The Subtle Knife (Pisau Gaib)Philip Pullman
B. Sandra Tanuwidjaja (Terj.)
GPU, Januari 2007
408 Hal.
The Subtle Knife (Pisau Gaib)Kata-kata seringkali menyembunyikan kata-kata lain
----
William Shakespeare
hal. 73
Judul asli: Arthur and the Minimoys
Buku ini sudah ada filmnya. Disutradarai oleh penulis buku ini sendiri, Luc Beson, yang juga pernah menyutradarai film The Fifth Element, Nikita dan masih banyak lagi. Bintang dalam film ini adalah Mia Farrow sebagai Nenek Arthur, Freddie Highmore sebagai Arthur. Sedangkan pengisi suara Putri Selenia adalah Madonna, lalu ada Robert De Niro yang mengisi suara Raja atau ayah Putri Selenia.
Judul : The Professor and The Madman
, seorang geologis, jurnalis, sekaligus penulis terkenal kelahiran Skotlandia yang salah satu karyanya telah diterjemahkan oleh penerbit Serambi “Krakatau – Ketika Dunia Meledak, 27 Agustus 1883”, tertarik untuk menulis kisah pembuatan kamus terkenal tersebut ketika pada tahun 1980-an, ia mendapatkan pelat-pelat cetak letter press lama yang dulunya dipakai untuk pembuatan OED. Dari pelat-pelat kuno itulah akhirnya Winchester tergelitik untuk mencari tahu bagaimana kamus OED pertama kalinya dikerjakan. Dengan keahliannya sebagai jurnalis dan riset yang mendalam, akhirnya lahirlah kisah “The Professor and The Madman (1998).
Biografi dan kisah persahabatan dua tokoh besar dibalik pembuatan kamus OED diurai dalam kisah ini. James Murray, terlahir sebagai anak sulung dari keluarga penjahit dan pedagang kain yang miskin. Walau latar belakang keluarganya yang tak menjanjikan, Murray kecil tumbuh lebih matang dari usia sebenarnya. Ia anak yang sangat rajin dan cerdas dalam sekolahnya. Seperti kebanyakan anak-anak miskin di Inggris, pada usia empat belas tahun ia meninggalkan sekolahnya karena orang tuanya tak sanggup membiayainya. Namun hal ini tak membuatnya berhenti belajar. Dahaganya yang haus akan ilmu pengetahuan membuat dirinya harus belajar secara otodidak dan membawanya tetap berada jalur akademik, menjadi anggota Philological Society dan akhirnya dipercaya untuk menjadi ketua tim pelaksana pembuatan Oxford English Dictionary.
Dr. William Minor, terlahir dari golongan aristokrat teratas Amerika. Orang tuanya seorang misionaris yang saleh. Minor mendapat pendidikan yang memadai hingga lulus sebagai dokter dari Yale University. Setelah lulus, pada saat berkecamuknya Perang Saudara, ia melamar sebagai dokter dalam dinas militer Union Army. Rupanya pengalamannya sebagai dokter militer semasa perang saudara inilah yang membuatnya menderita secara traumatik dan menimbulkan dampak kejiwaan pada dirinya. Setelah perang berlalu keanehan-keanehan dalam jiwa Minor semakin menjadi hingga akhirnya ia dipecat dari angkatan darat dan dirawat di sebuah rumah sakit jiwa. Setelah dianggap sembuh, Minor pergi ke Inggris untuk beristirahat, sambil membaca dan melukis. Namun belum lama tinggal di Inggris, Minor kembali mengalami paranoid hingga akhirnya menembak George Merret, seorang buruh kereta api. Peristiwa ini kembali menghantar Minor masuk ke rumah sakit Jiwa di Broadmoor Asylum Inggris.
Dan akhirnya dari sel rumah sakit itulah, selama 20 tahun Minor dengan ketekunan yang luar biasa membaca dan mencari kutipan, dan secara teratur mengirimkan kutipan-kutipan tersebut kepada Murray. Tak kurang dari 10.000 kutipan telah disumbangkannya untuk membantu tim penyusunan kamus yang diketuai Murray.


Salah satu sisi menarik lain dari buku ini adalah terpatahkannya mitos kisah pertemuan antara Murray dan Minor yang selama ini beredar di kalangan masyarakat. Murray dan Minor memang akhirnya baru bertemu muka setelah selama dua puluh tahun saling berkorespondensi. Dalam mitos yang beredar di masyarakat dikisahkan secara dramatis bagaimana Murray yang tidak mengetahui kegilaan Minor untuk pertama kalinya bertemu di Broadroom Asylum. Dengan risetnya yang matang, seperti yang terungkap di bab “Terima Kasih” yang ditulis secara naratif, akhirnya mitos pertemuan dua tokoh besar ini dipatahkan dan pembaca bisa menemukan fakta yang sesungguhnya.We always question life. But can life question us?
--- Francis (hal. 118)
Travelers’ Tale
The Golden Compass (Kompas Emas)
Summer in SeoulEntah apa yang ada di benak Sandy alias Han Soon-Hee, gadis blasteran Indonesia-Korea, ketika ia menerima permintaan untuk berpose sebagai kekasih penyanyi muda terkenal di Korea, Jung Tae-Woo. Bukan karena alasan uang, bukan karena alasan Soon-Hee adalah penggemar berat Jung Tae-Woo. Malah ketika pertama kali bertemu Jung Tae-Woo, sikap Soon-Hee amat sangat biasa-biasa saja.
Semua ini diawali ketika secara tidak sengaja, handphone Han Soon-Hee tertukar dengan milik Jung Tae-Woo. Han Soon-Hee terpaksa mengembalikan handphone itu ke rumah Jung Tae-Woo. Padahal ini semua bukan kesalahan Han Soon-Hee, asisten manajer Jung Tae-Woo yang tidak sengaja mengambil handphone Soon-Hee di sebuah toko makanan karena ternyata model dan deringnya sama. Dan di rumah Tae-Woo-lah, pertama kali Han Soon-Hee bertemu dengan penyanyi yang diidolakan perempuan se-Korea.
Dari pertemuan itu, terbersit ide untuk menjadikan Han Soon-Hee sebagai kekasih rahasia Jung Tae-Woo. Semua ini dilakukan hanya untuk menepis gosip yang menyatakan bahwa Jung Tae-Woo adalah seorang gay. Gosip ini dianggap kurang menguntungkan bagi kemunculan perdana Tae-Woo setelah empat tahun.
Ternyata semua ini tidak hanya berakhir dengan foto pertama yang segera tersebar luas di tabloid-tabloid gosip. Wartawan semakin penasaran dengan sosok misterius perempuan yang bersama Tae-Woo karena tidak pernah tampak dengan jelas wajahnya di foto. Soon-Hee juga harus merahasiakan semu ini dari orang-orang terdekatnya.
Di balik semua kepura-puraan ini, diam-diam, mereka mulai saling tertarik. Mulai merasakan cemburu dan bertanya-tanya jika tidak ada kabar.
Tapi yang paling membuat mereka resah adalah kisah empat tahun lalu, sebuah kejadian ketika Jung Tae-Woo sedang mengadakan acara jumpa penggemar, kejadia yang membuat Jung Tae-Woo vakum selama empat tahun. Ada kenyataan tak terduga yang mungkin membuat mereka tidak bisa bersatu.
Judul : The Historian (Sang Sejahrawan)
Langkah tersebut diambil demi pelestarian tempat legendaris di Transylvania tersebut. Kabarnya lebih dari 400 ribu orang mengunjungi puri itu setiap tahunnya, terutama karena dikaitkan dengan Vlad the Impaler atau Pangeran Dracula.
Nama Dracula sering dikaitakan dengan sosok vampir yang selalu haus akan darah manusia. Sejarah mencatat, Dracula adalah seorang pangeran Wallachia (Rumania) bernama Vlad Tapes (1431-1476) yang gigih melawan serbuan kesultanan Ottonam atas wilayahnya. Ia sosok yang dibenci baik oleh musuhnya maupun oleh rakyatnya sendiri. Nama Dracula sendiri berarti anak laki-laki Dracul -anak laki-laki naga- (Drac = naga. ull=anak), nama ini disandingnya karena ayahnya (Vlad II) diangkat menjadi anggota Orde Naga oleh Kaisar Romawi. Organisasi ini dibentuk untuk mempertahankan kekaisaran romawi terhadap kesultanan Ottoman di Turki.
Legenda vampir ini diadopsi oleh Bram Stroker untuk novelnya yang berjudul Dracula (1897). Walau dalam novelnya tak menyebutkan nama Vlad Tepes, namun latar belakang Dracula dalam novelnya mengindikasikan bahwa Vlad Tepes-lah yang diadopsi oleh Stroker untuk menajdi tokoh utama dalam karyanya.
Dalam mengerjakan novel ini, Kostova memang tak sekedar mengandalkan imajinasinya tentang sosok Dracula. Novel pertama Elizabet Kostova ini tampaknya dikerjakan dengan sungguh-sungguh disertai riset yang mendalam layaknya seorang sejarahwan selama sepuluh tahun. Menurutnya sejak ia masih kecil, ketika ayahnya bercerita tentang Dracula, ia sudah membayangkan cerita yang akhirnya akan menjadi The Historian. Hingga akhirnya, dengan semangat akademiknya, kesabaran dan bakat menulsinya yang laur biasa, Kostova berhasil menghasilkan karya yang penuh misteri sejarah dan ketegangan ini. Bukan tak mungkin novel ini bakal menjadi novel mengenai kesejarahan dan legenda dracula yang otoratif dan dikenang sepanjang masa setelah novel Dracula karya Bram Stroker.Hidup adalah pilihan. Kita yang harus memilih jalan
hidup kita. Pilih senang atau susah? Menang atau kalah? Kaya atau miskin?
--- Lala, hal. 175
Four Seasons in Belgium
Fanny Hartanti
Gramedia, Juli 2006
232 Hal.
Di tengah-tengah baca The Historian yang tuebeeelll itu, gue ngerasa perlu sedikit refreshing… untuk meredakan ketegangan. Akhirnya gue memutuskan untuk baca novel metropop. Udah lama sih, gue gak baca novel metropop. Gue pun ‘melirik’ dua novel dengan judul yang 'manis' “Summer in Seoul” and “Four Seasons in Belgium”.
Yang pertama gue baca ada Four Seasons in Belgium. Cerita tentang Dewi Andini atau Andin yang dikirim oleh perusahaan consumer goods di Jakarta untuk bekerja selama dua tahun di Belgia. Tugas ini disambut Andin dengan suka cita, karena ternyata, selain untuk karirnya, Andin punya misi khusus, yaitu, bertemu lagi dengan kekasihnya, Dave.
Andin adalah tipe gadis yang mandiri, cuek dan bergaya. Berada jauh dari keluarga dan tanah air tidak serta merta membuatnya homesick berlebihan. Dengan cepat, Andin beradaptasi dengan lingkungan di Belgia. Andin cepat bergaul dengan teman-teman bulenya, ikutan gaul ke pub, jalan-jalan ke negara-negara di Eropa, yang pastinya, semakin menyenangkan dengan adanya Dave, kekasihnya yang tampan itu.
Urusan pekerjaan tidak ada masalah, tapi urusan percintaan yang malah membuat emosi Andin naik turun. Semandiri apa pun seorang perempuan, setegar apa pun dia, ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa dirinya hamil, tetap saja bagai petir di siang bolong. Ditambah lagi, sambutan Dave yang ternyata di luar dugaannya. Dave ternyata lebih memilih pekerjaan dari pada Andin dan calon bayi mereka. Andin pun harus memilih, apakah mempertahankan kandungannya atau pergi ke Belanda untuk melakukan aborsi. Pilihan yang berat bagi Andin. Ketika karirnya sedang cemerlang, kehamilan yang datang bisa menjadi salah satu hambatan.
Selama ini, Andin selalu rajin baca majalah Cosmo, Elle, dll, yang jadi panduannya dalam mode dan kehidupan sehari-hari. Tapi, bisa gak Cosmo dan teman-temannya membantu Andin ketika dalam masa sulit seperti ini?
Beruntung Andin punya sahabat yang baik, Lala dan Nick. Lala, teman asal Indonesia, yang diam-diam menyimpan sebuah rahasia besar dalam kehidupannya, dan Nick, pemuda blasteran Indonesia, yang baik banget dan ternyata menyimpan rasa pada Andin.
Sekali lagi, Andin membuktikan kalau dia perempuan yang tough. Andin gak serta-merta jadi cengeng, menuntut pertanggungjawaban Dave dan meratap sepanjang hari. Andin tetap melanjutkan hari-harinya meskipun ia jadi harus super hemat… gak ada lagi shopping barang-barang ber-merk yang lagi sale, gak ada lagi clubbing and merokok…
Dan, gimana ketika Dave memutuskan untuk kembali sama Andin, akankah Andin menerima Dave begitu saja… apa gak nanti Dave akan meninggalkannya lagi? Lalu, gimana ketika tiba-tiba Nick bilang cinta sama Andin? Nick yang super baik… akankah membuat keputusan Andin pulang ke Indonesia jadi batal?
Sekali lagi gue membaca, cerita tentang sebuah pilihan… sanggup gak membuat pilihan, gak hanya atas nama cinta, tapi juga yang rasional?
Judul : Saraswati(thank's to Kobo, buat cover-nya)
Yang membuat buku ini unik dan menarik selain cakupan bahasannya yang mendetail, menarik dan kompleks mengenai sejarah Kristianitas yang panjang, adalah bahasanya yang mudah dipahami oleh orang awam dan ratusan ilustrasi-ilustrasi indah berupa peta, foto-foto patung, artefak sejarah , maupun reproduksi lukisan yang diambil dari museum-meuseum terkenal seperti Louvre Perancis, Galery Florence, Italy, Bridgeman Art Library, London, Vatican Museum, Israel Museum, hingga Pushkin Museum, Moscow, Rusia.
Size 14 is not Fat Either: A Heather Wells Mystery
Judul : Winnetou & Old Shatterhand jilid 1 & 2
Komik yang diberi judul Winnetou & Old Shatterhand ini terbit dalam 5 seri dimana isinya paralel dengan novel Winnetou I : Kepala Suku Apache dan Winnetou II : Si Pencari Jejak (Pustaka Primatama & PKMI)
Namun walau mengalami penciutan ukuran dari komik aslinya, gambar-gambar dalam komik ini tetap nyaman untuk dibaca dan dinikmati. Frame gambarnya tetap besar, bahkan ada beberapa halaman yang dua halamannya berisi satu frame saja (Gambar Sam dan Mustang, hal 22-23 di seri 1). Malah di komik terjemahan ini peletakan frame-frame gambarnya disusun secara bebas, tidak seperti komik aslinya yang terkesan kotak-kotak seperti sawah.
Waktu abis baca Everyboy's Got One - Meg Cabot, gue iseng-iseng browsing, pengen tau yang namanya Le Marche itu seperti apa. Le Marche adalah tempat Holly, tokoh utamanya, jalan-jalan, adalah tempat di Italia yang jadi lokasi untuk Holly dan teman-temannya menginap.