Minggu, 26 Maret 2006

The Kite Runner


Judul : The Kite Runner
Penulis : Khaled Hosseini
Penerjemah : Berliani M. Nugrahani
Penerbit : Qanita
Cetakan : I, Maret 2006
Tebal : 618 hl ; 17.5 cm

"Buku ini begitu dahsyat, hingga untuk waktu yang lama, buku lain yang kubaca terasa hambar"
-Isabel Allende-

The Kite Runner adalah novel yang ditulis oleh penulis kelahiran Afghanistan, Khaled Hoseeini. Hosseini yang kini bermukim di Amerika adalah seorang putra diplomat yang yang dilahirkan di Kabul pada 1965. Saat ayahnya ditugaskan ke Paris 1976, ia meninggalkan Afghanistan dan tak bisa kembali ke tanah kelahirannya karena pada 1980 Rusia telah menduduki Afghanistan. Keluarga Hossseini akhirnya mendapat suaka politik dari pemerintah Amerika Serikat dan hingga kini ia tinggal di California dan menjadi seorang dokter.

Novel The Kite Runner merupakan karya perdananya dan juga novel Afghan pertama yang ditulis dalam bahasa Inggris. Novel ini menggambarkan suasana Afghanistan sebelum Rusia menginvasi negara ini (1979) hingga jatuhnya kekuasaan rezim Taliban. Ceritanya sendiri mengisahkan tokoh Amir yang dalam novel ini bertindak sebagai narator. Di masa kecilnya, Amir-yang ditinggal mati ibunya ketika melahirkannya-tinggal bersama ayah yang dipanggilnya Baba, dan pelayannya Ali serta putra Ali, Hasan, yang juga menjadi sahabatnya.

Baba, ayah Amir adalah sosok pria Afghan perkasa, pengusaha sukses, seorang moralis yang kebaikannya membuat dia disegani oleh teman-temannya. Baba menginginkan Amir tumbuh menjadi seorang pria yang tegar, menyukai aktivitas-aktivitas yang layaknya dilakukan oleh anak laki-laki seusianya seperti bermain bola, layangan, bela diri, dll. Namun Amir lebih senang tenggelam dalam buku-bukunya, menjadi pria lemah dan tidak dapat melindungi dirinya sendiri. Tiap kali dirinya mendapat masalah dengan teman-temannya, Hasan-lah yang selalu menjadi penolong dan pembelanya.

Kenyataan ini membuat Baba kecewa dan khawatir terhadap masa depan anaknya, hal inilah yang membuat hubungan antara Amir dan ayahnya kadang menjadi kaku, Amir yang dituntut oleh ayahnya untuk melakukan hal-hal yang tidak disukainya membuat ia tertekan dan perasaan terhadap ayahnya menjadi campur aduk antara benci dan cinta.

Hasan adalah seorang anak dari suku Hazara, suku paria dalam strata masyarakat Aghanistan. Ayahnya, Ali, telah mengabdi pada keluarga Baba semenjak kakek Amir mengangkatnya sebagai pembantu di rumahnya. Sama seperti ayahnya, Hasan senantiasa mengabdi pada majikannya. Walau antara Amir dan Hasan telah terjalin suatu persahabatan, Hasan tetap menganggapnya sebagai majikan dan tetap melayaninya dengan pengabdian dan kesetiaan tanpa batas.

Persahabatan antara Amir dan Hasan terhempas. Ketika mereka mengikuti turnamen layang-layang. Sudah menjadi tradisi di Afghanistan dimana setiap musim dingin, semua distrik di Kabul mengadakan turnamen adu layang-layang. Turnamen ini merupakan peristiwa yang ditunggu-tunggu di tengah kebekuan udara musim dingin. Turnamen adu layang-layang dimuali pagi-pagi sekali dan baru berakhir saat tinggal satu layang-layang pemenang menari di langit, tak jarang turnamen ini belum juga berakhir meskipun matahari sudah tenggelam. Layang-layang dimainkan oleh dua orang, satu orang yang menerbangkan dan mengendalikan, seorang lagi betugas sebagai asisten yang membawakan gulungan benang dan mengulurnya. Tak ada aturan yang rumit dalam turnamen ini, terbangkan saja layang-layangnya dan putuskan benang layang-layang lainnya. Keasyikan lain dalam turnamen ini adalah mengejar layang-layang yang putus, dimana anak-anak dengan antusias berlomba untuk mendapatkan layang-layang itu. Bagi para pengejar layang-layang, hadiah yang paling berharga adalah layang-layang yang terjatuh paling akhir dalam sebuah turnamen musim dingin. Sebuah trofi kehormatan yang diperebutkan dan bisa jadi kebanggan bagi setiap anak yang memperolehnya.

Amir dan Hasan tentu saja tak melewatkan kesempatan ini, turnamen ini juga dijadikannya suatu pembuktian kepada ayahnya bahwa ia bisa jadi anak yang membanggakan bagi ayahnya.

Ketika turnamen berakhir dan layang-layang terakhir terhempas, terhempas pulalah persahabatan antara Amir dan Hasan. Suatu tragedi menimpa Hasan, sebenarnya Amir memiliki kesempatan untuk menolongnya, namun keraguan dan ketakutannya membuat dirinya berlari meninggalkan sahabatnya sendirian, hal ini kelak akan membuat Amir dihantui rasa bersalah dan merasa dirinya telah menghianati sahabatnya. Segala cara dilakukannya agar ia bisa terbebas dari rasa bersalahnya. Alih-alih lari dari rasa bersalahnya, Amir mencoba berjarak dengan Hasan. Persahabatan mereka menjadi kaku dan tak lebih menjadi hubungan antara majikan dan pembantu. Namun perasaan bersalah itu tak pernah lepas dari kehidupannya

Situasi politik di Afghanistan memanas, Rusia menginvasi Afghanistan, hal ini membuat Amir dan ayahnya harus mengungsi meninggalkan negerinya. Hasan dan ayahnya tetap berada di Afghanistan (Hassan kan tidak di Kabul?) sementara Amir dan ayahnya mengungsi meninggalkan tanah airnya. Perjalanan dramatis keluar dari Afghanistan harus mereka lewati hingga akhirnya mereka berhasil sampai di Pakistan dan terus mengungsi menuju Amerika Serikat.

Walau Amir berada ribuan kilometer dari tanah kelahirannya. Ia tak bisa lari dari masa lalunya. Kehidupan baru dijalaninya, ia menikah dengan sesama pelarian Afghan, namun hidupnya selalu dihantui rasa bersalah sampai akhirnya Amir menerima telepon dari sahabat ayahnya yang memintanya untuk menemuinya, hal ini membuat dirinya melihat satu kesempatan untuk kembali ke Afghanistan untuk menebus dosa-dosanya yang telah ia pendam dan coba kuburkan selama berpuluh-puluh tahun. Dan seperti layang-layang, tak kuasa menahan badai, Amir harus menghadapi kenangannya yang mewujud kembali.

Ketika Amir kembali ke Afghansitan, tanah kelahirannya telah berubah, perang dengan Rusia dan perang saudara yang melahirkan rezim Taliban di bumi Afghanistan membuat negeri itu porak poranda dan menjadi negeri yang dijuluki negeri tanpa harapan. Amir secara dramatis harus menghadapi berbagai tantangan, menembus kekejian perang untuk menebus dosa-dosa masa lalunya.

Novel yang ditulis dengan gaya memoar ini memang sangat menyentuh pembacanya. Ceritanya kuat, eksplorasi karakter tokoh-tokohnya disajikan secara pas sehingga tidak ada karakter yang sia-sia dalam buku ini. Selain itu kalimat-kalimat yang mengaduk-ngaduk emosi pembacanya dan tema abadi yang diangkat mengenai kehidupan manusia: cinta, kehormatan, pengkhianatan, ketakutan, pengabdian, dan penebusan membuat buku ini menjadi sebuah buku yang memorable, buku yang akan selalu diingat sepanjang masa.

Novel ini juga memberi pemahaman kepada pembacanya mengenai konflik-konflik politik yang terjadi di Afghanistan, terutama mengenai kaum, Sunni dan Syi'ah. Kekejaman kaum Taliban, kesengsaraan rakyat Afghan dan porak porandanya infrastruktur kota-kota di Kabul dan sekitarnya juga terungkap dengan baik dalam buku ini. Selain itu, sisi-sisi menarik dari komunitas mayarakat Afghan-Amerika yang memiliki perkampungannya tersendiri memperluas wawasan pembacanya mengenai kehidupan rakyat Afghan yang harus memulai hidupnya dari nol dan melupakan status dan kehidupan mewah mereka di negara asalnya agar bisa bertahan hidup

Selain itu pembaca juga akan banyak dikejutkan oleh berbagai peristiwa yang tak terduga, hal ini menyebabkan akhir dari kisah novel ini menjadi unpredictable sehingga novel ini jadi tak membosankan dan membuat pembaca terus bertanya-tanya bagaimana akhir dari novel menarik ini.

Dari segi terjemahan novel ini patut mendapat pujian, pilihan kalimat-kalimatnya tersaji dengan lancar, enak dibaca, dan mudah dinikmati. Tak ada ganjalan berarti dalam membaca novel terjemahan ini. Kerja yang patut dihargai dari penerjemah dan editor novel ini.

Novel The Kite Runner adalah buku terlaris sepanjang tahun 2005 versi Publisher's Weekly dengan menduduki tangga atas best-seller selama lebih dari 50 minggu, selain itu novel ini diganjar sebagai buku terbaik tahun 2004 versi San Francisco Chronicles. Menurut situs imdb.com, novel ini sedang dipersiapkan untuk diadaptasi ke layar lebar oleh Marc Forster yang menyutradai film Finding Neverland (2004). Film Kite Runner rencananya akan dirilis pada 2007, kini masih dalam tahap Pre-production.

@ h_tanzil
Read more »

Minggu, 19 Maret 2006

Kara Ben Nemsi II : Penyembah Setan


Judul : Kara Ben Nemsi II - Penyembah Setan
Penulis : Karl May
Penerjemah : Harsutejo
Penerbit : Pustaka Primatama & PKMI
Tebal : 434 hlm

Melanjutkan petualangannya di Padang Gurun, kini Kara Ben Nemsi yang didampingi oleh Hajji Halef Omar, Sir Lindsay David dan seorang kepala suku Arab Shammar Haddedihn, Sheikh Mohhamed Emin meneruskan petualangan mereka menuju Benteng Amadijah untuk membebaskan putra sang Sheikh, Amad el Ghandur. Dalam perjalanannya mereka harus melintasi wilayah kaum Jesidi 'Kaum Penyembah Setan' yang dikenal sebagai suku yang jahat dengan kepercayaan aneh, menyembah setan, dan kerap melakukan ritual-ritual pengorbanan yang mengerikan.

Karena jiwa petualangan Kara Ben Nemsi, maka ia dan kawan-kawannya singgah ditengah-tengah kaum Jesidi yang memiliki reputasi buruk itu. Apa yang tadinya ditakutkan oleh kawan-kawannya bahwa kaum Jesidi akan menangkap mereka dan mendapat perlakuan buruk dari kaum Jesidi tidak menjadi kenyataan, rupanya nama Kara Ben Nemsi yang dikenal karena pernah menyelamatkan tiga orang kaum Jesidi yang ditangkap oleh suku Haddedihn membuat pemimpin kaum Jesidi menganggapnya sebagai tamu kehormatan sekaligus mendapat kesempatan untuk menyaksikan secara langsung perayaan suci kaum Jesidi. Suatu perayaan besar yang seharusnya tertutup bagi orang diluar kaum Jesidi. Dari persinggungannya dengan kaum Jesidi dan melihat langsung dengan mata kepala sendiri maka KBN dan kawan-kawannya akan melihat bagaimana anggapan terhadap kaum ini tidaklah sepenuhnya benar. Selain itu KBN juga berusaha untuk menyelamatkan kaum Jesidi dari serbuan suku Kurdi yang hendak menumpas dan merampas harta karun mereka.

Setelah petualangannya dengan kaum Jesidi berakhir, KBN dan kawan-kawannya melanjutkan rencana mereka untuk membeaskan putra Sang Sheik di Benteng Amadijah. Sesampai di Benteng Amadijah KBN disambut dengan baik oleh Mutasselim, Sang komandan benteng dan dipersilahkan untuk menginap di sebuah rumah yang ternyata halaman belakangnya berbatasan langsung dengan tembok penjara. Setelah diselidiki ternyata putra Sang Sheikh, Amad el Ghandur berada dalam penjara tersebut karena merupakan tahanan Mutasellim yang hendak diserahkan kepada Hakim Agung Anandoli di Mosul. Melihat keadaan ini KBN harus menggunakan kecerdikannya agar ia berhasil membebaskan putra Sang Sheikh tanpa harus 'merusak' statusnya sebagai tamu sang Mutasselim di Benteng Amadijah.

Secara garis besar buku ini mengisahkan dua buah petualangan menarik Kara Ben Nemsi dan kawan-kawannya.
Dalam petualangan pertamanya bersama kaum Jesidi, pembaca diajak menyelami kehidupan dan prosesi upacara suci kaum Jesidi yang dikenal sebagai kaum 'Penyembah Setan'. Kaum Jesidi yang diceritakan dalam buku ini adalah kaum yang sama dengan yang disebut kaum 'Yesidi'. Berdasarkan fakta yang ada, masyarakat Kurdi ini masih ada sampai sekarang dalam jumlah yang sudah sangat sedikit dan merupakan kaum rahasia yang mencampur adukkan unsur-unsur penyembahan berhala, Islam, Kristen, Yahudi, dan agama Zorooaster.

Kaum Jesidi serta kepercayaannya ini pada zaman Karl May hidup banyak diserang oleh banyak penulis-penulis Barat yang sayangnya, mereka hanya mendengar tentang kaum ini dari penuturan para pelancong yang diragukan kebenarannya. Mereka percaya kaum Jesidi kerap melakukan upacara-upacara penyembahan Setan dan tidnakan -tindakan jahat lainnya, tentu saja hal ini menyebabkan kaum Jesidi menjadi kaum yang tersudut oleh anggapan buruk tadi.

Rupanya hal inilah yang menjadi pertimbangan mengapa Karl May memilih kaum ini menjadi pokok bahasan. Dalam setiap karya-karyanya Karl May memang sangat peduli terhadap nasib maysarakat yang tertindas baik secara fisik maupun mental. Melalui kisah petualangan ini pembaca akan diajak melihat kenyataan sesungguhnya dari suatu bangsa yang dikucilkan karena kepercayaan yang dianutnya.

Petualangan kedua dalam buku ini yang mengisahkan upaya Kara ben Nemsi untuk menyelamatkan putra kepala suku Arab Shamar Haddedihn. Kisah ini tidaklah kalah menariknya dengan petualangan dengan kaum Jesidi. KBN kini berada dalam suatu masyarakat miskin yang haus akan harta, segala sesuatu dinilai dengan harta. Disini pembaca akan diajak melihat bagaimana harta bisa demikian kuatnya mempengaruhi kehidupan suatu masyarakat mulai dari pemimpinnya hingga para bawahannya.

Dalam petualangannya di di Benteng Amadijah ini KBN kembali berhasil menyelamatkan nyawa seorang wanita yang semula diduga kerasukan roh jahat. Dengan akal sehatnya KBN berusaha untuk menyembuhkan si wanita yang ternyata merupakan cicit dari tokoh spritual masyarakat Kurdi yang kelak akan ditemuinya kembali dalam petualangannya di Kurdistan (baca KBN III : Petualangan di Kurdistan - Pustaka Primatama,2005). Selain itu trik-trik menarik KBN dalam usahanya menyelamatkan putra Sang Kepala Suku juga menjadi hal yang menarik dan membuat penasaran untuk diikuti hingga halaman terakhir buku ini.

Berbagai pernak-pernik menarik yang menghibur juga akan kita temui dalam buku ini. Mulai dari kepiawaian KBN yang harus mencabuit gigi seorang Pasha tanpa rasa sakit, kepiawaian KBN dalam membuat bir yang 'halal', hingga cara cerdas agar keledai berhenti menguak dimalam hari membuat petualangan KBN benar-benar menarik dan penuh warna. Selain itu adat istiadat, makanan, dan perilaku sosial dari masyarakat yang ditemuinya dalam petualangan kali ini membuat buku ini tidak hanya menghibur namun juga membuka wawasan pembacanya akan kehidupan di Dunia Timur yang eksotis. Dan yang selalu ada dalam kisah petualangan Karl May dimanapun, kisah ini menyiratkan berbagai nilai-nilai humanisme, toleransi dan perdamaian antar suku-suku bangsa yang tentunya masih sangat relevan dibaca hingga kini.

Sebagai catatan yang eprlu diketahui, Kisah Penyembah Setan dalam buku ini, khususnya pada bab 21-29, ternyata belum pernah diterbitkan sebelumnya di Indonesia. Sedangkan bab 30 dst, pernah diterbitkan oleh Pradnya Paramita (penerbit buku2 KM) pada tahun 1960-an dan diberi judul "Di Kurdistan". Tak diketahui dengan pasti mengapa Pradnya tidak menerbitkan kisah ini. Kini dengan terbitnya buku ini, maka pembaca Karl May di Indonesia yang telah bersabar sedemikian lamanya akhirnya bisa menikmati sebagian kisah yang hilang selama lebih dari 40 tahun!

Satu hal yang agak disayangkan dalam buku ini adalah masih banyaknya kesalahan cetak berupa salah ketik kata maupun salah dalam penempatan spasi antar kata. Mungkin dalam cetakan selanjutnya ke depan perlu kerja keras dari para "proof reader" agar kenikmatan pembaca dalam menyelami petualangan KBN tidak terganggu karena adanya kesalahan dalam pengetikan naskah buku ini.

@ Tanzil Ben Bandung
http://bukuygkubaca.blogspot.com/
Read more »

Senin, 13 Maret 2006

Kerlip Istana Bintang


Judul : Kerlip Istana Bintang
Penulis : Mei Rose
Penerbit : Grasindo
Cetakan : I, 2006
Tebal : 199 hlm
Harga : Rp. 24.000,-

Mei Rose (http://mei-rose.blogspot.com). Bagi sebagian orang nama penulis ini mungkin masih terasa asing, namun bagi yang sering membaca cerpen-cerpen di berbagai media seperti Femina, Kartini, Swara Cantika, majalah Aksara, dll, nama Mei Rose mungkin tak terasa asing.
Setelah sekian lama menulis cerpen dan puisi, kini penulis kelahiran Surabaya ini menelurkan novel genre chick-lit pertamanya " Kerlip Istana Bintang"

Novel perdananya ini mengisahkan lika-liku kehidupan Zamara, seorang gadis yang meniti karir sebagai seorang presenter handal disebuah stasiun TV swasta terkenal. Bermula dari pekerjaannya sebagai seorang penyiar radio Zamara adalah sosok pekerja keras yang mengisi hari-hari diluar jam siarannya untuk mencari tambahan penghasilan untuk membantu ibunya, seorang pembuat kue yang sakit-sakitan dan kedua saudara kembarnya yang masih bersekolah, ayahnya sudah lama meninggal, otomatis Zamara menjadi tulang punggung bagi keluarganya

Secara kebetulan Zamara yang sedang bekerja sebagai SPG disebuah pameran mobil, bertemu dengan Adam, seorang presenter disebuah stasiun TV terkenal. Tertarik oleh gaya Zamara dalam melakukan promosi sebuah mobil, Adam menyarankannya untuk melamar di stasiun TV tempatnya berkerja. Zamara akhirnya diterima sebagai eorang presenter sekaligus reporter lapangan. Kehidupan seorang presenter yang nampaknya glamour tak merubah kepribadian Zamara. Ia tetap menjalani kehidupannya seperti biasa, ia tetap berkawan dengan teman-teman lamanya, bahkan Zamara menjadi sosok yang membuat teman-temannya terhibur ketika mereka diperhadapkan dalam masalah cinta dengan pasangannya masing-masing.

Perlahan tapi pasti Zamara menjadi seorang presenter berita dan reporter yang handal, hal ini mengantarnya untuk meliput berbagai peristiwa demonstrasi mahasiswa pada bulan Mei 1998. Kegigihannya dan keberaniannya dalam mencari sumber berita dilakoninya tanpa rasa takut, hampir saja dirinya terseret dalam amuk massa disaat situasi chaos kota Jakarta mencapai puncaknya. Keberaniannya ini pulalah yang mengantarnya untuk meliput situasi perpindahan kekuasaan di Istana Negara. Zamara semakin terkenal, kepopulerannya mencapai puncaknya ketika dirinya dianugerahi sebuah award untuk presenterwanita terbaik pilihan permirsa TV.

Dengan semakin terkenalnya Zamara, kesibukan semakin menuntutnya untuk selalu mencurahkan seluruh waktunya untuk pekerjaannya. Kehidupan pribadinya mulai tersingkirkan, hubungan dengan Island, kekasihnya menjadi terganggu, pertengkaran dengan Island tak terhindarkan, Zamara mencoba lari dari kenyataan, suatu tragedi harus dihadapinya, namun hal ini nantinya akan membawa Zamara pada suatu perenungan akan apa yang sesungguhnya sedang dicarinya.

Sisi menarik dari novel ini adalah pengungkapan sisi-sisi menarik kehidupan seorang presenter TV yang dalam novel ini diwakilkan kedalam tokoh Zamara. Sebuah dunia yang tampaknya serba glamour ini akan diungkap dalam kehidupan Zamara. Melalui tokoh Zamara pembaca novel ini akan mengetahui kehidupan seorang presenter terkenal tidaklah seglamour yang dibayangkan, kalau selama ini kita hanya mengenal seorang presenter dengan pakaian yang rapih, rias wajah yang segar, semua tampak serba mudah dan glamour, namun dibalik itu lewat tokoh Zamara kita akan melihat bagaimana kehidupan dan kerja keras yang terkadang tak mengenal waktu dan bahaya yang harus dilakukan seorang presenter guna menyajikan laporan yang terbaik untuk sebuah tayangan informasi.

Novel ini juga menyajikan penggalan peristiwa sejarah Tragedi Mei 1998 dimana tokoh Zamara dikisahkan terlibat secara langsung didalamnya. Seperti dituturkan Mei Rose dalam emailnya pada saya, beberapa kejadian yang dialami oleh Zamara adalah peristiwa yang sesungguhnya yang dialami oleh beberapa reporter terkenal dalam meliput peristiwa Tragedi Mei 1998, dan peristiwa liputan pergantian kekuasaan di Istana Negara pada tgl 21 Mei 1998. Dengan demikian bisa dikatakan novel ini mencoba merekam peristiwa sejarah bangsa dan pengalaman pribadi beberapa reporter TV terkenal dalam meliput sebuah peristiwa bersejarah.

Beberapa pesan-pesan mengenai ketekunan terhadap profesi, makna cinta, penghianatan, persahabatan, egoisme dan penemuan arti kehidupan bagi seseorang yang berada dalam puncak kesuksesan akan kita temui dalam buku ini. Namun tak berarti novel ini terkesan menggurui, kesemuanya itu terangkai dalam sebuah kisah yang renyah, kalimat-kalimatnya mengalir lincah dan enak dibaca. Di novel ini terungkap juga tips-tips menarik bagaimana menjadi seorang presenter yang baik yang mungkin bermanfaat bagi pembacanya, karena tips-tips tersebut juga bermanfaat bagi pengembangan kepribadian pembacanya apapun profesinya.


Yang mungkin agak disayangkan adalah adanya beberapa peristiwa serba ‘kebetulan’ yang tersaji dalam novel ini. Seperti peristiwa kebetulan yang ditemui oleh para sahabat Zamara ketika mereka terlibat dalam masalah dengan para kekasihnya di sebuah kapal pesiar. Lalu ada juga peristiwa kebetulan yang mempertemukan Zamara dengan Island. Walau kejadian serba ‘kebetulan’ itu bukan merupakan cerita inti dari novel ini namun tak ada salahnya penulis untuk sedikit me’milin’ peristiwa diatas agar unsur ‘kebetulan’ nya menjadi tak telalu ‘kentara’.

Selain itu beberapa hal yang bisa membuat cerita ini semakin menarik seperti kisah kehidupan keluarga Zamara setelah dirinya mencapai puncak kesuksesan tampaknya tak tereksplorasi dengan baik di novel ini. Padahal di awal-awal cerita keluarga Zamara cukup tereksplorasi dengan cukup baik.

Seperti dituturkan penulis melalui emailnya, biografi penulis pada halaman belakang novel ini bukanlah biografinya, entah bagaimana kesalahan fatal ini bisa terjadi, semoga dicetakan berikutnya biografi ini bisa diperbaiki.

Terlepas dari hal-hal diatas sebuah novel chick-lit yang menghadirkan tokoh seorang presenter ini sepertinya sangat layak untuk diapresiasi oleh siapa saja, karena selain menghibur, novel ini juga nampaknya memiliki berbagai pesan seperti yang telah diuangkapkan diatas, selain itu novel ini nampaknya bagus juga untuk disimak oleh mereka yang bercita-cita sebagai seorang presenter.

@h_tanzil
Read more »

Jumat, 10 Maret 2006

Menyusuri Lorong-Lorong Dunia


Judul : Menyusuri Lorong-lorong Dunia
(Kumpulan Catatan Perjalanan]
Penulis : Sigit Susanto
Pengantar : Puthut EA
Penerbit : Insist Pers
Tebal : 373 hal

Buku ini belum selesai kubaca, jadi ini bukan ulasan buku utuh seperti yang biasa kubuat.
Kemarin aku mendapat kabar di milis Apresiasi-Sastra kalau buku "Menyusuri Lorong-Lorong Dunia" – Sigit Susanto telah terbit!

Tanpa pikir panjang aku segera membeli buku itu.
Apa yang membuatku tertarik dengan buku ini ?

Sigit Susanto / Kang Sigit adalah sahabat cyberku. Kini ia bermukin bersama istrinya di Swiss. Aku telah bertemu denganya sebanyak dua kali ketika ia pulang kampung dan mengunjungi Bandung yang selalu menjadi kota tujuannya jika kembali ke tanah air.

Aku mengenal Kang Sigit dari tulisan-tulisannya baik di sejumlah milis maupun media cetak nasional.
Tulisan-tulisannya umumnya berupa catatan perjalanan selama ia bersama istrinya ‘jalan-jalan’ ke berbagai penjuru dunia. Aku sangat suka tulisan-tulisannya karena ditulis dengan bahasa yang lancar dan enak dibaca. Selain itu setiap catatan perjalananya juga berisi drama kultural, ironi politik dan kelembutan sastra. Sastra! Itu yang membuat catatan perjalanan Kang Sigit ‘lain’ dengan catatan perjalanan yang ditulis oleh penulis-penulis lain. Di setiap tulisannya ia selalu menulis dengan menyinggung sastrawan2 dunia di tempat yang ia kunjungi. Ini yang rupanya menjadi ciri khas tulisan2nya.

Kini catatan-catatan yang selama ini tersebar di beberapa milis akhirnya dibukukan juga.
Tentu saja hal ini membuatku ingin segera membaca ulang karya sahabatku yang catatan-catatannya telah memesonaku selama ini. Walau sebagian besar catatannya pernah kubaca di milis namun membacanya dalam bentuk buku membuatku tetap ingin membacanya lagi…..

Sebagai informasi berikut bab2 yang ada di buku ini :

Kisah Penyuntingan
Berangkat...
Glosari
Daftar isi
- Pertama Kali ke Eropa
- Danau Zug
- Bersepeda Keliling Amsterdam
- Che Masih Hidup di Kuba
- Pulai Ischia
- Ziarah ke Makam Kafka di PRaha
- Sahara dan Oase di Tunisia
- Hotel Trotoar
- Membelah Bulgaria
- Goethe dan Starbourg
- Venesia Surga Sastrawan Dunia
- Jalan-jalan ke Roma
- Jejak Suku Maya di Meksiko
- Dari Leningrad ke Moskow
- Makam Mbah MArx di London
Shakepeare & Co di Paris

Bagi mererka yang berjiwa petualangan aku rasa buku ini sangat layak untuk dikoleksi.

Demikian dulu, kini aku akan berangkat bersama Kang Sigit untuk menyusuri Lorong-lorong dunia, jika aku sudah menyelesaikan perjalanan imajinatifku ini, seperti biasa akan kutulis dalam ulasan yang utuh dalam blog ini.


@h_tanzil
Read more »

Senin, 06 Maret 2006

Kereta dengan Satu Gerbong


Judul : Kereta dengan satu Gerbong
Penulis : Eko Sugiarto
Penerbit : Lanarka Publisher
Tebal : xvi + 79 hlmn

Kereta, stasiun, peron, rel, dan semua hal-hal yang berkaitan dengan kereta akan kita temui dalam tiap cerpen yang terangkum dalam sebuah buku kumpulan cerpen "Kereta Dengan Satu Gerbong" karya cerpenis muda Eko Sugiarto (Ugie). Seperti diungkapkan oleh Eko Sugiarto dalam kata pengantarnya, cerpen-cerpen yang terangkum dalam buku ini lahir dari kenangan sekitar 16 tahun yang lampau ketika keluarganya pindah rumah. Dari rumah barunya ini usai azan magrib ia sering mendengar lantunan pujian dengan bahasa jawa lewat pengeras suara dari masjid yang ada di dekat rumahnya. Di antara pujian yang sering didengarnya itu penulis sering menangkap kata "kereto" (kereta) yang melukiskan keranda, "kendaraan" untuk mengantar orang yang meninggal menuju pemakaman. Lantunan pujian yang berasal dari masjid ini membuat dirinya "merinding" setiap kali mendengarnya dan akhirnya menggerakkan otot-otot kreatifitasnya untuk melahirkan sejumlah cerpen yang berkaitan dengan kereta.

Kata kereta dalam kumpulan cerpen ini terkadang bermakna lugas dan apa adanya, namun ada juga yang bermakna kias. Beberapa cerpen seakan mengajak pembacanya untuk menyelami makna hidup yang penuh misteri. Pembaca akan dituntun menuju batas misteri antara dunia nyata dan imajinasi, antara kehidupan dan kematian, antara harapan dan kenyataan, dan misteri-misteri alam batas lainnya (hlm. vi). Batas-batas misteri ini tampak jelas pada cerpen yang dijadikan judul buku ini ‘Kereta dengan Satu Gerbong’. Cerpen ini menuturkan tokoh Aku yang sedang berada dalam sebuah stasiun kereta yang lenggang dimana tak nampak satupun kesibukan yang biasanya terdapat dalam sebuah stasiun kereta api. Tak ada pedagang asongan, penjual koran, pengemis, dll. Yang nampak hanya beberapa orang yang tengah duduk menunggu datangnya kereta dengan wajah yang pucat.

Tak lama kemudian datanglah sebuah lokomotif dari arah timur yang hanya menarik satu gerbong. Beberapa orang yang terlihat menunggu tadipun segera memasuki gerbong tersebut, namun tak ada ekspresi kebahagiaan pada wajah mereka seperti halnya calon penumpang yang gembira karena keretanya tiba. Semua masuk dengan wajah yang nampak pasrah. Ketika semua telah masuk, kereta dengan satu gerbong itu tetap menunggu. Heran karena kereta itu tidak segera berangkat, si Aku segera masuk kedalam gerbong. Iapun tercengang ketika mendapati bahwa gerbong tersebut ternyata memiliki panjang yang tak terbatas, dan didalamnya telah duduk ratusan ribu hingga jutaan orang. Berbagai keanehan lain akan ditemui oleh si Aku dalam gerbong ini. Melalui cerpen ini pembaca diajak untuk menyelami sebuah gerbong misteri yang nantinya akan melakukan perjalanan menuju batas antara misteri kehidupan dan kematian.

Beberapa cerpen lainnya masih mengusung ke-misteri-an kereta yang dikatikan dengan msiteri kehidupan, cerpen ‘Kereta Keempat mengisahkan seorang wanita yang ditemui oleh si Aku yang sedang sama-sama menunggu sebuah kereta yang akan menjemputnya. Cerpen ini berbicara mengenai rahasia kehidupan siapa yang akan terlebih dahulu harus ‘pergi’ dengan kereta yang lebih awal dimana tak seorangpun tahu, sebab itu adalah rahasia milik Yang Maha Kuasa.

Tak hanya menyuguhkan cerita misteri kehidupan, dalam buku ini pembaca juga disuguhkan cerpen yang mengungkap realita sosial seputar sengketa tanah dengan pemerintah. Hal ini terungkap pada cerpen ‘Kuharap Kau [Tak] Singgah ke Rumahku’. Dikisahkan tokoh dalam cerpen ini memiliki sebuah rumah yang penuh dengan aksesori kereta, mulai dari foto, mainan anak, patung, semua berwujud kereta. Rumah ini terbuka bagi siapa saja dan tak jarang banyak orang yang singgah bermalam dirumah ini. Menurut mereka, rumah tersebut memberikan rasa tenteram bagi siapa saja yang singgah. Kabar kenyamanan rumah ini tersebar dari mulut kemulut hingga akhirnya terekspose ke media massa. Rumah yang nyaman ini akhirnya tercium oleh pemerintah setempat dan dibuatlah rencana agar rumah tersebut diperluas untuk dijadikan sebuah museum. Namun si pemilik rumah menolaknya karena ia pikir jika dijadikan museum tentu saja orang yang hendak datang harus membeli tiket, bagaimana dengan orang miskin nanti? Dan bagaimana kalau rumah itu diperluas dan para tetangganya terkena gusur yang berarti harus menerima ganti rugi yang biasanya tak layak ? Penolakannya ini menghasilkan sengketa dan rumah tersebut harus dieksekusi. Hal ini menimbulkan protes dari pemilik rumah dan sejumlah tokoh masyarakat untuk mempertahankan rumah tersebut dengan melakukan perlawanan.

Soal-soal romantisme cinta yang berkaitan dengan kereta pun tak luput dari kretifitas Eko Sugiarto, seperti pada cerpen ‘Memoar Kereta Malam’ dan ‘Catatan untuk Boneka Kecilku’ terungkap bagaimana rasa cinta dan konlik batin muncul dari diri si tokoh utama dalam masing-masing cerita tersebut.

Secara keseluruhan cerpen-cerpen dalam buku ini menarik untuk dibaca. Delapan buah cepen yang ada dalam buku ini setia dalam mengangkat nuansa kereta, stasiun, peron, dll. Uniknya tema-tema itu dirangkai dalam balutan keragaman tema. Ada tema misteri kehidupan, percintaan, ralita sosial, bahkan ada satu cerpen yang membuat pembacanya tersenyum dikala mengakhiri cepen ‘Dari Tugu ke Pakistan’. Semua itu hanya berdasarkan satu kata ‘kereta’ yang menggerakkan imajinasi penulisnya untuk membuat cerita-cerita pendek yang menarik.
Eko Sugiarto (Ugie) adalah penulis kelahiran Gunung Balak. Lampung Tengah, 23 September 1980. Menyelesaikan pedidikan sarjananya di Jurusan Sastra Indonesia, fakultas Ilmu Budaya UGM. Tulisan-tulisannya sudah dimuat di beberapa media massa dan situs internet. Prestasi di beberapa lomba penulisan yang pernah diikuti antara lain :

1) Terbaik kelima lomba menulis surat budaya kepada Sri sultan Hamengku Buwono X, universitas Negeri Yogyakarta (2003)
2) Pemenang harapan I lomba karya tulis milad II sinology center Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (2004)
3) Pemenang kedua sayembara penulisan cerpen Lampung Pos 2004

@h_tanzil
Read more »

Kamis, 02 Maret 2006

Sexual Quotient


Judul : Sexual Quotient - Melampaui Kamasutra Memasuki Tantra
Penulis : Anand Krishna
Penerbit : PT. One Earth Media
Cetakan : Februari, 2006
Tebal : vii + 106 hlm.

Seks adalah hal yang paling alamiah yang diberikan Tuhan pada manusia. Namun seks sering dipandang dalam dua pandangan yang ekstrim. Menjauhi atau menikmati sepuas-puasnya. Dari dua titik esktrim ini lahir pula dua kelompok masyarakat yang saling bertolak belakang, satu sangat tertutup dan menganggap seks sebagai hal yang paling tabu untuk dibicarakan, yang lainnya menganggap seks sebagai sumber kenikmatan duniawi yang bisa dipelajari hanya untuk melampiaskan nafsu semata. Karenanya tak heran saat ini banyak buku-buku panduan seks yang berisi petunjuk-petunjuk praktis bagaimana mencapai kenikmatan seks dengan berbagai cara. Hanya sebatas itu. Sangat jarang buku yang mengungkap seks dari segi filosofinya.
Buku Sexual Quotient – Melampaui Kamasutra Memasuki Tantra yang ditulis oleh Spritualis Anand Krishna ini mencoba untuk memperkenalkan kembali budaya dunia Timur (termasuk budaya Nusantara) di masa lampau yang tidak melihat seks sebagai sarana untuk melampiaskan hawa nafsu belaka namun sebagai anak tangga pertama menuju cinta kasih.

Dalam buku ini nilai-nilai filosofis seks terungkap dengan jelas dan aktivitas seks tidak ditempatkan sebagai tujuan utama , juga bukan untuk dijauhi, melainkan seks dijadikan sarana untuk mencapai kesadaran yang lebih tinggi, sehingga tiap-tiap orang tidak dikuasai oleh nafsu melainkan "menguasai" nafsunya agar dapat membangun sebuah kesadaran baru dan mencapai sebuah peradaban baru yang lahir dari manusia-manusia yang telah "menguasai nafsunya"

Acuan utama yang digunakan untuk membahas seks dalam buku ini diambil dari dua ajaran dari Dunia Timur yaitu Kamasutra dan Tantra. Kamasutra adala cara untuk mengeksplorasi energi seks, sedangkan Tantra adalah tingkatan yang lebih tinggi dimana nafsu seks diolah untuk meningkatkan kesadaran seseorang demi evolusi spiritual. Buku ini tidak mengungkapkan hal-hal detail mengenai teknik-teknik seks Kamasutra. Lebih dari itu, melalui buku ini pembaca diajak melangkah lebih lanjut– beyond Kamasutra. Berusaha untuk memahami pola pikir Vatsayana (penyusun Kamasutra) dan berevolusi lebih lanjut bersamanya. Memasuki wilayah Tantra – The Way of Path, menuju Yang Tak Terungkap Lewat Kata-Kata, Tak Terlihat Namun Maha Ada, Tak Tersentuh Namun Meliputi Segala…(hlm. 17)

Adapun dasar-dasar filosofis Kamasutra yang dibahas dalam buku ini antara lain meliputi "Energy" atau hawa yang berarti kekuatan, Kundalini, Consciousness (Kesadaran tertinggi), The Divine, Kama, Human Mandala, Mandala Energizing, Maithuna, Sangam, dll. Istilah-istilah diatas bagi sebagian orang mungkin terasa asing, namun di buku ini semua hal diatas diurai secara jelas dan padat disertai contoh-contoh praktis yang sesuai dengan kekinian. Selain itu buku ini berisi pula beberapa latihan praktis untuk mencapai hal-hal diatas yang bisa dilakukan pembacanya ketika membaca buku ini.
Tak dapat dipungkiri ada beberapa bagian dalam buku ini yang mungkin tidak sesuai dengan kepercayaan yang dianut pembaca. Namun dengan bijak Anand Krishna memberi peringatan dan memberi kebebasan kepada pembacanya agar jika pembaca merasa ragu, bimbang dan dirasa bertentangan dengan keyakinan pembacanya maka disarankan untuk tidak melanjutkan buku ini (hlm.75)

Buku ini ditutup dengan bab "Menggapai Orgasme Spiritual". Bab ini berisi kesaksian pasangan bahagia yang usianya tidak lagi muda (56 dan 52 tahun) yang telah meyakini bahwa hubungan seksual dengan pasangannya merupakan pengabdian jiwa-raga dari suami kepada istrinya dan sebaliknya, serta dari mereka berdua kepada Sang Pencipta. Karenanya kepuasan spiritual menjadi tujuan utama mereka. Dalam konteks energi pasangan ini berpegang pada filosfi Kamasutra bahwa hubungan seksual merupakan proses pemberian energi kebahagiaan/kasih pada masing-masing pasangannya sehingga kepuasan yang terjadi bukanlah kepuasan pribadi melainkan kepuasan untuk pasangannya.

Secara ringkas buku ini bisa disimpulkan sebagai buku yang mengajak pembacanya untuk memahami dan membuka kesadaran baru bahwa seks bukanlah urusan nafsu diatas ranjang belaka. Energi seks yang dimiliki tiap manusia bisa digunakan dalam keseharian kita untuk keperluan apa saja. Karenanya energi ini perlu diolah, diperlembut dan disesuaikan dengan tugas dan kewajiban kita sehari-hari. Jika tidak, energi seks akan bermanifestasi sebagai nafsu liar yang merusak seperti nafsu untuk memperoleh jabatan secara tidak halal, keserakahan, mencelakai saingan, dll. Sebaliknya jika energi itu dapat kita kendalikan maka energi atau nafsu itu akan berubah menjadi cinta, dan cinta menjadi kasih.

Pada akhirnya buku ini akan mengajak kita untuk menjadi lebih "beradab" lewat seks. Dan bila kita sudah mampu mengendalikan dan mengolah nafsu seks, barulah kita bisa beradab sebagai bangsa.

Ada beberapa koreksi yang perlu diperbaiki dalam buku ini, antara lain :
1. Credit title - jumlah halaman buku salah harusnya viii + 106 bukan 200
2. Daftar Isi ; hal 90 seharusnya Orgasme bukan Organisme
3. Pada hal 90 seharusnya terdapat nama penulis yaitu I Gede Agung Yudana

@h_tanzil
Read more »

Senin, 27 Februari 2006

Zahir


Judul : Zahir
Penulis : Paulo Coelho
Penerjemah : Andang H. Sutopo
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : I, 2006
Tebal : 440 hlm ; 20 cm

Beban menjadi seorang pengarang yang pernah melahirkan karya monumental sangatlah berat. Setiap karya berikutnya selalu menarik perhatian publik dan selalu diperbandingkan dengan karya monumentalnya. Paulo Coelho rupanya harus menerima kenyataan ini, setelah Sang Alkemis menjadi buku best seller dunia, dan diterjemahkan dalam 56 bahasa, setiap Coelho menerbitkan karya terbarunya orang cenderung bertanya-tanya "Apakah karya ini sebaik sang Alkemis?". Hal inilah yang rupanya akan terus menjadi pertanyaan abadi bagi publik dan tentunya akan memacu Coelho untuk melahirkan karya-karya terbaiknya, sebab jika tidak, hal ini akan menjadi bumerang bagi karier kepenulisannya.

Zahir yang merupakan karya teranyar dari Paulo Coelho seolah hendak membuktikan kekonsistennya dalam melahirkan karya-karya sebaik Sang Alkemis. Novel Zahir yang pertama kali diterbitkan oleh Harper Colins pada Sepetember 2005 telah mengungguli daftar Best Seller di Amerika Serikat. Sayang pencapaian untuk menembus angka-angka penjualan yang fantastis tersandung ketika Zahir dilarang beredar di Iran oleh Kementrian Kebudayaan Iran (BBC, 13 Mei 2005) dengan dalih popularitas Coelho dianggap berbahaya bagi masyarakat Iran.

Dalam Zahir yang banyak disebut-sebut sebagai novel semi-otobiografi, Coelho menulis tentang kisah seorang penulis besar yang berasal dari sebuah negara di Amerika Latin yang karyanya menjadi best seller dunia. Dari seluruh kisah hidup si penulis yang terungkap di novel ini akan nampak bahwa ciri-ciri tokoh ini mirip sekali dengan Coelho, Meski demikian cerita ini bukanlah kisah hidup Coelho yang sesungguhnya. Rupanya dalam Zahir Coelho hanya memasukkan karakter dirinya dan aktifitas kesehariannya sebagai penulis dalam diri tokoh utamanya.

Dikisahkan seorang penulis terkenal mendapati istrinya, Esther seorang wartawan perang, tiba-tiba saja menghilang secara misterius. Tak ada yang salah dalam pernikahan mereka, kedua-duanya saling mencintai bahkan Esther pulalah yang memotivasi suaminya dalam berkarya hingga melahirkan karya best seller dunia " Ada Waktu Untuk Merobek, Ada Waktu Untuk Menjahit". Ketiadaan istrinya tersebut membuat Esther menjadi Zahir/obsesi bagi si penulis untuk menemukannya kembali.

Hanya sedikit petunjuk yang diperolehnya dalam mencari Esther, beberapa orang mengatakan Esther kerap bertemu dengan seorang pemuda berkulit gelap dengan wajah ras Mongolia. Mereka berdua terlihat terakhir kali di sebuah kafe di Paris. Akhirnya si penulis berhasil menemui pemuda tersebut, Mikhail namanya, seorang pemuda yang berasal dari Kazakhstan. Mikhail mengetahui dimana Esther berada, namun hingga suatu saat tertentu ia belum juga memberitahukan dimana Esther berada sebelum ia mendapat bisikan dari "Sang Bunda" tokoh spritual yang dipercayainya dan memberinya misi untuk mewujudkan kekuatan Cinta bagi pembaharuan dunia.
Si penulis akhirnya mengikuti kemana Mikhail pergi. Pencarian sang penulis atas isitrinyapun dimulai. Si penulis dibawanya kedalam suatu pertemuan-pertemuan spiritual yang dipercaya Mikhael dan kelompoknya dapat mewujudkan misi "Cinta" yang ternyata awalnya dimotori oleh Esther. Melalui serangkaian pertemuannya dengan Mikhail si penulis mulai menelusuri kembali jejak kebersamaannya dengan sang istri, hal-hal yang terjadi dengan perkawinan mereka, hingga perpisahan itu. Tidak itu saja, pencarian Zahir ini membawa dirinya keluar dari dunianya yang aman dengan berkelana dari Amerika Selatan, Spanyol, Perancis, menapak pada jalur sutra hingga Kroasia dimana terdapat kawasan padang rumput di Kazakhstan dan mengenal cara hidup kaum nomaden. Perjalanan inilah yang akhirnya akan membawa si penulis melakukan perjalanan melintasi seluruh masa lalunya, melihat kesalahan yang ada pada dirinya, mengenal wanita yang dikawininya dan juga memperoleh pemahaman baru tentang hakikat cinta dan kekuatan takdir, dan juga kepekaan dan arti dalam mengikuti suara hati yang oleh Mikhail dikatakan suara dari "Sang Bunda"

Sama seperti novel-novel Coelho lainnya, kali ini Coelho pun menuturkan suatu cerita dengan gayanya yang kuat dan menawan yang sarat dengan kedalaman makna. Makna Zahir yang diambil dari cerpen Jorge Luis Borges ini digambarkan oleh Coelho sebagai sesuatu yang sekali disentuh atau dilihat tak bisa terlupakan, dan sedikit demi sedikit akan memenuhi seluruh pikiran kita, sehingga kita terjerumus pada kegilaan (hlm. 75). Melalui definisi Zahir ini pembaca disadarkan bahwa setiap orang memiliki Zahir-nya masing-masing, dan bila kita bisa menapakinya dengan benar maka zahir ini akan menjadi inspirasi, kekuatan dan energi hidup yang melahirkan kreatifitas-kreatifitas baru.

Selain sarat dengan makna, novel ini juga menyuguhkan sisi yang menghibur. Tokoh utama novel ini yang seorang pengarang terkenal membuat novel ini mengungkap bagaimana sebenarnya keseharian seorang penulis terkenal baik dalam menghadapi pertanyaan-pertanyaan para wartawan yang selalu menayakan hal yang itu-itu saja, pengalamannya dalam menandatangani buku-bukunya, gencarnya para kiritikus dalam mencerca novel-novelnya, dll, sehingga melalui novel ini pembaca memperoleh gambaran seperti apa rasanya menjadi seorang penulis terkenal.

Untaian kalimat-kalimat dialog penuh makna dalam Zahir bagi orang yang bisa memahaminya menjadikan novel ini novel yang menginspirasi dan menggugah pembacanya, namun bagi yang tidak terbiasa membaca novel-novel jenis ini, Zahir dengan ketebalan 440 halaman ini bisa menjadi novel yang membosankan dan menimbulkan tanda tanya besar "Apa sih yang dimaksud dengan novel ini?" sehingga mungkin saja pembaca akan mencampakkan novel ini sebelum selesai menamatkannya. Namun andai saja kita terus membaca dan mencoba memaknai novel dengan sabar hingga lembar –lembar terakhir, maka kita akan menemukan semua jawaban dari kebingungan kita terhadap novel ini

@h_tanzil
Read more »

Senin, 20 Februari 2006

Brokeback Mountain


Judul : Gunung Brokeback
Judul Asli : Brokeback Mountain
Penulis : Annie Proulx
Penerjemah : Hetih Rusli
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka
Cetakan : I, 2006
Tebal : 80 hlmn ; 18 cm

Jack Twist dan Ennis del Mar, dua pria yang bersahabat dan saling mencintai. Secara terpisah mereka tumbuh dewasa di peternakan-peternakan kecil yang miskin di kawasan Utara Amerika Serikat. Mereka berdua pemuda desa yang tidak lulus dalam sekolahnya , tanpa masa depan, serta dibesarkan dalam kerja keras dan kemiskinan. Kehidupan yang keras dan serba kekurangan membentuk karakter kedua pemuda ini menjadi pemuda yang sering bertingkah dan berbicara kasar

Mereka bertemu pertama kali pada di musim panas 1963 pada saat melamar bekerja untuk menggembalakan domba di peternakan milik Joe Aquirre di lereng gunung Brokeback, di Wyoming Amerika Serikat. Saat itu usia mereka belum berusia dua puluh tahun. Awalnya hubungan mereka layaknya persahabatan antara teman sekerja. Pekerjaan yang keras dan terpencil di lereng gunung seperti menjaga domba dari serbuan coyote, mendirikan tenda, memasak, minum wiski, bahkan tidur dalam satu tenda membuat hubungan mereka semakin dekat. Tak ada yang salah dalam persahabatan mereka hingga akhirnya disebuah malam yang dingin Jack dan Ennis harus tidur dalam satu kasur yang hangat, keintiman diantara mereka tiba-tiba meningkat pesat. Ennis ‘memasuki’ Jack. Walaupun keduanya belum pernah melakukan ini, mereka melakukakannya dengan cepat. Hari-hari berikutnya hubungan intim ini terjadi dengan begitu saja. Mereka tidak pernah bicara tentang seks, namun hubungan ini terus berlanjut, di kemah, siang hari dibawah terik matahari, dan pada malam hari di dekat api ungun. Cepat, kasar, diiringi tawa dan dengus, berisik tapi tak pernah mengucapkan sepatah kata apapun. Pekerjaanpun jadi terbengkalai. Tanpa mereka duga hubungan ini diketahui oleh majikan mereka. Musim panas berlalu, Jon Aquirre membayar mereka dengan kekecewaan karena pekerjaan mereka dianggap tak memuaskannya.

Dengan berakhirnya pekerjaan mereka sebagai gembala di lereng gunung Brokeback, berakhir pula hubungan keduanya. Keduanya mengira itulah akhir dari hubungan mereka. Empat tahun berlalu, Jack pergi mengejar cita-citanya sebagai pemain rodeo dan memiliki satu anak dari pernikahannya dengan Lureen. Ennis menikahi kekasihnya Alma dan memiliki dua orang anak. Kehidupan perkawinannya normal-normal saja hingga datangnya sebuah kartu pos dari Jack yang bermaksud mengunjungi Ennis dan keluarganya. Dua sahabat sekaligus kekasih kembali bertemu, keduanya menyadari mereka tetap tertarik satu sama lain, hubungan mereka di lereng gunung Brokeback tak pernah terhapus dalam ingatan mereka. Merekapun mengungkapkan kerinduan mereka dalam cara mereka. Tanpa disadari Alma memergoki keduanya dan konflikpun terjadi.

Ennis diperhadapkan pada pilihan antara cinta dan keutuhan keluarganya, akhirnya Ennis memilih hidup bersama Jack, pandangan masyarakat tak juga dihiraukannya. Mereka hidup bersama hingga suatu badai kehidupan datang untuk menguji tulusnya kisah cinta mereka.

Novela karya Annie Proulx ini memang bertutur mengenai kisah cinta antar dua manusia yang kebetulan berjenis kelamin sama. Karena tesaji dalam sebuah novela kisah ini tersaji secara cepat dan menarik, kisah ini dapat dibaca dalam sekali duduk, Annie menyajikan kisah cintanya secara realistis tanpa bumbu romantisme yang berlebihan, beberapa detail cerita mungkin membuat pembaca jenggah, terutama dalam mengungkap hubungan intim sesama jenis antara Jack dan Annis , namun bukan berarti kisah ini sarat dengan kisah yang vulgar, dengan baik pula Annie mengungkap potret kehidupan sosial masyarakat kelas pekerja Amerika Utara lewat karakter Jack dan Ennis yang sebelumnya hidup normal dan tiba-tiba saja terseret dalam kisah cinta sesama jenis, cinta terlarang yang pada saat itu masih merupakan hal tabu dan
memalukan bagi masyarakat Amerika. Konflik-konflik antara Ennis dan Alma dan konflik batin pribadi Jack dan Ennis tersaji secara menarik. Ending cerita berakhir dengan menyentuh pembacanya. Lewat kisah yang getir dan pahit namun tak cengeng ini Annie tak mencoba menggurui siapapun, nampaknya Annie hanya mengungkap kisah cinta sesama jenis yang masih dianggap ‘tak wajar’ oleh masyarakat dunia hingga kini plus konflik-konflik yang menyertainya. Kisah Gunung Brokeback seolah memberi pesan universal bahwa ada jurang yang membentang lebar antara keyakinan masyarakat dan keyakinan hidup seseorang, dan kalau tak bisa menjembataninya kita harus bisa menghadapinya.

Sekilas tentang Broback Mountain

Brokeback Mountain / Gunung Brokeback merupakan novela yang terdapat dalam kumpulan cerita pendek karya Annie Proulx berjudul Close Range : Wyoming Stories (1999). Brokeback Mountain pernah dimuat di majalah The New Yorker dan mendapat pengahargaan O. Henry Award Short Story serta National Magazine Award. The New Yorker Book Award juga memberikan penghargaan Best Fiction 1999 untuk Close Range, Wyoming Stories. Para pengamat sastra berpendapat bahwa Brokeback Mountain adalah masterpiece dari Annie Proulx.

Walau Broback Mountain diambil dari buku kumpulan cerita Close Range :Wyoming Stories, Gramedia nampaknya berinisiatif untuk menerjemahkan dan menerbitkan karya ini menjadi sebuah buku tersendiri. Mungkin terbitnya buku ini hendak mengambil momen kehadiran film Brokeback Mountain arahan sutradara kenamaan Ang Lee yang oleh Golden Globe Award diganjar sebagai Film dan sturadara terbaik dan mendapat delapan pecalonan Oscar untuk berbagai kategori termasuk film terbaik. Hal ini juga dilakukan oleh penerbit Amerika yang menerbitkan Brokeback Mountain dalam sebuah buku tersendiri yang diberi judul ‘Brokeback Mountain : Now a Major Motion Picture’ (Scribner, Nov 2005)

Sebenarnya akan lebih menarik jika yang diterbitkan adalah buku Close Range : Wyoming Stories dimana Brokeback Mountain terdapat didalamnya, namun sebagai jembatan untuk mengenal karya-karya Annie Proulx lainnya dan sebagai pengantar menonton filmnya yang tampaknya tak lama lagi akan beredar, buku ini sangat tepat kehadirannya ditengah-tengah kita.

@h_tanzil

Wawancara Annie Proulx di : http://www.annieproulx.com/

about Brokeback Mountain

Note on interviews:

I very much regret that the demand for interviews has overwhelmed me. I am sorry to disappoint anyone, but I can no longer neglect my regular writing work. From today, December 9, 2005, I can no longer do any interviews connected with Brokeback Mountain.
Suggested background information sources are: my biography, curriculum vitae, and Interview with Annie Proulx (The Missouri Review, vol XXII, No. 2, 1999). There is one lie in this interview where I said I had never fallen in love with any of my characters. I think I did fall in love with both Jack and Ennis, or some other strong feeling of connection which has persisted for the 8 years since the story was written. Another commentary on the Brokeback story is in the essay "Getting Movied," included in the recently published Brokeback Mountain: Story to Screenplay (Scribner, 2005), which also contains essays by Diana Ossana and Larry McMurtry.

Thanks for your interest,
Annie Proulx

FAQs

Where did the story come from?

I write almost exclusively about rural North America and rural social situations. Brokeback began as an examination of country homophobia in the land of the Great Pure Noble Cowboy. Years of accumulated observation went into the story.
How did you reach deep understanding of the inner characters Jack Twist and Ennis Del Mar? Are Jack and Ennis based on real people you know?
Again, observation, but also this writer's main card - imagination. Jack and Ennis are purely imaginary and have no connection to anyone I know. The work of imagining, thinking, picturing, describing how things would have been for two 19-year old rough, uneducated young men in 1963 Wyoming was slow, difficult and arduous.

How long did it take to write the story?

Roughly six months, about twice as long as it takes to write a novel.
How do you feel about the film being shot in Alberta instead of Wyoming?
O.k. The Production Designer, Judy Becker, spent considerable time touring Wyoming and Texas and taking photographs that were then duplicated as much as possible by landscape in Alberta. It is cheaper to make films in Canada, and Wyoming, the least populated state, does not have the infrastructure to support a film crew with its many needs that range between contemporary technologies and good housing and transportation. It is impossible to tell the film was not made in Wyoming.

How did you feel on first seeing the film?

Knocked for a loop. I had no idea of what to expect as I had had no input into the making of the film beyond some conversation with Diana Ossana and Larry McMurtry when they were writing the screenplay, and a letter to Focus president James Schamus and Ang Lee begging them to keep the language of the story intact. I did not visit the set. I feared the landscape on which the story rests would be lost, that sentimentality would creep in, that explicit sexual content would be watered down. None of that happened. The film is huge and powerful. I may be the first writer in America to have a piece of writing make its way to the screen whole and entire. And, when I saw the film for the first time, I was astonished that the characters of Jack and Ennis came surging into my mind again, for (hence the lie in Missouri Review ) I thought I had successfully banished them over the years. Wrong.
Read more »

Kamis, 16 Februari 2006

Nar'Kobar - The Motivator


Judul : The Nar'Kobar - The Motivator
Penulis : Andhika Pramajaya
Penerbit : Akoer
Cetakan : I, Jan 2006
Tebal : 601 hal

Beberapa waktu yang lalu tayangan-tayangan TV yang mengungkap alam gaib kerap bermunculan di layar TV, mulai dari kisah-kisah fiksi misteri, reality show yang menguji nyali para relawan, hingga siaran langsung para pemburu hantu yang selalu berhasil memasukkan hantu-hantu ke dalam botol. Hal ini berimbas juga pada munculnya majalah-majalah misteri dan buku-buku yang mengungkap keberadaan alam gaib dan mahluk-mahluk penghuninya yang umumnya menyuguhkan konsep bahwa hantu adalah fenomena gaib yang berkesan misterius dan menyeramkan.

Ditengah tumbuhnya keyakinan akan konsep alam gaib yang serba menakutkan itulah secara tak diduga muncul novel Nar’Kobar – The Motivator karya penulis Andhika Pramajaya yang namanya tak dikenal di dunia kepenulisan. Kehadiran novel ini seakan hendak menjungkirbalikkan konsep alam gaib yang serba misterius dan menakutkan itu. Novel yang mungkin sekali merupakan novel komedi jin pertama di Indonesia ini berkisah tentang Nar’Kobar, sosok jin muda dari ras Naruut yang telah mencapai tingkat J’mar Kha’dum (Jin Motivator Manusia) yang berperan memotivasi manusia agar bisa menjadi manusia gampusan ( manusia yang memiliki mental dan spritual yang negatif).
Nar’Kobar adalah jin yang berperan memotivasi Lena agar menjadi gadis gampusan. Namun usaha ini terhalangi oleh Ipung- teman kuliah Lena yang memiliki kemampuan supranatural yang pada saat itu sedang mendekati Lena untuk menjadi pacarnya. Bagi Nar’Kobar kehadiran Ipung semakin menyulitkan dirinya untuk memotivasi Lena apalagi karena Ipung adalah putra Pak Tio – seorang praktisi supranatural andal yang terkenal karena sering muncul di acara reality show misteri di TV.

Secara kebetulan di kerajaan jin, Putri Larasati (pewaris tunggal kerjaan jin – Mandanglaya) berniat menimba pengalaman dan memperluas wawasannya akan dunia manusia. Untuk itu Larasati membutuhkan sosok jin motivator yang telah berpengalaman untuk menjadi pembimbingnya selama berada di dunia manusia. Pilihan jatuh pada Nar’Kobar. Nar’Kobar tak menyia-nyiakan kesempatan ini, dengan tujuan lain ia menyarankan Putri Larasati menjelma sebagai wanita cantik agar dapat menggoda Ipung sehingga Ipung melupakan Lena dan jatuh cinta pada putri jin itu.
Selain menggunakan Putri Larasati untuk menjauhi Ipung dari Lena, Nar’kobar juga dengan cerdik mempengaruhi teman-teman kampus Lena agar mereka jatuh cinta pada Lena sehingga salah satu dari mereka dapat menjadi pacar Lena dan secara otomatis menggagalkan usaha Ipung untuk menjadi kekasih Lena.

Usaha Nar’Kobar untuk mejauhkan Lena dari Ipung dan menjadikan Lena wanita gampusan tidaklah mudah, selain karena Ipung mendapat "perlindungan" dari ayahnya, Lena sendiri pun bukan sosok wanita yang mudah dipengaruhi oleh Nar’Kobar. Lena yang taat dalam menjalankan agamanya membuat tubuhnya selalu diliputi aura positif yang sulit ditembus oleh jin Nar’Kobar. Karena itu Nar’kobar harus memikirkan segala cara untuk bisa mempengaruhinya. Usaha ini sempat terhenti ketika Nar’kobar secara tidak disengaja tertangkap oleh Pak Tio (ayah Ipung) yang saat itu sedang shooting untuk acara ‘live’ sebuah reality show dunia misteri. Karena kecanggihan kamera KIS 3000, ciptaan seorang profesor Jepang yang bisa menangkap keberadaan jin sesuai dengan bentuk aslinya, maka sosok Nar’Kobar tertangkap dalam kamera tersebut dan disaksikan secara langsung oleh seluruh pemirsa acara TV tersebut. Karena keteledorannya itu Nar’Kobar dihukum oleh kerajaan jin selama seratus tahun sebagai hantu "ririwa" yang tugasnya hanya menakuit-nakuti manusia di areal pekuburan. Namun berkat bantuan Larasati hukuman itu diperingan dan sebagai gantinya Nar’Kobar harus bisa memotivasi Lena untuk menjadi wanita gampusan dalam waktu 2 minggu saja! Jika tidak berhasil nyawa Nar’Kobar menjadi taruhannya. Berhasilkah Nar’Kobar memotivasi Lena dalam waktu 2 minggu saja ? Padahal 8 tahun sudah terlewati semenjak ia memotivasi Lena agar bisa menjadi wanita gampusan, dan selalu gagal!

Secara keseluruhan novel ini bisa dikatakan novel yang unik dimana dunia gaib dibuat sedemikian rupa sehingga menjadi cerita yang lucu dan menghibur, disajikan dengan gaya pop membuat novel dengan tebal 601 halaman ini menjadi sangat mudah untuk dibaca dan dicerna oleh berbagai kalangan pembaca dari berbagai latar sosial, pendidikan, dan jenjang usia. Walau judul novel ini adalah nama sesosok tokoh jin, namun tak ada tokoh sentral yang mendominasi cerita. Semua tokoh mendapat porsi yang seimbang tanpa saling mendominasi, maka eksplorasi karakter berupa perubahan karakter dari baik ke jahat atau sebaliknya dalam tiap tokohnya terungkap dengan baik. Di novel ini dunia gaib dan mahluk-mahluknya terungkap secara manusiawi, mereka memiliki rutinitas kehidupan sehari-hai layaknya mahluk-mahluk berjiwa lainnya, seperti halnya di dunia manusia di dunia gaib pun para jin memiliki struktur pemerintahan, militer dan strata sosial yang bermacam-macam. Istilah-istilah tingkatan dan jenis jin yang digunakan oleh penulis menggunakan istilah Arab, dan Indonesia, maka tak heran melalui novel ini pembaca akan menemukan nuansa lokal seperti jin ifrit, kuntilanak, genderuwo, pocong dll. sedangkan istilah-istilah struktur pemerintahan dan militer menggunakan terminologi Sunda-Jawa seperti kaputren, tumenggul, senopati, dll.

Tampaknya novel ini ditulis dengan riset yang cukup memadai, dalam emailnya, penulis novel ini mengaku untuk mengambil basic tentang jin ia mengambil dari Alquran dan Alhadist, selain itu ia juga membaca buku-buku tentang Jin seperti karya Abu Aqila (Kesaksian tentang Jin) dan Muh. Isa Dwud (dialog dengan Jin), dll, tak hanya itu pengalaman kawan-kawannya yang pernah besinggungan dengan dunia gaib turut memperkaya penulis dalam melahirkan novel ini. Apa yang telah diupayakan oleh penulis tampaknya membuahkan hal-hal positif. Walau novel ini novel khayalan dan menghibur namun apa yang tersaji dalam novel ini tak berarti menjadi ngawur, seperi novel-novel Harry Potter, novel ini tak mengabaikan logika pembacanya. Selain memperoleh info-info umum tentang jin, hal-hal positif juga akan pembaca temui dalam novel ini. Novel ini juga tampaknya membawa misi ‘terselubung’ untuk meluruskan pandangan umum terhadap dunia gaib, misalnya tentang roh-roh gentayangan yang seharusnya tidak ada, tapi hanya perbuatan jin yang berpura-pura menjadi hantu penasaran (pocong, kuntilanak, arwah penasaran, dll) untuk menakut-nakuti manusia. Selain itu kekuatan doa juga terungkap dengan jelas pada novel ini dimana beberapa tokoh sulit untuk dijangkau oleh para jin karena mereka rajin berdoa sehingga memiliki auro positif yang sulit ditembus oleh jin apapun.

Yang mungkin menjadi kendala dalam membaca novel ini adalah bertaburannya istilah-istilah aneh yang sulit untuk diingat dan diucapkan seperti Al’m Gha’faar, Al’m Sidjin, Gom Jabir, Jiinayil Aq’lun, J’mar Kha’fziir, dll. Untuk menjelaskan istilah-istilah tersebut buku ini menyediakan daftar istilah di akhir halaman yang memuat lebih dari 100 istilah! Selain itu luasnya eskplorasi penulis terhadap para tokoh dalam novel ini membuat masing-masing tokoh dalam cerita ini seolah memiliki kisahnya sendiri, dan ini bisa saja menjadi bumerang bagi pembaca novel ini karena cerita menjadi melebar dan tak fokus. Dari waktu terbitnya, novel ini bisa dikatakan terlambat diterbitkan, seandainya novel ini terbit ketika masih maraknya tayangan-tanyangan misteri di TV tentunya novel ini akan bisa ‘bergaung’ lebih keras atau setidaknya bisa menjadi alternatif hiburan yang menyajikan alam gaib secara menarik dan kreatif.

Terlepas dari semua itu, kehadiran novel komedi-jin ini patut dihargai, bisa dikatakan novel ini adalah sebuah terobosan baru dalam menyajikan dunia alam gaib yang ternyata tidak harus tersaji secara menakutkan. Tak perlu takut untuk membaca novel ini dimalam hari karena pembaca akan dibuat tersenyum simpul bahkan tertawa melihat kekayaan imajinasi penulis saat menggambarkan sosok mahluk gaib. Dan yang pasti novel ini tentunya akan memperkaya wawasan berpikir kita tentang keadaan alam lain disekitar kita yang belum tentu menyeramkan seperti yang terkonsep di benak kita selama ini.

@h_tanzil
Read more »

Senin, 13 Februari 2006

Obrolan Tukang Nonton


Judul : Obrolan Tukang Nonton -
dari Charlie Chaplin sampai Mengejar Matahari
Penulis : Arie Saptaji
Penerbit : Papyrus
Cetakan : I, Desember 2005
Tebal : 191 hal.

Obrolan ringan selepas menonton sebuah film sangatlah mengasyikan, apapun bisa dijadikan bahan pembicaraan, mulai dari alur cerita, kedasyatan efek film, keindahan gambar, hingga gosip artis yang memerankan salah satu tokoh film tersebut. Tak perlu menjadi pakar perfileman untuk mengobrolkan film, malah obrolan orang awam penggemar film akan terasa lebih mennyenangkan dibanding obrolan pakar perfileman yang mengusung teori-teori perfileman. Obrolan ringan semacam inilah yang membuat kenikmatan menonton sebuah film menjadi semakin sempurna karena dari obrolan ringan tersebut akan tergali kekayaan, makna, hingga pernak-pernik dari film yang telah ditonton.

Buku Obrolan Tukang Nonton yang ditulis oleh Arie Saptajie, salah seorang film mania ini seakan mengajak pembacanya khususnya para penggemar film untuk mengobrolkan film-film yang telah ditontonnya. Arie Saptajie bukanlah pakar di bidang teori perfileman, jadi jangan harap kita akan menemui soal-soal teknis terjadinya sebuah film di buku ini, tak ada kalimat-kalimat sulit dari definisi-definisi film, semua tersaji dalam kalimat-kalimat yang lugas dan sederhana seperti mendengar saran seorang kawan akan film yang telah ditontonnya

Buku ini mengulas lebih dari 40 buah film, keragaman film-film yang dibahasnya membuat buku ini sangat variatif dan tidak membosankan. Jika dilihat dari tahun produksi film-film yang ditontonnya, buku ini merentang masa selama 73 tahun! Dimulai dari film "City Lights" – Charlie Chaplin (1931) hingga Mengejar Matahari (2004). Jika dilihat dari negara pembuatnya, buku ini mengajak pembacanya untuk berpikinik mengelilingi dunia sambil menonton film, mulai dari Indonesia, Singapura, Australia, India (Bollywood), Jepang, Inggris Amerika (Hollywood), Brazil hingga Irak. Pembaca juga akan diajak menyimak berbagai genre film yang dibahas di buku ini, mulai dari drama, suspense, horor hingga film animasi tak luput dari pengamatan Arie Saptajie.

Kesemua bahasan film-film diatas tersaji secara runut berdasarkan tahun pembuatannya. Setiap film dibahas tak lebih dari 5 halaman buku ini, singkat namun padat, lengkap dengan sinopsis dan pendapat penulis. Selain ditulis dengan kalimat-kalimat yang enak dibaca dan reflektif, Arie mengemukakan pendapatnya dengan jujur. Kesannya yang buruk terhadap sebuah film ia ungkapkan dengan gamblang di buku ini. Hal ini terungkap ketika ia membahas film Mystic River, film kelas Oscar ini dikritik habis oleh Arie, ia melihat penggarapan bagian-bagian pelacakan film ini jika dilihat dari standard film detektif kurang berisi, sehingga mengakibatkan ketimpangan sewaktu disandingkan dengan konflik psikologis amat pekat diantara tokoh-tokohnya (hal 156).

Selain mengkritisi film-film yang dibahasnya, Arie juga berhasil menemukan benang merah antara satu film dengan film lainnya, ketika membahas sebuah film, pembaca diajak membandingkan atau menengok film-film lain yang memiliki keterkaitan dengan film yang sedang dibahasnya. Tidak hanya itu Arie juga terkadang merefleksikan sebuah film dengan keadaan Indonesia saat ini. Simak saja kalimat pembukaan di bahasan film The Manchurian Candidate: - Membandingkan The Manchurian Candidate dengan situasi dan kondisi Indonesia bisa bikin kita terperangah. Kalau dipikir-pikir, rupanya Indonesia itu "lebih jagoan" dari AS. Apa yang mesti AS lakukan dengan mendayagunakan teknologi canggih dibarengi siasat licik dan brutal, bisa kita lakukan secara amat santun – dan tak kalah efektif pula. (hal 167).- Dalam hal ini antara lain Arie mencontohkan proses kisah cuci otak dalam film ini yang harus menggunakan intrik buas dan metode yang cangih, dengan jeli Arie membandingkannya dengan Indonesia yang tanpa peralatan canggih, pencucian otak telah berlangsung dengan tenteram dan damai melalui penataran P4, indoktinasi teror SARA, sensor, dll. (hal 169)

Dalam buku ini dari sekitar 40 buah film yang dibahasnya Arie hanya menyuguhkan tiga buah film nasional : November 1928, Si Doel Anak Betawi dan Mengejar Matahari, tak dijelaskan mengapa hanya tiga film nasional ini yang dipilih, entah apakah bagi Arie hanya tiga film ini yang layak dibahas atau memang keterbatasan sumber yang menyebabkan hanya tiga film tersebut yang dimasukkan dalam buku ini, padhal kini situasi perfileman nasional kembali bergeliat dengan sejumlah film yang layak diapresiasi. Namun terlepas dari semua itu usaha Arie untuk mengangkat 3 buah film nasional dalam buku ini patut dihargai.

Sebagai bonus, dibagian akhir buku ini Arie menyajikan bab tersendiri mengenai tema persahabatan sejati dalam sejumlah film yang telah ia tonton, dari Driving Miss Daisy hingga Oerog yang membuat pembaca mendapat tambahan perspektif dalam melihat persahabatan.

Jika dilihat dari seluruh bahasan film yang ada di buku ini, seperti diakui oleh Arie dalam kata pengantarnya, tulisannya cenderung reflektif karena baginya dalam aspek inilah setiap orang bebas membuka suara. Tanpa perlu teori muluk-muluk. Tanpa perlu menjadi pakar perfileman, setiap orang tentu memiliki kesan pribadi terhadap film yang ditonotonnya, dan leluasa untuk mengobrolkannya dengan sesama penggemar. (hal 15). Hal ini pula yang menyebabkan tulisan-tulisannya dalam buku terasa lebih menarik karena menyajikan sisi lain yang tidak terungkap oleh penikmat film lain. Arie juga bisa dikatakan berhasil mengeluarkan intisari suatu film dengan memberikan interpretasi pesan sesuai dengan pandangan penulis ataupun merefleksikan cerita film tersebut pada problema kehidupan manusia yang universal.dari sebuah film yang dibahasnya.

Kritik atas buku ini ada pada penempatan keterangan title film. Di buku ini seluruh title film diletakkan di halaman belakang sebagai indeks. Hal ini membuat pembaca harus bolak-balik menuju halaman indeks untuk mengetahui title film yang sedang dibahas. Untuk kenikmatan membaca, akan lebih baik jika title film yang sedang dibahas menyatu dengan halaman bahasannya. Minimnya tampilan visual pada buku ini juga sangat disayangkan, padahal tampilan visual berupa poster dari film-film yang dibahas akan sangat membantu pembaca dalam menyegarkan ingatan pembaca akan film-film yang pernah ditontonnya.

Siapapun bisa membaca buku ini, syaratnya hanya satu suka nonton!. Di mata Arie film bukanlah sekedar hiburan yang enak ditonton, namun juga mengandung butir-butir kebenaran yang kerap tak terduga. Hal inilah yang seantiasa ada dalam tulisan-tulisan Arie sehingga pembaca buku inipun akan memperoleh butir-butir kebenaran dalam film2 yang telah ditonton Arie.

@h_tanzil
Read more »

Minggu, 05 Februari 2006

Saya Terbakar Amarah Sendirian!


Judul : Saya Terbakar Amarah Sendirian!
(Pramoedya Ananta Toer dalam Perbincangan dengan Andre Vltchek & Rossie Indira)
Penulis : Andre Vlitchek & Rossie Indira
Penerbit : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Cetakan : I, Januari 2006
Tebal : xxix + 131 hlmn. : 13 cm x 19 cm

Pramoedya, setelah sekian puluh tahun namanya dihapus dari buku-buku sastra,dan buku-bukunya menghilang di rak-rak toko buku kini perlahan tapi pasti namanya kembali berkibar, karya-karyanya dicetak ulang dan selalu jadi best seller di toko-toko buku yang menjualnya. Beberapa penulis secara khusus mencoba mengkaji karya-karya monumentalnya, sebut saja Prof. A. Teeuw yang secara serius mengkaji karya-karya Pram dalam buku "Citra Manusia Indonesia dalam karya PAT (Pustaka Jaya,1997), Eka Kurniawan yang membukukan skirpsinya yang bertajuk Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis (Jendela,2001) atau Prof Apsanti D yang mengkaji secara menarik keempat Tetralogi Bumi Manusia dalam bukunya yang berjudul "Membaca Katrologi Bumi Manusia (Indonesia Tera, 2005). Selain karya-karyanya dijadikan bahan kajian penulis-penulis lokal dan luar negeri Pram juga kerap jadi incaran dari para wartawan media cetak yang secara khusus melakukan wawancara langsung dengannya, dan biasanya majalah atau koran yang memuat wawancara dengan Pram selalu habis dibeli oleh pembacanya.

Umumnya wawancara dengan Pram hanya dapat dijumpai di majalah atau koran-koran atau beberapa buku yang menyajikan cuplikan wawancara dengan Pram, kini buku "Saya Terbakar Amarah Sendirian!" tersaji dalam bentuk wawancara utuh antara Pram dengan Andre Vltchek (penulis, wartawan, analis politik amerika Serikat) & Rossie Indira. (arsitek, analis bisnis, penulis di harian Jakarta Post, Gatra,dll).

Buku menarik ini memuat lebih dari 150 pertanyaan yang diajukan oleh pewawancaranya. Wawancara yang berlangsung dalam kurun waktu 4 bulan (Desember 2003-Maret 2004) ini dibagi kedalam 12 bab yang disusun berdasarkan topiknya yang terdiri dari

- Wawancara di Jakarta
- Sebelum 1965 : Sejarah, Kolonialisme, Dan Soeharto
- Kudeta 1965
- Masa Penahanan
- Budaya dan Jawanisme
- Karya Sastra
- Soeharto, Rezimnya, dan Indonesia Saat ini
- Timor Leste dan Aceh
- Keterlibatan Amerika Serikat
- Rekonsiliasi ?
- Revolusi : Masa Depan Indonesia
- Sebelum Berpisah

Dari keseluruhan bab-bab diatas pembaca buku ini akan diajak menyelami apa yang ada dalam benak seorang Pramoedya Ananta Toer. Tajamnya pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Andre Vltchek & Rossi Indira membuat seluruh perasaan dan pemikiran Pram yang tetap konsisten dari dulu hingga kini terungkap secara jelas dan apa adanya.

Pada bab "Masa Penahanan" pembaca akan diajak menyelami kehidupan Pram di Pulau Buru dimana nyawa manusia menjadi demikian tidak berartinya, kesalahan kecil seperti yang dialami temannya ketika ketahuan menyimpan sepotong koran bekas mengakibatkan temannya harus mengalami penyiksaan yang berakhir dengan kematian. (hal 37). Tempelengan dan siksaan menjadi hal yang biasa terjadi di Pulau Buru. Beruntung Pram tak mengalami siksaan yang berarti karena dirinya selalu dimonitori oleh dunia internasional. Pantauan dunia internasional inilah yang membuat Pram bertahan hidup dan bisa berkarya hingga menghasilkan karya P. Buru yang monumental itu.

Dalam hal budaya ,Pram yang jelas-jelas seorang Jawa mengkritik habis budaya Jawa yang mengharuskan "taat dan patuh pada atasan" yang menurutnya mengarah kepada fasisme (hal 45). Menurut Pram hal inilah yang menyebabkan bangsa kita terjajah, para kepala desa diberi emas dan perak sebagai sogokan atau kompensasi, sehingga mereka tidak berani protes. Dan rakyatnya pun tak berani melawan karena mereka menghormati atasannya. Inilah yang dikatakan Pram sebagai Jawanisme!, dan hal ini menurutnya masih terjadi hingga jaman kini dan terbukti hingga kini tak ada yang berani membawa Soeharto ke pengadilan karena semua takut dan patuh pada atasan.

Dalam bidang Sastra, Pram menyesalkan jika hingga kini orang masih saja membicarakan tentang pribadinya, bukan karyanya, sehingga sebagai penulis dirinya tidak selaku diakui (hal67) Di bagian ini juga dijelaskan mengenai proses kreatif Pram baik ketika ia mulai menulis hingga proses kreatifnya di P. Buru. Pram mulai menulis ditahun 1947 karena ia harus menghidupi adik-adiknya, dikatakannya bahwa ia menulis seperti orang gila untuk mendapatakan uang karena ia tak bisa bekerja lain selain menulis (hal 75). Sedangkan inspirasi menulis diperolehnya dari kehidupan. Ketika sesuatu menyinggung dirinya atau membuat dirinya marah, Pram mendapatkan inspirasi untuk melawan. Bagi Pram menulis adalah perlawanan sehingga disemua bukunya ia selalu mengajak pembacanya untuk melawan. Pram yang menurut pengakuannya kini sudah tak bisa menulis lagi semenjak serangan stroke pada tahun 2000 yang lalu, kini menghabiskan waktunya dengan membuat kliping untuk proyek Ensiklopedi Kawasan Indonesia yang kini bahannya sudah mencapai 4 meter! Rencananya jika ia menerima hadiah nobel Sastra, maka uangnya akan dipergunakan untuk menyelesaikan proyek ambisiusnya tersebut.

Dalam bagian-bagian akhir buku ini pada bab Revolusi : Masa Depan Indonesia, Pram secara tegas menyatakan bahwa untuk keluar dari kondisi Indonesia yang semakin buruk ini maka hanya angkatan mudalah yang harus bergerak. Menurutnya sejak tahun 1915 sejarah Indonesia dibuat oleh angkatan muda (hal 114). Sayangnya kini banyak angkatan muda yang konsumtif dan tidak bisa berproduksi atau mengubah situasi, yang dilakukan hanyalah keluyuran dan mendapatkan uang. Pram secara tegas menyatakan jika dirinya menjadi penguasa maka ia akan tetapkan kuota impor barang sehingga akan ada lapangan kerja dan rakyat indonesia dipaksa untuk berproduksi. Bagi Pram hal yang mutlak harus dilakukan untuk mengubah situasi bukan hanya semata menurunkan rezim yang berkuasa, melainkan harus melalui Revolusi total, yang bisa menyingkirkan tenaga-tenaga yang menghambat kemajuan Indonesia.

Ada banyak sekali pemikiran-pemikiran Pram lainnya yang terungkap di buku ini. Kemahiran pewawancara dalam menggali apa yang Pram pikirkan dan rasakan membuat buku ini kaya sekali akan cakupan dan merentang dari masa kemasa mulai dari masa perjuangan kemerdekaan, masa G30S, hingga masa kini, mulai dari soal-soal pribadi, politik hingga budaya, bahkan pandangan Pram akan masalah-masalah di Timor Leste dan Aceh-pun bisa ditemui di buku ini.

Bisa dikatakan buku ini berhasil mengeluarkan semua pemikiran dan beban yang bertumpuk yang mungkin selama ini dipendam atau terlewatkan untuk digali oleh pewawancara lainnya. Apa yang dikatakan Pram melalui buku ini sangat menyentuh perasaan dan bahkan menyedihkan. Beberapa bagian yang menyajikan tentang penindasan historis, politis, dan tak manusiawi diungkap dengan pedas, tanpa tedeng aling-aling, pandangan agama di mata Pram terungkap dengan jelas dan apa adanya. Beberapa pertanyaan dijawab dengan nuansa kemarahan yang meledak-ledak, namun ada juga yang dijawab dengan jawaban-jawaban humor. Pembagian-pembagian buku ini dalam beberapa bab membuat pembaca dapat mengikuti kisah hidupnya mulai dari Pram sebagai seorang penulis yang ditahan pemerintahan Belanda sampai masa pengasingannya di P.Buru dan masa kehidupannya kini yang dirasakannya "terasing di negeri sendiri"

Buku ini sangat baik dibaca oleh para pecinta karya-karya Pramoedya (Pramist) karena seluruh isi buku ini akan menjawab semua pertanyaan yang mungkin menjadi pertanyaan para Pramist juga. Jika dicermati lebih dalam lagi, seluruh jawaban yang diberikan Pram melalui buku ini memang terkesan bahwa ia terbakar oleh amarahnya sendiri pada negeri dan budaya Indonesia yang carut marut ini, secara terstruktur pembaca akan dibawa pada pemikiran-pemikirannya yang kritis seperti yang selalu terekam dalam karya-karyanya. Karena itu, buku ini bukan hanya diperuntukkan bagi para ‘Pramist’ saja, melainkan patut dibaca oleh semua kalangan yang ingin memahami akar-akar persoalan di Indonesia dewasa ini.

@h_tanzil
Read more »

Rabu, 01 Februari 2006

Perang


Judul : Perang - Sebuah novel Sub Kultur
Penulis : Rama Wirawan
Penerbit : Jalasutra
Cetakan : I, 2005
Tebal : 176 hal

Novel ini bukan novel perang, tak ada rentetan peluru yang ditembakkan untuk membabat habis musuh, tak ada pekik kemenangan dari pihak yang menang. Yang ada adalah rentetan ide dan isu-isu sosial yang dimuntahkan dalam novel ini.

Perang adalah Perang Hayat, nama seorang pemuda 22 tahun yang bekerja sebagai seorang desain grafis di sebuah perusahaan printing. Bekerja dari jam 8 pagi hingga jam 5 sore adalah suatu rutinitas yang dijalaninya sejak tiga bulan yang lalu, namun Perang belum juga bisa menemukan keindahan dan kenyamanan dalam dunia kerjanya. Suasana kantor yang penuh tekanan dan ketidaknyamanan itu membuat dirinya seperti berada dalam penjara dan ia merasa ada sesuatu yang tercuri dari hidupnya.

Dalam novel ini tokoh Perang dideskripsikan sebagai seseorang yang hidup dalam kesendirian dengan buku-buku dan keremangan, ia selalu sinis melihat dunia terang benderang seperti mall-mall, gedung-gedung megah, restoran mewah, dll. Ia selalu melihat ketimpangan dari semua kemewahan itu, ia menyadari bahwa mall-mall itu dibangun di atas tanah bekas gusuran rumah penduduk, ketika ia melihat sebuah restoran mewah ia yakin bahwa hanya segelintir orang yang bisa menikmati makanan di restoran mewah tersebut. Karenanya kawan-kawannya tak melihat dan merasakan apa yang ada dalam benaknya, Perang merasa hidup dalam kesendirian dan keterasingan.

Setelah sekian lama terjebak dalam rutinitas kerja dan keterasingan, kehidupannya lambat laun mulai berubah ketika Perang berkenalan dengan Denny, seorang kurir dari kantor cabang tempat ia bekerja. Perkenalannya dengan Denny membawanya pada suatu komunitas subkultur yang akrab dengan zine, musik underground, gig, distro, D.I.Y, dll. Dan yang membuat Perang segera tertarik dengan komunitas ini adalah pemikiran kawan-kawan barunya yang terus berusaha mencari alternatif atas sistem yang telah mengurung dan terus menumpulkan hidup masyarakat. Perang diajaknya membahas isu budaya kontemporer seperti alienasi, neoliberalisme , resistensi, literasi dan banyak lagi isu-isu sosial lainnya. Melalui komunitas dan kawan-kawan barunya inilah Perang kini merasa tak terasing lagi, keingin tahuannya yang besar dan ketidakpuasannya akan ketimpangan sosial, sistem ekonomi, politik, budaya subkulur, dan lainnya mendapat pencerahan dari kawan-kawan barunya. Lambat laun ia menjadi seorang yang hidup dengan pandangan baru , segar, sadar atas pilihan dan resiko hidupnya.

Kehidupan Perang tambah semarak dengan pertemuannya dengan teman kuliahnya dulu – Mirah. Melalui Mirah, Perang mengenal cinta, bukan cinta romantis seperti dalam kisah-kisah novel romantis melainkan cinta yang dalam, cinta yang sanggup menguak tabir kehidupan dan mampu mengembalikan sisi kemanusiaaan yang telah tertampik oleh sibuknya dunia. Dan itulah yang terjadi dengan Perang, kisah cintanya dengan Mira tak membuat semangat dan pandangan baru yang ia peroleh dari kawan-kawan komunitasnya mengabur, kehidupan cintanya dengan Mira membuat ia memperoleh kekuatan baru karena ia dan Mira bersatu padu dengan cara mereka sendiri untuk mendobrak kemapanan sistem yang telah menumpulkan masyarakat disekelilingnya akan arti dari sebuah kehidupan

Novel ini sangat baik untuk diapresiasi oleh pembaca yang tak ingin hidupnya terjebak dalam kemapanan . Novel yang sarat dengan ide pemikiran-pemmikiran alternatif ini tersaji dengan baik, antara ide dan cara penyampaiannya tampil seimbang, walau novel ini sarat dengan dialog-dialog antar tokohnya mengenai isu-isu sosial yang menyangkut ekonomi dan budaya, dan tersaji nyaris tanpa klimaks yang berarti, novel ini tidaklah menjadi membosankan karena tersaji dengan kalimat-kalimat bertutur yang enak dibaca dan membuka wawasan baru bagi pembacanya. Seperti halnya tokoh Perang, melalui novel ini cara pandang pembaca pun akan terbuka dengan pandangan baru akan apa yang terjadi dalam berbagai kehidupan sosial yang berlaku pada saat ini.

Di tengah maraknya novel-novel lokal bertema kehidupan remaja/dewasa yang sarat dengan muatan kegalamouran dan keceriannya, hadirnya novel subkultur ini tentunya menawarkan alternatif bacaan baru yang sangat layak dibaca bila kita ingin lebih paham mengenai masalah-masalah sosial dan dunia subkultur dengan segala pernak-perniknya

@h_tanzil
Read more »

Kamis, 26 Januari 2006

Laki-Laki yang Salah


Judul : Laki-Laki yang Salah
Penulis : Lan Fang
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 224 hlm ; 18 cm

Cinta! Kisah cinta seakan tak pernah kering untuk diceritakan. Ada banyak hal yang bisa digali dari pengalaman cinta seseorang. Cinta memang manis dan indah dinikmati, ada cinta yang manis mendayu-dayu, ada cinta eros yang bergelora dengan nafsu, ada juga cinta agape yang membuat orang rela menyerahkan kebahagiaannya untuk orang yang dicintainya. Namun tak jarang cinta berbuahkan kepedihan, penyesalan, apalagi jika cinta berlabuh tidak pada tempatnya, jatuh cinta pada saat yang salah atau jatuh pada pribadi yang salah.

Kumpulan cerpen Laki-laki Yang Salah karya Lan Fang ini banyak bertutur mengenai kisah cinta yang salah, pilihan yang salah, dan harus berakhir dalam kepedihan yang dalam karena api cinta harus dipadamkan agar kesalahan tak terus berkepanjangan dan merusak cinta itu sendiri. Buku ini berisi 15 buah cerpen yang sebagian besar diantaranya pernah dipublikasikan di berbagai media cetak dalam rentang waktu antara 1997 hingga 2004. Walau tema yang disajikan dalam seluruh cerpen-cerpen dalam buku ini mengenai cinta, namun antara cerpen yang satu dengan yang lainnya menawarkan keragaman cerita dan dituturkan dalam dua gaya yang berbeda, ada yang pop, ada juga yang sastra sehingga pembaca tidak akan dibuat bosan untuk menikmati cerpen demi cerpennya.

Pada cerpen Laki-Laki yang Salah, yang dijadikan judul buku Kumpulan cerpen ini, Lan Fang menyuguhkan kisah cinta antara Pinkan, seorang penyanyi disebuah café dan Han, anak seorang pengacara terkenal. Tema cerpen ini sebenarnya sederhana dan klasik, Pinkan telah memilih laki-laki yang salah untuk melabuhkan cintanya, walaupun Han benar-benar mencintainya namun kisah cinta mereka kandas dan harus berpisah karena orang tua Han tidak merestuinya karena perbedaan status sosial antara keduanya cukup dalam. Setelah sekian lama berpisah akhirnya Pinkan dan Han bertemu, masing-masing membawa satu cerita yang harus diungkapkan malam itu juga. Walau tema cerpen ini sebenarnya sudah sangat umum namun yang membuat cerpen ini menarik adalah karena cerpen ini ditulis dengan dua sudut pandang yang berbeda dari dua tokoh tersebut. Secara bergantian dan menarik penulis menyajikan karakter dari kedua tokoh tersebut dalam bagian yang terpisah. Awalnya mungkin pembaca akan merasa jika cerpen ini memiliki dua kisah yang berbeda, namun lambat laun kedua tokoh ini akan bertemu membentuk sebuah rangkaian cerita yang menarik.

Selain kisah-kisah cinta yang realis pada buku ini, pembaca juga akan disuguhi sebuah cerita yang surealis yang menarik yang menggugat para penulis agar tidak serta merta mengekspolitasi tubuh wanita dalam tulisan-tulisannya. Pada cerpennya yang berjudul "Jangan Main-Main dengan Perempuan", Lan Fang menyuguhkan sebuah cerita seorang penulis yang tidak suka jika perempuannya hadir disisinya ketika sedang menulis karena sering melakukan intervensi akan apa yang akan ditulisnya. Karena ketidaksukaan itulah, perempuan itu dipasung selama lima tahun oleh si penulis. Namun entah bagaimana tiba-tiba perempuan itu hadir kembali di sisi si penulis dan bertanya "Apa kau menulis tentang perempuan lagi?". Kali ini perempuan tersebut menuntut agar di penulis menulis tentang laki-laki. Dan terjadilah debat kusir antara si penulis dan perempuannya. Dalam cerpen yang dituturkan secara surealis ini pembaca akan disuguhkan pada hal-hal berbau kengerian seperti mulut yang dijahit, lidah yang dipotong dan diawetkan dalam stoples, dan lain-lain, hal ini membuat cerpen ini menjadi menarik dan berbeda dengan cerpen-cerpen lainnya dalam buku ini. Dialog-dialog antara si penulis dan perempuannya yang menggugat eskploitasi tubuh wantia dalam tulisan-tulisan si penulis melebar hingga menyinggung kesetaraan gender dalam undang-undang perkawinan. Si penulis tetap pada pendiriannya karena ketelanjangan wanita dianggapnya menarik untuk ditulis, sementara si perempuan menuntut agar si penulis menulis pemikiran, ide-ide, semangat, kesakitan yang dialami oleh wanita, bukan ketelanjangannya!

Di bagian akhir buku ini ada pula cerpen menarik yang idenya diambil dari cerpen Bonari Nabonenar yang pernah dimuat di Jawa Pos. Cerpen Lan Fang yang berjudul "Kunang-kunang di Mata Indri" ini separuhnya merupakan cerpen Bonari yang digubah untuk tujuan berkolaborasi atas persetujuan Bonari. Secara memikat Lan Fang mencampurkan cerpen Bonari kedalam cerpennya sendiri sehingga menghasilkan sebuah kisah yang menarik mengenai seorang wanita yang sedang membaca cerpen kekasihnya tentang dirinya yang dimuat di sebuah koran Minggu.

Kelima belas cerpen-cerpen dalam buku ini dibagi kedalam 3 buah bab : Siang, Malam, Pagi yang mencerminkan cerpen-cerpen Lan Fang yang memang selalu menggambarkan suasana waktu. Masing-masing sub bab tersebut dihiasi oleh puisi –puisi berbahasa Inggris yang ditulis oleh Lan Fang kecuali puisi pada bab "Malam" yang ditulis oleh Hendry van duke. Kesemua cerpen-cerpen tersebut ditulis dengan gaya Lan Fang yang khas, kisah-kisah cintanya beragam, kadang cerpen-cerpennya terangkai dengan kalimat-kalimat lancar, kadang meliuk-liuk dalam mempermainkan kalimat-kalimat indah. Hal ini membuat buku ini kaya akan cerita cinta dan ragam dalam gaya penuturannya.

Hampir seluruh cerpen dalam buku ini mengisahkan cinta pada laki-laki yang salah dan berakhir dalam kepedihan, tentunya buku ini bukan dimaksudkan hanya untuk mengharu-birukan pembacanya dan mempersoalkan keburukan pria dalam hal kesetiaan pada pasangannya, melainkan setidaknya seluruh kisah yang ada di buku ini akan membangun kesadaran pembacanya bahwa cinta haruslah tiba pada saat tepat dan berlabuh di tempat yang tepat pula.

@h_tanzil
Read more »

Liu Hulan : Jaring-Jaring Bunga



Judul : Liu Hulan : Jaring –Jaring Bunga
Judul Asli : Flower Net
Penulis : Lisa See
Penerjemah : Utti Setiawati
Penerbit : Qanita
Cetakan : I, Januari 2006
Tebal : 639 hal
Harga : Rp. 59.000,-

Lisa See, bagi pembaca cerita-cerita action-thriller nama Lisa See mungkin masih terasa asing. Padahal Lisa See, penulis wanita Amerika berdarah Cina ini termasuk novelis yang produktif. 5 buah buku telah ditulisnya, Liu Hulan : Jaring- Jaring Bunga adalah buku pertama dari tiga buku serial detektif Liu Hulan. (The Flower Net, The Interior, Dragon Bones) Novel terbarunya Snow Flower and The Secret Fan,2005 (akan diterbitkan oleh Qanita) yang mengisahkan persahabatan dua wanita Cina dan tradisi pengikatan kaki-kaki wanita Cina, banyak mendapat pujian dari para kritikus dan bertengger di daftar Best Selller sepanjang tahun 2005 di New York Times dan Los Angeles Times. Saat ini novelis yang mantan jurnalis untuk beberapa media terkenal seperti The New rok Times, Publisher’s Weekly, The Washington Post, dan lain-lain ini tinggal di Los Angeles bersama suami dan dua anak lelakinya.

Jaring-Jaring Bunga yang ditulis Lisa See pada tahun 1997 ini merupakan novel action-thriller yang dikemas dengan menarik yang menghadirkan sisi-sisi menarik kehidupan masyarakat Cina lengkap dengan sejarah masa kelam Cina pada saat-saat revolusi kebudyaan . Novel yang bersetting di dua negara besar Amerika dan Cina ini diawali dengan terbunuhnya putera seorang duta besar Amerika Bill Watson di sebuah danau beku di taman Bei Hai di dekat Kota Terlarang -Beijing. Kasus ini langsung ditangani oleh detektif wanita Liu Hulan dari kantor Kementrian Pertahanan Publik Cina. Sepuluh hari kemudian David Stark, seorang Jaksa Penuntut A.S menemukan sebuah mayat yang telah membusuk yang ditemukan dalam sebuah kapal pengangkut imigran gelap yang terapung-apung karena badai di perairan California. Mayat tersebut ternyata Guang Heng Lai – seorang Pangeran Merah anggota komunitas elit politik Cina. Setelah diselidiki ternyata dua mayat tersebut memiliki kesamaan, organ dalam kedua mayat tersebut hancur seperti bubur, dan mulut dan gigi yang menghitam.

Dua kasus ini mengidindikasikan adanya keterpautan dan menarik perhatian dua negara besar (AS dan Cina) untuk berkerjasama membongkar misteri dibalik dua pembunuhan tersebut. . Detektif Liu Hulan dari Cina dan Asisten Jaksa Penuntut Umum AS, David Stark ditugasi oleh masing-masing negaranya untuk mengusut kasus tersebut. David dan Hulan sendiri sebenarnya pernah bertemu dan menjalin asmara ketika Hulan menempuh pendidikannya di AS. Entah karena kebetulan atau disengaja David dan Hulan bertemu kembali dan cinta yang telah terkubur sekian lama seakan terungkit kembali ketika secara tidak terduga mereka harus bertugas untuk mengungkap kasus ini secara bersama-sama

David dan Hulan pun terseret dalam penyelidikan yang mulanya seperti tak berhubungan menjadi kasus yang kait mengkait dan menyeret mereka dalam konspirasi dan jalinan rumit Rising Phoenix, sebuah triad yang saat itu tak tersentuh dan berkuasa baik di Cina maupun Amerika Serikat. Untuk mengungkap kasus ini detektif Liu Hulan menerapkan metode Jaring Bunga, sebuah metode yg digunakan berabad-abad lalu. Jaring Bunga adalah jaring bulat hasil pintalan tangan yang dipasangi beban di ujung-ujungnya. Ketika jaring ini dilempar, jaring ini akan berkembang seperti bunga, mendarat di permukaan air, tenggelam ke kedalaman yang gelap dan menangkap semua yang berada dalam lingkupannya. Berkat metode ini lambat laun latar belakang terbunuhnya kedua orang terkenal tersebut terkungkap, bukan perdagangan narkoba dan penyeludupan imigran gelap ke AS yang selama ini sering menjadi dugaan kuat menjadi bisnis ilegal Triad Rising Phoenix, kasus ini mengungkap adanya bisnis ilegal yang lebih menguntungkan dibanding narkoba dan imigran gelap, yaitu perdagangan empedu beruang liar yang dipercaya berkhasiat menyembuhkan berbagai penyakit.

Setelah mengetahui latar belakang pembunuhan itu, dan menangkap salah seorang kurir yang kedapatan membawa empedu beruang, Hulan dan David mengutus seorang kurir rahasia untuk masuk ke jantung Rising Phoenix, seorang petinggi Rising Phoenix terjebak dan tertangkap basah, namun bukan berarti kasus ini selesai terungkap, beberapa pembunuhan kembali terjadi bahkan sampai mengorbankan seorang agen FBI dan seorang petugas kepolisian dari Cina. Cerita semakin menarik karena ternyata berbagai kepentingan masuk dalam kasus ini hingga akhirnya David dan Hulan sendirilah yang harus masuk ke jantung penangkaran beruang liar untuk mengungkap semua misteri ini.

Lisa See dalam novel ini menyajikan cerita gabungan antara romansa, thirller dan sepenggal sejarah Cina secara memikat. Terungkitnya kembali kisah asmara antara David dan Hulan disajikan secara proporsional bahkan melengkapi latar belakang cerita. Setting cerita antara Amerika Serikat dan Cina membuat pembacanya tidak bosan. Ditambah lagi dengan penggalan-penggalan sejarah kelam Cina dimasa Revolusi Kebudayaan membuat novel ini dapat memberikan pemahaman yang cukup tentang sejarah dan budaya Cina, terutama yang berkaitan dengan Revolusi Kebudayaan. Selain itu situasi dan perilaku masyarakat Cina pun terkesplorasi dengan baik di novel ini, sehingga melalui novel ini pembaca akan mengetahui kondisi sosial dan politik masyarakat Cina sebelum wafatnya pemimpin besar Cina Deng Xiaoping.

Novel ini tersaji dengan plot yang enak diikuti dan ketegangan yang dibangun dengan menawan, walau terdapat sisipan-sisipan budaya, sejarah, roman, dan lain-lain namun semua itu tak mengganggu kenikmatan membaca karena disajikan secara proporsional dan menjadi bagian penting dari cerita. Bisa dikatakan novel ini mencerdaskan pembacanya khususnya dalam hal sejarah dan budaya Cina. Kepiawaian Lisa See dalam menyajikan konflik-konflik yang sulit ditebak dan akhir yang mencengangkan yang dirangkai dalam kekacauan jaring-jaring politik, kejahatan terorganisasi, kesetiaan keluarga, dan lain-lain membuat novel ini masuk dalam nominasi Edgar Award untuk cerita misteri terbaik, dan masuk dalam daftar New York Times Notable Book of 1997 dan Los Angeles Best Books List for 1997.

Novel Jaring-Jaring Bunga yang memikat ini telah diterjemahkan dengan baik dan lancar kedalam bahasa Indonesia oleh penerbit qanita, sehingga bagi pembaca indonesia novel ini memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi yang dapat dapat dibaca oleh siapa saja baik oleh para penggemar novel action-thriller maupun oleh pembaca yang ingin mengetahui sisi lain kehidupan rakyat Cina, bangsa besar yang gigih mempertahankan nilai-nilainya di tengah maraknya perubahan dunia.

@h_tanzil
Read more »

Dyah Pitaloka - Senja di Langit Majapahit


Judul : Dyah Pitaloka - Senja di Langit Majapahit
Penulis : Hermawan Aksan
Penerbit : C-Publishing
Cetakan : I, Des 2005
Tebal : 326 hal ; 17.5 cm

Dyah Pitaloka, putri Prabu Linggabuana, raja negeri Sunda kerap diganggu mimpi buruk dalam tidurnya. Dalam mimpinya ia melihat matahari yang menggantung di atas cakrawala pelan-pelan terbelah menjadi dua dan mencebur bersama-sama ke dalam laut yang mendadak berwarna merah darah. Mimpi buruk itu terus mengganggunya semenjak utusan dari Majapahit datang ke Negeri Sunda.

Dimasa itu Majapahit dibawah pimpinan Raja Hayam Wuruk, telah menjadi kerajaan yang besar dan disegani diseluruh Nusantara. Peran Patih Gajah Mada dengan sumpah Palapa-nya yang terkenal membuat hampir seluruh Nusantara takluk dibawah kekuasaan Majapahit. Hanya ada satu negeri yang hingga saat itu masih merdeka dari pengaruh Majapahit, padahal negeri itu hanya dibatasi oleh sebatang aliran sungai Cipamali. Negeri Sunda! Negeri Sunda inilah yang membuat sumpah Palapa Gajah Mada belum juga tergenapi. Tak terhitung sudah berapa kali Gajah Mada berniat untuk menyerang negeri Sunda dengan pasukannya, namun selalu urung karena ia merasa ada semacam wibawa tak kasat mata yang membuatnya segan terhadap Negeri Sunda yang jika ditilik dari sejarah memang telah ada terlebih dahulu dibanding Majapahit, bahkan pendiri Majapahit sendiri memiliki darah sunda dari ayahnya. Sayangnya Gajah Mada tak mempercayai adanya hubngan darah ini sehingga ambisinya untuk menaklukkan negeri Sunda tak pernah padam.

Raja Hayam Wuruk yang saat itu hendak mencari seorang istri mengutus para juru lukisnya ke segenap penjuru nusantara untuk melukis putri-putri dari berbagai kerajaan yang kelak akan dipilihnya untuk menjadi permaisuri. Kecantikan Dyah Pitaloka di Negeri Sunda tak luput dari incaran juru lukis Majapahit. Diantara ratusan lukisan dari berbagai penjuru Nusantara, Hayam Wuruk terpikat oleh lukisan Dyah Pitaloka dan memilihnya untuk dijadikan permaisurinya. Hayam Wuruk segera mengirim utusannya untuk menyatakan niatnya. Mulanya Dyah Pitaloka tak berkenan dengan cara yang dilakukan oleh Hayam Wuruk untuk mencari permaisuri, harga dirinya sebagai seorang putri negeri Sunda terasa terlecehkan, namun ia tak kuasa melawan kehendak ayahnya, Prabu Linggabuana yang menyetujui lamaran Hayam Wuruk. Untuk itu Prabu Linggabuana dan Dyah Pitaloka diundang untuk segera berangkat menuju Majapahit guna melaksanakan pesta pernikahan.

Jika Prabu Hayam Wuruk hanya berniat mencari seorang permaisuri, lain halnya dengan Gajah Mada. Bagi dirinya pernikahan Dyah Pitaloka dengan Hayam Wuruk dilihatnya sebagai kesempatan untuk menggenapan Sumpah Palapa-nya. Dengan cerdiknya Gajah Mada mempengaruhi Hayam Wuruk agar memandang pernikahannya dengan Dyah Pitaloka sebagai suatu pengakuan kedaulatan negeri Sunda terhadap Majapahit. Dengan demikian Dyah Pitaloka dianggap sebagai "upeti" dari Negeri Sunda.

Prabu Hayam Wuruk yang rencanya akan menjemput Dyah Pitaloka dan rombongannya di Tegal Bubat akhirnya gagal. Gajah Mada merubah rencana yang telah terususun rapih. Rombongan Prabu Linggabuana dan Dyah Pitaloka yang telah tiba di Tegal Bubat heran karena Prabu Hayam Wuruk dan rombongan yang akan menjemputnya tak kunjung tiba. Dua ksatria dari Negeri Sunda diutus untuk memasuki Majapahit, mereka bertemu dengan Gajah Mada yang memerintahkan agar dan Prabu Linggabuana dan rombogannya datang sendiri ke istana Majapahit untuk menyerahkan Dyah Pitaloka sebagai "upeti" dari Negeri Sunda. Hal ini membuat Prabu Linggabuana dan seluruh rombongannya tersinggung. Harga diri dan kebesaran Negeri Sunda terasa tercabik-cabik, Prabu Linggabuna menolak perintah Gajah Mada. Perang tak terhindarkan! Pertarungan yang tak seimbang antara harga diri Prabu Linggabuna dan ambisi Gajah Mada berkembang menjadi perang yang dashyat dan melagenda, dua kekuatan tak mau menyerah begitu saja. Dyah Pitaloka yang masih menggunakan pakaian pengantinnya ikut bertarung mempertahankan negeri dan harga dirinya sebagai seorang putri Sunda. Sejarah mencatar Perang ini sebagai Perang Bubat (1357).

Sejarah adalah merupakan satu fakta, atau sesuatu yang dapat dibuktikan dengan fakta. Sejarawan ma tidak mau terikat pada fakta-fakta yang pernah terjadi: dia tidak bebas dalam penggarapan bahan-bahan sejarah itu. Akan tetapi, seorang penulis novel sejarah dapat lebih bebas menciptakan ceritanya sendiri. Hermawan Aksan dalam novel perdananya ini mencoba mengangkat fakta sejarah Perang Bubat kedalam novel ini. Tokoh-tokoh sejarah seperti Dyah Pitaloka, Gajah Mada, Hayam Wuruk, Linggabuana dan lain-lain dideskripsikan menurut versi penulisnya. Dyah Pitaloka dalam novel ini dideskripsikan sebagai seorang putri yang cantik yang haus akan ilmu dan gemar membaca kitab-kitab sastra dan mempelajari ilmu kanarugan. Dyah juga sangat peduli tentang nasib kaum perempuan di negeri Sunda dan memiliki pandangan yang jauh kedepan mengenai peran seorang putri yang dibesarkan dalam lingkungan kerajaan. Karena berada dalam area fiksi deskripsi ini mungkin sah-sah saja, namun mungkin akan menimbulkan tanda tanya bagi pembacanya, apakah mungkin seorang putri yang hidup di abad 13 telah memiliki pandangan yang jauh kedepan terutama dalam hal-hal emansipasi?

Karakter Gajah Mada yang selama ini dikenal sebagai tokoh pemersatu Nusantara dalam novel ini digambarkan sebagai seorang patih ambisius yang rela memanfaatkan cinta rajanya (Hayam Wuruk) untuk memenuhi ambisinya mepersatukan Nusantara hingga harus mati-matian memerangi Prabu Lianggabuana dalam tragedi berdarah di Tegal Bubat. Sedangkan Hayam Wuruk sendiri digambarkan sebagai raja boneka yang mudah dipengaruhi oleh Gajah Mada.

Dari segi plot cerita, novel ini disajikan dengan sangat menarik. Nampaknya Novel ini dikerjakan dengan riset yang cukup mendalam, hal ini terbukti dengan gambaran Perang Bubat yang menjadi klimaks cerita yang disajikan dengan seru dan memikat. Deskripsi kota Trowulan – Majapahit disajikan dengan cukup detail seakan mengajak pembacanya berpetualang ke ibukota Majapahit. Novel ini juga memberi pemahaman pada pembacanya terhadap tokoh Dyah Pitaloka dan kaitannya dengan Perang Bubat yang merupakan awal dari redupnya kebesaran Gajah Mada setelah kejadian ini.

Sebagai Novel Sejarah sebenarnya novel ini sangat berpotensi untuk lebih mengangkat lagi budaya Sunda dan Jawa / Majapahit, sayangnya hal ini tidak tereksplorasi dengan baik. Kurangnya sketsa kehidupan sosial masyarakat Sunda dan Majapahit membuat novel ini lebih bernuansa istana-sentris karena hanya mengungkap kejaidan seputar istana Sunda dan Majapahit. Jika saja unsur-unsur sosial dan budaya masyarakat Sunda dan Majapahit terungkap dengan baik novel ini akan menjadi novel sejarah yang gemuk yang akan mengenayngkan pembacanya.

Namun terlepas hal-hal diatas novel perdana Hermawan Aksan ini patut dihargai setinggi-setingginya karena bagaimanapun novel ini mengungkap sepenggal peristiwa sejarah yang mungkin sudah terlupakan dan hanya ditemui dalam buku-buku teks sejarah kedalam sebuah novel yang memikat dan memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi.

@h_tanzil
Read more »