Sabtu, 10 Maret 2007

The Subtle Knife (Pisau Gaib)

The Subtle Knife (Pisau Gaib)
Philip Pullman
B. Sandra Tanuwidjaja (Terj.)
GPU, Januari 2007
408 Hal.

Will dan Ibunya hidup dalam ketakutan akan orang-orang yang selalu mengejar mereka dan mengobrak-abrik rumah mereka. Entah apa yang dicari orang-orang itu, pastilah sesuatu yang berharga, yang mungkin berhubungan dengan ayah Will yang hilang sejak ia masih bayi. Suatu hari, Will menyembunyikan ibunya di rumah seorang wanita yang dapat ia percaya, dan ia pun memulai misinya untuk mencari ayahnya yang menurut cerita ibunya adalah seorang penjelajah. Ketika ia kembali ke rumahnya mengambil barang berharga itu, tanpa sengaja ia membuat salah seorang pengejarnya terbunuh. Sejak saat itu, ia menganggap dirinya adalah seorang pembunuh. Will pun lari menghindari pengejar yang lain. Dalam pelariannya ia menemukan sebuah celah seperti jendela yang ternyata membuatnya masuk ke dunia lain.

Cittágazze, nama dunia lain itu. Dunia ini begitu sepi dan mencekam, nyaris tanpa penghuni dan kehidupan. Yang ada di dunia ini adalah anak-anak. Dunia ini dibayang-bayangi Spectre yang menghisap jiwa manusia. Oleh karena itu, hanya ada anak-anak yang tinggal di sana, karena para orang dewasa sebagian besar sudah melarikan diri atau sudah ‘mati’ terhisap Spectre.

Di Cittágazze ini pula, Will bertemu dengan Lyra dan Pantalaimon, yang ternyata masuk ke dunia ini melalui jembatan yang dibuat ayahnya, Lord Asriel. Lyra masih dalam misi mencari apa itu Debu. Mereka pun belajar untuk saling menyesuaikan diri dan menghormati misi mereka masing-masing.

Sementara itu, di Cittágazze, ada sebuah menara yang disebut Torre degli Angelil, yang diduga menyimpan sebuah pisau ajaib yang bisa membuka jendela ke berbagai dunia, pisau ini juga dipercaya bisa membunuh Spectre. Oleh karena itu, anak-anak yang masih tinggal di Cittágazze begitu beringas ketika mengetahui pisau ajaib tersebuh berhasil dikuasai Will. Mereka tidak segan-segan untuk mencoba membunuh Will dan Lyra.

Berbagai kesulitan menerpa Will dan Lyra. Jari-jari Will yang terputus ketika bertarung untuk merebut pisau ajaib, lalu Lyra yang kehilangan alethiometernya. Belum lagi ancaman Mrs. Coulter yang masih berambisi untuk merebut alethiometer dari Lyra.

Cerita semakin menegangkan dan semakin kompleks. Perubahan watak Lyra tampak dari sikapnya yang semakin bertanggung jawab dan lebih bisa menahan diri dan emosinya. Tapi, siapa sebenarnya Will? Kenapa Will yang harus menerima takdir sebagai ‘pembawa pisau gaib’ yang berbahaya itu?

Sementara itu, beberapa tokoh dari buku pertama, The Golden Compass, mempunyai misi masing-masing yang membuat mereka terpisah dan berjalan sendiri-sendiri. Seperti penyihir Serafina Perkalla, merasa bertanggung jawab untuk mencari dan melindungi Lyra, lalu, Lee Scorebsy memuaskan rasa penasarannya untuk mencari keberadaan Stanislaus Grumman yang diduga masih hidup . Sementara itu, Mrs. Coulter masih tetap menyusun rencana jahat untuk berkuasa.

Read more »

Senin, 05 Maret 2007

Arthur dan Suku Minimoy


Kata-kata seringkali menyembunyikan kata-kata lain
----
William Shakespeare
hal. 73


Judul asli: Arthur and the Minimoys
Penulis: Luc Beson
Penterjemah: Mutia Dharma
Qanita, Cet. I – Januari 2007
260 Hal.

Arthur adalah bocah berusia 10 tahun yang punya imajinasi yang hebat. Ia tinggal bersama neneknya. Orang tua Arthur tinggal di kota lain untuk mencari pekerjaan. Sementara itu, kakek Arthur - Archibald, sudah empat tahun menghilang entah kemana. Arthur gemar masuk ke ruang kerja kakeknya meskipun sudah dilarang. Ia suka membaca buku-buku peninggalan kakeknya tentang petualangannya di Afrika.

Kehidupan Arthur dan neneknya berjalan dengan tenang dan damai, meskipun mereka hanya tinggal berdua. Nenek Arthur selalu berusaha membuat Arthur bahagia, meskipun terkadang Arthur nakal dan kelewat kreatif.

Setiap malam, Nenek Arthur selalu mendongengkan cerita sebelum Arthur tidur. Arthur suka sekali mendengar cerita tentang petulangan kakeknya yang membuatnya terpesona, terutama tentang pertemanan kakek Arthur dengan suku Minimoy. Apalagi ketika Arthur melihat gambar Putri Selenia yang seketika membuatnya jatuh cinta.

Tapi, suatu hari datanglah Davido, orang kaya yang sombong. Ia berniat membeli tanah tempat tinggal Arthur dan neneknya, apabila nenek Arthur tidak bisa melunasi hutang-hutang mereka. Mereka diberi waktu 3 hari untuk melunasi hutang itu, atau mereka harus segera angkat kaki dari rumah itu. Ancaman itu tidak main-main, karena Perusahaan Listrik Davido memutuskan aliran listrik di rumah mereka dan Perusaahan Susu Davido juga menghentikan pasokan susu mereka karena nenek Arthur belum membayar tagihannya.

Nenek Arthur terpaksa menjual semua peninggalan kakek Arthur, topeng antik, buku-buku antik, semuanya, agar ia bisa membayar hutang dan tetap mempertahankan rumah itu. Arthur tidak rela buku-buku kesayangan kakeknya berpindah tangan begitu saja. Arthur yang cerdik mencari cara agar bisa menyelamatkan rumah itu.

Untung Arthur pernah membaca petunjuk harta karun yang tersembunyi yang dulu juga menjadi misi kakek Arthur. Arthur hanya punya waktu 3 hari untuk menemukan suku Minimoy dan menyelidiki keberadaan harta karun tersembunyi itu. Dengan petunjuk yang ditinggalkan oleh kakeknya, saat tengah malam, Arthur memulai petualangannya memasuki dunia suku Minimoy.

Ternyata semua itu tidak mudah, selain karena ukuran tubuh Arthur mengecil hingga sebesar suku Minimoy, Arthur juga harus menghadapi musuh suku Minimoy, yaitu Malthazard (yang namanya hanya boleh disebut dengan M), penyihir yang terkutuk. Tapi, dengan gagah berani, Arthur ditemani Putri Selenia dan Betameche, adik Putri Selenia, berangkat menuju tempat M berada. Di tengah perjalanan, mereka harus menghadapi berbagai bahaya yang hampir saja mengagalkan misi mereka.

Nah, buku ini adalah buku pertama, jadi di akhir cerita, Arthur dan teman-teman berhasil lolos dari jebakan musuh, tapi perjalanan menuju tempat M masih sangat jauh dan petualangan itu akan berlanjut di buku kedua, Arthur dan Kota Terlarang.

Buku ini sudah ada filmnya. Disutradarai oleh penulis buku ini sendiri, Luc Beson, yang juga pernah menyutradarai film The Fifth Element, Nikita dan masih banyak lagi. Bintang dalam film ini adalah Mia Farrow sebagai Nenek Arthur, Freddie Highmore sebagai Arthur. Sedangkan pengisi suara Putri Selenia adalah Madonna, lalu ada Robert De Niro yang mengisi suara Raja atau ayah Putri Selenia.
Read more »

Jumat, 02 Maret 2007

The Professor and The Madman

Judul : The Professor and The Madman
Sebuah dongeng tentang pembunuhan, kegilaan, dan pembuatan Oxford English Dictionary
Penulis : Simon Winchester
Penerjemah : Bern Hidayat
Penerbit : PT. Serambi Ilmu Semesta
Cetakan : I, Januari 2007
Harga : Rp. 39.900,-





“Inilah cerita untuk pembaca yang senang menikmati kata-kata dan mampu mengapresiasi petualangan mengenai tetek bengek sejarah kamus-kamus dan terpesona bahwa Shakespeare, ketika menulis tidak bisa mengacu pada kamus manapun…”

- USA Today

Empat ratus tahun yang lalu, ketika Shakeaspeare menuliskan naskah-naskah dramanya, tidak ada panduan yang tercetak mengenai bahasa, tidak ada satu buku pun yang bisa dijadikan referensi baginya. Bagaimana ia bisa yakin jika setiap kali ia menggunakan kata-kata yang kedengarannya tidak lumrah, bahwa ia benar secara gramatikal dan faktual ?

Pertanyaan diatas mungkin dapat menggambarkan begitu pentingnya manfaat kamus dalam menulis sebuah karya sastra. Pada abad ke –16, di Inggris kamus-kamus seperti yang kita kenal sekarang memang belum ada. Bahasa Inggris belum didefinisikan, belum ditata, hingga lambat laun timbul suatu kesadaran akan pentingnya sebuah kamus yang dapat menampung baik kata-kata sulit maupun keseluruhan kota kata Inggris. Buku-buku yang menjadi cikal bakal kamus pun mulai dibuat hingga akhirnya mencapai puncaknya ketika terbitnya kamus lengkap bahasa Inggris yang dikenal dengan nama Oxford English Dictionary

Oxford English Dictionary (OED) adalah kamus bahasa Inggris yang diterbitkan oleh Oxford University Press. Kamus ini menjadi kamus yang paling otoratif yang menjadi acuan para hakim, pembuat undang-undang, cendekiawan hingga para penulis-penulis dunia yang menggunakan bahasa Inggris. Hingga kini tak ada kamus yang memiliki otoritas melebihi OED yang merupakan karya terbesar sejak ditemukannya mesin cetak dan merupakan buku serial sensasional paling panjang yang pernah ditulis hingga kini.











Kamus yang edisi pertamanya dirampungkan dalam kurun waktu tujuh puluh tahun ini diselesaikan pada malam tahun baru 1927. Terdiri dari 12 jilid raksaksa ; 414.825 kata yang didefinisakan; 1.827.306 kutipan ilustratif. Pada tahun 1933 terbit suplemen pertamanya. Empat suplemen berikutnya terbit antara tahun 1972 – 1986. Edisi keduanya terbit pada tahun 1989. Berkat kecanggihan komputer edisi ini tersaji dengan lebih lengkap dan terpadu dengan menyertakan perubahan dan tambahan dari keempat suplemen tadi, sehingga edisi keduanya terbit dalam dua puluh jilid.

Seiring perkembangan teknologi komputer, kini OED juga tersimpan dalam CD ROM dan dapat juga dibaca secara on line. Kini edisi ketiganya sedang disiapkan dan diperkirakan akan terbit pada tahun 2010.

Walaupun OED demikian otoratifnya dan terus berkembang sesuai perkembangan bahasa inggris, tak banyak yang mengetahui bagaimana kamus ini pertama kali dikerjakan. Simon Winchester, seorang geologis, jurnalis, sekaligus penulis terkenal kelahiran Skotlandia yang salah satu karyanya telah diterjemahkan oleh penerbit Serambi “Krakatau – Ketika Dunia Meledak, 27 Agustus 1883”, tertarik untuk menulis kisah pembuatan kamus terkenal tersebut ketika pada tahun 1980-an, ia mendapatkan pelat-pelat cetak letter press lama yang dulunya dipakai untuk pembuatan OED. Dari pelat-pelat kuno itulah akhirnya Winchester tergelitik untuk mencari tahu bagaimana kamus OED pertama kalinya dikerjakan. Dengan keahliannya sebagai jurnalis dan riset yang mendalam, akhirnya lahirlah kisah “The Professor and The Madman (1998).

Dalam the Professor and The Madman, Winchester menceritakan bagaimana sebuah kamus OED yang terkenal itu ternyata banyak mendapat kontribusi dari seorang jenius aneh yang menghuni rumah sakit jiwa di Broadmoor Criminal Lunatic Asylum di Inggris.

Biografi dan kisah persahabatan dua tokoh besar dibalik pembuatan kamus OED diurai dalam kisah ini. James Murray, terlahir sebagai anak sulung dari keluarga penjahit dan pedagang kain yang miskin. Walau latar belakang keluarganya yang tak menjanjikan, Murray kecil tumbuh lebih matang dari usia sebenarnya. Ia anak yang sangat rajin dan cerdas dalam sekolahnya. Seperti kebanyakan anak-anak miskin di Inggris, pada usia empat belas tahun ia meninggalkan sekolahnya karena orang tuanya tak sanggup membiayainya. Namun hal ini tak membuatnya berhenti belajar. Dahaganya yang haus akan ilmu pengetahuan membuat dirinya harus belajar secara otodidak dan membawanya tetap berada jalur akademik, menjadi anggota Philological Society dan akhirnya dipercaya untuk menjadi ketua tim pelaksana pembuatan Oxford English Dictionary.

Dr. William Minor, terlahir dari golongan aristokrat teratas Amerika. Orang tuanya seorang misionaris yang saleh. Minor mendapat pendidikan yang memadai hingga lulus sebagai dokter dari Yale University. Setelah lulus, pada saat berkecamuknya Perang Saudara, ia melamar sebagai dokter dalam dinas militer Union Army. Rupanya pengalamannya sebagai dokter militer semasa perang saudara inilah yang membuatnya menderita secara traumatik dan menimbulkan dampak kejiwaan pada dirinya. Setelah perang berlalu keanehan-keanehan dalam jiwa Minor semakin menjadi hingga akhirnya ia dipecat dari angkatan darat dan dirawat di sebuah rumah sakit jiwa. Setelah dianggap sembuh, Minor pergi ke Inggris untuk beristirahat, sambil membaca dan melukis. Namun belum lama tinggal di Inggris, Minor kembali mengalami paranoid hingga akhirnya menembak George Merret, seorang buruh kereta api. Peristiwa ini kembali menghantar Minor masuk ke rumah sakit Jiwa di Broadmoor Asylum Inggris.

Persahabatan antara Murray dan Minor berawal ketika Murray selaku ketua pelaksana pembuatan kamus OED mengirimkan selebaran kepada seluruh masyarakat pengguna bahasa Inggris untuk menjadi volunter yang secara sukarela bertugas membaca dan mengirimkan kutipan-kutipan yang sekiranya bermanfaat dalam pembuatan kamus OED ke Scriptorium tempat dimana kamus tersebut dikerjakan

Selebaran itu akhirnya sampai ke tangan Minor di Bradmoor Asylum. Saat itu Dokter Minor telah delapan tahun menghuni Broadmoor dan telah melengkapi selnya dengan tumpukan buku-buku dari lantai hingga langit-langit. Buku-bukunya itu cukup baginya untuk menjadikannya kontibutor dari kamus yang sedang dikerjakan Murray.

Dan akhirnya dari sel rumah sakit itulah, selama 20 tahun Minor dengan ketekunan yang luar biasa membaca dan mencari kutipan, dan secara teratur mengirimkan kutipan-kutipan tersebut kepada Murray. Tak kurang dari 10.000 kutipan telah disumbangkannya untuk membantu tim penyusunan kamus yang diketuai Murray.

Kisah kehidupan Murray, DR Minor, dan pembuatan OED inilah yang menjadi inti dalam kisah ini. Selain merinci latar belakang kehidupan dua tokoh besar dibalik pembuatan OED. Winchester juga secara menarik dan detail memaparkan bagaimana kamus ini dibuat.

Latar belakang Winchester sebagai seorang jurnalis membuat sejarah pembuatan kamus ini dipaparkan secara runut mulai dari kamus-kamus yang terbit sebelum OED, latar belakang pemikiran perlunya pembuatan kamus yang lengkap dan otoratif, konsep pembuatan kamus OED, hingga proses detail bagaimana jutaan kutipan dikumpulkan dari para volunter, diedit, dibuat pelat-pelat cetak, hingga akhirnya terbit edisi perdananya di tahun 1927 setelah menjalani proses yang melelahkan selama tujuh puluh tahun.





Boadroom Asylum, tempat Dr. Minor dirawat dan mengirim kutipan-kutipannya untuk tim OED







Kotak Pos khusus milik James Murray sebagai tempat tujuan kutipan-kutipan dari berbagai volunter dikirimkan









James Murray berada dalam Scriptorium diantara jutaan lembar kutipan-kutipan yang dikumpulkan dari para volunter







Walau buku ini banyak menyajikan sisi sejarah pembuatan kamus dan detail-detail pembuatannya, namun bukan berarti buku ini menjadi kering dan tak menarik. Di tangan Simon Winchester, sejarah pembuatan OED menjadi sangat hidup daan mudah dipahami, karena ditulis secara menarik, meledak-ledak, dan menakjubkan. Dan karena ditulis sebagai sebuah novel, tentu saja Winchester secara cerdas memberi penyedap yang menghibur bagi pembacanya. Belum lagi ditambah sisi-sisi manusiawi yang terungkap dari kisah perjuangan James Murray dalam mewujudkan ambisinya dan kisah Dr. Minor yang berjuang melawan penyakitnya sambil memberikan kontribusi tanpa henti dalam penyusunan kamus ini. Juga bagaimana persahabatan dan akhir hidup kedua tokoh ini yang diungkap secara dramatis sehingga menggugah pembacanya untuk menghargai kedua tokoh ini.

Salah satu sisi menarik lain dari buku ini adalah terpatahkannya mitos kisah pertemuan antara Murray dan Minor yang selama ini beredar di kalangan masyarakat. Murray dan Minor memang akhirnya baru bertemu muka setelah selama dua puluh tahun saling berkorespondensi. Dalam mitos yang beredar di masyarakat dikisahkan secara dramatis bagaimana Murray yang tidak mengetahui kegilaan Minor untuk pertama kalinya bertemu di Broadroom Asylum. Dengan risetnya yang matang, seperti yang terungkap di bab “Terima Kasih” yang ditulis secara naratif, akhirnya mitos pertemuan dua tokoh besar ini dipatahkan dan pembaca bisa menemukan fakta yang sesungguhnya.

Selain itu, sebagai bonus, di tiap awal bab buku ini disajikan pula entri-entri dari Oxford English Dictionary lengkap dengan pelafalan, definisi, dan kutipan dari mana kata-kata tersebut berasal.

Akhirnya setelah membaca buku luar biasa ini, tak ada kata lain yang lebih pas untuk diungkapkan bahwa novel ini adalah novel yang dahsyat dalam mengungkap sejarah dibalik pembuatan sebuah kamus inggris yang paling otoratif hingga kini.

Sebuah buku yang tampaknya cocok dibaca oleh praktisi bahasa seperti para editor kamus bahasa, penulis, pemerhati bahasa indonesia, dll ini, setidaknya akan menyadarkan kita bahwa bahasa adalah milik masyarakat luas. Dan penyusunan sebuah kamus bahasa dan pengembangan bahasa itu sendiri bukanlah hanya tanggung jawab para ‘pejabat bahasa’ saja, melainkan tangungung jawab seluruh masyarakat pengguna bahasa itu sendiri. Jadi berilah kesempatan pada masyarakat luas untuk mengembangkan bahasanya yang telah menjadi miliknya.

@h_tanzil
Read more »

Senin, 26 Februari 2007

Travelers’ Tale


We always question life. But can life question us?


--- Francis (hal. 118)

Travelers’ Tale
Belok Kanan: Barcelona!

Aditya Mulya, Alaya Setya, Iman Hidajat & Ninit Yunita
Gagas Media, Cet. 1, 2007
230 Hal.

Apa jadinya ya, kalo empat penulis berkolaborasi nulis cerita tentang traveling. Pastinya udah pada makan asam garam di dunia per-traveling-an. Paling nggak, gak asal nulis dan ngarang deh soal tempat-tempat yang ada di buku. Salah satu yang bikin gue tertarik beli buku ini, ya, karena ditulis sama empat orang, plus, cerita tentang tempat-tempat asyik di penjuru dunia.

Inti sebenernya, apa lagi kalo bukan cerita cinta, cerita persahabatan. Retno, Farah, Jusuf dan Francis sudah bersahabat sejak jaman mereka SD. Awalnya gak ada tuh, rasa yang aneh-aneh… murni persahabatan. Tapi, tindakan yang simple, tiba-tiba bikin mereka sadar kalo ada sesuatu yang lebih dari sekedar persahabatan.

Di sini ‘ruwet’nya. Pertama, Francis suka sama Retno, tapi dua kali ‘nembak’, dua kali pula Retno menolaknya. Tapi, diam-diam, gara-gara peristiwa bakpao, Farah ternyata suka sama Francis… dan ternyata, gara-gara ada acara bedah kodok di pelajaran biologi, Jusuf yang garink pun jatuh hati sama Farah.

Gak ada gayung bersambut… semua malah bertepuk sebelah tangan. Semua menyimpan rahasia di hati masing-masing. Persahabatan tetap berjalan seperti biasa.

Selesai sma, mereka berpisah. Bekerja di negara yang berbeda, tapi tetap berhubungan via email. Dan… datanglah email yang mengejutkan… email undangan pernikahan dari Francis. Dalam emailnya tertulis kalau Francis akan menikah dengan gadis Katalunya di Barcelona. Dan Francis sangat mengharapkan ketiga sahabatnya itu bisa hadir.

Perjalanan melintas negara di mulai. Dengan perhitungan budget yang ketat, mereka berangkat ke Barcelona, dengan misi masing-masing. Mencoba mencari jawaban atas masa lalu yang bikin penasaran demi masa depan.

Farah terbang dari Hon An di Vietnam – Amman – Budapest…
Jusuf terbang dari Cape Town – Abidjan… (plus di tengah peperangan…)
Retno terbang dari Kopenhagen...
Francis terbang dari Kansas City...

Ke satu tujuan… Barcelona…

Asyik banget baca buku ini… (Ups, nyontek comment-nya Wimar Witoelar di Kata Pengantar). Banyak tempat-tempat yang bikin gue mikir, “Wah.. kapan gue kesana ya?” Poin plus untuk buku ini, ada beberapa tips-tips untuk melakukan traveling.. tips yang diselipin dengan kata-kata kocak… tapi, berguna lho…

Sesekali ada foto hitam-putih yang sayangnya suka gak jelas itu gambar apa. Foto yang berwarna hanya ada di setiap awal bab. Iya, sih.. kalo semuanya berwarna… harga bukunya pasti jadi lebih mahal, tohhh… Di setiap awal bab, diselipkan quotation yang bikin kita semakin pengen traveling around the world…

Gue pun menebak-nebak: siapa nulis tentang siapa? Hmmm… let me guess: Farah is Alaya; Retno is Ninit; Jusuf is Aditya (gelo soalnya) and Francis is Iman.
Read more »

Minggu, 25 Februari 2007

The Golden Compass (Kompas Emas)

The Golden Compass (Kompas Emas)
Phillip Pullman
B. Sendra Tanuwidjaja (Terj.)
GPU, November 2006
488 Hal.

Lyra Belacqua tinggal di Akademi Jordan. Dia tidak tahu siapa keluarganya. Yang dia tahu, Lyra diasuh di Akademi Jordan, tempat para Cendikiawan. Lyra hanya tahu bahwa dia memiliki seorang paman, yaitu Lord Asriel. Lyra mempunyai dæmon bernama Pantalaimon. Dæmon bisa dibilang seperti binatang peliharaan… atau lebih dari itu… pelayan? Soulmate?. Setiap orang mempunyai dæmon. Ketika seseorang masih kecil, dæmon mereka belum mempunyai bentuk tetap, bisa berubah-ubah, kadang bisa jadi tikus, bisa jadi macan tutul atau cerpelai. Ketika dewasa, dæmon memiliki bentuk tetap, yang menunjukkan sifat pemiliknya. Dæmon dan pemiliknya tidak bisa dipisahkan dalam jarak yang jauh. Mereka harus selalu berdekatan. Jika mereka berpisah dengan dæmon, maka mereka akan merasakan kerinduan dan kesedihan yang sangat mendalam pada dæmon mereka. Seseorang yang tidak memiliki dæmon, akan jadi sangat mengerikan, seperti mayat hidup, seperti ‘terpenggal’. Jika mereka meninggal, maka mereka akan dikubur bersama dæmon mereka.

Lyra gemar bertualang. Ia dan temannya, Roger, menjelajah seluruh isi Akademi Oxford. Bahkan ia sering bermain dan bertengkar dengan orang-orang Gipsi. Suatu ketika, banyak anak-anak kecil menghilang. Gosip beredar, mereka diambil para Pelahap. Kehilangan mereka berhubungan dengan isu Debu.

Dan ketika Roger ikut menghilang, Lyra tidak tinggal diam. Ia bertekat mencari di mana Roger berada. Tapi, belum sempat Lyra mengadakan penyelidikan, datanglah seorang Cendikiawan wanita bernama Mrs. Coulter dengan dæmon-nya monyet emas. Lyra begitu mengagumi Mrs. Coulter, meskipun Pantalaimon curiga dengan monyet emas itu. Ketika Mrs. Coulter mengajak Lyra tinggal bersamanya, Lyra senang sekali. Sebelum pergi ke rumah Mrs. Coulter, Lyra dibekali sebuah alethiometer oleh Master Akademi. Alethiometer adalah sebuah alat yang bisa memberi petunjuk sebuah kebenaran.

Lyra pun tinggal di rumah Mrs. Coulter, di mana tempatnya begitu mewah dan berkelas. Lyra bagai dimanja oleh Mrs. Coulter. Tapi, itu sebelum Lyra mengetahui sebuah kebenaran tentang Mrs. Coulter.

Lyra kabur dari rumah Mrs. Coulter ketika sedang berlangsung pesta di rumah itu. Tapi, Lyra yang sempat tidak tahu tujuan, diselamatkan oleh keluarga Gipsi. Lyra menjadi salah satu anak yang paling diburu oleh para polisi.

Ketika Lyra tahu ada anak-anak Gipsi yang juga menghilang, Lyra mengajak orang-orang Gipsi untuk mau membantunya menyelamatkan anak-anak yang diambil para Pelahap, sekaligus menyelamatkan Lord Asriel yang ditawan dan dijaga oleh beruang berbaju besi.

Lyra menjadi satu-satunya perempuan yang ikut ekspedisi ke Utara. Dalam ekspedisi ini, Lyra ikut bersama pemimpin orang-orang Gipsi, yaitu Lord Faa dan Farder Coram. Mereka juga dibantu oleh beruang besi yang terbuang dari kaumnya, Iorek Byrnison. Tapi, dalam sebuah pertempuran, Lyra tertangkap. Bukan hanya sekali… tapi dua kali… dan ketika ia berhasil bebas dan bertemu Lord Asriel, Lyra harus menerima sebuah kenyataan yang menyakitkan…

Awalnya cerita ini sempat membosankan. Persis seperti gambaran Lyra tentang kehidupan di Akademi Jordan yang banyak aturannya. Tapi, begitu memasuki bagian ketika orang-orang Gipsi mempersiapkan ekspedisi ke Utara, mulai terasa ketegangannya, dan semakin menarik untuk diikuti.

The Golden Compass adalah bagian pertama dari Trilogi His Dark Materials. Dunia dalam kisah ini terbagi tiga, pada bagian pertama adalah sebuah dunia yang mirip dengan dunia kita, tapi berbeda dalam berbagai hal. Sehingga kalau kita baca buku bagian pertama ini, kita akan merasa dunia mereka sama dengan dunia kita. Sedangkan di buku kedua, yaitu The Subtle Knife (Pisau Gaib), cerita terbagi dalam tiga dunia, yaitu dunia yang ada di The Golden Compass, lalu dunia yang kita kenal dan dunia ketiga yang berbeda dari dunia kita dalam banyak hal. Lalu di bagian terakhir dari trilogy ini, The Amber Spyglass, cerita akan berpindah-pindah di antara beberapa dunia.

The Golden Compass sudah dibuat filmnya dan dibintangi oleh Nicole Kidman (sebagai Mrs. Coulter), Daniel Craig (Lord Asriel) dan Dakota Blue Richards (Lyra).
Read more »

Summer in Seoul

Summer in Seoul
Ilana Tan
GPU, Oktober 2006
280 Hal.

Setelah 'berkunjung' ke Belgia, hari sabtu ini gue 'main-main' ke negeri Ginseng alias Korea... menikmati cerita cinta yang menurut gue kocak juga a la Han Soon-Hee and Jung Tae-Woo. Tiga perempat novel ini gue baca selama menemani suami gue belanja komputer di Mangga Dua. Untung gue bawa buku, kalo gak gue bisa bt nungguin dia belanja sementara gue gak dapet apa-apa di sana.


Entah apa yang ada di benak Sandy alias Han Soon-Hee, gadis blasteran Indonesia-Korea, ketika ia menerima permintaan untuk berpose sebagai kekasih penyanyi muda terkenal di Korea, Jung Tae-Woo. Bukan karena alasan uang, bukan karena alasan Soon-Hee adalah penggemar berat Jung Tae-Woo. Malah ketika pertama kali bertemu Jung Tae-Woo, sikap Soon-Hee amat sangat biasa-biasa saja.

Semua ini diawali ketika secara tidak sengaja, handphone Han Soon-Hee tertukar dengan milik Jung Tae-Woo. Han Soon-Hee terpaksa mengembalikan handphone itu ke rumah Jung Tae-Woo. Padahal ini semua bukan kesalahan Han Soon-Hee, asisten manajer Jung Tae-Woo yang tidak sengaja mengambil handphone Soon-Hee di sebuah toko makanan karena ternyata model dan deringnya sama. Dan di rumah Tae-Woo-lah, pertama kali Han Soon-Hee bertemu dengan penyanyi yang diidolakan perempuan se-Korea.

Dari pertemuan itu, terbersit ide untuk menjadikan Han Soon-Hee sebagai kekasih rahasia Jung Tae-Woo. Semua ini dilakukan hanya untuk menepis gosip yang menyatakan bahwa Jung Tae-Woo adalah seorang gay. Gosip ini dianggap kurang menguntungkan bagi kemunculan perdana Tae-Woo setelah empat tahun.

Ternyata semua ini tidak hanya berakhir dengan foto pertama yang segera tersebar luas di tabloid-tabloid gosip. Wartawan semakin penasaran dengan sosok misterius perempuan yang bersama Tae-Woo karena tidak pernah tampak dengan jelas wajahnya di foto. Soon-Hee juga harus merahasiakan semu ini dari orang-orang terdekatnya.

Di balik semua kepura-puraan ini, diam-diam, mereka mulai saling tertarik. Mulai merasakan cemburu dan bertanya-tanya jika tidak ada kabar.

Tapi yang paling membuat mereka resah adalah kisah empat tahun lalu, sebuah kejadian ketika Jung Tae-Woo sedang mengadakan acara jumpa penggemar, kejadia yang membuat Jung Tae-Woo vakum selama empat tahun. Ada kenyataan tak terduga yang mungkin membuat mereka tidak bisa bersatu.

Read more »

Jumat, 23 Februari 2007

The Historian

Judul : The Historian (Sang Sejahrawan)
Penulis : Elizabeth Kostova
Penerjemah : Andang. H. Soetopo
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : I, Januari 2007
Tebal : 768 hlm ; 23 cm
Harga : Rp. 135.000,-

Awal Februari 2007 , situs resmi The Associated Press dalam sebuah kolom beritanya mengabarkan bahwa Puri Bran yang diyakini sebagai tempat kediaman Dracula, dijual seharga 78 juta dolar oleh pewarisnya kepada pemerintah Rumania. Langkah tersebut diambil demi pelestarian tempat legendaris di Transylvania tersebut. Kabarnya lebih dari 400 ribu orang mengunjungi puri itu setiap tahunnya, terutama karena dikaitkan dengan Vlad the Impaler atau Pangeran Dracula.

Vlad bukanlah pemilik puri itu, namun diyakini telah menggunakan tempat itu selama kunjungannya ke Transylvania. Dia juga terkurung di tempat itu selama dua bulan pada tahun 1462 setelah ditangkap olah musuhnya.

Nama Dracula sering dikaitakan dengan sosok vampir yang selalu haus akan darah manusia. Sejarah mencatat, Dracula adalah seorang pangeran Wallachia (Rumania) bernama Vlad Tapes (1431-1476) yang gigih melawan serbuan kesultanan Ottonam atas wilayahnya. Ia sosok yang dibenci baik oleh musuhnya maupun oleh rakyatnya sendiri. Nama Dracula sendiri berarti anak laki-laki Dracul -anak laki-laki naga- (Drac = naga. ull=anak), nama ini disandingnya karena ayahnya (Vlad II) diangkat menjadi anggota Orde Naga oleh Kaisar Romawi. Organisasi ini dibentuk untuk mempertahankan kekaisaran romawi terhadap kesultanan Ottoman di Turki.

Selain itu Vlad Tepes juga memiliki sebutan yang menyeramkan Vlad The Impaler (Vlad si Penyula). Di sebut Penyula karena konon Vlad dikenal sebagai tokoh yang senang melakukan kekejaman terhadap orang-orang yang tak disukainya. Salah satu metode penyiksaan yang disukainya adalah dengan menyula (menusuk dari dubur hingga kepala) hidup-hidup musuh-musuhnya. Diperkirakan ia telah membunuh 40.000 hingga 100.000 orang dengan cara-cara yang kejam.

Kekejaman Vlad Tepes berakhir ketika ia tewas dalam sebuah penyerbuan orang-orang Turki di sebuah kota dekat Buchares. Kepalanya dipisahkan dari tubuhnya dan dibawa ke Konstantinopel sebagai persembahan kepada Sultan Turki. Tubuh tanpa kepalanya dikuburkan di Snagov sebuah pulau di Bucharest. Dari sinilah legenda vampir mulai hidup. Konon Vlad Tepes tidak benar-benar mati, ia menjadi mayat hidup, menjadi vampir dan menyebarkan wabah vampir kepada orang-orang yang digigitnya. Kisah ini menjadi legenda. Diceritakan dari generasi ke generasi di kalangan penduduk Balkan yang masih percaya pada tahayul.

Legenda vampir ini diadopsi oleh Bram Stroker untuk novelnya yang berjudul Dracula (1897). Walau dalam novelnya tak menyebutkan nama Vlad Tepes, namun latar belakang Dracula dalam novelnya mengindikasikan bahwa Vlad Tepes-lah yang diadopsi oleh Stroker untuk menajdi tokoh utama dalam karyanya.

Selain Stroker, buku-buku tentang Dracula/vampir terus ditulis orang, mungkin angkanya telah mencapai ribuan buku. Apalagi setelah Hollywod mengkomersilkan lagenda vampir dengan film-filmnya. Konon, hampir 300 film pernah dibuat berkaitan dengan vampir dan dracula.

Walau kisah Dracula terus ditulis orang, hal ini tak mengurungkan niat Elizabeth Kostova untuk melakukan riset sejarah mengenai Dracula dan menuangkan hasil risetnya kedalam sebuah novel sejarah yang dikemas dalam horor-suspense yang memikat yang diberi judul The Historian (Sang Sejarahwan). Berbeda dengan Darcula-Bram Stoker, Kostova lebih memberikan nuansa sejarah pada novelnya ini, sehingga pembaca tak hanya disuguhkan oleh ketegangan dan kengerian semata, melainkan pembaca juga diajak menyelusuri siapa sebenarnya dibalik sosok Dracula berdasarkan fakta sejarah yang diperoleh Kostova dari risetnya selama 10 tahun!

The Historian diawali dengan kisah di tahun 1972 dimana seorang gadis berusia 16 tahun menemukan sebuah buku tua dan amplop yang berisi kertas-kertas yang sudah menguning di perpustakaan ayahnya di Amsterdam. Uniknya buku tua tersebut seluruh halaman-halamannya kosong, kecuali di halaman tengahnya terdapat gambar cukilan kayu berbentuk naga dan terdapat tulisan “Draculya”. Sedangkan kertas-kertas yang sudah menguning itu ternyata sebuah surat-surat pribadi bertanggal 12 Desember 1930 yang ditujukan kepada “ Penerusku yang baik dan tidak beruntung

Ketika ia bertanya pada ayahnya mengenai temuannya itu, barulah ayahnya (Paul) bercerita. Pada saat Paul masih menjadi mahasiswa S2 jurusan sejarah di Amerika, di malam hari ketika ia sedang membaca di perpustakaan universitas, tiba-tiba seseorang telah meninggalkan sebuah buku kuno diantara buku-buku yang sedang dibacanya di meja perpustakaan. Buku kuno yang ditengah halamannya bergambar naga dan bertuliskan Drakulya ini membuat penasaran Paul dan iapun segera menelusuri katalog perpustakaan untuk menemukan buku-buku dengan tema “Drakula”

Paul menceritakan penemuannya itu pada dosen pembimbingnya, Prof. Bartholomew Rossi. Dan yang lebih mengejutkannya, ternyata Prof Rossi juga memiliki buku yang sama dengan cara yang juga misterius. Sama seperti Paul, buku ini menimbulkan obsesi yang besar bagi Rossi untuk memperoleh keterangan mendalam mengenai asal-usul buku itu, dan mencari tahu sosok tokoh sejarah Draculla atau Vlad Tepes, dimana kuburnya, dan apakah ia masih hidup hingga kini, dll ? Tak tanggung-tanggung Prof Rossi melacak jejak Draculla hingga ke Turki dan pelosok-pelosok Rumania.

Prof. Rossi segera memberikan semua hasil temuannya baik berupa manuskrip, peta dan surat-suratnya. Namun sebelum Paul dan Rossi melakukan riset lebih jauh, tiba-tiba Prof Rossi menghilang dengan meninggalkan bercak darah di kamarnya. Berdasarkan surat-surat dan peta yang diterimanya dari Rossi, Paul melanjutkan risetnya sambil mencari keberadaan Rossi. Secara kebetulan ia bertemu dengan Hellen, seorang antropolog asal Rumania yang ternyata anak kandung dari Prof Rossi dari hasil hubungannya dengan wanita asal Rumania yang ditemuinya saat melakukan riset Dracula.

Paul bersama Helen pun sepakat melakukan pencarian dimana Rossi berada, ada dua kemungkinan kemana hilangnya Rossi, mencari letak kubur Dracula, atau diculik oleh Dracula. Pencarian ini menghantar mereka singgah ke beberapa negara seperti Turki, Rumania, Bulgaria, menelusuri koleksi-koleksi perpustakaan-perpustakaan yang menyimpan buku2 dan manuskrip –manuskrip kuno abad ke 15, mengunjungi biara-biara kuno guna mencari dimana kubur Draculla berada , dll. Dalam pencarian ini mereka kelak akan menemukan bahwa masih ada beberapa orang yang ternyata memiliki buku bergambar naga seperti yang dimiliki Paul dan Rossi. Pencarian ini tidaklah mudah, selain keterbatasan sumber, mereka juga selalu dibuntuti oleh seseorang atau sesosok vampir yang mencoba menghalangi niat mereka, bahkan sempat menggigit salah satu dari mereka .

Selain hilangnya Rossi, kelak Paul juga akan menghilang. Dan kini giliran si gadis bersama temannya Barley, mencoba mencari jejak keberadaan ayahnya. Berhasilkah Rossi dan Paul ditemukan. Berhasilkah kubur Draculla ditemukan? Dan apakah Dracula masih hidup ? Pertanyaan ini akan terjawab di lembar-lembar terakhir novel ini.




Kuburan dracula/Vlad Tepes di Snagov - Bucharest




Novel ini terangkai dari beberapa penutur ; tuturan Paul yang menceritakan langsung kisahnya pada anaknya, surat-surat Paul, surat-surat Rossi, dan si gadis yang menceritakan pengalamannya sendiri. Jika dilihat dari setting waktunya, novel ini memiliki tiga bagian kisah. Setting tahun 1930-an yang menceritakan pengalaman Prof. Rossi, setting tahun 1950-an yang menceritakan pengalaman Paul, dan setting tahun 1972 yang menceritakan pengalaman gadis berusia enam belas tahun yang hingga akhir cerita tak disebutkan namanya.

The Historian ditulis oleh Elizebeth Kostova dengan gaya yang indah dan memikat. Tidak seperti novel-novel horor lainnya yang biasanya sarat dengan dendam, darah, amarah, tubuh yang tercabik-cabik, sosok hantu yang menjijikkan, dan lain-lain. The Historian menyajikan nuansa yang berbeda. Walau yang menjadi tema utama adalah pencarian sosok Drakula yang menyeramkan, namun tak ada ketakutan yang berlebihan pada novel ini. Kemunculan vampir tak diumbar dalam novel ini, namun seolah sang vampir terus mengikuti setiap tokoh-tokohnya. Ketegangan dan kemisteriusan menyelimuti seluruh halaman novel ini, dimulai dari ditemukannya buku kosong bergambar naga, kisah kekejaman Vlad Tepes ketika mengeksekusi musuh-musuhnya, vampir yang membuntuti dan menyerang dengan tiba-tiba, hingga sosok drakula dan aktivitasnya yang unik dan tak terduga akan ditemui dalam novel ini.

Selain itu aroma sejarah juga tercium dengan tajam pada novel ini. Dengan deskripsi sejarah yang diurai secara kronologis dan menarik sehingga tak membosankan Kostova mengajak pembacanya bertamasya ke masa lalu di abad ke 15 dimana Dracula pernah hidup dan berjuang melawan serangan tentara Turki dibawah pemerintahan Sultan Mehmed II. Pembaca juga akan diajak berkelana ke tempat-tempat eksotis seperti Oxford, Istanbul, Rumania, Bulgaria untuk menelusuri buku-buku kuno, mansukrip-manuskrip bersejarah, kisah para santo, puisi kuno, legenda dan lagu-lagu rakyat yang berkaitan dengan Drakula.

Suspense, horor, legenda, fakta sejarah, semua itu dirangkai dalam sebuah kisah dengan tempo yang cepat dan plot yang memikat sehingga membuat pembacanya betah membaca novel dengan tebal 768 halaman ini. Hampir di akhir setiap bab, Kostova menyajikan hal yang mengejutkan sehingga membuat pembacanya penasaran dan ingin terus membaca ke halaman-halaman berikutnya hingga buku ini selesai dibaca dengan tuntas.

Kostova tampaknya berhasil menuntun pembacanya untuk terus penasaran dalam mengikuti lika-liku cerita yang pada akhirnya akan meyakinkan pembacanya bahwa drakula memang pernah ada dan merupakan tokoh sejarah. Hal ini dimungkinkan karena dari cara berceritanya sendiri memeberi kesan bahwa sang penulis telah melakukan riset yang mendalam layaknya seorang sejahrawan dalam membuat novel ini.

Dalam mengerjakan novel ini, Kostova memang tak sekedar mengandalkan imajinasinya tentang sosok Dracula. Novel pertama Elizabet Kostova ini tampaknya dikerjakan dengan sungguh-sungguh disertai riset yang mendalam layaknya seorang sejarahwan selama sepuluh tahun. Menurutnya sejak ia masih kecil, ketika ayahnya bercerita tentang Dracula, ia sudah membayangkan cerita yang akhirnya akan menjadi The Historian. Hingga akhirnya, dengan semangat akademiknya, kesabaran dan bakat menulsinya yang laur biasa, Kostova berhasil menghasilkan karya yang penuh misteri sejarah dan ketegangan ini. Bukan tak mungkin novel ini bakal menjadi novel mengenai kesejarahan dan legenda dracula yang otoratif dan dikenang sepanjang masa setelah novel Dracula karya Bram Stroker.

Tak heran ketika novel ini terbit di tahun 2005, novel ini langsung menjadi best seller dunia. Debut Elizabeth Kostova dengan novel ini langsung melemparnya ke tempat teratas penulis-penulis novel suspense sejarah. Dan untuk novel ini pula Kostova memenangi Hopwood Award for the Novel-in-Progress.

Bersyukur pembaca buku tanah air kini bisa membaca terjemahan novel ini. yang diterjemahkan oleh penerjemah senior Andang Heru Soetopo. Tampaknya pembaca tak akan menemui kesulitan dalam memahaminya karena kalimat-kaliamatnya mudah dipahami dan mengalir dengan lancar. Jika kita membaca liputan majalah MATABACA ed. Febr 2007 mengenai terjemahan novel ini, kita akan melihat bahwa penerjemah tampaknya telah melakukan hal yang maksimal agar terjemahan novel ini dapat mendiskripsikan apa yang menjadi keinginan dan gaya penulisnya.

Edisi terjemahan buku ini dicetak diatas kertas HVS, dengan sampul hard cover dan diberi tambahan pembatas bukunya yang menawan, sehingga secara fisik buku ini tampil cukup mewah dan layak dikoleksi, namun dengan kemasan mewah seperti ini, buku ini menjadi berat secara fisik untuk dibawa-bawa dan dibaca berlama-lama sehingga agak mengganggu kenikmatan membacanya.

@h_tanzil
Read more »

Selasa, 20 Februari 2007

Four Seasons in Belgium

Hidup adalah pilihan. Kita yang harus memilih jalan
hidup kita. Pilih senang atau susah? Menang atau kalah? Kaya atau miskin?

--- Lala, hal. 175

Four Seasons in Belgium
Fanny Hartanti
Gramedia, Juli 2006
232 Hal.

Di tengah-tengah baca The Historian yang tuebeeelll itu, gue ngerasa perlu sedikit refreshing… untuk meredakan ketegangan. Akhirnya gue memutuskan untuk baca novel metropop. Udah lama sih, gue gak baca novel metropop. Gue pun ‘melirik’ dua novel dengan judul yang 'manis' “Summer in Seoul” and “Four Seasons in Belgium”.

Yang pertama gue baca ada Four Seasons in Belgium. Cerita tentang Dewi Andini atau Andin yang dikirim oleh perusahaan consumer goods di Jakarta untuk bekerja selama dua tahun di Belgia. Tugas ini disambut Andin dengan suka cita, karena ternyata, selain untuk karirnya, Andin punya misi khusus, yaitu, bertemu lagi dengan kekasihnya, Dave.

Andin adalah tipe gadis yang mandiri, cuek dan bergaya. Berada jauh dari keluarga dan tanah air tidak serta merta membuatnya homesick berlebihan. Dengan cepat, Andin beradaptasi dengan lingkungan di Belgia. Andin cepat bergaul dengan teman-teman bulenya, ikutan gaul ke pub, jalan-jalan ke negara-negara di Eropa, yang pastinya, semakin menyenangkan dengan adanya Dave, kekasihnya yang tampan itu.

Urusan pekerjaan tidak ada masalah, tapi urusan percintaan yang malah membuat emosi Andin naik turun. Semandiri apa pun seorang perempuan, setegar apa pun dia, ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa dirinya hamil, tetap saja bagai petir di siang bolong. Ditambah lagi, sambutan Dave yang ternyata di luar dugaannya. Dave ternyata lebih memilih pekerjaan dari pada Andin dan calon bayi mereka. Andin pun harus memilih, apakah mempertahankan kandungannya atau pergi ke Belanda untuk melakukan aborsi. Pilihan yang berat bagi Andin. Ketika karirnya sedang cemerlang, kehamilan yang datang bisa menjadi salah satu hambatan.

Selama ini, Andin selalu rajin baca majalah Cosmo, Elle, dll, yang jadi panduannya dalam mode dan kehidupan sehari-hari. Tapi, bisa gak Cosmo dan teman-temannya membantu Andin ketika dalam masa sulit seperti ini?

Beruntung Andin punya sahabat yang baik, Lala dan Nick. Lala, teman asal Indonesia, yang diam-diam menyimpan sebuah rahasia besar dalam kehidupannya, dan Nick, pemuda blasteran Indonesia, yang baik banget dan ternyata menyimpan rasa pada Andin.

Sekali lagi, Andin membuktikan kalau dia perempuan yang tough. Andin gak serta-merta jadi cengeng, menuntut pertanggungjawaban Dave dan meratap sepanjang hari. Andin tetap melanjutkan hari-harinya meskipun ia jadi harus super hemat… gak ada lagi shopping barang-barang ber-merk yang lagi sale, gak ada lagi clubbing and merokok…

Dan, gimana ketika Dave memutuskan untuk kembali sama Andin, akankah Andin menerima Dave begitu saja… apa gak nanti Dave akan meninggalkannya lagi? Lalu, gimana ketika tiba-tiba Nick bilang cinta sama Andin? Nick yang super baik… akankah membuat keputusan Andin pulang ke Indonesia jadi batal?

Sekali lagi gue membaca, cerita tentang sebuah pilihan… sanggup gak membuat pilihan, gak hanya atas nama cinta, tapi juga yang rasional?

Read more »

Senin, 19 Februari 2007

Saraswati

Judul : Saraswati
Penulis : Kanti W. Janis
Editor : Aries R. Prima
Penerbit : AKOER
Cetakan : I, Sept 2006
Tebal : 175 hlm
Harga : Rp. 49.500,-

Beberapa minggu yang lalu sebuah paket sampai di meja kerja saya. Paket itu ternyata berisi dua buah buku baru dari penerbit AKOER. Satu buku tebal berjudul Digitarium – Baron Leonard, satu lagi buku tipis berjudul Saraswati karya Kanti W. Janis.

Siapa Baron Leonard dan Kanti W Janis ?. Setelah membaca sedikit keterangan tentang penulisnya di sampul belakang kedua buku tersebut, barulah saya tahu bahwa kedua penulis ini adalah penulis muda yang masing-masing baru melahirkan novel perdananya. Salut untuk penerbit AKOER yang konsisten memberi kesempatan kepada penulis-penulis baru untuk menerbitkan karyanya. Sebelumnya sudah ada dua nama yang novel perdananya diterbitkan oleh AKOER yaitu Akmal Nasery Basral – Imperia, dan Andhika Pramajaya – Narkobar, The Motivator

Setelah menimang-nimang mana dulu yang akan saya baca, akhirnya saya memutuskan membaca terlebih dahulu novel Saraswati karena lebih tipis, dan juga karena saat ini saya sedang membaca novel tebal – The Historian (Elizabeth Kostova). saya juga tertarik dengan endorsment dari penerbit di cover belakang buku Saraswati yang ditulis sbb :

“Terus terang kami terperangah ketika membacanya pertama kali. Secara tradisi biasanya kisah cinta, hanya memiliki 2 akhir penyelesaian. Apakah berakhir dengan “happy ending” atau tragedi perpisahan. Dalam Saraswati, Kanti keluar dari jalur tradisi ini. Secara tidak terduga Kanti menawarkan klimaks alternatif yang baru.”

Tak membutuhkan waktu yang lama untuk membaca novel ini. Saraswati menceritakan persahabatan dan kisah cinta antara Saraswati dengan Disam. Saraswati adalah anak tunggal dari pasangan suami istri yang berasal dari Bali, sedangkan Disam seorang peranakan Belanda yang ayahnya berasal dan berkebangsaan Belanda.

Persahabatan mereka berawal saat mereka masih kecil dimana Disam (10 tahun) terjatuh dari sepedanya tepat di depan rumah Saraswati yang pada saat itu berusia 15 tahun. Dengan telaten Saraswati merawat luka-lika Disam, dan semenjak itulah mereka bersahabat. Disam memiliki keluarga yang tidak harmonis, ayah dan ibunya kerap bertengkar, sedangkan Saraswati selalu merasa kesepian karena kedua orang tuanya sering bepergian. Untuk mengusir kesepiannya Saraswati mengisi hari-harinya dengan melukis. Disam yang depresi akibat keluarganya dan Saraswati yang selalu kesepian membuat persahabatan mereka kian kental. Namun sayangnya persahabatan mereka terputus secara tiba-tiba Saraswati menghilang begitu saja dari rumahnya tanpa memberi kabar pada Disam.

Setelah persahabatan mereka terputus berbagai kejadian menimpa keluarga mereka. Orang tua Disam bercerai, sedangkan kedua orang tua Saraswati meninggal karena kecelakaan. Namun mereka berhasil keluar dari masa-masa sulitnya dan menjalani kehidupannya masing-masing. Saraswati tetap melukis sambil bekerja di sebuah galeri lukisan. Disam dengan bermodal wajah indonya yang tampan menjadi seorang model.

Setelah tujuh tahun kehilangan kontak, tiba-tiba mereka bertemu kembali. Pertemuan ini menjalin kembali persahabatan antara mereka berdua yang sempat terputus selama tujuh tahun. Karena bukan lagi anak kecil, persahabatan mereka lambat laun menumbuhkan benih-benih cinta diantara mereka. Namun baik Disam maupun Saraswati belum menyadari sepenuhnya apakah mereka benar-benar saling mecintai atau tidak.

Belum yakin dengan apa yang mereka rasakan, Saraswati kedatangan ‘tuniang’-nya (nenek) bersama seorang pria (Bisma) yang merupakan cucu dari sahabat Tuniang di Bali. Rupanya kedatangan Tuniang bersama Bisma ke Jakarta memiliki misi tersembunyi. Tuniang ingin agar Saraswati berkenalan dengan Bisma dan menjodohkannya. Hadirnya Bisma membuat cemburu Disam hingga akhirnya Disam maupun Saraswati menyadari bahwa sesungguhnya benih cinta diantara mereka telah tumbuh.

Sayangnya Saraswati labil dalam pendiriannya, disatu pihak ia mencintai Disam, dilain pihak ia ingin membahagiakan Tuniang sebagai pengganti kedua orangtuanya yang telah meninggal.

Cerita terus bergulir. Siapa yang akhirnya akan dipilih Saraswati ?

Tema cinta dalam novel ini menurut saya sebuah tema yang umum. Walau ditulis oleh seorang novelis baru, kisahnya ditulis dengan lancar dan mengalir. Pergulatan batin antara Disam dan Saraswati tersaji dengan menarik dan mampu mengajak pembacanya memahami apa yang mereka rasakan.

Di pertengahan cerita penulis mengajak pembacanya untuk berjalan-jalan ke Bali sambil menyaksikan prosesi ngaben seorang puteri raja Bali. Bagi saya, ini nilai tambah dari novel ini. Dengan agak mendetail penulis mendeskripsikan prosesi ngaben sehingga memberi pengetahuan baru bagi saya mengenai prosesi sakral yang sudah menjadi obyek wisata yang paling banyak diminati oleh para turis dalam dan luar negeri. Seandainya bagian ini dieksplorasi lebih dalam lagi tentunya akan lebih menarik

Lalu bagaimana dengan endingnya yang dikatakan keluar dari tradisi kisah cinta?
Endingnya memang tak terduga, namun saya tak melihatnya sebagai sesuatu yang istmiewa seperti yang dikatakan oleh penerbit pada deskripsi novel ini sebagai ending yang keluar dari tradisi kisah cinta.

Mungkin saya yang salah, atau kurang peka dalam mengapresiasi novel ini khususnya dalam endingnya. Karena itu saya mengajak teman-teman yang telah membaca novel ini untuk mendiskusikan lebih lanjut. Apakah benar novel ini memiliki ending yang tidak biasa?

Namun telepas dari soal endingnya. Saya menilai bahwa novel ini adalah novel yang baik dan enak dibaca. Sebagai novel perdana Kanti W janis, novel ini merupakan modal awal yang sangat baik untuk profesinya sebagai seorang penulis. Jika dilihat dari gaya berutur, penggunaan kalimat-kalimat narasi dan dialognya, semua itu mampu menyeret pembacanya kedalam kompleksnya kisah percintaan antara dua pribadi yang memiliki masa lalu yang kelam.

Siapa sebenarnya penulis novel ini ?
Sayang tak ada keterangan yang cukup mengungkapkan jati diri penulisnya selain nama lengkapnya, foto, dan sebaris kalimat yang menyatakan bahwa Kanti W Janis adalah penulis belia dan Saraswati adalah novel perdananya.

Padahal setiap saya membaca sebuah buku, hal pertama yang saya lihat selain judul, sinopsis, endorsment,dll, saya selalu membaca bagian biodata penulisnya dimana saya akan mendapat informasi tentang penulisnya seperti pengalaman menulisnya, apa akitivitasnya disamping menulis, dikota mana ia tinggal, dll. Mungkin bagi sebagian bagian ini bukanlah hal yang penting, namun bagi saya biodata penulis adalah hal yang perlu saya ketahui sebelum membaca karyanya. Biodata penulis adalah salah satu cara penulis menyapa saya selain dari karyanya sendiri. Dan lagi, bukankah pembaca berhak mengetahui lebih dari sekedar nama penulis dari sebuah buku yang sedang dibacanya…?


@h_tanzil
Read more »

Minggu, 11 Februari 2007

The Sisters Grimm: Petualangan Detektif Dongeng

Judul Asli: The Sisters Grimm, Book One: The Fairy Tale Detectives
Penulis: Michael Buckley
Penterjemah: Mutia Dharma
Qanita, Cetakan I Januari 2007
320 Hal.
Rp. 39,500

Siapa yang tidak kenal Grimm Bersaudara – Penulis karya-karya klasik tentang dongeng dan keajaiban, seperti: Cinderella, Snow White, Hansel & Gretel, dan masih banyak lagi.

Tapi, siapa yang tahu kalau keturunan Grimm Bersaudara masih ada sampai saat ini.

Sabrina dan Daphne Grimm adalah kakak-beradik. Mereka yatim piatu, orang tua mereka diculik dan tidak pernah ada kabar berita, apakah mereka masih hidup atau sudah meninggal. Sabrina dan Daphne tinggal di panti asuhan . Sudah beberapa kali mereka berganti orang tua asuh, tapi, mereka selalu berhasil kabur dari rumah orang tua asuh mereka itu.

Sampai akhirnya, Sabrina dan Daphne dibawa ke sebuah kota bernama Ferryport Landing. Mereka dijemput oleh seorang perempuan tua yang mengaku sebagai nenek mereka, bernama Relda Grimm. Padahal, ayah mereka pernah bercerita kalau nenek mereka sudah meninggal.

Mereka dibawa Nenek Relda ke rumahnya yang aneh. Rumah itu harus dibuka dengan ratusan kunci yang berderet. Ketika di dalam rumah, Nenek Relda akan berkata, “Kami pulang!” Rumah itu juga dipenuhi tumpukan buku-buku yang ada di lantai, meja, di bawah sofa dan kerpet. Judul bukunya juga tak kalah aneh: 365 Cara untuk Memasak Naga, Autobiografi Ratu Jahat, atau, Sepatu, Mainan dan Kue: Tradisi Kerajinan Tangan Khas Kaum Elf.

Makanan yang dibuat Nenek Relda lebih aneh lagi: spaghetti berwarna hitam yang dibuat dari tintai cumi-cumi, serta sausnya yang berwarna oranye terang yang rasanya sedikit berkari. Tidak ketinggalan bakso berwarna hijau jambrud.

Tidak seperti Daphne yang langsung menyukai Nenek Relda, Sabrina masih tetap menunjukkan sikap bermusuhan. Dia menganggap Nenek Relda adalah orang yang aneh, dan curiga bahwa Nenek Relda punya maksud buruk terhadap mereka berdua. Sabrina berencana kabur dari rumah Nenek Relda, seperti yang ia lakukan di rumah orang tua asuh sebelumnya.

Tapi, pelarian mereka tidak berhasil. Di halaman rumah Nenek Relda, mereka disengat makhluk seperti kunang-kunang yang ternyata adalah segerombolan pixie.

Ferryport Landing dulunya bernama Fairyport Landing. Di sini tinggal berbagai tokoh dongeng, yang disebut Everafter. Menurut Nenek Relda, buku Kumpulan Dongeng Grimm bersaudara bukanlah dongeng, tapi fakta sejarah. Jaman dahulu, manusia dan Everafter hidup berdampingan, hingga suatu saat terjadi ketegangan di antara mereka. Everafter diburu, sihir dilarang, naga ditangkap. Grimm Bersaudara menyadai masa dongeng akan berakhir, karena itu mereka mendokumentasikannya. Tapi, ketegangan tidak hanya berhenti sampai di situ.

Petualangan Sabrina dan Daphe dimulai ketika Nenek Relda diculik oleh raksasa. Ternyata, Nenek Relda adalah seorang detektif dongeng di Ferryport Landing. Ketika penculikan itu terjadi, Nenek Relda sedang mengajak Sabrina dan Daphne untuk menyelidiki rumah seorang petani yang diduga diinjak oleh raksasa. Banyak hambatan yang menghalangi kemajuan penyelidikan itu, salah satunya datang dari Walikota Charming yang berniat menggagalkan penyelidikan itu karena ada ‘kepentingan politik’.

Sabrina dan Daphne harus menggantikan peran nenek mereka sebagain detektif dongeng. Ternyata Nenek Relda sudah meninggalkan petunjuk apabila terjadi sesuatu dengan dirinya. Agar bisa menyelamatkan Nenek Relda, Sabrina dan Daphne harus meminta bantuan Cermin Ajaib yang akan memberikan petunjuk yang mereka butuhkan.

Di buku ini banyak tokoh-tokoh dongeng yang ternyata menjalani babak kehidupan yang berbeda dari dongeng-dongeng yang selama ini kita kenal. Misalnya, Putri Salju yang menjadi seorang guru dan gagal menikah dengan Prince Charming. Sementara itu Prince Charming sendiri menjadi walikota Ferryport Landing dan sudah menikah enam kali, di antaranya dengan Rapunzel, Cinderella dan Putri Tidur. Lalu, Jack si Penakluk Raksasa yang malah dipenjara dan punya ambisi untuk jadi pahlawan dengan cara yang licik.

Ternyata kisah dalam dongeng tidaklah selalu berakhir dengan “… happily ever after…”

(thank's to Kobo, buat cover-nya)

Read more »

Kamis, 08 Februari 2007

The Story Christianity

Judul : The Story of Chistianity – Menyusuri Jejak Kristianitas
Penulis : Michael Collins & Mathew A Price
Penerjemah : Natalias, Ismulyadi, Fransiskus
Konsultan Ahli : Dr. Fl. Hasto Rosiyanto, SJ
Penerbit : Kanisius, 2006
Tebal : 240 hlm ; 29x23.5 cm
Harga : Rp. 325.000,-

Perkembangan agama-agama besar di dunia telah memiliki sejarah yang panjang. Begitupun dengan Kristianitas. Setidaknya sudah dua puluh abad dari saat Yesus Kristus dengan karyanya mengajarkan pesan-Nya mengenai pertobatan dan keselamatan. Belum lagi jika kita menarik jauh sebelum masa itu, ketika akar-akar kristianitas mulai tumbuh sejak kelahiran Abraham sekitar 2000 SM.

Karena memiliki sejarah yang panjang, tak dapat dipungkiri Kristianitas merupakan bagian dalam sejarah dan budaya dunia. Iman kristen tidak hanya berperan dalam urusan agama (spiritual), tetapi juga telah mempengaruhi cara pandang dan cara hidup masyarakat dunia, dari moralitas hingga politik, dari sains hingga filsafat. Karenanya tak heran jika kini sepertiga penduduk dunia menyebut diri mereka Kristen.

Namun walau telah berabad-abad hadir dan mempengaruhi peradaban dunia, tak banyak orang yang mengetahui bagaimana awalnya Kristianitas berakar dan berkembang hingga sejauh ini. Walaupun ada buku-buku yang membahas sejarah Kristianitas namun tak jarang buku-buku itu tak terbaca oleh masyarakat luas karena umumnya ditulis dengan bahasa akademis yang cenderung sulit dipahami oleh masyarakat awam

Kini buku yang diberi judul “ The Story of Christianity – Menelusuri Jejak Kristianitas karya Michael Collins & Mathew A Price mencoba menuntun pembacanya melintasi 2.000 tahun sejarah Gereja dalam bahasa yang lebih populer, mudah diahami dan dihiasi ratusan gambar-gambar menawan sehingga membuat buku ini menjadi menarik dan memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi bagi masyarakat awam.

Buku ini dibagi menajadi 9 bagian besar yang terdiri dari Akar Kristianitas; Gereja & Kekaisaran; Kekaisaran Kristen; Pertobatan Eropa; Dari Perang Salib hingga Renaisans; Reformasi; Pencerahan & Kebangkitan Gereja; Misi & Revolusi; Gereja Global.

Akar Kristianitas (2000 SM – 64 M)
Akar Kristianitas dimulai dari sejarah bangsa Yahudi yang dimulai dari Abraham, banyak pokok kepercayaan Kristen terbentuk oleh peristiwa-peristiwa, pemimpin-pemimpin besar dan teks-teks Perjanjian Lama. Dan hal ini terus berkembang hingga kelahiran Yesus dan karya keselamatan-Nya hingga berdirinya gereja perdana dan perjalanan misi Para Rasul.

Gereja & Kekaiasaran (64-313)
Dari pengajaran para Rasul, orang-orang Kristen perdana menunjuk para uskup, penatua, dan diakon untuk mengatur komunitas dan ibadah mereka. Di masa ini komunitas Kristen mengalami penganiyaan yang berat dari negara (Kekaisaran Romawi). Selain tantangan dari luar, kekristenan juga menghadapi tantangan dari dalam berupa ajaran-ajaran yang bertentangan dari pengajaran Para Rasul.

Kekaisaran Kristen (313-590)
Setelah hampir dua abad masa penganiayaan oleh Kekaisaran Romawi, orang-orang Kristen dijizinkan beribadah di depan umum. Di masa ini diadakan konsili-konsili Gereja. Para kaisar dan uskup bekerja sama sehingga Gereja semakin berkembang. Seni dan teologi berkembang secara pesat dan penyebaran injil dilakukan oleh para misionaris hingga ke Iralndia, India, Ethiopia, dan Georgia.

Pertobatan Eropa (590-1054)
Pada masa ini agama Kristen mendominasi hampir seluruh benua Eropa. Sedangkan di Timur, orang-orang Muslim mulai bergerak ke Barat, mengakhiri dominasi Kristen di Afrika Utara dan Palestina. Sementara itu para Kaisar Kristen di Timur berusaha menjaga supremasi mereka atas Gereja. Di masa ini terjadi pula keretakan antara Gereja di Timur dan Barat, sehingga pada awal abad pertama milenium kedua, Gereja-gereja di timur dan barat mulai terpisah.

Dari Perang salib hingga Renaisans (1054-1517)
Di Selatan dan Timur, penyebaran injil mendapat tantangan yang keras. Atas desakan kaisar Byzantium yang memohon bantuan Gereja Barat untuk menghadapi orang-orang Turki, Paus Urabnus II menggelar konsili untuk melakukan Perang Salib. Perang ini mengakibatkan hancurnya kawasan Eropa. Setelah kondisi Eropa normal kembali, Kristianitas muncul sebagai sumber inspirasi berkembangnya seni dan ilmu pengetahuan yang akhirnya melahirkan zaman Renaisans.

Reformasi (1517-1648)
Kejayaan Renaisans yang salah satu dampaknya membuat gereja-gereja dibangun dengan dengan sentuhan seni yang tinggi menimbulkan ekses negatif. Guna membiayai pembangunan katedral St. Pertus, dilakukan penjualan indulgensi. Martin Luther, teolog Jerman, menentangnya dan menganjurkan beberapa pokok perubahan dalam gereja yang ia sebarkan pada masyarakat luas. Hal ini merupakan awal timbulnya reformasi Gereja. Gereja Katolik tidak menghiraukan usulan perubahan ini. Akibatnya Gereja menjadi terpecah menjadi dua (Katolik dan Protestan) dan memicu meletusnya pertumpahan darah antara negara Katolik dan Protestan

Pencerahan & Kebangkitan Gereja (1648-1776)
Gejolak perang agama selama zaman reformasi mengakibatkan pula desentralsiasi dalam tubuh gereja, para reformis membuka pintu bagi para ilmuwan dan filsuf untuk menghadapi persoalan hidup melalui perspektif pemikiran sekular. Masa ini pula melahirkan suatu kebangkitan spiritual dalam sejarah kristiani.

Misi & Revolusi (1776-1914)
Pengaruh para tokoh reformis dan pemikir di zaman pencerahan dalam kehidupan sosial terus berlanjut. Ruang gerak Gereja terus diperluas. Para misionaris mewartakan injil ke negeri-negeri yang belum pernah mendengarnya. Tokoh-tokoh Kristen menguatkan vitalitas kristianitas dengan menyerukan kebangkitan secara besar-besaran. Mereka juga menggunakan otoritas moralnya untuk menentang perbudakan dan eksploitasi kaum buruh.

Gereja Global (1914-1999)
Abad XX menampakkan suatu transformasi dalam Gereja Kristen. Gereja-gereja baru mulai merambah ke berbagai negara di Asia, Afika dan Amerika Latin. Mereka tumbuh secara pesat. Selain itu gerakan-gerakan karismatik dan evagelis yang eukumene semakin berpengaruh secara global, khususnya dalam gereja-gereja Protestan. Walau didera dua kali perang dunia, gereja global tetap bertahan dan terus menawarkan dukungan dan jaminannya kepada kemanusiaan.

Pada intinya jika kita menyusuri setiap lembar halaman dalam buku ini kita akan melihat bagaimana Kristianitas berkembang secara dinamis dalam pemikiran dan penerapan. Buku ini juga mengajak kita melihat sejarah Kristianitas dalam bentuknya yang paling kompleks dan memberikan informasi dan gambaran yang menyeluruh tentang iman Kristen mengatasi semua denominasi.

Yang membuat buku ini unik dan menarik selain cakupan bahasannya yang mendetail, menarik dan kompleks mengenai sejarah Kristianitas yang panjang, adalah bahasanya yang mudah dipahami oleh orang awam dan ratusan ilustrasi-ilustrasi indah berupa peta, foto-foto patung, artefak sejarah , maupun reproduksi lukisan yang diambil dari museum-meuseum terkenal seperti Louvre Perancis, Galery Florence, Italy, Bridgeman Art Library, London, Vatican Museum, Israel Museum, hingga Pushkin Museum, Moscow, Rusia.

Selain itu koloborasi antara penulis Katolik (Michael Collins) dan Protestan (Matthew A. Price) membuat buku ini terkesan ekumenis. Perbedaan teologis yang tajam berhasil diharmonikan dalam buku ini. Setiap pokok persoalan dalam sejarah Kristianitas dibahas dengan cara yang terbuka, dapat dipercaya, dan dapat diterima . Demi menghasilkan karya yang bisa diterima oleh semua umat Kristen dan dunia, Michael Collins dan Mathew A Price tampaknya berhasil mengesampingkan perbedan tradisi dan doktrin diantara keduanya untuk memperjuangkan kebaikan yang lebih besar sehingga buku ini bisa terwujud.

Kini buku yang dalam bahasa aslinya diterbitkan pada tahun 1999 oleh Dorling Kindersley Limited, London ini bisa kita nikmati dalam edisi bahasa Indonesia. Penerbit Kanisius tampaknya konsisten menjaga agar edisi Indonesianya sama kualitas isi dan cetakannya dengan edisi aslinya. Buku ini dikemas dalam dua jenis sampul (hardcover & softcover), dan dicetak dalam ukuran besar (29x23.5 cm) diatas kertas art paper sehingga keindahan ilustrasi yang bertaburan dalam buku ini dapat dinikmati secara optimal oleh pembaca buku ini dan layak dikoleksi sebagai bahan referensi yang diandalkan.

Tentunya keindahan dan kayanya informasi sejarah Kritianitas dalam buku ini tidak hanya dimaksud untuk sekedar menjadi penghias rak buku belaka. Buku ini layak dibaca oleh umat Kristen maupun masyarakat umum yang berminat mengetahui sejarah Kristianitas. Bagi pembaca umum mereka akan diajak melihat relung-relung Sejarah Kristianitas yang sangat menarik sekaligus inspiratif. Bagi umat Kristen, seperti yang diungkap oleh kedua penulis buku ini, diharapkan melalui buku ini mereka dapat menemukan roh sejati Kristianitas dan intisari dari Dia yang kepada-Nya jutaan orang telah membaktikan hidup lebih dari 2.000 tahun yang lalu.


@h_tanzil
Read more »

Senin, 05 Februari 2007

Size 14 is not Fat Either

Size 14 is not Fat Either: A Heather Wells Mystery
Meg Cabot
Pan Books, 2007
345 Hal.

Fischer Hall kembali menjadi Death Dorm dengan ditemukannya kepala seorang pemandu sorak, Lindsay, di dalam sebuah pot di kantin Fischer Hall. Heather Wells, sebagai asisten direktur yang bertanggung jawab atas semua yang terjadi di Fischer Hall, kembali ‘beraksi’. Meskipun sudah diwanti-wanti agar menjauh dan jangan ikut campur dalam masalah ini, seperti kasus terdahulu di Size 12 is not Fat, Heather tetap saja membandel. Rasa penasaran dan rasa tanggung jawabnya membuat ia kembali ‘tercebur’ dalam kasus ini.

Heather menyelidiki orang-orang terdekat Lindsay. Heather mendapatkan petunjuk dari rekan-rekan Lindsay sesama pemandu sorak. Dari Kimberly, Heather menduga adanya hubungan khusus antara Lindsay dan Coach Andrew. Tapi, petunjuk lain mengarah pada anak pemilik perusahaan kontraktor yang paling berkuasa, Doug dan Steve Winner.

Belum lagi ‘sisa’ tubuh Lindsay ditemukan, salah seorang petugas kebersihan di Fischer Hall, Manuel, dianiaya sekelompok orang tak dikenal. Dalam keadaan lemah, Manuel memberikan petunjuk baru bagi Heather. Ternyata kematian Lindsay berkaitan dengan sindikat pengedaran obat terlarang di antara para siswa. Hal ini juga melibatkan sebuah persekutuan di kalangan siswa, Tau Phi. Sebuah persekutuan turun-temurun yang usianya sudah sangat tua.

Tapi, penyelidikan Heather ini membuat dirinya kembali terjebak dalam bahaya dan hampir membuat dirinya ikut jadi korban. Bahkan salah satu siswanya, Gavin, harus ikut mengalami penyiksaan agar Heather mau menyerah. Tapi, Heather adalah perempuan yang berani. Dia gak nyerah begitu saja, malah ia menantang Winner bersaudara yang sangat berpengaruh itu.

Masalah Heather bukan hanya kasus kematian Lindsay, tapi juga masalah pribadinya. Mulai dari kedatangan ayahnya yang baru keluar dari penjara, lalu, mantan tunangannya, Jordan Cartwright, yang memaksanya untuk datang ke pernikahanya yang katanya akan jadi Celebrity Wedding of the Year, dan juga perasaan terpendamnya pada Cooper Cartwright.

Buku ini gak lebih menarik dari yang pertama. Malah biasa-biasa aja. Pengulangan kalimat, “… dorm, I mean, Residence Hall…” berkali-kali malah jadi bikin bosan dan jadi gak penting. Size 12 yang berubah jadi Size 14 menunjukkan kalo Heather agak sedikit lebih gemuk.. tapi, toh, kata Heather, Size 14 masih ukuran rata-rata perempuan Amerika..
Read more »

Minggu, 04 Februari 2007

Winnetou & Old Shatterhand

Judul : Winnetou & Old Shatterhand jilid 1 & 2
Penulis : Karl May
Ilustator : Juan Arranz
Teks oleh : Paguyuban Karl May Indonesia (PKMI)
Editor : Marulina Pane.D.H. , Pandu Ganesa
Penerbit : Gaya Favorit Press & PKMI
Cetakan : I, Desember 2006
Tebal : 64 hlm ; 14.5 x 19 cm
Harga : Rp. 15.000,-/jilid

Karl May dan tokoh-tokoh rekaaannya seakan tak pernah mati, kisah-kisahnya selalu dibaca orang dari generasi ke generasi. Nama-nama tokohnya seperti Winnetou, Old Shatterhand, Kara Ben Nemsi, dll selalu dikenang sebagai tokoh-tokoh petualang tangguh yang memiliki kisah memikat dan selalu mengusung semangat perdamaian dan nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi

Jika dihitung sejak Karl May mempublikasikan karya-karyanya, maka tahun ini karya-karyanya telah berusia lebih dari seratus tahun. Selama ini pula karya-karyanya terus dicetak ulang, diterjemahkan ke berbagai bahasa dan disajikan dalam berbagai bentuk. Mulai dari cerita bersambung sebuah harian di Jerman, dibukukan menjadi sebuah novel dengan berbagai versi, dibuat komik, difilmkan hingga akhirnya dibuat versi kartunnya.

Di Indonesia sendiri karya-karya Karl May telah memiliki sejarah panjang. Buku-bukunya dibawa masuk ke bumi nusantara oleh orang-orang Belanda dimasa pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Mengisi rak-rak buku pejabat dan perpustakaan gereja dan sekolah-sekolah dimasa itu. Selain itu dimiliki dan dibaca juga oleh pribumi yang sudah melek huruf dan terdidik, bahkan menjadi inpirasi beberapa tokoh kemerdekaan Indonesia, antara lain Bung Hatta, Syahrir, dll,

Di Indonesia buku-buku Karl May terus diterbitkan ulang hingga kini. Walau sempat mati suri di tahun 90- an, sejak tahun 2002 berkat usaha para pecinta karya-karya Karl May yang tergabung dalam Paguyuban Karl May Indonesia (PKMI) kini karya Karl May kembali mengisi rak-rak toko buku tanah air. Selain dalam bentuk novel, cerita bergambar, novel komik, kini karya Karl May diterbitkan dalam bentuk komik yang diterjemahkan dari komik berbahasa Belanda karya Juan Arranz.

Sebenarnya komik karya Juan Arranz ini pernah diterbitkan oleh Gramedia di tahun 80-an, namun sumber yang digunakan berbeda sehingga ototomatis terdapat perbedaan dengan yang pernah diterbitkan oleh Gramedia.

Komik yang diberi judul Winnetou & Old Shatterhand ini terbit dalam 5 seri dimana isinya paralel dengan novel Winnetou I : Kepala Suku Apache dan Winnetou II : Si Pencari Jejak (Pustaka Primatama & PKMI)

Di seri 1, komik ini diawali dengan kisah kedatangan Charley (Old Shutterhand) ke benua Amerika. Baru saja ia menjejakkan kakinya di pelabuhan ia bertemu dengan seseorang yang hendak mencari guru privat bagi anak-anaknya dan Charley langsung menerima tawaran tersebut. Di tempatnya mengajar ia bertemu dengan Mr Henry yang mengajaknya berkunjung kerumahnya dan memperlihatkan senapan pembunuh beruang. Dari perkenalannya dengan Mr. Henry, Charley akhirnya diterima bekerja sebagai Surveyour pada perusahaan pemasang rel kereta api di daerah wild west, daerah yang selama ini diimpikan olehnya untuk dikunjungi. Dan senapan pemburu beruang itupun dihadiahkan Mr Henry untuk menemani Charley di daerah yang asing bagi dirinya.

Sebagai seorang surveyour Charley ditemani oleh Sam Hawkens dan kawan-kawannya, mereka bertugas mengawal para juru ukur yang bertugas untuk memetakan tanah yang kelak akan dilalui oleh rel kereta api. Namun para juru ukur ini bekerja dengan malas-malasan dan mabuk-mabukan. Charley akhirnya terlibat perselisihan dengan Rattler salah seorang seorang juru ukur. Sikapnya yang semena-mena membuat Charley habis kesabarannya dan menghadiahi Rattler dengan pukulan mautnya. Rattler langsung pingsan dan semenjak itulah Charley dijuluki Old Shatterhand ( Tangan yang menghancurkan).

Di jilid pertama kisah baru bergulir seputar pengalaman seru Old Shatterhand unjuk keahliannya antara lain keahlian menembak menngunakan senapan pemburu beruang yang berat, menjinakkan kuda liar, memainkan tari laso, berburu bison hingga menjinakkan bagal .

Di jilid ke-2 selain mengisahkan serunya Old Shatterhand melawan beruang grizzly, juga diceritakan pertemuan mereka dengan Klekih Pietra, guru suku Apache, Intshu Tshuna, Kepala Suku Apache dan Winnettou anak kepala suku Apache. Mereka mempertanyakan hak Old Shatterhand dan kawan-kawannya untuk membangun jalur kereta api diatas tanah milik suku Apache. Ketika negoisasi masih berlangsung Rattler menembakkan pistolnya sehingga menyebabkan Kleikh Pietra tewas tertembak. Walau saat itu Kepala suku Apache dan Winenou tak langsung membalas dendam namun Old Shatterhand dan kelompoknya tetap terancam karena sewaktu-waktu suku Apache pasti akan menyerangnya.

Old Shatterhand dan rombongannya kemudian bertemu dengan suku Kiowa yang merupakan musuh bebuyutan suku Apache. Kebetulan Sam Hawkens, bersahabat dengan kepala suku Kiowa. Permusuhan antar kedua suku ini dimanfaatkan oleh Old Shatterhand agar terhindar dari pembalasan dendam suku Apache. Akhirnya suku Kiowa berhasil menangkap Kepala Suku apache dan Winnetou. Karena ia tidak menginginkan Winnetou dibunuh oleh suku Kiowa maka dibuatlah suatu taktik agar Winnetou dan kepala suku berhasil lolos dari siksaan orang Kiowa. Berhasilkah taktik ini ? Tentunya akan lebih menarik jika membaca sendiri kelanjutan kisahnya.

Bagi pecinta karya-karya Karl May, komik Winnetou karya Juan Arranz ini dianggap sebagai komik yang paling mendekati dengan karakter-karakter dan gambaran yang diciptakan oleh Karl May. Gambar-gambarnya menarik, dilukis dengan gaya realis, full colour dan didominasi oleh warna-warna yang cerah. (Kuning, hijau muda, biru,dll). Kalimat-kalimat yang terdapat dalam balon percakapan tersaji secara simpel dan mudah dimengerti sehingga komik ini cocok untuk dibaca oleh anak-anak.

Aslinya komik ini berukuran besar seperti komik Tintin atau Asterik dan dicetak diatas kertas art paper. Sayangnya terjemahan komik ini dicetak dengan kertas yang menyerupai kertas koran sehingga keindahan warna-warni komik ini sedikit banyak akan terdistorsi. Komik ini juga dicetak dengan ukuran yang lebih kecil dari komik aslinya, yaitu menjadi seperti ukuran buku tulis (14.5x19 cm) dengan tebal 64 halaman untuk setiap jilidnya.

Namun walau mengalami penciutan ukuran dari komik aslinya, gambar-gambar dalam komik ini tetap nyaman untuk dibaca dan dinikmati. Frame gambarnya tetap besar, bahkan ada beberapa halaman yang dua halamannya berisi satu frame saja (Gambar Sam dan Mustang, hal 22-23 di seri 1). Malah di komik terjemahan ini peletakan frame-frame gambarnya disusun secara bebas, tidak seperti komik aslinya yang terkesan kotak-kotak seperti sawah.

Pandu Ganesa selaku ketua Perkumpulan Paguyuban Karl May Indonesia (PKMI) sekaligus salah satu editor komik ini, mengungkapkan penciutan ukuran dan penggunaan kertas koran dalam komik ini dimaksudkan untuk menyiasati harga yang kemungkinan akan melambung tinggi jika dicetak sesuai dengan aslinya. Dengan ukuran dan penggunaan kertas seperti ini maka harga per bukunya bisa ditekan hingga Rp. 15.000,-. Dan menurut survei pasar yang dilakukan oleh penerbit, harga inilah yang paling tepat dan terjangkau untuk sebuah komik yang bisa dikonsumsi anak-anak hingga dewasa.

Selain menerbitkan kelima jilid komik seri Winnetou & Old Shatterhand, tampaknya proyek pembuatan komik Karl May masih akan terus berlanjut. Bahkan masih menurut Pandu Ganesa, kini PKMI sebagai bank naskah telah memiliki 7 komik Belanda karya Juan Arranz. Dengan demikian diharapkan ada sekitar 20 jilid komik karya Juan Arranz yang akan diterbitkan. Selain itu PKMI juga telah menyiapkan komik2 Karl May hasil karya komikus Indonesia yang akan menggarap seri Winnteou dan Kara Ben Nemsi.

Seperti yang menjadi harapan PKMI, dengan terbitnya karya-karya Karl May dalam bentuk komik, kisah-kisah petualangan Old Shatterhand, Kara Ben Nemsi, dll diharapkan akan menarik minat anak-anak untuk mencintai tokoh-tokoh tersebut. Sehingga anak-anak tidak hanya mengenal tokoh komik superhero buatan hollywood (batman, superman, spriderman, dll) atau tokoh-tokoh komik-komik jepang yang kini digandrungi anak-anak.

Semoga dengan hadirnya komik Winnetou & Old Shatterhand ini, anak-anak memiliki tokoh idola baru yang dalam kisah-kisahnya selalu menonjolkan nilai persahabatan antar manusia yang berbeda ras, bangsa , dan kepercayaan serta mengutamakan perdamaian dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Dan itu semua adalah nilai-nilai positif yang harus ditanamkan kedalam benak setiap orang semenjak anak-anak.

@h_tanzil
Read more »

Kamis, 01 Februari 2007

Free Booklet & Map

Waktu abis baca Everyboy's Got One - Meg Cabot, gue iseng-iseng browsing, pengen tau yang namanya Le Marche itu seperti apa. Le Marche adalah tempat Holly, tokoh utamanya, jalan-jalan, adalah tempat di Italia yang jadi lokasi untuk Holly dan teman-temannya menginap.

Nah, gue pengen tau, kaya' apa sih puri-puri di Le Marche. Lalu gue cari-cari di google, ketemulah website: http://www.le-marche.com/Marche/, di sana ada tulisan 'Free Offer: free booklets & map'. Gue klik bagian itu, dan gue kirim email yang isinya alamat pengiriman. Gak berharap banyak juga sih, bakal dikirimin.

Eh.. ternyata, setelah kira-kira dua minggu, datang sebuah amplop besar ke kantor gue, dengan tulisan yang gue tau kiriman dari luar negeri. Ternyata isinya, gue dapet booklet gratis, isinya ada map Le Marche, brosur-brosur tentang tempat wisata di Le Marche dan juga directory kalo kita mau jalan-jalan ke Le Marche (Hahaha.. I wish...)

Dasar gue hobi ngumpulin brosur & peta tempat wisata (luar negeri terutama), gue seneng banget dapet kiriman gratis ini. Nice service...
Read more »