Sabtu, 14 Mei 2011
Gayus Tambunnya
Jangan Tunda untuk Sejahtera
Captivate
Seni Bergembira
Selasa, 10 Mei 2011
Ning, Anak Wayang

[No. 258]
Judul : Ning, Anak Wayang
Penulis : Niken & Anjar
Penerbit : Grasindo
Cetakan : 2011
Tebal : 244 hlm
Novel Ning adalah sebuah novel kolaborasi antara Niken dan Anjar yang diangkat dari kisah nyata kehidupan Ning (Niken) seorang anak wayang yang terlahir dari keluarga seniman tari yang sangat sederhana yang berhasil meraih mimpinya melalui jalan pendidikan dan karir di luar bidang kesenian.
Ning terlahir dari kedua orang tua yang mengabdikan dirinya secara total pada kesenian tari Jawa tradisional. Seperti kebanyakan para penari tradisional kehidupan mereka sangatlah sederhana. Walau hidup dalam serba keterbatasan namun kedua orang tua Ning sangatlah mengutamakan pendidikan bagi anak-anaknya, hal ini berbeda dengan pandangan para seniman2 tari tradisional di kampung halamannya yang hanya menginginkan anak-anak mereka asal bisa menari dan menghasilkan uang.
Karena penghasilan keluarga mereka yang pas-pasan sejak SD Ning sudah mulai harus bekerja membantu ibunya. Untungnya Ning termasuk anak yang rajin dan ulet bekerja, walau masih anak-anak dia mengerti kondisi keluarganya dan tak pernah mengeluh jika diminta bantuan oleh kedua orang tuanya untuk menjual gorengan atau membantu ibunya di dapur termasuk menimba air. Ning juga mengerti akan kondisi perekonomian keluarganya yang serba kekurangan, untuk menghemat pengeluaran uang ia rela berjalan kaki sejauh 4 km menuju sekolahnya. Walau hujan ia tetap memilih untuk berjalan kaki dengan menggunakan jas hujan.
Sama seperti kedua orang tuanya yang mengutamakan pendidikan pada anak-anaknya, Ning pun mengerti akan pentingnya pendidikan bagi masa depannya. Walau tak memiliki uang untuk membeli buku itu bukanlah halangan baginya, ia dengan tekun menyalin seluruh isi buku cetak yang tak sanggup dibelinya, hal ini dilakukannya semenjak SD hingga SMA.
Biaya sekolah Ning memang tak murah, namun kedua orang tuanya tak pernah menyerah, segala usaha ditempuhnya termasuk mencari pinjaman kepada orang. Akhirnya Ning berhasil melewati masa sekolahnya dengan baik dan memasuki jenjang perkuliahan. Di masa itu Ning mencoba mencari uang sendiri dengan menyanyi di klub-klub malam dan mengerjakan proyek bersama dosennya, semuanya itu dijalaninya dengan ketekunan dan keuletan demi meraih mimpinya.
Namun dibalik keuletannya itu Ning selalu bergumul dengan rasa rendah dirinya, ejekan teman-teman yang selalu menyebutnya sebagai anak wayang dengan konotasi negatif, hidupnya yang pas-pasan, dan postur tubuhnya fisiknya lebih mungil dibanding teman-teman sepantarannya membuat ia dihantui perasaan minder yang terus dibawanya hingga dewasa. Belum lagi tuduhan teman-temannya ketika ia menjadi penyanyi di klab malam yang membuatnya dicap sebagai wanita nakal. Semuanya itu menjadi salah satu hambatan bagi perjalanannya meraih mimpinya.
Untungnya semua tantangan yang dihadapi Ning baik dari segi perekonomian keluarganya dan rasa rendah dirinya itu tak membuatnya menyerah. Ning bahkan berhasil menjadi pendobrak tradisi di kampung seniman dimana ia dibesarkan, dalam hal pendidikan Nia menjadi yang pertama berhasil memasuki jenjang perguruan tinggi dimana para penari di kampung halamannya hanya bisa sekolah sampai SMA saja, bahkan ada yang tidak tamat. Ia juga berhasil membuktikan bahwa seorang anak seorang penari (anak wayang) bisa meraih kesuksesan dalam kehidupannya, tidak harus hidup miskin bahkan menjadi ledek (penari plus-plus)
Niken dan Anjar menuangkan kisah hidup Ning si anak Wayang dalam sebuah novel setebal 242 halaman. Seluruh episode kehidupan Ning mulai dari SD hingga bekerja terangkum dalam 5 bab yang dibagi secara kronologis berdasarkan jenjang pendidikan yang ditempuhnya, bab pertama dimulai saat Ning masih SD, lalu terus berlanjut ke bab-bab berikutnya dimana ia memuki SMP, SMA, kuliah, hingga akhirnya bab terakhir dimana Ning telah berkerja, berkeluarga, dan sukses dalam meraih mimpinya.
Kesemua episode dalam kehidupan Ning memang terwakili dalam buku ini sehingga pembaca diajak menyelami kehidupan Ning dari kecil hingga berkeluarga. Disini pembaca memang mendapat gambaran utuh mengenai perjuangan Ning dalam meraih mimpi, namun sayangnya beberapa bagian terceritakan secara secara umum dan kurang terinci padahal ada banyak celah-celah kisah yang bisa dieksplrorasi lagi. Saya juga merasa sebagai sebuah novel tampaknya kedua penulis terlalu setia pada kisah nyata kehidupan Niken (dalam novel ini disebut Ning) sehingga kisah perjuangan Ning ini bagi saya pribadi terasa kurang ‘greget’nya.
Bebagai kesulitan dan tantangan hidup yang dihadapi Ning memang terungkap dalam buku ini, namun penyelesaian dalam setiap konflik dan tantangan yang dihadapi Ning dalam buku ini terkesan begitu mudah terselesaikan. Dari keseluruhan periode kehidupan Ning yang diungkap dalam buku ini yang paling menarik dan dramatis bagi saya adalah ketika Ning masih SD, setelah itu semuanya terasa begitu cepat terselesaikan tanpa adanya kejadian yang ‘menggugah’ pembacanya.
Jika memang buku ini diniatkan menjadi sebuah novel saya rasa dramatisasi peristiwa akan menjadi sah-sah saja sehingga kisah Ning akan jadi semakin hidup dan menarik. Sebagai contoh novel Laskar Pelangi, novel tersebut merupakan novel yang diangkat dari kisah nyata penulisnya, namun penulisnya memberi efek dramatisasi berupa tambahan kisah-kisah berdasarkan imajinasi si penulisnya sehingga novel itu menjadi begitu memukau pembacanya. Dramatisasi dari sebuah kisah nyata inilah yang saya rasakan kurang dieksplorasi di dari novel ini.
Namun terlepas dari itu secara umum novel ini saya rasa baik untuk memotivasi pembacanya dalam menggapai mimpinya. Kisah Ning menyadarkan kita semua bahwa walau dihalangi oleh berbagai keterbatasan namun dengan keuletan dan kerja keras akhirnya mimpi itu akhirnya dapat tergapai juga.
Selain rentetan kisah kehidupan Ning, filosofi gerakan tarian yang membuat Ning banyak mengerti tentang tujuan hidupnya terungkap dalam buku ini. Bagi Ning tarian bukanlah sekedar lenggak-lenggok tubuh dan kecantikan penarinya. Namun tarian bagi Ning adalah gambaran dan refleksi jiwa yang sarat makna kehidupan.
Pada akhirnya Ning memang tidak mengambil jalur tari profesional untuk menggapai mimpinya, namun bukan berarti ia melupakan darah seni tari dalam dirinya, filosofi gerak tari yang ditekuninya semenjak kecil itu dijadikannya pegangan dalam kehidupannya. Walau saat ini Ning tak lagi menari, namun Ning tetap menari bersama kehidupannya sembari merangkai mimpi indah. Tampaknya mimpi Ning masih belum berakhir dan Ning akan terus menari untuk meraih mimpi2nya.
Di akhir bukunya ini Ning berkata, “Semoga mimpiku bisa memberi inspirasi banyak orang. Jangan engkau salahkan badai dan hujan, namun menarilah di tengah badai dan bersama hujan maka engkau akan menikmatinya…”
@htanzil
http://bukuygkubaca.blogspot.com
Minggu, 08 Mei 2011
Ape House
Ape HouseSara Gruen @ 2010
Two Roads
367 pages
Di saat orang sedang santai di rumah, menikmati tahun baru bersama keluarga, Isabelle Duncan nyaris tewas karena ledakan bom di laboratorium tempatnya bekerja. Sebuah organisasi pencinta binatang menyatakan bertanggung jawab atas kejadian itu. Isabel adalah seorang ilmuwan yang mengabdikan dirinya di dalam dunia ‘bonobo’ atau ‘ape’ – jenis kera yang mungkin lebih mirip simpanse atau orang utan (please, correct me if I’m wrong… ). Isabel belajar bagaimana bonobo berinteraksi, berkomunikasi, sampai akhirnya ia mengerti ‘bahasa’ mereka. Isabel juga mengatur menu diet mereka dan mengajarkan berbahasa yang baik.
Ada orang-orang yang mengaku pencinta binatang yang salah mengartikan semua penelitian yang dilakukan Isabel dan teman-temannya. Mereka berpikiran apa yang dilakukan Isabel adalah sebuah bentuk eksploitasi terhadap hewan.
Mengalami luka parah, hingga harus dioperasi plastik dan harus dirawat lama di rumah sakit, Isabel terkejut ketika mengetahui apa yang terjadi dengan keenam bonobo asuhannya. Mereka dibawa ke sebuah rumah, dikumpulkan di dalam satu ruangan yang dipasang kamera di berbagai sudut – dan semua kegiatan mereka disiarkan secara live. Ken Faulks, salah satu pemilik berbagai acara reality show, berharap acara ini akan menarik banyak pemirsa, meskipun dengan cara yang ditentang banyak orang.
John Thigpen, berusaha menyelamatkan karirnya di dunia jurnalistik. Meskipun ia terpaksa mengambil tawaran bekerja di sebuah tabloid, ia bertekad untuk membongkar kebusukan di balik reality show ‘Ape House’ itu.
Sekali lagi, Sara Gruen mengambil tema tentang hewan, khususya tentang eksploitasi hewan. Yang suka sama Water for Elephants, gak akan menyesal untuk baca buku ini. Reality show itu gak ‘se-real’ yang ditonton di tv, too much dramas, too much conflicts.
Gue jadi inget jaman dulu pernah nonton di tv (masih ada tvri aja), film tentang simpanse yang pinter main band, didandanin dengan pakaian layaknya manusia, dan gue seneng banget dulu nonton ini. Dan gue juga jadi inget dengan pertunjukan topeng monyet. Kalo dulu, si topeng monyet ini ‘beneran’ untuk menghibur, tapi sekarang malah dipakai untuk mengemis.
The Magicians' Apprentice
Penulis : Trudi Canavan
Penerjemah : Berliani M.Nugrahani
Penyunting : Esti Budihabsari dan Nur Aini
Proofreader : M. Eka Kurniawan dan M. Kadapi
Ilustrator isi : Sweta Kartika
Tebal : 959 halaman
Cetakan : 1, Februari 2010
Penerbit : Mizan Fantasy
Selamat datang di Kyralia, negeri berbatas Sachaka, tanah yang kaya akan sihir dan bakat-bakat mempesona, di mana kalian akan menemukan rangkaian intrik yang terbalut kabut sihir merumitkan. Jika Anda ingin melihat sihir dalam bentuknya yang sejati, bacalah The Magician’s Apprentice karya Trudi Carnavan ini. Daratan Kyralia menawarkan masa ketika para penyihir masih begitu berkuasa atas umat manusia. Masa-masa ketika di daratan utara-timur, para penyihir masih menganggap manusia non-penyihir sebagai para budak. Inilah masa ketika sihir masih menjadi sesuatu yang begitu elemental, rapuh, dan sekaligus perkasa. Ketika itu, sihir tersimpan dalam diri setiap orang, namun hanya beberapa yang terpilih saja yang bisa meraih dan menggunakannya.
Adalah Thessia, seorang anak pelayan biasa yang mengabdi pada seorang pemilik tanah-penyihir hebat bernama lord Dakon. Suatu saat, Thessia dipojokkan oleh Penyihir Sachaka bernaman Takado, dan dalam keadaan terdesak, keluarlah sihir alaminya. Saat itu baru ketahuan kalau Thessia adalah seorang penyihir alami, jenis penyihir yang paling kuat jika dididik dengan benar. Dari seorang gadis asisten penyembuh, Thessia pun ia mulai meniti jalan menuju seorang penyihir penyembuh—sesuatu yang selama ini diharamkan keberadaannya di negeri Kyralia maupun di Sachaka. Dengan bantuan Jayan—teman magangnya—serta sang guru nan bijaksana, Thessia terseret dalam pusaran konflik politik antara dua kerajaan besar, Kyrralia dan Sanchaka. Ketika desa indah mereka diserang oleh seorang penyihir kejam Sachaka, Thessia pun mau tidak mau harus terjun langsung ke kancah pertempuran—karena dia adalah seorang penyihir.
Bab demi bab berjalan menanjak dan sarat ketengangan seiring dengan semakin dekatnya perang besar antara Kyralia dan Sachaka. Thessia mau tak mau turut terjebak di dalam duel sihir serta intrik-intrik politik. Uniknya, perang dalam buku ini benar-benar lebih mirip duel sihir jarak jauh ketimbang perang kontak fisik konvensional. Pertempuran dengan pedang dan tombak memang masih ada, namun perisai sihir dan sinar panas gaib lebih mendominasi halaman demi halaman dalam novel ini. Semakin ke tengah, konfliknya juga semakin terbangun dengan puncaknya ketika ibukota Kyralia terkepung oleh para penyihir Sachaka.
Di tengah kepungan konflik dan ancaman sihir itu, ikatan cinta mulai terbangun diantara Thessia dan Jayan. Thessia juga berhasil menemukan bakat barunya, yakni menggabungkan antara kekuatan sihir dan teknik penyembuhan. Ternyata, selain untuk meremukkan tulang, sihir juga bisa digunakan untuk meluruskan posisi tulang yang salah posisi. The Magician Apprentice juga menawarkan sedikit pelajaran anatomis—lebih mirip teknik pengobatan tenaga dalam—serta gambaran tentang kondisi masyarakat Eropa di abad–abad lampau. Inilah yang membuat buku tebal ini tidak terasa membosankan untuk dibaca berlama-lama.
Lalu, apakah Kyralia akan jatuh ke tangan Sachaka? Mengingat buku ini merupakan prekuel dari Magicians’ Guild, pembaca yang telah terlebih dulu membaca trilogi The Black Magician Trilogy pasti bisa menebaknya! Mungkinkah kemenangan itu berbalik? Apakah para penyihir Kyralia bisa memukul mundur para penyihir Sachaka dan berbalik menyerang? Bagaimana kelanjutan kisah cinta Thessia dan Jayan? Apakah Thessia kelak bisa menjadi seorang penyihir-penyembuh? Ada banyak sekali kejutan yang lebih baik Anda baca sendiri melalui buku ini.
Dengan detail yang menawan dan karakter-karakter yang terbangun dengan sangat kuat, The Magician Apprentice benar-benar sebuah novel yang sepenuhnya disetir oleh ketegangan. Sihir yang ditawarkan didalamnya juga tidak tanggung-tanggung—bahkan terkesan di luar batas pemahaman. Alih-alih hanya mengubah seseorang menjadi kodok atau membuat benda melayang-layang, sihir di daratan Kyralia adalah sihir yang mampu melumatkan tulang dan mengisutkan kulit. Sihir di sana juga mensyaratkan seorang penyihir untuk menyedot sari sihir yang ada dalam diri budak dan manusia taklukkan. Intrik dan cerita pendukung dalam novel ini juga dibangun dengan sangat baik, sehingga jalinan cerita yang ada adalah cerita yang benar-benar baru dari buku-buku tentang penyihir lain.
Sekali lagi, berhati-hatilah saat membaca The Magician Apprentice karena pesona yang ditorehkan Canavan melalui buku ini terlalu kuat untuk diabaikan. Akhirnya, ada satu kutipan yang sangat saya sukai dari buku ini:
“Kalian akan membuktikan bahwa seseorang tidak perlu menjadi penyihir agar memiliki kekuatan dan pengaruh untuk mengalahkan musuh.” (hlm. 750).
Hansel dan Gretel
Penulis : Grim Bersaudara
Penerjemah : Dhanang Ernawan dan Ambitha Dhyaningrum
Penyunting : Jia Effendie
Pewajah Isi : Hadi Mahfudin
Tebal : 183 halaman
Penerbit : Atria
Cetakan : 1, April 2011
Harga ` : Rp 28.000,00
Pada zaman dahulu, hiduplah seorang raja yang memiliki dua belas putri yang jelita. Kedua belas putri itu tidur di dua belas ranjang dalam satu kamar. Setiap kali putri-putri itu tidur di malam hari, pintu kamar mereka selalu terkunci. Namun anehnya, setiap pagi sepatu mereka selalu dalam keadaan lusuh. (“Dua belas Putri yang Menari, hlm 38).
Aschenputtel mencuci wajah dan tangannya, kemudian masuk dan membungkuk di hadapan pangeran. Dia meraih sepatu emas itu, lalu Aschenputtel menanggalkan sepatu kirinya yang jelek dan memakai sepatu emas. Sepatu itu pas benar di kakinya, seolah memang diciptakan khusus untuknya. (“Aschenputtel” atau mungkin kita lebih mengenalnya dengan nama Cinderella, hlm 92).
Burung itu bertengger di atapnya, dan ketika kedua anak itu berjalan mendekat, mereka baru mengetahui kalau rumah kecil itu seluruhnya terbuat dari roti dengan atap yang terbuat dari kue, sementara jendela-jendelanya terbuat dari gula bening. (“Hansel dan Gretel”, hlm 103).
Kita pasti masih ingat dengan kutipan-kutipan cerita di atas. Yup, benar sekali, ketiganya adalah dongeng-dongeng masyhur dunia yang telah dan masih mewarnai masa kecil sebagian besar dari kita. Cinderella, Snow White, dan Hansel dan Gretel hanyalah tiga dari beragam dongeng-dongeng menakjubkan yang pernah membuat kita takjub di masa kecil. Dengan nilai-nilai “kebaikan menang melawan kejahatan” yang terkandung di dalamnya, dongeng-dongeng tersebut begitu melekat dalam memori dan kenangan kita.
Adalah Jacob dan Wilhelm Grimm—yang kemudian lebih dikenal sebagai Grimm Bersaudara—yang berjasa besar menghadirkan dongeng-dongeng menakjubkan itu kepada dunia. Sejak tahun 1806, mereka berkeliling ke pelosok Jerman demi mengumpulkan beragam dongeng, legenda, dan cerita rakyat yang diturunkan secara lisan dari generasi ke generasi. Upaya keduanya ini dilandasi oleh sikap patriotisme karena tidak ingin bangsa Jerman kehilangan akar budaya mereka sendiri. Memang, pada masa itu Jerman tengah berada di bawah pendudukan pasukan Napoleon dari Prancis.
Kumpulan dongeng mereka yang pertama terbit pada tahun 1812 berisi 86 dongeng dalam bentuk volume atau jilid. Total, ada tujuh volume dengan 210 cerita yang berhasil dikumpulkan oleh Grimm bersaudara. Oleh Atria, versi terjemahan yang diterbitkan hanya berisi 19 dongeng, namun 19 dongeng ini sudah cukup mewakili dongeng-dongeng yang biasa kita dengar di waktu kecil atau pernah kita lihat dalam versi kartun yang dirilis oleh Disney.
Walaupun diberi label dongeng untuk anak-anak, namun ada beberapa cerita yang disuguhkan dalam buku kumpulan dongeng ini terbilang cukup sadis sebagai bacaan anak-anak. Diceritakan ada seorang ibu tiri yang begitu jahatnya hingga tega membunuh anak-anak tirinya dengan membuang mereka ke hutan (Hansel dan Gretel), pangeran-pangeran yang dipancung (Dua Belas Putri yang Menari), dan ratu jahat yang dipaksa menari dengan sepatu besi panas hingga tewas (Snow-White). Versi-versi asli inilah yang kemudian dihilangkan atau diedit dalam buku-buku dongeng yang pernah kita baca saat kecil atau pernah ditayangkan dalam versi animasi ala Disney. Grim bersaudara sendiri pernah dikritik karena hal yang sama. Namun, diluar kekejaman yang ditampilkan, ada sejarah dan potret kehidupan masyarakat Eropa pada abad 18-19 yang turut ditampilkan di dalamnya. Melalui dogeng-dongeng versi asli inilah, pembaca dewasa dihadapkan pada fakta bahwa dongeng tidak 100% indah dan menyenangkan, tapi kadang gelap dan melambangkan kerasnya kehidupan di suatu masa.
- Musisi dari Bremen
- Teka-Teki
- Tom Ibu Jari
- Briar Rose
- Dua Belas Putri yang Menari
- Pengantin Perampok
- Ratu Lebah
- Raja Janggut Mengerikan
- Peri Pembuat Sepatu
- Aschenputtel (Cinderella)
- Hansel dan Gretel
- Serigala dan Tujuh Kambing Kecil
- Frau Holle
- Rumpelstilltskin
- Tiga Pemintal
- Gadis Angsa
- Rapunzel
- Snow White.
Terima kasih kepada Atria yang menghadirkan kembali dongeng-dongeng menawan dari kerajaan-kerajaan di antah berantah ini. Melalui Handel dan Gretel, pembaca dewasa ditarik kembali kepada keceriaan masa kecil dan untuk sekali lagi meyakini kekuatan dari kebajikan. Bagi anak-anak, perkenalan dengan buku ini ibarat magnet bagi tumbuhnya kreativitas dan keberanian untuk terus berbuat kebajikan. Saya agak kurang sreg dengan tidak adanya daftar isi dalam buku ini karena ketika hendak merujuk pada satu cerita tertentu, pembaca harus men-skimming sendiri seluruh halaman yang ada. Namun demikian, saya tidak kuasa menolak untuk mengangguk-angguk setuju saat membaca sebuah satu kalimat yang tertera dalam sampul belakang kumpulan cerita Hansel dan Gretel ini:
Kisah-kisah ini populer sejak pertama kali diterbitkan, dan wajib berada di rak buku di setiap rumah.
Sabtu, 07 Mei 2011
Ayahku (Bukan) Pembohong
Kapan terakhir kali kita memeluk ayah kita? Menatap wajahnya, lantas bilang kita sungguh sayang padanya? Kapan terakhir kali kita bercakap ringan, tertawa gelak, bercengkerama, lantas menyentuh lembut tangannya, bilang kita sungguh bangga padanya? Inilah kisah tentang seorang anak yang dibesarkan dengan dongeng-dongeng kesederhanaan hidup. Kesederhanaan yang justru membuat ia membenci ayahnya sendiri. Inilah kisah tentang hakikat kebahagiaan sejati. Jika kalian tidak menemukan rumus itu di novel ini, tidak ada lagi cara terbaik untuk menjelaskannya. Mulailah membaca novel ini dengan hati lapang, dan saat tiba di halaman terakhir, berlarilah secepat mungkin menemui ayah kita, sebelum semuanya terlambat, dan kita tidak pernah sempat mengatakannya.
Pernahkah terpikirkan oleh kita bahwa sebuah cerita bisa jadi akan memberi pengaruh yang luar biasa lagi? Bukan hanya sekedar memukau pendengarnya tapi juga dapat mempengaruhi jiwa dan pikiran siapapun yang mendengarnya. Hal inilah yang terjadi pada Dam terhadap cerita-cerita sang ayah.
Seiring berjalannya waktu,kepercayaan Dam pada dongeng sang ayah mulai goyah. Hal itu bermula dari penemuan sebuah buku tua di akademi tempat dirinya menuntut ilmu. Buku tua itu menjabarkan begitu banyak kemiripan dengan dongeng-dongeng masa muda sang ayah yang selama ini selalu diceritakan kepadanya. Apakah ini sebuah kebetulan ataukah ayahnya--yang terkenal jujur itu--berbohong padanya? Mengetahui hal itu Dam hanya bisa terpukul. Ia tidak sanggup menanyakan kebenaran dongeng-dongeng itu pada ayahnya. Ia tidak ingin menyakiti perasaan salah seorang yang paling dihormatinya itu.
Namun rasa tidak percaya Dam berubah menjadi kebencian ketika sang ayah membohongi dirinya tentang penyakit yang selama ini diderita ibunya. Dulu ayahnya hanya mengatakan bahwa ibu akan segera sembuh seperti sedia kala. Tapi nyatanya justru sebaliknya. Kesehatan ibu kian parah. Tidak hanya itu saja,Ayah Dam juga beralasan tidak memberi perawatan intensif hanya karena perkataan dari Raja tidur, tokoh yang dianggap fiktif oleh Dam . Bagaimana mungkin ayahnya percaya pada dongengnya sendiri dan menghubungkannya dengan situasi ibu ?
Takdir pun bergulir dengan cepat dan tanpa mampu dicegah. Ibu Dam meninggal dunia dan menyisakan kepedihan mendalam bagi diri Dam. Ia menganggap bahwa ayahnya adalah satu-satunya yang patut dipersalahkan atas semua itu. Jikalau ayahnya tidak terobsesi pada dongeng-dongeng itu, kemungkinan besar ibunya mungkin masih bisa tertolong. Sejak hari itu pula, ikatan ayah dan anak itu merenggang tajam.
Bertahun-tahun berlalu, Dam yang telah memiliki keluarga kecil masih memupuk kebencian pada ayahnya sendiri.Keputusan ayahnya untuk tinggal dirumahnya dan berhubungan dekat dengan kedua cucunya,Zas dan Qon sempat mendapat pertentangan besar oleh Dam. Meskipun sebelumnya ayahnya telah berulang kali meminta maaf atas persoalan ibunya dan menjelaskan bahwa semua dongeng yang ia ceritakan padanya adalah benar, hati Dam tetap menolak mengakui hal itu dan semakin berupaya menjauhkan kedua anaknya dari ayahnya.
Hingga suatu ketika, terjadilah suatu hari yang tak terlupakan dalam hidup Dam. Hari yang membuatnya sadar suatu kenyataan penting tentang ayahnya. Ayah yang selalu dihormati,ayah yang selalu berbuat kebaikan pada banyak orang,dan ayah yang mengajarkan arti penting hidup sederhana dengan caranya sendiri,adalah ayah yang selama ini tidak pernah sekalipun berniat untuk membohongi dirinya dengan dongeng-dongeng itu.Semua itu nyata. Senyata kasih sayang ayah pada anaknya.
Secara keseluruhan,aku hanya bisa mengatakan bahwa novel ini : "Luar biasa". Maaf,aku tidak mampu berpikir hal lain selain itu. Aku juga tidak menyangka bahwa Tere Liye mengangkat cerita ayah dan anak dengan semenarik dan sesederhana ini.
Alur cerita maju mundur yang digunakan dalam novel Rembulan Tenggelam di Wajahku dan Hafalan Shalat Delisa juga digunakan disini. Pembaca seakan diajak untuk bertualang dengan perpindahan waktu dari masa kini ke masa lalu hingga akhirnya terungkap setiap detail permasalahan dengan sangat rapi.
Begitupun dengan hubungan emosional para karakternya. Aku seakan ikut merasakan kesedihan,kegembiraan,keingintahuan, penyesalan yang dialami para tokohnya. Dan aku sangat menyukainya hal ini.
Disamping itu,aku menemukan adanya beberapa bagian cerita yang tidak terjelaskan dengan baik seperti halnya pertanyaan Dam di halaman 37. Saat itu Dam masih belum mengerti mengapa kepala sekolah yang merupakan orang luar bisa mengetahui bahwa ayah Dam sangat suka bercerita di rumah. Selama penelusuran cerita aku tetap belum menemukan jawaban pasti untuk menjawab pertanyaan itu. Begitupun dengan sosok Raja tidur yang disebut-sebut ayah Dam. Tidak diketahui dengan jelas siapa sebenarnya sosok yang penuh inspirasi itu.Rekaan ataukah kenyataankah.Tapi,kupikir mungkin saja penulis berusaha memberikan ruang bagi pembaca untuk menjawab sendiri pertanyaan-pertanyaan itu. Mungkin saja,bukan?
Lebih dari itu,dengan senang hati aku memberikan dua jempol pada karya Tere Liye yang satu ini. Karya sastra yang sangat direkomendasikan buatmu sebagai pilihan untuk dibaca.
Selasa, 03 Mei 2011
Scones and Sensibility
Scones and SensibilityLindsay Eland @ 2010
Penerbit Atria - Maret 2011
302 Hal.
Polly Madassa, baru berusia 12 tahun, tapi ia merasa paling ‘ahli’ dalam urusan percintaan bahkan perjodohan. Kegemarannya membaca buku-buku klasik, dan hal ini begitu ‘merasuk’ ke jiwanya, sampai-sampai ia terhanyut dan terbawa dalam kehidupan nyata. Polly selalu berkhayal tentang tokoh-tokoh dalam novel Anne of Green Gables, Pride and Prejudice. Polly dengan baju berenda-renda dan topinya, menulis dengan pena khusus kaligrafi, punya jam saku dan kalau bicara begitu berbunga-bunga, layaknya dalam novel-novel itu.
Begitu menjiwai isi cerita klasik yang ia baca, Polly merasa bahwa orang-orang di sekitarnya memerlukan ‘sebuah rajutan cinta yang baru’. Polly bertekad memutuskan hubungan Clementine, kakaknya, dengan Clint, karena Polly melihat Clint sangat menyebalkan dan tidak cocok untuk kakaknya. Mulailah proyek ‘Cinta Dirajut’ pertama, mencari ‘peminang’ yang tepat untuk kakaknya.
Proyek kedua, adalah mencarikan istri untuk Mr. Fisk, yang tak lain adalah ayah sahabatnya Fran. Proyek ketiga, menjodohkan Miss Wiskerton dengan Mr. Nightquist, si pemilik toko layang-layang.
Berbagai usaha dilakukannya. Mulai dari mengirim roti ke Miss Wiskerton yang mengatasnamakan Mr. Nightquist, mencari pasangan di tempat-tempat yang ia datangi (kebetulan di liburan musim panas kali ini, Polly mendapat tugas mengantar roti – maklum anak pemilik toko roti), memberi bunga pada wanita tak dikenal di coffee shop karena ia rasa cocok dengan Mr. Fisk, dan memaksa Edward alias Eddie untuk menjadi ‘knight in shining armor’ untuk menyelamatkan Clementine.
Tapi, tak semua berjalan mulus. Malah kekacauan demi kekacauan terjadi. Banyak kesalahpahaman, sampai-sampai, Polly tak melihat sosok ‘peminang sejati’ untuk dirinya sendiri.
Membaca ini, gue jadi melihat sosok Anne Shirley dalam versi yang lebih modern dan lebih konyol, lebih lebay. Tapi, salut buat Polly yang gemar baca buku klasik dan sampai berulang-ulang. Gue aja baru berhasil baca Jane Eyre tahun lalu, dan gak berniat untuk mengulangnya. Mungkin gue kurang menjiwai ceritanya seperti Polly.
Gue jadi ngebayangin asyiknya lokasi tempat Polly tinggal. Setiap pagi nyium aroma roti yang baru matang (hmmm.. minus acara gosong-gosongannya Clementine), jalan-jalan di tepi pantai sambil naik sepeda… hehehe.. gue jadi ikutan berkhayal kaya’ Polly, deh…
Senin, 02 Mei 2011
Coming Home
Coming HomeSefryana Khairil
Gagas Media
328 hlm
Rayhan datang ke Yogyakarta bersama anak semata wayangnya, Kirana, mencoba memulai hidup barunya berdua. Tak punya pekerjaan, sementara ada anak yang harus ia beri makan. Kehidupannya kacau sejak berbagai cobaan datang bertubi-tubi.
Amira, datang ke Yogyakarta, 5 tahun yang lalu, mencoba menyembuhkan rasa sakit setelah ia bercerai dengan suaminya. 3 tahun pernikahan, ternyata sia-sia ketika suaminya berselingkuh dan meninggalkannya karena perempuan itu hamil.
Tak disangka, di Yogyakarta Amira dan Rayhan bertemu kembali. Rayhan menyekolahkan Kirana di tempat Amira mengajar. Meskipun Amira berusaha bersikap dingin setiap bertemu Rayhan, ia tak kuasa menahan perasaan untuk tidak menyayangi Kirana, anak Rayha dengan perempuan selingkuhannya.
Tapi hampir setiap hari bertemu Rayhan yang menjemput Kirana, mau tidak mau membuka lagi memori yang ingin dilupakan Amira. Begitu juga dengan Rayhan, yang diam-diam menyadari kebodohon dan ingin memperbaiki hubungannya dengan Amira. Namun, tak mudah untuk mendapatkan hati Amira lagi. Rasa sakit masih terlalu besar untuk dihilangkan dengan kata ma’af.
Buku kedua Sefryana Khairil yang gue baca, masih berkisar dengan yang disebut ‘domestic genre’, drama rumah tangga yang mengharu biru. Penuh dengan kegalauan dari dua tokoh utama, dua-duanya sama-sama berharap dan takut untuk memulai. Inti cerita ini adalah mema’afkan, mampukan Amira yang ditinggalkan memaafkan Rayhan dan menerima Rayhan kembali?
Blog RSS Feed
Via E-mail
Twitter
Facebook