Selasa, 16 November 2010

200 Ikon Bandung, Ieu Bandung Lur!

[No. 245]

Judul : 200 ikon Bandung ; Ieu Bandung Lur!

Penulis : Ahda Imran, dkk

Koordinator Penulis : Zaky Yamani

Penerbit : Pikiran Rakyat

Cetakan : i, Sept 2010

Tebal : xvi+269 hlm



Sebutkan dengan cepat apa yang terlintas dalam benak ketika kita mendengar kata “Bandung”, umumnya Bandung diidentikkan sebagai pusat belanja pakaian dan wisata kuliner, hal ini ditunjang dengan menjamurnya factory outlet dan aneka makanan khas Bandung yang tersebar di berbagai tempat. Hampir setiap akhir pekan wisatawan domestik khususnya penduduk Jakarta menyerbu kota Bandung untuk membeli pakaian sambil menikmati wisata kuliner.



Factory Outlet dan aneka kuliner memang telah menjadi ikon kota Bandung, namun sebenarnya bukan itu saja, ada 200 ikon yang menjadi trade mark kota Bandung! Apa saja? Dalam rangka ulang tahun kota Bandung yang ke 200, Pikiran Rakyat selaku surat kabar lokal terbesar di Jawa Barat merasa perlu untuk mengangkat dan mendokumentasikan ikon-ikonnya sehingga Bandung tak hanya dikenal sebagai kota wisata belanja saja.



Niat untuk mendokumentasikan ikon-ikon Bandung ini terealisasi dalam bentuk sebuah buku yang berjudul “ 200 Ikon Bandung, Ieu Bandung Lur!” Semula ke 200 ikon ini akan ditampilkan untuk dalam satu buku, namun karena keterbatasan waktu dan pertimbangan ekonomis dan ketebalan buku maka buku ini dibagi dalam dua jilid. Hingga tulisan ini dibuat baru buku pertamanya saja yang telah diterbitkan yang mennampilkan seratus ikon di berbagai bidang yaitu ekonomi (tempat usaha), politik, seni, agama, kesehatan, lanskap, pendidikan, dan olah raga yang masing-masing terbagi dalam bab-bab tersendiri



Sebagai kisah pembuka buku ini menyajikan sejarah berdirinya kota Bandung. Pada tahun 1810 Gubernur Jenderal Daendels bersama bupati Wiranatakusumah II bertandang ke sebuah lokasi hutan yang akan dilewati jalur pembangunan Grote Postweg (Jalan Raya Pos). Sambil menancapkan tongkatnya Daendels berkata “Usahakan saat aku datang lagi ke sini, sebuah kota sudah dibangun!”.



Beberapa bulan kemudian, tepatnya pada 25 September 1810, Bupati Wiranatakusumah II mendapat SK (Surat Keputusan) pemindahan kota kabupaten ke wilayah dimana Daendels menancapkan tongkatnya. Tanggal surat SK itulah yang kini dijadikan patokan sebagai hari lahirnya kota Bandung. Sedangkan tempat dimana Daendels menancapkan tongkatnya itu kini dijadikan titik KM 0 dimana terdapat tugu atau monumen “Kilometer Nol” yang kini letaknya persis di depan kantor Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Jawa Barat atau tepat di seberang hotel Savoy Homan di jalan Asia Afrika Bandung.



Tugu atau monument “Kilometer Nol” tersebut diresmikan gubernur Jawa Barat pada thun 2004. Selain tugu terdapat juga monumen mesin penggilingan (stoomwals) kuno disertai sebuah batu prasasti beruliskan sejarah yang menaungi keberadaannya. Tugu dan monument mesin stoomwals ini didedikasikan bagi rakyat Priangan yang menjadi korban kerja paksa saat membangun Jalan Raya Pos.



Setelah kisah tentang KM 0 buku ini mengurai satu persatu ikon Bandung secara menarik. Ada yang memang mungkin sudah sangat dikenal seperti Gedung Sate,kampus ITB, Gedung Merdeka, dll, tapi ada juga yang mungkin merupakan hal-hal yang belum diketahui khususnya bagi generasi muda Bandung. Kalaupun ikon tersebut sudah dikenal tapi melalui buku ini pembaca akan menemukan kisah-kisah menarik dan unik dibalik ikon-ikon tersebut.



Misalnya fakta tentang ikon Bandung paling terkenal yaitu Gedung Sate. Siapa yang menyangka kalau ternyata di halaman Gedung Sate hingga kini masih tertanam empat jenazah pejuang Bandung yang gugur untuk mempertahankan Gedung Sate dari Pasukan Gurkha dan Nica pada tahun 1945.

Lalu siapa yang tahu jika di Pabrik Kina yang didirikan sejak 1896 itu memiliki lorong bawah tanah yang melintas di jalan Pajajaran yang hingga kini masih dipakai untuk lalu lintas karyawan pabrik yang hendak menyeberang ke pabrik di seberangnya.



Di buku ini akan terungkap pula bahwa Badak Bercula satu yang kini hanya dapat ditemui di Ujung Kulon konon kabarnya pernah memiliki habitat di Bandung saat masih berupa hutan dan rawa-rawa karenanya kawasan itu dinamakan Rancabadak (Rawa Badak) yang sekarang menjadi Rumah Sakit Umum Dr. Hasan Sadikin, karenanya tak heran jika dulu Rumah Sakit tersebut dikenal dengan RS Rancabadak.



Di bidang kuliner selain mengetengahkan Brownies Amanda, lotek Edja, Es Oyen, Cireng Cipaganti, dan sebagainya tercatat pula sebuah warung kopi Purnama di jalan Alketeri Bandung yang ternyata sudah berusia seratus tahun dan tidak boleh ditutup oleh pelanggannya. Walau telah berusia seratus tahun namun warung kopi Purnama tidak pernah berniat untuk mengubah warungnya menjadi Kafe atau lebih besar lagi, jadi ia tetap warung kopi yang bersaja hingga kini.



Masih banyak ikon-ikon menarik lainnya, seperti tokoh-tokoh seni (Bimbo, Kang Ibing, Harry Roesli, dll), tempat ibadah (Mesjid Cipaganti, Katedral, Gereja Betel), olah raga ( Pemandian Tjihampelas, Stadion siliwangi, BHHH) dan sebagainya. Kesemua ikon dalam buku ini disusun dengan gaya penulisan jurnalistik karena para penulisnya adalah wartawan HU Pikiran Rakyat.



Dalam menampilkan setiap ikon selalu terdapat sisi unik yang disajikan dengan gaya penulisan feature yang ringkas, padat, dengan bahasa yang mudah dimengerti. Tiap ikonnya umumnya tak lebih dari dua halaman yang dilengkapi dengan sebuah foto hitam putih dan box keterangan berisi data-data tempat seperti tahun berdirinya, alamat, nama pemilik, dsb.

Sebagai buku yang mengungkap ikon-ikon Bandung kehadiran buku ini dapat menjadi pelengkap literatur tentang Bandung yang telah terlebih dahulu hadir seperti buku-buku karya Haryanto Kunto (Wajah Bandung Tempo Doeloe, Semerbak Bunga di Bandung Raya, Balai Agung di Kota Bandung, dll), Bandung Citra Sebuah Kota (Robert PGA Voskuil, dkk ), Jendela Kota Bandung (Her Suganda), dan sebagainya,



Yang agak disayangkan dari buku ini adalah editing yang tidak maksimal karena disana-sini masih ada beberapa kesalahan ketik yang seharusnya bisa dihindari oleh editor yang tentunya telah terbiasa mengedit sebuah harian besar. Kesalahan fatal terdapat di halaman 5 dimana tertulis surat keputusan p[emindahan Ibu kota Kabupaten Bandung tertanggal 25 Mei 1810, seharusnya tanggal 25 September 1810 yang tanggalnya dijadikan acuan untuk memperingati hari jadi kota Bandung.





Kemasan buku yang dikemas secara hard cover dengan penjilidan yang sempurna memang sangat baik untuk buku koleksi, namun hal ini mengakibatkan harga buku menjadi relatif mahal dan mungkin agak sulit dijangkau oleh masyarakat umum. Alangkah bijaknya jika di kemudian hari penerbit bisa menerbitkan edisi paperback sehingga harganya bisa lebih terjangkau dan buku ini dapat dimiliki oleh seluruh lapisan masyarakat, khususnya warga Bandung yang ingin mengenal kotanya lebih dekat lagi.



Akhir kata, tentunya dengan kehadiran buku ini maka akan menimbulkan interaksi positif antara kota dan warganya. Interaksi yang baik akan lahir jika ada ingatan kolektif di benak warga tempat dia tinggal. Pencatatan, pendokumentasian, dan publikasi ikon-ikon kota seperti yang tersaji dalam buku ini adalah salah satu cara untuk membangun ingatan kolektif tersebut sehingga masyarakat khususnya warga Bandung dapat menyelusuri Bandung tempo doeloe maupun Bandung masa kini sehingga semakin mencintai kotanya.



@htanzil

Read more »

Kamis, 11 November 2010

Water for Elephants

Water for Elephants (Air untuk Gajah)
Sara Gruen @ 2006
Andang H. Sutopo (Terj.)
GPU - September 2010
512 hal.

Jacob Jankowski – menghabiskan hari tuanya di Panti Jompo karena tidak ada anak-anaknya yang mau menampungnya. Ketika suatu hari, di depan panti jompo itu datang rombongan sirkus, kenangan akan periswtiwa 70 tahun silam muncul di benak Jacob.

Jacob hampir dipastikan memiliki masa depan yang cemerlang. Kuliah di kedokteran hewan, tinggal mengikuti ujian akhir, kemudian akan membuka praktek dokter hewan bersama ayahnya. Tapi kecelakan mobil merenggut nyawa kedua orang tuanya. Kecelakaan karena kesalahan seorang tetangga yang sudah rabun. Harta yang tersisa disita oleh bank. Pikiran Jacob kacau.

Ketika sedang mengikuti ujian akhir, Jacob tiba-tiba meninggalkan ruang ujian. Berjalan tak tentu arah, hingga akhirnya ‘terdampar’ di sebuah gerbong kereta. Gerbong kereta itu ternyata adalah salah satu dari rangkaian gerbong sirkus Benzini Bersaudara, yang pemiliknya, Paman Al ingin menjadikan sirkusnya sebagai salah satu sirkus paling hebat seperti Ringling Circus. Ringling Circus adalah salah satu kelompok sirkus yang terkenal di jamannya.

Mulailah sebuah pengalaman baru dalam hidup Jacob. Kehidupan di sirkus ternyata begitu keras. Jika orang tersebut tidak memberi keuntungan atau berguna bagi kelompok sirkus itu, maka orang itu akan ‘dilampumerahkan’. Beruntung dengan latar belakang sekolah kedokteran hewannya, Jacob diterima bergabung di sirkus itu, untuk diperbantukan merawat hewan-hewan yang sakit.

Bintang utama di sirkus itu adalah Marlena. Ia tampil dengan kuda-kudanya, bersama sang suami, August. Jacob jatuh cinta dengan Marlena. Dan ia tahu, August adalah seorang lelaki ‘berkepribadian ganda’.

Hubungan mereka bertiga semakin dekat, ditambah dengan kehadiran seekor gajah betina bernama Rossie. Rossie dianggap bodoh oleh August karena tidak bisa menjalankan perintah yang sederhana sekali pun, hingga akhirnya Jacob menemukan sebuah rahasia.

Sampai hari tuanya, Jacob merahasiakan sebuah kejadian, ketika binatang-binatang sirkus itu tiba-tiba mengamuk dan membuat kekacauan.

Sejak pertama gue liat Water for Elephants dan ditambah rekomendasi orang-orang, gue udah pengen banget baca buku ini. Dan begitu ada terjemahannya, segera aja gue beli. Sekali lagi, gue merasa kehidupan di rombongan sirkus begitu ‘kejam’. Gak seglamour, atau seindah ketika mereka tampil di arena. Kaya’nya keras banget dan gak ada belas kasihan. Makanya waktu gue sempet nonton sirkus baru-baru ini, gue bertanya-tanya apakah yang selama gue baca di buku-buku yang berlatar sirkus itu bener atau gak. Karena kalo gue liat, misalnya di Russian Circus, para performer memang antara lain adalah pesenam dan professional, bukan seseorang yang sekedar ‘ditemukan’ begitu aja karena keunikannya.

Rossie di sini – menurut gue – bukanlah bintang utama, tapi dia punya peran penting bagi tokoh-tokoh utama di buku ini. Gue juga jadi inget sama gajah-gajah di sirkus. Mimik wajahnya murung banget… bikin gue jadi sedih ngeliatnya. Hahaha.. gue kembali terbawa-bawa sama cerita nih….
Read more »

Jumat, 05 November 2010

Astral Astria & Paris Pandora

Astral Astria
Fira Basuki
Grasindo, 2007
330 Hal

Paris Pandora
Fira Basuki
Grasindo, September 2008
332 Hal.

Astral Astria mengisahkan perjalanan spiritual seorang perempuan bernama Astria. Astria, dilahirkan sebagai anak yang istimewa. Dengan rambut gimbalnya, ia dianggap sebagai salah satu ‘anak bajang’, anak yang istimewa. Ketika gunung Dieng mengeluarkan gas beracun, hanya Astria yang selamat, hingga selanjutnya ia diangkat anak oleh pasangan suami-istri arkeolog yang sempat mengadakan penelitian di desa tempat Astria dilahirkan.

Astria tumbuh dalam lingkungan yang normal. Memang ia mempunyai kemampuan untuk merasakan hawa-hawa yang tidak enak, melihat bayangan hitam dan bisa bertemu dengan beberapa makhluk halus. Untuk memperkaya batinnya, ia melakukan perjalanan ‘spiritual’ dengan bantuan seorang guru bernama Bowo. Bowo ini tokoh yang pernah muncul di salah satu Trilogi Jendela, Pintu dan Atap (lupa yang mana).

Dalam ‘perjalanannya’ itu, Astria bertemu dengan perempuan-perempuan yang sudah meninggal, yang tersakiti. Dalam dunia nyata sendiri, Astria berprofesi sebagai seorang arsitek, kehidupan percintaannya juga tidak berjalan terlalu mulus. Dengan keunikan fisiknya, Astria juga adalah seorang model terkenal. Berbagai tawaran bermain sinetron datang, tapi ditolaknya.

Awalnya, gue rada bingung membaca buku ini. Justru menjelang akhir cerita, gue baru ngerti apa hubungan Astria dengan para tokoh perempuan itu.

Kelanjutan kisah Astral Astria, adalah Paris Pandora. Di sini, masih Astria bertemu dengan makhluk yang ‘aneh’ seperti naga dan gargoyle di Paris. Seharusnya Astria sudah dalam hitungan bulan saja untuk menikah, tapi mendadak, pasangannya berencana mengundurkan pesta pernikahan mereka.

Astria pun kembali berusaha mencari ‘pencerahan’ yang ia dapatkan dari hasil pertemuannya dengan si naga dan gargoyle itu. Dibantu dengan teman-temannya yang juga punya kelebihan seperti Astria, ia mencari tahu ada apa dengan Rizki, tunangannya.

Ditambah lagi, dengan adanya harta karun di depan mata yang begitu saja ditawarkan karena ia dianggap keturunan Ratu Sima.

Dari dua buku ini, gue lebih menikmati membaca buku Paris Pandora dibanding Astral Astria. Khas Fira Basuki, begitu kental dengan nuansa budaya Jawa. Gue termasuk yang punya hampir semua buku-buku Fira Basuki – kecuali seri Ms. B.
Read more »

Selasa, 26 Oktober 2010

Ompung Odong-Odong

[No. 244]
Judul : Ompung Odong-Odong (Membingkai Kenangan Merangkai Makna)
Penulis : Mula Harahap
Editor : Ang Tek Khun
Pengantar : Jansen Sinamo
Catatan Penutup : Hernadi Tanzil

Bagi orang yang berkecimpung di dunia buku nama Mula Harahap tentunya sudah tidak asing lagi. Bagi orang yang berkecimpung di dunia buku nama Mula Harahap tentunya sudah tidak asing lagi. Di kalangan perbukuan Indonesia, beliau sangat dihormati karena kecerdasan gagasan-gagsannya.

Bang Mula, begitu teman-temannya memanggilnya berkiprah di dunia buku hampir seumur hidupnya, sejak ia mulai mencoba menulis di majalah Kuncung, menjadi pengurus teras IKAPI DKI Jakarta dan IKPAI pusat untuk beberapa periode, ketua panitia Pesta buku untuk beberapa tahun , pengurus Yayasan Adi Karya yg memberikan penghargaan kepada buku-buku bermutu, menjadi konsultan perbukuan di DIKNAS, dan aktivitas lainnya di dunia perbukuan, terakhir beliau menjabat sebagai direktur Tangga Pustaka yang didirikannya. Selain berkiprah di dunia buku, Bang Mula juga aktif di organisasi sosial keagamaan.

Selain seabrek aktivitasnya di dunia buku, Bang Mula juga seorang pembaca buku yang baik, namun tak hanya buku yang dibacanya ia juga membaca kehidupan baik kehidupannya sendiri maupun orang-orang yang ada disekitarnya dan semuanya itu dituangkan dalam tulisan-tulisannya yang blog pribadinya

http://mulaharahap.wordpress.com/

Karenanya ketika hari Kamis pagi (16/9/2010) yang lalu ketika secara mendadak Bang Mula dipanggil oleh Tuhan maka dunia perbukuan Indonesia berduka karena kehilangan seseorang pejuang buku, yang mampu berpikir kritis untuk kemajuan dunia buku tanah air. Paska perginya Bang Mula teman-teman sejawatnya langsung berencana sebuah gelaran saat pembukaan Indonesia Book Fair (2 /10/2010) dengan mengadakan event Tribute to Mula Harahap sekaligus launching buku yang berisi tulisan-tulisan Bang Mula di blognya yang diterbitkan oleh Gradien.

Karena materi tulisan sudah tersedia maka tampaknya penerbit bergerak cepat untuk menerbitkan buku ini, dan berhasil memilih lebih dari 70 tulisan Bang Mula yang dibagi ke dalam empat bagian utama : Membingkai kenangan, Ompung Odoing-odong, Gaptek Man, dan Merangkai Makna.

Membaca tulisan-tulisan Bang Mula adalah membaca kehidupannya dan orang-orang yang ada di sekitarnya. Seluruh tulisannya diangkat dari kesehariannya. Tak ada kisah-kisah heroik ataupun kisah bombastis, semuanya tersaji apa adanya sehingga tulisan-tulisannya terasa sangat dekat dengan pembacanya. Tidak ada kesan menggurui atau memaksakan agar pembacanya mengambil pelajaran moral dari tulisannya. Tidak karena tampaknya Bang Mula hanya bertutur mengenai apa yang ‘dibaca’nya dari kesehariannya. Ia hanya membaca dan menulis, dan pembaca dipersilahkan menyimpulkan sendiri apa yang telah ditulisnya.

Ada berbagai macam kisah yang ditulisnya, mulai dari masa lalunya, anak-anaknya, adat batak, keluarga, kegaptekannya soal teknologi, kegemarannya ber Facebook, cucunya, soal kepecayaannya, hingga soal buku generasi baru dengan perangkat e-reader, semua tertuang apa adanya dengan sederhana dan tanpa perenungan-perenungan yang membuat kening pembacanya berkerut.

Dalam tulisan-tulisannya kita akan melihat sosok Bang Mula apa adanya baik sebagai seorang anak kecil yang polos, seorang bapak, seorang Ompung, hingga pimpinan sebuah penerbitan. Semua ditulisnya dengan jujur. Bang Mula yang namanya dikenal di dunia buku sebagai pegiat dan praktisi perbukuan yang disegani tak ragu untuk menelanjangi dirinya apa adanya. Bahkan ketika kasus video mirip artis menyeruak ia menulis dengan sangat jujur bagaimana ia yang pada awalnya menolak untuk menontonnya akhirnya toh menontonnya. Sungguh sebuah pengakuan yang jujur dan apa adanya.

Selain jujur dan apa adanya, melalui tulisan-tulisannya kita akan melihat sosok Bang Mula sebagai sosok yang tegas, punya prinsip, dan mampu menggali sesuatu dari hal yang paling remeh temah sekalipun sehingga menjadi sebuah tulisan yang menarik untuk dibaca.

Banyak dari tulisan-tulisan dalam bukunya ini Bang Mula memposisikan diri sebagai Ompung (Kakek), karena alasan inilah rupanya penerbit memberikan judul untuk buku ini dengan “Ompung Odong-Odong” Selain karena itu adalah salah satu judul dalam tulisan beliau yang ada dalam buku ini. Ompung Oddong-odong memang bukan tulisan terbaiknya yang ada di buku ini, namun rupanya penerbit menangkap semburat kebahagiaan yang dinikmati Bang Mula saat ia menjadi seorang Ompung dengan satu orang cucu yang memang sangat terasa sekali dalam sebagian besar tulisan-tulisannya.

Sebagai buku kumpulan tulisan yang memuat tulisan-tulisan bernas Bang Mula saya rasa buku ini bisa mewakili semua hal yang telah diungkap Bang Mula di blognya. Tulisan-tulisan yang dipilih termasuk yang terbaik dari ratusan tulisan di blognya. Sayangnya penerbit tak mencantumkan tanggal kapan tulisan itu pernah diposting di blognya. Saya rasa itu perlu karena dengan demikian pembaca dapat menautkan antara isi tulisan dengan waktu tulisan itu dibuat sehingga ketika buku ini dibaca di masa-masa yang akan datang, pembaca akan mengetahui bahwa peristiwa yang disinggung di tulisan-tulisan itu terjadi pada era tahun sekian, bulan sekian, dsb.

Namun terlepas dari hal diatas, seperti sub judul buku ini, maka semua tulisan dalam buku ini akan menjadi sebuah bingkai kenangan akan seorang Mula Harahap dalam memaknai setiap kehidupannya dan orang-orang di sekitarnya .

Apa yang telah ditulisnya bukanlah sebuah kisah perenungan atau sebuah buku motivasi yang menuntun pembacanya untuk berubah atau menjadi seperti dirinya, Bang Mula hanya mengisahkan dirinya dan apa yang dilihatnya secara jujur apa adanya dengan demikian pembaca seolah diberi kebebasan untuk menyimpulan apa yang telah dibacanya menurut sudut pandangnya dan interpretasinya masing-masing.

@htanzil

Read more »

Minggu, 24 Oktober 2010

Giveaway @ Splash of Our Worlds


Ada giveaway di Splash of Our Worlds. Mumpung terbuka juga untuk yang tinggal di Indonesia, ikutan yuk...
Read more »

Rabu, 20 Oktober 2010

The Naked Traveler

The Naked Traveler
Trinity
C Publishing (Bentang Pustaka), 2008
279 Hal.

The Naked Traveler 2
Trinity
B-First (Bentang Pustaka) 2010
348 Hal.

Gue ‘mengenal’ Trinity lewat blog-nya The Naked Traveler. Membaca sekilas beberapa ceritanya, wah, koq asyik banget ya. Dan ternyata, gue mendapatkan buku The Naked Traveler yang pertama, gratis waktu ada acaranya KuBuGil. Wah… udah lama banget, tapi baru sempet baca sekarang bukunya. Cerita di buku pertama ini, sebagian besar udah gue baca di blog-nya. Dan, sekalian aja lah, gue ‘review’ buku The Naked Traveler yang kedua.

Membaca The Naked Traveler, pembaca gak akan banyak diceritain tentang betapa indahnya suatu tempat atau bangunan, atau tentang makanan-makanan yang enak dan bikin ngiler. Karena ini adalah cerita pengalaman pribadi, bukan cerita untuk dimuat di majalah – yang pastinya harus bagus dan menampilkan gambar indah, justru yang disajikan kadang gak ada indah-indahnya. Tapi, menariknya di sini, kita bakalan dibuat ketawa, senyam-senyum sendiri membaca pengalaman menarik dan konyol selama perjalanan keliling dunia seorang Trinity. Yup, Trinity bukan seorang traveler yang pergi melanglang buana dengan kenyaman first class, tapi dia lebih memilih jalan-jalan a la backpacker, di mana segala keterbatasan, banyak hal unik yang ditemuinya selama perjalanan.

Selama ini gue mikir, waduh, kalo mau keluar negeri harus ‘kaya’ dulu. Tapi ternyata yang penting niat dan nabung! Dan tentu saja, jatah cuti yang banyak. Pinter-pinter ngatur waktu sama kerjaan di kantor. Banyak tips yang tentunya berguna banget, terutama untuk yang pengen ber-backpacking ria. Mungkin emang rada gak cocok sih, kalo yang masih punya anak kecil. Jadi, buat yang masih single, marilah jalan-jalan. Sendiri ok, sama teman ok. Gak punya temen.. bisa cari temen di perjalanan.

Banyak joke-joke dan pengalaman lucu. Misalnya kehebohan nyari toilet, begitu ketemu malah tempat pipis untuk anjing. Atau, serunya berburu hiu. Trinity ini termasuk salah satu penggila kegiatan yang memacu adrenalin, baca aja gimana serunya terjun dari gedung tertinggi.

Baca buku kaya’ begini, selalu bikin gue ngiri. Satu-satunya ‘persamaan’ gue dan Trinity adalah sama-sama pernah makan indomie termahal di airport Denpasar.

Buat yang selalu baca blog-nya, mungkin cerita di sini udah gak asing. Untungnya gaya bercerita Trinity yang kocak membuat baca bukunya jadi tetap menarik. Hanya mungkin kurang foto kali ya. Kalau pun ada gak berwarna. Tapi emang, foto yang ditampilkan pun yang unik, seperti tempat pipis anjing itu.

Semoga di buku-buku selanjutnya, akan ada cerita yang lebih seru, lebih kocak dan mungkin yang gak ada di blog (biar orang lebih penasaran dan pengen baca bukunya).
Read more »

Senin, 18 Oktober 2010

Betelguese Incident - Toba Beta


[No. 243]
Judul : Betelguese Incident - Insiden Bait Al-Jauza
Penulis : Toba Beta
Penerbit : PT. Bumi Initama Semesta
Cetakan : I, Juni 2010
Tebal : 492 hlm

Betelgeuse adalah adalah bintang yang terletak 427 tahun cahaya dari Bumi. Bintang ini merupakan bintang paling terang kedua di rasi bintang Orion dan bintang paling terang kesembilan pada langit malam. Nama Betelgeuse berasal dari kata Bait al-Jauzā, berasal daribahasa Arab yang berarti "rumah sang raksasa".

Bintang yang menurut para ahli astronomi sedang mendekati kehancurannya dan dapat membengkak 100 kali lipat sebelum meledak ini oleh Toba Beta dijadikan judul sebuah novel science fiction Sebuah genre yang boleh dibilang masih jarang digarap oleh penulis-penulis lokal. Ini adalah novel pertamanya dan sekaligus merupakan buku pertama dari sebuah seri yang diberinya nama "Novel berseri petualangan jagad raya : Sandi Semesta"

Yang menjadi dasar dari novel berseri ini adalah sebuah rangkaian peristiwa bencana alam sangat dahsyat yang terjadi akibat ledakan kataklismik Gunung Sunda Purba dan Gunung Toba Purba antara 100.000 hingga 50.000 tahun yg lalu. Efek dari Bencana tersebut ternyata memancarkan badai partikel unik. Badai partikel tersebut terus merambat dan melintasi ruang antarbintang dan mengarah ke suatu sector yang berjarak 36.200 tahun cahaya dari pusat galaksi Bimasakti.

Badai partikel itu akhirnya menghantam bintang Sactir yang berada di kawasan Global Cluster NGC-6101. Ada 10 planet yang mengitari bintang Sactir. Planet kedua dan ketiga terpanggang habis. Namun ada satu planet yang tak terkena bencana dimana di atas planet tersebut ada kehidupan dengan 600 juta jiwa dengan teknologi antarbintang yang canggih. Mereka adalah bangsa Sactirion. Mereka mengira bencana ini diakibatkan oleh sebuah peradaban di bumi sehingga mereka menyiapkan armada perang untuk menghantam bumi dan isinya.

Pada tahun 2056 sebuah pesan dari galaksi lain yang tidak diketahui darimana berasal sampai ke Bumi tepatnya pusat luar angkasa Indonesia. Saat itu Indonesia dikisahkan telah menjadi negara yang sangat maju dalam bidang IPTEK khususnya dalam hal teknologi ruang angkasa dimana Ciwidey – Bandung yang menjadi sentral penelitian ruang angkasa. Karena isi dari pesan itu belum mampu dipecahkan dan khawatir merupakan pesan penting dari kehidupan lain maka para ilmuwan dan petinggi negeri secara rahasia mengadakan rapat darurat untuk mencoba memahami isi pesan tersebut.

Lalu kisah dalam novel ini mundur ke tahun 2016-2037 yang mencertiakan sepak terjang dua orang mahasiswa INTERAIN (Institut Ruang Angkasa Indonesia) yang berlokasi di Ciwidei Bandung bernama Sandi Semesta dan Mira Darwis. Sandi Semesta adalah mahasiswa cerdas yang lahir dari keluarga sederhana. Sedangkan Mira Lesmana adalah putri seorang konglomerat yang memiliki pengaruh luas dan banyak membiayai proyek-proyek luar angkasa Indonesia.

Awalnya keduanya tidak saling mengenal namun sebuah persitiwa perkelahian antara dua geng pemuda yang melibatkan Mira Darwis yang saat itu sedang berpacaran dengan salah satu pimpinan geng tersebut akhirnya membuat mereka bertemu karena secara tidak disengaja Sandi Semesta menyelamatkan Mira dari kejaran anggota geng yang memusuhinya. Setelah kejadian itu Mira putus dengan pacarnya dan lambat laun tumbuh rasa cinta antara Sandi dan Mira

Bertahun-tahun kemudian di jagad raya sana dimana para Dewan Devara yang dalam novel ini dikisahkan menjadi semacam entitas yang mengatur kendali semesta tengah terjadi perselisihan pendapat soal pengaturan semesta raya, pertengkaran mereka mengakibatkan salah satu Dewan Devara yang bernama Bara keluar dengan membawa niat untuk mempengaruhi dan menguasai dewan devara yang ada.

Devara Bara berniat turun ke bumi untuk melakukan hal-hal jahat, niat ini diketahui oleh anggota dewan Devara lain. Devata Talmis yang mengetahui bahwa Bara sedang melakukan aktivitas berbahaya di dalam ruang yang sudah lama diciptakannya di gua Belanda area Taman Hutan Raya Dago, Bandung segera mengejarnya.

Pertemuan mendadak antara dua entitas tersebut menyebabkan kota Bandung dilanda guncangan gempa hebat berkekuatan 6.2 SR. Planet bumi seakan shock akibat peremuan dua kekuatan dahsyat yang muncul spontan di permukaannya. Saat itu kebetulan Mira Darwis dan keluarganya sedang mengunjungi Gua Belanda di Tahura dengan ditemani Dewi yang adalah adik dari Sandi Semesta. Gempa berkekuatan besar itu menyebabkan mulut gua hancur dan mereka terperangkap dalam gua. Mira beserta keluarga bisa selamat keluar dari gua namun Dewi masih terperangkap di dalam.

Sandi Semesta berusaha mencari keberadaan Dewi namun sialnya ia bertemu dengan Bara yang menyandera Dewi, mereka berkelahi dan Sandi terluka parah. Dalam keadaan terluka parah Sandi ‘diambil’ oleh Devara Talmis sedangkan Dewi tetap menjadi sandera Devara Bara. Dengan demikian Sandi dan Dewi tak pernah ditemukan dan dikabarkan hilang dan mati terperangkap dalam gua yang runtuh.

Hilangnya Sandi dan Dewi membuat Mira merasa bersalah, karenanya Mira dengan bantuan orang tuanya melakukan proyek besar-besaran di gua Belanda untuk menemukan Sandi dan Dewi, jikapun tidak ia berharap dapat menemukan jasad mereka berdua. Namun proyek tersebut akhirnya membawa Mira pada sebuah temuan aneh di dalam gua yang berasal dari peradaban yang lebih maju dari manusia. Dan hal ini akan membawa Mira pada sebuah petualangan yang menakjubkan ke sebuah galaksi lain yang tidak mungkin akan ia lupakan.

Sementara di galaksi lain Sandi digembleng oleh Devara Talmis untuk menggantikan posisi Devara Bara. Sandi terus belatih sambil berharap jika kemampuannya telah memadai ia akan mengejar Bara dan menyelamatkan Dewi. Selain itu ada misi lain yang harus diemban oleh Sandi yaitu mencegah terjadinya pertempuran besar-besaran antara bangsa Sactrion dan penduduk bumi.

Secara umum novel ini memang menarik dan ini adalah novel Sci Fiction yang sesungguhnya dimana materi-materi sci-fic tidak hanya sekedar tempelan melainkan menjadi bagian dari sebuah kisah besar yang hendak dibangun oleh penulisnya. Penulis tampaknya tak canggung-canggung untuk mengisahkan kisahnya ini dengan setting di Bandung, Indonesia yang dikisahkan memiliki infrastruktur dan SDM yang hebat dalam teknologi ruang angkasa .

Walau novel ini adalah rekaan belaka namun penulis mendasari semua itu berdasarkan referensi ilmiah sehingga tak menimbulkan kesan sebagai kisah dari negeri khayalan. Apa-apa yang dituliskan mengenai teknologi komunikasi, transportasi, navigasi antara planet, dll dideskpripsikan dengan cukup mendetail sehingga seolah-olah teknologi itu sudah ada dan diterapkan padahal kenyataannya mungkin baru sekedar wacana atau prototipe saja. Namun karena didasarkan pada hal-hal yang ilmiah maka rasanya bukan tak masuk akal bisa di masa depan semua yang terdapat dalam novel ini akan terwujud juga.

Selain memaparkan kehebatan-kehebatan peralatan, pesawat, dan teknologi ruang angkasa yang sudah sangat maju dan, serunya duel antara Sandi dan Bara di Betelgeuse, kisah pertempuran antara pasukan bumi dan mahluk asing novel ini juga menyajikan dialog-dialog filosofis perihal keberadaan alam semesta antara tokoh Sandi dan Devara Talmis sehingga hal ini akan membuka cara berpikir dan wawasan pembaca dalam memaknai alam semesta.

Novel gemuk ini sepertinya memang mencoba memuaskan pembacanya dengan berbagai hal, selain materi sci fiction, penulis juga memasukkan unsur kisah asmara dan dunia mahasiswa layaknya sebuah novel roman, mungkin hal ini dimaksudkan agar pembaca tak bosan membaca novel sci fiction setebal 492 halaman. Namun justru di bagian ini saya rasa ada banyak hal yang terlalu didalami oleh penulis yang mungkin seharusnya bisa dipangkas agar novel ini bisa menjadi lebih ramping dan tidak berlarut-larut dalam kisah yang mungkin bisa mengaburkan pembacanya dari tema sentral novel ini.

Contohnya saat Sandi menolong keluarga kaya dari perampokan, lalu deskripsi keseharian Sandi dan kawan-kawannya di kampus, dan konflik antara dua geng pemuda. Saya rasa bagian ini bisa dipangkas lebih ringkas lagi sehingga pembaca bisa diajak langsung masuk ke inti kisah. Karena judul novel ini adalah Betelguese Incident : Insident di bait al-zura tentunya sejak awal pembaca umumnya akan bertanya-tanya ada insiden apa di Al Zura? Sedangkan di novel ini peritiwa di bait Al zura sendiri baru muncul di bagian-bagian akhir itupun tak banyak.

Sayangnya juga di bagian ketika menceritakan dunia mahasiswa Sandi dan Mira, penulis tak mengeksplorasi perangkat-perangkat teknologi yang mereka pakai saat itu. Kalau saja di bagian ini diceritakan bagaimana teknologi hp, computer, dan gadget2 lain di masa itu tentunya akan lebih menarik lagi.

Setting waktu yang bolak balik antara tahun 2026, 2057, 2032 dan kisahnya yang kompleks juga menuntut pembaca untuk lebih konsentrasi membaca novel ini. Ada beberapa bagian yang tak tuntas tapi memang sepertinya harus seperti itu karena ini merupakan buku pertama dari sebuah novel berseri dan kita baru akan bisa menemukan sebuah gambaran utuh jika sudah membaca seluruh seri dari novel ini. Semoga kemunculan judul berikutnya bisa terbit tak terlalu lama sebelum pembaca lupa akan apa yang telah dibacanya.

Terlepas dari hal-hal diatas ada banyak hal menarik dari novel ini. Dengan cerdas penulis juga mencoba memadukan kondisi geografis sunda kuno dengan misteri semesta yang belum terpecahkan. Penulis tampaknya berhasil menciptakan kisah masa depan yang didasarinya dari peristiwa-periwtiwa geologi yang terjadi di Nusantara ribuan tahun yang lampau

Dan yang luar biasa, seperti telah saya ungkap diatas tak canggung-canggung menuliskan kisahnya dengan sangat Indonesia sehingga ada semangat optimisme yang hendak disampaikan bahwa Indonesia akan menjadi Negara maju di bidang teknologi ruang angkasa. Sebenarnya bisa saja penulis menuliskan setting kisahnya di negera maju atau di Negara antah berantah namun penulis dengan percaya diri meghadirkan setting kisahnya di Indonesia tepatnya di Bandung di kota yang pernah memberinya ide-ide sinpiratif di perjalanan hidupnya.

Toba Beta sedang menciptakan mimpi-mimpi masa depan bagi Indonesia. Akankah 40-50 tahun lagi Indonesia akan sedemikian majunya seperti dalam novel ini. Mimpi telah ditulis dan ditawarkan bagi kita dan generasi di masa depan, tinggal apakah kita mau bersuaha meraih mimpi itu?

Selain itu melihat betapa seriusnya penulis menggarap novel ini saya merasa jika penulis konsisten untuk menulis di jalur ini dan memiliki nafas panjang untuk melanjutkan judul-judul selanjutanya saya percaya ini akan menjadi era kebangkitan genre Sic Fiction lokal yang lama tenggelam dan tak terdengar di khazanah sastra tanah air.


@htanzil

Read more »

Rabu, 06 Oktober 2010

Ini Rahasia

Ini Rahasia
Netty Virgiantini @ 2010
Gagas Media - 2010
184 hal.

Tari dikenal sebagai cewek pemberani, cewek penggila bola. Oleh teman-teman sekelasnya, ia diangkat sebagai manajer tim sepak bola kelasnya. Tari bertanggung jawab dalam masalah pengaturan jadwal pertandingan, urusan kostum, dan lain-lainnya. Tapi, ini bukan pertandingan biasa. Pertandingan antar kelas ini sifatnya illegal, karena ‘melibatkan’ uang taruhan. Jadi, semua dilakukan di luar jam sekolah. Uang hasil taruhan ini dipergunakan untuk ‘operasional’ tim mereka dan untuk membantu beberapa teman mereka yang kesulitan membayar uang sekolah. Inilah rahasia besar yang harus mereka jaga.

Tiba-tiba saja, Tari yang dikenal tomboy itu didekati oleh Rudi, kakak kelasnya yang juga anggota OSIS, salah satu pemain sepak bola handal di sekolah mereka. Teman-temannya sudah memberi peringatan, agar berhati-hati dengan Rudi. Karena rahasia mereka ini juga tidak boleh sampai diketahui oleh anak OSIS. Tapi, Tari yang sejak kelas satu sudah ‘jatuh cinta’ dengan kakak kelasnya itu, meyakinkan teman-temannya bahwa ia akan menjaga rahasia ini rapat-rapat.

Duh.. duh.. duh, ini cerita tentang anak SMA (hehehe… rasanya udah rada gak cocok sama gue :D). Ternyata yang nulis buku ini sama dengan Mama Comblang. Dibanding yang pertama gue baca, cerita di buku ini gak terlalu banyak yang ‘lebay’ kaya’ di Mama Comblang. Mungkin karena tokohnya anak-anak SMA, jadi pas aja kalo banyak becandanya. Tapi, kalo dari segi tema, gue sih lebih cocok baca Mama Comblang. Satu lagi yang rada gak pas, kaya’nya covernya, deh. Kalo ngeliat cover, gue membayangkan cerita yang romantis.
Read more »

Karamazov Bersaudara - Dostoevsky

[No. 242]
Judul : Karamazov Bersaudara (Novel Grafis)
Penulis : Dostoevsky
Penerjemah : Isao Arief
Penerbit : Elexmedia Komputindo
Tebal : 382 hlm

Buku Ini adalah novel grafis/komik yang diadaptasi dari salah satu karya monumental Vyodor Dostoevsky “The Brothers Karamazov”. Awalnya saya sama sekali tidak menyangka kalau salah satu masterpiece Dostoyevsky itu bisa diadaptasi ke dalam novel grafis, karenanya begitu melihat bukunya di rak buku komik di TB Gramedia saya langsung membelinya. Ketebalan komiknya juga membuat saya tertantang untuk membacanya. Dikemas dalam ukuran novel komik ini memiliki ketebalan 382 halaman! Wow! Belum pernah rasanya melihat dan membaca komik setebal itu dalam satu buku.

Yang juga membuat saya penasaran adalah pertanyaan bagaimana mungkin sebuah novel serius karya novelis Rusia ini bisa diadaptasi ke dalam komik? Mampukah panel-panel gambar dan kata-kata dalam balon gambarnya ini menyampaikan intisari novel setebal 700-an halaman ke dalam sebuah komik tebal.

Tadinya saya penasaran siapa komikus yang mengadaptasi Kamarazov Brother ke dalam bentuk komik, ternyata setelah melihat halaman copyright nya tak tertulis satu namapun kecuali nama pemegang copyrightnya yaitu VARIETY ART WORKS, EAST PRESS., LTD , Tokyo Japan.

Kisahnya sendiri menceritakan masa muda Aluysha, tokoh utama dan putra ketiga keluarga Karamazov. Ayahnya, Fyodor Karamazov adalah pria miskin yang kemudian menjadi kaya, dan memiliki tanah sehingga menjadi bangsawan dan memiliki istri yang cantik. Namun Fyodor bukanlah pria baik-baik, ia memiliki moral yang bejat, di depan istinya ia kerap bermain wanita dan minum minuman keras. Tak tahan dengan kelakuan suaminya, istrinya melarikan diri. Fyodor tak berubah, istri keduanya menjadi gila dan meninggal dunia, namun ia tak juga jera dan terus hidup seenaknya. Ia terus menumpuk harta, bermain wanita dan minum minuman keras.

Di tengah kehidupan bejat seperti itulah lahir ketiga anaknya, ia tega meninggalkan anak-anaknya dan terus hidup bersenang-senang dengan harta dan wanita-wanitanya sehingga ketiga anak-anaknya ini diasuh oleh keluarga yang berbeda sehingga masing-masing menjalani hidupnya sendiri-sendiri. Putra sulungnya, Dimitri adalah sosok pemberani yang menjadi tentara, seperti ayahnya ia suka bersenang-senang dan emosional. Ivan, putra kedua menimba ilmu di Moskow dan menjadi intelektual atheis. Dan yang terakhir adalah Aloyshia, pemuda yang baik hati, polos dan memutuskan untuk menjalani kehidupannya di biara.

Suatu saat sang ayah mengumpulkan ketiga anak-anaknya dan menyatakan bahwa ia akan menikah kembali. Foyodor juga menyatakan bahwa kini ia membutuhkan banyak uang karenanya ia tak akan memberikan satu rubel pun uangnya pada ketiga anaknya. Ivan dan Aloyshia tak keberatan dengan keinginan ayahnya namun Dimitri menolaknya apalagi setelah diketahui bahwa wanita yang ingin dinikahi oleh ayahnya adalah Grushenka yang masih menjadi kekasih Dimitri.

Pertemuan ayah dan ketiga anaknya itu menjadi ricuh karena baik Fyodor maupun dimitri saling mempertahankan keinginannya, ayah dan anak teribat perkelahian bahkan hampir saja Dimitri membunuh ayahnya sendiri. Beruntung perkelahian itu berhasil dicegah, Dimitri meninggalkan ayahnya dengan membawa dendam di hatinya dan ia tetap bertekad untuk menghalangi niat ayahnya untuk menikahi kekasih hatinya.

Dari peristiwa inilah kisah keluarga Karamazov berkembang, masing-masing tokoh kelak memiliki konfliknya sendiri-sendiri. Selain kakak beradik Karamazov muncul pula tokoh-tokoh lain yang ikut mewarnai kisah ini. Seperti yang menjadi ciri khas novel2 Dostoyevsky maka aspek psikologis tokoh-tokohnya begitu kental mewarnai sekujur tubuh komik ini.

Tak hanya itu, dengan membaca Karamazov bersaudara ini pembaca diajak memahami situasi sosial dan politik Rusia di abad 19 dimana kebebasan mulai berani diekspresikan namun ketidak adilan masih dirasakan sehingga mulai menimbulkan konflik antara para bangsawan dan rakyat kecil yang saat itu mulai dipengaruhi oleh gerakan komunisme.

Kembali ke pertanyaan di atas, mampukah komik ini mengadaptasi novel serius yg merupakan salah satu masterpiece Dostoevsky? Saya belum pernah membaca versi novelnya jadi saya tak bisa membandingkan antara komik ini dengan novelnya. Namun demikian walau kisah dan karakter tokoh-tokohnya kompleks dan saya tidak terbiasa membaca komik setebal ini saya tetap bisa memahami keseluruhan kisahnya.

Selain kisahnya yang menarik gambaran ekspresi wajah tokoh-tokohnya juga digambarkan dengan begitu baik sehingga mampu menggambarkan karakter dan situasi hati dari masing-masing tokoh2nya sehingga pembaca akan ikut larut dalam dramatisasi kisah yang terdapat dalam buku ini. Penyajian panel-panel gambarnyapun dibuat demikian dinamis, dalam satu halaman bisa terdiri dari 3 sampai 7 panel gambar. Atau kadang ada yang hanya berisi satu atau dua panel saja, bahkan ada dua halaman sekaligus yang hanya berisi satu panel gambar wajah tokohnya sehingga emosi dari si tokoh tergambar dengan jelas.

Terbitnya karya Dostevsky ini dalam bentuk komik ini patut mendapat apresiasi setinggi-tingginya. Novel Karamazov Bersaudara ini hingga kini belum pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia Walau kini hadir dalam bentuk komik namun setidaknya ini adalah langkah awal untuk mengenalkan karya ini ke pembaca Indonesia sebelum membaca novelnya.

Selain Karamazov Bersaudara, penerbit Elexmedia juga menerjemahkan komik-komik yang diadaptasi dari karya2 sastra dunia dalam seri ‘World Masterpiece’ antara lain Metamorphosis (Kafka), Crime and Punishment (Dostoevsky), King Lear (Shaskepheare), dan sebagainya. Tentunya kehadiran komik-komik seri World Masterpiece ini sedikit banyak dapat mempopulerkan karya-karya sastra klasik dunia ke pasar pembaca yang lebih luas lagi sehingga karya2 besar ini tak hanya dibaca oleh segelintir pembaca sastra saja tapi dapat juga dibaca dan dipahami oleh pembaca umum. Karena pasar komik manga lebih didominasi oleh pembaca remaja tentu saja akan jadi hal yang positif jika karya2 klasik dunia ini dapat dibaca oleh para remaja yang selama ini membaca Naruto, One Piece, Kungfu Boy, dll.

@htanzil

Read more »

Senin, 04 Oktober 2010

Janda-Janda Kosmopolitan

Janda-Janda Kosmopolitan
Andrei Aksana
GPU – Januari 2010
464 hal.

Jadi janda bukan hal yang mudah. Banyak yang masih memandang negative terhadap status itu. Yang perempuan akan berbisik-bisik agar hati-hati nanti suaminya, pacarnya digoda janda. Yang laki-laki akan tersenyum nakal, ada juga yang memandang rendah, hanya mau pada gadis, tapi tidak dengan janda. Ah… susah jadi perempuan…

Rossa, perempuan pengusaha butik. Punya anak satu. Terpaksa menikah karena terlanjur hamil. Suaminya bilang, Rossa adalah penyebab hilangnya kebebasan dia. Akhirnya, pernikahan hanya seumur jagung. Di kehidupan yang sekarang, Rossa sudah mapan. Berteman dengan sesama janda. Sampai akhirnya punya pembantu bernama Nunung yang janda juga.

Drama kehidupan Nunung lain lagi. Ia menikah karena cinta. Terpaksa jadi TKW demi memperoleh kehidupan yang lebih baik. Setiap bulan uang gaji ia kirim ke kampung, ehhh… suaminya malah nikah lagi.

Sakit dan tak percaya pada laki-laki, tapi toh tidak malah membuat mereka jadi tidak butuh lagi-lagi. Menjalin hubungan baru memang tidak mudah. Ketika dekat dengan seorang pengusaha bernama Marco, Rossa tak berani menungkapkan jati dirinya yang sebenarnya, apalagi berkata kalau ia sudah memiliki anak. Marco pergi, datang Virlo, pemuda yang gemar clubbing. Bahkan anak SMA pun tertarik pada Rossa, dan tahu kalau Rossa kesepian.

Sementara Nunung, pembantu yang sangat modern dan berpikiran maju. Di sekolah anak Rossa, ia berhasil menebar pengaruh yang cukup besar sampai-sampai para nyonya protes dan minta Rossa memecat Nunung.

Nunung juga kembali gagal, karena calon suaminya ternyata sudah beristri. Meskipun istri pertamanya rela dimadu, Nunung tidak mau menyakiti sesama perempuan.

Duh, duh, duh.. drama ini penuh air mata, tapi juga penuh canda. Hidup mewah a la Rossa dan teman-temannya berdampingan dengan kesederhanaan dan keluguan Nunung. Clubbing vs joged dangdutannya Nunung. Menyindir sikap nyonya rumah yang takut kalah 'pamor' sama pembantu. Gak rela ngeliat pembantu yang tiba-tiba jadi lebih apik, lebih canggih dan lebih pintar.

Ending cerita dibuat menggantung dengan kemunculan tokoh yang sejak awal dianggap ‘hilang’. Membuat penasaran, karena tiba-tiba Rossa berada di persimpangan.
Read more »

Minggu, 03 Oktober 2010

Mama Comblang

Mama Comblang
Netty Virgiantini
Gagas Media – 2010
206 hal.

Buat Neyna dan Dida, menjadi pasangan suami istri, mungkin tidak pernah terlintas dalam benak mereka. Mereka berdua tumbuh bersama. Meskipun Dida beda usia 9 tahun, tapi kedekatan mereka sejak kecil tidak lantas berubah jadi hubungan yang lebih jauh dari persahabatan. Mereka lebih seperti kakak-adik.

Permintaan Mama Neyna untuk menjodohkan Neyna dan Dida ditentang habis-habisan oleh Neyna. Tapi, Mama Neyna yang sakit jantungnya tiba-tiba kumat, membuat Neyna tidak berbisa berbuat banyak. Neyna takut tidak bisa memenuhi permintaan terakhir mamanya.

Masalah lain, Neyna dan Dida sudah memiliki pasangan masing-masing. Mereka berdua harus mencari cara yang pas dan kata-kata yang pas untuk menjelaskan masalah ini pada mereka.

Kehidupan pernikahan di hari-hari awal, penuh dengan ‘pelajaran’ dari kedua mama. Mereka mengajarkan bagaimana seharusnya pengantin baru bersikap, Neyna yang seenaknya harus ingat melayani suami. Dida yang cuek juga harus ingat untuk bersikap lembut dan mesra.

Terpaksa bersikap mesra di depan mama mereka, tidak mengurangi kemesraan terhadap pasangan masing-masing, paling tidak itu berlaku untuk Neyna. Neyna tetap dengan cuek pergi dengan Indra, pacarnya. Dida pun terpaksa menutupi perbuatan Neyna. Tapi, tampaknya pacar-pacar mereka juga mulai gerah dengan ‘pernikahan pura-pura’ ini. Mereka mulai menuntut ‘kejelasan’ status.

Buku ini lumayan menghibur, ada beberapa bagian yang berhasil membuat gue senyam-senyum sendiri karena kocak. Tapi, ada juga bagian yang tadinya lucu, jadi basi. Seperti misalnya kelakuan mama-mama yang lagi ngasih ‘pelajaran’. Sekali dua sih gpp… tapi koq makin lama, makin ‘norak’. Tiap malem nguping di pintu, maksa Neyna dan Dida nonton telenovela plus praktek langsung depan para mama… owww.. tak ketinggalan ‘soundtrack’-nya!

Meskipun nih, hanya dengan membaca cover belakang buku ini, gue paling gak bisa menebak, ending cerita ini…
Read more »

Rabu, 29 September 2010

The House of the Spirit

The House of the Spirit (Rumah Arwah - La Casa de los Espiritus)
Isabel Allende @ 1982
Ronny Agustinus (Terj.)
GPU - Juli 2010
600 hal.

Esteban Trueba, membangun kembali tanah yang terbengkalai. Tak ada gunanya lagi ia kembali ke pertambangan, tempat ia bekerja selama bertahun-tahun demi menemukan batu berharga agar ia bisa menikahi kekasihnya, Rosa. Rosa meninggal karena racun yang sebenarnya diperuntukkan untuk ayahnya.

Sementara itu, kematian Rosa del Valle membawa perubahan di keluarga del Valle, terutama bagi adiknya, Clara del Valle. Di dalam keluarga del Valle, Rosa dikenal sebagai anak yang paling cantik jelita, sedangkan Clara adalah si peramal atau cenayang. ‘Kenyentrikan’ Clara pernah membuat keluarga ini ‘dihujat’ oleh pastor dan Clara juga yang meramalnya akan ada kematian dalam rumah itu. Setelah kematian Rosa, Clara membisu dan membuka suara kembali untuk pertama kalinya, ketika ia berkata akan menikah dengan calon suami Rosa.

Esteban yang tuan tanah, pemarah dan ambisius, mempunyai banyak anak haram di Tres Marias. Tapi hanya satu yang ‘diakui’nya yaitu anak dari adik mandornya – yang kelak cucunya pun akan mempunya ‘peran’ dalan tragedi keluarga Trueba. Pernikahan Esteban dan Clara menghasilkan 3 orang anak, Blanca dan si kembar Nicholas dan Jamie.

Keluarga ini terkenal ‘eksentrik’. Clara yang tampak hidup di dunia sendiri, kerap meramalkan kejadian-kejadian penting di rumah itu dan berkomunikasi dengan berbagai arwah, tapi sering kali ramalannya diabaikan oleh penghuni rumah itu, terutama oleh Esteban yang sering ‘gerah’ dengan kelakuan Clara.

Tragedi terus merundung keluarga Trueba. Blanca hamil di luar nikah, hasil hubungannya dengan anak sang mandor, Nicholas tergila-gila dengan yoga dan meditasi, Jamie memilih dunia kedokteran dan terlibat dalam pergerakan kaum kiri. Bahkan cucu Trueba, anak Blanca, bernama Alba juga terlibat dalam pergerakan komunis. Padahal sang kakek adalah seorang senator terpandang, tapi dikhianati oleh keluarganya sendiri.

Kematian Clara membuat rumah itu kembali suram. Semua bergerak semaunya sendiri. Sementara pergolakan politik juga semakin memanas.

Gue sempat bosan banget baca buku tebal ini. Apalagi kalo udah membahas masalah politik. Yang menarik sih, pas disebut-sebut kata ‘JAKARTA’, yang ditulis sama demonstran. Ooo.. ternyaa buat ‘menggambarkan’ kalo di Jakarta juga terjadi situasi politik yang kurang lebih sama dengan yang ada di cerita, kira-kira tahun 1965-1966-an kali ya.

Tapi, memang Clara yang memberi ‘roh’ pada buku ini. Clara dengan diamnya, dengan segala keanehannya. Karena setelah Clara meninggal, buku ini jadi ‘membosankan’.
Read more »

Rabu, 22 September 2010

Keep Your Hand Moving - Anwar Holid

NO. 241
Judul : Keep Your Hand Moving (Panduan menulis, mengedit, dan memolesnya)
Penulis : Anwar Holid
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : I, 2010
Tebal : 131 hlm

Di era cyber ini mengemukakan sesuatu yang ada dalam pikiran seperti pendapat, curhat, gugatan, kisah pribadi dalam bentuk tulisan sudah merupakan hal yang umum. Lihat saja, saat blog begitu populer banyak orang menulis keseharian atau opini dalam blognya. Kemudian diikuti dengan era jejaring sosial seperti multiply, feacebook, twitter, dll yang menggerakkan orang untuk terus menulis apa yang ada dalam benak mereka.

Sesungguhnya semua orang bisa menulis, namun kemampuan untuk menghasilkan ide, mewujudkannya jadi tulisan yang utuh, enak dibaca, serta layak dipublikasi itu perlu dipelajari secara terus menenus. Bagaimana agar semua itu bisa terwujud? Anwar Holid, seorang penulis kolom, editor, yang juga kerap memberikan pelatihan menulis mencoba memberikan tips-tips bagaimana menulis, mengedit, dan memolesnya dalam sebuah buku yang diberinya judul “Keep Your Hand Moving”.

Sejatinya “Keep Your Hand Moving!” adalah slogan yang dicetuskan oleh seorang guru penulisan kreatif Natalie Goldberg yang mengusung metode free writing dimana metodenya yang mengaitkan peran mental dan spiritual dalam menulis ini banyak dipuji-puji, bahkan dianggap berhasil merevolusi dunia buku penulisan.

Sebenarnya prinsip menulis Goldberg ini sederhana saja yaitu “keep your hand moving!” (gerakkan terus tangan kamu!);jangan mencoret dan jangan mengedit waktu menulis; jangan khawatir soal ejaan,tanda bacaan, tata bahasa; lepaskan kontrol; jangan berpikir, tidak mesti logis; carilah urat nadinya.

Keenam prinsip inilah, terutama slogan yg dicetuskan Goldberg ini memberi inspirasi bagi Anwar Holid untuk merumuskan sebuah panduan menulis berdasarkan pengalaman dan pengamatannya selama ini. Ya! Anwar Holid tak sekedar membeberkan prinsip menulis Goldberg, namun di buku ini ia melengkapi apa yang telah diutarakan Goldberg.

Anwar Holid tampaknya hanya mengambil spirit Golberg dalam menggerakkan seseorang untuk menulis, selanjutnya ia memberikan arahan yang lebih praktis dan membumi bagaimana menghasilkan tulisan yang bagus, mengedit, memolesnya sehingga layak untuk dipublikasikan.

Dalam buku mungilnya ini anwar Holid membagi tulisannya ke dalam delapan bab yang semuanya tersaji dengan padu, ringkas dan padat. Dua bab pertama berbicara mengenai bagaimana kita harus melemaskan saraf menulis dengan cara membiasakan diri menulis sehingga perlu pengkondisian diri agar kita dapat terus menulis.

Disinilah slogan Keep Your Hand Moving diperlukan, gerakkan terus jemarimu!, pokoknya tulis saja walau itu hanya satu paragraph, menjawab email, sekedar respon terhadap segala sesuatu, diari, uneg-uneg, dan sebagainya. Teruslah menulis, dengan demikian diperlukan alokasi waktu dan menyempatkan diri untuk menulis. Bagi penulis pemula Anwar Holid dalam bukunya ini menyarankan agar menulis 10-25 menit setiap harinya untuk membangun kebiasaan menulis.

Saran yang menarik dari Anwar Holid bagi penulis pemula adalah “Jangan takut untuk menyalin dan menempelkan pikiran orang pada tulisan dan pikiran sendiri (copy-paste)”, tentunya dengan sayarat bahwa dalam tulisan itu kita harus mengutarakan bahwa pikiran itu milik orang lain. Ia mengungkapkan bahwa salah satu manfaat copy-and-paste ialah agar kita belajar menggunakan istilah sebagaimana asalnya.

Kemudian di enam bab berikutnya, buku ini memberikan saran-saran praktis ketika kita akan menulis sebuah artikel. Dimulai dari persiapan yang harus dilakukan agar orang bisa menghasilkan tulisan bagus. Menurutnya penulis harus menguasai dua cara menulis, yang pertama adalah menulis otomatis (free writing) yang dilakukan langsung, mengalir, dan mengandalkan intuisi, dengan asumsi segala ide sudah terbayang dalam kepala.

Yang kedua, tulisan disusun lewat outline atau storyline. Biasanya para jurnalis menggunakan teknik ini. Outline ini akan membimbing penulisan agar tetap dalam jalur benang merah yang padu.

Jika tulisan sudah jadi dan kita ingin agar tulisan kita dapat terpublikasikan, buku ini juga memberikan tips-tips bermanfaat agar tulisan kita dapat memenuhi standard penulisan media massa. Syarat yang harus dipenuhi antara lain soal kerapihan tulisan, punya keterbacaan tinggi, paragraf harus padu, tulisan harus tepat, efektif, fokus, dan sebagianya.

Ada banyak hal menarik dan panduan praktis dalam buku ini seperti bagaimana membuat tulisan menjadi istimewa, selain soal menulis ada juga diungkapkan bagaimana mengedit tulisan kita sendiri dan tulisan orang lain, bagaimana bersikap lentur terhadap bahasa, serta berbagai hal yang dapat mengasah kemampuan menulis kita.

Kesemua tips-tips diatas ditulis dengan ringkas, padat, dan mudah di mengerti. Anwar Holid tak hanya memaparkan teori-teori menulis berdasarkan pendapat para pakar menulis melainkan menyajikan hal-hal praktis berdasarkan pengalamannya selama ia berkecimpung di dunia kepenulisan. Pengalamannya dalam memberi traning kepenulisan sedikit banyak ikut memperkaya buku ini karena ia tahu kesulitan utama apa yang biasanya dihadapi oleh para penulis baik penulis pemula maupun penulis yang telah berpengalaman.

Selain berisi tips-tips yang mudah dimengerti, buku ini juga menyajikan beberapa contoh bagaimana menilai sebuah tulisan dengan membuat tabel dua sisi mengenai kebaikan dan keburukan sebuah novel. Sayang contoh praktis seperti ini hanya sedikit sekali (2 contoh) andai saja penulis dapat memberikan berbagai contoh lainnya seperti bagaimana membuat kalimat pembuka yang menarik, keterpaduan antara paragraf, tulisan yang efektif dan fokus dll, tentunya apa yang ditulis dalam buku ini akan semakin mudah untuk dipraktekkan.

Buku ini memang tidak secara otomatis dapat mencetak pembacanya menjadi penulis handal, namun setidaknya dengan membaca buku ini kita akan termotivasi untuk membiasakan diri untuk terus menulis secara baik, sehinggga tulisan kita memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi, bebas dari kesalahan umum dan layak untuk dipublikasikan di berbagai media umum.

Akhir kata, seperti yang ditulis oleh Ign. Haryanto, seorang peneliti media dalam endosrmentnya, buku ini sangat berguna untuk para penulis pemula, tetapi juga jadi vitamin tambahan untuk para penulis yang telah lama bergelut dengan dunia kata-kata.

@htanzil



Read more »