Senin, 26 Juli 2010

Shinjū

Shinjū
Laura Joh Rowland @ 1994
Reni Indardini (Terj.)
Hikmah - Cet. I, Januari 2010
532 Hal.

Sano Ichiro, diangkat sebagai seorang yoriki karena unsur balas budi. Seseorang yang sudah ditolong oleh ayah Ichiro di masa lalu ingin segera ‘menuntaskan’ rasa utang budinya kepada ayah Ichiro. Padahal, Ichiro tidak punya latar sebagai seorang ‘penegak hukum’, ia hanyalah seorang pengajar bela diri.

Dengan kedudukan barunya, orang mulai memandang segan padanya. Tapi tidak demikian dengan rekan-rekan sejawatnya yang tahu bagaimana latar belakang Ichiro sebenarnya. Rasa idealisme yang tinggi juga membuatnya dijauhkan dari lingkungan pergaulan sesama yoriki.

Munculah kasus kematian dua orang muda yang berbeda ‘derajat’. Niu Yukiko, seorang gadis dari keluarga ningrat dan Noriyoshi, seorang pemuda, seniman miskin. Mereka diyakini melakukan Shinjū, atau bunuh diri karena cinta terlarang. Atasan Ichiro, Hakim Ogyu, meminta Ichiro menulis laporan seperti yang sudah ‘diperintahkan’. Tapi, naluri Ichiro yang masih ‘polos’ berkata lain. Ia yakin ada sesuatu yang salah di balik kematian Yukiko dan Noriyoshi.

Ichiro pun mulai melakukan penyelidikan. Ia pergi ke kediaman keluarga Niu dan mendapat sambutan yang dingin dari Nyonya Besar Niu yang enggan kematian anak (tirinya) diungkit-ungkit. Lalu Ichiro pergi ke tempat di mana biasa Noriyoshi bekerja dan bertemu dengan orang-orang yang dianggap berpotensi mengingikan kematian seorang Noriyoshi.

Penyelidikan ini membuat pihak-pihak tertentu gerah, yang tidak ingin apa yang sebenarnya terjadi terungkap. Hakim Ogyu mulai ‘menekan’ Ichiro, beberapa orang jadi celaka. Tapi, Ichiro tetap maju, ia ingin keadilan ditegakkan.

Rumit sistem pemerintahan, peradilan di Jepang jaman dahulu kala. Di mana yang berkuasa senantiasa menekan anak buahnya dan jika tidak dipatuhi, kematian akan jadi akhir. Yang kaya selalu berusaha disembunyikan semua aibnya, sementara jika warga miskin, harus diungkap apa pun kejelekannya.

Yang membuat cerita ini menarik mungkin karena latar belakang cerita. Gue terlalu sering membaca cerita detektif dalam versi modern, jadinya buat gue apa yang ada dalam buku ini ‘menimbulkan rasa baru’. Meskipun nihhhh… gak terlalu membuat gue penasaran. Ending cerita juga gak terlalu dramatis. Tentu saja, Ichiro jadi pahlawan dan dapat kedudukan yang lebih tinggi dibanding jadi seorang yoriki.

Masih ada seri-seri Sano Ichiro selanjutnya, yang rasanya gak akan jauh-jauh dari misteri pembunuhan.
Read more »

Rabu, 21 Juli 2010

Globucksisasi - Rahayu Kusali

No. 239
Judul : Globucksisasi (Meracik Globalisasi melalui Secangkir Kopi)
Penulis : Rahayu Kusasi
Penerbit : Kepik Ungu
Cetakan : I, Juli 2010
Tebal : 148 hlm

Kata ‘Globalisasi’ yang beberapa tahun yang lampau masih menjadi hal yang asing kini tanpa disadari telah menjadi bagian dari hidup kita. Tanpa harus tahu apa arti kata Globalisasi sadar atau tidak sadar sebagian dari apa yang kita konsumsi merupakan hasil dari budaya global. Contohnya adalah MTV, Coca-cola, Mc Donalds, Pizza Hut, Kentucky Fried Chicken, Starbucks, dll yang Semuanya dengan mudah dapat kita temukan di hampir semua kota besar di Indonesia.

Buku ini mencoba mengungkap bagaimana Starbucks telah menjadi salah satu fenomena globalisasi yang terjadi di tengah kita. Mengapa Starbucks yang dipilih oleh penulisnya? Selain karena penulisnya yang adalah mantan barista (bar tender) Starbucks, keunikan gerai kopi asal Amerika ini juga menarik untuk dicermati karena dari beberapa komoditas asing lainnya hanya Starbucks yang paling mempertahankan ciri aslinya dibanding Mc Donald’s, Pizza Hut, Kentucky Fried Chicken, dsb yang telah menyesuaikan produknya dengan budaya lokal.

Buku ini pada awalnya adalah sebuah penelitian antropologi tentang kehidupan seorang barista yang adalah si penulisnya sendiri ketika ia bekerja di Starbucks Jakarta. Walau merupakan hasil penelitian akademis namun jangan keburu menduga kita akan mendapatkan bacaan yang berat dan membuat kening berkerut karena apa yang tersaji di buku ini sangat mudah dicerna dan dimaknai.

Di bab pertama penulis memulai tuturannya dengan mengajak pembacanya menelusuri perjalanan biji kopi yang bermula di Kaffa, Etiophia dimana seorang penggembala kambing bernama Kaldi menemukan tumbuhan asing. Tanpa disengaja ternaknya memakan buah dari tumbuhan tersebut sehingga berperilaku aneh, karena penasaran akhirnya Kaldi mencoba sendiri buah tersebut dan hal ini ternyata membuatnya tetap terjaga.

Dari legenda penemuan kopi ini pembaca akan terus diajak menyelusuri penyebaran kopi ke beberapa tempat di dunia termasuk di Indonesia. Ada juga kisah berdirinya kedai kopi pertama di dunia ‘Kiva Han’ di Konstatinopel, ditemukannya mesin Espresso pada 1882 di Italia yang mendorong terbentuknya kedai kopi modern yang kelak akan dibawa imigran Italia ke Amerika, sejarah berdirinya Starbucs Coffe Company di Seattle Amerika pada 1971 hingga dibukanya kafe Starbucks pertama di Indonesia pada 2002 di Plaza Indonesia Jakarta.

Setelah mendedah sejarah kopi dan Starbucks, di bab kedua pembaca akan disuguhkan akan arti globalisasi secara teoritis. Untungnya di bagian ini penulis tak berpanjang-panjang membahasnya karena di bab berikutnya pembaca akan diajak menemukan hal-hal yang menarik dari pengalaman penulis yang bekerja sebagai barista Starbucks. Bagian ini adalah bagian yang paling menarik dan dominan dari buku ini.

Di bagian ini, dengan gaya personal penulis mencoba menuangkan seluruh pengalamanya selama ia menjadi barista. Pembaca akan diajak masuk kedalam dapur Starbucks yang seluruh peralatan, cara kerja, dan penyajiannya harus dilakukan dengan standarisasi yang ketat untuk mempertahankan standart global dari produk yang dihasilkan Starbucks .

Disini kita akan melihat bagaimana ketat dan detailnya prosedur kerja dalam penyajian secangkir kopi. Proses mengucurnya Espresso ke cangkir dihitung dalam satuan detik dimana mengucurnya sari kopi ke cangkir harus terjadi antara 18-23 detik. Selain itu hampir seluruh peralatan yang digunakan di setiap gerai Starbucks termasuk bahan kimia pencuci cangkir, bahkan spidol untuk menandai cangkir kertaspun harus diimport dari Starbucks Amerika.

Skill para barista pun harus distandarisasi, selain diberi pengetahuan cara penyajian kopi dan cara menghadapi pelanggan, para barista juga diberi pengetahuan mengenai segala sesuatu tentang kopi dan bagaimana melakukan coffe tasting (mencicipi kopi) untuk dapat membedakan rasa kopi, dll. Dengan semua itu Starbucks berusaha agar kualitas produknya tetap sama di seluruh dunia. Jadi dimanapun orang membeli Starbucks mereka akan tetap menemukan produk dengan pelayanan dan rasa yang sama.

Ada banyak hal menarik di bagian ini, tanpa ragu-ragu penulis seakan menumpah ruahkan seluruh pengalamannya ketika menjadi barista, bahkan penulis juga menyertakan table taksonomi minuman Starbucks sehingga pembaca mengetahui secara lengkap apa saja jenis minuman yang tersedia disana. Dari semua pengalaman si penulis maka tanpa disadari pembaca akan diajak memaknai bagaimana fenomena globalisasi telah terjadi melalui secangkir kopi di kedai kopi Starbucks.

Di buku ini kita akan melihat bahwa masyarakat di Negara mana Starbucks membuka gerainya akan mengalami globalisasi dengan mempertemukan mereka dengan dirinya; toko kopi dan representasi Amerika. Starbucks dengan kekhasannya yang juga menjual biji dan minuman kopi dari berbagai negara telah mereteterorialisasi kebudayaan dunia melalui kantung-kantung kopi.

Di Starbucks rasa kopi didramatisasi sedemikian rupa sehingga meninggalkan kesan mendalam untuk peminumnya. Pengalaman merasakan secangkir kopi yang berasal dari seluruh penjuru dunia yang digabungkan dengan suasana toko yang membuat tubuh menyesap suasana asing diharapkan akan menghasilkan sebuah “Starbucks Experice”. Pengalaman Starbucks ini akan membuat seseorang membandingkan, merefleksikan, mengkirtik, memahami, dan mencampurkan cara-cara hidup global. Ini adalah sebuah dialog antara dialog budaya lokal dan budaya asing yang diekspresikan dalam kehidupan sehari-hari melalu aktivitas meminum secangkir kopi.

Pada akhirnya melalui buku ini dalam skala yang lebih luas penulis mencoba mengungkapkan bahwa fenomena globalisasi terjadi di sekitar kita dan telah menjadi realitas yang hadir di sekililing kita. Buku ini memang bukan satu-satunya buku yang mengupas globalisasi. Berbagai macam buku sejenis telah lahir namun bukan berarti buku ini tak patut mendapat perhatian karena dengan semakin maraknya berbagai karya yang mengupas globalisasi dengan berbagai perspektif pada akhirnya akan memperkaya kita mengenai fenomena yang saat ini sedang terjadi dalam kehidupan kita.

Dan bagi para penikmat kopi Starbucks, rasanya buku ini terlalu sayang untuk dilewatkan karena berbagai informasi tentang panyajian, isi dapur, dan segala sesuatu tentang gerai kopi Starbucks di buku ini saya rasa akan membuat penikmat kopi Starbucks dapat lebih menikmati 'Starbucks Experiece'

@htanzil
Read more »

Senin, 19 Juli 2010

Baby Proof

Baby Proof
Emily Giffin @ 2006
St. Martin’s Griffin - 2007
348 hal.

Buat Claudia, menikah adalah karena ia ingin bersama orang yang ia cintai. Tujuannya menikah, bukan untuk memiliki anak atau keturunan. Beruntung ia bertemu Ben yang punya misi dan visi sama. Mereka pun akhirnya menikah.

Tapi, ketika di sekeliling mereka, teman-teman mereka mulai merencakan masa depan dengan ‘anak’, tak urung, Ben pun terpengaruh. Ia mulai meminta Claudia untuk memikirkan kembali pandangannya tentang ‘tidak mau punya anak’. Claudia keukeuh dengan pilihannya. Dan mereka akhirnya memilih untuk berpisah karena kecewa dengan pilihan pasangan mereka.

Wow… ternyata cinta gak bisa menyatukan pandangan mereka, sampai akhirnya mereka lebih memilih untuk berpisah.

Dan setelah perpisahan pun, Claudia tidak bisa benar-benar lepas dari isu seputar ‘anak’. Ada Daphne, adiknya yang sangat ingin punya anak setelah bertahun-tahun menikah, ada Maura, adik/kakak Claudia yang lain, yang punya tiga anak tapi suaminya berselingkuh. Lalu, ada Jess, yang menjalin hubungan dengan pria beristri (yang katanya nih janji mau ninggalin istrinya), yang nekat mau hamil dari pria itu.

Well, ternyata gak setiap orang ingin menikah karena pengen punya anak. Ide cerita yang ‘berat’, tapi jadi ringan di dalam buku ini. Meskipun gue agak kurang ‘merasakan’ chemistry Claudia dan Ben. Apalagi pas di ending cerita (ups… apakah ini sebuah spoiler?)

Ini buku Emily Giffin pertama yang gue baca. Satu lagi hasil bookmooch di tahun 2007 (!). Sebenernya ini yang ketiga kalinya gue baca buku ini. Bukan karena gue suka banget, tapi, di dua kali yang pertama, gue hanya baca sekitar sepertiga buku aja. Baru yang ketiga ini, gue berhasil membaca sampai selesai.
Read more »

Selasa, 13 Juli 2010

The Leap

The Leap
Jonathan Stroud @ 2001
Hyperion/Miramax Books - 2004
240 Hal.


Charlie tidak percaya kalau sahabatnya, Max, sudah meninggal. Max meninggal karena tercebur ke dalam kolam di sebuah pabrik. Charlie yakin kalau Max masih hidup, tapi Max hanya terjebak di alam lain, dan Charlie merasa ia harus mencari Max.

Semua orang beranggapan Charlie depresi karena kehilangan sahabatnya. Tidak ada yang percaya dengan cerita Charlie. Bahkan Charlie sampai dibawa ke seorang psikiater, agar Charlie mau bicara dan keluar dari rasa kehilangan. Charlie jadi sosok yang menjauh dari keluarganya. Ia memilih berdiam diri karena jika ia bicara orang akan beranggapan ia mulai gila.

Charlie seolah mendapat ‘titik terang’ untuk bertemu Max kembali, ketika ia sadar dalam tidurnya ia bermimpi ada sebuah tempat dan melihat ada sosok Max. Charlie yakin ia bisa bertemu Max lagi. Dan sejak itulah, Charlie melakukan berbagai aktivitas yang melelahkan agar ia bisa tidur cepat dan kembali bermimpi.

Ibunya bahkan psikiaternya merasa kembalinya Charlie beraktivitas adalah hal yang positif. Hanya, James, kakaknya, yang merasa tetap ada sesuatu yang aneh dari diri Charlie. Ia yakin, Charlie menyembunyikan sesuatu.

Mimpi-mimpi Charlie semakin panjang dan tampak mulai ‘nyata’. Charlie kerap menuliskan mimpinya ke dalam buku hariannya. Di mimpinya, Charlie bertemu dengan ‘seseorang’ yang menjadi penunjuk jalan untuk bertemu Max. Charlie jadi semakin aneh. Ia akan marah kalau James membangunkannya.

Charlie semakin masuk ke dalam mimpinya dan makin lama, malah makin jauh dari dunia nyata. James merasa ia harus menyelamatkan Charlie dari apa pun itu.

Gue mendapatkan buku ini dari hasil bookmooch. Udah lama banget, mungkin dari sekitar tahun 2008. Gue me-mooch buku ini pas lagi ‘tergila-gila’ sama The Bartimaeus Trilogy. So far, masih ada 2 buku Jonathan Stroud lagi yang menanti untuk dibaca.

Gue nyaris gak menyelesaikan buku ini. Karena bikin ngantuk. Bukunya ‘sepi’ banget. Gue merasa jadi ikut melayang-layang dalam mimpinya Charlie. Ikut berjalan jauh tapi gak tau di mana tujuan akhirnya. Hanya kalo ada giliran James yang cerita gue jadi merasa ada selingan. Dan hanya di bagian akhir gue jadi ikut-ikutan ‘terburu-buru’, bisa karena gue keburu-buru ‘ngikutin’ James, atau terburu-buru karena pengen cepet selesai.
Read more »

Selasa, 06 Juli 2010

Nobody’s Boy

Nobody’s Boy (Sebatang Kara)
Hector Malot @ 1878
Tanti Lesmana (Terj.)
GPU – April 2010
384 Hal.

Remi, bocah kecil yang ketika masih bayi diculik dan ditinggalkan begitu saja di sebuah jalan di Paris. Ia diasuh oleh pemotong batu yang berharap suatu saat Remi akan dicari oleh orang tua kandungnya dan ia akan diberi imbalan karena sudah berbaik hati mengurus Remi.

Remi sangat menyayangi ibu angkatnya, berbeda dengan ayah angkatnya yang akhirnya menjual Remi ke pemusik jalanan bernama Signor Vitalis. Dengan Signor Vitalis-lah, petulangan hidup Remi dimulai. Berkeliling Perancis bersama rombongan Signor Vitalis yang anggota lainnya adalah Pretty Heart si monyet kecil dan 3 ekor anjing. Singor Vitalis mengajarkan Remi tak hanya bermain musik, tapi juga membaca.

Hidup di jalanan memang keras. Tak hanya karena masalah cuaca, tapi tentu saja uang. Pertunjukkan mereka tidak selalu sukses dan menghasilkan uang. Malah, harus berurusan dengan polisi.

Suka duka menerpa Remi. Tapi, Remi tetap kuat. Ia bertemu dengan teman-teman baru yang baik hati. Meskipun cobaan datang silih berganti, seperti kata Mattia – salah satu teman barunya, Remi selalu tabah.

Kisah klasik, yang tiba-tiba, nih, pas gue baca sampul bagian belakang, gue baru ngeh, kalo cerita ini pernah ada kartunnya di RCTI. Samar-samar gue mengingat jalan ceritanya dan berusaha ‘mengingat’ soundtracknya. Cerita yang menurut gue, ampunnnn… sedih banget… bahkan ketika baca novelnya lagi, gue berasa sedih, meskipun gue udah tau ceritanya.

Yang gue suka nih, dari Remi, meskipun kena hujan, badai, ditangkep polisi, dijual, ‘terlunta-lunta’, tapi, tetap aja ceria dan banyak akal.

Cerita yang bener-bener happily ever after… dan mungkin kalo dipikir, klise banget…
Read more »

Rabu, 30 Juni 2010

Harry and the Treasure of Eddie Carver

Harry and the Treasure of Eddie Carver (Harry dan Geng Keriput Berburu Harta Karun)
Alan Temperley @ 1997
Hidayat Saleh (Terj.)
GPU – Agustus 2008
512 Hal.

Well… meskipun Percy Pops alias Kolonel Priestly sudah tertangkap dan dipenjara di Penjara Bukit Cony. Tampaknya Harry dan Geng Keriput belum bisa tenang. Ternyata Gestapo Lil justru masih bebas dan masih ada di Fellon Grange. Malahan komplotan mereka bertambah satu orang, yaitu Mad Ruby yang tak lain adalah ibu dari Percy Pops! Wah, urusan jadi tambah kacau, mengingat mereka menyimpan dendam pada Harry dan Geng Keriput.

Sementara itu, Geng Keriput merencanakan sebuah misi mulia, yaitu mencari dana untuk disumbangkan ke Afrika. Untuk itu tentu saja butuh dana besar. Kebetulannnn… Geng Keriput mendengar bahwa ada seorang narapidana bernama Eddie Carver yang menyimpan harta jarahannya di sebuah tempat yang tidak seorang pun mengetahuinya.

Dicarilah jalan untuk mendekati Eddie Carver. Tapi, Komplotan Percy Priestly juga mengincar harta itu. Dan, kebetulan lagi, Eddie Carver meninggal dalam sebuah kecelakaan ‘misterius’ di dalam penjara. Tak lama kemudian, Percy Priestly kabur dari penjara.

Kaburnya Percy Pops tentu saja jadi mimpi buruk untuk Harry dan Geng Keriput. Geng Keriput yang masih terus mencari di mana lokasi harta karun itu berada. Dengan segala riset dan penyelidikan, membawa mereka ke Skotlandia, ke sebuah pulau, di mana diyakini harta itu ada.

Sayang, Kompoltan Percy Pops juga tidak tinggal diam. Dengan segala cara, mereka juga berusaha mengambil harta karun itu. Mulai dari menyandera Harry sampai menyusul ke Skotlandia. Tapi, tetap aja, Harry lebih cerdik dari mereka.

Harry sempat ‘terjebak’ dilema, dan bertanya-tanya, apakah yang dilakukan bibinya dan teman-temannya ini salah apa betul? Mereka ‘mengambil’ sebagian harta orang kaya demi membantu orang-orang miskin. Hmmm… tapi, ternyata Harry menikmati juga tuh, aksinya bersama The Wrinklies…

Buku kedua makin kocak. Gue jadi ngebayangin film komedi kaya’ Home Alone, yang penjahatnya meskipun udah amburadul, berantakan, babak belur, tapi tetap aja bisa beraksi dan bikin ulah baru. Coba ada ilustrasinya, pasti buku ini makin seru dan kocak.
Read more »

Rabu, 23 Juni 2010

Harry and the Wrinklies

Harry and the Wrinklies (Harry dan Gang Keriput)
Alan Temperley @ 1997
Hidayat Saleh (Terj.)
GPU – Mei 2008
336 Hal.

Harry Potter… Harry Barton… dua Harry yang sangat malang. Orang tuanya meninggal sama-sama gara-gara kecelakaan. Ya, kalo Harry Potter karena lagi ‘bertarung’ sihir-menyihir, tapi kalo Harry Barton, orang tuanya meninggalkan karena kecelakaan ketika mereka lagi berpesiar entah di mana.

Harry Barton adalah anak orang kaya, saking kayanya, kedua orang tua Harry selalu menghabiskan waktu mereka dengan berlibur ke seluruh penjuru dunia. Mereka meninggalkan Harry di rumahnya yang besar, diasuh oleh pengasuh yang judes dan sadis, yang disebut Harry, Gestapo Lil. Hanya karena kewajiban, orang tua Harry pulang ke rumah setiap dua kali setahun. Bahkan natal pun, mereka hanya mengirim hadiah-hadiah mahal, yang bahkan bukan mereka sendiri yang memilih.

Ketika mendengar kabar buruk itu pun, Harry tidak merasa kehilangan orang tuanya. Harry pun terpaksa harus pindah ke rumah bibinya yang tidak pernah ia dengar sebelumnya. Oleh Gestapo Lil yang licik, ia hanya boleh membawa satu koper usang, yang isinya juga hanya baju-baju yang sudah jelek.

Harry Barton lebih beruntung daripada Harry Potter. Bibi-bibi Harry Barton ternyata sangat ramah dan menyenangkan. Meskipun sedikit aneh. Hehehe.. lagi-lagi, gue menemukan buku yang tokohnya nenek-nenek nyentrik dan asyik.

Di hari pertamanya, Harry langsung merasa betah berada di Lagg Hall, demikian mereka menyebut rumah mirip puri itu. Harry mendapat kamar di menara dengan pemandangan yang indah.

Harry berkenalan dengan teman-teman Bibi Florie – si bibi yang pinter banget ngebut, dan Bibi Bridget – yang ternyata adalah seorang professor!

Ternyata, Bibi Florie dan Bibi Bridget, menyimpan sebuah rahasia besar. Mereka dan teman-temannya adalah Robin Hood dalam versi nenek-nenek dan kakek-kakek! Siapa sangka mereka tenyata bekas narapidana dan penjahat. Target mereka adalah mengambil sebagian harta orang kaya dan memberikannya pada si miskin.

Harry pun akhirnya ikut menikmati misi ‘Robin Hood’ mereka dalam menjebak si Beastly Priestly dan tunangannya yang tak lain adalah Gestapo Lil.

Pertama, gue suka cover-nya. Kedua, bukunya lucu. Menyenangkan banget kalo bisa tinggal di dekat daerah yang hijau begitu, ada danau buat berenang. Tinggal nyemplung kalo pengen. Ada hutan kecil tempat main-main. Gue jadi lebih suka ‘tempat’nya dibanding ceritanya sendiri.

Tapi, kalo dari cerita, gue ketawa-tawa sendiri ngebayangin si nenek-nenek funky ini. Masing-masing punya keahlian yang menunjang misi mereka. Misi yang dirancang dengan sangat detail dan nyaris sempurna. Tokoh yang ngeselin tentu saja Kolonel Priestley dan Gestapo Lil, tokoh terpandang dan ternyata jahat. Klise sih, sangat hitam-putih. Tapi.. namanya juga buku anak-anak, biar gimana tetap fun bacanya.
Read more »

Minggu, 20 Juni 2010

That Silent Summer

That Silent Summer (Saat Kata-Kata Tidaklah Cukup)
Eliane Medline @ 1999
Monica Dwi Chresnayani (Terj.)
GPU – Juli 2008
184 hal.

Sebagai ‘anak kota’, Minnow (bukan nama aslinya) tentu saja merasa sebal ketika harus menghabiskan musim panasnya bersama tiga orang tua (manula) yang nyaris tidak dikenalnya. Mereka sebenarnya adalah nenek-nenek Minnow sendiri, yaitu: Yanny (nenek kandung Minnow), Cliff dan Anna. Ketiga orang tua itu punya keunikan atau bahkan ‘kenyentrikan’ sendiri. Yanny – di usianya yang ke 80 tahun, masih gemar pakai rok (mini), sepatu hak tinggi dan aksesoris lainnya – serba pink pula. Yanny pintar membuat berbagai macam pie dengan sistem yang ‘aneh’. Lalu, Cliff, satu-satunya lelaki dari tiga bersaudara itu, gemar bersantai di hammock-nya, sambil menyelesaikan proyek ‘Puisi 100 Halaman’, tapi jangan pernah bertanya kapan puisi itu akan selesai. Dan, terakhir, Anna – yang selalu meraih gelar juara untuk bunga Gladiol Tercantik. Tapi, Anna inilah yang paling misterius, Anna ‘berhenti’ bicara sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu. Anna-lah yang ‘menuturkan’ kisah liburan Minnow di Musim Panas Danau Ungu.

Minnow, yang tadinya ogah-ogahan, mulai menikmati musim panasnya di pondok kayu bersama nenek-neneknya. Ia ikut ‘bertualang’ balet sampan, berenang di Danau Birch, membuat pie kejutan untuk Yanny, memberi dukungan ‘moral’ untuk Cliff dan menemukan Batu tempatnya ‘bertapa’.

Minnow bahkan berani bertanya langsung pada Anna tentang kebisuannya. Tapi, ia justru mengetahui berbagai rahasia dari seorang pendatang baru – cicit ‘musuh’ Yanny, Montogomery Moore. Banyak rahasia di dalam pondok itu, terutama yang berkaitan dengan Anna.. Semuanya diceritakan dalam ‘kebisuan’.

Tokoh favorit gue adalah nenek Yanny.. ampun deh, kebayang punya nenek yang lincah dan nyentrik. Yang temperamental, tapi bisa juga jadi drama queen.

Ahhhh.. jadi pengen nyemplung ke danau.. berenang… kaya’nya enak banget. Tapi, di mana bisa nemu danau buat berenang di Jakarta ya???
Read more »

Girl Friday

Girl Friday
Jane Green @ 2009
Penguin Books - 2010
401 hal.

Setelah bercerai dari suaminya, Adam, Kit Hangrove pindah ke daerah Highfield. Di sana, ia memulai hidup baru yang lebih ‘sederhana’ bersama kedua anaknya, Tory dan Buckley. Melalui tetangganya, Eddie, Kit mendapatkan pekerjaan baru, menjadi seorang asisten penulis terkenal dan penyediri, Robert McClore. Kit mendapat teman-teman baru, Tracy, yang punya usaha tempat yoga dan Charlie, si perangkai bunga.

Kit juga mulai mencoba menjalin hubungan baru dengan seorang pria yang dikenalkan oleh Tracy, bernama Steve. Tapi, makin lama, Kit sendiri makin tidak nyaman dengan hubungan itu. Meskipun Steve begitu penuh perhatian dengan memberi bunga, parfum dan lain-lain.

Bukan hanya Kit yang jadi tokoh utama di sini. Tapi, juga teman-teman Kit dengan masalahnya sendiri. Tracy, yang kembali menjalin hubungan dengan mantan suaminya dan mengalami KDRT. Tracy berusaha mendekati Robert McClore dengan suatu tujuan. Sementara itu Charlie, mengalami kesulitan financial karena suaminya yang bekerja di Wall Street, ikut terkena dampak krisis moneter.

Belum lagi, Kit yang tiba-tiba kedatangan adik tirinya yang selama ini memang tidak diketahuinya. Annabelle, datang dengan pesona dan kemudaannya, memikat hati mantan suaminya dan juga anak-anaknya. Tanpa ia sadarai, Annabelle juga punya misi ‘tersendiri’.

O ya… gak ketinggalan si penulis yang misterius, Robert McClore. Robert digambarkan sangat terkenal, buku-bukunya selalu jadi best seller. Tapi, ia memilih untuk menyendiri, menghindar dari publikasi dan menyembunyikan masa lalunya yang juga tak kalah dramatis.

Cerita tentang kehidupan sehari-hari di sebuah daerah bernama Dune Road (judul asli buku ini). Gue pikir, tadinya semua cerita bakal berpusat pada Kit, tapi ternyata, yang lain juga gak kalah seru diceritain. Memang sih, Kit tetap dapat porsi yang paling besar.

Well... cerita yang lumayan aja dan menurut gue, cukup ‘serius.
Read more »

Senin, 14 Juni 2010

Kaas - Willem Elschot

No. 238
Judul : Kaas (Keju)
Penulis : Willem Elsschot
Penerjemah : Jugarie Soegiarto
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Mei, 2010
Tebal : 176 hlm ; 11 cm

Kaas (Keju) adalah roman klasik pendek dari penulis Belgia, Willem Elsschot. Walau kisahnya sederhana namun roman ini termasuk salah satu roman yang mendunia. Sejak diterbitkan tahun 1933 roman ini telah berpuluh-puluh kali dicetak ulang dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Pada tahun 2008 Kaas kembali mencuri perhatian pecinta buku setelah Dick Matena, seorang ilustrator Belanda, membuat 119 ilustrasi bedasarkan buku ini dan membuatnya menjadi sebuah roman bergambar atau kini dikenal sengan isitlah novel grafis.

Lalu apa sih istimewanya novel ini? Jujur saja, saya pertama kali tertarik dengan novel ini karena covernya yang minimalis dan menarik. Berwarna kuning cerah, dengan ilustrasi lelaki bertopi membawa keju edam di kedua tangannya. Judulnya juga sangat simple “Kaas” (Keju).

Kaas menceritakan penggalan kehidupan Frans Laarmans, seorang kerani (pegawai administrasi) General Marine and Shipbuliding Company di Antwerpen. Frans adalah seorang pegawai berusia 50 tahun yang setia terhadap pekerjaannya. Selama 30 tahun ia menjalani rutinitasnya sebagai pegawai rendahan yang cakap dan tekun terutama di bidang korespondensi dan pembukuan. Kehidupannya bersama istri dan kedua anaknyapun biasa-biasa saja dan iapun sepertinya menikmati kehidupan rutinitasnya itu.

Keinginannya untuk merubah nasibnya baru muncul setelah ia mengenal Mijnheer Van Schoonbeke, orang kaya dan terpandang di Antwerp. Awalnya Schoonbe mengajaknya secara rutin untuk menghadiri pertemuan rutin dengan teman-temannya dari kalangan elite. Awalnya ia merasa minder dengan lingkungan barunya itu, ia berusaha menutupi statusnya sebagai pegawai rendahan. Untunglah tak lama kemudian datang tawaran dari kawan Schoonbeke dari perusahaan Honstra asal Amsterdam untuk menjadi pedagang keju.

Tawaran tersebut disambutnya dengan antusias. Namun Frans cukup berhati-hati untuk memulainya. Ia tak mau cepat-cepat melepaskan pekerjaannya, sehingga saat hendak memulai usahanya ini ia mengajukan cuti dari pekerjaannya. Dengan alasan sakit syaraf Frans memperoleh izin cuti selama tiga bulan dari tempatnya bekerja.

Awalnya ia bersemangat sekali dengan profesinya yang baru ini. Ia yakin bahwa dirinya akan menjadi pengusaha keju yang sukses. Apalagi keju adalah salah satu bahan makanan yang disuka semua orang, tua muda, besar kecil di kalangan orang Belanda.

Namun ternyata berjualan keju tak semudah yang ia bayangkan, apalagi ia sama sekali tak memiliki pengalaman untuk menjadi seorang wirausaha. 10.000 ton keju yang dipercayakan padanya tak juga laku-laku. Ia mulai khawatir dan gelisah.

Kegelisahannya semakin memuncak ketika ia mendapat kabar bahwa bos kejunya Mijnheer Hornsta akan datang untuk mengetahui perkembangan penjualannya. Frans menjadi panik, ia ketakutan setengah mati dan mencoba untuk bersembunyi ketika bos kejunya datang untuk menemuinya.

Walau kisahnya sederhana dan tak ada konflik yang berbelit-belit ini namun di tangan Willem Elschoot konflik yang diangkat dari peristiwa sederhana ini menjadi menarik dimana drama kehidupan akan tersaji secara lucu, sinis, sekaligus getir. Di sini Elschhot mengeksplorasi karakter Frans Leehman dengan apik sehingga pembaca bisa ikut merasakan pergolakan emosi yang dialami oleh si penjual keju ini.

Elschoot tampak pandai membangun karakter Frans secara sabar, mendetail namun tidak terkesan bertele-tele. Semua disajikan secara wajar dan tidak berlebihan. Pembaca diajak merasakan naik turunnya emosi Frans seiring dengan perkembangan usahanya. Ada kalanya pembaca dibuat optimis dengan sikap hidup Frans, namun pembaca juga dibuat gemas ketika bagaimana Frans terlalu memusingkan hal-hal kecil seperti mencari nama perusahaan, mempermasalahkan kop surat, furniture untuk kantor barunya, dan sebagainya.

Tak hanya pergulatan batin Frans yang diketengahkan Elschoot dalam karyanya ini, namun situasi sosial masyarakat Eropa di tahun 30-an lengkap dengan intrik-intrik di dunia perdagangan juga akan terungkap di novel pendek ini.

Singkat kata novel ini menarik untuk dibaca, melalui kisah Frans Leehman kita diajak mendalami perjuangan seorang tokoh sederhana untuk merubah nasibnya. Novel ini memang berakhir dengan getir namun bukan berarti membuat pembacanya pesimis. Inilah realita yang mungkin saja bisa terjadi pada siapapun. Dalam mencoba sesuatu yang baru guna meraih kehidupan yang lebih baik, kesuksesan maupun kegagalan memiliki peluang yang sama. Elschoot memilih memaparkan sisi kegagalan dari kisah yang dibangunnya ini sehingga pembaca bisa belajar dari kegagalan si penjual keju ini.

Willem Elsschot merupakan nama samaran Alfons Jozef de Ridder (1882-1960). Pria kelahiran Antwerpen, Belgia ini sempat melakukan berbagai pekerjaan sebelum akhirnya mendirikan biro iklan sambil menulis. Pengalaman hidupnya yang berganti-ganti pekerjaan dan menjalani bisnis biro iklannya ini rupanya menjadi inspirasi karya-karyanya yang banyak mengambil tema bisnis dan kehidupan keluarga. Gaya menulisnya memiliki cirri deskripsi yang mendetail dan sedikit sinisme.

Karya-karyanya yang paling terkenal adalah Lijmen (1924), Kaas (1933), Tjisp (1934), dan Het Been (1938). Willem Elscschot meninggal di Antwerpen, belgia pada 1960. Setelah kematiannya, ia menerima penggargaan sastra nasional Belgia.

Novel Kaas bukanlah karya pertama Elschoot yang pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, berpuluh tahun yang lampau Asrul Sani pernah menerjemahkan karya Esschot "Villa de Reoses" (1913) dan diterbitkan oleh Pustaka Jaya pada tahun 1977. Sedangkan untuk terjemahan novel Kaas sendiri merupakan proyek kerjasama antara penerbit Gramedia Pustaka Utama dengan Erasmus Huis dan Erasmus Dutch Language Centre (Jakarta) dalam rangka 40 tahun berdirinya lembaga kebudayaan Belanda Erasmus Huis Jakarta.

Seperti telah diungkapkan di atas, novel Kaas juga telah dibuat versi komiknya. Semoga Gramedia juga kelak akan menerjemahkan dan menerbitkan versi komiknya.

@htanzil


Untuk menikmati guratan Dick Mantena dalam mengadaptasi Kaas dalam bentuk novel grafis
silahkan klik link dibawah ini :
http://www.deburen.eu/en/events/detail/willem-elsschot-kaas-a-graphic-novel-by-dick-matena
Read more »

Ghostgirl: Homecoming

Ghostgirl: Homecoming
Tonya Hurley @ 2002
Berliani M. Nugraheni (Terj.)
Penerbit Atria – Cet. 1, April 2010
346 hal.

Charlotte Usher, si cewek Hawthorne High yang meninggal karena tersedak permen kenyal, sudah lulus dari kelas Pendidikan Kematian. Sekarang, bersama teman-temannya di Alam Kematian, mereka berpindah tempat alam ‘selanjutnya’. Surgakah? Uuu.. ternyata bukan… Charlotte dan teman-temannya dibawa ke sebuah tempat mirip asrama atau apartemen, dan semua ditemani oleh orang-orang yang dekat dan pernah jadi inspirasi mereka… semua… kecuali Charlotte.

Di tempat baru, mereka harus ‘bekerja’ sebagai pekerja online service. Semua sibuk menjawab telepon, kecuali.. lagi-lagi Charlotte. Charlotte BT berat… kenapa hanya dia yang tidak pernah mendapat panggilan telepon, kenapa hanya dia yang tidak dibutuhkan bantuannya? Semua temannya sibuk, sahabat-sahabat lamanya tidak ada yang memperhatikannya lagi. Untung Charlotte dapat teman baru, bernama Maddy yang sering memberinya semangat – meskipun kadang kata-katanya bermakna ‘ganda’.

Di Alam Kehidupan, Petula Kensington sibuk dengan persiapan kencan dengan cowok terbarunya. Tapi sayang, gara-gara pedicure-manicure yang sembarangan, Petula koma. Tanpa sadar ia berada di alam ‘in-between’ (ini istilah gue aja sih..) Dalam keadaan Petula yang tidak sadar itu, Scarlett, adiknya, tiba-tiba sadar kalau ia menyayangi kakaknya, meskipun tidak pernah ditunjukkan selama ini. Scarlett bertekad untuk mengembalikan kakaknya ke Alam Kehidupan, meskipun ia harus mempertaruhkan nyawanya sendiri.

Untuk itu… ia butuh bantuan Charlotte. Tapi sayang, ada yang cemburu dengan kehadirannya. Maddy tiba-tiba jadi aneh. Maddy memanfaatkan pesona Damen, cowok yang ditaksir Charlotte dan diam-diam masih mampu membuatnya terpesona.

Charlotte lagi-lagi terombang-ambing, antara Alam Kehidupan dan Alam Kematian. Tubuh Petula bagaikan benda yang ‘menggoda’ yang bisa membawanya kembali berdekatan dengan Damen. Bukan itu saja, kesempatan untuk jadi Homecoming Queen ada di depan mata jika ia bisa menguasai tubuh Petula. Menjadi pusat perhatian, yang selama hidup diimpikan Charlotte.

Gue lebih suka cerita yang kedua ini daripada yang pertama. Lebih kocak. Emang sih banyak banget yang konyol, kaya’ tingkah lakunya The Wendys yang ajaib. Tapi… buku ini menghibur banget. Endingnya juga lebih mengharukan.

Gue sering banget merasa tiba-tiba ‘sayang’ dengan tokoh-tokoh cerita – terutama perempuan, kaya’ yang ada di buku-bukunya Jacquline Wilson. Dan Charlotte juga jadi salah satu yang gue sayang, meskipun dia konyol dan pemimpi banget.
Read more »

Rabu, 09 Juni 2010

Perfect Match

Perfect Match (Pasangan Sempurna)
Jodi Picoult @ 2002
Julanda Tantani (Terj.)
GPU – Mei 2010
504 hal.

Nina Frost, adalah seorang pengacara yang membantu anak-anak yang menjadi korban penganiayaan. Nina Frost terkenal gigih dalam memperjuangkan hukum untuk menjerat para pelaku. Tapi, ketika Nathaniel, anak semata wayangnya, menjadi korban pelecehan seksual yang mengakibatkan trauma pada Nathaniel, Nina Frost mencari cara sendiri untuk menghukum si pelaku.

Jalan yang diambil Nina bertentangan dengan apa yang selama ini ia hadapi. Ia mengambil jalan yang bertentangan dengan hukum, yang ada di benaknya hanyalah melindungi anaknya, dan agar tidak ada lagi korban. Nina nekat menembak si pelaku di persidangan pertama, di depan semua orang.

Di sinilah semuanya bermula. Nina Frost bukan lagi tampil sebagai pengacara, tapi sebagai seorang ibu yang mencari keadilan untuk melindungi anaknya. Nina Frost harus duduk di kursi terdakwa, meminta pengertian dari dewan juri untuk berpihak padanya.

Rumah tangga Nina dan Caleb kacau balau. Sementara Nathaniel masih berjuang mengatasi traumanya, ia juga harus melihat ibunya di penjara. Tak ada hal lain yang diinginkannya, kecuali ibunya kembali ke rumah. Hiks…

Khas novel Jodi Picoult, drama banget… mengaduk-aduk emosi pembacanya. Membaca novel-novel Jodi Picoult butuh kesabaran. Bukan karena bahasanya yang rumit, tapi karena alurnya yang lambat dan nyaris tanpa kejutan. Kalau berhenti di tengah-tengah, gue yakin bakal males untuk melanjutkannya lagi. Ada sih, sedikit kejutan-kejutan kecil, terutama pas ending cerita.

Meskipun gak sampai berurai air mata, tapi satu nih yang bikin gue kepikiran, tentang anak laki-laki Nina yang mengalami trauma, dan pada saat yang sama di majalah femina ada topik tentang pelecehan terhadap anak-anak juga. Gue jadi parno… gila… dunia makin kejam dan gak aman (lebay mode: on).
Read more »

Minggu, 06 Juni 2010

The Hunger Games

The Hunger Games
Suzanne Collins @ 2008
Hetih Rusli (Terj.)
GPU – Cet. 1, Oktober 2009
408 Hal.

The Hunger Games, adalah sebuah reality show yang dibuat oleh penguasa Panem, untuk mengingatkan para warganya akan tragedi yang pernah menerima mereka. Semacam sebuah bentuk hukuman, sebuah peringatan bahwa sedikit saja ada upaya pemberontakan, maka mereka akan segera dihancurkan.

Panem, yang mempunya pusat kota bernama Capitol, adalah sebuah negara yang dulunya Amerika Utara. Upaya pemberontakan pernah dilakukan yang berujung pada pembagian wilayah menjadi 13 Distrik. Tapi, sekali lagi, untuk memberi peringatan, Distrik ke 13 dihancurkan. Tersisa 12 Distrik, yang ‘berkubang’ dalam kemiskinan.

Setiap tahun, diadakan Hari Pemungutan, di mana semua warga berharap-harap cemas, apakah ada di antara anak-anak mereka yang terpilih untuk ikut dalam The Hunger Games. Hunger Games, sebuah acara di mana dari setiap distrik dipilih sepasang anak – laki-laki dan perempuan – untuk ‘bertarung. Mereka akan ‘bermain’ habis-habisan, hanya satu pemenangnya, yang artinya akan mereka harus saling membunuh untuk jadi pemenang. Distrik yang menang, biasanya akan dibanjiri hadiah dan lebih makmur dibanding distrik lainnya. Ironisnya, di hari itu, justru semua warga tampil maksimal, mengenakan busana terbaik mereka.

Katniss Everdeen, tahun ini harus ikut berlaga dalam Hunger Games. Sebenarnya, bukan dia yang terpilih, melainkan adiknya, Primrose Everdeen. Tapi, sebagai anak tertua dan biasa bertanggung jawab, maka ia tidak mau mengorbankan adiknya. ‘Mendampingi’ Katniss adalah Peeta Mellark, yang di masa kecil Katniss, pernah menjadi ‘pahlawan’ baginya.

Mereka dipersiapkan dengan sangat maksimal, seolah ini adalah pertandingan yang sangat ‘mulia’, sangat ditunggu-tunggu. Padahal, bisa jadi, ketika anak mereka terpilih, itu adalah kali terakhir mereka bertemu dengan anak-anak mereka. Akhirnya mulailah pertarungan para peserta, mencari keselamatan diri sendiri, untuk jadi pemenang meski itu artinya harus membunuh. Panitia penyelengara 'menciptakan' sebuah arena yang penuh dengan kejutan, jika berhasil menghindar dari para peserta, belum tentu selamat dari bencana yang dibuat oleh panitia. Dan, demi mendapatkan sponsor yang mungkin akan membantu para peserta, dibuatlah skenario sedemikian rupa, agar peserta disukai penonton, yang nantinya bisa 'mengundang' sponsor.

Gue membeli buku ini karena ‘terpengaruh’ pas baca review di blog ini. Well.. thank you, Astrid, karena ternyata gue suka bukunya. Meskipun, gue agak ‘terkejut’ karena tau ini buku anak-anak. Gue yakin ‘harusnya’ buku ini penuh ‘darah’, tapi, yang gue suka, pertarungan berdarah-darah itu gak digambarkan secara detail, kecuali tokoh-tokoh utamanya, yang lain tidak terlalu banyak dibicarakan bagaimana mereka akhirnya tewas.

Ketebak sih, siapa yang bakal menang. Karena gak mungkin dong tokoh utamanya yang harus tewas, nanti ceritanya jadi sad ending. Tapi, karena ini trilogy, ending-nya pun dibuat menggantung. Seolah meskipun menang, gak berarti si pemenang lolos dari The Hunger Games.

Membaca buku ini, perasaan gue sama seperti kalo gue baca Maximum Ride, meskipun tempo-nya gak secepat Maximum Ride, tingkat ketegangan cukup tinggi. Dan gue jadi inget sama film The Condemned, tujuan reality show-nya sama, satu pemenang dengan cara apapun, tapi pesertanya kalo di film itu para narapidana yang udah pasti akrab dengan hal bunuh-membunuh, tapi, kalo di buku pesertanya adalah anak-anak. – ada yang memang sudah dipersiapkan oleh para Distriknya – terutama Distrik yang sering menang, ada yang hanya mengandalkan pengalaman sehari-hari seperti Katniss dan Peeta.

Gue sering mencoba membayangkan seperti apa keadaan sebuah cerita yang gue baca. Dari awal, gue membayangkan Distrik 12 sebagai wilayah yang sepi, kumuh dan suram. Dalam bayangan gue, Katniss, berwajah pucat dengan pakaian yang lusuh dan muka yang kotor.

Semoga sekuelnya segera terbit terjemahannya.
Read more »

Selasa, 01 Juni 2010

Ayu Manda

Ayu Manda
I Made Iwan Darmawan @ 2010
Grasindo - 2010
330 hal.

Ayu Manda, atau lengkapnya Gusti Ayu Mirah Mandasari, putri tertua di Puri Munduk Sungkal. Keturunan Brahmana. Sejak kecil ia dididik untuk jadi penari Legong, seperti para pendahulunya. Tiada hari tanpa latihan tari Legong, meskipun hati kecilnya kadang menolak. Ia ingin bermain dengan teman-teman sebayanya. Tapi, kedudukannya sebagai putri dari kasta Brahmana, tidak memungkinkannya untuk melakukan itu.

Ayu Manda ‘terpaksa’ dewasa sejak kecil. Ia harus melihat ibunya ‘tersingkir’ dari tempat utama, karena tidak bisa memberikan anak laki-laki. Ia harus melihat ayahnya membawa pulang ibu-ibu lain yang menggantikan posisi ibunya.

Ayu Manda juga harus bersaing dengan saudara tirinya sendiri dalam menari. Persaingan ini berlanjut sampai bertahun-tahun kemudian, menimbulkan dendam yang terus mengikuti mereka sampai mereka dewasa.

Lewat tarian, Ayu Manda melanglang buana sampai ke Benua Eropa. Ayu Manda dan juga para penari, pemain gamelan yang lugu, yang tidak pernah keluar jauh, yang mengetahui hanya apa yang terjadi di sekitar tempat mereka tinggal.

Kemampuan tari Ayu Manda pada akhirnya tidak hanya terbatas pada tari Legong, tapi memperlebar sayapnya jadi penari Joged, tarian yang dianggap erotis dan tidak pantas ditarikan oleh bangsawan seperti Ayu Manda. Tapi, di tangan Ayu Manda, tarian itu jadi eksotis. Karena tari Joged ini, Ayu Manda terlibat partai terlarang, padahal, yang ia tahu hanya menari. Ayu Manda tidak tahu bahwa keberadaan dirinya untuk menari Joged, adalah untuk menarik simpati rakyat agar mau berpihak pada partai yang mengajaknya bergabung.

Sampai akhir cerita, Ayu Manda tetap gadis lugu, tapi ia kaya pengalaman dan punya pendirian serta sikap. Ayu Manda harus kecewa, karena dibohongi, dikhianati dan harus kehilangan.

Dari awal cerita, gue langsung ‘jatuh cinta’, karena disuguhi dengan bahasa-bahasa yang indah, menggambarkan suasana sebuah desa di Bali di tahun 60an. Bali yang belum modern, Bali yang kaya’nya masih sejuk banget. Gue langsung membayangkan, ada di Bali, ada di tengah pura-pura, terus ada anak-anak yang lagi pada main-main, masih pake kebaya atau kain tradisional.
Read more »

Minggu, 30 Mei 2010

The Man Who Loved Books Too Much

Judul : The Man Who Loved Books Too Much
Penulis : Allison Hoover Bartlett
Penerjemah : Lulu Fitri Rahman
Penerbit : Pustaka Alvabet
Edisi : April 2010
Tebal : xvi + 282 halaman

John Gilkey, adalah seorang pecinta buku sekaligus kolektor buku-buku sastra edisi pertama, obsesi utamanya adalah memiliki edisi pertama buku-buku sastra dunia yang tertera dalam daftar 100 novel terbaik abad ke 21 versi Modern Library. Tak mudah memang untuk memperoleh buku-buku edisi pertama tersebut, apalagi buku-buku sastra terkenal di paruh pertama abad ke 21, selain langka kalaupun ada maka buku itu nilanya bisa mencapai ratusan ribu dolar.

Gilkey bukanlah seorang pengusaha kaya yang mampu membelanjakan uangnya untuk memperoleh buku-buku tersebut, ia hanyalah pegawai biasa, namun ia tak menyerah dengan keterbatasan dananya. Alih-alih mengumpulkan uang untuk membeli buku-buku langka ia bertekad untuk mencurinya ! Pilhannya untuk mencuri buku itu dilandasi oleh ketidakadilan yang dirasakannya jika dia tak sanggup memiliki buku-buku tersebut sementara orang lain bisa.

Kiprah Gilkey sebagai seorang pencuri buku membuatnya menjadi pencuri yang paling terkenal di seantero Amerika. Caranya sangat sederhana, ia tak perlu mengendap-ngendap ke berbagai toko buku antik untuk mencuri buku. Cukup dengan menggunakan nomor kartu kredit yang diperolehnya saat ia menjadi pegawai di sebuah toko pakaian mewah, Gilkey menelpon toko buku dan memesan buku yang diinginkannya. Menjelang toko tersebut tutup ia mengambil sendiri buku pesanannya dengan mengaku sebagai orang suruhan dari pemesan buku tersebut.

Di sisi yang lain, Ken Sanders, salah seorang agen buku yang juga menjadi Ketua Keamanan ABAA, (asosiasi penjual buku antik Amerika) sangat terobsesi untuk menangkap Gilkey, ia rela mengubah profesinya sebagai penjual buku antik untuk menjadi seorang bibiliodic, semacam detektif swasta yang mengkhususkan diri menangani kasus pencurian buku.

Kisah bagaimana sepak terjang John Gilkey dalam mencuri buku dan bagaimana Ken Sanders berusaha untuk menangkap Gikley inilah yang dituturkan secara menarik oleh Allison Hoover Bartlet, seorang jurnalis yang tulisan-tulisannya sering muncul di media-media terkemuka dunia seperti New York Times, Washington Post, Salon.com, dll.

Ketertarikan Allison untuk menulis kisah tentang Gilkey dan Sanders ini sendiri berawal ketika dirinya menerima bungkusan berisi sebuah buku antik berjudul “Kratuterbuch” (buku tanaman) terbitan tahun 1630. Ketertarikannya akan buku tersebut membuatnya ia mencari data mengenai asal-usul buku tersebut yang pada akhirnya menghantarnya pada kisah-kisah mengenai pencurian buku. Dalam beberapa kisah pencurian buku itulah akhirnya ia menemukan referensi mengenai Ken Sanders yang akan membawanya pada sepak terjang Gilkey si pencuri buku. Sejak itulah Allison berhasrat untuk menulis artikel tentang John Gilkey.

Apa yang dilakukan Allison tak sekedar riset pustaka belaka, namun ia juga melakukan serangkaian wawancara baik pada Ken Sanders sang detektif buku maupun pada Ginkley si pencuri buku, sehingga apa yang ditulisnya ini merupakan hasil peliputan jurnalistik yang benar-benar seimbang, mendetail, valid dan kaya akan kilasan-kilasan menarik mengenai dunia buku-buku antik.

Kepiawaian Bartelt dalam melakukan investigasi membuat karakter kedua tokoh ini benar-benar tereksplorasi dan tersaji secara gamblang. Selain mewawancarai Gilkey dan Sanders, Alisson juga melakukan wawancara dengan orang Tua Gilkey untuk mencari tahu apakah ada pengaruh keluarga dan masa lalunya yang membuat Gilkey menjadi seorang pencuri buku.

Apa yang dilakukan Allison dengan mewawancarai Ginkley hingga ke penjara dan pertemuannya yang intnes dengannya bukanlah hal yang sia-sia karena pada akhirnya Gilkey menceritakan secara blak-blakan padanya baik itu cara-cara dia mencuri buku maupun motif apa yang ada dibalik usahanya untuk mencuri buku.

Dalam bukunya ini, Allison tak sekedar menyajikan kisah dramatis bagaimana lika liku Gilkey melakukan pencurian buku atau bagaimana usaha Ken Sanders menangkapnya dan menjebloskannya ke penjara. Allison juga memasukkan kisah dirinya, bagaimana gentarnya dirinya ketika harus berhadapan dengan si pencuri buku atau dilema yang dihadapi apakah ia harus melaporkannya kepada polisi atau tidak ketika Gilkey menceritakan semua yang pernah dilakukannya.

Selain itu yang tak kalah menariknya, di buku ini akan tersaji pula berbagai hal mengenai dunia buku antik yang begitu memesona. Dalam buku ini akan terungkap harga-harga buku edisi pertama yang harganya bisa mencapai ratusan ribu dolar, bagaimana cara menilai buku antik hanya bedasarkan sentuhan dan aroma baunya, bagaimana jaket buku ternyata sangat berpengaruh pada nilai sebuah buku dan sebagainya.

Detailnya Allisson dalam memaparkan semua hasil investigasinya ini memang baik, namun bagi mereka yang tak terbiasa membacanya mungkin agak sedikit menimbulkan kejenuhan, untungnya Allisson tak terjebak dalam untuk menyajikan data-data menegnai buku-buku antik hasil investigasinya namun ia juga menyelipkan berbagai kisah para penggila buku yang sangat inspiratif.

Dalam hal perilaku para penggila buku, Allison juga menyertakan berbagai penggalan kisah tokoh-tokoh terkenal seperti Henry Huntington, pemilik The Huntington Library Museum, seorang taipan rel kereta api yang pernah membelanjakan $ 1.9 juta dalam sebuah lelang buku, lalu ada pula Thomas Jefferson Fitz, professor botani yang rumahnya dipenuhi oleh 90 ton buku koleksinya. Selain itu ada juga kisah pencuri buku Gugliemo Libri (1803-1869) seorang bangsawan Perancis yang bertugas membuat katalog buku-buku di Perpustakaan-perpustakaan Perancis yang akhirnya ketahuan telah menukar buku-buku berharga di perpustakaan dengan buku yang kurang berharga. Ketika Libri dihukum 10 tahun penjara koleksi bukunya bernilai 6500 franc atau setara dengan 1.56 juta Euro di masa kini.

Kesemua kisah-kisah tadi digambarkan Allison dengan narasi yang menarik sehingga membuat pembaca buku ini akan berdecak kagum pada kekayaan koleksi mereka dan penghargaan mereka akan buku-buku bernilai tinggi. Kesemua kisah ini bukan tak mungkin akan menjadi inspirasi bagi pembaca untuk memulai mengoleksi buku-buku yang berharga.

Secara keseluruhan , saya rasa Allison berhasil membuat sebuah karya yang menarik bagi pembacanya, ia berhasil mengundang rasa ingin tahu pembacanya akan dunia buku antik, kasus-kasus pencurian buku dan intrik-intrik dalam dunia perdagangan buku antik terungkap dengan gamblang. Selain itu, catatan kaki yang dilampirkan Allison pada buku ini juga dapat menambah wawasan pembacanya.

Dengan segala keistimewaan dari buku ini tak heran jika Library Journal menetapkan buku ini sebagai salah satu buku terbaiknya. Adapun cikal bakal buku ini yaitu artikel mengenai John Gilkey yang dibuat Allison untuk San Fracisco Magazine memperoleh penghargaan sebagai Best American Reporting 2007

Bagi seorang pecinta buku, buku ini sepertinya bisa menjadi buku yang wajib dibaca. Tak berlebihan jika dikatakan bahwa buku ini juga bisa memberi inspirasi akan pentingnya mengoleksi buku, terutama buku-buku sastra edisi pertama. Selain itu buku ini juga akan membawa pembacanya pada pengenalan pertama akan dunia buku antik.

Kisah Ginkley dan Sanders dan kisah-kisah para penggila buku dalam buku ini juga pada akhirnya akan membuka mata kita bahwa kegilaan atau obsesi seseorang terhadap buku itu dapat sedemikian dahsyatnya sehingga membuat sebagian orang rela mempertaruhkan apa saja demi memiliki sebuah buku yang mereka sukai.

Dari buku ini kita juga akan melihat bahwa di negara yang telah mengenal budaya baca dan tulis lebih awal dari kita, penghargaan akan buku itu begitu tingginya. Penghormatan terhadap sebuah buku menjadikan buku-buku yang terbit puluhan hingga ratusan tahun yang lampau walau mungkin isinya tak relevan lagi tetap menjadikan buku-buku itu tetap bertahan keberadaannya dari abad ke abad.

@htanzil

Read more »

If You Could See Me Now

If You Could See Me Now
Cecelia Ahern @ 2005
Harper Collins – 2006
410 hal.

So far, gue sudah membaca 3 buku Cecelia Ahern, dan seperti dua yang sebelumnya, - PS I Love You dan When Rainbow Ends - If You Could See Me Now juga membuat gue ‘tersentuh’.

Ceritanya tentang Elizabeth Egan, perempuan single, yang harus mengurus adiknya yang alcoholic dan anak adiknya, Luke. Trauma karena ditinggal ibunya, membuat Elizabeth jadi orang yang praktis, kadang gak sabaran, apalagi harus berurusan dengan yang namanya ‘mengasuh anak’.

Ditambah lagi, Luke, membuatnya kesal dengan ‘teman khayalan’ yang bernama Ivan. Ivan suka pizza yang ada olive-nya, Ivan begini, Ivan begitu. Elizabeth sampai browsing di internet, mencari referensi tentang menghadapi anak kecil yang punya teman khayalan.

Mungkin, karena Elizabeth pelan-pelan bisa menerima sosok Ivan yang datang dari negeri Ekam Eveileb itu, makanya, Elizabeth pun bisa melihat sosok Ivan pada akhirnya.

Hubungan pertemanan itu menjadi complicated, Elizabeth benar-benar beranggapan Ivan itu ‘visible’. Dia ada di saat Elizabeth butuh dirinya. Ivan hampir ‘melupakan’ tugasnya yang sebenarnya. Dan, nyaris lupa kalau suatu hari dia harus bisa meninggalkan Elizabeth dan Luke.

Tanpa disadari, Elizabeth jatuh cinta pada sosok yang invisible buat orang lain. Elizabeth bahkan tidak sadar kalau orang lain tidak bisa melihat Ivan.

Buat gue, buku ini tentang kisah cinta, kisah persahabatan yang unik. Gue yakin, gak banyak orang yang percaya sama sosok khayalan.. bahkan gue sendiri, gak percaya. Tapi, one thing for sure, looks like keep on dreaming makes someone happier.

Buku ini akhirnya selesai juga, setelah beberapa kali ‘tersalib’ karena gue baca buku yang lainnya. Padahal, buku ini udah ada di rak buku gue sejak tahun 2006, meskipun ini sih buku adek gue.

---- Hey.. kenapa akhir-akhir ini, isi blog ini begitu ringkes ya? Gue lagi agak kesulitan menggambarkan buku yang baru gue baca? Apa karena buku-buku ini kurang ‘nendang’, atau gue yang lagi ‘lack of imagination’? Hmmm….
Read more »

Senin, 24 Mei 2010

The Help

The Help
Kathryn Stockett @ 2009
Berkley – Mei 2010
464 hal.

Jackson, Mississippi, tahun 1960-an. Membaca buku ini, gue merasa ikut ‘kepanasan’. Bukan hanya karena memang cuacanya yang panas (at least, yang tergambar dalam buku itu), tapi juga gregetan dengan tingkah laku salah satu tokohnya.

Ada tiga tokoh utama, yaitu Aibeleen, Minny Jackson dan Skeeter Phelan. Aibileen dan Minny Jackson, dua warga kulit hitam yang menjadi pelayan di rumah Elizabeth Leefolt dan Hilly Holbrook. Sedangkan Skeeter adalah teman dari dua orang perempuan kulit putih itu.

Di tahun 1960an, perbedaan warna kulit masih benar-benar jadi masalah. Warga kulit hitam adalah warga kelas dua, warga pinggiran, mereka tidak punya hak dalam segala hal. Semua harus dibedakan. Tidak boleh sekolah di sekolah yang sama dengan warga kulit putih, bahkan kamar mandinya pun dibedakan. Karena orang kulit hitam dianggap membawa virus penyakit berbahaya.

Skeeter ‘sedikit’ berbeda dari teman-temannya. Ia merasa perlakukan terhadap orang-orang kulit hitam sudah keterlaluan. Skeeter sangat dekat dengan pengasuh lamanya, Constantine, yang pergi begitu saja tanpa pamit dengannya.

Skeeter pun terobsesi untuk membuat sebuah perubahan. Ia mengajak Aibileen untuk bekerja sama dengannya menulis sebuah cerita tentang bagaimana bekerja menjadi pelayan di rumah orang-orang kulit putih.

Sepak terjang Skeeter membuatnya tersingkir dari pergaulan eksklusif. Teman-temannya menjauh, atau terlalu takut dengan si Ibu Ketua Hilly yang ‘diktator’ itu.

Menyelesaikan buku ini ternyata sedikit lebih lama dari yang gue rencanakan. Tapi, gpp, gue suka isinya. Kathryn Stockett menggambarkan settingnya dengan bagus. Gue sampai bisa membayangkan suasana ketika itu, gimana dandanan para ibu-ibu, yang kaya’nya seperti para Stepford Wives.

Di akhir buku ini, Kathryn menuliskan pengalamannya sendiri dengan pelayan kulit hitamnya yang akhirnya menjadi inspirasi untuk menulis The Help.

Ada lucu, ada ‘tragis’, ada konyolnya. Karakternya juga beragam banget, Hilly yang perfeksionis, Elizabeth yang rada plin-plan, Skeeter yang idealis, Celia yang konyol. Aibilen si pemberani dan bijak, Minny yang keras. Sebenernya gak semua tokoh perempuan kulit putih benci sama orang kulit hitam atau Negro, tapi mereka terlalu takut untuk bicara dan terlalu 'tunduk' sama Hilly.
Read more »

Minggu, 23 Mei 2010

Entrok - Okky Madasari

236.

Judul : Entrok
Penulis : Okky Madasari
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : I, April 2010
Tebal : 282 hlm

Novel ini memiliki judul yang unik “Entrok” , hal ini membuat banyak orang penasaran apa itu Entrok?. Covernya yang unik dengan ilustrasi punggung seorang wanita yang sedang membuka pakaian dalammya sebenarnya sudah merupakan petunjuk yang diberikan oleh penulis dan penerbitnya. Ya, Entrok adalah pakaian dalam wanita, atau kutang, atau bra yang dikenakan para wanita di masa lampau. Sebutan Entrok ini sendiri sepertinya saat ini sudah jarang dipergunakan Lalu kisah apa yang akan dituturkan penulisnya dengan judul Entrok ini ?

Novel Entrok merupakan kisah kehidupan dua orang perempuan Sumarni, yang biasa dipanggil Marni dan anaknya, Rahayu. Marni adalah seorang perempuan pemuja leluhur (animisme) yang ulet untuk meraih apa yang diinginkannya, karakternya ini mulai terbentuk sejak ia beranjak remaja. Ketika payudaranya mulai menyembul timbullah keinginan untuk memiliki Entrok (pakaian dalam perempuan) seperti yang dimiliki oleh teman sebayanya.

Keinginannya yang sederhana ini menjadi tak masuk akal karena sebagai keluarga miskin yang tinggal bersama ibunya yang hanya seorang buruh pengupas singkong membuat Entrok menjadi barang yang mewah dan tak terbeli. Namun Marni tak menyerah dengan keadaannya. Ia rela menjadi kuli angkut di pasar agar bisa mendapat uang untuk membeli Entrok.

Akhirnya Marni berhasil membeli sebuah Entrok, pengalamannya ini membentuk persepsi pada dirinya bahwa sebuah mimpi bisa diraihnya asal mau berusaha dan bekerja keras. Hal inilah yang membentuknya menjadi wanita ulet yang tak menyerah bergitu saja pada segala keterbatasannya. Kisah Marni terus bergulir, ia menikah dan mempunyai seorang anak. Sayangnya suaminya seorang pemalas, dan doyan bermain perempuan, dengan demikian Marnilah yang mencari nafkah dan menjadi tulang punggung keluarga. Ia terus bekerja, mulai dari buruh pengupas singkong, kuli angkut, penjual panci hingga akhirnya menjadi seorang rentenir yang kaya.

Profesi Marni sebagai seorang rentenir memang membuatnya menjadi kaya namun ia harus menanggung cemoohan orang yang mencapnya sebagai lintah darat. Namun Marni tetap bergeming, ia terus menjalankan usahanya karena menurutnya apa yang dilakukannya tidaklah bersalah malah justru menolong orang-orang yang membutuhkan uang. Selain itu kepercayaan Marni yang masih memuja leluhurnya dengan sesajen-sesajen membuat ia dicurigai bersekutu dengan iblis, melakukan pesugihan, memelihara tuyul agar bisa memperoleh kekayaan.

Adapun Rahayu dikisahkan sebagai wanita yang cerdas, berpendidikan dan taat dalam menjalankan ibadah agamanya. Semakin dewasa ketika menyadari bahwa ibunya seorang rentenir dan pemujaan terhadap leluhur yang dianggapnya musrik membuat ia memberontak terhadap ibunya sendiri. Puncaknya adalah ketika ia memutuskan untuk menikah dengan seorang pria beristri dan pergi meninggalkan ibunya. Semenjak menikah hubungan dengan Rahayu dan ibunya menjadi terputus karena ia tak pernah memberi kabar pada kedua orang tuanya. Rahayu dan suaminya kemudian bergabung dalam kelompok dakwah yang membela penduduk yang tanahnya hendak tergusur oleh proyek bendungan.

Dari narasi dua perempuan, Marni dan Rahayu lah kisah Entrok terbangun dimana kedua tokoh ini menjadi naratornya secara bergantian. Sebenarnya kisah dalam novel ini sederhana yaitu perjalanan hidup dua wanita yang penuh perjuangan melawan ketidakadilan dan kesewenang-wenangan. Yang membuat novel ini menarik adalah munculnya beberapa tema besar yang mewarnai novel ini. yaitu tema feminisme, pluralisme, politik, profesi, kepercayaan, serta agama. Menariknya walau memiliki beberapa tema namun semua tema itu terawi secara baik sehingga menghasilkan kisah yang utuh dan mengalir.

Nuansa feminisme merebak di lembar-lembar awal novel ini dimana akan telihat dengan jelas bahwa berbeda dengan buruh pria yang mendapat upah berupa uang buruh-buruh perempuan di pasar tidak diupahi dengan uang melainkan dengan bahan makanan, hal ini menyiratkan bahwa tenaga pria lebih dihargai dibanding tenaga wanita. Suka atau tidak suka hal ini masih banyak terjadi di pabrik-pabrik kita dimana buruh wanita dibayar lebih rendah dibanding buruh pria.

Selain tema feminisme, tema sosial politik dan pluralisme tampaknya merupakan tema yang paling dominan mewarnai kisah Marni dan Rahayu. Dalam novel ini situasi sosial dan politik dilihat dari sudut pandang rakyat kecil yang diwakili oleh Marni dan Rahayu. Ketika Marni sukses saat itu merupakan masa keemasan bagi pemerintahan yang didominasi oleh militer dimana dengan wewenang teritorialnya militer menjadi penguasa, menyusup masuk ke dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat. Dengan dalih sebagai penjaga kemanan, para oknum tentara meminta ‘upeti’ pada mereka yang berduit. Demikian pula dengan Marni, demi kelangsungan usahanya, dua minggu sekali ia harus membayar upeti pada orang-orang berseragam dan hal ini terus berlangsung seumur hidupnya. Inilah masa dimana segala masalah bisa diselesaikan dengan uang dan koneksi dengan militer.

Tak hanya menangkut soal keamanan, kebebasan masyarakat untuk meyakini kepercayaannyapun dicampuri oleh negara. Tentara lagi-lagi menjadi alat yang efektif untuk mengendalikan apa agama yang harus dianut rakyatnya. Pasca pemberontakan PKI sesuatu yang berbau China dilarang, hal ini terwakili oleh tokoh Koh Cahyadi yang harus mencantumkan agama Kristen dalam KTP nya padahal ia adalah penganut Konghucu. Barongsai yang merupakan warisan tradisi leluhurnya dilarang karena dianggap simbol PKI, Koh Cahyadi yang kedapatan bermain barongsai otomatis menjadi incaran militer hingga ia harus menyembunyikan dirinya dari kejaran para tentara.

Jika kita mencermati berbagai peristiwa yang dialami oleh para tokohnya akan terlihat bahwa novel ini memang memiliki nilai dokumenter khususnya dalam ranah politik. Dengan mudah ketika membaca Entrok kita akan menemukan kronik dari berbagai peristiwa politik yang terjadi di tahun 1950-1999 misalnya soal Pemilu yang mengharuskan pemilih untuk memilih lambang tertentu, peristiwa peledakan candi Borobudur, petrus (pembunuhan misterius), polemik waduk kedungombo, dll. Hal yang menarik karena melalui novel ini kita akan diingatkan akan sejarah dan peristiwa sosial dan politik masa lampau yang mungkin nyaris kita lupakan.

Karakter tokoh Marni dan Rahayu tampak tereksplorasi dengan baik. Satu hal yang menarik adalah walau bertutur tentang tokoh perempuan dan ditulis oleh seorang perempuan, penulisnya tak lantas menjadikan kedua tokoh ini sebagai ‘hero’. Marni dan Rahayu hanyalah perempuan biasa. Mereka digambarkan apa adanya termasuk kebaikan dan keburukannya. Marni walau perempuan yang mandiri, ulet dan tegar namun ia menyerah juga terhadap keadaan yang membuatnya menyuap tentara untuk menyelamatkan hartanya. Ia mengutuk kebisaan suap yang dilakukan para tentara namun ia tak melawan karena tak punya kuasa dan keberanian untuk melawannya. Secara moral ia bahkan jatuh dalam pelukan pria lain yang belum dinikahinya.

Novel ini secara keseluruhan memang menarik, namun ada dua hal yang menjadi catatan saya. Pertama ada satu bagian kisah yang bagi saya agak terlalu mengada-ada dan sedikit berlebihan, yaitu pada bab “Kentut Kali Manggis” dimana ketika seorang penduduk desa kedapatan buang angin saat diinterogasi oleh tentara karena kedapatan bermain kartu akhirnya harus dihukum berendam di sungai semalaman. Kejadian ini diketahui oleh Rahayu dan kawan-kawan sehingga mereka berniat untuk mengungkapkan tindakan semena-mena yang dilakukan oleh oknum tentara itu ke dalam koran. Akibatnya sungguh tak terduga karena menyebabkan kematian bagi si penduduk desa yang kedapatan buang angin tersebut

Kasus yang berawal dari main kartu dan buang angin yang menyebabkan kematian ini saya rasa terlalu mengada-ngada. Mungkin penulis bermaksud untuk mendeskripsikan kesewenang-wenangan tentara tapi saya rasa hal ini terlalu berlebihan, andai saja kasusnya diganti dengan yang sedikit lebih kompleks maka akan terkesan lebih realistis.

Kemudian dalam hal judul, judul novel ini memang menarik sekali “Entrok” mudah diingat dan membuat penasaran pembacanya akan arti dari Entrok. Entrok atau pakaian dalam wanita memang menjadi dasar dari Marni untuk meraih mimpinya tapi sayangnya kisah Entrok ini hanya terdapat di bab pertama, setelah itu Entrok tak lagi disebut-sebut. Padahal penulis bisa saja menyelipkan Entrok dalam kisah perjalanan Marni, misalnya melalui kenangan Marni akan entrok yg tiba-tiba muncul lagi ketika kesulitan menderanya, atau bisa saja dimunculkan ketika Marni memberi wejangan kepada anaknya, dll. Entrok tidak menjadi simbol dari kehidupan Marni dan Rahayu, ia hanya sebuah benda kenangan yang pernah diimpikan Marni. Karenanya maka Entrok itu sendiri seakan kurang menjiwai novel ini secara keseluruhan.

Terlepas dari hal di atas, novel ini menarik untuk dibaca, penulis menuturkan kisah Marni dan Rahayu dengan lancar, beberapa kalimat lokal disisipkan dalam dialog-dialognya sehingga kisahnya terasa membumi. Melalui novel ini kita akan melihat sebuah kisah bagaimana Marni dan Rahayu sama-sama tak berdaya dan menjadi korban dari orang-orang yang memiliki kuasa dan senjata. Berbagai tema sosial seperti yang telah diungkap di atas membuat novel ini memiliki keunggulan sendiri dalam merekam situasi sosial dan politik di era 50-an hingga 90-an.

Dalam novel ini kita juga akan melihat bahwa walau setting novel ini terjadi berpuluh tahun yang lalu namun beberapa situasi sosial yang terungk masih terjadi dimasa kini sehingga masih relevan dengan situasi sekarang. Sedemikian lambatkah perubahan yang terjadi di Indonesia khususnya mengenai isu pluralisme dan kesewenangan penguasa? Silahkan pembaca menyimpulkannya sendiri.


@htanzil
Read more »

Senin, 17 Mei 2010

Tempurung

Tempurung
Oka Rusmini @ 2010
Grasindo – 2010
460 hal.

Membaca buku-buku Oka Rusmini, selalu membawa gue ke tengah-tengah budaya masyarakat Bali. Mulai dari Tarian Bumi, Sagra dan Kenanga, Oka Rusmini jadi salah satu penulis favorit gue. Kalo biasanya, buku-buku itu tidak terlalu tebal, kali ini, dalam Tempurung ketebalannya lumayan juga.

Bercerita tentang perempuan, khususnya perempuan Bali. Perempuan yang kadang tidak yakin, tidak nyaman akan tubuh mereka sendiri, di mana mereka harus datang bulan, harus hamil dan merasakan kesakitan yang luar biasa, sementara kaum laki-laki terus-menerus ‘menuntut’ mereka untuk punya anak – terutama anak laki-laki. Perempuan bukanlah perempuan sejati apabila belum melahirkan anak laki-laki.

Terbagi dalam 3 cerita, mungkin akan sepintas dibuat bingung, karena tidak ada tokoh utama, banyaknya cerita yang ‘turun-temurun’. Tapi, tentu saja, tokoh utamanya seorang perempuan, meskipun tidak ada nama yang spesifik.

Dalam keseharian, sering kali terjadi ‘benturan’ antara budaya, agama dan perasaan. Terkadang tragis, tapi juga bikin kita terkagum-kagum dengan ‘kuatnya’ seorang perempuan. Pernikahan yang harusnya ada cinta, tapi malah bikin sengsara karena harta. Mereka ingin anak, tapi malah membuat mereka jadi seperti ‘pabrik anak’. Bikin anak-anak mereka justru jadi benci pada ibunya.

Mungkin karena adanya bumbu-bumbu adat-istiadat Bali, bikin beberapa bagian di buku ini terkesan ‘mistis’.
Read more »

Senin, 10 Mei 2010

Rindu

Rindu
Sefryana Khairil @ 2010
Gagas Media – Cet. I, 2010
244 hal.

Kehilangan, apa pun bentuknya itu, pasti sangat nyakitin. Jangankan kehilangan orang-orang yang kita sayangi, kehilangan benda ‘mati’ aja, duuuhhh, kadang rasanya kesel banget, sedih dan nyesel.

Buku ‘Rindu’ ini menceritakan tentang pasangan Zahra dan Krisna yang harus kehilangan anak mereka, Daffa, karena sebuah kecelakaan. Masing-masing kemudian terpuruk dalam kesedihannya, saling menyalahkan diri sendiri, tapi tidak mampu ‘memperkuat’ pasangan masing-masing.

Rasa sedih yang berkepanjangan, akhirnya malah membuat jarak di antara mereka. Masing-masing tetap pada ego-nya sendiri. Berharap dimengerti dan dipahami oleh pasangannya. Tapi, tak mampu untuk berbuat sama.

Wuiih… buku ini (nyaris) membuat gue menangis… ditambah lagi abis baca blog ini. Makin hiks.. hiks.. hiks…

Awal gue baca buku ini, sih biasa aja, malah gue menanggap, koq isinya hanya sediihhhhhh yang panjang, sama-sama ‘terpuruk’, sama-sama gak pedulian, tapi minta diperhatiin. Tapi, menjelang ending, mungkin karena gue udah merasa ‘masuk’ ke dalam tokoh-tokohnya, gue jadi ikut ngerasa sedih. Gue jadi ngerti pelan-pelan, kenapa mereka seperti itu. Dan, Ya Allah.. gue sampai berharap, semoga gue gak mengalami hal yang sama seperti mereka. Jangan sampai…
Read more »