Inilah hasil dari acara Book Signing 'Detik-Detik yang Menentukan' di Kinokuniya - Plaza Senayan hari Sabtu tanggal 14 April 2007.
Minggu, 15 April 2007
Buku-Buku BJ Habibie
Inilah hasil dari acara Book Signing 'Detik-Detik yang Menentukan' di Kinokuniya - Plaza Senayan hari Sabtu tanggal 14 April 2007.
Jumat, 13 April 2007
When a Man Lost a Woman
When a Man Lost a WomanIta Sembiring
Gagas Media, Cet. 1 – 2007
202 Hal.
Kaya’nya nih, cerita tentang perempuan patah hati udah banyak banget, yang ditulis dengan gaya yang meratap, mendayu-dayu, atau ada juga yang ditulis dengan semangat alias lebih optimis ‘menatap masa depan’. Tapi, gimana kalau sekarang para pria yang patah hati, apakah akan menangis meraung-raung, apa akan mengunci diri dalam kamar, gak makan, gak minum, gak tidur? Atau dengan mudah mencari pengganti perempuan lain?
Ita Sembiring – yang sebelumnya pernah menulis novel ‘Jerit: Suatu Ketika Di Lho’seumawe’ dan ‘Negeri Bayangan (Terrorist Free)’ – mencoba ‘menggali’ perasaan para pria yang ditinggalkan atau kehilangan perempuan yang mereka cintai. Seorang penulis perempuan tapi menulis tentang rasa sakit hati cowok-cowok. Gimana jadinya ya? Berhubung Ita Sembiring bermukim di Belanda, maka setting cerita dalam novel ini banyak mengambil tempat di negara Kincir Angin itu.
Terdiri dari beberapa cerita pendek dengan tokoh-tokoh yang kalau diulik-ulik saling berhubungan. Kalau pernah nonton film ‘Crash’ pasti ngerti, deh.
Diawali dengan Perus yang berusaha menjalin hubungan lagi setelah bercerai dengan istrinta, karena istrinya selingkuh. Tapi, Perus malah akhirnya terjebak cinta yang mungkin tidak akan bisa berlanjut dengan sepupunya sendiri, Erdas.
Sementara Erdas, yang ternyata juga mencintai Perus, punya teman namanya Purjil. Purjil adalah perempuan Indonesia yang menikah dengan Boris agar bisa mendapatkan kewarganegaraan Belanda.
Lalu, Boris berteman dengan Jan Peter, yang beristri orang Indonesia, Rasti, tapi Rasti ini juga mengkhianatinya.
Jan Peter yang kemudian sempat menjalin hubungan dengan Aguisa – yang sempat membuat liburan Perus di Spanyol lebih berwarna.
Tapi, apa jadinya kalau Perus, Jan Peter dan Boris bertemu? 3 orang patah hati, 3 orang pria yang pernah disakiti perempuan? Hehehe.. mereka akan bilang, “Aku mau berlibur ke satu tempat yang tidak ada perempuannya.” (Hal. 177)
Kalau melihat tokoh-tokoh pria dalam novel ini, memang terkesan bahwa mereka sudah menyerahkan seluruh cinta mereka untuk seorang perempuan tapi, ternyata si perempuan malah meninggalkannya setelah mendapat keuntungan dari laki-laki itu. Contoh Rasti, ia dipercaya untuk mengelola hotel milik Jan Peter di Bali, tapi ternyata ia bukannya mengurus hotel itu, tapi malah membuat guest house lain demi keuntungannya sendiri. Perempuan di novel ini seolah digambarkan hanya terpikat pada pria karena nafsu dan harta. Hmmm…
Kisah 47 Ronin
Judul : Kisah 47 RoninJudul Asli : The 47 Ronin Story
Penulis : John Allyn
Penerjemah : Teresa Dewi
Penerbit : Matahati
Cetakan : I, Maret 2007
Tebal : 311 hlm
Harga : Rp. 47.000,-
Kisah 47 Ronin karya John Allyn adalah fiksi sejarah yang ditulis berdasarkan peristiwa yang pernah terjadi di Negara Matahari Terbit. Sejarah mencatat, pada tahun 1703, empat puluh tujuh ronin yang dipimpin oleh Ōishi Kuranosuke Yoshitaka menyerang rumah kediaman pejabat tinggi istana Kira Kōzuke no Suke Yoshihisa guna membalas dendam kematian majikan mereka yang bernama Asano Takumi no Kami.
Ronin adalah sebutan untuk samurai yang kehilangan atau terpisah dari tuannya di zaman feodal Jepang (1185-1868). Samurai menjadi kehilangan tuannya ketika tuannya mati, atau akibat hak atas wilayah kekuasaan sang tuan dicabut oleh pemerintah. Samurai yang tidak lagi memiliki tuan tidak bisa lagi disebut sebagai samurai, karena samurai adalah "pelayan" bagi sang tuan. Dalam tradisi samurai, ronin memiliki derajat dibawah samurai. Bagi seorang ronin hanya ada dua pilihan, yaitu menjadi orang bayaran atau turun pangkat dalam kemiliteran.
Ada banyak kisah pembalasan dendam ronin terhadap kematian tuannya, namun yang paling terkenal dan menjadi legenda nasional Jepang adalah ‘Kisah 47 Ronin’. Di Jepang sebelum Perang Dunia II, kisah ini umum dikenal sebagai Akōgishi (Perwira Setia dari Ako) dan dijadikan teladan kesetiaan samurai terhadap majikannya. Seusai Perang Dunia II, kisah ini lebih dikenal sebagai Akō rōshi (ronin dari Akō) atau Shijūshichishi (47 samurai). Kisah ini kemudian ditulis kedalam sebuah novel oleh penulis Jepang Osaragi Jirō yang kemudian diangkat menjadi drama televisi. Selain itu kisah kepahlawan ini kerap dipentasakan di teater tradisional Jepang (Kabuki).
Di dunia barat kisah ini dikenal dengan sebutan Forty-seven Ronin atau Forty-Seven Samurai. Walau fakta sejarahnya jelas, namun keterangan rinci tentang peristiwa ini sangat kabur. Kisah ini memiliki berbagai versi dan sudut pandang. Salah satunya versi John Allyn, yang mengangkat kisah 47 ronin kedalam sebuah novel yang cetakan pertamanya terbitkan pada tahun 1970.
Dalam situasi seperti inilah Lord Asano, seorang daimyo dari Ako yang bersikap kritis terhadap pemerintahan Shogun diundang ke Istana Shogun Tsuyanoshi untuk menghadiri upacara kenegaraan. Lord Asano adalah samurai sejati. Ia tak suka dengan kemewahan upacara istana, namun sebagai seorang daimyo yang setia terhadap Shogun Tsunayoshi ia tetap menghadirinya.
Kira, seorang pejabat istana betindak sebagai Pemimpin Upacara untuk semua acara di istana. Ia dikenal sebagai pejabat yang korup dan memanfaatkan jabatannya untuk mengambil keuntungan bagi siapa yang berhubungan dengannya. Lord Asano membenci Kira, begitupun Kira menganggap Lord Asano adalah samurai sejati yang jujur dan dididik dengan cara lama sehingga menjadi ancaman bagi gaya hidupnya.
Ketika upacara berlangsung Kira menghina Lord Asano. Tersinggung dengan ucapan Kira, Asano menyerang Kira hingga terluka. Akibatnya Asano ditangkap dan dipaksa melakukan seppukku, mati dengan merobek perut sendiri dan diakhiri dengan kepala yang terpancung. Setelah itu kastil dan wilayah kekuasaan Asano di Ako harus diserahkan pada Shogun. Para pengikut Lord Asano yang dipimpin oleh Oishi tak menerima kematian yang menimpa pemimpinnya. Otomatis mereka menjadi Ronin dan segera berkumpul untuk membalas dendam. Saat itu terkumpul sekitar 300 ronin.
Namun Oishi tidak larut dalam emosi dan gegabah mengambil tindakan, dan lagi undang-undang melarang perbuatan balas dendam. Ketika teman-temannya memilih untuk mempertahankan kuil Asano dan segera membalas dendam kematian pemimpinnya, dengan kepala dingin Oishi memilih untuk patuh pada Undang-undang. Membiarkan kuil diambil alih secara damai sambil mengajukan petisi kepada Shogun untuk menuntut keadilan.
Novel ini ditulis dengan menarik, sedari awal pembaca akan dibawa pada satu pertanyaan besar, berhasilkan ke 47 ronin membunuh Kira yang menyebabkan kematian pemimpinnya ?. Bagi mereka yang mengetahui sejarah Jepang tentu saja ini bukan pertanyaan karena sejarah telah mencatat bagaimana akhir dari peristiwa berdarah ini. Namun kisah ini tetap menarik karena seperti diungkap diatas banyak sekali versi dari kisah ini, dan pembaca yang ‘melek’ sejarah tetap akan dibuat penasaran bagaimana kisah ini menurut versi John Allyn. Sehingga bagi siapapun novel ini tetap menarik dan menggiring pembacanya untuk segera sampai pada halaman terakhir.
Sayang profil John Allyn, tak terdapat dalam buku ini. Siapa John Allyn dan darimana ia memperoleh sumber-sumber untuk menulis novelnya ini ? Jika memang dalam buku yang menjadi sumber terjemahan novel ini tak ada keterangan apapun tentang penulisnya, tentunya penerbit bisa mencarinya dari sumber-sumber lain.
Selain itu yang agak disayangkan, buku ini tak menyertakan peta dimana kejadian ini berlangsung. Padahal dengan adanya sebuah peta, pembaca akan lebih memahami isi novel ini terutama dari segi geografisnya. Misalnya pembaca akan lebih mengetahui dimana Ako tempat Oishi dan Lord Asano berasal, berapa jauh letaknya dari Edo. dll.
Terlepas dari kekurangan di atas, novel ini sangat layak dibaca oleh siapapun yang ingin mengetahui sepenggal sejarah Jepang. Walau tema utama novel ini adalah balas dendam, bukan berarti novel yang kental dengan aroma sejarah ini sarat dengan kekerasan. Tebasan tajamnya pedang samurai/ronin hanya akan ditemui di awal dan akhir novel ini.
Batu Nisan ke 47 ronin di Kuil Sengakuji
Diantara bagian itu pembaca akan disuguhi aneka peristiwa yang memperkaya pembacanya baik dari sejarah, kultur kekaisaran jepang di awal abad ke 18, semangat kesatriaan para samurai / ronin dalam menegakkan kehormatan, kesetian dalam pengabdian, kesabaran dan strategi dalam menghadapi musuh, dll. Semua itu mewarnai novel ini sehingga tak heran Prof. Dr. I. Ketut Surajaya dalam endorsmentnya mengatakan bahwa buku ini akan memberikan pesan moral yang baik bagi pembacanya tentang kesabaran, kesetiaan, dan pengorbanan yang ditegakkan melalui ajaran Bushindo.
Di tengah serbuan novel-novel terjemahan berlatar negara-negara barat, tampaknya kehadiran novel-novel dengan setting Asia atau Jepang akan membawa angin segar dan pilihan yang lebih beragam bagi para pembaca buku tanah air. Dan jangan lupa seperti karakteristik novel-novel berlatar sejarah Jepang lainnya (Musashi, Klan Otori, dll), novel ini mengandung muatan filosofis yang tinggi. Hal yang perlu dibaca dan dicerna oleh pembaca buku di indonesia.
@h_tanzil
Mogok Lagi... Mogok Lagi....
*bacalah judul di atas sambil bernyanyi sebuah lagu anak-anak* (garink mode: on)Menindaklanjuti comment Kobo di posting sebelumnya tentang The Historian dan My Name is Red yang 'terhenti' di tengah jalan (baca: separo buku), gue mau menjawab pertanyaan apa yang terjadi dengan buku-buku yang 'diberhentikan dengan paksa' itu.
Penyebabnya tentu karena ada buku lain yang amat sangat lebih menarik, lebih menggoda hati dan iman. Dan, ada yang akhirnya gue baca lagi, ada yang dengan niat "Mau diterusin ah, abis baca buku lain", ada yang, "Well.... good bye, my friend.. 'till we meet again."
Daftar buku yang 'terlantar' lumayan banyak:
- Ada 'Orange Girl' (Jostein Gaarder): ini hadiah ultah dari suami gue dua tahun yang lalu (dulu belum jadi suami), baru dibaca separo... sekarang ada di samping tempat tidur gue, dengan niat yang kuat untuk dibaca lagi....
- Ada 'Jonathan Strange & Mr. Norell' (Susanna Clarke): gue hentikan baca buku ini, karena tebalnya yang luar biasa dan tulisannya yang kecilnya juga luar biasa. Belum ada niat untuk diterusin.
- Terus, The Bartimaeus Trilogy Book 1: The Amulet of Samarkand (Jonathan Stroud): dihentikan karena apa gue lupa... belum ada niat juga untuk diterusin.
- Klan Otori 2 : abis ngebosenin - gak seseru yang pertama
Masih ada beberapa lagi yang bahkan gue udah lupa judulnya apa aja. Biasanya nih, ketika gue lagi 'memandang' lemari buku gue, gue akan liat buku-buku yang gak selesai itu, dan, kalo ketemu buku yang kepingin gue baca lagi, buku itu akan gue keluarin dari lemari dan gue taro di sebelah tempat tidur... meskipun belum tentu juga akan langsung gue baca. Penyakit jelek gue nih, kalo gue udah beli buku, terus gak selesai bacanya, terus gue punya buku baru lagi, nah... buku lama itu semakin malas untuk gue baca. Alhasil, buku di samping tempat tidur gue semakin bertambah tinggi...
Jadi, mungkin jawaban gue atas pertanyaan kobo, mostly, adalah "yah sudahlah sampai disini dulu teman-teman, merdeka!"
Kamis, 12 April 2007
Yang 'tersendat' lalu 'terhenti' di tengah Jalan
Rabu, 11 April 2007
Molly Moon Stops the World
Tapi kita semua debu bintang
--- Molly Moon (Hal. 287)
Molly Moon Stops the World (Molly Moon Menghentikan Dunia)Geogia Byng
Poppy Damayanti (Terj.)
GPU, April 2007
384 Hal.
Setelah melewati berbagai kejadian melalui kemampuan hipnotismenya, Molly Moon berjanji pada Rocky, sahabatnya, untuk tidak menghipnotis orang lagi. Padahal terkadang, Molly kepingin sekali melakukan hipnotis. Dan kesempatan itu datang ketika seorang teman lama, Lucy Logan, pustakawati yang menghipnotis Molly agar menemukan buku hipnotisme, mengirim surat dan mengundangnya datang ke rumahnya.
Di rumah Lucy, Molly diberi ‘tugas’ untuk menghentikan seseorang yang bernama Primo Cell, yang juga mempunya kemampuan hipnotisme yang lebih hebat dari Molly. Tugas Molly ini berkaitan dengan tujuan Primo Cell untuk menjadi Presiden Amerika Serikat. Selain itu, hilangnya Davina Nuttell, bintang cilik yang perannya di ‘Bintang-Bintang di Mars’ digantikan oleh Molly ketika ia berada di New York. Ternyata Primo Cell juga seing menghipnotis para bintang terkenal agar mereka mau menjadi model iklan produk yang dimiliki Primo Cell. Singkatnya, Primo Cell hampir menguasai seluruh public figure, mulai dari bintang film Hollywood sampai politisi.
Berangkatlah Molly, beserta sebagian penghuni Happiness House – termasuk Mrs. Trinklebury dan Mr. Nockman – ke Los Angeles, tempat markas Primo Cell berada. Ketika sampai di Los Angeles, kota itu sedang sibuk mempersiapkan ajang akbar malam anugerah Piala Oscar. Molly dan Rocky segera mencari cara agar mereka bisa masuk ke dalam tempat acara itu diadakan, karena mereka yakin bisa bertemu dengan bintang-bintang yang sudah dihipnotis Primo Cell.
Ternyata, tidak semudah itu membebaskan mereka dari pengaruh hipnotis Primo Cell. Otak dan benak mereka benar-benar terkunci dan hanya bisa dibuka dengan kata kunci tertentu. Secara kebetulan, mereka bertemu dengan Primo Cell. Dan ternyata, wajah Molly sudah tidak asing bagi pemirsa tv, pertama karena perannya di ‘Bintang-Bintang di Mars’ dan juga karena iklan layanan masyarakat yang dibuatnya bersama Rocky. Mereka berdua diundang untuk makan malam di rumah Primo Cell. Mereka menggunakan kesempatan ini untuk menyelidiki ruang-ruang di rumah Primo Cell.
Tugas Molly Moon kali ini lebih sulit daripada yang ia duga. Berbeda dengan Mr. Nockman yang penghipnotis amatir, Primo Cell lebih tangguh dan kejam. Bahaya menunggu Molly dan Rocky yang bahkan bisa berujung pada kematian.
Banyak kejutan yang diterima Molly kali ini. Di usianya yang baru 11 tahun, Molly menemukan bahwa dirinya punya kemampuan lain yang membuat dirinya sendiri terkejut.
Petualangan Molly semakin seru dan lucu. Molly juga semakin pintar, cerdas dan cerdik.
Selasa, 10 April 2007
Buku Baru Tracy Chevalier
.jpg)
Hari ini buku pesanan gue dateng... Buku Tracy Chevalier yang baru, judulnya 'Burning Bright'. Dan di dalamnya ada tanda tangan Tracy Chevalier. Ini nih, sinopsis singkatnya:Minggu, 08 April 2007
Tiga Venus
Tiga VenusClara Ng
GPU, Maret 2007
296 Hal.
Pertama kali liat ‘promo’ buku ini, gue inget sama bukunya Andrei Aksana yang judulnya Pretty Prita, tentang seseorang yang make a wish untuk jadi orang lain, dan beneran kejadian.
Di buku ini, 3 perempuan memulai harinya dengan keruwetan masing-masing, hal-hal yang bikin stress yang bikin mereka mengucap keinginan, “Aku ini semua kegilaan ini segera berlalu.” Dan… ‘pop’… di pagi hari mereka terbangun dan mereka sudah jadi orang lain.
Pertama, Emily, seorang lajang, wanita karir dengan kedudukan yang ok, super sibuk, dan modis. Emily memulai paginya dengan telepon dari boss besar, lalu rapat di kantor seharian, bahkan ketika dalam perjalanan pulang, boss besar itu minta ia kembali ke kantor untuk berdiskusi lagi hingga larut malam. Belum lagi ditambah dengan telepon dari ibunya yang ribut tentang masalah jodoh.
Lalu, Juli, tetangga Emily. Juli adalah ibu rumah tangga model Lynette di Desperate Housewives. Punya 3 anak – sepasang kembar laki-laki dan perempuan bernama Maretta dan Marcel, lalu satu lagi anak laki-laki bernama Nico. Kesibukannya dimulai di pagi buta. Anak-anak yang sakit, anak-anak yang nakal, ditambah dengan kesibukan usaha catering dan yang gak kalah heboh, urusan ibu mertua yang seperti nenek sihir. Juli makin stress ketika suaminya kadang cuek-bebek, ditambah lagi, ternyata Juli baru tahu kalau ia sedang hamil lagi.
Tokoh ketiga adalah Lies, masih teman Juli juga. Lies adalah seorang guru sastra di sebuah SMU. Ia seorang janda yang bercerai karena mantan suaminya suka ‘main tangan’. Lies kerap jadi bahan omongan para abg di sekolahnya. Lies juga menghindari kedekatan dengan laki-laki karena trauma, termasuk ketika salah satu rekan guru, Moza, mendekatinya. Masalah terbesarnya adalah ketika salah satu murid favoritnya, Kim, hamil di luar nikah dan melakukan aborsi.
Di malam yang sama mereka mengucapkan permohonan yang sama, dan di pagi hari… sama-sama terkejut ketika mereka memandang cermin dan mendapati diri mereka ternyata ‘bukan’ diri mereka masing-masing.
Emily menjadi Juli – Juli menjadi Lies – Lies menjadi Emily
Untungnya mereka tinggal berdekatan, dan ketika saling melihat ke diri mereka yang baru, mereka saling membantu. Dan, segala kehebohan pun dimulai.
Emily yang serba praktis tiba-tiba harus menjadi ibu rumah tangga yang sedang hamil muda
Juli yang ibu rumah tangga harus jadi guru, dan menahan cemburu karena harus jauh dari suami dan anak-anaknya.
Dan Lies yang mungkin bisa dibilang rada konservatif harus mendadak jadi direktur dan mempimpin sejumlah rapat, dan berhasil balas dendam ke mantan suaminya.
Mereka bertiga bukan hanya mendapat pengalaman baru, tapi juga memperoleh sebuah persahabatan.
Be careful of what you wish…
Neverwhere (Kota Antah Berantah)
Neverwhere (Kota Antah Berantah)Neil Gaiman
GPU – Maret 2007
440 Hal.
Richard Mayhew, laki-laki biasa yang punya kehidupan yang biasa-biasa saja. Pindah dari Skotlandia ke London untuk bekerja di tempat yang baru, lalu bertemu Jessica dan bertunangan dengannya. Meskipun Jessica adalah tipe perempuan yang ‘mendominasi’, tapi, Richard sangat mencintainya. Richard punya koleksi boneka Troll yang dipajang rapi di mejanya. Kadang Richard menganggap hidupnya membosankan, tapi merasa sangat beruntung memiliki Jessica.
Sampai di suatu hari, ketika hendak makan malam bersama Jessica, Richard melihat seorang perempuan tertelungkup dalam keadaan luka-luka. Richard bersikeras untuk menolong perempuan itu, tapi, Jessica marah dan memutuskan pertunangan mereka. Richard pun membawa perempuan itu yang bernama Door ke apartemennya. Dan keesokan harinya, Richard didatangi dua orang aneh bernama Mr. Croup dan Mr. Vandemar yang sadis dan menjijikan.
Setelah Door pergi, Richard kembali ke kehidupannya sehari-hari. Paling tidak itulah yang ia kira. Karena, ketika ia hendak berangkat ke kantor, terjadi berbagai keanehan – tidak ada taksi yang mau berhenti, tidak diakui lagi di kantornya, yang paling parah, Jessica tidak bisa mengingatnya.
Richard sampai ke sebuah tempat yang namanya London Bawah. Richard bertemu dengan orang-orang yang menurutnya ‘ketinggalan’ jaman. Richard kembali bertemu dengan Door, yang ternyata menyimpan misi tertentu.
Keluarga Door dibunuh dengan sadis. Door ‘beruntung’ masih hidup karena ketika kejadian itu ia tidak ada di rumah. Tapi, Door dikejar-kejar orang yang ingin membunuhnya. Karena Door dan keluarganya punya kemampuan luar biasa.
Bersama Door, Marquis de Carabas dan Hunter, Richard menelusuri lorong-lorong London Bawah –saluran-saluran air, stasiun kereta bawah tanah. Awalnya Richard selalu tidak percaya jika mereka bertiga menyebut tempat-tempat yang Richard tahu sudah lama ditutup dan dilupakan orang. Tapi, makin lama, Richard semakin percaya dengan keanehan yang ada, misalnya: pasar terapung yang diadakan di Harrod’s, mencari malaikat Islington, bertemu rat speaker, berteman dengan penipu, dan hampir saja mati karena ‘terhisap’ oleh wanita penghisap kehidupan bernama Lamia yang beramora lily white-honeysuckle.
Di London Bawah, Richard, Door, Marquis de Carabas dan Hunter berusaha lari dari kejaran orang-orang yang memburu mereka.
Novel ini bergenre fantasi, tapi bukan untuk anak-anak, melainkan untuk orang dewasa. Neil Gaiman membuat novel dengan latar dunia yang (seolah-olah) sudah kita kenal, tapi ternyata menyimpan rahasia lain di baliknya. Buat gue… mmm… novel ini terkesan… mmm… unik… seru aja ‘mengunjungi’ dunia bawah tanah yang gelap gulita, bau, tapi misterius…
Jumat, 06 April 2007
Kepompong
Penulis : Indah Darmastuti
Editor : Anwar Holid
Penerbit : Jalasutra
Tebal : xx + 263 hal
Pada lengkuh Leuser aku menyerahkan diri menjadi kepompong, alam membantuku mengendap dan memintal kekuatan baru. ……Waktunya telah tiba, aku akan keluar dari kepompong Leuser. Terbang melintas padang kehidupan luas luar sana…melintas pematang hidup dan menyambut fajar masa depan yang menyingsing di kelopak cita-citaku.(hal 230)
Prasasti, gadis jakarta; lahir dari keluarga yang memiliki kisah kelam. Ia seolah hidup dalam kutukan akibat kebejadan moral kakeknya. Ibunya pernah diperkosa ayah kandungnya, lalu mengalami tiga kali kawin-cerai dan kini hidup dari pelukan satu lelaki ke lelaki lainnya, bahkan tega berhubungan seks dengan Adang, kekasih Prasasti. Kecewa terhadap ibunya, Prasasti minggat dan tinggal bersama Om-nya di Bandung. Dalam benaknya kini tertancap, bahwa di dunia ini tak ada lelaki yang baik; semua buruk!
Tinggal dirumah Om-nya yang bisa dikatakan sebagai keluarga harmonis, membuat rasa frustasi dan kebencian Prasasti terhadap ibunya mejadi luntur. Setelah menyelesaikan studinya di Bandung Prasasti kembali ke Jakarta untuk tinggal kembali bersama Ibunya. Sebagai wantia dewasa ia mencoba memahami apa yang dirasakan dan dialami oleh ibunya sehingga ibunya menjadi seperti sekarang ini. Bahkan ia mencoba agar ibunya merubah pandangan hidupnya yang telah rusak akibat derita yang dialaminya.
Di Jakarta, Prasasti berkenalan dengan Arrond, seorang peneliti asal Australia yang mengajaknya bergabung melakukan penelitian bersama para peneliti konsevasi satwa dan hutan di Taman Nasional Leuser – Sumatera.
Pengalamannya di Lueser inilah yang membuat Prasasti seolah menjadi kepompong yang akhirnya akan menetas menjadi Prasasti yang baru yang tidak lagi terikat dengan sejarah masa lalu keluarganya yang buruk dan siap terbang merengkuh cita-citanya.
Pramono, pemuda solo, keturunan keluarga keraton. Ia dituntut patuh pada orang tuanya dan hidup dalam tata krama keraton yang seba teratur. Masa depannya telah ditentukan oleh romo-nya. Ia harus menjadi jaksa dan menikah dengan gadis pilihan orang tuanya. Pramono berontak, segala keinginan orang tuanya ditolaknya. Pemberontakan pertamanya yaitu dengan kuliah di jurusan arsitek, lalu disusul dengan penolakannya untuk menikah dengan gadis pilihan orang tuanya dan memilih berpacaran dengan gadis pilihannya. Klimaksnya kekasih Pramono ditolak ayahnya untuk menjadi mantunya. Hal ini membuat hubungannya dengan ayahnya menjadi renggang. Pramono memilih menjaga jarak dari ayahnya dan bekerja di Jakarta sebagai arsitek.
Dua pribadi yang kecewa terhadap keluarganya, dua-duanya hidup dalam pelarian. Masing-masing memiliki kisah sendiri. Seolah tak memiliki keterkaitan hingga akhirnya Pramono bekerja sebagai arsitek di rumah Nyonya Harning yang sedang membangun sebuah pusat kebugaran. Nyonya Harning adalah ibu Prasasti!.
Membaca sinopsis diatas memang terkesan novel ini adalah novel dengan kisah cinta biasa. Namun jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan. Walau tema novel ini bukan hal yang baru dalam kisah-kisah cinta yang pernah ditulis oleh para novelis lainnya, novel ini memiliki sisi-sisi yang bisa dibilang menarik.
Novel ini memiliki setting di beberapa tempat, mulai dari Solo, Jakarta, Lembang-Bandung, Gunung Gede Pangrango – Bogor, Gunung Leuser-Sumatera dan Bali. Yang paling menarik tentu saja ketika cerita bergulir di pedalaman hutan gunung Leuser. Penulis mendeskripsikannya dengan begitu hidup, selain lanskap dan suasana hutannya yang masih alami, kehidupan para peneliti di hutan, pembaca juga akan mendapat banyak pengetahuan baru soal karakteristik dan populasi orang utan yang rentan terhadap infeksi, hingga soal lintah yang dikerongkongannya terdapat tiga rahang berbentuk gergaji dengan ratusan gigi kecil,.
Novel ini juga memiliki keragaman tuturan, kadang penulis menyajikan kalimat-kalimat yang puitis dan indah, dalam dialog antar tokohnya kalimat-kalimatnya lugas, selain itu juga terdapat humor-humor ringan yang menyegarkan pembacanya. Lewat dialog para tokoh-tokohnya penulis juga mengemukakan berbagai isu sosial seperti ilegal loging, sekelumit problema petani teh, kurangnya kesadaran masyarakat terhadap kelestarian lingkungan, dll. Semua itu berpadu melatari kisah kehidupan para tokoh-tokohnya sehingga kisah yang biasa menjadi memikat dan menyegarkan.
Sesuai dengan judul novel ini, apa yang dialami oleh tokoh Prasasti, Pramono dan Nyonya Harning memang serupa kepompong. Sebelum mereka memiliki kehidupan yang baru, mereka harus berada dalam suatu kondisi untuk memintal kekuatan, melampaui masa-masa sulit hingga akhirnya mereka siap untuk menjalani hidup yang baru. Masing-masing berhasil keluar dari permasalahannya. Hanya konflik antara Pramono dan ayahnya yang tak terceritakan hingga akhir cerita. Padahal di awal-awal kisah ini, konflik yang terjadi begitu mencuat. Apakah kekerasan hati ayah Pram telah melunak ? Sayang episode ini tak diberi penyelesaian yang tuntas kecuali gambaran sang ayah yang berada di rumah sakit yang meneteskan air matanya ketika Pram datang menjengungnya.
Sebagai penulis yang baru menghasilkan novel perdananya ini, karya Indah Darmastuti ini tampaknya cukup menjanjikan. Asal saja Indah terus konsisten dalam berkarya, bukan tak mungkin namanya akan diperhitungkan dalam jagad sastra indonesia. Sayang penggarapan cover yang menurut saya kurang ‘eye cahtcing’ ini membuat novel ini mungkin kurang dilirik oleh para pecinta buku. Padalah penggarapan cover yang menarik bagi para penulis baru merupakan salah satu unsur yang penting dalam strategi pemasaran.
Jika saya boleh menyimpulkan, novel ini adalah sebuah kisah yang akan menyadarkan pembacanya bahwa kesulitan hidup yang membelit kehidupan kita tak selamanya menghancurkan, bukan tak mungkin itu adalah suatu proses alami layaknya sebuah kepompong dimana kita dapat mengendap dan memintal kekuatan baru agar kelak kita bermetamorfosis secara sempurna untuk menjalani kehidupan yang baru.
@h_tanzil
Kamis, 29 Maret 2007
Dari Penjara Taliban Menuju Iman
Judul : Dari Penjara Taliban Menuju ImanPenulis : Anton Kurnia
Penerbit : PT. Mizan Pustaka
Cetakan : I, Maret 2007
Tebal : 190 hal
Harga : Rp. 25.000,-
Wartawati Yvonne Ridley Kembali ke Inggris
Kamis, 11 Oktober 2001 London, Sinar Harapan
Wartawati Inggris Yvonne Ridley, yang ditahan dan kemudian dibebaskan oleh pemerintah Taliban yang berkuasa di Afghanistan, hari Rabu kembali ke London dan berkumpul kembali dengan keluarganya. Ridley, 43, tak mengatakan apa-apa kepada para wartawan yang menunggu setelah tiba di bandara Heathrow di luar London. Seorang juru bicara The Sunday Express, tempat ia bekerja, mengatakan ia akan menemui keluarganya, termasuk anak perempuannya yang berusia sembilan tahun bernama Daisy. Ridley ditahan di dekat kota Jalalabad, Afghanistan timur laut pada 28 September, yang berpakaian cadar dan tanpa dokumentasi, setelah melintasi perbatasan dari Pakistan untuk melaporkan krisis pengungsi. Dua pemandu wisata bersamanya juga ditahan. Tak jelas pada hari Rabu bagaimana nasib mereka. (AP/ren)
Sumber : http://www.sinarharapan.co.id/berita/0110/11/lua05.html
Yvonne Ridley, jurnalis terkemuka asal Inggris. Namanya mencuat diberitakan di media-media massa ketika ia disandera oleh tentara Taliban pada tahun 2001. Setelah dibebaskan dan kembali ke Inggris, ia menjadi seorang mualaf dan berjuang membela Islam dan membebaskan belenggu Islamofobia yang melanda dunia barat.Bagaimana perjalanan hidup Yvonne Ridley hingga menjadi mualaf dan kini dikenal sebagai pembela Islam di barat ? Buku karya Anton Kurnia yang diberi judul “Dari Penjara Taliban Menuju Iman” ini ditulis berdasarkan kisah nyata Yvonne Ridley, bagaimana perjalanan hidup Yvonne sebelum ditangkap tentara Taliban hingga kehidupannya kini.
Di tahun 2001, menjelang serangan Amerika Serikat dan para sekutunya terhadap Afgahnistan, Yvonne pernah mengejutkan dunia ketika ditangkap oleh tentara Taliban saat melakukan tugas jurnalistiknya. Yvonne dibebaskan setelah sepuluh hari ditahan oleh penguasa Taliban.
Pengalamannya menjadi tahanan Taliban yang digembar-gemborkan sebagai rezim yang paling sadis di muka bumi ini sangat membekas dalam kalbunya dan mengubah jalan hidupnya. Di luar dugaan orang, selama dalam tahanan,Yvonne mendapat perlakuan yang baik dari penguasa Taliban. Secara mental memang ia menderita dan harus melalui jam-jam interogasi yang melelahkan. “Mereka mencoba mematahkanku secara mental dengan menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang sama terus menerus, hari demi hari, terkadang sampai pukul 9 malam,” (hal 80). Namun, diluar itu ia tak mendapat perlakuan kasar dan siksaan fisik dari tentara-tentara Taliban, malah ia mendapat perlakuan yang baik sebagai seorang tawanan. “Aku bertaruh bahwa orang-orang berpikir aku disiksa, dipukuli, dan mengalami perundungan seksual. Padahal aku diperlakukan dengan baik dan penuh hormat.” (hal 81).
Apa yang dialaminya menyadarkannya bahwa orang-orang Taliban tak seseram yang diberitakan oleh media-media barat. Beberapa saat sebelum dibebaskan ia didatangai oleh seorang Mullah yang menanyakan agama Yvonne dan apa pendapatnya tentang Islam. Dengan tegas ia mengatakan bahwa ia adalah penganut Kristen Protestan dan Islam menurutnya adalah agama yang memesona dan dia mengagumi para pemeluk agama Islam yang memiliki gairah yang luar biasa terhadap keyakinan mereka. Yvonne juga menambahkan bahwa ia berjanji akan mempelajari dan mencari tahu banyak soal Islam setelah kembali ke London.
Buku ini secara lengkap memuat kisah Yvonne baik sebelum, pada saat, dan setelah ditangkap oleh tentara Taliban, hingga aktifitasnya saat ini. Untuk kisah hidupnya hingga ditangkap oleh tentara Taliban, Yvonne telah menulis memoarnya yang berudul “In The Hands of the Taliban : Her Extraordinary Story. (2001). Selain itu ia juga menulis novel fiksi yang diilhami dari pengalamannya yang diberinya judul Ticket to Paradise (2003). Kedua buku ini ditulisnya sebelum ia menjadi seorang Muslim.
Bagaimana pengalamannya setelah ia dibebaskan dan menjadi muslim dan apa aktifitasnya kini? Rasanya belum ada yang menulisnya secara khusus dalam sebuah buku. Paling-paling kisahnya dapat ditemui di wawancara-wawancara dengan sejumlah media, ceramah-ceramahanya, dan jurnal-jurnal rohani Islam. Tidak adanya buku yang memuat kisah hidup Yvonne secara lengkap termasuk perjalanan ziarahnya menjadi seorang Muslim dan sepak terjangnya hinga kini inilah yang menggerakkan penerbit Mizan dan Anton Kurnia untuk membuat buku ini.
Buku ini ditulis dengan simpel. Kalimat-kalimat yang digunakan Anton sederhana. lugas dan enak untuk dibaca sehingga menggiring pembacanya untuk terus membaca buku ini hingga habis. Hal ini juga didukung oleh lay out buku ini yang terkesan simpel disertai beberapa foto pendukung yang membuat pembaca betah untuk menelusuri kehidupan Yvonne Ridley . Sebagai pelengkap, buku ini memuat kutipan wawancara situs cagerpisoner.com dengan Yvonne Ridley. Dan di akhir buku ini terdapat pula teks naskah ceramah Yvonne Ridley di Global Peace & Unity Conference 2006, London (30/11/2006)
Selain kisah kehidupan dan ziarah batin Yvonne dalam menemukan keyakinan barunya, pembaca juga akan mendapat banyak informasi mengenai lanskap Afghanistan, beserta perilaku tentara-tantara Taliban yang tidak sekeji yang diberitakan media massa. Di bab-bab terakhir buku ini pembaca akan disuguhkan pandangan-pandangan dan perjuangan Yvonne dalam membela Islam yang disampaikan secara lugas dan lantang termasuk ketika menghantam kebijakan Amerika dan Inggris yang kerap memperlakukan negara-negara Islam dengan tidak adil.
Sayangnya, buku ini tak mengungkap sisi kehidupan Yvonne yang dikatakan setelah menjadi seorang muslim menjadi pribadi yang lebih toleran terhadap orang lain (hal 115). Dalam aktivitasnya setelah menjadi muslim, di buku ini kita hanya akan membaca bagaimana dia membela Islam dan menyerang pandangan-pandangan barat yang negatif terhadap Islam. Sedangkan sisi kehidupannya yang dikatakan menjadi toleran terhadap orang lain tak terungkap dalam buku ini.
Walau buku ini banyak mengungkap kisah beralihnya keyakinan seorang perempuan Barat menjadi muslimah, dan berisi berbagai pandangan-pandangan Islam menurut kacamata Yvonne Ridley sebagai seorang pembela Islam di barat. Bukan berarti buku ini adalah sebuah ‘buku dakwah” yang hanya ditujukan kepada pembaca Muslim. Buku layak dibaca siapa saja. Anton Kurnia dalam kata pengantarnya mengatakan bahwa “Kisah hidup Yvonne Ridley mengandung hikmat universal yang bisa dimaknai oleh siapa pun yang mau membacanya” (hal 8).Setidaknya kisah kehidupan Yvonne Ridley bisa menjadi contoh bagaimana jalan hidup seseorang sesungguhnya susah ditebak. Siapa yang menyangka jika Yvonne yang dahulu ini hidup secara bebas, gemar berpesta, akrab dengan rokok dan alkohol ini bisa berubah menjadi seorang pembela Islam yang gigih. Bukan pilihan yang tanpa resiko, selain mendapat tantangan dari keluarga dan teman-temannya. Yvonne juga harus menghadapi pandangan masyarakat di negaranya akan citra Islam yang buram dan selalu dicurigai dengan berbagai hal yang negatif.
Kegigihan dan keberanian Yvonne dalam membela keyakinnya di tengah arus yang berlawanan bisa juga menjadi inpspirasi bagi siapapun yang berjuang untuk membela keadilan, bagaimanapun caranya, dimanapun, dan sesulit apapun keadaannya.
@h_tanzil
Minggu, 25 Maret 2007
OUCH!!!
... Ini bukan buku biografi. Ini bukan sekedar cerita
tentang diri gue…
-- Melanie Subono (hal. 1)
OUCH!!!Melanie Subono
Gagas Media, Cet. I – 2007
132 Hal.
Siapa bilang jadi Liaison Officer itu enak? Bisa deket-deket sama artis asing terkenal… bisa ngobrol bareng, bisa tahu semua kebiasaannya… apalagi kalo artis itu artis yang selama ini kita idolakan.
Tapi, Melanie Subono ‘mengungkapkan’ fakta yang sebenarnya. Bekerja di Divisi Talent di Java Musikindo yang kerap mendatangkan artis luar negeri, meskipun milik ayahnya sendiri, Adrie Subono, Melanie gak begitu aja bisa nonton penampilan mereka dengan mudah.
Melanie memulai ‘karir’-nya sebagai asisten sang (mantan) pacar yang kebetulan punya jasa penyewaan kendaraan yang biasa dipakai artis-artis. Dan ketika Java Musikindo dibentuk, Melanie pun bergabung di sana menjadi Liaison Officer.
Liaison Officer (LO) adalah divisi yang paling sibuk ngurusin segala tetek-bengek yang berhubungan dengan sang artis. Mereka mulai bekerja begitu promoter menandatangani kontrak dengan pihak si artis. Para LO punya ‘kitab suci’ yang disebut Rider. Dalam Rider ini, tertera segala macam persyaratan yang harus dipenuhi untuk si artis. Contohnya, Mariah Carey, jendela kamarnya harus ditutupi karton hitam, lalu, harus tersedia jenis bunga tertentu dengan warna tertentu di dalam vas tertentu!!! Atau Alanis Morisette yang minta disediain teh erbal merk tertentu. Gak akan jadi masalah, kalau permintaan mereka tersedia di Jakarta, atau gampang ditemui, kalau gak… LO harus siap memikirkan segala alternatif yang kreatif.
Para LO terkadang tidak punya waktu untuk memikirkan diri mereka sendiri. Lapar, cape’, tekanan tinggi… adalah kondisi yang harus dihadapi LO. Apalagi, tingkah laku para artis itu kadang ‘ngeselin’. Misalnya, boyband Westlife, meskipun udah bolak-balik datang ke Indonesia, tetap gak belajar dari pengalaman. Kadang dengan seenaknya, tidak sesuai dengan yang tertulis di Rider.
Belum lagi ulah para fans yang ingin melihat artis-artis pujaan mereka itu dari dekat. Tingkah laku yang nekat membuat LO juga pusing tujuh keliling.
LO juga harus up to date soal gosip-gosip artis teranyar, biar tahu kebiasaan atau hal-hal pribadi mereka. Bukan biar sok deket atau sok akrab, karena ketika Avril Lavigne datang ke Indonesia, dia gak mau tinggal di Hotel Hilton, karena alasan pribadi.
Tapi, seperti kata Melanie, tidak akan ada yang bisa membuat dia meninggalkan profesi ini. Seperti Cinta… biar menyakitkan.. tapi tetap aja indah…
Buku ini ditulis dengan bahasa yang santai... gak kaku. Melanie bercerita dengan bahasa ‘loe-gue’, membuat pembacanya merasa sedang mendengarkan seorang teman bercerita. Seru ngebayangi gimana pontang-pantingnya, gimana serunya, gimana ngeselinnya, dan segala suka-duka lainnya. Jadi gak perlu sirik atau mikir, “Ah.. Melanie… jelas aja, dia, kan anak yang punya Java Musikindo”.
Di buku ini, ada juga beberapa foto-foto Melanie bareng ‘baby bule’-nya (nah.. ini baru bikin sirik…)
Jumat, 23 Maret 2007
The Diet
Diet (dÎ’∂t) k.b. dari Bahasa Yunani diaita, sebuah jalan hidup
The Diet
Edita Kaye
Cahya Wiratama (Terj.)
CPublishing – Cet. 1, Februari 2007
Ketika ia menyaksikan tubuh gemuk ibunya yang terbujur kaku digotong oleh petugas kesehatan, Cate Blain membuat janji pada dirinya sendiri, “Aku tidak akan pernah gemuk.” Ibu Cate meninggal akibat kegemukan dan pola makan yang tidak sehat.
Dua puluh tahun kemudian, Cate memang menepati janjinya. Kehidupan Cate cukup sempurna. Pernikahannya dengan Charles cukup bahagia, lalu, ada Sam, adik semata wayangnya yang sangat ia sayangi. Tubuh langsing, sukses dengan kursus memasaknya – Cate’s Cookery, mempunyai kolom sendiri di sebuah surat kabar.
Cate hidup dari makanan. Ia menjadi terkenal karena masakan yang ia racik. Cate tidak pernah makan berlebihan, ia hanya mencicipi sedikit saja makanan yang ia buat. Bahkan Cate mendapatkan tawaran untuk membuat buku masak dari sebuah penerbit terkenal.
Tapi, ternyata, makanan juga yang justru ‘mengkhianati’nya. Makanan yang menghancurkan kehidupannya. Di suatu malam di bulan Oktober, Cate sudah mempersiapkan makanan yang sempurna untuk sebuah perayaan. Malam itu, ia akan memberitahu Charles sebuah kabar bahagia. Namun perayaan itu berantakan. Justru kabar buru yang ia peroleh.
Dalam keadaan tertekan, Cate lari ke makanan. Tanpa sadar ia mulai mengudap dan selalu merasa lapar. Tanpa sadar, Cate mengulangi apa yang sudah ibunya lakukan. Dokter kandungannya sudah memberi peringatan akan bahaya obesitas bagi bayi dalam kandungannya. Tapi, Cate semakin tidak terkendali.
Buntutnya, Cate kehilangan semua yang ia miliki. Charles meninggalkannya, ia kehilangan bayi laki-lakinya, sedangkan bayi perempuannya direnggut darinya. Cate juga kehilangan kontrak pembuatan bukunya dan harus mengembalikan uang muka yang sudah diterimanya. Cate semakin terpuruk dalam kesedihan. Lagi-lagi, makanan yang jadi tempat pelarian Cate. Berat badan Cate semakin melambung. Bahkan Cate berencana untuk makan sampai mati.
Suatu hari, datanglah Josh, mantan editornya, membawa setumpuk artikel tentang kesehatan, tawaran untuk menulis lagi dan selembar cek. Kejadian itu membawa perubahan bagi diri Cate.
Cate mulai sadar.. Ia menyusun menu diet untuk dirinya sendiri. Ia tidak akan menjauhi makanan, ia hanya perlu mengatur apa yang ia makan, dan kapan ia akan makan. Makanan tetap akan menjadi teman baiknya. Pelan-pelan kepercayaan dirinya mulai pulih. Tujuannya hanya satu, yaitu kembali berkumpul dengan Charles dan anak perempuannya.
Tapi, ternyata tidaklah semudah itu untuk mewujudkan mimpinya. Cate kembali takut, kalau dietnya kali ini akan berakhir seperti diet-diet yang telah ia jalani sebelumnya.
Bagi gue, buku ini cukup memberikan inspirasi. Gak seperti model-model chicklit lainnya. Menurut Edira Kaye, penulis buku ini, meskipun pola diet yang dibuat oleh Cate adalah fiktif, tapi memiliki dasar penelitian. Jadi, boleh juga tuh diterapkan buat yang mau diet. Dan memang, membaca masakan yang diracik Cate, bias membuat membuat air liur menetes. Dan, memang betul, kita gak bisa hidup tanpa makan, tapi hati-hati, bisa jadi makananlah yang akan menjerumuskan kita.
Terorist- John Updike
Judul : TeroristPenulis : John Updike
Penerjemah : Abdul Malik
Penerbit : Pustaka Alvabet
Cetakan : I, Des 2006
Tebal : 499 hal
Ahmad Ashamy Mulloy, seorang pemuda berusia delapan belas tahun adalah seorang remaja cerdas yang taat pada ajaran agamanya. Ia tinggal di New Prospect (New Jersey) yang materialistis dan hedonis bersama ibunya, Teresa Malloy yang berdarah Irlandia-Amerika. Ayahnya yang berkebangsaan Mesir, meningalkannya sejak Ahmad berusia tiga tahun. Ketika berusia sebelas tahun ia memeluk agama Islam dan semenjak itu pula dua kali dalam seminggu ia mempelajari Kitab Suci al-Quran dibawah bimbingan Syaikh Rasid, seorang imam masjid di West Main Stret – New Prospect.
Di sekolahnya, Ahmad dikenal sebagai murid yang pintar. Agamanya menjaganya dari obat-obatan terlarang dan tindakan asusila, meski hal ini membuatnya agak tersisih dari teman-teman kelasnya. Karena hidup selama bertahun-tahun tanpa ayah, dan hidup bersama ibunya seorang penganut Katolik yang tanpa iman, dan digembeleng dengan keras oleh guru agamanya, Ahmad tumbuh menjadi pengabdi setia pada Allah, menjadikanNYA sebagai teman sejati yang lebih dekat dari urat lehernya.
Pengaruh Syaikh Rasyid sedemikian besarnya dalam kehidupan Ahmad, tak seorangpun yang dapat mengalihkan perhatian Ahmad dari mengikuti ajaran agamanya yang disebut sebagai “Jalan yang Lurus”. Selain belajar membaca ayat-ayat suci Al-Quran, Ahmad juga diwajibkan untuk mengikuti petunjuk Allah secara total dalam kehidupannya, termasuk melakukan jihad dan mati syahid untuk melawan musuh-musuh Allah, antara lain bangsa Amerika yang dianggapnya sebagai bangsa yang kafir.
Setelah lulus dari SMA, Jack Levy, guru pembimbingnya menganjurkan agar Ahmad melanjutkan ke univeritas terkemuka. Namun Ahmad lebih mentaati anjuran Syaikh Rasyid agar ia menjadi supir truk. Ketika ia memperoleh pekerjaan sebagai supir truk di sebuah toko perabotan yang dimiliki oleh keluarga Libanon, ternyata sejumlah rencana telah diatur dengan rapih. Sejak awal Ahmad memang disiapkan oleh Syaikh Rasyid untuk menjalankan jihad dan melakukan misi bunuh diri dengan menjadikan dirinya pembawa truk berisi bom yang siap untuk diledakkan di terowongan di Lincoln – New Jersey. Akankah Ahmad bersedia menjalankan misi yang diyakininya sebagai misi suci untuk menghancurkan musuh-musuh Allah ?
Kisah diatas adalah karya teranyar dari John Updike, novelis senior yang produktif dan pemenang dua kali Putlitzer Prize (1981 & 1991). Novel ke duapuluh dua John Updike ini diberi judul Terorist (2006). Novel ini mendapat respon yang baik dari pembacanya. Baru saja beberapa minggu terbit, novel ini telah dicetak ulang sebanyak enam kali dengan jumlah 118.000 copy dan habis terjual dalam waktu yang singkat.Apa yang menarik dari novel ini ? Novel ini memang tak seseram judulnya. Pembaca mungkin akan terkecoh melihat judulnya yang provokatif dan menyangka novel ini sarat dengan kekerasan dan baku tembak dengan plot yang cepat dan menegangkan.
Tidak!, kita tak akan menemukan adegan baku tembak atau berbagai peledakan yang menghiasi lembar-lembar novel ini. Novel ini memiliki alur yang cenderung lambat dan lebih mengutamakan eksplorasi karakter, kondisi psikologis beserta pemikiran para tokoh-tokohnya. Wikipedia mengkategorikan novel ini kedalam genre Philosophical, War.
Seperti dalam novel-novel lainnya Updike memang gemar mengkolase tema filsafat dengan tema aktual. Dalam Terorist, ia banyak
bermain-main dengan apa yang ada dalam pikiran dan dialog-dialog para tokohnya yang sarat dengan debat filosofis dan teologis akibat benturan antara keyakinan tokoh-tokoh radikal dengan tokoh-tokoh sekuler yang hidup secara hedonis materialistis yang bisa dikatakan merupakan gambaran umum masyarakat Amerika.
Dari novelnya ini John Updike tampak menguasai Islam. Menurut Amitav Ghosh dalam reviewnya yang dimuat dalam Washington Post, Updake tak hanya sekedar membaca Al-Quran, ia juga mempelajarinya secara intens. Tak heran jika Updike menyertakan banyak kutipan ayat-ayat Al-Quran beserta pemahamannya dalam novelnya ini.
Seperti diungkap diatas, karakter tokoh-tokoh di novel ini dideskripsikan secara detail, selain tokoh Ahmad, tokoh-tokoh lainnya seperti Jack Levy (guru pembimbing Ahmad) Beth Levy , Teresa Malloy , Charlie Chebab (atasan Ahmad), mendapat porsi yang banyak dikupas sehingga mengakibatnya alur novel ini terasa lambat. Sayangnya juga karakter Syaikh Rasid hanya sedikit dikupas dibanding tokoh-tokoh lain, padahal dialah tokoh yang paling berpengaruh dalam kehidupan Ahmad.
Di novel ini juga pembaca akan melihat bagaimana kondisi kerohanian masyarakat Amerika yang dilihat dari sudut pandang tokoh Ahmad yang mewakili para pejuang kebenaran yang rela mati syahid demi keyakinannya. Di mata Ahmad Amerika adalah bangsa yang tidak memiliki Tuhan, “Dan karena tidak ada Tuhan, semua digambarkan dengan seks dan benda-benda mewah, Lihatlah televisi, Mr. Levy, bagaimana seks selalu memanfaatkan Anda agar bisa menjual sesuatu yang tidak Anda butuhkan. …Perhatikan bagaimana umat Kristiani melakukan pembunuhan besar-besaran terhadap penduduk asli Amerika dan mengesampingkan Asia dan Afrika, dan sekarang mulai merambah Islam, dengan segala sesuatu di Washington yang dikendalikan oleh orang Yahudi untuk mengekalkan pendudukan mereka atas Palestina.” (hal 57).
Di 70 halaman terakhir terdapat hal yang sangat menarik, Updike mendeskripsikan dengan detail bagaima akifitas yang dilakukan oleh Ahamd selaku pelaku bom bunuh diri lengkap dengan bagaimana gejolak batinnya pada saat ia mengemudikan truknya menuju titik sasaran dimana ia akan meledakkan truknya dan mati syahid untuk membela keyakinannya.
Apa manfaat yang bisa kita ambil dari novel ini ? Saat ini beberapa negara di dunia, khususnya Amerika memang selalu berada dibawah ancaman bayang-bayang sekelompok pihak yang sering disebut teroris. Bahkan indonesiapun sudah beberapa kali menjadi sasaran bom bunuh diri. Karenanya kehadiran novel ini setidaknya bisa memberikan gambaran apa sebenarnya yang mereka perjuangkan dan apa yang kira-kira ada di benak seorang pelaku bom bunuh diri sebelum ia melaksanakan tugasnya demi sebuah keyakinan yang dianutnya.
@h_tanzil
Kamis, 22 Maret 2007
Somewhere, Home
Nada Awar Jarrar
Catherine Natalia (Terj.)
Qanita, Cet. I – Januari 2007
284 Hal.
Buku ini bercerita tentang 3 perempuan yang rindu akan rumah dan kampung halamannya. Terbagi ada 3 cerita terpisah, masing-masing mengungkapkan kerinduan yang timbul karena permasalahan yang sama, yaitu, terpisah jauh dari rumah yang mereka anggap sebagai ‘rumah’ yang sesungguhnya. Model cara berceritanya juga sama, kilas balik tokoh utama, mengenang masa lalunya, diselang-selingi dengan kehidupannya di masa sekarang.
Kisah pertama adalah tentang Meysa. Menjelang kelahiran putrinya, Meysa memilih untuk kembali ke rumah masa kecilnya, rumah yang dulu adalah milik kakek dan neneknya, di atas bukit Gunung Lebanon.
Meysa merasa tidak nyaman di tempat tinggalnya sekarang. Untuk itu, ia memilih pulang ke rumah neneknya, meskipun suaminya, Waldi, sedikit keberatan. Di rumah neneknya, Alia, Meysa hanya ditemani pengurus rumah tangga, Selma. Meysa berusaha mengenang ketika ia berada di sana.
Bagian ini tidak hanya berkisah tentang Meysa. Tapi juga menceritakan babak kehidupan Alia. Pada bagian Alia, menceritakan bagaimana ia harus hidup sendiri bersama anak-anaknya, sementara suaminya pergi berdagang keluar kota dan hanya pulang sesekali. Ada bagian di mana Alia ingin suaminya pulang, yaitu ketika dua anaknya hampir menjadi korban ketika gedung sekolah mereka runtuh.
Cerita lain di bagian pertama, adalah tentang Saeeda, bibi Meysa. Saeda adalah anak perempuan Alia satu-satunya. Ia terpaksa menikah muda, dan diboyong oleh sang suami, tinggal bersama mertuanya. Sehari-hari, ia harus mengurus mertuanya, sampai akhirnya mertua dan suaminya meninggal dan ia kembali ke rumah Alia.
Lalu, cerita ketiga dalam kisah Meysa adalah tentang Leila, yang tak lain adalah ibu Meysa. Leila menikah dengan Adel, anak ketiga Alia. Sebelum menikah, Leila tinggal di Amerika. Maka itu, ketika kembali ke Lebanon, Leila merasa tidak nyaman dengan suasana di sana.
Kisah kedua adalah tentang Aida yang berusaha menelusuri kenangan masa lalunya bersama Amou Mohammed, pelayannya. Aida dan saudara-saudaranya begitu dekat dengan Amou Mohamed, bahkan Amou Mohammed rela hanya sesekali bertemu keluarganya di tempat penampungan demi melayani Aida. Sedemikian dekat hubungan mereka, sehingga ketika Amou Mohammed meninggal dunia, bayangannya seolah menghantui Aida dalam kenangannya. Aida ingin kembali lagi ke Lebanon.
Aida pun pulang ke Lebanon. Bertemu kembali dengan keluarga Amou Mohammed. Mencoba mencari bayangan Amou Mohammed dan mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang tak pernah terjawab di masa lalu.
Dalam kisah ketiga, adalah tentang Salwa, seorang perempuan Lebanon yang terpaksa mengikuti suaminya pindah ke Australia untuk bekerja. Di masa tuanya, dalam keadaan sakit, Salwa mengenang kembali masa-masa ketika ia masih berada di Lebanon, sebelum ia menikah dengan Adnan. Dulu, ia sama sekali tidak ingin menikah dengan Adnan, karena merasa masih terlalu muda. Tapi, toh ia tidak bisa menolak perjodohan itu.
Semua perempuan dalam buku ini, terpisah jauh dari tempat kelahiran mereka. Dan, mereka merasakan hal yang sama, yaitu tidak menemukan kenyamanan seperti di rumah mereka sendiri. Mereka mencoba kembali pulang, mencoba menggali kenangan mereka dan mencoba mencari kembali ‘rumah’ mereka, meskipun mereka terkadang harus kecewa karena rumah yang mereka dulu tempati tidak sama lagi seperti yang selalu mereka bayangkan.
Rabu, 21 Maret 2007
The Amber Spyglass (Teropong Cahaya)
The Amber Spyglass (Teropong Cahaya)Philip Pullman
B. Sendra Tanuwidjaja (Terj.)
GPU, Februari 2007
624 Hal.
Will akhirnya bertemu dengan ayahnya, John Parry, yang menghilang setelah sekian lama. Tapi, di pertemuan itu pun, Will harus menyaksikan ayahnya meninggal dunia, ‘dibunuh’ oleh penyihir yang sakit hati karena cintanya tak berbalas. Will membawa pesan terakhir dari ayahnya, bahwa ia harus menyerahkan pisau gaib kepada Lord Asriel.
Tapi… ketika Will kembali ke tempat ia dan Lyra beristirahat di bawah pengawasan para penyihir, ternyata Lyra sudah lenyap. Will pun bingung… bagaimana ia bisa mencari Lord Asriel kalau Lyra tidak ada? Hanya ada ransel kecil Lyra yang berisi alethiometer tertinggal di sana.
Sementara itu, Lyra berada di sebuah gua dalam keadaan tertidur. Mrs. Coulter-lah yang ternyata sudah ‘menculik’ Lyra. Kepada penduduk desa setempat, Mrs. Coulter sebagai petapa yang sedang merawat anaknya. Dalam tidurnya, Lyra bermimpi bertemu dengan Roger yang meminta pertolongannya.
Dibantu dua malaikat, Balthamos dan Baruch, Will mencari keberadaan Lyra. Di tengah perjalanan, Will bertemu dengan Iorek Brykinson, beruang baju besi sahabat Lyra. Akhirnya, Will bisa menemukan Lyra dan menyadarkan Lyra dari tidur panjangnya. Mrs. Coulter berhasil dilumpuhkan dengan racun oleh dua orang Gallivespia, Chevalier Tiallys dan Lady Salmakia. Mereka bertubuh mungil, tapi merupakan prajurit yang sikapnya cenderung sombong. Mereka juga adalah mata-mata Lord Asriel.
Di saat yang sama, semua terasa sibuk… Lord Asriel sibuk di bentengnya, mengatur rencana untuk mengambil Lyra dari Mrs. Coulter. Sementara itu, Mary Malone, ilmuwan dari dunia Will, juga mencari Lyra dan malah mendapati dirinya berada di dunia yang aneh, yang penuh dengan makhluk-makhluk beroda. Lalu, adalagi Pater Gomez yang bertugas membunuh Lyra.
Setelah bebas, Will dan Lyra tidak mau mengikuti Tiallys dan Salmakia menemui Lord Asriel. Mereka punya rencana sendiri. Lyra ingin Will membuka jendela ke dunia kematian. Lyra ingin bertemu Roger seperti yang ia janjikan dalam mimpinya.
Ketika berhasil menemukan dunia kematian, Lyra terpaksa harus meninggalkan Pantalaimon, karena tidak ada dæmon yang boleh ikut ke dunia kematian, dan tidak ada jaminan bagi Lyra, Will dan dua orang Gallivespia itu bisa keluar dari dunia kematian.
Bagian ketika Will dan Lyra berada di dunia kematian, adalah bagian yang paling mencekam. Mereka berada di tempat yang sepi, suram dan bertemu arwah-arwah yang bertatapan kosong dan tak bahagia. Lyra berhasil bertemu kembali dengan Roger, dan Will bertemu dengan ayahnya. Lyra dan Will membimbing arwah-arwah untuk keluar dari dunia kematian, bukan untuk hidup lagi, tapi untuk mati dengan cara yang lebih membuat mereka bahagia.
Sementara di dunia nyata, terjadi pertempuran antara Lord Asriel melawan Metatron. Mrs. Coulter mengorbankan dirinya, bekerja sama dengan Lord Asriel. Kadang, membingungkan menebak-nebak sifat dan karakter Lord Asriel dan Mrs. Coulter, siapa yang jahat, siapa yang baik. Bener gak Mrs. Coulter sayang sama Lyra? Atau Lord Asriel sama Mrs. Coulter tuh, masih suka-sukaan gak sih?
Cerita ini juga gak luput dari bagian yang romantis. Ternyata, ketika Will dan Lyra keluar dari dunia kematian dan berada di dunia tempat di mana Mary Malon berada bersama Mulefe-mulefa, mereka berdua menyadari, setelah sekian lama saling menjaga, bahwa mereka jatuh cinta. Dan, tentu saja sangat menyakitkan ketika semua harus kembali ke dunia masing-masing.
Bagian yang paling menarik di buku ketiga ini, adalah bagian ketika ada di dunia kematian. Seremmm… dan bikin merinding. Tapi, entah kenapa, gue males banget baca bagian Mary Malone dan mulefa-mulefa-nya itu, sedikit membosankan buat gue. Tokoh favorit gue di buku ketiga ini adalah pasangan Chevalier Tiallys dan Lady Salmakia - kecil, mungil, imut-imut, tapi galak and sombong.
Jumat, 16 Maret 2007
Chicken Soup for the Soul® -graphic novel
Judul : Chicken Soup for the Soul® -graphic novel : Hadiah Terindah
Chicken Soup for the Soul® -graphic novel : Pelajaran Berharga
Gambar oleh : Kim Donghwa
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, 2006
Tebal : 171 hal ; 156 hal
Jack Canfield, seorang penceramah, motivator, trainer terkenal, pada tahun 1990-an bersama rekannya Mark Victor Hansen yang juga seorang penceramah populer Amerika, berkolaborasi untuk menerbitkan sebuah buku yang berisi kumpulan kisah-kisah inspirasional yang menyentuh hati pembacanya. Buku yang diberinya judul Chicken Soup for The Soul – 101 Stories to Open The Heart and Rekindle The Spirit – terbit pada tahun 1993 dan langsung bertenggernya di #1 NEW YORK TIMES BESTSELLER! untuk jangka waktu yang lama. Edisi pertama buku ini terjual sebanyak 2 juta copy!
Melanjutkan kesuksesan buku tersebut, Jack Canfield dan Mark Hansen kembali mencari kisah-kisah inspirasional agar dapat diterbitkan kembali menjadi buku baru yang kelak akan terus diterbitkan dibawah seri Chicken Soup for The Soul. Ternyata kisah-kisah yang mereka dapatkan baik dari pencarian mereka sendiri maupun dari kiriman-kiriman para pembacanya terus mengalir hingga seri Chicken Soup terus diterbitkan hingga kini dan terus dibaca orang di berbagai negara.
Jack Canfield dan Mark Hansen mengedit, dan mengkategorikan kisah-kisah yang mereka dapatkan, sehingga kelak setiap buku yang terbit akan memiliki tema tersendiri seperti Chicken Soup for the Mother's Soul, Chicken Soup for the Preteen Soul, Chicken Soup for the Prisoner's Soul, Chicken Soup for the Volunteer's Soul, Chicken Soup for the Grandparent's Soul, Chicken Soup for the Ocean Lover's Soul, dll Hingga Januari 2006, 115 judul telah diterbitkan. Lebih dari 100 juta copy telah dicetak dan telah diterjemahkan kedalam 57 bahasa dunia.!
Di Indonesia sendiri, Gramedia Pustaka Utama (GPU), selaku pemegang hak cipta buku ini tampaknya tak mau ketinggalan untuk menerjemahkan seri Chicken Soup. Seri pertama terjemahan Chicken Soup diterbitkan pada tahun 1995 dengan judul Chicken Soup for the Soul 1 - Menjadi Kaya dan Bahagia . Seperti di negara asalnya, buku ini mendapat respon yang sangat baik dari pembacanya. Maka di tahun 1995-2000 mulailah dunia buku Indonesia dirasuki oleh fenomena Chicken Soup. Saat itu rasanya ketinggalan jaman jika pecinta buku tak membaca seri Chicken Soup.
Namun beberapa tahun kebelakang fenomena Chicken Soup mulai meredup, apalagi dengan munculnya fenomena Teen-Lit / Chick-Lit di tahun 2000-an. Namun seri Chicken Soup masih memiliki pembaca setia, hal ini terbukti dengan terus diterjemahkannya buku2 seri Chicken Soup hingga kini. Setidaknya sudah 35 judul Chicken Soup yang telah diterbitkan GPU. Yang teranyar adalah Chicken Soup for The Woman Soul yang terbit pada Januari 2007 dan
dikemas dengan tampilan cover yang lebih berwarna.
Selain itu, kini GPU juga menerbitkan Chicken Soup dalam bentuk yang ‘lain’. Di tengah semboyan Gramedia Goes To Graphic Novel, GPU menerbitkan 2 buah Chicken Soup dalam bentuk Novel Grafis / Komik yang diberi titel Chicken Soup for The Soul - Graphic Novel yang masing-masing berjudul : Hadiah Terindah , dan Pelajaran Berharga.
Karena dikemas dalam bentuk komik, buku ini menjadi lebih berwarna dan menarik. Gambar-gambarnya bersih, dibuat mirip dengan komik-komik Jepang dan diwarnai dengan warna-warni yang menarik. Buku ini dikerjakan oleh kartunis terkemuka Korea, Kim Doghwa. Ia telah diundang ke banyak festifal kartun di seluruh dunia, dan karya-karyanya mendapat sambutan hangat di negara-negara Asia. Eropa, dan kini bukunya mulai diterbitkan di Amerika Serikat. Edisi pertama dan kedua graphic edition seri Chicken Soup for The Soul merupakan salah satu karya terbaiknya.
Seluruh kisah dalam dua buku ini diambil dari buku 2nd Helping of Chicken Soup for The Soul dan A 3rd Serving of Chicken Soup for The Soul. Pada kisah Hadiah Terindah yang dijadikan salah satu judul buku ini diceritakan kisah seorang kakek yang karena suatu sebab tak pernah mau datang ke perayaan Paskah di rumah anaknya. Karenanya Carrie sang cucu berniat untuk memberikan sebuah gambar bikinannya sebagai hadiah untuk kakeknya. Kelak gambar tersebut akan meluluhkan hati kakeknya dan membuat si kakek akhirnya hadir tepat pada saat perayaan paskah di rumah anaknya.
Lalu ada pula kisah “Sepasang Sandal” yang dalam ilustrasinya mengingatkan kita akan tokoh kharismatik India, Mahatma Gandhi. Dalam kisah ini, diceritakan seseorang ketika sedang mengejar kereta yang hendak berangkat tiba-tiba sebuah sandalnya terlepas. Anehnya setelah orang tersebut berhasil naik kedalam kereta, ia segera melepas sandal yang tersisa dan melemparnya keluar kereta. Tindakannya ini menimbulkan pertanyaan dari orang-orang disekitarnya. Ketika ditanya “Mengapa sandal satunya yang masih bagus Anda lempar?”, lelaki yang melempar sandalnya itupun menjawab “Yah, bayangkan saja orang yang mengambil sandal tadi. Orang itu tidak akan bisa menggunakan jika hanya ada satu sandal!” (hal 55).Selain dua kisah diatas masih banyak kisah-kisah inspirasional yang menyentuh hati pembacanya, masing-masing buku berisi 12 hingga 13 kisah. Diantara kisah-kisah itu kita akan menemui pengalaman para tokoh-tokoh terkenal dunia seperti Muhamad Ali - Champion, Wilma Rudolph (juara Olimpiade’60 untuk lari 100, 200 meter), Benyamin Franklin – Malaikat Tercantik, dan Thomas Jefferson – Mata yang Penuh Kasih.
Kedua buku Chicken Soup for the Soul® graphic novel ini kini telah hadir di tengah penggemarnya. Seri bestseller dunia tentang kisah nyata luarbiasa yang telah membantu dan menginspirasi banyak orang di seluruh dunia ini kini dilengkapi dengan gambar-gambar indah yang bernilai.
Selain itu buku yang berisi kisah-kisah indah tentang kebaikan dan ketegaran yang bisa memberikan pelajaran berharga untuk pembacanya ini sangat layak untuk dijadikan hadiah terindah untuk orang-orang tersayang.
@h_tanzil
Senin, 12 Maret 2007
Chocoluv
“Everybody deserves a second chance”
------
Bambang (hal. 192)
Chocoluv
Ninit Yunita
Gagas Media - Cet. 1. 2007
200 Hal.
Cinta adalah rasa (pertama kali baca kalimat ini, gue inget sama film Brownies dengan tag-nya “Biarkan Rasa Yang Memilih” – diadaptasi ke bentuk novel oleh Fira Basuki – Gagas Media, 2004). Ok… lanjut.. cinta emang penuh dengan rasa yang campur aduk… Manis kalau lagi sayang-sayangan, lagi manja, tapi pahit banget kalo disakitin apalagi sampai putus. Gagas Media (didukung oleh salah satu produsen es krim di Indonesia), mencoba menghadirkan cinta dalam berbagai jenis ‘rasa’. Tiga novel sudah diracik, yaitu: Chocoluv – Ninit Yunita, Luv You Berry Much – Yennie Hardiwidjaja (keduanya untuk seri Kamar Cewek), dan Blackforest Blossom - Endang Rukmana untuk seri Komedi Cinta.
Dan, sekarang, gue coba menjabarkan rasa yang ‘dihidangkan’ Ninit Yunita dalam Chocoluv.
Rere atau lengkapnya Renia Siregar, gadis berusia 19 tahun. Fakta pertama tentang Rere, adalah dia tergila-gila sama sepatu… (bayangkan… mungkin sama ‘gila’nya dengan para kutu buku..hehehe). Sale sepatu adalah sebuah kesempatan yang gak mungkin terlewatkan… sama aja seperti sebuah ‘panggilan perang’… wajib hukumnya. Rere bahkan memposisikan dirinya sebagai ‘titisan’ Imelda Marcos, mantan first lady Filipina yang terkenal dengan koleksi sepatunya yang ratusan (atau bahkan ribuan itu).
Fakta kedua: Rere adalah orang yang plin-plan, susah banget make up her mind. Mau nonton, bolak-balik mikir: komedi… horror… komedi… horror… sampai membuat antrian panjang dan membuat mbak-mbak petugas tiket pengen menaburkan arsenic ke dalam pop corn-nya. Atau ketika lagi milih sepatu bingung mau stiletto emas… atau flat hitam… bahkan untuk Rere juga bingung – beli sepatu dulu atau beli kado untuk pacar dulu, ya…
Beruntung Rere punya pacar yang pengertian dan sabar menghadapi sikap Rere yang plin-plan itu. Aldiansyah, namanya. Cowok yang baru jadi pacar Rere selama 3 bulan ini.
Sebelum sama Aldi, Rere punya pacar namanya Bambang (ehmm.. koq namanya rada kurang komersil ya?). Tapi, Bambang ternyata adalah cowok buaya darat, yang suka tebar pesona sama cewek-cewek lain.
Entah kenapa, tiba-tiba Bambang kembali muncul dalam kehidupan Rere. Berawal dari ketemu secara gak sengaja waktu Rere mau nonton sama Aldi. Bambang memperkenalkan Rere dengan pacar barunya, Wulan, yang calon the rising star itu.
Dan sejak itu… setiap berurusan dengan yang namanya Bambang, kesialan menimpa Rere. Mulai dari stiletto emas yang jadi incarannya ‘direbut’ tanpa basa-basi oleh Wulan… lalu lagi-lagi Wulan memborong ice cream Chocoluv pesanan mamanya tanpa menyisakan satu pun untuk Rere… sampai ban mobil yang kempes gara-gara Bambang yang tiba-tiba sms.
Tapi, apa bener Bambang gak pernah berubah? Dan apa Rere bisa percaya gitu aja waktu Bambang bilang Aldi selingkuh? Huh, buaya darat koq malah nuduh orang selingkuh? Sementara yang dituduh adalah cowok paling baik dan paling setia yang pernah Rere kenal. Siapa yang harus Rere percaya, Bambang atau Aldi ya?
Semua orang pasti pernah berbuat salah, tapi ada kalanya orang itu sadar dan berhak mendapatkan kesempatan kedua.
Cerita dalam novel ini, gak hanya tentang manisnya cinta, asyiknya berburu sepatu… tapi juga sebuah kisah yang mengharukan, yang bisa bikin cewek-cewek ‘meleleh’ kaya’ ice cream.
O ya, ada satu yang ‘salah’… di cover belakang ditulis, kalo nama pacar baru Bambang yang ‘pencuri stiletto’ itu adalah Sarah, padahal yang bener adalah Wulan. (Sedikit koreksi aja)
Minggu, 11 Maret 2007
Molly Moon’s Incredible Book of Hypnotism
Molly Moon’s Incredible Book of Hypnotism (Buku Hipnotisme Molly Moon)Geogia Byng
Poppy Damayanti (Terj.)
GPU, Februari 2007
368 Hal.
Molly Moon adalah seorang gadis yatim piatu yang tinggal di sebuah panti asuhan bernama Hardwick House. Panti asuhan ini adalah milik seorang wanita yang tidak menyukai anak-anak, Miss Adderstone. Molly ditemukan di depan pintu panti asuhan ini dalam sebuah kotak. Nama Molly Moon diambil dari tulisan iklan di kotak tempat Molly diletakkan.
Molly tumbuh jadi anak yang sering jadi bulan-bulanan anak-anak lain di panti asuhan itu. Ia sering diejek oleh teman-temannya karena matanya yang besar dan suaranya yang membuat orang mengantuk. Molly juga sering mendapat hukuman dari Miss Adderstone. Tapi, Molly bukanlah jenis anak yang cengeng, ia bahkan cenderung keras kepala dan pemberontak.
Satu-satunya teman Molly adalah Roger. Tapi, ketika Roger pun mulai kesal dengan tingkah laku Molly yang keras kepala dan pemalas itu, Roger pun memusuhinya. Molly akhirnya sendirian, apalagi Roger diadopsi oleh pasangan suami istri dari Amerika dan pergi tanpa berpamitan dengan Molly.
Tempat favorit Molly ketika sedang kesal dan ingin menyendiri adalah perpustakaan. Suatu hari, karena kesal dengan Roger, Molly pergi ke perpustakaan itu. Tanpa sadar ia tertidur. Ia terbangun karena suara seorang laki-laki yang marah-marah karena buku yang dicarinya tidak ada. Dan, tanpa disadarinya, buku yang dicari laki-laki yang mengaku bernama Profesor Nockman ada di depan mata Molly… sebuah buku Hipnotisme karangan Profesor Logan.
Otak Molly langsung bekerja. Menurutnya, inilah buku yang ia perlukan selama ini, buku yang mungkin akan merubah jalan hidupnya, buku yang bisa menghukum orang-orang yang selama ini bersikap jahat pada dirinya.
Diam-diam, Molly membawa buku itu pulang dan dengan cermat ia menyembunyikan buku itu. Ia sengaja berpura-pura sakit agar ‘diasingkan’ di sanatorium dan agar ia bisa membaca buku itu diam-diam. Dalam waktu singkat, Molly bisa mempraktekkan apa yang ada dalam buku itu. Tapi, ada dua bab yang hilang, yaitu bab menghipnotis dengan suara dan hipnotisme jarak jauh. Siapa yang sudah merobek buku itu?
Molly berhasil menghipnotis anjing Miss Adderstone, Petula. Kemudian ia pun berhasil menghipnotis Miss Adderstone dan Edna, si juru masak.
Molly bisa melakukan apa pun yang ia mau dan mendapatkan apa yang ia inginkan. Dengan kemampuannya ini, ia bertekad mencari Roger di Amerika.
Mulailah petualangan Molly di kota New York. Petualangan yang begitu mencengangkan banyak orang.
Tapi, ada bahaya yang mengincar Molly, yaitu Profesor Nockman, yang juga menginginkan buku Hipnotisme itu untuk mewujudkan rencana jahatnya. Dan Profesor Nockman berniat memanfaatkan Molly agar rencananya itu bisa terlaksana.
Di New York… sendirian, hanya ditemani Petula… bisakah Molly bertemu dengan Roger kembali dan menghidar dari kejaran Profesor Nockman?
Apa ya, yang gue dapet dari buku ini? Hmmm… sepertinya tentang pengendalian diri kali ya. Gak boleh serakah, meskipun semua bisa dapet dengan cara yang mudah.
(gak nemu cover yang edisi Indonesia-nya)
Blog RSS Feed
Via E-mail
Twitter
Facebook