Jumat, 20 Februari 2009

Lady Chatterley's Lover

Judul : Lady Chatterley's Lover
Penulis : D.H. Lawrence
Penerjemah : Arvan Achyar
Pengantar : Goenawan Mohamad
Penerbit : Pustaka Alvabet
Cetakan : I, Des 2008
Tebal : 586 hlm

Lady Chatterley’ Lover adalah roman sastra terkenal yang kini telah menjadi karya klasik dalam khazanah sastra dunia. Novel karya penulis Inggris D.H. Lawrence ini terbit pertama kalinya pada tahun 1928. Sadar bahwa novelnya tak mungkin diterbitkan di Inggris, maka Lawrence menerbitkannya sendiri di Florence, Italia. Novel ini menuai kontroversi karena deskripisi persetubuhan antara dua orang yang berbeda strata sosial begitu kentara dan bertaburan disepanjang novelnya. Hal yang saat itu masih dianggap tabu untuk diungkap secara eksplisit dalam sebuah karya sastra.

Beberapa pedagang buku di Inggris menolak novel ini dijual di toko-toko mereka. Sementara itu buku yang dikirimkan kepada para pemesan di AS sering disita oleh pihak otoritas bea cukai. Bahkan Presiden Eisenhower menganggapnya sebagai bacaan “dreadful”.

Berbagai pelarangan justru semakin membuat novel ini laris manis. Di Eropa sendiri novel itu laku keras. Namun karena novel ini dianggap sebagai bacaan tidak senonoh dan sesuai dengan UU yang berlaku saat itu bahwa buku-buku yang dianggap tidak senonoh tidak akan dilindungi oleh UU hak cipta internasional, maka para pembajak dengan bebas mencuri teks novel ini dan mencetak ulang dengan harga yang lebih murah. Untuk melawan para pembajak Lawrence terpaksa menerbitkan edisi murah dalam bahasa Perancis.

Lawrence juga pernah ditawari oleh penerbit Inggris untuk membuat edisi baru dengan menghilangkan bagian-bagian yang menurut mereka tidak pantas. Untuk itu Lawrence ditawari imbalan yang besar. Tentu saja Lawrence menolaknya karena menurutnya dengan menghilangkan bagian-bagian yang dianggap tidak pantas malah akan membuat karyanya hancur.

Penerbit buku bergengsi di London, Penguin Books Limited, akhirnya menerbitkan novel itu secara utuh pada tahun 1960. Karena itu, penerbit tersebut diadili di Pengadilan Old Bailey, London. Sejumlah saksi memberikan pandangan yang mendukung novel ini. Akhirnya pengadilan secara resmi menilai dan memutuskan bahwa The Lady Chaterley’s bukanlah karya pornografis. Penguin pun memenangi perkara dan buku tersebut secara utuh boleh beredar di Inggris. Semenjak itu novel ini dapat didistribusikan dan diterbitkan dengan bebas di berbagai negara tanpa khawatir dicap sebagai bacaan porno. Dan kini Berbagai kajian sastrawi dilakukan terhadap novel yang menarik perhatian pembaca popular dan juga mahasiswa sastra di berbagai belahan dunia.






Lady Chatterley's Lover
First Edition terbitan Penguin Books







Novel ini sendiri mengisahkan kisah cinta terlarang antara Connie dengan Olivers Mellors. Lady Chatterley adalah gelar yang diberikan pada Connie setelah ia menikah Cliiford Chatterley. Connie sendiri berasal dari keluarga kaya yang dibesarkan dalam pendidikan dan pergaulan modern keluarga Inggris pada saat itu. Sedangkan Clifford lahir dari keluarga bangsawan pemilik tambang batu bara di Travershall – Inggris. Ia mengenyam pendidikan tinggi hingga ke Cambridge dan berdinas sebagai tentara saat PD I meletus. Malang nya setelah perang usai Clifford harus pulang dalam keadaan lumpuh. Dan mulailah Clifford menjalani hari-harinya bersama Connie di rumah besarnya di Wragby di sebagai seorang penulis.

Pasca kelumpuhannya Cliford menjadi pribadi yang terluka. Ia harus terus berada diatas kursi roda mekanis yang bisa bergerak sendiri dengan menekan tombol-tombolnya. Clifford senantiasa sendirian. Ia seperti orang yang tersesat. Ia butuh Connie disampingnya untuk meyakinkan kalau dia tetap ada. Walau mereka selalu berdekatan, tubuh mereka menjadi asing satu sama lain. Mereka begitu intim, namun sama sekali tidak pernah bersentuhan. Connie merasa ia tak mendapatkan kehangatan dari suaminya.

Setelah dua tahun di Wragby dan menjalani hidup pengabdian pada suaminya, Connie merasa hidupnya bersama Clifford tidaklah bahagia. Walau hidup berkecukupan dan menikah dengan seorang bangsawan, ia tetap tidak bahagia dan merasa belum mendapat pemenuhan dalam hidup. Connie tahu bahwa dirinya akan hancur. Ia telah kehilangan dunia dan vitalitas masa mudanya yang pernah dia nikmati sebelum dia menikah.

Keterasingan, kesepian, bosan, hampa, dan perasaan tertindas oleh sikap patriakhi suaminya membuat dirinya tak bergairah dan mengalami kegelisahan yang semakin hari semakin memuncak. Ketika gelisah datang, ia berlari melintasi taman dan meninggalkan Clifford. Lari dari semua orang menuju hutan, tempat ia bisa melupakan semua kegelisahannya.

Dalam hutan itulah Connie bertemu dengan Oliver Mellors si penjaga hutan yang merupakan pegawai Clifford. Berawal dari ketika Connie ditugasi oleh Clifford untuk mengirimkan pesan pada Mellors akhirnya mereka kerap bertemu. Walau awalnya keduanya tak saling suka namun perasaan kesepian yang sama-sama mereka alami membuat mereka lambat laun saling mencintai dan membutuhkan. Bersama si penjaga hutan itulah akhirnya Connie menemukan kehangatan dan keteduhan batinnya.

Connie terperangkah di antara dua pria. Pada Clifford ia tetap melaksanakan kewajibannya sebagai istri, namun ia juga tetap menjalin hubungan cintanya dengan Mellors di hutan. Hubungan mereka berlanjut dengan aktifitas seks di pondok di tengah hutan di tempat kediaman Mellors hingga akhirnya Connie hamil. Bisa dibayangkan bagaimana sikap Clifford jika kelak mengetahui bahwa dirinya hamil karena perselingkuhannya dengan lelaki kelas bawah yang notabene pegawainya sendiri. Namun Connie tidak takut, ia memang menghendaki anak dan kehamilannya ini dijadikannya alasan bagi dirinya untuk meminta cerai dari Clifford. Clifford terguncang, namun ia menampik keinginan istrinya untuk bercerai dan menawarkan sebuah solusi yang dianggapnya terbaik.

Ada banyak hal yang menarik dari novel ini. Seperti yang menjadi kontroversi sejak novel ini diterbitkan, novel ini memang memiliki banyak deksrpisi erotis. Walau D.H. Lawrence membungkusnya dalam balutan kalimat-kalimat sastrawi namun tetap saja pembaca akan terbakar oleh deskripsi persetubuhan Connie dan Mellors. Mereka bercinta di pondok Mellors, di tengah hutan di bawah naungan hujan, bertelanjang di tengah hujan, bercinta di bawah pohon, dll. . Namun tentunya bukan maksud penulisnya hanya untuk sekedar menghadirkan kisah erotis tanpa makna.

Persetubuhan antara Connie dan Mellors bukan hanya sekedar pemuasan nafsu mereka semata, tetapi sebagai perwujudan kelegaan atas pribadi-pribadi yang terkukung. Hubungan seks diantara mereka melahirkan ketenangan sejati bagi Connie. Jadi tujuan seks dalam novel ini lebih pada penyembuhan dan bukan sekedar pemuasan nafsu. Walau seks yang mereka lakukan adalah hal yang terlarang namun seks membawa kelahiran kembali Connie dan Mellors untuk bisa membuka diri dan menapak kehidupan baru mereka.

Karakter-karakter yang dihidupkan oleh D.H. Lawrence dalam novel ini sangatlah menarik. Walau merupakan roman percintaan namun novel ini bukanlah novel yang mendayu-dayu dan cengeng. Hampir semua tokoh dalam novel ini mentransformasikan dirinya dari pribadi yang rapuh menjadi pribadi yang kuat dan melawan. Clifford, Connie, dan Mellors awalnya merupakan pribadi-pribadi yang tertutup, tersisih, dan kesepian, namun berbagai peristiwa telah merubahnya menjadi pribadi yang kuat dan penuh perlawanan. Contohnya adalah perlawanan terhadap tradisi dan pendobrakan sekat-sekat kelas yang dilakukan secara simbolis oleh perselingkuhan Connie danMellors.

Selain itu melalui novel ini kita juga dapat menangkap kritik sosial terhadap muramnya kehidupan di Inggris setelah perang di tahun 1920-an. Masyarakat terjebak ke dalam lapisan-lapisan kelas, industrialisasi mulai merasuk, dan uang menjadi senjata ampuh untuk pencapaian kekuasaan. Melalui tokoh Clifford, seorang berdarah biru dan tuan tanah pemilik tambang akan terungkap bagaimana sikap para bangsawan terhadap para pekerja tambang yang bagi mereka bukan lagi manusia seutuhnya melainkan hanya sekedar alat produksi untuk mengeruk keuntungan bagi usaha mereka.

Jadi novel ini bukanlah sekedar novel erotis semata seperti yang mungkin selama ini menjadi pendapat umum atas karya terkenal D.H. Lawrence ini . Ada banyak hal yang bisa dimaknai dalam kisah cinta Lady Chaterly. Michael Squares, editor Penguin Books menulis dalam kata pengantarnya bahwa Lawrence berusaha membangunkan dan mengarahkan rasa simpati para pembaca tanpa membuat novel ini menjadi sebuah kebosanan.

Salah satu yang ingin disampaikan oleh Lawrence dalam novel ini adalah upaya menyadarkan masyarakat atas dirinya sendiri, mempertanyakan berbagai asumsi yang telah mengakar dan membangkitkan sebuah kejujuran dan keberanian yang menantang. Karena itulah tampaknya karya yang telah berusia lebih dari 75 tahun ini masih relevan untuk terus dibaca dan dimaknai.

Bersyukur kini karya klasik ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Dibanding edisi aslinya, novel terjemahannya ini tampak lebih gemuk karena penerbit memasukkan berbagai artikel tambahan baik di awal maupun akhir novel ini. Di bagian awal, pembaca akan disuguhkan dengan 4 buah artikel berupa Catatan untuk edisi Penguin, Kata Pengantar, dan Catatan Panjang dari Penulis yang menghabisi sekitar seratus halaman sebelum kita masuk dalam novelnya sendiri. Sedangkan di akhir novel masih ada tambahan berupa Riwayat Panjang D.H. Lawrence, dan Apendiks sebanyak 23 halaman.

Bagi para pemerhati sastra, artikel-artikel tambahan itu tentunya sangat bermanfaat, namun bagi pembaca awam mungkin menjadi tak terlalu bermanfat karena membaca artikel-artikel tersebut ternyata cukup melelahkan. Novel ini dicetak diatas kertas yang bagus sehingga terkesan mewah, nyaman dibaca, dan layak dikoleksi, namun konsekuensinya harga buku ini menjadi relatif mahal yang tentunya membuat calon pembeli berpikir ulang untuk membeli novel seharga 99 ribu ini.

Beberapa kesalahan cetak juga ditemui di novel ini. Dari segi terjemahan bisa dibilang baik, walau ada beberapa frasa yang saya anggap janggal namun tak sampai mengurangi kenikmatan saya membaca novel ini. Ada satu hal yang tidak konsisten dalam terjemahannya. Di cover belakang novel ini disebutkan Connie berselingkuh dengan penjaga kebun/tukang kebun, sementara di seluruh bagian novel ini, profesi Oliver Mellors tidak disebut sebagai tukang kebun melainkan penjaga hutan.

Namun bagaimanapun usaha untuk menerjemahkan novel klasik yang menggugah ini patut dihargai. Jika sebelumnya novel ini hanya dapat dibaca oleh para kalangan yang melek sastra dan fasih membaca dalam bahasa Inggris, kini novel ini dapat terbaca oleh kalangan yang lebih luas lagi. Semakin banyak karya sastra klasik yang diterjemahkan dan dapat dibaca oleh para pembaca di negeri ini tentunya akan lebih mendorong perkembangan dunia sastra kita lebih baik lagi. Semoga.


@h_tanzil
Read more »

Jumat, 13 Februari 2009

Stromchaser

Judul : Stromchaser
Penulis : Paul Stewart & Chris Riddell
Penerjemah : Meithya Rose Prasetya

Penerbit : Matahati

Cetakan : Des, 2008

Tebal : 462 hlm

Stromchaser adalah buku kedua dari seri fantasi “The Edge of Chronicle” yang kisahnya merupakan kelanjutan dari buku “Beyond the Deepwoods” (Matahati, 2007). Kali ini Twig, putra sang perompak Langit, Cold Wolf telah berusia 16 tahun dan ikut serta dalam perjalanan ayahnya mengarungi langit The Edge dengan perahu langit yang diberi nama Stormchaser (Pemburu Badai).

Dikisahkan saat ini kota terapung Sanchtaprax dalam keadaan krisis karena stormphrax yang merupakan batu pemberat agar kota itu berada dalam ketinggian ideal semakin menipis karena terus menerus diambil untuk memurnikan air sungai di Undertown yang telah tercemar. Guna menyelamatkan Sanchtaprax maka satu-satunya cara adalah dengan mencari Stormphrax! Jika tidak maka rantai penahan Sanchtaprax yang diikat ke Undertown tak akan mampu menahan tarikan keatas dari Sanctaphrax dan kota yang merupakan pusat ilmu pengetahuan, tempat tinggal para cendekiawan The Edge, itu akan melayang lenyap menuju kehampaan.

Bukan hal yang mudah untuk memperoleh Stormphrax karena batu kristal pemberat tersebut hanya terbentuk oleh ledakan petir di atas Hutan Temaram saat munculnya Badai Akbar yang hanya muncul beberapa tahun sekali. Menurut tradisi untuk mencari Stromphrax diutuslah seorang Akademikus Ksatria yang bertugas untuk mengejar badai akbar, menembus belantara hutan temaran dan membawa pulang stromphrax. Para ksatria itu bersumpah untuk tidak pulang sebelum memperoleh stromphrax. Malangnya walau telah beberapa ksatria diutus untuk mencari stromphrax namun tak satupun yang berhasil pulang untuk membawa stromphrax.

Singkat cerita, Cold Wolf (Quintinius Verginix) yang pernah menjadi Akademikus Ksatria akhirnya berangkat mengejar badai akbar dengan kapal langitnya (Stromchaser). Walau Twig menginginkan untuk ikut serta, Cold Wolf tak mengizinkannya. Ternyata dalam ekspedisinya ini seorang awak stromchaser, Slyvo Spleethe yang merupakan kaki tangan Vilnix Pompolnius, (akademia tertinggi yang jahat) diam-diam telah merencanakan niat jahat dalam ekspedisi ini. Slyvo memanfaatkan keinginan Twig untuk ikut serta dalam ekspedisi ini. Secara diam-diam ia menyeludupkan Twig kedalam Stromchaser tanpa diketahui siapapun.

Tepat ketika Stromchaser berada di atas hutan temaram, muncullah badai akbar, ketika seluruh awak kapal berjuang melawan keganasan badai tiba-tiba Slvyo merampas stromchaser dan Twig dimanfaatkan sebagai sandera. Tentu saja Kapten Cold Wolf tak menyerah begitu saja sehingga ia harus berduel dengan Slyvo. Stromchaser menjadi tak terkendali dan mengalami kerusakan berat. Cold Wolf memerintahkan seluruh awak kapalnya terjun menuju hutan temaram sementara ia sendiri berjuang untuk mempertahankan kapal.

Twig dan seluruh awak kapal terjun menuju hutan temaram dengan menggunakan parawing (sayap buatan). Twig mendarat terpisah dari para awak kapal lainnya sehingga ia harus menyusuri hutan temaram untuk mencari teman-temannya. Walau akhirnya ia dapat bertemu dengan beberapa awak kapal Stromchaser namun untuk mencari strompharax yang baru saja terbentuk di hutan temaran dan membawanya pulang bukanlah hal yang mudah. Hutan Temaram dengan segala kemisteriusannya ternyata membuat siapa saja yang berada di dalamnya menjadi berhalusinasi dan merampas kesadaran tiap awak kapal yang selamat. Belum lagi ditambah tantangan alam dimana Twig dan kawan-kawannya harus melewati lumpur hisap, lubang tiup beracun, dan bermacam monster jahat penghuni rawa.

Petualangan Twig dan kawan-kawannya di hutan temaram inilah yang membuat seri kedua dari The Edge of Chhronicle ini menjadi menarik. Lebih menarik dari seri pertamanya (Beyond The Deepwoods, Matahati, 2007) yang hanya sekedar menceritakan petualangan Twig yang bertemu dengan berbagai monster saat keluar dari hutan Deepwoods.

Dalam Stromchaser, selain disuguhkan petualangan Twig menembus belantara Hutan Temaram guna mencari Stromprharax, dikisahkan pula intrik-intrik para akademia di Sanctahprax yang merupakan tempat yang penuh persaingan, konspirasi, dan perjuangan sengit antar golongan. Juga akan dikisahkan bagaimana Cold Wolf sebelum menjadi perompak langit ternyata pernah menjadi Akademikus Ksatria terbaik selama seratus generasi yang diutus untuk mencari Strompharax namun gagal karena kelicikan Vilnix Pompolnius yang berambisi untuk menjadi Akademia Tertinggi.

Seperti di buku pertamanya, buku ini masih menyajikan ilustrasi hitam putih yang indah dengan tarikan-tarikan garis yang tajam, kuat dan detail. Ilustrasi garapan Chris Riddel ini menghiasi hampir seluruh halaman buku dengan penempatan yang dinamis, kadang di tengah halaman, di pinggir, di atas, di bawah, terkadang menempati satu halaman penuh bahkan hingga menyeberang ke halaman berikutnya sehingga terkesan begitu menyatu dengan narasinya. Hal ini ini juga membuat pembacanya seakan ‘diculik’ dan dipindahkan ke dunia fantasi The Edge.

Jika mencermati segi kemasan dari buku terjemahannya ini, tampaknya penerbit Matahati telah melakukan beberapa perbaikan dibanding buku pertamanya. Di buku pertama cover buku terjemahannya tidak begitu menarik dan kertas di halaman dalamnya menggunakan kertas koran sehingga keindahan ilustrasinya terdistorsi. Sedangkan di buku keduanya ini covernya tampak lebih menarik dan eye catching, dan halaman dalamnya menggunakan kertas HVS putih sehingga ilustrasinya terlihat lebih sempurna untuk dinikmati.

Sayangnya di halaman 438 ada yang salah dalam layoutnya. Ilsutrasi di sisi kiri halaman tersebut menutupi 16 baris kalimatnya sehingga sangat mengganggu kenikmatan membaca, padahal narasi di halaman tersebut sedang seru-serunya. Semoga kesalahan fatal seperti ini tak lagi terulang di buku-buku berikutnya

Seri Fantasi The Edge of Chronicles ini hingga kini telah dibuat hingga jilid yang ke sebelas. Dari kesebelas buku tersebut, Paul Steward dan Chris Riddel membaginya ke dalam 3 buah Saga yaitu The Quint Saga, The Twig Saga, The Roog Saga, Stromchaser merupakan bagian dari Twig Saga yang terdiri dari 3 judul (Beyond the Deepwoods, Stromcahser, dan Midnight over Sancaptrax)

Tentunya akan sangat menarik jika seluruh judul dari The Edge of Chronicle ini dapat diterjemahkan. Semoga penerbit Matahati memiliki nafas yang panjang dan komitmen untuk menerbitkan seluruh buku dari serial ini. Ada banyak kisah fantasi yang diterjemahkan di Indonesia, namun tak banyak yang menerbitkan novel fantasi berilustrasi indah seperti seri ini. Dengan promosi yang baik serta penerbitan terjemahan yang teratur antara satu judul ke judul berikutnya, saya percaya seri ini akan menjadi seri fantasi yang populer di Indonesia.

@h_tanzil

Read more »

Jumat, 06 Februari 2009

Old Surehand 1 : Oase di Llano Estecado

Judul : Old Surehand 1 - Oase di Llano Estecado
Penulis : Karl May
Penerjemah :
Primadiana Hermila Wijayanti (koord)
Ani Inataliza
Diah Puspita W
Eli Puji Setyowati
Lilis Afifah
Nasirotussa'dyah
Widyana Ika Rosidah
Penyunting :
Andrea K. Iskandar
Pandu Ganesa
Penerbit : Pustaka Primatama & PKMI
Cetakan : I, Nov 2008
Tebal : x + 534 hlm

Old Shatterhand dan Winnetou adalah superhero di dunia wild west Amerika di abad ke 19. Walau telah berusia ratusan tahun sejak pertama kali muncul, tokoh fiksi ciptakan maestro kisah petualangan Karl May ini tampaknya tetap akan abadi dan terus hidup di hati para penggemarnya dari generasi ke generasi. Buku-bukunya dengan beragam versi terus dicetak dalam berbagai bahasa dunia. Demikian juga di Indonesia, kisah Old Shatterhand / Kara Ben Nemsi & Winneotu yang pernah populer dan menjadi bacaan para pejuang kemerdekaan kita (Hatta, Hario Kecik, Syahrir ) kini secara kontinyu diterbitkan ulang oleh Paguyuban Karl May Indonesia (PKMI) dan Pustaka Primatama (Puspri).

Kali ini setelah menerbitkan seri Winneotu (Win I-IV, Anak Pemburu Beruang, Hantu di Llano Estecado) dan seri Kara Ben Nemsi (I-III), PKMI kini menerbitkan sebuah lagi serial Winnetou yang berjudul Old Surehand 1 : Oase di Llano Estacado.

Dalam petualangannya kali ini, Old Shatterhand dikisahkan mendapat pesan tertulis dari Winnetou yang sedang dalam perjalanan untuk menyelamatkan seorang westman, ‘Blody Fox’ yang hendak diserang oleh suku Indian Comanche. Selagi hendak menyusul Winnteou ia bertemu dengan Fred Cutter alias Old Wable, koboi tua yang juga dikenal dengan “King of Cowboys”. Dari penuturan Old Wable diketahui bahwa Old Surehand, seorang westman yang terkenal karena kemahirannya dalam menembak sasaran. telah tertangkap oleh sekelompok Indian Comanche. Akhirnya Old Shatterhand, Old Wabble dan beberapa temannya menyusun strategi untuk menyelamatkan Old Surehand.

Setelah Old Surehand berhasil diselamatkan, mereka bersama-sama menyusul Winnetou menuju tempat persembunyian Blody Fox di sebuah oase di Llano Estacado. Bukan perjalanan yang mudah karena mereka harus menaklukkan ganasnya gurun pasir Llano Estacado yang karena selain luas dan sulitnya memperoleh air, Llano Estacado juga dikuasai oleh para penyamun yang sering menyesatkan orang-orang yang lewat dengan mengubah tonggak2 penunjuk arah. Para penyamun yang dikenal dengan istilah ‘Stakeman’ itu kerap menjarah harta benda sang korban dan tak segan membunuh korbannya atau meninggalkan korbannya hingga mati kehausan.

Dari berbagai penyelidikan yang dilakukan Old Shatterhand, diketahui bahwa selain hendak menyerang Bloddy Fox, orang-orang Coamnche juga berencana menyerang sekelompok pasukan kaveleri dengan cara membuat mereka tersesat di padang tandus Llano Estecado lalu mengepungnya ketika pasukan tersebut sedang tersesat dan kehausan.

Begitu mengetahui rencana tersebut, Old Shattehand menyusun strategi jitu. Tanpa disadari oleh orang-orang Comanche, Old Shatterhand dan kawan-kawannya berusaha memutarbalikkan keadaan, mereka berencana membuat orang-orang Comanche itulah yang akan masuk perangkap dengan membawa mereka memasuki padang kaktus yang luas. Dan disitulah Old Shatterhand dan kawan-kawannya berserta pasukan Apache pimpinan Winneotu akan berhadapan langsung dengan suku Comanche.

Seperti biasa Karl May meramu kisah petualangan Old Shatterhand dan Winnetou dengan sangat menarik. Namun jangan menduga buku ini akan dipenuhi adegan-adegan pertempuran layaknya kisah dalam film-film koboy Hollywood. Old Shatterhand & Winnetou yang cinta damai selalu lebih mengutamakan perundingan dengan musuh-musuhnya dibanding harus angkat senjata dan menimbulkan banyak korban yang tidak perlu. Jadi yang menarik dalam buku ini bukanlah serunya pertempuran berdarah-darah antara kulit putih dan suku Indian melainkan bagaimana pembaca diajak memahami berbagai strategi cerdas Old Shatterhand & Winnetou dalam mengalahkan musuh tanpa perlu mengeluarkan satu pelurupun.

Selain menyuguhkan kisah petualangan yang menarik buku ini juga menyelipkan dialog-dialog bertema kemanusiaan dan spiritual sehingga bisa dikatakan buku ini merupakan kisah petualangan dengan nilai moral dan religiuitas yang tinggi. Bertemunya Old shatterhand dengan Old Wabble yang ceroboh, atheis, dan rasis dalam sebuah misi yang sama tentunya membuat perjalanan mereka sarat dengan konflik. Karl May tampaknya sengaja menyandingkan Old Shatterhand dengan Old Wabble agar ia bisa menghadirkan sebuah dialog yang bertema kemusiaan, rasialisme dan religi.

Misalnya ketika Old Wable yang atheis menantang Shatterhand untuk membuktikan keberadaan Tuhan, maka Shatterhand berujar,

“Sebagaimana yang tertulis di Alkitab, sulit bagi Anda untuk tetap berpegang teguh kepada keyakinan Anda. Saya yakin pada suatu saat Tuhan akan menunjukkan sebuah bukti nyata kepada Anda. Bukti itu lebih kuat daripada keyakinan Anda sehingga membuat Anda putus asa. Satu-satunya yang dapat menolong Anda adalah doa. Semoga Tuhan memberkati dan mengasihi Anda, meskipun Anda tidak percaya dan berdoa kepada-Nya.” (hal 319)

Tampaknya usaha Karl May untuk menyelipkan dialog-dialog religi dan kemanusiaan bukan hanya sekedar tempelan belaka, hal ini terbukti untuk episode dialognya dengan Old Wable dalam masalah keTuhanan saja dibutuhkan 14 halaman penuh!

Dalam buku ini Karl May juga menyinggung masalah rasialisme. Di masa itu kedudukan orang kulit hitam menempati strata terbawah, lebih rendah dari orang-orang berkulit merah (Indian). Dikisahkan Bob, seorang negro yang merupakan sahabat Blody Fox tertangkap oleh suku Comanche. Tanpa pandang bulu Shatterhand berniat membebaskan Bob, suatu hal yang dianggap aneh dan ditentang oleh Old Wable. Dengan nada penuh ejekan Old Wable mengatakan bahwa :

“Seorang nigger adalah mahluk rendah sehinga tidak ada gunanya membicarakan mereka.” “ Orang kulit berwarna sama sekali bukan manusia sejati, kalau tidak Tuhan akan menciptakannya sebagai kulitputih!” (hal 190)

Dan, apa kata Old Shatterhand untuk menyangkal pandangan Old Wabble ?

“Sebaliknya dengan hak yang sama besarnya, seorang negro dapat juga mengatakan demikian: orang kulit putih sama sekali bukan manusia sejati, kalau tidak Tuhan akan menciptakannya sebagai kulit hitam. Saya pernah berkeliling dunia dan bertemu dengan orang-orang kulit hitam, coklat, merah, dan kuning. Setidaknya mereka sama baiknya seperti orang kulit putih” (hal 190)

“Semua manusia adalah ciptaan dan anak-anak Tuhan dan jika Anda menganggap bahwa Ia telah menciptakan Anda dari zat-zat yan paling bagus dan Anda adalah mahluk kesayangannya maka pemikiran Anda itu keliru dan sama sekali tidak dapat diterima.” (hal 191)

Masih banyak hal menarik yang akan kita temui dalam buku ini. Tokoh Old Surehand dengan masa lalu yang misterius membuat pembaca penasaran akan siapa sebenarnya Old Surehand ini. Dengan mahir Karl May membuka sedikit demi sedikit identitas Old Surehand. Kemunculan Apanatskha seorang Indian Comanche yang memiliki fisik yang mirip dengan Old Surehand, dan pertemuan Old Shatterhand dengan ibu Apatskha yang memberinya beberapa petunjuk terselubung membuat pembaca bertanya-tanya apakah mereka mungkin bersaudara ?

Di penghujung kisah Old Surehand 1 ini Karl May masih menyisakan kejutan bagi pembacanya, senapan lagendaris (Senapan Henry, senapan pemburu beruang, dan senapan perak) milik Shaterhand dan Winnetou ini hilang entah kemana. Bagaimana mungkin? Apakah Shaterhand dan Winnetou akan berhasil mendapatkan senapannya kembali?

Ada beberapa pertanyaan yang belum terjawab ketika kisah Old Surehand 1 harus berakhir, namun jangan khawatir karena kisahnya masih berlanjut di buku keduanya yang berjudul Old Surehand II : Di Jeferson City, dan Old Surehand III : Di Gunung Setan yang kedua-duanya masih dalam proses terjemahan. (OS II sudah selesai diterjemahkan, tinggal finishing, OS III sudah diterjemahkan sebagian).

Tentunya akan sangat menarik kalau kita bisa menuntaskan membaca trilogi Old Surehand ini dalam waktu yang tidak terlalu lama semenjak diterbitkannya buku ini. Kisah perualangan yang bercampur dengan tema kemanusiaan dan religi ini membuat seri ini banyak mendapat pujian dan bahkan bisa dikatakan merupakan salah satu masterpiece dari Karl May. Memang sosok tokoh-tokoh baik (Shatterhand, Winnetou, Old Surehand) dalam karya ini bisa dikatakan sangat ideal, sulit rasanya menemukan sosok seideal dan sebaik mereka dalam dunia nyata. Namun disinilah kelebihannya, bukankah di tengah dunia yang serba abu-abu ini kita masih memerlukan patron ideal seperti Old Shatterhand dan Winnetou ?

Saya telah berbicara. Howgh!

Sejarah Penerbitan

Old Surehand I ditulis oleh Karl May setahun setelah diterbitkannya Winneotu I (1893). Seperti sebagaian besar karya-karya Karl May, Old Surehand I ditulis dalam bentuk cerita bersambung di media sejak September 1894, dan langsung dijadikan buku begitu serialnya berakhir. Tanpa direncanakan sebelumnya akhirnya kisahnya terus menyambung hingga menjadi 3 seri.

Old Surehand sendiri sebenarnya merupakan kisah sambungan dari Hantu Llano Estecado (1890) walau dalam jilid pertamanya ini Karl May lebih banyak berbicara tentang tokoh lain seperti Old Wabble yang ditafsirkan orang sebagai representasi masa lalu si pengarang yang gelap. Untuk pertama kalinya juga Karl May menyampaikan pandangan-pandangan tentang religiutas yang kentara. Hal ini tak ditemui dalam karya-karya Karl May yang lain
Old Surehand I pernah diterbitkan oleh penerbit Pradnya Paramita pada tahun 60-an dengan judul Llano Etecado.

Saat itu penerbit menerjemahkan buku ini dari versi Belanda yang merupakan versi ringkasan dari buku aslinya yang dilakukan oleh Editor Belanda. Mungkin karena versi ringkasannya itu ditujukan untuk pembaca remaja maka buku ini mengalami banyak penyunatan sehingga misi penulisnya tentang persahabatan, kemanusiaan, dan keTuhanan tak tersampaikan dan hanya menyisakan kisah petualangannya saja. Kini, hampir 40 tahun kemudian buku ini diterbitkan kembali langsung dari versi aslinya yang berbahasa Jerman. Karenanya orisinalitas dan esensi kepenulisan Karl May seperti yang telah disinggung diatas tetap terjaga.

Berbeda dengan penerbitan-penerbitan terdahulu, kali ini buku Old Surehand 1 dicetak berdasarkan sistem Print on Demand (PoD) yang dapat dipesan di situs www.tokowinneotu.com karenanya jangan heran jika buku ini tak terdapat di toko-toko buku. Bagi yang berminat tinggal melakukan pembelian secara onlen dan penerbit akan mencetak dan mengirimkannya langsung ke rumah-rumah pembelinya.

Sistem ini tentunya memiliki kelebihan dan kekurangannya. Bagi mereka yang tidak memiliki akses internet tentu saja akan mengalami kesulitan untuk mengetahui dan memperoleh buku ini. Karenanya diperlukan usaha keras bagi penerbit dan para pegiat komunitas PKMI untuk menginformasikan kehadiran buku ini pada masyarakat luas agar misi perdamaian, kemanusiaan, dan religiutas yang tersirat dalam buku ini bisa tersampaikan ke seluruh lapisan masyarakat Indoensia.

@h_tanzil
Read more »

Minggu, 01 Februari 2009

Spring-Heeled Jack (Jack si Pelompat)

Spring-Heeled Jack (Jack si Pelompat)
Philip Pullman
Yashinta Melati F (Terj.)
GPU – September 2008
128 Hal.

Satu lagi buku Philip Pullman yang lebih ditujukan untuk anak-anak. Tapiii… Karena, gue suka buku-bukunya Philip Pullman, buku yang tipis ini segera masuk jadi daftar bacaan… Dan… selesai hanya dalam waktu singkat.

Ceritanya sih sederhana aja. Ada tiga orang kakak-beradik – Rose, Lily dan Ned Summers. Mereka terpaksa tinggal di Panti Asuhan Alderman Cawn-Plaster Memorial, di kota London, sejak ayah mereka pergi ke Australia dan ibu mereka meninggal dunia. Di panti asuhan itu, mereka dijaga oleh dua orang pengurus yang jahat, bernama Mr. Killjoy dan Miss Gasket. Mungkin buat menggambarkan situasinya nih, bayangkan film atau sinetron a la Ratapan Anak Tiri. Hehehe… Orang-orang jahat dan anak-anak baik hati yang terlantar, tak terurus.

Untungnya, Rose, Lily dan Ned bukanlah anak yang penakut. Mereka memebuat rencana agar bisa kabur dari tempat mengerikan dan menyebalkan itu. Rencana untuk segera kabur dan menumpang kapal menuju Amerika sudah matang. Malam yang direncanakan pun tiba.

Tapi… mana ada rencana yang mulus di awal cerita.. karena kalau mereka berhasil kabur… cerita pun selesai… dan mereka pun hidup bahagia selamanya. Gak.. gak begitu .. masih panjang dan penuh liku-liku. Terpisah satu sama lain, tertangkap Mack si Pelempar Pisau yang jahat banget.

Ada orang-orang yang masih berbaik hati membantu mereka, seperti pasangan kekasih Jim, kelasi dan Polly, pelayan hotel Saveloy. Tapi, tetap saja, kepolosan mereka, malah membuat ketiga bersaudara itu kembali jatuh ke tangan Mr. Killjoy dan Miss Gasket yang licik. Tapiii… si pahlawan penyelamat dan pembela kebenaran pun muncul, dialah Jack si Pelompat. Yang mendengar nama saja sudah bikin merinding…

Dengan kostum merah menyala lengkap dengan tanduk, Jack si Pelompat malah lebih mirip ‘setan’ atau tokoh jahat. Tapi, emang bikin takut dan membuat orang harus berpikir dua kali untuk menghadapinya kalo gak mau mengalami nasib sial. Namanya juga Jack si Pelompat. Aksinya bukan dengan terbang di udara, atau merayap di dinding, atau pake alat-alat canggih seperti Batman, tapi hanya dengan melompat dari atap rumah yang satu kea tap yang lain dengan saaanggaatttt tinggi.

Ceritanya sih simple banget, alur yang mudah ditebak. Yang pasti bisa bikin kita mikir, “Pasti si anu ada hubungannya sama si anu.” Hehehe.. lagi-lagi sinetron style kan?? Tapi, ya itulah, cerita anak-anak gak mungkin dibuat ribet. Yang bikin menarik adalah ilustrasinya, yang bukan hanya sekedar penghias cerita, tapi, tetap menjadi bagian cerita yang gak mungkin dilewatkan.

Kapan ya, seri Sally Lockhart akan ada terjemahannya?
Read more »

The Thirteenth Tale(Dongeng Ketiga Belas)

The Thirteenth Tale(Dongeng Ketiga Belas)
Dianne Setterfield
Chandra Novwidya Murtiana (Terj.)
GPU – November 2008
608 Hal.

Vida Winter, penulis perempuan yang novelnya selalu jadi best-seller. Novelnya selalu terkesan misterius, semisterius jati diri Vida Winter yang sebenarnya. Di setiap wawancara, kisah hidupnya selalu berubah-ubah. Sesukanya, akan seperti apa kisah dirinya ketika sedang diwawancara. Sampai suatu hari, pertanyaan – atau lebih tepat permintaan seorang wartawan mengusik hatinya. Sebuah permintaan yang sederhana: “Ceritakan padaku yang sesunggunya.” Kalimat yang menyentil Vida Winter untuk mengisahkan masa lalunya sebelum ajalnya tiba.

Margaret Lea, seorang penulis biografi muda, dipilih untuk mewujudkan keinginan Vida Winter. Margaret menerima surat yang misterius dari Vida Winter. Buku-buku Vida Winter bukanlah kategori buku-buku yang jadi favoritnya. Ayah Margaret mempunyai toko buku yang khusus menjual buku-buku langka. Itulah yang kerap jadi bacaan Margaret. Tapi, agar lebih mendapat gambaran sosok Vida Winter, Margaret membaca sebuah bukunya yang secara kebetulan ada di toko itu – buku yang paling fenomenal yang berjudul Tiga Belas Dongeng.

Dengan rasa penasaran dan berbagai pertanyaan di otaknya, Margaret pun berangkat menuju kediaman Vida Winter. Vida Winter, di masa tuanya, menyimpan banyak rahasia. Tapi, dengan berbagai aturan, rasa penasaran Margaret tidak dapat dituntaskan. Cerita harus mengalir, tanpa pertanyaan, tidak boleh melompat langsung ke bagian akhir.

Margaret pun dibawa ke masa lalu Vida Winter, ke masa kecilnya di rumah keluarga Angefield. Keluarga aneh dan cenderung menyimpan kegilaan. Charlie, si kakak laki-laki yang menyimpan cinta pada adiknya, Isabel. Lalu, Isabel yang menyia-nyiakan si kembar, anaknya. Sosok si kembar Adeline dan Emmeline yang terlantar, tapi tak terpisahkan. Lalu, tokoh pendukung, seperti tukang kebun, John-the-Dig, pengurus rumah tangga, Missus dan Hester, guru yang punya misi tersendiri.

Seperti biasa, sebenernya gue rada gak suka dengan buku ber-cover kelam, hitam seperti ini. Tapi, cerita yang rada misterius jadi ‘teredam’ dengan adanya gambar anak kembar yang lagi main-main, terus gambar nenek berpayung di cover buku. (Mirip bukunya John Connoly - The Book of Lost Things, ya?)

Buku ini kesannya sepi banget, tokohnya yang memang sedikit, lalu percakapan yang sering hanya satu arah. Lambat, tapi menarik banget. Ending cerita rada gak terduga. Misteri di cerita ini banyak banget, tapi ‘mengikuti’ aturan Vida Winter, cerita yang pelan malah jadi menarik dan masa lalunya pun pelan-pelan terungkap. Jangan langsung ke bagian akhir, karena bakal banyak banget bagian menari yang terlewatnya. Tapi, ya, memang harus sabar…
Read more »

Jumat, 30 Januari 2009

Pintu Terlarang

Judul : Pintu Terlarang
Penulis : Sekar Ayu Asmara
Penerbit : Andal Krida Nusantara (AKOER)
Cetakan : II, April 2005
Tebal : 227 hlm

Disajikan dengan gaya bahasa populer, Sekar Ayu Asmara mampu membawa pembaca ke puncak tragedi. Sebuah novel thriller yang mengingatkan kita pada kisah­-kisah misteri milik novelis Agatha Christie. "Akhir cerita yang sulit ditebak," demikian komentar Noorca M.Massardi, salah seorang penulis senior.

Sebelumnya, Sekar Ayu Asmara dikenal sebagai tokoh kreatif yang pernah berkarir di dunia Man, penulis lirik lagu, pelukis, dan produser film. Di dunia penerbitan,ia pernah menulis buku untuk anak-anak berjudul Onde-onde dan Misteri Es Krim yang Hilang, Kembar Keempat (AKOER, 2005). Namanya juga dikenal di dunia film antara lain sebagai penuli skenario dan produser film Biola Tak Berdawai(2003), Belahan jiwa (2005), Pesan dari Surga (2007), dll

Dalam novel Pintu Terlarang, ia menyuguhkan kisah thriller yang membuat pembaca penasaran. Sejak halaman pertama, pembaca diajak menahan nafas ketika membaca kisah pilu seorang anak yang disiksa oleh kedua orang tuanya. Pada bab berikutnya, pembaca diajak melihat kehidupan seorang tokoh bernama Gambir, seniman patung yang beristrikan Taldya, wanita perfeksionis yang memiliki tiga jurus mencapai kualitas hidup terbaik: perfection, perfection, and perfection.

Taldya adalah seorang istri yang sangat mencintai suaminya dan sangat berpengaruh dalam karier Gambir. Di balik itu semua, ternyata Taldya menyimpan sebuah pengkhianatan, kebohongan, dan misteri. Di studio milik Gambir, ada sebuah pintu yang tidak boleh dibuka siapa pun, termasuk Gambir. Hanya Taldya yang mengetahui isinya dan sekaligus memiliki kunci pintunya. Kunci itu selalu ia gantungkan di leher sebagai kalung.

Lalu, ada juga bab-bab yang menceritakan seorang jurnalis wanita bernama Ranti yang terobsesi untuk mengungkap cerita seorang anak korban penganiayaan orang tuanya. Anak itu kini berada di sebuah rumah sakit jiwa. Awalnya, novel ini terkesan memiliki tiga cerita berbeda yang masing-masing memiliki tokohnya senidir-sendiri (anak korban penyiksaan, Gambir dan Taldya, serta Ranti). Namun, lambat laun, pembaca akan mengetahui bahwa ketiga cerita yang berbeda itu ternyata saling berhubungan.

Bagi penyuka kisah-kisah thriller, novel ini sangat layak untuk diapresiasi. Ketegangan dan kemisteriusan cerita membuat pembaca enggan melepaskan novel ini hingga halaman terakhir. Apa sebenarnya yang ada di batik pintu terlarang sehingga tak seorang pun boleh membukanya? Siapa sesungguhnya anak yang mengalami penyiksaan dari kedua orang tuanya. Siapakah Ranti? Akankah pintu terlarang itu terbuka dan menjawab semua misteri?

Akhir novel ini sangat tidak terduga. Dan, pembaca pasti akan terhenyak ketika menyadari apa sesungguhnya rahasia di balik pintu terlarang.

@h_tanzil


Review ini dibuat untuk majalah djakarta! ed. oktober 2004 ketika sy menjadi kontibutor kolom book review di majalah tsb . Saya postingkan disini berhubung dengan diputarnya film yang diadaptasi dari novel ini dengan judul yang sama "Pintu Terlarang". Entah apakah seiring diputarnya film ini maka novelnya dicetak ulang kembali?





Read more »

Senin, 26 Januari 2009

L

L
Kristy Nelwan @ 2008
Grasindo – Agustus 2008
394 Hal.

‘L’… judul yang simple banget tapi, cenderung mengundang ‘pertanyaan’. Apakah ‘L’ itu? Atau malah ‘siapa’?, terus, ‘kenapa L? koq gak F, atau X atau Q? Oke… oke… mari kita telusuri, ada apa dengan ‘L’ ini…

Jadi, tersebutlah cewek duapuluh tahunan bernama Ava Torino. Cewek yang kalo dibaca deskripsinya termasuk cewek tomboy, cuek banget, easy going, perokok berat, bekerja di sebuah stasiun televisi. Mungkin gayanya ini yang bikin banyak cowok tertarik sama Ava.

Tapi, Ava bukanlah orang yang betah dengan satu cowok aja. Entah apa yang membuatnya memilih ‘bertualang’ dari satu cowok ke cowok lain demi mengumpulkan nama cowok sesuai abjad. Dari A sampai Z. Luar biasakan.. bahkan untuk huruf X dan Q pun, Ava berhasil mendapatkannya. Dan, ia juga dengan mudah mendepak cowok-cowok itu dalam waktu singkat kalau sudah saatnya berganti abjad.

Ava sudah berhasil mengumpulkan 25 abjad. Satu yang tertinggal, yaitu huruf ‘L’. Bagi Ava, ini adalah pertanda. ‘L’ untuk Love, ‘L’ untuk ‘the Last’ dan artinya ‘L’ adalah ‘the Last Love’ – waktunya bagi Ava untuk menghentikan petualangan cintanya. Saatnya Ava percaya pada yang namanya cinta sejati.

Memang akhirnya, Ava menemukan si L ini – yang bernama asli Ludi. Mereka pun akhirnya berpacaran dan siap melanjutkan hubungan ke tingkat yang lebih serius alias pernikahan. Ludi adalah seorang auditor, yang di mata Ava adalah sosok pria yang baik dan pengertian. Bagi Ava – atau setidaknya harapan Ava – Ludi benar-benar akan menjadi the ‘L’ one.

Dalam perjalanan menuju hari H yang panjang, ternyata Ava menemukan sebuah sosok lain yang tanpa disadarinya membuatnya mengakui akan namanya cinta. Rei namanya. Perkenalan singkat di Yogyakarta yang aneh, lalu pertemuan tanpa sengaja di Bali yang memberikan kejutan-kejutan kecil yang mungkin gak berarti tadinya, tapi ternyata malah memberikan sebuah kenangan manis yang gak pernah ditemukan Ava sebelumnya.

Sampai akhirnya, mereka satu kantor, pertengkaran-pertengkaran kecil, kelakuan dua orang yang sama-sama gila, membuat teman-teman mereka melihat apa yang gak mau diakui oleh mereka berdua. Ava yang cuek, Rei yang gila, tapi mereka sama-sama gak mau ngaku atau sedikit berkilah untuk gak menunjukkan perasaan yang sebenarnya.

Demi menjaga kesetiaanya sama Ludi, Ava harus berusaha keras meredam perasaan yang tiba-tiba saja ia sadari, tapi, ketika ia sadar dan siap untuk mengatakan yang sebenarnya, Ava justru harus rela kehilangan.

Tadinya, gue sempet males banget untuk melanjutkan novel ini. Abis, gak jelas banget sih, apa coba maksudnya si Ava ngumpulin cowok berdasarkan abjad. Dia nolak dibilang ‘player’, tapi dendam masa lalu juga gak jelas banget. Terus, kenapa Ludi harus gak setia?

Tapi, momen atau bagian yang gue suka adalah waktu mereka ngumpulin kalimat-kalimat yang menurut mereka berarti dari buku ‘Tuesday with Morrie’. Gue sempet agak ‘mendua’ waktu menebak ending ceritanya ini, hmmm… meskipun sebenernya, ninggalin surat rasanya suatu yang biasa untuk orang yang akan pergi jauh, tapi, still… it was touchy…
Read more »

Jumat, 16 Januari 2009

Maryamah Karpov - Mimpi-mimpi Lintang

Judul : Maryamah Kaarpov - Mimpi-mimpi Lintang
Penulis : Andrea Hirata
Penyunting : Imam Risdianto
Penerbit : Bentang Pustaka
Cetakan : I, II, November 2008
Tebal : 502 halaman

Maryamah Karpov adalah novel pamungkas Tetralogi Laskar Pelangi. Bagi para pembaca Laskar Pelangi kehadiran novel ini sangatlah ditunggu-tunggu. Setelah mengalamai beberapa kali penundaan akhirnya novel ini terbit pada akhir November 2008 lalu saat emosi pembacanya membuncah seiring dengan diputarnya film Laskar Pelangi di bioskop-bioskop tanah air . Penerbit Bentang pun tampaknya tak menyia-nyiakan momen ini dengan segera menerbitkannya. Mereka optimis bahwa Maryamah Karpov akan meledak di pasaran seperti ketiga buku sebelumnya, karenanya untuk edisi pertamanya saja Bentang langsung mencetak 100 ribu kopi ! Jumlah yang fantastis dalam sejarah penerbitan buku fiksi di Indonesia.

Jauh hari sebelum novel ini terbit, tepatnya di buku kedua “Sang Pemimpi” (2006), pada bagian Epilog, Andrea telah memberikan sebersit informasi mengenai tema utama Maryamah Karpov yang sat itu sedang ditulisnya, cover buku Maryamah Karpov sendiri telah dipajang di novel ketiganya (Edensor,2007), dan semenjak itu muncul pula di cetakan-cetakan berikutnya baik di buku pertama hingga ketiga.

Berbagai bocoran informasi mengenai novel keempatnya dan suksesnya ketiga novel Laskar Pelangi ini tentu semakin membuat pembacanya semakin penasaran dengan novel terakhir dari tetralogi ini. Situasi ini juga dimanfaatkan oleh para oknum yang tidak bertanggung jawab. Beberapa bulan sebelum novel ini terbit, beredar novel palsu Maryamah Karpov dengan cover yang sama persis dengan yang diiklankan, selain itu beredar pula bersi digitalnya (ebook). Menanggapi hal ini, Renjana Organizer selaku manajemen Andrea Hirata sampai perlu mengeluarkan pernyataan yang diedarkan di milis-milis perbukuan dan sastra bahwa novel yang beredar tersebut adalah palsu.

Kini hampir dua bulan sudah Maryamah Karpov terbit dan telah dibaca oleh banyak orang. Berbagai komentar bermunculan . Ada yang memuji namun tak sedikit yang kecewa dengan novel pamungkas Laskar Pelangi ini. Di novel keempatnya yang lebih tebal dibanding ketiga novel lainnya Andrea masih menggunakan pola yang sama dengan dua novel terdahulunya yaitu dengan membagi kisah-kisahnya dalam bab-bab pendek atau yang ia tulis sebagai mozaik.

Pada separuh buku pertama, Andrea nyaris tak menghadirkan plot dengan sebuah konflik utama layaknya sebuah novel, masing-masing mozaik berdiri sendiri layaknya cerpen. Dengan bebas Andrea menyuguhkan berbagai kisah dari satu mozaik ke mozaik berikutnya. Benang merahnya adalah tokoh Ikal ketika telah berada di Belitong setelah menyelesaikan studinya dengan gemilang sebagai Master di bidang Ekonomi Telekomunikasi di Sorbone Perancis. Sayangnya karena ilmu yang dipelajarinya tak sesuai dengan kondisi kampung halamannya maka ia terpaksa menganggur.

Barulah di separuh buku berikutnya mulai terbentuk sebuah plot cerita dengan sebuah konflik utama yaitu pencarian Aling yang dikaguminya sedari kecil. Hal ini berawal ketika para nelayan menemukan beberapa mayat bertato gambar kupu-kupu yang merupakan tanda dari sebuah trah keluarga Tionghoa. Aling yang berasal dari trah keluarga tersebut juga memiliki tato yang sama pada lengannya.

Banyak yang menduga bahwa mayat-mayat itu adalah para pelintas batas yang sedang menuju Singapura yang dibunuh dan mayatnya dibuang ke laut oleh bajak laut di kawasan Batuan yang bernama Tambok. Ikal menduga Aling dan seluruh keluarganya turut dalam rombongan para pelintas batas itu dan berharap masih hidup dalam tawanan Tambok di pulau Batuan

Ikal bertekad mencari Aling hingga ke Batuan. Tak mampu untuk menyewa perahu, ia memutuskan untuk membuat perahu sendiri! Bagaimana mungkin?, untunglah Ikal mendapat bantuan dari si jenius Lintang yang dengan dalil-dalil fisika dan matematikanya mampu memberikan rumusan-rumusan matematis untuk membuat sebuah perahu. Selain itu Ikal juga dibantu oleh teman-teman Laskar Pelanginya yang tanpa pamrih menolong Ikal membuat perahu untuk mencari pujaan hatinya. Sebagai penghargaan terhadap Lintang maka perahunya tersebut diberi nama , “Mimpi-mimpi Lintang”.

Kisah Ikal berjuang membuat perahu yang penuh rintangan hingga pelayarannya bersama Mahar dan dua orang kawannya untuk mencari Aling terus mengalir dari bab ke bab dengan seru dan menegangkan. Sayangnya setelah kisah petualangan ini berakhir, tiba-tiba di bab berikutnya tersaji kisah yang tak ada hubungannya dengan kisah sebelumnya. Suspend yang begitu kuat yang telah dibangun Andrea dalam kisah petualangan Ikal mencari Aling tiba-tiba anjlok karena Andrea malah memilih kisah lain. Padahal masih ada beberapa pertanyaan yang belum terjawab mengenai kepergian Aling. Alih-alih membuat kisah yang melatarbelakangi bagaimana Aling hingga berlayar ke Singapura atau bagaimana kisah Aling selama dalam tawanan bajak laut, Andrea malah bercerita tentang Ikal yang harus mengatasi traumanya memasuki klinik gigi.

Walau demikian seperti di novel-novel terdahulunya kepiawaian Andrea dalam mengolah kalimat dengan metafora-metaforanya yang indah membuat novel ini begitu menarik, menghibur, dan memiliki kekuatan untuk menginspirasi dan memotivasi pembacanya untuk melakukan hal-hal yang besar untuk mengejar mimpi. Kepiawaian Andrea memilih kalimat-kalimat dan merangkai kata dalam mendeskripsikan berbagai kisah mampu mengikat pembacanya untuk membaca novel ini hingga tuntas . Untuk urusan ini Andrea memang jempolan dan pendongeng yang baik.

Lalu siapa sesungguhnya Maryamah Karpov yang dijadikan judul dalam novel ini? Uniknya kisah si pemilik nama berbau Rusia ini hanya muncul beberapa kalimat saja, itupun baru muncul di pertengahan buku ini. Andrea hanya menyebutkan bahwa pemilik nama tersebut adalah Cik Maryamah yang karena kemahirannya mengajarkan permainan catur dengan langkah-langkah Karpov (Grand Master Catur Dunia) maka sesuai dengan kebiasaan Melayu yang sering memberikan julukan di belakang nama aslinya, maka diberilah nama Maryamah Karpov. Hanya itu, selebihnya nama dan kisah Maryamah tak lagi muncul dalam novel ini. Jika demikian mengapa nama wanita ini yang dijadikan judul ?

Menyimak komentar dari banyak pembaca yang telah menuntaskan buku ini , soal judul inilah yang paling dipertanyakan oleh para pembacanya. Selain itu, tema umum dari novel ini juga menjadi tanda tanya besar karena meleset jauh dari tema soal perempuan yang sering telah diungkapkan Andrea dalam berbagai kesempatan. Di buku Sang Pemimpi (2006), Andrea dalam epilognya mengungkapkan bahwa, Maryamah Karpov akan membahas tentang “ penghormatan kepada kaum perempuan” (Sang Pemimpi, hal 277). Pertanyaannya kini, bagian manakah dalam novel ini yang mengandung penghormatan terhadap perempuan? Bukankah ini hanyalah sebuah kisah romantika Ikal mencari Aling yang dibungkus petualangan seru.

Kejanggalan tersebut dan juga endingnya yang menggantung pada akhirnya memunculkan spekulasi bahwa akan ada Maryamah Karpov jilid 2. Untuk itu saya mencoba mengkonfirmasikan hal ini langsung pada Andrea Hirata. Dalam perbincangan telponnya, Andrea menegaskan bahwa Maryamah Karpov memang dibuat menjadi dua jilid. Jilid pertama yang sekarang telah terbit memang tak banyak membicarakan Maryamah Karpov karena di jilid ini Andrea bermaksud membangun karakter tokoh-tokoh yang kelak akan dimatangkan di jilid keduanya. Dan di jilid keduanyalah Maryamah Karpov akan banyak berperan.

Namun sangat disayangkan, dengan tegas Andrea menyatakan bahwa hingga saat ini jilid 2 Maryamah Karpov tidak akan diterbitkan !. Andrea mengungkapkan bahwa ada berbagai pertimbangan yang menyebabkan ia terpaksa menolak untuk menerbitkan Maryamah Karpov jilid 2 dan memilih ‘menghilang’ sementara dari dunia kepenulisan. Pertimbangan apa? Daripada saya salah mengutip pernyataan Andrea yang disampaikan pada saya lewat telpon, biarlah Andrea atau Renjana Organizer sendiri yang akan menjelaskannya pada publik kelak karena pembaca Tetralogi Laskar Pelangi butuh penjelasan yang tuntas dari penulis mengenai tidak tuntasnya novel pamungkas ini.

Selain soal keterkaitan antara judul dan isi, soal logika juga menjadi hal yang cukup mengganggu. Misalnya ketika Lintang yang hanya dengan mencoret-coret di atas pasir mampu memberikan rumusan ukuran-ukuran yang tepat untuk membuat sebuah perahu. Berdasarkan rumusan tersebut Ikal dan kawan-kawannya bisa membuat perahu, padahal kenyataannya dibutuhkan keahlian khusus dan pengalaman bertahun-tahun bagi seseorang untuk membuat perahu. Lalu bagaimana pula sebuah perahu kuno yang telah terkubur ratusan tahun dalam sungai bisa diangkat ke permukaan berkat ilmu fisika Lintang yang hanya tamatan SMP. Novel ini tak memberi penjelasan logis bagaimana Lintang yang tinggal di pulau terpencil sebagai petani kelapa bisa mengasah ilmunya hingga kini.

Seperti di tiga novel sebelumnya, Andrea juga masih menyajikan selipan berbagai kultur dan budaya Melayu dan suku-suku lain yang hidup berdampingan seperti Suku Sawang, Tionghoa, dan orang-orang bersarung. Karenanya Gangsar Sukrisno selaku CEO Penerbit Bentang Pustaka mengatakan bahwa tetralogi LP merupakan cultural literary non fiction yaitu sebuah karya non fiksi yang digarap secara sastra berdasarkan pendekatan budaya.

Berlebihankah ? Hal ini membuka peluang untuk didiskusikan lebih lanjut. Jika memang demikian, maka Andrea telah menyumbangkan sesuatu yang berharga dalam khazanah sastra kita. Dan sangat disayangkan jika setelah menuntaskan Tetraloginya ini Andrea dikabarkan akan ‘menghilang’ untuk sementara. Apakah Andrea sedang mematangkan kelanjutan dari Maryamah Karpov yang memang belum selesai, atau ia sedang mempersiapkan karya yang lebih monumental? Semoga.

@h_tanzil
Read more »

Kamis, 15 Januari 2009

Mirror, Mirror on the Wall

Mirror, Mirror on the Wall
Poppy Damayanti Chusfani @ 2008
GPU – September 2008
176 Hal.

Menjadi anak yang biasa-biasa aja, gak populer dan cenderung culun emang gak mudah. Karin, kerap jadi bulan-bulanan gank anak-anak populer di sekolahnya. Karin memang anak yang kurang percaya diri, dia lebih suka menyendiri, menjadikannya seolah sosok yang tidak kelihatan. Pasrah meskipun ia harus diejek oleh Lisa and the gank.

Di rumah, Karin tinggal dengan ayahnya dan kakaknya, Lis, plus pembantu mereka. Ibu Karin sudah meninggal, dan Lis adalah manusia super sempurna yang berusaha menjadi pengganti ibu mereka dengan mengatur semua urusan rumah tangga. Satu-satunya teman Karin adalah Shawn, cowok belasteran Belanda yang sudah jadi temannya sejak mereka berdua masih ‘ngompol’.

Suatu hari, ketika mereka sedang membereskan gudang di rumah mereka (tentu saja atas perintah Lis), Karin menemukan sebuah cermin antik yang tersembunyi di sebuah sudut gudang dengan permukaan menghadap ke belakang. Cermin itu langsung menarik perhatian Karin yang memang kebetulan tidak punya cermin di kamarnya.

Keanehan pun mulai muncul. Di malam pertama cermin itu ada di kamar Karin, Karin seolah melihat ada pendar cahaya yang datang dari dalam cermin itu, tapi toh, tidak ia hiraukan. Karin pikir ia hanya mimpi. Tapi, di malam kedua, cermin itu berpendar lagi, dan Karin merasa ada sebuah suara yang memanggilnya yang datang dari arah cermin itu.

Itulah pertama kali Karin berkenalan dengan Nyi Rajadharma, Nyi Rajasturi dan Nyi Rajasita. Cermin itu dulunya adalah milik Nini (Nenek) Karin. Ketiga perempuan itu masih buyut-buyut Karin. Karin juga punya pelindung dua ekor macan ‘konyol’ bernama Cagra dan Wulung. Di antara ketiga perempuan itu, Nyi Rajadharma-lah yang paling ambisius.

Dengan adanya ‘teman-teman’ barunya, Karin jadi berbeda. Tanpa disadarinya, ia mulai terpengaruh dengan maksud-maksud tersembunyi dari perempuan-perempuan itu. Perlahan-lahan, Karin berubah. Bukan lagi Karin yang pemalu, penakut, tapi jadi Karin yang super pemalas bahkan ‘penggoda’. Dengan bantuan, Nyi Rajadharma, Karin berhasil melakukan aksi balas dendam terhadap Lisa, juga berhasil mengambil hati cowok impiannya selama ini. Karin juga bukan lagi manusia yang tak kasat mata, tapi jadi pusat perhatian.

Peringatan Cagra dan Wulung untuk tidak bergantung pada cermin tidak dihiraukannya. Malah ia mulai menganggap kalau orang-orang yang selama ini disayanginya tidak ada yang memperhatikannya, berbeda dengan teman-teman barunya yang benar-benar memperhatikan dan mau membantunya apa pun itu caranya.

Energi Karin mulai terserap, Karin mulai lemah. Cepat atau lambat, Karin akan mati dan membiarkan kekuatan jahat menguasainya. Harus ada yang menyelamatkannya kalau gak mau Karin terjebak di dunia lain.

Seru juga buku ini, meskipun sempat mengingatkan gue sama Coraline. Ya, gak aneh sih, karena mbak Poppy adalah penggemar buku-bukunya Neil Gaiman. Tapi, sekali lagi, baca teen-lit a la mbak Poppy memberi ‘penyegaran’ di antara teen-lit yang lain.

Read more »

Maximum Ride#3: Saving the World and Other Extreme Sports

Maximum Ride#3: Saving the World and Other Extreme Sports (Menyelamatkan Dunia dan Olahraga Ekstrem Lainnya)
James Patterson @ 2007
Poppy Damayanti Chusfani (Terj.)
GPU – Desember 2008
504 Hal.

Melarikan diri lagi dari Sekolah. Di akhir buku kedua, Max, Fang, Nudge, Gasman, Iggy dan Angel, serta Total, sempat terperangkap di dalam Sekolah lagi. Tapi, berkat kerjasama dan saling mendukung yang kuat, mereka kembali berhasil meloloskan diri.

Pihak Sekolah tidak tinggal diam. Menurut mereka, sudah waktunya memusnahkan para makhluk gagal itu – setidaknya gagal menurut versi mereka. Semuanya, tidak terkecuali. Bahkan para Pemusnah pun akan turut dihancurkan.

Sementara itu, dalam pelariannya, para kawanan memutuskan bahwa mereka harus kembali menemukan tempat untuk menetap. Sebagai pemimpin, Max merasa wajib melindungi mereka. Akhirnya, Max dan Fang terbang berkeliling mencari tempat yang cocok untuk mereka.

Ketika Max dan Fang pergi, anggota kawanan yang lain diserang oleh Pemusnah jenis baru, yang dinamakan Flyboy. Ternyata, Flyboy bukanlah makhluk hidup, tapi lebih tepat disebut robot. Tubuh mereka terbuat dari besi dan mereka deprogram untuk menghancurkan para kawanan. Nudge dan kawanan yang lain tidak bisa menandingi Flyboy yang terlalu banyak jumlahnya. Mereka akhirnya tertangkap lagi dan menyadari ada pengkhianat di antara mereka.

Max dan Fang yang yang sedang berkeliling tidak menyadari apa yang terjadi dengan teman-teman mereka. Mereka malah sibuk bertengkar, sempat mampir ke rumah dr. Martinez yang kemudian berhasil mengeluarkan microchip dari lengan Max.

Ketika mereka menyadari bahwa teman-teman mereka tertangkap, Max dan Fang tahu harus menuju ke mana, ke tempat di mana mereka pun sudah ditunggu.

Akal dan siasat Max lagi-lagi berhasil meloloskan mereka dari Sekolah. Tapi, kawanan harus terpecah dua, karena Max dan Fang bersikeras pada pendirian mereka masing-masing. Sebuah kejutan membuat perpecahan itu terjadi.

Kawanan itu berpisah, melanjutkan misi menyelamatkan dunia dan menyebarkan kebusukan Itex dengan cara yang berbeda. Max memilih menyeberangi lautan menuju daratan Eropa, langsung ke titik sasaran yaitu markas besar Itex yang berada di Jerman. Sementara, Fang bersama Gasman dan Iggy, memilih berjuang lewat blog Fang yang semakin terkenal dan semakin banyak diakses oleh para pembacanya. Dukungan melalui blog pun mengalir deras, protes-protes dan demonstrasi berlangsung di berbagai cabang Itex.

Max yang berada di Jerman, harus menghadapi banyak kejutan yang mengaduk-aduk emosinya. Tapi, untung aja, Max pintar, jadi gak mudah terpengaruh dengan segala hal itu. Max juga harus menghadapi makhluk ciptaan Itex yang lebih ajaib lagi.

Banyak hal yang mengharukan muncul dalam buku ketiga ini. Siapa orang tua Max pun terungkap, tapi, tetap, perjuangan Max dan teman-temannya belum selesai. Di akhir cerita, mereka kembali terbang untuk menyelamatkan dunia.

Apakah ini akan jadi buku terakhir dari seri Maximum Ride? Tampaknya gak tuh… masih ada lanjutannya di ‘The Final Warning’… Uhhh.. tak sabar menanti. Apakah masih akan seseru seri-seri sebelumnya?
Read more »

Rabu, 14 Januari 2009

The Wedding Officer (Pejabat Pernikahan)

The Wedding Officer (Pejabat Pernikahan)
Anthony Capella
Gita Yuliani K. (Terj.)
GP, Oktober 2008
568 Hal.

Desa Fiscino, sebuah desa di lereng Gunung Vesuvio, Italia, sedang dalam keadaan penuh kegembiraan. Ada Festival Buah Aprikot, pemilihan buah apricot terbaik. Gak hanya itu, para kembang desa, juga memperebutkan gelar gadis tercantik di desanya.

Mungkin hanya Livia Pertini yang tidak tertarik dengan gelar gadis tercantik itu. Baginya, sebagai anak pemilik osteria yang terkenal lezat itu, yang penting adalah menyajikan masakan yang lezat. Konsentrasi penuh agar bisa menghasilkan masakan yang membuat orang berdecak dan kekenyangan.

Di hari itu juga, Livia jatuh cinta pada seorang perwira muda bernama Enzo. Usaha Enzo mendekati Livia yang galak tidak sia-sia, mereka pun menikah. Karena, di jaman itu, jangan coba-coba mendekati seorang gadis kalau si pemuda tidak berniat menikahinya.

Tapi, Perang Dunia memporak-porandakan kehidupan yang tenang dan bahagia. Italia pun hancur lebur, luluh lantak gara-gara perang. Datangnya tentara sekutu juga tidak banyak membantu. Malah timbul peraturan-peraturan aneh – tidak boleh menimbun bahan makanan, yang artinya banyak osteria gulung tikar atau sepi.

Para laki-laki dikirim ke medan perang – yang tinggal hanya anak-anak dan manula. Para perempuan memilih jadi pelacur, dengan harapan akan jadi pengantin perang tentang Inggris.

Gara-gara alasan itu pula, ada sebuah jabatan yang mengatur agar perempuan-perempuan Italia itu tidak bisa dengan sembarangan menikah dengan tentara-tentara sekutu. Adalah James Gould, perwira asal Inggris yang bertugas untuk memastikan hal itu .

Ditempatkan di Neapolitan, tanpa orang yang dia kenal, disajikan masakan dari ransum yang makin hari makin kacau, James mulai ‘pasrah’. Sampai Livia pun datang ke kediaman James.

Pertemuan pertama mereka lumayan kocak. Dan gara-gara perbuatan Livia yang dianggap melanggar segala aturan, Livia pun harus ikut ke Neapolitan, meninggalkan ayah dan adiknya. Tadinya, Livia terkatung-katung di awal kedatangannya di Neapolitan. Livia tidak mau ikut-ikutan jadi pelacur, sementara lowongan pekerjaan dipenuhi orang-orang lain. Akhirnya, Livia tiba di sebuah bar yang ditutup oleh James. Konspirasi antara pemilik bar dan orang-orang lain yang tidak puas dengan James, ‘menyelundupkan’ Livia untuk jadi juru masak di kediaman James.

Tentu saja, Livia pun memukau James dan yang lainnya dengan masakannya yang lezat itu. Livia bertemu lagi dengan James. Sempat terjadi kesalahpahaman sebelum akhirnya… ya.. tentu saja mereka jatuh cinta.

Tapi, gak mudah untuk mereka bersatu – karena perang membuat mereka harus berpisah sementara.

Dibanding ‘The Food of Love’, meskipun tentu saja masih soal cinta, buku ini ‘rada berat’, lebih tebal dan serius. Masakan lezat masih bertaburan. Tapi, banyak banget bagian yang menurut gue terlalu berpanjang-panjang dan sempat bikin cerita jadi gak asyik… yaitu, bagian perang di tengah-tengah cerita. Terus, gak asik waktu Livia jadi ‘serius’ pas dia gabung sama kelompok pemberontak.

Bagian yang gue suka adalah di awal cerita, gimana menyenangkannya Festival Buah Aprikot, kaya’nya hari itu indah banget. Ada bagian-bagian lucu juga, waktu pertama James ketemu Livia, plus, waktu Livia mikir James itu cowok yang ‘beda’.

Read more »

Jumat, 09 Januari 2009

Goodbye, Bush! - Sepatu Perpisahan dari Baghdad

Judul : Goodbye, Bush! - Sepatu Perpisahan dari Baghdad
Penulis : Muhsin Labib
Penyunting : Anwar M. Aris
Penerbit : Rajut Publishing House
Cetakan : I, Januari 2009
Tebal : 96 hlm

Siapa yang menyangka, seorang Presiden negara adidaya yang terhormat di akhir masa jabatannya akan dipermalukan harkat dan martabatnya oleh seorang wartawan dari negara yang di’jajah’nya. Minggu, 14 Desember 2008, presiden AS George W. Bush tiba di bandara Internasional Baghdad dengan pesawat kepresidenan AS yang paling bergengsi di dunia “Air Force One”.

Selain ingin berpamitan dengan tentara AS di Irak, tujuan utama Bush adalah untuk menandatangani pakta keamanan AS-Irak yang sempat direvisi beberapa kali dan ditentang oleh sebagian faksi di parlemen Irak. Usai menandatangani, Bush dan Perdana Menteri Irak Nuri al-Maliki melakukan konferensi pers. Dan saat itulah Bush menerima perlakuan memalukan yang bakal dikenang sepanjang masa baik oleh Bush pribadi maupun seluruh masyarakat dunia.

Karena peristiwa penandatangan pakta keamanan ini demikian penting, dan konferensi pers tersebut telah diagendakan sebelumnya, tentunya peristiwa ini dihadiri oleh para wartawan dalam dan luar negeri dengan kamera televisi yang siap menayangkannya secara live. Seluruh petugas Secret Service juga telah menyiapkan semua prosedur pengamanan super maksimum lengkap dengan peralatan canggihnya. Telah dipastikan dalam ruangan tersebut tak ada, bom, pistol, atau apapun yang mengancam keamanan Sang presiden dan perdana menteri.

Saat al-Maliki dan Bush berdiri di podium dengan tatapannya yang penuh kepercayaan diri hendak bersiap menjawab pertanyaan para wartawan, tiba-tiba peristiwa luar biasa terjadi. Seorang wartawan televisi Al-Baghdadia, Muntahar Al-Zaidi tiba-tiba melemparkan sepatunya ke arah Bush sambil berteriak , “Good bye, dog!”. Belum sempat para pengawal presiden bereaksi, Al-Zaidi melempar sebuah sepatunya lagi, untung Bush pandai berkelit sehingga kedua sepatu itu tak mengenai kepalanya.

Walau luput dari lemparan sepatu, namun peristiwa memalukan yang diliput secara live oleh hampir seluruh stasiun televisi dunia itu telah tersebar dengan cepat, menghibur banyak pemirsa dan segera saja menjadi bahan gurauan dan melahirkan berbagai reaksi dari seluruh masyarakat dunia. Tentunya peristiwa ini bisa menjadi insiden yang paling memalukan sepanjangi sejarah kepresidenan AS karena tapak sepatu adalah simbol penghinaaan pamungkas dalam budaya Arab. Setelah patung Sadam Husein dirobohkan di Baghdad pada April 2003, banyak orang memukuli wajah patung itu dengan tapak sepatu mereka.

Jika selama ini kita hanya membaca dan melihat peristiwa tersebut melalui koran-koran, televisi, streaming video di internet, dll. Kini kita bisa membaca peristiwa tersebut secara utuh melalui sebuah buku yang ditulis oleh Muhsin Labib, jurnalis, cendekiawan muslim, salah satu penulis buku best seller “Ahmadinejad! David di tengah angkara Goliath Dunia “ (Hikmah, 2006).

Buku ini tampaknya memang sengaja dibuat secara cepat oleh penerbitnya agar kisah sepatu itu masih segar dalam ingatan kita. Jika diistilahkan mungkin buku ini disebut dengan flash book’ atau ada juga yang menyebutnya ‘magazine book’ , buku yang dibuat untuk menangkap sebuah moment peristiwa yang sedang trend secara cepat. Biasanya buku jenis ini tak terlalu tebal dan hanya menyarikan dari berita-berita yang beredar di media masa.

Menurut penerbitnya (Rajut Publishing) Buku Goodbye Bush! ini mungkin merupakan salah satu buku tercepat yang pernah dibuat. Diselesaikan dalam waktu 2x24 jam. Apa yang bisa dihasilkan dengan buku yang dibuat secepat demikian? Walau dibuat secara cepat tampaknya buku ini tidak dibuat secara serampangan karena nama penulisnya dan penerbit tentu saja dipertaruhkan di buku ini. Oleh penulisnya buku ini dibagi menjadi tiga bagian. Pertama memuat serangkaian peristiwa seputar Pakta Keamanan Amerika-Irak dan polemik-polemiknya . Bagian ini memuat berbagai pasal pakta pertahanan tersebut beserta pasal-pasal rahasia dari kesepakatan tersebut. Dari pasal-pasal tersebut akan terlihat dengan jelas bagaimana AS masih enggan sepenuhnya melepas cengkeraman militernya atas Irak.

Bagian kedua memapar peristiwa pelemparan sepatu oleh Muntahar al-Zaidi yang nyaris mengenai wajah George W. Bush. Lalu peristiwa-peristiwa susulan, atau respon dunia internasional pasca insiden memalukan itu. Di bagian ini akan terungkap hal-hal menarik dan lucu akibat aksi pelemparan sepatu tersebut, seperti bagaimana kini sepatu usang dengan model tahun 99 itu jadi sepatu yang paling dicari sampai-sampai ada yang menawarnya hingga 110 milyar hanya untuk satu buah sepatu.

Dimana kini sepatu itu berada? Jawabannya bisa ditemui di buku ini. Yang pasti kini pabrik pembuat sepatu tersebut kebanjiran order karena pesanan jenis sepatu tersebut naik hingga 4 kali lipat. Dan uniknya kebanyakan pesanan tersebut berasal dari AS, Inggris, dan sejumlah negara Arab.

Selain itu terungkap pula bahwa kejaidan aib bagi sang presiden tersebut malah menjadi hiburan gratis bagi tentara AS di Irak. Peristiwa tersebut nyaris tidak terkesan sebagai peristiwa kekerasan, namun kelucuan. Tentara AS di Irak terbahak-bahak melihat insiden tersebut. Banyak hal-hal menarik dan lucu di bagian ini tentunya saya tak akan mengungkapkannya dalam tulisan ini agar pembaca merasakan sendiri sensasi kelucuan dan keterkejutan membaca fakta-fakta yang ada akibat insiden ini.

Di Bagian ketiga memuat profil singkat pelempar sepatu, Munthadar dan peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan sosoknya sesuai aksi pelemparan seperti penyiksaan yang dialaminya dan dukungan serta simpati mulai dari sesama wartawan, hingga ibu-ibu yang bersedia menikahi anak gadisnya dengan al Zaidi. Al Zaidi memang telah menjadi hero dan simbol perlawawan terhadap Amerika dan sekutu-sekutunya. Bahkan setelah peristiwa tersebut para infitadah di jalur Gaza tak lagi melempari tentara Israel dengan batu melainkan dengan sepatu!

Pada intinya buku kecil yang juga dilengkapi dengan foto-foto ini memuat secara kronologis latar belakang, sebelum, saat, dan berbagai reaksi setelah insiden pelemparan sepatu terjadi. Tak ada analisis komprehensif atau abstraksi intelektual tingkat tinggi dalam buku ini karena memang bukan untuk tujuan itu buku ini dibuat. Buku ini hanya merangkum berbagai berita dan kisah insiden ini yang tersebar di berbagai media baik cetak maupun cyber sehingga buku ini sangat renyah, enak dibaca, dan dapat tuntas hanya dalam sekali duduk.

Namun bukan berarti buku ini sekedar ‘buku kacangan’. Tampaknya ini buku pertama di Indonesia (bahkan mungkin di dunia?) yang memaparkan insiden pelemparan sepatu pada Bush. Selain itu ada banyak hal positif yang mungkin bisa diperoleh dalam buku ini. Selain kita bisa memperoleh seluruh rangkaian peristiwa ini secara utuh dalam sebuah buku, melalui buku kini kita juga akan melihat sebuah ekspresi penolakan yang kuat terhadap arogansi dan hegemoni suatu pemerintahan yang secara sadar ingin menguasai bangsa lain dengan dalih perdamaian dan keamanan dunia.

@h_tanzil
Read more »

Rabu, 07 Januari 2009

To Tokyo to Love

To Tokyo to Love
Mariskova
GPU, Desember 2008
296 Hal.

Cita-cita Nina sebenarnya simple aja, hanya pengen jadi istri yang baik dan punya anak. Jadi ibu rumah tangga aja. Pekerjaan… biarlah urusan suami. Nina pun sedang mempersiapkan pernikahannya dengan Ian. Yang ada di gambaran Nina, adalah sebuah kehidupan pernikahan, sebuah keluarga yang sempurna. Ian, adalah senior Nina di kampus. ‘Cowok idola’ yang mulanya hanya bisa dipandang Nina dari jauh. Nina yang penyendiri dan tomboy sering mendengar gosip para cewek-cewek membicarakan Ian. Suatu kejadian, malah mendekatkan diri Ian dan Nina. Gak ada yang menyangka kalau Ian bisa jatuh cinta pada cewek berpenampilan biasa-biasa aja seperti Nina.

Nina yang tomboy, pelan-pelan berubah jadi feminin, atas ‘permintaan’ Ian. Nina yang cuek, jadi ‘kebanjiran’ hadiah-hadiah dan kejutan romantis. Berbeda dengan Nina yang dulu.

Tapi, ternyata, cita-cita Nina gak semudah itu untuk terwujud. Pernikahan yang tinggal beberapa bulan lagi batal. Ian berselingkuh dengan Karina, mantan pacarnya, dan harus bertanggung jawab karena Karina hamil.

Nina down, nyaris patah semangat. Untung di kantor Nina, seorang boss dari Jepang, Mr. Fujita, menawarkan beasiswa ke Jepang. Kesempatan itu mendapat dukungan penuh dari keluarga Nina yang ingin menjauhkan Nina dari Ian. Ian, yang meskipun sudah menikah dengan Karina, tetap ingin mendekati Nina lagi.

Jepang yang kaku, yang teratur, membuat Nina kembali tenggelam dalam dunianya sendiri. Perjalanan ke kampus dengan kereta, memberi warna tersendiri bagi Nina. Di dalam kereta, Nina kerap memperhatikan seorang pria dengan pakaian hitam-hitamnya. Bagi Nina, si man-in-black itu seperti menyimpan sesuatu dalam benaknya, begitu rapuh, membuat Nina ingin mendekatinya. Nina pun diam-diam jatuh cinta pada pria berstelan hitam itu.

One day, Nina yang jarang bergaul itu mendapat email dari seorang pria bernama Takung. Kegiatan chatting, yang berlanjut ke acara telepon-teleponan, menjadi kegiatan yang ditunggu-tunggu setiap malamnya oleh Nina. Takung menjadi tempat Nina untuk bercerita tentang man-in-black pujaannya, dan Nina juga menjadi tempat curhat Takung tentang gadis penyendiri di kampusnya. Dan, sempat membuat Nina sedikit cemburu. (Hmmm… agak mirip ‘You’ve Got Mail’).

Tapi, kehidupan Nina yang tenang kembali terganggu oleh datangnya Ian ke Jepang. Ian yang anak orang kaya, tentu saja tidak punya kesulitan untuk pergi ke mana pun yang ia mau. Dan Ian, nyaris membuat Nina bimbang, antara mema’afkannya atau melupakannya. Karena ternyata, bukan hanya Ian yang mengejar Nina, tapi juga Karina. Karina jadi rada ‘psikopat’, karena dia pikir, Nina bakalan mau balik lagi sama Ian. Nina nyaris celaka, kalo aja si man-in-black gak datang menolongnya.

Jadi siapa sih si man-in-black itu? Ketemu gak si Nina sama Takung? Ketebaklah kalo baca ceritanya. Dan, hehehe.. rada kecewa dengan gambaran si man-in-black. Kebayangnya sih, cowok dengan rambut melambai tertiup angin, kaya’ Takuya Kimura gitu deh… tapi, di sini, rada terlalu macho (menurut gue lhooooo….)

Yang rada kocak dan bikin gemes adalah waktu Takung cerita tentang cewek misterius idamannya itu dan membuat Nina keliling taman di kampus biar dia bisa liat seperti apa idola Takung.

O ya, yang satu lagi rada ‘berlebihan’, adalah waktu Ian lagi pdkt sama Nina… Booooo…. Mobil jeep Nina and abangnya, bertaburan bunga mawar dan ada poster bertuliskan ‘I Love You’, dan itu terjadi di kampus mereka. Entah emang berlebihan, atau, pas lagi baca, gue yang gak in the mood of romantic??

Gambaran kota Jepang yang kaku jadi ‘lumer’ gara-gara cantiknya bunga sakura yang lagi berguguran… Cerita ringan di awal tahun 2009…

Read more »

Minggu, 04 Januari 2009

Christ The Lord - The Road To Cana

Judul : Christ The Lord - The Road To Cana (Jalan Menuju Kana)
Penulis : Anne Rice
Penerjemah : Lanny Murtihardjana
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : I, Des 2008
Tebal : 304 hlm, 20 cm

Tidak seorangpun mampu menuliskan biografi lengkap tentang Yesus. Kita tidak memiliki catatan sejarah tentang tiga puluh tahun pertama kehidupan-Nya. Banyak orang beranggapan bahwa keempat kitab Injil (Matius, Markus, Lukas, Yohanes) memberikan biografi komplit tentang Yesus. Kenyataannya tidaklah demikian. Markus baru memulai kisah Yesus ketika Ia berumur tiga puluh tahun. Matius dan Lukas menambahkan kisah-kisah seputar kelahiran-Nya, dan berbagai pengajaran dari Yesus. Sama seperti kitab Markus, kedua kitab ini hampir setengahnya berisi perjalanan terakhir Yesus sebelum Ia disalibkan. Begitupun dengan Injil Yohanes yang dimulai ketika Yesus berumur tiga puluh tahun dan lebih memfokuskan setengah dari kitabnya pada hari-hari terakhir Yesus di Yerusalem.

Para sarjana dengan tepat menamai kurun waktu tiga puluh tahun pertama dari kehidupan Yesus sebagai “tahun-tahun yang hilang”. Dan inilah yang menimbulkan dorongan hasrat yang kuat untuk menguak tabir sejarah dan menyinkirkan kabut misteri yang menyelubunginya ini . Hal inilah yang juga menggelitik Anne Rice yang selama ini dikenal dengan penulis kisah-kisah vampir, antara lain “Interview with The Vampire (1975) yang telah difilmkan pada 1994 dan diperankan oleh Tom Cruise untuk membuat novel mengenai kehidupan Yesus yang termaktub dalam trilogi “Christ The Lord”.

Novel pertama seri Christ the Lord terbit pada tahun 2005 dengan judul “Out of Egypt” yang menceritakan masa kecil Yesus pada saat berusia 7 tahun ketika Yesus dan keluarganya pergi meninggalkan tempat pengungsiannya di Mesir menuju Nazareth, kota kelahirannya. Novel ini telah diterjemahkan dengan judul “Kristus Tuhan : Meninggalkan Mesir” (Gramedia, 2006)

Sedangkan novel keduanya yang berjudul Christ The Lord : The Road To Cana terbit pada Maret 2008 dan edisi terjemahannya juga telah beredar di toko-toko buku pada Desember 2008 yang lalu. Jika pada buku pertamanya Anne Rice mengisahkan kehidupan Yesus pada usia 7 tahun, maka di buku keduanya ini Yesus telah berusia tiga puluh tahun, beberapa saat sebelum ia menjalankan misinya.

Sama seperti di buku pertamanya, di novel keduanya ini Anne menampilkan sosok Yesus yang manusiawi. Yesus mengalami apa itu kelelahan, kelaparan, kesedihaan, layaknya manusia biasa. Malah sebelum dirinya dibabtis oleh Yohanes bin Zakaria, sosok Yesus dideskripsikan sebagai pribadi yang memiliki beban yang berat dengan sikap tubuh yang selalu merunduk bila berjalan.

Selain itu seperti layaknya seorang pemuda dewasa, Yesus juga mengalami apa yang namanya jatuh cinta. Tidak seperti yang selalu diasumsikan banyak orang bahwa Yesus pernah jatuh cinta dengan Maria Magdalena, di novel ini dikisahkan Yesus menaruh hati pada Abigail, salah satu kerabat jauhnya. Namun Yesus harus menekan perasaannya karena Ia menyadari bahwa dirinya ditakdirkan untuk tidak menikah, suatu hal yang agak janggal bagi tradisi Yahudi kecuali para nabi yang beberapa memang tidak menikah sepanjang hidupnya.

Kisah Abigail inilah yang menjadi salah satu pengikat dalam novel ini. Abigail kelak mengalami musibah nyaris diculik dan dijamah oleh para perompak. Walau akhirnya selamat, ayah Abigail menganggap putrinya telah tercemar dan mengurung Abigail hingga nyaris gila. Tentu saja Yesus dan seluruh kerabatnya mencari cara agar Abigail lepas dari kurungan ayahnya sendiri. Akhirnya Yesus diutus untuk menemui Hanael di Kana untuk membujuk ayah Abigail agar bisa membebaskan putrinya. Cerita kemudian beranjak ke saat pembabtisan di Sungai Yordan, pemilihan murid-murid Yesus, tindakan kontroversial Yesus yang makan bersama Matius si pemungut cukai yang dibenci oleh banyak orang, hingga mukzizat pertamanya mengubah air menjadi anggur di pesta perkawinan di Kana.



Cover The Road To Cana

Publisher : Knopf (March 4, 2008)




Seperti novel pertamanya, Anne tetap mempertahankan gaya bercerita yang menyajikan Yesus dari sudut pandang orang pertama, dengan demikian novel ini menghadirkan pergulatan batin Yesus dari kacamata Yesus sendiri, antara lain beban psikologisnya sebagai anak yang kelahirannya disertai dengan banyak tanda (malaikat, orang majus, bintang, dll), godaan jatuh cinta, desakan untuk memimpin pemberontakan terhadap penjajahan Romawi, hingga konfrontansinya dengan iblis di padang gurun.

Tampaknya Anne piawai dalam mengeksplorasi sisi manusiawi Yesus. Apa yang mungkin dirasakan Yesus sebagai manusia terekam jelas dalam novel ini. Pandangan orang-orang yang menyaksikan banyak tanda dalam peristiwa kelahiran-Nya juga terungkap dengan menarik. Mereka menunggu-nunggu tibanya takdir yang akan dijalaninya kelak seperti yang telah dinubuatkan oleh para nabi. Hanael bahkan mempertanyakan mengapa Yesus tidak tinggal saja di Bait Allah dan mengajar yang menurutnya akan lebih bermanfaat daripada hanya sekedar menjadi tukang kayu. Hal ini tentu saja menjadi beban psikologis bagi Yesus sebelum ia memulai misinya.

Walau sebagian besar kisah Yesus dalam novel ini lebih menonjolkan sisi manusiawi-Nya namun ada juga beberapa kisah yang membuat Yesus ‘berbeda’ dari manusia biasa dan harus menggunakan kuasaNya untuk menolong seseorang. Pilihan penulis untuk tidak menamai tokoh utamanya Yesus melainkan Yeshua (Yesus dalam bahasa Ibrani) merupakan hal yang tepat karena terkesan lebih manusiawi bagi para pembacanya dibanding nama Yesus Kristus yang tampak lebih sakral dan Ilahi.

Tentunya kini kita menunggu novel berikutnya guna menuntaskan bagian dari triloginya ini. Sepertinya akan semakin menarik karena tampaknya di novel ketiganya kelak Anne akan bertutur mengenai kisah Yesus di puncak misinya untuk menyelamatkan orang yang percaya pada-Nya

Seperti banyak telah diungkap oleh Anne dalam tiap wawancaranya, untuk menyelesaikan trilogi Christ The Lord ini Anne melakukan riset sejarah dan biblika yang begitu dalam dan komprehensif. Ia juga membaca ratusan buku seputar kehidupan orang-orang Israel di abad pertama. Tak heran buku ini memberikan latar sejarah dan budaya orang-orang Israel dengan baik. Kondisi politik dan adat kebiasaan orang Yahudi di masa Yesus hidup terungkap dengan jelas dan tersaji dalam porsi yang pas sehingga turut mewarnai dan menghidupi novelnya ini.

Walau beberapa kejadian yang dialami Yesus dalam novel ini tak terapat dalam keempat kitab Injil, kita tak perlu khawatir novel ini akan menjadi novel yang menghujat atau mempermalukan Yesus yang selama ini dikenal oleh dunia dan oleh para penganut-Nya. Secara garis besar cerita dalam novel ini masih setia pada Injil dan Perjanjian Baru. Ia hanya menambah peristiwa-peristiwa yang dialami Yesus yang mungkin terjadi ketika Injil tak mencatatnya, dan semua itu ditulis dalam batas-batas keimanan kristiani yang dianutnya.

Kisah kehidupan iman Anne Rice ( 67 thn) sendiri sangat menarik. Ia dilahirkan dalam keluarga katholik yang taat. Walau demikian setelah beranjak dewasa ia meninggalkan Tuhan dan menjadi seorang atheis. Di masa-masa itulah karirnya sebagai penulis menanjak dan menghasilkan berbagai novel mengenai vampir dan telah terjual hampir 100 juta copy. Tak heran karena novel-novelnya itu ia menjadi salah satu penulis terkenal di dunia dan dijuluki Ratu Cerita-Cerita Horor. Namun pada tahun 1998 jalan hidupnya berubah, ia meninggalkan ke atheisannya dan kembali pada pangkuan Tuhan dan kembali menjadi seorang Katholik yang saleh. Selain itu ia juga bertekad untuk berhenti menulis kisah-kisah vampir dan hanya akan menulis buku-buku religius. Dan trilogi Christ The Lord ini ditulis sebagai perwujudan tekadnya. Selain menulis seri Christ The Lord, pada 2008 yang lalu Anne juga telah merampungkan sebuah buku memoar spiritualnya yang berjudul, “Called Out of The Darkness” (Knopf, October 7, 2008)

Kembali ke novel tilogi Christ The Lord, Anne berharap buku ini membuat mereka yang sebelumnya tak begitu mengenal Yesus Kristus dapat melihat sosoknya dari novel yang ditulisanya ini. Harapan Anne tak berlebihan, karena tampaknya novel ini dapat dijadikan bacaan awal atau pelengkap bagi mereka yang ingin mengenal pribadiNya baik sebagai manusia maupun sebagai Allah sebelum ia menggali lebih dalam lagi dari Kitab Suci dan bacaan-bacaan lain.

Selain itu dengan ternarasikannya Yesus secara lebih manusiawi hal ini akan mempertebal iman kita. Dengan membaca novel ini kita akan tersadarkan bahwa jika Yesus pernah merasakan apa yang dirasakan manusia pada umumnya (kemarahan, kesedihan, kelelahan, depresi,dll) maka tentunya DIA mengerti pula segala keluh kesah kita yang kita panjatkan dalam doa-doa kita pada-Nya.


@h_tanzil
Read more »

Senin, 29 Desember 2008

Book of the Year 2008

Tampaknya udah waktunya memilah buku-buku yang jadi favorit di tahun 2008. Semenjak ada Mika, sepertinya waktu gue untuk baca agak berkurang (tapi.. hehehe.. tetap tidak diikuti dengan berkurangnya frekwensi membeli buku). Waktu baca biasanya kalo lagi di mobil atau kalau Mika tidur. Udah gitu, gue juga jadi rada males untuk nulis tentang buku yang gue baca di blog. Makanya, blog buku gue di tahun 2008 agak sepi.

Nah, buku-buku yang jadi favorit gue rata-rata adalah buku yang punya 'arti' tertentu buat gue, yang terjemahannya enak dibaca, atau kalo pun bahasa inggris, yang gak terlalu memusingkan. Di antaranya:

1. Chocolat
2. The Penderwicks
3. Maximum Ride (1 & 2)
4. The Alchemyst
5. The Book of Lost Things
6. Ways to Live Forever
7. The Space between Us
8. My Sister Keeper
9. I was a Rat
10. The Food of Love

Ini 'terpilih' di antara buku-buku yang sedikit itu... malah jadi bingung.. :) Target tahun depan... mmm... seperti biasa, membaca buku-buku yang udah lama dibeli, yang selama ini hanya jadi penghias lemari buku... tapi... mmm, kalo ada buku baru, pasti tergoda juga... :)
Read more »

Rabu, 24 Desember 2008

Vanishing Act (Hati yang Hilang)

Vanishing Act (Hati yang Hilang)
Jodie Picoult
Gita Yuliani (Terj.)
GPU, November 2008
528 Hal.

Delia Hopkins, seorang polisi bagian Search and Rescue, yang tugasnya mencari dan mengembalikan orang-orang hilang kepada keluarga mereka. Tinggal di New Hampshire, bersama ayahnya, Andrew Hopkins, yang mengelola sentra manula dan dikenal sebagai warga kota yang baik. Delia mempunya satu orang putri, bernama Sophie, hasil dari hubungannya dengan Eric, tunangannya yang sudah menjadi temannya sejak kecil.

Satu hari, ketika polisi datang mencari – dan bahkan menangkap ayahnya – Delia mendapati dirinya bernasib sama dengan orang-orang yang ditolongnya selama ini. Ternyata, ia adalah korban ‘penculikan’ yang dilakukan oleh ayahnya sendiri.

Selama 28 tahun, Delia ‘menerima’ bahwa dirinya bukanlah dirinya yang sebenarnya. Nama aslinya adalah Bethany Matthews. Ketika berusia 4 tahun, ia pergi bersama ayahnya yang sudah bercerai dengan ibunya, dan tidak pernah ‘dikembalikan’ lagi ke rumah ibunya. Andrew – yang bernama asli Charles – mengganti identitas mereka berdua dan pergi ke sebuah kota di mana tidak ada satu pun yang mengenal mereka.

Andrew pun ditangkap. Delia minta Eric, yang seorang pengacara, untuk membela ayahnya.

Drama mulai bergulir. Demi kepentingan persidangan, Delia pun pindah ke Arizona, tempat ayahnya akan diadili, tempat di mana penculikan itu dulu terjadi. Delia bertemu dengan ibunya, Elise.

Delia bergulat mencari identitas masa lalunya, sementara ia juga harus berdebat dengan dirinya sendiri, apakah harus mema’afkan ayahnya yang sudah menculiknya – apa pun itu alasannya, atau, harus mema’afkan ibunya yang karena salahnya ia ‘diculik’ oleh ayahnya.

Berbagai fakta yang dianggap akan meringankan Andrew dicari oleh Eric. Yang terkadang justru mengundang pertanyaan yang jawabannya sangat bias.

Kaya’nya khas Jodie Picoult untuk mengemas novelnya dengan menceritakan isinya dari sudut pandang setiap tokoh yang terlibat. Jadi, gak hanya tentang kebimbangan Delia, tapi juga gimana Andrew harus bertahan di penjara yang ‘ganas’. Atau, cerita tentang Elise yang menurut aku ‘eksotis’. Lalu, Eric, yang mantan pecandu alkohol.

Gue jadi sempat bertanya-tanya, sejauh mana ya, kita bisa membenarkan sesuatu ketika kita melakukan sebuah kesalahan dengan alasan untuk ‘kebaikan’?
Read more »