Minggu, 30 Juli 2006

Snow Flower


Judul : Snow Flower
Penulis : Lisa See
Penerjemah : A. Rahartati Bambang Haryo
Penerbit : Qanita
Cetakan : I, Juni 2006
Tebal : x + 556 hlm
Harga : Rp. 66.000,-

Seorang wanita tua jatuh pingsan di sebuah stasiun daerah pedesaan Cina. Polisi menggeledah barang-barang miliknya untuk menemukan selembar kertas berisi kode rahasia. Wanita itu ditahan dan dicurigai sebagai mata-mata musuh. Tetapi, para cendekiawan yang mengurai tulisan itu mendapati bahwa kode tersebut adalah nu shu—tulisan rahasia kaum wanita yang tidak boleh disentuh dan dilihat oleh kaum lelaki. Tulisan ini digunakan oleh para wanita di derah terpencil di selatan Provinsi Hunan, dan diyakini berkembang seribu tahun yang lalu.

Saat menulis tentang nu shu bagi The Los Angeles Times, penulis Amerika berdarah Cina, Lisa See, yang dikenal di Indonesia lewat novel Liu Hulan: Jaring-jaring Bunga (Qanita,2006) tertarik untuk melakukan riset yang lebih mendalam. Tak puas dengan sejumlah buku dan dokumen yang dibacanya, Lisa See bahkan melakukan perjalanan ke daerah pedalaman Cina untuk menyibak rahasia keberadaan nu shu dan budaya yang melatarbelakanginya.

Pencarian itu menjadi sumber kreatifitasnya dalam menulis novel keempatnya, Snow Flower and The Secret Fan (2005) yang kini diterjemahkan dengan baik oleh penerbit Qanita dengan judul Snow Flower.

Kisah ini ditulis dengan gaya memoar seorang wanita berusia 80 tahun yang bernama Lily, yang menceritakan pengalaman hidupnya bersama Bunga Salju sebagai laotong, alias "kembaran sehati"nya. Lily memulai kisahnya pada 1828, ketika dia berusia 5 tahun dan tinggal di desa Puwei, di Baratdaya Cina. Kebebasan masa kecilnya tiba-tiba terampas ketika dia harus menjalani pengikatan kaki, sebuah tradisi menyakitkan yang harus dilalui oleh para wanita Cina agar memperoleh status yang terhormat.

Kaki Lily kecil mungil diikat sedemikian rupa, sehingga pertumbuhannya terhambat dan tulang-tulang telapak serta jari kaki remuk dan akhirnya membentuk profil bunga lili emas. Kaki yang berbentuk Bunga Lili Emas adalah simbol kehormatan wanita Cina, karena wanita yang kakinya tidak diikat atau berkaki lebar adalah wantia ‘rendahan’ yang hanya pantas dijadikan pelayan atau ‘menantu kecil’ yang tak berharga.

Tersebutlah seorang mak comblang bernama Madam Wang, yang berkunjung dan menawarkan suatu perjodohan bagi Lily. Bukan perjodohan untuk memperoleh seorang suami, melainkan perjodohan ‘laotong’ atau ‘kembaran sehati’, perjodohan yang dilakukan antar sesama jenis untuk memperoleh sahabat sejati yang tidak akan terpisahkan bahkan oleh perkawinan sekali pun. Lily mendapatkan Bunga Salju sebagai kembaran sehatinya.

Komunikasi pertama yang dilakukan oleh Lily dan Bunga Salju sebagai sepasang laotong adalah melalui sebuah kipas yang berisi tulisan nu shu. Kipas inilah yang kelak menjadi semacam jurnal kehidupan mereka.

Dari berbagai kesamaaan yang dimiliki sepasang laotong ini, perbedaan mereka terletak pada status sosial. Lily berasal dari keluarga petani sederhana, sementara Bunga Salju berasal dari keluarga terpendang dan terpelajar. Tetapi, perbedaan ini justru membuat mereka saling melengkapi. Dari Bunga Salju, Lily belajar tentang kaligrafi, menulis nu shu, berperilaku sebagai orang terhormat, dll. Sedangkan dari Lily, Bunga Salju belajar banyak hal mengenai kegiatan rumah tangga seperti mengepel, membuat teh, memetik sayuran, menyediakan hidangan bagi keluarga, dll. Mereka pun selalu berkomunikasi melalui sebuah kipas sutera bertuliskan nu shu. Anehnya, walau Bunga Salju kerap berkunjung ke rumah Lily, tak sekali pun Lily diberi kesempatan untuk berkunjung ke rumah Bunga Salju.

Ketika Bunga Salju dan Lily telah berusia 11 tahun dan kaki mereka telah membentuk bunga lili yang indah, mereka pun masing-masing dijodohkan. Lily dijodohkan dengan anak kepala desa Tongkou yang memiliki reputasi sebagai keluarga terpelajar sekaligus dihormati oleh masyarakatnya, sedangkan Bunga Salju dijodohkan dengan anak seorang tukang jagal. Sungguh aneh dan ironis!

Empat tahun kemudian Lily menikah. Hari keempat setelah pernikahan, pengantin wanita diperbolehkan mengunjungi desa kelahirannya. Namun, alih-alih kembali menemui orang tuanya, Lily mengunjungi Bunga Salju. Ini adalah kunjungan pertamanya setelah bertahun-tahun mereka menjadi sepasang laotong. Melalui kunjungan inilah akhirnya terungkap siapa sebenarnya Bunga Salju, dan mengapa selama ini Lily tidak diberi kesempatan untuk mengunjungi rumahnya.

Tetapi, bukan kebenaran jati diri Bunga Salju yang mengubah janji setia mereka sebagai sepasang laotong. Persahabata mereka tak tergoyahkan, hingga akhirnya tibalah sebuah nu shu dari Bunga Salju. Isi pesan tersebut membuat hati Lily terluka dan persahabatan mereka sebagai sepasang kembaran sehati seketika hancur. Kekecewaan dan perasaan dikhianati oleh laotongnya membuat Lily menutup hatinya terhadap Bunga Salju.
Bertahun lamanya mereka tak lagi saling bertemu atau bertukar kabar hingga akhirnya sebuah tragedi mengungkap kebenaran yang selama ini tertutup oleh perasaan benci.

Novel keempat Lisa See ini menyuguhkan cerita yang dramatis dan berpotensi membuat emosi pembacanya tersentuh karena novel ini banyak mengungkap kepedihan dari kehidupan para tokohnya, namun bukan berarti novel ini menjadi novel yang cengeng karena melalui para tokohnya pula akan tercermin ketegaran mereka dalam menghadapi penderitan baik dari kukungan tradisi maupun dari berbagai peristiwa pahit yang harus mereka lalui.

Selain menyajikan cerita yang menyentuh dan plot yang enak diikuti, Snow Flower juga sarat dengan budaya Cina pada abad ke-19, khususnya mengenai kehidupan kaum wanitanya, yang ditampilkan melalui penggambaran tradisi pengikatan kaki, nu shu, upacara perjodohan hingga pernikahan, serta kehidupan keseharian para wanita Cina dalam menjalani siklus hidupnya mulai kecil hingga masa tuanya. Pembagian novel ini pun terbagi dalam siklus kehidupan wanita Cina, seperti Hari-hari Anak Gadis, Hari-hari Jepit Rambut, Hari-hari Beras dan Garam, dan Hari-hari Duduk dalam Keheningan.

Salah satu hal yang paling menarik dalam novel ini adalah penggambaran mendetail tradisi pengikatan kaki. "Hanya melalui rasa sakit kaudapatkan kecantikan. Hanya melalui penderitiaan kaudapatkan kedamaian", demikian makna filosofis dari tradisi ini. Mungilnya kaki seorang wanita, kelak akan ditunjukkan sebagai bukti kepada calon mertua dan ipar tentang kekuatan dalam pengendalian diri, serta kemampuan untuk menahan penderitaan dalam persalinan.

Sikap dan pandangan hidup masyarakat Cina abad ke-19 terhadap kaum wanita pun tergambar dengan jelas dalam novel ini. Wanita Cina hidup dalam kukungan tradisi. Setelah menjalani pengikatan kaki, hidup mereka dihabiskan di ruang atas dan dapur yang terpisah dari kaum lelaki. Di sana, mereka harus belajar berbagai ketrampilan seperti membordir, membuat sepatu, juga menyiapkan mahar perkawinan mereka. Setelah menikah, mereka harus hidup melayani suami, mertua hingga ipar-iparnya. Tugas terberat mereka adalah melahirkan anak laki-laki sebagai penerus keluarga suami. Jika tidak berhasil, mereka akan disisihkan dan dapat digantikan posisinya sewaktu-waktu. Hal tersebut terjadi karena dalam budaya Cina saat itu, melahirkan anak laki-laki adalah fondasi bagi harga diri wanita sekaligus mahkota kemuliaan bagi seorang wanita.

Masih banyak tradisi-tradisi dan kultur masyarakat Cina abad 19 yang akan terungkap dalam novel ini. Walau sarat dengan paparan budaya Cina yang eksotis, novel ini tidaklah membosankan. Secara piawai, Lisa See meramu unsur-unsur tersebut menjadi sebuah cerita dan paparan budaya terjalin dengan cantik. Hasilnya adalah sebuah novel yang indah dan menyentuh. Beberapa pujian atas novel ini menyatakan bahwa novel inilah karya terbaik dari Lisa See. Tak heran jika novel ini bertengger dalam jajaran daftar New York Time Bestseller sepanjang tahun 2005 hingga kini.

Lisa See, penulis Amerika keturunan Cina yang relatif masih muda ini rupanya berhasil mencari dan mengangkat "akar" budaya leluhurnya. Riset dan perjalanannya hingga ke daerah-daerah terpencil di Cina tidaklah sia-sia. Sebuah novel yang tampaknya akan terus dikenang dan menjadi sebuah karya klasik ini adalah buah dari usahanya mencari dan mengangkat budaya leluhurnya yang mungkin sudah terlupakan, tergerus oleh putaran waktu dan hanya dapat ditemui dalam literatur-literatur budaya yang mungkin tak terbaca oleh generasi masa kini. Kini, Lisa See meyuguhkannya dalam balutan fiksi yang menawan hingga dapat terbaca oleh masyarakat luas, bukan sekadar untuk menampilkan eksotisme budaya Cina masa lampau melainkan supaya pembacanya memahami dan mengambil nilai-nilai kehidupan dari budaya masa lampau dari suatu bangsa yang dikenal telah memiliki sejarah yang sangat panjang.

@h_tanzil
Read more »

Minggu, 23 Juli 2006

Sang Singa, Sang Penyihir dan Lemari



Judul : The Lion, The Witch and The Wardrobe
( Sang Singa, Sang Penyihir dan Lemari)
Penulis : C.S. Lewis
Diceritakan kembali oleh : Hiawyn Oram
Ilustrasi : Tudor Humphries
Penerjemah : Indah S. Pratidina
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Juni 2006
Jenis : Cerita Bergambar Anak
Tebal : 44 hlmn, (25x26cm) – art paper
Harga : Rp. 35.000,-

Kisah petualangan empat anak Inggris, Peter, Susan, Edmund, dan Lucy di negeri Narnia sebenarnya sudah lama dikenal di Indonesia. Seri Narnia yang merupakan kisah fantasi anak klasik karya C.S. Lewis ini mulai dikenal di Indonesia pada tahun 1992 dimana untuk pertama kalinya Narnia diterjemahkan dan diterbitkan oleh Dian Rakyat

Setelah seri Narnia versi Dian Rakyat habis di pasaran dan tidak dicetak ulang kembali, kisah negeri ajaib Narnia terlupakan dengan semakin maraknya cerita-cerita fantasi anak yang lebih modern. Tiga belas tahun kemudian kisah Narnia kembali terdengar dengan terbitnya "Let’s Go Into Narnia –(Mengenal lebih dekat dunia ajaib CS. Lewis) – Arie Saptaji, Gradiens Books, Juli 2005). Buku yang ditulis untuk bekal bagi calon pembaca kisah Narnia ini rupanya hendak mencuri start eforia pembaca kisah fiksi remaja menjelang diterbitkannya kembali seri Narnia oleh Gramedia Pustaka Utama dan diputarnya film The Witch, The Lion and The Wardrobe, di bioskop-bioskop tanah air pada bulan Desember 2005.

Pada bulan Juli 2005 Gramedia secara beruntun menerbitkan seri Narnia dengan cover yang menarik dengan ilustrasi asli yang dibuat oleh Pauline Baynes. Kemudian Gramedia juga menerbitkan Narnia Box Set yang dicetak secara terbatas khusus untuk para kolektor Narnia. Setelah menerbitkan ketujuh seri Narnia secara lengkap, di bulan Mei 2006 Gramedia menerbitkan semacam buku panduan mengenai dunia Narnia "The Magical World of Narnia" karya David Colbert yang juga menulis buku paduan kisah fantasi populer seperti "The Magical World of Harry Potter dan The Magical World of Lord of The Ring" yang semuanya telah diterbitkan oleh Gramedia.

Setelah menerbitkan seri Narnia beserta buku-buku pendampingnya, kini Gramedia menerbitkan Buku Bergambar Narnia "The Lion, The Witch, and The Wardrobe" yang diperuntukkan bagi anak-anak. Buku Bergambar Narnia ini masih setia pada cerita asliya, hanya saja karena diperuntukkan bagi anak-anak dan dikemas dalam betuk cerita bergambar degan jumlah halaman yang terbatas (44 halaman), tentu saja buku ini telah megalami proses adaptasi berupa penyederhaaan cerita agar dapat dimengerti oleh pembaca anak-anak.

Kisah dalam buku ini dimulai ketika empat anak---Peter, Susan, Edmund, dan Lucy---menemukan lemari tua misterius. Ketika masuk ke sana, mereka menemukan bahwa di balik semua mantel bulu yang tergantung terdapat dunia indah – dunia Narnia - dengan pepohonan dan pegunungan, di mana segalanya tertutup salju.Ternyata musim dingin di Narnia tak perah berakhir karena Penyihir Putih telah menyebarkan musim dingin membeku ke seluruh tempat. Hanya Aslan yang bisa mengalahkannya dan mematahkan sihir jahatnya. Keempat anak itu harus menemui sang singa sebelum terlambat. Kalau mereka gagal, sang penyihir akan menjadikan mereka tawanan selamanya.

Karena buku ini diperuntukkan bagi anak-anak, maka kalimat-kalimatnya dibuat sesederhana mungkin sehinga memudahkan anak-anak yang bisa membaca untuk memahami ceritanya. Dari segi pengemasan buku ini dikemas secara menarik, ukuran buku yang besar (25x26 xm) membuat ilustrasi dalam buku dapat dinikmati dengan baik, ilustrasinya sangat menarik, komposisi warnanya teduh dan tidak mencolok mata, goresan grafisnya tersaji secara realistik dan detail-detailnya tampak halus sehingga ekspresi wajah para tokohnya bisa dikatakan mewakili apa yang sedang dialami oleh para tokoh-tokohnya. Hal ini membuat anak-anak yang belum bisa membacapun tetap bisa menikmati buku ini, terlebih bagi mereka yang pernah menonto filmnya.

Bagi pembaca yang telah menonton filmnya tentu akan menemui kemiripan-kemiripan dari apa yang tervisualisasi di layar lebar dengan ilustrasi yang terdapat dalam buku ini, padahal buku ini diadaptasi menjadi certa bergambar pada tahun 2004, setahun sebelum filmnya dirilis. Namun di akhir cerita ada sedikit ilustrasi ya berbeda dengan filmnya, pada saat keempat anak hendak meninggalkan dunia Narnia, dalam ilsutrasi buku ini tampak Mr Tumnus melambaikan tangannya pada mereka, sedangkan dalam film tak terlihat adegan tersebut. Tentu saja hal ini menimbulkan tanda tanya di benak anak-anak yang secara kritis membandingkan ilustrasi dalam buku ini dengan apa yang mereka lihat di filmnya. Namun karena buku ini merupakan karya adaptasi, maka perbedaan tersebut bukanlah masalah selama masih dianggap wajar dan tidak merubah inti cerita aslinya, yang penting melalui buku ini, anak-anak akan mendapat kesempatan untuk memasuki dunia Narnia lewat sebuah buku yang memang diperuntukkan bagi mereka.

Karena kisah Narnia sebenarnya ditulis untuk kalangan remaja, maka dengan diterbitkannya kisah Narnia yang dirancang khusus untuk anak-anak, maka para orang tua akan sangat terbantu dalam mengenalkan kisah Narnia yang sarat dengan pesan moral kepada anak-anaknya yang masih kecil. Bukan itu saja, kemasan dan ilustrasinya yang menarik pada buku ini tampaknya bukan hanya akan diminati oleh anak-anak saja, namun juga akan menggerakkan hati para penggemar Narnia dewasa untuk segera mengoleksinya.

@h_tanzil
Read more »

Minggu, 16 Juli 2006

Selasar Kenangan


Judul : Selasar Kenangan
(Kumpulan cerpen)
Editor : Eko Sugiarto
Penyelia : Akmal Nasery Basral
Penerbit : AKOER & Apresiasi-Sastra
Cetakan : I, Juni 2006
Tebal : xx + 94 hlm
Harga : Rp. 24.500,-


Masa kecil adalah salah satu rentang waktu dalam kehidupan seseorang yang penuh dengan kenangan. Ada yang manis ada pula yang pahit. Beberapa peristiwa yang terjadi di masa kecil terkadang begitu membekas terpatri dalam hati dan tak bosan-bosannya untuk dikenang dan diceritakan. Bukan sekedar mengenang romantisme masa kanak-kanak, tak jarang peristiwa di masa kecil dijadikan pegangan dan bekal kehidupan dalam menjalani kehidupan di masa kini.

Dalam buku kumpulan cerpen Selasar Kenangan, sembilan penulis wanita dari berbagai profesi mulai dari penulis novel, wartawan, hingga buruh migran yang tergabung dalam milis Apresiasi-Sastra mencoba menorehkan masa kecil mereka kedalam cerpen yang menarik untuk disimak. Apa yang selama ini menjadi kenangan pribadi dan disimpan dalam masing-masing benak penulisnya kini diceritakan untuk dibaca oleh siapa saja. Ada kenangan yang pahit, lucu, menyentuh, semua terangkum dalam sembilan cerita yang berbeda dan dengan gaya bertutur yang berbeda.

Torehan kenangan dari sembilan penulis wanita dalam buku ini diawali dengan cerpen karya Anjar, novelis produktif yang telah menerbitkan 3 bh novel (Beraja, Kidung, dan Tiga). Sama seperti novel-novelnya yang selalu memasukkan kata-kata dalam bahasa Indonesia yang jarang digunakan oleh penulis lainnya, begitupun dalam cerpennya “Putaran Batu”. Dalam cerpen ini akan ditemui kata-kata seperti ngelangut (rindu), berselirat (ruwet), sapandurat (tiba-tiba, sekejap mata), dll. Cerpen ini mengisahkan ketika tokoh “Aku” sedang mengalami masalah dalam pekerjaannya. Dalam keadaan gundah ia diminta oleh kakaknya untuk mengasuh keponakannya yang masih belajar berjalan. Ternyata apa yang dialami oleh keponakannya sama dengan apa yang dialaminya semasa ia kecil, hal ini membuat alam bawah sadarnya mengantarnya pada sebentuk kenangan masa kecil yang membuat dirinya memiliki alternatif dalam menyelesaikan masalah dalam pekerjaannya.

Pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak yang tak mengenakkan seperti diejek oleh teman-teman sekolah juga terungkap dalam buku ini, dalam cerpen “Jemputan Sepeda Mama” (Anindita) dikisahkan seorang anak SD yang harus menanggung malu diejek oleh teman-temannya karena setiap hari dijemput oleh mamanya dengan mengendarai sepeda. Pada cerpen “Dilarang Membenci Becak” (Lik Kismawati) dikisahkan seorang anak yang lahir dalam sebuah becak harus menganggung malu dengan olok-olokan teman-temannya yang menyebut dirinya sebagai “anake becak”, hal ini membuat dirinya membenci becak, kebenciannya pada becak tak hilang walau ia ditolong kembali oleh sebuah becak ketika ia terjatuh dari sepeda.

Pengalaman pahit dalam menyusuri kenangan masa kecil juga tersaji dalam cerpen “Perempuan dalam Reruntuhan Musim” (Widzar Al-Ghifary), cerpen ini mengisahkan tokoh Wida yang melakukan perjalanan menapak masa lalu ke tempat ia melewati masa kecilnya yang pahit dan memberinya taruma pada kehidupannya kini. Awalnya Wida tak mau jika ada yang mengajaknya kembali ke desa tempat ia dibesarkan, ia memilih pergi ke tempat-tempat lain ketimbang harus menemui masa lalunya yang pedih, hingga akhirnya sebuah surat dari kawan lama almarhum kakeknya membuatnya harus kembali ke desanya.

Selain cerita masa lalu yang kurang menyenangkan buku ini juga menyajikan beberapa pengalaman-pengalaman polos anak-anak yang mengundang senyum pembacanya. Pada cerpen “Sedikit Kenangan Tersisa” (Ita Siregar) diceritakan berbagai pengalaman masa kecil tokohnya seperti ketika ia tercebur dalam tong berisi minyak tanah, kekhawatiran ketika gigi serinya tanggal karena takut tak tumbuh lagi selamanya dll. Pengalaman pertama anak-anak dalam hal-hal baru juga tampak dalam cerpen “Hantu di Kamar Baru” (Rita Achdris) dimana diceritakan pengalaman seorang anak ketika ia harus tidur sendirian untuk pertama kalinya. Dalam cerpen “Papa Menepuk Nyamuk, Sayang” (Feby Indirani) menuturkan pengalaman lucu sang anak ketika terbangun di tengah malam dan melihat kedua orang tuanya sedang ‘bergumul’, esoknya mamanya memberitahu bahwa kejadian semalam adalah “Papa yang sedang menepuk nyamuk di badan mama”.

Kisah yang menyajikan kejutan di akhir cerita muncul di cerpen “Segi Empat bukan Segitiga” (Mindo Hutagaol) dimana tokohnya seorang anak yang memiliki dua orang ibu. Suatu saat kakaknya yang berkerja di Singapura tiba-tiba datang dan berniat membawa si anak untuk ikut dengannya. Maka terjadi tarik menarik antara si kakak dan ayahnya yang tak rela anaknya dibawa pergi, dalam tarik menarik itulah terjadi sesuatu yang mengejutkan yang kan membuka jati diri si kakak. Begitupun dengan cerpen “Sesuatu Bernama Kenangan” (Riris Juliyanti), cerpen yang berlatar tragedi Mei 98 ini menceritakan persahabatan antara seorang keluarga Pribumi dengan keluarga Tionghoa, tetangga depan rumahnya, ketika tragedi Mei terjadi, keluarga Tionghoa ini tak luput dari amukan massa, salah seorang anaknya mengalami perkosaan. Cerpen ini menyajikan ending yang mengejutkan sekaligus menyentuh di akhir ceritanya.

Jika membaca keseluruhan cerpen yang ada dalam buku ini pembaca diajak untuk menyelusuri selasar kenangan masa kecil para tokoh dalam tiap cerpen, ketika membaca buku ini kita seolah didongengi cerita-certia masa kecil penulisnya, secara umum cerita-ceritanya sederhana dan menyajikan kepolosan dunia anak-anak, namun ada juga certia-certia yang kelam dan menyentuh pembacanya (Perempuan dalam Reruntuhan Musim, Sesuatu yang Bernama Kenangan), yang pasti, pembaca yang baik pasti akan mendapatkan nilai-nilai moral dari seluruh kisah yang tesaji dalam buku ini yang tentunya bermanfaat untuk diselami.

Keseluruhan cerpen yang ada dalam buku ini dikumpulkan dari milis Apresiasi-Sastra@yahoogroups.com , sebuah milis sastra yang kerap mengadakan semacam lomba kepenulisan dalam berbagai bentuk (pantun,puisi,prosa,dll). Dalam kata pengantar buku ini yang ditulis oleh Djodi Budi Sambodo selaku pendiri (owner) milis Apresiasi-Sastra, terungkap bahwa milis yang sarat dengan program-program apresiasi ini pernah menggelar sebuah programnya Apresiasi Prosa srikandi (khusus wanita) dengan tema “Masa Kecil”. Program ini diikuti oleh 21 peserta, dari 21 naskah yang masuk, naskah-naskah ini dinilai oleh 13 relawan juri yang semuanya pria. Semua cerpen dinilai dan ditabulasikan hingga menghasilkan 10 cerpen dengan nilai terbaik dan akhirnya dibukukan dalam “Selasar Kenangan”

Selain berisi kumpulan cerpen, buku ini juga menyuguhkan sebuah ensamble puisi / puisi berantai sebanyak 117 baris yang ditulis oleh puluhan anggota milis Apresiasi-Sastra dimana setiap anggota milis boleh mengirimkan sebaris atau lebih puisinya untuk menyambung baris-baris diatasnya. Puisi berantai dengan judul ”Waktu Bukan Milikmu” ini setidaknya merupakan bukti perwujudan semangat kebersamaan dalam bersastra yang tampaknya menonjol dalam milis Apresiasi-Sastra ini.

Yang sangat disayangkan, buku yang dikemas secara menarik ini memiliki kekurangan yang cukup menonjol, dalam kata pengantarnya tertulis bahwa ada 10 cerpen terbaik yang dimuat dalam buku ini, namun dalam kenyataannya hanya ada 9 bh cerpen saja, dimana keberadaan satu cerpen lagi…?, selain itu, buku ini juga tidak memuat biodata penulis, padahal dalam sebuah buku, biodata penulis merupakan salah satu unsur yang sangat penting dan selalu ada guna mengenalkan penulisnya pada pembacanya, apalagi untuk sebuah antologi cerpen yang ditulis oleh berbagai penulis.

Namun dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Buku ini setidaknya turut andil dalam mempopulerkan berbagai karya sastra internet yang semula hanya terbaca di layar komputer oleh para peselancar cyber menjadi sebuah karya sastra yang juga bisa dibaca oleh masyarakat luas dan dapat dibaca kapan saja sambil berselonjor nyaman di sebuah sofa empuk sambil menyusuri Selasar Kenangan dan belajar dari kehidupan masa kecil para tokoh-tokoh dalam cerpen ini.

@h_tanzil
Read more »

Minggu, 09 Juli 2006

Jalang!


Judul : Jalang!
Penulis : Maroeli Simbolon
Editor : Anwar Holid
Penerbit : Jalasutra
Cetakan : I, Juni 2006
Tebal : xx + 209 hlm
Harga : Rp. 29.000,-

Siapa yang tidak mengenal legenda Ken Arok dengan Keris berdarahnya? Sebuah Keris yang menghantar Ken Arok menjadi Raja Singasari. Keris Mpu Gandring yang dikutuk oleh pembuatnya itu dikenal dengan keris yang haus darah, tujuh nyawa meregang sia-sia tertikam oleh keris terkutuk itu. Keris, tombak, pisau, hingga yang lebih modern –pistol- yang tadinya sekedar alat untuk membela diri tak jarang menjadi alat pembunuh bagi pemiliknya, tak perlu kutukan Mpu Gandring untuk membuat sebuah senjata menjadi haus darah, aura kekerasan yang memancar dari sebuah senjata membuat pemiliknya menjadi lebih beringas dan tak segan-segan menggunakan senjatanya untuk memperoleh apa yang diinginkannya

Novel Jalang! karya Maroeli Simbolon bukan kisah perebuatan kekuasaan seperti Ken Arok, melainkan kisah bagaimana sebuah senjata mampu memunculkan hasrat paling gelap bagi pemiliknya untuk menjadi jagoan, membalas dendam, dan melancarkan serangan yang menghantar pada kematian. Novel ini bertutur mengenai sebuah pistol yang haus akan darah. Di tangan Maroeli, benda mati, sebuah pistol dipersonifikasikan menjadi begitu hidup dan memiliki hasrat membunuh yang liar. Tokoh sentral novel ini adalah sebuah pistol yang terus berpindah-pindah kepemilikan dari satu tangan ke tangan lainnya. Awalnya pistol ini milik sebuah instansi resmi yang berhak menyimpan senjata, sensasi kekerasan pertama yang dirasakan oleh pistol ini bermula ketika seseorang berpakaian seragam membawanya ke medan perang. Pistol ini bekerja tak kenal lelah. Mataku muntah sebutir demi sebutir. Maka, satu demi satu pun terjatuh meregang nyawa dan bersimbah darah oleh kebuasanku. Aku menjilati sepuasnya (hlm 88)

Ketika sosok berseragam itu tewas tertembak peluru musuh ketika berada dalam daerah konflik, pistol tersebut berganti pemilik, ia diambil oleh oleh seseorang yang berpakaian biasa. Berganti pemilik tidak membuat dirinya semakin terkendali, malah pistol tersebut semakin liar memuntahkan peluru-pelurunya. Maka ia jadi kekasihku. Dari sinilah aku terlibat percintaan semakin liar. Dari tangannya aku pindah ke tangan lain, lalu ke tangan baru, lalu ke tangan asing, ah, entah sudah berapa. Aku juga tak pernah menghitung jumlah korbanku. Tentu saja sebelum pindah, aku sudah menjilati korban-korbanku lebih dulu (hlm 89).

Novel ini secara menarik mengisahkan penggalan perjalanan hidup si pistol yang haus darah bersama pemiliknya yang selalu berganti-ganti. Masing-masing pemilik memiliki kisahnya sendiri-sendiri. Pembaca diajak berpetualang bersama si pistol dan pemiliknya. Di halaman-halaman awal pembaca disuguhkan oleh narasi kekerasan antara seorang wanita dan dua orang yang anggota sindikat (Tonny & Viddy) yang ditugasi oleh bossnya untuk menghabisi nyawa si wantia yang dianggap telah menghianati kelompoknya. Lalu ada juga kisah yang bisa dikatakan mendominasi dan mengikat novel ini yaitu kisah perselingkuhan dengan nafsu yang liar antara Frans dan Helen, sekertarisnya. Padahal Frans telah memiliki Clara, istri yang cantik dan melayaninya dengan baik. Diam-diam Andre, tetangga depan rumah mereka menaruh kekaguman pada Clara dan selalu merekam kegiatan Clara lewat sebuah kamera video dari rumahnya. Lalu ada juga tokoh John, pegawai pabrik yang di-PHK oleh majikannya dan dengan pistol ditangannya berhasil membunuh mantan majikannya. Terseok-seok oleh kemiskinan akibat menganggur dan menghindar dari kejaran polisi, John menjadi pelaku kriminal yang merampok seorang wanita di tempat parkir sebuah plaza.

Yang paling menarik dari novel ini tentu saja personifikasi si pistol itu sendiri. Dalam novel ini Maroeli mendeskripsikan tokoh sentral dalam novel ini sebagai benda mati yang memiliki hasrat dan perasaan. Si pistol digambarkan sebagai sosok anak kegelapan dan malaikat maut yang siap menyambar nyawa siapapun. Aku adalah peri, bidadari, malaikat bermata satu, jin, iblis bertanduk seribu….Aku adalah binatang jalang! Amboi, betapa aku menyukai semua yang penuh birahi dan menyeramkan yang disematkan kepadaku (hlm 83).
Seperti keris Mpu Gandring dikutuk oleh pembuatnya dan selalu haus akan darah, demikian juga tokoh pistol dalam novel ini Ia jalang dan haus darah, setiap dirinya ditodongkan pada calon korbannya, dengan kemampuannya menghasut ia mencoba membujuk pemiliknya untuk segera menarik pelatuk pistolnya dan merasakan sensasi nikmatnya luncuran timah panas menembus tubuh korban. Hampir semua yang pernah memiliki pistol ini terhasut untuk menumpahkan kemarahan, mengumbar dendam, dan melancarkan serangan yang mematikan dari orang-rang yang dibencinya.

Hanya satu yang luput dari hasutannya, ketika pistol ini dibuang oleh John dan ditemukan oleh pemulung sampah, pistol ini tak berhasil membujuk si pemilik barunya untuk memenuhi hasrat membunuhnya. Ketika Pistol ini hendak dibuang, sebuah mobil yang dikendarai Frans menyerempet gerobak sampahnya dan si pemulung terpental bersama pistolnya. Alih-alih menolong si pemulung sampah, Frans malah mengambil pistol itu. Di tangan Frans-lah akhirnya pistol itu berhasil mempengaruhi Frans untuk melampiaskan hasrat jalangnya.

Melalui Novel ini, secara lugas dan berani Maroeli menyajikan cerita yang keras, memacu adrenalin bahkan cenderung kasar, seperti judul novel ini “Jalang!” dan cover buku yang didominasi dengan warna hitam dan lukisan pistol yang memuntahkan pelurunya, novel ini pun sama hitam dan kasarnya dengan citra yang dicoba dibangun oleh desainer cover novel ini. Penulisnya tampaknya berhasil membangun sebuah cerita yang menarik dengan memunculkan sebuah pistol sebagai tokoh sentral, sebuah ide cerita yang orisinil dan menyajikan petualangan yang imajinatif dengan setting kehidupan kaum urban yang memiliki kehidupan yang gelap dan keras dimana penghianatan, dendam seorang korban PHK, kemiskinan, kehancuran rumah tangga akibat perselingkuhan yang liar dan panas terungkap dengan gamblang dalam novel ini.

Walau novel ini sarat dengan deskripsi kekerasan, tentunya bukan berarti novel ini dimaksud untuk memunculkan hasrat gelap dari pembacanya, namun setidaknya novel ini menyadarkan pembacanya bahwa kekerasan dengan mudah akan ditemui dimana-mana dan menyusup dalam tiap sendi-sendi kehidupan masyarakat kaum urban yang tampaknya semakin tak toleran satu dengan yang lainnya.

Sebagai catatan, Jalang! Adalah novel pertama dan terakhir dari Maroeli Simbolon. Selama ini Maroeli dikenal dengan cerpen-cerpennya yang tersebar di berbagai media massa nasional, beberapa telah dibukukan oleh penerbit Jalasutra yaitu, Bara Negeri Donngen (2002), Cinta? Tai Kucing! (2003) dan Sepasang Luka Cinta (2004). Novel Jalang! diselesaikan oleh Maroeli ketika sakit kronis mulai mendera tubuhnya. Karena novel ini terbit setelah penulisnya wafat, bisa dikatakan novel ini adalah novel anumerta (posthumous), sebelumnya novel ini pernah dimuat secara bersambung di harian Sinar Harapan pada Februari-Maret 2005.

Proses kreativitas menulis Maroeli seperti diutarakan Anwar Holid dalam Avant Provos novel ini memang tak lepas dari sakit yang dideritanya. Namun Mareoli adalah penulis yang tangguh dan punya vitalitas yang hanya akan berhenti jika ia harus berhenti. Akhirnya Maroeli Simbolon memang harus berhenti sesuai dengan kehendakNYA. Setelah beberapa bulan bertahan dan berjuang melawan sakit, pada 18 Januari 2006 Maroeli Simbolon meninggal dunia di Jakarta 2 hari setelah ia merayakan ulang tahunnya yang ke 39.

@h_tanzil
Read more »

Selasa, 04 Juli 2006

Perpustakaan Ajaib Bibi Bokken


Judul : Perpustakaan Ajaib Bibbi Boken
Penulis : Jostein Gaarder & Klaus Hagerup
Penerjemah : Ridwana Saleh
Penyunting : Andityas Prabantoro
Penerbit : Mizan Pustaka
Cetakan : I, Mei 2006
Tebal : 294 hlm
Harga : Rp, 32.500,-


Sedikit orang yang mengetahui bahwa penulis novel Best Seller Dunia Sophie (1995) Jostein Gaarder pernah berkoloborasi dengan Klaus Hagerup dalam menulis fiksi remaja.
Klaus Hagerup sendiri adalah salah satu penulis terkemuka Norwegia yang karya-karyanya banyak berjenis bacaan anak dan remaja. Mungkin salah satu kesamaan dalam hal menulis fiksi yang diperuntukkan bagi remaja inilah yang mendorong Gaarder dan Hagerup berkoloborasi dan melahirkan karya bersamanya yang berjudul Bibbi Bokkens Magische Bibliothek (1993). Buku yang belum pernah diterbitkan oleh negara-negara berbahasa bahasa Inggris ini kini diterjemahkan langsung dari bahasa Jerman oleh Mizan menjadi Perpustakaan Ajaib Bibbi Boken (2006).

Novel Gaareder & Hagerup ini menceritakan dua saudara sepupu pecinta buku, Berit dan Nils yang tinggal di kota yang berbeda. Oslo dan Fjaerland - Norwegia. Untuk berhubungan, kedua remaja ini saling berkirim surat. Uniknya surat mereka bukan ditulis dalam selembar kertas melainkan ditulis dalam sebuah buku yang saling dikirim diantara mereka.

Anehnya buku surat tersebut menarik perhatian Bibbi Boken seorang wanita misterius yang menginginkan buku-surat tersebut..Alih-alih lari dari incaran Bibbi Bokken, Berit dan Nils layaknya detektif secara diam-diam membuntuti dan menyelidiki hingga ke kediaman Bibi Bokken. Dari sepucuk surat yang terjatuh dari tas Bibbi Bokken terungkap bahwa ia adalah seorang bibliografer, surat tersebut menyinggung soal buku yang sangat spesial yang akan terbit tahun depan yang belum ditulis bahkan belum diketahui siapa penulisnya, buku tersebut berjudul “perpustakaan ajaib”. Dari penyelidikan Berit dan Nils terungkap bahwa Bibbi Boken sering menerima paket buku, mereka menyangka pastilah dalam rumah Bibbi terdapat banyak buku, mereka mencurigai Bibbi sebagai penyeludup buku. Namun siapa sangka ketika Berit berhasil menyusup kedalam rumah Bibbi, anehnya tak tampak satu bukukupun dalam rumah itu !

Penyelidikan terus berlanjut, semakin hari mereka semakin menemukan keterkaitan antara Bibbi Boken dan beberapa peristiwa penting serta tokoh-tokoh yang berkaitan dengan dunia perbukuan. Tak hanya Bibbi Boken yang mengingini buku-surat mereka, ternyata seseorang yang diberi nama Smiley diam-diam membuntuti mereka untuk mencuri buku surat tersebut.

Siapakah sebenarnya Bibbi Boken dan Smiley ? apakah mereka berada dalam satu komplotan yang menginginkan buku-surat Berit dan Nils ? Seberapa berhargakah buku surat itu bagi Bibbi Boken dan Smiley sehingga mereka begitu menginginkannya? Berhasilkan mereka merebut buku-surat itu ?Adakah sebenarnya Perpustakaan Ajaib itu ? Berhasilkan Berit dan Nils menemukannya dan mengungkap rencana rahasia Bibbi Boken yang terkait dengan perpustakaan ajaib dan konspirasi dalam dunia perbukuan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan muncul terus ketika kita membaca buku ini dan baru akan terjawab di lembar-lembar terakhir novel ini.

Buku ini dibagi dalam dua bagian, bagian pertama : Buku-Surat seluruhnya halamannya merupakan isi dari surat menyurat antara Berrit dan Nilss. Bab ini uniknya karena pembaca secara langsung diajak membaca sendiri buku-surat yang ditulis oleh dua remaja ini. Di bagian kedua : Perpustakaan, barulah kisah ini memiliki alur cerita seperti alur konvensional, di bab ini Berrit dan Nilss telah berada di Fjaerland dan bertemu dengan Bibbi Boken yang akan mengungkap semua misteri perpustakaan ajaib

Berbeda dengan karya-karya Jostein Gaarder lainnya seperti Sophie World, Orange Girll, Rainmaster Daughter, dll yang sarat dengan perenungan hidup. Dalam karya bersamanya dengan Klaus Hagerup ini, Gaarder menyajikan sebuah cerita detektif, cerita misteri layaknya cerita-cerita Lima Sekawan. Namun pembaca tidak hanya disuguhkan dengan serunya penyelidikan Berit dan Nils. Buku ini juga menyajikan pernak-penik dunia buku seperti incabulla, sejarah buku pertama, Guttenberg, teori sastra, teori fiksi , teori menulis, drama, film, perpustakaan dalam gua, bibliografer, dan yang menarik, buku ini juga menyajikan klasifikasi Dewey secara lengkap!. Pembaca juga akan diajak berkenalan dengan Astrid Lindgren, Winnie The Pooh (AA Milne) Anne Frank, Hans Christian Andersen, Roald Dahl, penyair-penyair Skandinavia seperti Jan Erik Vold, Peer Grynt, dll. Di lembar-lembar terakhir kisah ini, pembaca juga akan disuguhkan mengenai tahap-tahapan bagaimana sebuah buku diterbitkan mulai dari menulis, mengedit, mencari ilustrator untuk sampul buku, lay out buku hingga ke percetakan.

Singkatnya, dari awal hingga akhir pembaca akan disuguhkan oleh eksotisnya dunia buku sebagai latar dari petualangan Berit dan Nils. Dilihat dari kisahnya yang menyangkut kosnpirasi perbukuan dan banyaknya istilah dan pernak-pernik dunia perbukuan dan dan gambaran detail dari penulisnya mengenai perpustakaan lengkap dengan buku-bukunya, bisa dikatakan buku ini adalah buku fiksi tentang buku sehingga buku ini dipastikan akan memuaskan selera para pecinta buku sejati.

Kisah dalam buku ini bak surat cinta kepada buku dan dunia kepenulisan.
- Ruhr Nachricht

@h_tanzil
Read more »

Minggu, 25 Juni 2006

The Wild Soccer Kids - Leon, si Tendangan Kilat


Judul : The Wild Soccer Kids - Leon, si Tendangan Kilat
Penulis : Joachim Masannek
Ilustrator : Jan Brick
Penerjemah Sri Noor Verawaty
Penyunting : Maria Masniari Lubis
Penerbit : Little K
Cetakan : I, Maret 2006
Tebal : 160 hlm ; 19 cm
Harga : Rp. 23.500,-

Demam Sepak Bola World Cup 2006 bukan hanya milik orang dewasa. Anak-anak pun bisa merasakan kemeriahan pesta sepak bola yang berlangsung empat tahun sekali ini. Tak sekedar menonton bersama para orang tuanya, merekapun bermain sepak bola dengan penuh semangat. Tak perlu mencari lapangan bola, sepetak tanah kosong pun jadi. Di situlah mereka bermain layaknya pemain-pemain bola kelas dunia

Leon dan teman-temannya adalah anak-anak yang begitu tergila-gila dengan sepak bola. Mereka menamai diri kesebelasan Wild Soccer Kids. Di sini wild bukan berarti liar dalam pengertian negatif, melainkan liar dalam arti berbahaya, bersemangat sehingga tidak ada yang sanggup menahan mereka untuk bermain bola.

Kisah dalam buku yang diperuntukkan bagi anak-anak / remaja ini bermula saat musim dingin yang panjang hampir berakhir di Jeman. Di musim dingin yang bersalju, Leon dan teman-temannya praktis tak bisa bermain bola. Beberapa anak bermain bola dalam kamarnya masing-masing. Akibatnya, kecelakaan kecil terjadi di rumah Leon dan Maxi akibat bola yang mereka mainkan memecahkan benda-benda di rumah mereka. Orang tua pun marah dan melarang anak-anak mereka bermain bola

Musim dingin sudah berakhir, harusnya saat inilah Leon dan teman-temannya bermain bola di lapangan bola Bolzplatz, Leon dan beberapa temannya terhambat untuk segera menuju Bolzpatz. Leon, Marlon dan Maxi harus menerima hukuman dari orang tuanya akibat memecahkan barang-barang di rumahnya, Felix masih harus beristirahat karena terserang demam. Raban menemani gadis-gadis tetangga yang berkunjung kerumahnya.

Namun anak-anak tak menyerah begitu saja, dengan segala usaha akhirnya mereka bisa pergi menuju Bolzpatz. Sesampai di sana, ternyata Bolzplatz telah dikuasai oleh si Bengkak Michi bersama teman-temannya yang dinamai Geng Pembantai. Tentu saja hal ini membuat kecut Leon dan kawan-kawannya. Akhirnya dengan penuh keberanian Leon menantang mereka untuk bertanding sepak bola. Siapa yang menang akan menguasai Bolzlpatz selamanya. Leon meminta waktu selama dua minggu untuk berlatih.

Tawaran Leon ini awalnya ditanggapi dengan pesimis oleh teman-temannya. Bagaimana mungkin, lapangan Bolzplatz kini dikuasai Geng Pembantai. Siapa pula yang bisa melatih mereka untuk memenangkan pertandingan melawan Geng Pembantai yang secara fisik lebih unggul dibanding mereka?. Akhirnya mereka teringat akan Willi, si pemilik warung disamping lapangan Bolzplatz. Seingat mereka Willi pernah bercerita bahwa ia mantan pemain sepak bola profesional.

Willi menerima tawaran mereka dengan syarat mereka harus percaya penuh pada dirinya sebagai pelatih. Leon dan kawan-kawan menyanggupinya. Ternyata apa yang mereka bayangkan sebelumnya bahwa mereka akan dilatih secara profesional tak menjadi kenyataan. Willi melatih mereka dengan cara yang aneh, mereka harus berlatih di lapangan yang berlumpur, bola yang mereka gunakan adalah bola tenis, dan harus berlatih dengan Socke, anjing milik Leon. Awalnya tentu saja Leon dan kawan-kawan protes terhadap latihan ‘aneh’ yang diterapkan Willi, namun mereka telah berjanji untuk mempercayakan latihan mereka pada Willi dan tak ada waktu lagi untuk mencari pelatih baru

Berhasilkah Wild Soccer Kids mereka melawan Geng Pembantai ?

Banyak tantangan yang mereka hadapi, selain latihan yang keras dan aneh, mereka juga secara moral dihancurkan oleh Michi yang mengungkap jati diri Willi. Belum lagi kenyataan bahwa dua kawan Leon yaitu Raban dan Joscha dinilai tak layak bertanding sehingga harus mencari dua pemain baru.

Buku yang diperuntukkan bagi anak-anak / remaja ini memang sangat seru dan menarik. Joachim Masannek, penulis asal Jerman menyuguhkan alur cerita yang cepat dan membuat penasaran pembacanya. Pembaca seakan digiring masuk dalam cerita dan merasakan tantangan-tantangan yang dihadapi oleh Leon dan kawan-kawan. Klimaks cerita berlangsung saat Wild Soccer Kids melawan Geng Pembantai tersaji secara seru. Ilustrasi yang menarik, yang dibuat oleh Jan Brick turut menghidupi buku ini.

Namun dibalik serunya cerita dan menariknya ilustrasi dalam buku ini terdapat nilai-nilai positif yang tentunya sangat bermanfaat bagi anak-anak yang membaca buku ini. Anak-anak diajak menyelami bagaimana mereka harus bekerja sama sebagai suatu tim, bersikap sprotif, beradu strategi, dan membangun kesetiakawanan.

Pembaca dewasa tak perlu merasa tabu membaca buku ini. Cerita dengan alur sederhana yang memikat ini bukan hanya monopoli anak-anak karena buku ini sangat menghibur dan memberikan nilai-nilai positif bagi siapapun yang membacanya.

The Wild Soccer Kids dibuat secara berseri, selain seri Leon si tendangan Kilat, juga menysul seri-seri berikutnya seperti Felix si Angin Topan, dan Vanessa si Pemberani, Ketiga buku ini telah diterjemahkan langsung dari bahasa Jerman dan diterbitkan oleh Little K. Kabarnya seri buku ini mencapai hingga 14 judul yang masing-masing judul tokoh utamanya selalu berbeda-beda sesuai dengan anggota Wild Soccer Kids

Selain menyajikan cerita yang menarik, buku ini juga menghadiahkan bonus berupa Jadwal Pertandingan Piala Dunia 2006 plus stiker The Wild Soccer Kids yang menarik.

Terbitnya buku ini menjelang demam Piala Dunia sangatlah tepa, karena menyuguhkan bacaan yang pas di saat antusiasme anak terhadap sepak bola sedang mencapai puncaknya, sehingga pesan positif dalam serial ini akan sampai pada anak-anak dalam waktu yang tepat. Kehadiran seri-seri lainnya sangat dinantikan selagi anak-anak masih antusias dengan kemeriahan Piala Dunia 2006.

@h_tanzil

Review ini dimuat di suplemen Ruang Baca ed Juni 2006
Koran Tempo 25 Juni 2006
Read more »

Minggu, 18 Juni 2006

Agar Anak Anda Tertular "Virus" Membaca


Judul : Agar Anak Anda Tertular "Virus" Membaca
Penulis : Paul Jennings
Ilustrator : Andrew Welden
Penerjemah : Ary Nilandari
Kata Pengantar : Hernowo
Penerbit : MLC (Mizan Learning Center)
Cetakan : I, April 2006
Tebal : 272 hlm ; 23.5 cm

Salah satu keinginan terbesar bagi para orang tua adalah melihat anak-anaknya bisa segera membaca bahkan gemar membaca. Bisa membaca dan gemar membaca jelas berbeda. Dibutuhkan suatu usaha bagi para orang tua agar kebiasaan membaca menjadi hal yang mengasyikan bagi anak sehingga menumbuhkan rasa gemar dan cinta anak pada buku hingga dewasa nanti.

Seperti judul pada buku ini "Agar Anak Anda Tertular Virus Membaca", Paul Jennings secara praktis mengajak para orang tua untuk menularkan ‘virus’ membaca dan bagaimana sejak dini anak-anak dapat asyik, bergairah dan cinta terhadap buku. Pilihan kata ‘virus’ sebagai terjemahan ‘bug’ dalam judul terjemahan buku ini sangatlah tepat. Hernowo dalam kata pengantarnya menjelaskan, semestinya judul buku ini – mengikuti judul buku aslinya, The Reading Bug and How You Can Help Your Child to Catch It – menggunakan frasa "kutu buku", namun frasa ini bagi masyarakat Indonesia sering ditafsirkan sebagai sesuatu yang dingin, berkacamata tebal dan tidak gaul. Karena itu pilihan mengganti frasa kutu buku menjadi virus sangatlah tepat dan menarik perhatian orang tua atau para pendidik untuk membangkitkan semangat menularkan virus membaca pada anak-anaknya.

Jennings membedakan antara bisa membaca dan gemar membaca, ia menekankan keteladanan orang tua adalah hal yang penting dalam membuat anak gemar membaca.. Orang tua sebenarnya telah memiliki bahan utama untuk mulai menularkan ‘virus’ membaca. Orang tua mencintai anak-anaknya, dan anak-anak senang dicintai. Inilah intinya. Cinta adalah fondasi utamanya. Jika kita ingin anak-anak gemar membaca, kita harus menanamkan kecintaan terhadap buku. Guru di sekolah memang bisa mengajarkan anak membaca, namun orang tua tetaplah orang yang paling tepat untuk menumbuhkan minat membaca anak. Orang tua dapat menumbuhkan keasyikan membaca setiap harinya. Membacakan atau membaca bersama anak adalah ungkapan cinta.

Paul Jennings dalam buku ini membagikan tips-tips dan pandangan-pandangan baru agar para orang tua bisa menularkan virus membaca bagi anak-anaknya; beberapa tips yang terdapat dalam buku ini antara lain :

Membacakan buku untuk anak, menurut Jennings momen-momen ketika orang tua membacakan buku bagi anak-anak adalah salah satu hal yang paling berharga yang dapat kita lakukan bagi mereka Manfaatnya akan sangat besar karena hal ini akan menciptakan hubungan cinta antara orang tua dan anak. Ungkapan cinta ini akan membentuk asosiasi antara anak dan buku. Kata buku membangkitkan kebahagiaan. Meraba, melihat, dan mencium bau buku selamanya terkait dengan kehangatan, rasa aman, dan cinta. Anda telah menyemaikan hubungan cinta sepanjang hayat antara anak dan membaca (hlm 39)

Selain itu membacakan buku pada anak tidak hanya membangkitkan kecintaan terhadap buku, melainkan membiasakan bahasa mereka dengan bahasa buku, sehingga kelak anak-anak akan siap dengan struktur kalimat sebuah buku jika ia bisa membaca sendiri.

Hal kedua adalah menjodohkan anak dengan buku. Memang tak mudah memilih buku yang menarik untuk anak-anak, Jennings menyarankan agar orang tua kritis terhadap minat anaknya akan berbagai hal, jika suka mobil balap, belikan buku-buku mengenai mobil balap, jika senang memasak, belikan buku-buku resep. Jika senang komik, tak ada buruknya dengan komik. Fakta bahwa komik mudah dibaca merupakan kelebihan, bukan kekurangan. Selain itu fisik buku pun berpengaruh pada minat membaca anak. Jika dari covernya saja sebuah buku tampak sulit dan tidak menarik, anak-anak tidak akan mau mencoba membacanya.

Dalam hal memilih isi cerita, disrankan agar memilihkan buku-buku yang tercipta dari lubuk hati sang penulis karena desakan kebutuhan untuk menceritakan sebuah kisah. Jangan tertipu oleh bacaan-bacaan ‘pelajaran’ yang ditulis hanya untuk menjaga kosakata karena biasanya certianya menjadi kaku dan tidak menarik. Disarankan juga agar sesekali anak-anak diberi kebebasan untuk memilih bukunya sendiri. Jika ternyata buku pilihan mereka sulit, orang tualah yang akan membacakannya untuk mereka.

Salah satu bagian paling menarik dalam buku ini adalah uraian mengenai membaca makna. Jennings menyarankan agar para orang tua tak perlu memaksakan anaknya yang sudah bisa membaca untuk berusaha keras membaca kata per kata, terutama pada kata-kata yang sulit. Misalnya kata margarin pada kalimat "Anak itu mengoleskan margarin dan menaburkan gula pada sepotong roti" adalah kata yang sulit dibaca, dan anak mungkin membuat kesalahan dengan menyebutnya mentega. Sebaiknya, biarkan saja anak membaca terus, tak perlu mengoreksinya karena si anak telah membuat perkiraan yang tepat berdasarkan makna dan barangkali menggunakan huruf pertama ‘m ‘ sebagai petunjuk. Artinya anak ini membaca untuk makna.

Jika orang tua memintanya berhenti, mengoreksinya, memintanya untuk mengulanginya dan melafalkannya dengan tepat mungkin saja si anak menjadi frustasi dan merusak suasana keasyikan membaca. Membiarkan anak menggunakan konteks untuk memperkirakan makna dalam hal ini lebih berguna daripada membunyikan huruf-huruf. Kata mentega adalah tebakan yang masuk akal. Orang tua mengoreksinya jika tebakan katanya diluar konteks bacaannya dan terasa tidak masuk akal.

Masih banyak hal-hal menarik dalam buku ini, Jennings tidak hanya memberikan teknik-teknik membaca pada anak-anak, namun ia juga menekankan pentingnya orang tua agar bisa menularkan rasa cinta, rasa asyik, dan menciptakan sikap kerajingan membaca, karena teknik membaca saja tidak bisa menularkan rasa cinta membaca pada anak-anak. Selain itu pendekatan-pendekatan baru juga akan kita temui dalam buku ini sehingga para orang tua akan diajak untuk memilih dan merancang pendekatan-pendekatan apa yang yang akan dilakukannya untuk membangkitkan minat baca pada anak-anaknya sejak dini.

Pada bab 12, buku ini juga menyertakan daftar buku-buku yang disarankan oleh Jennings. Selain judul-judul dan sedikit sinopsisnya, Jennings juga mengkategorikan buku-buku tersebut berdasarkan tingkat usia sehingga memudahkan pembaca memilihkan buku-buku untuk anaknya. Namun sayangnya minimnya buku-buku anak di Indonesia yang cocok dengan kriteria Jennings baik itu terjemahan maupun karya lokal membuat banyak judul-judul buku tersebut sulit kita temui di toko-toko buku.

Rasanya buku karya Paul Jennings ini akan lebih cocok diadaptasi (bukan diterjemahkan) oleh penulis lokal sehingga contoh-contoh bukunya dapat dengan mudah dicari oleh pembacanya dan kasus-kasus membaca yang diutarakan Jennings dapat disesuaikan dengan kondisi keluarga dan kebiasaan membaca di Indonesia.

Namun usaha untuk menerjemahkan buku ini kedalam bahasa indonesia patut dihargai setinggi-tingginya karena buku yang ditulis dengan bahasa yang jernih dan berhasil diterjemahannnya dengan baik dan disertai gambar-gambar yang jenaka tentunya akan membangkitkan kepedulian setiap orang (terutama orang tua dan guru) untuk membuat anak-anak terjangkit virus membaca sehingga menjadi ‘tegila-gila" membaca dan menumbuhkan generasi baru manusia Indonesia yang tidak hanya bisa membaca namun gemar membaca.

@h_tanzil
Read more »

Minggu, 11 Juni 2006

Epigram


Judul : Epigram
Penulis : Jamal
Editor : Indah S. Pratidina
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 384 hlm ; 20cm


Jamal penulis yang berbahaya!
M. Fadjroel Rachman, Kolumnis, presenter TV, mantan aktivis
Endorsment dari Fadjroel Rachman di sampul novel ini pasti akan membuat calon pembaca novel ini penasaran. Seberapa berbahayakah kandungan novel Epigram ini sehingga Jamal dijuluki penulis yang berbahaya ?

Dari ketiga novel sebelumnya (Louisiana-Luoisiana, 2003, Rakaustarina ,2004, Fetussaga,2005) tak terlihat indikasi bahwa Jamal adalah penulis yang berbahaya. Louisiana-Louisiana dan Rakkaustarina berbicara mengenai kisah cinta yang dibumbui oleh setting luar negeri dan konflik-konflik batin akibat benturan budaya pada kehidupan tokoh-tokohnya, Fetussaga menceritakan kisah jabang bayi yang mampu merasakan dan berkomunikasi dengan ‘alam lain’. Tak ada yang berbahaya, ketiga-tiganya menghibur sambil memberi wawasan pada pembacanya dalam hal kultur budaya lokal (Fetussaga) hingga lansdkap negara-negara Eropa (Louisiana-louisiana & Rakkaustarina), tak ketinggalan Jamal juga selalu memasukkan unsu-unsur seni, desain dan filosofi kehidupan dalam dialog-dialog para tokohnya.

Apakah novel keempatnya ini berbeda dengan ketiga novelnya terdahulu?

Dalam Epigram, Jamal berutur mengenai tokoh dua orang mahasiswa demonstran Kris dan Nara yang dibebaskan teman-temannya dari tahanan militer. Kris ke Eropa dan Nara ke Amerika. Cerita dimulai dari lokasi Kris bekerja pada tahun 2003, di rig raksasa tempat pengeboran gas dan minyak Troll West milik Norsk Hydro di LautNorwegia. Secara tak terduga atasan Kris adalah seorang eksil asal Indonesia yang pada 1965 sedang menyelesaikan kuliahnya di Uni Soviet, gonjang-ganjing politik di tahun itu membuat dirinya tak bisa pulang dan menjadi seorang eksil di Eropa.
Ketika Kris menerima email dari sahabatnya Adun yang akan pergi berlibur ke Eropa dan meminta bertemu dengan Kris di Belanda. Ingatan Kris terlempar ke masa lalu. Cerita lalu kilas balik ke tahun 1989 pada saat menjelang demo menentang kehadiran seorang menteri mantan jenderal ke kampusnya. Kris yang dikenal sebagai demonstran sebetulnya sudah tak berminat terjun langsung ke lapangan karena ia merasa sudah terlalu tua dan baru saja menyelesaikan sidang sarjananya dan tinggal menunggu wisuda. Kehadiran Kris di lapangan hanya sebagai penggembira saja.

Demonstrasi menentang kehadiran menteri itu semakin memanas, aparat melesat masuk kedalam kampus. Kris tak bisa mengelak dari hajaran aparat. Untunglah Kris tak sampai ditangkap. Esoknya timbul desas-desus bahwa aparat akan melakukan penangkapan terhadap penggerak demo itu. Nama Kris yang sudah dikenal sebagai demonstran termasuk dalam daftar mahasiswa yang akan diciduk. Benar saja, Kris, Nara dan beberapa teman lainnya diculik oleh aparat dan dimasukkan kedalam penjara militer.

Di dalam penjara Kris dan Nara diinterogasi secara kontiniu, walau Kris mengelak bahwa dirinya bukan koordinator demo, aparat yang memeriksanya tak mempercayainya. Siksaan fisik dan mental harus dihadapi Kris dan Nara selama dalam tahanan. Hal ini nantinya akan mengakibatkan kepribadian Kris menjadi terpecah walau belum dalam tingkat yang mengkhawatirkan.

Kawan-kawan Kris tak tinggal diam, berkat seorang kawan yang memiliki hubungan langsung dengan petinggi militer Kris dan Nara berhasil dibebaskan melalui sebuah operasi rahasia. Agar Kris dan Nara tak tertangkap lagi mereka diterbangkan ke luar negeri. Nara ke Amerika, Kris ke Eropa. Awalnya mereka tak rela melarikan diri ke luar negeri sementara kawan-kawan lainnya masih dalam penjara, namun mereka tak bisa mengelak dan keduanya hidup sebagai pelarian di negara asing.

Keberuntungan berpihak pada Kris dan Nara. Karena perkenalannya dengan seseorang di pesawat yang bersimpati padanya Nara melanjutkan kuliah di Greensboro, Amerika serikat. Pada saat liburan di Boston Nara bertemu dengan Mira, putri seorang jenderal, sepupu temannya yang nantinya akan menguak misteri bagaimana mereka bisa dibebaskan dari penjara militer.

Sementara Kris yang mendarat di Amsterdam ditampung oleh mahasiswa Indonesia di sana, lalu oleh dubes RI di Belanda yang bersimpati padanya. Rencana kuliah diBelanda batal, seorang kawannya yang sedang kuliah di Bremen-Jerman mengajaknya untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Bremen. Kris menerima ajakan kawannya itu hingga akhirnya Kris lulus master dengan gemilang dan bekerja di perusahaan gas Norsk Hydro di sebuah rig rakaksa di kawasan ladang gas dan minyak lepas pantai kawasan Troll West di Laut Utara Norwegia. Walau Kris sukses dalam kariernya namun ia terlunta diantara rasa bersalah dan prestasi gemilangnya. Ia senantiasa dihadapkan pada pilihan pelik; terus mengusung idealisme atau melupakan masa lalu dan kembali ke tanah air.

Di luar masalah idealisme Kris dan Nara juga sama-sama mengalami konflik lain yang memusingkan keduanya, cinta. Nara bertemu dengan Maria, anak seorang jenderal yang ternyata menunggunya sejak kedatangannya ke Amerika. Di acara Expo di Sevilla – Spanyol disaat Kris bekerja sebagai staf pengamanan stand Indonesia, Kris secara tak terduga bertemu dengan Sasti temannya satu almamater di Indonesia. Ketika cinta tumbuh diantara mereka Kris diperhadapkan pada dilema apakah ia harus ikut pulang dengan Sasti setelah Expo selesai atau meneruskan hidupnya di Eropa.

Dalam Epigram banyak hal-hal menarik yang akan pembaca temui dalam novel ini. Novel ini sarat dengan kritik terhadap pemerintahan Orde Baru yang secara de facto dikuasai oleh militer. Dialog-dialog antar tokohnya secara jelas dan gamblang mengkritisi peran militer dimasa Orde Baru yang menguasai hampir seluruh lini pemerintahan mulai dari Presiden, menteri hingga gubernur hampir semua dijabat oleh pensiunan militer yang tentunya masih memiliki hubungan dengan petinggi militer yang masih aktif. Pembaca akan diajak berpikir secara kritis bahwa Indonesia, sebuah negara Republik tak ubahnya sebuah negara diktator yang diperintah militer.

Pembaca yang mengalami masa-masa mahasiswa di akhir 80-an tentunya akan segera mengetahui bahwa kisah demo mahasiswa yang menentang kehadiran seorang menteri yang pensiunan jenderal ke kampus UTT (Universitas Tralala Trilili) adalah kejadian yang pernah terjadi di sebuah Universitas Negeri di Bandung. Peristiwa penculikan aktivis dan kehidupan pelarian politik ke luar negeri adalah realita yang terjadi di negeri ini. Realita inilah yang diangkat oleh Jamal kedalam novelnya ini. Pembaca diajak menerobos batas fiksi dan non fiksi carut marutnya kehidupan politik dunia mahasiswa di bawah rezim Orde Baru. Uniknya sisi kelam bangsa ini tidak dituturkan dalam nuansa yang gelap, di tangan Jamal dunia aktivis politik mahasiswa yang kaku dan paranoid ini menjadi lentur, menghibur dan manusiawi lengkap dengan kisah cinta romantis para tokoh-tokohnya yang selalu merasa sepi, gundah, dan ragu.

Selain menyuguhkan kritik tajam terhadap militerisme di masa orde baru,. Novel ini juga mengungkap kehidupan dan konflik batin para pelarian politik yang dalam novel ini diwakili Kris dan Pak Agus, atasan Kris seorang pelarian yang tak bisa pulang dan harus menjadi warga negara Jerman, melalui novel ini juga pembaca diajak melintasi bola dunia mulai dari Bandung, Boston, Amsterdam, Expo di Sevilla Spanyol, Bremen hingga Laut Utara Norwegia. Tak ketinggalan, seperti di novel-novelnya terdahulu secara cerdas Jamal menyusupkan hal-hal seni, desain, museum, suasana Expo di Seville hingga filosofi kehidupan yang dituturkan secara ringan sehingga mencerahkan pembacanya dalam hal politik, seni, desain, dll.

Sayangnya kehidupan sosial Kris dan para pekerja rig hanya mendapat porsi yang kecil dibanding setting lainnya di novel ini. Jika saja hal ini digali lebih dalam oleh Jamal pastilah novel ini akan semakin menarik karena kehidupan para pekerja di RigTroll yang terasing pastilah bukan hal yang mudah. Padalah cover novel ini secara jelas menyajikan pemandangan di sebuah rig di laut lepas. Tentunya pembaca yang melihat novelnya akan berasumsi bahwa novel ini akan menyajikan kehidupan para tokohnya di sebuah rig lengkap dengan landskap sebuah rig dan tantangan yang dialami para pekerjanya

Selain itu kisah Kris ketika dalam penjara militer tampaknya kurang didramatisir oleh penulisnya, padahal ketika dalam penjara inilah Kris mengalami terpecahnya kerpibadiannya menjadi dua. Beberapa interogasi yang dilakukan oleh aparat terhadap Kris terkesan biasa-biasa saja dan siksaan fisik yang dialaminyapun tak terungkap dengan dramatis, padahal jika kita mendengar pengakuan dari para mantan aktivis yang pernah diculik aparat, pengalaman mereka sangat dramatis dan memilukan.

Namun dibalik kelebihan dan kekurangannya novel ini tampaknya akan mengajak pembacanya melihat realita secara gamblang politik yang pernah terjadi di negeri ini, bahkan beberapa hal mungkin masih terjadi. Itulah mengapa Fadjroel Rachman mengatakan bahwa Jamal adalah penulis yang berbahaya. Batas antara fakta dan fiksi menjadi kabur. Kritikan-kritikan terhadap militerisme dan kehidupan politik Indonesia disajikan secara tajam, suatu hal yang rasanya tak mungkin diungkapkan selama masa orde baru. Walau rezim sudah berganti dan era kebebasan diusung tinggi. Mungkin saja masih ada beberapa pihak yang akan merasa tersinggung dengan kritik sosial dan politik yang muncul di novel ini.

Jamal memang penulis yang berbahaya!

@h_tanzil



Read more »

Minggu, 04 Juni 2006

Dimsum Terakhir


Judul : Dimsum Terakhir
Penulis : Clara Ng
Editor : Hetih Rusli
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 361 hlm

Dimsum adalah makanan khas Cina, banyak sudah restoran-restoran Chinese food meyuguhkan Dimsum dalam daftar menunya. Dimsum adalah istilah dari bahasa Kanton dan artinya adalah "makanan kecil". Biasanya dimsum dimakan sebagai sarapan dan dihidangkan dalam keranjang /besek bulat yang terbuat dari bambu yang disusun secara bertingkat-tingkat. Isinya sendiri beragam, biasanya terdiri atas daging ayam, ceker, bakpao, siomay, sayuran, dll yang kesemuanya dimasak dengan cara dikukus.

Sebenarnya Dimsum tak ada kaitannya dengan Imlek/Tahun Baru Cina, namun bagi keluarga Nung Atasana tradisi membuat dan menikmati dimsum adalah tradisi keluarga yang kerap dilakukan saat fajar menjelang untuk menyambut datangnya Tahun Baru Imlek. Nung Atasana dan istrinya Anastasia adalah keluarga Tionghoa yang memiliki empat anak kembar: Siska, Indah, Rosi dan Novera. Setelah Anastasia meninggal Nung harus membesarkan keempat putri kembarnya ini. Uniknya keempat putrinya ini walau kembar secara fisik, mereka memiliki empat kepribadian dan jalan hidup yang berbeda-beda. Siska, wanita karier metropolis yang tinggal di Singapura. Indah seorang penulis yang sangat peduli akan keluarganya terutama ketika ayahnya terkena stroke. Rosi, wanita tomboi yang selalu ingin menjadi laki-laki, pemilik kebun bunga di Puncak. Dan Novera yang tinggal di Yogya sebagai guru TK yang merupakan sosok rapuh yang mencoba mengatasi kegalauan hatinya dengan bercita-cita menjadi biarawati.

Hanya Indah yang tinggal bersama Nung di Jakarta, hingga akhirnya ketika Nung terkena stroke Indah berinisiatif memanggil ketiga saudara kembarnya untuk bersama-sama merawat ayahnya. Awalnya mereka enggan meninggalkan kehidupan mereka, ego mereka yang tinggi dan kesibukan mereka membuat mereka harus berpikir dua kali untuk pulang ke Jakarta. Untunglah Indah berhasil membujuk ketiga saudaranya kembali ke Jakarta untuk menemani ayah mereka yang mungkin kesempatan ini merupakan kesempatan terakhir bagi mereka untuk bisa berkumpul bersama ayah mereka.

Dalam sakitnya Nung berpesan pada keempat anaknya agar menikah sebelum ia meninggal. Tentu saja hal ini bukan hal yang mudah karena mereka ternyata menyimpan suatu rahasia dan masalah yang rumit dalam kisah percintaan mereka. Siska yang lama tinggal di luar negeri memiliki petualangan cinta yang serbabebas dan tak percaya akan ikatan formal pernikahan, Novera yang harus hidup tanpa rahim tentu saja merasa tak memiliki harapan untuk memiliki suami, Indah memiliki affair dengan seorang pastor sedangkan Rosi takkan sanggup jika harus menikah dengan seorang pria.

Di sela-sela kesibukan mereka merawat ayahnya dan konflik-konflik yang terjadi di antara mereka, keempat saudara kembar ini masih mengingat tradisi keluarga mereka yang sekian lama tak pernah mereka lakukan. Walau ayah mereka masih berada di rumah sakit, mereka bahu-membahu membuat dimsum saat fajar tahun baru Imlek menjelang. Akankah ini merupakan dimsum terakhir bagi mereka? Berhasilkah mereka memenuhi permintaan ayah mereka untuk segera menikah?

Ide cerita dalam novel ini mungkin sederhana dan tak istimewa, namun Clara Ng membuat tema yang biasa menjadi menarik untuk disimak. Karakter masing-masing tokoh dikupas dengan jelas, berkumpulnya empat karakter yang masing-masing memiliki kehidupan yang berbeda, menyimpan rahasia yang berbeda dan memiliki ego yang tinggi membuat konflik-konflik antara keempat saudara kembar ini tersaji dengan menarik. Mau tak mau mereka harus mengorbankan kepentingan dan egonya agar bisa bersama-sama menemani dan merawat ayah mereka. Uniknya konflik-konflik yang terjadi selama mereka bersatu kembali tak membuat mereka terpecah, lambat laun masing-masing membuka diri dan kembali mendekatkan diri mereka satu sama lain menjadi satu keluarga yang utuh sesuai dengan tradisi Tionghoa yang memegang teguh keutuhan keluarga.

Selain kisah kehidupan keempat saudara kembar dalam merawat ayahnya dan berusaha memenuhi keinginan terakhir ayahnya, pembaca juga diajak untuk menyelami kembali masa-masa kecil mereka ketika mereka masih tinggal dalam suatu rumah lengkap dengan kehadiran ibu mereka. Secara piawai penulis memasukkan kisah masa lalu para tokoh dalam novel ini secara tepat sehingga pembaca tidak akan dibuat bingung ketika cerita harus bergerak mundur untuk menyelami masa lalu tokoh-tokohnya. Selain itu peristiwa masa lalu yang dicetak oleh penerbitnya dengan huruf italic juga sangat membantu pembaca dalam kenyamanan proses membacanya.

Di novel ini selain disuguhkan konflik-konflik dalam keluarga Nung Atasana, pembaca juga akan diperkaya dalam berbagai hal mengenai budaya Tionghoa yang telah mengakar kuat di Indonesia. Ragamnya tradisi seperti Imlek, Ce It, Cap Go Meh, Ceng Beng, hingga prosesi kedukaan dan pemakaman terungkap dalam porsi yang pas sehingga tidak mengganggu alur cerita. Selain itu novel ini juga mengungkap kehidupan etnis Tionghoa lengkap dengan persoalan-persoalan sosialnya. Walau tak banyak mengungkap hal ini, namun cukup untuk menyadarkan pembacanya bahwa ada berbagai hal yang harus diperbaiki dalam kehidupan bermasyarakat kita.

Satu hal yang agak mengganjal dalam novel ini terdapat di awal-awal cerita, Indah yang berbohong pada Siska bahwa ayahnya telah meninggal terasa agak berlebihan, bukankah dalam tradisi etnis Tionghoa hormat pada orang tua merupakan hal yang terpenting dalam keluarga, apa pun alasannya berbohong soal kematian orang tua adalah hal yang tabu. Selain itu kisah ini banyak mengeksplorasi perbedaan antara keempat saudara kembar, padahal saudara kembar biasanya memiliki kesatuan hati karena mereka berasal dari sel telur yang sama. Soal kesatuan/ kedekatan hati antar keempat saudara kembar ini ini yang rupanya tak banyak disorot oleh penulisnya, padahal hal ini pun akan menarik jika diekplorasi lebih jauh sehingga tidak hanya perbedaan-perbedaannya saja yang ditonjolkan

Namun terlepas dari hal yang mengganjal diatas, novel ini sangatlah menarik. Tutur kalimatnya lugas memikat, karakter tokoh-tokohnya dibuat secara manusiawi dan tidak mengada-ada sehingga terasa sangat dekat dengan keseharian pembacanya. Seperti layaknya dimsum yang tersaji dengan berbagai jenis makanan, demikian pula dengan novel ini. Novel ini tersaji dengan racikan aneka hidangan yang mengenyangkan pembacanya (konflik keluarga, pandangan hidup, tradisi, potret sosial etnis Tionghoa, dll). Seperti endorsement Alberthiene Endah pada novel ini, "Clara dengan manis meracik seluruh elemen dalam novel ini menjadi sebuah hidangan cerita yang memabukkan. Ia membumbui sesuatu yang simpel dengan cara yang tidak biasa."

Seperti Dimsum, itulah gambaran novel ini. Review ini tak dapat menggambarkan betapa nikmatnya mengudap aneka jenis makanan dalam Dimsum Terakhir. Silakan pembaca menikmatinya sendiri selagi masih hangat keluar dari kukusan pembuatnya.

@h_tanzil
Read more »

Minggu, 28 Mei 2006

Sarjana koq Nanggur ?


Judul : Sarjana Koq Nanggur ?
(Rahasia Lulus Cepat dan Cepat Kerja)
Penulis : Hasan Tirta Pulung
Penerbit : Pustaka Sembada
Cetakan : I, April 2006
Tebal : 80 hlm ; 12x18 cm


Menganggur adalah hal yang paling tidak diharapkan bagi para mahasiswa yang baru saja menyelesaikan kuliahnya. Berlomba-lomba para sarjana berusaha memperoleh pekerjaan yang layak, tak jarang ada juga yang bekerja seadanya asal predikat pengangguran tak melekat pada dirinya. Yang beruntung bisa langsung bekerja sesuai dengan ilmunya, namun ada pula yang tak beruntung dan harus menganggur setelah mereka lulus dari kuliahnya. Tragisnya sarjana yang menganggur ini semakin lama semakin meningkat jumlahnya. Mengapa banyak sarjana menganggur ? Bukankah mereka telah dipersiapkan untuk menjadi ilmuwan-ilmuwan yang siap pakai untuk diterjunkan kedalam berbagai jenis pekerjaan sesuai dengan bidang mereka? Bukankah deretan iklan lowongan pekerjaan selalu dengan mudah kita temui di media-media cetak ?

Berbagai jawaban atas pertanyaan tersebut kerap menyalahkan sistem pendidikan di negeri ini yang dianggap salah dan perlu diperbaharui. Jika sistem yang salah, apa yang dapat kita lakukan ? Kita bukanlah pengambil kebijaksanaan dan sangat sulit merubah sistem pendidikan yang sudah baku. Alih-alih menyalahkan sistem yang salah tanpa bisa melakukan apapun, buku kecil ini mencoba mengajak pembacanya untuk berpikir realistis dengan cara mengubah diri sendiri tanpa harus menyalahkan sistem dan menyerah begitu saja pada keadaan yang tidak bisa kita ubah.

Buku ini terdiri dari 3 bagian besar yang terdiri dari 9 bab. Bagian pertama : Seputar Pengangguran yang terdiri dari 4 bab mengurai bagaimana pengangguran adalah hantu bagi semua orang, khususnya para sarjana. Pada bab ini penulis menyajikan angka-angka dari media massa yang menyatakan semakin tingginya tingkat pengangguran dan tak sedikit sarjana yang ikut menyumbang jumlah angka pengangguran tersebut.

Selanjutnya dibahas mengapa banyak sarjana menganggur. Penulis menguraikan beberapa penyebabnya antara lain, salah memilih jurusan, berlama-lama di kampus / mahasiswa abadi, terganjal Indeks Prestasi, dan tidak mau mencari kerja dibidang diluar disiplin keilmuannya. Di bab ini pembaca akan menyadari bahwa penyebab sarjana menganggur adalah sebenarnya berasal dari diri sendiri.

Bagian Pertama buku ini juga membahas secara tersendiri masalah PNS yang selama ini dianggap sebagai solusi agar seseorang tidak menganggur serta memiliki masa depan yang terjamin, padahal setelah dicermati mendaftar sebagai PNS yang prosedural dan tidak mudah itu bukanlah solusi terbaik untuk menghindari diri dari pengangguran.

Di Bagian Kedua : Rahasia Lulus Cepat, buku ini antara lain menyajikan beberapa tips agar lulus cepat, antara lain menyiasati salah jurusan saat kuliah, trik agar tidak berlama-lama di kampus dan trik meraih Indeks Prestasi (IP) yang "Layak Jual" dimata perusahaan yang mencari tenaga kerja. Dalam menyiasati salah jurusan, penulis mengungkapkan bahwa salah memilih jurusan bukanlah akhir dari segalanya, hal ini bisa disiasati dengan berusaha mengincar mata kuliah mana yang bisa dikembangkan dan memberi peluang pada masa depan. Selain itu bisa juga dengan mengembangkan hobi dengan mengikuti unit kegiatan mahasiswa seperti kesenian, olah raga, dll.

Dalam menyiasati agar tidak berlama-lama di kampus, penulis menyarankan agar mengambil cara yang paling umum dan mudah yaitu mengambil semester pendek. Jika tidak menyediakan fasilitas semester pendek, penulis menyarankan agar meraih nilai C minimal untuk setiap mata kuliah..

Di bagian ketiga : Seputar Lowongan Kerja yang merupakan bagian akhir dari buku ini diungkap bagaimana mencari sumber lowongan, memilih iklan lowongan pekerjaan dan bagaimana cara mengirim surat lamaran.

Secara keseluruhan buku menarik untuk disimak bagi para sarjana dan calon sarjana atau bagi para orang tua yang memiliki anak yang sedang kuliah, tips-tipsnya praktis dan berdasarkan pengalaman penulisnya sehingga sudah teruji dan mudah diterapkan. Tidak ada kalimat-kalimat yang bertele-tele dalam buku ini, semuanya tersaji dengan singkat dan padat karena tampaknya tips-tips dan uraian pemikiran penulis dalam buku ini tersaji untuk segera diterapkan oleh pembacanya.

Kritik untuk buku ini mungkin hanya pada pengemasannya, buku ini dikemas dengan sangat sederhana , cover hitam putih dan ilustrasi dan tipografi judul yang seadanya mungkin membuat buku ini tidak ‘eye catching’. Namun mungkin karena buku ini diterbitkan secara swadaya (penerbit ‘indie’) dan kesederhanaan pengemasannya dimaksudkan untuk menekan ongkos produksi buku agar terjangkau oleh kantong mahasiswa kehadiran buku ini patut diberikan apresiasi yang positif

Terlepas dari masalah cover yang tidak menarik, buku ini sangat layak dibaca oleh para maasiswa dan bukan berlebihan rasanya jika para calon sarjana sebaiknya membaca buku kecil ini karena buku ini ditulis secara khusus untuk membuka cara berpikir sekaligus memberikan cara-cara praktis agar para calon sarjana cepat lulus dan segera memperoleh pekerjaan.

@h_tanzil
Read more »

Minggu, 21 Mei 2006

To Kill A Mockingbird


Judul : To Kill A Mockingbird
Penulis : Harper Lee
Penerjemah : Femmy Syahrani
Penyunting : Berliani Mantili Nugrahani
Penerbit : Qanita
Cetakan : I, Maret 2006
Tebal : ix + 568 hlm

Manusia sangat mudah berprasangka terhadap sesamanya. Cap buruk yang terlanjur melekat pada pribadi atau sekelompok masyarakat akan terus mereka bawa seumur hidup mereka. Meskipun banyak hal positif yang telah mereka lakukan, namun prasangka buruk dari orang lain akan tetap membuat mereka dianggap sebagai pribadi atau kelompok yang buruk dan layak disingkirkan.

Novel klasik karya Harper Lee ini mengisahkan bagaimana prasangka umum yang buruk terhadap pribadi ataupun kelompok masyarakat tertentu tidaklah seutuhnya benar. Bahkan, dari yang dianggap buruklah justru nilai-nilai kemanusiaan dan kasih sayang sejati tumbuh.

Novel ini menceritakan penggalan kehidupan masa kanak-kanak dua kakak beradik tak beribu, Jem dan Scout. Seting ceritanya berkisar di Maycomb County, Alabama, pada tahun 1930-an. Maycomb County adalah sebuah kota kecil tempat hampir semua penduduknya saling mengenal. Di kota inilah Jem dan Scout tinggal besama ayah mereka, Atticus Finch, seorang pengacara di Maycomb County, dan seorang pembantu kulit hitam mereka, Calpurnia.

Scout, seorang anak perempuan tomboi berumur 8 tahun, adalah penutur dalam kisah ini; seluruh cerita dilihat dan diutarakan menurut sudut pandangnya. Bab-bab awal novel ini mengisahkan bagaimana Jem, Scout, dan sahabat mereka, Dill, mencoba mengusik Boo Radley, tetangga aneh mereka yang hampir tidak pernah keluar rumah. Seluruh penduduk Maycomb menganggap Boo Radley adalah sosok misterius; berbagai desas-desus buruk dan mengerikan beredar menyelimuti Boo sehingga rumah dan pekarangan Boo menjadi bagian yang paling mengerikan bagi anak-anak. Setiap kali mereka melewati pekarangan keluarga Radley, mereka harus berlari atau jalan memutar karena takut bertemu dengan Boo.

Namun bagi Dill, kemisteriusan Boo justru menjadi permainan yang mengasyikan. Dia, bersama-sama dengan Jem dan Scout, menciptakan semacam permainan untuk mengolok-olok keluarga Radley, mulai dari menciptakan drama yang mereka karang sendiri, hingga tantangan untuk mengusik Boo dengan menyentuh pintu rumah Radley, yang konon siapa pun yang berani menyentuhnya akan celaka.

Keceriaan Jem dan Scout terusik ketika ayah mereka menjadi pembela seorang pemuda kulit hitam, Tom Robbinson, yang dituduh memerkosa gadis kulit putih bernama Mayella Ewell. Bagi masyarakat Maycomb, warga kulit hitam adalah warga kelas dua yang dianggap sampah masyarakat dan selalu mendapat prasangka buruk sebagai kaum kulit berwarna yang selalu membuat masalah. Kecaman datang pada keluarga Finch dari seluruh penjuru kota. Scout dan Jem pun tak luput dari ejekan teman-temannya yang mengatakan ayah mereka adalah pecinta ‘nigger’. Tak hanya dari lingkungan sekitarnya, Atticus pun mendapat tantangan dari kakaknya sendiri, Alexandra, yang saat itu tinggal bersama mereka.

Walau mendapat banyak kecaman dan tantangan, Atticus tetap melaju. Sebagai pengacara Tom Robinson, dengan bijak Atticus menasihati Jem dan Scout bahwa mereka tak perlu merasa malu karena dirinya membela seorang pemuda kulit hitam, malahan ia menyarankan agar Jem dan Scout tetap berjalan dengan ‘menegakkan kepala" mereka dan tidak membalas dengan kekerasan jika mereka menerima cemoohan lagi.

Pengadilan kasus ini mendapat perhatian yang besar dari peduduk kota Maycomb, tak ketinggalan Jem dan Scout ikut menghadirinya. Atticus dengan piawai mengemukakan berbagai fakta, yang sebenarnya tak dapat disangkal, bahwa kliennya tidak bersalah, namun seorang negro tetaplah sampah bagi masyarakat Maycomb; prasangka buruk terhadap kaum negro tak dapat dipatahkan oleh sejumlah fakta. Dari sinilah si kecil Scout yang menyaksikan secara langsung proses pengadilan itu melihat bahwa kehidupan tak melulu hitam dan putih. Bahwa prasangka seringkali membutakan manusia sehingga keadilan tidak bisa ditegakkan dengan sempurna.

Karakter-karakter menawan diciptakan Harper Lee dalam novel ini. Tokoh Scout yang tomboi dan polos menjadi menarik karena dari sudut pandangnyalah seluruh kisah dalam novel ini dibangun. Kepolosan dan keberanian Scout bahkan mampu menyelamatkan nyawa ayahnya dari sekawanan penyerang yang ingin menggagalkan usaha Atticus menjadi pembela Tom Robinson.

Jem Finch digambarkan sebagai figur seorang kakak yang beranjak dewasa dan berusaha menjadi seperti ayahnya. Sementara figur Atticus Finch digambarkan sebagai seorang ayah yang tegas, bijak, dan berpegang teguh pada kebenaran. Ketika Jem memiliki peluang untuk menjadi tersangka karena kasus terbunuhnya Bob Ewell, Atticus tanpa ragu menyatakan bahwa anaknya memiliki kemungkinan bersalah. Namun, dibalik keteguhan dan kekerasan padangannya itu Atticus adalah figur ayah yang sangat menyayangi dan melindungi anak-anaknya dan tak ragu untuk memberi belaian kasih sayang ketika mereka memerlukannya.

Tokoh-tokoh lain yang tak kurang signifikan dalam novel ini adalah Tom Robinson, seorang pemuda negro yang harus menjadi tersangka dalam kasus penganiayaan, Boo Radley tokoh misterius yang akan memberikan pelajaran kepada pembacanya mengenai buruknya sebuah prasangka, dan masih banyak lagi tokoh lain dan kisah menarik yang dialami Scout dan Jem dalam novel ini. Awalnya, pembaca mungkin akan dibingungkan dengan banyaknya tokoh dan kisah yang tersaji dalam novel ini, namun pembaca yang cermat akan segera memahami bahwa kehadiran para tokoh dan ragamnya kisah yang dialami Scout dan Jem bukanlah hal yang sia-sia dimunculkan.


Tampaknya Harper Lee sengaja menghidupkan banyak tokoh dalam novel ini untuk menggiring pembacanya menyelami berbagai karakter manusia dan mengajak pembaca memahami bagaimana Scout dan Jem menyerap nilai-nilai kehidupan dari lingkungan sekitarnya dalam proses pendewasaan mereka.

Novel yang berbicara mengenai prasangka dan kasih sayang ini kini bisa dinikmati oleh pembaca tanah air. Walau tema yang diusung sesungguhnya berat, namun karena disampaikan dengan ringan dan diceritakan dari sudut pandang seorang anak kecil, ditambah dengan terjemahan yang lancar dan baik, membuat novel ini memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi. Walau buku ini baru diterjemahkan setelah 45 tahun sejak buku aslinya diterbitkan, namun sebenarnya tak ada kata terlambat bagi publik buku tanah air untuk mengapresiasi kehadiran novel yang sarat pesan moral ini.

Novel perdana dan satu-satunya dari Harper Lee ini pertama kali ditulis pada 1960 dan langsung menjadi best seller. Pada tahun 1961, novel ini memperoleh penghargaan Pulitzer Prize. Hingga kini, novel ini terus memperoleh apresiasi yang baik dari masyarakat dunia, salah satunya lembaga Library Journal di Amerika, yang dalam poolingnya pada tahun 1999 memilih novel ini sebagai "Novel terbaik Abad ini". Predikat ini rasanya tak berlebihan, novel ini sarat dengan pesan moral namun tersaji dengan menarik sehingga pembaca tidak merasa seperti digurui, selain itu tema yang diangkat masih relevan hingga kini, khususnya bagi masyarakat Indonesia yang kini kerap berprasangka buruk terhadap kelompok-kelompok tertentu yang tak sepaham dengannya dan tak jarang diekspresikan dalam tindakan main hakim sendiri yang semena-mena dan anarkis.

@h_tanzil
Read more »

Senin, 15 Mei 2006

Fight Club


Judul : Fight Club
Penulis : Chuck Palahniuk
Penerjemah : Budi Warsito
Editor : Kurniasih
Penerbit : Jalasutra
Cetakan : 2006
Tebal : x + 285 hlm


Fight Club adalah novel ganjil yang memikat. Novel ini mengisahkan tentang tokoh naratornya “Aku”, seorang pemuda biasa yang sehari-harinya bekerja sebagai pengawas kelengkapan produk. Hal ini menyebabkan dirinya harus bepergian keberbagai negara melintasi zona waktu. Selain dirinya bosan dengan kejenuhan rutinitas kerjanya, dan akibat dari seringnya bepergian melintasi zona waktu, ia menderita insomnia akut. Dokternya menyarankan untuk bergabung dalam support group atau kelompok sharing untuk orang-orang yang mengalami masalah dengan kesehatannya. Maka “Aku” pun mengikuti berbagai macam supprot group mulai dari kanker testis, TBC, kanker otak, dll. Ia pun harus berbohong dengan seolah-olah menjadi salah satu penderita dari berbagai supprot group yang ia ikuti. Nama dirinya pun berganti-ganti tiap ia mengikuti supprot group yang berbeda.


Dalam sebuah penerbangan, ‘Aku’ bertemu dengan sosok Tyler Durden yang menyarankan agar tak hidup dalam kebohongan dan menganjurkan untuk mengikuti Fight Club, sebuah pertandingan tinju rahasia yang diadakan di ruang bawah tanah bar setelah tutup. Dalam Fight Club, para pria saling mengeluarkan sisi agresivitas dan kekasaran mereka. Aturannya adalah bertinju seorang demi seorang hingga babak belur hingga ada yang menyerah. Dan satu hal yang harus dipegang oleh anggota Figt Club yaitu : Jangan bicara tentang Fight Club! Menutur Tyler dengan bertarung hingga babak belur maka seluruh beban dalam hidup akan terlepas.


Lambat laun anggota Fight Club semakin berkembang, bahkan banyak orang-orang dalam kehidupan tokoh ‘Aku’ ternyata adalah anggota Fight Club. ‘Aku’ kembali mengalami kejenuhan, sosok Tyler yang juga berniat untuk menggulingkan peradaban, kemudian membuat proyek baru yang sebagian besar terdiri dari para anggota Fight Club, nama proyek tersebut Project Mayhem yang salah satu kegiatannya membuat sabun dari lemak manusia yang dicuri dari pembuangan limbah rumah sakit. Project Mayhem ini nantinya akan berkembang menjadi proyek yang melakukan tindakan-tindakan penghancuran gedung, toko-toko, dan tindakan-tindakan anarkis lainnya.



Alur Novel Fight Club ini tersaji secara cepat, beberapa ide-de gila tersaji secara detail sehingga membuat pembaca novel ini tersentak kaget. Misalnya pembuatan sabun dari lemak manusia, membuat bom dari jus jeruk, menghancurkan sebuah apartemen, dll, hal yang menjijikkan juga terungkap seperti bersin diatas masakan, mengencingi dan memuncratkan sprema diatas sup hangat yang siap dihidangkan dan sebagainya. Ide-ide gila yang dilakukan ‘Aku’ dan Tyler baik dalam Fight Club maupun Project Mayhem ini tampaknya adalah akibat dari kemarahan tokoh Aku dan Tyler pada kehidupan dunia yang penuh dengan kegagalan dan kebohongan. Dan juga sebagai solusi untuk mendobrak tatanan sosial yang sudah mapan yang membuat pribadi-pribadi menjadi hidup dalam kebosanan.


Novel yang ditulis oleh Chuck Palahniuk ini memang novel yang ganjil, Chuck termasuk dalam jajaran penulis Generation X, sebutan untuk generasi muda dari novel yang diusung Gouglas Coupland pada awal era 90-an. Namun Chuck menulis dengan gayanya sendiri, ia menulis apa yang disebut orang sebagai gejala edgy (sesuatu yang sebaiknya tidak untuk ditebak), memiliki gaya pemberontakan yang khas dan serba ‘ngaco’ (hlm.x).
Mungkin karena gaya menulis inilah yang membuat banyak pembaca novel ini sedikit kesulitan untuk memahaminya. Belum lagi ditambah pengalihbahasaan yang setidaknya memiliki distrosi dari karya aslinya. Suatu langkah berani dari penerbit Jalasutra untuk mengalihbahasakan novel ganjil ini.


Novel ini pertama kali beredar pada tahun 1996 dan langsung mendapat sambutan yang luar biasa. Dalam dua pekan novel ini sudah laku sebanyak 500.000 ekslempar. Bahkan karya ini diakui sebagai karya klasik underground dan salah satu novel yang paling orisinal dan provokatif di tahun 1990-an. Kesuksesan novel ini membuat Fight Club dibuat versi layar lebarnya arahan sutradara David Fincher pada tahun 1999 yang dibintangi oleh Brad Pitt dan Edward Norton. Setelah filmnya meraih sukses, Fight club segera diadaptasi ke berbagai produk pop culture seperti acara televisi, video game, musik, dll.


Walau menuai sukses dan memperoleh dua penghargaan dari Pacific Northwest Booksellers Association Award dan Oregon Book Award for Best Novel pada tahun 1997. Novel ini juga menuai kritik dari beberapa akademisi dan para pengamat kebudayaan Amerika yang antara lain mengatakan bahwa novel ini mempopulerkan budaya “self destructive” yang dianggap akan berpengaruh pada para pembacanya.


Akhirnya terlepas dari baik buruknya novel ini, yang pasti melalui novel ini pembaca akan disadarkan bahwa tatanan sosial yang mapan tidak menjamin seluruh masyarakat didalamnya akan terpuaskan. Akan muncul pribadi-pribadi yang bosan dengan kemapanan karena hidup menjadi statis, hal ini akan melahirkan sekelompok masyarkat yang mencoba mendobrak hidupnya yang terkurung dan bodoh dengan bermain-main dengan ide gila yang liar tanpa batasan dan kendali.


@h_tanzil
Read more »

Jumat, 05 Mei 2006

Berjuta-Juta dari Deli - Satoe Hikajat Loeli Contract


Judul : Berjuta-juta dari Deli
Satoe Hikajat Koeli Contract
Penulis : Emil W. Aulia
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : I, 2006
Tebal : viii + 261 hlm

Persoalan kaum buruh dan pengusaha sepertinya tak pernah berakhir. Kaum buruh selalu menuntut agar mereka memperoleh upah dan fasilitas yang layak, sementara untuk kelangsungan perusahaannya, para pengusaha berusaha membayar tenaga kerja buruh seminimal mungkin untuk menekan ongkos produksi mereka.

Jika kita menarik ke belakang ternyata sejak jaman pemerintahan kolonial Belanda masalah buruh sudah menjadi persoalan, apalagi pada saat itu hampir dikatakan tidak ada lembaga-lembaga atau serikat-serikat buruh yang peduli dan memperjuangkan nasib mereka. Seperti apa nasib kaum buruh pada masa itu ? Novel ini setidaknya memberikan sebagian dari apa yang dialami para buruh Jawa ketika mereka dijadikan kuli kontrak di Deli-Sumatera Timur.

Berjuta-juta dari Deli adalah novel yang ditulis berdasarkan sebuah brosur yang ditulis oleh Johanes Van den Brand pada awal abad ke-20. Van den Brand adalah tokoh pembela kaum pribumi di masa kolonial Belanda. Namanya masih kalah populer dibanding Multatuli (Douwes Dekkker) dan Van de Venter. Namun sejarah mencatat bahwa di awal abad 20 Ven den Brand pernah menggegerkan pemerintahan Belanda melalui tulisannya yang mengungkap perlakuan tak manusiawi para pengusaha perkebunan tembakau di Deli terhadap para kuli kontraknya. Tulisan ini dikemas dalam sebuah brosur berjudul " Millioenen uit Deli (Berjuta-juta dari Deli)".

Van den Brand adalah seorang advokat yang tinggal di Medan dan melihat secara langsung derita kuli-kuli kontrak di perkebunan tembakau di Deli. Berdasakan apa yang dilihatnya dan didukung oleh data-data tertulis yang ia kumpulkan dari berbagai media yang terbit dimasa itu, Van Den Brand dengan penuh keberanian menentang sengit penale sanciate (aturan hukum bagi kuli-kuli yang bekerja di perkebunan) yang dibuat oleh pemerintahan kolonial Belanda di wilayah tersebut. Ia melihat bahwa aturan ini hanya menguntungkan pemilik-pemilik perkebunan secara sepihak dan menyengsarakan kuli-kuli kontrak yangmenyebabkan mereka kehilangan kebebasan dan harkat manusianya selama menjadi kuli kontrak.

Brosur Millioenen uit Deli setebal 71 halaman diterbitkan pada tahun 1902 di Belanda. Brosur yang memprotes diberlakukannya penale sanciate dan juga mengurai derita dan skandal perbudakan yang dialami ribuan kuli kontrak asal Jawa yang berkerja di perkebunan tembakau milik swasta Belanda di Deli – Sumatera Timur ini tentu saja menggegerkan kedamaian negeri Belanda. Brosur ini mendapat perhatian dari Majelis Rendah Belanda (Tweede Kamer) yang langsung membahasnya dalam sidang-sidangnya. Pihak oposisi menjadikan isu kekerasan yang dialami kuli untuk menekan pemerintah. Hubungan Belanda dengan negara-negara tetangganya juga terganggu, beberapa negara mengecam kekerasan yang terjadi di Deli dan mengancam akan memutuskan hubungan dengan Belanda jika isi dari brosur itu benar adanya.

Perjuangan Van den Brand tidaklah mulus, pihak-pihak yang merasa kedudukannya terancam akibat terungkapnya kebobrokan di Deli tidak tinggal diam. Tuan-tuan perkebunan di medan dan pejabat-pejabat Belanda bersatu mengucilkan dirinya. Mereka menuding Van den Brand menyebar fitnah, tidak patriotik, hanya mencari popularitas dan melawan pemerintahan Belanda. Meski demikian Van den Bran tetap pada pendiriannya, ia kembali menulis brosur: Nogs Een : Millioenen uit Deli (Sekali Lagi : Berjuta-juta dari Deli : 1903). Di brosur keduanya ini Van den Brand menyerang balik pihak-pihak yang menentangnya. Akhirnya kegigihannya membuahkan hasil, pemerintah kolonial melahirkan sejumlah perubahan yang walau mungkin tak seusai dengan yang diharapkannya, namun setidaknya suara kaum kuli kontrak yang selama ini tak terdengar menjadi menggaung dimana-mana. Karena jasa-jasanya surat kabar "Harian Batak" yang terbit di Tapanuli menyebut Van den Brand sebagai "Bapak Kuli Kontrak". Sayangnya nama Van den Brand tampaknya terlupakan oleh masyarakat Indonesia bahkan namanya bisa dikatakan tidak tercatat dalam buku-buku pelajaran sejarah di sekolah-sekolah.

Perjuangan Van den Brand yang terlupakan ini rupanya menggugah jurnalis kelahiran Kubang Putih, Bukittinggi, Sumatera Barat , Emil W. Aulia, untuk menuliskan sebuah novel berdasarkan brosur De Millioenen uit Deli. Walau dikemas dalam bentuk novel yang tentu saja tak terlepas dari kebebasan imajinasi penulisnya, novel ini layak dijadikan sumber rujukan untuk mengetahui nasib kaum kuli kontrak di awal abad 20 yang sarat dengan derita.

Bisa dikatakan novel ini adalah gambaran yang lebih detail dari apa yang dituangkan oleh Ven den Brand dalam brosurnya. Novel setebal 259 halaman ini dibagi kedalam 26 bab plus prolog dan epilog. Pembagian bab-babnya dibuat secara sistematis sehingga pembaca akan diajak menelusuri jejak pengalaman kelam para kuli kontrak mulai dari bujuk rayu makelar pencari kerja, derita kuli kontrak dalam kesehariannya, kehidupan para pengelola perkebunan hingga perjuangan Van den Brand dalam memperbaiki nasib kuli kontrak.

Para kuli kontrak yang bersal dari Jawa umumnya terbujuk oleh mulut manis makelar pencari kerja yang dengan mahir mempengaruhi penduduk desa agar mau dijadikan kuli kontrak. Mereka diming-imingi hal yang menarik bahwa di Deli mereka akan menemukan , pohon yang berdaun uang, ronggeng, wayang kulit, dll. Para penduduk desa yang miskin tentu saja tertarik untuk dijadikan kuli kontrak. "Deli mengganggu tidur malam mereka…Tak sabar mereka ingin melihat langsung, merasakan, meraba, merengkuh semua pesona negeri ajaib itu. Uang yang berlimpah, wayang kulit…arak…emas…perempuan-perempuan ronggeng…Ah, apa yang lebih penting dari semua ini?…hlm 10. Ironisnya apa yang dijanjikan dan mereka impikan itu tak menjadi kenyataan, mereka malah menemui berbagai penderitaan di Deli.

Seluruh proses mulai dari keberangkatan, situasi di kapal dan kedatangan para kuli kontrak itu di perkebunan terekam dengan jelas di novel ini. Sesampai di pelabuhan mereka segera diharuskan membubuhkan cap jempol mereka pada secarik kertas yang isinya tidak mereka mengerti karena toh mereka tidak bisa membaca. Seketika itu mereka dihadapkan pada kenyataan yang pedih, mereka bertemu dengan sosok-sosok asing yang menggenggam kehidupan mereka. Jiwa dan raga para kuli-kuli kontrak itu telah ikut tergadai!.

Di perkebunan derita para kuli kontrak semakin menjadi, kehidupan mereka diatur oleh bunyi suara kentongan. Kentongan bangun pagi, istirahat siang, tidur malam, dll. Novel ini secara memikat mengungkap apa yang terjadi selama waktu-waktu terebut. Di sela-sela kerja dan istirahat para kuli kontrak, kerap terjadi tindak kekerasan yang tak manusiawi baik dari para mandor maupun Tuan Besar perkebunan. Setiap kuli yang melakukan kesalahan akan mendapat pukulan, tendangan, cambukan. Tak peduli kuli pria ataupun wanita, semua mendapat hukuman keji. Seorang kuli wanita yang tak mau diajak ‘main’ oleh Tuan Asisten Perkebunan harus mendapat siksaan disalib seperti Kristus. Dijemur dalam keadaan telanjang selama berhari-hari dari matahari terbit hingga terbenam. Tidak hanya itu saja "Opas-opas pribumi itu mencambuki pinggulnya dengan tali sanggurdi. Tentu, perempuan itu meruang-raung kesakitan. Belum puas, opas-opas itu kemudian menggosok kemaluannya dengan lada yang ditumbuk halus. Raung perempuan itu semakin menjadi-jadi." (hlm 73).

Selain mengungkap derita para kuli kontrak, novel ini juga mengungkap praktek pelacuran, perjudian, dan madat yang terjadi di perkebunan. Setiap akhir bulan setelah masa gajian para kuli dibiarkan terpikat ke dalam perjudian, masuk dalam bilik-bilik pelacuran dan rumah candu agar mereka menghabiskan upah mereka hingga harus meminjam uang kepada mandor perkebunan dengan bunga yang mencekik. Dengan begitu para kuli akan terbelit oleh hutang yang tak terbayarkan sehingga mau tidak mau mereka harus terus memperpanjang kontrak kerja mereka. Jika mereka kabur, para penduduk asli siap menangkap mereka untuk memperoleh imbalan yang besar dari pengelola perkebunan. Para kuli yang kabur diburu bak binatang buruan, ketika tertangkap mereka akan diikat dan dibawa ke perkebunan dengan tangan dan kaki diikat pada sebilah kayu layaknya seekor babi hutan.

Upah yang diterima para kuli wanita lebih kecil dibanding kuli pria. Secara teoritis upah yang diterimanya tak memungkinkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Hal inilah yang membuat praktek pelacuran mau tak mau harus mereka jalani. Yang mungkin agak beruntung adalah mereka yang memiliki wajah yang cantik dan terpilih oleh Tuan Besar untuk menjadi Nyai. Dengan menjadi Nyai mereka bisa merasakan kehidupan yang mewah, namun masa depan merekapun tak pasti karena begitu ketahuan hamil, maka merekapun akan terusir dari hadapan Tuan Besar.

Setelah diajak melihat derita para kuli kontrak, pembaca akan diajak melihat bagaimana kehidupan kaum para Tuan Kebun. Mereka bak raja kecil, hidup dalam pesta pora dan hidup yang mewah. Ketika mereka sedang beristirahat di beranda istana kecilnya dan lewatlah sekelompok kuli, maka "serentak mereka menurunkan badan-berjongkok dan kepala menekuk. Dengan lutut hampir menyentuh dada, pelan-pelan mereka menyeret langkah. Semua berlangsung dalam kepasrahan yang utuh…."(hlm 207). Setelah mereka melewati sang Tuan Besar barulah para kuli itu berdiri kembali dan menegakkan punggung mereka.

Para Tuan Besar pengelola perkebunan memang dididik untuk menjadi raja kecil yang otoriter, mereka tak harus mengetahui seluk beluk menanam dan merawat tembakau. Hal terpenting bagi mereka adalah : Bagaimana membuat kuli-kuli itu tunduk! Karena bagi mereka bahasa yang dimengeri oleh para kuli adalah bentakan dan makian. "Yang diperlukan bukan kata-kata menjelaskan, melainkan memerintah. Lengkap dengan bentakan dan makian. Hanya bahasa macam itu yang mereka mengerti"…(hlm. 155)

Setelah menyelami derita para kuli kontrak barulah di bab-bab terakhir pembaca akan diajak mengikuti sepak terjang Van den Brand dalam memperjuangkan misinya untuk mengungkap derita kaum kuli kontrak dan menegaskan bahwa kebijakan Poenale Sanciete tidak boleh dipertahankan karena aturan itu melegalkan terjadinya perbudakan dan membuat tindakan-tindakan tidak manusiawi menimpa para kuli kontrak.

Di bagian ini akan terungkap bagaimanaVan den Brand yang banyak mendapat tantangan dari pengelola perkebunan dan pejabat kolonial Belanda tak menyerah begitu saja, namun terus berjuang untuk kepentingan kaum kuli kontrak yang sebenarnya tak ada sangkut paut dengan kehidupannya.

Walau sebagian besar novel ini berisi kisah-kisah yang memilukan dan banyak mengungkap kekerasan yang dialami kaum kuli kontrak, novel ini dikemas dalam kalimat-kalimat yang indah, ketepatan penulis dalam memilih kalimat yang memukau untuk mengungkap derita para kuli kontrak membuat novel ini menjadi seimbang karena muatan kekerasan dalam novel ini diimbangi dengan untaian kalimat-kalimat yang indah.

Nama tokoh-tokoh Belanda yang muncul dalam novel ini bukanlah fiktif, mereka pernah pernah hidup dan menjadi pelaku sejarah. Selain itu kutipan-kutipan dari berbagai literatur di awal abad ke-20 membuat aroma sejarah novel ini sangat terasa sekaligus menyatakan bahwa novel ini bukanlah kisah fiksi semata, namun dikerjakan berdasarkan penggalan peristiwa sesungguhnya yang diperoleh dari riset literatur yang serius.

Beberapa ilustrasi yang memuat iklan/selebaran tenaga kerja di awal abad 20 juga turut menghiasi novel ini. Sayangnya novel ini tak menyertakan foto para kuli kontrak, scan cover atau beberapa halaman asli dari brosur De Millioenen uit Deli yang dijadikan sumber buku ini. Walau bukan buku teks sejarah namun pemuatan repro beberapa halaman brosur dan foto-foto tentunya bukan hal yang tabu dan tentunya akan menambah bobot sejarah dari novel ini.

Akhirnya usaha Emil W. Aulia dalam menulis novel ini patut dihargai setinggi-tingginya baik oleh kalangan sejarahwan maupun oleh kalangan pembaca umum karena berhasil mengungkap perjuangan seorang tokoh kemanusiaan asal Belanda "Bapak Kuli Kontrak" yang selama ini namanya terlupakan dan terkubur dalam buku-buku sejarah Indonesia.

@h_tanzil
Read more »

Rabu, 03 Mei 2006

OBITUARI


OBITUARI

oleh : Amarzan Loebis

Pramoedya, Jejak Langkah ituPujangga itu wafat pada usia 81 tahun. Meninggalkan 50-an buku yangditerjemahkan ke lebih dari 41 bahasa.-------

JAKARTA tak menentu, Sabtu malam itu. Hujan turun sebercak-sebercak,gerimis di sini, lebat di sana. Dari telepon seluler ke teleponseluler bersimpang-siur pesan kisruh: "Pramoedya Ananta Toerberpulang.. Maaf, Pram masih segar-bugar.. Kritis, memang, bernapaspakai oksigen, tapi malah minta rokok.." Akhirnya, pada....,Pramoedya, "pujangga" itu, berangkat menghadap Khaliknya.

Sampai saat wafatnya, Pram, pengarang sekitar 50 buku yang sudahditerjemahkan ke dalam lebih dari 41 bahasa, seperti memilih tidakmenempuh "cara biasa". Beberapa hari sebelumnya ayah sembilan anak dankakek 16 cucu itu terjatuh di rumahnya yang jembar di Desa WaringinJaya, Bojong Gede, Bogor, sekitar 50 kilometer dari Jakarta arah keselatan. Ia dilarikan ke Rumah Sakit St. Carolus di Jakarta Pusat.

Tapi, siapa pun di antara orang dekatnya pasti tahu: Pram tak pernahsuka pada rumah sakit. "Saya sudah lelah dirawat di rumah sakit,"katanya, dua tahun lalu. Ketika itu, selain gangguan jantung dandiabetes, ia mulai mengalami masalah ginjal. Pram lebih percaya pada"pengobatan" yang ditekuninya dengan cara sendiri: menyantap bawangputih tak putus-putusnya.

Dilahirkan di Blora, Jawa Tengah, 6 Februari 1925, anak sulung darisembilan bersaudara ini seperti memang ditakdirkan untuk menjadipengarang. Dari ayahnya, Moh. Toer, seorang guru-nasionalis, Pram diperkenalkan dengan dunia pustaka. Sejak usia delapan tahun ia sudah biasa membaca koran dalam bahasa Belanda, Melayu, dan Jawa. "Orang tua saya mempunyai perpustakaan yang cukup besar untuk ukuran kota kecil,"kata Pram sekali waktu.

Menurut pengakuannya, Pramoedya sudah menulis sejak di bangku SD BoediOetomo di Blora. Tapi, cerita pendeknya yang pertama, Kemana, barutersiar melalui majalah Pantjaraja, pada 1947. Pada tahun yang sama pula terbit novelnya, Krandji-Bekasi Djatuh. Dari judul ini mudah ditebak: Pram terlibat dalam perang kemerdekaan. Ia bertugas sebagai perwira perhubungan di Divisi Siliwangi.

Pram kemudian ditahan Belanda, 1947-1949. Ia mendekam di penjara BukitDuri, Jakarta, dan pernah menghuni Pulau Onrust di Kepulauan Seribu.Pada masa inilah ia menulis kumpulan cerita pendek Pertjikan Revolusidan novel Perburuan--yang kelak memenangi Hadiah Balai Pustaka. Keluardari penjara, Pram menulis Mereka Jang Dilumpuhkan, Tjerita dari Blora(memenangi Hadiah Badan Musjawarah Kebudajaan Nasional 1952-1953), dan Bukan Pasar Malam.

Sejak itu Pramoedya Ananta Toer tercatat di antara sastrawan gardadepan negeri ini. Pada 1953, atas undangan Lembaga Kerja SamaKebudayaan Indonesia-Belanda, Sticusa, ia bermukim di Negeri Belanda bersama istrinya, Maemunah Thamrin. Tapi, tahun-tahun yang menyusul kemudian merupakan masa gemuruh tak kunjung teduh dalam kehidupan Pram.

Lewat Kongres Nasional I Lembaga Kebudayaan Rakyat di Solo, JawaTengah, pada 1959, Pramoedya Ananta Toer mengumumkan pergabungannyadengan Lekra. Pram kemudian mengasuh ruangan kebudayaan Lentera di harian Bintang Timur, Jakarta, yang berhadap-hadapan dengan parapenanda tangan Manifes Kebudayaan.

Gempa politik 1965 membawa akibat panjang pada kehidupan Pram dan keluarganya. Rumahnya dirampas, perpustakaannya dijarah dan dibakar,dia sendiri kemudian ditangkap, dan pada 1969 dibuang ke Pulau Buru,Maluku. Di sinilah ia sekali lagi membuktikan: ia memang dilahirkan untuk menjadi pengarang.

Di atas kertas-kertas bekas yang dijilid serupa buku tulis, ia mulai mengarang tanpa rujukan, tanpa kepustakaan, hanya mengandalkaningatan. Ia juga menyusun semacam komik tentang masuknya agama Hindu Hinayana ke Tanah Jawa, Oroh Sanagara namanya. Entah ke mana gerangannaskah ini terselip.

Buku-buku tulisan tangan itu beredar dari unit ke unit, dibaca bersamadi bawah lampu minyak setelah kerja panjang yang melelahkan. Banyak sekali tahanan, orang-orang muda dari pedalaman Jawa, yang barumengenal nama Pramoedya Ananta Toer justru di Pulau Buru.

Setelah kedatangan Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan danKetertiban, Jenderal Sumitro, ke Pulau Buru, pada 1973, Pramoedyadipindahkan dari Unit III ke Markas Komando, dan diberi mesin tikuntuk menulis. Ketika itulah ia mulai menyusun bagian awal tetraloginya yang kelak termasyhur, Bumi Manusia.

Setelah dibebaskan, Desember 1979, Pram tak lagi terbendung. Bersamapenerbit Hasta Mitra, Pram menerbitkan berjudul-judul buku, kendatiseluruhnya dibredel pemerintahan Soeharto. Setelah reformasi, tak adalagi hambatan penerbitan bukunya, dan Pramoedya kemudian menerimasejumlah penghargaan internasional. Berkali-kali namanya disebut sebagai calon penerima Hadiah Nobel kesusastraan. Tapi, ternyata,"jejak langkah" sang pujangga sampai di situ.

Amarzan Loebis
(Sumber: Tempo, 1 Mei 2006)
Read more »