benak seorang yang ingin menulis biasanya akan selalu timbul pertanyaan-pertanyaan seperti : Mengapa harus menulis ? apa yang harus ditulis?, untuk siapa, dimana, dan bagaimana menulis dengan baik?. Buku kumpulan tulisan dari penulis sekaligus penyair senior Eka Budianta ini mencoba untuk menjawab semua pertanyaan-pertanyaan diatas. Buku ini memang bukan buku panduan praktis bagaimana menulis dengan benar. Lebih dari itu! Buku ini mencoba mengajak , memotivasi dan menginspirasi siapa saja yang ingin agar tulisan-tulisannya lebih menyala seperti bermacam-macam lampu, dapat mengeluarkan berbagai aroma dan bau, menyalurkan bermacam perasaan takut, memberi semangat, mengejutkan bahkan membuat muntah pembaca.

Buku yang terdiri dari 25 tulisan ini dirangkai dari berbagai tulisan Eka Budianta dalam setiap makalah yang disajikannya diberbagai seminar dan diskusi dalam kurun waktu 4 tahun (1999-2002). Berbagai macam tema seputar dunia tulis menulis, buku, lingkungan hidup, sastra dan lain-lain mewarnai tulisan-tulisannya dalam buku ini. Dalam salah satu tulisan yang judulnya diangkat menjadi judul buku ini :Senyum untuk Calon Penulis. Eka menyampaikan beberapa pokok masalah dalam menulis.
Pokok pertama adalah : Selalu Ingat : Mengapa Anda menulis? Di sini Eka menegaskan niat dalam hati dalam menentukan tujuan menulis adalah hal yang paling penting dalam karya sastra. Bukan teknik, keindahan bahasa, plot, tetapi intinya. Isi cerpen, isi novel, isi puisi, itulah yang bicara (hal 195).
Kedua : Pentingkah: Kapan Anda Menulis? Bagi Eka kapan menulis bukanlah masalah, yang lebih penting adalah melihat isi atau pesan setiap pengarang. Bagi penulis-penulis besar pesan-pesan yang diampaikan biasanya akan abadi. Drama-drama Shakespeare tetap abadi hingga kini Walmiki dengan Epos Ramayana telah menulisnya 2500 tahun lalu di India. Dari segi usia kapan mulai menulis pun tak jadi persoalan asal tulisannya mengandung nilai-nilai abadi maka tulisannya akan bertahan lama. Kartini, Chiril Anwar, Moh. Hatta menulis di usia yang sangat muda namun apa yang ditulisnya tetap dibaca orang hingga kini.
Ketiga: Jiwa Merdeka dan Gembira. Modal utama seorang pengarang adalah jiwa yang merdeka. Dengan bebas berpikir dan berimajinasi, setiap penulis dapat melahirkan karya-karyanya. Namun Eka mengingatkan bahwa semakin besar kemerdekaan seorang penulis maka semakin besar juga tanggung jawabnya dan semakin perlu hati-hati. Keempat : Bagaimana Menulis dan Apa isinya. Di sini Eka menceritakan pengalamannya menjadi asisten HB Jasin dalam menyeleksi karya-karya sastra. Walau suatu karya dinilai bagus oleh HB Jasin namun tak berarti karya tersebut bisa dipublikasikan, menurut Jassin seorang penulis membawa tugas sebagai "guru" bagi pembacanya, melalui tulisan, manusia bisa membongkar pikiran orang lain. Tapi bila penulis berhasil membongkar, tetntu penulis harus bisa merapihkannya.

Jika membaca semua tulisan yang terdapat dalam buku ini, akan terlihat bahwa buku ini sangat kaya akan cakupannya, bahasanya mudah dimengerti karena ditulis dengan gaya personal, tidak hanya persoalan tulis menulis yang dibahasnya namun mencakup bidang sastra, budaya, lingkungan, politik, dan lainnya. Dari segi keterbacaannya buku ini sangat mudah untuk dipahami karena Eka menulisnya dengan gaya personalnya yang khas.Kesimpulannya, buku yang diberi pujian oleh 33 tokoh yang beragam profesinya ini setidaknya bisa memberikan inspirasi bagi mereka yang bergerak dalam dunia tulis menulis. Kritik terhadap buku ini ada pada pemilihan judul bukunya "Senyum untuk Calon Penulis", judul buku ini seolah membatasi bagi siapa buku ini diperuntukkan (calon penulis), padahal jika membaca seluruh tulisan yang terdapat dalam buku ini, buku ini bukan hanya untuk calon penulis saja melainkan bagi siapa saja yang berprofesi dan bergerak dalam dunia literer.

@h_tanzil

Daftar Isi buku Senyum untuk Calon Penulis :
Penyair dalam Struktur Meditasi
Tulisan dan Perubahan
Menulis, Mendidik, Merdeka
Puisi dan Kekerasan
Sastra Pasca-Nasionalisme
Jurnalisme dalam Transisi
Kebudayaan dalam Reformasi
Kepeloporan dan Reformasi
Mobilisasi dan Peran Media
Bila Penyair Berkicau
Dokumentasi=jati diri
Belajar dari Rahardi
Sastra Indonesia dan Pasar Global
Persahabatan dan reativitas
Pro dan Kontra Sweeping Buku
Dari Puisi untuk Kehidupan
Di Balik sukses Non Fiksi
Masyarakat Cyber dan Sastra Multimedia
Dengan Hati dan Akal Sehat
Senyum untuk Calon Penulis
Sastra Industri dan Industri Sastra
Sastra Kita mau global atau universal
Membuka Diri pada Tradisi
Menimba Kekuatan dari Reruntuhan
Mengelola Uang dan Rahasia
Sumber Tulisan
Biodata Penulis
Read more »

Senin, 23 Januari 2006

Mengungkap Misteri Air


Judul : Mengungkap Misteri Air
Mengubah Dunia dengan Kesadaran Baru
Penulis : Ir. Triwidodo Djokorahardjo, M. Eng
Nina Natalina, Ir Gede M Merada
Anand Khrishna
Penerbit : PT. One Earth Media
Cetakan : I, Juni 2005
Tebal : xxxiv + 96 halaman
ISBN : 979-99450-5-4

Air! Kehidupan manusia tak lepas dari air, bahkan secara tidak disadari kehidupan manusia dikelilingi oleh air. Bumi dikenal sebagai planet air karena 70 persen bumi diliputi oleh air. Bukan suatu kebetulan jika ternyata tubuh manusiapun memiliki komposisi 70 persen air! Kenyataan ini menunjukkan bukti tentang pentingnya air bagi kehidupan manusia. Siklus kehidupan manusia semenjak berbentuk janin dimulai dari rahim seorang ibu yang terdiri dari 99 persen air. Ketika dilahirkan, manusia terdiri dari 90 persen air, Barulah pada saat dewasa air dalam tubuh manusia menyusut menjadi 70 persen dan tersisa kurang lebih 50 persen ketika manusia semakin tua dan meninggal. Seluruh uraian diatas menandakan bahwa hidup manusia sangat tergantung pada air.

Karena air demikian dekat dengan manusia tentunya air memiliki pengaruh yang besar terhadap kehdupan manusia, seberapa besar pengaruh air dapat mempengaruhi kehidupan manusia dan seberapa besar air dapat dipengaruhi oleh pola pikir dan perasaan manusia?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang nampaknya akan dicoba dijawab dalam buku kecil "Mengungkap Misteri Air" ini. Buku yang disusun berdasarkan hasil diskusi bertajuk "Rahasia Air untuk Kemanusiaan Baru" yang diselenggarakan pada 12 Maret 2005 di Padepokan One Earth One Sky Humankind milik spiritualis Anand Krishna ini mengungkap penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan Jepang Dr. Masaru Emoto yang sepanjang hidupnya meneliti tentang manfaat air. Hasil dari penelitian Dr. Emoto ini telah dipublikasikan melalui bukunya The Massage from Water, dimana melalui bukunya ini dunia dibuat terperangah!, lewat bukti-bukti yang tak terbantahkan ilmuwan ini menyatakan bahwa air, ternyata secara seketika mampu merespon pikiran dan perasaan manusia!

Kesimpulan yang mencengangkan dari Dr. Emoto ini dilakukan setelah ia dan timnya melakukan percobaan dengan cara mengambil sampel dari 50 jenis air yang kemudian dibekukan selama tiga jam dengan suhu – 20 derajat Celcius. Hasilnya akan terbentuk butiran es di permukaan air tersebut. Kristalnya akan terlihat ketika ada cahaya yang diarahkan padanya. Tak semua sampel air tersebut menghasilkan kristal yang sama. Kesimpulan awal yang diambil oleh Dr. Emoto adalah bahwa air yang berbeda akan menghasilkan kristal yang berbeda pula. Dari sini penelitian berlanjut, salah seorang penelitinya mengusulkan gagasan agar melihat apa yang akan terjadi jika air diperdengarkan musik. Dengan cara yang sederhana yaitu menempatkan sebotol air yang diapit oleh dua buah speaker dan diperdengarkan berbagai jenis musik, ternyata hasilnya mencengangkan. Air yang diperdengarkan musik-musik klasik karya Beethoven, Mozart, menghasilkan kristal-kristal air yang berbentuk sempurna. Sebaliknya, air yang diperdengarkan musik-musik heavy metal menghasilkan bentuk kristal yang jauh dari sempurna dan terpecah-pecah (hal. xx). Tidak puas dengan pengaruh air terhadap musik, penelitian dilanjutkan dengan mencoba mengetahui respon air terhadap kata-kata. Caranya, dengan menuliskan kata-kata seperti "terima kasih" dan "bodoh" pada sehelai kertas yang ditempelkan menghadap ke air pada dinding sebuah botol. Hasilnya pun sungguh luar biasa! Air yang diberi tulisan terima kasih membentuk kristal-kristal heksagonal yang sangat indah. Sementara air yang ditempelkan tulisan "bodoh" menghasilkan kristal yang tak utuh mirip dengan kristal tak sempurna dari air yang dieprdengarkan musik heavy metal.
Dari percobaan tadi akhirnya Dr. Emoto memberikan kesimpulan bahwa air mampu memberikan respon secara seketika terhadap pikiran dan emosi manusia.

Dari tersingkapnya misteri air yang ternyata bisa merespon keadaan lingkungannya inilah peranan air dalam kehidupan manusia semakin dirasakan penting. Melalui buku ini yang terdiri dari pandangan para pemerhati dan praktisi masalah air, masing-masing narasumber sesuai dengan keahliannya mencoba merespon dan memberikan pandangannya yang terkait dengan penelitian Dr. Emoto. Ir. Triwidodo Djokohardjo M.Eng (Ahli Sumber Daya Air) mengungkap bahwa sebenarnya bangsa Indonesia sejak jaman dahulu sudah memiliki kearifan dan kebijaksanaan dalam memandang air dalam kehidupannya. Adanya ritual-ritual dan doa-doa yang menggunakan air sebagai medianya membuktikan bahwa sebenarnya penemuan Dr. Emoto ini secara praktis telas dilakukan oleh masyarakat Indonesia sejak jaman dahulu kala. Nina Natalia (Direktur Operasional Yayasan Bina Usaha Lingkungan) menyampaikan mengenai manfaat air sebagai sumber daya energi alternatif yang harus mulai dikelola sebelum habisnya sumber daya energi minyak. Gede M. Mirana (wirausahawan, mantan konsultan eksplorasi energi) mengungkap bahwa bencana Tsunami di Aceh adalah mungkin saja akibat air yang merespon pikiran penduduk di Aceh yang telah lama dilanda kebencian dan kekerasan yang berlangsung terus-menerus.

Selain menyajikan pandangan para pakar dan praktisi air, buku ini juga menyajikan diskusi-diskusi berupa tanggapan dan tanya jawab selama diskusi berlangsung. Nampaknya buku ini memang disajikan apa adanya sebagaimana diskusi yang sedang berlangsung. Kalimat-kalimat yang dipergunakan dalam buku ini tampaknya sesuai dengan kalimat yang diucapkan oleh para narasumbernya, dengan demikian buku ini menjadi sangat mudah dibaca dan dipahami oleh siapapun. Foto-foto kristal-kristal air hasil percobaan Dr. Emoto disajikan dalam buku ini sehingga pembaca bisa melihat secara kasat mata bagaimana air merespon keadaannya. Buku ini ditutup oleh Anand Khrisna yang mencoba mengajak para audiens/pembacanya bahwa pembiacaraan tentang air yang tersaji dalam buku ini adalah salah satu Ayat Allah yang harus dipelajari dan direnungkan, karena seluruh kehidupan manusia adalah water-based, carbon-based.

Dalam buku ini selain mengungkap misteri air yang akan menyingkap pesan universal kepada pembacanya, buku ini juga berpotensi untuk mengubah cara pandang pembacanya terhadap kehidupan secara revolusioner. Namun jika Anda belum siap mengubahnya…hindari saja buku ini!

@h_tanzil
Read more »

Minggu, 22 Januari 2006

Sang Singa, sang Penyihir, dan Lemari



Judul : The Chronicles of Narnia :
#2 Sang Singa, sang Penyihir, dan Lemari
Penulis : C. S. Lewis
Penerjemah : Donna Widjajanto
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : II, Sept 2005
Tebal : 232 hlm; ilustrasi
ISBN : 979-22-1458-5

Berpetualang di dunia khayal dengan membaca karya-karya fantasi sangatlah mengasyikan, apa yang tak mungkin terjadi di dunia nyata dapat saja terjadi di dunia fantasi. Cerita fantasi memang cerita khayal, cerita dimana seringkali fakta dan realita dijungkirbalikkan untuk menambah keasyikan pembacanya berkelana di dunia tanpa batas. Walau semua hanya khayalan dan tampaknya tak masuk akal namun bukan berarti cerita fantasi hanya menyajikan kebohongan dan lamunan sang pengarangnya saja. Tak jarang tokoh-tokoh dalam cerita fantasi merupakan cerminan yang sesungguhnya dari kejadian yang ada di dunia nyata, tak jarang kisah fantasi juga dipergunakan sebagai alat untuk menyampaikan nilai-nilai positif dan membangun kesadaran pembacanya akan kenyataan atau realita yang mereka hadapi di dunia nyata.

C.S. Lewis (1898-1953) penulis dari kisah fantasi The Chronicles of Narnia ini sepertinya mencoba menyampaikan beragam makna positif yang secara halus tersaji dalam rangkaian kisah petualangan di dunia Narnia, dunia khayal yang bisa dimasuki manusia lewat sebuah pintu lemari baju! Buku pertama cerita fantasi dunia Narnia yang ditulis Lewis –The Lion, The Witch, and The Wardrobe – selesai ditulis pada tahun 1949. Walau awalnya Lewis tak berencana untuk melanjutkan kelanjutan dari kisah Narnia namun akhirnya ketika buku ini mendapat sambutan yang baik dari pembacanya secara berkesinambungan Lewis membuat keenam buku lainnya sehingga buku ini adalah buku yang mengawali serial Petualangan Narnia yang terdiri atas tujuh buku. Serial Petualangan Narnia secara apik memadukan petualangan, humor, fantasi, dan alegori, serta menjadi karya klasik dan menjadi buku monumental dalam khazanah bacaan fantasi anak-anak dunia. Begitu terkenal dan monumentalnya kisah Narnia membuat pengarang cerita fantasi masa kini seperti JK Rowling dan Christopher Paolini mengaku banyak terpengaruh oleh karya2 C.S. Lewis

The Lion, the Witch, and The Wardrobe yang diterjemahkan oleh Gramedia menjadi Sang Singa, sang Penyihir, dan Lemari bersetting pada saat berkecamukanya Perang Dunia II, empat anak London, Peter, Susan, Edmund, dan Lucy diungsikan ke rumah yang sangat besar milik seorang profesor, rumah tersebut memiliki banyak ruang di dalamnya sehingga membuat keempat anak itu merasa tertantang untuk menjelajahi slueurh ruangan yang ada . Ketika hari hujan mereka menjelajah rumah besar itu dan menemukan sebuah ruang kosong berisi lemari besar. Ketiga anak lain segera meninggalkan ruangan itu, tetapi Lucy yang masih penasaran segera membukanya, masuk kedalam lemari, ketika menyibakkan mantel-mantel yang terdapat di dalamnya, Lucy merasakan dirinya tertusuk ranting pohon dan menginjak tanah bersalju! Ternyata lemari besar tersebut membawanya memasuki negeri yang kelak ia ketahui bernama Narnia, suatu negeri yang selalu mengalami musim dingin namun tak pernah ada Natal gara-gara ulah si penyihir jahat yang menguasai negeri Narnia dengan kutukannya. Dalam kunjungan itu Lucy bertemu dengan Tumnus, manusia setengah kambing yang menceritakan kejadian buruk yang sedang terjadi di negeri Narnia. Beberapa jam lamanya Lucy singgah gua Tumnus di Narnia namun anehnya, ketika ia kembali ke ruang kosong tadi, kakak-kakaknya masih di ruang sebelah dan tidak merasa kalau Lucy sudah pergi begitu lama. Karena itu mereka sulit untuk mempercayai Lucy yang bercerita mengenai negeri Narnia, dan memang ketika Lucy mencoba mengajak keempat kakak-kakaknya untuk masuk ke lemari tadi ternyata memang tidak terjadi keanehan apapun dan lemari itupun berujung kayu biasa yang tak bisa ditembus siapapun. Ketika bermain petak umpet secara tak disengaja Edmund bersembunyi di lemari tersebut dan sama seperti yang dialami Lucy iapun memasuki negeri Narnia, namun yang ditemui Edmund kali ini adalah penyihir jahat yang mencoba membujuknya untuk mengajak ketiga kakaknya untuk menemuinya di istana sihirnya.

Esoknya ketika keempat anak itu mencoba bersembunyi dari pengurus rumah yang sedang mengantar tamunya untuk berkeliling rumah, keempat anak itu masuk ke dalam lemari di ruang kosong tersebut dan setelah menyibak mantel-mantel yang terdapat dalam lemari itu merekapun mendapati bahwa mereka telah berada di negeri Narnia yang dingin bersalju!. Ketika mereka hendak mengunjungi Tumnus yang pernah ditermui Lucy ternyata gua tempat tinggal Tumnus telah hancur dan mereka mendapati selebaran bahwa Tumnus telah ditangkap si penyihir karena dianggap telah menolong Lucy dan tidak menyerahkan Lucy pada saat kunjungannya yang pertama pada penyihir yang menjadi penguasa Narnia. Kecuali Edmund yang diam-diam pergi untuk menemui penyihir, merekapun bertekad menyelamatkan Tumnus.
Ternyata kedatangan mereka telah diramalkan dalam sebuah syair kuno Narnia. Aslan sang singa, penguasa tertinggi bumi Narnia, juga telah muncul kembali untuk menghadapi si penyihir. Akhirnya memang ketiga kakak beradik itu bersama dengan Aslan akan berperang melawan kekuatan jahat si penyihir putih. Karena menurut ramalan kuno tersebut hanya keempat anak serta singa agung, Aslan yang kelak bisa mematahkan kutukan jahat si penyihir itu.
Buku ini terbit pertama kali pada tahun 1950; buku ini merupakan seri pertama dalam seri Narnia menurut urutan penerbitnya. Pada tahun 90-an buku ini pernah diterjemahkan oleh penerbit Dian Rakyat, sayang setelah buku ini habis di pasaran, penerbit Dian Rakyat tak pernah menerbitkannya lagi hingga akhirnya buku ini kembali diterjemahkan dan diterbitkan oleh Gramedia . selain diterjemahkan dengan baik langsung dari karya aslinya buku terjemahan ini dilhiasi pula oleh ilustrasi apik karya Pauline Baynes seperti pada buku aslinya. Pauline Baynes inilah akhirnya yang membuat ilustrasi untuk seluruh buku dalam seri The Chronicles of Narnia. Diawali dengan Sang Singa, sang Penyihir, dan Lemari di tahun 1949, kariernya sebagai ilustrator pun kian berkembang.

Walau buku ini diperuntukkan bagi anak-anak namun bukan berarti buku ini tak layak dibaca pembaca dewasa, kepiawaian Lewis dalam meramu ceritanya membuat buku ini bisa dinikmati pembaca dewasa dengan tak kalah menariknya. Persahabatan Lewis dengan JRR Tolkien (penulsi Lord of The Rings) berpengaruh pada Lewis dalam memadukan penalaran dan imajinasi, sehingga Lewis dengan piawai berhasil menyampaikan nilai-nilai positif yang dipercayainya dalam bentuk tulisan yang imajinatif. Ada banyak nilai moral yang didapat ketika membaca buku fantasi ini, buku yang nampaknya hanya diperuntukkan bagi anak-anak ini ternyata memberikan gambaran yang utuh tentang sebuah semesta yang utuh dan bermoral. Pesan-pesan moral disampaikan oleh Lewis secara halus, luwes dan tidak mengganggu alur cerita sehingga buku ini dan seri-seri selanjutnya dari The Chronicles of Narnia akan tampil sebagai kisah yang menyentuh hati dan sekaligus menggugah akal budi.

@h_tanzil

Note : Special thank’s to Arie Saptaji yang mengenalkan Dunia Narnia pada saya melalui bukunya "Let’s Go Into Narnia – Mengenal Lebih Dekat Dunia ajaib C.S. Lewis - , Gradiens Books 2005
Read more »

Let’s go Into Narnia, bekal berpetualang di dunia Narnia


Let’s go Into Narnia, bekal berpetualang di dunia Narnia

Judul : Let’s Go Into Narnia
Mengenal Lebih Dekat Dunia Ajaib C. S. Lewis
Penulis : Arie Saptaji
Penerbit : Gradien Books
Cetakan : 1 & 2 Juli 2005
Tebal : 136 hal
ISBN : 979-3574-08-9

Pembaca fiksi fantasi tanah air patut bersyukur dengan diterbitkannya kembali karya fiksi fantasi klasik C.S. Lewis – The Chronicle of Narnia oleh penerbit Gramedia. Lebih dari sepuluh tahun yang lalu Narnia pernah diterjemahkan dan diterbitkan oleh penerbit Dian Rakyat.

Sebelum diterbitkan kembali, praktis buku-buku seri Narnia sudah sulit untuk dicari dan hanya dapat ditemui di lapak-lapak buku bekas tanah air. Tak heran banyak pembaca fiksi fantasi tanah air masih merasa asing dengan nama CS. Lewis dan Narnia. Untuk itu, seiring dengan diterbitkannya kembali kisah petualangan Narnia, Arie Saptaji meluncurkan karyanya "Let’s Go Into Narnia" – Mengenal Lebih Dekat Dunia Ajaib C.S Lewis – bagi para penggemar dan calon penggemar Dunia Narnia.

Buku tipis (136 hal) ini ditulis oleh Arie Saptadi, penulis beberapa buku dan penggemar Narnia. Berawal dari pertemuan penulis dengan sebuah seri akhir Narnia yang terselip di rak buku bacaan anak-anak sebuah Toko Buku di Jogya, penasaran ketika membaca penulis Narnia -C.S Lewis - yang selama ini hanya ia temukan melalui kutipan-kutipan disejumlah buku karya penulis lain, ia pun segera melahap buku Narnia tersebut hanya dalam satu malam.

Terpesona oleh daya tarik petualangan fantasi Narnia maka ia pun segera mencari seri-seri lainnya yang sudah tak mudah lagi karena pada saat itu buku seri Narnia sudah ‘out of print’. Setelah berhasil melangkapinya dan membaca ketujuh buku Narnia yang masing-masing diperolehnya dengan cara unik, ia pun semakin tertarik dengan Narnia, pesona Narnia ternyata membekaskan kesan istimewa dalam benaknya dan memimpikan kapan ia bisa menggarap karya-karya sebagus itu (hal 97).

Mimpi Arie rupanya kini terwujud!. Dalam buku yang ditulisnya ini ia mengenalkan kepada para penggemar dan calon penggemar Narnia untuk mengenal lebih dekat dunia ajaib Narnia. Buku ini ditulis oleh Arie secara singkat, padat dan jelas! Setelah kata pengantar dan pendapat pembaca, buku ini dimulai dari biografi singkat CS Lewis yang juga dikenal sebagai sarjana kritikus sastra yang menonjol di Oxford dan Cambridge, pengarang fiksi ilmiah dan cerita anak yang termasyur hingga penulis dan penyiar radio yang gigih membela iman Kristen. Dalam bab ini terungkap juga persahabatannya dengan JRR Tolkien, penulis Lord of The Rings yang sedikit banyak mempengaruhi gaya penulisannya.

Buku ini selain menyajikan proses kreatif Lewis dalam melahirkan Narnia, juga dilengkapi dengan sinopsis ketujuh buku Narnia yang dijelaskan sebagai semacam sneak peak yang tentu saja dalam sinopsisnya ini Arie berusaha untuk tidak membocorkan ending cerita demi kenikmatan calon pembaca Narnia. Karena terdapat perbedaan antara urutan penerbitan buku dengan kronologis internal, Arie juga menyuguhkan bab mengenai urutan pembacaan Narnia, dengan bijak Arie memberikan saran-saran darimana sebaiknya pembaca membaca kisah Narnia, walau keputusan akhir diserahkan pada pembacanya namun Arie menyimpulkan kalau Narnia dibaca tidak berdasarkan urutan kronologis internal maka kisah petualangan Narnia akan terasa "lebih nendang!".

Selain itu buku ini juga dilengkapi dengan bab Aneka Penafsiran, yang sebenarnya ditujukan bagi pembaca yang telah menamatkan ketujuh seri Narnia, untuk itu di awal pengantar dan di awal bab ‘Aneka Penafsiran’ Arie memberi peringatan kalau bagian ini mengandung bocoran dari kisah Narnia dan menyarankan bagi yang belum membaca ketujuh seri Narnia agar melewatkan bagian ini.

Di bab-bab terakhir buku ini Arie mengetengahkan bab ‘Keungggulan Narnia’-Sebuah catatan pribadi- dan bab mengenai perbandingan antara Narnia, Dunia Tengah (Lord of The Rings), dan Harry Potter. Mungkin bab-bab ini yang paling menarik dari buku ini karena pembaca buku-buku fantasi mau tak mau pasti akan bertanya-tanya dan membanding-bandingkan dengan dua buku yang terlebih dahulu telah dikenal di Indonesia. (Harry Potter dan Lord of The Rings).

Buku ini memang tak lepas dari penilaian subyektif pengarangnya yang mengaku begitu terkesan dengan kisah petualangan Narnia (hal 97). Namun terlepas dari semua itu buku yang memang diperuntukkan bagi pembaca Narnia di Indonesia ini sangat baik dibaca oleh penggemar dan calon penggemar Narnia untuk mengetahui siapa C.S. Lewis dan apa itu Narnia. Setidaknya buku ini dapat menjadi ‘bekal’ yang cukup mengenyangkan bagi pembaca Narnia untuk berpetualang ke dunia ajaib Narnia. Setelah dirasa ‘bekal’ itu cukup maka pembaca Narnia akan segera berkata "Let’s Go Into Narnia!"

@h_tanzil
Read more »

Jumat, 20 Januari 2006

Billy, Kisah Sejati Pria dengan 24 Kepribadian


Billy, Kisah Sejati Pria dengan 24 Kepribadian

Judul : 24 Wajah Billy
Penulis : Daniel Keyes
Penerjemah : Miriasti & Meda Satrio
Penyunting : Budhyastuti R.H
Penerbit : Qanita, cet 1, Juli 2005

.buat saya buku tentang Billy Milligan yang berkepribadian 24 ini sangatmemikat, dan menambah wawasan. Apalagi Billy pernah terlibat kasus perkosaandan harus berurusan dengan polisi. Suatu kisah sejati yang bermanfaat bagipara profesional, maupun awam.

Sarlito W. Sarwono, psikolog, penerjemah Sybill

Demikian komentar pujian terhadap buku 24 Wajah Billy dari psikolog terkenal Sarlito W. Sarwono. Rasanya komentar ini cukup untuk memberi gambaran padapara calon pembaca buku ini untuk membaca dan menyelami kehidupan BillyMilligan yang memiliki 24 kepribadian dalam dirinya

24 Wajah Billy (The Minds of Billy Milligan) yang ditulis oleh Daniel Keyesadalah buku yang berisi riwayat hidup faktual William Stanley Milliganhingga kini, Billy adalah orang pertama dalam sejarah Amerika yang padaakhir 1970-an dianggap tidak bersalah atas berbagai tindak kriminal denganalasan tidak waras karena dia memiliki kepribadian majemuk.Buku ini dibagi dalam dua bagian besar dengan 16 bab yang ditulis secaramemikat oleh Keyes. Bagian pertama buku ini dibuka dengan terungkapnya kasusperkosaan 3 orang wanita di Fakultas Kedokteran Ohio State University.Berdasarkan kesaksian dari para korban akhirnya kepolisian setempat berhasil menangkap si pelakunya yang bernama Billy Milligan. Dalam proses penyiapan persidangan dari para pengacaranya akhirnya terungkap bahwa Billy memiliki kepribadian majemuk dan beberapa dari kepribadian tersebut melakukan tindakkriminal tanpa diketahui oleh pribadi-pribadi lainnya. Dengan alasan inilah para pengacaranya berusaha membebaskan Billy dari segala tuduhan dengan dalih ketidakwarasan akibat kepribadian majemuk.

Pada bagian kedua, buku ini mengisahkan kehidupan Billy semenjak ia lahir hingga kini, pada bagian ini dikisahkan bagaimana pribadi Billy yang tumbuhdalam lingkungan keluarga yang buruk menjadi rapuh dan terpecah-pecah akibat menyaksikan ayah kandungnya bunuh diri dan mengalami pelecehan seksual dariayah tirinya. Satu persatu pribadi terbentuk dan muncul sesuai dengankeadaan yang dialami Billy. Ada William S. Milligan (Billy), pribadi inti yang rapuh, Arthur sang pemimpin, pria Inggris yang selalu rasional, Ragen yang akan muncul jika Billy dalam keadaan bahaya, Allen yang manipulatif danpandai bicara, Tommy, ahli melepaskan diri, David, penanggung rasa nyeri,Adalana wanita lesbian yang pemalu, Philip si penjahat brutal, Kevin sipenjahat kelas teri, dan lainnya. Total kepribadian yang dimiliki Billykelak diketahui sebanyak 24 kepribadian! Kepribadian ini secara bergantian memasuki kehidupan Billy, awalnya kesemuanya diatur oleh pribadi Arthur yang menentukan siapa-siapa saja yang akan muncul, namun ada kalanya terjadi masa kacau-balau dimana pribadi-pribadi tersebut muncul diluar kendali Arthur dan mengacaukan kehidupan Billy dan menyebabkan terjadinya tindak kriminal yang menyebabkan ia harus masuk penjara, diadili, dan dikirim ke beberapa rumahsakit mental untuk mendapat perawatan. Ketika menjalani perawatan di Athens Mental Health Center lambat laun kepribadian Billy terfusi melebur menjadi satu pribadi utuh yang dinamai Sang Guru. Dialah Billy yang seutuhnya dan Sang Guru yang memiliki nyaris segenap ingatan yang utuh inilah yang bekerjasama dengan Keyes sehingga memungkinkan buku ini ditulis.

Secara keseluruhan kisah ini sangat menarik untuk dicermati, dari segi alurcerita Keyes menyajikan dengan sangat baik, dimulai dari terungkapnya kasusperkosaan cerita kembali ke masa-masa awal kehidupan Billy dan latarbelakang keluarganya. Keyes menuliskannya dengan cemerlang dan teliti, hal ini tentu saja buah dari ketekunan Keyes dalam mempersiapkan buku ini,dimana Keyes menghabiskan waktu selama dua tahun bersama Billy Miligan, dan telah mewawancarai keluarga, dan beberapa dokter dan petugas medis yang pernah merawat Billy.

Ada banyak peristiwa menarik yang dialami Billy dalam buku ini, sehingga membaca buku setebal 699 halaman ini menjadi tak membosankan, banyaknya pribadi Billy yang muncul mengisi keseluruhan buku ini tak membuat cerita menjadi rumit karena Keyes menuturkannya dengan sangat baik. Kelancaran bertutur Keyes juga membuat buku ini tidak hanya jernih dan cermat, tapi juga memancarkan rasa empati bagi para penderita kepribadian majemuk. Dari segi keilmuan buku ini juga dapat dijadikan sebuah dokumen ilmu jiwa dan kemasyarakatan. Semua unsur itu membuat keterbacaan buku ini tinggi, bisa dinikmati oleh siapa saja mulai dari pembaca awam hingga para profesional bidang kejiwaan. Selain itu buku ini juga menyajikan unsur-unsur kisah kriminal dan peradilan yang memikat. Tak heran, buku ini pada tahun 1982 memperoleh nominasi Best True Crime Category Edgar Award oleh The Mistery Writers of America.

Dari segi terjemahan, terjemahan yang baik membuat buku ini mudah dipaham ioleh pembaca kita. Walau buku ini diterjemahkan oleh dua orang namun peran penyunting terlihat sangat baik dalam menjaga kekonsistenan kalimat yang dipergunakan. Beberapa kalimat percakapan tampaknya dicoba dibuat agak santai dengan mengganti kata 'tidak' dengan 'nggak', walau mungkin awalnya agak mengganjal bagi sebagian pembaca namun hal ini tidak mengganggu kenikmatan membaca buku ini secara keseluruhan. Dari segi pengemasan tampaknya buku inipun dipersiapkan dengan sangat baik,hal ini terbukti dengan diraihnya Desain Cover Terbaik pada Pameran BukuBandung 2005, yang diselenggarakan Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) CabangJawa Barat pada 2-8 Agustus 2005 di Bandung.

Buku The Minds of Billy Milligan ditulis oleh Daniel Keyes - penulis asal New York AS- pada tahun 1981, sayangnya baru kali ini buku ini diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Walau bisa dikatakan buku ini terlambat diterbitkan di Indonesia namun buku ini masih layak untuk dibaca karena melalui buku ini kita akan diberi wawasan baru mengenai kasus kepribadian majemuk. Bahkan bukan tak mungkin buku ini pada akhirnya akan menjelaskan jauh lebih banyak akan apa yang terdapat dalam pribadi kita, tentang diri kita sendiri."

@h_tanzil
Read more »

Fetussaga


Judul : Fetussaga
Penulis : Jamal
Penerbit : Grasindo, 2005
Tebal : 226 hal

Pernahkah membayangkan kehidupan jabang bayi atau janin dalam rahim ibunya? Selain gerakan atau tendangan yang terasa di perut ibunya, adakah hal lain yang dikerjakan sang janin di dalam sana? Mungkinkah selain tinggal selama kurang-lebih sembilan bulan dalam kesendiriannya seorang ibu, ia-mungkin lapisan lain dari dirinya-punya pengalaman yang sepenuhnya misterius….(hal ix)

Rupanya pertanyaan-pertanyaan itulah yang menggelitik penulis novel ini –Jamal- untuk menggerakkan jari-jemarinya yang lincah diatas tuts keyboard komputer untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang timbul dalam benaknya. Dengan kebebasan kreatif yang dimilikinya sebagai seorang pengarang, Jamal mencoba bercerita tentang apa yang mungkin dialami oleh sang janin selama ia berada dalam rahim ibunya.

Fetussaga memang cerita yang unik, idenya orisinil dalam ranah fiksi tanah air. Di novel ketiganya ini Jamal seolah meruntuhkan persepsi pembacanya bahwa di novel terbarunya ini ia akan kembali bertutur dengan ide dan plot cerita yang sama seperti dua novel terdahulunya (Louisiana-Louisiana, 2003 dan Rakkaustarina,2004). Novelnya kali ini memang lain.

Judul Fetussaga dirangkai dari dua kata, fetuss untuk janin atau jabang bayi, dan saga dari kisah atau cerita. Jadi memang keseluruhan isi dari novel ini bertutur mengenai perasaan-perasaan yang dirasakan sang janin selama berada dalam rahim dan kisah perjalanan mistisnya bersama ‘pengawal’nya menuju ‘alam gaib’. Nampaknya kini Jamal mencoba membaurkan antara yang realis dan surealis sehingga menghasilkan cerita yang unik dan menarik.

Novel ini dimulai dari munculnya kesadaran sang janin yang mulai bertanya-tanya mengenai keberadaan dirinya. Uniknya janin ini tidak hanya sadar akan keberadaan dirinya namun ia juga bisa melihat dan mendengar apa yang terjadi diluar perut ibunya. Awalnya ia hanya bisa melihat dan mendengar sebatas kemana ibunya pergi dan lakukan, namun ketika si janin bertemu dengan ‘mahluk dari dunia lain’ yang bertugas menjadi ‘pengawalnya’ maka si janin secara gaib bisa melakukan petualangannya mistisnya dengan mengunjungi kerajaan gaib di wilayah Tatar Sunda. Mahluk gaib yang dinamai bangsa Onom ini secara sengaja memang diutus untuk menjaga sang janin oleh Prabu Watukancana karena ternyata sang janin adalah keturunan langsung dari Prabu Wastukancana dari Kerajaan Galuh yang menurut lagenda pernah hidup dan memerintah di Tatar Sunda – Jawa Barat. Si Janin yang belum bernama ini harus dilindungi secara gaib karena diantara kerajaan-kerajaan gaib sedang terjadi intrik untuk memperebutkan sang janin yang akan dijadikan raja dimana kerajaan yang berhasil menculik dan memahkotai si janin untuk menjadi rajanya maka kerajaan itu akan memiliki pengaruh yang besar karena raja mereka keturunan langsung dari Prabu Watukancana yang sangat berpengaruh pada masa lalu.

Novel ini menjadi menarik karena selain secara lancar bertutur mengenai serunya pengalaman-pengalaman yang dialami si janin dalam mengembara ke alam gaib bersama para pengawalnya, novel ini juga menyuguhkan sepenggal legenda kerajaan Tatar Sunda yang mau tidak mau akan menyinggung khazanah sejarah, budaya, dan mitos di Tatar Sunda yang eksotis. Tak ketinggalan pula dalam lembar-lembar novel ini pembaca akan disuguhkan dialog-dialog filosofis seputar keberadaan asal-usul manusia, cara manusia memandang alam, hidup, merespon lingkungan, dan lainnya. Dalam novel ini juga terdapat dialog-dialog jenaka dan nakal antara janin dan ‘pengawal’nya dan tak ketinggalan pemikiran-pemikiran dan pertanyaan-pertanyaan polos si janin yang mencoba memahami lingkungan yang ada didalam dan diluar dirinya. Singkatnya novel ini walau memiliki unsur-unsur mitos, sejarah, budaya Sunda dan filsafat kehidupan namun novel ini dapat dibaca dengan ringan dan riang gembira.

Walau novel ini seratus persen khayalan dan tema utama yang diangkat nampaknya tak masuk akal (janin yang bisa merasa) namun novel ini setidaknya akan memberi wawasan baru bagi pembacanya dalam hal sejarah, budaya dan nilai-nilai filosofis yang menghiasi novel ini. Kritik terhadap novel ini mungkin sebenarnya unsur-unsur diatas bisa dieksplorasi lagi dengan lebih dalam lagi oleh Jamal sehingga novel ini bisa semakin memperkaya wawasan dan ruang batiniah pembacanya dalam berbagai hal. Namun terlepas dari kritik tadi usaha Jamal menghadikan dan mengenalkan budaya dan sejarah Sunda melalui novel ini patut dihargai dan menjadikan novel ini layak diapresiasi.

@h_tanzil
Read more »

Senin, 16 Januari 2006

Veronika Memutuskan Mati


Judul : Veronica Memutuskan Mati
Penulis : Paulo Coelho
Penerjemah : Lina Jusuf
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Cetakan : I, Februari 2005
Tebal : 258 hal
ISBN : 979-91-0025-9

Bunuh diri adalah pilihan tragis yang dilakukan manusia ketika persoalan hidup terasa begitu menghimpit jiwanya dan tak ada pilihan lain untuk menyelesaikannya. Berbagai macam persoalan hidup bisa memicu seseorang untuk bunuh diri mulai dari yang ringan seperti diejek teman, tak bisa membayar SPP hingga yang rumit seperti kehidupan rumah tangga yang hancur, terbelit hutang, dll. Namun tak pernah kita mendengar kasus bunuh diri terjadi karena semata ingin keluar dari rutinitas keseharian yang membosankan. Kalaupun seseorang merasa jenuh dengan rutinitasnya, biasanya yang terpikir dilakukan adalah keluar dari rutinitas dan mencari hal-hal baru dengan refreshing, membaca buku, menonton film, pindah pekerjaan, dll, jarang sekali rasanya seseorang sempat berpikir untuk membuang kebosanan rutinitas hidup dengan cara bunuh diri.

Bunuh diri. Itulah yang dipilih Veronika tokoh sentral dalam novel ke-11 Paulo Coelho yang berjudul "Veronika Memutuskan Mati" untuk keluar dari rutinitas hidupnya.
Veronika adalah seorang gadis cantik berusia 24 tahun, sejak lama tinggal sendirian dalam sebuah kamar sewaan di sebuah biara di Ljubljana-Slovenia (pecahan Yugoslavia), ia bekerja sebagai pustakawan dengan karir yang menjanjikan. Tidak ada yang salah dengan pergaulannya, ia memiliki banyak teman dan kecantikannya membuat ia mudah dalam mendapatkan teman kencan. Namun semuanya itu tak membuatnya bahagia rutinitas hidup membuat ia merasa hampa dalam hidupnya. Kebosanan dan kehampaan ini membuatnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan menelan pil tidur hingga overdosis. Ternyata Veronika tak tewas karena pil berdosis tinggi itu. Tindakan Veronika ini dianggap tidak lazim oleh keluarganya, ia dinilai telah melanggar kelaziman hakekat hidup manusia yang seharusnya berjuang untuk hidup. Ia dianggap gila sehingga harus dirawat di rumah sakit jiwa. Ketika sadar Veronika divonis jantungnya terlanjur rusak akibat usaha bunuh dirinya dan ia hanya dapat bertahan hidup selama seminggu saja. Hari-hari penantian Veronika di rumah sakit jiwa inilah yang mengisi seluruh novel ini. Dalam penantiannya Veronika bertemu dan berdialog dengan para penghuni di rumah sakit jiwa itu. Zedka, seorang yang depresi karena memiliki kekasih khayalan, Mari seorang pengacara yang menderita panic attack, dan Eduard yang terkena skizofrenia. Perjumpaannya dengan ketiga orang ini membuat Veronika yang awalnya tak betah dan ingin kabur dari rumah sakit membuatnya menjadi betah karena bisa merasakan kebebasan karena ia merasa dirinya akan segera mati dan bebas melakukan apa saja yang ia kehendaki dalam sisa hidupnya. Hidup dalam lingkungan orang-orang gila lambat laun membuatnya nyaman karena tak ada yang perlu dikhawatirkan dengan tingkahnya yang mungkin dianggap gila oleh orang diluar tembok rumah sakit..Sosok tokoh direktur rumah sakit jiwa Dr. Igor juga memainkan pernaan penting dalam novel ini. Eksperimen dan penelitian yang dilakukan terhadap para pasiennya akhirnya memberi pengaruh besar pada Veronika ketika ia menjalani hari-harinya di rumah sakit jiwa.

Bagaimana akhir dari hidup Veronika? Pembaca akan mengetahuinya di lembar-lembar terakhir novel ini. Coelho mengemas novel ini menjadi begitu menarik, pengalaman Coelho yang pernah dimasukkan oleh orang tuanya dalam sebuah rumah sakit jiwa ketika ia memutuskan untuk menjadi seorang seniman membuat apa yang ditulisnya mengenai suasana rumah sakit dan pengobatan-pengobatan yang dilakukan oleh para dokter terkesan begitu hidup dan menarik. Walau novel ini disertai uraian dari sudut pandang psikiatri dan spiritual yang dalam serta sarat makna namun kesederhanaan bahasa dan terjemahannya yang baik membuat novel ini memiliki tingkat keterbacaannya yang sangat tinggi . Tidak hanya itu saja novel ini juga menyeret pembacanya berrtanya-tanya apa sebenarnya acuan seseorang dianggap normal atau gila. Apakah seseorang dianggap normal jika mengikuti semua norma-norma dalam kehidupan bermasyarakat? Sementara seseorang yang mencoba hidup melanggar norma dan berbeda dengan kebiasaan masyarakat patut divonis gila?

Coelho memang tidak secara gamblang menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas, namun
secara tidak disadari novel ini membawa pembacanya menyelami kehidupan dirinya sendiri dan menyadarkan bahwa sesungguhnya batas antara normal dan kegilaan sangatlah tipis. Terlebih lagi novel ini memberikan bahan perenungan bagi pembacanya mengenai pencarian makna hidup dalam masyarakat yang terbelenggu rutinitas tanpa jiwa dan takluk terhadap tekanan sosial.

@h_tanzil
Read more »

Kamis, 12 Januari 2006

SOE HOK GIE : Pergulatan Intelektual Muda

Judul : SOE HOK-GIE : Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani
Penulis : John Maxwell
Penerjemah : Tri Wibowo Budi Santoso (Triwibs)
Penerbit : Pustaka Utama Grafitti, cet I, Juni 2001
Tebal : xiv, 443 hlm; 21 cm
ISBN : 979-444-422-7

Yang terhormat,

Kami mahasiswa univeritas di Jakarta, dengan penuh rasa hormat bersama ini kirimkan kepada anda "perwakilan mahasiswa" di DPR-GR, paket Lebaran dan Natal. Dalam suasana Lebaran dan Natal ini kami menghormati perjuangan yang telah kalian lakukan selama berahun-tahun di lembaga "perwakilan" rakyat ini.

Kondisi demokrasi Indonesia dan Rule of The Law saat ini jelas merupakan hasil dari perjuangan kalian semua, mahasiswa yang tak kenal ampun dan tak terkalahkan, yang tidak pernah menyerah, dan yang tidak kenal kompromi dengan apa yang benar!
Bersama surat ini kami kirimkan kepada anda hadiah kecil kosmetik dan sebuah cermin kecil sehingga anda, saudara kami yang terhormat, dapat membuat diri kalian lebih menarik di mata penguasa dan rekan-rekan sejawat anda di DPR-GR

Bekerjalah dengan baik, hidup Orde Baru! Nikmatilah kursi anda-tidurlah nyenyak!
Teman-teman mahasiswa anda di Jakarta dan eks-demonstran’66


(hal.364)

Sebuah paket yang berisi pemulas bibir, cermin, jarum dan benang, disertai surat terlampir diatas yang berisi kumpulan tanda tangan dikirim oleh Soe Hok-gie dan kawan-kawannya untuk para mahasiswa yang pada saat itu duduk di kursi DPR-GR sebagai perwakilan mahasiswa.

Paket tersebut diantar pada tanggal 12 Desember 1969, beberapa saat sebelum keberangkatan Soe dan Mapala UI menuju Jawa Timur untuk mendaki puncak gunung Semeru. Rupanya itulah akitvitas terakhir Hok-gie dalam mengkiritsi keadaan politik yang berkembang di Indonesia. Empat hari kemudian Soe Hok-gie menghembuskan nafasnya karena menghirup gas beracun di puncak Semeru.

Nama Soe Hok-gie memang identik dengan gerakan mahasiswa di tahun 60-an. Pemikiran-pemikiran kritisnya selama menjadi mahasiswa UI yang dituangkan baik dalam ide-ide pergerakan maupun tulisan-tulisannya di media massa telah melahirkan sejumlah demonstrasi-yang akhirnya menumbangkan kekuasaan Orde Lama dibawah pemerintahan Presiden Soekarno.

Soe Hok-gie dilahirkan pada 16 Desember 1942 . Ayahnya Soe Lie Piet adalah seorang jurnalis peranakan yang pernah menjadi redaktur harian Tjin Po (1925-1926), selain itu Soe Le Pit juga sempat menulis cerita-cerita pendek dan novel pada tahun 1935-1950an. Rupanya jejak Soe Lie Piet sebagai seorang penulis peranakan berpengaruh besar terhadap anak bungsunya, Soe Hok Gie. Kegemaranya menulis catatan harian telah diketahui oleh publik semenjak diterbitkannya buku hariannya yang diberi judul "Catatan Seorang Demonstran" (LP3ES,1983.). Tulisan-tulisannya yang tajam kerap dimuat di harian-harian nasional di tahun 60-an.

Seperti yang dikenal dalam buku hariannya, Soe Hok-gie mulai secara intens menulis kesehariannya dan pemikiran-pemikirannya semenjak menduduki bangku SMA. Dalam usia yang masih relatif muda (17 tahun) Soe Hok Gie telah memiliki daya kritis yang luar biasa terhadap kondisi bangsanya. Tulisan-tulisannya menunjukkan keyakinan yang kuat dan keteguhan moral yang luar biasa, yang menegaskan bahwa generasinyalah yang bertanggung jawab untuk menyelesaikan segala masalah.
Setelah menyelesaikan sekolah menengahnya pada tahun 1961 Soe Hok-gie mendapat kesempatan mendalami subjek yang telah menarik perhatiannya sejak tahun-tahun terakhir masa SMA-nya, ia diterima di Fakultas Sastra UI Jurusan Sejarah. Masuknya Hok-gie di UI sesuai dengan minatnya ini membuat ia semakin matang dalam segi intelektual dan emosinya dalam mencermati kondisi politik Indonesia. Meskipun Fakultas Sastra adalah fakultas yang terkecil dan kurang bergengsi di UI namun hal ini membuat semangat fakultas Sastra UI memiliki esprit de crops tertentu yang mudah terlihat oleh mahasiswa yang baru diterima. Hal ini juga membuat fakultas Sastra terlihat lebih independen dan mandiri dan membentuk ciri khas intitusional tersendiri terutama setelah fakultas sastra dipindahkan jauh dari kampus utama UI di Salemba ke kampus baru di Rawamangun. Keadaan kampus Sastra UI yang idependen inilah yang turut membentuk Hok-gie dalam kemandiriannya dalam berpolitik.
Di masa-masa kuliahnya Hok Gie terlibat aktif dalam perdebatan dan diskusi dengan berbagai kelompok dan individu sehingga memberi bentuk dan makna bagi persepsinya yang baru tentang keadaan masyarakat dan politik Indonesia. Di masa-masa inilah Soe Hok Gie memperkuat ketetapan hatinya untuk menolak kebijakan pemerintahan Soekarno dan akhirnya melahirkan komitmennya untuk ikut aktif dalam usaha menjatuhkan pemerintahannya. Hok-gie adalah konseptor dan pencetus ide-ide demonstrasi mahasiswa di tahun 60-an yang pada akhirnya akan membawa pada pergantian pemerintahan dari era Soekarno kepada Soeharto.
Setelah pemerintahan berganti Hok-gie tak lantas otomatis masuk dalam struktur pemerintahan yang baru dibawah Presiden Soeharto, Hok-gie berpendapat keterlibatan langsung mahasiswa dalam politik nasional sebagai fenomena sementara dan merupakan reaksi spontan terhadap kiris politik yang melanda Indonesia. Ketika krisis berakhir Hok-gie berpendapat bahwa partisipasi aktif mahasiswa dalam politik nasional harus diakhiri. Menurut keyakinanya, para dosen dan mahasiswa kini seharusnya kembali kepada tugas utamanya, yaitu mengajar dan belajar. Namun daya kritis Hok Gie tidak berhenti begitu saja, selama ia kembali ke kampusnya di awal masa Orde Baru ia masih aktif menulis dan mengkiritsi pemerintahan orde baru di berbagai media kampus dan koran-koran nasional. Di tahun-tahun akhir hidupnya Hok-gie mulai kecewa terhadap apa yang telah ia perjuangkan, isu korupsi masih mengental di masa awal pemerintahan orde baru, pembersihan sisa-sisa aktivis PKI dan masalah penangan tahanan PKI yang tak berperikemanusiaaan membuat ia terus mengkritisi pemerintahan baru yang turut ia bidani kelahirannya. Kegelisahan-kegelisahan pribadi dan kekecewaan terhadap kampus dan pemerintahan baru negaranya membuat Hok-Gie bersama kawan-kawannya kerap menyingkir dari hiruk pikuk politik dan kampusnya untuk mendaki gunung. Setelah ia dan kawan-kawannya mengirim paket Lebaran-Natal untuk mahasiswa yang menajdi perwakilan di DPR-GR, Hok-gie dan kawan-kawannya melakukan pendakian ke Semeru. Tepat sehari sebelum ulang tahunnya yang ke 27 keganasan gas beracun Semeru membuatnya harus mengakhiri aktivitas politiknya untuk selama-lamanya.

Kehidupan Soe Hok Gie secara lengkap mulai dari masa kecil hingga akhir dari hidupnya, beserta pandangan-pandangan politiknya terangkum secara komprehensif dan rinci dalam buku ini yang diberi judul :SOE HOK GIE :Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani karya Indonesianist asal Australia John Maxwell.

Buku ini tentunya melengkapi sejumlah buku mengenai Soe Hok Gie yang telah terbit terlebih dulu seperti "Catatan Seorang Demonstran (LP3ES, 1983), Di Bawah Lentera Merah (Bentang.), Orang-orang Di Simpang Kiri Jalan (Bentang) dan Zaman Peralihan (Bentang).
Bisa dikatakan buku ini melengkapi apa yang tidak terungkap di catatan hariannya yang telah diterbitkan. Buku ini juga memberikan latar belakang peristiwa dari sejumlah entri yang ditulis dalam catatan hariannya. Sehingga bisa dikatakan buku ini sangat baik dibaca baik setelah atau sebelum membaca buku hariannya.

Buku ini adalah sebuah terjemahan disertasi doktoral John Maxwell yang berjudul Soe Hok-gie: A Biography of a Young Indoensian Intellectual, berisi studi biografi Soe Hok Gie, seorang aktivis politik dan intelektual muda yang luar biasa dan paling terkemuka pada dasawarsa 1960-an. Karena merupakan disertasi doktoral tentu saja buku ini dikerjakan dengan sangat serius oleh John Maxwell. Selain riset pustaka melalui arsip-arsip tulisan Hok-gie yang tersebar di berbagai media massa dan ratusan buku yang relevan dalam penulisan biografi ini, John Maxwell juga menyempatkan diri berkunjung ke Indonesia guna mewawancarai keluarga Soe Hok-gie dan lebih dari 50 nama lainnya yang merupakan sahabat dan orang-orang yang pernah bersinggungan dengan Soe Hok Gie selama masa hidupnya.

Buku ini dibagi menjadi enam bagian besar yang berjudul :1) Asal-Usul, 2)Konteks, 3).Tahun-tahun awal di Universitas: Kemunculan Seorang aktivis Politik, 4) Terjun Ke Kancah Aktivisme Politik :Demonstrasi Mahasiswa 1966, 5)Membersihkan Orde Lama, 6) Bergulat dengan Kemunculan Orde Baru.
Kesemua bab dalam buku setebal 417 halaman ini terurai secara lengkap dan komprehensif, selain mengungkap sisi-sisi kehidupan pribadi Soe Hok-gie, buku ini juga memberikan gambaran yang lengkap mengenai peta politik Indoenesia semenjak dimulainya Demokrasi Terpimpin di tahun 50-an hingga akhir periode Soekarno dan awal-awal kemunculan Orde Baru. Gerakan-gerakan mahasiswa paska peristiwa G30S juga terungkap secara jelas, kecermatan riset pustaka dan wawancara dengan tokoh-tokoh eks demostran’66 membuat buku ini begitu hidup dan rinci dalam menggambarkan situasi chaos di tahun 66 yang akhirnya akan meruntuhkan rezim Orde Lama.

Buku ini juga dilengkapi dengan Bibliografi yang memuat lengkap daftar karya lengkap soe hok-gie baik yang dipublikasikan dan tidak dipublikasikan
Buku ini hingga saat ini meruapakan satu-satunya biografi Soe Hok Gie yang ditulis secara lengkap. Walau bukan buku baru (terbit 2001) buku ini akan selalu relevan dibaca bagi merkea yang ingin mengetahui kehidupan Soe Hok-gie dan sepak terjang mahasiswa di tahun 1966 ditengah hiruk pikuk politik di akhir pemerintahan Soekarno, buku ini juga dapat mendampingi buku-buku tentang Soe Hok-gie yang akhir-akhir bannyak diterbitkan ulang semenjak ini namanya kembali dibicarakan orang menyusul difilmkannya tokoh ini dengan judul "GIE"

@h_tanzil
Read more »

Rabu, 11 Januari 2006

Imperia


Judul : Imperia
Penulis : Akmal Nasery Basral
Penerbit : AKOER
Cetakan : I, Juni 2005
Tebal : 434 hal.
Harga : Rp. 49.500,-

IMPERIA adalah nama sebuah patung wanita setinggi 7-8 meter yang terletak Kontstanz, sebuah kota kecil di Jerman. Patung ini bukanlah patung pemimpin negeri atau pahlawan nasional Jerman, melainkan patung seorang pelacur Italia yang hidup pada abad ke 14 yang sedang menengadahkan keduabelah tangannya dimana pada masing-masing tangannya terdapat sebuah patung kecil yaitu patung Raja Sigmund di telapak kanan, dan Paus Martinus V di telapak kirinya.

Apa yang membuat novel ini diberi judul nama sebuah patung pelacur Italia? Tentu saja jawabannya akan bisa ditemui selelah membaca keseluruhan novel karya wartawan Tempo Akmal Nasery Basral ini.

Begitu membaca halaman pertama dari novel ini pembaca akan segera dibawa kedalam sebuah ceritia bernuansa drama thriller yang penuh dengan ketegangan-ketegangan dan teka-teki yang baru akan terjawab di halaman-halaman terakhir novel ini. Namun tidak hanya itu yang akan ditemui dalam novel ini, novel setebal 494 hal. ini menyajikan materi-materi yang memberi pengetahuan baru yang beragam bagi pembacanya baik dalam bidang jurnalisme, kehidupan selebriti, sejarah, astronomi, musik, kritik sosial hingga tragedi kemanusiaan.

Seperti pada novel-novel jenis thriller, lembar-lembar pertama Imperia dibuka dengan kejadian dibunuhnya seorang pengacara muda terkenal Rangga Tohjaya secara mengenaskan oleh seorang pembunuh bayaran. Tak lama kemudian mayatnya ditemukan oleh penduduk setempat dengan luka tertembus peluru Quick Shock, peluru mematikan yang bisa pecah menjadi tiga bagian di dalam tubuh.

Secara cepat kisah beralih pada seorang wartawati muda (Wikan) yang baru saja diterima di sebuah majalah berita mingguan. Tugas pertama Wikan adalah meliput peluncuran album baru seorang Diva dunia musik yang bernama Melanie Capricia (MC). Bermula dari wawancara biasa menyangkut peluncuran album terbaru MC, tugas Wikan bertambah berat karena harus memburu MC yang menjadi tersangka utama terbunuhnya Rangga Tohjaya yang pernah menangani MC dalam kasus plagiarisme terbesar dalam sejarah industri musik Indonesia. Kasus kematian Rangga semakin rumit karena secara cerdas Akmal membuat kasus ini semakin menarik dengan teori konspirasi yang pada akhirnya membuat pembaca terhenyak ketika membaca lembar-lembar terakhir dari novel ini.

Keragaman materi ensiklopedis yang terdapat dalam Imperia tentu saja membuat Imperia menjadi novel yang memiliki nilai plus bagi pembacanya, selain pembaca disuguhi cerita yang mengungkap sebuah pembunuhan, pembaca diajak sedikit mendalami berbagai pengetahuan ensiklopedis yang disajikan dalam buku ini. Novel ini selain dilengkapi dengan catatan kaki yang komprehensif juga menyertakan sebuah gambar konstelasi rasi bintang cancer dan sebuah diagram warna Stabar Master Rosini (diagram pembagian suara dalam oleh vokal). Namun keragaman materi ini juga dapat menjadi bagian yang mengganggu bagi alur cerita novel ini, alur cerita yang seharusnya bergerak dengan cepat seperti pada novel-novel jenis thriller akhirnya banyak mengalami perhentian untuk sekedar menjelaskan berbagai materi yang coba dieksplorasi oleh penulis.

Namun terlepas dari sedikit ‘gangguan’ tadi novel ini layak diapresiasi oleh siapapun, novel ini tidak hanya memberi pembacanya sebuah cerita menarik namun novel ini juga memberikan kepingan-kepingan kecil pengetahuan yang akan memperkaya pembacanya dalam berbagai hal.

@h_tanzil
Read more »

Laluba


Judul Buku : Laluba
Penulis : Nukila Amal
Penerbit : Pustaka Alvabet
Cetakan : I, Mei 2005
Tebal : 166 hal. 13.5x20 cm
ISBN : 979-3064-13-7

Setelah sukses dan menghentakkan dunia sastra tanah air dengan novel lirisnya "Cala Ibi"(2003), kali ini Nukila Amal mempersembahkan karya terbarunya "Laluba", sebuah kumpulan cerpen yang terdiri dari 15 buah cerpen dimana lima diantaranya pernah dimuat di Majalah Matra, The Jakarta Post, Koran Tempo dan Jurnal Kebudayaan Kalam.

Kelimabelas cerpen dalam buku ini dibagi dalam dua bagian besar. Di bagian pertama "Para Penyelamat dan Para Penari" (5 bh cerpen) terdapat cerpen "Laluba" yang dijadikan judul buku kumpulan cerpen ini. Tidak dijelaskan mengapa cerpen Laluba dijadikan judul buku ini namun jika dilihat dari keseluruhan cerpen yang ada, cerpen Laluba memang yang paling menonjol diantara cerpen-cerpen lainnya. Dalam cerpen Laluba Nukila bertutur mengenai seorang ibu yang berdialog dengan anaknya yang masih berada dalam kandungannya yang dinamainya "Laluba" (lumba-lumba.). Cara bertutur dalam cerpen Laluba ini mengingatkan kita akan Cala Ibi, penuh dengan kalimat-kalimat liris bak puisi, metafor-metafornya terpilih dengan cermat dan kadang mengagetkan.

Di bagian kedua "Para Penatap dan Para Pencerita" (10 bh cerpen) Nukila menuliskan cerpen-cerpennya yang bertolak dari karya-karya pegrafis legendaris asal Belanda yang karya-karyanya telah mendunia M. C. Escher (1898-1972). Dalam cerpen berjudul "Drama Dua Tangan" dengan menarik Nukila menyajikan cerpennya dalam bentuk dialog drama antara tangan satu dan tangan dua yang saling menggambar dengan asyiknya hingga suatu ketika mereka berselisih siapa yang lebih dulu menggambar tangan, tangan satu bersikukuh dialah yang menggambar tangan dua, sebaliknya tangan dua berpendapat dialah sipembuat tangan pertama dan dialah sang pencipta sementara tangan pertama adalah ciptaannya.

Sebuah karya terkenal M.C. Escher yang bertitel Reptil (1943) mengilhami Nukila untuk membuat cerpen berjudul "Kita Ada di Sini" . Di cerpen ini Nukila mencoba menerjemahkan litograph Escher kedalam rangkaian kata dengan baik sekali bagaimana sketsa seekor buaya kecil tiba-tiba menyeruak keluar dari gambarnya.

Membaca cerita-cerita pendek Nukila dalam "Laluba" memang menarik karena setiap cerpen Nukila akan menyeret kita kedalam ceruk-ceruk batin manusia yang paling dalam dan misterius yang dibingkai dalam keindahan berbahasa yang menakjubkan. Hal ini tentu saja membawa konsekuensi cerpen-cerpen ini menjadi agak sukar dimengerti bagi mereka yang hanya terbiasa membaca cerpen-cerpen ringan. Sedikit kekurangan pada buku ini adalah tak ada satupun juga karya grafis MC Escher yang tercetak pada buku ini. melainkan hanya memuat judul karya dan tahun pembuatan dari karya grafis MC Escher di tiap akhir cerpen. Tentu saja bagi orang yang tak mengenal siapa MC Escher keterangan tersebut tak akan memiliki arti apapun. Jika saja karya pegrafis terkenal ini dimuat di awal atau di akhir setiap cerpen tentunya hal ini akan sangat memudahkan pembaca untuk lebih mengapresiasi setiap cerpen dalam buku ini.

@h_tanzil
Read more »

Dasar-dasar Meresensi Buku

Judul Buku : Dasar-Dasar Meresensi Buku
Penulis : Daniel Samad
Penerbit : Grasindo
Cetakan : I, 1997
Tebal : xi + 83
Harga : Rp. 10.000,-

Hampir semua surat kabar dan majalah selalu menyediakan kolom resensi setiap minggunya. Bagi para pecinta buku, kolom resensi merupakan kolom yang selalu dinanti-nanti dan dicermati untuk memperoleh informasi mengenai buku yang diresensi.

Resensi (bahasa Belanda , recensie) atau 'review' (bahasa Inggris) sendiri berasal dari kata Latin revidere dan resence, artinya melihat kembali,menimbang atau menilai. Di Indonesia, resensi sering juga diistilahkandengan timbangan buku, tinjauan buku, bedah buku, dll. Sedangkan menurutWebster Collegate Dictionary (1995), Review adalah 'a critical evaluation ofa book' karena itu pada hakikatnya resensi haruslah menjelaskan apa adanya suatu buku: kelebihan dan kekurangan buku itu. Jadi resensi bukanlah tulisanyang "menjual" buku. Tidak ada pesan sponsor bagi resensi buku; karena ituresensi yang baik hanya mengungkapkan apa yang dibaca oleh peresensi secara kritis.

Bagaimana membuat resensi sesuai dengan definisi resensi diatas? Buku karyawartawan senior Daniel Samad ini menyajikan tips-tips mendasar dan praktisbagaimana meresensi sebuah buku. Buku ini dibagi menjadi 5 buah ab yangdisusun secara sistimatis, dimulai dari Pengertian Resensi, MembuatPembukaan, Cara merumuskan Tubuh Resensi, Mengakhiri Resensi dan MeresensiBuku Sastra. Pada bab Membuat Pembukaan (bab 2) hingga bab MengakhiriResensi (bab 4) penulis buku ini selalu memberikan contoh-contoh paragrafresensi yang diambil dari berbagai resensi yang pernah dimuat di media masa.Tentu saja hal ini memudahkan pembaca buku ini dalam memahami danmempelajari teknik-teknik menulis resensi. Di bagian Mengakhiri Resensi (bab4) penulis juga memberikan berbagai tips bagaimana menyunting naskah,memotong kalimat, mempertimbangkan paragraf dan contoh bagaimana caramenulis surat pengantar untuk redaksi media yang akan dikirimi resensi..Jika bab 2 - 4 menyajikan teknik meresensi buku non fiksi maka di bagianterakhir buku ini terdapat bab khusus yang membahas Meresensi Buku Sastra(bab 5) yang mencakup bagaimana langkah-langkah mengapresiasi, bagaimanameresensi buku kumpulan puisi, novel dan kumpulan cerpen. Buku ini jugadilengkapi dengan lampiran alamat surat kabar dan majalah yang memuat kolomresensi.

Buku tipis ini (83 halaman) ini ditulis dengan gaya bahasa yang mudahdimengerti , praktis dan sistematis dalam mengurai bab-bab didalamnyasehingga membuat pembaca buku ini seolah sedang diajari secara langsung olehseorang peresensi handal. Dengan kepraktisan dan uraiannya yang baik bukuini bisa dibaca oleh siapa saja yang berniat untuk belajar meresensi sebuahbuku. Walau bukan buku baru (pertama kali diterbitkan pada tahun 1997),namun buku ini tetap relevan untuk tetap dibaca dan dipelajari , buku inipunsepertinya tidak sulit diperoleh di toko-toko buku besar hingga kini.

@h_tanzil
Read more »

Akademos


Judul : Akademos
Penulis : Bagus Takwim
Penerbit : Jalasutra, cet II 2004
Halaman : 368 hal.
Harga : Rp. 40.000,-

Cinta selalu memberi inspirasi, sepertinya memang kisah cinta adalah kisahyang menarik untuk dikisahkan dan akan terus dituliskan orang baik dalambentuk lirik lagu, puisi, skenario film, cerpen dan novel.

Novel Akademos yang ditulis oleh Bagus Takwim ini adalah novel yangdilandasi oleh kisah percintaan seorang tokoh utamanya (Didit) dengansejumlah wanita yang dipacarinya selama ia berkuliah di UniversitasIndoensia (UI). Mungkin karena seluruh kisah cinta yang dialami Didilterjadi selama masa kuliahnya maka novel ini berjudul Akademos. Asal kataAkademos sendiri adalah dari seorang filsuf Yunani terkenal Plato padaabad ke 4 sebelum Masehi. Pada saat itu Plato, murid Socrates itumendirikan sekolah di suatu taman yang disebut 'Akademos' di salah satu sudut kota Athena.

Walau pada dasranya ini adalah novel percintaan namun di tangan BagusTakwim kisah cinta yang dituturkannya bukanlah kisah cinta yang biasa.Walau di beberapa bab terkesan sang tokoh begitu melankolisnya ketikacintanya harus kandas namun secara keseluruhan kisah cinta dalam novel inibisa dikatakan kisah cinta yang mencerdaskan pembacanya karena setiapDidit berpacaran dengan seorang wanita, masing-masing wanita itu memilikikepribadian dan hobi yang berlainan yang tentunya memperkaya Adit baikdari kepribadiannya maupun pengetahuannya menyangkut hobi tiap wanita yang dipacarinya.

Novel ini diawali dengan diterimanya Didit di Fak. Psikologi UI. Saatmenjalani masa-masa orientasi hatinya terpikat dengan kakak kelasnya yangbernama Andina. Setelah masa orientasi selesai Didit berpacaran denganAndin yang ternyata memiliki hobi membaca buku-buku sastra. Didit yangsebelumnya tidak menyukai sastra akhirnya ikut menyelami dunia sastra.Namun hubungan mereka harus putus ditengah jalan karena ternyata Andinsudah dijodohkan oleh orang tuanya. Lepas dari masa-masa sedih akibatputus dengan Andin, Didit bertemu dengan Rosa, melaluinya Diditdiperkenalkan dengan dunia glamour dan kontemporer hingga dunia masak yangditekuni Rosa dengan serius. Namun hubungan inipun harus kandas karenaperdedaan agama. Kemudian hadirlah Ranti dalam kehidupan Didit, kali iniRanti memperkenalkan Didit pada dunia pergerakan mahasiswa danpemikiran-pemikiran radikal dan filosofis dari para filsuf.

Yang membuat novel ini menarik adalah banyaknya materi-materi yang akanmemperkaya pembacanya, karena masing-masing kekasih Didit memilikikarakter dan hobi yang berlainan maka di novel ini pembaca akan disuguhimateri-materi menarik mulai dari dunia sastra, musik, masakan, hinggapemikiran-pemikiran para filsuf tentang perilaku manusia. Dalam novel inidituturkan juga bagaimana situasi dunia kampus menjelang dan pada saatterjadinya tragedi Mei 98, dituturkan dalam cara pandang mahasiswa sebagaipelaku utama reformasi pada masa itu membuat novel ini bisa digunakansebagai sumber alternatif peristiwa Mei 98 dari sudut pandang mahasiswadimana selama ini kita hanya membaca peristiwa ini dari sudut pandang media masa saja.

Novel ini juga diperkaya dengan [Box] / sisipan artikel yang berisimateri-materi yang sedang dibahas oleh para tokoh dalam novel ini. Secarakeseluruhan ada 11 sisipan dari 368 halaman novel yang menyajikan artikelmenarik mulai dari syair lagu dengan chord-nya, sejarah singkat fiksi,sejarah musik blues ,sejarah kopi, resep masakan, dll. Setiap box/sisipandikemas dengan grafis yang menarik sehingga memudahkan pembaca untukmembedakan mana yang sisipan dan mana yang bukan. Hanya sayang ketikabeberapa bab menuturkan mengenai peristiwa Mei 98 tak ada satu sisipan punyang menyajikan artikel mengenai peristiwa ini. Sisipan dari media berupa kronologis peristiwa Mei'98 mungkin akan membuat novel ini akan semakin 'kaya'.

Dari cara penyampaiannya novel ini boleh dibilang menarik, pilihan katanyaindah dan puitis. Yang mungkin agak mengganggu dalam cara bertutur novelini adalah terdapatnya pergantian penutur dalam novel ini, kadang tokohDidit bertutur dengan "aku" namun dalam beberapa bab lainnya Didit menjadiorang ketiga dalam novel ini. Bagi pembaca yang melek sastra ini bisadianggap sebagai inovasi dalam bertutur namun bagi mereka yang awammungkin hal ini agak mengganggu dalam proses membacanya. Namun terlepas dari semua itu novel ini adalah novel yang memperkaya pembacanya. Bagi mereka yang menyukai sastra, musik, dan psikologi novel ini layak untukdiapresiasi.

@h_tanzil
Read more »

Dari Penjaja Tekstil Sampai Superwoman


Judul : Dari Penjaja Tekstil Sampai Superwoman - Biografi Delapan Penulis Peranakan
Penulis : Myra Sidharta
Penerbit : KPG, Jakarta 2004
Tebal : xvii + 162 halaman
Harga : Rp. 27.500,-

"Buku ini tidak dapat ditulis seandainya tak ada hari ulangtahun yang tidak dirayakan. Maksud saya, selama lebih daripada duapuluh tahun terakhir ini saya 'menghilang' pada setiap hari ulang tahun saya. [.] Saya pergi ke tempat-tempat dimana saya dapat menelusuri para pengarang kesastraan Melayu Tionghoa"

Begitulah yang dikatakan Myra Sidharta dalam kata pengantar dibuku karyanya yang berjudul "Dari Penjaja tekstil sampai Superwoman". Walau selama duapuluhtahun tak pernah merayakan ulangtahun karena selalu berkelana mencari jejak-jejak keturunan para pengarang Kesastraan Melayu Tionghoa, hal ini tidaklah sia-sia karena membuat Myra memperoleh banyak sumber mengenai apa yang selama ini ia tekuni selama berpuluh-puluh tahun lamanya.

Pencarian Myra tidaklah sia-sia, banyak sudah karya-karya tulis yang telah dihasilkannya baik berupa makalah maupun buku-buku yang menyangkut Kesastraan Melayu Tionghoa. Buku ini adalah salah satu karya terbarunya yang diterbitkan oleh KPG yang memang terlihat sangat concern dalam mempopulerkan kembali karya-karya Kesastraan Melayu Tionghoa yang sempat 'dibuang' dan terlupakan dari sejarah kesastraan Indonesia

Buku ini menguraikan secara singkat biografidelapan penulis peranakan yang produktif yang disusun berdasarkan tahun kelahiran mereka mulai dari Kwee Tek Hoay (1885-1951) hingga Asmaraman S Kho Ping Ho (1926-1994), diantaranya adalah Nyoo Cheong Seng, Nio Joe Lan, Tan Hong Boen, Ang Bin Tjiong, Hoo Eng Djie, Ong Pik Hwa.

Buku ini dimulai dengan essai tentang Kwee Tek Hoay (KTH), penulis peranakan yang namanya cukup dikenal dalam sejarah Kesastraan Melayu Tionghoa. Mulanya ia adalah seorang pejaja tekstil yang kemudian dikenal sebagai penulis novel dan drama, salah satunya yaitu novel Bunga Roos dari Cikembang yang kemudian disadur menajadi drama bahkan sempat dijadikan film. Selain sebagai penulis KTH juga banyak terlibat aktif dalam dunia pendidikan dan kegiatan-kegiatan sosial

Dalam buku ini terdapat juga penulis peranakan yang banyak menghasilkan tulisan-tulisan mengenai kebudayaan Tionghoa, yaitu Nio Joe Lan (NJL), ia adalah orang yang pertama kali menulis tentang kesastraan Melayu Tionghoa. Dialah peletak batu pertama mengenai kesastraan ini. Selain itu seperti diungkap dalam buku ini NJL juga menulis tentang pengalamannya sebagai tawanan Jepang. Tidak banyak tulisan mengenai zaman Jepang oleh masyarakat Tionghoa di Indonesia, khususnya mengenai tawanan dalam penjara dan kamp. Tulisan NJL tentang pengalamannya sebagai tawanan Jepang disajikan oleh Myra dalam buku ini , NJL dengan gayanya yang khas penuh detail dan sangat seksama membuat pembaca buku ini dapat mengetahui dengan detail keadaan kamp-kamp tawanan khusus orang-orang Tionghoa di jaman Jepang.

Walau hampir sebagian besar adalah penulis novel atau cerpen namun dalam buku ini ada juga yang berprofesi sebagai pebisnis ulung sekaligus penerbit majalah Fu Len dan satu-satunya punulis wanita yang terdapat dalam buku ini, yaitu Ong Pik Hwa, Fu Len adalah sebuah majalah berbahasa Belanda yang banyak memuat tulisan-tulisan karyanya (Ong Pik Hwa) yang feminist dan bertujuan untuk memajukan masyarakat Tionghoa pada masanya. Kehidupannya yang mandiri dan pandangan-pandangan hidupnya yang luas dan modern inilah yang membuat Myra menjulukinya sebagai Superwoman.

Buku ini ditutup oleh sepak terjang Kho Ping Ho, penulis cerita silat yang namanya masih dikenal oleh masyarakat kita kini. Buku-bukunya dibaca oleh berbagai kalangan, mulai dari tukang becak hingga pejabat tinggi. Selain menulis cerita silat dengan latar belakang negeri China, ternyata Kho Ping Ho juga menulis cerita silat dengan latar belakang indonesia baik berupa cerita misteri dan detektif serta novel berbahasa Indonesia maupun Jawa, namun banyak orang beranggapan kalau cerita-cerita berlatar belakang Cina jauh lebih 'hidup' dan penuh 'aksi' dibanding cerita mengenai Indonesia.

Membaca biografi singkat kedelapan penulis peranakan Tionghoa dalam buku ini sangatlah menarik, selain mengetahui sepak terjang kedelapan penulis peranakan, kemahiran Myra Siddharta dalam mengurainya secara hidup dan enak dibaca membuat pembaca dapat mengetahui bagaimana gaya hidup masyarakat Tionghoa dan perubahannya dari masa ke masa dimana kedelapan penulis ini masih hidup dan berkarya. Bagi pemerhati masalah etnis Tionghoa setidaknya buku ini bisa melengkapi buku-buku sejenis yang kini mulai banyak diterbitkan kembali dalam khazanah pustaka tanah air.

@h_tanzil
Read more »

Menjelajah Negeri Karl May

Judul : Menjelajah Negeri Karl May
Penulis : Pandu Ganesa
Penerbit : Pustaka Primatama
Cetakan : 2004
Tebal : 216 hal. + xxviii

Menulis sebuah karangan tentang Karl May adalah suatu hal yang mudah. Teramat mudah malah! Ada ratusan atau mungkin ribuan artikel baik yang ringan maupun ilmiah yang siap dilahap di dunia maya internet. Tersedia pula puluhan atau mungkin ratusan buku tentang Karl May yang sudah pernah ditulis. Sayang, hampir semuanya dalam bahasa Jerman. Namun ketika harus menulis untuk konsumsi publik Indonesia dan harus mengindonesia, persoalan pun muncul. Nyaris tidak ada data! (hal xvii)

Buku ini jelas mencoba menjawab tantangan diatas, minimnya tulisan mengenai Karl May yang pernah mengalami masa jaya di Indonesia beberapa puluh tahun yang lampau membuat penulis buku ini tergerak untuk membuat sebuah buku mengenai Karl May dan dunianya khusus untuk konsumsi pembaca dan penggemar Karl May di Indonesia.

Buku ini ditulis oleh Pandu Ganesa, seorang Karl Mayist yang telah berhasil mem'bangun'kan kembali karya-karya Karl May di Indonesia dari tidur yang sangat panjang. Karl May pernah begitu populer di Indonesia di era 50-60an namun semenjak tahun 90- an namanya nyaris tak terdengar dalam kahazanah pustaka Indonesia , barulah di tahun 2003 atas prakarsa Pandu Ganesa dan Paguyuban Karl May Indonesia (PKMI) & Penerbit Pustaka Primatama, karya-karya Karl May kembali bermunculan menyusul diterbitkannya kembali karya-karya Karl May yang langsung diterjemahkan dari sumber aslinya (Jerman) secara utuh.

Buku yang dikata pengantari oleh salah seorang penulis terkemuka Seno Gumira Ajidarma ini terbagi dalam sebelas bagian dan empat buah apendiks yang diawali dengan bagian "Karl May Riwayatmu Kini" yang membahas keberadaan karya-karya Karl May di masa kini dimana buku-buku dan ulasan ttg Karl May masih terus diterbitkan dan dibaca orang di berbagai negara. Di bagian kedua disajikan biografi singkat Karl May yang dilahirkan dari keluarga miskin dan sosok Karl May muda yang sakit-sakitan dan pernah masuk penjara karena kejahatannya, dan bagaimana ternyata dalam penjara inilah lahir karya-karya besarnya. Selanjutnya di Bagian Ketiga : "Karl May dan Kita" penulis menyajikan sejarah panjang penerbitan karya-karya Karl May di Indonesia sejak awal abad-20 hingga kini dan bagaimana karya-karya Karl May ternyata banyak memberi inspirasi bagi para tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan kita.

Di bagian-bagian selanjutnya buku ini menyajikan juga berbagai bahasan menarik dan pernak-pernik dari dunia Karl May yang diperoleh penulis dari berbagai sumber cetak maupun dari dunia maya. Buku ini juga dilengkapi dengan empat buah Apendiks dimana dua buahnya berupa makalah ilmiah mengenai "Tema Logika Absurdi dalam Winnetou" dan sebuah ringkasan mengenai "Dissosiative Identy Disorder" (Kepribadian ganda) yang diderita oleh Karl May. Yang tak kalah pentingnya yaitu bagian Apendiks yang berisi daftar lengkap karya Karl May yang tentunya akan sangat bermanfaat bagi pecinta karya-karya Karl May.

Buku ini semakin menarik karena disajikan dengan gaya bahasa ringan yang dibumbui humor, dan diperkaya dengan lebih dari 50 buah foto. Yang pasti segala sesuatu yang menyangkut dunia Karl May bisa ditemui di buku ini. Tak berlebihan jika Seno GA dalam kata pengantarnya menyatakan bahwa buku ini bisa dikatakan sebuah buku pengantar memasuki Dunia Karl May yang nyaris ensiklopedis dan berguna!

@h_tanzil
Read more »

KBN I : Menjelajah Gurun


Judul : Kara Ben Nemsi 1 : Menjelajah Gurun
Penulis : Karl May
Penerbit : Pustaka Primatama
Edisi : I, Pebr 2005
Isi : 437 hal.

Sebuah saga panjang siap mengajak Anda untuk berkelana ke pelosok-pelosok Dunia Timur dalam kisah yang ditulis tak kurang dari 7 tahun lamanya. Dan Karl May adalah sang jawara cerita petualangan. Tak kalah serunya dengan seri Winnetou!
(komentar di cover belakang KBN 1 : Menjelajah Gurun)

Setelah sukses 'membangunkan' kembali tokoh-tokoh cerita petualangan Karl May seperti Old Shatterhand, dan Winnetou dalam khazanah pustaka tanah air. Kini Penerbit Pustaka Primatama bekerja sama dengan Paguyuban Karl May Indonesia (PKMI) kembali menerbitkan kisah petualangan Karl May di negeri timur dengan judul Kara Ben Nemsi 1 : Menjelajah Gurun (2005)

Kisah Petualangan Kara Ben Nemsi yang merupakan Buku Pertama Siklus Timur karya Karl May ini sebenarnya pernah diterbitkan di tanah air oleh penerbit Pradya Paramita dan diberi judul Kara Ben Nemsi pada tahun 1965 yang diterjemahkan dari salah satu versi Belanda. Kini Seri Kara Ben Nemsi yang berlatar belakang "Negeri Timur" ini diterbitkan kembali dengan terjemahan yang bersumber dari naskah terbitan Amerika - Oriental Odyssey I In The Shadow of Padishah Throught The Desert - terbitan Psi Computer Pty, Ltd (2002) yang diterjemahkan oleh Michael Michalak seorang penggemar Kal May dari Amerika keturunan Jerman. Sedang sumber yang dipakai oleh Michalak adalah naskah asli Jerman berjudul Giolgeda Padischanun yaitu manuskrip karya Karl May ketika masih berbentuk cerita bersambung di majalah Jerman Deutcher Hausschatz di abad ke 19.

Buku Kara Ben Nemsi ini menceritakan kisah petualangan Old Shatterhand (tokoh sentral dalam seri Winnetou) yang kini bernama Kara Ben Nemsi yang berarti 'Karl' (nama penulis) dan Ben Nemsi yang berarti "keturunan Jerman" (hal 34). Kali ini ia berkelana ke Negeri Timur guna mengetahui adat istiadat dan kebudayaan masyarakat setempat.

Buku ini dibagi dalam 4 buah cerita : Abu El Nassr (Bapak Kemenangan), Tschikarma (Penculikan), Abu Seif (Bapak Pedang), dan Perang Gurun. Masing-masing cerita walau terkesan berdiri sendiri namun satu-sama lain sambung menyambung dan saling terkait

Cerita dimulai di padang gurun ketika Kara Ben Nemsi bersama pembantu setianya Halef Omar menemukan jejak tapal kuda di pasir yang setelah ditelusuri ternyata pemilik jejak tersebut telah menjadi mayat bersama tunggangannya. Tergerak oleh rasa kemanusiaan dan beberapa petunjuk yang diperoleh dari mayat tersebut Kara Ben Nemsi bersama Halef mencoba untuk mencari pembunuhnya. Pencariannya semakin sulit karena harus melintasi keganasan gurun sahara dengan chott-nya (pasir hisap) yang siap menelan siapa saja yang melintas diatasnya

Dalam Tschikarma Kara Ben Nemsi berpura-pura menjadi seorang dokter dan mencoba menyelamatkan anak gadis seorang peadagang asal Turki yang diculik oleh seorang 'Mamur' (penguasa propinsi) di Mesir. Perjalanan Kara Ben Nemsi terus berlanjut, pada cerita Abu Seif (Bapak Pedang) terdapat kisah petualangan yang menarik ketika Kara Ben Nemsi dengan kecerdikannya berhasil memasuki kota Suci Mekkah, kota suci yang terlarang bagi kaum muslim. Lucunya setelah berhasil memasuki kota suci Mekah Kara Ben Nemsi diberi gelar Haji oleh para sahabatnya.

Dalam cerita Perang Gurun Kara Ben Nemsi bak seorang Jenderal Perang dengan piawai memberikan latihan dan strategi perang gaya Eropa kepada beberapa suku di gurun yang akan berperang melawan musuh. Tidak itu saja ia juga mengatur soal penghitungan pampasan perang bagi suku yang dikalahkan dalam perang gurun.

Selain menyajikan kisah petualangan yang menarik buku ini juga mendeskripsikan letak dan kondisi geografis gurun dengan detail dan pernak-pernik kehidupan dunia timur yang eksotis. Untuk memperkaya ruang imajinasi, pembaca buku ini disuguhi beberapa peta perjalanan Kara Ben Nemsi dan ilustrasi yang direpro dari sumber klasik Karl May Verlag dan "Karl May's Ilustrieste Werke" karya Joseph Ulrich. Selain itu dialog-dialog filosofis kemanusiaan dan toleransi antar umat beragama yang terdapat dalam buku ini juga akan memperkaya ruang batiniah pembacanya. Buku ini juga dilengkapi dengan lampiran khusus untuk menjelaskan berbagai frasa yang menyangkut Dunia Islam yang bertaburan di buku ini. Dari segi terjemahan walau buku ini dikerjakan oleh 4 orang penerjemah namun kekonsistenan terjemahan tetap terjaga dengan baik sehingga peran penerjemah serta editor patut dihargai pula. Sungguh buku ini memang buku yang disajikan oleh penerbitnya untuk memanjakan pembacanya yang suka akan cerita-cerita petualangan Karl May. Dan yang pasti buku ini tak kalah serunya dengan seri Winnetou!

@h_tanzil
Read more »

Membaca Katrologi Bumi Manusia

Judul : Membaca Katrologi Bumi Manusia Pramoedya Ananta Toer
Penulis : Apsanti Djokosujatno
Penerbit : Indonesia Tera
Tebal : xvi + 160 hal

Roman Akbar Pramoedya Ananta Toer yang dikenal dengan Tetralogi Bumi Manusia (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) sepertinya tak pernah habis untuk dibicarakan, selain dibicarakan dalam berbagai diskusi buku dan ulasannya muncul di berbagai media dalam dan luar negeri, bahasan tentang roman ini juga telah disajikan dalam bentuk buku yang mencoba mengurai isi dari keempat roman akbar tersebut dari berbagai sudut pandang pengarangnya , antara lain Analisa Ringan Kemelut Roman Karya P. Buru: Bumi Manusia - Adhy Asmara, Citra Manusia Indonesia dalam Karya Sastra Pramoedya Ananta Toe- Prof. A. Teeuw, dan lain-lain. Buku Karya Prof. Apsanti Djokosijatno Membaca Katrologi Bumi Manusia Pramoedya Ananta Toer ini mencoba untuk melengkapi referensi tersebut.

Istilah katrologi sendiri adalah istilah yang baru yang diberikan oleh Apsanti untuk merangkum keempat roman akbar Pram yang ditulis di P. Buru. Dalam kata pengantar buku ini Apsanti menjelaskan bahwa istilah "katrologi' untuk empat novel yang mempuyai ikatan naratif memang tidak terdapat dalam kamus bahasa indoensia manapun (hal xi). Istilah ini menurut Apsanti memang digunakan sebagai pilihan dekat dengan "trilogi" namun sayangnya tak dijelaskan lebih lanjut asal-usul penggunaan istilah "katrologi" tersebut.

Buku ini sendiri merupakan kumpulan essai Apsanti yang mengkaji dan menganalisis Tetralogi Bumi Manusia dari berbagai perspektif. Perspektif sejarah,sosial, politik, psikologis, dll sehingga bisa dikatakan buku ini merupakan tafsir penulis atas keempat roman akbar Pram. Secara berurutan buku setebal 160 halaman ini dibagi dalam sepuluh bab yang masing-masing diberi judul : Pram, Prancis, dan Pencerahan; Kosmopolitisme dan Pengetahuan Ensiklopedis dalam Katrologi Bumi Manusia; Tematik Penciptaan dalam Katrologi Bumi Manusia; Tentang Sastra dalam Fiksi; Minke dan Pengemanan dalam Cahaya Psikoanalisa; Nyai Ontosoroh: sebagai Mother Goddess dan Prototipe Manusia Modern; Struktur Katrologi Bumi Manusia; Tentang Orang Jawa dalam Katrologi Bumi Manusia; dan Perempuan yang Tersanjung.

Walau ditulis oleh seorang akademisi yang berkecimpung dalam bidang teori sastra, buku ini mudah dibaca dan dipahami oleh pembaca awam yang setidaknya pernah membaca keempat roman akbar Pram. Membaca kesepuluh essai Apsanti ini membuat pembaca terheran-heran karena begitu banyak bahasan dan kekayaan tersembunyi dalam keempat karya Pram tersebut. Tak berlebihan dalam salah satu babnya Apsanti menyebutkan bahwa Katrologi Bumi Manusia adalah novel ensiklopedis karena keempat roman Pram ini menyajikan pengetahuan tentang berbagai hal tanpa batasan dan pengertian geografis. Beragam tema terungkap dalam keempat roman ini antara lain mentalitas berbagai kelompok masyarakat, revolusi, ekbangkitan suatu bangsa, kemanusiaan, pendidikan, perjalanan, dendam, jenis transport hingga tema-tema kecil seperti kucir dan kutu kepala (hal14).

Satu hal yang menarik dalam buku ini, Apsanti sama sekali tidak mengaitkan keempat karya Pram dengan pribadi Pram. Kesemua bahasan dalam buku ini murni hasil dari suatu pembacaan yang pribadi sifatnya dan kontekstual, hal ini membuat buku ini menjadi menarik dan lebih fokus hanya pada karyanya saja dan sama sekali tak menyinggung keterkaitan dengan pribadi Pram.

Yang mungkin agak disayangkan dalam buku ini adalah tidak adanya sinopsis singkat dari keempat katrologi Bumi Manusia yang dibahas di buku ini, sehingga bagi mereka yang belum pernah membaca keempat roman tersebut akan sedikit sulit untuk mengapresiasi buku ini.
Namun bagi mereka yang pernah dan telah membaca Katrologi Bumi Manusia buku ini membantu pembaca untuk menemukan taburan mutiara dalam keempat roman akbar Pramoedya.

@h_tanzil
Read more »

Vita Brevis - Sebuah Gugatan Cinta


Judul : Vita Brevis - Sebuah Gugatan Cinta
Penulis : Jostein Gaarder
Penerjemah : VAM. Kaihatu
Penerbit : Jalastura, 2005
Tebal : 154 hal

Salam dari Floria Aemilia untuk Aurelius Agustinus, Uskup Hippo. Tentu saja rasanya aneh menyapamu dengan cara ini. Dulu sekian waktu yang lalu, aku pasti hanya akan menuliskan "Aurel kecilku yang lincah". Namun kini, lebih dari sepuluh tahun sejak kau memelukku, banyak hal berubah. (hal 12)

Nama Agustinus, Uskup Hippo bukanlah nama yang asing bagi umat Nasrani. Agustinus yang juga dikenal sebagai Bapak Gereja dianugerahi gelar Santo (orang suci) oleh Gereja Katolik Roma karena pemikiran-pemikirannya yang luas dan mendalam. Ajaran-ajarannya terus membekas dalam sejarah Gereja hingga kini. Benarkah cupilkan surat diatas memang ditujukan kepada seorang Bapak Gereja?, siapa Floria Aemilia yang memiliki keberanian untuk menulis surat secara informal kepada seorang tokoh gereja yang dihormati?

Seberapa dalam hubungan Floria dengan Agustinus ?Dalam karya akbarnya "The Confessions" (Pengakuanku) yang ditulis oleh Agustinus pada tahun 397 terungkap bahwa Agustinus memiliki seorang kekasih yang tak pernah dinikahinya hingga membuahkan seorang anak yang diberi nama Adeodatus, namun dalam The Confessions ibu dari anaknya tersebut tak pernah disebutkan namanya.Kekasih tanpa nama itulah yang dipercaya oleh Jostein Gaarder bernama Floria yang menulis surat gugatan yang ditujukan pada Agustinus setelah ia membaca The Confessions.

Surat Floria secara tidak sengaja ditemukan oleh Jostein Gaarder (penulis novel best seller Dunia Sopphie) ketika ia mengunjungi pameran buku di Buenos Aires pada musim semi 1995. Setelah beberapa jam mondar-mandir akhirnya Gaarder berhenti di sebuah toko buku kuno kecil. Matanya terpaku pada saat ia melihat sebuah kotak arsip berwarna merah dengan label Codex Floarie. Isinya mengejutkan karena Floria menggugat sejumlah pandangan Agustinus dalam Confessions. Walau awalnya Gaarder ragu akan keotentikan surat itu, namun setelah diperiksa dia yakin bahwa manuskrip itu asli. Codex Floarie inilah yang ditampilkan secara utuh dalam Vita Brevis, Gaarder hanya menambahinya dengan sejumlah catatan yang komprehensif, baik dari rujukan Confessions, Alkitab, mitologi dan manuskrip sejenis dari jaman klasik.

Codex Floarie atau surat Floria yang menjadi dasar buku Vita Brevis ini pada intinya berisi gugatan Floria pada berbagai pandangan Agustinus yang termuat dalam 'Pengakuan' (Confessions), karenanya surat-surat Floria ini pantas disebut "Pengakuan Balik". Jika membaca buku ini pembaca akan mendapat kesan bahwa Floria juga ingin membuat pengakuan seperti halnya Agustinus. Bahkan dia juga ingin agar pengakuannya didengarkan oleh Gereja, dan tidak hanya oleh Agustinus sendirian., Floria bukanlah wanita biasa yang menggugat kekasihnya berdasarkan emosi belaka, setiap gugatannya selalu masuk akal dan kadang mengutip ajaran2 filsuf yang dikenal pada masa itu. Gugatan Floria juga bukan semata-mata berisi gugatan pribadi mengenai hubungan cinta antar dua kekasih saja, melainkan melebar ke wilayah religionitas, feminisme, filsafat, moral bahkan keluarga dan psikoanalisis.

Membaca Vita Brevis tentunya akan menimbulkan pertanyaan besar di benak pembacanya, benarkah surat-surat Floria ini asli? Pembicaraan tentang orang suci memang selalu mengundang penasaran. Namun terlepas dari benar tidaknya buku ini berisi surat-surat Floria pada Santo Agustinus, yang pasti Vita Brevis akan membuat pembaca memandang Santo Agustinus dengan pendangan baru dan buku ini juga mencoba menyingkap sisi sejarah kelabu seorang santo yang selama ini sering ditutup-tutupi demi menjaga kesuciannya.

@h_tanzil
Read more »

Jumat, 06 Januari 2006

Lelaki Tua dan Laut

Judul : Lelaki Tua dan Laut
Penulis : Ernest Hemingway
Penerjemah : Sapardi Djoko Damono
Penerbit : Pustaka Jaya
Cetakan : IV, 2001
Tebal : 126 hal

Manusia adalah mahluk superior dibanding mahluk ciptaan Tuhan lainnya. Manusia diberi akal dan kuasa untuk mengendalikan dan mengolah semua unsur alam yang ada. Kadang ke-superioran manusia membuat manusia lupa diri dan merasa dirinyalah yang paling berkuasa dan bisa melakukan apapun yang menjadi keinginannya. Namun dalam banyak hal manusia sering dibuat tak berdaya, kekuatan alam kadang tak bisa dikompromikan dan diatur, jika alam sudah menampakkan kekuasaannya kepandaian manusia tak akan mampu melawan kekuasaannya.

Nampaklah pesan itulah yang ingin disampaikan Ernest Hemingway (1899-1961) dalam salah satu karya puncaknya The Old Man and the Sea (1952) yang mengantarnya untuk meraih hadiah Nobel Sastra 1954.

Novel ini menyiratkan bahwa kekuatan manusia itu sia-sia. Santiago, seorang lelaki tua penangkap ikan di arus teluk Meksiko sudah delapan puluh empat hari lamanya tidak berhasil menangkap seekorpun. (hal 5). Selama itu ia ditemani oleh seorang anak laki-laki. Tetapi setelah empat puluh hari berlalu tanpa seekorpun ikan yang berhasil ditangkap orang tua anak laki-laki itu menyuruhnya untuk pada ikut perahu lain. Akhirnya Lelaki tua itu seorang diri mengarungi laut untuk menangkap ikan. Setelah dengan sabar menunggu umpannya dimakan oleh ikan akhirnya apa yang dinanti-nantikan diperolehnya. Ia merasa seekor ikan besar menarik tali pancingnya. Dengan sisa-sisa kekuatan yang dimilikinya dan kesabaran yang luar biasa ia harus menunggu ikan itu untuk menyerah dan berhenti berputar-putar disekitar perahunya. Setelah berhari-hari menunggu akhirnya ikan itu menyerah dan menyembul ke permukaan , seketika itu juga ditengah kelelahannya lelaki tua itu akhirnya berhasil mengait ikan besa! r itu ke pinggir perahu dan membunuhnya. Namun malang, rupanya ikan-ikan hiu tertarik dengan ikan tangkapan itu. Perjuangan terus berlanjut, kali ini si lelaki tua harus mengusir hiu-hiu yang terus berdatangan untuk menggerogoti ikan tangkapannya . Semuanya memang pada akhirnya berujung pada kemauan alam, perjuangan lelaki tua yang memaksa ikan besar tangkapannya agar takluk berhasil ia lakukan, tetapi ia harus pula takluk pada kemauan alam.

Banyak kiritikus sastra dunia menilai bahwa karya-karya Hemingway merupakan karya yang melahirkan pesimisme. Hemingway memang hidup dalam zaman dimana masyarakat merasakan kegetiran, putus asa, dan ketakutan sebagai akibat Perang Dunia II. Rupanya Hemingway adalah penulis fiksi yang realistis yang banyak menulis mater-materi karangannya berdasarkan pengalaman nyata yang dialami dan dilihat dirinya sebagai seorang jurnalis diberbagai media cetak. Selama hidupnya, ia senang bepergian, memancing,atau berburu, Tahun 1953 ia memperoleh Hadiah Pulitzer atas novelnya The Old Man and The Sea dan sebagai puncaknya Hemingway memperoleh Hadiah Nobel Sastra 1954 untuk penguasaannya dalam seni bercerita, dan pengaruhnya pada gaya sastra mutakhir.

Novel ini diterjemahkan dengan sangat baik oleh sastrawan senior Sapardi Djoko Damono, kepiawaian Sapardi memilih kalimat-kalimat yang sesuai membuat novel ini enak dibaca tanpa meninggalkan gaya dan kekhasan Hemingway dalam bercerita

Sangat disayangkan novel ini sukar sekali kita temui di toko-toko buku manapun, karena semenjak cetakan IV (2001) buku ini diberi label : "Milik Negara - Tidak Diperdagangkan".
@h_tanzil
Read more »

Gurun & Praire I


Judul : Gurun & Prairie I - Kumpulan Cerita
Pengarang : Karl May
Penerbit : Pustaka Primatama,
Cetakan : I, Oktober 2004
Tebal : 106 halaman

Saat ini ranah bacaan fiksi bagi kalangan anak muda banyak didominasi oleh cerita-cerita fiksi modern yang menceritakan kehidupan anak muda yang gaul dan metropolis dengan berbagai permasalahan yang dihadapinya. Sedangkan untuk bacaan bertema petualangan dengan berbagai kisah menarik didalamnya sangat sukar untuk ditemukan.

Buku Gurun & Prairie I karya Karl May ini mencoba mengisi kelangkaan bacaan bertema petualangan ini. Karl May seorang pencerita yang sejak lama dikenal dengan seri novel-novel petualangannya yang telah menjadi klasik ( Seri Winnetou, Kara Ben Nemsi, dll) ternyata juga menulis berbagai cerita pendek dan novelette (novel pendek) yang pada masa hidupnya (1842-1912) tersebar diberbagai media cetak.

Buku ini berisi sebuah novel pendek "Kebakaran Minyak" yang berlatar belakang western yang menceritakan bagaimana Old Shatterhand seorang kulit putih yang berusaha mencegah aksi pembalasan dendam suku indian terhadap benteng Cass yang telah merampas harta benda milik suku asli Amerika itu. Selain itu terdapat pula 3 buah cerita pendek (Hamail, Phi-Pob, Inn-nu-who;Si Kepala Suku Indian). Cerpen Phi-pob menarik untuk dicatat bahwa cerpen ini berlatar belakang Burma (Myanmar), suatu negeri yang bagi pembaca karya Karl May agak asing karena karya-karya Karl May umumnya dikenal dengan setting wild west (Winnetou) dan Dunia Timur (Kara Ben Nemsi). Sedangkan untuk cerpennya yang berjudul Inn-nu-who yang ditulis pada tahun 1875 merupakan suatu karya yang bersejarah, karena inilah karya pertama Karl May, yang ditulis setelah dia keluar dari penjara. (hal 101). Cerpen ini juga dipercaya sebagai cikal bakal lahirnya tokoh Winnetou. Empat buah cerita yang tercantum di buku ini berasal d! ari berbagai media cetak yang terbit dalam kurun waktu 1875 - 1887 yang semuanya belum pernah diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Indonesia, sedangkan ilustrasi pada cerpen Hamail dan Phi-Pob diambil dari versi asli media Der Gute Kamerad - Jerman - di tahun 1887.

Melalui buku ini Karl May mengajak pembaca berpetualang menempuh Gurun dan Prairie. Dari Missouri hingga ke Burma, dari kebakaran ladang minyak hingga pencurian yang kocak. Selain ceritanya yang hidup dan menarik buku ini juga banyak mengandung unsur-unsur humanisme dan juga sarat dengan berbagai pesan moral yang secara halus bertebaran di setiap ceritanya. Tak salah jika Karl May disebut sebagai pencerita sejati dalam genre kisah petualangan.

@ h_tanzil
Read more »

Gereja-gereja Tua di Jakarta

Judul : Gereja-gereja Tua di Jakarta (Seri Gedung2 Ibadat yang tua di Jakarta)
Penulis : A. Heuken SJ
Penerbit : Yayasan Cipta Loka Jakarta, 2003
Tebal : 240 hal , foto berwarna dan dicetak diatas kertas glossy
Harga : Rp. 68.000,-

Gereja-gereja tua saat ini masih dapat kita lihat diberbagai penjuru Jakarta. Gereja-gereja tua ini sebenarnya bukan saja sebagai tempat ibadat umat Kristiani, namun juga mampu berperan sebagai kenangan di tengah modernisasi kota. Dari situ, gereja tua bisa jadi pengorek memori histori yang andal. Namun sayangnya hingga kini orang hanya memandang gereja tua hanya sebagai rumah ibadah yang kokoh dan memiliki cita-rasa seni yang tinggi pada keindahan arsitekturnya. Padahal bila ditelusuri dan diungkap sejarah pembangunan dan umat yang pernah berbakti di dalamnya, gereja tua mampu menguak sepenggal kisah-kisah unik dan sejarah Jakarta masa lampau.

Buku yang ditulis oleh Alodf Heuken SJ, seorang rohaniwan Jerman yang telah berpuluh tahun menetap dan melayani umat di Jakarta ini mencoba menguak keberadaan Gereja-gereja Tua di Jakarta. Seperti dalam kata pengantarnya Heuken menjelasakan bahwa buku ini bukan merupakan buku sejarah agama Kristen di Jakarta. Buku ini bermaksud membicarakan riwayat hidup umat Kristen sejauh berkaitan dengan gedung-gedung ibadatnya yakni gereja yang masih atau pernah berdiri di Ibu kota negara kita ini. (hal10)

Buku ini dibagi kedalam 9 bab besar yang menguraikan semua gereja-gereja tua di Jakarta yang dibangun sejak abad 17 hingga pertengahan abad 20. Hampir seluruh gereja tua dalam berbagai aliran mulai dari gereja reformis, Anglikan, Katholik, Metdhodist, Advent, dll teruraikan dengan lengkap dalam buku ini. Yang menarik dari buku ini Romo Heuken tidak hanya membahas sejarah pendirian dan keindahan arsitektur bangunannya saja melainkan dijelaskan pula kondisi umat dan pemimpin umatnya baik pada saat gereja mulai dibangun hingga gereja bertahan hingga kini.

Buku yang dicetak diatas kertas glossy ini juga dilengkapi dengan banyak gambar-gambar antik dan foto-foto berwarna yang yang memperlihatkan lanskap dan arsitektur gereja beserta barang-barang dan dokumen-dokumen milik gereja yang masih tersimpan dengan baik hingga kini.

Buku ini sendiri merupakan seri I dari trilogi yang dibuat Romo Heuken tentang gedung-gedung beribadat di Jakarta yakni gereja, mesjid dan kelenteng.

Walau bukan termasuk buku referensi mengenai sejarah Gereja tampaknya buku ini dikerjakan Romo Heuken dengan sangat serius dan riset yang mendalam, lebih dari 100 buku referensi dan manuskrip dari abad 17 hingga buku-buku referensi terbaru dijadikan acuan bagi Romo Heuken untuk membuat buku ini. Tentunya kehadiran buku ini akan sangat bermanfaat bagi para pemerhati sejarah dan masyarkat awam yang peduli akan keberadaan rumah-rumah ibadat tua yang banyak memiliki nilai dan kisah-kisah sejarah yang patut diketahui untuk melengkapi sejarah gereja, kota Jakarta ,bahkan sejarah Nasional Indonesia.

Yang patut disayangkan di buku ini adalah tak terdapat satu infromasipun mengenai penulis buku ini - Adolf Heuken SJ - padahal identitas penulis adalah komponen terpenting dari sebuah buku. Kredibilitas penulis buku sangat mempengaruhi seseorang dalam memilih buku terlebih buku-buku bertema sejarah dan keilmuan.

@h_tanzil
Read more »