Selasa, 28 April 2009

Metamorfosis

Judul : Metamorfosis
Judul Asli : Die Verwandlung
Penulis : Franz Kafka
Penerjemah : Juni Liem
Penerbit: Homerian Pustaka
Cetakan : I, Des 2008
Tebal : 154 hlm

Suatu pagi Gregor Samsa terbangun dari mimpi buruknya, ia menemukan dirinya telah berubah menjadi seekor kutu besar yang menakutkan.” Demikian kalimat pembuka dari Metamorfosis (1915), sebuah novella muram yang ditulis oleh Franz Kafka (1883-1924) salah satu penulis asal Jerman yang paling berpengaruh dalam abad ke 20 . Tiba-tiba saja Gregor Samsa terputus hubungan dengan masa lalunya sebagai manusia. Sesuatu yang diluar nalar terjadi pada hidupnya. Bukan mimpi melainkan kenyataan. Walau cara berpikirnya masih manusia, namun fisiknya berubah bentuk menjadi seekor kutu besar.

Sebelum berubah wujud Gregor Samsa adalah seorang salesman kain yang merupakan tulang punggung keluarganya. Ia tinggal bersama kedua orang tuanya, dan Gretta, adik kandungnya. Karenanya ketika ia berubah wujud, ia tak dapat lagi bekerja sehingga kondisi keuangan keluarganya menjadi terganggu. Tak hanya itu Gregor menjadi terasing di tengah keluarganya sendiri. Ia menjadi tersisihkan, terpenjara dalam kamarnya sendiri. Ia kini menjadi obyek yang memalukan bagi keluarganya.. Bahkan ayahnya sendiri selalu memandangnya dengan jijik bahkan berusaha untuk membunuhnya.

Bisa dibayangkan bagaimana perubahan wujud itu membuat Gregor tertekan, ruang gerak dan perilakukanya menjadi seperti seekor serangga, merayap di dinding, di langit-langit, sembunyi disela-sela perabot kamar, kebiasaan makannyapun mulai berubah, ia kini lebih menyukai makanan-makanan sisa dibanding makanan segar. Walau ia bisa mendengar dan memahami apa yang diatakan keluarganya, ia tak mampu lagi berkomunikasi dengan keluarganya. Tak ada yang mempedulikannya lagi kecuali Gretta dan ibunya yang masih memperhatikannya dengan memberi makan dan memindahkan beberapa perabot kamarnya agar Gregor lebih leluasa bergerak.

Sebulan sudah Gregor berubah wujud dan terpenjara dalam kamarnya. Karena Gregor tak bisa bekerja, maka ketika keluaranya kehabisan uang, mereka memutuskan untuk menyewakan beberapa kamar di apartemen mereka pada tiga orang lelaki. Semenjak itu kehidupan keluarga Gregor menjadi layaknya pembantu karena mereka harus menyediakan makanan dan beberapa keperluan dari penyewa kamar.

Namun sayangnya ketenangan ketiga penyewa kamar keluarga Gregor terusik ketika sebuah peristiwa membuat Gregor tergerak untuk keluar dari kamarnya dan fisiknya terlihat oleh ketiga pria tersebut. Hal ini membuat mereka menjadi ketakutan dan mumutuskan untuk tak lagi menyewa kamar keluarga Gregor.
Kejadian ini tentu saja membuat ayah Gregor geram dan berniat membunuhnya, dengan melempar Gregor dengan apel. Salah satu apel bersarang dalam tubuhnya hingga membusuk dan membuat Gregor menderita kesakitan. Ia kembali terkurung dalam kamarnya. Peristiwa ini pula merupakan titik balik bagi keluarga Gregor untuk segera melupakan bahwa Gregor sebenarnya masih hidup, hal ini terungkap seperti yang dikatakan Gretta pada ayahnya :

“Ayah harus dapat melupakan bahwa ide bahwa itu adalah Gregor..Bagaimana mungkin itu Gregor? Jika itu adalah Gregor, ia harus melihat dari dahulu bahwa tak dapat manusia hidup dengan binatang seperti itu…Kita tak mempunyai saudara laki-laki lagi, tapi kita dapat mengingat dia di dalam hidup kita dengan hormat.” (hal 137).

Dilupakan oleh keluarganya sendiri membuat hati Gregor semakin pedih, Sebagai manusia ia telah mati. Dan Gregor dengan sisa-sisa kekuatannya mencoba bertahan, namun sampai berapa lama Gregor si kutu besar itu mampu bertahan sendirian tanpa seorangpun yang mempedulikannya ?




Edisi Pertama Metamorfosis
Kurt Wolff Verlag, 1915










Metamorfosis banyak dianggap sebagai kisah yang simbolik dengan berbagai interpretasi. Soal menjadi mahluk apa sebenarnya si Gregor ini sendiri menjadi banyak perdebatan, ada yang mengatakan kecoak, serangga, kutu, dll. Memang Kafka sendiri tak memberikan deskripsi detail seperti apa wujud Gregor yang telah berubah. Bahkan untuk keperluan sampul bukunya pun ia menyurati pada penerbitnya bahwa mahluk tersebut tidak untuk digambar.

Lalu bagaimana pula dengan penjelasan logis mengapa Gregor bisa berubah wujud? Kafka memang tak sedang membuat kisah fiksi ilmiah, jadi jangan harap kita akan menemukan jawaban atas perubahan wujud Gregor. Dalam novelnya ini Kafka tampak lebih mengutamakan penggambarkan kondisi psikologis yang dialami Gregor dibanding menjelaskan mengapa kejadian aneh ini bisa terjadi. Sastrawan Rusia Vladimir Nabakov, penulis novel "Lolita", juga mengatakan, "Barang siapa melihat `Metamorfosa` lebih dari sekedar fantasi ilmu serangga, aku anggap pembaca itu telah berhasil."

Nah, jadi apa yang bisa kita peroleh dari novel pendek ini ? Tentunya pembaca memiliki interpretasi masing-masing dari apa yang dibacanya. Dalam Metamorfosis Kafka menggambarkan betapa egoisnya manusia sekalipun itu berada dalam lingkungan keluarga sendiri. Ketika Gregor berubah wujud, begitu cepat keluarganya melupakan jasa Gregor yang telah menjadi tulang punggung perekonomian keluarganya. Gregor kini dianggapnya sebagai parasit dalam keluarga, padahal sebelumnya keluarga Gregorlah yang menjadi parasit dalam hidup Gregor.

Kafka juga berbicara mengenai bagaimana kedekatan dan cinta dari orang-orang yang kita sayangi bisa berubah ketika kita mengalami ‘perubahan’. Memang Kafka memberikan contoh esktrim dengan mengubah Gregor menjadi binatang. Namun dalam kenyataannya mungkin suatu saat kita mengalami perubahan dalam kehidupan yang diakibatkan karena kehilangan pekerjaan, kegagalan dalam karier, kejatuhan dalam dosa, dan lain-lain. Hal itulah yang membuat kita menjadi seperti Gregor. Dari sosok yang diandalkan, dibutuhkan, dan tiba-tiba menjadi pribadi yang diasingkan, dibenci, karena tak lagi sesuai dengan harapan orang-orang yang sebelumnya mengasihi kita.

Kisah Gregor dalam Metamorfosis (Die Verwandlung dalam bahasa Jerman), adalah novella karya Franz Kafka yang paling terkenal selain The Trial dan The Castle. Kalau tidak salah Metamorfosis pernah dua kali diterjemahkan di Indonesia oleh dua penerbit yang berbeda (Bentang Pustaka dan Aksara). Dan kini novella ini diterjemahkan dan diterbitkan oleh Homerian Pustaka dengan cover yang menawan. Namun sayangnya ada yang tak konsisten antara terjemahan dengan cover, pada isi buku ini wujud Gregor diterjemahkan sebagai kutu besar, sedangkan di ilustrasi cover terjemahannya yang Nampak adalah wujud kecoak.

Dari segi terjemahannya, di halaman-halaman awal hingga pertengahan saya tak menemui kesulitan untuk memahami novella ini, namun di bagian-bagian berikutnya saya mulai sulit untuk memahami apa yang dimaksud dalam kalimat-kalimatnya. Setelah saya konfirmasikan ke beberapa kawan yang telah membacanya, ternyata merekapun mengalami hal yang sama. Mungkin di cetakan-cetakan berikutnya karya ini bisa diedit lagi agar terjemahannya lebih mudah dipahami dan enak dibaca.

@h_tanzil
Read more »

Senin, 20 April 2009

Honeymoon with My Brother

Honeymoon with My Brother
Bertualang Keliling Dunia Gara-gara Putus Cinta
Franz Wisner @ 2005
Berliani M. Nugrahani (Terj.)
Penerbit Serambi – Cet. II, Desember 2008
485 Hal.

Diputusin pacar kaya’nya udah gak enak banget. Kaya’nya semangat untuk hidup dan beraktivitas lain udah gak ada. Apalagi yang namanya ditinggalin pasangan, calon pendamping, hanya seminggu sebelum hari pernikahan. Kebayang gak, gedung udah ok, catering, dekorasi, undangan udah tersebar dan tinggal menunggu sodara-sodara jauh pada dateng… tau-tau… jeng… jenggggg… si CMP or CMW bilang, “Ma’af, aku gak bisa meneruskan ini semua.” Hah… alesannya? Cuma gak bisa… gak ada penjelasan lain.

Franz Wisner, mengalami hal ini. Harusnya Sea Ranch, sebuah daerah di Pesisir California, jadi saksi ketika mereka mengucapkan sumpah yang sakral itu. Harusnya, kue buatan LaRue, nenek tiri Franz, jadi kue pengantin yang paling indah. Bulan madu ke Kosta Rica juga hanya tinggal kenangan. Annie, ‘mencampakkan’ Franz dengan alasan yang tidak jelas itu.

Beruntung Franz memiliki keluarga, teman-teman yang memberi dukungan. Pesta tetap ada, hanya saja tidak ada mempelai wanitanya. Di Sea Ranch juga, teman-teman Franz menghiburnya. Franz yang tentu saja terpukul, tidak langsung jadi terpuruk dan berlarut-larut dalam kesedihan. Malah ia mengajak adiknya, Kurt, untuk tetap melaksanakan perjalanannya ke Kosta Rika.

Ternyata perjalanan itu memberikan inspirasi positif bagi Franz dan Kurt. Franz yang selama ini tidak terlalu dekat dengan Kurt, merasa inilah saat melakukan sesuatu yang berbeda. Tak hanya kehilangan kekasih, tapi di tempatnya bekerja pun, Franz ‘dicampakkan’ oleh atasannya. Gara-gara ini, rencana ‘gila’ pun disusun. Bersama Kurt, yang juga mengalami masalah rumah tangga, Franz merencakan sebuah ‘bulan madu’ bersama adiknya. Padahal, dia sendiri tidak tahu, bagaimana ia harus menghadapai Kurt yang selama ini tidak terlalu dikenalnya.

Rencana perjalanan segera disusun. Budget segera dihitung – ada dari bonus, ada dari hasil penjualan rumah. Didukung oleh LaRue, mereka pun pergi. Perjalanan mereka pertama menuju ke Eropa Timur. Perjalanan yang tidak selalu mulus, karena di awal saja, mereka sudah harus kehilangan paspor, padahal visa-visa untuk masuk ke negara-negara yang susah sudah diurus dan sudah ok. Kurt, yang lebih santai, selalu punya banyak akal. ‘Kesialan’ kecil di awal tidak menyurutkan langkah mereka.

Di Eropa Timur, mereka berkeliling dengan mobil baru Kurt menuju Rusia, Swedia, Rumania. Di Praha, Franz terlibat hubungan singkat dengan seorang perempuan.

Dari benua Eropa, Franz dan Kurt menuju Asia Tenggara – menuju Indonesia, Thailand, Kamboja, Vietnam. Indonesia… tentu saja mampir ke Bali, tapi, ternyata, buat mereka Bali terlalu ramai – meskipun mereka kagum dengan adu ayam-nya, sampai akhirnya mereka mempersingkat kunjungannya ke Bali dan menyepi ke Lombok dan bertemu sesama backpackers yang ternyata punya ‘dewa’, terus, ke Pulau Komodo demi ngeliat Komodo.

Setelah dari Asia Tenggara, mereka menuju Amerika Utara dan Selatan – Brazil membuat Franz jatuh cinta dan membuatnya ingin berkunjung ke sana sekali lagi.

Perjalanan berakhir di Benua Afrika, yang katanya mereka, merupakan ujian terberat selama perjalanan mereka yang menempuh waktu dua tahun itu. Di sana, semua pelajaran lengkap bisa didapat – tertawa ketika anak-anak kelaparan memeluk kaki mereka, ceria ketika hanya bermain di halaman karena gak ada tv, bahagia bahkan ketika lapar.

Di sela-sela ‘perpindahan’ antar benua, mereka selalu menyempatkan diri untuk pulang ke Amerika, melihat anjing-anjing Kurt, menengok LaRue yang selalu mereka kirimi kartu pos di setiap persinggahan mereka – LaRue yang menempelkan paku-paku di peta, menandai jejak-jejak Franz dan Kurt.

Perjalanan panjang ini membuat Franz semakin bersyukur dengan apa yang dia miliki, dan belajar merelakan apa yang sudah lepas dari dirinya – terutama yang menyangkut soal Annie. Bergaul dengan penduduk setempat dan bernegosiasi sendiri dengan petugas travel, hotel, mereka pun jadi gak percaya dengan yang namanya Lonely Planet. Foto Franz dengan George W. Bush jadi jimat mereka untuk lolos dari dari polisi yang reseh. Banyak hal yang serius, tapi juga kocak. Misalnya saat Franz cerita tentang supir taksi yang paling menyebalkan. Perjalanan panjang mereka ini akhirnya menarik minat koran-koran di Amerika, sehingga Franz pun jad ‘wartawan travel’ dadakan.

Buku-buku traveling begini selalu membuat gue iri, selalu membuat gue bertanya-tanya, kapan gue bisa jalan-jalan, gak usah keliling dunia, tapi keliling Indonesia dulu aja deh… Karena ini cerita perjalanan a la backpacker, tempat-tempat yang didatangi mereka jadinya unik-unik, bukan apa yang ada di brosur biro travel, tapi justru dari rekomendasi teman-teman atau malah penduduk setempat.

Gue ikut ‘terpukau’ dengan perjalanan mereka. Bahkan ikutan ngerasa capek ketika mendekati akhir perjalanan. Serasa pengen cepet-cepet sampai rumah, tapi masih belum mau liburan berakhir. Jarang-jarang, gue bisa suka sama buku non-fiksi seperti ini. Kemasan cerita jalan-jalan bikin menarik. ‘Pelajaran’ didapat dengan cara-cara yang gak terlalu serius, tapi tetap ‘dalam’.
Read more »

Minggu, 19 April 2009

Glam Girls series: Reputation

Glam Girls series: Reputation
Tessa Intanya
GagasMedia – Cet. I, 2009
346 Hal.

Di buku kedua seri Glam Girls ini, yang jadi tokoh ‘pencerita’ adalah Rashida Agashi Pradokso alias Rashi. Rashi yang jutek abis, yang bossy, yang paling bitchy di antara Adrianna dan Maybella.

Rashi adalah anak ketujuh dari seorang pengusaha terkenal dan seorang seniwati yang juga terkenal. Ibu Rashi, yang namanya Ibu Ayu – orang Bali, adalah istri keempat dari bapak Pradokso. Rashi, bisa dibilang anak kesayangan Pak Pradokso, his lucky #7.

Di novel ini, pembaca jadi bisa lebih mengenal sosok Rashi di balik sikapnya yang judes itu. Diliat dari judulnya, Reputation, tentu saja menyangkut sepak terjang Rashi di dunia pergaulan yang glamour.

Di buku pertama, tentunya udah tau kalau Rashi mendepak Marion karena menganggap Marion, si bule blasteran Peranci itu, adalah pengkhianat, sampai akhirnya, Rashi ‘merekrut’ anggota baru yang dianggap geek, yaitu Adrianna.

Ternyata, memang banyak yang pada dasarnya berniat mencari-cari kejelekan Rashi (meskipun ia emang dikenal ngeselin, demi menjatuhkan reputasi Rashi. Sebuah blog misterius muncul, yang isinya mengupas kenakalan, kejahatan Rashi satu per satu. Rashi tentu saja marah besar, meskipun ia tetap bersikap tenang dan menunjukkan kalau dia gak peduli dengan omongan ‘sampah’ kaya’ begitu.

Awalnya, berita di blog itu hanya seputar kegiatan-kegiatan clubbing, shopping dan hal yang remeh-temeh, seperti Rashi yang kedapatan jalan berdua cowok lain yang bukan pacarnya. Tapi, lama-lama, koq, mulai menyinggung keluarga Rashi. Blog itu mulai menjelekkan orang tua Rashi – ayahnya yang sakit-sakitan, ibunya yang lagi gila popularitas. Buntutnya juga menjelekkan, Arian, seorang cowok anak baru di VIS, yang juga anak dari pegawai administrasi di VIS. Arian, yang mungkin selama ini gak masuk kategori cowok yang bakal dideketin Rashi. Rashi mulai gerah, ia mulai mengatur strategi untuk melancarkan serangan balas dendam bagi si pembuat blog yang sudah ia ketahui identitasnya.

Di buku ini juga dibahas tentang hubungan Rashi dan Lukas, cowoknya, yang ternyata hanya untuk having fun-nya Rashi.

Ternyata, kalau setelah membaca tentang Rashi, emang dia itu bossy banget. Gampang banget marah-marah dan gak suka ditentang. Suka meremehkan orang… tapi, ternyata, Rashi juga punya keahlian seperti fotografi. Dia juga sayang banget sama ayahnya. Anggota klub renang – bukan cheerleader. Dan lebih punya sikap dan pendirian yang lumayan kuat.

Mungkin karena ditulis sama penulis yang beda, karakter Adrianna jadi keliatan beda dari di buku pertama, kalo May sih, masih tetap dengan sikap centilnya. Gue jadi lebih suka sama si Rashi, daripada Ad yang dulu sebel-sebel gak jelas sama Rashi and the gank. Emang sih, Rashi terkadang mampu bikin orang susah… tapi, hmmm.. emang jangan main-main sama Rashi… hehehe…

Kalimat-kalimat berbahasa Inggris dan gaul masih bertebaran di buku ini, dan tentu saja merk-merk terkenal. Gak terlalu istimewa juga sih dibanding buku pertama.

Read more »

Glam Girls

Glam Girls
Nina Ardiana
GagasMedia – Cet. 1, 2008
342 Hal.

Hmm… Hmm… Hmm… sebenernya kalo baca buku ini, bakal kepikir kalo temanya gak asing lagi. Tinggal liat sinetron, atau kalo mau kerenan dikit, bayangin film ‘Clueless’-nya Alicia Silverstone jaman dulu… Cerita tentang para ABG, anak-anak orang kaya, sekolah ekslusif, dan tambahin aja, segala aksesoris ber-merk yang bakal bikin kita terkaget-kaget, koq ya anak-anak SMA udah pake merk ibu-ibu? (hmm.. bukan gue yang ketinggalan jaman, kan??

Jadi, ceritanya Adrianna, yang bt berat gara-gara harus kembali meneruskan SMU-nya di Voltaire International School. Sebenernya, Adrianna pengen banget sekolah di Harapan Bangsa, bareng sama dua sahabatnya. Soalnya, dari TK sampai SMP, Ad sekolah di VIS. Ad, yang tentu saja anak orang kaya itu, mulai males sekolah di VIS, karena sering banget acara sekolah jadi ajang pamer, ajang gaya dan sombong-sombongan, pokoknya serba glamor. Tapi, Ad gak bisa membantah keinginan orang tuanya.

So, singkat kata, Adrianna harus kembali ke VIS. Adrianna bukanlah siswi yang hanya mentingin gaya. Meskipun gak suka pamer, tapi tetap, ‘perabotan’ Adrianna gak kalah bermerk dengan siswi lain yang emang ke sekolah dengan niat gaya.

Makanya, Adrianna, nyaris gak peduli ketika pertama kali melihat tiga serangkai – Rashi, May dan Marion – kelompok or clique – yang bikin semua orang – kecuali Ad – pengen jadi di antara mereka bertiga, pengen gabung dengan gang mereka atau paling nggak, dilirik dikit sama tiga orang yang udah kaya’ dewi itu.

Rashi, May dan Marion – anak-anak pejabat, gak peduli dengan uang mereka, tampil abis-abis setiap mau ke sekolah, dan digemari, sekaligus dibenci. Karena sikapnya yang kadang jahat, pedes.. pokoknya… mmm… bitch abis gitu. Rashi, bisa dibilang sebagai pemimpin dari kelompok itu. Dia yang nentuin arah pembicaraan, yang ambil keputusan, bahkan nentuin ‘tema seragam’ mereka tiap hari jum’at, di mana hari itu para siswa-siswi boleh pake baju bebas.

Tadinya, Adrianna gak mau berurusan sama sekali dengan mereka bertiga. Bagi Ad, fokusnya hanya belajar. Karena, system di VIS udah canggih banget. Setiap hasil ulangan, langsung dikirim ke ortu mereka… real time via email. Jadi, kalo dapet nilai jelek, gak ada tuh, yang bisa disembunyikan dari orang tua.

Tapi, ternyata, Adrianna harus ‘menghabiskan’ sedikit waktunya dengan May dan Rashi, ketika mereka ada di kelompok yang sama untuk pelajaran Indonesian Studies. Di pelajaran itu, mereka diharuskan bikin paper tentang salah satu propinsi di Indonesia.

Sejak awal, Adrianna sudah khawatir, kalau hanya dia sendiri yang bakal mengerjakan tugas itu, mengingat untuk bawa pulpen aja mereka lupa. Tapi, Ad gak mau membiarkan dirinya jadi korban. Meskipun malas, Ad harus berani untuk ngedeketin mereka. Emang awalnya, dia di-jutekin abis sama ketiga orang itu. Sampai-sampai, Adriana pengen membalas perlakuan mereka, terutama Rashi.

Kesempatan itu datang, ketika secara gak sengaja, Ad mendengarkan pertengkaran antara di antara mereka bertiga. Entah kenapa, Ad yang pada dasarnya anak baik-baik, malah secara halus menyebarkan gosip, yang bikin ‘pertemanan’ di antara mereka bertiga pecah. Ad sempet gak enak, dan akhirnya bikin pengakuan ke Rashi.

Tapi…. Bukannya marah, Rashi malah ngajak Ad untuk ‘gabung’ jadi anggota baru di clique mereka. Ad pun ikut terbawa arus pergaulan mereka. Clubbing pas malam sekolah, belanja gila-gilaan, sampai-sampai Ad dihukum gara-gara harus ikut remedial class karena nilainya jelek.

Kalo menurut gue, karakter Adrianna rada-rada ‘ngambang’. Sebel-sebel gak jelas sama Rashi and the gank, tapi, ternyata gak bisa ngelawan diri sendiri untuk gak ikutan gaya pergaulan mereka. Padahal, kalo diliat dari cara Ad bicara atau berpikir, harusnya dia lebih kuat dari pada itu. Karena dia punya style yang beda.

Buku ini juga gak terlalu banyak menyorot soal cinta-cintaan. Kalo awalnya gue pikir bakal ada apa-apanya antara Rifky, yang temen kakak Ad and yang jadi pelatih sepak bola di VIS – ternyata gak tuh. Hanya ada ribut-ribut dikit antara Rashid and Marion soal backstabber karena ngedeketin mantan cowoknya Rashi.

Entah kenapa, gue merasa banyak banget yang gak jelas di buku ini. Mungkin bakal jelas di buku-buku selanjutnya.

Lumayan lah, buat bacaan ringan pas weekend kemarin. Dan gue juga langsung buru-buru baca lanjutannya – Reputation – yang bakal disusul sama Unbelievable.
Read more »

The Worlds of Chrestomanci: Charmed Life

The Worlds of Chrestomanci: Charmed Life
(Dunai-Dunia Chrestomanci: Eric Chant dan Korek Api Bertuah)
Diana Wynne Jones @ 1977
Yohanna Yuni (Terj.)
GPU – Maret 2009
256 Hal.

Eric Chant, yang biasa dipanggil Cat, amat sangat bergantung pada Gwendolen, kakak perempuannya yang seorang penyihir. Mereka berdua menjadi yatim piatu, ketika kecelakaan kapal uap merengut nyawa orang tua mereka. Sebenarnya, mereka berdua juga ada di kapal itu, tapi, karena Gwendolen seorang penyihir, ia berhasil selamat, dan Cat juga selamat karena ia berpegangan pada Gwendolen.

Mereka akhirnya diasuh oleh Mrs. Sharp, seorang penyihiri juga di wilayah Wolcercoter, tepatnya di Coven Street. Mrs. Sharp, adalah penyihir tingkat rendah, dan di daerah tempat tinggal mereka, tinggal banyak berbagai jenis penyihir. Karena bakatnya, Gwendolen diikutan belajar sihir, sementara Cat tidak karena dianggap tidak punya kemampuan itu. Bersama gurunya, Mr. Nostrum, Gwendolen menyusun rencana untuk menaklukan dunia.

Orang tua mereka tidak banyak meninggalkan warisan. Di kotak barang-barang peninggalan mereka, hanya ditemukan surat-surat cinta orang tua mereka, anting berlian milik ibu mereka, sekotak korek api yang aneh dan setumpuk surat dari seseorang bernama Chrestomanci.

Seperti yang akhirnya diketauhi, Chrestomanci adalah seorang enchanter, penyihir yang sangat berpengaruh. Maka itu, ketika Chrestomanci datang dan menjemput mereka berdua, Gwendolen sangat senang. Ia berharap akan bisa mendapatkan pengetahuan sihir yang lebih banyak saat tinggal bersama Chrestomanci nanti.

Tapi, Gwendolen harus kecewa. Ketika datang di kastil Chrestomanci, Gwendolen berharap diperlakukan seperti ratu, tapi ternyata mereka hanya disambut pelayan biasa. Bahkan ia sama sekali tidak boleh menggunakan sihir di kastil itu.

Gwendolen adalah anak yang keras hati dan pantang menyerah. Berbagai sihir dilakukannya untuk menunjukkan kemampuannya di hadapan Cherstomanci, agar ia diperhatikan dan dianggap punya potensi. Tapi, tetap saja, Chrestomanci tidak memperhatikannya, malah ia menghukum Gwendolen dan menghilangkan kemampuan sihirnya.

Namun, Gwendolen memang anak yang pintar. Untuk menjalankan rencana gelapnya, ia ‘pindah’ ke dunia lain, dan bertukar tempat dengan seorang gadis yang mirip dengannya bernama Janet. Hanya Cat yang tahu perbedaan antara Gwendolen dan Janet. Janet bukan penyihir, ia hanya anak biasa yang datang dari dunia yang menganggap sihir itu adalah hal bohong.

Tapi, dengan perginya Gwendolen, justru membuka potensi tersembunyi dalam diri Cat. Bukan sembarang julukan, karena ternyata Eric memang punya sembilan nyawa seperti kucing! Dan itu baru diketahuinya ketika ia nyaris terbakar gara-gara main-main dengan korek api.

Sementara, Cat masih merasa kehilangan kakaknya, Gwendolen ternyata ada di dunia lain dan diperlakukan sesuai dengan yang ia mau, seperti ratu. Rencana jahat untuk menghancurkan Chrestomanci terus dilakukan, dan Cat, secara tidak sadar, ikut andil dalam rencana itu.

Gue langsung ikut membayangkan suasana kastil Chrestomanci, dengan taman-tamannya yang indah. Novel yang tipis ini ternyata menarik, karena, justru tokoh yang ketahuan punya kekuatan sihir ternyata adalah tokoh antagonisnya. Geli juga saat Gwendolen yang pintar melakukan semua cara untuk mendapat perhatian Chrestomanci yang gemar berganti-ganti jubah itu. Tapi, kenapa, hampir semua novel fantasi yang terbit sesudah Harry Potter, harus ‘menjual’ nama Harry Potter? Seolah gak pd dengan daya tarik novel itu sendiri. Padahal, novel Chrestomanci pertama ini ditulis 32 tahun yang lalu! Ha… seumur gue???!!!
Read more »

Spellbound (Tersihir)

Spellbound (Tersihir)
Jane Green
Monica D.C (Terj.)
GPU – Maret 2009
488 Hal.

Alice Chambers, perempuan usai 30 tahunan, kerap menjadi cover di majalah Tatler terbitan Inggris karena seringnya ia menghadiri acara-acara sosialita. Dengan postur tubuh tinggi semampai, kulit kecokelatan, rambut pirang yang panjang dan lurus, berbalut busana dari desainer terkemuka. Siapa yang tak akan menoleh kepadanya dengan penampilan seperti itu. Tinggal di kawasan bergengsi di London. Mungkin nyaris semua perempuan ingin menggantikan tempatnya sekarang.

Tapi, siapa sangka semua itu dilakukan Alice hanya demi suaminya. Joe Chambers, laki-laki impiannya sejak remaja. Alice, yang dulunya berambut hitam dan keriting, memakai celana jeans dan sweater kumal, bermimpi untuk memiliki rumah di pedesaan dan menikah dengan suasana yang tradisional dan kekeluargaan. Penampilan canggih Alice yang sekarang, adalah semata-mata karena keinginan Joe.

Alice sangat mencintai Joe. Tapi, dasar laki-laki hidung belang. Memiliki istri seperti Alice tidaklah cukup. Joe adalah tipe lelaki petualang. Ia gemar melakukan ‘one night stand’ dengan perempuan-perempuan yang ia temui, entah di café, di pesta-pesta. Joe yang tampan dan mudah bergaul, membuatnya dengan mudah mendekati perempuan-perempuan yang tentu saja dengan senang hati meladeninya.

Joe pun kena batunya, ketika ia berhubungan dengan teman sekantornya sendiri, Josie. Joe dipindahkan ke Amerika. Bagi Alice – dan juga Joe – kepindahan ini dimanfaatkan untuk memperbaharui pernikahan mereka. Joe berjanji pada dirinya sendiri untuk menjadi suami yang baik dan setia pada Alice.

Alice pun segera menyukai Amerika, atau tepatnya sebuah kota kecil bernama Highfield di Connecticut. Di sana Alice menemukan rumah yang selama ini hanya ada dalam mimpinya. Rumah yang ternyata memiliki legenda di kalangan warga Highfield. Segera saja Alice jatuh cinta pada rumah itu dan langsung bekerja keras untuk mewujudkan rumah impiannya itu.

Tanpa disadarinya, hubungannya dengan Joe merenggang. Joe yang tinggal di Manhattan hanya pulang seminggu sekali ke tempat Alice berada. ‘Pertahanan’ Joe diuji. Dengan begitu banyak wanita cantik bersliweran di depannya, mau tak mau, Joe kembali tergoda. Apalagi, Alice berubah – kembali menjadi Alice yang tak peduli dengan penampilan, kembali menjadi Alice yang dikenalnya ketika remaja dulu.

Ketika Alice menyadari, Joe kembali ke kebiasaan lamanya, tak urung Alice terpukul. Ia harus memilih antara menyelamatkan pernikahannya tapi tidak menjadi dirinya sendiri, atau, kehilangan Joe tapi kembali menjadi Alice yang santai.

Hmmm… laki-laki… sekali hidung belang, tetap aja gak akan berubah. Some people don’t change, they just grow older J

Ada bagian yang menurut gue rada dipaksain, atau, gak pas… menurut gue lhooo… misalnya, kenapa Alice harus ‘dipaksain’ jadian atau deket atau suka-sukaan sama Harry, pacar sahabatnya, Emily? Kenapa endingnya, gak dibiarin aja, Alice menikmati masa-masa bahagianya sendiri, di rumah pedesaannya? Dan, coba, cerita tentang rumahnya Alice, yang katanya bekas rumah Rachel Danburry, penulis controversial itu, rada dibanyakin. Biar ada misteri-misterinya dikit gitu, bukan sekadar ‘pemanis’ aja.
Read more »

Tak Tik Foto

Judul : Tak Tik Foto - Panduan Mengolah Foto Online
Penulis : Angel
Penerbit : Bukune
Cetakan : I, Maret 2008
Tebal : 95 hlm

Setelah Era jaringan pertemanan mewabah di internet seperti friendster, multiply, myspace, dan kini facebook, tiba-tiba saja kita seolah menjadi orang yang narsis. Masing-masing berlomba memajang foto-foto diri terbaiknya. Berharap dari foto yang menarik itu kita menjadi dikenal, mendapat kawan baru atau menemukan kembali kawan lama yang lama tak berjumpa.

Menampilkan foto diri sebaik dan seunik mungkin untuk dipajang di jaringan pertemanan kini merupakan sebuah kebutuhan utama. Tak cukup hanya satu foto, kita seolah dipacu untuk terus memperbaharui foto-foto di profil kita masing-masing. Kadang mungkin kita bosan dengan foto kita dengan gaya yang itu-itu saja. Kita ingin mengubahnya menjadi menjadi sesuatu yang unik, menarik, dan tentunya menarik banyak komentar dari teman-teman kita.

Jika demikian, maka sudah waktunya kita mengutak-ngatik sendiri foto-foto kita agar tampil lebih menarik dan unik. Bagaimana caranya? Software yang paling umum tentunya adalah Photoshop, namun untuk menjalankan software ini tidak mudah, selain harus menginstall dulu programnya, diperlukan waktu yang tidak sedikit untuk menguasai Photoshop. Jadi adakah cara paling mudah untuk mengotak-ngatik foto kita?

Jawabannya ada di buku Tak Tik Foto (Panduan Mengolah foto Secara Onlen) karya Angel, seorang web designer yang juga dikenal sebagai pengelola situs www.kutukutubuku.com. Sebelum membuat buku ini, ia bersama sahabatnya Olie telah menelurkan buku sejenis yaitu : Tak Tik Blog : Cara Bikin Blog Paling Tokcer, Cepat Populer (Bukune, 2008)

Dalam bukunya ini Angel memberikan panduan praktis bagaimana mengedit foto dengan mudah melalui online photo editing. Caranya mudah, tak perlu menginstall apapun ke dalam computer kita, cukup masuk ke website yang menyediakan aplikasi photo editing, kemudian meng-upload foto baik dari computer maupun dari flickr atau facebook. Dan foto kita seketika itu juga akan siap untuk diedit (resize, crop, rotate, membuat animasi, red eye removal, menambahkan special effect, dll) dengan sangat mudah, menyenangkan, dan tentu saja gratis!.

Dari sekian banyak Online Photo Editing yang ada di internet, buku ini mengulas 6 buah oline photo editing yang saat ini populer digunakan yaitu : PICNIC LUNAPIC, SPLASHUP, FOTOFLEXER, LOONAPIC, dan MAGMYPIC. Kesemua itu dibahas satu-persatu dengan praktis dalam buku ini sehingga kita bisa belajar step by step mengolah foto online, step by step upload foto ke Fecebook, Friendster, Flickr, dan jaringan pertemanan lainnya, kita juga akan belajar menampilkan efek-efek unik yang dapat diaplikasikan ke dalam foto kita, membikin kartu ucapan, serta gambar-gambar lucu dan menarik.

Pokoknya semua menu-menu utama yang ada dalam beberapa situs photo onlen editing yang dibahas dalam buku ini dipaparkan dengan sangat jelas. Semuanya disertai dengan tampilan foto-foto seperti halnya yang kita lihat dalam layar monitor ketika kita membuka situs tersebut, hal ini tentunya membuat apa yang dipaparkan menjadi sangat mudah diikut, dipahami, dan dapat langsung dipraktekkan di komputernya masing-masing.

Karenanya bagi mereka yang gemar mengotak-ngatik fotonya agar lebih menarik dan unik, buku ini dapat dijadikan buku pegangan yang sangat praktis. Dijamin, baru beberapa halaman saja kita membaca buku ini, maka tangan kita akan segera ‘gatal’ untuk mencoba berbagai menu menarik yang ditawarkan semua situs onlen photo editing yang dibahas dalam buku ini. Melalui buku ini, kita akan memukan kesenangan baru dalam mengotak-ngatik foto-foto kita menjadi lebih indah, unik, dan lucu. Dan yang pasti kita akan semakin narsis dibuatnya…:D

@h_tanzil
Read more »

Senin, 13 April 2009

Teka-teki Cinta Sang Pramusaji (Q&A)

Teka-teki Cinta Sang Pramusaji (Q&A)
Vikas Swarup @ 2005
Agung Prihantoro (Terj.)
Serambi – Juli 2008
458 Hal.

Siapa sangka seorang pramusaji di bar, bekas pemandu wisata illegal, mantan pembantu seorang bintang film dan sederet pekerjaan lainnya, bisa memenangkan hadia 1 Milyar rupee. Tapi itulah yang terjadi dalam kehidupan seorang Ram Mohammad Thomas, bocah berusia 18 tahun, seorang yang tinggal di gubuk kumuh di daerah Dharavi, India. Semua beranggapan itu keberuntungan semata, sebagian menganggap adanya kecurangan.

Karena itulah, Ram ditangkap polisi dan dipaksa menandatangani surat pernyataan bahwa ia telah melakukan kecurangan. Namanya saja kuis Who Will Win a Billion, tapi ternyata produser acara itu belum sanggup untuk memberikan hadiah sebesar itu jika pemenangnya memang benar ada. Ram pun jadi korban. Ia disiksa oleh polisi. Beruntung ada seorang pengacara perempuna muda yang tiba-tiba muncul bernama Smita, menyelamatkan Ram dan mencoba membantu Ram membuktikan bahwa ia tak bersalah.

Dari sini dimulailah kisah perjalanan Ram sampai akhirnya ia bisa sampai di ‘kursi panas’. Ram bilang, ia tahu semua jawaban dari pertanyaan yang diajukan dalam kuis itu. Dari setiap pertanyaan yang diajukan, terungkaplah satu kisah hidupnya.

Ram Mohammad Thomas, awalnya hanya bernama Thomas, nama yang diberikan oleh seorang pastor berkebangsaan Inggris. Thomas adalah anak yatim piatu yang ditemukan di sebuah panti, ditinggalkan begitu saja dalam sebuah keranjang. Nyaris tak ada yang mau mengadopsinya. Karena sesuatu hal, akhirnya, Thomas diasuh oleh Romo Timothy. Pemberian nama itu mengundang perdebatan di antara pendeta umat Hindu dan seorang imam umat Muslim. Karena itulah, namanya mengandung tiga unsur yang mewakili ketiga agama itu.

Perjalanan hidupnya nyaris bagai neraka bagi diri Ram. Ia harus lari dari satu tempat ke tempat lain. Bersembunyi karena ketakutan dikejar polisi, nyaris jadi pengemis, membunuh perampok, bersahabat dengan Salim, lalu jatuh cinta pada seorang pelacur, nonton film India bareng Salim, jalan-jalan di Taj Mahal. Ram mungkin anak yang polos, cita-citanya biasa aja, tapi, dia cerdik, selalu bisa lolos dan bertahan dalam kesulitan. Sifat Ram, pema’af, baik hati dan gampang tersentuh. Coba aja minta bantuan uang sama Ram, meskipun dia sendiri masih kekurangan.

Yang paling kocak di buku ini adalah waktu Ram jadi pemandu wisata illegal di Taj Mahal. Pertama kalinya dia datang ke sana, dengerin cerita dari guide resmi, terus, dia ceritain lagi ke turis Jepang dengan informasi yang kebolak-balik.

Alur ceritanya flashback, maju mundur. Gak bikin bingung, tapi, terus bikin penasaran, koq bisa si Ram ikut kuis itu dan menang. Klimaksnya tentu saja ada di bab 1,000,000,000 rupee (iya.. setiap pergantian bab ditandai dengan jumlah uang yang bakal dimenangkan sama Ram). Layaknya film India, tokoh-tokoh di buku ini lengkap.. hehe.. ada polisi, ada penjahat, ada cewek cantik, ada ‘pahlawan’nya, berlinang air mata. Tapi, yang gak disampaikan di sini, gimana Ram bisa ikut acara itu. Apa acara itu gak pake audisi kaya’ Who Wants to be a Millionaire, ya? Rasanya terlalu mudah buat seorang Ram untuk sampai ke sana.

Mungkin kalo gak karena Slumdog Millionaire menang Oscar, buku ini masih terbungkus rapi di lemari buku gue. Mungkin kalo gak karena ganti cover, gue gak akan tertarik beli buku ini. Cover yang lama, gambar anak cowok dengan tampang memelas, nyaris gak menarik perhatian gue. Terus, terjemahannya enak dibaca, meskipun kadang pilihan katanya banyak yang ‘aneh’, gak lazim. Kadang gue harus menebak-nebak apa artinya. Tapi, ternyata gue suka cerita di buku ini.
Read more »

Sabtu, 11 April 2009

Lara Kusapa

Judul : Lara Kusapa
Judul Asli : Bonjour Tristesse
Penulis : Francoise Sagan
Penerjemah : Ken Nadya
Cetakan : I, Feb 2009
Tebal : 164 hlm

Lara Kusapa (Bonjour Tristesse) adalah novel perdana karya novelis Perancis terkenal, Francoise Sagan (1935-2004). Novel ini pertama kali diterbitkan pada 1954 saat Sagan berusia 18 tahun dan langsung menjadi best seller dan menyulut sensasi heboh pada masanya. Hal ini mungkin dikarenakan usia si penulis yang masih begitu muda namun kisahnya ditulis bagaikan penulis-penulis dewasa senior yang menceritakan kisah cinta disertai bumbu pengalaman seksualitas gadis remaja yang dituturkan tanpa malu-malu. Novel inilah yang akan melejitkan Sagan menjadi sosok penulis terkemuka dalam sastra Perancis dan menjadi karya abadi yang terus dibaca orang hingga kini.

Judul novel ini diambil Sagan dari sebuah puisi karya penyair Perancis, Paul Eluard "À peine défigurée", yang diawali dengan kalimat “Bonjour tristesse ...". Dalam novelnya ini Sagan bertutur mengenai kisah Cecile, gadis manja berusia 17 tahun yang telah tinggal bersama ayahnya(Raymond) seorang duda keren berusia 40 tahun yang gemar bergonta-ganti wanita semenjak istrinya meninggal dunia ketika Cecile masih berusia 2 tahun.

Saat liburan musim panas Cecile dan ayahnya yang juga ditemani oleh kekasihnya, Elsa Mackenbourg berlibur di sebuh villa mewah di pinggir pantai. Elsa sendiri adalah wanita muda, gaul, kurang berpendidikan, dan penggoda pria yang usianya hanya terpaut 12 tahun dari Cecille dan merupakan kekasih ayahnya yang entah untuk keberapa kalinya yang telah memasuki kehidupan ayahnya. Selain Elsa, Raymond juga mengundang Anne, kawan lama mendiang ibu Cecile untuk sama-sama menghabiskan liburan mereka di pantai. Anne yang seumuran dengan ayahnya adalah sosok wanita ‘lurus’ dan terpelajar.

Awalnya tak ada masalah dalam liburan mereka, Cecile pun menemukan kebahagiaan karena berkenalan dengan Cyril, seorang pemuda yang juga sedang berlibur di pantai tersebut. Bersama Cyrill Cecile menjalin cinta yang penuh gairah tanpa batas tanpa ada seorangpun yang mengetahuinya hingga akhirnya Anne memergokinya dan menyatakan ketidaksukaannya pada hubungan mereka.

Sikap Anne yang lambat laun mulai merecoki kehidupannya dan sok mengatur membuat Cecille menjadi tak menyukai Anne, apalagi ketika akhirnya ia mengetahui bahwa ayahnya dan Anne berencana untuk menikah. Setelah rencana ini diketahui juga oleh Elsa, maka Elsa pun pergi meninggalkan Raymond. Rencana pernikahan ini ditentang oleh Cecile. Ia mulai membayangkan jika ayahnya jadi menikah dengan Anne maka kehidupannya akan berubah, dari tadinya serba tak teratur, seenaknya, ugal-ugalan, menjadi kehidupan yang tertib dan membosankan.

Untuk menggagalkan pernikahan ayahnya itu, Cecile menyusun rencana yang melibatkan Cyrill, kekasihnya dan Elsa, mantan kekasih ayahnya. Berhasilkah ia dengan rencananya itu ? di tengah usahanya menggagalkan rencana pernikahan ayahnya itulah akhirnya Cecile berjumpa dengan Lara…

Novel tipis ini dibagi menjadi dua bagian besar, jika dicermati maka di bagian pertama kita akan diajak mengenal karakter Cecile sebagai gadis remaja yang nakal, naïf, dan belum matang. Sedangkan di bagian berikutnya, kegelisahan dan ketakutan akan masa depannya membuat Cecile tampak lebih matang dan dewasa baik dalam berperilaku maupun dalam berpikir.

Tema dan kisah yang dibangun oleh Sagan tampak biasa-biasa saja dan mungkin sangat umum dan seperti layaknya kisah-kisah sinetron. Namun kepiawaian Sagan menyusun konflik antar tokohnya dan sedikit gambaran seksualitas Cecille dalam novel ini yang mungkin menjadikan novel ini menarik untuk dibaca, tak heran novel ini menjadi best seller dan menjadi salah satu novel klasik. Bahkan novel ini jgua mengilhami Simon Gerfunkel untuk membuat salah lagunya yang terkenal, ‘Sound of Silence’

Sagan memang piawai menghidupkan konflik-konflik antar tokohnya, ia juga dengan baik mengeksplorasi konflik batin dan ketakutan Cecille akan masa depannya jika ayahnya jadi menikah dengan Anne. Ketika kekalutan itu datang dan dirinya kehilangan akal, Cecille berlari menuju pantai, seolah laut adalah representasi atau simbol dari seorang ibu yang tidak dimilikinya semenjak ia kecil.

Semua peristiwa yang dialami Cecille tampak begitu nyata, dan menyentuh, menggemaskan, semua itu tersaji dengan wajar, tak ada kesan yang dilebih-lebihkan. Mungkin hal ini karena Sagan menghadirkan tokoh Cecille yang seumuran dengan dirinya sehingga Sagan tahu betul bagaimana perasaan seorang gadis remaja jika menghadapi situasi seperti yang dialami Cecille. Tentunya hal ini merupakan hal yang sangat luar biasa bagi seorang penulis yang masih berusia 18 tahun. Dan mungkin hal inilah juga yang membuat novel ini mengantar nama Sagan sebagai penulis terkenal di Perancis dan dunia.

Setelah Novel perdananya ini sukses dan menjadi best seller, Sagan terus berkarya dan sepanjang hidupnya ia telah menghasilkan puluhan novel, beberapa cerita pendek, naskah drama, biografi, lirik lagu, dll. Kebanyakan karya-karyanya menggambarkan karakter remaja yang kecewa seperti halnya karya-karya J.D. Salinger. Banyak dari novel-novelnya juga telah diadaptasi ke dalam film. Bonjour Tristesse sendiri telah beberapa kali ke dalam sebuah film antara lain yang diproduksi Columbia Picture pada tahun 1958 yang diperani oleh Deborah Kerr, David niven, Jean Seberg.




Pada tahun 1985, Sagan menerima penghargaan Prix De La Foundation dari Pangeran Pierre de Monaco untuk keseluruhan karyanya. Di Perancis sendiri, ia begitu terkenal sampai-sampai ketika Sagan meninggal di usianya yang ke 69 pada tahun 2004 lalu akibat penyakit paru-paru yang didieritanya. Presiden Perancis, Jaques Chirac mengatakan: " Perancis kehilangan salah seorang penulisnya yang paling cemerlang dan peka, seorang sosok terkemuka dalam kehidupan sastra kita”.

Mungkin nama Francoise Sagan di negara kita masih terasa asing dan hanya dikenal oleh mereka yang ‘melek sastra’. Karenanya dengan terbitnya karya Sagan untuk pertama kalinya dalam bahasa Indonesia ini kita patut disyukuri karena dapat menambah wawasan pembaca Indonesia khususnya dalam hal sastra Peracis. Novel ini tampaknya diterjemahkan dengan sangat baik oleh Ken Nadya, penerjemah yang pernah belasan tahun tinggal di Perancis dan terbiasa menerjemahkan buku-buku dalam bahasa Perancis. Pilihan menerjemahkan judul “Bonjour Trisete” menjadi Lara Kusapa merupakan pilihan kalimat yang sagat baik karena terkesan indah dan liris, bandingkan dengan terjemahan inggrisnya yang menjadi “Hello, Sadness”.




Cover Bonjour Tristesse edisi Perancis









Satu hal yang mengganjal dari novel terjemahan ini adalah covernya. Saya rasa covernya yang menampilkan foto wajah seorang wanita, tampak terlalu sensual sehingga membuat calon pembaca menyangka bahwa ini adalah novel dengan kisah sensual. Padahal setelah saya membaca tamat novel ini, tak ada hal berlebihan dalam mengumbar deskrispi seks, walau memang ada, namun semua menyatu dalam kisahnya dan tak ada yang berlebihan. Mungkinkah
ini hanyalah strategi marketing? Jika memang demikian, saya rasa penerbit terlalu berlebihan dalam mengemas sebuah novel klasik yang seharusnya bisa dikemas dengan lebih elegan namun menarik orang untuk membacanya.

@h_tanzil
Read more »

Senin, 06 April 2009

Kepleset!

Judul : Kepleset! Gerundelan Tentang Gaya Hidup
Penulis : Regina Kencana
Editor : Chusnato
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : I, Maret 2009
Tebal : 99 hlm

Sejak paham globalisasi muncul di tahun 90-an kita diperkenalkan dengan dengan berbagai produk gaya hidup sehari-hari. Mau tak mau tentunya hal ini berpengaruh pada pada gaya hidup masyarakat. Berbagai produk dan merek-merek terkenal kelas dunia mulai dari pakaian, aksesori, hingga makanan kini semakin dikenal oleh masyarakat luas. Hampir semua produk kehilangan ciri khas lokal karena mencoba meniru atau dimirip-miripkan dengan merek-merek kelas dunia.

Contoh paling mudah ditemui adalah dalam hal berpakaian. Kini semakin banyak orang yang ingin tampil gaya dan mendunia. Salah satunya tentu saja dengan gaya berbusana dengan memakai brand atau merek-merek terkenal kelas dunia. Rasanya kalau menggenakan baju, sepatu, tas, dll yang bermerek kita akan semakin pe de. Bagi mereka yang berduit mereka rela membelanjakan uangnya untuk membeli barang-barang dengan merek terkenal hingga ke luar negeri, tapi bagi mereka yang pas-pasan cukuplah dengan membeli merek ‘aspal’ yang penting kalau dilihat tampak mirip dan bisa dipakai untuk bergaya.

Selain soal fashion, dalam berbisnis pun ada yang menggunakan brand terkenal agar menarik minat orang untuk membelinya. Ada yang rela merogoh kantung dalam-dalam agar bisa membeli right dari merek kelas dunia, misalnya di bidang kuliner kita mengenal Bread Talk, Starbuck, Kentucky Fried Chicken, dll. Jika right tak terbeli maka disiasati dengan menggunakan ‘plesetan’ dari merk-merk terkenal dengan logo yang mirip dengan yang aslinya.

Begitupun dalam spanduk-spanduk pinggir jalan atau papan-papan informasi yang bertebaran di pinggir-pinggir jalan, biar gaya dan terkesan intelek, biasanya digunakan kata-kata dalam bahasa inggris, namun sayangnya banyak yang asal-asalan sehingga kalau dibaca secara jeli bisa jadi hal-hal yang lucu dan jauh dari arti yang sesungguhnya.

Awalnya, Regina Kencana, yang memiliki latar pendidikan di jurusan Fashion Design and Pattern Making dan pernah bekerja sebagai Fasshion Editor a+ magazine (2005-2009) secara iseng memfoto berbagai merek-merek ‘aspal’ dan istilah-istilah inggris yang ditemui dalam kesehariannya dalam sebuah blog yang dinamainya http://serasasekali.blogspot.com

Blog yang dikelolanya sejak tahun 2007 ini praktis hanya berisi foto-foto merek-merek plesetan dan merek terkenal dan spanduk-spanduk lucu di pinggir-pinggir jalan, dengan sedikit komentar, lengkap dengan lokasi dimana dia memperoleh foto tersebut. Mulai dari sandal milik keluarganya di rak sepatu rumahnya, baju-baju di Pasar Baru Jakarta, menu makanan di sebuah restoran di Kemang, toko elektronik di M Plaza, otlet-outlet di Bandung, hingga papan-papan reklame di Solo, semua tak luput dari pengamatannya.

Keunikan, kelucuan, dan keganjilan dari 80 foto-foto yang ditampilkan Regina dalam blognya ini rupanya menarik salah seorang kawannya, Chusnato (jurnalis) yang mencoba menggelitik penerbit Gramedia untuk membukukan blognya hingga akhirnya terbitlah sebuah buku yang berjudul Kepleset! – Gerundelan Tentang Gaya Hidup.

Jika dalam blog-nya semua foto-fotonya disusun berdasarkan kronologis waktu pememotretan, maka dalam bukunya ini Regina membagi foto-fotonya kedalam 4 bab. Bab pertama yang berjudul Barang Palsu Bukan Asli menyajikan foto-foto berbagai barang / produk fashion hingga minuman yang merek-nya merupakan plesetan dari merk-merk terkenal, misalnya reguess, adilas, es seprit, dll.

Di bab kedua, Impossible (Enggak Mungkin Tapi Mungkin), Regina menyajikan merek-merek aneh misalnya sandal merek Nokia, sepatu merek Oprah Winfrey, dll. Di Bab tiga, Refeksi atau Kepribadian Ganda kita akan menemui hal-hal ganjil seperti merek obat untuk memperbesar tanaman umbi-umbian yang diberi nama Mc.Errot atau nama kedai martabak Martabuck’s. Sebagai bab penutup yang berjudul Hikayat Sang Huruf, buku ini mengungkapkan berbagai salah cetak, kemiripan bunyi, salah sablon, dll yang terdapat di spanduk-spanduk reklame yang bertebaran di pinggir-pinggir jalan hinggal mall-mall terkenal.

Selain berisi foto-foto lucu dan ganjil, buku ini juga dilengkapi dengan berbagai tanya jawab seperti bagaimana cara membedakan produk asli dan palsu, soal gaya berbusana, membedakan bahan yang bagus dan tidak, cara membaca merek fashion terkenal hingga 10 anak tangga tingkat keberbahayaan barang palsu. Kesemua artikel-artikel tambahan tentunya memberikan nilai tambah bagi pembacanya, sehingga buku ini tidak hanya sekedar menghibur dan mengungkap hal-hal ganjil yang berkaitan dengan merek sebuah produk.

Buku yang dikemas dengan menarik, dicetak diatas kertas art paper yang mengkilat sehingga semua foto-foto berwarnanya tersaji dengan jelas memang bukan sekedar buku yang menghibur, setidaknya mengerengahkan gerundelan hidup tentang gaya hidup dan menyadarkan kita bahwa dunia kita kini dibanjiri oleh barang-barang aspal dengan berbagai merek yang aneh-aneh dan lucu.
Selain itu buku ini juga memberikan gambaran yang kuat bahwa dunia keterpukauan kita terhadap merek-merek terkenal telah begitu merasuki gaya hidup kita sehingga berbagai cara dilakukan agar kita dapat menggenakan merek-merek terkenal itu.

Bagi produsen, harga yang mahal untuk memperoleh right dari merek-merek dunia disiasati dengan membuat merek yang mirip-mirip dengan aslinya. Berharap konsumen kepleset seolah telah membeli produk kelas dunia. Konsumen mungkin ada yang terpeleset oleh siasat produsen, namun tak jarang konsumen secara sadar terpeleset untuk memakai barang-barang aspal, yang penting mirip dan bisa bergaya. Akhirnya memang kita semua terpeleset agar bisa tampil gaya demi gengsi dan untuk menaikkan status sosial kita sebagai warga dunia. Karennya bersiaplah untuk mentertawai diri kita sendiri dalam buku ini, karena siapa tahu kitapun telah terpeleset agar bisa tampil makin gaya.

@h_tanzil
Read more »

Minggu, 29 Maret 2009

The Road

Judul : The Road
Penulis : Cormac McCarthy
Penerjemah : Sonya Sondakh
Penyunting : Sapardi Djoko Darmono
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Januari 2009
Tebal : 260 hlm ; 20 cm

Bumi dilanda bencana yang maha dahsyat. Iklim berubah secara drastis, abu dari hutan-hutan yang terbakar menghalangi teriknya matahari. Udara menjadi dingin dan lembab, salju pun turun bercampur debu, hewan mati, tanaman tak tumbuh, bumi menjadi sepi dan hanya segelintir orang yang bertahan. Mereka hidup di dunia yang sepi, mencari makan dengan jalan menjarah rumah-rumah yang ditinggal mati pemiliknya. Dan ketika makanan habis, harus tetap ada yang harus dimakan. Mereka harus bertahan. Kelaparan dan naluri untuk tetap hidup membuat manusia melupakan sisi kemanusiaan dan menghancurkan peradaban agung yang telah terbentuk ribuan tahun. Memaksa manusia memangsa sesamanya.

Seorang ayah dan anak lelakinya yang masih kecil terseok-seok melakukan perjalanan panjang, melintasi Amerika yang telah hangus terbakar. Dengan perbekalan seadanya yang ditaruh diatas kereta belanja, mereka melakukan perjalanan panjang ke arah selatan menuju pantai, daerah yang bersuhu lebih hangat daripada di tempat-tempat lain yang telah menjadi dingin dan lembab. Bukan perjalanan yang mudah, karena selain harus berjuang untuk memperoleh makanan, tempat yang layak untuk tidur, mereka juga harus waspada terhadap kehadiran orang-orang asing yang mengincar perbekalan mereka, dan yang lebih mengerikan mereka harus menghadapi beberapa orang telah menjadi kanibal.

Dalam novel ini, pembaca diajak menyelami perjuangan ayah dan anak dalam bertahan hidup di dunia paska tragedi dahsyat. Uniknya dari awal hingga akhir, penulis sama sekali tak menjelaskan peristiwa apa yang sebenarnya telah terjadi sehingga bumi menjadi hancur. Cormac hanya mendeskrpisikannya dengan hutan-hutan yang terbakar, udara yang penuh debu, mayat-mayat kering, rumah kosong, aspal meleleh karena panas, dll. Pembaca diminta untuk menafsirkan sendiri apakah ini bencana alam atau bencana karena perang. Tampaknya Cormac lebih menekankan kisah perjalanan ayah dan anak lelaki kecilnya yang mencoba bertahan hidup.

Berbagai peristiwa menyesakkan dialami oleh mereka. Dengan hanya bersenjatakan sepucuk pistol dengan dua butir peluru mereka mencoba bertahan dari kehadiran orang-orang yang hendak merampok perbekalan dan mungkin akan memakan mereka. Udara yang buruk membuat mereka terserang demam dan diare. Mereka harus bertahan dalam dingin dan rasa lapar yang menghantui mereka. Rumah demi rumah mereka masuki untuk mencari makanan, namun seringnya rumah itu telah habis dijarah oleh orang-orang lain yang masih hidup.

Mayat-mayat kering bergelimpangan, mereka juga menemukan beberapa tengkorak kepala terjejer membuktikan bahwa bagian-bagian tubuh mereka telah habis dimakan. Mereka juga menghadapi dilema apakah harus menolong seseorang yang kelaparan seperti mereka atau tak mempedulikannya. Semua peristiwa itu membuat novel ini menjadi sangat kelam. Untunglah Cormac menyelipkan berbagai peristiwa melegakan seperti ketika mereka menemukan sebuah ruang bawah tanah yang luput dari penjarahan. Selama beberapa hari mereka tinggal dengan nyaman di tempat tersebut. Peristiwa inilah yang akan membuat pembaca novel ini lega sejenak sebelum kembali diperhadapkan dengan peristiwa-peristiwa kelam lainnya.

Cormac Mc Carthy, novelis terkenal Amerika yang sebelumnya mungkin dikenal dengan novelnya yang berjudul No Country Old Man (2005) meramu novel The Road (2006) ini dengan sangat menarik. Pembaca tak diberi kesempatan sedikitpun untuk keluar dari inti cerita. Novel ini tak memberikan kisah-kisah lain diluar perjalanan si lelaki dan anaknya. Cormac hanya memberi secuil keterangan tentang masa lalu mereka. Kedua tokoh itupun tak diberinya nama. Dialog-dialog antara lelaki dan anaknya hanya sedikit dan pendek-pendek saja, itupun hanya berputar masalah ketakutan yang mereka hadapi, kelaparan, nasehat-nasehat untuk bertahan hidup, dan ungkapan cinta ayah kepada anaknya. Kehadiran tokoh-tokoh lain hanya selewat-selewat saja sehingga dengan demikian pembaca digiring oleh Cormac untuk hanya terpusat pada kisah perjalanan dan tujuan akhir perjalanan lelaki dan anaknya tersebut.

Cormac juga tak memberi kesempatan pembacanya untuk jeda sejenak, seluruh kisahnya mengalir dari halaman pertama hingga akhir tanpa ada pembagian bab. Ditulis dalam kalimat yang pendek-pendek, lugas namun tak mempedulikan aturan penulisan bahasa. Dialog-dialognya dibiarkan polos tanpa tanda baca. Untungnya dialog-dialog tersebut tersusun dalam baris-baris berurut ke bawah sehingga agak memudahkan untuk memahami mana kalimat dialiog, mana yang bukan. Awalnya pembaca mungkin akan sedikit kesulitan memahaminya, namun lambat laun akan terbiasa juga dengan gaya menulis Cormac ini. Mungkin gaya penulisan yang tidak biasa inilah yang membuat penerbit merasa perlu melibatkan sastrawan senior Sapardi Djoko Darmono untuk menyunting novel ini.




The Road, Vitage books publisher







Kisahnya yang menarik, terjemahan yang baik dan penyuntingan yang prima membuat novel ini menurut hemat saya memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi. Walau saya merasa tertekan dengan begitu kelabunya kisah ini, lembar demi lembar saya nikmati dengan antusias dan tak sabar ingin mengetahui ada peristiwa apa di lembar berikutnya. Semangat bertahan hidup di tengah kondisi yang ekstrim dan ikatan cinta antara ayah dan anaknya yang dideskripsikan dalam novel ini juga menjadi sebuah pembelajaran tentang pentingnya cinta dan harapan dalam mengarungi kehidupan yang sulit ini. Tak heran jika novel ini berhasil meraih penghargaan Putlitzer untuk kategori fiksi pada 2007 yang lalu.

Sama seperti karya lain Cormac, No Country Old Man yang pernah difilmkan dan memenangkan 4 piala Oscar 2007 termasuk sebagai Best Picture 2007, The Road juga kini sedang didadaptasi menjadi sebuah film oleh John Hillocat pada dengan dibintangi oleh Viggo Mortensen,Robert Duvall,Charlize Theron,Guy Pearce dan Kodi Smith McPhee. Fim ini rencananya akan dirilis pada kawartal terakhir 2009 ini. Akankah film yang diadaptasi dari novel Cormac ini akan sesukses adaptasi No Country Old Man. Kita lihat saja nanti.

@ h_tanzil
Read more »

Senin, 23 Maret 2009

Inkheart

Judul : Inkheart
Judul Asli : Tintenherz
Penulis : Cornelia Funke
Penerjemah : Dinyah Lacutonsina
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : I, Januari 2009
Tebal : 536 hlm

Bagi kita para kutu buku, membaca kisah fiksi adalah sebuah pengalaman yang sangat mengasyikan, apalagi jika buku tersebut ditulis dengan begitu hidup sehingga seolah kita masuk dalam kisahnya dan bertemu langsung dengan tokoh-tokohnya. Namun pernahkah kita membayangkan ketika kita sedang asyik-asyiknya membaca tiba-tiba tokoh-tokoh dalam buku yang kita baca muncul dari buku dan berada di depan kita?

Cornelia Funke, penulis kisah-kisah remaja asal Jerman tampaknya memiliki imajinasi seperti itu. Ia kembangkan imajinasinya itu ke dalam sebuah tulisan fiktif, karena kisahnya berawal dari sebuah buku yang sedang dibaca, maka ia ciptakan karakter tokoh-tokohnya yang begitu mencintai buku lengkap dengan deskripsi perilaku seorang kutu buku sejati, ia ciptakan juga tokoh antagonis untuk menghidupkan sebuah kisah yang seru, maka jadilah sebuah kisah fantasi menarik berlatar dunia buku lalu diberinya judul ‘Tintenhertz’ (Inkheart).

Inkheart adalah judul sebuah buku misterius yang disimpan dengan sangat hati-hati oleh Montmiger (Mo) , seorang kutu buku dan restorator buku yang sehari-hari bekerja mereparasi, dan menjilid ulang buku-buku tua yang rusak. Begitu hati-hatinya ia menyimpan buku tersebut hingga anaknya sendiri, Meggie tak tahu menahu akan keberadaan buku tersebut.

Ternyata Mo, memiliki alasan sendiri untuk menyimpan dan menyembunyikan buku Inkheart dari siapapun termasuk anaknya sendiri. Sembilan tahun yang lalu, saat Meggie masih berusia tiga tahun, ketika Mo membacakan buku Inkheart dengan suara keras tiba-tiba saja tanpa disadarinya terjadilah sebuah peristiwa ajaib. Tiga tokoh dalam Inkheart yang bernama Capricorn, Basta, dan Staubfinger tiba-tiba muncul dihadapannya . Malangnya hal itu diikuti dengan hilangnya Teressa, istri Mo yang masuk dalam buku tersebut.

Usaha Mo untuk mengeluarkan kembali Teressa dari buku tersebut sia-sia. Dan semenjak itulah ia menyembunyikan buku tersebut, sambil berharap bisa mengembalikan istrinya ke dunia nyata. Menyadari bahwa dirinya memiliki kekuatan untuk mengeluarkan tokoh-tokoh, dan benda-benda dari buku yang sedang dibacanya dengan suara keras, semenjak itu pula Mo tidak pernah membacakan dongeng untuk Meggie karena khawatir kejadian ajaib itu akan terulang kembali.

Sembilan tahun telah berlalu, lalu bagaimana dengan nasib ketiga tokoh yang keluar dari buku Inkheart? Tampaknya Capricorn yang merupakan tokoh jahat dalam Inkheart sangat kerasan tinggal di bumi. Sama seperti dalam bukunya, ia menyebar kejahatan dan terror di wilayah yang dikuasainya. Capricorn juga selalu berusaha mencari buku Inkheart dan Mo. Ia ingin agar Mo memunculkan lebih banyak lagi dari tokoh jahat dari Inkheart. Termasuk Sang Bayangan, monster menakutkan yang dapat membunuh semua musuh Capricorn.

Dalam suatu usahanya untuk menyembunyikan Inkheart dan dirinya dari incaran Capricorn, Mo dan Maggie terpaksa harus hidup berpindah-pindah rumah hingga akhirnya Mo memilih untuk bersembunyi da menyembunyikan buku Inkheart di rumah Ellanor, seorang wanita penggila buku yang rumahnya bagaikan perpustakaan karena dipenuhi oleh ratusan ribu buku. Namun karena penghianatan Staubfinger, salah satu tokoh Inkheart yang dimunculkan oleh Mo, akhirnya Mo, Meggie, Ellanor beserta buku Inkheart jatuh ke tangan Capricorn. Keadaan bertambah runyam ketika akhirnya diketahui bahwa Meggie ternyata memiliki kemampuan yang sama seperti ayahnya yang bisa mengeluarkan tokoh-tokoh dari buku yang dibacanya.

Bagi saya yang tidak terlalu menyukai kisah-kisah fantasi, buku ini menjadi menarik karena tokoh-tokoh dalam buku ini begitu mencintai buku. Semua perilaku kutu buku terungkap dengan jelas dalam buku ini. Melalui buku ini kita akan melihat bagaimana ketekunan Mo dalam merestorasi buku-buku tua hingga masih layak disimpan puluhan tahun kemudian. Atau bagaimana Meggie menyimpan buku-buku kesayangannya dalam sebuah kotak khusus yang selalu dibawanya kemanapun ia pergi. Kita juga akan terperangah melihat deskripsi rumah Ellinor yang bagaikan perpustakaan, dan bagaimana dia begitu menyayangi dan memperlakukan seluruh koleksi buku-bukunya bagaikan anaknya sendiri. Elllinor juga rela bergelap-gelap untuk menghemat biaya listrik agar uangnya bisa disisihkan untuk membeli buku.

Pokoknya semua hal tentang perilaku dan pemikiran tokoh-tokohnya yang pecinta buku akan muncul mewarnai kisah petualangan yang ajaib ini. Yang pasti kisah ini memberikan pembacanya pelajaran bagaimana seharusnya mencintai buku dan bagaimana sebuah buku dapat begitu berpengaruh dalam kehidupan pembacanya.

Dari plot ceritanya sendiri saya agak kecewa karena Cornelia Funke tampaknya kurang memberikan adegan-adegan dramatis dalam beberapa peristiwa. Bertemunya Mo dangan istrinya setelah sekian tahun menghilang tak terceritakan secara dramatis. Peristiwa kemunculan Monster Bayangan dan Capricorn yang digambarkan dengan begitu menakutkan dan keji ternyata tak diikuti dengan adegan akhir yang menuju klimaks sehingga ending kisahnya terasa begitu cepat dan tak sesuai dengan harapan saya bahwa akan ada pertempuran pamungkas yang menegangkan dan seru.

Inkheart adalah novel pertama dari sebuah Trilogi Inkworld. Kelanjutan kisah Mo dan Meggie akan berlanjut di buku Inkspell dan Inkdeath yang edisi jermannya telah terbit pada tahun 2005 dan 2007 yang lalu. Semoga Gramedia dapat segera menerjemahkannya dan saya berharap di buku-buku selanjutnya deskripsi mengenai buku dan perilaku kutu buku dari para tokoh-tokohnya masih akan terkesplorasi dengan baik.

Novel ini sendiri telah dibuat filmnya dengan dibintangi oleh Brendan Fisher selaku Mo dan telah diputar di bioskop-bioskop Amerika dan Kanada pada Januari 2009 yang lalu. Entah kapan film ini akan beredar di bioskop-bioskop Indonesia. Saya tak berharap banyak bahwa filmnya akan sebagus novelnya seperti umumnya film-film yang diadaptasi dari sebuah buku. Namun saya penasaran ingin melihat setting rumah Ellinor yang dalam bukunya dideskripsikan sebagai rumah yang dipenuhi oleh rak-rak buku.



@h_tanzil
Read more »

Kamis, 19 Maret 2009

Cinta Andromeda

Cinta Andromeda
Tria Barmawi @ 2007
GPU – Januari 2007
336 Hal.

Indonesia tahun 2070? Wow… seperti apa ya? Yang ada dibayangan gue adalah kota Jakarta – tentunya – yang sibuk banget, kendaraan yang bersliweran, gak hanya di darat dalam hal ini mobil biasa, tapi juga mobil yang bisa terbang. Monorail, terus, apalagi ya… gue jadi inget film-nya Will Smith yang I Robot.

Jadi, dalam ‘rekaan’ Tria Barmawi, Indonesia di tahun 2070, penuh dengan berbagai kecanggihan, seperti smartphone, mobil yang bisa dioperasikan secara manual ataupun dengan mesin, dan yang paling keren adalah para robot yang semakin lama semakin mirip dengan manusia. Robot gak hanya untuk membantu pekerjaan rumah tangga, tapi juga sedang diusahakan menciptakan robot yang punya ‘perasaan’, bahkan bisa bereproduksi - yang dalam bahasa kerennya disebut Humanoid.

Vinidici sebuah perusahaan teknologi tengah mengembangkan Nunoid Project – sebuah proyek untuk menciptakan robot yang semakin menyerupai manusia dari segi fisik bahkan emosional. Terciptalah humanoid dengan nama Andromeda. Berjenis kelamin laki-laki, berwajah ganteng dan memiliki ‘sifat’ yang nyaris jadi dambaan setiap perempuan. Andromeda diprogram untuk bisa jatuh cinta, tapi program itu haruslah sealamiah mungkin. Vinidici berambisi menciptakan robot yang tercanggih yang pernah ada di abad itu.

Untuk mewujudkan ambisi itu, maka ditentukanlah target – seorang perempuan yang memiliki kriteria cowok impian yang mendekati sosok Andromeda. Pilihan itu jatuh kepada Salsabilla atau yang biasa dipanggil Salsa. Salsa, seorang konsultan keuangan, memimpikan seorang laki-laki yang gentle, dan bisa mengerti perasaan perempuan. Ketika Andromeda muncul dalam kehidupannya, semua jadi terasa sempurna. Keanehan Andromeda saat mereka bersama-sama jadi tertutup karena Salsa yang sedang jatuh cinta berat sama Andromeda.

Hanya Wina, sahabat Salsa, yang membaca keanehan Andromeda. Andro, yang tahu segalanya, data-data orang yang baru sekali ia lihat, bisa berbagai macam bahasa, kecanggihan dalam berhitung dan lain-lain, tak luput dari pengamatan Wina yang wartawan majalah mode itu. Instingnya sebagai wartawan berkata ada sesuatu yang ‘salah’ dalam diri Andromeda.

Tapi, hal itu ditampik Kika, sahabat Salsa dan Wina, yang bekerja sebagai programmer computer. Malahan Salsa berkata Wina cemburu karena Andromeda tak sedikit pun tertarik pada Wina yang biasanya selalu jadi pusat perhatian laki-laki.

Sifat ingin tahu Wina malah membuatnya celaka, sementara Vinidici malah semakin ambisi untuk membuat terobosan baru dalam diri Andromeda – yang artinya juga semakin membiarkan Salsa terjebak dalam situasi yang diciptakan orang lain untuk dirinya.

Tinggallah Kika, yang akhirnya harus memilih antara sahabatnya dan ambisinya dalam pekerjaannya.

Ide cerita yang menarik. Salsa kaya’nya emang target yang pas. Dia hidup tidak dalam keadaan yang serba canggih karena kondisi keuangan yang gak memungkinkan, berbeda dengan dua sahabatnya. Maka itu, Salsa jadi gak ngeh kalo ada yang aneh dengan Andromeda. Gue baru ngerti benang merahnya ketika di tengah-tengah ada ‘kejutan’ kecil. Tapi, yang rada gak asyik, adalah orang seambisius Harison - otak di balik Nunoid Project ini - gampang banget dibujuk sama tunangannya, padahal dia lagi di tengah-tengah 'perburuan' orang-orang yang menentangnya. Masa' sih segitu mudahnya?? Harusnya, dia lebih bisa 'bertahan' dong dengan segala rencana jahatnya di depan orang-orang yang ketakutan itu. (ups... otak 'psikopat' lagi kumat.) Terus, bagian Wina ngomel-ngomel di kantor orang gara-gara ada android seksi yang jadi resepsionis... agak berlebihan kaya'nya.

Gila ya, ambisi manusia emang gak ada abisnya. Udah tercapai target yang satu, malah mau bikin target baru… gak peduli harus gimana.
Read more »

Senin, 16 Maret 2009

Taj Mahal: Kisah Cinta Abadi

Taj Mahal: Kisah Cinta Abadi (Beneath a Marble Sky: A Novel of the Taj Mahal)
John Shors @ 2004
Meithya Rose (Terj.)
Mizan – Cet. VII, Maret 2008
457 Hal.

Waktu baca buku ‘Mehrunissa’ dan ‘Nur Jahan’, gue tau, gimana ‘berdarah-darah’nya sejarah kesultanan Mughal di India. Gimana seorang ayah bisa demikian kejam sama anaknya, atau bahkan, anak yang rela melakukan apa pun demi mendapatkan kedudukan tertinggi sebagai Sultan Mughal, rela membunuh saudaranya sendiri untuk memuluskan jalan dengan berbagai intrik-intrik yang mengerikan.

Seperti yang diketahui, dari tiga anak Sultan Jahangir: Pangeran Khusrau, Pangeran Khuram dan Pangeran Parvis – hanya Pangeran Khuram-lah yang sejak awal dianggap berpotensi menggantikan kedudukan ayahnya.

Memang setelah berbagai pemberontakan, akhirnya, Pangeran Khuram pun naik tahta menggantikan ayahnya. Ia pun bergelar Shah Jahan. Beristrikan Arjumand, yang kemudian diberi gelar Mumtaz Mahal. Shah Jahan dan Mumtaz Mahal memiliki banyak anak – yang paling menonjol di buku ini adalah Pangeran Dara, Putri Jahanara dan Pangeran Aurangzeb. Anak-anak laki-laki yang lain tidaklah terlalu menonjol, sehingga jarang diberi tugas penting oleh ayah mereka, sementara anak-anak perempuan, lebih banyak diasuh oleh para dayang-dayang di dalam harem. Hanya Putri Jahanaralah yang mirip sekali dengan ibunya.

Dalam buku ini, Putri Jahanara membagi kisahnya kepada dua orang cucunya, Gulbadan dan Rurayya tentang sejarah keluarga yang penuh dengan rahasia dan sangat berbahaya. Di masa tuanya, Putri Jahanara harus hidup dalam penyamaran demi keselamatan dirinya dan keluarganya.

Jauh sebelum kedua cucu itu lahir, ketika Putri Jahanara masih hidup di balik Benteng Merah, ketika kakek mereka – Shah Jahan masih berkuasa dan Mumtaz Mahal masih hidup, persaingan terselubung antara Pangeran Dara dan Pangeran Aurangzeb sudah mulai terasa. Mungkin bukan Pangeran Dara yang menghendaki adanya persaingan, tapi sikap Pangeran Aurangzeb yang sangat ambisius menimbulkan percikan-percikan itu.

Pangeran Dara, lebih santun, pendiam dan lebih memilih membaca kitab-kitab sejarah, seni daripada mengasah keterampilan di medan perang. Berbeda dengan Pangeran Aurangzeb, yang dengan senang hati menunjukkan kekuasaannya di arena perang dan bangga dengan luka-luka yang ia dapat. Ia tak segan-segan membunuh dan selalu berdalih dengan mengambil ayat-ayat di kitab suci Al-Qu’ran demi membenarkan tindakannya.

Sementara Jahanara, ia adalah gadis yang cerdas, cerminan ibunya. Tapi, tetap saja, ia tak kuasa menolak ketika harus dinikahkan dengan saudagar kaya oleh ayahnya demi kepentingan kerajaan. Khondamir nama suaminya itu, adalah laki-laki yang kasar, tamak, sombong dan gemar main perempuan. Ia kerap menyalahkan Jahanara karena tak kunjung hamil dan memberinya seorang anak laki-laki.

Jahanara yang sejak kecil bermimpi agar bisa jatuh cinta seperti ayah dan ibunya harus menerima kenyataan. Tapi, Jahanara bukanlah perempuan yang mudah putus asa. Ia mencari jalan agar bisa berada sejauh mungkin dari Khondamir. Kesempatan itu datang setelah kematian ibunya karena melahirkan bayi yang hmmm… kesekian belas.

Jahanara berjanji pada Arjumand untuk selalu menjaga ayahnya. Sementara Shah Jahan yang sangat berduka karena wafatnya Arjumand, mengurung diri di dalam kamar, melupakan tanggung jawabnya sebagai sultan. Demi cintanya pada Arjumand, ia memerintahkan seorang perancang bangunan bernama Ustad Isa untuk membangun sebuah bangunan megah untuk tempat peristirahatan terakhir istrinya dan untuk mengenang cintanya pada Mumtaz Mahal. Bangunan yang harus mencerminkan kecantikan istrinya dan mencerminkan cinta kasihnya yang begitu besar.

Jahanara diperintahkan untuk mengawasi jalannya proyek itu dan mengharuskan Jahanara tinggal di dalam lingkungan Benteng Merah. Seiring dengan berjalannya waktu, ternyata Jahanara dan Isa pun jatuh cinta, tapi, statusnya sebagai seorang istri, menahan dirinya untuk berbuat lebih. Namun, tak disangka-sangka, ternyata Shah Jahan, merestui hubungan itu. Hubungan cinta itu pun berlangsung sembunyi-sembunyi. Jahanara yang ingin memiliki anak, mengatur bagaimana caranya agar Khondamir berpikir bahwa Jahanara mengandung anaknya dan bukan anak dari Isa.

Arjumand - nama anak Jahanara dan Isa - lahir di tengah-tengah perselisihan keluarga yang makin meruncing. Aurangzeb makin melebarkan pengaruhnya untuk melancarkan jalannya sebagai sultan. Ia membenci Dara, membenci para seniman, membenci kaum Hindu. Ketika ayahnya jatuh sakit, kesempatan baginya untuk mengambil alih kepemimpinan. Usaha untuk menghalangi Aurangzeb gagal. Puteri Jahanara ditahan bersama ayahnya, di sebuah menara di Benteng Merah dengan pemandangan yang mengarah ke Taj Mahal. Sedangkan, Pangeran Dara pun dihukum mati.

Kalau mau dibilang ini ‘pure’ tentang kisah cintanya Shah Jahan dan Mumtaz Mahal, rasanya gak juga ya. Malah lebih banyak cerita ‘cinta terlarang’nya Jahanara yang terlalu muluk dan penuh mimpi dan bahasa yang berbunga-bunga. Belum lagi, gimana mungkin, seorang ayah yang notabene seorang sultan – penguasa tertinggi kesultanan yang sangat dihormati – mendukung anaknya untuk perselingkuh. Padahal, taruhannya kan adalah harga diri dan kehormatan para anggota keluarga kesultanan itu sendiri. Kaya’nya di dalam buku ini, gak disebut-sebut adanya pernikahan antara Jahanara dan Isa… jadi sampai tua, mereka gak nikah dong??

Masih gak kebayang gimana seorang anak bisa begitu sadis sama keluarganya sendiri. Dengan enteng, memerintahkan hukuman mati untuk saudara kandungnya sendiri, memenjarakan ayahnya. Meskipun Aurangzeb gak berani untuk menghancurkan Taj Mahal. Bahkan ia membiarkan ayahnya dimakamkan di dalam Taj Mahal, berdampingan dengan Mumtaz Mahal. Karena kalau Aurangzeb – kemudian dikenal dengan nama Sultan Alamgir – memperlakukan ayahnya dengan semena-mena, hanya akan menyulut pemberontakan dari orang-orang yang masih mencintai dan setia pada ayahnya.

Gara-gara membaca buku ini, gue jadi berangan-angan – semoga suatu saat, gue bisa membuktikan sendiri keindahan Taj Mahal… Hmmm….


-> Koboooo... minta covernya ya.. ma kasih :)
Read more »

Tintin dan Alpha Art

Judul : Tintin dan Alpha Art
Penulis : Herge
Penerjemah : Anastasia W. Mustika & Donna Widjajanto
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Februari 2009
Tebal : 64 hlm ; 22 cm

Tintin dan Alpha Art (Tintin et l'alph-art) adalah buku terakhir dari seri Petualangan Tintin. Sayangnya kisah ini tak tuntas diselesaikan oleh komikusnya, Herge. Ketika komik ini masih dalam bentuk sketsa dan narasinya sendiri masih belum selesai, Herge keburu meninggal di tahun 1983 akibat penyakit yang dideritanya.

Pada tahun 1986 atas permintaan para penggemarnya, Fanny Remi (istri Hergé) bersama penerbit Casterman dan La Fondation Herge akhirnya menerbitkan Tintin et l'alph-art dalam bentuk apa adanya berupa sketsa dan narasi ala kadarnya. Persis sebagaimana yang Herge tinggalkan sebelum wafat. Hal ini sesuai dengan amanat Herge bahwa Tintin tak boleh diselesaikan tanpa dirinya. Kemudian dalam rangka memperingati ulang tahun ke-75 Tintin pada tahun 2004, menerbitkan ulang Tintin et l'alph-artdengan menambahkan beberapa material tambahan yang baru ditemukan di tahun-tahun belakangan.

Di Indonesia sendiri, baru kali ini Tintin dan Alpha Art diterjemahkan. Langkah Gramedia selaku pemegang hak cipta Tintin untuk menerbitkan ulang seluruh kisah petualangan Tintin termasuk cepat. Belum genap setahun sejak diterbitkannya Tintin di Soviet pada April 2004, Gramedia kini telah menuntaskan kerjanya dengan menerbitkan judul ke 24, Tintin dan Alpha Art. Dengan demikian lebih dari 20 tahun semenjak Tintin hadir di Indonesia baru kali inilah seluruh kisah petualangan Tintin dapat dinikmati secara lengkap.

Dalam kisah terakhirnya ini Tintin terlibat dalam petualangan yang melibatkan seni. Alpha Art sendiri adalah gerakan kreasi seni yang berdasarkan huruf-huruf alphabet. Dikisahkan karya-karya seniman Alpha Art, Ramosh Nash saat itu sedang dipamerkan di sebuah Galeri milik Henri Fourcart. Melalui telepon Tintin secara langsung diundang oleh Foucart untuk menemuinya di galerinya. Namun pertemuan itu tak pernah terjadi karena Foucart tewas dalam sebuah kecelakaan lalu lintas.

Naluri Tintin mengatakan bahwa ada yang tidak wajar dalam kematian Foucart. Ketika meninjau lokasi kejadian kecelakaan, tiba-tiba Tintin diserang oleh beberapa penjahat. Kejadian ini membuat Tintin semakin curiga dan memutuskan untuk mengungkap ada apa dibalik tewasnya Fourcart. Kelak akan terungkap bahwa pembunuhan ini terkait juga dengan pemalsuan karya-karya seni.

Seperti yang diungkap di paragraf awal tulisan ini, kisah Tintin ini memang tak tuntas dan masih berupa sketsa kasar. Demikian juga dengan edisi terjemahannya yang tampaknya dibuat berdasarkan edisi Casterman terbitan tahun 2004. Selain soal ukuran yang lebih kecil dibanding edisi aslinya, semua lay out dalam versi Gramedia ini sama persis dengan edisi Casterman 2004 dimana di satu sisi menampilkan script dialog dan narasi yang tersaji seperti pada naskah drama, sementara di sisi yang lain ditampilkan goresan asli dari halaman-halaman sketsa yang dibuat oleh Herge.

Kadang halaman sktesa asli itu tersaji dalam ukuran kecil yang ditempatkan secara dinamis, namun ada juga beberapa sketsa yang tampil satu halaman penuh. Beberapa sketsa yg ingin ditonjolkan tampak diperbesar dan disajikan secara artistik sehingga pembaca bisa melihat dengan jelas coretan-coretan Herge yang mungkin tak terlihat secara jelas di bagian halaman sketsa yang kecil.

Herge sendiri hanya sempat membuat 42 halaman sktesa yang telah memiliki alur cerita, dari ke 42 halaman sketsa itu hanya tiga halaman pertama saja yang telah agak halus dan mungkin sudah 90% selesai. Sisanya masih berupa sketsa kasar seperti yang terdapat di cover komik ini dimana Tintin hanya digambarkan bermuka bulat, hidung pentul dan jambul, atau Kapten Haddock yang digambarkan bermuka bulat, hidung besar, jenggot dan rambut yang kasar.



Sketsa terakhir Herge (Tintin & Alpha Art)





Namun selain ke 42 halaman sktesa inti, ada pula 9 halaman tambahan yang tak kalah menariknya karena setidaknya dapat memberikan gambaran cerita akhir dari komik ini. Di halaman tambahan ini akan diperoleh informasi antara lain Kapten Haddock yang tampak berubah karena bergaul dengan para seniman, menyukai benda-benda seni, dan mengubah penampilannya layaknya seorang seniman., menyanyi, bermain gitar, dan merubah kediamannya menjadi seperti galeri seni.

Lalu muncul pula musuh bebuyutan Tintin, Rastapopoulus yang berniat menyiram Tintin dengan cairan polyester agar menjadi sebuah karya seni. Yang tak kalah menariknya adalah munculnya kata Sondonesia dibawah sketsa bangunan berundak yang menyerupai candi bodobudur. Mungkinkah yang dimaksud adalah Indonesia ?

Kesemua sketsa pada halaman tambahan tersebut memang tampak tak terususun secara teratur dan membingungkan, jadi pembaca hanya bisa menduga-duga atau berimajinasi sendiri kira-kira seperti apa kelanjutan dan akhir dari petualangan Tintin ini, namun disinilah letak kenikmatan membaca komik ini. Melalui karya terakhir Herge yang masih berupa sketsa ini kita dapat mengetahui bagaimana sang maestro Herge mencoretkan garis-garis awal dari sebuah komik yang indah. Selain itu buku ini juga menawarkan sebuah pengalaman baru dalam membaca dan menginterpretasi sebuah komik yang masih berbentuk sketsa kasar dan belum selesai.

@h_tanzil

Tintin dan Alpha Art kemudian dilanjutkan dan diberi warna oleh komikus Perancis, Yves Roider.























Komiknya bisa dilihat di : http://membres.lycos.fr/dafilu/tintin/couverture.html


Segera setelah penerbitan sketsa oleh Herge dari Casterman terbitlah sebuah versi Tintin dan Alpha Art dengan kualitas yang kurang baik (Ramo Nash) hingga akhirnya muncullah versi Yves Rodier yang berhasil menyelesaikan Tintin & alpha Art. Dibutuhkan waktu 5 tahun oleh Roider untuk menyelesaikan komik yang belum selesai itu. Selain dirinya beberapa penulis telah mencobanya tetapi versi Yves Rodier adalah karya yang paling utama yang dicari oleh kolektor.

Read more »

Minggu, 15 Maret 2009

Citizen Girl

Citizen Girl
Emma McLaughlin & Nicola Kraus
Penguin Books, 2004
307 hal.

Satu kata yang bisa gue berikan untuk buku ini, ‘membosankan’. Mungkin gak pas kalo dibilang book review, karena gue gak selesai bacanya… udah keburu bosen duluan.

Ceritanya, tentang Girl, cewek yang kerja di majalah, punya boss yang aneh, yang meskipun Girl udah berusaha sebaik mungkin, sesempurna mungkin, tetap aja, salah dan Doris, bossnya, bukan termasuk orang yang suka dikasih tau kalo dia salah. Dan akhirnya, Girl pun dipecat.

Girl jadi pengangguran, yang kerjanya cuma tidur-tiduran aja di apartementnya. Someday, Jack, adiknya Girl, datang dan atas ‘perintah’ ibunya, ngajak Girl ke ‘Career Days’. Tadinya, Girl udah pesimis bakal dapet kerjaan dengan cara kaya’ gitu. Di sana dia bahkan kenal sama cowok namanya Buster, yang seneng banget sama YGames.

Terus, Girl ketemu sama Guy, pemilik My Company, website yang membahas tentang isu-isu perempuan. Setelah, melewati test, Girl keterima di My Company. Girl dipercaya untuk menangani ‘anak’ My Company, MsMagazine Jadilah, dia mengundang aktivis perempuan, dan pemimpin majalah perempuan termasuk Doris.

Udah.. sampai sini, gue males nerusinnya. Gak tau deh, cara ceritanya rada ngebosenin. Sempet bingung, sebenernya Buster sama Girl itu pacaran gak sih.

Mungkin karena abis baca Bergdorf Blonde yang lucu, begitu baca ini, koq jadi datar banget.

05.08.01
Read more »