Senin, 15 September 2008

Maximum Ride#2: School’s Out – Forever

Maximum Ride#2: School’s Out – Forever (Sekolah Selesai – Selamanya)
James Patterson @ 2006
Poppy Damayanti Chusfani (Terj.)
GPU – September 2008
512 Hal.

Max, Fang, Nudge, Gasman, Iggy dan Angel, masih terus terbang, melarikan diri dari para Pemusnah dan melanjutkan misi pencarian orang tua mereka. Sepotong informasi yang didapat ketika menyelamatkan Angel jadi sebuah kunci penting dalam misi itu.

Max dan teman-temannya sempat yakin bahwa mereka telah bebas dari Ari, pemimpin para Pemusnah, karena Max tahu ia sudah membunuhnya. Tapi, mereka salah. Justru, Ari dan para Pemusnah, kembali mengejar mereka – bukan di darat saja – tapi juga di angkasa. Yap… ternyata, Pemusnah sudah ada ‘keluaran’ versi terbarunya yang memakai sayap. Tentu saja, tampak aneh bagi sosok manusia mirip serigala yang berbadan besar, tiba-tiba harus memakai sayap. Hal ini membuat mereka jadi bulan-bulanan ketika harus bertarung di angkasa melawan para mutan burung itu. Tapi, Ari masih sangat dendam. Ia senantiasa mematai-matai semua kegiatan Max dan kawanannya – yang kini ditambah Total, seekor mutan anjing.

Karena terluka parah akibat pertarungannya dengan Ari, Fang terpaksa dibawa ke rumah sakit. Max dan temannya pun harus diiterogasi oleh FBI. Tapi, terlatih untuk melindungi identitas mereka, membuat mereka lancar ‘mengarang bebas’. Mereka dibawa ke rumah Anne, salah satu anggota FBI yang baik hati pada mereka.

Tapi, Max merasa keadaan yang terlalu nyaman adalah sebuah tanda bahaya. Kenyamanan dan sedikit rasa aman, tidak melupakan niat mereka untuk mencari orang tua mereka. Namun, lagi-lagi mereka harus kecewa saat orang yang mulai mereka percaya dan mereka harapkan ternyata lagi-lagi tak lain adalah bagian dari Jas Putih.

Selain itu, sadar kalau mereka mungkin tak bisa bertarung di udara, Ari merancang strategi lain untuk menghancurkan para mutan burung itu. Dan, hanya Ari yang boleh membunuh Max. Ternyata, Ari menyimpan dendam dan sempat mempunyai ‘rasa’ lain terhadap Max! Rasa benci, cinta, cemburu dan iri karena Jeb, ayahnya, lebih memperhatikan dirinya.

Buku kedua ini, Max dan kawanannya, tampak lebih santai, tapi tetap siaga satu. Max semakin kuat, tapi para Pemusnah juga makin canggih. Ari dan para Pemusnah sempat dibuat frustasi ketika tahu Max dan kawanannya sedang bersenang-senang di Disney World! Mereka juga sempat bersekolah, bahkan Max sempat kencan dengan salah satu cowok di sekolah. Ada sedikit cemburu-cemburu antara Max dan Fang.

Misteri tentang orang tua mereka masih ‘menggantung’ sampai akhir cerita. Bahkan, misteri bahwa Ari adalah adik Max juga belum terjawab.

Read more »

Minggu, 14 September 2008

Di Negeri Penjajah

Judul : Di Negeri Penjajah (Orang Indonesia di Negeri Belanda 1600-1950)
Penulis : Harry A. Poeze
Penerjemah : Hazil Tanzil & Koesalah Soebagyo Toer
Penerbit : KPG
Cetakan : I, Juli 2008
Tebal : X + 412 hlm ; 19.5 x 28 cm

Saat ini saya sedang membaca 2 buah buku sejarah, yang pertama buku terbitan Serambi “Indonesia Merdeka karena Amerika?” karya Francis Gouda dan satu lagi terbitan KPG , Di Negeri Penjajah karya Harry A. Poeze. Dua-duanya merupakan karya sejarahwan Belanda yang banyak menulis tentang Indonesia.

Saat ini saya hanya akan mengulas sedikit mengenai buku di Negeri Penjajah – Harry A. Poeze sejauh yang telah saya baca, yaitu hingga bab III , walau saya baru membaca seperempatnya saja, saya benar-benar puas dan banyak memperoleh hal-hal baru.

Sesuai dengan judulnya, buku karya Poeze ini membahas mengenai orang-orang Indonesia yang bermukim di negeri penjajah (Belanda) dalam kurun waktu hampir 350 tahun (1600-1949). Untuk itu Poeze membaginya secara kronologis waktu kedalam 7 bab :

1600-1898 : Utusan, Budak, Seorang PElukis, dan Beberapa Siswa
1898-1913 : Sejumlah Tokoh dan Rombongan
1913-1920 : Emansipasi dalam Kerjasama
1920-1930 : Nasionalisme dalam Isolasi
1930-1940 : Ke Arah Kerjasama yang Sadar
1940-1945 : ISolasi dan Solidaritas
1945-1949 : Berangsur Menjauh

Semua bab tersebut terangkum dalam buku setebal 412 halaman dengan ukuran buku besar 19,5 cm x 28 cm dimana tiap halamannya tersaji dalam dua kolom. Bisa dibayangkan setebal apa buku ini jika dicetak dalam ukuran buku biasa, mungkin bisa mencapai 1000 halaman lebih. Untungnya walau bukunya besar dan tebal, buku ini dicetak diatas kertas yang ringan, sehingga bisa dibaca lama tanpa takut tangan terasa pegal.

Dalam buku ini akan terekam profil, suka duka, dan pengalaman serta sepak terjang orang-orang Indonesia yang pernah merantau di Negeri Belanda dari 1600-1949. Uniknya tak hanya para elit kaum bangsawan terekam dalam buku ini, bahkan para seniman biasa hingga para babu tak luput dari penelitian Poeze untuk disajikan dalam buku ini.

Poeze menulis sepak terjang para tokoh-tokoh Indonesia dengan kalimat-kalimat yang enak dibaca dan mudah dipahami, selain itu agar pembaca data merasakan suasana periode yang dibahas dan memudahkan gambaran pembacanya, buku ini memuat lebih dari 150 bh foto, gambar-gambar, sajak-sajak, berita surat kabar atau majalah, teks pidato, kop majalah atau suratkabar, kartu undangan, kartu ucapan, hingga bon makanan.

Karenanya tak berlebihan kalau saya katakan bahwa buku ini merupakan buku yang sangat menarik yang wajib dimiliki oleh para pengamat dan pecinta sejarah Indonesia, karena bagaimanapun juga sebagian besar orang-orang yang disinggung dalam buku ini adalah para tokoh pembuat sejarah atau setidaknya yang memiliki persinggungan yang erat dengan sejarah Indonesia.

Pada bab awal buku ini akan terungkap bahwa kunjungan resmi pertama penduduk Nusantara dilakukan oleh utusan Sultan Aceh yang terdiri dari tiga orang, yaitu dutabesar Abdul Zamat, laksamana raja Seri Mohamat, dan kemenekannya Meras San. Mereka menumpang kapal Zeelandia dan Langhe Barcke diiringi lima orang pembantu, seorang juru bahasa, dan sejumlah pedagang Arab. Perutusan itu tiba di Zeeland – Belanda pada akhir Juli 1602.

Orang-orang Aceh itu disambut dengan penuh kehormatan oleh Pangeran Maurits. Dan peristiwa ini diabadikan dalam sebuah lukisan karya Mari ten Kate. Setelah tinggal di Belanda selama lima belas bulan dengan biaya dari VOC dan mengunjungi berbagai kota di Belanda, pada tahun 1603 merekapun pulang ke tanah air.

Sayangnya dutabesar Aceh, Abdul Zamat meninggal di usianya yang ke 71 di Middelburg pada tahun 1602. Uniknya, pemakamannya dilakukaan dengan mengikuti syariat Islam di Gereja Sint Pieters, sebuah peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya dimana seorang muslim disemayamkan dan dimakamkan di sebuah gereja. Sebagai tanda peringatan, VOC juga mendirikan monumen untuk menghormati sang duta besar dari seberang lautan ini.

Berawal dari keddaatangan utusan raja, lalu kedatangan para anak-anak Ambon ketika VOC berhasil merebut Ambon, dan beberapa budak yang diperkejakan di Belanda, akhirnya muncul pula orang Indonesia yang pergi ke Belanda untuk menimba ilmu. Raden Saleh adalah salah seroang Indonesia pertama yang mendapat pendidikan modern di Belanda. Pada 1829 ia berlayar ke Negeri Belanda sebagai klerk Inspektur Keuangan De Linge. Setelah namanya tersohor sebagai pelukis Istana di Belanda dan tinggal di belna selama 22 tahun , ia pulang ke Jawa pada 1851.

Setelah Raden Saleh, berangsur-angsur datang juga orang Indonesia ke Belanda untuk belajar atau keperluan lain. Sebut saja Raden Mas Ismangoen Danoe Winoto yang merupakan orang Indonesia pertama yang menikmati pendidikan tinggi di Negeri belanda. Setelah lulus HBS ia diterima di Lembaga Bahasa, Sejarah, dan Antropologi Hindia-Belanda di Delft.

Ketika Politik Etis diberlakukan, maka hal ini semakin terbuka kesempatan orang-orang Indoensia untuk berangkat ke negeri Belanda untuk menimba ilmu. Sosrokartono (kakak kandung RA Kartini) adalah orang pertama dalam dalam rombngan orang Indoensia yang datang ke negeri belanda untuk belajar. Di Belanda Sosrotokartono dikenal sebagai orang Jawa yang tekemuka. Pada 1899 ia berbicara di depan konggres Ilmu Bahasa dan Sastra Belanda ke XXV, dan mendapat sambutan yang sangat meriah. Dan pidato tersebut tercatat merupakan penampilan terbuka pertama orang Indonesia di Eropa.

Selama di Belanda ia juga kerap menulis surat untuk adiknya RA Kartini, sayangnya surat-surat mereka tak ditemukan lagi hingga kini. Di Leiden Sosrokartono merupakan mahasiswa yang cemerlang dan dalam beberapa waktu saja ia telah menguasai duapuluh bahasa Timur dan Barat. Kelak ia memang merampungkan pendidikannya tapi tidak sampai mencapai promosi seperti yang direncanakannya.

Selama 29 tahun Sosrokartono hidup di negeri Belanda, diakhir petualangannya di Belanda ia dikabarkan terjerat hutang. Setelah meletusnya Perang Dunia pertama ia menjadi koresponden New York Herald (Tribune), dan ia merupakan satu-satunya wartawan perang yang berasal dari Indonesia. Setelah Perang, ia bekerja sebagai penerjemah di Wina, Den Haag, dan di PBB - Jenewa. Baru pada 1925 ia kembali ke Indonesia dan memperoleh nama besar sebagai filsuf mistis Jawa.

(bersambung)

@h_tanzil

Read more »

Rabu, 10 September 2008

The Book of Lost Things

The Book of Lost Things (Kitab Tentang yang Telah Hilang)
John Connoly @ 2006
Tanti Lesmana (Terj.)
GPU, Agustus 2008
472 Hal.

Tadinya, David hanyalah anak kecil biasa. Punya Ibu yang sering mendongengkan cerita-cerita fantasi dan Ayah yang gemar mengajaknya memancing. Tapi, semua mulai berubah ketika Ibunya sakit. Semakin lama, semakin lesu dan akhirnya meninggal. Usaha David untuk membuat Ibunya bertahan tidak berhasil, membuat rasa kehilangannya semakin besar. Tinggallah David dan Ayahnya. Lalu, masuklah seorang perempuan dalam kehidupan mereka - kehidupan ayahnya tepatnya. Perempuan bernama Rose yang akhirnya menjadi istri baru ayahnya. David merasa ayahnya sudah melupakan Ibunya. Ditambah lagi kehadiran bayi Georgie yang meramaikan keluarga itu. David merasa tersisih. Hubungannya dengan Rose tidak pernah akur. David tidak pernah menerima Rose sebagai pengganti ibunya.

Peperangan membuat David dan ayahnya harus pindah ke rumah Rose yang relatif lebih aman. David mendapatkan sebuah kamar sendiri yang penuh dengan buku-buku. David sempat merasa tidak nyaman di kamar itu, karena ia seolah mendengar buku-buku itu berbisik. Tapi, lama-kelamaan ia pun mulai terbiasa dengan ‘percakapan’ buku-buku itu. Dulunya kamar itu adalah kamar Jonathan Turley, paman Rose – yang lenyap secara misterius.

Suatu hari ketika sedang membaca di taman, David tidak sengaja mendongak ke arah jendela kamarnya, dan melihat ada sosok orang di dalamnya. Karuan David panik dan bergegas mencari ayahnya. Tapi, meskipun tidak ditemukan tanda-tanda ada orang yang pernah masuk ke kamarnya, David merasa bahwa memang ada sosok lelaki bungkuk yang masuk.

Di halaman rumah David, ada taman cekung yang bisa dengan mudah dimasukin oleh anak kecil. David sering mendengar suara Ibunya yang seolah memanggilnya meminta bantuan. Ketika itu David sedang marah, setelah bertengkar dengan Rose dan ayahnya, ia pun berlari memasuki taman itu. Dan, sampailah ia ke sebuah hutan yang misterius dan menakutkan. Tidak ada seorang pun di sana. Ia menemukan berbagai kengerian yang menyebabkannya ingin segera pulang.Tapi, ia putus asa, karena pohon tempatnya masuk tidak bisa dibedakan lagi. David menggali dengan membabi buta. Sampai akhirnya, datanglah seorang Tukang Kayu.

Kepadanya, David bercerita dari mana asalnya dan apa yang membawanya sampai ke tempat itu. Tukang Kayu itu pun berkata, mungkin David harus bertanya pada Raja yang sudah sangat tua yang memiliki sebuah Kitab Tentang Yang Telah Hilang. Mungkin Raja punya jawaban atas apa yang harus dilakukan David.

Perjalanan David menuju kastil Raja tidaklah mudah. Ancaman utama datang dari Loup, serigala yang nyaris berwujud manusia. Mereka jalan dengan dua kaki, memakai baju tapi tetap licik dan menakutkan seperti serigala. Pemimpin kaum Loup bernama Leroi – yang ingin merebut takhta Raja. Mereka segera tahu, bahwa David adalah ancaman.

Dibantu Tukang Kayu, David berhasil lolos. Tapi, semua itu tidak berakhir. David menemukan banyak bahaya dan tantangan yang lebih mengerikan lagi. Kaum Loup yang terus mengejar David, bertarung dengan Binatang buas yang sangat mengerikan dan haus darah, bertemu penyihir yang mencari pemuda yang mau menciumnya agar ia terbangun dari tidurnya, sampai akhirnya ia harus berurusan dengan Lelaki Bungkuk yang selalu menawarkan kesepakatan.

David bagai ‘berjalan’ dalam sebuah buku fantasi yang selalu dibacanya. Hanya saja kisahnya tidak seperti yang selama ini ia kenal. Ia mendengar Kisah si Tudung Merah yang ternyata menjadi awal lahirnya Loup; Putri Salju yang ternyata pemalas dan pemarah; konspirasi pembunuhan terhadap Putri Salju yang ternyata didalangi oleh para tujuh kurcaci, sampai Putri Tidur yang ternyata penyihir yang menunggu pemuda tampan untuk disedot jiwanya.

Gue sempat bertanya-tanya, apa sih maunya si Lelaki Bungkuk ini… Dari awal cerita, ia seolah menjadi ‘bayangan’ saja dalam perjalanan David. Selalu mengendap-endap, membunuh semua musuh David demi kepentingannya sendiri.

Gue pikir, tadinya buku ini adalah buku fantasi untuk semua umur, fantasi yang menyenangkan a la Harry Potter, tapi ternyata… hadduuhhh… isi buku ini lumayan mengerikan. Penuh dengan darah yang berceceran, pembunuhan sadis dan mengerikan. Sosok si Lelaki Bungkuk yang dalam bayangan gue mirip si Smegaol di Lord of The Rings. Licik, sok baik dan ingin mengambil keuntungan sendiri. Meskipun tokoh utamanya anak kecil, tapi, buku ini sama sekali bukan diperuntukkan untuk anak-anak. Selain banyak penggambaran adegan sadis, juga banyak hal-hal lain untuk orang dewasa.

Read more »

Identitas Rahasia Devon Delaney

Identitas Rahasia Devon Delaney (The Secret Identity of Devon Delaney)
Laura Barnholdt
Ferry Halim (Terj.)
Penerbit Atria, Cet. I – Juni 2008
278 Hal.

Devon Delaney bukanlah siswi populer di sekolahnya. Ia hanya anak perempuan biasa yang bersama sahabatnya Mel, hanya bisa memandang dari jauh para siswa-siswi top di sekolah mereka, termasuk Jared, cowok idola Devon.

Tapi, liburan musim panas di rumah neneknya berbuntut masalah besar. Ketika itu, Devon berkenalan dengan seorang gadis bernama Lexi. Kepada Lexi, Devon mengaku bernama Devi, punya pacar nama Jared, termasuk kalangan siswi top. Pokoknya gambaran yang sangat berbeda dari keadaan diri Devon sebenarnya.

Tentu saja, ketika itu Devon beranggapan dirinya tidak akan pernah bertemu dengan Lexi lagi. Maka itu, ketika tiba-tiba saja Lexi muncul di kelasnya sebagai murid baru, Devon langsung bingung. Kebohongan demi kebohongan muncul untuk menutupi hal yang sebenarnya.

Lexi yang baru beberapa hari muncul di sekolah langsung masuk ke jajaran gank The A-List alias siswa-siswi top. Tentu saja, Lexi beranggapan Devon juga ada di kelompok yang sama. Karuan Lexi bingung melihat Jared yang sering bersikap tak acuh pada Devon, atau Kim, salah satu cewek di A-List yang juga sering tidak peduli pada Devon.

Kacaunya lagi, ternyata Jared menyukai Lexi. Devon langsung menyusun skenario lain jangan sampai Lexi tahu akan hal ini. Buntutnya, karena Devon lebih sering berkumpul dengan teman-teman barunya, persahabatannya dengan Mel jadi berantakan. Mel merasa disisihkan.

Masalah lain datang. Salah satu teman Jared, Luke, ternyata menyukai Devon. Devon makin bingung. Membuat ia harus berpikir keras bagaimana cara menuntaskan semuanya.

Kaya’nya sih cerita ini biasa aja. Untungnya si tokoh – Devon – bukan cewek yang biasa digambarkan sebagai ‘itik buruk rupa’ yang tiba-tiba menjelma jadi putri cantik Jelita. Devon hanya cewek biasa dengan tampang yang lumayan deh, hanya saja ia gak bisa jadi seseorang yang ‘menonjol’.

Kalo mau dibilang lucu… gak juga sih. Gue malah ribet ngebaca Devon yang selalu kalang-kabut nutupin kekonyolannya sendiri.
Read more »

Jumat, 29 Agustus 2008

Zaman Edan, Indonesia diambang Kehancuran

Judul : Zaman Edan, Indonesia Diambang Kehancuran
Penulis : Richard Lyyod Parry
Penerjemah : Yuliani Lupito
Penyunting : Anton Kurnia
Penerbit : PT. Serambi Ilmu Semesta
Cetakan : I, Mei 2008
Tebal : 451 hlm

“Buku ini membahas tentang kekerasan dan tentang rasa takut” (hal 25)

Demikian yang diungkapkan oleh Richard Lyyod Parry, jurnalis Times – London dalam kata pengantarnya di buku ini. Apa yang dikatakannya memang tak mengada-ngada. Buku yang ditulis berdasarkan hasil reportasenya ketika bertugas di Indonesia pada 1997-2001 memang secara umum memaparkan kekerasan yang pernah terjadi di beberapa bagian di wilayah Indonesia pada kurun waktu tersebut.

Dalam buku yang diberinya judul “In The Time of Madness, Indonesia on the Edge of Chaos” (2005) dan diterjemahkan oleh Penerbit Serambi menjadi “Zaman Edan, Indonesia Diambang Kehancuran” (2008), Richard Llyod Parry menyuguhkan tiga buah peristiwa mencekam yang dialaminya ketika sedang bertugas di Kalimantan (1997–1999), kerusuhan Mei 1998 di Jakarta, dan kejahatan kemanusiaan di Timor Timur (1998–1999)?

Dimulai dengan bab Musibah yang Mendekati Aib : Kalimantan (1997-1999). Parry menyuguhkan kisahnya saat masuk ke daerah konflik perang antar etnik Dayak dengan suku Madura di pedalaman Kalimantan. Bagi yang tak tahan dengan kisah-kisah berdarah, bersiap-siaplah untuk mual ketika membaca bab ini.

Seperti halnya pemicu-pemicu kerusuhan di berbagai tempat di Indonesia, pemicu perang tersebut sebenarnya hanyalah hal yang sepele. Saat digelar panggung dangdut di Sanggauledo, Kalimantan (perbatasan dengan Sarawak Malaysia), dua orang gadis Dayak diganggu oleh pemuda Madura. Perkelahianpun pecah dan seorang pemuda Dayak, putra kepala desa setempat tertikam.

Peristiwa tersebut bagaikan menyulut api dalam sekam, ketegangan diantara kedua ras yang telah terbangun selama bertahun-tahun menyebabkan peristiwa sepele ini berubah menjadi sangat serius dan memicu serangan-serangan balas dendam yang berujung pada peperangan antar etnik.

Berdasarkan adat dan tradisi Suku Dayak saat berperang, mereka memanggil roh peperangan Kamang Tairu untuk menghadapi orang Madura. Imbalannya Kamang Tairu perlu diberi makan dengan darah, karenanya orang Dayak memenggal kepala orang Madura, membawa kepala-kepala itu sebagai trofi, kemudian membelah bagian punggung mayat-mayat itu untuk mengambil jantung yang akan mereka makan selagi masih segar.

Dengan mata kepala sendiri sendiri, Parry melihat bagaimana mayat-mayat berserakan tanpa kepala dengan lubang menganga di punggungnya. Puluhan kepala-kepala terpenggal dipajang diatas drum, dan disisi lain sekelompok orang sedang membakar sate daging manusia untuk dimakan, bahkan dirinyapun tak luput dari ajakan orang-orang Dayak untuk ikut memakan sate manusia!

Apa yang mendasari orang-orang Dayak untuk berbuat demikian keji? Dalam penutup bab ini, Perry mengutip pendapat seorang guru Dayak atas apa yang telah mereka lakukan terhadap mereka yang melanggar adat Dayak.

“Di mata orang Dayak,” ujar seorang guru Dayak, “Ketika orang tidak menghormati adat kami, mereka menjadi musuh, dan kami tidak memandang musuh kami sebagai manusia lagi. Mereka menjadi binatang di mata kami. Dan orang Dayak memakan binatang.” (hal 129)

Di bab berikutnya, Perry menuturkan kisahnya ketika ia meliput suasana pemilu 1997 situasi ketika terjadi demonstrasi di kampus Trisakti, kerusuhan massal di Jakarta 1998, dan peristiwa lengsernya Soeharto. Selain itu di bagian ini ia juga menungkapkan mengenai sosok Soeharto, dikatakan bahwa masa kecil Soeharto sangat menderita dan tidak bahagia. Setelah kelahirannya, ibunya menghilang. Beberapa hari kemudian dia ditemukan di dalam ruangan gelap sebuah rumah kosong dalam keadaan mirip kesurupan. Sejak itu ia dititipkan secara bergilir diantara paman, bibi, dan sahabat keluarganya. Tiga kali ia diculik oleh salah satu orang tuanya dan pindah rumah sembilan kali sebelum menamatkan sekolahnya.

Lalu disinggung pula soal gaya hidup Soeharto, rumahnya di jalan Cendana termasuk kategori rumah yang sederhana dan biasa yang mungkin jika tak diberitahu orang tak akan menyangka kalau itu adalah rumah seorang presiden. Rumahnya dipenuhi bukan oleh harta benda melainkan cindera mata dan hiasan murahan. Bahkan mantan menteri Lingkungan Hidup Sarwono Kusumaatmadja mengungkapkan bahwa “Banyak artefak tak bermakna di seputar rumah itu, warna-warninya tidak selaras, ukurannya tidak sepadan-rasanya seperti memasuki toko souvenir.” (hal 175)

Sedangkan di Bagian ketiga buku ini, yang merupakan bagian yang paling panjang dan palin mengugngkap sisi emosional Parry atasketakutan yang dialaminya adalah mengenai Timor Timur. Di bagian ini Parry mengisahkan petualangannya menembus belantara Timor untuk bergabung dengan Falintil, tentara gerilyawan pendukung kemerdekaan.

Melalui investigasinya dengan orang-orang yang ditemuinya, akan terungkap berbagai pelanggaran HAM berat yang dilakukan oleh tentara-tenara Indonesia ketika memburu para gerilyawan.

“Tak terhitung jumlah penududuk desa Timor yang dibakar, dibom, ditembak atau dibiarkan kelaparan hingga mati.” : Pada waktu lain, sekitar seratus orang, banyak diantara mereka perempuan, anak-anak, dan lanjut usia, yang berlindung di sebuah gua selama pengeboman dari udara, terkubur hidup-hidup ketika sebuah bom berkekuatan besar diledakkan di luar dan menutup mulut gua sepenuhnya. Setelah dua minggu, erangan mereka tidak lagi terdengar.” ( hal 288)

Kisah petualangan Perry di bagian ini terus berlanjut hingga rakyat Timor Timur melakukan referedum untuk menentukan masa depan meraka dan bagaimana situasi Timor Timur paska referendum yang begitu mencekam karena kelompok milisi indonesia tampaknya tak rela jika mereka dikalahkan begitu saja lewat jejak pendapat yang hasilnya mengecewakan mereka. Selain itu terungkap pula situasi ketika dirinya dan beberapa wartawan asing berlindung dalam markas PBB di Timor Timur untuk menunggu evakuasi.

Dari ketiga bab yang terangkum dalam buku ini, tampaknya hanya bab : Cahaya Terang Jawa : 1998 yang tak banyak mengungkap hal-hal yang baru bagi pembacanya, seperti kita tahu peristiwa 98 telah banyak diulas baik dibuku-buku memoar para tokoh politik maupun media-media cetak lainnya. Namun bab ini masih menarik dicermati pada bagian mengenai kehidupan Soeharto yang digambarkan sebagai Raja Jawa atau “Paku Bumi”.

Bagian yang mengungkap berbagai fakta baru dan mengejutkan adalah bab Musibah yang mendekati Aib: Kalimantan 1997-1999, dan Kandang Hiu : Timor Timur 1998-1999. Bagi masyarakat awam, kedua peristiwa ini mungkin tak banyak diketahui. Berita-berita mengenai kerusuhan di Kalimantan hanya beredar dari mulut kemulut dan hanya terungkap sekilas di media-media cetak. Sedangkan berita mengenai situasi di Timor Timur yang begitu mencekam sebelum dan setelah jejak pendapat hanya kita peroleh dari sumber resmi koran-koran nasional yang tentunya bersikap hati-hati dalam mengungkap fakta yang ada.

Karenanya buku ini tampaknya bisa membuka wawasan kita dalam melihat ketiga perstiwa kerusuhan dari sudut pandang dan kacamata seorang jurnalis asing yang dikenal piawai dalam menulis situasi di daerah-daerah konflik di dunia. Walau demikian, tentunya unsur-unsur subyektif penulisnya tak lepas dari apa yang ditulisnya, terlebih dalam tulisannya mengenai Timor Timur yang tampak condong ke pro kemerdekaan Timor. Karenanya kitapun tetap harus bersikap kritis terhadap apa yang ditulisnya dan membandingkannya dengan buku-buku lain yang membahas mengenai kejadian tersebut.

Dalam buku ini, tampaknya Parry melakukan sedikit kesalahan data, antara lain ketika menyebutkan partai politik peserta pemilu 1997 di halaman 34, dimana partai banteng merah (PDI) nomor urutnya tertukar dengan Beringin Kuning (Golkar). Entah mengapa kesalahan ini dibiarkan saja oleh penerjemahnya, jika di buku aslinya memang dibiarkan demikian mungkin ada baiknya penerjemah memberikan catatan kaki mengenai kesalahan ini.

Sedangkan untuk cover buku terjemahannya, tampaknya penerbit Serambi tak melakukan banyak perubahan, sesuai edisi aslinya, buku ini didominasi oleh warna merah gelap dengan ilustrasi wayang. Namun Serambi mengganti tokoh wayangnya, jika edisi aslinya menampilkan tokoh wayang Arjuna, maka di edisi terjemahannya yang tampak adalah tokoh wayang Batara Kala si pembawa petaka. Dalam hal ini tampaknya cover edisi terjemahannya lebih sesuai dengan tema buku ini.

Akhir kata, membaca buku Zaman Edan ini memang menarik, berbagai fakta mengejutkan yang mengiringi kekerasan dan kekacauan terjalin dengan kalimat-kalimat yang lentur, lincah, renyah dan dan enak dibaca. Inilah jurnalisme sastrawi yang sesungguhnya. Hasil reportase Parry tidak sekedar mengungkapkan fakta, tempat, dan waktu, namun juga menghadirkan emosi dan dsekripsi-deskrpisi mendetail sehingga membaca buku ini seolah membaca novel horor yang diangkat dari sebuah kisah nyata.

Semuanya ini tersaji dengan begitu hidup sehingga pembacanya seolah-olah berada bersama dengan Parry berpetualang ke daerah-daerah konflik.

Buku ini telah melaporkan peristiwa kerusuhan di tiga tempat, Jakarta, Kalimantan, dan Timor Timur dengan begitu menarik. Masih ada Ambon, Papua, dan Aceh, dll yang mungkin suatu saat perlu ditulis seperti buku ini. Semoga para jurnalis Indonesia bisa mengikuti jejak Richard Lyyod Parry, melaporkan apa yang dilihat dan dialaminya di daerah-daerah konflik di Indonesia dalam balutan jurnalisme sastrawi secara obyektif dan enak dibaca tanpa harus dibatasi oleh jumlah karakter atau sensor oleh dewan redaksi dimana biasa mereka mempublikasikan tulisan-tulisannya.


Sekilas tentang Penulis

Richard Lyood Parry adalah koresponden luar negeri yang kini bekerja untuk The Times London. Jurnalis yang tahun ini berusia 39 tahun kini bermukim di Tokyo. Tahun 1995 Parry menjadi koresponden harian Inggris, The Independent. Barulah pada 2002 ia pindah ke harian Times. Sepanjang karirnya ia telah berutugas di lebih dari 24 negara termasuk di daerah-daerah konflik seperti Irak, Kosovo, Afghanistan, Vietnam, dll. dan menulis pula untuk Granta, the London Review of Books, dan the New York Times Magazine.

Oleh beberapa kalangan Buku In The Time of Madness dipuji sebagai buku laporan perjalanan ke jantung kegelapan, dan menampilkan gaya bertutur (storytelling) ala Conrad, Orwell, dan Ryszard Kapuscinski. Tak heran jika buku ini masuk dalam nominasi a Dolman Best Travel Book Award 2006, penghargaan untuk buku-buku kisah perjalanan.

@h_tanzil

Read more »

Jumat, 15 Agustus 2008

Jalan Raya Pos, Jalan Daendels

Dalam rangka memperingati 200 tahun pembangunan jalan Anyer-Panarukan (1808-2008) yang dikomandoi oleh Daendels, sekaligus dalam rangka memperingati hari kemerdekaan, 17 Agustus 2008, maka izinkan saya mempostingkan ulang buku karya Pramoedya AT - Jalan Raya Pos, Jalan Daendels.

Semoga dengan membaca buku ini kita akan menghargai para pahlawan pembuat jalan Raya Pos sepanjang 1000 kilometer yang masih bisa kita lalui hingga kini

@ h_tanzil

Judul : Jalan Raya Pos, Jalan Daendels
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Lentera Dipantara
Cetakan : I, Oktober 2005
Tebal : 145 hal
ISBN : 979-97312-8-3


Jalan Raya Pos, Jalan Daendels, membentang 1000 km sepanjang utara Pulau Jawa, dari Anyer sampai Panarukan. Dibangun dibawah perintah Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu : Herman Willem Daendels (1762-1818). Ketika baru saja menginjakkan kakinya di Pulau Jawa Daendels berangan untuk membangun jalur transportasi sepanjang pulau Jawa guna mempertahankan Jawa dari serangan Inggris.

Angan-angan Daendels untuk membangun jalan yang membentang antara Pantai Anyer hingga Panarukan, direalisasikannya dengan mewajibkan setiap penguasa pribumi lokal untuk memobilisasi rakyat, dengan target pembuatan jalan sekian kilometer. Yang gagal, termasuk para pekerjanya, dibunuh. Kepala mereka digantung di pucuk-pucuk pepohonan di kiri-kanan ruas jalan. Gubernur Jendral Daendels memang menakutkan. Ia kejam, tak kenal ampun. Degan tangan besinya jalan itu diselesaikan hanya dalam waktu setahun saja (1808). Suatu prestasi yang luar biasa pada zamannya. Karena itulah nama Daendels dan Jalan Raya Pos dikenal dan mendunia hingga kini.

Walau Jalan Raya Pos dikenal dan selalu diajarkan di bangku-bangku sekolah namun bisa dikatkan tak ada buku yang secara khusus mengungkap sejarah pembuatan dan sisi-sisi kelam dibalik pembuatan Jalan Raya Pos. Buku terbaru karya Pramoedya Ananta Toer(Pram) ini bisa dikatakan dapat mengisi kekosongan literatur Jalan Raya Pos dalam khazanah buku-buku berlatar belakang sejarah dewasa ini. Walau buku ini bukan merupakan buku sejarah resmi, namun buku yang ditulis Pram dimasa tuanya ini (1995) dapat dijadikan sebuah buku yang mengungkap dan memberi kesaksian tentang peristiwa kemanusiaan yang mengerikan dibalik pembangunan Jalan Raya Pos.

Buku ini ditulis dengan mengalir, tanpa pembagian bab. Pada halaman-halaman awal Pram mengurai awal ketertarikannya pada Jalan Raya Pos yang memakan banyak korban jiwa para pekerja paksa yang ia golongkan sebagai genosida, pembunuhan besar-besaran ia juga menyinggung beberapa genosida yang awalnya dilakukan oleh Jan Pietersz Coen (1621) di Bandaneira, Daendels dengan Jalan Raya Posnya (1808), Cuulturstelsel alias tanam paksa, genosida pada jaman Jepang di Kalimantan, genocida oleh Westerling (1947) hingga genosida terbesar dalam sejarah bangsa Indoenesia di awal-awal pemerintahan Orde Baru.

Di halaman-halaman selanjutnya setelah mengurai sejarah tercetusnya ide pembuatan Jalan Raya Pos di benak Daendels Pram membagi bukunya ini berdasarkan kota-kota yang dilewati dan berada disepanjang Jalan Raya Pos. Pram mencatat dan mengurai 39 kota yang berada dalam jalur Jalan Raya Pos, baik kota-kota besar seperti Batavia,Bandung, Semarang, Surabaya, maupun kota-kota kecil yang namanya jarang terdengar bagi masyarakat umum seperti Juwana, Porong, Bagil dan lain-lain.

Secara rinci Pram mengungkap sejarah terbentuknya kota-kota tersebut, dampak sosial saat dibangunnya Jalan Raya Pos, hingga keadaan kota-kota tersebut pada masa kini. Dengan sendirinya masa-masa kelam ketika Jalan Raya Pos dikerjakan akan terungkap di buku ini. Ketika Jalan Raya Pos sampai di kota Sumedang dimana pembangunan jalan harus melalui daerah yang sangat berat ditembus, di daerah Ciherang Sumedang, yang kini dikenal dengan nama Cadas Pangeran. Para pekerja paksa harus memetak pegunungan dengan peralatan sederhana, seperti kampak, dan lain-lain. Dengan medan yang demikian beratnya inilah untuk pertama kalinya ada angka jumlah korban yang jatuh, 5000 orang!

Ketika pembangunan jalan sampai di daerah Semarang, Daendels mencoba menghubungkan Semarang dengan Demak. Kembali medan yang sulit menghadang. Bukan hanya karena tanahnya tertutup oleh rawa-rawa pantai, juga karena sebagian daripadanya adalah laut pedalaman atau teluk-teluk dangkal. Untuk itu kerja pengerukan rawa menjadi hal utama. Walau angka-angka korban di daerah ini tidak pernah dilaporkan, mudah diduga betapa banyaknya kerja paksa yang kelelahan dan lapar itu menjadi makanan empuk malaria yang ganas (hal 94). Sumber Inggris melaporkan seluruh korban yang tewas akibat pembangunan Jalan raya Pos sebanyak 12.000 orang!. Itu yang tercatat, diyakini jumlah korban lebih dari itu. Tak pernah ada komisi resmi yang menyelidiki.

Selain mengungkap sisi-sisi kelam dibalik pembangunan Jalan Raya Pos, Pram juga senantiasa menyelipkan penggalan kenangan-kenangan masa muda dirinya pada kota-kota disepanjang Jalan Raya Pos yang pernah ia singgahi. Ada kenangan yang pahit, mengesankan, dan lucu yang pernah dialaminya di berbagai kota yang ditulisnya di buku ini. Sebut saja pengalaman lucu ketika Pram muda yang sedang dalam tugas ketentaraannya bertugas di daerah Cirebon, dalam kegelapan malam secara tak disengaja ia pernah buang hajat disebuh tungku dapur yang disangkanya kakus, padahal tungku itu masih berisi sisa singkong rebus untuk rangsum para laskar rakyat.(hal 79)..O la la….!

Buku ini diutup dengan bab "Dan Siapa Daendels" yang ditulis oleh Koesalah Soebagyo Toer. Dalam bab ini diuraikan biografi singkat Daendels. Selain itu bagian daftar pustaka yang menyajikan sumber-sumber pustaka yang digunakan Pram untuk menyusun buku ini mencakup buku-buku yang terbit dipertengahan abad ke 19 hingga akhir abad ke 20. Tak heran jika membaca karya ini pembaca akan mendapatkan hal-hal yang detail mengenai sejarah kota yang dilalui oleh Jalan Raya Pos.

Yang patut disayangan pada buku ini adalah tidak adanya peta yang secara jelas menggambarkan rute-rute Jalan Raya Pos. Buku ini hanya menyijikan reproduksi dari peta kuno yang diambil dari Rijks Museum Amsterdam (hal 129). Peta yang tak mnggambarkan Pulau Jawa secara utuh dan huruf yang tak terlihat pada peta tersebut tentu saja menyulitkan pembaca untuk memperoleh gambaran akan sebuah jalan yang dibuat Daendels sepanjang Anyer hingga Panarukan ini.

Jalan Raya Pos, Jalan Daendels diselesaikan oleh Pramoedya pada tahun 1995, entah apa yang membuat buku ini harus menuggu 10 tahun untuk diterbitkan, tak ada penjelasan dari penerbit mengenai mengapa baru sekarang buku ini diterbitkan, padahal beberapa tahun setelah karya ini diselesaikan era reformasi memungkinkan diterbitkannya karya-karya Pram secara bebas. Namun walau bisa ditakan terlambat diterbitkan, buku ini masih sangat relevan untuk dibaca oleh siapa saja karena buku ini merupakan sebuah buku kesaksian tentang peristiwa genosida kemanusiaan paling mengerikan dibalik pembangunan sebuah jalan sepanjang 1000 km yang dibangun beraspalkan darah dan air mata manusia-manusia pribumi yang dipaksa untuk membangunnya.

@h_tanzil
Read more »

Kamis, 14 Agustus 2008

New Moon (Dua Cinta)

New Moon (Dua Cinta)
Stephenie Meyer@2006
Monica Dwi Chrenayani (Terj.)
GPU, Cet. II – Juli 2008
600 Hal.


Setelah Bella hampir saja jadi mangsa vampire, keluarga Cullen, terutama tentunya Edward, makin protektif terhadap Bella. Tapi, ketika mereka harus berhadapan dengan Bella yang sedang terluka, mereka pun harus berusaha keras untuk menahan diri mereka ketika mereka melihat 'darah' di depan mereka.

Secara gak sengaja, waktu Bella sedang merayakan ulang tahunnya yang ke 18 di rumah keluarga Cullen, jari Bella tergores kertas dan terluka. Langsung semua vampire itu tertegun dan menatap Bella dengan 'lapar'. Hanya Carlisle yang dokter, yang tetap brsikap tenang. Pesta pun jadi kacau dan berantakan.

Puncaknya, Edward memutuskan untuk meninggalkan Bella, dengan alasan, karena keluarga Cullen tidak bisa lagi lebih lama tinggal di Forks karena mereka akan terlihat tidak semakin tua dan mereka akan pindah ke LA.

Sejak Edward pergi, hidup Bella jadi seperti robot, statis, 'hidup segan, mati tak mau'. Sampai-sampai, ayahnya, Charlie pun gerah melihatnya. Teman-teman sekolah Bella juga menjauhinya karena sikapnya yang aneh.

Akhirnya, Bella memutuskan untuk berubah. Ia menemui Jacob Black, teman lama yang pernah ia temui di La Push. Tapi, ternyata, Jacob menyimpan rahasia yang gak kalah misterius.

Gara-gara jati diri Jacob yang baru, Bella harus memilih apakah tetap berteman dengan para vampire atau berteman dengan Jacob. Karena berteman dengan keduanya, mungkin malah menimbulkan masalah baru yang bakal membuat mereka saling bertentangan.

Masalah lainnya, adalah Victoria, teman James - vampire yang hampir saja membunuh Bella, ternyata masih berkeliaran untuk balas dendam atas kematian James. Belum lagi, Bella yang kembali harus berhadapan dengan keluarga vampire lain yang gak nyaris gak bisa menahan diri untuk tidak menghisap darah Bella.

Sebenernya, rada cape' juga baca buku ini. Untungnya, di buku kedua ini, masalah gak hanya berputar-putar sama Bella dan Edward. Justru, Edward muncul hanya di awal dan menjelang akhir buku. Kaya'nya si Jacob lebih cool and macho deh, daripada Edward yang katanya berwajah 'beautiful' itu.
Read more »

Twilight

Twilight
Stephenie Meyer@2005
Lily Devita Sari (Terj.)
GPU, Cet. II – Juli 2008
520 Hal.

Isabella Swan harus pindah ke kota kecil bernama Forks untuk tinggal bersama ayahnya, Charlie Swan, karena ibunya Renee memutuskan untuk mengikuti Phil kekasih barunya dalam meniti karir di dunia persepakbolaan. Bella harus kembali ke kota tempat ibunya dulu meninggalkan ayahnya. Suasana Forks yang muram, jarang bermandikan cahaya matahari, seolah mendukung sikap Bella yang sebenarnya tidak antusian untuk kembali ke kota kelahirannya.

Di kota kecil ini, semua seolah sudah saling mengenal. Anak-anak saling berteman, orang tua saling berteman, bahkan mungkin kakek-nenek-buyut mereka juga saling mengenal. Bella sempat merasa kesepian.

Sebagai pendatang baru, segera saja Bella jadi pusat perhatian. Karena, jarang ada anak baru di tempat mereka, dan begitu anak baru datang, segera jadi bahan pembicaraan. Pribadi Bella cenderung tertutup, tapi ia gak menolak diajak berteman dan mudah bergaul tapi tetap saja ada bagian-bagian dari diri Bella yang menjaga jarak. Bahkan ketika Mike Newton, salah seorang temannya mengajak ke acara pesta dansa, Bella menolak dengan alasan ada acara lain yang mengharuskannya pergi keluar kota.

Di Forks High School, ada sekelompok remaja yang berpenampilan aneh dan selalu menyendiri bersama kelompok mereka, yaitu anak-anak keluarga Cullen – Emmet, Rosalie, Edward, Alice dan Jasper. Mereka sangat aneh, wajah mereka selalu tampak dingin, mata mereka diselimuti bayangan gelap, gerakan mereka tampak anggun dan luwes, wajah mereka berwajah tampan dan cantik. Sebuah keindahan yang klasik. Di kantin, meskipun makanan terhidang di depan mereka, tapi, tampaknya mereka tidak pernah menyentuh makanan itu. Mobil yang mereka pakai ke sekolah juga mobil yang tergolong mewah, berbeda dengan anak-anak Forks lainnya. Menurut cerita yang didengar Bella dari teman-temannya, mereka semua adalah anak-anak angkat Dr. Carlisle dan Esme Cullen.

Di dalam pelajaran biologi, kebetulan Bella duduk bersebelahan dengan Edward Cullen. Perkenalan pertama tidak meninggalkan kesan yang baik di mata Bella. Malah Bella mengira ada sesuatu yang salah dengan bau badannya sampai-sampai Edward duduk sejauh mungkin dari Bella. Meskipun geram, tapi Bella penasaran dengan keberadaan Edward Cullen. Bahkan menantikan kedatangannya ketika Edward tidak ada.

Tapi, suatu hari, Edward menyelamatkan Bella dari sebuah kecelakaan. Bella sempat bertanya-tanya pada dirinya sendiri, karena ada sesuatu yang janggal ketika kecelakaan itu terjadi. Mulailah Bella mencari tahu tentang diri Edward Cullen. Kedekatan mulai terjalin di antara mereka, meskipun Edward tetap menutup diri dari pertanyaan-pertanyaan Bella yang penuh rasa curiga dan rasa ingin tahu.

Sampai akhirnya, ketika Bella sedang berjalan-jalan ke La Push, sebuah kawasan reservasi suku Indian, ia berkenala dengan Jacob, anak Billy - teman ayah Bella. Dari Jacob-lah, Bella mendengar sebuah legenda tentang kelompok pemburu yang haus darah. Mereka adalah pemburu dengan kata lain adalah sekelompok vampire. Beruntung mereka tidak memburu manusia, tapi mencari darah segar hewan.

Buntutnya, Edward dan Bella semakin dekat. Pelan-pelan, Bella mulai mengenal seluruh anggota keluarga Cullen dan latar belakang sampai akhirnya mereka menjadi vampire. Demi menghindari kecurigaan orang-orang di sekitar karena mereka tidak pernah bertambah tua, keluarga Cullen kerap berpindah tempat, mencari pemukiman yang minim matahari.

Pergaulannya dengan keluarga vampire pun membuat Bella berada dalam bahaya. Karena, keberadaan Bella di sekitar keluarga Cullen tercium oleh kelompok vampire lain yang lebih berbahaya daripada keluarga Cullen.

Sampai kapan Edward bakal bertahan untuk menjaga Bella dari vampire lain, maupun dari dirinya sendiri? Bisa dibaca dibuku-buku selanjutnya, yaitu New Moon dan Eclipse.

Sebenernya, mungkin ini adalah cerita romance biasa, tapi yang bikin gue tertarik, adalah tokohnya yang manusia biasa plus para vampire. Yang bikin seru ada di bagian-bagian akhir, yaitu bagian ‘perburuan’ James, si vampire jahat yang mengincar Bella. Sempat membuat gue berpikir, “Ngerepotin banget sih, si Bella!”

Harus sabar-sabar membaca bagian ‘telenovela’-nya Bella dan Edward (hehehe.. namanya juga novel romance…). Pasangan yang unik karena Bella adalah cewek yang punya ‘masalah’ dengan koordinasi antara kaki, tangan – dan otak. Hal yang menjadikan Edward amat sangat protektif terhadap Bella. Tapi…hmmm.. rasa-rasanya, koq gampang banget ya, Edward ‘mengakui’ siapa diri dia sebenarnya. Padahal identitas, jati diri adalah hal amat sangat dijaga kerahasiaannya oleh keluarga Cullen selama beratus-ratus tahun lamanya. Hanya karena seorang ‘Bella’, Edward yang sedingin es itu pun langsung ‘meleleh’. Tapi yang luar biasa adalah gimana seorang vampire – meskipun dia ‘vegetarian’ - berusaha mati-matian menjaga seorang manusia untuk tetap jadi manusia.
Read more »

Senin, 11 Agustus 2008

Lanang

Judul : Lanang
Penulis : Yonathan Rahardjo
Editor : A. Fathoni
Penerbit : Pustaka Alvabet
Cetakan : I, Mei 2008
Tebal : 414 hlm


Sebenarnya agak terlambat untuk membicarakan novel Lanang – Yonathan Rahardjo, pemenang harapan II novel DKJ 2006. Novel yang terbit sejak Mei 2008 ini telah banyak menuai komentar, ada yang memuji dan ada juga yang mengkritiknya. Ketika novel ini dibahas di TIM pada bulan Juli yang lalu, novel ini didiskusikan dengan sangat kritis oleh para pengamat dan pelaku sastra nasional.

Arpesiasi atas novel ini ternyata tak berhenti di ruang-ruang diskusi sastra, kritikan, pujian, dan beraneka tanggapan dari berbagai kalangan terus berseliweran di ruang cyber, baik di milis-milis sastra, maupun blog-blog yang membahas buku ini. Kini semua komentar, diskusi, essai, dan makalah yang membahas novel ini telah dikumpulkan oleh penulisnya dalam sebuah blog yang diberi nama http://novellanang.co.cc

Novel ini diawali dengan deskripsi suasana pedesaan ketika dokter hewan Lanang tengah menolong kelahiran seekor anak sapi perahan. Proses kelahiran anak sapi ini berlangsung dengan lancar dan disambut gembira oleh si empunya sapi. Pulangnya, saat lanang memadu kasih dengan istrinya, mucullah sosok mengerikan dari dalam tanah. Bentuknya menyerupai babi, namun memiliki sayap dan bisa terbang. Belum lagi Lanang sadar dari rasa kagetnya, burung babi hutan yang memporak porandakan rumahnya itu terbang dan lenyap entah kemana.

Kemunculan burung babi hutan itu ternyata diikuti oleh kematian mendadak sapi-sapi perah di desa tempat lanang bekerja, bagai wabah ganas, kematian itu menyebar hingga ke seantero nusantara. Para ahli ternak mulai mencari penyebab wabah kematian sapi-sapi perah itu, namun penyakit aneh yang menyertai kematian para sapi perah tak bisa diidentifikasi secara ilmiah hingga seorang dukun hewan memastikan bahwa burung babi hutan yang pernah mendatangi lananglah penyebab wabah tersebut.

Lanang terobesesi untuk mencari tahu apa sebenarnya mahluk tersebut. Berbagai usaha dilakukannya hingga akhirnya berkat kegemarannya mengumpulkan cairan tubuh dari para wanita yang dikencaninya, ia berhasil merumuskan sebuah cara ilmiah plus mistis guna menghadirkan sosok burung babi hutan. Usahanya tersebut berhasil, burung babi hutan berhasil ditembaknya hingga tewas. Bersamaan dengan tewasnya mahluk tersebut lenyap juga wabah penyakit yang melanda para sapi perahan

Lanang pun menjadi pahlawan. Namun ini bukan akhir dari kisah Lanang, tewasnya burung babi hutan belum menjawab apa dan darimana mahluk tersebut berasal. Peran Lanang sebagai pahlawan pemberantas wabah penyakit hewan tiba-tiba dipertanyakan dan digugat dalam sebuah seminar Kehewanan Nasional. Selain itu rumah tangga Lanang pun diguncang prahara. Kehidupan Lanang berada dalam titik terendahnya. Secara intelektual dan emosional ia dihancurkan oleh sebuah konspirasi tingkat tinggi yang justru dilakukan oleh kolega-koleganya sendiri.

Sanggupkah Lanang bertahan, darimana dan apakakah sebenarnya burung babi hutan itu muncul? Layaknya sebuah novel misteri, semua misteri dan berbagai kejutan tak terduga akan tersaji di lembar-lembar terakhir novel ini.

Novel dengan keragaman tema

Novel yang dibuat oleh seorang dokter hewan sekaligus pecinta dan pelaku sastra ini memiliki keragaman tema. Ada soal cinta, seks, kemunfaikan, psikologis, dan isu-isu sosial yang menyangkut lingkungan kesehatan hewan dan bioteknologi.

Secara psikologis karakter dalam tokoh-tokoh novel ini bisa dibilang menarik. Pada awalnya kita akan disuguhkan karakter Lanang sebagai dokter hewan yang berdedikasi, mencintai istrinya dan tampak taat menjalankan ritual agamanya. Namun Lanang bukanlah tokoh yang sempurna, sedikit demi sedikit kebusukan dan perilakunya yang aneh dan rapuh akan terungkap. Demikian juga dengan tokoh-tokoh lainnya, seperti Putri, istrinya, Dewi, teman seprofesinya, dan Rajikun di dukun hewan yang kontroversial.

Konflik kejiwaan dan karakter tokoh-tokohnya ditampilkan secara mendalam sehingga membangun novel ini menjadi sebuah novel psikologis yang mengungkap sisi malaikat dan sisi iblis pada tiap manusia.

Tema lain yang menonjol dalam novel ini adalah mengenai lingkungan dunia kesehatan hewan. Tampaknya penulis menumpahkan semua pengetahuan akademisnya dan wawasan lingkungannya sebagai seorang dokter hewan pada novel ini. Seluk beluk mengenai dunia kesehatan hewan dieksplorasi dengan baik termasuk intik-intrik didalamnya dan berbagai konspirasi dalam dunia kesehatan.

Dan yang paling menarik adalah tema rekayasa genetika. Akan terungkap bagaimana penggunaan zat-zat transgenik dalam pengolaan pakan hewan bagaikan pisau bermata dua, di satu pihak dapat memacu produktivitas hewan namun sekaligus bisa berdampak menimpulkan penyakit baru. Ironisnya, hal ini ternyata disengaja agar produsen obat penangkalnya bisa memasarkan produknya dengan maksimal.

Dan hal yang lebih ekstrim lagi adalah akibat rekayasa genetika yang dicobakan pada hewan-hewan yang ada disekeliling kita. Misalnya bagaimana seekor monyet yang diberi gen ubur-bur akan membuat monyet tersebut berpendar dalam gelap, seekor babi yang memilik sayap setelah diberi gen seekor burung, atau pemberian gen manusia pada sapi perah agar dapat menghasilkan susu lebih banyak dan kandungan susu yang dihasilkan menjadi sama dengan ASI ! Semua itu akan terungkap dengan jelas pada novel ini.

Alur cerita

Novel yang ditulis dengan bahasa yang ‘nyastra’ ini memiliki alur kisah yang tak terlalu cepat, kalimat-kalimat yang puitik dalam mendeskripsikan sesuatu tampaknya turut membuat alur kisahnya berada dalam kecepatan yang sedang-sedang saja.

Ketika membaca novel ini, pembaca akan diajak bagaikan menaiki sebuah roler coaster. Perlahan tapi pasti pembaca dibawa menaiki puncak ketegangan dari novel ini. Klimaksnya adalah dengan tertembaknya burung babi hutan ditangan dokter lanang.

Uniknya hal ini terdapat di pertengahan novel ini. Tentunya pembaca akan bertanya-tanya, kalau begitu kisah apa lagi yang akan ditemui di sisa halaman selanjutnya? Yang pasti setelah itu situasi kembali mengendur sesaat, emosi pembaca akan diajak kembali menanjak menuju klimaks berikutnya yang berakhir di lembar-lembar terakhir novel ini.

Novel ini juga menyisipkan berbagai teka-teki dan misteri sehingga walau tak memiliki alur kisah yang cepat, hal ini dapat mengikat pembacanya untuk terus betah melahap novel ini hingga selesai guna mencari jawab semua teka-teki dan misteri yang terdapat dalam novel ini.

Novel yang menuai kritik dan pujian

Seperti telah diungkap diatas, novel ini ternyata menuai beragam tanggapan, baik yang positif maupun negatif. Yang memuji, umumnya mengacungkan jempol pada penulisnya karena keberaniannya menghadirkan tema mengenai rekayasa genetik, seluk beluk peternakan, dll yang merupakan wilayah yang jarang dibicarakan di sastra Indonesia.

Yang mengkritik, menyorot soal terlalu banyaknya deskripsi-deskripsi puitik yang mengganggu alur cerita, beberapa kejadian yang tidak masuk akal, hingga struktur kalimatnya yang dianggap berantakan.

Terlepas dari berbagai kritik atas novel ini, saya pribadi bisa menikmati novel ini hingga tuntas, bahkan banyak mendapat pencerahan melalui dialog-dialog seputar kesehatan hewan, bioteknologi, rekayasa genetik, kritik sosial, hingga intrik-intrik politik dunia kesehatan tanah air yang mungkin merupakan cermin apa yang sesungguhnya terjadi di dunia kedokteran hewan dan peternakan di tanah air.

Dibalik pencerahan yang saya dapat memang ada beberapa hal yang mengganggu seperti beberapa puisi yang menurut saya mengganggu alur kisahnya, terutama di bagian ketika Lanang menumpahkan kekesalannya pada kolega-koleganya melalui kalimat-kalimat puisi sebanyak hampir 3 halaman ! Saya terpaksa melompati bagian ini karena sama sekali tak bisa menikmati puisi tersebut.

Sedangkan untuk peristiwa yang menurut saya ganjil adalah ketika Lanang digempur oleh rekan-rekannya dalam seminar Kehewanan Nasional. Umpatan-umpatan dan tuduhan yang ditujukan pada Lanang tampak terlalu berlebihan dan emosional sehingga tidak mencerminkan suasana sebuah seminar nasional yang dihadiri oleh ahli2 dokter hewan dari luar negeri.

Kehadiran sosok burung babi hutan sendiri saya rasa terlalu mengada-ngada dan agak sulit bagi saya untuk menghadirkan sosok tersebut dalam benak saya. Saya rasa dengan tema, pesan, dan muatan yang sama tak perlulah penulis menghadirkan sosok mahluk aneh dan terkesan mistis. Jika saja burung babi hutan digantikan dengan sejenis virus, seperti virus flu burung yang hingga kini masih menjadi momok di negara kita, pasti novel ini akan lebih membumi dan bermanfaat karena ada kesempatan bagi penulisnya untuk mengemukakan hal-hal baru mengenai virus ini.

Selain itu usaha ketika lanang akhirnya memperoleh suatu rumusan yang mencampuradukkan unsur bioteknologi, mistis, dan religi untuk memanggil burung babi hutan saya rasa terlalu berlebihan dan diluar nalar saya yang awam dengan kajian bioteknologi.

Nah, dibalik semua kelebihan dan kekurangannya tersebut, novel yang telah hadir dan menyemarakkan jagad sastra kita ini setidaknya memiliki nilai-nilai baik. Seperti yang ditulis oleh koran tempo, novel ini telah mengangkat satu isu yang sangat aktual, yaitu mengenai teknologi transgenik yang masih diwarnai perdebatan sampai sekarang, Selain itu terungkap pula tarik menarik antara kedokteran modern dangan pengobatan alternatif, hubungan suami istri, serta isu lingkungan.

@h_tanzil
Read more »

Minggu, 03 Agustus 2008

Petualangan Tintin - Cerutu Sang Firaun

Judul : Petualangan Tintin - Cerutu Sang Firaun
Penulis : Herge
Penerjemah : Donna Widjajanto
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 64 hlm ; 22 cm

Diantara sekian banyak komik Tintin yang pernah saya baca, Cerutu Sang Pharaoh (Indira) atau Cerutu Sang Firaun (Gramedia, 2008) merupakan salah satu judul favorit saya. Saya pertama kali membacanya saat masih duduk di bangku SMP. Saya teratik dengan covernya yang menggambarkan Tintin dan Milo (Snowy) sedang mengendap-ngendap dalam sebuah makam lengkap dengan latar heliograf dan mumi yang berderet-deret. Saat itu, saya juga sangat tertarik dengan lambang / simbol sang Firaun yang terdapat di buku ini. Saking sukanya akan simbol tersebut, saya sering menggambarkan simbol sang firaun tersebut di buku-buku tulis saya semasa SMP.

Karenanya ketika Gramedia menerbitkan kembali seri petualangan Tintin, maka Cerutu Sang Firaun merupakan buku Tintin pertama yang saya beli setelah sebelumnya saya memperoleh 2 judul lain (Tintin di Soviet & Si Kuping Belah) secara gratis atas kebaikan Gramedia.

Di awal kisahnya, diceritakan Tintin bersama Milo sedang dalam perjalanan menuju Shanghai. Di atas kapal ia bertemu dengan Philemon Siclone yang mengaku memiliki manuskrip dengan simbol Firaun berupa peta lokasi kuburan Firaun Kih-Oskh yang hilang . Banyak ahli Mesir berusaha menemukannya, anehnya mereka semua hilang tak berbekas. Untuk itu Siclone mengajak Tintin bergabung untuk bersama-sama menemukan kuburan Firaun yang hilang itu.

Namun belum sampai tujuan, malam sebelum kapalnya berlabuh di Port Said, seseorang menjebak Tintin dengan memasukkan narkoba kedalam kabinnya. Tintin pun ditangkap dan dikurung dalam kabinnya oleh detektif kembar Dupond dan Dupont. Namun ketika kapal telah berlabuh di Port Said, Tintin dan Milo berhasil meloloskan diri.

Di Port Said Tintin bertemu kembali dengan Siclone dan akhirnya berhasil menemukan makan Sang Firaun yang hilang. Ketika Tintin memasuki ruang makam, betapa kagetnya karena ia menemukan para peneliti Mesir yang dikabarkan hilang telah menjadi mumi, dan yang lebih mengerikan lagi telah tersedia tiga sarkofagus kosong dengan nama Siclone, Tintin dan Milo.

Belum pulih dari rasa kagetnya, Tintin tiba-tiba terjebak dalam kuburan itu. Saat mencari jalan keluar, ia menemukan beberapa peti berisi cerutu dengan symbol Sang Firaun. Namun tiba-tiba kepalanya pusing dan iapun jatuh pingsan.

Apa yang terjadi pada Tintin, mengapa ada cerutu dalam makam sang Firaun?, Berhasilkah ia menemukan jalan keluar dan memecahkan misteri yang ia temui? Yang pasti dalam petualangannya kali ini kita akan diajak mengungkap sindikat perdagangan narkoba mulai dari Mesir, Arab, hingga India. Dan bak menonton film James Bond, kita akan disuguhkan petualangan baik di laut, darat dan udara.

Berdasarkan urutan kronologisnya, Cerutu Sang Firaun merupakan kisah ke 4 dari petualangan Tintin. Untuk pertama kalinya kisah ini dirilis pada tahun 1932. Di komik inilah untuk pertama kalinya pasangan detektif Dupond dan Dupont (Thomson & Thompson) muncul. Selain itu, Cerutu Sang Firaun juga menjadi pemunculan pertama Roberto Rastapopoulos, musuh abadi Tintin yg kerap tampil sampai beberapa episode berikutnya.

Ketika komik ini dibuat, penemuan makam Firaun sedang menjadi topik yang hangat sehingga mengilhami Herge untuk membuat kisah Tintin yang terperangkap dalam makam sang Firaun lengkap dengan hieroglif dan mummi. Bahkan Herge mencantumkan para peneliti yang dikenal telah meninggal secara misterius setelah melakukan ekspedisi makam-makam Firaun. Sedangkan untuk logo Firaun, nampaknya Herge mengadaptasi dari lambang Yin dan Yang sehingga jika diperhatikan akan ada kemiripam yang signifikan.

Seperti yang menjadi ciri khas komik petulangan Tinitin, dalam komik ini Herge menunjukkan berbagai akurasi gambar dengan kondisi sebenarnya seperti hieroglif pada makam Firaun, menara Port Said, pakaian tentara-tentara Arab, termasuk senapannya. Dan juga pesawat tempur DH-80 buatan Inggris, 1929. Selain itu penggambaran fisik bangsa India beserta kebudayaannya juga tersaji secara akurat. Semua itu menandakan bahwa Herge telah melakukan riset yang dalam untuk menghidupkan latar dalam tiap komik-komiknya.

Namun ada juga kejanggalan dalam judul ini, contohnya di halaman 15 Sheik Patrash Pasha terlihat menunjukkan sebuah buku komik Tintin yang berjudul ‘Perjalanan ke Bulan’. Padahal kisah Perjalanan ke Bulan baru dibuat dua puluh tahun kemudian setelah kisah Cerutu sang Firaun dibuat.

Menurut Tintinologist (situs resmi Tintin), kejanggalan tersebut dikarenakan komik Tintin telah berulangkali dilakukan revisi atau penggambaran ulang oleh Herge sendiri. Pada versi Petit Vingtieme, komik yang ditunjukkan Sang Pasha pada Tintin adalah komik “Tintin di Amerika”, sedangkan di edisi kedua yang diperlihatkan adalah ‘Tintin di Congo’. Hal ini juga disebabkan karena pembuatan/penerbitan Tintin versi warna yang memang tidak seusaui dengan urutan versi awalnya yang masih berupa komik hitam putih

Kisah petualangan Tintin dalam membongkar sindikat narkoba dalam Cerutu sang Firaun akan terus berlanjut dalam kisah Lotus Biru. Tak heran jika dalam Cerutu Sang Firaun belum terungkap secara jelas siapa otak mafia dibalik penyebaran narkoba yang disamarkan dalam bentuk sebuah cerutu bersimbol Sang Firaun.

@h_tanzil
Read more »

Senin, 21 Juli 2008

Vereeniging Toertistenverker Batavia (1908-1942)

Judul Buku : Vereeniging Toertistenverker Batavia (1908-1942)
Awal Turisme Modern di Hindia Belanda
Penulis : Achmad Sunjayadi
Penerbit : Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) UI
Cetakan : Des 2007
Tebal : 143 hlm

Penelitian mengenai sejarah perkembangan turisme di Indonesia masih sangat jarang dilakukan. Belum banyak yang mengetahui bahwa perkembangan turisme modern di Indonesia diawali dengan dibentuknya sebuah perhimpunan turisme di Batavia pada 1908 yang bernama Vereeniging Toeristenverkeer (VTV).

Pengaruh VTV sebagai peletak dasar perturisan di Indonesia masih terasa hingga kini. Misalnya, beberapa obyek wisata yang diunggulkan dan cara-cara pemerintah Indonesia dalam mempromosikan obyek-obyek wisatanya tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda melalui VTV.

Apa yang mendasari terbentuknya VTV, bagaimana sejarah turisme modern berkembang di Indonesia, dan apa pengaruhnya bagi perkembangan kepariwisataan di Indonesia hingga kini? Semua jawaban atas pertanyaan diatas dapat ditemui pada buku ini yang sebenarnya diangkat dari tesis penulisnya dan telah dipertahankan di Program Studi Ilmu Sejarah Pascasarjana FIB UI.

Dalam buku ini dinyatakan bahwa turisme modern di Hindia Belanda pada awal abad ke-20 tidak terlepas dari perkembangan industri turisme di Eropa yang berkembang setelah industrialisasi menjelang pergantian abad. Selain itu dipicu pula oleh munculnya kelas masyarakat baru, yaitu kelas pengusaha yang memiliki penghasilan lebih dan ingin melepaskan diri sejenak dari kepenatan pekerjaan mereka.

Hindia Belanda yang pada masa itu merupakan salah satu koloni Belanda adalah salah satu tujuan para pelancong Eropa dan Amerika. Sebelum abad ke-20, pemerintah Hindia Belanda melakukan pembatasan dan pengawasan kepada mereka yang hendak berkunjung ke Hindia Belanda. Ketertutupan ini menyebabkan Hindia Belanda menjadi wilayah yang misterius. Apa yang didengar oleh masyarakat Eropa tentang kehidupan di Hindia Belanda hanyalah berita mengenai wabah penyakit, bencana alam, perang antar suku, dan santet, namun keadaan seperti inilah yang justru semakin membangkitkan rasa penasaran para pelancong Eropa.

Barulah pada 1904 setelah Perang Aceh usai, pemerintah Hindia Belanda mulai membuka diri terhadap para pelancong Eropa. Jawa dianggap wilayah yang paling layak untuk dijadikan obyek yang memperlihatkan suatu wilayah yang telah dikuasai baik secara sosial, politik, ekonomi maupun budaya.

Karenanya pemerintah Hindia Belanda segera menjadikan wilayahnya sebagai daerah tujuan turisme. Hal ini ditandai dengan didirikannya perhimpunan turisme pertama Hindia Belanda yang dinamakan Vereeniging Toeristenverkeer (VTV) yang dibentuk dan diresmikan oleh Gubernur JenderaL Hindia Belanda, Van Heutsz pada tahun 1908.

VTV yang beranggotakan para pengusaha yang mempunyai hubungan dengan turisme (perusahaan transprotasi, perhotelan, pemilik toko, perbankan, dll) ini untuk pertama kalinya membuka kantornya di Batavia. Kantor ini bertugas untuk mempromosikan, memberikan informasi, dan membuat reklame turisme yang kemudian disebarkan baik di dalam maupun di luar negeri. Awalnya perhimpunan ini mengawali kegiatannya di Jawa, lalu meluas ke Bali, Sumatera, Kalimantan, hingga ke kepulauan Maluku.

Secara rinci buku ini memuat bagaimana usaha-usaha yang dilakukan oleh VTV dan pemerintah Belanda dalam mempromosikan obyek-obyek wisata di Hindia pada masa itu. Pembahasan buku ini memiliki lingkup rentang waktu antara 1900-1942 dengan lebih memfokuskan pada masa peranan VTV (1908-1942). Tak hanya itu, masa sebelumnya, yaitu antara 1850-1908 juga dibahas untuk mengetahui kondisi turisme sebelum didirikannya VTV di Hindia Belanda.

Periode 1850 dipilih sebagai patokan awal pembahasan buku ini karena tahun tersebut merupakan tahun munculnya turisme modern di dunia yang dirintis oleh Thomas Cook. Sementara tahun 1942 dipilih sebagai berakhirnya obyek penelitian penulisnya karena berdasarkan sumber-sumber yang ada, turisme di Hindia Belanda terganggu akibat masuknya Jepang dan diperkirakan di masa ini VTV otomatis tidak berfungsi.

Buku ini disajikan dalam empat bab, selain prolog dan epilog. Pada bab I diurai situasi turisme di Hindia Belanda, dan kebijakan pemerintah dalam hal turisme, khususnya di Jawa sebelum dibentuknya VTV.

Pada bab II, diketengahkan alasan-alasan pembentukan VTV dan bagaimana struktur organisasi, kegiatan-kegiatan promosi dan analisa jumlah turis setelah terbentuknya VTV. Selain itu dibahas pula mengenai kendala-kendala yang dihadapi dalam mengelola turisme di Hindia Belanda.

Peran VTV dan perkembangan turisme modern di Hindia dianalisa pada bab III. Hal-hal yang dibahas adalah promosi turisme sebegai representasi kolonial, pergeseran daerah turisme dari Jawa ke Bali, pembukaan jalur penerbangan pertama, profil para turis yang datang serta obyek-obyek wisata yang disarankan untuk dikunjungi.

Di Bab IV akan dikemukakan hasil analisa pengaruh VTV terhadap turisme modern di Jawa, serta pengaruh dan akibat turisme modern terhadap para neo priyayi pribumi melalui pembentukan VTV lalu dikaitkan dengan citra ‘Indonesia’ yang dibentuk oleh perhimpunan turisme ini.

Ada banyak hal yang menarik yang akan kita temui dalam buku ini. Antara lain akan
terungkap bahwa daerah-daerah yang paling sering dikunjungi para turis pada masa itu adalah obyek alam dan budaya, seperti daerah pegunungan di Priangan, Tosari di Jawa Timur,dll. Selain itu candi-candi Buddha dan Hindu seperti Borobudur, Prambanan, dan Mendut, juga merupakan lokasi yang paling sering dikunjungi.

Selain keindahan panorama alam dan budaya, VTV juga menjual ‘keprimitifan’ penduduk pribumi. Sehingga di tahun 20-an ketika Jawa semakin modern maka daerah tujuan wisata dialihkan ke Pulau Bali yang saat itu dianggap masih ‘asli’ dan kuno dibanding Jawa.

Tari-tarian daerah juga menarik perhatian para turis, contohnya ketika pada tahun 1889 pemerintah Hindia Belanda ikut dalam pameran Exposition Universelle di Paris-Perancis. Paviliun Hindia Belanda menampilkan para penari dari Jawa. Pertunjukan ini mendapat sambutan yang hangat karena para pengunjung dapat menyaksikan secara langsung para penari yang ‘separuh telanjang’ (hanya menggenakan kain sebatas dada) di muka umum. ‘Ketelanjangan’ di muka umum di masa itu merupakan hal yang luar biasa karena sebelumnya mereka hanya bisa melihat melalui lukisan dan kartu pos dari negeri Timur.

Masih banyak hal-hal menarik yang akan kita temui dalam buku ini. Diluar bagian yang membahas struktur organisasi VTV, bahasan lain dalam buku ini pastinya akan menarik baik bagi para sejarahwan maupun para pembaca awam yang ingin mengetahui lebih banyak tentang sejarah dan kondisi turisme di Indonesia di jaman Hindia Belanda. Walau buku ini pada awalnya merupakan sebuah tesis namun tak berarti buku jadi rumit dan susah dimengerti. Saya pribadi yang tidak memiliki latar pendidikan sejarah dapat membaca dan menikmati buku ini hingga tuntas.

Hingga tulisan ini dibuat, buku ini baru dicetak dan beredar secara terbatas di lingkungan kampus Fakultas Ilmu Budaya – Universitas Indonesia dan tidak diperdagangkan. Mungkin sudah waktunya buku ini dibaca oleh masyarakat luas, terlebih para pemerhati dan praktisi turisme di Indonesia, karena mungkin baru buku inilah yang membahas sejarah turisme di Indonesia dalam kurun waktu tertentu secara komprehensif.

Selain itu seperti yang diungkap oleh penulisnya, apa yang tersaji dalam buku ini diharapkan dapat memperkaya mozaik historiografi tentang sejarah turisme di Indonesia yang masih sangat kurang. Selain itu, buku ini diharapkan dapat mendudukkan sejarah turisme sebagai bagian dari historiografi Indonesia, mengingat adanya anggapan bahwa turisme di Indonesia belum lama berkembang. (hal xvii).

Sedikit catatan jika buku ini kemudian dicetak dan diterbitkan untuk umum, tentunya perlu diperbanyak lagi ilustrasi-ilustrasinya baik berupa gambar maupun kisah-kisah pengalaman para pelancong ketika mengunjungi Hindia Belanda di masa itu. Walau berupa kisah-kisah perjalanan yang remeh temeh, namun hal tersebut akan membuat buku ini menjadi lebih menarik dan lebih hidup lagi.

Untuk halaman-halaman yang berisi foto-foto dari majalah atau brosur di tahun 30-40an tentunya jika disajikan secara berwarna akan lebih menarik. Cover buku berupa foto hitam putih kantor VTV di Batavia saya rasa sudah sangat pas dengan pokok bahasannya dan menghadirkan nuansa masa lampau seperti yang dibahas dalam buku ini.

Selain itu walau agak diluar cakupan pembahasan buku ini, mungkin perlu pula sedikit disinggung mengenai organisasi turisme pertama di Indonesia yang dikelola oleh para bumiputera yang mungkin tumbuh bersamaan atau merupakan kelanjutan dari VTV setelah perkumpulan ini praktis bubar ketika kedatangan Jepang dan kemerdekaan Indonesia.

Sedikit tentang penulis

Achmad Sunjayadi, lahir di Jakarta 11 Mei 1973. Lulus dari Program Studi Belanda FSUI 1996. Setelah bekerja sebagai pengajar bahasa Belanda dan mengikuti kuliah di Dutch Studies, Universitiet Leiden, Belanda, pada 2003 ia melanjutkan studi Ilmu Sejarah di Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia dan lulus tahun 2006. Saat ini bekerja sebagai pengajar tetap di Program Studi Belanda FIB UI, dan beberapa tempat lainnya.

Tulisan-tulisannya kerap dipublikasikan di media-media cetak nasional, antara lain, Femina, Kompas, Seputar Indonesia, Ujung Pandang Express, de Volkskrat, dll. Karya-karya ilmiahnya juga telah dipublikasikan di berbagai jurnal dan media ilmiah.

Selain itu penulis juga telah menerjemahkan beberapa buku, antara lain Batavia Awal Abad XX – HCC Clockener Brousson (Komunitas Bambu, 2004), Lembah Kekal, Euwege Vallei: Sajak-sajak Sitor situmorang dalam bahasa Indonesia dan terjemahan bahasa Belanda (Komunitas Bambu & Kedutaan Besar Belanda, 2004), dan Melintas Dua Jaman: Kenangan tentang orang Indonesia sebelum dan sesudah kemerdekaan, otobiografi Elien Utrecht. (Komunitas Bambu & NLPVF,2006)

Penulis juga aktif meresensi buku-buku bertema sejarah dalam blog bukunya : http://sunjayadi.com/

@h_tanzil
Read more »

Senin, 14 Juli 2008

Menyusuri Lorong-Lorong Dunia – jilid 2

Catatan Perjalanan Plus Plus !

Judul : Menyusuri Lorong-Lorong Dunia – jilid 2
Penulis : Sigit Susanto
Penyunting : Puthut EA
Penerbit : Insist Press,
Cetakan : I, Maret 2008
Tebal : xvi + 477 hal

“…aku ingin memboyong seluruh lorong kota atau negara yang sedang aku kunjungi untuk dibawa pulang ke negeri sendiri. Jangan ada satu jejakku yang lepas dari catatan, ketika aku berada di kota atau negeri asing itu”. (hal 11)

- Sigit Susanto, Menyusuri Lorong-Lorong Dunia jilid 2-

Demikian tekad Sigit Susanto, seorang petualang sejati dan penyuka sastra yang hingga tulisan ini dibuat telah mengunjungi sebanyak 27 negara bersama istri tercintanya, Claudia Beck. Dari Swiss dimana ia tinggal dan bekerja, ia memulai petualangannya menyusuri lorong-lorong dunia. Ia rela menyisihkan sebagian penghasilan sebagai buruh pabrik elektronik hinga juru masak hamburger, yang penting ia masih punya waktu dan uang untuk bepergian dan belajar sastra.

Ketekunannya yang luar biasa untuk mencatat semua kisah perjalanannya kini telah berbuahkan dua buah buku catatan perjalanan. Tahun 2005 terbit buku catatan perjalanannya yang berjudul Menyusuri Lorong-lorong Dunia (Insist Press). Dan kini, terbitlah sekuel dari buku pertamanya. Masih dengan judul yang sama hanya diberi imbuhan ‘jilid 2’, mengisyaratkan bakal ada jilid-jilid selanjutnya selama Sigit masih berkelana dan mencatat semua kisah perjalanannya.

Buku pertamanya sukses di pasaran, resensinya muncul di lebih dari 5 media cetak lokal dan nasional. Semuanya bernada positif dan memuji apa yang dicatat oleh Sigit Susanto dalam bukunya. Dan kesemua resensi tersebut sepakat bahwa apa yang ditulis oleh Sigit Susanto menawarkan sesuatu yang ‘lain’ dibanding buku-buku kisah perjalanan lainnya.

Dibanding buku pertamanya, dibuku keduanya ini jumlah negara yang dikunjunginya menyusut hampir setengahnya. Jika dibuku pertamanya Sigit mencatat perjalanannya di 13 negara, kini ia hanya mencatat sebanyak 7 negara saja (Swiss, Dublin, Hongaria, Potugal, Maroko, China, dan Vietnam). Alih-alih memperbanyak jumlah negara yang dikunjunginya, di buku keduanya ini Sigit mencatat kisah perjalanannya dengan begitu detail sehingga dari segi ketebalan buku, buku ini tampak lebih gemuk dibanding yang pertama.

Selalu ada Sastra

Tampaknya dunia sastra sudah mendarah daging dalam jiwa Sigit. Ketika penulis kisah-kisah perjalanan lainnya berasyik-asyik menulis keeksotisan panorama alam yang dilihatnya dan mencerecap nikmatnya keragaman kuliner yang memabukkan raga, Sigit malah mengurai dunia sastra yang ia sesuaikan dengan konteks negara yang dikunjunginya.

Buku ini dibuka dengan bab “Ullyses Dibaca selama Tiga Tahun”. Dari judulnya saja sudah sangat jauh dari kesan sebuah tulisan mengenai catatan perjalanan pada umumnya. Di bab ini Sigit menceritakan pengalamannya mengikuti reading groups Ullyses di kota Zurich, Swiss.

Di dua bab berikutnya, Sigit masih keasikan menulis hal-hal seputar James Joyce. Ia tumpahkan semua informasi yang dimilikinya tentang Joyce dan karya-karyanya. Mulai dari perayaan Blomsday, hingga menyusuri Dublin untuk menapaktilasi kehidupan Joyce disana.

Tulisannya tentang Joyce bisa dikatakan cukup komprehensif, selain mengunjungi rumah-rumah yang pernah ditempati Joyce dan museum James Joyce, Sigit juga mengurai biografi Joyce beserta ulasannya mengenai proses kreatif dibalik pembuatan Ullyses. Tak hanya itu di bab ini disertakan juga teks satu halaman pertama Ullyses dalam bahasa inggris. Singkat kata, ketiga bab pertama dalam buku ini bisa dijadikan pengantar yang sangat baik bagi mereka yang ingin mendalami dunia Joyce.

Jika di Dublin kita diajak berkenalan dengan Joyce, maka di Budapest-Hongaria ada Imre Kertesz, peraih nobel sastra 2002, Erno Szep, penyair dan wartawan. Di Portugal ada Vasco da Gama, Fernando Antonio Pessoa (1888-1935), Jose Saramago, dll. Di Maroko ada Fettima Merissi, penulis feminis, di China kita akan bertemu Mao yang juga seorang penyair dan Lu Xun yang berkata, “Semua sastra adalah propaganda, tapi tidak semua propaganda itu sastra “( hal 303). Sedangkan di Vietnam ada Bao Ninh dan Le Thi Deim Thuy, penulis lokal yang menulis novel tentang perang vietnam. Selain itu ada juga Candi Sastra, sekolah pertama dan tertua di Vietnam.

Kesemua nama sastrawan diatas, walau tak sedetail Joyce ditulis dengan informatif beserta karya-karya terkemukanya. Selain bicara soal sastrawan dan karya-karyanya, beberapa kalimat yang nyastra juga ikut menghiasi buku ini, tanpa berlebihan Sigit mennyelipkan sejumlah metafora dalam kalimat-kalimatnya, seperti :

“Stasiun Desa Oberwil masih tidur. Tidak ada kereta di pagi itu yang bisa membawa kami ke bandara”, “Masih ada tiga jam lagi untuk mencumbui sudut-sudut kota yang alpa kami singgahi”, “Cahaya pagi matahari sontak tumpah di kamar. Kami terbangun agak malas.”

Pilihan kalimat-kalimat nyastra diatas tentu saja membuat buku ini semakin enak dibaca. Sigit memang dikenal dengan penutur yang baik. Membaca tulisan-tulisannya yang, deskrpitif, renyah, dan enak dibaca membuat seolah kita sendiri yang sedang berkelana menyusuri lorong-lorong dunia.

Realita Budaya dan Politik.

Tak hanya mencatat soal tempat dan sastra, Sigit juga senantiasa menyinggung realita budaya dan politik di tiap negara yang dikunjunginya. Terlebih ketika ia mengunjungi tiga negara sosialis (Hongaria, Vietnam dan China). Di tiga negara ini tampaknya Sigit antusias sekali mencari tahu pandangan masyarakat kecil mengenai kondisi sosial politik di negara-negara tersebut dan membandingkannya dengan kondisi di Indonesia

Untuk usahanya itu ia tak segan-segan menyelinap dari rombongan tournya dan mewawancarai tiap orang yang ditemuinya untuk memperoleh informasi. Jika dirasa masih juga belum lengkap, ia akan melengkapinya dengan sejumlah buku-buku yang yang dibacanya sebelum dan setelah ia mengunjungi negara tersebut. Karenanya tak heran buku ini menjadi sangat informatif.

Untuk memperkaya catatan perjalanannya ini, Sigit mengunyah lebih dari 100 buku yang dilahapnya dengan rakus. Semua buku yang dibacanya dan dijadikan sumber acuan tulisannya, tertera dalam daftar pustaka di lembar terakhir buku ini.

Ketika menulis realita sosial di setiap negara yang dikunjunginya, akan terungkap bahwa Sigit adalah seorang yang lembut hatinya, berkali-kali ia merasa gelisah manakala melihat ketimpangan dan ketidakadilan yang menimpa orang-orang kecil di negara yang ia kunjugi. Ketika berada di China, hatinya trenyuh melihat bagaimana tukang perahu harus turun ke sungai untuk mendorong perahu manakala sampai di sungai yang dangkal sementara para turis masih asik berada diatas perahu.

Sisi kemanusiaannya tergugah ketika melihat kuli-kuli di China berjalan sempoyongan mengangkut kopor-kopor milik wisatawan. Hatinya membatin resah karena beberapa wisatawan mengabadikan para kuli tersebut dalam kamera foto mereka. “Akankah mereka menjual kemiskinan China yang jarang diberitakan media ? Ataukah para wisatawan itu akan membuktikan, semaju-majunya China, di Barat, dunia mereka, tidak ada kuli seperti di China” (hal 318)

Peta dan Foto-foto

Selain dilengkapi dengan peta rute perjalanan, buku ini juga menyertakan sejumlah foto. Tak seperti di buku pertamanya yang menyajikan foto hitam putih tak jelas, kini foto-fotonya berwarna dan terlihat ‘kinclong’ karena dicetak secara khusus diatas kertas glossy. Sayang semua fotonya ditempatkan di akhir tiap bab, andai saja dapat diletakkan di sebelah halaman yang membahas tempat atau peristiwa dalam foto tersebut, tentunya pembaca akan lebih dimudahkan lagi dalam mengikuti petualangan penulisnya.

Sama seperti tulisannya yang tak mengumbar keeksotisan suatu tempat, beberapa foto dalam buku inipun menyajikan foto-foto bertema sosial. Di Dublin tersaji foto seorang pemabuk duduk di tengah patung Oscar Wilde dan Eduard Vilde, di Maroko ditampilkan foto tukang cerita yang sedang beraksi, lalu ada pula foto pengemis buta yang berderet-deret.

Di China, alih-alih menyajikan foto Tembok Besar dan kemegahan patung tentara Terra Cotta, Sigit malah menyajikan foto barisan orang yang sedang mengantri untuk menuju mouseleum Mao di Tainamen, selain itu ada pula foto seorang ibu yang menggendong anaknya di dalam keranjang bambu.

Foto penulisnya sendiri tampak dua kali mejeng di buku ini, pertama foto Sigit yang sedang membaca Ullyses dengan latar Martello Tower, Dublin. Kedua foto Sigit di depan monumen kapal ekspedisi Vasco da Gama, Lisabon. Sayang tak ada satupun foto penulis bersama istrinya. Padahal Sigit dan Claudia Beck selalu bersama dalam menyusuri lorong-lorong dunia. Dan lagi bukankah hampir di tiap bab, aktifitas sang istri juga turut mewarnai kisah perjalanan penulisnya?.

Catatan Perjalanan Plus Plus

Akhirnya, setelah melahap habis buku ini dan buku pertamanya, tak berlebihan jika saya katakan bahwa apa yang ditulis Sigit dalam dua bukunya ini bukan sekedar catatan perjalanan biasa. Buku ini merupakan Kumpulan Catatan Perjalanan Plus Plus !. Plus pertama adalah muatan sastranya, plus kedua adalah muatan sosial budaya dan politiknya. Kedua ‘plus’ inilah yang membuat buku ini menjadi begitu informatif, kaya materi, dan yang pasti akan menambah wawasan kita akan negara-negara yang dikunjungi penulisnya.

Namun harus disadari tak semua pembaca catatan perjalanan suka akan kedua plus diatas. Detailnya Sigit mengungkap sastra dan politik akan menjadi hal yang paling membosankan bagi mereka yang tak menyukai kedua bidang tersebut. Karenanya diperlukan positioning yang jelas bagi siapa buku ini diperuntukkan. Jika sekedar diperuntukkan bagi mereka penyuka traveling saja, tentunya ini bukan buku yang tepat. Namun jika diperuntukkan bagi para petualangan sejati yang juga menggemari sastra dan politik, buku inilah yang wajib dibaca dan dimiliki!

Apa yang kurang dibuku ini?

Anwar Holid, pengamat buku yang juga menjadi pembahas ketika buku ini diluncurkan di TB Ultimis Bandung mengungkap bahwa meski buku ini telah dieditori oleh Puthut EA yang dikenal sebagai ‘penulis yang kuat’, buku ini dari segi editing masih menyisakan bebagai kelemahan. Peta yang buruk, salah eja, inkonsistensi format, dan kekeliruan pencantuman indeks membuat hal-hal tersebut mesti segera diperbaiki bila nanti cetak ulang., demikian ungkap Anwar Holid.

Namun terlepas dari berbagai kekurangan di atas, buku ini tetap bisa saya nikmati dengan baik. Bagi saya yang tak pernah menjejakkan kaki ke luar negeri, membaca buku ini yang ditulis dengan renyah, mengalir, enak dibaca, dan kaya akan informasi sastra, membuat saya seolah ikut menyusuri lorong-lorong dunia sambil menekuni dunia sastra lewat halaman-halaman buku.

Sigit masih terus mencatat

Sesusai dengan tekadnya yang saya kutip di awal tulisan ini, Sigit masih akan terus mencatat semua kisah perjalanannya. Di pertengahan tahun 2008 ini saja sudah terjadwal kunjungannya ke 4 negara lagi. Tampaknya tak ada yang bisa menghentikan langkah kaki dan guratan penanya selama ia masih bekerja dan tinggal di Eropa.

Sigit masih terus berkelana dan mencatat kisah-kisahnya, akankah kembali dibukukan ? Apakah penerbit memiliki komitmen untuk menerbitkan jilid-jilid selanjutnya? Jika jawabannya “Ya”, maka seri Menyusuri Lorong Lorong Dunia akan merupakan buku seri catatan perjalanan yang kedua yang terbit secara konsisten setelah era legenda traveling Prof. HOK Tanzil yang pernah merajai tulisan catatan perjalanan di era 80an.

@h_tanzil
Read more »

Senin, 07 Juli 2008

Mohon Maaf...

Kepada para pengunjung setia blog ‘bukuygkubaca’, saya mohon maaf sebesar-besarnya karena sudah lebih dari 2 minggu ini saya belum juga meng-update review buku. Karena kesibukan baik di keluarga dan pekerjaan yang semakin menumpuk, otomatis jam baca saya semakin sempit sehingga buku yang saya baca tak juga rampung-rampung terselesaikan.

Sebenarnya saya sudah menyelesaikan buku Menyusuri Lorong-Lorong Dunia jilid 2 – Sigit Susanto, namun hingga kini belum sempat menuntaskan reviewnya. Semoga minggu depan bisa saya buatkan reviewnya

Seperti biasa walau waktu semakin sempit untuk membaca, ‘lapar mata’ terhadap buku tetap saja tak bisa dibendung. Di sela-sela menunggu mertua yang sakit di RS Boromoeus Bandung, saya menyempatkan diri ke counter TB Gramedia yang masih satu komplek dengan RS Boromeous.

Counter Gramedia yang mungil namun lengkap dan ditata dengan menawan itu membuat saya tak bosan-bosannya mampir untuk menghilangkan kejenuhan selama menunggu di rumah sakit. Setelah beberapa kali berkunjung akhirnya kemarin saya melihat sebuah buku sejarah :

Nusantara, Sejarah Indonesia
Judul Asli : Nusantara : A History of Indonesia
Penulis : Bernard HM. Vleke
Penerjemah : Samsudin Berlian
Penerbit : KPG, cet II April 2008
Tebal : 528 hal

Buku ini diterbitkan oleh KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) dan diterjemahkan dari edisi tahun 1961. Sebelumnya saya memang sudah mendengar bahwa buku yang banyak dijadikan sumber referensi oleh para peneliti sejarah ini telah diterjemahkan oleh KPG. Namun baru kali ini saya melihat wujud fisiknya.

Secara fisik buku Nusantara ini menarik, covernya yang berupa lukisan peperangan karya Rully Sutanto sangat menawan dan terkesan lebih menyerupai novel dibanding buku sejarah, selain itu halaman dalamnya dicetak diatas kertas yang ringan sehingga buku setebal 528 halaman ini terasa enteng ditangan.

Di halaman copyright ada hal yang menarik, berupa penjelasan dari penerbit sbb :

Penerbitan buku ini sudah melalui proses pencarian hak terjemahan sebagaimana mestinya. Kendati demikian, hingga buku naik cetak, penerbit belum berhasil menghubungi pemegang hak cipta buku yang sah. Penerbit akan menyelesaikan persoalan hak terjemahan buku ini segera setelah berhasil menghubungi pemegang hak cipta yang sah.

Wah, pernyataan yang jujur dari penerbit nih…

Akhirnya tanpa pikir panjang saya beli buku Nusantara tersebut seharga Rp. 60.000,-. Dan karena saya belum sempat membacanya, maka saya akan memberikan deskripsinya saja sesuai dengan yang tercetak di cover belakang buku ini.

Deskripsi :

Nusantara merupakan salah satu karya tentang sejarah Indonesia yang ditulis dengan perspektif komprehensif. Kurun waktu yang dibahas sejak zaman pra-kolonial sampai 1941.”Buku ini dirancang sebagai sejarah Indonesia dan bukan perluasan perusahaan dan koloni Belanda di luar negeri,” tukas Vlekke, seng penulis, dalam prakatanya. Karena itu, sejarah negara-negara dan pranata-pranata di Indonesia pra-kolonial mendapat porsi pembahasan lebih besar.

Uraiaannya tentang sejarah Indonesia pra-kolonial itu sangat penting dan kaya ilustrasi. Tentang Majapahit, misalnya. Menurut Vlekke, kejayaan Majapahit runtuh bukan disebabkan oleh kerajaan Islam.

Vlekke juga punya penjelasan menarik tentang mengapa masyarakat Jawa berbondong-bondong masuk Islam, tapi pada saat yang sama begitu bersahabat dengan tradisi lokal (sinkretis). Para raja Jawa, menurut Vlekke, memilih Islam bukan karena mereka suka dengan agama itu, melainkan karena situasi politik mendorong mereka untuk bertindak demikian. Mereka dihadapkan pilihan sulit antara memilih bersekutu dengan Portugis atau bekerjasama dengan Johor dan Demak, yang berarti harus memilih antara Kristen dan Islam.

Membaca Nusantara seperti membaca dongeng karena kaya ilustrasi. Inilah kelebihan lain karya ini dibandingkan kebanyakan buku sejarah tentang Indonesia.

Daftar Isi :

PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG GEOGRAFIS

BAB 1
FAJAR SEJARAH INDONESIA

BAB 2
KERAJAAN-KERAJAAN JAWA DAN SUMATERA

BAB 3
PENDIRI-PENDIRI IMPERIUM DI JAWA

BAB 4
MUSLIM DAN PORTUGIS

BAB 5
PEDAGANG DARI NEGERI RENDAH

BAB 6
INDONESIA DI ZAMAN SULTAN AGUNG
DAN ZAN PIETERSZOON COEN

BAB 7
KEUNGGULAN KEKUATAN LAUT DI INDONESIA

BAB 8
KERUNTUHAN NEGARA-NEGARA INDONESIA

BAB 9
ASPEK-ASPEK BARU KEHIDUPAN DI INDONESIA

BAB 10
ORANG BELANDA DAN INDONESIA PADA ABAD KE 18

BAB 11
HERMAN WILLEM DAENDELS,
NAPOLEON DARI BATAVIA

BAB 12
THOMAS STAMFORD RAFLESS, PENDIRI SINGAPURA

BAB 13
JOHANNES VAN DEN BOSCH DAN KAUM LIBERAL

BAB 14
PENYATUAN INDONESIA

BAB 15
BERAKHIRNYA SUATU KOLONI,
LAHIRNYA SUATU BANGSA

BAB 16
MENUJU PERANG DAN REVOLUSI

CATATAN
RINGKASAN KRONOLOGIS
INDEKS


Nah! Menarik bukan? Yang pasti melihat cover , membaca deskripsi, dan melihat daftar isinya membuat saya ingin segera membacanya.. Wah bertambah panjang lagi deretan buku-buku yang antri menanti untuk dibaca…..

Postingan ini bukan iklan atas buku NUSANTARA, namun hanya sekedar berbagi pengalaman membeli sebuah buku sejarah.

@h_tanzil
Read more »