Minggu, 27 September 2009

Little Woman

Judul : Little Woman
Penulis : Louisa May Alcott
Penerjemah : Rahmani Astuti
Penerbit : PT. Serambi Ilmu Semesta
Cetakan : I, Juli 2009
Tebal : 489

Little Woman adalah novel klasik karya Lousia May Alcott (1832-1888) yang pertama kalinya diterbitkan pada tahun 1868. Dalam novel ini Alcott menciptakan empat sosok perempuan yang paling populer dalam sastra Amerika hingga kini. Mereka adalah Meg, yang tertua diantara keempat anak perempuan keluarga March, berusia enam belas tahun, sangat cantik dan lembut. Jo, 15 tahun, pribadi yang penuh semangat, temperamental, suka bereksperimen dan senang menulis. Beth, 13 tahun gadis yang lembut, pendiam dan baik hati, serta si bungsu Amy, 12 yang memiliki jiwa seni, egois, manja serta kekanak-kanakan.

Keempat anak ini tinggal bersama ibu mereka, sementara sang ayah pergi bertempur dalam perang saudara. Keluarga ini hidup dalam kesederhanaan, sementara ayahnya pergi ibu serta keempat anak gadis March bahu membahu bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, sementara utuk melakukan pekerjaan rumah tangga, mereka dibantu oleh Hanah yang setia mengabdi pada keluarga March.

Keseharian yang dialami oleh keempat wanita keluarga March inilah yang dieksplorasi dengan baik oleh Alcott dalam novelnya ini. Walau mereka memiliki ibu yang bijak dan saling mengasihi satu dengan yang lainnya namun keempat gadis dengan karakter yang berlainan ini membuat mereka tak luput dari berbagai pertengkaran, kadang mereka saling memuji namun ada juga ejek mengejek, perkelahian, cemburu, dll seperti yang dialami oleh sebuah keluarga pada umumnya. Selain itu persahabatan mereka dengan Laurie, pemuda kaya tetangga mereka yang tinggal bersama kakeknya ikut mewarnai kehidupan keluarga sederhana ini. Bersama Laurie, mereka menikmati masa remaja dan persahabatan yang indah

Pada intinya dalam novelnya ini Alcott menuturkan keseharian keempat gadis March dengan begitu hidup dan menarik, seperti bermain teater dalam rumah, berpikinik, membuat koran sendiri, dan kejadian-kejadian lainnya yang ikut membentuk mereka menjadi perempuan dewasa. Eksplorasi karakter dan berbagai peristiwa yang dialami oleh keempat gadis March ini dideskripsikan dengan porsi yang hampir sama, tiap babnya secara bergantian menceritakan salah satu dari mereka sebagai pusat cerita. Walau demikian karakter Jo yang merupakan cermin dari kepirbadian Alcott sendiri tampak selalu muncul dan mengambil peran dibanding yang lainnya.

Apa yang dikisahkan oleh Alcott sangat manusiawi dan wajar, tidak berlebihan, seperti halnya keluarga kita pada umumnya sehingga membaca novel ini seperti membaca kehidupan kita sendiri. Ada berbagai peristiwa keseharian yang menarik yang dikisahkan Alcott misalnya bagaimana pertengkaran antara Jo dan Amy karena hal yang sepele malah membuat Jo begitu membenci Amy yang telah memusnahkan buku karangannya yang telah lama ia tulis untuk ia persembahkan pada ayahnya kelak.

Novel ini juga memuat kisah yang mengandung nilai-nilai pengorbanan dan kemanusiaan baik antara keluarga March atau dengan orang lain. Misalnya ketika Jo rela mengorbankan rambutnya untuk dijual ke sebuah salon demi menambah ongkos perjalanan ibunya ke Washington untuk menjenguk ayah mereka yang sakit keras.

Lalu ada pula kisah Beth yang tetap menolong bayi tetangganya yang menderita penyakit menular hingga akhirnya bayi tersebut meninggal di pangkuannya. Karenanya tak lama kemudian Beth pun tertular penyakit yang mematikan ini. Saat inilah saat yang paling berat yang dialami keempat gadis keluarga March. Mereka harus merawat Beth ketika kedua orang tua mereka tak ada di rumah. Saat-saat mereka menolong Beth yang sedang berjuang melawan maut inilah yang membuat mereka menyadari bahwa kehadiran keluarga mereka jauh lebih berharga dibanding apapun

Ada banyak hal tema menarik yang diangkat oleh Alcott dalam novelnya ini, selain masalah kehangatan keluarga, pengorbanan, cinta kasih antar saudara dan cinta romantis Meg, novel ini juga mengangkat isu feminisme melalui sosok Jo yang mandiri dan selalu menentang aturan yang membatasi kebebasannya. Menarik karena ketika novel ini dibuat, isu feminisme belum sepopuler saat ini sehingga bisa dikatakan bahwa Alcott adalah penulis yang memiliki wawasan berpikir melebihi zamannya.

Selain itu novel ini juga memberikan contoh bahwa dalam kehidupan perempuan yang sederhana, kehidupan yang berhasaja dan berkualitas masih mungkin diperoleh. Tak ada yang lebih berharga ketimbang memiliki keluarga yang saling mencintai. Hal ini seolah mendobrak pandangan umum bahwa kebahagiaan hanya dapat diperoleh melalui oleh kelimpahan materi semata.

Dengan segala kelebihan yang ada dalam novel ini maka tak heran jika novel yang ditulis Alcott hanya dalam tempo dua setengah bulan (antara 1867 dan awal 1868) ini langsung menuai sukses ketika pertama kami diterbitkan pada 30 September 1868. Lebih dari 2000 ekslempar terjual seketika. Novel ini juga direspon secara positif oleh para kritikus sastra dan langsung menyebut novel baru itu sebagai sastra klasik. Hal ini kelak terbukti karena novel ini menjadi novel yang laris selama puluhan tahun dan dibaca hingga kini dari generasi ke generasi.

Sesaat setelah novel ini terbit dan banyak dibaca orang, Alcott kebanjiran surat dari pembacanya yang menuntut sekuel dari novelnya tersebut. Memenuhi keinginan pembacanya untuk menulis kelanjutan dari kisah keempat gadis keluarga March ini, Alcott pun akhirnya menulis sekuel Little Woman yang diberinya judul Good Wives pada tahun 1869. Kedua bagian ini sering disebut dengan Little Women or Meg, Jo, Beth and Amy. Tak hanya berhenti sampai di situ, kisah keluarga March terus berlanjut Alcott terus menulis dan menerbitkan Little Men (1871) dan Jo’s Boys (1886), yang menceritakan kehidupan anak-anak dari perempuan-perempuan keluarga March. Pada 1880 kedua bagian digabung ke dalam satu volume di Amerika dengan judul Little Women or, Meg, Jo, Beth and Amy.

Hingga kini kisah keempat perempuan keluarga March terus dibaca orang . Sejumlah karya merujuknya. Geraldine Brooks, misalnya, menerbitkan novel March pada 2005, novel ini bercerita tentang Tuan March, ayah keempat perempuan March, selama Perang Saudara. Novel ini kemudian dianugerahi Pulitzer Prize for Fiction 2006. Tak hanya dalam ranah buku, kisah keluarga March juga telah menggelitik para sineas untuk melayar lebarkan karya Alcott ini, hingga kini Little Woman sudah 14 kali diadaptasi ke layar lebar . Selain film, Little Woman juga dibuatkan versi serial TVnya, anime-nya, panggung opera, drama musical, dll

Selain itu menurut buku “ 1001 Books You Must Read Before You Die karya Peter Boxall. Novel Little women ini menginspirasi banyak penulis perempuan antara lain Simone Beauvoir, Joyce Carol Oates, dan Cynthia Ozick (salah satu penulis amerika paling top saat ini). Karenanya hadirnya terjemahan novel ini patut dipresiasi dengan baik karena jika sebelumnya novel klasik ini hanya dibaca dan dibicarakan di lingkungan terbatas yang melek sastra, kini novel ini menjadi lebih terbaca oleh kalangan yang lebih luas lagi.

@h_tanzil

Read more »

Selasa, 15 September 2009

The Palace of Illusions (Istana Khayalan)

The Palace of Illusions (Istana Khayalan)
Chitra Banerjee Divakaruni @ 2008
Gita Yuliani K (Terj.)
GPU - Juli 2009
496 Hal.

Drupadi… dari awal kelahirannya sudah membuat orang terpana. Ia lahir dari api. Bergandengan tangan dengan sang kakak, Dre, yang memang diharapkan kelahirannya untuk membalaskan dendam sang ayah kepada Drona, seorang brahmana yang pernah diakui Raja Drupada sebagai sahabat. Kehadirannya sebenarnya tidaklah diharapkan. Maka itu, nama yang diberikan ayahnya pun ‘biasa-biasa’ saja artinya.

Tapi, kisah yang mengiringi hidupnya dari awal tidaklah biasa. Selain karena cara ia dilahirkan, ramalan tentang perjalanan hidupnya pun penuh dengan kisah tragis. Seorang peramal bernama Byasa, berkata bahwa Drupadi akan menikah dengan lima orang laki-laki, ia juga akan menyebabkan perang yang membuat jutaan perempuan menjadi janda, ia akan menyebabkan kematian kakaknya sendiri.

Tak ada yang bisa dilakukan untukmenghindari ramalan itu, selain lebih bersikap bijak. Drupadi, sejak kecil tidaklah mau menjadi seorang perempuan pada umumnya – yang hanya mengenal mengurus suami, bertingkah laku manis dan sopan. Tapi, ia adalah anak yang haus pengetahuan. Setiap Dre belajar, ia akan bersembunyi di balik tirai dan ikut mendengarkan semua pelajaran Dre. Adalah Khrisna, yang selalu menjadi sahabatnya dan gemar mengajukan pertanyaan atau pernyataan yang penuh filosofi.

Ketika tiba waktunya bagi Drupadi untuk menikah, Raja Drupada mengadakan sayembara yang cukup sulit. Sayembara itu sebenarnya hanyalah ‘syarat’, karena dari awal, seorang laki-laki bernama Arjuna, sudah diharapkan (atau dipastikan) akan memenangkan sayembara itu. Tapi, ternyata, Arjuna mempunyai saingan berat, yaitu Karna – seorang anak kusir kuda yang diangkat menjadi raja oleh Duryodana, salah satu dari 100 Kurawa – sepupu Arjuna sekaligus musuh besarnya.

Karena tidak satu kasta, Karna ‘disingkirkan’ dengan tidak hormat. Meskipun Drupadi akhirnya sangat menyesal dengan keputusan itu. Tapi, seperti yang sudah diharapkan, Arjuna-lah yang menjadi sang pemenang dan otomatis menjadi suami Drupadi. Namun, ternyata, Drupadi belum boleh berlega hati, karena, sebagai anak yang patuh pada ibunya, Kunti, dan terbiasa berbagi dengan saudara-saudaranya, Arjuna tidak bisa menolak ketika Kunti meminta-nya ‘berbagi istri’. Itulah awal Drupadi akhirnya menikah dengan para Pandawa.

Dalam kisah ini, penuh dengan balas dendam, hawa nafsu dan penderitaan. Para Pandawa yang terusir dari istana mereka sendiri, akhirnya mempunyai kesempatan untuk membangun istana yang sangat indah yang hampir tidak mungkin bisa dibayangkan dalam benak manusia biasa. Istana Khayalan – nama pemberian Drupadi. Dari awal, si pembuat istana sudah mewanti-wanti agar tidak mengundang orang ke dalam istana tersebut. Tapi, memang dasar manusia, meskipun setengah dewa, ternyata masih memiliki hawa nafsu dan sifat pamer.

Karena kebodohan Yudhistira, mereka semua akhirnya kehilangan segala kemewahan yang dimilikinya. Drupadi yang hampir dipermalukan, mengucapkan sumpah yang akhirnya mengawali semakin meruncingnya hubungan antara Kurawa dan Pandawa.

Peperangan hebat terjadi. Lawan adalah saudara, sahabat dan orang-orang yang mereka kasihi. Balas dendam jadi motif utama.

Baru sekali ini gue baca buku tentang tokoh-tokoh yang selama ini gue hanya tau ada di dunia ‘pewayangan’. Gue baru tau nama-nama para pandawa, anak siapa Gatotkaca dan, sosok Srikandi. Entah bener apa nggak, karena gue gak pernah ngikutin cerita wayang, tapi, kematian semua tokoh-tokoh dalam cerita ini sangat tragis.

Drupadi sendiri digambarkan sebagai sosok perempuan yang menginginkan ‘kesetaraan’ dengan laki-laki, ia juga istri yang setia, ia memilih mendampingi suami-suaminya di pengasingan. Tapi, tetap, ia harus memendam perasaan cinta, rindu dan bersalah sekaligus karena membuat laki-laki lain sengsara.

Ceritanya eksotis banget, penuh dengan ramalan, mantra-mantra, kutukan, astra-astra, dan intrik-intrik yang ‘njelimet. Kata-kata yang puitis, banyak banget filosofinya. Hati-hati kalo mengeluarkan kutukan, karena bakal beneran kejadian dan bikin menderita tujuh turunan.
Read more »

Rabu, 09 September 2009

Pink Project

Pink Project
Retni SB @ 2009
GPU – Juli 2009
264 Hal.

Pertama kali, coba-coba menulis komentar tentang sebuah lukisan di koran, Puti Ranin langsung mendapat balasan pedas dari seorang kritikus lukisan lain. Sangga Lazuardy, menyebut Puti sebagai katak dalam tempurung, tapi sok tahu. Karuan Puti langsung berang. Puti tau, dia bukanlah seorang seniman yang mampu menilai karya lukisan dengan canggih. Dia hanya penggemar lukisan, dan ketika satu lukisan mampu membuatnya ‘terpana’, Puti tak tahan untuk tidak mengirimkan tulisannya ke surat kabar. Puti langsung emosi berat. Bukan hanya karena Sangga ‘menghina’ dirinya, tapi juga menghina Pring, pelukis pujaannya itu.

Pada satu kesempatan, Puti akhirnya bertemu dengan Sangga. Sikap Sangga yang sok cool dan seolah mengaggap Puti gak ada, makin membuat Puti berang. Padahal, entah kenapa, semakin Puti menghindar, semakin sering mereka berdua bertemu.

Ternyata, Sangga punya tujuan tersembunyi di balik sikapnya yang acuh tak acuh itu. Sangga punya niat menjodohkan Puti dengan Pring. Si pelukis ini memang misterius. Dia tidak pernah muncul di setiap pameran lukisannya. Sangga ternyata adalah sahabat Pring.

Gue sih berharap menemukan ‘keindahan’ di dalam buku ini. Dari cover-nya udah cantik. Gue cape’ banget baca marah-marahnya Puti ke Sangga yang kadang berlebihan banget. Bagian Puti marah-marah, selalu gue lewatin dengan cepet-cepet. Hehehe.. daripada gue ikutan stress…

Read more »

Selasa, 08 September 2009

Braga - Jantung Parijs van Java

No. 223
Judul : Braga - Jantung Parijs van Java
Penulis : Ridwan Hutagalung & Taufani Nugraha
Penerbit : Ka Bandung
Cetakan : Oktober 2008
Tebal : 168 hlm

Di paruh pertama abad ke 20 Bragaweg (Jalan Braga) adalah jalan paling mashyur dan telah menjadi landmark kota Bandung. Jika Bandung pernah dikenal dengan sebutan “Parijs van Java”, tampaknya hanya jalan Braga yang paling mewakili sebutan itu karena Braga merupakan jalan pertokoan yang paling bernuansa Eropa di seluruh Hindia yang memiliki keunikan dan daya tarik yang khas.

Istilah Parijs van Java sendiri hingga saat ini belum diketahui secara pasti kapan tepatnya mulai digunakan. Namun demikian, setidaknya sebuah buku berjudul Boekoe Penoenjoek Djalan Boeat Plesiran di Kota Bandoeng dan Daerahnja yang kemungkinan diterbitkan tahun 1906 telah menyebutkan Bandung sebagai “Parisnya tanah Jawa”. Kenyataannya memang pada masa itu sudah tampak upaya-upaya yang mewujudkan Bandung seperti kota Paris seperti mulai dibangunnya societiet, bioskop, café dan restoran, gedung kesenian, serta taman hiburan rakyat yang mampu menghidupkan suasana malam Bandung seperti suasana Paris di malam hari.

Upaya-upaya mewujudkan Bandung yang bernuansa Paris mencapai puncaknya pada masa 1920-1930 terlebih ketika Pasar malam tahunan Jaarbeurs pada tahun 1920 (sekarang lokasi Gedung Kodiklat TNI AD Jl. Aceh) dipromosikan hingga ke luar negeri. Slogan Parijs van Java juga makin populer setelah Boscha sering mengutipnya di berbagai pidatonya. Selain itu di pada masa 1920-1940 Bandung juga dikenal sebagai pusat mode seperti halnya Paris. Saat itu di Braga berdiri berbagai toko mode diantaranya toko mode Au Bon Marche milik orang Perancis yang spesialis menjual pakaian-pakaian mode terbaru dari Perancis.

Di masa kini Braga tak ubahnya seperti jalan-jalan umum lainnya yang padat dan berdebu. Namun di tengah kemacetan Braga pada jam-jam sibuk kita atau suramnya Braga di waktu malam kita masih bisa menikmati sedikit sisa-sisa kejayaan Bandung tempo dulu. Bagaimana caranya? Bacalah buku kecil berjudul Braga – Jantung Parijs van Java, dan kita akan diajak menyusuri sepanjang Braga sambil mengoreh-ngoreh apa saja yang tersisa dari masa keemasan Braga.

Buku setebal 167 halaman ini memang disusun laiknya panduan wisata jalan kaki sehingga pembaca dapat menyusuri sepanjang Braga mulai dari sisi paling selatan di pertigaan jalan Asia Afrika dan Jalan Braga hingga ke berakhir di ujung utaranya di persimpangan Jalan Braga, Jalan Wastukencana, dan Jalan Perintis Kemerdekaan sekarang . Mulai dari gedung bekas toko Van de Vries hingga berakhir di gedung Javasche Bank (kini Bank Indonesia). Ada lebih dari 30 bangunan yang dibahas dalam buku ini, ada yang masih ada hingga kini, namun ada juga yang sudah hilang tak berbekas dan digantikan dengan bangunan yang lebih modern.

Masing-masing bangunan penting sepanjang Braga itu dikisahkan dengan menarik dan cukup detail lengkap dengan kondisinya di masa kini. Dari kisah puluhan bangunan yang terdapat dalam buku ini yang mendapat porsi bahasan yang banyak dibahas adalah Gedung Societeit Concordia (Gedung Merdeka) yang menjadi pusat hiburan masyarakat Belanda di Bandung

Societeit Concordia awalnya adalah nama perkumpulan yang terdiri dari para Preangerlpanter (pengusaha perkebunan di Priangan) dan para elite kota Bandung. Pada 1895 perkumpulan tersebut menempati gedung yang diberi nama Gedung Societeit Concordia. Pada tahun 1940 gedung Societeit Concordia mengalami renovasi yang mengubah penampilannya hingga berbentuk seperti sekarang. Di sinilah Societeit Concordia sebagai perkumpulan kaum elite mencapai puncak popularitasnya

Gedung yang dapat menampung 1.200 orang ini dilengkapi dengan ruang makan, ruang dansa yang luas, ruang bowling serta perpustakaan yang cukup lengkap dengan ruang bacanya . Setiap akhir pekan gedung ini diadakan berbagai pertunjukan seni seperti konser musik (Ismail Marzuki & WR Supratman pernah berkonser di tempat ini) , tonil, dan dansa. Sedangkan di hari minggu pagi gedung ini juga dipakai oleh anak muda Belanda untuk bermain sepatu roda.

Maraknya kegiatan yang dilakukan di dalam gedung ini membuat seorang pelancong Belanda, L.H.C. Horsting menyimpulkan bahwa tidak ada Societeit di seluruh Hindia Belanda yang dapat mengalahkan Societeit Concordia Bandung. Setelah melewati segala kemeriahan dan masa keemasan sebagai pusat hiburan bergengsi pada zaman Hindia Belanda, gedung ini kemudian menjadi terkenal ke seluruh dunia karena menjadi tempat Konferensi Asia Afrika pada tahun 1955.

Tentunya kita bisa membayangkan bagaimana semaraknya suasana gedung ini di masa lampau, jauh berbeda dengan kondisinya kini yang hanya menjadi sebuah museum bisu yang jarang sekali dipakai untuk aktivitas seni seperti di masa lampau.

Setelah gedung Soceiteit Concordia, gedung legendaris yang mendapat porsi bahasan agak panjang dalam buku ini adalah Maison Bogerijen (Braga Permai) dimana ada lambang kerajaan Belanda yang terpampang di muka restoran ini. Restoran ini dikenal sebagai restoran paling elite di seantero kota yang mendapat piagam restu langsung dari ratu Belanda. Maka dari itu tidak heran jika Maison Bogerijen adalah satu-satunya restoran yang diizinkan menyajikan berbagai hidangan istimewa khas kerajaan Belanda yang tidak bisa ditemukan di sembarang tempat.

Selain kedua gedung diatas, masih banyak gedung-gedung lain yang tak kalah menariknya yang dibahas dalam buku ini seperti gedung DENIS Bank dengan gaya bangunan unik yang merupakan bank pertama kali menggunakan system hipotek di Bandung, Het Snopheus (Sumber Hidangan) , toko mobil Fuchs en Rens yang menjual mobil-mobil terkenal (Peugeot, Renault, Chlyser, Plymouth,dll). Lalu ada pula toko buku van Dorp (sekarang gedung Landmark) yang memiliki cara pemasaran unik yang secara tidak langsung menggiring warga Bandung untuk kerajingan menanam bunga.

Menarik memang menyusuri spanjang Braga bersama buku ini. Hanya saja satu hal yang disayangkan adalah tak adanya kisah-kisah humanis dibalik keberadaan gedung-gedung yang dibahas dalam buku ini karena buku ini hanya mendeskrpisikan sejarah gedung, fungsi bangunan di masa lampau, arsitek pembuatannya,dll. Jika saja penulis memasukkan sedikit kisah-kisah remeh temeh yang merupakan bagian dari orang-orang yang tingal di gedung-gedung ini tentunya buku ini akan lebih menarik lagi dan gedung-gedung yang dibahas dalam buku ini akan terasa lebih bernyawa jika kita mengunjunginya saat ini.

Karena format buku yang kecil, tidak terlalu tebal, bahasan yang runut, mudah dicerna dan informatif karena dilengkapi dengan daftar istilah, indeks, peta, dan tampilan foto-foto yang tajam membuat buku ini sangat nyaman dibawa sebagai pedoman dalam menyusuri sepanjang Braga untuk menemukan serpihan-serpihan kejayaan Braga di masa lampau.

Selain itu kehadiran buku ini juga ikut melengkapi sejumlah buku tentang Bandung yang telah ditulis selama ini. Satu hal yang menarik, walau dikemas dalam gaya popular, namun salah satu penulis dari buku ini adalah lulusan dari jurusan sejarah. Selama ini buku-buku tentang Bandung ditulis oleh budayawan, wartawan, dan ahli planologi.

Namun siapapun yang menulisnya dan apapun yang dibahas mengenai Bandung di masa lampau, buku-buku tersebut, termasuk buku ini bukanlah sekedar hanya menigsahkan kembali sejarah panjang sebuah kota. Ada banyak hal yang positif yang bisa dipelajari, ditimbang, dan mungkin dijadikan teladan khususnya bagaimana mengelola sebuah kota baik untuk masa kini maupun di masa yang akan datang.

@h_tanzil

Read more »

Selasa, 01 September 2009

Perahu Kertas

Perahu Kertas
Dee @ 2009
Bentang Pustaka/Trudee – Cet. 1, Agustus 2009
444 Hal.

Ada Kugy… cewek yang unik (atau aneh?). Suka menulis dongeng, terbang ke Negeri Khayalan dengan tokoh-tokoh Nyi Kunyit, dan tokoh sayur-mayur lainnya. Penampilannya cuek, gaya bicaranya ceplas-ceplos dan kocak. Merasa dirinya sebagai Agen Neptunus.

Lalu, ada Keenan… cowok yang suka banget melukis, tapi terbentur sama keinginan orang tua yang ingin dia menempuh jalur pendidikan formal (dan normal).

Mereka bertemu di Bandung, di tengah hiruk-pikuk stasiun kereta api. Karena dua-duanya sama-sama unik, sama-sama punya keanehan sendiri, mereka berdua jadi cepat akrab, malah, saling menyimpan perasaan suka, tapi, gak ada kesempatan untuk mengutarakannya secara langsung. Kesamaan mereka yang lain, adalah mereka berdua sama-sama berzodiak Aquarius… (heyy… just like me…!!). Kugy punya kebiasaan curhat ke Dewa Neptunus, sang Dewa Air, dan menghanyutkan perahu kertas berisi curhatnya di setiap aliran air yang bisa ia temui. Keenan pun di-rekrut jadi ‘Agen Neptunus’.

Perjalanan mereka sampai akhirnya sampai ke sebuah titik keputusan lumayan panjang, dari tahun 1999 sampai 2003. Perjalanan yang penuh dengan tawa, bahagia, sedih, duka juga tangis. Dari Bandung , Jakarta sampai Bali.

Kugy dan Keenan sebenarnya saling melengkapi. Kugy bisa nulis, tapi gak bisa ngelukis. Keenan bisa ngelukis, tapi gak bisa bikin dongeng. Ilustrasi Keenan menjadi pelengkap yang sangat sempurna bagi dongeng-dongeng Kugy. Dongeng Kugy menjadi sumber inspirasi yang tak ada habisnya untuk Keenan.

Merasa tak mungkin bisa bersatu, Kugy dan Keenan menjalin hubungan dengan orang lain. Sambil berusaha melupakan bayangan masing-masing. Tapi, kadang hati dan perasaan emang gak bisa dibohongi… orang yang mereka kira mereka cintai juga seolah punya ‘six sense’.

Tulisan Dee kali ini rada beda yang buku-buku sebelumnya yang pernah gue baca. Kalo kaya’ Supernova yang penuh dengan berbagai macam filosofi, ‘Perahu Kertas’, buat gue lebih ‘reader friendly’. Mungkin terkesan seperti cerita-cerita chiclit, metropop atau cerita-cerita ABG lainnya, tapi karakter yang unik bikin cerita ini jadi beda. Di akhir buku ini, Dee bilang kalo salah satu inspirasi untuk menulis Perahu Kertas adalah ketika dia baca serial Popcorn… hmmm… kalo dibayangin, karakter Kugy yang cuek, Keenan yang cool, seperti karakter tokoh-tokoh film drama Korea, Jepang or Taiwan, yang ceweknya cenderung tomboy, sementara cowoknya cool banget… dengan rambut sedikit gondrong…

Sebenernya, ada beberapa yang 'mengganggu' gue nih.. misalnya, Keenan yang segampang itu jadian sama Wanda. Lalu, adegan Wanda mukul-mukul dada Keenan sambil nangis.. so sinetron... Tapi, ya sudahlah.. ketutup koq sama ceritanya yang bagus.

Gue suka buku ini… I feel… I want to be (like) Kugy…
Read more »

Minggu, 23 Agustus 2009

Elle Eleanor

Judul : Elle Eleanor
Penulis : Zeventina Octaviani B & Ferry H. Zanzad
Penerbit : Kakilangit Kencana
Cetakan : I, Juni 2009
Tebal : 454 hlm

Villa Van Der Sneijer di wilayah pantai Popoh Kediri berdiri gagah dan kokoh. Namun dibalik kekokohannya villa itu menyimpan sejuta misteri dan kutukan. Di masa lalu, pemilik villa, Robert Van der Sneijer pernah membunuh Eleanor, istrinya sendiri yang kedapatan berpesta sex dengan dua pemuda sekaligus di kamar rahasianya. Pembunuhan itulah menjadi awal dari semua keangkeran villa. Penghuni dan tamu-tamu villa di masa lalu seolah datang dan pergi untuk menyebarkan petaka.

Robert dan Eleanor sebenarnya merupakan pasangan yang sangat berbeda dalam hal karakter, Robert memiliki ketenangan sebagai seorang bangsawan sejati, ia lebih suka berkutat dengan bisnisnya dibanding bersama istrinya. Sementara itu Eleanor adalah wanita yang lincah, penuh gairah hidup, dan memiliki gelora yang meluap-luap dalam hal seks. Kebutuhannya akan belaian kasih sayang dan tak terpenuhinya kebutuhan seks dari suaminya membuatnya nekad melakukan rencana gila yang hanya diketahui olehnya dan seorang pembantu setianya.

Demi memenuhi hasrat seksnya yang berlebih ia membangun sebuah kamar rahasia dalam villanya. Kamar yang dibangun dengan cucuran keringat, darah dan tebusan nyawa kaum rodi penjara. Di kamar itulah ia melampiaskan gairah seksnya bersama pria-pria muda sambil diksaksikan oleh pembantu setianya. Ketika petualangan seksnya ini dipergoki oleh Robert, ia lalu menembak istrinya beserta kedua lelaki yang sedang menggaulinya. Robert sendiri akhirnya terperangkap di dalam kamar rahasia itu bersama tiga mayat yang dibunuhnya.

Kamar Rahasia dan apa yang telah terjadi di dalamnya tetap tersembunyi dan menjadi misteri seiring berjalannya waktu hingga akhirnya di masa kini sekelompok anak muda dari Jakarta menyewa villa ini untuk berlibur. Kegembiraan mereka terusik ketika seorang dari mereka tiba-tiba menghilang dan ditemukan tewas terhimpit karang pantai Popoh. Situasi semakin mencekam karena kemudian tiga orang dari mereka turut menghilang tertelan oleh keangkeran dan kemisteriusan villa Van Der Sneijer

Kisah di atas merupakan novel thriller yang berjudul Elle Eleanor yang ditulis oleh Zev Zanzad, nama pena dari dua orang penulisnya yaitu Zeventina Octaviani B, dan Ferry H. Zanzad. Hal ini menjadi unik dalam karena dalam ranah buku-buku non fiksi, buku yang ditulis oleh dua orang adalah hal yang lazim, namun untuk buku fiksi rasanya baru kali ini terjadi di Indonesia.

Proses kreatifnya pun unik karena ketika novel ini dibuat, kedua penulis terpisahkan oleh jarak antar benua, Zeventina di Ulm, Jerman sedangkan Ferry di Surabaya. Mereka belum pernah sekalipun bertemu secara fisik dan mencoba menyatukan imajinasi mereka hanya lewat media cyber. Barulah ketika sehari sebelum novel ini diluncurkan pada Juli lalu mereka akhirnya bertemu untuk pertama kalinya.

Hal yang patut diacungi jempol adalah walau ditulis oleh dua orang namun kita tak akan melihat adanya perbedaan. Karakteristik dari masing-masing penulis yang sebenarnya berbeda (Zev dengan gaya ceria dan metro sementara Ferry lebih cenderung pada gaya tradisional dan gelap) tak terlihat lagi, melainkan telah melebur menjadi satu seolah novel ini ditulis oleh satu orang saja.

Dari segi pemilihan setting dan latar kisah yang disajikan oleh dua penulis ini juga bisa dibilang menarik. Setting pantai Popoh – Kediri dan kemisteriusan laut pantai selatan bisa dibilang jarang disentuh oleh penulis-penulis lain. Dari segi waktu, pembaca juga akan diajak memasuki era zaman kolonial di tahun 30-an hingga masa pasca kependudukan Jepang sebelum secara tiba-tiba masuk ke masa kini dimana terror di villa Van Der Sneijer berlangsung.

Karakter tokoh-tokohnya juga menarik, selain karakter Eleanor seperti yang diungkap di atas, ia juga ternyata penderita nymphomania (tak puas dengan satu lelaki, tetapi bukan pelacur) dan hal ini akan dipertemukan dengan kegilaan pembantu setianya Sasto Pencor yang yang menderita svaptophilla (senang meilhat orang lain bersetubuh).

Dengan hadirnya karakter kegilaan seks seperti Eleanor ini tentunya deskripsi seks yang tak wajar menjadi tak terhindarkan dalam novel ini. Namun walau diwarnai oleh beberapa adegan kegilaan seks Eleanor penulis mendeskripsikannya dalam porsi yang pas dan santun sehingga tak terkesan vulgar sehingga novel ini tidak menjadi novel kontorversial karena unsur seksnya.

Selain Eleanor, tokoh-tokoh lainnyapun ikut memberi warna dalam novel ini, ada tokoh Johan, pemilik vila di masa kini yang dingin dan menyimpan misteri, para pembatu villa yang memegang teguh tradisi dan memiliki pengabidan total pada tuannya. Lalu para anak muda yang datang berlibur ke vila yang beberapa dari mereka menyimpan konflik diantara mereka, salah satunya adalah Elle yang memiliki wajah dan postur tubuh yang sangat mirip dengan Eleanor. Kemudian ada pula sosok misterius pria pincang yang menebar teror kepada pengunjung villa. Semua tokoh-tokoh itulah yang mengisi kisah thriller yang menarik untuk disimak.

Seperti umumnya sebuah novel thriller, plot kisah novel ini melaju dengan cepat, tak jarang dalam satu setting waktu, penulis menghadirkan beberapa peristiwa yang terjadi di tempat yang berlainan secara bergantian sehingga kita bisa mengetahui apa yang terjadi dengan tokoh-tokoh lain dalam waktu yang bersamaan. Penulis juga piawai dalam menjaga ritme kisahnya yang meruapkan aroma kemisteriusan vila sehingga pembaca akan betah mengunyah novel setebal 454 halaman ini dan membangkitkan rasa penasaran untuk mengetahui akhir dari kisahnya.

Hal yang tampaknya kurang dalam novel ini adalah karakter Elle sendiri, karena novel ini berjudul Elle Elenaor sudah selayaknya tokoh Elle mendapat porsi yang sama dengan Ellenaor. Sepanjang novel ini ruh karakter Elleanor melekat dengan kuat, sedangkan eksplorasi karakter Elle sendiri saya rasa kurang ‘nendang’ karena yang ditonjolkan hanyalah wajahnya yang sangat mirip dengan Eleanor.

Unsur kejutan dalam novel ini saya rasa tak terlalu kentara, di tiga perempat terakhir novel ini pembaca mulai bisa menebak siapa sebenarnya pelaku pembunuhan di villa Van Der Sneijer beserta motifnya. Andai saja di bagian-bagian akhir penulis bisa memberikan fakta baru yang di luar dugaan pembacanya saya rasa novel ini akan lebih menarik lagi.

Selain itu pembaca yang teliti mungkin akan menemukan beberapa hal yang tampaknya luput dari pengamatan editor novel ini, seperti salah ketik, salah menuliskan nama tokoh, salah menampilkan bentuk font, dan ada beberapa hal yang sedikit menganggu logika yang seharusnya semua hal tersebut bisa terkoreksi saat novel ini berada dalam genggaman editornya.

Namun terlepas dari hal di atas, secara umum novel ini merupakan novel yang menarik karena memadukan kisah thriller dengan berbagai unsure seperti sejarah, seks, romansa, psikologis, benturan tradisi kuno dengan rasionalitas dan keanehan perilaku manusia.

Novel ini juga seolah memberikan pesan kepada pembacanya bahwa kegilaan yang tak disembuhkan akan melahirkan kegilaan. Dalam kisah ini kegilaan Eleanor kelak akan diwariskan oleh penerusnya. Mungkin ini merupakan pesan moral bagi kita dalam mendidik anak-anak kita. Mungkin kita tak segila Eleanor, tapi bukankah tiap manusia memiliki sisi gelap dan kegilaan dalam kadar tertentu ? Akankah kita mewariskan sisi gelap dan kegilaan kita pada anak-anak kita?

@h_tanzil

Read more »

Kamis, 20 Agustus 2009

Maximum Ride#4: The Final Warning (Peringatan Terakhir)

Maximum Ride#4: The Final Warning (Peringatan Terakhir)
James Patterson @ 2008
Poppy Damayanti Chusfani (Terj.)
GPU – Juni 2008
320 Hal.

Tampaknya Max, Fang, Angel, Nudge, Iggy, Gasman – plus Total, tidak bisa hidup ‘santai’ sedikit atau menikmati ketenangan barang sesaat. Mereka selalu hidup dalam kewaspadaan ‘tingkat tinggi’. Lengah sedikit, nyawa mereka bisa jadi taruhannya.

Meskipun, nyaris merasakan kenyamanan yang sempurna dan merasakan bahagianya punya orang tua, Max tetap saja tidak percaya dengan Jeb. Ia tahu, Jeb adalah ayahnya, tapi Jeb jugalah yang ‘menjurumuskan’ Max dan anggota kawanannya ke dalam bahaya, dikejar-kejar Flyboy yang salah satu anggotanya ternyata adalah adik tirinya. Segala macam bentuk penelitian, petugas-petugas berseragam, selalu membuat Max curiga. Karena tidak semuanya akan semulus dan selancar pada awalnya. Apa pun itu, Max yakin, pasti hanya berujung pada eksperimen mengerikan yang selalu ia terima sebagai konsekuensi menjadi remaja ‘bersayap’.

Bahkan di dalam rumah ibunya pun, Max dan teman-teman nyaris jadi ‘pizza gepeng’. Ternyata, meskipun relatif aman, masih ada yang mengincar Max dan teman-temannya.

Dr. Martinez, Ibu Max, memperkenalkan mereka pada sekelompok ilmuwan. Meski sempat curiga, Max pun mempercayai mereka, karena Ibunya juga percaya. Brigid dan teman-temannya mengajak Max dan kawan-kawan ke Antartika untuk menyelidiki pemanasan global dan mencari cara pencegahannya. Wow.. satu tugas menyelamatkan dunia yang sangat menarik… Meskipun tempatnya jauh dari kehangatan matahari yang diinginkan Max.

Seperti biasa, di antara orang-orang yang baik, pasti ada satu atau dua orang yang menjadi mata-mata, yang akhirnya membawa Max dan teman-temannya ke dalam jebakan yang berbahaya. Mereka kembali menjadi tawanan sekelompok orang-orang ‘aneh’ yang ingin melenyapkan mereka.

Buku ini gak setebal buku-buku sebelumnya, tingkat ketegangan yang ada juga gak terlalu tinggi. Max makin jago ‘menyindir’ orang. Para kawanan juga di’anugerahi’ kelebihan baru. Misalnya, Angel yang selain bisa membaca pikiran, sekarang bisa berubah jadi binatang, Nudge yang bisa ‘menarik’ besi, Iggy yang bisa ‘merasakan’ warna, bahkan bisa melihat kalau dia berada di tempat yang putih sempurna, Fang yang bisa meleburkan diri dengan warna gelap. Bahkan Total pun ‘berubah’, dia menjadi ‘anjing bersayap’!
Read more »

Selasa, 18 Agustus 2009

How the World Makes Love

How the World Makes Love... And What It Taught a Jilted Groom
(Petualangan Keliling Dunia Sang Pecundang Cinta)

Franz Wisner @ 2009
Berliani M. Nugrahani (Terj.)
Serambi, Cet. I – Juni 2009
495 Hal.

Karena gue ‘jatuh cinta’ sama buku Honeymoon with My Brother, gue pun menanti ‘sekuel’-nya dengan tidak sabar. Makanya, begitu buku kedua ini terbit, gue segera menamatkan beberapa buku di rumah, dan membaca buku ini.

Buku ini diawali dengan Franz Wisner yang masih ‘menjomblo’. Masih mencari-cari ‘karakter’ pasangan yang cocok dengan dirinya setelah berbagai peristiwa, perjalanan yang dilaluinya. Ternyata, Franz ‘ketagihan’ jalan-jalan. Ia pun mengajak Kurt, adiknya, untuk kembali ‘berbulan madu’. Tapi, kali ini, bukan hanya sekedar jalan-jalan, tapi mencari apa arti cinta, bagaimana bentuk cinta di berbagai penjuru dunia. Dengan warisan dari La Rue, nenek mereka, Franz dan Kurt kembali berkeliling dunia, berusaha menemukan cinta.

Mereka berkunjung ke Brasil, negara favorit Franz, yang katanya seksi itu. Lalu, ke India, di mana cinta ditentukan oleh perjodohan. Di mana kalo janda, perawan tua atau orang tua tunggal adalah hal yang sangat buruk, ada di halaman paling akhir di kolom kontak jodoh. Atau ke Mesir, yang eksotis, tempat perempuan jarang punya andil dalam menentukan pasangan hidup mereka. Gak ketinggalan juga ke Ceko dan Nikaragua.

Yang paling kocak menurut gue, waktu Franz di Afrika Selatan, tempat di mana, pemandu wisata dan para turis sering jatuh cinta. Gak perlu bertampang keren, yang penting macho dan pemberani.

Di sela-sela perjalanannya keliling dunia, Franz menyempatkan diri untuk kembali ke Amerika. Ia sempat kencan beberapa wanita, tapi ternyata, satu yang menarik hatinya, yaitu si aktris-hippie bernama Tracy. Menjalin hubungan dengan Tracy adalah sebuah langkah baru yang cukup besar. Tracy, adalah tipe wanita yang mungkin berbeda dari kriteria Franz yang lama, selain itu, Tracy juga memiliki anak laki-laki berusia tiga tahun bernama Calvin. Tapi, ternyata ada rasa nyaman ketika Franz berada dekat Tracy.

Tracy-lah yang menjadikan perjalan ke Selandia Baru menjadi perjalanan yang paling romantis, tempat Franz menyadari akan cinta sejatinya.

Tulisan di buku kedua ini lebih ‘bervariasi’. Sekilah sempat ada kesinisan Franz tentang cinta – yah, mengingat dia pernah ditinggalin tunangannya hanya beberapa hari menjelang pernikahan mereka. Tapi, makin lama, makin ke belakang, tulisannya jadi kocak, apalagi membaca berbagai percakapan-percakapan Franz dengan penduduk setempat di negara-negara yang ia datangi. Hmmm… sayang, Indonesia gak masuk daftar kunjungannya kali ini.

Kurt, jarang diikutsertakan dalam buku ini, hanya di beberapa perjalanan, Kurt tampil sekilas. Untuk menjawab pertanyaan pembaca, Kurt pun menulis di beberapa lembar terakhir buku ini.

Di akhir buku ini juga ditulis beberapa definisi ‘cinta’ yang Franz dapatkan dari perjalanannya. Cinta itu ternyata gak rumit koq… Gue jadi berpikir, buku ini pasti lebih keren kalo ada foto-fotonya...
Read more »

Joshua Files: The Invisible City (Kota yang Hilang)

Joshua Files: The Invisible City (Kota yang Hilang)
M. G. Harris
GPU, Juni 2009
384 Hal.

2012 – ramai dibicarakan orang sebagai tahun di mana dunia akan kiamat. Kenapa begitu? Kalau dihubungkan dengan buku ini, tahun itu diambil berdasarkan tahun terakhir di dalam sistem penanggalan atau kalender bangsa Maya. Betul atau tidak? Hmmm… gak tau juga deh…

Itulah yang sedang diselidiki oleh Andres Garcia, seorang arkeolog, sebelum ia dikabarkan tewas. Andres Garcia diberitakan tewas dalam sebuah kecelakaan pesawat yang dikemudikan sendiri oleh dirinya. Josh Garcia, anak Andres, tak percaya bahwa ayahnya meninggal begitu saja. Ia menduga ada konspirasi di balik kematian ayahnya.

Bagi Josh, urusan arkeolog bukanlah hal asing. Ia sering diajak ayahnya berlibur ke situs-situs tempat ayahnya mengadakan penyelidikan. Ia puna berusaha menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi. Ia membuka email-email terakhir yang dikirim ayahnya dan mendapati bahwa pembicaraan tentang codex-codex atau surat-surat berharga mengenai suku Maya, tahun 2012 adalah hal yang sangat berbahaya. Benar saja… tiba-tiba saja rumahnya dibobol maling, tempat kerja ayahnya juga dibongkar.

Bersama dua temannya, Josh nekat pergi ke Meksiko, mencari jejak terakhir yang ditinggalkan ayahnya. Sampai di sana berbagai kejutan menanti. Bukan saja bahwa ternyata Josh memiliki saudara tiri, tapi juga, ternyata ia adalah seorang pewaris takhta yang sangat penting. Sebuah hal yang menjadikannya dewasa dalam sekejap, bukan sekedar seorang bocah berusia 12 tahun lagi.

Perjalanannya sendiri tidaklah mulus, ia harus dikejar-kejar agen rahasia yang mengincar apa yang sedang dicari oleh Josh. Dia pun sampai di sebuah kota di bawah tanah, sebuah kota yang hilang bernama Ek Naab. Di sana ia segera dilantik sebagai seorang pemimpin baru, yang mewarisi apa yang juga dimiliki ayahnya.

Baca buku ini, gue teringat permainan packrat di facebook.. hehehe.. ngumpulin banyak codex buat melengkapi kartu terbesar. Tapi, buku ini menurut gue lumayan ‘rumit’, dan gue agak kesulitan membayangkan kota yang hilang di bawah tanah itu. Gue sempet berharap, kalau bapaknya Josh itu gak meninggal, tapi diculik atau apa gitu… Kaya’nya semua beban yang ada terlalu berat untuk anak sekecil Josh…

Read more »

Gaul Jadul - Biar Memble Asal Kece

Judul : Gaul Jadul - Biar Memble Asal Kece
Penulis : Q Baihaqi
Penerbit : Gagas Media
Cetakan I, 2009
Tebal : 277 hlm

“Zona 80… masih ada! “, Demikian slogan yang selalu diteriakkan para penonton pada acara zona 80, sebuah program musik plus talkshow di Metro TV yang mencoba mengangkat kembali berbagai musik, penyanyi, gaya hidup, trend, sampai peristiwa-peristiwa yang populer di era 80an. Seperti slogan di atas, walau telah dua dekade terlalui , era 80an masih ada dalam kenangan kita, berbagai peristiwa dan gaya hidup 80an selalu menjadi hal yang menarik untuk dibicarakan dan dimunculkan kembali dalam berbagai bentuk.

Selain acara TV Zona 80 yang hingga kini masih terus ditayangkan dan digemari oleh penontonnya, di stasiun TV yang sama kini muncul acara “Legendary Album” yang memutar kembali video klip lagu-lagu yang pernah jaya di era 80an. Selain dalam bentuk acara TV, era 80an juga dikenang dalam berbagai cara. Dalam ranah musik tanah air tentunya kita masih ingat group music Club Eighties yang mencoba mempopulerkan kembali langgam gaya tahun 80-an, sayang group ini kini lama tak muncul di panggung musik.

Di ruang cyber, pada tahun 2005 dibuatlah blog lapanpuluhan (http://lapanpuluhan.blogspot.com) yang mencoba memunculkan kembali berbagai peristiwa dan gaya hidup 80an. Blog ini mendapat respon yang sangat baik dari pembacanya, per-harinya blog ini di’klik’ sebanyak 250-500 kali!. Blog ini pula yang mendorong lahirnya sebuah milis di tahun 2006 yang diberi nama milis ‘lapanpuluhan’ yang hingga kini masih eksis dan telah beranggotakan 3861 member.

Kepopuleran blog dan milis 80an dan antusiasme masyarakat akan era 80 an inilah yang akhirnya menarik minat penerbit Gagas Media untuk membukukan tulisan-tulisan yang ada di blog tersebut sehingga terbitlah sebuah buku yang mengangkat berbagai fenomena 80an yang diberinya judul “Gaul Jadul – Biar Memble asal Kece.

Buku Gaul jadul ini dibagi dalam 6 bagian besar berdasarkan kategorinya yaitu : Serial TV, Musik, Dunia Anak-anak, Film, Buku dan Majalah, dan Sukseskan. Masing-masing bab terdiri dari 2 hingga 5 tulisan, sehingga buku setebal 277 halaman ini berisi 19 tulisan plus 6 tulisan pengantar antar bab yang membahas berbagai icon dan gaya hidup 80an.

Di bagian serial TV pembaca akan diajak mengenang film seri TV buatan lokal dan luar negeri yang ditayangkan TVRI di era 80an yaitu drama seri Rumah Masa Depan, Little House on The Praire, The A Team, Isaura, dan Little Missy. Di bagian musik kita diajak untuk melantunkan kembali Madu dan Racun, Kokoro No Tomo, dan mengenal artis-artis JK Records. Berbagai jenis permainan dan jajanan era 80an seperti Game Watch, Kwartet, permen Chelsea, Cocorico, dan lain-lain hadir kembali dalam imajinasi kita ketika kita membaca bagian Dunia Anak-anak di buku ini.

Di bagian film, dibahas mengenai FFI, film-film horror yang dibintangi Suzanna, film Nagabonar, dan film Catatan si Boy yang merupakan icon anak muda 80an. Bagi para kutu buku, buku-buku Lima Sekawan dan Trio Detektif tentunya merupakan bacaan wajib yang tak boleh terlewatkan. Dan di bagian akhir, buku ini juga membahas mengenai program pemerintah di tahun 80an yaitu wajib belajar dan senam SKJ yang musik pengiringnya masih terngiang-ngiang sampai sekarang.

Sama seperti yang tersaji dalam blog-nya, kesemua tulisan di atas tersaji dengan gaya yang nyantai dan diselingi juga dengan celetukan-celetukan lucu dari penulisnya sehingga membuat kita tertawa-tertawa seolah sedang ngobrol santai dengan seorang teman mengenai fenomena 80an. Hal ini pula yang membuat pembaca betah melahap semua tulisan yang ada dalam buku ini dalam sekali duduk saja. Namun walau terkesan nyantai, bahasan dalam buku ini bisa dibilang cukup lengkap dan detail. Tampaknya penulis tidak asal menulis berdasarkan memori semata melainkan melakukan riset yang cukup memadai sebelum membuat tulisan-tulisannnya.

Ketika membahas mengenai film, penulis mengurai lengkap dengan beberapa synopsis, dan keterangan tentang pemain-pemainnya. Ketika membahas mengenai FFI tersaji daftar lengkap susunan pemenang dari tahun 1980-1991 termasuk rekapnya seperti artis-aktor yang pernah mendapat dua piala citra, film-film yang nyaris menyapu bersih piala Citra, dan beberapa keunikan-keunikan lainnya. Di bagian musik ada juga teks lengkap beberapa lagu, sedangkan di bagian akhir buku ini ada pula gambar dan deskripsi gerakan SKJ.

Selain mengaduk-ngaduk kenangan kita akan era 80an, sebagian pembaca juga mungkin akan menemukan hal-hal yang baru diketahuinya , misalnya lagu Madu dan Racun itu sebetulnya diciptakan dan pertama kali dipopulerkan pada tahun 1975-an oleh Vocal Group Prambors dengan judul “Bingung”. Lagu yang diciptakan oleh Sidosa ini lalu dipopulerkan kembali dengan judul baru (Madu & Racun) yang dinyanyikan oleh pengarangnya yang berganti nama menjadi Arie Wibowo bersama groupnya Bill & Board.

Selain itu mungkin tak banyak yang menyadari bahwa seri Trio Detektif itu bukanlah karya sutradara besar Hollywood yang piawai membesut kisah-kisah misteri, Alfred Hitcock. Walau dalam setiap cover bukunya selalu menampilkan logo dan nama Alfred Hircock, namun ia hanya menjadi cameo diseri novel detektif tersebut, sedangkan nama penulisnya yang secara bergantian ditulis oleh empat orang pengarang hanya tertera di halaman dalam novel-novelnya.

Masih banyak hal-hal menarik yang mengaduk-ngaduk kenangan era 80an di buku ini. Lalu apakah semuai isi di buku ini sama dengan apa yang ada di blog lapanpuluhan? Karena media blog dan buku merupakan hal yang berbeda, maka tentunya tak semua tulisan dan materi yang ada dalam buku ini sama persis dengan apa yang ada dalam blog. Tentunya apa yang dalam buku lebih lengkap dan detail dibanding di blog. Bahkan ada beberapa tulisan baru yang tidak akan ditemui di blognya.

Selain itu buku ini juga hanya memuat tulisan-tulisan yang dibuat oleh salah satu kontributor sekaligus pendiri blog ini yaitu Baihaqi. Jadi memang tak semua tulisan di blog lapanpuluhan akan muncul di buku ini seperti serial si Unyil, Oshin, trend fashion, sandiwara radio, dll. Pertanyaan yang mungkin akan muncul di benak pembaca buku ini yang juga pengunjung blognya adalah : “Kenapa buku ini hanya memuat tulisan-tulisan Baihaqi saja ?”. Sayangnya di buku ini baik penulis maupun penerbit tak memberikan keterangan yang memadai atas pertanyaan ini.

Yang juga patut disayangkan dalam buku ini adalah minimnya penyajian foto-foto, padahal dengan semakin banyaknya foto maka memori pembaca akan lebih tergali lagi. Selain itu buku ini juga tak menyertakan “Kata Pengantar” seperti lazimnya yang terdapat dalam buku-buku kumpulan tulisan. Padahal dalam kata pengantar penulis atau penerbit bisa menjelaskan ‘sejarah’ terbitnya buku ini, darimana sumber tulisannya, mengapa ada beberapa icon 80an yang tidak muncul dalam buku ini, dan lainnya. Semua itu tak dijelaskan sedikitpun dalam buku ini, sehingga pembaca yang tidak mengetahui blog lapanpuluhan tak akan mengetahui kalau buku ini bersumber dari blog tersebut.

Alangkah baiknya juga jika dalam buku ini ada kata pengantar yang ditulis oleh salah satu tokoh 80an atau pengamat kebudayaan yang gaul yang bisa memberikan sedikit tambahan wawasan pada pembacanya mengenai fenomena 80an secara ringan dan nyantai. Sayang semua itu tak ada dalam buku ini.

Terlepas dari hal di atas, buku ini sangat menarik untuk membuka kembali album lama kita di era 80an. Tidak hanya sekedar untuk bernostalgia, tentunya ada banyak hal-hal positif yang bisa diambil dalam buku ini. Dan yang harus diingat, mungkin saja buku ini merupakan satu-satunya buku non fiksi yang membahas berbagai fenomena era 80an di Indonesia secara khusus. Yang pasti, buku ini sangat berjasa karena telah mendokumentasikan dan mengabadikan berbagai hal yang pernah menjadi trend, icon, kebijakan pemerintah, yang pernah terjadi di era 80an.

@h_tanzil
Read more »

Minggu, 09 Agustus 2009

Anne of the Island

Anne of the Island
Lucy M. Montgomery
Indradya SP & Nur Aini (Terj.)
Qanita, Cet. 1 - Juni 2009
400 Hal.

Di buku ketiga ini, Anne terasa jauh berbeda dari dua buku sebelumnya. Makin dewasa dan makin bijaksana. Buku ini berkisah tentang Anne yang terpaksa ‘pergi’ dari Avonlea untuk sekolah di Redmond – meninggalkan Marilla, si Kembar Davy dan Dora, dan juga sahabatnya, Diana Barry. Untungnya, Anne gak sendiri – tempat ‘satu kampungnya’, Pricilla dan Gilbert juga ikutan sekolah di sana.

Anne, merasa tertinggal dalam urusan ‘percintaan. Diana Barry sudah bertunangan dengan Fred Wright dan akan segera menikah. Sementara Anne, meskipun sering berdebar-debar kalau berdekatan dengan Gilbert, gak mau mengakui perasaannya karena takut akan merusak persahabatan mereka sejak kecil.

Di Redmond, Anne bertemu dengan teman-teman baru dan beberapa pengagum baru. Anne juga banyak menerima lamaran yang sangat tidak romantis. Yup, di usia Anne yang 18 tahun itu, ternyata banyak yang mengantri untuk menjadikan Anne sebagai istri mereka. Beberapa bahkan berani mengajukan lamaran. Di antaranya – yang bikin Gilbert salah paham – adalah Roy Gardner, pemuda yang persis seperti ada dalam gambaran Anne – tampan, puitis dan sangat memuja Anne. Tapi, aneh… makin lama, kenapa Roy gak membuat Anne berdebar-debar? Gilbert sendiri gak kalah banyak penggemarnya, bikin Anne cemburu, tapi tetap sok jual mahal.

Kesibukan di Redmond tidak membuat Anne melupakan Avonlea. Di setiap kesempatan berlibur, Anne selalu menyempatkan diri pulang ke Avonlea. Ternyata, warga Avonlea suka ngegosipin Anne sama Gilbert. Sementara Anne berusaha cuek dan sok gak peduli.

Gak hanya Anne yang sibuk dengan masalah cowok, tapi juga teman baru Anne, Pricilla, gadis manja dan kaya yang sering kali plin-plan. Pernikahan demi pernikahan terjadi, makin membuat Anne merasa tertinggal.

Terlalu banyak peristiwa di buku ketiga ini dan cerita di setiap bab jadi relatif lebih pendek.. banyak orang baru yang datang terus menghilang di cerita berikutnya. Banyak yang lewat sekilas aja. Tapi, emang, yang paling ‘menggemaskan’, adalah hubungan ‘gak jelas’ antara Anne dan Gilbert. Antara mau, tapi gengsi, tapi ragu. Dari awal cerita, gue udah yakin, kalo Anne dan Gilbert bakal di’takdirkan’ jadi pasangan, tapi emang, sifat Anne yang keras kepala dan gengsian bakal jadi sedikit ‘halangan’ buat Gilbert untuk terus maju. Sampai akhir, gue menanti-nanti kisah romantis mereka.

Tapi, mungkin karena udah makin gede (kaya’nya sangat dewasa dibandingkan anak-anak seusia Anne di jaman sekarang, ya?), Anne jadi gak terlalu konyol, ‘imajinasinya’ lebih dewasa. Justru teman-teman Anne yang malah keliatan lebih ke’kanak-kanak’-an. Gue jadi ‘kangen’ dengan inisiatif dan spontanitas Anne, atau kejadian-kejadian konyol, kaya’ adegan Anne kejeblos di genteng (ada di Anne of Avonlea).
Niat gue nih, gue pengen coba-coba baca Anne’s House of Dreams (sambil menanti terjemahannya)… tapi, baru baca kalimat awal.. aduh… koq bahasa Inggris-nya ‘kriting’ banget…

Read more »

Jumat, 07 Agustus 2009

Dream From My Father : Pergulatan Hidup Obama

Judul : Dream From My Father - Pergulatan Hidup Obama
Penulis : Barack Obama
Penerjemah : Miftahul Janah, dkk
Penerbit : Mizan Pustaka
Cetakan : I, Mei 2009
Tebal : 493 hlm

Gegap gempita terpilihnya Barack Obama sebagai presiden Amerika Serikat ke 44 sudah berakhir, namun hingga kini kisah kehidupan Barack Obama tetap diminati oleh banyak orang. Latar belakang keluarganya yang berasal dari Afrika, dan perjuangan Obama meraih impiannya untuk menjadi orang nomor satu di sebuah negara adidaya yang dalam kultur dan sejarahnya telah mengesampingkan kaum minoritas kulit hitam menjadi kisah yang mampu menginspirasi banyak orang.

Obama tak hanya menginpirasi dan menjadi tumpuan harapan warga kulit hitam di negara asalnya, spirit perjuangan Obama meluber melampaui batas-batas negara. Tak hanya Amerika yang bangga, kemenangannya juga dirayakan di kampung halamannya di Kenya, Afika ikut berpesta, Asia dan negara-negara di Timur Tengah ikut lega. Rakyat Indonesia yang memiliki kedekatan emosional dengan Obama pun ikut terharu karena setidaknya Jakarta, khususnya kawasan Menteng pernah ikut membentuk kepribadian Obama hingga ia menjadi seperti sekarang ini.

Nama Obama kini tercatat dalam sejarah sebagai Presiden Amerika pertama yang berasal dari kalangan kulit berwarna. Ia kini telah mencapai puncak tertinggi dalam karier politiknya. Namun tak banyak yang tahu bagaimana proses yang harus dilalui oleh Obama hingga ia menjadi seorang tokoh yang besar dan berpengaruh seperti saat ini. Melalui buku The Dream From My Father inilah semua perjuangan Obama semenjak kecil hingga ia memulai kariernya di bidang politik akan terpapar dengan jujur, gamblang, dan apa adanya.

Dalam The Dream From My Father Obama membagi kisah hidupannya dalam tiga bagian besar berdasarkan wilayah geografis dimana ia dibesarkan. Bagian Satu : Asal Usul menuturkan kehidupan Obama kecil di Indonesia, masa remajanya Hawai, Los Angeles hingga New York. Bagian Dua : Chicago, tentang embrio politiknya sebagai pekerja sosial di Chicago, dan Bagian Tiga : Kenya, mengenai perjalanan Omaba ketika menyusuri akar keluarganya di kampung halamannya di Kenya.

Ketiga bagian tersebut ditulis dengan runut dan detail. Di bagian pertama ada sebuah bab yang diberinya judul : Indonesia. Kenangan akan Indonesia tampak begitu melekat di hatinya, sayangnya hal yang paling diingatnya adalah pandangannya bahwa Indonesia adalah negara miskin. Di sekujur buku ini Obama kerap menyinggung Indonesia sebagai perbandingan ketika ia melihat berbagai kemiskinan di sekelilingnya.

Di bagian ini juga Obama mengungkapkan kehidupan masa kecilnya di Jakarta. Dibutuhkan 20 halaman bagi Obama untuk medeskripsikan pengalaman masa kecilnya bersama ayah tirinya Lolo Soentoro dan ibu kandungnya Ann Dunham. Kesehariannya bersama ayah tirinya terekam dengan kuat dan diakuinya bahwa ayah tirinya sedikit banyak telah memasukkan nilai-nilai kehidupan yang tak terlupakan hingga kini.

Figur ibu kandungnya yang sangat mempedulikan pendidikan dan masa depan anaknya juga terungkap dengan jelas, dikisahkan bahwa selama di Indonesia ibunya selalu membangunkan dan mengajari Barry (nama kecil Obama) pada dini hari jam 4 pagi agar Obama dapat menyesuaikan dengan pelajaran di sekolah Amerika jika kelak mereka kembali ke Amerika.

Seperti kebanyakan anak-anak Jakarta lainnya, Barry melewati tiga tahun masa kanak-kanaknya dengan bersekolah, lalu bermain sepanjang siang hingga malam, menerbangkan layang-layang, menangkap jangkrik, dll bersama anak petani, nelayan, hingga anak birokrat rendahan. Setelah menikmati keindahan masa kanak-kanak di Jakarta, Obama bersama ibu dan adiknya kembali ke Hawai. Di sana ia pula untuk pertama kalinya dan terakhir kalinya Obama bertemu dengan ayah kandungnya yang mengunjunginya hanya beberapa hari saja.

Di bagian kedua buku ini, dikisahkan masa remaja Obama yang dilaluinya di Hawai . Di sinilah ia mulai menyadari bahwa menjadi remaja berkulit hitam adalah hal yang berat baginya karena saat itu rasialisme di AS masih sangat kental. Ia marah dan frustasi akibat diskriminasi terhadap orang-orang kulit hitam. Namun, Barry tak mampu menuangkan amarah tersebut karena ibu dan kakek-neneknya berkulit putih. Obama juga bingung dengan identitas dirinya, hal tersebut membuat Obama gelisah dan mempertanyakan jati dirinya. Sebagai pelarian ia mulai minum minuman keras, bahkan ganja pun pernah dinikmatinya.

Untungnya berkat dorongan ibunya, Obama juga berhasil melewati masa-masa frustasi dan pencarian jati dirinya, walau sempat putus asa dan berniat berhenti sekolah ia melanjutkan sekolahnya hingga tamat dan berhasil mendapat pekerjaan yang cukup mapan di pasar saham Wall Street, New York. Namun semua itu kelak ia tinggalkan dan memilih untuk menjadi community organizer alias aktifis penggalang masyarakat di Chicago. Inilah awal karier politiknya.

Melalui pekerjaannya inilah ia mulai mengenal akar permasalahan yang dialami oleh kalangan bawah dari kulit berwarna. Dan disini pulalah semua pengalaman berpolitik Obama dan semangat perubahan yg diusung Obama hingga ke puncak kampanye Presiden berawal . Ia datangi rumah warga satu-persatu untuk mendengar masalah mereka mulai dari selokan mampat, ledeng air tak menetes, membuka lowongan pekerjaan , hingga menggalang masyarakat untuk mendemo wali kota agar mau membongkar asbes di apartemen yang diketahui terbuat dari bahan yang dapat mengganggu kesehatan mereka. Sepak terjangnya di Chicago akhirnya harus berakhir ketika akhirnya ia diterima sebagai mahasiswa di Harvard Law School.

Di bagian ketiga, dikisahkan perjalanan Obama ke tanah kelahiran ayahnya di Kenya – Afika sebelum ia masuk kuliah di Harvard. Perjalanannya ini merupakan upaya Obama untuk mencari akar keluarga dan budayanya di Afrika, Di sinilah Obama bertemu dengan adik-adik tirinya dan neneknya. Melalui mereka Obama mencoba mengenal lebih dalam tentang keluarga besar ayahnya dan bagaimana perjuangan ayahnya dari seorang anak miskin kulit hitam dari desa terpencil di Kenya yang berhasil mengejar ilmu sampai ke Amerika. Di tanah leluhurnya inilah Obama merasa menemukan kembali impian yang diwariskan ayahnya baik yang telah diraih maupun yang belum tercapai oleh ayahnya.

Buku yang merekam perjalanan hidup Obama sejak kecil hingga perjalanannya ke Kenya ini ditulis jauh sebelum Obama terpilih menjadi Presiden AS ke 44, buku yang berjudul asli Dreams from My Father: A Story of Race and Inheritance ini diterbitkan pertama kali pada tahun 1995 selepas pelantikan Obama sebagai presiden kulit hitam pertama Harvard Law of Review. Seiring popularitasnya yang kian bersinar di kancah politik, dan menyusul pidatonya yang terkenal saat Konvensi Partai Demokrat pada tahun 2004 saat Obama terpilih sebagai senator , maka buku ini dirilis ulang dengan kata pengantar tambahan dari Obama untuk edisinya kali ini .

Secara umum buku ini memang menarik dan menginspirasi pembacanya dalam hal kekuatan impian, harapan, cita-cita, persaudaraan, serta toleransi yang nyata. Bagi pembaca Indonesia tentunya bagian yang paling menarik adalah bab mengenai masa kecil Obama di Indonesia, sedangkan bagian yang agak membosankan adalah ketika Obama mengisahkan sepak terjangnya ketika menjadi aktifis penggalang masyarakat di Chicago.

Sama seperti di bagian-bagian lain, di bab ini Obama menuturkan pengalamannya secara rinci namun karena mungkin permasalahan agak berbeda dengan kondisi kita dan minimnya pengetahuan saya akan kondisi sosial di Chicago, maka bab ini terasa membosankan. Barulah ketika Obama mengisahkan perjalanannya ke Kenya, buku ini menjadi menarik lagi. Satu hal yang juga dapat mengurangi kenikmatan membaca buku ini adalah minimnya Obama menyebutkan angka tahun sehingga pembaca akan kehilangan oreintasi waktu dari kisah yang diceritakannya.

Terlepas dari hal diatas, di memoarnya ini Obama menulis dengan sangat baik, ingatannya yang kuat membuat buku ini kaya akan detail, ia juga tampak piawai dalam mendeskripsikan semua pengalamannya hingga membuat pembaca seolah ikut merasakan apa yang dialami Obama. Hal ini pula yang dipuji oleh nobelis sastra Toni Morison yang mengatakan bahwa buku ini adalah, “ Buku yang luar biasa dan unik”, sedangkan kolumnis Time, John Klein mengungkapkan bahwa buku ini merupakan, "Salah satu memoar terbaik yang pernah ditulis politikus Amerika." Pendapat mereka tak berlebihan karena buku ini menjadi buku bestseller versi New York Times, selain itu buku ini juga meraih British Book Award 2009 kategori Bigorafi Terbaik.

Bersyukur, kini terjemahan buku The Dream from my Father ini telah hadir di Indonesia. Semoga buku ini dapat menjadi buku inspiratif yang menggambarkan kekuatan impian, harapan, cita-cita, persaudaraan, dan toleransi. Melalui buku juga ini kita akan mengenal bagaimana kaum minoritas AS dalam menyikapi hidupnya dan berjuang untuk melawan ketidakadilan, hal yang relevan bagi kita yang hidup dalam masyarakat yang multikultural.

Dan terakhir, semoga buku ini juga ikut menginspirasi para politisi kita dari kalangan minoritas bahwa merekapun kelak bisa memimpin negara ini. Mungkinkah ? Obama telah membuktikan bahwa ia yang berasal dari kaum minoritas bisa menjadi pemimpin yang dapat dipercaya oleh rakyatnya.

@h_tanzil
Read more »

Jumat, 24 Juli 2009

Tintin dan Picaros

Judul : Tintin dan Picaros
Penulis : Herge
Penerjemah : Anastasia Mustika W
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Februari 2009
Tebal : 62 hlm

Dalam petualangan Tintin kali ini dikisahkan bahwa sahabatnya, Bianca Castafiore dan detektif kembar Dupont dan Dupon ditawan oleh Jenderal Tapioka saat mereka melakukan tur pertunjukan di San Theodoros Amerika Selatan. Mereka dimasukkan dalam penjara atas tuduhan ingin melakukan makar terhadap pemerintahan yang sah.

Mendengar hal tersebut, Kapten Handdock berencana menyelamatkan Castariofe, awalnya Tintin menolak ikut berangkat karena curiga bahwa ini adalah sebuah jebakan dari pemerintahan Jenderal Tapioka yang dalam pengumuman resminya menyebut nama Tintin dan kawan-kawannya sebagai kelompok yang berkerjasama dengan Jenderal Alcazar untuk menggulingkan pemerintahan Jenderal Tapioka.

Setelah Kapten Haddcok dan Prof. Lakmus berangkat, tak lama kemudian Tintin pun pergi menyusul ke San Theodoros. Awalnya mereka mendapat sambutan hangat dari Jenderal Tapioka, mereka disediakan rumah yang nyaman namun akhirnya mereka sadar bahwa rumah itu adalah penjara bagi mereka. Untunglah ketika mereka berkunjung ke sebuah Piramid mereka berhasil meloloskan diri ke hutan dan saat itulah Tintin dan kawan-kawannya bertemu dengan Jenderal Alcatraz yang bersama pasukan Picarosnya sedang bersembunyi dan menyusun kekuatan untuk menyerang Jenderal Tapioka.

Setelah lolos dari kejaran tentara Tapioka, Tintin dan Alcatraz berencana untuk membebaskan Castafiore dan sekaligus menggulingkan pemerintahan diktator Jenderal Tapioka. Sayangnya pasukan Picaros yang dikomandoi oleh Jenderal Alcatraz secara mental dan disiplin telah dirusak oleh minuman berarkohol yang sengaja dipasok oleh Jenderal Tapioka untuk menghancurkan pasukan Picaros.

Banyak orang beranggapan bahwa dalam Tintin dan Picaros negara San Theodoros adalah sebuah versi satire dari sebuah negara di Amerika Selatan yang berada dibawah kekuasaan militer dimana kudeta militer terjadi silih berganti . Kerapnya revolusi yang terjadi di negara tersebut membuat eksekusi massal dengan hukuman tembak setelah sebuah revolusi adalah sebuah tradisi.

Herge dengan jeli memasukkan tradisi tersebut dalam karyanya kali ini. Dan sikap Herge dalam tradisi miltier ini terwakili dengan jelas oleh sikap dan pandangan Tintin. Ketika Acazar berencana untuk menembak mati Jenderal Tapioka jika pasukannya berhasil menggulingkan pemerintan Tapioka. Tintin segera menolak rencana itu, untungnya ia memiliki posisi tawar yang baik dimana ia berjanji akan menyembuhkan kebiasaan pasukan Picaros dari mabuk-mabukan menjadi pasukan yang disiplin asal Alcazar berjanji untuk tidak menembak mati Jenderal Tapioka jika mereka berhasil menggulingkannya.

Alcazar tak punya pilihan dan menyetujuinya karena ia sendiri menyadari tak mungkin memimpin pasukannya ke San Theodoros jika pasukannya masih dalam keadaan mabuk-mabukan seperti saat ini. Tintin sendiri berani menjanjikan hal itu karena Prof. Lakmus telah menemukan pil yang dapat membuat seseorang tak lagi menyukai minuman berarkohol. Dengan demikian Tintin berhasil mendobrak tradisi militer yang telah mendarah daging di kalangan militer San Theodoros.

Dalam buku ini Herge juga melakukan kritik sosial yang tajam, antara lain gambaran keadaan rakyat selama diperintah Jenderal Tapioka dan setelah Jenderal Alcazar merebut kekuasaan. Jika kita mencermati panel gambar di halaman 11 dan halaman 62 akan terlihat jelas bahwa siapapun yang memimpin Negara tersebut, keadaan rakyat San Theodoros yang miskin tetap tidak berubah. Hal ini menyiratkan bahwa penguasa boleh berganti namun jika pergantian rezim dimaksudkan hanya untuk meraih jabatan dan kekuasaan semata, maka rakyat tetap saja menderita.













Petualangan Tintin dan Picaros merupakan kisah petualangan Tintin terakhir yang sempat dirampungkan Herge sebelum ia wafat. Penulisan seri terakhir ini mungkin merupakan hal yang berat bagi Herge karena saat itu kesehatannya semakin memburuk. Kabarnya Herge mendapat ilham untuk menulis Tintin dan Picaros dari perjuangan Fidel Castro di Cuba.

Herge mulai mengerjakan PICAROS tahun 1973 dan selesai tiga tahun berikutnya. Seperti telah menjadi kebiasaannya untuk menggunakan referensi dari berbagai tempat di berbagai belahan dunia sebagai setting kisahnya, dalam Picaros ia terinpirasi oleh Piramid Maya suku Aztek, suku Indian Brazil Harik dan perkampungan Indian Venezuela .

@h_tanzil
Read more »

Rabu, 22 Juli 2009

Gaul Jadul

Gaul Jadul: Biar Memble Asal Kece
Q Baihaqi
GagasMedia, 2009
280 Hal.

Wahhhh… membaca buku ini, gue serasa ‘terlempar’ lagi ketika gue masih SD. Yup, buku ‘Gaul Jadul’ ini menuliskan tentang apa-apa yang in, yang trend dan happening di tahun 80-an. Mulai dari musik, film, buku, makanan, sampai program-program pemerintah di tahun 80an dibahas di sini. Cover-nya aja ada bling-bling disco ball.

Gue pun sempet terkikik-kikik sendiri, membayangkan gaya gue sendiri di tahun 80an itu. Tapi, maklum deh, karena gue masih SD, gue belom terlalu asyik bergaya-gaya. Yang gue inget (dan dibahas di buku ini), setiap malem minggu, gue wajib nonton film akhir pekan, padalah filmnya bukan untuk anak-anak sih. Gue nonton tuh, film Gita Cinta-nya Rano Karno and Yessy Gusman. Gue pernah ‘ngumpet’ di balik rambut megar tante gue, kalo nonton film serem.

Kalo hari Minggu, acara mulai dari Unyil, terus, acara musik Album Minggu Ini, lalu ada film siang-siang deh. Pernah waktu siang-siang itu ada film Oliver Twist. Nah, ketika itu tv di rumah gue lagi rusak. Kalo dinyalain, harus nunggu lama dulu, baru deh, bener-bener nyala. Dan untungnya, pas lagi film Oliver Twist, si tv hanya ngadat sebentar, jadi kita gak ketinggalan lama untuk nonton film itu.

Satu lagi, biar masih sd, kalo malem gue suka ikutan nonton Charlie’s Angels, Hunter, Remington Steel, terus, sempet ngikutin Dynasty sama Return to Eden. Kalo Little Missy sama Isaura, kaya’nya itu tontonan Nenek gue, deh. Oshin juga wajib untuk ditonton. Karena itu pas jamnya belajar ngaji di rumah, sempet kita nonton Oshin dulu, baru ngajinya dilanjutin. Ow, tentu saja gak ketinggalan serial Losmen, Pondokan, Sartika(?)

Untuk musik, gue belom terlalu ngikutin. Paling sebatas acara Aneka Ria Safari. Tapi, buku… buku-buku Enid Blyton, harus ada di lemari buku gue. Mulai dari Lima Sekawan, St. Claire, si Badung sama Malory Towers. Gue sempet pengen banget sekolah di tempat kaya’ Malory Towers. Dan sekarang, gue menyesal udah menghibahkan buku-buku itu ke sodara gue.

Acara radio yang nyaris gak pernah absen gue ikutin adalah siaran ‘Diary’ sama ‘Catatan si Boy’ di radio Prambors. Tapi, kalo ‘Diary’ buntutnya suka serem sih ceritanya, dan ‘Catatan si Boy’ sukses bikin gue pengen cowok seperti dia. Siapa yang gak mau punya cowok keren, tajir, alim lagi pula pintar? Huehehehe…

Kenapa jadi ngebahas gue ya?? Hehehe… tapi, mari kita bahas bukunya. Gue bukan penggemar buku-buku non-fiksi, jadinya, gue sedikit menganggap buku ini garink. Mau lucu-lucuan, juga kurang kena. Mau santai, sedikit deh. Gue sih, seneng aja, membacanya, buat mengenang masa lalu. Ada yang kurang, kaya’ model baju, kaya’nya hanya dibahas sekilas di film-nya mas Boy, model-model kondang jaman 80an gak disebut-sebut. Terus, aduuhh.. tadi gue inget tuh apalagi yang kurang… tapi, koq jadi lupa ya?? O ya, tempat-tempat gaul yang happening juga gak ada (semoga gue gak terlewat). Atau, lagi saat-saat demam badminton kalo ada kejuaraan Piala Thomas atau Piala Uber… kan seru juga tuh kalo ditulis. Pahlawan olahraga jaman 80an juga gak ada. Tapi, ya, mungkin emang gak bisa dibahas abis di sini kali ya…

Yang pasti, gue ngelewatin bagian ‘Bayi Ajaib’ sama ‘Suzanna’… gue gak mau pas mau tidur, gue terbayang-bayang.. hehehehe..

Sebagai debut pertama… Babah Q, boleh juga… mungkin bisa dibuat buku jilid 2-nya? Meskipun banyak bagian yang kriuukkkk…

Read more »

Selasa, 21 Juli 2009

Istana Kedua

Istana Kedua
Asma Nadia
GPU, Agustus 2007
248 Hal.

Membaca buku ini membuat gue ‘gregetan’ dengan para kaum pria – lebih spesifik lagi: pria-pria yang sudah beristri. Gue bukan penganut poligami, makanya gue sedikit mempertanyakan (lagi-lagi), apa sih alasan pria berpoligami?

Di buku ini, ada seorang Arini. Kalau dari luar, kehidupan rumah tangganya bisa bikin orang iri. Punya tiga anak yang lucu, pintar dan baik, suami bernama Pras yang digambarkan sebagai sosok pria yang sabar, penuh kasih sayang dan perhatian. Mereka bertemu sekilas di tangga masjid ketika Arini mencari sepatunya yang hilang. Sebetulnya, Pras adalah teman kakak Arini. Dulu Pras kecil sering bermain-main dengan Arini kecil. Tapi, ternyata, Arini malah lupa sosok Pras ketika beranjak dewasa.

Arini adalah seorang penulis. Dia sering berkhayal tentang dongeng-dongeng indah dengan tokoh pangeran tampan dan putri yang cantik jelita. Pras adalah sosok pangeran tampannya. Pernikahan mereka berlangsung ‘kilat’. Kehidupan mereka terbilang mulus tanpa konflik yang berarti.

Lalu, ada lagi sosok Mei Rose. Perempuan yang mungkin bisa dibilang mirip Betty La Fea. Keturunan Cina, anak yatim piatu yang tinggal dengan bibinya yang galak. Mei Rose sosok yang kuper, cenderung menarik diri dari pergaulan karena sadar akan sosoknya yang kurang menarik. Bibinya juga memperlakukannya sangat kasar.

Hingga suatu hari, seorang pemuda datang menghampirinya, lalu sering memuji Mei Rose. Mei Rose pun terlena. Ia mulai mencoba berubah, tanpa sadar bahwa pria itu hanya ingin kesenangan semata. Benih laki-laki itu tumbuh dalam diri Mei Rose yang sama sekali tak menghendakinya.

Ia nekat kirim email yang isinya mencari laki-laki beristri yang bersedia menikahinya. Ia hanya butuh ayah ‘sementara’ agar anak yang ia benci tidak lahir tanpa ayah. Email itu mengundang caci-maki yang menuduhnya perempuan yang tak tahu malu, tak punya perasaan.

Sampai, akhirnya jalan terakhir ditempuh.. ia ingin mati…

Tapi, beruntung, seorang pria (sangat) baik hati, menyelamatkannya… bahkan bersedia mengakui dirinya sebagai suami Mei Rose.

Pras-lah pria itu… menikah diam-diam… Arini tak mengetahuinya.

Kenapa ya, mbak Asma Nadia gak menggambarkan sosok perempuan yang lebih mau ‘fight’? Kenapa harus sosok yang cenderung ‘pasrah’, ‘nrimo’? Gue pengen banget bisa sedikit ‘menitikkan air mata’, tapi karena gemes jadi gak bisa. Endingnya, ya udah gitu aja… kaya’nya emang, dari sikap Pras, gak butuh lagi penjelasan apa-apa buat Arini, biar bisa lebih ngerti…

Read more »

Anne of Avonlea

Anne of Avonlea
Lucy M. Montgomery
Maria M. Lubis (Terj.)
Qanita, Cet. 1 - 2009
432 Hal.

Ketemu lagi sama Anne… kekocakan, kekonyolan apalagi yang bakal diperbuat sama Anne? Apa dengan makin gede, sifat ceroboh, gak sabarannya bakal berkurang? Yuk… yuk… mari kita ikutin cerita Anne kali ini.

Anne, sekarang berumur 16 tahun. Jadi ibu guru. Dia memilih tinggal bersama Marilla daripada terus melajutkan sekolahnya. Anne yang idealis, bilang, dia akan melakukan pendekatan dari hati-ke-hati untuk menaklukkan murid-murid yang nakal, bukan dengan pukulan atau hukuman yang keras. Anne masih gadis yang penuh ‘imajinasi’ dan terus mencari ‘teman sejiwa’nya.

Berbagai peristiwa terjadi – baik yang hanya berpengaruh di Green Gables atau di Avonlea secara keseluruhan.

Green Gables kedatangan dua tamu cilik – si kembar Davy dan Dora Keith – anak dari kerabat Marilla yang meninggal dunia. Uniknya, meskipun kembar, sifat keduanya jauh berbeda. Dora Keith, anak perempuan yang manis, yang selalu penurut dan pendiam. Sedangkah, Davy Keith, anak laki-laki yang nakal, tapi polos, dia selalu punya jawaban atas apa yang dia lakukan. Davy juga anak yang pengen tahu banyak hal, mirip sama Anne waktu baru dateng ke Green Gables dulu.

Selain itu, banyak pendatang baru lain di Avonlea. Contohnya, Mr. Harrison, tetangga baru Anne dan Marilla, yang kata orang pemarah dan jorok. Ada kejadian lucu yang akhirnya membuat Anne dan Mr. Harrison berteman baik.

Di sekolah, Anne berusaha keras jadi guru yang baik. Tapi, ternyata, susah juga ‘mengendalikan’ anak-anak jadi seperti yang Anne mau tanpa kekerasan. Satu anak yang nakal dan jelas-jelas menunjukkan kebenciannya adalah Anthony Pye. Anak-anak keluarga Pye memang terkenal sebagai anak-anak yang kerap bikin masalah. Dari awal, semua orang bilang, kalau gak bisa bikin Anthony Pye jera hanya dengan kata-kata lembut harus dengan pukulan keras di pantat. Tapi, Anne tetap kukuh dan yakin ia bisa membuat Anthony Pye jatuh hati dengan caranya sendiri. Ternyata, Anne harus menelan kekecewaan karena ia tidak bisa membuktikan kata-kata itu dan ia sangat menyesalinya.

Jiwa romantis Anne berhasil mempertemukan sepasang kekasih yang sempat berpisah jauh dan lama. Di sekolah, ada murid baru bernama Paul Irving. Paul yang pemalu dan cerdas dari awal sudah membuat Anne jatuh hati. Ia kerap menjadikan Paul sebagai ‘role mode’ bagi Davy biar gak nakal. Ibu Paul sudah meninggal dan ayahnya tinggal di Boston karena pekerjaannya. Di Avonlea, Paul tinggal bersama neneknya. Suatu hari, ketika sedang berjalan-jalan dengan Diana, mereka berdua nyasar ke sebuah pondok mungil yang indah, kediaman Ms. Lavender. Nah.. .di sini Anne bener-bener ketemu teman sejiwanya… hehehe… Lewa pertemuan ini, Anne jadi tahu kisah cinta antara Mr. Lavender dan ayah Paul Irving.

Anne yang mulai beranjak remaja juga mulai berpikir tentang cowok idamannya. Bersama Diana Barry, Anne sepakat, bahwa pria idamannya adalah seperti pria-pria yang ada dalam novel favorit mereka, pria dengan tatapan mata sayu dan penuh kata-kata manis. Hahaha.. sampai-sampai Anne jadi gak sadar kalau ada yang diam-diam memperhatikannya… hmmm… siapakah dia???

Gak hanya peristiwa kocak, bahagia yang ada di dalam kisah Anne kali ini. Ada juga kisah sedih dan menggemparkan, misalnya kematian Mr. Thomas Lynde dan badai yang memporak-porandakan Avonlea. Anne juga harus kembali pergi dari Avonlea untuk memperjuangkan cita-citanya yang sempat tertunda.

Dibandingin yang pertama? Hmmm… agak beda ya.. Kalo di Anne of Green Gables, Anne masih kecil, dalam proses penyesuaian, perkenalan dan sangat gak sabaran. Kalo di Anne of Avonlea, Anne udah lebih dewasa, masih sih, suka ‘grabak-grubuk’ – ‘sradak-sruduk’, tapi, itu tuh yang bikin Anne jadi kocak. Biar udah ‘sok’ dewasa, tapi, di dalam hatinya, masih ada jiwa ‘anak-anak’ di dalam hatinya. Beneran lho… gue ketawa-tawa sendiri waktu peristiwa ‘salah sapi’ sama waktu Anne kejeblos di atap gara-gara mau liat piring antik.

Read more »

Kamis, 16 Juli 2009

His Wedding Organizer

His Wedding Organizer
Retni SB @ 2008
GPU – Cet. II, September 2008
272 Hal.

Harsya, salah satu ‘pemegang saham’ di sebuah wedding organizer yang lumayan ngetop di kota Semarang. Meskipun gak jauh-jauh dari urusan pernikahan, ternyata Harsya sendiri belum berpikir ke arah sana. Bukan gak punya pacar, tapi, sang kekasih ini masih disembunyikan alias belum go public. Satu-satunya teman dekat cowok yang sering terlihat bersama Harsya, adalah Adra, teman dari kecil, mantan tetangga, fotografer dan juga salah satu penanam modal di Puspa Tiara.

One day, datang order besar yang kaya’nya bakal jadi mission impossible. Karin, teman SMA Harsya, yang dulu tak ada tanda-tanda bakal menikah duluan karena pemalu, menghubungi Harsya dan meng-hire-nya sebagai WO untuk pernikahannya. Temanya adalah “Little Mermaid”. Karin pengen ‘membawa’ alam bawah laut ke dalam pesta pernikahannya, harus dengan air sungguhan bukan sekedar background! Belum lagi pusing memikirkan gimana konsepnya nanti, ternyata Harsya harus menerima satu kenyataan pahit. Calon suami Karin tak lain adalah pacar Harsya sendiri, Figo… pengusaha muda yang sukses di kota Semarang.

Mission impossible jadi ada dua – mempersiapkan pernikahan yang extraordinary plus menghadapi sang calon pengantin yang (mantan) pacar sendiri. Untung ada Adra, yang selalu siap jadi ‘tong sampah’ setiap Harsya lagi ada masalah. Meskipun begitu, untuk kali ini, Harsya gak siap untuk cerita apa yang sebenarnya terjadi pada Adra.

Ketika masih sama-sama di sekolah, Harsya and the gank sempat ngerjain Karin dan bikin Karin malu. Nah, untuk ‘menebus’ dosa mereka, Karin minta mereka berjanji kalau di antara mereka, ternyata yang menikah adalah Karin duluan, Harsya and the gank harus pake kostum bikini dengan sayap peri di punggung mereka. Harsya sempat panik, karena ternyata memang Karin duluan yang married, tapi, dengan Karin sedikit berbaik hati untuk menghapus ‘hukuman’ itu, tapi menggantinya dengan ‘hukuman’ lain, yaitu, harus membawa calon suami ke pesta pernikahan Karin nanti.

Di sini masalah yang lebih rumit pun dimulai. Harsya meminta Adra berpura-pura jadi pacarnya, tapi Adra gak tau kalo di balik itu ada permainan lain. Orang-orang Puspa Tiara langsung terkejut melihat kemesraan Harsya dan Adra, kabar ini pun langsung sampai ke telinga orang tua mereka yang juga berteman dekat.

Demi menjaga perasaan orang tua mereka, Harsya dan Adra sepakat melanjutkan ‘kerja sama’ mereka, sampai gak sadar, kalau mereka sebenarnya juga sudah saling jatuh cinta. Tapii… masalah muncul lagi. Figo kembali masuk ke dalam kehidupan Harsya, dengan alasan pernikahannya tidak bahagia, Harsya kembali terjebak dalam rayuan Figo. Adra marah dan menghilang. Harsya jadi kelimpungan…

Setelah gue baca, ceritanya gak jauh beda sama ‘Perempuan Lain’-nya Kristy Nelwan yang beberapa waktu lalu gue baca. Tentang cewek yang susah banget ‘jatuh cinta’, tapi ternyata sekalinya ketemu, malah harus jadi ‘selingkuhan’, dan deket sama temen cowok dari kecil sampe gak sadar kalo sebenernya he is the one-nya si cewek.

Read more »

Minggu, 12 Juli 2009

The Gargoyle

Judul Buku : The Gargoyle
Penulis : Andrew Davidson
Penerjemah: Ary Nilandary
Penerbit : Penerbit Kantera
ISBN: 978-979-1924-0-1-6
Cetakan : I, Juni 2009

Seorang Porn Star yang sedang berada dalam puncak kariernya mengalami kecelakaan lalu lintas, mobilnya masuk jurang dan terbakar. Untungnya, walau tepanggang bersama mobilnya dan api membakar kulit, daging, hingga menembus masuk ke tulang dan tendon, nyawanya berhasil diselamatkan.

Setelah melewati masa kritis dan koma selama dua bulan, akhirnya ia sadar. Namun ia harus menanggung akibat dari luka bakar di sekujur tubuhnya. Wajah tampan dan tubuh atletis yang merupakan modal utamanya sebagai aktor film porno hilang sudah, berganti dengan wajah yang rusak, dan tubuh yang penuh parut luka permanen yang tak mungkin bisa hilang. Selain harus kehilangan beberapa jari tangan dan kakinya, ia juga ia harus rela kehilangan penis kebanggaanya yang terbakar habis. Dokter yang menyelamatkan nyawanya tak berhasil mempertahankan kemaluannya yang telah hangus garing menyerupai sumbu terbakar.

Semuanya itu membuat harga dirinya hancur. Kariernya sebagai seorang aktor dan produser film porno tamat sudah. Karenanya saat ia melewati berbagai terapi pemulihan dan aneka operasi yang menyakitkan, diam-diam ia berencana untuk melakukan bunuh diri setelah keluar dari rumah sakit.

Ditengah dorongan untuk mengakhiri hidupnya itulah datang seorang wanita bernama Marianne Engel, seorang pematung Gargoyle (patung monster yg biasanya berfungsi sebagai talang air di bangunan-bangunan kuno) yang pada saat itu sedang dirawat di rumah sakit yang sama karena menderita schizofernia. Wanita itu mengaku telah mengenalnya sejak tujuh ratus tahun silam. Ia menghampiri pria itu dan berkata: “Kau telah terbakar lagi.”

Selama pria itu dirawat di rumah sakit Mariana Engel kerap mengunjunginya dan sedikit demi sedikit menceritakan kisah cinta mereka di masa lalu. Ia mengungkapkan bahwa mereka sebenarnya telah hidup dalam ikatan cinta selama ratusan tahun yang lalu. Di kehidupan masa lalunya, di abad ke 14, Mariana Engel adalah seorang biarawati yang bertugas menyalin dan menerjemahkan buku di skiptorium biara Engethal, sementara si aktor porno adalah seorang tentara bayaran. Mereka bertemu ketika si pria yang terluka dan terbakar akibat panah berapi yang menancap di tubuhnya dibawa oleh temannya ke biara Engethal untuk mendapat perawatan.

Sama seperti di kehidupan masa lalunya, Mariana Engel kini merawat si pria hingga sembuh. Seluruh biaya rumah sakit ditanggungnya dan selepas dari rumah sakit, ia mengajak si pria untuk tinggal di rumahnya. Selama mereka hidup bersama, Mariana Engel tetap menceritakan berbagai pengalaman yang mereka lalui di kehidupan masa lalunya. Ia juga menceritakan berbagai dongeng cinta yang indah, menggugah, dan penuh pengorbanan pada si pria tersebut.

Di kehidupan masa lalunya, Marianne Engel pernah hampir terengut nyawanya untuk menyelamatkan si pria. Namun di tengah sakratul maut ia diberi kesempatan untuk tetap hidup dengan sebuah syarat. Ia diberi ribuan jantung yang harus dibagikannya sampai habis, sedangkan jantung terakhirnya harus diberikan pada kekasihnya di kehidupannya kelak.

Di kehidupannya kini, Mariana Engel memberikan jantung-jantungnya pada patung-patung gargoyle yang dikerjakannya. Ratusan patung telah dikerjakannya dan kini masanya telah hampir habis, kepada siapa ia akan memberikan jantung terakhirnya?

Melalui kisah cinta mereka di masa lalu, dan lima dongeng cinta yang menggugah yang diuturkan oleh Marianne Engel, membuat si pria mendapatkan kembali semangat hidupnya. Niatnya untuk melakukan bunuh diri sirna sudah. Pengorbanan Marianne Engel baik di kehidupan masa lalunya maupun masa kini yang merawat dan menerima dirinya yang telah cacat secara apa adanya membuat si pria terseret dalam arus pusaran cinta.

Benarkah Marianne Engel dan si pria sebenarnya telah hidup selama tujuh ratus tahun? Apakah ini hanya khayalan gila Marianne yang pernah dirawat karena schizofernia-nya? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang mungkin timbul dalam benak pembaca selama membaca novel gemuk yang memikat ini. Tampaknya penulis sengaja tak memberikan penjelasan gamblang atas hal tersebut dan membiarkannya menjadi misteri dan memberi keleluasaan bagi pembaca untuk menafsirkannya dan mengembangkan imajinasinya sendiri.

Dengan memikat penulis mengajak pembacanya untuk berkelana melintasi waktu, berpindah-pindah dari dari abad pertengahan dan masa kini. Mengunjungi berbagai nergara seperti Jerman, Jepang, Italia, Islandia, Inggris, dan yang paling menarik adalah perjalanan menuju Neraka seperti yang digambarkan Dante Alighieri dalam Inferno.
Novel ini juga memadukan kisah cinta yang penuh pengorbanan dengan penggalan sejarah, filsafat, dan kehidupan biarawati lengkap dengan skiptoriumnya. Lalu disinggung pula mengenai sejarah reproduksi Alkitab dalam bahasa Jerman, sejarah penerbitan dan penerjemahan karya monumental Divine Comedy – Dante Alighieri.

Semua hal itu membuktikan bahwa novel ini dikerjakan dengan riset yang sangat dalam. Beberapa tokoh abad pertengahan dan beberapa peristiwa yang menyertainya memang benar-benar ada dan terjadi. Selain itu pembaca juga mendapat bonus pengetahuan mengenai luka bakar dan penanganan medisnya. Berbagai materi tersebut membuat novel ini sangat berpotensi untuk menambah wawasan pembacanya.

Penulis juga dengan piawai menghidupkan karakter kedua tokoh utama dalam novel ini dengan menarik. Baik Marianne Engel maupun si pria mendapat porsi yang sama dalam pendalaman karakter. Dengan sabar dan rinci penulis mendeskripsikan latar belakang kedua tokoh ini sejak kecil hingga kini lengkap dengan pergulatan batin yang mereka hadapi. Semuanya ini membuat pembaca memperoleh gambaran utuh mengenai tokoh dan kisah yang dibangun dalam novel ini.

Ragamnya aspek materi, cerita, serta lompatan-lompatan waktu dari masa lalu ke masa kini tentunya membuat pembaca harus sedikit lebih konsentrasi dalam membaca novel ini, belum lagi ditambah dengan selipan beberapa dongeng mengenai cinta sejati yang dituturkan oleh Mariana Engel pada si pria. Untungnya perpindahan waktu, setting, dan kisahnya tersaji dengan rapih sehingga pembaca sadar ke waktu dan kisah mana mereka sedang berada.

Kisah cinta yang dahsyat, penggalan sejarah abad pertengahan, karakter tokoh yang menarik, dan unsur medis penanganan luka baker yang terdapat dalam novel ini diramu sedemikian rupa sehingga menghadirkan kisah yang menarik dan sulit untuk dilupakan. Tak heran jika novel perdana Andrew Davidson ini langsung meraih sukses ketika pertama kali diterbitkan di tahun 2007. Selain memperoleh penghargaan sebagai Fist Fiction Award 2008, novel ini juga masuk dalam beberapa daftar best seller seperti di New York Time Best Seller, Publisher Weekly Best Seller, Canadian Best Seller, dll. Akankah novel ini menuai sukses di Indonesia?

Terjemahan yang sangat baik, cover yang menarik dan promosi yang gencar tentunya diperlukan agar novel ini juga dapat terbaca oleh para pecinta sastra dan menjadi best seller di Indonesia. Nama Andrew Davidson mungkin masih terasa asing didengar oleh para pecinta novel fiksi di Indonesia karenanya sangat disayangkan pada edisi terjemahannya tak disertakan keterangan apapun mengenai penulisnya.

Tentang Penulis

Andrew Davidson (lahir, 12 april 1969) adalah penulis kelahiran Kanada lulusan University of British Columbia jusrusan Sastra Inggris, Ia pernah tinggal di Jepang dan bekerja sebagai guru dan penulis dari English lessons for Japanese Web sites. The Gargoyle adalah novel pertamanya yang ditulis dengan melakukan riset mendalam selama tujuh tahun lamanya. Novel ini pertama kali diterbitkan di Amerika oleh penerbit Doubleday pada tahun 2007, lalu menyusul oleh Random House di Canada, Canongate di Inggris, Text di Australia, dll, Kini Davidson tinggal di Winnipeg, Manitoba, Canada.

@h_tanzil
Read more »