Minggu, 28 Februari 2010

Susanna Sees Stars

Susanna Sees Stars
Mary Hogan @ 2006
Simon & Schuster - 2006
247 Hal.

Layaknya para ABG, Susanna Barringer tergila-gila dengan segala hal yang berbau selebritis. Sebuah hal yang tidak didukung oleh orang tuanya yang rada-rada hippie. Ayah Susanna adalah seorang ilmuwan, ibunya seorang manager di sebuah pertokoan besar.

Di liburan musim panas kali ini, Susanna yakin ia akan segara menjemput impiannya. Ketika ia diterima sebagai pegawai magang di majalah Scene, Susanna yakin ini adalah awal karirnya yang cemerlang dan sebuah kesempatan untuk bertemu dengan selebritis yang selama ini hanya ia lihat di majalah.

Susanna menyiapkan dirinya dengan sesempurna mungkin, bersiap-siap dengan segala ide-ide cemerlang yang ia yakin akan membuat bos-nya, Nell Wickham, melihat potensi dirinya yang tersembunyi.

Semangat Susanna yang mengebu-gebu di awal, lama-lama luntur. Nell, si boss, hanya memerintah dia melakukan hal-hal sepele banget dan gak ada hubungannya sama kerjaan, seperti beli kopi di Starbucks, beli bunga yang harus lain-lain setiap hari, ngajak anjingnya jalan-jalan, terus, nyari eyeshadow kuning yang harus sama dengan kelopak bunga.

Kadang Susanna udah gr duluan kalo dipanggil Nell ke ruang meeting, ternyata dia hanya disuruh membeli kopi pesanan seluruh peserta meeting di Starbucks. Keinginannya untuk bertemu selebritis idolanya seolah pupus begitu saja. Bahkan, ketika ia menyebutkan nama Randall Sanders sebagai idolanya, Susanna malah jadi bahan tertawaan. Susanna butuh Plan B.

Bersama Amelia, sahabatnya, Susanna menyusun sebuah rencana. Ia harus mencari berita yang akan membuat Nell akhirnya melirik potensi dirinya.

Sekilas gue merasa buku ini mirip The Devil Wears Prada dalam versi remaja. Susanna mirip Andrea yang awalnya nyaris tidak dilirik boss-nya yang sama-sama dijuluki ‘Anna Wintour Wannabe’, sering disuruh-suruh hal yang gak jelas gak hanya oleh boss-nya, tapi juga dimanfaatkan rekan sekerjanya, tapi endingnya bisa nunjukin kalo dia juga bisa ‘berguna’. Ternyata masih ada lanjutan kisah si Susanna Barringer ini, tapi rasanya gue gak terlalu tertarik untuk membaca kisah berikutnya. Satu-satunya yang gue suka adalah covernya.
Read more »

Six Suspects

Six Suspects
Vikas Swarup @ 2008
Black Swan - 2009
575 Hal.

Jika orang biasa – katakanlah supir taksi, pengemis, atau karyawan biasa – tewas dalam kecelakaan atau terbunuh, tidak akan menjadi sebuah berita besar, karena dianggap itu adalah hal-hal yang biasa, tidak istimewa. Tapi, ketika seorang pejabat, anak pejabat, selebritis tewas karena hal yang sama, semua media akan secara besar-besaran memberitakan hal tersebut.

Demikian saat Vicky Rai tewas. Vicky Rai, anak seorang menteri yang berpengaruh di India, tewas dalam pesta yang diselenggarakan untuk merayakan bebasnya Vicky Rai dari tuduhan membunuh seorang pramusaji bar bernama Ruby Gil. Vicky Rai sendiri memang bukan orang yang ‘bersih’. Berkali-kali ia lolos dari jerat hukum berkat posisi ayahnya.

Jaganath Rai sendiri, sang menteri, kerap melakukan permainan ‘kotor’. Siapa saja yang berani-berani menghalangi jalannya, akan segera dihabisi – entah polisi, entah sesama politisi yang masih berusaha bersikap idealis.

Dalam kasus ini, ada 6 orang tersangka. Seorang jurnalis investigasi, Arun Advani, berusaha mengungkapkan kasus ini (jadi inget Mikael Blomkvist).

Keenam orang tersangka itu adalah: Mohan Kumar - mantan sekretaris Jaganath Rai; Shabnam Saxena – aktris Bollywood papan atas yang jadi ‘incaran’ Vicky Rai; Munna Mobile – seorang pencuri handphone; Larry Page – warga negara asal Amerika yang datang ke India untuk menemui ‘calon pengantin’ yang hanya ia kenal lewat surat-menyurat dan foto; Eketi – penduduk sebuah suku di pedalaman India; and the last but not least, adalah sang menteri sendiri, ayah dari Vicky Rai – Jaganath Rai.

Layaknya sebuah penyelidikan, ada tersangka, ada motive, ada penyelesaian kasus dan akhirnya ada sebuah ‘kebenaran’, begitulah pembagian bab-bab dalam buku ini. Kita diajak mengenal siapa sih sebenarnya para tersangka itu – gimana keseharian mereka, apa yang membuat mereka akhirnya ‘terhubung’ dengan Vicky Rai dan bagaimana mereka bisa ada di pesta tersebut.

Buku ini nyaris membuat gue gak tidur, males kerja (pengennya ngumpet di kamar mandi, biar bisa baca buku ini… hehehe…). Bener-bener bikin penasaran. Kalo Mikael Blomkvist berperan ‘aktif’ sepanjang buku, di buku ini, Arum Advani hanya muncul di awal dan di akhir, itupun berupa bentuk kolom yang ditulisnya di koran. Pembaca yang diajak ‘aktif’ untuk menelusuri kasus ini, menduga siapakah yang sebenarnya menembak Vicky Rai berdasarkan latar belakang dan motif-motif yang dipaparkan sepanjang buku ini. Bagian ‘The Suspects’ dan ‘The Motives’ memang mendapatkan porsi yang besar dalam buku ini.

Tapi, kerennya buku ini lagi, ketika udah sampai ‘kesimpulan’ siapa pelaku sebenarnya, tiba-tiba muncul sebuah ‘teori’ baru yang mematahkan bahwa tersangka yang ditangkap polisi bukanlah pelaku yang sebenarnya. Dan ketika kita (well.. paling nggak gue) mulai percaya dengan teori baru itu dan mulai mengangguk-anggukan kepala, sambil berkata. “Ooo… jadi dia pelakunya. Hmm.. iya juga sih…” tau-tau, ada lagi fakta baru yang menunjukkan pelaku sebenarnya. Ending-nya, gue harus menebak-nebak sendiri siapa pelaku sesungguhnya.
Read more »

Selasa, 23 Februari 2010

Lasmi (Nusya Kuswantin)

Judul : Lasmi
Penulis : Nusya Kuswantin
Penerbit : Kakilangit Kencana
Cetakan : 1, November 2009
Tebal : 232 hlm


Lasmi adalah sebuah novel suram berlatar belakang sejarah kelam Indonesia di tahun 1965. Walau sudah ada beberapa novel yang mengambil setting sejarah di masa-masa itu, novel Lasmi tetaplah menarik untuk disimak dan diapresiasi.

Kisah Lasmi diceritakan melalui tuturan Tikno, suami Lasmi yang berprofesi sebagai guru, sedangkan Lasmi sendiri di mata suaminya adalah wanita yang cerdas dan berpikiran progresif. Kegemarannya membaca buku membuat dirinya memiliki wawasan berpikir yang luas, berani melawan arus, berjuang dalam hal kesetaraan perempuan dan pria, dan memiliki cita-cita luhur untuk memajukan pendidikan dan pengatahuan warga kampungnya.

Awalnya Lasmi berjuang sendiri dengan mendirikan TK dan sekolah menjahit, namun ketika akhirnya ia mencari seorang guru jahit, ia bertemu dengan Sumaryani seorang kader Gerwani. Melalui Sumaryani lah akhirnya Lasmi ikut menjadi kader Gerwani karena di mata Lasmi Gerwani adalah organisasi perrempuan yang mempunyai cita-cita luhur seperti dirinya yaitu berjuang demi kesetaraan perempuan.
Namun siapa sangka, sebuah tragedi politik menyebabkan PKI dianggap sebuah partai yang paling bertanggung jawab terhadap Gerakan 30 September 1965. Akibatnya PKI dan organisasi bentukannya termasuk Gerwani menjadi organisasi terlarang dan harus ditumpas hingga ke akar-akarnya termasuk orang-orang yang berada di dalamnya.

Hal ini membuat Lasmi dan keluarganya berusaha menyelamatkan diri, ia hidup berpindah-pindah tempat guna menghindari kejaran masa terhadap dirinya. Hal ini terus berlangsung hingga akhirnya sebuah tragedi membuat Lasmi tersadarkan dan mengambil takdirnya sendiri, Ia membuat sebuah keputusan yang tidak terduga demi kehormatan dirinya dan demi pembelajaran bagi banyak orang atas peristiwa yang paling keji yang pernah dialamai bangsa yang berasazkan keTuhanan dan perikemanusiaan ini
Kisah kehidupan Lasmi inilah yang tertuang dalam novel ini, dimulai dari perkenalan Lasmi dengan Tikno saat Pemilihan Majelis daerah tahun 1957, pernikahannya, kelahiran anak semata wayangnya, hingga fase kehidupannya yang harus berpindah-pindah untuk menghindari kejaran masa dan berujung saat Lasmi akhirnya mengambil keputusan yang sama sekali tak terduga olehj siapapun.

Di bagian-bagian awal kita akan disuguhkan pengenalan karakter Lasmi menurut pandangan suaminya. Di bagian ini kita akan melihat karakter Lasmi yang tampak begitu maju, modern dan progresif. Pandangan kaum komunisme yang begitu menghargai kerja petani tampak dalam bagaimana cara Lasmi mendidik anak-anak didiknya yang berdoa sebelum makan, alih-alih berterima kasih pada Tuhan, ia mengajarkan agar mereka berterima kasih pada petani yang telah bekeja mengolah padi menjadi beras.Pandangan-pandangan progresif Lasmi soal kesetaraan perempuan dalam pernikahan, pendidikan anak, dll juga mewarnai sekujur novel ini.

Di novel ini juga pembaca akan disuguhkan berbagai fakta sejarah seperti konforntasi dengan Malaysia, demonsrtasi anti Indonesia di Kuala Lumpur, pembentukan angkatan kelima, hingga cuplikan Dekrit Dewan Revolusi. Dan yang mengejutkan adalah munculnya cuplikan pidato Bung Karno “Tahun Vivere Pericoloso” yang diselipkan dalam novel ini.

Secara keseluruhan saya menikmati novel ini, pandangan-pandangan kaum progeresif revolusioner yang biasanya yang baca dalam teks-teks non fiksi kini dituangkan dalam ranah fiksi sehingga terkesan lebih hidup dan membumi. Berbagai fakta sejarah baik yang tercatat maupun yang tidak tercatat di buku-buku teks seperti gosip tentang jari telunjuk Bung Karno ketika sedang berpidato atau betapa kejinya peristiwa pembantaian orang-orang PKI d bisa ditemui di novel ini. Tak hanya itu penulis juga memasukkan sedikit tradisi setempat seperti dalam hal pernikahan, kelahiran anak, dll. Walau tak banyak tapi cukuplah untuk menambah wawasan.

Yang disayangkan dalam novel ini adalah kurang tereksplorasinya karakter dan konflik batin yang dialami Lasmi, karena dituturkan melalui sudut pandang suaminya, otomatis hanya sedikit konlik batin Lasmi yang terungkap. Walau pada akhirnya ada surat panjang Lasmi untuk suaminya tapi hal ini tentunya tidaklah cukup, akan lebih menarik jika Lasmi sendiri diberi kesempatan lebih banyak untuk menuturkan kisahnya sendiri sehingga konflik batin yang dialami Lasmi akan lebih tereksplorasi dengan baik
Penulis juga tampaknya kurang sabar dalam mengembangkan kisah Lasmi ini. Ada banyak hal yang sebetulnya bisa dikembangkan lebih dalam lagi. Kisah pelariannya tampak kurang tereksplorasi dengan baik. Semua seakan terjadi selewat-selewat saja padahal jika hal ini digali lebih dalam lagi pasti akan lebih menarik.

Munculnya pidato Bung Karno yang menghabiskan berlembar-lembar halaman dalam novel ini bisa jadi bumerang, di satu pihak mungkin ada orang yang suka, namun di lain pihak bagian ini bisa jadi membosankan karena seolah terlepas dari inti cerita.

Yang menarik Novel ini juga memiliki ending yang tak terduga. Keputusan Lasmi untuk menjalani takdirnya benar-benar menyentuh nurani, dan bagaimana kelak nasib Tikno, suaminya atas keputusan yang diambil Lasmi benar-benar tidak akan terduga oleh pembacanya.

Namun sayangnya penerbit telah mengungkapkan ending kehidupan Lasmi di sinposis yang terdapat di cover belakangnya. Mungkin penerbit berpendapat bahwa endingnya justru merupakan sisi menarik yang perlu diungkapkan untuk menarik minat pembaca, tapi alangkah baiknya jika penerbit menggantinya dengan kalimat bersayap sehingga akhir kehidupan lasmi tetap misteri dan baru bisa diketahui ketika kita membaca sendiri novelnya.

Terlepas dari hal di atas novel ini bagi bagi saya sangat menarik penulis berhasil memotret situasi sosial di tahun –tahun itu dengan baik. Kisah kehidupan Lasmi berhasil menguggah kesadaran pembacanya untuk memaknai peristiwa pembantaian di tahun 65 dalam perspektif kemanusiaan. Atau seperit diungkap penulisnya di lembar terakhir novel ini, Lasmi diharapkan bisa menjadi semacam upaya kampanye anti kekerasan, semoga demi alasan apa pun kekerasan massal yang melecehkan akal sehat dan mengorbankan kenaifan warga tidak lagi terjadi di negeri ini.

@h_tanzil
Read more »

Kamis, 18 Februari 2010

The Marriage Bureau for Rich People

The Marriage Bureau for Rich People
(Biro Jodoh Khusus Kaum Elite)

Farahad Zama @ 2008
Rinurbad (Terj.)
M-Pop (Matahati), Cet. I - Januari 2010
455 Hal.

Setelah memasuki masa pensiun, untuk mengisi hari-harinya, Mr. Ali membuka sebuah biro jodoh. Dengan bayaran 500 rupee untuk setiap keanggotaan, ia akan membantu para pencari jodoh untuk menemukan pasangan bagi mereka dengan membuka iklan di koran. Ternyata, usaha itu menarik banyak peminat – tidak hanya dari kalangan masyarakat India yang beragama Hindu, tapi juga yang beragama Islam dan Kristen. Mr. Ali sendiri adalah warga India yang beragama Islam.

Karena kesibukan yang bertambah, Mr. Ali memutuskan untuk mencari seorang asisten. Ia membuka lowongan kerja di koran. Tapi, ternyata susah juga mendapatkan asisten yang cocok. Tak disangka-sangka, calon potensial justru adalah seorang gadis berkasta Brahmana yang tinggal tak jauh dari rumah Mr. Ali sendiri. Gadis itu bernama Aruna, anak pensiunan seorang guru dengan perekononomian keluarga yang tidak terlalu baik. Ia akhirnya melepas pekerjaannya sebagai pegawai di sebuah toserba karena lebih menyukai pekerjaannya di biro jodoh Mr. Ali.

Beragam orang datang ke biro jodoh Mr. Ali, dengan beragam karakter, beragam permintaan dan beragam permasalahan. Tak jarang Mr. Ali melakukan pendekatatan personal dengan memberikan nasihat demi kesuksesan klien-nya dalam menemukan jodohnya.

Tapi sayang, kadang orang-orang itu kerap lupa akan jasa Mr. Ali dan biro jodohnya. Hanya segelintir yang mengucapkan terima kasih dan mengundang Mr. Ali ke pesta pernikahan mereka ketika sudah berhasil mendapatkan jodohnya.

Kegembiraan orang-orang yang berhasil dalam perjodohan ternyata justru tak berpihak pada Aruna. Kemiskinan membuat Aruna susah dalam mencari pasangan hidupnya. Padahal, sebagai pihak perempuan, ia harus menyerahkan mas kawin untuk mempelai pria dan menyelanggarakan pesta pernikahan. Tapi, tak banyak pilihan untuk Aruna.

Seorang klien bernama Ramanujam datang bersama keluarganya untuk mencari jodoh. Kriterianya adalah gadis cantik, tinggi, putih dan tentu saja dari golongan yang sama. Ramanujam datang dari keluarga kaya, berprofesi sebagai dokter. Tapi, siapa sangka, justru ia jatuh cinta pada asisten Mr. Ali yang sederhana itu. Untuk menikah dengan Aruna, banyak tantangan dari luar, misalnya, Aruna yang akan dianggap bukan anak baik-baik karena menemukan jodohnya sendiri (bukan dari perjodohan yang diatur keluarga), lalu keluarga Ramanujam yang mungkin nantinya akan ‘menyiksa’ Aruna secara lahir dan batin karena dianggap tidak sederajat meskipun sama-sama berasal dari kasta Brahmana. Kisah cinta yang singkat ini ibarat kisah cinta Cinderella rasa India.

Mr. Ali berusaha membuka mata Ramanujam bahwa tak semuanya harus berdasarkan uang. Dan, bagian Mrs. Ali yang mendekati Aruna agar mau mengesampingkan masalah ekonominya.

Mr. Ali sendiri juga kurang beruntung dalam perjodohan anak laki-laki semata wayangnya. Rahmen, anaknya sibuk berdemonstrasi membela kaum petani yang tanahnya diambil pemerintah untuk membangun sebuah pabrik

Rumitnya soal perjodohan di India. Karena jangankan nyari pacar sendiri, kalau sepasang perempuan dan laki-laki ketahuan berduaan, bisa menimbulan gosip-gosip. Ribetnya juga urusan kasta. Ternyata, kasta yang selama ini gue tahu hanya Brahman, Ksatria, Wesya dan Sudra, masih dibagi-bagi lagi. Seperti Brahmana yang masih terbagi jadi Brahmana Niyogi atau Brahmana Waidika.

Belum lagi masalah perekonomian, kalau dari kasta yang sama tapi tingkat perekonomian beda, belum menjamin keberhasilan sebuah perjodohan. Pokoknya, cinta itu datang belakangan, yang penting keluarga, kasta, dan keuangan.

Selama ini, gue sering mendengar kalau umat Islam dan Hindu di India sering berselisih. Tapi, di dalam buku ini, kedua umat beragama itu hidup berdampingan secara damai. Malah saling membantu.

Lokasi buku ini ada di kota Vizag, India – sebuah kota pantai. Makanya seringkali Mr. Ali kepanasan, dan dibawakan minuman segar atau buah-buah segar sama Mrs. Ali. Kalau Mr. Ali udah minum, gue jadi ikutan segar.
Read more »

Selasa, 16 Februari 2010

The Unknown Erros of Our Lives

The Unknown Erros of Our Lives
(Kesalahan-Kesalahan yang Tidak Diketahui Dalam Hidup Kita)

Chitra Banarjee Divakaruni @ 2005
Gita Yuliani K. (Terj.)
GPU - February 2010
264 Hal.

Terdiri dari 9 cerita pendek

Tentang perempuan-perempuan India yang pindah ke Amerika, menceritakan tentang apa yang mereka rasakan, pertentangan dalam diri mereka, hubungan dengan anak, menantu, mertua, cucu, tentang perasaan kesepian (untuk para perempuan tua), karena jauh dari teman, keluarga mereka di India. Dan untuk perempuan muda, merasa asing ketika kembali ke India. Sampai akhirnya, kadang mereka gak yakin dengan keputusan mereka pindah dari tanah kelahiran mereka.

Latar belakang cerita mirip sama novel The Unaccustomed Earth – Jhumpa Lahiri, hanya menurut gue, bukunya Chitra Banerjee Divakaruni ini lebih serius, ceritanya lebih beragam. Lebih ke interaksi antara sesama orang India, bukan interaksi India-Amerika.

Favorit gue: Nyonya Dutta Menulis Surat. Masih ada beberapa lagi sih yang gue suka.

Secara keseluruhan, cerita bagus-bagus, tapi ya… memang ada berapa yang membuat gue bingung dan bikin gue jadi bosen.

Kenapa gue nulisnya begini? Karena sering kali merasa bingung kalo nulis pendapat gue tentang kumpulan cerpen. Jadi ya… begini aja deh…
Read more »

Kamis, 11 Februari 2010

Magic or Madness (Rahasia Sihir)

Magic or Madness (Rahasia Sihir)
Justine Larbalestier @ 2005
Meilia Kusumadewi (Terj.)
GPU, Januari 2010
320 hal.

Sejak kecil, ibu Reason Cansino – Serafina, selalu menekankan bahwa sihir itu tidak ada, bahwa sihir itu jahat, dan nenek Reason yang bernama Esmeralda memiliki sihir yang artinya mereka harus menghindar dari Esmeralda. Reason dan Serafina selalu berpindah-pindah. Jika mereka merasa tidak aman di suatu lokasi, mereka akan mencari tempat baru. Serafina mengajari Reason adanya tanda-tanda sihir, seperti bunga-bunga kering, bulu-bulu dan berbagai tanda lainnya. Bahkan Serafina kerap menceritakan berbagai hal mengerikan yang dilakukan Esmeralda untuk memperkuat sihirnya.

Suatu hari, Reason terpaksa ikut dengan Esmeralda untuk tinggal bersamanya karena Serafina jadi gila dan harus masuk rumah sakit jiwa. Reason mengikuti semua yang pernah diajarkan ibunya: jangan pernah menatap Esmeralda, jangan makan atau minum apa pun yang ada di rumah Esmeralda, jangan bersentuhan dengan Esmeralda, jangan menjawab apa pun.

Tapi, Reason agak terkejut ketika mendapati rumah Esmeralda tidaklah semengerikan yang digambarkan Serafina. Ketika Esmeralda tidak ada di rumah, Reason segera menyelidiki rumah itu. Ia menemukan beberapa tanda-tanda seperti yang sudah diberitahu ibunya. Bahkan Reason menemukan ruang bawah tanah dan sebuah kunci. Reason juga berkenalan dengan anak laki-laki bernama Tom, yang tampaknya melihat bahwa Esmeralda adalah sosok yang baik. Tom ini anaknya agak unik, suka menjahit dan merancang busana. Setiap orang yang ia temui, akan selalu dinilai dari pakaiannya, kain apa yang ia pakai. Bahkan, Tom berjanji untuk membuatkan Reason celana kargo. Tom juga bercerita tentang misteri perempuan-perempuan di keluarga Cansino.

Reason berencana akan melarikan diri. Ia memeriksa semua pintu dan jendela. Sampai di suati pagi, ia membuka pintu belakang yang selama ini terkunci, dan mendapati dirinya ada di tempat yang sama sekali berbeda. Di Australia, tempat Reason tinggal, sedang musim panas, tapi di tempat yang ‘seharusnya’ taman belakang rumah Esmeralda malah bersalju! Akhirnya, Reason sadar, bahwa sihir itu benar-benar ada.

Tempat itu ternyata adalah Amerika, di mana ia bertemu dengan Jay-Tee, seorang gadis yang ditugaskan oleh laki-laki misterius untuk menjemput Reason. Laki-laki itu bernama Jason Blake, ia mengincar kekuatan sihir Reason. Sebuah kekuatan sihir yang ternyata tidak disadari oleh Reason. Sementara itu, menyadari Reason menghilang, Tom dan Esmeralda pun mencari Reason ke Amerika – lewat pintu belakang tentunya.

Gue sempat agak tersendat-sendat membaca buku ini. Bukan karena gak bagus, tapi ya… karena faktor-faktor ‘X’… seperti ngantuk, karena ada bagian-bagian yang agak membosankan. Tapi, di buku setebal 320 halaman ini, banyak misterinya, misalnya tentang misteri perempuan di keluarga Cansino yang meninggal muda, ayah Reason yang entah di mana, kenapa Jay-Tee takut sama ayahnya, bahkan keluarga Tom pun ada misteri tersendiri yang tidak terjawab sampai buku ini selesai. Mungkin, di buku-buku selanjutnya, misteri ini bakal terjawab.

Gue sih lumayan suka sama buku ini, soalnya, dari berapa cerita sihir-menyihir yang gue baca, masih ada ‘bau-bau’ Harry Potter. Tapi, untuk ukuran cerita sihir remaja, cerita ini agak gelap dan serius. Sihir di sini bukan jadi ‘penyelamat’ tapi malah ‘mematikan’, karena kalau gak pinter-pinter dipakai, malah akan mengurangi umur si penyihir! Yang menarik juga karakter Reason yang polos dan bakat istimewanya dalam hal matematika, plus juga karakter Tom yang unik (bahkan lucu – menurut gue.. ya jujur aja.. karakter Tom jadi penyegar karena lebih ceria dibanding yang lain).

Read more »

Minggu, 07 Februari 2010

Heart Block

Heart Block
Okke ‘sepatumerah’ @ 2010
GagasMedia – Cet. I, 2010
316 Hal.

Meskipun memenangkan penghargaan sebagai Penulis Pendatang Baru yang Berbakat dalam ajang Festival Penulis Indonesia lewat novelnya ‘Omnibus’, tidak berarti dalam setiap karyanya akan menghasilkan hasil yang terbaik. Senja harus kecewa ketika dalam workshop penulisan yang merupakan salah satu hadiah yang dia dapat karena masuk nominasi di FPI, naskahnya tidak terpilih untuk diterbitkan. Senja merasa malu, karena sebagai penulis yang mendapatkan penghargaan itu, justru karyanya tidak sebaik yang dia harapkan.

‘Omnibus’ begitu heboh dibicarakan orang. Senja jadi dikenal dan ‘diharapkan’ orang menghasilkan karya yang sama bermutunya dengan ‘Omnibus’. Tapi, untuk menghasilkan tulisan selanjutnya sangat susah bagi Senja.

Tasya, kakak tirinya, menawarkan diri jadi manager Senja. Tasya yang mencarikan job untuk Senja dan memperkenalkan Senja pada beberapa majalah, radio, dan penerbit. Jadwal Senja sangat ketat. Untuk publikasi buku terbarunya yang ternyata menghasilkan banyak kritik pedas dan nyaris membuat Senja down. Buku kedua Senja dibuat untuk sarana promosi sebuah merk sepatu, lalu buku ketiganya merupakan adaptasi dari skenario sebuah film. Semuanya sangat berbeda dari ‘Omnibus’.

Ketika Tasya mendapat tawaran 40 days project dari sebuah penerbit besar, Tasya langsung meng-iyakan tanpa bertanya pada Senja. Buat Tasya, apapun diterima demi publikasi. Senja yang merasa jenuh melarikan diri ke Bali. Mencari suasana baru, yang mungkin bisa membuka pikirannya dan membuat ide-idenya mengalir kembali.

Dalam perjalanannya ke Bali, Senja berkenalan dengan Genta, seorang pelukis yang sama seperti Senja, juga dikejar-kejar ‘deadline’. Singkat kata, Senja jatuh cinta, meskipun Genta tidak pernah mengutarakan hal yang sama, tapi, bahasa tubuhnya ‘berkata’ lain.

Entah karena adanya Genta, atau karena suasana yang mendukung, perlahan Senja mampu menyusun sebuah cerita untuk project 40 harinya itu. Tapi, ketika saatnya pulang ke Jakarta, Senja justru tidak bisa berpisah dengan ‘layak’.

Kesibukan yang menanti di Jakarta, membuat Senja tidak bisa selalu berhasil menghubungi Genta. Tapi, Senja tidak pernah berhenti mencari.

Ternyata… menulis itu gak bisa dipaksain. Ternyata… menulis itu gak boleh karena tuntutan orang lain, tapi harus pake hati.. Mencari ide juga gak bisa dipaksain, harus pelan-pelan… Okke si ‘sepatumerah’ mencoba menggambarkan suasana hati seorang penulis kalo lagi mengalami yang namanya ‘writer’s block’. Tapi kenapa, ‘penawar’ si ‘writer’s block’ itu harusnya seorang cowok. Kenapa gak si Senja keliling Bali sendiri… ketemu ‘pencerahan’ sendiri. Hehehe.. kalo udah gitu, novelnya jadi serius ya? Tapi.. I wish I could write…
Read more »

Kronik Betawi

Kronik Betawi
Ratih Kumala @ 2008
GPU, Cet. II – Juli 2009
255 Hal.

Seru banget baca buku ini, mirip-mirip nonton Si Doel Anak Sekolahan. Tapi, menurut gue, malah lebih bagus baca buku ini daripada nonton sinentronnya yang suka muter-muter.

Cerita tentang sebuah keluarga Betawi asli. Juned dan Ipah, punya tiga anak: Jaelani, Jarkasi dan Juleha. Nanti, cerita ketiga anak ini lebih mendominasi dalam buku ini. Juned dan Ipah hanya diceritakan sebagai latar belakang, asal-usul dari ketiga anak Betawi ini.

Jaelani, anak yang tertua, punya usaha sapi perah, warisan dari Babe-nya yang dulu jadi tukang antar susu orang Belanda. Karena si Babe berhasil menyelamatkan orang Belanda itu, makanya pas si Tuan Kompeni balik ke kampung halamannya, sapi-sapi perahnya ditinggalkan untuk Juned, yang akhirnya diturunkan ke Jaelani.

Jaelani punya tiga anak – Juned, Japri dan Enoh. Jaelani kepengen mewariskan peternakan sapinya untuk Juned dan Japri, tapi, ternyata, dua anak laki-laki itu lebih milih jadi tukang ojek. Untung ada Fauzan, anak laki-laki dari pernikahan keduanya, yang jadi tumpuan harapannya. Si Fauzan nih, mirip-mirip si Doel deh… bakal jadi ‘Tukang Insinyur’.

Sementara Jarkasi, meskipun gak ada darah seni yang mengalir dari orang tuanya, ternyata dia lebih tertarik ngurusin lenong dan gambang kromong, berusaha melestarikan budaya yang nyaris punah itu. Untung anak semata wayangnya, Edah, suka ikut nari-nari, meskipun dilarang sama Enden, ibunya.

Lain lagi dengan Juleha, anak perempuan satu-satunya dari Juned dan Ipah. Istri seorang kyai kondang, tapi gak menyangka hidupnya akan dimadu, karena setelah menunggu sekian lama, Juleha tak kunjung hamil. Maka, Ji’ih, sang suami, dengan dalih menolong janda pun menikah lagi.

Ceritanya sederhana, tentang keluarga Betawi, bergulir dengan lancar, dari hari ke hari. Mengangkat masalah: orang Betawi asli yang justru tersingkir dari ‘rumah’nya sendiri, kebudayaan Betawi yang makin lama makin tenggelam, lalu sifat-sifat orang Betawi yang ‘katanya’ malas (dicontohin sama Japri dan Juned), yang ‘katanya’ suka kawin (contohnya suaminya Juleha, si Ji’ih). Tapi, bisa ‘dipatahkan’ oleh Jaelani yang setia sama mendiang istri pertamanya dan susah banget untuk cari istri lagi meskipun udah dijodoh-jodohin, lalu, Salempang, suami Juleha, yang ternyata rajin, alim dan baik banget.

Ironis banget emang jadi orang Betawi kadang-kadang. Yang ‘punya kampung’, yang katanya punya Jakarta, tapi terkaget-kaget dengan perkembangan Jakarta yang pesat banget (seperti Jaelani, Juleha yang terkagum-kagum waktu liat banyak gedung tinggi, atau rumah lama mereka yang udah jadi ruko).

Membaca buku ini, gue gak perlu membayangkan atau mencoba mencari visualisasi yang ribet. Sepertinya, mereka ada di sekitar gue (berhubung gue juga pernah tinggal di daerah Tebet, ketika masih banyak tetangga gue yang orang Betawi asli). Bahasa percakapan dalam bahasa Betawi bikin gue juga senyam-senyum. Hmmm… gue jadi inget pernah baca buku yang isinya, baik narasi atau percakapannya dalam bahasa Betawi totok dan… gue bingung… hehehe… (gambang kromong, kalo gak salah judulnya…)
Read more »

Kamis, 04 Februari 2010

Ghostgirl

Ghostgirl
Tonya Hurley @ 2008
Berlian M. Nugrahani (Terj.)
Penerbit Atria, Cet. IV - Januari 2010
402 Hal.


Memasuki tahun ajaran baru, Charlotte Usher datang dengan semangat tinggi dan rasa percaya diri yang baru. Ia sudah mempersiapkan berbagai rencana untuk menjadi seseorang yang lebih diperhatikan, terutama untuk memikat Damen, cowok pujaannya di Hawthorne High. Sebagai seorang cewek yang amat sangat biasa, mimpi jadi cewek populer memang terasa jauh. Charlotte malah lebih seperti seorang ‘pecundang’. Charlotte seperti ‘hantu’, dicuekin, diacuhkan, bahkan dianggap tidak ada. Apalagi oleh seorang cewek paling populer di sekolah bernama Petula, plus dua anggota gank-nya yang bernama The Wendys. Charlotte pengen banget jadi salah satu di antara mereka, dan demi mencapai tujuan akhirnya – yaitu agar bisa dekat dengan Damen yang ternyata adalah pacar Petula. Charlotte nekad daftar jadi anggota pemandu sorak, meskipun harus dihujani dengan cibiran dan ejekan.

Keberuntungan berpihak pada Charlotte, ketika di kelas fisika, setiap murid diharuskan berpasang-pasangan. Damen yang datang terlambat, terpaksa harus berpasangan dengan Charlotte yang tentu saja dengan suka cita menerimanya. Tapi, ternyata, kesenangan Charlotte hanya sesaat. Charlotte yang gemar makan permen kenyal, meninggal dunia gara-gara permen kesukaannya itu. Gara-gara terlalu heboh, Charlotte jadi tersedak.

Merasa masih punya urusan yang belum terselesaikan di Alam Kehidupan, Charlotte pun tidak bisa menerima bahwa dia sekarang berada di Alam Kematian – bersama-sama dengan Anak-anak Alam Kematian lainnya. Charlotte adalah ‘penumpang’ terakhir, dan setelah itu ‘rombongan’ Anak-anak Alam Kematian siap untuk ‘pindah’ ke Alam Keabadian. Gak hanya di Alam Kehidupan, di Alam Kematian pun, Charlotte masih harus bersekolah, belajar Pendidikan Kematian, bahkan ada Deadtiquette dan harus rajin mengisi DIEary.

Tapi, Charlotte masih punya ‘agenda’, Charlotte masih ingin jadi bagian dari gank populer dan dekat dengan Damen. Untuk itu, Charlotte memanfaatkan tubuh Scarlet, adik Petula yang kebetulan bisa melihat wujud Charlotte yang sekarang. Charlotte dan Scarlet bertukar tempat. Dengan menggunakan tubuh Scarlet, Charlotte bisa bebas berdekatan dengan Damen. Di luar kemauan Charlotte, rencana itu tidaklah mulus. Adakalanya Scarlet tidak rela Charlotte dengan seenaknya bertindak di luar kepribadian Scarlet yang sebenarnya.

Di Alam Kehidupan, rencana kerap berantakan. Di Alam Kematian, Charlotte juga harus berurusan dengan Prue, hantu yang galak dan selalu jutek dengan kehadiran Charlotte. Tempat para hantu bergentayangan adalah sebuah rumah bernama Hawthorne Manor. Para hantu yang kebanyakan meninggal saat remaja itu, harus berjuang keras agar rumah itu tidak dijual dan dihancurkan. Prue dan hantu lainnya marah karena sikap Charlotte yang cuek dan masih terus berurusan dengan para manusia.

Sementara Charlotte berjuang demi menuntaskan urusannya di Alam Kehidupan (hehehe.. biar gak jadi arwah penasaran kali ya), teman-temannya di Alam Kematian berjuang untuk menyelamatkan Hawthorne Manor.

Menurut gue, buku ini termasuk buku yang kocak dan tragis. Gue sih lucu aja membayangkan Charlotte yang mati-matian biar diterima di gank populer. Meskipun dicuekin tapi maju terus pantang mundur. Bercerita tentang kematian, tapi gak spooky. Ternyata meskipun udah meninggal, gak mudah untuk menerima takdir dan kenyataan itu. Mungkin gitu kali ya, gambaran yang namanya ‘arwah penasaran’ ? (kalo itu emang ada). Ketika nyaris mencapai tujuan… ehhhh… semua berubah drastis… poor Charlotte…
Read more »

Selasa, 02 Februari 2010

The Girl who Played with Fire

The Girl who Played with Fire
Stieg Larson @ 2006
Nurul Agustina (Terj.)
Qanita, Cet. 1 - Desember 2009
904 Hal.

Melihat ketebalan buku ini yang ‘luar biasa’, gue nyaris mengurungkan niat gue untuk membaca sekuel dari Blomkvist & Salander Trilogy. Tapi, gue jadi penasaran, karena – lagi-lagi terpengaruh komentar orang – katanya, buku ini lebih seru dari yang pertama. Ya.. ya.. ya… kalo dilihat dari tebalnya sih, semoga memang benar begitu.

Buku ini bercerita tentang misteri latar belakang kehidupan seorang Lisbeth Salander, gadis yang bisa dibilang aneh, gak pedulian sama orang, jago computer, punya ingatan fotografis dan berkepribadian yang rumit banget. Berkat kemampuannya itu, Lisbeth berhasil ‘mengantongi’ uang yang sangat banyak untuk ukuran gadis seperti dirinya. Ia menghilang tiba-tiba dari Swedia. Pergi ke luar negeri. Menjauh dari Swedia nyaris selama dua tahun. Lisbeth juga memilih untuk menjauh dari Mikael Blomkvist.

Dua tahun berlalu sejak mereka bekerja sama, Mikael Blomkvist terus mencari Lisbeth yang seolah lenyap ditelan bumi. Lisbeth tidak pernah menjawab email, telepon, bahkan di apartemennya pun tidak ada. Hubungan mereka berdua akan benar-benar terputus jika saja kasus yang melibatkan Lisbeth tidak ada.

Mikael Blomkvist sedang bekerja sama dengan wartawan bernama Dag Svensson untuk menerbitkan sebuah buku dan artikel tentang kasus perdagangan wanita di Swedia. Dag dibantu istrinya, Mia, seorang kriminolog. Mereka berdua meminta Millenium untuk menerbitkan naskah mereka.

Sementara, Lisbeth masih terobsesi untuk membuat walinya, Bjurman, tersiksa. Tapi, ternyata, Bjurman sendiri memilik rencana tersendiri untuk membuat Lisbeth bertekuk lutut dan menyerah.

Sebagai hacker, tentu saja Lisbeth punya akses ke dalam kompter Blomkvist, sehingga dia tahu apa yang sedang dikerjakan Blomkvist. Dari sana, Lisbeth menemukan sebuah nama yang menghubungkannya dengan masa lalunya.

Tiba-tiba saja, Dag, Mia dan Bjurman ditemukan tewas tertembak di apartemen mereka masing-masing. Sebuah pistol ditemukan di tempat kejadian, dengan sidik jari Lisbeth yang tertera di sana. Jadilah Lisbeth sebagai tersangka utama dan menjadi buron, karena keberadaannya sangat sulit ditemukan.

Blomkvist yakin, Lisbeth tidak bersalah. Tapi, entah bagaimana membuktikannya, karena Lisbeth begitu tertutup dan penuh teka-teki.

Cerita yang rumit banget. Masih seputar pelecehan terhadap perempuan, kali ini lebih focus ke perdagangan perempuan. Sebuah nama, tapi jarang ada yang tahu wujud orang ini, berhubungan dengan masa lalu Lisbeth yang ditutup rapat-rapat, bahkan jadi ‘Top Secret’. Wow… siapa sih sebenernya Lisbeth Salander ini?

Semakin lama, semakin ke belakang, jujur, gue semakin cape’ baca buku ini. Lambat banget. Terlalu banyak orang dengan detail yang panjang. Sampai-sampai gue sering melewatkan beberapa halaman. Ya, kalo penasaran, sih, ya pasti. Keping-keping informasi, muncul pelan-pelan, gak bikin terlalu sport jantung.

Lisbeth Salander jadi layaknya seorang superhero, superwoman, atau Robin Hood cewek. Dia memang gak bersih, tapi dia punya keyakinan sendiri dengan sudut pandang sendiri, kadang beda sama orang pada umumnya. Dia membereskan dosa-dosa orang yang memang pantas mendapatknya, tapi dengan cara yang bertentangan dengan hukum.

Read more »

Jumat, 29 Januari 2010

Libri di Luca

Judul : Libri di Luca
Penulis : Mikkel Birkegaard
Penerjemah : Fahmi Yamani
Penyunting : Moh. Sidik Nugraha
Penerbit : Serambi Ilmu Semesta
Cetakan : I, Nov 2009
Tebal : 588 hlm

Masih ingatkah kita akan pengalaman masa kecil ketika kita sedang dibacakan cerita oleh orang tua kita ? Tentunya sangat mengasikan karena biasanya kita akan terpukau oleh ceritanya sehingga kita seolah-olah berada dalam kisah yang sedang kita dengar itu.

Namun pernahkah terpikirkan oleh kita bahwa sebuah buku yang dibacakan akan memberi pengaruh yang lebih dahsyat lagi? Bukan hanya sekedar memukau pendengarnya dan menjadikan apa yang ada dalam buku terasa begitu nyata melainkan dapat mempengaruhi jiwa , pikiran, dan persepsi mereka yang mendengarnya. Hal inilah yang terpikirkan oleh Mikkel Birkegaard penulis muda Denmark yang ia tuangkan dalam novel perdananya yang berjudul Libri di Luca .

Dalam karyanya ini Mikkel menceritakan mengenai para pembaca buku yang dapat mempengaruhi jiwa dan pikiran mereka yang mendengar apa yang sedang dibacanya. Para pembaca ini disebut dengan Lector, yaitu mereka yang melatih sebuah seni membaca keras-keras dari sebuah teks sehingga dapat memberi penekanan sesuai dengan keinginan si Lector. Dengan demikian hal ini akan mempengaruhi persepsi mereka yang mendengarkan isi dari sebuah teks yang dibacanya

Lector ini sendiri dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok pemancar yang dapat mempengaruhi persepsi pendengar terhadap tulisan yang sedang dibacanya, dan kelompok penerima yang mampu mempengaruhi persepsi seseorang yang sedang membaca sebuah buku. Jika dua kelompok ini disatukan makan akan tercipta sebuah sinergi yang dahsyat yang dapat mempengaruhi dunia sesuai dengan apa yang diinginkan para Lector. Di tangan mereka, buku bisa menjadi sebuah senjata!

Novel ini diawali dengan kisah kematian Luca Campelli seorang Lector yang memiliki sebuah toko buku antik terkemuka di Kopenhagen Denmark yang diberinya nama “Libri di Luca”. Kematiannya sangat ironis karena Luca Campelli meninggal secara mendadak di toko buku kebanggaannya ketika ia sedang membaca buku antik yang sangat ia sayangi.

Luca hanya memiliki seorang anak yang bernama John, seorang pengacara handal. Namun walau John adalah anak tunggalnya hubungan antara Luca dengan anaknya tidaklah sedekat hubungan antara seorang ayah dan anak pada umumnya sehingga tak heran jika John tidak pernah benar-benar mengenal ayahnya.

Kematian Luca otomatis membuat toko buku Libri di Luca diwariskan pada John. Dengan bantuan Iversen selaku sekretaris pribadi Luca dan Katherine, pegawai kepercayaan Luca lambat laun John mulai mengenal aktifitas ayahnya beserta isi dari Libri di Luca yang menyimpan begitu banyak buku-buku berharga.

Melalui penuturan Iversen akhirnya terungkap bahwa Libri di Luca ternyata merupakan markas sebuah perkumpulan rahasia pecinta buku yang terdiri dari para Lector yang memiliki kekuatan mempengaruhi pendengarnya baik sebagai pemancar maupun penerima . Dan yang paling mengejutkan bagi John adalah ternyata tanpa disadarinya dirinyapun mewarisi kemampuan ayahnya sebagai seorang Lector.

Tidak berapa lama setelah kematian Luca, toko buku Libri di Luca mendapat serangan bom yang menghanguskan sebagian toko buku antik tertua di Kopenhagen itu. Hal ini membuat John Iversen dan Katherne menaruh curiga bahwa kematian Luca bukanlah kematian biasa melainkan ada pihak-pihak yang ingin menghancurkan Libri di Luca beserta perkumpulan rahasianya.

Kematian Luca dan serangan terhadap Libri di Luca memang pada akhirnya menimbulkan kecurigaan diantara para anggota perkumpulan, antara Lector penerima dan pemancar saling mencurigai sehingga perkumpulan rahasia ini nyaris terpecah belah. Kecurigaan John dan kawan-kawannya akhirnya mengerucut pada kemungkinan adanya Organisasi Bayangan diluar perkumpulan rahasia Libri di Luca yang bertujuan untuk memecah belah Perkumpulan dan mempengaruhi para Lector untuk dapat menguasai dunia lewat kekuatannya.

Pencarian siapa dalang dari kekisruhan ini tak mudah. John dan kawan-kawan harus berpacu dengan waktu, taruhannya adalah nyawa mereka sendiri dan nyawa para Lector yang satu persatu tewas dengan berbagai cara. Pencarian ini ternyata membawa John, Iversen, dan Katherene melintas benua menuju Mesir, dimana pernah berdiri dan kini sedang dibangun kembali sebuah Perpustakaan terbesar di dunia di Alexandria – Mesir (Bibliotheca Alexandria). Ternyata di tempat ini pulalah cikal bakal terbentuknya perkumpulan rahasia para lector.

Bagi para pecinta buku novel ini akan menjadi sangat menarik karena mengupas tentang buku dan pembacanya. Buku di tangan seorang lector bisa menjadi sebuah alat yang mempengaruhi dunia. Selain itu Mikkel juga dengan menarik memadukan sebuah fakta sejarah mengenai Bibliothica Alexandrina, perpustakaan paling besar sedunia yang pernah ada di muka bumi ini dengan kisah thriller fantasi yang menghibur.

Plot cerita yang disuguhkan Mikkel dibangun secara perlahan dan mencapai klimaksnya di bagian akhir. Berbagai fakta dibeberkan secara rinci sehingga pembaca bisa memahami logika dari sebuah kisah yang dibangun.

Yang agak disayangkan dalam novel ini adalah kurangnya penulis mengeksploitasi kisah ketika berada di Bibliothica Alexandrea. Setting di Alexandrea ini baru muncul di bagian-bagian akhir, andai saja setting di perpustakaan ini lebih diekplorasi lebih banyak lagi tentunya novel ini akan lebih menarik dan membuat wawasan pembaca mengenai Bibliothica Alexandrea semakin bertambah.

Saya juga agak menyayangkan deskripsi yang berlebihan mengenai kekuatan seorang Lector yang dengan kekuatan yang dimilikinya bisa menimbulkan fenomena lecutan-lecutan api, asap, cahaya, dll. Andai saja fenomena fisik seperti itu dihilangkan dan diganti dengan dskripsi mengenai bagaimana keadaan jiwa dan pikiran seseorang yang telah dipengaruhi oleh seorang Lector tentunya kesannya akan lebih dramatis dan dalam dibanding dengan menonjolkan fenomena fisiknya.

Terlepas dari hal di atas bagaimanapun novel ini sangat menghibur, setting toko buku antik, bibliothek Alexandria dan kemampuan seorang lector pasti akan menarik minat para bibliophile dan para pembacanya umumnya.

Selain itu novel ini juga berhasil menempatkan posisi pembaca buku ditempat terhormat sebagai tokoh sentral, dan merupakan ruh dari keseluruhan novel ini, berbeda dengan novel-novel lain yang kadang menempatkan tokoh seorang pembaca buku hanya sebagai pelengkap cerita dengan sosok seorang berkacamata tebal yang terasing dalam dunianya sendiri.

Dari semua hal diatas tak heran jika novel ini mencuri perhatian para pembaca buku fiksi dan menuai sukses, hal ini terbukti ketika cetakan pertamanya sebanyak 10.000 ekslempar ludes hanya dalam waktu tiga hari saja. Novel ini juga telah diterjemahkan ke dalam tujuh belas bahasa dan menjadi International Best Seller. Sebuah pencapaian yang luar biasa bagi penulisnya karena ini adalah novel perdananya.

@htanzil

Read more »

Senin, 25 Januari 2010

Remember Me?

Remember Me?
Sophie Kinsella @ 2008
Bantam Dell, 2008
430 Hal.

Lexi Smart tidak bisa menutupi rasa kesalnya ketika tahu dirinya gak dapet bonus, padahal masa kerjanya hanya kurang beberapa minggu dari hitungan satu tahun. Sementara teman-temannya sibuk mikirin mau beli apa dengan bonus itu, Lexi hanya bisa senyam-senyum. Suasana hujan, Lexi yang lagi hang-out sama teman-temannya tiba-tiba terjatuh… dan bum… tiba-tiba ia terbangun di rumah sakit London.

Belum lagi Lexi sadar sama apa yang terjadi, Lexi melihat dirinya di kaca sama sekali berbeda dengan apa yang ia tahu – punya tas LV, nyupir Mercedes – padahal ia tahu gak bisa nyupir, ada di kamar Super VIP, lalu… menjabat sebagai Direktur – padahal yang Lexi inget, dia hanyalah karyawan baru, lalu, badan yang super keren, gigi bagus, dan.. oh.. oh… ia sudah menikah dengan seorang pengusaha, lalu mereka tinggal di sebuah rumah yang keren dan canggih banget.

Kecelakaan membuat dirinya hilang ingatan. Memorinya selama tiga tahun ke belakang benar-benar kosong. Yang ia ingat justru kehidupannya yang lama, dengan teman-temannya yang lama. Dia gak kenal teman-teman barunya yang ‘berkelas’, dia gak kenal isi lemarinya yang penuh dengan baju-baju rancangan desainer terkenal, dia bahkan gak inget sudah menikah, dia bahkan gak kenal dirinya sendiri sekarang.

Kehidupan ‘baru’nya benar-benar membuat Lexi gak nyaman. Dia pengen hang out lagi bareng-bareng teman-teman lamanya, yang ternyata sekarang malah menjauhinya. Lexi ternyata dikenal sebagai atasan yang ‘bitchy’, yang ambisius dan punya julukan ‘The Cobra’.

One more… belum lagi inget dengan semuanya, seorang pria bernama Jon, mengaku kalau mereka punya affair!! Lexi mencoba jadi istri yang setia dan berusaha mempertahankan pernikahannya, meskipun udah sebel banget denger istilah ‘loft-style living’… tapi kenapa hatinya justru lebih nyaman kalau dekat Jon?

Sementara Lexi sibuk menggali ingatannya, Lexi juga harus berusaha mendapatkan hati teman-temannya lagi dan berusaha menyelamatkan pekerjaannya dan teman-temannya di kantor.

Wooo… gimana ya, rasanya kalo tiba-tiba terbangun, lalu gak inget apa-apa lagi? Gak kenal diri sendiri dan merasa aneh? Gue gak mau…

Dibanding sama Shopaholic series, buku-buku Sophie Kinsella seperti Remember Me? Undomestic Goddess, Can You Keep a Secret? lebih lucu dan segar. Tokoh-tokohnya gak sekonyol Becky Bloomwood. Sekarang, gue lagi mencari-cari Twenties Girls – bukunya yang paling baru.
Read more »

Kamis, 21 Januari 2010

Moonlight Waltz

Moonlight Waltz
Fenny Wong
Gagas Media, Cet. II – 2009
246 Hal.

Kalau saja Dora tidak mengajak Arlin ke sebuah resital piano, Arlin gak akan pernah dekat dan jatuh cinta sama Aldo. Dibanding adiknya yang tergila-gila sama piano, Arlin lebih memilih basket sebagai pengisi waktu luangnya. Di sekolah, Arlin termasuk salah satu pemain basket andalan. Makanya, dia tidak tahu kalau Aldo yang satu sekolah dengannya itu, adalah pemain piano berbakat.

Malam itu, Arlin terbius oleh alunan permainan piano Aldo. Arlin langsung ‘melihat’ ada sesuatu dalam diri Aldo, dan itu membuatnya susah untuk melupakan Aldo. Malam itu, jadi awal kedekatan Arlin dengan Aldo yang kebetulan tinggal tidak jauh dari apartemennya.

Tapi, Aldo hanya menganggap Arlin sebagai seorang sahabat. Ada orang lain di hati Aldo, bernama Liora. Liora – juga satu sekolah dengan Arlin dan Aldo, tapi beda kelas. Memiliki suara yang indah. Cocok banget kan, pemain piano dan penyanyi? Arlin jelas cemburu banget, karena Aldo selalu memberi perhatian lebih sama Liora. Arlin merasa tersisih. Seberapa keras ia menunjukkan perhatiannya sama Aldo, tapi tetap, Liora yang utama.

Udah lah… dikit aja ‘cerita’nya. Gue membaca buku ini dengan setengah hati. Iseng-iseng aja sebetulnya. Membaca judulnya seolah ‘menjanjikan’ cerita yang indah. Apalagi begitu tau ini ‘hanya’ kisah cinta anak SMA, gue membacanya jadi sambil lalu. Hehehe.. ma’af ya, dik Fenny… gue udah terlalu ‘tua’ untuk baca yang beginian.
Read more »

Rabu, 20 Januari 2010

The Girl with The Dragon Tattoo

The Girl with The Dragon Tattoo
Stieg Larsson @ 2005
Nurul Agustina (Terj.)
Qanita, Cet. I – Juli 2009
780 Hal.

Mikael Blomkvist, seorang wartawan investigasi dari majalah Millenium, terjerat kasus pencemaran nama baik yang menyebabkannya harus dihukum penjara dan dapat menghancurkan karirnya sebagai wartawan. Millenium sendiri terancam gulung tikar karena pemasang iklan banyak yang menarik diri. Lawan Blomkvist tidak tanggung-tanggung, seorang pengusaha besar bernama Wennerström yang memiliki banyak pengaruh.

Datanglah tawaran dari Henrik Vanger, pemilik perusahaan Vanger dan salah satu yang paling berpengaruh di Swedia, yang memintanya menyelidiki sebuah kasus pembunuhan yang terjadi 40 tahun yang lalu. Henrik meminta Blomkvist untuk menyelidiki hilangnya Hariet Vanger, keponakan kesayangannya, yang hilang dan diduga dibunuh, tapi mayatnya tidak pernah ditemukan.

Blomkvist mau menerima tugas itu karena Henrik menjanjikan imbalan berupa data yang bisa membuat Wennerström mati kutu dan membersihkan nama Blomkvist. Maka, pindahlah Blomkvist ke Pulau Hedeby. Dengan alasan untuk membuat biografi keluarga Vanger, Blomkvist mulai mendekati anggota keluarga Vanger dan mencari data-data yang mendukung. Tak semua keluarga Vanger menerima kehadiran Blomkvist. Mereka menganggap, Blomkvist hanyalah alat Henrik untuk ‘memuaskan’ rasa penasaran atas hilangnya Hariet – yang mereka anggap sudah menjadi obsesi atau ‘hobi’ Henrik.

Semua orang yang ada di Pulau Hedeby pada hari itu bisa jadi tersangka. Apalagi menurut Henrik, semua anggota keluarga Vanger memilik ‘keanehan’. Fakta-fakta yang ditemukan sangat mengejutkan. Berhubungan dengan ayat-ayat yang diambil dari Kitab Injil, yang kemudian mengarah pada serangkaian kasus pembunuhan yang tak pernah terpecahkan. Pembunuhan berantai terhadap perempuan-perempuan yang dilakukan dengan cara sadis – merujuk pada penafsiran ayat-ayat Kitab Injil itu dari sudut pandang yang sangat salah. Tak bisa dipungkiri lagi, pelakunya adalah orang yang sangat ‘sakit jiwa’.

Lisbeth Salander dan Blomkvist baru bertemu di tengah-tengah cerita ini. Untuk membantu Blomkvist, Dirch Frode – pengacara keluarga Vanger, meminta bantuan Lisbeth Salander – perempuan muda yang punya masalah pribadi yang tak kalah rumit, selalu berdandan a la punk, jago meng-hack computer, punya ingatan fotografis dan cuek. Kecepatan, ketelitian dan keberanian Salander mampu membantu Blomkvist dalam mengungkap kasus ini. Ternyata kerjasama mereka menghasilkan penemuan yang sangat mengejutkan. Karenanya Blomkvist juga nyaris kehilangan nyawanya.

Dari banyak blog yang gue kunjungi dan pemiliknya pernah baca buku ini, rata-rata mereka memberikan rekomendasi bahwa buku ini bagus dan keren. Bahkan beberapa juga memasukkan buku ini ke dalam daftar buku favorit mereka. Buku ini memang bagus. Buku ini ‘datang’ di saat yang tepat ketika gue lagi pengen baca buku thriller atau yang rada-rada meneganggkan. Emosi gue, ‘adrenalin’ gue dibuat naik turun. Di bagian awal, gue dibuat penasaran dengan cerita kiriman bunga-bunga kering tak bernama, tapi, gue sempat dibuat bosan waktu baca bagian kasus Blomkvist. Adrenalin dan rasa penasaran gue kembali naik ketika udah masuk bagian penyelidikan tentang kasus Hariet Vanger, apalagi waktu fakta-fakta mulai muncul pelan-pelan, rasa ngeri dan ngilu ketika baca detail-detail pembunuhan sadis itu. Lalu, kembali turun, menjelang ending buku ini.

Buku ini menyorot pada kasus pelecehan perempuan yang banyak terjadi di Swedia (atau di belahan dunia manapun). Pelakukanya terkadang orang yang dekat dengan kita – bahkan keluarga sendiri, orang yang harusnya kita percaya. Gak heran kalo Lisbeth Salander akan mencari cara sendiri yang sama sadis dan dinginnya untuk membalas pelaku-pelaku kejahatan itu. Lisbeth sendiri digambarkan sebagai sosok yang juga mengalami kasus pelecehan oleh walinya sendiri, tapi, tidak mampu melaporkan ke polisi atau ke orang lain, karena dia menganggap, tidak akan ada orang percaya, karena si pelaku memiliki kekuasan atau kedudukan yang lebih tinggi dari dia.

The Girl with The Dragon Tattoo adalah buku pertama dari trilogi Blomkvist & Salander (atau The Millenium-series")
Read more »

Rabu, 13 Januari 2010

Garis Perempuan

Garis Perempuan
Sanie B. Kuncoro @ 2009
Bentang, Cet. I – Januari 2010
378 Hal.

Ranting – gadis anak penjual karak – kerupuk beras, ayahnya sudah meninggal. Terpaksa putus sekolah demi membantu ibunya yang terkena tumor ganas. Mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk membiayai operasi ibunya. Tapi, tak bisa menolak ketika dirinya terpaksa ‘ditukar’ atau terpaksa mengorbankan dirinya jadi istri ketiga seorang pengusaha, Basudewo, yang bersedia menanggung biaya pengobatan ibunya.

Gendhing – anak seorang buruh cuci pakaian dan tukang becak. Lulus SMA, tapi belum mampu untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi karena masalah biaya. Mencari pekerjaan, tapi sulit, karena yang dicari lebih dari sekedar lulusan SMA. Beruntung salah satu pelanggan ibunya, Cik Ming – seorang pemilik salon – mau menerimanya sebagai salah satu kapster di salonnya. Tapi… lagi-lagi masalah biaya, hutang-piutang menjerat. Ibunya kehilangan seluruh tabungannya, gara-gara koperasi tempat ia menyimpan uang bangkrut. Malangnya, uang simpanan itu merupakan uang pinjaman dari tengkulak. Gendhing harus memilih, apakah menyerahkan dirinya kepada Indragiri, laki-laki pelanggan salon yang bersedia menerima dirinya sebagai simpanan, atau ‘dibawa’ oleh tengkulak itu sebagai ganti pelunasan hutang?

Tawangsri – anak penjual batik, pendidikan lebih beruntung dibanding dua temannya yang lain. Merindukan sosok ayah yang ada tapi seolah hanya berupa bayangan. Ayahnya pulang ketika ia sudah tidur di malam hari. Dan ketika ia bangun, ayahnya masih tertidur. Ibunya tak pernah protes atau mengeluh. Yang penting bagi ibunya, adalah ayahnya selalu pulang ke rumah. Tawangsri, menemukan sosok ayah yang dirindukan pada laki-laki bernama Jenggala, duda beranak satu yang ditinggal mati oleh istrinya ketika melahirkan anaknya. Ketika Tawangsri pasrah ‘menyerahkan diri’ pada laki-laki itu, jusru bayangan Langit Biru – nama anak kecil itu – yang menyadarkannya.

Zhang Mey – gadis keturunan Cina, anak seorang jurangan becak. Mencintai seorang laki-laki pribumi bernama Tenggar, tapi terbentun adat-istiadat Cina. Terbentur pada keinginan orang tua yang ingin Zhang Mey tetap setia pada leluhur mereka. Meskipun memiliki pendapat yang berbeda dengan orang tuanya, tetap saja ia tak sanggup untuk melawan.

Cerita tentang empat gadis yang bersahabat sejak masa kecil. Saling menguatkan, tapi tetap tidak mampu membantu ketika takdir ‘menghampiri’ mereka. Buku ini seolah ingin menggambarkan ketidakberdayaan perempuan, bahwa perempuan tidak punya pilihan. Berlatar budaya Jawa (tapi gak tau Jawa bagian mana – mungkin gue agak terlewat pas bacanya). Sebagai perempuan (halah…), gue agak gemes pas baca buku ini. Gemes dengan segala kepasrahan mereka. Tapi, ya gitu deh, kadang, kita sendiri mungkin gak bakal bisa berbuat apa-apa, atau mencari pilihan lain kalau lagi terdesak.

I did judge this book by its cover. Hehehe… sejujurnya malah gue sempet lupa judulnya. Abis, covernya lucu sih, menarik. Ini ‘perkenalan’ pertama gue dengan karya Sanie B. Kuncoro. Gue cukup tertarik untuk membaca buku beliau yang lainnya.
Read more »

Senin, 11 Januari 2010

Jampi-Jampi Varaiya

Jampi-Jampi Varaiya
Clara Ng @ 2009
GPU, Cet. I - Desember 2009
320 Hal.

3 orang gadis dari keluarga penyihir – yang lebih dikenal dengan Keluarga Karbohidrat dari nama-namanya. Ada Zea, Solanum dan Oryza. Penyihir di tengah-tengah manusia, yang biasa mereka sebut dengan ‘masyarakat jelata’. Mereka berinteraksi, bekerja sama dengan manusia. Seperti Oryza, yang jadi staf human resources, punya sahabat manusia. Tapi, bukan itu yang diceritakan di sini.

Masalah bermula dari pencurian rempah-rempah Varaiya dari rumah yang merangkap sebagai resto nasi tim bebek milik Nenek Gray, nenek-nya Strawberi. Strawberi ini naksir berat sama Xander. Tapi, Xander sudah dijodohkan sama si tomboy, Oryza. Oryza ditaksir sama Pax – yang juga merangkap jadi kucing jadi-jadian bernama Dakocan.

Salah satu kegunaan rempah-rempah itu adalah untuk membuat masakan jadi lebih lezat. Oryza, penyihir level delapan. Kemampuan sihirnya tidak diikuti dengan kemampuan memasak. Makanya, dia ingin menunjukkan pada semua orang, kalau dia bisa masak. Tapi, siapa sangka, karena terlalu banyak bumbu yang dipakai, malah membuat rendang kreasinya jadi ‘hidup’.

Dan tanpa disengaja, Zea dan Solanum meminum teh Varaiya yang khasiatnya membuat orang jadi punya tenaga ekstra, gak ada cape’nya dan malah jadi hiperaktif. Tapi, kalau terlalu banyak, efeknya adalah kematian bagi orang itu. Ada sih penawar racunnya, tapi obat itu hanya ada di Pulau Varaiya, pulau terpencil yang penuh pengaruh sihir, yang tidak ada di peta Indonesia.

Maka, dimulailah petualang mencari Temarin, obat penawar racun dari rempah Varaiya. Oryza, Samudra (ayah Oryza), Xander dan Pax, ditambah Nuna, anak perempuan kapten kapal yang mereka sewa, mengarungi lautan menuju Pulau Varaiya.

Tapi, ada dua perempuan lain, yang gak rela kalo perjalanan itu berhasil. Mereka ingin salah satu penyihir pria itu ada di tangan mereka. Strawberi dan Aqua, sama-sama naksir Xander. Tapi, Xander tetap cool dan setia sama Oryza.

Gue termasuk penikmat setia karya-karya Clara Ng. Rasa-rasanya, hampir semua buku Clara Ng gue punya, termasuk buku anak-anaknya. Dan, rasa-rasanya juga, baru kali ini Clara Ng nulis buku yang (maunya) kocak – setelah Indiana Chronicles. Tapi, sejujurnya, gue lebih suka baca buku Clara Ng yang rada serius, kaya’ Dim Sum Terakhir atau Uttuki. Di sini banyak lelucon atau joke yang jadi garing, kaya’nya panggilan untuk Strawberi yang selalu disalah-salahi jadi ‘Nangka’, atau ‘Cempedak’ atau apalah – yang berlaku juga untuk Strawberi pas manggil Aqua, jadi ‘Milo’ atau ‘Pocari’. Karena berulang-ulang dan keseringan malah jadi ‘basi’.

Terus, petualang di Pulau Varaiya malah porsinya gak terlalu banyak. Hmmm.. mungkin karena yang difokuskan bukan di pulaunya, tapi di ‘jampi-jampi’-nya ya.

Tapi, cerita belum selesai sampai di sini. Masih ada lanjutan kisah tentang penyihir yang kocak-kocak ini di buku selanjutnya.
Read more »

Selasa, 05 Januari 2010

Weekend in Paris

Weekend in Paris
Robyn Sisman @ 2004
Penguin Books, 2004
389 Hal.

Molly Clearwater, gadis cerdas, suka sama sastra dan seni, kadang-kadang gampang banget mengkhayal. Berkhayal a la tokoh-tokoh sastra klasik dari buku-buku yang sering dibacanya. Bekerja sebagai asisten pribadi seorang boss bernama Malcolm Figg. Boss yang narsis, sok keren, sok macho, sok berkuasa, tapi masih jadi anak ‘mummy’. Molly nekat resign dari kantornya yang bergerak di industri farmasi, gara-gara si Malcolm bilang Molly adalah ‘stupid secretary’, pas di hari seharusnya dia sama bossnya berangkat ke Paris untuk sebuah konperensi kedokteran.

Molly nyaris down, pulang ke flat-nya malu, telp ibunya, pasti bikini bunya panik. Akhirnya, di stasiun kereta, tiba-tiba aja Molly dapat inspirasi. Semua orang tau seharusnya sekarang dia ada di Paris, stasiun Eurostar tiba-tiba ada di depan mata, koper udah siap, lengkap dengan baju baru persiapan untuk ke Paris. Kenapa gak sekalian aja Molly mewujudkan rencana ke Parisnya?

Jadi… dengan nekat, Molly pergi ke Paris. Molly yang baru pertama kali menginjakkan kaki ke Paris, gak punya kenalan, sempat bingung mau ke mana. Nyari-nyari hotel, akhirnya ketemulah sebuah hotel kecil. Di hotel ini, Molly secara tidak sengaja berkenalan dengan perempuan bernama Alice – yang langsung membawa Molly ke club di malam pertamanya di Paris. Di club ini, Molly bertemu cowok Perancis keren bernama Fabrice.

Singkatnya, Molly pun terlibat petualangan romantis (paling gak ini yang ada di pikiran Molly) dengan Fabrice. Fabrice membawanya melihat pemandangan Paris di waktu malam yang indah, bagian-bagian yang terlewatkan oleh turis.

Molly nyaris lupa sama keberadaan Malcolm. Yang ada di pikirannya, hanya menghabiskan waktu bersama Fabrice. Tapi, ternyata, Fabrice nyaris sama dengan Malcolm – merendahkan dirinya, membuat dirinya hampir merasa tidak berharga.

Di Paris, Molly mendapatkan banyak hal baru – teman baru, pengalaman romantis baru, dan kejutan indah yang tak terduga.

Sedikit mengkhayal di awal tahun… ‘ikutan’ Molly jalan-jalan ke Paris, meskipun gak terlalu ‘mengeksploitasi’ keindahan kota Paris, atau makanan yang ‘aneh-aneh’. Ya, seperti biasa, lebih banyak ditekankan pada hal-hal ‘petualangan’ cinta. Coba, bagian Molly nyamar dipanjangin dikit, ngerjain boss-nya. Atau, bagian ‘kejutannya’ ditambah dikit lagi, karena yang harusnya sedikit mengharukan jadi biasa aja.

Tapi, yang gue suka sama Molly, dia gadis yang berani. “It only takes a weekend to change your life…” Hanya tiga hari, Molly jadi tau apa yang sebenernya dia inginkan, bahwa gak seenaknya orang bisa men-judge dia serendah-rendahnya.

Tau gak sihhh… buku ini gue beli October 2006… baru kebaca sekarang.

Read more »

Rabu, 30 Desember 2009

Book of the Year 2009

Dari buku-buku yang gue baca selama tahun 2009, buku-buku favorit gue adalah:
1. The Thirteenth Tale - Dianne Setterfield
2. Q&A (Teka-Teki Cinta Sang Pramusaji) – Vikar Swarup
3. Anne of Green Gables – L. M. Montgomery
4. Taj Mahal – John Shors
5. Honeymoon with My Brother – Franz Wisner
6. Metropolis – Windry Ramadhina
7. Orange – Windry Ramadhina
8. Negeri van Oranje - Wahyungirat, Adept Widiarsa, Nina Riyadi & Rizki Pandu Permana
9. 9 Matahari – Adenita
10.Anne of Avonlea – L. M. Montgomery
11.Anne of the Island – L. M. Montgomery
12.How the World Makes Love – Franz Wisner
13.Perahu Kertas – Dewi Lestari
14.The Palace of Illusions - Chitra Banerjee Divakaruni
15.Kelas Memasak Lilian - Erica Baurermeister
16.Anne of Windy Poplars – L. M. Montgomery
17.Unaccustomed Earth – Jhumpa Lahiri
18.George’s Secret Key to the Universe – Lucy & Stephen Hawking

Kalau dari cover, favorit gue adalah:
1. The Thirteenth Tale - Dianne Setterfield
2. The Mysterious Benedict Society – Trenton Lee Stewart
3. Metropolis – Windry Ramadhina
4. Botchan - Natsume Soseki
5. George’s Secret Key to the Universe – Lucy & Stephen Hawking
6. Joshua Files: The Invisible City – M. G. Harris
Read more »

Silver Phoenix

Silver Phoenix
Cindy Pon @ 2009
Maria Lubis (Terj.)
Mahda Books, Cet. I - Desember 2009
391 Hal.

Adat istiadat di Cina jaman baheula, setiap anak perempuan yang (dianggap) sudah gadis, akan segera dijodohkan untuk kemudian dinikahkan. Demikian juga dengan Ai Ling, di usianya yang ke-17, ibunya memberikan sebuah buku berjudul ‘Buku tentang Penyatuan Dua Sejoli’ – yang berisikan dengan hubungan pria dan wanita. Tidak seperti gadis-gadis lainnya, yang penurut, Ai Ling termasuk anak yang keras kemauannya. Orang tua Ai Ling tidak terlalu kolot. Mereka mengijinkan Ai Ling belajar, sehingga pikirannya lebih terbuka. Tapi, tetap saja, tradisi adalah tradisi – Ai Ling harus tetap menjalankan yang namanya perjodohan.

Waktunya tiba. Tanpa Ai Ling sadari sebelumnya, ternyata ia bisa mendengar apa yang ada di benak calon ibu mertuanya. Perjodohan itu sendiri gagal. Ai Ling tidak sedih karena gagal, tapi ia sedih karena dampak buruk yang akan diterima orang tuanya.

Ternyata kegagalan perjodohan itu membawa Ai Ling pada sebuah petualangan tak terduga dan penuh bahaya. Ayah Ai Ling pergi untuk menunaikan tugas negara. Tapi, sampai beberapa bulan, ayahnya tak juga pulang. Kondisi ini dimanfaatkan oleh seorang laki-laki bernama Master Huang yang hendak menjadikan Ai Ling sebagai istrinya dengan dalih untuk membayar hutang-hutang ayah Ai Ling. Namun, Ai Ling tidak percaya dan memilih pergi dari rumah untuk mencari ayahnya.

Dari awal perjalanannya, Ai Ling bertemu berbagai makhluk aneh yang selama ini ia ketahui dari membaca ‘Buku Kematian’ – buku yang dibaca Ai Ling diam-diam, tanpa sepengetahuan ayahnya. Makhluk-makhluk aneh yang berbeda terus mengikuti Ai Ling sepanjang perjalanan menuju Istana Mimpi-Mimpi yang Harum. Beruntung di tengah jalan, Ai Ling bertemu dengan Cheng Yon, pemuda yang juga dalam pengembaraan mencari jejak orang tuanya, dan kemudian bertemu juga dengan Li Rong, adik Cheng Yon.

Meskipun mendapatkan berkat dari seorang pendeta, tetap saja, makhluk berbahaya dan mematikan terus mengincar mereka. Ternyata, seorang perempuan yang cemburu, mengirim makhluk-makhluk itu untuk membunuh Ai Ling. Tak disangka-sangka, Ai Ling adalah reinkarnasi dari perempuan pujaan penasihat Kaisar bernama Zhong Ye, yang begitu terobsesi pada Silver Phoenix. Ai Ling tidak hanya harus membebaskan ayahnya, tapi juga harus berhadapan dengan Zhong Ye.

Gak hanya orang tua Ai Ling yang punya rahasia, tapi Cheng Yong sendiri juga penuh misteri yang bikin Ai Ling penasaran… ehemmm…

Khas buku fantasi, ada naga, ada makhluk-makhluk aneh, ditambah lagi kekhasan negeri Cina yang penuh persembahan dan dewa-dewi, makanan eksotis dari negeri Cina yang menemani Ai Ling dan Cheng Yong membuat gue terbayang-bayang masakan Cina. Yummm… Tadinya gue pikir ini buku fantasi remaja, tapi ternyata… agak dewasa sedikit meskipun tokoh-tokohnya masih sangat muda.

Sebenernya sih, banyak banget yang seharusnya bikin deg-degan dengan seringnya Ai Ling ketemu sama makhluk aneh, terus, suku-suku aneh yang (kata Cheng Yong) ada di Buku Negeri-Negeri di Atas, atau dewa-dewi yang ada dalam Makhluk Abadi. Cuma… kenapa yang, koq gak tegang-tegang banget baca buku ini? Padahal perjalanan Ai Ling berat banget, ceritanya mengalir tenang dan agak kurang greget (apa gue aja yang gak dapet ‘feel’-nya?)
Read more »

Minggu, 27 Desember 2009

Unaccustomed Earth

Unaccustomed Earth
Jhumpa Lahiri @ 2008
Bloomsbury - 2009
333 Hal.

‘Perkenalan’ pertama gue dengan Jhumpa Lahiri di tahun 2008, lewat buku ‘The Namesake’. Gue langsung jatuh cinta dengan tulisannya. Tapi, sayang gue belom sempet baca ‘The Interpreter of Maladies’ karena selalu tergoda sama buku-buku lain. Unaccustomed Earth, gue temukan di rak new release di Times UPH – Karawaci. Iseng-iseng aja sih, gue baca halaman pertama… dan gue langsung tertarik, karena ternyata bahasanya ringan dan mudah diikuti (Inggris-nya gak bikin pusing, dan… discount 20%!)

Unaccustomed Earth merupakan kumpulan cerita pendek. Ada 8 tepatnya, Unaccustomed Earth sendiri adalah cerita pertama dalam buku ini. 5 cerita di bagian pertama adalah cerita-cerita yang gak ada hubungannya satu sama lain, sedangkan di bagian kedua, bercerita tentang perjalanan hidup Hema dan Khausik.

Dari 8 cerita itu, ada ciri khas atau ‘benang merah’nya. Semua bercerita tentang orang-orang India yang ber-imigrasi ke Amerika untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Di tanah rantau, mereka menjalin persahabatan dengan sesama warga India pendatang lainnya. Mereka beranak-pinak di sana, tapi tradisi seolah ‘terhenti’ pada orang tua. Para orang tua masih melalukan ritual mudik setiap tahun, sementara anak-anak mereka sudah terpengaruh budaya modern – menjalin hubungan dengan bukan orang India, jarang menggunakan bahasa Ibu mereka.

Setiap cerita dalam buku ini, meskipun seperti yang gue bilang punya benang merah, tapi menyajikan cerita atau sudut pandang yang berbeda. Tapi, gak usahlah diceritain satu-satu kali ya. Yang pasti, semuanya begitu simple, tapi dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Bukan cerita-cerita yang menjual mimpi-mimpi indah atau romantisme belaka, tapi… bahasanya yang sederhana, membuat semua cerita jadi indah (bingung?). Pokoknya gue begitu terhanyut dengan semua cerita dalam buku ini. Cerita favorit gue adalah Unaccustomed Earth dan bagian Hema dan Khausik.
Read more »