Rabu, 10 Juni 2009

Tanah Tabu

Judul : Tanah Tabu

Penulis : Anindita S. Thayf

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Cetakan : Mei 2009

Tebal : 240 hlm



Tanah Tabu adalah novel karya penulis muda Anindita S Thyaf dimana novelnya ini merupakan satu-satunya pemenang lomba Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2008.

Awalnya mungkin ia tak menduga kalau novel yang tercipta tanpa disengaja ini dapat memenangkan lomba menulis Novel DKJ 2008. Menurut pengakuannya ide untuk menulis Tanah Tabu datang ketika ia hendak melakukan riset untuk menulis buku non fiksi anak tentang keindahan alam Papua. Alih-alih menemukan berbagai keindahan tanah Papua, ia malah banyak menemukan berbagai ketimpangan-ketimpangan sosial yang terjadi di sana. Jiwanya terpanggil untuk menyuarakan ketidakadilan yang ia temui dalam risetnya. Atas dasar itulah maka Anindita berganti haluan dari menulis buku non fiksi tentang keindahan Papua ke sebuah novel yang sarat dengan kritik sosial dengan setting Papua.

Berdasarkan riset pustaka yang dilakukannya selama 2 tahun, ia dengan teliti mencoba mengenali sumber permasalahan rakyat Papua. Ia susun dan olah semua data yang ia peroleh menjadi sebuah cerita tentang perjalanan hidup sebuah keluarga . Ia hidupkan tokoh-tokohnya dengan karakter-karakter yang menarik, dan jadilah sebuah novel. Tanah Tabu dipilih menjadi nama novelnya karena ia beranggapan bahwa setiap tanah yang merupakan warisan leluhur pastilah ditabukan oleh turunannya yang berbakti. Ditabukan dalam arti dipergunakan sesuai manfaat dan kebutuhan, serta dijaga kelestariannya.

Novel ini mengisahkan kehidupan tiga generasi perempuan Papua yaitu: Mabel, Mace, dan Leksi. Mereka semua adalah satu keluarga penduduk asli Papua dari suku Dani, pewaris kekayaan alam Papua yang kaya namun ironisnya mereka hidup miskin dan menderita akibat terjarahnya tanah mereka oleh para pendatang yang dengan rakus mengeruk kekayaan alam Papua.

Walau ada beberapa tokoh utama dalam novel ini, kisah kehidupan Mabel merupakan kisah yang dominan dalam novel ini. Sewaktu masih kecil hingga beranjak dewasa Mabel diasuh oleh keluarga Belanda dan tinggal di Wamena, otomatis ia dibesarkan dan dididik dalam tradisi masyarakat barat. Namun ketika keluarga angkatnya harus pulang ke negeri asalnya, Mabel kemudian mengalami masa-masa kelam dalam hidupnya, dua kali pernikahannya mengalami kegagalan , ia juga pernah diculik dan mengalami siksaan hebat karena tuduhan bersekongkol dengan para pengacau keamanan. Semua pengalamannya inilah yang membuat Mabel kini menjelma menjadi sosok yang mandiri, tegar, pemberani, cerdas, dan memiliki wawasan dan cara berpikir yang modern dibanding para wanita Papua

Dalam kesehariannya Mabel menjual sayur di pasar dan tinggal bersama Mace selaku menantunya dan Leksi, cucunya yang masih berusia 7 tahun yang hingga usianya kini belum pernah bertemu dengan ayah kandungnya yang meninggalkan Mace sebelum Leksi lahir. Lalu ada pula tokoh Pum sahabat setia Mabel, dan Kwe yang setia menemani dan menjaga Leksi kemanapun Leksi pergi. Selain itu ada pula tokoh-tokoh tambahan lain seperti keluarga Mama Helda dan anaknya Yosi yang saban hari harus menghadapi kemarahan ayahnya yang pemabuk.

Melalui novel ini terlihat dengan jelas bahwa penulis ingin mengungkap berbagai ketimpangan yang terjadi di tanah Papua. Novel ini dengan gamblang menyuarakan berbagai kenyataan pahit yang dialami penduduk Papua, terlebih ketika orang-orang asing mulai berdatangan ke kampung mereka. Mereka memang datang membawa perubahan dan modernisasi, namun dua hal itu ternyata tak dirasakan manfaaatnya bagi kehidupan penduduk asli Papua. Di tengah tempat yang justru terus menerus dipoles menjadi semakin modern dan indah, masyarakat Papua justru tetap menderita, miskin, terkena penyakit, dan bencana, salah satunya dikarenakan sungai yang tercemar akibat limbah dari pabrik tambang emas yang berdiri megah ditengah-tengah mereka.

“Perusahaan di ujung jalan itu hanya setia pada emas kita. Tidak peduli apakah tanah air, dan orang-orang kita jadi rusak karenanya, yang penting semua emas punya mereka. Mereka jadi kaya, kita ditinggal miskin. Miskan di tanah sendiri!” (hal 134)

“..kau mungkin tidak akan percaya kalau kubilang hutan ini sekarang tidak lagi menghasilkan sagu, sedangkan sungainya dipenuhi kotoran perusahaan itu. “ (hal 135)

Selain membongkar berbagai ketimpangan sosial yang terjadi di Papua, novel ini juga berbicara mengenai budaya patriakhi suku Dani yang amat merugikan bagi kaum perempuan. Lelaki adalah penguasa, sedangkan para wanita Papua dianggap sebagai mahluk yang lemah sehingga patut dilindungi dari serangan musuh, tetapi tidak dari penindasan keluarga sendiri. Hal ini terlihat jelas pada semua tokoh wanita dalam novel ini. Mabel, Mace, dan Mama Helda, mengalami nasib yang sama, mereka mengalami penderitaan fisik dan mental akibat perlakuan para suaminya tanpa bisa melawan. Hanya Mabel yang berhasil lepas dari belenggu nasibnya, dan ia yakin bahwa akar permasalahannya adalah karena jerat kebodohan yang menimpa perempuan Papua sehingga mereka terbelenggu oleh takdirnya yang hidup hanya untuk keluarga, suami, kebun, dan babi.

“Sejak dulu hingga sekarang nasib perempuan tidak berubah. Mereka terlalu bodoh untuk melawan, dan terlalu takut untuk bersuara. Ya, jadilah seperti itu. Tertindas di bawah kaki suaminya sendiri. Seumur hidup menjadi budak, hingga kematian memisahkan mereka”. (hal 170)

Melalui tokoh Mabel-lah suara perempuan Papua yang sebelumnya hanya berbisik dan nyaris membisu kini menjadi lantang terdengar. Mabel dengan berani melawan takdir perempuan sukunya dan menggugat berbagai ketimpangan yang terjadi di kampungnya. Mabel yakin bahwa satu hal yang dapat merubah takdir mereka adalah melalui perjuangan melawan kebodohan. Keyakinannya ini ditularkannya pada Mace selaku menantunya, karenanya betapapun sulitnya kehidupan mereka, Mabel dan Mace bahu membahu mencari uang agar Leksi bisa terus sekolah agar terlepas dari belenggu kebodohan yang menimpa para wanita Papua.

Usaha Mabel berjuang melawan kebodohan kaumnya dan menggugat ketidakadilan yang dialami sukunya tak berhenti hanya untuk keluarganya saja. Ia lebarkan medan perjuangannya ke lingkungan sekitarnya. Sayangnya langkahnya terhenti juga ketika akhirnya Mabel tertangkap dan dibelenggu oleh pihak-pihak yang tak menyukai sepak terjangnya.

Walau sarat dengan pesan kriktik sosial, dan memiliki tema yang kompleks namun novel ini tak terkesan seperti menggurui atau mengkotbahi pembacanya. Anindita melebur berbagai pesan sosial yang hendak disampaikannya itu ke dalam kisah kehidupan para tokohnya sehingga berbagai pesan moral yang hendak disampaikan penulis dengan halus menyelusup ke dalam alam bawah sadar pembacanya. Cara bertuturnya juga sangat baik sehingga novel ini enak dibaca dan memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi, selain itu penulis juga menyertakan beberapa kalimat inspiratif yang menggugah kesadaran pembacanya akan banyak hal.

Selain ceritanya yang menarik, novel ini juga dituturkan dengan cara yang unik. Kisah Mabel dan beberapa tokoh lain dalam novel ini dituturkan oleh beberapa narrator secara bergantian menurut sudut pandangnya masing-masing . Uniknya tak hanya manusia yang menjadi narrator, melainkan seekor babi dan anjingpun tak ketinggalan untuk ikut menjadi naratornya. Hal ini tentu mengingatkan kita pada novel My Name is Red karya Orhan Pamuk dimana seekor anjing menjadi naratornya.

Namun dalam hal ini, apa yang dilakukan Anindita lebih berani daripada Pamuk, karena dalam novel ini porsi binatang sebagai narrator lebih dominan dan lebih berperan dibanding My Name is Red-nya Pamuk. Yang juga menarik dan yang membedakannya dengan Pamuk adalah kemampuan penulisnya yang dengan rapi menyamarkan jati diri kedua binatang itu sehingga sebagian pembaca akan tersentak kaget ketika mengetahui bahwa beberapa narrator dalam novel ini adalah seekor binatang.

Kisah yang menarik, gaya berutur yang, unik, memikat, kompleksnya tema yang diangkat (social, politik, feminisme, kapitalisme, militerisme,dll) dengan seting di provinsi paling ujung Indonesia yang jarang ditulis oleh penulis-penulis lokal kita tampaknya ‘mencuri’ perhatian para juri novel DKJ sehingga menobatkan novel ini menjadi juaranya.

Sayangnya dalam novel ini penulis tampaknya terlalu memberikan persepsi negatif terhadap kaum pria suku Dani. Tak ada tokoh pria baik dalam novel ini kecuali ayah angkat Mabel itupun karena ayah angkatnya seorang Belanda. Semua pria Papua digambarkan dengan begitu buruk, suka memukul, pemabuk, tak menghargai wanita, licik, bahkan seorang anak laki-laki (Karel), teman Leksi pun digambarkan sebagai anak yang sombong. Apakah memang semua pria Papua demikian?.

Novel ini juga kurang mengeksplorasi budaya Papua, padahal ada banyak hal sisi budaya lokal yang bisa diangkat, misalnya tarian perang suku Dani atau pesta babi yang menjadi bagian dari kehidupan mereka. Jika saja muatan budaya lokal ini bisa dimasukkan menjadi sebuah unsur cerita dalam kisah Mabel, tentunya novel ini akan semakin lengkap sehingga pembaca tak hanya mengetahui berbagai ketimpangan yang terjadi di Papua melainkan mendapat bonus tambahan berupa budaya lokal yang unik dan tentunya sarat dengan makna kearifan lokal.

Namun terlepas dari kelebihan dan kekurangan novel ini, apapun yang telah ditulis oleh Anindita dalam karyanya kali ini semakin membuktikan, bahwa karya sastra tak hanya memberikan hiburan sastrawi kepada pembacanya. Namun, sastra juga dapat menjadi alat kontrol yang dapat menyelusup di celah-celah yang memungkinkan dirinya dapat menyampaikan pemberontakan terhadap berbagai ketimpangan yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat.

Selain itu seperti yang pernah dikatakan oleh alm. Pramoedya Ananta Toer, “Pengarang itu korps avant garde, bukan penghibur... tugasnya melawan kejahatan dalam tulisan-tulisannya!”. Dan Anindita dalam novelnya kali ini telah menunaikan tugasnya, bukan hanya sebagai penghibur melainkan sebagai penulis yang melawan diskriminasi dan kejahatan terhadap keadilan dan kemanusiaan.

@h_tanzil





Read more »

Marriage Most Scandalous (Terjerat Cinta Pura-Pura)

Marriage Most Scandalous (Terjerat Cinta Pura-Pura)
Johanna Lindsey @ 2005
Isma Badrawati (Terj.)
Gagas Media – Cet. I, 2009
452 Hal.

‘Batu Duel’ – tempat para lelaki mempertahankan harga dirinya, tempat mereka bertarung agar mereka yakin mereka lelaki sejati. Tempat itu mempertaruhkan banyak hal – harta, kehormatan dan juga persahabatan.

Sebastian dan Giles sering melewati tempat itu sepanjang umur mereka. Tak ada yang menyangka persahabatan mereka harus berakhir di tempat itu. Sebagai pemuda tampan, kaya raya, dan seorang bangsawan, Sebastian tentu saja digilai banyak wanita. Demikian juga dengan Giles. Tapi, ketika Sebastian tergoda – atau lebih tepatnya digoda – oleh wanita yang ternyata adalah istri Giles, Giles marah dan akhirnya menantang Sebastian di Batu Duel.

Tadinya – meskipun sama-sama marah – tak ada yang menginginkan duel yang sebenarnya terjadi. Mereka sama-sama tak ingin kehilangan persahabatan mereka. Tapi, gengsi dan harga diri mengharuskan Sebastian memenuhi tantangan itu. Mereka sudah sama-sama mengatur strategi secara diam-diam agar tidak saling melukai. Namun… kenyataan berkata lain. Secara tidak sengaja, Sebastian yang kaget malah menembak Giles. Buntutnya, keluarga Giles dan keluarga Sebastian terluka. Sebastian diusir oleh ayahnya, tidak diakui lagi sebagai anak dan dilarang menginjakkan kaki lagi di Inggris.

Sebastian yang juga sakit hati dan sedih bersumpah tidak akan pernah datang lagi ke Inggris. Bersama pelayan setianya, ia mengembara berkeliling Eropa. Ia kemudian dikenal sebagai The Raven, lelaki bengis dan keras yang bersedia melakukan pekerjaan apa pun. Ia dikenal bisa menemukan orang-orang yang hilang, sebagai penyelidik yang dibayar mahal dan nyaris tidak pernah gagal.

Suatu hari datanglah seorang wanita bernama Margaret yang ingin minta bantuannya untuk menyelidiki penyebab kecelakaan yang dialami ayah angkatnya. Tak disangka-sangka, Margaret bukan orang asing bagi Sebastian. Sebelum kejadian itu, Margaret kecil diam-diam menyukai Sebastian, dan ayah angkatnya tak lain adalah ayah Sebastian sendiri.

Awalnya, Margaret pesimis Sebastian mau kembali ke Inggris. Tapi, dengan persyaratan yang sebenarnya Margaret sendiri tak yakin bisa memenuhinya, Sebastian menerima ‘pekerjaan’ dari Margaret. Syarat itu, selain bayaran amat sangat tinggi, Margaret bilang mereka harus berpura-pura menikah, supaya orang-orang di sana mau menerima Sebastian kembali.

Di Inggris, Sebastian memulai penyelidikannya. Sementara Margaret harus ‘berperang’ melawan perasaannya sendiri. Pastinya akhirnya mereka jatuh cinta beneran.

Buat gue, buku yang lumayan tebal ini, memberi kejutan yang ‘nanggung’, yang kaya’nya justru lebih seru dan ‘normal’ kalau itu gak ada. Alasan-alasan di balik duel Sebastian dan Giles juga kaya’nya kurang ‘kuat’.

Dengan setting Inggris di abad mungkin hmmm… 17? Or 18? – yang terbayang di benak gue, hanyalah wanita dengan baju-baju gaun berbawahan lebar dan bagian atas yang menyesakkan karena pake korset, lalu pria dengan setelah jas ber-rimple, lalu pesta dansa, makan malam resmi yang penuh basa-basi. Ditambah lagi, tentu saja gak ketinggalan ‘bagian percintaan’ antara Margaret – Sebastian yang gak perlu tebak-tebakan untuk mengetahui apakah bakalan terjadi beneran atau gak.

Read more »

Senin, 01 Juni 2009

Lelaki Tua dan Laut

Judul : Lelaki Tua dan Laut

Penulis : Ernest Hemingway

Penerjemah : Yuni Krsitianingsih P

Penerbit : PT. Serambi Ilmu Semesta

Cetakan : I, Mei 2009

Tebal : 145 hal



Santiago, seorang lelaki tua penangkap ikan di arus teluk Meksiko sudah delapan puluh empat hari melaut namun sialnya selama itu ia tidak berhasil menangkap seekor ikanpun. Awalnya ia ditemani oleh seorang anak laki-laki bernama Manolin. Tetapi setelah empat puluh hari berlalu tanpa seekorpun ikan yang berhasil ditangkap, orang tua anak laki-laki itupun menyuruhnya untuk ikut pada perahu lain.



Walau tak ada yang menemaninya, lelaki tua itu tetap pergi melaut seorang diri, ia percaya bahwa di hari ke delapan puluh lima ia akan mendapatkan keberuntungan. Setelah dengan sabar menunggu, akhirnya keberuntungan itu memang datang, umpannya dimakan juga oleh seekor ikan marlin yang besar. Namun ikan itu tak menyerah begitu saja, alih-alih terseret oleh kail, ikan itu menyeret perahu yang ditumpangi lelaki tua sambil berputar-putar di sekeliling perahunya. Tak ada kata menyerah dalam kamus hidupnya, dengan sisa-sisa kekuatan yang dimilikinya dan kesabaran yang luar biasa ia menunggu ikan itu menyerah, naik ke permukaan sehingga ia dapat membunuhnya.



Kesabaran dan keuletannya harus dibayar dengan tangannya yang terluka dan kram karena harus terus menerus memegang tali pancing dan menahannya dengan punggungnya. Setelah berhari-hari menunggu akhirnya ikan itu menyerah dan menyembul ke permukaan , seketika itu juga ditengah kelelahannya lelaki tua itu berhasil mengait ikan besar itu ke pinggir perahu dan membunuhnya dengan besi tajam. Saking besarnya ikan tangkapannya yang panjangnya melebihi melebihi perahunya, lelaki tua itu membiarkan ikan itu tetap berada di air dengan mengikatkannya di sekitar perahunya sambil berlayar menuju pantai.



Sayangnya eforia keberhasilan si lelaki tua setelah berhasil menangkap ikan marlin besar hanyalah sesaat. Tak lama kemudian ikan itu menjadi incaran hiu-hiu yang terus berdatangan untuk menggerogotinya. Kini si lelaki tua kembali harus berjuang untuk membunuh dan mengusir ikan-ikan hiu itu guna menyelamatkan ikan tangkapannya yang telah ia peroleh dengan susah payah dan belum tentu semua orang yang seusianya dapat melakukannya.

Kisah diatas adalah sebuah novella terkenal karya penulis Amerika, Ernest Hemingway yang diberi judul The Old Man and The Sea. Karya ini telah menjadi salah satu karya klasik yang akan terus dibaca dan dimaknai karena pesan yang hendak disampaikannya adalah pesan yang universal yang tak akan hilang tergerus oleh perubahan zaman. The Old Man an the Sea adalah kisah mengenai persahaban dan pelajaran kehidupan yang dramatik dan inpirasional, kisah lelaki tua yang bersahaja yang mengajarkan kita akan kesabaharan, kekuatan hati, serta semangat yang tak pernah menyerah oleh keadaan.

Nilai persahabatan dalam novella ini terdiskripsi antara tokoh si lelaki tua dan ‘murid’ nya, seorang anak lelaki yang bernama Manolin. Walau kisah antara lelaki tua dan Manolin hanya muncul di awal dan di akhir kisah, namun aroma persahabatan akan terasa begitu lekat antara keduanya. Walau Manolin dilarang oleh kedua orang tuanya untuk berlayar karena reputasi Santiago yang buruk dalam hal menangkap ikan, Manolin tak lantas meniggalkan dan meremehkannya. Ia tetap melayani ‘guru’nya dan menyediakan semua keperluannya sebelum dan setelah si lelaki tua berlayar seorang diri.

Keteguhan dan semangat yang pantang menyerah dalam diri Santiago tergambar dengan jelas dalam novella ini. Sekalipun telah 84 hari berlayar dan tak mendapat seekorpun ikan sehingga dijuluki ‘salao’ yang artinya tersial dari yang sial, Santiago tak menyerah atau putus asa. Ia yakin bahwa masih ada keberuntungan yang akan ia peroleh di hari ke 85. Keyakinannya itu diwujudkan dengan berlayar seorang diri, padahal untuk ukuran lelaki setua dia pergi melaut sendiri tanpa ditemani seseorang yang lebih muda dan kuat adalah hal yang sangat berbahaya.

Sifat-sifat heroisme Santiago dan semangat yang tak pernah menyerah terlihat jelas ketika Hemingway mengisahkan dengan detail bagaimana si lelaki tua harus berjuang seorang diri untuk menaklukkan ikan tangkapannya dan juga usaha luar biasanya ketika ia menghalau hiu-hiu yang hendak menggerogoti ikan tangkapannya.

Kisah Santiago, si lelaki tua ini memang sangat-sangat menarik. Hemingway tampaknya berhasil menggambarkan kisah perjuangan si lelaki tua dengan begitu hidup, detail dan dramatis. Pegalaman Hemingway yang juga gemar memancing di laut dan ketrampilan menulisnya yang terasah saat menjadi jurnalis tampaknya turut memberi andil dalam menghidupkan karyanya ini dengan memberikan gambaran secara detail saat si lelaki tua berjuang untuk menaklukkan tangkapannya.

Karya ini juga muncul di saat yang tepat dimana ketika itu masyarakat dunia khususnya Amerika tengah dilanda pesimisme, kegetiran, putus asa, dan ketakutan sebagai akibat dari Perang Dunia II, karenanya kisah Santiago yang hadir dalam sosok yang optimis dan pantang menyerah terhadap tantangan dan keadaan yang dihadapinya ini menginspirasi pembacanya untuk bangkit dari kegetiran dan keputusasaan.

Hal itulah yang turut membeli andil kesuksesan novella ini yang dalamw aktu singkat segera merebut hati pembacanya. Ketika kisah ini pertama kali muncul dalam majalah Life edisi I September 1952, hanya dalam dua hari saja 5.3 juta ekslempar majalah ini ludes terjual. Pada 8 Setember 1952 novella ini diterbitkan dalam bentuk buku oleh pernerbit Charles Scribner’s Sons. Dan karya ini merupakan karya fiksi terakhir yang dihasilkan Hemingway dan diterbitkan sewaktu ia masih hidup.

The Old Man and The Sea memang merupakan mahakarya dari Hemingway yang paling banyak mendapat apresiasi positif dari pembacanya di berbagai Negara, hal ini terbukti dengan diterjemahkannya karya ini ke dalam berbagai bahasa dunia. Berbagai penghargaan telah diraih novella ini, antara lain sebagai pemenang Pulitzer Prize tahun 1953 untuk kategori fiksi. Pada tahun yang sama karya ini juga memperoleh Award of Merit Medal for Novel dari American Academy of Letters. Dan puncaknya adalah karya ini juga yang mengantar Ernest Hemingway untuk memperoleh perhargaan Nobel Sastra 1954 untuk keahlian luar biasanya pada seni narasi, yang terakhir didemonstrasikan dalam The Old Man and The Sea, dan untuk pengaruh yang telah dihasilkannya atas gaya kontemporer.

Di Indonesia karya ini telah tiga kali diterjemahkan, pertama kali oleh sastrawan senior Sapardi Djoko Damano yang bukunya diterbitkan oleh Pustaka Jaya pada tahun 1973. Pada April 2008 penerbit asal Surabaya Selasar Publishing menerbitkan terjemahan The Old Man and The Sea. Kemudian pada Mei 2009 ini karya ini kembali diterjemahkan dan diterbitkan oleh Penerbit Serambi. Bagaimana mungkin copyright untuk novel yang belum habis masa right-nya ini bisa diterbitkan oleh tiga penerbit yang berbeda ?

Berdasarkan informasi yang saya tanyakan langsung pada Penerbit Serambi, dengan tegas Serambi menyatakan bahwa right untuk terjemahan novella ini saat ini dipegang oleh Serambi karena hak right yang sebelumnya diperoleh Pustaka Jaya telah lama habis dan tidak diperpanjang lagi. Lalu bagaimana dengan Selasar Publishing yang akhir-akhir ini rajin menerbitkan karya-karya Hemingway? Silahkan pembaca menyimpulkannya sendiri.

Lalu bagaimana kualitas terjemahan dari ketiga penerbit di atas? Karena saya baru membaca terjemahan Sapardi DD (Pustaka Jaya) dan Yuni Kristianingsih (Serambi) saya rasa kedua-duanya sama baiknya, hanya saja karena ada perbedaan waktu terjemahan lebih dari 30 tahun, maka terjemahan Yuni tampak lebih segar karena menggunakan frasa-frasa yang umum digunakan saat ini.

Satu hal yang menarik di edisi Serambi adalah tampilan covernya yang menggunakan karikatur yang menarik dan lebih berwarna dibanding dua penerbit terdahulu (Pustaka Jaya dan Selasar). Selain itu di edisi Serambi juga menyajikan beberapa buah foto Hemingway dalam berbagai pose yang menarik, antara lain ketika ia bersalaman dengan pemimpin Cuba yang juga sahabatnya, Fidel Castro, dan pose saat ia bersanding dengan ikan marlin tangkapannya.

@h_tanzil

Read more »

Botchan

Botchan
Natsume Soseki @ 1906
Intan Santi Pratidina (Terj.)
GPU – April 2009
224 Hal.

Cover-nya yang cerah dan unik menjadi salah satu daya tarik kenapa gue memasukkan buku ini ke kantong belanja gue. Alasan lain adalah karena gue mencoba mencari ‘pesona’ yang sama ketika gue membaca buku Toto-chan bertahun-tahun yang lalu. Buku ini ditulis udah lama banget oleh Natsume Soseki, dan ternyata masih tetap enak untuk dibaca ceritanya.

Cerita tentang seorang pemuda yang kerap dipanggil Botchan oleh pengurus rumah tangga keluarganya, seorang perempuan tua bernama Kiyo. Botchan sendiri bisa diartikan sebagai ‘tuan muda’ dan memang, dari awal sampai akhir, kita tidak diberi tahu siapa nama Botchan sesungguhnya.

Dari kecil, Botchan sudah mulai menampakkan ciri-ciri sebagai anak pemberontak, nakal dan iseng. Orang tuanya bahkan tidak pernah memujinya, justru kakak Botchan yang selalu jadi tumpuan harapan mereka. Hanya Kiyo yang tetap memujinya, selalu memberinya hadiah dan tidak pernah mengatakan kalau Botchan itu salah. Apa pun yang dilakukan Botchan, Kiyo selalu melihat sisi positifnya.

Ibu Botchan meninggal dunia ketika Botchan masih kecil. Beberapa tahun kemudian, ayah Botchan pun menyusul. Semua diatur oleh kakak Botchan, sehingga ketika rumah mereka dijual, Botchan diberi bagian untuk memulai hidup baru dan berpisah dengan kakaknya. Botchan sempat bingung, karena tidak mungkin ia tinggal di rumah sewaan bersama Kiyo. Untung Kiyo masih memiliki keponakan yang siap menampungnya. Kiyo masih tetap berharap suatu hari nanti Botchan akan datang menjemputnya dan mengajaknya tinggal bersama.

Selanjutnya, kehidupan Botchan pun berubah. Ia mencoba sekolah di sekolah kejuruan ilmu pasti. Dan ketika ada lowongan menjadi guru di sebuah desa, ia pun menerima. Sebuah kebetulan dan pertanda yang katanya kemudian hari akan jadi sebuah hal yang buruk.

Di sekolah di desa kecil itu, Botchan mengajar matematika. Sebagai guru baru, ia harus memperkenalkan diri kepada setiap guru lama. Sebuah kebiasaan yang menurut Botchan sia-sia. Segera saja Botchan memberi julukan kepada orang-orang baru yang ia temui, ada si Kemeja Merah yang menurutnya bermuka dua, Yoshikawa yang kemayu, Hotta, guru matematika lain dan Koga si Labu.

Namanya guru baru juga tak luput dari keisengan para murid. Ketika Botchan mendapat giliran jaga malam, murid-murid yang tinggal di asrama, memasukkan kecoak di alas tidur Botchan. Tentu saja Botchan marah besar dan menimbulkan keributan di sekolah itu.

Botchan menganggap guru-guru di sana terlalu lembek dalam menghadapi anak-anak, sehingga mereka berani bersikap kurang aja.

Sikap Botchan yang cenderung menentang apa yang sudah lama berlaku sempat menimbulkan masalah. Apalagi ada guru-guru seperti si Kemeja Merah yang pintar bersilat lidah dan bermuka dua, sehingga kalau kita tidak hati-hati, kita tidak tahu apakah maksud dia sebenarnya.

Botchan – gambaran pemuda yang idealis, tapi juga kadang terlalu cepat emosi. Ia berani mengambil keputusan atas apa yang ia yakini benar.
Read more »

Rabu, 27 Mei 2009

Diary of a Wimpy Kid (Diary si Bocah Tengil)

Diary of a Wimpy Kid (Diary si Bocah Tengil)
Jeff Kinney @ 2007
Ferry Halim (Terj.)
Penerbit Atria – 2009
216 Hal.

Cover yang merah ceria, membuat gue tertarik waktu buku ini masih dalam edisi aslinya. Mau beli… uhhh… mahalll.. hehehe… untunglah, sekarang ada terjemahannya… untung juga, cover-nya gak diganti… pengen tau, seperti apa sih isi buku yang katanya dikategorikan sebagai novel-kartun…

Namanya juga diary, jadi isinya adalah peristiwa sehari-hari. Tapi, kata Greg Heffley – si empunya diary ini – jangan harap ada tulisan ‘Dear Diary, hari ini aku…”. Makanya, Greg wanti-wanti pada ibunya agar jangan membelikan buku yang di sampulnya ada tulisan ‘Diary’.

Maklum, sebagai anak cowok (lagi puber), malu dong kalo ketauan bawa-bawa buku yang centil. Dan, tujuan Greg bikin diary, supaya suatu saat dia nanti jadi ngetop, kalau ada pertanyaan tentang siapa dirinya, riwayat hidupnya, si penanya bisa langsung baca diarynya tanpa Greg perlu repot-repot menjawabnya.

Greg punya teman yang dipilih karena paling ‘culun’ bernama Rowley Jefferson. Sebagai anak yang baru gede, Greg pengen cari kegiatan yang tidak terlalu terkesan kekanak-kanakan. Rowley kadang menurut Greg gak ‘nyambung’, tapi, hanya dengan Rowley, Greg jadi merasa lebih ‘hebat’.

Greg selalu berusaha jadi anak yang ‘cool’ dengan melakukan berbagai aktivitas, atau mencari perhatian orang. Tapi, sayangnya, kadang, dia malah jadi ‘sial’.Misalnya, ketika ada lowongan untuk mengisi kolom komik di sekolahnya, Greg yang pinter gambar, mencoba ‘peruntungannya’. Bersama Rowley, Greg mencoba merancang sebuah komik kocak. Biar kesannya Rowley juga punya peranan, Greg membiarkan Rowley untuk berkreasi. Tapi, dasar Greg suka sok tahu, diam-diam dia malah menganggap kreasi Rowley terlalu norak. Sampai akhirnya Greg membuat komik sendiri tanpa sepengetahuan Rowley dan berhasil dimuat satu kali di kolom komik di koran sekolah mereka. Bukannya ngetop, malah Greg jadi ‘musuh’ bersama para murid. Dan tebak… siapa yang malah jadi bintang?? Rowley yang jadi bintang baru dengan komik ciptaannya yang sempat dipandan sebelah mata oleh Greg.

Satu lagi yang kocak, adalah masalah ‘Sentuhan Keju’, yang bisa bikin seseorang jadi dihindari sama satu sekolah. Apa sih ‘Sentuhan Keju’ itu? Yang pasti… menjijikan sekali…

Buku ini lumayan menghibur, kekocakan Greg yang sok tau, sifat polos Rowley tapi diam-diam mencuri perhatian. Belum lagi keluarga Greg yang juga gak kalah ngaconya.

Greg sebenernya anak yang kreatif, punya keinginan untuk jadi pusat perhatian, tapi, sayangnya, keinginannya gak selalu tercapai.
Read more »

Senin, 25 Mei 2009

Opera Orang Kaya

Opera Orang Kaya
Ita Sembiring
GagasMedia – 2009
262 Hal.

Pertama kali ‘kenal’ Ita Sembiring, lewat bukunya Jerit: Suatu ketika di Lho'seumawe, dan gue suka dengan cerita di buku itu, meskipun isinya serius banget dan tragis. Terus, gue baca buku lainnya, ‘Negeri Bayangan: Terorist Free’.. gue gak terlalu suka, karena aneh. Gue baca lagi cerita ‘When a Man Lost a Woman).. ini lumayan. Dan… gue pun tertarik untuk baca Opera Orang Kaya. Kenapa gue tertarik? Karena tema ceritanya yang lebih nge-pop dibanding yang lain, terus, settingnya di luar Indonesia.

Tapi, gue rada kecewa… karena gak seperti yang gue bayangin. Di synopsis, bikin penasaran (ya, iyalah… kalo gak, gak bakal ada yang beli deh… hehehe..). Kenapa begitu? Ceritanya di awal menjanjikan… tapi, semakin ke belakang, koq jadi semakin gak jelas… ngalor-ngidul aja… bingung mana yang katanya mau ‘diselesaikan’?

Jadi ini adalah kisah ketika seorang Gre Kinayan menjadi tour leader untuk sekelompok anak-anak yang sedang ikutan program belajar bahasa Inggris langsung di tempat asalnya, alias di London, Inggris. Ketika itu musim panas, Gre – bersama Christopher Park, si bule yang jadi kecengan ke 26 peserta.

Seru-seruan bareng berkisar anak-anak orang kaya itu yang kadang gak mau cape’, yang males kalo ke museum, lebih suka shopping daripada kembali ke tujuan semula mereka ada di tempat itu.

11 tahun kemudian, mereka sudah ‘tercerai-berai’. Gre tinggal di Belanda, sendirian, belum menikah. Tiba-tiba, muncullah sebuah email dari salah satu peserta yang ‘dianggap’ paling seru, bernama Aninda Lana. Si Aninda ini sekarang tinggal di Belanda juga, menikah sama bule Belanda.

Lalu, terbukalah semua cerita tentang gimana para eks-peserta summer course itu. Ada yang sudah menikah dan punya anak, ada yang sudah bercerai, ada yang masih menjalani ‘hidup bersama’.

Semua itu muncul dalam bentuk email-emailan, chatting dan percakapan via telepon atau langsung antara Aninda dan Gre.

Cerita-cerita di musim panas itu muncul lagi, yang dapat porsi paling banyak adalah cerita tentang peserta yang naksir-naksiran dengan si Christopher Park.

Gre sendiri sih, diam-diam juga naksir si Chris, tapi jaim karena posisinya sebagai tour leader.

Tapi, lama-lama gue baca, gue pusing sendiri, terlalu banyak percakapan becanda yang jadi garing, lalu, terlalu banyak tokoh tapi, gak ada yang ‘dalam’ untuk dikenal. Bahkan Gre pun jadi ‘buram’, gak jelas apa maunya. Agak cape’ juga ngikutin si Aninda yang sok seru itu.

Kaya’nya untuk seorang Ita Sembiring, koq buku ini jadi terkesan biasa banget.
Read more »

Gurun Bercerita Cinta

Gurun Bercerita Cinta
Diyah Ratna @ 2009
GagasMedia – 2009
328 Hal.

Hmmm… apakah another ‘Ayat-Ayat Cinta’? Untunglah ternyata tidak. Kalo iya, gue tentunya gak akan mau beli. Kenapa gue beli? Karena setting-nya yang gak biasa. Biasanya, setting cerita (yang gue baca), rata-rata berkisar di benua Eropa, tapi ini, ceritanya sebagian besar bertempat di Kuwait.

Di negara yang terik itu, Alena Soediro ‘seharus’nya jadi kembang di tengah-tengah para pekerja yang mayoritas laki-laki. Ababil Airways, sebuah perusahaan pesawat non-komersial, Alena ditempatkan sebagai Marketing Strategic Consultant, menyusul keberhasilannya dalam sebuah program pemasaran di sebuah perusahaan penerbangan lainnya.

Tapi, ternyata keberadaan Alena ditentang oleh beberapa pekerja – terutama pekerja lokal – yang tidak terbiasa bekerja di bawah pimpinan seorang perempuan. Bagi para lelaki Timur Tengah, seorang laki-lakilah yang harus jadi pemimpin.

Apalagi, dalam proyek terbaru mereka, yaitu Nimbus Project, Alena diberi tugas sebagai Project Leader. Karuan, Abdullah, salah satu pegawai menolak keras. Karena selama ini, mereka biasanya selalu dipimpin oleh Mario, orang Indonesia juga yang berada di divisi Engineering.

Sebenarnya, Mario tidak ada masalah dengan Alena. Tapi, mungkin karena egonya sebagai laki-laki yang menyebabkan ia bersikap dingin pada Alena. Setiap rapat Nimbus Project, Mario dan Alena selalu berbeda pendapat. Mario selalu ‘ngajak berantem’, sementara Alena bingung dengan sikap Mario.

Dalam sebuah tugas lain, mereka harus pergi bersama ke Al-Damman, ke ‘istana’ seorang Sheikh. Tugas ini kembali diawali dengan pertengkaran. Bener-bener, gak jelas deh, sikap si Mario. Tapi, kerana suatu hal, mereka ‘ditakdirkan’ untuk pergi berdua.

Sialnya, mobil rover yang dikendarai Mario ternyata tidak diperiksa dengan benar oleh petugas yang bertanggung jawab atas mobil tersebut. Mereka pun terjebak dalam badai pasir. Alena bingung. Mario sebagai laki-laki, mulai menunjukkan sikap melindungi. Sesaat, sifat lain, sisi lain Mario yang lebih lembut muncul dan membuat Alena ‘melunak’.

Tapi, sikap itu hanya tampak ketika badai itu. Saat mereka tiba di kediaman Sheikh, sikap Mario kembali dingin dan menyisakan tanda tanya besar dalam benak Alena. Begitu pun ketika kembali ke kantor. Sikap Mario semakin aneh. Hal ini juga menjadi pertanyaan di antara teman-teman mereka, apa yang sebenarnya terjadi ketika mereka terjebak dalam badai pasir itu.

Cinta yang dipendam membuat Alena kecewa dan sakit, hingga ia memutuskan untuk kembali ke Indonesia dan menerima pekerjaan di tempat lain. Alena pergi, Mario jadi makin kacau.

Hah... makanya kalo cinta jangan dipendam, jangan gengsi deh… hihihi…

Tapi, ada yang kurang sreg nih setelah gue baca, hmmm… di situ diceritain kalo Alena mengalami kecelakaan pesawat, tapi… gimana akhirnya Alena bisa selamat agak kurang jelas deh. Tau-tau, Alena muncul aja dengan identitas barunya.

Read more »

Jumat, 22 Mei 2009

Metropolis

Judul : Metropolis
Penulis : Windry Ramadhina
Penerbit : Grasindo
Cetakan : 2009
Tebal : 330 hlm

Narkotika, mafia, konspirasi, dan dendam, itulah tema sentral dalam novel Metropolis karya Windry Ramadhina, penulis muda yang novel perdananya “Orange” masuk dalam longlist Khatulistiwa Literray Award 2008 untuk kategori Penulis Muda Berbakat. Berbeda dengan novel Orange yang bergenre metropop, Metropolis merupakan novel thriller detektif yang menarik untuk disimak karena genre ini masih termasuk jarang digarap oleh penulis-penulis kita.

Dalam Metropolis dikisahkan bagaimana Augusta Bram, salah seorang anggota Satuan Reserse Narkotika Polda Metro Jaya mengungkap sebuah pembunuhan berantai yang menimpa para pemimpin sindikat mafia narkotika Indonesia. Selain karena tugas, Bram juga terobsesi untuk mengangai kasus ini karena ia menyimpan dendam pribadi karena keluarganya pernah berusan dengan masalah ini. Ayahnya yang pecandu narkoba tewas dibunuh oleh para pengedar narkoba karena tak sanggup membayar hutang-hutangnya.

Kisah dalam novel ini diawali dengan adegan pemakaman Leo Saada, salah seorang pemimpin mafia dari sindikat 12 yang menguasai bisnis narkotika terbesar dan merupakan momok bagi polisi-polisi Sat Reserese Narkotika karena selama lima tahun ini polisi tak memiliki cukup bukti untuk menyeret seluruh anggota sindikat 12 ke terali besi. Polisi berasumsi bahwa kematian Leo Saada karena kecelakaan mobil, bukanlah murni kecelakaan karena tim forensik berhasil menemukan beberapa peluru di lokasi kejadian.

Polisi juga menduga ada motif persaingan antar geng dalam kematian Leo Saada karena dalam satu tahun kebelakang sebelum peristiwa ini ada 6 orang pemimpin geng yang tergabung dalam sindikat 12 tewas dalam berbagai cara. Untuk itu Bram dan asistennya Eric, berusaha untuk membongkar dan menangkap siapa pelaku pembunuhan berantai itu.

Ternyata tak hanya Bram yang tertarik dalam kasus ini, Miaa, seorang wanita mantan polisi secara diam-diam mengamati kasus ini. Berkat kejelian Bram, keberadaan Miaa disetiap lokasi peristiwa pembunuhan pimpin sindikat 12 diketahui. Awalnya Bram menaruh curiga kalau Miia terlibat dalam kasus ini, namun akhirnya terkuak apa motifasi Miaa yang sesungguhnya.

Tak mudah mengungkap siapa pelaku dan apa motif dibalik peristiwa pembunuhan berantai ini. Ketika Bram harus memutar otak untuk memecahkan teka-teki kasus ini dengan sedikit bukti yang dia miliki, pembunuhan demi pembunuhan itu terus terjadi. Walau semua pemimpin geng telah meningkatkan kewaspadaannya dan Bram telah memperingatkan mereka, namun pembunuhan terus terjadi. Bram harus bergerak cepat menangkap pelakunya sebelum semua pemimpin sindikat 12 tewas.

Walau novel ini merupakan novel thriller detektif, namun pada pertengahan paruh pertama novel ini siapa pelaku dan apa motif pembunuhan berantai terhadap pemimpin sindikat 12 telah terang benderang diungkapkan oleh penulisnya. Tampaknya penulis sengaja membeberkan motif dan jati diri si pelaku, alih-alih menyimpan rapat siapa pelaku dan motif pembunuhan berantai dengan sasaran para pemimpin sindikat, penulis tampaknya lebih memilih menyajikan teka-teki dan berbagai kejutan dengan munculnya tokoh –tokoh yang memiliki keterkaitan dengan kasus ini. Dengan demikian walau pembaca sudah mengetahui apa motif dan siapa pelakunya, keasyikan pembaca untuk menuntaskan novel ini tak akan terganggu karena meraka tak akan bisa menduga akan kejutan-kejutan yang diberikan penulis hingga lembar-lembar terakhir novel ini.

Walau secara umum novel ini menarik untuk dibaca, namun ada beberapa hal yang tampaknya perlu diekplorasi lagi agar semakin menarik, antara lain kurangnya pendalaman karakter tokoh-tokohnya. Contohnya untuk tokoh utamanya Bram. Masa lalu Bram yang kelam bersama ayahnya hanya dibahas secara singkat saja sehingga tak tereksplorasi dengan baik, padahal jika digali lebih dalam lagi maka novel ini akan semakin menarik. Bukankah di bawah judul novel ini tercantum kalimat “ Demi ayahku yang sudah mati…”. Namun mungkin soal kedalaman karakter dalam novel ini adalah pilihan penulis yang lebih mengutamakan plot cerita dan unsur teka-teki dibanding mengupas habis karakter2-karakter tokoh-tokohnya secara lebih mendalam, dan hal ini sah-sah saja.

Dalam hal mengungkap hubungan antara atasan dan bawahan dalam struktur kepolisian saya rasa, penulis telah terjebak dalam pandangan umum yang diciptakan oleh film-film detektif dimana atasan tak mendukung bawahannya sehingga terjadi clash dan diminta mundur dari kasus yang ditanganinya, dll. Tentunya tak harus seperti itu, ada banyak hal yang mungkin bisa digali untuk soal hubungan antara atasan dan bawahan, jadi untuk membuat sebuah kisah lebih tentu tak selalu harus mengikuti ‘pakem’ film-film detektif pada umumnya.

Kemudian dalam hal seluk beluk dunia mafia narkotika Indonesia, saya rasa kalau saja penulis lebih berani mengupasnya tentu akan lebih menarik. Dalam novel ini intrik-intrik dan cara kerja sindikat 12 hanya terungkap secara garis besar dan apa yang diungkap oleh penulisnya tampak sudah menjadi rahasia umum yang diketahui oleh banyak orang . Selain itu dampak sosial terhadap perilaku para mafia narkotika dalam novel ini juga tak terungkap dengan jelas. Andai saja penulis lebih berani mengungkap sisi-sisi gelap dunia mafia tanah air yang belum banyak diketahui orang dan menyertakan dampak-dampak sosial yang mungkin dirasakan akibat perilaku mereka tentunya novel ini akan jadi novel yang menggegerkan, monumental. Tentunya untuk mengungkap itu semua perlu riset yang lebih dalam lagi dan keberanian untuk mempublikasikannya.

Namun terlepas dari semua hal di atas, apa yang disajikan oleh penulis dalam Metropolis tetaplah menarik dan menghibur. Walau karakter-karakter tokohnya tak diulas secara mendalam namun tetaplah menarik karena penulis tak menghadirkan tokoh-tokoh yang sempurna termasuk tokoh protagonis dalam novel ini. Semua serba abu-abu, ada unsur baik ada pula unsur jahatnya, demikian pula untuk tokoh-tokoh jahat dalam novel ini sehingga semua tokoh terlihat sangat manusiawi.

Selain itu novel ini juga menghadirkan narasinya yang enak dibaca, plot yang cepat, deskripsi yang filmis, dan kejutan-kejutan di sepanjang novel yang akan memacu rasa kepenasaran pembacanya untuk terus membaca novel ini hingga tuntas. Tema persaingan bisnis ilegal narkotika, konspirasi, kisah cinta, dan balas dendam antar geng tentu akan mengingatkan kita pada novel Godfather – Mario Puzo. Jadi mungkin bisa dikatakan inilah Godfather rasa lokal walau rasanya tak pada tempatnya membandingkan Metropolis dengan Godfather.

Walau ending novel ini bisa dikatakan tuntas dan tak menggantung, namun masih ada celah yang bisa dijadikan bahan untuk membuat sekuel dari novel ini. Jika memang itu pilihan penulisnya untuk melanjutkan cerita ini, dan Windry terus konsisten untuk menulis dalam genre ini, bukan tak mungkin ia akan jadi penulis handal dalam genre thriller detektif yang hingga kini masih sedikit digarap oleh penulis-penulis kita.


@h_tanzil
Read more »

Minggu, 17 Mei 2009

Sastra Sepeda di Boja

Judul : Sastra Sepeda di Boja - Kumpulan Catatan Perjalanan
Penulis : Arif Khusnudhon, dkk
Kata Pengantar Sigit Susanto
Penerbit : lerengmedini press
Cetakan : I, April 2008
Tebal : 112 halaman

Membaca judul buku ini “Sastra Sepeda di Boja” tentu menimbulkan pertanyaan apa itu “Sastra Sepeda?” , lalu di mana pula kota Boja berada ? Sastra Sepeda adalah nama sebuah kegiatan dimana para pesertanya diajak bersepeda ke beberapa tempat dan menuliskan pengalaman mereka dalam sebuah catatan perjalanan. Seperti yang kita ketahui ‘Catatan Perjalanan/Travel Writing’, atau Sastra Pelancongan adalah salah satu genre dalam dunia sastra. Beberapa sastrawan dunia seperti VS. Naipul, DH. Lawrence, Charles Dickens, Ernest Hemingway, dll pernah menulis catatan perjalanan, karenanya tak berlebihan jika kegiatan bersepeda yang salah satu tujuannya untuk menuliskan pengalaman bersepeda dari tiap pesertanya ini diberi nama “Sastra Sepeda”.

Lalu dimana Boja?. Boja adalah nama desa di Kecamatan Boja, Kendal, Jawa Tengah. Desa seluas 1.024 ha yang berpenduduk sekitar 6000 jiwa ini berjarak sekitar 27 km dari Kota Semarang. Di perpustakaan desa yang bernama Pondok Maos Guyub yang berdiri sejak 2007 dan telah memiliki koleksi sekitar 1550 buku (700 komik, 350 novel berbahasa asing, 500 buku berbahasa Indonesia, terutama buku sastra dan kebudayaan) inilah kegiatan Sastra Sepeda dilaksanakan.

Pengagas Sastra Sepeda adalah Sigit Susanto, putra daerah asli Boja, pendiri Perpustakaan Pondok Maos Guyub dan penulis buku “Menyusuri Lorong-lorong Dunia jilid 1-2 yang kini bermukim bersama istrinya di Swiss. Sigit bersama pengelola perpustakaan dan milis Apresiasi Sastra bekerja sama untuk mewujudkan kegiatan Sastra Sepeda ini yang dilaksanakan pada tanggal 3- 10 Mei 2008 yang lalu. Pesertanya sebagian besar terdiri dari anak-anak / remaja Boja dan diikuti beberapa peserta tamu yang berasal dari Jakarta, Bandung, Semarang, Bali, Kalimantan, bahkan diikuti pula oleh Shiho Sawae, mahasiswi S3 Tokyo University of Foreign Studies Jepang yang tengah melakukan riset untuk disertasinya mengenai gaya kegiatan sastra di Indonesia terkini.

Sesuai dengan salah satu tujuan Sastra Sepeda dimana peserta didorong mengenal lingkungannya dan menuliskan pengalamannya masing-masing untuk mendorong kemajuan dunia baca-tulis di Boja dan sekitarnya, maka semua obyek-obyek yang dikunjungi adalah tempat yang berorientasi sosial seperti pabrik tempe, pabrik genting, puskesmas, rumah sakit jiwa, gereja, pesantren, makam Sunan Bromo, makam pahlawan, pasar hewan, dll, yang jika dijumlah ada 20 obyek yang dikunjungi oleh para peserta selama tujuh hari berturut-turut. Dari kegiatan inilah akhirnya terhimpunlah 15 tulisan dan dibukukan dalam sebuah buku sederhana dengan judul ‘Kumpulan Catatan Perjalanan Sastra Sepeda di Boja’ yang diterbitkan oleh penerbit lokal asal Boja, lerengmedini press.

Kelima belas cataran perjalanan pada buku ini dibagi menjadi dua bagian, bagian pertama berisi 4 tulisan peserta lokal yang masih duduk di bangku SMP, sedangkan bagian kedua berisi 10 catatan penulis tamu dengan aneka profesi seperti penyair, mahasiswa, cerpenis, mantan TKW, pensiunan guru, dll. Semuanya menulis catatan perjalanan mereka dengan gaya dan sudut pandangnya masing-masing.

Yang menarik tentu saja tulisan anak-anak SMP, mereka mencatat hasil pengamatan obyek-obyek yang dikunjunginya dengan tulisan tangan. Bahkan untuk melengkapi catatan mereka, tak jarang tulisan-tulisan itu diberi gambar-gambar berupa sketsa dari apa yang mereka lihat. Semua tulisan tangan dan gambar tersebut terekam secara apa adanya dalam buku ini karena dengan cerdas penerbit menampilkan tulisan mereka dengan cara men-scan langsung dari apa yang mereka tulis. Jadi jika tulisannya agak sukar dibaca ya itu karena tulisan aslinya yang memang agak sukar dibaca. Tapi disinilah letak keasyikan membaca bagian ini karena pembaca akan dibawa memasuki nuansa anak SMP asal Boja dari apa yang mereka tulis dan gambar sesuai dengan aslinya.

Dibagian kedua, yang merupakan catatan perjalanan para peserta tamu , barulah tersaji seperti naskah-naskah buku pada umumnya. Dari ke sepuluh catatan ini kita akan melihat bagaimana para peserta tamu dari berbagai profesi menulis catatan perjalanan mereka dengan sudut pandang dan gayanya masing-masing.

Semua menulis pengalamannya bersepedanya dengan menarik, termasuk penak-pernik perjalanan seperti bangun kesiangan sehingga harus berangkat sendiri menuju Boja, ada yang terjatuh dari sepeda, anak kecil yang merengek ingin menonton pementasan kuda lumping hingga usai, suasana dalam rumah sakit jiwa, dan pernak-pernik lain yang mereka temui dalam kegiatan ini. Yang pasti munculnya tulisan para peserta tamu dari berbagai daerah juga menambah ragamnya sudut pandang akan Boja dan sekitarnya, sehingga Boja tidak hanya dipotret oleh orang setempat, tapi juga oleh orang luar yang biasanya akan lebih obyektif dalam menggambarkan keberadaan suatu tempat.

Tampaknya tak ada batasan harus seperti apa dan apa saja yang perlu dituliskan. Semua peserta hanya diminta untuk menulis apa yang mereka lihat dan amati, karenanya tulisan-tulisan dalam buku ini sangat beraham. Ada yang panjang dan mendetail, ada pula yang singkat. Jika ingin mengetahui kegiatan ini secara rinci mungkin bisa membaca tulisan Sigit Susanto dan Adi Toha yang merekam kegiatan ini dari obyek ke obyek dari hari pertama hingga ke enam lengkap dengan deskripsi yang mengajak pembacanya ikut merasakan apa yang dialami oleh peserta Sastra Sepeda ini.

Selain itu ada pula yang tulisannya lebih menekankan pada munculnya kenangan masa kecil, alih-alih merinci pengalaman bersepeda, Maria Bo Niok, pengelola rumah baca “Istana Rumbia” di Wonosobo malah menulis bagaimana girangnya ketika ia menemukan buku Ko Ping ho di perpustakaan Pondok Maos Guyub. Atau bagaimana Stevi Sundah menuliskan pengalamanannya dengan kalimat-kalimat puitis plus dengan beberapa puisi yang ia goreskan untuk melengkapi tulisannya.

Sebagai pelangkap, buku ini menyajikan pula beberapa foto kegiatan ‘Sastra Sepeda’ , semua fotonya tersaji dengan tajam di bagian akhir buku ini sehingga membuat pembacanya dapat lebih merasakan bagaimana seru dan menariknya kegiatan Sastra Sepeda di Boja.

Ide untuk membukukan kegiatan Sastra Sepeda ini sangatlah mulia. Mungkin awalnya para peserta sastra sepeda tak mengira jika tulisan-tulisan mereka akan terkumpul dalam sebuah buku yang dan diterbitkan oleh penerbit lokal. Dengan demikian apa yang telah mereka tulis menjadi abadi, dan bisa dibaca dan menjadi inspirasi bagi pembaca buku ini. Tentunya kita bisa membayangkan bagaimana senangnya anak-anak SMP yang tulisan tangannya dimuat di buku ini, yang pasti mereka akan terharu dan merasa bangga membaca tulisannya sampai dibukukan. Semoga kebanggaan ini kelak akan berbuahkan semangat bagi mereka untuk terus menulis dan berkarya. Dan seperti yang menjadi harapan M. Ali Muakhor, seorang peserta tamu Sastra Sepeda, “Semoga dalam 5 atau 10 tahun kedepan akan lahir penulis-penulis baru yang berasal dari Boja” (hal 78)

Buku ini selain dapat mendokumentasikan kegiatan Sastra Sepeda dan menyulut semangat literasi di Boja, tentunya buku ini juga akan mengispirasi pembacanya bahwa sebuah catatan perjalanan tidak harus ditulis dari pengalaman mengunjungi tempat-tempat yang jauh, obyek-obyek wisata terkenal di dalam dan luar negeri. Jika kita membuka mata kita, maka ada tempat-tempat di sekitar kita yang sering kita lewati dan tampaknya biasa-biasa saja namun memiliki muatan sosial dan budaya yang unik yang ternyata bisa ditulis untuk menjadi sebuah catatan perjalanan yang menarik untuk diketahui oleh semua orang.

@h_tanzil
Read more »

Jumat, 15 Mei 2009

Goloso Geloso

Goloso Geloso
Tanti Susilawati @ 2009
GagasMedia – 2009
316 Hal.

Larasati, seorang gadis dari Indonesia, mendapatkan beasiswa pendidikan musik di Italia. Italia – kota mode, kota yang romantis, juga tempatnya para penggila bola. Beruntung Larasati juga adalah seorang penggila bola, terutama klub Inter Milan.

Sebelum ke Milan, Larasati tinggal di Perugia bersama keluarga Italia yang juga punya anak gadis bernama Renata. Tapi, jangan harap bisa bicara tentang sepak bola dekat Renata, kalau tidak mau mendengar teriakannya yang membahana dan langsung diikuti dengan kemarahan yang hebat. Kenapa? Sesuatu membuat Renata trauma dengan hal-hal yang berbau sepak bola.

Di Milan, Larasati berkenalan dengan sepupu Renata, bernama Chico. Ia ditugaskan Renata untuk menjemput Larasati di bandara. Ternyata, mereka sama-sama tertarik satu sama lain dan akhirnya memutuskan untuk menjadi sepasang kekasih.

Tapi, ada ‘ganjalan’ di antara mereka. Keluarga besar Chico adalah fans berat klub bola AC Milan. Mereka menganggap Inter Milan sebagai musuh besar mereka. Larasati akhirnya harus berpura-pura kalau ia juga penggemar fanatik AC Milan.

Masalah lain muncul ketika Larasati semakin sibuk dengan orkestranya. Ia mendapat kesempatan untuk membuat album solo sebagai pemain biola. Kesibukan membuat mereka jarang bertemu. Apalagi secara tidak sengaja, salah satu pentolan klub Inter Milan ternyata ‘tertarik’ pada Larasati. Fransesco Paganini (hmmm.. semoga gak salah nulis), mengajak Larasati untuk bergabung dalam sebuah yayasan yang ia bentuk. Chico cemburu berat.

Masing-masing mementingkan egonya sendiri dan tidak ada yang mau mengalah, dan akhirnya mereka memutuskan untuk berpisah.

Hmmm.. mampukah romantisme Italia menyatukan mereka kembali? Yang pasti di buku ini, kita bisa membayangkan indahnya kota Milan, karena ada foto-fotonya, meskipun hitam putih tapi mencuri perhatian. Ditambah lagi, berbagai menu Italiano bertebaran di buku ini (bukan resepnya sih – tapi, silahkan bayangkan betapa yummy-nya masakan-masakan itu).

Tema cerita mungkin gak terlalu istimewa, tapi pilihan lokasi dan pernak-perniknya yang bikin jadi menarik.

Read more »

Rabu, 13 Mei 2009

9 Matahari

9 Matahari
Adenita @ 2008
Grasindo – 2008
359 Hal.

Sederetan nama-nama terkenal dan ‘penting’ mewarnai bagian endorsement buku ini. Menjanjikan bahwa buku ini adalah buku yang layak dibaca. Tapi, bukan karena itu (saja) yang bikin gue tertarik untuk membacanya, tapi lebih karena judulnya. Gue merasa dari judulnya koq sepertinya mengandung sesuatu yang ‘magis’, yang memberi semangat. Gimana gak… matahari-nya ada 9 gitu, lho…

9 Matahari bercerita tentang perjuangan seorang gadis bernama Matari Anas. Ia berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja, kalau gak boleh dibilang kekurangan. Ayahnya tak punya pekerjaan jelas, karena krisis moneter membuatnya tak lagi semangat untuk mencari pekerjaan. Ibunya seorang ibu rumah tangga. Kakaknya, Hera, meskipun lulus dengan predikat cum laude, tapi pasrah ketika tak ada perusahaan yang merespons lamaran pekerjaannya.

Tapi, Tari punya semangat lain. Meskipun tertunda hampir 3 tahun, keinginannya untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi tidak pupus. Meskipun ia tahu keluarganya tidak mampu untuk membiayainya, tapi ia tetap tak patah arang. Ia terus membujuk kakaknya dan berusaha mencari pinjaman untuk menutupi biaya kuliahnya.

Perjuangan Tari betul-betul panjang, sulit dan penuh hambatan. Kuliah di Bandung, jauh dari orang tua. Ia betul-betul harus berjuang sendiri menghadapi hari-hari penuh tekanan, terutama dalam soal keuangan. Perhitungan yang cermat dilakukan demi menghemat biaya hidup. Mencari pekerjaan sampingan juga dilakukan untuk mencicil hutang. Tak sediki teman yang mau membantunya, tapi tetap saja, namanya juga hutang, pasti akan ditagih terus.

Belum lagi ternyata, bapaknya yang sudah keburu pesimis, malah nyaris menjatuhkan semangat Tari. Tekanan demi tekanan, ternyata berpengaruh juga pada kondisi kejiwaan Tari. Sampai akhirnya, Tari terpaksa cuti kuliah.

Beruntung masih banyak orang-orang yang peduli pada Tari, karena tahu Tari punya semangat dan cita-cita. Beruntung juga, Tari punya kemampuan lain yang membuka banyak kesempatan untuk menunjukkan siapa dirinya sebenarnya.

Mmmm… novel ini sebenarnya adalah novel yang memberikan ‘pencerahan’. Kaya’nya nih… ini pengalaman hidupnya Adenita sendiri. Karena semuanya begitu detail dan teratur. Mulai dari awal kuliah sampai akhirnya lulus kuliah. Kalau ngeliat riwayat hidup Adenita di halaman belakang buku ini, mudah bagi kita untuk menghubungkan semua tempat-tempat yang tersamar dalam buku ini dengan apa yang Adenita sendiri alami.

Mungkin karena ‘percakapan’ yang minim, lalu alur yang lambat dan seolah tanpa kejutan, kita emang betul-betul seperti baca memoar seseorang. Ada kalanya jadi bosan, karena terlalu berpanjang-panjang penjelasannya. Tapi, buat gue, siapa pun tokohnya, entah nyata atau nggak, gue salut dengan perjuangannya yang ‘berdarah-darah’. Gue dapet sesuatu dari buku ini…
Read more »

Senin, 11 Mei 2009

Negeri van Oranje

Negeri van Oranje
Wahyungirat, Adept Widiarsa, Nina Riyadi & Rizki Pandu Permana @ 2008
Bentang – Cet. I, April 2008
478 Hal.

Satu lagi buku yang bikin gue iri, bikin gue menyesal terlalu banyak ‘bermain-main’ pas kuliah. Bikin gue kembali bermimpi untuk bisa menjejakkan kaki di luar sana – di tempat lain. Hehehe.. mimpi boleh kan… biar makin semangat (atau makin asyik bermimpi).

Buku yang ditulis ‘keroyokan’ ini bercerita tentang 5 anak Indonesia yang ‘terdampar’ di Belanda demi mengejar gelar master. Mereka berkenalan di Amersfort, di stasiun kereta api yang jadwal keberangkatannya tertunda gara-gara badai – lebih khususnya lagi gara-gara rokok. Biasa deh, di tempat dingin, apalagi yang dibutuhkan seorang cowok untuk mendapatkan kehangatan. Di tengah-tengah sekelompok orang berambut pirang – terselip 5 orang berambut gelap yang saling bertegur sapa, saling menawarkan rokok kretek dan korek api – o ya, lebih tepatnya 4 orang cowok yang saling ber’transaksi’ rokok dan satu perempuan yang ikut bergabung mencari teman setanah air.

Dari sana lahirnya nama Aagaban – yang terdiri dari Lintang – kuliah di Leiden, Daus – si anak Betawi Asli, PNS dari Departemen Agama yang dapet beasiswa untuk kuliah di Utrecht, ada Wicak – pekerja di sebuah LSM yang sekarang kuliah di Wageningen, lalu, Banjar – si manager marketing perusahaan rokok terkemuka di Indonesia, sekarang berjuang di Rotterdam, dan terakhir, cowok yang paling ganteng (di antara mereka), Geri, anak orang kaya yang udah lama bermukim di Belanda, dan kuliah di Den Haag.

Kebersamaan mereka menghadirkan berbagai petualangan – bukan hanya menjelajah kota-kota di Belanda, tapi juga petualangan batin yang membuat mereka terus mempertanyakan idealisme mereka, apa tujuan mereka setelah mereka lulus – apa mereka akan pulang ke Indonesia, tapi gak berkembang, atau terus berkarya demi bangsa tapi dari kejauhan.

Di sela-sela tugas mereka, pontang-panting menyelesaikan thesis, terselip ‘kisah perjuangan’ merebut hati Lintang, satu-satunya ‘kembang’, kisah yang sempat membuat mereka terlibat perang dingin. Keuangan yang pas-pasan membuat mereka juga harus mengatur strategi agar uang beasiswa mereka cukup untuk hidup mereka. Demi mendapatkan tambahan, mereka harus rela mengorbankan waktu mereka untuk kerja paruh waktu. Seperti Banjar kerja di sebuah restoran Indonesia atau Lintang yang nyambi jadi guru tari.

Gak setiap hari mereka ketemu, tapi yang pasti hari-hari mereka nyaris selalu diisi dengan chatting via YM atau kirim-kiriman email garing di milis Aagaban. Dan mumpung di negeri orang, kadang-kadang mereka juga punya ‘obsesi’ untuk melakukan sesuatu yang belum tentu bisa mereka lakukan di Indonesia, misalnya nih, minum bir, nyoba ‘cimeng’ – atau kaya’ Lintang, pacaran sama orang bule. Tapi, sialnya (atau untungnya) Daus, berkat doa, aji-ajian sapu jagat sang Engkong, dia selalu terhindar dari perbuatan maksiat. Hahaha…

Kurang tidur, ke kampus naik sepeda, menunggu kiriman rokok kretek plus jalan-jalan yang menyenangkan, adalah ritual yang mereka jalani selama di Belanda. Meskipun banyak teman lain, tapi tetap mereka selalu mencari anak-anak Aagaban kalau lagi ada masalah. Tapi, nih… ketika salah seorang dari mereka punya rahasia besar, bisa gak ya mereka menerima hal itu?

Bagusnya buku ini juga dilengkapi sama berbagai tips seputar kehidupan di Belanda (tentunya tips yang membuat pundi-pundi uang gak jebol), misalnya tips seputar sarana transportasi, lalu nyari tempat tinggal yang hemat, ada juga daftar hari-hari perayaan di Belanda yang menarik, terus, tips backpacking dan lain-lain.
Read more »

Kamis, 07 Mei 2009

Orange

Orange
Windry Ramadhina @ 2008
GagasMedia – 2008
296 Hal.

Faye Muid, gadis tomboy, seorang fotografer. Bercita-cita bikin pameran foto sendiri. Foto-foto Faye unik (katanya), punya sentuhan pribadi.

Diyan Adnan, pengusaha muda, pemilik sejumlah mall. Konon, dia beli mall sambil makan siang, atau lagi main golf.

Secara ‘kebetulan’, kedua orang tua mereka berteman baik. Orang tua Faye pemilik beberapa franchise ternama, sedangkan orang tua Adnan memiliki sejumlah pertokoan dan bisnis besar lainnya. Atas nama bisnis, para orang tua sepakat untuk menjodohkan Faye dan Diyan.

Semua segera diatur, kencan pertama, konferensi pers yang berisi sejumlah pertanyaan dan jawaban yang harus mereka berdua berikan. Faye dan Diyan tentu kaget, tapi mereka menerima perjodohan ini tanpa banyak perlawanan.

Faye berusaha keras menyukai Diyan. Sementara Diyan masih berkutat dengan masa lalunya. Ia pernah sakit hati karena ditinggal kekasinya, Rera, yang mengejar impian untuk jadi model terkenal. Meskipun, Rera ada di Paris, tapi, Diyan belum bisa melupakannya. Ia (dan juga Rera), ternyata masih berharap masih ada secuil kesempatan untuk mereka berdua.
Rera kembali ke Jakarta dalam rangka promosi produk kosmetik yang memakainya sebagai model iklan. Pada saat yang sama, Diyan dan Faye bertunangan. Meskipun berita pertunangan mereka berdua sudah sampai ke teling Rera, tapi, Rera tetap nekat menghubungi Diyan.

Selama Rera di Jakarta, Diyan diam-diam menemuinya. Faye sesungguhnya kecewa. Tapi, ia tidak bisa berharap banyak karena ia tahu Diyan tidak mencintainya.

Lalu, ada Zaki, yang ternyata adik Diyan. Tapi, Zaki ini tipe pemberontak, yang gak mau ngikutin jejak orang tuanya sebagai pengusaha. Dia memilih jalur bisnisnya sendiri. Zaki punya biro iklan bersama teman-temannya. Dan, kebetulan ia memakai jasa Faye sebagai fotografer. Zaki sama sekali gak menyangka kalau Faye akan bertunangan dengan kakaknya, karena dia tahu, Faye bukanlah tipe cewek idaman Diyan. Diam-diam, Zaki juga menaruh hati pada Faye.

Bertunangan dengan pengusaha terkenal, membuat hubungan mereka sarat dengan gosip. Faye harus belajar diam ketika ia dikejar-kejar wartawan. Dan harus belajar juga menerima tunangannya yang masih menyimpan hati pada mantan kekasihnya.

Tapi, lagi-lagi ini adalah tentang sebuah pilihan. Karena cinta toh gak bisa dipaksain, apalagi atas nama bisnis. Ternyata membuat pilihan itu, meskipun awalnya ada rasa terpaksa, tetap sulit - tetap sulit melepaskan apa yang udah ada dalam genggaman kita (wise mode: on)

Buku ini bikin gue ‘termehek-mehek’. Hahahaha… mungkin karena gue lagi PMS, makanya sifat melow dan cengeng gue jadi keluar (tapi… tenang… gak ada yang namanya banjir air mata). Gue suka sama cara mbak Windry menulis. Sebagai pembaca, gue ngerasa ‘dituntun’ pelan-pelan, setiap gue penasaran, pelan-pelan ketemu jawabannya. Berbeda genre sama novel keduanya yang sarat ketegangan dan butuh konsentrasi tinggi, buku ‘Orange’ ini bikin segar. Dan, seperti biasa ditulis dengan 'persiapan' yang lengkap - liat aja di blog-nya.

O ya, tadinya gue pikir, Rei - sepupunya Diyan yang juga asistennya - bakal jatuh cinta sama Diyan dan bikin Faye jadi mundur (hehehe, mungkin adegan ini hanya ada dalam sinetron) - eh.. tapi gak mungkin juga kan... mereka kan sepupuan... atau... Rei jadi jutek karena Faye bikin Diyan 'mangkir' dari meeting-meeting penting (lagi-lagi sinetron mode: on)
Read more »