Minggu, 06 November 2011

The Boy Sherlock Holmes, Eye of the Crow

Judul               : The Boy Sherlock Holmes, Eye of the Crow
Pengarang       : Shane Peacock
Penerjemah      : Maria Lubis
Peny. Aksara   : Ananta
Ilustrasi isi       : Sweta Kartika
Cetakan           : I, Oktober 2011
Tebal               : 351 halaman
Penerbit           : Qanita



            Kita mungkin sudah mengenal siapa dan bagaimana sosok Sherlock Holmes, seorang tokoh fiksi ciptaan Sir Artur Conan Doyle yang telah begitu rupa menginspirasi munculnya genre novel detektif  dalam sejarah. Tingkah polah Holmes bersama sahabatnya, Dokter Watson, begitu mempesona jutaan pembaca melalui detail penceritaan yang luar biasa akurat, teknik pemecahan kasus yang begitu dahsyat, serta kejutan-kejutan yang sungguh memikat. Jika Anda sempat membaca novel Sherlock Holmes dalam edisi bahasa Inggris yang asli, Anda pasti akan mampu merasakan bagaimana kalimat-kalimat yang dituliskan oleh Conan Doyle melalui pengamatan Dr. Watson begitu klasik dan mengagumkan. Tapi, tidak ada orang yang sempurna. Terlepas dari kehebatan analisanya, Sherlock Holmes juga memiliki kebiasaan-kebiasaan yang mungkin bisa dibilang aneh atau nyentrik. Ia seka sekali mengisap madat, terutama kalau tengah mengalami kebuntuan dalam berpikir atau menemui masalah. Detektif ini juga sering menghilang tiba-tiba, menyuruh kliennya melakukan sesuatu yang aneh dan tak terbayangkan, bahkan kadang juga terlalu egois serta penyendiri.

            Masa kecil Sherlock Holmes lah yang oleh Shane Peacock kemudian coba ditelusuri. Sifat dan kepribadian Sherlock Holmes yang nyentik pastinya dibangun oleh masa kecil dan masa remajanya yang kemungkinan juga “tidak biasa”. Pembaca tidak pernah tahu, kecuali sedikit, dari masa lalu detektif ulung ini sehingga bagian inilah yang menawarkan eksplorasi menarik untuk dijelajahi, untuk coba diraba-raba. Novel seri The Boy Sherlock Holmes ini adalah salah satu yang terbaik dalam upaya menghidupkan kembali masa muda detektif fiksi legendaris ini.

            London pada abad kesembilan belas adalah kota yang luar biasa padat dan berkabut. Entah kabut akibat asap cerobong pabrik produk Revolusi Industri ataupun memang karena cuaca London yang identik dengan hujan dan kabut, serta lampu gas, kota ini menawarkan setting yang tepat untuk membangun sebuah kisah misteri dan detektif. Di kota inilah seorang bocah kecil tengah digodok dengan kasus pertamanya, sebuah persiapan untuk membentuknya menjadi seorang pengamat sejati. Sejak kecil, Sherlock muda telah dianugerahi dengan mata yang awas serta pikiran yang luar biasa tajam. Ia mampu mengamati orang-orang dan dengan tepat menyimpulkan apa pekerjaannya, di mana tempat tinggal dan asalnya, apakah ia sudah menikah atau belum; hanya dengan melihat sepatunya. Kemampuan analisa ini rupanya diwarisi dan diajarkan oleh ayahnya.

            “Pengamatan”, Wilber selalu berkata. “bukan hanya suatu keahlian primer seorang ilmuwan, tapi bakat mendasar makhluk hidup. Gunakan matamu sepanjang waktu Anakku. Matamu tidak akan berbohong kepadamu jika kamu benar-benar berfokus. Gunakan seluruh indramu; pendengaran, penciuman. Perasa, dan peraba. … Melihat segala hal dengan saksama adalah kekuatan yang sangat besar. Itu akan memberimu kekuatan, bahkan meskipun nasib terasa melemahkanmu. (hlm 99)

            Kasus pembunuhan di  sebuah lorong gelap di sudut kota London adalah kasus pertama yang ia tangani. Suatu kasus yang luar biasa, yang bahkan sampai menjebloskan ia ke penjara dan terpaksa bermain-main dengan sang pembunuh yang kejam. Sudah bisa kita tebak, Sherlock berhasil memecahkan kasus ini dengan brilian. Ia berhasil menyelamatkan nyawa seorang tukang daging yang tidak bersalah, namun untuk itu, Sherlock juga harus menanggung kehilangan yang sangat besar di akhir cerita. Sebuah pengalaman traumatis yang mungkin kelak akan turut membentuk sosok Sherlock Holmes yang nyentrik, suka madat, dan cenderung  penyendiri.

            Melalui kemampuan pengamantannya, Shelock berhasil melarikan diri dari penjara. Caranya pun sangat unik dan tak terbayangkan. Lalu, pembaca akan diajak untuk menyusuri lorong-lorong gelap kota London, di mana kabut menyembunyikan bangsawan yang mabuk, wanita kelas atas yang senang berkeliaran, pengemis dan orang-orang asing, serta pembunuh itu sendiri. Ketika polisi kemudian menangkap orang yang keliru, Sherlock muda menemukan bukti tak terbantahkan lewat mata kawanan burung gagak. Yah, burung-burung itu menyaksikan pembunuhan itu. Sherlock juga mendapat bantuan dari anak-anak jalanan, yang hingga ia menjadi detektif hebat kelak, akan tetap menjadi sumber informasi dari “jalur belakang”nya yang sangat terpercaya. Sherlock kemudian juga menyamar untuk menghindari polisi sekaligus menyelidiki, yang hal ini menjelaskan kehebatan Sherlock Holmes dewasa yang sangat piawai dalam menyamar. Jika bakat pengamatan diwarisi dari ayahnya, maka penyamaran adalah bakat yang diturunkan oleh ibunya.

            Berani menjamin, pembaca akan terbawa kembali ke masa ketika Conan Doyle mengetikkan naskah Sherlock Holmes yang asli di abad ke-19 ketika membaca kutian berikut,

            “…Jika  kau memikirkan solusinya dulu sebelum berurusan dengan suatu masalah ilmiah, kau mengerjakannya secara terbalik. Kita membutuhkan fakta-fakta, Irene. Setelah memiliki sekumpulan petunjuk, sebuah jejak yang bisa kita ikuti, kita bisa menemukan solusinya.” (hlm. 166).

            Sungguh hebat, The Boy Sherlock Holmes menawarkan pilihan masa muda dari sang detektif legendaris ini dengan begitu hidup. London dengan kabut, lampu gas, dan kereta kudanya, semuanya diterapkan sebegitu canggih oleh Shane Peacock sebagai properti fiksi yang tidak boleh tidak terpakai dalam karya-karya berbau Holmesian. Saya menyarankan novel ini sebagai bacaan pengiring bagi Anda yang telah membaca habis seluruh seri petualangan Sherlock Holmes dan menginginkan versi lebih detail dan lebih utuh dari kehidupan salah satu master detektif terhebat dalam sejarah fiksi dunia ini.

Read more »

Sabtu, 05 November 2011

Alvin Ho #2: Alergi Terhadap Berkemah,Hiking,dan Aneka Bencana Alam

Kalau kamu sudah membaca novel sebelumnya, Alvin Ho :Alergi Pada Anak Perempuan, Sekolah, dan Hal-Hal Seram Lainnya  pasti kamu sudah bisa mengetahui sedikit banyak tentang Alvin Ho. Tapi, mungkin kamu sudah lupa. Karena itulah sekuel kedua ini hadir untuk mengingatkanmu kembali pada si bocah kecil yang penakut ini.

Namanya Alvin Ho

Punya kakak laki-laki yang bisa diandalkan (Calvin) dan adik perempuan yang menyebalkan (Anibelly)

Tinggal di Massachussetts yang sulit dieja

Cita-cita sejati menjadi Firecracker Man

Takut pada banyak hal  meliputi:
 * Kata-kata panjang (Hippopotomonstrosesquipedaliophobia)
 * Tanda baca
 * Anak perempuan
 * Kegelapan (Nyctophobia)
 * takut ketinggian
 * Sekolah
 * Hal-hal seram
 * dll (yang bila disebutkan satu persatu pasti akan membuat daftar yang sangaaaat panjaaaang)

Musim gugur kali ini, Alvin Ho ternyata mendapat tantangan besar dari sang ayah yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya. BERKEMAH. Oh tidak--tidak--jangan berkemah. Ia belum pernah berkemah, namun hanya membayangkan berada di alam terbuka dengan bencana yang bisa datang setiap saat membuat ketakutannya bertambah. Ia mencoba membujuk ayahnya untuk membatalkan niat bekemah selama dua hari itu, tapi sayangnya sia-sia saja. Dengan tambahan Anibelly yang ikut  menemaninya dalam acara kemah ini  sayangnya  tidak sedikit pun membuat ketakutan Alvin berkurang.

Beberapa hari menjelang berkemah, Alvin Ho tidak dapat tidur nyenyak. Ia masih dibayang-bayangi ketakutan pada tornado,badai,tanah longsor dan hal-hal buruk lainnya yang bisa terjadi selama ia berkemah nanti. Ia pun tak kuasa menulis surat wasiat untuk berjaga-jaga untuk kemungkinan terburuk itu. hahaha



Disamping itu, Alvin pun juga menceritakan perihal ketakutannya itu pada Calvin, kakaknya. Calvin yang punya segudang ide pun akhirnya mengajaknya untuk membeli barang-barang ajaib yang akan berguna untuk Alvin dengan kartu kredit sang ayah. Pesanan mereka pun akhirnya tiba keesokan harinya: generator portabel, GPS, masker pernapasan N95, tablet pemurni air, makanan ringan penambah energi,dan terakhir, kacamata night-vision untuk melihat dalam kegelapan

Hari berkemah pun tiba. Ayah, Anibelly, dan Alvin Ho pun akhirnya pergi ke pegunungan. Dengan barang-barang ajaib yang dipesan Calvin serta beberapa trik-trik rahasia bertahan hidup dari Paman Dennis (S-U-R-V-I-V-A-L),  Alvin Ho merasa cukup siap untuk berkemah dibanding sebelumnya. Disana ia juga bertemu dengan Beaufeuillet yang akhirnya menjadi teman berkemah Alvin  dan bersamanya pula Alvin memiliki kesempatan untuk memasang jebakan-jebakan penangkap  musuh serta melakukan petualangan fantastis di alam liar.

Harus diakui aku sangat tertarik dan menunggu dengan setia pada kisah-kisah Alvin Ho selanjutnya hanya karena keunikan tokoh utama novel ini. Karakter  penakut yang menjadi ciri khas Alvin  dan bagaimana pola pikirnya terhadap segala hal kerapkali membuatku gemas dalam hati sambil berkata “Ayolah, kenapa sih harus takut?”, tapi dilain hal karena karakter ini pula yang membuat kisah Alvin terbilang unik dan lebih hidup.

Kisah Alvin Ho pun juga tergolong ringan dan sederhana. Sangat cocok untuk segala umur yang menyukai genre drama anak-anak atau hanya sekedar bacaan selingan (seperti yang aku lakukan). :D

Wohooo..tidak sabar menunggu sekuel ketiga, Alvin Ho : Alergi  Terhadap Pesta Ulang tahun, Proyek Ilmiah, dan Aneka Bencana Buatan Manusia.

=================

Judul : Alvin Ho: Alergi Terhadap Berkemah, Hiking Dan Aneka Bencana Alam
Penulis :Lenore Look
Penerjemah:Ferry Halim
Penerbit: Atria
Terbit : @2011
ISBN : 978-979-024-470-2
Tebal : 202 hal

=================

Baca juga:
1. Alvin Ho: Alergi Pada Anak Perempuan, Sekolah, dan Hal-Hal Seram Lainnya
2. Alvin Ho #2: Alergi Terhadap Berkemah, Hiking,dan Aneka Bencana Alam
Read more »

Rabu, 02 November 2011

Aku Mendakwa Hamka Plagiat - Skandal Sastra Indonesia 1962-1964

[No. 273]
Judul : Aku Mendakwa Hamka Plagiat - Skandal Sastra Indonesia 1962-1964
Penulis : Muhidin M Dahlan
Penerbit : Scripta Manent & Merakesumba
Cetakan : I, Sept 2011
Tebal : 238 hlm

“Aku Mendakwa Hamka Plagiat!” , demikian judul resensi-essei yang ditulis oleh Abdullah SP di harian Bintang Timur “Lentera” 7 September 1962. Sebuah judul yang provokatif di jaman yang memang sedang bergolak di tahun 60an. Resensi yang ditulis oleh Abdullah SP itu menjadi salah satu resensi yang melegenda selama bertahun-tahun dan nyaris mengambil separuh halaman “Lentera “ Bintang Timur saat itu. Tidak hanya itu saja, resensi itu juga menjadi penyulut munculnya dugaan plagiarisme Hamka dan menjadi skandal sastra terbesar dalam sejarah Sastra Indonesia.

Siapa Hamka yang dimaksud Abdullah SP? Hamka adalah akronim dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah (1908-1981) atau yang lebih akrab disapa ‘Buya Hamka’ seorang sastrawan yang dikemudian hari lebih dikenal sebagai ulama besar di Indonesia dan pernah menjadi Menteri Agama dan ketua MUI di masa Orde Baru. Dalam resensi-essai nya itu Abdullah SP mengurai sekaligus membandingkan bagaimana novel best seller Hamka (dicetak sebanyak 80 rb eks) Tenggelamnya Kapal v.d Wijk (1938) memiliki banyak sekali kemiripan dengan novel Magdalena yang merupakan saduran penyair Mustafa Luthfi Al-Manfaluthi (1876-1942) dari roman yang ditulis pengarang Prancis Alphonse Karr, Sous les Tilleuls

Resensi tersebut akhirnya memunculkan isu plagiarisme Hamka menjadi sebuah skandal sastra yang menjadi polemik hingga dua tahun lamanya (1962-1964). Kubu sastra Indonesia di saat itu terbelah menjadi dua, antara mereka yang mendukung pendapat Abdullah SP dan kubu yang membela Hamka yang dikomandoi oleh HB Jassin dan kawan-kawannya. Selain resensi tersebut salah satu sebab yang juga membuat isu ini menggulir menjadi sebuah skandal besar tentu saja peran harian Bintang Timur dalam lembar kebudayaan Lentera yang diasuh oleh Pramoedya Ananta Toer yang dengan intens menyediakan kolom khusus berjudul “Varia Hamka” yang menampung semua pendapat pembaca untuk menanggapi isu ini.

Skandal plagiarisme Hamka yang terekam di lembar-lembar Bintang Timur/Lentera sudah sulit ditemukan, kalaupun masih ada mungkin sudah hampir lapuk dimakan usia dan tercecer di berbagai tempat. Skandal terbesar di dunia sastra ini hampir saja terkubur selama-selamanya dan hilang dari ingatan kita kalau saja buku Aku Mendakwa Hamka Plagiat – Skandal Sastra Indonesia 1962-1964 yang disusun oleh Muhidin M Dahlan, kerani Indonesia Buku ini terbit beberapa waktu yang lalu.

Kehadiran buku ini patut diapresiasi karena dengan ketekunan seorang kerani sejati, Muhidin rela membuka-buka lembar2 Bintang timur yang sudah menguning dan berbau apek untuk mendokumentasikan dan menyatukan kembali halaman-halaman lepas yang tersebar di Bintang Timur/Lentera antara 1962-1964 agar kembali diingat dan dibaca oleh generasi kini.

Secara terstrukur buku ini mencoba mengetengahkan kembali skandal plagiarisme Hamka ke hadapan pembacanya, dimulai dari sinopsis Tenggelamnya Kapal v.d Wijk, resensi-essei pertama dari Abdullah SP yang menyulut kehebohan dunia sastra di tahun 60an, kedudukan Hamka dalam peta sastra Indonesia, bukti-bukti plagiat Hamka, pendapat dan pembelaan HB Jassin terhadap Hamka, dan bab penutup yang mengaitkan isu plagiarisme Hamka dengan isu plagiarisme teraktual di dunia sastra Indonesia.

Dalam bahasan-bahasan di atas, hampir semuanya menarik untuk disimak, dalam buku ini terlihat jelas bagaimana isu yang dilemparkan Abdullah SP ini bukannya tanpa dasar atau sekedar asumsi kosong tanpa dasar, semua pendapat Abdullah SP disertai bukti-bukti dan perbandingan yang ketat dan ilmiah sehingga Abdullah SP kukuh pada pendiriannya bahwa Hamka adalah Plagiator!

Abdullah SP tidak hanya menurunkan resensi yang berbentuk narasi, melainkan juga menggunakan metode “idea-script” dan “idea-sketch” yang membandingkan dua roman itu dengan detail dalam beberapa bagian dalam bentuk tabel perbandingan. Yang menarik, di masa itu penggunaan metode ini baru pertama kalinya digunakan dalam sejarah Sastra Indonesia dalam mencari kemiripan antara novel Hamka dengan novel Al-Manfaluthi. Hal ini berarti dimulainya sebuah babak baru dalam sejarah sastra Indonesia.

Selain membeberkan analisa Abdullah SP dalam resensi-essai nya, buku ini juga mengutip pendapat para pembaca harian Bintang Timur/Lentera dalam kolom “Varia Hamka” yang memang disediakan oleh redaksinya untuk menampung semua pendapat pembaca dalam kasus Hamka termasuk tulisan-tulisan yang membela Hamka yang dibuat HB Jassin bersama teman-temannya.

Dalam salah satu pembelaannya HB Jassin mengusulkan agar novel Magdalena yang ditulis oleh Mustafa Lutfi Al-Manfaluthi dalam bahasa Arab itu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia untuk mendapat perbandingang yang obyektif. Sesuai dengan saran HB Jassin, novel tersebut akhirnya diterjemahkan oleh AS. Alatas dan diterbitkan dengan judul Magdalena (Dibawah Naungan Pohon Tilita) pd tahun 1963. Sebenarnya setahun sebelumnya Magdalena diterjemahkan oleh A.S. Alatas , novel tersebut telah diterjemahkan oleh A.S. Patmaji dan dimuat secara bersambung di Bintang Timur. Bagian dari kedua versi terjemahannya ini (Jusuf Hamzah vs A.S alatas) juga disandingkan dalam buku ini.

Dengan diterbitkannya terjemahan Magdalena oleh AS. Alatas, HB Jassin menggunakan kesempatan ini untuk memberikan pembelaannya yang dimuat dalam kata pengantarnya sebagai berikut :

Pada Hamka ada pengaruh Al-Manfaluthi. Ada garis2 persamaan tema, plot dan buah pikiran, tapi jelas bahwa Hamka menimba dari sumber pengalaman hidup dan inspirasinya sendiri.... Maka adalah terelalu gegabah untuk menuduh Hamka plagiat seperti meneriaki tukang copet di senen (hal 147)

Menanggapi pendapat HB Jassin ini Abdullah SP dan kawan-kawannya menyebutkan bahwa itu semua adalah dalih yang dibuat-buat dan seluruh persyaratan definisi palgiarisme yang dikemukakan HB Jassin sendiri terungkap dalam karya Hamka. Lalu bagaimana pendapat Hamka sendiri? buku ini mengungkap bahwa Hamka bergeming dan memilih bungkam.

Singkatnya buku ini mencoba membeberkan beberapa point penting dari artikel-artikel yang pernah dimuat di harian Bintang Timur terkait kasus plagiarisme Hamka selama kurang lebih. Hal menarik yang terungkap dalam buku ini adalah sebuah fakta bahwa sebenarnya Bintang Timur telah menutup kasus Hamka ini tiga bulan setelah serangan bertubi-tubi yang ditujukan pada Hamka tepatnya pada 19 November 1962.

Dalam surat resmi redaksi Bintang Timur yang dimuat pada tgl 19 November 1962 itu terungkap bahwa redaksi menerima larangan dari Peperda (Penguasa Perang Daerah) agar persoalan Hamka tidak dimuat lagi di lembar kebudayaan Lentera/Bintang Timur. Namun kenyataannya kehebohan kasus Hamka ini tidak berhenti begitu saja melainkan terus membesar. Kasus plagiarisme Hamka ini baru benar-benar lenyap saat badai taufan G30 S ikut mengenggelamkan kehebohan dan skandal sastra di atas kapal Van der Wijk dan kapal Bintang Timur pada tahun 1965.

Satu hal yang membuat saya masih penasaran dengan buku ini adalah siapa sebenarnya Abdullah SP si pemicu isu plagiarisme Hamka, buku ini tak menjelaskan siapa sebenarnya Abdullah SP selain keterangan bahwa beliau adalah penulis kelahiran Cirebon (1924) dan mulai menulis sejak revolusi di majalah Republik – Cirebon.

Jika melihat metode perbandingan dan tulisan-tulisan Abdullah SP dalam buku ini sepertinya beliau bukan orang 'sembarangan'. Ada yang menduga bahwa Abdullah SP adalah nama samaran Pramoedya AT. Sayang buku ini tak mengungkap siapa sebenarnya Abdullah SP, apakah memang penulis tak mengetahuinya atau memang sengaja untuk tidak diungkapkan? Tak ada keterangan sedikitpun akan hal ini dari penulisnya

Sebagai sebuah buku yang mengkronik kasus skandal sastra plagiarisme Hamka buku ini sangat bermanfaat bagi generasi kini yang mungkin sudah tak pernah mendengar lagi kasus ini. Sebelum buku ini terbit, hanya ada satu buku terkait yang ditulis oleh Junus Amir Hamzah dan HB Jasin berjudul Van der Wijk dalam Polemik terbitan Mega Book, Jakarta 1963. Sebenarnya Pramoedya AT dan Lentera saat itu juga sedang mempersiapkan naskah berjudul Hamka Plagiat , sayangnya naskah tersebut tak sempat diterbitkan menyusul tragedi G 30 S.

Dilihat dari karakteristik pembahasan buku ini bisa dikatakan buku ini menjiwai ‘roh’ dari apa yang pernah disusun oleh Pramoedya. Muhiddin M Dahlan dalam kata pengantarnya menulis demikian

Buku yang di tangan pembaca ini, boleh jadi menjadi pengantar untuk niat Pram dan kawan-kawan “Lentera” yang buru-buru sejarahnya disembelih oleh Gestok 1965 dan diantara mereka di-Buru-kan. (hal 12)


Plagiat, Keributan, Omong Kosong, dan Kehormatan

Buku ini dengan gagahnya ditutup dengan bab Plagiat, Keributan, Omong Kosong, dan Kehormatan yang mengungkap kasus-kasus plagiarisme di dunia sastra terbaru. Dalam bab ini dibahas kasus-kasus plagiarisme terkini dengan bahasan yang detail seperti kasus cerpen Perempuan Tua dalam Rasmohon karya Dadang Ari Murtono, kasus puisi Kerendahan Hati Taufik Ismail yang diduga sebagai karya jiplakan dari puisi Be the Best of Whatever You Are karya Douglas Malloch, hingga kasus plagiarisme terkini yang menimpa Seno Gumiro Ajidarma dalam cerpen “Dodolit Dodolibret” sebagai pemenang Cerpen Terbaik Kompas 2011 yang mirip dengan cerpen Tiga Pertapa karya Leo Tolstoy

Dari bab terakhir buku ini akan terlihat bahwa kasus plagiarism dalam sejarah sastra Indonesia tak ada yang sebegitu heboh dan seserius kasus plagiarisme Hamka. Kini kasus-kasus plagiarisme hanyalah heboh sesaat untuk selanjutnya mereda dengan cepat. Tak ada kelanjutan dan luruh dengan sendirinya.

Akhir kata belajar dari apa yang terekam dalam buku ini seperti kasus Hamka kasus plagiarisme sastra Indonesia tak pernah tuntas, hanya menimbulkan kegeraman dan polemik sesaat sebelum terkubur dan terlupakan dalam sejarah sastra kita.

Dari kasus demi kasus yang terjadi nyaris tak menunjukkan perkembangan yang signifikan. Hukuman bagi orang yang disangkakan plagiator di bidang sastra nyaris tidak ada. Hingga kini tak ada kesepakatan yang jelas dari para sastrawan kita apa yang menjadi tolok ukur sebuah karya sastra masuk dalam kategori plagiat atau tidak. Orang yang pernah diisukan sebagai plagiator seperti Hamka, Chairil Anwar, atau sastrawan-sastrawan lainnya tetap bisa berkarya dan menjadi tokoh sastra yang disegani.

“Jangan-jangan soal plagiat, hanya penulis karya dan Tuhan yang tahu. Dan para pencurinya tetap pada kehormatannya. “ (hal 229)

@htanzil

Read more »

Rumah Tangga yang Bahagia

Rumah Tangga yang Bahagia
Leo Tolstoy
Dodong Djiwapradja (Terj.)
Pustaka Jaya, Cet. II – Desember 2008
168 Hal.
(for #savepustakajaya)

Cintaku cinta untuk seumur hidup, karena itu janganlah mengambil sesuatu yang kupandang berharga dalam hidup ini (-- hal. 106)

Masha, Katya dan Sonya, hidup dalam rasa duka setelah ibu mereka meninggal. Kesepian dan kesunyian, itulah yang mereka rasakan. Musim dingin jadi terasa semakin beku dengan kesedihan mereka. Kerabat yang datang mengunjungi mereka, bukannya memberi penghiburan tapi malah semakin membuat suasana jadi muram. Tokoh utama dalam novel ini adalah Masha. Gadis berusia 17 tahun.

Satu-satunya orang yang ditunggu dan bisa membuat suasana lebih ceria adalah Sergei Mikhailich. Ia adalah sahabat ayah mereka, teman terdekat bagi Masha, Katya dan Sonya. Sergei-lah yang mengurus harta benda peninggalan orang tua mereka. Kedekatan ini membuat Masha mempunyai perasaan lain. Tidak hanya sayang seperti layaknya seorang adik pada kakak, tapi timbul rasa cinta yang lebih mendalam. Tapi, usia mereka terpaut cukup jauh. Hingga rasanya tak mungkin bagi Masha untuk mewujudkan angan-angannya. Dan ternyata, Sergei juga merasakan hal yang sama. Ia pun jatuh cinta pada Masha. Kendala usia membuat Sergei juga tak berani mengungkapkan perasaannya pada Masha.

Masha jadi kesal, ‘gregetan’, karena sikap Sergei yang terkadang penuh perhatian, tapi kadang menjauh. Sampai akhirnya justru Masha yang memberanikan diri membuka perasaannya. Tapi, bagi Sergei takut. Menurutnya, di usia remaja itu, Masha harusnya bersenang-senang, masih maunya ‘bermain-main’.

Memang sih, akhirnya mereka menikah (spoiler bukan ya?) Pasangan pengantin baru itu tinggal bersama ibu Sergei yang orangnya ‘apik’ banget. Semua serba teratur dan rapi. Lama-lama, Masha jenuh. Rumah tangganya mulai terasa hambar. Maka untuk membuat Masha senang, Sergei mengajak Masha berlibur ke St. Petersburg.

Di St. Peterburg inilah Masha kenal dengan ‘dunia lain’. Selama ini ia tinggal di desa, sekarang bertemu dengan orang-orang kota yang kaya, diundang ke pesta sana-sini dan mendapatkan banyak pujian karena kecantikannya, Masha ‘terbuai’, sementara Sergei malah memilih menarik diri dari pergaulan itu.

Nah, di sinilah mulai kelihatan perbedaan mereka karena usia yang terpau sangat jauh itu. Masha merasa Sergei menjauh dan berubah. Sementara Sergei sendiri terkesan cuek. Saat Masha merasa telah berkorban, Sergei malah bertanya tentang apa maksud pengorbanan itu.

Jadi, berhasilkan mereka mewujudkan rumah tangga bahagia yang mereka impikan? Berhasilkah mereka menjembatani perbedaan di antara mereka? Sebenarnya ,apa sih arti berkorban itu ya? Kalau salah satu sebenernya gak rela, apa gak malah jadinya bikin sebel dan tersiksa?

Kisah cinta memang selalu jadi ide yang menarik untuk bikin cerita. Tapi, membuat sesuatu yang berbeda biar ‘keliatan’ itu susah. Di sinilah uniknya cerita ini. Kisah cinta antara dua pasangan yang usianya jauh berbeda.

Buku klasik memang bukan ‘makanan’ gue. Terjemahannya sedikit membuat gue pusing dengan bahasa yang sangat baku (dan ada kata-kata yang baru pertama kali gue baca), tapi, ternyata, kalimat-kalimatnya mampu membuat gue bertahan membaca buku ini hingga tuntas. Puitis dan indah.

Hari itu berakhirlah petualangan cintaku dengan suamiku, cintaku yang lama tetap merupakan kenang-kenangan yang indah dan tak ‘kan kembali ….

… dan kehidupan ini tak pernah berakhir sampai hari ini.

-- hal. 166

Read more »

Fablehaven 2, Rise of the Evening Star

Judul                : Fablehaven 2, Rise of the Evening Star
Pengarang        : Brandon Mull
Penerjemah      : Reni Indardini
Penyunting        : Rika Iffati Farihah
Desain Sampul: Fahmi Ilmansyah
Cetakan           : 1, Agustus 2011
Tebal                : 580
Penerbit            : Mizan Fantasy           



Jika ada yang bertanya apa itu Fablehaven, maka itu adalah tempat perlindungan alias suaka untuk melindungi makhluk-makhluk mitologis yang masih tersisa di dunia modern ini. Dan, jika Anda ingin tahu alasan mengapa seri Fablehaven 2, Rise of the Evening Star ini begitu heboh diperbincangkan sebagai salah satu penerus terbaik seri Harry Potter, saya beri lima alasan—sebagaimana jumlah kelima artefak luar biasa yang menggerakkan  alur cerita di seri kedua ini.

            Pertama, Seth berulah lagi. Bagi Anda yang telah membaca Fablehaven 1, The Secret Sanctuary, pasti sudah marfhum dengan kelakuan adik laki-laki Kendra yang ceroboh dan terlampau berani ini. Bermula dari perangkap yang dilancarkan oleh pihak musuh, sesosok makhluk kuno bernama Olloch si Rakus terus-menerus mengejar Seth dan makhluk itu hanya akan puas setelah ia melahap Seth. Begitu kuatnya Olloch hingga Seth hanya bisa berlindung di balik sihir yang melingkupi Fablehaven. Dalam seri kedua ini, pembaca juga lebih diajak mendalami karakter Seth yang ternyata memiliki pribadi yang lebih berwarna-warni serta unik, bertentangan dengan karakter Kendra yang terlalu “lempeng”. Keberanian dan pengorbanan yang ditunjukkan oleh Seth saat melawan Revenant yang menjaga menara terbalik tempat artefak disembunyikan juga luar biasa. 

            Kedua, jalan cerita yang lebih seru dan menegangkan. Tidak bisa dipungkiri, selain lebih tebal, seri kedua ini juga menawarkan alur cerita yang lebih menegangkan, lebih variatif, lebih penuh konflik dan pertempuran melawan makhluk-makhluk mitologis. Dari awal saja, pembaca sudah digiring pada perburuan benda pusaka, melawan golem, hingga menyingkap tabir Persekutuan Bintang Malam. Dari sini, kita akan mulai memahami konflik apa yang muncul antara para Konsenvator (pihak penjaga suaka) dan Pesekutuan Bintang Malam (yang hendak memusnahkan suaka makhluk mitologis untuk kepentingan pribadi). Konflik yang terjalin makin seru karena  Seth dan Kendra secara resmi telah masuk dalam jajaran pelindung Fablehaven. Keduanya kini memegang tanggung jawab untuk menjaga suaka.

            Ketiga, karakter yang lebih beragam. Dari seri kedua ini, muncul karakter-karakter lain yang cukup unik. Ada Vanessa, sang ahli penjinak binatang-binatang mitologis. Ada Coulter si ahli benda-benda pusaka. Serta, Tanu si ahli ramuan. Pembaca juga akan disuguhkan dengan aneka makhluk mitologis yang tak kalah seru. Ada Revenant yang bisa membuat kulit seseorang yang disentuhnya menjadi albino. Ada Olloch si rakus yang awalnya berasal dari patung kodok kecil dan akan terus membesar sebelum ia memakan orang yang pertama kali membangkitkannya (yakni si Seth). Ada juga sang penjaga artefak, yang darinya Anda mungkin akan menemukan jawaban mengapa kucing sering disebut sebagai binatang yang memiliki sembilan nyawa. Brandon Mull benar-benar tidak pelit dalam menciptakan beragam makhluk mitologis dalam cerita karyanya ini.

            Keempat, sihir yang lebih banyak. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, Fablehaven di samping menjadi suaka makhluk mitologis juga menjadi salah satu tempat penyimpanan lima artefak paling kuat. Kelima artefak ini jika disatukan akan membuka gerbang ke dunia kegelapan, yang mengacam seluruh dunia beserta isinya. “Yang satu menganugerahi kekuatan melampaui ruang, yang lain melampaui waktu. Yang ketiga menganugerahi penglihatan tak terbatas. Yang keempat bisa menyembuhkan penyakit apapun. Dan satu lagi menganugerahkan keabadian.” (hlm 120).

            Kelima, kejutan dan ­ending yang lebih mengena dan memuaskan. Kejutan dalam cerita, elemen inilah yang sering kali menunjukkan piawai atau tidaknya seorang pengarang. Dan, Barndon Mull berhasil membuktikan dirinya sebagai perangkai plot yang hebat. Di setiap sudut hutan, setiap pinggir jalan, di balik pepohonan, di dalam sebuah rumah tua, dalam ruang tamu Grandpa yang hangat, dalam ramuan emosi Tanu, dalam sarung tangan tak kasat mata Coulter; semuanya menawarkan jalinan plot dan arahan cerita yang benar-benar seru. Persaingan antara Kelompok Konsenvator dan Bintang Malam juga semakin memanas. Satu lagi, ada satu pengkhianat di dalam Fablehaven, seorang pengkhianat yang telah membiarkan si Olloch masuk dan memangsa Seth.

            Lalu, bagaimana Seth selamat dari kejaran si Olloch? Siapa pengkhianat di antara mereka? Apakah Kendra dan Seth berhasil mendapatkan artefak itu? Lalu, kira-kira artefak nomor berapa yang tersimpan di fablehaven? Bacalah, saya jamin Anda tidak akan menyesal telah membaca seri ini. Ceritanya benar-benar memuaskan dahaga para penggemar fantasi.

Read more »

Selasa, 01 November 2011

Dark Goddess

Judul                : Dark Goddess
Pengarang        : Sarwat Chadda
Penerjemah      : Ferry Halim
Penyunting        : Fenty Nadila
Penyerasi          : Jia Effendie
Pewajah isi       : Nur Aly
Cetakan           : 1, September 2011
Tebal                : 480
Penerbit            : Atria



            Pengabungan antara fiksi-fantasi dengan tema-tema kontroversi dalam historika dunia, itulah yang mungkin hendak disampaikan oleh Sarwat Chadda dalam Dark Goddess. Novel Dark fantasy yang merupakan sekuel dari novel pertamanya, Devil Kiss, ini memungut topik-topik menarik dalam sejarah dan geografis dunia, untuk kemudian dipadukan dengan tren fiksi bertema vampire dan manusia serigala yang saat ini sedang booming pasca meledaknya Twilligt dan Vampire Diaries. Dalam novel ini, penulis menggunakan kelompok Ordo kesatria Templar sebagai kelompok pejuang utama. Ordo yang pernah menjadi begitu populer lewat The Da Vinci’s Code ini dimunculkan kembali dalam bentuk yang lain, yang lebih fantastis. Jika dalam sejarah, ordo ini dibentuk sebagai pasukan pelindung Yerusalem semasa Perang Salib, maka dalam buku ini mereka dipersiapkan untuk menghadapi perang yang sebenarnya—perang melawan iblis dan kegelapan yang diwakili oleh Makhluk Tidak Kudus (vampire, ghoul, manusia serigala)

            Adalah Billi atau Bilqis Sangreal, anak dari ketua Ordo Ksatria Templar yang menjadi inti cerita dalam novel ini. Gadis yang baru berusia 15 tahun ini terpaksa harus menjalani berbagai latihan keras dan beragam pertempuran karena tanggung jawabnya sebagai salah satu dari Ksatria Templar. Dalam kisah di buku pertama, Billi dikisahkan melawan Malaikat Michael yang hendak menghancurkan dunia, sementara dalam buku kedua ini, Billi dan Ksatria Templar harus menghadapi seorang dewi Bumi dari Rusia, sang Baba Yaga, sang Ibu Rusia. Dewi purba yang kekuatannya terikat pada elemen alam ini membutuhkan roh seorang Anak Musim Semi, atau anak yang memiliki kekuatan khusus—mungkin mirip dengan anak indingo. Untuk tetap bertahan, Baba Yaga harus menelan seorang Anak Musim Semi, dan Billilah yang kali ini harus melindungi si anak tak berdosa itu dari serbuan para manusia serigala yang merupakan anak buah sang dewi.

            Masalah semakin rumit ketika Billi dan Ksatria Templar menemukan fakta bahwa Anak Musim Semi yang mereka lindungi adalah juga seorang Avatar—kekuatannya hampir serupa dengan Baba Yaga. Gadis kecil itu mampu mengendalikan letusan Gunung Vesuvius yang mengubur kota Naples, Italia. Dan, Baba Yaba hendak menggunakan kekuatan itu untuk kembali meletuskan gunung berapi super Yellowstone untuk menimbulkan zaman es atau fimbulwinter.. Kali ini, pertaruhannya adalah seluruh umat manusia yang hendak dimusnahkan oleh Baba Yaga. Dan, ketika akhirnya kawanan manusia serigala itu mampu merebut si anak musim panas, Billi dan para Ksatria Templar harus berkejaran dengan waktu untuk merebut kembali si Anak Musim Semi. Mereka mendatangi Rusia, rumah bagi Baba Yaga sekaligus bertemu dengan ksatria Templar ala Rusia, yakni Bogatyr. Dan, pertempuran dan perkelahian pun tidak bisa dielakkan lagi.

            Sepanjang 480 halaman, pembaca akan disuguhi perang berdarah, cabikan cakar serigala, sayatan pedang, hingga tembakan pistol. Namun, penulis dengan lihai juga mampu menyisipkan benih-benih romantisme dalam kadar yang tidak terlalu berlebihan. Inilah yang membuat novel aksi ini tidak membosankan untuk dibaca, karena efek aksinya dapat, bumbu-bumbu romannya juga ada—berselang-seling seperti hutan pinus dan hutan cemara di Rusia. Keunikan dari novel ini terletak pada kepiawaian sang penulis dalam meramu unsur mitologi dengan peristiwa-peristiwa dan tempat-tempat nyata dalam sejarah. Kota-kota dan bangunan-bangunan di Rusia pun mampu ia deskripsikan dengan begitu nyata, sehingga membuat pembaca diajak mengunjungi sebuah tempat yang begitu eksotis di luar Eropa dan Amerika.

            Menarik juga mengamati bahwa penulis tampaknya hendak mengangkat isu lingkungan melalui Baba Yaga. Gunung Vesuvius, Super Volcano Yellowstone, Hutan Tuguska, Siberia, Bencana Chernobyl, hingga zaman es akbar yang menjadi simpul-simpul penggerak cerita menjadi indikasi bahwa novel ini menawarkan sesuatu yang lebih. Permainan psikologis dengan karakter yang abu-abu di dalamnya juga menjadikan novel ini begitu kompleks, namun tetap simpel. Melalui sang manusia serigala, kita terpaksa meninjau ulang apa peran dan posisi manusia di muka bumi ini.

            “Kalian memerkosa dan menjarah. Kalian menyedot Bumi hingga kering dan membunuh sesama kalian. Spesies apa yang menjadi sejahtera di bawah dominasi manusia? Tidak ada satu pun. Bumi ini bukan milik kalian. Kekayaan planet ini seharusnya dinikmati oleh semua, bukan cuma dilahap oleh satu spesies yang mengaku bahwa mereka telah diberi hak oleh Yang Maha Kuasa.” (hlm 364) #jleb!

            Walau mengangkat isu lingkungan, novel ini tidak kehilangan gregetnya sebagai novel fantasi. Pertempuran berdarah yang disuguhkan di dalamnya dijamin akan memuaskan para  pecinta karya aksi. Pertautan yang digunakan penulis juga cukup logis dan masuk akal, sehingga pembaca digiring pada pemahaman bahwa mungkin saja ada kekuatan-kekuatan misterius yang senantiasa mengintai manusia di balik kegelapan, termasuk dalam hal ini adalah kekuatan Alam. Lalu, bagaimana akhir dari pertempuran Billy melawan para manusia serigala itu? Siapakah pengkhianat yang sebenarnya? Dan, apakah Billi akan jatuh cinta dengan seorang pangeran muda dari Rusia? Pokoknya silakan dibaca sendiri dan rasakan ketegangannya. Satu catatan kecil, catatan di cover belakang mungkin sedikit agak menyesatkan hehehe jadi lebih baik menikmati bab demi bab dalam novel ini dan jangan terpaku pada kalimat “melawan binatang buas dalam diri sendiri” karena Billi akan lebih banyak bertarung melawan serigala jadi-jadian itu secara fisik.  

            “Alam akan selalu menang” Vasilia memaki kembali mahkota itu. “Chernobyl adalah buktinya.”(halaman 479). Mari kita jaga Bumi!

Read more »