Jumat, 29 Februari 2008

Opik Sok Cool Nih !

Judul : Opik Sok Cool Nih!
Penulis : Jurie G Jarian
Penerbit : Mizania
Cetakan : I, Jan 2008
Tebal : 282 hlm


Sinopsis

Novel ini merupakan kisah cinta plus petualangan menangkap sekelompok teroris. Tokoh utamanya Opik, seorang mahasiswa di sebuah universitas di Bandung. Opik dideskripsikan sebagai sosok yang atletis, rileks, suka bercanda dan taat beribadah. Latar belakangnya yang berasal keluarga pesantren di sebuah desa sifat dan karakternya tumbuh sesuai dengan ajaran agamanya. Fisik dan kepribadiannya yang menarik inilah yang membuat dirinya banyak dilirik para gadis-gadis, namun Opik terkesan cuek dalam urusan pasangan hidup sehingga belum juga memiliki seorang pacar.

Bella, adik kelasnya beda jurusan, adalah salah satu mahasiswa yang tertarik dengan Opik. Berbeda dengan Opik, Bella dilahirkan dari keluarga diplomat yang modern. Lahir di London, besar di Paris dan akhirnya atas kesadarannya sendiri memilih kuliah di Bandung. Karena lama tinggal di Eropa otomatis perilaku dan gaya berpakaiannya pun sangat modis. Ia tak segan-segan menggoda Opik baik melalui sms maupun secara terang-terangan agar Opik mau menjadi pacarnya. Namun Opik tetap cool terhadap Bella. Baginya Bella bukanlah gadis tipenya, apalagi cara berpakaian Bella yang seksi membuat Opik tak bersimpati padanya.

Dimasa liburan panjang selepas UAS (Ujian Akhir Semester), Opik mudik ke kampung halamannya di kaki gunung Sawal Sementara itu Bella yang telah jenuh dengan kehidupan kota memilih mengisi liburannya dengan mengikuti PPK (Paket Pesantren Kilat) bersama temannya disebuah desa di wilayah Tasikmalaya. Kesempatan ini juga dipergunakan oleh Bella untuk belajar mengaji, dan mengubah cara berpakaiannya menjadi lebih santun. Tanda diduga oleh Bella, ternyata desa tempat PPK adalah desa dimana Opik dilahirkan.

Sementara Bella dan kawan-kawannya mengikuti PPK, Opik dan Aan, teman sekampungnya, mendapat tugas penting dari Abah Sirod selaku pimpinan pesantren di sebuah desa di selatan gunung Sawal yang juga adalah kakek dari Opik. Abah Sirod diam-diam mencurigai beberapa santri senior yang telah lama tak mengikuti pengajian malam di pesantrennya.

Kecurigaan abah Sirod ini dilandasi perkembangan di tanah air dimana sedang berkembang ajaran jihad yang dipahami dari sisi yang paling keras, yaitu jihad dalam bentuk berjuang langsung secara fisik/perang! Tugas Opik dan Aan adalah menyelidiki dan mencari tahu apa sesungguhnya kegiatan para santri senior yang telah lama tak terlibat dalam aktifitas pesantren pimpinan abah Sirod. Bukan misi yang mudah karena mereka harus menghadapi teman-teman masa kecil mereka sendiri yang kini memiliki keyakinan yang kokoh untuk berjuang menegakkan agama dengan jalan kekerasan.


Novel Dua Rasa

Jika novel ini diandaikan sebagai sebuah roti, maka saya berani mengatakan bahwa novel ini bagaikan roti sobek dua rasa. Ada dua rasa yang ditawarkan dalam satu kemasan. Begitupun dalam novel ini, satu ‘rasa’ cinta muda mudi yang disajikan dengan humor khas mahasiswa dan satu lagi ‘rasa’ petualangan Opik dkk menangkap para teroris. Yang mana yang lebih menarik? Tergantung selera pembaca tentunya.

Namun walau berbeda rasa, ada satu unsur yg terdapat dalam kedua rasa dalam novel ini, yaitu unsur humor. Sebelum novel ini terbit, penulisnya; Jurie G Jarian telah mengatakan pada saya bahwa novelnya kali ini adalah novel humor. Benar saja, walau ada beberapa bagian yang terkesan serius namun secara umum di novel ini Jurie G Jarian menyajikan kisahnya dengan riang gembira berupa dialog, celetukan dan humor ala mahasiswa.

Di lembar-lembar awal, saya dibuat terperangah ketika saya sudah siap membaca sebuah kisah humor, ternyata di lembar-lembar awal justru tegang dengan setting di hutan di kaki gunung Sawal. Lalu setelah melewati beberapa halaman tiba-tiba pula settingnya berubah menjadi setting kampus dan muncullah dialog-dialog yang penuh dengan guyonan. Perubahan yang mendadak ini mengigatkan saya seperti sedang naik roler coaster…:D

Dengan setting di sebuah kampus di Bandung, di bab-bab awal kita diajak melihat bagaimana Bella berusaha mengejar-ngejar Opik, pujaan hatinya. Awalnya saya merasa janggal dengan karakter Bella karena karena biasanya laki-lakilah yang mengejar wanita, bukan sebaliknya. Untungnya ada penjelasan rasional atas sikap Bella ini karena dalam salah satu dialognya Bella mengungkap prinspi hidupnya bahwa dirinyalah yang harus menentukan lelaki pilihannya, “Ketika perempuan diberi tugas melahirkan, aku p ikir perempuan juga punya hak untuk mencari dan memilih dengan siapa ia akan menikah dan punya anak” (hal 46).

Usaha Bella meluluhkan hati Opik ini memenuhi hingga pertengahan novel ini, sebelum akhirnya setting novel ini beralih ke sebuah desa di kaki gunung Sawal. Masih dengan taburan humor, pembaca akan diajak masuk dalam petualangan Opik dan kawan-kawan menangkap para santri yang telah terhasut untuk melakukan tindakan kekerasan dalam memaknai jihad.

Ternyata ditengah keriang gembiraannya membuat sebuah cerita humor, Jurie G Jarian juga memasukkan kedalam ceritanya sebuah peristiwa sejarah yang dikenal dengan pemberontakan DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) di Jawa Barat yang terjadi di awal-awal revolusi kemerdekaan

Di novel ini melalui tokoh Abah Sirod selaku pimpinan pesantren, Darul Islam dilihat dari sudut pandang masyarakat sekitar Gunung Sawal yang dulu merupakan basis perjuangan DI/TII. “Darul Islam dulu, meskipun cita-citanya mulia, karena terjepit, mereka melakukan hal-hal yang justru bertentangan dengan syariat Islam. Dalam keadaan seperti itu, bahkan agama yang bertujuan menciptakan masyarakat damai jadi alasan untuk membuat keonaran” (hal 150). Karenanya penduduk sekitar menyebut pihak DI sebagai gerombolan karena ketika makin terdesak oleh kekuatan TNI, tentara DI berubah menjadi semacam perampok yang meresahkan masyarkat.

Nah, bagi saya yang tidak terlalu menyukai membaca kisah cinta berbalut humor di bagian sebelumnya, bagian petualangan yang cukup seru dan menyinggung peristiwa sejarah inilah yang membuat saya tetap melahap novel dua rasa ini hingga habis tak bersisa. Walau di bagian ini tema yang diangkat cukup berat, namun Jurie G Jarian tetap menyelipkan humor sehingga tema yang berat ini menjadi terkesan ringan dan tak perlu berlama-lama mengerutkan kening karena seserius apapun sebuah peristiwa yang terjadi pastilah ada celetukan humor yang menyertainya.

Yang mengganggu

Ada sebuah kesalahan kecil yang tampaknya dilakukan oleh penulis dan luput pula dari pengamatan editor. Pada halaman 81 baris ke 2 terdapat kesalahan penulisan nama, nama tokoh Tatang ditulis menjadi Adun. Hal ini tentu saja membuat saya bingung kenapa tiba-tiba ada tokoh Adun muncul ketika Tatang berdialog dengan abah Abun.

Selain itu ada pula dua hal yang saya rasa agak berlebihan, yaitu ketika dikisahkan Bella sampai menyewa jasa detektif swasta untuk mencari tahu siapa saja orang dekat Opik. Lalu ketika pasukan yang dipimpin oleh Kumin sedang berbaku tembak dengan para teroris mereka masih sempat-sempatnya bercanda. Apakah mungkin sampai sebegitunya?
Ketika tempat persembunyian para teroris di gua bekas tambang timah peninggalan Belanda ditemukan oleh Opik, dkk, terlihat para teroris tak melakukan antisipasi sehingga tempat tersebut segera saja dapat diserbu oleh Kumin dkk.

Ah, mungkin saya terlalu serius membacanya karena bukankah novel ini bukan novel detektif, melainkan seperti yang dikatakan Jurie bahwa novel ini adalah novel humor?

Menyoal Cover & judul

Cover dengan foto dua orang muda-mudi berpakaian muslim dan judul “Opik Sook Cool nih! “ menurut saya tidak mencerminkan secara utuh dari kisah yang ada dalam novel ini. Cover dan judulnya hanya mengedepankan kisah cinta dalam novel ini. Jika saja saya melihat cover dan judulnya dan belum membacanya saya pasti akan menduga bahwa novel ini adalah novel teen-lit islami dengan kisah cinta muda-mudi. Padahal novel ini menyajikan lebih dari sekedar kisah cinta.

Begitupun dengan sinopsis di cover belakang buku ini.Sinopsisnya sama sekali tak menyinggung akan ada sisi lain dari sekedar kisah cinta Opik dan Bella. Jadi jangan heran jika hanya membaca sinopsis yang terdapat dalam novel ini pastilah orang hanya akan menyangka bahwa kisah dalam novel ini adalah sekedar kisah cinta muda mudi.

Siapa Jurie G Jarian ?

Nama penulis ini sungguh unik, dan dahsyat, coba saja jika kita baca nama penulisnya tanpa jeda maka bunyinya menjadi ‘Jurig Jarian’ yang dalam bahasa sunda jurig berarti setan, dan jarian berarti lubang pembuangan sampah. Jadi penulis buku ini adalah Setan Sampah…hehehehe

Ternyata pemilik nama Jurie G Jarian ini adalah Jamal atau yang biasa disapa Mang Jamal, penulis produktif yang telah menerbitkan 5 buah novel (Lousiana-Lousiana, Rakkasutaria, Fetussaga, Epigram, Dong Mu). Kalau kita mencermati novel ini, ciri khas Jamal memang akan sangat kentara, yaitu dari humor2nya, dialog2 filosofis berat yang dibuat menjadi ringan sehingga ada sesuatu yg bisa diambil & direnungkan , dan selipan soal desain/arsitektur, yang semua itu hampir bisa ditemui dalam semua novelnya. Hanya saja novelnya kali ini tampak lebih cair dan full humor, mungkin inilah novel yang paling mengekspresikan dirinya sebagai penulis riang gembira.

Pertanyaannya, kenapa Jamal yang telah memiliki nama dan penggemar dalam dunia novel memakai nama lain...??? apakah Mang Jamal ingin meniru Opik yang sok cool ? Jika demikian mungkin kita bisa berseloroh, “Mang Jamal, Sook Cool nih!"

@h_tanzil
Read more »

Senin, 18 Februari 2008

A Thousand Splendid Suns

A Thousand Splendid Suns
Khaled Hosseini @ 2007
Berliani M. Nugrahani (Terj.)
Qanita, Cet. I – November 2007
516 Hal.

A Thousand Splendid Suns berkisah tentang dua perempuan yang mengalami penderitaan akibat peperangan dan pernikahan yang dipaksakan. Sama seperti The Kite Runner, novel kedua Khaled Hosseini ini masih mengambil latar belakang peperangan yang terjadi di Afghanistan.

Tokoh pertama, bernama Mariam. Ia adalah seorang harami – hasil dari hubungan gelap Nana dan Jalil. Jalil, adalah seorang pengusaha dan sudah mempunyai tiga istri. Sedangkan Nana, adalah pelayan di rumah Jalil. Untuk menyembunyikan aib ini, Jalil ‘memindahkan’ Nana ke sebuah rumah yang terpencil dan jauh dari kota. Bertahun-tahun, secara teratur Jalil mengunjungi kolba Nana dan Mariam setiap hari Kamis. Di hari Kamis itu, Mariam akan mendengar cerita-cerita indah ayahnya, dan setelah itu pula, Nana akan memutarbalikkan semua kata-kata Jalil, dan selalu berkata bahwa Jalil tidak akan pernah mengakui Mariam sebagai anaknya.

Menjelang ulang tahunnya yang ketiga belas, Mariam meminta hadiah istimewa dari Jalil, tapi ternyata di hari yang dinanti itu, Jalil tidak kunjung datang, dan membuat Mariam nekat pergi ke Herat, ke rumah mewah Jalil, di mana ia sama sekali tidak diterima. Kepergian Mariam ke rumah Jalil justru membawa petaka. Nana bunuh diri dan meninggalkan Mariam seorang diri.

Jalil terpaksa membawa Mariam ke rumahnya. Buntutnya, Mariam dipaksa menikah dengan pria yang usianya jauh lebih tua, Rasheed dan dibawa pindah ke kota Kabul. Pernikahan membawa penderitaan baru bagi Mariam, terlebih ketika ia mengalami keguguran dan membuat Rasheed mulai kasar padanya.

Lalu, tokoh kedua adalah Laila. Ia tinggal bertetangga dengan Mariam dan Rasheed di Kabul. Anak seorang guru bernama Hakim dan ibu bernama Fariba. Kedua abang Laila pergi berjihad dan membuat Fariba hidup dalam kegelapan menanti kepulangan kedua anaknya. Untung Laila memiliki Babbi yang kuat dan sahabat yang baik bernama Tariq. Tariq selalu melindungi Laila dari gangguan anak-anak laki-laki yang jahil. Persahabatan yang membawa mereka pada hubungan yang lebih jauh.

Peperangan membuat banyak warga yang mengungsi ke Pakistan, termasuk keluarga Tariq. Keluarga Laila pun bersiap mengungsi ketika petaka lain datang. Membuat Laila sebatang kara.

Pasangan Mariam dan Rasheed mengurus Laila. Rasheed-lah yang menyelamatkan Laila saat musibah itu datang. Tapi, ternyata, semua itu bukanlah hal yang tulus. Rasheed bermaksud menikahi Laila yang usianya ketika itu hampir sama dengan Mariam ketika Rasheed menikahinya.

Laila setuju, tapi, malah membuat Mariam mengambil sikap bermusuhan. Laila menjadi malika dalam rumah itu dan selalu dilindungi oleh Rasheed. Tapi, sikap manis itu juga hanya sementara, yang langsung berubah ketika Laila melahirkan seorang anak perempuan.

Inilah awal mula persahabatan Laila dan Mariam. Mereka berdua saling membela dan melindungi menghadapi kekasaran Rasheed.

Situasi karena perang semakin tidak menentu. Keadaan dalam rumah tangga juga tidak kunjung membaik.

Di tengah-tengah penderitaan, Laila dan Mariam berusaha mencari seribu mentari surga yang akan memberikan sinar dalam gelapnya dunia mereka.


Khaled Hosseini kembali mencoba ‘mengobrak-abrik’ perasaan pembacanya, mencoba membuat pembaca bercucuran air mata lewat emosi yang ditampilkan dalam sosok Laila dan Mariam. Tapi, kaya’nya masih lebih ‘nendang’ The Kita Runner, deh… Novel ini lebih ‘mendayu-dayu’, mungkin karena tokoh utamanya perempuan, jadi masalah ‘cinta-cintaan’, cemburu jadi lebih mendominasi dalam buku ini.
Read more »

Minggu, 17 Februari 2008

Home Library



Judul : Seri Rumah Ide - Home Library
Penulis : Imelda Akmal
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : 2008
Tebal : 64 hal
Harga : Rp. 29.500,-

Bagi seorang pecinta buku , buku adalah bagian dari keseharian yang tak terpisahkan, bahkan buku telah menjadi salah satu kebutuhan utama yang haru selalu ada. Seorang yang suka membaca selalu haus akan bacaan-bacaan baru, ia akan berusaha memperoleh buku-buku baru baik dari meminjam atau membeli. Karenanya tak heran jika seorang pecinta buku, koleksi buku-bukunya selalu bertambah dari waktu ke waktu.

Ketika buku-bukunya masih sedikit, ia bisa menyimpannya di atas meja atau rak buku mungilnya. Namun tanpa disadari buku-bukunya semakin bertambah dan maka semua tempat bisa dijadikan rak buku darurat seperti ditumpuk dilantai, di sandaran bahu jendela, di rak TV, diatas lemari pakaian, di dalam container plastik, dalam dus, atau bahkan menitipkan buku-bukunya ditaruh di meja belajar anaknya, dll.

Tentunya penempatan buku-buku secara sembarangan selain tidak sedap dipandang mata juga menyulitkan si pemilik buku untuk mencari buku-buku yang butuhkannya, bahkan bukan tak mungkin membuat buku-buku menjadi lekas rusak karena lembab, berdebu, dll. Nah, bagaimana agar puluhan atau bahkan ratusan buku-buku koleksi dapat tersimpan dengan rapih, terawat, mudah untuk dicari kembali, dan menjadi bagian dari estetika rumah kita? Home Library adalah jawabannya!

Buku Seri Rumah Ide – edisi Home Library yang ditulis oleh seorang penulis buku desain interior kenamaan Imelda Akmal ini mencoba memberi ide dan inspirasi agar buku-buku koleksi kita menyatu dengan tatanan rumah sehingga tampak lebih teratur, rapih, mudah diakses, dan sedap dipandang mata. Buku ini juga memberikan inspirasi menciptakan perpustakaan rumah di sudut manapun, semungil apapun ruangan yang tersedia.

Seperti buku-buku Seri Rumah Ide lainnya, tips-tips dan bahasan yang terdapat dalam buku ini ditulis dengan singkat, praktis dan mudah dimengerti dan dilengkapi lebih dari 50 buah foto berwarna yang dicetak diatas kertas glossy. Ada 17 buah bab yang dibahas di buku ini, mulai dari Perpustakaan di Rumah itu Perlu, Bagaimana Menata Buku, Rawat (buku) baik-baik!, Penerangan dan Cahaya, Perpustakaan Dini dari kotak-kotak kayu buatan sendiri, dll. Lalu ada pula bahasan plus wawancara mengenai perpustakaan pribadi Dewi “Dee” Lestari, dan perpustakaan-perpustakaan pribadi milik para dosen, desainer rumah, fotografer, dll.

Menurut Imelda Akmal, langkah pertama yang paling penting dalam membuat perpustakaan rumah adalah menentukan letak perpustakaan di rumah kita. Salah satu factor yang dpat dijadikan bahan pertimbangan adalah ketersediaan ruang. Sebaiknya memang kita dapat menyediakan ruangan khusus. Jika tidak memungkinkan, masih ada banyak alternatif seperti yang terdapat dalam buku ini, yaitu:
di salah satu sudut ruang makan, meyatu dengan ruang lain, di sepanjang koridor ruangan, di ruang tidur tamu, di sudut rumah, di loteng, dll

Selain letaknya dua hal yang harus dijadikan patokan dalam menentukan letak dan posisi perpustakaan di rumah yaitu ; sebaiknya area perpustakaan tidak terkena sinar langsung matahari karena paparan sinar matahari secara langsung pada buku-buku akan membuat buku koleksi kita cepat rusak. Cari ruangan yang kering, tidak lembab, dan memiliki sirkulasi udara yang baik. Jika memungkinkan pakailah AC agar suhu ruang terjaga sehingga kondisi bukupun terjaga kelembapannya.

Untuk rak buku, Imelda menyarankan agar memilih dan menentukan sesuai dengan kebutuhan, karenanya sebelum membuat atau membeli rak buku sebaiknya kita membuat daftar jumlah buku yang kita miliki. Jika pilihannya membuat sendiri rak buku maka langkah selanjutnya adalah; ukur ruang yang ada, buat daftar jumlah koleksi buku, ukur dimensi buku rata-rata untuk menentukan tinggi dan lebar rak, jangan lupa tambahkan 2 hingga 5 cm sebagai sapce bagi jari kita kala mengambil buku, dan pisahkan buku menurut konsep penyusunan buku yang kita pakai.

Lalu bagaimana menata buku ? Buku ini membahas secara praktis mengenai penataan buku berdasarkan Klasifikasi Dewey atau DCC. Selain itu dibahas juga cara penataan berdasarkan kategori, ukuran buku, dan usia pemilik. Semuanya cara itu bisa kita terapkan sesuai dengan kebutuhan dan memudahkan kita mencari buku-buku yang kita butuhkan.

Setelah menentukan ruang, membuat rak buku, menata buku, buku ini juga mengupas cara merawat buku. Dari sudut pandang kesehatan, koleksi buku yang tidak terawat bisa menimbulkan masalah terutama buku yang terpapar debu tebal. Empat musuh utama buku yaitu debu, kelembapan , paparan langsung sinar matahari dan rayap. Untuk itu buku ini menyajikan tips-tips praktis membersihkan buku dari debu, dan rayap. Untuk mengusir debu bisa dilakukan dengan mudah dengan kemoceng, lap kering dan vacuum cleaner. Untuk menghindari rayap, usahakan agar rak buku selalu kering, semprot rak kayu dengan anti rayap, taruh kemasan anti serangga, dan gunakan AC.

Jika sirkulasi udara dalam ruang perpustakaan kurang baik, biasanya buku akan menjadi apak atau mengeluarkan bau tak sedap. Agar buku tak menjadi bau, secara berkala keluarkan koleksi buku anda dan angina-anginkan. Jangan lupa juga untuk menjemurnya dibawah sinar matahari agar buku tetap kering dan terhindar dari jamur. Satu hal yang perlu diingiat jangan terlalu lama menjemur buku dibawah sinar matahari langsung, sebab bisa merusak kertas.

Selain hal-hal diatas masih banyak hal-hal yang dikupas dalam buku ini seperti pemilihan furniture (kursi,meja) untuk perpustakaan, pencahayaan, alat-alat bantu (tangga), dll yang semuanya memberi inspirasi dan contoh langsung bagaimana sebuah perpustakaan rumah dapat terwujud dengan tatanan yang nyaman dan sedap dipandang mata.

Sayangnya, buku ini tak menampilkan contoh perpustakaan rumah yang sederhana dengan bahan-bahan yang ekonomis. Jika saja ada tentu saja buku ini akan semakin lengkap dan apa yang terdapat dalam buku ini dapat diterapkan oleh berbagai kalangan. Sayang juga buku ini tak mencantuman anggaran pembangunan pepustakaan dari contoh-contoh perpustakaan rumah yang ada dalam buku ini. Pencantuman besarnya anggaran yang dikeluarkan terntunya bermanfaat agar pembaca bisa mengira-ngira berapa besar biaya untuk membuat sebuah perpustakaan pribadi sesuai dengan yang ada di buku ini.

Terlepas dari beberapa kekurangan buku ini, kehadiran buku ini tentunya sangat bermanfaat bagi para pecinta buku dan para pengamat desain perpustakaan. Umumnya buku-buku desain populer di Indonesia membahas mengenai kamar, kamar mandi, dapur, ruang makan, dll. Sangat jarang yang membahas mengenai home library, sehingga buku ini menjadi pioneer dalam genre buku-buku desain. Salut atas usaha Imelda Akmal untuk mewujudkan buku ini. Jika kita mencermati halaman paling akhir di buku ini kita akan melihat, untuk membuat buku setebal 64 halaman ini Imelda meriset dan memfoto sebanyak 18 rumah, yang terletak di Jakarta, Bogor, Bandung, Semarang, hingga Melbourne. Dimana 7 diataranya berlokasi di Bandung.

Semoga kehadiran buku ini dapat memberi inspirasi bagi para pecinta buku untuk menata bukunya dengan baik. Menciptakan perpustakaan di rumah tidak hanya membuat buku kita tersimpan dengan baik dan rapi, namun juga meningkatkan keingingan membaca sehingga membaca menjadi budaya dalam keluarga. Adanya perpustakaan di rumah juga membuat kita semakin menghargai buku sekaligus mempercantik rumah dengan gaya yang elegan.

I do not have a Ferrary, but I do have a home library.

@h_tanzil
Read more »

Kamis, 14 Februari 2008

My Sister Keeper (Penyelamat Kakakku)

My Sister Keeper (Penyelamat Kakakku)
Jodi Picoult @ 2004
Hetih Rusli (Terj.)
GPU, Januari 2008
528 Hal.

Anna Fitzgerald, gadis berusia 13 tahun, mengajukan gugatan hokum terhadap orang tuanya – Sara dan Brian – menuntut kebebasan medis atas dirinya. Sejak lahir, Anna sudah menyumbangkan sel darah tali pusatnya untuk kakaknya, Kate, yang menderita leukemia. Tidak ada donor yang coco untuk Kate, entah itu orang tuanya sendiri atau kakak laki-lakinya, Jesse.

Oleh karena itu, kehamilan Sara atas Anna seolah ‘dirancang’ untuk melahirkan anak yang akan cocok menjadi donor yang bisa memperpanjang hidup Kate.

Suntikan, transfusi darah dan operasi menjadi hal yang biasa dijalani Anna demi Kate – paling tidak itu yang diyakini oleh Sara dan Brian. Bukan Anna tidak menyayangi Kate, tapi ketika pada puncaknya, Sara meminta Anna untuk mendonorkan satu ginjalnya untuk Kate, hati Anna mulai berontak. “Bagaimana jika aku mengalami gagal ginjal saat umurku misalnya, tujuh puluh tahun? Di mana aku mendapat ginjal cadanganku?” (Hal. 467).

Karena itulah, Anna memberanikan diri untuk ‘menyewa’ Campbell Alexander untuk menjadi pengacaranya. Kasus ini menjadi rumit, karena Anna harus berhadapan dengan orang tuanya sendiri. Anna sendiri masih terbilang labil, awalnya sempat maju-mundur, apakah mau melanjutkan kasus ini atau tidak. Karena baginya, menang atau kalah, akan ada hati yang terluka atau bahkan ada yang akan dikorbankan.

Dari pihak orang tua Anna, diwakili sendiri oleh Sara yang pernah sekolah hukum. Membuat kasus ini melibatkan terlalu banyak ‘perasaan’ yang mungkin bisa membuat Anna semakin goyah.

Semua tokoh dalam cerita ini mendapat ‘porsi’ untuk mencurahkan pikiran mereka – kecuali Kate - termasuk Jesse, kakak laki-laki Anna yang gemar ‘membakar’ dan memiliki jiwa pemberontak. Pelan-pelan akan kelihatan kedewasaan setiap tokoh dalam melewati hari-hari mereka, termasuk Anna dan Jesse. Cukup detail penggambaran ‘jeritan hati’ setiap orang, gimana Brian yang ingin mendukung Anna, tapi juga kepikiran sama ‘nasib’ Kate, atau mungkin pembaca akan berpikir kalo Sara adalah ibu yang ‘egois’, ‘mengorbankan’ Anna demi Kate. Tapi, tokoh favorit gue adalah Jesse – nyentrik, tapi care sama adik-adiknya.

Gue sebenernya penasaran sejak awal, apakah Kate akan meninggal atau Anna yang akan nyerah. Tapi, gue berhasil bertahan dan sabar untuk gak buru-buru ngeliat ending cerita.

Penyelesaian akhir cerita ini rada mirip sinetron, meskipun secara keseluruhan cerita dalam buku ini bagus. Tapi, penting gak ya, membahas sejarah masa lalu Campbell Alexander dan Julia Romano – wali ad litem untuk Anna?
Read more »

Senin, 11 Februari 2008

Turquoise

Judul : Turquoise - Kisah Singa Perkasa dari Kohina
Penulis : Titon Rahmawan
Penerbit : Escaeva
Cetakan : 2007
Tebal : 412 hlm

Tersebutlah di sebuah negeri yang hampir seribu tahan lamanya dikenal sebagai “Negeri Allah” terdapat sebuah kota yang bernama Makaresh. Di kota yang terlahir dari berbagai macam tradisi dan ragam budaya itu hiduplah seorang gadis cantik jelita yang bernama Safira yang berasal dari golongan Zabadi yang sangat kaya raya.

Semenjak kecil Safira memiliki tiga orang sahabat lelaki yang bernama Hasyim, Qaddri, dan Husayn. Qaddri yang masih merupakan sepupu Safira adalah anak seorang kepala kampung, Hasyim anak seorang perawat kuda, sedangkan Husayn dan keluarganya telah lama bekerja sebagai pelayan di rumah keluarga Safira. Walau berbeda derajad secara sosial namun Safira tetap menganggap mereka sebagai sahabat-sahabat terbaiknya.

Seiring berlalunya waktu, Safira tumbuh menjadi seorang gadis yang penuh pesona baik karena kecantikannya maupun karena kehalusan budinya. Karenanya diam-diam Qaddri, Husayn dan Hasyim terpikat oleh keelokan budi dan kecantikan Safira. Mereka saling berlomba untuk dapat menarik perhatian Safira. Sebagai tanda persahabatan, Safira memberikan tiga buah turquoise, atau batu pirus berwarna hijau kebiru-biruan dengan gurat keemasan yang termata indah. Konon batu ini ini diyakini memiliki tuah berupa kekuatan yang bisa menuntun pemiliknya untuk memenuhi takdir hidupnya dan juga memebrikan pencerahan spiritual.

Jadi ada empat batu turqoise yang masing-masing dimiliki oleh Safira, Qaddri, Husayn dan Hasyim. Keembat batu tersebut dihubungkan dengan ukiran unik yang saling berkait dan terhubung satu sama lain dengan sebuah ikatan runcing yang terbuat dari emas berukir.

Seiriang berlalunya waktu perasaan cinta antara Husayn kepada Safira semakin membuncah, perbedaan derajad sosial tak menghalangi tumbuhnya cinta mereka. Tak hanya Husayn, Qaddri dan Hasyim pun mencintai Safira. Sementara Hasyim mundur teratur, Qaddri meminang Safira. Namun Safira yang telah menautkan hatinya pada Husayn serta merta menolak pinangan Qaddri.

Penolakan Safira ini membuat Youseff , orang tua Safira murka, apalagi ketika diketahui alasan penolakan Safira adalah karena ia mencintai Husyain. Youseff mengusir Husyain beserta keluarganya yang telah berpuluh-puluh tahun tinggal sebagai pelayannya. Namun Safira tetap menolak menikah dengan Qaddri dan Safirapun menarik diri dari dunianya hingga akhirnya kelak menjadi seorang mistikus dan kemudian menghilang tak diketahui keberadaannya

Kecewa karena terusir dan tak dapat melabuhkan cintanya pada Safira membuat Husayn mengembara sambil terus dibayang-bayangi wajah kekasihnya, hidupnya terlunta-lunta dari menjadi seorang penjaga pintu gerbang Makaresh hingga akhirnya ia bertemu dengan Hasyim yang mengajaknya bergabung dengan menjadi askari, pasukan sukarelawan penjaga keamanan kota. Husyain akhirnya menjadi seorang pahlawan perkasa yang berhasil melawan para penjahat dan penyihir bengis. Pertempuran demi pertempuran harus ia lalui. Baginya semua ini adalah sebuah upaya untuk mengobati kekecewaan dan kesunyiannya semenjak dirinya terpaksa meninggalkan Safira.

Sementara itu hilangnya Safira dimanfaatkan oleh Qaddri yang telah menjadi kepala kampung untuk mengharumkan namanya sendiri dengan menyebar berita bahwa Safira telah ditemukan telah meninggal dunia dan telah ia kuburkan dengan membangun sebuah mouseleum. Berita kematian Safira disampaikan sendiri oleh Qaddri pada Husyain. Namun dalam mimpinya Husyain bertemu dengan Safira dan menyatakan bahwa Qaddrilah yang menyebabkan kematian dirinya. Terpengaruh oleh mimpi tersebut Husyain membulatkan hatinya untuk merengut nyawa Qaddri.

Kisah diatas dalam novel Turquise karya Titon Rahmawan ini diceritakan oleh seorang pendongeng di kota Makarseh. Diawali dengan kisah ketika Husayn sedang bertarung dengan sekawanan serigala buas di gunung bersalju lalu cerita mundur kebelakang ketika Safira, Husayn, Hasyim dan Qaddri masih anak-anak dan bagaimana persahabatan antara keempat anak ini diikat oleh sebuah batu Turquoise.

Membaca novel romansa heroik dengan setting di Arab/ Timur Tengah yang tersaji dengan kalimat-kalimat yang puitis namun mudah dipahami ini memang bagaikan membaca kisah roman ala seribu satu malam. Tema yang diangkatpun sebenarnya sangat klasik dan umum, yaitu kisah cinta tak sampai karena perbedaan derajat sosial. Namun hal ini menjadi menarik karena kisahnya disajikan dengan setting sebuah negeri fiktif yang mengarahkan pembacanya menuju dunia Arab/Timur Tengah di abad lampau yang eksotis dimana pahlawan-pahlawan gagah perkasa masih mengunakan pedang dalam membela kebenaran.

Walau kisah Turquise adalah kisah fiktif, Titon Rahmawan tampaknya melakukan riset yang serius dalam penggarapan novelnya ini. Titon melakukan riset untuk setting novelnya ini pada kota Marrakesh di Maroko, di mana segala hal yang berkaitan dengan keberadaan kota tersebut secara riil ia adaptasikan ke dalam novelnya ini, antara lain lapangan atau alun-alun di tengah kota, masjid dengan menaranya yang fenomenal, benteng yang mengelilingi kota, danau buatan, air terjun, gunung berpuncak salju, gurun pasir dll, semuanya itu secara riil benar-benar ada dan mencerminkan keberadaan kota Marrakesh di Maroko.

Bagi yang menyenangi adegan silat, tampaknya novel inipun menyajikan cukup banyak deskripsi pertempuran antara Husayin dan musuh-musuhnya. Bak penulis kisah-kisah silat, adegan pertempuran ini dideskripsikan dengan lincah dan seru sehingga pembaca ikut merasakan bagaimana tegangnya Husayin berhadapan dengan musuh-musuhnya.

Walau Husayn diposisikan sebagai tokoh hero namun penulis tak terjebak untuk menyajikan sosok Husayn sebagai pahlawan tiada bercela, ia pun ternyata tak luput dari kesalahan sehingga membuat tokoh utama novel ini lebih manusiawi dan membumi. Sayangnya deskripsi perasaan cinta antara Husayn dan Safira yang berurai air mata menurut saya terasa begitu berlebihan sehingga merusak keheroan sang Singa dari Kohina dan kemegahan dari kisah ini secara keseluruhan.

Gaya bertutur yang puitis, drama cinta yang kuat, setting yang eksotis, karakter tokoh2nya yang manusiawi, dan serunya kisah-kisah heroik, membuat novel ini bagaikan kisah seribu satu malam yang menarik dan tak membosankan. Hingga lembar terakhir novel ini, pembaca masih terus menduga-duga dimanakah sebenarnya Safira, bagaimana akhir hidup Husayn, dan siapa sesungguhnya jati diri pendongeng yang menceritakan kisah Safira dan Husayn ini. Hal ini tampaknya yang akan menjadi benang merah di sekuel berikutnya. Rencananya kisah sang Singa dari Kohina ini memang akan menjadi sebuah trilogi. Dan kini novel keduanya - masih sedang digarap oleh penulisnya. Diperkirakan pertengahan tahun ini rampung.

Dalam emailnya kepada saya Titon Rahmawan mengungkapkan bahwa novel Turquise ini terwujud karena rasa keprihatinan atas peperangan yang tidak berketentuan di Irak, dan perseteruan tak ada habisnya antara orang-orang Israel dan Palestina. "Turquoise" adalah simbol yang mewakili itu semua, perbedaan etnis, perbedaan agama, konflik horisontal antara suku atau antar kelas, antara rakyat kebanyakan yang diwakili Husayn dan Hasyim melawan penguasa yang cenderung korup yang diwakili oleh Qadrii dan dewan Zannath.

Mampukah pembaca menangkap apa yang menjadi misi penulisnya ? Tentunya masing-masing pembaca memiliki persepsi dan tafsir yang beragam atas novel ini. Yang pasti kehadiran novel ini dengan ‘warna dan rasa’ yang lain dibanding dengan novel-novel lokal lainnya akan memperkaya khazanah sastra kita. Kurnia Efendy dalam endorsmentnya menyetarakan novel ini dengan karya Tariq Ali. Mungkin terlalu dini untuk menyebutkan demikian, namun jika Titon memiliki stamina menulis yang kuat dan mampu mewujudkan triloginya ini dengan lebih baik dibanding novel pertamanya ini, bukan tak mungkin kita kelak akan memiliki penulis yang memang setara dengan Tariq Ali.

@h_tanzil
Read more »

Jumat, 01 Februari 2008

A Thousand Splendid Suns

Judul : A Thousand Splendid Suns
Penulis : Khaled Hosseini
Penerjemah : Berliani M. Nugrahani
Penerbit : Qanita
Cetakan : I, November 2007
Tebal : 510 hlm

Di ranah perbukuan internasional sebelum tahun 2003, tak seorangpun mengenal Khaled Hosseini, pria kelahiran Afghanistan lulusan San Diego School of Medicine yang sempat membuka praktik selama 10 tahun sebagai seorang dokter di Amerika. Namun di pertengahan tahun 2003 namanya tiba-tiba menjadi buah bibir dimana-mana. Bukan karena kepiawaiannya menangani masalah medis, melainkan karena kemahirannya merangkai cerita yang dirawinya menjadi sebuah novel yang diberinya judul “The Kite Runner “ (2001).

Novel perdananya yang berlatar belakang persabatan dua bocah Afghanistan disela-sela berkecamuknya perang saudara di Afghanistan meraup sukses luar biasa dan menjadi buku terlaris sepanjang 2005. The Kite Runner bertengger selama lebih dari 2 thn di daftar New York Times bestseller. Terjual lebih dari 8 juta kopi di seluruh dunia dan telah diterjemahkan ke dalam 42 bahasa. Filmnya sendiri telah dibuat oleh Paramount Picture, dan kabarnya akan diputar di bioskop-bioskop Indonesia pada Februari 2007.

Kesuksesan TKR mengantar Khaled Hosseini menjadi duta besar keliling UNHCR yang salah satu tugasnya mengunjungi para pengungsi di sejumlah negara yang sedang berada dalam konflik termasuk Afghanistan. Di tanah kelahirannya ini ia sempat mewawancarai sejumlah wanita Afghan yang kelak akan mengilhaminya untuk membuat novel keduanya yang diberinya judul A Thousand Splendid Suns

Novel ini mengambil setting di Afganistan antara tahun 1964 hingga tahun 2003. Tokoh utamanya adalah dua orang perempuan bernama Mariam dan Laila. Keduanya berasal dari latar belakang yang berbeda, usia yang berbeda, dan memiliki sifat yang bertolak belakang, namun sebuah peristiwa akhirnya mempertemukan mereka dan membuat keduanya harus menjalani berbagai kepedihan hidup ditengah situasi perang yang memporak porandakan kota dimana mereka tinggal.

Bab-bab pertama pertama novel ini mengisahkan kisah Mariam, seorang harami (anak haram) hasil hubungan gelap Jalil dan Nana, antara majikan dan pembantunya. Karenanya Nana disingkirkan oleh keluarga Jalil dan tinggal di sebuah desa terpencil bersama Mariam. Sedangkan Jalil hidup bersama ketiga istri sahnya di Herat. Walau Jalil tak pernah mengakui Mariam sebagai anaknya secara sah, namun seminggu sekali Jalil tetap mengunjunginya.

Saat Mariam akan berulang tahun yang ke 15, ia meminta agar ayahnya mengajaknya menonton film Pinokio di bioskop milik ayahnya di Herat. Jalil menjanjikannya. Namun malangnya saat yang dinanti-nantikannya berbuah kekecewaan, ayahnya tak datang untuk menjemputnya. Mariam nekad pergi sendiri menuju Herat untuk menemui ayahnya. Kenekatan Mariam harus dibayar mahal, sepulang menemui ayahnya, Mariam menemukan ibunya tewas gantung diri.

Setelah ibunya meninggal, Mariam diasuh oleh ayahnya. Namun bukan kebahagiaan yg ditemuinya. Ketiga istri Jalil tak menerima kehadiran Mariam. Ia dianggap aib bagi keluarganya, karenanya mereka mendesak Jalil untuk segera menikahkan Mariam dengan Rasheed, seorang duda tua pengusaha sepatu di Kabul. Inilah taktik bagi ketiga istri Jalil untuk menghapuskan jejak skandal memalukan suami mereka. Membuang Mariam ke Kabul yang berjarak enam ratus limapuluh kilometer dari Herat dengan menikahkannya.

Mariam akhirnya menikah dengan Rasheed. Awalnya tak ada yang meresahkan dalam pernikahan mereka kecauli sikap Rahseed yang over protektif terhadap Mariam. Karena Rasheed pernah kehilangan anak laki-laki dari pernikahannya terdahulu, ia berharap memiliki anak laki-laki dari Mariam. Sayangnya harapan Rasheed sirna karena berkali-kali Mariam mengalami keguguran. Sikap Rasheed menjadi berubah, selalu murung dan lekas marah. Kehidupan pernikahan mereka menjadi tak bahagia. Kesalahan sekecil apapun yang dibuat Mariam membuat Rasheed tak segan-segan memukul, menampar, atau menendang Mariam.

Lalu ada pula tokoh Laila, seorang gadis berusia sembilan tahun yang cerdas yang dilahirkan dari keluarga yang sadar akan pentingnya pendidikan. Laila tinggal bersama ayah dan ibunya di Kabul, dua orang kakak laki-lakinya gugur ketika berjuang bersama Mujahidin melawan Soviet. Hal ini menyebabkan ibunya menderita kepedihan yang amat dalam sehingga ibunya menutup diri dan nyaris gila. Laila juga bersahabat dengan seorang pria yang bernama Tarig yang seiring dengan bertambahnya usia mereka, mereka saling jatuh cinta.

Ketika Laila berusia lima belas tahun sebuah tragedi memisahkan Laila dari keluarganya dan kekasihnya Tariq. Laila kemudian diasuh oleh Rasheed dan Mariam yang rumahnya tak jauh dengan rumah Laila. Tanpa memerhatikan perasaan Mariam, Rasheed akhirnya menikahi Laila dan mulailah babak baru dalam kehidupan Mariam dan Laila. Awalnya Mariam selaku istri yang dimadu membenci Laila, apalagi Rasheed semakin merendahkan posisi Mariam dengan mengharuskan Mariam untuk melayani segala keperluan Laila.

Namun lambat laun kebencian Mariam pada Laila luntur ketika akhirnya keduanya mendapat perlakuan yang kasar dari Rasheed. Kekerasan dalam rumah tangga mewarnai kehidupan mereka. Mariam dan Laila harus mengalami penderitaan yang berlipat, selain mengalami penindasan dari suaminya sendiri, mereka juga harus bertahan mengahadapi situasi diluar yang tidak menguntungkan bagi para wanita. Kesamaan nasib yang mereka alami ini akhirnya melahirkan sebuah persahabatan yang membuat mereka memiliki kekuatan untuk mengarungi kerasnya hidup hingga seribu mentari surga yang bersembunyi di balik dinding menampakkan cahayanya.

Persahabatan antara Mariam dan Laila dan bagaimana mereka berjuang untuk mempertahankan hidup mereka inilah yang menjadi inti cerita dari novel kedua Khaled Hossaeini ini. Sebenarnya kisah yang diangkat oleh Hosseini ini adalah kisah melodrama yang umum. Kisah keluarga berpoligami dimana terdapat kecemburuan dan kekerasan dalam rumah tangga layaknya sinetron-sinetron TV.

Namun dari sebuah tema melodramatik yang umum, dengan piawai Kahled Hosseini berhasil mengemas kisahnya dengan gambaran latar belakang situasi politik dan realitas sosial Afghanistan sejak Soviet masih berkuasa hingga jatuhnya Taliban. Latar inilah yang membuat novel ini memiliki daya tarik tersendiri dan istimewa. Jika saja tanpa deskripsi latar realitas Afghanistan bisa dipastikan novel ini hanyalah sekedar kisah drama dengan pergolakan emosi yang menyentuh hati pembacanya (walau tak sekuat The Kite Runner).

Dibanding dengan novel pertamanya, latar belakang kehidupan sosial dan politik di novel ini tampak lebih detail dan kronologis. Khaled merinci tahun dan pihak-pihak yang bertikai pada saat itu. Ia juga menyelipkan nama-nama riil tokoh politik dan pejuang-pejuang baik dari pihak Najibullah, Mujahidin, dan Taliban. Dengan demikian pembaca awam dapat memahami berbagai pergantian pemerintahan di Afghanistan secara kronologis.

Pembaca juga diajak melihat bagaimana gambaran penderitaan rakyat Afghanistan akibat peperangan yang terus berkecamuk, roket-roket berjatuhan di kota Kabul, penduduk sipil meregang nyawa dengan tubuh yang tercerai berai, gerak kaum perempuan dibatasi dimana Taliban mewajibkan semua wanita untuk tinggal di dalam rumah sepanjang waktu, tidak boleh bersekolah dan tidak boleh bekerja. Sedangkan laki-laki diwajibkan memelihara janggut, memakai serban, dll.

Tak hanya pembatasan gerak terhadap wanita, apresiasi seni dan kebudayaanpun diharamkan. Dilarang menyanyi, dilarang menari, para musisi dipenjara. Karya-karya seni yang dianggap bertentangan dengan Islam dihancurkan, bahkan Taliban tak segan-segan meluluh lantakkan patung Budha raksaksa di Bamiyan yang merupakan situs sejarah terbesar Afganistan yang berusia dua ribu tahun. Berbagai gambaran situasi Afghan itulah yang turut membangun kisah Mariam dan Laila menjadi semakin kuat, menyentuh sekaligus berwawasan karena menyajikan potret kehidupan masyarakat Afghanistan secara utuh.

Tema yang diangkat di novel ini pun tampaknya lebih dekat dengan kondisi di Indonesia dimana masalah poligami dan kekerasan dalam rumah tangga juga masih menjadi problema dalam kehidupan perempuan di Indonesia. Karenanya bukan tak mungkin novel yang hingga kini masih bertengger dalam bestseller versi the New York Times ini di Indonesia akan lebih laris dibanding The Kite Runner.

Hanya berselang 7 bulan semenjak dirilisnya novel aslinya, terjemahan novel ini kini telah beredar di toko-toko buku. Penerbit Qanita masih mempercayakan novel kedua Khaled ini diterjemahkan oleh penerjemah yang sama dengan novel pertamanya, yaitu Berliani M. Nugrahani. Langkah yang tepat karena setidaknya penerjemah telah memiliki modal dan pengalaman dalam menerjemahkan karya Khaled yang penuh dengan kalimat-kalimat indah dan menyentuh.

Bagi penerjemah sendiri menurut pengakuannya ia tak menemui kesulitan yang berarti dalam menerjemahkan novel ini. Dalam blognya ia mengungkap, bahwa menerjemahkan novel ini adalah sebuah petualangan yang sangat berkesan baginya. Ia menambahkan bahwa menerjemahkan novel ini adalah salah satu mimpi yang jadi kenyataan buat semua penerjemah. Dengan antusiasme yang besar dari penerjemahnya tak heran jika novel diterjemahkan dengan sangat baik sehingga pembaca tidak akan menemui kesulitan untuk menikmati novel ini.

Sebuah review atas novel ini yang dimuat di koran Sindo ( 20/1/2008) yang ditulis Denny Ardiansyah mengungkap bahwa penerjemah novel ini abai dalam menerjemahkan kosa kata dalam bahasa Afghanistan. Namun saya rasa hal ini tidaklah tepat, memang novel ini menyertakan puluhan kosa kata Afghanistan namun pada kalimat berikutnya apa yang dimaksud dalam kata-kata asing tersebut selalu dijabarkan. Jadi walau tanpa terjemahan dan tanpa glosarry, pembaca pasti akan memahami makna kalimat tersebut. Dan lagi ketika saya mencek ke naskah aslinya yang ditulis Khaled dalam bahasa inggris, Khaled pun tak menerjemahkan secara langsung kosa kata Afghan tersebut kedalam bahasa Inggris.

Akhirnya novel ini memang sangat layak untuk diapresiasi. Apa yang disajikan oleh Khaled pada novel ini membawa kita pada makna sebuah persahabatan dan pengorbanan cinta, kesabaran tanpa batas, penderitaan kaum perempuan karena kekerasan dalam rumah tangga dan kungkungan rezim otoriter, semangat hidup di tengah pudarnya harapan, dan ironi pahit sebuah peperangan yang selalu digagas atas nama keadilan namun selalu berbuah penderitaaan bagi warga sipil.

@h_tanzil
Read more »

Senin, 21 Januari 2008

Management Think Thank

Judul : Management Think thank
Penulis : Promod Batra & Vijay Batra
Penerjemah : Windy Johan
Desain : Kwek
Penerbit : PT Bhuana Ilmu Populer (BIP)
Cerakan : III, Sept 2007
Tebal : 129 hlm

Promod Batra & Vijay Batra, penulis buku best seller (Born to Win) dan motivator terkenal berdarah India mengatakan bahwa 90% lebih dari kita ditakdirkan untuk melakukan hal-hal yang luar biasa. Dan di dalam diri setiap orang, kita memiliki satu hasrat tersembunyi untuk melakukan hal-hal besar. Tentunya kita ingin menjadi ‘pembuat sejarah’. Sejarah apa yang ingin kita buat? Tentunya sejarah yang cocok dengan kita seperti sejarah perusahaan, bisnis, keluarga, kota, lingkungan, di mana kita hidup. Intinya kita ingin menciptakan/membuat sejarah di wilayah pengaruh kita.

Namun tak banyak orang yang menyadari bahwa dirinya bisa menjadi pembuat sejarah. Tidak ada malaikat yang akan datang untuk membisikkan agar kita menciptakan sejarah. Kita harus mendengarkan genderang kita sendiri dan melakukannya. Bagaimana agar kita peka ‘mendengar’ bisikan dalam diri kita agar menjadi pembuat sejarah? Buku mungil karya Promod Batra & Vijay Batra inilah yang mungkin dapat menjadi kumpulan ‘bisikan’ yang akan menjadi ‘musik’ bagi mata dan telinga kita sehingga kita mampu mempengaruhi ;sejarah’ kita sendiri – daripada hanya mengamatinya.

Buku ini bukanlah buku seperti umumnya buku-buku motivasi lainnya yang memberikan sejumlah contoh kasus beserta bahasannya yang panjang-panjang. Buku ini hanya memuat ratusan kalimat-kalimat pendek seperti kata bijak atau slogan atau tip2 singkat dari Promod Batra & Vijay Batra yang bisa memotivasi pembacanya dalam berbagai hal seperti : “Ucapan terima kasih langsung lebih efektif daripada dua halaman surat ucapan terima kasih yang dikirim satu minggu kemudian”, “Bersikaplah seperti seekor bebek – tetap tenang dan santai di eprmukaan..-namun terus mengayuh dengan kaki di bawah permukaan air” , “Inspirasi mungkin saja berada di sebelah Anda. Yang perlu Anda lakukan hanyalah mencarinya…”

Beberapa kalimat-kalimat bijak pemikir-pemikir dunia, seperti Socrates, Rig Veda (bagain tertua dari kitab Weda), Martin Luther King, Walt Disney, dll, juga ikut melengkapi tip-tip dalam buku ini

Secara total buku ini memuat 457 kalimat/tip yang dibagi kedalam 6 topik yaitu Manajemen Pribadi (85 tip), Individu (49 tip), Persahabatan (35 klmt), kebahagiaan (65 tip), pemasaaran (131 tip), dan umum (87 tip). Pembagian ini tentu saja membantu pembacanya untuk mencari inspirasi seusai dengan topik yang dikehendakinya.

Selain menyajikan ratusan kalimat-kalimat bernas, buku ini juga diberi ilustrasi katun sederhana yang menarik dan lucu disetiap kalimat/tip2 pilihan yang berada di halaman genap buku ini. Hal ini tentu saja sangat bermanfaat karena dengan ilustrasi biasanya pembaca akan lebih memahami dan mengingat tip-tip yang tersaji di buku ini.

Sejatinya buku ini memang buku kumpulan tip bagi kehidupan profesional dan pribadi., Buku ini juga dapat mengoreksi diri kita dalam berbagai hal, bukan tak mungkin tip-tip dalam buku ini secara langsung dan tidak langsung menyinggung perilaku kita yang selama ini kita anggap benar. Selain itu buku ini juga bermanfaat jika kita ingin mencari tip atau slogan-slogan untuk keperluan memotivasi pegawai dimana kita bekerja. Atau bisa juga tip-tip dalam buku ini mengilhami para penulis buku-buku motivator untuk mengembangkan idenya dalam menulis buku-buku motivasi.

Tampaknya buku yang diterjemahkan dan diterbitkan oleh BIP dengan judul Management Think Tank ini cukup laris di pasaran. Terbukti semenjak untuk pertama kalinya buku ini diterjemahkan dan diterbitkan di Indonesia, sejak Juni 2006 buku ini telah dicetak sebanyak tiga kali. Walau mungkin buku ini masih kalah sukses dengan buku Born to Win, namun setidaknya buku ini terbukti mampu diserap oleh pembaca buku-buku motivasi di Indonesia.

Singkat kata, seperti yang diungkap Promod & Vijay Batra dalam kata pengantarnya, membaca buku ini merupakan langkah pertama bagi kita untuk mempengaruhi sejarah, dan juga buku ini akan membantu kita menuju program pemberdayaan diri.

@h_tanzil


Promod Batra, MBA.
Memulai karier profesionalnya di India pada tahun 1963 bersama Escort dan pension pada 1996 sebagai Chief General Manager. Sebelum bergabung dengan Escorts, ia mendapat pelatihan dari General Mills Inc., Minieapolis, Minnersota, USA. Selama masa kerjanya dengan Escorts, ia mulai menulis dan mengompilasi buku-buku manajemen. Promod Batra telah membawakan lebih dari 100 lokakarya perlatihan setiap tahunnya sejak 1996. Ia sangat efektif sebagai seorang instruktur. Pendekatannya sederhana, namun dipikirkan secara matang.

Vijay Batra, MBA.
Memulai karier profesionalnya bersama Marriott Corporation of America pada tahun 1984. Ia bekerja di Kankaku sejak 1987 sampai 1999. Bekerja Jepang membuat dirinya mahir berbahasa Jepang dan berinteraksi dan belajr secara efektif bersama orang Jepang. Vijay bergabung dengan ayahnya, Mr. Promod Batra. Bersama-sama, tim ayah dan anak ini mempelajari cara-cara sederhana untuk memicu pemikiran positif dan kemudian membagikannya secara efekrit pada semabayk mungkin orang melalui lokakarya/pelatihan.
Read more »

Selasa, 15 Januari 2008

The Space Between Us (Jarak di Antara Kita)

The Space Between Us (Jarak di Antara Kita)
Thrity Umrigar @ 2005
Femmy Syahrani (Terj.)
GPU, Desember 2007
432 Hal.

Bhima, bisa dibilang perempuan sebatang kara yang hanya tinggal bersama cucunya, Maya, di sebuah pemukiman kumuh di sudut kota India. Ia sudah bekerja bertahun-tahun sebagai seorang pembantu di rumah kediaman Sera Danubash.

Status sosial yang berbeda, menjadikan hubungan majikan dan pembantu itu seperti langit dan bumi. Meskipun perhatian Sera melebih perhatian yang biasa diberikan seorang majikan pada pembantu, tapi tetap saja ada jarak yang membentang di antara mereka.

Tapi, pada dasarnya, tanpa melihat status sosial, mereka berdua memiliki pengalaman yang sama. Sama-sama menderita dalam kehidupan pernikahan mereka, sama-sama sering merasakan kesepian dalam hidup mereka.

Sera, adalah seorang istri pengusaha kaya, Feroz Dubash, yang seperti pada umumnya, dijanjikan sebuah pernikahan yang akan menjadikannya bagai ratu. Tapi, ternyata, Feroz bukanlah orang yang lembut, ia suka berlaku kasar pada istrinya. Belum lagi, perlakuan ibu mertuanya yang selalu saja merendahkan dirinya. Sera memilik putri tunggal, bernama Dhinaz yang akan segera memberikan cucu pertama bagi dirinya. Sama seperti Sera, Dhinaz juga sangat menyayangi Bhima, meskipun Dhinaz lebih luwes dalam menunjukkan perhatian itu dibanding Sera.

Sementara Bhima, meskipun mungkin memiliki suami yang lebih baik dari Sera, yang bernama Gopal. Toh, pada akhirnya, harus mengalami kegagalan dalam berumah tangga karena suaminya kecanduan minuman keras. Sebuah kecelakaan menyebabkan suaminya dipecat dari pekerjaannya dan jadi pengangguran. Memutarbalikkan kehidupan Bhima dan anak-anaknya sampai akhirnya mereka harus berakhir di sebuah pemukiman kumuh. Gopal meninggalkannya, membawa serta anak laki-laki mereka. Sementara Pooja, anak perempuannya, juga pada akhirnya pergi dengan cara yang tragis. Meninggalkan Bhima dan Maya. Namun, Maya juga akhirnya mengecewakan Bhima dengan hamil di luar nikah dan tidak diketahui siapa ayah bayi itu.

Bhima selalu menganggap keluarga Dubash adalah pelindung, penyelamat mereka. Seolah ia bersedia mengorbankan dirinya demi keluarga itu. Tapi, pada satu titik, ia dihadapkan pada persoalan di mana ia harus menerima kenyataan bahwa ai justru dicampakkan oleh mereka. Yang miskin, selalu jadi yang lemah dan akhirnya kalah.

Cerita dengan setting budaya India yang cukup modern tapi masih dikelilingi oleh tradisi-tradisi yang terkadang tidak masuk akal. Potret perjuangan keluarga kelas bawah di India yang dilecehkan, dibodoh-bodohi oleh kalangan yang merasa diri mereka lebih tinggi atau lebih pintar. Maka itu, Bhima bertekad agar anak-anaknya, cucunya jadi orang berpendidikan agar tidak selalu dipermalukan dan dianggap rendah seperti dirinya.

Jalan ceritanya lambat tapi mengalir. Cerita kehidupan Sera dan Bhima masa kini, diselingi oleh kisah masa lalu mereka berdua, tapi tidak membuat cerita jadi tumpang-tindih. Cerita kehamilan Maya mungkin dianggap ‘bumbu’ dari keseluruhan cerita, karena sedikit-sedikit sepanjang cerita. Tapi, justru karena bagian inilah, kesimpulan cerita ini ada.

O ya... gak ketinggalan... khas film-film India: lagu-lagu, tari-tarian dan... tentu saja... tiang... hehehe
Read more »

Minggu, 13 Januari 2008

Janda dari Jirah

Judul : Janda dari Jirah
Penulis : Cok Sawitri
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : I, Juni 2007
Tebal : 187 hlm

Sebetulnya buku ini telah telah terbit sekitar 6 bulan yang lalu (Juni 2007), namun baru sekarang saya berkesempatan membacanya. Entah terlupakan, entah karena tidak tertarik membaca judulnya, atau sedang sibuk membaca buku-buku lain, yang pasti novel karya Cok Sawitri ini luput dari pengamatan saya.

Janda dari Jirah menarik perhatian saya ketika novel ini masuk dalam nominasi Khatulistiwa Award (KLA) 2007, karenanya novel dan nama Cok Sawitri kembali dibicarakan orang. Selain itu saat digelarnya Ubud Writers & Readers Festival yang lalu nama Cok Sawitri adalah salah satu penulis Indonesia yang menjadi primadona di perhelatan para penulis se Asia Tenggara itu.

Karena itulah, walau terlambat akhirnya saya membaca juga Janda dari Jirah karya penulis bali yang juga aktif berkiprah di dunia teater ini. Ternyata novel ini merupakan versi lain dari legenda Calon Arang yang selama ini kisahnya masih terus dikisahkan baik dari mulut kemulut, pementasan teater, dan ditulis dalam buku-buku fiksi dan non fiksi. Di ranah fiksi setidaknya sudah 2 penulis menuliskan legenda ini. Yang pertama adalah Pramoedya Ananta Toer dalam “Dongeng Calon Arang” (1954) dan Femmy Syaharani dalam “Galau Putri Calon Arang” (Gramedia, 2005). Sedangkan di ranah non fiksi Toety Heraty menulis sebuah buku kajian feminisme berdasarkan legenda Calon Arang yang diberinya judul Calon Arang: Kisah Perempuan Korban Patriarki. (YOI,…)

Dari dua buku fiksi diatas Calon Arang dilukiskan sebagai perempuan penyihir yang kejam dan mendatangkan bala ke penduduk Daha/Kediri karena putrinya, Ratna Menggali tak juga mendapat jodoh. Lalu seperti apa sosok Calon Arang versi Cok Sawitri ?

Dalam novel ini kita tak akan menemukan nama Calon Arang, Cok, menggantinya dengan sebutan Rangda ing Jirah (Janda dari Jirah). Berbeda dengan Calon Arang yang selama ini diseskprikian dengan wanita penyihir yang jahat, keji dan licik, dalam novel ini Calon Arang / Rangda ing Jirah dideskripiskan sebagai pendeta wanita yang taat mengikuti jalan Buddha. Tutur katanya lembut dan sopan, namun dibalik kelembutannya terpancar kewibawaan yang tiada tara yang membuat semua pengikutnya taat pada ajaran-ajarannya. Ia juga piawai dalam mengatur desanya sehingga desa-desa yang berada dibawah asuhannya menjadi desa yang makmur dan sentosa dengan panen yang melimpah ruah.

Rangda in Jirah tinggal dan memimpin sebuah wilayah yang dinamakan Kabikuan dimana tanah-tanah di Kabikuan ini sejak dahulu kala merupakan persembahan raja-raja kepada para pendeta Buddha. Dalam tata krama Kabikuan ditetapkan bahwa tanah-tanah di wilayah Kabikuan tidak boleh dilewati oleh Raja dan para pengikutnya jika untuk tujuan berperang dan membunuh, sekalipun dengan alasan membela negara.

Dikisahkan di tahun 940 Saka, kerajaan Medang yang saat itu sedang melangsungkan pernikahan antara Putri Raja Dharmawangsa Tguh dari Wangsa Isana dengan Pangeran Airlangga, yang merupakan putra Raja Udayana dari Bali secara tiba-tiba diporak porandakan oleh kerajaan Wura-Wuri yang masih merupakan kerabat wangsa Isana, penguasa kerajaan Medang. Penyerangan itu menyebabkan tewasnya raja Dharmawangsa Tguh dan putrinya sedangkan Airlangga sendiri bersama beberapa pengawalnya berhasil meloloskan diri.

Untungnya Airlangga beserta Narotama, penasehat utamanya berhasil merebut kembali ibu kota Medang dan mengganti nama kerajaannya menjadi Kadiri dengan ibukotanya Daha. Airlangga berhasil menjadi raja dan membangun kerajaannya dengan baik. Namun masih ada duri dibalik kesuksesannya itu. Beberapa kerabat dari Wangsa Isana diam-diam merasa tidak puas dengan naik tahtanya Airlangga. Bagi mereka Airlangga sebagai mantu dari Raja Dharmawangsa yang telah pralaya dianggap tidak berhak atas tahta kerajaan karena bukan keturunan langsung dari Wangsa Isana. Yang berhak atas tahta kerajaan adalah Pangeran Samarawijaya yang masih kecil, namun hilang entah kemana ketika Medang diserbu oleh Wura-Wuri.

Daerah kekuasaan Airlangga berbatasan langsung dengan wilayah Kabikuan dimana Rangda ing Jirah dan putrinya Ratna Manggali tinggal. Dia disegani oleh rakyat jelata dan raja-raja. Karenanya siapapun raja yang memerintah tak seorang pun yang berani mengusik tanah-tanah di wilayah Kabikuan Jirah. Di Kabikuan ini pula Rangda ing Jirah melatih murid-muridnya agar taat pada ajaran Budha sehingga para murid-muridnya dikenal karena perilakunya yang terpuji dan ilmu kanuragan yang tinggi.

Kehidupan di Kabikuan Jirah lebih makmur dibandingkan daerah lain di sekitarnya. Selain itu tata krama kabikuan melarang penduduknya berpihak kemanapun apabila terjadi perselisihan dan melarang daerahnya dilewati oleh prajurit dari pihak manapun untuk berperang.

Airlangga sadar akan keistimewaan Kabikuan, karenanya ia ikut menghormati tata krama Kabikuan, apalagi setelah tersiar kabar bahwa raja putri Wura-Wuri sering menghadap Rangda ing Jirah untuk menjadi murid utamanya. Bahkan tersiar pula kabar bahwa Wura-Wuri menyerahkan dua belas desa kepada pendeta Rangda in Jirah untuk digembleng dalam tata karma Budha. Melihat keadaan itu Airlangga pun mengutus mengutus Narotama untuk menjalin persahabatan dengan Kabikuan Jirah.

Setelah memerintah selama 10 tahun, ketentraman Airlangga terusik ketika kerajaan Wura-Wuri tiba-tiba menyerbu kembali istana kerajaan Kadiri. Airlangga menjadi naik pitam dan merencanakan penyerbuan balasan. Namun ia menghadapi masalah pelik karena untuk menyerang Wura-Wuri, tentara-tentaranya harus melewati tanah Kabikuan yang menurut tata krama Kabikuan menolak untuk dilalui prajurit yang hendak berperang.

Ketika Airlangga mencoba mengutus Narotama untuk berunding dengan Rangda ing Jirah agar pasukannya diijinkan melewati tanah kabikuan, beberapa perwira Kadiri yang tak sabaran menerobos salah satu dusun di wilayah kabikuan hingga menimbulkan pertumpahan darah. Tata Krama Kabikuan dilanggar, bagaimana sikap Rangda Ing Jirah dan Airlangga menghadapi persoalan ini ? Kerumitan bagi Airlangga bertambah ketika tiba-tiba muncul Pangeran Samarawijaya, pewaris tahta kerajaan yang sah Wangsa Isana disaat Airlangga hendak menobatkan putrinya sebagai Putri Mahkota kerajaan Kadiri.

Novel perdana karya Cok Sawitri ini menarik untuk disimak. Selain mendekontruksi tokoh Calon Arang dari yang selama ini dikenal sebagai penyihir jahat menjadi tokoh pendeta wanita yang bijak , novel ini ditulis dengan kalimat-kalimat yang puitis. Mungkin bisa disebut sebagai prosa liris. Dengan demikian pembaca akan dibuai kedalam kalimat-kalimat indah yang melambungkan imaji pembacanya ke wilayah Kadiri berabad-abad lampau.

Namun cara penyajian seperti ini juga bisa menimbulkan jarak bagi para pembaca umum. Bagi yang tak terbiasa membaca kalimat-kalimat puitis, novel ini membutuhkan kecermatan yang lebih tinggi untuk memahami rangkaian kalimat indah yang tertera di setiap paragrafnya

Melalui novel ini pula pembaca akan diajak memasuki alam surealis dan fantasi dimana para murid Kabikuan dapat melesat terbang berkat ilmu kanuragannya, pepohonan dan binatang bisa saling bercakap-cakap dengan manusia, dll. Karena semua itu ditulis dengan kalimat puitis maka pembaca merasa tak sedang diobodohi melainkan semakin larut dalam keeksotisan deskripsi tanah Jawa dimasa lampau.

Kisah dalam novel ini sebenarnya lebih banyak diceritakan dari sudut pandang Narotama, penasehat Airlangga. Sehingga sepak terjang Airlangga dalam mendirikan, melakukan ekspansi dan mempertahankan kerajaannya merupakan porsi terbesar dalam novel setebal 184 halaman ini. Sedangkan porsi Rangda ing Jirah, walau tak mendominasi alur kisah di novel ini, Cok Sawitri dengan cerdas tetap membuat pembacanya dibayangi oleh kewibawaan, kebijaksanaan dan kemistisan dari Janda ing Jirah yang menyelimuti novel ini dari halaman awal hingga lembar terakhirnya.

Lalu apa pembelaan novel ini terhadap citra Calon Arang yang selama ini dikenal sebagai tokoh penyihir yang jahat? Melalui tokoh Ratna Menggali yang memiliki kemampuan untuk melihat masa depan ia meramalkan, “Mereka akan menuduh Ibu sebagai penganut ilmu hitam..”. “ Selama ratusan tahun, Ibu akan digelapkan, namun itu bagi yang tak memahami…” (hal 38). Dalam novel inipun disinggung bahwa kelak Airlangga memerintahkan agar para penyair tidak menulis apa yang sebenarnya terjadi di Kadiri dan kejaidan-kejadian di tanah Kabikuan. Bahkan Cok mengklaim bahwa novel ini merupakan kitab kecil yang selama ini tidak terungkap. dalam “Kelak, orang akan mengenangnya jauh dari kebenanaran…dan hanya dalam kitab kecil ini, apa yang tidak boleh dituliskan yang terkubur beratus-ratus tahun lampau, kembali dikisahkan”


Inilah alasan yang tersirat dalam novel ini mengapa sosok Calon Arang dan kisah yang melatarinya berbeda seratus delapanpuluh derajad dengan apa yang ditulis dalam novel ini.

Dalam novel ini tampak jelas Cok Sawitri juga sepertinya berupaya agar pembaca keluar dari bayang-bayang ingatan akan Calon Arang yang selama ini digambarkan sebagai perempuan yang seram. Dalam tafsir Cok, tak ada dendam karena Ratna Menggali tidak ada yang melamar, bahkan porsi kisah Ratna Menggali tersaji secara singkat saja. Tak ada teluh yang menebar penyakit pada rakyat Kediri. Yang ditawarkan Janda dari Jirah adalah rasa cinta kasih yang membawa kedamaian


Lalu apa dasar Cok Sawitri melakukan dekontruksi terhadap tokoh Calon Arang? Menurut wawancaranya dengan koran Tempo, Cok mengungkap bahwa “Rangda ing Jirah ini menjadi mitos yang dipelihara turun-temurun. Siapa dia sebenarnya, apakah sedemikian gelap padahal dia menurunkan banyak keturunan yang sangat menentukan dari Singosari sampai Majapahit, bahkan sampai Bali. Artinya Rangda ing Jirah bukan mitos. Dia ibu Ratna Manggali: ibu, nenek buyut para mpu. Bagaimana mungkin seorang yang sakti dan memiliki kewibawaan seorang btari bisa digambarkan sebagai tukang sihir dan harus dibunuh?”

Apa yang diungkap oleh Cok memang bukan sekedar pendapat tanpa dasar. Kabarnya untuk merawi novel ini ia telah melakukan riset yang mendalam selama empat belas tahun. Banyak naskah yang terdapat dalam lontar-lontar kuno dan prasasti bersejarah dicermati Cok untuk novelnya ini. Bahkan ia melengkapi risetnya hingga ke Negeri Belanda yang terkenal memiliki literaur-literatur lengkap mengenai Indonesia dimasa lampau.

Tampaknya Cok cukup ambisius mengerjakan novelnya ini. Kabarnya novel inipun sebenarnya hanyalah bagian kecil dari sebuah karya yang lebih besar yang sedang dikerjakannya. Apakah Cok sedang merevisi sebuah sejarah yang selama ini telah dikenal oleh masyarakat ? Novel ini memang menimbulkan kontroversi, dalam berbagai kesempatan Cok harus meladeni berbagai pertanyaan, menjelaskan latar belakang "keyakinannya" itu, bahkan meladeni gugatan banyak orang yang menuduh bahwa penelitiannya tidak sahih.

Terlepas dari segala kontroversi yang ada, novel ini sangat layak dibaca sebagai alternatif dalam membaca sejarah yang disastrakan. Cok telah menyajikan peristiwa sejarah dari sisi yang berbeda. Bukan tak mungkin hal ini akan membuat para pemerhati sejarah dan budaya kembali melakukan riset untuk mencari kebenarannya atas riset yang dilakukan Cok hingga akhirnya kebenaran sejarah sejati akan terungkap.

Namun jangan lupa, Janda dari Jirah adalah sebuah karya fiksi. Sementara kebenaran sejarah masih terus diteliti, marilah kita sebagai pembaca menikmati novel ini sebagai sebuah karya sastra yang mengungkap cinta, gejolak, nafsu kekuasaan, intrik politik, hubungan antarmanusia dan hubungan manusia dengan alam dalam bahasa yang sastra puitis.

@h_tanzil
Read more »

Sabtu, 05 Januari 2008

Bulan Jingga dalam Kepala


Judul : Bulan Jingga dalam Kepala
Penulis : M. Fadjroel Rachman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : I, 2007
Tebal : 425 hlm
Harga : Rp. 42,500

Setelah malang melintang di hiruk pikuknya dunia mahasiswa di era 80-an, bersastra sambil berpolitik di kampus, dikejar-kejar tentara, dianggap sebagai orang yang berbahaya, dan akhirnya dipenjarakan oleh Pemerintah Orde Baru karena dianggap sebagai otak aksi mahasiswa yang menuntut Soeharto turun dari kursi kepresidenannya dalam aksi 5 Agustus 1989 . Kini M Fadjroel Rachman yang masih konsisten mengkritisi pemerintah melalui tulisan-tulisannya di media masa dan puisi-puisi perjuangannya membuat sebuah novel sejarah politik Indonesia dan dunia kontemporer dengan kehidupan tokoh utamanya yang mirip dengan pengalaman hidupnya.

Novel perdana Fadjroel yang diberinya judul Bulan Jingga dalam Kepala ini diawali dengan kisah Surianata saat menghadapi kematian di hadapan regu tembak di kawasan Tangkuban Perahu Lembang. Lalu kisah Surianata mundur ke belakang, tujuh tahun sebelum ia dihukum mati. Surianata masih kuliah di ITB. Ia bersama kawan-kawannya aktif berdiskusi dalam sebuah kelompok rahasia yang dinamai Lingkar Sokrates yang senantiasa mengevaluasi kondisi ekonomi, sosial, dan politik mutakhir, tak hanya itu saja mereka juga berlatih membela diri, dan menyiapkan diri dengan gagasan radikal perubahan sosial.

Dalam novel ini dikisahkan Indonesia berada dibawah kekuasaan otoriter Jendral Suprawiro yang dengan kekuasaannya telah menculik, membunuh, mencuri harta rakyat dan memenjarkan orang seenaknya terutama para aktivis politik dan mahasiswa yang menentang pemerintahannya.

Melihat keadaan negerinya yang semakin parah, akhirnya Surianata dan kawan-kawannya sampai pada sebuah kesimpulan bahwa Jendral Suprawiro dan rezim fasisnya harus digulingkan!. Untuk itu mereka menggalang kerjasama dengan kampus-kampus lain untuk melakukan aksi demo dengan tujuan menurunkan Jenderal Suprawiro dari tahtanya.

Setelah selama setahun melakukan berbagai demonstrasi, akhirnya aksi mahasiswa mencapai puncaknya ketika beberapa mahasiswa tewas ditembak ketika melakukan aksi demo. Inilah momentum sejarah yang mengetuk pintu para mahasiswa termasuk Surianata untuk melakukan aksi yang lebih besar lagi. Kali ini dengan lokasi tepat di simbol kekuasaan negara, Istana Merdeka!

Istana Merdeka segera dikepung seratusan ribu mahasiswa. Tentara dan polisi tak kuasa menahan amuk massa yang marah terhadap pemimpinnya. Presiden dan keluarganya terkepung di Istana Merdeka. Surinata dan kawan-kawannya menerebos ke ruang Istana Merdeka. Ia berhadapan langsung dengan Jenderal Suprawiro. Pistol dengan pistol saling teracung, baku tembak terjadi hingga akhirnya menewaskan Jenderal Suprawiro, malangnya Bulan Pratiwi (5 thn) putri Jendral Suprawiro tertembak juga secara tidak sengaja oleh Surianata.

Kematian Jenderal Suprawiro disambut sorak massa yang mengepung Istana Merdeka. Sang Presiden yang telah tewas digantung terbalik seperti pemimpin fasis Italia, Benito Mussolini. Mahasiswa menjadi pahlawan. Sayang ternyata para mahasiswa tak siap dengan langkah selajutnya, situasi menjadi chaos, Jakara dilanda amuk masa. Pemerintahan beralih ke kekuasaan para Jenderal yang dulu merupakan kaki tangan Jenderal Suprawiro. Surianata diadili dan djijatuhi hukuman mati karena telah membunuh Presiden dan putrinya. !

Surianata memang puas telah membunuh Jenderal Suprawiro, namun batinnya menangis dan tak tenang karena secara tak sengaja ia telah membunuh Bulan Pratiwi yang tak berdosa. Berkali-kali Surianata membatin bahwa pembunuhan yang ia lakukan membuat jiwanya seperti lepra yang membusuk. Pertempuran dunia batin inilah yang selalu ‘mengganggu’ Surianata dalam penjara hingga detik-detik terakhir hidupnya berakhir.

Fiksi dengan aroma sejarah, politik, yang juga melukiskan hiruk pikuk gerakan mahasiswa Indonesia dalam menumbangkan rezim fasis inilah yang diangkat dengan gamblang oleh Fadjorel. Dalam novel ini juga terlihat secara jelas bagaimana adanya penghianatan dalam gerakan mahasiswa dan bagaimana pula intrik-intrik politik para jenderal yang menggunakan aksi mahasiswa untuk membawa mereka pada puncak kekuasaan tertiinggi. Dan bagaimana juga akhirnya jika kekerasan dipergunakan untuk menumbangkan sebuah rezim.

Dalam novel ini Fadjroel bertutur secara mengesankan, ia tak ragu menggunakan kalimat-kalimat puitis dalam mendeskripsikan sesuatu. Hal ini menjadi paradoks yang mengasyikan karena menggabungkan gemulainya sastra dengan kerasnya dunia politik dan kehidupan Surianata dalam penjara. Penggunaan kalimat-kalimat puitisnya tersaji secara pas karena Fadjroel mengetahui kapan ia harus berlarik-larik dengan kalimat puitis dan kapan ia harus mempercepat tempo kisahnya.

Beberapa kotbah politik dan sejarah dari para tokoh-tokohnya terselip dalam porsi yang cukup banyak dalam novel ini. Di novel ini pengetahuan penulis tentang filsafat, sosiologi, politik tumpah ruah didalamnya, selain itu diwarnai pula dengan taburan nama-nama pembuat sejarah. Termasuk kisah penyaliban Yesus Kristus yang cukup banyak disinggung di novel ini. Namun Fadjorel bukan menulisnya menurut sudut pandang iman, melainkan dari sisi "kebiadaban dunia" atas apa yang dilakukan terhadap Yesus.
Masih banyak hal-hal yang menarik dalam novel ini, seperti kerasnya kehidupan di penjara dimana sadisme dan perilaku seks menyimpang selalu membayang-bayangi mereka yang hidup di penjara. Setting ITB, UI, Kuil Yasukumi Tokyo, Kamp Nazi Sachhensuen dan Holocoust Memorial Berlin juga turut mewarnai novel ini. Lalu ada pula sedikit taburan kisah cinta antara Surianata dan Bunga Langit yang tak cengeng dan tetap rasional ditengah perjuangan mereka.

Di tengah segala hal yang menarik dalam novel ini, satu hal yang berpotensi menggundang pertanyaan di benak pembacanya yaitu soal setting waktunya. Fadjorel sama sekali tak menulis angka tahun dalam kisahnya. Novel ini hanya menyebutkan kejadian di tahun X. Berbagai peristiwa sejarah dan situasi politik riil dan beberapa nama-nama asli tokoh-tokoh pembuat sejarah muncul dalam novel ini, namun ia tak memaparkannya sesuai dengan kronologis waktunya. Berbagai peristiwa sejarah yang kejadiannya berlainan tahun bisa saja terjadi dalam satu periode waktu.

Contohnya ketika Surianata dalam penjara disebutkan bahwa Xanana Gusmao masih berada di LP Cipinang dan Timor Leste belum merdeka. Namun ketika itu pula Surianata meminta kawan-kawannya untuk membawakan novel Tin Drum karya Gunter Grass karena ia ingin membaca novel tersebut setelah Grass mengaku dirinya sebagai anggota pasukan SS Hitler. Hal yang tidak sesuai dengan kronologis waktu rill karena sejatinya Grass mengaku bahwa dirinya anggota SS di tahun 2006, dan ketika itu Timor Leste telah merdeka dan Xanana telah menjadi presiden.

Ketika hal ini saya tanyakan langsung pada Fadjroel, ia menjawab melalui emailnya bahwa ia memang tidak membuat kronologi sejarah politik pada novel ini. Ia hanya tertarik pada peristiwa politik lalu memberi makna atas peristiwa tersebut. Menurutnya novel ini memang tidak dimaksudkan membuat kronologi sejarah. Ia hanya melihat makna peristiwa-peristiwa lalu disambungkan menjadi makna baru.

Dalam kreatifitas menulis fiksi hal seperti diatas sah-sah saja dilakukan. Hanya saja, tanpa penjelasan dari penulisnya hal ini berpotensi menimbulkan kejanggalan bagi pembacanya yang umumnya terbiasa dengan fiksi sejarah berdasarkan kronologis waktunya seperti tetralogi Pramoedya atau novel sejarah seri Gajah Mada karya Langit Kresna H, dll

Yang kedua, ketika Istana Merdeka dikepung masa kenapa pula Jendral Suprawiro tak dievakuasi oleh paspampres, bukankah kedatangan masa bisa diprediksi dan bukankah aturan pengamanan kepala negara seharusnya telah melakukan evakuasi bagi kepala negara dan keluarganya dari istana ketika keadaan menggenting?

Yang ketiga, surat terakhir Surianata kepada kedua orangtuanya penuh dengan kotbah politik, ah rasanya hal ini terlalu berlebihan, bukankah surat kepada orang tua biasanya lebih personal ?. Bagi saya surat seperti yang ditulis Surianata tampaknya lebih cocok ditujukan kepada kawan-kawan seperjuangannya untuk terus membakar semangat mereka.

Ditengah segala kelebihan dan kekurangannya, novel sejarah politik yang penuh liku, padat, mengungkap kemarahan, kekayaan alam fikir dan batin seorang Fadjroel ini layak diapresiasi oleh mereka yang ingin mengetahui lebih banyak sepak terjang pergerakan dan pola pikir ideal mahasiswa dalam memperjuangkan kebebasan politik. Walau berupa fiksi, tak belebihan jika dikatakan bahwa novel ini dapat dijadikan kisah pembelajaran bagaimana seharusnya para pejuang demokrasi harus berpikir dan bersikap agar apa yang dicita-citakannya dapat terwujud dengan baik.

Selain itu novel ini juga berbicara perjuangan manusia meraih kebebasan, melawan sifat kebinatangan penguasa yang selalu ada sejak zaman dahulu kala. Kebinatangan yang tak akan pernah hilang selamanya dan akan terus membayangi akal budi kita. Seperti bulan yang bersembunyi dalam terang matahari, lalu berkuasa penuh di tengah gelap. Selalu berulang hingga kiamat. Itulah bulan jingga dalam kepala manusia.

@h_tanzil
Read more »

Un Homme et Une Femme

Un Homme et Une Femme
Stanley Dirgapradja
GPU, Desember 2007
304 Hal.

Kadang manusia tuh suka bikin masalah sendiri, ketika semua berjalan lancar, semua baik-baik aja, malah cari masalah yang bikin ribet sendiri. Contoh aja, tuh, Lara. Perempuan satu ini, sebenarnya punya hubungan yang cukup meyakinkan dengan Khrisna. Krishna memang cowok yang sedikit cuek, mahasiswa tahun terakhir yang gak lulus-lulus karena skripsi yang ditinggalin karena asyik nge-band. Tapi bukan berarti Khrisna gak bertanggung jawab. Meskipun suka ngaret, Khrisna tetap cowok yang perhatian sama Lara. Tapi, Lara, malah minta ‘time out’, ‘time break’ or istilahnya, “pengen sendiri dulu.” Alasannya, biar Khrisna berubah, lebih memikirkan masa depan, dan biar Lara sendiri yakin kalo Khrisna is the one for her.

Buntutnya, permintaan Lara gak hanya bikin susah Khrisna, tapi juga Lara sendiri yang takut Khrisna bakal direbut sama ‘cewek Jimmy Choo’.

Dan, gak hanya Lara serta Khrisna yang mengalami ini sendiri yang kelimpungan, tapi, juga Bayu, adik Khrisna yang di awal mengenalkan Lara sama Khrisna. Bayu sempat merasa bersalah. Tapi, toh, Bayu sendiri punya masalah yang gak kalah rumit. Masalah yang gak ngerti apakah dia berani mengungkapkannya ke ‘dunia luar’, atau hanya disimpannya sendiri.

Bayu punya masalah dengan orientasi seksualnya. Lara memang mendukung Bayu untuk berani mengambil keputusan dan berani menghadapi ketika seorang Rio datang dan mendekatinya. Tapi, apa dia berani untuk berkata jujur terhadap keluarganya atau tidak.

Bayu, cowok kreatif yang sangat care sama sahabat dan juga kakaknya. Tapi, justru pada saat ia mengharapkan dukungan dari Khrisna, ia malah mendapatkan sebuah fakta yang nyaris bikin dia hancur.

Di dalam novel ini, pembaca disuguhkan suasana kota Yogyakarta yang lebih gaul, lebih modern, bukan Yogya yang tradisional. Karena Lara dan Bayu sering banget jalan-jalan ke kafe, bahkan Bayu adalah anak yang doyan ‘dugem’, akrab dengan dunia malam, dunia ‘ajep… ajep…’.

Dan, kalo membayangkan Bayu, entah kenapa gue gak bisa gak inget sama sosok seorang Ivan Gunawan.
Read more »

Selasa, 01 Januari 2008

I was a Rat! (Dulu Aku Tikus!)

I was a Rat! (Dulu Aku Tikus!)
Philip Pullman
Poppy Damayanti Chusfani (Terj.)
GPU, Desember 2007
256 Hal.

“Dulu aku tikus!,” begitulah kata seorang anak laki-laki yang tiba-tiba saja datang ke rumah pasangan Bob dan Joan di suatu malam. Tentu saja, pasangan tua itu terkejut. Mereka mengira anak laki-laki itu anak hilang yang tidak waras. Tapi, rasa kasihan membuat Bob dan Joan menerima anak aneh itu.

Bob dan Joan, pasangan yang sudah 32 tahun menikah, tapi belum dikaruniai seorang anak. Bob, berprofesi sebagai tukang pembuat sepatu dan Joan bekerja sebagai tukang cuci, dua pekerjaan yang sudah dijalani secara turun-temurun di keluarga mereka.

Mereka memberi nama Roger kepada anak lelaki itu. Tingkah laku anak lelaki itu memang mirip tikus. Ia tidak bisa makan dengan sendok, mampu makan apa saja – apakah itu pensil, kayu-kayu di tempat tidur… apa pun. Bob dan Joan mengajarkan cara makan yang benar, cara mengucapkan terima kasih dan cara menjadi anak yang baik serta sopan pada Roger. Tapi, ya, tetap saja, Roger yang polos itu, masih bertingkah aneh, meskipun ia menyerap semua pelajaran dari Bob dan Joan.

Bob dan Joan membawa Roger ke tempat pelaporan anak hilang, ke kantor polisi dan ke rumah sakit, tapi tidak ada yang merasa kehilangan Roger. Roger pun akhirnya dibawa kembali ke rumah Bob dan Joan. Ia disekolahkan, tapi malah membuat heboh seisi sekolah.

Kelakukan aneh Roger ternyata menyebar dan menarik perhatian berbagai pihak. Sebut saja, Filsuf Royal, seorang filsuf kerajaan yang gemar menganalisa semua tingkah laku manusia. Baginya kasus Roger akan meningkatkan pamornya. Lalu, ada pemilik sirkus yang suka memamerkan makhluk aneh bernama Mr. Tapscrew, yang memaksa Roger untuk bertingkah sebagai binatang pengerat yang mengerikan, dan, ada pula seorang anak bernama Billy, yang meminta Roger membantunya dalam pencurian di sebuah rumah.

Lama-lama, Roger semakin merasa ia bukanlah anak manusia seperti yang ditanamkan Bob dan Joan, tapi sekali tikus tetap menjadi tikus, maka Roger kembali ke gorong-gorong gelap dan menyebabkan kehebohan karena berita di Daily Scourge yang menyebutkan dirinya sebagai monster mengerikan yang bergentayangan di gorong-gorong.

Roger ditangkap, dan berbagai analisa serta kesimpulan bermunculan. Semua ahli ribut mengatakan bahwa Roger itu mirip manusia, harus dibasmi. Hanya satu orang yang mengetahui siapa Roger sebenarnya, dan hanya dia yang bisa menyelamatkan Roger dari eksekusi.

Wow…. Cerita yang menarik banget… menegangkan tapi seru. Seperti membaca dongeng Cinderella dari sisi yang berbeda. Gue lebih suka cerita ini daripada Clock Wound Up yang mengerikan itu.
Read more »

The Lunch Gossip

The Lunch Gossip
Tria Barnawi
GPU, Desember 2007
264 Hal.

Xylana, Kynthia, Keisha, Vinka dan Arimbi – lima sahabat yang bekerja sebagai konsultan IT di perusahaan yang sama, BeIT Consultant. Sebagai layaknya teman dekat, di antara mereka hampir tidak ada rahasia. Bahkan, terkadang sifat setia kawan mereka, nyaris mengorbankan profesionalisme kerja mereka. Sifat mereka yang bertolak belakang tidak membuat mereka merasa berbeda, malah saling mengisi dan menambah bumbu-bumbu seru dalam hubungan mereka.

Acara makan siang tentu saja jadi tempat mereka untuk curhat dan bergosip. Soal pekerjaan, hubungan asmara, bahkan ‘musuh’ mereka.

Tapi, ternyata, di kehidupan pribadi mereka, gak seceria seperti hubungan persahabatan mereka. Xylana yang perfeksionis sulit mencari pacar karena sifatnya itu, ada aja yang membuat dia batal mendapatkan pacar, Kynthia terlibat hubungan dengan pria beristri yang celakanya adalah suami dari ‘musuh’ mereka di kantor, lalu, Keisha, yang bermulut tajam – mendapatkan peringatan dari pihak manajemen karena dianggap menghasut karyawan untuk berontak, Vinka, ibu peri yang ramah tamah – menyembunyikan masalah besar yang terjadi dalam rumah tangganya dan Arimbi, yang super lembut dan rapuh, ternyata bukanlah si anak emas yang jenius.

Rahasia di antara mereka seharusnya tidak jadi konsumsi publik di kantor, tapi kenapa tiba-tiba, Arimbi dipecat? Lalu, Keisha dalam surat peringatan? Dan, siapa yang membocorkan ‘panggilan sayang’ pacar Kynthia kepada istri sahnya?

Ternyata, persahabatan yang super lengket, super heboh gak membuat mereka jadi benar-benar bisa percaya satu sama lain. Ada ‘musuh dalam selimut’ di antara mereka. Mereka nyaris mencurigai satu sama lain. Persahabatan yang dibina sejak lama juga nyaris hancur.

Gue beli buku ini karena tertarik sama covernya yang candy color itu. Eye-catching , gitu lho… Lumayanlah.. meskipun cerita begini mungkin gak pertama kalinya. Tinggal menebak siapa yang jadi ‘bitch’ di antara mereka.
Read more »

Minggu, 30 Desember 2007

Buku Favorit tahun 2007

Buku-buku di bawah ini disusun berdasarkan ingatan aja, mana yang sepertinya berkesan buat gue selama tahun 2007. Kalo berdasarkan tulisan di blog ini, emang kaya’nya gak terlalu banyak buku yang gue baca, mungkin gak sampe 100, karena memang gue bukan termasuk pembaca buku yang cepat. Ini dia daftarnya:

1. Bartimaeus Trilogy (terutama buku ketiga)
2. Harry Potter ke 7 (meskipun gak terlalu istimewa, tapi, ‘perpisahan’ dengan Harry Potter tetap meninggalkan kesan).
3. 168 Jam dalam Sandera
4. The Boy in the Stripped Pyjamas
5. Out (Bebas)
6. Neverwhere (Negeri Antah-Berantah)
7. The Namesake
8. Chocolat
9. 130 Solusi Kehamilan dan Persalinan (Hehehe… pas banget untuk calon ibu yang baru pertama hamil)
10. The Bookaholic Club (sebuah teen-lit yang beda…)

Ya, itu ajalah, gak usah dibedain mana yang fiksi mana non-fiksi.
Read more »

Chocolat

Chocolat
Joanne Harris
Bentang – Cet. I, Oktober 2007
374 Hal.

Vianne Rocher dan Anouk Rocher – anaknya, adalah seorang pendatang di sebuah kota kecil yang bersuasana muram bernama Lansquenet. Vianne yang misterius, membuat pastur di kota itu curiga pada dirinya. Francis Reynaud, si pastor itu, menganggap Vianne adalah seorang penggoda yang akan merusak kehidupan di Lansquenet.

Kedatangan Vianne dan Anouk bertepatan dengan diadakannya sebuah karnaval di hari Selasa sebelum Rabu Abu. Selama ini, Vianne selalu tinggal di kota-kota yang berbeda. Setiap kepindahan membawa cerita kelabu dari masa lalu Vianne bersama ibunya. Kali ini Vianne berjanji pada Anouk bahwa mereka akan menetap.

Vianne membeli sebuah rumah bekas toko roti. Banyak orang menduga, bahwa Vianne akan kembali membuka sebuah toko roti, tapi ternyata Vianne membuka toko yang mengejutkan banyak orang, yaitu sebuah toko cokelat yang diberi nama La Céleste Praline, toko yang pada awalnya sulit untuk diterima penduduk. Apalagi di lingkungan di mana, gereja adalah tempat yang sakral, sementara Vianne sendiri tidak pernah pergi ke gereja setiap hari Minggu. Hal yang dijadikan Pastor Reynaud sebagai alasan untuk menyerang Vianne dan toko cokelatnya.

Tapi, ternyata, toko cokelat itu mulai menarik perhatian penduduk di sana. Awalnya mereka datang dengan takut-takut, malu kalau perbuatan mengunjungi toko cokelat adalah hal yang dosa, sampai akhirnya mereka harus membuat pengakuan dosa di setiap kedatangan mereka di gereja.

Armade Voizin - seorang nenek tua yang nyentrik, Josephine Muscat - perempuan yang takut pada suaminya, Guillaume - yang selalu datang bersama anjingnya, dan beberapa penduduk lain, menjadi pelanggan tetap Vianne. Belum lagi anak-anak kecil, teman-teman Anouk di sekolah.

Masalah muncul ketika orang-orang Gipsi berdatangan, sebagian besara penduduk kota kecil itu yang tentu saja ‘diarahkan’ oleh Pastor Reynaud menentang kedatangan para Gipsi. Tapi, Vianne malah dengan tangan terbuka mengundang mereka untuk datang ke toko cokelatnya.

Puncak kebencian Pastor Reynaud semakin menjadi ketika Vianne berencana mengadakan Festival Cokelat menyambut Paskah. Menurut Pastor Reynaud, hal itu benar-benar penghinaan terhadapa gereja dan perayaan paskah itu sendiri. Tapi, Vianne pantang mundur.

ALambat laun, kehadiran Vianne yang lembut tapi tegas dan berani menimbulkan keberanian juga di hati para pengunjung setia toko cokelatnya. Vianne dengan cokelatnya yang lezat mampu membangkitkan berbagai hal yang tersembunyi, membangkitkan kejujuran.

Benar-benar buku yang ‘yummy’! Alur cerita memang terkesan lambat, tapi, seperti sedang menikmat cokelat, sedikit demi sedikit, biarkan mencair, lumer di mulut, maka akan terasa lezat dan nikmatnya… Mmmm…..
Read more »

Gerhana Kembar

Gerhana Kembar
Clara Ng
GPU, Desember 2007
368 Hal.

Lendy adalah seorang editor di sebuah penerbitan terbesar di Indonesia. Pengalaman bertahun-tahun sebagai editor membuat matanya sangat awas membedakan mana naskah sebuah cerita yang bagus, mana yang masih kurang sempurna.

Karena itu, ketika ia menemukan sebuah naskah tua di lemari neneknya, ia yakin naskah itu adalah sebuah naskah yang bagus. Tapi, bagian dari diri Lendy mengatakan naskah itu seolah merupakan bagian dari masa lalu neneknya, Diana, yang kini sedang terbaring di rumah sakit.

Naskah itu bercerita tentang kisah cinta antara dua orang perempuan, bernama Fola dan Henrietta. Kisah itu ditulis pada tahun 1982 dengan setting tahun 1960-an, di mana ketika itu hubungan antar sesama jenis masih sangat tabu untuk diungkapkan. Fola diceritakan sebagai guru di sebuah taman kanak-kanak dan Henrietta adalah seorang pramugari. Mereka berkenalan ketika Henrietta hendak menjemput keponakannya yang merupakan salah satu murid Fola.

Mulailah Fola dan Henrietta merasakan ada getar-getar aneh dalam diri mereka. Perasaan yang malu untuk diungkapkan Fola, namun berbeda dengan Henrietta yang lebih berani. Karena sesuatu hal, mereka berpisah, tak sengaja kembali bertemu tapi keadaan sudah jauh berbeda. Fola sudah menikah dan sedang hamil, sementara Henrietta masih jadi pramugari dan melajang. Hubungan yang sempat terputus terjalin kembali.

Namun banyak halangan yang merintangi mereka untuk bersatu seutuhnya.

Lendy selalu penasaran dengan ending dari cerita itu. Semakin jauh ia membaca naskah itu, semakin ia yakin bahwa kisah itu merupakan bagian dari masa lalu keluarganya. Melalui kisah itu juga, Lendy dan Eliza, ibunya mencoba merajut kembali hubungan antara ibu dan anak yang selalu kaku dan dingin.

Yang gue suka dari Clara Ng, buku-bukunya selalu tampil dengan kisah yang berbeda, dan buku Gerhana Kembar ini, termasuk yang paling ‘serius’ di antara buku-buku lainnya.

Tapi, menurut gue, coba konflik antara Lendy dan Sari Beri, penulis gay yang naskahnya ditolak Lendy, dikembangin. Mungkin bakalan jadi lebih seru, tuh. Soalnya, Lendy sempat menolak naskah Sari Beri, karena pertama emang tulisannya terlalu ‘sastra’, sampe-sampe bakal bikin pembaca bingung, dan kedua, karena penerbit tempat Lendy bekerja, belum pernah menerbitkan naskah tentang hubungan sesama jenis.
Read more »