Minggu, 29 Juni 2008

Nur Jahan: The Queen of Mughal

Nur Jahan: The Queen of Mughal (The Feast of Roses)
Indu Sundaresan @ 2002
Hikmah, Cet, I - Mei 2008
684 Hal.

Setelah 17 tahun, mimpinya jadi kenyataan, Mehrunnisa menjadi istri Sultan Jahangir ke dua puluh dan yang terakhir. Pernikahan ini benar-benar berdasarkan cinta, tidak dicampuri oleh urusan politik. Karena tidak ada darah ningrat dalam diri Mehrunnisa yang akan membawa keuntungan bagi Kesultanan Mughal.

Tapi, ternyata hal ini tidaklah cukup bagi Mehrunnisa, yang kemudian diberi gelar Nur Jahan – Cahaya Dunia – oleh Sultan Jahangir. Ambisi masa kecilnya untuk menjadi seorang ratu, berkembang menjadi ambisi untuk menguasai kedudukan yang lebih tinggi sejauh yang diperkenankan sang Sultan. Nur Jahan ingin menjadi wanita nomer satu di dalam zenana, yang berarti menggeser kedudukan Ratu Jagat Gosini sebagai Padshah Begam.

Nur Jahan juga ingin mempunyai peranan dalam urusan pemerintahan. Ia ingin menguasai Sultan Jahangir. Dan, Sultan Jahangir pun menjadi seolah ‘boneka’ yang memainkan peran atas keinginan Nur Jahan. Demi mempertahankan kedudukannya, Nur Jahan merangkul Ghias Beg, ayahnya, lalu Abul, kakak laki-lakinya dan Pangeran Khurram yang bertunangan dengan Arjumand, keponakan Nur Jahan. Nur Jahan ikut serta dalam pengambilan keputusan tentang kedatangan Inggris dan Portugis di India.

Banyak pihak-pihak yang tidak rela Sultan mereka ‘diperintah’ oleh sang Ratu. Kala itu, amatlah tabu seorang perempuan berperan secara langsung dalam pemerintahan. Tapi, seolah buta dan tuli, Sultan Jahangir tak peduli dengan protes dan meluluskan semua permintaan Nur Jahan demi rasa cintanya.

Ketamakan Nur Jahan malah menghasilkan kekacauan yang akhirnya malah membuatnya jatuh. Tak puas sudah berhasil menikahkan Pangeran Khuram dengan Arjumand, Nur Jahan malah meminta Pangeran Khuram untuk menikah lagi dengan putri semata wayangnya, Ladli. Permintaan itu ditolak Pangeran Khurma. Nur Jahan berang, dan meminta kepada Sultan Jahangir untuk mencoret nama Pangeran Khuram sebagai penerus takhta berikutnya.

Di antara empat putra Sultan Jahangir, hanyalah Pangeran Khuram yang memiliki potensi sebagai Sultan berikutnya. Pangeran Khusrau, setelah pemberontakan merebut mahkota dari ayahnya sendiri, telah dibutakan oleh Sultan Jahangir, dan dikabarkan menjadi setengah gila. Lalu Pangeran Parviz, kerjanya hanya mabuk-mabukan dan sama sekali tidak bisa diandalkan. Terakhir, ada Pangeran Shahryar yang tidak peduli terhadap pemerintahan, selama ia bisa puas bermain-main dengan para dayang-dayangnya.

Pemberontakan demi pemberontakan datang mengancam Kesultanan Mughal. Kesehatan Sultan Jahangir mulai menurun akibat asma yang dideritanya. JuntaI yang dibentuk Nur Jahan pun pecah. Pangeran Khuram memilih untuk memberontak, menghalalkan segala cara, termasuk membunuh saudaranya sendiri, demi mengamankan posisinya sebagai pewaris mahkota berikutnya.

Andai saja, Nur Jahan sedikit lebih sabar, ‘kudeta’ tak disengaja tidak akan terjadi. Tapi, akhirnya, Nur Jahan hidup dalam pengasingan. Namanya pelan-pelan memudar. Dibanding keponakannya, Arjumand yang hanya berperan sebagai ratu selama empat tahun, nama Nur Jahan seolah lewat saja dalam sejarah India. Tapi, tidak ada, ratu yang memiliki koin yang tercetak atas namanya selain Nur Jahan. Paling tidak, Nur Jahan sudah berhasil menancapkan kukunya dalam pemerintahan selama 17 tahun sebagai Ratu Mughal.

Buku kedua ini, sekuel dari Mehrunnisa: The Twentieth Wife, lebih banyak bercerita tentang sepak terjang Mehrunnisa dalam kancah politik. Meskipun dimodifikasi sana-sini, cerita dalam buku ini menggambarkan sejarah India yang ternyata ‘penuh darah’. Bener-bener menunjukkan kalau Mehrunnisa adalah perempuan yang ambisius, keras, terkadang licik.
Read more »

Minggu, 22 Juni 2008

Lolita

Judul : Lolita
Penulis : Vladimir Nabokov
Penerjemah : Anton Kurnia
Penerbit : PT. Serambi Ilmu Semesta
Cetakan : I, Maret 2008
Tebal : 529 hal

Novel Lolita adalah mahakarya Vladimir Nobakov (1899-1977), penulis kelahiran Rusia yang kemudian menetap di Amerika Serikat. Walau kini Lolita telah diakui sebagai salah satu karya sastra klasik dunia, novel ini sempat dilarang beredar dan ditolak oleh beberapa penerbit Amerika karena tema dan isinya dianggap tidak senonoh dan melanggar standar moral masyarakat pada zaman itu

Novel ini akhirnya diterbitkan untuk pertama kalinya dalam bahasa Perancis oleh Olympia Perss, 15 Sept 1955, penerbit Perancis yang biasa menerbitkan buku-buku serius dan beberapa buku ‘dewasa’. Seketika itu pula novel ini menjadi best seller dan laris terjual 5000 kopi. Langsung saja novel ini menuai kontroversi, akibatnya pada Desember 1956 pemerintah Perancis melarang peredaran novel ini selama hampir dua tahun lamanya.

Selang dua tahun setelah edisi pertamanya terbit di Perancis, pada 1958 Lolita diterbitkan di Amerika oleh penerbit G.P. Putnam's Sons. Sama seperti di Perancis, novel ini langsung menjadi best seller dan terjual 100.000 kopi pada tingga minggu pertama setelah diterbitkan.



Cover Lolita cetakan pertama
Olympia Perss, Sept 1955





Apa sebenarnya yang ditulis oleh Nobakov dalam novelnya ini? Novel Lolita yang diyakini mengandung elemen-elemen autobiografis Nobakov ini merupakan memoar seorang profesor bernama Humbert Humbert yang menuliskan petualangan cintanya bersama Lolita. Dalam bab pendahulaun dikisiahkan pada saat memornya diterbitkan, Humbert tewas dalam tahanan akibat penyakit jantung pada 1952. Memoar yang diberi judul “Lolita, ATAU Pengakuan Seorang Duda” ini akhirnya sampai ke tangan seorang editor yang kemudian menerbitkannya dengan judul Lolita. Dari memoar inilah cerita dalam novel ini bergulir.

Humbert Humbert adalah seorang terdidik yang lahir di Paris. Seperti umumnya pria remaja, gairah remajanya dilewatinya dengan menjalin cinta monyet dengan Annabel Leigh. Malangnya cintanya pada Annabel kandas karena kekasihnya meninggal akibat penyakit tipus. Menurut pengakuan Humbert kisah cintanya dengan Annabel inilah yang membuat dirinya mulai tertarik secara seksual kepada gadis-gadis kecil berusia 9 sampai 14 tahun yang disebutnya sebagai ‘peri asmara’ (nymphet).

Ketika beranjak dewasa gairahnya pada para peri asmara terus membuncah. Untuk menekan gairahnya ganjilnya ini Humbert akhirnya menikah dengan Vallerie gadis sepantarannya yang menurutnya memiliki gaya dan pesona seorang gadis kecil. Namun rumah tangganya ini tak berlangsung lama, Vallerie menghianatinya dan akhirnya merekapun bercerai.

Setelah bercerai, Humbert memutuskan berkelana ke Amerika. Jalan hidupnya menempatkan dirinya tinggal dalam sebuah pondokan di Ramsdale, New England. Di tempat inilah Humbert terkesiap melihat sosok Lolita, gadis berusia 12 tahun yang merupakan putri Charlote si pemilik pondokan. Humbert yang saat itu berusia tigapuluhan tak kuasa menahan gejolak asmara dan berahinya melihat Dolorez Haze atau Lolita, gadis kecil yang jelas merupakan ‘peri asmara’ baginya.

Demi mendapatkan cinta dan tubuh Lolita, Humbert rela menikahi Charlote, ibu gadis itu. Sempat terbesit niat jahatnya untuk membunuh Charlote. Namun keberuntungan seolah berpihak padanya. Charlote tewas dalam sebuah kecelakaan. Tanpa banyak menunggu, Lolita yang saat itu sedang mengikuti perkemahan bersama sekolahnya dijemput oleh Humbert dan dibawanya mengelilingi Amerika Serikat. Dan dimulailah petualangan cinta terlarang antara ayah dengan anak tirinya.


Salah satu adegan film Lolita ketika Humbert bersama Lolita melakukan perjalanannya keliling Amerika

Lolita, Directed by Stanley Kubrick, 1962


Novel ini menjadi menarik selain karena tema cinta terlarang antara ayah dan anak tirinya, Nabokov juga dengan deskriptif melukiskan nuansa psikologis tokoh-tokohnya dengan disertai penokohan yang kuat . Humbert yang berkepribadian rumit dan Lolita seorang pecinta kebebasan namun terkadang misterius. Dengan piawai Nabokov menggiring pembacanya untuk memahami kekuatan cinta seorang Humbert terhadap Lolita. Bagaimana keragu-raguannya ketika pertama kali berniat menyentuh tubuh anak tirinya, dan bagaimana Lolita melakukan tarik ulur dalam merespon cinta ayah tirinya.

Emosi pembaca akan dibawa pada rasa kasihan dan geram terhadap Humbert dan Lolita. Kasihan karena sesungguhnya Humbert adalah pribadi yang kesepian yang membutuhkan cinta. Geram karena gairahnya yang menggebu-gebu terhadap Lolita, kadang Humbert tak mempedulikan Lolita yang sedang sakit dengan tetap mencumbunya.

Bagi sebagian pembaca mungkin akan menganggap novel ini bukan novel yang cair dan mudah dimengerti karena Nabokov banyak mengeksplorasi kondisi kejiwaan dan lamunan-lamunan Humbert. Selain itu novel ini juga banyak menggunakan simbol-simbol yang baru akan dimengerti oleh pembacanya setelah melahap habis novel ini hingga lembar terakhir. Namun bagi sebagian pembaca lainnya justru hal-hal itulah yang membuat novel ini mengasyikan untuk dibaca hingga tuntas.

Meskipun bukan novel yang mudah dicerna, novel ini sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja. Agar dapat menikmati novel ini ada baiknya kita membacanya lebih ke pendekatan psikologis dibanding naratif sehingga kita bisa menikmati dan memahami gejolak jiwa Humbert yang sakit.

Menurut penerjemah novel ini, Anton Kurnia, yang dikenal sebagai cerpenis sekaligus penerjemah karya-karya sastra dunia. Nabokov memang menulis novelnya ini dengan menggunakan kalimat yang panjang-panjang dan sebagai besar berisi lamunan Humbert yang sakit jiwanya. Untuk itu Anton tak jarang harus memotong satu kalimat panjang dalam novel ini menjadi dua atau bahkan tiga kalimat agar lebih mudah dan tidak capek membacanya.

Hal itulah yang membuat Anton harus berjerih lelah untuk menghadirkan terjemahan yang baik. Menurut pengakuannya untuk menerjemahkan novel yang dalam edisi bahasa Inggrisnya setebal 300-an halaman ini, ia memerlukan waktu satu tahun hingga novel tersebut siap dicetak. “Ini terjemahan paling sulit dan paling lama yg saya tangani,: ini lebih berat dari les miserables (Victor Hugo)”, ungkap Anton. Namun walau sulit, Anton justru menikmati proses penerjemahannya ini, “Saya suka Lolita jadi saya ikuti terus liku-likunya”, imbuhnya.

Walau novel ini sempat menuai kontroversi tapi saya sendiri tak melihat ada sesuatu yang berlebihan dalam novel ini. Selain temanya yang tak lazim dalam standar moral masyarakat pada umumnya, rasanya tak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Deskripsi pelampiasan gairah Humbert terhadap Lolita saya pikir masih dalam batas-batas keindahan sastrawi, masih kalah dengan beberapa novel-novel lokal yang terkesan lebih berani dalam mengurai adegan percintaan.

Yang pasti novel yang kini telah menjadi salah satu karya sastra klasik dunia, pada masanya pernah menjadi buku laris selama puluhan tahun. Karena kepopulerannya, Lolita sempat dua kali diangkat ke layer lebar (1962 & 1997). Berbagai pujian dianugerahkan kepada novel ini. BBC mendapuk Lolita sebagai novel terbaik sepanjang masa, Majalah Times menyatakan bahwa Lolita adalah salah satu diantara tiga novel paling berpengaruh di dunia.

Modern Library yang beranggotakan sejumlah pengarang, kritisi sastra dan itelektual ternama pada tahun 1998 melakukan pemilihan 100 novel terbaik abad ke dua puluh yang ditulis dalam bahasa Inggris. Pemilihan ini disusun berdasarkan peringkat. Lolita masuk dalam peringkat keempat dibawah Ullyses (James Joysce), The Great Gastsby (F.Scott Fizgerald), dan A Portrait Of The Artist As a Young Man (James Joyce).


Jadi tak ada alasan lagi untuk tidak membaca novel ini. Salut untuk Serambi yang telah menerjemahkan novel ini. Walau novel ini terlambat diterjemahkan lebih dari 50 tahun, namun tak ada kata terlambat untuk membaca sebuah karya sastra klasik dunia. Dan lagi apa yang diangkat oleh Nabokov dalam novel ini tampak masih relevan untuk masa kini. Jika kita mau menengok sekeliling kita, ada banyak Humbert-Humbert disekeliling kita baik yang secara terus terang maupun sembunyi-sembunyi.

Dan yang pasti seperti yang ditulis dalam novel ini ; “Lolita seharusnya membuat kita semua para orangtua, pekerja sosial, pendidik – meningkatkan wawasan dan kewaspadaan dalam menunaikan tugas membesarkan gernerai yang lebih baik dalam sebuah dunia yang lebih aman.” (hal 11)


@h_tanzil
Read more »

Selasa, 10 Juni 2008

Apartemen Yacoubian: Kecamuk Cinta di Bumi Seribu Menara

Apartemen Yacoubian: Kecamuk Cinta di Bumi Seribu Menara
(‘Imarat Ya’qubyan)

Alaa Al Aswany @ 2002
Anis Masduki (Terj.)
Serambi – April 2008
358 Hal.

Pada tahun 1934, seorang hartawan asal Armenia bernama Hagop Yacoubian, mendirikan sebuah apartemen yang berlokasi di Jalan Sulaiman Pasha, Mesir. Apartemen ini kemudian diberi nama yang sama dengan nama pemiliknya. Apartemen Yacoubian mempunyai arsitektur bergaya Eropa klasik. Pada awalnya, penghuni apartemen ini adalah orang-orang penting, berasal dari kalangan bangsawan, pejabat pemerintahan dan para pengusaha asing. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, berbagai kejadian – revolusi di Mesir, meninggalnya si pemilik – turut merubah ‘penghuni’ dari apartemen itu.

Di masa sekarang, penghuni apartemen itu berasal dari berbagai kalangan dengan berbagai latar belakang yang unik. Ada yang kaya, ada yang miskin, ada pemuda jujur, bahkan orang-orang yang licik. Bagian-bagian apartemen itu pun ada yang dialihfungsikan. Misalnya, di bagian atap bangunan itu ada kamar-kamar besi yang awalnya adalah ruang penyimpanan barang-barang dari penghuni apartemen itu. Namun, kepimilikan yang terus berganti, membuat fungsi kamar besi pun berubah menjadi ‘rumah tinggal’ bagi masyarakat kelas bawah.

Novel ini pun berkisah tentang liku-liku kehidupan para penghuni apartemen yang sebagian besar ‘bernuansa’ suram. Sebut saja, Zaki Bey. Ia bukan penghuni tetap apartemen ini, tapi, ia mempunyai kantor di gedung ini yang merupakan warisan ayahnya. Zaki Bey, seorang laki-laki tua yang masih melajang tapi gemar main perempuan. Setiap orang yang kenal dengannya, sering minta pendapat Zaki Bey untuk menaklukan perempuan.

Lain lagi, dengan Haji Muhammad Azzam, yang mempunyai kios toko pakaian di apartemen ini, menggunakan salah satu kamar untuk ‘menyembunyikan’ istri simpanannya, Suad, perempuan Mesir asal Aleksandria yang menikahinya karena alasan uang. Diceritakan juga bagaimana sepak terjang Haji Azzam untuk masuk ke dunia politik dengan cara yang licik.

Itu belum seberapa dengan Hatim, redaktur koran yang menjadikan kamar apartemennya untuk melakukan sebuah hubungan terlarang dengan tentara miskin bernama Abduh. Meski Abduh sudah punya istri dan anak, tapi toh tidak menghalangi mereka terus menjalani hubungan sesama jenis.

Sementara itu, kisah di bagian atap bangunan ini juga tak kalah rumit. Adalah Thaha, seorang pemuda yang idealis. Ia kerap dijadikan bahan olok-olok anak-anak di gedung itu hanya karena ia adalah anak seorang bawwah – seorang pembantu. Ia berusaha membangkitkan rasa percaya dirinya dengan bercita-cita menjadi seorang polisi, agar orang-orang tidak lagi memandangnya sebelah mata. Tapi, justru cita-cita itulah, yang membuatnya kecewa dan berganti haluan. Ketika ia melanjutkan kuliahnya, Thaha bergabung dengan sebuah kelompok Muslim yang radikal. Tapi, malang, hal ini malah membuatnya mengalami sebuah trauma yang membuat harga dirinya jatuh.

Sementara itu, kekasih Thaha, Busainah, pun mulia berubah sejak ayahnya meninggal. Ia diharapkan menjadi tulang punggung keluarganya. Kecantikannya membuat ia mudah memperoleh pekerjaan, tapi tertanya itu pun harus dibayar dengan mengorbankan harga dirinya.

Buku ini terbagi dalam dua bagian. Bagian pertama adalah pengenalan tokoh-tokoh. Masa lalu mereka dan bagaimana mereka sampai di titik kehidupan saat ini. Hampir tidak ada percakapan dalam bagian pertama ini. Nyaris membuat gue berhenti membaca buku ini. Ya… tau deh.. gue paling males baca buku yang minim percakapan… Tapi, pelan-pelan diikuti, ternyata buku ini mengasyikan juga. Konflik setiap tokoh bikin buku ini jadi menarik.

Lalu, masuk ke bagian kedua, mulailah tampak bagaimana beberapa tokoh akhirnya berhubungan, atau malah ‘lepas’ sama sekali dari lingkungan Apartemen Yacoubian.

Setiap tokoh diberi porsi yang pas untuk mulai dan mengakhiri kisah mereka. Ada yang tragis banget… ada yang romantis…
Read more »

Minggu, 08 Juni 2008

Perjalanan Ajaib

No.
Judul : Chicken Soupr for The Soul – Perjalanan Ajaib
Genre : Graphic Novel / Komik
Gambar oleh : Kim Donghwa
Penerjemah : Prasasti Budiyanto
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : 2008
Tebal : 145 hal

Buku seri Chicken Soup for The Soul seakan tak pernah ada matinya. Sudah lebih dari 10 tahun ketika Jack Canfield dan Mark Victor Hansen mengumpulkan kisah-kisah nyata yang inspiratif dan menyentuh hati yang kemudian dirangkai dalam sebuah buku bertajuk Chicken Soup for The Soul. Setelah buku pertamanya sukses dipasaran, buku ini seolah tak dapat dibendung lagi. Jack Canfield & Victor Hansen melanjutkan proyeknya, hasilnya berpuluh-puluh tema buku dibawah judul Chicken Soup for The Soul terus diterbitkan dan diterjemahkan ke berbagai bahasa di dunia termasuk di Indonesia hingga kini.

Selain terus munculnya judul-judul baru, seri Chicken Soup juga telah diadaptasi kedalam novel grafis (komik) oleh komikus Korea, Kim Donghwa. Tahun 2006 terjemahan dua buah komik adaptasi Chicken Soup yang bertajuk “Hadiah Terindah” dan “Pelajaran Berharga” diterbitkan oleh Gramedia. Kabarnya komik ini laris manis di pasaran sehingga kini terbit pula komik ketiga Chicken Soup dengan judul Perjalanan Ajaib (2008) yang diadaptasi dari A 2 nd Helping of Chicken Soup fot The Soul & A 3 rd Serving of Chicken Soup for The Soul.

Perjalanan Ajaib yang dijadikan judul novel grafis ini merupakan kisah seorang editor yang dalam sebuah kunjungannya ke sebuah desa terpencil menemukan sebuah toko buku bekas. Secara tak diduga di toko buku tersebut ia menemukan sebuah buku kesayangannya yang dulu pernah diloakkan ke penjual buku bekas.

Ia merasa seperti bertemu dengan teman masa kecil secara tak terduga. Terbesit keinginan untuk membelinya kembali, tapi ia kemudian menyadari bahwa buku tersebut mungkin telah berganti pemilik beberapa kali, dan kisah dalam buku itu telah menyentuh beberapa pembacanya. Jika ia membeli kembali buku itu, maka perjalanan buku tersebut akan terhenti. Jadi ia membiarkan buku tersebut melanjutkan perjalanan untuk menyentuh hati pembaca-pembaca lainnya

Selain itu ada pula kisah berjudul Pelajaran dari Angsa, dimana dikisahkan perilaku rombongan angsa yang terbang untuk berpindah tempat karena perubahan musim. Dalam perjalanannya jika ada seekor angsa sakit dan tak bisa terbang, maka dua ekor angsa lainnya akan mendampingi angsa yang sakit itu, melindungi dan menolongnya mendarat di tanah sampai angsa itu dapat terbang lagi. Jika angsa yang sakit itu sekarat, dua angsa itu akan menunggu dan baru akan bergabung dengan kawanan angsa lainnya jika angsa yang sakit itu mati.

Masih banyak kisah-kisah menarik lainnya tentang kebaikan dan ketegaran hati yang menghiasi halaman-halaman buku ini. Tak perlu banyak komentar akan buku ini. Yang pasti selain ketigabelas kisah-kisahnya yang menyentuh dan isnspiratif, mata pembaca juga akan dimanjakan dengan sapuan warna dan gambar Kim Donghwa yang sangat indah.

Karena bentuknya komik berwarna dan digambar dengan gaya komik-komik jepang atau korea pada umumnya, serta cover yang samangat menarik, tak heran buku ini akan menarik perhatian anak-anak untuk membacanya. Kisah-kisahnya pendek-pendek, untuk satu kisah hanya diperlukan 5-12 halaman dengan panel-panel gambar yang dinamis dan teks-teks dalam balon percakapan yang tidak terlalu panjang, karenanya bukan mustahil anak-anakpun bisa memahaminya.

Yang pasti, komik Chicken Soup for The Soul – Perjalanan Ajaib ini dipilih oleh anak saya Sherine (7 tahun) ketika ia diajak ke toko buku. Ternyata dia bisa menikmati buku yang dipilihnya ini. Memang ada kisah-kisah yang tidak dimengerti maknanya, jika demikian tentunya saya akan membantunya untuk memahami buku ini.

Karenanya tak berlebihan jika komik Chicken Soup ini bisa kita jadikan sebagai bacaan yang membangun jiwa bagi anak-anak kita. Seperti Sherine tentunya tak semua kisah bisa dipahaminya, namun tugas kitalah sebagai orang tua untuk membimbingnya dalam memahami apa makna dibalik kisah-kisah yang menyentuh dan inspiratif ini.

@h_tanzil
Read more »

Minggu, 01 Juni 2008

Chronicles of Narnia : #4 Pangeran Caspian

Judul : Chronicles of Narnia : #4 Pangeran Caspian
Penulis : C.S. Lewis
Penerjemah : Donna Widjajanto
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, cet-I 2005
Tebal : 280 hal ; ilustrasi ; 18 cm
ISBN : 979-22-1641-3

Peter, Susan, Edmund & Lucy baru saja menyelesaikan liburan sekolah mereka. Keempat anak itu sedang duduk di stasiun kereta api dengan koper-koper dan kotak mainan tertumpuk disekeliling mereka. Mereka hendak menuju kembali ke sekolah.

Tiba-tiba sesuatu yang tak nampak menarik keempat anak itu dengan kuat. Lalu koper-koper, bangku, peron, dan stasiun menghilang dan tiba-tiba keempat anak itu menemukan diri mereka berada di tengah hutan lebat. Mereka tersedot kedalam dunia Narnia!

Waktu Narnia dan dunia tidaklah sama, sejak kunjungan pertama mereka ke Narnia (The Lion, the Wtich, and the Wardrobe – Gramedia,2005), waktu di Inggris baru berlalu satu tahun, namun di Narnia waktu telah berlalu beberapa ratus tahun lamanya.

Kini Narnia diperintah oleh Raja Miraz yang kejam. Miraz menjadi raja setelah membunuh Raja Caspian IX, putranya Caspian X diasuh oleh Raja Miraz dan Ratu Prunaprisma yang saat itu belum memiliki anak. Dari inang pengasuhnya, Pangeran Caspian mendengar kisah-kisah Narnia kuno yang sebenarnya dilarang diceritakan oleh Miraz. Raja Miraz khawatir kisah masa lalu Narnia akan mengungkap kejayaan Narnia masa lampau yang diperintah oleh dinasti Caspian sehingga membangkitkan semangat pangeran Caspian untuk mengembalikan dinasti keluarganya sebagai raja Narnia

Walau inang pengasuh sudah dipecat oleh Raja Miraz, pangeran Caspian dapat tetap mendengar kisah-kisah kejayaan masa lampau Narnia dibawah dianasti Caspian melalui gurunya Dr. Cornelius.

Ratu Prunaprisma akhirnya melahirkan seorang anak. Kini Raja Miraz memiliki putera mahkota. Timbulah niat jahat Miraz untuk membunuh Pangeran Caspian. Mencium gelagat itu Dr. Cornelius membantu Pangeran Caspian untuk melarikan diri dengan membekalinya dengan sekantung emas dan sebuah terompet ajaib yang bisa digunakan jika Pangeran Caspian berada dalam bahaya besar.

Dalam pelariannya Pangeran Caspian bertemu dengan penghuni asli Narnia yang terdiri dari hewan yang bisa berbicara, faun, drawft, dan lain-lain. Beberapa mahluk mencurigainya namun sebagian besar mendukungnya dan mereka bersiap merebut kerajaan Narnia dari tahta Miraz yang lalim.

Untuk menangkap Pangeran Caspian, Raja Miraz mengerahkan pasukan untuk mengejarnya. Peperangan antar pasukan Miraz dan pendukung Pangeran Caspian tak terhindarkan. Tak cukup kuat menahan gempuran pasukan Miraz, dalam keadaan terdesak Pangeran Caspian segera meniup terompet ajaibnya. Oleh tiupan terompet itulah keempat anak Pevensie (Peter, Susan, Edmund, Lucy) yang pernah menjadi Raja Narnia dimasa lampau tersedot kembali ke Narnia.

Peter, dan ketiga saudaranya lambat laun mengerti mengapa mereka kembali ke Narnia. Bersama Aslan, sang singa agung, dan penduduk asli Narnia, keempat bersaudara ini membantu Pangeran Caspian bertempur melawan pasukan Raja Miraz dan mengembalikan kejayaan Narnia yang pernah diperintah oleh Dinasti Caspian.





Prince Caspian (first edition, 1951)
Publisher : Geoffrey Bles








Buku Pangeran Caspian merupakan buku keempat dari tujuh buku dalam seri The Chronicles of Narnia karya CS. Lewis, terbit pertama kali pada tahun 1951, tepat setahun setelah The Lion, the Witch, and The Wardrobe (1950) terbit. Jadi walau secara kronologis cerita buku ini merupakan buku keempat dari seri Narnia namun dilihat dari urutan terbitnya buku ini merupakan buku kedua dari seri Narnia yang ditulis CS. Lewis.

Sama seperti judul-judul lainnya dalam seri The Chronicles of Narnia , kisah Pangeran Caspian ini menyuguhkan peristiwa-peristiwa menakjubkan yang terjadi di negeri Narnia lengkap dengan hewan-hewan yang bisa berbicara, peristiwa-peristiwa ajaib dan kisah petualangan yang menggairahkan pembacanya.

Kepiawaian Lewis dalam menyuguhkan cerita yang mendidik namun menakjubkan inilah yang menyebabkan setiap judul dari seri The Chronicles of Narnia senantiasa menjadi kisah yang menyenangkan dibaca bagi para anak-anak remaja namun tetap memikat bagi pembaca di segala usia.

Menyusul suksesnya pembuatan film The Chronicles of Narnia : The Lion, the Witch, and The Wardrobe (2005), Walden Media telah membuat sekuel dari filmnya ini (The Chronicles of Narnia : Princes Caspian, 2007) dan kini sedang diputar di bioskop-bioskop dunia termasuk Indonesia. Sebelumnya, pada tahun 1989 BBC juga pernah membuat film Princes Caspian dalam bentuk mini seri.

@h_tanzil
Read more »

Minggu, 25 Mei 2008

Buddha

No : 152
Judul : Buddha
Penulis : Deepak Chopra
Penerjemah : Rosemary Kesauly
Editor : Hetih Rusli
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : April 2008
Tebal : 400 hlm ; 20 cm


Siddharta Gautama adalah salah seorang tokoh sejarah yang juga dikenal sebagai pendiri salah satu agama tertua yang masih dianut di dunia hingga kini. Melalui dirinya yang telah mengalami pencerahan sejati, ia mengajar dan melahirkan sebuah keyakinan yang kini disebut agama Buddha.

Bagi para penganutnya riwayat hidup pangeran Siddharta yang kemudian menjadi Sang Buddha tentu sudah hafal diluar kepala. Namun bagi sebagian lainnya riwayat hidup Sang Buddha mungkin hanya mereka ketahui secara singkat lewat pelajaran agama di sekolah-sekolah.Kini riwayat hidup Buddha secara detail dapat kita baca melalui novel karya Deepak Chopra, dokter dan spiritualis yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi guru spiritual selebriti Hollywood.

Chopra membuka novelnya ini dengan adegan Raja Suddhodana (ayah Siddharta) yang sedang berperang melawan musuhnya. Pada saat yang sama, Ratu Maya, permaisuri Suddhodana ditandu melintasi hutan Lumbini. Ia sedang mengandung sepuluh bulan dan berniat melahirkan di kampung halaman orang tuanya. Belum sampai di tujuan, ditengah hutan Lumbini, saat bulan mulai bersinar terang lahirlah seorang putra yang sudah dinanti-nantikannya. Dinamainya putranya itu dengan nama Siddharta.

Layaknya seorang raja yang menginginkan anaknya agar menjadi penerus tahta kerajaannya, begitupun dengan Suddhodana, ia menginginkan Siddharta kelak menjadi penggantinya. Namun oleh Asita, seorang petapa, Siddharta diramalkan tidak akan menjadi raja agung yang berkuasa atas rakyatnya melainkan ia ditakdirkan untuk ‘menguasai jiwanya sendiri’

Suddhodana berniat mengubah takdir Siddharta, ia meminta bantuan Canki, pendeta istana. Canki menyarankan agar selagi muda Siddharta digembleng untuk menjadi seorang raja besar dan tak boleh keluar dari dinding-dinding istana. Siddharta tak diizinkan melihat penderitaan, penyakit, kemiskinan, orang-orang tua yang lemah, dll. Karenanya lingkungan istana terbebas dari hal-hal itu. Orang-orang yang sakit, tua dan menderita diusir dari istana dan dibuang ke sebuah desa yang terisolasi.

Siddhartapun hidup terkukung dalam istana mewahnya. Ia digembleng oleh ayahnya untuk menjadi seorang raja, namun lambat laun sikap Siddharta tak sesuai dengan sikap seorang calon raja seperti yang diinginkan Suddhodana.

Usaha membelokkan takdir Siddharta tak hanya berasal dari ayahnya, melainkan dilakukan juga oleh Mara, sang Iblis yang semenjak Siddhara lahir selalu mencoba menghancurkan mental Siddharta agar tak menjalani takdirnya. Baik secara langsung maupun meminjam tangan Devadatta, sepupu Siddharta yang ambisiun dan keji, Mara mencoba membelokkan takdir Siddharta.

Takdir tak dapat dilawan, walau telah memiliki istri dan seorang anak, Siddharta akhirnya meninggalkan istana dan keluarganya untuk menjadi seorang petapa guna mencari darma dan pencerahan batin. Ia mengganti namanya menjadi Gautama. Apa yang dijalaninya ternyata tak mudah, ia harus mencari guru yang membimbingnya. Beberapa petapa menjadi gurunya, namun tak satupun yang memberinya jawaban atas apa yang dicarinya.

Pencariannya tak mudah. Bayang-bayang kenikmatan hidup masa lalunya sebagai seorang pangeran sempat menghantuinya. Mara, sang iblis selalu menggodanya. Berbagai peristiwa yang dialami selama masa pencariannya ini membuatnya hampir menyerah.

Akhirnya Siddharta bergabung dengan lima orang pertapa yang kelak akan menjadi pengikut setianya ketika ia telah menjadi Buddha. Siddhara akhirnya sanggup melepaskan diri dari ikatan-ikatan duniawinya, ia mengalahkan iblis, hingga akhirnya menemukan jawaban atas apa yang dicarinya yaitu mencapai pencerahan sejati dan menjadi seorang Buddha.

Di novel ini riwayat hidup Buddha dibagi dalam tiga fase hidupnya ; Siddharta sang Pangeran, Gautama sang Pertapa, dan Buddha yang penuh belas kasih. Deepak Chopra tampak setia terhadap fakta sejarah dan alur riwayat kehidupan Buddha seperti yang telah diketahui oleh umum. Chopra hanya mengisi kekosongan periode-periode kehidupan Buddha yang tidak dicatat dalam lontar-lontar kuno dan prasasti-prasasti.

Jika mungkin selama ini kita mengenal Buddha sebagai tokoh damai dan bersahaja, namun melalui imajinasi Chopra kisah hidup Buddha dideskripsikan penuh dengan cerita cinta, seks, pembunuhan, kehilangan, perjuangan, dan penyerahan diri.

Tampaknya Chopra mencoba mengambarkan Buddha keluar dari kabut waktu, dan menonjolkan Buddha secara lebih manusiawi dan membumi. Tak seperti Pramoedya yang melucuti legenda Ken Arok dari unsur-unsur mistis dan tahayulnya (Arok Dedes, Hasta Mitra 1999), Chopra tetap mempertahankan unsur mistis dan supranatural secara wajar dan tak berlebihan. Selain itu selubung misteri dan sisi agung Buddha tetap dipertahankan sehingga bagi para penganutnya novel ini tampaknya tetap bisa diterima sebagai bacaan alternatif dari riwayat Sang Buddha.

Mengisahkan Buddha tentunya tak bisa lepas dari ajaran-ajarannya. Semula saya menyangka novel ini akan sarat dengan kalimat-kalimat filosofis, apalagi nama Deepak Chopra yang dikenal sebagai seorang spiritualis membuat saya awalnya sedikit berjarak dengan novel ini karena khawatir akan susah dimengeri dan membosankan.

Namun kekhawatiran itu ternyata tak beralasan. Chopra mengisahkan riwayat Buddha secara menarik dan enak dibaca. Kalaupun ada kalimat-kalimat filosofis, Chopra menyajikannya dalam porsi yang pas dan menyatu dalam alur kisahnya. Membaca novel ini sama asiknya dengan membaca novel-novel sastra pada umumnya.

Selain itu, di novel ini potret kehidupan masyarakat dan budaya India di tahun 563 SM tampak terdeskrisi dengan baik. Mulai dari upacara pembakaran jenazah, kehidupan di istana, pemilihan jodoh pangeran, hingga kehidupan seorang petapa dan sikap masyarakat terhadap para petapa tersaji dengan menarik dan informatif

Terjemahan yang enak dibaca, cover yang menarik dan pilihan jenis kertas yang tidak silau dan ringan membuat novel setebal 400 halaman ini memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi. Sebagai pelangkap, di bagian epilog dan akhir buku ini Chopra mencoba memberikan penjelasan-penjelasan mengenai ajaran Buddha. Karenanya tak berlebihan jika dikatakan bahwa novel ini dapat menjadi pintu masuk bagi mereka yang ingin mengenal dan memahami ajaran Buddha.

Mungkin ada hal-hal yang tidak tepat dalam mendiskripsikan Buddha menurut imajinasi Chopra, namun karena buku ini sebuah karya fiksi, marilah kita menikmatinya secara sastrawi. Ajaran-ajaran Buddha yang universal yang terdapat dalam novel ini tentunya dapat memberi kita inspirasi dan menutun kita lebih dekat menuju pemahaman hidup dan bagaimana kita menjalani hidup ini dengan lebih baik lagi bagi Tuhan dan sesama manusia.

@h_tanzil
Read more »

Selasa, 20 Mei 2008

Ways to Live Forever (Setelah Aku Pergi

Ways to Live Forever (Setelah Aku Pergi)
Sally Nicholls @ 2008
Tanti Lesmana (Terj.)
GPU – Maret 2008
216 Hal.

Buku ini nyaris membuat gue menangis… abis gue jadi sedih setelah bacanya. Tapi, tetap, aja, air mata belum berhasil ‘menjebol’ pertahanan gue yang ‘membatu’ ini. Hehehe.

Jadi, ini cerita tentang Sam, anak umur 11 or 12 tahun yang kena penyaki leukemia akut. Karena udah parah banget, orang tua Sam mengeluarkan Sam dari sekolah dan memilih untuk memanggil guru ke rumah. Sam belajar di rumah sama temannya yang juga punya penyakit parah, namanya Felix.

Pelajarannya di rumah, bukanlah sesuatu yang serius. Mrs. Willis, guru mereka, cenderung membiarkan mereka memilih apa yang mereka sukai untuk mereka pelajari atau lakukan. Mereka berdua bisa aja main perang-perangan atau membuat karangan.

Nah, dari proyek menulis inilah, Sam mempunyai ide untuk membuat buku. Maka, Sam membuat berbagai daftar tentang apa yang dia inginkan, apa yang ia lakukan dan juga daftar-daftar pertanyaan yang tak terjawab yang mungkin jarang banget terlintas di dalam pikiran kita sebagai orang yang ‘sehat’. Tapi, beda sama Sam yang sedang menunggu ‘hari-hari akhir’nya. Pertanyaan seperti: “Kenapa orang harus mati?”, “Bagaimana kita harus mati?”, “Ke mana orang pergi setelah mati?” terlontar dengan polos dari pikiran-pikiran Sam. Sam jadi tampak dewasa sekali.

Buku ini jadi bagaikan buku harian Sam. Mimpi Sam naik balon Zeppelin, berbagai daftar yang ‘kocak’, misalnya apa yang harus dilakukan kalo orang meninggal, kiat-kiat hidup abadi – emang sih, bikin sedih tapi, kok ya, jadi lucu karena Sam yang polos banget. Terus, gimana Sam harus menghadapi kenyataan kalo segala macem cara pengobatan itu udah gak ada gunanya lagi dan hidupnya hanya tinggal 2 bulan lagi!

Sam memang terkadang bilang kalau ini semua gak adil, tapi toh, Sam berhasil bersikap tegar dan gak ‘terpuruk’ menyesali nasib. Sam masih bisa menikmati hidupnya yang gak lama lagi itu. Sam mengajarkan kita untuk tetap semangat. Jangan selalu ‘berkeluh kesah’ padahal mungkin, hidup kita masih lebih baik dibanding Sam.

Tulisan tangan dan corat-coret Sam juga menghiasi buku ini, bikin buku ini jadi gak membosankan.

Kaya’nya buku ini gak hanya untuk orang dewasa deh, meskipun emang, rada berat juga kalo masuk kategori remaja. Tapi… bener.. buku ini bagus banget menurutku. Cerita tentang ‘kematian’ mungkin mirip sama buku-bukunya Mitch Albom, tapi, karena ini diliat dari sudut pandang anak-anak, bikin jadi lain aja.

Love this book… *semoga gak lupa memasukkan ke dalam buku favorit 2008*
Read more »

Minggu, 18 Mei 2008

Tintin di Tanah Soviet

Judul : Petualangan Tintin
Wartawan “Le Petit Vingtieme” Tintin di Tanah Soviet
Penulis : Herge
Penerjemah : Donna Widjajanto
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : April 2008
Tebal : 142 hlm

Komik ini merupakan kisah pertama petualangan Tintin selaku wartawan “Le Petit Vingtieme” yang dibuat oleh Herge. Dari petualangan pertamanya di Ruisa inilah kelak komik seri Petualangan Tintin terus dibuat hingga mencapai 24 kisah yang mengajak pembacanya berkelana ke berbagai belahan dunia sambil menyelidiki berbagai kasus menarik bersama anjing setianya, Milo(Snowy) dan beberapa sahabatnya seperti Kapten Haddock, Thomson & Thompson, Prof Calculus, dll.

Dalam petualangan pertamanya ini Tintin diberi tugas untuk meliput keadaan di Soviet, negeri komunis yang sedang gencar-gencarnya mempropagandakan kemajuannya ke seluruh dunia. Rencana mengirim Tintin ke Soviet tampaknya telah tercium oleh agen-agen komunis Soviet.

Belum sampai Tintin tiba di Soviet, kereta api yang membawanya disabotase oleh seorang agen Soviet. Tintin selamat, namun ia ditahan oleh polisi Jerman dengan tuduhan merusak 10 gerbong dan menghilangkan 218 orang. Dengan kecerdikannya Tintin berhasil melarikan diri dan melalui kejar-kejaran yang seru dengan polisi Jerman akhirnya Tintin sampai di Stolbtzy, perbatasan Soviet.

Sesampai di Stolbtzy, ia kembali diketahui keberadaannya oleh agen Soviet. Berkali-kali Tintin harus menghadapi agen-agen Soviet yang mencegahnya memasuki Soviet, namun lagi-lagi berkat kecerdikan dan keberuntungannya Tintin berhasil meloloskan diri dan sampai si Moskow.

Sesampai di Moskow Tintin tak luput dari kejaran agen rahasia Soviet yang ingin menghabisi nyawanya. Berkali-kali Tintin tertangkap, namun berkali-kali juga Tintin meloloskan diri hingga akhirnya ia menemukan bunker tempat persembunyian Lenin, Trotzky, dan Stalin. Apa yang Tintin temui, dan berhasilkah ia akhirnya keluar dari Soviet dan menuliskan laporannya untuk koran dimana tempatnya bekerja? Jawabannya tentunya akan kita temui di komik hitam putih setebal 141 halaman ini.

Komik hitam puith ??? bukankah ciri khas komik Tintin justru teletak pada paduan warnanya cerah dan menarik? Seperti telah diungkap diatas, kisah Tintin di Soviet adalah petualangan pertama Tintin yang dibuat oleh Herge pada 1929. Dan memang saat itu Tintin masih berupa komik hitam putih dimana gambarnya masih belum terlihat sempurna dan detail. Sepintas mirip sebuah sketsa. Wajah Tintinpun dibuat nyaris tanpa ekspresi, kecuali hidung pentul dan tiga buah titik hitam untuk melukisan mata dan mulut. Yang tetap sama adalah jambul khasnya yang legendaris.

Panel-panel gambarnya masih sangat konvensional, setiap halaman berisi 3 hingga 6 buah panel gambar. Alur kisah dan logika komik inipun berbeda dengan kisah-kisah Tintin selanjutnya. Selain kisah yang lebih panjang (141 hal) di komik ini kitapun akan menemukan adegan-adegan splastis yang berlebihan seperti tertabrak kereta api, tercebur di danau es tapi tetap selamat, dll, belum lagi ditambah faktor-faktor kebetulan yang membuat sebuah peristiwa terselesaikan dengan sangat mudah.

Tak banyak yang tahu, sebenarnya hampir sebagian besar komik Tintin dibuat hitam putih seperti judul ini. Hingga akhirnya Herge merevisi, menggambar ulang,
menambah/ mengurangi panel, dan memberinya warna pada seluruh komik
Tintin, kecuali Tintin di Soviet yang dibiarkan apa adanya. Entah apa alasan Herge tak merevisi dan memberi warna judul ini. Mungkin sebagai monumen bagi dirinya dan pembaca setia Tintin bahwa seperti inilah Tintin pertama kali dibuat.

Dalam komik ini kita akan melihat bagaimana Herge muda tampak begitu membenci Soviet dengan ideologi komunisnya. Di komik ini kita akan melihat bagaimana Soviet saat itu begitu tertutup terhadap kehadiran wartawan asing seperti Tintin. Soviet hanya membuka diri pada wartawan luar negeri yang menganut ideologi komunis.

Kepada merekapun Soviet melakuka propaganda palsu yaitu dengan membuat seolah-olah pabrik-pabrik sedang berprodusi dengan gencar, namun ketika Tintin berhasil menyusup kedalam pabrik, ternyata di dalamnya hanyalah orang yang memalu besi untuk menimbulkan kesan suara mesin yang berproduksi. Atau ketika Tintin menemukan bagaimana kader-kader partai komunis melakukan pemilu curang dengan memaksa rakyat Soviet memilih partai komunis dibawah ancaman senjata.

Walau kisah ini penuh dengan satire politik dan mengusung semangat anti komunis. Namun tak berarti kisah ini tidak bisa dinikmati oleh anak-anak. Adegan kejar-kejaran antara Tintin dan pihak dinas rahasia soviet serta adegan-adegan splastis yang lucu dipastikan membuat anak-anak yang membacanya tertarik untuk membaca tuntas komik ini.

Sejarah Penerbitan

Tintin di Tanah Soviet / Tintin au Pays des Soviets pertama kali muncul sebagai komik berseri di suplemen kartun Le Petit Vingtieme terbitan koran Brussel Le Vingtieme Siecle, pada tangga 20 January 1929 hingga 11 May 1930. Pertama kali diterbitkan dalam bentuk buku pada tahun 1930. Di akhir tahun 1960an komik ini diterbitkan ulang masih dalam bentuk aslinya (hitam putih).

Di Indonesia sendiri komik ini baru terbit pada tahun 1995 oleh penerbit Indira dan dicetak ulang pada tahun 2005. Kini setelah hak cipta dan hak edarnya diambil oleh penerbit Gramedia, Tintin di Tanah Soviet kembali hadir kembali bagi pembaca Indonesia. Judul ini menjadi urutan pertama seri Tintin yang diterbitkan oleh Gramedia.

Kabarnya Gramedia memang berencana menerbitkan seluruh seri Tintin sesuai dengan urutan yang dibuat oleh Herge, termasuk menerbitkan karya terakhir Herge yang belum sempat diselesaikannya dan belum pernah diterbitkan di Indonesia sebelumnya, yaitu : Tintin dan Alpha Art.

@h_tanzil
Read more »

Senin, 12 Mei 2008

Maximum Ride#1: Angel Experiment

Maximum Ride#1: Angel Experiment (Maximum Ride#1: Eksperimen Malaikat)
James Patterson @ 2005
Poppy Damayanti Chusfani (Terj.)
GPU – April 2008
536 Hal.

Suatu hari, di pagi yang cerah, suasana di sebuah rumah dimulai dengan ceria. 6 orang anak tertawa dan saling melakukan keisengan membuat semuanya terlihat normal. Tidak ada yang aneh pada diri Max, Fang, Nudge, Gasman, Iggy dan si kecil, Angel. Mereka tampak seperti anak-anak pada umumnya. Tapi… ketika pagi itu dirusak oleh makhluk yang sangat mengerikan, semua jadi tidak normal lagi.

Ke-enam anak itu adalah makhluk rekayasa dari sebuah Sekolah yang misterius. Mereka adalah anak-anak yang sejak bayi sudah dijadikan bahan percobaan dengan menyuntikkan gen burung ke dalam tubuh mereka. Orang tua mereka juga misterius, ada yang sudah meninggal, ada yang tidak tahu kalau anak mereka masih hidup, ada yang menyerahkannya dengan sukarela Intinya, mereka tidak ada yang mengetahui siapa orang tua mereka dan apa alasannya mereka berenam harus ada di Sekolah yang mengerikan itu.

Sekelompok Pemusnah – anak-anak rekayasa seperti mereka, namun berwujud mengerikan seperti serigala – mengejar mereka berenam dan menjadikan hidup mereka tidak lagi nyaman dan tenang.

Pagi itu jadi rusak, Angel diculik. Max, sebagai anak yang paling tua, merasa bertanggung jawab dan bertekad menyelamatkan Angel dari tangan para Pemusnah.

Kembali ke Sekolah bagaikan mimpi buruk. Mereka harus kembali ke tempat yang pernah sangat menyiksa mereka. Buruknya lagi, mereka harus sakit hati ketika orang yang sangat mereka percaya ternyata tetaplah bagian dari Jas Putih.

Ketika berada dalam penyekapan, ternyata Angel mendengar potongan-potongan informasi tentang keberadaan orang tua mereka. Dari sinilah, Max dan teman-teman bertekad mencari orang tua mereka.

Mereka ‘terbang’ sampai ke New York. Tapi, tetap saja, para Pemusnah mengincar mereka. Bukan sekali mereka nyaris kehilangan nyawa mereka.

Ending buku ini masih ‘misterius’, karena memang akan ada sekuelnya. Ceritanya memang menegangkan tapi, ketenangan Max pembuat gue ikutan tenang, gak dag-dig-dug, meskipun ending setiap bab bikin penasaran dan selalu penuh kejutan. Ciri khas James Patterson yang selalu menggiring pembaca untuk ikutan sport jantung dengan bab-bab yang pendek. Gue juga jadi ‘menunggu-nunggu’ akankah ada kisah romantis antara Max dan Fang?

Buku yang asyik banget… One of my favorites…

Baca buku ini, gue langsung inget sama ‘When the Wind Blows’ dan ‘The Lake House’, yang sama-sama punya tokoh bernama Max, sama-sama berasal dari Sekolah dan mempunyai gen burung dalam tubuhnya. Tapi kata Pak James nih, buku ini serupa tapi tak sama. Gue jadi pengen baca lagi dua buku itu, soalnya udah lupa sih, gimana ceritanya.
Read more »

Kamis, 08 Mei 2008

Temu Blogger Buku se-Indonesia

Kepada
PARA SAHABAT PECINTA DAN PERESENSI BUKU
se- N.U.S.A.N.T.A.R.A.

Salam buku!

Weblog atau blog adalah sebuah tren termutakhir dari sebuah abad yang berlari yang dijinjing internet. Istilah ini mulai diperkenalkan sejak 1997 yang merujuk pada kumpulan website pribadi yang diperbarui terus-menerus, berisi link ke website lain dan disertai komentar. Di dalamnya para pembuat blog atau blogger menampilkan foto dan tulisan mengenai berbagai topik. Blog adalah juga website. Jika website hanya sekumpulan arsip dan data, maka blog adalah fenomena termutakhir dari web.

Blog buku merupakan bagian dari generasi blog yang ingin merayakan sebuah buana yang bisa dilihat secara bebas dan personal. Mereka adalah generasi peresensi baru buku dengan menggunakan medium yang lebih egaliter. Jika generasi peresensi lama masih memperebutkan halaman-halaman koran nasional dan daerah dengan mempertimbangkan selera redaktur buku, maka generasi baru ini membaca buku dan menuliskannya kembali dengan semangat sangat personal tanpa jerih tulisannya ditampik.

Terkait dengan itu, maka Persekutuan Kutu Buku Gila (Ku-Bu-Gil—http://kubugil.multiply.com) bekerja sama dengan Indonesia Buku dan penyelenggara “Festival Mei Veteran” menggelar perhelatan Temu Blogger Buku se-Indonesia dengan tajuk: “Menjadi Kutubuku Itu Keren”. Acara tersebut digelar pada:

Hari/Tanggal : Sabtu, 17 Mei 2008
Pukul : 11 – 14 WIB
Tempat : Mata Hari Domus Bataviasche Nouvelles Café
Jl Veteran I / 30-33 Jakarta Pusat, telp 021-3840127,
e-mail: indonesiabuku@gmail.com
(sebelah barat Masjid Istiqlal atau utara Monas atau
bersebalahan dengan Markas Besar AD)
Pembicara : Taufik Rahzen (budayawan dan kolektor buku)
Hetih Rusli (editor Gramedia Pustaka Utama)
H Tanzil (moderator milis resensibuku dan pasarbuku)

Kami mengundang Anda sekalian hadir dalam perhelatan itu. Acara ini terbuka untuk publik yang mencintai buku sepenuh-penuh hikmat dan para blogger buku. Dan tentu saja GRATIS. Demikian undangan ini, terimakasih atas perhatiannya.

Salam buku!

Jakarta, 10 Mei 2008


PANITIA PELAKSANA
Hernadi Tanzil (http://bukuygkubaca.blogspot.com), Endah Sulwesi (http://perca.blogdrive.com), M Baihaqi (http://qyu.blogspot.com), Muhidin M Dahlan (http://akubuku.blogspot.com), Ferina Permatasari (http://lemari-buku-ku.blogspot.com), Indah Nurchaidah, Berliani M Nugrahani, Maria Masniari Lubis, Jody Pojoh (http://jodypojoh.blogdrive.com), Dumaria Pohan (http://mon-secret-jardin.blogspot.com), Herlina Sitorus, Yulianto, Alfi Yasmina (http://bookquickies.wordpress.com)

* 50 peserta yang datang pertama akan mendapatkan buntelan gratis dari beberapa penerbit pendukung acara.

** Akan diadakan pemutaran film tentang buku nonstop: (1) Finding Forrester (2000); (2) You've Got Mail (1998); (3) Quills (2000); (4) Freedom Writers (2007); (5) Il Postino, The Postman (1994); (6) Notting Hill (1999); (7) The Disapperance of Garcia Lorca (1997);

** No Kontak panitia dari beberapa kota: Ria/Veteran Jakarta (081328690269); Gus Muh/Jogja (08886854721); Perca/Jakarta (081586189316); Antie/Bandung (08156075171); Jody/Menado (081356045047); Kobo/Medan (08126044109)

ACARA INI DIDUKUNG OLEH:
1. Koran Kebudayaan Bataviasche Nouvelles (Jakarta)
2. Mata Hari Café (Jakarta)
3. Indonesia Buku (Jakarta)
4. Gramedia Pustaka Utama (Jakarta)
5. Serambi (Jakarta)
6. Bentang Pustaka (Yogyakarta)
7. Hikmah (Jakarta)
8. Mizan (Bandung)
9. Klub Sastra Bentang
10. Majalah EVE (Jakarta)
Read more »

Selasa, 06 Mei 2008

Mehrunnisa: The Twentieth Wife

Mehrunnisa: The Twentieth Wife
Indu Sundaresan @ 2002
Hikmah, Cet, I - Maret 2008
551 Hal.

Ternyata dalam hal urusan cerita cinta, India gak hanya punya cerita tentang ‘Taj Mahal’. Di buku ini, adalah kisah cinta orang tua pasangan Mumtaz Mahal dan Shah Jahan.

Mehrunnisa hampir saja kehilangan orang tua kandungnya yang merasa tak sanggup merawatnya karena kemiskinan yang mereka derita. Ghias Beg adalah bangsawan asal Persia yang melarikan diri karena terlilit hutang di negaranya sendiri. Bersama anak-anaknya dan istri yang sedang hamil tua, ia berniat mencari kehidupan baru di India. Untung saja, ia bertemu dengan orang yang baik yang berniat menjadi orang tua angkat Mehrunissa.

Keluarga Ghias Beg pun akhirnya tiba di India dan keberuntungan segera berpihak pada Ghias Beg yang mendapat kepercayaan dari Sultan Akbar yang bijak. Sejak kecil, Mehrunnisa sudah ‘terobsesi’ untuk menjadi seorang putri. Ia ingin menjadi permaisuri bagi Pangeran Salim, sang Putra Mahkota.

Tapi, tentu saja, meskipun mereka cukup dekat dengan keluarga raja, tidak semudah itu berjodoh dengan anggota keluarga kerajaan. Karena biasanya pernikahan di keluarga kerajaan bernuansa politik. Sebuah peristiwa di hari pernikahan Pangeran Salim yang pertama membuat Mehrunnisa dekat dengan Ruqayya, permaisuri Sultan Akbar.

Mehrunnisa menjadi pendatang tetap di zenana. Tapi, karena perempuan tidak boleh menampakkan diri begitu saja di depan laki-laki, Mehrunnisa harus mencuri-curi kesempatan untuk melihat Pangeran Salim.

Beberapa pertemuan tak disengaja antara Pangeran Salim dan Mehrunnisa ternyata meninggalkan kesan yang mendalam di hati Pangeran Salim. Tapi, tentu saja, meskipun mereka saling jatuh cinta, pernikahan bukanlah hal yang bisa ditentukan sendiri, tapi, Sultan-lah yang membuat keputusan. Mehrunnisa dinikahkan dengan seorang prajurit bernama Ali Quli.

Tahun-tahun berlalu, pemberontakan dan pengkhianatan sekitar perebutan takhta sultan berulang kali terjadi. Baik yang dilakukan Pangeran Salim terhadap Sultan Akbar, atau yang dilakukan Pangeran Khusrau terhadap Pangeran Salim, ayahnya.

Pertemuan antara Mehrunnisa dan Pangeran Salim, yang sudah jadi Sultan Jahangir, terjadi di sebuah pesta pertunangan. Hati mereka berdua kembali bergolak. Sultan Jahangir berharap ia bisa memilih sendiri permaisuri yang ia inginkan tanpa harus berbau-bau politik. Tapi, Jagat Gosini, permaisuri yang sah, tentu saja tidak akan tinggal diam ketika ada perempuan lain yang mengancam kedudukannya.

Indu Sundaresan melakukan banyak riset untuk mewujudkan cerita ini. Mehrunnisa memang benar ada dalam sejarah India, meskipun tidak terlalu menonjol. Tapi, kalo membaca penuturan Indu Sundaresan, Mehrunnisa yang asli adalah ‘perempuan keras’, setelah ia menjadi permaisuri, banyak perubahan yang dilakukannya semasa pemerintahan Sultan Jahangir. Sementara Mehrunnisa yang di buku ini terkesan ‘bandel’, cerdas, tapi tetap tak berdaya ketika ia berada dalam lembaga pernikahan yang mewajibkannya tunduk pada suami.

Masih ada juga cerita tentang kekerasan dalam rumah tangga *gerammmm*…

Mungkin agak berlebihan ya.. anak umur hmmmm… 8 tahun kalo gak salah, tapi udah terobsesi jadi permaisuri. Kesannya ambisius banget. Dan.. ckckckck…, anak sama bapak – Pangeran Khusrau sama Pangeran Salim, sama-sama berontak… kena karma tuh Pangeran Salim…

Gue sih, cukup menikmati baca buku ini. Meskipun sempat gak tahan, begitu udah bagian cinta-cintaan menjelang bagian akhir. Lanjutan kisah cinta yang eksotis ini yang judulnya ‘The Feast of Roses’, konon bakal diterbitkan juga oleh Penerbit Hikmah, yang mengisahkan kehidupan Mehrunnisa setelah menjadi permaisuri.

Tapi, semoga aja gak mengecewakan. Karena kalo udah sekuel gitu, suka dipaksain, dan malah jadi ngebosenin. Dan, gara-gara baca buku ini, gue jadi pengen baca novel tentang ‘Taj Mahal’ (ada dua judul tuh…) Hahaha… malah menambah ‘daftar dosa’ baru…
Read more »

Senin, 05 Mei 2008

Petualangan Tintin - Si Kuping Belah

No. 150
Judul : Petualangan Tintin – Si Kuping Belah
Penulis : Herge
Penerjemah : Donna Widjajanto
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : April 2008
Tebal : 64 hal ; 22cm
Harga : Rp. 40.000,-

Begitu terdengar berita kalau komik Tintin akan dicetak ulang oleh Gramedia, saya langsung bersorak kegirangan!. Bagaimana tidak, komik Tintin merupakan komik favorit saya semasa SMP yang waktu itu masih diterbitkan oleh Penerbit Indira. Komik Tintin yang dilukis dengan garis-garis yang bersih, warna yang cerah, dan cerita yang seru serta lucu membuat saya selalu melahap habis setiap judul seri tintin yang terbit.

Hanya saja, karena waktu itu belum punya uang sendiri, jadi sebagian besar Tintin yang saya baca adalah hasil pinjam di tempat persewaan buku. Saya sendiri hanya punya beberapa judul saja, itupun kini sudah hilang entah kemana dan hanya menyisakan satu judul (Rahasia Racham Merah).

Setiap pergi ke toko buku dan melihat Tintin terbitan Indira rasanya gatal untuk membelinya, namun keinginan itu selalu dikalahkan untuk membeli buku-buku lain, alasan lain karena saya merasa komik Tintin semakin mahal namun kualitas cetaknya semakin menurun. Tampaknya hal itu akibat dari musibah kebakaran di Penerbit Indira beberapa tahun yang lampau. Seluruh master plat Tintin ikut terbakar. Kabarnya agar dapat terbit ulang, Indira melakukan scan dari komik tintin yang telah dicetak. Itulah yang menyebabkan kualitas gambar tintin cetakan tahun 2005 terlihat kurang kinclong.

Bersyukur kini komik Tintin diterbitkan ulang oleh Gramedia yang tampaknya semakin serius menebitkan komik-komik bermutu. Karena kebaikan Gramedia yang rajin memberikan buntelan buku gratis untuk saya dan beberapa book bloger lainnya, saya kini memiliki 2 buah Tintin terbitan Gramedia yaitu Si Kuping Belah dan Tintin di Soviet. Karena saya baru membaca ulang si Kuping Belah, maka saya hanya akan mereview judul tersebut.

Dalam petualangannya kali ini, kita diajak berpetualangan mulai dari rumahnya sendiri di Belgia hingga ke pedalaman Amerika Selatan. Tintin tergugah untuk menyelidiki raibnya patung langka suku Arumbaya yang dipamerkan di museum Etnografi Belgia. Walau esoknya patung itu telah kembali berada di museum namun berkat pengamatan Tintin yang jeli, terbukti bahwa patung tersebut adalah palsu karena patung yang asli memiliki kuping yang belah.

Untuk memperoleh kembali patung tersebut Tintin menyeberang ke Amerika. Belum sampai di tujuan ia terjebak di Las Dopicos, ibukota Republik San Theodoros Amerika Selatan . Tintin terperangkap dalam kemelut revolusi antar penguasa di negara tersebut. Ia nyaris dihukum mati karena dituduh mata-mata dan menjual senjata pada pihak musuh. Hal ini tentu saja menghambat tujuan utamanya untuk memperoleh kembali patung asli suku arumbaya yang hilang.

Seperti biasa petualangan tintin selalu seru, tak terduga, dan dihiasi dengan adegan-adegan lucu yang membuat pembacanya terpingkal-pingkal. Begitupun dengan judul ini, walau tanpa kehadiran Kapten Haddock, dan hanya memunculkan Dupon & Dupont (Thomson & Thompson) di awal cerita, kelucuan petualangan tintin tetaplah terjaga.

Tintin Rasa Baru

Hingga tulisan ini dibuat Gramedia telah menerbitkan 6 buah judul tintin al :
1. Petualangan Tintin Wartawan "Le Petit Vingtieme" di Tanah Sovyet
2. Tintin di Congo
3. Tintin di Amerika
4. Cerutu Sang firaun
5. Lotus Biru
6. Si Kuping Belah

Tampaknya Gramedia menerbitkan judul-judul tersebut berdasarkan kronologis tintin edisi aslinya. Sudah tentu kehadiran Tintin terbitan GPU benar-benar disambut antusias para pecinta Tintin. Menurut sebuah sumber, keenam judul yang baru beredar satu bulan ini, semuanya telah mengalami cetak ulang dan tirasnya naik dari 5000 menjadi 7000 eks per judul. Kabarnya juga Laut Hitam dan Tongkat Ottokar akan terbit di bulan Mei ini.

Lalu apakah yang membedakan Tintin versi Indira dengan versi Gramedia ? Karena saya baru memiliki Tintin versi Gramedia yang berjudul Si Kuping Belah dan Tintin di Tanah Soviet. Maka perbandingan ini berdasarkan dua judul saja.

Secara format ukuran buku, jelas berbeda, jika Tintin terbitan Indira dicetak diatas kErtas HVS dengan ukuran majalah, maka Tintin versi Gramedia dicetak diatas kertas art paper / kunstruk dengan ukuran lebih kecil (15,5x22 cm) dengan tebal 64 halaman, (142 hal u/ tintin di Soviet).

Otomatis dengan mengecilnya ukuran bukunya, maka gambar-gambarnyapun ikut mengecil, hanya saja kini Tintin lebih ‘handy’ dan lebih mudah dibawa masuk kedalam tas dibanding terbitan Indira. Secara psikologis, dengan perubahan ukuran dan penggunaan kertas yang mengkilat membuat harga komik tintin yang dijual seharga Rp. 40.000,- terkesan relatif wajar.

Selain gambar, tentu saja huruf dalam box deskripsi dan huruf di balon percakapan menjadi mengecil. Yang terasa mengganggu adalah font huruf di balon percakapan. Selain kecil-kecil, jenis font yang menggunakan huruf italic membuat semakin sulit membacanya. Mungkin perlu dicarikan jenis huruf yang lain agar lebih ramah mata.

Karena kini Tintin diterjemahkan ulang, maka terlihat perbedaan kalimat dibanding terbitan Indira, terlebih dalam hal nama-nama tokoh-tokohnya. Untuk nama-nama tokoh-tokohnya, Gramedia setia pada nama asli yang tercantum di edisi aslinya yang berbahasa Perancis. Beberapa nama tokoh yang berubah antara lain :

- Snowy = Milo
- Thomson Thompson = Dupond & Dupont
- Calculus = Lakmus

Mungkin awalnya akan terasa mengagetkan dan janggal. Kita yang terlanjur akrab dengan sebutan snowy kini harus terbiasa dengan ‘milo’, begitupun dengan tokoh-tokoh lainnya. Dan yang membuat saya penasaran, adalah bagaimana Gramedia akan menerjemahkan umpatan terkenal kapten Haddock seperti , “Topan Badai!”, bagaimana terjemahan barunya? Kita lihat saja dan tunggu kemunculan Kapten Haddock di seri-seri Tintin yang akan diterbitkan.

Tampaknya seri Tintin dengan tampilan baru ini akan membuat seri petualangan Tintin yang pernah terkenal di indonesia di era 80-90an kembali memikat generasi baru pembacanya. Setelah lama menghilang dan hanya dapat dicari di beberapa tempat dan kios-kios buku bekas, kini Tintin yang telah diterjemahkan kedalam 40 bahasa dunia ini kembali bakal mudah diperoleh di toko-toko buku besar dan siap menjadi idola baru bagi pembaca komik bermutu.

Bisa dibilang Petualangan Tintin adalah tonggak bersejarah dalam dunia komik internasional.
Melalui kisah-kisah petualangan Tintin dan kawan-kawannya, kita bukan hanya diajak keliling dunia, tapi juga dibawa menelusuri sejarah serta politik sejak tahun 1940-an sampai 1980-an. Namun muatan sejarah dan politik itu tidaklah terkesan berat, malah bisa menjadi bacaan anak-anak yang sangat menarik karena disajikan dengan ringan dan selalu diselipi adegan-adegan lucu. Selain itu petualangan Tintin juga mengandung pesan moral yang sangat bermanfaat bagi anak-anak.

@h_tanzil
Read more »

Jumat, 25 April 2008

The Spellman Files

No: 149
Judul : The Spellman Files (Berkas-berkas Keluarga Spellman)
Penulis : Lisa Lutz
Penerjemah : Berliani M. Nugharani
Penerbit : Atria (PT Serambi Ilmu Semesta)
Cetakan : I , Maret 2008
Tebal : 550 hal

Melihat cover dan judul novel ini tentu kita bisa menebak, apa kira-kira yang dikisahkan Lisa Lutz dalam dalam novelnya ini. Covernya bisa dibilang menarik, berupa ilustrasi komikal ala manga yang menampilkan seraut wajah yang hampir tertutup kertas yang sedang dipegangnya beserta sebuah kaca pembesar. Dari ilustrasi dengan gaya yang dinamis inilah saya bisa menduga bahwa novel ini adalah sebuah cerita detektif yang menghibur.

Apa yang saya duga ternyata benar, novel ini mengisahkan sebuah keluarga detektif swasta dengan Isabel Spellman /Izzy sebagai tokoh utamanya. Dari sudut pandang Izzy, seorang gadis berusia 28 tahun inilah kita akan dibawa menyelami episode kehidupan keluarga detektif yang unik, lucu, dan menghibur. Izzy tinggal bersama kedua orang tuanya, paman Ray, dan adiknya Rae Spellman yang usianya terpaut belasan tahun dibanding Izzy. Sedangkan David, kakaknya tinggal terpisah dan telah bekerja sebagai seorang pengacara.

Keluarga Spellman memiliki sebuah usaha keluarga yang diberi nama Spellman Investigation dimana seluruh anggota keluarganya kelak diwajibkan bekerja dalam perusahaan tersebut. Izzy sendiri mulai bekerja sebagai detektif sejak berusia 12 tahun.
Keadaan ini membuat keluarga Spellman hidup tidak seperti keluarga normal lainnya. Mereka menerapkan aturan, tradisi, tata cara dan kebiasaan-kebiasaan dalam kelaurga seperti halnya mereka melakukan investigasi.

Bisa ditebak suasana apa yang akan tercipta dalam keluarga Spellman! Alih-alih tercipta sebuah hubungan yang hangat dan kekeluargaan, dalam keluarga Spellman malah tercipta atmosfir saling mencurigai sehingga tak heran antara satu dengan yang lainnya bisa saling menguntit, saling mengawasi, kejar-kejaran antara ayah dengan anak dan cara-cara unik untuk melepaskan diri dari pengawasan satu dengan yang lainnya bukanlah hal yang aneh bagi keluarga Spellman.

Izzy sendiri awalnya amat mencintai pekerjaannya. Ia sangat suka menguntit orang lain, memeriksa latar belakang, dan mencari tahu rahasia gelap dibalik kehidupan seseorang yang sedang diselidikinya. Namun apa yang sering dilakukannya terhadap orang lain jsutru harus dialami oleh Izzy. Semenjak memiliki hubungan spesial dengan Daniel Castillo, seorang dokter gigi, ibunya yang tidak menyetujui Izzy berpacaran dengan Daniel selalu menyelidiki dan menguntit gerak-gerik Izzy, menyadap kamarnya dan mempekerjakan Rae Spellman untuk menguntitnya.

Tindakan ibunya ini membuat Izzy berang, ia merasa privasinya terganggu sehingga ia memutuskan untuk keluar dari Spellman Investigattion. Orang tuanya tentu saja tak mengizinkannya. Karenanya mereka memberikan sebuah syarat yang tampaknya tak mungkin terpenuhi oleh Izzy. Izzy diijinkan berhenti dari pekerjaannya jika ia dapat menyelesaikan kasus yang belum terselesaikan oleh Spellman Investigation selama lebih dari 12 tahun. Kasus itu adalah kasus hilangnya Andrew Snow 12 tahun yang lalu.
Walau bukan perkara yang mudah untuk mengungkap, Izzy menerima tantangan ini. kasus yang telah berusia belasan tahun lalu. Di tengah penyelidikannya, ia menerima pesan bahwa keluarga Snow tidak ingin kasus ini diungkap kembali. Namun Izzy yang terlanjur terobsesi dengan kasus ini tak mau menghentikan begitu saja penyelidikannya. Keadaan bertambah runyam ketika tiba-tiba Rae Spellman menghilang. Izzy khawatir hilangnya Rae Spellman ada kaitannya dengan kasus yang sedang ditanganinya.

Untuk genrenya, novel ini bisa dibilang menarik karena menyuguhkan sebuah kisah keluarga detektif yang ‘abnormal’ beserta penyelidikan kasus keluarga Snow. Karena diperuntukkan bagi para remaja, novel ini disajikan dengan kalimat-kalimat yang mengalir, dinamis, ringan, dan mudah dicerna.

Beberapa kebiasaan keluarga Spellman yang unik membuat kita tersenyum membacanya. Misalnya Izzy mendata semua mantan pacar-pacarnya dalam sebuah file-file yang rapih layaknya file sebuah kasus penyelidikan. Lalu bagaimana Izzy menugaskan temannya untuk menyelidiki Daniel Castello sebelum memutuskan untuk menjadi pacarnya. Atau bagaimana Rae Spellman melakukan negoisasi dengan Paman Ray layaknya seorang polisi bernogiasasi dengan penjahat.

Pokoknya semua yang dilakukan oleh keluarga Spellman dalam kesehariannya, dilakukan berdasarkan cara-cara detektif ketika menyelidiki sebuah kasus. Perilaku keluarga yang tak lazim inilah yang tampaknya merupakan kekuatan dari novel ini. Selain itu melalui novel ini juga kita juga akan diberitahu trik-trik menyelidiki, menguntit, dan membongkar latar belakang kehidupan seseorang yang sedang diselidiki.

Di bagian awal hingga pertengahan, novel ini hanya berputar-putar mengisahkan seluruh keluarga Spellman, satu persatu dipapaparkan mulai dari sedikit tentang kedua orang tua Izzy, terbentuknya Spellman Investigation, kisah tentang Paman Ray, dan David & Rae Spellman. Banyak hal yang menarik, ganjil, lucu, akan terungkap dari perilaku dan kehidupan keluarga yang nyentrik ini.

Namun karena hingga pertengahan buku, belum ditemukan konflik yang mencuat, pembaca masih harus menebak-nebak apa sebenarnya inti kisah novel ini. Alur kisah yang berserakan dan berlompatan dari masa kini ke masa lalu mengikuti kisah tokoh yang diceritakan mungkin sedikit membingungkan pembacanya. Untunglah di bagian pertengahan hingga akhir, novel ini semakin seru karena kisahnya mengerucut kedalam kisah hubungan Izzy dengan Daniel Castillo dan penyelesaian kasus keluarga Snow.

Yang menurut saya agak mengganggu adalah bab-bab interogator antara Izzy dengan inspektur Henry Stone. Mungkin ini adalah bab penghubung antara kisah-kisah keluarga Sepllman yang berserakan, tapi bagi saya pribadi bagian ini malah mengganggu alur kisahnya. Andai saja bagian ini dihilangkan tampaknya tak akan berpengaruh pada inti ceritanya

Novel yang memiliki ending yang tak terduga dan menyisakan sedikit keharuan di akhir kisahnya ini ditulis oleh Lisa Lutz, asal Amerika. Novel ini merupakan novel pertamanya setelah sebelumnya menulis ia menulis berbagai naskah film. Tampaknya novel pertamanya ini mendapat sambutan yang baik dari pembacanya, terbukti dengan telah diterjemahkannya The Spellman Files kedalam lebih dari 20 bahasa dunia. Belum lagi ditambah dengan rencana pembuatan filmnya oleh raksaksa film Paramount Picture pada 2008 ini.

Lisa Lutz juga telah membuat sekuel dari novel pertamanya ini, Curse of the Spellmans yang baru saja terbit Maret 2008 yang lalu. Kabarnya penerbit Atria (salah satu lini penerbit Serambi) selaku pemegang right atas novel ini sedang mempersiapkan untuk menerbitkan novel kedua Lisa Lutz ini jika respon pasar atas buku ini dinilai baik. Dan tampaknya memang demikian, di ranah cyber sedikitnya sudah 3 book bloger yang mereview buku ini dengan respon yang positif.

@h_tanzil
Read more »

Senin, 21 April 2008

Catatan Hati Seorang Istri

Catatan Hati Seorang Istri
Asma Nadia @ 2007
Lingkar Pena, Cet, I - Mei 2007
224 Hal.

Jika kau kira
dengan sebelah sayap
aku akan terkoyak
maka camkanlah
dengan sebelah saya itu
akan kujelajah samudera
dan gemintang di angkasa

(Hal. 45)

Wah, menulis komentar tentang buku ini, rasanya susah banget. Ya.. emang sih, gue gak terlalu bisa menceritakan kembali buku non-fiksi. Apalagi buku ini isinya tentang pengalaman pribadi Penulis atau pun para nara sumber. Jadi, sepertinya, yang bakal gue tulis di bawah ini adalah komentar pribadi untuk buku yang lumayan memberi inspirasi dan nyaris membuat gue menitikkan air mata. (hmmmm… ternyata hati gue masih rada ‘batu’, makanya belum bisa nangis….)

Di buku ini, Asma Nadia menguraikan berbagai bentuk penderitaan perempuan. Bisa dilihat dari puisi di atas. Bukan saja dari segi fisik tapi dari segi perasaan, batinnya… Menggambarkan kuatnya, sabarnya dan tabahnya perempuan biar udah digempur segala macam bentuk cobaan dari yang ringan sampe yang bisa bikin seseorang yang mungkin gak kuat, bakal kehilangan arah dalam hidup.

Gue terus terang, takjub (tapi juga kadang gemas dan sempat berpikir negatif), ketika ada perempuan yang tetap membanggakan suaminya, meskipun suaminya itu ternyata tidaklah sesempurna yang ia impikan. Alasannya, karena si laki-laki adalah hal terbaik yang pernah datang dalam hidupnya (hal. 29). Atau, gimana seorang perempuan masih bisa senyum ketika tahu suaminya ‘bermain ke tempat terlarang’ atau menikah lagi.

Gue pun berpikir, bisakah gue sesabar itu dan bisakah gue tersenyum andaikan gue tau, suami gue berbuat yang tidak baik? Gue rasa nggak… Gue pasti bakal nangis dan meratapi nasib gue… Hehehe.. sekarang aja, dicuekin suami gue sedikit, gue udah sebal banget sama suami gue dan kadang menggunakan air mata untuk meluluhkan hati suami gue…

Sempat terpikir oleh gue, apakah si perempuan itu memang begitu tough… tipiskan bedanya dengan gambaran perempuan ‘bodoh’. Pastinya, kalo lagi gosip-gosip nih, dengan cerita, ada perempuan yang diem aja disakitin suami atau di-duain, atau apa pun lah yang menyebabkan dia menderita, rasanya komentar yang lebih sering gue denger (atau bahkan lebih sering gue ucapkan), adalah, “Bodoh banget sih tuh cewek…!” Padahal, perempuan itu mungkin perempuan yang akan dimuliakan di mata Allah…

Cerita di buku ini yang paling berkesan buat gue adalah yang judulnya, “Jika Saya dan Suami Bercerai?” (Hal 34). Membuat gue sadar betapa tipisnya antara cinta dan benci… Gimana pasangan yang awalnya saling puji, saling cinta dan sayang, tiba-tiba berbalik jadi saling menyerang dan mengumbar kejelekan masing-masing. Dengan cerita ini, gue bilang sama suami gue, harus bisa saling menjaga hati, emosi dan kata-kata. Satu kalimat yang gue suka adalah: “,,, tidak ada seorang pun yang berhak merusak kenangan indah yang dimiliki anak-anak tentang ayah dan bunda mereka.” (Hal. 38).

Semua perempuan berhak untuk bahagia, meskipun ada luka di hati mereka… (Aiihh…)… So, keep fighting, never give up… Mudah-mudahan, gue bisa jadi perempuan yang lebih sabar dan ikhlas… (inilah intinya… Ikhlas….)
Read more »

The Penderwicks

The Penderwicks: A Summer Tale of Four Sisters, Two Rabbits, and a Very Interesting Boy (Keluarga Penderwick: Kisah Musim Panas Empat Kakak-beradik Perempuan, Dua Kelinci, dan Seoran Anak Laki-Laki yang Sangat Menarik)
Jeanne Birdsall @ 2005
Poppy Damayanti Chusfani (Terj.)
GPU, Maret 2008
292 Hal.

Sudah lama berlalu sejak musim panas yang istimewa di Arundel, tapi, Rosalind, Jane, Skye, dan Batty masih mengingat dengan baik liburan musim panas mereka kala itu. Untung saja, rumah liburan mereka di Cape Cod tiba-tiba dijual oleh pemiliknya, kalau tidak, mungkin mereka tidak akan mengalami bagaimana seru, romantis dan heboh liburan di Arundel. Dan, yang pasti, mereka tidak akan bertemu dengan anak laki-laki yang sangat menarik.

Hampir saja, liburan musim panas kali ini akan dihabiskan oleh Keluarga Penderwick hanya di rumah mereka di Cameron, Massachusetts, jika saja Mr. Pendewick tidak mendengar cerita dari temannya tentang sebuah vila di Berkshire Mountain. Tanpa berpikir panjang, Mr. Penderwick langsung menelepon pemiliknya dan menyewa vila itu tanpa melihat keadaan vila itu.

Yang mereka lihat setibanya di Arundel bukanlah jenis vila biasa, tapi sebuah vila besar – nyaris seperti mansion – berkamar banyak, hingga Penderwick Bersaudara bisa memilih kamar yang mereka sukai.

Petualangan menarik mereka lewati, pengalaman tak terlupakan yang dimulai ketika Skye yang tomboy tanpa sengaja menabrak anak pemilik rumah, Jeffery Tifton. Pertemuan pertama yang tak mengenakan membuat Rosalind, sebagai kakak tertua yang bijaksana, memutuskan untuk mengutus Jane sebagai perantara untuk minta ma’af dan menunjukkan bahwa Keluarga Penderwick bukanlah keluarga yang buruk.

Jeffrey ternyata senang sekali dengan kedatangan kakak-beradik itu, mereka pun langsung berteman akrab. Sebagai anak tunggal, tentunya ia kesepian. Bahkan kakak-beradik Penderwick pun mengangkat Jeffrey sebagai anggota kehormatan Keluarga Penderwick.

Vila Arundel yang luas, dikelilingi taman yang indah, menjadi tempat bermain yang tak habis-habisnya dijelajahi mereka berlima. Tapi, Mrs. Tifton tidak terlalu menyukai Keluarga Penderwick yang dianggap memberi pengaruh buruk pada Jeffrey dan bisa jadi membuat tamannya yang indah hancur.

Bukan hanya bermain-main di kebun dan menjelajah, tapi, Rosalind juga mengalami cinta monyetnya dengan si tukang kebun Cagney. Semakin dekat dengan akhir liburan, rasanya semakin berat untuk meninggalkan Arundel.

Asyiknya buku ini, karena karakter setiap anak-anak Penderwick berbeda-beda. Rosalind, yang bijak, berusaha mengurus semuanya setelah ibu mereka meninggal, Jane si penulis, Skye yang tomboy dan galak, lalu Batty yang selalu memakai sayap kupu-kupunya. Tapi, yang pasti, kakak-beradik Penderwick gak akan tinggal diam kalo ada yang menyinggung kehormatan dan martabat keluarga mereka.

Buku ini mengingatkan gue sama buku-bukunya Astrid Lindgren atau Enid Blyton. Petualangan yang seru, lucu… yang membuat pengen balik lagi ke masa kanak-kanak, dan gak ketinggalan tentunya masakan-masakan yang lezat… Hmmmm….
Read more »

Petualangan Tintin: Cerutu Sang Firaun

Petualangan Tintin: Cerutu Sang Firaun (Les Cigares du Pharaoh)
Hergè @ 1955
Donna Widjajanto (Terj.)
GPU, April 2008
64 Hal.

Maksud hati pengen liburan, tapi apa daya malah terlibat satu petualangan seru lagi. Begitulah nasib Tintin, yang rencananya akan berlibur bersama Milo, anjingnya, ke Mesir. Di kapal laut, ia bertemu dengan Philemone Siclone, seorang professor linglung yang sedang mengejar-ngejar selembar kertas yang tertiup angin. Perkenalan mereka terjadi ketika Tintin hendak membantu si professor itu. Philemone Siclone pun menceritakan isi kertas yang dikejarnya itu dan mengajak Tintin untuk mencari kuburan Firaun Kih-Oskh.

Tapi, anehnya, belum lagi tiba di Cairo, Tintin dijebak. Ia ditangkap oleh pasangan detektif kembar, Dupond dan Dupont (a.k.a Thomson dan Thompson) dengan tuduhan terlibat dalam penyelundupan narkotika.

Sekali lagi Tintin dijebak, dan tentu saja, banyak akal Tintin untuk lolos dari masalah. Ia pun mencari cara agar bisa keluar dari kapal laut itu. Setibanya di darat, Tintin kembali bertemu dengan Philemone Siclone yang segera mengajaknya ke lokasi tempat kuburan Firaun Kih-Oskh berada. Tapi, di sana Tintin terjebak dalam ruang bawah tanah dan Philemone Siclone menghilang secara misterius. Di dalam ruang bawah tanah itu, Tintin menemukan Sarcofagus atau peti mati yang bertuliskan namanya dan Milo.

Lolos dari kuburan itu, Tintin masih harus berurusan dengan duo detektif kembar yang masih terus mengejarnya. Tuduhan bertambah, yaitu penyelundupan senjata api. Tintin juga harus menghadapi hukuman tembak karena dianggap mata-mata.

Masalah narkotika ini ternyata melibatkan sebuah kelompok rahasia yang punya tujuan melenyapkan Maharaja Gaipajama.

Dari empat buku yang udah gue baca, petualangan kali ini lebih seru dibanding yang lain (gak tau deh, dengan petualagan di buku-buku berikutnya… lupa soalnya…), dulu gue pernah baca buku ini, kalo gak salah judulnya ‘Cerutu Sang Pharaoh’. Meskipun, tetap aja, Tintin ini kaya’ kucing. Nyawanya ada sembilan kali ya… (atau lebih…), biar udah ketabrak kereta, mobil, jatoh dari pesawat… tetap… selamat, sehat wal’afiat… dan segar bugar…
Read more »

Petualangan Tintin: Tintin di Amerika

Petualangan Tintin: Tintin di Amerika (Tintin en Amèrique)
Hergè @ 1945
Donna Widjajanto (Terj.)
GPU, April 2008
64 Hal.

Kedatangan Tintin di Amerika membuat para kelompok gangster ketar-ketir. Pasalnya, tujuan Tintin ke Amerika memang untuk memberantas kelompok yang selalu membuat resah itu. Bahkan, pemimpin gangster paling terkenal, Al Capone, ikut resah karena kedatangan Tintin. Lolosnya Tintin di Congo dari anak buahnya membuat Al Capone tidak memandang sebelah mata si wartawan berjambul ini.

Setibanya di Amerika, Tintin langsung ‘disambut’ dengan berbagai upaya untuk melenyapkanya. Tapi, Tintin tak gentar. Satu per satu kelompok gangster mulai bertekuk lutut. Namun, ada satu kelompok gangster pimpinan Bobby Smiles berusaha mengajak Tintin bekerja sama, tapi, Tintin menolaknya dan membuat Bobby Smiles mengatur berbagai cara untuk menjebak Tintin.

Terjadilah kejar-mengejar antara Tintin dan Bobby Smiles. Tintin ‘terjebak’ di kawasan pemukiman suku Indian. Bobby Smiles yang lebih dulu, menghasut suku Indian untuk menangkap Tintin.

Tapi, bukanlah Tintin namanya kalo gak berhasil lolos dari berbagai jebakan. Akal yang banyak meskipun terkadang sederhana, mampu membuat Tintin keluar dari kesulitan.

Tintin jadi pahlawan karena usahanya memberantas kelompok gangster.
Read more »

Children of the Lamp: The Akhenaten Adventure

Children of the Lamp: The Akhenaten Adventure
P. B. Kerr @ 2004
Utti Setiawati (Terj.)
Penerbit Matahati, Cet. I – Maret 2008
416 Hal.

Tumbuh gigi susu seharus menjadi hal yang wajar. Tapi tidak di keluarga Gaunt… Begitu mengetahui kalau kedua anak kembar mereka, John dan Phillipa tumbuh gigi susu, Mrs. Gaunt langsung merencanakan untuk segera di operasi, meskipun si kembar tidak suka akan hal itu.

Tapi, kalau saja John dan Phillipa tidak mengalami operasi pencabutan gigi bungsu, mereka tidak akan pernah tahu kalo mereka bukanlah anak kembar yang biasa-biasa saja. Mereka ternyata punya keistimewaan yang tidak pernah mereka sadari dan memang dirahasiakan oleh orang tua mereka, terutama Mrs. Gaunt.

Ketika mereka sedang menjalani operasi gigi, dalam keadaan terbius, John dan Phillipa mendapatkan ‘mimpi’ yang sama, mereka berdua bertemu dengan Paman Nimrod, adik ibu mereka yang sudah lama sekali tidak mereka jumpai. Dalam mimpi itu, Paman Nimrod memberi petunjuk agar mereka berdua bisa membujuk orang tua mereka supaya diijinkan pergi ke London bukan menghabiskan liburan di perkemahan tempat anak-anak berbakat. Dan anehnya… tanpa banyak pertanyaan, Mr. dan Mrs. Gaunt menyetujui hal itu.

Bukan itu saja yang aneh. Setelah operasi gigi, muka John yang kata Phillipa seperti gunung berapi, tiba-tiba menjadi mulussssss…. Dan Phillipa secara tidak sadar ternyata bisa mengabulkan permintaan Mrs. Trump.

Di London, barulah semuanya jadi jelas dan sangat mengejutkan… bahwa mereka bukanlah anak kembar biasa, melainkan anak-anak lampu…alias keturunan Jin!!! Wahhh… cool…. Mereka pun belajar mengendalikan kekuatan mereka bersama Paman Nimrod.

Liburan mereka tidak hanya di London, melainkan lebih seru lagi. Bersama Paman Nimrod, John dan Phillipa berangkat ke Mesir untuk menyelidiki makam Akhenaten – Firaun dinasti ke-18 – yang konon memiliki 70 jin yang ikut dikubur bersamanya. Ternyata, bukan hanya mereka yang mengincar makam itu, tapi juga Iblis – Jin Jahat juga mencari makam itu agar bisa memperbesar kekuatan dan kekuasaannya.

Buku yang asyik… Ternyata… peristiwa meletusnya Gunung Krakatau juga dipicu oleh kekuatan Jin… juga tenggelamnya kapal Titanic… Hehehe…

Untungnya, John dan Phillipa bukan tipe anak sok tau, tapi memang mereka anak-anak pintar, jadinya petualangan mereka jadi seru banget dengan akal-akal mereka dan gimana awalnya mereka belajar hidup dalam botol.

Jadi pengen nunggu petualangan si Anak-Anak Lampu ini selanjutnya…

Read more »

Beauty for Killing

Beauty for Killing
Fradhyt Fahrenheit
FoUmediapublisher, Januari 2008
364 Hal.

5 sahabat – Vennita, Chantika, Debby, Kiyara dan Brando – masih berduka karena kematian sahabat mereka, Mae. Ditambah lagi, hubungan mereka kini merenggang gara-gara masalah percintaan. Mereka mencintai laki-laki yang sama, yang ternyata lebih memilih Kiyara untuk dijadikan pasangan hidupnya (Cerita ini ada di buku sebelumnya dengan judul 'Beauty for Sale').

Jadilah mereka berlima untuk sementara waktu menjalani ‘gencatan senjata’ untuk menjernihkan suasana. Mereka menyebar ke seluruh pelosok dunia, mulai dari Barcelona, Singapura, Bali, New York. Mereka yang masih lajang ini berkutat dengan masalah masing-masing – masalah kesendirian kesepian dan juga masalah pribadi mereka.

Vennita misalnya, rela mengeluarkan uang milyaran rupiah demi ‘mempermak’ eks pembantu di kantornya untuk jadi wanita berkelas dengan tujuan menjebak ayahnya yang gemar main perempuan.

Lalu, Brando, yang seorang gay, dikejar-kejar seorang pria yang terobsesi pada dirinya. Hingga nyari membuat karirnya hancur.

Mereka disatukan kembali ketika Vennita menghilang. Vennita diduga diculik oleh orang-orang yang ingin menghancurkan keluarganya. Misteri hilangnya Vennita menjadi bumbu yang membuat novel ini punya sedikit sentuhan (atau hanya sebagai ‘bumbu’?). Bukan apa-apa… karena tanpa hal itu, novel ini hanya jadi novel metropop, chicklit atau roman biasa yang menunjukkan gaya hidup kelas atas para perempuan dan laki-laki single.

Sejak halaman pertama sampai akhir, pembaca ‘dibombardir’ dengan berbagai macam merk ternama, mulai dari produk fashion, handphone, club-club dan restoran. Waduh… kalo gak pernah baca majalah fashion atau gak gaul, dijamin bakal terbengong-bengong dengan sederetan nama-nama kaya’ Prada, LV, Vera Wang, lalu café dan club di segala penjuru dunia. Belum lagi, handphone Vertu (or whatever) yang bertahtahkan berlian dan berlapis kulit domba muda (Hah.. silahkan bayangin sendiri!)

Di novel ini, setiap tokohnya digambarkan hari itu dia pakai baju apa, sepatu apa, parfumnya, tas dan segala macam aksesoris lainnya, belum lagi hari itu dia ada di mana, makan di resto apa dan apa yang dia makan and minum juga ditulis sedetail-detailnya. Silahkan sebut gue norak or sinis… tapi, itulah yang digambarkan, bisa bikin mulut ternganga dengan segala macam kemewahan, keekslusifan dan ‘ke-jor-jor-an’ para tokoh.

Yang paling heboh lagi, ‘penggambaran’ adegan-adegan yang amat sangat 17 tahun ke atas dengan kata-kata yang cukup vulgar. Bikin novel ini hanya sekedar pamer pengetahuan fashion dan ‘sex’.

Dan, ending cerita bener-bener menggambarkan, betapa kekayaan bisa bikin orang depresi sampai akhirnya nyari cara yang ajaib untuk menghabiskan uang dan menghibur diri sendiri.

Minus lainnya, selain cerita yang buat gue rada berlebihan adalah tulisan-tulisan yang sering tumpang-tindih.
Read more »