Minggu, 24 September 2006

The Namesake


Judul : The Namesake
(Makna Sebuah Nama)
Penulis : Jhumpa Lahiri
Penerjemah : Gita Yuliani K
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Agustus 2006
Tebal : 336 hlm; 23 cm
Harga : Rp. 42.000,-


The Namesake, sebuah kisah menarik yang mengambil tema besar persoalan identitas. Novel ini mengisahkan kehidupan dua generasi keluarga Benggali yang bermukin di Amerika Serikat. Generasi pertama diwakili oleh pasangan Ashoke Gangali dan Ashima, generasi kedua diwakili oleh anak pertama mereka, Gogol. Kisahnya membentang sepanjang tiga dekade, sejak tahun 1968 hingga 2000.

Novel ini dibuka dengan peristiwa-peristiwa menjelang kelahiran anak pertama pasangan Ashoke dan Ashima Gangali di Amerika Serikat. Sesuai dengan tradisi keluarga, nenek Ashimalah yang akan memberi nama pada bayi mereka, karenanya mereka sepakat untuk menunda memberi nama bayi hingga surat sang nenek yang berada di Calluta datang. Nenek Ashima mengeposkan suratnya sendiri. Surat itu berisi satu nama bayi laki-laki, satu nama bayi perempuan. Tak seorangpun tahu apa yang ditulis oleh sang Nenek.

Malangnya ketika Ashima sudah melahirkan, surat berisi nama bayi itu belum mereka terima. Bahkan hingga tiba saat Ashima dan bayinya harus dibawa pulang ke rumah, surat berisi nama pemberian tersebut tidak pernah datang. Hingga Nenek Ashima hilang ingatan dan meninggal dunia, surat tersebut tak pernah sampai.

Keharusan untuk memberi nama bayi sebelum pulang oleh petugas catatan sipil di rumah sakit tiba-tiba dalam benak Ashoke muncul sebuah nama untuk putranya. “Gogol”.
Seketika itu juga dicatatlah bayi pasangan Ashoke dan Ashima dengan nama Gogol Ganguli , nama yang aneh dan tak lazim bagi keluarga Bengali.

Sebenarnya bukan tanpa alasan Ashoke memberi nama Gogol pada anaknya, nama ini dipilihnya karena ada dua hal bersejarah dalam hidupnya. Pertama, Gogol adalah kependekan dari Nikolai Gogol, pengarang Rusia yang amat dikaguminya. Kedua, nama itu mengingatkan dirinya akan sebuah trauma bagi Ashoke yang kelak akan mengubah jalan hidupnya.

Di usianya yang ke 22 Ashoke mengalami kecelakaan kereta api yang menyebabkan dirinya hampir mati. Tubuhnya yang terhimpit diantara mayat-mayat korban kecelakaan kereta nyaris tak tertolong jika saja ia tak sedang memegang robekan buku kumpulan cerpen Nikolai Gogol yang sedang ia baca. Regu penolong menemukan dirinya ketika ia sedang melambai-lambaikan tangannya bersama robekan buku tersebut.

Nyawanya tertolong, walau kakinya menjadi cacat dan meninggalkan trauma yang dalam pada dirinya. Setelah sembuh dari sakitnya, Ashoke terinpirasi oleh Nikolai Gogol yang berkelana ke Eropa hinga Palestina dalam upaya mencari jati diri. Ia pun berkelana menuju Amerika untuk menyembuhkan trauma akibat kecelakaan yang hampir merengut nyawanya.

Keputusannya untuk pergi ke AS memang mengubah jalan hidupnya. Dan dari sinilah kisah ini mengalir antara Cambridge, Boston, New York, dan Calcutta. Ashoke menikah dengan Ashima dan memiliki dua orang anak, Gogol dan Sonia.

Kelak ketika sudah mulai dewasa Gogol membenci namanya. Baginya namanya aneh, absurd, dan sama sekali bukan nama Amerika apalagi India. Ia tahu bahwa namanya terinspirasi dari nama salah seorang penulis Rusia, namun ia menyesalkan mengapa ayahnya tidak memberinya nama depan penulis Rusia lain seperti Anton atau Leo. Kekecewaan terhadap namanya bertambah ketika ia mengetahui riwayat hidup Nikolai Gogol yang akhirnya depresi dan sakit jiwa hingga meninggalnya. Ketika ayahnya menjelaskan bahwa dirinya pernah diselamatkan oleh buku karya penulis Rusa itu, cerita itu tak membuat Gogol menyukai namanya.

Nama Gogol yang dibencinya itu disandangnya sebagai nama panggilan dan nama resmi di berbagai dokumen penting. Sesaat sebelum memasuki bangku kuliah, atas seijin orang tuanya, Gogol mengajukan permohonan untuk mengganti nama resminya dari Gogol menjadi Nikhil. Nama Nikhil ini pernah diberikan ayahnya ketika ia mendaftarkan Gogol ke TK. Bagi Gogol nama Nikhil lebih terdengar umum karena bisa dipanggil “Nick”, nama yang umum di Amerika. Semenjak itu namanya resmi menjadi Nikhil dan mulailah Gogol menjalani kehidupannya dengan nama barunya.

Berbagai peristiwa yang dialami Gogol terungkap dalam novel ini, konflik-konflik bermunculan ketika ia mulai berkencan dengan beberapa teman wanitanya. Selain konflik batin dengan dirinya sendiri dan pasangannya yang selalu berakhir dengan kegagalan, hubungan Gogol dan keluarganya juga menjadi jauh hingga akhirnya kematian Ashoke mendekatkan kembali dirinya dengan keluarganya. Rangkaian peristiwa-peristiwa ini kelak akan membentuk Gogol, mengubahnya, dan menentukan siapa dirinya sesungguhnya.

Walau tokoh utama dalam novel ini adalah Gogol, kehadiran tokoh-tokoh lain seperti Ashoke, Ashima, Sonia, Moushomi, dll, disajikan sesuai dengan porsinya masing-masing sesuai dengan tuntutan cerita. Perpindahan cerita dari satu tokoh ke tokoh lainnya pun tersaji dengan lancar sehingga tak membingungkan pembacanya. Selain itu kedalaman dalam mendeskripsikan satu persatu tokoh-tokoh dalam novel ini baik fisik maupun pikiran mereka, ditambah infromasi mengenai budaya masyarakat India di Amerika membuat kisah ini menjadi kaya akan informasi.

Melalui novel ini juga pembaca seakan diajak menyelami kehidupan keluarga imigran India di AS. Walau sudah tinggal dan menetap sekain lama di Amerika mereka tetap melakukan ritual sehari-hari yang biasa mereka lakukan di tanah kelahiran mereka, begitu pula dengan tradisi tahunan yang berlatarkan agama Hindu. Hal-hal tersebut kerap dilakukan oleh masyarakat Bengali yang lahir di India dan menetap di Amerika seperti halnya Ashoke dan Ashima. Mulai dari pakaian Ashima yang selalu mengenakan sari, memasak makanan India, pertemuan rutin sesama keluarga Bengali, dll. Dengan demikian, walau mereka sudah berwarga negara Amerika akar budaya India tetap melekat dalam diri mereka.

Tidak demikian halnya dengan generasi pertama India yang lahir dan besar di Amerika seperti halnya Gogol. Dalam novel ini Gogol dikatakan sebagai salah satu di antara banyak orang India beridentitas ganda di Amerika yang dijuluki ABCD (American Born Confused or Conflicted). Walau kultur India mau tak mau melekat dalam darahnya, Gogol merasa bahwa ia orang Amerika, perilakunya baik dalam sekolah, mencari hiburan, maupun mencari teman kencan, semua menunjukkan bahwa ia memang orang Amerika. India hanya dikenal sebagai tanah leluhur lewat makanan, tradisi yang dilakukan oleh kedua orang tuanya dan kunjungannya beberapa kali ke Callcuta.

Melalui Gogol maka Ashoke dan Ashima melihat bagaimana benturan-benturan budaya harus mereka hadapi, Gogol yang hidup dalam ke-Amerikaannya selalu menjaga jarak dari asal-usulnya, untunglah orang tuanya selalu berupaya menjembatani jarak tersebut sebaik mungkin.

Sebenarnya tema dan alur cerita dalam novel ini sangatlah sederhana dan tak berbelit-belit. Semua mengalir dengan lancar, tak ada plot yang mengagetkan, nyaris tak ada klimaks. Semua peristiwa demi peristiwa tersaji wajar dan mengalir bergitu saja. Walau banyak terdapat kilas balik di tengah-tengah cerita namun perpindahannya tersaji secara tepat sehingga tidak mengganggu keasyikan membaca.

Novel ini sepertinya dibuat untuk memberikan kenikmatan membaca novel pada para pembacanya. Tak ada kalimat-kalimat rumit atau metafora-metafora yang berlebihan, semua disajikan dengan gaya bercerita yang sederhana namun kaya akan detail yang membuat pembacanya merasa sangat ‘dekat’ dengan apa yang diungkap oleh novel ini. Walau bukan bacaan ‘berat’ novel ini tetap memiliki bobot sastra.

Dari segi terjemahan tampaknya novel ini diterjemahkan dengan baik sehingga kekuatan dan kekhasan penulis dalam merangkai dan mendeskripsikan cerita dapat pula dirasakan melalui terjemahan novel ini.

The Namsake memang tak meraih penghargaan apapun dalam bidang sastra, namun bukan berarti novel ini tak terdengar gaungnya, buku ini sempat berada pada jajaran buku best seller di The New York Times selama beberapa minggu. Kabarnya novel ini tengah dibuat filmnya dan akan dirilis pada Maret 2007 di Amerika Serikat dan Inggris.




@h_tanzil
Read more »

Jumat, 15 September 2006

Hana's Suitcase


Judul : Hana’s Suitcase
Penulis : Karen Levine
Penerjemah : Yohan Rahmat Santosa
Penerbit : Kanisius
Cetakan : I, 2006
Tebal : 143 hal
Harga : Rp. 20.000,-


Hana Brady, namanya tak seterkenal Anne Frank, namun nasib yang dialaminya tak jauh berbeda dengan penulis buku harian paling terkenal di dunia itu. Nama Hana Brady mungkin akan terlupakan selamanya jika saja di tahun 2000 Fumiko Ishioka, seorang guru dan koordinator pusat studi Tokyo Holocaust Center tidak meminta pada museum Auschwitz untuk meminjam artrefak milik anak-anak Yahudi korban pembantaian Nazi pada saat Perang Dunia II. Melalui artefak itu Fumiko ingin agar anak-anak di Jepang lebih memahami cerita tentang pembantaian jutaan anak Yahudi yang terjadi lebih dari lima puluh tahun yang lalu.

Beberapa bulan kemudian, sebuah paket dari Museum Auschwtiz tiba di Jepang, Fumiko menerima sepasang kaus kaki dan sepatu anak-anak, baju hangat anak-anak, sebuah kaleng gas beracun, dan sebuah kopor. Kopor itu satu-satunya barang yang memberikan petunjuk nama pemiliknya. Pada kopor tersebut tertulis nama Hanna Brady lengkap dengan tanggal lahir dan kalimat “Waisenkind” yang berarti ‘yatim piatu’.

Kopor Hana ini rupanya membuat Fumiko dan kelompok anak-kanak didiknya yang bernama Small Wings tergerak untuk mengetahui lebih banyak tentang anak perempuan pemilik kopor tersebut.

Hana Brady, si pemilik kopor tidak seperti Anne Frank yang mencatat semua pengalaman-pengalamannya dalam buku harian, karenanya perlu kerja keras dari Fumiko untuk menelusuri jejak Hana Bardy hingga ke Eropa dan Amerika Utara.

Usaha Fumiko tak sia-sia, Misteri kopor itu membawanya kembali ke waktu tujuh puluh tahun silam, pada Hana kecil dan keluarganya yang kegembiraan hidupnya di sebuah kota kecil Cekoslovakia direngut oleh kedatangan tentara Nazi.

Keluarga Brady tinggal di Nove Mesto. Kota kecil di daerah perbukitan di negara Cekoslovakia. Hana tinggal bersama kakaknya Goerge dan kedua orang tuanya yang memiliki toko kelontong. Mereka hidup berkecukupan dan merupakan keluarga yang harmonis. Pada 15 Maret 1939, tentara Nazi memasuki sebagian daerah Cekozlovakia, dan kehidupan keluarga Brady pun berubah. Saat itu Hana baru berusia 8 tahun, sedangkan George, kakaknya berusia 11 tahun. Setelah kedatangan Nazi masa kana-kanak Hana tak seindah sebelumnya, berbagai larangan dan pembatasan bagi warga Yahudi membuat mereka tak bisa bersekolah dan bermain dengan bebasnya. Hal ini membuat Hana menjadi sedih.

Kesedihannya semakin bertambah ketika satu persatu orang-orang yang dikasihinya direngut dari dirinya, berawal dari Ibunya, ayahnya, dan terakhir George. Hana Brady berusia 11 tahun ketika ia dan George harus dideportasi dari kota kelahirannya menuju kamp Thereinstadt. Di kamp ini anak laki-laki harus dipisahkan dengan anak perempuan sehingga Hana harus berpisah dengan George, namun Hana masih bisa menemui kakaknya di sela-sela waktu bebasnya. Beberapa bulan kemudian George dipindahkan ke Auschwitz. Hana benar-benar merasa kehilangan satu-satunya kakak yang ia cintai sekaligus pelindungnya. Empat minggu kemudian di usianya yang ke 13, giliran Hana yang dideportasi menuju kamp maut Auschwitz.

Apakah Hana berhasil bertahan hidup dalam kamp maut itu ? Kelak George yang berhasil dihubungi Fumiko bahkan sempat berkunjung ke Tokyo Holocauts Center – Jepang akan menceritakan semuanya. Sehingga jati diri dan pengalaman hidup pemilik Kopor Hana akan terungkap dengan jelas.

Bab-bab dalam buku ini disajikan secara berselang-seling antara masa lalu dan masa kini. Satu bab menceritakan masa kecil Hana di Nove Mesto – Cekoslovakia hingga dideportasi ke Austwitz, bab berikutnya menceritakan usaha Fumiko dalam menelusuri jejak-jejak kehidupan Hana. Pembagian bab secara berselang-seling seperti ini memberikan kesempatan ‘bernafas’ bagi pembacanya agar tak terus terperangkap dalam masa lalu Hana yang pahit, penuh dengan suasana muram dan kesedihan

Pada bab-bab yang menceritakan masa lalu Hana, buku ini sebagian besar berisi pengalaman-pengalaman memilukan Hanna dan George, antara lain ketika Marketa, ibu mereka, diharuskan untuk menghadap ke markas Gestapo. Ini berarti ia tak bisa bertemu dengan suami dan anak-anaknya lagi dalam jangka waktu yang tak menentu. Kecintaannya pada Hana terungkap ketika malam sebelum dirinya harus pergi meninggalkan keluarganya. Malam itu ibu Hana menidurkan Hana dan memeluk Hana erat-erat. Ia mengelus-elus rambut Hana dengan jari-jarinya yang halus, seperti yang ia lakukan ketika Hana masih kecil. Lalu ia menyanyikan lagu kesukaaan Hana terus menerus hingga Hana tertidur. Hana tertidur dalam dekapan ibunya. Dan keesokan harinya ketika Hana bangun, ibunya telah pergi. (hal 50).

Pengalaman-pengalaman Hana selama dalam kamp tahanan Theresienstadt terungkap dengan jelas, hanya saja karena mungkin buku ini diperuntukkan bagi anak-anak, maka gambaran penyiksaan dan penderitaan yang dialami oleh Hana dan anak-anak Yahudi lain tidak diungkap secara jelas, sebagai gantinya buku ini lebih mengeksplorasi perasaan kesedihan dan keadaan jiwa Hana selama dalam kamp tahanan.

Selain pengalaman-pengalaman Hana yang menyentuh, buku ini mengungkap pula hal-hal yang membuat Hana dan kawan-kawannya sedikit terhibur, antara lain ketika mereka akhirnya bisa belajar menggambar dan menyanyi untuk sejenak melupakan kesedihan mereka.


Ketika akhirnya Hana dipindahkan dari kamp Theresiendstad menuju Auschwitz, ada sebersit harapan bagi dirinya untuk bertemu dengan George yang telah lebih dulu berada disana. Sesampai di Auschwitz Hana melihat pemandangan yang memilukan, di bawah ancaman anjing-anjing besar yang buas dan di bawah pengawasan beberapa petugas yang tidak berseragam. Hana dan teman-temannya berbaris melewati barak yang luas dan melihat para tahanan yang mengenakan seragam bergaris-garis yang wajahnya sudah seperti tengkorak. Mereka diperintahkan untuk memasuki sebuah bangunan yang besar. Setelah mereka masuk, pintu ditutup dengan keras. (108). Sampai di sini episode kehidupan Hana diceritakan dalam buku ini.

Bab-bab yang menceritakan perjuangan Fumiko untuk memperoleh keterangan mengenai Hanna, tak kalah menariknya. Berbagai hambatan harus ditemuinya sebelum ia memperoleh petunjuk siapa sebenarnya dan bagaimana kehidupan Hana sebelum dan setelah berada dalam kamp tahanan. Fumiko hampir saja menyerah ketika ia menemui jalan buntu. Untunglah berkat kegigihannya, bagaikan menyusun sebuah puzzle, Fumiko akhirnya bisa memperoleh keterangan yang utuh, bahkan bisa bertemu dengan George, kakak Hana yang kelak akan menceritakan kisah dirinya dan Hana pada Fumiko.

Plot kisah Hana dalam buku ini tersaji secara cepat, kalimat-kalimatnya ditulis secara sederhana sehingga tak menyulitkan anak-anak/remaja yang membaca buku ini. Selain itu buku ini juga dilengkapi oleh puluhan foto hitam putih Hana beserta keluarganya, foto kopor Hana, gambar-gambar yang dibuat oleh Hana selama dalam kamp tahanan, dan dokumen-dokumen yang dibuat oleh Nazi. Selain itu foto-foto Fumiko dan kegiatan anak-anak didiknya juga turut menghiasi buku ini.

Buku yang menceritakan kisah nyata penderitaan anak-anak akibat kedkatatoran Nazi, yang diwakili oleh Hana ini ditulis oleh Karen Levine, seorang produser acara-acara dokumenter di sebuah radio di Kanada. Ia tertarik pada cerita kopor Hana ketika membaca sebuah artikel yang dibuat oleh Paul Lungen dari Canadian Jewish Nesh. Cerita itu sangat menyentuh hatinya sehingga ia bertekad untuk membuat siaran dokumenter di radionya. Dan hasilnya, Hana’s Suitcase disiarkan di CBC radio One pada bulan Januari 2001. Karena mendapat sambutan hangat dari pendengarnya, akhirnya Levine membukukan kisah kopor Hana. Sama seperti program radionya, buku yang diberi judul Hana’s Suitcase ini mendapat respon yang baik dari pembacanya. Buku ini juga memperoleh beberapa penghargaan antara lain “Book ot The Year” untuk buku anak-anak dari Canadian Library Asociaton, Silver Birch dari Ontario Library Asociaton, dll.

Kini Hana’s Suitcase diterjemahkan dengan judul yang sama dengan buku aslinya. Sangat mungkin buku ini merupakan buku pertama yang diterbitkan di Indonesia yang bertema Holocaust yang diperuntukkan bagi pembaca remaja. Tentunya diharapkan kisah yang sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan seperti simpati, toleransi, menghargai kehidupan, dan betapa memilukan nasib manusia jika kekuasaan jatuh di tangan orang-orang yang tak berhati dapat terbaca oleh anak-anak remaja.

Tak ada kata lain, buku ini sebuah bacaan yang baik untuk dibaca oleh kita dan anak-anak kita. Kisah dalam buku ini adalah sebuah pengingat akan kebrutalan masa lalu dan harapan untuk masa depan.

@h_tanzil
Read more »

Jumat, 08 September 2006

Betsy dan Sang Kaisar


Judul : Betsy and The Emperor
(Betsy dan Sang Kaisar)
Penulis : Staton Robin
Penerjemah : Donna Widjajanto
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 269 hal
Genre : Teen-lit
Harga : Rp. 25.000,-


Napoleon Bonaparte, namanya tercatat di semua buku-buku sejarah dunia. Setelah ratusan tahun lamanya Perancis dipimpin oleh raja-raja, Napoleon Bonaparte merupakan pemimipin Perancis pertama yang bergelar Kaisar, ia memerintah pada tahun 1804-1814 dan 1815. Pada masa jayanya, Napoleon Bonaparte mungkin salah satu pemimpi paling besar sepanjang sejarah manusia. Melalui karismanya yang disertai kerja keras dan ambisi gilanya, ia bertekad untuk mewujudkan mimpinya untuk menguasai seluruh Eropa. Mimpinya hampir saja terwujud, seluruh dataran Eropa hampir saja dikuasainya baik dengan diplomasi maupun peperangan. Sayang kekalahannya di Waterloo melawan pasukan Inggris yang dipimpin oleh Duke of Wellington membuat ambisinya terhenti sekaligus mengakhiri kariernya sebagai Kaisar Perancis. Napoleon ditangkap dan diasingkan ke pulau terpencil St. Helena. (1815)



Betsy Balcombe, gadis tomboy berusia empat belas tahun, badung, memiliki jiwa yang bebas, pemberontak dan gemar berpetualang. Ia tinggal di 'The Briars', yang letaknya beberapa mil dari Jamestown- ibukota St Helena bersama keluarganya, ayahnya seorang kepala penjualan East India Company.

Takdir sejarah mempertemukan Betsy dengan Napoleon Bonaparte. Karena rumah tahanan Napoleon di Longwood sedang diperbaiki, mantan Kaisar Perancis yang paling ditakuti dan dibenci di seluruh Eropa itu harus tinggal sementara di paviliun rumah keluarga Betsy. Awalnya Betsy tak menyukai kehadiran Sang Kaisar di rumahnya. Namun, siapa sangka, lambat laun Betsy dan Napoleon malah bersahabat. Kerapnya mereka bertemu dan bercakap-cakap membuat Betsy mulai mengagumi cara berpikir dan keberanian Napoleon. Belum lagi ditambah dengan kemampuan Napoleon dalam menganalisis apa yang ada dalam benak Betsy. Begitupun dengan Napoleon, ia merasa antara dirinya dengan Betsy memiliki banyak kesamaan “Saat aku membicarakan perasaanmu, aku sama saja membicarakan perasaanmu sendiri – saat seusiamu. Kau dan aku sangat mirip…” (hal 87).

Hal yang perlu dicatat, kedekatan dan persahabatan mereka bukanlah kedekatan asmara, melainkan kedekatan persahabatan antara dua orang yang ternyata memiliki berbagai kesamaan. Perbedaan usia yang cukup jauh (32 tahun) tak menghalangi persahabatan mereka. Mereka saling berukar pikiran, berkuda, bahkan bermain kartu bersama. Bahkan Betsy memanggil sang kaisar dengan panggilan akrabnya “Boney”

Kehadiran Betsy bagi Napoleon bagikan secerah sinar di tengah gelapnya episode kehidupannya yang harus dilaluinya. Bagaimana tidak, statusnya sebagai tahanan membuat Napoleon tidak bisa bergerak dengan bebas, setiap hari ia dijaga oleh dua ribu tentara inggris, ditambah satu kapal di perairan St Helena yang selalu berjaga-jaga agar Napoleon tidak melarikan diri lewat laut. Ruang geraknya dibatasi, bahkan iapun tak bisa menambah porsi makanannya sendiri.Namun keadaan ini tak menyurutkan mimpi dan harapan Napoleon. Ia begitu yakin, bahwa dirinya akan kembali bebas dan memerintah sebagai kaisar Perancis. Tekadnya ini menyulut semangat Betsy untuk mencari berbagai cara untuk membantu sang kaisar melarikan diri dari St. Helena. Apalagi kelak jika rumah tahanan di Longwood telah selesai dan Gubernur baru tiba, maka dipastikan keadaan Napoleon semakin buruk ruang geraknya akan semakin terbatas, segala kemewahan yang selama ini diperoleh di The Brairs tak mungkin lagi diperolehnya Berhasilkan Betsy membantu Napoleon melarikan diri ? Sejarah telah mencatat bagaimana dan dimana akhirnya mimpi dan ambisi Napoleon harus berakhir

Di Amerika, novel ini dikategorikan sebagai Historical fiction bagi pembaca “Young Adult”. Karena diperuntukkan bagi pembaca remaja novel ini tersaji dengan ringan, pembaca akan disuguhkan tingkah laku Betsy yang badung dan superaktif yang selalu membuat sang kaisar tertawa. Selain itu novel ini juga berisi petualangan-petualangan seru Betsy, terutama ketika Betsy dan kawannya Huff berusaha untuk membebaskan sang kaisar dengan balon udara. Napoleon, yang selama ini hanya dikenal melalui kebesaran namanya, kini dikisahkan secara manusiawi dari sudut pandang seorang gadis 14 tahun. Karakter-karakter Napoleon baik yang positif maupun negatif terungkap seimbang sehingga pembaca bisa menilai Napoleon dari segi baik buruknya.

Hampir seluruh tokoh dan kejadian yang dimunculkan di novel ini memang benar-benar pernah hidup dan tercatat dalam sejarah. Tampaknya novel ini dikerjakan oleh Stanton Robin dengan riset yang mendalam. Ia tak segan-segan bertanya pada ahli-ahli sejarah Napoleon di seluruh dunia. Kutipan atau apapun yang dikatakan Betsy, Napoleon sebagian diambil langsung dari catatan-catatan sejarah: sumber-sumber asli yang kebayakan ditulis oleh staf Napoleon yang menyertainya ke St. Helena. Tidak hanya itu saja, kebiasaan-kebiasaan dan gerakan-gerakan pribadi Napoleon yang terungkap dalam novel ini, bukanlah hayalan Rabin, melainkan hasil riset Rabin atas kebiasaan sang kaisar. (hal 264)

Tokoh Betsy memang benar-benar pernah bertemu dan bersahabat dengan Napoleon. Berbagai fakta sejarah seperti Perang di Waterloo, penemuan batu Rosetta, penemuan formula senjata baru, penangkapan dan pembuangan napoleon hingga rumah tahanan Napoleon di Longwood, semua terungkap dengan rinci. Karena ditulis dengan penyampaian yang ringan maka muatan-muatan sejarah dalam novel ini bukan sesuatu yang membosankan, melainkan larut dalam rangkaian cerita yang menarik.

Bertebarannya fakta-fakta sejarah dalam novel ini tentu membuat pembaca bertanya-tanya, dimanakah batas antara fakta dan fiksinya ? Untunglah di bagian akhir buku ini, penulis memberikan catatan yang jelas dengan menginformasikan bagian mana dalam novel ini yang merupakan fakta dan fiksi. Hal ini merupakan pertanggung jawaban penulis yang sangat baik, mengingat sasaran pembaca novel ini adalah para remaja yang mungkin masih minim pengetahuannya akan fakta sejarah.Sebagai bonus, penulis juga menyajikan, peta geografi St. Helena, foto-foto lukisan diri Napoleon dan Betsy,Kodeks Napoleon dan keterangan pengenai Le Mersaille – Lagu Kebangsaan Perancis.

Betsy and The Emperor pertama kali diterbitkan pada tahun 2004 dalam bahasa Inggris di Amerika Serikat. Kini novel ini telah diterjemahkan kedalam berbagai bahasa antara lain Perancis, Jepang, Polandia, Chezna, Russia, Spanyol, Belanda, dan lain-lain. Kabarnya novel ini tengah dipersiapkan untuk dibuat film dimana sederet aktor Hollywood seperti Dustin Hofman, Anthoni Hopskins, dan Al Pacino mulai dijajaki sebagai calon aktor yang akan memerankan Napoleon Bonaparte.













Novel yang kini diterjemahkan dengan baik oleh Donna Widjajanto ini, oleh GPU diberi label bacaan ‘Teen-Lit’. Bagi bacaan remaja, novel ini memang agak berat dan leluconnya agak kaku. Namun tema yang diangkat dalam novel ini sangat baik bagi pembaca remaja. Petualangan, persahabatan, suka duka masa remaja, sikap pantang putus asa, dan, sejarah yang biasanya ditulis secara kering kini ditulis secara menarik dan menyenangkan . Bagi penulis-penulis Teen-Lit Lokal diharapkan novel ini bisa menjadi sumber inspirasi baru, mengingat saat ini tema-tema teen-lit lokal banyak didominasi oleh cerita-cerita cinta, “gaul”, hedonis dan semacamnya, walau bukan hal yang buruk, namun sudah saatnya penulis-penulis Teen-Lit lokal berani membuat cerita yang ‘lain’ yang disertai riset yang mendalam untuk memperkaya wawasan pembacanya.

@h_tanzil
Read more »

Minggu, 03 September 2006

Pramoedya Ananta Toer dari Dekat Sekali


Judul : Pramoedya Ananta Toer dari Dekat Sekali
(Catatan Pribadi Koesalah Seobagyo Toer)
Penulis : Koesalah Soebagyo Toer
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Cetakan : I, Juli 2006
Tebal : xvi + 266 hlm

Pramoedya Ananta Toer, maestro sastra Indonesia telah berpulang di usianya yang ke 81. Sepanjang hidupnya nama dan kiprah-kiprahnya selalu menarik perhatian orang. Namanya semakin berkibar semenjak bebasnya Pram dari pulau Buru, apalagi setelah terbit karya monumentalnya Bumi Manusia (1980). Beberapa saat setelah bukunya beredar pemerintah segera melarang peredarannya. Setiap tulisannya dianggap berbahaya dan karya-karyanya harus dimusnahkan agar tak terbaca oleh siapapun. Namanya dihapus dari sejarah sastra nasional. Lain sikap pemerintah, lain pula sikap pembacanya. Bukunya tetap dibaca secara sembunyi-sembunyi dan menjadi buku yang wajib dibaca oleh para aktivis mahasiswa . Namanya dijadikan ikon perlawanan bagi mereka yang tertindas dan tak puas dengan keadaan negeri ini.

Setelah era reformasi bergulir dan karya-karyanya diterbitkan ulang, nama Pram semakin melambung tinggi. Setiap kiprahnya selalu menarik perhatian orang, belum lagi ditambah dengan sejumlah penghargaan dari luar negeri yang terus menerus mengalir diberikan padanya. Setiap tahun namanya selalu dikait-kaitkan dengan anugerah Nobel Sastra. Berbagai media berlomba menyajikan berita dan wawancara mengenai dirinya. Hampir semua berkisar mengenai karya-karyanya, sikap politiknya, pandangan-pandangannya terhadap kondisi poilitik, sosial, dll.

Berbagai buku tentangnya telah ditulis, namun tak satupun menyentuh kehidupan pribadinya. Kehidupan pribadinya tenggelam dalam kebesaran namanya. Kini beberapa bulan setelah wafatanya, barulah muncul sebuah buku yang mencoba menghadirkan sosok Pram yang apa adanya dari kacamata Koesalah Soebagyo Toer selaku adik kandungnya yang memiliki hubungan yang paling dekat dengannya.
Buku yang ditulis oleh Koesalah ST ini merupakan catatan pribadinya mengenai persinggungannya dengan Pramoedya yang ia tulis dari tahun 1981 hingga 20 April 2006, sepuluh hari sebelum wafatnya Pram. Karena merupakan catatan pribadi, setiap catatannya bersifat personal, ada yang pendek (1/2 halaman) hingga yang panjang (5-6 halaman).

Dalam buku ini Koesalah menyajikan 75 catatan hariannya yang dibagi dalam 3 bagian besar yang dipilah berdasarkan urutan waktu ditulisnya catatan-catatan tersebut. Bagian Pertama (1981-1986), Bagian Kedua (1987-1992), dan bagian Ketiga (1992-2006). Seperti yang menjadi harapan pembacanya, buku ini banyak sekali memuat sisi-sisi menarik dari aktifitas kehidupan Pram sehari-hari baik yang menyangkut perannya sebagai penulis dan dokumentator maupun perannya sebagai kepala rumah tangga yang belum pernah terungkap selama ini.

Dalam hal Pram dan pekerjaannya, misalnya akan terungkap bagaimana gembiranya Pram ketika baru saja memperoleh dokumen yang berisi tulisan Soekarno kepada seorang bernama J.E. Stokvis di tahun 1931. Ternyata dalam dokumen tersebut terdapat pula surat-surat Dr. Tjipto, MH Thamrin yang sangat berharga bagi pengungkapan sejarah Indonesia yang pastinya tidak dipunyai oleh orang Indonesia manapun juga (hal 7). Karena itulah bagi Pram penemuan ini sangat menggembirakan hatinya seperti yang dicatat oleh Koesalah sbb : “Ini betul-betul bonanza! Kalau nanti kuumumkan semua pasti baca!”. “Kalau bukti ini ada, bakal geger semuanya!” (hal 8)

Uniknya catatan harian ini tidak hanya berkisah mengenai keadaan Pram dimasa ketika catatan ini ditulis, melainkan merambah kemasa lalu Pram baik ketika masa kecilnya, masa revolusi kemerdekaan hingga masa-masa ketika Pram dalam tahanan.
Dimasa kecilnya, sebagai anak tertua, ternyata,Pram kerap membacakan dongeng bagi adik-adiknya yang ia dapatkan dari sebuah buku tebal dengan huruf Jawa, antara lain tentang dua ekor nyamuk yang masing-masing bernama Klentreng dan Gothang, lalu ada pula dongeng karyanya tentang kancil blangkonan (hal 128).

Siapa sangka di masa mudanya saat berada dalam penjara Bukitduri, Pram pernah berniat untuk bunuh diri ?. Hal ini terungkap di catatan harian Koesalah yang diberi judul Mas Pram dan Mati (hal 177). Menurut kisahnya yang dituturkan pada Koesalah saat itu Pram yang sedang dalam tahanan Belanda putusasa karena energinya yang begitu besar-membludak- tak tersalurkan karena tidak bisa berbuat apa-apa . Ia berniat melakukan ‘patiraga’ (mematikan raga). Hampir saja nyawanya lenyap. “Dan tiba-tiba kelihatan di mukaku, di atas sana, bangunan gedung Yunani dengan pilar-pilarnya yang besar, dan di atasnya atap segitiga itu. Di atas atap itu bersinar cahaya terang benderang melalap tubuhku…“Tiba-tiba…duarrr! Terdengar ledakan yang keras sekali. Begitu keras! Sampai sekujur tubuhku menggigil. Lalu nyawaku kembali… “(hal 178)

Pengalaman mencoba menghabisi nyawanya itu membuat Pram yakin bahwa jika belum waktunya mati, ia tak akan mati “Kalau mau mati, dari dulu-dulu aku sudah mati,” katanya. “Buatku, mati itu bukan apa-apa. Aku nggak takut mati. Menghadapi pemerintah ini juga aku nggak takut.” (hal 180)

Penglihatan Pram saat akan melakukan patiraga mungkin merupakansalah satu pengalaman adikodrati yang dialaminya, lalu bagaimana dengan kehidupan religiusnya? Hal ini mungkin yang paling jarang terungkap selama ini, dalam catatan hariannya yang berjudul Mas Pram dan Doa (hal 210), Koesalah mencatat bahwa ia pernah melihat Pram sembahyang sewaktu sama-sama ditahan di penjara Salemba ada tahun 1969. Dan ketika ditanya apakah Pram pernah mengaji ? Pram menjawab dengan mantap bahwa waktu kecil ia mengaji walau belum sempat katam.

Salah satu kegemaran Pram selepas dari P. Buru adalah kebiasaannya membakar sampah, Koesalah mencatat bahwa Pram setiap hari membakar sampah. Tepat di rumahnya di Jl. Multikarya – Utan Kayu, ada rumah yang telah ditinggalkan penghuninya hingga rumah tersebut menjadi bobrok. Di situlah surga bagi Mas Pram. Tiap hari ia “bekerja” di tempat sampah…Ia tampak bahagia apabila sampah sudah mengonggok dan api melalapnya. (hal 225).
Selepas membakar sampah Pram tak pulang dengan tangan kosong, terkadang ia membawa pecahan-pecahan keramik, di rumahnya pecahan keramik itu ia “lukis” menjadi mozaik tegel yang menarik dan bercita rasa seni. Tegel-tegel dikerjakannya sendiri dan ketika sudah banyak Pram memasangnya sendiri di sebagian teritis rumahnya (226).

Yang menarik di ‘tempat sampah’ itu Pram juga pernah menemukan buku Peristiwa coup Berdarah P.K.I. September 1948 di Madiun, tulisan Pinardi, terbitan 1967. Tentu saja ini merupakan harta karun bagi Pram selaku penulis dan pendokumenter. Buku yg sudah rusak dan kotor itu ia tata kembali dan diberi sampul baru dan diberikan pada Koesalah. “Ini bahan bagus buat Kronik,” katanya. (hal l226). Buku termuannya itu memang akhirnya menjadi salah satu sumber bagi Koesalah, Pram, dan Ediati Kamil dalam menyusun buku “Kronik Revolusi Indonesia jilid IV yang berisi peristiwa-peristiwa penting di tahun 1948.

Saat-saat terakhir hidup Pram dimana berbagai penyakit mulai menggerogot, dan Pram yang sudah mulai pikun juga terungkap dalam buku ini, beberapa kali pada Koesalah Pram mengeluhkan soal diabetesnya, dadanya yang sakit, otaknya yang tidak mampu lagi bekerja dengan baik, dll. Sayang, buku ini tak memuat catatan mengenai hari-hari terakhir Pram menjelang dirinya menghembuskan nafas terakhirnya. Padahal buku ini diterbitkan satu bulan setelah wafatnya Pram, dan tentunya cukup waktu untuk memberi catatan saat Pram berjuang melawan maut dan bagaimana suasana saat-saat Pram dikebumikan

Selain catatan-catatan yang dibuat secara narasi, buku ini memuat pula sejumlah tulisan berupa wawancara/percakapan antara Koesalah dengan Pram sehingga pembaca seakan membaca tuturan langsung dari Pram mengenai hal-hal yang ditanyakan oleh adiknya.

Masih banyak kisah-kisah menarik mengenai keseharian Pram dicatat dalam buku ini. Ada yang lucu, unik, mengharukan, menjengkelkan dan sebagainya. Semua disampaikan oleh Koesalah secara jujur dan apa adanya. Beberapa catatan membuat kita bangga dengan sikap dan pandangan Pram dalam menanggapi persoalan-persoalan negeri ini, kadang tertawa oleh anekdot-anekdot Pram, namun ketika menjumpai kisahnya yang mengungkap bagaimana keras kepalanya Pram dan sikap cueknya terhadap keluarga besarnya kitapun akan dibuat jengkel dan sebal pada sikapnya. Bisa dikatakan buku ini merupakan buku pertama mengenai Pram yang memuat segala aspek kehidupan Pram, mulai dari masa kecil, dewasa, perkawinannya, pandangan-pandangan hidupnya, masa tuanya, harapan-harapan dan mimpi-mimpinya, dan sebagainya.

Apa alasan Koesalah menyebarluaskan catatan-catatan hariannya yang menyangkut persinggungan dirinya dengan Pram ? Dalam kata pengantarnya Koesalah menulis bahwa hal ini sebagai pernyataan tanggung jawab dirinya terhadap pembaca karya-karya Pram, masyarakat Indonesia dan dunia. Ia mencatat semua ini sebagai kenyataan bahwa disamping semua yang sudah pernah ataupun sedang ditulis tentang Pram, masih ada hal-hal lain yang harus dikemukakannya. Dengan demikian orang dapat memahami Pram sebagai sosok nyata, bukan manusia dalam angan-angan atau lamunan (hal xvi)

Sayang Koesalah tak menjelaskan mengapa ia mulai mencatat di tahun 1981 ? Apakah sebelum tahun itu ia memang tak memiliki catatan tentang kakaknya ? Ataukah di tahun 1981 ia memiliki visi bahwa kelak kakaknya akan menjadi orang terkenal sehingga ia mulai mencatat pengalamannya dengan Pram agar kelak bisa diterbitkan ? Juga tak dijelaskan atas dasar apa dan mengapa buku ini dibagi menurut pembagian waktu seperti yang tercetak di buku ini. Padahal jika saja pembagiannya berdasarkan tema-tema tertentu yang muncul seperti Pram dan Karya-karyanya, Pram dan Keluarga, Pram dan kesehatannya, dll, tentunya ini akan memudahkan pembaca dalam memahami Pram dari sudut pandang tema-tema tersebut.

Secara keseluruhan, bagi pembaca karya-karya Pram buku ini akan sangat menarik karena berhasil mengungkap sisi-sisi kehidupan Pram yang selama ini tersembunyi oleh kebesaran namanya. Selain itu beberapa aspek politis dan historis juga akan kita temui dalam buku ini. Karena keragaman dan kelengkapan tema yang terdapat didalamnya bukan tak mungkin buku ini akan dijadikan pijakan awal atau buku pegangan bagi mereka yang kelak akan menulis biografi Pramoedya secara utuh dan komprehensif. Atau mungkin kelak Koesalah sendiri yang akan menulis Biografi kakaknya secara runut dan mendalam ?

Ya! Sudah saatnya maestro sastra Indonesia Pramoedya Ananta Toer dibuatkan biografinya!

@h_tanzil



Foto ketika kami 'sowan' ke rumah Pak Pram - Mei 2005
(Silahkan tebak yg mana diriku...?)
Read more »

Minggu, 27 Agustus 2006

Revolusi Di Nusa Damai


Judul : Revolusi Di Nusa Damai
Penulis : K’tut Tantri
Penerjemah : Agus Setiadi
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : II, Agustus 2006
Tebal : 368 hlm ; 23 cm
Harga : Rp. 30.000,-


“Saya berusaha memaparkan cita-cita bangsa Indonesia pada seluruh rakyat di dunia – yaitu kemerdekaan, hak untuk membangun negara sendiri. Saya juga ingin menandaskan pada Belanda – dan sedikit banyak juga pada Inggris – mengenai kesalahan besar yang mereka lakukan selama ini.” (hal 242)

Kalimat itu diucapkan oleh K’tut Tantri kepada para wartawan dari dalam dan luar negeri yang mewawancarinya perihal keterlibatannya dalam menyebarluaskan kemerdekaan Indonesia melalui corong Radio Pemberontak.

K’tut Tantri adalah nama lain dari seorang wanita warga negara Amerika keturunan Inggris yang pernah tinggal lima belas tahun di Indonesia dari 1932-1947. Awalnya K’tut Tantri yang hobi melukis ini tak puas dengan pekerjaannya sebagai seorang jurnalis di Amerika Serikat. Ia memiliki jiwa petualang yang membuatnya selalu ingin berkelana ke tempat-tempat jauh sambil melukis apa yang dilihatnya. Keinginannya semakin membuncah ketika ia menonton film berjudul Bali, The Lost Paradise. Seolah menemukan jalan hidupnya ia segera menuju Bali dan memutuskan untuk menetap disana.

Takdir membawanya bertemu dengan Raja Bali yang mengangkatnya menjadi anak keempat dan memberinya nama baru ‘K’tut Tantri’. Perilaku masyarakat Bali membuat dirinya kerasanan untuk tetap tinggal disana, iapun membangun sebuah hotel di Kuta untuk membiayai hidupnya, bukan hal yang mudah karena pemerintahan kolonial Belanda tak menyukai dirinya bergaul rapat dengan penduduk setempat. Ia juga melihat bagaimana penduduk Bali harus hidup dalam kemiskinan akibat sistem kolonial yang mengabaikan kesejahteraan tanah jajahannya. Anak Agung Nura, putera Raja Bali menggerakkan hatinya untuk turut dalam kancah politik guna menentang pemerintahan Belanda.

Di zaman pendudukan Jepang, K’tut Tantri ikut dalam gerakan bawah tanah guna menumbangkan kekuasaan Jepang. Malang nasibnya karena ia ketahuan oleh Kampetai dan dipenjara selama kurang lebih dua tahun, disiksa dan dianiyaya melebihi atas-batas peri kemanusiaan.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan, ia turut berjuang bersama-sama Bung Tomo dalam menyuarakan kemerdekaan indonesia di Radio Pemerontak –Surabaya. Kemudian bekerja untuk Kementerian Penerangan dan Pertahanan di Jogya. Tugasnya antara lain menyebarluaskan informasi keadaan Indonesia dalam bahasa Inggris dalam pidato radio, menembus blokade Belanda menuju Singapura, menyeludupkan utusan Liga Arab masuk Indonesia dan akhirnya menuju Australia guna mencari dukungan internasional.

Seluruh kisah kehidupannya diatas itulah yang ia tuangkan dalam novel dokumenternya Revolt in Paradise yang pertama kali diterbitkan oleh New York Harper, USA pada tahun 1960. Dalam bukunya ini K’tut Tantri membagi kisahnya dalam tiga bagian besar yang meliputi periode 1932-1941 (Melanglang Buana), 1942-1945 (Firdaus Yang Hilang), dan 1945-1948 (Berjuang demi Kemerdekaan).

Di bagian pertama (Melanglang Buana) pembaca akan diajak melihat keeksotisan natural penduduk Bali yang terekam dengan baik, ketika ia untuk pertama kalinya menyusuri Bali dengan mobilnya ia melihat bahwa; Di sepanjang jalan maupun di sawah, para wanita dengan polos memperagakan payudara yang sintal sementara mereka berjalan beriringan sat-satu sambil menjunjung beban yang tidak kecil ukurannya di atas kepala (hal 25)

Sedangkan kehidupan dalam puri raja anak Agung Gede Agung beserta kegiatannya juga terekam dengan menarik dalam buku ini. Tak hanya itu dalam buku inipun pembaca akan mendapat gambaran mengenai pandangan pemerintahan kolonial terhadap masyarakat Bali, hal ini terungkap dalam percakapan seorang asisten kontrolir Belanda pada K’tut Tantri menanggapi keinginan K’tut Tantri untuk tinggal bersama masyarakat Bali. “Jika Anda mencoba hendak hidup seperti orang Bali, pengaruhnya akan buruk sekali terhadap pribumi dan hormat mereka terhadap orang kulit putih. Percayalah pemerintah kolonial pasti tidak suka. (hal 31)

Berbagai cerita menarik terungkap di bagian ini, selain pesona keindahan budaya Bali bagian ini juga mengungkap sepak terjang K’tut Tantri ketika ia berusaha untuk mewujudkan impiannya dengan mendirikan hotel di daerah Kuta Bali walau hal ini tidak mudah karena ditentang dengan keras oleh pemerintah Belanda.

Di bagian kedua (Firdaus Yang Hilang) pesona dan keindahan alam Bali tak lagi terceritakan, dimulai dengan kisah masuknya Jepang ke pulau Bali, dibagian ini pembaca akan disuguhkan dengan kisah tragis yang dialami oleh K’tut Tantri selama ia berada dalam tawanan Jepang di Surabaya. Penjara yang kotor dan siksaan yang diluar perikemanusiaan harus dialaminya karena ia dituduh sebagai mata-mata Amerika. Meringkuk dalam penjara pun bukan main menderitanya karena sepanjang hari, dari pukul enam hingga pukul sembilan malam para tawanan tidak diizinkan untuk duduk, melainkan harus berlutut, tak peduli betapa nyerinya otot-otot mereka. (hal 160). Belum lagi siksaan-siksaan keji saat interogasi dimana K’tut Tantri harus ditelanjangi, diikat, dipukul dan digantung hingga sendi-sendinya hampir putus hingga beberapa kali jatuh pingsan.

Pada bagian ketiga (Berjuang demi Kemerdekaan), kisah dalam buku ini semakin menarik dan menegangkan karena selepas dari tawanan Jepang K’tut Tantri bergabung dengan para pejuang kemerdekaan di bawah pimpinan Bung Tomo. Ia bertugas meyampaikan perkembangan yang terjadi di Indonesia dalam bahasa Inggris melalui siaran Radio Pemberontak dimana di tempat ini juga Bung Tomo mengadakan siaran dua kali setiap malam untuk membakar semangat pejuang-pejuangnya. Kesannya ketika bertemu dengan Bung Tomo terungkap sbb : Orangnya tampan, bertubuh kecil. Umurnya saat itu paling banyak baru 26 tahun. Tindak-tanduknya menarik, selalu sederhana serta polos. Sinar matanya berkilat-kilat penuh semangat. Kemahirannya berpidato hanya bisa dikalahkan oleh Presiden Sukarno. (hal 223)

Selain dengan Bung Tomo, bagian ini mengisahkan pula pertemuan dan persahabatannya dengan tokoh-tokoh kemerdekaan Indonesia, antara lain Amir Syarifudin, dan Presiden Soekarno. Bahkan ia sempat diminta untuk membuat naskah pidato radio bahasa Inggris yang akan dibacakan oleh Presiden Soekarno. Kesan terhadap pertemuannya dengan Presiden Soekarno membuat Kut Tantri menulis dalam buku ini bahwa Presiden Soekarno adalah sosok yang pandai mengambil hati wanita, memiliki selera humor yang tinggi, rendah hati dan amat mencintai ibunya (hal 245)

Hal menarik lainnya adalah bagaimana serunya ketika K’tut Tantri berusaha membongkar usaha sebuah komplotan untuk menjatuhkan Bung Karno, atau ketika ia menerima tugas untuk berangkat menuju Australia guna mencari dukungan internasional. Selain diajak merasakan ketegangan yang dialaminya berbagai kisah-kisah menarik juga tersaji dalam bagian ini, seperti ketika ia dibuatkan paspor Indonesia dengan nomor urut 1 yang berarti merupakan paspor pertama yang dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia. Pengalamannya bertemu dengan orang-orang Indonesia di Singapura sebelum berangkat menuju Australia juga terungkap di bagian ini. Salah satu yang menarik sekaligus ironis mungkin pengalamannya menemui kasus-kasus korupsi yang dilakukan oleh pedagang-pedagang asal Indonesia, hal ini membuat hatinya pedih karena sementara para koruptor asal indonesia hidup dalam kemewahan, ribuan rakyat jelata di Indonesia, yang bertempur dengan pakaian compang-camping, berjuang penuh lumpur dengan bersenjatakan golok dan bambu runcing untuk mempertahankan kemerdekaan (hal 328).

Kisah K’tut Tantri dalam buku ini berakhir ketika ia kembali ke New York, Amerika Serikat, ia berada di negaranya sendiri, namun hatinya merasa hampa dan rindu pada Indonesia yang merupakan tanah air keduanya. Kerinduan dan rasa cintanya pada Indonesia inilah yang menggerakkan dirinya untuk membuat memoar yang kemudian diterbitkan dengan berjudul Revolt in Paradise (1965). Tak disangka buku ini mendapat respon yang baik dari pembacanya baik di negaranya maupun di dunia internasional, sedikitnya buku ini telah diterjemahkan lebih dari 15 bahasa dunia.

Di tahun 60-an, K’ut Tantri mengunjungi Indonesia dan diterima oleh para pejabat pemerintahan termasuk oleh Presiden RI Soekarno. Di tahun 1964 buku Revolt in Paradise untuk pertama kalinya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Major Abdul Bar Salim dan diterbitkan oleh Mega Bookstore. Setelah itu buku ini kemudian diterbitkan oleh Penerbit Gunung Agung pada tahun 1965

dengan judul Revolusi di Nusa Damai. Buku ini mendapat sambutan yang baik, terbukti hanya dalam waktu 6 bulan.buku ini dicetak ulang. Tahun 1982 hak cipta buku ini diambil alih oleh Gramedia dan dicetak dalam dua versi bahasa (Inggris dan Indonesia). Dan kini buku tersebut kembali dicetak ulang dengan kemasan baru dengan cover yang menggambarkan wanita kulit putih yang menggenakan pakaian tadisional Bali.

Buku yang kembali diterbitkan ulang oleh Gramedia ini memang sudah seharusnya hadir dan dibaca oleh masyarakat Indonesia mengingat nama K’tut Tantri kini telah dilupakan orang. Yang agak disayangkan adalah tidak adanya foto K’tut Tantri dalam buku ini. Tentunya karena buku ini bukan sekedar kisah fiksi dan K’tut Tantri bisa dikatakan sebagai salah satu pelaku sejarah di masa-masa revolusi kemerdekaan Indonesia, pemuatan foto K’tut Tantri tentunya akan memberi bobot sejarah yang lebih dalam pada buku ini. Tentunya bukan hal yang sulit untuk memperoleh foto diri K’tut Tantri, apalagi jika kita melihat cetakan tahun 1965, di buku tersebut disajikan beberapa buah foto K’tut Tanri termasuk ketika ia diterima oleh Presiden Soekarno di tahun 60-an.

Sejumlah kesalahan ketik ditemui dalam buku ini. Tidak terlalu mengganggu namun menimbulkan kejanggalan karena biasanya buku-buku terbitan Gramedia ‘bersih’ dari kesalahan-kesalahan ketik.

Namun sekali lagi usaha penerbit untuk menerbitkan ulang buku ini patut dihargai setinggi-tingginya. Setidaknya, kini nama K’tut Tantri, salah seorang Indonesianis yang terlupakan, yang telah banyak berjasa dalam menyuarakan kemerdekaan indonesia bisa kembali dikenang oleh rakyat Indonesia yang pernah diperjuangkannya.

K’tut Tantri, yang juga dikenal dengan julukan ‘Soerabaja Sue’ meninggal dunia di usianya yang ke 89 di Sydney Australia pada tahun 1997. Kecintaannya pada Indonesia dibawanya hingga mati. Peti matinya ditutup bendera Merah Putih berhias warna khas Bali. Jasadnya dikremasi di Bali dan abunya ditebar disana.

Mungkin saja orang Indonesia akan melupakan diriku apabila negara itu sudah benar-benar merdeka. Kenapa tidak? Aku kan hanya ombak kecil di tengah alun banjir semangat kemerdekaan. (K’tut Tantri, hal 355)






@h_tanzil
Read more »

Senin, 21 Agustus 2006

Raumanen


Judul : Raumanen
Penulis : Marianne Katoppo
Penerbit : Metafor Publishing
Cetakan : 2006
Tebal : ix + 134 hlm

Jakarta tahun 60-an. Sebelum hiruk pikuk politik terjadi di negara ini, terkisah seorang gadis Menado yang cantik, rajin, dinamis, indpenden. Raumanen namanya. Nama ini berasal dari bahasa Minahasa kuno yang berarti “pemudi pemberi kuncup”. Selain cantik Raumanen adalah aktifis kampus yang dikenal sangat loyal terhadap organisasinya.

Dalam suatu kesempatan Raumanen bertemu dengan Monang, pemuda Batak flamboyan, kaya, palyboy dan doyan pesta. Seperti kebiasaan Monang yang selalu mendekati gadis-gadis cantik, demikian pula yang dia lalukan dengan Raumanen. Berawal dari pertemuan di sebuah pesta, Monang yang mudah terpesona oleh kecantikan wanita, tergerak untuk mendekati Raumanen dan berniat untuk menaklukkannya.

Pendekatan Monang membuahkan hasil, walau awalnya Manen menganggap Monang sebagai sahabatnya, lambat laun iapun mencintainya. Sebetulnya Manen menjadi mangsa yang begitu empuk bagi Monang, si perebut hati wanita. Dalam salah satu kesempatan mereka berdua menuju ke Puncak, ketika hendak pulang, tiba-tiba mobil Monang mogok di tengah hujan deras dan mengharuskan mereka berteduh di sebuah bungallow. Bisa ditebak apa yang terjadi pada mereka berdua. Manen menyesali perbuatan yang telah mereka lakukan, untungnya Monang segera menyatakan akan bertanggung jawab dan siap menjadikan Manen sebagai istrinya.

Apakah sesederhana itu kisah novel ini? Tentu saja tidak, disinilah konflik mulai timbul. Walau Monang menyatakan tanggung jaawabnya, keraguan timbul di hati Manen, apakah Monang benar-benar mencintainya atau sekedar bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya ? Usaha Monang mendekatkan dirinya pada adik-adiknya, mencarikan rumah untuk rumah tangga mereka, tak mengusir keraguannya, belum lagi rasa bersalah pada kejadian di Puncak membuat jiwanya tertekan . Aku tak tahu, pikirnya. Seharusnya aku bahagia, karena Monang sudah membuka jalan ke arah pernikahan kami. Tetapi aku tidak bahagia, cuma merasa bersalah karena kejadian di bungalow itu. Lagi pula aku takut. Takut masa depan. Haruskah aku menjadi istri Monang sekarang? Membagi hidupku dengannya, mengarahkan cita-citaku agar serasi dengan cita-citanya? Sedangkan aku tak tahu apakah ia mencintaiku. (hlm 65)

Lambat laun keraguan di hati Manen semakin menjadi, hubungannya dengan Monang tidak dilihatnya sebagai hubungan cinta, melainkan semata-mata sebagai suatu ‘tanggung jawab’ karena mereka sudah ‘terlanjur’ melakukan hubungan yang terlarang. Perasaan ini diperkuat dengan sikap Monang yang selalu berguarau secara sinis dalam setiap percakapan dengannya, alih-alih Monang merayunya, ia malah sering membesar-besarkan kekurangan-kekurangan yang dimiliki Manen.

Selain masalah dirinya dengan Monang, perbedaan suku antara mereka menjadi rintangan yang sulit ditembus. Di tahun 60-an persamaan suku dalam memilih pasangan hidup masih merupakan syarat yang mutlak. Begitupun dengan orang tua Monang Waktu itu memang Republik masih muda, mungkin saja semboyan “Bhineka Tunggal Ika” belum meresap ke hati warganya. Bagi Manen yang telah memiliki wawasan yang luas hal ini memberikan kesimpulan dalam dirinya bahwa, hampir 20 tahun sesudah revolusi, sesudah dua windu lebih penduduk Nusantara berpengalaman hidup sebagai “orang indonesia”, ternyata beban prasangka serta wasangka terhadap suku lain masih belum dapat dilepaskan dengan begitu mudah. “Orang Mana?” dan “Anak Siapa?” masih tetap jadi nada-nada pertama suatu perkenalan baru (hlm 22).

Konflik semakin memuncak ketika akhirnya Manen hamil dan Monang diperhadapkan pada pilihan yang sulit karena harus menerima pilihan orangtuanya dalam menentukan pasangan hidup baginya.

Tema yang diangkat oleh penulisnya dalam novel ini memang tema yang biasa, namun ditangan penulis Mariaenne Katopo cerita cinta ini diramu dan diceritakan dengan menarik. Di lembar-lembar pertama halaman novel ini Manen bertutur mengenai dirinya di masa kini yang kini merasa kesepian ditinggal teman-temannya dan memendam rindu pada Monang. Tentu saja hal ini akan membuat pembaca segera mengetahui bagaimana akhir dari kisah cinta mereka. Namun novel ini tetap menarik karena Manen menuturkan kisahnya sedemikain rupa sehingga pembaca akan terus menebak-nebak dimana kini Manen berada. Sebelum pembaca menyadari dan mengetahui apa yang tejadi dengan Manen dan dimana kini Manen berada, di bab selanjutnya giliran Monang yang bercerita. Sama seperti Manen, Monganpun memendam rindu yang dalam pada Manen. Padahal sudah sepuluh tahun, Raumanen. Sudah sepuluh tahun, hampir seperempat hidupku, aku terpaksa hidup terpisah darimu. (hlm 7)

Setelah melewati dua bab pertama, barulah novel ini kembali ke masa lalu penulis, saat Manen bertemu dengan Monang, namun terkadang, Manen kembali mengambil alih peran penutur dan kembali bertutur mengenai keadaannya kini dengan kalimat-kalimat yang mengundang rasa penasaran pembacanya untuk mengetahui bagaimana keadaan Manen ketika ia sedang menuturkan kisahnya dan bagaimana akhir dari kisah ini.

Selain keunikan dari gaya penulisan novel ini, novel yang ditulis dengan tuturan yang indah, halus, lembut namun tidak cengeng ini mengajak pembacanya untuk membedah makna cinta dan merubah pandangan kita tentang konsep-konsep cinta. Pergulatan batin tokoh-tokoh dalam Raumanen disajikan secara cermat, dan tabrakan-tabrakan yang terjadi akibat masalah kesukuan menjadikan novel ini sebuah saksi kondisi sosial waktu itu yang mungkin saja masih terjadi hingga kini. Novel ini semakin menarik karena dibalut dengan masalah identitas kesukuan, keindonesiaan, bahkan keimanan beserta konflik-konflik yang mengungkap batas ketegaran dan jati diri seorang perempuan terpelajar yang diperhadapkan pada kepengecutan seorang lelaki yang harus tunduk pada tradisi kesukuan.

Novel ini juga menyajikan ending yang menghentak sehingga setelah dikejutkan dengan ending ceritanya, bukan tak mungkin pembaca yang masih penasaran akan kembali membaca ulang bab-bab berjudul Raumanen dan Monang yang berisi penuturan-penuturan Manen dan Monang di masa kini untuk menemukan kalimat-kalimat tersembunyi yang awalnya tidak disadari oleh pembaca bahwa kalimat-kalimat tersebut mengarah pada ending cerita.

Ketika pertama kali novel ini diterbitkan (1977), Raumanen mengundang kontroversi karena penggambarannya yang jujur tentang hubungan lelaki dan perempuan dan tentang ketegangan antar agama dan suku – hal-hal yang saat itu masih merupakan masalah yang mungkin tabu untuk diungkapkan bagi masyarakat di Indonesia . Namun dibalik riuhnya kontroversi yang berkembang terhadap isi novel ini, novel ini memperoleh apresiasi yang sangat baik dari kalangan sastrawan, hal ini terbukti dengan diraihnya tiga hadiah sastra bergengsi baik dari dalam dan luar negeri yaitu : Pemenang Sayembara Menulis Dewan Kesenian Jakarta 1975, Hadiah yayasan Buku Utama 1978, dan Sea Write Award 1982 dimana Marianne Katoppo merupakan wanita novelis ASEAN pertama yang memenangkan hadiah tersebut.

Kini setelah karya besar ini lama dilupakan orang hampir 30 tahun lamanya, Raumanen kembali hadir dalam cover dan kemasan yang menarik oleh penerbit Metafor. Tak hanya Raumanen, Metafor juga telah menerbitkan ulang Orang-Orang Bloomington (Budi Darma), Stasiun (Putu Wijaya). Semoga dengan diterbitkannya kembali karya-karya, karya-karya monumental yang pernah mengguncang jagad sastra nasional, karya-karya tersebut akan dapat terus terbaca dari generasi ke generasi. Kita berharap Metafor memiliki nafas panjang untuk terus konsisten menerbitkan karya-karya sastra bermutu seperti yang kini telah dilakukannya.

@h_tanzil
Read more »

Minggu, 13 Agustus 2006

Sang Pemimpi


Judul : Sang Pemimpi
Penulis : Andrea Hirata
Penyunting : Imam Risdiyanto
Penerbit : Bentang Pustaka
Tebal : x + 295 hlm
Cetakan : I, Juli 2006
Harga : Rp. 38.000,-


Jauh di pedalaman pulau Belitong, tiga orang anak di sebuah kampung Melayu bermimpi untuk melanjutkan sekolah mereka hingga ke Perancis, menjelahi Eropa, bahkan sampai ke Afrika.! Ikal, Arai, dan Jimbron, merekalah si pemimpi itu, walau bagai punguk merindukan bulan, mereka tak peduli, mereka memiliki tekad baja untuk mewujudkan mimpi mereka, hidup di daerah terpencil, kepahitan hidup, kemiskinan, bukanlah pantangan bagi mereka untuk bermimpi. Mereka tak menyerah pada nasib dan keadaan mereka, bagi mereka mimpi adalah energi bagi kehidupan mereka masa kini untuk melangkah menuju masa depan yang mereka cita-citakan.

Novel kedua Andrea Hirata “Sang Pemimpi” ini bertutur bagaimana ketiga anak kampung Melayu di kawasan PN Timah Belitong menjalani hari-hari mereka bersama mimpi-mimpinya. Karena masih merupakan kelanjutan dari novel pertamanya Laskar Pelangi, Sang Pemimpi pun masih bertutur mengenai memoar kehidupan Ikal, dalam menapaki kehidupannya. Jika dalam Laskar Pelangi tokoh Ikal yang ketika SD hingga SMP ditemani oleh kesepuluh teman-temannya yang dinamai Laskar Pelangi, kini Ikal yang telah bersekolah di SMA ditemani oleh dua orang temannya Arai dan Jimbron.

Arai sebenarnya masih memiliki hubungan darah dengan Ikal, kedua orang tuanya meninggal dunia ketika ia masih kecil. Arai tak memiliki saudara kandung sehingga setelah kematian kedua orang tuanya Arai diasuh oleh kedua orang tua Ikal di kampungnya sehingga bagi Ikal, Arai adalah saudara sekaligus sahabat terbaik baginya, Arai memiliki pribadi yang terbuka dan cerdas. Sedangkan Jimbron adalah sosok rapuh, ia tak secerdas Ikal dan Arai, ia gagap dalam berbicara semenjak kematian ayahnya. Jimbron sangat terobsesi oleh kuda, padahal di kampungnya tak ada seekorpun kuda bisa ditemui, nantinya kisah Jimbron dan obsesinya ini menjadi bagian yang menarik dan lucu pada buku ini

Ikal, Arai dan Jimbron memiliki rasa kesetiakawanan yang tinggi, mereka bahu membahu mewujudkan mimpi mereka, saat itu PN Timah Belitong sedang dalam keadaan terancam kolaps, gelombang PHK besar-besaran membuat banyak anak-anak tidak bisa meneruskan sekolah mereka karena orang tuanya tak sanggup membiayai. Mereka yang masih ingin bersekolah harus bekerja. Demikian juga dengan ketiga pemimpi, begitu tamat SMP mereka ingin tetap melanjutkan sekolah mereka, karena di kampung mereka tak ada SMA, mereka harus merantau ke Magai, 30 kilometer jaraknya dari kampung mereka. Untuk itu mereka tinggal bersama-sama dalam sebuah los kontrakan, sedangkan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya mereka bekerja mulai dari penyelam di padang golf, office boy di sebuah kantor pemerintah hingga akhirnya bekerja sebagai kuli ngambat, yang bertugas menunggu perahu nelayan tambat dan memikul tangkapan para nelayan itu ke pasar ikan. Menurut hirarki pekerjaan di Magai, kuli tambat adalah pekerjaan yang paling kasar yang hanya akan digeluti oleh mereka yang tekad ingin sekolahnya sekeras tembaga atau mereka yang benar-benar putus asa karena tidak memiliki pekerjaan lain. Hal ini membuktikan bahwa ketiga pemimpi ini memiliki hati yang sekeras tembaga untuk bisa bersekolah untuk mewujudkan mimpi mereka.

Kisah memoar kehidupan Ikal dan kedua sahabatnya dalam mewujudkan impian inilah yang tersaji dalam novel ini. Semua kisahnya tersaji dalam 18 bab yang tidak terlalu panjang, masing-masing memiliki kisahnya sendiri, namun ada juga beberapa bab yang sambung menyambung. Beberapa bab menyuguhkan cerita-cerita yang bersahaja seperti pada bab Baju Safari Ayahku yang mengisahkan bagaimana ayah Ikal yang tak banyak bicara namun begitu mencintai dirinya, hal ini terbukti ketika ayahnya harus mengayuh sepeda sejauh 30 km untuk mengambil rapor ikal dan Arai. Ketika hari yang ditentukan tiba ayah Ikal bahkan harus bangun pagi-pagi sekali untuk mempersiapkan dirinya, dikenakannya satu-satunya pakaian Safari empat saku kesayangannya yang telah disetrika dengan rapih, baginya hari itu adalah hari yang terpenting bagi hidupnya. Kesungguhan hati sang ayah dalam mengambil rapor Ikal dan Arai tak berbuah sia-sia karena mereka masing-masing menduduki rangking ketiga dan kelima. Kisah yang tersaji dalam bab ini sangatlah indah, secara piawai Andrea meramu kalimat-kalimatnya dengan indah sehingga pembaca akan merasakan bagaimana bangganya Ikal memiliki ayah yang begitu mencintainya.

Masih ada beberapa kisah lagi yang menggugah, namun ada juga beberapa kisah lucu yang membuat pembacanya tersenyum dan tertawa terbahak-bahak ketika membaca pengalaman-pengalaman lucu mereka, misalnya pada Bab Bioskop yang menceritakan kisah kenakalan Ikal dan kawan-kawannya ketika secara sembunyi-sembunyi masuk kedalaam gedung bioskop untuk menonton film-film murahan yang mengumbah syahwat. Tentu saja ini petualangan yang berbahaya karena menonton bioskop merupakan salah satu larangan paling keras dari Pak Mustar, guru mereka. Kisah yang lucu dan seru ini bersambung ke 2 bab berikutnya yaitu Action dan Spiderman. Khusus di Bab Spiderman pembaca akan dibuat tertawa karena obsesi Jimbron terhadap kuda melahirkan sebuah kisah yang lucu dengan ending yang membuat pembaca tertawa terbahak-bahak.

Selain itu, disela-sela kisah-kisah ketiga pemimpi yang terdapat dalam buku ini, pembaca juga akan disuguhi potret landskap pulau Belitong lengkap dengan kondisi sosialnya, salah satunya yaitu dengan mengungkap anak-anak melayu yang harus bekerja mendulang tembaga, mencari bongkah kaursa, topas dan gelena yang sesungguhnya adalah milik penduduk kampung Melayu namun semuanya itu harus mereka muat sendiri ke atas tongkang untuk menggendutkan perut para cukong di Jakarta. Selain itu Andrea pun dengan jiwa yang besar melakukan otokritik terhadap kaumnya, suku Melayu. Diwakili oleh tokoh pengusaha kaya di kampungnya Capo Lam Pet Nyo, Andrea mengkritik habis perilaku suku melayu yang ditulisnya sebagai orang yang manja karena bergantung pada keberadaan PN Timah, banyak teori, sok pintar walau baru sedikit ilmunya, sombong walau hanya memiliki sedikit harta, dll. Otokritiknya ini ditutup dengan kalimat lugas yang keluar dari mulut Capo Lam Pet Nyo “Kalau timah tak laku, kalian orang Melayu mati…” (hlm164).

Masih banyak peristiwa-peristiwa yang menarik yang dialami oleh Ikal dan kedua kawannya. Kesemua peristiwa yang mereka alami tak ubahnya seperti potongan-potongan mozaik, walau awalnya seperti terserak seakan berdiri sendiri, namun jika disatukan akan akan membentuk sebuah pemandangan yang indah yang dalam konteks buku ini akan menuju suatu bentuk wujud dari impian besar mereka. Sayang, ketika potongan mozaik yang menceritakan ketika Ikal telah memasuki bangku kuliah tidak tereskplorasi dengan baik., kalimat “Tak terasa aku telah menyelesaikan kuliahku” (hlm 250) seolah memberi alasan bagi Andrea untuk beralih ke kisah selanjutnya, atau mungkin mozaik ini akan muncul di buku berikutnya ? Semoga saja demikian. Buku ini diakhiri dengan kisah Ikal dan Arai kembali ke kampungnya sambil menanti keputusan dari kampus mereka apakah mereka diijinkan untuk melanjutkan riset ke luar negeri atau tidak. Berhasilkah Ikal, Arai dan Jimbron mewujudkan mimpi mereka untuk menjejakkan kaki mereka hingga ke Sorbrone – Perancis ? Jawabannya akan pembaca temui dalam bab-bab terakhir di buku ini.

Walau memiliki banyak hal yang menarik dalam buku ini, ada sedikit kejanggalan yang mungkin akan dirasakan oleh pembaca. Pada cover depan buku ini tertulis bahwa Sang Pemimpi adalah “Buku Kedua dari Tetralogi Laskar Pelangi” bukan tak mungkin pembaca Laskar Pelangi akan menyangka bahwa buku kedua Andrea ini masih menceritakan kehidupan tokoh Ikal bersama pasukan Laskar Pelanginya, sayangnya anggota Laskar Pelangi yang begitu kompak dan menemani masa-masa indah ikal sewaktu SD hingga SMP tak terceritakan lagi dalam Sang Pemimpi, dari 18 bab, hanya sekali Laskar Pelangi disinggung, itupun hanya sekilas saja, apakah memang dari kesepuluh anggota laskar pelangi tak ada satupun yang melanjutkan ke SMA Bukan Main di Magai ? Selain itu tokoh Arai yang dalam Sang Pemimpi diceritakan telah tinggal bersama Ikal sama sekali tak dimunculkan dalam Laskar Pelangi, padahal dalam novel ini dikisahkan bahwa Ikal dan Arai telah tinggal serumah layaknya kakak dan adik semenjak mereka kelas tiga SD.

Secara keseluruhan buku ini tak kalah menarik dengan Laskar Pelangi, Andrea nampaknya masih ‘bermain’ dalam pola yang sama dengan buku pertamanya, beragam kisah yang pernah dialaminya ditulis dalam masin-masing bab dan dikumpulkan menjadi satu buku, mirip kumpulan cerpen namun memiliki benang merah yang kuat. Sang Pemimpi adalah sekuel dari Laskar Pelangi dan merupakan buku kedua dari apa yang disebutnya sebagai Tetralogi Laskar Pelangi. Seperti diungkap oleh penulisnya dalam lembar ucapan terimakasihnya, kini buku ketiga dan keempat sedang ditulisnya, dan Budaya orang Melayu dan Tionghoa pedalaman di Belitong lah yang akan menjadi platform untuk mendefiniskan tetralogi Laskar Pelangi

Dari segi penuturan, antara buku pertama dan kedua tak terlihat berbeda, Andrea tampaknya masih konsisten menyuguhkan kisah-kisah kehidupan yang memesona yang dirangkai dengan kalimat-kalimat yang menyihir pembacanya sehingga pembaca dibawa berkelana menerobos sudut-sudut kehidupan anak-anak kampung Melayu yang polos, sederhana namun memiliki kekuatan terhadap cinta, persahabatan, pengorbanan, dan tekad yang keras untuk mewujudkan mimpi mereka. Tiap-tiap kisah yang dituturkan baik yang penuh dengan kelucuan, keharuan, tragedi dll diungkap dengan teknik bercerita yang memukau, tak heran jika Nicole Horner dalam endorsmentnya mengatakan bahwa Andrea adalah seorang seniman kata-kata

Kehadiran Sang Pemimpi dalam ranah perbukuan tanah air masih dalam situasi yang sama ketika Laskar Pelangi diterbitkan, buku-buku fiksi yang beredar masih banyak yang bertutur mengenai kehidupan kaum urban dengan segala permasalahannya atau cerita-cerita remaja metropolitan yang tak lepas dari problem cintanya. Belum lagi kini pasar buku diramaikan dengan hadirnya karya-karya terjemahan yang menggugat dasar-dasar keyakinan umat tertentu.

Ditengah-tengah kondisi ini kembali Andrea menyuguhkan sebuah kisah yang lain. Sang Pemimpi hadir dengan kisah-kisah sederhana. Namun dari kesederhanaan inilah pembaca akan disadarkan bahwa kemiskinan dan berbagai hambatan yang membelit cita-cita seseorang bukanlah alasan untuk berhenti bermimpi. Selain itu Melalui rangkaian kisah-kisah dalam buku ini baik yang filosofis, menyentuh bahkan menggelikan akan terlihat secara jelas betapa dashyatnya tenaga mimpi dari tokoh-tokohnya sehingga membawa mereka untuk terus berjuang menaklukkan berbagai rintangan- yang mereka hadapi untuk mewujudkan mimpi mereka.

“Kita akan sekolah ke Perancis, menjelajahi Eropa sampai ke Afrika! Apapun yang terjadi!”


@h_tanzil
Read more »

Minggu, 06 Agustus 2006

Embroideries (Bordir)


Judul : Embroideries (Bordir)
Penulis : Marjane Satrapi
Genre : Novel grafis
Penerjemah : Tanti Lesmana
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : I, Maret 2006
Tebal : 136 hlm
Harga : Rp. 35.000,-

Ketika para wanita bertemu dalam satu kesempatan dan saling bertukar cerita satu dengan lainnya biasanya selalu menjadi obrolan yang menarik dan tak berkesudahan, berbagai topik bisa dibicarakan mulai dari cerita diri sendiri hingga kisah orang lain yang biasanya disertai bumbu-bumbu cerita yang membuat obrolan semakin seru. Tak heran obrolan ini bisa meluas ke berbagai topik dan membuat mereka betah dudukberjam-jam sambil bercerita hingga lupa waktu.

Apakah obrolan yang sering disebut gosip ini bisa dikatakan obrolan yang tak bermutu? Apa jadinya jika obrolan para wanita ini direkam kedalam suatu novel grafis? Apakah ini suatu karya yang sia-sia dan tak bermanfaat ?

Marjane Satrapi, penulis asal Iran yang dikenal dengan novel grafisnya Persepolis (2003) dan Persepolis 2 (2004), kembali menelurkan karyanya yang diberinya judul Embroideries(Bordir) -2005. Berbeda dengan Persepolis yang mengisahkan kehidupan masa kecil dan remajanya di tengah berlangsungnya Revolusi di Iran, dalam Bordir Satrapi menyodorkan kisah yang lebih dewasa dengan memotret kehidupan keseharian wanita Iran lewat obrolan gosip para tokoh-tokoh wanitanya.

Seluruh cerita dalam novel grafis ini berada dalam bingkai pembicaraan para wanita (Satrapi, nenek, ibu Satrapi beserta koleh-koleganya), sebuah kebiasaan umum di Iran dimana selepas santap siang,ketika para lelaki tertidur pulas, para wanita berkumpul sambil minum teh dan menyibukkan diri dengan kegiatan favorit mereka : berdiskusi guna melepas unek-unek mereka. Sambil menikmati hangatnya teh masing-masing wanita menceritakan kisah-kisahnya baik mengenai dirinya sendiri maupun kisah kerabat-kerabat mereka. Cerita demi cerita terus mengalir, sambung menyambung dari satu topik ke topik lain, mulai dari kisah menyiasati malam pertama, kawin paksa, keperawanan, operasi plastik hingga pengalaman tertipu oleh pria jahat yang dinikahinya. Semua dibicarakan secara blak-blakan dengan sisipan black comedy yang terasa tajam. Karenanya Bordir bisa dikatakan sebagai novel grafis yang diperuntukkan bagi pembaca yang benar-benar dewasa. Mungkin hal inilah yang menyebabkan penerbit Gramedia menempelkan sticker “Dewasa” dalam wraping buku ini.

Secara keseluruhan Satrapi menyuguhkan rangkaian cerita yang menarik, penuh kejutan yang menyibak sekelumit kehidupan pribadi sejumlah wanita Iran. Kisah-kisah hidup para wanita yang tersaji dalam buku ini dituangkan dalam percakapan-percakapan yang hidup sehingga membuat pembacanya terasa berada di tengah-tengah para wanita ini, ikut berbagi cerita, dan mendengarkan beragam topik yang mungkin salah satunya pernah dialami oleh wanita diberbagai belahan bumi.

Dari hal-hal yang terungkap diatas, sekilas akan nampak bahwa buku ini adalah hanya sekedar buku yang mengibur pembacanya, namun jika kita mau mendalami seluruh kisahnya, bukan hanya unsur hiburan yang kita peroleh. Di tangan Satrapi obrolan para wanita bukan hanya sekedar obrolan gosip yang tak bermanfaat karena dibalik kisah-kisah yang diutarakan oleh para wanita dalam buku ini, pembaca akan diberi gambaran bagaimana sesungguhnya kehidupan kaum wanita di Iran yang sebenarnya ingin bisa bebas dari kukungan tradisi yang mengikat mereka. Melalui buku ini pula pembaca akan mengetahui bahwa pengaruh budaya barat seperti MTV, hidup bersama tanpa pernikahan, pandangan keperawanan, dll telah merasuk kedalam kehidupan masyarakat Iran yang dikenal dengan tradisi ketimurannya yang ketat.

Seperti dalam Persepolis, Bordir menyodorkan gambar-gambar dibuat dengan garis-garis yang sederhana dalam balutan warna hitam-putih yang sangat kuat. Nampak sederhana, namun dari yang kesederahana inilah yang membuat novel grafis ini menjadi ‘lain’ dibanding novel-novel grafis lainnya, sekaligus menjadi ciri khas novel grafis Satrapi.

Kehadiran terjemahan Embordries (Bordir) oleh Gramedia patut dihargai, terjemahannya enak dibaca dan mengalir. Dari segi pengemasan buku ini tampaknya digarap dengan serius, selain cover dan ukuran buku layaknya kemasan buku-buku fiksi, novel grafis ini dicetak diatas kertas yang mewah sehingga goresan-goresan tinta Satrapi yang kuat tercetak dengan baik.

Hadirnya Bordir di ranah perbukuan kita tentu saja disambut hangat oleh para pecinta novel grafis, namun yang menjadi pertanyaan banyak orang adalah mengapa Bordir yang diterbitkan lebih dahulu, padahal jauh sebelum novel ini beredar, sebuah isu santer beredar di kalangan pecinta novel grafis bahwa Gramedia akan menerbitkan Persepolis. Mengapa demikian ? Sangat mungkin penerbit memiliki alasan-alasan yang masuk akal mengapa Bordir dulu yang diterbitkan, apakah sebagai pemanasan sebelum terbitnya Persepolis ? Namun setidaknya kehadiran Bordir bisa dijadikan pemuas dahaga para pecinta novel grafis yang tentunya menginginkan lebih banyak lagi novel-novel grafis kelas dunia yang diterjemahkan di Indonesia.


Akankah Persepolis diterbitkan di Indonesia?

@h_tanzil
Read more »

Minggu, 30 Juli 2006

Snow Flower


Judul : Snow Flower
Penulis : Lisa See
Penerjemah : A. Rahartati Bambang Haryo
Penerbit : Qanita
Cetakan : I, Juni 2006
Tebal : x + 556 hlm
Harga : Rp. 66.000,-

Seorang wanita tua jatuh pingsan di sebuah stasiun daerah pedesaan Cina. Polisi menggeledah barang-barang miliknya untuk menemukan selembar kertas berisi kode rahasia. Wanita itu ditahan dan dicurigai sebagai mata-mata musuh. Tetapi, para cendekiawan yang mengurai tulisan itu mendapati bahwa kode tersebut adalah nu shu—tulisan rahasia kaum wanita yang tidak boleh disentuh dan dilihat oleh kaum lelaki. Tulisan ini digunakan oleh para wanita di derah terpencil di selatan Provinsi Hunan, dan diyakini berkembang seribu tahun yang lalu.

Saat menulis tentang nu shu bagi The Los Angeles Times, penulis Amerika berdarah Cina, Lisa See, yang dikenal di Indonesia lewat novel Liu Hulan: Jaring-jaring Bunga (Qanita,2006) tertarik untuk melakukan riset yang lebih mendalam. Tak puas dengan sejumlah buku dan dokumen yang dibacanya, Lisa See bahkan melakukan perjalanan ke daerah pedalaman Cina untuk menyibak rahasia keberadaan nu shu dan budaya yang melatarbelakanginya.

Pencarian itu menjadi sumber kreatifitasnya dalam menulis novel keempatnya, Snow Flower and The Secret Fan (2005) yang kini diterjemahkan dengan baik oleh penerbit Qanita dengan judul Snow Flower.

Kisah ini ditulis dengan gaya memoar seorang wanita berusia 80 tahun yang bernama Lily, yang menceritakan pengalaman hidupnya bersama Bunga Salju sebagai laotong, alias "kembaran sehati"nya. Lily memulai kisahnya pada 1828, ketika dia berusia 5 tahun dan tinggal di desa Puwei, di Baratdaya Cina. Kebebasan masa kecilnya tiba-tiba terampas ketika dia harus menjalani pengikatan kaki, sebuah tradisi menyakitkan yang harus dilalui oleh para wanita Cina agar memperoleh status yang terhormat.

Kaki Lily kecil mungil diikat sedemikian rupa, sehingga pertumbuhannya terhambat dan tulang-tulang telapak serta jari kaki remuk dan akhirnya membentuk profil bunga lili emas. Kaki yang berbentuk Bunga Lili Emas adalah simbol kehormatan wanita Cina, karena wanita yang kakinya tidak diikat atau berkaki lebar adalah wantia ‘rendahan’ yang hanya pantas dijadikan pelayan atau ‘menantu kecil’ yang tak berharga.

Tersebutlah seorang mak comblang bernama Madam Wang, yang berkunjung dan menawarkan suatu perjodohan bagi Lily. Bukan perjodohan untuk memperoleh seorang suami, melainkan perjodohan ‘laotong’ atau ‘kembaran sehati’, perjodohan yang dilakukan antar sesama jenis untuk memperoleh sahabat sejati yang tidak akan terpisahkan bahkan oleh perkawinan sekali pun. Lily mendapatkan Bunga Salju sebagai kembaran sehatinya.

Komunikasi pertama yang dilakukan oleh Lily dan Bunga Salju sebagai sepasang laotong adalah melalui sebuah kipas yang berisi tulisan nu shu. Kipas inilah yang kelak menjadi semacam jurnal kehidupan mereka.

Dari berbagai kesamaaan yang dimiliki sepasang laotong ini, perbedaan mereka terletak pada status sosial. Lily berasal dari keluarga petani sederhana, sementara Bunga Salju berasal dari keluarga terpendang dan terpelajar. Tetapi, perbedaan ini justru membuat mereka saling melengkapi. Dari Bunga Salju, Lily belajar tentang kaligrafi, menulis nu shu, berperilaku sebagai orang terhormat, dll. Sedangkan dari Lily, Bunga Salju belajar banyak hal mengenai kegiatan rumah tangga seperti mengepel, membuat teh, memetik sayuran, menyediakan hidangan bagi keluarga, dll. Mereka pun selalu berkomunikasi melalui sebuah kipas sutera bertuliskan nu shu. Anehnya, walau Bunga Salju kerap berkunjung ke rumah Lily, tak sekali pun Lily diberi kesempatan untuk berkunjung ke rumah Bunga Salju.

Ketika Bunga Salju dan Lily telah berusia 11 tahun dan kaki mereka telah membentuk bunga lili yang indah, mereka pun masing-masing dijodohkan. Lily dijodohkan dengan anak kepala desa Tongkou yang memiliki reputasi sebagai keluarga terpelajar sekaligus dihormati oleh masyarakatnya, sedangkan Bunga Salju dijodohkan dengan anak seorang tukang jagal. Sungguh aneh dan ironis!

Empat tahun kemudian Lily menikah. Hari keempat setelah pernikahan, pengantin wanita diperbolehkan mengunjungi desa kelahirannya. Namun, alih-alih kembali menemui orang tuanya, Lily mengunjungi Bunga Salju. Ini adalah kunjungan pertamanya setelah bertahun-tahun mereka menjadi sepasang laotong. Melalui kunjungan inilah akhirnya terungkap siapa sebenarnya Bunga Salju, dan mengapa selama ini Lily tidak diberi kesempatan untuk mengunjungi rumahnya.

Tetapi, bukan kebenaran jati diri Bunga Salju yang mengubah janji setia mereka sebagai sepasang laotong. Persahabata mereka tak tergoyahkan, hingga akhirnya tibalah sebuah nu shu dari Bunga Salju. Isi pesan tersebut membuat hati Lily terluka dan persahabatan mereka sebagai sepasang kembaran sehati seketika hancur. Kekecewaan dan perasaan dikhianati oleh laotongnya membuat Lily menutup hatinya terhadap Bunga Salju.
Bertahun lamanya mereka tak lagi saling bertemu atau bertukar kabar hingga akhirnya sebuah tragedi mengungkap kebenaran yang selama ini tertutup oleh perasaan benci.

Novel keempat Lisa See ini menyuguhkan cerita yang dramatis dan berpotensi membuat emosi pembacanya tersentuh karena novel ini banyak mengungkap kepedihan dari kehidupan para tokohnya, namun bukan berarti novel ini menjadi novel yang cengeng karena melalui para tokohnya pula akan tercermin ketegaran mereka dalam menghadapi penderitan baik dari kukungan tradisi maupun dari berbagai peristiwa pahit yang harus mereka lalui.

Selain menyajikan cerita yang menyentuh dan plot yang enak diikuti, Snow Flower juga sarat dengan budaya Cina pada abad ke-19, khususnya mengenai kehidupan kaum wanitanya, yang ditampilkan melalui penggambaran tradisi pengikatan kaki, nu shu, upacara perjodohan hingga pernikahan, serta kehidupan keseharian para wanita Cina dalam menjalani siklus hidupnya mulai kecil hingga masa tuanya. Pembagian novel ini pun terbagi dalam siklus kehidupan wanita Cina, seperti Hari-hari Anak Gadis, Hari-hari Jepit Rambut, Hari-hari Beras dan Garam, dan Hari-hari Duduk dalam Keheningan.

Salah satu hal yang paling menarik dalam novel ini adalah penggambaran mendetail tradisi pengikatan kaki. "Hanya melalui rasa sakit kaudapatkan kecantikan. Hanya melalui penderitiaan kaudapatkan kedamaian", demikian makna filosofis dari tradisi ini. Mungilnya kaki seorang wanita, kelak akan ditunjukkan sebagai bukti kepada calon mertua dan ipar tentang kekuatan dalam pengendalian diri, serta kemampuan untuk menahan penderitaan dalam persalinan.

Sikap dan pandangan hidup masyarakat Cina abad ke-19 terhadap kaum wanita pun tergambar dengan jelas dalam novel ini. Wanita Cina hidup dalam kukungan tradisi. Setelah menjalani pengikatan kaki, hidup mereka dihabiskan di ruang atas dan dapur yang terpisah dari kaum lelaki. Di sana, mereka harus belajar berbagai ketrampilan seperti membordir, membuat sepatu, juga menyiapkan mahar perkawinan mereka. Setelah menikah, mereka harus hidup melayani suami, mertua hingga ipar-iparnya. Tugas terberat mereka adalah melahirkan anak laki-laki sebagai penerus keluarga suami. Jika tidak berhasil, mereka akan disisihkan dan dapat digantikan posisinya sewaktu-waktu. Hal tersebut terjadi karena dalam budaya Cina saat itu, melahirkan anak laki-laki adalah fondasi bagi harga diri wanita sekaligus mahkota kemuliaan bagi seorang wanita.

Masih banyak tradisi-tradisi dan kultur masyarakat Cina abad 19 yang akan terungkap dalam novel ini. Walau sarat dengan paparan budaya Cina yang eksotis, novel ini tidaklah membosankan. Secara piawai, Lisa See meramu unsur-unsur tersebut menjadi sebuah cerita dan paparan budaya terjalin dengan cantik. Hasilnya adalah sebuah novel yang indah dan menyentuh. Beberapa pujian atas novel ini menyatakan bahwa novel inilah karya terbaik dari Lisa See. Tak heran jika novel ini bertengger dalam jajaran daftar New York Time Bestseller sepanjang tahun 2005 hingga kini.

Lisa See, penulis Amerika keturunan Cina yang relatif masih muda ini rupanya berhasil mencari dan mengangkat "akar" budaya leluhurnya. Riset dan perjalanannya hingga ke daerah-daerah terpencil di Cina tidaklah sia-sia. Sebuah novel yang tampaknya akan terus dikenang dan menjadi sebuah karya klasik ini adalah buah dari usahanya mencari dan mengangkat budaya leluhurnya yang mungkin sudah terlupakan, tergerus oleh putaran waktu dan hanya dapat ditemui dalam literatur-literatur budaya yang mungkin tak terbaca oleh generasi masa kini. Kini, Lisa See meyuguhkannya dalam balutan fiksi yang menawan hingga dapat terbaca oleh masyarakat luas, bukan sekadar untuk menampilkan eksotisme budaya Cina masa lampau melainkan supaya pembacanya memahami dan mengambil nilai-nilai kehidupan dari budaya masa lampau dari suatu bangsa yang dikenal telah memiliki sejarah yang sangat panjang.

@h_tanzil
Read more »

Minggu, 23 Juli 2006

Sang Singa, Sang Penyihir dan Lemari



Judul : The Lion, The Witch and The Wardrobe
( Sang Singa, Sang Penyihir dan Lemari)
Penulis : C.S. Lewis
Diceritakan kembali oleh : Hiawyn Oram
Ilustrasi : Tudor Humphries
Penerjemah : Indah S. Pratidina
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Juni 2006
Jenis : Cerita Bergambar Anak
Tebal : 44 hlmn, (25x26cm) – art paper
Harga : Rp. 35.000,-

Kisah petualangan empat anak Inggris, Peter, Susan, Edmund, dan Lucy di negeri Narnia sebenarnya sudah lama dikenal di Indonesia. Seri Narnia yang merupakan kisah fantasi anak klasik karya C.S. Lewis ini mulai dikenal di Indonesia pada tahun 1992 dimana untuk pertama kalinya Narnia diterjemahkan dan diterbitkan oleh Dian Rakyat

Setelah seri Narnia versi Dian Rakyat habis di pasaran dan tidak dicetak ulang kembali, kisah negeri ajaib Narnia terlupakan dengan semakin maraknya cerita-cerita fantasi anak yang lebih modern. Tiga belas tahun kemudian kisah Narnia kembali terdengar dengan terbitnya "Let’s Go Into Narnia –(Mengenal lebih dekat dunia ajaib CS. Lewis) – Arie Saptaji, Gradiens Books, Juli 2005). Buku yang ditulis untuk bekal bagi calon pembaca kisah Narnia ini rupanya hendak mencuri start eforia pembaca kisah fiksi remaja menjelang diterbitkannya kembali seri Narnia oleh Gramedia Pustaka Utama dan diputarnya film The Witch, The Lion and The Wardrobe, di bioskop-bioskop tanah air pada bulan Desember 2005.

Pada bulan Juli 2005 Gramedia secara beruntun menerbitkan seri Narnia dengan cover yang menarik dengan ilustrasi asli yang dibuat oleh Pauline Baynes. Kemudian Gramedia juga menerbitkan Narnia Box Set yang dicetak secara terbatas khusus untuk para kolektor Narnia. Setelah menerbitkan ketujuh seri Narnia secara lengkap, di bulan Mei 2006 Gramedia menerbitkan semacam buku panduan mengenai dunia Narnia "The Magical World of Narnia" karya David Colbert yang juga menulis buku paduan kisah fantasi populer seperti "The Magical World of Harry Potter dan The Magical World of Lord of The Ring" yang semuanya telah diterbitkan oleh Gramedia.

Setelah menerbitkan seri Narnia beserta buku-buku pendampingnya, kini Gramedia menerbitkan Buku Bergambar Narnia "The Lion, The Witch, and The Wardrobe" yang diperuntukkan bagi anak-anak. Buku Bergambar Narnia ini masih setia pada cerita asliya, hanya saja karena diperuntukkan bagi anak-anak dan dikemas dalam betuk cerita bergambar degan jumlah halaman yang terbatas (44 halaman), tentu saja buku ini telah megalami proses adaptasi berupa penyederhaaan cerita agar dapat dimengerti oleh pembaca anak-anak.

Kisah dalam buku ini dimulai ketika empat anak---Peter, Susan, Edmund, dan Lucy---menemukan lemari tua misterius. Ketika masuk ke sana, mereka menemukan bahwa di balik semua mantel bulu yang tergantung terdapat dunia indah – dunia Narnia - dengan pepohonan dan pegunungan, di mana segalanya tertutup salju.Ternyata musim dingin di Narnia tak perah berakhir karena Penyihir Putih telah menyebarkan musim dingin membeku ke seluruh tempat. Hanya Aslan yang bisa mengalahkannya dan mematahkan sihir jahatnya. Keempat anak itu harus menemui sang singa sebelum terlambat. Kalau mereka gagal, sang penyihir akan menjadikan mereka tawanan selamanya.

Karena buku ini diperuntukkan bagi anak-anak, maka kalimat-kalimatnya dibuat sesederhana mungkin sehinga memudahkan anak-anak yang bisa membaca untuk memahami ceritanya. Dari segi pengemasan buku ini dikemas secara menarik, ukuran buku yang besar (25x26 xm) membuat ilustrasi dalam buku dapat dinikmati dengan baik, ilustrasinya sangat menarik, komposisi warnanya teduh dan tidak mencolok mata, goresan grafisnya tersaji secara realistik dan detail-detailnya tampak halus sehingga ekspresi wajah para tokohnya bisa dikatakan mewakili apa yang sedang dialami oleh para tokoh-tokohnya. Hal ini membuat anak-anak yang belum bisa membacapun tetap bisa menikmati buku ini, terlebih bagi mereka yang pernah menonto filmnya.

Bagi pembaca yang telah menonton filmnya tentu akan menemui kemiripan-kemiripan dari apa yang tervisualisasi di layar lebar dengan ilustrasi yang terdapat dalam buku ini, padahal buku ini diadaptasi menjadi certa bergambar pada tahun 2004, setahun sebelum filmnya dirilis. Namun di akhir cerita ada sedikit ilustrasi ya berbeda dengan filmnya, pada saat keempat anak hendak meninggalkan dunia Narnia, dalam ilsutrasi buku ini tampak Mr Tumnus melambaikan tangannya pada mereka, sedangkan dalam film tak terlihat adegan tersebut. Tentu saja hal ini menimbulkan tanda tanya di benak anak-anak yang secara kritis membandingkan ilustrasi dalam buku ini dengan apa yang mereka lihat di filmnya. Namun karena buku ini merupakan karya adaptasi, maka perbedaan tersebut bukanlah masalah selama masih dianggap wajar dan tidak merubah inti cerita aslinya, yang penting melalui buku ini, anak-anak akan mendapat kesempatan untuk memasuki dunia Narnia lewat sebuah buku yang memang diperuntukkan bagi mereka.

Karena kisah Narnia sebenarnya ditulis untuk kalangan remaja, maka dengan diterbitkannya kisah Narnia yang dirancang khusus untuk anak-anak, maka para orang tua akan sangat terbantu dalam mengenalkan kisah Narnia yang sarat dengan pesan moral kepada anak-anaknya yang masih kecil. Bukan itu saja, kemasan dan ilustrasinya yang menarik pada buku ini tampaknya bukan hanya akan diminati oleh anak-anak saja, namun juga akan menggerakkan hati para penggemar Narnia dewasa untuk segera mengoleksinya.

@h_tanzil
Read more »

Minggu, 16 Juli 2006

Selasar Kenangan


Judul : Selasar Kenangan
(Kumpulan cerpen)
Editor : Eko Sugiarto
Penyelia : Akmal Nasery Basral
Penerbit : AKOER & Apresiasi-Sastra
Cetakan : I, Juni 2006
Tebal : xx + 94 hlm
Harga : Rp. 24.500,-


Masa kecil adalah salah satu rentang waktu dalam kehidupan seseorang yang penuh dengan kenangan. Ada yang manis ada pula yang pahit. Beberapa peristiwa yang terjadi di masa kecil terkadang begitu membekas terpatri dalam hati dan tak bosan-bosannya untuk dikenang dan diceritakan. Bukan sekedar mengenang romantisme masa kanak-kanak, tak jarang peristiwa di masa kecil dijadikan pegangan dan bekal kehidupan dalam menjalani kehidupan di masa kini.

Dalam buku kumpulan cerpen Selasar Kenangan, sembilan penulis wanita dari berbagai profesi mulai dari penulis novel, wartawan, hingga buruh migran yang tergabung dalam milis Apresiasi-Sastra mencoba menorehkan masa kecil mereka kedalam cerpen yang menarik untuk disimak. Apa yang selama ini menjadi kenangan pribadi dan disimpan dalam masing-masing benak penulisnya kini diceritakan untuk dibaca oleh siapa saja. Ada kenangan yang pahit, lucu, menyentuh, semua terangkum dalam sembilan cerita yang berbeda dan dengan gaya bertutur yang berbeda.

Torehan kenangan dari sembilan penulis wanita dalam buku ini diawali dengan cerpen karya Anjar, novelis produktif yang telah menerbitkan 3 bh novel (Beraja, Kidung, dan Tiga). Sama seperti novel-novelnya yang selalu memasukkan kata-kata dalam bahasa Indonesia yang jarang digunakan oleh penulis lainnya, begitupun dalam cerpennya “Putaran Batu”. Dalam cerpen ini akan ditemui kata-kata seperti ngelangut (rindu), berselirat (ruwet), sapandurat (tiba-tiba, sekejap mata), dll. Cerpen ini mengisahkan ketika tokoh “Aku” sedang mengalami masalah dalam pekerjaannya. Dalam keadaan gundah ia diminta oleh kakaknya untuk mengasuh keponakannya yang masih belajar berjalan. Ternyata apa yang dialami oleh keponakannya sama dengan apa yang dialaminya semasa ia kecil, hal ini membuat alam bawah sadarnya mengantarnya pada sebentuk kenangan masa kecil yang membuat dirinya memiliki alternatif dalam menyelesaikan masalah dalam pekerjaannya.

Pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak yang tak mengenakkan seperti diejek oleh teman-teman sekolah juga terungkap dalam buku ini, dalam cerpen “Jemputan Sepeda Mama” (Anindita) dikisahkan seorang anak SD yang harus menanggung malu diejek oleh teman-temannya karena setiap hari dijemput oleh mamanya dengan mengendarai sepeda. Pada cerpen “Dilarang Membenci Becak” (Lik Kismawati) dikisahkan seorang anak yang lahir dalam sebuah becak harus menganggung malu dengan olok-olokan teman-temannya yang menyebut dirinya sebagai “anake becak”, hal ini membuat dirinya membenci becak, kebenciannya pada becak tak hilang walau ia ditolong kembali oleh sebuah becak ketika ia terjatuh dari sepeda.

Pengalaman pahit dalam menyusuri kenangan masa kecil juga tersaji dalam cerpen “Perempuan dalam Reruntuhan Musim” (Widzar Al-Ghifary), cerpen ini mengisahkan tokoh Wida yang melakukan perjalanan menapak masa lalu ke tempat ia melewati masa kecilnya yang pahit dan memberinya taruma pada kehidupannya kini. Awalnya Wida tak mau jika ada yang mengajaknya kembali ke desa tempat ia dibesarkan, ia memilih pergi ke tempat-tempat lain ketimbang harus menemui masa lalunya yang pedih, hingga akhirnya sebuah surat dari kawan lama almarhum kakeknya membuatnya harus kembali ke desanya.

Selain cerita masa lalu yang kurang menyenangkan buku ini juga menyajikan beberapa pengalaman-pengalaman polos anak-anak yang mengundang senyum pembacanya. Pada cerpen “Sedikit Kenangan Tersisa” (Ita Siregar) diceritakan berbagai pengalaman masa kecil tokohnya seperti ketika ia tercebur dalam tong berisi minyak tanah, kekhawatiran ketika gigi serinya tanggal karena takut tak tumbuh lagi selamanya dll. Pengalaman pertama anak-anak dalam hal-hal baru juga tampak dalam cerpen “Hantu di Kamar Baru” (Rita Achdris) dimana diceritakan pengalaman seorang anak ketika ia harus tidur sendirian untuk pertama kalinya. Dalam cerpen “Papa Menepuk Nyamuk, Sayang” (Feby Indirani) menuturkan pengalaman lucu sang anak ketika terbangun di tengah malam dan melihat kedua orang tuanya sedang ‘bergumul’, esoknya mamanya memberitahu bahwa kejadian semalam adalah “Papa yang sedang menepuk nyamuk di badan mama”.

Kisah yang menyajikan kejutan di akhir cerita muncul di cerpen “Segi Empat bukan Segitiga” (Mindo Hutagaol) dimana tokohnya seorang anak yang memiliki dua orang ibu. Suatu saat kakaknya yang berkerja di Singapura tiba-tiba datang dan berniat membawa si anak untuk ikut dengannya. Maka terjadi tarik menarik antara si kakak dan ayahnya yang tak rela anaknya dibawa pergi, dalam tarik menarik itulah terjadi sesuatu yang mengejutkan yang kan membuka jati diri si kakak. Begitupun dengan cerpen “Sesuatu Bernama Kenangan” (Riris Juliyanti), cerpen yang berlatar tragedi Mei 98 ini menceritakan persahabatan antara seorang keluarga Pribumi dengan keluarga Tionghoa, tetangga depan rumahnya, ketika tragedi Mei terjadi, keluarga Tionghoa ini tak luput dari amukan massa, salah seorang anaknya mengalami perkosaan. Cerpen ini menyajikan ending yang mengejutkan sekaligus menyentuh di akhir ceritanya.

Jika membaca keseluruhan cerpen yang ada dalam buku ini pembaca diajak untuk menyelusuri selasar kenangan masa kecil para tokoh dalam tiap cerpen, ketika membaca buku ini kita seolah didongengi cerita-certia masa kecil penulisnya, secara umum cerita-ceritanya sederhana dan menyajikan kepolosan dunia anak-anak, namun ada juga certia-certia yang kelam dan menyentuh pembacanya (Perempuan dalam Reruntuhan Musim, Sesuatu yang Bernama Kenangan), yang pasti, pembaca yang baik pasti akan mendapatkan nilai-nilai moral dari seluruh kisah yang tesaji dalam buku ini yang tentunya bermanfaat untuk diselami.

Keseluruhan cerpen yang ada dalam buku ini dikumpulkan dari milis Apresiasi-Sastra@yahoogroups.com , sebuah milis sastra yang kerap mengadakan semacam lomba kepenulisan dalam berbagai bentuk (pantun,puisi,prosa,dll). Dalam kata pengantar buku ini yang ditulis oleh Djodi Budi Sambodo selaku pendiri (owner) milis Apresiasi-Sastra, terungkap bahwa milis yang sarat dengan program-program apresiasi ini pernah menggelar sebuah programnya Apresiasi Prosa srikandi (khusus wanita) dengan tema “Masa Kecil”. Program ini diikuti oleh 21 peserta, dari 21 naskah yang masuk, naskah-naskah ini dinilai oleh 13 relawan juri yang semuanya pria. Semua cerpen dinilai dan ditabulasikan hingga menghasilkan 10 cerpen dengan nilai terbaik dan akhirnya dibukukan dalam “Selasar Kenangan”

Selain berisi kumpulan cerpen, buku ini juga menyuguhkan sebuah ensamble puisi / puisi berantai sebanyak 117 baris yang ditulis oleh puluhan anggota milis Apresiasi-Sastra dimana setiap anggota milis boleh mengirimkan sebaris atau lebih puisinya untuk menyambung baris-baris diatasnya. Puisi berantai dengan judul ”Waktu Bukan Milikmu” ini setidaknya merupakan bukti perwujudan semangat kebersamaan dalam bersastra yang tampaknya menonjol dalam milis Apresiasi-Sastra ini.

Yang sangat disayangkan, buku yang dikemas secara menarik ini memiliki kekurangan yang cukup menonjol, dalam kata pengantarnya tertulis bahwa ada 10 cerpen terbaik yang dimuat dalam buku ini, namun dalam kenyataannya hanya ada 9 bh cerpen saja, dimana keberadaan satu cerpen lagi…?, selain itu, buku ini juga tidak memuat biodata penulis, padahal dalam sebuah buku, biodata penulis merupakan salah satu unsur yang sangat penting dan selalu ada guna mengenalkan penulisnya pada pembacanya, apalagi untuk sebuah antologi cerpen yang ditulis oleh berbagai penulis.

Namun dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Buku ini setidaknya turut andil dalam mempopulerkan berbagai karya sastra internet yang semula hanya terbaca di layar komputer oleh para peselancar cyber menjadi sebuah karya sastra yang juga bisa dibaca oleh masyarakat luas dan dapat dibaca kapan saja sambil berselonjor nyaman di sebuah sofa empuk sambil menyusuri Selasar Kenangan dan belajar dari kehidupan masa kecil para tokoh-tokoh dalam cerpen ini.

@h_tanzil
Read more »