Kamis, 07 April 2011

Shin Suikoden #1

[No. 256]
Judul : Shin Suikoden #1 : Petualangan Baru Kisah Klasik Batas Air
Penulis : Eiji Yoshikawa
Penerjemah : Jonjon Johana
Penerbit : Kansha Books
Cetakan : I, Januari 2011
Tebal : 486 hlm

Bagi pecinta buku-buku kisah kepahlawan Jepang nama Eiji Yoshikawa tentunya tidak asing lagi, namanya identik dengan novel Musashi, legenda seorang Samuari Jepang di abad pertengahan yang masih dibaca orang hingga kini. Selain itu ada dua buah karyanya yang juga sudah diterjemahkan yaitu Taiko dan Heike Story yang juga mendapat respon positif bagi pembacanya. Namun tahukah anda bahwa kisah-kisah tersebut sebetulnya bukan merupakan karya asli Eiji Yoshikawa?

Ya. Banyak di antara novel-novel terkenalnya merupakan penulisan ulang dari karya-karya klasik Jepang dan China misalnya Kisah Heike , Kisah Genji , Batas Air, Kisah Tiga Negara dan sebagainya. Kesemua cerita itu dikisahkan kembali olehnya dalam bahasa yang lebih populer sehingga mudah dicerna oleh siapa saja. Walaupun sebagian besar novelnya bukanlah cerita asli, ia menciptakan sangat banyak karya dan menumbuhkan minat baru terhadap sejarah sehingga pada tahun 1960 ia mendapat penghargaan budaya dari Pemerintah Jepang

Novel Shin Suikoden adalah sebuah pengisahan kembali karya klasik China terkenal “Batas Air, Kisah 108 Pendekar Liang Shan yang berasal dari Dinasti Ming (1368-1644). Kisah ini diceritakan kembali oleh Eiji Yoshikawa secara detail dengan bahasa yang lebih populer seperti umumnya karya-karya Yoshikawa lainnya. Jika mengikuti edisi aslinya yang berbahasa Jepangnya maka nantinya akan ada 4 jilid buku yang akan diterbitkan dalam bahasa Indonesia.




Buku Batas Air edisi klasik




Di buku pertamanya yang diterjemahkan langsung dari bahasa Jepang ini kita baru akan diajak mengenal 8 tokoh yang kelak akan bertemu untuk satu tujuan tertentu. Mereka antara lain Shi Shin, pemuda dengan rajah sembilan naga di tubuhnya, ahli tongkat yang meski mudah emosi, namun sangat menghargai pertalian antarlelaki sejati. Ro Chi Shin si Pendeta Bunga, mantan polisi militer dengan tubuh dan sikap bagaikan raksasa kasar, namun berhati lembut laksana bunga musim semi yang dirajah indah menakjubkan di punggungnya. Cendekiawan Go, guru kuil di desa yang tersohor ketajaman akal dan kepiawaiannya dalam membuat strategi .

Novel ini diawali dengan kisah pendahuluan dimana Jenderal Kou mendapat tugas dari Kaisar Jin Sou (dinastiSou) untuk berkunjung ke kuil Jo Sei di pedalaman untuk meminta pendeta kuil tersebut memanjatkan doa penolak bala bagi rakyatnya yang saat itu sedang terkena wabah penyakit.

Sesampai di kuil Jo Sei karena sang pendeta sedang tidak ada di tempat maka Jenderal Kou berkeliling kuil dan melihat sebuah dinding batu yang diikat dengan rantai besi dan dipasangi gembok yang sangat besar. Itu adalah ruang rahasia yang tidak seorangpun diperbolehkan untuk membukanya. Namun karena rasa ingin tahunya yang besar Jenderal Kou memaksa untuk membuka ruangan tersebut.

Bukan tanpa alasan mengapa ruangan tersebut dilarang untuk dibuka karena didalamnya tertawan 108 bintang iblis. Karenanya begitu ruangan itu terbuka maka 108 bintang iblis itu turun ke dunia dan pada akhirnya menjelma menjadi manusia dan membentuk benteng Ryou Zan Paku yang terpencil yang dikelilingi oleh air sehingga sulit ditembus siapapun. Dan di benteng itulah tempat berkumpulnya 108 pendekar yang hampir menghancurkan dinasti Sou.

Setting kisah lalu bergerak di masa pemerintahan Kaisar Ki Sou, kaisar kedelapan dinasti Sou. Dimasa ini sang kaisar terkenal sangat artistik gemar mengumpukan berbagai benda seni serta bintang langka dan membangun istana megah sehingga dia sama sekali tidak memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Saat itu pajak sangat tinggi, pegawai-pegawai pemerintah yang jahat dan korupsi merajalela sehingga menimbulkan keresahan dan ketidakpuasan terhadap pemerintahannya.

Di buku pertama ini awalnya memang seperti tak memiliki alur kisah yang jelas karena masing-masing bab menceritakan latar belakang dan sepak terjang tokoh-tokoh utamanya yang masing-masing memiliki kisahnya sendiri. Barulah di bagian-bagian akhir kisahnya akan semakin mengerucut ke kisah perampokan iring-iringan hadiah ulang tahun dari seorang pejabat yang hendak diberikan kepada rekannya.

Tokoh-tokoh pendekar yang sebelumnya diceritakan secara terpisah nantinya akan bertemu dan bersama-sama merencanakan strategi brilian untuk merampok iring-iringan hadiah tersebut. Mereka menganggap rencana mereka ini bukanlah sebuah kejahatan karena bagi mereka pejabat negara itu telah menyengsarakan rakyat dengan pajak yang tinggi dan uangnya dikorupsi untuk memperkaya diri. Bagi mereka hadiah-hadiah itu sebenarnya milik rakyat dan harus dikembalikan pada rakyat.

Karena banyaknya tokoh dan nama yang diceritakan di buku pertama ini saya kadang bingung sendiri. Mungkin karena saya tidak biasa membaca genre ini sehingga terkadang nama dan tokohnya sering tertukar-tukar atau sering lupa bahwa tokoh yang sedang diceritakan di bagian tertentu itu sama dengan yang dikisahkan di bagian sebelumnya :D

Pengisahan tokoh-tokohnya memang menarik namun di paruh pertama novel ini karena masih belum jelas mau kemana sebenarnya kisahnya akan bergulir hal ini membuat saya sedikit bosan. Untungnya di bagian-bagian akhir tokoh-tokohnya bertemu satu sama lain dan bekerjasama untuk melakukan sebuah tindakan mulia, hanya sayangnya ketika sedang seru-serunya kisahnya harus terhenti karena baru bisa dilanjutkan di jilid ke 2nya. Semoga saja jilid-jilid selanjutnya bisa diterbitkan dalam waktu yang tidak terlalu lama sebelum pembaca keburu lupa akan tokoh-tokoh dan kisahnya. :D

Sepertinya di jilid-jilid selanjutnya kisah Shin Suikoden ini akan semakin menarik karena selain kisahnya yang telah semakin mengerucut dan kemahiran penulisnya dalam merangkai cerita yang seru dan memikat, tentunya jalan hidup dari para pendekar dalam kisah ini akan memberikan pesan moral yang baik bagi pembacanya baik itu dalam hal kesetiakawanan, kepahlawanan, dan komitmen serta semangat juang mereka dalam memperbaiki kesejahteraan rakyat yang telah direngut oleh pemerintahan yang korup untuk memperkaya dirinya.

@htanzil

Read more »

Selasa, 05 April 2011

Sumbangan-Sumbangan Karya Sains Super Dasyat Islam Abad Pertengahan

Sumbangan-Sumbangan Karya Sains Super Dasyat Islam Abad Pertengahan

                                                              oleh Truly Rudiono 

Penulis    : Diyan Yulianto dan M.S Rohman
Editor      : Abdul Azid Mutaqin
ISBN       : 978-602-978-293-6
Halaman  : 299
Penerbit   : Diva Press
                  www.divapress-online

" ...Kekuasaan dari ilmu pengetahuan, begitu luas. Tidak ada yang dapat menguasai keseluruhan kajian ilmu pengetahuan sendirian." ~ al Battani ~

Membaca buku ini membuat saya mengetahui banyak hal. Kadan banyak fakta mengenai suatu hal yang belum terungkap tanpa kita sadari. Sebuah ungkapan berbau filosofis dalam buku ini menyebutkan, "Sejarah sering dibedakan dengan apa yang tertulis. Dan sejarah yang tertulis kadang tidak menampakkan apa yang benar-benar terjadi" Sepertinya memang banyak yang selama ini tidak nampak dan akan tetap begitu jika buku ini tidak terbit Buku tipis tapi sarat pengetahuan ini membuka mata kita akan betapa banyak sumbangsih Islam dalam peradaban dunia. Umumnya karya-karya hebat tersebut sekarang sudah sering kita jumpai dalam aneka wujud.


Sebut saja soal  hasil dari C3H5(OOCR)3 + 3 NaOH -> C3H5(OH)3 + 3 NaOOCR. Tidak pernah dengar? Kalau sabun pasti semua tahu.  C3H5(OOCR)3 + 3 NaOH -> C3H5(OH)3 + 3 NaOOCR  merupakan rumus kimia sabun.
Sabun sudah dikenal di dunia Islam sejak abad 9M.  Razes atau ar-Razi merupakan orang yang menemukan resep moderen untuk membuat sabun. Campuran dasarnya saat itu adalah minyak tumbuhan, sodium hidroaksida serta bahan-bahan aromatik  Saat itu justru Bangsa Eropa masih menggunakan air seni manusia untuk mencuci pakaian yeek!
Sabun adalah salah satu senyawa kimia tertua yang pernah dikenal. Bahan pembuatan sabun terdiri dari dua jenis, yaitu bahan baku dan bahan pendukung. Bahan baku dalam pembuatan sabun adalah minyak atau lemak dan senyawa alkali (basa). Bahan pendukung dalam pembuatan sabun digunakan untuk menambah kualitas produk sabun, baik dari nilai guna maupun dari daya tarik. Bahan pendukung yang umum dipakai dalam proses pembuatan sabun di antaranya natrium klorida, natrium karbonat, natrium fosfat, parfum, dan pewarna. Jadi tidak perlu menyediakan toilet umum guna menampung air seni sebagi ramuan pencuci pakaian khan...


Kisah mengenai sebuah rumah sakit yang membebaskan ongkos berobat semua pasiennya sungguh kontras dengan kondisi dewasa ini. Rumah Sakit al-Manshuri berada di Kairo pada abad ke-13. Rumah sakit ini dibangun untuk memenuhi nadzar Raja al-Manshur Qalawun. Rumah sakit tersebut juga dilengkapi dengan 40 buah taman bunga, masjid dengan 50 pembaca al-Qur’an yang terus menerus melantunkan ayat suci selama 24 jam, kapel kecil untuk pasien kristen, perpustakaan dengan 6 pegawai serta petugas lapangan untuk mengecek kesehatan pasien rawat jalan.  Setiap pasien yang sembuh justru dibekali makanan dan uang, alih-alih membayar ongkos perawatan. Setiap harinya rumah sakit ini melayani 4.000 pasien.

Kiprah para ahli kesehatan juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Ibnu Sina merupakan ahli medis yang paling terkenal hingga saat ini.  Ibnu Sina juga merupakan orang yangmencatat dan menggambarkan anatomi tubuh manusia secara lengkap untuk pertama kalinya.  Dunia Islam memanggilnya dengan nama Ibnu Sina. Namun di kalangan orangorang Barat, ia dikenal  sebagai Avicenna. Ia merupakan seorang filsuf, ilmuwan, dan juga dokter pada abad ke-10 juga penulis yang produktif.  . Karyanya yang sangat terkenal adalah Qanun fi Thib atau The Canon of Medicine yang merupakan rujukan di bidang kedokteran selama berabad-abad.

Dalam sebuah buku mengenai seorang ahli anatomi wanita pertama dari penerbit tetangga, dikisahkan  sang tokoh mengagumi sebuah buku mengenai gambar  manusia sederhana yang menunjukkan jantung dan lainnya.  Sayangnya buku itu ditulis menggunakan abjad Hebrew atau Arab. Walau begitu ia nekat membelinya dan mengagumi gambar yang ada. Buku itu ditulis oleh Ibn al-Nafis, seorang  dokter pertama di muka bumi yang mampu merumuskan dasar-dasar sirkulasi melalui  temuannya tentang sirkulasi dalam paru-paru, sirkulasi jantung, dan kapiler.

Untuk jasanya beliau  dijuluki  ‘Bapak Fisiologi Sirkulasi’. Puncak prestasi beliau pada abad  ke-13 itu  telah mematahkan klaim Barat yang selama beberapa abad menyatakan bahwa Sir William Harvey dari Kent, Inggris yang hidup di abad ke-16 M, sebagai pencetus teori sirkulasi paru-paru. Sayangnya penulis tidak menguraikan mengenai beliau dalam buku ini.



Satu hal yang menarik perhatian saya, yaitu mengenai penemuan soft drink. Saya sempat mendapat tugas saat kuliah magister seputar soft drink. Tugasnya adalah mengupas mengenai soft drink   dan menyusun sebuah  strategi pemasaran. Andai saja saya sudah mempunyai buku ini, tentunya saya akan membuat strategi pemasaran dari sisi yang berbeda.

Soft drink  yang pertama dibuat adalah Sherbet atau sorbet. Komposisinya adalah buah yang ditumbuk, rempah tanaman herbal, dan bunga-bungaan. Penemuan ini jauh sebelum coca-cola yang sekarang identik dengan soft drink ditemukan. Demikian juga dengan yogutt yang belakangan kian gencar dipromosikan sebagai minuman kesehatan.

Secara keseluruhan buku ini membuka mata dan hati kita akan kiprah para cendikiawan muslim pada abad pertengahan. Buku ini memberi penjelasan mengenai banyak hal yang selama ini belum terungkap. Upaya Diyan dan Rohman menyampaikan hal-hal yang selama ini kurang terungkap perlu dihargai. Hanya  saja saya merasakan dua hal yang kurang  nyaman saat membaca buku ini.

Pertama, sering kali diawal kalimat menggunakan kata "Tahukah Anda...."  Mungkin maksudnya ingin bertanya atau memberi tahu , tapi entah mengapa kok jadi membuat saya tidak nyaman. Rasanya seakan digurui  atau diberitahu dengan paksa. Kondisinya seakan   saat sekolah dulu, sang guru akan berdiri di depan kelas dan  mengeluarkan kata-kata sakti, "Anak-anak tahukah kalian...." Entah mengapa pihak penulis memilih kedua kata tersebut. Apakah tidak ada kata lain yang  lebih nyaman untuk dibaca tanpa berkesan menggurui atau mempertanyakan kadar pengetahuan seseorang?

Kedua, ada beberapa bagian yang seakan  tumpang tindih membuat rancu dan berkesan dipaksakan. Misalnya saja pada saat membahas buku-buku yang menginspirasi buku-buku bestseller seperti Da Vinci dan Robinson Crusoe (hal 170)  Lalu untuk apa membahas Breaking the al-Kindi's Code secara terpisah? Bukannya topik ini bisa dijadikan satu. memang uraiannya menjadi lebih panjang, tapi mengingat temanya bisa melebar mengapa tidak? Belum lagi  jika mengacu pada halaman 67, dimana disana diceritakan mengenai buku-buku yang bestseller pada abad pertengahan. Akan  lebih nyaman jika semua hal yang berurusan dengan buku dijadikan dalam satu topik saja sehingga informasi yang akan disampaikan tidak berkesan sepotong-potong dan mengulang.


Tengok juga perihal al Jazari: Penemu Jam Mekanis Model Awal serta Siapa Penemu Jam Mekanis? Kedua topik ini nyaris membuat bingung saya. Bukankah dari model awal dikembangkan menjadi lebih baik? Lalu mengapa hal ini tidak dijadikan dalam satu topik ditambah dengan Jam Gajah Karya al-Jazari yang justru diletakkan sesudah Siapa Penemu Jam Mekanis? Sepertinya saya akan lebih nyaman menyerap informasi seputar penemu jam mekanis jika berada alam satu topik yang menguraikan secara lengkap tanpa perlu dipisah menjadi beberapa topik dimana pengulangan informasi bisa terjadi

Kasus yang sama juga berlaku untuk Sejarah Angka 1,2,3...9  pada halaman 271. Bukankah di depan penulis sudah membahas mengenai asal usul angka 0. Lalu kenapa keduanya tidak dijadikan dalam satu topik saja dengan judul Sejarah Angka.  Atau topik Rumah Sakit pertama di Dunia Islam digabungkan dengan Rumah  Sakit  Islam di Eropa. Keduanya merupakan hal yang bsia dikisahkan secara runtun, tidak perlu dipisahkan sekian halaman dans ekian topik.


Secara keseluruhan, buku yang memuat tujuh bab utama ini layak dibaca. Jika ada yang beralasan tidak memiliki waktu luang, jangan khawatir, simak saja kotak hitam yang berisi inti dari topik yang sedang dijabarkan. Kotak tersebut sepertinya merupakan ciri dari Penerbit Diva, sebab sudah beberapa buku yang saya baca pasti menggunakan tata letak  seperti ini.

Diyan "Dion" Yulianto, salah satu tukang cerita memberikan buku ini sebagai hadiah untuk saya. Saat ini Diyan berprofesi sebagai editor, penerjemah, sekaligus menulis buku-buku Islam dan Bahasa Inggris. Dion bisa dihubungi melalui dianyulianto@yahoo.com. Lulusan Universitas Negeri Yogyakarta akan merayakan hari jadinya pada 02 Juli nanti. Belakangan Diyan  Yulianto aktif bersama beberapa peresensi muda berbakat seperti Abdul Kholiq, Noval Maliki  dan tentunya  M Iqbal Dawani di Komunitas Peresensi Yogyakarta.  Terima kasih Dion he he he rayuan melalui YM ternyata manjur juga. Semoga tidak kapok membuntelin saya lagi he he he he

M. Saifullah Rahman merupakan alumnus Sastra Arab FIB UGM. Bekerja di salah satu penerbitan besar Yogyakarta sebagai editor. Beliau bisa dihubungi melalui a_saif677@yahoo.com

Read more »

Ranger’s Apprentice #3 Daratan yang Terselubung Es

Judul                : Ranger’s Apprentice #3 Daratan yang Terselubung Es
Penulis              : John Flanagan
Penerjemah      : Septina Y.P
Penyunting        : Dumaria Pohan
Korektor          : Elviana Alianto
Tata Letak        : MAB
Cetakan           : I, April
Penerbit            : Matahati


Petualangan di Abad Pertengahan belum pernah diceritakan dengan begitu mendetail dan sangat seru seperti di Ranger’s Apprentice ini!


Petualangan Will, Evanlyn, Halt, dan Horace masih berlanjut dan semakin seru di buku ketiga seri Ranger’s Apprentice Daratan yang Terselubung Es. Dalam buku kedua, diceritakan Horace dan Halt berhasil mengalahkan Morgarant dan menghalau pasukannya. Namun, Will dan Evanlyn tertangkap dan ditawan oleh orang-orang Skandia untuk dijual sebagai budak di utara.
            Di buku ketiga yang penuh es ini, Will dan Evanlyn harus berjuang keras di lingkungan musuh, terutama Will yang dipaksa menjadi budak, tidak hanya secara fisik bahkan secara mental. Di ujung cerita, Will disiksa secara “pelan” menggunakan alang-alang penghangat yang hampir menghilangkan jati diri rangernya. Ketika segala sesuatunya tak mungkin lebih buruk lagi, ada seorang penolong tak terduga yang kelak membantu Will dan Evanlyn keluar dari Skandia.
Dalam seri ketiga ini, pembaca akan bisa melihat struktur sosial bangsa Skandia yang barbar dan suka melakukan penjarahan itu. Dikelilingi oleh alam yang beku dan ganas, bisa dimaklumi jika karakter mereka sangat keras dan cenderung kejam, walaupun perlakuan mereka pada Will sudah pasti akan membuat para pembaca sekalian senewen.
            Sementara Will dan Evanlyn berjuang di utara yang beku, Halt dengan ditemani Horace memulai perjalanan mereka ke utara lewat jalur darat untuk mencari Will. Petualangan dan pertempuran yang dilakoni ranger tua dan ksatria muda ini juga tidak kalah seru, berselang-seling dengan petualangan Will di utara sehingga menciptakan alur ganda yang membuat pembaca seolah tak bisa berkedip. Aneka peperangan melawan bandit, hantaman pedang, pelindung kepala dari logam yang penyok, hingga perang tanding mewarnai perjalanan Halt dan Horace.Di akhir cerita, Halt dan Horace juga berhasil mencapai kemenangan mereka sendiri dengan mengalahkan ksatria hitam yang ganas dan cerdik—tentu saja dengan trik dan strategi ala Flanagan yang begitu memukau. Saya sampai membayangkan kalau penulis adalah gabungan dari seorang ahli taktik modern dan sejarahwan abad pertengahan.
Sebagaimana buku pertama dan kedua, dalam seri ketiga ini pembaca kembali disuguhi dengan kepiawaian Flanagan dalam menguraikan detail-detail teknis-mekanis pendukung cerita yang sangat mengagumkan. Membaca buku ini, pembaca tidak hanya diajak untuk mengikuti petualangan Will, tapi juga belajar cara bermain pedang, menjaga agar tubuh tetap hangat, memegang dan melemparkan senjata, cara mengendalikan laju kapal yang tengah diamuk badai, bahkan struktur kastil model di abad pertengahan.
            Keunggulan dari karya Flanagan adalah karakternya yang dibangun dengan begitu lengkap dan tidak nanggung, lansekap Abad Pertengahan juga disusun begitu nyata, membuat pembaca benar-benar melihat langsung ketika Will belajar memanah. Membaca serial Ranger’s Apprentice, pembaca diajak menyelami pola pikir dan cara hidup para ksatria berbaju besi, pemanah ulung, bangsawan abad pertengahan, bahkan suku bar-bar. Ditambah dengan terjemahan serta suntingan khas Penerbit Matahati yang segar, ringan, dan runtut, pembaca dijamin betah membaca serial Ranger’s Apprentice lama-lama. Semoga seri selanjutnya, Oakleaf Bearers, segera diterbitkan oleh Penerbit Matahari sehingga kita bisa sama-sama mengikuti petualangan Will, si ranger muda.




Read more »

Minggu, 03 April 2011

Mini Shopaholic

Mini Shopaholic
Sophie Kinsella @2010
Siska Yuanita (Terj.)
GPU – Cet. II, Maret 2011
568 Hal.

Punya anak ternyata gak membuat Rebbeca Brandon (dahulu Bloomwood) jadi berubah lebih bijak dalam urusan shoping-shoping. Becky tetap ‘gemetar’ setiap melihat discount, baginya itu sebuah investasi, meskipun barang dibelinya bukan dalam ukuran untuk dirinya sendiri.

Minnie, si kecil berusia 2 tahun adalah anak yang ‘liar’ dan punya kemauan keras. Meskipun kewalahan mengantur Minnie, Becky tetap tidak terima kalau ada yang bilang anaknya manja. Becky kerap membelikan Minnie baju-baju keluaran desainer ternama, boneka-boneka terbaik. Bahkan Becky sudah ‘berinvestasi’ untuk hadiah ulang tahun Minnie ke 21 kelak. Dan Becky tentu saja sangat bangga, karena baju itu dibeli dengan discount yang besar. Minnie cenderung berbuat ‘kekacauan’ karena sifatnya yang keras itu. Tak hanya di dunia nyata, tapi juga di dunia maya.

London dilanda krisis moneter yang membuat orang harus mengencangkan ikat pinggang. Bisnis Luke juga agak kacau. Dan Becky butuh dana yang sangat besar untuk mewujudkan pesta ulang tahun kejutan untuk Luke. Tanpa kecuali, Becky juga ‘dituntut’ untuk berhemat. Tapi, hemat a la Becky, tentunya beda dengan hemat a la Luke.

Dan, bukan Becky kalau tidak terjerat masalah. Dan bukan Becky juga kalau dia gak bisa mendapatkan bantuan.

Entah kenapa, makin lama gue berasa Becky makin ‘lebay’, masa’ dia nyaris gak berubah dan gak dewasa. Jadi rada ngebosenin juga sih bacanya. Emang lucu, tapi koq gak ada sesuatu yang baru. Mungkin bakal ada sequel yang bercerita hebohnya Becky belanja bareng Minnie remaja, atau Becky di Hollywood, atau Becky menyambut cucu pertama. Tapi apa iya akan seheboh cerita-cerita sebelumnya? Gue jadi lebih suka membaca tulisan Sophie Kinsella di luar Shopaholic series ini.
Read more »

Jumat, 01 April 2011

The People of Sparks

Akhirnya Lina Mayfleet, Doon Harrow, dan 417 warga Ember tiba di permukaan bumi. Sinar matahari yang menyilaukan, hijaunya rerumputan dan pepohonan,maupun kicauan nyaring dari burung-burung menyambut kedatangan mereka. Semuanya terasa sangat asing. Tapi Inilah dunia baru  yang harus mereka jalani. Dunia dengan limpahan penuh cahaya seperti yang selama ini mereka harapkan.

Tapi,ternyata dunia baru itu tidak selamanya menawarkan kebahagiaan bagi mereka. Terutama buat Lina. Selama  di kota Ember dia sering bermimpi tentang sebuah kota yang indah, yang diharapkan akan ditemuinya di atas tanah barunya. Namun,Ternyata yang ditemuinya hanyalah tanah kosong yang luas berserta puing-puing dan rumah-rumah sederhana. Bahkan di tanah baru itu tidak terdapat listrik layaknya kota Ember. Apakah di atas sini tidak semaju masyarakat kota Ember?

Sparks adalah wilayah pemukiman terdekat yang dapat ditemukan oleh warga Ember. Meski enggan, penduduk Sparks  yang menyebut warga Ember manusia gua,terpaksa menerima mereka dengan berat hati.  Dengan keterbatasan hidup, penduduk Sparks yang hanya berjumlah 322 orang harus berbagi tempat tinggal dan juga persediaan makanan dengan penduduk Ember selama 6 bulan. Karena itu, perselisihan pun kerap terjadi di antara mereka. Penduduk Sparks merasa warga Ember sudah menghabiskan begitu banyak persediaan makanan mereka sehingga semakin lama persediaan makanan semakin sedikit. Demikian pula dengan warga Ember, mereka merasa penduduk Sparks terlalu pelit untuk berbagi makanan bagi mereka yang kelaparan dan berusaha untuk bertahan hidup.

Sebelum jangka waktu 6 bulan, warga Ember akhirnya dipindahkan dari rumah penduduk ke sebuah tempat tinggal kumuh. Disana, mereka diberikan beban tugas yang harus dikerjakan sebagai balasan dari makanan yang diberikan warga Sparks. Selama bulan-bulan itu jugalah, warga Ember nantinya diharapkan untuk dapat belajar bertahan hidup dan membangun pemukiman sendiri disaat musim dingin tiba. Tapi nyatanya, Warga Ember selalu mengalami kesulitan untuk  bekerja keras ditengah terik matahari dan  diperparah oleh makanan yang kian menipis. Hal itu menciptakan kegelisahan bagi warga Ember yang memandang bahwa warga Sparks berlaku tidak adil terhadap mereka.

Perselisihan pun  tidak dapat terelakkan. Dimulai dari  salah seorang warga Sparks menyulut api kebencian melalui tuduhan secara terang-terangan kepada warga Ember. Ditambah lagi, adanya Tick Hassler, salah seorang warga Ember, mecoba menghasut warga Ember sehingga memperkeruh hubungan kedua belah pihak. Di tengah pertikaian itu, Doon mengalami kegamangan dalam dirinya. Mengikuti rencana Tick lalu ikut berperang atau menghentikan semua rencana itu tapi diperbudak?

Sementara itu Lina masih berusaha mengejar mimpi-mimpinya. Dia masih merasa yakin, ada sebuah kota cahaya seperti dalam mimpi-mimpinya dulu. Karena itu, pada saat ada kesempatan, dia pergi diam-diam mengikuti dua orang pengelana dan akhirnya meninggalkan Sparks. Sayangnya, yang ia temui  ternyata jauh dari harapannya. Sepanjang jalan dia hanya melihat bekas-bekas kehancuran di mana-mana. Kota-kota mati, puing-puing bangunan, dan tanah-tanah luas tanpa batas.

Dimanakah kota cahaya itu? Bagaimana warga Ember bisa memulai kehidupan baru apabila harus meninggalkan Sparks? Tak ada tempat yang pantas untuk ditinggali untuk memulai hidup baru. Pikiran Lina berkecamuk sendiri. Apakah ia salah sudah mengajak serta seluruh warga Ember meninggalkan kota gelap mereka?

Sekuel kedua dari tetralogi ini masih berlangsung dengan alur cepat. Rasa penasaran terhadap apa yang akan warga Ember hadapi di permukaan bumi terasa sangat mengasyikan. Persengketaan antara Sparks dan Ember pun lumayan bisa dinikmati, meski konfliknya bisa dibilang dalam kategori yang ringan-ringan saja.

Jeanne DuPrau  memang meramu kisah ini pasca kehancuran dunia. Perang sudah meluluhlantakan seluruh kehidupan di permukaan bumi. Manusia-manusia yang  tersisa harus merangkak dan bangkit untuk bertahan hidup. Tak ada keindahan dunia seperti yang saat ini kita rasakan. Semuanya sudah musnah. Begitulah akibat Perang. Dan suguhan cerita dari karya Jeanne DuPrau ini bisa saja benar-benar terjadi jika adanya perang di kemudian hari. Oleh karena itu, berharaplah agar kedamaian dapat terus tercipta dan  langkah awal yang paling sederhana untuk memulai perdamaian itu adalah : mendamaikan dirimu sendiri.


" Daripada membalas pihak lain sama buruknya dengan yang mereka lakukan kepadamu--atau malah lebih buruk--kau melakukan kebaikan. Atau setidaknya kau menahan diri agar tidak melakukan hal yang buruk."
" Kupikir begitu. Satu keburukan setelah keburukan yang lain membawa pada kuburkan yang lebih besar. Jadi, kau lakukanlah kebaikan, dan itu akan mengubah keadaan."
(Hal.311)~Lina

=================

Judul : The People of Sparks
Penulis :Jeanne DuPrau
Penerjemah: Sujatrini Liza
Penerbit :Mizan Fantasy
Terbit : @2009
ISBN :978-979-433-564-2
Tebal :370 hal

=================

Baca juga :
1. City of Ember #1
2. The People of Sparks #2
Read more »

Kicau Kacau: Curahan Hati Penulis Galau

Kicau Kacau: Curahan Hati Penulis Galau
Indra Herlambang @2011
GPU – Cet. III, Maret 2011
344 Hal.

Indra Herlambang, nama yang selama ini rasanya lebih gue ‘kenal’ sebagai presenter acara infotainment atau MC, dengan gayanya yang jail dan lucu. Tapi, ternyata, bakatnya tak sekedar cuap-cuap, ia ternyata bisa juga menulis dari yang ringan sampai yang berat , seperti skenario yang memberinya penghargaan piala Citra.

Cover buku yang kuning cerah, seperti ‘memanggil’ untuk dibaca, buku ini ternyata memang menarik. Sekumpulan tulisan Indra di berbagai media cetak, berbagai tema, berbagai ide dan latar belakang. Ada aja yang bisa dijadikan tulisan menarik, misalnya obrolan dengan supir taksi – Indra malah membuat beberapa kategori supir taksi, atau pengalaman ketika mewawancara Miyabi di Jepang, meliput kedatangan Obama yang malah membuatnya masuk angin.

Indra termasuk kategori ‘family man’. Berulang kali terungkap di dalam tulisannya, betapa ia sangat menghormati dan menyayangi kedua orang tuanya. Akrab dengan kakak, adik dan juga para keponakannnya.

Sebuah buku yang menurut gue penuh ‘sentuhan pribadi’, seperti mendengar teman bercerita atau seorang sahabat yang lagi curhat.

Banyak hal sederhana justru jadi sangat menarik melalui tulisan Indra Herlambang. Mengajak kita untuk lebih melihat sekitar kita, mencari hal sederhana untuk bisa dijadikan cerita-cerita unik dan menarik.
Read more »

Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken

Judul                : Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken
Pengarang        : Jostein Gaarder dan Klaus Hagerup
Penerjemah      : Ridwana Saleh
Penyunting        : Andityas Prabantoro
Proofreader      : Emi Kusmiari
Cetakan           : I, Maret 2011
Tebal                : 282 halaman
Penerbit            : Mizan

Peringatan bagi Anda yang memutuskan untuk membaca buku ini:

            Anda termasuk ke dalam sedikit orang terpilih yang bisa memasuki aula suci ini. Di sini akan Anda temukan semua buku yang ditulis sepanjang sejarah umat manusia. Saat ini kami mengisi rak dengan buku-buku yang masih ditulis. HATI-HATI!

Dua saudara sepupu, Berit dan Nils mengalami petualangan istimewa mencari sebuah perpustakaan ajaib yang ada di bawah gunung.  Semua dimulai ketika Berit  memungut sepucuk surat yang terjatuh dari tas wanita misterius bernama Bibbi  Bokken, yang kemudian berlanjut menjadi sebuah petualangan korespondensi penuh intrik-intrik ala Empat Sekawan yang seru.
Bersama dengan setiap kiriman buku-surat, Nils dan Beit pun menemukan semakin banyak fakta misterius tentang Bibbi Bokken. Dari sini, kita bisa belajar banyak tentang sistem klasifikasi buku ala Dewey yang sering digunakan untuk menandai buku-buku di perpustakaan itu, misalnya saja, kode 010 untuk biografi dan 080 untuk koleksi umum, nilai filsafat dalam Winnie The Pooh hingga sejarah mesin cetak Gutenberg.
Ketika keduanya akhirnya berhasil menemukan perpustakaan dengan rak buku sepanjang 40 km, maka dimulailah petualangan kedua, yakni tentang perpustakaan berisi buku yang akan ditulis dan diterbitkan tahun depan. Bingung kan? Cari jawabannya dalam buku ini. Namun, sebelum halaman terakhir selesai ditulis, Nils dan Berit harus menghadapi satu lagi sosok penjahat yang berupaya menghalangi jalan mereka. bagaimanapun, sebuah petualangan akan terasa kurang greget tanpa kehadiran tokoh antagonis.

Hal paling mencolok dari buku ajaib ini adalah isinya yang hanya terdiri atas dua bagian. Bagian pertama, lebih seperti korespondensi antara Berit dan Nils terkait dengan sepak terjang Bibbi Bokken yang misterius menggunakan buku surat. Inilah kreativitas para penulis yang tampak pada penggunaan buku surat, yakni semacam buku catatan yang dikirim bolak-balik sehingga pengirim dan penerima bisa saling berbalasan melalui lembaran-lembaran buku itu. Sungguh metode yang kreatif dan jarang terpikirkan sebelumnya. Bukankah dengan jalan ini, file catatan bisa tetap tersimpan dengan rapi dan runtut karena terbundel dalam satu buku.
 Sementara, bagian kedua lebih menyerupai bentuk novel yang sebenarnya, dengan aksi-reaksi-puncak krisis-resolusi-catatan sejarah-intrik-ketegangan yang berbaur dan saling susul-menyusul. Seperti di Dunia Sophie, Gaarner mengajak kita untuk tersesat sejenak dalam dunia yang penuh imaji, penjelasan, sedikit filsafat, dan sentuhan petualangan.

Sungguh tak dapat dibayangkan, fantastis dan ajaib bahwa ke-26 huruf dalam alphabet kita dapat  dipadukan sedemikian rupa sehingga memenuhi rak raksasa penuh buku-buku dan membawa kita ke sebuah dunia yang tak pernah berujung.
Membaca Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken, saya teringat kembali pada kondisi ribuan perpustakaan di Indonesia yang sepi, bahkan beberapa diantaranya terancam ditutup karena minim pengunjung dan kurangnya dana untuk perawatan. Ironis sekali mengingat Bibbi Bokken yang seorang wanita tua saja berani membangun perpustakaan raksasa demi melindungi buku-buku sepanjang zaman. Dia bahkan sampai mengali gunung di Norwegia. Lalu, kapan kita akan mulai mencintai buku layaknya Bibbi Bokken yang mengabdikan hidupnya demi melindungi buku? Atau, paling tidak seperti Nils dan Berit yang langsung melambung gembira saat melihat buku? Bacalah buku, maka saat itulah buku akan mencintaimu! Sebagaimana kata Bibbi:
“Siapa yang bisa menemukan buku yang tepat, akan berada di tengah teman terbaik. Di sana kita akan berbaur dengan karakter yang paling pintar, paling intelek, dan paling luhur; di sana kebanggaan serta keluhuran manusia bersemayam. (hlm 226). Sungguh, Perpustakaan Bibbi Bokken layak menjadi bacaan wajib bagi para librarian dan juga pecinta buku!

              
Read more »

Presiden Prawiranegara

No. 255
Judul : Presiden Prawiranegara
Penulis : Akmal Nasery Basral
Penerbit : Mizan Pustaka
Cetakan : I, Maret 2011
Tebal : 370 hlm

Setiap kali novel Presiden Prawiranegara ini saya letakkan di meja kerja umumnya teman-teman kantor yang melihatnya akan diam sejenak lalu bertanya. “Gak salah nih, emang kita pernah memiliki Presiden bernama Syafrudin Prawiranegara?, bukankah presiden kita hanya Soekarno, Soeharto, BJ Habibie dst..”

Tidak heran kalau setiap yang membaca judul novel ini umumnya akan memiliki pertanyaan yang serupa. Sejarah Indonesia memang mencatat kalau Syafrudin Prawiranegara pernah menjadi Presiden/Ketua Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) selama 207 hari ( 19 Desember 1948 – 13 Juli 1949). Namun karena ‘dosa’ Syafrudin dimana ia terlibat dalam PRRI dan juga merupakan salah satu penandatangan petisi 50 yang dimusuhi oleh rezim Soeharto maka nama dan jasa Syafruddin di seolah dikerdilkan sehingga terlupakan dalam ingatan masyarakat Indonesia.

Terdorong oleh kenyataan ini Akmal N Basral yang sukses menovelkan kehidupan KH Ahmad Dahlan “Sang Pencerah”, kini mencoba mengangkat kisah perjuangan Syafruddin Prawiranegara sebagai Presiden PDRI dalam bentuk novel sejarah dari sudut pandang tokoh fiktif Kamil Koto, mantan pencopet yang menjadi salah seorang pengikut Syafrudin yang bertugas sebagai juru pijat.

Di novel ini peristiwa berdirinya PDRI terdeskirpsian dengan detail. Dimulai dari kedatangan Bung Hatta pada November 1948 ke rumah Syafrudin Prawiranegara di Jogya yang menugaskan Syafruddin untuk berangkat ke Bukittinggi sesuai dengan kapasitasnya selaku Menteri Kemakmuran. Saat itu hanya Yogya, Bukittinggi, dan Aceh yang bukan merupakan bagian negara federal bentukan Van Mook. Jadi tiga tempat itulah yang merupakan benteng pertahanan Republik.

Ketika Syafruddin berada di Bukittingi, tepatnya pada tanggal 19 Desember 1948 Belanda menyerang ibu kota Yogyakarta. Peristiwa itu dikenal dengan Agresi Militer II. Khawatir Bung Karno dan Bung Hatta tertangkap, pemerintah segera membuat rencana untuk membentuk Pemerintahan Darurat di Sumatera yang akan dipimpin oleh Mr. Syafruddin Prawiranegara.

Dua buah kawat yang memberikan mandat kepada Syafruddin untuk membentuk pemerintahan darurat segera dibuat untuk dikirimkan, satu ditujukan kepada Mr. Syafrudin, dan satu lagi untuk Drs, Sudarsono selaku dubes RI di India dan Mr Alex Maramis selaku menteri Keuangan yang saat itu sedang bertugas di New Delhi. Sayangnya kedua kawat tersebut tak sempat terkirimkan karena Kantor Pos & telegram dan RRI stasiun Yoggya telah diduduki Belanda.

Apa yang dikhawatirkan terjadi, Bung Karno dan Bung Hatta ditawan Belanda sehingga pemerintahan lumpuh. Syafrudin di Bukittinggi melakukan tindakan cepat, karena rencana pembentukan Pemerintahan Darurat pernah dibicarakan di sidang kabinet, walau belum mendapat mandat dari Yogya ia beserta para pimpinan sipil dan militer yang berada di Bukitinggi segera membentuk Pemerintahan Darurat Republik Indonesia yang diketuai oleh dirinya.

Karena Bukittinggi terancam dikuasai oleh Belanda, maka PDRI sepakat untuk membumihanguskan kota itu sedangkan Syafruddin dan seluruh pimpinan PDRI mengungsi ke sebuah tempat terpencil di tengah rimba Sumatera. untuk menjalankan pemerintahan dengan melakukan koordinasi dengan daerah-derah lain lewat Radio AURI .

Sebagai sebuah novel sejarah, dibuku ini kita akan menemukan banyak sekali fakta-fakta sejarah beserta tokoh-tokoh sejarah nasional antara lain Bung Karno, Bung Hatta, Jenderal Sudirman, Hamengkubuwono IX, dan sebagainya. Karena ini adalah sebuah novel maka tentunya terdapat dramatisasi peristiwa-peristiwa sejarah yang membuat semua itu menjadi begitu hidup selayaknya kita membaca kisah-kisah fiktif murni.

Dengan dramatisasi yang baik, novel ini mendeskripsikan dengan menarik bagaimana tegangnya situasi di Yogya saat Belanda melakukan agresi militernya dan bagaimana situasi kota Bukittinggi sebelum dan setelah dibumihanguskan oleh tentara republik. Selain itu terungkap pula bagaimana suka duka perjalanan para petinggi PDRI ketika mengungsi menembus ke hutan belantara untuk menjalankan roda pemerintahan di sebuah kota kecil di tengah rimba Sumatera.

Sikap para tokoh-tokoh kemerdekaan ketika negara dalam keadaan terancam juga terceritakan dengan baik seperti bagaimana sikap Jenderal Sudriman yang walau dalam keadaan sakit tapi tetap memiliki semangat dalam membela kehormatan presiden Sukarno beserta negeri yang dicintainya. Atau bagaimana Syafrudin menolak sebutan Presiden ketika PDRI telah terbentuk, dengan kerendahan hatinya ia lebih suka dipanggil ketua PDRI karena baginya persatuan dan kesatuan negara lebih diutamakan dibanding sekedar gelar yang melekat pada dirinya.

Yang tak kalah menarik di novel ini adalah terungkapnya adu mulut antara Bung Karno dan Syahrir saat mereka berada dalam pengasingan di Parapat dimana dengan emosi Syahrir mengatakan "Dasar Goblok!"Dasar Pandir!" kepada Bung Karno hanya karena perbedaan pendapat.

Di novel ini kita juga akan melihat sosok Syafruddin dengan lebih manusiawi. Di novel ini akan terungkap bagaimana kehidupan Syafrudin yang sederhana, walau ia seorang menteri namun ia tak memperkaya dirinya bahkan ia masih harus berjuang untuk menghidupi kebutuhan rumah tangganya sampai-sampai istrinya harus berjualan sukun goreng ketika Syafruddin ditugaskan ke Sumatera.

Lewat tuturannya pada Kamil Koto kita juga akan membaca bagaimana sesungguhnya kehidupan masa kecil Syafruddin yang turut membentuk dirinya menjadi seperti sekarang ini. Di bab terakhir novel ini disinggung juga aktifitas Syafruddin di masa tuanya sebagai seorang pendakwah. Namun di masa tuanya ini ia termasuk tokoh yang dicurigai oleh pemerintah Orde Baru. Kotbahnya dihari Raya Idul Fitri dibatalkan karena laksusda menilai isi kotbahnya itu 'menggelisahkan masyarakat' . Di bagian ini juga dikutip berita dari majalah Tempo di tahun 1980 yang menurunkan berita digantinya Syafruddin selaku khatib di Pasar Rumput Jakarta lengkap dengan alasannya.

Walau secara umum novel ini dapat menggambarkan peran Syafuddin sebagai tokoh nasional yang terlupakan namun ada sebuah peristiwa yang menurut saya sebenarnya bisa digali lebih dalam lagi yaitu saat penyerahan kedaulatan dari PDRI ke pemerintahan RI yang dipimpin Sukarno Hatta.

Di novel ini peristiwa tersebut hanya diceritakan selewat saja. Mungkin akan lebih menarik jika penulis memasukkan bagian ini dengan lebih detail sehingga pembaca bisa membayangkan kira-kira seperti apa proses penyerahan kedaulatan ini dan bagaimana suasana pertemuan Syafruddin dengan Sukarno dan Hatta karena seperti yang terungkap dalam novel ini ada beberapa keputusan Sukarno-Hatta yang sebenarnya tidak disetujui oleh Syafruddin dan petinggi PDRI lainnya.

Terlepas dari hal diatas saya pribadi menilai kehadiran novel ini patut diapresiasi setinggi-tingginya karena mencoba mengangkat kembali nama Syafruddin Prawiranegara yang kini semakin terlupakan. Kolumnis, penulis dan aktivis politik Fadli Zon saat peluncuran novel ini beberapa waktu yang lalu bahwa peran Syafruddin Prawiranegara semasa menjadi Ketua PDRI sangat penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan meski tidak banyak yang mengingatnya. Dengan hadirnya novel ini maka novel ini seperti memvisualkan kembali babak sejarah bangsa yang terlupakan.

Tidak itu saja, karena novel ini mengandung banyak sekali fakta sejarah maka dengan membaca novel ini pembaca akan terbuka wawasannya mengenai apa yang terjadi sesungguhnya di masa-masa agresi militer II Belanda dan sejarah berdirinya PDRI . Bagi mereka yang malas membaca buku-buku teks sejarah maka novel ini bisa dijadikan alternatif terbaik untuk mengenal sejarah bangsanya melalui bacaan yang tentu saja lebih menarik dibanding buku-buku teks sejarah yang umumnya kaku dan miskin deskripsi peristiwa.

Akhir kata semoga melalui kehadiran novel ini nama Syafrudin Prawiranegara bisa kembali dikenang dan disejajarkan kembali perannya sebagai bapak bangsa yang pernah melanjutkan kemudi kapal besar Indonesia yang sedang oleng dan nyaris karam. Sebuah perjuangan yang luar biasa beresiko dari seorang yang sederhana dan rendah hati dalam memastikan keberlangsungan Indonesia sebagai bangsa yang bedaulat di atas wilayahnya sendiri.

@htanzil
Read more »