Kamis, 10 November 2011

Berguru Pada Pesohor

No. 275
Judul : Berguru Pada Pesohor
Panduan Wajib Menulis Resensi Buku
Penulis : Diana AV. Sasa & Muhidin M Dahlan
Penerbit : 1# dbuku
Cetakan : I, April 2011
Tebal : 254 hlm

“Bagaimana sih menulis resensi buku itu?” Itulah pertanyaan yang sering diajukan pada saya semenjak saya menulis resensi di blog buku ini. Biasanya saya tidak memberikan jawaban berupa teori ini dan itu melainkan menjawabnya dengan, “Mulailah menulis sekarang juga, tak perlu harus begini begitu, bebaskan dirimu dari semua aturan dan teori, mulailah menulis semua yang ada dalam kepalamu ketika selesai membaca sebuah buku!”

Apakah semudah itu? Sebagai langkah awal saya rasa itulah resep yang paling mujarab untuk melenturkan otot-otot menulis kita, setelah otot-otot menulis kita lentur barulah kita belajar menulis resensi secara baik dan benar. Bagaimana caranya? Kini ada sebuah buku panduan untuk menulis resensi buku yaitu buku Berguru pada Pesohor – Panduan Wajib Menulis Resensi Buku karya Diana AV Sasa dan Muhidin M Dahlan duo pegiat buku yang sebelumnya juga pernah sama-sama menulis buku Para Penggila Buku : Seratus Catatan di Balik Buku, (I:boekoe, 2009)

Ya, buku ini memang merupakan sebuah buku panduan bagi para resensor yang ingin meresensi secara baik karena resensi yang baik bukanlah semata menulis sinopsis atau berbagi kesan membaca saja, melainkan seperti yang dikatakan penulisnya resensi adalah sebuah ‘pengadilan’ atas sebuah buku.

Melalui resensi nasib sebuah buku ditentukan takdirnya, oleh karena itu penulis resensi dituntut untuk bermata ganda ; mata seorang wisatawan dan sekaligus penyidik (Diana AV Sasa & Muhidin M Dahlan)

Buku panduan menulis resensi ini mencoba memberi panduan pada pembacanya bagaimana cara menulis resensi buku mulai dari landasan teori pengertian resensi buku, model-model resensi buku, dan bagaimana memilih buku yang akan diresensi hingga langkah-langkah praktis berisi penjelasan dan contoh penulisan resensi mulai dari membuat judul, menaklukkan paragraf pertama, mengolah tubuh resensi, membuat paragraf penutup, dan sebagainya

Dalam membahas bagian-bagian resensi tersebut terlihat penulis memberikan bobot yang sama pentingnya di semua bagian, mulai dari membuat judul hingga paragraf akhir. Saat membahas bagaimana menaklukkan paragraf pertama, penulis menekankan pentingnya paragraf pertama karena di bagian inilah kita mempertaruhkan mata dan hati pembaca, apakah akan melanjutkan membaca resensi kita atau tidak.

Setelah paragraf pertama dibuat kini bagaimana mengolah tubuh resensi yang merupakan jantung sebuah resensi . Di bagian ini diperlukan keluasan pengetahuan, kritisisme, dan kelihaian resensor dalam meresensi, selain itu kelancaran dan kefasihan peresensi dalam merangkai paragraf juga dipertaruhkan di bagian ini. Buku ini memperlihatkan bagian-bagian penting apa saja yang masuk dalam tubuh resensi seperti bahasan mengenai jenis buku, metode penulisan, tema, bagian vital buku, kisah yang menonjol, kritik, dsb.

Yang sama pentingnya dengan membuat paragraf awal dan mengolah tubuh resensi adalah bagaimana membuat paragraf akhir sebagai paragraf penutup dimana di bagian ini para resensor biasanya memberikan kesimpulan berupa kepada siapa buku yang diresensi tersebut ditujukan, kritik dan saran, atau pujian sebagai pengunci resensinya.

Kesemua bagian diatas disajikan secara terstruktur disertai contoh berupa resensi-resensi yang pernah ditulis dari para resensor mulai dari para penulis ternama di Indonesia mulai dari Tirto Adi Soerjo, Abdullah SP, Syahrir, hingga Goenawan Moehamad yang dikutip dari media cetak dari kurun waktu lebih dari 100 tahun! (1901-2010). Tak hanya media cetak, buku ini juga menyajikan contoh-contoh resensi yang bertebaran di blog-blog buku.

Setelah seluruh tahapan menulis resensi dibahas, buku ini juga memberikan tips-tips bagaimana mematangkan sebuah resensi seperti mengendapkan tulisan untuk dibaca ulang guna memeriksa tata bahasa, kesalahan ketik, hubungan antar paragraf, dll. Penulis juga menyarankan Jika resensi ditulis menggenakan computer maka sebaiknya dicetak diatas kertas dan dibaca ulang sekali lagi dengan mengeluarkan suara agar dapat diketahui kalimat-kalimat mana yang mungkin akan membuat pembaca tersendat saat membaca resensi kita.

Hal yang menarik yang mungkin tidak ada di buku-buku panduan menulis resensi adalah bagian yang mungkin menjadi akhir perjalanan dari semua resensi-resensi yang kita buat yaitu “Menerbitkan Antalologi Resensi Buku” dimana di bab ini penulis memberikan langkah-langkah praktis bagaimana jika resensi-resensi kita bisa dibukukan untuk diterbitkan.

Sebelum penulis benar-benar mengakhiri bukunya buku ini juga menyertakan daftar 40 media massa (Koran, majalah, radio, TV) yang menyediakan ruang resensi buku lengkap dengan alamat email, telepon, honor, deskripsi buku –buku tentang resensi buku, dan sebuah essai berjudul “Halaman Resensi buku di Internet” yang mengukuhkan keberadaan blog-blog buku sebagai generasi baru pembaca buku yang bersenang-senang dengan buku dengan menggosipkan dan menuliskan resensinya secara jujur dan apa adanya di blognya masing-masing. Di essainya ini penulis juga menyertakan alamat ink 50 blog buku dan website yang berisi resensi buku.

Setelah membaca habis buku ini saya berani mengambil kesimpulan bahwa hingga kini buku ini adalah buku panduan terbaik dan terlengkap untuk menulis resensi dibanding buku-buku sejenis yang pernah terbit. Contoh-contoh resensi yang diambil dari para resensor wahid dari berbagai media masa selama kurun waktu 100 tahun lebih membuat saya terkagum-kagum dengan ketekunan kedua penulis ini mengutip contoh-contoh resensi dalam buku ini

Melalui contoh-contoh yang beragam dalam rentang waktu yang demikian panjang ini kita akan menemukan resensi-resensi legendaris yang pernah dibuat antara lain “resensi pembunuh buku”di tahun 1977 yang membuat penulis buku yang diresensi ini meminta pada kepala proyek Pengadaan Buku P &K mencabut rekomendasi untuk bukunya. Lalu ada pula resensi yang menjadi polemik di dunia sastra Indonesia selama dua tahun (1960-1962), yaitu resensi-essai Abdullah SP yang membongkar skandal plagiarisme Hamka atas novel Tenggelamnya Vander Wijk, dll.

Sayangnya buku ini tak menampilkan resensi atas novel Adam dan Hawa karya Muhidin M Dahlan di harian Media Indonesia pada tahun 2005 yang dijadikan acuan bagi sebuah ormas Islam untuk mensomasi penulis novel dan Pemred Media Indonesia untuk bertobat dan meminta maaf kepada publik serta menarik novel tersebut dari peredaran dan memusnahkannya untuk menebus dosa yang dilakukannya.

Tak ada gading yang tak retak, walau buku ini telah menjadi yang terbaik dari buku-buku sejenis, buku ini tidaklah sempurna karena bahasan dalam buku ini sedikit sekali menyinggung resensi buku-buku fiksi. Hampir semua bahasan dan contoh dalam buku ini adalah resensi buku-buku non fiksi padahal ada hal-hal khusus yang perlu diperhatikan dalam meresensi buku fiksi. Andai saja ada buku ini menyertakan bab khusus yang membahas bagaimana meresensi buku-buku fiksi maka buku ini akan semakin kokoh posisinya sebagai buku panduan wajib menulis resensi buku.

Dan yang sangat disayangkan adalah status limited edition yang tertera di sampul depan buku ini sehingga buku ini tidak akan dapat kita temui di toko-toko buku umum, semoga ke depan buku ini bisa dicetak secara masal sehingga buku ini dapat dijangkau lebih luas lagi bagi para penulis-penulis resensi yang ingin membuat resensi-resensi mereka menjadi semakin baik dan berpengaruh pada dunia buku tanah air.

Terlepas dari itu saya member bintang 4 untuk buku ini, dan kini jika ada yang bertanya pada saya “Bagaimana cara menulis resensi?” , saya akan menjawab demikian.”Tulislah semua kesan-kesan yang ada di kepalamu tentang buku yang telah kaubaca, lalu belajarlah menulis resensi yang baik dari buku Berguru Pada Pesohor”

@htanzil


Untuk memperoleh buku Berguru Pada Pesohor - Panduan Wajib Menulis Resensi Buku silahkan memesannya di :
http://indonesiabuku.com/?p=9308


Read more »

Rabu, 09 November 2011

Serasa di Surga...


Mungkin sebagian besar akan berkata surga buku adalah tempat yang nyaman, tenang. Tempat kita berada di antara buku-buku kesayangan kita. Tempat di mana kita bisa ‘melebur’ dalam buku yang kita baca. Atau, bisa juga ‘keadaan’, bukan hanya tempat. Tapi saat di mana (di mana saja, dan kapan saja), kita merasa ‘terlempar’ dari dunia nyata, masuk ke dalam sebuah dunia imajinasi yang sangat luas dan punya berbagai macam cerita yang mungkin tidak pernah kita bayangkan ada dalam dunia nyata.

Kalau aku boleh menggambarkan surga bukuku itu seperti apa, ini dia dongengku tentang surga buku.

Tempat itu adalah tempat tersembunyi. Hanya orang-orang yang mencintai buku dan mengerti arti imajinasi yang tahu di mana tempat itu. Tepatnya, di atas sebuah pohon, berbentuk rumah kayu (ya… ya… ini salah satu keinginan masa kecil yang gak tercapai… pengen punya rumah kayu di atas pohon).

Mari kita lihat di dalamnya ada apa… Meskipun rumah kayu, tapi jangan takut akan runtuh. Karena rumah ini mampu menampung beban seberat apa pun. Jadi jangan heran, kalau di dalamnya, ada banyak begitu banyak buku di dalam rak-rak yang tersedia. Semua buku favoritku, ada di sini. Atau, teman-teman cari buku favorit kalian sendiri? Coba cari di pelosok-pelosok rumah ini, pasti ada. Karena di sini, segala macam jenis buku ada (hmmm termasuk buku-buku aneh seperti di Bagian Terlarang Perpustakaan Hogwarts). Luasnya sebesar apa? Seluas-luasnya… namanya juga di surga, gak ada batasan dalam sebuah ukuran.

Lalu, ada sebuah sudut yang nyaman, beralas karpet lembut. Ada bantal-bantal empuk untuk yang pengen baca sambil bersila di lantai. Ada sofa yang tak kalah empuknya juga. Mau duduk di kursi goyang? Ada juga… Ada meja kecil berisi kue-kue dan minuman ringan, untuk sekedar menemani biar gak kelaperan kalo lagi baca. Kan lagi berkhayal, jadi kadang lupa waktu… tau-tau… perut keroncongan deh…

Pernah dengar lagu di film kartun Cinderella?

“in my own little corner
in my own little chair
I can be whatever
I want to be….”

Nah, saat mulai membaca… bersiaplah terjun bebas dalam tokoh-tokoh yang ada. Gak suka sama tokohnya… silahkan ngomel-ngomel… atau mungkin si tokoh ganteng… ow… silahkan termehek-mehek dan jatuh cinta dengan dia.

Atau…. Mau curhat? Curhat sama siapa? Ya, sama salah satu tokoh yang kamu baca… Hmmm.. misalnya, pengen curhat sama Papa Smurf? Boleh… atau mau nangis karena kangen sama Harry Potter, Hermione atau Ron? Atau bahkan kangen sama Bartimeus, si Jin tengil itu? Gak masalah…

Atau ikut bersusah payah sama Aragorn dan si ganteng Legolas nyari Frodo?

Atau… merinding dan ikut tegang bersama Katnis di Hunger Games? Atau malah pengen jadi Katnis, yang di tengah-tengah Hunger Games malah bingung mikirin lebih ok Peeta atau Gale ya?

Atau bahkan pengen jadi Bella Swan? Hehehe.. biar bisa bikin ending cerita sendiri… Kali-kali dalam khayalan kamu, Bella Swan malah pengen jadi werewolf perempuan, bukannya vampire perempuan.

Atau, pengen ikutan jalan-jalan sama Agustinus Wibowo ke pelosok-pelosok yang sama sekali berbeda dengan buku traveling lainnya? Atau berenang sama ikan hiu bareng Trinity?

Silahkan… bebas… sebebas-bebasnya…

Gak boleh ada yang sirik, gak boleh ada yang nyela. Kalo nyela… kamu akan terlempar dari surga buku *HA..HA..HA… ketawa ala jin*

===

Udah ah, mengkhayalnya… tapi gitu deh, tempat yang aku bayangkan saat aku berpikir tentang surga buku.

Lelah berkutat dengan dunia nyata, tenggelam dalam buku-bukuku membuat aku sejenak melupakan semua keresahan, me-recharge energi dan pikiran yang terkuras. Melemaskan semua ketegangan.

Novel romantis membuat aku rindu dengan kisah cinta yang dramatis
Novel fantasi suka bikin aku pengen ada di dunia mereka.
Novel horor, thriller terkadang membuat jantung ikut berdetak lebih kencang
Novel klasik, kadang.. mmmm... *ma'af* bikin aku ngantuk...

Aku gak menyesal dengan buku yang aku pilih… meskipun itu buku yang ternyata gak sesuai dengan ekspektasiku…

Tapi yang pasti.. membaca membuat aku merasa di surga…

*tulisan ini dibuat sebagai hadiah ulang tahun untuk Surgabuku*
*happy birthday, surgabuku… semoga selalu menjadi surga untuk para pencinta buku*
*pssttt… paket B boleh juga tuh, me
l… *
Read more »

When God was a Rabbit

When God was a Rabbit
Sarah Winman @ 2011
Rini Nurul Badariah (Terj.)
Penerbit Bentang – Cet. I, Agustus 2011
398 Hal.
(Trimedia – Mal Ambasador)

Judulnya ‘nakal’ dan menarik perhatian. Tapi jangan berpikir ini bakal mengarah ke sebuah novel spiritual atau yang berbau-bau religi. Judul ini dan beberapa hasil review membuat gue pun tertarik untuk membaca When God was a Rabbit ini.

Dan jangan salah lagi berpikir kalau ini sebuah novel bergenre romance. Cover-nya memang manis. Berwarna kuning, ditambah dengan siluet seorang perempuan dan laki-laki, ada payung dan sepeda. Cukup romantis kan?

When God was a Rabbit bisa dibilang mengisahkan perjalanan hidup seorang gadis bernama Elly. Bersetting di London. Terbagi dalam dua bagian – bagian pertama ketika Elly masih seorang gadis kecil menjelang remaja berusia belasan tahun dan bagian kedua, ketika Elly berusia 27 tahun.

Ia hidup dalam keluarga yang unik. Ayahnya, seorang pengacara yang tidak percaya akan adanya Tuhan. Ia punya kakak laki-laki yang selalu melindunginya bernama Joe. Joe lah yang menyimpan rahasia Elly selama bertahun-tahun.

Elly bisa dibilang tak punya teman dekat. Hingga pada suatu hari datanglah seorang gadis bernama Jenny Penny. Jenny Penny pun menjadi sahabat Elly. Ia yang membela saat Elly dibilang ‘sesat’ karena memberi nama ‘God’ untuk seekor kelinci.

Tokoh-tokoh lain yang gak kalah unik adalah Arthur, seorang laki-laki tua yang awalnya tinggal sementara di Bed & Breakfast milik orang tua Elly, tapi akhirnya malah jadi seperti keluarga yang menetap permanen bersama keluarga Elly, lalu ada Ginger – perempuan nyentrik lainnya, tak ketinggalan Nancy, adik ayah Elly yang seorang artis. Lalu, Charlie, teman dekat Joe.

Mungkin awalnya memang agak ‘ribet’ baca buku ini. Mencari polanya, mencoba memahami apa yang ingin disampaikan penulis. Banyak banget permasalahan di dalam buku ini, mulai dari kakak laki-laki yang seorang gay, tante yang lesbian, ibu yang kena kanker, pelecehan seksual, pembunuhan, penculikan sampai peristiwa 11 September. Tak hanya Elly dan Joe yang menyimpan rasa duka, tapi juga ayah Elly, yang menyimpan rasa bersalah dalam hati selam bertahun-tahun.

Campur aduk… sedih, gembira, tawa, pahit, manis… membacanya ada rasa ‘getir’. Gimana sih, rasanya… mau coba tersenyum, tapi ada terselip rasa sakit. Ada saat gembira ketika sahabat lama datang kembali, dan ketika harus kehilangan karena orang terdekat yang lainnya malah pergi.

Buku ini bercerita tentang hubungan antara adik perempuan dan kakak laki-laki. Tentang persahabatan yang sempat terputus.
Read more »

Senin, 07 November 2011

Thing Your Mother Never Told You

Thing Your Mother Never Told You
Olivia Lichtenstein @2009
Orion Books – 2009
312 hal.
(pinjam dari mia)

Ketika seseorang sudah tiada, ada saja hal-hal yang baru diketahui kemudian. Begitulah yang dialami Ros. Ia menemukan banyak rahasia yang tak sempat disampaikan ibunya, Lilian ketika ia masih hidup.

Buku ini bercerita tentang Ros, yang sedang mengalami gonjang-ganjing dalam pernikahannya. Pernikahan yang sudah berjalan selama 20 tahun diambang perceraian, karena Ros tidak tahan dengan suaminya yang punya masalah dengan pengendalian emosi.

Suatu hari, ia menemukan sebuah selebaran yang berisi iklan seorang cenayang. Keinginan untuk ‘bertemu’ dengan Lilian, membuat Ros menelpon Clare Voyante – yang ternyata sudah tahu kalau Ros akan menghubunginya.

Lilian dibesarkan di Afrika Selatan. Ia tidak setuju dengan adanya perbedaan perlakuan antara orang kulit putih dan orang kulit hitam. Semasa kuliah dan setelah lulus, Lilian terlibat dalam suatu organisasi yang membela hak-hak orang kulit hitam. Bahkan Lilian sempat terlibat hubungan asmara dengan Sipho, salah satu aktivis yang berkulit hitam. Mereka menjalani hubungan ini secara sembunyi-sembunyi.

Selama ini Ros hanya mengetahui sedikit tentang kehidupan masa lalu Lilian. Tapi, suatu hari ia menerima kiriman paket berisi tulisan Lilian yang akan dibukukan. Dari sinilah, Ros banyak mendapat kejutan.

Sementara itu, kehidupan sehari-hari Ros dipenuhi dengan hal-hal baru berkaitan dengan ‘status’ yang yang sebentar lagi akan berubah. Ros nekat men-tato kakinya, sampai-sampai ia diprotes karena memberi contoh yang kurang baik bagi anak didiknya. Lalu, memberanikan diri untuk mendaftar kencan online.

Gue sih lebih tertarik baca tentang kehidupan Lilian di Afrika Selatan, kaya’nya lebih banyak misteri dan dramanya. Karakter Lilian, ibu yang kaya’nya normal, tapi punya kebiasaan-kebiasaan unik. Yang lucunya, kalo tiba-tiba dia seolah ‘bicara’ sama Ros dari alam lain. Sementara tentang Ros rasanya udah sering gue baca di buku-buku lain, jadi gak terlalu 'mencuri perhatian'.

Read more »

Anak Rembulan - Djokolelono

[No. 274]
Judul : Anak Rembulan - Negeri Misteri di Balik Pohon Kenari
Penulis : Djokolelono
Ilsutrator isi : Ferly Leriansyah
Penerbit : Mizan Fantasy
Cetakan : I, Agustus 2011
Tebal : 350 hlm

Masih ingat dengan Djokolelono? Beliau adalah penulis novel produktif di era 70-80an. Novel debutannya yang berjudul “Jatuh ke Matahari” merupakan novel fiksi ilmiah paling awal yang ditulis oleh penulis Indonesia dimana materi kisahnya dianggap jauh melebihi jaman ketika novel itu dibuat. Novel tersebut diterbitkan oleh Pustaka Jaya pada tahun 1976, setahun sebelum George Lucas merilis Star Wars yang kelak menjadi sebuah fenomena budaya dalam sejarah dunia fiksi ilmiah.

Setelah sukses dengan novel pertamanya, Djokolelono membuat sekuelnya berjudul Bintang Hitam (Pustaka Jaya, 1976) lalu dilanjutkan dengan menulis novel berseri Penjelajah Antariksa (3 judul, Gramedia 1985-1986). Selain menulis novel fiksi-ilmiah Djokolelono juga dikenal sebagai penulis buku anak-anak, salah satunya adalah seri Astrid (Gramedia, 1980-an), selain itu juga dikenal sebagai penerjemah buku-buku fiksi seperti Petualangan Tom Sawyer, seri cergam Mimin, Mallory Towers, buku2 Enid Blyton, dll. Karya-karyanya baik novel maupun karya terjemahannya diterbitkan oleh Pustaka Jaya, Gramedia, dan BPK Gunung Mulia

Setelah sekian lama namanya tidak lagi terdengar di jagad raya perbukuan tanah air, kini Djokolelono kembali hadir dengan karya terbarunya yg berjudul Anak Rembulan – Negeri Misteri di Balik Pohon Kenari, sebuah fiksi fantasi dengan tokoh seorang anak lelaki berusia 10 tahun yang bernama Nono.

Dikisahkan Nono sedang berlibur ke rumah kakeknya di Wlingi, sebuah kota kecamatan yang letaknya diantara kota Malang dan Blitar. Saat dirinya sedang bersepeda sendirian di kota itu ia tertarik untuk melihat dari dekat sebuah pohon kenari raksaksa yang berada di pinggir kali Njari di kaki gunung Kelud. Ketika ia sampai di pohon kenari itu tiba-tiba saja ia terseret oleh aliran sungai Njari dan ia terbawa masuk ke dunia di balik pohon kenari, dunia masa silam ketika pasukan Belanda yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman tiba di tanah Jawa , 415 tahun yang lampau!

Hal pertama yang dijumpai Nono di dunia dibalik pohon kenari adalah dirinya berada diantara pasukan Belanda!, karena saat itu ia sedang memakai kaos merah Menchester United pasukan Belanda itu menuduhnya sebagai mata-mata Inggris yang di zaman itu merupakan musuh bebuyutan Belanda.

Lolos dari kepungan tentara Belanda Nono terperangkap di warung Mbok Rimbi, disana ia dipekerjakan sebagai pembantu warung tanpa bisa melarikan diri. Sebenarnya ada banyak kesempatan yang membuat ia bisa kabur begitu saja, namun anehnya setiap kali ia lari ke arah manapun pada akhirnya ia akan kembali ke warung Mbok Rimbi. Dengan kekuatan mistisnya rupanya Mbak Rimbi memang tak membiarkan Nono kabur dari warungnya karena Nono adalah Anak Rembulan, sebutan bagi anak-anak yang akan dipersembahkannya sebagai korban kepada Dewi Kali.

Walau pada akhirnya ia dapat lolos dari cengkraman Mbok Rimbi bukan berarti dia bisa pulang ke dunianya karena kemudian Nono menjadi tawanan sebuah kerajaan yang di pimpin Ratu Merah walau masih anak-anak namun memiliki sifat yang kejam. Karena Nono berani memandang wajah Sri Ratu maka ia dimasukkan dalam taman satwa untuk kemudian dikorbankan pada buaya-buaya yang eksekusinya akan ditonton oleh seluruh penduduk kerajaan.

Tak hanya itu, Nono juga terperangkap dalam sebuah intrik dan konspirasi tingkat tinggi dalam kerajaan Sri Ratu Merah. Sebuah konspirasi yang dilakukan pangeran Mahesasuro guna mempersunting sang Ratu sehingga ia bisa berkuasa. Dengan pasukannya dan bantuan dari pasukan Belanda yang menginginkan harta dari kerajaan Ratu Merah, Mahesasuro dan teman-temannya merencanakan sebuah penyerbuan yang akan dilakukan pada saat terjadi kemeriahan di lingkungan istana, yaitu saat Nono dan para tawanan lain dilemparkan ke kandang buaya dan singa.

Peristiwa itu akhirnya membawa Nono pada sebuah peperangan yang tak hanya berperang melawan senjata melainkan juga harus melawan kekuatan-kekuatan mistis yang di masa itu lazim digunakan diantara para pendekar-pendekar sakti.

Bagi penggemar kisah fiksi fantasi lokal, novel ini bisa jadi pilihan, Djokolelono dengan sangat piawai membawa pembacanya masuk dalam dalam petualangan Nono di masa lalu. Selain ceritanya yang seru novel ini juga menghadirkan 2 tokoh legenda Gunung Kelud yaitu Pangeran Mahesasuro dan Lembusuro.

Sayangnya penulis tidak mengeksplorasi legenda Gunung Kelud ini dengan lebih dalam, dua tokoh legenda itu hanya dipakai untuk sebuah perebutan kekuasaan di kerajaan Ratu Merah. Sementara legenda Gunung Kelud yang mengisahkan pengkhianatan cinta seorang putri bernama Dewi Kilisuci terhadap dua raja sakti Mahesasuro yang berkepala kerbau dan Lembusuro yang berkepala lembu hanya dikisahkan secara singkat lewat tuturan nenek Nono. Padahal kalau penulis memasukkan legenda Gunung Kelud secara utuh dimana Nono berada diantara persaingan kedua tokoh legenda itu pastinya kisahnya akan semakin menarik dan legenda ini akan benar-benar terekam dalam memori pembaca masa kini.

Walau kisahnya dan plotnya sangat menarik, tapi saya merasa ada beberapa hal yang tidak pas di novel ini. Ketika kisah bergulir ke masa kini, ketika Nono dan temannya Saarce berada di kota Blitar, mereka hendak diculik karena si penculik mengira Saarce adalah anak duta besar Belanda. Bagi saya anggapan dari si penculik ini kurang masuk akal, bagaimana mungkin anak seorang duta besar Belanda yang akan berkunjung ke Blitar dapat dengan bebasnya sepedaan bersama temannya di pasar tanpa pengawalan polisi?

Selain itu saya juga menemukan kejanggalan yang terdapat dalam ilustrasinya, di ilustrasi halaman 196 terlihat kalau Sang Ratu mengenakan pakaian wanita Jawa, padahal di ceritanya, dikisahkan saat itu Sang Ratu sedang memakai pakaian prajurit pria untuk menyamar. Lalu di ilustrasi penangkapan Saarce oleh penculik di halaman 327 terlihat bahwa si penculik itu memakai pakaian prajurit Jawa sedangkan dalam cerita dikisahkan bahwa si penculik itu menggenakan celana loreng tentara.

Terlepas dari beberapa kejanggalan di atas, imajinasi penulis yang kuat dalam membangun plot cerita fantasi dengan setting kerajaan di Jawa masa lampau, kedatangan bangsa Belanda di Jawa, plus sedikit legenda Gunung Kelud membuat novel ini memiliki keunggulan sendiri sebagai sebuah novel fantasi lokal yang dengan gagah hadir untuk bersaing ditengah gempuran berbagai novel fantasi terjemahan karya penulis-penulis luar.

Kehadiran novel ini tentunya juga bisa membuktikan bahwa tak hanya penulis-penulis luar saja yang mampu membuat sebuah kisah fantasi yang bagus. Malah dengan kisah fantasi bernuansa lokal seperti ini budaya dan legenda lokalpun turut terangkat kembali sehingga membuat para pembaca kita, khususnya generasi muda semakin mengenal dan menghargai budaya dan legendanya.

Tiga bintang untuk novel ini, apakah setelah ini Djokolelono akan kembali produktif menulis seperti dulu? Tentunya kita menghendaki demikian. Selain menulis kisah-kisah fantasi berikutnya harapan terbesar saya adalah dapat membaca karya fiksi ilmiah (science fiction) Djokolelono terbaru dengan nuansa lokal seperti yang menjadi novel debutannya “Jatuh ke Matahari”

@htanzil

Read more »

Minggu, 06 November 2011

Masyitoh

Judul               : Masyitoh, Drama Tiga Babak
Pengarang       : Ajip Rosidi
Tahun terbit     : 1962, Cetakan 2 tahun 2006
Gambar jilid    : Oesman Effendi
Tebal               : 144 halaman
Penerbit           : Pustaka Jaya


            Nama Masyitoh mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita, terutama umat muslim. Nabi Muhammad mengabadikan kesucian dan keteguhannya dalam sebuah hadits (yang walaupun tergolong hadits yang lemah atau dha’if) sehingga kisah hidupnya memang begitu menginspirasi dan luar biasa tak terlupakan dalam khazanah kisah religius Islam. Masyitoh sendiri adalah seorang wanita dari kalangan Bani Israil  yang hidup pada zaman Fir’aun di Mesir, kira-kira beberapa puluh atau ratus tahun setelah pemerintahan Nabi Yusuf dan beberapa selang waktu sebelum diturunkannya Nabi Musa. Kisah ini adalah tentang pengorbanan seorang hamba Tuhan yang begitu teguh memegang prinsipnya untuk hanya mengesakan Tuhan Semesta Alam dan mengabaikan ancaman Fir’aun yang mengaku sebagai Tuhan.

            Kisah ini bermula dari ketidaksengajaan Masyitoh, yang saat itu bekerja sebagai seorang dayang dari putri Fir’aun bernama putri Taia. Ketika tengah menyisir rambut junjungannya, tanpa sadar sisir Masyitoh jatuh dan ia sontak berucap “demi Allah, celakalah, celakalah Fir’aun …!” (halaman 22). Putri Taia pun marah dan mengadukan hal ini kepada pendeta tinggi Mesir yang bernama Phator. Keduanya lalu memaksa dan mengancam Masyitoh agar ia meminta maaf dan berpaling dari Tuhannya Bani Israel untuk kemudian menyembah Fir’aun yang dikatakan sebagai titisan Dewa Ra. Tanpa gentar, Masyitoh tetap memegang prinsipnya untuk hanya menyembah Tuhan Allah yang satu.

            Sepulangnya dari istana, Masyitoh mengadukan hal ini kepada suaminya, Obed juga kepada sesepuh Bani Israel, Bapa Simeon. Waktu itu, bangsa Israel di Mesir memang tengah ditindas. Mereka diperlakukan semena-mena hanya karena dianggap menumpang di negeri orang dan tidak mau menyembah Fir’aun. Baik Obed maupun Bapa Simeon tetap mendorong Masyitoh agar jangan takut, karena Tuhan senantiasa melindungi hamba-hambaNya yang percaya. Pun demikian, ketika barisan pengawal Fir’aun menjemput Masyitoh sekeluarga untuk diadili di ruang peradilan, keluarga itu tetap memegang teguh keimanan mereka. Fir’aun bahkan mengancam akan menghukum seluruh keluarga Masyitoh, termasuk bayinya yang belum genap satu tahun.

Hukuman cambuk terbukti tidak berhasil. Baik Masyitoh, Obed dan kedua anaknya tidak takut untuk tetap mempertahankan prinsip mereka. Fir’aun pun marah besar. Diputuskanlah untuk mencemplungkan keluarga itu ke dalam belanga berisi timah yang mendidih. Dan, ancaman maut terbuti tidak menggoyahkan keimanan Masyitoh:


Daripada harus meninggalkan kepercayaan  hamba kepada Allah yang bersifat Rahman serta Rahim, yang telah menjadi sesembahan leluhur hamba, Ibrahim, hamba lebih baik memilih cairan timah mendidih…” (halaman 101)

Dan, inilah bentuk pengorbanan yang tiada taranya, luar biasa tak tertandingi di mana seorang hamba telah merelakan jiwa, raga, dan hartanya hanya kepada Tuhannya. Ini bukanlah sebuah kekonyolan, tapi bukti keteguhan hati seorang Masyitoh yang lebih memilih mempertahankan akidah ketimbang harus hidup menanggung malu dan pengkhianatan. Bukti keteguhan hati Masyitoh dan keluarganya itu muncul dalam bentuk yang sedemikian dahsyat, yang bahkan mampu membungkam mulut Fir’aun dan segenap antek-anteknya. Ketika Masyitoh hendak dicemplungkan ke dalam timah mendidih, bayi dalam gendongannya tiba-tiba berhenti menangis dan berkata:

“Ibu, Ayah, janganlah bimbang janganlah ragu”, kata bayi itu. “Sebab cairan timah tidaklah panas  kendatipun mendidih. Yang panas hanya dalam sangkaan, takkan terasa oleh orang yang sudah tunggal rasa, erat berpaut tauhid dengan Allah yang Mahaagung.” (halaman 102).

Luar biasa kecintaan Masyitoh kepada Tuhannya. Luar biasa pula seoang Ajip Rosidi yang mampu menceritakan ulang kisah tentang pengorbanan ini dengan begitu apik sekaligus klasik. Penggunaan kata-kata yang dulu pernah populer di tahun 1960-an, bukannya mempersulit, malah semakin membuat saya betah membaca buku kecil ini. Rasa klasiknya benar-benar terasa dengan penggunaan diksi dan struktur kalimat yang mungkin hanya bisa kita baca dalam roman-roman angkatan 45 ke bawah.

Penggambaran cerita juga begitu hidup, lengkap dengan aneka nasihat yang mungkin sengaja ditambahkan oleh pengarang sebagai “bonus” kebijakan yang hendak ia bagi dengan pembaca. Hal ini tampak dalam bagian ketiga, ketika Bapa Simeon tengah membahas tentang Bani Israel agar berani bertindak melawan penindasan yang mereka terima dari bangsa Mesir. Bahwa pertolongan Tuhan (diutusnya Nabi Musa) hanya akan datang ketika bangsa Israel mau berjuang dan berupaya untuk mengubah nasibnya terlebih dahulu. Sebuah buku yang luar biasa dan wajib dikoleksi sebagai bagian dari khazanah kekayaan sastra-religius bangsa ini.
Read more »