Jumat, 08 Juni 2007

Edensor

Judul : Edensor
(Buku Ketiga dari Tetralogi Laskar Pelangi)
Penulis : Andrea Hirata
Penerbit : PT. Bentang Pustaka
Cetakan : I, Mei 2007
Tebal : 290 hlm ; 20.5 cm

“Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu.”

- Arai

Semua orang pasti memiliki mimpi. Namun hanya sedikit orang yang berani menjadikan mimpinya sebagai tujuan hidupnya dan berusaha dengan segala upaya untuk mewujudkan mimpinya. Tak sedikit orang hanya menjadikan mimpi sebagai angan-angan yang seolah tak mungkin terjangkau, sehingga ia menyerah pada mimpinya, melupakannya, dan tenggelam dalam rutinitas hidup yang menjeratnya.

Ikal dan Arai adalah pemimpi yang berani. Walau terlahir dalam keluarga sederhana di Belitong, mereka memiliki mimpi setinggi langit. Mimpi yang diperolehnya dari Pak Balia, guru SMA-nya.

“Murid-muridku, berkelanalah, jelajahi Eropa, jamah Afrika, termukan mozaik nasibmu di pelosok-pelosok dunia. Tuntut ilmu sampai ke Sorbonne di Prancis, saksikan karya-karya besar Antoni Gaudi si Spanyol.” (hal 34)

Kalimat Pak Balia itu begitu menyentuh, menggelisahkan hati dan pikiran mereka dan menyimpannya sebagai mimpi yang harus mereka raih. Walau untuk menjelajahi Eropa bagaikan punguk merindukan bulan, mereka tak menyerah dengan keterbatasan mereka dan terus berusaha untuk mewujudkannya. Mimpi itulah yang menjadi benang merah dari seluruh kisah kehidupan Ikal yang kemudian ditulisnya dalam bentuk novel hingga lahirlah apa yang disebut sebagai Tetralogi Laskar Pelangi. (Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor, Maryamah Karpov).

Setelah sukses di dua novel terdahulunya, kini terbitlah novel ketiganya “Edensor”. Jika dalam Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi Ikal bertutur mengenai mimpinya dan usahanya untuk meraih mimpi-mimpi besarnya. Di buku ketiganya ini, apa yang menjadi impian mereka benar-benar terwujud. Dalam Edensor mereka benar-benar telah berada dalam tanah yang telah dijanjikan oleh mimpi-mimpi mereka.

Masih dalam gaya bertutur dan penyajian yang sama seperti di buku keduanya, dimana Andrea merangkai kisah-kisahnya dalam penggalan-penggalan mozaik kehidupan. Demikian pula dalam Edensor. Kisah-kisahnya pendek-pendek saja (5-10 hal) sehingga di buku setebal 288 halaman ini memuat 44 mozaik/bab yang ditulis dengan lancar dan memikat Tak heran banyak pembaca mengaku membaca buku ini dalam sekali duduk.

Di sepuluh mozaik pertama, novel ini kembali mengisahkan kisah-kisah Ikal semasa masih di P. Belitong, bekerja di Bogor, hingga keberangkatannya menuju Sorbonne-Prancis. Di bagian ini ada beberapa kisah yang menarik antara lain kisah kelahiran si Ikal, bagaimana perjuangan Ibunya agar bisa melahirkan tepat pada tanggal kelahiran PBB (24 Oktober) agar kelak Ikal bisa menjadi juru pendamai. Lalu ada pula kisah bagaimana nama Ikal yang sebelumnya pernah diberi nama Aqil Barraq Badruddin harus diganti karena dirasa memberatkan. Namanya diganti menjadi Wadudh, dan akhirnya diganti lagi menjadi Andrea Hirata. Nama yang tak lazim bagi seorang anak melayu di Belitong.

Di mozaik-mozaik berikutnya barulah novel ini menceritakan mengenai pengalaman Ikal dan Arai di tanah impiannya – Sorbonne - Prancis. Hal ini menarik karena mengungkap bagaimana mereka harus menjalani kehidupan di sebuah dunia yang benar-benar baru. Ketika baru saja Ikal dan Arai menginjakkan kaki di Belgia, mereka terlunta-lunta di jalan dan didera cuaca dingin yang menggila yang hampir saja merengut nyawa mereka. Geger budayapun dialami oleh mereka, Ikal menemukan berbagai paradoks antara apa yang dilihatnya di Eropa dengan keadaan di tanah kelahirannya.

Dan yang paling menarik dari novel ini terdapat di mozaik 31 hingga selesai. Di bagian ini dikisahkan pertaruhan Ikal dan kawan-kawannya untuk mengelilingi Eropa pada saat liburan musim panas. Masing-masing membentuk kelompoknya sendiri-sendiri. Ikal berpasangan dengan Arai. Yang menang adalah mereka yang dapat menempuh paling banyak kota dan negara. Yang kalah harus mengurus laundry peserta lain selama tiga bulan, dan yang paling memalukan, harus menuntun sepeda secara mundur dari museum legendaris Le Leouvre ke gerbang L’Arc de Triomphe dimana di sepedanya digantungi pakaian-pakaian rombeng.

Ikal dan Arai melakukan perjalanannya sebagai backpaker. Untuk membiayai perjalanannya mereka harus rela menjadi pengamen seni, yaitu menampilkan seni patung dimana Ikal dan Arai menjadi patung dan berdandan sebagai seekor putri duyung. Perjalanan mereka penuh tantangan, ketika kehabisan uang, mereka harus makan daun-daunan mentah untuk bertahan hidup. Namun Ikal dan Arai tak pernah menyerah, mereka manusia yang hidup dalam mimpinya. Hanya berbekal impian, keberanian dan tekad untuk memenangkan taruhan, mereka akhirnya mereka mampu melakukan perjalanan ke 42 negara di Eropa, Rusia hingga menjejakkan kakinya ke Afrika!

Ketika kembali ke Paris, Ikal kembali menekuni kewajibannya sebagai mahasiswa. Ia tenggelam dalam risetnya. Berita buruk diterimanya karena Prof Turnbull, pembimbingnya akan pensiun dan pulang kampung dan bekerja di Sheffiled Inggris. Khawatir tesisnya terbengkalai, Ikal terpaksa mengikuti exchange program ke Shieffield Hallam University untuk melanjutkan risetnya dibawah bimbingan Prof Turnbull. Kini Ikal semakin dekat dengan Edensor, sebuah desa di Inggris yang selama ini hanya dibacanya di novel karya James Herriot pemberian A ling, gadis Hokian pujaan hatinya.




Novel James Herriot "If Only They Could Talk"
yang dibaca oleh Ikal, yang memuat keindahan desa Edensor






Di novel ketiganya ini Andrea tampaknya masih konsisten dengan gaya bertuturnya di dua novel terdahulunya. Kalimat-kalimatnya kerap menggunakan metafora-metafora yang mengejutkan dan mampu membuai pembacanya untuk masuk dalam kisahnya. Tak hanya kisah serunya berpetualang ke berbagai negara yang akan diperoleh pembacanya, dalam setiap kisahnya Andrea juga senantiasa menyelipkan berbagai perenungan bijak yang membuat pembacanya bergetar dalam haru, miris atau tersentuh semangatnya ketika membaca kisah-kisahnya.

Selain menyentuh pembacanya, novel ini juga menyajikan kelucuan-kelucuan yang menghibur. Walau kadar kelucuannya tak sampai membuat pembacanya tertawa-tawa seperti di novel keduanya, dalam edensor sisi humornya antara lain terdapat dalam pencarian Ikal terhadap pujaan hatinya A Ling. Untuk mencari jejak A Ling, ia mengandalkan kecanggihan Internet. Ia memasukkan nama A Ling di search engine dan menemukan nama itu berada di berbagai negara dan kota di Eropa,. Dengan modal ini maka setiap Ikal mengunjungi negara tertentu dia menyusuri alamat yang diperolehnya dari internet. Kelucuan merebak ketika ternyata nama A Ling yang diperolehnya ternyata seorang wantia tua, nama sebuah tempat, hingga nama merk obat kuat.

Bagi mereka yang suka melakukan perjalanan traveling ala backpacker , novel ini juga memberikan berbagai tips yang menarik seperti negara-negara mana yang menghargai para backpacker, fungsi baju second skin untuk mengatasi dingin, pengalaman bergaul dengan backpacker kanada, tempat-tempat tidur yang aman apakah di aman, di emper toko, di terminal, dll, termasuk cara membaca arah dengan membaca rasi bintang belantik

Dari berbagai kisah yang dimunculkan dalam buku ini, tampaknya Andrea memang sosok yang sarat pengalaman hidup dan pengetahuan, selain mampu menebar semangat dan inspirasi bagi pembacanya untuk berani mewujudkan mimpinya, di novel ketiganya ini kita akan melihat Andrea juga dengan cerdas memadukan sains, fisika, kimia, biologi, ekonomi, sastra, dan tak ketinggalan kritik-kritik sosial terhadap indonesia yang dilihatnya sebagai paradoks dari pengalamannya hidup di luar negeri. Yang tak kalah menarik adalah monolognya dengan ekonom dunia Adam Smith yang menyerang kaum monetaris yang bersekongkol mengumpulkan uang agar begara seperti Indonesia tergadai karena berhutang.

Dari ketiga karya Andrea, saya rasa novel pertamanya tetap lebih dahsyat dibanding Sang Pemimpi dan Edensor. Bukan berarti dua yang terakhir buruk, namun dalam Sang Pemimpi dan Edensor, ekplorasi karakter tokoh dan peristiwa tak sedalam Laskar Pelangi. Mungkin ini akibat gaya betutur Andrea di novel kedua dan ketiganya yang dipenggal-penggal dalam peristiwa-peristiwa yang dialaminya sehingga lebih menyerupai cerpen dengan benang merah yang kuat, yaitu mimpi Ikal dan Arai.

Namun terlepas dari perbandingan antara novel pertama, kedua, dan ketiganya. Dari tiga karya Andrea yang telah diterbitkan , ketiga-tiganya sangat berpotensi dalam memberikan letupan inspirasi bagi pembacanya untuk tidak menyerah dalam mengejar mimpi.

Semua telah kami rasakan, dalam kemenangan manis yang gilang gemilang dan kekalahan getir yang paling memalukan, tapi tak selangkah pun kami tak mundur, tak pernah. Kami jatuh, bangkit, jatuh lagi, dan bangkit lagi. (hal 277)

- Ikal -


@h_tanzil

Read more »

Sabtu, 02 Juni 2007

Ramalan Kue Pengantin

Ramalan Kue Pengantin (Dress Rehearsal)
Jennifer O’Connell
Dewi Sunarni (Terj.)
GPU, Februari 2007
472 Hal.

Lauren’s Lucious Licks benar-benar membantu para calon pengantin dalam memilih kue pengantin mereka. Para calon pengantin itu bisa memilih kue yang sesuai dengan keinginan mereka plus dengan detail-detail unik dan aneh pilihan mereka. Lauren Gallagher, pemilik butik kue yang paling ngetop di Boston itu, siap membantu mewujudkan mimpi mereka.

Tapi, kehidupan percintaan Lauren sendiri tidaklah seindah khayalan para calon pengantin yang dihadapinya tiap hari. Justru sudah sangat lama Lauren tidak berkencan dan menjalin hubungan dengan laki-laki. Tepatnya, sejak Neil memutuskan untuk pindah ke Washington dan meninggalkan Lauren… hmmm… atau tepatnya, Lauren yang menolak untuk ikut pindah dengan Neil. Kejadian inilah yang menjadi salah satu titik tolak bagi Lauren untuk memulai hidup barunya.

Dan, lahirlah Lauren’s Lucious Licks dengan kue-kuenya yang cantik dan yummy itu. Bukan itu saja, konon, Lauren bisa meramal masa depan dari hubungan calon pengantin dari kue yang mereka pesan. Karena ramal-meramal inilah, Lauren jadi kalang-kabut ketika Paige, sahabatnya, dan Steve sempat tidak menemui kata sepakat ketika memilih kue pengantin. Lauren menganggap ini tanda-tanda bahwa hubungan Paige dan Steve tidak akan langggeng. Bersama Robin, ia merencanakan Operasi Menyelamatkan Paige. Mereka membuat rencana agar Paige berpisah dengan Steve.


Robin sendiri juga punya masalah yang gak kalah rumit. Semenjak ia bercerai dengan Mark, Robin jadi 'feminis'. Robin sering mengadakan seminar yang intinya ingin menunjukkan kalau perempuan juga bisa survive tanpa laki-laki. Robin cenderung sinis memandang sebuah hubungan percintaan. Maka itu, ia mendukung 'perpisahan' Paige dan Steve agar mereka bisa menghindar dari sebuah pernikahan yang hanya akan berakhir pada perceraian.

Masalah lain, adalah ketika Neil tiba-tiba datang ke butik kue Lauren bersama Julie, tunangannnya, dan memesan kue di butik Lauren. Lauren kembali dilanda kenangan akan masa lalunya bersama Neil dan tiba-tiba merasa menyesal karena tidak ikut pindah dengan Neil… apalagi ketika ia tahu, kue yang dipilih Julie dan Neil, adalah kue yang juga akan dipilih Lauren (kalau ia menikah nanti)… tandanya, Lauren dan Neil sebenarnya jodoh kan???

Parahnya lagi, Neil datang ketika Lauren hampir menaruh harapan untuk membuka hubungan baru dengan Charlie, pengacara salah seorang mantan pelanggannya.

Udah lama gak baca chicklit, ternyata buku ini asyik juga. Meskipun gak jauh-jauh dari soal jodoh, tapi, membayangkan kue-kue Lauren yang nyam-nyam itu, bikin membaca buku ini jadi gak biasa.

Read more »

Jumat, 01 Juni 2007

The Edge Chronicles #1 : Beyond the Deepwoods

Judul : The Edge Chronicles # 1 : Beyond The Deepwoods
Penulis : Paul Stewart
Ilustrator : Chris Riddel
Penerjemah : Meithya Rose Prasetya
Penerbit : Penerbit Matahati
Cetakan : Mei, 2007
Tebal : 347 hlm

The Edge Chronicles # 1 : Beyond the Deepwoods adalah novel fantasi berilustrasi karya penulis dan ilustrator Inggris Paul Stewart & Chris Riddel. Kisahnya menceritakan petualangan Twig, seorang anak berusia tiga belas tahun dengan setting sebuah negeri antah berantah yang dinamai The Edge. Sejak bayi Twig diasuh oleh pasangan woodtroll (mahluk mitologi Eropa) – Spelda dan Tumun di depan pondok kediaman mereka di dalam hutan Depwoods. Sebuah hutan dengan wilayah yang gelap, misterius dan sangat berbahaya dimana terdapat mahluk-mahluk buas seperti gyle, goblin, termanant gog, pohon pemakan daging, dan banyak mahluk-mahluk mengerikan lainnya.

Di usianya yang ketiga belas, Twig mulai menyadari bahwa dirinya berbeda dengan lingkungannya yang dihuni para woodtroll. Ketika spelda - ibu angkatnya - menceritakan padanya bagaimana Twig yang masih bayi ditemukan oleh Spelda di depan pondoknya, mulailah Twig tergerak untuk menemukan jati dirinya, siapa orang tua kandungnya, dan darimana ia berasal.

Keunikan Twig diantara lingkungan woodtroll juga menarik perhatian perompak langit yang menginginkannya untuk menjadi awaknya. Untuk mencegah Twig dari incaran Perompak Langit, Spelda dan Tumun menyuruh Twig untuk sementara tinggal bersama sepupu troll-nya yang jauh dari kediamannya sekarang. Berbekal tekad untuk menyingkir dari incaran perompak langit dan berusaha menemukan jati dirinya, Twig memulai petualangannya yang menegangkan. Sebelum berangkat Spelda berpesan agar dalam perjalanannya Twig selalu berada pada jalur wodtrooll agar terhindar dari ancaman mahluk-mahluk buas, terutama mahluk yang paling ditakuti di Edge, yaitu Gloamlozer.

Tanpa disadarinya Twig keluar dari jalur yang harus ditempuhnya. Ia terseret masuk dalam dunia kelam para goblin dan mahluk buas lainnya. Ia bertemu dengan berbagai mahluk buas yang mengancam keselamatannya. Tak hanya bertemu monster yang mengancam jiwanya, petualangannya juga membawanya bertemu dengan seekor banderbear yang akan menjadi sahabatnya, bahkan Twig juga bertemu dengan Sang Perompak Langit yang justru untuk itulah ia berangkat dari kediamannya. Dan yang paling mengerikan adalah pertemuannya Gloamlozer ! Di tengah petualangan menegangkannya ini, Twig juga terus bertanya-tanya siapa sebenarnya dirinya dan dimanakah sebenarnya dia harus berada. Pertanyaan inilah yang memberinya semangat bertahan hidup dari hadangan monster-monster jahat yang kelak akan membawanya pada takdir penemuan jati dirinya.

Berhasilkan Twig menempuh perjalannya menuju kediaman sepupunya sekaligus menemukan jati dirinya ? Rasanya akan menjadi tak menarik jika akhir novel fantasi ini diungkap dalam ulasan ini.

Bagi pecinta novel fantasi, rasanya sayang untuk melewatkan membaca karya ini. Kisahnya ditulis dengan apik. Karena ditujukan bagi pembaca remaja, alur kisahnya cepat dan tak rumit. Petualangan Twig sangat memesona dan sangat imajinatif. Setting ceritanya di sebuah negeri antah berantah -The Edge- saja sudah membuat pembaca terpesona oleh keliaran alam fantasi yang tiada batas.



Setiap bab menghadirkan petualangan dan perjumpaan dengan monster yang berbeda-beda, sehingga hampir semua bab dalam novel ini diberi judul sesuai dengan monster yang harus dihadapi oleh Twig, misalnya skullpelt, bloodoak, koloni gyle goblin, banderbear, dll. Lepas dari ancaman monster di satu bab, petualangan yang tak terduga dengan monster lainnya menanti di bab berikutnya. Tak heran novel ini berpotensi membuat pembacanya enggan melepaskan buku ini sebelum sampai di halaman terakhir.

Bagi mereka yang terbiasa membaca kisah-kisah fantasi Eropa, beberapa nama mahluk mitologi dalam novel ini tak akan asing, seperti troll, goblin, trogg, dll. Namun novel ini menyajikan lebih banyak lagi monster imajinatif yang tak akan pernah kita pikirkan dalam benak kita, sedikitnya lebih dari 10 jenis mahluk imajinatif akan menyeret pembacanya memasuki serunya petualangan Twig dalam menemukan jati dirinya.

Dan yang tak kalah menariknya, novel ini dihiasi oleh leibh dari 100 buah ilustrasi yang kuat dan imajinatif karya Ilustrator buku-buku anak – Cris Riddel. Ilustrasi hitam putih dalam buku ini terkesan tajam dan kuat. Tarikan garis-garisnya bersih dan detail sehingga sangat membantu pembacanya untuk membayangkan bagaimana rupa monster-monster baik yang mengerikan, unik, lucu yang ditemui Twig dalam petualangannya.













Penempatan ilsutrasinyapun dinamis. Kadang ditempatkan di tengah halaman, kadang satu halaman penuh, ada juga yang menghiasi pinggiran halamannya, bahkan beberapa tampak menyeberang diantara dua halaman. Hal ini membuat ilusrasinya tampak bagai suatu kesatuan yang membangun kisah dalam novel ini menjadi nyaris sempurna bagi pecinta fiksi fantasi.

The Edge Chronicles – Beyond The Deepwods pertama kali terbit di Inggris pada tahun 1998. Hingga kini telah terbit sebanyak 9 judul dari 10 judul yang direncanakan. Bisa diabayangkan petualangan imajinatif apa yang akan kita temui di judul-judul selanjutnya.

Walau terjemahan novel ini bisa dikatakan terlambat hampir sepuluh tahun dari karya aslinya (1998), namun pecinta buku fantasi patut bersyukur karena akhirnya novel terjemahannya kini telah hadir untuk menyemarakkan genre novel fantasi remaja terjemahan yang saat ini telah diisi oleh serial Harry Poter - JK Rowling, The Chronicle of Narnia – CS Lewis, The Bartimaeus Trilogy - Jonathan Stroud, dll.

Semoga saja penerbit Matahati memiliki nafas yang panjang untuk konsisten menerbitkan kesembilan judul selanjutnya. Jika akhirnya novel ini mendapat sambutan yang baik dari pembaca tanah air, bukan tak mungkin judul-judulnya selanjutnya akan segera diterbitkan. Yang pasti seperti yang tertera di lembar terakhir novel ini, judul kedua dari seri ini – Stromchaser – akan segera diterbitkan.

Yang mungkin perlu diperbaiki oleh Penerbit Matahati adalah desain covernya. Cover edisi terjemahannya jauh kalah menarik dibandingkan dengan cover aslinya. Padahal cover novel kisah fantasi remaja haruslah dibuat semenarik dan seimajinatif mungkin agar menarik minat pembacanya. Sungguh sayang jika novel dengan ilustasi menarik di halaman dalamnya tidak diimbangi dengan keindahan cover bukunya.

Terlepas dari masalah cover, novel berilustrasi ini juga tampaknya bisa menarik perhatian bagi mereka yang tadinya tidak suka membaca. Bukan tak mungkin mereka yang tadinya tidak suka membaca, begitu melihat banyaknya ilustrasi-ilustrasi imajinatif dalam novel ini menjadi tertarik untuk membacanya.

Dan yang pasti, seperti endorsement dari Publisher Weekly yang tertera dalam cover depan buku ini ; “Buku ini novel ini akan membuat orang dewasa dan anak-anak terpesona”.

Berlebihankah pujian tersebut, mari kita buktikan….!

@h_tanzil

Read more »

Minggu, 27 Mei 2007

The White Castle


Judul : The White Castle
Penulis : Orhan Pamuk
Penerjemah : Fahmi Yamani
Penyerasi : Sofia Mansoor
Penerbit : PT. Serambi Ilmu Semesta
Cetakan : I, April 2007
Tebal : 297 hlm

The White Castle adalah novel historis karya peraih nobel sastra 2006 – Orhan Pamuk yang berutur mengenai jati diri, pertentangan dan persahabatan antara seorang budak Italia dengan seorang cendekiawan Ottoman di abad ke 17.

Kisah yang ditulis menurut sudut pandang pemuda Italia terpelajar sebagai narator (namanya tak pernah disebutkan hingga akhir) dalam kisah ini, diawali ketika ia sedang berlayar dari Venesia menuju Napoli. Di tengah perjalanan, kapalnya berpapasan dengan armada perompak Turki sehingga dirinya ditangkap dan dibawa ke Istanbul sebagai tawanan. Karena keahliannya dalam berbagai hal, termasuk mampu mengobati tawanan lainnya, ia mendapat perlakuan istimewa dibanding tahanan lainnya.

Kabar tentang keahliannya menyembuhkan penyakit sampai ke telinga seorang Pasha yang meminta dirinya untuk menyembuhkan sang Pasha yang sedang sakit. Si pemuda Italia berhasil menyembuhkan sang Pasha, namun ia tetap seorang tawanan dan tinggal dalam penjara.

Suatu saat si pemuda Italia kembali dipanggil ke Istana Pasha. Ia dipertemukan dengan seseorang yang biasa dipanggil oleh Pasha sebagai “Hoja” yang berarti “guru”. Begitu terkejutnya si pemuda Italia karena orang yang dipangil Hoja itu sangat mirip dengan dirinya.

Karena Pasha mendapat kabar bahwa si pemuda Italia adalah seorang cendekiawan yang mahir akan berbagai ilmu pengetahuan, ia ditugasi untuk membantu Hoja mempersiapkan pertunjukan kembang api yang megah untuk perayaan pernikahan Pasha. Setelah akhirnya pertunjukkan itu sukses si pemuda Italia kembali dimasukkan kedalam sel penjara.

Beberapa hari kemudian si pemuda Italia kembali dipanggil oleh Pasha ke istananya. Pasha menawarkan pilihan hukuman mati atau kebebasan baginya asal ia bersedia menjadi seorang Muslim. Namun ia tak bersedia mengubah kepercayaannya walau harus mempertaruhkan kepalanya dihadapan algojo. Walau si pemuda Italia tetap tak bersedia menjadi seorang Mulsim, sang Pasha tak jadi menghukumnya, melainkan memberikannya pada Hoja untuk dijadikan seorang budak

Sebagai budaknya, Hoja, sang cendekiawan Ottoman yang haus akan pengetahuan Barat, memerintahkan budaknya (pemuda Italia) untuk menurunkan segala pengetahuannya padanya. Dan mulailah si budak mengajarkan semua kepandaiannya dalam hal astronomi, kedokteran, teknik dll. Hoja menguras semua pengetahuan dan pengalaman hidup si budak. Lambat laun Hoja dan budaknya melakukan penelitian bersama-sama, menemukan bersama-sama, dan mengembangkan diri bersama-sama.

Kebersamaan antara Hoja dan budaknya semakin intens, hingga akhirnya suatu pertanyaan filosofis keluar dari mulut Hoja. “Kenapa aku seperti ini?” Dari pertanyaan ini akhirnya mereka saling menulis tentang diri mereka sendiri termasuk dosa-dosa yang pernah mereka lakukan dalam hidup mereka. Dengan menulis tentang diri mereka masing-masing, mereka meyakini bahwa mereka bisa menemukan jati diri mereka yang sejati.

Dilain pihak, kepandaian Hoja dan budaknya tak luput dari perhatian Sultan. Hoja diangkat menjadi peramal Istana. Dan mereka berdua diharuskan mengarang cerita ajaib, menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan sains, astronomi, astologi, menafsirkan mimpi Sultan, memerangi wabah mematikan, hingga merancang sebuah senjata mematikan untuk menaklukan musuh. di Istana Putih.

Keterikatan antara Hoja dan budaknya semakin lekat, mereka saling berbagi kepandaian dan pengalaman hidup. Lambat laun mereka menjadi bingung akan jati diri mereka karena masing-masing memposisikan dirinya dengan ‘kembaran’ mereka hingga tertukarnya jati diri mereka. Hoja seolah menjadi si budak, si budak seolah menjadi Hoja. Puncak pertukarannya adalah ketika ternyata senjata yang mereka buat gagal menaklukan Istana Putih dan Hoja (atau si budak ?) pergi meninggalkan Turki.

The White Castle (Beyaz Kale) adalah novel hisoris yang merupakan novel ketiga Orhan Pamuk yang diterbitkan pada tahun 1985 dan merupakan karya pertama Pamuk yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Karya inilah yang menjadi awal ia bereksperimen dengan teknik postmodern, berubah total dari gaya naturalis di awal karyanya. Pada tahun 1990 novel ini diterjemahkan dengan sangat baik oleh Victoria Holbrrok sehingga banyak orang menyangka bahwa karya Pamuk ini memang aslinya ditulis dalam bahasa Inggris. Novel ini memenangi Hadiah Independen untuk Fiksi Asing pada 1990 di Inggris. Dalam edisi bahasa Indonesia, novel ini merupakan karya Pamuk kedua yang diterjemahkan oleh Penerbit Serambi, setelah sebelumnya menerbitkan My Name is Red (2006), dan kabarnya beberapa karya Pamuk lainnya termasuk yang paling anyar “Snow” kini sedang dipersiapkan untuk diterbitkan.

Seperti yang menjadi ciri khas karya-karya Pamuk, The White Castle juga masih berkisar dengan tema kegamanangan atau hilangnya identitas yang antara lain diakibatkan oleh benturan antara nilai-nilai Barat dan Timur. Hal ini tampak pada tokoh Hoja dimana Hoja tampak begitu mengagumi pengetahuan dan budaya barat hingga ingin menguras habis semua ilmu yang ada di kepala budaknya (pemuda Italia).

The White Castle memang bukan karya yang mudah untuk dicerna. Walau setting ceritanya menarik dan penokohan tokohnya kuat, namun novel yang minim dialog ini bias dibilang rumit karena sepanjang kisahnya mengupas soal kebingungan dan pertukaran jati diri antara tokoh Hoja dan budaknya. Bagi sebagian pembaca, pertukaran jati diri di sepanjang kisah yang diungkapkan secara unik ini mungkin saja menjadi bagian yang menarik, namun bagi pembaca yang kurang sabar untuk mencernanya bukan tak mungkin akan menemui kebingungan dalam memaknai novel ini.

Namun yang pasti novel ini tampaknya membuat kita melakukan perenungan diri akan makna jati diri. Secara tidak disadari kita sering ingin menjadi orang lain, terlebih orang yang kita kagumi baik secara intelektual maupun secara pribadi. Namun pertanyaannya apakah menjalani kehidupan sebagai orang lain memang bisa membuat kita bahagia ?

@h_tanzil
Read more »

Kamis, 24 Mei 2007

The Bartimaeus Trilogy # 1: The Amulet of Samarkand

The Bartimaeus Trilogy # 1: The Amulet of Samarkand (Amulet Samarkand)
Jonathan Stroud
Poppy Damayanti Chusfani (Terj.)
GPU, Mei 2007
512 Hal.

Seorang anak yang berpotensi jadi penyihir, jika ia sudah cukup umur, maka keluarganya akan menyerahkan anak itu untuk diasuh oleh seorang penyihir senior atau yang akan disebut ‘Master’. Tapi, sejak anak itu diserahkan oleh keluarganya, maka hubungan dengan keluarga lamanya akan sama sekali terputus, bahkan ia harus melupakan nama lahirnya dan akan diberikan nama baru. Hal ini untuk menghindari terjadinya konflik-konflik yang dapat melemahkan si penyihir yang mungkin akan dimanfaatkan oleh para musuhnya.

Di usia yang baru 6 tahun, Nathaniel harus berpisah dengan orang tuanya yang tidak peduli dan langsung pergi setelah mengantarkan Nathaniel. Nathaniel pun diasuh oleh seorang penyihir yang bekerja di pemerintahan sebagai menteri, bernama Mr. Underwood. Nathaniel yang membisu seribu bahasa dalam perjalanan ke rumah Mr. Underwood, tersentuh oleh perhatian Mrs. Underwood pada dirinya dan membuatnya sangat menyayangi Mrs. Underwood.

Pendidikan sebagai penyihir berlangsung secara bertahap. Tapi, Mr. Underwood selalu bersikap meremehkan Nathaniel dan tidak menyadari bakat terpendam Nathaniel. Sebagai anak-anak, terkadang Nathaniel bersikap tidak sabar dengan pelajaran yang berjalan lamban.

Suatu hari, ketika Nathaniel berusia 10 tahun, ketika ada sebuah acara di rumah Mr. Underwood, Nathaniel diajak untuk bergabung. Sebagai penyihir pemula, ia tidak seharusnya ikut campur atas apa yang terjadi di dalam ruangan itu. Semua penyihir dalam ruangan itu hanya menganggap dirinya sebelah mata. Dalam keadaan terdesak, Nathaniel mengeluarkan kemampuan yang bisa dibilang cukup istimewa untuk seorang penyihir pemula. Namun, tentu saja kemampuannya belum sebanding dengan kemampuan yang dimiliki penyhiri senior, yang salah satunya bernama Simon Lovelace. Simon Lovelace mempermalukannya di depan umum, dan masternya, Mr. Underwood, tidak melakukan apa pun untuk membelanya.

Sejak saat itu, Nathaniel menaruh dendam pada Simon Lovelace dan berniat akan membalas perbuatannya. Diam-diam, Nathaniel mempelajari semua buku yang ada di perpustakaan Mr. Underwood. Hingga saat yang tepat tiba, Nathaniel pun memanggil jin yang sudah berusia lebih dari 5000 tahun, sebuah pemanggilan yang jauh melebihi kemampuan penyihir seusianya.

Jin itu bernama Bartimaeus, yang diberi tugas oleh Nathaniel untuk mencuri Amulet Samarkand dari tangan Simon Lovelace. Amulet Samarkand adalah sebuah bandul yang dapat menyerap semua kekuatan yang bisa menghindarkan si pemakainya dari berbagai bahaya dan serangan.

An amulet (from Latin amuletum; earliest extant use in Natural History [Pliny], meaning "an object that protects a person from trouble") or a talisman (from Arabic tilasm, ultimately from Greek telesma or from the Greek word "talein" which means "to initiate into the mysteries.") consists of any object intended to bring good luck and/or protection to its owner. Potential amulets include: gems or simple stones, statues, coins, drawings, pendants, rings, plants, animals, etc.; even words said in certain occasions—for example: vade retro satana—(Latin, "go back, Satan"), to repel evil or bad luck.

http://en.wikipedia.org/wiki/Amulet

Simon Lovelace sendiri mencuri Amulet Samarkand dari pemilik sebelumnya dengan tujuan untuk dipergunakannya dalam menggulingkan pemerintahan saat ini. Ia berambisi untuk menjadi Perdana Menteri dan sedang menyiapkan rencana besar untuk mewujudkan impiannya.

Tugas ini sangat berbahaya dan menyeret Nathaniel dan Bartimaeus ke dalam sebuah masalah yang besar. Meskipun pada awalnya tidak ada yang mencurigai bahwa Nathaniel-lah yang menjadi otak pencurian itu. Kecurigaan mengarah pada sebuah kelompok pemberontak yang disebut Resistance.

Bartimaeus harus menempuh perjalanan yang berbahaya untuk mengantarkan Amulet Samarkand kepada Nathaniel. Dan, ia pun sempat tertangkap dan bertemu dengan musuh-musuh lamanya.

Lain halnya dengan Nathaniel, perbuatan nekadnya ini membuatnya kehilangan masternya. Ia pun harus menghadapi berbagai ancaman yang bisa saja melenyapkan nyawanya.

Paling asyik adalah kalo baca ‘perjalanan’nya si Bartimaeus. Kaya’nya jin ini cerewet banget, kadang sombong, kadang gengsi, kadang sok pinter, suka ngelawan, tapi terpaksa nurut sama Nathaniel, kalo nggak dia bakalan terperangkap di dalam sebuah kotak di dasar sungai Thames.

Sementara itu, Nathaniel, jenis anak yang serius, kaya’nya hampir gak pernah dia ceria atau senyum. Jenis anak yang dikira biasa-biasa aja, tapi ternyata menyimpan potensi yang besar.
Read more »

Jumat, 18 Mei 2007

Tiga Sekawan Wright (The Wright 3)

Tiga Sekawan Wright (The Wright 3)
Blue Balliet
Brett Helquist (Ilustrasi)
Edrijani (Terj.)
Qanita, Cet. I – Maret 2007
356 Hal.

Sebuah rumah bersejarah terancam akan dihancurkan. Robie House nama rumah itu. Dibangun oleh Frank Llyod Wright. Dewan Kota berecana akan merubuhkan rumah itu, karena sudah tidak ada dana lagi untuk merawat, apalagi merenovasi rumah itu. Padahal Robie House merupakan sebuah karya seni yang hebat, yang menyimpan banyak simbol misterius.

Miss Hussey, guru Petra, Calder dan Tommy, adalah salah satu yang tidak mendukung perubuhan rumah itu. Ia mengorganisir sebuah demonstrasi yang pesertanya adalah murid-murid kelasnya untuk menunjukkan ketidaksetujuan mereka atas rencana itu.

Petra dan Calder, beserta Tommy Segovia – kawan lama Calder, berusaha menyelidiki misteri di balik Robie House. Tommy, yang sempat cemburu dengan kedekatan Calder dengan Petra, menemukan sebuah ikan batu giok ketika sedang menggali di halaman Robie House. Ikan batu giok itu diduga memiliki nilai tinggi yang jika dijual bisa membantu renovasi dan perawatan Robie House.

Tapi, rupanya ada yang tidak setuju dengan rencana mereka. Robie House yang dikabarkan kosong itu, ternyata sering terlihat ada orang yang mondar-mandir di dalamnya, dan mengintip dari balik jendela. Apakah rumah itu berhantu? Atau itu hanya perbuatan orang-orang yang ingin menghambat usaha mereka?

Yang pasti akibat terlibat dalam kasus ini, Tommy pun akhirnya mau menerima Petra sebagai temannya dan menamakan kelompok mereka sebagai The Wright 3 atau Tiga Sekawan Wright.

Satu yang menarik dari buku ini, adalah sebuah simbol yang digunakan Petra untuk menulis di dalam buku catatannya agar temuan mereka tidak bisa dimengerti orang lain. Simbol ini menggunakan deret Fibonacci yang memang ternyata membingungkan. Selain itu, Calder masih tetap setiap bermain-main dengan Pentomino-nya. Tiga Sekawan Wright sendiri punya kode rahasia yang hanya dimengerti oleh mereka bertiga.

(Fiuhhhh… akhirnya selesai juga baca buku ini. Sempat membosankan… karena mungkin gue belum ‘akrab’ dengan tokoh-tokohnya. Atau emang ceritanya yang lambat ya?)
Read more »

Kota Tanpa Kelamin

Judul : Kota Tanpa Kelamin
Penulis : Lan Fang
Penyunting : A.S. Laksana
Penerbit : Mediakita
Cetakan : I, 2007
Tebal : 148 hal

Lan Fang, perempuan pemuja mandi yang suka bangun siang ini termasuk pengarang yang produktif. Mungkin mandi dan bangun siang berpengaruh pada derasnya proses kreatif menulisnya yang terus mengalir tanpa henti. Lihat saja, sejak tahun 1986 hingga kini cerpen-cerpennya mengalir dan dimuat di sejumlah koran dan majalah. Pada tahun 2003 lahirlah novel pertamanya Reinkarnasi (Gramedia, 2003). Semenjak kelahiran buku pertamanya, karya-karya berikutnya seolah tak terbendung untuk diterbitkan, Pai Yin (Gramedia,2004), Kembang Gunung Purei (Gramedia,2005), Laki-laki yang Salah (Gramedia, 2006), Perempuan Kembang Jepun (Gramedia,2006), Yang Liu (Bentang, 2006). Dan yang teranyar adalah kumpulan cerpen Kota Tanpa Kelamin (Mediakita,2007).

Kota Tanpa Kelamin, merupakan kumpulan cerpen yang berisi 12 cerpen yang memiliki keragaman tema baik yang realis maupun yang surealis. Cerpen Kota Kelamin Itu Kosong yang dijadikan judul buku ini merupakan cerpen surealis. Kisahnya menceritakan tokoh Lan Fang, seorang penulis yang berada di sebuah tempat yang aneh ;

Ia berada di sebuah tempat di mana aku banyak sekali berpapasan dengan penis, vagina, tetek, pentil, selangkangan. Mereka semua hilir mudik, lalu lalang, mondar-mandir dengan bentuknya yang beragam. Ada penis yang tertunduk malu-malu, mencuat marah, tegang, lalu muntah-muntah…..(hal 136)

Di tempat tersebut Lan Fang bertemu dengan pengarang Hudan yang memberitahunya bahwa ia berada di Kota Kelamin. Lalu terjadilah dialog filosofis soal kekosongan antara Lan Fang dengan Hudan ;

“Bukankah kosong justru memberimu ruang lebih lama untuk mengontrol kekosonganmu. : (hal 138)

kekecewaan dan pertanyaannya pada Tuhan ;

Oh! Apakah Tuhan begitu arogan? Dia hanya bersemayam di dalam masjid, gereja, pura, vihara, kelenteng, mushola, dan Dia tidak mau menoleh kepadaku yang sedang dalam keadaan sekarat terkapar di jalan yang basah karena hujan meleleh dari tingkap-tingkap langit. (hal 142)

Dan hubungan antara kekosongan dengan Tuhan ;

Aku tidak mau kekosongan itu berkuasa atas diriku. Kosong bukan Tuhan. Tetapi Tuhan ada di dalam kosong. Aku harus mencari-Nya. Lalu aku menggeliat dan membentuk, mengisi kosong itu. Aku mencari Yang Maha.(hal 146)

Cerpen yang terinspirasi oleh karya Hudan Hidayat (Tuan dan Nyonya Kosong) ini memang bukan cerpen yang mudah dicerna karena sarat dengan dialog-dialog filosofis. Klimak di cerpen ini adalah puncak kebingungan ketika seseorang menemui kejenuhan dan kekosongan yang sempurna. Setelah lama terlarut di kota kelamin, ternyata hanya “kekosongan” yang didapat.

Selain cerpen di atas , ada juga cerpen yang terinspirasi oleh karya pengarang lain. Yaitu cerpen “Saya Bukan Olenka” yang mengingatkan orang pada tokoh Olenka dan Fanton Drummond. Cerpen ini mengisahkan tokoh ‘saya’ yang terobsesi dengan Panton.

Saya ingin seperti Olenka yang bisa begitu saja meninggalkan Fanton Drumond sehabis menciumi, menggigit, dan menghisap seluruh darah di tubuhnya. (hal 104)

Karena obsesinya ini, tokoh dalam cerpen ini akhirnya hidup dalam situasi yang serba kalut karena Panton ternyata mengambil semangat hidupnya.

Masih banyak kisah-kisah lain dalam buku ini. Walau didominasi oleh kisah-kisah cinta dimana biasanya tokoh prianya digambarkan sebagai tokoh yang tidak setia, ada juga kisah yang unik seperti Si Otong dan Putri Bulan yang mengambil sudut pandang seeokor anjing, atau cerpen Anak anjing Berkepala Kambing yang memiliki ending yang menghentak dan mengejutkan.

Masih menjadi ciri khas Lan Fang, keseluruhan cerpen-cerpennya ditulis dengan tuturan yang beragam , kadang terkesan puitis, seperti yang terdapat dalam cerpen “Pantat”

“Delapan mulut menganga di dalam sebuah petak reyot dari bambu di pnggir jalan yang setiap saat bisa digusur. Delapan mulut dahaga menunggu air tetes air jemariku yang kasar menerima jatah cuci dari rumah ke rumah. Delapan hati memendam berbagai rasa yang tidak terurai dari delapan pasang mata yang tidak pernah punya mimpi tentang hari esok, karena setiap hari yang dilihat dan dirasakan hanyalah kemiskinan (hal 94)

pada cerpen “Saya Bukan Olenka” mengumbar kemarahan yang meledak-ledak,

Saya jengkel dan ingin meninju hidung Panton. Dengan sekali tinju saja pastilah hidungnya remuk. Saya juga ingin mengobok-ngobok mulutnya yang selalu berbicara besar, lalu menarik lidahnya keluar dari rongga mulut itu, (hal 104)

Selain itu, banyak metafora-metafora yang digunakan untuk menggiring pembaca masuk dalam emosi cerita, seperti yang terungkap dalam cerpen “Ampas”

Aku membutuhkan dia di dekatku pagi sampai malam sampai pagi lagi seperti Fanton Drummond membutuhkan Olenka. Bukan sekedar menjadikan tubuhnya seperti sebuah peta yang kugelar di mana saja dan kutelusuri setiap lekuk ceruk bukit, ngarai, lembah, dan rel kereta api atau sekedar bermain seluncur. Tapi Ia benar-benar peta hidupku. Aku membutuhkan isi kepala dan hatinya, sebagai peta semangatku.
(hal 25).

Sebagian besar cerpen-cerpennya memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi, buka tak mungkin buku ini akan habis terbaca dalam sekali duduk. Hanya saja yang mungkin membuat pembaca agak tersendat adalah cerpen-cerpen yang surealis seperti : cerpen Kota Kelamin Itu Kosong, Si Otong dan Putri bulan, dll dimana jika pembaca gagal mengartikannya, maka cerpen-cerpen itu hanya sekedar rangkaian kalimat yang berisi kisah aneh tanpa makna.

Dari segala apa yang ada dalam buku ini, ada beberapa ‘keunikan’ yang tidak biasa kita jumpai dalam buku-buku kumpulan cerpen, yaitu :

- Tidak adanya daftar isi. Tentu saja hal ini menyulitkan pembaca jika ingin membaca ulang cerpen-cerpen pilihannya
- Tidak adanya jejak cerpen. Biasanya cerpen-cerpen yang dibukukan pernah dipublikasikan di berbagai media cetak. Apakah seluruh cerpen dalam buku ini belum pernah dipublikasikan ? Setahu saya cerpen Anak Anjing berkepala Kambing pernah dimuat di Koran PR beberapa bulan yang lalu.
- Biasanya yang dijadikan judul buku kumpulan cerpen adalah judul salah satu cerpen yang ada dalam buku tersebut. Pada buku ini, judul cerpen yang dijadikan judul buku berubah dari “Kota Kelamin Itu Kosong” menjadi “Kota Tanpa Kelamin”

Apakah beberapa keunikan tadi memang disengaja ?
Namun dari segala kisah-kisah yang tersaji dan keunikan penyajikan buku ini, cerpen-cerpen Lan Fang dalam buku ini yang dieditori oleh A.S Laksana tetap menarik dan enak untuk dinikmati sambil menyeruput secangkir teh hangat di sore hari.

@h_tanzil
Read more »

Rabu, 16 Mei 2007

The Magdalen

The Magdalen
Prisoner of God: Neraka di Rumah Tuhan
Marita Conlon-McKenna
Retno Wulandari (Terj.)
Dastan Books, Cet. I – Maret 2007
536 Hal.

1944, Perang Dunia II tengah berkecamuk. Warga Irlandia berharap, pemerintah mereka tidak memutuskan untuk bergabung dengan sekutu dalam perang itu. Dan doa mereka terkabul. Di sebuah daerah bernama Connamara, tepatnya di desa Carraig Beag, seorang gadis bernama Esther Doyle tengah berjuang membantu persalinan ibunya, melahirkan anak yang ketujuh. Perjuangan yang luar biasa bagi Majella di usianya yang sudah kepala empat. Bayi perempuan itu lahir dengan kondisi yang tidak sesehat kakak-kakaknya. Bayi itu dipanggil Nonnie.

Esther tumbuh jadi gadis yang cantik. Ia terpaksa berhenti dari sekolah karena ayahnya meminta ia membantu ibunya merawat Nonnie yang memang membutuhkan perhatian ekstra, dan juga membantu segala urusan rumah tangga lain sementara saudara-saudara laki-laki dan ayahnya pergi melaut mencari ikan.

Badai dalam keluarga Doyle datang ketika ayah mereka ditemukan meninggal setelah menghilang beberapa hari saat sedang melaut di tengah cuaca yang tidak bersahabat. Tanggung jawab pun beralih ke kakak tertua, Gerard.

Di masa remajanya, seperti yang lainnya, Esther kerap datang ke acara pesta dansa yang diadakan di bar setempat. Di sebuah pesta dansa, Esther berkenalan dengan seorang pemuda pendatang yang bekerja di peternakan tetanggganya. Esther tidak bisa menolak pesona Conor dan ia pun menyerahkan dirinya pada pemuda itu.

Bencana datang lagi. Kali ini, Nonnie kecil mereka yang jadi korban. Majella menyalahkan Esther atas peristiwa ini karena menganggap Esther lalai menjaga Nonnie yang menjadi tanggung jawabnya. Belum habis rasa bersalah Esther akibat kejadian itu, ia mendapati dirinya hamil tapi harus menyimpannya sendiri karena Conor tidak mau bertanggung jawab.

Tapi, kehamilan itu tidak dapat disembunyikan terlalu lama. Akhirnya Majella pun mengetahuinya dan mengutuk puterinya karena sudah membawa aib bagi keluarga Doyle.

Tanpa punya pilihan lain, Esther terpaksa menyetujui usul bibinya untuk bersembunyi sementara di sebuah biara, yang disebut pusat rehabilitasi bagi para pendosa. Tempat itu dikenal dengan nama Magdalen Laundry. Nama tempat itu diambil dari nama Maria Magdalena.

Magdalen Laundry dikelola oleh beberapa biarawati. Tempat itu bagaikan penjara atau bahkan lebih buruk. Tidak ada yang namanya kasih sayang di tempat ini. Semua perempuan yang senasib dengan Esther diharuskan bekerja di binatu seharian, diberi makan seadanya, bahkan terkadang mereka harus mengais-ngais tong sampah untuk mencari makanan. Mereka bekerja tanpa diberi upah. Tidak ada tempat bagi mereka untuk melupakan dosa yang telah mereka perbuat. Sikap para biarawati sama sekali tidak bersahabat. Belum cukup dengan perlakuan buruk yang mereka terima, bayi-bayi ‘haram’ yang lahir dari rahim mereka ‘direnggut’ dari ibunya dan diserahkan ke panti asuhan untuk diadopsi.

Di tengah kerinduan pada keluarga yang sudah ‘membuang’nya dan dalam keadaan hamil, Esther berusaha menerima keadaannya yang baru dan menjadikan penghuni Magdalen Laundry sebagai keluarganya yang baru.

Kisah ini diangkat dari sebuah kejadian nyata. Di mana, sejak abad pertengahan abad ke-19 sampai tahun 1996, di Irlandia memang banyak terdapat pusat rehabilitasi untuk para perempuan yang terbuang dari keluarganya. Magdalen Laundry terakhir ditutup pada tanggal 25 September 1996.
Read more »

Minggu, 13 Mei 2007

Lola Rose

Lola Rose
Jacqueline Wilson
Poppy Damayanti Chusfani (Terj.)
GPU, April 2007
304 Hal.

Karena tidak tahan dengan perlakuan Dad yang suka berkata kasar dan ringan tangan, Mum memutuskan untuk melarikan diri dari rumah. Dengan berbekal uang lotere yang baru saja dimenangkannya, Mum mengajak Jayni dan Kenny untuk pergi bersamanya. Mereka pergi menuju kota London dan menginap di sebuah hotel mewah. Tentu saja, mereka tidak khawatir, uang Mum kan banyak. Bukan hanya itu, agar tidak bisa dilacak oleh Dad, mereka berganti nama. Mum yang bernama Nikki menjadi Victoria Luck; Jayni jadi Lola Rose dan Kenny menjadi Kendall.

Tapi, makin lama, karena gaya hidup mereka yang mewah dan tidak terkontrol, uang lotere Mum dengan cepat berkurang. Jayni, meskipun masih kecil, sikapnya sangat dewasa. Ia memaksa Mum untuk segera keluar dan hotel itu dan mencari perumahan yang sederhana.

Setelah menemukan tempat tinggal baru, Mum mendapatkan pekerjaan sebagai pelayan di bar, Lola Rose dan Kendall masuk ke sekolah baru. Kehidupan baru mereka terkadang berjalan lancar, tapi kadang kacau-balau. Ditambah lagi sikap Mum yang terkadang terlalu cuek. Bahkan seolah Lola Rose-lah yang sebenarnya bertanggung jawab atas keluarga itu. Ia yang harus memperingatkan Mum untuk tidak lagi main mata dengan laki-laki lain, ia yang harus mengurus Kendall jika ia sedih.

Kehidupan mereka, selain masalah-masalah di atas, terbilang cukup baik. Mereka berhasil bersembunyi dari Dad. Tapi, ada masalah baru lagi. Bukan hanya karena Mum yang berhasil menggaet cowok baru yang masih sangat muda, tapi ternyata Mum menderita penyakit yang mengerikan. Mum harus masuk rumah sakit, sementara itu Lola Rose dan Kendall terpaksa tinggal di rumah berdua.

Suatu hari, karena tidak punya uang lagi, Lola Rose menghubungi Bibi Barbara, satu-satunya keluarga Mum yang ia kenal. Untung Bibi Barbara sangat baik, ia menjaga mereka Lola Rose dan Kendall sementara Mum di rumah sakit.

Tapi, sampai kapan mereka bisa bersembunyi dari Dad?

Gak nyangka novel anak-anak bisa sedemikan ‘dewasa’. Isi buku ini, bukan bercerita tentang anak yang selalu happy, tapi cerita gimana Lola Rose berjuang mengurus Mum dan Kendall yang kadang kacau. Apalagi waktu Lola Rose dipukul Dad… aduh… dia bisa nahan perasaan dan dewasa banget.

Satu lagi yang gue suka dari Lola Rose… anaknya kreatif. Asyik deh, ngebayangin kalo Lola Rose lagi bikin kolase di buku hariannya. Mungkin ‘hasil karya’ Lola Rose bisa dilihat ilustrasi setiap awal bab.

Read more »

Jumat, 11 Mei 2007

Arthur dan Suku Minimoy

Judul : Arthur dan Suku Minimoy
Judul asli : Arthur and The Minimoys
Penulis : Luc Besson
Penerjemah : Mutia Dharma
Penyunting : Maria Masniari Lubis
Proofreader : Herlina Sitorus
Penerbit : Qanita
Cetakan : I, Januari 2007
Tebal : 259 hal

Sebenarnya buku Arthur dan Suku Minimoy pemberian qanita ini sudah saya terima pada bulan Februari yang lalu. Namun baru minggu ini buku tersebut terbaca. Saat menerimanya memang saya kurang begitu antusias terhadap buku ini. Cover bukunya yang didominasi warna biru dan menggambarkan dua mahluk minimoy tak membuat saya tertarik untuk membacanya meskipun di covernya terdapat juga keterangan bahwa buku ini telah difilmkan dengan Madonna sebagai pengisi suaranya.

Ketertarikan saya terhadap buku ini timbul ketika menyaksikan preview film Arthur and The Minimoys yang diputar di Blitzmegaplex ketika saya menonton Mr Bean-Holiday bersama keluarga. Saat itu saya ingat kalau saya punya bukunya !

Kisah Arthur dan Suku Minimoy dibuat oleh sutradara dan produser kondang asal Perancis Luc Beason yang pernah membuat film The Fifth Elemen, La Femme Nikita, Joan of Arc, dll.

Di novel fantasinya ini, Besson mengisahkan seorang anak, Arthur, berusia 10 tahun yang cerdas dan kreatif. Sementara kedua orang tuanya bekerja di kota lain, Arthur tinggal bersama neneknya di sebuah kota kecil. Prof. Archibald, kakeknya yang seorang peneliti dikisahkan telah menghilang selama 4 tahun lamanya.

Dalam kesehariannya Arthur kerap berada di ruang kerja kakeknya yang berisi buku-buku, patung-patung, topeng dan artefak-artefak lain yang diperoleh Archibald selama berpetualang ke Afika. Sebelum tidur, Arthur selalu didongengi oleh neneknya. Suatu malam Arthur memilih sendiri untuk didongengi dari sebuah buku yang diambil dari ruang kerja kakeknya. Buku tersebut menarik perhatiannya karena dari letaknya seolah kakeknya sengaja menyembunyikan buku tersebut dibelakang buku lain.

Dari buku yang juga dihiasi oleh gambar-gambar itu, Arthur diceritakan kisah tentang suku Bogo-Matassalai dimana kakeknya pernah menjalin persahabatan dengan suku tersebut. Suku Bogo-Matassalai memiliki tinggi rata-rata dua meter. Selama berabad-abad mereka mencari ‘saudara-alam’ yang akan memberi keseimbangan pada hidup mereka. Setelah mencari selama tiga ratus tahun akhirnya mereka menemukan suku saudara alamnya . Suku ini disebut Minimoy yang tinginya tidak sampai dua sentimeter! Dengan perbedaan yang sangat ekstrim kedua suku itu akhirnya hidup berdampingan dan saling tolong menolong.

Archibald, kakek Arthur adalah anggota kehormatan suku Bogo-Matassalai dan Minimoy, ia banyak membantu kedua suku tersebut dengan membangun sumur2, sistem irigasi, bendungan, dll. Sebagai ungkapan terima kasih, Archibald diberi sekantung penuh batu ruby, yang ukurannya terus membesar. Batu ini kemudian disembunyikan olehnya dan hingga hilangnya Archibald, harta karun itu tak pernah diketahui oleh siapapun termasuk oleh istrinya (nenek Arthur)

Suatu saat nenek Arthur kesulitan membayar hutang pada Davido, ia diberi waktu selama tiga hari untuk melunasi hutang-hutangnya jika tidak ingin rumahnya diambil alih oleh Davido.

Arthur berniat membantu neneknya agar mereka tak kehilangan rumahnya. Ia teringat akan harta karun yang pernah diceritakan neneknya. Singkat cerita, Arthur menemukan peta harta karun milik kakeknya yang menunjukkan bahwa batu ruby itu berada di dunia Minimoy yang ternyata berada di pekarangan rumahnya. Dan iapun menduga kalau kakeknya saat ini terperangkap di dunia Mimimoy.

Berkat petunjuk peta harta karun tersebut, Arthur berhasil masuk kedunia Minimoy. Petualangan dimulai, Arthur disambut dengan baik di dunia minimoy. Raja Minimoy mengungkapkan bahwa Archibald pergi ke kota terlarang yang dikuasai oleh penyihir M (Matlazrd) dan semenjak itu tak pernah kembali. Arthur bertekad membebaskan kakeknya. Ia ditemani oleh Putri Selena dan pangeran Betameche.

Kisah Arthur dan Suku Minimoy ditulis dengan sangat menarik. Luc Besson rupanya penulis yang sangat imajinatif, apa yang tampaknya sederhana di dunia manusia menjadi hal yang menarik ketika berada di dunia mini minimoy, seperti nyamuk yang dijadikan pesawat tempur, piringan hitam yang dijadikan lantai dansa, penyiram kebun otomatis yang dijadikan alat transportasi, kelopak bunga sebagai tempat tidur, dll.

Di novel ini, pembaca akan diajak berpetualang di dunia ajaib minimoy. Serunya peperangan antara pasukan M dengan Arthur dkk merupakan bagian yang paling seru dalam buku ini. Selain itu dengan jeli Besson mengungkap beberapa kegiatan yang dilakukan manusia sehari-hari ternyata membawa dampak yang merusak terhadap kehidupan suku Minimoy, hal ini membuat kita tersenyum pahit karena tak terbayangkan akan separah itu akibat kita merusak lingkungan.

Karakter-karakternya tokohnya juga menarik. Tokoh Arthur dan pedangnya mengingatkan kita akan legenda King Arthur dengan pedang Exalibur-nya yang tertancap di batu yang hanya bisa dicabut oleh orang yang berhati murni.
Tokoh penyihir M yang namanya dilarang disebut dan menimbulkan kengerian dan malapetaka bagi yang menyebutnya mengingatkan kita akan tokoh voldemort dalam seri Hary Poter.

Selain cerita yang menarik, berbagai pesan tersembunyi juga terdapat dalam novel ini. Misalnya soal keseimbangan hidup antara suku Minimoy dengan Suku Bogo-Matasalai, dimana perbedaan yang ekstrim justru membuat mereka saling membantu. Soal ketulusan hati untuk menjadi pemimpin dan nilai-nilai kepahlawanan dan persahabatan juga akan terungkap di novel ini.

Namun serunya petualangan Arthur harus terhenti sebelum kita mengetahui berhasil tidaknya misi Arthur untuk membebaskan kakeknya karena kisahnya berlanjut ke buku berikutnya (Arthur and the Forbiden City). Sayang penerbit qanita hingga kini belum juga menerbitkan sekuel dari buku ini, sehingga kita masih harus sabar menunggunya.





(cover edisi HarperCollins Publishers)








Satu-satunya kritik untuk buku ini adalah covernya yang menurut saya kurang bagus dan ilustrasi suku minimoy yang terkesan mennyeramkan daripada lucu. Cover buku edisi Inggrisnya lebih menarik, dimana suku minimoy terlihat sangat kecil dan lebih imajinatif dan indah dibanding cover edisi terjemahannya. Bukan hal yang tabu untuk meniru atau merubah sedikit dari cover aslinya jika dirasa lebih bagus, daripada berkreasi sendiri namun hasilnya tak maksimal.

Novel ini pertama kali terbit pada tahun 2002 dalam bahasa Perancis. Setahun kemudian, di tahun 2003 terbit sekuelnya yang berjudul Arthur and the Forbidden City. Kisah Arthur ini ternyata mendapat sambutan yang positif di berbagai negara. Game komputernya telah diluncurkan mendahului filmnya. Filmnya yang mengabiskan biaya USD 86.000 disutradarai oleh Luc Besson sendiri dengan mengajak akor/aktris Hollywod papan atas seperti Madonna (Ratu Selena), Fobert de Niro (Raja Minimoy), David Bowie (Penyihir Matlazrd), dll.

Filmnya pertama kali premier di Perancis pada November 2006, lalu Desember 2006 beredar di Amerika, menyusul Inggris pada Februari 2007 dan diputar di Indonesia pada bulan Mei 2007.

Tentunya bagi mereka yang telah membaca buku ini akan penasaran untuk menonton filmnya, mampukah Luc Besson menerjemahkan imajinasinya secara visual kedalam rangkaian gambar bergerak ? apakah imajinasi pembaca akan terpuaskan setelah menonton filmnya ?

Baiklah kita baca bukunya dan nonton filmnya. Puas tidaknya tergantung pada sudut pandang masing-masing pembaca. Dan semoga penerbit qanita segera menerjemahkan sekuelnya agar pembaca tak keburu lupa atau kehilangan momen akan serunya petualangan Arthur dan Suku minimoy yang saat ini sedang beraksi di bioskop-bioskop tanah air.

@h_tanzil
Read more »

Rabu, 09 Mei 2007

OUT (Bebas)

OUT (Bebas)
Natsuo Kirino
Lulu Wijaya (Terj.)
GPU, April 2007
576 Hal.

Empat orang perempuan bekerja pada shift malam di sebuah pabrik makanan kotakan. Mereka cukup dekat, meskipun tidak bisa dikatakan bersahabat. Mereka berempat biasa bekerja dalam satu baris atau satu kelompok dan saling mem-back up satu sama lain. Keempat wanita itu adalah Yayoi, Masako, Yoshie, dan Kuniko.

Mereka semua punya masalah tersendiri dengan rumah tangga mereka yang bisa dibilang tidak bahagia. Misalnya Masako, yang meskipun masih satu rumah dengan suami dan anaknya, tapi hampir tidak pernah ada komunikasi, lalu Yoshie, suaminya sudah meninggal dan ia harus mengurus ibu mertuanya yang sakit-sakitan. Yoshie biasa dipanggil ‘Kapten’ karena ia yang paling cekatan; Kuniko, wanita satu ini ingin selalu tampil ‘berkelas’ meskipun untuk itu ia harus mencari pinjaman ke rentenir agar bisa memenuhi semua kebutuhannya. Setiap bulan ia selalu bermasalah dengan cicilan bulanan dari pinjamannya itu.

Sedangkan Yayoi, ibu dua anak yang masih kecil-kecil, baru saja mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Suaminya, Kenji, akhir-akhir ini sering pulang dalam keadaan mabuk dan mulai menghabiskan uang untuk perempuan. Ketika Yayoi protes, Kenji malah memukulnya dan meninggalkan bekas biru di perutnya. Inilah asal mula semua permasalahan.

Karena sakit hati atas sikap suaminya, Yayoi – yang terlihat paling lemah di antara mereka berempat, melakukan tindakan mengerikan dengan membunuh suaminya. Bingung harus berbuat apa, Yayoi pun menelepon Masako agar mau membantunya.

Meskipun juga tidak harus berbuat apa dan atas dasar apa, Masako mau membantu Yayoi. Dan entah apa juga yang merasuki Masako sampai ia akhirnya mengambil tindakan yang sangat mengerikan untuk melenyapkan mayah Kenji. Masako meminta bantuan Yoshie yang dengan terpaksa menuruti permintaan Masako karena hutang budi. Dan Kuniko, pun tanpa sengaja terlibat aksi pemotongan mayat Kenji. Sementara Yayoi sendiri tidak terlibat dalam kejadian ini. Atas perintah Masako, Yayoi harus berperan sebagai istri yang khawatir karena suaminya tidak pulang ke rumah.

Masako, yang bertindak sebagai ‘pimpinan’ dalam hal ini, membagi-bagikan kantong berisi potongan tubuh Kenji pada Yoshie dan Kuniko untuk dibuang di tempat-tempat yang berbeda. Tapi, karena kesalahan satu orang saja yang tidak sabaran dan hanya memikirkan kepentingan sendiri, beberapa kantong berhasil ditemukan, dan polisi pun mulai melakukan penyelidikan.

Tidak ada yang menduga bahwa semua ini dilakukan oleh Yayoi dan teman-temannya – para ibu rumah tangga biasa. Malah, seorang tersangka berhasil ditemukan dan dijebloksan ke penjara. Satake, tersangka itu, harus kehilangan usaha yang bertahun-tahun ia bangun. Satake juga punya masa lalu yang gelap yang membuat ia menjadi tersangka paling kuat.

Rahasia mereka tidak selamanya bisa disembunyikan dengan baik. Di antara mereka lagi-lagi ada yang hanya memikirkan kepentingan sendiri yang malah menjebloksan mereka ke dalam masalah yang lebih besar. Ancaman mulai muncul dari orang-orang yang mengetahui rahasia mereka dan dari orang yang merasa dirugikan oleh mereka. Mereka merasa diawasi dan nyawa mereka pun terancam. Hidup mereka pun tidak aman dan nyaman lagi.

Natsuo Kirino berhasil membangun ketegangan dari awal cerita. Meninggalkan rasa penasaran untuk terus dan terus melanjutkan buku ini sampai selesai. Bagian-bagian yang mengerikan diceritakan dengan halus, tapi, bisa membuat bertanya-tanya, apa yang ada di benak Masako, Yoshie dan Kuniko kala melakukan hal itu. Kalau gue, bener-bener bisa ngerasain betapa dinginnya Masako.

Pembaca bukan hanya diajak untuk mengikuti jalannya sebuah pelacakan pelaku pembunuhan, tapi juga diajak untuk menyelami kehidupan masing-masing tokoh, dan apa yang mereka rasakan sampai semua ini terjadi.

Sempat ketar-ketir juga begitu tau ada ‘adegan’ potong-memotong mayat. Tapi, ternyata gak seburuk itu… I still love sushi… I still love steak… atau… gue udah ikutan Masako yang dingin itu??? Hehehe… Kalo dipikir-pikir, gak ada satupun dalam novel ini, yang tokohnya punya kehidupan yang bahagia. Iya sih… kalo bahagia, gak akan ada kejadian seperti itu. Tapi, semuanya benar-benar gelap. Mungkin kesamaan nasib yang akhirnya menyatukan mereka, meskipun gak kompak.

Terima kasih untuk para ‘kompor’ – Kobo dan Om Tan, karena ternyata… gue suka sama buku ini… (meskipun gak yakin bisa berani kalo nonton filmnya…)
Read more »

Jumat, 04 Mei 2007

Nagabonar Jadi 2

Judul : Nagabonar Jadi 2
Penulis : Akmal Nasery Basral
Penerbit : PT. Andal Krida Nusantara (AKOER)
Tebal : 241 hal
Harga : Rp. 49.500,-

Beberapa tahun kebelakang dunia pustaka tanah air disemarakkan dengan novel yang didaptasi dari skenario film. Untuk novel adaptasi film Indonesia modern pelopornya adalah novel Biola Tak Berdawai (Akoer,2004) karya Seno Gumiro Ajidarma yang mengadaptasi skenario film arahan sutradara Sekar Ayu Asmara : Biola Tak Berdawai (2003). Setelah itu novel-novel adaptasi film terus bermunculan menyusul kesuksesan film-film yang diadaptasinya.

Pertanyaan terbesar yang selalu muncul ketika melihat novel adaptasi film beredar di pasaran adalah : “Samakah novel dengan filmnya ?”. Bagi yang tak suka membaca mungkin akan berkata, “ Buat apa beli bukunya? Nonton saja filmnya!”. Bagi masyarakat kita yang katanya memiliki tingkat membaca yang rendah dibanding negara-negara lain, sepertinya orang akan tertarik menonton filmnya dibanding membaca novelnya. Lalu kenapa harus dibuat novelnya ?

Tentunya selain untuk mendompleng kesuksesan filmnya, atau malah untuk sarana promosi filmnya, ada berbagai alasan mengapa novel-novel adaptasi film masih terus dibuat hingga kini. Apapun alasannya, hal ini tentunya membawa dampak positif dalam dunia perbukuan, antara lain dalam menambah jumlah ragamnya bacaan yang pada gilirannya akan turut menstimulasi gairah baca masyarakat.

Sebenarnya penulis novel adaptasi memiliki keleluasaan penuh dalam mengembangkan karyanya karena medium novel memiliki ruang yang lebih luas dalam mendeskripsikan karakter tokoh atau adegan-adegan yang sulit untuk divisualkan, atau menambah kisah-kisahnya untuk memperkuat plot dan memperlancar alur cerita.

Sayangnya dari novel-novel adaptasi yang telah diterbitkan, kecuali novel Biola Tak Berdawai, novel-novel tersebut umumnya tidak memberikan hal yang baru bagi pembacanya karena akhirnya hanya memindahkan naskah skenario menjadi sebuah novel. Untungnya hal ini tak terjadi dalam novel adaptasi skenario film terbaru : Nagabonar Jadi 2 karya Akmal Nasery Basral.

Novel Nagabonar Jadi 2 ini terbit saat filmnya masih diputar dan dalam waktu singkat telah ditonton oleh satu juta penonton Indonesia. Kini setelah novelnya beredar di toko-toko buku, pertanyaan mendasar soal kesamaan dan perbedaan antara novel dengan filmnya tetap menjadi hal yang selalu ingin diketahui oleh publik buku tanah air.

Untungnya soal perbedaan dan persamaan antara novel dan filmnya disinggung dalam Exordium (Kata Pengantar) novel Nagabonar Jadi 2 yang menyatakan bahwa novel ini memiliki kesamaan dalam hal nama dan karakter tokoh, alur cerita, peta konflik, sampai akhir kisah. Dan yang menjadi perbedaan fundamentalnya adalah : perbedaan cara pandang. Jika filmnya dinarasikan menurut sudut pandang orang ketiga, maka novelnya menggunakan pendekatan orang pertama sebagai pencerita, yaitu Nagabonar sendiri. Hal ini mengingatkan kita pada novel Biola Tak Berdawai yang mengambil sudut pandang yang berbeda dengan filmnya

Kisah dalam novel ini dibuka persis sama dengan filmnya yaitu deskripsi perkebunan kelapa sawit milik Nagabonar. Dikisahkan Nagabonar sedang berada di pusaran ketiga orang yang disayanginya : Emak, Kirana, dan Bujang. Ia bermaksud pamitan pada mereka karena sebentar lagi Bonaga, anak semata wayangnya yang telah menjadi pengusaha sukses akan menjemputnya untuk menuju Jakarta.

Awalnya Nagabonar tak mengetahui maksud sebenarnya Bonaga mengajaknya ke Jakarta. Sesampai di Jakarta barulah Bonaga mengutarakan maksudnya mengajak ayahnya ke Jakarta adalah untuk menyampaikan keinginannya untuk membangun sebuah resort di perkebunan sawit milik ayahnya. Tentu saja hal ini ditolak mentah-mentah oleh Nagabonar karena di perkebunan itu terdapat ketiga kuburan orang-orang yang dicintainya. Apalagi ketika mengetahui bahwa calon investornya adalah orang-orang Jepang, bangsa yang dimusuhi oleh Nagabonar semenjak jaman perjuangan dulu

Selain konflik soal perkebunan kelapa sawit ada pula kisah cinta antara Bonaga dan Monita. Sebetulnya mereka saling mencintai, namun Bonaga yang dibesarkan tanpa sentuhan seorang ibu mengalami kesulitan untuk menyatakan cintanya secara langsung pada Monita, padahal pernyataan cinta inilah yang ditunggu-tunggu Monita sebagai seorang wanita.

Diantara dua konflik tersebut dikisahkan juga kisah perjalanan Nagabonar berkeliling Jakarta dengan bajay yang dikemudikan Umar yang kelak akan menjadi sahabatnya selama di Jakarta. Pada deskripsi inilah banyak terjadi kelucuan dan kritik-kritik Nagabonar terhadap kehidupan sosial di Jakarta. Antara lain soal bajay yang tidak boleh masuk kawasan protokol, patung Jendral Sudirman yang menghormati mobil2 yang berseliweran di depannya, sikap para pemakai jalan di Jakara, arti kepahlawanan, dll.

Seperti filmnya, novel ini sebenarnya penuh dengan pesan-pesan humanis yang membumi, namun karena ditulis dengan lancar dan dikemas dalam bentuk dialog-dialog yang umunmya dibumbui dengan humor cerdas membuat pesan-pesan yang disampaikan menjadi menarik dan untuk disimak karena terkesan tak menggurui.

Tidak ada tokoh antagonis dalam novel ini, namun bukan berarti kisahnya menjadi tak menarik, karena yang menjadi antagonisnya justru aneka peristiwanya itu sendiri yang pada intinya merupakan kisah pertentangan pemikiran antara generasi Nagabonar dengan generasi Bonaga yang kelak akan berujung kepada kesadaran mengenai arti penting cinta dan keluarga bagi si anak.

Lalu kembali pada petanyaan diatas. Apa yang membuat novel ini berbeda dibanding filmnya ? Menurut mereka yang telah menonton filmnya dan membaca buku ini, buku ini tetap mengundang gejolak emosi yang membuat pembacanya tertawa dan menitikkan air seperti halnya jika menonton filmnya. Walau plot, karakter dan ending novelnya sama seperti filmnya, novel ini lebih lengkap dibanding filmnya.

Tidak seperti novel-novel yang diadaptasi dari skenario film lainnya yang umumnya hanya memindahkan naskah skenario apa adanya kedalam sebuah novel. Pada novel ini ada perbedaan yang cukup signifikan. Selain perbedaan sudut pandang yang telah disebutkan di atas, novel ini juga menyajikan ‘kedalaman’ dibanding filmnya, terlebih dalam hal monolog tokoh Nagabonar yang tentunya semakin memperkuat karakter Nagabonar dibanding filmnya.

Selain itu ada juga kisah-kisah lain yang tak terdapat dalam film seperti kisah bagaimana Nagabonar mendapat pangkat Jenderal dan dialog antara Lukman dan Nagabonar soal sastrawan angkatan 45 : Idrus, yang menulis cerpen “Surabaya” dan “Corat-coret di bawah tanah”. Bagian ini menarik, karena pembaca yang tidak mengenal karya-karya idrus sedikit banyak akan mengetahui isi cerpen yang membuat Idrus terkenal karena berisi kritik Idrus pada mereka yang di awal-awal kemerdekaan disebut sebagai pahlawan.

Yang mungkin agak disayangkan adalah novel ini tak mendeskripsikan lebih dalam bagaimana perjuangan Nagabonar yang setelah ditinggal mati orang-orang yang dikasihinya harus membesarkan Bonaga seorang diri sambil mengusahakan perkebunan kepala sawitnya, bahkan bisa menyekolahkan Bonaga hingga S2 di Inggris. Memang ada beberapa narasi yang menyinggung kisah ini secara singkat, seandainya kisah ini digali lebih dalam lagi, hal ini akan bermanfaat untuk memberi gambaran pada pembacanya bagaimana karakter Nagabonar dan Bonaga terbentuk hingga menjadi seperti sekarang.

Dari segi kemasan, novel ini dikemas dengan sampul yang sama dengan poster filmnya. Namun uniknya, tidak seperti pada poster filmnya dimana Nagabonar (Dedy Mizwar) dan Bonaga (Tora Sudiro) disatukan, di novelnya justru dipisahkan sehingga pembeli bisa memilih novel dengan sampul foto tokoh mana yang akan mereka pilih, Bonaga atau Nagabonar ? Satu langkah pengemasan yang cerdik karena memberi kesempatan calon pembeli untuk memilih sampul novel sesuai dengan yang dikehendakinya.

Sayangnya dari segi lay out isi, tampaknya penggunaan hurufnya terlalu kecil, sehingga menganggu kenyamanan membacanya. Entah mengapa novel-novel yang diterbitkan AKOER kini cenderung menggunakan huruf-huruf yang bagi sebagian orang tampak terlalu kecil. Hal ini tampak di dua terbitan AKOER sebelumnya yaitu Saraswati (2006)– Kanti W Janis, dan Digitarium (2006) – Baron Leonard yang juga menggunakan ukuran huruf yang lebih kecil dibanding novel-novel pada umunya.

Namun dari segala kelebihan dan kekurangannya, bagi yang belum menonton filmnya, novel ini sangat baik untuk dijadikan bekal sebelum menonton filmnya. Bagi yang telah menonton filmnya, novel ini tetap memberikan kenikmatan dalam membacanya karena dapat melengkapi apa yang telah ditontonnya.

Sama seperti yang diungkap dalam sinopsis filmnya di situs resmi film Nagabonar Jadi 2 (www.nagabonar.com ) , kisah Nagabonar Jadi 2 memberikan pesan pada pembacanya tentang : CINTA laki-laki dan perempuan, CINTA orangtua dan anak, CINTA dalam persahabatan, CINTA tanah air, termasuk CINTA dalam melihat “perbedaan”. Dan juga seperti yang selalu diungkapkan oleh Dedy Mizwar dalam setiap promo filmya, kisah ini mengajak kita semua untuk melihat Indonesia dengan hati.

@h_tanzil
Read more »

Rabu, 02 Mei 2007

Nagabonar (Jadi) 2

Nagabonar (Jadi) 2
Akmal Nasery Basral
Akoer, Cet. 1 – April 2007
241 Hal.

Siapa yang tak kenal Jendral Nagabonar? Seorang mantan pencopet yang jadi pejuang di masa penjajah Belanda. Kini, beliau tidak lagi mencopet, Nagabonar sudah tua. Mak, Kirana – istrinya dan Bujang, sahabatnya, sudah meninggal. Tinggal Nagabonar sendiri mengurus perkebunan kelapa sawitnya. Anak satu-satunya, Bonaga, merantau – jadi pengusaha di Jakarta. Hebat kan? Mantan pencopet, jadi jendral, punya kebun kelapa sawit, bisa menyekolahkan Bonaga ke Inggris sampai akhirnya Bonaga jadi pengusaha sukses.

Alkisah, Nagabonar sedang berpamitan di kuburan Mak, Kirana dan Bujang. Bonaga akan segera menjemputnya untuk ikut ke Jakarta, meninjau proyek baru Bonaga. Kocak banget dialog di kuburan ini. Meskipun berat meninggal kuburan orang-orang yang ia sayangi, tapi, sesekali terselip kata-kata kocak… apalagi ketika Nagabonar meninggalkan pesan-pesan pada Bujang.

Di Jakarta, Nagabonar terkejut-kejut dengan segala kondisi yang berbeda dengan kampung halamannya. Belum lagi melihat rumah Bonaga yang mewah itu. Gaya Nagabonar yang cuek bisa mencairkan kekakuan di rumah itu.

Tapi, Nagabonar lebih terkejut lagi dengan rencana Bonaga. Sebuah investor dari Jepang berminat membangun resort yang kebetulan letaknya adalah di kebun kelapa sawit milik Nagabonar. Bukan itu saja, ada kemungkinan proyek itu akan menggusur kuburan Mak, Kirana dan Bujang. Tentu saja, Nagabonar marah besar dan langsung meninggalkan kantor Bonaga.

Seharian Nagabonar pergi keliling Jakarta tak tentu mau kemana dengan bajaj. Semua supir bajaj bingung dibuatnya. Sampai akhirnya, ada satu supir bajaj bernama Umar yang kebetulan tinggal di kampung di belakang rumah Bonaga. Itulah awal persahabatan Nagabonar dengan Umar yang kemudian dengan setia melayani keinginan Nagabonar untuk melihat patung-patung para pejuang kemerdekaan.

Selain masalah proyek ini, ada satu hal lagi yang menjadi pertanyaan Nagabonar, yaitu, kenapa Bonaga belum juga punya calon istri. Ada satu perempuan yang selalu dekat dengan Bonaga, namanya Monita. Tapi, entah kenapa, Bonaga masih malu-malu untuk menyatakan cintanya pada Monita. Sampai akhirnya, Nagabonar pun harus turung tangan. Ternyata, biar sudah melanglang jauh sampai ke Inggris, untuk urusan cinta, Bonaga masih maju-mundur. Wahhh.. Apa kata dunia?!”

Jika kita nonton filmnya, kita disuguhkan, “Ini lho… kehidupan Nagabonar dan Bonaga.” Kita jadi pihak ketiga yang menonton kehidupan mereka. Tapi, dalam novel ini, Nagabonar-lah yang bertutur. Nagabonar yang bercerita. Sehingga, kita lihat, ada adegan-adegan di film di mana Nagabonar tidak terlibat, tidak aka nada dalam buku ini. Sebaliknya, banyak adegan yang di film terlalu singkat, di dalam buku ini, akan diceritakan lebih mendalam, seperti ketika Nagabonar bercerita tentang kisah perjuangan kepadaTulus, anak Umar si tukang bajaj. Lewat novel ini, pembaca mungkin lebih bisa memahami perasaan Nagabonar, karena semua yang dia rasakan benar-benar ‘tercurah’ dalam novel ini.

Mungkin ini adalah novel yang diadaptasi dari scenario film terbaik yang pernah gue baca. Antara film dan novel saling melengkap, tidak tumpang tindih, atau hanya sekedar memindahkan layar bioskop dalam bentuk tulisan.




(covernya ada dua macam, yang gambarnya Deddy Mizwar, atau yang Tora Sudiro. Sebenernya gue punya yang covernya Tora Sudiro. Cuma udah browsing, ketemunya yang gambarnya Deddy Mizwar. Jadi itulah yang gue pajang di sini.)
Read more »

Selasa, 01 Mei 2007

The Liebermann Papers: A Death in Vienna

The Liebermann Papers: A Death in Vienna
Frank Tallis
Esti A. Budihabsari (Terj.)
Qanita, Cet. I 2007
580 Hal.

Seorang wanita ditemukan tewas di apartemennya dengan meninggalkan pesan misterius. Wanita itu bernama Charlotte Löwenstein, dan dikenal sebagai seorang mediator. Setiap minggu, sekelompok orang datang ke apartemennya untuk upacara pemanggilan arwah.

Lötte, begitu ia dipanggil, meninggal dengan luka tembak di dadanya. Tapi, fakta yang ada menunjukkan berbagai keanehan, pintu terkunci dari dalam, tidak ada tanda-tanda orang bisa melarikan diri, lalu ketika dilakukan otopsi, tidak ditemukan peluru dalam tubuh Lotte.

Tepat di malam kematian Lötte, badai hebat sedang melanda Wina. Kematian Lötte kemudian dikaitkan dengan persekutuan dengan setan. Ada kekuatan supranatural yang ‘terlibat’ dalam kematian itu. Fakta itu didukung dengan pesan teakhir yang ditinggalkan Lotte.

Kepolisian setempat yang dipimpin Inspektur Oskar Rheinhardt berusaha memecahkan kasus ini. Meskipun berusaha menggunakan akal sehat dan dengan berdasarkan fakta yang ada, penyelidikan menemui jalan buntu. Akhirnya, Inspektur Rheinhardt meminta bantuan Max Liebermann, seorang psikiater, untuk ikut dalam penyelidikan. Lieberman berusaha menganalisa fakta yang ada dilihat dari sisi yang berbeda. Para tersangka kemungkinan adalah tamu-tamu yang terlibat dalam upacara pemanggilan arwah.

Sementara itu, selain membantu Inspektur Rheinhardt, Liebermann sendiri menghadapi masalah di rumah sakit tempat ia bekerja. Sebuah eksperimen sedang diuji coba. Liebermann tidak setuju dengan sesi elektropi yang dilakukan rekan sejawatnya dalam pengobatan pasien. Ia lebih memilih pendekatan psikologis dalam mengobati trauma seseorang. Salah satu pasiennya, Amelia Lydgate, mengalami kelumpuhan dan ada kecenderungan memiliki kepribadian ganda. Liebermann melakukan pendekatan lewat metode hipnotis untuk menelusuri penyebab trauma yang dialami pasiennya. Miss Lydgate inilah yang nantinya akan membantu Inspektur Rheinhardt dan Liebermann dalam memecahkan kasus kematian Charlotte Löwenstein.

Melalui berbagai analisa dan penyelidikan, akhirnya terungkaplah siapa Charlotte Löwenstein sebenarnya, bagaimana masa lalunya, dan apa benar ia terlibat persekutuan dengan setan.

Masalah pribadi Liebermann juga sempat ‘diulik’, tentang keraguannya untuk meneruskan pertunangannya dengan Clara ke jenjang selanjutnya.

Novel ini dibuka dan ditutup dengan kalimat yang sama, kalimat yang diucapkan Max Liebermann, yaitu:

Itu adalah hari saat terjadinya badai besar. Aku ingat dengan baik karena ayahku
– Mendel Liebermann – mengundangku untuk minum kopi di The Imperial. Aku curiga
bahwa dia punya maksud tertentu…

Buku ini mengajak kita menelusuri kota Wina, diiringi alunan piano musik klasik yang dimainkan oleh Liebermann dan diiringi nyanyian Oskar Rheinhardt. Alur cerita sedikit lambat, tapi bab-babnya yang pendek bisa membuat pembaca penasaran, karena di akhir setiap bab ada misteri baru yang menyisakan tanda tanya.
Read more »