Kamis, 13 Oktober 2011

Life Traveler

Judul                : Life Traveler, Suatu Ketika di Sebuah Perjalanan
Penulis              : Windy Ariestanty
Editor               : Alit T. Palupi
Proofreader      : Resita Wahyu Febiratri
Tata letak         : Nopianto Ricaesar
Cover               : Jeffri Fernando
Ilustrator           : Diani Apsari
Cetakan           : 2011
Tebal                : 381 halaman
Penerbit            : Gagas Media


            Dalam perjalanan, sesekali kita mesti berhenti (terkadang dipaksa berhenti) sejenak untuk mengamati dan menikmati proses. Ini bukan tentang tujuan perjalanan, tapi tentang perjalanannya itu sendiri. Bukan tentang bagaimana menuju Ha Long Bay dan Angkor Wat dengan budget minim, bukan tentang mencapai Menara Eiffel nan legendaris, atau segera pulang kembali ke Jakarta. Perjalanan dalam Life Traveler adalah tentang bagaimana menemukan sebuah rumah (home) di hotel kecil milik Miss Hang di Ha Noi, tentang mengunjungi sebuah warung kopi terpencil di pedalaman Cezka, dan tentang menemukan rumah singgah di sudut Bandara O’Hare. Terkadang, rumah (home) itu bisa muncul selama di perjalanan, bukan hanya di tujuan.

            “Kadang, kita menemukan rumah justru di tempat yang jauh dari rumah itu sendiri. And yes, wherever you feel peacefulness, you might call it home. (halaman 45).

            Life Traveler, sekali lagi muncul seorang penulis yang mengompori pembaca untuk bepergian melihat dunia. Dalam Life Traveler ini, Windy seolah ingin menegaskan ciri khasnya sebagai pelancong yang tidak hanya menyesap pemandangan atau objek wisata semata, tapi juga menikmati manusia-manusia yang ia temui di perjalanan. Keunikan dari setiap budaya, kuliner lokal, adat istiadat nan nyentrik, hingga hikmah-himah menawan yang bertebaran di perjalanan; semuanya adalah permata-permata yang sering kita abaikan dalam sebuah perjalanan. Di Vietnam, Windy malah lebih banyak mengisahkan pengalamannya menaiki bus tidur (Sleeping Bus) dan mengomentari batas kecepatan maksimal 40 km ketimbang mengisahkan seluk-beluk keindahan Ha Long Bay. Di Eropa, porsi tentang Menara Eiffel juga sedikit, malah ia lebih banyak bercerita tentang kawasan lampu merah di Amsterdam dan kota tua Praha. Sebuah sudut pandang yang berbeda, menghasilkan rasa yang berbeda pula. Dari awal saya sudah bilang, Life Traveler ini memang berbeda.

            Melihat subjudulnya, “suatu ketika di sebuah perjalanan”, Windy seolah ingin mengoreksi pandangan para pelancong yang selama ini hanya berfokus pada tujuan dan mengabaikan perjalanan. Padahal, terkadang porsi waktu yang dihabiskan untuk perjalanan mencapai tujuan sama lamanya (atau bahkan lebih lama) daripada waktu untuk menikmati tujuan itu. Lewat Life Traveler, Windy ingin mengingatkan kita, bahwa di dalam perjalanan itu juga terdapat pemandangan-pemandangan elok, yang kadang tak terlihat oleh mata lahir, tapi begitu memuaskan mata bathin. Ibarat kehidupan, prosesnya lah yang harus kita nikmati, bukan pencapaian. Waktu untuk menjalaninyalah yang merupakan anugrah terbesar dari kehidupan, di mana kita bisa bertemu orang-orang terkasih, mengalami pengalaman-pengalaman hebat—suka dan duka, beragam warna kehidupan yang selama ini kita abaikan karena kita terlalu sering berfokus pada hasil.

            Dituliskan dengan begitu indah dan filosofis, pembaca akan diajak melancong sekaligus merenung, diajak berwisata sekaligus belajar budaya baru, diajak melihat monumen-monumen megah sekaligus bertemu orang-orang hebat; lengkap dan komplet. Walau lebih menekankan pada aspek perenungan tentang hidup, Life Traveler tidak kehilangan unsur “jalan-jalannya” karena novel perjalanan ini juga dilengkapi dengan tips berwisata ala backpacker di Vietnam, Kamboja, dan Eropa tengah. Windy juga menyertakan foto-foto sangat “menarik perhatian” dengan tampilan yang halus dan menyentak, sehingga pembaca niscaya tidak akan bosan melihat deretan huruf dan kalimat beraroma filosofi kehidupan. 


            Terlalu banyak kutipan indah yang begitu menggoda untuk diselipkan, terlalu banyak pemandangan dan pengalaman luar biasa untuk diceritakan. Dan, itu semua tidak akan bisa muat dalam satu resensi kecil dari saya yang merasa belum pergi kemana-mana ini. Anda harus membacanya sendiri untuk bisa merasakan perjalanan penulis yang penuh warna dan juga penuh makna. Sebuah perjalanan pergi untuk kembali. Empat bintang untuk Life Traveler yang mengajarkan saya tidak hanya tentang melancong dan bersenang-senang, namun juga mencari sahabat dan kenangan di perjalanan.

            Dan manusia, pada kodratnya, selalu menemukan cara pulang ke ‘rumah’. Tak peduli dekat atau jauh jaraknya.” (halaman 78) 

NB: Terima kasih kepada Gagas Media atas hadiah Baca Bareng #BBI September 2011

Read more »

Para Pemuja Matahari

Judul                : Para Pemuja Matahari
Penulis              : Lutfi Retno Wahyudyanti
Desain Cover   : Yulia Qomariyah
Cetakan           : Pertama, 2011
Penerbit            : Kotak Permen
Halaman           : 260 halaman





            Unik! Kata inilah yang pertama kali muncul dalam benak sebelum dan setelah membaca buku ringkas namun cukup membuat iri para pecinta traveling ini. Buku traveling-bercerita memang tengah booming  di ranah perbukuan tanah air. Tidak sekadar menyajikan objek-objek wisata yang manrik untuk dikunjungi, rute menuju ke sana, dan perkiraan biaya; buku traveling-bercerita lebih menekankan pada sisi kemanusiaan sang pelancong. Artinya, si pelancong tidak hanya mendapatkan unsur rekreatif dari kegiatan travellingnya, namun  ia juga belajar berbagai kebijakan kehidupan dari orang-orang atau budaya-budaya yang ia temui selama melakukan perjalanan. Dan, Para Pemuja Matahari adalah salah satu buku traveling-bercerita yang membawa kisahnya sendiri.

            Judulnya yang unik, Para Pemuja Matahari¸ sekilas mengantarkan pikiran kita kepada suku-suku pribumi yang masih memberikan persembahan pada sang surya, begitu eksotis kedengarannya. Padahal, istilah ini oleh penulis digunakan untuk merujuk pada para pelancong atau travellers (termasuk juga pendaki gunung) yang begitu menantikan saat-saat terbitnya matahari. Entah itu di puncak Gunung Salak nan sunyi ataukah di hamparan pasir putih salah satu pulau di Karimun Jawa, matahari terbit selalu mendatangkan aroma mistis bagi para pelancong, sebuah saat sakral yang seolah hukumnya haram untuk diabaikan.

            Para Pemuja Matahari adalah kisah perjalanan Nay, gadis manis mahasiswi antropologi dari Jogja yang bertekad untuk mengelilingi pulau Jawa sendirian. Ia ingin membuktikan kepada mama dan teman-temannya, bahwa Nay yang feminim juga bisa melancong sendirian. Novel ini seolah ingin menegaskan kembali pepatah lama yang kiranya tak pernah usang dimakan zaman, Di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Dimulai dari penjelajahannya ke dusun Badui Dalam, Banten, di mana penduduknya menolak semua bentuk teknologi dan mengisolir diri dari dunia luar selama dua ratus terakhir. Bagi para antropolog dan peneliti sosial, desa seperti Badui Dalam ini merupakan objek penelitian yang tidak ada bandingannya. Di desa ini, Nay menemukan fakta bahwa terkadang apa yang ditulis di buku tidak selalu sama dengan kenyataannya. Masyarakat Badui yang menolak teknologi, perlahan mulai terkikis akibat pengaruh para pelancong dari dunia modern yang menginap di sana.



                                                   inilah si Nay yg sedang menyamar :p


            Di Segara Anakan, Nay menjumpai betapa kemiskinan telah mengikis harapan warga di sana yang begitu pasrahnya sehingga membiarkan kemiskinan juga merebut harapannya. Di puncak Gunung Slamet, ia mengakui bahwa mendaki gunung dan melihat matahari dari puncak gunung ternyata tidak semenyenangkan kelihatannya, walau kepuasan itu benar-benar terasa saat kita berhasil mendaki puncak. Di Karimun Jawa, ia bertemu bule yang ingin melarikan diri dari rutinitas dan masalah kesehariannya. Dalam perjalanan ke Kawah Ijen, kedok Nay yang menyamar sebagai seorang cowok terbongkar—yang hampir saja membuatnya kehilangan kawan-kawan seperjalanan.

            Kelebihan Para Pemuja  Matahari terletak pada kesederhanaan dan penuturannya yang “remaja” banget, benar-benar ditulis apa adanya, yang menjadikan buku ini begitu khas dan membuat pembaca larut dalam dunia Nay. Hanya saja, ada kekurang konsistenan dalam  penggunaan sudut padang penceritaan. Kadang, penulis memakai sudaut pandang Nay sebagai orang pertama, namun di paragraf lain penulis menggunakan sudut pandang orang ketiga, seperti ketika ia merujuk ke Nay sebagai “gadis itu”. Naskah ini juga sepertinya tidak melalui proses editing walaupun secara struktur kebahasaan Para Pemuja Matahari sudah lebih dari cukup untuk bisa menyeret pembaca ke alam petualangan si nay berkeliling pulau Jawa. Satu pelajaran dari buku ini, bahwa masalah akan muncul di manapun manusia berada. Di desa Badui Dalam nan sunyi, penduduknya menghadapi masalahnya sendiri, di pantai Karimun nan indah, para pelancong juga membawa beban beratnya sendiri. Masalah ada untuk dihadapi dan diselesaikan, bukannya untuk dihindari terus menerus.

            “Jadi, pelajaran berharga yang Anda dapat dari perjalanan ini adalah di mana pun kita berada, selalu ada masalah. Kita harus hadapi itu bukannya kabur ke tempat terpencil?” (halaman 200)       

            Kalimat penutup Nay, yang luar biasa keren, niscaya akan berhasil membuat iri siapa saja yang selama ini terhalang dari melihat dunia karena kurang sedikit berani.

            “Nah, kemarin akhirnya aku bisa jalan-jalan keliling Jawa. Nggak seperti yang aku pengen sih. Aslinya aku pengen ke tempat yang lebih jauh, lebih menantang. Kayak Irian atau Kalimantan. Tapi, aku belum berani. Aku juga belum punya cukup uang untuk itu. Tapi aku nggak akan nyerah. Aku akan pergi lagi lebih jauh lagi. Suatu saat nanti! Aku akan cari cara halal untuk ngejar itu. “ (halaman 257)


Selamat ya Nay, kamu telah berhasil membuat kami galau, kepingan banget bisa jalan-jalan keliling Jawa kayak yang kamu lakuin.
            
Read more »

Rabu, 12 Oktober 2011

Dua Ibu

Judul                : Dua Ibu
Penulis              : Mbak Sowiyah
Penyunting        : Puitika Studio
Cetakan           : 1, April 2011
Penerbit            : Pustaka Puitika
Tebal                : 591 halaman



        Menghadirkan kontradiksi untuk memulai sebuah novel panjang memang trik jitu untuk memancing keingintahuan pembaca. Namun, teknik ini juga riskan membuat pembaca menjadi kritis dan seperti mencoba mencari “kelemahan” dari teknik ini. walau bagaimanapun, sebuah kontradiksi tidak selamanya akan menarik. Jika penulis tidak mampu mengolahnya menjadi sesuatu yang wajar, atau tidak piawai dalam mencari pembenaran dari asal-muasal kontradiksi tersebut, maka novel itu akan langsung diletakkan bahkan sebelum 100 halaman pertama. Untunglah, hal ini tidak terjadi pada novel panjang Dua Ibu, hasil buah tangan Mbak Sawiyah atau yang dalam akun Facebooknya mengaku sebagai Penulis Kacangan ini. Dan, setelah saya membaca novel yang dengan penuh kepercayaan dipinjamkan kepada saya ini, saya berani mengatakan kalau Mbak Penulis Kacangan alias Mbak Sowiyah bukanlah seorang penulis kacangan. Novel Dua Ibu ini membuktikannya.

            Dibuka dengan antiklimas, Iqbal terpaksa kehilangan kekasihnya, layla, karena pengkhianatan yang ia lakukan dengan perempuan bernama Gaya. Lebih miris lagi, ayah Iqbal kemudian meminang Layla sebagai istrinya. Jadilah Iqbal memiliki dua ibu, satu ibu kandung dan satu lagi ibu muda. Satunya ibu yang sakit-sakitan, satunya lagi ibu yang maish muda, segar, dan cantik-mempesona. Dua ibu, keduanya berbeda usia namun satu kemiripan: keduanya adalah wanita shalihah yang luar biasa berbakti kepada suami—yakni ayah Iqbal. Bayangkan bagaimana emosi saling bercampur baur dalam diri Iqbal ketika setiap hari harus melihat mantan kekasihnya kini melayani ayahnya sendiri. Pembaca mungkin bertanya-tanya, kok bisa Layla dilamar ayah Iqbal? Apakah mereka tidak tahu kalau Iqbal dan Layla itu berpacaran? Jawabannya dijelaskan oleh Mbak Sawiyah   dengan tekun dan simpel melalui lembar demi lembar halaman novel ini. Memang membaca harus agak bersabar, namun di sela-sela itulah pembaca akan menemukan nilai-nilai kesederhanaan nan sering kali kita lupakan.

            Dua Ibu seolah menyentil pembaca modern yang sering kali didera oleh virus galau yang sepertinya terlalu sering kita besar-besarkan. Betapa masalah sms tidak dibalas pacar, atau cemburu melihat orang lain malam mingguan sama pacar dan kita tidak; masalah-masalah “sosial” itu sudah lebih dari cukup untuk membuat anak-anak muda zaman sekarang galau dan risau, membuat resah dan tidak produktif. Dua Ibu menyentil kegalauan tersebut lewat sosok Iqbal, bagaimana pemuda 28 tahun itu harus kehilangan kekasih yang kini menjadi ibu keduanya, betapa Iqbal juga dipaksa menikah dengan Gaya dengan ancaman Gaya akan bunuh diri.
Bahkan ketika Gaya telah resmi menjadi istrinya, dan Iqbal dengan sabar berusaha mencintai wanita yang tidak ia cintai itu; cobaan masih belum berakhir. Gaya bukanlah sosok muslimah seperti Layla. Gaya terlalu asing dengan keluarga Iqbal, dan sekarang tugas Iqbal bertambah—untuk mendidik Gaya menjadi istri yang sesuai dengan syariat yang diajarkan Islam. Selain itu, masih banyak permasalahan lain yang harus dilalui Iqbal, yang semuanya benar-benar menunjukkan situasi ketika manusia benar-benar harus bersikap kesatria dan memilih, tentu dengan segenap konsekuensinya. Semua alur dan kisah rumit yang berjalinan dalam Dua Ibu dapat bermuara pada satu ungkapan: Allah Swt. mencintai hamba-hamba-Nya yang sabar dalam menjalankan ketentuannya.

Lalu, bagimana nasib perkawinan Iqbal dan Gaya? Mengapa Iqbal tidak pernah mampu memanggil istri muda ayahnya itu dengan panggilan “Ibu”? Apakah Iqbal selamanya akan hidup bersama wanita yang tidak ia cintai? Apakah Dua Ibu hanya akan berakhir dengan ending yang membuat pembaca ikut-ikutan bersabar. Owww …ternyata tidak. Mbak Sowiyah sudah menciptakan kejutan-kejutan kecil namun sanggup membolak-balik alur panggung dalam novel ini. Semua keruwetan yang seolah tak berujung dalam jalan hidup Iqbal mulai terurai dengan tersibaknya sebuah rahasia, Latika—saudari kembar Layla. Lalu, siapakah Layla yang ibu kedua Iqbal? Apakah Layla itu Layla atau Atika? Satu bocoran deh, Iqbal akhirnya bercerai dengan Gaya, dan dua hati yang lama terpisah oleh lautan rindu akhirnya duduk bersama dalam singgasana bertabur mawar, dengan kuncup butik dan taburan benangsari yang menumbuhkan violet nan manis dan riang. Saya agak sempat tersedu-sedu (sedikit kok) saat sampai di akhir penjalanan membaca alur hidup Iqbal dan Latla. Dua hati akhirnya bertaut dalam nyala abadi. Salut dah untuk cinta mereka.
Satu hal yang agak kurang berkenan dari novel ini adalah ketebalannya yang adoh dah ampon sangat tebal untuk novel drama. Mohon maaf, saya sering melompat-lompat halaman pada bagian tengah ketika menjumpai struktur cerita yang agak melenceng dari jalur utama. Namun, ketebalan ini tertutup oleh diksi-diksi sederhana namun mengena yang dipakai oleh penulis. Nasihat dan pepatah di dalamnya juga disampaikan secara simpel, tidak terkesan tinggi dan menggurui. Saya kudu banyak belajar nih dari Mbak Sowiyah.

Betapa pahala sabar itu luar biasa manis pada akhirnya.

Dekatkanlah senantiasa hati dan jiwamu kepada Tuhan, Ia akan memudahkanmu dalam segala persoalan.” (hlm. 560)

Tentang Penulis:
            Sowiyah, penulis yang juga seorang tenaga kerja wanita di Hongkong ini lahir di Cilacap pada tahun 1982. Ia tidak pernah menjadikan nasibnya yang hanya lulus MI sebagai penghalang untuk mendulang kesuksesan. Melalui ketekunan dalam berlatih dan belajar, mbak Sowiyah membuktikan bahwa dirinya juga mampu menulis sebuah novel. Saya sangat salut dengan perjuangan beliau dalam melawan ketidak-PD-an saat menyelesaikan novel indah ini. Dari perbincangan di media FB, saya mengenal mbak Sowiyah (yang dengan majas eufemisme memilih nama akun Penulis Kacangan) sebagai seorang yang suka membaca. Luar biasa. Saya sangat salut pada beliau, sungguh tidak bisa dibandingkan dengan saya yang sampai saat ini belum bisa menghasilkan satu novel pun. Selamat kepada Mbak Sowiyah atas Dua Ibu. Semoga saya bisa meniru dan meneladani Mbak dalam melawan kemalasan dan ketidakpedean. Terus berkarya ya Mbak! Semangat!

Read more »

Selasa, 11 Oktober 2011

If I Stay

If I Stay (Jika Aku Tetap di Sini)
Gayle Forman @ 2009
Poppy D. Chusfani (Terj.)
GPU – February 2011
200 hal.,
(pinjem dari Mia)

Kehidupan Mia tampaknya menyenangkan. Tinggal dengan orang tua yang selalu mendukungnya, adik yang manis. Meskipun bisa dibilang orang tuanya rada ‘nyentrik’, tapi semua berjalan dengan baik-baik saja. Mia menyukai musik klasik, sementara orang tuanya cenderung ke arah rock. Di masa mudanya, ayah Mia pernah ikut bermain band. Dan sekarang, Mia juga bermain alat musik, cello. Saat ini ia tengah bersiap-siap untuk audisi masuk sekolah musik ternama, Julliard. Pacar Mia sendiri juga pemain band.

Pagi itu semua baik-baik saja. Salju turun, menyebabkan sekolah-sekolah diliburkan, dan ibu Mia memutuskan untuk tidak masuk kantor. Akhirnya, orang tua Mia memutuskan untuk berkunjung ke rumah sahabat mereka.

Perjalanan juga diawali dengan santai, berebut ingin memutar lagu pilihan mereka masing-masing di mobil. Semua begitu sempurna…. Dan tiba-tiba saja, semua berubah jadi bencana.

Dalam kecelakaan itu, hanya Mia yang ‘selamat’, Mia dalam keadaan koma. Jiwanya ‘melayang-layang’, tapi ia bukan hantu. Mia bisa melihat tubuh ayah dan ibunya yang sudah meninggal, tapi ia tak bisa menemukan adiknya, Teddy. Mia bisa melihat tubuhnya sendiri yang diterbangkan ke rumah sakit dengan helicopter, dimasukin segala macam selang yang membantunya untuk tetap hidup. Mia juga melihat bagaimana Adam, pacarnya, berbuat nekat agar bisa menjenguknya yang ada di ICU.

Dalam keadaan ‘melayang’ itu, semua kisah hidupnya seolah terputar kembali, Mia bercerita tentang ayahnya yang mantan pemain drum, ibunya yang bergaya bak rocker, saat Mia menemani ibunya ketika melahirkna Teddy, saat bersama sahabatnya, Kim dan kencan pertamanya dengan Adam.

Dan dalam keadaan itu juga, Mia harus memilih, apakah ia harus kembali hidup, tapi tanpa keluarga yang menantinya, atau pergi meninggalkan orang-orang yang terus berharap agar ia bertahan?

Mungkin ada baiknya siap-siap sedia tissue, yah buat jaga-jaga kalo-kalo nangis pas lagi baca buku ini. Meskipun sedih, tapi buku ini gak terkesan cengeng dan terlalu ‘menye-menye’, Liat aja gimana Adam, yang meskipun hancur lebur tapi tetap berusaha tegar, atau kakeknya yang sedih, tapi tetap menyerahkan semua pilihan ke Mia. Ini gak hanya tentang kisah cinta Mia dan Adam, tapi juga cinta dalam keluarga dan juga untuk sahabat.

“Aku punya tujuan mengatakan semua ini,” dia melanjutkan. “Ada sekitar dua puluh orang di ruang tunggu sekarang. Beberapa di antara mereka berhubungan darah denganmu. Beberapa lagi tidak. Tapi kami semua keluargamu.”

…. “Kau masih punya keluarga,” bisiknya.

Hal. 183 - 184


Untung buku keduanya udah mau beredar, jadi gue gak perlu terlalu lama penasaran gimana ‘nasib’ Mia selanjutnya.
Read more »

Senin, 10 Oktober 2011

Piramid - Ismail Kadare

[No. 270]
Judul : Piramid
Penulis : Ismail Kadare
Penerjemah : Dwi Pranoto
Penerbit  Marjin Kiri
Cetakan : I, 2011
Tebal : 216 hlm

Piramid  adalah sebuah konstruksi bangunan tertua dalam sejarah umat manusia yang sudah digunakan sejak berabad-abad lampau oleh bangsa Mesir dan Maya kuno. Piramid biasanya digunakan sebagai makam raja-raja atau tempat pemujaan. Salah satu piramid yang paling terkenal dan masuk dalam daftar 7 keajaiban dunia adalah kompleks Piramida Giza yang terletak di dekat kota Kairo (Mesir).

Piramid Giza hingga kini adalah piramida terbesar dibandingkan dengan piramida-piramida lain yang ada di muka bumi. Luas area kompleks Piramid Giza yang terdiri dari 3 piramid besar dan sebuah patung Spinx bisa disamakan antara jarak dari St Peter (Roma), sampai ke St. Paul (London).

Ketiga piramid itu adalah piramid Khufu (Cheops), Khafre (Rakhaef/Chephren) dan Menkaure (Mycerinus) dan yang paling besar adalah Piramid Cheops setinggi 145 meter yang dibangun 4000 thn yg lampau (2550 SM), karena faktor alam tinggi piramid Cheops kini telah menurun sekitar 9 meter. Para arkeolog memperkirakan piramid Cheops yang dibangun selama 20 tahun ini mempekerjakan 10 rb orang.

Selama ini mungkin kita hanya mengetahui kalau Piramid adalah sebuah monumen kuburan raja atau tempat pemujaan, ternyata tidak, ada maksud tertentu dibalik pembuatan piramid yang erat kaitannya dengan kelanggengan kekuasaan raja-raja Mesir. Hal itulah yang coba diungkapkan oleh Ismail Kadare, sastrawan Albania, peraih Man Booker Prize 2005 di salah satu novelnya yang berjudul Piramid

Di lembar-lembar pertama novel ini Kadare langsung memikat pembacanya dengan celetukan Firaun baru Cheops (2589-2566 SM) pada para pejabat istana bahwa ia tak ingin ada Piramid didirikan untuknya. Celotehan ini tentu saja membuat semua yang mendengarnya terkaget-kaget bagaikan mendengar sebuah ‘berita malapetaka’. Hal ini  juga membuat para pendeta istana buru-buru menyelisik lembar-lembar papyrus tua untuk meresponi keinginan Firaun muda yang nyeleneh ini.

Berdasarkan penelisikan para pendeta istana, akhirnya Pendeta Tingga Hemiunu memberanikan diri menghadap Firaun Cheops dan mencoba meyakinkan Firaun untuk membatalkan niatnya itu.  Di bagian ini, Kadere menarasikan argumen Hemiunu pada Firaun  dengan gamblang sehingga terungkaplah tujuan utama dari dibangunnya sebuah Piramid. Setelah mendengar penjelasan dari Heminiu akhirnya Cheops membatalkan niatnya dan memerintahkan rakyat Mesir untuk membuat piramid untuk dirinya seperti yang telah dilakukan oleh para pendahulunya.

Menurut Heminiu gagasan membangun Piramid lahir dari pada suatu masa krisis dimana kekuasaan Firaun melemah. Namun krisis ini tidak dipicu oleh kemiskinan, luapan sungai Nil, atau penyakit sampar seperti yang umumnya terjadi di Mesir, melainkan karena keberlimpahan. Kemakmuran ini tentunya membuat masyarakat lebih mandiri dan bebas dalam berpikir sehingga membuat rakyat lebih kritis bahkan membangkang terhadap kekuasaan Firaun.

Untuk mengatasinya Firaun mengutus dukun-peramal Sobekhotep ke gurun Sahara untuk merenungkan persoalan ini dalam kesunyian total. 40 hari kemudian Sobekhotep mendapat wangsit dan menyampaikannya pada Firaun bahwa yang harus dilakukan adalah meniadakan kemakmuran!

Wangsit yang diterima dukun peramal ini lalu diterjemahkan dengan menyelenggarakan kerja raksaksa yang melampaui imajinasi, yang akan memperlemah rakyat Mesir, menghisap energi rakyat yang menghancurkan jiwa raga. Sebuah proyek yang pada dasarnya bisa diselesaikan namun takkan pernah terselesaikan, proyek yang memperbaharui dirinya sendiri terus menerus, tak bermanfaat bagi rakyat namun berguna bagi negara.  Tujuannya adalah membuat rakyat Mesir terus menerus sibuk siang-malam sehingga mereka menjadi linglung dan tidak memilik semangat untuk melawan kekuasaan Firaun

Membangun Piramid adalah jawabannya! Sebuah makam yang diperuntukkan untuk peristirahat abadi sang Firaun yang kelak akan menjadi identitas Mesir hingga kini. Setiap Firaun nantinya akan memiliki piramidnya sendiri, sehingga meski sebuah generasi belum lagi pulih dari letih akibat pembangunan, seorang Firaun baru kembali akan menundukkan rakyatnya melalui pembangunan piramid untuknya

Demikianlah Ismail Kadare menuturkan maksud dan tujuan didirikannya Piramid dalam novelnya ini. Di novelnya ini kita akan disadarkan bagaimana pada akhirnya Piramid memiskinkan kehidupan rakyat Mesir. Novel yang minim dialog ini mengupas secara apik bagaimana sebuah Piramid dibangun mulai dari masa persiapan pembangunan yang dimulai dari pelipatganaan produksi cambuk, penambangan batu-batu besar untuk piramid hingga ketika piramidion (batu puncak piramid) dipasang lengkap dengan isu2 persekongkolan dibalik pembuatan piramid, kutukan, hingga tekanan yang dihadapi oleh para pembuat Piramid mulai dari pekerja, mandor hingga Firaun sendiri.

Tekanan akibat pembangunan Piramid ternyata tak hanya mempengaruhi rakyat Mesir, bahkan Firaun sendiri mengalaminya terlebih saat Piramid selesai dikerjakan. Setelah Piramid berdiri dengan kokohnya Firaun Cheops merasa ada sebuah kekuatan yang ingin menyeret dirinya untuk masuk ke dalam Piramidnya. Jiwanya terganggu karena seolah Piramid itu terus memanggil-manggil dirinya untuk menjemput kematiannya sehingga muncul ide darinya untuk membunuh seseorang dan meletakkan muminya untuk disemayamkan  dalam Piramid untuk menggantikan dirinya. Pada akhirnya mental Firaun semakin memburuk hingga akhirnya ia meninggal tiga tahun setelah kerja Piramid usai.

Novel ini tak berhenti sampai ketika Piramid rampung dan mumi Firaun Cheops akhirnya disemayamkan di dalamnya. Kadare melanjutkan ketika di suatu masa para penjarah mulai berani memasuki piramid. Mereka ternyata tak hanya menemukan harta karun yang dibawa mati sang Firaun,  ketika para penjarah mencongkel sakrofagus (peti mati)  Firaun dan kerabatnya, melalui mumi yang dilihatnya mereka menemukan fakta-fakta baru tentang isu-isu pribadi sang firaun dan keluarganya, intrik politik, persekongkolan, dan dendam di masa lalu yang selama ini ikut terkubur rapat setelah kematian Firaun.

Hal inilah yang nantinya akan mendorong para sejarahwan muda untuk mempertanyakan dan meninjau kembali konsepsi mereka mengenai sejarah resmi kerajaan. Dari bukti-bukti yang ditemukan oleh para penjarah kubur inilah sejarah kerajaan Mesir memungkinkan untuk ditulis ulang sebagai sesuatu yang sama sekali berbeda dengan sejarah resmi yang selama ini ditulis dan diingat rakyat Mesir.

Di akhir novel Kadare juga membawa pembacanya pada Piramid di pedalaman Asia, di padang rumput luas Ishafan, dimana seorang raja bernama Timurlenk mendirikan sebuah piramid yang serupa dengan yang dibangun Firaun Cheops. Namun yang membedakannya, piramid itu bukan dibuat dari batu melainkan dari tengkorak kepala-kepala musuh kerajaan yang mereka penggal. Hal ini  membuat Raja Timurlenk terus melakukan pembantaian demi pembantaian untuk memenuhi ambisinya membuat sebuah piramid tengkorak!

Pada akhirnya membaca novel karya sastrawan Albania yang diterjemahkan dengan apik ini akan menyadarkan kita bahwa Piramid bukanlah sekedar monumen budaya adiluhung bangsa Mesir. Piramid adalah lambang kekuasaan, ia adalah penindasan, kekuatan, penakluk pemberontakan, penyempit pikiran, pelemah kehendak, kebosanan, dan kesia-siaan. Piramid adalah pilar penyangga kekuasaan. Jika ia terguncang, segalanya rubuh berantakan.

Melalui novel ini kita juga dapat merenungkan betapa dahsyatnya sebuah usaha untuk melanggengkan kekuasaan hingga ia bisa menentukan arah dan nasib manusia di dalamnya. Walau tak berwujud segitiga tinggi yang merobek langit, setiap negara memiliki piramidnya sendiri, jika di epilog novelnya ini Kadare juga menemukan ‘Piramid’ dalam bentuk bunker bawah tanah di tanah kelahirannya, Albania, lalu bagaimana dengan kita? Setelah kita membaca novel ini mampukah kita menemukan ‘piramid’ yang saat ini sedang dibangun oleh penguasa negeri kita sebagai pilar penyangga kekuasaannya?

Tentang Penulis

Ismail Kadare ( 76 thn) adalah sastrawan asal Albania, di negaranya ia dianggap pembaharu sastra Albania karena menulis murni dalam bahasa Albania tanpa dibumbui bahasa asing. 

Penindasan rezim totaliter Enver Hoxha memaksanya untuk menyelundupkan naskah-naskah novelnya keluar negeri. Pada tahun 1990 Kadare akhirnya melarikan diri ke Perancis dan disanalah ia merampungkan naskah La pyramide. Selanjutnya karya-karya Kadere menjadi inspirasi penumbangan rezim totaliter Albania.

Dengan puluhan karya-karyanya yang mendapat respon positif dari kalangan kritikus sastra Kadare beberapa kali dicalonkan sebagai penerima Nobel Sastra dan  beberapa kali mendapat anugerah sastra internasional salah satunya adalah Man Booker International Prize (2005). Kadere juga dianggap sebagai filsuf di Perancis, pada tahun 1996 ia diangkat sebagai anggota kehormatan Academie des Sciences Morales et Politiques mengantikan kedudukan filsuf Karl Poper.


Karya-karya Kadare telah diterjemahkan kedalam 30 bahasa dunia, termasuk  Indonesia. Novel Piramid adalah karya kedua Kadare yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia setelah pada tahun 2003 yang lalu salah satu karyanya Elegi Kosovo diterjemahkan oleh Penerbit Jalasutra

@htanzil

Read more »

Putri Ong Tien

Putri Ong Tien: Kisah Perjalanan Putri China Menjadi Istri Ulama Besar Tanah Jawa
Winny Gunarti @ 2010
GPU - 2010
200 hal.,
(hasil swap sama gadisgerimis)

Putri Ong Tien – putrid Kaisar Hong Gue di masa Dinasti Ming. Ada apa dengan beliau? Yang menjadi Putri Ong Tien disebut dalam sejarah Indonesia, karena ia adalah salah satu istri ulama besar Indonesia, yaitu Sunan Gunung Jati atau dikenal juga dengan nama Syarif Hidayatullah.

Sebagai putri kaisar, Putri Ong Tien mengikuti semua aturan yang telah ditetapkan oleh kaisar sebagai Anak Langit. Meskipun Kaisar menyayangi Putri Ong Tien, tapi tidak setiap saat mereka bisa bertemu dan berbicara dengan santai. Hari-hari Putri Ong Tien dihabiskan dengan mempelajari kaligrafi Cina dan filsafat Cina. Putri Ong Tien adalah putri yang kritis, kala salah satu selir raja tertimpa musibah, ia merasa iba, tapi tak berdaya untuk membebaskan selir itu dari hukuman raja.

Pada masa itu pula, penyebaran agama Islam sudah sampai ke Cina. Bahkan salah satu daerah di Cina, yaitu kota Xian jadi daerah yang populasi penduduk Islam paling banyak. Terbetik kabar bahwa seorang ulama dari Jawa bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit tanpa obat-obatan seperti yang selama ini dilakukan oleh para tabib Cina. Beliau hanya meminta orang yang sakit itu melakukan gerakan-gerakan sholat dan Insya Allah, sembuhlah orang itu. “Kesaktian’ ulama itu terdengar sampai ke telinga Kaisar. Tapi, sebagai Kaisar itu tidak percaya begitu saja dengan berita itu. Maka diundanglah ulama itu ke Kerajaan dan diminta untuk membuktikan kebenaran atas kesaktiannya itu.

Kaisar sudah mempersiapkan sebuah tebakan. Tapi sayang, Kaisar yang merasa dipermalukan mengusir ulama itu dari istana. Ulama itu – sang Sunan Gunung Jati – akhirnya pergi, tapi meninggalkan ‘penderitaan’ pada Putri Ong Tien. Putri Ong Tien jatuh cinta pada pria yang baru ia lihat. Kecakapan dan tutur kata Sunan Gunung Jati mampu merebut hatinya. Demi bertemu kembali pria pujaannya itu, Putri Ong Tien rela meninggalkan Cina, mengarungi lautan yang ganas menuju tanah Jawa.

Kompleks Pemakaman Keramat Sunan Gunung Jati
via budayacirebon

Putri Ong Tien pun menikah dengan Sunan Gunung Jati dan memeluk agama Islam. Hari-harinya di Cirebon dihabiskan dengan membatik. Ia pun memperkenalkan motif-motif baru. Putri Ong Tien meninggal dunia karena sakit. Ia dimakamkan di Kompleks Pemakaman Keramat Sunan Gunung Jati. Dinding di depan makam Putri Ong Tien dihiasi dengan keramik asal Cina yang ia bawa ketika berlayar ke Tanah Jawa.

Wah, banyak pengentahuan baru yang gue dapat dari membaca buku ini. Salah satunya nih, asal kata kota Palembang. Hihihi.. gue memang orang Palembang yang ‘kafir’. Meskipun gue berpikir, “Pe-de banget putri ini, berlayar jauh-jauh demi cinta.” Halahh…. :D

Tapi gue rada bingung, apakah buku ini dikategorikan sebagai ‘historical fiction’ atau bukan? Dan apa maksudnya dengan fakta-fiksi? Di belakang buku ini kategorinya adalah non-fiksi/sejarah.
Read more »

Rabu, 05 Oktober 2011

Orang Kristen Naik Haji

Orang Kristen Naik Haji







Judul                 : Orang Kristen Naik Haji 
 Penulis               : Augustus Ralli
Penerjemah       : Taufik Damas                                                                                                                                                                        




Penyunting         : Adi Toha
Pemeriksa aks    : Dian Pranasari
Cetakan             : 1, Agustus 2011
Tebal                 : 371 halaman
Penerbit            : Serambi Ilmu Semesta





            Membaca judulnya saja sudah sangat kontroversial, dan isinya ternyata jauh lebih kontroversial lagi. Pembaca, termasuk saya, sekilas mungkin akan mengira bahwa buku ini hendak membahas tentang kisah-kisah para mualaf yang berkesempatan menunaikan ibadah haji di Tanah Suci, ternyata tidak demikian—malah jauh lebih seru dari itu. Judul bahasa Inggris dari buku ini mungkin lebih mampu menggambarkan isi sebenarnya dari buku yang ditulis pada tahun 1901 ini, Christian at Mecca. Buku ini sendiri merupakan kompilasi atau kumpulan kisah dari sejumlah individu-individu dari Barat yang sempat merasakan pahit-getir-manis-panas dan berbahayanya petualangan mengunjungi kota paling disucikan oleh umat Islam, Makkah, ratusan tahun yang lalu.

            Makkah dan Madinah, antara abad ke 15 – 19, masih dan tetap merupakan dua kota suci yang menjadi idam-idaman bagi seluruh umat Islam di kolong jagat untuk bisa mengunjunginya. Bedanya, saat itu belum ditemukan transportasi modern yang bisa mengangkut jamaah haji dengan mudah dan cepat. Para jamaah harus melewati jalur darat menembus padang gurun pasir nan gersang dengan terik matahari yang membakar. Lebih dari itu semua, para peziarah juga harus menghadapi ancaman dari suku Badui gurun, perampok, penipu, bahkan kaum Wahabi ekstrem yang waktu itu menguasai kota Madinah. Kaum Wahabi ini begitu rupa ekstremnya sampai-sampai melarang jamaah haji untuk menziarahi makam Baginda Nabi Saw. Jika bagi umat muslim saja sudah begitu sulit, bayangkan bagaimana sulitnya memasuki Mekkah bagi orang Eropa yang non Muslim?

            Seperti telah kita ketahui, ajaran Islam melarang orang yang beragama selain Islam untuk memasuki kota suci Makkah. Bagi yang melanggar, hukumannya pada masa itu adalah digantung atau dipenggal. Apalagi Saudi Arabia kala itu dikuasai oleh kaum Wahabi yang terkenal sangat ekstrem dalam urusan ajaran agama. Namun, yang namanya manusia memang makhluk yang selalu haus akan petualangan. Apa yang dilarang terkadang malah semakin membuatnya semakin tertarik untuk melanggarnya. Makkah yang  begitu tertutup bagi Eropa, yang hanya segelintir orang di barat yang mengetahui kondisi dan situasi di dalamnya, menjadikan kota suci ini sebagai tujuan eksotis nan menantang bagi para petualang Eropa. Bahkan, hukuman mati bagi mereka yang ketahuan mengaku sebagai muslim di Makkah tidak mampu menghalangi jiwa-jiwa yang penuh rasa ingin tahu itu untuk menguak rahasia-rahasia dari agama ini, langsung dari tempat di mana Islam pertama kali diturunkan.

            Satu per satu, bab-bab dalam buku ini menguraikan siapa dan bagaimana kisah perjalanan nekat mereka saat menyamar sebagai muslim demi bisa memasuki Makkah. Mulai dari Ludovico Bartema yang pertama kali menginjakkan kaki di Makkah pada 18 Mei 1503, hingga seorang  Snouck Hurgronje (yang namanya sudah tidak asing lagi); mereka meninggalkan limpahan arsip dan catatan penting mengenai ritual haji dan pandangan mata dari kota suci ini beserta penduduknya sejak abad ke-15 hingga menjelang Perang Dunia I. Beberapa dari petualang itu, seperti Vincent le Blanc (1568), Johann Wild (1697), dan Joseph Pitts (1680) menggambarkan petualangan ke Makkah itu sebagai perjalanan paling mengerikan di dunia. Pitts dan Wild bahkan sempat menjadi budak, tertawan di penjara, dan terombang-ambing tak menentu di kawasan Timur Tengah selama belasan tahun sebelum mereka bisa kembali ke Eropa. Ullrich Jasper Seezen bahkan tewas diracun akibat prasangka keliru atau mungkin karena intrik politik.

“Orang itu memperingatkan Keane (John Fryer Keane) bahwa orang Inggris yang menyamar sebagai muslim hanya untuk melihat prosesi haji lalu menuliskan buku tentangnya sudah ada tiga orang, dan ketiganya dirantai besi pada lehernya dan diborgol di tengah-tengah perbukitan” (halaman 278).

            Para penjelajah paling awal, mengingat pengalaman buruk yang mereka alami dan mungkin juga karena pendapat pribadi mereka, menggambarkan ritual haji dan kota Makkah dengan kecenderungan agak negatif. Makkah digambarkan sebagai lembah tandus yang kering kerontang, dipenuhi dengan para fakir yang meminta sedekah, serta para penipu licik yang siap memangsa para jamaah yang lengah. Perjalanan menembus padang gurun digambarkan seperti neraka dunia, bahkan mereka juga menghina air zamzam. Entah karena siksaan yang mereka hadapi saat berpetualang, ataukah hal ini kian menegaskan kesucian kota ini bagi nonmuslim, para petualang ini rata-rata kapok setelah satu kali berkunjung ke sana. Deskripsi yang lebih netral tentang Makkah diberikan oleh John Ludwig Burckhardt dan Sir Richard Burton. Keduanya dikenal mampu menghasilkan sebuah bunga rampai perjalanan ke Makkah yang ditulis secara objektif dan minim prasangka. Penggambarannya atas Masjid Besar sangat sempurna. Burckhardt jarang menyinggung pengalaman personal dan lebih suka menghimpun berbagai kebenaran dan fakta. Melalui tulisannya, kita bisa mengetahui bagaimana keadaan kota suci ini di abad 19.

            “Ia menyebut Makkah sebagai kota yang indah, panjangnya sekitar 1.500 langkah. Pembatas alami berupa perbukitan menjadi ganti dari pagar-pagar buatan. … Rumah-rumah dibangun dari batu abu-abu gelap, berbeda dengan rumah-rumah di Jeddah yang dibangun dari batu-batu putih mencorong….tidak ada rumah yang umurnya lebih dari 4 abad….Jalan-jalan menjadi gelap gulita di waktu malam…(113 - 114).


            Dari Bartema, kita bisa mengira-ngira bagaimana bentuk bangunan Masjidil Haram pada abad ke-16:

            “Tempat peribadatan berada di tengah-tengah kota, seperti Colossus di Roma dan stadion Roma. Tempat-tempat ibadat ini tidak dibangun dari marmer atau batu pahat, tapi dari batu bata yang dipanggang (dibakar). Di pintu masuk, terdapat dinding-dinding berlapiskan emas yang berkilau dari segala arah, terlihat sangat indah dan tiada tandingannya. Di bawah tempat-tempat melengkung, terlihat kerumunan banyak orang, …” (halaman 40).

            Petualangan yang paling akbar dicatatkan oleh Sir RIcard Burton yang menulis ulang petualangannya ini dalam tiga jilid tebal autobiografinya Pilgrimage to AL-Madinah and Meccah yang mendapatkan sambutan di Barat maupun di Timur karena narasinya yang memukau bak novel petualangan, yang dikisahkan dengan begitu indah:

            “Saat itu bulan hampir penuh, menyinari bangunan Ka’bah yang mirip peti bergaris warna perak. Bangunan ini kelihatan jelas, bahkan lebih jelas daripada waktu siang hari. Di sanalah bangunan itu berada, sendirian, seolah-olah perwujudan keesaan dan keagungan Yang Esa, inti semua ajaran Islam. (halaman 237).


Walaupun dengan segala kesulitan dan ancaman yang harus dihadapi, nyatanya jamaah haji terus berdatangan dari seluruh penjuru dunia ke kedua kota suci ini. Panggilan Ilahi begitu sulit untuk mereka tolak, karena pahala dan ganjaran Surga memang jauh melampaui kesulitan-kesulitan duniawi yang menghadang para jamaah untuk berkunjung ke Baitullah. Dari para petualang Eropa ini, kita bisa mengetahui rekam jejak ibadah haji dari masa ke masa, tentang kesulitan yang menghadang dan juga keberkahan yang telah menanti para tamu Allah ini. Saksikan bagaimana kesaksian Burckhardt ketika melihat tulusnya  seorang jamaah haji dari Darfur, Sudan, yang langsung gemetar ketika akhirnya ia bisa melihat Ka’bah yang agung itu setelah menempuh perjalanan menembus gurun nan gersang, “Ya Allah, ambillah nyawaku sekarang, ia berseru. Ini adalah surga!”

Read more »

Cinderella

Cinderella (as if you didn't already know the story)
Barbara Ensor @ 2006
Schwartz & Wade Books, New York
115 hal.,
(pinjem dari mia)

Cinderella… bukan cerita yang asing kan? Apalagi untuk penggemar dongeng. Terutama cewek-cewek. Cerita si gadis sepatu kaca, bukan hanya gue tonton versi kartun, tapi versi film bahasa Inggris (eh.. ada versi Indonesia-nya juga bukan? Yang main Ira Maya Sopha?)

Cerita di dalam buku ini pun, gak jauh berbeda. Cinderella harus tinggal dengan ibu tiri yang kejam, dua orang saudara tiri yang gak kalah nyebelin dan bossy, ayahnya yang jadi berubah setelah menikah. Lalu, acara pesta dansa dan pulang tepat tengah malah dengan sebelah sepatu yang ketinggalan.

Terus… apa yang menarik dari buku ini kalau semuanya sama aja? Salah satunya adalah karena ilustrasi hitam-putihnya. Ilustrasinya sih simple aja. Tapi, jangan bayangkan Cinderella dengan gaun yang gelembung dan ribet. Atau jangan bayangkan wajah tampan si Pangeran, atau cantiknya Cinderella. Hmm.., kalo buat sosok ibu tiri dan kedua saudara tirinya, sih, pas aja. Yang keren nih, ada gambar sepatu kaca Cinderella dalam ukuran yang sebenarnya.

Yang menarik lagi, ada surat-surat yang ditulis Cinderella untuk almarhumah ibunya, menggambarkan betapa ia merindukan ibu kandungnya.

Apakah selesai sampai kalimat ‘Happily ever after’… ow, ada sedikit cerita tambahan, sedikit kejutan, menampilkan sosok yang berbeda dari seorang Cinderella dan juga pangerannya.

Buku ini memang benar-benar ‘a quick read’ seperti yang tertulis di covernya.
Read more »

Selasa, 04 Oktober 2011

Anne of Rainbow Valley

Anne of Rainbow Valley
Lucy M. Montgomery
Maria M. Lubis (Terj.)
Qanita - Cet. I, Juni 2011
428 hal.
(hadiah menang kuis @penerbitmizan)

Anne tidak pernah mengira bahwa ia akan senang tinggal di Ingleside. Di sana, bersama Gilbert yang sibuk dengan praktek dokternya, Anne membesarkan anak-anaknya. Meskipun di sekeliling Anne, orang-orang ‘mencemooh’ atau bergunjing tentang perilaku anak-anaknya, tapi Anne tetap tersenyum, tak pernah terganggu dengan gosip-gosip itu. Anne masih tetap perempuan yang berjiwa ‘romantis’ dan pemimpi, meskipun sudah ‘ibu-ibu’.

Anak-anak Anne berkenalan dengan anak-anak pendeta yang baru saja pindah ke daerah mereka –keluarga Meredith. Keluarga Meredith ini juga jadi bahan pergunjingan orang, karena sang Pendeta, John Meredith, terlalu sibuk dengan dunianya sendiri, anak-anaknya tak terurus, Ibu mereka sudah meninggal, dan bibi mereka yang tinggal bersama juga tidak terlalu mempedulikan keadaan mereka. Baju kumal dan terkadang sudah sobek, makanan yang kurang bergizi. Karena kurangnya perhatian dan tak ada yang menegur mereka, perilaku mereka juga menurut orang-orang, kurang pantas bagi anak-anak seorang pendeta. Jerry, Carl, Faith dan Una, bermain sekehendak hati mereka, meskipun ini masih dalam tahap kewajaran nakalnya anak-anak.

Sementara itu, gosip percintaan juga masih hangat beredar. John Meredith yang bisa dibilang ‘duda keren’ ini menarik perhatian beberapa perempuan muda. Tapi, konon menurut (lagi-lagi) gosip, para perempuan itu berpikir dua kali untuk mendekati John Meredith karena anak-anaknya yang badung.

Tapi ada satu perempuan muda yang pendiam, bernama Rosemary West, yang tinggal bersama kakaknya, Ellen West. Sebenarnya, Rosemary West adalah ‘calon’ yang kuat untuk jadi ibu bagi anak-anak Meredith, tapi, ada suatu perjanjian ‘konyol’ yang mengikatnya.

Kalau mau mencari kisah kehidupan Anne di buku ini, kaya’nya minim banget. Lebih banyak diceritakan tentang anak-anak, bahkan tentang anak-anaknya Anne pun sedikit, Porsinya lebih banyak diceritain tentang anak-anak keluarga Meredith itu. Tingkah mereka tidak jauh berbeda dengan Anne di masa kecil, hanya sedikit lebih heboh.

Padahal gue pengen tau tuh, gimana kabarnya Marilla di Green Gables, sahabatnya Diana dan gimana dengan Gilbert. Tapi, tetap asyik koq membaca buku ini. Kalo sekarang nih, bisa dibilang, Anne adalah orang tua yang ‘cool’, yang gak hanya memposisikan diri sebagai orang tua, tapi juga sebagai sahabat untuk anak-anaknya.
Read more »

128

hal 128 (Surat): Semakin tidak sabar mengetahui kisah Pieter, aristokrat muda Belanda dan Yasmin, gadis pribumi Indonesia dalam menjalin hubungan mereka di masa perang. Apa mereka akan melarikan diri bersama?
ohh,aku yakin kalian tahu novel apa  ini..
Read more »

Minggu, 02 Oktober 2011

Smile

Smile (Senyum)
Raina Telgemeier

Indah S. Pratidina (Terj.)
GPU, Cet. I - Juni 2011
224 hal.
(pinjam dari mia)

Sebagai anak ABG, Raina sedang ‘sibuk-sibuk’nya dengan dunia ‘pencarian jati diri’. Di satu sisi, masih ada jiwa anak-anak, tapi di sisi lain, udah pengen ‘lepas’ dari keluarga yang sering ikut campur, adik yang sering banget ganggu, temen-temen yang suka norak kalo ngeledek, atau udah mulai deg-degan liat cowok cakep. Hmmm… sounds familiar… Kalo diliat-liat sih, kata temen-temennya, Raina emang masih kaya’ anak kecil – rambut dikepang dua kalo ke sekolah, suka main video game dan belum dikasih izin untuk tindik telinga.

Dan malangnya, di saat yang lain sedang ‘sibuk’ untuk tampil ‘sekeren’, ‘secakep’, Raina justru bermasalah dengan giginya. Awalnya, gara-gara pas lagi kejar-kejaran sama temannya, Raina tersandung dan dua gigi depannya copot dan rahangnya ‘rusak’. Sejak itu, kunjungan ke berbagai macam jenis dokter gigi jadi rutinitas Raina. Mulai dari orthodontist dilanjutkan dengan segala yang berakhiran ‘dontis’ lainnya. Pemeriksaan yang mengerikan, plus perlengkapan yang bisa bikin minder kalo dipakai.

‘Penderitaan’ Raina ternyata terus berlanjut sampai ia di duduk di sekolah lanjutan atas. Saat temannya sudah mulai punya gebetan, tapi Raina masih tetap dengan gaya Raina yang lama. Masih suka pakai t-shirt cowok. Tapi meskipun dengan segala keribetan urusan gigi itu, Raina tetap ceria. Meskipun sesekali gak pe-de untuk senyum gara-gara behel-nya itu.

Tapi, saat keribetan itu berakhir… wah… Raina pun bisa tersenyum lepas…

Membaca buku ini, gue koq jadi berasa kembali ke ‘masa lalu’. Gue juga ‘mantan’ pemakai behel, tapi gak ‘lulus’. Hehehe.. gara-gara gue males banget dengan segala tetek-bengeknya. Ditambah masalah gak pe-de karena harus pakai kawat gigi, jaman gue dulu rasanya belum banyak yang pake kawat gigi, jadinya sering jadi ledekan temen-temen gue pas sd.

Melihat buku ini direview di beberapa blog, gue jatuh hati dengan cover-nya yang simple. Gue jadi bertanya-tanya, koq kalo gue ke toko buku, buku ini gak keliatannya ya? Saat pertama gue buka buku ini, wah… gue disajikan ilustrasi yang menyegarkan, full color, simple dan rapi. Menyenangkan rasanya baca buku ini.

Gue langsung browsing ke website Raina Telgemeier, pengen liat novel apa lagi yang udah ditulis. Wah.. ternyata, ada The Baby-Sitters Club versi novel grafis, dan… satu buku lagi yang dari covernya ada tampak lucu, Nursery Rhyme Comics: 50 timeless rhymes from 50 celebrated cartoonists. Nah, salah satunya ada ilustrasi Raina Telgemeier.


Read more »

Kedai 1001 Mimpi

Kedai 1001 Mimpi
Valiant Budi
Gagas Media, Cet. I - 2011
444 hal.
(pinjem dari Mbak Riana)

Kecintaan pada dongeng 1001 Malam, membuat seorang Valiant Budi nekad untuk menjadi TKI di negeri Arab Saudi. Kenapa memilih ke sana? Ya itu, salah satu alasannya. Akhirnya, ia pun nekat mengirim lamaran sebagai barista di kedai kopi international di Arab Saudi. Tak peduli banyak kisah miris tentang TKI yang selama ini sering terdengar di berita-berita di tanah air. Proses keberangkatan juga tidak mudah, bolak-balik medical check-up dan penantian yang cukup panjang sampai akhirnya Valiant Budi benar-benar berangkat ke tanah Arab.

Valiant Budi – atau di sana akrab dipanggil Vibi – akhirnya bekerja di sebuah kedai kopi bernama Sky Rabbit. Mungkin kalau dibaca, rasanya Vibi ini kesellll terus sepanjang ada di sana. Maunya marah-marah aja. Mulai dari disebut ‘Indunisi’, sering dikira orang Filipina, dikejar-kejar lelaki Arab yang punya kelainan, pelanggan yang gak sabar, sok tau, boss dan rekan sekerja yang gak kalah ngeselin. Kenalan dengan sesama TKI yang juga punya kisah gak kalah ajaib.

Semua jadi satu… culture shock. Gak nyangka di tanah Arab, tempat agama Islam diturunkan, justru segala bentuk kejahatan ada di sana. Hukum dan peraturan gak berlaku untuk warga asli. Sementara warga pendatang, salah sedikit langsung dihukum. Hati-hati banyak muttawa atau polisi gadungan berkeliaran. Susah ngebedain antara yang asli dan yang palsu. Termasuk pasangan muhrim palsu. Karena perempuan pada pakai cadar, jadi gak ketauan deh yang digandeng itu istri beneran atau selingkuhannya. Hehehe…

Di waktu luangnya, Vibi menulis blog dengan tema ‘Arabian Undercover’ yang ternyata menuai caci-maki dan ancaman.

Terlepas dari buku ini, meskipun banyak kisah-kisah menyedihkan dan tragis yang sering kita dengar, entah itu pembantu yang disiksa majikan, pembantu yang dihukum karena kesalahan kecil aja. Dari yang terbaca di sini, orang-orang Arab ini jago ngeles, jadinya, biarpun mereka salah, pada akhirnya, tetap aja si pembantu (baca: TKI) yang jadi salah dan akhirnya dihukum. Tapi, kenapa tetap banyak yang tergoda untuk pergi ke sana, faktornya adalah karena uang, hasil yang ‘berlimpah’ yang bisa dikirim ke kampung. Asal mau ‘menuruti’ keinginan majikan, uang dan kemewahan lainnya akan terjamin. Misalnya mau dijadikan istri yang kesekian, mau ‘diapa-apain’ aja sama majikan, atau bahkan ketemu Om-om Arab di tengah jalan pun bisa langsung dapat uang banyak – asal ya itu, mau diajak ‘ngapain’ aja sama Om-om Arab itu.

Belum lagi, orang-orang Arab yang merasa dirinya kaya banget itu sering bersikap arogan dan merendahkan orang-orang pendatang. Udah ngerasa paling oke, tapi ada aja akalnya, dari norak sampai yang ajaib.

Gak heran sih, kalo Valiant Budi ini, bawaannya kesel dan marah-marah aja. Tapi, gue bolak-balik ketawa, senyum-senyum saat membaca buku ini. Kadang kasian, tapi karena ditulis dengan gaya yang kocak jadinya antara terenyuh, kasian tapi pengen ketawa. Siap-siap tersenyum kecut, senyum geli atau malah 'jijay'. Foto-foto yang sedikit gak terlalu penting buat gue, karena di sini yang ditulis bukan kisah jalan-jalan ke Arab.
Read more »

Peradaban Atlantis Nusantara

Judul                   : Peradaban Atlantis Nusantara, Berbagai Penemuan Spektakuler yang makin Meyakinkan Kebenarannya
Penulis                 : Ahmad Yanuana Saamantho dkk
Penyunting           : Mayang Sari Ariawan
Tebal                   : 540 halaman
Cetakan              : 1, Juli 2011
Penerbit               : Ufuk Press
Harga                  : Rp 74.000,00


            Membicarakan mengenai Atlantis seolah memang tidak akan pernah ada habisnya. Atlantis sendiri secara tidak langsung melambangkan masyarakat utopis yang luar biasa ideal, dan inilah sebabnya peradaban ini menjadi salah satu yang paling menarik untuk terus diteliti dan diperbincangkan. Tempat ini disebutkan pertama kali oleh filsuf Plato dari Yunani Kuno sekitar abad 4 SM, dan sampai sekarang tidak kurang dari 500 buku dan film telah ditulis dan diangkat berdasarkan benua legendaris yang konon ditenggelamkan di dasar samudra. Selain keberadaannya yang seolah “ada tapi tiada”, kontroversi ini juga berkaitan dengan letak sesungguhnya dari benua yang ditenggelamkan ini. Plato sendiri dalam karyanyaTimeaus and Critias (ditulis pada 360 SM) menjelaskan bahwa pulau Atlantis terhampar di seberang pilar-pilar Hercules (yang selama ini dianggap sebagai semenanjung Gibraltar karena menghadap langsung ke samudra Atlantik). Pulau makmur ini tenggelam ke laut hanya dalam waktu satu malam akibat hukuman para dewa yang murka kepada penduduk Atlantis. Entah Atlantis versi Plato ini hanya melambangkan suatu konsep Philosopher King dalam Republic-nya, ataukah dulu Atlantis ini memang benar-benar ada, yang jelas pencarian terhadap lokasi Atlantis tidak pernah berhenti.

            Beragam dugaan tentang letak tepat dari benua Atlantis pun bermunculan. Berbagai klaim dan perkiraan diajukan, di antaranya di Samudra Atlantik, di laut Mediterania, di pulau Siprus, hingga di laut Karibia di benua Amerika. Masalahnya, pada masa Plato (dan juga pada masa Herodotus dan Aristoteles), Atlantik digunakan untuk merujuk pada seluruh samudra atau lautan di seluruh dunia. Bahkan, Plato merujuk kata “Atlantik” ini kepada Samudra Hindia sekarang. Seolah semua kontroversi itu belum cukup, pada tahun 2005 seorang profesor geologi dari Brazil yang bernama Prof. Dr. Aryo Santos meluncurkan bukunya Atlantis, the Lost Continent Finally Found, The Definitive Localization of Plato’s Lost Civilization (buku ini juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Ufuk) yang tidak kalah menghebohkan dunia. Santos, melanjutkan hipotesis Oppenheimer, mengajukan klaim bahwa Atlantis itu terletak di Nusantara, tepatnya di paparan Sunda atau laut dangkal antara pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan dan India.

            Alkisah, sekitar 10.000 tahun SM, ketika Bumi mengalami zaman es yang terakhir, diperkirakan memang ada sebuah peradaban besar yang maju. Karena saat itu kawasan Amerika Utara, Asia, Timur Tengah, Eropa dan sebelah Selatan Afrika masih tertutup oleh tudung es yang luas, maka satu-satunya daratan yang memungkinkan munculnya peradaban adalah di wilayah tropis yang suhu udaranya hangat di samping datarannya yang luas. Dugaan ini lah yang digunakan Santos untuk mengajukan klaim bahwa Atlantis dulunya berada di kawasan Sundaland, sebuah dataran luas yang menyatukan India, Sumatra, Jawa dan Kalimantan. Kondisi geografis Indonesia yang bergunung-gunung serta keadaan alamnya yang subur juga semakin menguatkan klaim Santos. Ledakan Megavolcano Toba, Krakatau, Tambora dan gunung-gunung lain di Nusantara Purba inilah yang kemudian menyebabkan tenggelamnya Atlantis.

          Buku Peradaban Atlantis Nusantara karya Ahmad Y. Samantho dan Oman Abdurahman et. All ini ibarat bunga rampai yang sangat komprehensif untuk menguak misteri keberadaan benua Atlantis, terutama kaitannya dengan klaim bahwa Atlantis dulunya memang berada di Nusantara Purba. Bagi Anda yang merasa buku Oppenheimer dan Santos—yang harganya di atas ratusan ribu—terlalu mahal, maka buku ini bisa menjadi semacam penghalang dahaga keingintahuan yang sangat memuaskan. Di dalamnya, kita bisa membaca rangkuman atau mungkin malah pemaparan secara lebih komprehensif mengenai karya Oppenheimer Eden in the East dan karya Santos Atlantis, Lost Continent finally Found.Lebih keren lagi, di buku ini juga ditampilkan sejumlah tulisan yang lebih lokal, yakni terkait dengan dugaan-dugaan dan/atau temuan-temuan sejumlah pakar Indonesia dari beragam ranah keilmuan yang intinya hendak mendukung klaim bahwa Atlantis itu berada di Nusantara atau Sundaland. Misalnya saja, adanya kemiripan bentuk candi Sukuh yang menyerupai piramida bangsa Aztec, juga sebuah bukit di Jawa Barat yang diperkirakan adalah sebuah piramida yang tertimbun tanah karena bentuknya yang sangat simetris.

              Bagian paling menarik dari buku ini bisa ditemukan pada bab 1, 2, 3, 4, 5, 6, 10, dan 13. Dengan tidak memungkiri pentingnya bab-bab yang lain; membaca bab-bab favorit di atas bisa diibaratkan seperti memutar film tentang Atlantis, mulai dari kemunculannya dalam karya Plato, hingga klaim bahwa Atlantis itu memang berada di Sundaland. Dalam bab-bab ini, pembaca akan menemukan jawaban dari mengapa peradaban yang besar itu bisa musnah tanpa meninggalkan jejak, sedahsyat apa bencana yang terjadi kala itu, apa keterkaitan antara tenggelamnya Atlantis dengan penyebaran atau diaspora penduduk dunia, benarkan nenek moyang bangsa-bangsa India dan Mesopotamia itu berasal dari Nusantara, bagaimana kisah terbentuknya selat Sunda terkait dengan tenggelamnya Atlantis, apakah pilar-pilar Herkules yang dimaksud Plato itu adalah gunung-gunung di Sumatra dan Jawa, dan masih banyak lagi tema-tema menarik seputar Atlantis yang luar biasa menarik untuk dibaca. 

          Karena formatnya yang berupa bunga rampai, mungkin sejumlah pembaca agak kecewa karena buku setebal 540 halaman ini tidak melulu membahas Atlantis. Beberapa bab di bagian belakang, bahkan membahas ranah filsafat ala Yunani yang mungkin sengaja dimasukkan dalam buku ini karena keterkaitan erat antara Atlantis, Plato, dan Yunani. Selain itu, masih dijumpai typo serta kekurangsempurnaan editan di halaman 70–90. Namun, secara garis besar, buku ini sangat memuaskan dahaga intelektual para pembaca yang mengidam-idamkan tema-tema Atlantis yang dibahas secara komprehensif dan ilmiah. Dan, para penyusun yang turut menyumbangkan tulisannya dalam buku ini pun sudah terbukti keandalannya dalam ranah masing-masing. Inilah yang membuat buku ini begitu bermutu dan berbobot. Sungguh sebuah karya yang niscaya akan mengajak kita untuk meneguhkan kembali  jati diri kita sebagai bangsa yang besar. Dengan membaca buku ini, sejarah Nusantara mungkin harus sedikit direvisi.

Read more »