Sabtu, 25 Agustus 2012

Ziarah ke Masa Lalu Jepang


Judul Buku: Minamoto no Yoritomo
Penulis: Eiji Yoshikawa
Penerbit: Kansha Books
Cetakan: I, Februari 2012
Tebal: 386 Halaman

Memperbincangkan sastra Jepang, sangat sulit dilepaskan dari sosok bernama Eiji Yoshikawa. Dua karya utamanya; Musashi dan Taiko, menjadi bacaan wajib bagi para pecinta kisah Samurai khususnya, dan sastra Jepang pada umumnya. Kedua buku tersebut juga dianggap mampu menginspirasi dan memotivasi para pembacanya.

Pria bernama asli Hidetsugu Yoshikawa ini dikenal memiliki gaya penulisan yang khas, ia kerap mengekspresikan pandangan-pandangan pada masanya dengan menggunakan setting masa lampau Jepang, era ketika para Samurai dan Shogun berperang menumpahkan darah untuk meraih kehormatan dan kekuasaan. Hasilnya, karya-karya Eiji seakan tak lekang oleh zaman.

Salah satunya karya berjudul Minamoto no Yoritomo ini. Berkisah tentang anak-anak Sama no Kami Yoshitomo, pemimpin klan Minamoto, yang kalah telak dalam Perang Hougen Heiji di Rokujo-Kawara melawan Taira no Kiyomori. Yoshitomo beserta seluruh keluarganya terbunuh, dan hanya menyisakan empat orang anak; Uhyoe no Suke Yoritomo, Otowaka, Imawaka, Shanaou Ushiwaka dan seorang gundik bernama Tokiwa.
Jatuh-Bangun Rezim

Nasib kelimanya jauh lebih beruntung dibanding dengan anggota keluarga klan Minamoto lainnya yang mengalami akhir tragis, mati di ujung pedang para samurai klan Taira. Yoritomo misalnya, anak bungsu Yoshitomo dari istri sah ini, selamat dari hukum pancung berkat hati Kiyomori, yang tidak seperti biasanya, melunak atas bujukan dari ibu tirinya, Ike no Zeni, dan putra sulungnya, Shigemori untuk mengampuni anak musuh bebuyutannya.

Sedangkan Tokiwa dan ketiga anaknya dapat selamat dikarenakan hati Kiyomori yang memang mata keranjang, kepincut oleh kecantikan gundik mendiang Yoshitomo ini. Akhirnya, hukuman yang ddapatkan oleh anak-anak tersebut hanyalah pengasingan, sedangkan Tokiwa sendiri harus rela dinikahkan dengan salah satu anak buah Kiyomori, sebagai siasat pemimpin klan Taira ini mengelabui publik.

Meski menceritakan semua tokoh utamanya hampir secara berimbang, namun kisah Yoritomo dan Ushiwaka-lah poros dari semuanya. Yoritomo, yang diasingkan ke Izu, kemudian mulai menyusun kekuatan dari sisa-sisa pasukan keluarga klan Minamoto. Sedangkan Ushiwaka yang dibuang ke Kuil Kurama, secara diam-diam mendapatkan perhatian dan dukungan dari mantan anak buah ayahnya yang masih setia. Keduanya memiliki misi yang sama; meruntuhkan rezim Taira yang tengah berkuasa.

Ketegaran dan semangat yang pantang menyerah, nampaknya menjadi spirit yang hendak dihembuskan oleh penulis yang paling disukai seantero Jepang ini kepada para pembacanya. Sikap demikian tergambarkan dengan sangat jelas melalui karakteristik tokoh utamanya, Yoritomo. Spirit seorang samurai yang patut diteladani.

Sebagaimana buku-bukunya yang terdahulu, karya ini pun tergolong cukup tebal, meskipun dalam versi Indonesia dibagi menjadi dua jilid, dan semakin mengerek namanya sebagai novelis dunia dengan spesialisasi fiksi histori Jepang. Namun, sebagai sebuah kisah yang lahir dari perkawinan antara fakta sejarah dan imajinasi penulisnya, ketebalan tersebut tidak membuat jenuh pembaca.

Teladan dari Sejarah

Sebagai sebuah fakta sejarah, kisah yang ditawarkan Eiji tersebut dapat kita ketahui melalui lembaran resmi sejarah yang ada, namun bagaimana imajinasi Eiji yang penuh warna sangat menarik untuk dinikmati. Mengingat karya fiksi sebagai hasil dari proses imajinasi, bukan catatan sejarah yang harus menitikberatkan pada data-data faktual. Sehingga ia memiliki dunianya sendiri, yang bisa saja dibengkokkan dari mainstream sejarah.

Menjelajahi halaman demi halaman buku ini, akan membuat kita merenung dan mencoba membandingkan antara masa lalu dan masa kini Jepang dan Indonesia. Ada keterkaitan yang erat antara Jepang modern dengan Jepang masa silam terutama abad ke-12. Jepang hari ini masih kental memperlihatkan pengaruh dari ajaran Bushido, atau kode etik samurai. Namun mereka sukses mentransfer nilai-nilai tersebut ke dalam sikap kerja yang lebih riil, sehingga tidak gamang mengarungi modernitas dan sukses menjadi negara maju.

Sebaliknya, meski memiliki kebudayaan dan akar sejarah yang jauh lebih panjang, di Indonesia semuanya hanya berujung pada mitos-mitos yang jauh dari realitas. Bagaimana kebesaran Majapahit, Sriwijaya, Padjajaran maupun sosok Ratu Adil, sekedar berfungsi meninabobokan masyarakatnya untuk terus menunggu Godot, tanpa memahami filosofinya dalam konteks kekinian. Bahkan kondisi geografis dan demografis yang jauh lebih unggul daripada Jepang pun seolah menjadi mubazir. Sebuah kegagalan yang melahirkan keterbelakangan berkepanjangan.

Peresensi:
Noval Maliki, Pemerhati Buku, Tinggal di Yogyakarta

Sumber: Kompas
Editor :Jodhi Yudono
Read more »

Marketing is Bulshit: Retorika Bisnis Era Modern


Judul: Marketing Is Bulshit
Meledakkan Profit dengan Kreatifitas & Otak Kanan
Penulis: Ippo Santosa
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
Terbit: ke-19, Juli 2012
ISBN: 978-979-27-4339-5
Tebal: vvii+181 hlm

Peresensi: Ana FM

Persaingan di era modern ini ternyata mulai menjadi trend baru berkheidupan warga Indonesia. Rumus yang ada, siapa yang cepat dan menguasai medan (usaha) maka dapat. Demikian sebaliknya, siapa yang lambat maka akan ditinggal oleh kepastian. Sehingga wajar jika sejumlah orang (pengusaha) berkompetisi menjadi yang terbaik dan terdepan. Meski, ada juga sejumlah orang yang berjalan tertatih dalam menjalankan usahanya.

Buku garapan Ippo Santosa ini hadir menjawab problematika dunia usaha dewasa ini. Buku ini memang bukan segalanya, namun ulasan dalam buku ini sudah nyaris mewakili kebimbangan para pengusaha yang menekuni aktivitasnya. Banyak 'jamuan' tekhnik jitu dalam mengelola dunia usaha menjadi menguntungkan berlipat ganda. Bahkan, dalam buku ini dijelaskan tentang trik, tips dan tekhnik hebat orang terkenal di dunia. Sehingga buku ini terasa sangat lengkap untuk dijadikan referensi dalam menjelajahi dunia bisnis.

Sebagaimana logika bisnis, segala aktifitas di wilayah dunia usaha diharapkan mendatangkan pendapatan (uang). Menggeluti dunia bisnis ini tidak cukup bermodal dana. Dana memang sangat penting, namun pengetahuan dan pengalaman tak jauh penting. Dana dan pengetahuan ini menjadi modal utama dalam memantapkan bisnis yang dijalankan. Belajar kepada pengalaman kepada para tokoh dunia, mengerjakan aktifitas usaha ini harus dilakukan dengan matang dan rapi. Dalam arti, apa yang dijalankan seseorang tidak hanya sekedar kegiatan sambil lalu saja. Kondisi ini yang sering disebut dengan istilah fokus pada satu objek. Namun demikian, fokus saja tidak cukup dalam mengemas usaha menjadi bernilai keuntungan berlipat ganda, tetapi harus diimbangi dengan kreatifitas dan potensi diri yang memadai.

Penulis buku memberikan trik untuk menjadi pengusaha yang cerdas dan kreatif. Dengan mengutip pemikiran Michael Michalko diberikan cara bagaimana menjadi creatif marketer. Pertama, be distinctive. Maksudnya, amati dan cermati persoalan yang ada dengan pendekatan berbeda. Sehingga, persoalan yang ada menjali bagian penting dalam meraih kesuksesan. Jangan pernah takut menghadapi persoalan. Sebab, dengan persoalan ini seseorang akan menjadi lebih dewasa.

Kedua, be imaginative. membayangkan sesuatu bisnis yang mapan salah stu kunci sukses. Sejumlah tokoh dunia, sebut saja Albert Einstein selalu berjuang menemukan temuan baru. Pada awalnya, temuan-temuan Enstein ini didasari dari membayangkan sesuatu. Dan sesuatu itu dibayangkan menjadi salah satu temuan yang bakal menggemparkan jagad. (hl 119-120)

Ketiga, be productive. Hasil imajinasi itu dilanjutkan dengan mencoba menghasilkan sesuatu dengan lebih nyata. Nyata disini bagi marketer adalah mengasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi usahanya dan popularitasnya. Keempat, be combinative. Memadukan pengetahuan/pengalaman baru dari yang didapat sebelumnya dengan yang update pada titik kulminasi akan menghasilkan temuan baru. Trik keempat ini sudah menjadi syarat mutlak bagi orang menekuni dunia usaha bisnis oriented.

Kelima, be connective. Perjalanan usaha seseorang pasti akan dihadapkan kepada dua ujung arah. Yakni, arah keberuntungan dan kerugian. Menemukan koneksi (hubungan) dari aneka persoalan yang dihadapi akan menciptakan ledakan keberuntungan bagi seorang pengusaha. Bahkan, dengan strategi be connective ini akan juga mampu menciptakan rasa percaya diri dalam menjalankan sebuah usaha.

Selian kelima tips di atas, setiap marketer dituntut memiliki be contrary (mampu menyimpan dua hal yang saling berlawanan), dan tips lain yang satu sama lain saling berkelindan menyempurnakan. Keahlian, berani dan sukses adalah pilihan. Hari yang utama adalah bergerak dan bangkit dari keterpurukan. Selamat membaca, mencoba, dan menjadi jutawan!

*Penulis, Pecinta Buku dan Alumni PonPes An-Nuqayah Guluk-Guluk Sumenep, Madura . Email: lembayung_88@yahoo.com

Sumber: Kompas
Editor :Jodhi Yudono
Read more »

Anak Singkong dan Sejuta Kepercayaan


• Judul buku: Chairul Tanjung Si Anak Singkong • Penulis: Tjahja Gunawan Diredja • Penerbit: Penerbit Buku Kompas • Cetakan: VI, Agustus 2012 • Tebal: xvi + 384 halaman • ISBN: 978-979-709-650-2

Resensi oleh Rhenald Kasali

Pada tahun 2000-an, tak lama setelah para konglomerat lama menjadi pasien Badan Penyehatan Perbankan Nasional, muncul sejumlah nama pengusaha baru. Chairul Tanjung adalah salah satunya.

Racikan usaha konglomerat baru yang menarik perhatian publik itu bertulang utama di sektor keuangan, sebagian industri, properti atau perkebunan, dan tentu saja media massa. Konglomerat baru itu ingin mendapat pijakan dalam dunia hiburan atau media, menemani tumbuhnya kelas menengah baru domestik.

Berebut tempat atau memosisikan diri sebagai orang media sangat disyukuri, apalagi jika mendapat julukan sebagai tokoh pers, bahkan sebagian menyeberang ke dunia politik dengan motivasi yang berbeda-beda.

Tidak mengherankan jika ada dugaan, konglomerat baru pasca-Orde Baru dibidani oleh pemain lama yang butuh ”orang kepercayaan” untuk memutar kembali asetnya yang tidak dapat dibeli kembali dari Badan Penyehatan Perbankan Nasional. Namun, membaca biografi Chairul Tanjung (CT), kita tidak akan menemukan jawaban itu meski gunjingan akan selalu terdengar.

CT mengambil Bank Mega (1995) ”atas tawaran” pejabat senior Bank Indonesia dan Bapindo melalui proses due diligence, jauh sebelum para konglomerat gulung tikar (1997). Namun, benar seperti yang dikatakan Jakob Oetama dalam pengantarnya, modal CT adalah kepercayaan. Dan, itu sesungguhnya adalah modal besar seorang pemimpin, modal utama seorang wirausaha.

Keberuntungan, harta tak terlihat

CT dipercaya pasar, diminati pengusaha, dan disukai Presiden. Sepanjang buku ini kita disajikan langkah-langkah kecil yang menjadikan CT magnet. Sekali lagi bukanlah uang yang menjadi modal, melainkan kepercayaan. Bagi yang melihat uang sebagai constraint dalam berwirausaha tak akan percaya bagaimana seorang ”anak singkong” yang tinggal di Gang Abu, berdinding asal-asalan dan biasa ”nongkrong” di jamban beratap seng, yang masuk kuliah di UI tak punya uang, bisa menjadi sarjana dan bankir yang diperhitungkan. Pastilah, pikir mereka, ada tangan lain yang meminjamnya.

Kata orang bijak keberuntungan itu bukan karena fengsuinya bagus, melainkan karena persiapan diri yang kuat yang bertemu dengan kesempatan. CT membaca kesempatan sejak menjadi anak rakyat di kampus Salemba. Saat mahasiswa lain sibuk kuliah dan fotokopi diktat, ia justru melihat gap antara biaya fotokopi dan mencetaknya dalam bentuk stensilan di percetakan teman sekolah masa SMP-nya di daerah Senen. Selisihnya besar sekali. Ia pun mendatanginya, mengambil risiko, dan menawarkan harga lebih murah. Dipercaya di kampus membuatnya dipercaya dunia usaha sedikit demi sedikit.

Dari fotokopi ke alat-alat kedokteran, lalu jual beli mobil bekas, menjadi kontraktor kecil-kecilan, dan belajar menangani kesulitan. Saat bangkrut, bukannya pecah seperti telur yang jatuh, ia justru membal kembali seperti bola tenis. Bukankah Tuhan memberikan kita kesulitan agar kita berpikir? Seperti sopir yang mengekspos diri pada risiko, ia tidak mau menjadi penumpang yang berpangku tangan di belakang. Ia mengaku selalu didatangi tawaran untuk masuk ke bisnis-bisnis baru dan ia mau melakukannya. Kalau kita sekolah di kedokteran gigi, kemungkinan besar istri akan mengatakan, ”Ngapain jadi juragan sepatu? Kan, mas dokter?”

Demikianlah ia ditawari orang Taiwan membuat sepatu meski jadinya hanya pabrik sandal, celah yang sulit dimasuki ia ekspos terus. Dari situ ia dapat kepercayaan, menggabungkan keahlian dalam industri dan properti. Dari berhubungan dengan bank sebagai debitur sampai menjadi pemilik bank dan masuk ke dalam dunia pertelevisian. Secara spiritual kita bisa memercayai doa ibu yang menyertai keberuntungan seseorang. Hampir semua pemimpin dan pengusaha besar dalam biografinya selalu menyebut ibu. Aneh, ya, kok bukan bapak?

Namun, dalam kewirausahaan, keberuntungan seseorang hanya terjadi apabila kedua hal di atas terpenuhi: mampu membaca gap (peluang) dan mempersiapkan diri. Jangankan wirausaha, calon presiden saja harus mampu membaca kesempatan serta ilmuwan harus bisa melihat celah apa yang sudah diteliti dan yang masih menjadi masalah. Namun, mampu membaca saja tidak menjadikan Anda manusia beruntung. Manusia harus bergerak, mengeksplorasinya, yang berarti melakukan persiapan sampai ia didatangi oleh kesempatan-kesempatan yang lebih besar. Namun, siapa yang bisa didatangi kalau tidak ada kepercayaan?

Akumulasi semua ini sesungguhnya adalah harta-harta tak kelihatan (intangible) yang menjadikan Warren Buffet pengusaha besar, demikian juga dengan Bill Gates dan Steve Jobs, dan menjadi modal bagi Ir Ciputra, TP Rahmat, dan Peter Sondakh. Menurut saya, kemampuan manusia mengelola harta-harta tak kelihatan inilah (kepercayaan, pengetahuan, daya juang, informasi, pembelajaran, dan etika) masih kurang didalami di dunia persekolahan kita.

Kemampuan mengelola harta-harta tak kelihatan itu dikenal dengan istilah life skills dan menjadikan Jepang, Inggris, Jerman, Amerika Serikat, dan Singapura sebagai bangsa yang tangguh. Akan halnya CT, dia mendapatkannya dari perjalanan hidup.

Anak singkongnya?

Biografi ini dibuat dengan bahasa yang sederhana, dengan bab yang ditulis pendek-pendek, jauh dari jargon-jargon bisnis. Namun, seperti yang saya katakan di pembukaan, masih banyak yang bisa diceritakan CT, khususnya dalam ”kepercayaan” yang diberikan pemain-pemain lama, minimal bagaimana ia membedakan diri dengan mereka dan memosisikan sebagai pengusaha di era baru yang lebih didasarkan tata kelola yang baik. Refleksi kedekatan dengan penguasa perlu juga diuraikan agar pengusaha muda mampu mengambil pertimbangan yang masak.

Meski generasi CT sangat familiar dengan kata anak singkong, dalam buku ini tak ada ulasan yang menjelaskan mengapa ia mengklaim sebagai anak singkong. Dalam buku ini juga ditemui beberapa ulasan yang terkesan banyak dipotong sehingga muncul pertanyaan, mengapa harus disajikan jika informasinya hanya seadanya? Juga ditemui kegalauan penulisan antara otobiografi (menjelaskan tentang ”saya”) dan biografi yang ditulis orang lain berdasarkan hasil riset (hal 165).

Namun, kalau kita bisa memisahkan bagian-bagian tertentu, buku ini penting untuk menanamkan semangat kewirausahaan. Bagaimana menjadikan para sarjana sebagai manusia beruntung yang tak hanya menjadi pemain warung di kaki lima selama bertahun-tahun bersaing dengan rakyat jelata dan selalu meributkan constraint.

RHENALD KASALI Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia •

Sumber :Kompas Cetak
Editor :Jodhi Yudono
Read more »

Kamis, 23 Agustus 2012

Alpha Veta

Sebuah bintang baru telah  kembali dari mati suri nya. Bintang itu bernama Alpha Veta. Bintang yang memiliki bobot dan diameter lebih besar dari matahari itu ditemukan oleh  penemu dari Indonesia dan terletak   lumayan jauh dari planet pluto (sekarang tidak lagi disebut planet).  Belakangan tanpa diduga bintang tersebut  menunjukan reaksi termonuklir yang signifikan sehingga menyebabkan kenaikan suhu yang juga berdampak sekaligus pada planet-planet disekelilingnya, termasuk bumi. 

Demi merekam situasi keresahan dan kepanikan akibat efek Alpha Veta terhadap bumi maka disajikan lah berbagai situasi manusia di bumi dalam detik-detik terakhir ketika bencana Alpha Veta melanda. Situasi itu kemudian dirangkum melalui kisah yang meliputi situasi Arya Winarwan, Priska Chindyana, Intan , Ali Fachrudin , Andi  Rahmawan, Albertus Somata, dan Pemerintah Amerika Serikat. 

Arya (astronom) dan Priska (reporter) adalah teman lama yang akhinya bertemu kembali setelah dua tahun tak bertemu. Mereka saling memendam rahasia karena sebuah persahabatan yang mereka bangun sekaligus perbedaan agama yang mereka anut. Hingga akhirnya Alpha Veta datang dan memaksa  Arya dan Priska untuk jujur setidaknya pada perasaan mereka antara satu sama lain. 

Intan.  Satu-satunya adik dari Priska yang tinggal di Jayapura bersama ayah dan ibu. Ia sangat menyayangi Priska dan menunggu kepulangan kakaknya itu setelah bertugas sebagai reporter di Jakarta. Tapi sayang, Priska tidak kunjung datang bahkan saat Alpha Veta pun akhirnya benar-benar terjadi dan menimpa Jayapura.

Ali Fachrudin. Seorang mantan murid di Afganistan dan dituduh melakukan pemboman di Bali hanya karena ia pernah bertugas di Afganistan. Ia kemudian dijebloskan ke penjara dan menunggu saat-saat eksekusi mati  terjadi. Tapi sebelum itu, ia dipindahkan ke sebuah penjara sebelum akhirnya Alpha Veta datang dan membuatnya terombang-ambing antara kehidupan dan kematian.

Andi Rahmawan. Dokter bedah kaya raya yang punya idealisme untuk menolong seseorang hanya berdasarkan materi semata. Hal itu lantas membuatnya di cap buruk bagi orang-orang disekelilingnya, termasuk keluarganya sendiri. Hingga suatu hari, Alpha Veta datang dan membuatnya tersadar bahwa selama ini sebagai dokter ia telah salah melangkah terlalu jauh. 

Albertus Somata. Pemimpin sekte hari kiamat yang ditangkap oleh polisi akibat alirannya yang dianggap menyesatkan dan meresahkan masyarakat. Ia ditangkap dan dijebloskan dalam penjara. Namun Albertus Somata tidak hilang akal. Ia  meloloskan diri dengan cepat meskipun bersamaan dengan itu Alpha Veta  juga datang dan membuatnya sadar ia tak pernah punya jalan untuk meloloskan diri dari tuhan.

Pemerintah Amerika Serikat. Semua pejabat dan Presiden Amerika Serikat heboh oleh fakta mencengangkan atas kemunculan Alpha Veta dan akibat yang ditimbulkannya. Karena itu, pemerintah bekerjasama dengan berbagai pihak untuk mengadakan proyek Icarus yaitu proyek pembangunan bungker sebagai tempat perlindungan  umat manusia dari  ancaman Alpha Veta, meski pada akhirnya mereka tahu proyek tersebut tak akan selamanya berhasil  menyelamatkan mereka. 

Baik Arya, Priska, Intan, Ali, Andi, presiden, maupun menteri yang terlibat didalamnya bersatu padu demi menyelamatkan diri dari  Alpha Veta yang  akan  menimpa  seluruh umat manusia .Tapi akankah ditengah keganasan dampak dari Alpha Veta  itu mereka akhirnya mampu untuk bertahan?ataukah mereka hanyalah segelintir kisah dari milyaran manusia yang akan terkubur bersamaan dengan musnahnya seluruh bumi berikut peradaban manusia dan isinya?

Berbicara mengenai Alpha Veta harus kuakui novel ini cukup bagus tapi sayang tidak sebaik atau lebih dari Area X yang kubaca beberapa bulan yang lalu. Mungkin hal itu dikarenakan novel Alpha Veta berlangsung dalam tempo yang sangat cepat dan kurang mendalam dibandingkan Area X sehingga banyak hal yang terasa ganjil dan kurang memuaskan. Seperti misalnya pada bagian pemberitaan presiden mengenai bencana Alpha Veta yang dimaksud. Padahal kalau dipikir-pikir bukankah pemberitaan akan adanya bahaya besar diumumkan dalam rentang waktu yang cukup lama sebelum kejadian yang dimaksud terjadi?ini malah diumumkan beberapa hari sebelum bencana terjadi. Ditambah lagi presiden juga digambarkan akan mengambil tindakan tegas jika ada rakyatnya yang menimbulkan  kepanikan di masyarakat sebelum adanya kepastian berita dari pihak-pihak terkait mengenai Alpha Veta. Tapi coba telisik lebih dalam lagi pada pemberitaan yang ia sampaikan. Presiden itu sendiri malah menyebut-nyebut efek Alpha Veta sebagai sebuah kiamat di akhir  pemberitaanya,kan?. Bukankah hal itu sendiri sudah menimbulkan kepanikan publik?.

Kemudian juga hal-hal yang membutuhkan penjelasan lebih seperti misalnya yang berkaitan dengan konsep termonuklir dan ledakan supernovanya. Aku merasa penjelasan tentang hal itu dan lain sebagainya masih  terkesan ala kadarnya saja, padahal di bagian berbau astronomi seperti inilah tingkat kesulitan penulis diuji. Seberapa mampu ia menjabarkan persoalan rumit itu secara lugas dan bisa dimengerti  oleh siapapun yang awam dengan tidak melepas acuannya yang berasal dari konteks astronomi yang real dan mendalam.

Terlepas dari adanya  kekurangan-kekurangan tersebut, ada juga beberapa hal yang aku sukai di novel ini. Yang pertama adalah pada konsep ceritanya. Meski harus diakui tidak mengusung konsep baru karena hanya merombak ulang dari novel-novel sejenis (entah karena aku sudah biasa menonton film-film belakangan yang setipe ini). Tapi untuk sebuah novel awal dalam ranah science fiction dalam negeri bisa dikatakan okelah. Yang kedua pada kelihaian Sulung yang berhasil menyatukan banyak karakter yang ada ke dalam bejana alur maju mundur tanpa adanya overlapping disana sini. Yang ketiga sekaligus yang terakhir ada pada suasana thriller khas film The Day After Tomorow atau 2012  yang berhasil disuguhkan dengan epik meski ada adegan yang tidak kusukai karena sama persis dengan adegan Rose Dawson meniup peluit  di film Titanic (halaman 100). 

Akhir kata, novel ini sukses menutup kisahnya dengan mengajak pembaca seakan tercenung dan berpikir.  Apakah seandainya jika kiamat itu benar-benar datang dan menjadi akhir dari semua kehidupan di bumi ini, akankah kita sudah siap menghadapinya dengan amal kebaikan yang kita miliki? Sudahkah semua itu cukup ?
=================

Judul : Alpha Veta
Penulis : Sulung Haryanto (aka Luna Torashyungu)
Penerbit: Dar!Mizan
Terbit : @2005
ISBN :  979-752-156-7
Tebal : 212 hal
Rating: 3/5

=================

Read more »

Altar Suci


Judul     : Altar Suci
Pengarang          : Miftahul Asror Malik
Penyunting         : @rinalubis_stone
Isi                         : Bambang
Sampul                 : @ferdika
Cetakan               : 1, Agustus 2012 (385 halaman)
Penerbit              : Bening (DIVA Press)


                Setiap zaman, setiap peradaban, memiliki sebuah “pegangan” yang berpengaruh pada kebesaran maupun kejatuhannya, kemajuan ataupun kemundurannya.  Zaman berganti dan puluhan bahkan beratus peradaban hilang dan timbul, silih berganti sebagaimana malam yang berseling dengan siang hari. Adalah Gerbang Tuhan, sebuah pusaka yang menjadi pegangan dari masing-masing peradaban. Ia mengandung kekuatan luar biasa untuk menopang dan membesarkan sebuah peradaban, tetapi di lain pihak pusaka ini juga merupakan sumber segala malapetaka bila digunakan secara keliru. Peradaban lembah Sungai Indus, Mesopotamia, Mesir, Aztec, Romawi, Yunani, dan China; peradaban-peradaban tua tersebut dikatakan pernah memiliki pusaka Gerbang Tuhan ini, yang menjadikan mereka makmur dan mencapai puncak peradaban. Begitu juga Atlantis, sebuah imperium di zaman kuno yang menurut Plato dan Solon pernah menguasai dunia dengan pusaka ini.

                Adalah Aliran Tarekat Suci (yang kemudian disebut Altar Suci) yang bermaksud untuk menemukan dan melacak pusaka ini. Dipimpin oleh Profesor Awalludin, Altar Suci dibentuk dari sekumpulan orang dengan latar belakang etnis dan agama yang berbeda: Mr Robert (pengusaha), Visnu Brahma, Bapa Theodore, Dr Sri Wedari, dan kombes Budi Sasongko. Para petinggi Latar Suci ini kemudian merekrut tiga orang terpilih untuk meneruskan pencarian mereka akan Gerbang Tuhan, yang konon bisa membuat pemakainya berpindah tempat dari satu alam menuju ke alam yang lain serta memungkinkan pemakainya untuk melihat kilasan di masa lalu dan di masa depan.

                Tiga orang pilihan, Noah Samudra (mahasiswa), Linduaji (inspektur kepolisian), dan Ayudia (dosen muda) ditunjuk untuk menjalankan tugas ini. Dengan tekun, mereka ditatar oleh para petinggi Altar Suci. Berbagai fakta sejarah yang selama ini ada tentang peradaban-peradaban kuno dunia pun didedahkan. Mengapa orang Mesir membangun Piramida Giza? Adakah alasan dibalik kemiripan bangunan piramida di Mesir, di Amerika Tengah dan di Jawa (punden berundak)? Apakah Atlantis benar-benar ada? Adakah kaitan antara tenggelamnya Atlantis dengan peristiwa Banjir Besar Nabi Nuh? Dan, apakah Gerbang Tuhan itu benar-benar ada?

                Namun, ketiga pahlawan muda kita harus bergerak cepat. Sebuah perkumpulan tak bernama yang menggunakan simbol bintang segi lima dalam lingkaran turut bergerak mengincar Gerbang Tuhan. Satu demi satu, mereka bergerak dan menghabisi para petinggi Altar Suci. Noah, Ayudia, dan Linduaji harus bergerak cepat mendahului mereka. Belum lagi kemunculan sosok wanita misterius yang datang tiba-tiba dan tampaknya memiliki pengetahuan lengkap tentang Altar Suci yang serba rahasia. Siapakah dalang dibalik pembunuhan para petinggi Altar Suci? Benarkan ada pengkhianat di dalamnya? Lalu, benarkah pusaka Gerbang Tuhan itu kini benar-benar ada di Indonesia? Lalu di mana? Adakah di nusantara ini pernah tumbuh sebuah kerajaan yang mendunia?

Dengan asyik, pembaca akan diajak oleh ketiga orang tersebut dalam upaya penelusuran keberadaan Gerbang Suci, yang konon terus diwariskan antara peradaban yang satu ke peradaban yang lain. Kita akan larut dalam diskusi intelektual mereka, membuka lembaran sejarah dan bab demi bab yang begitu padat akan pengetahuan purbakala, menyingkap masa lampau dan menenggok kembali anggapan-anggapan lama yang mungkin keliru tentang Atlantis dan ras manusia pertama. Buku ini juga dipenuhi dengan banyak catatan kak mengagumkan, yang menunjukkan betapa penulis memang menggarapnya berdasarkan riset dan referensi bacaan yang kuat (terlepas dari shahih atau tidaknya data yang diajukan).

Kekurangan dari novel ini mungkin, salah satunya, adalah ketiadaan gambar atau foto. Jika penulis memasukkan foto dari situs-situs sejarah yang menjadi latar dalam buku ini, ceritanya mungkin akan semakin seru. Demikian juga jika simbol-simbol itu turut digambarkan, imaji pembaca pasti akan langsung dibuai dalam aroma petualangan nan mempesona. Namun, demikian, acungan jempol perlu diberikan kepada penulis yang benar-benar melakukan riset sehingga mampu menghasilkan paragraf-paragraf berbobot dalam buku ini, yang menjadikannya bak The Da Vinci Code dari nusantara, atau paling tidak, menjadi penerus Rahasia Meede karya E.S. Ito nan mempesona itu. Catatan kakinya juga agak kurang jelas cetakannya, padahal inilah salah satu bagian paling menarik dari buku ini. Untuk penulisnya, saya ucapkan: "Good job!"

 ·  ·  · Bagikan · Hapus
Read more »

Neo Werewolf


Judul   :Neo Werewolf
Pengarang      : Ali Reza
Cetakan          : Pertama, Juli 2012
Penerbit          : Laksana (DIVA Presss)      



Manusia serigala di Indonesia? Premis ceritanya sendiri sudah cukup menarik dan mengundang rasa penasaran. Bisakah makhluk-makhluk yang berjuluk “para putra rembulan” itu beraksi di negeri tropis seperti di Indonesia? Bagaimana cara menyatukan mitologi asli dari Eropa dan Amerika itu ke dalam setting nusantara yang notabene memiliki latar belakang budaya yang sangat berbeda? Lalu, bagaimana ceritanya manusia serigala yang buas itu bisa sampai di Indonesia? mari kita simak alurnya. Dikisahkan, Junaedi adalah seorang anak SMA yang mendapatkan kesempatan untuk mengikuti semacam “beasiswa studi” untuk belajar selama 6 bulan di kota kecil Vowelsville, di Amerika Serikat. Di kota ini, ia tinggal bersama keluarga Smith yang sangat baik kepadanya, yang merawat dan menjaganya seperti anak mereka sendiri.

            Sementara, di kota itu sendiri tengah santer beredar rumor tentang kembalinya si manusia serigala, yang berkeliaran membunuhi mangsa di malam hari. Ternyata, masa lalu kota Vowelsville sendiri memang kelam. Nama Vowelsville berasal dari anagram kata wolves ville atau desa serigala. Dulu, pernah terjadi peristiwa mengerikan sehubungan dengan pembunuhan yang dilakukan oleh seorang eh seekor manusia serigala terhadap seorang dokter muda yang brilian. Ternyata, dokter itu tengah berupaya menemukan serum untuk mengobati temannya yang terkena gigitan werewolf. Malang, serum itu gagal bekerja dan sang dokter pun tewas dicabik-cabik oleh temannya yang keburu berubah menjadi manusia sergala. Begitu mengerikannya kejadian itu sehingga penduduk kota Vowlesville tak akan pernah melupakannya.

             Lima belas tahun berlalu. Malam itu, Jun sedang mengayuh sepedanya menuju ke toko Mr. Chua karena dimintai tolong oleh Mrs Smith  untuk membelikan bahlam lampu dapur yang putus. Tepat jam 12 malam ketika Jun menyadari bahwa malam itu adalah malam bulan purnama, malam ketika manusia serigala berubah wujud. Dikayuhnya sepeda dengan bergegas ketika di tengah jalan ia menyadari ada sesuatu yang aneh. Alam tampak sepi tak seperti biasanya, dan ada bayangan berkelebat di balik pepohonan pinggir jalan. Dan sedetik kemudian, bayangan hitam itu menyambar dadanya, membuatnya terjatuh tak sadarkan diri ke aspal dengan tubuh berlumuran darah. Ia telah dicakar dan digigit oleh seorang werewolf. Beruntung ada seorang polisi yang tengah berpatroli. Ia menembaki serigala jadi-jadian itu sebelum sempat memangsa Jun.

            Segera, Jun dibawa ke rumah sakit. Lukanya sangat parah dan malam harinya Jun mengalami mimpi buruk yang berkaitan dengan  darah dan bulan pernama. Paginya, ia dinyatakan sebuh karena luka-luka di tubuhnya telah sembuh dan hilang sepenuhnya. Dokter menyebutnya keajaiban medis, tapi Mr Smith dan sejumlah tetua di kota Vowelsville tahu yang sebenarnya, Jun kini adalah seorang penjelma. Ia telah menjadi manusia serigala dan Jun tidak mengetahuinya.
            Beberapa minggu setelah kejadian itu, Jun menyelesaikan masa belajar di Vowelsville. Ia harus kembali ke Indonesia. Dengan terharu-biru, ia berpamitan dengan keluarga Smith dan warga kota yang telah sangat baik kepadanya. Setting kemudian berpindah ke Jakarta, tepatnya ke Bekasi di mana Emaknya sudah menanti. Jun pun kembali ke hari-hari biasanya sebagai anak SMA kebanyakan. Pulang-pergi naik angkot, meminjam buku ke perpus, sesekali  main ke mal, dan berjalan-jalan dengan temannya. Tapi, Jun yang sekarang berbeda dengan Jun yang dulu. Di samping lebih cerdas, lebih berpikiran terbuka,  dan juga lebih tajir (ia dibekali uang saku dalam jumlah yang sepertinya terlalu banyak oleh Mr. Smith), Jun yang sekarang jauh lebih kuat dan lebih buas. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa dalam dirinya kini bersemayam mahkluk buas yang siap menguasai dirinya saat purnama tiba.

            Jun menganggap semua perubahan yang sebenarnya luar biasa itu sebagai hal yang biasa. Ia memang menjadi lebih kuat, lebih gesit, dan juga lebih pandai berkelahi. Namun, ia juga menyadari bahwa dirinya menjadi lebih gampang marah, cepat emosi, dan menimbulkan aura ketakutan pada sekitarnya. Semuanya mungkin akan tetap demikian hingga Mr. Smith dan beberapa temannya datang ke Jakarta. Peristiwa ini juga didahului oleh pembunuhan seorang profesor terkenal dari AS yg juga baru berkunjung ke Jakarta. Dia dibunuh dengan peluru perak. Sekarang, serigala yg dulu melukai Jun di Vowelsville datang ke Jakarta. Ia hendak  menantang Jun—yang saat itu belum sempurna tahapan perubahannya. Mampukah Jun melawan balik? Bagaimana dengan emak dan teman-temannya, apakah mereka juga akan menjadi korban dari manusia serigala jadi-jadian dari AS itu? Lalu, seandainya pun Jun selamat, bagaimana jika kelak ia berubah jadi werewolf dan melukai orang-orang dekatnya? Baca sendiri ya wkwkwk.

            Novel kecil ini mirip dengan serial Teen wolf (yang kok ya nggak diputer di Indonesia ya?), tentang remaja yang jadi manusia serigala namun dia tidak jahat-jahat amat (ya iya donk kan tokoh protagonist). Novel ini alurnya sudah dapat, untuk karya sastra lokal novel ini terbilang cukup berani karena mengangkat mitos manusia serigala yang notabene asing di Indonesia. untungnya, si penulis cukup pandai berlogika  dengan mengubah settingnya ke sebuah kota kecil di Amerika Serikat, jadifeel­ werewolf  ala Baratnya dapat lah. Kekurangannya mungkin pada alur logika di belakang yang agak dipaksakan cepet rampung (walaupun bisa dinikmati lah) serta sejumlah bagian-bagian dalam cerita  yang tidak berkaitan dan seharusnya bisa dihilangkan. Tapi, secara overall, novel ini layak dikoleksi bagi para penggemar fiksi-dark-fantasi karya lokal.

Read more »

Dead Girl Dancing


Judul    : Dead Girl Dancing
Pengarang        : Linda Joy Singleton
Penerjemah      : Maria Susanto
Penyunting        : Diksi Dik
Korektor           : Adi Toha
Cetakan           : 1, Juli 2012 (347 halaman)
Penerbit            : Atria



            Konon, jika ada orang yang sedang koma karena suatu sebab, jiwanya akan melayang sejenak untuk beristirahat sebagai “jeda” untuk memperbaiki jalan nasibnya. Saat jiwa si pemilik tubuh ini beristirahat, maka tubuh kosongnya akan diisi oleh seorang Penghuni Sementara yang akan menjaga agar tubuh itu tetap “bernyawa” dan tetap beraktivitas seperti biasa. Sang Penghuni Sementara adalah orang-orang baik yang telah terpilih, yang memiliki kapasitas dan kualitas diri yang baik untuk beradaptasi dengan benak/tubuh orang lain yang ia huni (dan kalau bisa ikut mengubah jalan hidup si pemilik tubuh ini  tersebut). Nah, Amber adalah contoh Penghuni Sementara ini.

            Semua dimulai dari buku pertama Dead Girl Walking (percayalah walaupun judulnya lumayan menyeramkan namun buku ini jauh dari kesan horor ala zombie, ini lebih mirip novel tentang remaja SMA). Amber tanpa sengajata tertabrak truk pos dan ia mengalami koma. Jiwanya dipindahkan selama sementara ke dalam tubuh Leah, salah seorang teman sekelasnya yang juga koma karena OD. Ternyata, Amber ditugaskan untuk menjadi “Leah” selama beberapa hari, menjalani hidup sebagai Leah untuk memberi kesempatan pada Leah yang asli untuk beristirahat sejenak dari hidupnya (Hah? Err frasa ini agak aneh sih ya?). Setelah beberapa hari menjadi Leah, jiwa Amber berpindah ke  tubuh Sharayah—kakak dari pacar Amber sendiri, Eli.

            Maka, dimulailah petualangan Amber yang masih anak SMA itu untuk menjalani hari-hari sebagai mahasiswi urakan dan liar. Rupanya, Amber ditugaskan untuk mencari tahu mengapa Sharayah yang dulu pintar dan mahasiswi baik-baik tiba-tiba berubah menjadi wanita penggoda yang jarang memberi kabar ke rumah. Sesampainya di tubuh Sharayah, Amber menyadari bahwa gadis ini menyimpan sebuah rahasia kelam dalam hidupnya, tentang pacar rahasianya dan juga tentang seorang penguntit yang diam-diam terus menguntit dan mengiriminya sms dan pesan ancaman.

            Dengan waswas karena ancaman misterius tersebut dan juga ancaman dari Penghuni Kegelapan (semacam versi jahat dari Penghuni Sementara), Amber yang SMA harus mendewasakan diri untuk menjadi Sharayah selama beberapa hari. Bersama teman-teman Sharayah yang urakan habis, Saddie dan Mauve, ketiganya berangkat bersenang-senang ke pantai Venice untuk “bersenang-senang” layaknya mahasiswa. Biasalah, musim panas di pantai berarti berjemur, menggoda cowok-cowok pantai, dan berpesta pora. Selama menjadi Sharayah ini, Amber sedikit demi sedikit mulai memahami mengapa kakaknya Eli yang dulu keren itu bisa berubah menjadi urakan dan tidak bertanggung jawab. Melalui Sharayah, ia juga mengamati bahwa setiap manusia—betapapun tampak tidak acuh dan cueknya mereka dari luar—masing-masing adalah jiwa yang sesekali rapuh, pernah terluka, dan memiliki banyak kekurangan. Ada sebab di setiap sesuatu.

            Sampai akhirnya, Amber menyadari bahwa Sharayah membutuhkan semacam katalis untuk memulihkan diri. Ternyata, suara Sharayah sangat bagus sehingga ia berencana mendaftarkan tubuh pinjaman ini ke kontes semacam American Idol. Dan, apakah Amber akan berhasil menyadarkan kembali Sharayah akan potensi dirinya? Bagaimana dengan si penguntit misterius? Siapakah sebenarnya orang ini? Lalu, masih ada pula si Penghuni Kegelapan yang diam-diam mengincar cahaya kehidupan milik Amber? (seorang Penghuni Kegelapan bisa menyedot habis cahaya kehidupan milik seorang Penghuni Sementara). Bisakah Amber tetap menjalankan misinya sementara ancaman terbesar itu tengah berada di dekatnya? Bersiap menerkam dan menjebaknya saat ia terlena?

            Membaca seri Dead Girl ini memang memberikan makna baru tentang kata “dead”. Alih-alih novel horor ala zombie, seri ini lebih mirip seri motivasi diri untuk remaja. Penulis ibaratnya seperti hendak mengajak pembaca mencoba memandang sesuatu dari sisi orang lain, bukan dari sisi kita semata. Bahwa setiap orang punya masalah, itu pasti. Bahwa setiap manusia memiliki masa lalu, mengalami hal-hal tertentu yang menjadikan mereka seperti mereka yang saat ini. Dengan menyadari bahwa ada alasan dibalik setiap kejadian, ada masa lalu yang membentuk setiap karakter, maka kita akan menyadari bahwa setiap orang memang berbeda dan kita tidak bisa memaksa mereka untuk sama dengan kita.

            Amber yang bisa menghuni tapi tidak selalu bisa 100% mengubah hidup tubuh yang dihuninya juga mengajarkan kepada kita untuk tidak “memaksakan diri” dalam mengubah seseorang. Kita memang wajib menasihati atau mengarahkan seseorang ke jalan yang lebih baik, namun kita tidak bisa memaksakan bahwa mereka harus berubah 100%.  Keputusan terakhir selalu ada pada diri orang yang bersangkutan. Masing-masing kita memiliki pilihan untuk menentukan jalan mana yang akan kita ambil, beserta konsekuensi yang menyertainya. Begitulah caranya kehidupan (atau dalam buku ini, kematian sementara) memberi pengajaran.

            Untuk novelnya sendiri, buku ini ditulis dengan lincah khas anak muda. Sarat dengan nasihat-nasihat inspiratif namun disampaikan dengan tidak memaksa, luwes, dan “anak muda sekali”. Sampai-sampai, kita bisa mengetahui karakter Amber yang memang tidak sempurna tetapi ia tetap memiliki kualitasnya sendiri. Benar-benar mencerminkan sosok remaja SMA yang umum di AS. Gaya bercerita penulis juga asik, ada bumbu-bumbu cinta yang disampaikan dari sudut pandang orang pertama, pokoknya penuh dengan pandangan mata yang melelehkan dan aksi heroic seorang pacar yang memabukkan (hasyah). Ada satu kutipan kalimat motivasi menarik yang diambil Amber dari salah satu buku yang pernah dibacanya, bahwa “Tidak ada yang lebih seksi daripada rasa percaya diri”. (halaman 18).


 ·  · 
Read more »

All Flowers in Shanghai


Judul               : All Flowers in Shanghai
Pengarang       : Duncan Jepson
Penerjemah     : Istiani Prajoko
Penyunting      : Dian Pranasari
Korektor          : Sidik Nugraha
Isi                   : Eri Ambardi
Cetakan           : 1, Juni 2012
Penerbit           : Serambi


                Berbeda dengan kerajaan kuno lainnya yang sudah mati, yang bahasanya menggambarkan bunga dan pohon, China telah berkembang dan bertahan selama lima ribu tahun. Negara ini bertahan hidup dengan memaksa penduduknya agar dengan senang hati mematuhi adat dan aturan kuno, tidak peduli penyiksaan diri dan rasa sakit seperti apapun yang dibutuhkan atau penipuan diri seperti apapun yang diharuskan. (115)

                Petikan di atas mungkin adalah ungkapan yang paling menggambarkan isi dari novel bersampul wanita cantik berbaju peranakan ini. Ketika kebesaran sejarah dan budaya dijunjung tinggi melebihi segalanya, maka apapun harus dikorbankan demi menjamin agar sejarah itu tetap lestari dan terwariskan. Adalah Xiao Feng, anak gadis kedua dari keluarga Feng yang dipaksa untuk menjalani takdir yang bukan miliknya. Awalnya, ia adalah gadis ceria yang bebas, yang senang menangami bunga-bungaan liar bersama kakeknya. Sebagai anak kedua, ia tidak menanggung beban “penerus keluarga” sebagai mana yang ditanggung oleh kakaknya. Berbeda dengan sang kakak yang sejak kecil telah digembleng menjadi wanita yang highclass dan berbudaya, ia tumbuh apa adanya, mencintai bunga dan udara bebas, mencintai pemuda pilihannya.

                Namun, takdir kehidupan sungguh cepat berbelok arah. Sang kakak divonis menderita kanker dan akhirnya meninggal sacara pahit ketika ia tengah bersiap menunggu hari pernikahannya, sebuah pernikahan yang diatur dengan calon suami dari keluarga terpandang. Sebagai anak kedua, Xiao Feng dipaksa oleh Ma untuk menggantikan posisi kakaknya. Ia harus menikah dengan Xiong Fa, pemuda yang sejak dari awal diperuntukkan untuk kakaknya. Dengan hati yang tak rela dan jiwa yang separuh hidup, ia akhirnya memasuki ranah keluarga suaminya, keluarga Sung. Sebagaimana hidup dalam keluarga China yang teguh memegang tradisi, keluarga Sung sangat menjunjung putra sulungnya yang diharapkan tampil menjadi pewaris garis keturunan keluarga. Pria adalah segalanya sementara anak perempuan ada untuk dinikahkan dengan keluarga terpandang. Sebagai istri, Xiao Feng menanggung beban berat untuk melahirkan anak laki-laki yang sehat untuk keluarga Sung.

                Ketika akhirnya anak itu lahir, dan dia perempuan, Feng memutuskan untuk membalas dendam. Semua intrik dan perlakuan kejam yang diterimanya dari keluarga Sung, pengkhianatan yang dilakukan oleh Ma dan Ba (orang tuanya sendiri) dengan menyerahkannya kepada pria yang tidak ia cintai, sebuah kutukan yang memaksanya harus hidup menanggung beban metal dengan menjadi anggota keluarga Sung; semua itu telah menjadikannya kejam. Ia marah karena dirinya adalah perempuan di masa yang salah, ia marah karena anaknya juga perempuan dan bahwa ia juga harus menanggung siksaan sebagai “terlahir sebagai perempuan China” sebagaimana yang telah ia alami. Xiao Feng memutuskan untuk membohongi keluarga Sung dan membuang bayi itu—sebuah keputusan yang kelak akan sangat disesalinya.

Aku tak mau anak perempuan, tak ada gunanya … lemah dan rapuh. Keluarga ini harus menjadi kuat. Anak perempuan diperlakukan dengan buruk oleh semua orang, bahkan keluarga mereka sendiri. (hlm 223).

                Dan, Feng pun menjelma sebagaimana Kakaknya dan Ma-nya yang ambisius. Ia menggelar rencana, hendak membalas dendam pada tradisi yang tidak menguntungkannya sebagai perempuan. Ia menjadi Nyonya Sung yang seutuh-utuhnya, yang glamor, yang suka berfoya-foya, yang penuh intrik dan ambisi. Hanya pelayan setianya nan bersahaja, Yan, yang sesekali mengingatkan dirinya bahwa jauh di dalam dirinya Xiao Feng tetaplih seorang gadis nan rapuh. Waktu berlalu dan ia berhasil mengalahkan saingan-saingannya, ia juga mampu membalaskan dendamnya kepada sang suami tanpa terlihat, dan akhirnya ia mampu melahirkan seorang bayi laki-laki—yang cacat salah satu kakinya. Bayi inilah yang menggugah kesadarannya, yang membangkitkan naluri keibuannya sehingga ia menyesali keputusan untuk membuang anak yang pertama. Perlahan, keadaan mulai membaik. Xiong Fa mulai “mencintainya” sebagai istri, tapi robekan luka di jiwa Xiao Feng tak pernah sembuh. Ia tetap memberontak pada keluarga Sung dengan caranya sendiri tanpa harus dikeluarkan dari wangsa keluarga tersebut.

                Tahun berganti, dan revolusi pun meletus. Cara-cara China yang lama mulai digusur oleh prinsip kesetaraan model sosialis yang dibawa Mao Ze Dong. Kota Shanghai pun tidak luput dari hempasannya. Para bangsawan dan pejabat yang dulu hidup mewah kini dirobohkan satu per satu oleh kekuatan rakyat. Rakyat jelata, pemuda-pemudi yang begitu mudah dipengaruhi oleh paham-paham baru, berubah menjadi kaum revolusioner yang menuntut kesetaraan warga negara. Republik Rakyat China telah tumbuh di atas puing-puing sistem feodalisme yang telah membuat Kerajaan China berdiri selama lima ribu tahun. Dan, sekali lagi, hidup Feng pun berubah.
Novel yang ditulis dengan begitu mendetail ini sekali lagi menyorot tentang keagungan sebuah budaya berbasis prinsip patrinereal, yakni prinsip kekerabatan dari garia ayah/laki-laki. Dengan setting kota Shanghai pada tahun-tahun menjelang perang dan pecahnya revolusi, penulis dengan jeli mampu menggambarkan bagaimana rasanya menjadi perempuan di dalam sebuah keluarga China nan konservatif.

            Hanya saja, walaupun pengarang mengatakan dalam keterangan di bagian belakang buku bahwa ia adalah anak seorang imigran dari China, tampak sekali bahwa novel ini ditulis semata dari pandangan seorang yang besar dan hidup di Barat. Jepson mampu menggambarkan dengan detail segala pernak-pernik khas China, tapi narasinya kurang mampu memunculkan kesan seorang China dalam diri Xiao Feng.  Wanita ini terlalu memberontak, hampir-hampir tidak ada keindahan dalam menjadi seorang wanita China dalam separuh awal bagian buku ini, yang kemudian diperparah lagi dengan keadaan yang tak kalah menggenaskannya di seperempat akhir. Seolah-olah, menjadi perempuan China pada masa itu adalah tidak ada bagus-bagusnya.

            Entahlah, mungkin novel ini—sebagai mana novel-novel lain bertema perempuan China lainnya—ditulis untuk mengkritik konservatisme yang masih begitu kental di China. Sementara, bagian akhir yang begitu murah mungkin mewakili apa yang ada dalam pandangan orang Barat tentang China yang sosialis. Semoga, kelak bisa muncul novel-novel sejenis namun dengan pandangan yang berimbang, sebuah pandangan dari wanita yang hidup dalam cara China, yang tidak hitam-putih tapi ada ruang abu-abu di dalamnya, sebagaimana yang dilakukan oleh seorang Pearl S. Buck.

Read more »

Selasa, 14 Agustus 2012

Dollhouse



Dollhouse
Kourtney – Kim – Khloe Kadarshian
Inosensu Rotorua (Terj.)
Penerbit Esensi - 2012
327 hal
(buntelan dari Penerbit Esensi)

Cover yang eye-catching dengan motif macannya, ditambah dengan nama penulisnya, membuat gue bertanya-tanya, beneran gak ya ini tulisan para The Kadarshians? Jangan-jangan ceritanya sama aja seperti lagi nonton reality show tentang kehidupan mereka, yang penuh dengan party, belanja-belanja dan kehidupan yang mewah itu.

Jujur aja, pertama kali gue tau yang namanya Kim, Khloe dan Kourtney Kadarhsian, adalah saat lagi makan siang di kantor. Waktu itu di kantor baru aja dikasih fasilitas televisi di pantry. Temen gue memindahkan chanel ke salah satu acara reality show-nya The Kadarshians ini. Gue pun bertanya sama temen gue, “Sebenernya siapa sih mereka ini?”  Karena gak pernah kedengaran nyanyi atau main film, tau-tau ngetop aja gitu. Hehehe.. atau gue aja yang kuper kali ya?

Jadi, Dollhouse berkisah tentang kehidupan 3 bersaudara – Kass, Kamille dan Kyle Romero(hmmm.. ya.. perhatikan awalan yang sama dengan nama-nama mereka). Awalnya mereka ini termasuk keluarga selebritis, tapi sejak kematian ayah mereka, yah, terpaksa mereka ‘menurunkan’ standard kehidupan mereka ‘sedikit’.       

Kass, yang paling tua, paling pintar dan paling ‘alim’. Prestasi akademiknya cemerlang. Tapi, sayangnya tidak diikuti dengan kehidupan percintaan yang sukses juga. Karena ‘kutu buku’, Kass jarang melirik para cowok-cowok, padahal Kass gak kalah cantik dari Kamille.

Kamille, yang paling cantik, paling glamour – gambaran yang rasanya paling mendekati cewek-cewek Kadarshians. Ia bermimpi jadi foto model terkenal. Perawatan dirinya sangat mahal. Dan akhirnya.. keberuntungan itu memang datang. Ketika sedang duduk-duduk di café, seorang agent menghampirinya dan memberi tawaran untuk menjadi foto model. Karir Kamille langsung melesat, ditambah lagi ia berpacaran dengan seorang pemain football yang terkenal playboy. Tapi, yah namanya udah cinta mati, gak peduli deh seperti apa gossip yang beredar. Paparazzi selalu menguntit Kamille, reality show pun ingin ikut ambil bagian.  

Lalu, si bungsu, Kyle, si pemberontak. Kyle lebih tertutup dibandingkan dengan dua saudaranya. Sikap ini muncul semenjak ayah mereka dinyatakan tewas saat sedang berlayar. Orang tuanya sering dipanggil ke sekolah karena sikap Kyle yang ‘ajaib’. Terkadang juga secara diam-diam, ia mengambil minuman keras dari lemari ayah tirinya.

Sejujurnya gue ‘lega’ saat membaca buku ini, karena isinya gak terlalu mirip dengan kehidupan asli mereka (eh.. emang gue tau aslinya mereka gimana?). Yahhh..  paling gak beda dengan yang bisa diliat di acara televisi mereka itu. 







Tokoh favorit gue adalah Kyle, yang meskipun gak terlalu banyak porsinya dan meskipun anak bandel, tapi dia sayang sama adik tirinya, Bree. Hehehe.. emang gue selalu lebih suka dengan tokoh yang rada-rada rebellious.

Isi buku ini …yah.. drama banget… Tokoh-tokohnya buat gue lumayan punya konflik yang beragam. Tapi emang sih, kadang gak jauh-jauh dari urusan percintaan.

Yang gue suka adalah isinya yang tentang persahabatan di antara kakak-beradik, gak ada satu sama lain yang merasa tersaingi, malah saling support. Yah, meskipun sempat ada masalah besar antara Kass dan Kamille. Tapi, love conquers it all…  Antara saudara tiri juga gak ada yang namanya permusuhan kaya’ cerita Bawang Merah Bawang Putih.. hehehe…

Tapi, gue sempat bertanya-tanya, "Apa enak ya kalo setiap hari selalu dikuntit kamera? Untuk 'menggerutu' aja gak boleh?"

Well… awal yang baiklah untuk The Kadharsian buat terus bikin tulisan.
Read more »

Selasa, 07 Agustus 2012

SeoulMate is You

Kisah Kim Sun  kembali berlanjut di novel kedua, Seoulmate is You. Di novel kedua ini, Sun telah resmi berpacaran dengan Jang yang telah kembali ketubuh manusianya dengan nama Shin Ji Woo. Sun sendiri sangat mencintai Jang. Karena itu belakangan ia terpikir untuk membuka rahasia  pada Jang perihal kemampuan  supranaturalnya dalam melihat hantu hanya demi membuktikan tak ada hal yang ia tutup-tutupi dari Jang. Namun ditengah rencananya untuk mengatakan rahasia itu, soul yang lain bernama Arang datang  mempengaruhinya. Arang menegaskan bahwa tindakanya untuk mengatakan rahasianya pada Jang bukanlah sebuah tindakan yang tepat. Hal tersebut bisa membuatnya di cap gila dan lebih yang parah dari itu, Jang bisa dengan mudah meninggalkannya. 

Sun  yang bimbang karena merasa takut kehilangan Jang akhirnya memilih untuk membungkam rahasia itu dan mengalihkan perhatiannya pada hantu rambut mie yang belakangan sering menganggu kehidupannya. Hantu rambut mie ini semula mengekor Jang setelah kepulangan kekasihnya itu dari ziarah di kuburan Hwang Tae Kwang, salah seorang sahabat Jang. Ia bahkan juga tidak berhenti berteriak meminta Jang untuk memindahkan makamnya karena ia merasa makam yang ia tempati di kuburan dengan nisan bertuliskan Hwang Tae Kwang bukanlah  tempat dimana seharusnya ia berada. Sun yang mendengar persoalan itu mencoba berkomunikasi dengan hantu itu dengan menanyakan siapa dan dimana ia berasal jika ia memang bukan Hwang Tae Kwang. Tapi alih-alih menjawab, hantu itu malah membuatnya kesal dengan tindakan amnesianya.

Sementara itu, di organisasi Seoulmate sendiri, Siwon--pemimpin Seoulmate-- memberitahu Sun bahwa ada sebuah organisasi misterius yang mulai berkembang dan menjadi saingan Seoulmate. Nama organisasi itu Memory Maker, pencipta kenangan. Tak ada informasi akurat yang mampu menjelaskan secara pasti bagaimana organisasi ini bekerja. Yang Siwon tahu hanyalah isu bahwa Memory Maker bekerja dengan mengambil kenangan semasa hidup para hantu. Entah itu secara paksa ataupun sukarela. Dan hal ini pun turut mendorong Sun untuk  menyelidiki sesuatu yang juga berkaitan dengan Memory Maker. Sesuatu yang berhubungan dengan hantu rambut mie dan  kemungkinan bahwa ia adalah salah satu korban yang diambil ingatannya oleh organisasi misterius itu.

Namun, belum lagi penyelidikan Sun selesai, ia kembali harus berhadapan dengan persoalan baru. Persoalan yang datang dari keterdesakan untuk mengatakan rahasia supranaturalnya pada Jang. Bagimanapun juga ia tak ingin lama-lama menyimpan rahasianya sendirian. Jang perlu tahu semuanya. Tapi apakah dengan dengan begitu Sun sudah siap dengan  resiko yang akan dihadapinya? terlebih lagi, apakah akhirnya dengan semua masalah asmaranya itu, Sun juga mampu mengungkap jati diri hantu rambut mie sekaligus organisasi Memory Maker yang semakin meresahkannya?

Seoulmate is You merupakan sekuel kedua dari novel Seoulmate yang rilis awal tahun 2012 lalu. Berbeda dengan pendahulunya, novel ini lebih banyak menceritakan konflik para karakter ketimbang masalah dari organisasi  Seoulmate. Hal ini mungkin disebabkan karena seluk beluk organisasi Seoulmate berikut cara kerjanya sudah dibahas tuntas sebelumnya sehingga di novel kedua ini sudah tidak lagi menjadi fokus utama cerita. Namun bagi yang hanya membaca novel kedua saja tak perlu takut tidak mengerti mengenai Seoulmate karena di novel kedua ini ada pemamparan sekilas mengenai Seoulmate sehingga meski tidak membaca yang pertama novel ini masih  tetap bisa dinikmati.

Nah, beralih ke hal-hal yang aku sukai di novel ini. Yang pertama adalah  karakter didalamnya. Salah satunya adalah Kim Sun. Disini aku kembali  menjadikan karakter Sun  sebagai primadona sama seperti sebelumnya. Hal ini tak lain karena sifatnya yang tempramental,cuek, dan serba tak tertebak. Ia juga tipikal yang sangat setia kawan dan selalu ingin menjadi diri sendiri meski lingkungan selalu memaksanya menjadi orang lain. Karena itulah aku beranggapan dengan adanya sifat-sifat ini  menjadikan Sun tampil sebagai heroine yang istimewa  dan berbeda dari karakter fiksi perempuan kebanyakan.

Yang kedua sekaligus yang terakhir ada pada gaya bercerita Lia, penulis dari novel ini. Sejujurnya, aku tidak tahu bagaimana gaya bercerita Lia sebelum kemunculan Seoulmate --karena berhubung aku baru membaca karya Lia dari semenjak munculnya Seoulmate--tapi yang jelas dari tiga novelnya yang aku baca aku jadi berkesimpulan bahwa gaya bercerita Lia  tergolong unik. Keunikan itu terlihat jelas dari bahasanya yang mengacu pada rasa dari sebuah novel terjemahan. Ditambah lagi, keahlian Lia dalam menuangkan secara terperinci tentang  budaya Korea berikut kosa katanya yang cukup luas membuatku tak ayal berpikir kalau saja Lia merubah namanya menjadi lebih Korea di novelnya, aku akan bisa salah  mengira bahwa novel ini adalah novel terjemahan dan yang menulis ini adalah orang Korea asli. hehehe

Overall,meskipun ada beberapa hal yang tak terjelaskan dengan baik seperti detail kisah cinta Siwon dengan Shin Yu Ri ,masalah tertinggal Arang--kenapa dia tidak diberi kesempatan untuk mencoba menyelesaikan masalah tertinggalnya seperti hantu-hantu lain?,serta kemisteriusan dari perjanjian Siwon dengan Memory Maker, tapi itu semua sedikit tertutup dengan banyaknya kelebihan novel ini dari segi cover anime chibi yang eye catching , konflik, emosional karakter, dan konsistensi alur.
So, bagi siapapun ingin merasakan K-drama dalam format novel ataupun yang menginginkan kisah cinta yang lain dari biasanya, novel ini sangat direkomendasikan untukmu.

"Manusia itu beruntung. Kehidupan itu anugerah  terbaik yang pernah ada. Hidup cuma sekali. manfaatkan sebaik-baiknya."[hal 137] ~ Arang
=================

Judul : Seoulmate is You
Penulis : Lian Indra Andriana
Penerbit: Haru
Terbit : @2012
ISBN :  978-602-98325-5-6
Tebal : 320 hal
Rating: 4/5

=================

Baca juga:
1. SeoulMate
2. SeoulMate is You

Read more »

Senin, 06 Agustus 2012

The Search for Merlin, The Grey Labyrinth


Judul         : The Search for Merlin, The Grey Labyrinth
Penulis       : Tyas Palar
Penyunting : Tantrina DA
Sampul       :Tyo Bvs
Cetakan     : 1, Oktober 2011
Penerbit     : Imania



Pernahkah terbayangkan oleh Anda bahwa ada pertautan terselubung antara berbagai peristiwa dalam sejarah dengan kisah-kisah para penyihir dunia? Apakah Anda pernah menebak bahwa Kerajaan Britania Raya yang berjaya “menguasai” hampir separuh dunia pada abad 18 hingga awal abad 20 itu adalah berkat jasa para penyihir dan alkemis? Apakah sosok Merlin yang legendaris itu benar-benar ada dalam sejarah dan turut bertanggung jawab dalam mengatur jalannya sejarah? Kalau Anda ingin tahu jawabannya, atau Anda mungkin seorang penggemar fiksi-sejarah, maka cobalah membaca buku The Grey Labirynth karya Tyas Palar ini.

Sebagai sekuel dari The Death to Come, buku ini adalah seri kedua dari trilogi The Search of Merlin. Sebagaimana buku pertamanya, Tyas Palar tetap konsekuen memasukkan berbagai peristiwa sejarah Abad Pertengahan hingga awal abad ke-19 sebagai alur utama dalam cerita. Dalam arti, penulis menggunakan lini masa peristiwa yang terjadi di Eropa pada saat itu, dan memasukkan tokoh-tokoh fantasinya untuk mengisi kekosongan-kekosongan yang ada. Inilah yang unik dari seri ini, karena menyertakan tahun kejadian serta tempat berlangsungnya peristiwa. Awalnya di mulai dari Genoa pada tahun 1346 dan berakhir di Salisbury 1756. Membaca nama-nama eksotis tersebut, pembaca bisa menebak bahwa buku ini mengambil setting di kota-kota Eropa pada abad-abad pertengahan dan pencerahan. Satu point plus dari seri ini.

Trilogi The Search of Merlin sendiri mengisahkan tentang para penyihir dunia yang memiliki kemampuan di atas rata-rata manusia biasa. Mereka berumur panjang dan mampu merapalkan mantra-mantra. Sebagaimana seri Harry Potter, para penyihir di buku ini memilih untuk mengasingkan diri dari manusia biasa. Premis ini digunakan untuk mengisi fakta bahwa dalam sejarah Eropa, sama sekali tidak terdengar adanya andil dari para penyihir hebat ini. Alkisah, para penyihir di seluruh dunia dipersatukan oleh sebuah badan bernama Dewan Penyihir, mereka inilah yang mengawasi (lebih seringnya menindas sih) para penyihir agar tidak melakukan hal-hal sihir yang dapat mempengaruhi kehidupan manusia biasa.

Prinsip utama mereka adalah tidak untuk mencampuri jalannya sejarah—meskipun sebagai penyihir mereka punya kemampuan untuk melakukannya. Contohnya adalah ketika terjadi Wabah Hitam atau Black Death, di mana peristiwa ini benar-benar pernah terjadi di Eropa pada abad 14-15 dan merengggut nyawa hampir sepertiga penduduk Eropa. Para penyihir sebenarnya mampu memperingatkan manusia akan bahayanya, tapi karena mereka dilarang mencampuri jalannya sejarah maka mereka diam saja. Parapenyihir tidak terpengaruh wabah karena darah mereka mengandung aura sihir.

Dalam seri kedua ini, rupanya muncul sejumlah penyihir yang hendak memberontak pada Dewan Penyihir. Dengan dimotori oleh empat penyihir besar, mereka bersekongkol melakukan ujicoba berbahaya, menculik anak-anak berbakat alkemis dari Arabia, dan masuk ke dalam ranah politik kerajaan Britania. Dan di kastil Warwick, mereka menjalankan rencananya ini. Dewan penyihr tidak bisa tinggal diam, mereka pun mengutus Adrian of Wallachia, Johann-Jakob Moleschott, Wangg Feiyan, Idris, Sergius, William Gray, Ivar, Tariq, dan Edward A. Twickenham untuk membereskan para pembangkang itu. Tapi, rupanya mereka salah perhitungan. Pihak musuh telah menemukan senjata magis yang sangat berbahaya, perpaduan antara ilmu pengetahuan, alkemis dan sihir, dengan kekuatan menghancurkan nan luar biasa. Lalu, apakah mereka berhasil mengalahkan pemberontak? Bagaimana dengan nasib Eropa dan Britania? Mari dibaca sendiri, dan saya yakin Anda tidak akan menyesal.

Kelebihan utama dari buku ini tentu saja adalah aspek sejarahnya. Adabegitu banyak peristiwa bersejarah, tokoh-tokoh yang ebnar-benar hidup pada masa itu, yang semuanya ikut diselipkan oleh sang penulis dalam cerita. Pun, gaya penceritaannya mengalir, karakter-karakternya jelas walaupun agak susah untuk mengingatnya karena di setiap bab menceritakan satu tokoh dengan melompat-lompat. Untungnya, ada daftar nama tokoh di bagian depan sehingga membantu saya untuk melacak kembali siapa di A dan siapa si B.

Kelemahannya, disamping terlalu tipis (padahal ceritanya menarik), novel ini kurang secara narasi tempat. Untuk setting, penulis hanya membubuhkan tahun dan nama sebuah kota di Eropa dalam setiap awal bab. Misalnya, London 1756, Shamballa tahun sekian, Genoa tahun sekian, dan Pegunungan Pyrenees tahun sekian. Dengan menyuguhkan nama kotayang benar-benar ada di dunia ini, penulis seperti menjanjikan kepada pembaca untuk menggambarkan keadaan kotaA di suatu waktu tertentu. Misalnya, bagaimana bangunan-bangunan di kota Genoa, kehidupan sosial di London, keajaiban di Shamballa, eksotisnya Konstantinopel.  Tapi, narasi tentang kota-kota tersebut masih sangat kurang dalam dua seri ini—padahal inilah yang menurut saya bisa menjadi magnet bagi pembaca untuk mengambil buku ini. Sudah bukan rahasia lagi, pembaca sangat menyukai cerita dengan setting Abad Pertengahan dan Abad Pencerahan di Eropa, lengkap dengan kondisi fisik kota, pakaian yang dikenakan, atau situasi sosialnya. Mungkin, sedikit riset akan membuat novel ini semakin memikat. Kritikan lain juga bisa dibaca pada resensi keren dari komunitass fikfan Indo yang bisa dibaca  di sini.

Terlepas dari kekurangannya, novel ini sangat recommended bagi pembaca yang menyukai bacaan berlatar sejarah. Kita juga harus angkat jempol pada sang penulis, yang dengan risetnya berhasil menyatukan antara peristiwa sejarah yang benar-benar terjadi dengan cerita rekaannya sendiri. Keduanya dipadukan secara apik, membentuk sebuah alur cerita yang seru dengan karakter-karakter nan unik dan tak terlupakan. Semoga, buku ketiganya The Age of Misrule akan segera terbit, sehingga kita bisa terbuai lagi dalam romantisme era para penyihir dan alkemis di Eropa pada Abad Pertengahan dan Pencerahan. 

4/5 bintang untuk buku menawan ini.
Read more »