Sabtu, 14 Mei 2011

Gayus Tambunnya

Judul                : Jayus Tambunnya, in Idiot Story
Penulis              : Yuan Acitra
Editor               : Agus Hariyanto

Penerbit            : Ekspresi
Cetakan           : 1, Januari 2001
Tebal                : 172 halaman



Akhirnya, setelah acara berita TV dipenuhi dengan heboh berita korupsi, skandal, harga cabe, dan crop circle, buku yang siap mengoyak urat tawa ini terbit juga (Loh apa hubungannya? heheh). Penulis produkstif Yuan Acitra, dengan urat malu yang super tebal dan urat sabar yang super alot, berhasil menulis biografi seorang Jayus Tambunnya (Plesetan dari tokoh GT yang kemarin abis jalan-jalan dan dibikinkeun lagu lagi…you know laahhhh). Inilah Buku biografi pertama yang mengulas sosok Jayus Tambunnya dari sisi yang tidak pernah dilirik oleh para pengamat politik maupun oleh ketua KPK, yakni dari sisi yang ANCUR … hahaha.

Bagian awal aja udah bikin perut sesek saking lucunya. Bayangan aja, di tengah2 ruang sidang peradilan yang “ampun Om, formal banget seh”, Yang Mulia Hakim yang terhormat sempet-sempetnya mo dengerin curcol Jayus tentang masa kecilnya di desa, mandi di kali, main di sawah (eh itu lagunya pak AT Mahmud dink)…. By the way, pokoknya dari curcol maksa itulah alur buku ini dimulai. *Siapin tisu, buwat nimpukin si Jayus.

Konon, kata syahibul hikayat, Jayus berasal dari keluarga yang punya pekerjaan dan hobi mencuci, mulai dari cuci baju, cuci muka hingga cuci mata, makanya tidak aneh jika setelah baligh dan bekerja pun si Jayus Tambunnya suka cuci-cuci uang (btw, beli sabun bwt cuci uang di mana ya? *mupeng*). Konon lagi, si Jayus ini sudah ditinggal mati oleh ayahnya ketika ia masih sangat kecil, ketika penyakit idiotnya masih sering kambuh. Terpaksalah di tengah keterbatasan ekonomi itu, si Jayus kecil merantau ke kota besar dengan menumpang mobil pick up. (Tuhan memang Maha Adil, Man shabbara shafiraa …siapa yang bersabar akan beruntung *loh eh itu buku lain dink).

Urut punya urut, eh usut punya usut, akhirnya Jayus mangkrak di sebuah perusahaan musik ternama di ibukota, Republik Janda Manajemen yang digawangi oleh Mamat Daki, Mama Setiamenanti dan Tante Mulai Berulah (Cikakakak…plesetan namanya aja udah maksa banget getooo, *ketawa guling-guling* beneran bikin gejala TBC nih kalo baca buku ini). Perhatikan salah satu banyolan Mamat Daki di halaman 36 yang aseli bisa bikin anggota DPR kena darah tinggi ini:
“Hmm, belum tahu si Mami. Begini-begini, banyak yang tergila-gila, mengilai, dan menjadi gila” sama saiaaa (Om Mamat Daki tentunya).

Amit-amit deh si papi Daki (*langsung cuci tangan terus sentuhan tanah 7 kali). Beruntung banget tuh si Jayus kecil tidak mengalami penuaan dini dengerin bosnya mangap-mangap tidak konsekuen gitu.Back to the story, (kali ini Yang Mulia Hakim menskors sidang Jayus demi mendapatkan tanda tangan dari Arul yang terkena pidana terkait skandal video mesum di ruang sidang sebelah *ngakak guling-guling episode kedua).

Udahan deh, kalo mau tau lanjutannya, segera beli dan baca buku cantik (macan lentik) ini di toko-toko buku terdekat. Dijamin, kamu bakalan ngakak guling-guling sambil nyakarin tembok terdekat demi membaca ulah-ulah Jayus Tambunnya. Sttt…di dalamnya ada episode ketika Sule dan Parto tiba2 nyelonong ke cerita kocak ini. Lho? Apa hubungannya Jayus Tambunnya dengan duo dinamit kocak itu, pokoknya ancur-ancuran deh lucunya.

Agar kamu semakin tertarik buat beli buku ini, berikut ini beberapa pendapat para ahli di dunia maya (beneran maya alias tidak asli) tentang buku super heboh ini.



Membaca buku kocak ini, pandangan kita akan seorang sosok Jayus Tambunnya tidak akan sama lagi.
--Om Ondeh-Mandeh (Wakil KPK negeri Antah benrantah yang mengaku membuat crop circle di Sleman.

Ditulis dengan gaya New Age, sangat berbeza dengan novel-novel pelit (personal literature) lainnya.
--Jeunk Syahkuntala, (Anggota Fraksi A di Kerajaan Tetangganya Pak Bambang).

Read more »

Jangan Tunda untuk Sejahtera

Judul                : Jangan Tunda untuk Sejahtera
Penulis              : Dr.Ibrahim Elfiky
Penerjemah      : Banani B. Hassan dan M.T. Damas
Penyunting        : A.N. Rahman
Tebal                : 217 halaman
Cetakan           : II, 2009
Penerbit            : Zaman



            Rasulullah pernah bersabda, “Bersikap  optimislah maka kalian pasti akan mendapatkan kebaikan (hlm. 93)

            Sejak dekade terakhir dari abad ke-20, negara kita telah—Alhamdulillah—telah dibombardir dengan buku-buku how to dan psikologi populer model barat. Mulai dari Emotional Inteligent-nya Goleman, Quantum learning-nya de Potter, hingga master piece buku psikologi populer klasik, How to Win Friend and Influence People-nya  Carnegie; buku-buku penuntun praktis untuk mengembangkan kepribadian diri itu langsung mendapat respons positif dari pembaca. Setelah itu, buku-buku sejenis dan seirama mulai bermunculan, terutama pada awal tahun 2000-an. Dari situ, muncul ide untuk mengabungkan antara teori-teori kepribadian modern ala barat ini dengan gagasan-agasan spiritual. Contoh paling laris adalah buku Spiritual Quotient dan
 ESQ.
            Sayangnya, dalam beberapa hal, buku-buku tersebut kurang mampu membaurkan antara psikologi ala Barat dengan gagasan-gagasan pengembangan kepribadian yang sebenarnya telah melimpah ruah dalam al-Qur’an dan hadist. Kadang, saya sendiri susah untuk menggolongkan apakah sebuah buku motivasi islami itu termasuk buku pengembangan diri atau buku agama, mengingat banyaknya jargon-jargon agama dan tebaran kutipan ayat dan hadist yang bercampur baur dengan temuan-temuan modern para psikolog Amerika dan Eropa. Namun, buku keren karya Dr.Ibrahim Elfiky ini telah menunjukkan bahwa ilmu agama ternyata dapat dipadukan dengan dasar-dasar psikologi Barat. Melalui Jangan Tunda untuk Sejahtera, beliau tidak lagi menunda-nunda untuk melakukan terobosan besar tersebut.
            Satu hal yang menarik dari buku ini adalah nilai praktisnya. Walaupun penulis juga banyak menggunakan kutipan ayat al-Qur’an dan hadist, namun membaca buku ini sama sekali tidak terasa seperti membaca buku terjemahan dari bahasa Arab. Membaca Jangan Tunda untuk Sejahtera terasa begitu mengalir sebagaimana seperti ketika kita membaca buku-buku how to terjemahan dari Barat. Pertama kali membukanya, saya terkejut menjumpai keterangan bahwa buku ini diterjemahkan dari bahasa Arab. Hal ini karena model dan pola tulisannya serasa begitu “internasional” sekali. Luar biasa!
            Perhatikan pula bagaimana penulis dengan lancar mampu memadukan antara ayat-ayat langit nan agung dengan gagasan-gagasan praktis psikologi modern:  Allah selalu mengubah Anda menjadi lebih baik dan lebih sempurna. Anda selalu baru. Yang tiak pernah berubah adalah pikiran Anda karena ia adalah perbuatan Anda. Allah menyerahkan pikiran kepada Anda sendiri. “ Dan, dalam diri kalian. Apakah kalian tidak memperhatikan?”  (halaman 149). Bukankah kutipan ini hampir serupa dengan inti dari buku emas Norman Vincent Peale Anda Pasti Bisa bila Anda Pikir Anda Bisa.
            Walaupun berasal dari Timur Tengah, beliau tidak ragu untuk menggunakan contoh-contoh kisah motivasi model chicken soup for the soul—yang sangat Barat—berselang-seling dengan kisah-kisah islami nan penuh hikmah. Di dalamnya, kita akan menemukan kisah tentang ketekunan Thomas Alva Edison dan Andre Aggasi bersandingan dengan kisah-kisah para sahabat dan orang-orang alim zaman dahulu. Dan, di antara keduanya tidak saling mendominasi antara satu dengan yang lain, tapi saling mendukung dan melengkapi. Seolah-olah, barat telah menyatu dengan timur, masa lalu tercermin kembali dalam kisah modern.
            Akhirnya, jika Anda mencari buku psikologi islami yang komprehensif namun tidak melenceng dari kaidah-kaidah dasar dalam ajaran agama, maka Jangan Tunda untuk Sejahtera adalah buku paling tepat untuk Anda. Kita tidak perlu merasa terbebani ketika membaca buku yang memang didesain sebagai buku praktis dan ringan ini. Namun, dengan membacanya Anda tetap mampu mencerap mutiara-mutiara hikmah dari langit. Bukankah nilai-nilai ajaran agama akan lebih mudah diterima bisa disampaikan dengan bahasa yang sederhana? Tunggu apa lagi, jangan tunda-tunda lagi untuk membaca buku bintang lima ini.
            “Orang yang memulai tidak akan pernah terlambat. Orang yang tidak maju pasti tertinggal! Jangan tunda lagi untuk sukses dan bahagia” (hlm 216)

 ·  · Bagikan · Hapus
Read more »

Captivate

Detail buku:
Judul :  CAPTIVATE
Penulis: Carrie Jones
Penerjemah : Maria M. Lubis
Penyunting:  Ida Wajdi
ISBN : 978-979-024-454-2
Tebal : 388 halaman
Cover: Soft Cover
Penerbit : Atria
Cetakan : I, Desember 2010

Muda, magis, dan misterius…itulah kesan pertama ketika saya membuka novel fantasi ini. Dengan gaya yang benar-benar “anak muda” dan fresh, penulis Carrie Jones sekali lagi berhasil menghipnotis pembacanya untuk memasuki dunia para pixie. Melengkapi dunia vampir dan manusia serigala yang telah terlebih dulu menguasai jagad perfiksian, Jones dengan cerdas memperkenalkan satu spesies baru yang tidak kalah mengemaskan, pixie. Kelihaian penulis terlihat dari bagaimana ia menjelaskan sosok pixie secara sepotong-sepotong, dari satu bab ke bab lainnya sehingga pembaca seolah dipaksa dengan begitu halus dan tanpa terasa—dan didorong oleh rasa penasaran akan sosok pixie—untuk membaca habis novel ini. Sungguh, teknik penulisan yang unik dan berbeda. Pembaca mungkin akan bingung ketika membaca bab-bab awal dari novel ini, terutama dengan apa sih pixie itu sendiri, terlebih dengan hadirnya Astley—raja pixie yang baik (padahal katanya semua pixie itu jahat). Akan lebih membantu jika kita juga membaca seri pertama dari serial pixie ini, Need, yang juga telah diterbitkan oleg Atria.

            Namun demikian, hilangnya kepingan cerita pertama (*karena saia tidak dikasih yg Need  wkwkwk) tidak mengurangi keasyikan saya untuk melahap habis novel seri dark-fantasy ini. Awalnya, saya mengira novel ini tidak jauh beda dengan novel-novel twilightian (maksudnya novel-novel vampire getooo *maksa), tapi setelah membacanya, saya kira novel ini lebih cocok untuk para penggemar serial Buffy the Vampire Slayer—sebagaimana diakui oleh Issie sendiriDengan pertempuran yang berdarah-darah, aneka macam gigitan, sihir, dan manusia yang bisa beralih rupa; Captivate jauh lebih seru dengan alur cerita yang susah ditebak.

            Cerita berlanjut (bukan diawali, karena ini adalah seri yang kedua) di sebuah SMA di kota Maine yang penuh dengan hutan dan salju. Empat anak muda pemberani: Zara (mungkin separuhpixie), Nick (pacar Zara yang bisa berubah menjadi serigala), Issie (manusia biasa, teman terbaik Zara), dan Devyn (tipikal kutu buku, tapi bisa berubah menjadi burung elang) berhasil mengunci dan menahan para pixie jahat di sebuah rumah di tengah hutan. Rumah itu dipagari dengan aneka jenis logam karena, sebagaimana bocoran dari Zara, para pixie menderita metallophobia atau ketakutan terhadap logam dan metal. Jika suatu saat kamu bertemu seorang (?) pixie jahat di jalan, ingatlah selalu untuk mengambil tongkat besi, kawat, atau pipa logam terdekat untuk membela diri.

            Ketika Zara mengira  segala sesuatunya sudah beres, ia malah bertemu dengan Astley yang terluka dan hendak di bawa ke Valhalla—surganya para ksatria. Zara menyelamatkannya, hanya untuk menjumpai bahwa kehidupannya tidak akan sama lagi setelah itu. Astley memperingatkan bahwa ada raja pixie baru yang lebih kejam datang ke Maine. Berturut-turut, 4 sekawan pemburu pixie dikejutkan dengan berbagai hal, mulai dari munculnya Valkyrie serta bocoran gaib bahwa Maine akan menjadi ajang Ragnarok—pertempuran antar dewa. Bagaimana Zara dan kawan-kawannya bisa bertahan menghadapi pertempuran besar itu? Siapakah yang akan menjadi korban berikutnya? Bagaimana cara terbaik untuk mengalahkan pixie jahat? Semuanya diolah secara seru dalam Captivate.

            Bagian awal hingga tengah dari novel ini mungkin terasa kurang greget bagi penggemar cerita fantasi. Pasalnya, bagian awal seolah hanya mengumbar kemesraan khas anak SMA Amerika yang ditunjukkan oleh Nick dan Zara (*bilang aja iri…beouugh*). Jalan ceritanya juga cenderung agak mendayu-dayu, tentang I love you dan Ich liebe dich pokoknya—yang pastinya membuat novel ini cocok menjadi bacaan bagi remaja. Namun, kemonotonan bagian awal akhirnya terbalas dengan jalan cerita bagian tengah dan akhir yang begitu seru dan tak terduga. Pertempuran demi pertempuran berlangsung bersambung-sambungan, membuat pembaca seolah menahan napas agar tidak ketinggalan jalan cerita. Begitu sampai pada bagian tengah hingga menjelang akhir, pembaca dijamin tidak mau menghentikan bacaannya. Dari sin, kita tahu bahwa pixie itu bisa dihentikan, dan bahwa kepercayaan dan kerja sama dengan teman tetap menjadi hal yang utama dalam menghadapi berbagai masalah. 

Kata kunci: kalo kamu kepengen terbang, berpacaranlah dengan raja Pixie, karena hanya mereka yang bisa terbang. Tapi, jangan sampai dicium oleh seorang Pixie, atau kamu tidak akan bisa memasak menggunakan wajan aluminium lagi ...
Read more »

Seni Bergembira

Judul                : Seni Bergembira, Cara Nabi Meredam Gelisah Hati
Penulis              : Karim Abdul Ghaffar
Penerjemah      : Abdul Halim
Proofreader      : Juman Rofarif
Tebal                : 325 halaman
Cetakan           : I, 2011
Penerbit            : Zaman


“Jika hati tak pernah sedih, ia bakal hancur laksana rumah tak berpenghuni”
 (malik ibn Dinar)

            Kalimat inspiratif di atas, beserta dua belas ungkapan-ungkapan dahsyat peroboh kegalauan hati lain, akan langsung menyapa ketika kita membuka buku menakjubkan ini. Tidak seperti buku-buku “Berpikir Positif” yang lain, yang seolah mengingkari hak manusia untuk sesekali bersedih, buku ini membebaskan pembaca untuk bersedih secara sewajarnya, bahwa bersedih hati dan gelisah itu merupakan sesuatu yang normal, bahwa hati yang tidak pernah merasakan kesedihan tiada bedanya dengan hati yang sudah mati. Sebagai sebuah sunnatullah di alam, ada kesempitan maka ada kelapangan, adanya kesedihan sehingga kita bisa merasakan indahnya bergembira (Bab 10)

            Setelah disaput oleh ungkapan-ungkapan inspirational, penulis mengajak kita untuk menyelami apa makna dari kesedihan itu. Kita hidup di dunia ini untuk beribadah dan mencari bekal menuju negeri akhirat, namun Allah juga mewajibkan kita untuk tidak melupakan dunia. Di bab pertama, secara panjang lebar namun dengan bahasa yang luwes, penulis mengajak umat muslim untuk tidak terlalu larut dalam kesedihan, sebagaimana juga agar tidak terlalu larut dalam kegembiraan. Dipaparkan pula macam dan sumber kegelisahan yang paling utama, yakni DUNIA. Jika dipikir-pikir, kita memang lebih sering sedih karena dunia kita ketimbang bersedih karena akhirat kita. Padahal, Allah sudah mewanti-wanti bahwa kepedihan di akhirat adalah jauh lebih pedih. Jika memang demikian, sungguh tidak lah pantas bila kita terlampau bersedih pada dunia dan melalaikan bagian akhirat kita.

            Bagian selanjutnya, penulis membahas makna kesedihan menurut baginda Rasul Muhammad Saw. Sebagai manusia, Nabi ternyata juga pernah bersedih, misal ketika ditinggal wafat Siti Khadijah, kehilangan putranya Ibrahim, serta kesedihan karena peristiwa al-Ifku yang sangat terkenal itu, yang mana peristiwa ini baru bisa diredam dengan campur tangan langit. Penasaran dengan apa sih al-Ifkuitu, Anda bisa membaca sendiri di halaman 49.  Sebagai kekasih Allah, Nabi senantiasa diberi ilham untuk menghalau kesedihannya. Dari berbagai riwayat, kita tahu bahwa setiap sedihnya Nabi akan diubah menjadi sesuatu yang positif dan dimaknai sebagai bagian dari ibadah. Memang, apa pun yang berkenaan dengan seluruh sifat serta perilaku Nabi, semuanya merupakan ladang tempat memungut hikmah dan memanen pelajaran.
            Nabi menghadapi kesedihan dengan cara ridha, menyerahkan semuanya kepada Allah, sumber dari segala solusi permasalahan. Beliau mencontohkan bahwa dengan bersikap sabar serta berbaik sangka kepada Allah, maka bantuan akan datang dari arah yang tidak disangka-sangka. Hati yang bersemayam dalam jiwa Nabi memang hati yang istimewa, sebuah hati yang secara khusus dipersiapkan untuk menampung sikap lapang dada dan keridaan pada takdir-Nya. Tidak ada riwayat yang menunjukkan bahwa Nabi pernah membenci keputusan atau takdir Allah, meski cobaan datang bertubi-tubi dan jalan kehidupan berliku-liku, Tetap berprasangka baik kepada Tuhan selalu menjadi karakter Nabi kita tercinta ini, Subhanallah.

            Selain kisah hidup Nabi Muhammad, dalam buku ini dimuat juga sejumlah kisah para nabi dan rasul yang pernah dilanda ujian berat. Seolah kurang cukup, penulis juga memperkaya isi buku ini dengan aneka kisah dari para sahabat, orang-orang bijak yang pernah ditimpa cobaan berat namun mereka tetap memiliki energi untuk bersikap positif. Masih ada banyak lagi kelebihan dari buku ini, di antaranya metode untuk menghilangkan kesedihan yang menggabungkan antara ajaran Nabi dan kisah-kisah para sahabat serta orang-orang alim, dengan terapi-terapi berpikir positif zaman modern.  Membuka halaman-demi-halaman buku ini, Anda akan menemukan kekayaan inspirasi dan ungkapan-ungkapan motivasional yang luar biasa.  

            Karena kekayaan isinya, keistimewaan bobotnya, serta keragaman kisah di dalamnya; sebaiknya jangan memaksa untuk membaca buku ini secepat kilat—seperti saat membaca novel. Rangkaian mutiara hikmah dan jalinan kearifan yang bertebaran dalam buku ini sungguh terlalu istimewa kalau hanya dibaca sambil lalu (saya juga baru membaca separo lebih sedikit ^-^). Bacalah buku ini di waktu yang khusus, di tempat yang nyaman, dan baca dengan penuh penghayatan. Baca, renungkan, pahami secara perlahan, terapkan dalam kehidupan keseharian, dan jadilah pribadi yang positif tanpa harus melenceng terlalu jauh dari koridor ajaran agama Islam.

"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram." (QS. al-Ra'd [13]: 28)

NB: Begitu dahsyatnya kekuatan positif dari buku ini, hati saya sudah dipenuhi dengan bunga-bunga kegembiraan ketika saya menerima buntelan buku kebahagiaan ini. Widdiiiiiii --------> Makasih Penerbit Serambi dan Penerbit Zaman.


Read more »

Selasa, 10 Mei 2011

Ning, Anak Wayang


[No. 258]
Judul : Ning, Anak Wayang
Penulis : Niken & Anjar
Penerbit : Grasindo
Cetakan : 2011
Tebal : 244 hlm

Novel Ning adalah sebuah novel kolaborasi antara Niken dan Anjar yang diangkat dari kisah nyata kehidupan Ning (Niken) seorang anak wayang yang terlahir dari keluarga seniman tari yang sangat sederhana yang berhasil meraih mimpinya melalui jalan pendidikan dan karir di luar bidang kesenian.

Ning terlahir dari kedua orang tua yang mengabdikan dirinya secara total pada kesenian tari Jawa tradisional. Seperti kebanyakan para penari tradisional kehidupan mereka sangatlah sederhana. Walau hidup dalam serba keterbatasan namun kedua orang tua Ning sangatlah mengutamakan pendidikan bagi anak-anaknya, hal ini berbeda dengan pandangan para seniman2 tari tradisional di kampung halamannya yang hanya menginginkan anak-anak mereka asal bisa menari dan menghasilkan uang.

Karena penghasilan keluarga mereka yang pas-pasan sejak SD Ning sudah mulai harus bekerja membantu ibunya. Untungnya Ning termasuk anak yang rajin dan ulet bekerja, walau masih anak-anak dia mengerti kondisi keluarganya dan tak pernah mengeluh jika diminta bantuan oleh kedua orang tuanya untuk menjual gorengan atau membantu ibunya di dapur termasuk menimba air. Ning juga mengerti akan kondisi perekonomian keluarganya yang serba kekurangan, untuk menghemat pengeluaran uang ia rela berjalan kaki sejauh 4 km menuju sekolahnya. Walau hujan ia tetap memilih untuk berjalan kaki dengan menggunakan jas hujan.

Sama seperti kedua orang tuanya yang mengutamakan pendidikan pada anak-anaknya, Ning pun mengerti akan pentingnya pendidikan bagi masa depannya. Walau tak memiliki uang untuk membeli buku itu bukanlah halangan baginya, ia dengan tekun menyalin seluruh isi buku cetak yang tak sanggup dibelinya, hal ini dilakukannya semenjak SD hingga SMA.

Biaya sekolah Ning memang tak murah, namun kedua orang tuanya tak pernah menyerah, segala usaha ditempuhnya termasuk mencari pinjaman kepada orang. Akhirnya Ning berhasil melewati masa sekolahnya dengan baik dan memasuki jenjang perkuliahan. Di masa itu Ning mencoba mencari uang sendiri dengan menyanyi di klub-klub malam dan mengerjakan proyek bersama dosennya, semuanya itu dijalaninya dengan ketekunan dan keuletan demi meraih mimpinya.

Namun dibalik keuletannya itu Ning selalu bergumul dengan rasa rendah dirinya, ejekan teman-teman yang selalu menyebutnya sebagai anak wayang dengan konotasi negatif, hidupnya yang pas-pasan, dan postur tubuhnya fisiknya lebih mungil dibanding teman-teman sepantarannya membuat ia dihantui perasaan minder yang terus dibawanya hingga dewasa. Belum lagi tuduhan teman-temannya ketika ia menjadi penyanyi di klab malam yang membuatnya dicap sebagai wanita nakal. Semuanya itu menjadi salah satu hambatan bagi perjalanannya meraih mimpinya.

Untungnya semua tantangan yang dihadapi Ning baik dari segi perekonomian keluarganya dan rasa rendah dirinya itu tak membuatnya menyerah. Ning bahkan berhasil menjadi pendobrak tradisi di kampung seniman dimana ia dibesarkan, dalam hal pendidikan Nia menjadi yang pertama berhasil memasuki jenjang perguruan tinggi dimana para penari di kampung halamannya hanya bisa sekolah sampai SMA saja, bahkan ada yang tidak tamat. Ia juga berhasil membuktikan bahwa seorang anak seorang penari (anak wayang) bisa meraih kesuksesan dalam kehidupannya, tidak harus hidup miskin bahkan menjadi ledek (penari plus-plus)

Niken dan Anjar menuangkan kisah hidup Ning si anak Wayang dalam sebuah novel setebal 242 halaman. Seluruh episode kehidupan Ning mulai dari SD hingga bekerja terangkum dalam 5 bab yang dibagi secara kronologis berdasarkan jenjang pendidikan yang ditempuhnya, bab pertama dimulai saat Ning masih SD, lalu terus berlanjut ke bab-bab berikutnya dimana ia memuki SMP, SMA, kuliah, hingga akhirnya bab terakhir dimana Ning telah berkerja, berkeluarga, dan sukses dalam meraih mimpinya.

Kesemua episode dalam kehidupan Ning memang terwakili dalam buku ini sehingga pembaca diajak menyelami kehidupan Ning dari kecil hingga berkeluarga. Disini pembaca memang mendapat gambaran utuh mengenai perjuangan Ning dalam meraih mimpi, namun sayangnya beberapa bagian terceritakan secara secara umum dan kurang terinci padahal ada banyak celah-celah kisah yang bisa dieksplrorasi lagi. Saya juga merasa sebagai sebuah novel tampaknya kedua penulis terlalu setia pada kisah nyata kehidupan Niken (dalam novel ini disebut Ning) sehingga kisah perjuangan Ning ini bagi saya pribadi terasa kurang ‘greget’nya.

Bebagai kesulitan dan tantangan hidup yang dihadapi Ning memang terungkap dalam buku ini, namun penyelesaian dalam setiap konflik dan tantangan yang dihadapi Ning dalam buku ini terkesan begitu mudah terselesaikan. Dari keseluruhan periode kehidupan Ning yang diungkap dalam buku ini yang paling menarik dan dramatis bagi saya adalah ketika Ning masih SD, setelah itu semuanya terasa begitu cepat terselesaikan tanpa adanya kejadian yang ‘menggugah’ pembacanya.

Jika memang buku ini diniatkan menjadi sebuah novel saya rasa dramatisasi peristiwa akan menjadi sah-sah saja sehingga kisah Ning akan jadi semakin hidup dan menarik. Sebagai contoh novel Laskar Pelangi, novel tersebut merupakan novel yang diangkat dari kisah nyata penulisnya, namun penulisnya memberi efek dramatisasi berupa tambahan kisah-kisah berdasarkan imajinasi si penulisnya sehingga novel itu menjadi begitu memukau pembacanya. Dramatisasi dari sebuah kisah nyata inilah yang saya rasakan kurang dieksplorasi di dari novel ini.

Namun terlepas dari itu secara umum novel ini saya rasa baik untuk memotivasi pembacanya dalam menggapai mimpinya. Kisah Ning menyadarkan kita semua bahwa walau dihalangi oleh berbagai keterbatasan namun dengan keuletan dan kerja keras akhirnya mimpi itu akhirnya dapat tergapai juga.

Selain rentetan kisah kehidupan Ning, filosofi gerakan tarian yang membuat Ning banyak mengerti tentang tujuan hidupnya terungkap dalam buku ini. Bagi Ning tarian bukanlah sekedar lenggak-lenggok tubuh dan kecantikan penarinya. Namun tarian bagi Ning adalah gambaran dan refleksi jiwa yang sarat makna kehidupan.

Pada akhirnya Ning memang tidak mengambil jalur tari profesional untuk menggapai mimpinya, namun bukan berarti ia melupakan darah seni tari dalam dirinya, filosofi gerak tari yang ditekuninya semenjak kecil itu dijadikannya pegangan dalam kehidupannya. Walau saat ini Ning tak lagi menari, namun Ning tetap menari bersama kehidupannya sembari merangkai mimpi indah. Tampaknya mimpi Ning masih belum berakhir dan Ning akan terus menari untuk meraih mimpi2nya.

Di akhir bukunya ini Ning berkata, “Semoga mimpiku bisa memberi inspirasi banyak orang. Jangan engkau salahkan badai dan hujan, namun menarilah di tengah badai dan bersama hujan maka engkau akan menikmatinya…”


@htanzil

http://bukuygkubaca.blogspot.com

Read more »

Minggu, 08 Mei 2011

Ape House

Ape House
Sara Gruen @ 2010
Two Roads
367 pages

Di saat orang sedang santai di rumah, menikmati tahun baru bersama keluarga, Isabelle Duncan nyaris tewas karena ledakan bom di laboratorium tempatnya bekerja. Sebuah organisasi pencinta binatang menyatakan bertanggung jawab atas kejadian itu. Isabel adalah seorang ilmuwan yang mengabdikan dirinya di dalam dunia ‘bonobo’ atau ‘ape’ – jenis kera yang mungkin lebih mirip simpanse atau orang utan (please, correct me if I’m wrong… ). Isabel belajar bagaimana bonobo berinteraksi, berkomunikasi, sampai akhirnya ia mengerti ‘bahasa’ mereka. Isabel juga mengatur menu diet mereka dan mengajarkan berbahasa yang baik.

Ada orang-orang yang mengaku pencinta binatang yang salah mengartikan semua penelitian yang dilakukan Isabel dan teman-temannya. Mereka berpikiran apa yang dilakukan Isabel adalah sebuah bentuk eksploitasi terhadap hewan.

Mengalami luka parah, hingga harus dioperasi plastik dan harus dirawat lama di rumah sakit, Isabel terkejut ketika mengetahui apa yang terjadi dengan keenam bonobo asuhannya. Mereka dibawa ke sebuah rumah, dikumpulkan di dalam satu ruangan yang dipasang kamera di berbagai sudut – dan semua kegiatan mereka disiarkan secara live. Ken Faulks, salah satu pemilik berbagai acara reality show, berharap acara ini akan menarik banyak pemirsa, meskipun dengan cara yang ditentang banyak orang.

John Thigpen, berusaha menyelamatkan karirnya di dunia jurnalistik. Meskipun ia terpaksa mengambil tawaran bekerja di sebuah tabloid, ia bertekad untuk membongkar kebusukan di balik reality show ‘Ape House’ itu.

Sekali lagi, Sara Gruen mengambil tema tentang hewan, khususya tentang eksploitasi hewan. Yang suka sama Water for Elephants, gak akan menyesal untuk baca buku ini. Reality show itu gak ‘se-real’ yang ditonton di tv, too much dramas, too much conflicts.

Gue jadi inget jaman dulu pernah nonton di tv (masih ada tvri aja), film tentang simpanse yang pinter main band, didandanin dengan pakaian layaknya manusia, dan gue seneng banget dulu nonton ini. Dan gue juga jadi inget dengan pertunjukan topeng monyet. Kalo dulu, si topeng monyet ini ‘beneran’ untuk menghibur, tapi sekarang malah dipakai untuk mengemis.
Read more »

The Magicians' Apprentice

Judul                : The Magician Apprentice (Murid Sang Penyihir)
Penulis              : Trudi Canavan
Penerjemah      : Berliani M.Nugrahani
Penyunting        : Esti Budihabsari dan Nur Aini
Proofreader      : M. Eka Kurniawan dan M. Kadapi
Ilustrator isi       : Sweta Kartika
Tebal                : 959 halaman
Cetakan           : 1, Februari 2010
Penerbit            : Mizan Fantasy


             Selamat datang di Kyralia, negeri berbatas Sachaka, tanah yang kaya akan sihir dan bakat-bakat mempesona, di mana kalian akan menemukan rangkaian intrik yang terbalut kabut sihir merumitkan. Jika Anda ingin melihat sihir dalam bentuknya yang sejati, bacalah The Magician’s Apprentice karya Trudi Carnavan ini. Daratan Kyralia menawarkan masa ketika para penyihir masih begitu berkuasa atas umat manusia. Masa-masa ketika di daratan utara-timur, para penyihir masih menganggap manusia non-penyihir sebagai para budak. Inilah masa ketika sihir masih menjadi sesuatu yang begitu elemental, rapuh, dan sekaligus perkasa. Ketika itu, sihir tersimpan dalam diri setiap orang, namun hanya beberapa yang terpilih saja yang bisa meraih dan menggunakannya.

            Adalah Thessia, seorang anak pelayan biasa yang mengabdi pada seorang pemilik tanah-penyihir hebat bernama lord Dakon. Suatu saat, Thessia dipojokkan oleh Penyihir Sachaka bernaman Takado, dan dalam keadaan terdesak, keluarlah sihir alaminya. Saat itu baru ketahuan kalau Thessia adalah seorang penyihir alami, jenis penyihir yang paling kuat jika dididik dengan benar. Dari seorang gadis asisten penyembuh, Thessia  pun ia mulai meniti jalan menuju seorang penyihir penyembuh—sesuatu yang selama ini diharamkan keberadaannya di negeri Kyralia maupun di Sachaka. Dengan bantuan Jayan—teman magangnya—serta sang guru nan bijaksana, Thessia terseret dalam pusaran konflik politik antara dua kerajaan besar, Kyrralia dan Sanchaka. Ketika desa indah mereka diserang oleh seorang penyihir kejam Sachaka, Thessia pun mau tidak mau harus terjun langsung ke kancah pertempuran—karena dia adalah seorang penyihir.


            Bab demi bab berjalan menanjak dan sarat ketengangan seiring dengan semakin dekatnya perang besar antara Kyralia dan Sachaka. Thessia mau tak mau turut terjebak di dalam duel sihir serta intrik-intrik politik. Uniknya, perang dalam buku ini benar-benar lebih mirip duel sihir jarak jauh ketimbang perang kontak fisik konvensional. Pertempuran dengan pedang dan tombak memang masih ada, namun perisai sihir dan sinar panas gaib lebih mendominasi halaman demi halaman dalam novel ini. Semakin ke tengah, konfliknya juga semakin terbangun dengan puncaknya ketika ibukota Kyralia terkepung oleh para penyihir Sachaka.

            Di tengah kepungan konflik dan ancaman sihir itu, ikatan cinta mulai terbangun diantara Thessia dan Jayan. Thessia juga berhasil menemukan bakat barunya, yakni menggabungkan antara kekuatan sihir dan teknik penyembuhan. Ternyata, selain untuk meremukkan tulang, sihir juga bisa digunakan untuk meluruskan posisi tulang yang salah posisi. The Magician Apprentice juga menawarkan sedikit pelajaran anatomis—lebih mirip teknik pengobatan tenaga dalam—serta gambaran tentang kondisi masyarakat Eropa di abad–abad lampau. Inilah yang membuat buku tebal ini tidak terasa membosankan untuk dibaca berlama-lama.

            Lalu, apakah Kyralia akan jatuh ke tangan Sachaka? Mengingat buku ini merupakan prekuel dari Magicians’ Guild, pembaca yang telah terlebih dulu membaca trilogi The Black Magician Trilogy pasti bisa menebaknya! Mungkinkah kemenangan itu berbalik? Apakah para penyihir Kyralia bisa memukul mundur para penyihir Sachaka dan berbalik menyerang? Bagaimana kelanjutan kisah cinta Thessia dan Jayan? Apakah Thessia kelak bisa menjadi seorang penyihir-penyembuh? Ada banyak sekali kejutan yang lebih baik Anda baca sendiri melalui buku ini.

            Dengan detail yang menawan dan karakter-karakter yang terbangun dengan sangat kuat, The Magician Apprentice benar-benar sebuah novel yang sepenuhnya disetir oleh ketegangan. Sihir yang ditawarkan didalamnya juga tidak tanggung-tanggung—bahkan terkesan di luar batas pemahaman. Alih-alih hanya mengubah seseorang menjadi kodok atau membuat benda melayang-layang, sihir di daratan Kyralia adalah sihir yang mampu melumatkan tulang dan mengisutkan kulit. Sihir di sana juga mensyaratkan seorang penyihir untuk menyedot sari sihir yang ada dalam diri budak dan manusia taklukkan. Intrik dan cerita pendukung dalam novel ini juga dibangun dengan sangat baik, sehingga jalinan cerita yang ada adalah cerita yang benar-benar baru dari buku-buku tentang penyihir lain.

           Sekali lagi, berhati-hatilah saat membaca The Magician Apprentice karena pesona yang ditorehkan Canavan melalui buku ini terlalu kuat untuk diabaikan. Akhirnya, ada satu kutipan yang sangat saya sukai dari buku ini:

            “Kalian akan membuktikan bahwa seseorang tidak perlu menjadi penyihir agar memiliki kekuatan dan pengaruh untuk mengalahkan musuh.” (hlm. 750).
Read more »

Hansel dan Gretel

Judul                : Hansel dan Gretel
Penulis              : Grim Bersaudara
Penerjemah      : Dhanang Ernawan dan Ambitha Dhyaningrum
Penyunting        : Jia Effendie
Pewajah Isi       : Hadi Mahfudin
Tebal                : 183 halaman
Penerbit            : Atria
Cetakan            : 1, April 2011
Harga `            : Rp 28.000,00


            Pada zaman dahulu, hiduplah seorang raja yang memiliki dua belas putri yang jelita. Kedua belas putri itu tidur di dua belas ranjang dalam satu kamar. Setiap kali putri-putri itu tidur di malam hari, pintu kamar mereka selalu terkunci. Namun anehnya, setiap pagi sepatu mereka selalu dalam keadaan lusuh. (“Dua belas Putri yang Menari, hlm 38).

            Aschenputtel mencuci wajah dan tangannya, kemudian masuk dan membungkuk di hadapan pangeran. Dia meraih sepatu emas itu, lalu Aschenputtel menanggalkan sepatu kirinya yang jelek dan memakai sepatu emas. Sepatu itu pas benar di kakinya, seolah memang diciptakan khusus untuknya. (“Aschenputtel” atau mungkin kita lebih mengenalnya dengan nama Cinderella, hlm 92).


            Burung itu bertengger di atapnya, dan ketika kedua anak itu berjalan mendekat, mereka baru mengetahui kalau rumah kecil itu seluruhnya terbuat dari roti dengan atap yang terbuat  dari kue, sementara jendela-jendelanya terbuat dari gula bening. (“Hansel dan Gretel”, hlm 103).


            Kita pasti masih ingat dengan kutipan-kutipan cerita di atas. Yup, benar sekali, ketiganya adalah dongeng-dongeng masyhur dunia yang telah dan masih mewarnai masa kecil sebagian besar dari kita. Cinderella, Snow White, dan Hansel dan Gretel hanyalah tiga dari beragam dongeng-dongeng menakjubkan yang pernah membuat kita takjub di masa kecil. Dengan nilai-nilai “kebaikan menang melawan kejahatan” yang terkandung di dalamnya, dongeng-dongeng tersebut begitu melekat dalam memori dan kenangan kita.

            Adalah Jacob dan Wilhelm Grimm—yang kemudian lebih dikenal sebagai Grimm Bersaudara—yang berjasa besar menghadirkan dongeng-dongeng menakjubkan itu kepada dunia. Sejak tahun 1806, mereka berkeliling ke pelosok Jerman demi mengumpulkan beragam dongeng, legenda, dan cerita rakyat yang diturunkan secara lisan dari generasi ke generasi. Upaya keduanya ini dilandasi oleh sikap patriotisme karena tidak ingin bangsa Jerman kehilangan akar budaya mereka sendiri. Memang, pada masa itu Jerman tengah berada di bawah pendudukan pasukan Napoleon dari Prancis.

            Kumpulan dongeng mereka yang pertama terbit pada  tahun 1812 berisi 86 dongeng dalam bentuk volume atau jilid. Total, ada tujuh volume dengan 210 cerita yang berhasil dikumpulkan oleh Grimm bersaudara. Oleh Atria, versi terjemahan yang diterbitkan hanya berisi 19 dongeng, namun 19 dongeng ini sudah cukup mewakili dongeng-dongeng yang biasa kita dengar di waktu kecil atau pernah kita lihat dalam versi kartun yang dirilis oleh Disney.

            Walaupun diberi label dongeng untuk anak-anak, namun ada beberapa cerita yang disuguhkan dalam buku kumpulan dongeng ini terbilang cukup sadis sebagai bacaan anak-anak. Diceritakan ada seorang ibu tiri yang begitu jahatnya hingga tega membunuh anak-anak tirinya dengan membuang mereka ke hutan (Hansel dan Gretel), pangeran-pangeran yang dipancung (Dua Belas Putri yang Menari), dan ratu jahat yang dipaksa menari dengan sepatu besi panas hingga tewas (Snow-White). Versi-versi asli inilah yang kemudian dihilangkan atau diedit dalam buku-buku dongeng yang pernah kita baca saat kecil atau pernah ditayangkan dalam versi animasi ala Disney. Grim bersaudara sendiri pernah dikritik karena hal yang sama. Namun, diluar kekejaman yang ditampilkan, ada sejarah dan potret kehidupan masyarakat Eropa pada abad 18-19 yang turut ditampilkan di dalamnya. Melalui dogeng-dongeng versi asli inilah, pembaca dewasa dihadapkan pada fakta bahwa dongeng tidak 100% indah dan menyenangkan, tapi kadang gelap dan melambangkan kerasnya kehidupan di suatu masa.

  1. Musisi dari Bremen
  2. Teka-Teki
  3. Tom Ibu Jari
  4. Briar Rose
  5. Dua Belas Putri yang Menari
  6. Pengantin Perampok
  7. Ratu Lebah
  8. Raja Janggut Mengerikan
  9. Peri Pembuat Sepatu
  10. Aschenputtel (Cinderella)
  11. Hansel dan Gretel
  12. Serigala dan Tujuh Kambing Kecil
  13.  Frau Holle
  14. Rumpelstilltskin
  15. Tiga Pemintal
  16. Gadis Angsa
  17. Rapunzel
  18. Snow White.

            Terima kasih kepada Atria yang menghadirkan kembali dongeng-dongeng menawan dari kerajaan-kerajaan di antah berantah ini. Melalui Handel dan Gretel, pembaca dewasa ditarik kembali kepada keceriaan masa kecil dan untuk sekali lagi meyakini kekuatan dari kebajikan. Bagi anak-anak, perkenalan dengan buku ini ibarat magnet bagi tumbuhnya kreativitas dan keberanian untuk terus berbuat kebajikan. Saya agak kurang sreg dengan tidak adanya daftar isi dalam buku ini karena ketika hendak merujuk pada satu cerita tertentu, pembaca harus men-skimming sendiri seluruh halaman yang ada. Namun demikian, saya tidak kuasa menolak untuk mengangguk-angguk setuju saat membaca sebuah satu kalimat yang tertera dalam sampul belakang kumpulan cerita Hansel dan Gretel ini:

            Kisah-kisah ini populer sejak pertama kali diterbitkan, dan wajib berada di rak buku di setiap rumah.
Read more »

Sabtu, 07 Mei 2011

Ayahku (Bukan) Pembohong

 
Ingatkah kita akan pengalaman masa kecil ketika kita dibacakan cerita oleh orang tua kita ? Tentunya sangat mengasikan karena biasanya kita akan terpukau oleh ceritanya karena  kita seolah-olah berada dalam kisah yang sedang kita dengar itu.

Pernahkah terpikirkan oleh kita bahwa sebuah cerita bisa jadi akan memberi pengaruh yang luar biasa lagi? Bukan hanya sekedar memukau pendengarnya  tapi  juga dapat mempengaruhi jiwa dan pikiran siapapun yang mendengarnya. Hal inilah yang terjadi pada Dam terhadap cerita-cerita sang ayah.

Ayah Dam sendiri adalah seorang  pendongeng yang ulung. Ia menceritakan banyak dongeng-dongeng kesederhanaan pada Dam dengan pembawaan seolah semua dongeng yang ia sampaikan adalah benar-benar nyata. Dam pun tumbuh besar dengan watak dan kepribadian yang sepenuhnya 'berkiblat' pada setiap sisi kebaikan dalam dongeng-dongeng tersebut. Sayangnya, karena dongeng itu begitu mempengaruhi jiwa dan pikiran Dam, ia pun menganggap dongeng  masa muda ayahnya tentang adanya apel emas,lembah bukhara,atau malah kedekatan rahasia ayah dengan el prince,lagenda persepakbolaan dunia, adalah nyata meski fakta benar atau tidaknya semua dongeng-dongeng itu selalu ia kesampingkan.

Seiring berjalannya waktu,kepercayaan Dam pada dongeng  sang ayah mulai goyah. Hal itu bermula dari penemuan sebuah buku tua di akademi tempat dirinya menuntut ilmu. Buku tua itu menjabarkan begitu banyak kemiripan dengan dongeng-dongeng masa muda sang ayah yang selama ini selalu diceritakan kepadanya. Apakah ini sebuah kebetulan ataukah ayahnya--yang terkenal jujur itu--berbohong padanya? Mengetahui hal itu Dam hanya bisa terpukul. Ia tidak sanggup menanyakan kebenaran dongeng-dongeng itu pada ayahnya. Ia tidak ingin menyakiti perasaan salah seorang yang paling dihormatinya itu.

Namun rasa tidak percaya Dam berubah menjadi  kebencian ketika sang ayah membohongi dirinya tentang penyakit yang selama ini diderita ibunya. Dulu ayahnya hanya mengatakan bahwa ibu akan segera sembuh seperti sedia kala. Tapi nyatanya justru sebaliknya. Kesehatan ibu kian parah. Tidak hanya itu saja,Ayah Dam juga beralasan tidak memberi perawatan intensif hanya karena perkataan dari  Raja tidur, tokoh yang dianggap fiktif oleh Dam . Bagaimana mungkin ayahnya percaya pada dongengnya sendiri dan menghubungkannya  dengan situasi ibu ?

Takdir pun bergulir dengan cepat dan tanpa mampu dicegah. Ibu Dam meninggal dunia dan menyisakan kepedihan mendalam bagi diri Dam. Ia menganggap bahwa ayahnya adalah satu-satunya yang patut dipersalahkan atas semua itu. Jikalau ayahnya tidak terobsesi pada dongeng-dongeng itu, kemungkinan besar ibunya mungkin masih bisa tertolong. Sejak hari itu pula, ikatan ayah dan anak itu merenggang tajam.

Bertahun-tahun berlalu, Dam yang telah memiliki keluarga kecil masih  memupuk kebencian pada ayahnya sendiri.Keputusan ayahnya untuk tinggal dirumahnya dan berhubungan dekat dengan kedua cucunya,Zas dan Qon sempat mendapat pertentangan besar oleh Dam. Meskipun sebelumnya ayahnya telah berulang kali meminta maaf atas persoalan ibunya dan menjelaskan bahwa semua dongeng yang ia ceritakan padanya adalah benar, hati Dam tetap menolak mengakui hal itu dan semakin berupaya menjauhkan kedua anaknya dari ayahnya.

Hingga suatu ketika, terjadilah suatu hari yang tak terlupakan dalam hidup Dam. Hari yang membuatnya sadar suatu kenyataan penting tentang ayahnya.  Ayah yang selalu dihormati,ayah yang selalu berbuat kebaikan pada banyak orang,dan ayah yang mengajarkan arti penting  hidup sederhana dengan caranya sendiri,adalah ayah yang selama ini tidak pernah sekalipun berniat untuk membohongi dirinya dengan dongeng-dongeng itu.Semua itu nyata. Senyata kasih sayang ayah pada anaknya.

Secara keseluruhan,aku hanya bisa mengatakan bahwa novel ini : "Luar biasa". Maaf,aku tidak mampu berpikir hal lain selain itu. Aku juga tidak menyangka bahwa Tere Liye mengangkat cerita ayah dan anak dengan semenarik dan sesederhana ini.

Alur cerita maju mundur yang digunakan dalam novel Rembulan Tenggelam di Wajahku dan Hafalan Shalat Delisa juga digunakan disini. Pembaca seakan diajak untuk bertualang dengan perpindahan waktu dari masa kini ke masa lalu hingga akhirnya terungkap setiap detail permasalahan dengan sangat rapi.
Begitupun dengan hubungan emosional para karakternya. Aku seakan ikut merasakan kesedihan,kegembiraan,keingintahuan, penyesalan yang dialami para tokohnya. Dan aku sangat menyukainya hal ini.

Disamping itu,aku menemukan adanya beberapa bagian cerita yang tidak terjelaskan dengan baik seperti halnya pertanyaan Dam di halaman 37. Saat itu Dam masih belum mengerti mengapa kepala sekolah yang merupakan orang luar bisa mengetahui bahwa ayah Dam sangat suka bercerita di rumah. Selama penelusuran cerita aku tetap belum menemukan jawaban pasti untuk menjawab pertanyaan itu. Begitupun dengan sosok Raja tidur yang disebut-sebut ayah Dam. Tidak diketahui dengan jelas siapa sebenarnya sosok yang penuh inspirasi itu.Rekaan ataukah kenyataankah.Tapi,kupikir mungkin saja penulis berusaha memberikan ruang bagi pembaca untuk menjawab sendiri pertanyaan-pertanyaan itu. Mungkin saja,bukan?

Lebih dari itu,dengan senang hati aku memberikan dua jempol pada karya Tere Liye yang satu ini. Karya sastra yang sangat direkomendasikan buatmu sebagai pilihan untuk dibaca.

=================

Judul :Ayahku (Bukan)Pembohong
Penulis :Tere Liye
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit : @2011
ISBN :978-979-22-6905-5
Tebal :304 hal

=================

Read more »

Selasa, 03 Mei 2011

Scones and Sensibility

Scones and Sensibility
Lindsay Eland @ 2010
Penerbit Atria - Maret 2011
302 Hal.

Polly Madassa, baru berusia 12 tahun, tapi ia merasa paling ‘ahli’ dalam urusan percintaan bahkan perjodohan. Kegemarannya membaca buku-buku klasik, dan hal ini begitu ‘merasuk’ ke jiwanya, sampai-sampai ia terhanyut dan terbawa dalam kehidupan nyata. Polly selalu berkhayal tentang tokoh-tokoh dalam novel Anne of Green Gables, Pride and Prejudice. Polly dengan baju berenda-renda dan topinya, menulis dengan pena khusus kaligrafi, punya jam saku dan kalau bicara begitu berbunga-bunga, layaknya dalam novel-novel itu.

Begitu menjiwai isi cerita klasik yang ia baca, Polly merasa bahwa orang-orang di sekitarnya memerlukan ‘sebuah rajutan cinta yang baru’. Polly bertekad memutuskan hubungan Clementine, kakaknya, dengan Clint, karena Polly melihat Clint sangat menyebalkan dan tidak cocok untuk kakaknya. Mulailah proyek ‘Cinta Dirajut’ pertama, mencari ‘peminang’ yang tepat untuk kakaknya.

Proyek kedua, adalah mencarikan istri untuk Mr. Fisk, yang tak lain adalah ayah sahabatnya Fran. Proyek ketiga, menjodohkan Miss Wiskerton dengan Mr. Nightquist, si pemilik toko layang-layang.

Berbagai usaha dilakukannya. Mulai dari mengirim roti ke Miss Wiskerton yang mengatasnamakan Mr. Nightquist, mencari pasangan di tempat-tempat yang ia datangi (kebetulan di liburan musim panas kali ini, Polly mendapat tugas mengantar roti – maklum anak pemilik toko roti), memberi bunga pada wanita tak dikenal di coffee shop karena ia rasa cocok dengan Mr. Fisk, dan memaksa Edward alias Eddie untuk menjadi ‘knight in shining armor’ untuk menyelamatkan Clementine.

Tapi, tak semua berjalan mulus. Malah kekacauan demi kekacauan terjadi. Banyak kesalahpahaman, sampai-sampai, Polly tak melihat sosok ‘peminang sejati’ untuk dirinya sendiri.

Membaca ini, gue jadi melihat sosok Anne Shirley dalam versi yang lebih modern dan lebih konyol, lebih lebay. Tapi, salut buat Polly yang gemar baca buku klasik dan sampai berulang-ulang. Gue aja baru berhasil baca Jane Eyre tahun lalu, dan gak berniat untuk mengulangnya. Mungkin gue kurang menjiwai ceritanya seperti Polly.

Gue jadi ngebayangin asyiknya lokasi tempat Polly tinggal. Setiap pagi nyium aroma roti yang baru matang (hmmm.. minus acara gosong-gosongannya Clementine), jalan-jalan di tepi pantai sambil naik sepeda… hehehe.. gue jadi ikutan berkhayal kaya’ Polly, deh…
Read more »

Senin, 02 Mei 2011

Coming Home

Coming Home
Sefryana Khairil
Gagas Media
328 hlm

Rayhan datang ke Yogyakarta bersama anak semata wayangnya, Kirana, mencoba memulai hidup barunya berdua. Tak punya pekerjaan, sementara ada anak yang harus ia beri makan. Kehidupannya kacau sejak berbagai cobaan datang bertubi-tubi.

Amira, datang ke Yogyakarta, 5 tahun yang lalu, mencoba menyembuhkan rasa sakit setelah ia bercerai dengan suaminya. 3 tahun pernikahan, ternyata sia-sia ketika suaminya berselingkuh dan meninggalkannya karena perempuan itu hamil.

Tak disangka, di Yogyakarta Amira dan Rayhan bertemu kembali. Rayhan menyekolahkan Kirana di tempat Amira mengajar. Meskipun Amira berusaha bersikap dingin setiap bertemu Rayhan, ia tak kuasa menahan perasaan untuk tidak menyayangi Kirana, anak Rayha dengan perempuan selingkuhannya.

Tapi hampir setiap hari bertemu Rayhan yang menjemput Kirana, mau tidak mau membuka lagi memori yang ingin dilupakan Amira. Begitu juga dengan Rayhan, yang diam-diam menyadari kebodohon dan ingin memperbaiki hubungannya dengan Amira. Namun, tak mudah untuk mendapatkan hati Amira lagi. Rasa sakit masih terlalu besar untuk dihilangkan dengan kata ma’af.

Buku kedua Sefryana Khairil yang gue baca, masih berkisar dengan yang disebut ‘domestic genre’, drama rumah tangga yang mengharu biru. Penuh dengan kegalauan dari dua tokoh utama, dua-duanya sama-sama berharap dan takut untuk memulai. Inti cerita ini adalah mema’afkan, mampukan Amira yang ditinggalkan memaafkan Rayhan dan menerima Rayhan kembali?
Read more »

Minggu, 01 Mei 2011

Diari Vampir Tengil

Judul                : Diary of a Wimpy Vampire (Diari si Vampir Tengil)
Penulis              : Tim Collins
Penerjemah      : Harisa Permatasari
Penyunting        : Musa Annaqi
Tebal                : 281 halaman
Cetakan           : I, Februari 2011
Penerbit            : Kantera


Bayangkan bila kamu diubah menjadi vampir pada usia 15 tahun? Bayangkan terjebak keabadian dalam tubuh seorang anak abg #labil?  Bayangkan ada vampire yang kikuk, kuper, dan jerawatan? Seperti itulah pesona abadi Nigel sang vampir tengil.

Wahai kalian para pengangum Edward Cullen, bersiaplah untuk memasuki dunia vampire labil yang tidak pernah anda sekalian duga. Kami undang Anda untuk memasuki dunia vampir yang serba terjungkir balik, dan dijamin membuat manusia pembaca sekalian, kaum korban vampir, terkakak hingga jungkir balik.

            “Aku menjadi vampir di usia 15 tahun, dan saat ini umurku hampir 100 tahun. Terbayangkankah kalian, aku mengalami masa puber selama hampir 85 tahun. Tidak hanya suaraku yang baru pecah, jerawat yang mengerumuni wajah; tapi aku juga harus mempelajari hal yang sama di sekolah berulang-ulang.”


            Tidak seperti vampir-vampir penuh pesona yang diceritakan dalam legenda dan film-film, Nigel begitu “abglatos” untuk ukuran vampir yang sudah berusia hampir 100 tahun. Nigel nampaknya hanya mendapatkan yang serba kelam dari sebuah keluarga vampir. Ia tidak memiliki ketampanan ayahnya yang begitu menghipnotis, tidak mewarisi keanggunan ibunya, dan tidak memiliki kekuatan super ala vampir—dia bahkan dikalahkan oleh adiknya sendiri dalam permainan mencetak bola. Karena ia diubah menjadi vampir pada usia nanggung, maka segala yang ada pada dirinya juga terlihat nanggung. Fisiknya lemah, wajahnya jerawatan, kulitnya pucat, tubuhnya kurus, dan ia belum pernah punya pacar.

            Cukup segitu dulu yang serba jelek tentang Nigel, atau dia akan mendatangi Anda tengah malam nanti. Segala kemalangan vampir ini mulai menunjukkan tanda-tanda berakhir dengan munculnya Chloe, yang Nigel langsung jatuh cinta kepadanya. Betapa Nigel sangat berhasrat untuk membenamkan taringnya di leher Chloe yang putih mulus, menyesap sedikit darahnya, atau mengajaknya memasuki ranah keabadian. Kisah cinta Nigel, lengkap dengan kehidupan khas anak-anak abg di Amerika, bisa Anda simak di buku vampir tengil yang sangat ngakak ini.

            The Diary of Wimpy Vampire dibuat dengan model buku diary, dalam hal ini, pembaca melihat dari sudut padang Nigel ketika ia menulis buku hariannya. Selain menggunakan font huruf buku harian, diari ini juga dihiasi ilustrasi-ilustrasi yang tidak kalah menggelitik. Lihat saja gambar halaman 198 yang menunjukkan bagaimana akibat fatal yang akan timbul ketika seorang bayi diubah menjadi vampir, yakni bayi vampire super. Melalui Diari Vampir Tengil, penulis juga ingin menunjukkan hal-hal salah kaprah tentang vampire, misalnya bahwa vampir bisa berubah jadi kelelawar, vampire yang tidur di siang hari—padahal mereka justru tidak pernah tidur sama sekali, paling tidak begitu kata Nigel.

            Tim Collins juga berupaya menjadikan vampir menjadi lebih universal, lintas batas sehingga tidak hanya menjadi makhluk mitologis milik Barat. Lihatlah kutipan tentang sakit kepala yang dialami Nigel ketika ia ditunjukkan pada simbol-simbol agama besar dunia di kelas gabungan tentang toleransi beragama:

            “Meskipun salib memang tidak menyebabkan vampir bergelung kesakitan, benda itu membuat kami sakit kepala. Dan bukan hanya salib. Aku bisa mendapatkan migren parah akibat  simbol agama apa pun. Dan karena itulah aku mulai merasa mual saat Mrs. Maguire terus menunjukkan simbol dari semua agama besar lainnya.  Aku berhasil bertahan sampai Bulan Bintang dan Yin Yang sebelum akhirnya berlari ke pintu keluar, dengan kepala berputar seakan-akan sedang berada di atas sebuah kapal feri yang berlayar di tengah badai. (hlm. 43).

            Luar biasa kreatif bukan? Memaparkan vampire pada simbol-simbol religius lain selain salib. Tidak hanya itu, dalam buku diari ini juga Nigel menebarkan fakta-fakta seputar dunia vampire, yang semuanya dibahas dengan agak kurang serius khas anak-anak abg, namun sudah cukup untuk membuat pembaca mengangguk-angguk. Melalui buku ini, penulis sepertinya  hendak menekankan bahwa vampir remaja pun punya perasaan. Collins benar-benar piawai dalam meramu antara fakta sejarah, legenda, mitos urban, dan kisah persahabatan di dunia abg. Tidak diragukan lagi, kebaruan dan kesegaran dari The Diary of Wimpy Vampire akan membuat pembaca tak kuasa menolak pesonanya.

Read more »