Senin, 21 Maret 2011
Resensi I am Number Four
Minggu, 20 Maret 2011
Suite Française
Suite FrançaiseIrène Némirovsky @ 1942
Translated by Sandra Smith
Vintage International Edition - 2007
431 pages
Novel ini mengambil setting sekitar tahun 1940an. Terdiri atas dua bagian, di mana bagian pertama, Storm in June, berkisah tentang awal-awal Perang Dunia II, saat Jerman mulai datang ke Perancis, memborbardir Perancis dengan bom lewat serangan udara.
Para warga mulai sibuk mengungsi ke daerah yang belum diduduki oleh tentara Jerman. Kota Paris penuh dengan pengungsi yang luntang-lantung. Ada pasangan penulis, Gabriel Cortez, yang dalam keadaan seperti ini masih egois, masih terus berusaha mencari tempat nyaman dan nomer satu, lalu pasangan suami istri Michaud, yang masih khawatir kehilangan pekerjaan kalau mereka tidak mengikuti perintah atasan mereka, ada lagi keluarga besar Péricand yang heboh waktu ‘ketinggalan’ bapak mertuanya.
Bagian kedua, Dolce, berkisah tentang masa-masa pendudukan Jerman. Hampir di setiap rumah, menampung satu tentara Jerman. Perasaan mereka terhadap para tentara Jerman sendiri berbeda satu sama lain. Banyak orang-orang tua, terutama wanita, sangat membenci tentara Jerman, karena sudah ‘merampas’ suami dan anak laki-laki mereka sehingga mereka harus hidup sendiri, tapi para kaum muda, terutama perempuan dan anak-anak, pelan-pelan mulai menerima tentara Jerman sebagai bagian dari kehidupan mereka sehari-hari, karena yang mereka lihat adalah tentara Jerman yang baik hati, sopan dan ramah. Para perempuan terkadang mencari kesempatan untuk ‘flirting’ dengan tentara Jerman.
Bahkan ketika akhirnya tentara Jerman pergi, ada sedikit rasa kehilangan. Mereka bingung, antara harus sedih karena kehilangan teman atau harus bahagia karena akhirnya bebas.
Mungkin novel ini gak akan terlalu berkesan buat gue seandainya gue gak tau sedikit latar belakang tentang penulisnya. Irène Némirovsky, seorang penulis yang cukup terkenal di masanya dengan salah satu novelnya yang juga jadi best seller. Tapi karena ia keturunan Yahudi, maka ia menjadi ‘sasaran empuk’ untuk ditangkap, kemudian akhirnya meninggal di Auschwitz pada tahun 1942.
Novel ini sendiri tampaknya seharusnya masih ada lanjutannya. Tapi tidak sempat terselesaikan. Ini bisa dilihat dari appendix yang salah satunya adalah tentang proses penulisan novel ini. Appendix lain berisi korespondensi penulis dengan agen penerbit, dan korespondensi suami penulis dengan pihak-pihak lain ketika mencari keberadaan penulis setelah ditangkap. Beruntung naskah ini berhasil ‘diselundupkan’ oleh salah satu anak mereka, hingga akhirnya bisa diterbitkan dalam bentuk buku.
Biasanya gue termasuk orang yang ‘malas’ membaca appendix. Buat gue yang penting kan isi novelnya sendiri, tapi buku ini ternyata meninggalkan ‘kesan’ yang lebih jauh setelah gue membaca appendix-nya.
Virus Dreamunus Nekatisimus

Dengan berat hanya 1 kilogram dan dilatari kesulitan saat proses persalinan, vonis mati dijatuhkan kepada Putri sejak ia lahir! Dokter boleh asal bicara tetapi Tuhan yang menentukan, begitulah semestinya. Bukan kematian yang mengikuti Putri, namun virus Dreamunus Nekatimus. Virus akut pemicu kenekatan tingkat tinggi yang membuat Putri senantiasa tegak berdiri menantang segala halangan dan rintangan. Virus ini yang menjadikan mimpi-mimpi Putri menjadi kenyataan, Salah satunya menjadi pemain biola profesional. Keterbatasan kondisi ekonomi keluarga bukanlah halangan. Tak terduga, Putri terbawa ke dalam sejumlah petualangan musikal bersama Twilite Youth Orchestra, Tubinger Kammerorchester Orchestra, dan Amadeus String Chamber Orchestra. Kerja keras, keringat dan air mata seakan terbayar lunas dengan dengan serangkan prestasi dalam bidang musik. Buku ini bercerita tenttang pengalaman Putri Rindu Kinasih yang kocak, seru, terkadang mengharukan, yang terangkum dalam surat-surat yang ia tujukan untuk teman baiknya, Nyo-nyo si monyet. Ikuti curahan hati seorang remaja dengan segegnggam mimpi, yang menolak menyerah pada kata ‘tidak mungkin’ dan berani menanggung risiko atas pilihan-pilihan hidupnya.
Pengalaman Putri yang ditulis ulang itu dimulai saat ia lahir ke dunia dalam kondisi prematur. Saat itu, dokter telah memvonis dirinya tidak akan bertahan hidup lebih lama karena kondisinya yang tidak stabil. Keluarganya pun hanya bisa pasrah bila akhirnya Putri yang memiliki berat hanya 1 kg itu benar-benar tidak mampu ditolong lagi. Tapi ternyata Tuhan memiliki rahasia tersendiri. Putri pun selamat dan tumbuh besar seperti anak-anak normal lainnya.
Menginjak usia balita, Putri pun mulai berkenalan dengan alunan musik biola secara tidak sengaja. Semenjak saat itulah ia mulai jatuh cinta pada alat musik itu. Minat Putri pada musik pun kian bertambah dan ia pun memiliki keinginan untuk belajar musik secara formal melalui kursus musik. Keinginan itu pun terwujud saat Orang tua Putri yang saat itu mengalami kesulitan perekonomian akhirnya bertemu Kristiyanto Christinus, guru violinist pertama Putri, dengan pembayaran kursusnya melalui sistem barter; orang tua Putri yang berprofesi sebagai guru bahasa Inggris mengajari anak Pak Kris dan begitupun sebaliknya.
Tidak hanya sampai disitu, Putri pun berjuang dengan keras untuk mewujudkan mimpi terpendamnya sebagai violinist handal dan manggung di orkestra terkenal. Pengalaman sedih ditinggal salah seorang guru ke luar negeri juga memberikan tempaan hidup sekaligus pompa semangat bagi Putri untuk semakin memperkukuh impian besarnya. Putri kemudian melanjutkan langkahnya dengan mengikuti audisi remaja Twilite Youth Orcestra dan bertemu Eric Awuy. Selama beberapa bulan berada disana, Eric kemudian menyarankan Putri untuk memperdalam ilmu musiknya dengan berguru pada Ibu Grace, lulusan musik kenamaan Austria dari sekolah musik Amedeus. Namun, lagi-lagi, karena masalah keuangan yang mencekik, orang tua Putri berinisiatif membicarakan persoalan itu secara pribadi pada ibu Grace. Akhirnya, dengan usaha keras yang tiada henti, Putri pun diterima bersekolah disana.
Selama proses menapaki cita-citanya sebagai violinist yang tidak mudah untuk diraih ,Virus Dreamunus Nekatisimus memang benar-benar nyata bekerja bagi diri Putri. Virus itulah yang membuat Putri tetap semangat menjalani kursus musiknya,meski harus pulang pergi dari sekolah Amedeus dengan jarak yang cukup jauh dari rumah. Ditambah lagi,ternyata kerja kerasnya untuk menghasilkan suara biola yang indah malah menghasilkan ancaman drop out dari sekolah Amedeus karena permainannya yang selalu salah. Namun, karena Virus itu jugalah yang pada akhirnya mengantarkannya pada orkestra terkenal sekelas Tübinger Kammerorchester dan satu panggung dengan David Riniker, salah seorang Cellist kenamaan dunia.
Novel Virus Dreamunus Nekatisimus setebal 142 halaman ini, menjadi salah satu bacaan yang menurutku sangat menarik. Novel ini tidak hanya menawarkan humor-humor segar tetapi juga inspirasi lain dalam satu wadah yang mengusung tema "meraih mimpi" dalam hal bermain musik. Meski dilain sisi, secara keseluruhan novel ini membahas tentang seluk beluk musik yang terkadang kurang di pahami seorang awam musik sepertiku, tapi dalam novel ini Putri mampu mengolah setiap kata-kata asing dalam musik tersebut menjadi kata yang mudah untuk dicerna melalui beberapa perumpaan yang disajikan.
Secara pribadi,kisah nyata Putri dalam meraih mimpinya sebagai violinist ini, seakan memberikan kekaguman tersendiri bagiku. Usahanya yang pantang menyerah ditengah keterbatasan, mengajarkan kita arti pentingnya sebuah usaha kuat untuk mencapai sesuatu. Dan melalui virus Dreamunus Nekatisimus,--virus pemicu kenekatan dalam meriah mimpi-- inilah semuanya dapat kita mulai. Mau mencoba?
Senin, 14 Maret 2011
Sang Fotografer - Didier Lafevre
No. 253Judul : Sang Fotografer - Memasuki kancah perang Afghansitan bersama Doctors Without Borders
Foto & Ilustrator : Didier Lefevre & Emanuel Guibert
Art : Frederic Lemercier
Penerjemah : Tanti Lesmana
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Febuari 2011
Tebal : 276 hlm, 30 cm
Ada istilah yang mengatakan bahwa sebuah foto /gambar dapat berbicara lebih banyak daripada kata. Karenanya tak jarang sebuah foto dengan sedikit keterangan atau bahkan tanpa keterangan apapun bisa menimbulkan reaksi yang lebih fantastis dibandingkan sebuah kolom berita. Kenyataan seperti ini membuat semua media-media baik cetak maupun cyber selalu megedepankan para fotografernya dalam meliput sebuah berita atau peristiwa penting.
Didier Liever adalah seorang fotografer jurnalistik asal Perancis yang telah melanglangbuana ke berbagai penjuru dunia dengan kameranya. Pada tahun 1986 ia bersama tim kemanusiaan Perancis Médecins Sans Frontières/MSF (Doctors Without Borders) berangkat menuju Afghanistan. Perjalanan yang penuh resiko karena saat itu Afghanistan sedang berada dalam peperangan antara para Mujahidin dengan tentara-tentara Rusia.
Sepulangnya dari Afghanistan 6 buah foto hasil bidikan Didier dimuat di surat kabar Perancis “Liberation”. Jumlah yang sangat kecil dibanding 4000 foto yang berhasil dibawa Pulang Didier saat itu. Ribuan foto-foto itu tersimpan rapih dalam kotak penyimpanan selama tiga belas tahun hingga akhirnya Emmanuel Guibert, sahabatnya menyarankan pada Didier untuk bersama-sama membuat buku tentang pengalamannya selama perjalanan pertamanya ke Afghanistan itu. Akhirnya pd tahun 2003 terbitlah 3 jilid novel grafis The Photographer dalam bahasa Perancis yang kini terjemahan dalam bahasa Indonesianya baru saja diterbitkan oleh Gramedia dengan judul “Sang Fotografer”
Sebetulnya buku ini bukanlah sebuah novel grafis murni, melainkan perpaduan antara komik, album fotografi, dan kisah perjalanan. Jadi dibuku ini ribuan foto hitam putih karya Didier dirangkai menjadi sebuah kisah perjalanan Didier bersama tim relawan kesehatan MSF ke Afganistan. Untuk mengisi kekosongan yang tidak tertangkap oleh kamera Didier maka Emanuel Guibert menggambarkannya dalam panel-panel komik yang kemudian diberi warna oleh Frederic Lemerier sehingga menjadi sebuah kisah perjalanan yang menarik untuk disimak dari Didier, Sang Fotografer bersama tim MSF.
Singkatnya di buku ini kita akan menyaksikan apa yang disaksikan oleh mata Didier melalui lubang lensa kameranya selama 3 bulan di Afghanistan. Walau berada di daerah konflik namun di buku ini Didier tak satupun memotret peristiwa baku tembak antara pasukan Mujahidin dan tentara Rusia melainkan menyajikan sebuah gambaran bagaimana sukarnya perjalanan Didier bersama tim MSF menuju tempat yang ditujunya dan bagaimana mereka melakukan tindakan medis dari para korban perang dalam kondisi yang serba darurat.
Jika di edisi Perancisnya buku ini terdiri dari 3 volume maka di buku terjemahannya ini hanya terdiri dari satu buku yang dibagi menjadi tiga bagian besar. Bagian pertama dan kedua mengisahkan kisah perjalanan Sang fotografer mulai dari Perancis, tiba di Pakistan untuk bergabung dengan tim MSF, hingga ke akhirnya sampai di jantung Afghanistan Utara dan mendirikan rumah sakit darurat bagi korban perang dan penduduk di sekitarnya. Sedangkan di bagian ketiga, buku ini mengisahkan bagaimana Sang Fotografer memutuskan untuk berpisah dengan tim MSF dan melakukan perjalanan pulang menuju Pakistan dengan hanya ditemani oleh beberapa pemandu tak bersenjata yang menyebalkan.
Di bagian pertama dan kedua pembaca akan disuguhkan rangkaian peristiwa baik melalui foto dan panel-panel gambar tentang perjalanan Sang fotografer dan tim MSF dan situasi geografis dan keadaan sosial masyarakat pedesaan Afghanistan yang sedang berperang.
Ada beberapa momen dan fakta-fakta menarik yang tertangkap oleh Sang Fotografer antara lain bagaimana para tim dokter MSF itu mengajari praktek pembedahan pada calon-calon perawat Afghanistan dengan menggunakan seekor kambing. Atau bagaimana kerja keras tim dokter MSF yang berbeda keyakinan dengan penduduk Afghansitan itu tetap dihargai karena mereka meyakini walau toh akhirnya si pasien itu jiwanya tak tertolong tapi apa yang dilakukan tim MSF itu sama dengan mempersiapkan orang yang sakit itu dalam menemui Allah.
Kegananasan perang juga terungkap ketika mereka harus menangani seorang remaja yang bagian bawah wajahnya hancur oleh granat arteleri, lubang di mata kanan seorang Mujahidin akibat tertembus peluru, seorang wanita yang lumpuh karena sebutir peluru yang tepat mengenai saraf tulang punggungnya dan sebagainya. Semua itu terrekam dengan baik oleh bidikan kamera sang fotografer.
Tidak hanya itu saja, situasi sosial masyarakat yang sedang berperang juga tak luput dari pengamatannya antara lain bagaimana para remaja dengan bangga memamerkan senjata mereka karena bagi mereka sosok panutan mereka adalah para pria-pria dewasa dan orang tua mereka yang pergi berperang. Bagi remaja Afghanistan menenteng senjata dan berperang adalah sebuah kebanggan tak terkira.
Kerasnya kehidupan disana juga ikut membentuk ketahanan mental anak-anak Afghanistan. Banyak anak kecil di Afghanistan tidak menangis jika terluka, mereka terisak-isak kalau kesakitan. Tapi itu saja karena mereka siutasi perang membentuk mereka cepat tangguh dalam usia yang masih sangat muda.
Ada satu hal yang unik yang terekam di buku ini, yaitu bagaimana sikap para pria Afghanistan di tengah keluarga mereka. Walau hampir semua pria Afghanistan itu memegang senjata dan terkesan brutal saat berada dalam peperangan, sejatinya pria-pria Afghan itu adalah sosok yang lembut. Di tengah keluarganya mereka bersikap seperti seorang ibu kepada anak kecil mereka. Mereka menunjukkan kasih sayang mereka dalam cara yang sangat lembut dan nyata. Mereka sering memeriksa apakah anak-anak mereka tidak kedinginan, membetulkan topi anak-anak, dan sebagainya.
Masih banyak hal-hal menarik dalam buku ini. Foto-foto dan komik dalam buku ini betul-betul membuat saya seolah masuk dalam petualangan sang fotografer. Setelah menyimak dan melihat korban keganasan perang dan bagaimana para tim dokter MSF dengan fasilitas darurat berusaha mengobati dan mengoperasi pasien-pasiennya, di bagian ketiga kita akan diajak mengikuti petualangan sang fotografer yang dengen nekad memisahkan diri dari tim MSF untuk pulang. Hal ini sungguh tindakan nekad bagi Sang fotografer karena situasi di Afghanistan sebenarnya sangat beresiko bagi orang asing untuk melakukan perjalanan sendirian tanpa rombongan tim yang lengkap baik dari senjata maupun logistiknya.
Seperti yang sudah diduga ada banyak hambatan yang dihadapinya yaitu sakit di tengah perjalanan, diperas oleh pemandu, hingga sendirian dan hampir mati terperangkap dalam badai salju di tengah gurun Afghanistan.
Buku ini tampaknya benar-benar dikerjakan dengan serius. Pilihan menggunakan kertas art paper mengkilat merupakan pilihan yang harus diambil agar foto-fotonya tercetak dengan sempurna walau resiko utamanya adalah harga bukunya yang menjadi relatif mahal.
Salut juga untuk pengaturan tata letak foto-foto di halaman dalam buku ini. Besar kecilnya foto yang tersaji beraneka ragam, ada yang kecil berupa rangkaian foto-foto yang berderet menyajikan sebuah rangkaian peristiwa yang dapat terlihat seperti layaknya kita menonton sebuah film, lalu ada pula foto-foto ukuran besar, bahkan ada beberapa foto yang disajikan satu hingga dua halaman penuh untuk sebuah foto. Selain itu panel-panel gambar komik dalam buku ini dan teks-teksnya juga saya rasa dapat mewakili kekosongan akan apa yang tak tertangkap oleh kamera sang Fotografer.
Pada akhirnya buku ini akan menjadi sebuah dokumentasi terbaik bagi mereka yang ingin mengetahui situasi geografis, sosial, dan kemanuisiaan di Afghanistan di era 80an ketika perang sedang berkecamuk. Selain itu buku ini juga menyajikan sebuah kisah perjalanan yang dilakukan sekelompok orang-orang yang bertekad untuk memperbaiki apa yang telah dihancurkan oleh peperangan. Semoga buku ini membuka mata hati kita bahwa apapun alasannya sebuah peperangan akan menghasilkan kesengsaraan bagi mereka yang mengalaminya terutama bagi rakyat kecil yang tak mengerti politik namun yang paling langsung terkena dampaknya.
Didier Lafervre
Didier Lafevre (19 Desember 1957 - 29 Januari 2007) adalah seorang fofotgrafer jurnalistik yang foto-fotonya sering muncul di majalah-majalah Perancis L'Express dan Editions Quest France. Kegemarannya adalah melakukan perjalanan ke berbagai negara sambil memotret apa yang dilihat dan dialaminya. Selain apa yang bisa kita lihat dalam buku "Sang Fotografer" Didier banyak menghasilkan foto-foto dokumenter yang sangat luar biasa antara lain situasi pasca perang di Kosovo, epidemi AIDS di Malawi dan Kamboja, situasi negeri bekas wilayah blok Timur, hingga balap sepeda epik Paris-Roubaix.
Kesuksesan Sang Fotografer di negeri-negeri berbahasa Prancis (terjual +/- 250 rb copy) disusul dengan pengakuan yang muncul dari dunia internasional, berkat beberapa edisi berbahasa asing yang telah diterbitkan memberikan kejutan sekaligus kebagiaan bagi Didier serta bagi rekan-rekan tim MSF yang ambil bagian dalam petualangannya ke Afghanistan.
Setelah pengalamannya yang pertama ke Afghansitan yang dibukukan dalam "Sang Fotografer", Didier kembali melakukan 6 kali perjalanan ke Afghansitan antara tahun 1986-2006. Foto-foto indah hasil jepretannya itu pada tahun 2002 dirangkum dalam sebuah buku berjudul "Voyages en Afgahnistan"
Pada bulan Januari 2007, Didier meninggal karena serangan jantung pada usia 49 tahun, meinggalkan seorang istri dan dua anaknya yang masih kecil. Karya dan karakternya yang luar biasa masih banyak yang belum terungkap.
@htanzil
Minggu, 13 Maret 2011
Of Bees and Mist
Erick Setiawan @ 2009
Fransiska M. (Terj.)
Gagas Media – 2011
572 Hal.
Dibesarkan dalam keluarga yang aneh, membuat Meridia tumbuh menjadi gadis yang sedikit canggung dan ‘kuper’. Sejak ia lahir, keanehan sudah menyertai dirinya. Ayahnya adalah seorang professor yang sangat membencinya. Tak pernah sedikit pun, Gabriel menunjukkan tanda-tanda bahwa ia menyayangi putrinya. Sementara ibunya, Ravenna, tenggelam dalam dunianya sendiri, terkadang lupa bahwa ia memiliki seorang putrid. Meridia diasuh oleh seorang pengasuh yang over protective. Kemana pun Meridia pergi, ia harus memakai baju yang berlapis-lapis tebalnya, dan ia tidak boleh keluar rumah rumah terlalu lama karena khawatir akan virus-virus yang beterbangan. Rumah Meridia selalu dingin dan berkabut. Orang tuanya tidak pernah bertegur sapa. Dan banyak keanehan lain lagi yang ada dalam rumahnya.
Di usia remaja, Meridia berkenalan dengan Daniel, anak seorang pemilik toko emas. Dan keduanya pun saling jatuh cinta. Meskipun di awal, Gabriel menentang pernikahan ini, tapi Ravenna berhasil membuat mereka berdua akhirnya menikah.
Pernikahan ini memang membuat Meridia bahagia, tapi campur tangan ibu mertuanya, Eva, yang berlebihan lama-lama membuatnya gerah. Keluarga suaminya ternyata tidak kalah ajaib dengan keluarganya sendiri. Ayah mertuanya, Elias, yang selalu pasrah, Sementara, Daniel, selalu bersikap sebagai anak yang baik dan patuh kepada ibunya.
Semakin lama, Eva semakin menekan mereka dengan permintaan yang makin aneh. Permusuhan antara Eva dan Meridia juga semakin meruncing. Dan, makin lama, meksipun awalnya Daniel berpihak pada Meridia, tapi hasutan Eva juga semakin kuat, membuat Meridia yang justru berbuat tak masuk akal dengan memusuhi ibu mertuanya.
Setting cerita mungkin sekitar tahun 1800an atau 1900an. Ini sih kesimpulan gue aja, berdasarkan kejadian-kejadian setiap persalinan, belum ada teknologi USG, dokter masih dijemput, terus baju-baju yang kaya’nya masih penuh dengan rimple.
Dari awal buku ini, akan banyak pertanyaan yang muncul, tentang berbagai keanehan kedua keluarga. Gabungan antara drama yang rumit, cerita mistis dan fantasi. Kalo gue jadi Meridia, gue juga pasti bakal meledak marah-marah karena diganggu terus, Awalnya memang rada gak jelas kenapa Eva begitu memusuhi Meridia. Cerita mengalir perlahan, seperti mengisahkan perjalanan hidup seorang Meridia. Mungkin membosankan awalnya, tapi gak sabar juga pengen tau apa sih yang mau diceritain di sini sebenernya.
Jumat, 11 Maret 2011
SeoulMate

Ketika kenyataan menentangmu untuk terus berharap Sebuah harapan untuk bertemu kembali dengan seorang pria telah memaksa Kim Sun menggunakan kemampuannya berkomunikasi dengan hantu. Ia memutuskan menjadi mate dan bergabung dalam sebuah organisasi ‘penyalur hantu’ bernama SeoulMate yang menerima proposal permintaan bantuan dari manusia. Sebagai mate, ia bertugas menjaga serta membantu soul atau hantu yang bergabung dalam SeoulMate untuk melaksanakan proposal dari para klien SeoulMate. Tak disangka, Sun ditugaskan menjaga soul yang amnesia! Hantu baru ini sama sekali tidak mengingat kehidupan manusianya dan terus mendesak Sun untuk membantu menemukan asal-usulnya. Sun tidak habis pikir bagaimana dia dan Jang—nama yang dia berikan untuk soul-nya—dapat menyelesaikan proposal klien jika mereka selalu bertengkar. Namun, semuanya berjalan di luar dugaan. Tanpa disadari, sengatan-sengatan perasaan aneh yang disebut cinta itu mulai tumbuh antara Sun dan Jang. Pada saat yang hampir bersamaan, sebuah kenyataan menghadapkan Jang kepada pilihan, antara tetap menjadi soul yang menjalin cinta abnormal dengan Sun atau menuju tempat yang wajar bagi para hantu dan menghilang dari kehidupan gadisnya....
Tidak disangka, Kim Sun ditugaskan menjaga Soul baru yang amnesia. Hubungannya dengan hantu yang akhirnya diberi nama Jang itu, mulanya diawali dengan pertengkaran-pertengkaran kecil yang kebanyakan dipicu oleh sikap tempramen Kim Sun. Namun, semenjak proposal pertamanya bersama Jang dan tantangan yang ia dapatkan dalam proses pelaksanaan itu, membuat dirinya semakin lama semakin menyukai pekerjaannya sebagai Mate.
Hari-harinya sebagai Mate dengan Soul amnesia yang memiliki sifat sangat polos tanpa disadari telah membuat Kim Sun merasakan perasaan yang aneh. Hal itu ditambah dengan perasaan cemburu yang tiba-tiba menyergapnya manakala Arang, si hantu cantik berpakaian hanbok terus terang mengejar-ngejar Jang dan ikut membantu Jang menemukan asal-usulnya. Perasaan tersingkirkan dan tidak berguna saat melihat kedekatan Jang dan Arang membuat Kim Sun selalu meluapkan emosinya tanpa kontrol pada siapapun tanpa mau memberi penjelasan. Sebaliknya Jang pun, dengan sikap polosnya hanya menanggapinya dengan bingung dan tetap tidak cukup mengerti untuk paham perasaan sensitif Kim Sun terhadap dirinya.
Kebingungan pada hubungan aneh antara Soul dan Mate itu akhirnya terjawab. Letupan asmara dalam diri Jang mulai muncul seiring sikap agresif Kim Sun yang mulai berusaha menandingi keagresifan Arang. Kim Sun menjadi semakin terbuka dalam menunjukan rasa suka kepada Jang meskipun mereka berdua masing-masing menyadari keanehan dalam hubungan cinta abnormal hantu-manusia yang tercipta diantara mereka berdua. Tapi, keanehan itu langsung hilang seketika setelah keduanya mengungkapkan perasaan terdalam masing-masing di Pulau Namy, salah satu pulau romantis di Korea, dan berusaha mejalani hubungan mereka kedepannya layaknya manusia tanpa memikirkan semua keanehan itu.
Masalah besar pun muncul di kemudian hari ketika Jang mengetahui asal-usulnya yang sebenarnya dengan dibantu oleh Arang. Disamping itu, Kim Sun yang semula telah mengetahui identitas Jang yang asli yaitu Shin Ji Woo, tidak berani memberitahu Jang dengan alasan kehilangan yang akan ia dapatkan setelah Jang mengetahui siapa dan dimana seharusnya ia berada. Sedangkan Jang, yang mengetahui kenyataan itu, mencoba membujuk Kim Sun untuk mengatakan terus terang apapun yang ingin gadis itu katakan. Tapi, nyatanya pernyataan Arang suatu hari malah berbuntut kesalahpahaman diantara Kim Sun dan Jang. Kim Sun yang terbawa emosi menyuruh Jang keluar dan segera menjauh dari kehidupannya. Lalu, apakah Jang mengikuti permintaan Sun dan kembali ke tubuhnya yang sebenarnya tengah koma? tapi apakah dengan begitu Kim Sun siap menerima semua kehilangan itu?
Lia Indra Andriana, penulis novel ini adalah seorang dokter gigi yang menekuni hobinya menulis sampai saat ini. Di debut novel kesebelas sekaligus novel ketiga bersetting Korea ini, tampaknya semua hal telah dipersiapkan secara detail oleh penulis baik dalam proses pengerjaannya, dicetak dengan penerbitan sendiri, ada trailer dan OSTnya,serta ilustrasi menawan yang disuguhkan melalui balutan sampul berjenis linen yang elegan. Aku secara pribadi,sangat menyukai setiap inci keindahan novel ini dan menurutku semua proses panjang yang dilakukan penulis untuk menghasilkan novel yang terbaik telah membuahkan hasil yang memuaskan. Keren!!!!
SeoulMate yang faktanya diinspirasi penulis dari sosok Jang Geun Seok dalam peran He's Beautiful dan kisah hantu The Mediatornya Meg Cabot merupakan kombinasi yang menurutku apik dan seru. kisah ini menurutku juga berhasil menampilkan secara gamblang kisah cinta abnormal Kim Sun dan Jang yang unik dan menggelitik hingga akhir. Sangat di rekomendasikan buat kamu si penyuka fiksi romantis plus komedi dan yang juga pengen tahu seluk beluk kebudayaan Korea. Novel ini cukup komplit deh. Hehehe
Hanbok: pakaian tradisional Korea
Baca juga :
1. SeoulMate
2. SeoulMate is You
Senin, 07 Maret 2011
1 Perempuan 14 Laki-Laki
1 Perempuan 14 Laki-LakiDjenar Maesa Ayu @ 2010
GPU – Cet. 2, Pebruari 2011
140 Hal.
Kumpulan cerpen satu ini bisa dibilang unik – dan hasilnya adalah sebuah kolaborasi yang menarik. Djenar Maesa Ayu menulis 14 cerpen bersama dengan 14 sahabatnya, yang semuanya laki-laki. Proses penulisannya sendiri juga berbeda. Dalam setiap cerpen, secara bergantian Djenar menulis kalimat per kalimat. Agak ribet ya. Kalo kalimatnya gak nyambung gimana? Apa proses pindah-pindah itu selalu berjalan lancar? Menurut Djenar, gak jarang, mereka hanya bengong di depan notebook, mencari kalimat yang tepat untuk disambung dengan kalimat sebelumnya.
Ini bukan buku Djenar pertama yang gue baca. Tapi, rasanya, sampai sekarang gue belum mendapatkan ‘chemistry’ yang pas setiap baca buku beliau. Gak nyambung aja. Mungkin kalimatnya yang terlalu ‘sastra’ atau terlalu ‘canggih’ sampai gue kesulitan untuk mencernanya.
Dari 14 cerita itu, yang gue tangkap, semuanya bercerita tentang hubungan percintaan ‘gelap’, tentang perselingkuhan, seks, kasih tak sampai. Isinya sangat ‘dewasa’. Dan, nyaris semua gak bisa gue ‘cerna’ dengan baik. Hehehehe.. otak gue aja kali yang gak nyampe ya? Jangan salahkan penulis :)
Cerpen yang cukup mengena di gue, ada cerita: ‘Rembulan Ungu Kura Setra’ (ditulis bareng Sujiwo Tejo), ‘RA Kuadrat’ (ditulis bareng Lukman Sardi) dan ‘Balsem Lavender’ (ditulis bareng Butet Kartarejasa). Favorit gue sih yang terakhir, lucu khas Butet Kertarejasa.
FOR SALE... :)
Kalau ada yang berminat, silahkan tinggalin email di comment posting ini atau email langsung ke gue di ferina.permatasari@hbtlaw.com
Trimssss... :)
Ini daftar buku-bukunya (berikut harga tentunya):
Buku bahasa Indonesia (asli atau terjemahan):
1.Grotesque (Gaib) - Natsuo Kirino (Rp. 50,000)
2.Jane Eyre - Charlotte Brontë (Rp.50,000)
3.The Rossetti Letter - Christi Phillips (Rp. 50,000)
4.The House of the Spirit - Isabel Allende (Rp. 50,000)
5.The Girl who Played with Fire – Stieg Larsson (Rp. 50,000)
6.The Middlesex – (Rp. 45,000)
7.The Host – Stephanie Meyer (Rp. 50,000)
8.Twilight – Stephanie Meyer (Rp. 40,000)
9.New Moon - Stephanie Meyer (Rp. 40,000)
10.Eclipse - Stephanie Meyer (Rp. 40,000)
11.Breaking Dawn - Stephanie Meyer (Rp. 40,000)
12.Selebriti – Albertheine Endah (Rp. 40,000)
13.Bad Man (Orang-orang Jahat) – John Connolly (Rp. 35,000)
14.Forgiven – Morra Quarto (Rp. 20,000)
15.Petals from the Sky - Mingmei Yip (Rp. 25,000)
16.The Last Shogun: Kisah Hidup Tokugawa Yoshinobu – Ryotaro Shiba (Rp. 30,000)
17.M2L (Men 2 Love) – Andrei Aksana Rp. 25,000)
18.Jodoh Monica – Albertheine Endah (Rp. 25,000)
19.Cinta Andromeda – Tria Barmawi (Rp. 25,000)
20.Pink Project – Retni SB (Rp. 25,000)
21.Melati di Trafalgar Square – Weka Gunawan (Rp. 15,000)
22.Tentang Dia – Moammar Emka (Rp. 10,000)
23.Novel Tanpa Nama – Duong Thu Huong (Rp. 25,000)
24.Sex and the Cookies – Inggrid Widjanarko (Rp. 15,000)
25.Sang Guru Piano – Elfriede Jelinek (Rp. 25,000)
26.How to be Good (Suami Sempurna) – Nick Hornby (Rp. 25,000)
27.Kisah Klan Otori: Across Nightingale Floor – Lian Hearn (Rp. 30,000)
28.Kisah Klan Otori: Brilliance of the Moon – Lian Hearn (Rp. 30,000)
29.The Highest Tide (Pasang Laut) – Jim Lynch (Rp. 25,000)
30.Ocean Sea – Alessandro Baricco (Rp. 20,000)
31.Married with a Vampire – Joko D. Mukti (Rp. 20,000)
32.An Affair to Forget – Armaya Junior (Rp. 20,000)
33.Summer in Seoul – Ilana Tan (Rp. 20,000)
34.Kamar Cewek – Ninit Yunita & Okke ‘sepatumerah’ (Rp. 20,000)
35.Mata Giok – Diane Wei Ling (Rp. 20,000)
Bahasa Inggris:
1.Trading up – Candace Bushnell (Rp. 40,000)
2.Watermelon – Marian Keyes (Rp. 40,000)
3.Rachels Holiday – Marian Keyes (Rp. 40,000)
4.Cell – Stephen King (Rp. 40,000)
5.Special Relationship – Robyn Sisman (Rp. 35,000)
6.Shopaholic & Baby – Sophie Kinsella (Rp. 50,000) baru, masih dibungkus plastik
7.Angels – Marian Keyes (Rp. 40,000)
8.The Lost Symbol – Dan Brown (Rp. 60,000) hard cover
9.Eat, Drink and be Married – Eve Makis (Rp. 30,000)
10.Man and Boy – Tony Parsons (Rp. 35,000)
11.Bridget Jones: The Edge of Reason – Helen Fielding (Rp. 35,000)
12.Ready or Not – Chris Manby (Rp. 30,000)
13.American Girls about Town – Adriana Trigiani, Jennifer Weiner, Lauren Weisberger, etc. (Rp. 40,000)
14.Irish Girls about Town – Maeve Binchy, Marian Keyes, Sarah Webb, etc. (Rp. 40,000)
15.Pure Fiction – Julie Highmore (Rp. 35,000)
16.He’s Got to Go – Sheila O’Flanagan (Rp. 40,000)
17.Pretty Boy – Lauren Henderson (Rp. 30,000)
18.Lucky Girls – Nell Freudenberger (Rp. 30,000)
19.With or Without You – Carole Mathews (Rp. 30,000)
20.Bad Dirt – Annie Proulx (Rp. 30,000)
21.The Tender Years – Jeannette Oke (Rp. 30,000)
22.The Cat who Went up the Creek – Lilian Jackson Braun (Rp. 30,000)
23.My Legendary Girlfriend – Mike Gayle (Rp. 30,000)
24.The Answer is Yes – Sara Lewis (Rp. 30,000)
25.The Last Templar – Raymond Khoury (Rp. 40,000)
26. Cat’s Eye – Margaret Atwood (Rp. 40,000)
27.The Bonesetter’s Daughter – Amy Tan (Rp. 40,000)
28.Middlemarch – George Eliot (Rp. 40,000)
29.Possession – A.S Byatt (Rp. 40,000)
30.The Dogs of Babel – Carolyn Parkhurts (Rp. 40,000)
31.Monday’s Child – Louise Bagshawe (Rp. 50,000)
32.Tuesday’s Child – Louise Bagshawe (Rp. 50,000)
Sabtu, 05 Maret 2011
Ghostgirl #3: Lovesick

Setelah melalui perjalanan panjang di dunia dan akhirat, Charlotte akhirnya bisa beristirahat dengan damai. Tetapi, kenyataannya tidak sesederhana itu. Satu tugas lagi masih menunggunya. Bukan tugas biasa, karena dia dan teman-teman sekelasnya harus kembali ke lokasi kematian tragisnya: Hawthorne High. Charlotte berhadapan kembali dengan sosok-sosok yang pernah mengisi kehidupannya. Dan dunia ternyata tidak seceria yang diingat Charlotte. Scarlet, sahabat terbaiknya, kini kehilangan jati diri. Damen, mantan pujaan hatinya, kebingungan menentukan arah. Petula, idola sejatinya, terlibat dalam kegiatan misterius setiap tengah malam. Dan kehadiran Darcy, seorang siswa baru di SMA mereka, semakin memperkeruh suasana. Sanggupkah Charlotte mengemban tugasnya sebagai malaikat pelindung dan meluruskan masalah teman-temannya? Dan di tengah kepungan tugasnya, mampukah Charlotte mempertahankan cintanya?
Setiap arwah mendapat tugas sebagai pembimbing emosional dan membantu mengatasi masalah yang dialami pendamping mereka. Dan sungguh di luar dugaan, Charlotte mendapat Damen sebagai pendampingnya. Sedangkan Eric, arwah penyanyi rocker,yang saat itu berstatus sebagai pacar baru Charlotte, mendapatkan pendamping Scarlet. Namun, Eric yang saat itu mengetahui fakta bahwa Charlotte meninggal karena mengejar Damen dan sekarang malah menjadi arwah pendampingnya membuat Eric tidak sanggup mengelak pada rasa cemburu yang tiba-tiba menyergapnya.
Sementara itu, di dunia manusia,Scarlet sibuk dengan rasa galau yang melandanya belakangan ini. Scarlet yang menginjak tahun terakhir di Hawthorne High telah mengubah dirinya secara perlahan-lahan menjadi cewek yang feminim dan lebih rapi atas dorongan Damen. Tapi, sayangnya, ia merasa tidak nyaman dan penuh kepalsuan. Lebih dari itu,kedatangan Damen yang tiba-tiba dan mendaftarkan lirik lagunya ke sebuah stasiun radio setempat membuat Scarlet kesal dan semakin memperkeruh perasaan galaunya.
Saat situasi itulah,Eric pun datang dalam kehidupan Scarlet. Ia merasa nyaman pada cowok bergaya rocker yang memiliki selera musik yang sama denganya itu. Keakraban intens keduanya menyebabkan Charlotte dibakar api cemburu. Charlotte yang semula--tanpa ia sadari--memandang Eric sebagai pengganti Damen, mulai detik itu telah memandang sosok Eric tanpa bayang-bayang Damen didalamnya. Kecemburuan yang awalnya merasuki perasaan Charlotte itu, tidak membuatnya lantas bertindak gegabah. Ia bertekad untuk segera meluruskan situasi asing ini. Bagaimanapun caranya.
Sejalan dengan situasi asing yang dihadapi Charlotte-Eric dan Scarlet-Damen, Petula Kensingston merasa asing terhadap kelakuannya belakangan ini. Ia merasa kepedulian sosialnya meningkat tajam semenjak kepulangannya dari alam kematian yang mempertemukannya dengan Virginia,anak perempuan yang memberinya inspirasi. Ia menyumbangkan sebagian baju-baju mahalnya untuk orang-orang jalanan di pusat kota dan turut serta mendandani mereka. Hal itu membuat The Wendys, dua anak buah Petula tidak percaya dan mencoba menyingkirkan Petula yang dianggap telah menodai citra kepopuleran mereka. Darcy,si anak baru yang misterius, berniat menjatuhkan Petula dengan mencoba mengadu domba The Wendys dan Petula serta menyebarkan berita amal Petula yang dianggap oleh mereka sangat 'aneh' dan menggelikan.
Lalu bagaimana rencana Charlotte selanjutnya begitu mengetahui bahwa sosok misterius Darcy lah yang menjadi akar penyelesaian masalah mereka?dan apakah rencana Charlotte beserta Pam dan Prue untuk 'membunuh' Darcy agar situasi kembali normal akan berhasil sesuai perkiraan mereka?
Secara garis besar,aku hanya bisa mengomentari pertama pada sampulnya. Ya ampun, aku berikan dua jempol untuk ilustrasi indah dari Melati Puspa Indah. Karena ilustrasi inilah, Ghostgirl ini tampak eye-catching dan menurutku juga lebih indah dibanding dengan sampul versi aslinya hehehee.Komentar keduanya pada typo. Aku menemukan typo-typo menganggu yang berseliweran dimana-mana (mungkin dalam proses penerjemahan). Tidak banyak tapi juga tidak bisa dibilang sedikit.
Selain itu, aku bisa mengatakan kalau novel ketiga Ghostgirl ini lebih greget dibanding dua novel sebelumnya. Buktinya, aku bahkan selesai membaca novel ini dalam rentang waktu yang cepat karena cerita yang ditawarkan sangat seru dan menarik. Charlotte yang telah memikatku dengan sifatnya yang tulus itu, akhirnya menemukan kisah cintanya sendiri bersama Eric yang notabenenya seorang rocker yang sebenarnya tidak pernah terbayang bakal menjadi pacar Charlotte. Bagaimanapun juga tipe Charlotte sangat bertolak belakang dari apa yang ada dalam diri Eric, kan? Tapi, ya sudahlah. Pengharapanku pada kisah cinta Charlotte pun akhirnya tuntas juga. phuffff....
=================
Penerjemah:Berliani M Nugrahani
Baca juga:
1. Ghostgirl: Rest in Popularity
2. Ghostgirl #2: Homecoming
3. Ghostgirl #3: Lovesick
Senin, 28 Februari 2011
Seribu Sujud Seribu Masjid
No. 252Judul : Seribu Sujud Seribu Masjid
Penulis : Tandi Skober
Penerbit : Salsabila Kautsar Utama
Cetakan : I, November 2010
Tebal : 275 hlm
Jika membaca judulnya “Seribu Sujud Seribu Masjid” tentunya kita akan langsung menduga bahwa ini adalah novel bernuansa religi. Betul, tapi tak hanya itu saja karena dalam novel ini pembaca juga akan diajak masuk dalam nuansa politik, intrik, romantisme, dan humor yang dikemas sedemikian rupa sehingga menghasilkan sebuah novel religi yang tak hanya berisi dakwah saja namun memiliki latar kisah yang menarik untuk disimak hingga lembar terakhir novel ini.
Di bab-bab pertama novel ini penulis mengajak kita untuk kembali ke tahun 65 di wilayah Sekober, Indramayu, ketika gonjang-ganjing politik melanda seluruh negeri ini. Dikisahkan Kasdi dan Zum dibesarkan di daerah pesisir Sekober, Indramayu. Zum adalah anak gundik Bah Ceh Nong, tokoh PKI di Sekober. Kasdi adalah anak seorang seniman Tarling yang bernama Camang. Kedua anak itu bersahabat dengan akrab.
Ketika prahara politik merembet hingga ke wilayah Sekober, nasib merekapun berubah drastis. Bah Ceh Nong ditemukan mati mengambang di sungai Cimanuk. Tuduhannya sudah jelas karena ia adalah tokoh PKI di Sekober yang pantas dihukum mati tanpa harus diadili terlebih dahulu. Sedangkan Camang yang bekerja sebagai pembantu di rumah Bah Ceh Nong dicurigai sebagai salah satu antek PKI. Walau Camang selalu mengatakan bahwa ia adalah muslim dan sudah disunat pada para tentaranya namun ia tak luput dari hukuman. Saat hendak dieksekusi, Camang selamat, melarikan diri, menggelandang dari masjid ke masjid. Semenjak itu Camang tak pernah lagi bertemu dengan anaknya, Kasdi.
Anak-anak Bah Ceh Nong dan Camang bertahan dalam menjalani kerasnya kehidupan. Zum menjadi penari dombret, pelacur, hingga akhirnya menjadi pencopet. Kasdi ikut menjadi pencopet bersama Zum dan Zaki, kawannya. Sementara Zum dan Zaki masih berada dalam dunia hitam, Kasdi pensiun menjadi copet untuk berjualan bandros. Ia tinggal di surau peninggalan kakeknya. Kasdi percaya bahwa suatu saat ayahnya akan pulang dan sujud di surau itu.
Di Surau peninggalan kakeknya itulah Kasdi bertemu dengan Priadi, lelaki senja yang menhantarnya agar lebih dekat pada Tuhan. Mereka berdua tak henti-hentinya mengajak orang-orang yang lewat surau tersebut untuk menepi dan sholat. Tak banyak yang tertarik pada ajakan mereka berdua kecuali Bana, anak preman dan Cipto mantan pejabat dan pengusaha kaya yang bertobat dan menyerahkan sisa hartanya sebesar 100 jt rupiah pada Kasdi sebagai uang kost di surau milik kakek Kasdi sekaligus biaya penguburannya jika ia meninggal dunia nanti.
Kasdi, Bana dan Cipto menjadi tiga sekawan yang menempuh jalan Allah, mereka tinggal bersama di surau sambil mempertebal iman dan berdakwah secara sederhana dibawah bimbingan Priadi. Walau Kadi telah mengantongi uang sebesar 100 juta kehidupan mereka bertiga tetap bersahaja dan damai hingga akhirnya Zaki, kawan lama Kasdi yang kini telah menjadi konglomerat berniat untuk membeli tanah Surau tersebut.
Melalui Zum yang sebenarnya mencintai Kasdi, Zaki mencoba membujuk Kasdi untuk menjual surau tersebut. Zaki berani membeli suaru tersebut seharga 500 juta rupiah untuk dijadikan mall dan stasiun televisi global. Disinilah konflik terjadi. Gagal dengan iming-iming uang, Zaki dan Zum bersekongkol mencari cara lain yang diperkirakan akan ampuh meluluhkan Kasdi untuk menjual surau tersebut. Kasdi memerintahkan Zum untuk berpura-pura menjadi wanita muslimah yang soleh agar Kasdi jatuh cinta pada Zum dan merelakan surau peninggalan kakeknya jatuh ke tangan Zaki.
Kisah di novel ini seberarnya sederhana saja, namun penulisnya mampu membuat kisah sederhana ini menjadi menarik. Penulis tampak piawai dalam mendeskripsikan kisahnya ini dengan detail dan filmis sehingga ketika saya membaca novel ini saya merasa sedang menonton sebuah film dalam imajinasi saya.
Tokoh-tokohnya memiliki latar belakang yang berbeda-beda sehingga membuat novel ini menjadi lebih berwarna dan pembaca diberi kesempatan untuk melihat bagaimana masing-masing tokoh ini menyikapi persoalan hidupnya. Umumnya semua tokoh dalam novel ini berusaha mencari jati diri mereka sehingga bisa dikatakan ini adalah kisah tentang perjalanan spiritual manusia dalam mencari jati dirinya.
Bagi saya pribadi bagian yang paling menarik di novel ini adalah di bab-bab awal saat kisah bergulir di tahun 65 ketika huru-hara politik melanda wilayah Sekober. Di bagian ini pembaca diajak melihat bagaimana dan apa yang dirasakan rakyat kecil akibat kekisruhan yang dilakukan para elit politik negeri ini. Selain itu terungkap juga bagaimana kelamnya suasana saat itu, terlebih saat Camang ditangkap dan hendak dieksekusi oleh para tentara. Bagi saya bagian ini merupakan bagian yang sulit terlupakan.
Sayang ketika cerita beralih ke masa kini, kisah-kisah di masa lalu ini tak disinggung lagi sehingga seolah kisah di bagian-bagian awal novel ini menjadi kisah tersendiri dan terlepas begitu saja . Tentunya akan lebih menarik jika kilasan-kilasan masa lalu Kasdi dan Zum ditampilkan kembali sehingga benang merah antara kisah masa kecil Kasdi dan Zum ini tampak terlihat lebih jelas lagi.
Terlepas dari itu secara keseluruhan saya rasa novel ini menarik untuk dibaca. Sebagai novel religi tentunya novel ini mengandung banyak sekali dengan pesan-pesan keagamaan namun penulis mengemasnya dalam dialog-dialog yang segar dan lucu sehingga pembaca tak merasa digurui oleh penulisnya.
Bagi saya ini novel religi islami yang pertama kali saya baca. Walau bukan seorang muslim saya tak merasa kesulitan dalam memahami dan memaknai pesan-pesan moral yang hendak disampaikan penulisnya. Bagi saya nilai-nilai religi islami yang tertuang dalam novel ini sangat universal dan bisa dipahami dan dimaknai oleh semua pembaca tanpa harus terbatasi oleh sekat-sekat agama.
@htanzil
Minggu, 27 Februari 2011
Habibie & Ainun
Habibie & AinunBacharuddin Jusuf Habibie @ 2010
THC Mandiri – 2010
323 Hal.
48 tahun 10 hari, waktu yang sangat panjang dalam sebuah pernikahan. Hal yang sangat sulit, ketika harus kehilangan pasangan yang mendampingi kita dalam kurun waktu yang sangat lama. Bukan gue sok tau, ya, tapi, putus sama pacar aja, kadang butuh waktu lama untuk recovery perasaan.
Buku ini mengisahkan perjalanan hidup pasangan BJ Habibie dan Ibu Ainun Habibie. Tapi, jangan bayangkan ini sebuah kisah cinta yang romantis. BJ Habibie yang baru pulang dari Jerman, ‘terpesona’ dengan Ibu Ainun, yang padahal dulunya seperti gula jawa (alias item kali ya…), tapi sudah ‘menjelma’ menjadi gadis yang cantik dan anggun.
Percintaan mereka berlangsung kilat. Dalam liburan Pak Habibie yang singkat, mereka bertunangan dan menikah. Untuk selanjutnya, Ibu Ainun diboyong ke Jerman. Di Jerman sendiri, kehidupan mereka belum stabil, kondisi perekenomian mereka masih sangat sederhana. Meskipun pelan-pelan akhirnya mulai meningkat.
Sebagai putra bangsa yang sangat berbakti, atas permintaan Presiden Soeharto, Pak Habibie dan keluarga kembali ke Indonesia. Mencoba merintis cita-cita untuk mempersembahkan hadiah ulang tahun ke 50 untuk Indonesia yaitu sebuah pesawat terbang pertama hasil karya putra-putri Indonesia.
Selama Habibie bertugas, Ibu Ainun selalu setia mendampingi. Dengan senyum dan matanya yang meneduhkan, senantiasa membuat Pak Habibie semangat dalam bertugas.
Mungkin gak banyak yang diceritakan di sini, bagaimana pasang-surut dalam kehidupan rumah tangga mereka. Memang sih, di awal diceritain gimana waktu mereka baru menikah, tapi setelah itu, selebihnya lebih banyak bercerita tentang kiprah BJ Habibie hingga akhirnya beliau menjadi Menristek, kemudian Wapres sampai akhirnya jadi Presiden. Terasa begitu ‘pribadi’ karena Pak Habibie juga bercerita apa yang beliau rasakan. Bahkan ketegasan beliau ketika berhadapan dengan Presiden Soeharto sekali pun.
Di beberapa bab terakhir, baru kembali diceritakan bagaimana ketika Ibu Ainun mulai sakit dan harus dirawat di Jerman karena kondisi cuaca khatulistiwa tidak cocok untuk kesehatan beliau. Dan, BJ Habibie terus mendampingi ibu Ainun hingga tempat peristirahatan terakhir - sebagaiman ibu Ainun mendampingi BJ Habibie dalam tugasnya.
Bagian-bagian akhir memang bagian yang paling menyentuh, di mana justru rasa cinta di antara mereka lebih terlihat dan begitu mendalam. Alur penuturan yang lamban (dan mungkin kalo dipikir-pikir, gak ada hubungannya sama ‘kisah cinta’ mereka berdua), tapi toh, tetap saja, buku ini memberi inspirasi.
Membaca buku ini, rasanya gak ada tuh yang namanya ‘gonjang-ganjing’ dalam pernikahan. Yang ada justru sebuah rumah tangga yang seimbang, saling menghormati dan sama-sama menikmati peran mereka masing-masing dalam rumah tangga. Betapa Pak Habibie yang dalam kesibukannya selalu diingatkan oleh istrinya, dan betapa Pak Habibie begitu menghargai dan mencintai Ibu Ainun.
Ahhh.. such a beautiful love story…
Jumat, 25 Februari 2011
Organizing the Bookcase
Kamis, 24 Februari 2011
The Memory Keeper's Daughter
Kim Edwards @ 2005
Penguin Books
513 pages
Di malam yang bersalju, ketika orang lain sedang menghangatkan diri di rumah, David Henry harus membawa istrinya ke rumah sakit karena waktu persalinan datang lebih cepat. Dokter yang membantu persalinan terjebak badai salju, sehingga David, yang seorang dokter bedah tulang, yang akhirnya menangani persalinan Norah.
Di awal persalinan berjalan dengan lancar, lahirlah seorang bayi laki-laki yang diberi nama Paul. Tapi, selang beberapa detik, Norah mengalami kontraksi lagi. Dalam keadaan yang sudah lemah, akhirnya Norah dibius, setelah melahirkan bayi perempuan. Ternyata, Norah selama ini mengandung anak kembar. Maklum, masih tahun 1960an, jadi mungkin belum ada tuh teknologi USG. Berbeda dengan saudara kembarnya, Paul, bayi perempuan yang diberi nama Phoebe ini langsung terlihat ‘berbeda’. Phoebe ternyata memiliki Down Syndrome. Seketika itu juga, David langsung memutuskan untuk memberikan Phoebe ke Caroline Gill, perawat yang membantu persalinan Norah, dan meminta Caroline untuk membawa Phoebe ke sebuah tempat perawatan. Sementara, kemudian, David memberi tahu Norah, bahwa ia melahirkan bayi kembar, tapi sayangnya, bayi itu meninggal ketika dilahirkan.
Yang tidak diketahui David sesudahnya, adalah Caroline memutuskan untuk merawat dan membesarkan Phoebe, segera setelah ia melihat betapa tidak layaknya tempat perawatan itu. Caroline pindah ke kota lain, menjalani hidup bersama Phoebe. Berjuang agar Phoebe diberi kesempatan layaknya anak-anak normal lainnya.
Sementara itu, kehidupan keluarga David Henry sendiri berubah. Masing-masing anggota keluarga seolah hidup dalam dunia lain. David tenggelam dalam rasa bersalahnya, dan Norah hidup dalam kesedihan atas kematian anak perempuannya. Dan Paul akhirnya mendapati ibunya berselingkuh dan ayahnya semakin menjauh dari diri mereka, terkadang sedikit memaksakan masa depan Paul. Dari luar, mereka tampak seperti keluarga bahagia.
Keputusan David untuk menjauhkan Phoebe didasari atas pengalaman pribadinya, saat ia memiliki seorang kakak yang memiliki kelainan jantung dan akhirnya meninggal dalam usia muda. Ibunya tidak pernah lepas dari masa berkabung yang berkepanjangan.
Buku ini gue beli tahun 2007 (!) dan baru akhirnya tuntas gue baca sekarang. Ada bagusnya juga jarang beli buku, ‘memaksa’ gue untuk membongkar lemari buku dan mencari buku yang belum gue baca.
Ok, kembali ke bukunya sendiri. Membaca buku ini, serasa menonton sebuah film drama keluarga. Cerita yang terpapar secara kontinyu, sejak Paul dan Phoebe masih bayi sampai akhirnya mereka dewasa dan tentang kegelisahan yang berbeda yang dirasakan David, Norah dan Caroline melihat anak-anak mereka tumbuh dewasa. Belum lagi tentang pergulatan batin mereka melawan rasa bersalah dalam diri mereka sendiri. Banyak rahasia yang disimpan, yang ingin diungkapkan, tapi takut bakal menyakiti yang lain. Harus sedikit bersabar membaca buku ini kalau memang gak terlalu suka yang berbau-bau drama.
Blog RSS Feed
Via E-mail
Twitter
Facebook



