Minggu, 01 Mei 2011

A Golden Web

Judul                : A Golden Web: Kisah Ahli Anatomi Perempuan Pertama di Dunia 
Penulis             : Barbara Quick
Penerjemah      : Maria M. Lubis
Penyunting        : Ida Wajdi
Pewajah Isi       : Hadi Mahfudin
ISBN               : 978-979-024-472-6
Ukuran             : 13 x 20,5 cm
Tebal                : 272 Halaman
Harga               : Rp 40.000
Cover               : Soft Cover
Penerbit            : Atria
Cetakan           : I, Maret 2011



            Di sebuah gereja tua di kota Bologna, Italia, konon tersimpan sebuah guci berisi abu yang merupakan sisa-sisa jasad seorang gadis muda luar biasa. Dikatakan, ia adalah seorang perempuan muda dari Persiceto, ahli dalam demonstrasi anatomi dan murid terbaik sang dokter yang paling terkenal, Mondino de’Liuzzi. Dia meninggal pada usia 19 tahun, pada 26 Maret 1326 M, akibat kerja kerasnya demi membuktikan salah satu temuan paling revolusioner dalm sejarah ilmu bedah dunia. Dialah Alessandra Gilliani, ahli anatomi perempuan pertama di dunia. Dialah yang menyanggah pendapat Aristoteles bahwa jantung terdiri dari 3 bilik, padahal ada 4 bilik (tepatnya 2 serambi dan 2 bilik).

            Membayangkan adanya seorang wanita menjadi dokter bedah di Eropa Abad Pertengahan  berarti dia siap dipakar di tiang pancang sebagai penyihir. Khalayak akan luar biasa terguncang dan sistem-sistem penopang masyarakat bisa goyah. Dengan begiru ketatnya kontrol Gereja dan monarkhi kerajaan yang didominasi oleh kaum pria, kaum wanita di Eropa kala itu ibarat hanya dilahirkan untuk lahir, bermain, dan menikah. Sekolah dan buku-buku seolah-olah hanyalah hak kaum pria. Begitu hebat dan kuatnya hal ini ditekankan sehingga seorang gadis muda luar biasa cerdas seperti Alessandra Gilliani pun harus berdandan seperti pria demi memenuhi takdirnya dalam sejarah penemuan dunia.

            Dikisahkan, Alessandra Gilliani adalah seorang gadis cerdas anak dari seorang pemilik percetakan buku di Italia lama. Ia menemukan bakatnya sebagai seorang pelajar sejati dengan melahap seluruh buku-buku yang ada diperpustakaan ayahnya. Bakatnya semakin terfokus ke kedokteran ketika ia berhasil menolong salah satu gurunya yang hampir tersedak hingga tewas. Dengan santainya, dia menyuruh saudara laki-lakinya untuk menginjak dengan keras bagian tertentu di sebelah atas perut gurunya, tepat di titik yang memungkinkan untuk mengeluarkan makanan yang menyumbat jalan napasnya, sebelum kemudian dia merogoh sendiri mulut si guru untuk mengeluarkan makanan yang mengancam jiwa itu—tanpa rasa jijik. Saudara-saudaranya mungkin heran dan merasa Alessandra mengerjakan sihir, tapi Alessandra Gilliani tahu bahwa ia melakukannya secara ilmiah.

            Mendekati usia 15 tahun, Alessandra Gilliani harus menikah sebagaimana kebiasaan gadis-gadis muda di zaman itu. Ia pun memberontak karena upaya pencarian ilmunya belum selesai. Dengan bekerja sama dengan Nicco—kakak laki-lakinya, serta bantuan tak terduga dari Surga, Alessandra nekat kabur ke Bologna, tempat berdirinya universitas tertua di Eropa. Tiga tahun pembelajaran dilalui Alessandra dengan begitu ketat dan penus was-was. Ia harus menyamar sebagai remaja pria, terpaksa membebat ketat miliknya yang paling utama, agar pihak universitas dan teman-temannya tidak mengetahui bahwa ia adalah seorang perempuan. Pembaca akan merasakan sendiri bagaimana serunya petualangan Alessandra demi menjaga kerahasiaannya ini, kadang mengharukan, menyedihkan, tapi sesekali seru dan lucu.

             Sungguh, begitu sulitnya jalan yang harus ditempuh Alessandra hanya untuk belajar. Begitu kerasnya kaum pria pada kaum wanita kala itu. Namun, setiap kerja keras akan mendapatkan imbalan. Alessandra Gilliani berhasil membuktikan dirinya sebagai mahasiswa (sebenarnya mahasiswi) paling cerdas dan brilian di kota Bologna. Ia bahkan juga menemukan cinta sejatinya, yang ternyata memang jodohnya. Buku ini diakhiri dengan demonstrasi anatomi menakjubkan yang akan membuat dokter bedah kenamaan Abad Pertengahan pun melongo.

Membaca A Golden Web, kita serasa dibawa ke Abad Pertengahan dari mata seorang perempuan muda. Dengan sesekali diselingi bumbu-bumbu percintaan khas anak muda, novel ini berupaya mengangkat sosok yang selama ini mungkin dilupakan oleh sejarah dunia. Bahwa mungkin ada seorang perempuan brilian di antara manusia-manusia era pra-Renaisance yang didominasi cowok-cowok. Melalui Alessandra, penulis mengingatkan kembali tentang peran Ibn al-Nafis, seorang cendekiawan yang hebat dalam bidang hukum, kedokteran, filsafat di Damaskus sekitar tahun 1200-an. Sebelum tahun 1924, dunia masih menanggap Michael Servertus sebagai penemu dari sistem sirkulasi darah dari paru-paru ke jantung manusia pada abad ke-16, padahal Alessandra Gilliani (yang hidup sekitar tahun 1400-an) sudah membuktikan hal ini berdasarkan buku karya Ibn al-Nafis yang telah menemukan pertukaran darah bersih dan darah kotor di paru-paru manusia sejak tahun 1288. Alessandra Gilliani mungkin tokoh fiksi, atau mungkin juga tokoh yang memang benar2 ada dalam sejarah, hal ini masih diperdebatkan. Namun, Ibn al-Nafis adalah tokoh nyata yang benar-benar menginsiprasi Alessandra. Saya tutup resensi ini dengan kebrilianan Alessandra saat mendemonstrasikan temuan anatomisnya di depan khalayak:

           “Saksikanlah, keindahan ciptaan Tuhan,” kata Alessandra Gilliani. Walaupun berpakaian seperti Sandro (nama seorang pria), Tuhan dan beberapa orang tahu siapa dia sebenarnya: seorang putri Hawa. Seorang perempuan. Dan seorang cendekiawan. Saudari Ibn al-Nafis, Anak perempuan Mondino, Keturunan Galen, Aristoteles, dan Avicenna (Ibnu Sina). (hlm. 255).

Read more »

Law of Magic

Detail Buku:



Judul               : The Laws of Magic #1: Blaze of Glory
Penulis            : Michael Pryor
Penerjemah    : Nina Setyowati
Penyunting      : Melody Violoine
Pemeriksa Aksara : Helena Theresia
ISBN                : 978-979-024-473-3
Tebal               : 554 Halaman
Harga               : Rp 79.900
Penerbit           : Ufuk
Cetakan           : I, Januari 2011


              Di masa Aubrey William, sihir adalah penjabaran dari hukum-hukum Fisika yang diikat oleh mantra-mantra yang sesuai dengan parameter yang telah ditentukan sehingga efek dan batasnya dapat dikendalikan dan diarahkan. Rumitmemang, namun itulah konsekuensi dari diterimanya sihir sebagai sesuatu yang dapat berdamai dengan ilmu pengetahuan, setelah penggunaannya yang kejam dan hitam di abad pertengahan. Inilah sihir versi termutakhir yang ditawarkan dalam novel seri The Law of Magic; Blaze of Glory karya Michael Pyor ini.

              Aubrey William adalah seorang siswa berbakat dalam sihir di Sekolah Stonelea. Yang saking berbakatnya, dia nekat melakukan eksperimen sihir maut demi menjelajahi sisi-sisi misterius dari sihir yang belum pernah diungkap sebelumnya. Sebuah tindakan yang berani, namun juga sembrono, karena kesalahan kecil. Entah dalam pelafalan suku kata mantra atau garis pentagramnya yang sedikit bercela, Aubrey hampir saja ditarik ke dunia kematian. Sejak itu, jiwanya labil dan ketika fisiknya lemah, tarikan dan sentakkan maut selalu berupaya merengut jiwa Aubrey dari tubuhnya yang lemah.

                Kondisi labil inilah yang mamacu Aubrey itu menimba ilmu sihir dan melakukan beragam eksperimen mantra demi menemukan sihir ikatan yang lebih kuat untuk tetap menyatukan jiwa dan raganya. Seakan keadaan belum bertambah buruk, muncul sesosok golem atau monster buatan dari tanah liat yang hendak membunuh Putra Mahkota Kerajaan Albion, yang juga sepupu Aubrey. Dengan bantuan George, sahabat terbaik  Aubrey, kedua pemuda itu berhasil menemukan sekaligus menjatuhkan golem hitam tersebut, tentunya dengan menggunakan kecerdasan Aubrey dalam memilih mantra dan menetapkan parameter-parameter yang sesuai.

              Setelah itu, Aubrey dan George masih harus terlibat dalam berbagai intrik politik serta pembunuhan seorang ahli sihir terkenal dari kerajaan, yang akhirnya menuntun mereka pada jalinan misteri yang jauh lebih pekat dan lebih kuat. Dari sini, yakni bagian tengah dari novel tebal ini, cerita mulai bergulir dengan cepat, melibatkan percakapan-percakapan diplomatis, intrik-intrik politik, penyamaran sebagai gembel, dan penggunaan eksperimen-eksperimen sihir asli yang belum pernah diceritakan dalam buku-buku lainnya. Aubrey dan George, serta teman baru mereka Caroline, terpaksa mengetahui kebenaran pahit dari sosok utama yang menggerakkan berbagai intrik dan kejahatan yang selama ini membayangi negara pulau Albion.

              Membaca Law of Magic; Anda akan disuguhi dengan wujud sihir yang benar-benar baru. Penulis tampaknya ingin memunculkan tipe sihir yang berbeda dari sihir tongkat ala Harry Potterataupun sihir kuno ala dewa-dewi. Dalam hal inilah novel ini pantas diapresiasi. Prior begitu lihai dalam menjabarkan sihir melalui hukum-hukum yang mirip dengan hukum Fisika. Perhatikan bagaimana Aubrey menjatuhkan si Golem hitam: Ia menggabungkan terapan Hukum Animasi dan Hukum Simpati. Karena yang mirip menjadi yang mirip maka ketika ia menembakkan senapan yang berisi tanah liat, maka gumpalan bola tanah liat juga akan mengikuti peluru yang ditembakkan ke golem yang juga dibuat dari tanah liat. Menarik, bukan?

             Hal lain paling menonjol dari buku ini adalah pembelajaran politik khas Inggris abad ke-19. Nuansa politik kerajaan begitu menguasai buku ini sehingga pembaca seperti dibuai pembelajaran dalam adat bersopan santun, kehidupan seorang politisi terkenal, dengan setting masa dan tempat yang tidak tanggung-tanggung. Halaman demi halamannya laksana buku sejarah yang terjabarkan dengan begitu runtut. Satu kata untuk novel ini, Baru!

Read more »

Centhini 3 ; Malam Ketika Hujan

Judul buku        : Centhini 3 ; Malam Ketika Hujan
Penulis              : Gangsar R. Hayuaji
Editor               : Abdul Azis Sukarno
Tata Sampul     : Gobag Sodor
Tata Isi : S. Lestari
Pracetak           : Antini, Dwi, Yanto
Cetakan           : Pertama, April 2011
Penerbit            : DIVA Press
Harga               : Rp 55.000,00


          Sejak diterjemahkan ke bahas Prancis oleh Elizabeth Inandiak, kitab kraton klasik Centhini mulai dilirik kembali oleh dunia pustaka Indonesia. Bukan hanya karena kedudukannya sebagai salah satu buku babon kebudayaan Jawa paling lengkap, tapi juga karena kekayaan kandungan ilmu pengetahuan, sejarah, aspek-aspek filsafati, dan pernak-pernik seksualitas yang terserak di dalamnya, yang menjadikan karya agung dari Jawa ini dituliskan kembali dalam beragam versi. Adalah Gangsar R.Hayuaji, seorang sastrawan berbakat yang kemudian berupaya untuk menuliskan kembali kitab klasik ini dalam bentuk novel yang lebih peka zaman dan lebih mudah diterima, dengan wajah baru. Bukan wajah lama yang sukar dikenali oleh pewarisnya sendiri. (hlm. 10).

            Centhini 3; Malam Ketika Hujan merupakan lanjutan dari dua versi Centhini versi sebelumnya, yang masing-masing dapat terbaca sebagai satu buku utuh, walaupun akan lebih nikmat jika pembacaannya bisa lengkap dan berurut. Novel ini menyoroti tentang perjalanan panjang Cebolang dalam upaya mencari makna dan kesejatian kehidupan, mulai dari Desa Sokayasa dan berujung di Goa Sigala. Dari lembar-lembar pertama, pembaca akan membuktikan sendiri bahwa Centhini 3 memaparkan seksualitas orang Jawa hampir secara blak-blakan. Perhatikan kutipan memprovokasi yang menghiasi sampul depan buku ini:

            “Daratan sudah tampak  di depan mata, Sayang. Bukakan lebar-lebar lubang bumimu! Akan aku tuang air Cupu Manik Astagina dari pusar langit. Sebagaimana hujan yang tumpah tiba-tiba di luar.(dikutip dari hlm. 18)

            Dari sepintas membaca saja, pembaca dewasa akan langsung paham dengan ihwal perlambang yang menggambarkan proses saresmi (hubungan seksual) itu. Tidak hanya satu, namun sepanjang buku ini aspek-aspek pelampiasan syahwati dua orang anak manusia yang berbeda jenis kelamin di atas ranjang berahi dipaparkan dengan begitu bersemangat. Dalam serat Centhini yang asli, Cebolang sendiri merupakan pemuda bengal berparas Raden Samba yang menjalani gaya hidup ala Don Juan. Dengan parasnya yang tampan dan nafsu berahi yang sebesar “senjatanya”, mudah saja baginya untuk merayu para gadis belia hingga janda-janda sintal sepanjang perjalanan. Beragam kegiatan umbar seksualitas ini dipamerkan secara blak-blakan, bersebaran dan berselipan dalam halaman demi halaman buku ini.

            “Tanpa berpikir panjang, Cebolang mendaratkan bibirnya ke bibir sinden itu. Menjelajahkan jari-jemarinya yang bagaikan pengembara-pengembara kecil. Mendaki bukit, menyusuri lembah, dan keluar-masuk pintu gua yang di kiri-kanannya dipenuhi rerumput hitam.” (hlm 116).

            Masih banyak lagi kutipan dan adegan saresmi antara Cebolang dengan para wanita yang ditemui dan jatuh ke pelukannya. Namun, hal ini tidak menjadikan Centhini 3 sebagai buku cerita porno rendahan, karena di sela-sela cerita juga dilampirkan beragam pengetahuan dan nasihat agama yang didapatkan oleh Cebolang dari para kyai dan kaum pinisepuh (orang yang dituakan dan dihormati) di sepanjang perjalanannya. Ada sedikit ironi saat membaca buku ini, di mana Cebolang ibarat seorang ksatria rupawan yang gemar berguru dan mencari hakikat kehidupan para orang-orang suci serta ulama, namun di lembar-lembar selanjutnya ia tiba-tiba berubah menjadi tidak lebih dari pria buaya darat yang suka melampiaskan hasrat hewaninya pada setiap wanita yang ditemuinya—walaupun pada akhirnya, Cebolang bertobat dan menikah. Ibarat secarik kertas putih suci bersanding dengan selampir kain penuh jelaga menghitam nan kotor. Begitulah manusia, karena pada akhirnya masing-masing harus menentukan pilihannya.

            Membawa nama besar kitab Centhini, buku ini tidak sekadar menghadirkan “jojohan alu ke lesung”, pembaca juga akan mendapatkan bonus lain yang lebih luar biasa. Sebagai babon/ensiklopedia kebudayaan Jawa, buku ini juga menjelaskan ihkwal-ikhwal lain terkait pengetahuan kuno yang telah dimiliki orang Jawa. Melalui pembelajaran Cebolang, pembaca akan diajak belajar membatik (hlm. 124 ), macam dan jenis keris (hlm. 121), membuat jamu beras kencur (hlm. 37), macam-macam rumah orang Jawa dan bagian-bagiannya, serta belajar menilai ciri bagian tubuh wanita  dan kenikmatannya. Sepanjang buku ini juga diselipkan beragam cerita adi luhung yang akan membawa pembaca kembali ke Jawa di masa Mataram, di antaranya “Kisah Kembang Wijayakusuma dan Terjadinya Pulau Nusakambangan”, “Kisah Ramayana”, “Kisah  Pangeran Siddharta Menjadi Budhha”, “Kisah Pertemuan Sultan Agung dengan Ratu Roro Kidul”, “Kisah Joko Tingkir”, “Kisah Ki Ageng Manggir”, dan beragam kisah-kisah lain turut dituturkan.

            Dari sini, bisa dimaknai kalau Centhini 3 bukanlah buku yang menonjolkan unsur sensualitas semata. Di dalamnya terangkum aneka kisah, pepatah, rangkaian tembang berisikan nasihat, penggambarkan panorama dan diorama sejarah, pengajaran keterampilan, kumpulan pengetahuan lama, wayang, ragam upacara orang Jawa, dan tentu saja, persoalan seksualitas. Semua unsur penyusun ensiklopedia ini terpampang secara gamblang dalam bentuknya yang lebih akrab zaman, walaupun unsur paling akhir—a.k.a seksualitas—memang tampak lebih mendominasi. Ceritanya bukannya saru, tapi memang seru!

Read more »

Iron King

Judul                : Iron King
Penulis              : Julie Kagawa
Penerjemah      : Angelic Zai-zai
Korektor          : Ine Noviane Asmara
Tebal                : 462 halaman
Cetakan           : I, 2010
Penerbit            : Kubika





Selamat datang di Nevernever
Negeri fantasi berambang musim panas
Negeri khayalan berbatas musim dingin
dengan daratan berhutan beraroma mitologi
di mana sihir itu bernama glamour
dan janji lebih ditakuti daripada kutukan

            Meghan Chase hanyalah seorang gadis biasa yang hendak merayakan ulang tahunnya yang ke-16. Bersama teman dekatnya, Robbie, yang urakan, Meghan berupaya menjalani masa remajanya yang tidak bisa jauh dari sekolah, iPad, guru galak, dan tentu saja cinta! Tapi, semua rencana “hidup normal” itu  langsung terpatahkan begitu Meghan mengetahui bahwa ia bisa melihat faery di balik lemari, menemukan bahwa sahabatnya, Robbie, ternyata berasal dari salah satu drama Shakespeare, serta menjumpai kalau adik tersayangnya yang masih berusia 4 tahun telah diculik dan dibawa ke suatu tempat bernama Nevernever.

            Bersama Robbie, Meghan nekat masuk ke Nevernever demi mencari adiknya. Nevernever lahir dari fantasi, kreativitas, lamunan, dan angan-angan manusia tentang beragam makhluk yang selama ini hanya ada dalam mitologi-mitologi dan cerita-cerita fantasi. Namun, alih-alih penuh warna sepertiNeverland-nya Tinkerbell, Nevernever adalah sebuah dunia yang kejam, penuh makhluk berbahaya yang siap memangsa, dan bertabur jebakan-jebakan pembawa maut. Bahkan, di istana musim panas yang merupakan perlambang kehangatan dan kebaikan, Meghan mengalami penderitaan dan pelecehan seiring dengan intrik politik yang turut menyeretnya. Seakan keadaan masih belum cukup parah, Meghan mengetahui bahwa ia adalah putri dari raja musim panas dan juga jatuh cinta pada Ash, pangeran musim dingin yang seharusnya menjadi musuhnya.

            Petualangan demi petualangan pun dialami oleh Meghan di Nevernever. Selain harus menyelamatkan adiknya, Meghan juga harus menyelamatkan daratan fantasi itu dari para fey besi, yang sedikit demi sedikit mulai meracuni Nevernever. Untunglah, Meghan mendapatkan bantuan dari Robbie, Grimalkin—seekor kucing gaib yang licik, serta…ehem … Ash. Dari sini, pembaca mungkin bisa menebak bagaimana alur cerita selanjutnya walaupun beragam kejutan tak terduga akan bermunculan, terselip di sela-sela cerita, seiring dengan pembacaan hingga ke lembar terakhir.

            Dalam Iron King, pembaca tidak akan menemui sesuatu yang nanggung. Konflik dan kisah cinta diulas secara lengkap, dengan bumbu-bumbu humor khas anak muda. Julia Kagawa mengiring beragam makhluk mitologis dalam kebudayaan Barat ke dalam Nevernever sehingga kita bisa menemukan centaur, duyung, pishkie, ogre, troll, dan para ratu penyihir yang luar biasa berkuasa saling berbaur dan bertingkah. Dunia fantasi yang selama ini dianggap cemen dan kanak-kanak, dirombak total oleh Kagawa menjadi dunia yang penuh aksi, sarat intrik, dan juga tidak lepas dari yang namanya kuasa cinta. Dengan sosok Ash yang digambarkan begitu rupa tampannya, para pembaca cewek pasti akan dibuat mendayu-dayu penasaran ketika membaca buku ini. Namun, bukan berartiIron King adalah novel khusus cewek, karena ketegangan, aksi, perang, teror, dan perjuangan di dalamnya akan menginspirasi setiap pembaca untuk terus memperjuangkan harapan dan juga cintanya.

            Membaca Iron King, terlepas dari unsur romance-nya, serasa menjelajahi dunia fantasi yang benar-benar baru. Dengan celetukan dan sumpah-serapah-konyol khas anak muda di dalamnya, Anda dijamin akan terus tersenyum dan tertawa kecil di sana-sini. Novel ini juga diterjemahkan dengan luwes. Typo hampir tidak ada dan kalimat-kalimatnya dituliskan secara apik dan menyenangkan sehingga enak untuk dibaca. Terima kasih pada sang proofreader-nya. Jika glamour itu memang  ada, maka glamour itu adalah kejelianmu dalam mengedit naskah apik ini.
Read more »

Of Bees and Mist


[No. 257]
Judul : Of Bees and Mist (Kabut Masa Lalu)
Penulis : Erick Setiawan
Penerjemah : Fransisca M
Penerbit : Gagas Media
Cetakan : I, 2011
Tebal : 571 hlm

Of Bees and Mist (Kabut Masa Lalu) adalah karya debut Erick Setiawan, penulis muda kelahiran Jakarta yang kini tinggal di Amerika Serikat. Erick yang menuntut ilmunya di Amerika Serikat dalam bidang psikologi dan komputer ini adalah seorang kutubuku dan suka menulis. Sebelum Of Bees and Mist, Erick telah menulis dua novel namun dua naskahnya tersebut mendapat ratusan penolakan dari para agen sastra (di Amerika untuk menjual buku ke penerbit besar haruslah melalui agen sastra/literacy agent).

Penolakan tersebut tak menyurutkan semangatnya dalam menulis. Erick lalu menulis of Bees and Mist yang diselesaikannya selama 4 tahun, berbeda dengan dua naskah novel terdahulunya, kali ini dalam waktu yang tidak terlalu lama ia memperoleh agen sastra hingga akhirnya pada tahun 2009 novelnya ini diterbitkan oleh penerbit kenamaan Simon & Schuster. Tak hanya itu saja, Of Bees and Mist mendapat sambutan yang positif dari pembaca dan kritikus sastra. Novel ini menjadi finalis QPB New Voices Award 2010 dan masuk dalam longlist penghargaan sastra bergengsi internasional IMPAC Dublin Literary Award 2011.

Of Bees and Mist sendiri merupakan kisah epik cinta, drama keluarga, dan misteri yang berlangsung selama tiga puluh tahun. Tokoh sentralnya adalah seorang wanita bernama Meridia yang merupakan anak dari Revena dan Gabriel. Awalnya kedua orang tuanya adalah pasangan yang harmonis, namun tak lama ketika Meridia lahir seiring dengan munculnya hawa dingin dan kabut yang menyelimuti rumahnya hubungan mereka mulai retak. Gabriel menjadi pribadi yang sensitif, ia sering pergi meninggalkan Revena, pertengkaran sering terjadi hingga akhirnya mereka tak saling berbicara. Gabriel disibukkan dalam pekerjaannya sedangkan Revena tenggelam dalam rutinitas di dapur yang menjadi dunia barunya.

Sikap saling membisu kedua orang tuanya ini membuat Meridia tumbuh tanpa sentuhan kasih kedua orang tuanya. Ayahnya malah membencinya, sedangkan Revena dengan kealpaannya sering melupakannya. Dalam keadaan demikian Meridia dibesarkan dengan sangat protektif oleh pengasuhnya. Ketika mulai beranjak dewasa Meridia mempertanyakan kondisi kedua orang tuanya pada pengasuhnya sehingga terungkaplah sebuah rahasia tentang apa yang terjadi pada orang tuanya. Namun belum sempat Meridia mengetahui semuanya, pengasuhnya tiba-tiba pergi meninggalkannya.

Meridia yang kesepian akhirnya memiliki seorang teman misterius bernama Hannah. Hannah sering datang dan pergi dengan tidak terduga. Untunglah akhirnya Meridia bertemu dengan Daniel, anak seorang pemilik toko perhiasan. Mereka saling jatuh cinta dan memutuskan untuk menikah. Setelah menikah Meridia tinggal di rumah mertuanya bersama kedua adik iparnya. Ternyata ini adalah awal bencana karena ternyata Eva, ibu mertuanya adalah sosok ibu mertua yang nyinyir, pelit, licik, dan memperlakukan Meridia seperti layaknya pembantunya.

Awalnya Meridia sabar dalam menghadapi Eva, namun suatu saat ia mendengar percakapan antara Eva dengan suaminya, Elias. Meridia mendegar sendiri bahwa Eva di depan suaminya menjelek-jelekkan dirinya bahkan menfitnahnya. Saat itu Meridia juga melihat bagaimana lebah-lebah dengan dengungannya seolah mempengaruhi hati dan pikiran Elias agar terhasut oleh apa yang dikatakan Eva.

Semenjak itu Meridia mencoba mengorek keterangan tentang Eva dari Patina, pembantu mertuanya, dan semakin jelas bahwa Eva adalah wanita yang licik dan jahat. Hal ini membuat Meridia tak tahan tinggal serumah dengan mertuanya dan mengajak Daniel, suaminya untuk membuka toko perhiasan sendiri dan keluar dari rumah mertuanya.

Namun tak semudah itu bagi Meridia untuk lepas dari pengaruh Eva. Walau ia telah pindah rumah namun ibu mertuanya tetap berkuasa atas kehidupan rumah tangga mereka dan terus mempengaruhi Daniel agar selalu menurut apa yang dikatakan oleh ibunya. Konflik demi konflik terus terjadi dalam kehidupan Meridia dengan keluarga mertuanya. Kehadiran Noah, anak satu-satunya Meridia tak membuat Eva berubah, ia bahkan mencoba mempengaruhi cucunya untuk berpihak padanya. Meridia tak kenal kata menyerah, ia terus berjuang melawan pengaruh buruk Eva terhadap suami dan anaknya.

Walau inti dari kisah dalam novel ini adalah perseteruan antara anak dan mertua namun penulis mengemasnya dengan begitu menarik. Di novel ini ada begitu banyak konflik yang dikisahkan, selain perseteruan antara Meridia dan Eva, dikisahkan pula konflik antara kedua orang tuanya, Revena dan Gabriel, lalu ada juga kisah kedua adik iparnya, hingga Patinna, pembantu mertuanya yang ternyata memiliki kisah rahasia antara dirinya dengan Eva.

Yang membuat kisah ini menarik adalah balutan misteri dan mistis yang membungkus kisah cinta dan drama dalam novel ini. Baik keluarga Meridia maupun keluarga mertuanya memiliki sisi kelam yang sedikit demi sedikit akan terungkap di sepanjang novel ini.

Metafora yang digunakan oleh penulis dalam novel ini juga tak kalah menariknya. Lebah dan kabut adalah dua metafora mistis yang digunakan penulis untuk menggambarkan bagaimana dua hal tersebut senantiasa ada dalam dua keluarga yang berseteru. Lebah adalah manifestasi dari pikiran jahat Eva yang mencoba mempengaruhi siapa saja agar berpihak padanya, sedangkan kabut adalah gambaran dari misteri yang menyelubungi kehidupan rumah tangga kedua orang tua Meridia.

Di novel ini ada satu hal yang unik yaitu tak disebutkannya setting tempat dan waktu sehingga kita harus menebak-nebak sendiri kapan dan dimana kejadian dalam kisah ini berlangsung. Yang disebutkan hanyalah nama-nama jalan tanpa disebut di negara mana kejadian dalam novel ini berlangsung. TV, radio, mobil, telpon dan alat-alat teknologi lainnya sama sekali tak disebutkan. Rupanya disini penulis memberikan kebebasan pada para pembacanya untuk menciptakan sendiri setting waktu dan tempat sesuai dengan imajinasi pembaca.

Singkat kata, cara penulis menyajikan kisahnya yang merupakan gabungan antara drama dan msiteri kehidupan tokoh-tokohnya selama tiga generasi dalam balutan aroma mistis dan metafora-metaforanya yang memikat membuat saya betul-betul menikmati kisah yang tertuang dalam novel setebal 571 halaman ini.

Novel juga mengingatkan saya akan novel realisme magis “House of The Spirit” Isabel Allende. Mungkin agak terlalu berlebihan jika saya membandingkan novel ini dengan House of The Spirit. Namun sensasi yang saya rasakan ketika membaca novel ini sama dengan ketika membaca karya monumental Isabel Allende terutama dalam hal penuturan dan aroma mistis realism magis yang membungkusnovel ini

Sayangnya novel ini memiliki cacat beberapa ‘typo’ (kesalahan ketik). Bahkan satu yang fatal adalah salah menyebut nama tokohnya, yang seharusnya Daniel malah terketik David. Tentunya hal ini sangat menganggu kenikmatan membaca novel ini.

Ada banyak yang ingin saya tulis tentang novel ini, namun harus saya hentikan sebelum pembaca review ini bosan dan saya kebablasan untuk menulis spoiler. :D Yang pasti saya tadinya akan beri 5 bintang untuk novel ini, namun karena ada beberapa typo saya terpaksa harus menurunkannya satu menjadi 4 bintang :D

Oya, karena ini meruapakan novel terjemahan, saya juga memberi acungan jempol kepada penerjemahnya karena saya tak sedikitpun merasa terganggu dengan kalimat-kalimat terjemahannya sehingga saya hampir lupa bahwa ini adalah sebuah karya terjemahan.

Satu jempol lagi juga untuk cover bukunya. Bagi saya cover edisi terjemahannya ini lebih bagus dan lebih imajinatif dibanding edisi aslinya.




Of Bees and Mist

ed. Simon & Shuster, 2009





Demikian untuk review kali ini, silahkan jika ada yg sudah membaca dan mau menambahi kesan-kesan terhadap novel ini. Sepertinya novel ini mengasyikan juga buat didiskusikan ya. Saya tergelitik untuk bertanya pd teman2 yg sudah membaca novel ini. Menurut teman2 Siapa sebenarnya Hanah yg kehadirannya begitu misterius dalam novel ini? Dan apa pula maksud dari metafora es yang membeku dan menyelimuti Gabriel bagaikan sebuah kepompong es di saat-saat akhir hidupnya?

@htanzil
Read more »

Jalan..Jalan..




Hari ini aku jalan-jalan seharian ke toko buku Gramedia untuk menyegarkan otak dan mencari beberapa  buku yang menarik. Dan coba tebak?wow..banyak buku yang bagus!!! yah,akhirnya aku terpaksa harus menentukan  prioritas dalam memilih buku-buku itu agar tidak membeli terlalu berlebihan. Phufffff...susahnya diriku....
Read more »