Kamis, 15 Januari 2009

Maximum Ride#3: Saving the World and Other Extreme Sports

Maximum Ride#3: Saving the World and Other Extreme Sports (Menyelamatkan Dunia dan Olahraga Ekstrem Lainnya)
James Patterson @ 2007
Poppy Damayanti Chusfani (Terj.)
GPU – Desember 2008
504 Hal.

Melarikan diri lagi dari Sekolah. Di akhir buku kedua, Max, Fang, Nudge, Gasman, Iggy dan Angel, serta Total, sempat terperangkap di dalam Sekolah lagi. Tapi, berkat kerjasama dan saling mendukung yang kuat, mereka kembali berhasil meloloskan diri.

Pihak Sekolah tidak tinggal diam. Menurut mereka, sudah waktunya memusnahkan para makhluk gagal itu – setidaknya gagal menurut versi mereka. Semuanya, tidak terkecuali. Bahkan para Pemusnah pun akan turut dihancurkan.

Sementara itu, dalam pelariannya, para kawanan memutuskan bahwa mereka harus kembali menemukan tempat untuk menetap. Sebagai pemimpin, Max merasa wajib melindungi mereka. Akhirnya, Max dan Fang terbang berkeliling mencari tempat yang cocok untuk mereka.

Ketika Max dan Fang pergi, anggota kawanan yang lain diserang oleh Pemusnah jenis baru, yang dinamakan Flyboy. Ternyata, Flyboy bukanlah makhluk hidup, tapi lebih tepat disebut robot. Tubuh mereka terbuat dari besi dan mereka deprogram untuk menghancurkan para kawanan. Nudge dan kawanan yang lain tidak bisa menandingi Flyboy yang terlalu banyak jumlahnya. Mereka akhirnya tertangkap lagi dan menyadari ada pengkhianat di antara mereka.

Max dan Fang yang yang sedang berkeliling tidak menyadari apa yang terjadi dengan teman-teman mereka. Mereka malah sibuk bertengkar, sempat mampir ke rumah dr. Martinez yang kemudian berhasil mengeluarkan microchip dari lengan Max.

Ketika mereka menyadari bahwa teman-teman mereka tertangkap, Max dan Fang tahu harus menuju ke mana, ke tempat di mana mereka pun sudah ditunggu.

Akal dan siasat Max lagi-lagi berhasil meloloskan mereka dari Sekolah. Tapi, kawanan harus terpecah dua, karena Max dan Fang bersikeras pada pendirian mereka masing-masing. Sebuah kejutan membuat perpecahan itu terjadi.

Kawanan itu berpisah, melanjutkan misi menyelamatkan dunia dan menyebarkan kebusukan Itex dengan cara yang berbeda. Max memilih menyeberangi lautan menuju daratan Eropa, langsung ke titik sasaran yaitu markas besar Itex yang berada di Jerman. Sementara, Fang bersama Gasman dan Iggy, memilih berjuang lewat blog Fang yang semakin terkenal dan semakin banyak diakses oleh para pembacanya. Dukungan melalui blog pun mengalir deras, protes-protes dan demonstrasi berlangsung di berbagai cabang Itex.

Max yang berada di Jerman, harus menghadapi banyak kejutan yang mengaduk-aduk emosinya. Tapi, untung aja, Max pintar, jadi gak mudah terpengaruh dengan segala hal itu. Max juga harus menghadapi makhluk ciptaan Itex yang lebih ajaib lagi.

Banyak hal yang mengharukan muncul dalam buku ketiga ini. Siapa orang tua Max pun terungkap, tapi, tetap, perjuangan Max dan teman-temannya belum selesai. Di akhir cerita, mereka kembali terbang untuk menyelamatkan dunia.

Apakah ini akan jadi buku terakhir dari seri Maximum Ride? Tampaknya gak tuh… masih ada lanjutannya di ‘The Final Warning’… Uhhh.. tak sabar menanti. Apakah masih akan seseru seri-seri sebelumnya?
Read more »

Rabu, 14 Januari 2009

The Wedding Officer (Pejabat Pernikahan)

The Wedding Officer (Pejabat Pernikahan)
Anthony Capella
Gita Yuliani K. (Terj.)
GP, Oktober 2008
568 Hal.

Desa Fiscino, sebuah desa di lereng Gunung Vesuvio, Italia, sedang dalam keadaan penuh kegembiraan. Ada Festival Buah Aprikot, pemilihan buah apricot terbaik. Gak hanya itu, para kembang desa, juga memperebutkan gelar gadis tercantik di desanya.

Mungkin hanya Livia Pertini yang tidak tertarik dengan gelar gadis tercantik itu. Baginya, sebagai anak pemilik osteria yang terkenal lezat itu, yang penting adalah menyajikan masakan yang lezat. Konsentrasi penuh agar bisa menghasilkan masakan yang membuat orang berdecak dan kekenyangan.

Di hari itu juga, Livia jatuh cinta pada seorang perwira muda bernama Enzo. Usaha Enzo mendekati Livia yang galak tidak sia-sia, mereka pun menikah. Karena, di jaman itu, jangan coba-coba mendekati seorang gadis kalau si pemuda tidak berniat menikahinya.

Tapi, Perang Dunia memporak-porandakan kehidupan yang tenang dan bahagia. Italia pun hancur lebur, luluh lantak gara-gara perang. Datangnya tentara sekutu juga tidak banyak membantu. Malah timbul peraturan-peraturan aneh – tidak boleh menimbun bahan makanan, yang artinya banyak osteria gulung tikar atau sepi.

Para laki-laki dikirim ke medan perang – yang tinggal hanya anak-anak dan manula. Para perempuan memilih jadi pelacur, dengan harapan akan jadi pengantin perang tentang Inggris.

Gara-gara alasan itu pula, ada sebuah jabatan yang mengatur agar perempuan-perempuan Italia itu tidak bisa dengan sembarangan menikah dengan tentara-tentara sekutu. Adalah James Gould, perwira asal Inggris yang bertugas untuk memastikan hal itu .

Ditempatkan di Neapolitan, tanpa orang yang dia kenal, disajikan masakan dari ransum yang makin hari makin kacau, James mulai ‘pasrah’. Sampai Livia pun datang ke kediaman James.

Pertemuan pertama mereka lumayan kocak. Dan gara-gara perbuatan Livia yang dianggap melanggar segala aturan, Livia pun harus ikut ke Neapolitan, meninggalkan ayah dan adiknya. Tadinya, Livia terkatung-katung di awal kedatangannya di Neapolitan. Livia tidak mau ikut-ikutan jadi pelacur, sementara lowongan pekerjaan dipenuhi orang-orang lain. Akhirnya, Livia tiba di sebuah bar yang ditutup oleh James. Konspirasi antara pemilik bar dan orang-orang lain yang tidak puas dengan James, ‘menyelundupkan’ Livia untuk jadi juru masak di kediaman James.

Tentu saja, Livia pun memukau James dan yang lainnya dengan masakannya yang lezat itu. Livia bertemu lagi dengan James. Sempat terjadi kesalahpahaman sebelum akhirnya… ya.. tentu saja mereka jatuh cinta.

Tapi, gak mudah untuk mereka bersatu – karena perang membuat mereka harus berpisah sementara.

Dibanding ‘The Food of Love’, meskipun tentu saja masih soal cinta, buku ini ‘rada berat’, lebih tebal dan serius. Masakan lezat masih bertaburan. Tapi, banyak banget bagian yang menurut gue terlalu berpanjang-panjang dan sempat bikin cerita jadi gak asyik… yaitu, bagian perang di tengah-tengah cerita. Terus, gak asik waktu Livia jadi ‘serius’ pas dia gabung sama kelompok pemberontak.

Bagian yang gue suka adalah di awal cerita, gimana menyenangkannya Festival Buah Aprikot, kaya’nya hari itu indah banget. Ada bagian-bagian lucu juga, waktu pertama James ketemu Livia, plus, waktu Livia mikir James itu cowok yang ‘beda’.

Read more »

Jumat, 09 Januari 2009

Goodbye, Bush! - Sepatu Perpisahan dari Baghdad

Judul : Goodbye, Bush! - Sepatu Perpisahan dari Baghdad
Penulis : Muhsin Labib
Penyunting : Anwar M. Aris
Penerbit : Rajut Publishing House
Cetakan : I, Januari 2009
Tebal : 96 hlm

Siapa yang menyangka, seorang Presiden negara adidaya yang terhormat di akhir masa jabatannya akan dipermalukan harkat dan martabatnya oleh seorang wartawan dari negara yang di’jajah’nya. Minggu, 14 Desember 2008, presiden AS George W. Bush tiba di bandara Internasional Baghdad dengan pesawat kepresidenan AS yang paling bergengsi di dunia “Air Force One”.

Selain ingin berpamitan dengan tentara AS di Irak, tujuan utama Bush adalah untuk menandatangani pakta keamanan AS-Irak yang sempat direvisi beberapa kali dan ditentang oleh sebagian faksi di parlemen Irak. Usai menandatangani, Bush dan Perdana Menteri Irak Nuri al-Maliki melakukan konferensi pers. Dan saat itulah Bush menerima perlakuan memalukan yang bakal dikenang sepanjang masa baik oleh Bush pribadi maupun seluruh masyarakat dunia.

Karena peristiwa penandatangan pakta keamanan ini demikian penting, dan konferensi pers tersebut telah diagendakan sebelumnya, tentunya peristiwa ini dihadiri oleh para wartawan dalam dan luar negeri dengan kamera televisi yang siap menayangkannya secara live. Seluruh petugas Secret Service juga telah menyiapkan semua prosedur pengamanan super maksimum lengkap dengan peralatan canggihnya. Telah dipastikan dalam ruangan tersebut tak ada, bom, pistol, atau apapun yang mengancam keamanan Sang presiden dan perdana menteri.

Saat al-Maliki dan Bush berdiri di podium dengan tatapannya yang penuh kepercayaan diri hendak bersiap menjawab pertanyaan para wartawan, tiba-tiba peristiwa luar biasa terjadi. Seorang wartawan televisi Al-Baghdadia, Muntahar Al-Zaidi tiba-tiba melemparkan sepatunya ke arah Bush sambil berteriak , “Good bye, dog!”. Belum sempat para pengawal presiden bereaksi, Al-Zaidi melempar sebuah sepatunya lagi, untung Bush pandai berkelit sehingga kedua sepatu itu tak mengenai kepalanya.

Walau luput dari lemparan sepatu, namun peristiwa memalukan yang diliput secara live oleh hampir seluruh stasiun televisi dunia itu telah tersebar dengan cepat, menghibur banyak pemirsa dan segera saja menjadi bahan gurauan dan melahirkan berbagai reaksi dari seluruh masyarakat dunia. Tentunya peristiwa ini bisa menjadi insiden yang paling memalukan sepanjangi sejarah kepresidenan AS karena tapak sepatu adalah simbol penghinaaan pamungkas dalam budaya Arab. Setelah patung Sadam Husein dirobohkan di Baghdad pada April 2003, banyak orang memukuli wajah patung itu dengan tapak sepatu mereka.

Jika selama ini kita hanya membaca dan melihat peristiwa tersebut melalui koran-koran, televisi, streaming video di internet, dll. Kini kita bisa membaca peristiwa tersebut secara utuh melalui sebuah buku yang ditulis oleh Muhsin Labib, jurnalis, cendekiawan muslim, salah satu penulis buku best seller “Ahmadinejad! David di tengah angkara Goliath Dunia “ (Hikmah, 2006).

Buku ini tampaknya memang sengaja dibuat secara cepat oleh penerbitnya agar kisah sepatu itu masih segar dalam ingatan kita. Jika diistilahkan mungkin buku ini disebut dengan flash book’ atau ada juga yang menyebutnya ‘magazine book’ , buku yang dibuat untuk menangkap sebuah moment peristiwa yang sedang trend secara cepat. Biasanya buku jenis ini tak terlalu tebal dan hanya menyarikan dari berita-berita yang beredar di media masa.

Menurut penerbitnya (Rajut Publishing) Buku Goodbye Bush! ini mungkin merupakan salah satu buku tercepat yang pernah dibuat. Diselesaikan dalam waktu 2x24 jam. Apa yang bisa dihasilkan dengan buku yang dibuat secepat demikian? Walau dibuat secara cepat tampaknya buku ini tidak dibuat secara serampangan karena nama penulisnya dan penerbit tentu saja dipertaruhkan di buku ini. Oleh penulisnya buku ini dibagi menjadi tiga bagian. Pertama memuat serangkaian peristiwa seputar Pakta Keamanan Amerika-Irak dan polemik-polemiknya . Bagian ini memuat berbagai pasal pakta pertahanan tersebut beserta pasal-pasal rahasia dari kesepakatan tersebut. Dari pasal-pasal tersebut akan terlihat dengan jelas bagaimana AS masih enggan sepenuhnya melepas cengkeraman militernya atas Irak.

Bagian kedua memapar peristiwa pelemparan sepatu oleh Muntahar al-Zaidi yang nyaris mengenai wajah George W. Bush. Lalu peristiwa-peristiwa susulan, atau respon dunia internasional pasca insiden memalukan itu. Di bagian ini akan terungkap hal-hal menarik dan lucu akibat aksi pelemparan sepatu tersebut, seperti bagaimana kini sepatu usang dengan model tahun 99 itu jadi sepatu yang paling dicari sampai-sampai ada yang menawarnya hingga 110 milyar hanya untuk satu buah sepatu.

Dimana kini sepatu itu berada? Jawabannya bisa ditemui di buku ini. Yang pasti kini pabrik pembuat sepatu tersebut kebanjiran order karena pesanan jenis sepatu tersebut naik hingga 4 kali lipat. Dan uniknya kebanyakan pesanan tersebut berasal dari AS, Inggris, dan sejumlah negara Arab.

Selain itu terungkap pula bahwa kejaidan aib bagi sang presiden tersebut malah menjadi hiburan gratis bagi tentara AS di Irak. Peristiwa tersebut nyaris tidak terkesan sebagai peristiwa kekerasan, namun kelucuan. Tentara AS di Irak terbahak-bahak melihat insiden tersebut. Banyak hal-hal menarik dan lucu di bagian ini tentunya saya tak akan mengungkapkannya dalam tulisan ini agar pembaca merasakan sendiri sensasi kelucuan dan keterkejutan membaca fakta-fakta yang ada akibat insiden ini.

Di Bagian ketiga memuat profil singkat pelempar sepatu, Munthadar dan peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan sosoknya sesuai aksi pelemparan seperti penyiksaan yang dialaminya dan dukungan serta simpati mulai dari sesama wartawan, hingga ibu-ibu yang bersedia menikahi anak gadisnya dengan al Zaidi. Al Zaidi memang telah menjadi hero dan simbol perlawawan terhadap Amerika dan sekutu-sekutunya. Bahkan setelah peristiwa tersebut para infitadah di jalur Gaza tak lagi melempari tentara Israel dengan batu melainkan dengan sepatu!

Pada intinya buku kecil yang juga dilengkapi dengan foto-foto ini memuat secara kronologis latar belakang, sebelum, saat, dan berbagai reaksi setelah insiden pelemparan sepatu terjadi. Tak ada analisis komprehensif atau abstraksi intelektual tingkat tinggi dalam buku ini karena memang bukan untuk tujuan itu buku ini dibuat. Buku ini hanya merangkum berbagai berita dan kisah insiden ini yang tersebar di berbagai media baik cetak maupun cyber sehingga buku ini sangat renyah, enak dibaca, dan dapat tuntas hanya dalam sekali duduk.

Namun bukan berarti buku ini sekedar ‘buku kacangan’. Tampaknya ini buku pertama di Indonesia (bahkan mungkin di dunia?) yang memaparkan insiden pelemparan sepatu pada Bush. Selain itu ada banyak hal positif yang mungkin bisa diperoleh dalam buku ini. Selain kita bisa memperoleh seluruh rangkaian peristiwa ini secara utuh dalam sebuah buku, melalui buku kini kita juga akan melihat sebuah ekspresi penolakan yang kuat terhadap arogansi dan hegemoni suatu pemerintahan yang secara sadar ingin menguasai bangsa lain dengan dalih perdamaian dan keamanan dunia.

@h_tanzil
Read more »

Rabu, 07 Januari 2009

To Tokyo to Love

To Tokyo to Love
Mariskova
GPU, Desember 2008
296 Hal.

Cita-cita Nina sebenarnya simple aja, hanya pengen jadi istri yang baik dan punya anak. Jadi ibu rumah tangga aja. Pekerjaan… biarlah urusan suami. Nina pun sedang mempersiapkan pernikahannya dengan Ian. Yang ada di gambaran Nina, adalah sebuah kehidupan pernikahan, sebuah keluarga yang sempurna. Ian, adalah senior Nina di kampus. ‘Cowok idola’ yang mulanya hanya bisa dipandang Nina dari jauh. Nina yang penyendiri dan tomboy sering mendengar gosip para cewek-cewek membicarakan Ian. Suatu kejadian, malah mendekatkan diri Ian dan Nina. Gak ada yang menyangka kalau Ian bisa jatuh cinta pada cewek berpenampilan biasa-biasa aja seperti Nina.

Nina yang tomboy, pelan-pelan berubah jadi feminin, atas ‘permintaan’ Ian. Nina yang cuek, jadi ‘kebanjiran’ hadiah-hadiah dan kejutan romantis. Berbeda dengan Nina yang dulu.

Tapi, ternyata, cita-cita Nina gak semudah itu untuk terwujud. Pernikahan yang tinggal beberapa bulan lagi batal. Ian berselingkuh dengan Karina, mantan pacarnya, dan harus bertanggung jawab karena Karina hamil.

Nina down, nyaris patah semangat. Untung di kantor Nina, seorang boss dari Jepang, Mr. Fujita, menawarkan beasiswa ke Jepang. Kesempatan itu mendapat dukungan penuh dari keluarga Nina yang ingin menjauhkan Nina dari Ian. Ian, yang meskipun sudah menikah dengan Karina, tetap ingin mendekati Nina lagi.

Jepang yang kaku, yang teratur, membuat Nina kembali tenggelam dalam dunianya sendiri. Perjalanan ke kampus dengan kereta, memberi warna tersendiri bagi Nina. Di dalam kereta, Nina kerap memperhatikan seorang pria dengan pakaian hitam-hitamnya. Bagi Nina, si man-in-black itu seperti menyimpan sesuatu dalam benaknya, begitu rapuh, membuat Nina ingin mendekatinya. Nina pun diam-diam jatuh cinta pada pria berstelan hitam itu.

One day, Nina yang jarang bergaul itu mendapat email dari seorang pria bernama Takung. Kegiatan chatting, yang berlanjut ke acara telepon-teleponan, menjadi kegiatan yang ditunggu-tunggu setiap malamnya oleh Nina. Takung menjadi tempat Nina untuk bercerita tentang man-in-black pujaannya, dan Nina juga menjadi tempat curhat Takung tentang gadis penyendiri di kampusnya. Dan, sempat membuat Nina sedikit cemburu. (Hmmm… agak mirip ‘You’ve Got Mail’).

Tapi, kehidupan Nina yang tenang kembali terganggu oleh datangnya Ian ke Jepang. Ian yang anak orang kaya, tentu saja tidak punya kesulitan untuk pergi ke mana pun yang ia mau. Dan Ian, nyaris membuat Nina bimbang, antara mema’afkannya atau melupakannya. Karena ternyata, bukan hanya Ian yang mengejar Nina, tapi juga Karina. Karina jadi rada ‘psikopat’, karena dia pikir, Nina bakalan mau balik lagi sama Ian. Nina nyaris celaka, kalo aja si man-in-black gak datang menolongnya.

Jadi siapa sih si man-in-black itu? Ketemu gak si Nina sama Takung? Ketebaklah kalo baca ceritanya. Dan, hehehe.. rada kecewa dengan gambaran si man-in-black. Kebayangnya sih, cowok dengan rambut melambai tertiup angin, kaya’ Takuya Kimura gitu deh… tapi, di sini, rada terlalu macho (menurut gue lhooooo….)

Yang rada kocak dan bikin gemes adalah waktu Takung cerita tentang cewek misterius idamannya itu dan membuat Nina keliling taman di kampus biar dia bisa liat seperti apa idola Takung.

O ya, yang satu lagi rada ‘berlebihan’, adalah waktu Ian lagi pdkt sama Nina… Booooo…. Mobil jeep Nina and abangnya, bertaburan bunga mawar dan ada poster bertuliskan ‘I Love You’, dan itu terjadi di kampus mereka. Entah emang berlebihan, atau, pas lagi baca, gue yang gak in the mood of romantic??

Gambaran kota Jepang yang kaku jadi ‘lumer’ gara-gara cantiknya bunga sakura yang lagi berguguran… Cerita ringan di awal tahun 2009…

Read more »

Minggu, 04 Januari 2009

Christ The Lord - The Road To Cana

Judul : Christ The Lord - The Road To Cana (Jalan Menuju Kana)
Penulis : Anne Rice
Penerjemah : Lanny Murtihardjana
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : I, Des 2008
Tebal : 304 hlm, 20 cm

Tidak seorangpun mampu menuliskan biografi lengkap tentang Yesus. Kita tidak memiliki catatan sejarah tentang tiga puluh tahun pertama kehidupan-Nya. Banyak orang beranggapan bahwa keempat kitab Injil (Matius, Markus, Lukas, Yohanes) memberikan biografi komplit tentang Yesus. Kenyataannya tidaklah demikian. Markus baru memulai kisah Yesus ketika Ia berumur tiga puluh tahun. Matius dan Lukas menambahkan kisah-kisah seputar kelahiran-Nya, dan berbagai pengajaran dari Yesus. Sama seperti kitab Markus, kedua kitab ini hampir setengahnya berisi perjalanan terakhir Yesus sebelum Ia disalibkan. Begitupun dengan Injil Yohanes yang dimulai ketika Yesus berumur tiga puluh tahun dan lebih memfokuskan setengah dari kitabnya pada hari-hari terakhir Yesus di Yerusalem.

Para sarjana dengan tepat menamai kurun waktu tiga puluh tahun pertama dari kehidupan Yesus sebagai “tahun-tahun yang hilang”. Dan inilah yang menimbulkan dorongan hasrat yang kuat untuk menguak tabir sejarah dan menyinkirkan kabut misteri yang menyelubunginya ini . Hal inilah yang juga menggelitik Anne Rice yang selama ini dikenal dengan penulis kisah-kisah vampir, antara lain “Interview with The Vampire (1975) yang telah difilmkan pada 1994 dan diperankan oleh Tom Cruise untuk membuat novel mengenai kehidupan Yesus yang termaktub dalam trilogi “Christ The Lord”.

Novel pertama seri Christ the Lord terbit pada tahun 2005 dengan judul “Out of Egypt” yang menceritakan masa kecil Yesus pada saat berusia 7 tahun ketika Yesus dan keluarganya pergi meninggalkan tempat pengungsiannya di Mesir menuju Nazareth, kota kelahirannya. Novel ini telah diterjemahkan dengan judul “Kristus Tuhan : Meninggalkan Mesir” (Gramedia, 2006)

Sedangkan novel keduanya yang berjudul Christ The Lord : The Road To Cana terbit pada Maret 2008 dan edisi terjemahannya juga telah beredar di toko-toko buku pada Desember 2008 yang lalu. Jika pada buku pertamanya Anne Rice mengisahkan kehidupan Yesus pada usia 7 tahun, maka di buku keduanya ini Yesus telah berusia tiga puluh tahun, beberapa saat sebelum ia menjalankan misinya.

Sama seperti di buku pertamanya, di novel keduanya ini Anne menampilkan sosok Yesus yang manusiawi. Yesus mengalami apa itu kelelahan, kelaparan, kesedihaan, layaknya manusia biasa. Malah sebelum dirinya dibabtis oleh Yohanes bin Zakaria, sosok Yesus dideskripsikan sebagai pribadi yang memiliki beban yang berat dengan sikap tubuh yang selalu merunduk bila berjalan.

Selain itu seperti layaknya seorang pemuda dewasa, Yesus juga mengalami apa yang namanya jatuh cinta. Tidak seperti yang selalu diasumsikan banyak orang bahwa Yesus pernah jatuh cinta dengan Maria Magdalena, di novel ini dikisahkan Yesus menaruh hati pada Abigail, salah satu kerabat jauhnya. Namun Yesus harus menekan perasaannya karena Ia menyadari bahwa dirinya ditakdirkan untuk tidak menikah, suatu hal yang agak janggal bagi tradisi Yahudi kecuali para nabi yang beberapa memang tidak menikah sepanjang hidupnya.

Kisah Abigail inilah yang menjadi salah satu pengikat dalam novel ini. Abigail kelak mengalami musibah nyaris diculik dan dijamah oleh para perompak. Walau akhirnya selamat, ayah Abigail menganggap putrinya telah tercemar dan mengurung Abigail hingga nyaris gila. Tentu saja Yesus dan seluruh kerabatnya mencari cara agar Abigail lepas dari kurungan ayahnya sendiri. Akhirnya Yesus diutus untuk menemui Hanael di Kana untuk membujuk ayah Abigail agar bisa membebaskan putrinya. Cerita kemudian beranjak ke saat pembabtisan di Sungai Yordan, pemilihan murid-murid Yesus, tindakan kontroversial Yesus yang makan bersama Matius si pemungut cukai yang dibenci oleh banyak orang, hingga mukzizat pertamanya mengubah air menjadi anggur di pesta perkawinan di Kana.



Cover The Road To Cana

Publisher : Knopf (March 4, 2008)




Seperti novel pertamanya, Anne tetap mempertahankan gaya bercerita yang menyajikan Yesus dari sudut pandang orang pertama, dengan demikian novel ini menghadirkan pergulatan batin Yesus dari kacamata Yesus sendiri, antara lain beban psikologisnya sebagai anak yang kelahirannya disertai dengan banyak tanda (malaikat, orang majus, bintang, dll), godaan jatuh cinta, desakan untuk memimpin pemberontakan terhadap penjajahan Romawi, hingga konfrontansinya dengan iblis di padang gurun.

Tampaknya Anne piawai dalam mengeksplorasi sisi manusiawi Yesus. Apa yang mungkin dirasakan Yesus sebagai manusia terekam jelas dalam novel ini. Pandangan orang-orang yang menyaksikan banyak tanda dalam peristiwa kelahiran-Nya juga terungkap dengan menarik. Mereka menunggu-nunggu tibanya takdir yang akan dijalaninya kelak seperti yang telah dinubuatkan oleh para nabi. Hanael bahkan mempertanyakan mengapa Yesus tidak tinggal saja di Bait Allah dan mengajar yang menurutnya akan lebih bermanfaat daripada hanya sekedar menjadi tukang kayu. Hal ini tentu saja menjadi beban psikologis bagi Yesus sebelum ia memulai misinya.

Walau sebagian besar kisah Yesus dalam novel ini lebih menonjolkan sisi manusiawi-Nya namun ada juga beberapa kisah yang membuat Yesus ‘berbeda’ dari manusia biasa dan harus menggunakan kuasaNya untuk menolong seseorang. Pilihan penulis untuk tidak menamai tokoh utamanya Yesus melainkan Yeshua (Yesus dalam bahasa Ibrani) merupakan hal yang tepat karena terkesan lebih manusiawi bagi para pembacanya dibanding nama Yesus Kristus yang tampak lebih sakral dan Ilahi.

Tentunya kini kita menunggu novel berikutnya guna menuntaskan bagian dari triloginya ini. Sepertinya akan semakin menarik karena tampaknya di novel ketiganya kelak Anne akan bertutur mengenai kisah Yesus di puncak misinya untuk menyelamatkan orang yang percaya pada-Nya

Seperti banyak telah diungkap oleh Anne dalam tiap wawancaranya, untuk menyelesaikan trilogi Christ The Lord ini Anne melakukan riset sejarah dan biblika yang begitu dalam dan komprehensif. Ia juga membaca ratusan buku seputar kehidupan orang-orang Israel di abad pertama. Tak heran buku ini memberikan latar sejarah dan budaya orang-orang Israel dengan baik. Kondisi politik dan adat kebiasaan orang Yahudi di masa Yesus hidup terungkap dengan jelas dan tersaji dalam porsi yang pas sehingga turut mewarnai dan menghidupi novelnya ini.

Walau beberapa kejadian yang dialami Yesus dalam novel ini tak terapat dalam keempat kitab Injil, kita tak perlu khawatir novel ini akan menjadi novel yang menghujat atau mempermalukan Yesus yang selama ini dikenal oleh dunia dan oleh para penganut-Nya. Secara garis besar cerita dalam novel ini masih setia pada Injil dan Perjanjian Baru. Ia hanya menambah peristiwa-peristiwa yang dialami Yesus yang mungkin terjadi ketika Injil tak mencatatnya, dan semua itu ditulis dalam batas-batas keimanan kristiani yang dianutnya.

Kisah kehidupan iman Anne Rice ( 67 thn) sendiri sangat menarik. Ia dilahirkan dalam keluarga katholik yang taat. Walau demikian setelah beranjak dewasa ia meninggalkan Tuhan dan menjadi seorang atheis. Di masa-masa itulah karirnya sebagai penulis menanjak dan menghasilkan berbagai novel mengenai vampir dan telah terjual hampir 100 juta copy. Tak heran karena novel-novelnya itu ia menjadi salah satu penulis terkenal di dunia dan dijuluki Ratu Cerita-Cerita Horor. Namun pada tahun 1998 jalan hidupnya berubah, ia meninggalkan ke atheisannya dan kembali pada pangkuan Tuhan dan kembali menjadi seorang Katholik yang saleh. Selain itu ia juga bertekad untuk berhenti menulis kisah-kisah vampir dan hanya akan menulis buku-buku religius. Dan trilogi Christ The Lord ini ditulis sebagai perwujudan tekadnya. Selain menulis seri Christ The Lord, pada 2008 yang lalu Anne juga telah merampungkan sebuah buku memoar spiritualnya yang berjudul, “Called Out of The Darkness” (Knopf, October 7, 2008)

Kembali ke novel tilogi Christ The Lord, Anne berharap buku ini membuat mereka yang sebelumnya tak begitu mengenal Yesus Kristus dapat melihat sosoknya dari novel yang ditulisanya ini. Harapan Anne tak berlebihan, karena tampaknya novel ini dapat dijadikan bacaan awal atau pelengkap bagi mereka yang ingin mengenal pribadiNya baik sebagai manusia maupun sebagai Allah sebelum ia menggali lebih dalam lagi dari Kitab Suci dan bacaan-bacaan lain.

Selain itu dengan ternarasikannya Yesus secara lebih manusiawi hal ini akan mempertebal iman kita. Dengan membaca novel ini kita akan tersadarkan bahwa jika Yesus pernah merasakan apa yang dirasakan manusia pada umumnya (kemarahan, kesedihan, kelelahan, depresi,dll) maka tentunya DIA mengerti pula segala keluh kesah kita yang kita panjatkan dalam doa-doa kita pada-Nya.


@h_tanzil
Read more »

Senin, 29 Desember 2008

Book of the Year 2008

Tampaknya udah waktunya memilah buku-buku yang jadi favorit di tahun 2008. Semenjak ada Mika, sepertinya waktu gue untuk baca agak berkurang (tapi.. hehehe.. tetap tidak diikuti dengan berkurangnya frekwensi membeli buku). Waktu baca biasanya kalo lagi di mobil atau kalau Mika tidur. Udah gitu, gue juga jadi rada males untuk nulis tentang buku yang gue baca di blog. Makanya, blog buku gue di tahun 2008 agak sepi.

Nah, buku-buku yang jadi favorit gue rata-rata adalah buku yang punya 'arti' tertentu buat gue, yang terjemahannya enak dibaca, atau kalo pun bahasa inggris, yang gak terlalu memusingkan. Di antaranya:

1. Chocolat
2. The Penderwicks
3. Maximum Ride (1 & 2)
4. The Alchemyst
5. The Book of Lost Things
6. Ways to Live Forever
7. The Space between Us
8. My Sister Keeper
9. I was a Rat
10. The Food of Love

Ini 'terpilih' di antara buku-buku yang sedikit itu... malah jadi bingung.. :) Target tahun depan... mmm... seperti biasa, membaca buku-buku yang udah lama dibeli, yang selama ini hanya jadi penghias lemari buku... tapi... mmm, kalo ada buku baru, pasti tergoda juga... :)
Read more »

Rabu, 24 Desember 2008

Vanishing Act (Hati yang Hilang)

Vanishing Act (Hati yang Hilang)
Jodie Picoult
Gita Yuliani (Terj.)
GPU, November 2008
528 Hal.

Delia Hopkins, seorang polisi bagian Search and Rescue, yang tugasnya mencari dan mengembalikan orang-orang hilang kepada keluarga mereka. Tinggal di New Hampshire, bersama ayahnya, Andrew Hopkins, yang mengelola sentra manula dan dikenal sebagai warga kota yang baik. Delia mempunya satu orang putri, bernama Sophie, hasil dari hubungannya dengan Eric, tunangannya yang sudah menjadi temannya sejak kecil.

Satu hari, ketika polisi datang mencari – dan bahkan menangkap ayahnya – Delia mendapati dirinya bernasib sama dengan orang-orang yang ditolongnya selama ini. Ternyata, ia adalah korban ‘penculikan’ yang dilakukan oleh ayahnya sendiri.

Selama 28 tahun, Delia ‘menerima’ bahwa dirinya bukanlah dirinya yang sebenarnya. Nama aslinya adalah Bethany Matthews. Ketika berusia 4 tahun, ia pergi bersama ayahnya yang sudah bercerai dengan ibunya, dan tidak pernah ‘dikembalikan’ lagi ke rumah ibunya. Andrew – yang bernama asli Charles – mengganti identitas mereka berdua dan pergi ke sebuah kota di mana tidak ada satu pun yang mengenal mereka.

Andrew pun ditangkap. Delia minta Eric, yang seorang pengacara, untuk membela ayahnya.

Drama mulai bergulir. Demi kepentingan persidangan, Delia pun pindah ke Arizona, tempat ayahnya akan diadili, tempat di mana penculikan itu dulu terjadi. Delia bertemu dengan ibunya, Elise.

Delia bergulat mencari identitas masa lalunya, sementara ia juga harus berdebat dengan dirinya sendiri, apakah harus mema’afkan ayahnya yang sudah menculiknya – apa pun itu alasannya, atau, harus mema’afkan ibunya yang karena salahnya ia ‘diculik’ oleh ayahnya.

Berbagai fakta yang dianggap akan meringankan Andrew dicari oleh Eric. Yang terkadang justru mengundang pertanyaan yang jawabannya sangat bias.

Kaya’nya khas Jodie Picoult untuk mengemas novelnya dengan menceritakan isinya dari sudut pandang setiap tokoh yang terlibat. Jadi, gak hanya tentang kebimbangan Delia, tapi juga gimana Andrew harus bertahan di penjara yang ‘ganas’. Atau, cerita tentang Elise yang menurut aku ‘eksotis’. Lalu, Eric, yang mantan pecandu alkohol.

Gue jadi sempat bertanya-tanya, sejauh mana ya, kita bisa membenarkan sesuatu ketika kita melakukan sebuah kesalahan dengan alasan untuk ‘kebaikan’?
Read more »

Senin, 22 Desember 2008

10 + 2 BUKU YANG KUPILIH 2008
















10 + 2 BUKU YANG KUPILIH 2008


Ini dia 5 buku fiksi dan 5 buku non fiksi yang menjadi Buku Pilihan 2008.
(urutan berdasarkan alvabet)

Buku Fiksi
1. A. Thousand Splendid Suns – Khaled Hosseini (Qanita )
2. Bulan Jingga dalam Kepala – M. Fadjroel Rachman (Gramedia, 2007 )
3. Janda dari Jirah – Cok Savitri (Gramedia, 2007 )
4. Lanang – Yonathan Raharjo (Penerbit Alvabet, 2008)
5. Lolita – Vladimir Nobakov (Penerbit Serambi, 2008)

Buku Non Fiksi
1. Di negeri Penjajah – Harry A. Poeze (KPG, 2008)
2. Kearifan Pelacur – Elizabeth Pisani (Penerbit Serambi, 2008)
3. Lekra Tak Membakar Buku – Rhoma Dwi Aria Y & Muhidin M. Dahlan (Merakesumba, 2008)
4. Menyusuri Lorong-lorong Dunia 2 – Sigit Susanto (Insist Press, 2008)
5. The 7 Laws of Hapiness – Arvan Pradiansyah (Kaifa, 2008)

Buku-buku yang kupilih diatas biasanya adalah buku-buku yang membuat wawasanku terbuka dan meninggalkan kesan yang dalam karena aku mendapat sesuatu yang ‘baru’ dalam kandungan buku tersebut. Berikut adalah komentar singkatku atau mungkin bisa disebut sebagai pertanggungjawabanku atas buku-buku yang kupilih

A Thousand Splendid Suns, selain kisahnya yang menarik, di novel tersebut aku belajar mengenai sejarah berganti-gantinya kekuasaan di Afghanistan yang selalu diwarnai oleh kekerasan.

Bulan Jingga dalam kepala membuatku memahami apa kira-kira isi kepala seorang aktifis mahasiswa, dialog-dialog dalam novel tersebut membuat wawasanku terbuka soal keyakinan politik dari tokoh yang diceritakannya.

Janda dari Jirah, walau terbit pada pertengahan 2007, namun buku ini baru sempat kubaca dan isinya memutar balikkan sosok calon arang yang selama ini kukenal.

Lanang – Yonathan Raharjo walau kisah utamanya terlalu fantasi bagiku, novel ini kupilih karena latar novel ini membuatku memahami mengenai dunia rekayasa genetik yang hingga kini terus dikembangkan bagi kesejahteraan umat manusia.

Lolita – Vladimir Nobakov memang bukan novel yang mudah dicerna, tapi aku terkesan membacanya, karena pergolakan batin tokoh-tokoh utamanya tereksplorasi dengan sangat baik.

Di negeri Penjajah – Harry A Poeze, merekam suka dan duka orang-orang Indonesia yang merantau ke negeri Belanda di saat bangsa mereka sedang berada dalam penjajahan Belanda selama 350 tahun. Orang-orang Indonesia yang terekam itu bukan saja dari kalangan bangsawan, melainkan juga pembantu dan budak. Buku ini sangat menarik karena dilengkapi foto-foto dan bebagai dokumen yang menarik.

Kearifan Pelacur – Elizabeth Pisani membuatku memahami dunia HIV lebih dalam lagi.

Lekra tak Membakar buku – Rhoma Dwi A & Muhidin MD, kupilih karena buku ini membuatku memahami bahwa sepak terjang Lekra tak sekedar berpolemik dengan Manikebu seperti yang selama ini dikenal, namun LEKRA telah banyak melakukan kegiatan berkebudayaan pro rakyat yang ternyata beberapa program kebudayaan mereka masih sangat relevan dengan kondisi sekarang.

Menyusuri Lorong Dunia 2 – Sigit Susanto membuatku mengenal kondisi dan kultur negeri-negeri asing beserta sastrawan dan karya-karyanya.

The 7 Laws of Hapiness – Arvan Pradiansyah mengajari untuk bagaimana aku memilih pikiran dan bagaimana aku harus mengisi pikiranku dengan hal-hal positif agar hidupku bahagia.

Sebenarnya ada dua buku yang sedang kubaca namun belum tuntas, jadi tak kumasukkan dalam daftar buku yang kupilih, sejauh yang telah kubaca kedua buku tersebut membuatku terkesan dan mungkin akan merupakan calon buku yang kupilih tahun 2009 nanti.

Kedua buku tersebut yaitu :
1. Jenghis Khan – John Mann (Penerbit Alvabet,2008)
2. Road to Cana – Anne Rice (Gramedia Pustaka Utama, 2008)

Jenghis Khan membuatku mengerti sejarah mengenai sang penakluk lagendaris, tampaknya penulis buku ini tidak hanya menulis buku berdasarkan riset pustaka semata melainkan berdasarkan pengamatan dan pengalamannya langsung ke tempat-tempat Jenghis Khan pernah hidup.

Road To Cana merupakan fiksi yang menarik karena kehidupan Yesus dikisahkan dan difiktifkan, Anne Rice mencoba mengisahkan kehidupan Yesus sebelum ia memulai pelayanannya pada publik. Walau berada dalam jalur fiksi novel ini tetap setia pada kerangka injil. Anne Rice hanya mencoba menggali kira-kira apa yang dipikirkan dan dirasakan Yesus dalam sebagai manusia.

Mungkin ada buku-buku menarik yang baru-baru ini terbit yang sebenarnya telah kumiliki dan berpeluang menjadi BUKU YANG KUPILIH, misalnya : Maryamah Karpov (Andrea Hirata), The Last Cuncubine (Lesley Donwer), A Tree Cup of Tea (Greg Mortenson) , The Glass Palaces (Amitav Ghoss), dll, tapi karena buku-buku itu belum terbaca mungkin buku-buku itu akan masuk dalam daftar tahun 2009 yang akan datang.

@h_tanzil
Read more »

Jumat, 12 Desember 2008

Kearifan Pelacur

Judul : Kearifan Pelacur
(Kisah gelap di balik Bisnis Seks dan Narkoba)
Penulis : Elizabeth Pisani
Penerjemah : Bhimantoro Suwastoyo
Penyunting : Anton Kurnia
Penerbit : PT. Serambi Ilmu Semesta
Cetakan : I, September 2008
Tebal : 589

“Buku ini adalah sebuah buku mengenai hidup dan mati, seks dan narkoba; mengenai harapan dan kekecewaan. Buku ini mencoba menggambarkan kehidupan dalam dunia HIV?AIDS internasional yang berputar di sekiling hotel-hotel dan pusat-pusat konvensi yang mewah, maupun di jalanan kumut kota Jakarta. “ (hal 7)

Demikian yang diungkap oleh Elizabeth Pisani, ahli epidemilogi asal Inggris yang sempat lama tinggal dan bekerja di Jakarta dalam menanggulangi penyebaran HIV/AIDS di Indonesia. Berdasarkan pengalamannya selama bekerja di salah satu badan PBB yang menangani masalah AIDS hingga terjun langsung ke pusat-pusat epidemi HIV di berbagai negara belahan dunia dan persinggungannya dengan korban HIV, para pekerja seks, dan pemakai narkoba , maka di awal tahun 2008 lahirlah sebuah buku yang diberinya judul “Wisdom of Whores : Bureucrats, Brothles, Bussines of AIDS” (Granta, London, 2008). Pada Juni 2008 buku ini diterbitkan di Amerika Serikat dan Kanada, dan 3 bulan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Serambi dengan judul “Kearifan Pelacur, kisah gelap di balik bisnis seks dan narkoba” .

Buku ini adalah sebuah buku non fiksi, namun kita tidak akan disuguhkan dengan uraian-uraian teoritis dengan seabrek data-data kering dengan bahasa yang sulit dimengerti . Buku ini bisa dikatakam merupakan campuran antara memoar dan berbagai analisis kebijakan penanganan HIV baik di berbagai negara di dunia. Selain itu pembaca juga diajak menyelami pergolakan batin penulisnya. Itulah yang menjadikan buku ini tak hanya kaya akan data dan informasi, tetapi juga realistis dan sangat membumi, bahkan beberapa hal sangat praktis untuk dapat diterapkan. Pengalaman Elizabeth yang pernah bekerja sebagai jurnalis Reuters sangat berpengaruh dalam menyajikan tulisan yang enak dibaca dan sangat informatif ini.

Walau buku ini bukan buku tentang AIDS di Indonesia, namun karena Elizabeth banyak berkiprah di Indonesia, maka banyak dari apa yang diceritakannya dalam buku ini terjadi di Indonesia. Khusus mengenai Indonesia, berdasarkan analisanya, Elizabeth mengemukakan bahwa Indonesia memiliki dunia perdagangan seks yang besar dengan tingkat penggunaan kondom yang sangat rendah dan tingkat penularan penyakit seksual yang amat tinggi. Ini merupakan resep paling mujarab bagi penyebaran HIV/AIDS.
Pada tahun 1992, seorang peneliti Amerika Serikat bernama Mike Linnan menerbitkan sebuah laporan berjudul , “AIDS di Indonesia : Badai yang Akan Datang”, yang menyebutkan bahwa gelombang penularan penyakit ini akan segera menyapu Indonesia.

Laporan ini membuat Bank Dunia pada tahun 1996 memberikan hampir 25 juta dolar kepada pemerintah Indonesia untuk menangani masalah ini. Sayang proyek ini mengalami ‘kesalahan pengelolaan’ hingga akhirnya tak memberikan pengaruh berarti pada penanganan virus AIDS di Indonesia. Untunglah dana-dana bantuan baik dari Amerika Serikat maupun Australia terus mengalir sehingga berbagai usaha pencegahan penyebar virus mematikan ini masih dapat terus berlangsung.

Mengenai dana-dana besar berjumlah puluhan milyar dolar yang digelontorkan berbagai negara termasuk Bank Dunia ini, Elizabeth mengandaikannya bagaikan semut dalam semangkuk gula, dimana dana yang besar ini menjadi rebutan baik pemerintah maupun LSM-LSM yang saling sikut untuk memperoleh bagiannya.

Dalam buku ini Elizabeth mengungkapkan bahwa ada beberapa golongan yang dianggap sebagai kendaraan penyebaran virus HIV, yaitu : para PSK, waria, kaum homoseksual, dan pemakai jarum suntik. Karena di Indonesia tingkat penggunaan kondom yang rendah, maka waria dan kaum homoseksual sangatlah beresiko tinggi dalam penyebaran virus HIV di Indonesia. Ironisnya mereka tak memiliki pengetahuan yang cukup tentang bahaya HIV/AIDS sehingga resiko tertular yang dihadapinya semakin besar.

Di Indonesia sendiri tingkat penyebaran virus HIV kini sudah dalam taraf mengkhawatirkan, beberapa daerah telah dinyatakan sebagai epidemi. Banyak versi berapa jumlah data penderita HIV di Indonesia, yang tertinggi hingga bulan Semptember 2008 penderitanya telah mencapai 270 ribu orang. Jika hal ini tidak ditangani dengan serius maka badai AIDS akan menyapu Indonesia. Karenanya kini kampanye anti HIV yang khususnya dilakukan oleh LSM-LSM semakin gencar antara lain kampanye safe sex dengan mempopulerkan penggunaan kondom dan penggunaan jarum suntik baru. Sayangnya kampanye ini banyak ditentang oleh masyarakat, dinilai tidak etis karena seolah melegalkan dan mendorong seseorang untuk melakukan seks bebas dan narkoba.

Dibanding kampanye penggunaan kondom, sebagian masyarakat dan pemerintah tampaknya memilih cara lain dalam mengerem laju virus HIV pada pemakai narkoba dan industri seks. Salah satunya dengan menutup kompleks lokalisasi pelacuran. Cara ini dikritik oleh Elizabeth, usaha pemerintah yang serta merta menutup kompleks lokalisasi, kemudian mendirikan tempat ibadat di bekas kompleks tersebut tidaklah efektif dalam penanganan penyebaran virus HIV/AIDS.

Beberapa wanita pekerja seks yang sumber kehidupannya dirampas, memilih pulang kampung dengan membawa penyakit mereka. Beberapa yang lain kembali beroperasi di jalanan tanpa pemeriksaan berkala dari dinas kesehatan seperti saat mereka bekerja di lokalisasi. Akibatnya penyakit yang dibawanya menyebar tak terkendali dan jika ada diantara mereka yang mengidap HIV maka penyebaran virus tersebut menjadi semakin liar.

Apa yang dilakukan pemerintah Indonesia ini berbeda dengan yang dilakukan oleh pemerintah Thailand yang tekenal dengan industri seksnya dan pernah memiliki tingkat penyebaran HIV yang tinggi di Asia. Pemerintah setempat tak menutup pusat-pusat lokalisasi, melainkan dengan melakukan kontrol yang ketat terhadap kesehatan para pekerja seksnya, selain itu pemerintah Thailand juga mengharuskan semua aktivitas seks di lokalisasi tersebut menggunakan kondom. Jika ketahuan tidak menggunakan kondom atau diketahui bahwa virus HIV/AIDS berasal dari kompleks tersebut, barulah izin usaha mereka dicabut.

Mana yang efektif dalam menangkal penyebaran virus HIV?. Yang pasti data menunjukkan bahwa kebijakan tersebut berhasil mengerem laju epidemi HIV di industi seks komersial Thailand dibanding Indonesia. Hal ini mengajarkan pada kita bahwa lebih mudah meningkatkan penggunaan kondom daripada mengukung industri seks dalam menekan penyebaran HIV.

Dalam hal penyebaran HIV melalui jarum suntik. Penulis dengan tegas menyatakan bahwa penggunaan jarum suntik secara bergantian adalah salah satu cara yang paling efektif bagi virus HIV untuk terjun bebas berpindah dari tubuh seseorang ke seseorang lainnya. Peperangan melawan Narkoba dengan memenjarakan para pemakai barkoba tidaklah efektif . Penjara merupakan tempat yang bagus untuk belajar menjadi penyuntik. Dengan tegas penulis menyatakan bahwa di Indonesia penjara tak ubahnya pabrik HIV. Hasil risetnya membuktikan bahwa lonjakan penularan HIV ternyata bukan ditemukan dalam industri seks, melainkan di antara para tahanan. Bahkan satu diantara enam orang yang ditahan di penjara yang berada persis di seberang jalan kantor program AIDS Depkes RI telah tertular HIV! Jadi jika sebelumnya para tahanan itu masuk dalam keadaan sehat, sekeluar dari penjara mereka sudah tertular HIV.

Selain kampanye penggunaan jarum suntik steril yang disinggung dalam buku ini, Elizabeth juga mengulas cara terbaru yang terbukti efektif untuk pencegahan HIV di antara para pecandu heroin suntik yaitu dengan terapi Methadon. Methadon adalah sebuah obat sintesis yang meniru efek dari obat-obatan sejenis heroin. Obat yang berbentuk sirup ini secara bertahap dapat menghilangkan ketergantungan pada heroin tanpa harus mengalami sakau. Dan yang menggembirakan obat ini sangat murah, satu dosisnya seharga beberapa ribu rupiah saja dan kini sudah mulai diperoleh di klinik-klinik.

Dalam buku ini juga akan terungkap bahwa usaha untuk melawan virus mematikan ini terdapat dua kubu yang berperang dengan caranya masing-masing. Yang satu berperang dengan cara membagikan kondom dan jarum suntik baru. Di lain pihak ada yang berperang dengan menganjurkan berpantang seks. Keduanya kadang saling menyalahkan, pihak yang menganjurkan berpantang seks berpendapat bahwa membagikan kondom dan jarum suntik adalah tindakan amoral karena seolah menganjurkan seks bebas dan narkoba. Sementara pihak lain mengklaim bahwa metode berpantang seks hanya efektif bagi orang yang dengan teguh mengikuti pantangan ini dan metode ini memiliki tingkat kegagalan yang tertinggi. Melihat hal ini Elizabeth di akhir paragraf buku ini menganjurkan agar para dua kubu yang berperang dalam caranya masing-masing hendaknya mau meninggalkan egonya masing-masing dan bersatu padu dalam satu barisan untuk melawan penyakit ini agar dapat membuat bumi kita ini menjadi lebih baik lagi.

Masih banyak fakta-fakta yang menarik dan bermanfaat dalam buku ini baik mengenai penyebaran HIV, penanggulangannya, bagaimana cara kerja virus ini dalam tubuh seseorang, berbagai metode pengobatan, intrik-intrik dalam industri AIDS, dan sebagainya. Karenanya buku ini dapat dijadikan semacam buku panduan tak resmi bagi para pengambil keputusan, praktisi sosial, atau bagi mereka yang ingin terjun dalam bidang HIV baik itu sebagai relawan maupun bagi mereka yang bekerja di lembaga resmi pemerintah. Bagi mereka yang awam yang tadinya hanya tahu sedikit mengenai AIDS, buku ini akan membuka cakrawala kita lebih dalam lagi mengenai apa dan bagaimana sebenarnya virus ini bisa menyebar dan bagaimana penanganannya yang efektif.

@h_tanzil
Read more »

Rabu, 03 Desember 2008



Judul : Tukang Kuda Kapal La Providence
Penulis : Georges Simenon
Penerjemah : NH Dini
Penerbit : Kiblat Buku Utama & Forum Jakarta-Paris
Cetakan : I, Juli 2008
Tebal : 192 hlm

Judul : Pertaruhan Jiwa
Penulis : Geroges Simenon
Penerjemah : Ida Sundari Husein
Cetakan : I, Juli 2008
Tebal : 218 hlm

Jika kita secara spontan diminta untuk menyebutkan tokoh detektif fiktif beserta penulisnya, umumnya kita akan menjawab : “Sherlock Holmes (Sir Arthur Conan Doyle), Hercule Poirot (Agatha Christie), dan James Bond (Ian Fleming)”. Tampaknya hanya tiga nama itu yang melekat dalam memori kita. Mengapa demikian? Mungkin karena novel-novel Sherlock Holmes dan Agatha Cristhie selalu ada di toko-toko bbuku dan terus dicetak ulang hingga kini. Kisah James Bond, yang kini lebih dikenal di layar lebar dibanding bukunya hampir setiap tahun dibuat filmnya dan selalu menjadi film yang ditunggu-tunggu para penggemarnya.

Namun selain Sherlock Holmes, Poirot, dan James Bond, ternyata ada satu nama tokoh detektif lagi yang luput dari perhatian kita, dia adalah detektif Perancis yang bernama Jules Maigret. Ia merupakan tokoh fiktif ciptaan Goerges Simenon (1903-1989), penulis flamboyan kelahiran Belgia yang menulis karya-karyanya dalam bahasa Perancis. Konon Simenon telah tidur dengan lebih dari 10.000 wanita, namun selain produktif merayu dan bercinta ia termasuk penulis yang sangat produktif, ia mampu menulis sebanyak 60-80 halaman setiap harinya. Karenanya tak heran hingga akhir hidupnya ia telah menghasilkan sekitar 200 novel, 150 novelet, cerita pendek, autobiografi, beberapa artikel lepas dengan menggunakan hampir dua lusin nama samaran. Hingga kini sudah lebih dari 550 juta copy bukunya yang telah dicetak dan diterjemahkan kedalam berbagai bahasa.

Dari ratusan buku yang ditulisnya itu, 75 novel dan 28 cerpennya merupakan kisah detektif Komisaris Maigret yang muncul pertama kalinya pada tahun 1931 hingga 1972. Saking populernya, novel-novel seri Maigret telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa, diadaptasi ke dalam cerita radio dan 50 film layar lebar, dan ratusan episode dalam serial TV. Berbagai penghargaan telah diraihnya, namanya menjadi legenda sebagai penulis cerita detektif , dan dalam rangka peringatan 100 tahun kelahirannya pada tahun 2003 dibuatlah coin perak dengan gambar wajahnya. Baru-baru ini Times Online memasukkan nama Georges Simenon dalam The 50 Greatest Crime Witers di urutan ke 2 setelah Patricia Higsmith. Sementara Agatha Chistie dan Sir Arthur Conan Doyle masing-masing menempati urutan ke 3 dan ke 6

Melihat karya-karyanya yang luar biasa dan telah diakui sebagai salah satu penulis cerita detektif terbaik di dunia, sangat mengherankan kalau belum satupun karyanya yang pernah diterbitkan di Indonesia, karenanya tak heran jika nama Maigret dan Georges Simenon tidak dikenal di kalangan pembaca kita.. Barulah setelah hampir 20 tahun sejak meninggalnya Simenon, kisah sang Komisaris Maigret hadir di Indonesia berkat kerjasama antara Penerbit Kiblat Buku Utama yang didirikan oleh budayawan senior Ajip Rosidi dengan Forum Jakarta Paris pimpinan Dr. Henry Chambert-Loir.

Dua buah judul seri Maigret pertama yang diterjemahkan langsung dari bahasa aslinya (Perancis) untuk pertama kalinya hadir di Indonesia adalah Tukang Kuda Kapal La Providence dan Pertaruhan Jiwa. Pada novel Tukang Kuda Kapal La Providence yang diterjemahkan oleh NH. Dini, Maiget diperhadapkan dengan kasus ditemukannya mayat wanita di sebuah kandang kuda di desa Dizy yang terletak di tepi terusan menuju pedalaman Perancis. Bukan kasus yang mudah diungkap karena banyak sekali kapal-kapal yang melewati terusan dan singgah di desa itu setiap harinya.

Baru saja Maigret mempelajari bagaimana keadaan desa, sistem pengaturan transportasi di terusan, kapal-kapal beserta orang-orangnya, pembunuhan yang kedua terjadi. Apakah ini merupakan pembunuhan berseri? Ataukah ini hanya kebetulan? Hal ini menyebabkan Maigret harus memutar otak dan bekerja secepat mungkin mencari petunjuk-petunjuk untuk melacak jejak si pembunuh sebelum terjadi lagi pembunuhan berikutnya.

Yang menarik pada buku ini selain diajak menyelidiki kasus pembunuhan, pembaca juga akan diajak berjalan-jalan di sekitar lokasi pembunuhan terjadi , yaitu di sebuah terusan menuju pedalaman Perancis di tahun 30-an dimana tenaga kuda masih dipergunakan untuk menarik kapal-kapal ketika memasuki kanal terusan.

Sedangkan di novel kedua yang berjudul “Pertaruhan Jiwa”, menceritakan seorang pemuda lugu dan miskin yang ditangkap dan dijatuhi hukuman mati karena dituduh membunuh seorang janda kaya beserta pengurus rumahnya. Apakah benar dia pembunuhnya?. Yang menarik adalah bagaimana Maigret menyusun rencana cerdik dengan sengaja memberi kesempatan pada si pemuda agar melarikan diri dari penjara untuk mengungkap kebenaran apakah betul si pemuda itu benar-benar pembunuhnya atau bukan.

Jika di novel “Tukang Kuda Kapal La Providence” kita diajak menyelusuri daerah terusan di pedalaman Perancis, maka di novel ini kita akan diajak menyelusuri lika-liku kota Paris dengan tokoh-tokoh yang memiliki karakter unik hingga akhirnya sedikit-demi sedikit misteri pembunuhan janda kaya itu terkuak.

Komisaris Maigret oleh penulisnya dideskripsikan sebagai detektif yang gemar mengisap pipa dengan dandanan topi dan jas panjang layaknya gambaran klasik seorang detektif. Namun cara kerjanya tidak seperti detektif ortodok yang hanya mengandalkan instituisinya dibanding bukti-bukti petunjuk. Maigret juga senantiasa melakukan pendekatan yang manusiawi dalam setiap kasusnya.

Dalam tiap penyelidikannnya Maigret selalu mencoba menyelusuri mengapa dan apa yang menyebabkan seseorang melakukan kejahatan dari sisi manusiawi. Magiret lebih menyukai mengungkapkan mengapa sebuah kejahatan bisa terjadi dibanding bagaimana terjadinya sebuah kasus kriminal. Jadi kisah-kisah Maigret berpusatkan pada karakter orang-orang dan motivasi terdalam para pelaku kejahatan, tidak hanya mengutamakan plot yang cepat dan pengungkapan bukti-bukti semata seperti kisah-kisah detektif umumnya.

Bagi mereka yang menyenangi kisah-kisah detektif, terbitnya seri Maigret karya Georges Simenon ini tentunya layak untuk diapresiasi. Hingga kini baru dua judul ini yang diterjemahkan, dan semoga penerbit memiliki komitmen dan nafas yang panjang untuk menerbitkan judul-judul lainnya. Covernya tersaji dalam gaya komik dengan paduan warna yang menarik. Jumlah halaman per judulnya tak terlalu tebal dan dikemas dalam ukuran kecil namun nyaman dibaca dan mudah dibawa kemana-mana.

Sayang dalam buku edisi terjemahannya tak ada halaman yang menerangkan siapa itu Georges Simenon. Padahal dua judul ini merupakan dua karya pertama Simenon yang untuk pertama kalinya hadir di Indonesia dan sebagian besar pembaca kita belum mengenal nama besar Simenon. Dengan dicantumkanya biografi singkat Simenon dan sedikit mengenai karya-karyanya di setiap bukunya tentunya akan menambah kenikmatan dalam mengapresiasi buku ini sehingga pembaca tak dibuat bertanya-tanya siapa itu Simenon seperti yang saya alami sebelum akhirnya saya browsing di internet. Semoga di judul-judul berikutnya penerbit dapat memuat sedikit keterangan mengenai Georges Simenon.

Akhir kata seperti yang diungkap oleh Tania Intan, M.Pd. (dosen Sastra Unpad) pada saat pembahasan buku ini di Bandung beberapa waktu yang lalu, dengan diterjemahkannya buku-buku karya Simenon dalam bahasa Indonesia diharapkan akan menambah khasanah sastra di Indonesia. Selain itu, hal ini akan menjadi kesempatan bagus bagi mahasiswa Sastra Perancis dan penyuka sastra Perancis untuk lebih dapat mengenal Simenon dalam karya-karyanya.


@h_tanzil

Read more »

Senin, 24 November 2008

Selebriti

Selebriti
Alberthiene Endah @ 2008
GPU – Juli 2008
488 Hal.

Dunia selebriti kadang bagai dunia mimpi bagi para penikmat acara gosip atau kerennya infotainment. Gimana rasanya diburu-buru wartawan? Gimana rasanya dieluk-elukkan sama fans? Atau gimana rasanya dihujat? Acara infotaiment yang bertubi-tubi – nyaris setiap jam, dari pagi sampai sore (atau ada yang malam?) di hampir semua stasiun televisi, serasa membuat kita ‘kenal’ dengan si seleb.

Tak kecuali, Icha, gadis dusun yang gak pernah ketinggalan satu pun acara gosip. Silahkan tanya gosip teranyar, pasti dia akan menjawab dengan lancar dan lengkap. Kegilaannya nonton acara gosip membawanya pada sebuah mimpi untuk jadi manajer artis. Tapi, mana mungkin sih? Mimpi itu terlalu indah untuk seorang gadis desa seperti Icha. Bagi Emak dan ketiga adiknya, kehidupan di desa yang sederhana udah cukup buat mereka. Tapi, Icha beda… dia punya mimpi, punya cita-cita.

Kesempatan itu datang dari Deden – mantan pacar Icha yang sudah berganti ‘haluan’ jadi penyuka sesama jenis. Di Jakarta, Deden bekerja sebagai penata rambut artis-artis top. Deden yang sekarang berpenampilan sangat ajaib bagi ukuran orang di kampung. Deden, yang kini jadi sahabat Icha, tahu betul akan impian Icha. Kebetulan, salah satu penyanyi dangdut yang ngetop dengan hits-nya, ‘Keringat Cinta’ (???!!!!), mencari asisten pribadi. Deden langsung memilih Icha untuk ‘menempati’ posisi itu.

Dengan restu yang setengah hati dari sang Emak, Icha pun berangkat ke Jakarta dengan berjuta bayangan yang sangat indah. Tentu saja… Icha bakalan ketemu banyak artis yang selama ini hanya ada di poster yang memenuhi dinding kamarnya.

Tapi… ternyata oh ternyata, semuanya gak semudah itu. Poppy Luisa, si penyanyi dangdut adalah ‘titisan’ drama queen, mak lampir, nenek sihir… apalah sebutkan berjuta-juta julukan yang ajaib. Poppy bisa berubah mood dalam sekejap, kata-kata kasar kerap keluar dari bibirnya. Dan, Poppy bukanlah menjadikan Icha ‘asisten pribadi yang profesional’, tapi malah mirip ‘pembantu pribadi’ yang kerjanya ngurusin hal-hal sepele, seperti ngelap keringetnya Poppy, bawain tissue – Icha cenderung seperti ‘babysitter’ dengan seragam yang dibagikan Poppy.

Lepas dari Poppy yang pulang kampung dan ‘lupa’ untuk membayarnya, Icha ‘terjebak’ dalam hubungan professional plus pribadi dengan seorang rapper yang gayanya cuek banget, Boyke Brik. Boyke Brik gak kalah ajaib dengan Poppy. Sikap yang semaunya, gak peduli jadwal yang ketat, membuat Icha sering jadi sasaran kemarahan dari para panita acara yang mengundang Boyke. Icha lagi-lagi berusaha jadi pahlawan ketika Boyke kedapatan mengkonsumsi shabu-shabu.

Tapi, Icha harus kecewa lagi lantara cowok yang dicintainya itu membohonginya. Keinginan pulang kampung makin kuat. Tapi, Deden masih terus memberi semangat pada Icha.

Dan, akhirnya Icha pun jadi manajer artis Donna Valencia, penyanyi muda berbakat, calon diva yang kehidupannya nyaris tanpa cela. Gak ada gosip miring tentang Donna. Kesehariannya tampak sempurna dengan ‘sepasukan’ asisten yang disiplin dan teratur. Tapi… tetap saja semua itu hanya topeng. Donna juga punya kekurangan dan masalah yang gak kalah ajaib.

Nah… masihkah Icha ‘mengagungkan’ kehidupan artis – setelah ia harus jatuh bangun, merendahkan martabatnya?

Buku yang tebel banget ini mungkin cukup mewakilkan kehidupan belakang panggung yang ajaib. Ya… mungkin gak semua artis kaya’ gini kali ya? Gak tau deh… Bahasa Alberthiene Endah yang lincah membuat gak bosen dibaca, meskipun kadang suka rada ‘hiperbola’.

Tapi… hmmm… apakah Icha selama di Jakarta gak sempet tele-tele sama Emak-nya di kampung? Apa emang gak perlu disinggung ya? Cukup dengan keluh kesah Icha sendiri dalam hati. Dan, untuk ukuran yang amat sangat amatiran, Icha lumayan gampang untuk masuk ke ‘grabak-grubuk’nya dunia ‘manajer artis’ dan koq… si artis sendiri mudah banget percaya sama Icha
Read more »

Jumat, 21 November 2008

Lekra tak Membakar Buku













Judul : Lekra Tak Membakar Buku
(Suara Senyap Lembar Kebudayaan Harian Rakjat 1950-1965)
Penulis : Rhoma Dwi Aria Yuliantri & Muhidin M Dahlan
Penerbit : Merakesumba
Cetakan : I, Sept 2008
Tebal : 584 hlm ; 15x24 cm


Jika kita mendengar kata Lekra, maka yang langsung terpikirkan oleh kita adalah sebuah lembaga kebudayaan bentukan PKI yang pernah membikin ricuh panggung budaya Indonesia di era Demokrasi Terpimpin (1950-1965), tukang ganyang, pembuat onar, pemicu konflik tak berkesudahan dengan para sastrawan Manifes Kebudayaan (Manikebu), dan telibat pembakaran buku-buku di depan Kantor USIS (Pusat Informasi Amerika)

Stigma negatif yang ditempelkan pada Lekra ini terus melekat dalam benak kita dan keterlibatan Lekra dalam pembakaran buku yang sebenarnya tak terbuktikan itu telah menjadi mitos abadi karena hal ini terus ditulis di berbagai media dan dikisahkan oleh para sastrawan-sastrawan senior penandatangan Manifestasi Kebudayaan ketika menggambarkan situasi politik dan budaya Indonesia di tahun 50-60an

Mitos tersebut seolah tak terbantahkan karena suara-suara mantan aktifis Lekra yang menyangkalnya telah dibungkam ketika penguasa orde baru ‘menjahit’ mulut para lawan-lawan politiknya. Tak hanya itu, secara sengaja sejarah dan kiprah Lekra di ranah budaya Indonesia dikerdilkan hingga yang tercatat sekedar pertarungan antara dua kubu dalam isu kesusasteraan nasional : Lekra vs Manikebu.

Lalu apa dan bagaimana sesungguhnya Lekra ? Apa saja yang telah dikerjakannya selama lembaga kebudayaan ini menguasai panggung budaya Indonesia selama lima belas tahun (1950-1965)?. Tak banyak yang mengetahuinya karena tak satu bukupun yang secara komprehensif pernah menulis tentang Lekra hingga akhirnya terbitlah buku bertajuk “Lekra Tak Membakar Buku” karya Muhidin M Dahlan dan Rhoma Dwi Aria Yuliantri.

Buku ini bisa dikatakan buku yang paling komprhensif mengenai Lekra yang disusun secara sistematis dalam sepuluh bab plus daftar singkatan /akronim, lampiran, dan indeks. Dimulai dari bab Mukadimah yang mencatat situasi menjelang Kongres I Lekra (1959) ketika seluruh aspek kehidupan masyarakat Indonesia harus segaris dengan Manifestasi Politik (Manipol)-nya Soekarno. Demikian pula dengan sikap berkebudayaan yang arahnya sudah jelas : “Seni untuk Rakyat” dan “politik adalah panglima kebudayaan”. Dalam Konggres-nya inilah Lekra mencoba merumuskan berbagai aksi nyata di lapangan kebudayaan yang memihak Rakyat, anti imperialis, dan anti feodal!

Masih dalam bab yang sama, diungkapkan pula kelahiran dan peran Lekra secara umum sebelum dibahas secara detail di bab-bab berikutnya. Satu hal yang menarik adalah terungkapnya bahwa Lekra bukanlah salah satu organ PKI seperti yang selama ini banyak diasumsikan orang. Hal ini tampak saat diselenggarakannya Konferensi Sastra dan Seni Revolusioner (KSSR) yang sepenuhnya dilakukan oleh PKI. Memang dalam kenyatannya banyak seniman-seniman Lekra ikut terlibat , namun kapasitas mereka sebagai seniman “progresif revolusioner” dan bukan sebagai Lekra secara institusi. Jika Lekra memang organ resmi PKI tentu saja konferensi ini akan dilaksanakan oleh Lekra sebagai lembaga kebudayaan yang paling siap dan kompeten untuk menyelenggarakannya, atau setidaknya nama Lekra akan selalu disebut-sebut. Pada kenyataannya hingga resolusi KSSR diumumkan, Lekra tak pernah disebutkan sebagai bagian dari PKI.

Karena itulah buku ini menyebutkan secara gamblang bahwa : “ Lekra tak pernah menjadi underbow PKI. Lekra adalah organisasi merdeka yang tak masuk dalam kendali komando PKI…Walau tak bisa dipungkiri bahwa banyak pekerja budaya komunis yang menjadi anggota Lekra di pucuk-pucuk pimpinannya. “ (hal 61).

“Menyebut Lekra bersih sama sekali dari pengaruh PKI adalah kesalahan fatal, tetapi menyebutnya menginduk kepada PKI juga keliru. Lebih tepat hubungan itu adalah hubungan kekeluargaan ideologi..(hal 63)

Selain itu terungkap pula bahwa Pramoedya Ananta Toer bukanlah komunis. Hal ini terungkap ketika PKI hendak melakukan “pemerahan total” pada Lekra melalui konggres KSSR . “..bahkan Nyoto yang pendiri Lekra pun menolak “pemerahan total“ Lekra dengan pertimbangan hengkangnya tenaga-tenaga potensial Lekra yang non-Komunis seperti Pramoedya Ananta Toer, Utuy Tatang Sontani, dan sebagainya.” (hal 62)

Setelah bab Mukadimah, buku ini membahas mengenai Riwayat Harian Rakjat yang merupakan terompet PKI dan Koran politik nasional terbesar pada masanya, dan tempat dimana sastrawan-sastrawan Lekra mengisi secara penuh lembar-lembar kebudayaannya yang merupakan sumber utama dari lahirnya buku ini.

Kemudian mulailah buku ini membahas semua kerja Lekra dan pemikiran-pemikiran seniman Lekra diberbagai bidang kebudayaan yang dibagi secara bab per bab mulai dari sastra, film, seni rupa, seni pertunjukan, seni tari, musik, dan buku. Dari berbagai bahasan dalam buku ini akan terlihat bahwa para Lekra sangat militan dalam melaksanakan kerja budaya yang segaris dengan prinsip Manipol yang menentang kebudayaan imperialis dan sepenuhnya memihak sekaligus memberdayakan kebudayaan Rakyat. Di tangan Lekra beberapa seni dan kebudayaan rakyat yang telah terkurung dalam kebudayaan feodal ( wayang, tari-tarian keraton, dll) yang tadinya hanya dipentaskan di kalangan dan tempat-tempat tertentu, kini dikembalikan pada rakyat sehingga semua rakyat bisa menikmati dan mengembangkannya.

Lekra juga membabat habis semua bacaan-bacaan, film, musik yang tidak sesuai dengan garis kebijakan Manipol termasuk karya-karya sastrawan Manikebu. Sebagai gantinya, Lekra menumbuh kembangkan bacaan, film, dan musik yang sesuai dengan jiwa revolusioner. Dalam berbagai simposium kebudayaannya Lekra mencatat dan menginventarisir semua kesenian-kesenian rakyat dan mengurus hak ciptanya. Kalau saja apa yang dikerjakan Lekra tak terkubur oleh sebuah prahara politik di tahun 65 mungkin kini tak ada ceritanya kalau kesenian reog ponorogo, dan beberapa lagu daerah diklaim sebagai milik budaya negara tetangga kita.

Dalam bidang musik, selain mengecam musik ngak-ngik-ngok yang dianggap tidak sesuai dengan kepribadian nasional, Lekra juga sangat prihatin terhadap perilaku anak-anak kecil yang menyanyikan lagu-lagu dewasa yang liriknya cengeng dan cinta-cintaan. Karenanya Lekra membahasnya secara khusus dalam Konferensi Lembaga Musik Indonesia (LMI/Lekra). Kondisi ini tampaknya tak jauh berbeda dengan keadaan sekarang dimana anak-anak tak memiliki lagu-lagu yang sesuai dengan usia mereka sehingga tak heran kalau kita mendengar anak-anak menyanyikan lagu –lagu cinta orang dewasa.

Di bidang buku, kita akan melihat bagaimana saat itu pameran-pameran buku tak sekedar ajang bisnis semata, melainkan menjadi ajang propaganda politik melalui buku-buku yang dipamerkan. Secara menarik kita akan diajak melihat siapa-siapa saja yang ikut dalam pemeran buku yang saat itu bernama “Gelanggang Buku” dan buku-buku apa saja yang dipamerkan. Hal ini mungkin bisa berguna bagi penyelenggara pameran buku di masa kini yang umumnya hanya memindahkan aktifitas toko buku ke dalam pameran.

Kemudian dibahas pula politik sebagai panglima buku, politik buku pelajaran, lembaga penerbitan buku Lekra, dan bab khusus “Lekra tak membakar buku” yang berisi fakta-fakta bahwa Lekra tak pernah membakar buku dan melarang peredaran buku-buku yang notabene adalah wewenang Kejaksaan Agung. Berdasarkan guntingan-guntingan Koran Harian Rakjat yang menjadi dasar buku ini, kedua penulis buku ini sampai pada kesimpulan bahwa “tak satupun individu yang menyebutkan bahwa Lekra secara keorganisasian maupun individu-individu ikut serta dalam pembakaran buku” (hal 476)

Masih banyak sepak terjang Lekra yang akan kita dapat di buku ini. Pada intinya buku ini memang mengupas habis kerja-kerja kreatif yang dihasilkan Lekra selama 15 tahun (1950-1965) di bidang kebudayaan sebelum lembaga ini dibekukan dan seluruh kegiatannya dihapus dari memori dan sejarah bangsa Indonesia.

Kini kita patut bersyukur, karena kiprah Lekra yang telah dengan sengaja dihilangkan dari sejarah bangsa ini kembali terkuak dan dapat dibaca oleh semua orang. Ini semua berkat ‘kegilaan’ dua penulis muda yang dengan tekun menyelisik sekitar 15 ribu artikel kebudayaan di Harian Rakjat selama 1.5 tahun yang tersimpan dalam ruang terlarang untuk dibaca di sebuah perpustakaan di Jogya. Artikel-arttikel itu terpaksa mereka salin karena lembar koran yang sudah usang sebagian besar sudah tak memungkinkan lagi untuk di foto copy.

Dari ribuan artikel yang mereka baca dan salin inilah mereka dan menyusunnya sehingga menjadi sebuah buku utuh yang enak dibaca, . “Kami hanya mengatur tempo dan menggilir siapa yang naik panggung duluan dan siapa yang kena giliran berikutnya. Untuk memberi suasana dan raut wajah dan suara semasa, maka kami sebanyak mungkin mengiringi kembali seluruh bahasan dengan kutipan langsung dari potongan-potongan berita braksen ejaan lama itu?” (hal 6).

Tampaknya kegilaan ide dan ketekunan kerja yang dilakukan Muhidin dan Rhoma Dwi Aria tak sia-sia. Buku yang awalnya diprediksi oleh kedua penulisnya hanya akan setebal duaratusan halaman ternyata menggelembung menjadi hampir 600 halaman karena semakin meluasnya temuan-temuan baru yang mereka temukan untuk diungkapkan. Jangan menciut melihat ketebalannya, karena walaupun tebal dan bersumber dari ribuan artikel-artikel yang berdiri sendiri namun kedua penulis berhasil merangkainya menjadi sebuah buku yang sistematis, runut, tak bertele-tele, dan enak dibaca. Lampiran-lampiran risalah rapat, hasil komunike, struktur organisasi, dan sebagainya merupakan bonus bagi mereka yang berniat meneliti lebih dalam mengenai Lekra.

Melihat lengkapnya bahasan dalam buku ini tampaknya inilah buku tentang Lekra yang paling komprehensif yang pernah diterbitkan di Indonesia semenjak Lekra berdiri hingga kini. Namun demikian ada yang mengkritik buku ini karena hanya bersumber dari guntingan-guntingan artikel lembar kebudayaan Harian Rakjat tanpa mencari sumber lain berupa wawancara terhadap pelaku sejarah yang masih hidup atau sumber-sumber kepustakaan lain.

Selain itu, ketika saya selesai menamatkan buku ini, saya bertanya-tanya mengapa judul bukunya “Lekra tak Membakar Buku”, padahal yang dibahas lebih dari sekedar jawaban atas pernyataan tersebut. Menurut saya judul tersebut mengecilkan luasnya cakupan yang dibahas dalam buku ini.

Ketika kedua hal tersebut saya tanyakan pada salah seorang penulisnya (Muhidin M Dahlan), ia mengatakan bahwa tak adanya narasumber dari para tokoh sejarah dalam menyusun buku ini sudah disadarinya sejak awal, “Itulah kelemahan sekaligus kekuatan buku ini”, ungkapnya. Wawancara terhadap tokoh-tokoh Lekra yang masih hidup dilakukan hanya sebatas konfirmasi nama, tak bisa lebih dari itu, faktor usia tampaknya menjadi kendala karena mungkin ingatan mereka sudah tak jernih lagi.

Sedangkan untuk judul, Muhiddin menjelaskan bahwa dalam proses kreatifnya ia cenderung mengambil judul bab yang paling kuat. Selain itu bab “Lekra tak Membakar Buku” adalah yang ditulis paling awal ketika buku ini dikerjakan, dan dari bab inilah maka pembahasannya menjadi semakin berkembang. “Tidak ada bab itu sebagai pemicunya , maka tidak akan ada buku Lekra.”, demikian imbuhnya.

Kritik lainnya untuk buku ini adalah hurufnya yang terlalu kecil dan beberapa kesalahan cetak sehingga mengganggu kenyamanan membaca. Untuk ukuran huruf mungkin ini salah satu cara untuk menyiasati agar buku ini tidak bertambah ‘gemuk’ yang tentunya akan mengakibatkan harganya menjadi mahal dan sulit dijangkau oleh khalayak ramai.

Terlepas dari baik buruknya buku ini, saya berani mengatakan bahwa buku ini buku merupakan karya monumental yang mendokumentasikan penggalan sejarah berkebudayaan di Indonesia. Karenanya buku ini wajib dimiliki dan dibaca oleh para pecinta sejarah, pemerhati, dan pelaku gerakan kebudayan Indonesia. Kiprah Lekra selama lima belas tahun tampil apa adanya dalam buku ini. Ada yang buruk, ada pula yang baik. Yang buruk bisa menjadi pelajaran agar hal serupa tak terulang kembali. Sedangkan apa yang baik dari kerja kreatif Lekra setidaknya dapat menjadi inspirasi dan bisa dijadikan contoh dalam mengembangkan kebudayaan kita saat ini.

Yang pasti buku ini akan membuka mata kita bahwa sejarah Lekra tak sekedar berisi polemik tak berkesudahan dengan pengusung Manifes Kebudayaan. Lekra bukan hanya diisi oleh orang-orang yang haus kuasa, tukang boikot, tukang cela, dan pembuat onar panggung kebudayaan, tapi Lekra adalah sebuah lembaga kebudayaan yang telah memberi warna dan sumbangsih yang luar biasa bagi kebudayaan Indonesia sebelum tragedi nasional menumbuk dan menghancurkan semua hasil kerja keras yang dipupuk selama 15 tahun tanpa henti itu.

Cover yang dipermasalahkan


Baru saja sehari terpajang di toko-toko buku, tiba-tiba Toko Buku Gramedia menarik seluruh buku Tilogi Lekra Tak Membakar Buku dan mengembalikan pada penerbitnya tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Usut punya usut ternyata mereka khawatir dengan cover buku “Lekra Tak Membakar Buku” yang memuat gambar ‘palu arit’ yang merupakan lambang PKI. Mereka tampaknya khawatir karena pelarangan logo PKI hingga kini belum dicabut oleh pemerintah. Karenanya TB Gramedia bersikukuh tak mau memajang buku ini jika covernya belum diganti.

Sebenarnya lambang PKI pada buku ini tak terlalu kentara karena hanya berupa gambar timbul (embossed) tanpa bingkai dan warna, nyaris tak terlihat terutama dari jarak jauh. Sehingga sekilas yang terlihat hanyalah cover putih polos dengan judul buku berwarna merah di bagian bawahnya.

Sebenarnya desain cover seperti ini menggambarkan keberadaan Lekra dengan PKI. Lekra bukanlah salah satu organ PKI, tapi tokoh-tokoh Lekra adalah orang-orang yang juga tergabung dalam PKI. Jadi dibilang PKI bukan, dibilang bukan PKI juga salah.

Awalnya penerbit maupun penulisnya tetap ingin mempertahankan cover tersebut, namun tampaknya daripada buku ini tersendat peredaraannya dan di sweeping oleh pihak-pihak tertentu sehingga kesempatan masyarakat untuk membaca buku ini menjadi terhalang, akhirnya diambil jalan kompromi. Daripada membuang-buang waktu dan dana untuk mengganti cover baru, maka ditutuplah lambang palu aritnya dengan kertas putih.
Akhirnya buku monumental ini kini tersaji dengan wajah yang tambal sulam, hal yang buruk dan tak memenuhi kaidah estetika sebuah buku….

@h_tanzil
Read more »

Minggu, 02 November 2008

The 7 Laws of Happiness

Judul : The 7 Laws of Happiness
Penulis : Arvan Pradiansyah
Editor : Budhyastuti R.H.
Penerbit : Kaifa
Cetakan : I, Sept 2008
Tebal 428 hl, ; 23.5 cm

Bisa dipastikan semua manusia menginginkan hidupnya bahagia. Namun masalahnya kebahagiaan tidak datang dengan begitu saja. Harus ada usaha untuk memperoleh kebahagiaan. Karenanya banyak cara yang dilakukan untuk memperoleh kebahagiaan, ada yang mencari bahagia dengan kesenangan atau hobi, ada pula yang mencarinya dengan mengejar kesuksesan karena diyakini bahwa kesuksesan akan membawanya pada kekayaan dan kekayaan akan membuatnya bahagia.

Namun kesenangan atau hobi hanya membuat kita bahagia saat kita melakukan aktifitas hobi kita, setelah itu kita kembali pada persoalan hidup yang menghimpit kita dan membuat kita tidak bahagia. Kesuksesan dan kekayaan tak menjamin kita hidup bahagia. Kita sering mendengar orang-orang yang berada dalam puncak kesuksesannya ternyata mengalami depresi yang begitu dalam. Lalu dimanakah dan apa yang sebenarnya membuat kita bahagia ?

Arvan Pradiansyah, penulis buku-buku motivasi You Are a Leader! (2003), Life is Beautiful (2004), dan Cherish Every Moment (2007), dalam buku terbarunya mencoba mengungkap rahasia memperoleh kebahagiaan. Berdasarkan pengalamannya dalam memberikan training-training motivasi ia meyakini bahwa untuk mencapai kebahagiaan maka yang harus kita lakukan adalah dengan cara memilih pikiran yang positif.

Jadi, kunci memperoleh kebahagiaan sebenarnya ada dalam pikiran kita dan sangat tergantung ada pikiran yang kita pilih. Apabila kita memilih pikiran negatif, seluruh diri ktia menjadi negatif. Sebaliknya, jika memilih pikiran positif, kita akan senantiasa dienuhi oleh rasa bahagia. Karenanya kita harus menguasai pikiran kita, melatih, dan mengisi pikiran kita dengan hal-hal positif.

Bagaimana cara melatih dan menguasai pikiran kita ? Dalam buku ini Arvan memberikan suatu rumusan rahasia yang sistematis yang disebutnya sebagai The 7 Laws of Happines. Ketujuh rahasianya tersebut dibagi dalam tiga kelompok besar. Tiga rahasia pertama berkaitan dengan diri kita sendiri, yaitu Patience (Sabar), Gratefulness (Syukur), dan Simplicity (Sederhana). Tiga rahasia berikutnya berkaitan dengan hubungan kita dengan orang lain, yaitu Love (Kasih), G(Memberi), dan Forgiving (Memaafkan). Satu rahasia terakhir berkaitan dengan Tuhan, yaitu Surender (Pasrah).

Sekilas rumusan yang dipaparkan Arvan memang mirip dengan karya terkenal Stephen R. Covey, The 7 Habits for Highly Effective People. Seperti yang diakui oleh Arvan dalam buku ini, rumusannya sedikit banyak terinspirasi oleh buku terkenal Covey tersebut, namun jika ditelaah lebih dalam, terdapat perbedaan antara 7 Habits dengan The 7 Laws. Bahkan dapat dikatakan bahwa The 7 Laws dapat dilihat sebagai kelanjutan perjalanan kemanusiaan kita yang telah diawali oleh The 7 Habits.

Jadi The 7 Laws of Hapiness adalah pelatihan pikiran yang sistematis dan sebuah metode untuk menumbuhkan kebagiaan dengan cara memilih pikiran positif dan memfokuskan perhaitan pada pikiran positif tersebut. The 7 Laws melatih kita untuk menyaring dan memilih pikiran-pikiran positif dan melatih kita untuk membuang pikiran-pikiran negatif yang masuk ke kepala kita dan menggantinya dengan pikiran-pikiran yang sehat dan bergizi.

Salah satu cara mengisi pikiran kita dengan hal yang positif yaitu dengan cara menghindari bacaan dan tontonan yang berdampak negatif. Arvan tampaknya sangat prihatin dan geram dengan gempuran media masa baik media cetak, maupun televisi umumnya memberi kontribusi negatif pada pikiran kita. Secara terang-terangan dia memberi contoh salah satu acara TV yang merusak pikiran kita. Arvan mengkritik acara Empat Mata yang dipandu Tukul Arwana. Bahkan ia secara terang-terangan mengatakan bahwa acara tersebut sebenarnya hanyalah berisi sampah karena selalu menertawakan orang lain dan sering menggunakan kata-kata kasar seperti “bukan manusia”, “seperti monyet”, “keturunan iblis”, dan sebagainya. Bagi Arvan acara seperti ini akan semakin menghilangkan rasa kasih (rahasia ke 4 dalam The 7 Laws) dalam diri kita karena tanpa disadari, kata-kata negative Tukul akan meresap dalam pikiran kita jika kita terus menonton acara tersebut.

Berbeda dengan buku-buku Arvan sebelumnya yang merupakan kumpulan tulisannya di berbagai media. Maka bukunya kali ini merupakan hasil pemikirannya yang utuh dan sistematis. Apa yang dikemukakannya disajikan dengan sederhana dan mudah diingiat karena ketujuh rahasia bahagia itu diilustrasikan dalam bentuk bangunan sebuah rumah. Dalam paparannya Arvan tak hanya memberikan teori-teori yang mengawang-awang, melainkan diungkapkan dengan gaya yang bersahaja, mudah dipahami dan menggugah kesadaran pembacanya akan apa yang mungkin selama ini terlupakan.

Banyak contoh-contoh yang sederhana namun memberi banyak pelajaran berharga. Umumnya apa yang diungkapkannya dalam buku ini kita semua sudah mengetahuinya, namun dengan membaca buku ini seolah kita dibangunkan dari tidur panjang kita dan disadarkan akan berbagai pikiran negatif yang mungkin secara tidak kita sadari terus kita pelihara dalam pikiran kita sehingga membuat kita tidak bahagia.

Bagi saya hal yang paling menarik dalam The 7 Laws adalah bagaimana Arvan mentutup rahasia memperoleh kebahagiaan dengan prinsip Surender (Pasrah). Dengan gamblang Arvan mengungkapkan bahwa setelah melalui enam rahasia untuk mencapai kebahagiaan, kebahagiaan belum akan tercapai sebelum kita menjalankan rahasia yang ketujuh, yaitu Surender (Pasrah). Pasrah adalah kunci dari semua perjalanan kita , sebuah kata pamungkas bahwa di atas segala usaha dan kemampuan kita ada satu kekuatan yang berada di atas segala kekuatan dimana kita bergantung sepenuhnya pada kekuatan tersebut, yaitu Tuhan Yang Mahakuasa. Inilah yang mungkin membedakan Arvan dengan penganut aliran-aliran positif thinking lainnya yang terkadang hanya menonjolkan kekuatan manusia untuk memilih pikiran yang positif untuk memperoleh kebahagiaan.

Buku ini juga dikemas dengan menarik, mulai dari pilihan font yang nyaman untuk dibaca, ilustrasi yang menarik, layout halaman dalam yang dinamis, membuat buku ini memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi. Selain itu, karena buku ini mengajak pembacanya untuk memperoleh kebahagiaan , tampaknya buku ini sangat pantas untuk dijadikan sebagai kado bagi sahabat, rekan kerja, dan orang-orang yang kita kasihi. Buku ini juga tampaknya tak cukup dibaca hanya satu kali saja. Seperti yang diungkap Arvan bahwa ketujuh rahasia hidup bahagia ini harus sering dipraktekkan dan dilatih secara berulang-ulang. Seiring berjalannya waktu, mungkin kita mulai kendor dalam mengelola pikiran kita, kita mulai merasa tak bahagia kembali, mungkin saat itulah buku ini perlu dibaca ulang kembali.



@h_tanzil
Read more »