Minggu, 12 November 2006

The Year of Magical Thinking

Judul : The Year of Magical Thinking
Penulis : Joan Didion
Penerjemah : Leinovar
Penerbit : Ufuk Press
Cetakan : I, Agustus 2006
Tebal : 254 hlm
Harga :





Hidup berubah cepat,
Hidup berubah seketika,
Kau duduk makan malam,
Lalu hidup yang kau jalani berakhir,

Kematian seseorang yang dikasihi adalah hal yang bisa menimpa siapa saja. Kapan waktunya masih merupakan misteri dan rahasia sang pemberi kehidupan. Kadang kita bisa menduga-duga jika orang yang kita kasihi itu telah menderita penyakit akut yang telah lama dideritanya, namun tak jarang kematiannya datang begitu tiba-tiba sehingga kita tak siap menerima kenyataan itu.

Joan Didion (74 thn), jurnalis dan penulis novel asal Amerika adalah salah satu diantara sekian banyak orang yang harus menerima kenyataan bagaimana kematian orang yang dikasihinya datang secara tiba-tiba tanpa ada tanda-tanda atau firasat apapun sebelumnya.

Beberapa hari menjelang Natal 2003, Joan Didion beserta suaminya yang juga seorang novelis : John Gregory Dunne baru saja menjenguk putri semata wayang mereka Quintana (36 thn) yang menderita pneunomia di Pusat Pengobatan Beth Israel di East End Avenue. Tak ada yang janggal dalam perjalanan pulang mereka menuju rumah. Setiba di rumah sementara John duduk di samping perapian sambil minum wiski, Didion sibuk menyiapkan makan malam untuk mereka berdua. Semua tampak normal. Mereka membicarakan berbagai topik yang ringan. Tiba-tiba tangan kiri John terangkat dan terkulai lemas. Awalnya Didion menyangka suaminya bercanda, namun segera ia mnyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan suaminya.

Setelah memanggil petugas paramedis, John segera dilarikan ke rumah sakit, malangnya nyawanya tak tertolong. John didiagnosa mendapat serangan jantung yang hebat yang menghantarnya pada kematian mendadak. Hal ini membuat kehidupan Didion berubah seketika. Bagaimana tidak, kebersamaan dengan John yang telah terbina dengan baik selama empat puluh tahun tiba-tiba terhenti seketika. Didion harus berjuang sendiri menghadapi kematian suaminya, sementara putri semata wayang mereka masih terbaring di ICU RS Beth Israel.

Empat minggu kemudian Quintana dinyatakan sembuh. Namun dua bulan sesudah itu, Quintana terjatuh ketika hendak bepergian bersama suaminya. Ia kemudian dibawa ke UCLA Medical Center dan harus menjalani pembedahan otak karena didiagnosa menderita penyakit hematoma yang parah. Ini berarti terdapat bekuan darah sehingga menyebabkan gangguan neurologis karena terjadi penekanan di otak.

Joan Didion kini hidup dalam kesendirian ditengah cobaan yang bertubi-tubi. Tahun-tahun ini disebutnya sebagai “The Year of Magical Thinking”, dimana ia menjalani kehidupannya dengan tabah sambil mencoba menapak kenangan manis yang pernah dilaluinya bersama John dan Quintana.

Pada tanggal 4 Oktober 2004, tepat sembilan bulan lebih lima hari setelah kematian sauminya Didion menggoreskan penanya untuk mencatat hari-hari terberat dalam hidupnya. Catatan-catatan inilah yang akhirnya diterbitkan pada tahun 2005 dengan judul “The Year of Magical Thinking”.

Walau tema utama memoar ini adalah kematian dan kedukaan, namun Didion menuliskannya tidak dengan cengeng. Mungkin saja isi buku ini tak memberikan ‘makna’ pada kematian suami dan anaknnya, tapi dengan gamblang buku ini menjelaskan efek yang ditimbulkan pada hati dan perasaan Didion, sehingga bisa dikatakan buku ini adalah buku yang jujur, jernih dan apa adanya. Dalam buku ini pembaca akan digiring untuk mengetahui apa yang ada dalam pikiran Didion saat berada dalam kabut kedukaan sekaligus memperlihatkan pada pembacanya akan apa yang hilang dari dirinya.

Pengalamannya sebagai jurnalis dan novelis senior membuat hal-hal yang dia alami sebelum dan setelah kematian John, maupun diskripsi mengenai penyakit dan penanganan medis terhadap John dan Quintana terurai secara detail dan kronologis melalui penyajian yang bersifat reportase. Alur cerita terus bergerak antara masa lalu dan masa kini sehingga pembaca memiliki gambaran yang utuh seperti apa keluarga Didion dan merasakan bagaimana pedihnya hubungan harmonis yang telah terbina selama 40 tahun itu tiba-tiba harus tercerabut dari kehidupannya.

Buku ini juga menyajikan bagaimana detailnya gambaran medis lengkap dengan istilah-istilah kedokteran yang bertaburan di lembar-lembar buku ini. Di satu sisi hal ini mungkin bermanfaat bagi pembaca yang mungkin pernah bersentuhan dengan pengobatan medis atau mereka yang berprofesi sebagai petugas medis, namun bagi pembaca awam hal ini bisa menjadi hal yang mengganggu kelancaran membacanya walau di halaman terakhir tersaji catatan penjelasan mengenai istilah-istilah medis yang terdapat di buku ini

Di halaman-halaman akhir ada sedikit yang mengejutkan yaitu dengan masuknya frasa mengenai Tusnami yang melanda pesisir Sumatera. Hal ini terungkap ketika suatu saat Didion membaca kembali novel pertamanya yang berjudul Democracy yang mengungkap mengenai gempa. “Aku membaca uraian tersebut setelah gempa berkekuatan 9.0 skala Richter mengguncang zona bawah laut Sumatera sepanjang enam ratus mil dan memicu tsunami yang menyapu bersih sebagian besar wilayah pesisir yang membatasi Samudera Hindia” (hal 239).

Pada akhirnya buku yang merupakan pengalaman nyata penulisnya yang sangat personal namun bersifat universal ini tentunya diharapkan dapat memberikan potret tentang sebuah keluarga yang harmonis yang keutuhannya secara tiba-tiba harus terpisah satu dengan lainnya karena kematian sehingga menyentuh setiap pembacanya yang diharapkan tak pernah berhenti mencintai suami atau istri atau anak mereka.

Tampaknya buku yang memprroleh penghargaan National Book Award 2005 dan Powell’s Pudly Award 2006 dan dinominasikan dalam National Book Critics Circle Awards untuk kategori nonfiksi ini memang sangat baik dibaca untuk mereka yang mungkin baru saja atau pernah mengalami kehilangan seseorang yang dikasihinya, atau setidaknya pengalaman Didion yang tertuang dalam buku ini akan menyadarkan orang akan arti kehilangan dan memberikan gambaran bagaimana pengaruh kehilangan bagi orang yang ditinggalkan oleh seseorang yang dicintainya.


Sedikit tentang Joan Didion

Bagi pembaca Indonesia nama Joan Didion (lahir 5 Desember 1943) mungkin masih terasa asing ditelinga. Tidak demikian dengan publik Amerika. Ia adalah penulis legendaris beberapa novel diantaranya ; Run, River (1963), Play It As It Lays (1970), A Book of Common Prayer (1977), Democracy (1984), The Last Thing He Wanted (1996), selain itu Didion juga kerap menulis beberapa tulisian non fiksi seperti kumpulan essai Slouching Towards Bethlehem (1968) and The White Album (1979), dll

Didion juga dikenal sebagai seorang jurnalis senior. Ia merupakan kontributor tetap The New York Review of Books dan The New Yorker. Bersama suaminya John Gregory Dunne (1932 – 2003) yang juga seorang penulis mereka berkoloborasi membuat beberapa naskah skenario film. Ia kini tinggal di New York City

The Year of Magical Thinking merupakan karya terbaru Didion. Buku ini diterbitkan pada Oktober 2005 yang lalu dan langsung mendapat respon yang baik dari para kritikus perbukuan Amerika, hal ini terbukti pada bulan November 2005, (satu bulan setelah bukunya terbit), buku yang dibaca oleh para ibu rumah tangga hingga ibu negara ini diganjar sebagai pemenang National Book Award 2005 untuk kategori non fiksi. Award ini merupakan salah satu penghargaan sastra terkemuka di Amerika, dimana pemenangnya memperoleh uang hadiah sebesar 10.000 dolar atau sekitar 100 juta rupiah dan sebuah patung kristal dari The National Book Foundation.

Dua minggu setelah buku ini selesai diekerjakan, putri semata wayang Didion, Quintana akhirnya meninggal dunia. The New York Times dalam reportasenya mengungkapkan bahwa Didion tak berniat merevisi atau mengubah bukunya setelah kematian putrinya. "It's finished," ujarnya.

@h_tanzil



Read more »

Jumat, 03 November 2006

The Godfather


Judul : The Godfather (Sang Godfather)
Penulis : Mario Puzo
Penerjemah : B. Sendra Tanuwidjaja
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : September 2006
Tebal : 680 hlm ; 23 cm
Harga : Rp.75.000,-





The Godfather menceritakan kisah keluarga Mafia yang dipimpin oleh Don Vito Corleone, ia dikenal sebagai salah satu pemimpin Mafia – Sisilia yang disegani di New York City Amerika, walau ia seorang pemimpin kerajaan bawah tanah raksaksa yang menguasai berbagai kegiatan bisnis ilegal dan hidup dalam dunia kejahatan yang kelam, dirinya tidak bersikap kejam seperti pemimpin mafia-mafia lainnya. Corleone dikenal sebagai seorang pria yang logis, adil dan murah hati.

Di samping menjalankan bisnisnya ia kerap didatangi siapa saja untuk dimintai bantuan. Ia tidak pernah memberikan janji kosong. Tidak peduli semiskin atau selemah apapun orang yang meminta bantuan, Corleone akan memasukkan kesulitan orang itu ke dalam hatinya dan ia akan melakukan apapun untuk menolong orang tersebut. Hanya satu hal yang diinginkanya. Yaitu orang itu menyatakan persahabatannya pada Corleone. Hal ini menyebabkan dirinya digelari “Don” yang terhormat, dan panggilan lainnya yang lebih penuh kasih, “Godfather”.

Keluarga Corleone merupakan keluarga mafia yang paling berpengaruh dan disegani diantara keluarga Mafia lainnya di Amerika Serikat. Pengaruhnya menyebar mulai dari kepolisian, kejaksaan, serikat buruh, hollywood, hingga gedung putih. Bisnis ilegalnya yang berpusat di Long Island menyebar dari mulai perjudian, minuman keras, real estate, taruhan pacuan kuda, dll. Salah satu bisnis yang tidak disentuhnya adalah narkotika. Don Corleone menganggap narkotika adalah bisnis kotor yang akan merusak pengaruhnya di pemerintahan resmi.

Awalnya keluarga Corleone hidup secara aman. Bisnis ilegalnya berjalan dengan lancar dan menguntungkan, tanpa bahaya, tanpa gangguan baik dari pemerintah resmi maupun dari keluarga mafia lainnya. Namun ketentraman ini terganggu ketika Sollonzo yang didukung keluarga mafia Tattaglia, salah satu dari Lima Keluarga Mafia yang berpengaruh di Amerika sekaligus saingan utama keluarga Corleone mengajaknya untuk bekerja sama melakukan bisnis narkotika. Tentu saja Don Corleone menolaknya.

Penolakan Don Corleone menimbulkan sakit hati bagi Sollonzo dan keluarga Tattaglia. Ditambah dengan kenyataan bahwa tanpa dukungan Corleone tak mungkin bagi Sollonzo untuk melaksanakan bisnis narkotikanya. Tanpa diduga Don Corleone ditembak oleh kaki tangan Sollonzo ketika sedang membeli buah-buahan bersama Freddie, putra sulungnya. Tentu saja penembakan ini berpotensi memicu terjadinya perang antar mafia.

Don Corleone luput dari maut, namun terluka cukup parah, sementara Freddie tampak sangat tertekan karena peristiwa tersebut. Selama Don Corleone dalam perawatan, tampuk pimpinan keluarga Corleone dikendalikan oleh Sonny Corleone, putra kedua Don Corleone dan dibantu oleh Tom Hagen selaku consigliere (penasehat) keluarga Corleone.

Sonny mengambil inisiatif menghabisi nyawa Sollonzo melalui Michael (putra ketiga Don Corleone). Misi ini berhasil dilaksanakan dengan sempurna dan untuk menghindari dari jerat hukum, Michael dilarikan ke Sisilia, Itali.

Belum pulihnya Don Corleone dimanfaatkan oleh keluarga Tattaglia untuk membalas dendam kematian Sollonzo dan memuluskan bisnis narkotikanya. Sebuah peristiwa tragis kembali menimpa keluarga Corleone sehingga melemahkan bisnisnya.

Hal ini membuat Don Corleone yang bijak mengambil langkah kenegarawan untuk menghentikan balas dendam antar keluarga yang tiada akhir. Suskes dengan misi damainya Sang Godfather mengundurkan diri dari dunia mafia. Cerita belum berakhir. Putra bungsu Corleone, Michael Corleone dengan langkah-langkah briliannya terus berusaha untuk mengembalikan kejayaan kerajaan keluarga Corleone.

Mario Puzo dalam novelnya ini mengemas kisah keluarga Corleone dengan kerajaan bawah tanahnya dengan menarik. Sejak awal. pembaca akan diikutsertakan dalam sebuah petualangan sepak terjang sang Godfather beserta tokoh-tokohnya yang memiliki beragam karakter yang kompleks yang memiliki harapan, impian, dan ketakutan, tapi juga merupakan pembunuh keji.

Selain tokoh Don Corleone beserta keluarganya, Puzo juga menghadirkan tokoh Tom Hagen selaku consiliegri, satu-satunya consiliegri yang bukan berdarah Italia. Juga terdapat tokoh Jhonny Fontane, penyanyi tenar sekaligus aktor terkenal. Melalui karakter Jhonny ini pembaca akan diajak menyelami kehidupan dunia selebritis Hollywood di tahun awal tahun 70-an lengkap dengan gaya hidup hedonis dan intrik-intrik di dalamnya yang memiliki persinggungan dengan keluarga Mafia.

Selain karakter-karakter tokoh-tokoh yang dipaparkan dengan begitu hidup, novel ini juga mengungkap sepak terjang dunia mafia dengan gamblang, lengkap dengan istilah-istilah yang umum digunakan seperti “Don”, Caporegime, Consilegri, dll, sehingga ketika novel ini terbit di tahun 1969, novel ini memberikan pengaruh yang besar bagi masyarakat dalam budaya populer Amerika, hal ini terbukti dengan semakin banyaknya mafia dan reputasinya yang tertuang dalam buku, iklan hingga film-film.

Terlepas dari benar tidaknya gambaran yang diberikan Puzo dalam novelnya ini sepak terjang Mafia dalam kehidupan masyarakat Amerika memang tak dak dapat dipungkiri keberadaannya. Wikipedia on line mengutip bahwa di tahun 60-an pemerintah Amerika Serikat telah melakukan kerjasama dengan Mafia antara lain dalam usaha pembunuhan terhadap pemimpin Cuba, Fidel Castro.

Kegambalangan dan cara berutur Puzo yang detail dan sangat hidup dalam The Godfather membuat pembacanya bertanya-tanya, apakah ini merupakan kisah nyata ? apalagi karakter Johnny Fontane dalam novel ini mengingatkan orang pada penyanyi Frank sinatra. Ada juga yang menduga kalau Puzo memiliki ‘link’ dengan Mafia sehingga ia mampu menuliskan novel ini dengan sangat detail. Namun dalam wawancaranya Puzo mengelak dan mengatakan bahwa novel yang diselesaikannya selama tiga tahun ini disusun hanya berdasarkan riset pustaka belaka.

Sebelum The Godfather meraih kesuksesan Puzo adalah penulis miskin, sudah dua novel ditulisnya The Dark Arena (1955), dan The Fortunate Pilgrim (1965). Kedua novel ini, walau banyak dipuji oleh para kritikus, bahkan Puzo sendiri menganggap karya keduanya merupakan karya terbaiknya, gagal di pasaran.

Puzo menulis The Godfather karena ia membutuhkan sejumlah uang. Ia terjerat hutang sebesar $20,000, keadaan ini membuat ia mengatakan kepada editornya bahwa ia akan menulis sebuah buku tentang mafia. The Godfather diselesaikannya selama hampir tiga tahun, selama waktu tersebut Puzo juga menulis beberapa cerita lainya.

Ketika the Godfather terbit di tahun 1969, novel ini mendapat sambutan yang sangat baik oleh pasar. Puzo bukan hanya bisa melunasi hutang-hutangnya, ia bahkan menjadi penulis tenar dan The Godfather kini menjadi novel klasik yang akan dikenang sepanjang masa. Novel ini telah terjual lebih dari 21 juta copy dan bertahan di daftar best-seller surat kabar The New York Times selama 67 minggu.

Kesuksesan The Godfather berlanjut ketika novel ini dilirik oleh sutradara bertangan dingin Francis Ford Copolla yang bersama-sama Puzo mengadaptasi novel ini ke layar perak. Puzo dan Copolla memperoleh Oscar untuk Skenario Adaptasi Terbaik. Sedangkan The Godfather I dan The Godfather II terpilih sebagai film terbaik tahun 1972 dan 1974

Gaung The Godfather kini terdengar kembali, di tahun 2004 Mark Winegardner, penulis asal Amerika menerbitkan The Godfather Return yang merupakan sequel dari The Godfather. – Mario Puzo. Dan pada Novemeber 2006 ini Mark Wineggarder kembali akan menerbitkan sekuel lanjutannya yang berjudul The Godfather's Revenge.

Apakah 2 sekuel karya Mark Winegarder ini akan sesukses The Godfather karya Mario Puzo ?


@h_tanzil
Read more »

Jumat, 20 Oktober 2006

Carry Me Down

Saya baru saja menyelesaikan novel “Carry Me Down” karya M.J Hayland, nominator The Man Booker Prize 2006.

Saya membaca versi terjemahannya (masih dlm bentuk dummy) yang diberikan oleh penerbit Ufuk pada saya untuk diberikan edrosment.

Rencananya terjemahan novel ini akan diterbitkan di bulan November 2006. Untuk itu, sebagai pemanasan saya postingkan Review Patricia Craig yang dimuat di situs The Independent Online.

Nanti jika terjemahannya sudah terbit baru saya postingkan review yang saya buat sendiri.

Selamat membaca…..

juga

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1427 H
Mohon Maaf Lahir dan batin




Carry Me Down, by M J Hyland
Dry wit and sticky moments of an Irish childhood
By Patricia Craig
Published: 28 April 2006

This is a novel about family friction. John Egan, an overgrown 11-year-old, lives in his grandmother's cottage near Gorey, Co. Wexford, with his mother, father and his father's mother. John's favourite reading is The Guinness Book of Records, and he cherishes an ambition to feature in his work himself on account of an unusual ability he believes he possesses. He is a human lie-detector, whose ears tingle and whose stomach churns whenever someone tries to palm him off with an untruth. He has quite a lot of scope to exercise this gift, since the adults around him are not invariable truth-tellers. Lying and other forms of dishonesty, though, are not peculiar to grown-ups. John himself isn't above indulging in a spot of petty larcency from time to time.

The Egans are an odd family. They are all very tall. John's mother is a puppet-maker and his father, a one-time electrician, is studying with a view to enrolling for a degree course in criminal psychology at Trinity College Dublin. The grandmother, not entirely happy about the invasion of her home, spends a lot of time attending horse races at Leopardstown.

John is at the same time severely critical of his parents and mightily attached to them, and the whole family is subject to lightning changes of mood, which makes for an unsettling atmosphere. This atmosphere is not conducive to steady emotional development. One might go so far as to call John retarded in some areas - though advanced in others.

At Gorey National School John has made only one friend, Brendan, and he loses this friend after an "experiment" goes wrong and he wets the classroom floor, to the disgust and taunts of his classmates. He was only trying to break a urine-retaining record. But one of John's characteristics is an inability to envisage the consequences of his actions, and this culminates in a melodramatic incident involving an ambulance and a number of Gardai.

By this stage the family has moved to Dublin, where the only accommodation available is in a high-rise block in Ballymun, with the stink of rubbish in their noses and gangs of youths assembling for no good purpose in the stairwell. In these dispiriting surroundings, the combined forces of domestic uncertainty and personal peculiarity engender a bitter outcome. The events of these crucial months in the lives of the Egan family are narrated by M J Hyland's protagonist, John; and the impersonation of a pre-adolescent's preoccupations is effective and, at times, funny. At other times a kind of low-intensity frustration and dissatisfaction saturates the narrative, to lowering effect. And occasionally an emblem occurs whose meaning is obscure. However, as a record of country-school bleakness, home unpredictability and city grimness, Carry Me Down can be said to carry the day.

Patricia Craig's biography of Brian Moore is published by Bloomsbury



http://enjoyment.independent.co.uk/books/reviews/article360560.ece
Read more »

Minggu, 15 Oktober 2006

Kacamata Kuda


Judul : Kacamata Kuda
Penulis : Ardian Syam
Penerbit : Amara Books
Cetakan : I, Juli 2006
Tebal : 201 hlm

Andrias Harefa (penulis 25 buku laris) dalam endorsment buku ini mengatakan bahwa setiap orang dalam aspek tertentu pastilah memiliki “kacamata kuda”nya masing-masing. Kacamata kuda adalah istilah yang berarti bahwa cara pandang orang umumnya diarahkan oleh orang tua, atasan, guru, dll, seperti kuda yang dipasangi kacamata kuda yang harus tunduk pada arah pandangan yang ditetapkan oleh kusirnya.

Terkadang kita tak menyadari bahwa kitapun memakai kacamata kuda dalam berbagai aspek kehidupan kita, kita terlalu ‘biasa’ menggenakannya sehingga kacamata kuda yang kita kenakan seakan menjadi bagian dari diri kita sehingga tak pernah sedikitpun terbesit untuk mencoba membuka kacamata kuda kita dan melihat berbagai aspek dengan cara pandang baru.

Untuk itulah buku Kacamata Kuda yang merupakan kumpulan tulisan Ardian Syam, penulis kolom di situs Pembelajar.com yang kini bekerja sebagai Bussiness Analyst di divisi I Regional Sumatera, PT. Telekomunikasi Indonesia mengajak pembacanya untuk membuka kacamata kuda-nya dan melihat dengan sudut pandang yang baru.

Buku ini berisi 39 tulisan dalam konteks bisnis, entrepreunership, dan pemasaran yang dibagi dalam enam bab yang masing-masing berjudul : Produsen dan Konsumen, Manajemen Usaha, Pribadi, Produsen dan Konsumen, Lagi, Korupsi, dan Manajemen Usaha, juga.

Pada bab Produsen dan Konsumen antara lain berisi pembahasan mengenai bagaimana hubungan antara produsen dan konsumen dan bagaimana kiat-kiat produsen agar produk-produknya dapat terserap dengan baik oleh konsumen. Dalam artikel yang berjudul Psikografi, dibahas bagaimana sebenarnya pelanggan atau konsumen adalah manusia yang memiliki emosi dan akal sehat, karena setiap produk atau jasa yang tersedia selain harus dipilih berdasarkan akal sehat juga harus mempertimbangkan sentuhan emosi yang diberikan pada konsumen. Di sini penulis memberikan contoh dalam produk mobil-mobil mungil hingga botol-botol shampo dan sabun cair yang saat ini tidak lagi sama bentuknya dalam dengan botol-botol sebelumnya yang berbentuk konvensional. Bentuk produk ini menjadi bagian dari kepedulian produsen terhadap emosi konsumen. Bentuk yang manarik minat berarti bentuk yang menggugah rasa estetika konsumen.

Dalam bab Manajemen Usaha, selain menyajikan bahasan mengenai konsep-konsep manajemen seperti quality time, mitra, budaya dalam organisasi, loyalitas, dll juga dibahas mengenai Seragam. Hal kecil yang setelah dicermati ternyata memberikan pengaruh terhadap manajemen usaha. Penulis berkesimpulan bahwa seragam tidak hanya sekedar menjadi identitas melainkan menjadi uniform. Karena ketika semua orang dalam kelompok tersebut menggunakan seragam, maka hampir tiada perbedaan sikap dan perilaku yang ditunjukkan (hal 191). Hal ini dikarenakan ketika memakai seragam, orang akan cenderung mengikuti perilaku dari teman-teman yang berseragam sama.

Pada Bab Pribadi, dibahas hal-hal yang menyangkut pribadi dalam hal investasi, kesewenang-wenangan, sikap, pengaruh guru, dll. Yang menarik adalah tulisan yang berujudul Investasi, di bagian ini terungkap sebuah penelitian bahwa paling banyak hanya akan ada 6 orang antara kita dengan seorang lain. Dengan kata lain mungkin ada kurang dari 6 orang antara kita dengan Rhenald Kasali. Artinya salah seorang orang yang kita temui mungkin kenal dengan B yang kenal dengan C, C dikenal oleh D, D dikenal oleh E dan E dikenal oleh seorang yang menjadi sahabat Rhenald Kasali. Karena itu penulis menyarankan kita agar selalu bersiap untuk bertemu salah satu dari 6 orang yang akan mempertemukan kita dengan orang yang selama ini kita cari-cari. Caranya dengan selalu melengkapi diri dengan bussines card yang menginformasikan siapa diri kita dan dimana kita bisa dihubungi. Karena siapa tahu orang yang berada di sebelah kita saat kita mungunggu giliran di ruang tunggu dokter, atau seseorang di depan kita yang sedang antri tiket di bioskop adalah orang yang membawa kita pada orang yang kita cari-cari untuk menyukseskan bisnis kita.

Secara keseluruhan, seperti diungkap Edy Zaqeus (editor Pembelajar.com) dalam kata pengantarnya, buku ini akan mengingatkan kita pada gaya penuturan para penulis dalam bidang manajemen dan marketing seperti Hermawan Kertajaya, Rhenald Khasali, Gede Prama, dll. Dimana konsep-konsep majamemen yang aslinya bisa membuat dahi berkerut, di tangan mereka menjadi hal-hal yang mudah dicerna. Ardian melakukan hal yang sama, walaupun tentu saja dengan gaya yang berbeda.

Salah satu yang membuat buku ini berbeda dengan penulis-penulis manajemen lainnya adalah usaha penulis dalam membuat buku ini segar melalui humor-humornya yang menjadi pengantar di tiap babnya.

Jika kita melihat cover buku ini yang berwarna merah dengan ilustrasi kepala kuda yang sedang ‘nyengir’ dan berkacamata, tampaknya sedari awal pembaca diajak menyimpulkan bahwa buku ini bukanlah buku yang ‘berat’. Sayang halaman dalamnya tak didukung dengan ilustrasi-ilustrasi atau karikatur-karikatur segar yang mendukung gambaran bukan buku berat yang dicoba ditampilkan di cover depannya.

Penyajian bab yang unik seperti Korupsi juga menjadi hal yang menarik, di bab ini pembaca akan disuguhkan dengan pandangan-pandangan penulis terhadap praktek korupsi beserta contoh-contoh kasusnya. Entah apa yang membuat bab Korupsi disertakan dalam buku ini, sekilas agak melenceng dari tema utama buku ini yang berbicara dalam konteks manajeman dan pemasaran. Mungkin ini sebuah bentuk kepedulian penulis terhadap praktek korupsi yang sudah menjadi hal yang wajar di negeri ini. Seperti bab-bab lainnya bab inipun menyajikan sudut pandang yang berbeda dan gagasan inopvatif mengenai bagaimana menyadarkan sikap anti korupsi di kalangan kaum terpelajar sedini mungkin.

Setiap tulisan-tulisan dalam buku ini menawarkan berbagai gagasan-gagasan baru yang kreatif dan inovatif. Tips-tipsnya aplikatif sehingga mudah dicerna oleh siapa saja. Walau kasus atau permasalahan yang diangkat mungkin pernah kita dengar, namun secara cerdas Ardian melihat dan memecahkannya dari sudut pandang yang berbeda. Pembaca akan diajak berefleksi dan berkontempelasi lewat tulisan-tulsiannya sehingga pembaca akan mendapat wawasan baru yang mungkin saja akan menginspirasi pembacanya untuk mengembangkankan bisnis yang digelutinya. Selain itu bagi bukan pebisnis ataupun pelaku menajemen usaha, ulasan-ulasan dalam buku ini tampaknya dapat juga diterapkan dalam pengembangan diri pribadi pembacanya.

Secara keseluruhan rangkaian tulisan-tulisan dalam buku ini menarik dan memberi pandangan baru, sayang tulisan yang dikumpulkan dalam rentang waktu 2004 hingga 2006 ini tak menyebutkan sumber-sumber dimana tulisan ini pernah dimuat, apakah semuanya memang pernah dipublikasikan di situs Pembelajar.com ? atau pernah dimuat di media-media lainnya ? Rasanya tak ada penjelasan eksplisit dalam buku ini. Memang bukan hal yang mutlak namun bagi sebuah buku kumpulan tulisan hal ini wajar untuk diungkapkan.

Akhirnya buku ini memang sangat berpotensi dalam membantu membuka wawasan pembacanya dalam memandang masalah dari sisi yang tidak pernah diperhatikan orang, menerobos pemikiran-pemikiran klise, dan yang pasti membuka (dan membaca) buku ini, berarti Anda sedang membuka “Kacamata Kuda Anda”.

Bacalah buku ini dan bukalah Kacamata Kuda Anda!

@htanzil
Read more »

Jumat, 13 Oktober 2006

The Nobel Prize in Literature 2006

Press Release
12 October 2006


The Nobel Prize in Literature 2006
Orhan Pamuk



The Nobel Prize in Literature for 2006 is awarded to the Turkish writer Orhan Pamuk

"who in the quest for the melancholic soul of his native city has discovered new symbols for the clash and interlacing of cultures".

--------------------------


Biobibliographical Notes

Orhan Pamuk was born 7 June 1952 in Istanbul into a prosperous, secular middle-class family. His father was an engineer as were his paternal uncle and grandfather. It was this grandfather who founded the family's fortune. Growing up, Pamuk was set on becoming a painter. He graduated from Robert College then studied architecture at Istanbul Technical University and journalism at Istanbul University. He spent the years 1985-1988 in the United States where he was a visiting researcher at Columbia University in New York and for a short period attached to the University of Iowa. He lives in Istanbul.

Pamuk has said that growing up, he experienced a shift from a traditional Ottoman family environment to a more Western-oriented lifestyle. He wrote about this in his first published novel, a family chronicle entitled Cevdet Bey Ve Oğulları (1982), which in the spirit of Thomas Mann follows the development of a family over three generations.

His second novel, Sessiz Ev (1983; The House of Silence, 1998), uses five different narrator perspectives to describe a situation in which several family members visit their ageing grandmother at a popular seaside resort with Turkey teetering on the brink of civil war. The period is 1980. The grandchildren's political discussions and their friendships reflect a social chaos where various extremist organisations vie for power.

Pamuk's international breakthrough came with his third novel, Beyaz Kale (1985; The White Castle, 1992). It is structured as an historical novel set in 17th-century Istanbul, but its content is primarily a story about how our ego builds on stories and fictions of different sorts. Personality is shown to be a variable construction. The story's main character, a Venetian sold as a slave to the young scholar Hodja, finds in Hodja his own reflection. As the two men recount their life stories to each other, there occurs an exchange of identities. It is perhaps, on a symbolic level, the European novel captured then allied with an alien culture.

Pamuk's writing has become known for its play with identities and doubles. The issue appears in his novel Kara Kitap (1990; The Black Book, 1995) in which the protagonist searches the hubbub of Istanbul for his vanished wife and her half-brother, with whom he later exchanges identities. Frequent references to the mystic tradition of the East make it natural to see this in a Sufi perspective. Kara Kitap represented a definite break with the governing social realism in Turkish literature. It provoked debate in Turkey not least through its Sufism references. Pamuk based his screenplay for the film Gizli Yüz (1992) on the novel.

Yeni Hayat (1994; The New Life, 1996) is a novel about a secret book with the capacity to irrevocably change the life of any person who reads it. The search for the book provides the structure of a physical journey but bordered by literary references, thought experiments in the spirit of mysticism, and reminiscences of older Turkish popular culture, turning the plot into an allegoric course of events correlated with the Romantic myth of an original, lost wisdom.

According to the author, the major theme of Benim Adim Kırmızı (2000; My Name is Red, 2002) is the relationship between East and West, describing the different views on the artist's relation to his work in both cultures. It is a story about classical miniature painting and simultaneously a murder mystery in a period environment, a bitter-sweet love story, and a subtle dialectic discussion of the role of individuality in art.

Pamuk has published a collection of essays, Öteki Renkler : Seçme Yazılar Ve Bir Hikâye (1999), and a city portrait, İstanbul : Hatıralar Ve Şehir (2003; Istanbul : Memories and the City, 2006). The latter interweaves recollections of the writer's upbringing with a portrayal of Istanbul's literary and cultural history. A key word is hüzün, a multi-faceted concept Pamuk uses to characterise the melancholy he sees as distinctive for Istanbul and its inhabitants.

Pamuk's latest novel is Kar (2002; Snow, 2005). The story is set in the 1990s near Turkey's eastern border in the town of Kars, once a border city between the Ottoman and Russian empires. The protagonist, a writer who has been living in exile in Frankfurt, travels to Kars to discover himself and his country. The novel becomes a tale of love and poetic creativity just as it knowledgeably describes the political and religious conflicts that characterise Turkish society of our day.

In his home country, Pamuk has a reputation as a social commentator even though he sees himself as principally a fiction writer with no political agenda. He was the first author in the Muslim world to publicly condemn the fatwa against Salman Rushdie. He took a stand for his Turkish colleague Yaşar Kemal when Kemal was put on trial in 1995. Pamuk himself was charged after having mentioned, in a Swiss newspaper, that 30,000 Kurds and one million Armenians were killed in Turkey. The charge aroused widespread international protest. It has subsequently been dropped.

Literary Prizes and Awards: Milliyet Roman Yarışması Ödülü (1979, shared with Mehmet Eroğlu), Orhan Kemal Roman Ödülü (1983), Madaralı roman Ödülü (1984), the Independent Award for Foreign Fiction (1990), Prix de la Découverte Européenne (1991), Prix France Culture (1995), Prix du Meilleur Livre Étranger (2002), Premio Grinzane Cavour (2002), the IMPAC Dublin Award (2003), Ricarda-Huch-Preis (2005), Der Friedenspreis des Deutschen Buchhandels (2005), Prix Médicis étranger (2005), Prix Méditerranée Étranger (2006).
Works in Turkish
Cevdet Bey Ve Oğulları. – İstanbul : Karacan Yayınları, 1982
Sessiz Ev. – İstanbul : Can Yayınları, 1983
Beyaz Kale. – İstanbul : Can Yayınları, 1985
Kara Kitap. – İstanbul : Can Yayınları, 1990
Gizli Yüz : Senaryo. – İstanbul : Can Yayınları, 1992
Yeni Hayat. – İstanbul : İletişim, 1994
Benim Adım Kırmızı. – İstanbul : İletişim, 1998
Öteki Renkler : Seçme Yazılar Ve Bir Hikâye. – İstanbul : İletişim, 1999
Kar. – İstanbul : İletişim, 2002
İstanbul : Hatıralar Ve Şehir. – İstanbul : Yapı Kredi Kültür Sanat Yayıncılık, 2003

Works in English
The White Castle / translated from the Turkish by Victoria Holbrook. – New York : Braziller, 1991. – Translation of Beyaz Kale
The Black Book / translated by: Güneli Gün. – New York : Farrar, Straus, 1994. – Translation of Kara Kitap
The New Life / translated by Güneli Gün. – New York : Farrar, Straus, and Giroux, 1997. – Translation of Yeni Hayat
My Name is Red / translated from the Turkish by Erdağ M. Göknar. – New York : Knopf, 2001. – Translation of Benim Adım Kırmızı
Snow / translated from the Turkish by Maureen Freely. – New York : Knopf, 2004. – Translation of Kar
Istanbul : Memories and the City / translated from the Turkish by Maureen Freely. – New York : Knopf, 2005. – Translation of İstanbul : Hatıralar Ve Şehir

Works in French
La maison du silence / trad. du turc par Münevver Andaç. – Paris : Gallimard, 1988. – Traduction de: Sessiz Ev
Le livre noir / trad. du turc par Münevver Andaç. – Paris : Gallimard, 1994. – Traduction de: Kara Kitap
Le château blanc / trad. du turc par Münevver Andaç. – Paris : Gallimard, 1996. – Traduction de: Beyaz Kale
La vie nouvelle / trad. du turc par Münevver Andaç. – Paris : Gallimard, 1998. – Traduction de: Yeni Hayat
Mon nom est Rouge / trad. du turc par Gilles Authier. – Paris : Gallimard, 2001. – Traduction de: Benim Adım Kırmızı
Neige / traduit du turc par Jean-François Pérouse. – Paris : Gallimard, 2005. – Traduction de: Kar

Works in Swedish
Den vita borgen / översättning från turkiskan av Kemal Yamanlar i samarbete med Anne-Marie Özkök. – Stockholm : Tiden, 1992. – Originaltitel: Beyaz Kale
Den svarta boken : roman / översatt av Jan Verner-Carlsson. – Stockholm : Tiden, 1995. – Översättning från den norska utgåvan med titeln: Svart bok och den engelska utgåvan med titeln: The black book. – Originaltitel: Kara Kitap
Det nya livet : roman / översatt från turkiskan av Dilek Gür. – Stockholm : Rabén Prisma/Arleskär, 1996. – Originaltitel: Yeni Hayat
Det tysta huset : roman / översatt från turkiskan av Dilek Gür. – Stockholm : Norstedt, 1998. – Originaltitel: Sessiz Ev
Mitt namn är röd / översättning: Ritva Olofsson. – Stockholm : Norstedt, 2002. – Originaltitel: Benim Adım Kırmızı
Snö / översättning Inger Johansson. – Stockholm : Norstedt, 2005. – Översättning från den engelska utgåvan med titeln: Snow. – Originaltitel: Kar
Istanbul - minnen av en stad / översatt av Tomas Håkanson. – Stockholm : Norstedt, 2006. – Originaltitel: İstanbul : Hatıralar Ve Şehir

Works in German
Die weisse Festung / Aus dem Türk. übertr. von Ingrid Iren. – Frankfurt am Main : Insel, 1990. – Originaltitel: Beyaz Kale
Das schwarze Buch / Aus dem Türk. von Ingrid Iren. – München : Hanser, 1995. – Originaltitel: Kara Kitap
Das neue Leben / Aus dem Türk. von Ingrid Iren. – München : Hanser, 1998. – Originaltitel: Yeni Hayat
Rot ist mein Name / Aus dem Türk. von Ingrid Iren. – München : Hanser, 2001. – Originaltitel: Benim Adım Kırmızı
Schnee / Aus dem Türk. von Christoph K. Neumann. – München : Hanser, 2005. – Originaltitel: Kar
Der Blick aus meinem Fenster : Betrachtungen. – München : Hanser, 2006

The Swedish Academy

sumber : http://nobelprize.org/nobel_prizes/literature/laureates/2006/
Read more »

Minggu, 08 Oktober 2006

The Voice of Demons


Judul : The voice of Demons : Suara-suara Iblis
Penulis : Lori Schiller dan Amanda Bennet
Penerjemah : Edrijani
Penyunting : Berliani M. Nugrahani
Penerbit : Qanita


Dia ingin kamu mati.
Bunuh dia sebelum dia membunuhmu!
Cekik saja lehernya!
Atau, potong nadimu sendiri!
Bunuh dirimu sebelum dia membunuhmu….

Suara-suara yang menyiksa itu terus berdengung di telingaku. Suara-suara itu tak pernah diam, terus memerintahku, merasuki kepalaku. Mereka mengutuk dan mencaci makiku.


Suara-suara iblis itu pertama kali didengar oleh Lori Schiller di usianya yang ke tujuh belas pada saat ia mengikuti perkemahan musim panasnya yang terakhir di SMA. Sebelumnya tak ada yang salah dalam dirinya, ia dilahirkan dari orang tua yang terpelajar, masa kanak-kanak hingga remaja ia lalui bersama keluarganya yang harmonis. Di sekolahnya Lori tergolong anak yang cerdas. Ia memiliki sejuta mimpi untuk melanjutkan hidupnya, masuk perguruan tinggi, bekerja, dan menata hidupnya dengan penuh tanggung jawab.

Namun siapa yang menyangka impiannya semakin jauh dari kenyataan. Di Musim panas yang naas pada tahun 1976 tiba-tiba saja suara-suara iblis itu terdengar dalam kepalanya dan terus mengganggunya hingga menghancurkan hidupnya.

Walau berhasil memasuki bangku kuliah, hidup Lori menjadi berantakan, perilakunya menjadi aneh, ia berusaha menghalau suara-suara itu dari kepalanya, namun suara-suara itu tak juga mau pergi, semakin ia melawan semakin keras suara itu terngiang di kepalanya. Berkali-kali Lori hilang kendali diri dan mencoba melakukan bunuh diri seperti yang diperintahkan oleh suara-suara itu. Hal ini membuat dirinya didiagnosa menderita skizofrenia dan harus keluar masuk rumah sakit jiwa untuk mendapat perawatan.

Dalam perawatan rumah sakit, kondisi Lori semakin memburuk, tak jarang ia menjadi lepas kendali, mencoba untuk lari, berperilaku destruktif dengan mengancurkan benda-benda di sekitarnya dan melukai dirinya. Tak jarang ia harus mendekam dalam ruang isolasi bahkan harus mengalami pengekangan yang dinamakan cold-wet-pack. Sebuah cara pengekangan yang digunakan untuk meredam amukan pasien yang sudah tak terkendali lagi. Tujuannya adalah untuk membekukan pasien sehingga pasien akan kehabisan tenaga dan menjadi tenang.

Berbagai pengobatan sudah diberikan pada Lori, namun efek obat-obat itu hanya bereaksi sementara karena lambat laun ketika tubuhnya telah menyesuaikan diri dengan obat-obatan tersebut, penyakitnya kembali akan kambuh. Selain itu pemberian obat-obatan bukan tanpa efek samping, seringkali obat-obatan yang diminumnya mengakibatkan tubuhnya gemetaran, tenggorokannya terbakar, dll. Selain itu cara yang paling ekstrim dengan memberikan terapi kejutan listrik pun sudah dialaminya. Namun semua itu tak menyembuhkannya hingga akhirnya Lori terjerat dalam penggunaan Narkoba. Baginya Narkoba adalah cara yang paling efektif untuk menghalau suara-suara itu dalam kepalanya.

Beruntung Lori mendapatkan penanganan yang baik, walau berulangkali mencoba menghabisi nyawanya sendiri dan harus keluar masuk beberapa rumah sakit, hal ini tak membuat putus asa kedua orang tua dan psikiater yang menganganinya. Di New York Hospital, White Plains, Lori mendapat penanganan dari Dr. Fischer dan Dr. Doller. Melalui kedua psikiater ini Lori mendapat penangan yang ‘lain’, tak hanya memfokuskan pada penggunaan obat-obatan melainkan melalui sentuhan personal dan lebih berkonsentrasi pada upaya mengetahui apa yang ada di kepala Lori.

Lambat laun Lori mampu mengenali masalahnya, untuk kemudian menghentikannya. Ketika pada akhirnya dia mengetahui bahwa dirinya sakit, dia tidak membiarkan apa pun menghalangi niatnya untuk sembuh.

Di banding buku-buku lain yang bertema skizofren seperti "Mereka Bilang aku Gila – Ken Steele & Claire Berman (Qanita 2004) atau A Beautiful Mind – Sylvia Nashar (GPU,2005) yang hanya mengupas memoar seorang penderita skizofren dari sisi penderitanya, buku The Voice of Demons (Suara-suara Iblis) ini bisa terbilang istimewa. Selain mengungkap derita-derita dan perjuangan yang dialami oleh si penderita Skizofren yang diwakili oleh Lori. Buku ini memuat pula pandangan-pandangan dari orang-orang yang bersinggungan secara langsung dengan Lori.

Kisah dalam buku ini selain diceritakan oleh Lori sendiri, juga dicertiakan secara langsung oleh Marvin & Nancy Schiler (ayah & ibu Lori), Steven & Mark Schiler (adik2 Lori), Lori Winters (teman sekamar Lori), dan Dr. Jane Doller (psikiater Lori).
Dari sudut pandang Marvin & Nancy schiller, pembaca akan merasakan bagaimana galaunya perasaan orang tua Lori dalam menerima kenyataan pahit harus memiliki seorang anak penderita Skiizofrenia, padahal sebelum sakit Lori adalah anak yang sangat dibanggakannya. Bagi Marvin yang pernah menjalani pendidikan sebagai seorang psikiater tentu saja sangat memukul perasaannya. Apalagi saat itu masih berkembang anggapan bahwa penyakit jiwa diakibatkan oleh pola asuh yang salah dari orang tua terhadap anaknya. Dari sudut pandang Steven & Mark Schiler akan terungkap bagaimana perasaan mereka memiliki seorang kakak yang harus dirawat di rumah sakit jiwa, hal ini berpengaruh pada Steven yang enam tahun lebih muda dari Lori, diam-diam ia merasa takut jika apa yang dialami Lori juga kelak akan menimpa dirinya.

Dari sudut pandang Lori Winters selaku teman sekamar Lori Schiler ketika Lori belum didiagnosis sebagai penderita Skrizofrenia, akan terungkap bagaimana awal dari keanehan-keanehan jiwa Lori yang tidak stabil. Ketika masih sekamar dengan Lori Winter-lah Lori Schiller pertama kali melakukan usaha bunuh dirinya.

Yang tak kalah menarik adalah bab yang diceritakan oleh Dr. Jane Doller. Di bab ini pembaca akan memperoleh pengetahuan mengenai skrizofren beserta tahap-tahap penderitaan dan penanganannya. Juga akan diungkap bagaimana dan apa alasan Dr. Doller dalam melakukan pendekatan baru pada Lori dalam menyembuhkan dirinya dari Skizofren.

Walau buku ini terdiri dari beberapa penutur, penempatan siapa yang menuturkan cerita di setiap bab-nya tampaknya disusun mengikuti alur cerita yang berkesinambungan sehingga terkesan mengalir dan tak membingungkan pembacanya. Malah dengan adanya beberapa penutur dalam buku ini membuat buku ini menjadi buku yang lengkap dalam mengungkap penderitaan seorang penderita Skriizofen karena pembaca dapat melihatnya dari berbagai sudut pandang. Tampaknya peran Amanda Bennett sebagai editor dalam buku ini memegang peranan penting.

Lori dalam kisah ini termasuk satu diantara mereka yang menderita skrizofrenia, gangguan kejiwaan ini semakin lama semakin meningkat jumlahnya. Sebuah penelitian di tahun 2000-an mengungkap bahwa di Indonesia saja ada sekitar 2.5 juta penderita skrizofenia, itu pun yang tercatat, tentunya angka ini lebih kecil dari kenyataannya karena umumnya banyak yang menutup-nutupi jika ada salah satu anggota keluarganya yang mengidap skriizofenia.

Lori beruntung mendapat dukungan dari orang tua yang mencintainya, kepedulian dari rumah sakit, dan tersedianya perawatan yang terbaik. Tak semua penderita skrizofrenia di Indonesia mendapat kesempatan pengobatan yang sama dengan Lori. Alih-alih mendapat perawatan yang baik mereka umumnya dikucilkan, diasingkan, dipenjara, bahkan dipasung dalam rumahnya sendiri.

Untuk itu kehadiran buku ini setidaknya memberikan pesan penting bagi pembacanya. Untuk para ahli jiwa dan dokter, ini merupakan suatu contoh bagaimana para dokter sebaiknya untuk melihat ke dalam dunia penderita penyakit jiwa melalui sentuhan personal, dunia yang terkadang dilupakan oleh para dokter karena terlalu beroientasi pada pengobatan secara medis melalui obat-obatan psikotik.

Untuk para orang tua yang anak-anaknya mungkin menderita skrizofren buku ini memberikan pengertian bagi mereka akan bagaimana memahami perasaan seorang anak yang begitu menderita karena penyakitnya.

Sedangkan bagi penderita sendiri, kisah Lori memberikan sekilas pandangan adanya kemungkinan dan kesempatan yang sama untuk mengatasi penyakit mereka seperti halnya Lori.

Dan akhirnya untuk kita semua, seperti yang diungkapkan oleh DR. Jane Doller, M.D dalam kata pengantarnya, kisah Lori merupakan kisah perjalanan pribadi yang menggugah hati. Bukan hanya cerita tentang penyakit jiwa, tetapi cerita tentang manusia, kisah tentang ketetapan hati, keberanian dan harapan.

@h_tanzil
Read more »

Minggu, 01 Oktober 2006

1421 - Saat China Menemukan Dunia


Judul : 1421 - Saat China Menemukan Dunia
Penulis : Gavin Menzies
Penerjemah : Tufel Najib Musyadad
Penerbit : Pustaka Alvabet
Cetakan : I, Juli 2006
Tebal : 524 hlm 15x23 cm
Harga : Rp. 75.000,-

Sang Kaisar telah memerintahkan kami [Cheng Ho] dan lainnya [Zhao Man, Hong Bao, Zhou Wen, dam Yan Qing] di depan puluhan ribu pejabat dan tentara kekaisaran untuk melakukan perjalanan menggunakan lebih dari seratus kapal…untuk memperlakukan orang-orang asing dengan baik … Kami telah pergi ke wilayah-wilayah barat … total semuanya lebih dari tiga ribu negara besar dan kecil. Kami telah melewati lebih dari seratus ribu li (empat puluh mil laut) perairan luas.

- Prasasasti Cheng Ho di muara Yangtzhe – China –


Sejarah eksplorasi dunia mencatat bahwa pelaut-pelaut Eropalah yang menemukan dunia baru. Kisah perjalanan mereka selalu dikenang, dimulai dari Bartolomeu Diaz (1450-1500) yang meninggalkan Portugal pada tahun 1487 dan menjadi orang pertama yang mengelilingi Tanjung Harapan di ujung Selatan Afrika. Vasco Da Gama (1469-1525) mengikuti jalur Diaz sepuluh tahun kemudian. Ia mengarungi lautan timur Afrika dan menyeberang Samudera Hindia menuju India, membuka jalur perdagangan rempah-rempah melalui laut. Dan yang paling populer, Christopher Columbus (1451-1506), sejarah mencatat bahwa dialah orang yang pertama melihat Dunia Baru – Benua Amerika. Lalu mucullah Ferdinand Magellan (1480-1521) mengikuti jejak Columbus dan dikenal karena menemukan selat antara lautan Atlantik dan Pasifik yang kemudian dikenal dengan selat Magellan.

Lima belas tahun yang lalu, Gavin Manzies (69 thn), mantan perwira Angkatan Laut Kerajaan Inggris tengah melakukan riset mengenai sejarah abad pertengahan. Secara kebetulan ia mendapati sebuah hasil temuan yang sangat mengagumkan, sebuah petunjuk tersembunyi di dalam sebuah peta kuno. Peta tersebut bertuliskan tahun 1424 dan ditandatangani oleh seorang pembuat peta dari Venezia bernama Zuane Pizzigano. Peta tersebut memperlihatkan beberapa buah pulau yang baru saja ditemukan oleh pembuatnya yang ternyata merupakan pulau-pulau di kepulaun Karibia, Puerto Rico dan Guedepole. Hal ini mengejutkannya karena berarti seseorang telah menjelajah kepulauan tersebut sekitar tujuh puluh tahun sebelum Columbus singgah di Karibia. Ini temuan baru, sebelum Columbus sudah ada yang terlebih dahulu menemukan Dunia Baru. Siapa yang melakukan pernjelajahan sebelum Columbus ? Berdasarkan riset awalnya terhadap peta tersebut, Mandiez mengambil satu kesimpulan awal bahwa saat itu hanya satu negara dengan segala perlengkapan dan pengetahuannya ilmiah yang tinggi yang dapat melakukan penjelahan tersebut. Negara tersebut adalah China.

Mandiez tak berhenti dengan meneliti peta Pizzigano, berbekal pengetahuannya mengenai masa Peradaban Yang Agung, ia menghabiskan bertahun-tahun mengelilingi dunia di jalur perjalanan armada China abad ke 15. Ia meneliti arsip, museum, dan perpustakaan, mengunjungi monumen kuno, kastil, istana, dan pelabuhan besar pada akhir Abad Pertengahan, mengesplorasi tanjung berbatu, karang koral, pantai dan pulau terpencil. Ke mana pun ia pergi, ia menemukan semakin banyak bukti fisik berupa porselen China, sutera, artefak, batu pahatan, tanaman yang berasal dari China yang tersebar di pantai Afrika, Amerika, Australia dan Selandia Baru yang akan memperkuat tesisnya bahwa China lah yang menemukan Dunia Baru!

Walau hingga kini risetnya masih terus berlangsung dan berbagai temuan baru masih ia peroleh, pada tahun 2002 Mandiez medokumentasikan tesisnya yang memutar balikkan sejarah tersebut kedalam sebuah buku yang mencengangkan dunia : 1421: The Years China Discovered The World.

Kini, empat tahun setelah bukunya diterbitkan, penerbit Alvabet menerjemahkannya dengan judul 1421 : Saat China Menemukan Dunia. Secara sistematis buku ini mengulas bagaimana China di abad ke 15 yang telah memiliki pengetahuan navigasi yang luas memulai penjelajahannya mengelilingi dunia.

Buku ini dibagi kedalam tujuh bab besar yang masing-masing berjudul : Kekaisaran China, Bintang-bintang Petunjuk, Pelayaran Hong Bao, Pelayaran Zhou Man, Pelayaran Zhou Wen, Pelayaran Yang Qing, dan, Portugal Mewarisi Tahta.

Pada bab Kekaisaran China dan Bintang-bintang Petunjuk, secara rinci dijelaskan bagaimana latar belakang Zhu Di, putra keempat Zhu Yuanzhang – yang tumbuh menjadi kaisar Ming pertama., dan bagaimana Zhu Di merebut Nanjing Ibukota kekaisaran dari tangan kaisar Zhu Yunwen yang hendak membunuhnya. Setelah berhasil menduduki Istana Naga, ia memroklamirkan dirinya sebagai kaisar dengan menggunakan gelar dinasti Yong Le. Cheng Ho seorang kasim yang sebelumnya merupakan penasehat tredekat Zhu Di kini menjadi salah satu kasim yang berada dalam lingkaran dalam kekaisaran. Di era kaisar Zhu Yunwen, kelompok kasim merupakan kelompok yang terpinggirkan, kini di era Zhu Di kaum kasim menjadi salah satu kekuatan politik China, dan tokoh yang paling berkuasa dari semua itu adalah Kasim Agung, Cheng Ho

Oleh Zhu Di, Ceng Ho dijadikan kepala komandan salah satu armada perang. Ia diperintahkan untuk melipatgandakan ukuran galangan kapal Longjiang, dekat Nanjing. Tujuan Zhu Di adalah untuk menciptakan apa yang telah gagal diraih oleh Kubilai Khan : Kerajaan Maritim yang merentang samudera.

Untuk mewujudkan ambisinya Zhu Di menyiapkan ribuan kapal baru. Kapal-kapal ini akan berlayar menuju samudera dunia dan menggambarnya, mengesankan sekaligus mengintimidasi para penguasa asing, membawa seisi dunia ke dalam ‘sistem upeti’ China. Selain itu Zhu Di juga memindahkan ibukota China dari Nanjing ke Beijing. Ia membangun Kota Terlarang yang pada saat pembukannya diperingati secara besar-besaran dan mengundang para duta besar dari berbagai negara.

Beberapa bulan kemudian, pada 3 Maret 1421, sebuah upacara besar digelar kembali untuk mengantar keberangkatan para duta besar ke negara asalnya. Lima Armada besar telah disiapkan oleh Cheng Ho untuk membawa para tamu itu ke negaranya masing-masing. Kembalinya para duta besar ke negeri asal mereka masing-masing hanyalah salah satu dari bagian dari seluruh misi armada itu. Kelak armada itu akan melanjutkan mengarungi lautan menuju ujung dunia untuk mengumpulkan upeti dari kaum Barbar yang berada di seberang lautan, menarik semua yang berada di bawah langit untuk hidup bermasyarakat dalam kerukunan ajaran Confusius (hal 33). Dan ini terjadi 70 tahun sebelum Columbus mengarungi samudera.

Selanjutnya buku ini secara berturut-tutur membahas pelayaran Hong Bao, Zhou Man, Zhou Wen dan Yang Qing. Armada Hong Bao dan Zhao Man berlayar dengan mengambil jalur arus khatulistiwa barat daya menuju Amerika Selatan. Sesampai di kepualauan Fakland Hong Bao bergerak menuju menuju Antartika dan Australia, sementara armada Zhou Man menjelajahi wilayah Barat Amerika Selatan menuju Australia dan sampai di kepulauan rempah-rempah di Asia Tenggara yang terletak antara Australia dan China.

Sementara itu Armada Zhou Wen yang mengambil jalur ke barat daya laut mengikuti arus khatulistiwa utara hingga akhirnya tiba di Kepulauan Tanjung Verde, menuju Karibia, pesisir Timur Florida hingga Amerika Utara, dan menuju Kutub Utara dengan mengelilingi Greenland.

Armada Yang Qing yang telah meniggalkan Beijing satu bulan lebih awal dari armada lainnya, menghabiskan seluruh pelayarannya di perairan Samudera Hindia dan berdagang dengan negara-negara di wilayah sekitarnya. Namun bukan berarti palayaran Yang Qing kalah pamor dibanding armada lainnya. Selain sukses berdagang, di akhir pelayarannya orang-orangnya berhasil menyempurnakan metode menentukan garis bujur lebih dari dari tiga abad sebelum penemuan kronometer oleh John Harisson.

Pada Bab terakhir yang berjudul Portugal Mewarisi Tahta, terungkap bahwa pelaut-pelaut Portugal yang menyusuri dunia ternyata telah memiliki peta yang dibuat oleh pelaut-pelaut China. Dengan peta China sebagai pemandu, maka tak ada tempat yang tak bisa dilalui oleh para kapten kapal laut Portugis, dan bagi mereka menjelajah batas-batas dunia hanyalah masalah waktu saja.

Buku ini memang sangat komprehensif dalam mengungkap siapa sebenarnya yang telebih dahulu menjelajahi dunia. Pengalaman Menzies sebagai marinir Angkatan Laut Kerajaan Inggris yang terbiasa dengan peta, navigasi, arah angin, dan arah bintang sebagai petunjuk memudahkan dirinya untuk menelusuri jejak-jejak armada China baik melalui peta-peta kuno maupun bukti-bukti yang ia peroleh dalam perjalanan dan risetnya.

Bukan hal yang mudah bagi Menzies untuk melakukan risetnya ini. Seperti diungkap dalam buku ini banyak bukti tertulis pelayaran penjelajahan bangsa China telah hilang atau dimusnahkan secara sengaja ketika kaisar Zhu di mangkat dan digantikan oleh putranya. Kebijakan politik yang berbeda dengan Zhu Di menyebabkan warisan Zhu Di, Ceng Ho berupa arsip-arsip, catatan perjalanan, dll dirampas dan dihancurkan oleh penguasa baru

Bukti resmi tertulis yang dimiliki China sebagian besar telah lenyap, namun pelayaran armada-armada China di abad 15 meninggalkan warisan berharga di tiap daerah yang dikunjunginya. Berbagai bukti warisan pelayaran China tersebut terungkap secara mendalam dan rinci dalam buku ini, misalnya satu bukti yang bisa disaksikan dimana-mana : tanaman dan binatang yang dibawa oleh armada China menuju kepualauan baru, juga tanaman dan binatang yang dibawa kembali ke China.

Selain itu beberapa artefak, prasasti, bangkai kapal China yang terdapat di pesisir Amerika Selatan, Australia, Kepulauan Pasifik menjadi saksi bisu tentang kedatangan armada China ke pulau-pulau tersebut. Lalu ditambah lagi legenda yang mengisahkan kedatangan orang-orang berkulit kuning yang menggenakan jubah panjang di kalangan suku Aborigin juga menjadi saksi kedatangan bangsa China jauh sebelum bangsa Eropa sampai di Australia.

Buku ini dilengkap pula dengan Catatan Tambahan yang memuat temuan-temuan terbaru mengenai ekspedisi China ke berbagai negara di dunia, antara lain hasil tes DNA terhadap suku Indian Sioux dan Cree Ojibwa di wilayah Wiscosin Amerika ternyata memiliki DNA China!. Selain catatan tambahan, di bagian akhir buku ini juga memuat lampiran ringkasan Bukti setebal 84 halaman yang berisi ribuan bukti-bukti primer dan sekunder yang menunjukkan bahwa China lah yang membuka jalan bagi penjelajahan dunia.

Buku yang ditulis dengan mendetail ini memang menarik untuk dibaca. Di setiap lembar halamannya pembaca akan diajak menyelami bukti-bukti yang menegaskan kedatangan bangsa China ke berbagai penjuru dunia, hanya saja bagi pembaca awam yang asing dnegan istilah-istilah navigasi, peta, arah angin, dan letak-letak garis lintang dan bujur dalam menentukan arah pelayaran, beberapa bagian dalam buku ini mungkin menjadi sangat membosankan.

Publik Indonesia patut bersyukur dengan diterjemahkannya buku ini. Seperti kita ketahui Indonesia memiliki persinggungan sejarah dan budaya dengan Cheng Ho, bahkan di Semarang terdapat sebuah kuil yang didirikan khusus untuk menghormatinya. Tentunya buku ini layak dijadikan buku referensi bagi mereka yang hendak melakukan riset mengani sejarah eksplorasi dunia dan memberikan fakta baru mengenai siapa sesungguhnya penemu dunia Baru, Columbus kah, atau Laksamana-laksamana China di bawah komando Cheng Ho?

Yang pasti buku ini akan menjadi sebuah karya legendaris dan cerdas yang melacak sejarah hingga mengubah pemahaman kita tentang penjelajahan dunia. Dengan buku ini, sejarah telah ditulis ulang.


@h_tanzil
Read more »

Minggu, 24 September 2006

The Namesake


Judul : The Namesake
(Makna Sebuah Nama)
Penulis : Jhumpa Lahiri
Penerjemah : Gita Yuliani K
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Agustus 2006
Tebal : 336 hlm; 23 cm
Harga : Rp. 42.000,-


The Namesake, sebuah kisah menarik yang mengambil tema besar persoalan identitas. Novel ini mengisahkan kehidupan dua generasi keluarga Benggali yang bermukin di Amerika Serikat. Generasi pertama diwakili oleh pasangan Ashoke Gangali dan Ashima, generasi kedua diwakili oleh anak pertama mereka, Gogol. Kisahnya membentang sepanjang tiga dekade, sejak tahun 1968 hingga 2000.

Novel ini dibuka dengan peristiwa-peristiwa menjelang kelahiran anak pertama pasangan Ashoke dan Ashima Gangali di Amerika Serikat. Sesuai dengan tradisi keluarga, nenek Ashimalah yang akan memberi nama pada bayi mereka, karenanya mereka sepakat untuk menunda memberi nama bayi hingga surat sang nenek yang berada di Calluta datang. Nenek Ashima mengeposkan suratnya sendiri. Surat itu berisi satu nama bayi laki-laki, satu nama bayi perempuan. Tak seorangpun tahu apa yang ditulis oleh sang Nenek.

Malangnya ketika Ashima sudah melahirkan, surat berisi nama bayi itu belum mereka terima. Bahkan hingga tiba saat Ashima dan bayinya harus dibawa pulang ke rumah, surat berisi nama pemberian tersebut tidak pernah datang. Hingga Nenek Ashima hilang ingatan dan meninggal dunia, surat tersebut tak pernah sampai.

Keharusan untuk memberi nama bayi sebelum pulang oleh petugas catatan sipil di rumah sakit tiba-tiba dalam benak Ashoke muncul sebuah nama untuk putranya. “Gogol”.
Seketika itu juga dicatatlah bayi pasangan Ashoke dan Ashima dengan nama Gogol Ganguli , nama yang aneh dan tak lazim bagi keluarga Bengali.

Sebenarnya bukan tanpa alasan Ashoke memberi nama Gogol pada anaknya, nama ini dipilihnya karena ada dua hal bersejarah dalam hidupnya. Pertama, Gogol adalah kependekan dari Nikolai Gogol, pengarang Rusia yang amat dikaguminya. Kedua, nama itu mengingatkan dirinya akan sebuah trauma bagi Ashoke yang kelak akan mengubah jalan hidupnya.

Di usianya yang ke 22 Ashoke mengalami kecelakaan kereta api yang menyebabkan dirinya hampir mati. Tubuhnya yang terhimpit diantara mayat-mayat korban kecelakaan kereta nyaris tak tertolong jika saja ia tak sedang memegang robekan buku kumpulan cerpen Nikolai Gogol yang sedang ia baca. Regu penolong menemukan dirinya ketika ia sedang melambai-lambaikan tangannya bersama robekan buku tersebut.

Nyawanya tertolong, walau kakinya menjadi cacat dan meninggalkan trauma yang dalam pada dirinya. Setelah sembuh dari sakitnya, Ashoke terinpirasi oleh Nikolai Gogol yang berkelana ke Eropa hinga Palestina dalam upaya mencari jati diri. Ia pun berkelana menuju Amerika untuk menyembuhkan trauma akibat kecelakaan yang hampir merengut nyawanya.

Keputusannya untuk pergi ke AS memang mengubah jalan hidupnya. Dan dari sinilah kisah ini mengalir antara Cambridge, Boston, New York, dan Calcutta. Ashoke menikah dengan Ashima dan memiliki dua orang anak, Gogol dan Sonia.

Kelak ketika sudah mulai dewasa Gogol membenci namanya. Baginya namanya aneh, absurd, dan sama sekali bukan nama Amerika apalagi India. Ia tahu bahwa namanya terinspirasi dari nama salah seorang penulis Rusia, namun ia menyesalkan mengapa ayahnya tidak memberinya nama depan penulis Rusia lain seperti Anton atau Leo. Kekecewaan terhadap namanya bertambah ketika ia mengetahui riwayat hidup Nikolai Gogol yang akhirnya depresi dan sakit jiwa hingga meninggalnya. Ketika ayahnya menjelaskan bahwa dirinya pernah diselamatkan oleh buku karya penulis Rusa itu, cerita itu tak membuat Gogol menyukai namanya.

Nama Gogol yang dibencinya itu disandangnya sebagai nama panggilan dan nama resmi di berbagai dokumen penting. Sesaat sebelum memasuki bangku kuliah, atas seijin orang tuanya, Gogol mengajukan permohonan untuk mengganti nama resminya dari Gogol menjadi Nikhil. Nama Nikhil ini pernah diberikan ayahnya ketika ia mendaftarkan Gogol ke TK. Bagi Gogol nama Nikhil lebih terdengar umum karena bisa dipanggil “Nick”, nama yang umum di Amerika. Semenjak itu namanya resmi menjadi Nikhil dan mulailah Gogol menjalani kehidupannya dengan nama barunya.

Berbagai peristiwa yang dialami Gogol terungkap dalam novel ini, konflik-konflik bermunculan ketika ia mulai berkencan dengan beberapa teman wanitanya. Selain konflik batin dengan dirinya sendiri dan pasangannya yang selalu berakhir dengan kegagalan, hubungan Gogol dan keluarganya juga menjadi jauh hingga akhirnya kematian Ashoke mendekatkan kembali dirinya dengan keluarganya. Rangkaian peristiwa-peristiwa ini kelak akan membentuk Gogol, mengubahnya, dan menentukan siapa dirinya sesungguhnya.

Walau tokoh utama dalam novel ini adalah Gogol, kehadiran tokoh-tokoh lain seperti Ashoke, Ashima, Sonia, Moushomi, dll, disajikan sesuai dengan porsinya masing-masing sesuai dengan tuntutan cerita. Perpindahan cerita dari satu tokoh ke tokoh lainnya pun tersaji dengan lancar sehingga tak membingungkan pembacanya. Selain itu kedalaman dalam mendeskripsikan satu persatu tokoh-tokoh dalam novel ini baik fisik maupun pikiran mereka, ditambah infromasi mengenai budaya masyarakat India di Amerika membuat kisah ini menjadi kaya akan informasi.

Melalui novel ini juga pembaca seakan diajak menyelami kehidupan keluarga imigran India di AS. Walau sudah tinggal dan menetap sekain lama di Amerika mereka tetap melakukan ritual sehari-hari yang biasa mereka lakukan di tanah kelahiran mereka, begitu pula dengan tradisi tahunan yang berlatarkan agama Hindu. Hal-hal tersebut kerap dilakukan oleh masyarakat Bengali yang lahir di India dan menetap di Amerika seperti halnya Ashoke dan Ashima. Mulai dari pakaian Ashima yang selalu mengenakan sari, memasak makanan India, pertemuan rutin sesama keluarga Bengali, dll. Dengan demikian, walau mereka sudah berwarga negara Amerika akar budaya India tetap melekat dalam diri mereka.

Tidak demikian halnya dengan generasi pertama India yang lahir dan besar di Amerika seperti halnya Gogol. Dalam novel ini Gogol dikatakan sebagai salah satu di antara banyak orang India beridentitas ganda di Amerika yang dijuluki ABCD (American Born Confused or Conflicted). Walau kultur India mau tak mau melekat dalam darahnya, Gogol merasa bahwa ia orang Amerika, perilakunya baik dalam sekolah, mencari hiburan, maupun mencari teman kencan, semua menunjukkan bahwa ia memang orang Amerika. India hanya dikenal sebagai tanah leluhur lewat makanan, tradisi yang dilakukan oleh kedua orang tuanya dan kunjungannya beberapa kali ke Callcuta.

Melalui Gogol maka Ashoke dan Ashima melihat bagaimana benturan-benturan budaya harus mereka hadapi, Gogol yang hidup dalam ke-Amerikaannya selalu menjaga jarak dari asal-usulnya, untunglah orang tuanya selalu berupaya menjembatani jarak tersebut sebaik mungkin.

Sebenarnya tema dan alur cerita dalam novel ini sangatlah sederhana dan tak berbelit-belit. Semua mengalir dengan lancar, tak ada plot yang mengagetkan, nyaris tak ada klimaks. Semua peristiwa demi peristiwa tersaji wajar dan mengalir bergitu saja. Walau banyak terdapat kilas balik di tengah-tengah cerita namun perpindahannya tersaji secara tepat sehingga tidak mengganggu keasyikan membaca.

Novel ini sepertinya dibuat untuk memberikan kenikmatan membaca novel pada para pembacanya. Tak ada kalimat-kalimat rumit atau metafora-metafora yang berlebihan, semua disajikan dengan gaya bercerita yang sederhana namun kaya akan detail yang membuat pembacanya merasa sangat ‘dekat’ dengan apa yang diungkap oleh novel ini. Walau bukan bacaan ‘berat’ novel ini tetap memiliki bobot sastra.

Dari segi terjemahan tampaknya novel ini diterjemahkan dengan baik sehingga kekuatan dan kekhasan penulis dalam merangkai dan mendeskripsikan cerita dapat pula dirasakan melalui terjemahan novel ini.

The Namsake memang tak meraih penghargaan apapun dalam bidang sastra, namun bukan berarti novel ini tak terdengar gaungnya, buku ini sempat berada pada jajaran buku best seller di The New York Times selama beberapa minggu. Kabarnya novel ini tengah dibuat filmnya dan akan dirilis pada Maret 2007 di Amerika Serikat dan Inggris.




@h_tanzil
Read more »

Jumat, 15 September 2006

Hana's Suitcase


Judul : Hana’s Suitcase
Penulis : Karen Levine
Penerjemah : Yohan Rahmat Santosa
Penerbit : Kanisius
Cetakan : I, 2006
Tebal : 143 hal
Harga : Rp. 20.000,-


Hana Brady, namanya tak seterkenal Anne Frank, namun nasib yang dialaminya tak jauh berbeda dengan penulis buku harian paling terkenal di dunia itu. Nama Hana Brady mungkin akan terlupakan selamanya jika saja di tahun 2000 Fumiko Ishioka, seorang guru dan koordinator pusat studi Tokyo Holocaust Center tidak meminta pada museum Auschwitz untuk meminjam artrefak milik anak-anak Yahudi korban pembantaian Nazi pada saat Perang Dunia II. Melalui artefak itu Fumiko ingin agar anak-anak di Jepang lebih memahami cerita tentang pembantaian jutaan anak Yahudi yang terjadi lebih dari lima puluh tahun yang lalu.

Beberapa bulan kemudian, sebuah paket dari Museum Auschwtiz tiba di Jepang, Fumiko menerima sepasang kaus kaki dan sepatu anak-anak, baju hangat anak-anak, sebuah kaleng gas beracun, dan sebuah kopor. Kopor itu satu-satunya barang yang memberikan petunjuk nama pemiliknya. Pada kopor tersebut tertulis nama Hanna Brady lengkap dengan tanggal lahir dan kalimat “Waisenkind” yang berarti ‘yatim piatu’.

Kopor Hana ini rupanya membuat Fumiko dan kelompok anak-kanak didiknya yang bernama Small Wings tergerak untuk mengetahui lebih banyak tentang anak perempuan pemilik kopor tersebut.

Hana Brady, si pemilik kopor tidak seperti Anne Frank yang mencatat semua pengalaman-pengalamannya dalam buku harian, karenanya perlu kerja keras dari Fumiko untuk menelusuri jejak Hana Bardy hingga ke Eropa dan Amerika Utara.

Usaha Fumiko tak sia-sia, Misteri kopor itu membawanya kembali ke waktu tujuh puluh tahun silam, pada Hana kecil dan keluarganya yang kegembiraan hidupnya di sebuah kota kecil Cekoslovakia direngut oleh kedatangan tentara Nazi.

Keluarga Brady tinggal di Nove Mesto. Kota kecil di daerah perbukitan di negara Cekoslovakia. Hana tinggal bersama kakaknya Goerge dan kedua orang tuanya yang memiliki toko kelontong. Mereka hidup berkecukupan dan merupakan keluarga yang harmonis. Pada 15 Maret 1939, tentara Nazi memasuki sebagian daerah Cekozlovakia, dan kehidupan keluarga Brady pun berubah. Saat itu Hana baru berusia 8 tahun, sedangkan George, kakaknya berusia 11 tahun. Setelah kedatangan Nazi masa kana-kanak Hana tak seindah sebelumnya, berbagai larangan dan pembatasan bagi warga Yahudi membuat mereka tak bisa bersekolah dan bermain dengan bebasnya. Hal ini membuat Hana menjadi sedih.

Kesedihannya semakin bertambah ketika satu persatu orang-orang yang dikasihinya direngut dari dirinya, berawal dari Ibunya, ayahnya, dan terakhir George. Hana Brady berusia 11 tahun ketika ia dan George harus dideportasi dari kota kelahirannya menuju kamp Thereinstadt. Di kamp ini anak laki-laki harus dipisahkan dengan anak perempuan sehingga Hana harus berpisah dengan George, namun Hana masih bisa menemui kakaknya di sela-sela waktu bebasnya. Beberapa bulan kemudian George dipindahkan ke Auschwitz. Hana benar-benar merasa kehilangan satu-satunya kakak yang ia cintai sekaligus pelindungnya. Empat minggu kemudian di usianya yang ke 13, giliran Hana yang dideportasi menuju kamp maut Auschwitz.

Apakah Hana berhasil bertahan hidup dalam kamp maut itu ? Kelak George yang berhasil dihubungi Fumiko bahkan sempat berkunjung ke Tokyo Holocauts Center – Jepang akan menceritakan semuanya. Sehingga jati diri dan pengalaman hidup pemilik Kopor Hana akan terungkap dengan jelas.

Bab-bab dalam buku ini disajikan secara berselang-seling antara masa lalu dan masa kini. Satu bab menceritakan masa kecil Hana di Nove Mesto – Cekoslovakia hingga dideportasi ke Austwitz, bab berikutnya menceritakan usaha Fumiko dalam menelusuri jejak-jejak kehidupan Hana. Pembagian bab secara berselang-seling seperti ini memberikan kesempatan ‘bernafas’ bagi pembacanya agar tak terus terperangkap dalam masa lalu Hana yang pahit, penuh dengan suasana muram dan kesedihan

Pada bab-bab yang menceritakan masa lalu Hana, buku ini sebagian besar berisi pengalaman-pengalaman memilukan Hanna dan George, antara lain ketika Marketa, ibu mereka, diharuskan untuk menghadap ke markas Gestapo. Ini berarti ia tak bisa bertemu dengan suami dan anak-anaknya lagi dalam jangka waktu yang tak menentu. Kecintaannya pada Hana terungkap ketika malam sebelum dirinya harus pergi meninggalkan keluarganya. Malam itu ibu Hana menidurkan Hana dan memeluk Hana erat-erat. Ia mengelus-elus rambut Hana dengan jari-jarinya yang halus, seperti yang ia lakukan ketika Hana masih kecil. Lalu ia menyanyikan lagu kesukaaan Hana terus menerus hingga Hana tertidur. Hana tertidur dalam dekapan ibunya. Dan keesokan harinya ketika Hana bangun, ibunya telah pergi. (hal 50).

Pengalaman-pengalaman Hana selama dalam kamp tahanan Theresienstadt terungkap dengan jelas, hanya saja karena mungkin buku ini diperuntukkan bagi anak-anak, maka gambaran penyiksaan dan penderitaan yang dialami oleh Hana dan anak-anak Yahudi lain tidak diungkap secara jelas, sebagai gantinya buku ini lebih mengeksplorasi perasaan kesedihan dan keadaan jiwa Hana selama dalam kamp tahanan.

Selain pengalaman-pengalaman Hana yang menyentuh, buku ini mengungkap pula hal-hal yang membuat Hana dan kawan-kawannya sedikit terhibur, antara lain ketika mereka akhirnya bisa belajar menggambar dan menyanyi untuk sejenak melupakan kesedihan mereka.


Ketika akhirnya Hana dipindahkan dari kamp Theresiendstad menuju Auschwitz, ada sebersit harapan bagi dirinya untuk bertemu dengan George yang telah lebih dulu berada disana. Sesampai di Auschwitz Hana melihat pemandangan yang memilukan, di bawah ancaman anjing-anjing besar yang buas dan di bawah pengawasan beberapa petugas yang tidak berseragam. Hana dan teman-temannya berbaris melewati barak yang luas dan melihat para tahanan yang mengenakan seragam bergaris-garis yang wajahnya sudah seperti tengkorak. Mereka diperintahkan untuk memasuki sebuah bangunan yang besar. Setelah mereka masuk, pintu ditutup dengan keras. (108). Sampai di sini episode kehidupan Hana diceritakan dalam buku ini.

Bab-bab yang menceritakan perjuangan Fumiko untuk memperoleh keterangan mengenai Hanna, tak kalah menariknya. Berbagai hambatan harus ditemuinya sebelum ia memperoleh petunjuk siapa sebenarnya dan bagaimana kehidupan Hana sebelum dan setelah berada dalam kamp tahanan. Fumiko hampir saja menyerah ketika ia menemui jalan buntu. Untunglah berkat kegigihannya, bagaikan menyusun sebuah puzzle, Fumiko akhirnya bisa memperoleh keterangan yang utuh, bahkan bisa bertemu dengan George, kakak Hana yang kelak akan menceritakan kisah dirinya dan Hana pada Fumiko.

Plot kisah Hana dalam buku ini tersaji secara cepat, kalimat-kalimatnya ditulis secara sederhana sehingga tak menyulitkan anak-anak/remaja yang membaca buku ini. Selain itu buku ini juga dilengkapi oleh puluhan foto hitam putih Hana beserta keluarganya, foto kopor Hana, gambar-gambar yang dibuat oleh Hana selama dalam kamp tahanan, dan dokumen-dokumen yang dibuat oleh Nazi. Selain itu foto-foto Fumiko dan kegiatan anak-anak didiknya juga turut menghiasi buku ini.

Buku yang menceritakan kisah nyata penderitaan anak-anak akibat kedkatatoran Nazi, yang diwakili oleh Hana ini ditulis oleh Karen Levine, seorang produser acara-acara dokumenter di sebuah radio di Kanada. Ia tertarik pada cerita kopor Hana ketika membaca sebuah artikel yang dibuat oleh Paul Lungen dari Canadian Jewish Nesh. Cerita itu sangat menyentuh hatinya sehingga ia bertekad untuk membuat siaran dokumenter di radionya. Dan hasilnya, Hana’s Suitcase disiarkan di CBC radio One pada bulan Januari 2001. Karena mendapat sambutan hangat dari pendengarnya, akhirnya Levine membukukan kisah kopor Hana. Sama seperti program radionya, buku yang diberi judul Hana’s Suitcase ini mendapat respon yang baik dari pembacanya. Buku ini juga memperoleh beberapa penghargaan antara lain “Book ot The Year” untuk buku anak-anak dari Canadian Library Asociaton, Silver Birch dari Ontario Library Asociaton, dll.

Kini Hana’s Suitcase diterjemahkan dengan judul yang sama dengan buku aslinya. Sangat mungkin buku ini merupakan buku pertama yang diterbitkan di Indonesia yang bertema Holocaust yang diperuntukkan bagi pembaca remaja. Tentunya diharapkan kisah yang sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan seperti simpati, toleransi, menghargai kehidupan, dan betapa memilukan nasib manusia jika kekuasaan jatuh di tangan orang-orang yang tak berhati dapat terbaca oleh anak-anak remaja.

Tak ada kata lain, buku ini sebuah bacaan yang baik untuk dibaca oleh kita dan anak-anak kita. Kisah dalam buku ini adalah sebuah pengingat akan kebrutalan masa lalu dan harapan untuk masa depan.

@h_tanzil
Read more »

Jumat, 08 September 2006

Betsy dan Sang Kaisar


Judul : Betsy and The Emperor
(Betsy dan Sang Kaisar)
Penulis : Staton Robin
Penerjemah : Donna Widjajanto
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 269 hal
Genre : Teen-lit
Harga : Rp. 25.000,-


Napoleon Bonaparte, namanya tercatat di semua buku-buku sejarah dunia. Setelah ratusan tahun lamanya Perancis dipimpin oleh raja-raja, Napoleon Bonaparte merupakan pemimipin Perancis pertama yang bergelar Kaisar, ia memerintah pada tahun 1804-1814 dan 1815. Pada masa jayanya, Napoleon Bonaparte mungkin salah satu pemimpi paling besar sepanjang sejarah manusia. Melalui karismanya yang disertai kerja keras dan ambisi gilanya, ia bertekad untuk mewujudkan mimpinya untuk menguasai seluruh Eropa. Mimpinya hampir saja terwujud, seluruh dataran Eropa hampir saja dikuasainya baik dengan diplomasi maupun peperangan. Sayang kekalahannya di Waterloo melawan pasukan Inggris yang dipimpin oleh Duke of Wellington membuat ambisinya terhenti sekaligus mengakhiri kariernya sebagai Kaisar Perancis. Napoleon ditangkap dan diasingkan ke pulau terpencil St. Helena. (1815)



Betsy Balcombe, gadis tomboy berusia empat belas tahun, badung, memiliki jiwa yang bebas, pemberontak dan gemar berpetualang. Ia tinggal di 'The Briars', yang letaknya beberapa mil dari Jamestown- ibukota St Helena bersama keluarganya, ayahnya seorang kepala penjualan East India Company.

Takdir sejarah mempertemukan Betsy dengan Napoleon Bonaparte. Karena rumah tahanan Napoleon di Longwood sedang diperbaiki, mantan Kaisar Perancis yang paling ditakuti dan dibenci di seluruh Eropa itu harus tinggal sementara di paviliun rumah keluarga Betsy. Awalnya Betsy tak menyukai kehadiran Sang Kaisar di rumahnya. Namun, siapa sangka, lambat laun Betsy dan Napoleon malah bersahabat. Kerapnya mereka bertemu dan bercakap-cakap membuat Betsy mulai mengagumi cara berpikir dan keberanian Napoleon. Belum lagi ditambah dengan kemampuan Napoleon dalam menganalisis apa yang ada dalam benak Betsy. Begitupun dengan Napoleon, ia merasa antara dirinya dengan Betsy memiliki banyak kesamaan “Saat aku membicarakan perasaanmu, aku sama saja membicarakan perasaanmu sendiri – saat seusiamu. Kau dan aku sangat mirip…” (hal 87).

Hal yang perlu dicatat, kedekatan dan persahabatan mereka bukanlah kedekatan asmara, melainkan kedekatan persahabatan antara dua orang yang ternyata memiliki berbagai kesamaan. Perbedaan usia yang cukup jauh (32 tahun) tak menghalangi persahabatan mereka. Mereka saling berukar pikiran, berkuda, bahkan bermain kartu bersama. Bahkan Betsy memanggil sang kaisar dengan panggilan akrabnya “Boney”

Kehadiran Betsy bagi Napoleon bagikan secerah sinar di tengah gelapnya episode kehidupannya yang harus dilaluinya. Bagaimana tidak, statusnya sebagai tahanan membuat Napoleon tidak bisa bergerak dengan bebas, setiap hari ia dijaga oleh dua ribu tentara inggris, ditambah satu kapal di perairan St Helena yang selalu berjaga-jaga agar Napoleon tidak melarikan diri lewat laut. Ruang geraknya dibatasi, bahkan iapun tak bisa menambah porsi makanannya sendiri.Namun keadaan ini tak menyurutkan mimpi dan harapan Napoleon. Ia begitu yakin, bahwa dirinya akan kembali bebas dan memerintah sebagai kaisar Perancis. Tekadnya ini menyulut semangat Betsy untuk mencari berbagai cara untuk membantu sang kaisar melarikan diri dari St. Helena. Apalagi kelak jika rumah tahanan di Longwood telah selesai dan Gubernur baru tiba, maka dipastikan keadaan Napoleon semakin buruk ruang geraknya akan semakin terbatas, segala kemewahan yang selama ini diperoleh di The Brairs tak mungkin lagi diperolehnya Berhasilkan Betsy membantu Napoleon melarikan diri ? Sejarah telah mencatat bagaimana dan dimana akhirnya mimpi dan ambisi Napoleon harus berakhir

Di Amerika, novel ini dikategorikan sebagai Historical fiction bagi pembaca “Young Adult”. Karena diperuntukkan bagi pembaca remaja novel ini tersaji dengan ringan, pembaca akan disuguhkan tingkah laku Betsy yang badung dan superaktif yang selalu membuat sang kaisar tertawa. Selain itu novel ini juga berisi petualangan-petualangan seru Betsy, terutama ketika Betsy dan kawannya Huff berusaha untuk membebaskan sang kaisar dengan balon udara. Napoleon, yang selama ini hanya dikenal melalui kebesaran namanya, kini dikisahkan secara manusiawi dari sudut pandang seorang gadis 14 tahun. Karakter-karakter Napoleon baik yang positif maupun negatif terungkap seimbang sehingga pembaca bisa menilai Napoleon dari segi baik buruknya.

Hampir seluruh tokoh dan kejadian yang dimunculkan di novel ini memang benar-benar pernah hidup dan tercatat dalam sejarah. Tampaknya novel ini dikerjakan oleh Stanton Robin dengan riset yang mendalam. Ia tak segan-segan bertanya pada ahli-ahli sejarah Napoleon di seluruh dunia. Kutipan atau apapun yang dikatakan Betsy, Napoleon sebagian diambil langsung dari catatan-catatan sejarah: sumber-sumber asli yang kebayakan ditulis oleh staf Napoleon yang menyertainya ke St. Helena. Tidak hanya itu saja, kebiasaan-kebiasaan dan gerakan-gerakan pribadi Napoleon yang terungkap dalam novel ini, bukanlah hayalan Rabin, melainkan hasil riset Rabin atas kebiasaan sang kaisar. (hal 264)

Tokoh Betsy memang benar-benar pernah bertemu dan bersahabat dengan Napoleon. Berbagai fakta sejarah seperti Perang di Waterloo, penemuan batu Rosetta, penemuan formula senjata baru, penangkapan dan pembuangan napoleon hingga rumah tahanan Napoleon di Longwood, semua terungkap dengan rinci. Karena ditulis dengan penyampaian yang ringan maka muatan-muatan sejarah dalam novel ini bukan sesuatu yang membosankan, melainkan larut dalam rangkaian cerita yang menarik.

Bertebarannya fakta-fakta sejarah dalam novel ini tentu membuat pembaca bertanya-tanya, dimanakah batas antara fakta dan fiksinya ? Untunglah di bagian akhir buku ini, penulis memberikan catatan yang jelas dengan menginformasikan bagian mana dalam novel ini yang merupakan fakta dan fiksi. Hal ini merupakan pertanggung jawaban penulis yang sangat baik, mengingat sasaran pembaca novel ini adalah para remaja yang mungkin masih minim pengetahuannya akan fakta sejarah.Sebagai bonus, penulis juga menyajikan, peta geografi St. Helena, foto-foto lukisan diri Napoleon dan Betsy,Kodeks Napoleon dan keterangan pengenai Le Mersaille – Lagu Kebangsaan Perancis.

Betsy and The Emperor pertama kali diterbitkan pada tahun 2004 dalam bahasa Inggris di Amerika Serikat. Kini novel ini telah diterjemahkan kedalam berbagai bahasa antara lain Perancis, Jepang, Polandia, Chezna, Russia, Spanyol, Belanda, dan lain-lain. Kabarnya novel ini tengah dipersiapkan untuk dibuat film dimana sederet aktor Hollywood seperti Dustin Hofman, Anthoni Hopskins, dan Al Pacino mulai dijajaki sebagai calon aktor yang akan memerankan Napoleon Bonaparte.













Novel yang kini diterjemahkan dengan baik oleh Donna Widjajanto ini, oleh GPU diberi label bacaan ‘Teen-Lit’. Bagi bacaan remaja, novel ini memang agak berat dan leluconnya agak kaku. Namun tema yang diangkat dalam novel ini sangat baik bagi pembaca remaja. Petualangan, persahabatan, suka duka masa remaja, sikap pantang putus asa, dan, sejarah yang biasanya ditulis secara kering kini ditulis secara menarik dan menyenangkan . Bagi penulis-penulis Teen-Lit Lokal diharapkan novel ini bisa menjadi sumber inspirasi baru, mengingat saat ini tema-tema teen-lit lokal banyak didominasi oleh cerita-cerita cinta, “gaul”, hedonis dan semacamnya, walau bukan hal yang buruk, namun sudah saatnya penulis-penulis Teen-Lit lokal berani membuat cerita yang ‘lain’ yang disertai riset yang mendalam untuk memperkaya wawasan pembacanya.

@h_tanzil
Read more »

Minggu, 03 September 2006

Pramoedya Ananta Toer dari Dekat Sekali


Judul : Pramoedya Ananta Toer dari Dekat Sekali
(Catatan Pribadi Koesalah Seobagyo Toer)
Penulis : Koesalah Soebagyo Toer
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Cetakan : I, Juli 2006
Tebal : xvi + 266 hlm

Pramoedya Ananta Toer, maestro sastra Indonesia telah berpulang di usianya yang ke 81. Sepanjang hidupnya nama dan kiprah-kiprahnya selalu menarik perhatian orang. Namanya semakin berkibar semenjak bebasnya Pram dari pulau Buru, apalagi setelah terbit karya monumentalnya Bumi Manusia (1980). Beberapa saat setelah bukunya beredar pemerintah segera melarang peredarannya. Setiap tulisannya dianggap berbahaya dan karya-karyanya harus dimusnahkan agar tak terbaca oleh siapapun. Namanya dihapus dari sejarah sastra nasional. Lain sikap pemerintah, lain pula sikap pembacanya. Bukunya tetap dibaca secara sembunyi-sembunyi dan menjadi buku yang wajib dibaca oleh para aktivis mahasiswa . Namanya dijadikan ikon perlawanan bagi mereka yang tertindas dan tak puas dengan keadaan negeri ini.

Setelah era reformasi bergulir dan karya-karyanya diterbitkan ulang, nama Pram semakin melambung tinggi. Setiap kiprahnya selalu menarik perhatian orang, belum lagi ditambah dengan sejumlah penghargaan dari luar negeri yang terus menerus mengalir diberikan padanya. Setiap tahun namanya selalu dikait-kaitkan dengan anugerah Nobel Sastra. Berbagai media berlomba menyajikan berita dan wawancara mengenai dirinya. Hampir semua berkisar mengenai karya-karyanya, sikap politiknya, pandangan-pandangannya terhadap kondisi poilitik, sosial, dll.

Berbagai buku tentangnya telah ditulis, namun tak satupun menyentuh kehidupan pribadinya. Kehidupan pribadinya tenggelam dalam kebesaran namanya. Kini beberapa bulan setelah wafatanya, barulah muncul sebuah buku yang mencoba menghadirkan sosok Pram yang apa adanya dari kacamata Koesalah Soebagyo Toer selaku adik kandungnya yang memiliki hubungan yang paling dekat dengannya.
Buku yang ditulis oleh Koesalah ST ini merupakan catatan pribadinya mengenai persinggungannya dengan Pramoedya yang ia tulis dari tahun 1981 hingga 20 April 2006, sepuluh hari sebelum wafatnya Pram. Karena merupakan catatan pribadi, setiap catatannya bersifat personal, ada yang pendek (1/2 halaman) hingga yang panjang (5-6 halaman).

Dalam buku ini Koesalah menyajikan 75 catatan hariannya yang dibagi dalam 3 bagian besar yang dipilah berdasarkan urutan waktu ditulisnya catatan-catatan tersebut. Bagian Pertama (1981-1986), Bagian Kedua (1987-1992), dan bagian Ketiga (1992-2006). Seperti yang menjadi harapan pembacanya, buku ini banyak sekali memuat sisi-sisi menarik dari aktifitas kehidupan Pram sehari-hari baik yang menyangkut perannya sebagai penulis dan dokumentator maupun perannya sebagai kepala rumah tangga yang belum pernah terungkap selama ini.

Dalam hal Pram dan pekerjaannya, misalnya akan terungkap bagaimana gembiranya Pram ketika baru saja memperoleh dokumen yang berisi tulisan Soekarno kepada seorang bernama J.E. Stokvis di tahun 1931. Ternyata dalam dokumen tersebut terdapat pula surat-surat Dr. Tjipto, MH Thamrin yang sangat berharga bagi pengungkapan sejarah Indonesia yang pastinya tidak dipunyai oleh orang Indonesia manapun juga (hal 7). Karena itulah bagi Pram penemuan ini sangat menggembirakan hatinya seperti yang dicatat oleh Koesalah sbb : “Ini betul-betul bonanza! Kalau nanti kuumumkan semua pasti baca!”. “Kalau bukti ini ada, bakal geger semuanya!” (hal 8)

Uniknya catatan harian ini tidak hanya berkisah mengenai keadaan Pram dimasa ketika catatan ini ditulis, melainkan merambah kemasa lalu Pram baik ketika masa kecilnya, masa revolusi kemerdekaan hingga masa-masa ketika Pram dalam tahanan.
Dimasa kecilnya, sebagai anak tertua, ternyata,Pram kerap membacakan dongeng bagi adik-adiknya yang ia dapatkan dari sebuah buku tebal dengan huruf Jawa, antara lain tentang dua ekor nyamuk yang masing-masing bernama Klentreng dan Gothang, lalu ada pula dongeng karyanya tentang kancil blangkonan (hal 128).

Siapa sangka di masa mudanya saat berada dalam penjara Bukitduri, Pram pernah berniat untuk bunuh diri ?. Hal ini terungkap di catatan harian Koesalah yang diberi judul Mas Pram dan Mati (hal 177). Menurut kisahnya yang dituturkan pada Koesalah saat itu Pram yang sedang dalam tahanan Belanda putusasa karena energinya yang begitu besar-membludak- tak tersalurkan karena tidak bisa berbuat apa-apa . Ia berniat melakukan ‘patiraga’ (mematikan raga). Hampir saja nyawanya lenyap. “Dan tiba-tiba kelihatan di mukaku, di atas sana, bangunan gedung Yunani dengan pilar-pilarnya yang besar, dan di atasnya atap segitiga itu. Di atas atap itu bersinar cahaya terang benderang melalap tubuhku…“Tiba-tiba…duarrr! Terdengar ledakan yang keras sekali. Begitu keras! Sampai sekujur tubuhku menggigil. Lalu nyawaku kembali… “(hal 178)

Pengalaman mencoba menghabisi nyawanya itu membuat Pram yakin bahwa jika belum waktunya mati, ia tak akan mati “Kalau mau mati, dari dulu-dulu aku sudah mati,” katanya. “Buatku, mati itu bukan apa-apa. Aku nggak takut mati. Menghadapi pemerintah ini juga aku nggak takut.” (hal 180)

Penglihatan Pram saat akan melakukan patiraga mungkin merupakansalah satu pengalaman adikodrati yang dialaminya, lalu bagaimana dengan kehidupan religiusnya? Hal ini mungkin yang paling jarang terungkap selama ini, dalam catatan hariannya yang berjudul Mas Pram dan Doa (hal 210), Koesalah mencatat bahwa ia pernah melihat Pram sembahyang sewaktu sama-sama ditahan di penjara Salemba ada tahun 1969. Dan ketika ditanya apakah Pram pernah mengaji ? Pram menjawab dengan mantap bahwa waktu kecil ia mengaji walau belum sempat katam.

Salah satu kegemaran Pram selepas dari P. Buru adalah kebiasaannya membakar sampah, Koesalah mencatat bahwa Pram setiap hari membakar sampah. Tepat di rumahnya di Jl. Multikarya – Utan Kayu, ada rumah yang telah ditinggalkan penghuninya hingga rumah tersebut menjadi bobrok. Di situlah surga bagi Mas Pram. Tiap hari ia “bekerja” di tempat sampah…Ia tampak bahagia apabila sampah sudah mengonggok dan api melalapnya. (hal 225).
Selepas membakar sampah Pram tak pulang dengan tangan kosong, terkadang ia membawa pecahan-pecahan keramik, di rumahnya pecahan keramik itu ia “lukis” menjadi mozaik tegel yang menarik dan bercita rasa seni. Tegel-tegel dikerjakannya sendiri dan ketika sudah banyak Pram memasangnya sendiri di sebagian teritis rumahnya (226).

Yang menarik di ‘tempat sampah’ itu Pram juga pernah menemukan buku Peristiwa coup Berdarah P.K.I. September 1948 di Madiun, tulisan Pinardi, terbitan 1967. Tentu saja ini merupakan harta karun bagi Pram selaku penulis dan pendokumenter. Buku yg sudah rusak dan kotor itu ia tata kembali dan diberi sampul baru dan diberikan pada Koesalah. “Ini bahan bagus buat Kronik,” katanya. (hal l226). Buku termuannya itu memang akhirnya menjadi salah satu sumber bagi Koesalah, Pram, dan Ediati Kamil dalam menyusun buku “Kronik Revolusi Indonesia jilid IV yang berisi peristiwa-peristiwa penting di tahun 1948.

Saat-saat terakhir hidup Pram dimana berbagai penyakit mulai menggerogot, dan Pram yang sudah mulai pikun juga terungkap dalam buku ini, beberapa kali pada Koesalah Pram mengeluhkan soal diabetesnya, dadanya yang sakit, otaknya yang tidak mampu lagi bekerja dengan baik, dll. Sayang, buku ini tak memuat catatan mengenai hari-hari terakhir Pram menjelang dirinya menghembuskan nafas terakhirnya. Padahal buku ini diterbitkan satu bulan setelah wafatnya Pram, dan tentunya cukup waktu untuk memberi catatan saat Pram berjuang melawan maut dan bagaimana suasana saat-saat Pram dikebumikan

Selain catatan-catatan yang dibuat secara narasi, buku ini memuat pula sejumlah tulisan berupa wawancara/percakapan antara Koesalah dengan Pram sehingga pembaca seakan membaca tuturan langsung dari Pram mengenai hal-hal yang ditanyakan oleh adiknya.

Masih banyak kisah-kisah menarik mengenai keseharian Pram dicatat dalam buku ini. Ada yang lucu, unik, mengharukan, menjengkelkan dan sebagainya. Semua disampaikan oleh Koesalah secara jujur dan apa adanya. Beberapa catatan membuat kita bangga dengan sikap dan pandangan Pram dalam menanggapi persoalan-persoalan negeri ini, kadang tertawa oleh anekdot-anekdot Pram, namun ketika menjumpai kisahnya yang mengungkap bagaimana keras kepalanya Pram dan sikap cueknya terhadap keluarga besarnya kitapun akan dibuat jengkel dan sebal pada sikapnya. Bisa dikatakan buku ini merupakan buku pertama mengenai Pram yang memuat segala aspek kehidupan Pram, mulai dari masa kecil, dewasa, perkawinannya, pandangan-pandangan hidupnya, masa tuanya, harapan-harapan dan mimpi-mimpinya, dan sebagainya.

Apa alasan Koesalah menyebarluaskan catatan-catatan hariannya yang menyangkut persinggungan dirinya dengan Pram ? Dalam kata pengantarnya Koesalah menulis bahwa hal ini sebagai pernyataan tanggung jawab dirinya terhadap pembaca karya-karya Pram, masyarakat Indonesia dan dunia. Ia mencatat semua ini sebagai kenyataan bahwa disamping semua yang sudah pernah ataupun sedang ditulis tentang Pram, masih ada hal-hal lain yang harus dikemukakannya. Dengan demikian orang dapat memahami Pram sebagai sosok nyata, bukan manusia dalam angan-angan atau lamunan (hal xvi)

Sayang Koesalah tak menjelaskan mengapa ia mulai mencatat di tahun 1981 ? Apakah sebelum tahun itu ia memang tak memiliki catatan tentang kakaknya ? Ataukah di tahun 1981 ia memiliki visi bahwa kelak kakaknya akan menjadi orang terkenal sehingga ia mulai mencatat pengalamannya dengan Pram agar kelak bisa diterbitkan ? Juga tak dijelaskan atas dasar apa dan mengapa buku ini dibagi menurut pembagian waktu seperti yang tercetak di buku ini. Padahal jika saja pembagiannya berdasarkan tema-tema tertentu yang muncul seperti Pram dan Karya-karyanya, Pram dan Keluarga, Pram dan kesehatannya, dll, tentunya ini akan memudahkan pembaca dalam memahami Pram dari sudut pandang tema-tema tersebut.

Secara keseluruhan, bagi pembaca karya-karya Pram buku ini akan sangat menarik karena berhasil mengungkap sisi-sisi kehidupan Pram yang selama ini tersembunyi oleh kebesaran namanya. Selain itu beberapa aspek politis dan historis juga akan kita temui dalam buku ini. Karena keragaman dan kelengkapan tema yang terdapat didalamnya bukan tak mungkin buku ini akan dijadikan pijakan awal atau buku pegangan bagi mereka yang kelak akan menulis biografi Pramoedya secara utuh dan komprehensif. Atau mungkin kelak Koesalah sendiri yang akan menulis Biografi kakaknya secara runut dan mendalam ?

Ya! Sudah saatnya maestro sastra Indonesia Pramoedya Ananta Toer dibuatkan biografinya!

@h_tanzil



Foto ketika kami 'sowan' ke rumah Pak Pram - Mei 2005
(Silahkan tebak yg mana diriku...?)
Read more »