Minggu, 28 Mei 2006

Sarjana koq Nanggur ?


Judul : Sarjana Koq Nanggur ?
(Rahasia Lulus Cepat dan Cepat Kerja)
Penulis : Hasan Tirta Pulung
Penerbit : Pustaka Sembada
Cetakan : I, April 2006
Tebal : 80 hlm ; 12x18 cm


Menganggur adalah hal yang paling tidak diharapkan bagi para mahasiswa yang baru saja menyelesaikan kuliahnya. Berlomba-lomba para sarjana berusaha memperoleh pekerjaan yang layak, tak jarang ada juga yang bekerja seadanya asal predikat pengangguran tak melekat pada dirinya. Yang beruntung bisa langsung bekerja sesuai dengan ilmunya, namun ada pula yang tak beruntung dan harus menganggur setelah mereka lulus dari kuliahnya. Tragisnya sarjana yang menganggur ini semakin lama semakin meningkat jumlahnya. Mengapa banyak sarjana menganggur ? Bukankah mereka telah dipersiapkan untuk menjadi ilmuwan-ilmuwan yang siap pakai untuk diterjunkan kedalam berbagai jenis pekerjaan sesuai dengan bidang mereka? Bukankah deretan iklan lowongan pekerjaan selalu dengan mudah kita temui di media-media cetak ?

Berbagai jawaban atas pertanyaan tersebut kerap menyalahkan sistem pendidikan di negeri ini yang dianggap salah dan perlu diperbaharui. Jika sistem yang salah, apa yang dapat kita lakukan ? Kita bukanlah pengambil kebijaksanaan dan sangat sulit merubah sistem pendidikan yang sudah baku. Alih-alih menyalahkan sistem yang salah tanpa bisa melakukan apapun, buku kecil ini mencoba mengajak pembacanya untuk berpikir realistis dengan cara mengubah diri sendiri tanpa harus menyalahkan sistem dan menyerah begitu saja pada keadaan yang tidak bisa kita ubah.

Buku ini terdiri dari 3 bagian besar yang terdiri dari 9 bab. Bagian pertama : Seputar Pengangguran yang terdiri dari 4 bab mengurai bagaimana pengangguran adalah hantu bagi semua orang, khususnya para sarjana. Pada bab ini penulis menyajikan angka-angka dari media massa yang menyatakan semakin tingginya tingkat pengangguran dan tak sedikit sarjana yang ikut menyumbang jumlah angka pengangguran tersebut.

Selanjutnya dibahas mengapa banyak sarjana menganggur. Penulis menguraikan beberapa penyebabnya antara lain, salah memilih jurusan, berlama-lama di kampus / mahasiswa abadi, terganjal Indeks Prestasi, dan tidak mau mencari kerja dibidang diluar disiplin keilmuannya. Di bab ini pembaca akan menyadari bahwa penyebab sarjana menganggur adalah sebenarnya berasal dari diri sendiri.

Bagian Pertama buku ini juga membahas secara tersendiri masalah PNS yang selama ini dianggap sebagai solusi agar seseorang tidak menganggur serta memiliki masa depan yang terjamin, padahal setelah dicermati mendaftar sebagai PNS yang prosedural dan tidak mudah itu bukanlah solusi terbaik untuk menghindari diri dari pengangguran.

Di Bagian Kedua : Rahasia Lulus Cepat, buku ini antara lain menyajikan beberapa tips agar lulus cepat, antara lain menyiasati salah jurusan saat kuliah, trik agar tidak berlama-lama di kampus dan trik meraih Indeks Prestasi (IP) yang "Layak Jual" dimata perusahaan yang mencari tenaga kerja. Dalam menyiasati salah jurusan, penulis mengungkapkan bahwa salah memilih jurusan bukanlah akhir dari segalanya, hal ini bisa disiasati dengan berusaha mengincar mata kuliah mana yang bisa dikembangkan dan memberi peluang pada masa depan. Selain itu bisa juga dengan mengembangkan hobi dengan mengikuti unit kegiatan mahasiswa seperti kesenian, olah raga, dll.

Dalam menyiasati agar tidak berlama-lama di kampus, penulis menyarankan agar mengambil cara yang paling umum dan mudah yaitu mengambil semester pendek. Jika tidak menyediakan fasilitas semester pendek, penulis menyarankan agar meraih nilai C minimal untuk setiap mata kuliah..

Di bagian ketiga : Seputar Lowongan Kerja yang merupakan bagian akhir dari buku ini diungkap bagaimana mencari sumber lowongan, memilih iklan lowongan pekerjaan dan bagaimana cara mengirim surat lamaran.

Secara keseluruhan buku menarik untuk disimak bagi para sarjana dan calon sarjana atau bagi para orang tua yang memiliki anak yang sedang kuliah, tips-tipsnya praktis dan berdasarkan pengalaman penulisnya sehingga sudah teruji dan mudah diterapkan. Tidak ada kalimat-kalimat yang bertele-tele dalam buku ini, semuanya tersaji dengan singkat dan padat karena tampaknya tips-tips dan uraian pemikiran penulis dalam buku ini tersaji untuk segera diterapkan oleh pembacanya.

Kritik untuk buku ini mungkin hanya pada pengemasannya, buku ini dikemas dengan sangat sederhana , cover hitam putih dan ilustrasi dan tipografi judul yang seadanya mungkin membuat buku ini tidak ‘eye catching’. Namun mungkin karena buku ini diterbitkan secara swadaya (penerbit ‘indie’) dan kesederhanaan pengemasannya dimaksudkan untuk menekan ongkos produksi buku agar terjangkau oleh kantong mahasiswa kehadiran buku ini patut diberikan apresiasi yang positif

Terlepas dari masalah cover yang tidak menarik, buku ini sangat layak dibaca oleh para maasiswa dan bukan berlebihan rasanya jika para calon sarjana sebaiknya membaca buku kecil ini karena buku ini ditulis secara khusus untuk membuka cara berpikir sekaligus memberikan cara-cara praktis agar para calon sarjana cepat lulus dan segera memperoleh pekerjaan.

@h_tanzil
Read more »

Minggu, 21 Mei 2006

To Kill A Mockingbird


Judul : To Kill A Mockingbird
Penulis : Harper Lee
Penerjemah : Femmy Syahrani
Penyunting : Berliani Mantili Nugrahani
Penerbit : Qanita
Cetakan : I, Maret 2006
Tebal : ix + 568 hlm

Manusia sangat mudah berprasangka terhadap sesamanya. Cap buruk yang terlanjur melekat pada pribadi atau sekelompok masyarakat akan terus mereka bawa seumur hidup mereka. Meskipun banyak hal positif yang telah mereka lakukan, namun prasangka buruk dari orang lain akan tetap membuat mereka dianggap sebagai pribadi atau kelompok yang buruk dan layak disingkirkan.

Novel klasik karya Harper Lee ini mengisahkan bagaimana prasangka umum yang buruk terhadap pribadi ataupun kelompok masyarakat tertentu tidaklah seutuhnya benar. Bahkan, dari yang dianggap buruklah justru nilai-nilai kemanusiaan dan kasih sayang sejati tumbuh.

Novel ini menceritakan penggalan kehidupan masa kanak-kanak dua kakak beradik tak beribu, Jem dan Scout. Seting ceritanya berkisar di Maycomb County, Alabama, pada tahun 1930-an. Maycomb County adalah sebuah kota kecil tempat hampir semua penduduknya saling mengenal. Di kota inilah Jem dan Scout tinggal besama ayah mereka, Atticus Finch, seorang pengacara di Maycomb County, dan seorang pembantu kulit hitam mereka, Calpurnia.

Scout, seorang anak perempuan tomboi berumur 8 tahun, adalah penutur dalam kisah ini; seluruh cerita dilihat dan diutarakan menurut sudut pandangnya. Bab-bab awal novel ini mengisahkan bagaimana Jem, Scout, dan sahabat mereka, Dill, mencoba mengusik Boo Radley, tetangga aneh mereka yang hampir tidak pernah keluar rumah. Seluruh penduduk Maycomb menganggap Boo Radley adalah sosok misterius; berbagai desas-desus buruk dan mengerikan beredar menyelimuti Boo sehingga rumah dan pekarangan Boo menjadi bagian yang paling mengerikan bagi anak-anak. Setiap kali mereka melewati pekarangan keluarga Radley, mereka harus berlari atau jalan memutar karena takut bertemu dengan Boo.

Namun bagi Dill, kemisteriusan Boo justru menjadi permainan yang mengasyikan. Dia, bersama-sama dengan Jem dan Scout, menciptakan semacam permainan untuk mengolok-olok keluarga Radley, mulai dari menciptakan drama yang mereka karang sendiri, hingga tantangan untuk mengusik Boo dengan menyentuh pintu rumah Radley, yang konon siapa pun yang berani menyentuhnya akan celaka.

Keceriaan Jem dan Scout terusik ketika ayah mereka menjadi pembela seorang pemuda kulit hitam, Tom Robbinson, yang dituduh memerkosa gadis kulit putih bernama Mayella Ewell. Bagi masyarakat Maycomb, warga kulit hitam adalah warga kelas dua yang dianggap sampah masyarakat dan selalu mendapat prasangka buruk sebagai kaum kulit berwarna yang selalu membuat masalah. Kecaman datang pada keluarga Finch dari seluruh penjuru kota. Scout dan Jem pun tak luput dari ejekan teman-temannya yang mengatakan ayah mereka adalah pecinta ‘nigger’. Tak hanya dari lingkungan sekitarnya, Atticus pun mendapat tantangan dari kakaknya sendiri, Alexandra, yang saat itu tinggal bersama mereka.

Walau mendapat banyak kecaman dan tantangan, Atticus tetap melaju. Sebagai pengacara Tom Robinson, dengan bijak Atticus menasihati Jem dan Scout bahwa mereka tak perlu merasa malu karena dirinya membela seorang pemuda kulit hitam, malahan ia menyarankan agar Jem dan Scout tetap berjalan dengan ‘menegakkan kepala" mereka dan tidak membalas dengan kekerasan jika mereka menerima cemoohan lagi.

Pengadilan kasus ini mendapat perhatian yang besar dari peduduk kota Maycomb, tak ketinggalan Jem dan Scout ikut menghadirinya. Atticus dengan piawai mengemukakan berbagai fakta, yang sebenarnya tak dapat disangkal, bahwa kliennya tidak bersalah, namun seorang negro tetaplah sampah bagi masyarakat Maycomb; prasangka buruk terhadap kaum negro tak dapat dipatahkan oleh sejumlah fakta. Dari sinilah si kecil Scout yang menyaksikan secara langsung proses pengadilan itu melihat bahwa kehidupan tak melulu hitam dan putih. Bahwa prasangka seringkali membutakan manusia sehingga keadilan tidak bisa ditegakkan dengan sempurna.

Karakter-karakter menawan diciptakan Harper Lee dalam novel ini. Tokoh Scout yang tomboi dan polos menjadi menarik karena dari sudut pandangnyalah seluruh kisah dalam novel ini dibangun. Kepolosan dan keberanian Scout bahkan mampu menyelamatkan nyawa ayahnya dari sekawanan penyerang yang ingin menggagalkan usaha Atticus menjadi pembela Tom Robinson.

Jem Finch digambarkan sebagai figur seorang kakak yang beranjak dewasa dan berusaha menjadi seperti ayahnya. Sementara figur Atticus Finch digambarkan sebagai seorang ayah yang tegas, bijak, dan berpegang teguh pada kebenaran. Ketika Jem memiliki peluang untuk menjadi tersangka karena kasus terbunuhnya Bob Ewell, Atticus tanpa ragu menyatakan bahwa anaknya memiliki kemungkinan bersalah. Namun, dibalik keteguhan dan kekerasan padangannya itu Atticus adalah figur ayah yang sangat menyayangi dan melindungi anak-anaknya dan tak ragu untuk memberi belaian kasih sayang ketika mereka memerlukannya.

Tokoh-tokoh lain yang tak kurang signifikan dalam novel ini adalah Tom Robinson, seorang pemuda negro yang harus menjadi tersangka dalam kasus penganiayaan, Boo Radley tokoh misterius yang akan memberikan pelajaran kepada pembacanya mengenai buruknya sebuah prasangka, dan masih banyak lagi tokoh lain dan kisah menarik yang dialami Scout dan Jem dalam novel ini. Awalnya, pembaca mungkin akan dibingungkan dengan banyaknya tokoh dan kisah yang tersaji dalam novel ini, namun pembaca yang cermat akan segera memahami bahwa kehadiran para tokoh dan ragamnya kisah yang dialami Scout dan Jem bukanlah hal yang sia-sia dimunculkan.


Tampaknya Harper Lee sengaja menghidupkan banyak tokoh dalam novel ini untuk menggiring pembacanya menyelami berbagai karakter manusia dan mengajak pembaca memahami bagaimana Scout dan Jem menyerap nilai-nilai kehidupan dari lingkungan sekitarnya dalam proses pendewasaan mereka.

Novel yang berbicara mengenai prasangka dan kasih sayang ini kini bisa dinikmati oleh pembaca tanah air. Walau tema yang diusung sesungguhnya berat, namun karena disampaikan dengan ringan dan diceritakan dari sudut pandang seorang anak kecil, ditambah dengan terjemahan yang lancar dan baik, membuat novel ini memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi. Walau buku ini baru diterjemahkan setelah 45 tahun sejak buku aslinya diterbitkan, namun sebenarnya tak ada kata terlambat bagi publik buku tanah air untuk mengapresiasi kehadiran novel yang sarat pesan moral ini.

Novel perdana dan satu-satunya dari Harper Lee ini pertama kali ditulis pada 1960 dan langsung menjadi best seller. Pada tahun 1961, novel ini memperoleh penghargaan Pulitzer Prize. Hingga kini, novel ini terus memperoleh apresiasi yang baik dari masyarakat dunia, salah satunya lembaga Library Journal di Amerika, yang dalam poolingnya pada tahun 1999 memilih novel ini sebagai "Novel terbaik Abad ini". Predikat ini rasanya tak berlebihan, novel ini sarat dengan pesan moral namun tersaji dengan menarik sehingga pembaca tidak merasa seperti digurui, selain itu tema yang diangkat masih relevan hingga kini, khususnya bagi masyarakat Indonesia yang kini kerap berprasangka buruk terhadap kelompok-kelompok tertentu yang tak sepaham dengannya dan tak jarang diekspresikan dalam tindakan main hakim sendiri yang semena-mena dan anarkis.

@h_tanzil
Read more »

Senin, 15 Mei 2006

Fight Club


Judul : Fight Club
Penulis : Chuck Palahniuk
Penerjemah : Budi Warsito
Editor : Kurniasih
Penerbit : Jalasutra
Cetakan : 2006
Tebal : x + 285 hlm


Fight Club adalah novel ganjil yang memikat. Novel ini mengisahkan tentang tokoh naratornya “Aku”, seorang pemuda biasa yang sehari-harinya bekerja sebagai pengawas kelengkapan produk. Hal ini menyebabkan dirinya harus bepergian keberbagai negara melintasi zona waktu. Selain dirinya bosan dengan kejenuhan rutinitas kerjanya, dan akibat dari seringnya bepergian melintasi zona waktu, ia menderita insomnia akut. Dokternya menyarankan untuk bergabung dalam support group atau kelompok sharing untuk orang-orang yang mengalami masalah dengan kesehatannya. Maka “Aku” pun mengikuti berbagai macam supprot group mulai dari kanker testis, TBC, kanker otak, dll. Ia pun harus berbohong dengan seolah-olah menjadi salah satu penderita dari berbagai supprot group yang ia ikuti. Nama dirinya pun berganti-ganti tiap ia mengikuti supprot group yang berbeda.


Dalam sebuah penerbangan, ‘Aku’ bertemu dengan sosok Tyler Durden yang menyarankan agar tak hidup dalam kebohongan dan menganjurkan untuk mengikuti Fight Club, sebuah pertandingan tinju rahasia yang diadakan di ruang bawah tanah bar setelah tutup. Dalam Fight Club, para pria saling mengeluarkan sisi agresivitas dan kekasaran mereka. Aturannya adalah bertinju seorang demi seorang hingga babak belur hingga ada yang menyerah. Dan satu hal yang harus dipegang oleh anggota Figt Club yaitu : Jangan bicara tentang Fight Club! Menutur Tyler dengan bertarung hingga babak belur maka seluruh beban dalam hidup akan terlepas.


Lambat laun anggota Fight Club semakin berkembang, bahkan banyak orang-orang dalam kehidupan tokoh ‘Aku’ ternyata adalah anggota Fight Club. ‘Aku’ kembali mengalami kejenuhan, sosok Tyler yang juga berniat untuk menggulingkan peradaban, kemudian membuat proyek baru yang sebagian besar terdiri dari para anggota Fight Club, nama proyek tersebut Project Mayhem yang salah satu kegiatannya membuat sabun dari lemak manusia yang dicuri dari pembuangan limbah rumah sakit. Project Mayhem ini nantinya akan berkembang menjadi proyek yang melakukan tindakan-tindakan penghancuran gedung, toko-toko, dan tindakan-tindakan anarkis lainnya.



Alur Novel Fight Club ini tersaji secara cepat, beberapa ide-de gila tersaji secara detail sehingga membuat pembaca novel ini tersentak kaget. Misalnya pembuatan sabun dari lemak manusia, membuat bom dari jus jeruk, menghancurkan sebuah apartemen, dll, hal yang menjijikkan juga terungkap seperti bersin diatas masakan, mengencingi dan memuncratkan sprema diatas sup hangat yang siap dihidangkan dan sebagainya. Ide-ide gila yang dilakukan ‘Aku’ dan Tyler baik dalam Fight Club maupun Project Mayhem ini tampaknya adalah akibat dari kemarahan tokoh Aku dan Tyler pada kehidupan dunia yang penuh dengan kegagalan dan kebohongan. Dan juga sebagai solusi untuk mendobrak tatanan sosial yang sudah mapan yang membuat pribadi-pribadi menjadi hidup dalam kebosanan.


Novel yang ditulis oleh Chuck Palahniuk ini memang novel yang ganjil, Chuck termasuk dalam jajaran penulis Generation X, sebutan untuk generasi muda dari novel yang diusung Gouglas Coupland pada awal era 90-an. Namun Chuck menulis dengan gayanya sendiri, ia menulis apa yang disebut orang sebagai gejala edgy (sesuatu yang sebaiknya tidak untuk ditebak), memiliki gaya pemberontakan yang khas dan serba ‘ngaco’ (hlm.x).
Mungkin karena gaya menulis inilah yang membuat banyak pembaca novel ini sedikit kesulitan untuk memahaminya. Belum lagi ditambah pengalihbahasaan yang setidaknya memiliki distrosi dari karya aslinya. Suatu langkah berani dari penerbit Jalasutra untuk mengalihbahasakan novel ganjil ini.


Novel ini pertama kali beredar pada tahun 1996 dan langsung mendapat sambutan yang luar biasa. Dalam dua pekan novel ini sudah laku sebanyak 500.000 ekslempar. Bahkan karya ini diakui sebagai karya klasik underground dan salah satu novel yang paling orisinal dan provokatif di tahun 1990-an. Kesuksesan novel ini membuat Fight Club dibuat versi layar lebarnya arahan sutradara David Fincher pada tahun 1999 yang dibintangi oleh Brad Pitt dan Edward Norton. Setelah filmnya meraih sukses, Fight club segera diadaptasi ke berbagai produk pop culture seperti acara televisi, video game, musik, dll.


Walau menuai sukses dan memperoleh dua penghargaan dari Pacific Northwest Booksellers Association Award dan Oregon Book Award for Best Novel pada tahun 1997. Novel ini juga menuai kritik dari beberapa akademisi dan para pengamat kebudayaan Amerika yang antara lain mengatakan bahwa novel ini mempopulerkan budaya “self destructive” yang dianggap akan berpengaruh pada para pembacanya.


Akhirnya terlepas dari baik buruknya novel ini, yang pasti melalui novel ini pembaca akan disadarkan bahwa tatanan sosial yang mapan tidak menjamin seluruh masyarakat didalamnya akan terpuaskan. Akan muncul pribadi-pribadi yang bosan dengan kemapanan karena hidup menjadi statis, hal ini akan melahirkan sekelompok masyarkat yang mencoba mendobrak hidupnya yang terkurung dan bodoh dengan bermain-main dengan ide gila yang liar tanpa batasan dan kendali.


@h_tanzil
Read more »

Jumat, 05 Mei 2006

Berjuta-Juta dari Deli - Satoe Hikajat Loeli Contract


Judul : Berjuta-juta dari Deli
Satoe Hikajat Koeli Contract
Penulis : Emil W. Aulia
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : I, 2006
Tebal : viii + 261 hlm

Persoalan kaum buruh dan pengusaha sepertinya tak pernah berakhir. Kaum buruh selalu menuntut agar mereka memperoleh upah dan fasilitas yang layak, sementara untuk kelangsungan perusahaannya, para pengusaha berusaha membayar tenaga kerja buruh seminimal mungkin untuk menekan ongkos produksi mereka.

Jika kita menarik ke belakang ternyata sejak jaman pemerintahan kolonial Belanda masalah buruh sudah menjadi persoalan, apalagi pada saat itu hampir dikatakan tidak ada lembaga-lembaga atau serikat-serikat buruh yang peduli dan memperjuangkan nasib mereka. Seperti apa nasib kaum buruh pada masa itu ? Novel ini setidaknya memberikan sebagian dari apa yang dialami para buruh Jawa ketika mereka dijadikan kuli kontrak di Deli-Sumatera Timur.

Berjuta-juta dari Deli adalah novel yang ditulis berdasarkan sebuah brosur yang ditulis oleh Johanes Van den Brand pada awal abad ke-20. Van den Brand adalah tokoh pembela kaum pribumi di masa kolonial Belanda. Namanya masih kalah populer dibanding Multatuli (Douwes Dekkker) dan Van de Venter. Namun sejarah mencatat bahwa di awal abad 20 Ven den Brand pernah menggegerkan pemerintahan Belanda melalui tulisannya yang mengungkap perlakuan tak manusiawi para pengusaha perkebunan tembakau di Deli terhadap para kuli kontraknya. Tulisan ini dikemas dalam sebuah brosur berjudul " Millioenen uit Deli (Berjuta-juta dari Deli)".

Van den Brand adalah seorang advokat yang tinggal di Medan dan melihat secara langsung derita kuli-kuli kontrak di perkebunan tembakau di Deli. Berdasakan apa yang dilihatnya dan didukung oleh data-data tertulis yang ia kumpulkan dari berbagai media yang terbit dimasa itu, Van Den Brand dengan penuh keberanian menentang sengit penale sanciate (aturan hukum bagi kuli-kuli yang bekerja di perkebunan) yang dibuat oleh pemerintahan kolonial Belanda di wilayah tersebut. Ia melihat bahwa aturan ini hanya menguntungkan pemilik-pemilik perkebunan secara sepihak dan menyengsarakan kuli-kuli kontrak yangmenyebabkan mereka kehilangan kebebasan dan harkat manusianya selama menjadi kuli kontrak.

Brosur Millioenen uit Deli setebal 71 halaman diterbitkan pada tahun 1902 di Belanda. Brosur yang memprotes diberlakukannya penale sanciate dan juga mengurai derita dan skandal perbudakan yang dialami ribuan kuli kontrak asal Jawa yang berkerja di perkebunan tembakau milik swasta Belanda di Deli – Sumatera Timur ini tentu saja menggegerkan kedamaian negeri Belanda. Brosur ini mendapat perhatian dari Majelis Rendah Belanda (Tweede Kamer) yang langsung membahasnya dalam sidang-sidangnya. Pihak oposisi menjadikan isu kekerasan yang dialami kuli untuk menekan pemerintah. Hubungan Belanda dengan negara-negara tetangganya juga terganggu, beberapa negara mengecam kekerasan yang terjadi di Deli dan mengancam akan memutuskan hubungan dengan Belanda jika isi dari brosur itu benar adanya.

Perjuangan Van den Brand tidaklah mulus, pihak-pihak yang merasa kedudukannya terancam akibat terungkapnya kebobrokan di Deli tidak tinggal diam. Tuan-tuan perkebunan di medan dan pejabat-pejabat Belanda bersatu mengucilkan dirinya. Mereka menuding Van den Brand menyebar fitnah, tidak patriotik, hanya mencari popularitas dan melawan pemerintahan Belanda. Meski demikian Van den Bran tetap pada pendiriannya, ia kembali menulis brosur: Nogs Een : Millioenen uit Deli (Sekali Lagi : Berjuta-juta dari Deli : 1903). Di brosur keduanya ini Van den Brand menyerang balik pihak-pihak yang menentangnya. Akhirnya kegigihannya membuahkan hasil, pemerintah kolonial melahirkan sejumlah perubahan yang walau mungkin tak seusai dengan yang diharapkannya, namun setidaknya suara kaum kuli kontrak yang selama ini tak terdengar menjadi menggaung dimana-mana. Karena jasa-jasanya surat kabar "Harian Batak" yang terbit di Tapanuli menyebut Van den Brand sebagai "Bapak Kuli Kontrak". Sayangnya nama Van den Brand tampaknya terlupakan oleh masyarakat Indonesia bahkan namanya bisa dikatakan tidak tercatat dalam buku-buku pelajaran sejarah di sekolah-sekolah.

Perjuangan Van den Brand yang terlupakan ini rupanya menggugah jurnalis kelahiran Kubang Putih, Bukittinggi, Sumatera Barat , Emil W. Aulia, untuk menuliskan sebuah novel berdasarkan brosur De Millioenen uit Deli. Walau dikemas dalam bentuk novel yang tentu saja tak terlepas dari kebebasan imajinasi penulisnya, novel ini layak dijadikan sumber rujukan untuk mengetahui nasib kaum kuli kontrak di awal abad 20 yang sarat dengan derita.

Bisa dikatakan novel ini adalah gambaran yang lebih detail dari apa yang dituangkan oleh Ven den Brand dalam brosurnya. Novel setebal 259 halaman ini dibagi kedalam 26 bab plus prolog dan epilog. Pembagian bab-babnya dibuat secara sistematis sehingga pembaca akan diajak menelusuri jejak pengalaman kelam para kuli kontrak mulai dari bujuk rayu makelar pencari kerja, derita kuli kontrak dalam kesehariannya, kehidupan para pengelola perkebunan hingga perjuangan Van den Brand dalam memperbaiki nasib kuli kontrak.

Para kuli kontrak yang bersal dari Jawa umumnya terbujuk oleh mulut manis makelar pencari kerja yang dengan mahir mempengaruhi penduduk desa agar mau dijadikan kuli kontrak. Mereka diming-imingi hal yang menarik bahwa di Deli mereka akan menemukan , pohon yang berdaun uang, ronggeng, wayang kulit, dll. Para penduduk desa yang miskin tentu saja tertarik untuk dijadikan kuli kontrak. "Deli mengganggu tidur malam mereka…Tak sabar mereka ingin melihat langsung, merasakan, meraba, merengkuh semua pesona negeri ajaib itu. Uang yang berlimpah, wayang kulit…arak…emas…perempuan-perempuan ronggeng…Ah, apa yang lebih penting dari semua ini?…hlm 10. Ironisnya apa yang dijanjikan dan mereka impikan itu tak menjadi kenyataan, mereka malah menemui berbagai penderitaan di Deli.

Seluruh proses mulai dari keberangkatan, situasi di kapal dan kedatangan para kuli kontrak itu di perkebunan terekam dengan jelas di novel ini. Sesampai di pelabuhan mereka segera diharuskan membubuhkan cap jempol mereka pada secarik kertas yang isinya tidak mereka mengerti karena toh mereka tidak bisa membaca. Seketika itu mereka dihadapkan pada kenyataan yang pedih, mereka bertemu dengan sosok-sosok asing yang menggenggam kehidupan mereka. Jiwa dan raga para kuli-kuli kontrak itu telah ikut tergadai!.

Di perkebunan derita para kuli kontrak semakin menjadi, kehidupan mereka diatur oleh bunyi suara kentongan. Kentongan bangun pagi, istirahat siang, tidur malam, dll. Novel ini secara memikat mengungkap apa yang terjadi selama waktu-waktu terebut. Di sela-sela kerja dan istirahat para kuli kontrak, kerap terjadi tindak kekerasan yang tak manusiawi baik dari para mandor maupun Tuan Besar perkebunan. Setiap kuli yang melakukan kesalahan akan mendapat pukulan, tendangan, cambukan. Tak peduli kuli pria ataupun wanita, semua mendapat hukuman keji. Seorang kuli wanita yang tak mau diajak ‘main’ oleh Tuan Asisten Perkebunan harus mendapat siksaan disalib seperti Kristus. Dijemur dalam keadaan telanjang selama berhari-hari dari matahari terbit hingga terbenam. Tidak hanya itu saja "Opas-opas pribumi itu mencambuki pinggulnya dengan tali sanggurdi. Tentu, perempuan itu meruang-raung kesakitan. Belum puas, opas-opas itu kemudian menggosok kemaluannya dengan lada yang ditumbuk halus. Raung perempuan itu semakin menjadi-jadi." (hlm 73).

Selain mengungkap derita para kuli kontrak, novel ini juga mengungkap praktek pelacuran, perjudian, dan madat yang terjadi di perkebunan. Setiap akhir bulan setelah masa gajian para kuli dibiarkan terpikat ke dalam perjudian, masuk dalam bilik-bilik pelacuran dan rumah candu agar mereka menghabiskan upah mereka hingga harus meminjam uang kepada mandor perkebunan dengan bunga yang mencekik. Dengan begitu para kuli akan terbelit oleh hutang yang tak terbayarkan sehingga mau tidak mau mereka harus terus memperpanjang kontrak kerja mereka. Jika mereka kabur, para penduduk asli siap menangkap mereka untuk memperoleh imbalan yang besar dari pengelola perkebunan. Para kuli yang kabur diburu bak binatang buruan, ketika tertangkap mereka akan diikat dan dibawa ke perkebunan dengan tangan dan kaki diikat pada sebilah kayu layaknya seekor babi hutan.

Upah yang diterima para kuli wanita lebih kecil dibanding kuli pria. Secara teoritis upah yang diterimanya tak memungkinkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Hal inilah yang membuat praktek pelacuran mau tak mau harus mereka jalani. Yang mungkin agak beruntung adalah mereka yang memiliki wajah yang cantik dan terpilih oleh Tuan Besar untuk menjadi Nyai. Dengan menjadi Nyai mereka bisa merasakan kehidupan yang mewah, namun masa depan merekapun tak pasti karena begitu ketahuan hamil, maka merekapun akan terusir dari hadapan Tuan Besar.

Setelah diajak melihat derita para kuli kontrak, pembaca akan diajak melihat bagaimana kehidupan kaum para Tuan Kebun. Mereka bak raja kecil, hidup dalam pesta pora dan hidup yang mewah. Ketika mereka sedang beristirahat di beranda istana kecilnya dan lewatlah sekelompok kuli, maka "serentak mereka menurunkan badan-berjongkok dan kepala menekuk. Dengan lutut hampir menyentuh dada, pelan-pelan mereka menyeret langkah. Semua berlangsung dalam kepasrahan yang utuh…."(hlm 207). Setelah mereka melewati sang Tuan Besar barulah para kuli itu berdiri kembali dan menegakkan punggung mereka.

Para Tuan Besar pengelola perkebunan memang dididik untuk menjadi raja kecil yang otoriter, mereka tak harus mengetahui seluk beluk menanam dan merawat tembakau. Hal terpenting bagi mereka adalah : Bagaimana membuat kuli-kuli itu tunduk! Karena bagi mereka bahasa yang dimengeri oleh para kuli adalah bentakan dan makian. "Yang diperlukan bukan kata-kata menjelaskan, melainkan memerintah. Lengkap dengan bentakan dan makian. Hanya bahasa macam itu yang mereka mengerti"…(hlm. 155)

Setelah menyelami derita para kuli kontrak barulah di bab-bab terakhir pembaca akan diajak mengikuti sepak terjang Van den Brand dalam memperjuangkan misinya untuk mengungkap derita kaum kuli kontrak dan menegaskan bahwa kebijakan Poenale Sanciete tidak boleh dipertahankan karena aturan itu melegalkan terjadinya perbudakan dan membuat tindakan-tindakan tidak manusiawi menimpa para kuli kontrak.

Di bagian ini akan terungkap bagaimanaVan den Brand yang banyak mendapat tantangan dari pengelola perkebunan dan pejabat kolonial Belanda tak menyerah begitu saja, namun terus berjuang untuk kepentingan kaum kuli kontrak yang sebenarnya tak ada sangkut paut dengan kehidupannya.

Walau sebagian besar novel ini berisi kisah-kisah yang memilukan dan banyak mengungkap kekerasan yang dialami kaum kuli kontrak, novel ini dikemas dalam kalimat-kalimat yang indah, ketepatan penulis dalam memilih kalimat yang memukau untuk mengungkap derita para kuli kontrak membuat novel ini menjadi seimbang karena muatan kekerasan dalam novel ini diimbangi dengan untaian kalimat-kalimat yang indah.

Nama tokoh-tokoh Belanda yang muncul dalam novel ini bukanlah fiktif, mereka pernah pernah hidup dan menjadi pelaku sejarah. Selain itu kutipan-kutipan dari berbagai literatur di awal abad ke-20 membuat aroma sejarah novel ini sangat terasa sekaligus menyatakan bahwa novel ini bukanlah kisah fiksi semata, namun dikerjakan berdasarkan penggalan peristiwa sesungguhnya yang diperoleh dari riset literatur yang serius.

Beberapa ilustrasi yang memuat iklan/selebaran tenaga kerja di awal abad 20 juga turut menghiasi novel ini. Sayangnya novel ini tak menyertakan foto para kuli kontrak, scan cover atau beberapa halaman asli dari brosur De Millioenen uit Deli yang dijadikan sumber buku ini. Walau bukan buku teks sejarah namun pemuatan repro beberapa halaman brosur dan foto-foto tentunya bukan hal yang tabu dan tentunya akan menambah bobot sejarah dari novel ini.

Akhirnya usaha Emil W. Aulia dalam menulis novel ini patut dihargai setinggi-tingginya baik oleh kalangan sejarahwan maupun oleh kalangan pembaca umum karena berhasil mengungkap perjuangan seorang tokoh kemanusiaan asal Belanda "Bapak Kuli Kontrak" yang selama ini namanya terlupakan dan terkubur dalam buku-buku sejarah Indonesia.

@h_tanzil
Read more »

Rabu, 03 Mei 2006

OBITUARI


OBITUARI

oleh : Amarzan Loebis

Pramoedya, Jejak Langkah ituPujangga itu wafat pada usia 81 tahun. Meninggalkan 50-an buku yangditerjemahkan ke lebih dari 41 bahasa.-------

JAKARTA tak menentu, Sabtu malam itu. Hujan turun sebercak-sebercak,gerimis di sini, lebat di sana. Dari telepon seluler ke teleponseluler bersimpang-siur pesan kisruh: "Pramoedya Ananta Toerberpulang.. Maaf, Pram masih segar-bugar.. Kritis, memang, bernapaspakai oksigen, tapi malah minta rokok.." Akhirnya, pada....,Pramoedya, "pujangga" itu, berangkat menghadap Khaliknya.

Sampai saat wafatnya, Pram, pengarang sekitar 50 buku yang sudahditerjemahkan ke dalam lebih dari 41 bahasa, seperti memilih tidakmenempuh "cara biasa". Beberapa hari sebelumnya ayah sembilan anak dankakek 16 cucu itu terjatuh di rumahnya yang jembar di Desa WaringinJaya, Bojong Gede, Bogor, sekitar 50 kilometer dari Jakarta arah keselatan. Ia dilarikan ke Rumah Sakit St. Carolus di Jakarta Pusat.

Tapi, siapa pun di antara orang dekatnya pasti tahu: Pram tak pernahsuka pada rumah sakit. "Saya sudah lelah dirawat di rumah sakit,"katanya, dua tahun lalu. Ketika itu, selain gangguan jantung dandiabetes, ia mulai mengalami masalah ginjal. Pram lebih percaya pada"pengobatan" yang ditekuninya dengan cara sendiri: menyantap bawangputih tak putus-putusnya.

Dilahirkan di Blora, Jawa Tengah, 6 Februari 1925, anak sulung darisembilan bersaudara ini seperti memang ditakdirkan untuk menjadipengarang. Dari ayahnya, Moh. Toer, seorang guru-nasionalis, Pram diperkenalkan dengan dunia pustaka. Sejak usia delapan tahun ia sudah biasa membaca koran dalam bahasa Belanda, Melayu, dan Jawa. "Orang tua saya mempunyai perpustakaan yang cukup besar untuk ukuran kota kecil,"kata Pram sekali waktu.

Menurut pengakuannya, Pramoedya sudah menulis sejak di bangku SD BoediOetomo di Blora. Tapi, cerita pendeknya yang pertama, Kemana, barutersiar melalui majalah Pantjaraja, pada 1947. Pada tahun yang sama pula terbit novelnya, Krandji-Bekasi Djatuh. Dari judul ini mudah ditebak: Pram terlibat dalam perang kemerdekaan. Ia bertugas sebagai perwira perhubungan di Divisi Siliwangi.

Pram kemudian ditahan Belanda, 1947-1949. Ia mendekam di penjara BukitDuri, Jakarta, dan pernah menghuni Pulau Onrust di Kepulauan Seribu.Pada masa inilah ia menulis kumpulan cerita pendek Pertjikan Revolusidan novel Perburuan--yang kelak memenangi Hadiah Balai Pustaka. Keluardari penjara, Pram menulis Mereka Jang Dilumpuhkan, Tjerita dari Blora(memenangi Hadiah Badan Musjawarah Kebudajaan Nasional 1952-1953), dan Bukan Pasar Malam.

Sejak itu Pramoedya Ananta Toer tercatat di antara sastrawan gardadepan negeri ini. Pada 1953, atas undangan Lembaga Kerja SamaKebudayaan Indonesia-Belanda, Sticusa, ia bermukim di Negeri Belanda bersama istrinya, Maemunah Thamrin. Tapi, tahun-tahun yang menyusul kemudian merupakan masa gemuruh tak kunjung teduh dalam kehidupan Pram.

Lewat Kongres Nasional I Lembaga Kebudayaan Rakyat di Solo, JawaTengah, pada 1959, Pramoedya Ananta Toer mengumumkan pergabungannyadengan Lekra. Pram kemudian mengasuh ruangan kebudayaan Lentera di harian Bintang Timur, Jakarta, yang berhadap-hadapan dengan parapenanda tangan Manifes Kebudayaan.

Gempa politik 1965 membawa akibat panjang pada kehidupan Pram dan keluarganya. Rumahnya dirampas, perpustakaannya dijarah dan dibakar,dia sendiri kemudian ditangkap, dan pada 1969 dibuang ke Pulau Buru,Maluku. Di sinilah ia sekali lagi membuktikan: ia memang dilahirkan untuk menjadi pengarang.

Di atas kertas-kertas bekas yang dijilid serupa buku tulis, ia mulai mengarang tanpa rujukan, tanpa kepustakaan, hanya mengandalkaningatan. Ia juga menyusun semacam komik tentang masuknya agama Hindu Hinayana ke Tanah Jawa, Oroh Sanagara namanya. Entah ke mana gerangannaskah ini terselip.

Buku-buku tulisan tangan itu beredar dari unit ke unit, dibaca bersamadi bawah lampu minyak setelah kerja panjang yang melelahkan. Banyak sekali tahanan, orang-orang muda dari pedalaman Jawa, yang barumengenal nama Pramoedya Ananta Toer justru di Pulau Buru.

Setelah kedatangan Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan danKetertiban, Jenderal Sumitro, ke Pulau Buru, pada 1973, Pramoedyadipindahkan dari Unit III ke Markas Komando, dan diberi mesin tikuntuk menulis. Ketika itulah ia mulai menyusun bagian awal tetraloginya yang kelak termasyhur, Bumi Manusia.

Setelah dibebaskan, Desember 1979, Pram tak lagi terbendung. Bersamapenerbit Hasta Mitra, Pram menerbitkan berjudul-judul buku, kendatiseluruhnya dibredel pemerintahan Soeharto. Setelah reformasi, tak adalagi hambatan penerbitan bukunya, dan Pramoedya kemudian menerimasejumlah penghargaan internasional. Berkali-kali namanya disebut sebagai calon penerima Hadiah Nobel kesusastraan. Tapi, ternyata,"jejak langkah" sang pujangga sampai di situ.

Amarzan Loebis
(Sumber: Tempo, 1 Mei 2006)
Read more »

Minggu, 30 April 2006

Sang Maestro telah pergi



Minggu, 30 April 2006, sebuah pesan SMS dari Bung Daniel Mahendra menyentakku pagi itu :

Telah meniggal dunia Bpk Pramoedya Ananta Toer (Bung Pram)
jam 09.15 di jln.Multi Karya 2/26 Utan Kayu Jak-tim.
Tolong disebarluaskan

From : DM-HP
9:24 30/4/06

Segera aku hubungi Bung Daniel untuk konfirmasi mengingat kemarin malamnya banyak sekali sms yang memberitakan kalau Pram sudah menginggal semalam.
Ketika aku mendapat konfirmasi aku langsung terhenyak.....teringat bagaimana aku mulai mengenal Pram dari karya-karyanya....

Aku mulai membaca karya-karya Pram dari karyanya yang berjudul "Hoakiau di Indonesia".
Saat itu tahun 1998 reformasi baru saja bergulir, dan setahuku karya Pak Pram yang pertama kali diterbitkan ulang setelah reformasi adalah "Hoakiau Di Indonesia"

Setelah aku menamatkan HdI aku langsung penasaran dan mencari buku-buku Pram lainnya, bukan hal yang mudah karena buku-buku Pram belum diterbitkan ulang.
Barulah setelah berbulan-bulan mencarinya, akhirnya aku mendapatkannya di TB Utan Kayu - Jakarta, aku membeli Bumi Manusia terbitan tahun 80-an!

Segera kulahap habis, bukannya terpuaskan aku malah semakin dahaga akan karya-karya lainnya. Mulailah pemburuanku......satu persatu aku kumpulkan, untunglah semakin kemari buku-buku Pram mulai diterbitkan ulang dan akupun pasti membeli dan membacanya.
Saat ini sudah sekitar 40 buah karya2 PAk Pram menghias lemari bukuku, semuanya sudah kubaca habis!

Apa yang kudapat dari membaca buku2 Pram ?
Yang pasti setelah membaca buku2 Pram aku jadi semakin mengenal sejarah bangsaku. Selain itu keberanian kaum lemah yang sering diungkap dalam karya-karya Pram membuatku jadi berani menentang ketidakadilan yang terjadi di sekitarku, aku makin peka dan makin berani menentang ketidakadilan!
Itulah yang diajarkan Pram melalui buku-bukunya.

Buku-buku Pram juga mengantarku untuk bertemu dengannya secara langsung. Dua kali aku bertemu dengannya, yang terakhir sekitar bulan Sepetember 2005, aku dan member milis membacapramoedya mengunjungi rumahnya di Bojong - Bogor, bersilaturahmi dengan keluarganya yang hangat, menengok perpustakaannya yang luar biasa.....dan yang pasti bercakap-cakap langsung dengan sang Maestro.

Dari pecakapannya dengan kami saat itu, terlihat Pram tetap konsisten dengan sikap dan pandangan hidupnya, tubuhnya yang uzur tak mempengaruhi cara berpikirnya dan keteguhan hatinya melawan ketidakadilan. Rupanya itulah untuk terakhir kalinya aku bercakap-cakap dengannya secara langsung.

Kini Sang Maestro itu telah tiada, namun karya-karyanya tetap hidup dan akan terus dibaca orang....

Selamat jalan Pak Pram...


@h_tanzil
Read more »

Minggu, 23 April 2006

Balzac dan Si Penjahit Cilik dari Cina



Judul : Balzac dan Si Penjahit Cilik dari Cina
Penulis : Dai Sijie
Penerjemah : Lulu Wijaya
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : I, Febr 2006
Tebal : 240 hlm; 23 cm

Seberapa besar buku sastra dapat mempengaruhi kehidupan pembacanya? Sebagian orang beranggapan buku sastra hanyalah bacaan yang tak memiliki arti yang khusus, kecuali hanya untuk bacaan hiburan bagi jiwanya, namun bagi orang yang mengerti akan arti dan manfaat karya-karya sastra, buku sastra adalah kebutuhan utama bagi jiwanya, bagi mereka buku-buku sastra yang dibacanya akan turut berpengaruh pada cara bertutur, cara pandang dan kepribadiannya, bahkan bukan tak mungkin buku-buku sastra yang dibacanya akan merubah jalan hidup pembacanya.

Kecintaan dan kehausan seseorang akan buku-buku sastra dan bagaimana buku sastra dapat merubah jalan hidup seseorang ini tercermin pada novel karya penulis sekaligus sineas kelahiran Cina Dai Sijie "Balzac dan si Penjahit Cilik dari Cina". Dengan setting pada masa Revolusi Kebudayaan di Cina, novel ini menceritakan persahabatan dua anak lelaki, Luo dan "Aku" (si narator) yang oleh pemerintahan Mao dikategorikan sebagai "intelektual muda", bukan karena tingkat pendidikan mereka, namun karena mereka adalah anak-anak dari dokter di Beijing yang dianggap borjuis dan raksioner. Mereka dikirim ke pedesaan untuk "dididik ulang oleh para petani miskin".

Tokoh aku dan sahabat karibnya Luo dikirim ke sebuah desa terpencil di kaki gunung "Burung Hong dari Langit". Ada beberapa desa tersebar di kaki gunung ini. Aku dan sahabatnya Luo ditempati di sebuah desa yang termiskin diantara semua desa di kaki gunung tersebut. Tak ada yang bisa dilakukan setiap harinya kecuali bekerja di bawah pengawasan Kepala Desa di ladang, di tambang batu bara tradisional, hingga memikul ember-ember tinja sambil menaiki lereng gunung ke ladang-ladang yang sebagian besar terletak di ketinggian yang menyeramkan.

Salah satu kepandaian Luo yang disukai kepala desa adalah bercerita/mendongeng. Agar Luo dapat bercerita, setiap bulan mereka diberi cuti beberapa hari untuk menonton sebuah film di kota terdekat, Yong Jing. Sekembalinya dari kota, mereka diharuskan menceritakan film itu dari awal sampai akhir kepada kepala desa dan semua penduduk desa. Hal inilah yang menjadi satu-satunya kegiatan diluar kerja fisik yang harus mereka lakukan selama "pendididikan ulang".

Dalam satu kesempatan, mereka bertemu dengan Pak Penjahit yang selalu berkeliling dari desa ke desa untuk menawarkan jasanya. Ia memiliki seorang putri cantik yang disebut Si Penjahit Cilik, seorang gadis cilik cantik dan lugu yang belum tersentuh oleh peradaban modern. Perkenalannya dengan Pak Penjahit membawanya bertemu dengan si Penjahit Cilik. Lambat laun melalui berbagai pertemuan dan peristiwa akhirnya Luo terpikat oleh kecantikannya dan jatuh cinta pada Penjahit Cilik itu walau diakuinya bahwa penjahit cilik itu masih ‘kurang beradab’

Di kaki gunung Hong, Aku dan Luo memiliki seorang teman yang dijuluki Mata Empat yang ‘dididik ulang’ di desa yang berbeda dengan mereka. Aku dan Luo mengunjungi Mata Empat yang ternyata menyimpan sebuah koper rahasia yang berisi buku-buku karya sastrawan barat klasik yang telah diterjemahkan kedalam aksara Cina. Di masa Revolusi Kebudayaan, buku-buku tersebut termasuk dalam barang yang terlarang. Ketahuan menyimpannya saja bisa menimbulkan bencana dan harus berurusan dengan Kementrian Keamanan yang kejam. Aku dan Luo sangat tertarik dengan buku-buku dalam koper tersebut.

Awalnya Mata Empat tak mau meminjamkan buku-buku itu pada mereka, mereka tak kehilangan akal, agar Mata Empat bersedia meminjamkan buku-bukunya, mereka bersedia mengambil alih pekerjaan Mata Empat memikul beras ke pangkalan. Akhirnya, tergerak oleh kebaikan Aku dan Luo, Mata Empat meminjamkan sebuah buku tipis dan usang karya Balzac. Begitu memperolehnya mereka segera membacanya dan langsung terpikat oleh cerita yang tersaji dalam buku tersebut. Jiwa mereka seolah terbebaskan dari kungkungan rutinitas yang membosankan, wawasan dan pengetahuan mereka bertambah.

"Coba bayangkan, seorang anak laki-laki berusia sembilan belas tahun, masih terkatung-katung dalam masa puber, seumur hidupnya belum pernah mendengar apapun selain omong kosong revoluioner mengenai patriotisme, komunisme, ideologi, dan propaganda, dan kini terjun ke dalam kisah tentang bangkitnya hasrat, semangat menggelora, tindakan-tindakan gegabah, cinta, tentang semua hal yang sebelumnya tersembunyi dariku" (hlm 75)

Sayangnya hanya buku Balzac itu saja yang dipinjamkan Mata Empat kepada mereka, buku-buku lain yang disimpan dalam koper rahasianya tak bisa mereka pinjam. Kehausan mereka akan bacaan-bacaan sastra lainnya membuat mereka berusaha untuk memperoleh harta terlarang ini bagaimanapun caranya. Sebuah ide gila untuk mencuri koper tersebut terbesit dalam kepala mereka. Akhirnya dalam satu kesempatan mereka berhasil mencuri koper tersebut dan membukanya, ternyata tak hanya karya Balzac yang mereka temui, dalam koper tersebut terdapat juga karya-karya Alexander Dumas, Dickens, Roimain Roland, Flaubert, dll

Setelah memperolehnya, mulailah mereka mengisi waktu-waktu luang mereka dengan secara sembunyi-sembunyi membaca setumpuk buku-buku tersebut. Tak puas hanya membaca untuk diri sendiri, mereka pun bermaksud menceritakan ulang kisah-kisah yang mereka baca dari pada si Penjahit Cilik. Dalam kunjungan-kunjungan berikutnya Luo harus memanggul sendiri buku-buku itu menuju rumah Penjahit Cilik, bukan perjalanan yang mudah, apalagi ketika jalan menuju rumah Penjahit Cilik tertutup longsor dan ia harus memutar dan meniti bumbungan sempit yang sisi kiri dan kananya terdapat jurang yang menganga.

Aku dan Luo sadar bahwa tindakan mereka yang menyimpan, membaca dan menceritakan kisah dari buku-buku itu adalah tindakan yang sangat berbahaya, namun mereka tetap mengambil resiko ini karena buku-buku itu telah membuat mereka menemukan sebuah dunia pelarian yang mereka kira telah hilang selamanya. Tidak itu saja, ternyata kisah-kisah sastra yang mereka baca dan ceritakan membawa akibat yang tak mereka duga-duga. Berbagai peristiwa terjadi pada diri mereka dan orang-orang yang mendengar cerita mereka.

Secara keseluruhan novel ini dikemas dengan menarik, realita sosial akibat revolusi kebudayaan di Cina terungkap dengan jelas, kaum terpelajar harus menerima kenyataan pahit dengan dihapusnya matematika, fisika, dan kimia dari kurikulum. Sebagai gantinya pelajaran mereka dibatasi hanya seputar dasar-dasar industi dan pertanian. Kaum intelektual diharuskan mengalami ‘pendidikan ulang’ yang entah sampai kapan harus mereka jalani. Sementara itu para petani menjadi ‘guru’ dan kader-kader partai bagi mereka yang dididik ulang.

Tidak itu saja, novel yang memilki ending yang tak terduga ini juga menyajikan drama persahabatan, cinta, harapan dan kekuatan sastra yang sanggup merubahan cara pandang dan kehidupan tokoh-tokohnya. Kecintaan akan sastra dari para tokoh-tokoh dalam novel ini memang luar biasa, mereka rela menempuh resiko fatal dianggap sebagai reaksioner akibat menyimpan, membaca, dan menceritakan apa yang telah mereka baca. Keinginan kuat dari Luo untuk membuat Penjahit Cilik menjadi ‘beradab’dengan menceritakan karya-karya sastra dari buku-buku tersebut membuat dirinya harus berjuang melawan tantangan alam yang ganas agar bisa membawa buku-buku sastra menuju rumah Penjahit Cilik.

Melaui kisah ini, pembaca juga akan diajak menyelamai bagaimana sebuah karya sastra selain sanggup mengubah cara pandang tokoh Aku, Luo dan si Penjahit Cilik, juga sanggup mengubah model dan pola dari baju-baju yang dibuat oleh Pak Penjahit setelah mendengar kisah Monte Chisto selama sembilan hari sembilan malam dari mulut si Aku. Atau bagaimana sebuah karya Balzac bisa mempertemukan si narator dengan seorang dokter yang dicari-carinya untuk menolong si Penjahit Cilik.

Walau buku ini menampilkan masa kelam Revolusi Kebudayaan di Cina, namun Dai Sijie menyajikannya tidak secara muram, novel ini tersaji dalam tuturan yang riang sehingga novel ini tidak terasa berat dan membosankan. Walau di bab-bab awal tergambarkan potret kelam kehidupan keras aku dan Luo selama mengalami pendidikan ulang, di halaman-halaman selanjutnya pembaca akan diajak berpetualang dan merasakan gelora antusiasme tokoh aku dan Luo terhadap karya-karya sastra yang telah merubah hari-hari kelam mereka menjadi hari-hari yang menyenangkan dan penuh petualangan.

Dan yang pasti melalui novel ini pembaca akan diajak melihat suatu kenyataan bahwa sastra tidak hanya menghibur tapi juga sanggup membawa perubahan positif bagi mereka yang membaca dan mampu memperoleh ‘mutiara terpendam’ dari setiap karya-karya sastra.
Dai Sijie
Dai Sijie adalah penulis sekaligus sineas yang lahir di China pada tahun 1954. Pada Tahun 1984 ia meninggalkan Cina dan menetap di Perancis hingga kini. Sijie pernah menjalani "pendidikan ulang" pada tahun 1971- 1974. Masa-masa ini rupanya mengilhami dirinya untuk melahirkan novel perdananya yang terkenal "Balzac dan si Penjahit Cilik dari Cina". yang merupakan novel semi outobiografinya. Buku ini diterbitkan pertama kali di Perancis pada tahun 2000, dan langsung menjadi best seller dan memenangkan lima pengharargaan dari berbagai lembaga di Perancis. Novel ini telah diterjemahkan kedalam 25 bahasa, ironisnya novel ini tidak diterbitkan di negeri asalnya Cina karena buku-bukunya termasuk karya yang dilarang di negeri tempat ia dilahirkan.
@h_tanzil
Read more »

Minggu, 16 April 2006

The Book of Mirdad



Judul : The Book of Mirdad
(Kitab Rahasia dari Biara The Ark)
Penulis : Mikhail Naimy
Penerjemah : Alpha M. Febrianto
Kata Pengantar : Wandy N. Tuturoong, Mona Darwish
Penerbit : PT. One Earth Media
Cetakan : I, Maret 2006
Tebal : xxxviii+296 hlm

Mirdad adalah perjalanan menuju sang hati
Hanya ada satu jalan untuk membaca Mirdad, dengan hatimu.
Hanya ada satu jalan untuk memahami Mirdad, dengan merasakannya dalam hatimu.
Hanya ada satu jalan untuk merayakan Mirdad, di dalam hatimu.
- Mona Darwish, pemerhati budaya asal Lebanon-

The Book of Mirdad adalah sebuah mahakarya dari sastrawan besar Lebanon Mikhail Naimy (1889-1988) penulis biografi Kahlil Gibran yang juga merupakan sahabat dekatnya. Dalam buku ini Mikhail Naimy mengambil kisah Nabi Nuh dan bahteranya kedalam karya monumentalnya ini. Bertahun-tahun setelah banjir besar Nuh dan keluarganya mendarat di pegunungan Ararat dan memutuskan untuk tinggal di daerah tersebut. Menjelang ajalnya Nuh berpesan pada anak-anaknyanya untuk membangun sebuah altar yang dinamai Puncak Mezbah di puncak tertinggi Ararat yang dikelilingi sebuah wisma berbentuk bahtera dalam ukuran yang lebih kecil yang disebut ‘Bahtera’. Nuh juga berpesan agar api di altar tetap menyala dan wisma itu menjadi tempat suci sekelompok orang pilihan yang jumlahnya tak pernah melebihi atau kurang dari sembilan orang. Mereka akan dikenal sebagai ‘Persaudaraan Bahtera’ yang akan terus berada dalam biara Bahtera dan menjalankan semua aturan yang ada dan berdoa kepada Tuhan. Sembilan orang ini merupakan simbol dari delapan orang (Nuh beserta keluarganya yang selamat) dan seorang ‘Penumpang Gelap’

Beberapa generasi telah berlalu ketika salah seorang dari Sembilan Saudara meninggal, dan datanglah seorang asing (Mirdad) ke gerbang Bahtera yang memohon untuk diterima menjadi anggota pengganti. Sesuai dengan tradisi Bahtera seharusnya orang asing tersebut dapat diterima karena ia adalah orang pertama yang datang setelah kematian salah seorang anggota persaudaraan. Namun Shamadam si Tertua dari anggota persaudaraan yang berpikiran sempit dan keras hati tidak menyukai penampilan Mirdad yang telanjang dan kotor dan penuh luka. Namun karena Mirdad memaksa dirinya untuk diterima dan Shamadan bersikeras untuk menolaknya akhirnya ia memohon si Tertua agar menjadikannya seorang pelayan. Jadilah Mirdad pelayan di Bahtera, sementara itu si Tertua tetap menantikan kedatangan seorang pengganti bagi saudaranya yang meninggal.

Tujuh tahun kemudian dalam sebuah pembicaraan antara kedelapan saudara, timbul perbedaan pendapat yang membingungkan diantara mereka. Dengan maksud mengubah kebingungan menjadi sebuah lelucon, Shamadam, Sang Tertua meminta Mirdad untuk angkat suara dan menunjukkan jalan keluar dari permasalahan yang terjadi. Inilah untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun setelah kedatangannya Mirdad membuka suara dan apa yang Shamadam harapkan agar tercipta sebuah lelucon malah terjadi sebaliknya. Mirdad dengan penuh wibawa menguraikan jawaban dan petuah-petuahnya. Semenjak saat itulah ketujuh saudara menganggapnya sebagai Guru, sementara Shamadam sang tertua diam-diam menyimpan ketidaksukaannya dan berusaha mempengaruhi ketujuh saudara lainnya untuk menjauhi Mirdad bahkan berusaha untuk mengusirnya.

Sementara itu ketujuh saudara lainnya semakin lama semakin menghormati dan menganggap Mirdad sebagai Sang Guru dan menjadikannya tempat bertanya berbagai hal mulai dari pertanyaan siapa sebenarnya Mirdad dan berbagai pertanyaan lain yang meliputi berbagai aspek dalam kehidupan manusia. Percakapan para anggota Persaudaraan Bahtera dengan Mirdad inilah yang nantinya akan dicatat oleh Naronda sebagai saudara termuda sehingga memungkinkan percakapan ini menjadi sebuah kitab yang disebut dengan Kitab MIRDAD.

The Book of Mirdad disajikan dalam bentuk cerita berbingkai yang intinya berisi percakapan filosofis antara anggota persaudaraan dengan Mirdad. Tiga bab pertama buku ini diawali dengan kisah seorang pengembara asing yang setelah mendengar legenda biara Bahtera berniat untuk mendaki puncak Ararat untuk membuktikan kebenaran cerita tentang Bahtera dan Puncak Mezbahnya. Dalam perjalanan spiritualnya si pengembara ini menemui banyak tantangan hingga akhirnya mencapai puncak tertinggi dan bertemu dengan seorang biarawan yang ternyata adalah Sang Tertua Biara Bahtera – Shamadam yang memberinya kitab MIRDAD.

Pada Bab-bab selanjutnya barulah buku ini memuat isi dari Kitab Mirdad yang terdiri dari 37 bab yang berisi percakapan-percakapan antara Mirdad dan kedelapan anggota Persaudaraan Bahtera. Dari dialog-dialog filosofis, argumen dan tafsir mimpi yang terdapat dalam buku ini pembaca akan diajak untuk menyingkap jalan sejati bagi manusia untuk mencapai pencerahan. Tak hanya itu, buku ini juga mengungkap misteri "Penumpang Gelap" yang konon menyertai dan mengajarkan Nabi Nuh ketika dalam bahteranya.

Buku ini memuat banyak sekali jalan-jalan menuju pencerahan jiwa, dalam hubungan antara manusia dengan Tuhan Tuhan Mirdad mengungkapkan bahwa Manusia adalah "Tuhan dalam balutan kain".

Manusia adalah tuhan dalam balutan kain. Waktu adalah balutan kain. Ruang adalah balutan kain. Daging adalah balutan kain, dan semua rasa dan segalanya adalah balutan kain. Sang ibu sangat mengetahui bahwa balutan kain bukanlah bayinya. Namun si bayi tak akan tahu bahwa ia terbalut kain. (hlm 55).

Dalam pengertian ini seolah Mirdad menyatakan bahwa ketidaksadaran akan ketuhannyalah yang membuat manusia hidup dalam penderitaannya.


Maka manusia meminta pertolongan. Tangis pilunya bergema melalui ruang dan waktu. Udara dipenuhi ratapannya. Laut terasa asin karena air matanya. Bumi disesaki makam-makamnya. Surga dikalahkan oleh doa-doanya. Dan semua karena ia tidak mengetahui makna Aku-nya yang merupakan balutan kain sebagaimana bayi yang terbalut kain (hlm 56)


Mirdad mengungkap bahwa manusia haruslah menerima kesadaran akan keilahian manusia. Ketaksadaran manusia akan ketidakilahiannya membuat manusia lupa untuk "membersihkan dan mempersiapkan ladang bagi tumbuh dan berbuahnya anggur ilahi" dalam dirinya.

Dalam hal cinta, Mirdad mengungkap bahwa Cinta adalah hukum Tuhan dan manusia harus hidup untuk belajar mencintai

Engkau hidup untuk belajar mencintai.
Engkau mencintai agar engkau belajar untuk hidup
Tak ada pelajaran lain yang harus dipelajari Manusia. (hlm. 87)


dan cinta haruslah dilakukan tanpa pamrih

Jangan mengharap pamrih dari Cinta. Cinta adalah imbalan untuk Cinta, seperti Kebencian adalah hukuman dari Kebencian.
Jangan menilai apapun berdasarkan Cinta. Karena Cinta tak pernah menilai seseorang kecuali diri sendiri.
Cinta tak dapat dipinjamkan atau disewakan; cinta tak dapat dijual atau dibeli; namun saat Cinta memberi, ia memberikan segalanya; dan ketika ia mengambil, ia mengambil semuanya. Yang ia ambil adalah yang ia beri. Yang ia beri adalah yang ia ambil. Terus demikian hari ini, hari esok dan selamanya (hlm 93).

Di akhir kitabnya Mirdad mengungkapkan bahwa kedatangannya ke biara Bahtera adalah untuk mengingatkan manusia akan bencana air bah yang lebih dasyat dibandingkan air bah di zaman Nuh. Sebab, bencana itu berasal dari dalam diri manusia sendiri.

Air bah bah api dan darah yang akan melanda bumi akan lebih dasyat dari yang terakhir. Akankah kalian siap mengapung, atau kalian akan tenggelam? (hlm 283)

Sekali lagi kukatakan kepadamu, Engkaulah air bah, bahtera dan nahkodanya. Nafsu kalianlah air bahnya. Iman kalianlah nahkodanya. Namun di atas semua itu adalah kehendakmu. Dan lebih dari itu semua adalah pengertianmu. (hlm 284)

Masih banyak lagi hal-hal menarik tentang makna kehidupan akan kita temui ketika membaca buku ini. Buku ini bisa dikatakan sebuah kitab kehidupan. Walau memasukkan unsur legenda dan mistisme yang berkembang dalam tradisi Kristen, Islam dan Yahudi namun buku ini secara jelas menyampaikan berbagai pesan kehidupan yang universal. Rasanya tak ada satupun juga kalimat-kalimat yang sia-sia tertulis dalam buku ini, hampir semuanya mempunyai makna yang dalam.

Dalamnya makna filosofis dalam untaian kalimat-kalimat yang dirangkai secara indah dalam buku ini tentu saja bisa membuat pembaca yang tak sabar akan kesulitan menangkap maknanya, buku ini memang bukan buku yang mudah diselesaikan hanya dalam sekali duduk, namun jika pembaca mau membacanya secara sabar dan memberi ruang untuk merenungkannya secara baik, buku ini akan memunculkan rangkaian mutiara kehidupan indah yang dapat dijadikan tuntunan hidup. Sepertinya buku ini memang bukan buku yang hanya sekali dibaca lalu selesai dan dilupakan, buku ini akan semakin indah dan bermakna jika kita terus membacanya berulang-ulang. Semakin dibaca ulang semakin banyak sarinya diperoleh.

Karena plot dalam buku ini tidak seperti novel maka bab-babnya bisa dibaca ulang mulai dari mana saja sesuai dengan kebutuhan pembacanya. Namun tak ada salahnya juga untuk membaca ulang secara urut mulai dari depan hingga belakang, kedua-duanya memberikan kedalaman makna yang sama.

Bertaburannya kalimat-kalimat bermakna yang terdapat dalam buku ini tentunya memungkin untuk dibuatkan buku kumpulan kata-kata mutiara yang diambil dari buku ini, hal ini sempat pula diusulkan oleh Mula Harahap (praktisi perbukuan) dalam acara bedah buku ini beberapa waktu yang lalu yang menyarankan penerbit agar menerbitkan tersendiri kutipan-kutipan kalimat dalam The Book of Mirdad sebagai kata-kata mutiara.

Akhirnya seperi diungkap oleh Mona Darwish (pemerhati budaya asal Libanon) dalam kata pengantarnya. Ajaran-ajaran Mirdad dalam buku ini, pada hakikatnya mengajak kita untuk mentransformasikan kesadaran agar dapat menemukan cahaya ilahi yang sudah berada dalam diri. The Book of Mirdad tak lain adalah ‘ayat’ mengagumkan yang dalam harapanku dapat menyinari hati banyak orang di Indonesia. (hlm. xxviii)

Tak berlebihan rasanya jika spiritualis India Osho, seperti yang tertera pada sampul buku ini mengatakan bahwa

"Ada jutaan buku yang terdapat di muka bumi ini,
namun The Book of Mirdad berada jauh di atas buku-buku lain yang pernah ada"
OSHO-

@h_tanzil

Read more »

Jumat, 07 April 2006

Pangeran Pencuri


Judul : Pangeran Pencuri
Penulis : Cornelia Funke
Penerjemah : Hendarto Setiadi
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
(bekerja sama dgn Penerbit Katalis)
Cetakan : I, Maret 2006
Tebal : 420 hlm

Cornelia Funke, adalah penulis novel anak-anak pra remaja kelahiran Jerman. Funke termasuk penulis yang produktif, sekitar 40 buah novel telah dihasilkannya. Publik buku dunia mulai mengenal namanya ketika salah satu karyanya Pangeran Pencuri ( Herr der Diebe, 2000) diterjemahkan kedalam bahasa Inggris pada tahun 2002 (The Thief Lord, Scholatic, 2002). Setelah itu itu secara berturut-turut 5 buah novel-novel karyanya diterjemahkan kedalam bahasa Inggris yaitu : Inkheart (2003), The Prince Knight (2004), Dragon Rider (2004), Pirate Girl (2005), Inkspell (2005).

Setelah novel-novelnya diterjemahkan kedalam bahasa Inggris namanya semakin terkenal dan para pengamat buku anak-anak sering membanding-bandingkannya dengan penulis serial Harry Potter - J.K Rowling, bahkan publik sering menyebut dirinya dengan JK Rowling-nya Jerman. Cornelia Funke, lahir pada tahun 1958 di Dorsten – Jerman. Awalnya ia bekerja sebagai pekerja sosial yang bergerak di bidang anak-anak selama tiga tahun, setelah itu Funke memulai kariernya di bidang penerbitan sebagai ilustrator buku anak-anak.Pekerjaannya ini membuat dirinya tergerak untuk menulis sendiri cerita anak-anak dan membuat ilustrasinya sendiri. Kesukaannya membaca buku-buku fantasi seperti Lord of The Ring, The Chronicles of Narnia - CS Lewis, Peter Pan, dll sedikit banyak mempengaruhinya dalam melahirkan karya-karya terbaiknya. Saat ini Funke tinggal di Los Angeles bersama suami dan kedua anaknya.

Pangeran Pencuri yang merupakan salah satu karya best sellernya menceritakan kisah petualangan dua kakak beradik Prosper (12 thn) dan Bo (5 thn) yang telah menjadi yatim piatu. Semenjak kematian orang tuanya, Bibi Hartlieb berencana untuk mengadopsi Bo dan mengirimkan Proper ke rumah yatim piatu. Tentu saja kedua kakak beradik ini tak rela jika mereka harus berpisah. Proper dan Bo segera melarikan diri dari Jerman menuju Venesia - Italia, kota eksotis yang sering mereka dengar keindahannya dari mendiang ibu mereka.

Sesampainya di Venesia Proper dan Bo bertemu dengan Tawon yang mengajakanya tinggal bersama dua anak lainnya ( Riccio & Mosca). Kedua anak itu ternyata para pencuri yang dipimpin oleh Scipio, seorang anak laki-laki yang selalu menggenakan topeng ketika beraksi dan dijuluki "Pangeran Pencuri". Mereka, kecuali Scipio tinggal bersama-sama layaknya sebuah keluarga dalam sebuah gedung bioskop yang sudah tak dipakai lagi. Hasil dari mencuri mereka jual pada Barbosa – Si Janggut Merah, pemilik toko barang antik yang juga seorang penadah, hasilnya mereka gunakan untuk membeli makanan dan berbagai kebutuhan mereka.
Bibi Hartlieb tak tinggal diam, dugaannya yang kuat bahwa Prosper dan Bo melarikan diri ke Venesia membuat dirinya menyewa jasa seorang detektif, Victor Getz untuk menemukan kedua keponakannya itu disudut-sudut kota Venesia.

Sementara itu, Scipio si Pangeran Pencuri menerima ‘misi’ dari seseorang misterius yang dinamai Sang Conte untuk mencuri potongan sayap singa yang terbuat dari kayu dirumah seorang fotografer Ida Spavento di Venesia. Tergiur oleh bayaran yang dijanjikan sang Conte sebanyak lima juta lira, Scipio beserta kawan-kawannya memerima tawaran itu. Mulanya mereka tidak tahu untuk apa mereka harus mencuri potongan kayu itu, namun akhirnya mereka mengetahui bahwa potongan kayu tersebut adalah potongan sayap singa dari sebuah komedi putar ajaib yang telah lama raib dan tak diketahui rimbanya. Konon komedi putar ajaib itu bisa merubah orang yang menaikinya untuk menjadi dewasa atau anak-anak hanya dalam beberapa putaran saja. Petualangan ini akhirnya menyeret mereka untuk mengunjungi pulau Isola Segrata yang angker dimana tak seorangpun berani mengunjunginya karena setiap orang yang bertandang ke pulau tersebut selalu hilang secara misterius dan tak pernah kembali.

Kisah petualangan fantasi Pangeran Pencuri dan kawan-kawannya dalam menjalankan misi ini semakin menarik untuk disimak, selain harus menjalankan misi rahasianya, mereka juga harus berhadapan dengan Victor yang berusaha untuk mengembalikan Prosper dan Bo pada Bibi Hartlieb, Barbarosa pedagang barang antik yang licik,dan kaka beradik Renzo dan Morosina yang menghuni pulau Isola Segrata yang angker dan menyimpan komedi putar ajaib. Berhasilkah Pangeran pencuri dan kawan-kawannya menuntaskan misinya? Apakah mereka juga akan menemukan kembali komedi putar ajaib dan beranikan mereka mencobanya untuk mencoba menjadi dewasa ?

Selain kisahnya yang memikat buku ini yang juga berisi ilustrasi menarik yang dibuat oleh Funke sendiri. Melalui buku ini pembaca akan diajak menikmati lanskap kota Venezia yang terkenal dengan puluhan kanal- kanal dengan gondolanya, kemegahan gedung-gedung antik yang telah berusia ratusan tahun dan juga patung-patung yang menghiasi setiap bangunan dan plaza yang berada dalam kota eksotis Venezia. Namun dibalik keindahannya Venezia juga menyimpan keruwetan. Jalan-jalan di kota ini terkenal rumit dan sering membingungkan wisatawan yang mengunjunginya, bahkan penduduk asli kota inipun tak jarang tersasar arah. Rupanya landskap kota yang sangat baik untuk tempat bersembunyi inilah yang mengilhami Funke untuk membuat cerita dengan setting kota Venesia yang tokoh-tokohnya harus menyembunyikan diri dari orang yang tidak diinginkannya.

Buku ini yang diperuntukkan bagi anak pra-remaja ini ditulis dengan bahasa yang lancar dan menarik sesuai untuk pembaca anak/remaja. Peran penerjemah senior Hendarto Setiadi yang menerjemahkan buku ini langsung dari bahasa aslinya (Jerman) patut dihargai. Kepiawaian Funke dalam menghadirkan cerita dengan kalimat-kalimat yang lancar tampaknya berhasil diterjemahkan dengan baik, sehingga melalui buku ini pembaca akan diajak serunya berpetualang bersama Pangeran Pencuri dalam menjalankan misinya. Di buku ini Funke juga mengungkap apa yang ada dalam benak seorang anak-anak yang kadang menginginkan dirinya cepat untuk menjadi dewasa karena tidak ingin dirinya hidup dalam aturan-aturan yang menjemukan yang dibuat oleh orang dewasa. Kisah ini juga menggambarkan arti persahabatan dan bagaimana anak-anak dapat bertanggung jawab, saling menyayangi satu sama lainnya walau berada dalam lingkungan yang buruk dan tanpa pengawasan orang tua mereka.

Walau buku ini diperuntukkan untuk anak pra-remaja, buku ini bisa dan layak dibaca disegala usia. Kisah Pangeran Pencuri yang beberapa tokohnya kelak akan terperangkap dalam tubuh orang dewasa dan orang dewasa terperangkap dalam tubuh anak-anak akan memberikan pembacanya pengertian bahwa baik anak-anak maupun orang dewasa memiliki kesenangan dan kesulitannya sendiri. Bagi orang dewasa kisah ini menyadarkan pembacanya bahwa anak-anak memiliki pandangan dan keinginannya sendiri bahkan kedewasaan berpikir yang kadang tidak disadari dan tidak dimengerti oleh orang-orang yang dewasa.

Kisah Pangeran Pencuri ini telah difilmkan dengan judul The Thief Lord, diproduksi oleh Richard Clauss yang pernah membuat film The Litte Vampire (2000). Rencananya film ini akan dirilis pada tahun ini. Dengan demikian kehadiran terjemahan buku Pangeran Pencuri yang kabarnya laris manis dipasaran ini sangat tepat kehadirannya. Sebelum menonton filmnya tentunya akan lebih menarik jika dapat membaca bukunya terlebih dahulu.
Menurut sebuah sumber, Gramedia juga berencana akan menerbitkan karya2 lainnya dari Cornelia Funke. Mampukah Cornelia Funke menyaingi kepopuleran JK Rowling dengan Harry
Potternya ? Kita tunggu saja ?

@h_tanzil
Read more »

Minggu, 02 April 2006

Menyusuri Lorong-Lorong Dunia


Judul : Menyusuri Lorong-Lorong Dunia
(Kumpulan Catatan Perjalanan)
Penulis : Sigit Susanto
Penyunting : Puthut EA
Penerbit : Insist Press
Cetakan : I, Desember 2005
Tebal : xxxiii + 375 hlm , 15x21 cm

Catatan Perjalanan/Travel Writing, atau Sastra Pelancongan adalah salah satu genre dalam dunia sastra. Konon genre ini adalah bentuk narasi yang paling tua yang dikenal dalam sejarah sastra dunia. Kisah Oddyses dari Homer pada dasarnya adalah kisah perjalanan dari sang tokoh utamanya. Kisah klasik Hercules yang menunaikan dua belas tugas besarnya, juga adalah sebuah kisah perjalanan. Marco Polo (1254-1324) yang menempuh jalur sutera membukukan catatan-catatan perjalanannya sehingga namanya mendunia dan dikenal hingga kini. Di zaman yang lebih modern penulis-penulis sastra pun mulai menuliskan kisah-kisah perjalanan mereka, sebut saja Goethe yang menulis catatan perjalanannya ke Italia yang kemudian dibukukan dengan judul "Italian Journey". Lalu penulis-penulis lainnya seperti Charles Dickens, DH Lawrence, Orwell, Hemingway, VS. Naipaul, dan masih banyak lagi. Catatan perjalanan tidak hanya dimonopoli oleh para sastrawan, seorang tokoh revolusioner Kuba yang kini dijadikan ikon perjuangan anak-anak muda Indonesia Che Guevera pun menorehkan kisah perjalanan keliling Amerika dengan motornya dalam "The Motorcycle Diary".

Di Indonesia, walau genre ini jarang disentuh oleh penulis-penulis kita, kita pernah mendengar nama HOK Tanzil yang kerap menuliskan kisah-kisah perjalanannya mengelilingi dunia dalam majalah Intisari di era tahun 80-an. Belakangan tulisan-tulisannya dibukukan secara berseri hingga mencapai puluhan seri dan hingga kini buku-bukunya yang sudah dikategorikan out of print ini masih banyak dicari orang dan harus cukup puas jika hanya memperoleh foto copy-nya saja.

Apa yang menarik dari sebuah catatan perjalanan? Tak dapat dipungkiri, genre sastra ini memiliki pesona tersendiri. Isinya sangat kaya dengan keragaman. Bukan hanya menceritakan keeksotisan tempat-tempat yang dikunjungi, namun juga mengungkap keberadaan dan kebiasaan masyarakat yang ada diberbagai penjuru dunia. Sebuah catatan perjalanan tentunya tak lepas dari unsur subyektif penulisnya karena setiap orang yang menulisnya memiliki kesan berbeda dalam tiap tempat yang dikunjunginya. Jika dua orang berada dalam suatu tempat dan waktu yang sama, kesan yang ditangkap dalam dua buah catatan perjalanan yang dibuat oleh masing-masing orang pastilah berbeda. Perbedaan inilah yang membuat catatan perjalanan selalu menarik untuk dibaca .

Dalam Buku Menyusuri Lorong-Lorong Dunia, Sigit Susanto menuliskan kunjungannya ke berbagai negara di kawasan Eropa, Rusia, hingga Amerika Selatan. Sebagian besar tulisan-tulisan dalam buku ini pernah beredar di berbagai mailing list yang ia ikuti (Apresiasi-Sastra, Jalansutra, dll), selain itu beberapa tulisan pernah juga dimuat di berbagai media cetak seperti Koran Tempo, Gatra, Intisari, majalah Aksara, dll.

Buku ini secara menarik diawali oleh kisah penyuntingan yang ditulis oleh Puthut EA, sastrawan sekaligus sahabat dekatnya. Di bab ini Puthut mengungkap kisah pertemanannya dengan penulis sehingga melalui bab ini pembaca akan diajak melihat sedikit profil penulis dari sudut pandang Puthut dan kesan-kesannya selama menyunting buku ini.

Sigit Susanto sendiri mengawali catatan perjalanannya dengan semacam kata pengantar panjang yang diberi judul "Berangkat…". Di bab ini secara singkat Sigit mengungkap penggalan kisah hidupnya di Bali ketika ia bertemu dengan seorang gadis wisatawan Swiss yang sedang berlibur di Bali. Pertemuan ini rupanya membuahkan cinta diantara mereka dan akhirnya mereka memutuskan untuk berangkat ke Swiss dan menikah disana. Dari Swiss inilah titik keberangkatan penulis beserta istrinya berkelana mengunjungi berbagai negara di belahan dunia.

Menurut penuturannya ia dan istrinya sudah mengunjungi paling tidak 21 negara, namun sayangnya ia baru bisa menuliskannya sebanyak 10 negara (hlm.xviii). Adapun pilihan-pilihan negara yang dikunjunginya biasanya disesuaikan dengan konteks yang sedang berlangsung baik dalam keseharian penulis , maupun konteks sosial yang sedang terjadi di tanah air. Jadi walaupun penulis berada jauh dari tanah kelahirannya, ia terus memantau perkembangan sosial dan politik di tanah air. Misalnya ketika Orde Baru telah jatuh dan dibuka wacana untuk mempelajari Marxisme, penulis segera mengunjungi negara-negara komunis seperti Kuba dan Rusia. Dalam konteks kesehariannya sebagai seroang penulis yang menyukai karya-karya Kafka, ketika kesempatan untuk bepergian tiba, iapun tak menyia-nyiakan kesempatannya untuk berziarah ke makam Kafka di Praha

Buku ini memuat 16 catatan perjalanan penulis ketika melancong ke berbagai negara bersama istrinya. Catatan perjalananya dimulai dari kisah pertama kalinya penulis mengunjungi Eropa dimana di bab ini ia mengungkap pengalaman-pengalaman uniknya ketika pertama kali naik pesawat terbang, pemeriksaan di bandara hingga pengalaman dibulan-bulan pertamanya di tempat tinggal barunya di terpi danau Zug – Switzerland.

Di bab-bab selanjutnya kisah-kisah perjalanannya ditulis dengan cara penyampaiannya yang lancar, segar, dan mengalir yang disusun secara urut berdasarkan waktu keberangkatannya dalam rentang waktu 1998-2004. Buku ini mencatat kisah perjalanannya di 13 tempat di berbagai negara, seperti Amsterdam-Belanda, Kuba, Venesia, P. Ischia - Italia, Praha, Tunisia, Bulgaria, Stassbough-Jerman, Roma, Meksiko, Rusia, London dan Paris.

Berbeda dengan HOK Tanzil yang catatan-catatan perjalanannya lebih banyak bercerita sebagai seorang wisatawan yang lebih banyak mengungkap keindahan dan keunikan tempat-tempat yang dikunjunginya. Sigit Susanto lebih dari itu. Kesukaannya akan buku-buku dan sastra membuat catatan-catatan perjalannya menjadi lebih kaya akan nuansa sastra. Di setiap tulisannya Sigit selalu menyertakan kisah penulis / sastrawan dunia yang pernah bersinggungan dengan negeri yang dikunjunginya. Tak heran jika dalam buku ini akan banyak dijumpai peristiwa dan telaah seputar dunia sastra. Tak kurang dari 40 nama penulis/sastrawan muncul dalam buku ini, 5 orang diantaranya sastrawan indonesia ( HB Jasin, Sutan Alisyahbana, Iwan Simatupang, Pramoedya AT, Sobron Aidit). Beberapa penulis mendapat porsi cukup detail, bahkan dibuatkan judul tersendiri "Ziarah ke Makam Kafka di Praha" (hlm. 97-134). Di bagian ini pembaca akan diajak menyelami kehidupan Kafka dan Karya-karyanya. Begitu pula dengan Karl Marx yang disajikan dalam bab tersendiri yang berjudul "Makam Mbah Marx di London" (hlm 325-340).

Selain itu beberapa puisi karya sastrawan-sastrawan dunia turut menghiasi buku ini. Terjemahannya sendiri dilakukan oleh penulis yang memang kerap menerjemahkan puisi-puisi para penyair dunia kedalam bahasa Indonesia. Porsi puisi yang paling banyak muncul di bab "Venesia Surga Sastrawan Dunia" (hlm 218-231), dimana setidaknya ada 8 buah puisi karya penyair dunia diterjemahkan di bab ini.

Selain pesona keindahan alam, bangunan klasik, serta kelembutan sastra, buku ini menyuguhkan pula ironi politik yang cukup terasa nuansanya di bab "Che masih hidup di Kuba" (hlm. 38-70). Di bab ini pembaca akan diajak melihat secara dekat realita sosial dan politik yang terjadi di Kuba pada saat negeri ini dikunjungi oleh penulis.

Satu hal lain yang membuat buku ini menarik, seperti diungkap oleh Puthut EA dalam kisah penyuntingannya adalah kepiawaian Sigit Susanto untuk melampirkan benda-benda kecil yang sangat penting di sebuah wilayah. Tidak aneh jika disana-sini Sigit bisa meramu dengan tangkas perihal cerutu, vodka, dondola, oase, sampai kepekaannya menangkap grafiti si sebuah tempat (hlm. xvi). Hal ini yang membuat buku ini menjadi unik karena penulis secara piawai menyajikan apa yang selama ini mungkin terabaikan oleh penulis-penulis lain.

Selain itu buku ini juga dilengkapi oleh indeks yang informatif yang memungkinkan pembaca untuk mencari entri-entri yang diinginkan secara cepat dalam buku setebal 373 halaman ini.

Seperti telah diungkap diparagraf awal di review ini, sebuah catatan perjalanan adalah sebuah pengalaman subyektif dari penulisnya. Bagian-bagian mana yang dari sebuah obyek yang mendapat porsi yang lebih detail atau tidak bergantung sepenuhnya pada ketajaman pena penulisnya. Begitupun dengan buku ini, pilihan negara-negara maupun detail-detail obyek yang diungkap dalam buku ini bisa saja memuaskan pembacanya, namun mungkin juga beberapa pembaca menyesalkan mengapa sebuah obyek tertentu luput dari pengamatan penulisnya atau tak dijelaskan secara mendetail.

Sebagai contoh, bertaburannya data-data dan kisah-kisah para sastrawan dunia bagi pembaca yang kebetulan menyukai sastra tentunya membuat buku ini akan sangat menarik dan bermanfaat dalam memperluas wawasan sastra dunia, namun bagi pembaca yang kurang menyukai sastra, entri-entri sastra dalam buku ini bisa saja menjadi bagian yang dianggap tidak perlu dan membosankan.

Diterbitkannya buku kumpulan catatan perjalanan ini patut dihargai sebagai suatu usaha mengisi kekosongan buku-buku jenis ini dalam ranah perbukuan kita. Genre sastra ini kemunculannya baru terbatas pada media-media internet (milis, blog,dll) , maupun media cetak seperti koran dan majalah. Setelah diterbitkannya buku kisah perjalanan HOK Tanzil pada medio akhir 80-an oleh penerbit Alumni- Bandung, kemungkinan besar tak ada lagi buku-buku catatan perjalanan karya penulis lokal yang diterbitkan menjadi sebuah buku.

Pada akhirnya, kehadiran buku catatan perjalanan ini setidaknya bisa dijadikan bekal bagi mereka yang gemar berpetualang mengunjungi berbabagi negara sambil menggali kekayaan sastra di negara-negara yang akan dikunjunginya. Atau setidaknya dengan membaca buku ini pembaca akan diajak melakukan perjalanan imajiner menyusuri lorong-lorong dunia tanpa harus beranjak dari kamarnya.

@h_tanzil
Read more »

Minggu, 26 Maret 2006

The Kite Runner


Judul : The Kite Runner
Penulis : Khaled Hosseini
Penerjemah : Berliani M. Nugrahani
Penerbit : Qanita
Cetakan : I, Maret 2006
Tebal : 618 hl ; 17.5 cm

"Buku ini begitu dahsyat, hingga untuk waktu yang lama, buku lain yang kubaca terasa hambar"
-Isabel Allende-

The Kite Runner adalah novel yang ditulis oleh penulis kelahiran Afghanistan, Khaled Hoseeini. Hosseini yang kini bermukim di Amerika adalah seorang putra diplomat yang yang dilahirkan di Kabul pada 1965. Saat ayahnya ditugaskan ke Paris 1976, ia meninggalkan Afghanistan dan tak bisa kembali ke tanah kelahirannya karena pada 1980 Rusia telah menduduki Afghanistan. Keluarga Hossseini akhirnya mendapat suaka politik dari pemerintah Amerika Serikat dan hingga kini ia tinggal di California dan menjadi seorang dokter.

Novel The Kite Runner merupakan karya perdananya dan juga novel Afghan pertama yang ditulis dalam bahasa Inggris. Novel ini menggambarkan suasana Afghanistan sebelum Rusia menginvasi negara ini (1979) hingga jatuhnya kekuasaan rezim Taliban. Ceritanya sendiri mengisahkan tokoh Amir yang dalam novel ini bertindak sebagai narator. Di masa kecilnya, Amir-yang ditinggal mati ibunya ketika melahirkannya-tinggal bersama ayah yang dipanggilnya Baba, dan pelayannya Ali serta putra Ali, Hasan, yang juga menjadi sahabatnya.

Baba, ayah Amir adalah sosok pria Afghan perkasa, pengusaha sukses, seorang moralis yang kebaikannya membuat dia disegani oleh teman-temannya. Baba menginginkan Amir tumbuh menjadi seorang pria yang tegar, menyukai aktivitas-aktivitas yang layaknya dilakukan oleh anak laki-laki seusianya seperti bermain bola, layangan, bela diri, dll. Namun Amir lebih senang tenggelam dalam buku-bukunya, menjadi pria lemah dan tidak dapat melindungi dirinya sendiri. Tiap kali dirinya mendapat masalah dengan teman-temannya, Hasan-lah yang selalu menjadi penolong dan pembelanya.

Kenyataan ini membuat Baba kecewa dan khawatir terhadap masa depan anaknya, hal inilah yang membuat hubungan antara Amir dan ayahnya kadang menjadi kaku, Amir yang dituntut oleh ayahnya untuk melakukan hal-hal yang tidak disukainya membuat ia tertekan dan perasaan terhadap ayahnya menjadi campur aduk antara benci dan cinta.

Hasan adalah seorang anak dari suku Hazara, suku paria dalam strata masyarakat Aghanistan. Ayahnya, Ali, telah mengabdi pada keluarga Baba semenjak kakek Amir mengangkatnya sebagai pembantu di rumahnya. Sama seperti ayahnya, Hasan senantiasa mengabdi pada majikannya. Walau antara Amir dan Hasan telah terjalin suatu persahabatan, Hasan tetap menganggapnya sebagai majikan dan tetap melayaninya dengan pengabdian dan kesetiaan tanpa batas.

Persahabatan antara Amir dan Hasan terhempas. Ketika mereka mengikuti turnamen layang-layang. Sudah menjadi tradisi di Afghanistan dimana setiap musim dingin, semua distrik di Kabul mengadakan turnamen adu layang-layang. Turnamen ini merupakan peristiwa yang ditunggu-tunggu di tengah kebekuan udara musim dingin. Turnamen adu layang-layang dimuali pagi-pagi sekali dan baru berakhir saat tinggal satu layang-layang pemenang menari di langit, tak jarang turnamen ini belum juga berakhir meskipun matahari sudah tenggelam. Layang-layang dimainkan oleh dua orang, satu orang yang menerbangkan dan mengendalikan, seorang lagi betugas sebagai asisten yang membawakan gulungan benang dan mengulurnya. Tak ada aturan yang rumit dalam turnamen ini, terbangkan saja layang-layangnya dan putuskan benang layang-layang lainnya. Keasyikan lain dalam turnamen ini adalah mengejar layang-layang yang putus, dimana anak-anak dengan antusias berlomba untuk mendapatkan layang-layang itu. Bagi para pengejar layang-layang, hadiah yang paling berharga adalah layang-layang yang terjatuh paling akhir dalam sebuah turnamen musim dingin. Sebuah trofi kehormatan yang diperebutkan dan bisa jadi kebanggan bagi setiap anak yang memperolehnya.

Amir dan Hasan tentu saja tak melewatkan kesempatan ini, turnamen ini juga dijadikannya suatu pembuktian kepada ayahnya bahwa ia bisa jadi anak yang membanggakan bagi ayahnya.

Ketika turnamen berakhir dan layang-layang terakhir terhempas, terhempas pulalah persahabatan antara Amir dan Hasan. Suatu tragedi menimpa Hasan, sebenarnya Amir memiliki kesempatan untuk menolongnya, namun keraguan dan ketakutannya membuat dirinya berlari meninggalkan sahabatnya sendirian, hal ini kelak akan membuat Amir dihantui rasa bersalah dan merasa dirinya telah menghianati sahabatnya. Segala cara dilakukannya agar ia bisa terbebas dari rasa bersalahnya. Alih-alih lari dari rasa bersalahnya, Amir mencoba berjarak dengan Hasan. Persahabatan mereka menjadi kaku dan tak lebih menjadi hubungan antara majikan dan pembantu. Namun perasaan bersalah itu tak pernah lepas dari kehidupannya

Situasi politik di Afghanistan memanas, Rusia menginvasi Afghanistan, hal ini membuat Amir dan ayahnya harus mengungsi meninggalkan negerinya. Hasan dan ayahnya tetap berada di Afghanistan (Hassan kan tidak di Kabul?) sementara Amir dan ayahnya mengungsi meninggalkan tanah airnya. Perjalanan dramatis keluar dari Afghanistan harus mereka lewati hingga akhirnya mereka berhasil sampai di Pakistan dan terus mengungsi menuju Amerika Serikat.

Walau Amir berada ribuan kilometer dari tanah kelahirannya. Ia tak bisa lari dari masa lalunya. Kehidupan baru dijalaninya, ia menikah dengan sesama pelarian Afghan, namun hidupnya selalu dihantui rasa bersalah sampai akhirnya Amir menerima telepon dari sahabat ayahnya yang memintanya untuk menemuinya, hal ini membuat dirinya melihat satu kesempatan untuk kembali ke Afghanistan untuk menebus dosa-dosanya yang telah ia pendam dan coba kuburkan selama berpuluh-puluh tahun. Dan seperti layang-layang, tak kuasa menahan badai, Amir harus menghadapi kenangannya yang mewujud kembali.

Ketika Amir kembali ke Afghansitan, tanah kelahirannya telah berubah, perang dengan Rusia dan perang saudara yang melahirkan rezim Taliban di bumi Afghanistan membuat negeri itu porak poranda dan menjadi negeri yang dijuluki negeri tanpa harapan. Amir secara dramatis harus menghadapi berbagai tantangan, menembus kekejian perang untuk menebus dosa-dosa masa lalunya.

Novel yang ditulis dengan gaya memoar ini memang sangat menyentuh pembacanya. Ceritanya kuat, eksplorasi karakter tokoh-tokohnya disajikan secara pas sehingga tidak ada karakter yang sia-sia dalam buku ini. Selain itu kalimat-kalimat yang mengaduk-ngaduk emosi pembacanya dan tema abadi yang diangkat mengenai kehidupan manusia: cinta, kehormatan, pengkhianatan, ketakutan, pengabdian, dan penebusan membuat buku ini menjadi sebuah buku yang memorable, buku yang akan selalu diingat sepanjang masa.

Novel ini juga memberi pemahaman kepada pembacanya mengenai konflik-konflik politik yang terjadi di Afghanistan, terutama mengenai kaum, Sunni dan Syi'ah. Kekejaman kaum Taliban, kesengsaraan rakyat Afghan dan porak porandanya infrastruktur kota-kota di Kabul dan sekitarnya juga terungkap dengan baik dalam buku ini. Selain itu, sisi-sisi menarik dari komunitas mayarakat Afghan-Amerika yang memiliki perkampungannya tersendiri memperluas wawasan pembacanya mengenai kehidupan rakyat Afghan yang harus memulai hidupnya dari nol dan melupakan status dan kehidupan mewah mereka di negara asalnya agar bisa bertahan hidup

Selain itu pembaca juga akan banyak dikejutkan oleh berbagai peristiwa yang tak terduga, hal ini menyebabkan akhir dari kisah novel ini menjadi unpredictable sehingga novel ini jadi tak membosankan dan membuat pembaca terus bertanya-tanya bagaimana akhir dari novel menarik ini.

Dari segi terjemahan novel ini patut mendapat pujian, pilihan kalimat-kalimatnya tersaji dengan lancar, enak dibaca, dan mudah dinikmati. Tak ada ganjalan berarti dalam membaca novel terjemahan ini. Kerja yang patut dihargai dari penerjemah dan editor novel ini.

Novel The Kite Runner adalah buku terlaris sepanjang tahun 2005 versi Publisher's Weekly dengan menduduki tangga atas best-seller selama lebih dari 50 minggu, selain itu novel ini diganjar sebagai buku terbaik tahun 2004 versi San Francisco Chronicles. Menurut situs imdb.com, novel ini sedang dipersiapkan untuk diadaptasi ke layar lebar oleh Marc Forster yang menyutradai film Finding Neverland (2004). Film Kite Runner rencananya akan dirilis pada 2007, kini masih dalam tahap Pre-production.

@ h_tanzil
Read more »

Minggu, 19 Maret 2006

Kara Ben Nemsi II : Penyembah Setan


Judul : Kara Ben Nemsi II - Penyembah Setan
Penulis : Karl May
Penerjemah : Harsutejo
Penerbit : Pustaka Primatama & PKMI
Tebal : 434 hlm

Melanjutkan petualangannya di Padang Gurun, kini Kara Ben Nemsi yang didampingi oleh Hajji Halef Omar, Sir Lindsay David dan seorang kepala suku Arab Shammar Haddedihn, Sheikh Mohhamed Emin meneruskan petualangan mereka menuju Benteng Amadijah untuk membebaskan putra sang Sheikh, Amad el Ghandur. Dalam perjalanannya mereka harus melintasi wilayah kaum Jesidi 'Kaum Penyembah Setan' yang dikenal sebagai suku yang jahat dengan kepercayaan aneh, menyembah setan, dan kerap melakukan ritual-ritual pengorbanan yang mengerikan.

Karena jiwa petualangan Kara Ben Nemsi, maka ia dan kawan-kawannya singgah ditengah-tengah kaum Jesidi yang memiliki reputasi buruk itu. Apa yang tadinya ditakutkan oleh kawan-kawannya bahwa kaum Jesidi akan menangkap mereka dan mendapat perlakuan buruk dari kaum Jesidi tidak menjadi kenyataan, rupanya nama Kara Ben Nemsi yang dikenal karena pernah menyelamatkan tiga orang kaum Jesidi yang ditangkap oleh suku Haddedihn membuat pemimpin kaum Jesidi menganggapnya sebagai tamu kehormatan sekaligus mendapat kesempatan untuk menyaksikan secara langsung perayaan suci kaum Jesidi. Suatu perayaan besar yang seharusnya tertutup bagi orang diluar kaum Jesidi. Dari persinggungannya dengan kaum Jesidi dan melihat langsung dengan mata kepala sendiri maka KBN dan kawan-kawannya akan melihat bagaimana anggapan terhadap kaum ini tidaklah sepenuhnya benar. Selain itu KBN juga berusaha untuk menyelamatkan kaum Jesidi dari serbuan suku Kurdi yang hendak menumpas dan merampas harta karun mereka.

Setelah petualangannya dengan kaum Jesidi berakhir, KBN dan kawan-kawannya melanjutkan rencana mereka untuk membeaskan putra Sang Sheik di Benteng Amadijah. Sesampai di Benteng Amadijah KBN disambut dengan baik oleh Mutasselim, Sang komandan benteng dan dipersilahkan untuk menginap di sebuah rumah yang ternyata halaman belakangnya berbatasan langsung dengan tembok penjara. Setelah diselidiki ternyata putra Sang Sheikh, Amad el Ghandur berada dalam penjara tersebut karena merupakan tahanan Mutasellim yang hendak diserahkan kepada Hakim Agung Anandoli di Mosul. Melihat keadaan ini KBN harus menggunakan kecerdikannya agar ia berhasil membebaskan putra Sang Sheikh tanpa harus 'merusak' statusnya sebagai tamu sang Mutasselim di Benteng Amadijah.

Secara garis besar buku ini mengisahkan dua buah petualangan menarik Kara Ben Nemsi dan kawan-kawannya.
Dalam petualangan pertamanya bersama kaum Jesidi, pembaca diajak menyelami kehidupan dan prosesi upacara suci kaum Jesidi yang dikenal sebagai kaum 'Penyembah Setan'. Kaum Jesidi yang diceritakan dalam buku ini adalah kaum yang sama dengan yang disebut kaum 'Yesidi'. Berdasarkan fakta yang ada, masyarakat Kurdi ini masih ada sampai sekarang dalam jumlah yang sudah sangat sedikit dan merupakan kaum rahasia yang mencampur adukkan unsur-unsur penyembahan berhala, Islam, Kristen, Yahudi, dan agama Zorooaster.

Kaum Jesidi serta kepercayaannya ini pada zaman Karl May hidup banyak diserang oleh banyak penulis-penulis Barat yang sayangnya, mereka hanya mendengar tentang kaum ini dari penuturan para pelancong yang diragukan kebenarannya. Mereka percaya kaum Jesidi kerap melakukan upacara-upacara penyembahan Setan dan tidnakan -tindakan jahat lainnya, tentu saja hal ini menyebabkan kaum Jesidi menjadi kaum yang tersudut oleh anggapan buruk tadi.

Rupanya hal inilah yang menjadi pertimbangan mengapa Karl May memilih kaum ini menjadi pokok bahasan. Dalam setiap karya-karyanya Karl May memang sangat peduli terhadap nasib maysarakat yang tertindas baik secara fisik maupun mental. Melalui kisah petualangan ini pembaca akan diajak melihat kenyataan sesungguhnya dari suatu bangsa yang dikucilkan karena kepercayaan yang dianutnya.

Petualangan kedua dalam buku ini yang mengisahkan upaya Kara ben Nemsi untuk menyelamatkan putra kepala suku Arab Shamar Haddedihn. Kisah ini tidaklah kalah menariknya dengan petualangan dengan kaum Jesidi. KBN kini berada dalam suatu masyarakat miskin yang haus akan harta, segala sesuatu dinilai dengan harta. Disini pembaca akan diajak melihat bagaimana harta bisa demikian kuatnya mempengaruhi kehidupan suatu masyarakat mulai dari pemimpinnya hingga para bawahannya.

Dalam petualangannya di di Benteng Amadijah ini KBN kembali berhasil menyelamatkan nyawa seorang wanita yang semula diduga kerasukan roh jahat. Dengan akal sehatnya KBN berusaha untuk menyembuhkan si wanita yang ternyata merupakan cicit dari tokoh spritual masyarakat Kurdi yang kelak akan ditemuinya kembali dalam petualangannya di Kurdistan (baca KBN III : Petualangan di Kurdistan - Pustaka Primatama,2005). Selain itu trik-trik menarik KBN dalam usahanya menyelamatkan putra Sang Kepala Suku juga menjadi hal yang menarik dan membuat penasaran untuk diikuti hingga halaman terakhir buku ini.

Berbagai pernak-pernik menarik yang menghibur juga akan kita temui dalam buku ini. Mulai dari kepiawaian KBN yang harus mencabuit gigi seorang Pasha tanpa rasa sakit, kepiawaian KBN dalam membuat bir yang 'halal', hingga cara cerdas agar keledai berhenti menguak dimalam hari membuat petualangan KBN benar-benar menarik dan penuh warna. Selain itu adat istiadat, makanan, dan perilaku sosial dari masyarakat yang ditemuinya dalam petualangan kali ini membuat buku ini tidak hanya menghibur namun juga membuka wawasan pembacanya akan kehidupan di Dunia Timur yang eksotis. Dan yang selalu ada dalam kisah petualangan Karl May dimanapun, kisah ini menyiratkan berbagai nilai-nilai humanisme, toleransi dan perdamaian antar suku-suku bangsa yang tentunya masih sangat relevan dibaca hingga kini.

Sebagai catatan yang eprlu diketahui, Kisah Penyembah Setan dalam buku ini, khususnya pada bab 21-29, ternyata belum pernah diterbitkan sebelumnya di Indonesia. Sedangkan bab 30 dst, pernah diterbitkan oleh Pradnya Paramita (penerbit buku2 KM) pada tahun 1960-an dan diberi judul "Di Kurdistan". Tak diketahui dengan pasti mengapa Pradnya tidak menerbitkan kisah ini. Kini dengan terbitnya buku ini, maka pembaca Karl May di Indonesia yang telah bersabar sedemikian lamanya akhirnya bisa menikmati sebagian kisah yang hilang selama lebih dari 40 tahun!

Satu hal yang agak disayangkan dalam buku ini adalah masih banyaknya kesalahan cetak berupa salah ketik kata maupun salah dalam penempatan spasi antar kata. Mungkin dalam cetakan selanjutnya ke depan perlu kerja keras dari para "proof reader" agar kenikmatan pembaca dalam menyelami petualangan KBN tidak terganggu karena adanya kesalahan dalam pengetikan naskah buku ini.

@ Tanzil Ben Bandung
http://bukuygkubaca.blogspot.com/
Read more »

Senin, 13 Maret 2006

Kerlip Istana Bintang


Judul : Kerlip Istana Bintang
Penulis : Mei Rose
Penerbit : Grasindo
Cetakan : I, 2006
Tebal : 199 hlm
Harga : Rp. 24.000,-

Mei Rose (http://mei-rose.blogspot.com). Bagi sebagian orang nama penulis ini mungkin masih terasa asing, namun bagi yang sering membaca cerpen-cerpen di berbagai media seperti Femina, Kartini, Swara Cantika, majalah Aksara, dll, nama Mei Rose mungkin tak terasa asing.
Setelah sekian lama menulis cerpen dan puisi, kini penulis kelahiran Surabaya ini menelurkan novel genre chick-lit pertamanya " Kerlip Istana Bintang"

Novel perdananya ini mengisahkan lika-liku kehidupan Zamara, seorang gadis yang meniti karir sebagai seorang presenter handal disebuah stasiun TV swasta terkenal. Bermula dari pekerjaannya sebagai seorang penyiar radio Zamara adalah sosok pekerja keras yang mengisi hari-hari diluar jam siarannya untuk mencari tambahan penghasilan untuk membantu ibunya, seorang pembuat kue yang sakit-sakitan dan kedua saudara kembarnya yang masih bersekolah, ayahnya sudah lama meninggal, otomatis Zamara menjadi tulang punggung bagi keluarganya

Secara kebetulan Zamara yang sedang bekerja sebagai SPG disebuah pameran mobil, bertemu dengan Adam, seorang presenter disebuah stasiun TV terkenal. Tertarik oleh gaya Zamara dalam melakukan promosi sebuah mobil, Adam menyarankannya untuk melamar di stasiun TV tempatnya berkerja. Zamara akhirnya diterima sebagai eorang presenter sekaligus reporter lapangan. Kehidupan seorang presenter yang nampaknya glamour tak merubah kepribadian Zamara. Ia tetap menjalani kehidupannya seperti biasa, ia tetap berkawan dengan teman-teman lamanya, bahkan Zamara menjadi sosok yang membuat teman-temannya terhibur ketika mereka diperhadapkan dalam masalah cinta dengan pasangannya masing-masing.

Perlahan tapi pasti Zamara menjadi seorang presenter berita dan reporter yang handal, hal ini mengantarnya untuk meliput berbagai peristiwa demonstrasi mahasiswa pada bulan Mei 1998. Kegigihannya dan keberaniannya dalam mencari sumber berita dilakoninya tanpa rasa takut, hampir saja dirinya terseret dalam amuk massa disaat situasi chaos kota Jakarta mencapai puncaknya. Keberaniannya ini pulalah yang mengantarnya untuk meliput situasi perpindahan kekuasaan di Istana Negara. Zamara semakin terkenal, kepopulerannya mencapai puncaknya ketika dirinya dianugerahi sebuah award untuk presenterwanita terbaik pilihan permirsa TV.

Dengan semakin terkenalnya Zamara, kesibukan semakin menuntutnya untuk selalu mencurahkan seluruh waktunya untuk pekerjaannya. Kehidupan pribadinya mulai tersingkirkan, hubungan dengan Island, kekasihnya menjadi terganggu, pertengkaran dengan Island tak terhindarkan, Zamara mencoba lari dari kenyataan, suatu tragedi harus dihadapinya, namun hal ini nantinya akan membawa Zamara pada suatu perenungan akan apa yang sesungguhnya sedang dicarinya.

Sisi menarik dari novel ini adalah pengungkapan sisi-sisi menarik kehidupan seorang presenter TV yang dalam novel ini diwakilkan kedalam tokoh Zamara. Sebuah dunia yang tampaknya serba glamour ini akan diungkap dalam kehidupan Zamara. Melalui tokoh Zamara pembaca novel ini akan mengetahui kehidupan seorang presenter terkenal tidaklah seglamour yang dibayangkan, kalau selama ini kita hanya mengenal seorang presenter dengan pakaian yang rapih, rias wajah yang segar, semua tampak serba mudah dan glamour, namun dibalik itu lewat tokoh Zamara kita akan melihat bagaimana kehidupan dan kerja keras yang terkadang tak mengenal waktu dan bahaya yang harus dilakukan seorang presenter guna menyajikan laporan yang terbaik untuk sebuah tayangan informasi.

Novel ini juga menyajikan penggalan peristiwa sejarah Tragedi Mei 1998 dimana tokoh Zamara dikisahkan terlibat secara langsung didalamnya. Seperti dituturkan Mei Rose dalam emailnya pada saya, beberapa kejadian yang dialami oleh Zamara adalah peristiwa yang sesungguhnya yang dialami oleh beberapa reporter terkenal dalam meliput peristiwa Tragedi Mei 1998, dan peristiwa liputan pergantian kekuasaan di Istana Negara pada tgl 21 Mei 1998. Dengan demikian bisa dikatakan novel ini mencoba merekam peristiwa sejarah bangsa dan pengalaman pribadi beberapa reporter TV terkenal dalam meliput sebuah peristiwa bersejarah.

Beberapa pesan-pesan mengenai ketekunan terhadap profesi, makna cinta, penghianatan, persahabatan, egoisme dan penemuan arti kehidupan bagi seseorang yang berada dalam puncak kesuksesan akan kita temui dalam buku ini. Namun tak berarti novel ini terkesan menggurui, kesemuanya itu terangkai dalam sebuah kisah yang renyah, kalimat-kalimatnya mengalir lincah dan enak dibaca. Di novel ini terungkap juga tips-tips menarik bagaimana menjadi seorang presenter yang baik yang mungkin bermanfaat bagi pembacanya, karena tips-tips tersebut juga bermanfaat bagi pengembangan kepribadian pembacanya apapun profesinya.


Yang mungkin agak disayangkan adalah adanya beberapa peristiwa serba ‘kebetulan’ yang tersaji dalam novel ini. Seperti peristiwa kebetulan yang ditemui oleh para sahabat Zamara ketika mereka terlibat dalam masalah dengan para kekasihnya di sebuah kapal pesiar. Lalu ada juga peristiwa kebetulan yang mempertemukan Zamara dengan Island. Walau kejadian serba ‘kebetulan’ itu bukan merupakan cerita inti dari novel ini namun tak ada salahnya penulis untuk sedikit me’milin’ peristiwa diatas agar unsur ‘kebetulan’ nya menjadi tak telalu ‘kentara’.

Selain itu beberapa hal yang bisa membuat cerita ini semakin menarik seperti kisah kehidupan keluarga Zamara setelah dirinya mencapai puncak kesuksesan tampaknya tak tereksplorasi dengan baik di novel ini. Padahal di awal-awal cerita keluarga Zamara cukup tereksplorasi dengan cukup baik.

Seperti dituturkan penulis melalui emailnya, biografi penulis pada halaman belakang novel ini bukanlah biografinya, entah bagaimana kesalahan fatal ini bisa terjadi, semoga dicetakan berikutnya biografi ini bisa diperbaiki.

Terlepas dari hal-hal diatas sebuah novel chick-lit yang menghadirkan tokoh seorang presenter ini sepertinya sangat layak untuk diapresiasi oleh siapa saja, karena selain menghibur, novel ini juga nampaknya memiliki berbagai pesan seperti yang telah diuangkapkan diatas, selain itu novel ini nampaknya bagus juga untuk disimak oleh mereka yang bercita-cita sebagai seorang presenter.

@h_tanzil
Read more »