Jumat, 25 April 2008

The Spellman Files

No: 149
Judul : The Spellman Files (Berkas-berkas Keluarga Spellman)
Penulis : Lisa Lutz
Penerjemah : Berliani M. Nugharani
Penerbit : Atria (PT Serambi Ilmu Semesta)
Cetakan : I , Maret 2008
Tebal : 550 hal

Melihat cover dan judul novel ini tentu kita bisa menebak, apa kira-kira yang dikisahkan Lisa Lutz dalam dalam novelnya ini. Covernya bisa dibilang menarik, berupa ilustrasi komikal ala manga yang menampilkan seraut wajah yang hampir tertutup kertas yang sedang dipegangnya beserta sebuah kaca pembesar. Dari ilustrasi dengan gaya yang dinamis inilah saya bisa menduga bahwa novel ini adalah sebuah cerita detektif yang menghibur.

Apa yang saya duga ternyata benar, novel ini mengisahkan sebuah keluarga detektif swasta dengan Isabel Spellman /Izzy sebagai tokoh utamanya. Dari sudut pandang Izzy, seorang gadis berusia 28 tahun inilah kita akan dibawa menyelami episode kehidupan keluarga detektif yang unik, lucu, dan menghibur. Izzy tinggal bersama kedua orang tuanya, paman Ray, dan adiknya Rae Spellman yang usianya terpaut belasan tahun dibanding Izzy. Sedangkan David, kakaknya tinggal terpisah dan telah bekerja sebagai seorang pengacara.

Keluarga Spellman memiliki sebuah usaha keluarga yang diberi nama Spellman Investigation dimana seluruh anggota keluarganya kelak diwajibkan bekerja dalam perusahaan tersebut. Izzy sendiri mulai bekerja sebagai detektif sejak berusia 12 tahun.
Keadaan ini membuat keluarga Spellman hidup tidak seperti keluarga normal lainnya. Mereka menerapkan aturan, tradisi, tata cara dan kebiasaan-kebiasaan dalam kelaurga seperti halnya mereka melakukan investigasi.

Bisa ditebak suasana apa yang akan tercipta dalam keluarga Spellman! Alih-alih tercipta sebuah hubungan yang hangat dan kekeluargaan, dalam keluarga Spellman malah tercipta atmosfir saling mencurigai sehingga tak heran antara satu dengan yang lainnya bisa saling menguntit, saling mengawasi, kejar-kejaran antara ayah dengan anak dan cara-cara unik untuk melepaskan diri dari pengawasan satu dengan yang lainnya bukanlah hal yang aneh bagi keluarga Spellman.

Izzy sendiri awalnya amat mencintai pekerjaannya. Ia sangat suka menguntit orang lain, memeriksa latar belakang, dan mencari tahu rahasia gelap dibalik kehidupan seseorang yang sedang diselidikinya. Namun apa yang sering dilakukannya terhadap orang lain jsutru harus dialami oleh Izzy. Semenjak memiliki hubungan spesial dengan Daniel Castillo, seorang dokter gigi, ibunya yang tidak menyetujui Izzy berpacaran dengan Daniel selalu menyelidiki dan menguntit gerak-gerik Izzy, menyadap kamarnya dan mempekerjakan Rae Spellman untuk menguntitnya.

Tindakan ibunya ini membuat Izzy berang, ia merasa privasinya terganggu sehingga ia memutuskan untuk keluar dari Spellman Investigattion. Orang tuanya tentu saja tak mengizinkannya. Karenanya mereka memberikan sebuah syarat yang tampaknya tak mungkin terpenuhi oleh Izzy. Izzy diijinkan berhenti dari pekerjaannya jika ia dapat menyelesaikan kasus yang belum terselesaikan oleh Spellman Investigation selama lebih dari 12 tahun. Kasus itu adalah kasus hilangnya Andrew Snow 12 tahun yang lalu.
Walau bukan perkara yang mudah untuk mengungkap, Izzy menerima tantangan ini. kasus yang telah berusia belasan tahun lalu. Di tengah penyelidikannya, ia menerima pesan bahwa keluarga Snow tidak ingin kasus ini diungkap kembali. Namun Izzy yang terlanjur terobsesi dengan kasus ini tak mau menghentikan begitu saja penyelidikannya. Keadaan bertambah runyam ketika tiba-tiba Rae Spellman menghilang. Izzy khawatir hilangnya Rae Spellman ada kaitannya dengan kasus yang sedang ditanganinya.

Untuk genrenya, novel ini bisa dibilang menarik karena menyuguhkan sebuah kisah keluarga detektif yang ‘abnormal’ beserta penyelidikan kasus keluarga Snow. Karena diperuntukkan bagi para remaja, novel ini disajikan dengan kalimat-kalimat yang mengalir, dinamis, ringan, dan mudah dicerna.

Beberapa kebiasaan keluarga Spellman yang unik membuat kita tersenyum membacanya. Misalnya Izzy mendata semua mantan pacar-pacarnya dalam sebuah file-file yang rapih layaknya file sebuah kasus penyelidikan. Lalu bagaimana Izzy menugaskan temannya untuk menyelidiki Daniel Castello sebelum memutuskan untuk menjadi pacarnya. Atau bagaimana Rae Spellman melakukan negoisasi dengan Paman Ray layaknya seorang polisi bernogiasasi dengan penjahat.

Pokoknya semua yang dilakukan oleh keluarga Spellman dalam kesehariannya, dilakukan berdasarkan cara-cara detektif ketika menyelidiki sebuah kasus. Perilaku keluarga yang tak lazim inilah yang tampaknya merupakan kekuatan dari novel ini. Selain itu melalui novel ini juga kita juga akan diberitahu trik-trik menyelidiki, menguntit, dan membongkar latar belakang kehidupan seseorang yang sedang diselidiki.

Di bagian awal hingga pertengahan, novel ini hanya berputar-putar mengisahkan seluruh keluarga Spellman, satu persatu dipapaparkan mulai dari sedikit tentang kedua orang tua Izzy, terbentuknya Spellman Investigation, kisah tentang Paman Ray, dan David & Rae Spellman. Banyak hal yang menarik, ganjil, lucu, akan terungkap dari perilaku dan kehidupan keluarga yang nyentrik ini.

Namun karena hingga pertengahan buku, belum ditemukan konflik yang mencuat, pembaca masih harus menebak-nebak apa sebenarnya inti kisah novel ini. Alur kisah yang berserakan dan berlompatan dari masa kini ke masa lalu mengikuti kisah tokoh yang diceritakan mungkin sedikit membingungkan pembacanya. Untunglah di bagian pertengahan hingga akhir, novel ini semakin seru karena kisahnya mengerucut kedalam kisah hubungan Izzy dengan Daniel Castillo dan penyelesaian kasus keluarga Snow.

Yang menurut saya agak mengganggu adalah bab-bab interogator antara Izzy dengan inspektur Henry Stone. Mungkin ini adalah bab penghubung antara kisah-kisah keluarga Sepllman yang berserakan, tapi bagi saya pribadi bagian ini malah mengganggu alur kisahnya. Andai saja bagian ini dihilangkan tampaknya tak akan berpengaruh pada inti ceritanya

Novel yang memiliki ending yang tak terduga dan menyisakan sedikit keharuan di akhir kisahnya ini ditulis oleh Lisa Lutz, asal Amerika. Novel ini merupakan novel pertamanya setelah sebelumnya menulis ia menulis berbagai naskah film. Tampaknya novel pertamanya ini mendapat sambutan yang baik dari pembacanya, terbukti dengan telah diterjemahkannya The Spellman Files kedalam lebih dari 20 bahasa dunia. Belum lagi ditambah dengan rencana pembuatan filmnya oleh raksaksa film Paramount Picture pada 2008 ini.

Lisa Lutz juga telah membuat sekuel dari novel pertamanya ini, Curse of the Spellmans yang baru saja terbit Maret 2008 yang lalu. Kabarnya penerbit Atria (salah satu lini penerbit Serambi) selaku pemegang right atas novel ini sedang mempersiapkan untuk menerbitkan novel kedua Lisa Lutz ini jika respon pasar atas buku ini dinilai baik. Dan tampaknya memang demikian, di ranah cyber sedikitnya sudah 3 book bloger yang mereview buku ini dengan respon yang positif.

@h_tanzil
Read more »

Senin, 21 April 2008

Catatan Hati Seorang Istri

Catatan Hati Seorang Istri
Asma Nadia @ 2007
Lingkar Pena, Cet, I - Mei 2007
224 Hal.

Jika kau kira
dengan sebelah sayap
aku akan terkoyak
maka camkanlah
dengan sebelah saya itu
akan kujelajah samudera
dan gemintang di angkasa

(Hal. 45)

Wah, menulis komentar tentang buku ini, rasanya susah banget. Ya.. emang sih, gue gak terlalu bisa menceritakan kembali buku non-fiksi. Apalagi buku ini isinya tentang pengalaman pribadi Penulis atau pun para nara sumber. Jadi, sepertinya, yang bakal gue tulis di bawah ini adalah komentar pribadi untuk buku yang lumayan memberi inspirasi dan nyaris membuat gue menitikkan air mata. (hmmmm… ternyata hati gue masih rada ‘batu’, makanya belum bisa nangis….)

Di buku ini, Asma Nadia menguraikan berbagai bentuk penderitaan perempuan. Bisa dilihat dari puisi di atas. Bukan saja dari segi fisik tapi dari segi perasaan, batinnya… Menggambarkan kuatnya, sabarnya dan tabahnya perempuan biar udah digempur segala macam bentuk cobaan dari yang ringan sampe yang bisa bikin seseorang yang mungkin gak kuat, bakal kehilangan arah dalam hidup.

Gue terus terang, takjub (tapi juga kadang gemas dan sempat berpikir negatif), ketika ada perempuan yang tetap membanggakan suaminya, meskipun suaminya itu ternyata tidaklah sesempurna yang ia impikan. Alasannya, karena si laki-laki adalah hal terbaik yang pernah datang dalam hidupnya (hal. 29). Atau, gimana seorang perempuan masih bisa senyum ketika tahu suaminya ‘bermain ke tempat terlarang’ atau menikah lagi.

Gue pun berpikir, bisakah gue sesabar itu dan bisakah gue tersenyum andaikan gue tau, suami gue berbuat yang tidak baik? Gue rasa nggak… Gue pasti bakal nangis dan meratapi nasib gue… Hehehe.. sekarang aja, dicuekin suami gue sedikit, gue udah sebal banget sama suami gue dan kadang menggunakan air mata untuk meluluhkan hati suami gue…

Sempat terpikir oleh gue, apakah si perempuan itu memang begitu tough… tipiskan bedanya dengan gambaran perempuan ‘bodoh’. Pastinya, kalo lagi gosip-gosip nih, dengan cerita, ada perempuan yang diem aja disakitin suami atau di-duain, atau apa pun lah yang menyebabkan dia menderita, rasanya komentar yang lebih sering gue denger (atau bahkan lebih sering gue ucapkan), adalah, “Bodoh banget sih tuh cewek…!” Padahal, perempuan itu mungkin perempuan yang akan dimuliakan di mata Allah…

Cerita di buku ini yang paling berkesan buat gue adalah yang judulnya, “Jika Saya dan Suami Bercerai?” (Hal 34). Membuat gue sadar betapa tipisnya antara cinta dan benci… Gimana pasangan yang awalnya saling puji, saling cinta dan sayang, tiba-tiba berbalik jadi saling menyerang dan mengumbar kejelekan masing-masing. Dengan cerita ini, gue bilang sama suami gue, harus bisa saling menjaga hati, emosi dan kata-kata. Satu kalimat yang gue suka adalah: “,,, tidak ada seorang pun yang berhak merusak kenangan indah yang dimiliki anak-anak tentang ayah dan bunda mereka.” (Hal. 38).

Semua perempuan berhak untuk bahagia, meskipun ada luka di hati mereka… (Aiihh…)… So, keep fighting, never give up… Mudah-mudahan, gue bisa jadi perempuan yang lebih sabar dan ikhlas… (inilah intinya… Ikhlas….)
Read more »

The Penderwicks

The Penderwicks: A Summer Tale of Four Sisters, Two Rabbits, and a Very Interesting Boy (Keluarga Penderwick: Kisah Musim Panas Empat Kakak-beradik Perempuan, Dua Kelinci, dan Seoran Anak Laki-Laki yang Sangat Menarik)
Jeanne Birdsall @ 2005
Poppy Damayanti Chusfani (Terj.)
GPU, Maret 2008
292 Hal.

Sudah lama berlalu sejak musim panas yang istimewa di Arundel, tapi, Rosalind, Jane, Skye, dan Batty masih mengingat dengan baik liburan musim panas mereka kala itu. Untung saja, rumah liburan mereka di Cape Cod tiba-tiba dijual oleh pemiliknya, kalau tidak, mungkin mereka tidak akan mengalami bagaimana seru, romantis dan heboh liburan di Arundel. Dan, yang pasti, mereka tidak akan bertemu dengan anak laki-laki yang sangat menarik.

Hampir saja, liburan musim panas kali ini akan dihabiskan oleh Keluarga Penderwick hanya di rumah mereka di Cameron, Massachusetts, jika saja Mr. Pendewick tidak mendengar cerita dari temannya tentang sebuah vila di Berkshire Mountain. Tanpa berpikir panjang, Mr. Penderwick langsung menelepon pemiliknya dan menyewa vila itu tanpa melihat keadaan vila itu.

Yang mereka lihat setibanya di Arundel bukanlah jenis vila biasa, tapi sebuah vila besar – nyaris seperti mansion – berkamar banyak, hingga Penderwick Bersaudara bisa memilih kamar yang mereka sukai.

Petualangan menarik mereka lewati, pengalaman tak terlupakan yang dimulai ketika Skye yang tomboy tanpa sengaja menabrak anak pemilik rumah, Jeffery Tifton. Pertemuan pertama yang tak mengenakan membuat Rosalind, sebagai kakak tertua yang bijaksana, memutuskan untuk mengutus Jane sebagai perantara untuk minta ma’af dan menunjukkan bahwa Keluarga Penderwick bukanlah keluarga yang buruk.

Jeffrey ternyata senang sekali dengan kedatangan kakak-beradik itu, mereka pun langsung berteman akrab. Sebagai anak tunggal, tentunya ia kesepian. Bahkan kakak-beradik Penderwick pun mengangkat Jeffrey sebagai anggota kehormatan Keluarga Penderwick.

Vila Arundel yang luas, dikelilingi taman yang indah, menjadi tempat bermain yang tak habis-habisnya dijelajahi mereka berlima. Tapi, Mrs. Tifton tidak terlalu menyukai Keluarga Penderwick yang dianggap memberi pengaruh buruk pada Jeffrey dan bisa jadi membuat tamannya yang indah hancur.

Bukan hanya bermain-main di kebun dan menjelajah, tapi, Rosalind juga mengalami cinta monyetnya dengan si tukang kebun Cagney. Semakin dekat dengan akhir liburan, rasanya semakin berat untuk meninggalkan Arundel.

Asyiknya buku ini, karena karakter setiap anak-anak Penderwick berbeda-beda. Rosalind, yang bijak, berusaha mengurus semuanya setelah ibu mereka meninggal, Jane si penulis, Skye yang tomboy dan galak, lalu Batty yang selalu memakai sayap kupu-kupunya. Tapi, yang pasti, kakak-beradik Penderwick gak akan tinggal diam kalo ada yang menyinggung kehormatan dan martabat keluarga mereka.

Buku ini mengingatkan gue sama buku-bukunya Astrid Lindgren atau Enid Blyton. Petualangan yang seru, lucu… yang membuat pengen balik lagi ke masa kanak-kanak, dan gak ketinggalan tentunya masakan-masakan yang lezat… Hmmmm….
Read more »

Petualangan Tintin: Cerutu Sang Firaun

Petualangan Tintin: Cerutu Sang Firaun (Les Cigares du Pharaoh)
Hergè @ 1955
Donna Widjajanto (Terj.)
GPU, April 2008
64 Hal.

Maksud hati pengen liburan, tapi apa daya malah terlibat satu petualangan seru lagi. Begitulah nasib Tintin, yang rencananya akan berlibur bersama Milo, anjingnya, ke Mesir. Di kapal laut, ia bertemu dengan Philemone Siclone, seorang professor linglung yang sedang mengejar-ngejar selembar kertas yang tertiup angin. Perkenalan mereka terjadi ketika Tintin hendak membantu si professor itu. Philemone Siclone pun menceritakan isi kertas yang dikejarnya itu dan mengajak Tintin untuk mencari kuburan Firaun Kih-Oskh.

Tapi, anehnya, belum lagi tiba di Cairo, Tintin dijebak. Ia ditangkap oleh pasangan detektif kembar, Dupond dan Dupont (a.k.a Thomson dan Thompson) dengan tuduhan terlibat dalam penyelundupan narkotika.

Sekali lagi Tintin dijebak, dan tentu saja, banyak akal Tintin untuk lolos dari masalah. Ia pun mencari cara agar bisa keluar dari kapal laut itu. Setibanya di darat, Tintin kembali bertemu dengan Philemone Siclone yang segera mengajaknya ke lokasi tempat kuburan Firaun Kih-Oskh berada. Tapi, di sana Tintin terjebak dalam ruang bawah tanah dan Philemone Siclone menghilang secara misterius. Di dalam ruang bawah tanah itu, Tintin menemukan Sarcofagus atau peti mati yang bertuliskan namanya dan Milo.

Lolos dari kuburan itu, Tintin masih harus berurusan dengan duo detektif kembar yang masih terus mengejarnya. Tuduhan bertambah, yaitu penyelundupan senjata api. Tintin juga harus menghadapi hukuman tembak karena dianggap mata-mata.

Masalah narkotika ini ternyata melibatkan sebuah kelompok rahasia yang punya tujuan melenyapkan Maharaja Gaipajama.

Dari empat buku yang udah gue baca, petualangan kali ini lebih seru dibanding yang lain (gak tau deh, dengan petualagan di buku-buku berikutnya… lupa soalnya…), dulu gue pernah baca buku ini, kalo gak salah judulnya ‘Cerutu Sang Pharaoh’. Meskipun, tetap aja, Tintin ini kaya’ kucing. Nyawanya ada sembilan kali ya… (atau lebih…), biar udah ketabrak kereta, mobil, jatoh dari pesawat… tetap… selamat, sehat wal’afiat… dan segar bugar…
Read more »

Petualangan Tintin: Tintin di Amerika

Petualangan Tintin: Tintin di Amerika (Tintin en Amèrique)
Hergè @ 1945
Donna Widjajanto (Terj.)
GPU, April 2008
64 Hal.

Kedatangan Tintin di Amerika membuat para kelompok gangster ketar-ketir. Pasalnya, tujuan Tintin ke Amerika memang untuk memberantas kelompok yang selalu membuat resah itu. Bahkan, pemimpin gangster paling terkenal, Al Capone, ikut resah karena kedatangan Tintin. Lolosnya Tintin di Congo dari anak buahnya membuat Al Capone tidak memandang sebelah mata si wartawan berjambul ini.

Setibanya di Amerika, Tintin langsung ‘disambut’ dengan berbagai upaya untuk melenyapkanya. Tapi, Tintin tak gentar. Satu per satu kelompok gangster mulai bertekuk lutut. Namun, ada satu kelompok gangster pimpinan Bobby Smiles berusaha mengajak Tintin bekerja sama, tapi, Tintin menolaknya dan membuat Bobby Smiles mengatur berbagai cara untuk menjebak Tintin.

Terjadilah kejar-mengejar antara Tintin dan Bobby Smiles. Tintin ‘terjebak’ di kawasan pemukiman suku Indian. Bobby Smiles yang lebih dulu, menghasut suku Indian untuk menangkap Tintin.

Tapi, bukanlah Tintin namanya kalo gak berhasil lolos dari berbagai jebakan. Akal yang banyak meskipun terkadang sederhana, mampu membuat Tintin keluar dari kesulitan.

Tintin jadi pahlawan karena usahanya memberantas kelompok gangster.
Read more »

Children of the Lamp: The Akhenaten Adventure

Children of the Lamp: The Akhenaten Adventure
P. B. Kerr @ 2004
Utti Setiawati (Terj.)
Penerbit Matahati, Cet. I – Maret 2008
416 Hal.

Tumbuh gigi susu seharus menjadi hal yang wajar. Tapi tidak di keluarga Gaunt… Begitu mengetahui kalau kedua anak kembar mereka, John dan Phillipa tumbuh gigi susu, Mrs. Gaunt langsung merencanakan untuk segera di operasi, meskipun si kembar tidak suka akan hal itu.

Tapi, kalau saja John dan Phillipa tidak mengalami operasi pencabutan gigi bungsu, mereka tidak akan pernah tahu kalo mereka bukanlah anak kembar yang biasa-biasa saja. Mereka ternyata punya keistimewaan yang tidak pernah mereka sadari dan memang dirahasiakan oleh orang tua mereka, terutama Mrs. Gaunt.

Ketika mereka sedang menjalani operasi gigi, dalam keadaan terbius, John dan Phillipa mendapatkan ‘mimpi’ yang sama, mereka berdua bertemu dengan Paman Nimrod, adik ibu mereka yang sudah lama sekali tidak mereka jumpai. Dalam mimpi itu, Paman Nimrod memberi petunjuk agar mereka berdua bisa membujuk orang tua mereka supaya diijinkan pergi ke London bukan menghabiskan liburan di perkemahan tempat anak-anak berbakat. Dan anehnya… tanpa banyak pertanyaan, Mr. dan Mrs. Gaunt menyetujui hal itu.

Bukan itu saja yang aneh. Setelah operasi gigi, muka John yang kata Phillipa seperti gunung berapi, tiba-tiba menjadi mulussssss…. Dan Phillipa secara tidak sadar ternyata bisa mengabulkan permintaan Mrs. Trump.

Di London, barulah semuanya jadi jelas dan sangat mengejutkan… bahwa mereka bukanlah anak kembar biasa, melainkan anak-anak lampu…alias keturunan Jin!!! Wahhh… cool…. Mereka pun belajar mengendalikan kekuatan mereka bersama Paman Nimrod.

Liburan mereka tidak hanya di London, melainkan lebih seru lagi. Bersama Paman Nimrod, John dan Phillipa berangkat ke Mesir untuk menyelidiki makam Akhenaten – Firaun dinasti ke-18 – yang konon memiliki 70 jin yang ikut dikubur bersamanya. Ternyata, bukan hanya mereka yang mengincar makam itu, tapi juga Iblis – Jin Jahat juga mencari makam itu agar bisa memperbesar kekuatan dan kekuasaannya.

Buku yang asyik… Ternyata… peristiwa meletusnya Gunung Krakatau juga dipicu oleh kekuatan Jin… juga tenggelamnya kapal Titanic… Hehehe…

Untungnya, John dan Phillipa bukan tipe anak sok tau, tapi memang mereka anak-anak pintar, jadinya petualangan mereka jadi seru banget dengan akal-akal mereka dan gimana awalnya mereka belajar hidup dalam botol.

Jadi pengen nunggu petualangan si Anak-Anak Lampu ini selanjutnya…

Read more »

Beauty for Killing

Beauty for Killing
Fradhyt Fahrenheit
FoUmediapublisher, Januari 2008
364 Hal.

5 sahabat – Vennita, Chantika, Debby, Kiyara dan Brando – masih berduka karena kematian sahabat mereka, Mae. Ditambah lagi, hubungan mereka kini merenggang gara-gara masalah percintaan. Mereka mencintai laki-laki yang sama, yang ternyata lebih memilih Kiyara untuk dijadikan pasangan hidupnya (Cerita ini ada di buku sebelumnya dengan judul 'Beauty for Sale').

Jadilah mereka berlima untuk sementara waktu menjalani ‘gencatan senjata’ untuk menjernihkan suasana. Mereka menyebar ke seluruh pelosok dunia, mulai dari Barcelona, Singapura, Bali, New York. Mereka yang masih lajang ini berkutat dengan masalah masing-masing – masalah kesendirian kesepian dan juga masalah pribadi mereka.

Vennita misalnya, rela mengeluarkan uang milyaran rupiah demi ‘mempermak’ eks pembantu di kantornya untuk jadi wanita berkelas dengan tujuan menjebak ayahnya yang gemar main perempuan.

Lalu, Brando, yang seorang gay, dikejar-kejar seorang pria yang terobsesi pada dirinya. Hingga nyari membuat karirnya hancur.

Mereka disatukan kembali ketika Vennita menghilang. Vennita diduga diculik oleh orang-orang yang ingin menghancurkan keluarganya. Misteri hilangnya Vennita menjadi bumbu yang membuat novel ini punya sedikit sentuhan (atau hanya sebagai ‘bumbu’?). Bukan apa-apa… karena tanpa hal itu, novel ini hanya jadi novel metropop, chicklit atau roman biasa yang menunjukkan gaya hidup kelas atas para perempuan dan laki-laki single.

Sejak halaman pertama sampai akhir, pembaca ‘dibombardir’ dengan berbagai macam merk ternama, mulai dari produk fashion, handphone, club-club dan restoran. Waduh… kalo gak pernah baca majalah fashion atau gak gaul, dijamin bakal terbengong-bengong dengan sederetan nama-nama kaya’ Prada, LV, Vera Wang, lalu café dan club di segala penjuru dunia. Belum lagi, handphone Vertu (or whatever) yang bertahtahkan berlian dan berlapis kulit domba muda (Hah.. silahkan bayangin sendiri!)

Di novel ini, setiap tokohnya digambarkan hari itu dia pakai baju apa, sepatu apa, parfumnya, tas dan segala macam aksesoris lainnya, belum lagi hari itu dia ada di mana, makan di resto apa dan apa yang dia makan and minum juga ditulis sedetail-detailnya. Silahkan sebut gue norak or sinis… tapi, itulah yang digambarkan, bisa bikin mulut ternganga dengan segala macam kemewahan, keekslusifan dan ‘ke-jor-jor-an’ para tokoh.

Yang paling heboh lagi, ‘penggambaran’ adegan-adegan yang amat sangat 17 tahun ke atas dengan kata-kata yang cukup vulgar. Bikin novel ini hanya sekedar pamer pengetahuan fashion dan ‘sex’.

Dan, ending cerita bener-bener menggambarkan, betapa kekayaan bisa bikin orang depresi sampai akhirnya nyari cara yang ajaib untuk menghabiskan uang dan menghibur diri sendiri.

Minus lainnya, selain cerita yang buat gue rada berlebihan adalah tulisan-tulisan yang sering tumpang-tindih.
Read more »

Petualangan Tintin: Tintin di Congo

Petualangan Tintin: Tintin di Congo (Tintin au Congo)
Hergè @ 1946
Donna Widjajanto (Terj.)
GPU, April 2008
64 Hal.

Tintin jalan-jalan ke Afrika, atau tepatnya ke Congo. Tintin mendapatkan tugas untuk memberi liputan ekslusif mengenai kehidupan di Congo. Meskipun banyak yang menawarkan harga yang tinggi untuk hasil liputan Tintin itu, tapi, Tintin tidak tergiur.

Dalam perjalanan dengan kapal laut, sudah ada musuh yang mengintai. Semua diawali ketika Milo, anjing Tintin, berkelahi dengan seekor burung beo bawel yang menyebabkan Milo jatuh ke gudang barang dan bertemu dengan seorang penumpang gelap.

Rupanya, penumpang gelap ini mengintai Tintin untuk alasan tertentu yang sempat bikin kita bertanya-tanya, “Apa sih maunya ini orang?” Karena dari awal gak ketauan tuh, siapa pesuruh orang ini.

Setibanya di Congo, perjalanan Tintin juga gak luput dari ‘kecelakaan’ konyol. Mobil yang ditumpangi Tintin bertabrakan dengan kereta api, tapi Tintin selamat, justru kereta apinya yang hancur-lebur! Tintin sempat dituntut karena hal ini, tapi, kemudian semua penduduk desa menyambut Tintin dengan suka cita.

Di Congo, kegiatan Tintin adalah berburu, selain meliput keadaan di sana. Dan tentu saja, musuh Tintin juga tetap mengikuti ke mana Tintin pergi. Bahkan, akhirnya, si musuh itu bekerja sama dengan dukun desa setempat yang merasa tersaingi oleh keberadaan Tintin. Bahaya bukan hanya itu, tapi juga dari binatang-binatang buas yang ditemui Tintin selama kegiatan berburunya.

Mmmm… sepertinya, cerita di petualangan Tintin kali ini udah rada gak cocok dengan kondisi sekarang yang ramai dengan kampanye menyelamatkan satwa-satwa liar. Soalnya, cara berburu Tintin rada ‘sembrono’, karena gak ahli-ahli amat. Contohnya: waktu berburu rusa, rusa incaran Tintin gak berhasil ditembak, jadinya Tintin bolak-balik nembak itu rusa, pas dilihat, ternyata, udah banyak rusa yang mati gara-gara tembakan Tintin yang asal-asalan. Atau, Tintin yang dengan seenaknya membunuh monyet dan memakai kulit monyet itu, untuk nyamar jadi monyet dan menyelamatkan Milo.

Gambar di buku ini udah bagus dan berwarna. Jadi lebih lucu dan menyegarkan.

Read more »

Tintin di Sovyet

Petualangan Tintin – Wartawan “Le Petit Vingtième” – di Tanah Sovyet (Les Aventures de Tintin – reporter du “Petit Vingtième” – Au Pays des Soviets)
Hergè @ 1946
Donna Widjajanto (Terj.)
GPU, April 2008
142 Hal.

Tintin is Back! Kaya’nya selama ini susah banget nyari komik Tintin baru di toko buku. Kalo pun ada harganya rada mahal. Jadilah berburu beberapa judul komik Tintin di penjual buku second. Dan, seneng banget pas tau GPU bakal menerbitkan kembali serial komik Tintin (baca: Teng-Teng – ini yang gue denger di Radio FeMale waktu Tintin ultah). Bentuk komik Tintin jadi lebih mini dengan kertas yang bagus.

Di kisah petualangan di Tanah Sovyet kali ini, Tintin, si wartawan berjambul diberi tugas untuk meliput aksi propaganda kaum komunis di Sovyet. Ditemani anjing setianya, Milo (a.k.a Snowy), Tintin berangkat dari Brussels menuju Sovyet dengan kereta api. Tapi, sepertinya ada sekelompok orang tertentu yang berusaha menghalangi Tintin untuk sampai ke Sovyet. Belum apa-apa, kereta api itu sudah dibom.

Akibat pengeboman itu, Tintin dibawa ke kantor polisi di Jerman. Di sana, polisi gak peduli kalo ia adalah seorang wartawan. Tintin pun kabur.

Tintin bolak-balik harus masuk kantor polisi, dikejar-kejar mata-mata dan tentu saja nyaris terbunuh. Tapi, bukanlah Tintin kalo gak banyak akal. Dalam berbagai aksi yang nyaris mencelakakan Tintin, ia berhasil selamat berkat improvisasi, ide-ide hingga bisa lolos dari kejaran para musuh.

Peran Milo juga gak kecil. Berkali-kali Milo juga melakukan trik-trik yang menyelamatkan dirinya sendiri dan tuannya.

Buku ini disajikan dalam gambar hitam-putih. Gambar-gambarnya juga belum terlalu bagus. Malah nyaris membosankan. Apalagi Tintin terkesan gampang banget lolos dari musuh dengan cara yang sederhana. Entah Tintin-nya yang cerdik, atau, musuh-musuh Tintin yang kurang cerdas. Di sini, teman-teman Tintin yang lain, seperti Kapten Haddock, Profesor Calculus, dan lain-lainnya belum muncul.

Senangnya bisa bernostalgia lagi… Semoga aja, Gramedia punya niat buat menerbitkan Asterix, Smurf atau Johan dan Pirlouit dalam bentuk baru seperti komik Tintin ini.
Read more »

Dragon Keeper (Book 1)

Dragon Keeper (Book 1)
Carole Wilkinson @ 2003
Claudia (Terj.)
Penerbit Matahati, Cet. I – Februari 2008
388 Hal.

Awalnya, Ping, hanyalah seorang budak. Bahkan ia tidak pernah tahu siapa namanya, siapa orang tua dan tidak punya teman. Ia bekerja sebagai pelayan untuk seorang Pengurus Naga bernama Master Lan di sebuah istana di Gunung Huangling. Konon, Kaisar membangun istana di daerah terpencil itu untuk menunjukkan kepada dunia betapa luas wilayah kekuasaannya. Tugas Ping selain melayani berbagai kebutuhan Master Lan yang kerap bersikap kasar padanya, adalah memberi makan binatang- piaraan yang ada di istana itu, yang bukan sembarang binatang, melainkan dua ekor naga milik kaisar. Harusnya, Master Lan-lah yang bertugas merawat naga-naga itu, tapi, karena sangat pemalas, akhirnya, menjadi tugas Ping untuk memberinya makan dan membersihkan kandang naga itu.

Karena tidak mendapatkan perlakukan yang pantas dari Master Lan, Ping kerap harus mencuri sedikit makanan. Entah itu, makanan Master Lan, atau bahkan makanan naga. Ping juga gemar berpetualang ke penjuru istana ketika hari sudah malam dengan mencuri sedikit minyak untuk menyalakan lampu. Satu-satunya teman Ping adalah Hua, seekor tikus kecil.

Suatu hari, Ping merasa bersalah mengambil jatah makanan naga, hingga menyebabkan salah satu naga mati. Ia merasa tibalah suatu saat akan mendapatkan hukuman dari Langit. Kekacauan terjadi ketika rombongan Kaisar datang. Ketika itu, Ping sedang berada di dalam istana. Ia lalu bersembunyi di dalam lemari dan mendengar percakapan Kaisar dan rombongannya. Tiba-tiba Hua menggigit Ping dan membuat Ping berteriak. Dan hebohlah keadaan ketika itu.

Ping melarikan diri ke kandang naga. Salah satu tamu Kaisar adalah Diao, Pemburu Naga, yang nyaris menangkap Danzi, satu-satunya naga yang masih hidup. Ping membantu Danzi melarikan diri dari kejaran pengawal kaisar.

Sejak itu, hidup Ping tidak lagi tenang dan damai. Bersama Danzi, ia memulai petualangan panjang menuju Samudera untuk menyelamatkan sebuah batu misterius yang dilindungi mati-matian oleh Danzi.

Banyak hal-hal yang baru diketahui Ping sejak ia bersahabat dengan Danzi. Ping pun bukan lagi gadis budak yang tidak ada harganya, ia memiliki sebuah kemampuan yang tidak terduga-duga yang membawanya menjadi sahabat Kaisar baru.

Ping tidak hanya menempuh perjalanan yang menegangkan tapi, juga menyenangkan. Dunia Ping, mata Ping jadi lebih terbuka karena Danzi mengajarkan banyak hal baru buat Ping.

Ceritanya bikin terharu dan juga lucu. Masih ada lanjutan kisah petualangan Ping bersama ‘si batu misterius’ itu. Satu lagi, cerita tentang persahabatan….
Read more »

Minggu, 20 April 2008

The Inheritance of Loss (Senja di Himalaya)

The Inheritance of Loss (Senja di Himalaya)
Kiran Desai @ 2006
Rika Iffati Farihah (Terj.)
Penerbit Hikmah, Cet. I – Desember 2007
543 Hal.

Di kaki Gunung Kanchenjunga, Himalaya, tinggal seorang hakim tua bernama Jemubhai Patel. Bertahun-tahun ia hanya hidup sendiri, ditemani anjing kesayangannya, Mutt, dan seorang juru masak. Kegelapan dan kesuraman seolah menyelimuti rumah sang hakim. Sampai akhirnya, cucunya, Sai terpaksa tinggal di rumah kakek yang tidak pernah dikenalnya.

Kehadiran Sai mengingatkan Jemubhai pada dirinya sendiri. Seorang pemuda India yang datang ke Inggris untuk menuntut ilmu, sampai akhirnya ia berusaha ‘menjelma’ menjadi orang Inggris. Sementara itu, Sai sendiri, jatuh cinta pada guru Matematikanya, Gyan, yang sering memandang sinis pada sikap Sai yang ‘ke-ingris-ingris-an’.

Tak kalah rumit kehidupan sang juru masak, yang terpaksa berpisah jauh dari putranya, Biju, yang mencari peruntungan di Amerika. Merupakan kebanggan sendiri ketika seseorang berhasil menembus Amerika. Padahal kehidupan Biju di Amerika tidaklah semewah dan seberhasil yang dibayangkan ayahnya.

Pemberontakan yang terjadi memporak-porandakan kehidupan mereka yang sudah suram, jadi semakin suram, tapi membuat mereka pelan-pelan menyadari sikap mereka yang salah. Buku ini menyindir perilaku orang-orang yang menganggap diri mereka modern.

Banyak yang bilang cerita di buku ini bagus dan penuh kalimat-kalimat indah, tapi, koq gue gak bisa ‘menangkap’ semua itu? Bagi gue buku ini membosankan. Rasanya semua suram, semua tokoh di buku ini ‘keningnya berkerut’, muram, berkutat dengan masalah sendiri dan gak pernah puas sama diri sendiri. Tapi, gue memang rada susah payah menyelesaikan buku ini. Hihihi... 'otak'nya rada gak nyampe, nih...

Tapi, satu bagian yang lucu, yaitu ketika lagi ada pemberontakan, polisi malah sembunyi di rumah Noni dan Lola karena kantor polisinya dikunci sama polisi lain yang takut sama pemberontak.
Read more »

Jumat, 18 April 2008

Epileptik

Judul : Epileptik 1 & 2
Oleh : David D
Penerjemah : Dini Pandia
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : 2008
Tebal : 168 & 198 hlm
Harga : Rp. 45.000,- & Rp. 47.500,-


Ada banyak cara berbagi pengalaman hidup dengan orang lain, terlebih bagi mereka yang merupakan orang-orang terkenal (politikus, artis, wartawan senior, tokoh masyarakat, dll). Umumnya kisah-kisah hidup mereka tersaji dalam bentuk tulisan yang disebut dengan memoir, biografi, autobiografi, dll, dari yang sekedar untuk menonjolkan figur dirinya guna tujuan tertentu, hingga kisah kehidupan sejujurnya baik yang baik maupun yang buruk sebagai pembelajaran kehidupan bagi mereka yang membacanya.

Bentuk memoir/biografi/autobiografi itu biasanya tersaji dalam buku yang tebal, tak jarang berupa hard cover dan dihiasi berbagai foto-foto pribadi sang tokoh. Atau ada juga yang dikemas dalam bentuk fiksi, misalnya Laskar Pelangi yang merupakan memoir dari penulisnya (Andrea Hirata).

Namun apa yang disajikan oleh Piere-Francois alias David B, pendiri L’Association yang merevolusi komik Eropa dengan format, gaya, dan materi yang baru, bisa dibilang unik. Ia menuliskan memoirnya dalam bentuk komik hitam putih. Dan inilah salah satu dari buah revolusi komik yang dilakukan David B, dkk. Dalam karyanya ini ia keluar dari pakem komik mainstream (format album, 48 halaman berwarna , kisah superhero, dll)

David B menulis kisah dirinya dan keluarganya dalam mengatasi penyakit epilepsi yang diderita kakaknya, Jean-Christophe sejak masih kanak-kanak. Dikisahkan bagaimana seluruh keluarga berjuang untuk kesembuhan Jean Cristophe. Berbagai macam cara pengobatan dicoba, mulai dari secara medis hingga berbagai metode alternatif seperti akupuntur, terapi magnetis, menghubungi arwah leluhur lewat para medium, voodo, bergabung dalam komunitas makrobiotik, hingga penyembuhan secara religi. Namun semua usaha pengobatan itu tak berhasil menyembuhkan Jean Christophe, kadang sembuh beberapa saat, namun kembali lagi seragan itu datang dengan pola yang sama, malah semakin sering dan memburuk.

Tanpa disadari penyakit epilepsi yang diderita Jean Christopher mempengaruhi perilaku dan kehidupan seluruh keluarganya. Obsesi seluruh keluarganya untuk menyembuhkan Jean Christophe dan harapan-harapan palsu yang ditawarkan oleh para dokter dan penyembuh lainnya membuat seluruh keluarga ikut menderita dan terguncang secara psikis. Tak terkecuali dengan David, penyakit kakaknya itupun ikut menghantui dirinya. Sesuai dengan bakatnya, ia mengatasinya dengan menggambar dan menulis kisah kehidupan dirinya dan keluarganya lengkap dengan mimpi-mimpi dan apa yang dia rasakan dalam jiwanya yang juga mulai ‘sakit’.

Pada intinya Epileptik adalah potret jujur tentang penyakit epilepsi yang diderita Jean-Christophe, penderitaan serta ketakutan yang ditimbulkannya pada keluarga Beauchard. Melalui komik ini kita akan diajak menyelusuri kehidupan David B (Pierre- Francois) sejak masa kecil, remaja, dan dewasanya. Bagaimana penyakit epilepsi yang diderita kakaknya ini akhirnya menciptakan sebuah hubungan yang rumit dengan kakaknya hingga David berpikir untuk menghabisi saja nyawa kakaknya. Tak hanya itu saja, komik ini juga menceritakan kisah –kisah yang dialami oleh kakek nenek David B. Kita akan diajak ke masa silam ketika kedua kakeknya bertempur dalam kedua Perang Dunia. Seolah penulisnya ingin mengungkapkan bahwa sejarah kehidupan keluarganya adalah sejarah panjang dan melelahkan melawan penyakit dan kematian.

Karena kisah dalam komik ini menceritakan kehidupan penulis dan keluarganya maka bisa dikatakan komik ini adalah sebuah graphic diary. David B menorehkan pengalaman hidupnya dengan gambar-gambar komikal dalam sapuan warna hitam putih yang kuat dimana ia tak segan-segan menggunakan blok warna hitam pekat. Walau tokoh-tokohnya digambarkan secara komikal namun ekpresinya terpancar dengan baik sehingga pembaca dapat menangkap emosi yang dirasakan tokoh-tokohnya. Selain itu David B juga memberi latar pada tiap panel gambarnya secara detail dengan gambar-gambar surealis yang memikat.

Memang bukan hal yang mudah untuk menikmati buku ini. Dengan liar David B mencampur adukkan alur ceritanya, kadang ditengah kisah ia bisa langsung mengajak pembacanya ke masuk ke masa silam ke kehidupan kakek neneknya. Belum lagi mimpi-mimpi David yang tiba-tiba menyeruak kedalam inti cerita. Memang ketika hendak mengisahkan mimpi-mimpinya ada teks yang menjelaskan awal dari mimpi David, namun sayangnya tak ada satupun teks yang memberikan keterangan akhir dari mimpinya sehingga pembaca harus berkonsentrasi dan menebak sendiri apakah panel gambar berikutnya masih merupakan mimpi David atau bukan.

Bagi yang tak terbiasa membaca komik serius, komik ini memang agak melelahkan, apalagi ketika David menjelaskan secara panjang lebar mengenai berbagai upaya penyembuhan yang dilakukan oleh Jean-Christophe dan keluarganya. Namun jika kita sabar membacanya dan mencoba memahami komik ini baik dari segi cerita maupun gambarnya maka kita akan menemukan bahwa komik ini menyajikan secara lugas tentang emosi-emosi wajar manusia dalam menghadapi ketakutan akan penyakit dan kematian.

Dan yang juga tak kalah menarik ketika kita mencoba memahami buku yang unik ini adalah ketika kita ingin menafsirkan dan mencari gambar-gambar tersembunyi didalam panel-panel gambarnya. Memang memerlukan waktu dan konsentrasi, namun justru disinilah letak seni dalam membaca dan memahami komik.

Gambar-gambar dalam komik ini mungkin mengingatkan kita pada Persepolis - Marjane Satrapi (tak heran karena Satrapi merupakan murid dari David B). Namun apa yang dikisahkan oleh David B lebih dalam dan gambarnya lebih mendetail dibanding Satrapi. Dalam edisi aslinya yang berjudul l'Ascension du Haut Mal, memoir ini terdiri dari 6 jilid komik yang terbit sejak tahun 1996 – 2003. Edisi bahasa Inggrisnya terbit dengan judul Epileptic (2003) yang setebal 368 halaman! Bayangkan bagaimana rasanya membaca komik serius setebal itu!

Bersyukur edisi bahasa Indonesianya oleh Gramedia dibagi dalam dua buku yang masing-masing setebal 163 & 198 halaman sehingga tak terlalu lelah membacanya. Selain itu buku ini juga dikemasan dengan cover yang menarik dan dicetak diatas kertas yang tak silau mata, ringan dan mampu menyerap tinta cetak secara sempurna.

Usaha Gramedia untuk menerjemahkan dan menerbitkan komik yang disebut-sebut sebagai salah satu dari sepuluh novel grafis terpuji sepanjang masa ini patut diacungi jempol. Hingga kini bisa tampaknya baru Gramedia yang secara serius dan kontinu menerbitkan komik-komik alternatif kelas dunia. Dan ini semakin membuktikan kepada publik Indonesia bahwa komik bukanlah sekedar kisah superhero yang menghibur. Melalui komik, kini kita bisa belajar memaknai perjuangan manusia dalam meniti kehidupannya.

@h_tanzil
Read more »

Senin, 07 April 2008

Tuan Tanah Kedawung


Judul : Tuan Tanah Kedawung
Penulis : Ganes TH
Penerbit : komikindonesia.com
Retouch gambar: Erwin Prima Arya
Desain & Retouch cover : Wahyu Hadiyatz
Koordinator : Andy Wijaya
Cetakan : Jan 2008
Tebal : 7 jilid @ 64 hal
Harga : Rp. 170.000,-

Sejarah panjang komik Indonesia mencatat nama Ganes TH (1935-1995) sebagai salah satu legenda komik Indonesia. Pada masanya ia merupakan salah satu dari tiga dewa komik Indonesia bersama Jan Mintaraga dan Teguh Santosa. Kisah-kisahnya begitu memikat pembaca komik Indonesia di era tahun 70-80 an, apalagi ketika ia melahirkan tokoh Si Buta dari Gua Hantu yang menjadi trade mark-nya dan merupakan tokoh komik lokal yang paling populer sepanjang masa. Kabarnya, saat itu komik seri ini dicetak hingga ratusan ribu ekslempar.

Sebenarnya selain komik seri Si Buta dari Gua Hantu, masih ada karya-karya masterpiece yang lahir dari goresan ajaib tangan Ganes TH. Yang tak boleh dilupakan adalah Krakatau (1970), Tuan Tanah Kedawung (1970), Tjisadane (1968-1969), dan Nilam dan Kesumah (1970). Keempat komik ini sering juga disebut sebagai ‘quadrology’, atau ada juga yang menyebutnya sebagai ‘tetralogi samolo’ walau Ganes TH sendiri tak pernah menyebutnya demikian. Dari keempat judul itu, Tuan Tanah Kedawung adalah judul yang paling populer. Hingga awal dekade 1990-an komik ini masih dicetak ulang oleh penerbitnya, UP Rosita. Dan seperti Si Buta dari Gua Hantu, Tuan Tanah Kedawung juga pernah difilmkan oleh Tidar Film di tahun 1972.

Menyusul dicetak ulangnya karya-karya Ganes TH oleh komik indonesia.com, kini komik Tuan Tanah Kedawung telah beredar di pasaran. Karena tampaknya diperuntukkan bagi para kolektor, Tuan Tanah kedawung dicetak dengan mewah diatas kertas art paper yang terlebih dahulu diretouch sehingga kualitas gambar dan cetakannya benar-benar kinclong dan sempurna.

Kisah Tuan Tanak Kedawung sendiri pada intinya menceritakan tentang kisah perebutan harta warisan Tuan Tanah Kedawung dengan setting sebuah wilayah di Tanggerang pada tahun 1909-an. Kisahnya berawal dari pulangnya Giran, putra Tuan Tanah Kedawung dari perantauannya di Borneo (Kalimantan). Harapan untuk menemui keluarganya dalam keadaan bahagia pupus ketika ia menemui ibu dan adik tirinya dalam keadaan yang mengenaskan dengan wajah yang rusak.

Melalui penuturan ibu tirinya, Giran diberitahu bahwa semua ini akibat ulah Samolo, centeng ayahnya yang bekerja sama dengan Ratna, istri Giran yang hendak merebut harta warisan ayahnya yang telah meninggal dunia. Giran menjadi naik pitam, ia segera menemui istrinya yang telah sekian lama ditingalkannya. Istri dan anak kandungnya hampir saja dibunuhnya, untunglah ada Samolo yang melindunginya. Giran pun bertarung mati-matian melawan Samolo yang bermaksud melindungi Ratna dan anaknya.

Setelah bertarung dengan Samolo, akhirnya Giran bertemu dengan Nyi Londe, ibu asuhnya waktu kecil. Penuturan Nyi Londe tentang tragedi yang menimpa keluarganya ternyata berlawanan dengan kisah yang ia dengarnya dari ibu tirinya. Hal ini membuat Giran bingung dalam menentukan manakah kisah yang benar yang harus dipercayainya.

Melalui penuturan kisah keluarga Tuan Tanah Kedawung oleh Nyi Londe inilah pembaca dibawa ke berpuluh tahun yang lalu ketika Giran masih berusia tiga bulan hingga ke masa-masa ketika Giran merantau ke Borneo. Dari kisah Nyi Londe inilah perlahan-lahan rahasia, intrik perebutan harta warisan, dan malapetaka yang menimpa keluarga tuan Tanah Kedawung terungkap. Namun walau Nyi Londe menceritakan dengan begitu rinci, Giran tetap tak memercayai kisah Nyi Londe begitu saja hingga akhirnya sebuah peristiwa menyadarkan Giran akan kebenaran sejati yang menimpa keluarganya.

Walau menuturkan sebuah kisah tragedi kemanusiaan yang dialami keluarga tuan Tanah Kedawung dengan dramatis, seperti halnya karya-karya Ganes TH lainnya, komik ini juga menyajikan adegan-adegan seru berupa perkelahian antar tokoh-tokohnya. Ada adu kekuatan dan kesaktian jurus-jurus silat, balas dendam masa lampau yang terbawa hingga kini, perebutan kotak pusaka, dll.

Dalam serunya adegan perkelahian antara Samolo dan lawan-lawannya ada adegan yang mengejutkan, yaitu munculnya seorang pendekar buta. Walau hanya muncul sekali itu saja dan tidak diungkapkan siapa pendekar tersebut, namun dari gambarnya akan terlihat jelas bahwa pendekar itu adalah si Buta dari Gua Hantu ! Kemunculan si Buta dari Gua Hantu di komik ini tentu saja mengundang reaksi pembaca, hingga akhirnya Ganes TH perlu mengklarifikasikannya di jilid ke 6 buku ini.

Kisah yang memikat, adegan silat yang seru, kejutan-kejutan tak terduga, munculnya tokoh-tokoh yang memiliki keterkaitan dengan seri-seri lain dari karya GanesTH , narasi dramatik yang sangat bagus, penuh emosi, dan plot nya yang berliku dan menarik membuat komik ini termasuk salah satu mahakarya Ganes TH yang tak boleh dilewatkan untuk dibaca. Sebenarnya komik ini akan lebih menarik jika kita terlebih dahulu membaca komik Krakatau yang merupakan prequel dari Tuan Tanah Kedawung.

Edisi Remastering

Seperti telah diungkap di awal ulasan ini, Komik Tuan Tanah Kedawung yang diterbitkan ulang oleh komik indonesia.com ini merupakan hasil remastering dari master komik aslinya. Tak ada yang dirubah sedikitpun baik untuk cover maupun gambarnya, kecuali teksnya yang diketik ulang dengan komputer dan ejaannya yang diperbaharui. Satu hal lagi yang membedakan dengan edisi awalnya adalah perubahan warna kotak narasi dalam tiap panel gambarnya. Jika pada edisi awal berupa kotak putih dengan tulisan hitam, maka pada edisi remastering kotaknya menjadi hitam dengan tulisan putih. Selebihnya pembaca masih bsia menikmati goresan-goresan tinta Ganes TH dalam tiap lembarnya.

Menurut Erwin Prima yang meretouch komik ini seperti yang diungkap dalam blognya (http://erwinprima.multiply.com) , ia melakukannya dengan cara memindai (scan) langsung dari komik masternya, lalu dilakukan proses ‘pembersihan’ yaitu dengan cara menghitamkan warna-warna yang sudah luntur, dan memutihkan area-area yang kotor. Tampak sederhana namun tentunya bukan hal yang mudah dilakukan karena memerlukan ketelitian dan kesabaran ekstra agar hasilnya menjadi sempurna. Kabarnya diperlukan waktu 6 bulan lamanya untuk meretouch 448 halaman (7 jilid) komik ini.

Kerja keras yang dilakukan Erwin Prima dan komik indonesia.com ini tak sia-sia, hasil remastering komik yang telah berusia lebih dari 30 tahun ini berhasil membuat tampilannya lebih ‘muda’ dan modern. Karena dicetak diatas kertas art paper, maka tampilannya menjadi kinclong dan terkesan mewah. Dan yang pasti, secara fisik komik ini akan lebih tahan lama hingga puluhan tahun kedepan. Bisa dikatakan apa yang dilakukan oleh komik indonesia.com adalah mengabadikan salah satu mahakarya legenda komik Indonesia.

Namun semua usaha ini ada konsekuensinya, salah satunya adalah harga komik yang relatif mahal dibanding dicetak diatas kertas biasa. Komik Tuan Tanah Kedaung yang terdiri dari 7 jilid (@64 hal) ini dibandrol seharga 170 ribu rupiah. Bagi seorang kolektor komik mungkin masalah harga tak menjadi masalah, namun bagi pembaca awam, harga tersebut cukup membuat orang berpikir dua kali untuk membelinya. Namun jangan khawatir komik ini juga dicetak diatas kertas HVS biasa dengan harga yang terjangkau.

Beberapa pembaca komik-komik Ganes TH juga menyatakan keberatannya atas perubahan ejaan. Karena diganti dengan ejaan baru, maka ‘rasa’ Ganes TH yang aslinya menggunakan ejaan yang sesuai dengan zamannya menjadi hilang. Tapi ini mungkin suatu usaha kompromi yang diambil agar komik ini dapat dibaca dengan nyaman oleh pembaca muda. Penggantian tulisan tangan Ganes TH dengan computer juga patut disayangkan. Bukankah lettering pada komik merupakan hasil seni yang menyatu dengan gambar?

Terlepas dari semua itu. Usaha penerbitan ulang komik-komik lawas yang pernah menyihir jutaan pembaca komik Indonesia di masa lampau patutlah dihargai setinggi-tingginya. Setidaknya komik-komik lawas yang mungkin telah terlupakan atau bahkan tidak dikenal oleh generasi muda sekarang dapat kembali dibaca dan dinikmati.

Kehadiran komik-komik Indonesia yang sejaman dengan Ganes TH menawarkan sebuah nuansa baru baik dari segi cerita maupun gambar-gambarnya yang khas. Saat ini komik Indonesia banyak dipengaruhi oleh gaya manga jepang dan komik-komik Eropa. Apakah kisah dan goresan-goresan gambar Ganes TH dan komikus seangkatannya merupakan ciri khas komik Indonesia yang murni ? Inilah pertanyaan yang selalu muncul dalam benak saya.

@h_tanzil

sumber foto : http://erwinprima.multiply.com
Read more »

Minggu, 30 Maret 2008

Senja di Himalaya


Judul : Senja di Himalaya
Judul Asli : The Inheritance of Loss
Penulis : Kiran Desai
Penerjemah : Rikka Iffati Farihah
Penerbit : Hikmah
Cetakan : I, Desember 2007
Tebal : 542 hal

Senja di Himalaya adalah novel terjemahan dari The Inheritance of Loss karya penulis asal India Kiran Desai (37). Novel ini memenangkan Man Booker Prize for Fiction 2006. Penghargaan untuk novel terbaik sepanjang tahun yang ditulis oleh warga negara di negara persemakmuran Inggris dan Irlandia dimana novel tersebut harus diterbitkan dalam bahasa Inggris dan tidak dipublikasikan sendiri.

Novel ini merupakan sebuah kisah-kisah paralel yang berlatar India pasca-kolonial dan Amerika Serikat. Bersetting tahun 1980-an di perkampungan Kalimpong di pegunungan Himalaya, ceritanya berkisar pada beberapa tokoh utama dalam novel ini. Jemubhai Petel, atau yang dalam novel ini disebut ‘Sang hakim’ adalah laki-laki tua mantan hakim lulusan Cambridge yang kini menghabiskan masa pensiunnya di sebuah rumah tua yang diberi nama Cho Pyu bersama anjing kesayangannya dan seorang jurumasak setianya

Sai Petel, gadis berusia 16 tahun, cucu sang hakim yang menjadi yatim piatu karena kedua orang tuanya mengalami kecelakaan terpaksa harus meninggalkan sekolahnya dan tinggal bersama sang hakim di Cho Pyu. Di tempat kakeknya ini Sai jatuh hati pada Gyan guru les matematikanya , seorang mahasiswa Nepal dari sebuah perguruan tinggi ternama.

Tentu saja hubungan antara Sai dan Gyan tidak direstui oleh sang hakim karena perbedaan status, terlebih karena Gyan adalah orang Nepal, warga minoritas kelas dua dimata sang hakim. Walau awalnya Gyan mencintai Sai, namum Lambat laun sikap sang hakim dan Sai yang kebarat-baratan membuat Gyan membenci keduanya, apalagi kelak Gyan akan bergabung dengan kelompok separatis yang memperjuangkan kemerdekaan bagi bangsa Nepal.

Sementara itu ribuan kilometer dari Kalimpong yang terpencil, Biju, anak dari juru masak sang hakim sedang berjuang memperoleh kehidupan yang layak sebagai seorang imigran gelap di New York – Amerika Serikat. Biju tersaruk-saruk dalam belantara kota New York dan bekerja sebagai pelayan restoran secara berpindah-pindah untuk menghindari kejaran pihak imigrasi. Satu-satunya penghubung antara Biju dengan ayahnya hanyalah melalui surat menyurat. Biju tak pernah mengeluh apapun soal kehidupannya kepada ayahnya, sehingga ayahnya selalu menganggap Biju telah hidup sukses di Amerika.

Kehidupan di Kalimpong yang damai terusik ketika kelompok separatis Nepal berdemonstrasi utnuk memperjuangkan kemerdekaannya. Demonstrasi damai tiba-tiba berubah menjadi kerusuhan. Kekerasan merebak di seluruh Kalimpong. Jam malam diberlakukan. Kalimpong terputus dari dunia luar. Disaat kerusuhan inilah Biju akhirnya memutuskan untuk pulang ke India untuk menemui ayahnya.

Kerusuhan ini juga menyebabkan hubungan antara Sai dan Gyan yang tergabung dalam kelompok separatis Nepal menjadi goyah. Terpengaruh oleh pandangan kelompoknya dan sikap sang hakim dan Sai yang kebarat-baratan membuat Gyan membenci keduanya.

Kisah diatas ditulis oleh Kiran Desai dalam novelnya ini dengan gaya bahasa percakapan yang sederhana antar tokoh-tokohnya, namun Desai juga menampilkan setting pendukungnya seperti tempat, karakter dan latar karakter tokoh-tokohnya dengan sangat detail. Paradoks inilah yang oleh para juri Booker Man Prize 2006 dianggap mampu membelenggu pembaca untuk bersimpati pada tokoh-tokoh dengan konfliknya masing-masing.

Dari tokoh Sang Hakim / Jemubhai Petel, kita akan disodorkan pada sosok India yang sudah kehilangan identitas ke-indiaannya dan mengalami post power syndrome ketika telah pensiun karena dia menganggap dirinya lebih tinggi statusnya dibanding masyarakt sekitarnya.

Sai Petel, Biju dan Gyan mewakili tokoh generasi muda India yang gamang, mencari jati diri diantara pertentangan nilai-nilai barat dan timur, dan efek sosial dan psikologis yang dirasakan oleh mereka karena berada di wilayah ‘antara’ budaya barat dan timur.

Salah satu bagian yang menarik dari novel ini adalah karakter Biju dan deskripsi kehidupannya sebagai imigran gelap di Amerika. Melalui karakter Biju kita akan mengetahui bagaimana para pemuda India sebagian besar beranggapan bahwa Amerika adalah tanah impian untuk meraih kesuksesan. Karenanya mereka berjuang mati-matian untuk memperoleh Green Card. Bagaimana Biju berjuang untuk memperoleh Green Card sangat menarik dan penuh dengan humor yang getir.

Ketika Green card gagal diperoleh, Biju dan sebagian besar kawan-kawannya tetap berangkat ke Amerika dengan cara illegal. Resikonya mereka harus pandai-pandai menyembunyikan diri dari pihak imigrasi Amerika. Atau kalau perlu mereka akan menikahi nenek-nenek warga Amerika guna memperoleh kewarnganegaraan Amerika. Selain itu, mereka yang telah berhasil tinggal di Amerika harus berusaha menghindar teman-teman sekampungnya yang baru datang ke Amerika karena khawatir mereka akan ditumpangi dan menimbulkan kesulitan baru ditengah kehidupan mereka yang sudah sedimikian sulit.

Seperti umumnya novel-novel peraih penghargaan sastra internasional, novel ini bukan novel yang mudah untuk dikunyah. Alur kisah tokoh-tokohnya tidak linier, kadang mundur jauh kebelakang lalu kembali lagi ke masa kini, sehingga perlu konsentrasi ekstra untuk membacanya. Kisahnyapun seakan hanya berputar-putar pada kehidupan tokoh-tokohnya, tak heran pembaca yang kurang sabar akan merasa jenuh dan tak tahan untuk menamatkan novel ini.

Ternyata kesulitan untuk menikmati novel inipun diakui oleh Kiran Desai sendiri. Dalam wawancaranya dengan wartawan Tempo - Angela Dewi (Koran Tempo, 28 Okt 2007), ketika Angela dengan jujur mengungkap bahwa ia butuh waktu berbulan-bulan untuk menyelesaikan novel ini. Dengan tertawa Desai menyatakan, “Anda pembaca ke seribu yang berkata seperti itu”.

Menurut Desai novel keduanya ini yang dikerjakannya selama 7 tahun ini adalah hasil dari coretan-coretan panjang pada kertas setebal 1500 halaman dengan konflik yang lebih kompleks dari novel jadinya. Dan sebagian dari apa yang dikisahkannnya merupakan pengalaman pribadinya. Rumah Cho Oyu di Kalimpong memang benar-benar ada dan Desai pernah menginap selama beberapa hari disana.

Dengan kompleksitas pada novelnya ini Desai tampaknya mencoba menangkap makna hidup di wilayah antara timur dan barat dan bagaimana rasanya menjadi imigran. Apa jadinya sesuatu yang bukan barat diberi sentuhan dan terpapar pada hal-hal berbau barat. Apa jadinya jika orang-orang yang biasa hidup dalam kemiskinan tiba-tiba berada di negara yang kaya. Hal yang sebenarnya sudah terjadi saat kolonial Inggris menyentuh India, lalu sekarang terjadi lagi saat Amerikanisasi mulai menyentuh kehidupan orang India.

Menyoal Terjemahan dan Cover Terjemahan

Novel yang sulit tentu saja akan lebih sulit dipahami jika terjemahannya kurang baik. Selama membaca novel ini, saya menemukan beberapa kejanggalan terjemahan. Belum lagi membaca isinya, saya terperangah ketika membaca judul terjemahannya menjadi Senja di Himalaya, saya rasa terjemahan judul tersebut tidaklah pas. Memang setting cerita sebagian besar berkisar di desa Kalimpong di kaki gunung Himalaya, namun akan lebih elok jika diterjemahkan mendekati judul aslinya yang kira-kira bermakna ‘warisan yang hilang’ karena memang kisahnya mengenai ‘warisan’ budaya yang hilang akibat benturan tradisi barat paska kolonialisme di India.

Sedangkan dari segi isinya, beberapa terjemahan khususnya dalam kalimat-kalimat metafora, tampak terkesan dipaksakan diterjemahkan secara harafiah sehingga menjadi aneh dan lucu. Berikut beberpa terjemahan yang saya anggap tidak pas :

Telepon itu duduk berjongkok di ruang tamu rumah penginapan tersebut” (hal 379). “Dasar sampah!” Jemubhai berteriak dan, dari antara buah dada Nimi yang berduka,…(hal 278) “…, pelan-pelan melunak, sampai pantatnya mulai menetes ke bawah kursi..” (hal 252) “..seorang pria yang muncul dengan rekomendasi koyak yang diwarisi dari ayah dan kakek..(hl 108).

Sedangkan untuk cover novel terjemahannya, saya rasa ilustrasi cover dengan isi novel ini tidaklah cocok. Cover terjemahannya melukiskan wajah gadis India yang sedang terbaring diatas rerumputan. Apa maksudnya ? Apakah gadis ini adalah tokoh Sai ? Jikapun demikian tidaklah tepat karena novel ini tidak hanya menceritakan tokoh Sai, melainkan ada beberapa karakter utama yang memiliki porsi cerita yang sama banyaknya. Saya rasa cover aslinya berupa ilustrasi sebuah pohon lebih tepat, lebih indah, dan multi tafsir.

Jika kita cermati saat ini cover dengan wajah wanita timur mendominasi cover-cover buku kita, terlebih novel2 terbitan mizan group, sebut saja :

- My Salwa My Palestine – Ibahim Fatwal - Mizania
- Perempuan Terluka – Qaisra Shahraz - Mizan
- Taj Mahal, Kisah Cinta Abadi – John Shors - Mizan
- Taj – Timeri N. Murari - Mizan
- A Thousand Splendid Suns – Khaled Hosseini - Qanita
- Maya – Jostein Gaarder – Mizan

Apakah selera pasar memang menghendaki demikian? Apakah cover dengan ilustrasi wanita lebih ‘menjual’ dibanding ilsutrasi lain?
Ada pepatah mengatakan “don’t judge book by the cover”, memang benar! Isi sebuah buku tidak dapat dinilai hanya dengan covernya. Tapi alangkah baiknya jika cover sedapat mungkin mencerminkan isi dari sebuah buku.

@h_tanzil
Read more »

Senin, 24 Maret 2008

Kick Andy: Kumpulan Kisah Inspiratif

Kick Andy: Kumpulan Kisah Inspiratif
Gantyo Koespradono @ 2008
Penerbit Bentang, Cet. I – Maret 2008
274 Hal.

Buku ini bukan merupakan biografi seorang Andy F. Noya tentang perjalanan karirnya sebagai seorang wartawan. Juga bukan rahasia dapur Kick Andy, salah satu acara talk show di Metro TV di mana Andy F. Noya bertindak sebagai host-nya. Kisah di balik layar Kick Andy hanya diceritakan sedikit saja di bagian awal buku ini. Buku ini memang merupakan beberapa kisah yang pernah tampil di acara Kick Andy yang disiarkan setiap hari Kamis malam.

Kick Andy pada awalnya diciptakan karena pimpinan Metro TV ingin memaksimalkan kemampuan Andy Noya, yang meskipun punya suara biasa-biasa saja, tapi mampu menggali informasi yang ‘disembunyikan’ narasumber. Maka diputuskan untuk membuat sebuah acara talk show dengan format menggabungkan bentuk talk show model Oprah Winfrey dan Larry King. Tapi, sempat ada kekhawatiran, siapa yang akan menonton acara ini?

Tapi, ternyata Kick Andy mampu merebut hati pemirsa televisi di tengah-tengah banyaknya acara sejenis yang lebih menghibur. Karena, coba aja liat, Kick Andy mungkin bisa dibilang ‘garing’ jika dibanding sama Dorce Show, Ceriwis atau Lepas Malam. Tapi, toh, Kick Andy menawarkan sesuatu yang berbeda. Andy Noya bisa juga membuat penontonnya tertawa dengan pertanyaan-pertanyaan simple tapi mampu membangkitkan emosi tamu Kick Andy.

Kick Andy menampilkan tamu-tamu yang berbeda dari talk show lain yang kebanyakan mengundang selebritis. Kick Andy tak hanya mengundang para seleb, tokoh politik, tapi juga orang-orang ‘biasa’ yang mungkin tak pernah kita kenal sebelumnya, seperti Ibu Rabiah – sang Suster Apung, Kiyati, yang mencari ibu kandungnya setelah terpisah selama 30 tahun.

Kick Andy juga mengundang tamu-tamu yang kontroversial, seperti Hercules – preman Tanah Abang, Xanana Gusmao atau Mayor Alfredo.

Kisah-kisah lain dalam buku ini antara lain adalah tentang Anggun C. Sasmi yang memilih jadi warga negara Perancis, Sri Sultan Hamengkubuwono X yang menolak dicalonkan jadi gubernur, pasangan gay yang menikah, anak-anak yang berada dalam LP Anak Tangerang dan masih banyak lagi.

Sesuai motonya, Kick Andy mengajak pemirsa untuk menonton dengan hati, bukan untuk cari gossip terbaru.

Buat gue, gak terlalu istimewa membaca buku ini dibanding menonton langsung acara Kick Andy di televisi. Kesannya datar aja. Banyak kalimat-kalimat yang ditulis berulang kali. Misalnya, tentang Ibu Rubiah yang terpaksa memakai cairan infus yang kadaluarsa (ditulis di hal. 252 dan 254). Bahkan cerita tentang Tiara Lestari yang terpaksa tiduran di atas batu karang selama satu jam, ditulis 2 kali di halaman yang sama (hal. 233)
Read more »

Jumat, 21 Maret 2008

The Spellman Files (Berkas-Berkas Keluarga Spellman)

The Spellman Files (Berkas-Berkas Keluarga Spellman)
Lisa Lutz @ 2007
Berliani M. Nugrahani (Terj.)
Penerbit Atria, Cet. I – Maret 2008
550 Hal.

Ini adalah kisah keluarga yang kocak banget (at least menurut gue, lho…). Tokoh utamanya adalah Isabel Spellman, akrab dipanggil Izzy, berusia 28 tahun. Saat ini bekerja dengan orang tuanya sendiri di Spellman Investigations, sebagai detektif swasta. Tak hanya Izzy, Paman Ray yang gemar mabuk-mabukan dan abang Izzy, David, juga bekerja di perusahaan ini. Tapi, David, akhirnya memutuskan untuk menggunakan akal sehatnya dan keluar dari Spellman Investigations untuk kemudian menjadi seorang pengacara. Lalu, terakhir, adik Izzy, Rae, pun turut bergabung sebagai anggota termuda.

Hidup dikelilingi para detektif swasta (dan juga sebagai seorang detektif swasta) ternyata tidak mudah. Terbiasa menyelidiki kehidupan pribadi orang lain, membuat keluarga ini pun tak bisa melepaskan kebiasaan itu di dalam kehidupan pribadi mereka. Tiada hari tanpa interogasi dan negosiasi. Kamar yang dilengkapi gembok pintu pun tak luput dari ‘aksi pembobolan’ yang dilakukan anggota keluarga sendiri.

Kehidupan pribadi pun ikut jadi korban. Ketika Izzy berkencan dengan seorang dokter gigi, Daniel Castillo, orang tua Izzy mengutus Rae untuk melakukan penyelidikan. Sampai akhirnya, Daniel gak kuat menghadapi keluarga Spellman yang aneh itu.

Izzy memutuskan untuk keluar karena merasa tidak punya privasi lagi. Tapi, sebelum ia benar-benar keluar, orang tuanya memberikan kasus terakhir, kasus yang sudah berusia 12 tahun tapi belum terbongkar juga. Izzy pun serius mengerjakan kasus itu – dengan diikuti berbagai ancaman dan ‘penguntitan’ yang dilakukan orang tuanya. Ini adalah satu-satunya kasus serius yang ada di dalam buku ini.

Keluarga Spellman nyaris terpecah. Lalu, tiba-tiba, Rae menghilang. Izzy merasa ikut bertanggung jawab dan mengerahkan kemampuannya untuk mencari Rae. Setelah kasus menghilangnya Rae, ditambah lagi dengan Paman Ray yang mengalami ‘Akhir Pekan yang Hilang #27’. Hehehe.. layaknya berkas-berkas, setiap kejadian diberi nomer-nomer. Bahkan Izzy punya daftar mantan pacarnya sendiri, lengkap dengan analisanya.

Gue menikmati membaca buku ini. Segala kekonyolan dan kekocakan di keluarga Spellman. Tokoh cerita emang perempuan dewasa, tapi terkadang pola pikirnya rada gak dewasa. Tapi, rasanya, agak hati-hati ya, menempatkan buku ini di kategori buku anak-anak, atau paling gak remaja, karena banyak hal-hal yang rasanya cukup dewasa di dalam buku ini.
Read more »

Minggu, 16 Maret 2008

Drunken Monster

Judul : Drunken Monster (Catatan Harian)
Penulis : H. Pidi Baiq
Kata Pengantar : Prof. Dr. Bambang Sugiharto
Ilustrator : H. Pidi Baiq
Penerbit : DAR! Mizan
Cetakan : I, Januari 2008
Tebal : 201 hlm


Pidi baiq itu pahlawan komikus indie bandung, dan bisa jadi indonesia yang paling sableng yg pernah sy kenal.ngomongin komik bandung.ngga lepas dari pidi. Buku ini kumpulan catatan hariannya pidi yg ada di multiply dia.dijamin ngakak, maklum ngga waras.kalo di jogya ada eko nugroho(indie juga) di bandung harus sebut satu nama “pidi”.

Demikian SMS yang saya terima dari salah seorang kawan saya yang menginformasikan buku Drunken Monster – Pidi Baiq. Tertarik dengan SMS tersebut, ditambah lagi dengan membaca kata pengantar buku ini yang diupload di beberapa milis perbukuan yang menyatakan bahwa “Ini Buku Berbahaya”, membuat saya makin penasaran ingin membacanya.

Bersyukur karena tak terlalu lama kemudian saya menerima sebuah buntelan dari Mizan yang ternyata isinya buku Drunken Monster!. Segera saja saya membacanya, dan benar apa yang dikatakan orang-orang yang sudah membacanya, ternyata buku catatan harian Pidi Baiq ini memang benar-benar gila dan lucu!

Buku catatan harian Pidi Baiq yang memiliki seabrek pengalaman ini (mantan vokalis band indie The Panasdalam, mantan Dekan sebuan Universitas di Bandung, anggota Tim Kreatif Project-P, Staf Ahli di Bimbel Villa Merah, konsultan di galeri seni dan budaya SPACE 59, serta ilusrator di Penerbit Mizan) sejatinya berasal dari seluruh jurnal hariannya di http://pidibaiq.multiply.com ini berisi 18 kisah-kisah keseharian seorang Pidi Baig.

Kesemua kisahnya membuat saya tertawa-tawa dalam hati, bahkan beberapa kisah sanggup membuat saya tertawa dengan keras sehingga membuat orang-orang di sekitar saya terheran-heran hehe…

Sebenarnya tidak ada kisah yang bombastis, tidak ada kisah yang mengada-ngada, semua kisah berangkat dari keseharian Pidi Baig seperti mengantar anak ke sekolah, naik kereta ke jakarta, obrolan dengan temannya, derita karena sakit, dll. Namun Pidi dengan keisengan dan cara berpikirnya yang memang usil membuat keseharian yang biasa-biasa saja menjadi kejadian-kejadian yang lucu dan menarik untuk dibaca.

Pidi memang unik, cara berpikirnya aneh, apa yang tidak terpikirkan oleh kita, terpikirkan oleh Pidi dengan keisengannya yang lucu. Pidi juga memiliki keberanian yang luar biasa untuk mengungkap dan bertindak apa yang dipikirkannya itu terhadap siapapun lawan bicaranya yang ia temui mulai dari tukang parkir, tukang becak, satpam, penjual rokok, hingga Rosi, istrinya sendiri. Semuanya dijadikannya objek kejahilannya. Untuk hal ini saya percaya bahwa Pidi memang ‘gila’ dan super jahil!

Selain itu cara penuturan Pidi pun tak lazim. Kalimat-kalimatnya meluncur melanggar tata bahasa Indonesia yang baku, semuanya seakan berjumpalitan semau-maunya. Pidi bermain-main dengan kalimat. Ia sering menjelaskan apa yang sebenarnya tidak perlu dengan kalimat-kalimat yang irit dan lugas. Karenanya bagi yang belum biasa membaca tulisan-tulisannya akan terasa sulit memahami apa yang dimaksud Pidi. Namun jangan khawatir kesulitan itu akan segera sirna ketika kita telah terbiasa membacanya.

Namun dibalik keunikan kalimatnya dan kelucuan kisah-kisahnya, ada juga beberapa kisah yang membuat saya tertawa dalam haru. Dibalik keisengan Pidi, sesuai dengan bunyi ucapan namanya “Pidi Baiq”, Pidi memang benar-benar baik dan dermawan. Ia tak segan-segan memberikan sejumlah uang yang cukup besar pada orang-orang kecil yang ditemuinya seperti tukang parkir, tukang becak, sopir taksi, tukang ojek, dll. Kisah yang paling membuat saya terharu adalah ketika Pidi mengantar tukang becak jalan-jalan ke kota dan mengantarnya satu persatu ke rumah masing-masing. (Monggo Mirno-hal 146)

Di buku ini yang semua kisahnya bersetting di Bandung, Pidi juga sempat menyentil realitas yang ada di kota Bandung, misalnya dalam kisah “Mengejar Kereta” , ia berseloroh bahwa gedung-gedung tua di sepanjang Braga sangatlah indah dan anggun. Ia heran mengapa gedung-gedung peninggalan penjajah malah bagus sehingga ia berpikir untuk mengajukan proporsal,

“Atau kita ngajuin proposal aja Bang?”
“Buat?”
“Buat Pemerintah Belanda atau Inggris lah. Minta kita dijajah lagi! Biar bangunannya kuat. Biar tata kotanya beres. Biar taman kotanya bagus!”
(hal 67).

Memang dalam kisah-kisahnya, Pidi memang tak hanya menawarkan kelucuan dan keisengannya, melainkan ada nilai-nilai kehidupan yang terbungkus dalam candanya. Siapa yang berpikir kritis dan mau sedikit berjerih memaknainya, pastilah akan memperolehnya.

Buku ini cocok untuk dibaca siapa saja. Bagi mereka yang kadang berpikir terlalu serius anggaplah buku ini sebagai penyeimbang dan sebuah tawaran agar bisa sedikit lebih ‘gila’ dan tak terlalu serius menghadapi kehidupan ini.

Dari segi buku-buku bergenre humor di Indonesia, mungkin inilah buku humor yang lain daripada yang lain. Salut untuk penerbitnya yang berhasil menemukan ‘kelainan’ dari sebuah catatan harian di media internet yang kini marak dibukukan. Yang pasti buku ini tutur menyemarakkan khazanah dunia perbukuan kita.

Ah, saya terlalu serius, pokoknya bacalah dan nikmatilah buku ini tanpa dibebani oleh berbagai komentar tentang buku ini yang tampaknya mulai bermunculan baik di media-media cetak maupun blog-blog pribadi. Lupakan ulasan saya ini segera dan bacalah bukunya, dan selamat memasuki alam pikir dan keseharian Pidi Baiq yang gila, ganjil, dan lucu.

Akhir kata, izinkan saya mengutip apa kata Prof. Dr. Bambang Sugiharto (Guru Besar Filsafat di Unpar dan ITB) dalam kata pengantar di buku ini :

Kegilaan dan permainan adalah terapi yang penting untuk menjaga kewarasan dan keindahan hidup. Manusia telah menjadikan hidup terlampau seirus, terencana dan rasional -terlampau “normal” kata Michel Foucault- hingga hidup tak lagi menawan, menggemaskan dan orang terjangkiti amnesia massal alias lupa. Lupa pada tertawa, lupa pada kekonyolan manusia yang kerap menggelikan. Lupa bahwa hidup barangkali sebuah permainan indah yang mengasyikan; akal-akalan manusia, permainanTuhan. (hal 14)

Sampai kita berjumpalitan !

@h_tanzil
Read more »

Selasa, 11 Maret 2008

Ayat-Ayat Cinta

Ayat-Ayat Cinta
Habiburrahman El Shirazy @ 2004
Penerbit Repulika - Cet. 30, Pebruari 2008
419 Hal.

Fahri, adalah mahasiswa asal Indonesia yang menuntut ilmu di Universitas Al-Azhar. Sosok pemuda yang halus budi pekertinya, pokoknya nyaris tanpa cela. Ia mengisi waktunya untuk menambah uang saku dengan menterjemahkan buku-buku bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia.

Tinggal di sebuah flat bersama beberapa mahasiswa asal Indonesia lainnya, bersahabat baik dengan salah satu keluarga yang tinggal di flat itu. Salah satu anaknya bernama Maria. Gadis beragama Kristen Koptik, tapi hafal salah satu surat di Al-Qur’an, yaitu surat Maryam.

Suatu hari, Fahri tanpa sengaja berkenalan dengan seorang gadis bercadar di metro yang dihina oleh orang Mesir karena menolong turis bule yang dianggap orang kafir. Fahri membela gadis bernama Aisha itu.

Dibanding dengan teman-teman satu flat-nya, Fahri memang bisa dibilang yang paling kalem dan paling ‘lurus’. Tutur katanya halus, tapi tegas. Sering ia mengutip ayat-ayat di Al-Qur’an atau hadits. Menjaga pandangannya terhadap perempuan, bahkan sering menangis jika melihat atau mendengar ada yang bertindak buruk pada perempuan.

Sikapnya ini sering membuat para perempuan jatuh cinta dan tidak segan-segan menyatakan ingin menjadi istrinya. Di antaranya adalah Noura, gadis Mesir yang dianiaya oleh keluarga sendiri, yang kemudian ditolong oleh Fahri. Tapi, cinta Noura bertepuk sebelah tangan, dan membuatnya malah menfitnah Fahri. Lalu, ada Nurul, rekan mahasiswi Indonesia, dan tentu saja, Maria dan Aisha… tapi, siapa yang dipilih sama Fahri?

Tapi, sikap Fahri yang selalu lurus itu mampu membuatnya melewati saat-saat terberat ketika harus berpisah dengan istrinya. Ah… apa benar ada laki-laki seperti Fahri?

Mmmm… agak ketinggalan mungkin gue baca buku ini. Sebenernya dulu, kira-kira setahun yang lalu, pernah punya buku ini, baca hanya beberapa lembar, tapi ‘gak kuat… bukan apa-apa, koq isinya ‘lurus’ banget… masih belum ‘kena’ di hati. Tergerak lagi baca buku ini karena ngeliat trailer film-nya yang sepertinya ‘seru’. Gue gak mau nonton filmnya dulu, takut terpengaruh dengan para tokohnya.

Sebelum memutuskan membaca buku ini (lagi), gue sempet baca buku ‘Ketika Cinta Bertasbih’ – ada dua jilid. Dan karena gak ada ‘feel’-nya, gue gak bisa nulis ‘review’ buku tersebut.

Ceritanya gak jauh beda dengan Ayat-Ayat Cinta, masih bertema pemuda baik-baik di perantauan Mesir, yang harus berjuang menyelesaikan kuliah yang udah dibiayai dengan menjual tanah di kampung. Lalu, ending-nya juga mirip, menemukan cinta sejati-nya, lalu menikah. Koq jadi seperti pengulangan tema, aja.

Mungkin ini sama aja dengan ‘Cinderella Story’ yang berakhir bahagia setelah melewati berbagai penderitaan. Tapi, emang sih, kalo mau dibaca dengan amat sangat mendalam, banyak hal-hal yang positif yang bisa diambil.

Banyak yang bilang buku ini amat sangat menyentuh… sangat bagus… tapi, entahlah, buku ini ‘gak gue banget… ya… mungkin ‘iman’ gue masih kurang tebal untuk mengerti dan menangkap intisari novel ini… tapi… satu kalimat di akhir cerita, cukup ‘menyentil’ gue…

“Aku masih mencium bau surga. Wanginya merasuk ke dalam sukma. Aku ingin masuk ke dalamnya. Di sana aku berjanji akan mempersiapkan segalanya dan menunggumu untuk bercinta. Memadu kasih dalam cahaya kesucian dan kerelaan Tuhan selama-lamanya.” (hal. 402)
Read more »

Senin, 10 Maret 2008

An Affair to Forget

Judul : An Affair to Forget – Mencintai saja tak pernah cukup
Penulis : Armaya Junior
Penyunting : GIta Romadhona
Penerbit : Gagas Media
Cetakan : I, 2008
Tebal : 237 hlm

Hal pertama yang kubayangkan ketika seorang perempuan dikhianati adalah marah besar, bahkan bukan tak mungkin menggugat cerai suaminya. Tapi ketika pengkhianatan itu menimpa Anna, sahabatku, semua itu tak kutemukan darinya. Sebagai perempuan mandiri dan tegar, dia memilih jalan yang bagi orang lain terasa mustahil, yaitu berusaha mencari informasi tentang perempuan selingkuhan suaminya dan..berteman dengannya.

Awalnya tak ada yang salah dengan pernikahan Toni dan Anna, sembilan tahun sudah pernikahan yang mereka lewati. Keluarga yang romantis dan bahagia, dua anak, dan perekonomian yang mapan karena Toni dan Anna sama-sama bekerja dan memiliki karir yang menjanjikan. Namun tiba-tiba Anna melihat keganjilan atas perilaku suaminya. Naluri kewanitaannya sebagai seroang istri mengatakan bahwa Tony telah berselingkuh dengan wanita lain.

Dengan bantuan sahabatnya, Anna mencoba membuktikan kecurigaannya. Dan ternyata benar, Toni, suaminya berselingkuh. Tak dapat dipungkiri kalau ia merasakan pedih dan sakit hati. Namun Anna bukanlah tipe wanita yang cengeng. Ia tidak larut dalam kesedihan, melainkan berusaha untuk mengembalikan suaminya ke dalam pelukannya kembali.

Akhirnya Anna berhasil menemukan wanita selingkuhan suaminya. Ia adalah seorang klien suaminya yang bernama Dini. Namun apa yang dilakukan Anna bukanlah melabrak Dini, atau mengancam suaminya agar segera meninggalkan Dini atau bercerai dengannya. Tidak! Anna justru melakukan tindakan yang sama sekali diluar dugaan siapapun. Ia tekan rasa pedih dan sakit hatinya, alih-alih menaruh dendam dan amarah kekasih suaminya, Anna malah menjalin persahabatan dengan Dini, wanita yang jelas-jelas ingin merengut kebahagiaan rumah tangganya.

Perselingkuhan memang merupakan masalah terbesar dalam keutuhan suatu rumah tangga dan merupakan penyebab utama perceraian. Banyak sudah kisah perselingkuhan diangkat dalam ranah fiksi, namun yang membuat novel ini istimewa adalah bagaimana akhirnya sebuah perselingkuhan diakhiri dengan cara yang tidak lazim seperti yang sering kita dengar dan baca baik di kisah-kisah nyata maupun kisah-kisah fiksi.

Melalui kisah yang dinarasikan oleh tokoh “Aku” selaku sahabat Anna, pembaca akan diajak mengikuti perjuangan Anna untuk merebut kembali suaminya ke pelukannya. Walau bercerita kepedihan soerang wanita namun tidak ada narasi cengeng dalam novel ini. Tokoh-tokoh dalam novel ini adalah tokoh yang tegar, berpendidikan, dan memiliki gaya hidup modern.

Kehidupan masyarakat metropolis menengah keatas dengan gaya hidup yang bebas tergambarkan juga melalui semua tokoh dalam novel ini. Hubungan one night stand untuk mendapatkan seks dan cinta sesaat merupakan hal yang lumrah. Kencan yang berakhir dengan hubungan seks bukan hal yang aneh. Kalaupun ada penyesalan karena telah melakukan hubungan seks, itupun bukan karena tokohnya ingat akan dosa, melainkan karena hubungan persahabatan yang mungkin akan rusak akibat seks.

Karenanya novel ini benar-benar hanya dapat dibaca oleh mereka yang telah berpikir secara dewasa. Deskripsi hubungan seks dan adegan percumbuan walau disampaikan dengan halus namun sanggup membawa pembacanya masuk dalam imajinasi kenikmatan cinta.

Namun dibalik kehidupan bebas para tokoh-tokohnya, ada satu hal yang menarik dan menggugah kesadaran pembacanya. Melalui kisah cinta Anna dan Toni yang begitu romantis dan menggebu-gebu ternyata hal itu tak otomatis membuat rumah tangga mereka bebas dari hantaman badai. Ternyata mencintai saja tak cukup. Ada beberapa hal yang tentunya akan kita peroleh setelah membaca novel ini.

Armaya Junior memang pencerita yang mahir, kita akan dibuat betah menikmati novel ini dan selalu dibuat bertanya-tanya bagaimana kira-kira peristiwa selanjutnya dari kejadian-kejadian yang terjadi di novel ini. Amarya tampaknya juga mahir dalam mendeskripsi detail sebuah tempat atau peristiwa. Selain deksrpisi percumbuan yang memabukkan , pembaca juga diajak masuk dalam detail mengenai rumah dan furniturnya. Dan satu lagi yang unik, pembaca diajak sejenak masuk dalam dunia Akuntansi lewat dialog tokoh-tokohnya.

Novel dengan materi politik, filsafat, budaya, kedokteran, hukum, dll sering kita baca. Namun novel dengan muatan Akuntansi ? rasanya dalam ranah fiksi tanah air, baru Amara Junior yang melakukannya. Salut untuk penulis yang telah melakukan terobosan ini. Bagi pembaca yang mengenal dunia akuntansi hal ini tentu saja sangat menarik, namun bagi mereka yang tidak mengenal permasalahan akuntansi hal ini menjadi bagian yang membosankan.

Namun jangan khawatir, materi akuntansi dalam novel ini tidaklah banyak. Hanya ada dua bagian, di kisah-kisah awal dan di bagian akhir ini. Nah, di bagian mendekati akhir novel (hal 163-165) inilah yang tampaknya agak mengganggu kenikmatan membacanya. Ketika emosi pembaca sudah memuncak ingin segera mengetahui akhir dari kisah ini, tiba-tiba penulis kembali memasukkan dialog akuntansi, walau tak banyak namun cukup mengganggu. Mungkin sebaiknya materi akuntansinya dipadatkan saja dibagain-bagian awal agar emosi pembaca tak terganggu.

Akhirnya dengan segala kelebihan dan kekurangannya, novel yang menurut penulisnya diangkat dari kisah nyata plus materi akuntansi ini telah hadir dan menyemarakkan khazanah sastra kita. Jika mau dicermati dan dimaknai, apa yang telah disajikan oleh penulisnya bukanlah sekedar novel cinta yang menghibur belaka, ada sebuah pesan yang tampaknya ingin disampaikan, selain mencerdaskan pembacanya dengan materi akuntansinya, novel ini juga membuka pikiran pembacanya bahwa ada alternatif lain dalam memecahkan masalah. Mencintai saja tak pernah cukup untuk memelihara keutuhan rumah tangga.

Seperti yang terdapat di lembar terakhir novel ini, Anna mengungkap bahwa ia mau kisah cintanya ini dibukukan agar bisa berbagi kepada banyak orang, “Aku mau share pengalaman biar semua perempuan tahu alternatif memelihara pernikahan mereka” (hal 237)

Tentang Penulis

Armaya Junior adalah nama pena dari Ardian Syam, yang saat ini bekerja di sebuah BUMN terkenal di Medan dan memiliki latar belakang pendidikan Magister Akuntasi
Ia dikenal sebagai seorang penulis buku-buku motivator, “Kacamata Kuda” (Amara Books,2006), Instrumen Orang Sukses (LP-FEUI, 2007), selain itu artikel-artikel motivasinya juga dapat dibaca di www.bukakacamatakuda.blogspot.com. atau di www.andriewongso.com .

Sebagai penulis motivasi ia kini mencoba masuk dalam ranah fiksi. Sebelumnya Armaya memang pernah menulis beberapa puisi dan cerpen di muat di beberapa koran Medan. Mengapa sampai menulis novel? Berdasarkan pengamatannya, ia beranggapan masyarakat kita lebih menyerap pesan apapun lewat media fiksi (seperti cerpen, novel, sinetron, film TV maupun film bioskop). Maka selain menyampaikan pesan lewat media-media serius seperti buku motivasi, ia mencoba menyampaikan lewat novel.

Karena ditantang oleh seorang temannya untuk membuat sebuah novel dengan muatan akuntansi, dan anggapan sebagian besar orang bahwa akuntansi tidak menarik untuk diceritakan, darah akuntannya lalu menggelegak untuk menjawab tantangan tersebut. Maka lahirlah novel perdananya ini dengan muatan akuntansi didalamnya.

Kabarnya Armaya tengah mempersiapkan dua buah novel berikutnya yang juga memasukkan unsur-unsur akuntansi di dalamnya. Selain itu, ia juga sedang menulis buku akuntansi dengan metode yang menyenangkan. Dengan gaya bercerita, dan sebanyak mungkin menghindari kata-kata yang berat, dan diimbuhi dengan komik.

Jika Armaya Junior a.k.a Ardian Syam konsisten menulis novel dengan muatan akuntansi secara menarik, bukan tak mungkin akan terbit genre baru dalam dunia sastra tanah air, yaitu genre SASTRA AKUNTANSI !


@h_tanzil
Read more »

Minggu, 02 Maret 2008

The Food of Love

The Food of Love (Santapan Cinta)
Anthony Capella @ 2004
Andang H. Sutopo (Terj.)
GPU, Februari 2008
502 Hal.

Laura Patterson, datang ke Roma untuk belajar seni. Tapi, tentu saja rentang waktu satu tahun di Roma tidak mungkin dilewatkan tanpa berkencan dengan cowok-cowok Italia. Lelah dengan cowok Italia yang payah, membuat Laura membuat janji pada dirinya sendiri untuk hanya berkencan dengan cowok yang jago masak. Itulah yang dikatakan Laura pada Carlotta, sahabatnya, via telepon di suatu pagi di sebuah kedai kopi.

Pernyataan itu terdengar oleh Tommaso Masso yang kebetulan juga ada di kedai kopi itu. Tommaso adalah cowok Italia yang gemar berkencan dengan turis-turis. Dinding lemarinya penuh dengan foto perempuan yang pernah berkencan dengannya, yang sebagian besar berambut pirang. Pada kesempatan pertama, Tommaso tidak sempat berkenalan dengan Laura yang menganggapnya hanya cowok iseng. Perjumpaan kedua di sebuah supermarket tidak disia-siakan oleh Tommaso yang secara halus ‘memamerkan’ keahliannya dalam bidang memasak.

Selanjutnya… ajakan kencan tidak dapat ditolak oleh Laura. Tommaso menjanjikan masakan yang paling lezat yang pernah dirasakan oleh Laura. Tapi, masalahnya, Tommaso bukanlah chef. Ia hanya seorang pelayan biasa yang kedudukannya sangat rendah sampai-sampai ia bisa disuruh melakukan pekerjaan ‘kasar’ apa pun. Untuk membuat Laura terpesona, Tommaso minta bantuan sahabatnya, Bruno, yang memang seorang chef.

Bruno, juga tengah jatuh cinta pada seorang gadis yang ditemuinya di pasar sayur. Ia membayangkan sosok gadis itu ketika berkreasi membuat masakan pesanan Tommaso. Dan, memang betul, Laura langsung bertekuk lutut setelah mencicipi masakan yang super duper yummy itu!

Tapi, kejutan gak hanya sampai di situ. Bruno kaget ketika tahu ternyata gadis Tommaso adalah gadis yang sama dengan yang ditemuinya di pasar sayur, gadis yang diam-diam selalu ada dalam pikirannya.

Masalah lain pun timbul. Laura makin tergila-gila pada Tommaso… atau lebih tepatnya ‘masakan’ Tommaso. Tapi, Tommaso mulai kembali pada ‘hobi’nya berkencan dengan para turis. Laura kecewa dan marah. Bruno pun kena getahnya. Laura tak hanya benci pada Tommaso, tapi juga pada Bruno. Padahal Bruno belum sempat mengutarakan perasaannya pada Laura.

Ceritanya lumayan kocak. Mengingatkan gue pada film Rattouille. Selain diajak jalan-jalan ke pelosok-pelosok Italia, pembaca bakalan dibuat ‘lapar’ dengan menu-menu aneh tapi tampaknya enak banget… bener-bener Mamma Mia…. Makanan bukan hanya sekedar makanan untuk memuaskan rasa lapar, tapi dengan bumbu-bumbu tertentu, akan banyak kejutan tak terduga!
Read more »