Senin, 26 November 2007

Galigi


Judul : Galigi (Kumpulan Cerpen)
Penulis : Gunawan Maryanto
Editor : Damhuri Muhammad
Penerbit : Koekoesan
Cetakan : I, Januari 2007
Tebal 158 hlm
Harga : Rp. 30.000,-

Berikut adalah makalah yang dibuat oleh Yanusa Nugroho yang disampaikan saat peluncuran buku ini beberapa bulan yang lalu.

Kumpulan cerpen ini juga masuk dalam long list Khatulistiwa Award 2007

@ h_tanzil

Galigi: Sebuah ‘beranda’ di mana kesunyian mengalir begitu saja

oleh : Yanusa Nugroho

Ketika membaca cerpen-cerpen Gunawan Maryanto, saya tak bisa lepas dari gambaran bahwa sosok si penulis adalah seorang teaterawan. Entah mengapa, gambaran Cindhil—begitu dia akrab disapa kawan-kawan, yang sutradara, yang dramawan, muncul mewarnai tulisannya. Saya, tiba-tiba meyaksikan “Repertoar Hujan”.

Ketika membaca halaman demi halaman kumpulan cerpen Galigi ini, kalau boleh saya bandingkan, ibarat melihat sesuatu—atau potongan sesuatu, yang sangat eye catching—meminjam istilah periklanan, dan terjadi dalam saat yang sangat singkat. Karena singkat, maka saya mencoba untuk mengamatinya lagi, namun sayang, bayangan itu sudah hilang, sehingga yang muncul adalah kesan yang tersimpan dalam ingatan. Bagi saya, yang seperti ini, jauh lebih indah.

Ada gambaran dua pendekar sakti yang bertarung dengan mengandalkan kesaktiannya. Ada kisah cinta yang aneh, tragis. Ada juga yang membuat kita senyum-senyum saja, misalnya pada “Selendang Nawang”, dan masih banyak lagi kesan-kesan yang bermunculan ketika membaca buku ini.

Yang jelas, apa yang ditulis GM di dalam kumpulan ini, saya nikmati sebagai sebuah dongeng. Dalam sebuah dongeng, kita mligi (semata-mata) disuguhi cerita, tanpa ada embel-embel kritik sosial, politik atau apapun. Bahwa nantinya kita menafsirkannya dengan mengait-ngaitkan pada unsur lain, itu boleh-boleh saja. Dan yang jelas pula, gaya penuturannya yang puitis, membuat saya makin asyik menikmati Galigi.
Simak saja, misalnya: “Lagu itu membimbing tangannya, kakinya, lehernya, pinggulnya dan seluruh persendiannya bergerak. Seluruh bentuk yang dimungkinkan tubuh dijelajah dengan penuh gairah. Kadang seturut irama yang disediakan bunyi dawai-dawai, kadang lepas sekehendak hatinya. Kadang di antara keduanya. Kadang garang, kadang tenang. Tubuh Khima mengkilap oleh keringat yang terbaca sebagai cahaya.” (hlm. 144, “Khima”).
***

Dalam membaca buku ini, saya tiba-tiba diingatkan pada sebuah perjalanan panjang. Ketika dalam keseharian saya dibebani persoalan sosial, budaya, politik dan ekonomi, tiba-tiba cerpen-cerpen ini seolah menawarkan sebuah beranda sejuk. Sebuah beranda yang mampu membuat saya tak berpikir apa-apa, duduk diam, sesekali menghela nafas dan membiarkan sunyi mengalir begitu saja. Sebuah jeda yang sangat saya butuhkan dalam menjalani rutinitas hidup.

Lewat dongeng-dongengnya ini, GM seakan tidak menawarkan apa-apa, kecuali hal terpenting bagi diri saya: istirahat sejenak. Kalau diibaratkan kerja sebuah baterai, maka saya memerlukan ‘isi ulang energi’ dan dengan tenang, tak berpikir apa-apa inilah saya mendapatkan kesempatan itu.

Untuk sesaat saya tidak memikirkan kiri-kanan saya, untuk sesaat saya tidak memikirkan diri sendiri, dan untuk sesaat pula saya tidak memikirkan apa-apa. Dan percayalah itu penting bagi saya.

Di Galigi inilah saya mendapatkan ‘beranda’ untuk menikmati kesunyian itu.

*****
Read more »

Minggu, 18 November 2007

New Moon

New Moon
Stephenie Meyer
Little, Brown - September 2006
563 Hal.

Setelah Bella hampir saja jadi mangsa vampire, keluarga Cullen, terutama tentunya Edward, makin protektif terhadap Bella. Tapi, ketika mereka harus berhadapan dengan Bella yang sedang terluka, mereka pun harus berusaha keras untuk menahan diri mereka ketika mereka melihat 'darah' di depan mereka.

Secara gak sengaja, waktu Bella sedang merayakan ulang tahunnya yang ke 18 di rumah keluarga Cullen, jari Bella tergores kertas dan terluka. Langsung semua vampire itu tertegun dan menatap Bella dengan 'lapar'. Hanya Carlisle yang dokter, yang tetap brsikap tenang. Pesta pun jadi kacau dan berantakan.

Puncaknya, Edward memutuskan untuk meninggalkan Bella, dengan alasan, karena keluarga Cullen tidak bisa lagi lebih lama tinggal di Forks karena mereka akan terlihat tidak semakin tua dan mereka akan pindah ke LA.

Sejak Edward pergi, hidup Bella jadi seperti robot, statis, 'hidup segan, mati tak mau'. Sampai-sampai, ayahnya, Charlie pun gerah melihatnya. Teman-teman sekolah Bella juga menjauhinya karena sikapnya yang aneh.

Akhirnya, Bella memutuskan untuk berubah. Ia menemui Jacob Black, teman lama yang pernah ia temui di La Push. Tapi, ternyata, Jacob menyimpan rahasia yang gak kalah misterius.

Gara-gara jati diri Jacob yang baru, Bella harus memilih apakah tetap berteman dengan para vampire atau berteman dengan Jacob. Karena berteman dengan keduanya, mungkin malah menimbulkan masalah baru yang bakal membuat mereka saling bertentangan.

Masalah lainnya, adalah Victoria, teman James - vampire yang hampir saja membunuh Bella, ternyata masih berkeliaran untuk balas dendam atas kematian James. Belum lagi, Bella yang kembali harus berhadapan dengan keluarga vampire lain yang gak nyaris gak bisa menahan diri untuk tidak menghisap darah Bella.

Sebenernya, rada cape' juga baca buku ini. Untungnya, di buku kedua ini, masalah gak hanya berputar-putar sama Bella dan Edward. Justru, Edward muncul hanya di awal dan menjelang akhir buku. Kaya'nya si Jacob lebih cool and macho deh, daripada Edward yang katanya berwajah 'beautiful' itu.

Istirahat dulu alias baca buku yang lain sebelum lanjut ke buku ketiganya and terakhir, Eclipse.
Read more »

Jumat, 16 November 2007

Lelakon

Judul : Lelakon
Penulis : Lan Fang
Editor : Hetih Rusli
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : I, Sept 2007
Tebal : 269 hal
Harga :

Lelakon adalah karya ke delapan dari penulis produktif asal Surabaya – Lan Fang. Dari kedelapan karya-karyanya tersebut, saya sudah membaca 5 karyanya : Kembang Gunung Purei, 2005), Laki-Laki yang salah (2006), Perempuan Kembang Jepun (2006), Kota Tanpa Kelamin (2007), dan Lelakon (2007). Dari kelima karya yang sudah saya baca tersebut, menurut saya, Lelakon-lah yang paling sulit saya cerna. Kisahnya sendiri masih bisa saya nikmati hingga lembar terakhir, namun yang sulit adalah menangkap makna dari apa yang ingin disampaikan Lan Fang dalam novel terbarunya ini. Sebuah ulasan yang dimuat di buku ini yang ditulis Audifax yang berjudul “Tentang Lelakon” tak juga membuat saya bisa memahaminya, malahan bahasan secara psikologis yang diurai oleh Audifax membuat saya semakin bingung.

Untunglah resensi buku ini yang dimuat di Jawa Pos yang ditulis oleh psikolog asal Surabaya, Maria Dian membuat saya terbantu dalam memahami makna dari novel ini. Resensi yang ditulis dari sudut pandang resensor sebagai seorang psikolog ini mengungkapkan bahwa lelakon adalah novel yang menceritakan pencarian jati diri para tokoh-tokohnya. Sebuah kisah yang menceritakan secara gamblang perasaan (emosional) ''jati diri'' ketika diri yang sesungguhnya harus berhadapan dengan realitas yang pahit-kejam-bengis-tiada ampun. Sebuah kisah yang apa adanya membuka-mengeksplorasi-mendudah isi hati yang terdalam, yang paling benar, yang paling jujur: hati nurani.

Novel ini diawali dengan kisah tokoh Mon, seorang wanita mantan penjaga meja kasino kini hidup terjerat oleh hutang. Mon kelak berkenalan dengan Buang. Awalnya Buang diajaknya bermain taruhan dengan kartu-kartu hingga mereka hidup bersama. Lambat laun Mon bosan bermain kartu dengan Buang namun Buang memaksanya untuk terus bermain. Mon menjadi muak dengan Buang hingga akhirnya mereka bertengkar dengan hebat. Mon harus kehilangan tiga buah ujung2 jarinya yang mrotol karena digigit oleh Buang. Buang sendiri harus kehilangan lidahnya yang ditarik putus oleh Mon, selain itu dua buah bola matanya juga menggelinding ke lantai karena dicongkel oleh Mon.

Gambaran pertengkaran antara Mon dan Buang benar-benar mengerikan, dan tampaknya sengaja dibuat dengan sedikit berlebihan oleh Lan Fang. Dari sini saya baru sadar kalau novel ini bukan novel yang realis melainkan semi surealis. Hal ini semakin yakin setelah masuk kedalam bab Bola Kristal yang mengisahkan seorang wanita kaya bernama Bulan yang bosan dengan hidupnya dan bertukar tempat dengan Fantasi, wanita yang terperangkap dalam bola kristal milik Bulan.

Lalu ada lagi tokoh Marbuat, lelaki yang memiliki istri yang bernama Ratu Demit yang seusai dengan namanya adalah istri yang mengerikan, berwajah genderuwo dengan rambut kusut masai, tak pernah mengurus suaminya dan selalu menguasai Marbuat sehingga Marbuat menjadi lelaki yang takluk dibawah ketiak istrinya.

Lalu ada tokoh Tongki, lelaki kaya yang memperkaya dirinya dengan menipu orang-orang disekitarnya.
Kelak tokoh-tokoh itu akan bertemu dan merangkai sebuah kisah dengan lakonnya masing-masing. Fantasi akan bertemu dengan Marbuat, dan Tongki akan bertemu dengan Mon.
Konflik demi konflik akan bergulir silih berganti, kemarahan tokoh-tokohnya terhadap pasangan-pasangannya dan kehidupannya terungkap dengan emosional dan meledak-ledak. Nyaris tak ada kebahagiaan dalam novel ini kecuali kepedihan hidup akibat kemiskinan, konflik antar pasangan, dll. Ada yang berambisi menjadi kaya, , ada yang bosan hidup dalam sebuah kehidupan yang tertata rapi, lalu ada pula yang puas puas menjadi parasit (pencuri/penipu) hidupnya.

Seperti yang sering terdapat dalam karya-karya Lan Fang, tokoh lelaki dalam karya-karyanya adalah lelaki brengsek dan pecundang. Tokoh Angin Puyuh adalah tipe lelaki yang maunya dilayani dan kerjanya hanya mononton TV, Tongki, laki-laki penipu yang bersembunyi di ketiak istrinya, Marbuat laki-laki yang tak berdaya melawan kebuasan dan ketidakpedulian istirnya, Ratu Demit. Pengetahuan Lan Fang terhadap kisah-kisah wayang seperti yang selalu ia selipkan di tiap karya-karyanya kini mendapat porsi yang cukup banyak. Kali ini Lan Fang memadukannya dengan imajinasi liarnya dan kemarahannya pada laki-laki. Dalam novel ini tokoh-tokoh perkasa dalam dunia wayang seperti Yudistira,, Bisma, Arjuna dipermalukan kehidupan seksnya dengan mengungkap bawa Yudistira ternyata impoten. Bima menderita ejakulasi dini, Arjuna menderita penyakit raja singa, sedangkan Nakula dan Sadewa adalah pasangan cinta sesama/gay. Entah apa yang ada dalam benak Lan Fang. Lan Fang seakan memendam kemarahan yang meledak-ledak terhadap lelaki (benarkah demikan Lan Fang ?)

Selain mengungkap konflik antar tokoh-tokohnya, ada satu bagian kisah yang menurut saya paling menarik dan memberi pelajaran berharga bagi pembacanya, yaitu kisah ketika tokoh Mon berguru kepada Tongki, seorang penipu yang menjadi parasit bagi orang lain dan memperkaya dirinya dengan cara meminta-minta tanpa malu-malu. Setelah berguru pada Tongki, Mon berniat mempraktekkan ilmu agar menjadi kaya yang telah diperolehnya Namun alih-alih sukses menerapkan ilmu Tongki, Mon menemui sejumlah pelajaran berharga bahwa cara-cara yang dilakukan Tonki ternyata tidaklah sesuai dengan hati nuraninya.

Tongki mengajarkan bahwa salah satu cara menjadi karya adalah dengan bersikap diam dan membiarkan orang lain yang membayar makan dan minumnya. Mon mencobanya ;
Setiap kali bila berkumpul dengan banyak orang, ia diam saja, tidak minum, tidak makan, juga tidak mengeluarkan uang. Maka orang lain akan membelikannya minuman dan menawari makan. Ketika semua selesai makan, dilihatnya orang-orang berebut mengeluarkan uang untuk membayar makanan dan minuman. Mereka saling mendahului untuk membayar satu sama lain. Cuma ia yang berdiam diri. Setelah usai, ia melihat orang-orang itu bersalaman dengan enyum lebar. Mereka membuat jalinan persahabatan dengan ikhlas….

Maka di lain waktu ia juga bergantian membayar makanan dan minuman. Ternyata kegembiraan juga mengalir di hatinya ketika ia bisa ikut bercerta tertawa sambil menikmati kudapan bersama-sama. Kehangatan itu ada ketika bisa saling berbagi. (hal 179, 180)

Atau ketika Mon hendak menerapkan ajaran dari Tongki yang menyatakan bahwa jika hendak kaya maka ia harus belajar meminta, ternyata lidah dan mulutnya menyatakan bahwa “Kenapa harus meminta bila bisa memberi? Bukankah lebih terhormat memberi daripada meminta? Dan ketika ia memberi, matanya melihat bahwa orang-orang tersenyum kepadanya. Orang-orang yang menerima pemberian dengan mata sumringah dan mata berbinar. Selain itu ternyata dengan memberi ia tidak menjadi kekurangan malah manjadi kelimpahan. (hal 180-181)

Demikian salah satu hal menarik yang terdapat dalam novel ini. Terlepas dari kegagalan saya menangkap makna dari novel ini secara kekeseluruhan, saya rasa Lan Fang tampak semakin matang dalam merangkai kalimat menjadi sebuah kisah yang menarik. Kalimat-kalimatnya mengalir dengan lancar, enak dibaca dan kerap dihiasi kalimat-kalimat yang puitis dengan metafora yang mengagetkan. Selain itu Lan Fang tak jarang juga menggunakan kalimat-kalimat yang meledak-ledak terlebih ketika mengungkapkan kemarahan dari tokoh-tokohnya hingga membuat emosi pembacanya naik turun bak menaiki sebuah roller coaster.

Hanya saja saya koq jadi mulai jenuh dengan tema kepedihan hidup karena kemiskinan dan kemarahan Lan Fang pada lelaki yang selalu terungkap dalam karya-karyanya belakangan ini. Seorang kawan yang juga kerap membaca karya-karya Lan Fang mengeluhkan pada saya bahwa ia ‘capek’ membaca karya-karya Lan Fang yang sarat dengan kemarahan. Saya khawatir Lan Fang akan terlena berkarya dalam tema-tema serupa. Bukan berarti tidak menarik, namun saya berharap di karya-karya berikutnya ada keragaman tema yang diangkat dengan tetap mempertahankan gaya dan kekhasan kalimat-kalimat Lan Fang yang selalu menarik dalam berkisah.


@h_tanzil
Read more »

Senin, 05 November 2007

The Firework-Maker’s Daughter

The Firework-Maker’s Daughter (Putri si Pembuat Kembang Api)
Philip Pullman
Poppy Damayanti Chusfani (Terj).
GPU, Oktober 2007
144 Hal.

Lila tinggal di negeri sebelah timur hutan belantara dan selatan pegunungan bersama ayahnya, Lalchand. Ibu Lila meninggal ketika Lila masih kecil. Karena Lila susah diatur, maka Lalchand selalu mengajak Lila ke tempatnya bekerja. Lalchand bekerja sebagai pembuat kembang api. Suara desis dan letupan bubuk mesiu, percikan api sudah tidak asing lagi bagi Lila.

Beranjak dewasa, Lalchand mengajari Lila cara-cara membuat kembang api. Maka, sudah bisa dimaklumi apabila Lila pun mempunyai cita-cita mengikuti jejak ayahnya. Tapi, Lalchand lebih suka untuk segera mencarikan suami bagi Lila daripada menyetujui cita-cita Lila itu.

Salah satu syarat untuk menjadi pembuat kembang api adalah melakukan perjalanan berbahaya ke perut Gunung Merapi untuk menghadapi Angkara Api. Inilah yang membuat Lalchand khawatir. Tapi, Lila tak peduli. Lila nekad pergi ke Gunung Merapi untuk menunjukkan pada ayahnya bahwa ia mampu.

Lalchand kalang-kabut, karena tidak dengan begitu saja Lila bisa pergi ke Gunung Merapi dan menghadapi Angkara Api. Ada syarat lain yang harus ia penuhi untuk menghindari panasnya Angkara Api, yaitu dengan membawa seguci air ajaib dari Dewi Danau Zambrud.

Karena merasa bersalah membocorkan rahasia yang diceritakan Lalchand, Chulak, teman Lila yang menjadi pelayan pribadi Gajah Putih milik Raja, bersedia menempuh perjalanan mencari Lila. Sekaligus ia ingin membawa kabur si Gajah Putih yang sedang kasmaran dan bosan dengan kemewahan yang ia dapat selama ini.

Tapi, perjalanan itu ternyata juga tidak mudah. Buntutnya, malah Lalchand nyaris dijatuhi hukuman mati karena dianggap membantu melepaskan Gajah Putih. Dan, agar Lalchand terhindar dari hukuman itu, Lalchand dan Lila harus ikut serta dalam Festival Kembang Api, dan bertarung dengan para pembuat kembang api lainnya. Apabila Lalchand dan Lila mendapatkan tepuk tangan paling keras, paling lama, makan mereka akan terhindar dari hukuman.

Buku ini bener-bener buat anak-anak. Tulisannya gede-gede dan bukunya tipis. Isinya juga ringan banget, gampang dicerna dan happy ending.
Read more »

Jumat, 02 November 2007

Who Am I as A Parent


Judul : Who Am I as a Parent - Curhat Orang Tua
Penulis : Tisna Chandra
Penerbit : Serambi
Cetakan : I, Sept 2007
Tebal : 164 hlm

Menjadi orang tua adalah impian bagi setiap pasangan yang telah menikah. Ada yang mudah memperoleh anak, namun tak jarang ada pasangan yang perlu berusaha keras untuk memperoleh anak. Tak jarang pasangan ini rela mengeluarkan uang sebanyak-banyaknya asal bisa melahirkan anak yang didambakannya. Namun ketika si buah hati telah hadir di tengah-tengah kita seberapa siapkah kita menjadi orang tua ?

Umumnya semua orang tua pada awalnya selalu merasa tahu, mampu bagaimana menumbuhkan, mengarahkan, dan mendidik anak mereka sendiri. Namun seiring berjalannya waktu dan semakin bertumbuhnya anak-anak kita, banyak persoalan yang timbul hingga akhirnya tak jarang kita merasa gagal dalam membesarkan anak-anak, atau kita merasa anak-anak kita tidak tumbuh sebagaimana yang kita inginkan. Ketika itulah kita baru benar-benar merasakan bahwa membesarkan anak tak semudah yang kita bayangkan.

Menjadi orang tua setelah menikah memang terjadi dengan sendirinya. Walau tak pernah sekolah sebagai orang tua, ketika anak-anak kita lahir tiba-tiba kita mendapat seftifikat sebagai orang tua. Kita langsung mendapat job desciption:”mendidik dan membesarkan anak”. Cukupkah ilmu kita untuk menghandel berbagai persoalan yang kita hadapi dengan anak-anak kita yang terus bertumbuh ? Apakah kita mampu mengatasi masalah dengan anak kita yang kadang muncul diluar prediksi kita?

Buku Who am I as a Parent karya Tisna Chandra, psikolog klinis yang banyak berkecimpung dalam dunia anak, remaja, dan keluarga ini mencoba mengajak kita untuk sedikit mundur untuk merenung, melihat kembali ke belakang siapa sebenarnya diri kita yang saat ini sudah berpredikat sebagai orang tua. Sudah siapkah kita menjadi orang tua, apa bekal yang kita butuhkan selain bekal materi?

Buku ini berisi 5 buah bab yang disusun secara sistematis, yang dimulai dari bab yang membangun kesadaran pembacanya bahwa Tidak ada Sekolah Menjadi Orang Tua. Setiap orang tua pastilah memiliki keinginan untuk membesarkan dan mendidik anak secara sempurna, tapi kenyataannya menjadi orang tua tidaklah sesederhana apa yang kita bayangkan sebelumnya. Kenapa? Karena kita tidak mempunyai pengalaman sebagai orang tua. Pengalaman kita sebelumya adalah menajdi seorang “anak”. Karenanya perlu learning by doing untuk belajar menjadi orang tua.

Di bab kedua yang diberi judul Who Am I, kita diajak melihat bahwa setiap orang berbeda dalam cara berpikir dan mengekspresikan diri. Demikian juga kita sebagai orang tua, masing-masing kita memiliki kekuarangan dan kelebihan dalam membesarkan anak-anak. Mengenali keunikan, kekuarangan dan kelebihan diri adalah langkah awal sebelum mendidik dan membesarkan anak. Demikian juga dengan anak-anak. Anak adalah sesuatu yang unik yang mungkin tidak sama sifatnya dengan kita. Karenanya dengan mengetahui keunikan kita sebagai oarang tua dan keuinikan anak kita, kita bisa tahu cara menghadapi anak-anak kita.

Setelah mengenali diri sendiri dan anak-anak kita, maka orang tua harus mampu melakukan Probing (menggali) dan Matching(mencocokkan/menyesuaikan) dimana kita harus berusaha mengenali dan menggali anak kita lebih dalam lagi. Berusaha mengetahui kelebihan dan kekurangannya , potensi-potensinya, emosinya, dll dan berusaha mematchingkan, menyesuaikan, mencari tindakan dan pendidikan yang tepat bagi mereka.

Setelah melakukan probing dan matching, kita akan diajak masuk dalam bab selanjutnya yang diberi judul FASE (Fisik, Akademik, Sosial, Emosi), keempat formula tersebut harus kita persiapkan agar menjadi orang tua yang terbaik bagi anak-anak kita. Bagaimana kita bisa menjadi orang tua yang baik jika fisik kita tidak sehat, atau secara akademik kita tak tahu apa-apa sehingga tidak bisa membantu anak-anak kita untuk mengerjakan PR-nya. Orang tua juga harus memiliki relasi sosial yang baik dengan lingkungannya agar bisa menjadi contoh pada anak bagaimana bersosialisasi. Selain itu orang tua juga dituntut untuk mampu mengontrol emosi ketika berhadapan dengan anak-anak, terlebih jika kita sedang menghadapi amsalah dengan anak-anak kita.

Di Bab terakhir pembaca akan disadarkan bahwa setiap orang tua memiliki harapan terhadap anaknya, anak memiliki harapan terhadap dirinya. Apabila harapan orang tua terhadap anaknya, harapan anak terhadap dirinya dan kapasitasnya bersinergi maka harapan itu akan menjadi kekuatan yang dapat mendorong anak untuk mengaktualisasikan kapasitasnya seoptimal mungkin.

Sesuai dengan sub judul buku ini yang dituliskan sebagai “Curhat Orang Tua”. Buku ini memuat puluhan surat curhat para orang tua, termasuk juga curhat anak-anak tentang orang tuanya. Dari curhat-curhat itulah Tisna Chandra mendasari semua pembahasan dalam buku ini. Karenanya semua kasus dan pembahasan dalam buku ini tidaklah mengada-ngada, semuanya sangat dekat dengan keseharian kita. Sangat mungkin apa yang dialami oleh para orang tua melalui curhat-curhatnya di buku ini juga meruapakan masalah yang kita hadapi.

Jalan keluar dan bahasan yang disampaikan oleh Tisna Chandra juga sangat realistis dan praktis. Tisna tak berkutat di landasan-landasan teoritis ilmu psikologis melainkan langsung membahasnya secara praktis, mudah dimengerti dan memberi kita insight akan peran kita sebagai orang tua. Pengalaman Tisna Chandra sebagai psikiater, trainer workshop parenting dan pengasuh rubrik psikologi di tabloid Nakita juga tampaknya membuat contoh-contoh kasus dalam buku ini sangat beragam dan hampir dipastikan mewakili juga kasus-kasus yang sedang dihadapi pembaca buku ini.

Selain contoh kasus, dan pembahasan, buku ini juga menyediakan bahan-bahan untuk refleksi, latihan dan tips yang bisa diisi oleh pembaca guna mempermudah kita untuk membentuk sienrgi yang kuat dan positif dengan anak kita.

Akhirnya buku yang sangat baik untuk dibaca oleh mereka yang telah menjadi orang tua atau mereka yang akan menjadi orang tua ini, pada akhirnya akan mengajak kita merenung. Siapkah kita menjadi orang tua ?, dan apa yang harus kita lakukan untuk menuntun dan membesakan anak-anak kita agar kelak anak-anak kita dapat tumbuh secara sempurna seusai dengan apa yang kita doakan dan impikan selama ini.

@h_tanzil
Read more »

Selasa, 30 Oktober 2007

Twilight

Twilight
Stephenie Meyer
Little Brown, September 2006
498 Hal.

Isabella Swan harus pindah dari Phoniex ke kota kecil bernama Forks untuk tinggal bersama ayahnya, Charlie Swan, karena ibunya Renee memutuskan untuk mengikuti Phil kekasih barunya dalam meniti karir di dunia persepakbolaan. Bella harus kembali ke kota tempat ibunya dulu meninggalkan ayahnya.

Di kota kecil ini, semua seolah sudah saling mengenal. Anak-anak saling berteman, orang tua saling berteman, bahkan mungkin kakek-nenek-buyut mereka juga saling mengenal. Bella sempat merasa kesepian.

Di sekolah yang baru segera saja Bella jadi pusat perhatian. Karena, jarang ada ada baru di tempat mereka, dan begitu anak baru datang, segera jadi bahan pembicaraan. Pribadi Bella kaya’nya cenderung tertutup. Meskipun ia gak menolak diajak berteman dan mudah bergaul tapi tetap saja ada bagian-bagian dari diri Bella yang menjaga jarak. Sampai akhirnya, ketika Mike, salah seorang temannya mengajak ke acara pesta dansa, Bella menolak dengan alasan ada acara lain yang mengharuskannya pergi keluar kota.

Di Forks High School, ada sekelompok remaja yang berpenampilan aneh dan selalu menyendiri bersama kelompok mereka, yaitu anak-anak keluarga Cullen – Emmet, Rosalie, Edward, Alice dan Jasper. Mereka sangat aneh, wajah mereka selalu tampak dingin, meskipun mereka termasuk berwajah tampan dan cantik. Di kantin, meskipun makanan terhidang di depan mereka, tapi, tampaknya mereka tidak pernah menyentuh makanan itu. Mobil yang mereka pakai ke sekolah juga mobil yang tergolong mewah, berbeda dengan anak-anak Forks lainnya. Menurut cerita yang didengar Bella dari teman-temannya, mereka semua adalah anak-anak angkat Dr. Carlisle dan Esme Cullen.

Di dalam pelajaran biologi, kebetulan Bella duduk bersebelahan dengan Edward Cullen. Perkenalan pertama tidak meninggalkan kesan yang baik di mata Bella. Malah Bella mengira ada sesuatu yang salah dengan bau badannya sampai-sampai Edward duduk sejauh mungkin dari Bella.

Tapi, suatu hari, Edward menyelamatkan Bella dari sebuah kecelakaan. Bella sempat bertanya-tanya pada dirinya sendiri, karena ada sesuatu yang janggal ketika kecelakaan itu terjadi. Mulailah Bella mencari tahu tentang diri Edward Cullen. Dan, Bella mendengar sebuah legenda dari Jacob, anak Billy teman ayah Bella. Katanya, keluarga Cullen berbeda dari manusia biasa. Mereka adalah pemburu dengan kata lain adalah sekelompok vampire. Beruntung mereka tidak memburu manusia, tapi mencari darah segar hewan.

Buntutnya, Edward dan Bella semakin dekat, bahkan sampai akhirnya membuat Bella berada dalam bahaya. Karena, keberadaan Bella di sekitar keluarga Cullen tercium oleh kelompok vampire lain yang lebih berbahaya daripada keluarga Cullen.

Sampai kapan Edward bakal bertahan untuk menjaga Bella dari vampire lain, maupun dari dirinya sendiri? Bisa dibaca dibuku-buku selanjutnya, yaitu New Moon dan Eclipse.

Sebenernya, mungkin ini adalah cerita romance biasa, tapi yang bikin gue tertarik, adalah tokohnya yang manusia biasa plus para vampire. Yang bikin seru ada di bagian-bagian akhir, yaitu bagian ‘perburuan’ James, si vampire jahat yang mengincar Bella.

Tapi yang kadang-kadang ‘membosankan’ adalah bagian ‘telenovela’-nya Bella dan Edward, yang selalu bilang, “I won’t leave you.” Tapi, tiba-tiba berbalik, “You have to leave me.” Ihhh… cape deh… Tapi, tetap… buku ini membuat gue penasaran sampai akhir…

Buku ini bakal dibuat film-nya. Yang jadi Edward… hmmm… cukup cocok…
Read more »

Jumat, 26 Oktober 2007

Dong Mu

Judul : Dong Mu
Penulis : Jamal
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : September 2007
Tebal : 240 hlm ; 20 cm
Harga : Rp. 28.000,-

5 Juli 2006, Korea Utara meluncurkan tujuh rudal percobaan. Rudal itu jatuh di perairan antara laut Jepang dan Semenanjung Korea. Seluruh dunia gempar karena khawatir rudal tersebut berhulu ledak nuklir. Insiden internasional ini membuat badan International Atomic Energy Agency (IAEA), salah satu organ PBB untuk urusan energi nuklir yang bermarkas di Wina segera mengambil langkah strategis sesuai tanggung jawabnya sebagai badan yang mengawasi pemanfaatan energi nuklir.

Eero Heiskanen , kepala Departemen of Safeguards IAEA menugasi Herman, staff IAEA asal Indonesia yang bekerja di departemen tersebut, untuk berangkat ke Korea guna menyelidiki ada tidaknya hulu ledak nuklir yang terpasang di rudal percobaan tersebut.

Di Seoul Herman bergabung dengan Kang Jin Sob, counterpart-nya di Korea Atomic Research. Ia juga bertemu dengan kawan lamanya, Prof Rukayadi – mikrobiolog Indonesia yang bekerja dan mengajar di sebuah Universitas di Seoul. Belum lagi Herman dan Kang Jin Sob melakukan tugas resminya tiba-tiba Herman memperoleh informasi kalau Robert Campbell, agen CIA yang sedang menyamar menjadi agen IAEA diculik oleh Kim Song Gi, agen intelejen Korut yang korup. Kim menuntut nyawa Robert Campbell ditukar dengan 50 kg uranium, jumlah yang cukup untuk dipasangkan di dua rudal berhulu ledak nuklir.

Tanpa diduga Kim menginginkan Herman sebagai mediatornya. Karena menyangkut warga negara Amerika maka markas tentara Amerika di Seoul menugaskan Mayor Snyder menyusun misi penusupan ke Korut untuk pembebasan Robert Campbell. Untuk itu Mayor Synder membentuk tiga tim (A,B,C), Herman, Prof Rukayadi, Kang Jin Sob, dan Park Yong Chul, seorang tentara korsel, masuk dalam Tim C yang bertugas untuk mengiriman uranium ke sarang penculik.

Belum lagi operasi yang dipimpin Mayor Synder menjalankan tugasnya, tiba-tiba pihak Pentagon membatalkan rencana operasi tersebut. Pentagon memiliki rencana lain, mereka menginginkan operasi militer besar-besaran dari wilayah Korea Selatan untuk membebaskan Campbell. Tentu saja ini beresiko memancing perang terbuka dan memicu pihak Korut untuk menggunakan rudal nuklirnya. Pihak Korsel sendiri tampaknya keberatan dengan operasi militer ini.

Sebuah ide gila tiba-tiba muncul di benak Prof Rukayadi. Ia mengusulkan untuk menyusup secara diam-diam ke Korut dan membebaskan Robert Campbell mendahului operasi militer Amerika. Jika mereka berhasil membebaskan Campbell, tentu saja tidak diperlukan lagi operasi militer besar-besaran. Jika tidak berhasil, nyawa mereka taruhannya dan kemungkinan terjadinya perang dan Korut menggunakan rudal nuklirnya semakin terbuka.

Ide gila ini akhirnya dilaksanakan, Herman, Prof Rukayadi, Kang Jin Sob, Park Yong Chu menyusup ke wilayah Korut dengan membawa 25 kg uranium (setengah dari yang dituntut si penculik). Petualangan yang benar-benar berbahaya. Diantara keempat orang ini hanya Park Yong Chu yang berlatar belakang militer dan mahir menggunakan senjata, sementara yang lainnya hanya bermodalkan tekad dan keberanian semata.

Kisah diatas adalah inti cerita dari Dong Mu , novel ke 5 dari novelis produktif – Jamal - , karya-karya sebelumnya yang telah diterbitkan adalah Lousiana-Lousiana (Grasindo,2003), Rakkaustarina (Grasindo,2004), Fetussaga (Grasindo, 2005), Epigram (Gramedia, 2006), dan yang akan segera terbit, novel ke 6-nya yang berjudul : Darul (Bentang Pustaka).

Jamal yang kerap mengambil setting luar negeri di tiap novel-novelnya kini mengajak pembacanya berkelana ke negeri ginseng Korea. Berbeda dengan novel-novel terdahulunya yang kerap berlatar belakang kisah cinta, dan geger budaya tokoh-tokohnya selama hidup di luar negeri, kini Jamal menghadirkan kisah petualangan spionase yang dibalut dengan krisis nuklir di semenajung Korea.

Seperti halnya tokoh Herman, dkk dalam novelnya ini yang nekad melakukan misi berbahaya, Jamal yang dalam kesehariannya mengajar sebagai dosen desain interior di sebuah univeritas swasta di bandung termasuk penulis yang nekad mengarang sebuah cerita tentang krisis nuklir. Sebuah tema yang jauh dari kesehariannya dan jarang atau bahkan tidak pernah disentuh oleh pengarang kita yang lain.

Selain ceritanya yang seru, novel ini banyak menyajikan dialog-dialog yang menambah wawasan pembacanya dalam hal nuklir. Salah satu keistimewaan jamal dalam novel-novelnya adalah menyajikan materi-materi yang tampaknya berat menjadi ringan karena dikemas dalam bentuk dialog antar tokoh-tokohnya. Demikian pula dalam Dong Mu, semua yang ingin disampaikan jamal pada pembacanya dikemas dalam dialog yang ringan dan mudah dipahami.

Dong Mu sendiri adalah frasa dalam bahasa Korea yang bisa berarti Kamerad, atau juga bisa diartiken sebagai teman. Judul yang tepat karena memang novel ini menceritakan pertemanan Herman dengan Prof Rukayadi dan sepak terjangnya dalam membebaskan seorang agen CIA yang diculik atas perintah Dong Mu (Kamerad) Kim Song Gi.

Salah satu yang menarik dalam novel ini adalah materi tentang kebijakan nuklir, baik kebijakan di negara-negara maju pemilik senjata nuklir, juga kebijakan nuklir di engara-negara berkembang termasuk Indonesia. Dalam novel ini terungkap bahwa Indonesia sebenarnya memiliki tambang uranium di Kalimantan Barat, namun kita hanya bisa menggalinya untuk kemudian diekspor ke negara maju. Sayangnya ”…petinggi negeri kita dan masyarakat belum melihat nuklir sebagai energi alternatif, karena kita masih punya yang lain seperti gas alam atau panas bumi yang melimpah…..Padahal bila dipakai energi listrik, tidak akan terjadi byar pet seperti yang selama ini terjadi. Energi nuklir itu sangat efisien. “ (hal 32) .

Pembnangunan reaktor nuklir di negara berkembang jika dimanfaatkan untuk tujuan pembangunan memang sangat bermanfaat, namun energi nuklir juga memiliki resiko yang besar jika dikelola dengan serampangan. Untuk itu melalui tokoh Herman dalam makalahnya yang disampaikannya di Konferensi Energi Nulir di Wina Austria terungkap bahwa pembangunan nuklir di negara berkembang memiliki resiko karena umumnya disiplin dan etos kerja yang relatif lemah . Kelemahan ini bagi reaktor nuklir sangat berbahaya karena diperlukan rutinitas dengan disiplin tinggi untuk pengawasan dan pemeriksaan instalasi. (hal 52).

Disinggung pula bahwa negara-negara berkembang yang tidak memiliki energi minyak sangat layak menerima bantuan dan kesempatan dalam mengurangi ketergantungan kepada minyak, dengan demikian utang mereka akan berkurang, dan itu artinya kemakmuran bangsa dan neraga miskin dapat diraih. (hal 53).

Selain tentang kebijakan nuklir dan manfaat pembangunan nuklir di negara-negara berkembang, novel ini mengungkap pula soal diplomasi nuklir, pertikaian politik tingkat dunia sehubungan dengan ambisi pengembangan nuklir, pasar uranium gelap, peta rudal-rudal yang dimiliki Korut, lanskap daerah perbatasan korea utara dan selatan, kritik terhadap kebijakan politik Amerika, dll. Dan yang tak kalah menarik adalah kisah petualangan Herman dan kawan-kawannya menyusup ke Korea Utara. Dalam hal ini jamal menyajikannya dengan seru, lengkap dengan kejutan-kejutan di akhir cerita seperti novel2 spionase umumnya.

Kehadiran tokoh Prof. Rukayadi sebagai sahabat Herman yang bekerja sebagai mikrobiolog juga turut menyemarakkan novel ini, selain sedikit disinggung soal penelitian kandungan berbagai tanaman indonesia yang digunakan sebagai jamu , Prof Rukayadi dengan keahliannya sebagai mikrobiolog juga turut berperan penting dalam operasi penyelamatan Robert Campbell.

Hanya saja awal keterlibatan Porf Rukayadi dalam operasi ini terlihat sedikit dipaksakan. Saat Herman dijemput oleh pihak militer Amerika untuk dibawa ke Yongsan, Herman mendesak agar Prof Rukayadi ikut menemaninya. Hal ini langsung disetujui oleh orang yang menjemput Herman tanpa berkonsultasi dengan atasannya. Sungguh tindakan yang ceroboh bagi sebuah operasi intelejen. Padahal untuk operasi rahasia yang melibatkan CIA, Amerika, dan militer Korea Selatan, rasanya tak mungkin dapat dengan begitu saja melibatkan orang seperti Prof Rukayadi yang jelas-jelas bidang pekerjaannya berbeda dengan urusan operasi ini. Namun untunglah kejanggalan ini kelak tertutupi oleh peran penting Prof Rukayadi dalam menjalankan operasi ini.

Satu lagi yang mungkin terasa kurang digali dalam novel ini adalah dampak lingkungan akibat kebocoran reaktor nuklir dan senjata nuklir. Tampaknya novel ini lebih condong ke arah politik dibanding ke dampak lingkungannya. Jika saja Jamal memberikan diskripsi yang agak detail untuk kerusakan lingkungan akibat kebocoran reaktor nuklir dan dampak lingkungan jika sebuah negara melakukan uji coba rudal berhulu ledak nuklir, tentunya novel ini akan semakin lengkap, sehingga pembaca tidak hanya mengetahui soal kebijakan dan pertikaian nuklir tapi mengetahui juga akibat bagi lingkungan yang rusak dari pemanfaatan energi nuklir yang salah.
Di novel kelimanya ini juga, tampaknya Jamal meninggalkan ciri khasnya di keempat novel terdahulunya. Biasanya Jamal selalu menyelipkan unsur-unsur desain bangunan atau produk dalam tiap novelnya. Di novel DongMu, ciri khas Jamal ini tak muncul, padahal ada yang sedikit bisa diangkat seperti desain lokal/tradisinonal di korea seperti istana, atau mungkin bangunan-bangunan modern yang terdapat di korea dll.

Terlepas dari kekurangan diatas, novel ini secara umum sangat bermanfaat dalam memperluas cakrawala berpikir pembacanya dalam hal kebijakan nuklir . Selain itu melalui tokoh utama dalam novel ini, yaitu Herman sebagai lulusan Fisika Kuantum di Universitas Tokyo yang bekerja sebagai staff IAEA, dan Prof Rukayadi sebagai mikrobiolog yang bekerja dan mengajar di Korea Selatan tentunya akan membangun kesadaran pembacanya bahwa cendekiawan Indonesia ternyata bisa juga berkiprah dan diakui keilmuwannannya di negara-negara maju.

Tokoh Herman dan Prof Rukayadi bukanlah tokoh fikif, mereka benar-benar tokoh riil yang ‘dipinjam’ jamal untuk menghidupkan novelnya ini. Herman adalah karakter dari Suhermanto Duliman yang kini bekerja di Nuclear Safeguards Inspector International Atomic Energy Agency (IAEA) di Wina Austria. Sedangkan Prof Rukayadi, adalah karakter dari Yaya Rukayadi, seorang microbilogist and carponist, dan penerima Seoul Honorary Citizenship, yang kini tinggal dan mengajar di Seoul Korea Selatan.

Apa yang diangkat oleh Jamal dalam novelnya kali ini, baik soal nuklir dan kiprah manusia indonesia di negara maju patutlah dihargai. Tak heran jika novel ini mendapat apresiasi yang baik dari Kusmayanto Kardiman, selaku Menteri Riset dan Teknologi Republik Indonesia. Dalam endorsmentnya Menristek Kusmayanto menulis bahwa : “….buku ini mengasyikan untuk dibaca sampai tamat dan pembaca akan dapat banyak pelajaran dan kebanggan dari kisah kiprah anak-anak Indonesia yang berkarya nyata di luar negeri, khususnya Korea”.

@h_tanzil
Read more »

Minggu, 21 Oktober 2007

Usagi Yojimbo #1 : Shades of Death

Judul : Usagi Yojimbo # 1 : Shades of Death (Bayang-bayang Kematian)
Penulis & ilstrator : Stan Sakai
Penerjemah : Rosi L. Simamora
Teks & Layout : Eduard Iwan Mangopang
Editor : Tanti Lesmana
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Sept 2007
Tebal : 197 hlm ; 9.8 mm
Harga : Rp. 35.000,-

Miyamoto Usagi, adalah samurai yang hidup di penghujung abad ke 16. Jalan hidupnya sarat dengan pertempuran. Ia hidup pada zaman dimana para tuan tanah (Lord) harus bertarung guna memperebutkan tanah dan kekuasaan. Usagi mengabdikan dirinya pada Lord Mifune. Dalam sebuah pertempuran yang dahsyat Usagi harus kehilangan majikannya yang tewas terbunuh. Otomatis Usagi menjadi seorang Ronin, samurai tanpa majikan. Usagi memilih menjadi ronin karena dia percaya , seorang samurai hanya boleh memiliki atau mengabdi hanya kepada satu majikan seumur hidupnya.

Siapa sebenarnya Miyamoto Usagi atau yang dikenal dengan nama Usagi Yojimbo ?
Ia adalah seekor kelinci !. (Usagi = kelinci, yojimbo= bodyguard). Bagaimana mungkin seekor kelinci bisa menjadi samurai? Hal ini mungkin saja terjadi dalam dunia komik atau istilah kerennya disebut Novel Grafis.

Stan Sakai, pemenang Eisner Award, adalah komikus kelahiran Jepang yang kini berkarya dan bermukim di Amerika Serikat. Dalam menciptakan karakter Miyamoto Usagi ia mengaku terinspirasi oleh samurai legendaris Miyamoto Musashi. Hanya saja karakter yang ia ciptakan ini bukanlah manusia melainkan seekor kelinci yang berperilaku seperti manusia. Hal ini dikenal dengan istilah ‘Anthropomorphic’, yaitu memberikan sifat manusia kepada satu objek
yang bukan manusia. Contoh yang paling populer adalah tokoh donal bebek, kura-kura ninja, sponge bob,dll yang berperilaku layaknya manusia, berjalan dengan dua kaki, dapat berbicara, berpikir dan melakukan aktifitas yang dilakukan manusia. Demikian pula dengan seri Usagi, semua tokoh-tokohnya merupakan hewan yang berperilaku seperti manusia.

Shades of Death (Bayang-bayang Kematian) merupakan salah satu komik hitam putih seri Usagi yang pertama kali diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia oleh Gramedia. Sejatinya Shades of Death merupakan buku kedelapan dari ke duapuluh satu seri Usagi Yojimbo. Namun buku ini diberi titel oleh Gramedia sebagai buku #1. Tampaknya Gramedia menerjemahkan seri Usagi berdasarkan penerbitan dari Darkhorse yang mulai menerbitkan seri Usagi dari buku kedelapan sejak Stan Sakai bergabung dengan Darkhorse mulai September tahun 1997. Sedangkan buku pertama hingga ketujuh diterbitkan oleh Fantagraphics Books.

(Foto: Koleksi lengkap Usagi Yojimbo milik Rieza Fitramuliawan)

Dalam Shades of Death, Stan Sakai mengetengahkan 7 buah cerita petualangan Usagi Yojimbo yang masing-masing kisahnya berdiri sendiri. Kisah pertama yang diberi judul Bayang-Bayang Hijau dibuka dengan adegan ketika Usagi dan temannya Gen, seekor badak petualang bertarung menghadapi serbuan para ninja dari marga Neko. Lolos dari kepungan ninja, Usagi dan Gen bertemu dengan Kakera, tokoh sakti yang memiliki kemampuan sihir. Kakera membawanya ke kediamannya dan darinya diperoleh keterangan bahwa Marga Neko sedang berperang dengan Marga Komori. Untuk mengalahkan Marga Komori, Ninja Neko menangkap Kakera guna mendapatkan kekuatan sihirnya. Selain itu Ninja Neko juga berniat membunuh semua penduduk desa tempat Kakera tinggal agar tidak ada saksi atas perbuatannya. Untuk melawan Ninja Neko, Kakera dengan sihirnya menghadirkan Leonardo cs, yang dikenal dengan sebutan Kura-kura Ninja. (Teenage Mutant Ninja Turtles/TMNT). Kehadiran yang mengejutkan pembacanya karena Leonardo cs berasal dari zaman yang berbeda dengan zaman samurai.

Lalu ada lagi kisah “Shi”, kisah yang tak kalah seru, dimana Usagi mencoba menyelamatkan penduduk desa yang hendak diusir oleh penguasanya yang ingin menguasai sendiri kandungan emas yang terdapat di desa itu. Untuk menakut-nakuti penduduk desa agar tidak betah dan meninggalkan kediamannya, si penguasa menyewa empat orang pembunuh bayaran yang bernama Shi (dalam aksara jepang ‘shi’ bisa berarti empat atau kematian). Kisah semakin seru ketika akhirnya Usagi harus berjuang seorang diri untuk mengalahkan gerombolan Shi.

Selain itu ada pula kisah yang unik dan lucu yang berjudul “Dongeng Kadal-kadal”, kisah yang menceritakan Usagi yang direcoki oleh kadal-kadal ini sangat unik adalah karena seluruh panel gambar dalam kisah ini tak satupun yang menyertakan balon percakapan kecuali kalimat bunyi seperti “krak”, “iip-iip” (suara kadal), “hook”, “grrrr”, “glek”, dll. Perlu diketahui, kadal adalah karakter favorit Stan Sakai, karenanya kita akan menemui sang kadal berseliweran dalam seluruh cerita dalam buku ini.

Di tiga kisah terakhir di buku ini yang berjudul : Kebun Usagi, Musim Gugur, dan Medan Pertempuran, semuanya menceritakan masa lalu Usagi ketika masih belajar untuk menjadi seorang samurai. Ketiga kisah ini menarik dari segi filosofis karena semua kisahnya mengandung nilai moral yang tinggi. Namun walau demikian ketiga kisah ini tetap menghibur dan mudah dimengerti oleh pembacanya.

Banyak kalangan memuji serial Usagi Yojimbo ini. Walau dikemas dalam bentuk komik yang semua tokohnya binatang, dan menceritakan sepak terjang seorang ronin kelinci yang sarat dengan adegan pertempuran, namun komik ini mengungkap pula soal, budaya, mitos, folkor, sejarah, dan kehidupan masyarakat jepang di abad ke 16. Bahkan beberapa kisah seri Usagi diadaptasi dari kejadian sesungguhnya yang dicatat dalam buku-buku sejarah Jepang.

Keputusan Stan Sakai menggunakan karakter binatang untuk seluruh tokoh-tokohnya juga bisa dikatakan langkah jenius, karena dengan demikian aroma kekerasan dalam seri usagi akan sedikit tersamarkan. Warna hitam putih yang dipakai dalam seri Usagi juga turut meredam nuansa kekerasan karena tak ada warna merah darah ketika pedang usagi menyabet lawan-lawannya.

Bersyukur kini pecinta komik tanah air bisa menikmati komik yang telah diterjemahkan ke lebih tujuh bahasa ini kedalam bahasa Indonesia. Gramedia menerbitkan komik ini dengan format yang hampir menyerupai aslinya dan dicetak dengan kualitas cetak yang memuaskan. Guratan Stan Sakai yang bersih, detail, panel-panel gambar yang tertata rapih, ksiah-kisahnya yang menarik, membuat komik ini memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi bagi siapa saja. Tak heran komik ini diberi label ‘semua umur’ oleh gramedia, namun mungkin lebih tepat jika dikategorikan sebagai bacaan remaja-dewasa karena anak-anak rasanya tak mungkin memahami seluruh rangkaian kisah dalam buku ini.

Keputusan Gramedia untuk menerbitkan seri Usagi Yojimbo dari nomor 8 : Shades of Death, sempat dipertanyakan Rieza Fitramuliawan, penggemar dan pemerhati komik yang aktif berdiskusi dalam milis-milis komik. Dalam sebuah milis perbukuan, Rieza menulis bahwa jika pembaca memulainya dari buku ke delapan maka terlalu banyak cerita yang terlewat dan akan sangat mengganggu kenikmatan membaca. Walau di buku ke delapan (shades of death) ini
kejanggalan cerita tidak begitu terasa, tapi pada buku-buku selanjutnya, akan banyak catatan kaki yang ditulis oleh Stan Sakai yang merujuk pada beberapa peristiwa yang terjadi di buku-buku
sebelumnya.

Menanggapi hal ini, Tanti Lesmana (editor GPU) ketika menjawab keraguan Rieza mengungkapkan bahwa penerbitan seri Usagi yang dimulai dari buku kedelapan ini sudah didiskusikan dengan penerbit Darkhorse selaku pemegang right buku ini. Jadi untuk di
Indonesia seri Usagi akan dimulai dari buku 8 sampai 13, setelah itu baru dari nomor 1 -7 akan menyusul diterbitkan. Namun demikian Tanti juga menjamin meski dimulai dari Shades of Death, ia yakin pembaca tidak akan bingung mengikuti ceritanya.

Memang benar, seluruh kisah dalam buku ke delapan ini masih bisa diikuti jalan ceritanya, namun pembaca yang kritis tetap akan merasakan adanya hal yang perlu diketahui olehnya agar dapat lebih menikmati buku ini sengan sempurna. Misalnya kemunculan Gen dalam kisah Bayang-bayang Hijau mungkin menimbulkan pertanyaan siapa Gen dan mengapa Usagi berkawan dengan Gen, siapa ninja Neko, atau saat Leonardo. Cs (kura-kura Ninja) bertemu dengan Usagi terungkap bahwa mereka sudah pernah bertemu, hal ini menimbulkan pertanyaan bagi pembaca kapan mereka perbah bertemu, dll. Semua iti tidak dijelaskan dalam buku ke delapan. Asal-usul Usagi pun tidak terungkap secara jelas kecuali pada sinopsis singkat di cover belakang dan tiga kisah terakhir di buku ini yang menceritakan masa lalu Usagi ketika berguru pada senseinya.

Hal lain yang dalam edisi terjemahan yang disesalkan oleh Rieza adalah tidak dimuatnya kata pengantar di buku ini. Menurutnya sejak seri Usagi 1 s/d 21 sampai saat ini, selalu terdapat kata pengantar dari tokoh terkenal , mulai Jodorowski, William Stout, Will Eisneer, dan beberapa tokoh terkenal lagi lainnya. Ini memperlihatkan bahwa cerita usagi menarik bagi banyak kalangan dari berbagai profesi dan banyak dipuji oleh publik Amerika. Walau sebenarnya ini promosi, tapi sayang kata pengantar jika dihilangkan : kadang dengan membaca kata pengantarnya kita bisa memahami cerita dan filosofi cerita dari perspektif lain. Demikian ungkap Rieza

Terlepas dari segala kelebihan dan kekurangan edisi terjemahan buku ini, terbitnya seri Usagi tentunya disambut baik oleh pecinta komik di Indonesia. Semoga Gramedia diberikan nafas panjang untuk terus menerbitkan secara lengkap ke 21 seri Usagi Yojimbo. Menikmati kepiawaian Stan Sakai dalam mengadaptasi legenda samurai tak cukup hanya di buku ini saja. Di seri-seri selanjutnya masih banyak hal-hal menarik dari petualangan si ronin kelinci usagi yang tentunya memberikan banyak manfaat dalam memperluas cakrawala berpikir kita khususnya dalam semangat dan filosofi bushindo, dan sejarah Jepang dimasa lalu.

@h_tanzil
Read more »

Selasa, 16 Oktober 2007

The Bookaholic Club

The Bookaholic Club
Poppy D. Chusfani
GPU, Oktober 2007
192 Hal.

Empat orang remaja tidak sengaja berkenalan dan jadi sahabat karena kesukaan mereka terhadap buku. Remaja berusia 16 tahun ini, sama-sama tinggal di sebuah kompleks elit, sama-sama bersekolah di sekolah yang elit, sama-sama ‘dikucilkan’ dari pergaulan karena dianggap aneh, kecuali Erin, si murid baru yang cantik, yang segera ‘digaet’ Luana, cewek cantik yang merasa paling top dan ok sesekolah.

Tapi, ternyata, Erin gak merasa nyaman berada di kelompok popular di sekolahnya, ia merasa gak menjadi dirinya sendiri, dan merasa harus berpura-pura jadi berdandan dan bersikap ala Barbie demi menyenangkan orang tuanya.

Satu-satunya yang membuatnya tertarik dengan sekolah barunya, adalah perpustakaan yang besar dan lengkap banget. Itu juga yang membuatnya tertarik untuk pergi ke pesta yang diadakan di rumah Des. Konon kabarnya, di rumah Des ada perpustakaannya. Dengan beribu cara, Erin berusaha melarikan diri dari Luana dan teman-temannya.

Des, anak tuan rumah yang harusnya juga beredar di pesta itu, ternyata malah ngumpet di perpustakaannya. Toh, menurutnya, ini pesta orang tuanya, bukan pestanya meskipun banyak teman-teman satu sekolahnya yang datang. Tadinya, Erin yang tiba-tiba saja muncul di perpustakaan pribadinya dianggap sebagai mata-mata gank Luana, agar mereka punya bahan ejekan lain untuk dirinya. Tapi, dengan kemampuannya membaca pikiran orang, Des pun yakin, Erin tidak bermaksud jahat. Yup… Selain punya kemampuan membaca pikiran orang, Des adalah seorang penyihir… Menurut garis keturunannya, Des punya nenek moyan penyihir, dan hanya perempuan lah yang bisa jadi penyihir. Sebuah rahasia yang disimpan rapat-rapat oleh Des dan keluarganya kalau gak mau semakin dijauhi dari pergaulan

Tapi, ternyata, tidak hanya Des dan Erin yang bosan dengan yang pamer kemewahan itu. Muncul Tori yang gagap, si penyuka buku-buku arkeologi dan Chiara, yang bisa melihat hantu dan melihat aura seseorang. Kejadian ini membuat mereka mulai dekat dan mencairkan sikap kaku mereka.

Suatu hari mereka berempat berkunjung ke sebuah toko buku langka di kawasan Pecinan milik Kakek Lim. Misteri dimulai ketika Kakek Lim memberikan sebuah buku bersampul hitam kepada Des. Kata Kakek Lim, buku itu peninggalan nenek moyang Des, seorang penyihir bernama Katrina, yang berbuat kesalahan dengan menyerahkan jiwanya kepada setan demi mendapatkan kekuatan yang lebih besar. Katrina sudah membuka jalan bagi setan. Sudah terlambat bagi Katrina untuk mengembalikan Bayangan gelap itu ke dunianya, sehingga akhirnya Katrina meninggal. Setiap seratus tahun sekali sebuah portal akan terbuka, dan Bayangan akan meminta darah keturunan Katrina.

Tugas Des-lah, untuk mengembalikan Bayangan ke dunia gelap tempatnya berasal. Des seolah dituntut untuk menjadi superhero. Dibutuhkan darah tiga orang lainnya untuk menghancurkan kekuatan Bayangan itu.

Menarik juga tema teenlit yang satu ini. Beda banget dari yang lain-lainnya. Kecintaan pada buku, dikombinasikan dengan sebuah cerita fantasi. Cerita fantasi ternyata gak harus bertokoh atau berpenampilan kuno. Tebak-menebak siapa yang jadi media si Bayangan Gelap asyik juga. Gue pikir si tokoh pasti deh, orang yang cukup akrab di antara anak-anak tersebut.

Akhir cerita yang menampilkan Spunk, kucing milik Des, seolah-olah membuat cerita ini bakal ada lanjutannya. Betulkah?
Read more »

Enchanted, Inc.

Enchanted, Inc.
Shanna Swendson
Pepi Smith (Terj.)
GPU, September 2007
408 Hal.

Meskipun sudah setahun tinggal di New York, Katie Chandler yang berasal dari Texas, selalu merasa bahwa New York selalu penuh dengan keajaiban. Ada cewek yang berkeliaran dengan memakai sayap, gargoyle yang kadang ada, kadang tidak, tapi, toh, itu semua rasanya wajar untuk kota seperti New York.

Tapi, Katie tidak pernah menyangka bahwa semua itu bukanlah hal yang biasa, tapi memang ada keajaiban di New York, bahwa memang ada sesuatu yang magis itu.

Bekerja sebagai asisten dari seorang bos yang terkadang semena-mena, membuat Katie terkadang merasa tidak berkembang, bukan sekali Katie tergoda untuk membalas email-email lowongan kerja, kalau saja Katie tidak takut ketahuan si bos bernama Mimi yang aneh itu.

Suatu hari, Katie mendapat email tawaran pekerjaan yang ia anggap sebagai junk-mail. Katie langsung menghapus email itu, tanpa membacanya sedikit pun. Tapi, email itu datang setiap hari dan langsung ditujukan kepadanya. Katie pun tergelitik untuk membalas email itu.

Email itu berasal dari sebuah perusahaan dengan inisial MSI, Inc., singkatan dari Magic, Spells, and Illusions, Inc. Ternyata, menurut observasi yang dilakukan team MSI, Katie mempunyai kekebalan terhadap sihir. Maka itu, ketika Katie melihat ada gadis bersayap tapi, orang-orang tidak merasa aneh, itu memang karena Katie bisa melihat sihir sementara orang lain menganggap semuanya biasa saja.

Katie pun bersemangat menerima pekerjaan barunya. Katie ditempatkan di bagian verifikasi, di mana tugasnya adalah melihat apabila ada sesuatu yang janggal misalnya dalam sebuah surat perjanjian.

Katie tidak pernah menyangka bahwa boss besarnya adalah seorang penyihir legendaris, the one and only, Merlin (hehehehe… nenek moyangnya Nerlin Flood, kah?). DI perusahaan ini, karir Katie berkembang pesat, Katie diajak untuk membuat sebuah strategi pemasaran ketika seorang mantan karyawan MSI berusaha memasarkan mantra-mantra yang berbahaya.

Emang sih, masih disinggung-singgung soal masalah percintaan Katie yang sering banget diajak kencan buta sama teman-teman satu apartemennya, tapi, jadi menarik dengan latar masalah sihir-sihiran itu, lagi-lagi membuat gue jadi merasa ‘senang’ karena menemukan chicklit yang beda, lucu dan unik, karena setelah baca, gue gak mikir, “Ah, basi nih, ceritanya.” Apalagi, dengan tokoh Owen yang menggemaskan itu, yang setiap ngomong mukanya merah melulu… ihhh.. jadi pengen nyubit pipinya…,hehehe… Dan… di buku ini… bersih dari adegan 17 tahun ke atas! Yang paling kocak, adalah bagian cium-mencium kodok…hahaha….
Read more »

168 Jam dalam Sandera

168 Jam dalam Sandera: Memoar Jurnalis Indonesia yang Disandera di Irak
Meutya Hafid
Penerbit Hikmah - Cet. 1, September 2007
280 Hal.

Ketika berita tentang penyanderaan dua jurnalis Metro TV di Irak oleh tentara Mujahidin, rasanya, gue ikutan ngerasa deg-degan… mmm… terlalu sering nonton film dan baca berita di Koran, membuat gue ikut ketakutan, akan apa yang bakal terjadi sama Meutya Hafid, reporter, dan Budiyanto, juru kamera yang bertugas di Irak itu. Dan ikut bersyukur ternyata keduanya bisa selamat, tanpa kekurangan satu apapun.

Waktu ada rekonstruksi kejadian di Metro TV pun, gue juga merinding membayangkan keadaan yang sebenarnya (hmmm… agak-agak hiperbola gak sih?)

Dan sekarang, Meutya Hafid menulis pengalamannya selama berada dalam penyanderaan. Di buku ini, Meutya menggambarkan detik-detik awal terjadinya penculikan mereka di sebuah POM bensin. Meskipun sudah dijelaskan bahwa mereka adalah jurnalis yang tidak mempunyai kepentingan politik, tetap saja para penculik itu tidak peduli.

Mereka bertiga, Meutya, Budiyanto, dan Ibrahim, supir yang membawa mereka selama berada di Irak, dibawa ke sebuah gua di gurun pasir, yang untuk melarikan diri pun rasamnua suatu hal yang akan berakhir pada kematian yang sia-sia.

Selama berada dalam penyanderaan, para penyandera bersikap cukup baik pada mereka. Mereka dilayani layaknya tamu yang sedang berkunjung. Disediakan makanan yang enak, yang pastinya bakal menggugah selera seandainya berada dalam keadaan dan tempat yang lebih baik.

Berhari-hari tanpa kepastian, akhirnya setelah gambar bahwa mereka benar-benar disandera, dan presiden SBY juga langsung membuat siaran untuk meminta mereka dibebaskan, akhirnya, kabar bahwa mereka akan dibebaskan pun tiba. Tapi, ternyata, gak semudah itu, kesabaran dan kepasrahan mereka lagi-lagi diuji, karena ternyata, prosesnya gak semudah itu. Di pintu perbatasan pun, ketika mereka tinggal sedikit lagi melintas dan bebas, kendala masih ada dan membuat stress dan putus asa.

Mmmm… di saat-saat seperti itu, kaya’nya keimanan seseorang bener-bener diuji. Pasrah dan sabar, juga berkepala dingin dan gak emosi, itu yang paling penting. Beruntung banget, mereka gak diperlakukan kasar dan semena-mena, malah ketika menjelang pembebasan, justru Meutya merasa kehilangan dua orang teman (yang menyandera mereka), karena sikap mereka yang semakin hari semakin hangat dan bersahabat, meskipun ada batas-batas tertentu yang tetap harus mereka tahan.

Gue jarang suka sama yang namanya buku non-fiksi, tapi, buku ini, hampir aja membuat gue terjaga semalaman, karena pengen buru-buru nyelesainnya. Gue ikutan gemes, tegang dan terharu… rasanya ikutan ngerasain gimana gak sabar dan gregetannya ketika kebebasan itu udah di depan mata, tapi, koq susah banget dicapainya…
Read more »

Minggu, 14 Oktober 2007

Selamat Idul Fitri

Pembaca setia Blog Bukuygkubaca kuucapkan :


@h_tanzil

Read more »

Minggu, 07 Oktober 2007

Menikmati Hidup Yang Indah Setiap Saat


Judul : Cherish Every Moment – Menikmati Hidup Yang Indah Setiap Saat
Penulis : Arvan Pradiansyah
Penerbit : Elex Media Komputindo
Cetakan : 2007
Tebal : 322 hlm

Pernahkah kita renungkan, berapa tahun anugerah kehidupan yang Tuhan berikan pada kita? Tak seorangpun tahu, itu adalah kedaulatan Tuhan, tak seorangpun bisa memprediksi atau merencanakan hingga berapa tahun kita akan hidup di dunia ini. Bisa saja kita diberi usia yang panjang hingga menjadi kakek dan nenek, namun siapa tahu ajal menjemput kita tahun depan, bulan depan, esok hari, atau sesaat setelah ketika kita menyelesaikan kalimat ini.

Jika kita tak tahu sampai kapan kita diberi kesempatan untuk hidup, apa yang harus ktia lakukan pada saat ini ? Sudahkan kita menikmati hidup dengan sesuatu yang positif. Seberapa baik kualitas kehidupan yang kita alami kini? Dunia menuntut kita untuk hidup serba cepat, serba instan. Tanpa disadari kehidupan kita berlalu begitu saja dengan cepat. Seolah tak ada waktu bagi kita untuk menikmati hidup, tak sempat untuk mensyukuri anugerah Tuhan dan tiba-tiba saja kita telah menjadi tua dan lelah. Belum sempat kita menikmati hidup tiba-tiba hidup kita berakhir.

Tentunya kita tak ingin melewati kehidupan kita seperti itu. Kita ingin bisa menikmati kehidupan yang sudah Tuhan berikan pada kita dengan melakukan hal-hal positif dan menjadi berkat bagi sesama kita. Namun bagaimana caranya menikmati hidup sementara kita hidup dalam dunia yang serba cepat dan instan? Jawabannya bisa ditemui pada pada buku ini.

Cherish Every Moment – Menikmati Hidup Yang Indah Setiap Saat. Buku karya Arvan Pradiansyah, seorang pembicara publik, fasilitator dan kolumnis di beberapa media nasional dan penulis buku best seller "You are A Leader" dan "Life is Beautiful ini dan mencoba memberikan berbagai jawaban dari pertanyaan bagaimana cara kita bisa menikmati hidup yang indah setiap saat. Ada 24 bahasan yang dikemukakan oleh Arvan, salah satunya dan yang menjadi judul buku ini adalah "Cherish Every Moment". Artinya kita harus menghargai setiap waktu, setiap saat, bahkan setiap detik yang kita alami dalam hidup.

Kita cenderung tidak dapat menikmati hari ini karena pikiran kita diisi oleh kecemasan-kecemasan akan hari esok. Padahal belum tentu besok kita masih hidup. Karenanya Arvan mengajak kita untuk membangun mindset bahwa hari ini merupakan hari terakhir dalam kehidupan kita, sehingga kita akan berusaha untuk melakukan yang terbaik seolah esok tak ada lagi kesempatan untuk berbuat kebaikan. Hari ini adalah hari hadiah yang terbesar yang diberikan Tuhan pada kita. Jika kita menyadari hal ini maka hidup kita akan terasa sangat indah.

Mengisi dan menikmati hari yang Tuhan berikan pada kita salah satunya yaitu dengan membina hubungan sengan sesama. Salah satu tema yang menarik dalam hal ini adalah dalam bab ‘Rekening Kepercayaan’. Rekening kepercayaan menganalogikan hubungan antar manusia seperti kita mempunyai rekening bank dimana ada dua hal: setoran dan tarikan. Kita menyetor dengan cara memberikan kebaikan kepada orang lain. Sebaliknya kita melakukan tarikan bila kita melakukan hal-hal yang sebaliknya. Segala bentuk ketidakbaikan kita pada seseorang adalah tarikan. Jika demikian kita tentu harus terus memperbanyak saldo kita dengan senantiasa memberikan setoran-setoran dalam kehidupan kita agar kita memperoleh saldo positif beserta bunganya.

Dalam hal spiritualitas, salah satu tema yang terdapat dalam buku ini adalah mengenai ‘Orang beragama atau Orang Baik’. Tema ini menyorot sebuah fenomena yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari bahwa orang yang beragama tidak selalu baik, dan orang baik tidak selalu beragama. Arvan memberikan contoh bahwa kita sering mendengar di berita-berita seorang guru agama memperkosa murid-muridnya, pendeta yang melakukan penipuan, dll. Menurutnya orang-orang bergama biasa seperti itu karena mereka belum memahami esensi agama yang sesungguhnya dan hanya memandang agama sebatas hal-hal yang bersifat ritual. Dan esensi agama adalah KASIH.

Masih banyak tema-tema menarik lainnya dalam buku ini. Buku ini ditutup dengan manis dengan judul ‘Mengapa Hidup Sering Tidak Adil?’. Di tema terakhir buku ini Arvan mengajak kita untuk menjawab pertanyaan mengapa sepertinya orang-orang yang jujur dan mencoba hidup lurus malah menghadapi masalah , bahkan dikucilkan oleh di lingkungannya. Sedangkan orang yang korupsi malah hidupnya nyaman dan menjadi orang-orang terhormat. Apakah itu artinya Tuhan tidak adil? Di akhir bab ini kita akan menemukan jawaban yang tentunya melegakan hati kita.

Seluruh bab dalam buku ini disajikan dalam bentuk wawancara (tanya jawab) karena memang buku ini merupakan intisari dari acara ‘Life Excelent’ yang disajikan setiap minggunya di jaringan radio Trijaya. Cara penyajian seperti wawancara ini tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya, membaca buku ini kita seperti melakukan tanya jawab langsung dengan penulisnya. Penyampaiannya sangat personal dan tidak bertele-tele, eksplisit dan langsung mengarah pada tema yang sedang dibahas. Dan mungkin saja apa yang ditanyakan oleh si penanya dalam buku ini juga merupakan pertanyaan kita.

Konsekuensi logis atas cara penyajian seperi ini tentu saja menyebabkan jawaban-jawaban atas persoalan atau tema yang diangkat menjadi terlalu singkat seperti halnya kita mendengar wawancara atau diskusi yang ada di TV atau radio. Padahal ada beberapa tema yang mungkin kalau diperluas atau disajikan dengan bahasan dan penyajian yang terstruktur akan lebih memuaskan pembacanya.

Namun terlepas dari kelebihan dan kekurangan buku ini, buku ini sangatlah inspiratif. Tema-temanya tidak mengada-ngada, semuanya diambil dari kehidupan sehari-hari lengkap dengan contoh-contoh nyata yang dialami penulisnya. Temanya beragam seperti cinta, hubungan atara pribadi, manajemen diri, Tuhan dan spiritualitas. Kisah-kisah dan ilustrasinya tak jarang membuat kita tersentuh, tertawa, membuat kita merenung dan berpikir.

Keduapuluh empat tema/bab yang terdapat dalam buku ini dapat dibaca secara acak, pembaca bisa membaca dari mana saja tanpa harus berurutan sesuai dengan tema yang diinginkan oleh pembacanya. Semuanya memberikan pesan yang singkat namun sarat makna dan terikat oleh benang merah yang kuat yaitu bagaimana agar hidup kita semakin berkualitas dan bisa menikmati hidup yang indah setiap saat, menjadi berkat bagi sesama kita dimanapun dan apapun yang kita hadapi pada saat ini.

@h_tanzil
Read more »

Rabu, 03 Oktober 2007

Usagi Yojimbo # 1: Shades of Deaths (Bayang-Bayang Kematian)

Usagi Yojimbo # 1: Shades of Deaths (Bayang-Bayang Kematian)
Stan Sakai
Rosi L. Simamora (Terj.)
GPU – September 2007
197 Hal.

Jepang abad ke-16, jaman para samurai, jaman perang saudara, jamannya tuan tanah yang suka semena-mena. Dan, tersebutlah satu samurai, ronin yang pemberani bernama Miyamoto Usagi. Dari namanya aja, udah ketauan, kalo cerita ini terinspirasi dari cerita Miyamoto Musashi yang terkenal itu. Seperti layaknya Samurai sejati, Usagi selalu berusaha membantu yang lemah dan menegakkan keadilan. Dengan sabetan pedangnya, Usagi menjadi sosok yang disegani. Tapi, Usagi tidak akan menggunakan pedangnya itu hanya untuk membunuh orang dengan semena-mena. Ia hanya menggunakannya untuk para penjahat.

Buku ini terbagi atas beberapa cerita, ada yang serius ada yang sekedar selingan yang rada lucu.

Cerita pertama yang serius berjudul ‘Bayang-Bayang Hijau’, Usagi dan temannya, Genji, membantu sebuah desa yang menggagalkan penculikan oleh sekelompok ninja dari Marga Neko yang sedang berperang dengan Marga Komori. Mereka menculik Kakera, seorang sensei tua, karena Kakera dianggap punya keahlian dalam sihir menyihir untuk membantu mereka melawan Marga Komori.

Di dalam Marga Neko sendiri terjadi perebutan kursi kepemimpinan. Sebenarnya, setelah Shingfe, kakak Chizu, meninggal, Chizu-lah yang berhak menggantikannya sebagai Jonin atau ketua marga, tapi, Gunji tidak terima karena Chizu adalah wanita.

Yang paling konyol dari ceritanya ini adalah munculnya kura-kura ninja (yup… those teenage mutant ninja turtles) yang berasal dari 4 ekor kura-kura kecil yang disihir oleh Kakera. Karena emang, tokoh Usagi ini juga pernah muncul di serial tersebut, makanya, ada bagian di mana kita akan tahu Usagi dan Leonardo udah saling kenal.

Cerita lainnya, berjudul ‘Shi’, yang artinya ‘kematian’. Usagi berada di sebuah desa yang dikuasai oleh tuan tanah yang serakah. Desa itu merupakan tambang emas, tapi sayangya, para penduduk tidak mengerti akan barang berharga itu. Tapi, tuan tanah yang pura-pura bijak dan baik itu, mengupah orang untuk menakuti-nakuti penduduk desa agar mereka mau meninggalkan desa itu, dan tuan tanah bisa menguasai emas itu sendiri.

Tapi, lagi-lagi, tuan tanah punya adik yang serakah. Yaa… kakak-beradik itu sama-sama serakah. Mereka sama-sama tidak mau membagi emas itu di antara mereka berdua, sampai akhirnya mereka malah saling bunuh.

Tidak ada yang percaya ketika Usagi berusaha membantu para penduduk desa, malah ia dianggap sebagai bagian dari tuan tanah itu.

Di cerita terakhir, berkisah tentang awal mula Usagi mendapat pendidikan sebagai samurai. Bagaimana akhirnya Usagi memutuskan untuk menjadi samurai.

Sebenarnya, banyak pelajaran berharga yang bisa dipetik dari buku ini, tentang kebijakasanaan, kerendahan hati, keberanian. Memang, novel grafis ini diperuntukkan untuk semua umur, tapi, hati-hati tuh, ada beberapa yang kaya’nya cukup dewasa untuk ditampilkan bagi anak-anak. Misalnya, adegan ciuman antara Usagi dan Chizu, dan juga kata ‘pelacur’ yang sempat muncul di halaman 104.

Gambar-gambar dalam buku ini cukup teratur, jadi gak akan bikin bingung pembacanya. Tokoh-tokohnya bukanlah manusia, tapi berwujud binatang. Miyamoto Usagi sendiri berwujud seekor kelinci lengkap dengan kimono. Sementara tokoh jahat, kebanyakan berwujud serigala.
Read more »

Minggu, 30 September 2007

Balada Seorang Penyiar




Judul : Balada Seorang Penyiar
Judul Asli : L'autre laideur, l'autre folie
Penulis : Marc Males
Penerjemah : Rosi L. Simamora
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Agustus 2007
Tebal : 128 hlm ; 6.5 mm
Harga : Rp40,000


Llyod Goodman, adalah seorang penyiar radio terkenal di tahun 30-an. Suatu masa dimana televisi belum ada dan radio menempati tempat utama sebagai satu-satunya media hiburan dalam ruang keluarga. Karakter suara yang khas plus imajinasi pendengarnya membuat penyiar radio di masa itu menjadi publik figur seperti layaknya artis-artis film masa kini.

Demikian pula yang dialami oleh Llyod Goodman, penyiar radio NBC. Suaranya memikat jutaan pendengarnya belum lagi ditambah dengan ketampanannya yang dipublikasikan lewat poster-poster publikasi membuat dirinya menjadi sosok publik figur yang ideal, bersuara merdu, dan berwajah tampan. Namun Goodman memiliki rahasia. Bersama produsernya ia melakukan kebohongan publik. Lambat laun kebohongan ini merrobek-robek hati nuraninya dan justru di saat puncak kejayaannya Goodman meghilang dan meninggalkan ribuan pendengar setianya Tak seorangpun termasuk produser NBC yang mengetahui keberadaannya.

Di lain peristiwa, lama setelah Goodman menghilang, Helen Ford melakukan perjalanan seorang diri tanpa tujuan yang pasti. Kematian saudara kembarnya membuat Helen terguncang dan melakukan perjalanan tanpa tujuan. Dimanapun ia menemukan cermin, ia berdialog dengan bayangannya sendiri, seolah bayangannya dalam cermin itu adalah saudara kembarnya. Ia melakukan perjalanan dari stasiun ke stasiun berikutnya hingga akhirnya uangnya habis dan harus berjalan kaki sambil membawa kopor pakaiannya.

Ketika sampai di sebuah tempat terpencil ia bertemu dengan seorang pria berwajah buruk. Mereka berkenalan dan ketika Helen hendak melanjutkan perjalanannya, ia jatuh kelelahan. Si pria berwajah buruk itu membantunya dan mengajaknya beristrirahat di rumahnya yang tak jauh dari tempat pertemuan mereka. Lelaki berwajah buruk yang digambarkan dengan sosok yang jangkung, berkepala lonjong, hidung dan bibir yang besar itu ternyata memiliki perangai yang baik, sopan dan multi talenta. Diundangnya Helen untuk menginap di rumahnya hingga kesehatannya benar-benar pulih.

Ada yang ganjil dalam rumah laki-laki berwajah buruk yang hanya tinggal bersama anjingnya itu. Tak satupun cermin ditemui di rumah itu. Padahal Helen membutuhkan sebuah cermin untuk berdialog dengan ‘saudara kembarnya’. Selain itu laki-laki itu tak juga mau mengungkap siapa jati dirinya. Ia hanya mengatakan bahwa ia hidup menyendiri karena merasa malu dengan wajahnya yang buruk dan membenci wajahnya sendiri sehingga tak ada satupun cermin dalam rumah tersebut.

Lambat laun ada kecocokan antara Helen dan lelaki berwajah buruk itu. Mereka saling membuka diri tentang kepedihan yang mereka alami. Namun Helen harus melanjutkan perjalanannya. Kelak Persahabatan dan pertemuan antara keduanya yang tidak terduga akan membawa pengaruh dalam kehidupan mereka masing-masing. Hal ini sesuai dengan keyakinan Helen yang pernah diungkapkan pada laki-laki itu bahwa setiap orang dalam hidupnya memiliki bakat atau kekuatan magis untuk melakukan keajaiban yang mampu merubah jalan hidup seseorang.

Alur cerita komik ini menggunakan teknik flash back. Di lembar pertama pembaca akan dibawa pada setting tahun 50-an yang mengisahkan diluncurkannya sebuah buku yang mengisahkan tentang bintang-bintang radio di tahun 30-an dan salah satu bab didedikasikan kepada Lloyd Goodman yang telah meninggal lima tahun sebelumnya.

Lalu kisahnya beralih pada Helen yang telah berusia 78 tahun dan sedang menderita penyakit kanker tahun bersama anaknya, Linda melakukan perjalanan napak tilas ke sebuah stasiun yang memberinya kenangan akan masa lalunya. Dari sinilah Helen menuturkan kisahnya 50 tahun yang lampau tentang perjalanan hidupnya dan perjumpaannya dengan seorang lelaki berwajah buruk.

Komik ini dibuat dengan sapuan warna hitam putih yang kuat. Gambar-gambarnya sederhana seperti sebuah sktesa, namun tetap menyajikan detail yang memikat. Penggunaan warna hitam putih untuk komik ini menimbulkan kesan klasik dan membawa pembacanya tenggelam dalam nuansa tahun 30 dan 50-an.

Frame-frame gambarnya juga sangat standard berupa kotak-kotak yang teratur dalam setiap halamannya. Banyaknya frame dalam satu halaman tidak sama, tergantung pada maksud penulis untuk menggambarkan karakter tokoh-tokohnya dan setting tempatnya. Kadang dalam satu atau dua halaman hanya ada 3 frame yang menyorot perilaku dan ekspresi tokohnya saja baik dengan menyertakan teks dalam balon percakapan ataupun hanya merupakan komik bisu (tanpa teks).

Salah satu yang menarik ada pada hal 96-101. Masing-masing halaman itu hanya menyajikan 3 panel gambar yang menggambarkan Helen yang sedang duduk merokok di bangku stasiun. Awalnya panel gambar tersebut menggambarkan sosok Helen secara utuh, lambat laun mengarah pada clos up wajah Helen. Semua itu tersaji tanpa balon percakapan namun gambarnya sangat hidup sehingga walau tanpa balon percakapan, dengan rangkaian gambar tersebut pembaca akan merasakan bagaimana resahnya Helen dengan pikirannya.

Ceritanya sendiri,walau temanya sederhana namun kalimat-kalimatnya bernas dan bermakna. Pembaca akan diajak kedalam percakapan soal jati diri, mimpi, kebahagiaan, harapan, dll. Males dengan piawai mampu mengungkap karakter tokoh-tokohnya melalui gambar dan percakapan-percakapan singkat yang mengungkap keresahan jiwa yang dialami masing-masing tokohnya.

Komik ini bukan komik yang mudah dicerna, layaknya komik-komik superhero, perlu sedikit konsentrasi untuk memahaminya, apalagi alur cerita yang kerap berpindah dari masa lalu ke masa kini sehingga tak jarang membuat pembacanya kehilangan orientasi waktu, dan perlu sedikit usaha untuk merangkaikan kisahnya yang kadang tepenggal-penggal karena loncatan setting waktunya.

Namun jangan khawatir komik setebal 128 hal ini tetap mengasyikan untuk dibaca dan dimaknai. Malah kekuatan ceritanya yang tentang dua orang yang mencoba mengatasi luka-luka batin mereka yang begitu dalam, saya rasa akan memberikan inspirasi positif bagi pembacanya. Bukan tak mungkin apa yang dialami Llyod Goodman dan Helen juga dialami oleh kita walau dalam kadar yang berbeda dalam kehidupan kita masing-masing.

@h_tanzil



Tentang Penulis

(sumber.www.gramedia.com)

Marc Males

Mark Males memasuki dunia industri komik lebih dari dua puluh tahun yang lalu. Beberapa karyanya mendapat pujian tinggi, dan sekarang karya-karyanya tersebut mulai diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris (juga bahasa Indonesia). Salah satunya yang telah terbit di Indonesia adalah BALADA SEORANG PENYIAR (Different Ugliness, Different Madness). Males berkata karya ini dipengaruhi "Clint Eastwood dan Bridges of Madison County".

Perkenalan Males dengan dunia komik diawali di usia yang sangat muda, dia mulai menggambar komik sejak usia 10 tahun. Tapi sebelum jadi pengarang komik sungguhan, dia bekerja sebagai petugas layout di sebuah agen periklanan, juga membuat ilustrasi untuk Heart Press (majalah cerita romantis di Inggris).

Ini katanya tentang BALADA SEORANG PENYIAR: "Pertama-tama ada kisah universal: pria bertemu wanita, jatuh cinta, dan hidupnya berubah... Aku mengombinasikan ini dengan dua ide yang sudah lama kupikirkan. Karena aku senang mendengar radio, aku selalu membayangkan orang seperti apa yang ada di balik suara yang kudengar. Kadang-kadang aku kecewa saat melihat foto mereka, terutama yang wanita! Aku juga ingin menceritakan kebohongan seperti yang pernah terjadi dalam sejarah musik pop, saat ada model `meminjamkan` penampilannya bagi suara si penyanyi. ... Aku juga ingin menjawab pertanyaan `Apakah wanita merupakan keajaiban?`. Dan jawabannya adalah cara terbaik untuk mengakhiri buku ini."

----@@@---
salam,
h_tanzil
http://bukuygkubaca.blogspot.com
Read more »

The Bartimaeus Trilogy # 3: Ptolemy’s Gate (Gerbang Ptolemy)

The Bartimaeus Trilogy # 3: Ptolemy’s Gate (Gerbang Ptolemy)
Jonathan Stroud
Poppy Damayanti Chusfani (Terj.)
GPU, September 2007
576 Hal.

Dalam ‘mewujudkan’ dirinya, Bartimaeus sering mengambil sosok seorang anak laki-laki Mesir, lengkap dengan rok pendeknya. Ternyata, sosok itu adalah anak laki-laki bernama Ptolemy, yang pernah menjadi master Bartimaeus yang dipanggil Rekhyt ketika itu. Hubungan mereka berdua tidak hanya sekedar master dan jin-nya, tapi lebih dari itu. Bartimaeus sangat menghormati Ptolemy, karena berbeda dengan master-masternya yang lain, Ptolemy tidak pernah menuntut. Bartimaeus pernah menyelamatkan nyawa Ptolemy dari usaha pembunuhan yang diperintahkan oleh saudara sepupunya.

Itu dulu… beberapa ribu tahun yang lalu, ketika energi Bartimaeus masih kuat. Sekarang, di bawah perintah Nathaniel yang tak ada habisnya, energi Bartimaeus terkuras habis. Bartimaeus sering jadi bulan-bulanan jin-jin lainnya. Jika dipaksakan maka Bartimaeus akan mati.

Sementara Nathaniel sudah menjadi Menteri Penerangan. Ia sibuk membuat poster propaganda mendukung perang dengan Amerika. Sudah punya rumah mewah dan asisten pribadi. Nathaniel menjadi salah satu dari tujuh orang yang menduduki jabatan penting di pemerintahan.

Kitty yang dianggap sudah mati oleh Nathaniel ketika menyelamatkannya dari Golem, ternyata masih hidup. Ia mengganti penampilannya, mengganti namanya dan bekerja sebagai asisten seorang penyihir, Mr. Button. Di rumah Mr. Button, Kitty yang dikenal sebagai Clara, belajar buku-buku yang biasa dibaca penyihir, bahkan Kitty belajar untuk melakukan pemanggilan jin. Selain bekerja dengan Mr. Button, Kitty juga menjadi pelayan di sebuah café commoner, The Fogg Inn. Di sini, nama Kitty bukan lagi Clara, tapi Lizzie. Di café ini, para commoner membahas berbagai hal untuk melawan penyihir.

Suatu hari, Quentin Makepeace, yang selama ini dikenal sebagai sutradara, melakukan sebuah pemanggilan yang aneh di mata Nathaniel. Selama ini Makepeace bukanlah orang yang dikenal cakap dalam keahlian sihir. Tapi, apa yang dilakukannya adalah sesuatu yang tidak wajar. ‘Korban’ percobaan itu adalah Nicholas Drew, teman Kitty di kelompok Resistance yang melarikan diri ketika mereka mencoba mencuri Makam Gladstone. Dari sinilah Nathaniel tahu kalau Kitty masih hidup.

Nathaniel pun mencari keberadaan Kitty. Dan ketika bertemu, mereka masih bersikap seperti musuh, dan ketika itu, Nathaniel terpaksa mengajak Kitty ke pertunjukkan theater yang diadakan Makepeace. Di sini, terjadi lagi keanehan. Ternyata, Makepeace merencanakan sebuah ‘kudeta’ menggulingkan pemerintahan yang ada. Para jin merasuki tubuh-tubuh para penyihir pengikut Makepeace. Keadaan kota London kacau-balau. Bartimaeus saat itu sedang ‘diistirahatkan’ Nathaniel.

Kitty dan Nathaniel yang tertangkap oleh Makepeace, bahu-membahu mencari jalan keluar untuk menyelamatkan diri dan juga kota London. Sementara Nathaniel mencari Tongkat Gladstone, Kitty melakukan hal seperti yang dilakukan Ptolemy, yaitu pergi ke Dunia Lain untuk ‘menjemput’ Bartimaeus.

Ending cerita trilogy ini ternyata ‘menguras’ emosi gue. Hiks..hiks.. akhir cerita yang keren banget. Kaya’nya semua emosi Bartimaeus, Nathaniel bahkan Kitty tumpah di sini. Merubah pandangan gue tentang Bartimaeus yang cuek, Nathaniel yang sombong dan Kitty yang keras hatinya. Hubungan antara jin dan penyihir yang ada antara Bartimaeus dan Nathaniel ternyata punya arti yang beda dibanding dengan yang lain. Dan gue jadi berpikir, jangan-jangan Nathaniel jatuh cinta lagi sama Kitty…

Tapi, sumpah… gue jadi sedih ‘berpisah’ sama Bartimaeus dan Nathaniel… mmmm… agak hiperbola sih, tapi, waktu baca Harry Potter terakhir, koq gue gak terlalu merasa kehilangan. Apa karena, gue udah bisa mengira-ngira ending-nya bakal seperti apa, ya? Karena toh, hanya ada dua pilihan, Harry Potter atau Voldemort yang mati. Sementara ini, bener-bener, tidak terbayangkan…
Read more »

Jumat, 21 September 2007

Dracula

Judul : Dracula
Penulis : Bram Stroker
Penerjemah : Ny. Suwarni A.S
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Mei 2007
Tebal : 528 hlm ; 20 cm
Harga : Rp. 60.000,-

Dracula, adalah monster vampir yang usianya telah mencapai ratusan tahun. Ia memiliki kekuatan sama dengan dua puluh orang. Kelicikannya yang luar biasa tumbuh bersama masa hidupnya dari abad ke abad. Ia memiliki kemampuan sihir. Semua orang mati berada di bawah perintahnya. Dia setan bengis yang tak punya hati. Dalam batas-batas tertentu dia bisa muncul kapan dan di mana saja, dan dalam batas kemampuannya dia bisa memerintah keadaan alam, badai, kabut dan petir. Bisa pula memerintah binatang seperti tkus, kelelawar, rubah , serigala dan beruang. Dia bisa pula menjadi serigala atau kelelawar. Bisa menghilang dan menjelma menjadi kabut pekat.

Sepak terjang Dracula menjadi legenda selama berabad-abad. Sebagian mempercayainya dia benar-benar ada, sebagian menganggap hanya kisah tahayul belaka. Tak seorangpun berani membuktikan keberadaannya apalagi memburunya hingga akhirnya ada enam orang pemberani yang memiliki syaraf baja untuk memusnahkan dan membuangnya ke neraka paling dalam hingga tak lagi mengganggu umat manusia yang berada di bumi ini.

Mereka adalah Mina Harker yang dengan keberaniannya telah menyelamatkan suaminya, Jonathan Harker, seorang penasehat hukum dari kegilannnya setelah secara tak disadarinya bertemu langsung dengan Count Dracula dan membuka jalan bagi vampir itu untuk memasuki Inggris. Quincey Morris, jutawan petualang, Arthur Holmwood (Lord Goldaming), seorang bangsawan Inggris, Dr. John Seward, kepala rumah sakit Jiwa di Inggris, dan Prof. Abraham Van Helsing, dokter bedah asal Amsterdam dan satu-satunya dari kelima orang diatas yang mengetahui kekuatan vampir serta bahaya yang mengancam hidup dan jiwa para pemburunya. Hanya dia yang tahu artinya menantang kejahatan Dracula.

Keenam orang ini dipersatukan untuk memburu Dracula karena orang yang mereka kasihi, Lucy Westenra mati dan berubah wujud menjadi vampir yang meneror anak-anak di London. Lucy adalah korban pertama yang dipilih Count Dracula di Inggris. Semua berawal ketika Jonathan Harker ditugaskan oleh kantor pengacaranya untuk mengunjungi Count Dracula di purinya di Transylvania guna mengurus pembelian beberapa rumah di London – Inggris. Awalnya Jonathan tak mengira bahwa kliennya adalah mahluk vampir hingga akhirnya ia menemukan beberapa keanehan di puri tersebut dan menyadari bahwa dirinya terperangkap dalam puri Dracula. Walau akhirnya Jonathan bisa meloloskan diri dari puri setan tersebut, jiwanya terguncang dan menderita demam otak hingga harus dirawat di Budapest selama berminggu-minggu.

Ketika sembuh, Jonathan pulang ke Inggris dan menikah dengan Mina yang merupakan sahabat Lucy Westenra. Adapun Count Dracula setelah urusannya dengan Jonathan Harker selesai, ia segera berangkat ke Inggris dengan membawa beberapa peti dan menumpang sebuah kapal Rusia. Kapal yang ditumpanginya itu terombang-ambing terdampar di pantai Wiltby Inggris, anehnya ketika sampai di pelabuhan tak seorang awak kapalpun yang ditemukan kecuali mayat nahkoda kapal yang terikat pada kemudi kapal. Dalam kantungnya terdapat secarik kertas yang menceritakan kejadian-kejadian mengerikan di atas kapalnya. Selain itu beberapa saksi mata melihat bahwa ada seekor anjing besar melompat dari kapal dan kabur menuju pekuburan umum.

Korban pertama yang dipilih Dracula di Inggris adalah , Lucy Westenra yang saat itu sedang diperebutkan oleh berapa pria sekaligus yaitu Quincey Morris, Dr. Seward, dan Lord Goldaming. Walau akhirnya Lucy memilih Lord Goldaming sebagai calon suaminya, kebahagiaannya tiba-tiba terengut ketika kesehatan Lucy menurun drastis. Lucy selalu tampak lemas dan kekurangan darah. Di lehernya tampak dua luka seperti bekas gigitan binatang Awalnya Dr. Seward yang merawatnya tak bisa menyembuhkannya, kondisi Lucy yang semakin memburuk hingga akhirnya Dr Seward mengundang rekannya Prof Van Helsing untuk memeriksa Lucy. Dari diganosa Van Helsing inilah akhirnya diketahui apa penyebab sakitnya Lucy.

Nyawa Lucy tak terselamatkan dan berubah menjadi vampir. Dengan sangat terpaksa jasad Lucy harus dipenggal kepalanya dan ditusuk jantungnya dengan pasak kayu oleh orang-orang yang mengasihinya. Setelah kematian Lucy, Van Helsing beserta Dr. Seward, Quincy Moris, Lord Goldaming, dan pasangan Jonathan dan Mina Harker memburu keberadaan Dracula di Inggris, mereka menyatroni rumah-rumah yang dibeli Count Dracula untuk menyucikan peti-peti yang merupakan tempat peristirahatannya di Inggris hingga memburunya ke Puri Dracula di Translyvania.

Kisah diatas adalah novel horor klasik karya Bram Stoker – Dracula. Novel yang pertama kali terbit pada tahun 1897 ini bisa dikatakan merupakan novel yang pertama kalinya mempopulerkan kisah dracula/vampir. Setelah itu ratusan buku dan film tentang dracula bermunculan hingga kini. Yang terakhir dan fenomenal adalah novel The Historian karya Elizebth Kostova yang mengaku terinspirasi dari karya Bram Stoker ini. Sedangkan di ranah film, salah satu film terkenal yang diadaptasi dari novel Dracula adalah film besutan sutradara kondang Francis Ford Coppola yang berjudul Dracula (1992). Film ini dibintangi oleh artis-artis papan atas Hollywod seperti Keanu Reaves, Anthoni Hopkins, Winona Ryder, dll.

Novel Dracula ini ditulis Bram Stroker layaknya sebuah buku harian, atau istilah sastranya dikenal dengan ‘epistolary novel’ dimana isinya merupakan kumpulan catatan harian, telegram, surat-surat para tokoh-tokohnya, kliping surat kabar, alat rekam, dll. Gaya penulisan seperti ini lazim ditemui di novel-novel abad 19. Jadi dalam novel ini pembaca akan disuguhkan berbagai catatan harian yang disusun secara urut tanggal dari para tokoh-tokohnya yaitu Jonathan Harker, Mina Harker, Lucy, Dr. Seward, dan Van Helsing. Selain itu terdapat juga artikel surat kabar, isi sebuah telegram, dan surat menyurat antar para tokohnya.

Uniknya walau ditulis dengan cara seperti ini, semuanya terangkai dengan sempurna dan membentuk sebuah kisah yang menarik. Catatan-catatan ini tersaji secara linier dari hari- kehari, kadang mundur sedikit kebelakang atau terdapat beberapa tanggal yang sama untuk melihat sebuah kejadian dari sudut pandang tokoh lain. Hal ini membuat karakter tokoh-tokohnya menjadi kuat karena mengungkap kondisi jiwa para tokohnya menurut perasaannya masing-masing. Hanya saja rupanya Bram Stroker terjebak dalam gaya tuturan yang sama antara tokoh satu dengan yang lainnya, padahal sejatinya catatan harian tiap orang pasti memiliki gaya penulisan yang berbeda.

Karena novel ini ditulis di abad ke 19, tentu saja plot kisah novel ini tidak secepat novel-novel horor jaman kini. Beberapa bagian bahkan terkesan sangat romantik dan mendayu-dayu. Tidak ada ketegangan yang belebihan pada novel ini. Deskripsi yang lazim dalam novel-novel horor seperti darah, kekerasan, dan prosesi pemusnahan mayat yang telah menjadi vampir dideskripsikan dengan wajar sehingga tak membuat pembacanya mual atau bergidik jijik. Namun novel ini tetap menarik untuk dibaca. Pembaca akan dibawa dalam suasana kota London yang kelam ketika matahari beranjak terbenam. Emosi para tokoh-tokohnya tereksplorasi secara mendalam, disini tampak kelihaian Stroker meninjau ke dalam jiwa manusia yang dilanda ketakutan.

Selain menyuguhkan kekelaman, kengerian dan serunya kisah perburuan Dracula. Novel ini bisa dipandang sebagai sebuah novel tentang perubahan peran gender, pergumulan antara tradisi dan modernisasi di akhir abad 19. Di sepanjang cerita, terdapat berbagai referensi atas perubahan peranan gender; Mina Harker adalah seorang wanita modern, yang kecerdasannya yang membuat kagum para tokoh prianya. Ia fasih menggunakan mesin tik. Ia juga menggunakan akal sehatnya dalam melacak keberadaan Count Dracula.

Dalam hal tradisi dan modernisasi, melalui novelnya ini Bram stroker juga menguraikan mengenai menyatunya tradisi (tradisi rakyat dan agama) dan modernisasi. Hal ini terlihat jelas pada tokoh Van Helsing, seorang dokter yang menggunakan cara-cara modern dalam menyelamatkan nyawa Lucy seperti transfusi darah (bisa dibayangkan bagaimana transfusi darah di abad ke 19!), namun ia juga melakukan tindakan diluar nalar seperti menggunakan bawang putih sebagai penangkal vampire, mensterilkan peti Dracula dengan hosti (roti perjamuan kudus), dll.

Melihat luasnya cakupan yang ditulis Stoker dalam novelnya ini, tak heran jika novel ini menjadi novel klasik yang walau telah berusia lebih dari satu abad namun terus dikenang orang hingga kini. Rl. Fisher dalam kata pengantar novel ini mengungkap bahwa novel ini menjadi abadi bukan karena penulisnya, bukan pula karena keistimewaan plotnya, gayanya, dialognya atau pada bagian-bagian deskriptifnya.

Menurutnya yang menjadi keistimewaan Dracula adalah temanya yang luar biasa kuat, penggunaan sudut pandangnya yang beragam, kemampuan Stroker untuk mencakup beberapa bidang (intelektual, emosional, maupun seksual), serta adanya beberapa peristiwa yang benar-benar mengerikan, dan mungkin yang paling penting adalah kemampuan penulisnya meninjau ke dalam jiwa manusia. Efek Dracula sangat cocok kalau disamakan dengan efek mimpi buruk. Kita tak bisa menyentuh mimpi buruk, bahkan tak bisa menimbang atau mengukurnya. Tak seorangpun bisa membantah rasa takut yang ditimbulkannya pada diri kita. Jadi keberhasilan Dracula untuk bertahan adalah berkat kemampuan Bram Stroker untuk melihat dunia dari segi di mana mimpi adalah kenyataan dan kesadaran adalah mimpi (hal 14)

Novel Dracula ini pernah diterbitkan oleh Gramedia pada tahun 90-an, kini menyusul diterbitkannya The Historian – Elizabeth Kostova (GPU, Jan 2007), Gramedia menerbitkan ulang Dracula dalam kemasan yang menawan. Sampul bukunya dibuat menyerupai buku-buku kuno lengkap dengan bercak-bercak keusangan. Warna cover hitam pekat dengan tulisan “Dracula – Bram Stroker dalam bingkai emas. Punggung bukunya dibuat dengan beberapa ukiran emas khas buku-buku abad 19. Sedangkan pinggir halamannya disalut dengan warna merah darah. Kemasan seperti ini tentu saja membuat orang penasaran terhadap buku ini dan membawa pembacanya untuk masuk dalam abad ke 19 dimana novel ini untuk pertama kalinya diterbitkan.

Semoga GPU terus menerbitkan ulang karya-karya klasik dunia dengan sentuhan kemasan yang kreatif seperti novel dracula ini. Sehingga karya-karya ini yang biasanya sarat dengan pesan-pesan moral tidak pernah terlupakan dan terus terbaca oleh pembaca kita dari generasi ke generasi.

@h_tanzil


Bram Stoker
(Sumber : www.gramedia.com)

Abraham "Bram" Stoker dilahirkan di dekat Dublin pada tanggal 8 November 1847. Ia bermimpi menjadi penulis sejak masih sangat muda, ketika berbaring di ranjang karena penyakit aneh yang sulit dikenali. Karena merasa harus mengalah pada keinginan orangtuanya, selama delapan tahun ia berkarier sebagai pegawai negeri. Namun ia terus menulis, mulai dari kisah fantasi impian sampai ulasan drama panggung. Ia juga masih punya waktu sebagai kritikus teater, editor, dan menulis resensi tentang rujukan teater. Henry Irving, aktor panggung terkenal, membawanya masuk lebih jauh ke dunia teater, sebagai manajer aktor di London`s Lyceum Theater. Novel lengkapnya yang pertama, The Snake`s Pass, terbit tahun 1890, tahun saat ia memulai riset tentang karya akbarnya, Dracula. Diluncurkan ke tengah pembaca bebarapa tahun kemudian, cerita dengan tema luar biasa ini mengangkat tokoh utamanya yang haus darah, Count Dracula, ke arah kemasyhuran ...dan terus bertambah populer bahkan sampai satu abad kemudian.
Read more »