Kamis, 08 Februari 2007

The Story Christianity

Judul : The Story of Chistianity – Menyusuri Jejak Kristianitas
Penulis : Michael Collins & Mathew A Price
Penerjemah : Natalias, Ismulyadi, Fransiskus
Konsultan Ahli : Dr. Fl. Hasto Rosiyanto, SJ
Penerbit : Kanisius, 2006
Tebal : 240 hlm ; 29x23.5 cm
Harga : Rp. 325.000,-

Perkembangan agama-agama besar di dunia telah memiliki sejarah yang panjang. Begitupun dengan Kristianitas. Setidaknya sudah dua puluh abad dari saat Yesus Kristus dengan karyanya mengajarkan pesan-Nya mengenai pertobatan dan keselamatan. Belum lagi jika kita menarik jauh sebelum masa itu, ketika akar-akar kristianitas mulai tumbuh sejak kelahiran Abraham sekitar 2000 SM.

Karena memiliki sejarah yang panjang, tak dapat dipungkiri Kristianitas merupakan bagian dalam sejarah dan budaya dunia. Iman kristen tidak hanya berperan dalam urusan agama (spiritual), tetapi juga telah mempengaruhi cara pandang dan cara hidup masyarakat dunia, dari moralitas hingga politik, dari sains hingga filsafat. Karenanya tak heran jika kini sepertiga penduduk dunia menyebut diri mereka Kristen.

Namun walau telah berabad-abad hadir dan mempengaruhi peradaban dunia, tak banyak orang yang mengetahui bagaimana awalnya Kristianitas berakar dan berkembang hingga sejauh ini. Walaupun ada buku-buku yang membahas sejarah Kristianitas namun tak jarang buku-buku itu tak terbaca oleh masyarakat luas karena umumnya ditulis dengan bahasa akademis yang cenderung sulit dipahami oleh masyarakat awam

Kini buku yang diberi judul “ The Story of Christianity – Menelusuri Jejak Kristianitas karya Michael Collins & Mathew A Price mencoba menuntun pembacanya melintasi 2.000 tahun sejarah Gereja dalam bahasa yang lebih populer, mudah diahami dan dihiasi ratusan gambar-gambar menawan sehingga membuat buku ini menjadi menarik dan memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi bagi masyarakat awam.

Buku ini dibagi menajadi 9 bagian besar yang terdiri dari Akar Kristianitas; Gereja & Kekaisaran; Kekaisaran Kristen; Pertobatan Eropa; Dari Perang Salib hingga Renaisans; Reformasi; Pencerahan & Kebangkitan Gereja; Misi & Revolusi; Gereja Global.

Akar Kristianitas (2000 SM – 64 M)
Akar Kristianitas dimulai dari sejarah bangsa Yahudi yang dimulai dari Abraham, banyak pokok kepercayaan Kristen terbentuk oleh peristiwa-peristiwa, pemimpin-pemimpin besar dan teks-teks Perjanjian Lama. Dan hal ini terus berkembang hingga kelahiran Yesus dan karya keselamatan-Nya hingga berdirinya gereja perdana dan perjalanan misi Para Rasul.

Gereja & Kekaiasaran (64-313)
Dari pengajaran para Rasul, orang-orang Kristen perdana menunjuk para uskup, penatua, dan diakon untuk mengatur komunitas dan ibadah mereka. Di masa ini komunitas Kristen mengalami penganiyaan yang berat dari negara (Kekaisaran Romawi). Selain tantangan dari luar, kekristenan juga menghadapi tantangan dari dalam berupa ajaran-ajaran yang bertentangan dari pengajaran Para Rasul.

Kekaisaran Kristen (313-590)
Setelah hampir dua abad masa penganiayaan oleh Kekaisaran Romawi, orang-orang Kristen dijizinkan beribadah di depan umum. Di masa ini diadakan konsili-konsili Gereja. Para kaisar dan uskup bekerja sama sehingga Gereja semakin berkembang. Seni dan teologi berkembang secara pesat dan penyebaran injil dilakukan oleh para misionaris hingga ke Iralndia, India, Ethiopia, dan Georgia.

Pertobatan Eropa (590-1054)
Pada masa ini agama Kristen mendominasi hampir seluruh benua Eropa. Sedangkan di Timur, orang-orang Muslim mulai bergerak ke Barat, mengakhiri dominasi Kristen di Afrika Utara dan Palestina. Sementara itu para Kaisar Kristen di Timur berusaha menjaga supremasi mereka atas Gereja. Di masa ini terjadi pula keretakan antara Gereja di Timur dan Barat, sehingga pada awal abad pertama milenium kedua, Gereja-gereja di timur dan barat mulai terpisah.

Dari Perang salib hingga Renaisans (1054-1517)
Di Selatan dan Timur, penyebaran injil mendapat tantangan yang keras. Atas desakan kaisar Byzantium yang memohon bantuan Gereja Barat untuk menghadapi orang-orang Turki, Paus Urabnus II menggelar konsili untuk melakukan Perang Salib. Perang ini mengakibatkan hancurnya kawasan Eropa. Setelah kondisi Eropa normal kembali, Kristianitas muncul sebagai sumber inspirasi berkembangnya seni dan ilmu pengetahuan yang akhirnya melahirkan zaman Renaisans.

Reformasi (1517-1648)
Kejayaan Renaisans yang salah satu dampaknya membuat gereja-gereja dibangun dengan dengan sentuhan seni yang tinggi menimbulkan ekses negatif. Guna membiayai pembangunan katedral St. Pertus, dilakukan penjualan indulgensi. Martin Luther, teolog Jerman, menentangnya dan menganjurkan beberapa pokok perubahan dalam gereja yang ia sebarkan pada masyarakat luas. Hal ini merupakan awal timbulnya reformasi Gereja. Gereja Katolik tidak menghiraukan usulan perubahan ini. Akibatnya Gereja menjadi terpecah menjadi dua (Katolik dan Protestan) dan memicu meletusnya pertumpahan darah antara negara Katolik dan Protestan

Pencerahan & Kebangkitan Gereja (1648-1776)
Gejolak perang agama selama zaman reformasi mengakibatkan pula desentralsiasi dalam tubuh gereja, para reformis membuka pintu bagi para ilmuwan dan filsuf untuk menghadapi persoalan hidup melalui perspektif pemikiran sekular. Masa ini pula melahirkan suatu kebangkitan spiritual dalam sejarah kristiani.

Misi & Revolusi (1776-1914)
Pengaruh para tokoh reformis dan pemikir di zaman pencerahan dalam kehidupan sosial terus berlanjut. Ruang gerak Gereja terus diperluas. Para misionaris mewartakan injil ke negeri-negeri yang belum pernah mendengarnya. Tokoh-tokoh Kristen menguatkan vitalitas kristianitas dengan menyerukan kebangkitan secara besar-besaran. Mereka juga menggunakan otoritas moralnya untuk menentang perbudakan dan eksploitasi kaum buruh.

Gereja Global (1914-1999)
Abad XX menampakkan suatu transformasi dalam Gereja Kristen. Gereja-gereja baru mulai merambah ke berbagai negara di Asia, Afika dan Amerika Latin. Mereka tumbuh secara pesat. Selain itu gerakan-gerakan karismatik dan evagelis yang eukumene semakin berpengaruh secara global, khususnya dalam gereja-gereja Protestan. Walau didera dua kali perang dunia, gereja global tetap bertahan dan terus menawarkan dukungan dan jaminannya kepada kemanusiaan.

Pada intinya jika kita menyusuri setiap lembar halaman dalam buku ini kita akan melihat bagaimana Kristianitas berkembang secara dinamis dalam pemikiran dan penerapan. Buku ini juga mengajak kita melihat sejarah Kristianitas dalam bentuknya yang paling kompleks dan memberikan informasi dan gambaran yang menyeluruh tentang iman Kristen mengatasi semua denominasi.

Yang membuat buku ini unik dan menarik selain cakupan bahasannya yang mendetail, menarik dan kompleks mengenai sejarah Kristianitas yang panjang, adalah bahasanya yang mudah dipahami oleh orang awam dan ratusan ilustrasi-ilustrasi indah berupa peta, foto-foto patung, artefak sejarah , maupun reproduksi lukisan yang diambil dari museum-meuseum terkenal seperti Louvre Perancis, Galery Florence, Italy, Bridgeman Art Library, London, Vatican Museum, Israel Museum, hingga Pushkin Museum, Moscow, Rusia.

Selain itu koloborasi antara penulis Katolik (Michael Collins) dan Protestan (Matthew A. Price) membuat buku ini terkesan ekumenis. Perbedaan teologis yang tajam berhasil diharmonikan dalam buku ini. Setiap pokok persoalan dalam sejarah Kristianitas dibahas dengan cara yang terbuka, dapat dipercaya, dan dapat diterima . Demi menghasilkan karya yang bisa diterima oleh semua umat Kristen dan dunia, Michael Collins dan Mathew A Price tampaknya berhasil mengesampingkan perbedan tradisi dan doktrin diantara keduanya untuk memperjuangkan kebaikan yang lebih besar sehingga buku ini bisa terwujud.

Kini buku yang dalam bahasa aslinya diterbitkan pada tahun 1999 oleh Dorling Kindersley Limited, London ini bisa kita nikmati dalam edisi bahasa Indonesia. Penerbit Kanisius tampaknya konsisten menjaga agar edisi Indonesianya sama kualitas isi dan cetakannya dengan edisi aslinya. Buku ini dikemas dalam dua jenis sampul (hardcover & softcover), dan dicetak dalam ukuran besar (29x23.5 cm) diatas kertas art paper sehingga keindahan ilustrasi yang bertaburan dalam buku ini dapat dinikmati secara optimal oleh pembaca buku ini dan layak dikoleksi sebagai bahan referensi yang diandalkan.

Tentunya keindahan dan kayanya informasi sejarah Kritianitas dalam buku ini tidak hanya dimaksud untuk sekedar menjadi penghias rak buku belaka. Buku ini layak dibaca oleh umat Kristen maupun masyarakat umum yang berminat mengetahui sejarah Kristianitas. Bagi pembaca umum mereka akan diajak melihat relung-relung Sejarah Kristianitas yang sangat menarik sekaligus inspiratif. Bagi umat Kristen, seperti yang diungkap oleh kedua penulis buku ini, diharapkan melalui buku ini mereka dapat menemukan roh sejati Kristianitas dan intisari dari Dia yang kepada-Nya jutaan orang telah membaktikan hidup lebih dari 2.000 tahun yang lalu.


@h_tanzil
Read more »

Senin, 05 Februari 2007

Size 14 is not Fat Either

Size 14 is not Fat Either: A Heather Wells Mystery
Meg Cabot
Pan Books, 2007
345 Hal.

Fischer Hall kembali menjadi Death Dorm dengan ditemukannya kepala seorang pemandu sorak, Lindsay, di dalam sebuah pot di kantin Fischer Hall. Heather Wells, sebagai asisten direktur yang bertanggung jawab atas semua yang terjadi di Fischer Hall, kembali ‘beraksi’. Meskipun sudah diwanti-wanti agar menjauh dan jangan ikut campur dalam masalah ini, seperti kasus terdahulu di Size 12 is not Fat, Heather tetap saja membandel. Rasa penasaran dan rasa tanggung jawabnya membuat ia kembali ‘tercebur’ dalam kasus ini.

Heather menyelidiki orang-orang terdekat Lindsay. Heather mendapatkan petunjuk dari rekan-rekan Lindsay sesama pemandu sorak. Dari Kimberly, Heather menduga adanya hubungan khusus antara Lindsay dan Coach Andrew. Tapi, petunjuk lain mengarah pada anak pemilik perusahaan kontraktor yang paling berkuasa, Doug dan Steve Winner.

Belum lagi ‘sisa’ tubuh Lindsay ditemukan, salah seorang petugas kebersihan di Fischer Hall, Manuel, dianiaya sekelompok orang tak dikenal. Dalam keadaan lemah, Manuel memberikan petunjuk baru bagi Heather. Ternyata kematian Lindsay berkaitan dengan sindikat pengedaran obat terlarang di antara para siswa. Hal ini juga melibatkan sebuah persekutuan di kalangan siswa, Tau Phi. Sebuah persekutuan turun-temurun yang usianya sudah sangat tua.

Tapi, penyelidikan Heather ini membuat dirinya kembali terjebak dalam bahaya dan hampir membuat dirinya ikut jadi korban. Bahkan salah satu siswanya, Gavin, harus ikut mengalami penyiksaan agar Heather mau menyerah. Tapi, Heather adalah perempuan yang berani. Dia gak nyerah begitu saja, malah ia menantang Winner bersaudara yang sangat berpengaruh itu.

Masalah Heather bukan hanya kasus kematian Lindsay, tapi juga masalah pribadinya. Mulai dari kedatangan ayahnya yang baru keluar dari penjara, lalu, mantan tunangannya, Jordan Cartwright, yang memaksanya untuk datang ke pernikahanya yang katanya akan jadi Celebrity Wedding of the Year, dan juga perasaan terpendamnya pada Cooper Cartwright.

Buku ini gak lebih menarik dari yang pertama. Malah biasa-biasa aja. Pengulangan kalimat, “… dorm, I mean, Residence Hall…” berkali-kali malah jadi bikin bosan dan jadi gak penting. Size 12 yang berubah jadi Size 14 menunjukkan kalo Heather agak sedikit lebih gemuk.. tapi, toh, kata Heather, Size 14 masih ukuran rata-rata perempuan Amerika..
Read more »

Minggu, 04 Februari 2007

Winnetou & Old Shatterhand

Judul : Winnetou & Old Shatterhand jilid 1 & 2
Penulis : Karl May
Ilustator : Juan Arranz
Teks oleh : Paguyuban Karl May Indonesia (PKMI)
Editor : Marulina Pane.D.H. , Pandu Ganesa
Penerbit : Gaya Favorit Press & PKMI
Cetakan : I, Desember 2006
Tebal : 64 hlm ; 14.5 x 19 cm
Harga : Rp. 15.000,-/jilid

Karl May dan tokoh-tokoh rekaaannya seakan tak pernah mati, kisah-kisahnya selalu dibaca orang dari generasi ke generasi. Nama-nama tokohnya seperti Winnetou, Old Shatterhand, Kara Ben Nemsi, dll selalu dikenang sebagai tokoh-tokoh petualang tangguh yang memiliki kisah memikat dan selalu mengusung semangat perdamaian dan nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi

Jika dihitung sejak Karl May mempublikasikan karya-karyanya, maka tahun ini karya-karyanya telah berusia lebih dari seratus tahun. Selama ini pula karya-karyanya terus dicetak ulang, diterjemahkan ke berbagai bahasa dan disajikan dalam berbagai bentuk. Mulai dari cerita bersambung sebuah harian di Jerman, dibukukan menjadi sebuah novel dengan berbagai versi, dibuat komik, difilmkan hingga akhirnya dibuat versi kartunnya.

Di Indonesia sendiri karya-karya Karl May telah memiliki sejarah panjang. Buku-bukunya dibawa masuk ke bumi nusantara oleh orang-orang Belanda dimasa pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Mengisi rak-rak buku pejabat dan perpustakaan gereja dan sekolah-sekolah dimasa itu. Selain itu dimiliki dan dibaca juga oleh pribumi yang sudah melek huruf dan terdidik, bahkan menjadi inpirasi beberapa tokoh kemerdekaan Indonesia, antara lain Bung Hatta, Syahrir, dll,

Di Indonesia buku-buku Karl May terus diterbitkan ulang hingga kini. Walau sempat mati suri di tahun 90- an, sejak tahun 2002 berkat usaha para pecinta karya-karya Karl May yang tergabung dalam Paguyuban Karl May Indonesia (PKMI) kini karya Karl May kembali mengisi rak-rak toko buku tanah air. Selain dalam bentuk novel, cerita bergambar, novel komik, kini karya Karl May diterbitkan dalam bentuk komik yang diterjemahkan dari komik berbahasa Belanda karya Juan Arranz.

Sebenarnya komik karya Juan Arranz ini pernah diterbitkan oleh Gramedia di tahun 80-an, namun sumber yang digunakan berbeda sehingga ototomatis terdapat perbedaan dengan yang pernah diterbitkan oleh Gramedia.

Komik yang diberi judul Winnetou & Old Shatterhand ini terbit dalam 5 seri dimana isinya paralel dengan novel Winnetou I : Kepala Suku Apache dan Winnetou II : Si Pencari Jejak (Pustaka Primatama & PKMI)

Di seri 1, komik ini diawali dengan kisah kedatangan Charley (Old Shutterhand) ke benua Amerika. Baru saja ia menjejakkan kakinya di pelabuhan ia bertemu dengan seseorang yang hendak mencari guru privat bagi anak-anaknya dan Charley langsung menerima tawaran tersebut. Di tempatnya mengajar ia bertemu dengan Mr Henry yang mengajaknya berkunjung kerumahnya dan memperlihatkan senapan pembunuh beruang. Dari perkenalannya dengan Mr. Henry, Charley akhirnya diterima bekerja sebagai Surveyour pada perusahaan pemasang rel kereta api di daerah wild west, daerah yang selama ini diimpikan olehnya untuk dikunjungi. Dan senapan pemburu beruang itupun dihadiahkan Mr Henry untuk menemani Charley di daerah yang asing bagi dirinya.

Sebagai seorang surveyour Charley ditemani oleh Sam Hawkens dan kawan-kawannya, mereka bertugas mengawal para juru ukur yang bertugas untuk memetakan tanah yang kelak akan dilalui oleh rel kereta api. Namun para juru ukur ini bekerja dengan malas-malasan dan mabuk-mabukan. Charley akhirnya terlibat perselisihan dengan Rattler salah seorang seorang juru ukur. Sikapnya yang semena-mena membuat Charley habis kesabarannya dan menghadiahi Rattler dengan pukulan mautnya. Rattler langsung pingsan dan semenjak itulah Charley dijuluki Old Shatterhand ( Tangan yang menghancurkan).

Di jilid pertama kisah baru bergulir seputar pengalaman seru Old Shatterhand unjuk keahliannya antara lain keahlian menembak menngunakan senapan pemburu beruang yang berat, menjinakkan kuda liar, memainkan tari laso, berburu bison hingga menjinakkan bagal .

Di jilid ke-2 selain mengisahkan serunya Old Shatterhand melawan beruang grizzly, juga diceritakan pertemuan mereka dengan Klekih Pietra, guru suku Apache, Intshu Tshuna, Kepala Suku Apache dan Winnettou anak kepala suku Apache. Mereka mempertanyakan hak Old Shatterhand dan kawan-kawannya untuk membangun jalur kereta api diatas tanah milik suku Apache. Ketika negoisasi masih berlangsung Rattler menembakkan pistolnya sehingga menyebabkan Kleikh Pietra tewas tertembak. Walau saat itu Kepala suku Apache dan Winenou tak langsung membalas dendam namun Old Shatterhand dan kelompoknya tetap terancam karena sewaktu-waktu suku Apache pasti akan menyerangnya.

Old Shatterhand dan rombongannya kemudian bertemu dengan suku Kiowa yang merupakan musuh bebuyutan suku Apache. Kebetulan Sam Hawkens, bersahabat dengan kepala suku Kiowa. Permusuhan antar kedua suku ini dimanfaatkan oleh Old Shatterhand agar terhindar dari pembalasan dendam suku Apache. Akhirnya suku Kiowa berhasil menangkap Kepala Suku apache dan Winnetou. Karena ia tidak menginginkan Winnetou dibunuh oleh suku Kiowa maka dibuatlah suatu taktik agar Winnetou dan kepala suku berhasil lolos dari siksaan orang Kiowa. Berhasilkah taktik ini ? Tentunya akan lebih menarik jika membaca sendiri kelanjutan kisahnya.

Bagi pecinta karya-karya Karl May, komik Winnetou karya Juan Arranz ini dianggap sebagai komik yang paling mendekati dengan karakter-karakter dan gambaran yang diciptakan oleh Karl May. Gambar-gambarnya menarik, dilukis dengan gaya realis, full colour dan didominasi oleh warna-warna yang cerah. (Kuning, hijau muda, biru,dll). Kalimat-kalimat yang terdapat dalam balon percakapan tersaji secara simpel dan mudah dimengerti sehingga komik ini cocok untuk dibaca oleh anak-anak.

Aslinya komik ini berukuran besar seperti komik Tintin atau Asterik dan dicetak diatas kertas art paper. Sayangnya terjemahan komik ini dicetak dengan kertas yang menyerupai kertas koran sehingga keindahan warna-warni komik ini sedikit banyak akan terdistorsi. Komik ini juga dicetak dengan ukuran yang lebih kecil dari komik aslinya, yaitu menjadi seperti ukuran buku tulis (14.5x19 cm) dengan tebal 64 halaman untuk setiap jilidnya.

Namun walau mengalami penciutan ukuran dari komik aslinya, gambar-gambar dalam komik ini tetap nyaman untuk dibaca dan dinikmati. Frame gambarnya tetap besar, bahkan ada beberapa halaman yang dua halamannya berisi satu frame saja (Gambar Sam dan Mustang, hal 22-23 di seri 1). Malah di komik terjemahan ini peletakan frame-frame gambarnya disusun secara bebas, tidak seperti komik aslinya yang terkesan kotak-kotak seperti sawah.

Pandu Ganesa selaku ketua Perkumpulan Paguyuban Karl May Indonesia (PKMI) sekaligus salah satu editor komik ini, mengungkapkan penciutan ukuran dan penggunaan kertas koran dalam komik ini dimaksudkan untuk menyiasati harga yang kemungkinan akan melambung tinggi jika dicetak sesuai dengan aslinya. Dengan ukuran dan penggunaan kertas seperti ini maka harga per bukunya bisa ditekan hingga Rp. 15.000,-. Dan menurut survei pasar yang dilakukan oleh penerbit, harga inilah yang paling tepat dan terjangkau untuk sebuah komik yang bisa dikonsumsi anak-anak hingga dewasa.

Selain menerbitkan kelima jilid komik seri Winnetou & Old Shatterhand, tampaknya proyek pembuatan komik Karl May masih akan terus berlanjut. Bahkan masih menurut Pandu Ganesa, kini PKMI sebagai bank naskah telah memiliki 7 komik Belanda karya Juan Arranz. Dengan demikian diharapkan ada sekitar 20 jilid komik karya Juan Arranz yang akan diterbitkan. Selain itu PKMI juga telah menyiapkan komik2 Karl May hasil karya komikus Indonesia yang akan menggarap seri Winnteou dan Kara Ben Nemsi.

Seperti yang menjadi harapan PKMI, dengan terbitnya karya-karya Karl May dalam bentuk komik, kisah-kisah petualangan Old Shatterhand, Kara Ben Nemsi, dll diharapkan akan menarik minat anak-anak untuk mencintai tokoh-tokoh tersebut. Sehingga anak-anak tidak hanya mengenal tokoh komik superhero buatan hollywood (batman, superman, spriderman, dll) atau tokoh-tokoh komik-komik jepang yang kini digandrungi anak-anak.

Semoga dengan hadirnya komik Winnetou & Old Shatterhand ini, anak-anak memiliki tokoh idola baru yang dalam kisah-kisahnya selalu menonjolkan nilai persahabatan antar manusia yang berbeda ras, bangsa , dan kepercayaan serta mengutamakan perdamaian dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Dan itu semua adalah nilai-nilai positif yang harus ditanamkan kedalam benak setiap orang semenjak anak-anak.

@h_tanzil
Read more »

Kamis, 01 Februari 2007

Free Booklet & Map

Waktu abis baca Everyboy's Got One - Meg Cabot, gue iseng-iseng browsing, pengen tau yang namanya Le Marche itu seperti apa. Le Marche adalah tempat Holly, tokoh utamanya, jalan-jalan, adalah tempat di Italia yang jadi lokasi untuk Holly dan teman-temannya menginap.

Nah, gue pengen tau, kaya' apa sih puri-puri di Le Marche. Lalu gue cari-cari di google, ketemulah website: http://www.le-marche.com/Marche/, di sana ada tulisan 'Free Offer: free booklets & map'. Gue klik bagian itu, dan gue kirim email yang isinya alamat pengiriman. Gak berharap banyak juga sih, bakal dikirimin.

Eh.. ternyata, setelah kira-kira dua minggu, datang sebuah amplop besar ke kantor gue, dengan tulisan yang gue tau kiriman dari luar negeri. Ternyata isinya, gue dapet booklet gratis, isinya ada map Le Marche, brosur-brosur tentang tempat wisata di Le Marche dan juga directory kalo kita mau jalan-jalan ke Le Marche (Hahaha.. I wish...)

Dasar gue hobi ngumpulin brosur & peta tempat wisata (luar negeri terutama), gue seneng banget dapet kiriman gratis ini. Nice service...
Read more »

Jumat, 26 Januari 2007

Gelang Giok Naga

Judul : Gelang Giok Naga
Penulis : Leny Helena
Penyunting : M. Irfan Hidayatullah
Penerbit : Qanita
Cetakan : I, November 2006
Tebal : 316 hlm ; 20.5 cm
Harga : Rp. 39.500,-


Batu Giok dan Naga, adalah dua hal yang melekat dalam kehidupan orang Cina.. Batu Giok yang juga memiliki nilai tinggi layaknya permata, dipercaya sebagai menangkal bala, menyembuhkan penyakit dan juga simbol status sosial. Sedangkan Naga adalah simbol yang sangat kompleks dalam kosmologi Cina. Naga bisa bertindak sebagai pelindung sekaligus pembawa bencana. Semenjak dinasti Han (300 SM) naga dijadikan lambang kekaisaran sebagai kekuasaan yang absolut dari seorang kaisar, bahkan kaisar-kaisar Cina dipercaya sebagai keturunan langsung dari naga. Bukan itu saja secara luas masyarakat Cina juga sering menyebut diri mereka sebagai keturunan naga.

Giok dan Naga, dua hal inilah yang oleh Leny Helena disandingkan dalam sebuah kisah dimana Giok dan Naga berpadu di dalam sepasang gelang. Gelang Giok Naga dalam novel ini seperti diungkapkan oleh penulisnya, juga bisa diartikan sebagai simbol dimana gelang melambangkan dunia materialitas dimana penampilan fisik sering dijadikan parameter, khususnya bagi para wanita. Giok melambangkan bagaimana wanita dihargai layaknya permata, namun juga rapuh, bisa pecah dan hancur, namun wanita juga bisa memilih untuk berjuang dan bertahan bagaikan naga yang pada akhirnya akan disegani.

Dalam novel ini dikisahkan Kaisar Jia Shi menghadiahi selir kesayangannya - Yang Kuei Fei - sepasang gelang yang terbuat dari batu giok murni dengan hiasan naga emas didalamnya. Pada tahun 1723 Kaisar Jia Shi berencana memperluas daerah kekuasaannya hingga ke Korea. Rencana ini didukung oleh beberapa menteri dan jenderal, namun beberapa menteri lainnya menentang keinginan sang Kaisar karena mereka menganggap situasi di dalam negeri banyak yang masih harus dibenahi. Kasim Fu termasuk petinggi istana yang menentang rencana kaisar. Untuk itu ia membujuk Yang Kuei Fei untuk memata-matai dan membujuk Kaisar untuk membatalkan niatnya.

Suatu malam ketika sedang berdua dengan Yang Kuei Fei, Kaisar Jia Shi terbunuh karena seseorang telah menaruh racun dalam semangka yang dimakannya. Karena ketakutan dituduh telah membunuh Kaisar, Yang Kuei Fei melarikan diri bersama Kasim Fu. Dalam pelariannya ia tak lupa membawa perhiasan-perhiasannya termasuk sepasang Gelang Giok Naga pemberian sang Putera Langit. Tak hanya itu, dalam rahimnya ia juga membawa benih cinta antara dirinya dengan sang Kaisar !.

Gelang Giok Naga ternyata terus tersimpan dan diwariskan dari generasi ke generasi, uniknya gelang ini selalu diwariskan kepada anak perempuan. Entah pada generasi keberapa akhirnya gelang ini diberikan pada A Sui di tahun 1937 ketika ia hendak menyusul suaminya ke Batavia.

Di tahun yang sama, di Batavia A Lin, gadis cina miskin dijual oleh orang tuanya untuk dijadikan penghibur. A Lin akhirnya dijadikan seorang ‘nyai’ bagi seorang meneer Belanda bernama Cornell van der Beek.Walau awalnya hidup bahagia sebagai nyai dan memiliki anak kembar, A Lin akhirnya harus hidup sendiri setelah Cornell dan kedua anaknya kembali ke Belanda. Namun A Lin tidak meratapi nasibnya, daripada dijual kembali untuk menjadi Nyai ia memutuskan untuk menikah dengan seorang Cina hingga akhirnya memiliki anak dan menjadi pedagang yang sukses.

Berbeda dengan A Lin, kehidupan A Siu di Batavia tak berlangsung mulus, setelah kematian suaminya, A Siu hidup menderita dengan ketujuh anak-anaknya. Untuk menyambung hidupnya A Siu menggadaikan gelang giok naga pemberian ibunya pada salah seorang wanita Cina kaya di batavia. Dan wanita itu adalah A Lin.

Secara tak terduga anak A Lin dan A Siu berteman hingga akhirnya putra A Lin menghamili putri A Siu sehingga akhirnya mereka harus menikah. Dari pernikahan ini lahirlah Swanlin yang namanya diambil dari kedua nama neneknya (A lin dan A Siu). A Lin dan A Siu kini terikat dalam ikatan keluarga. Namun mereka tidak pernah akur, karenanya A Siu tak pernah menanyakan keberadaan gelang giok naga yang pernah digadaikannya pada A Lin yang hingga kini belum pernah ditebusnya. Demikian pula dengan A Lin, ia tak pernah sedikitpun menyinggung soal gelang itu pada A Siu. A Siu hanya berpesan pada cucunya – Swanlin agar memberitahu padanya jika ia melihat nenek A Lin kedapatan memakai gelang giok naga.

Cerita terus melompat maju hingga Swanlin dewasa dan bergaul dekat dengan teman-teman diluar etnisnya. Ia juga membantu mencari keberadaan kedua anak A Lin dari buah cinta neneknya di masa lalu dengan Cornell. Selain itu Swanlin dan kedua neneknya juga melewati saat-saat genting dalam dunia politik dimana Indonesia mengalami pergolakan reformasi dan etnis tionghoa menjadi sasaran amuk massa yang tak terkendali.

Kisah Gelang Giok Naga pada awalnya merupakan cerita bersambung yang diikutsertakan dalam Sayembara Mengarang Cerber Femina 2004. Cerber yang awalnya berjudul Gelang Giok ini berhasil memenangkan sayembara tersebut. Seperti diutarakan oleh penulisnya, novel Gelang Giok Naga merupakan pengembangan cerita dari versi cerbernya.

Tampaknya ada banyak hal yang ingin disampaikan oleh penulisnya dalam novel ini. Novel ini bisa dikatakan novel yang sarat dengan muatan historis-sosiologis. Di halaman-halaman awal pembaca akan disuguhkan cerita mengenai legenda Naga, lalu beralih ke keadaan kekaisaran Cina dimasa Dinasit Ching di abad 18. Kehidupan kaisar dan intrik politiknya, kehidupan selir-selirnya, hingga proses pengebirian pria yang hendak dijadikan kasim untuk menjaga harem istana terungkap di bab-bab awal novel ini.

Sesuai dengan panjangnya bentangan waktu dalam novel ini (1723-2001) aspek-aspek kultural masyarakat tionghoa dari masa kemasa dalam novel inipun ikut terungkap. Setelah pembaca diajak memahami situasi Cina di abad ke 18, maka ketika cerita bergerak di tahun 30-an kita akan diajak menyimak bagaimana kondisi sosial masyarakat etnis Tionghoa di Batavia di dimasa itu. Salah satunya mengenai Nyai. Ternyata yang bisa dijadikan ‘nyai’ bagi para meneer Belanda bukan hanya wanita pribumi saja. Gadis-gadis Cina yang kurang beruntung harus rela dijual sebagai ‘Nyai’.

Selain itu novel ini juga memotret perilaku dan gaya hidup etnis Tionghoa dari masa kemasa. Karena novel ini ditulis juga oleh seorang etnis tionghoa maka apa yang selama in dirasakan dan dialami oleh seorang Tionghoa sebagai warga minoritas terungkap dengan jelas, hal ini terwakili oleh apa yang dialami dan menjadi pemikiran tokoh Swanlin, mulai dari ejekan sebagai Cina celeng, ketakutan kesulitan mencari pekerjaan jika masih memakai nama cina, korban penjarahan jika ada kerusuhan hingga anggapan umum bahwa etnis tionghoa adalah pencuri rezeki kaum pribumi, dll. Namun dengan bijak penulis juga melakukan otokritik terhadap etnis Tionghoa antara lain sifat ekslusif dan sulit berbaur dengan lingkungannya.

Novel yang dituturkan oleh tiga orang wanita (A Lin, A Sui dan Swanlin) ini juga menyinggung semangat eksistensi keperempuanan yang cukup kental. Ketiga tokoh wanita dalam novel ini mencerminkan para wanita yang ulet dan tidak menyerah pada nasib atau hanya bergantung pada lelaki. A Lin digambarkan sebagai wanita tegar dan pandai, baik ketika ia menjadi Nyai maupun ketika tuannya meninggalkannya. Sosok A Lin sebagai Nyai yang cerdas dan mau belajar banyak hal, akan mengingatkan kita pada tokoh rekaan Pramoedya AT - Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia. A Sui juga digambarkan sebagai wanita yang berhasil mengatasi kesulitan hidup ketika ditinggal mati suaminya untuk menghidupi ketujuh anaknya. Swanlin mewakili wanita masa kini digambarkan sebagai tokoh wanita yang cerdas, melawan tradisi harus menikah dengan laki-laki sesukunya, ikut mendaki gunung sebagai satu-satunya peserta wanita, dan turut memainkan peran dalam perjuangan reformasi.

Selain tercermin dalam ketiga tokohnya, semangat perlawanan eksistensi keperempuanan juga tampak pada keberadaan gelang giok naga yang selalu diwariskan pada anak perempuan, hal yang tak lazim karena masyarakat cina yang patrilineal lebih mengutamakan anak pria terlebih dalam meneruskan simbol keluarga.

Rentang waktu yang panjang (1723-2001) yang menjadi setting kisah ini merupakan salah satu keunikan novel ini. Novel ini dibagi dalam 16 bab berdasarkan tahun. Sayang lompatan tahunnya tak konisiten. Kadang lompatan tahunnya begitu rapat, kadang melompat jauh 10 tahun bahkan hingga ratusan tahun (1724-1935).

Lompatan cerita yang terlalu jauh dalam novel ini menyebabkan adanya bagian-bagian yang tak terceritakan yang sebetulnya akan lebih menarik bila bisa diungkapkan. Selain itu kisah Gelang Giok Naga dalam novel ini seolah tenggelam dalam cerita ketiga tokoh wanitanya. Akan lebih menarik jika diungkap bagaimana serunya dan dramatisnya gelang ini berpindah dari generasi ke generasi. Dalam novel ini kita hanya mendapat cerita bahwa gelang ini berpindah dari tangan kaisar ke selirnya, lalu ke tangan orangtua A Siu dan diwariskan pada A Siu, digadaikan kepada A Lin dan akhirnya diberikan pada Swanlin. Kisah perpindahannya sendiri tampaknya tak terlalu didramatisir oleh penulisnya sehingga keberadaan gelang giok naga ini seolah hanya sekedar benang merah tipis yang mengikat keseluruhan cerita.

Sebenarnya materi cerita dan ragamnya tema yang diangkat oleh penulis, berpotensi besar untuk menjadikan novel ini sebagai novel yang monumental yang membahas sejarah panjang masyarakat etnis tionghoa di Indonesia lengkap dengan uraian historis sosiologiosnya. Andai saja penerbit atau penyuntingnya lebih sabar untuk tidak menerbitkan dulu novel ini dan memberikan kesempatan pada penulisnya untuk memberikan sentuhan dramatis pada perjalanan gelang giok naga dan memperdalam ekplorasi cerita, tokoh-tokohnya dan memperdalam muatan budayanya, bukan tak mungkin novel ini akan menjadi semakin menarik dan menjadi novel yang terus dibaca orang terutama bagi mereka yang ingin memahami bagaimana kehidupan kaum minoritas etnis Tionghoa yang telah memiliki sejarah panjang dan membentuk budayanya sendiri di bumi Indonesia.

Namun terlepas dari kekurangan di atas. Leny Helena, seorang warga negara indonesia yang kini tinggal di Houston USA telah berhasil mengangkat nilai-nilai kultural leluhurnya dalam tema lokal dengan balutan cerita menarik dengan plot yang enak diikuti dan enak dibaca. Ragamnya tema yang terungkap dalam novel ini (gender, intrik politik dan kekuasaan di zaman Dinasti Ching, kehidupan etnis Tionghoa di Indonesia, konflik identitas, reformasi 1998 dan kisah cinta lintas etnis) tentunya menjadikan karya ini tidak sekedar menjadi hiburan semata. Nilai-nilai informasi yang bertaburan didalamnya otomatis akan memperkaya pembacanya dalam banyak hal.


@h_tanzil
Read more »

Kamis, 25 Januari 2007

How to Cheat a Dragon’s Curse

How to Cheat a Dragon’s Curse
Oleh Hiccup Horrendous Haddock III
Diterjemahkan dari Naskah Norwegia Kuno oleh Cressida Cowell
Hodder Children’s Book, 2006
237 Hal.

Petualangan Hiccup kali ini lebih menegangkan dibanding buku-buku yang sebelumnya. Karena Hiccup harus berpacu dengan waktu untuk menemukan ramuan penangkal racun Naga Kobra Beracun.

Di akhir buku sebelumnya, How to Speak Dragonese, diceritakan bahwa salah seorang tokohnya ada yang kena sengatan Naga Kobra Beracun. Hmmm.. agak spoiler dikit, nih… Tokoh itu adalah Fishlegs.

Musim dingin yang panjang menuntut seorang bajak laut tidak hanya handal di lautan, tapi juga handal di mengarungi samudera yang membeku. Untuk itu seorang bajak laut harus punya kemampuan berseluncur di atas salju. Itulah pelajaran baru yang harus dipelajari Hiccup dan teman-temannya kali ini.

Mereka berlatih seluncur salju di Pegunungan Villany. Lagi-lagi Hiccup ditunjuk sebagai ketua dalam ‘ekspedisi’ kali ini. Tapi, sepertinya Hiccup harus selalu mengalami kegagalan dalam setiap pelajarannya. Hiccup dan Fishlegs nyasar lagi, kali ini ke perkampungan suku Histeria yang dikenal berbahaya. Tidak seperti biasanya, Fishlegs yang penakut, tiba-tiba saja nekat berteriak, menantang orang-orang suku Histeria. Duh, karuan aja, keduanya, plus Toothless yang lagi kedinginan, ketakutan. Untungnya, Hiccup meskipun sering diremehkan, selalu punya keberanian dan akal tambahan di saat-saat genting. Mereka pun selamat dari kejaran suku Histeria.

Di tengah musim dingin yang sepertinya tak akan pernah berakhir, penduduk Pulau Berk merayakan Freya’sday, yang acaranya antara lain main ‘hockey’, menebak hadiah dan lain-lain. Pertandingan hockey kali ini, anak-anak Hooligan Berbulu harus menghadapi anak-anak perempuan dari suku Bog-Burglars. Hiccup bertemu lagi dengan Camicazi, ahli waris takhta suku Bog-Burglars. Tapi, lagi-lagi, Fishlegs bersikap aneh. Kali ini yang jadi sasaran kemarahannya adalah Stoick Agung, kepala suku Hooligan Berbulu.

Hiccup yang peduli banget dengan temannya, langsung membawa Fishlegs ke Old Wrinkly. Kata Old Wrinkly, sikap aneh Fishlegs menunjukkan gejala keracunan bisa Naga Kobra Beracun. Hiccup harus bisa menemukan penangkalnya sebelum hari Jum’at jam sepuluh pagi, kalau tidak, Fishlegs akan meninggal. Obat penangkal itu adalah sebuah tanaman-yang-tidak-boleh-disebutkan-namanya (hmmm.. kaya’ Voldemort, aja nih..), yang hanya bisa ditemukan di benua Amerika, yang ketika kisah Hiccup ini ditulis, belum ditemukan.

Satu-satunya yang punya tamanan penangkal ini adalah suku Histeria. Artinya, Hiccup harus kembali ke sana agar bisa menyelamatkan nyawa Fishlegs. Akhirnya, Hiccup, ditemani Camicazi dan tentu saja, Toothless, nekat mengarungi laut yang membeku untuk kembali ke pemukiman suku Histeria. Ancaman bukan hanya datang dari suku Histeria, tapi juga dari Doomfang, naga yang menakutkan yang terperangkap dalam lautan yang membeku. Setiap saat, jika es mencair, Doomfang bisa saja menyerang mereka.

Perjuangan untuk mendapatkan tanaman itu juga tidak mudah, Hiccup harus menjadi tawanan suku Histeria dan berhadapan dengan Nobert the Nutjob, kepala suku Histeria. Meskipun bisa bebas, Hiccup dan teman-temannya, pulang dengan tangan kosong.

Kejutan lain menanti Hiccup ketika ia kembali ke Pulau Berk.

Jadi, gimana nasib Fishlegs? Haruskah Hiccup kehilangan sahabat terbaiknya? Apa ya tanaman-yang-tidak-boleh-disebut-namanya itu?

Yang gue suka dari catatan harian Hiccup ini adalah di akhir cerita meskipun berakhir dengan jelas, pasti ada clue lagi untuk buku selanjutnya yang bikin kita penasaran menantikan petualangan berikutnya.

Read more »

Minggu, 21 Januari 2007

How to Train Your Dragon

How to Train Your Dragon (Bagaimana Caranya Melatih Nagamu)
Oleh Hiccup Horendous Haddock III
Diterjemahkan dari Naskah Norwegia Kuno oleh Cressida Cowell
Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Maria Masniari Lubis
Little Kaifa, Cet. I Januari 2006

256 Hal.

Ini adalah bagian pertama dari catatan Hiccup Horrendous Haddock III. Lewat buku ini kita berkenalan dengan Harapan dan Ahli Waris Takhta Suku Hooligan Berbulu. Kalau dilihat dari penampilannya, tidak akan ada yang percaya kalau Hiccup adalah seoranga Ahli Waris atau calon pahlawan Viking. Hiccup adalah jenis anak yang akan terlewat di tengah keramaian dan cepat dilupakan.

Di pagi yang sangat dingin dan bersalju di Pulau Berk, sepuluh orang anak Viking sedang berkumpul untuk melewati ujian agar bisa menjadi anggota penuh suku Hooligan Berbulu. Syararnya adalah mereka harus lulus ujian Program Penerimaan Awal dengan Menangkap Naga. Hiccup-lah yang ditunjuk Gober the Belch – pemimpin program pelatihan itu, untuk menjadi pemimpin operasi Penangkapan Naga. Cemooh dan ejekan langsung terlontar dari mulut sepupunya, Snotlout.

Operasi itu tidak berjalan dengan mulus. Bahkan Hiccup dianggap gagal menjadi pemimpin. Naga yang ditangkapnya pun bukanlah naga yang seharusnya dimiliki seorang Ahli Waris. Hiccup hanya bisa menangkap Naga Kebun Biasa atau Naga Cokelat – yang tentunya tidak perlu diperkenalkan lagi. Yup.. betul, Toothless adalah naga tangkapan Hiccup.

Setelah berhasil menangkap naga, ujian selanjutnya adalah melatih naga mereka dengan perintah dasar, dan menangkap ikan. Sayangnya, selain tangkapan yang kurang memuaskan, Toothless ternyata naga yang pemalas. Susah bagi Hiccup untuk mengajari Toothless.

Acara Thor’sday Thursday menjadi acara puncak bagi kesepuluh anak Viking itu untuk menunjukkan kemampuan naga tangkapan mereka. Lagi-lagi, acara kacau balau. Gara-gara Toothless berkelahi dengan Fireworm, Naga Mimpi Buruk milik Snotlout. Kekacauan itu membuat mereka harus menjalani hukuman sebagai kaum buangan karena dianggap gagal dalam ujian menjadi suku Viking sejati.

Tapi… Hiccup akhirnya berhasil menyelamatkan mereka semua dari hukuman itu, salah satunya berkat kemampuannya bicara bahasa naga, suatu keahlian yang dilarang. Hiccup menjadi pahlawan karena kemampuannya merancang strategi dalam menghadapa naga yang mematikan yaitu, Naga Lautus Gigantismus Maksimus.

Inilah kisah yang merubah nama Hiccup The Useles dan Toothless menjadi Hiccup The Useful dan Toothfull… tapi tetap saja, masih diragukan kemampuan bahwa Hiccup akan jadi Pahlawan Viking yang besar nantinya.

Read more »

How to Speak Dragonese

How to Speak Dragonese (Bagaimana Caranya Bicara Bahasa Naga)

Oleh Hiccup Horrendous Haddock III
Diterjemahkan dari Naskah Norwegia Kuno oleh Cressida Cowell
Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Maria Masniari Lubis
Little Kaifa, Cet. I November 2006
264 Hal.

Ketemu lagi dengan Hiccup Horrendous Haddock III. Kali ini petualangan kembali dimulai di Laut-yang-Dikenal-Sebagai-Bak Mandi-Odin dalam pelajaran Mendarat Di Perahu Musuh. Hiccup berpasangan dengan sahabatnya, Fishlegs, berada dalam perahu mereka yang oleng, The Hopefull Puffin.

Kali ini tugas mereka adalah mendarat di perahu nelayan dari Negeri Damai. Sebuah sasaran yang mudah sebetulnya. Tapi, dasar nasib sial, mereka berdua malah nyasar ke perahu Romawi. Fishlegs dan Hiccup hampir saja jadi tawanan kalau saja Toothless yang sempat ngambek tidak menyelamatkan mereka.

Mereka berdua selamat, tapi Toothless terperangkap jarring Romawi, dan bukan itu saja, buku berharga Hiccup, yaitu buku catatan ‘Bagaimana Carnaya Bicara Bahasa Naga’ robek, dan terbelah dua. Satu bagian berhasil dirampas oleh Prefek Romawi.

Mereka kembali ke Pulau Berk dan lagi-lagi Hiccup membuat ayahnya, Stoick Agung kecewa.

Ternyata, Romawi punya rencana yang sangat busuk. Mereka berencana untuk mengadu domba suku Hooligan Berbulu dengan suku Bog-Burglar. Mereka menculik ahli waris kedua suku itu, dan mengatakan bahwa suku Hooligan Berbulu menculik ahli waris suku Bog-Burglar dan sebaliknya. Romawi berniat membuat kedua suku itu saling berperang.

Dan tentu saja, Hiccup pun diculik. Tapi, karena ciri-ciri yang meragukan, Fishlegs pun ikut diculik oleh pasukan Romawi yang menyamar jadi orang suku Bog-Burglars. Di penjara, Hiccup dan Fishlegs bertemu Camicazi, Ahli Waris Takhta Suku Bog-Burglars. Dan bukan itu saja, Hiccup mendapat kejutan lain, yaitu bertemu lagi musuh bebuyutannya yang ternyata menjadi Prefek di dalam pasukan Romawi. Musuhnya masih tetap licik.

Prefek itu merencakan sebuah pertunjukan di hari Saturn Saturday – Hari Sabtu Saturnus dalam pertunjukkan yang bertema Perjuangan Mempertahankan Hidup. Tentu saja, ada jebakan khusus yang dirancang untuk menghabisi kedua ahli waris itu, terutama Hiccup.

Tapi, meskipun di awal tidak dapat diandalkan, keberaniannya selalu muncul di saat yang menegangkan. Akalnya banyak dan membuatnya kembali jadi pahlawan (atau paling tidak calon pahlawan).

Tapi (lagi), di akhir cerita, penulis menyampaikan sebuah clue yang ‘menyedihkan’. Karena, salah satu tokoh di cerita ini, ada yang tersengat bisa Naga Kobra Beracun yang sempat diselipkan Prefek Romawi dalam buku catatan Bagaimana Caranya Bicara Bahasa Naga. Dan, tampaknya cerita ini akan jadi inti di catatan harian Hiccup selanjutnya di buku How to Cheat a Dragon’s Curse.

Read more »

Kamis, 18 Januari 2007

V for Vendetta

Judul : V for Vendetta
Genre : Novel Grafis
Penulis : Alan Moore & David Llyod
Penerjemah : Sisilia Kinanti G
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 301 hlm ; 26 cm
Harga : Rp. 95.000,-


London, 5 November 1997, House of Parliamet, simbol kekuasaan pemerintah Inggris diledakkan oleh seseorang berinisial ‘V’ yang dalam aksinya berdandan dan menggenakan topeng ala Guy Fawkes. Selain peledakan, aksi V juga diikuti dengan atraksi kembang api yang mengagetkan seluruh penduduk London.

Di saat yang hampir bersamaan, V menyelamatkan Evey Hammond, seorang gadis dengan masa lalu yang kelam dari jebakan para intel polisi saat hendak melacur. Dalam aksinya ini beberapa intel polisi terbunuh secara mengenaskan dan Evey diajaknya untuk tinggal bersama V di sebuah tempat rahasia yang dinamai Galeri Bayangan.

Sebelum polisi melacak siapa sebenarnya V, teror terus berlanjut, kali ini dengan menculik Lewis Prothero seorang tokoh politik sekaligus penyiar ‘suara takdir’ - radio propaganda pemerintah inggris. Prothero dibawa ke sebuah tempat yang kondisinya serupa dengan Kamp Relokasi Larkhill, sebuah tempat mirip kamp konsentrasi nazi untuk menampung masyarakat yang melawan atau tidak sejalan dengan ide pemerintah inggris. Prothero yang pernah menjadi kepala Kamp Larkhill kini mendapat siksaan mental dari V hingga akhirnya menjadi gila dan dibebaskan.

Teror yang dilakukan V terus berlanjut, patung Madam Justice, simbol keadilan dihancurkan, lalu terjadi beberapa pembunuhan, dengan bantuan Evey, V membunuh Uskup Lilliman . Lalu seorang dokter wanita bernama Delia Surridge tewas disuntik oleh racun mematikan. Dari ketiga kasus ini lambat laun polisi berhasil menemukan titik terang, baik Prothero, Uskup maupun dr Delia, ketiga-tiganya pernah bekerja di Kamp Relokasi Larkhill yang kini telah ditutup. Di kamp ini pernah dilakukan berbagai eksperimen medis yang dipimpin oleh dr. Delia dengan para tawanan sebagai kelinci percobaannya. Dari seluruh tawanan yang dijadikan percobaan medis, hanya satu orang yang bertahan hidup dan menjelma menjadi sosok yang jenius dan penuh kharisma. Tawanan itu menempati sel nomor lima, yang nomornya ditulis dengan angka romawi. Angka romawi untuk lima adalah ‘V’. Selain bertahan hidup dari eksperimen medis, tawanan dari kamar no. 5 ini berhasil kabur dengan meledakkan Kamp Larkhill.

Apakah aksi V hanya sekedar balas dendam atas apa yang dialaminya di kamp Larkhill ? Walau polisi berhasil mendapat sedikit titik terang pelaku teror, V tetap melaksanakan aksinya, berbagai teror peledakan kembali dilakukan, ia bahkan berhasil menyelinap ke studio TV nasional, menyandera seluruh stafnya dan menyiarkan rekaman pidatonya untuk mencoba membangun kesadaran rakyat inggris bahwa mereka telah dikuasai oleh rejim fasis yang telah mengubur dan mencuci otak masyarakat London akan dambaan dan arti kebebasan, V mengingatkan penduduk London mengenai masa lalu dan masa datang, V mengajak masyarakat untuk berontak !.

Berhasilkah V, sosok misterius yang hanya dibantu oleh Evey menjatuhkan rejim fasis yang membelenggu kebebasan rakyat Inggris ? Siapakah sebenarnya V yang selalu bersembunyi dibalik topeng senyumnya ?

Kisah di atas tertuang dalam bentuk novel grafis karya Alan Moore & David Llyod. Novel grafis ini mulai digarap pada tahun 1981 dan selesai pada tahun 1988. Moore menggunakan latar belakang London di tahun 1997. Salah satu yang mengilhaminya adalah sebuah prediksi politik menjelang pemilu Inggris 1982, yang mengatakan bahwa kaum konservatif akan kalah dalam pemilu. Selain itu Moore seperti diakuinya juga terpengaruh oleh novel ‘1984’ karya George Orwell dimana setting ceritanya adalah sebuah negara yang dipimpin oleh pemerintahan fasis yang mengontrol perilaku warganya dengan ketat.

Dalam karyanya ini Moore menggunakan latar belakang london di tahun 1997 setelah terjadinya perang nuklir. Walau Inggris terhindar dari serangan nuklir namun london dilanda kerusuhan masal sehingga memunculkan satu kekuatan fasis yang mengendalikan negara, mematikan demokrasi dan mengontrol ketat warganya melalui ribuan kamera yang terpasang di seluruh London.

Sedangkan untuk gambaran tokoh V yang dalam aksi-aksinya selalu bertopeng lengkap dengan topi tinggi dan jubah panjang, diadaptasi oleh David Lyood dari tokoh nyata Guy Fawkes. Guy Fawkes adalah pemimpin kelompok garis keras katolik yang melakukan aksi terkenal yang dinamakan “Gun Powder” di tahun 1605. Kelompok ini merencanakan untuk meledakkan House of Parliament demi memprotes pemerintahan monarki dan membunuh Raja James I yang Protestan. Dan tanggal yang dipilih oleh Guy Fawkes untuk meledakkan house of Parliement dan membunuh raja adalah 5 November 1605! Walau aksinya ini gagal namun kiprah Guy Fawkes dicatat dalam sejarah Inggris.

Namun Walau novel grafis ini mengadopsi sejarah Inggris dan novel Orwell, bukan berarti kisahnya menjadi membosankan dan bisa ditebak Moore meramu sejarah dan imajinasinya dengan cerdas, lengkap dengan dialog-dialog politis soal anarkis, fasisme, demokrasi, hakikat kebebasan, dll.

Novel grafis dengan tebal 286 halaman ini dibagi dalam 3 bagian besar. Bagian pertama menyiapkan tokoh dan dunianya dimana akan terungkap latar belakang V. Bagian kedua “Kabaret yang Kejam” mengeksplorasi tokoh-tokoh pembantu secara lebih mendalam dan sebagian besar dipusatkan pada tokoh Evey Hammond. Bagian ketiga, “Negeri Sesuka Hati”, menjalin semua benang merah dalam buku pertama dan kedua menuju sebuah klimaks yang tak terduga.

Dari segi grafis, rupanya David Lloyd menggambarkannya dengan tepat, sesuai dengan suasana seeting keadaan Inggris setelah perang nuklir, gambar-gambarnya didominasi warna-warna gelap dan kelam, hal ini juga mendukung gambaran keadaan rakyat ingris, yang saat itu diceritakan dalam keadaan depresi akibat hilangnya kebebasan dan identitas dibawah tekanan pemerintahan fasis.

V for Vendetta memang bukan kisah yang mudah untuk dicerna seperti komik-komik lain pada umumnya, ini memang komik serius yang menyajikan kisah yang menakutkan sekaligus memukau tentang hilangnya kebebasan dan identitas dalam dunia totalarian.

Konflik antara anarki yang dilakukan oleh V dengan fasisme yang dilakukan oleh pemerintah Inggis mencuat dalam kisahnya. Selain itu buku ini juga seolah hendak mengajarkan tentang bagaimana sebuah masyarakat tidak seharusnya dikuasai oleh sekelompok orang saja yang mencekokkan kebenarannya sendiri. Tatanan masyarakat yang bebas dan demokratis harus diperjuangkan. Secara teatrikal novel grafis ini menjelaskan fase-fase yang perlu dilalui untuk mencapai pada tahapan pembentukan masyarakat yang bebas tersebut. Fase pertama dimana sebuah ide destruktif dibenarkan untuk menghancurkan atau mendekonstruksi tatanan masyarakat yang eksis saat ini, setelah kehancuran total terjadi—yang tentu hal ini akan direspon oleh sebagian besar masyarakat dengan tindak kerusuhan dan kekacauan sosial—diharapkan masyarakat akan mulai belajar untuk mengatur diri mereka sendiri.

Setelah hampir 20 tahun semenjak novel grafis ini pertama kali diterbitkan secara lengkap oleh DC Comics (1988). Setelah filmnya lebih dulu beredar di Indonesia kini novel grafis ini bisa dibaca dan dinikmati oleh pembaca tanah air. Rieza F Muliawan (pengamat komik Indonesia), menyambut baik diterjemahkannya novel ini. Dari segi terjemahan ia mengatakan terjemahannya cukup bagus dan memenuhi kaidah leterring dalam komik yang dibatasi oleh balon percakapan. Secara tepat beberapa tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, dibiarkan dalam bahasa Inggris. Sedangkan untuk kata-kata yang kasar (cursing) diterjemahkan dengan kata lain yang lebih halus. Dari segi pengemasan buku, Rieza menilai buku terbitan Gramedia ini dikemas seperti aslinya. Kualitas kertas dan cetakan Gramedia bisa dibilang memuaskan, malah ia menambahkan dibanding versi trade paperbacknya, versi gramedia dinilainya lebih bagus.

Bagi pecinta komik, buku ini tentu saja sedikit memuaskan kerinduan mereka akan diterjemahkannya komik-komik bermutu oleh penerbit-penerbit kita. Bagi Gramedia sendiri kehadiran buku ini seolah membuktikann semboyan mereka yang dicanangkan pada tahun lalu “Gramedia Goes to Graphic Novel”, setidaknya kini sudah ada beberapa novel grafis diterbitkan oleh GPU al. Bordir – Marjane Satrapi, Love Me Better dan Chicken Soup Graphic.

Bagi pembaca Indonesia novel grafis ini bukan tak mungkin akan mengingatkan pembacanya pada situasi politik tanah air beberapa tahun yang lampau. Tahun 1998 ‘V’ berhasil membuat masyarakat chaos dengan meledakkan sistem kontrol pemerintah inggris. Di Indonesia, pada tahun 1998 penculikan dan chaos mendahului tumbangnya rezim Orde Baru yang selama 32 tahun mengontrol ketat perilaku politik masyarakat Indonesia.

V menawarkan anarki untuk meruntuhkan kesewenangan rezim fasis yang totalilarian, namun apakah anarki memang satu-satunya cara untuk mendekonstruksi tatanan masyarakat yang terbelenggu oleh pemerintahan yang totalitarian ?

@h_tanzil
Read more »

Senin, 15 Januari 2007

How to Be a Pirate

How to Be a Pirate (Bagaimana Caranya Menjadi Bajak Laut)
Oleh Hiccup Horrendous Haddock III
Diterjemahkan dari Naskah Norwegia Kuno oleh Cressida Cowell

Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh: Mutia Dharma
Penyunting: Maria M. Lubis
Little K, Januari 2006
252 Hal.

Di tengah hujan badai yang ditiup oleh Thor, Dewa , di tengah lautan, terombang-ambing kapal laut yang berisi sekumpulan anak-anak suku Hooligan Berbulu yang sedang berlatih Adu Pedang di Laut. Menurut Gober the Belch, tidak ada yang lebih baik dibandingkan berlatih langsung di tempat sebenarnya. Pelajaran-pelajaran lain yang juga tak kalah penting adalah Hinaan Tingkat Tinggi, Teriakan Maut, Melatih Naga, Kekejaman Tanpa Ampun, Menakuti Orang Asing dan Bola Bashy.

Ketika itu, tokoh utama kita, Hiccup Horrendous Haddock III sedang menjadi bulan-bulanan Dogsbreath. Hampir saja nyawanya melayang kena tebas pedang Dogsbreath, seandainya kapal laut itu tidak terbelah dua oleh sebuah benda berat.

Kapal terbelah, melontarkan penumpangnya ke lautan. Hiccup, Toothless – naganya dan temannya, Fishlegs, terombang-ambing di lautan. Lagi-lagi, nyawa Hiccup selamat karena ia bergelayut pada sebuah peti.

Ingatlah sebuah pelajaran, “Dilarang membuka peti yang ada tulisan ‘Jangan Dibuka’”. Apalagi, tertulis bahwa itu adalah peti dari Grimbeard the Ghastly, Tapi, penduduk Pulau Berk, penasaran apa isi peti itu. Dengan persetujuan Stoick Agung, kepala suku yang tak lain adalah ayah Hiccup, peti itu pun dibuka.

Ternyata setelah dibuka, isinya bukan mayat Grimbeard, tapi Alvin – si Petani-miskin-tapi-jujur. Alvin bercerita tentang peta harta karun yang ada di dalam peti itu. Dengan sedikit kata-kata manis, Alvin , berhasil membujuk Stoick Agung untuk mengadakan ekspedisi pencarian harta karun. Dan hanya, Ahli Waris Grimbeard the Ghastly-lah yang bisa menemukannya. Semua menyukai Alvin, kecuali Toothless. Jadi siapakah Alvin ini? Apa iya, benar-benar jujur?

Hiccup mempunyai tanggung jawab moral untuk menemukan harta karun itu. Ejekan-ejekan Dogsbreath dan Snotlout membuatnya kecut.

Petualangan dimulai, para Hooligan Berbulu menuju Pulau Tengkorak, yang penuh dengan naga Skullion yang ganas. Mereka harus berhati-hati jangan sampai mengeluarkan bau, karena naga Skullion ini, meskipun kurang bagus penglihatan dan pendengarannya, punya penciuman yang luar biasa tajam, setajam taringnya.


Bukan hanya naga Skullion yang harus dihadapi oleh suku Hooligan Berbulu. Tapi juga sekelompok Orang Buangan yang ganas, kapal Lucky 13 yang karam, 'kehilangan' anak kepala suku. Petualangan Hiccup sendiri juga tak kalah seru. Dia harus tenggelam bersama Fishlegs dan Toothless, bertarung pedang dengan 'musuh dalam selimut' (dan ternyata, Hiccup sebenarnya jago koq bermain pedang), belum lagi harus menghadapi Monster Strangulator.

Dan, tanpa disadari, lewat pertarungan ini, Hiccup ternyata kidal! Pantas aja dia gak bisa memainkan pedang dengan tangan kanannya.

Tapi, siapa ya, yang berhasil menemukan harta karun yang tersembunyi itu? Apakah Hiccup? atau ada ahli waris lainnya?

Hiccup anak yang rendah hati, tidak sombong dan tidak serakah. Bersama Fishlegs dan Toothelss, mereka bertiga menyelesaikan petualangan yang mendebarkan.

Lalu, gimana nasib Alvin? Kalo di bagian akhir, sepertinya ada petunjuk, bakal ada kelanjutan pertarungan antara Hiccup dan Alvin.

Meskipun buku anak-anak, ada juga bagian-bagian yang menegangkan. Rasanya pengen ikuta kasih semangat ke Hiccup, pengen ikutan bilang, "HIC-CUP! HIC-CUP! HIC-CUP!". Bukunya lucu, dan di dalamnya banyak ilustrasi tokoh-tokoh dalam buku ini. Dan yang lebih menarik lagi, ada tulisan tangan kiri dari penyunting buku ini.
Read more »

Jumat, 12 Januari 2007

Warna-warni Hidupku

Judul : Warna-warni Hidupku (hari-hari..Muh Rizky Aulia Gobel)
Solusi Memantau Perkembangan Anak Melalui Blog
Penulis : Amril Taufik Gobel
Penerbit : Gradiens Books
Cetakan : I, 2007
Tebal : 199 hlm
Harga : Rp.






Memiliki anak dan membesarkannya adalah idaman setiap orang yang telah berkeluarga. Memang tak mudah membesarkan seorang anak, ada suka, ada duka, semuanya selalu menjadi bahan cerita yang menarik untuk dibicarakan, terlebih bagi sesama orang tua yang memiliki anak dengan tingkat usia yang hampir sama.

Tak hanya dibicarakan, aktivitas dan perkembangan seorang anak pun sangat menarik untuk didokumentasikan, ada yang menngabadikannya dengan foto, merekam aktifitasnya dengan handycam, atau menuliskannya dalam catatan harian baik dalam sebuah buku yang bersifat pribadi maupun dalam media on line yang terbuka untuk dibaca oleh semua orang seperti milis, website, blog, dll.

Menulis perkembangan anak melalui blog, itulah yang dilakukan oleh Amril Taufik Gobel, seorang ayah, karyawan, penulis, sekaligus blogger yang namanya cukup dikenal di dunia cyber, selain webnya (http://amriltgobel.net) pernah meraih anugerah website terbaik versi www.webterbaik.com Amril juga aktif di komunitas blog terbesar di Indonesia – Blogfam, dan kini dipercaya untuk menjadi redaksi majalah online Blogfam (www.blogfam.com).

Berawal dari kerajinannya menulis blog yang telah dilakukan sejak beberapa tahun kebelakang, pada tahun 2002, sejak kelahiran anak pertamanya Muh. Rizky Aulia Gobel. Amril mencoba menulis blog berisi pengalaman-pengalaman yang dialami oleh keluarganya melalui sudut pandang anaknya sendiri. Rupanya ketekunannya ini mendapat banyak respon dari pembaca blognya hingga akhirnya dilirik oleh penerbit Gradien yang sudah beberapa kali menerbitkan buku yang bersumber dari blog pribadi seseorang.

Buku yang diberi judul “Warna-warni hidupku – hari-hari..Muh Rizky Aulia Gobel” dengan sub judul “Solusi Memantau Perkembangan Anak Melalui Blog” ini seluruh materinya diambil dari blog Rizky (http://muhrizkyauliagobel.blogspot.com). Dimulai dari hari lahirnya Rizky di tahun 2002 hingga tahun 2006 ketika ia berusia tiga tahun 4 bulan. Semuanya berisi 74 catatan harian plus satu kata pengantar.

Seperti telah diungkap di atas, seluruh catatan ditulis dalam sudut pandang sang anak (Rizky) sebagai orang pertama. Hal ini membuat seluruh catatan dalam buku ini baik dalam penuturan kata maupun ekpresinya terkesan lucu, ringan, khas anak-anak. Kisah-kisah yang ditulis dalam buku inipun aneka warna. Mulai dari kelahiran Rizky, pindah rumah, piknik ke Seaworld, motor ayah baru, bencana tusnami, pembantu yang minggat, pakde yang kena santet, hingga berburu kecoa. Semua terangkum dengan jujur, apa adanya, ringan, terkadang membuat terharu, terkadang membuat lucu dan tak terduga.

Walau sekilas tampaknya buku ini hanya berisi catatan harian yang biasa-biasa saja, namun jika pembaca lebih peka menangkap makna dibalik pengalaman-pengalaman yang dialami Rizky dan keluarganya dalam buku ini maka kita akan menemukan sebuah potret sosial dari sebuah keluarga sederhana dimana ayah bekerja, ibu yang mengurus anak beserta lingkungan masyarakat urban yang ikut terekam dalam kisah-kisahnya.

Tengoklah kisah ketika BBM naik yang terdapat dalam catatan yang berjudul “Dampak Dramatis Harga BBM Naik” dimana kerluarga Rizky harus prihatin dan berhemat dalm banyak hal “ Kita, semua sedang prihatin, Nak,” kata ayahku dengan mata berkaca-kaca saat melihat tontonan berita di layar TV yang menampilkan masyarakat penerima kompensasi BBM berebutan mengambil bagiannya. (hal 162)

Realita sosial juga tertangkap dalam catatan berjudul “Menemani Ayah Bercukur”, dimana Rizky mendengar obrolan antara ayahnya dengan tukang cukurnya yang mengungkap carut marut dan sebuah ironi yang terjadi di negeri ini dimana anak-anak menderita busung lapar, stok BBM habis, ongkos pendidikan makin mahal, bunuh diri karena tak sanggup bayar sekolah, harga-harga naik, sementara gaji anggota DPR bisa mencapai 38 juta per bulan! (hal 142).

Beberapa hal yang mungkin menjadi ganjalan dalam buku ini adalah jika ada pembaca yang mempersoalkan usia Rizky yang baru berusia 3 tahun dengan apa yang dipikirkannya seperti yang ditulis dalam buku ini. Rasanya mustahil, seorang anak berusia 3 tahun mampu berpikir dan memahami apa yang diobrolkan oleh ayah dan ibunya ketika BBM melambung tinggi atau ketika ayahnya membahas realita sosial yg terjadi di negeri ini dengan seorang tukang cukur! Rasanya tak mungkin ! Sepertinya apa yang dipikirkan oleh Rizky dalam buku ini baru akan terpikirkan olehnya ketika ia berusia remaja atau pra-remaja.

Selain itu sub-judul buku ini ”Solusi Memantau Perkembangan Anak Melalui Blog” mungkin saja bisa menyesatkan calon pembacanya. Bisa saja sub judul ini akan menggiring calon pembaca buku ini beranggapan bahwa buku ini adalah buku panduan bagaimana memantau perkembangan anak melalui blog. Padahal buku ini berisi catatan harian seorang ayah yang ditulis dalam sudut pandang anaknya

Namun terlepas dari ganjalan diatas, buku ini cukup menghibur dan menarik untuk dibaca oleh siapa saja. Apa yang dialami Rizky dan keluarganya ditulis dengan detail, jujur dan apa adanya sehingga pembaca seakan diajak masuk dalam kehidupan keluarga ini lewat kacamata seorang anak yang lucu dan polos. Bukan tak mungkin pengalaman-pengalaman keluarga Rizky yang terekam dalam buku ini pernah juga kita alami sehingga kita seakan membaca kisah kita sendiri. Dan seperti yang diharapkan oleh penulisnya semoga buku ini tidak hanya sebagai representasi aktivitas keseharian Rizky, tetapi juga menjadi bahan renungan bagi semua pembacanya (hal11).

@h_tanzil
Read more »

Kamis, 11 Januari 2007

Wallpaper



Ini nih wallpaper di computer kantor-ku. Hasil karya ‘sendiri’… maksudnya gue yang nyusun gambar sendiri, foto-fotonya diambil dari Corbis dan getty images.

See… how much I love books…
Read more »

Browsing...

Gue lagi suka melakukan hal-hal yang berhubungan dengan buku… ehmm.. selain baca maksudnya. Pertama, gue bikin blog di Yahoo 360o, blog ini isinya buku-buku baru yang gue beli. Yang ditulis di sana, adalah info sekitar buku itu, misal nama penulis, penterjemah, terbitan aslinya tahun berapa, dll, tinggal nyalin dari bukunya, terus, juga, sinopsis singkat yang biasanya ada di cover belakang buku tersebut. Terus, gue nulis tanggal berapa gue beli, di mana, harganya berapa, dan alasan kenapa gue beli buku itu.

Kenapa gue bikin blog ini? Hmm… seperti biasa dapet ide dari salah satu blog yang gue baca, yaitu blog-nya Kobo. Kobo ini bikin blog kaya’ begini, yang isinya buku-buku yang baru dibeli sama dia.

Terus, gue juga lagi seneng ngutak-atik yang namanya Librarything.com. Nemu website ini juga dari hasil blogwalking. Ternyata isinya semacam lemari buku ‘virtual’. Kita bisa masukin buku-buku yang kita punya, nanti akan keluar pilihan buku kita terbitan tahun berapa, covernya kaya’ apa. Rasanya, pengen banget cepet-cepet masukin semua buku, dan dipandangin deh, jejeran cover buku yang warna-warni… gue serasa bengong di depan lemari buku beneran (seperti yang emang suka gue lakukan kalo lagi ‘blank’)

Terus, gue juga lagi suka baca cerita klasik. Dan, daripada gue beli, gue akhirnya sering ‘mendatangi’ ‘ Literature.org, yang isinya cerita-cerita klasik yang bisa dibaca langsung di website. Emang gak enak sih, baca di computer, tetap lebih enak baca bukunya. Tapi, lumayan buat lagi bosen di kantor.

Hehehe… buka-buka website itu, kadang ‘mengganggu’ waktu kerja gue. Kadang gue lebih semangat meng-update ‘lemari buku’ gue di librarything, dari pada ngurusin kerjaan gue yang bejibun.
Read more »

Rabu, 10 Januari 2007

THE NAMESAKE

The Namesake (Makna Sebuah Nama)
Jhumpa Lahiri
Gita Yuliani K (Terj.)
GPU, Jakarta 2006
336 Hal.

Ungkapan “Apalah arti sebuah nama?” yang begitu popular tampaknya tidak berlaku dalam novel yang pernah masuk jajaran novel terlaris pada tahun 2003 ini. Namalah yang menjadi benang merah dalam cerita ini. Makna sebuah nama-lah yang menjadi ‘nyawa’ dari novel yang ditulis oleh Jhumpa Lahiri, pemenang Pulitzer untuk buku kumpulan cerpennya yang berjudul, The Interpreter of Maladies.

Ashoke dan Ashima Ganguli, pasangang suami istri asal India, datang ke Amerika. Berusaha menggapai mimpi dan harapan tanpa melupakan leluhur dan adat istiadat mereka. Demi rasa hormat mereka pada leluhur merekelah, ketika anak pertama mereka lahir, mereka rela menunda untuk memberi nama pada anak itu. Pemberian nama tertunda karena mereka berdua menunggu surat dari nenek sang Ibu, buyut bayi itu. Surat tak kunjung datang, sementara si bayi tidak bias dibawa pulang tanpa sebuah nama di akte kelahiran.

Lalu, tercetus nama Gogol di benak sang ayah. Nama yang aneh, tidak berbau India, apalagi Amerika. Sebuah nama yang berasal dari nama penulis favorit Ashoke. Tapi ada apa sebenarnya di balik nama itu? Apakah hanya sekedar berdasarkan rasa kagum pada si penulis?

Nama Gogol seolah menjadi beban bagi si penyandang nama. Ketika masih kecil, justru Gogol enggan menyebut dirinya dengan nama ‘resmi’ yang diberikan orang tuanya. Menurut kebiasaan di India, seseorang akan menyandang dua nama, satu nama panggilan di keluarga yang akan melekat seumur hidup pada diri orang itu, satu lagi, nama resmi, nama yang diberikan nenek atau buyut mereka.

Tapi, makin lama, nama Gogol semakin mengganggu. Puncaknya Gogol meminta sendiri namanya untuk diganti menjadi Nikhil Ganguli, nama yang dulu sempat ditolaknya. Gogol tidak tahu betapa berartinya nama Gogol bagi ayahnya, bahwa nama itulah yang menyelamatkan ayahnya dari sebuah kecelakaan kereta api.

Gogol tumbuh dengan pengaruh budaya Amerika yang lebih kuat melekat daripada budaya India. Gogol mulai merasa segan dan malas setiap kali pergi berlibur ke Calcutta bersama keluarganya. Sedapat mungkin ia berusaha menjauh dari kebiasaan kedua orang tuanya. Ia memilih kuliah yang jauh dari rumah orang tuanya, jarang pulang ke rumah, jarang menelepon orang tuanya, pergi ke pesta dengan teman-teman Amerikanya, lebih menyukia musik barat, bahkan beberapa kali menjalin hubungan dengan gadis Amerika yang kurang disetujui oleh orang tuanya.

Tapi, Gogol tidak bisa menolak ‘perjodohan’ yang diatur Ashima. Gogol akhirnya menikah dengan gadis India, Moushumi.

Cerita dalam novel ini mengalir dengan tenang, tanpa banyak gejolak. Gogol sebagai tokoh utama, tapi tidak mengesampingkan tokoh-tokoh penting lainnya yang berperan dalam kehidupan Gogol, seperti Ashoka, Ashima dan Moushumi yang cukup banyak mendapat porsi dalam novel ini. Mungkin novel ini, seperti bercerita tentang riwayat hidup seorang pemuda bernama Gogol. Mulai dari proses kelahirannya, proses pemberian nama Gogol, sampai akhirnya ia tumbuh dewasa, menjalani proses pendewasaan dalam dirinya yang membuat ia memandang orang tuanya bukan sebagai orang tua yang kolot, tapi sebagai orang tua yang sederhana yang menjalani semua ritual yang sebenarnya ditujukan untuk anak-anaknya.

Tenang, tapi tidak akan membuat kita merasa bosan. Penggambaran karakter cukup detail. Keadaan di sekitar juga tergambar dengan detail, membuat kita bisa ikut membayangkan apa yang ada di sekeliling para tokoh. Misalnya ketika Gogol dan Ashoke berjalan-jalan di pantai melewati batu-batu karang, “Tubuh mereka hari itu menimbulkan bayangan sangat panjang dan ramping, berdempetan, matahari siang bersinar di belakang mereka. Mereka berhenti untuk memerhatikan pelampung kayu retak bercat biru-putih, berbentuk seperti payung kuno. Permukaanya terlilit untaian tipis rumput laut cokelat dan tertutup kerak remis.” (hal. 213)

Sebuah kisah yang indah, tidak membuat kita ‘terlonjak’, tapi kita akan terhanyut dalam cerita ini.

07.01.08
(gue bener-bener menikmati baca buku ini… meskipun lama juga sih, selesainya. Tapi, surprise… surprise… tumben gue gak berasa bosen baca buku yang ‘irit’ percakapan… )
Read more »

Selasa, 09 Januari 2007

It's all about books...

Dari dulu pengen punya blog khusus tentang buku. Tapi, blom sempet-sempet buatnya. Sekarang bener-bener diniatin untuk punya. Isinya standard aja... review tentang buku-buku yang udah gue baca, buku-buku yang bikin gue 'ileran' atau apa aja deh seputar buku.

Soal buku, gue bener-bener suka 'gak ada pikirannya. Ngeliat ada yang baru baca buku bagus,gue 'ileran', ngeliat ada posting buku baru di milis... buru-buru buka website yang jual buku online buat beli, ada yang posting jual buku second (apalagi buku yang udah lama gue cari atau genre yang gue suka), beli juga... apalagi jalan ke toko buku, rasanya, gak afdol kalo keluar toko buku tanpa nenteng buku baru.

Dulu pernah bikin budget, sebulan hanya boleh belanja buku 'sekian', tapi ternyata budget itu gak pengaruh. Gak nahan deh, kalo sama yang namanya buku.

Karena suka kalap, banyak buku yang masih terpajang manis di lemari buku. Belum sempet kebaca, baru 'disentuh' dikit, untuk disampul dan dikasih nama, tanggal plus tanda tangan.

Tapi, gue emang cinta buku. Gue akan baca di mana pun gue bisa. Di mobil sambil berangkat ke kantor. Di rumah, kalo lagi santai, sebelum tidur, atau pas libur..

Salah satu 'kekhawatiran' gue sebelum nikah, gue takut gak punya waktu lagi buat baca buku. Tapi, ternyata, ya, gitu-gitu amat sih.. meskipun frekuensi-nya agak berkurang, ternyata gue masih bisa baca koq. Dan ternyata, suami gue juga suka buku (beli buku tepatnya - dan jarang dibaca). Buku yang dia suka itu buku-buku komputer dan yang berbau politik.

Dan gue juga lagi 'keranjingan' buka-buka website untuk urusan yang berbau-bau buku.

Pokoknya... it's all about books, deh..
Read more »

Kamis, 04 Januari 2007

My Name is Red

Judul : My Name is Red (Namaku Merah Kirmizi)
Penulis : Orhan Pamuk
Penerjemah : Atta Verin
Penyunting : Anton Kurnia
Penerbit : PT. Serambi Ilmu Semesta
Cetakan : I, Desember 2006
Tebal : 725 hlm
Harga : Rp. 89.900,-




Sejarah mencatat, Sultan Ustmaniyah Murat III (1571-1595) dikenal sebagai sultan yang paling tertarik pada buku dan seni miniatur. Di masa kekuasaannya ia memerintahkan para miniaturis (pembuat ilustrasi buku) kenamaan di negerinya untuk membuat Kitab Keterampilan, Kitab Segala Pesta dan Kitab Kemenangan yang dikerjakan di Istanbul. Para miniaturis Ustmaniyah yang paling menonjol, termasuk Osman sang Miniaturis dan murid-muridnya, ikut andil dalam pengerjaan buku ini.

Penggalan sejarah inilah yang oleh Orhan Pamuk (54 thn) - peraih nobel sastra 2006 asal Turki - dijadikan sebagai ide utama novel My Name is Red . Dikisahkan saat itu Sultan menugaskan Enisthe Effendi salah seorang miniaturis (pembuat ilustrasi buku) terkenal untuk membuat sebuah buku rahasia yang dihiasi ilustrasi-ilustrasi indah untuk merayakan kejayaannya. Tindakan sultan ini memotong jalur resmi dimana biasanyaTuan Osman selaku Iluminator Kepala Istana yang diberi wewenang untuk mengerjakan buku-buku Sultan. Dalam mewujudkan proyek sultan ini Enisthe dibantu oleh empat miniaturis lainnya yang masing-masing dikenal dengan julukan ; Elok, Zaitun, Bangau, dan Kupu-kupu.

Novel ini diawali dengan terbunuhnya Elok , salah satu dari keempat miniaturis yang bekerja dibawah pimpinan Enisthe Effendi. Pembunuhan ini menimbulkan keresahan diantara para miniaturis lainnya karena mereka mennganggap hal ini ada kaitannya dengan proyek pengerjaan buku Sultan yang dibuat dengan gaya Eropa yang pada masa itu dianggap sebagai penistaan terhadap ajaran Islam.

Lalu dikisahkan Hitam, salah satu murid dan keponakan Enisthe kembali ke rumah pamannya sepulang dari pengelanannya ke berbagai tempat selama dua belas tahun. Sejak lama Hitam telah menaruh hati pada Shekure, putri “Enisthe”-nya. Sepulang dari pengelanaannya pun ia masih menyimpan cintanya pada Shekure. Sayangnya Shekure telah menikah dan mempunyai dua orang anak. Namun belum pulangnya suami Shekure selama bertahun-tahun dari peperangan membuka peluang bagi Hitam untuk merebut Shekure ke pelukannya.

Di tengah usaha Hitam merebut cinta Shekure dan belum terungkapnya siapa pembunuh Elok, Enisthe terbunuh secara mengenaskan. Namun hal ini tak menghalangi niat Hitam untuk menikahi Shekure. Dengan siasat liciknya akhirnya Hitam berhasil menikahi Shekure, namun Shekure belum mengijinkan Hitam untuk tidur seranjang dengan dirinya hingga Hitam berhasil menemukan siapa pembunuh ayahnya.

Ketika kematian Elok dan Enisthe sampai ke telinga Sultan. Ia memerintahkan Hitam selaku murid Ernisthe dan Tuan Osman selaku kepala bengkel miniaturis Istana mengungkap siapa pembunuhnya. Mereka diberi waktu 3 hari untuk menemukan pembunuhnya, jika gagal nyawa mereka dan para miniaturis lainnya akan jadi gantinya.

Satu-satunya petunjuk yang ditinggalkan pembunuhnya adalah gambar seekor kuda dengan hidung yang terpotong. Hal ini menyeret ketiga miniaturis lainnya (Bangau, Zaitun, Kupu-kupu) menjadi tersangka utama. termasuk Untuk memperkaya penyelidikannya Hitam dan Tuan Osman diizinkan untuk masuk kedalam jantung Istana dimana terdapat ruang penyimpanan harta yang berisi buku-buku berilustrasi indah Kitab Para Raja yang berisi lukisan-lukisan menakjubkan, yang diimpikan bisa dilihat sekali saja oleh para miniaturis selama seumur hidupnya




Novel My Name is Red ini bisa dikatakan novel yang kaya akan perspektif. Novel ini bisa dibaca sebagai novel sejarah peradaban islam, misteri, intrik sosial, dan teka-teki filosofis. Pamuk mengemas kisah dalam novel ini dengan sangat menarik. Narator dalam novel ini berganti-ganti dalam setiap babnya, masing-masing diberi judul sesuai dengan naratornya seperti : Aku Adalah Sesosok Mayat, Aku Akan Disebut Seorang Pembunuh, Aku Dinamai Hitam, bahkan benda-benda matipun menjadi narator dalam novel ini seperti : Aku adalah Sekeping Uang Emas, Aku Adalah Merah. dll. Masing-masing narator bertutur, bercerita dan berargumen mengenai peristiwa pembunuhan dan keadaan di sekelilingnya menurut sudut pandangnya masing-masing. Ada yang realis ada pula yang surealis. Uniknya walau si pembunuh turut menjadi narator, identitas si pembunuh tetap tak terduga hingga bab-bab terakhir.

Di halaman-halaman awal pembaca seolah diajak mengambil kesimpulan bahwa novel ini adalah novel misteri karena Pamuk membukanya dengan bab “Aku Adalah Sesosok Mayat”. Kalimat permbuka novel inipun memikat dan mengundang penasaran pembacanya karena dinarasikan oleh tokoh yang telah meninggal.

Kini aku hanyalah sesosok mayat, sesosok tubuh di dasar sebuah sumur. Walau sudah lama sekali aku menghembuskan napas terakhirku dan jantungku telah berhenti berdetak, tak seorang pun tahu apa yang terjadi padaku, selain pembunuh keji itu
. (hal 17)

Namun Pamuk tak hanya mengajak pembacanya untuk larut dalam cerita misteri pembunuhan, di bagian berikutnya pembaca diajak beralih ke kisah percintaan yang membara antara Hitam dan Shekure, lalu pembaca juga akan disuguhkan debat filosofis yang menarik akibat benturan budaya Timur dan Barat khususnya dalam hal gaya melukis dimana di jaman itu melukis dengan gaya kaum Frank (Eropa) yang menggunakan metode perspektif tiga dimensi dimana benda digambar sebagaimana terlihat oleh mata telanjang dianggap penistaan terhadap agama islam yang hanya boleh membuat gambar/lukisan dengan teknik dua dimensi saja.

Namun yang mengejutkan dari semua itu – sebuah akibat yang wajar dalam memperkenalkan pemahaman Frank dalam lukisan kita – adalah menggambarkan potret sultan kita dengan ukuran sesungguhnya, dan wajahnya dilukiskan dengan semua detailnya! Tepat seperti yang dilakukan para pemuja berhala. (hal 684)




Wajah Sultan Murat III dilukis dalam gaya Eropa
(perspektif tiga dimensi)










Wajah Sultan Murat III dilukis sesuai gaya seniman Ustmaniyah abad ke 16
(perspektif dua dimensi)





Hal ini menimbulkan pro dan kontra, sebagian miniaturis khususnya mereka yang ditugaskan membuat buku Sultan mau tak mau harus membuat lukisan dengan gaya barat sesuai dengan arahan Enisthe, namun sebagian miniaturis senior menolak melukis dengan gaya ini dan rela membutakan matanya sendiri agar tak terpengaruh oleh lukisan gaya Eropa.

Selain kisah misteri, roman, debat budaya dan filosofis, pembaca juga akan disuguhkan detail-detail menarik tentang estetika seni hias buku, sehingga keeksotisan buku-buku berilustrasi yang dibuat di abad 16 dimana buku-buku diberi ilustrasi oleh tangan-tangan terampil para miniaturis terungkap secara indah. Tak ketinggalan beberapa kisah dongeng klasik dunia Timur juga terceritakan di novel ini



Gbr diatas adlh ilustrasi pd buku yang dibuat oleh miniaturis Ustmaniyah abad ke-16

Kesemua elemen di atas membentuk novel ini menjadi rangkaian cerita yang menarik dan enak dibaca. Semua itu diramu secara puitis dan romantis dengan cinta, seks, dan drama.
Beragamnya tokoh-tokoh yang masing-masing menjadi narator dalam buku ini walau awalnya tampak berdiri sendiri, kelak Pamuk akan menyatukan tokoh-tokoh dalam ceritanya dan memberikan kejutan yang tak terduga di akhir ceritanya.

Satu hal yang mungkin akan menjadi pertanyaan pembacanya adalah judul buku ini “My Name is Red (Namaku si Merah Kirmizi), siapa dan apa sebenarnya yang dimaksud si “Merah” dalam judul buku ini ? Memang ada bab tersendiri dimana si Merah ini digambarkan sebagai warna dalam arti yang sesungguhnya. Namun rasanya tak cukup menjelaskan apa dan siapa Merah yang dimaksud dalam judul buku ini. Tampaknya Pamuk sengaja mengajak pembacanya untuk menafsirkan sendiri apa, siapa dan mengapa novel ini diberi judul My Name is Red ?

Rasanya membaca sekali saja novel ini tidaklah cukup, banyak detail-detail menarik yang tetap mengasyikan untuk dibaca berkali-kali. Dan lagi novel ini memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi, tak ditemukan kejanggalan dalam alih bahasanya. Salut untuk kerja keras penerjemah dan editor novel ini (Atta Verin & Anton Kurnia) yang tampaknya telah berhasil mengalih bahasakan novel tebal yang menarik ini dengan baik.

Sedikit yang mungkin dapat menjadi halangan terbacanya novel ini adalah harganya yang relatif mahal (Rp. 89.900,-). Mungkin penerbit perlu lebih menyiasati agar novel yang kaya akan perspektif ini dapat dijual dengan harga yang lebih bersahabat sehingga dapat terjangkau dibeli dan dibaca oleh semua pecinta sastra.

Novel yang berjudul asli Benim Adim Kirmizi yang dikerjakan oleh Orhan Pamuk (penulis asal Turki) selama 6 tahun ini terbit pada tahun 1998. Pada tahun 2001 diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Erdgar M. Goknar sebagai My Name is Red. Tampaknya novel ini diapresiasi dengan baik oleh khalayak sastra dunia, setidaknya novel ini telah diterjemahkan ke dalam 25 bahasa dan dianugerahi berbagai penghargaan sastra internasional, antara lain Prix du Meilleur Livre Etranger 2002 (Perancis), Premio Grinzane Cavour 2002 (Italia), dan IMPAC Dublin Literary Award 2003 (Irlandia). Dan sebagai puncaknya novel ini pula yang turut mengantar Pamuk sebagai peraih nobel Sastra 2006.

@h_tanzil
Read more »