Kamis, 04 Februari 2010

Ghostgirl

Ghostgirl
Tonya Hurley @ 2008
Berlian M. Nugrahani (Terj.)
Penerbit Atria, Cet. IV - Januari 2010
402 Hal.


Memasuki tahun ajaran baru, Charlotte Usher datang dengan semangat tinggi dan rasa percaya diri yang baru. Ia sudah mempersiapkan berbagai rencana untuk menjadi seseorang yang lebih diperhatikan, terutama untuk memikat Damen, cowok pujaannya di Hawthorne High. Sebagai seorang cewek yang amat sangat biasa, mimpi jadi cewek populer memang terasa jauh. Charlotte malah lebih seperti seorang ‘pecundang’. Charlotte seperti ‘hantu’, dicuekin, diacuhkan, bahkan dianggap tidak ada. Apalagi oleh seorang cewek paling populer di sekolah bernama Petula, plus dua anggota gank-nya yang bernama The Wendys. Charlotte pengen banget jadi salah satu di antara mereka, dan demi mencapai tujuan akhirnya – yaitu agar bisa dekat dengan Damen yang ternyata adalah pacar Petula. Charlotte nekad daftar jadi anggota pemandu sorak, meskipun harus dihujani dengan cibiran dan ejekan.

Keberuntungan berpihak pada Charlotte, ketika di kelas fisika, setiap murid diharuskan berpasang-pasangan. Damen yang datang terlambat, terpaksa harus berpasangan dengan Charlotte yang tentu saja dengan suka cita menerimanya. Tapi, ternyata, kesenangan Charlotte hanya sesaat. Charlotte yang gemar makan permen kenyal, meninggal dunia gara-gara permen kesukaannya itu. Gara-gara terlalu heboh, Charlotte jadi tersedak.

Merasa masih punya urusan yang belum terselesaikan di Alam Kehidupan, Charlotte pun tidak bisa menerima bahwa dia sekarang berada di Alam Kematian – bersama-sama dengan Anak-anak Alam Kematian lainnya. Charlotte adalah ‘penumpang’ terakhir, dan setelah itu ‘rombongan’ Anak-anak Alam Kematian siap untuk ‘pindah’ ke Alam Keabadian. Gak hanya di Alam Kehidupan, di Alam Kematian pun, Charlotte masih harus bersekolah, belajar Pendidikan Kematian, bahkan ada Deadtiquette dan harus rajin mengisi DIEary.

Tapi, Charlotte masih punya ‘agenda’, Charlotte masih ingin jadi bagian dari gank populer dan dekat dengan Damen. Untuk itu, Charlotte memanfaatkan tubuh Scarlet, adik Petula yang kebetulan bisa melihat wujud Charlotte yang sekarang. Charlotte dan Scarlet bertukar tempat. Dengan menggunakan tubuh Scarlet, Charlotte bisa bebas berdekatan dengan Damen. Di luar kemauan Charlotte, rencana itu tidaklah mulus. Adakalanya Scarlet tidak rela Charlotte dengan seenaknya bertindak di luar kepribadian Scarlet yang sebenarnya.

Di Alam Kehidupan, rencana kerap berantakan. Di Alam Kematian, Charlotte juga harus berurusan dengan Prue, hantu yang galak dan selalu jutek dengan kehadiran Charlotte. Tempat para hantu bergentayangan adalah sebuah rumah bernama Hawthorne Manor. Para hantu yang kebanyakan meninggal saat remaja itu, harus berjuang keras agar rumah itu tidak dijual dan dihancurkan. Prue dan hantu lainnya marah karena sikap Charlotte yang cuek dan masih terus berurusan dengan para manusia.

Sementara Charlotte berjuang demi menuntaskan urusannya di Alam Kehidupan (hehehe.. biar gak jadi arwah penasaran kali ya), teman-temannya di Alam Kematian berjuang untuk menyelamatkan Hawthorne Manor.

Menurut gue, buku ini termasuk buku yang kocak dan tragis. Gue sih lucu aja membayangkan Charlotte yang mati-matian biar diterima di gank populer. Meskipun dicuekin tapi maju terus pantang mundur. Bercerita tentang kematian, tapi gak spooky. Ternyata meskipun udah meninggal, gak mudah untuk menerima takdir dan kenyataan itu. Mungkin gitu kali ya, gambaran yang namanya ‘arwah penasaran’ ? (kalo itu emang ada). Ketika nyaris mencapai tujuan… ehhhh… semua berubah drastis… poor Charlotte…
Read more »

Selasa, 02 Februari 2010

The Girl who Played with Fire

The Girl who Played with Fire
Stieg Larson @ 2006
Nurul Agustina (Terj.)
Qanita, Cet. 1 - Desember 2009
904 Hal.

Melihat ketebalan buku ini yang ‘luar biasa’, gue nyaris mengurungkan niat gue untuk membaca sekuel dari Blomkvist & Salander Trilogy. Tapi, gue jadi penasaran, karena – lagi-lagi terpengaruh komentar orang – katanya, buku ini lebih seru dari yang pertama. Ya.. ya.. ya… kalo dilihat dari tebalnya sih, semoga memang benar begitu.

Buku ini bercerita tentang misteri latar belakang kehidupan seorang Lisbeth Salander, gadis yang bisa dibilang aneh, gak pedulian sama orang, jago computer, punya ingatan fotografis dan berkepribadian yang rumit banget. Berkat kemampuannya itu, Lisbeth berhasil ‘mengantongi’ uang yang sangat banyak untuk ukuran gadis seperti dirinya. Ia menghilang tiba-tiba dari Swedia. Pergi ke luar negeri. Menjauh dari Swedia nyaris selama dua tahun. Lisbeth juga memilih untuk menjauh dari Mikael Blomkvist.

Dua tahun berlalu sejak mereka bekerja sama, Mikael Blomkvist terus mencari Lisbeth yang seolah lenyap ditelan bumi. Lisbeth tidak pernah menjawab email, telepon, bahkan di apartemennya pun tidak ada. Hubungan mereka berdua akan benar-benar terputus jika saja kasus yang melibatkan Lisbeth tidak ada.

Mikael Blomkvist sedang bekerja sama dengan wartawan bernama Dag Svensson untuk menerbitkan sebuah buku dan artikel tentang kasus perdagangan wanita di Swedia. Dag dibantu istrinya, Mia, seorang kriminolog. Mereka berdua meminta Millenium untuk menerbitkan naskah mereka.

Sementara, Lisbeth masih terobsesi untuk membuat walinya, Bjurman, tersiksa. Tapi, ternyata, Bjurman sendiri memilik rencana tersendiri untuk membuat Lisbeth bertekuk lutut dan menyerah.

Sebagai hacker, tentu saja Lisbeth punya akses ke dalam kompter Blomkvist, sehingga dia tahu apa yang sedang dikerjakan Blomkvist. Dari sana, Lisbeth menemukan sebuah nama yang menghubungkannya dengan masa lalunya.

Tiba-tiba saja, Dag, Mia dan Bjurman ditemukan tewas tertembak di apartemen mereka masing-masing. Sebuah pistol ditemukan di tempat kejadian, dengan sidik jari Lisbeth yang tertera di sana. Jadilah Lisbeth sebagai tersangka utama dan menjadi buron, karena keberadaannya sangat sulit ditemukan.

Blomkvist yakin, Lisbeth tidak bersalah. Tapi, entah bagaimana membuktikannya, karena Lisbeth begitu tertutup dan penuh teka-teki.

Cerita yang rumit banget. Masih seputar pelecehan terhadap perempuan, kali ini lebih focus ke perdagangan perempuan. Sebuah nama, tapi jarang ada yang tahu wujud orang ini, berhubungan dengan masa lalu Lisbeth yang ditutup rapat-rapat, bahkan jadi ‘Top Secret’. Wow… siapa sih sebenernya Lisbeth Salander ini?

Semakin lama, semakin ke belakang, jujur, gue semakin cape’ baca buku ini. Lambat banget. Terlalu banyak orang dengan detail yang panjang. Sampai-sampai gue sering melewatkan beberapa halaman. Ya, kalo penasaran, sih, ya pasti. Keping-keping informasi, muncul pelan-pelan, gak bikin terlalu sport jantung.

Lisbeth Salander jadi layaknya seorang superhero, superwoman, atau Robin Hood cewek. Dia memang gak bersih, tapi dia punya keyakinan sendiri dengan sudut pandang sendiri, kadang beda sama orang pada umumnya. Dia membereskan dosa-dosa orang yang memang pantas mendapatknya, tapi dengan cara yang bertentangan dengan hukum.

Read more »

Jumat, 29 Januari 2010

Libri di Luca

Judul : Libri di Luca
Penulis : Mikkel Birkegaard
Penerjemah : Fahmi Yamani
Penyunting : Moh. Sidik Nugraha
Penerbit : Serambi Ilmu Semesta
Cetakan : I, Nov 2009
Tebal : 588 hlm

Masih ingatkah kita akan pengalaman masa kecil ketika kita sedang dibacakan cerita oleh orang tua kita ? Tentunya sangat mengasikan karena biasanya kita akan terpukau oleh ceritanya sehingga kita seolah-olah berada dalam kisah yang sedang kita dengar itu.

Namun pernahkah terpikirkan oleh kita bahwa sebuah buku yang dibacakan akan memberi pengaruh yang lebih dahsyat lagi? Bukan hanya sekedar memukau pendengarnya dan menjadikan apa yang ada dalam buku terasa begitu nyata melainkan dapat mempengaruhi jiwa , pikiran, dan persepsi mereka yang mendengarnya. Hal inilah yang terpikirkan oleh Mikkel Birkegaard penulis muda Denmark yang ia tuangkan dalam novel perdananya yang berjudul Libri di Luca .

Dalam karyanya ini Mikkel menceritakan mengenai para pembaca buku yang dapat mempengaruhi jiwa dan pikiran mereka yang mendengar apa yang sedang dibacanya. Para pembaca ini disebut dengan Lector, yaitu mereka yang melatih sebuah seni membaca keras-keras dari sebuah teks sehingga dapat memberi penekanan sesuai dengan keinginan si Lector. Dengan demikian hal ini akan mempengaruhi persepsi mereka yang mendengarkan isi dari sebuah teks yang dibacanya

Lector ini sendiri dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok pemancar yang dapat mempengaruhi persepsi pendengar terhadap tulisan yang sedang dibacanya, dan kelompok penerima yang mampu mempengaruhi persepsi seseorang yang sedang membaca sebuah buku. Jika dua kelompok ini disatukan makan akan tercipta sebuah sinergi yang dahsyat yang dapat mempengaruhi dunia sesuai dengan apa yang diinginkan para Lector. Di tangan mereka, buku bisa menjadi sebuah senjata!

Novel ini diawali dengan kisah kematian Luca Campelli seorang Lector yang memiliki sebuah toko buku antik terkemuka di Kopenhagen Denmark yang diberinya nama “Libri di Luca”. Kematiannya sangat ironis karena Luca Campelli meninggal secara mendadak di toko buku kebanggaannya ketika ia sedang membaca buku antik yang sangat ia sayangi.

Luca hanya memiliki seorang anak yang bernama John, seorang pengacara handal. Namun walau John adalah anak tunggalnya hubungan antara Luca dengan anaknya tidaklah sedekat hubungan antara seorang ayah dan anak pada umumnya sehingga tak heran jika John tidak pernah benar-benar mengenal ayahnya.

Kematian Luca otomatis membuat toko buku Libri di Luca diwariskan pada John. Dengan bantuan Iversen selaku sekretaris pribadi Luca dan Katherine, pegawai kepercayaan Luca lambat laun John mulai mengenal aktifitas ayahnya beserta isi dari Libri di Luca yang menyimpan begitu banyak buku-buku berharga.

Melalui penuturan Iversen akhirnya terungkap bahwa Libri di Luca ternyata merupakan markas sebuah perkumpulan rahasia pecinta buku yang terdiri dari para Lector yang memiliki kekuatan mempengaruhi pendengarnya baik sebagai pemancar maupun penerima . Dan yang paling mengejutkan bagi John adalah ternyata tanpa disadarinya dirinyapun mewarisi kemampuan ayahnya sebagai seorang Lector.

Tidak berapa lama setelah kematian Luca, toko buku Libri di Luca mendapat serangan bom yang menghanguskan sebagian toko buku antik tertua di Kopenhagen itu. Hal ini membuat John Iversen dan Katherne menaruh curiga bahwa kematian Luca bukanlah kematian biasa melainkan ada pihak-pihak yang ingin menghancurkan Libri di Luca beserta perkumpulan rahasianya.

Kematian Luca dan serangan terhadap Libri di Luca memang pada akhirnya menimbulkan kecurigaan diantara para anggota perkumpulan, antara Lector penerima dan pemancar saling mencurigai sehingga perkumpulan rahasia ini nyaris terpecah belah. Kecurigaan John dan kawan-kawannya akhirnya mengerucut pada kemungkinan adanya Organisasi Bayangan diluar perkumpulan rahasia Libri di Luca yang bertujuan untuk memecah belah Perkumpulan dan mempengaruhi para Lector untuk dapat menguasai dunia lewat kekuatannya.

Pencarian siapa dalang dari kekisruhan ini tak mudah. John dan kawan-kawan harus berpacu dengan waktu, taruhannya adalah nyawa mereka sendiri dan nyawa para Lector yang satu persatu tewas dengan berbagai cara. Pencarian ini ternyata membawa John, Iversen, dan Katherene melintas benua menuju Mesir, dimana pernah berdiri dan kini sedang dibangun kembali sebuah Perpustakaan terbesar di dunia di Alexandria – Mesir (Bibliotheca Alexandria). Ternyata di tempat ini pulalah cikal bakal terbentuknya perkumpulan rahasia para lector.

Bagi para pecinta buku novel ini akan menjadi sangat menarik karena mengupas tentang buku dan pembacanya. Buku di tangan seorang lector bisa menjadi sebuah alat yang mempengaruhi dunia. Selain itu Mikkel juga dengan menarik memadukan sebuah fakta sejarah mengenai Bibliothica Alexandrina, perpustakaan paling besar sedunia yang pernah ada di muka bumi ini dengan kisah thriller fantasi yang menghibur.

Plot cerita yang disuguhkan Mikkel dibangun secara perlahan dan mencapai klimaksnya di bagian akhir. Berbagai fakta dibeberkan secara rinci sehingga pembaca bisa memahami logika dari sebuah kisah yang dibangun.

Yang agak disayangkan dalam novel ini adalah kurangnya penulis mengeksploitasi kisah ketika berada di Bibliothica Alexandrea. Setting di Alexandrea ini baru muncul di bagian-bagian akhir, andai saja setting di perpustakaan ini lebih diekplorasi lebih banyak lagi tentunya novel ini akan lebih menarik dan membuat wawasan pembaca mengenai Bibliothica Alexandrea semakin bertambah.

Saya juga agak menyayangkan deskripsi yang berlebihan mengenai kekuatan seorang Lector yang dengan kekuatan yang dimilikinya bisa menimbulkan fenomena lecutan-lecutan api, asap, cahaya, dll. Andai saja fenomena fisik seperti itu dihilangkan dan diganti dengan dskripsi mengenai bagaimana keadaan jiwa dan pikiran seseorang yang telah dipengaruhi oleh seorang Lector tentunya kesannya akan lebih dramatis dan dalam dibanding dengan menonjolkan fenomena fisiknya.

Terlepas dari hal di atas bagaimanapun novel ini sangat menghibur, setting toko buku antik, bibliothek Alexandria dan kemampuan seorang lector pasti akan menarik minat para bibliophile dan para pembacanya umumnya.

Selain itu novel ini juga berhasil menempatkan posisi pembaca buku ditempat terhormat sebagai tokoh sentral, dan merupakan ruh dari keseluruhan novel ini, berbeda dengan novel-novel lain yang kadang menempatkan tokoh seorang pembaca buku hanya sebagai pelengkap cerita dengan sosok seorang berkacamata tebal yang terasing dalam dunianya sendiri.

Dari semua hal diatas tak heran jika novel ini mencuri perhatian para pembaca buku fiksi dan menuai sukses, hal ini terbukti ketika cetakan pertamanya sebanyak 10.000 ekslempar ludes hanya dalam waktu tiga hari saja. Novel ini juga telah diterjemahkan ke dalam tujuh belas bahasa dan menjadi International Best Seller. Sebuah pencapaian yang luar biasa bagi penulisnya karena ini adalah novel perdananya.

@htanzil

Read more »

Senin, 25 Januari 2010

Remember Me?

Remember Me?
Sophie Kinsella @ 2008
Bantam Dell, 2008
430 Hal.

Lexi Smart tidak bisa menutupi rasa kesalnya ketika tahu dirinya gak dapet bonus, padahal masa kerjanya hanya kurang beberapa minggu dari hitungan satu tahun. Sementara teman-temannya sibuk mikirin mau beli apa dengan bonus itu, Lexi hanya bisa senyam-senyum. Suasana hujan, Lexi yang lagi hang-out sama teman-temannya tiba-tiba terjatuh… dan bum… tiba-tiba ia terbangun di rumah sakit London.

Belum lagi Lexi sadar sama apa yang terjadi, Lexi melihat dirinya di kaca sama sekali berbeda dengan apa yang ia tahu – punya tas LV, nyupir Mercedes – padahal ia tahu gak bisa nyupir, ada di kamar Super VIP, lalu… menjabat sebagai Direktur – padahal yang Lexi inget, dia hanyalah karyawan baru, lalu, badan yang super keren, gigi bagus, dan.. oh.. oh… ia sudah menikah dengan seorang pengusaha, lalu mereka tinggal di sebuah rumah yang keren dan canggih banget.

Kecelakaan membuat dirinya hilang ingatan. Memorinya selama tiga tahun ke belakang benar-benar kosong. Yang ia ingat justru kehidupannya yang lama, dengan teman-temannya yang lama. Dia gak kenal teman-teman barunya yang ‘berkelas’, dia gak kenal isi lemarinya yang penuh dengan baju-baju rancangan desainer terkenal, dia bahkan gak inget sudah menikah, dia bahkan gak kenal dirinya sendiri sekarang.

Kehidupan ‘baru’nya benar-benar membuat Lexi gak nyaman. Dia pengen hang out lagi bareng-bareng teman-teman lamanya, yang ternyata sekarang malah menjauhinya. Lexi ternyata dikenal sebagai atasan yang ‘bitchy’, yang ambisius dan punya julukan ‘The Cobra’.

One more… belum lagi inget dengan semuanya, seorang pria bernama Jon, mengaku kalau mereka punya affair!! Lexi mencoba jadi istri yang setia dan berusaha mempertahankan pernikahannya, meskipun udah sebel banget denger istilah ‘loft-style living’… tapi kenapa hatinya justru lebih nyaman kalau dekat Jon?

Sementara Lexi sibuk menggali ingatannya, Lexi juga harus berusaha mendapatkan hati teman-temannya lagi dan berusaha menyelamatkan pekerjaannya dan teman-temannya di kantor.

Wooo… gimana ya, rasanya kalo tiba-tiba terbangun, lalu gak inget apa-apa lagi? Gak kenal diri sendiri dan merasa aneh? Gue gak mau…

Dibanding sama Shopaholic series, buku-buku Sophie Kinsella seperti Remember Me? Undomestic Goddess, Can You Keep a Secret? lebih lucu dan segar. Tokoh-tokohnya gak sekonyol Becky Bloomwood. Sekarang, gue lagi mencari-cari Twenties Girls – bukunya yang paling baru.
Read more »

Kamis, 21 Januari 2010

Moonlight Waltz

Moonlight Waltz
Fenny Wong
Gagas Media, Cet. II – 2009
246 Hal.

Kalau saja Dora tidak mengajak Arlin ke sebuah resital piano, Arlin gak akan pernah dekat dan jatuh cinta sama Aldo. Dibanding adiknya yang tergila-gila sama piano, Arlin lebih memilih basket sebagai pengisi waktu luangnya. Di sekolah, Arlin termasuk salah satu pemain basket andalan. Makanya, dia tidak tahu kalau Aldo yang satu sekolah dengannya itu, adalah pemain piano berbakat.

Malam itu, Arlin terbius oleh alunan permainan piano Aldo. Arlin langsung ‘melihat’ ada sesuatu dalam diri Aldo, dan itu membuatnya susah untuk melupakan Aldo. Malam itu, jadi awal kedekatan Arlin dengan Aldo yang kebetulan tinggal tidak jauh dari apartemennya.

Tapi, Aldo hanya menganggap Arlin sebagai seorang sahabat. Ada orang lain di hati Aldo, bernama Liora. Liora – juga satu sekolah dengan Arlin dan Aldo, tapi beda kelas. Memiliki suara yang indah. Cocok banget kan, pemain piano dan penyanyi? Arlin jelas cemburu banget, karena Aldo selalu memberi perhatian lebih sama Liora. Arlin merasa tersisih. Seberapa keras ia menunjukkan perhatiannya sama Aldo, tapi tetap, Liora yang utama.

Udah lah… dikit aja ‘cerita’nya. Gue membaca buku ini dengan setengah hati. Iseng-iseng aja sebetulnya. Membaca judulnya seolah ‘menjanjikan’ cerita yang indah. Apalagi begitu tau ini ‘hanya’ kisah cinta anak SMA, gue membacanya jadi sambil lalu. Hehehe.. ma’af ya, dik Fenny… gue udah terlalu ‘tua’ untuk baca yang beginian.
Read more »

Rabu, 20 Januari 2010

The Girl with The Dragon Tattoo

The Girl with The Dragon Tattoo
Stieg Larsson @ 2005
Nurul Agustina (Terj.)
Qanita, Cet. I – Juli 2009
780 Hal.

Mikael Blomkvist, seorang wartawan investigasi dari majalah Millenium, terjerat kasus pencemaran nama baik yang menyebabkannya harus dihukum penjara dan dapat menghancurkan karirnya sebagai wartawan. Millenium sendiri terancam gulung tikar karena pemasang iklan banyak yang menarik diri. Lawan Blomkvist tidak tanggung-tanggung, seorang pengusaha besar bernama Wennerström yang memiliki banyak pengaruh.

Datanglah tawaran dari Henrik Vanger, pemilik perusahaan Vanger dan salah satu yang paling berpengaruh di Swedia, yang memintanya menyelidiki sebuah kasus pembunuhan yang terjadi 40 tahun yang lalu. Henrik meminta Blomkvist untuk menyelidiki hilangnya Hariet Vanger, keponakan kesayangannya, yang hilang dan diduga dibunuh, tapi mayatnya tidak pernah ditemukan.

Blomkvist mau menerima tugas itu karena Henrik menjanjikan imbalan berupa data yang bisa membuat Wennerström mati kutu dan membersihkan nama Blomkvist. Maka, pindahlah Blomkvist ke Pulau Hedeby. Dengan alasan untuk membuat biografi keluarga Vanger, Blomkvist mulai mendekati anggota keluarga Vanger dan mencari data-data yang mendukung. Tak semua keluarga Vanger menerima kehadiran Blomkvist. Mereka menganggap, Blomkvist hanyalah alat Henrik untuk ‘memuaskan’ rasa penasaran atas hilangnya Hariet – yang mereka anggap sudah menjadi obsesi atau ‘hobi’ Henrik.

Semua orang yang ada di Pulau Hedeby pada hari itu bisa jadi tersangka. Apalagi menurut Henrik, semua anggota keluarga Vanger memilik ‘keanehan’. Fakta-fakta yang ditemukan sangat mengejutkan. Berhubungan dengan ayat-ayat yang diambil dari Kitab Injil, yang kemudian mengarah pada serangkaian kasus pembunuhan yang tak pernah terpecahkan. Pembunuhan berantai terhadap perempuan-perempuan yang dilakukan dengan cara sadis – merujuk pada penafsiran ayat-ayat Kitab Injil itu dari sudut pandang yang sangat salah. Tak bisa dipungkiri lagi, pelakunya adalah orang yang sangat ‘sakit jiwa’.

Lisbeth Salander dan Blomkvist baru bertemu di tengah-tengah cerita ini. Untuk membantu Blomkvist, Dirch Frode – pengacara keluarga Vanger, meminta bantuan Lisbeth Salander – perempuan muda yang punya masalah pribadi yang tak kalah rumit, selalu berdandan a la punk, jago meng-hack computer, punya ingatan fotografis dan cuek. Kecepatan, ketelitian dan keberanian Salander mampu membantu Blomkvist dalam mengungkap kasus ini. Ternyata kerjasama mereka menghasilkan penemuan yang sangat mengejutkan. Karenanya Blomkvist juga nyaris kehilangan nyawanya.

Dari banyak blog yang gue kunjungi dan pemiliknya pernah baca buku ini, rata-rata mereka memberikan rekomendasi bahwa buku ini bagus dan keren. Bahkan beberapa juga memasukkan buku ini ke dalam daftar buku favorit mereka. Buku ini memang bagus. Buku ini ‘datang’ di saat yang tepat ketika gue lagi pengen baca buku thriller atau yang rada-rada meneganggkan. Emosi gue, ‘adrenalin’ gue dibuat naik turun. Di bagian awal, gue dibuat penasaran dengan cerita kiriman bunga-bunga kering tak bernama, tapi, gue sempat dibuat bosan waktu baca bagian kasus Blomkvist. Adrenalin dan rasa penasaran gue kembali naik ketika udah masuk bagian penyelidikan tentang kasus Hariet Vanger, apalagi waktu fakta-fakta mulai muncul pelan-pelan, rasa ngeri dan ngilu ketika baca detail-detail pembunuhan sadis itu. Lalu, kembali turun, menjelang ending buku ini.

Buku ini menyorot pada kasus pelecehan perempuan yang banyak terjadi di Swedia (atau di belahan dunia manapun). Pelakukanya terkadang orang yang dekat dengan kita – bahkan keluarga sendiri, orang yang harusnya kita percaya. Gak heran kalo Lisbeth Salander akan mencari cara sendiri yang sama sadis dan dinginnya untuk membalas pelaku-pelaku kejahatan itu. Lisbeth sendiri digambarkan sebagai sosok yang juga mengalami kasus pelecehan oleh walinya sendiri, tapi, tidak mampu melaporkan ke polisi atau ke orang lain, karena dia menganggap, tidak akan ada orang percaya, karena si pelaku memiliki kekuasan atau kedudukan yang lebih tinggi dari dia.

The Girl with The Dragon Tattoo adalah buku pertama dari trilogi Blomkvist & Salander (atau The Millenium-series")
Read more »

Rabu, 13 Januari 2010

Garis Perempuan

Garis Perempuan
Sanie B. Kuncoro @ 2009
Bentang, Cet. I – Januari 2010
378 Hal.

Ranting – gadis anak penjual karak – kerupuk beras, ayahnya sudah meninggal. Terpaksa putus sekolah demi membantu ibunya yang terkena tumor ganas. Mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk membiayai operasi ibunya. Tapi, tak bisa menolak ketika dirinya terpaksa ‘ditukar’ atau terpaksa mengorbankan dirinya jadi istri ketiga seorang pengusaha, Basudewo, yang bersedia menanggung biaya pengobatan ibunya.

Gendhing – anak seorang buruh cuci pakaian dan tukang becak. Lulus SMA, tapi belum mampu untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi karena masalah biaya. Mencari pekerjaan, tapi sulit, karena yang dicari lebih dari sekedar lulusan SMA. Beruntung salah satu pelanggan ibunya, Cik Ming – seorang pemilik salon – mau menerimanya sebagai salah satu kapster di salonnya. Tapi… lagi-lagi masalah biaya, hutang-piutang menjerat. Ibunya kehilangan seluruh tabungannya, gara-gara koperasi tempat ia menyimpan uang bangkrut. Malangnya, uang simpanan itu merupakan uang pinjaman dari tengkulak. Gendhing harus memilih, apakah menyerahkan dirinya kepada Indragiri, laki-laki pelanggan salon yang bersedia menerima dirinya sebagai simpanan, atau ‘dibawa’ oleh tengkulak itu sebagai ganti pelunasan hutang?

Tawangsri – anak penjual batik, pendidikan lebih beruntung dibanding dua temannya yang lain. Merindukan sosok ayah yang ada tapi seolah hanya berupa bayangan. Ayahnya pulang ketika ia sudah tidur di malam hari. Dan ketika ia bangun, ayahnya masih tertidur. Ibunya tak pernah protes atau mengeluh. Yang penting bagi ibunya, adalah ayahnya selalu pulang ke rumah. Tawangsri, menemukan sosok ayah yang dirindukan pada laki-laki bernama Jenggala, duda beranak satu yang ditinggal mati oleh istrinya ketika melahirkan anaknya. Ketika Tawangsri pasrah ‘menyerahkan diri’ pada laki-laki itu, jusru bayangan Langit Biru – nama anak kecil itu – yang menyadarkannya.

Zhang Mey – gadis keturunan Cina, anak seorang jurangan becak. Mencintai seorang laki-laki pribumi bernama Tenggar, tapi terbentun adat-istiadat Cina. Terbentur pada keinginan orang tua yang ingin Zhang Mey tetap setia pada leluhur mereka. Meskipun memiliki pendapat yang berbeda dengan orang tuanya, tetap saja ia tak sanggup untuk melawan.

Cerita tentang empat gadis yang bersahabat sejak masa kecil. Saling menguatkan, tapi tetap tidak mampu membantu ketika takdir ‘menghampiri’ mereka. Buku ini seolah ingin menggambarkan ketidakberdayaan perempuan, bahwa perempuan tidak punya pilihan. Berlatar budaya Jawa (tapi gak tau Jawa bagian mana – mungkin gue agak terlewat pas bacanya). Sebagai perempuan (halah…), gue agak gemes pas baca buku ini. Gemes dengan segala kepasrahan mereka. Tapi, ya gitu deh, kadang, kita sendiri mungkin gak bakal bisa berbuat apa-apa, atau mencari pilihan lain kalau lagi terdesak.

I did judge this book by its cover. Hehehe… sejujurnya malah gue sempet lupa judulnya. Abis, covernya lucu sih, menarik. Ini ‘perkenalan’ pertama gue dengan karya Sanie B. Kuncoro. Gue cukup tertarik untuk membaca buku beliau yang lainnya.
Read more »

Senin, 11 Januari 2010

Jampi-Jampi Varaiya

Jampi-Jampi Varaiya
Clara Ng @ 2009
GPU, Cet. I - Desember 2009
320 Hal.

3 orang gadis dari keluarga penyihir – yang lebih dikenal dengan Keluarga Karbohidrat dari nama-namanya. Ada Zea, Solanum dan Oryza. Penyihir di tengah-tengah manusia, yang biasa mereka sebut dengan ‘masyarakat jelata’. Mereka berinteraksi, bekerja sama dengan manusia. Seperti Oryza, yang jadi staf human resources, punya sahabat manusia. Tapi, bukan itu yang diceritakan di sini.

Masalah bermula dari pencurian rempah-rempah Varaiya dari rumah yang merangkap sebagai resto nasi tim bebek milik Nenek Gray, nenek-nya Strawberi. Strawberi ini naksir berat sama Xander. Tapi, Xander sudah dijodohkan sama si tomboy, Oryza. Oryza ditaksir sama Pax – yang juga merangkap jadi kucing jadi-jadian bernama Dakocan.

Salah satu kegunaan rempah-rempah itu adalah untuk membuat masakan jadi lebih lezat. Oryza, penyihir level delapan. Kemampuan sihirnya tidak diikuti dengan kemampuan memasak. Makanya, dia ingin menunjukkan pada semua orang, kalau dia bisa masak. Tapi, siapa sangka, karena terlalu banyak bumbu yang dipakai, malah membuat rendang kreasinya jadi ‘hidup’.

Dan tanpa disengaja, Zea dan Solanum meminum teh Varaiya yang khasiatnya membuat orang jadi punya tenaga ekstra, gak ada cape’nya dan malah jadi hiperaktif. Tapi, kalau terlalu banyak, efeknya adalah kematian bagi orang itu. Ada sih penawar racunnya, tapi obat itu hanya ada di Pulau Varaiya, pulau terpencil yang penuh pengaruh sihir, yang tidak ada di peta Indonesia.

Maka, dimulailah petualang mencari Temarin, obat penawar racun dari rempah Varaiya. Oryza, Samudra (ayah Oryza), Xander dan Pax, ditambah Nuna, anak perempuan kapten kapal yang mereka sewa, mengarungi lautan menuju Pulau Varaiya.

Tapi, ada dua perempuan lain, yang gak rela kalo perjalanan itu berhasil. Mereka ingin salah satu penyihir pria itu ada di tangan mereka. Strawberi dan Aqua, sama-sama naksir Xander. Tapi, Xander tetap cool dan setia sama Oryza.

Gue termasuk penikmat setia karya-karya Clara Ng. Rasa-rasanya, hampir semua buku Clara Ng gue punya, termasuk buku anak-anaknya. Dan, rasa-rasanya juga, baru kali ini Clara Ng nulis buku yang (maunya) kocak – setelah Indiana Chronicles. Tapi, sejujurnya, gue lebih suka baca buku Clara Ng yang rada serius, kaya’ Dim Sum Terakhir atau Uttuki. Di sini banyak lelucon atau joke yang jadi garing, kaya’nya panggilan untuk Strawberi yang selalu disalah-salahi jadi ‘Nangka’, atau ‘Cempedak’ atau apalah – yang berlaku juga untuk Strawberi pas manggil Aqua, jadi ‘Milo’ atau ‘Pocari’. Karena berulang-ulang dan keseringan malah jadi ‘basi’.

Terus, petualang di Pulau Varaiya malah porsinya gak terlalu banyak. Hmmm.. mungkin karena yang difokuskan bukan di pulaunya, tapi di ‘jampi-jampi’-nya ya.

Tapi, cerita belum selesai sampai di sini. Masih ada lanjutan kisah tentang penyihir yang kocak-kocak ini di buku selanjutnya.
Read more »

Selasa, 05 Januari 2010

Weekend in Paris

Weekend in Paris
Robyn Sisman @ 2004
Penguin Books, 2004
389 Hal.

Molly Clearwater, gadis cerdas, suka sama sastra dan seni, kadang-kadang gampang banget mengkhayal. Berkhayal a la tokoh-tokoh sastra klasik dari buku-buku yang sering dibacanya. Bekerja sebagai asisten pribadi seorang boss bernama Malcolm Figg. Boss yang narsis, sok keren, sok macho, sok berkuasa, tapi masih jadi anak ‘mummy’. Molly nekat resign dari kantornya yang bergerak di industri farmasi, gara-gara si Malcolm bilang Molly adalah ‘stupid secretary’, pas di hari seharusnya dia sama bossnya berangkat ke Paris untuk sebuah konperensi kedokteran.

Molly nyaris down, pulang ke flat-nya malu, telp ibunya, pasti bikini bunya panik. Akhirnya, di stasiun kereta, tiba-tiba aja Molly dapat inspirasi. Semua orang tau seharusnya sekarang dia ada di Paris, stasiun Eurostar tiba-tiba ada di depan mata, koper udah siap, lengkap dengan baju baru persiapan untuk ke Paris. Kenapa gak sekalian aja Molly mewujudkan rencana ke Parisnya?

Jadi… dengan nekat, Molly pergi ke Paris. Molly yang baru pertama kali menginjakkan kaki ke Paris, gak punya kenalan, sempat bingung mau ke mana. Nyari-nyari hotel, akhirnya ketemulah sebuah hotel kecil. Di hotel ini, Molly secara tidak sengaja berkenalan dengan perempuan bernama Alice – yang langsung membawa Molly ke club di malam pertamanya di Paris. Di club ini, Molly bertemu cowok Perancis keren bernama Fabrice.

Singkatnya, Molly pun terlibat petualangan romantis (paling gak ini yang ada di pikiran Molly) dengan Fabrice. Fabrice membawanya melihat pemandangan Paris di waktu malam yang indah, bagian-bagian yang terlewatkan oleh turis.

Molly nyaris lupa sama keberadaan Malcolm. Yang ada di pikirannya, hanya menghabiskan waktu bersama Fabrice. Tapi, ternyata, Fabrice nyaris sama dengan Malcolm – merendahkan dirinya, membuat dirinya hampir merasa tidak berharga.

Di Paris, Molly mendapatkan banyak hal baru – teman baru, pengalaman romantis baru, dan kejutan indah yang tak terduga.

Sedikit mengkhayal di awal tahun… ‘ikutan’ Molly jalan-jalan ke Paris, meskipun gak terlalu ‘mengeksploitasi’ keindahan kota Paris, atau makanan yang ‘aneh-aneh’. Ya, seperti biasa, lebih banyak ditekankan pada hal-hal ‘petualangan’ cinta. Coba, bagian Molly nyamar dipanjangin dikit, ngerjain boss-nya. Atau, bagian ‘kejutannya’ ditambah dikit lagi, karena yang harusnya sedikit mengharukan jadi biasa aja.

Tapi, yang gue suka sama Molly, dia gadis yang berani. “It only takes a weekend to change your life…” Hanya tiga hari, Molly jadi tau apa yang sebenernya dia inginkan, bahwa gak seenaknya orang bisa men-judge dia serendah-rendahnya.

Tau gak sihhh… buku ini gue beli October 2006… baru kebaca sekarang.

Read more »

Rabu, 30 Desember 2009

Book of the Year 2009

Dari buku-buku yang gue baca selama tahun 2009, buku-buku favorit gue adalah:
1. The Thirteenth Tale - Dianne Setterfield
2. Q&A (Teka-Teki Cinta Sang Pramusaji) – Vikar Swarup
3. Anne of Green Gables – L. M. Montgomery
4. Taj Mahal – John Shors
5. Honeymoon with My Brother – Franz Wisner
6. Metropolis – Windry Ramadhina
7. Orange – Windry Ramadhina
8. Negeri van Oranje - Wahyungirat, Adept Widiarsa, Nina Riyadi & Rizki Pandu Permana
9. 9 Matahari – Adenita
10.Anne of Avonlea – L. M. Montgomery
11.Anne of the Island – L. M. Montgomery
12.How the World Makes Love – Franz Wisner
13.Perahu Kertas – Dewi Lestari
14.The Palace of Illusions - Chitra Banerjee Divakaruni
15.Kelas Memasak Lilian - Erica Baurermeister
16.Anne of Windy Poplars – L. M. Montgomery
17.Unaccustomed Earth – Jhumpa Lahiri
18.George’s Secret Key to the Universe – Lucy & Stephen Hawking

Kalau dari cover, favorit gue adalah:
1. The Thirteenth Tale - Dianne Setterfield
2. The Mysterious Benedict Society – Trenton Lee Stewart
3. Metropolis – Windry Ramadhina
4. Botchan - Natsume Soseki
5. George’s Secret Key to the Universe – Lucy & Stephen Hawking
6. Joshua Files: The Invisible City – M. G. Harris
Read more »

Silver Phoenix

Silver Phoenix
Cindy Pon @ 2009
Maria Lubis (Terj.)
Mahda Books, Cet. I - Desember 2009
391 Hal.

Adat istiadat di Cina jaman baheula, setiap anak perempuan yang (dianggap) sudah gadis, akan segera dijodohkan untuk kemudian dinikahkan. Demikian juga dengan Ai Ling, di usianya yang ke-17, ibunya memberikan sebuah buku berjudul ‘Buku tentang Penyatuan Dua Sejoli’ – yang berisikan dengan hubungan pria dan wanita. Tidak seperti gadis-gadis lainnya, yang penurut, Ai Ling termasuk anak yang keras kemauannya. Orang tua Ai Ling tidak terlalu kolot. Mereka mengijinkan Ai Ling belajar, sehingga pikirannya lebih terbuka. Tapi, tetap saja, tradisi adalah tradisi – Ai Ling harus tetap menjalankan yang namanya perjodohan.

Waktunya tiba. Tanpa Ai Ling sadari sebelumnya, ternyata ia bisa mendengar apa yang ada di benak calon ibu mertuanya. Perjodohan itu sendiri gagal. Ai Ling tidak sedih karena gagal, tapi ia sedih karena dampak buruk yang akan diterima orang tuanya.

Ternyata kegagalan perjodohan itu membawa Ai Ling pada sebuah petualangan tak terduga dan penuh bahaya. Ayah Ai Ling pergi untuk menunaikan tugas negara. Tapi, sampai beberapa bulan, ayahnya tak juga pulang. Kondisi ini dimanfaatkan oleh seorang laki-laki bernama Master Huang yang hendak menjadikan Ai Ling sebagai istrinya dengan dalih untuk membayar hutang-hutang ayah Ai Ling. Namun, Ai Ling tidak percaya dan memilih pergi dari rumah untuk mencari ayahnya.

Dari awal perjalanannya, Ai Ling bertemu berbagai makhluk aneh yang selama ini ia ketahui dari membaca ‘Buku Kematian’ – buku yang dibaca Ai Ling diam-diam, tanpa sepengetahuan ayahnya. Makhluk-makhluk aneh yang berbeda terus mengikuti Ai Ling sepanjang perjalanan menuju Istana Mimpi-Mimpi yang Harum. Beruntung di tengah jalan, Ai Ling bertemu dengan Cheng Yon, pemuda yang juga dalam pengembaraan mencari jejak orang tuanya, dan kemudian bertemu juga dengan Li Rong, adik Cheng Yon.

Meskipun mendapatkan berkat dari seorang pendeta, tetap saja, makhluk berbahaya dan mematikan terus mengincar mereka. Ternyata, seorang perempuan yang cemburu, mengirim makhluk-makhluk itu untuk membunuh Ai Ling. Tak disangka-sangka, Ai Ling adalah reinkarnasi dari perempuan pujaan penasihat Kaisar bernama Zhong Ye, yang begitu terobsesi pada Silver Phoenix. Ai Ling tidak hanya harus membebaskan ayahnya, tapi juga harus berhadapan dengan Zhong Ye.

Gak hanya orang tua Ai Ling yang punya rahasia, tapi Cheng Yong sendiri juga penuh misteri yang bikin Ai Ling penasaran… ehemmm…

Khas buku fantasi, ada naga, ada makhluk-makhluk aneh, ditambah lagi kekhasan negeri Cina yang penuh persembahan dan dewa-dewi, makanan eksotis dari negeri Cina yang menemani Ai Ling dan Cheng Yong membuat gue terbayang-bayang masakan Cina. Yummm… Tadinya gue pikir ini buku fantasi remaja, tapi ternyata… agak dewasa sedikit meskipun tokoh-tokohnya masih sangat muda.

Sebenernya sih, banyak banget yang seharusnya bikin deg-degan dengan seringnya Ai Ling ketemu sama makhluk aneh, terus, suku-suku aneh yang (kata Cheng Yong) ada di Buku Negeri-Negeri di Atas, atau dewa-dewi yang ada dalam Makhluk Abadi. Cuma… kenapa yang, koq gak tegang-tegang banget baca buku ini? Padahal perjalanan Ai Ling berat banget, ceritanya mengalir tenang dan agak kurang greget (apa gue aja yang gak dapet ‘feel’-nya?)
Read more »

Minggu, 27 Desember 2009

Unaccustomed Earth

Unaccustomed Earth
Jhumpa Lahiri @ 2008
Bloomsbury - 2009
333 Hal.

‘Perkenalan’ pertama gue dengan Jhumpa Lahiri di tahun 2008, lewat buku ‘The Namesake’. Gue langsung jatuh cinta dengan tulisannya. Tapi, sayang gue belom sempet baca ‘The Interpreter of Maladies’ karena selalu tergoda sama buku-buku lain. Unaccustomed Earth, gue temukan di rak new release di Times UPH – Karawaci. Iseng-iseng aja sih, gue baca halaman pertama… dan gue langsung tertarik, karena ternyata bahasanya ringan dan mudah diikuti (Inggris-nya gak bikin pusing, dan… discount 20%!)

Unaccustomed Earth merupakan kumpulan cerita pendek. Ada 8 tepatnya, Unaccustomed Earth sendiri adalah cerita pertama dalam buku ini. 5 cerita di bagian pertama adalah cerita-cerita yang gak ada hubungannya satu sama lain, sedangkan di bagian kedua, bercerita tentang perjalanan hidup Hema dan Khausik.

Dari 8 cerita itu, ada ciri khas atau ‘benang merah’nya. Semua bercerita tentang orang-orang India yang ber-imigrasi ke Amerika untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Di tanah rantau, mereka menjalin persahabatan dengan sesama warga India pendatang lainnya. Mereka beranak-pinak di sana, tapi tradisi seolah ‘terhenti’ pada orang tua. Para orang tua masih melalukan ritual mudik setiap tahun, sementara anak-anak mereka sudah terpengaruh budaya modern – menjalin hubungan dengan bukan orang India, jarang menggunakan bahasa Ibu mereka.

Setiap cerita dalam buku ini, meskipun seperti yang gue bilang punya benang merah, tapi menyajikan cerita atau sudut pandang yang berbeda. Tapi, gak usahlah diceritain satu-satu kali ya. Yang pasti, semuanya begitu simple, tapi dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Bukan cerita-cerita yang menjual mimpi-mimpi indah atau romantisme belaka, tapi… bahasanya yang sederhana, membuat semua cerita jadi indah (bingung?). Pokoknya gue begitu terhanyut dengan semua cerita dalam buku ini. Cerita favorit gue adalah Unaccustomed Earth dan bagian Hema dan Khausik.
Read more »

Minggu, 20 Desember 2009

10 Buku Pilihanku 2009

10 Buku Pilihanku 2009

Meneruskan tradisi yang saya lakukan sejak tahun 2006 yang terinspirasi oleh apa yang dilakukan Endah Sulwesi dengan blog Perca-nya, maka berikut adalah 10 buku pilihan versi saya yang saya baca sepanjang tahun 2009 ini.

Sepanjang 2009 ini saya telah menamatkan 33 buah buku dan 32 dari buku yang saya baca tersebut telah saya buatkan reviewnya. Tahun ini saya membaca Lebih sedikit dari tahun sebelumnya yang mencapai 40an buku. Mungkin karena kesibukan domestik yg bertambah semenjak kehadiran akan ke-2 dalam hidupku yang otomatis menyita jam bacaku.

Urutan buku-buku pilihan di bawah ini saya buat berdasarkan urutan alphabet judulnya, jadi bukan
berdasarkan rangking. Tentunya buku-buku yang saya pilih hanya berdasarkan buku-buku yang telah saya tamatkan membacanya dan sangat kental dengan nuansa subyektifitas saya sebagai seorang pembaca awam. Jadi mohon buku-buku pilihan versi saya ini tidak untuk diperdebatkan.

Ini dia 10 buku pilihan saya sepanjang 2009 ini

Buku Terjemahan :

1. Istanbul, Kenangan sebuah Kota - Orhan Pamuk
2. Lady Chaterley's Lovers - DH. Lawrence
3. Little Woman - Louisa May Alcott
4. The Road - Cormac McCarthy
5. The Gargoyle - Andrew Davidson

Buku Lokal :

1. Braga, Jantung Parijs van Java - Ridwan Hutagalung & Taufani Nugraha
2. Elle Eleanor - Zev Zanzad
3. Para Penggila Buku, 100 Catatan di balik Buku - Diana AV. Sasa & Muhidin M Dahlan
4. Seratus Buku Sastra yg Perlu Dibaca Sebelum Dikuburkan - Tim I:boekoe
5. Tanah Tabu - Anidita

Sedangkan jika saya harus memilih best of the Best dari 10 buku di atas, maka pilihan saya jatuh pada buku :

“Para Penggila Buku – 100 catatan di balik Buku!”.

Mengapa? karena melalui buku ini saya diajak melihat semua pernak-pernik dalam dunia buku, sehingga membuka wawasan saya bahwa dunia di balik buku itu begitu luas dan kaya, selain itu ternyata buku menyimpan berbagai kisah menarik yang tak habis-habisnya untuk diceritakan.

Berikut daftar lengkap buku2 yang saya baca sepanjang tahun 2009 ini :

1. Christ The Lord (Road to Cana) – Anne Rich
2. Old Surehand 1 : Oase di Lliano Estacado – Karl May
3. Stromchaser - Paul Stewart & Chris Riddell
4. Lady Chaterley's Lover – Dh. Lawrence
5. Istanbul, Kenangan Sebuah Kota – Orhan Pamuk
6. Tintin dan alpha Art – Herge
7. Inkheart – Cornelia Funke
8. The Road – Cormac McCarthy
9. Lara Kusapa – Bonjour Tristesse
10. Metamorfosis – Franz Kafka
11. The Dragon Scroll - I. J. Parker
12. Lelaki Tua dan Laut – Hemingway
13. The Missing Rose – Serdar Ozkan
14. Coraline - Neil Gaiman & P. Craig Rusell
15. The Gargoyle - Andrew Davidson
16. Tintin dan Picaros - Herge
17. Dream from My Father Pergulatan hidup Obama – Obama
18. Little Woman – Luoisa May Alcott
19. Kamus Khazar - Milorad Pavic
20. Oeroeg – Hella s. Haase
21. Dewey - Vicky Myrom & Bret Witter

Buku Lokal
1. Goodbye Bush – Sepatu Perpisahan dari Baghad
2. Maryamah Karpov – Andrea Hirata
3. Kepleset - Regina Kencana
4. Tak Tik Foto - Angel
5. Sastra Sepeda dari Boja - Arif Khusnudhon, dkk
6. Metropolis - Windry Ramadhina
7. Tanah Tabu – Anindita
8. Para Penggila Buku – Diana AV. Sasa & Muhidin M. Dahlan
9. Gaul Jadul – Biar Memble asal Kece – Baihaqi
10. Elle Eleanor – Zev Zanzad
11. Braga – Jantung Parijs van Java - Ridwan Hutagalung & Taufani Nugraha
12. Seratus Buku Sastra yang harus dibaca sebelum dikuburkan - Tim i:boekoe

Buku yang sedang dibaca :

1. Kepulauan Nusantara – Sebuah Kisah Perjalanan, Kajian Manusia dan Alam - Alfred Russel Wallace
2. Libri di Luca – Mikkel Birkegaard
3. Monte Christo - Alexander Dumas
4. Midnight Children - Salman Rushdie
5. Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda (1600 - 1950) - Harry A. Poeze
6. Divine Madness - Triwibs
7. Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia: Jilid 1 Agustus 1945-Maret 1946 - Harry A. Poeze
8. Nagabumi - Seno Gumira Ajidarma

Demikian, list bacaan dan 10 buku favorit versiku, bukan sekedar untuk gagah-gagahan tapi sekedar membagi pengalaman membaca selama setahun ini. Semoga memacu teman-teman untuk tetap membaca dan menulis! GBU!

@htanzil
Read more »

Senin, 14 Desember 2009

Dewey

Judul: DEWEY - Kucing Perpustakaan Kota Kecil yang Bikin Dunia Jatuh Hati
Penulis: Vicki Myron dan Brett Witter
Penerjemah: Istiani Prayuni
Penyunting: Mita Yuniarti dan Anton Kurnia
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta
Terbit: I, Oktober 2009
Tebal : 400 hlm

Buku yang diangkat dari kisah nyata ini menceritakan kisah Dewey seekor kucing jalanan yang ketika usianya baru beberapa minggu dibuang ke sebuah kotak pengembalian buku di Perpustakaan Umum Spencer, Iowa, Amerika Serikat oleh seseorang tak dikenal saat musim dingin di tahun 1998. Ia baru ditemukan keesokan harinya oleh direktur perpustakaan, Vicki Myron.

Dalam keadaan yang hampir mati beku kedinginan Vicki mengangkat kucing itu dan segera menghangatkannya dan menjadikan perpustakaan sebagai rumah bagi si kucing. Siapa yang bisa menduga, tindakan sederhana yang dilakukan Vicki terhadap anak kucing jalanan itu kelak akan memberi pengaruh yang luar biasa besar baik untuk dirinya, Perpustakaan Spencer, bahkan kota kecil Iowa pada umumnya.

Kucing malang itu diberinya nama Dewey, seperti nama penemu system pengklasifikasian buku. Dewey segera mencuri hati para pegawai Perpustakaan Spencer. Hampir semua staf perpustakaan mencintainya. Tak seperti kucing jalanan pada umumnya, Dewey terlihat lebih manis, cerdas, dan yang terutama adalah sikapnya dan interaksinya yang baik terhadap pengunjung perpustakaan.

Awalnya kehadiran Dewey hanya diketahui oleh staf perpustakaan dan beberapa pengunjung saja, namun lambat laun Dewey semakin terkenal, seminggu setelah ia tinggal di perpustakaan kisah penyelamatan Dewey muncul di harian pertama surat kabar lokal. Publisitas ini akhirnya membuat seluruh penduduk Iowa mengetahui keberadaannya.

Kepopuleran Dewey dan sikap manisnya terhadap pengunjung perpustakaan membuat Dewey seolah menjadi duta perpustakaan dan inspirasi bagi siapa saja yang berinteraksi dengannya. Hal ini dibuktikan dengan semakin banyaknya orang yang tertarik pada Dewey, jumlah kunjungan ke perpustakaan Spencer bertambah secara mencolok. Orang-orang tinggal lebih lama di perpustakaan dibanding sebelumnya, mereka pulang dengan gembira dan kegembiraan itu dibawa pulang ke rumah, ke sekolah, dan ke tempat kerja. Dan orang-orang mulai membicarakan Perpustakaan Spencer.

Ketenaran Dewey ternyata terus bertambah, kini ia tak hanya dikenal di Iowa, kisahnya bahkan menembus hingga ke kota-kota sekelilingnya, melintasi negara bagian, hingga akhirnya merebak ke Negara-negara lain. Bahkan televisi NHK Jepang memilih Dewey menjadi proyek pertama mereka dalam pembuatan film dokumenter binatang.

Kehidupan Dewey selama sembilan belas tahun ini akhirnya memang akan menjadi sumber kebanggaan bagi Iowa, sebuah kota pertanian yang ketika Dewey ditemukan nyaris bangkrut. Dewey memang tidak menciptakan lapangan kerja atau apapun yang membuat kota Iowa menjadi maju secara ekonomi, namun tanpa disadari kehadiran Dewey muncul pada saat yang tepat dimana saat itu Amerika dilanda krisis ekonomi, kehadiran Dewey sedikit banyak telah mengalihkan pikiran negatif dari pendududuk Iowa akibat krisis ekonomi.

Kisah kehidupan Dewey, kucing perpustakaan inilah yang oleh Vicki Myron (penemu Dewey) dan Bret Witter (editor dan pecinta kucing) dituangkan dalam sebuah buku yang diberinya judul “Dewey”. Secara umum buku ini memang menceritakan bagaimana seekor kucing jalanan yang dibuang orang kelak akan menjadi kucing yang paling dikenal di dunia dan bagaimana Dewey menjadi inpirasi bagi banyak orang.

Pada awalnya Dewey hanya menyentuh kehidupan Vicki, ia menjadi perekat hubungan Vicky dengan anak gadisnya yang mulai renggang. Lalu Dewey juga menjadi perekat hubungan antar staf perpustakaan Spencer tempat Vicki bekerja. Lambat laun pengaruh positif Dewey semakin meluas lagi. Sikapnya yang manis terhadap pengunjung perpustakaan membuat ia menjadi kucing yang paling dicintai.

Tak hanya warga kota Iowa saja yang mencintai Dewey, bahkan orang-orang dari luar kota yang jaraknya puluhan hingga ratusan kilometer dari Iowa pun kerap berkunjung ke perpustakaan Spencer untuk menemui Dewey.

Dari keseluruhan kisah mengenai Dewey dalam buku ini, kita tak akan menemui sebuah peristiwa heroik yang dilakukan Dewey. Dewey bukanlah kucing pahlawan, ia hanyalah seekor kucing biasa, namun yang membuat ia terkenal dan menjadi inpirasi bagi banyak orang adalah sikapnya yang manis terhadap semua pengunjung perpustakaan.

Dewey tidak memilih-milih orang yang disayanginya. Dia mencintai semua orang tanpa pilih kasih. Setiap hari dia Setiap menyambut orang-orang yang datang ke perpustakaan, duduk di pangkuan pengunjung yang membutuhkannya, sehingga membuat orang-orang itu merasa diperhatikan oleh Dewey.

Hal terbesar yang dilakukan Dewey adalah bagaimana persahabatannya dengan Crsytal seorang gadis cacat. Dewey mampu mengubah gadis yang tadinya sangat tertekan menjadi lebih optimis dan menikmati saat-saat bahagia bersamanya. Tak hanya dengan Crystal, Dewey juga bersahabat dengan seorang gelandangan, anak yang setiap harinya ditinggal kerja oleh ibunya, hingga seorang eksekutif muda. Hubungannya dengan banyak orang dari berbagai kalangan itulah yang membuat Dewey menjadi inpirasi bagi semua orang yang berinteraksi dengannya.

Apa yang ditulis oleh Vicki mengenai kucing kesayangannya ini memang luar biasa, namun untungnya Vicki tak terjebak untuk menuliskan semua kelebihan Dewey. Di buku ini juga akan terungkap sisi buruk Dewey seperti cerewet dalam memilih makanan, sulit untuk diajak ke dokter, kabur dari perpustakaan, dll. Sehingga sosok Dewey yang ditampilkan bukanlah sebagai kucing sempurna, melainkan seekor kucing normal yang memiliki kabaikan dan keburukan.

Selain tentang Dewey, tampaknya penulis juga menuturkan kisah hidupnya dalam buku ini. Mulai dari kisah pernikahannya yang gagal, perjuangannya membesarkan satu-satunya anak gadisnya, hingga berbagai penyakit yang dideranya.

Karena kehidupan Dewey berada dalam perpustakaan, maka aktivitas dan semua pernah-pernik perpustakaan akan muncul di buku ini. Seperti bagaimana perkembangan perpustakaan Spencer dari waktu ke waktu selama Dewey hidup, beralihnya sistem manual ke komputerisasi, usaha-usaha yang dilakukan perpustakaan kota Spencer untuk menarik minat pengunjung, dll.

Hal ini tentunya sangat menarik dan bermanfaat juga bagi pemerhati dan praktisi perpustakaan kita. Sedikit banyak kita akan belajar dan disadarkan bahwa fungsi perpustakaan bukan sekedar gudang yang sunyi tempat menyimpan buku, melainkan juga sebuah tempat untuk berkumpul, ruang publik di mana perpustakaan menjadi sentral bagi perkembangan dan berbagai aktifitas sosial dan budaya masyarakat di sekitarnya.

Sebagai kesimpulan, buku yang diangkat dari kisah nyata ini kita akan disuguhkan kisah menakjubkan dari seekor kucing yang begitu menginpsirasi jutaan orang. Bukan karena tindakan kepahlawanannya, melainkan karena cinta, kemurahan hati, dan kekuatan hubungan yang baik antara manusia dengan hewan. Selain itu, buku ini juga mengajak pembacanya untuk berpikir positif di tengah segala kesulitan hidup.

@h_tanzil
Read more »

Selasa, 01 Desember 2009

Anne of Windy Poplars

Anne of Windy Poplars
Lucy M. Montgomery
Yarmanto (Terj.)
Qanita, Cet. 1 - Oktober 2009

Wah… Anne semakin sukses… Dunianya tidak hanya berkutat di Green Gables, Avonlea atau pun teman-teman masa kecil atau remajanya. Karir Anne di bidang pendidikan semakin melaju. Anne jadi kepala sekolah di Summerside.

Anne nge-kos di sebuah rumah bernama Windy Poplars di sebuah daerah dengan nama jalan Spook’s Lane. Bukan Anne namanya kalau tidak menemukan sisi romantis dari apa saja. Nama Windy Poplars dan Spook’s Lane segera saja membangkitkan segala imajinasi dalam diri Anne. Windy Poplars adalah kepunyaan dua orang janda bernama Bibi Kate dan Bibi Cathy. Di rumah itu, juga ada seorang perempuan lagi bernama Rebecca Dew. Seger

Anne terpaksa menjalani hubungan ‘long distance’ dengan Gilbert Blythe yang juga sedang melanjutkan sekolahnya di bidang kedokteran. Wow… Sebagian besar cerita dalam buku ini berisi surat-surat Anne untuk Gilbert.

Perjalanan Anne menjadi kepala sekolah tidaklah mulus, ada pihak-pihak yang tidak menyukainya dan terus melakukan berbagai cara untuk membuat Anne tidak betah dan menyerah. Mereka adalah keluarga Pringle. Keluarg Pringle bisa dibilang keluarga yang ‘berkuasa’ di daerah Summerside. Berbagai aspek kehidupan di Summerside pastilah ada pengaruh dari keluarga Pringle. Mereka tidak menyukai Anne gara-gara salah seorang saudara mereka gagal jadi kepala sekolah di Summerside, posisi yang sekarang diduduki Anne.

Berbagai cara dilakukan Anne untuk ‘menaklukan’ anak-anak keluarga Pringle yang jadi murid didiknya, tapi, tetap saja tidak berhasil. Malah Anne semakin jadi bulan-bulanan anak-anak keluarga Pringle, terutama Jen yang nakal. Tapi… salah satu rahasia kecil, membuat keluarga Pringle ‘tunduk’ pada Anne. ‘Tetua’ keluarga Pringle – Miss Ellen dan Miss Sarah, langsung ‘turun gunung’ untuk membereskan masalah ini, dan mereka berdua sudah ‘menginstruksikan’ kepada seluruh anggota keluarga Pringle untuk menghormati Anne dan mereka meminta dengan sangat pada Anne agar tidak membocorkan rahasia yang diyakini bisa membuat keluarga Pringle malu berat. Hmmm…

Beres satu masalah… adalagi masalah lain. Masalah dengan rekan sekerjanya, Katherine Broke, yang bawaannya jutek terus. Dengan jiwa romantisnya, Anne yakin bisa merubahh sikap Katherine jadi orang yang lebih ramah.

Selain berteman dengan anak-anak muridnya dan mendapatkan beberapa ‘teman sejiwa’, kali ini Anne banyak bersahabat dengan orang-orang tua yang nyentrik, selain Bibi Kate, Bibi Cathy, lalu Miss Ellen dan Miss Sarah Pringle, ada satu perempuan tua bernama Miss Minerva Tomgallon, yang dengan bangga menceritakan berbagai ‘tragedi kematian’ di keluarganya pada saat Anne diundang bermalam di rumahnya!

Lalu ada lagi perempuan yang kerap dipanggil Bibi Sok Usil, karena suka ikut campur urusan pribadi orang, apalagi untuk urusan percintaan.

Anne juga berkenalan dengan Mr. Franklin Westcott, sosok pria tua yang ditakuti dan terkenal ‘galak’. Bahkan anak gadisnya, Dovie, nekat kawin lari dengan Jarvis, karena takut sama ayahnya. Siapa lagi yang membantu usaha kawin lari dan jadi ‘penanggung jawab’ untuk urusan perdamaian, kalau bukan Anne?

Gilbert di sini hanya tampil sebagai sosok dalam surat-surat Anne, Green Gables juga ‘tampil’ sekilas waktu Anne pulang liburan. Hmmm… kaya’nya akan lebih seru kalo ada ‘konflik’ sedikit antara Anne dan Gilbert. Coba ada sosok cowok lain – guru di sekolah yang sama – yang suka sama Anne… atau gimana ya kalo Anne lagi jealous? Hehehe…

Read more »

Selasa, 17 November 2009

The Men’s Guide to the Women’s Bathroom

The Men’s Guide to the Women’s Bathroom
(Tak Ada Rahasia di Dalam Kamar Mandi)

Jo Barrett @ 2008
Widyawati Octavia (Ed..)
GagasMedia – Cet. I, 2009
382 Hal.

Setelah bercerai dengan suaminya, Claire St. John, meninggalkan pekerjaannya sebagai pengacara di New York, kembali ke kampung halamannya di Austin, Texas. Claire mencari segala cara untuk menghapus luka di hatinya dan melupakan mantan suaminya.

Ternyata, untuk mendapatkan sebuah nasihat terbaik, entah itu, hanya mencuri dengar atau berbicara secara langsung dengan orang lain, bisa didapatkan di dalam kamar mandi. Segala macam hal bisa didapatkan di kamar mandi, pengalaman, curhatan, atau sekedar memperhatikan tipe-tipe perempuan hanya dari lipstick yang dia pakai, busananya, dan lain-lain.

Nah, dari sinilah, Claire mendapatkan ide untuk menulis sebuah ‘buku panduan’, bukan tipe buku panduan yang serius, tapi, rasa-rasanya akan berguna buat para cowok biar lebih ‘mengerti’ dunia kaum perempuan.

Banyak yang meragukan keputusan Claire untuk jadi penulis, terutama ibunya. Tapi, Claire tetap dengan keputusannya. Teman-temannya, seperti Aaron, Leslie, Heather atau Laura, secara langsung atau pun tidak, ikut memberi kontribusi dalam penulisan guidance itu.

Claire pun menata ulang kembali hidupnya dengan menjalin hubungan dengan pria lain. Hubungan ini nyaris kandas, gara-gara ulah Claire di kamar mandi.

Hmmm… coba perhatiin, deh (khususnya untuk para cowok), cewek-cewek emang seneng pergi ke kamar mandi bareng-bareng. Mungkin lebih nyaman kali ya, kalau ada orang lain yang dikenal di tengah-tengah orang asing. Gue jadi inget waktu jaman-jaman sekolah dulu, kalo lagi jam pelajaran mau ke kamar mandi, pasti ngajak temen… ya, secara kamar mandinya juga agak-agak spooky gitu.

Tapi, di kamar mandi… bener seperti kata Claire, kita bisa melakukan, menemukan apa aja. Bisa curhat, bisa nge-gosip, atau sekedar merenung sendirian… atau ‘melarikan diri’ sejenak seperti Laura – baca majalah, nyelesain novel yang ending-nya bikin penasaran.

Untuk bukunya sendiri, ditulis (diterjemahkan) dengan bahasa yang santai… yak has Chicklit. Untuk isinya sendiri… hmmm.. so-so lah… lumayan deh, buat selingan. Awal gue memutuskan untuk membeli buku ini, karena judulnya. Tadinya, gue pikir ini buku non-fiksi. Dan, buku ini juga sempat ‘terlantar’ selama beberapa waktu.
Read more »

Senin, 16 November 2009

Oeroeg - Hella S. Haasse

No. 228
Judul : Oeroeg
Penulis : Hella s.Haasse
Penerjemah : Indira Ismail
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Oktober 2009
Tebal : 144 hlm

Oeroeg adalah sebuah novel klasik karya sastrawan Belanda, Hella S. Haasse. Walau novel ini ini untuk pertama kalinya diterbitkan dalam bahasa Belanda pada tahun 1948 namun baru kali ini Oeroeg diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Peluncuran terjemahan novel ini beberapa bulan yang lalu merupakan bagian dari kampanye Kedutaan Besar Belanda untuk Indonesia dalam rangka The Netherland Read, yang berlangsung hingga 20 November 2009.

The Nedherland Read adalah kampanye buku-buku Belanda yang telah berlangsung sejak 2006. Tiap tahunnya satu buku karya penulis terkenal dipilih untuk disebarkan gratis kepada khalayak, dibaca, dan bila mungkin didiskusikan bersama. Tahun ini buku yang terpilih adalah Oeroeg karya Hella S Haass, penulis Belanda yang lahir dan dibesarkan di Indonesia sebelum masa kemerdekaan RI. Novel Oeroeg ini adalah novel pertamanya yang terbit tahun 1948.

Dalam novelnya ini Hella mengungkapkan bahwa Oeroeg adalah laporan pencarian jejak masa lalu tokoh ‘aku’, laki-laki muda berkebangsaan Belanda yang pada tahun 1947 mengenang kembali masa kanak-kanak hingga remajanya di Indonesia dan persahabatannya dengan seorang laki-laki Indonesia sebayanya yang bernama Oeroeg.

Bagi tokoh ‘aku’ Oeroeg adalah sahabat sejatinya, bagian dari masa kanak-kanaknya. Oeroeg dan tokoh aku dikisahkan selalu bersama dalam setiap tahap perkembangan, mulai dari anak-anak hingga lelaki muda. Bisa dikatakan kehidupan Oeroeg dan tokoh ‘aku’ begitu melekat bagaikan sebuah segel walau mereka sebenarnya terpisahkan oleh jurang strata sosial pada masa itu.

Tokoh aku adalah putra tunggal seorang administrateur di perkebunan Kebon Jati di pedalaman pegunungan Priangan, Sukabumi Jawa Barat, sedangkan Oeroeg adalah putra sulung mandor tempat dimana ayah si aku bekerja sebagai administraterur. Sebagai balas jasa atas ayah Oeroeg yang meninggal karena menyelamatkan tokoh aku, maka Oeroeg disekolahkan hingga ke tingkat MULO
Rupanya tempat yang terpencil dan kurangnya kedekatan antara tokoh Aku dengan kedua orang tuanya maka terbentuklah persahabatan antara tokoh aku dengan Oeroeg. Hanya dengan Oeroeglah ia dapat bermain dan menemukan penghiburan. Bahkan bahasa Sunda menjadi bahasa yang lebih akrab baginya dibanding bahasa Belanda.

Kesadaran akan adannya perbedaan diantara mereka mulai nampak ketika akhirnya hubungannya dengan Oeroeg menimbulkan cemoohan dan penolakan diantara orang-orang disekitarnya, terutama cemoohan yang dialamatkan pada Oeroeg. Namun walau demikian persahabatan mereka tetap berlanjut.
Semakin mereka dewasa, mereka semakin menyadari bahwa mereka memang berbeda. Oeroeg kini menyadari bahwa ia hanyalah seorang inlander sedangkan sahabatnya orang Eropa. Oeroeg sadar bahwa dirinya banyak mengalami penolakan dari orang-orang Belanda. Pada masa itulah jarak antara Oeroeg dan tokoh aku muncul,. Oeroeg mau tidak mau memasukkan sahabatnya sebagai golongan Eropa yang menolaknya.

Perbedaan diantara mereka semakin kentara setelah Oeroeg menjadi pemuda revolusioner yang menolak kerjasama dengan pemerintah Belanda yang notabene merupakan golongan sahabatnya sendiri. Namun walau demikian mereka tetap saling kontak dan persahabatan mereka walau tak seakrab dahulu namun mereka tetap saling berhubungan satu dengan lainnya hingga akhirnya tokoh aku harus berangkat ke Eropa untuk menyelesaikan studinya.

Saat ia bersekolah di Belanda, hubunga mereka terputus juga hingga akhirnya ia lulus dan kembali ke Hindia. Sepulang dari Eropa, tokoh Aku mencari sahabatnya, kebetulan ia kini dipekerjakan pada perbaikan jembatan-jembatan di Priangan yang dirusak oleh pejuang-pejuang Republik. Sebuah tugas membawanya ke tempat dimana ia melewati masa kecilnya bersama Oeroeg. Kesempatan ini dipakainya untuk mencari sahabatnya. Akankah Oeroeg berhasil ditemuinya?

Novel Oeroeg yang menceritakan lika liku persahabatan antara bocah pribumi dan anak andministratur Belanda ini ditulis oleh Hella S. Haase, (91 tahun) pada saat ia masih berusia 30 tahun dan merupakan novel perdananya yang akan mengangkat namanya sebagai penulis Belanda kenamaan.

Hella sendiri adalah penulis Belanda kelahiran Batavia pada 2 Februari 1918, Ibunya adalah seorang pianis bernama Katherina Diehm-Winzenhohler dan ayahnya seorang inspektur
keuangan pemerintahan kolonial Belanda bernama Willem Hendrik Haasse. Lewat
pekerjaan ayahnya inilah maka Hella yang lahir di Batavia dan melewatkan masa kanak-kanak hingga remajanya di Hindia hafal betul bagaimana suasana kehidupan di Hindia.

Karena novel ini dibangun sebagian besar berdasarkan kesan dan pengalaman Hella dan pengalaman masa remajanya di Indonesia maka tak heran jika dalam novelnya ini Hella mendeskripsikan suasana alam, kehidupan keluarga Belanda dan pribumi, rumah-rumah penduduk pribumi dan belanda dengan begitu detail dan memikat.

Begitu detailnya Hella mendeskripsikan latar ceritanya sehingga kita seolah-olah melihat sendiri apa yang digambarkan oleh Hella, jika kita tak mengetahui siapa penulisnya mungkin kita akan menyangka bahwa novel ini ditulis oleh penulis lokal. Cara betutur Helle dalam novel ini juga enak dinikmati sehingga mampu membawa pembacanya menyelami situasi Indonesia di zaman itu.

Ketika novel ini ditulis situasi politik antara Indonesia dengan Belanda sedang dalam keadaan kritis yang akan memuncak di agresi militer Belanda II atas Indonesia pada 1948 dan konflik ini akan berimbas pada kisah persahabatan Oeroeg dalam novel ini dimana sikap sebagian besar masyarakat Indonesia begitu membenci terhadap orang-orang Belanda.

Dalam hal penokohan karakter, karena tokoh Aku merupakan si pencerita maka apa yang dialami, dirasakan oleh si pencerita tereksplroasi dengan dengan baik, konsekuensinya kedalaman karakter oeroeg menjadi kurang tereksplorasi, misalnya bagaimana proses perubahan Oeroreg saat akhirnya tertarik dengan gerakan pemuda revolusioner. Jika saja Helle mengeksplorasi hal ini tentunya novel ini akan semakin menarik karena dapat melihat dari kedua sisi bagaimana akhirnya persahabatan mereka mulai berubah akibat perubahan watak Oeroeg.

Novel yang kental dengan aroma persahabatan yang terusik karena perbedaan ras dan pengaruh dari situasi politik di kehidupan tokoh-tokoh daam novel ini pada akhirnya akan membawa pembaca pada sebuah perenungan akan arti sebuah persahabatan.

Dengan indah Hella mengakhiri novel pendeknya ini dengan berbagai pertanyaan yang timbul dari benak si penceritanya (tokoh aku) sehingga setelah membaca habis novel ini pembaca akan diajak merenung dan mencoba mencari jawaban atas semua pertanyaan itu. Dan yang pasti melalui novel ini kita akan disadarkan bahwa persahabatan sejati pada akhirnya tak akan mungkin dipisahkan karena perbedaan ras, ideologi, perang, bahkan sebuah revolusi sekalipun.

Kedalaman pesan, dan setting Hindia Belanda di tahun 30-40an yang selama ini dianggap eksotis bagi warga dunia, khususnya orang Belanda tampaknya membuat novel ini menjadi novel klasik dunia dan akhirnya menarik perhatian para sineas Belanda untuk memfilmkannya pada tahun 1993 dengan judul yang sama dengan novelnya “Oeroeg” yang beberapa tokohnya diperankan oleh aktor/artis Indonesia yaitu Adi Kurdi, Ayu Azhari, dan Jose Rizal Manua.

Karena media buku dan film berbeda, tentunya ada banyak tambahan-tambahan kisah dalam film untuk mendramatisir kisahnya yang tidak ada dalam bukunya. Ada juga yang menilai bahwa film Oeroeg terkesan lebih bernuansa politis dibanding novelnya yang lebih menekankan makna persahabatan.

@h_tanzil
Read more »

All Those Things We Never Said

All Those Things We Never Said (Toules ces qu’on ne c’est pas dites)
Marc Levy @ 2008
World ++ Translation Service (Terj.)
Penerbit Bentang, Cet. I – July 2009
360 Hal.

Hubungan Julia Walsh dengan ayahnya, Anthony Walsh, memang tidak begitu baik. Sejak kecil, Julia selalu menunggu ayahnya yang kerap sibuk dengan pekerjaannya, sering bepergian ke luar negeri, atau kalau pun mereka berlibur bersama, Anthony sibuk dengan telepon bisnisnya. Hingga, Julia akan menikah, mereka jarang sekali berhubungan. Julia hanya mengirim undangan pernikahannya via pos, tidak meminta ayahnya untuk hadir secara langsung.

Tapi, menjelang detik-detik akhir Hari H pernikahan Julia dan Adam, justru Anthony ‘mengacaukan’ segalanya, hingga Julia dan Adam terpaksa menunda pernikahan mereka. Kenapa? Karena tepat di hari Julia seharusnya menikah, ia justru harus memakamkan ayahnya.

Belum hilang rasa terkejut Julia, meskipun ia tidak terlalu merasa kehilangan mengingat hubungan mereka yang tidak terlalu baik, ia mendapatkan sebuah paket yang isinya sangat aneh – sebuah android, robot ‘manusia’, yang ‘mengambil’ bentuk ayahnya. Lewat robotnya, Anthony mencoba memperbaiki kesalahan-kesalahannya di masa lalu.

Julia yang keras kepala tidak begitu saja menerima kehadiran android itu, apalagi ketika ‘Anthony’ mengaku sudah ‘mensabotase’ kehidupan masa lalu Julia, cinta pertama Julia dengan seorang komunis asal Jerman.

Julia pun melakukan ‘napak tilas’, menghilang dari tunangannya – karena gak mungkin dong, dia bilang pergi sama ‘ayahnya’? Mulai dari Montreal, sampai ke Jerman. Mencari sosok pria yang ternyata belum sepenuhnya bisa ia hilangkan dari benaknya.

Aneh juga kali ya, tiba-tiba dapet kiriman dalam bentuk orang yang kita tahu udah meninggal. Tapi, gue lebih milih seandainya ceritanya benar-benar tentang ‘ayah dan anak’. Di sini, kaya’nya lebih ke Julia yang mencari cinta pertamanya, dilatarbelakangi sama runtuhnya Tembok Berlin, waktu Julia remaja yang lagi seneng-senengnya memberontak nekat pergi ke perbatasan bareng teman-temannya. Di tengah-tengah peristiwa itulah, Julia bertemu dengan Thomas. Thomas yang idealis

Banyak adegan ‘selisipan’ jalan yang bikin gemes. Sedikit menyisakan ‘pertanyaan’ di akhir cerita. Bukan cerita favorit gue, tapi, rasanya gue ikut ‘tersentuh’ sama usaha Anthony untuk membuat Julia bahagia dan mendapatkan ‘ma’af’ dari Julia di enam hari ‘terakhir’ kebersamaan mereka.

Buku Marc Levy lain yang pernah gue baca adalah If Only It were True, ada hubungannya sama orang yang udah meninggal juga, or at least ‘in between’… apakah buku-bukunya yang lain juga bertema sama, ya?

Read more »

Minggu, 08 November 2009

Feel: What I Want in Life

Feel: What I Want in Life
Wulan Guritno & Adilla Dimitri @ 2009
Penerbit Edelweiss – Cet. I, Oktober 2009
244 Hal.

Gue menemukan buku ini ketika lagi ‘kehabisan’ bacaan, tapi gak pengen beli buku yang terlalu ‘berat’. Pengen yang simple-simple aja. Dalam bayangan gue sih, gue berharap buku ini, buku ringan yang bisa gue habiskan sekali baca pas weekend.

Jadi, gue baca sambil nungguin Mika main di Lollypop, Senayan City. Tapi, wah… memasuki prolog-nya aja, ternyata dugaan gue salah. Buku ini, sangat serius. Gimana gak serius, ceritanya dibuka di pemakaman. Lalu bergulir ke sebuah petanyaan yang berat, dan susah untuk mencari jawabannya: Apa yang kamu inginkan dalam hidup ini?

Jadi, ceritanya, Kanya sangat terpukul dengan kematian sahabatnya, Tammy. Kanya merasa bersalah, karena di malam kematian Tammy, mereka berdua dugem bareng, agak-agak mabok, dan Kanya-lah yang mengemudikan mobil ketika kecelakaan itu terjadi. Kalimat terakhir Tammy, adalah sebuah pertanyaan di atas, yang membuat Kanya bengong dan hilang konsentrasi pas lagi nyupir.

Kanya dan Tammy sebenarnya bagaikan kucing dan anjing ketika pertama kali bertemu. Kanya yang manja, anak konglomerat. Sedangkan Tammy, juga anak tunggal, tapi dengan kondisi ekonomi yang berbeda. Suatu kejadian, membuat mereka berdua seolah tak terpisahkan lagi.

Kepergian Tammy – dengan pertanyaan yang menggantung itu – membuat Kanya berpikir, apa yang ia cari dalam hidup ini, apa yang membuatnya bahagia. Untuk mencari jawaban itu, Kanya pergi ke Bali. Tempat yang sebenarnya juga menyisakan duka untuk Kanya dan ayahnya.

Di Bali, Kanya berkenala dengan Gala, seorang musisi independent, anak pemilik rumah yang disewa Kanya. Gala yang cuek, awalnya sering melontarkan kalimat yang membuat Kanya tersinggung, tapi Gala juga yang akhirnya membuka mata hati Kanya, hingga ia bisa memutuskan apa yang ia pilih.

Sebuah novel filosofi dalam bentuk ringan. Ada nuasana roman terselip sedikit. Novel ini emang gue baca langsung habis, tanpa jeda. Tapi, malah bikin mikir… hehehe.. untuk bacaan ringan, gak cocok, tapi, bagus untuk jadi ‘santapan’ selingan yang mengenyangkan.

Sebagai pelengkap, novel ini ada 'soundtrack'nya, ada CD yang diselipkan dalam novel ini, lagu ciptaan Anang Hermansyah (belum sempet gue denger sih, CD-nya). Konon kabarnya, bakal ada filmnya juga, yang akan dibuat sama pasangan suami-istri ini.
Read more »

Kamis, 05 November 2009

Kelas Memasak Lilian (The School of Essential Ingredients)

Kelas Memasak Lilian (The School of Essential Ingredients)
Erica Baurermeister @ 2009
Bentang, Cet. 1 – September 2009
234 Hal.

Gue selalu tertarik baca novel yang ada hubungannya dengan masakan, makanan… kaya’nya so yummy (Farah Quinn’s tone: on). Dan gue mencari-cari ke-yummy-an itu lagi di buku Kelas Memasak Lilian. Wuiihh… mau nulis ini aja, bikin gue jadi laper…

Lilian mulai memasak untuk membuat ibunya ‘keluar’ dari dunianya sendiri. Ibu Lilian ‘melarikan diri’ ke buku sejak ayahnya pergi meninggalkan mereka. Lilian jadi benci buku. Ia seolah melihat wajah ibunya tergantung dari tokoh dari buku yang dibacanya saat itu. Ia mencoba berbagai masakan untuk menarik perhatiaannya ibunya, ia nyaris putus asa karena malahan masakannya tergantung juga dari apa yang dibaca ibunya. Untung dia pernah berkenalan dengan Abuelita, perempuan pemilik toko rempah-rempah dan bahan makanan. Abuelita memberinya sebuah ‘tongkat ajaib’.

Beranjak dewasa, Lilian pun membuka restoran, sekaligus mengadakan kursus memasak di setiap hari senin, ketika restoran tutup. Peserta kursus itu tidak banyak, tapi datang dari berbagai kalangan – misalnya Claire, seorang ibu rumah tangga, pasangan suami istri Carl dan Helen, Antonia, cewek Italia yang designer interior, ada Tom yang memang pernah berprofesi sebagai koki, lalu Chloe, Isabelle dan Ian. Mereka punya alasan masing-masing hingga mereka sampai di tempat Lilian.

Buku ini gak melulu menceritakan kesibukan di kelas masak itu, dan tidak hanya bercerita dari sisi Lilian. Setiap bab, satu tokoh yang bercerita, kita jadi tahu masa lalu masing-masing tokoh, kehidupan mereka sekarang, kenangan terhadap sebuah masakan atau kegiatan memasak. Misalnya, Claire – kesibukannya sebagai ibu rumah tanggga, mengurus suami dan dua orang anak yang masih kecil, membuat dia merasa gak mengenal dirinya lagi, gak tau lagi apa yang dia inginkan, kursus masak ini seolah jadi ‘me time’ bagi Claire. Lalu, Carl dan Helen, tampak mesra di depan semua murid, seolah mereka adalah pasangan idaman. Tapi, ternyata di balik kemesraan mereka, tersimpan masa lalu yang menyakitkan – cinta, gak berarti membuat pasangan bisa benar-benar setia. The good point is, belajar saling mema’afkan.

Antonia, cewek eksotis dari Italia, rindu kampung halaman – sedang pusing menghadapi klien yang memintanya mendesign sebuah dapur di rumah tua. Antonia yang ingat kampung halamannya, merasa sayang banget kalau dia harus membongkar dapur itu, dapur yang mengingatkannya pada suasana di kampungnya di Italia.

Ian, si ahli computer, diam-diam suka sama Antonia. Kursus memasak adalah hadiah dari ibunya. Si kaku Ian, harus belajar bersosialisi dengan yang lain. Beda dengan Tom, ia ikut kursus masak demi kenangannya akan istrinya yang sudah meninggal. Mendiang istrinya adalah seorang koki.

Isabelle, perempuan tua yang kesepian dan pelupa , dan terakhir si ceroboh, Chloe. Sebagai pelayan restoran, Chloe sangat ceroboh. Entah sudah berapa banyak gelas, piring yang pecah.

Semuanya seolah penuh cinta. Di setiap bab, Lilian juga mengajari seri resep yang berbeda, yang selalu mempunyai cerita atau filosofi di balik resep itu. Selalu menggunakan bahan-bahan yang alami, sentuhan langsung dengan tangan. Tapi, Lilian sendiri ‘digambarkan’ sebagai tokoh yang misterius.

Gue seolah merasakan ‘kehangatan’ di dalam dapur – bukan hanya yang terjadi di kelas memasak itu, tapi di setiap dapur setiap tokoh. Kaya’nya penuh cinta, penuh rasa sayang… hahaha.. kenapa jadi sok romantis gini?!!

Read more »