Senin, 20 September 2010

The Scarecrow and His Servant

The Scarecrow and His Servant (Si Boneka Jerami dan Pelayannya)
Philip Pullman @ 2004
Dibyareswari U.P (Terj.)
GPU – Desember 2009
200 hal.

Seorang pria tua membuat boneka jerami dengan sepenuh hati. Boneka jerami berkepala labu itu diberi pakaian yang layak dan di dalam sakunya jasnya diselipkan sebuah surat yang sudah diberi pelindung agar tidak rusak. Tapi, ada saja orang-orang tamak, yang tak lain adalah keluarga si pria tua itu, mereka dari keluarga Buffaloni yang ingin menguasai tanah milik pria tua itu.Boneka jerami itu dicuri, berpindah-pindah tempat sampai akhirnya jadi lusuh.

Suatu malam, di tengah hujan deras, angin kencang, petir menyambar boneka jerami itu. Memberi aliran listrik di seluruh tubuhnya dan akhirnya menghidupkan boneka itu. Tak jauh dari sana, seorang bocah laki-laki kelaparan dan mencari tempat berlindung. Jack namanya. Mereka berdua akhirnya menempuh petualangan seru berdua. Si bocah menjadi pelayan bagi boneka jerami yang kocak itu.

Di perjalanan, mereka bertemu kawanan perampok, menjadi pelayan di rumah pasangan suami istri petani, ikut berperang, terombang-ambing di lautan, dan nyaris mati kelaparan dan kehausan (ini berlaku untuk Jack). Sementara, si boneka jerami, kerap mengalami patah ‘tangan dan kaki’, jerami yang sudah nyaris hancur, dan mengalami operasi ‘penggantian kepala’.

Tanpa mereka sadari, jejak perjalanan mereka diikuti oleh pengacara keluarga Buffaloni yang mengincar sesuatu dari si boneka jerami.

Tapi yang penting bagi Jack, adalah bisa mendapatkan makanan dan menemani boneka jerami yang baik hati itu. Dan bagi boneka jerami, perjalanan panjang mereka adalah mencari tempat bernama Spring Valley yang tersimpan rapi di hatinya.

Gue lebih suka buku-buku dongeng Philip Pullman yang kaya’ begini dibanding His Dark Material Trilogy. Lebih kocak dan mengharukan. Kaya’ di sini, boneka jerami dengan tingkah laku polos dan baik hati. Ia kerap menyelamatkan burung-burung, meskipun ‘ideal’nya tugasnya adalah menakuti burung-burung agar tidak memakan tanaman atau padi para petani. Tapi nyatanya, para burung-burung justru membantunya. Terus lucunya waktu dia lagi merayu gagang sapu cantik buat jadi istrinya.
Read more »

Thirteen Reasons Why

Thirteen Reasons Why
Jay Asher @ 2007
Razorbill – 2010
288 hal.

Hidup Clay Jansen tidak akan sama lagi, sejak ia menerima sebuah paket berisi kaset-kaset rekaman suara Hannah Baker. Hannah Baker ditemukan meninggal dunia, ia bunuh diri dengan minum obat-obatan. Dalam kotak itu, ada 6 kaset, yang masing-masing berisi sebuah kisah, cerita tentang orang-orang, teman-teman sekelas Hannah Baker, yang sedikit banyak memberi andil bagi Hannah Baker sampai akhirnya ia nekat bunuh diri.

Hannah Baker, adalah murid baru di sekolah Clay. Ia termasuk anak yang cantik dan cukup menarik perhatian para cowok, termasuk Clay. Tapi, Clay, sosok anak yang baik-baik, ia takut-takut untuk mendekati Hannah meskipun mereka sempat kerja bareng di sebuah bioskop. Sampai akhirnya di sebuah pesta – pesta yang bakal disebut-sebut Hannah sepanjang cerita ini, pesta yang bisa dibilang juga jadi salah awal dari beberapa kejadian.

Clay terkejut ketika mendengar satu-persatu nama teman-temannya dan apa hubungan mereka dengan Hannah. Hannah tampaknya mempersiapkan semuanya dengan detail, sampai ia juga membuat sebuah peta, di mana terdapat tanda-tanda tempat yang berhubungan dengan kisah yang sedang ia tuturkan.

Sambil menunggu, kapan namanya akan disebut, Clay mendatangi tempat-tempat yang disebutkan Hannah dalam kasetnya.

Hannah kecewa dengan teman-temannya. Selama ini dia percaya, atau at least mencoba untuk percaya, tapi ternyata mereka membuatnya kecewa. Rasa kecewa yang semakin dalam terpendam, malah membuat berpikir betapa hidup ini sangat tidak adil, bahkan Hannah juga kecewa pada dirinya sendiri karena tidak mampu berbuat sesuatu untuk menyelamatkan kehidupan seseorang.

Buat gue, buku ini termasuk yang kategori ‘pengen segera dituntaskan karena penasaran’. Awalnya, gue bertanya-tanya, ada apa dengan Hannah, sampai segitu desperado-nya pengen bunuh diri. Dan, yang menarik lagi buat gue, sambil ‘mendengarkan’ ceritanya Hannah, gue juga bisa langsung tau reaksi Clay pas di saat dia mendengarkan kaset itu. Karena biasanya, yang sering gue liat nih, kalo orang lain cerita itu terdiri dari bab sendiri, dan adakala reaksi orang lain yang mendengarkan, akan dibuat satu bab sendiri. Di buku ini, semua digabung dalam ‘sekali baca’. Dan kadang-kadang, apa yang ada di pikiran Clay sama Hannah seolah jadi ‘nyambung’.
Read more »

Minggu, 19 September 2010

Prada & Prejudice

Prada & Prejudice
Mandy Hubbard @ 2009
Berliani M. Nugrahani (Terj.)
Atria, Juli 2010
308 hal.

Callie sebenernya pengen banget bisa gabung sama cewek-cewek keren seperti Angela dan Mindy, cewek-cewek trendy dan tampak asyik. Tapi, karena gayanya yang kadang ceroboh, Callie jadi takut-takut dan malah jadi bahan tertawaan. Apalagi sejak temannya pindah, Callie makin ‘terasing’.

Kesempatan untuk hang out bareng datang ketika sekolah Callie mengadakan study tour ke London dan mengenal sejarah kota itu lebih dalam. Tapi, Callie malah ‘tertinggal’, dan ia tidak mungkin pergi sendirian mengingat peraturan dari guru mereka yang ketat. Insiden kecil yang terjadi ketika Callie sangat berharap ditegur Mindy, malah membuatnya nekat ‘kabur’ dan jalan-jalan sendiri di London.

Sampai ia melihat sebuah butik dengan tulisan sederhana dan sepasang sepatu merah yang seketika itu Callie yakin adalah untuknya. Mungkin dengan pumps Prada merah yang asli, Callie akan diajak bergabung dan teman-temannya akan menyadari kalau ia sebenarnya adalah cewek yang asyik. Langsung ia menggesek kartu kredit pinjaman ibunya untuk membeli sepatu itu.

Lagi-lagi, Callie ceroboh dan tersandung. Ia pingsan. Dan tiba-tiba terbangun di tengah hutan. Callie berpikir ia pasti diculik. Tapi, sejauh mata memandang, ia hanya melihat pohon-pohon.. dan owww… kereta kuda?

Ia pun mengetuk rumah pertama yang ia temui. Dan ia berpikir, betapa orang-orang Inggris sangat menghargai sejarah sampai-sampai rela tinggal di kastil, berpakaian yang serba ribet dan naik kereta kuda untuk ke mana-mana. Belum habis rasa herannya, ia dianggap sebagai Rebecca, tamu yang ditunggu-tunggu, yang datang dari Amerika dengan kapal laut!

Ok… Callie pikir, pasti ada misi penting yang harus diselesaikan, ketika ia sadar ia ‘terlempar’ ke tahun 1815. Dan untuk kembali ke masa depan, misi itu harus ia tuntaskan dengan segera. Yang penting ia lakukan adalah, bersikap layaknya seorang perempuan terhormat yang tahu tata krama dan berperan sebagai Rebecca.

Ia harus menyelamatkan Emily dari perjodohan paksa, berjuang untuk melawan kebencian terhadap Alex, sang Duke of Harksbury.

Hahaha.. gue suka ceritanya, kocak dan konyol. Gimana ya, tampang orang-orang di kastil ngeliat gaya Callie dengan jeans dan t-shirt, belum lagi Callie yang mikir Emily dan yang lain itu pasti sedang berperan dalam sebuah sandiwara. Yang pasti pumps Prada itu selalu setia nyaris di setiap acara, meskipun sudah tergores-gores, tapi Callie tetap cinta.

Akhirnya, setelah kecewa dengan dua buku sebelumnya, gue menemukan buku yang sangat menghibur.
Read more »

Forgiven

Forgiven
Morra Quatro
Gagas Media – 2010
266 halaman

Bersahabat dekat dengan William Hakim, atau biasa dipanggil Will, ternyata membuahkan perasaan lain bagi Karla. Meskipun dalam ‘gank’ mereka masih ada beberapa orang lagi, dan hanya Karla sendiri yang perempuan, tapi, dengan Will, Karla merasa lebih nyaman. Bahkan setelah ia pun berpacaran dengan salah satu anggota gank mereka.

Karla, yang ketua kelas, rela di-skors karena ikut ambil bagian dalam usaha balas dendam terhadap salah satu guru mereka ketika teman mereka diperlakukan dengan tidak wajar.

Will, adalah pencinta fisika nuklir. Jangan bayangkan dia anak yang ‘nerd’, berkacamata tebal dan gugup. Will anak yang biasa-biasa saja, tidak selalu jadi juara satu di kelas, tapi berprestasi. Para cewek-cewek juga silih berganti ada di sisi Will. Tapi, Karla tetap jadi pusat perhatian Will.

Selepas SMU, mereka berpisah. Ada yang kuliah di Bandung, Will bahkan dikabarkan kuliah di Amerika, di MIT, sementara Karla di Singapura. Sebelum berangkat, Will menghilang begitu saja. Karla pun akhirnya terpaksa ‘memendam’ perasaan. Bahkan ketika akhirnya bertemu lagi pun, tidak juga membuat mereka saling mengakui perasaan masing-masing.

Buntunya, malah Will ditangkap di Amerika. Ketika itu Amerika lagi goncang karena peristiwa 9/11. Will yang berwajah ke-Arab-araban, karena memang dia keturunan Turki, ditangkap karena dianggap terlibat dalam kerusuhan di kantornya setelah ia dipecat.

Karla sendiri akhirnya juga tinggal di Amerika, bahkan memiliki anak di luar nikah.Tapi, tetap, Will yang selalu ada di hatinya.

Ahhh… lagi-lagi kasih tak sampai. Dan lagi-lagi gue ‘terkecoh’ dengan judul. Temen gue bilang ceritanya bagus, bahkan ada yang sampe nangis (karena emang gak happy ending sih… ups…), tapi menurut gue malah aneh, gue jadi gemes sama Karla dan Will.

Mencoba ‘beromantis ria dengan membayangkan Champange Supernova… tapi rada gagal :D
Read more »

Mencari Tepi Langit

Mencari Tepi Langit
Fauzan Mukrim
Gagas Media – 2010
284 hal.

Berawal dari sebuah email misterius dari ‘Tepi Langit’, Horizon Santi tiba-tiba harus menerima sebuah kenyataan bahwa ia adalah seorang anak angkat. Demi mencari siapa sesungguhnya orang tua kandungnya, Santi rela meninggalkan kehidupannya yang nyaman di sebuah rumah dengan fasilitas lengkap. Ia pindah ke sebuah kamar kost sempit dan bekerja sebagai cleaning service di pesawat.

Santi pun mencari lewat facebook, siapa kira-kira orang yang bisa membantunya mencari orang tua kandungnya di Makasar. Bertemulah dia dengan Senja, seorang laki-laki, wartawan pemula yang pengen banget ketemu sama Noordin M. Top. Kebetulan, Senja juga berasal dari Makasar.

Usaha pencarian orang tua Santi diselingi dengan perjalanan Senja meliput berita. Berita besar yang diliput Senja adalah peristiwa tsunami di Aceh tahun 2004. Senja adalah wartawan di sebuah surat kabar yang sering meliput wilayah konflik. Mempunyai teman yang diduga terlibat dalam aksi teroris.

Judul emang bisa jadi ‘mengundang’ banget. Awalnya gue membayangkan akan membaca sebuah kisah cinta yang romantis dari judulnya yang menurut gue ‘indah’. Tapi, ternyata lebih banyak unsur-unsur lain yang bikin jadi lebih serius dan jujur gak sesuai dengan bayangan gue.

Ceritanya juga lebih banyak porsinya untuk Senja. Sementara Santi, yang gue pikir adalah tokoh dengan masalah ‘utama’, jadi kurang banyak diceritain.

Endingnya dibuat menggantung, seperti juga awalnya, yang berupa percakapan tanpa nama antara seorang ‘kakak’ dan ‘adik’.
Read more »

Selasa, 31 Agustus 2010

Sang Pencerah

Sang Pencerah: Novelisasi Kehidupan K.H. Ahmad Dahlan dan Perjuangannya Mendirikan Muhammadiyah
Akmal Nasery Basral @ 2010
Mizan - Cet. I, Juni 2010
461 hal.

Gue nyaris gak tau apa pun tentang KH Ahmad Dahlan, selain ‘mengenalnya’ sebagai nama jalan. Gue gak tau kalo ternyata beliau adalah pendiri Muhammadiyah, bahwa banyak cerita dan fakta menarik dalam sejarah hidup beliau.

Terlahir dengan nama Muhammad Darwis, anak seorang khatib Masjid Gedhe, pemuka agama di lingkungan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Keturunan langsung dari Syaikh Maulana Ibrahim salah satu dari 9 tokoh Wali Songo. Merupakan sebuah keistimewaan memiliki silsilah ini. Nantinya, otomatis jabatan sebagai khatib Masjid Gedhe akan jatuh ke Muhammad Darwis apabila KH Abu Bakar meninggal.

Sebagai anak kiai, sejak kecil Darwis sudah belajar mengaji dan sering diajak ayahnya mendengarkan khutbah di Masjid Gedhe. Batin Darwis terusik ketika dalam salah satu acara pengajian 40 harian meninggal bapak temannya, secara tak sengaja ia mendengar percakapan ibu temannya itu yang terpaksa meminjam uang untuk mengadakan acara itu. Sejak itu, ia mencoba bersikap kritis, tapi, sering tidak mendapat dukungan positif dari bapaknya dan para ulama lainnya.

Ketika remaja, ia sudah dikirim untuk naik haji dan belajar agama di Mekkah. Sepulangnya dari Tanah Suci, dengan pengetahuan yang semakin bertambah, pemikirannya sering kali berbeda dengan para kiai yang masih sangat kaku dan memegang teguh tradisi yang menurut Ahmad Dahlan – nama yang ia peroleh setelah menjadi haji – bertentangan dengan Islam. Baginya, Islam tidaklah menyulitkan umatnya, jadi jika tradisi itu ternyata menyulitkan, sebaiknya disederhanakan saja.

Semakin lama, cara mengajar, cara berpikir bahkan khutbahnya dianggap kontroversial oleh kiai-kiai sekitar, terutama ketika Ahmad Dahlan mengusulkan perubahan arah kiblat – yang akhirnya berujung pada pembongkaran Langgar Kidul yang selama ini dipergunakan Ahmad Dahlan untuk mengajar mengaji.

Belum lagi ketika akhirnya ia bergabung dengan Budi Oetomo, yang dianggap para kiai sebagai perkumpulan kejawen. Ahmad Dahlan pun mendapat sebutan ‘kiai kafir’ Tapi, berbagai cobaan, cercaan dan tuduhan itu tidak membuatnya patah semangat, malah ia semakin giat dalam berusaha membuktikan bahkan apa yang ia sampaikan adalah hal yang benar, bukan bermaksud memecah belah umat Islam sendiri. Beruntung ia didukung oleh istrinya yang sangat sabar, dan murid-muridnya yang setia sampai akhirnya terbentuklah Muhammadiyah.

Jarang-jarang gue suka kalo baca biografi atau memoar seseorang. Karena cara penyampaiannya cenderung datar, monoton, membosankan dan hanya satu arah. Tapi, gue suka baca buku ini. Mungkin karena novel ini dibuat berdasarkan skenario film, mungkin juga karena cara penyampaiannya yang menarik. Jadi bacanya juga enak. Banyak hal yang gue dapat dari buku ini, mulai dari fakta sejarah, dan pemikiran-pemikiran yang simple, tapi sangat masuk akal.

Mungkin kalo ada lagi memoar atau biografi yang dibuat seperti ini, gue bakal lebih banyak lagi baca buku-buku seperti ini.
Read more »

Minggu, 29 Agustus 2010

Cinta

Cinta
Ollie @ 2010
Gagas Media – Juni 2010
198 hal.

Friya, adalah gambaran wanita karir kosmopolitan Jakarta. Hidupnya tak lepas dari yang namanya teknologi – masuk taksi langsung update status di Twitter, chatting via YM, BBM-an. Gemar shopping terutama saat sale meskipun pusing kalau mengingat angka di tagihan kartu kredit yang nyaris over limit. Ngopi di Starbucks is a must. Termasuk social smoker. Karir di kantor juga bagus dan tampaknya gambaran untuk promosi alias naik jabatan juga sangat cerah.

Berbeda dengan suaminya. Gary, adalah seorang pegawai negeri. Meskipun dulunya mantan anak band, mantan rocker, kesan itu sekarang sudah hilang, digantikan dengan sosok pegawai negeri yang patuh dan masih idealis. Berusaha untuk datang tepat waktu, berusah dekat dengan atasan, biarpun kadang dibilang penjilat. Naik jabatan juga salah satu hal yang ditunggu.

Tapi… bukan berarti mutasi ke Kupang masuk dalam salah satu agenda mereka berdua.

Di saat Friya nyaris dipromosikan untuk naik ke level manager, Gery juga mendapat kenaikan jabatan dan dimutasi ke Kupang. Friya dalam dilema, antara ikut suami dan meninggalkan segala kemewahan dan kenyamanan, atau tetap tinggal dan menjalani yang namanya long distance relationship? Dua orang terdekat memberi saran yang berbeda, toh akhirnya Friya memantapkan diri untuk ikut dengan Gary.

Di Kupang segalanya berbeda. Mulai dari lingkungan tempat tinggal yang masih tampak gersang, pergaulan dengan ibu-ibu pejabat yang full make up dan juga full gossip. Friya sering merasa di sini bukan tempatnya. Kenalan dengan cowok lain aja sudah dijadikan bahan omongan sama ibu-ibu pejabat yang ternyata iri sama Friya, belum punya anak jadi gosip empuk. Friya gak tahan.

Tapi, apa iya, Jakarta dan segala kenyamannnya adalah rumah yang tepat untuk Friya, meskipun ia harus jauh dari Gary?

Novel ini jadi salah satu penghibur gue di weekend ini selama di rumah. Gue nyaris membaca semua tulisannya Ollie sejak pertama dia nulis buku. Dan makin lama, tulisannya jadi makin dewasa. Kalo dulu tentang ABG, sekarang semenjak nikah, lebih banyak tentang kehidupan rumah tangga. Sesuatu yang sederhana aja, seperti pertanyaan, “jadi.. ke mana kamu akan pulang?”, bisa jadi sebuah cerita yang menarik. Love it, Ollie…
Read more »

Princess Academy

Princess Academy
Shannon Hale @ 2005
Bloomsbury – 2007
314 hal.

Miri tinggal di sebuah pegunungan bernama Gunung Eskel. Penduduk setempat bekerja sebagai penambang batu dan hidup sangat sederhana. Miri hanya tinggal bersama Pa dan kakak perempuannya, Marda. Menurut cerita, Ma meninggal ketika Miri masih bayi. Sebenarnya Miri ingin ikut membantu Pa dan Marda bekerja di penambangan, tapi, menurut Pa, Miri masih terlalu kecil untuk ikut bekerja. Kehidupan lain di Gunung Eskel muncul ketika para pedagang datang untuk membeli batu-batu di Gunung Eskel.

Kehidupan di Gunung Eskel yang tenang dikejutkan dengan datangnya utusan dari kerajaan, yang membawa berita bahwa calon istri dari sang Pangeran ada di antara gadis-gadis Gunung Eskel. Orang-orang lembah, demikian kerajaan itu berada, digambarkan adalah orang-orang yang sombong. Mereka memandang rendah orang-orang Gunung Eskel, yang bahkan bukanlah merupakan provinsi, tapi hanya sebuah wilayah kecil. Ada beberapa gadis Gunung Eskel yang termasuk dalam kategori sebagai calon istri alias calon Putri. Tapi, nanti sang Pangeran-lah yang akan memilih sendiri satu di antara mereka. Sebelum itu, para gadis itu harus mengikuti serangkaian pendidikan di Akademi Putri Raja, mereka akan diajar membaca, tata krama, bahkan berdansa.

Beberapa gadis – terutama yang lebih tua dari Miri, terlihat ambisius. Sementara Miri, diam-diam merasa, bahwa orang-orang lembah tak akan membiarkan gelar itu jatuh ke tangan gadis gunung. Perseteruan, persaingan terjadi di antara para gadis. Guru mereka yang keras kerap memberikan hukuman. Miri yang paling berani menentang perilaku gurunya itu, tapi juga sering mendapat cibiran dari ‘saingannya’.

Di daerah itu, ternyata rawan penjahat. Mengetahui ada calon istri pangeran, sekelompok perampok, menyandera gadis-gadis itu. Mereka ingin uang tebusan yang besar biar sang calon putri bisa bebas.

Secara tak langsung, Miri juga ingin terpilih. Bukan karena ingin memperoleh gelar, tapi ia ingin, jika memberikan kehidupan yang lebih baik untuk Pa dan Marda. Tapi, ia juga tidak rela meninggalkan Gunung Eskel, karean ada yang diam-diam ia cintai.

Well… ini cerita yang simple dan udah sering kali ya. Tentang calon putri yang ternyata ‘tersembunyi’ di antara gadis-gadis desa. Awalnya gue menebak, ahh… pasti Miri deh yang jadi putrinya, karena dia kan tokoh utama, gadis yang paling menonjol, paling berani. Tapi ternyata, bukan…. Ada rahasia lain. Sebuah ‘fakta’ yang dari awal udah keliatan, tapi kita gak bakal memperhatikan karena focus cerita ada di Miri. Tapi, sayangnya, si calon putri itu, baru buka rahasia di ending cerita, dan bikin ending-nya jadi kurang ‘mengejutkan’. Yang bikin cerita yang udah terbangun pelan-pelan dari awal, jadi kurang gimana gitu. Tapi ya… gue termasuk ‘penggemar’ cerita putri-pangeran, dalam berbagai versi. Hehehe.. meskipun endingnya sih jelas.. happily ever after…
Read more »

Senin, 23 Agustus 2010

Wicked #2 (Curse)

Wicked #2 (Curse)
Nancy Holder & Debbie Vigué @ 2003
Meithya Rose Prasetya (Terj.)
Penerbit Matahati – 2010
305 Hal.

Pertempuran antara Dinasti Deveraux dan Dinasti Cahors sementara berakhir, tapi masalah belum selesai sama sekali. Jer menghilang setelah terbakar oleh Black Fire. Holly yakin ia masih hidup hanya saja keberadaannya masih sulit dilacak. Sementara itu, Nicole, saudara kembar Amanda, memilih pergi, kabur ke Eropa. Mencoba mencari keselamatan dan ketenangan, tapi ternyata tidak bisa. Nicole yakin, dalam perjalanannya, ada bayangan yang seolah mengikutinya, belum lagi rasa bersalah yang menghantuinya karena sudah meninggalkan kelompok penyihirnya.

Misi Michael Deveraux untuk mendapatkan kekuasaan Sihir Tertinggi tidak akan pernah tuntas, selama keturunan Dinasti Cahors masih hidup. Untuk itulah ia terus memburu kelompok sihir yang kini dipimpin oleh Holly. Dibantu teman-temannya, Holly terus belajar tentang ilmu sihir yang baru diketahuinya, semakin hari semakin kuat, tapi masih belum cukup kuat untuk melawan Michael Deveraux.

Kecelakaan-kecelakaan mulai dari yang kecil sampai yang meminta korban nyawa terus mengancam mereka. Kemana pun mereka kabur, tetap saja sihir Deveraux mengikuti mereka. Permusuhan yang disebabkan nenek moyang mereka tidak pernah tuntas sampai salah satu dari Dinasti yang ada mati dan habis.

Di Eropa, Nicole bertemu kelompok sihir lain yang melindunginya dalam perjalanannya. Tapi, ia harus berjumpa lagi dengan salah satu anak Michael, Eli. Ia harus menjadi tawanan Eli.

Di Amerika, Holly bersikeras mencari Jer, meskipun ditentang oleh Amanda. Tapi, Holly yakin, jika ia berhasil menyelamatkan Jer, mereka bisa melawan Michael Deveraux. Padahal, Michael Deveraux juga membutuhkan Jer, karena ia yakin Jer adalah titisan langsung Jean Deveraux.

Owww.. begitu rumit cerita di buku ini dan semakin suram. Kejar-kejaran dan perburuan Michael atas diri Holly masih terus berlanjut, sampai akhir buku ini belum juga tuntas. Tentu saja, masih ada sekuel selanjutnya.

Buku ini termasuk salah satu yang gue tunggu kelanjutannya, dan gue nyaris lupa apa isi cerita sebelumnya karena udah lumayan lama sejak buku pertamanya terbit. Makin gelap, apalagi kalo Holly lagi ada di pantai, pasti ada ‘bencana’ atau ‘penglihatan’ baru buat Holly. Gue seolah merasakan lautan yang biru… gelap… dan bikin merinding, gue jadi inget, Pantai Parangtritis yang airnya gelap dan terlihat ‘berbahaya’.
Read more »

Kamis, 19 Agustus 2010

The Miraculous Jorney of Edward Tulane

The Miraculous Jorney of Edward Tulane (Perjalanan Ajaib Edward Tulane)
Kate DiCamillo @ 2006
Bagram Ibatoulline (Ilustrasi)
Dini Pandia (Terj.)
GPU - November 2006
208 Hal.

Edward Tulane, ada sebuah boneka kelinci yang terbuat dari porselen. Dibuat berdasarkan pesanan khusus seorang nenek sebagai hadiah untuk cucu perempuannya bernama Abilene Tulane. Telinganya terbuat dari bulu kelinci yang halus, mempunyai kumis yang Edward tahu bukan dari kumis kelinci, salah satu hal yang tidak mau ia bayangkan sama sekali.

Edward Tulane sangat disayangi oleh Abilene. Ia diberi pakaian yang sangat bagus dan mewah. Busana-busananya terbuat dari sutra dan satin yang halus, dilengkapi dengan topi dan sepatu yang bergaya. Bukan itu saja, ia juga mempunyai jam saku emas yang selalu diputar Abilene untuk menandakan kepulangannya dari sekolah. Demikian istimewa perlakuan Abilene terhadap Edward, sampai-sampai ia jadi ‘sombong’. Edward benci kalau disebut ‘benda’, ‘boneka’, atau ‘barang’. Menurutnya, ia lebih daripada itu.

Semua tampak nyaman, damai tapi membosankan. Sampai ‘bencana’ yang akan mengubah ‘perjalanan hidup’ Edward pun datang. Bermula dari perjalanan dengan kapal laut, ia ‘diajak’ oleh Abilene sendiri. Tapi, di kapal ada dua anak yang mengejek dirinya, sehingga terjadi pertengkaran antara Abilene dan kedua anak laki-laki itu. Akhirnya, Edward terlempar dari kapal, terjun bebas ke lautan yang luas, dan akhirnya tenggelam dalam gelapnya dasar laut selama berbulan-bulan.

Petualangan baru pun dimulai. Pertama ia diambil oleh seorang nelayan dan diberikan kepada perempuan tua baik hati bernama Nellie, tapi karena seorang anak perempuan yang cemburu, Edward ‘dijebloskan’ ke tempat pembuangan sampah. Kemudian ia ditemukan oleh seekor anjing, yang membawanya menjadi ‘gelandangan’ bersama Bully. Itu pun tak bertahan lama, ia harus kehilangan lagi kebaikan seseorang, dan malah diambil oleh perempuan yang menjadikannya sebagai alat untuk menakut-nakuti burung. Untuk seorang anak laki-laki bernama Bryce menyelamatkannya dan ia memperoleh limpahan kasih sayang baru dari seorang anak perempuan yang sakit-sakitan, adik Bryce bernama Sarah.

Nama Edward pun berganti-ganti setiap ia pindah tangan. Mulai jadi ‘kelinci perempuan’ bernama Susanna, lalu ‘kelinci buronan’ bernama Malone dan akhirnya di tangan Sarah, ia bernama Jangles.

Setiap ‘perpindahan tangan’ menyisakan rasa perih di hati Edward. Karena tanpa ia sadari, ia menyayangi para pemiliknya itu. Sesuatu yang tidak pernah ia ‘berikan’ kepada Abilene. Dan ia sangat sedih ketika harus kehilangan kasih sayang dari mereka yang merawatnya dengan penuh sayang.

Gue beli buku ini gak sengaja. Gara-gara lagi diobral aja. Ceritanya simple aja. Gue tuntaskan dalam waktu sehari. Semalem gue ajak Mika liat-liat buku ini, dan dia seneng ngeliat gambar-gambarnya si Edward. Mika bilang, “Wow… kelincinya jatuh ke laut.” Atau, “Wow, dia duduk di meja makan.” Tadinya mau gue bacain, tapi Mika lebih tertarik liat gambar-gambarnya.

Gue bayangin Edward kaya’ kelinci ‘aristokrat’ lengkap dengan jas, kemeja, celana panjang, sepatu… ditambahlah jam tangan saku emasnya itu.
Read more »

Rabu, 18 Agustus 2010

Negeri 5 Menara

Negeri 5 Menara
Sebuah Novel yang Terinspirasi Kisah Nyata
A. Fuadi @ 2009
GPU - Cet. 7, Juni 2010
432 hal.

Awalnya, Alif marah ketika Amaknya meminta ia melanjutkan sekolah ke pendidikan agama. Padahal, dengan nilai yang sangat baik yang ia peroleh, ia bisa melanjutkan ke SMA. Sejak SD, Alif sudah bersekolah di madrasah. Lagi pula, Alif dan Randai, temannya, sudah berjanji akan masuk ke SMA yang sama, lalu melanjutkan ke ITB, bercita-cita ingin jadi seperti BJ Habibie.

Tapi apa mau dikata, orang tuanya bersikeras untuk tetap memasukkan Alif ke sekolah agama. Alasan mereka, selama ini, hanya anak-anak yang tidak dapat sekolah negeri, atau anak-anak nakal yang masuk ke sekolah agama, bagaimana bisa mendapatkan pendidik agama yang baik jika bukan bibit terbaik yang masuk ke sekolah agama. Akhirnya, Alif menyerah, tapi ia hanya mau masuk sekolah Pondok Madani di Ponorogo, bukan sekolah agama di Maninjau, tempat asalnya.

Dengan berat hati, mereka pun melepas Alif untuk merantau.

Sampai di Pondok Madani, Alif ternyata ‘terpukau’ dengan kemegahan tempat itu. Di hari pertamanya, Alif pun terbius oleh sebuah ‘mantra sakti’: man jadda wa jada - Siapa yang bersungguh-sungguh pasti sukses. Kata-kata yang membakar semangat Alif dan teman-teman barunya. Kata-kata yang akan membangkitkan Alif nantinya dari segala keraguan dan keputusasaan.

Belajar di Pondok Madani sangat berat, dengan segala peraturan dan kedisplinan yang tinggi, ritme harian yang padat, penyesuaian bahasa yang hanya boleh mempergunakan bahasa Arab dan Inggris – yang dianggap sebagai bahasa dunia. Pondok Madani mempersiapkan mereka untuk ‘terjun’ ke dunia luas, untuk merantau ke sampai ke negeri orang.

Peraturan di PM sangat ketat, salah sedikit, tidak akan bisa menghindar dari ‘mahkamah’ yang terkenal angker. Gara-gara mendapat hukum jewer berantai, Alif mendapatkan sahabat-sahabat baru yang akhirnya dikenal sebagai Sahibul Menara – Alif, Baso, Dulmajid, Said, Raja dan Atang. Mereka bermimpi bersama, mereka-reka bentuk awan.

Surat-surat dari Randai kerap ‘menggoda’ Alif untuk menyerah, tapi untung Alif mempunyai teman-teman dan ustad-ustad yang mendukungnya dan selalu siap ‘membakar’ semangatnya kembali.

Sebuah novel, yang didasari oleh kisah nyata. Cara bertuturnya sangat ‘teratur’. Gak ada lompatan-lompatan yang membuat terkejut. Semua mengalir dengan tenang. Gue bisa ikut menikmati sebuah kehidupan di pesantren, meskipun terkesan sangat berat dan ketat, tapi banyak banget manfaatnya.

Gue kaget juga ternyata udah cetakan ke-7. Dari awal novel ini terbit, gue belum 'tergerak' untuk membelinya, meskipun heboh banget pemberitaan tentang novel ini. Apalagi sampai masuk ke Kick Andy segala. Gue takutnya ini kaya' Ayat-Ayat Cinta, atau Ketika Cinta Bertasbih. Tapi ternyata, ini lebih 'mirip' ke Laskar Pelangi (hehehe.. meskipun gue belum tuntas juga sih baca buku yang satu ini). Gue juga jadi inget sama '9 Matahari - Adenita', novel yang gue rasa diambil dari kehidupan nyata si penulis. Nah... bulan puasa, kaya'nya 'moment' yang pas untuk baca buku ini.. hehehe..

Satu lagi novel yang membuat gue ‘bermimpi’. Novel yang membuat gue merenung. Udah lama nih, gue gak baca novel yang bisa membuat gue sedikit berpikir. Semoga ‘mantra sakti’ itu juga bisa membuat gue semangat.
Read more »

Minggu, 15 Agustus 2010

Catching Fire

Catching Fire (Tersulut)
Suzanne Collins @ 2009
Hetih Rusli (Terj.)
GPU – Cet. 1, Juli 2010
424 Hal.

Menjadi pemenang The Hunger Games, tidak membuat Katniss dan Peeta bisa bernapas lega. Biarpun mereka bisa hidup lebih ‘layak’ di Desa Pemenang, kehidupan mereka masih diatur oleh Capitol. Katniss dan Peeta disibukkan dengan Tur Kemenangan ke setiap Distrik di Negara Panem. Tapi, ‘insiden’ makan buah berry di Hunger Games terakhir, dianggap sebagai simbol yang bisa memicu pemberontakan. Presiden Snow khusus datang ke rumah baru Katniss untuk memperingatkan Katnis agar ‘berhati-hati. Katniss harus menjaga tingkah lakunya, terutama soal percintaannya dengan Peeta, agar warga Distrik lain bisa meredam percikan-percikan pemberontakan yang sudah mulai.

Tapi, ternyata Peeta juga tidak tinggal diam. Meskipun tidak terlalu nyata, beberapa tindakan Peeta justru menunjukkan ia mendukung Katniss. Presiden Snow membuat rencana lain, yang lebih heboh, Katniss dan Peeta harus segera menikah!

Yang perlu diingat, Hunger Games selanjutanya disebut dengan Quarter Quell. Setiap dua puluh lima tahun sekali ada perayaan Hunger Games yang disebut Quarter Quell. Peraturan di setiap Quarter Quell biasanya lebih ‘mengerikan’ dibanding Hunger Games ‘biasa’. Di Quarter Quell 25 tahun lalu, di mana mentor Katniss dan Peeta, Haymitch, menang, peserta dibuat dua kali lebih banyak. Artinya ada 48 anak yang bertarung. Di Quarter Quell kali ini, peserta diambil dari pemenang Hunger Games sebelumnya. Di Distrik 12, hanya ada 3 pemenang, dua laki-laki dan satu perempuan. Artinya, Katniss harus kembali ke Hunger Games!

Dengan beban yang lebih berat, lawan yang lebih berat, Katniss kembali harus meninggalkan orang-orang yang dicintainya. Haymitch meminta Katniss dan Peeta untuk bersekutu dengan beberapa peserta. Tapi, mereka berdua memilih untuk tidak bersekutu dengan siapa pun.

Ketika sudah terjun dalam permainan, sekutu datang dengan sendirinya. Katniss tetap tidak begitu saja percaya dengan mereka, apalagi mengingat pesan Haymitch, “Kenali musuhmu.” Tujuan Katniss sendiri hanya satu, yaitu menjaga Peeta tetap hidup. Peeta dengan segala trik-triknya yang mengejutkan banyak orang ketika wawancara peserta, yang juga mengejutkan Katniss. Lambat laun, rasa sayang Katniss mulai timbul, meskipun ia masih merasakan cintanya untuk Gale – sepupu pura-puranya.

Lebih banyak kejutan di Hunger Games kali ini. Katniss juga mempunyai teman baru, sekaligus musuh. Meskipun tahu di akhir permainan, hanya ada satu yang hidup, mereka ternyata mempunyai ‘kegeraman’ yang sama terhadap Capitol, yang sedikti banyak, mau tidak mau membuat mereka saling membantu.

Dan… cerita ini masih tetap seru, masih tetap menyisakan kejutan di akhir cerita. Selain dibuat penasaran sama kelajutan Hunger Games, pembaca juga diajak penasaran dengan cinta segitiga Katniss – Peeta – Gale, meskipun gak ‘menyek-menyek’ tapi justru lebih membuat kita ikutan jatuh cinta dengan tokoh-tokoh dalam cerita ini. Even Haymitch yang pemabuk, juga ikutan membuat gue penasaran sama latar belakangnya sampai dia biasa menang Hunger Games. Atau Cinna dan tim penata rias Katniss yang bikin heboh, ternyata gak seperti penduduk Capitol lain. Katniss seolah membuat orang-orang Capitol yang ada di sekitarnya jadi lebih ‘manusiawi’.

Semoga Mockingjay cepetan ada terjemahannya. Gue pengen tau, endingnya Katnis akan sama siapa. Apa di buku ketiga, Gale akan lebih banyak muncul dibanding Peeta?
Read more »

Rabu, 11 Agustus 2010

Anne of Ingleside

Anne of Ingleside
Lucy Maud Montgomery
Maria M. Lubis (Terj.)
Qanita (Mizan Grup) - 2010
500 hal

Lama gak ‘berjumpa’ dengan Anne, ternyata Anne sekarang udah punya 5 anak!! Bahkan sedang menantikan anak yang ke-6. Wow… tapi, seorang Anne sangat menikmati perannya sebagai istri seorang dokter dan sebagai seorang ibu. Meskipun kadang anak-anaknya berbuat kenakalan kecil-kecil, gak sekalipun Anne mengeluh atau pun marah. Anne malah bersikap sangat bijak menghadapi tingkah laku anaknya.

Seorang Anne, meskipun sudah jadi ibu rumah tangga, tetap berjiwa ‘romantis’. Ia selalu memandang keadaan apapun dengan indah. Anne juga menjadi seseorang yang disukai oleh tetangga-tetangganya, meskipun yah, kadang-kadang adalah gosip-gosip kecil tentang Anne. Gilbert, juga sudah jadi seorang dokter yang super sibuk. Sering dapat panggilan di tengah malam, entah untuk menolong kelahiran bayi ataupun ada pasien yang sedang kritis. Pasangan Anne dan Gilbert juga selalu dianggap sebagai pasangan yang ideal.

Di buku ini, lebih banyak diceritakan tentang tingkah laku anak-anak Anne dan Gilbert – Walter, Jem, si kembar Nad & Diana, Shirley, dan si bungsu Marilla. Sifat-sifat mereka mirip dengan Anne – sedang berkhayal dan punya fantasi yang hebat. Diana atau yang biasa dipanggil Di, sering ‘terpikat’ pada teman baru yang terlihat ‘ideal sebagai teman sejiwa’, tapi kerap dikecewakan pada akhirnya.

Gak terasa, ternyata Anne dan Gilbert sudah menikah selama 15 tahun, tapi tetap aja, Anne masih cemburu sama Christine Stuart dan jadi berpikiran aneh-aneh tentang suaminya.

Selain tentang anak-anak, ada juga cerita dari para orang tua, seperti Bibi Mary Blythe, bibi Gilbert yang selalu mengkritik, atau obrolan para tetangga ketika acara membuat selimut perca di rumah Anne.

Tapi menurut gue, Anna dan Gilbert ‘terlalu’ bijaksana jadi orang tua. Terlalu ‘sempurna’. Makanya, menjelang akhir cerita ada bab di mana Anne cemburu dan agak marah-marah, gue jadi lebih bersemangat bacanya. Jadi ada ‘greget’ lain.
Read more »

Selasa, 03 Agustus 2010

The Dogs of Babel

The Dogs of Babel
Carolyn Parkhurst @ 2003
Back Bay Books - 2004
264 hal.

Sejak istrinya meninggal dunia, Paul menjadi ‘terobsesi’ untuk membuat Lorelei, anjing mereka ‘bicara’. Karena ketika kejadian itu, hanya Lorelei-lah saksi hidup yang menyaksikan detik-detik terakhir Lexy di dunia. Lexy ditemukan meninggal dunia di dekat pohon di pekarangan rumah mereka. Ketika kejadian itu, suasana di sekitar rumah mereka sepi. Tak ada tetangga yang sedang merumput atau menjemur pakaian, tak ada yang sedang ada di dapur mereka. Tak ada seorang pun yang kebetulan melintas di depan rumah mereka. Melihat posisi Lexy, polisi memperkirakan Lexy terjatuh dari pohon. Tapi, apa penyebabnya, tak ada yang tahu pasti. Untuk apa Lexy memanjat pohon? Apakah Lexy bunuh diri? Atau Lexy ingin mengambil sesuatu di atas pohon itu lalu terjatuh? Paul ingin sekali mendapatkan jawabannya.

Kebetulan Paul adalah professor linguistik. Jadi urusan bahasa bukanlah hal yang asing untuknya. Di sela-sela proses ‘mengajar’ Lorelei yang tak memperoleh progress yang berarti, pembaca diajak flash back, ke awal perjumpaan Paul dan Lexy.

Lexy adalah seorang pekerja kreatif pembuat topeng. Ia membuat topeng untuk acara pernikahan, pentas drama, festival-festival, bahkan membuat topeng wajah orang yang sudah meninggal. Karakter Lexy agak labil. Terkadang ia ceria, tapi bisa juga cenderung depresi. Ia bisa jadi ‘pemarah’ dan sangat kecewa kalau Paul mengkritik hasil kerjanya.

Keinginan Paul untuk bisa membuat Lorelei berbicara nyaris menjerumuskannya ke dalam praktek percobaan illegal. Di mana akhirnya ia mengetahui asal usul Lorelei yang dulu datang ke tempat Lexy dalam keadaan luka parah.

Pelan-pelan Paul mencari petunjuk apa yang ada di dalam benak Lexy sebenarnya. Mulai dari buku-buku yang disusun lagi oleh Lexy di pagi saat hari kematiannya, lalu telepon ke peramal yang diketahui Paul secara tak sengaja lewat televise dan lewat buku harian Lexy tempat ia selalu menuliskan mimpi-mimpinya.

Lagi… buku yang gue dapet dari hasil bookmooch. Gue memilih buku ini dari hasil rekomendasi di salah satu blog pas gue lagi browsing. Padahal gue gak pernah denger juga tentang pengarangnya. Inilah ‘keuntungan’ lagi gak punya buku baru. Gue jadi tertarik untuk baca buku-buku yang udah lama ‘terlantar’ di lemari buku gue.

Tentang bukunya sendiri, biasa deh, gue suka pesimis kalo baca buku yang awalnya nyaris membosankan. Gue membayangkan buku ini hanya berisi satu orang laki-laki kesepian dan seekor anjing. Apalagi gue gak terlalu suka baca buku tentang hubungan antara manusia dan hewan. Bukan karena gue gak suka binatang, tapi mungkin karena gue emang nyaris gak pernah punya binatang peliharaan, makanya gue rada gak ada ‘chemistry’ sama binatang. Tapi, satu yang membuat gue tertarik untuk menyelesaikannya, adalah, karena gue juga penasaran, apa sih penyebab kematian Lexy. Mungkin kalau buku ini hanya berkisar tentang proses Paul yang coba berinteraksi sama Lorelei, gue yakin gue gak akan menyelesaikan buku ini. Tapi, karena diselingi sama cerita Paul dan Lexy, gue jadi tertarik, dan akhirnya tuntaslah novel ini. Gue pun jadi ‘mengikuti’ proses bagaimana seorang suami akhirnya bisa memahami istrinya (meskipun agak terlambat kali ya).
Read more »

Selasa, 27 Juli 2010

Balada Ching-Ching (Maggie Tiojakin)

No. 240
Judul : Balada Ching-Ching dan Balada Lainnya
Penulis : Maggie Tiojakin
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Juni 2010
Tebal : 175 hlm

Balada Ching-Ching adalah sebuah kumpulan 13 cerita pendek karya cerpenis muda Maggie Tiojakin. Maggie adalah cerpenis yang biasa menulis cerpen-cerpennya dalam bahasa Inggris dan banyak dimuat di media-media berbahasa Inggris seperti The Jakarta Post, Writers Journal, La Petite Zine, Voice, dll. Sebelum meluncurkan kumpulan cerpen ini, Maggie yang pernah mereguk ilmu kepenulisan keratifnya di Boston AS ini pada 2006 yg lalu telah menerbitkan kumpulan cerpen berbahasa Inggris yang berjudul Homecoming (And Other Stories).

Karena terbiasa menulis cerpen dalam bahasa Inggris, otomatis ia tak memiliki stok cerpen berbahasa Indonesia yang cukup untuk dijadikan buku, karenanya untuk kepentingan penerbitan buku ini Maggie harus menerjemahkan sembilan cerpennya kedalam bahasa Indonesia.

Dikemas dalam balutan cover bergaya minimalis dalam sapuan warna merah marun dengan ilustrasi sebuah sebuah jendela yang terbuka, cover ini seolah mengajak pembacanya untuk memasuki kisah balada Ching-Ching dan balada lainnya. Merajuk pada judul buku yang mencantumkan kata ‘balada’ maka setidaknya pembaca sudah diberi petunjuk kira-kira kisah seperti apa yang hendak ditawarkan dalam buku ini.

Jika kita membuka kamus besar Bahasa Indonesia, maka kita akan mendapatkan definisi dari kata balada yaitu: sajak sederhana yg mengisahkan cerita rakyat yg mengharukan. Jika merajuk pada definisi seperti dalam kamus sepertinya agak kurang tepat karena keseluruhan kisah dalam buku ini bukanlah cerita rakyat, hanya saja memang semuanya berisi kisah manusia-manusia biasa dengan problemanya yang umunya terkesan suram walau tak sampai membuat pembacanya tertekan.

Cerpen Balada Ching Ching yang dijadikan judul untuk buku ini menceritakan tentang seorang gadis Tionghoa yang selalu menjadi bulan-bulanan disekolahnya. Ia bukanlah anak orang kaya karena ayahnya hanyalah seorang pedagang kwetiaw pinggiran. Keberadaannya sebagai etnis minoritas di sekolahnya yang menyebabkan dirinya senantiasa diejek dan kehidupan sederhananya dengan seorang ayah yang keras inilah yang dikisahkan dalam cerpen ini

Saya tak akan membahas satu persatu seluruh cerpen dalam buku ini, namun ada beberpa cerpen yang bagi saya tampak kuat dan menonjol dalam buku ini. Salah satu cerpen favorit saya adalah “Liana, liana” dimana menceritakan tokoh Liana yang sedang menunggu ibunya pulang dari supermarket. Tidak seperti biasanya dimana ibunya selalu tiba tepat waktu, kali ini ibunya tak kunjung pulang.

Hal ini menyebabkan Liana merasa khawatiran sehingga ia mencoba menyusun skenario dalam pikirannya kira-kira apa penyebab keterlambatan ibunya. Kekhawatirannya memuncak ketika ia membaca headline di surat kabar mengenai kematian seorang wanita yang ditabrak truk pengangkut bahan bakar. Kisah yang menarik karena di cerpen ini pembaca bukan diajak membaca sebuah kisah real melainkan diajak menyelami khayalan-khayalan apa yang ada dalam benak Liana ketika menunggu ibunya pulang.

Cerpen berjudul “Kawin Lari” juga tak kalah menariknya. Ini adalah kisah paling pendek dari semua cerpen yang ada. Dikisahkan dua remaja yang memutuskan untuk kawin lari. Mereka lantas pergi ke Las Vegas naik bus umum. Separuh jalan mereka sadar bahwa tak ada jalan kembali karenanya si gadis berusaha untuk terus meyakinkan dirinya bahwa pilihannya tidaklah salah. Walau kisahnya pendek saja namun melalui dialog-dialog singkat antara dua tokohnya ini penulis mampu memberikan gambaran pada pembacanya bagaimana khawatirnya si gadis akan masa depannya kelak.

Jika kawin lari adalah cerpen terpendek dalam buku ini, maka cerpen “Dua Sisi” merupakan cerpen terpanjang, dibutuhkan 52 halaman untuk mengisahkan tokoh bernama Andari, pemuda Indonesia yang berkerja di New Yrok. Ia menyaksikan secara langsung bagaimana runtuhnya menara kembar WTC. Kejadian ini mempertemukan dirinya dengan seroang gadis asal Beirut bernama Aysah. Pertemuannya ini melahirkan sebuah persahabatan bahkan berujung pada rasa saling mencintai.

Melalui dialog dan berbagai peristiwa yang dialami Andari dan Aysah pembaca akan diajak memahami peristiwa WTC dari dua sisi yang berbeda. Andari yang tadinya bersikukuh bahwa apapun alasannya peristiwa yang membuat korban berjatuhan adalah hal yang tidak dapat ditorelir dari sisi kemanusiaan akhirnya gamang ketika ia disadarkan bahwa ada sisi lain dimana ia perlu melihat dari kacamata yang berbeda dibalik peristiwa penyerangan gedung tersebut. Yang jadi acungan jempol adalah di cerpen ini penulis tidak terjebak untuk menggiring pembacanya untuk memihak pihak tertentu melainkan hanya membuka pengertian dan mengajak pembacanya untuk melihat sisi lain dari peristiwa yang menggedor sisi kemanusiannnya ini. Dan satu lagi yang membuat cerpen ini istimewa adalah kejutan di bagian akhirnya yang membuat pembacanya terhenyak.

Jika mencermati keseluruhan cerpen yang ada maka yang menjadi keistimewaan cerpen-cerpen dalam buku ini adalah kisah-kisahnya yang diangkat dari peristiwa keseharian. Hanya cerpen “dua sisi” yang agak istimewa karena mengisahkan peristiwa yang luar biasa. Selebihnya hanyalah kisah-kisah biasa yang mungkin juga kita alami seperti saat menunggu di ruang tunggu dokter, kisah seorang terapis, keseharian suami istri, persahabatan, seorang perawat yang berharap adanya muzizat atas pasiennya, dll.

Penuturan penulis dalam cerpen-cerpennya juga sederhana, tidak ada kalimat-kalimat yang rumit, tidak ada kalimat-kalimat bersayap dengan metafor-metafor yang ajaib yang akan membuai pembacanya. Tidak, tampaknya penulis tak menekankan pada keindahan dan kerumitan dalam menyajikan cerpen-ceprennya. Kekuatan cerpen ini justru terletak pada kesederhanannya, keefektifan merangkai kalimat, maupun realitas ceritanya yang membuat seluruh kisahnya menjadi tak berjarak dengan kehidupan pembacanya.

Ada yang mengatakan bahwa gaya penulisan Maggie dalam buku ini kental dengan warna penceritaan penulisan dalam bahasa inggris. Lalu seorang pembaca dalam reviewnya di Goodreads mengungkapkan keistimewaan cerpen- cerpen Maggie yang tidak menghadirkan cerita-cerita yang biasa kita temukan di cerpen-cerpen lokal walaupun settingnya di Jakarta. Karenanya tak heran Duncan Graham dari The Jakarta Post menyebut Maggie sebagai penulis global. Sisi ini yang saya rasa bisa dipertajam oleh Maggie sehingga jika terus ditekuni dan setia pada cara penulisannya seperti ini maka bukan tak mungkin karya-karya Meggie akan lebih dikenal dan disukai baik di dalam maupun di luar negeri

Dari segi penokohan, karakter-karakter tokoh yang dibangunpun tak berlebihan dan semua menggambarkan apa yang mungkin sedang kita alami seperti kesedihan, kegelisahan, kegagalan, obsesi, penantian dll. Semua itu seolah mewakili apa yang dialami oleh setiap manusia dalam perjalanan hidupnnya. Jika dicermati, ending dari setiap cerpen-cerpen dalam buku ini dibiarkan menggantung, bagi saya pribadi hal ini sangat menarik karena memberi ruang bagi pembacanya untuk melanjutkan imajinasinya dan mengembangkan sendiri karakter tokoh dan situasi dan akhir dari cerita yang dibacanya.

Satu-satunya kritik untuk buku ini adalah mengenai judulnya. Setelah membaca semua cerpen yang ada, sepertinya judul ‘Balada Ching Ching dan balada lainnya’ kurang merepresentasikan seluruh cerpen yang ada. Dan saya rasa cerpen Balada Ching-ching juga bukanlah cerpen yang terkuat dari ketiga belas cerpen yang ada. Mungkin ini strategi pemasaran karena judulnya memang menarik, mudah diingat, dan membuat penasaran, namun saya rasa masih ada cerpen-cerpen lain dalam buku ini yang lebih kuat dan bisa lebih mewakili ke-13 cerpen yang ada.

@htanzil
Read more »

Senin, 26 Juli 2010

Shinjū

Shinjū
Laura Joh Rowland @ 1994
Reni Indardini (Terj.)
Hikmah - Cet. I, Januari 2010
532 Hal.

Sano Ichiro, diangkat sebagai seorang yoriki karena unsur balas budi. Seseorang yang sudah ditolong oleh ayah Ichiro di masa lalu ingin segera ‘menuntaskan’ rasa utang budinya kepada ayah Ichiro. Padahal, Ichiro tidak punya latar sebagai seorang ‘penegak hukum’, ia hanyalah seorang pengajar bela diri.

Dengan kedudukan barunya, orang mulai memandang segan padanya. Tapi tidak demikian dengan rekan-rekan sejawatnya yang tahu bagaimana latar belakang Ichiro sebenarnya. Rasa idealisme yang tinggi juga membuatnya dijauhkan dari lingkungan pergaulan sesama yoriki.

Munculah kasus kematian dua orang muda yang berbeda ‘derajat’. Niu Yukiko, seorang gadis dari keluarga ningrat dan Noriyoshi, seorang pemuda, seniman miskin. Mereka diyakini melakukan Shinjū, atau bunuh diri karena cinta terlarang. Atasan Ichiro, Hakim Ogyu, meminta Ichiro menulis laporan seperti yang sudah ‘diperintahkan’. Tapi, naluri Ichiro yang masih ‘polos’ berkata lain. Ia yakin ada sesuatu yang salah di balik kematian Yukiko dan Noriyoshi.

Ichiro pun mulai melakukan penyelidikan. Ia pergi ke kediaman keluarga Niu dan mendapat sambutan yang dingin dari Nyonya Besar Niu yang enggan kematian anak (tirinya) diungkit-ungkit. Lalu Ichiro pergi ke tempat di mana biasa Noriyoshi bekerja dan bertemu dengan orang-orang yang dianggap berpotensi mengingikan kematian seorang Noriyoshi.

Penyelidikan ini membuat pihak-pihak tertentu gerah, yang tidak ingin apa yang sebenarnya terjadi terungkap. Hakim Ogyu mulai ‘menekan’ Ichiro, beberapa orang jadi celaka. Tapi, Ichiro tetap maju, ia ingin keadilan ditegakkan.

Rumit sistem pemerintahan, peradilan di Jepang jaman dahulu kala. Di mana yang berkuasa senantiasa menekan anak buahnya dan jika tidak dipatuhi, kematian akan jadi akhir. Yang kaya selalu berusaha disembunyikan semua aibnya, sementara jika warga miskin, harus diungkap apa pun kejelekannya.

Yang membuat cerita ini menarik mungkin karena latar belakang cerita. Gue terlalu sering membaca cerita detektif dalam versi modern, jadinya buat gue apa yang ada dalam buku ini ‘menimbulkan rasa baru’. Meskipun nihhhh… gak terlalu membuat gue penasaran. Ending cerita juga gak terlalu dramatis. Tentu saja, Ichiro jadi pahlawan dan dapat kedudukan yang lebih tinggi dibanding jadi seorang yoriki.

Masih ada seri-seri Sano Ichiro selanjutnya, yang rasanya gak akan jauh-jauh dari misteri pembunuhan.
Read more »

Rabu, 21 Juli 2010

Globucksisasi - Rahayu Kusali

No. 239
Judul : Globucksisasi (Meracik Globalisasi melalui Secangkir Kopi)
Penulis : Rahayu Kusasi
Penerbit : Kepik Ungu
Cetakan : I, Juli 2010
Tebal : 148 hlm

Kata ‘Globalisasi’ yang beberapa tahun yang lampau masih menjadi hal yang asing kini tanpa disadari telah menjadi bagian dari hidup kita. Tanpa harus tahu apa arti kata Globalisasi sadar atau tidak sadar sebagian dari apa yang kita konsumsi merupakan hasil dari budaya global. Contohnya adalah MTV, Coca-cola, Mc Donalds, Pizza Hut, Kentucky Fried Chicken, Starbucks, dll yang Semuanya dengan mudah dapat kita temukan di hampir semua kota besar di Indonesia.

Buku ini mencoba mengungkap bagaimana Starbucks telah menjadi salah satu fenomena globalisasi yang terjadi di tengah kita. Mengapa Starbucks yang dipilih oleh penulisnya? Selain karena penulisnya yang adalah mantan barista (bar tender) Starbucks, keunikan gerai kopi asal Amerika ini juga menarik untuk dicermati karena dari beberapa komoditas asing lainnya hanya Starbucks yang paling mempertahankan ciri aslinya dibanding Mc Donald’s, Pizza Hut, Kentucky Fried Chicken, dsb yang telah menyesuaikan produknya dengan budaya lokal.

Buku ini pada awalnya adalah sebuah penelitian antropologi tentang kehidupan seorang barista yang adalah si penulisnya sendiri ketika ia bekerja di Starbucks Jakarta. Walau merupakan hasil penelitian akademis namun jangan keburu menduga kita akan mendapatkan bacaan yang berat dan membuat kening berkerut karena apa yang tersaji di buku ini sangat mudah dicerna dan dimaknai.

Di bab pertama penulis memulai tuturannya dengan mengajak pembacanya menelusuri perjalanan biji kopi yang bermula di Kaffa, Etiophia dimana seorang penggembala kambing bernama Kaldi menemukan tumbuhan asing. Tanpa disengaja ternaknya memakan buah dari tumbuhan tersebut sehingga berperilaku aneh, karena penasaran akhirnya Kaldi mencoba sendiri buah tersebut dan hal ini ternyata membuatnya tetap terjaga.

Dari legenda penemuan kopi ini pembaca akan terus diajak menyelusuri penyebaran kopi ke beberapa tempat di dunia termasuk di Indonesia. Ada juga kisah berdirinya kedai kopi pertama di dunia ‘Kiva Han’ di Konstatinopel, ditemukannya mesin Espresso pada 1882 di Italia yang mendorong terbentuknya kedai kopi modern yang kelak akan dibawa imigran Italia ke Amerika, sejarah berdirinya Starbucs Coffe Company di Seattle Amerika pada 1971 hingga dibukanya kafe Starbucks pertama di Indonesia pada 2002 di Plaza Indonesia Jakarta.

Setelah mendedah sejarah kopi dan Starbucks, di bab kedua pembaca akan disuguhkan akan arti globalisasi secara teoritis. Untungnya di bagian ini penulis tak berpanjang-panjang membahasnya karena di bab berikutnya pembaca akan diajak menemukan hal-hal yang menarik dari pengalaman penulis yang bekerja sebagai barista Starbucks. Bagian ini adalah bagian yang paling menarik dan dominan dari buku ini.

Di bagian ini, dengan gaya personal penulis mencoba menuangkan seluruh pengalamanya selama ia menjadi barista. Pembaca akan diajak masuk kedalam dapur Starbucks yang seluruh peralatan, cara kerja, dan penyajiannya harus dilakukan dengan standarisasi yang ketat untuk mempertahankan standart global dari produk yang dihasilkan Starbucks .

Disini kita akan melihat bagaimana ketat dan detailnya prosedur kerja dalam penyajian secangkir kopi. Proses mengucurnya Espresso ke cangkir dihitung dalam satuan detik dimana mengucurnya sari kopi ke cangkir harus terjadi antara 18-23 detik. Selain itu hampir seluruh peralatan yang digunakan di setiap gerai Starbucks termasuk bahan kimia pencuci cangkir, bahkan spidol untuk menandai cangkir kertaspun harus diimport dari Starbucks Amerika.

Skill para barista pun harus distandarisasi, selain diberi pengetahuan cara penyajian kopi dan cara menghadapi pelanggan, para barista juga diberi pengetahuan mengenai segala sesuatu tentang kopi dan bagaimana melakukan coffe tasting (mencicipi kopi) untuk dapat membedakan rasa kopi, dll. Dengan semua itu Starbucks berusaha agar kualitas produknya tetap sama di seluruh dunia. Jadi dimanapun orang membeli Starbucks mereka akan tetap menemukan produk dengan pelayanan dan rasa yang sama.

Ada banyak hal menarik di bagian ini, tanpa ragu-ragu penulis seakan menumpah ruahkan seluruh pengalamannya ketika menjadi barista, bahkan penulis juga menyertakan table taksonomi minuman Starbucks sehingga pembaca mengetahui secara lengkap apa saja jenis minuman yang tersedia disana. Dari semua pengalaman si penulis maka tanpa disadari pembaca akan diajak memaknai bagaimana fenomena globalisasi telah terjadi melalui secangkir kopi di kedai kopi Starbucks.

Di buku ini kita akan melihat bahwa masyarakat di Negara mana Starbucks membuka gerainya akan mengalami globalisasi dengan mempertemukan mereka dengan dirinya; toko kopi dan representasi Amerika. Starbucks dengan kekhasannya yang juga menjual biji dan minuman kopi dari berbagai negara telah mereteterorialisasi kebudayaan dunia melalui kantung-kantung kopi.

Di Starbucks rasa kopi didramatisasi sedemikian rupa sehingga meninggalkan kesan mendalam untuk peminumnya. Pengalaman merasakan secangkir kopi yang berasal dari seluruh penjuru dunia yang digabungkan dengan suasana toko yang membuat tubuh menyesap suasana asing diharapkan akan menghasilkan sebuah “Starbucks Experice”. Pengalaman Starbucks ini akan membuat seseorang membandingkan, merefleksikan, mengkirtik, memahami, dan mencampurkan cara-cara hidup global. Ini adalah sebuah dialog antara dialog budaya lokal dan budaya asing yang diekspresikan dalam kehidupan sehari-hari melalu aktivitas meminum secangkir kopi.

Pada akhirnya melalui buku ini dalam skala yang lebih luas penulis mencoba mengungkapkan bahwa fenomena globalisasi terjadi di sekitar kita dan telah menjadi realitas yang hadir di sekililing kita. Buku ini memang bukan satu-satunya buku yang mengupas globalisasi. Berbagai macam buku sejenis telah lahir namun bukan berarti buku ini tak patut mendapat perhatian karena dengan semakin maraknya berbagai karya yang mengupas globalisasi dengan berbagai perspektif pada akhirnya akan memperkaya kita mengenai fenomena yang saat ini sedang terjadi dalam kehidupan kita.

Dan bagi para penikmat kopi Starbucks, rasanya buku ini terlalu sayang untuk dilewatkan karena berbagai informasi tentang panyajian, isi dapur, dan segala sesuatu tentang gerai kopi Starbucks di buku ini saya rasa akan membuat penikmat kopi Starbucks dapat lebih menikmati 'Starbucks Experiece'

@htanzil
Read more »

Senin, 19 Juli 2010

Baby Proof

Baby Proof
Emily Giffin @ 2006
St. Martin’s Griffin - 2007
348 hal.

Buat Claudia, menikah adalah karena ia ingin bersama orang yang ia cintai. Tujuannya menikah, bukan untuk memiliki anak atau keturunan. Beruntung ia bertemu Ben yang punya misi dan visi sama. Mereka pun akhirnya menikah.

Tapi, ketika di sekeliling mereka, teman-teman mereka mulai merencakan masa depan dengan ‘anak’, tak urung, Ben pun terpengaruh. Ia mulai meminta Claudia untuk memikirkan kembali pandangannya tentang ‘tidak mau punya anak’. Claudia keukeuh dengan pilihannya. Dan mereka akhirnya memilih untuk berpisah karena kecewa dengan pilihan pasangan mereka.

Wow… ternyata cinta gak bisa menyatukan pandangan mereka, sampai akhirnya mereka lebih memilih untuk berpisah.

Dan setelah perpisahan pun, Claudia tidak bisa benar-benar lepas dari isu seputar ‘anak’. Ada Daphne, adiknya yang sangat ingin punya anak setelah bertahun-tahun menikah, ada Maura, adik/kakak Claudia yang lain, yang punya tiga anak tapi suaminya berselingkuh. Lalu, ada Jess, yang menjalin hubungan dengan pria beristri (yang katanya nih janji mau ninggalin istrinya), yang nekat mau hamil dari pria itu.

Well, ternyata gak setiap orang ingin menikah karena pengen punya anak. Ide cerita yang ‘berat’, tapi jadi ringan di dalam buku ini. Meskipun gue agak kurang ‘merasakan’ chemistry Claudia dan Ben. Apalagi pas di ending cerita (ups… apakah ini sebuah spoiler?)

Ini buku Emily Giffin pertama yang gue baca. Satu lagi hasil bookmooch di tahun 2007 (!). Sebenernya ini yang ketiga kalinya gue baca buku ini. Bukan karena gue suka banget, tapi, di dua kali yang pertama, gue hanya baca sekitar sepertiga buku aja. Baru yang ketiga ini, gue berhasil membaca sampai selesai.
Read more »

Selasa, 13 Juli 2010

The Leap

The Leap
Jonathan Stroud @ 2001
Hyperion/Miramax Books - 2004
240 Hal.


Charlie tidak percaya kalau sahabatnya, Max, sudah meninggal. Max meninggal karena tercebur ke dalam kolam di sebuah pabrik. Charlie yakin kalau Max masih hidup, tapi Max hanya terjebak di alam lain, dan Charlie merasa ia harus mencari Max.

Semua orang beranggapan Charlie depresi karena kehilangan sahabatnya. Tidak ada yang percaya dengan cerita Charlie. Bahkan Charlie sampai dibawa ke seorang psikiater, agar Charlie mau bicara dan keluar dari rasa kehilangan. Charlie jadi sosok yang menjauh dari keluarganya. Ia memilih berdiam diri karena jika ia bicara orang akan beranggapan ia mulai gila.

Charlie seolah mendapat ‘titik terang’ untuk bertemu Max kembali, ketika ia sadar dalam tidurnya ia bermimpi ada sebuah tempat dan melihat ada sosok Max. Charlie yakin ia bisa bertemu Max lagi. Dan sejak itulah, Charlie melakukan berbagai aktivitas yang melelahkan agar ia bisa tidur cepat dan kembali bermimpi.

Ibunya bahkan psikiaternya merasa kembalinya Charlie beraktivitas adalah hal yang positif. Hanya, James, kakaknya, yang merasa tetap ada sesuatu yang aneh dari diri Charlie. Ia yakin, Charlie menyembunyikan sesuatu.

Mimpi-mimpi Charlie semakin panjang dan tampak mulai ‘nyata’. Charlie kerap menuliskan mimpinya ke dalam buku hariannya. Di mimpinya, Charlie bertemu dengan ‘seseorang’ yang menjadi penunjuk jalan untuk bertemu Max. Charlie jadi semakin aneh. Ia akan marah kalau James membangunkannya.

Charlie semakin masuk ke dalam mimpinya dan makin lama, malah makin jauh dari dunia nyata. James merasa ia harus menyelamatkan Charlie dari apa pun itu.

Gue mendapatkan buku ini dari hasil bookmooch. Udah lama banget, mungkin dari sekitar tahun 2008. Gue me-mooch buku ini pas lagi ‘tergila-gila’ sama The Bartimaeus Trilogy. So far, masih ada 2 buku Jonathan Stroud lagi yang menanti untuk dibaca.

Gue nyaris gak menyelesaikan buku ini. Karena bikin ngantuk. Bukunya ‘sepi’ banget. Gue merasa jadi ikut melayang-layang dalam mimpinya Charlie. Ikut berjalan jauh tapi gak tau di mana tujuan akhirnya. Hanya kalo ada giliran James yang cerita gue jadi merasa ada selingan. Dan hanya di bagian akhir gue jadi ikut-ikutan ‘terburu-buru’, bisa karena gue keburu-buru ‘ngikutin’ James, atau terburu-buru karena pengen cepet selesai.
Read more »

Selasa, 06 Juli 2010

Nobody’s Boy

Nobody’s Boy (Sebatang Kara)
Hector Malot @ 1878
Tanti Lesmana (Terj.)
GPU – April 2010
384 Hal.

Remi, bocah kecil yang ketika masih bayi diculik dan ditinggalkan begitu saja di sebuah jalan di Paris. Ia diasuh oleh pemotong batu yang berharap suatu saat Remi akan dicari oleh orang tua kandungnya dan ia akan diberi imbalan karena sudah berbaik hati mengurus Remi.

Remi sangat menyayangi ibu angkatnya, berbeda dengan ayah angkatnya yang akhirnya menjual Remi ke pemusik jalanan bernama Signor Vitalis. Dengan Signor Vitalis-lah, petulangan hidup Remi dimulai. Berkeliling Perancis bersama rombongan Signor Vitalis yang anggota lainnya adalah Pretty Heart si monyet kecil dan 3 ekor anjing. Singor Vitalis mengajarkan Remi tak hanya bermain musik, tapi juga membaca.

Hidup di jalanan memang keras. Tak hanya karena masalah cuaca, tapi tentu saja uang. Pertunjukkan mereka tidak selalu sukses dan menghasilkan uang. Malah, harus berurusan dengan polisi.

Suka duka menerpa Remi. Tapi, Remi tetap kuat. Ia bertemu dengan teman-teman baru yang baik hati. Meskipun cobaan datang silih berganti, seperti kata Mattia – salah satu teman barunya, Remi selalu tabah.

Kisah klasik, yang tiba-tiba, nih, pas gue baca sampul bagian belakang, gue baru ngeh, kalo cerita ini pernah ada kartunnya di RCTI. Samar-samar gue mengingat jalan ceritanya dan berusaha ‘mengingat’ soundtracknya. Cerita yang menurut gue, ampunnnn… sedih banget… bahkan ketika baca novelnya lagi, gue berasa sedih, meskipun gue udah tau ceritanya.

Yang gue suka nih, dari Remi, meskipun kena hujan, badai, ditangkep polisi, dijual, ‘terlunta-lunta’, tapi, tetap aja ceria dan banyak akal.

Cerita yang bener-bener happily ever after… dan mungkin kalo dipikir, klise banget…
Read more »