Senin, 15 Januari 2007

How to Be a Pirate

How to Be a Pirate (Bagaimana Caranya Menjadi Bajak Laut)
Oleh Hiccup Horrendous Haddock III
Diterjemahkan dari Naskah Norwegia Kuno oleh Cressida Cowell

Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh: Mutia Dharma
Penyunting: Maria M. Lubis
Little K, Januari 2006
252 Hal.

Di tengah hujan badai yang ditiup oleh Thor, Dewa , di tengah lautan, terombang-ambing kapal laut yang berisi sekumpulan anak-anak suku Hooligan Berbulu yang sedang berlatih Adu Pedang di Laut. Menurut Gober the Belch, tidak ada yang lebih baik dibandingkan berlatih langsung di tempat sebenarnya. Pelajaran-pelajaran lain yang juga tak kalah penting adalah Hinaan Tingkat Tinggi, Teriakan Maut, Melatih Naga, Kekejaman Tanpa Ampun, Menakuti Orang Asing dan Bola Bashy.

Ketika itu, tokoh utama kita, Hiccup Horrendous Haddock III sedang menjadi bulan-bulanan Dogsbreath. Hampir saja nyawanya melayang kena tebas pedang Dogsbreath, seandainya kapal laut itu tidak terbelah dua oleh sebuah benda berat.

Kapal terbelah, melontarkan penumpangnya ke lautan. Hiccup, Toothless – naganya dan temannya, Fishlegs, terombang-ambing di lautan. Lagi-lagi, nyawa Hiccup selamat karena ia bergelayut pada sebuah peti.

Ingatlah sebuah pelajaran, “Dilarang membuka peti yang ada tulisan ‘Jangan Dibuka’”. Apalagi, tertulis bahwa itu adalah peti dari Grimbeard the Ghastly, Tapi, penduduk Pulau Berk, penasaran apa isi peti itu. Dengan persetujuan Stoick Agung, kepala suku yang tak lain adalah ayah Hiccup, peti itu pun dibuka.

Ternyata setelah dibuka, isinya bukan mayat Grimbeard, tapi Alvin – si Petani-miskin-tapi-jujur. Alvin bercerita tentang peta harta karun yang ada di dalam peti itu. Dengan sedikit kata-kata manis, Alvin , berhasil membujuk Stoick Agung untuk mengadakan ekspedisi pencarian harta karun. Dan hanya, Ahli Waris Grimbeard the Ghastly-lah yang bisa menemukannya. Semua menyukai Alvin, kecuali Toothless. Jadi siapakah Alvin ini? Apa iya, benar-benar jujur?

Hiccup mempunyai tanggung jawab moral untuk menemukan harta karun itu. Ejekan-ejekan Dogsbreath dan Snotlout membuatnya kecut.

Petualangan dimulai, para Hooligan Berbulu menuju Pulau Tengkorak, yang penuh dengan naga Skullion yang ganas. Mereka harus berhati-hati jangan sampai mengeluarkan bau, karena naga Skullion ini, meskipun kurang bagus penglihatan dan pendengarannya, punya penciuman yang luar biasa tajam, setajam taringnya.


Bukan hanya naga Skullion yang harus dihadapi oleh suku Hooligan Berbulu. Tapi juga sekelompok Orang Buangan yang ganas, kapal Lucky 13 yang karam, 'kehilangan' anak kepala suku. Petualangan Hiccup sendiri juga tak kalah seru. Dia harus tenggelam bersama Fishlegs dan Toothless, bertarung pedang dengan 'musuh dalam selimut' (dan ternyata, Hiccup sebenarnya jago koq bermain pedang), belum lagi harus menghadapi Monster Strangulator.

Dan, tanpa disadari, lewat pertarungan ini, Hiccup ternyata kidal! Pantas aja dia gak bisa memainkan pedang dengan tangan kanannya.

Tapi, siapa ya, yang berhasil menemukan harta karun yang tersembunyi itu? Apakah Hiccup? atau ada ahli waris lainnya?

Hiccup anak yang rendah hati, tidak sombong dan tidak serakah. Bersama Fishlegs dan Toothelss, mereka bertiga menyelesaikan petualangan yang mendebarkan.

Lalu, gimana nasib Alvin? Kalo di bagian akhir, sepertinya ada petunjuk, bakal ada kelanjutan pertarungan antara Hiccup dan Alvin.

Meskipun buku anak-anak, ada juga bagian-bagian yang menegangkan. Rasanya pengen ikuta kasih semangat ke Hiccup, pengen ikutan bilang, "HIC-CUP! HIC-CUP! HIC-CUP!". Bukunya lucu, dan di dalamnya banyak ilustrasi tokoh-tokoh dalam buku ini. Dan yang lebih menarik lagi, ada tulisan tangan kiri dari penyunting buku ini.
Read more »

Jumat, 12 Januari 2007

Warna-warni Hidupku

Judul : Warna-warni Hidupku (hari-hari..Muh Rizky Aulia Gobel)
Solusi Memantau Perkembangan Anak Melalui Blog
Penulis : Amril Taufik Gobel
Penerbit : Gradiens Books
Cetakan : I, 2007
Tebal : 199 hlm
Harga : Rp.






Memiliki anak dan membesarkannya adalah idaman setiap orang yang telah berkeluarga. Memang tak mudah membesarkan seorang anak, ada suka, ada duka, semuanya selalu menjadi bahan cerita yang menarik untuk dibicarakan, terlebih bagi sesama orang tua yang memiliki anak dengan tingkat usia yang hampir sama.

Tak hanya dibicarakan, aktivitas dan perkembangan seorang anak pun sangat menarik untuk didokumentasikan, ada yang menngabadikannya dengan foto, merekam aktifitasnya dengan handycam, atau menuliskannya dalam catatan harian baik dalam sebuah buku yang bersifat pribadi maupun dalam media on line yang terbuka untuk dibaca oleh semua orang seperti milis, website, blog, dll.

Menulis perkembangan anak melalui blog, itulah yang dilakukan oleh Amril Taufik Gobel, seorang ayah, karyawan, penulis, sekaligus blogger yang namanya cukup dikenal di dunia cyber, selain webnya (http://amriltgobel.net) pernah meraih anugerah website terbaik versi www.webterbaik.com Amril juga aktif di komunitas blog terbesar di Indonesia – Blogfam, dan kini dipercaya untuk menjadi redaksi majalah online Blogfam (www.blogfam.com).

Berawal dari kerajinannya menulis blog yang telah dilakukan sejak beberapa tahun kebelakang, pada tahun 2002, sejak kelahiran anak pertamanya Muh. Rizky Aulia Gobel. Amril mencoba menulis blog berisi pengalaman-pengalaman yang dialami oleh keluarganya melalui sudut pandang anaknya sendiri. Rupanya ketekunannya ini mendapat banyak respon dari pembaca blognya hingga akhirnya dilirik oleh penerbit Gradien yang sudah beberapa kali menerbitkan buku yang bersumber dari blog pribadi seseorang.

Buku yang diberi judul “Warna-warni hidupku – hari-hari..Muh Rizky Aulia Gobel” dengan sub judul “Solusi Memantau Perkembangan Anak Melalui Blog” ini seluruh materinya diambil dari blog Rizky (http://muhrizkyauliagobel.blogspot.com). Dimulai dari hari lahirnya Rizky di tahun 2002 hingga tahun 2006 ketika ia berusia tiga tahun 4 bulan. Semuanya berisi 74 catatan harian plus satu kata pengantar.

Seperti telah diungkap di atas, seluruh catatan ditulis dalam sudut pandang sang anak (Rizky) sebagai orang pertama. Hal ini membuat seluruh catatan dalam buku ini baik dalam penuturan kata maupun ekpresinya terkesan lucu, ringan, khas anak-anak. Kisah-kisah yang ditulis dalam buku inipun aneka warna. Mulai dari kelahiran Rizky, pindah rumah, piknik ke Seaworld, motor ayah baru, bencana tusnami, pembantu yang minggat, pakde yang kena santet, hingga berburu kecoa. Semua terangkum dengan jujur, apa adanya, ringan, terkadang membuat terharu, terkadang membuat lucu dan tak terduga.

Walau sekilas tampaknya buku ini hanya berisi catatan harian yang biasa-biasa saja, namun jika pembaca lebih peka menangkap makna dibalik pengalaman-pengalaman yang dialami Rizky dan keluarganya dalam buku ini maka kita akan menemukan sebuah potret sosial dari sebuah keluarga sederhana dimana ayah bekerja, ibu yang mengurus anak beserta lingkungan masyarakat urban yang ikut terekam dalam kisah-kisahnya.

Tengoklah kisah ketika BBM naik yang terdapat dalam catatan yang berjudul “Dampak Dramatis Harga BBM Naik” dimana kerluarga Rizky harus prihatin dan berhemat dalm banyak hal “ Kita, semua sedang prihatin, Nak,” kata ayahku dengan mata berkaca-kaca saat melihat tontonan berita di layar TV yang menampilkan masyarakat penerima kompensasi BBM berebutan mengambil bagiannya. (hal 162)

Realita sosial juga tertangkap dalam catatan berjudul “Menemani Ayah Bercukur”, dimana Rizky mendengar obrolan antara ayahnya dengan tukang cukurnya yang mengungkap carut marut dan sebuah ironi yang terjadi di negeri ini dimana anak-anak menderita busung lapar, stok BBM habis, ongkos pendidikan makin mahal, bunuh diri karena tak sanggup bayar sekolah, harga-harga naik, sementara gaji anggota DPR bisa mencapai 38 juta per bulan! (hal 142).

Beberapa hal yang mungkin menjadi ganjalan dalam buku ini adalah jika ada pembaca yang mempersoalkan usia Rizky yang baru berusia 3 tahun dengan apa yang dipikirkannya seperti yang ditulis dalam buku ini. Rasanya mustahil, seorang anak berusia 3 tahun mampu berpikir dan memahami apa yang diobrolkan oleh ayah dan ibunya ketika BBM melambung tinggi atau ketika ayahnya membahas realita sosial yg terjadi di negeri ini dengan seorang tukang cukur! Rasanya tak mungkin ! Sepertinya apa yang dipikirkan oleh Rizky dalam buku ini baru akan terpikirkan olehnya ketika ia berusia remaja atau pra-remaja.

Selain itu sub-judul buku ini ”Solusi Memantau Perkembangan Anak Melalui Blog” mungkin saja bisa menyesatkan calon pembacanya. Bisa saja sub judul ini akan menggiring calon pembaca buku ini beranggapan bahwa buku ini adalah buku panduan bagaimana memantau perkembangan anak melalui blog. Padahal buku ini berisi catatan harian seorang ayah yang ditulis dalam sudut pandang anaknya

Namun terlepas dari ganjalan diatas, buku ini cukup menghibur dan menarik untuk dibaca oleh siapa saja. Apa yang dialami Rizky dan keluarganya ditulis dengan detail, jujur dan apa adanya sehingga pembaca seakan diajak masuk dalam kehidupan keluarga ini lewat kacamata seorang anak yang lucu dan polos. Bukan tak mungkin pengalaman-pengalaman keluarga Rizky yang terekam dalam buku ini pernah juga kita alami sehingga kita seakan membaca kisah kita sendiri. Dan seperti yang diharapkan oleh penulisnya semoga buku ini tidak hanya sebagai representasi aktivitas keseharian Rizky, tetapi juga menjadi bahan renungan bagi semua pembacanya (hal11).

@h_tanzil
Read more »

Kamis, 11 Januari 2007

Wallpaper



Ini nih wallpaper di computer kantor-ku. Hasil karya ‘sendiri’… maksudnya gue yang nyusun gambar sendiri, foto-fotonya diambil dari Corbis dan getty images.

See… how much I love books…
Read more »

Browsing...

Gue lagi suka melakukan hal-hal yang berhubungan dengan buku… ehmm.. selain baca maksudnya. Pertama, gue bikin blog di Yahoo 360o, blog ini isinya buku-buku baru yang gue beli. Yang ditulis di sana, adalah info sekitar buku itu, misal nama penulis, penterjemah, terbitan aslinya tahun berapa, dll, tinggal nyalin dari bukunya, terus, juga, sinopsis singkat yang biasanya ada di cover belakang buku tersebut. Terus, gue nulis tanggal berapa gue beli, di mana, harganya berapa, dan alasan kenapa gue beli buku itu.

Kenapa gue bikin blog ini? Hmm… seperti biasa dapet ide dari salah satu blog yang gue baca, yaitu blog-nya Kobo. Kobo ini bikin blog kaya’ begini, yang isinya buku-buku yang baru dibeli sama dia.

Terus, gue juga lagi seneng ngutak-atik yang namanya Librarything.com. Nemu website ini juga dari hasil blogwalking. Ternyata isinya semacam lemari buku ‘virtual’. Kita bisa masukin buku-buku yang kita punya, nanti akan keluar pilihan buku kita terbitan tahun berapa, covernya kaya’ apa. Rasanya, pengen banget cepet-cepet masukin semua buku, dan dipandangin deh, jejeran cover buku yang warna-warni… gue serasa bengong di depan lemari buku beneran (seperti yang emang suka gue lakukan kalo lagi ‘blank’)

Terus, gue juga lagi suka baca cerita klasik. Dan, daripada gue beli, gue akhirnya sering ‘mendatangi’ ‘ Literature.org, yang isinya cerita-cerita klasik yang bisa dibaca langsung di website. Emang gak enak sih, baca di computer, tetap lebih enak baca bukunya. Tapi, lumayan buat lagi bosen di kantor.

Hehehe… buka-buka website itu, kadang ‘mengganggu’ waktu kerja gue. Kadang gue lebih semangat meng-update ‘lemari buku’ gue di librarything, dari pada ngurusin kerjaan gue yang bejibun.
Read more »

Rabu, 10 Januari 2007

THE NAMESAKE

The Namesake (Makna Sebuah Nama)
Jhumpa Lahiri
Gita Yuliani K (Terj.)
GPU, Jakarta 2006
336 Hal.

Ungkapan “Apalah arti sebuah nama?” yang begitu popular tampaknya tidak berlaku dalam novel yang pernah masuk jajaran novel terlaris pada tahun 2003 ini. Namalah yang menjadi benang merah dalam cerita ini. Makna sebuah nama-lah yang menjadi ‘nyawa’ dari novel yang ditulis oleh Jhumpa Lahiri, pemenang Pulitzer untuk buku kumpulan cerpennya yang berjudul, The Interpreter of Maladies.

Ashoke dan Ashima Ganguli, pasangang suami istri asal India, datang ke Amerika. Berusaha menggapai mimpi dan harapan tanpa melupakan leluhur dan adat istiadat mereka. Demi rasa hormat mereka pada leluhur merekelah, ketika anak pertama mereka lahir, mereka rela menunda untuk memberi nama pada anak itu. Pemberian nama tertunda karena mereka berdua menunggu surat dari nenek sang Ibu, buyut bayi itu. Surat tak kunjung datang, sementara si bayi tidak bias dibawa pulang tanpa sebuah nama di akte kelahiran.

Lalu, tercetus nama Gogol di benak sang ayah. Nama yang aneh, tidak berbau India, apalagi Amerika. Sebuah nama yang berasal dari nama penulis favorit Ashoke. Tapi ada apa sebenarnya di balik nama itu? Apakah hanya sekedar berdasarkan rasa kagum pada si penulis?

Nama Gogol seolah menjadi beban bagi si penyandang nama. Ketika masih kecil, justru Gogol enggan menyebut dirinya dengan nama ‘resmi’ yang diberikan orang tuanya. Menurut kebiasaan di India, seseorang akan menyandang dua nama, satu nama panggilan di keluarga yang akan melekat seumur hidup pada diri orang itu, satu lagi, nama resmi, nama yang diberikan nenek atau buyut mereka.

Tapi, makin lama, nama Gogol semakin mengganggu. Puncaknya Gogol meminta sendiri namanya untuk diganti menjadi Nikhil Ganguli, nama yang dulu sempat ditolaknya. Gogol tidak tahu betapa berartinya nama Gogol bagi ayahnya, bahwa nama itulah yang menyelamatkan ayahnya dari sebuah kecelakaan kereta api.

Gogol tumbuh dengan pengaruh budaya Amerika yang lebih kuat melekat daripada budaya India. Gogol mulai merasa segan dan malas setiap kali pergi berlibur ke Calcutta bersama keluarganya. Sedapat mungkin ia berusaha menjauh dari kebiasaan kedua orang tuanya. Ia memilih kuliah yang jauh dari rumah orang tuanya, jarang pulang ke rumah, jarang menelepon orang tuanya, pergi ke pesta dengan teman-teman Amerikanya, lebih menyukia musik barat, bahkan beberapa kali menjalin hubungan dengan gadis Amerika yang kurang disetujui oleh orang tuanya.

Tapi, Gogol tidak bisa menolak ‘perjodohan’ yang diatur Ashima. Gogol akhirnya menikah dengan gadis India, Moushumi.

Cerita dalam novel ini mengalir dengan tenang, tanpa banyak gejolak. Gogol sebagai tokoh utama, tapi tidak mengesampingkan tokoh-tokoh penting lainnya yang berperan dalam kehidupan Gogol, seperti Ashoka, Ashima dan Moushumi yang cukup banyak mendapat porsi dalam novel ini. Mungkin novel ini, seperti bercerita tentang riwayat hidup seorang pemuda bernama Gogol. Mulai dari proses kelahirannya, proses pemberian nama Gogol, sampai akhirnya ia tumbuh dewasa, menjalani proses pendewasaan dalam dirinya yang membuat ia memandang orang tuanya bukan sebagai orang tua yang kolot, tapi sebagai orang tua yang sederhana yang menjalani semua ritual yang sebenarnya ditujukan untuk anak-anaknya.

Tenang, tapi tidak akan membuat kita merasa bosan. Penggambaran karakter cukup detail. Keadaan di sekitar juga tergambar dengan detail, membuat kita bisa ikut membayangkan apa yang ada di sekeliling para tokoh. Misalnya ketika Gogol dan Ashoke berjalan-jalan di pantai melewati batu-batu karang, “Tubuh mereka hari itu menimbulkan bayangan sangat panjang dan ramping, berdempetan, matahari siang bersinar di belakang mereka. Mereka berhenti untuk memerhatikan pelampung kayu retak bercat biru-putih, berbentuk seperti payung kuno. Permukaanya terlilit untaian tipis rumput laut cokelat dan tertutup kerak remis.” (hal. 213)

Sebuah kisah yang indah, tidak membuat kita ‘terlonjak’, tapi kita akan terhanyut dalam cerita ini.

07.01.08
(gue bener-bener menikmati baca buku ini… meskipun lama juga sih, selesainya. Tapi, surprise… surprise… tumben gue gak berasa bosen baca buku yang ‘irit’ percakapan… )
Read more »

Selasa, 09 Januari 2007

It's all about books...

Dari dulu pengen punya blog khusus tentang buku. Tapi, blom sempet-sempet buatnya. Sekarang bener-bener diniatin untuk punya. Isinya standard aja... review tentang buku-buku yang udah gue baca, buku-buku yang bikin gue 'ileran' atau apa aja deh seputar buku.

Soal buku, gue bener-bener suka 'gak ada pikirannya. Ngeliat ada yang baru baca buku bagus,gue 'ileran', ngeliat ada posting buku baru di milis... buru-buru buka website yang jual buku online buat beli, ada yang posting jual buku second (apalagi buku yang udah lama gue cari atau genre yang gue suka), beli juga... apalagi jalan ke toko buku, rasanya, gak afdol kalo keluar toko buku tanpa nenteng buku baru.

Dulu pernah bikin budget, sebulan hanya boleh belanja buku 'sekian', tapi ternyata budget itu gak pengaruh. Gak nahan deh, kalo sama yang namanya buku.

Karena suka kalap, banyak buku yang masih terpajang manis di lemari buku. Belum sempet kebaca, baru 'disentuh' dikit, untuk disampul dan dikasih nama, tanggal plus tanda tangan.

Tapi, gue emang cinta buku. Gue akan baca di mana pun gue bisa. Di mobil sambil berangkat ke kantor. Di rumah, kalo lagi santai, sebelum tidur, atau pas libur..

Salah satu 'kekhawatiran' gue sebelum nikah, gue takut gak punya waktu lagi buat baca buku. Tapi, ternyata, ya, gitu-gitu amat sih.. meskipun frekuensi-nya agak berkurang, ternyata gue masih bisa baca koq. Dan ternyata, suami gue juga suka buku (beli buku tepatnya - dan jarang dibaca). Buku yang dia suka itu buku-buku komputer dan yang berbau politik.

Dan gue juga lagi 'keranjingan' buka-buka website untuk urusan yang berbau-bau buku.

Pokoknya... it's all about books, deh..
Read more »

Kamis, 04 Januari 2007

My Name is Red

Judul : My Name is Red (Namaku Merah Kirmizi)
Penulis : Orhan Pamuk
Penerjemah : Atta Verin
Penyunting : Anton Kurnia
Penerbit : PT. Serambi Ilmu Semesta
Cetakan : I, Desember 2006
Tebal : 725 hlm
Harga : Rp. 89.900,-




Sejarah mencatat, Sultan Ustmaniyah Murat III (1571-1595) dikenal sebagai sultan yang paling tertarik pada buku dan seni miniatur. Di masa kekuasaannya ia memerintahkan para miniaturis (pembuat ilustrasi buku) kenamaan di negerinya untuk membuat Kitab Keterampilan, Kitab Segala Pesta dan Kitab Kemenangan yang dikerjakan di Istanbul. Para miniaturis Ustmaniyah yang paling menonjol, termasuk Osman sang Miniaturis dan murid-muridnya, ikut andil dalam pengerjaan buku ini.

Penggalan sejarah inilah yang oleh Orhan Pamuk (54 thn) - peraih nobel sastra 2006 asal Turki - dijadikan sebagai ide utama novel My Name is Red . Dikisahkan saat itu Sultan menugaskan Enisthe Effendi salah seorang miniaturis (pembuat ilustrasi buku) terkenal untuk membuat sebuah buku rahasia yang dihiasi ilustrasi-ilustrasi indah untuk merayakan kejayaannya. Tindakan sultan ini memotong jalur resmi dimana biasanyaTuan Osman selaku Iluminator Kepala Istana yang diberi wewenang untuk mengerjakan buku-buku Sultan. Dalam mewujudkan proyek sultan ini Enisthe dibantu oleh empat miniaturis lainnya yang masing-masing dikenal dengan julukan ; Elok, Zaitun, Bangau, dan Kupu-kupu.

Novel ini diawali dengan terbunuhnya Elok , salah satu dari keempat miniaturis yang bekerja dibawah pimpinan Enisthe Effendi. Pembunuhan ini menimbulkan keresahan diantara para miniaturis lainnya karena mereka mennganggap hal ini ada kaitannya dengan proyek pengerjaan buku Sultan yang dibuat dengan gaya Eropa yang pada masa itu dianggap sebagai penistaan terhadap ajaran Islam.

Lalu dikisahkan Hitam, salah satu murid dan keponakan Enisthe kembali ke rumah pamannya sepulang dari pengelanannya ke berbagai tempat selama dua belas tahun. Sejak lama Hitam telah menaruh hati pada Shekure, putri “Enisthe”-nya. Sepulang dari pengelanaannya pun ia masih menyimpan cintanya pada Shekure. Sayangnya Shekure telah menikah dan mempunyai dua orang anak. Namun belum pulangnya suami Shekure selama bertahun-tahun dari peperangan membuka peluang bagi Hitam untuk merebut Shekure ke pelukannya.

Di tengah usaha Hitam merebut cinta Shekure dan belum terungkapnya siapa pembunuh Elok, Enisthe terbunuh secara mengenaskan. Namun hal ini tak menghalangi niat Hitam untuk menikahi Shekure. Dengan siasat liciknya akhirnya Hitam berhasil menikahi Shekure, namun Shekure belum mengijinkan Hitam untuk tidur seranjang dengan dirinya hingga Hitam berhasil menemukan siapa pembunuh ayahnya.

Ketika kematian Elok dan Enisthe sampai ke telinga Sultan. Ia memerintahkan Hitam selaku murid Ernisthe dan Tuan Osman selaku kepala bengkel miniaturis Istana mengungkap siapa pembunuhnya. Mereka diberi waktu 3 hari untuk menemukan pembunuhnya, jika gagal nyawa mereka dan para miniaturis lainnya akan jadi gantinya.

Satu-satunya petunjuk yang ditinggalkan pembunuhnya adalah gambar seekor kuda dengan hidung yang terpotong. Hal ini menyeret ketiga miniaturis lainnya (Bangau, Zaitun, Kupu-kupu) menjadi tersangka utama. termasuk Untuk memperkaya penyelidikannya Hitam dan Tuan Osman diizinkan untuk masuk kedalam jantung Istana dimana terdapat ruang penyimpanan harta yang berisi buku-buku berilustrasi indah Kitab Para Raja yang berisi lukisan-lukisan menakjubkan, yang diimpikan bisa dilihat sekali saja oleh para miniaturis selama seumur hidupnya




Novel My Name is Red ini bisa dikatakan novel yang kaya akan perspektif. Novel ini bisa dibaca sebagai novel sejarah peradaban islam, misteri, intrik sosial, dan teka-teki filosofis. Pamuk mengemas kisah dalam novel ini dengan sangat menarik. Narator dalam novel ini berganti-ganti dalam setiap babnya, masing-masing diberi judul sesuai dengan naratornya seperti : Aku Adalah Sesosok Mayat, Aku Akan Disebut Seorang Pembunuh, Aku Dinamai Hitam, bahkan benda-benda matipun menjadi narator dalam novel ini seperti : Aku adalah Sekeping Uang Emas, Aku Adalah Merah. dll. Masing-masing narator bertutur, bercerita dan berargumen mengenai peristiwa pembunuhan dan keadaan di sekelilingnya menurut sudut pandangnya masing-masing. Ada yang realis ada pula yang surealis. Uniknya walau si pembunuh turut menjadi narator, identitas si pembunuh tetap tak terduga hingga bab-bab terakhir.

Di halaman-halaman awal pembaca seolah diajak mengambil kesimpulan bahwa novel ini adalah novel misteri karena Pamuk membukanya dengan bab “Aku Adalah Sesosok Mayat”. Kalimat permbuka novel inipun memikat dan mengundang penasaran pembacanya karena dinarasikan oleh tokoh yang telah meninggal.

Kini aku hanyalah sesosok mayat, sesosok tubuh di dasar sebuah sumur. Walau sudah lama sekali aku menghembuskan napas terakhirku dan jantungku telah berhenti berdetak, tak seorang pun tahu apa yang terjadi padaku, selain pembunuh keji itu
. (hal 17)

Namun Pamuk tak hanya mengajak pembacanya untuk larut dalam cerita misteri pembunuhan, di bagian berikutnya pembaca diajak beralih ke kisah percintaan yang membara antara Hitam dan Shekure, lalu pembaca juga akan disuguhkan debat filosofis yang menarik akibat benturan budaya Timur dan Barat khususnya dalam hal gaya melukis dimana di jaman itu melukis dengan gaya kaum Frank (Eropa) yang menggunakan metode perspektif tiga dimensi dimana benda digambar sebagaimana terlihat oleh mata telanjang dianggap penistaan terhadap agama islam yang hanya boleh membuat gambar/lukisan dengan teknik dua dimensi saja.

Namun yang mengejutkan dari semua itu – sebuah akibat yang wajar dalam memperkenalkan pemahaman Frank dalam lukisan kita – adalah menggambarkan potret sultan kita dengan ukuran sesungguhnya, dan wajahnya dilukiskan dengan semua detailnya! Tepat seperti yang dilakukan para pemuja berhala. (hal 684)




Wajah Sultan Murat III dilukis dalam gaya Eropa
(perspektif tiga dimensi)










Wajah Sultan Murat III dilukis sesuai gaya seniman Ustmaniyah abad ke 16
(perspektif dua dimensi)





Hal ini menimbulkan pro dan kontra, sebagian miniaturis khususnya mereka yang ditugaskan membuat buku Sultan mau tak mau harus membuat lukisan dengan gaya barat sesuai dengan arahan Enisthe, namun sebagian miniaturis senior menolak melukis dengan gaya ini dan rela membutakan matanya sendiri agar tak terpengaruh oleh lukisan gaya Eropa.

Selain kisah misteri, roman, debat budaya dan filosofis, pembaca juga akan disuguhkan detail-detail menarik tentang estetika seni hias buku, sehingga keeksotisan buku-buku berilustrasi yang dibuat di abad 16 dimana buku-buku diberi ilustrasi oleh tangan-tangan terampil para miniaturis terungkap secara indah. Tak ketinggalan beberapa kisah dongeng klasik dunia Timur juga terceritakan di novel ini



Gbr diatas adlh ilustrasi pd buku yang dibuat oleh miniaturis Ustmaniyah abad ke-16

Kesemua elemen di atas membentuk novel ini menjadi rangkaian cerita yang menarik dan enak dibaca. Semua itu diramu secara puitis dan romantis dengan cinta, seks, dan drama.
Beragamnya tokoh-tokoh yang masing-masing menjadi narator dalam buku ini walau awalnya tampak berdiri sendiri, kelak Pamuk akan menyatukan tokoh-tokoh dalam ceritanya dan memberikan kejutan yang tak terduga di akhir ceritanya.

Satu hal yang mungkin akan menjadi pertanyaan pembacanya adalah judul buku ini “My Name is Red (Namaku si Merah Kirmizi), siapa dan apa sebenarnya yang dimaksud si “Merah” dalam judul buku ini ? Memang ada bab tersendiri dimana si Merah ini digambarkan sebagai warna dalam arti yang sesungguhnya. Namun rasanya tak cukup menjelaskan apa dan siapa Merah yang dimaksud dalam judul buku ini. Tampaknya Pamuk sengaja mengajak pembacanya untuk menafsirkan sendiri apa, siapa dan mengapa novel ini diberi judul My Name is Red ?

Rasanya membaca sekali saja novel ini tidaklah cukup, banyak detail-detail menarik yang tetap mengasyikan untuk dibaca berkali-kali. Dan lagi novel ini memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi, tak ditemukan kejanggalan dalam alih bahasanya. Salut untuk kerja keras penerjemah dan editor novel ini (Atta Verin & Anton Kurnia) yang tampaknya telah berhasil mengalih bahasakan novel tebal yang menarik ini dengan baik.

Sedikit yang mungkin dapat menjadi halangan terbacanya novel ini adalah harganya yang relatif mahal (Rp. 89.900,-). Mungkin penerbit perlu lebih menyiasati agar novel yang kaya akan perspektif ini dapat dijual dengan harga yang lebih bersahabat sehingga dapat terjangkau dibeli dan dibaca oleh semua pecinta sastra.

Novel yang berjudul asli Benim Adim Kirmizi yang dikerjakan oleh Orhan Pamuk (penulis asal Turki) selama 6 tahun ini terbit pada tahun 1998. Pada tahun 2001 diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Erdgar M. Goknar sebagai My Name is Red. Tampaknya novel ini diapresiasi dengan baik oleh khalayak sastra dunia, setidaknya novel ini telah diterjemahkan ke dalam 25 bahasa dan dianugerahi berbagai penghargaan sastra internasional, antara lain Prix du Meilleur Livre Etranger 2002 (Perancis), Premio Grinzane Cavour 2002 (Italia), dan IMPAC Dublin Literary Award 2003 (Irlandia). Dan sebagai puncaknya novel ini pula yang turut mengantar Pamuk sebagai peraih nobel Sastra 2006.

@h_tanzil
Read more »

Sabtu, 30 Desember 2006

Buku Pilihan 2006

Mengikuti jejak Endah Perca di http://perca.blogdrive.com, inilah 15 buku berkesan yang saya baca selama tahun 2006.

Saya bagi dalam dua kategori, yaitu fiksi dan non fiksi, untuk non fiksi saya hanya memilih 5 buku saja karena keterbatasan bacaan saya terhadap buku-buku nonfiksi.

Buku-buku yang saya pilih tentunya sangat subyektif sekali, saya memilihnya berdasarkan tema yang unik, cara penyajian yang menarik, dan bagaimana buku-buku yg saya pilih ini membuat wawasan saya bertambah.

Urutan 1 s/d 10 bukan berdasarkan peringkat, melainkan berdasarkan urut alvabet

Fiksi :

1. Berjuta-Juta dari Deli - (Emil W. Aulia)
2. Balzac dan Penjahit Cilik dari Cina (Dai Sijie)
3. My Name is Red (Orhan Pamuk)
4. Perpustakaan Ajaib Bibi Bokkern (Jostein Gaarder)
5. The Kite Runner ( Khaleid Hosseini)
6. The Namesake (Jumpa Lahiri)
7. The Godfather (Mario Puzo)
8. To Kill A Mockingbird (Harper Lee)
9. Snow Flower (Lisa See)
10. Sang Pemimpi (Andrea Hirata)


Non Fiksi :
1. 1421 - Saat China Menemukan Dunia (Gavin Menzies)
2. Agar Anak Anda tertular Virus Membaca (Paul Jennings)
3. Ensiklopedia Sastra Dunia (Anton Kurnia)
4. Pramoedya Ananta Toer dari Dekat Sekali (Koesalah ST)
5. Menyusuri Lorong-Lorong Dunia (Sigit Susanto)

Selamat Tahun Baru 2007
Ayo Baca Buku!!!!!!

@h_tanzil
Read more »

Minggu, 24 Desember 2006

Selamat Natal !



Selamat Natal !

Karena begitu besar Kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-NYA yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

Yoh 3 : 16
Read more »

Kamis, 21 Desember 2006

Tanda tangan asli Coelho


Memenuhi permintaan teman2, kupajang tanda tangan asli Paulo Coelho di buku The Zahir !
Buku bertanda tangan ini kudapat setelah memenangkan lomba komentar Paulo Coelho yang diselenggarakan oleh milis Bibliphile_GPU@yahoogroups.

Nah, ini foto waktu Coelho menandatangani bukuku :-)

Berikut komentar para pemenangnya :

Paulo Coelho adalah pujangga sekaligus filsuf. Dengan karya-karyanya ia mendongengkan filsafat hidup dan nilai-nilai spiritual universal dalam bahasa yang menawan, sarat makna dan mengaduk imajinasi.

Hernadi Tanzil, (htanzil@gmail.com )

Bukan 'ending' cerita yang menjadi tujuan terpenting saat membaca karya Coelho. Namun kalimat-kalimat dalam karyanya, mulai dari awal sampai akhirlah yang mampu mencerahkan dan menginspirasi. Coelho mampu menuangkan filsafat kehidupan dalam cerita yang mengalir dan tidak membuat kening berkerut.
Yoke Yuliana (do_thea@yahoo.com)



Coelho laksana fotografer profesional. Beliau memotret absurditas, mencetaknya dalam bingkai realitas yang penuh keindahan, dan memberikan kita ruang untuk menikmatinya.

Airin Sunandar (st0rm_78@yahoo.com)

-------------------

Tanpa kuduga bukunya tiba di meja kerjaku pagi ini....langsung kubuka dan kuperlihatkan pada teman-teman kantorku dengan bangga....he..he..

Terima kasih untuk teman2 di GPU yang telah menyelenggarakan lomba komentar ini..

salam,
tanzil






Read more »

Jumat, 15 Desember 2006

Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan aku

Judul : Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan aku
dan cerita-cerita lain
Penulis : Akmal Nasery Basral
Penerbit : Ufuk Press
Cetakan : I, Desember 2006
Tabal : 268 hal






Apa yang tercerap sebagai kesan bagi kita setelah membaca seluruh cerpen Akmal ?


Pertanyaan tersebut dilontarkan oleh Kurnia Effendi (cerpenis nominator KLA 2006) sebagai kalimat penutup dari makalah yang berjudul “Membongkar Ihwal di Kepala Akmal” yang disampaikan pada saat pre-launch buku ini di Potluck Book Festifal - Bandung, 2 Des 2006.

Pertanyaan itu menggelitik saya untuk segera menjawabnya setelah membaca habis ke-13 cerpen plus kata Pengantar, Memoria, Galeri Publikasi, Galeri Inspirasi , Galeri Apresiasi hingga endorsment di cover belakang buku ini.

Agar teman-teman tidak jenuh membaca [Ulasan] yang biasa saya buat secara formal, ijinkan saya mengulasnya dengan gaya personal.

Ketika melihat tampilan fisik buku ini, terus terang saya agak kurang suka dengan covernya. Terus terang saya paling cerewet dalam soal cover karena bagi saya cover sebuah buku berpengaruh terhadap minat baca saya. (jangan ditiru ya…).

Yang ‘mengganggu’ saya dalam cover buku ini adalah foto patung ibu dan anak. Padahal backgroundnya berupa foto bangunan tinggi dengan dominasi warna biru sangat indah dilihat. Entah apa yang mendasari ilustrasi cover ini, apakah mengacu pada cerpen yang dijadikan judul buku ini dimana salah satu tokohnya adalah seorang ibu yang membunuh anak-anaknya ? Ah, yang pasti foto patung dalam cover buku ini membuat tampilan buku ini menjadi kaku.

Lalu di cover belakang tersaji deretan 7 bh endorsment ! yang membuat saya berdecak kagum, pengendors buku ini adalah orang-orang hebat di bidangnya, mulai dari sastrawan, rohaniwan, kolumnis, aktor, novelis, penyanyi, dan dosen filsafat!

Menurut hemat saya, tak perlulah endorsment sebanyak itu, kesannya koq jadi seperti Kang Akmal nggak ‘pe de’ dengan karyanya sehingga perlu memajang 7 buah endorsment dari orang-orang terkenal. (Ups! Maaf ini anggapan ‘asal’ saya lho..). Menurut saya cukup 2 atau 3 orang saja sehingga tampak lebih elegan dan biarlah karya ini berjuang sendiri tanpa perlu di’bantu’ oleh komentar sekian banyak pakar.

Dari segi lay-out halaman dalam dan ukuran buku saya rasa sangat baik, ukurannya yang ‘handy’ membuat buku ini enak dibaca dan mudah dibawa-bawa. Yang menarik adalah adanya ilustrasi-ilustrasi grafis di tiap cerpennya. Yang mengejutkan adalah adanya halaman-halaman yang hanya diisi oleh satu kalimat dan halaman kosong yang di blok oleh tinta hitam. Lalu ada lagi yang unik, dalam cerpen Hiu di Secangkir Kopi terdapat coretan tanda lingkaran di kalimat-kalimatnnya seakan cerpen tersebut masih berupa draft.

Nah, sekarang saya akan masuk pada isi cerpen.

Cerpen favorit saya sekaligus yang paling inovatif dari ketiga belas cerpen dalam buku ini menurut saya adalah cerpen “Matinya Pengarang Tersantun di Dunia”. Cerpen ini menceritakan persekongkolan antara tokoh wanita dan pria untuk membunuh pengarang yang menciptakan mereka. Jadi seolah-olah tokoh2 fiktif itu ‘hidup’ untuk membunuh si pengarang.

Cerpen-cerpen lainnya tak kalah menariknya. Menurut saya, cerpen-cerpen dalam buku ini menggambarkan Akmal sebagai wartawan. Umumnya cerpen-cerpennya diangkat dari berbagai fakta, misalnya cerpen “Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan Aku”, akan mengingatkan kita akan kejadian di Bandung dimana seorang ibu membunuh ketiga anaknya. Pada cerpen “Dilarang Bercanda Dengan Kenangan” setting ceritanya berkisar pada saat kunjungan seorang milyuner ke Aceh dan flash back ke masa meninggalnya Lady Di Paris. Peristiwa Bom Bali juga mengilhami Akmal untuk membuat cerpen “Prolog Kematian”. Bahkan kematian pesohor TV Steve Irwin oleh cambukan ekor ikan pari-pun disinggung dalam cerpen "Seekor Hiu di Cangkir Kopi”. Dan fakta yang paling gress adalah peristiwa lumpur panas Lapindo yang menjadi latar cerpen “Lebaran Penghabisan”.

Akmal juga saya lihat menyelipkan kritik-krtitik sosial pada beberapa cerpennya, misalnya pada cerpen “Lebaran Penghabisan” budaya open house yang kerap dilakukan oleh para pejabat saat hari Raya Idul Fitri kini dijadikan alat untuk menjilat atasan : “..karena pada hari itulah manusia saling bersilaturahmi dan saling memaafkan tanpa latar belakang sosial atau jabatan…Namun open house mengubah semuanya, bahkan sampai ke kampung-kampung. Siapa yang bisa menjamin bawahan yang datang ke rumah atasannya pada saat lebaran itu benar-benar murni bersilaturahmi dan bukan soal kondite?”. Lalu pada cerpen “Seekor Hiu di Cangkir Kopi”, disinggung pula realita kematian TKI di luar negeri yang sering luput dari perhatian dan terkesan ‘biasa’ dimata pemerintah kita. Dengan cerdas Akmal membandingkannya dengan Presiden Gloria Arroyo dari Filipina yang mempertaruhkan jabatannya untuk membebaskan seorang supir truk yang disandera kelompok bersenjata. (hal 207).

Selain itu ada juga cerpen yang kocak “Boyon” yang menceritakan seseorang yang diberi nama oleh ayahnya dengan Boyon karena ia lahir setelah ayahnya menonton film James Bond, karena namanya tak jamak maka Boyon sering diolok-olok oleh teman-temannya hingga akhirnya ia beberapa kali mengganti namanya. Namun kelak olok-olokan teman-temannya inilah yang akan mengantarnya pada kesuksesan.

Bagi saya seluruh cerpen dalam buku ini bisa dibilang menarik. Setting ceritanya menyebar mulai dari Aceh, Ambon hingga ke London. Kalimat-kalimatnya enak dibaca, kadang lugas dan sederhana tanpa metafora, namun ada juga yang menggunakan metafora-metafora indah. Semua tersaji dengan pas dan tidak berlebih-lebihan. Pengggalan-penggalan fakta dalam tiap cerpennya membuat kisah-kisahnya terasa dekat karena peristiwa2 yang diangkat sebagai latar cerpen merupakan bagian dari berita sehari-hari yang kerap kita baca dalam media cetak ataupun TV. Apalagi kalau kita lihat proses pembuatan cerpen-cerpennya dibuat di tahun 2006 (hanya satu yang dibuat pada tahun 2005)

Walau hampir semua cerpen-cerpennya pernah dimuat di media cetak, namun menurut Akmal cerpen-cerpen dalam buku ini memiliki perbedaan dengan versi media cetaknya karena terdapat sejumlah penyesuaian, revisi, atau penambahan karakter. Satu langkah yang patut diacungi jempol karena umumnya sebuah buku kumpulan cerpen hanya mencetak cerpen-cerpen sesuai dengan apa yang dimuat di media cetak sehingga lebih tekesan sebuah kliping.

Apakah ada cerpen yang jelek di buku ini….hmm entah karena saya terpesona oleh kemarihan akmal dalam bercerita, entah saya kurang kiritis, saya tak menemukan satu cerpen pun yang saya anggap buruk (ini bukan melebih-lebihkan lho…).

O ya, sedikit hambatan saya temui ketika membaca cerpen “Seekor Hiu di cangkir Kopi”. Coretan-coretan berupa lingkaran dalam kalimat-kalimat dalam cerpen ini sangat mengganggu kelancaran membaca. Entah apa maksud Akmal dan penerbitnya untuk melingkari beberapa kalimat dalam cerpen ini seakan cerpen yang tercetak ini adalah sebuah draft yang masih harus diperbaiki. Hingga kini saya masih penasaran…apa maksudnya ya…?????

Sebagai bonus buku ini juga memuat catatan dari salah seorang dewa sasta Prof.Dr. Budi Darma. Bagi saya masukan-masukan beliau benar-benar membuat saya manggut-manggut serasa dikuliahi secara langsung oleh beliau.

Akhir kata inilah kesan yang saya tangkap setelah membaca buku ini. Satu hal lagi karena profesi Akmal sebagai jurnalis, kadang ketika selesai membaca sebuah cerpen saya sering menduga-duga jangan-jangan ini peristiwa nyata!!!!

Mungkin itulah resiko membaca karya fiksi seorang jurnalis/wartawan, kita dibuat bingung mana fakta mana fiksi…..

Demikian kesan yang saya tangkap, saya harus menggakhirinya karena ada seseorang di kepalaku yang bukan aku yang menyuruhku untuk mengakhiri ulasan ini.

@h_tanzil
Read more »

Jumat, 08 Desember 2006

Siapa Bilang Kawin Itu Enak ?

Judul : Siapa Bilang Kawin Itu Enak ?
(Kumpulan certia pendek tentang pasangan muda)
Penulis : Tria Barmawi
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : September 2006
Tebal : 176 hlm ; 21 cm
Harga : Rp. 29.000,-




Judul kumpulan cerpen ini sangat provokatif. Bagaimana tidak, dalam benak kita pernikahan adalah sesuatu yang indah dan menjadi peristiwa yang sangat dinantikan bagi mereka yang telah memiliki pasangan yang serius, menikah adalah momen paling membahagiakan seperti yang dilihat dalam film-film drama romantis.

Apakah buku ini memang mencoba menjungkirbalikkan pandangan umum tentang indahnya pernikahan ? Tentu saja tidak! Buku ini hanya memandang saat pernikahan dan masa-masa setelahnya dalam sudut pandang yang berbeda. Sesuai dengan sub judulnya, “Kumpulan cerita pendek tentang pasangan muda”, semua cerita pendek yang terdapat dalam buku ini menceritakan tentang suka duka pasangan muda dalam menjalani pernikahan mereka.

Buku yang diberi label Metropop oleh penerbitnya ini berisi 17 cerpen yang dipilah berdasarkan tema yang lebih sempit lagi menjadi 5 bagian yang terdiri dari, Dua Jadi Satu, Tabir Mulai Terkuak, Cinta tak lagi cukup, Bumbu Cinta, Bersama Selamanya.

Pada Bagian Dua Jadi Satu, bab ini berisi dua buah cerpen dengan kisah-kisah sebelum pernikahan itu berlangsung. Salah satunya cerpen yang dijadikan judul buku ini : “Siapa Bilang Kawin Itu Enak”. Cerpen ini menceritakan bagaimana ribetnya mempersiapkan sebuah pernikahan, mulai dari soal undangan, seragam, katering, dll. Sini, aku kasih tahu ya,! Satu. Camkan. Persiapan pernikahan adalah mimpi buruk. Dari beberapa bulan, bahkan mungkin satu tahun sebelum Hari-H, kalian bakalan dibuat sibuk segala macam hal. (hal 22). Tidak itu saja, ‘siksaan-siksaan’ yang harus dilalui sang pengantin di hari pernikahannya pun terungkap secara menarik dan lucu. Pada akhirnya alih-alih hari-H yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan, malah menjadi puncak dari sebuah mimpi buruk.

Di bagian kedua hingga bagian kelima, tema-tema cerpen bergeser pada masalah-masalah sepele yang kerap timbul bagi para pasangan muda yang belum lama menikah. Berbagai cerita yang menggelitik dan inspiratif terdapat didalamnya, antara lain keributan di kamar tidur seperti yang terungkap dalam cerpen “Di Kamar Tidur” yang mengungkap bagaimana kebiasaan suami dan istri menjelang dan pada saat tidur dapat memicu sebuah konflik seperti posisi tidur, suhu AC, menonton TV, lampu kamar, dll.

Tidak hanya masalah kebiasaan dalam tidur, persoalan yang menyangkut selera lidahpun terungkap dalam buku ini. Dalam cerpen “Ketika Lidah Jadi Masalah” dikisahkan pasangan berbeda bangsa yang bermukim di Malaysia dimana Raj seorang Malaysia keturunan India beristrikan seorang Indonesia bernama Nina. Dalam hal makanan Raj hanya bisa mengkonsumsi makanan kari khas India kesukaannya. Selama tinggal di Malaysia hal ini tak menjadi masalah karena Nina tetap setia memasakkan kari untuk Raj. Persoalan timbul ketika mereka mengunjungi keluarga Nina di Indonesia dan bumbu instan kari yang dibeli di Malaysia tertinggal. Cerpen ini menarik karena penulis memasukkan dialog-dialog khas melayu yang bagi kita terdengar lucu, misalnya komentar Raj terhadap sayur sop : “Tapi I tak suka apa itu..masakan Indonesia. Nanti you buat I makan macam masakan you di sini..sayur without spices itu…”,…“Sedep macam mane? Sayur dak de warna, tak de rasa…mana boleh cakap sedap lah!” (hal 56)

Tidak hanya itu, buku ini mengungkap pula bagaimana ketika cinta yang menggebu-gebu di awal masa pacaran menjadi hambar oleh rutinitas seperti yang terdapat dalam cerpen “Telah Terbiasa”. Apalagi ketika kehadiran seorang bayi membuat seolah cinta yang tadinya hanya untuk masing-masing pasangan kini harus berbagi dengan hadirnya buah cinta mereka (cerpen Jealousy).

Secara keseluruhan cerpen-cerpen yang terdapat dalam buku ini berisi cerita-cerita yang menghibur yang menceritakan bagaimana para pasangan muda harus beradaptasi dan berkompromi dengan pasangan hidupnya. Tidak ada cerita dengan konflik-konflik yang berat, tema-tema yang diangkat semuanya ringan-ringan saja, menggelitik, sederhana dan realistis dan sangat dekat dengan keseharian kita sehingga ketika kita membacanya kita seolah membaca kisah diri kita sendiri dan menertawakan diri sendiri.

Yang mungkin agak disayangkan adalah sudut pandang seluruh kisah dalam buku ini hanya diambil dari sisi pasangan muda nya saja. Andai beberapa cerpen disajikan dengan sudut pandang yang berbeda, misalnya dari sudut pandang orang tua atau mertua masing-masing pasangan, tentunya buku ini akan lebih ‘berwarna’

Selain itu walau tampaknya penulis mencoba menyuguhkan kisah-kisah yang realistis, ada dua buah cerpen yang tampaknya sedikit mengada-ngada. Pada cerpen “One Night in Valley” rupanya penulis terjebak dalam kisah-kisah romantis ala Hollywod dimana si pria memberikan cincin pada istrinya sambil mengungkapkan cintanya di sebuah restoran dengan disaksikan oleh para pengunjung restoran. Adegan ini mengingatkan kita pada adegan di film-film drama romantis. Kenyatannya untuk budaya timur rasanya hal seperti ini agak janggal untuk dilakukan.

Lalu pada cerpen “Telah Terbiasa”, dikisahkan untuk mengatasi kejenuhan akibat rutinitas kehidupan perkawinan mereka, si istri menganjurkan suaminya untuk meminta tugas ke luar kota selama beberapa waktu. Rasanya hal ini tak lumrah dilakukan oleh seorang istri yang pada kisah ini masih sangat mencintai suaminya, mana ada sih istri yang mau ditinggal oleh suaminya dengan alasan jenuh pada pernikahan mereka ?

Namun terlepas dari hal-hal di atas ,secara keseluruhan kumpulan cerpen dalam buku ini tampaknya mampu memotret kehidupan pasangan muda dalam keseharian mereka. Semua cerita-ceritanya menghibur namun bukan sekedar membuat pembacanya tertawa, namun buku ini memberikan gambaran realistis bahwa kehidupan perkawinan tidak selamanya indah seperti dalam kisah-kisah dongeng. Pernikahan bukan hanya sekedar bukti cinta kita pada pasangannya melainkan pertautan dua hati beserta kebiasaan-kebiasaan masing-masing pribadi yang jika tidak dikomunikasikan dan diselaraskan akan memicu konflik dalam kehidupan perkawinan.

Sebagai tambahan, bagi pembaca yang telah menikah, beberapa cerpen dalam buku ini bisa dikatakan merupakan cerminan dirinya sehingga mereka umumnya akan berkata bahwa buku ini “Gue Banget!!!!”

@h_tanzil
Read more »

Jumat, 01 Desember 2006

Beijing Doll

Judul : Beijing Doll
Penulis : Chun Sue
Penerjemah : Ferina Permatasari
Penyunting : Yusi Avianto Pareanom
Penerbit : Banana Publisher
Cetakan : Pertama, Oktober 2006
Tebal : 292 hlm
Harga : Rp. 33.500,-



Beijing Doll adalah novel semi autobiografis karya Chun Sue, penulis muda China yang ketika novel ini ditulis baru berusia tujuh belas tahun. Dalam novel ini Chun Sue merekam berbagai kejadian di masa remajanya dan hal-hal lain tentang generasinya di tahun 90-an. Novel ini sempat menjadi kontoversi dan dilarang di China karena pemaparannya yang jujur akan perilaku seks dan kehidupan kaum remaja China di era 90-an. Hal ini memperpanjang daftar novel-novel karya penulis muda China yang dilarang beredar di negaranya sendiri namun mendapat sambutan yang baik di negara-negara Barat. Sebut saja Shanghai Baby – Wei Hui (1999) dan Candy – Mian Mian.(2000)

Tak dapat dipungkiri, Beijing Doll (2002) akan mengingatkan orang pada Shanghai Baby, sehingga sebelum membaca novel ini banyak pembaca berharap akan mendapatkan kehebohan yang sama dengan Shanghai Baby. Walau tema yang diangkat hampir sama, yaitu mengenai generasi baru yang tumbuh di China, namun novel ini berbeda dengan Shanghai Baby yang lebih menyerupai episode Sex in The City. Dalam Beijing Doll tampaknya Chun Sue sangat setia dalam pengalaman kehidupannya sebagai seorang gadis remaja, sehingga konflik-konfilknya tak sedalam Shanghai Baby.

Chun Sue dalam Beijing Doll menulis kesehariannya layaknya sebuah ‘diary’. Ia memulai kisahnya ketika ia duduk di kelas 3 SMP, gagal melanjutkan ke tingkat SMU akhirnya ia melanjutkan ke SMK (Sekolah Menengah Kejuruan). Chun Sue adalah tipikal gadis berusia empat belas tahun yang berasal dari kaluarga kelas menengah di Beijing. Ia gadis yang bebas, menyukai musik rock, menulis puisi dan novel, ia juga memiliki pandangannya yang liberal terhadap seks. Saat masih duduk di kelas 3 SMP ia telah kehilangan kegadisannya. Hobinya akan musik rock mengantarnya pada pergaulannya dengan para musisi rock underground. Ia rela mengambil cuti panjang untuk bisa berkunjung ke Kaifeng dimana sebuah band rock pujannya berada. Selain itu Chun Sue juga memiliki hobi menulis, hobinya ini ia salurkan dengan bekerja sebagai jurnalis di sebuah majalah

Hobi menulis dan mengikuti kehidupan para musisi ini rupanya yang sesuai dengan jiwa Chun Sue yang bebas. Ia tak mau terikat oleh apapun. Ketika akhirnya ia kembali dari cuti panjangnya dan harus mengulang di kelas tiga SMK, ia dimasukkan dalam sebuah kelas yang berprestasi yang menjalankan berbagai aturan untuk mempertahankan prestasi kelasnya tersebut, Chun Sue menjadi tak kerasan dan akhirnya memutuskan untuk keluar selamanya dari sekolah.

Chun Sue juga kerap memiliki hubungan dengan sejumlah laki-laki, semenjak SMP ia sudah beberapa kali berganti kekasih. Namun tak satupun yang mampu memberinya kehangatan kasih, semua berakhir dengan kekecewaan dan berlalu dengan begitu saja.
Dalam keluarganya pun Chun Sue kerap memberontak, hal ini dimanifestasikan dengan mengecat rambutnya dengan warna merah, hijau, pirang secara berganti-ganti walau orang tuanya tak menyetujuinya, namun Chun Sue tak bergeming karena baginya tak seorangpun bisa memiliki dirinya seutuhnya dan tak ada yang benar-benar bisa mengerti dirinya termasuk keluarganya sendiri.

Chun Sue seakan tak puas dengan sekelilingnya, baginya keluarganya seakan tak peduli dan tak memperhatikannya, ia juga merasa gamang dan tertekan dengan masa depannya. untunglah dibalik kesehariannya yang bebas dan tanpa batas itu ia menulis novel atau puisi sebagai satu-satunya jalan untuk melarikan diri dari kenyataan hidupnya.

Kisah-kisah kehidupan Chun Sue ditulis dengan mengalir, blak-blakan dan apa adanya. Sehingga bisa dikatakan gaya bertuturnya ini menghadirkan gaya baru dalam sastra kontemporer China. Sayangnya novel ini nyaris tanpa konflik-konflik yang memuncak hingga akhir cerita. Hal ini membuat novel ini cenderung membosankan. Munculnya rentetan nama-nama sejumlah tokoh yang menghiasi novel ini juga berpotensi membuat pembacanya sulit untuk mengingat siapa dan apakah tokoh-tokoh itu pernah muncul di awal-awal cerita.

Namun bagaimanapun juga dibalik kisahnya ini, Chun Sue tampaknya berhasil dalam memotret secara gamblang masa remajanya dengan segala tawa dan tangisnya. Mungkin saja apa yang dialami dan dirasakan oleh Chun Sue juga dirasakan banyak kalangan kaum muda karena novel ini telah melukiskan perasaan mereka dan mencerminkan tekanan batin, kebingungan, sikap keluarga dan kegelisahan-kegelisahan di masa remaja yang mereka alami. Hal ini seperti yang diungkap dalam kata pengantarnya : Aku harap semua orang di dunia ini, yang muda dan yang pernah muda, akan punya kesempatan membaca buku ini. Meskipun aku menulis pengalaman gadis Cina, remaja di manapun menghadapi masalah yang sama. Aku berharap bisa menjadi teman bagimu. (hal 7)

Selain itu ini novel ini juga memberikan gambaran mengenai perilaku generasi baru China lengkap dengan kultur anak muda urban yang suka akan musik rock, mengekspresikan diri dengan bebas, menolak tradisi lama hingga pandangan seks yang bebas.

Mungkin inilah dampak dari globalisasi dan liberalisasi yang dilakukan di China. China menjadi lebih liberal dan terbuka. Semakin banyak orang asing yang datang ke China, mau tak mau transfer budaya asing tak bisa dibendung lagi. Generasi baru China menyerap semua itu, mereka tergerak untuk mengaktualisasikan diri mereka sesuai dengan keinginan mereka karena bagi mereka yang dibutuhkan adalah keragaman, bukan keseragaman.

Kini pembaca tanah air bisa menikmati novel yang telah diterjemahkan dengan baik ini.
Ada beberapa ketidakkonsistenan penggunaan huruf dalam cetakan buku ini, bisa dipastikan hal ini bukan disengaja (salah cetak), juga terdapat bab yang diulang (dobel) sehingga mengganggu dalam kenikmatan membacanya.

Beberapa bulan setelah Beijing Doll terbit, pemerintah China segera melarangnya. Namun novel ini telah terlanjur terbaca di kalangan anak muda Beijing dan kabarnya telah memberi inspirasi bagi banyak anak muda di Beijing.

Apakah novel ini kelak akan memberi inspirasi bagi pembaca muda kita, atau hanya sekedar menjadi novel yang memuaskan rasa ingin tahu pembacanya akan kehidupan generasi baru di China ?

@h_tanzil
Read more »

Kamis, 23 November 2006

Perempuan Kembang Jepun

Judul : Perempuan Kembang Jepun
Penulis : Lan Fang
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Oktober 2006
Tebal : 288 hal ; 20 cm
Harga : Rp. 35.000,-






Kembang Jepun adalah nama sebuah kawasan di kota Surabaya. Entah didapat dari mana asal muasal istilah Kembang Jepun. Konon, di jaman Jepang kawasan ini adalah tempat berkumpulnya para serdadu Jepang untuk mencari hiburan lengkap dengan kembang-kembang (‘gadis-gadis’) yang setia menghibur serdadu-serdadu dan penguasa Jepang yang saat itu lazim disebut ‘Jepun’ sehingga kemudian daerah itu dinamakan “Kembang Jepun” yang berarti “kembangnya jepang”

Selain itu Kembang Jepun sejak jaman Belanda dan Jepang juga dikenal sebagai kawasan perdagangan yang banyak didiami oleh orang-orang China. Mereka membuka toko-toko dan restoran lengkap dengan tempat hiburan malamnya, bahkan hingga kini Kembang Jepun merupakan daerah sentra perdagangan terbesar di Surabaya dan juga dikenal sebagai China Town-nya Surabaya.

Ketenaran dan legenda kawasan ini pula setidaknya telah mengilhami para sastrawan untuk berkreasi berdasarkan legenda yang menyelimutinya. Sebut saja sastrawan senior Remy Sylado yang pada tahun 2003 menerbitkan novel berjudul “Kembang Jepun”, kini di tahun 2006 ini penulis asal Surabaya Lan Fang melahirkan sebuah novel yang memiliki judul yang hampir sama dengan novel Remy Sylado. Novel keempat Lan Fang yang kabarnya dikerjakan selama 3 tahun ini diberinya judul “Perempuan Kembang Jepun”.

Dengan latar belakang kawasan Kembang Jepun di Surabaya pada tahun 1940-an, novel ini bercerita tentang tokoh Matsumi, seorang perempuan Jepang yang berprofesi sebagai geisha. Matsumi adalah wanita cantik yang lahir dari sebuah keluarga miskin di Jepang, kemiskinannya membuat dirinya dijual oleh keluarganya sebagai geisha di distrik Gion di Kyoto

Matsumi tumbuh menjadi geisha yang berbakat. Berkat kecantikan dan kemahirannya dalam memainkan shamisen, bernyanyi, membaca puisi, menemani tamu, memijat, hingga memuaskan hasrat seks para tamunya, lambat laun ia menjadi seorang geisha yang terkenal di Kyoto. Pada saat puncak ketenarannya itulah Matsumi ditawari untuk mengikuti Shosho Kobayashi ke Indonesia. Baginya ini adalah kesempatan emas karena Shosho Kobayashi akan memegang peranan posisi penting di Indonesia selaku panglima perang tentara Jepang. Hal ini berarti Matsumi akan menjadi perempuan penting.

Karena geisha hanya ada di Jepang sedangkan jika ada perempuan Jepang yang menjadi penghibur di luar Jepang dianggap merendahkan martabat bangsanya, maka Matsumi masuk ke Indonesia dengan menyamar sebagai wanita China dengan nama Tjoa Kim Hwa.
Sesampai di Surabaya Matsumi menjadi wanita penghibur di klub hiburan milik Hanada-San yang melayani Sosoho Kobayasi dan tamu-tamu penting lainnya di kawasan Kembang Jepun

Di klub hiburan Hanada-san Matsumi beremu dengan Sujono, seorang kuli angkut kain yang bekerja di Toko Babah Oen yang kerap menantar kain di tempat Matsumi bekerja. Sujono memang sangat lihai memikat hati wanita, lambat laun Matsumi jatuh ke pelukan Sujono. Matsumi sadar bahwa Sujono telah beristri dan memiliki anak, namun ia tak kuasa menahan bujuk rayu Sujono yang piawai meluluhkan hatinya. Belum lagi Matsumi berkeyakinan jika ia tinggal bersama Sujono maka ia akan membentuk sebuah keluarga yang indah dan membuat dirinya menjadi seorang perempuan yang utuh dan melayani suami

Dari hubungan tersebut kemudian lahirkan seorang anak perempuan bernama Lestari. Namun apa yang diidam-idamkan Matsumi untuk membentuk keluarga yang indah dengan Sujono sangat jauh dari kenyataan. Lambat laun sifat buruk Sujono terungkap. Sujono yang gila sex lebih menikmati keindahan tubuh Matsumi dibanding bertanggung jawab terhap pemenuhan kebutuhan pokok keluarga yang telah dibentuknya. Walau Sujono mencintai Matsumi namun baginya Matsumi hanyalah pemuas nafsu sex-nya dan pelarian dari kehidupan rumah tangganya dengan istirnya (Sulis) yang kerap diwarnai pertengkaran.

Pekerjaan Sujono sebagai seorang kuli tentu saja tak bisa memenuhi kebutuhan dua istrinya. Matsumi terpaksa menggunakan uang tabungannya untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Di sinilah konflik mulai meruncing. Ketika tabungan Matsumi habis sedangkan Sujono tetap tak berusaha untuk memenuhi kebutuhannya, akhirnya setelah Jepang kalah Matsumi lari meninggalkan Sujono. Matsumi kembali ke negaranya dengan meninggalkan anak dan suaminya.

Tema pencarian cinta sangat kuat dalam novel ini. Ibu mencari anak, anak mencari ibu, suami mencari cinta istri, dan seorang geisha mencari cinta sejati. Lan Fang menyuguhkan novel ini dengan menarik. Selain tokoh Matsumi dan Sujono, novel ini mengupas juga kehidupan tokoh-tokoh lain yang masing-masing diceritakan dalam bab-bab tersendiri.

Pada tiap bab, penutur ceritanya adalah tokoh yang menjadi kupasan pada bab tersebut. Jadi novel ini memiliki bab-bab tersendiri yang mengisahkan dan mengungkap karakter-karakter Sulis, Matsumi, Tjoa Kim Hwa, Sujono, dan Lestari . Hampir seluruh tokoh digambarkan secara kelam dan memiliki pilihan-pilihan hidup yang salah dan sulit untuk dijalani.

Dengan adanya bab-bab tersendiri dari masing-masing tokoh dalam novel ini, maka semua karakter tokoh yang muncul tereksplorasi dengan baik, dan masing-masing peristiwa dilihat dari sudut pandang tokohnya masing-masing. Membacanya seperti menyusun sebuah rangkaian puzzle yang lambat laun akan memberikan gambaran utuh dari kisah dalam novel ini.

Dibalik kisah cinta yang pedih, novel ini juga mengungkap bagaimana kejinya para tentara-tentara Jepang dalam memuaskan nagsu berahi mereka. Seorang wanita penghibur bisa digilir sepuluh hingga lima belas tentara Jepang karena jumlah mereka lebih banyak dibanding wanita penghibur. Selain itu merekapun tidak dibayar, alih-alih membayar para perempuan itu diberi tempelengan dan siksaan yang diluar peri kemanusiaan.

Selain itu novel ini juga menyajikan sekilas kehidupan dan filosofis kehidupan seorang geisha. Bagi mereka yang pernah membaca Memoir of Geisha – Arthur Golden mungkin bukan hal yang asing, namun bagi yang belum pernah membacanya novel ini setidaknya bisa memberikan gambaran yang cukup jelas mengenai perbedaan seorang geisha dengan wanita penghibur biasa.

Untuk memudahkan imajinasi pembacanya akan sosok Matsumi novel ini juga menyajikan beberapa buah foto yang menampilkan seorang wanita berpakaian kimono yang tak lain adalah foto diri Lan Fang, penulis novel ini.



Novel ini memang sarat dengan konflik yang pedih, pembaca akan disuguhkan berbagai rentetan peristiwa yang menyesakkan dada, semua dirangkai dengan kalimat-kalimat yang menyentuh dan indah, pilihan kalimat-kalimatnya yang puitis sangat pas dalam menggambarkan kepedihan yang dialami oleh tokoh-tokohnya. Karakter-karakter tokohnya juga begitu kuat dan hidup sehingga membuat pembacanya seolah masuk dalam cerita yang ditulisnya. Pembaca akan dibuat bergelora dalam birahi, menangis, kesal, dan marah melalui karakter dan pengalaman para tokoh-tokohnya

Namun tentunya novel ini tidak dimaksudkan untuk membuat pembacanya tercekat dalam kepedihan para tokoh-tokohnya, ada berbagai makna yang bisa diambil dari novel yang menguras air mata ini. Setidaknya novel ini menyadarkan pembacanya bahwa uang dan seks bukanlah segala-galanya. Masih ada yang harus dicari dan dipertahankan yaitu cinta. Bukan sekedar cinta yang dirangkai dengan kalimat-kalimat manis dan sekedar diwujudkan dalam hubungan seks yang menggelora, melainkan cinta yang dilandasi kasih sejati yang kelak akan membangun rasa kebersamaan dan tanggung jawab dari orang yang dicintainya.

@h_tanzil
Read more »

Minggu, 19 November 2006

Ensiklopedia Sastra Dunia















Judul : Ensiklopedia Sastra Dunia
Penyusun : Anton Kurnia
Penerbit : iboekoe (Indonesia Buku)
Cetakan : I, Oktober 2006
Tebal : xvi + 314 hlm ; 15x24 cm
Harga : Rp. 55.000,-

Dalam konteks perbukuan indonesia rasanya tak banyak buku yang secara khusus menyingkap riwayat hidup dan karya sejumlah sastrawan dunia yang menulis dalam beragam genre seperti cerpen, novel, puisi, essai, dll. Kalaupun ada mungkin hanya sebatas nama-nama beserta karya-karya para pemenang nobel seperti yang pernah ditulis oleh Djoko Pitono Hadiputro dalam bukunya yang berjudul Seabad Para Pemenang Nobel Sastra (2001, Edumedia). Lalu ada lagi karya penulis senior Korie Layun Rampan yang berjudul Tokoh-Tokoh Cerita Pendek Dunia (Grasindo, 2005).

Selain dua buku di atas masih ada beberapa karya terjemahan yang masih berputar pada nama-nama pemenang nobel sastra. Sedangkan buku-buku berbahasa indonesia yang berisi peta sederhana mengenai tokoh-tokoh serta karya-karya sastra dunia secara komprehensif dan menyeluruh rasanya belum ada dalam ranah perbukuan kita.

Buku Ensiklopedia Sastra Dunia yang disusun oleh Anton Kurnia ini mencoba mengisi kekosongan buku tersebut. Satu langkah yang berani dan jenial bagi Anton Kurnia, penulis muda yang namanya lebih dikenal sebagai penerjemah karya-karya sastra dunia.

Buku ini dibagi menjadi 3 bagian yang terdiri dari ; Tentang Sejumlah Nama, Tentang Sejumlah Karya dan Tentang Sejumlah Hadiah Sastra. Pada Bab Tentang Sejumlah Nama memuat profil 315 sastrawan dari berbagai penjuru dunia dan zaman – dari Homer hingga pemenang Nobel Sastra 2006 Orhan Pamuk. Juga tak ketinggalan daftar semua karya-karya monumental yang dihasilkan oleh para sastrawan dunia yang meliputi prosa,puisi, naskah drama, dll.

Di bab kedua yang diberi judul Tentang Sejumlah Karya, berisi 5 kategori Seratus Karya Terbaik dalam hal ; Terbaik Sepanjang Masa, Novel Abad ke Dua Puluh, Buku sastra terpilih karya Perempuan, Novel Gay dan Lesbian Terbaik, dan Tokoh Fiksi Paling Mengesankan.

Pada Bab Tentang Sejumlah Hadiah Sastra, buku ini memuat daftar sejumlah hadiah sastra terkemuka, seperti Hadiah Nobel Sastra, Booker Prize, Putlitzer Prize, Akutagawa Prize, dll. Pada bab ini memuat 19 penghargaan sastra, mulai dari tingkat dunia, lokal (Amerika, Perancis, Jepang,dll) dengan beragam genre seperi prosa, cerpen, puisi, dll. Semuanya tersaji dengan rinci lengkap dengan keterangan mengenai jenis penghargaan, hadiah yang diperoleh, berserta nama-nama pemenang dan karya-karyanya dari awal diberikannya penghargaan hingga kini.

Yang juga melengkapi isi buku ini adalah terdapatnya keterangan mengenai karya-karya sastra dunia yang telah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia lengkap dengan penerjemahnya. Hal ini mungkin yang paling membedakan dari buku-buku sejenis yang ditulis oleh penulis-penulis asing.

Namun dibalik kelengkapan isi buku ini, jika dicermati terdapat beberapa kekurangan, yang pertama adalah tidak adanya foto diri sastrawan-sastrawan dunia. Padahal dalam sebuah ensiklopedia pemuatan foto adalah hal yang sepatutnya ada. Tentunya di era cyber ini sangat mudah menemukan foto-foto sastrawan dunia.

Yang kedua, dalam keterangan mengenai karya-karya yang pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia hanya memuat judul terjemahan, tahun terbit dan penerjemahnya, tidak satupun memuat keterangan mengenai siapa penerbitnya. Padalah keterangan penerbit sangat bermanfaat jika pembaca ingin mencari buku-buku terjemahan yang tercantum dalam buku ini.

Terlepas dari dua kekuarangan dalam buku ini, kelengkapan materi dan entri-entri dalam buku ini memang sangat layak diberi judul Ensiklopedi Sastra Dunia. Jika kita mendengar judul buku yang diberi titel ‘Ensiklopedia’ tentunya dalam pikiran kita akan terbentuk gambaran sebuah buku tebal, mewah, hard cover dengan harga yang mahal. Namun gambaran tersebut akan sirna setelah kita melihat wujud buku ini.

Buku Ensikopedia Sastra Dunia ini memang dikemas dalam bentuk yang sederhana, dicetak dalam kertas non HVS. Lay out isi buku inipun dibuat dengan sederhana namun informatif. Wujud buku yang sederhana namun padat dalam isi ini rupanya yang membuat buku ini reltif murah dan terjangkau oleh berbagai kalangan. Pilihan yang tepat karena jika buku ini dicetak dalam kemasan mewah tentunya harganya menjadi mahal sehingga informasi-informasi yang terdapat dalam buku ini menjadi tak terbaca dan hanya akan dimiliki oleh segelintir orang yang berkantong tebal saja.

Selain kelengkapan isinya, buku ini juga bisa menjadi bahan perenungan bagi kita, diantara ratusan nama yang terdapat dalam buku ini pembaca hanya akan menemukan satu nama melayu dan satu nama Indonesia. Dari tanah melayu kita akan menemukan satu nama Abdullah bin Abdul Kadir, sedangkan dari Indonesia hanya tercantum nama Pramoedya Ananta Toer. Tentunya dengan hanya terdapat dua nama ini membuat kita menyadari jika selama ini sastrawan melayu khususunya sastrawan Indonesia hanya mampu’bermain’ dalam wilayah lokal. Padalah sesama negara Asia lainnya seperti India, Jepang, dan Cina telah melahirkan sastrawan-sastran dunia peraih Nobel Sastra.

Dalam kaitannya dengan hal ini Anton Kurnia dalam kata pengantarnya memberi gambaran yang sangat baik sbb “ Mereka memang memiliki tradisi sastra yang kuat dan sejarah yang panjang. Mereka juga mau belajar dengan menyalin karya-karya asing dari khazanah sastra dunia ke bahasa mereka, menerbitkannya sebagai buku, serta menelaah dan menarik manfaat darinya. Kemudian, bila saatnya telah tiba, mereka kembali melahirkan karya-karya yang setara dengan karya-karya terbaik dunia lainnya.” (hl xiii).

Dari pendapat Anton ini kita bisa melihat bahwa salah satu solusinya adalah dengan menerjemahkan karya-karya sastra dunia kedalam bahasa kita. Solusi yang masuk akal dan tampaknya bukan hal yang sulit jika kita memiliki kesungguhan hati dalam menerjemahkan sastra-sastra dunia secara serius disertai idealisme yang kuat sehingga karya-karya terjemahannya pun bukan sekedar terjemahan yang asal-asalan guna kepentingan bisnis penerbitan semata.

Akhirnya buku yang ‘kaya’ ini memang telah hadir di tengah-tengah kita. Sebuah buku yang langka dan sangat baik diapresiasi bagi para pecinta buku, peminat sastra, penulis, kaum akademisi, atau pembaca awam. Dengan hadirnya buku ini tampaknya tujuan penulis agar buku ini dapat membantu mereka yang berminat membaca, dan menyingkap khazanah sastra dunia, serta mencari tentang riwayat hidup, proses kreatif, dan intisari sejumlah sastrawan dunia dapat terwujud. Tak berlebihan pula jika buku ini dijadikan buku wajib bagi sekolah-sekolah dalam bidang studi Sastra dan Bahasa.

Karena seiring bertambahnya waktu akan bermunculan pula nama-nama baru yang mengguncang sastra dunia dan terus diberikannya berbagai pengharaan sastra, alangkah baiknya jika dalam periode tertentu buku ini terus di-update sehingga kelak buku Ensiklopedi Sastra Dunia akan menjadi buku pegangan yang akan terus dibaca dan dimiliki pembacanya dari waktu ke waktu.

@h_tanzil
Read more »

Minggu, 12 November 2006

The Year of Magical Thinking

Judul : The Year of Magical Thinking
Penulis : Joan Didion
Penerjemah : Leinovar
Penerbit : Ufuk Press
Cetakan : I, Agustus 2006
Tebal : 254 hlm
Harga :





Hidup berubah cepat,
Hidup berubah seketika,
Kau duduk makan malam,
Lalu hidup yang kau jalani berakhir,

Kematian seseorang yang dikasihi adalah hal yang bisa menimpa siapa saja. Kapan waktunya masih merupakan misteri dan rahasia sang pemberi kehidupan. Kadang kita bisa menduga-duga jika orang yang kita kasihi itu telah menderita penyakit akut yang telah lama dideritanya, namun tak jarang kematiannya datang begitu tiba-tiba sehingga kita tak siap menerima kenyataan itu.

Joan Didion (74 thn), jurnalis dan penulis novel asal Amerika adalah salah satu diantara sekian banyak orang yang harus menerima kenyataan bagaimana kematian orang yang dikasihinya datang secara tiba-tiba tanpa ada tanda-tanda atau firasat apapun sebelumnya.

Beberapa hari menjelang Natal 2003, Joan Didion beserta suaminya yang juga seorang novelis : John Gregory Dunne baru saja menjenguk putri semata wayang mereka Quintana (36 thn) yang menderita pneunomia di Pusat Pengobatan Beth Israel di East End Avenue. Tak ada yang janggal dalam perjalanan pulang mereka menuju rumah. Setiba di rumah sementara John duduk di samping perapian sambil minum wiski, Didion sibuk menyiapkan makan malam untuk mereka berdua. Semua tampak normal. Mereka membicarakan berbagai topik yang ringan. Tiba-tiba tangan kiri John terangkat dan terkulai lemas. Awalnya Didion menyangka suaminya bercanda, namun segera ia mnyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan suaminya.

Setelah memanggil petugas paramedis, John segera dilarikan ke rumah sakit, malangnya nyawanya tak tertolong. John didiagnosa mendapat serangan jantung yang hebat yang menghantarnya pada kematian mendadak. Hal ini membuat kehidupan Didion berubah seketika. Bagaimana tidak, kebersamaan dengan John yang telah terbina dengan baik selama empat puluh tahun tiba-tiba terhenti seketika. Didion harus berjuang sendiri menghadapi kematian suaminya, sementara putri semata wayang mereka masih terbaring di ICU RS Beth Israel.

Empat minggu kemudian Quintana dinyatakan sembuh. Namun dua bulan sesudah itu, Quintana terjatuh ketika hendak bepergian bersama suaminya. Ia kemudian dibawa ke UCLA Medical Center dan harus menjalani pembedahan otak karena didiagnosa menderita penyakit hematoma yang parah. Ini berarti terdapat bekuan darah sehingga menyebabkan gangguan neurologis karena terjadi penekanan di otak.

Joan Didion kini hidup dalam kesendirian ditengah cobaan yang bertubi-tubi. Tahun-tahun ini disebutnya sebagai “The Year of Magical Thinking”, dimana ia menjalani kehidupannya dengan tabah sambil mencoba menapak kenangan manis yang pernah dilaluinya bersama John dan Quintana.

Pada tanggal 4 Oktober 2004, tepat sembilan bulan lebih lima hari setelah kematian sauminya Didion menggoreskan penanya untuk mencatat hari-hari terberat dalam hidupnya. Catatan-catatan inilah yang akhirnya diterbitkan pada tahun 2005 dengan judul “The Year of Magical Thinking”.

Walau tema utama memoar ini adalah kematian dan kedukaan, namun Didion menuliskannya tidak dengan cengeng. Mungkin saja isi buku ini tak memberikan ‘makna’ pada kematian suami dan anaknnya, tapi dengan gamblang buku ini menjelaskan efek yang ditimbulkan pada hati dan perasaan Didion, sehingga bisa dikatakan buku ini adalah buku yang jujur, jernih dan apa adanya. Dalam buku ini pembaca akan digiring untuk mengetahui apa yang ada dalam pikiran Didion saat berada dalam kabut kedukaan sekaligus memperlihatkan pada pembacanya akan apa yang hilang dari dirinya.

Pengalamannya sebagai jurnalis dan novelis senior membuat hal-hal yang dia alami sebelum dan setelah kematian John, maupun diskripsi mengenai penyakit dan penanganan medis terhadap John dan Quintana terurai secara detail dan kronologis melalui penyajian yang bersifat reportase. Alur cerita terus bergerak antara masa lalu dan masa kini sehingga pembaca memiliki gambaran yang utuh seperti apa keluarga Didion dan merasakan bagaimana pedihnya hubungan harmonis yang telah terbina selama 40 tahun itu tiba-tiba harus tercerabut dari kehidupannya.

Buku ini juga menyajikan bagaimana detailnya gambaran medis lengkap dengan istilah-istilah kedokteran yang bertaburan di lembar-lembar buku ini. Di satu sisi hal ini mungkin bermanfaat bagi pembaca yang mungkin pernah bersentuhan dengan pengobatan medis atau mereka yang berprofesi sebagai petugas medis, namun bagi pembaca awam hal ini bisa menjadi hal yang mengganggu kelancaran membacanya walau di halaman terakhir tersaji catatan penjelasan mengenai istilah-istilah medis yang terdapat di buku ini

Di halaman-halaman akhir ada sedikit yang mengejutkan yaitu dengan masuknya frasa mengenai Tusnami yang melanda pesisir Sumatera. Hal ini terungkap ketika suatu saat Didion membaca kembali novel pertamanya yang berjudul Democracy yang mengungkap mengenai gempa. “Aku membaca uraian tersebut setelah gempa berkekuatan 9.0 skala Richter mengguncang zona bawah laut Sumatera sepanjang enam ratus mil dan memicu tsunami yang menyapu bersih sebagian besar wilayah pesisir yang membatasi Samudera Hindia” (hal 239).

Pada akhirnya buku yang merupakan pengalaman nyata penulisnya yang sangat personal namun bersifat universal ini tentunya diharapkan dapat memberikan potret tentang sebuah keluarga yang harmonis yang keutuhannya secara tiba-tiba harus terpisah satu dengan lainnya karena kematian sehingga menyentuh setiap pembacanya yang diharapkan tak pernah berhenti mencintai suami atau istri atau anak mereka.

Tampaknya buku yang memprroleh penghargaan National Book Award 2005 dan Powell’s Pudly Award 2006 dan dinominasikan dalam National Book Critics Circle Awards untuk kategori nonfiksi ini memang sangat baik dibaca untuk mereka yang mungkin baru saja atau pernah mengalami kehilangan seseorang yang dikasihinya, atau setidaknya pengalaman Didion yang tertuang dalam buku ini akan menyadarkan orang akan arti kehilangan dan memberikan gambaran bagaimana pengaruh kehilangan bagi orang yang ditinggalkan oleh seseorang yang dicintainya.


Sedikit tentang Joan Didion

Bagi pembaca Indonesia nama Joan Didion (lahir 5 Desember 1943) mungkin masih terasa asing ditelinga. Tidak demikian dengan publik Amerika. Ia adalah penulis legendaris beberapa novel diantaranya ; Run, River (1963), Play It As It Lays (1970), A Book of Common Prayer (1977), Democracy (1984), The Last Thing He Wanted (1996), selain itu Didion juga kerap menulis beberapa tulisian non fiksi seperti kumpulan essai Slouching Towards Bethlehem (1968) and The White Album (1979), dll

Didion juga dikenal sebagai seorang jurnalis senior. Ia merupakan kontributor tetap The New York Review of Books dan The New Yorker. Bersama suaminya John Gregory Dunne (1932 – 2003) yang juga seorang penulis mereka berkoloborasi membuat beberapa naskah skenario film. Ia kini tinggal di New York City

The Year of Magical Thinking merupakan karya terbaru Didion. Buku ini diterbitkan pada Oktober 2005 yang lalu dan langsung mendapat respon yang baik dari para kritikus perbukuan Amerika, hal ini terbukti pada bulan November 2005, (satu bulan setelah bukunya terbit), buku yang dibaca oleh para ibu rumah tangga hingga ibu negara ini diganjar sebagai pemenang National Book Award 2005 untuk kategori non fiksi. Award ini merupakan salah satu penghargaan sastra terkemuka di Amerika, dimana pemenangnya memperoleh uang hadiah sebesar 10.000 dolar atau sekitar 100 juta rupiah dan sebuah patung kristal dari The National Book Foundation.

Dua minggu setelah buku ini selesai diekerjakan, putri semata wayang Didion, Quintana akhirnya meninggal dunia. The New York Times dalam reportasenya mengungkapkan bahwa Didion tak berniat merevisi atau mengubah bukunya setelah kematian putrinya. "It's finished," ujarnya.

@h_tanzil



Read more »

Jumat, 03 November 2006

The Godfather


Judul : The Godfather (Sang Godfather)
Penulis : Mario Puzo
Penerjemah : B. Sendra Tanuwidjaja
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : September 2006
Tebal : 680 hlm ; 23 cm
Harga : Rp.75.000,-





The Godfather menceritakan kisah keluarga Mafia yang dipimpin oleh Don Vito Corleone, ia dikenal sebagai salah satu pemimpin Mafia – Sisilia yang disegani di New York City Amerika, walau ia seorang pemimpin kerajaan bawah tanah raksaksa yang menguasai berbagai kegiatan bisnis ilegal dan hidup dalam dunia kejahatan yang kelam, dirinya tidak bersikap kejam seperti pemimpin mafia-mafia lainnya. Corleone dikenal sebagai seorang pria yang logis, adil dan murah hati.

Di samping menjalankan bisnisnya ia kerap didatangi siapa saja untuk dimintai bantuan. Ia tidak pernah memberikan janji kosong. Tidak peduli semiskin atau selemah apapun orang yang meminta bantuan, Corleone akan memasukkan kesulitan orang itu ke dalam hatinya dan ia akan melakukan apapun untuk menolong orang tersebut. Hanya satu hal yang diinginkanya. Yaitu orang itu menyatakan persahabatannya pada Corleone. Hal ini menyebabkan dirinya digelari “Don” yang terhormat, dan panggilan lainnya yang lebih penuh kasih, “Godfather”.

Keluarga Corleone merupakan keluarga mafia yang paling berpengaruh dan disegani diantara keluarga Mafia lainnya di Amerika Serikat. Pengaruhnya menyebar mulai dari kepolisian, kejaksaan, serikat buruh, hollywood, hingga gedung putih. Bisnis ilegalnya yang berpusat di Long Island menyebar dari mulai perjudian, minuman keras, real estate, taruhan pacuan kuda, dll. Salah satu bisnis yang tidak disentuhnya adalah narkotika. Don Corleone menganggap narkotika adalah bisnis kotor yang akan merusak pengaruhnya di pemerintahan resmi.

Awalnya keluarga Corleone hidup secara aman. Bisnis ilegalnya berjalan dengan lancar dan menguntungkan, tanpa bahaya, tanpa gangguan baik dari pemerintah resmi maupun dari keluarga mafia lainnya. Namun ketentraman ini terganggu ketika Sollonzo yang didukung keluarga mafia Tattaglia, salah satu dari Lima Keluarga Mafia yang berpengaruh di Amerika sekaligus saingan utama keluarga Corleone mengajaknya untuk bekerja sama melakukan bisnis narkotika. Tentu saja Don Corleone menolaknya.

Penolakan Don Corleone menimbulkan sakit hati bagi Sollonzo dan keluarga Tattaglia. Ditambah dengan kenyataan bahwa tanpa dukungan Corleone tak mungkin bagi Sollonzo untuk melaksanakan bisnis narkotikanya. Tanpa diduga Don Corleone ditembak oleh kaki tangan Sollonzo ketika sedang membeli buah-buahan bersama Freddie, putra sulungnya. Tentu saja penembakan ini berpotensi memicu terjadinya perang antar mafia.

Don Corleone luput dari maut, namun terluka cukup parah, sementara Freddie tampak sangat tertekan karena peristiwa tersebut. Selama Don Corleone dalam perawatan, tampuk pimpinan keluarga Corleone dikendalikan oleh Sonny Corleone, putra kedua Don Corleone dan dibantu oleh Tom Hagen selaku consigliere (penasehat) keluarga Corleone.

Sonny mengambil inisiatif menghabisi nyawa Sollonzo melalui Michael (putra ketiga Don Corleone). Misi ini berhasil dilaksanakan dengan sempurna dan untuk menghindari dari jerat hukum, Michael dilarikan ke Sisilia, Itali.

Belum pulihnya Don Corleone dimanfaatkan oleh keluarga Tattaglia untuk membalas dendam kematian Sollonzo dan memuluskan bisnis narkotikanya. Sebuah peristiwa tragis kembali menimpa keluarga Corleone sehingga melemahkan bisnisnya.

Hal ini membuat Don Corleone yang bijak mengambil langkah kenegarawan untuk menghentikan balas dendam antar keluarga yang tiada akhir. Suskes dengan misi damainya Sang Godfather mengundurkan diri dari dunia mafia. Cerita belum berakhir. Putra bungsu Corleone, Michael Corleone dengan langkah-langkah briliannya terus berusaha untuk mengembalikan kejayaan kerajaan keluarga Corleone.

Mario Puzo dalam novelnya ini mengemas kisah keluarga Corleone dengan kerajaan bawah tanahnya dengan menarik. Sejak awal. pembaca akan diikutsertakan dalam sebuah petualangan sepak terjang sang Godfather beserta tokoh-tokohnya yang memiliki beragam karakter yang kompleks yang memiliki harapan, impian, dan ketakutan, tapi juga merupakan pembunuh keji.

Selain tokoh Don Corleone beserta keluarganya, Puzo juga menghadirkan tokoh Tom Hagen selaku consiliegri, satu-satunya consiliegri yang bukan berdarah Italia. Juga terdapat tokoh Jhonny Fontane, penyanyi tenar sekaligus aktor terkenal. Melalui karakter Jhonny ini pembaca akan diajak menyelami kehidupan dunia selebritis Hollywood di tahun awal tahun 70-an lengkap dengan gaya hidup hedonis dan intrik-intrik di dalamnya yang memiliki persinggungan dengan keluarga Mafia.

Selain karakter-karakter tokoh-tokoh yang dipaparkan dengan begitu hidup, novel ini juga mengungkap sepak terjang dunia mafia dengan gamblang, lengkap dengan istilah-istilah yang umum digunakan seperti “Don”, Caporegime, Consilegri, dll, sehingga ketika novel ini terbit di tahun 1969, novel ini memberikan pengaruh yang besar bagi masyarakat dalam budaya populer Amerika, hal ini terbukti dengan semakin banyaknya mafia dan reputasinya yang tertuang dalam buku, iklan hingga film-film.

Terlepas dari benar tidaknya gambaran yang diberikan Puzo dalam novelnya ini sepak terjang Mafia dalam kehidupan masyarakat Amerika memang tak dak dapat dipungkiri keberadaannya. Wikipedia on line mengutip bahwa di tahun 60-an pemerintah Amerika Serikat telah melakukan kerjasama dengan Mafia antara lain dalam usaha pembunuhan terhadap pemimpin Cuba, Fidel Castro.

Kegambalangan dan cara berutur Puzo yang detail dan sangat hidup dalam The Godfather membuat pembacanya bertanya-tanya, apakah ini merupakan kisah nyata ? apalagi karakter Johnny Fontane dalam novel ini mengingatkan orang pada penyanyi Frank sinatra. Ada juga yang menduga kalau Puzo memiliki ‘link’ dengan Mafia sehingga ia mampu menuliskan novel ini dengan sangat detail. Namun dalam wawancaranya Puzo mengelak dan mengatakan bahwa novel yang diselesaikannya selama tiga tahun ini disusun hanya berdasarkan riset pustaka belaka.

Sebelum The Godfather meraih kesuksesan Puzo adalah penulis miskin, sudah dua novel ditulisnya The Dark Arena (1955), dan The Fortunate Pilgrim (1965). Kedua novel ini, walau banyak dipuji oleh para kritikus, bahkan Puzo sendiri menganggap karya keduanya merupakan karya terbaiknya, gagal di pasaran.

Puzo menulis The Godfather karena ia membutuhkan sejumlah uang. Ia terjerat hutang sebesar $20,000, keadaan ini membuat ia mengatakan kepada editornya bahwa ia akan menulis sebuah buku tentang mafia. The Godfather diselesaikannya selama hampir tiga tahun, selama waktu tersebut Puzo juga menulis beberapa cerita lainya.

Ketika the Godfather terbit di tahun 1969, novel ini mendapat sambutan yang sangat baik oleh pasar. Puzo bukan hanya bisa melunasi hutang-hutangnya, ia bahkan menjadi penulis tenar dan The Godfather kini menjadi novel klasik yang akan dikenang sepanjang masa. Novel ini telah terjual lebih dari 21 juta copy dan bertahan di daftar best-seller surat kabar The New York Times selama 67 minggu.

Kesuksesan The Godfather berlanjut ketika novel ini dilirik oleh sutradara bertangan dingin Francis Ford Copolla yang bersama-sama Puzo mengadaptasi novel ini ke layar perak. Puzo dan Copolla memperoleh Oscar untuk Skenario Adaptasi Terbaik. Sedangkan The Godfather I dan The Godfather II terpilih sebagai film terbaik tahun 1972 dan 1974

Gaung The Godfather kini terdengar kembali, di tahun 2004 Mark Winegardner, penulis asal Amerika menerbitkan The Godfather Return yang merupakan sequel dari The Godfather. – Mario Puzo. Dan pada Novemeber 2006 ini Mark Wineggarder kembali akan menerbitkan sekuel lanjutannya yang berjudul The Godfather's Revenge.

Apakah 2 sekuel karya Mark Winegarder ini akan sesukses The Godfather karya Mario Puzo ?


@h_tanzil
Read more »