Minggu, 25 April 2010

Pelacur, Politik, dan hehehe...

Judul : Pelacur, Politik, dan hehehe
Penulis : Tandi Skober
Penerbit : Kakilangit Kencana
Cetakan : I, November 2009
Tebal : 557 hlm

Saat ini ramai jadi polemik, mengenai syarat tidak cacat moral bagi calon kepala daerah dalam pemilihan kepala daerah. Ada yang pro ada yang kontra. Apakah tabu bagi seorang yang memiliki masa lalu hitam untuk menjadi kepala daerah? Bagi Tandi Skober, penulis senior kelahiran Indramayu 50 tahun yang silam ini syarat tersebut tidaklah berlaku. Hal tersebut terungkap dalam novelnya yang berjudul “Pelacur, Politik, dan hehehe “, dengan imajinasinya Tandi Skober tidak hanya mendudukkan seorang pelacur yang jelas-jelas dianggap memiliki moral yang hitam untuk menjadi kepala daerah, ia bahkan menjadikan seoerang pelacur kelas bawah menjadi calon presiden !

Bagaimana mungkin seorang pelacur bisa dicalonkan untuk menjadi Presiden? Penasaran? Bacalah buku ini. Novel ini menceritakan sosok seorang pelacur kali Asat – Indramayu yang bernama Sumi yang akhirnya terseret masuk ke dalam dunia politik. Sumi adalah pelacur kelas bawah yang berjuang untuk menghidupi keluarganya. Awalnya ia pelacur yang kurang dikenal, bahkan mucikarinyapun selalu meremehkannya, namun ia tak menyerah pada keadaan, keuletannya berhasil membuat dirinya menjadi salah satu pelacur yang terkenal di Kali Asat, yang tadinya hanya bertarif puluhan ribu saja hingga akhirnya laku satu juta rupiah!

Kemauannya untuk maju, kepercayaan dirinya yang tinggi, kemahirannya bersilat lidah, dan dewi keberuntungan yang selalu menyertainya membuat Sumi akhirnya meraih kesuksesan. Kepopuleran Sumi akhirnya terdengar hingga ke Jakarta. Sebuah perusahaan penyedia jasa wanita bagi kalangan pejabat tertarik untuk menjadikannya asset berharga bagi perusahaaannya. Dengan sebuah cara yang tak terduga akhirnya Sumi berhasil direkrut oleh perusahaan tersebut. Disana ia dilatih, didandani untuk dijadikan pelacur kelas atas yang beroperasi di Jakarta.

Lalu dikisahkan juga dua konglomerat Kor dan Karel, walau bersahabat mereka saling bersaing, hobinya adalah melakukan judi dengan perusahaan sebagai taruhannya. Bosan dengan judi bisnis, mereka melakukan taruhan politik. Karena saat itu sedang masa-masa menjelang pemilihan Presiden, Kor dan Karel masing-masing membentuk sebuah partai politik dan memilih seorang calon untuk menjadi kandidat presiden. Kor mendirikan Partai Nalar dengan memilih seorang intelektual nyeleneh Prof. Nurkhlilap Wahid sebagai calon Presiden, sedangkan Karel mendirikan Partai Akar Rumput dengan Sumi sebagai calon presidennya.

Seperti yang terungkap dalam judul dan covernya yang terkesan lucu, novel ini memang merupakan novel yang bernuansa humor. Tandi Skober tampaknya berhasil menghadirkan dialog-dialog yang menggelitik yang membuat kita bisa tersenyum simpul hinga tertawa terbahak-bahak.

Namun novel ini tak hanya menyajikan kisah yang lucu dan menghibur, ada juga bagian-bagian yang serius yang mengajak kita untuk memahami problematik kehidupan masyarakat bawah khususnya kehidupan para pelacur beserta keluarganya. Melalui kisah Sumi ini akan terungkap bagaimana kesulitan ekonomi yang membelit keluarganya sehingga membuat kedua orang tua Sumi dengan kesadaran penuh mendorong anak-anaknya untuk menjadi seorang pelacur. Bagi mereka profesi pelacur sudah bukan lagi perbuatan nista tapi sudah menjadi semacam profesi utama bagi yang bisa menghidupi keluarga mereka

Dalam novel ini penulis juga memasukkan unsur budaya lokal setempat seperti budaya Sintren lengkap dengan legenda yang menyelimutinya. Agar lebih membumi dan menghadirkan suasana lokal penulis juga memasukkan istilah-istilah khas Indramayu seperti tlembuk, kamitenggeng, sejatining, sumringah, dan lain sebagainya.

Selain kisah kehidupan pelacur Kali Asat yang terwakili oleh karakter Sumi, kisah politik yang mewarnai novel ini juga tak kalah menarikya. Diwakili oleh tokoh Kor dan Karel novel ini seakan hendak mengungkap sisi gelap dunia politik yang penuh dengan intrik dan menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan. Lihat saja bagaimana pada akhirnya peta politik dikuasai oleh dua orang konglomerat Kor dan Karel yang dengan uang dan kekuasaannya mampu mengendalikan siapa yang berhak duduk di kursi kepresidenan.

Bagi saya apa yang ditulis Tandi Skober dalam novelnya ini merupakan karya yang komplit, ada kehidupan rakyat kecil lengkap dengan kritik-kirik sosial, ada budaya lokal Indramayu, fenomena carut marut politik tanah air, kisah cinta romantis, wejangan hidup, dan lain sebagainya. Semua unsur itu diikat dalam sebuah kisah yang menarik, walau ada intrik-intrik politik namun apa yang dinarasikan tak membuat kening berkerut karena penulis mengisahkannya dengan cair dan jenaka.

Karena berkisah mengenai seorang pelacur maka dialog-dialog yang menyerempet soal seks dan perilaku seksnya tentu saja menjadi tak terhindarkan, untungnya penulis tidak terjebak dalam kisah atau deskripsi seks yang vulgar, kalaupun ada adegan persetubuhan maka hal tersebut dideskripsikan dengan wajar, bahkan ketika Sumi melayani seorang pensiunan Jenderal adegan tersebut dinarasikan dengan indah. Selain itu walau dialog-dialog dan isitilah nakal betebaran disekujur novel ini hal ini justru membuat narasinya menjadi begitu hidup dan membawa pembacanya untuk lebih menyatu dengan kisahnya.

Demikian mengenai novel ini, bagi saya pribadi saya sangat enjoy membaca novel ini. Nyaris tak ada kritik dalam novel ini kecuali ada beberapa hal yang mungkin berupa kesalahan editing saja. Selebihnya tidak ada. Jadi bacalah.

Walau novel ini terkesan hanya sebagai novel yang menghibur, namun ada banyak pesan yang tampaknya disampaikan oleh Tandi Skober. Yang pasti setelah membaca novel ini saya jadi khawatir apakah peran konglomerat dalam percaturan politik di Indonesia sebesar peran Kor dan Karel dalam novel ini yang menjadikan politik sebagai permainan judi ? Jika demikian betapa mengerikannya negeri ini, semoga apa yang ditulis Pak Tandi memang hanya sekedar khayalan ya….semoga.

@htanzil
Read more »

Minggu, 18 April 2010

Fragile Eternity

Fragile Eternity (Keabadian yang Rapuh)
Melissa Marr @ 2009
Monica Dwi Chresnayani (Terj.)
GPU - Maret 2010
416 hal.

Di buku ketiga ini, semua makin rumit, tumpang-tindih dan bikin pusing.

Aislinn yang sudah jadi Ratu Musim Panas, seharusnya mendampingi Keenan memerintah Kerajaan Musim Panas, tapi, Aislinn masih ‘terjebak’ dalam hubungan percintaan dengan seorang mortal, Seth Morgan. Sementara Keenan sendiri mencintai Ratu Musim Dingin yang baru, Donia. Belum lagi, adanya Kerajaan Kegelapan yang sekarang dipimpin oleh Niall, mantan penasihat Kerajaan Musim Panas.

Di Kerajaan Agung, Bananach, sang Perang, terus-menerus mencari cara agar timbul perang untuk menuntaskan rasa laparnya akan darah.

Seth dan Aislinn berada dalam sebuah dilemma. Aislinn takut suatu saat ia tetap harus kehilangan Seth. Sementara Seth berkeinginan untuk mengubah dirinya menjadi immortal agar bisa terus mendampingi Aislinn.

Tapi, makin lama, semakin mendekati musim panas, Aislinn nyari tidak bisa menolak ‘pesona’ Keenan. Mau gak mau, karena memang Aislinn harus mendampingi Keenan. Baik Keenan maupun Seth, berusaha menahan diri, menahan rasa cemburu.

Sampai akhirnya Seth, mencari cara sendiri untuk menjadikan dirinya seperti Aislinn sekarang. Selama ini, baik Aislinn, Keenan atau pun Niall, tidak ada yang mau membantu agar Seth bisa jadi immortal. Tapi, salah satu anggota Kerajaan Agung menawarkan bantuan itu dan tentu saja tidak disia-siakan oleh Seth.

Seth menghilang, Aislinn jadi kalang-kabut. Adanya Keenan membuat Aislinn jadi lebih tenang. Tapi, apa iya, hatinya bisa berpaling dari Seth?

Pusing gue baca buku ketiga ini. Pengen cepet-cepet selesai aja bacanya. Semuanya berkisar antara Aislinn yang masih setengah-setengah hati dan gak tegas, terus Seth yang jadi egois. Semua di sini gak ada yang benar-benar baik. Niall yang tampak baik, tapi tetap aja menyimpan aura jahat karena ia Raja Kegelapan. Belum lagi sosok mengerikan Bananach.

Dan ternyata… masih ada yang keempat… tokohnya si Ani, makhluk setengah mortal, setengah faery, anaknya Hound Gabriel (yang muncul di buku kedua) – gak tau deh, masih pengen lanjut apa nggak.
Read more »

Senin, 12 April 2010

Magical Giveaway @ Books of Dela


wow... ada giveaway buku Alice in Wonderland di sini.

Iseng-iseng, ikutan yukkk... sapa tau beruntung
Read more »

Blue Remembered Heels

Blue Remembered Heels (Sepatu Biru Kenangan)
Nell Dixon @ 2008
Tisa Anggriani (Terj.)
M-Pop (Penerbit Matahati) - Cet. I, Maret 2010
311 Hal.

Charlie, Abbey dan Kip Gifford – 3 bersaudara yang masih sangat muda, terpaksa hidup sendiri karena ditinggal oleh ibu mereka. Mereka tidak tahu ke mana ibu mereka pergi. Di awal-awal mereka terpaksa tinggal dengan Bibi Beatrice.

Mereka bertiga hidup dari menipu. Yup… Charlie yang cantik yang menjadi pemimpin. Menggoda orang-orang – terutama pria, yang kaya raya. Lalu mengambil uang mereka dan kabur. Abbey, sebagai asisten Charlie dan Kip yang rada ‘nerd’ bagian riset.

Setelah melakukan penipuan, biasanya mereka langsung mencari tempat tinggal baru untuk menghilangkan jejak mereka.

Tapi… gara-gara Abbey tersambar petir, rencana mereka untuk menipu Freddie nyaris gagal. Masalahnya, Abbey jadi gak bisa berbohong. Setiap ditanya, ia akan selalu berkata jujur. Karuan Charlie jadi sangat kesal.

Belum lagi, tiba-tiba ada yang seolah mengawasi mereka. Seorang polisi ganteng bernama Mike.

Ternyata urusan dengan Freddie, tidak berhenti sampai di situ saja. Freddie sadar kalau mereka sudah menipunya dan terus mengirimkan ancaman-ancaman lewat telepon.

Akibat tersambar petir, bukan hanya masalah Abbey yang tidak bisa berbohong, tapi juga, Abbey selalu mendapatkan mimpi tentang seorang perempuan bersepatu biru.

Cerita ini menurut gue, biasa aja. Kurang ‘greget’, padahal misteri si sepatu biru mungkin bisa di-ekspos lebih (duhhh… kaya’ gue yang bisa nulis aja). Dan hubungan Freddie dan perempuan bersepatu biru itu rada dipaksakan, gak jelas asal mula dan penyebabnya apa. Ada konflik apa antara Freddie dan perempuan itu. Cerita yang maunya complicated jadi so simple. Karakter-karakternya juga kurang 'kuat'.
Read more »

Minggu, 11 April 2010

Twenties Girl

Twenties Girl
Sophie Kinsella @ 2009
Dell Mass Market International Edition – 2010
497 Hal.

Sadie muncul tepat di hari seharusnya ia dimakamkan. Acara pemakaman hanya dihadiri segilintir orang, padahal umur Sadie mencapai 105 tahun! Sadie memilih ‘menghantui’ cucunya, Lara Lington. Sadie jadi ‘arwah penasaran’ karena ia kehilangan salah satu miliknya yang paling berharga. Ia pun menugaskan Lara untuk mencari barang berharga itu.

Lara Lington, tidak percaya ia bisa melihat hantu. Interupsi Lara di acara pemakaman, membuat ia sempat dikira depresi berat akibat putus cinta sama pacarnya. Lara mengemban tugas yang sangat berat, karena keberadaan barang itu yang tidak diketahui. Padahal, Lara sendiri nyaris tidak mengenal sosok neneknya itu.

Keinginan Sadie ternyata tidak hanya terhenti pada barang itu, tapi ada saja yang aneh. Ia minta Lara berkencan dengan seorang pria yang dianggapnya sangat keren, Lara harus berdandan a la tahun 20an, lalu mengajak pria itu berdansa gaya tahun 20an juga.

Ternyata, barang yang sangat berharga itu menyimpan berjuta rahasia – termasuk rahasia kehidupan seorang Sadie Lancaster.

Awalnya sosok Sadie itu terkesan sangat menggangu, dan reseh banget. Udah gitu Sadie sangat bossy dan egois. Sering banget ‘memaksakan kehendaknya’, sampe-sampe gue kadang kasian sama Lara dan gregetan sama Sadie. Tapi.. gue sedih ketika harus pisah sama Sadie… hiks…

Buku ini adalah salah satu buku yang masuk dalam daftar yang ‘wajib’ gue baca di tahun ini. Beruntung adek gue ternyata duluan beli, jadi gue tinggal pinjem. Ya… Sophie Kinsella adalah salah satu penulis chicklit yang buku-bukunya masih selalu gue baca, karena selalu ada yang lain di tiap bukunya. Beda dengan yang lain, yang rata-rata mirip.

Nah, di buku ini, yang beda dari buku-bukunya yang lain, adalah tokohnya yang berwujud ‘hantu fashionista’. Jangan bayangkan penampilan hantu yang menyeramkan dengan muka pucat seputih-putihnya, rambut panjang terjurai ke depan, mata dengan lingkaran hitam. Wow, Sadie Lancaster tidak seperti itu. Sadie Lancaster, ‘tampil’ dalam wujud gadis remaja tahun 20an. Penampilannya selalu bergaya dengan baju-baju yang trend di tahun 20an.
Read more »

Rabu, 07 April 2010

Hatta, Hikayat Cinta & Kemerdekaan

No. 233
Judul : Hatta, Hikayat Cinta & Kemerdekaan
Penulis : Dedi Ahimsa Riyadi
Penerbit : Edelweiss
Cetakan : I, Januari 2010
Tebal : 279 hlm

Kehidupan para tokoh sejarah memang menarik untuk ditulis, tak heran begitu banyak biografi, memoir, atau buku-buku yang mengupas kisah hidup tokoh-tokoh sejarah. Begitupun dengan kisah kehidupan Mohamad Hatta. Jika kita perhatikan selain Memoir Hatta yang terbit pertama kalinya pada tahun 1982
oleh penerbit Tinta Mas, muncullah beberapa tulisan dan buku tentang Hatta baik yang ditulis oleh keluarganya maupun dari orang-orang terdekatnya.

Seolah ingin melangkapi kehadiran buku-buku tentang Hatta, Dedi Ahimsa Riyadi, penulis yang aktif menulis cerpen, artikel sastra, budaya dan agama yang diantaranya dimuat di Kompas, Sindo, dan Pikiran Rakyat menulis sebuah buku tentang Hatta berjudul, Hatta, Hikayat Cinta & Kemerdekaan”. Buku ini dilabeli oleh penerbitnya sebagai sebuah “Novel Biografi”.

Buku ini tampaknya berhasil merekam fragmen panjang kehidupan dan perjuangan Hatta mulai dari masa kecil, hingga sepak terjangnya sebelum dan sesaat setelah kemerdekaan. Walau bertaburan oleh fakta sejarah namun kalimat-kalimatnya enak dibaca seperti layaknya buku fiksi.

Penulis membagi buku ini menjadi dua bagian besar, bagian pertama menceritakan masa kecil Hatta sejak di Bukittingi, hingga sekolah di Padang. Di bagian ini akan terungkap bagaiman ia dibesarkan dengan baik. Keluarganya adalah keluarga yang mengutamakan agama dan pendidikan sebagai hal yang penting bagi putra-putirnya. Tadinya ibunya maupun kakeknya menginginkan agar Hatta melanjutkan sekolahnya hingga ke Mekkah, namun takdir membawa Hatta menimba ilmu hingga ke negeri Belanda. Pondasi keagamaan dan pendidikan yang dibangun oleh keluarganya sejak Hatta belia inilah yang di kemudian hari akan menjadi pegangan dan sandarannya dalam memilih jalur pergerakan.

Separuh bagian lain menceritakan kehidupan Hatta selama menempuh pendidikan di Belanda, sampai kembali ke Indonesia, memimpin organisasi pergerakan, kehidupannya di Digul, hingga perannya dalam mengantar Indonesia ke gerbang kemerdekaan dan sebagai proklamator-penandatangan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia. Di bagian ini juga akan terungkap berbagai perbedaan pendapat dan polemik di surat kabar mengenai bentuk perjuangan yang harus dilakukan guna mencapai kemerdekaan Indonesia.

Secara umum buku ini memang menarik, namun ada juga kekecewaan saya terhadap buku ini. Mungkin karena saya terlalu berekspektasi terlalu jauh terhadap buku yang diberi label novel biografi ini. Karena di cover buku ini tertera predikat sebagai “Novel Biografi” saya beranggapan buku ini ya seperti novel-novel pada umunya dimana ada kisah-kisah kehidupan yang menarik atas tokoh Hatta yang terungkap. Namun sayangnya novel ini terlalu setia pada alur sejarah. Tak ada kisah-kisah kehidupan Hatta yang ditafsirkan oleh penulisnya. Padahal dalam ranah fiksi, walau tokoh yang diangkatnya merupakan tokoh sejarah penulis toh punya kebebasan untuk mengembangkan kisahnya sendiri sesuai dengan imajinasinya.

Hal ini tampaknya tidak dilakukan oleh penulis. Jadinya apa yang dikisahkan sama dengan buku-buku memoir Hatta ataupun buku-buku lain tentang Hatta. Tak ada kisah yang baru tentang Hatta di novel ini, penulis hanya membeberkan fakta dan menambahkan suasana, deskripsi tempat, dan sedikit sekali dialog antar tokoh-tokohnya. Jadi membaca novel ini tak ubahnya seperti membaca buku memoir, bukan novel!

Padahal berdasarkan apa yang terdapat dalam buku ini, penulis tampak mengetahui sekali alur dan fakta2 sejarah kehidupan Hatta, itu bisa jadi modal utama untuk memfiksikan kehidupan Hatta, sayang penulis tidak melakukannya dan memilih hanya membeberkan fakta sejarahnya saja. Andai saja penulis berani menciptakan drama kehidupan Hatta selama masa kanak-kanak, hubungannya dengan saudara-saudaranya, kehidupannya selama di Belanda, perjuangannya mempertahankan hidup di Digul dengan lebih naratif, lengkap dengan konflik-konflik batin yang dialami Hatta tentunya buku ini akan semakin menarik.

Karena tidak adanya drama kehidupan Hatta yang diceritakan, sosok Hatta di novel ini menjadi sama dengan sosoknya di buku-buku sejarah, seorang tokoh sejarah yang nyaris sempurna. Padahal jika buku ini diniatkan sebagai sebuah novel, tentunya akan lebih menarik jika sosok Hatta dihadirkan sebagai sosok manusiawi dengan segala persoalan dan kelemahan-kelemahannya. Selain itu Alur kisahnya yang terkadang melompat-lompat dan beberapa pengulangan di sana-sini sedikit banyak agak mengganggu saya dalam menikmati buku ini.

Cover buku dan judul buku ini juga sempat membuat saya terkecoh. Begitu melihat judul “Hikayat Cinta dan Kemerdekaan” dan cover buku ini yang menampilkan Hatta bersama dengan Rahmi Hatta saya langsung menduga bahwa akan ada kisah menarik tentang kisah cinta antara Hatta dengan Rahmi, ternyata tidak, hanya sedikit sekali kisah mengenai Hatta dan Rahmi di novel ini.

Novel ini juga dihiasi oleh beberapa foto Hatta, sayang penempatannya tidak sesuai dengan narasinya, misalnya foto Hatta di Jenewa, 1952 disisipkan di bagian kelahiran Hatta, foto ulang tahun ke 70 ditempatkan di bagian yang mengisahkan proklamasi kemerdekaan, dll. Mungkin daripada foto-foto tersebut ditempatkan tidak sesuai dengan narasinya akan lebih baik jika ditempatkan saja di halaman khusus foto.

Namun terlepas dari hal diatas, sebagai sebuah buku yang mengungkap kehidupan Hatta dan sepak terjangnya buku ini bisa dijadikan pilihan. Tak berlebihan jika dikatakan bahwa buku ini merupakan buku pengantar bagi mereka yang baru dan ingin mengenal siapa sosok Hatta.

Fakta-fakta sejarah yang terungkap cukup lengkap, pembaca diajak mengetahui bagaimana sejarah Perang Paderi, perjuangan Hatta di Belanda bersama perkumpulan Perhimpunan Indonesia, bagaimana Hatta membesarkan partainya, perbedaan pendapatnya dengan Soekarno, kecintaannya terhadap buku, dan sebagai bonus bagi pembaca adalah dimuatnya puisi karya Hatta yang berjudul "Berantara Indera" sebagai penutup buku ini.

Dalam endorsmentnya Acep Zamzam Noor menulis bahwa, “ Apa yang dilakukan penulis dalam buku ini bukan sekedar mengungkap fakta-fakta sejarah, tapi bagaimana fakta-fakta tersebut diungkapkan dengan cara yang indah. Dengan demikian, bagi saya buku ini merupakan sebuah karya sastra.”

Saya sepakat dengan endorsement Acep Zamzam Noor, buku ini memang berhasil menyastrakan sebuah narasi sejarah dan kehidupan Hatta, namun sebagai novel, berdasarkan hal-hal yang telah saya tuliskan di atas, saya rasa buku ini bukan sebuah novel melainkan sebuah memoir atau buku sejarah dengan kemasan sastra.

@htanzil

Read more »

Buddha

Buddha: A Story of Enlightenment
Deepak Chopra @ 2007
Rosemary Kesauly (Terj.)
GPU - April 2008
400 Hal.

Raja Suddhodana adalah raja yang haus dengan kekuasaan (tentu aja.. mana ada raja yang diem aja?). Ia berperang untuk menjatuhkan musuh-musuhnya, darah dan kesakitan adalah adrenalin yang terus memacunya, agar musuh-musuh bertekuk lutut dan menyerah di bawah kekuasaannya. Tentu saja, untuk menjaga agar kerajaannya tetap utuh, ia membutuhkan seorang penerus, seorang anak laki-laki.

Anak laki-laki yang ditunggu itu pun lahir. Ia diberi nama Siddhartha. Namun sayang, ibunya, Maya, meninggal beberapa hari setelah kelahiran Pangeran Siddharta. Pendeta-pendeta Brahmana dipanggil untuk meramalkan masa depannya. Pangeran Siddhartha diramal akan menguasai dunia dari empat penjuru mata angin. Mendengar ramalan ini, tentu saja Raja Suddhodana gembira. Tapi, ternyata menguasai dunia di sini bukan dalam arti menjadi raja, tapi menjadi seseorang yang lain.

Raja segera memerintahkan agar pintu-pintu kerajaan ditutup, penduduk yang sakit, yang sudah tua diusir dan dipindahkan ke tempat lain. Sang Pangeran Muda ini tidak boleh melihat adanya penderitaan. Ia harus diajarkan untuk menjadi seorang raja, menjadi prajurit dan calon pemimpin.

Untuk menemaninya, dipanggillah Devadatta, seorang pangeran muda dari salah satu kerajaan yang ditaklukan Raja Suddhodana. Tapi sayang, Devadatta punya misi tersendiri. Bukan menjadi teman, ia malah akan balik menjadi lawan.

Tapi layaknya remaja, Pangeran Siddhartha punya banyak keingintahuan. Temannya hanya Channa, anak seorang pengurus kuda. Pangeran Siddhartha merasa ada yang aneh di dalam kerajaan ini. Ia sering mendengar ‘suara-suara’ di dalam kepalanya sendiri. Ia berbeda dari bagaimana seorang pangeran harus berlaku. Dan ini membuat ayah dan gurunya cemas.

Pangeran Siddhartha pun memilih jalannya sendiri. Di usianya yang ke 29 tahun, ia memilih meninggalkan kehidupan istana, meninggalkan istri dan anaknya dan pergi mengembara menjadi seorang petapa.

Dalam perjalanannya menjadi petapa inilah, Siddhartha yang berganti nama menjadi Gautama – nama keluarga yang sudah lama tidak dipakai, ia mencari guru yang bisa mengajarinya, memberi jawaban atas apa yang dicarinya. Mencari pencerahan dan meninggalkan segala hal yang berbau duniawi.

Ia bertemu dengan banyak petapa, ada yang baik, ada yang ternyata hanya berpura-pura menjadi petapa agar bisa mengundang belas kasihan orang. 45 tahun lamanya ia menjadi seorang petapa, Gautama menjadi seorang Buddha, pengikut pertamanya adalah 5 orang petapa yang di awal-awal sering mengadakan perjalanan bersama Gautama. Pada akhirnya, Gautama menemukan sebuah pencerahan, ia memandang hidup dengan sederhana dan damaiiiii banget.

Sejujurnya gue tidak terlalu mengenal sosok ‘Buddha’. Gue hanya tau dari patung-patung yang ada di Candi Borobudur, kalau Buddha itu bernama Siddhartha Gautama. Hanya itu. Dari buku ini, hanya dua bagian pertama yang bisa gue ‘nikmati’, yaitu bagian pertama saat masih menjadi Siddharta dan bagian kedua ketika udah jadi Gautama. Bagian ketiga, yang judulnya Buddha, rasanya lebih serius, meskipun harus gue akui isinya bagus, justru di bagian ini (mungkin) inti dari pelajaran Buddha. Tapi… ya itu, mungkin karena terlalu serius, gue jadi bosan dan memilih ‘mempercepat’ baca bagian terakhir.

Meskipun gue bukan penganut Buddha, tapi pelajaran-pelajaranya bisa diambil untuk semua orang, bukan hanya untuk penganut Buddha.
Read more »

Senin, 05 April 2010

Anne’s House of Dreams

Anne’s House of Dreams
Lucy M. Montogmery @ 1917
Maria M. Lubis (Terj.)
Qanita – Cet. I, February 2010
420 Hal.

Uuuuu… akhirnya Anne sama Gilbert menikah. Pernikahan pertama di Green Gables. Sebuah upacara pernikahan yang sama seperti yang ada di dalam angan-angan Anne. Gilbert, cowok yang dulu ‘dibenci’ Anne, akhirnya bisa menaklukkan hatinya. Gilbert sekarang udah jadi dokter, sementara Anne ‘berhenti’ jadi ibu guru.

Sebagai istri, Anne pun ikut pindah ke tempat Gilbert bertugas, di sebuah daerah bernama Four Winds Harbour, di Pantai Glen St. Mary. Rumah impian Anne sudah menunggu, sebuah rumah yang cantik, penuh dengan pohon, dialiri sebuah sungai kecil dan yang penting dekat dengan pantai.

Bukan Anne namanya kalau tidak mencari ‘teman sejiwa’ di mana pun ia berada. Di Four Winds ini, Anne menemukan beberapa sahabat baru, ada Kapten Jim, seorang pelaut tua yang tinggal di mercu suar, lalu ada Miss Cornelia Bryant, perempuan tua yang mirip dengan Mrs. Rachel Lynde, dan si cantik yang misterius bernama Leslie Moore.

Sejak pertama kali melihat Leslie Moore, Anne terpikat oleh kecantikannya. Tapi sayang, wajah cantik itu tampak muram dan menyimpan duka serta rahasia. Anne bertekad membuatnya tersenyum.

Anne dan Gilbert memang benar-benar pasangan yang serasi. Mereka jarang bertengkar, selalu penuh kasih sayang. Tapi, mereka juga sempat mengalami sebuah kejadian yang menyedihkan di Four Winds ini. Dan ternyata, Four Winds bukanlah tempat terakhir bagi Anne untuk mencari rumah impiannya.

Anne yang semakin beranjak dewasa justru membuat gue jadi ‘kangen’ sama Anne kecil, Anne yang polos. Meskipun Anne masih tetap berjiwa romantis dan penuh mimpi, buat gue yang paling berkesan ya justru Anne kecil.

Di buku ini, rasanya hari-hari berlalu dengan cepat. Tau-tau Anne sudah melahirkan, padahal lucu juga kaya’nya kalo digambarkan gimana sih Anne kalo lagi hamil, gimana mimpi romantisnya sebagai calon ibu. Dan sayang banget, Anne ‘hanya’ jadi ibu rumah tangga. Justru lebih menarik kalo pasangan pengantin baru ini dikenal sebagai pasangan dokter dan ibu guru. Orang-orang yang dikenal Anne juga gak terlalu banyak, hanya berkisar cerita tentang Kapten Jim, Miss Cornelia dan Leslie Moore. Tentang ‘agama’ juga lumayan banyak diperdebatkan di sini. Hmmm.. buat gue agak ‘mengganggu’ jalannya cerita.
Read more »

Rabu, 31 Maret 2010

Wicked #1 (Witch)

Wicked #1 (Witch)
Nancy Holder & Debbie Vigué @ 2002
Meithya Rose Prasetya (Terj.)
Penerbit Matahati – 2010
376 Hal.

600 tahun yang lalu, sebuah upacara persembahan digelar dengan demi mendapatkan sebuah kekuatan sihir. Pembunuhan missal terjadi untuk mendapatkan sebuah sihir yang sangat kuat bernama Black Fire, dengan sihir ini, sebuah kelompok penyihir akan menguasai dunia. Ada dua kelompok sihir yang terkuat, yaitu Dinasti Deveraux dan Dinasti Cahors. Black Fire dimiliki oleh Dinasti Deveraux. Sang Ratu Catherine bertekad mendapatkan Black Fire. Perjodohan puterinya – Isabeau dan Jean Deveraux pun diatur. Dengan tujuan memperoleh anak laki-laki agar bisa menyatukan dua kekuatan sihir, pernikahan pun terlaksana. Tapi, ternyata Ratu Catherine sangat licik, ia memberi ramuan agar puterinya tidak pernah hamil, padahal dengan melahirkan anak laki-laki, rahasia Black Fire akan diberikan oleh Dinasti Deveraux.

Dendam terus berlanjut sama ke keturunan mereka yang nyaris tidak tahu-menahu akan adanya kekuatan sihir.

600 kemudian… seorang remaja bernama Holly Cathers terpaksa pindah dari San Fransisco ke Seattle. Ia menjadi sebatang kara karena kedua orang tuanya tewas dalam suatu kecelakaan ketika sedang berarung jeram. Holly satu-satunya yang selamat. Di Seattle ia pindah ke rumah Bibi Marie-Claire, adik ayahnya, yang tidak pernah ia ketahui sebelumnya. Ia tinggal bersama dengan sepupunya si Kembar – Amanda dan Nicole.

Di sini, Holly mengalami berbagai kejadian aneh yang selalu nyaris mencelakannya. Pertemuannya dengan keluarga Deveraux berbuntu mimpi-mimpi aneh, sebuah kejadian entah di mana, seolah Holly pernah mengalaminya.

Michael Deveraux dan anaknya, Eli, melakukan sihir-sihir hitam untuk menghancurkan Holly dan keluarga Cathers yang lain. Keluarga Cathers adalah keturunan Dinasti Cahors yang sudah berganti nama. Salah satu anak Deveraux, Jer, bermaksud melindungi Holly.

Awalnya gue bingung baca buku ini, karena tiba-tiba satu peristiwa bersambung ke satu peristiwa lain sebelum sempat ‘mencerna’ peristiwa yang pertama. Banyak peristiwa yang ‘mengerikan’ dan sadis. Sempat membuat gue berpikir, kalo buku ini hanya ‘balas dendam’ melulu isinya.

Tapi, aksi si Kembar dan Holly, ditambah mantra-mantra pelindung dari si misterius Jer, bikin buku ini jadi lumayan ‘keren’. Dari awal buku ini emang terkesan gelap, suram. Minim ‘senyum’ dan ketawa.

Masih banyak misteri yang belum terungkap, misalnya kenapa ayah Holly tiba-tiba pergi dari rumah, begitu juga dengan ibu Eli dan Jer yang juga pergi meninggalkan mereka berdua saat mereka masih kecil.
Read more »

Minggu, 28 Maret 2010

Recipes for a Perfect Marriage

Recipes for a Perfect Marriage (Resep Perkawinan Sempurna)
Kate Kerrigan @ 2005
Tanti Lesmana (Terj.)
GPU – Maret 2010
408 Hal.

Cinta yang menggebu-gebu di awal pertemuan tidak menjamin kebahagiaan sebuah pernikahan. Kalau melihat yang dialami Tres sa Nolan, dia langsung kecewa karena Dan, suaminya, tidaklah sempurna. Kebiasaan-kebiasaan kecil yang sebelum menikah tidak jadi masalah, malah membuat Tressa emosi berat saat Dan sudah jadi suaminya. Belum lagi acara kumpul-kumpul dengan keluarga besar Dan yang nyaris setiap minggu. Tressa yang selama ini terbiasa hidup sendiri dan jauh dari keluarga, merasa tidak nyaman di tengah-tengah keluarga besar Dan, terutama ibunya yang tampaknya tidak bisa menerimanya dengan hangat.

Sebelum menikah, Tressa mendapatkan hadiah dari ibunya, berupa buku resep peninggalan neneknya, Bernadine. Lewat buku resep inilah, Tressa berusaha menyelami rahasia sebuah perkawinan, mengingat kembali liburan masa kecilnya ketika ia kembali ke Irlandia.

Bernadine sendiri sempat mengalami perkawinan yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan. Di masa remajanya, ia jatuh cinta pada pemuda Irlandia yang tinggal di Amerika bernama Michael Tuffy. Cinta masa remaja yang menggebu-gebu, tapi ketika Michael Tuffy melamar Bernadine, keluarga Bernadine menolaknya, karena keluarga Bernadine yang miskin tidak mampu membayar mas kawin yang akan diberikan pada Michael. Bernadine kecewa, lebih kecewa lagi ketika orang tuanya menerima lamaran seorang guru bernama James Nolan. James bersedia menerima Bernadine meskipun tanpa mas kawin.

Bernadine sama sekali tidak memiliki rasa cinta untuk James. Cintanya sudah diambil oleh Michael. Bertahun-tahun, James dengan penuh kesabaran menghadapi Bernadine. Sementara Bernadine masih saja memberikan dirinya dengan setengah hati.

Dua generasi dengan dua perkawinan yang mereka anggap tidak sempurna. Butuh banyak sekali kompromi untuk mengenyahkan segala kekurangan dari pasangan biar gak jadi ganjelan.

Tressa dengan perkawinannya yang baru seumur jagung berharap bisa memperbaiki perkawinannya. Sementara di umur perkawinan yang entah sudah berapa puluh tahun, Bernadine baru menyadari rasa cintanya tumbuh perlahan-lahan.

Well… gue selalu suka buku yang yummy-yummy… meskipun di sini gak ‘seenak’ Chocolat, atau The Food of Love, atau The Marriage Officer, tapi, buku ini bisa jadi memberi ‘inspirasi’. Meskipun dalam bentuk novel, tapi, sedikit banyak gue ‘belajar’ tentang perkawinan, pernikahan.

Satu tentang cinta di awal, satu tentang cinta di akhir… dua-duanya bisa membuat gue ‘berpikir’.
Read more »

Kamis, 25 Maret 2010

The White Tiger

The White Tiger
Aravind Adiga @ 2008
Rosemary Kesauly (Terj.)
Penerbit Andi - 2010
360 Hal.

Balram Halwai, pemuda India berasal dari kalangan yang kurang mampu. Desanya dikuasai oleh para tuan tanah yang serakah. Sebenarnya ia anak yang cerdas. Balram – yang nama aslinya adalah Munna – menjadi satu-satunya murid yang cerdas di antara murid lain yang tidak mendapatkan ‘hasil’ apa-apa dari sekolah karena gurunya tukang mabuk dan penidur. Ia pun mendapatkan julukan ‘The White Tiger’ atau ‘Harimau Putih’.

Tapi, karena kondisi ekonomi, Balram terpaksa putus sekolah. Bersama kakaknya, ia bekerja di sebuah kedai teh menjadi pelayan. Meskipun begitu, ia selalu mengamati berbagai kebobrokan yang ada di sekitarnya.

Balram pun hijrah ke Delhi. Ia memaksa seorang supir taksi untuk mengajarinya mengendarai mobil. Setelah mahir, Balram datang dari satu rumah ke satu rumah lainnya untuk menawarkan diri menjadi supir Sampailah ia ke sebuah rumah mewah, yang ternyata milik salah satu tuan tanah di Desa Balram. Salah satu anak Si Bangau (ia memberi julukan untuk setiap tuan tanah), bernama Ashok baru saja datang dari Amerika bersama istrinya, Pinky Madam.

Karena Si Bangau dan Si Luwak (anak si Bangau yang lain) kenal dengan Balram, maka ia pun dijadikan supir untuk Ashok. Sebagai pegawai, ia dituntut memberikan pengabdian penuh pada tuannya. ‘Title’nya memang sebagai supir, tapi Balram harus selalu siap untuk jadi tukang masak, pelayan, tukang pijit dan lain-lain. Sampai-sampai, ia merasa lebih mengenal tuannya dibandingkan orang tuanya sendiri.

Balram dengan setia mengantarkan Mr. Ashok dan Si Luwak ke kantor pemerintahan untuk menyuap para menteri, ke mall mengantar Mr. Ashok dan Pinky Madam (sementara ia membayangkan apa yang ada di dalam mall megah itu. Ia juga mendengar setiap pertengkaran Mr. Ashok dan Pinky Madam yang tidak betah di India.

Tapi, meskipun ia sangat setia pada tuannya, ada rasa iri dan ingin membuat perubahan pada dirinya sendiri. Ia ingin maju, tapi kalau tidak ada uang, tidak akan pernah bisa. Politik kotor yang bermain, membuat yang miskin semakin miskin dan membuat yang kaya semakin makmur. Balram tidak bisa menahan diri untuk tidak berkhianat pada tuannya.

Seperti berapa buku yang berlatar India yang gue baca, misalnya buku Vikas Swarup, menggambarkan budaya korupsi dan memeras orang yang kurang mampu. Kemiskinan membuat korupsi jadi ‘halal’. Di sini digambarkan bagaimana subsidi untuk sekolah dijadikan barang dagangan oleh guru sekolah Balram. Perkara kejahatan bisa diputarbalikan dengan uang. Polisi bisa diajak ‘bekerja sama’ asal ada uang. Cerita dalam buku ini disampaikan dalam sebuah ‘surat’ yang ditulis Balram untuk Perdana Menteri Cina yang akan berkunjung ke India. Balram akhirnya mampu punya perusahaan sendiri.

Gue nyaris bosan membaca buku ini. Biasa deh.. minim percakapan. Penuh kesinisan. Hampir aja gue ganti ke buku yang lain. Cuma, kalo gue ganti ke buku yang lain, buku ini pasti gak akan pernah gue sentuh lagi. Dan, setelah gue terusin baca, ternyata gue makin penasaran. Biar kadang bikin ngantuk, gue pelan-pelan berusaha menamatkan buku ini. Hmmm… apa buku-buku yang dapet penghargaan selalu ‘membosankan’, ya?
Read more »

Selasa, 23 Maret 2010

Elang - Kirana Kejora

No. 234
Judul : Elang
Penulis : Kirana Kejora
Penerbit : Almira Managemet
Cetakan : I, 2009
Tebal : 300 hlm

Novel Elang adalah sebuah novel roman humanis yang menceritakan tentang kisah cinta segitiga antara Kejora Padma, seorang penulis novel dengan dua pemuda kembar fraternal (non identik) Elang Timur dan Elang Laut.

Tidak seperti hubungan saudara kembar pada umumnya yang hidup rukun dan memiliki kedekatan emosional yang saling mengikat, Elang Laut dan Elang Timur hidup dalam suasana penuh persaingan yang mereka lakoni semenjak kecil. Hal ini menyebabkan hubungan antara mereka tidak harmonis, masing-masing didominasi oleh perasaan untuk saling mengalahkan satu dengan yang lainnya. Hal ini terus terbawa hingga mereka dewasa dan mencintai wanita yang sama, Kejora Padma.

Sayangnya pertarungan untuk memperebutkan cinta Kejora harus kandas, tak ada yang menang karena akhirnya Kejora menikah dengan Abi, lelaki pilihan ibunya. Dari pernikahannya dengan Abi, lahirlah seorang putra yang dinamainya Laskar. Sayang rumah tangga Kejora tidaklah bahagia, dan ketika Abi meminta izin Kejora untuk menikah kembali, Kejora memilih untuk bercerai daripada dimadu.

Walaupun hati Elang Timur dan Elang Laut pernah terluka karena pernikahan Kejora dengan Abi, namun cinta mereka pada Kejora tak pernah lenyap. Perceraian Kejora dengan Abi membuka kesempatan bagi Elang Timur untuk kembali mendekati Kejora, bukan hal yang mudah karena masih ada Elang Laut yang tetap menjadi pesaing utamanya. Kejora pun sempat dilanda kebimbangan mana yang akan dia pilih untuk menjadi ayah bagi Laskar.

Jika hanya membaca sinopsis di atas tampaknya tak ada yang istimewa dalam novel ini, tapi tunggu dulu, walau inti ceritanya tampak sederhana tapi dibalik tema utama yang sederhana ini penulis dengan piawai meramu kisahnya sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah cerita yang menarik dan sarat dengan konflik diantara para tokoh-tokohnya.

Dari segi penokohan, ketiga tokoh utama di novel ini tereksplorasi dengan baik. Timur dideskripsikan sebagai seorang imuwan sejati yang sukses secara materi. Ia tipe pria yang teguh pada prinsip dan pilihan hidupnya. Cintanya pada Kejora sudah final dan ia tak terus mengejar Kejora ketika diketahuinya bahwa Kejora telah bercerai dengan Abi.

Sedangkan Elang Laut digambarkan sebagai seorang seniman sejati yang setia terhadap jalan hidupnya. Sama seperti Timur yang tetap mengharap cinta Kejora, demikian pula dengan Laut, namun selayaknya seorang penyair, ia lebih mengungkapkan cintanya melalui karya-karyanya, berbeda dengan Timur yang mengungkapkan cintanya dengan tindakan dan kata-kata yang lugas.

Berbeda dengan karakter Timur yang terlihat sangat kokoh dan tegas akan pendiriannya untuk mencintai Kejora, karakter Laut terkesan lemah dan penuh keraguan, namun cintanya pada Kejora betul-betul mulia Ia mampu mencintai Jora meski tak harus memilikinya. Inilah cinta dalam level tertinggi yang mampu mengalahkan egonya.

Kedua bersaudara ini memang berbeda, namun merekapun memiliki kesamaan, sama-sama setia pada profesinya dan sama-sama memiliki kepedulian sosial terhadap lingkungannya.

Kejora sendiri digambarkan sebagai seorang penulis yang mulai menanjak kariernya, walau gagal dalam pernikahannya ia tak tenggelam dalam kepedihan ia bukanlah tokoh yang lemah, Kejora adalah sosok wanita yang tegar, berani mengambil sikap, bahkan ia berani menanyakan secara langsung kepada Laut bagaimana sesungguhnya perasaan cinta Laut pada dirinya.

Sejak dari awal pembaca akan disuguhkan oleh berbagai konflik antar tokoh-tokohnya. Persaingan abadi antar dua saudara kembar menjadi hal yang menarik dan rumit karena menyangkut soal cinta. Kejora sendiri dilanda kegalauan untuk memilih siapa diantara mereka yang merupakan pelabuhan terkahir hatinya, ia mencintai keduanya, haruskah ia mengorbankan salah satu pria yang dicintainya?

Dan yang juga menarik adalah sekujur novel ini tersaji dengan kalimat-kalimat puitis yang membuai pembacanya. Walau demikian penulis tampak tak terjebak untuk menggunakan metafora-metafora yang berlebihan yang kadang bisa membingungkan pembacanya. Dalam novel ini rangkaian kalimat-kalimat bersayap dan metafora-metafora yang digunakan masih bisa dimengerti dan dinikmati oleh pembaca awam sekalipun karenanya novel ini saya rasa memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi karena tersaji dengan indah, mengalir, mudah dipahami dan enak dibaca.

Plot ceritanyapun tertata dengan baik perlahan tapi pasti emosi pembaca akan meningkat seiring dengan meruncingnya konflik yang terjadi antar tokoh-tokohnya dan mencapai klimaksnya di akhir cerita. Hanya saja ada satu bagian yang bagi saya sedikit mengganggu yaitu saat menceritakan bagian kehidupan Elang Laut ketika berada di Lombok..

Bagian ini memang menarik karena penulis berhasil menangkap landskap alam dan realita sosial yang ada di Lombok. Namun dengan munculnya konflik-konflik baru seperti soal demo masyakarat Lombok yang tanahnya yang diserobot oleh pihak-pihak tertentu, saya koq merasa bagian ini seakan-akan terlepas dari inti novel ini sehingga terkesan seperti berdiri sendiri.

Setting cerita yang berlokasi di tiga tempat, Papua, Jakarta, dan Lombok menjadi nilai tambah sendiri bagi novel ini. Walau tak banyak setidaknya akan tertangkap realita sosial di tiga tempat tersebut. Melihat cover novel ini yang menggambarkan panorama pegunungan, tadinya saya menyangka settingnya akan banyak berkisah di Papua atau tem tempat-tempat eksotis lainnya, namun ternyata tidak, setting di Jakarta lebih mendominasi, andai kisahnya lebih banyak di Papua atau Lombok tentunya akan lebih menarik lagi.

Terlepas dari hal-hal di atas secara keseluruhan novel yang diangkat dari kisah nyata ini bagi saya tetaplah menarik, karenanya tak heran jika novel ini banyak diapresiasi dengan baik oleh para sastrawan-sastrawan tanah air ketika novel ini baru diluncurkan. Selain itu kabarnya novel ini juga akan segera diadaptasi ke layar lebar.

Akhir kata novel ini tak hanya menghibur pembacanya, ada banyak hal yang dapat kita maknai ketika membaca novel ini antara lain bagaimana kita harus berani mengambil pilihan dalam hidup kita serta memiliki komitmen untuk tetap setia menjalani kehidupan sesuai dengan pilihan yang telah kita ambil.

@htanzil
Read more »

Kamis, 18 Maret 2010

Waktu Aku Sama Mika

Waktu Aku Sama Mika
Indi @ 2009
Homerian Pustaka – Cet. II, Agustus 2009
145 Hal.

Gue menemukan buku ini secara tidak sengaja di Gramedia PIM. Setelah melihat-lihat buku-buku baru, gue iseng menelusuri rak-rak yang lain. Tau-tau gue ngeliat buku ini. Tentu saja, judulnya lah yang menarik perhatian gue. Cover-nya juga lucu. Gue liat isinya sekilas, tampak menarik.

Buku ini berisi kumpulan tulisan dari seorang gadis bernama Indi. Indi ini mengidap penyakit scoliosis, atau adanya gangguan pada tulang belakang Indi, sehingga gak bisa bertumbuh dengan normal. Ia harus selalu pakai penyangga untuk menopang tulangnya, dan sering jadi bahan ejekan teman-temannya. Indi sering kali merasa minder, karena ia tidak bisa seperti anak-anak lainnya.

Tapi, ada seorang pemuda bernama Mika yang memberinya semangat, yang memperlakukannya layaknya seperti orang ‘normal’ lainnya. Untuk Mika-lah, buku ini dipersembahkan. Seluruh tulisan dalam buku ini berpusar pada Mika yang merupakan pahlawan bagi Indi. Tulisan-tulisan indah bagi Mika di surga. (hiks…)

Mika memberi Indi kepercayaan diri, membuat Indi merasa dicintai, disayangi, dan Mika memberikan itu tanpa pamrih, tanpa pernah bertanya dan meminta lebih. Tapi, hubungan mereka banyak mendapatkan tantangan, karena Mika ternyata mengidap penyakit AIDS.

Tulisan-tulisan dalam buku ini menurut gue begitu jujur dan sederhana. Ungkapan-ungkapan rasa sayang yang tak berlebihan dari seorang gadis untuk pacarnya yang sudah tiada. Gue jadi kagum sama sosok mereka berdua, dengan segala kelebihan dan kekurangan mereka, mereka saling memberi semangat.

Gue suka buku ini. Gue pengen My Mika juga punya semangat yang sama dengan Mika (dan juga Indi) di sini (tapi… minus penyakitnya tentunya…)
Read more »

Rabu, 17 Maret 2010

The Lovely Bones (Tulang-Tulang yang Cantik)

The Lovely Bones (Tulang-Tulang yang Cantik)
Alice Sebold @ 2002
GPU – April 2008
440 Hal.

6 Desember 1973, Susie Salmon berjalan pulang menuju rumah dari sekolahnya. Tapi, ia tidak pernah sampai di rumah lagi untuk selamanya. Mr. Harvey, salah satu tetangganya yang kerap dianggap aneh, sudah memperkosa lalu membunuhnya dengan cara yang sadis.

Jasad utuh Susie tidak pernah ditemukan dan Mr. Harvey masih berkeliaran dengan bebas. Sementara keluarga Salmon tenggelam dalam dukanya. Meskipun Jack Salmon, ayah Susie, mencurigai Mr. Harvey, tapi tak ada bukti yang bisa menjerat Mr. Harvey. Mr. Harvey selalu menampilkan sosok lugu, tak bersalah, dan bersimpati pada keluarga Salmon. Sehingga polisi malah menganggap kecurigaan Jack sebagai angina lalu.

Arwah Susie ‘berkeliaran’ mengamati kehidupan keluarganya sesudah ia pergi. Bagaiamana ayah dan ibunya berusaha keras menghindar dari kenyataan bahwa Susie sudah meninggal. Mereka masih mengharapkan adanya jasad yang bisa meyakinkan mereka. Kehidupan keluarga Salmon jadi tidak sama lagi. Ayahnya berjuang untuk kuat, sementara Abigail Salmon, ibu Susie, mencari pelarian dengan cara lain.

Bertahun-tahun, tidak ada petunjuk apa yang sebenarnya terjadi pada Susie. Rumah tangga Jack dan Abigail diambang kehancuran, sementara adik-adik Susie, Lindsey dan Buckley juga membutuhkan perhatian.

Susie mengamati banyak hal yang terjadi apda Lindsey, hal-hal sebagai seorang perempuan yang tidak sempat ia alami.

Buku ini bisa jadi sebuah bahan renungan (aduhh.. kenapa gue sok serius begini), tapi.. bener deh, sebuah renungan tentang ‘kematian’ dikemas dalam bentuk yang tidak menggurui. Bukan model buku-bukunya Mitch Albom, gue malah lebih ‘menyamakan’ ini sama buku Ghostgirl (Tonya Hurley), sama-sama bercerita tentang arwah seorang gadis yang masih ingin kembali ke Bumi. Meskipun buku ini lebih serius dibanding Ghostgirl.

Tadinya gue pikir, buku ini akan mengarah pada sosok Mr. Harvey. Membayangkan sosok Mr. Harvey, gue kebayang sama salah satu tokoh di Desperate Housewive – Paul Young, suami dari Marie Alice Young . Mr. Harvey ternyata punya kecendurngan aneh, punya rahasia yang kelam dan masa lalu yang membuatnya jadi seperti ini. Sosok yang tenang, lugu, penyendiri. Selalu dianggap aneh oleh masyarakat sekitar, tapi tidak mencurigakan.

Tokoh-tokoh lain yang menarik perhatian gue di sini selain Susie, ada Ray Singh – pemuda yang jatuh cinta sama Susie, Ruth – teman Susie yang ternyata bisa ‘merasakan’ bahwa Susie masih ‘ada’.

Buku ini nyaris terlupakan, kalo ada temen gue di kantor gak ngomongin buku ini. Gue juga lupa di mana gue taro buku ini. Bahkan gue sampe mikir, "Gue punya kan buku ini?"
Read more »

Minggu, 07 Maret 2010

SOE HOK-GIE…sekali lagi

Judul : SOE HOK-GIE…sekali lagi – Buku Pesta dan Cinta di Alam Bangsanya
Editor : Rudi Badil, Luki Sutrisno Bekti, Nessy Luntungan
Penerbit : KPG bekerjasama dengan ILUNI UI & Kompas
Cetakan : Desember 2009
Tebal : 512 hlm

Empat puluh tahun silam, tepatnya tanggal 16 Desember 1969, bangsa Indonesia kehilangan seorang aktivis mahasiswa yang idealis, brillian dan berani mengambil sikap baik dalam pemikiran maupun dalam pergerakan. So Hok-gie, atau akarab dipanggil Gie ditemukan tewas di atas puncak Gunung Semeru, Jawa Timur tepat sehari sebelum ia merayakan hari ulang tahunnya ke 27 yang ia rencanakan akan dirayakan di puncak Mahameru bersama kawan-kawannya.

Walau telah 40 tahun berselang namun nama dan kiprahnya masih terus dikenang hingga kini. Beberapa tahun setelah kematiannya, namanya sempat terlupakan hingga akhirnya LP3ES yang saat itu masih merupakan LSM kecil menerbitkan catatan harian Gie yang diberinya judul “Catatan Seorang Demonstran” pada tahun 1983.

Terbitnya buku tersebut kembali mengingatkan orang pada tokoh Gie. Tak sekedar itu, buku tersebut bahkan menginspirasi dan mengangkat moril gerakan mahasiswa di tahun 80-an yang sedang terpuruk. Itulah Gie, ia tak hanya memberi inspirasi ketika ia masih hidup, dua puluh tahun setelah kematiannyapun Gie masih mampu memberi inpirasi baru pada gerakan mahasiswa saat itu.
Setelah itu seiring berjalannya waktu, namanya Gie kembali terlupakan hingga akhirnya di tahun 90an tulisan-tulisan Gie yang pernah dipublikasikan di harian-harian nasional dibukukan oleh penerbit Bentang Budaya dengan judul “Zaman Peralihan” (1995), lalu menyusul skripsi S1 nya yang berjudul “Orang-orang di persimpangan kiri Jalan” (1997).

Di tahun 2001 muncul terjemahan biografi politik SHG yang berjudul " SOE HOK-GIE : Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani" karya sejarahwan Australia, John Maxwell. Setelah beberapa buku ttg Soe Hok Gie diterbitkan, di tahun 2005 sutradara kondang Riri Reza pun membuat film berjudul Gie yang diambil dari catatan hariannya.

Kiini dalam rangka memperingati 40 tahun kematiannya bulan Desember yang lalu, kawan2 dekat so Hok-Gie berinisiatif menerbitkan buku tentang Gie yang isinya merupakan kumpulan tulisan dari teman, sahabat, hingga tokoh2--tokoh terkenal di negeri ini. Itulah sebabnya buku ini diberi judul “Soe Hok-Gie Sekali Lagi”, seolah ingin menegaskan bahwa inilah buku kesekian mengenai Soe Hok-Gie yang pernah diterbitkan.

Dibanding dengan buku-buku lainnya tentang Gie, buku ini tak kalah menariknya malah memiliki keunikan sendiri, kalau selama ini kita mengenal Gie dari catatan harian, tulisan-tulisannya, dan pandangan John Maxwell, maka di buku ini kita bisa melihat sosok Gie dari pandangan sahabat-sahabat terdekatnya dan dari orang-orang yang mengaku terpengaruh oleh spirit dan semangat perjuangan Gie baik semasa hidupnya maupun setelah membaca tulisan-tulisan Gie.
Buku gemuk ini dibagi menjadi lima bagian besar, bagian pertama berisi satu tulisan panjang Rudy Badil, salah satu rombongan Gie ke puncak Semeru yang secara rinci menceritakan perjalanannya bersama Gie mulai dari Stasiun Gambir, Jakarta hingga proses evakuasi jenazah Gie dan Idham dari puncak Mahameru ke Gubuk Klakah, sebuah desa di kaki gunung Semeru.

Bagian ini merupakan bagian yang paling menarik karena selama ini belum pernah terungkap secara bergitu mendetail bagaimana saat-saat terakhir hidup Gie, bagaimana kondisi jenasah Gie dan Idham setelah berhari-hari terlantar di puncak Mahameru, dan bagaimana kondisi fisik dan mental teman-teman seperjalanannya dalam mencari bantuan dan mengevakuasi jenasah Gie dan Idham.

Di bagian kedua, dikisahkan bagaimana reaksi masyarakat dan pers dalam dan luar negeri yang begitu responsif begitu mendengar kematian Hok Gie hingga Prof. Soemitro Djojohadikusumo yang saat itu telah menjadi menteri menyempatkan diri untuk melayat jenasah Gie dan memberikan kata sambutannya di FS-UI. Selain itu bagian ini juga menyajikan berbagai hal menarik seperti bagaimana puluhan tahun setelah kematian Gie namanya disangkut pautkan dengan peta harta karun peninggalan Jepang yang konon saat itu sedang diterjemahkan oleh Gie dan secara tidak sengaja ditemukan oleh oleh tim SAR saat sedang mengavakuasi jenazah Gie.

Selain itu di bagian ini terungkap pula hal-hal yang menyangkut gunung Semeru seperti temuan Arca Kembar yang selama ini dianggap hilang, lalu ada juga tulisan tentang serba serbi Semeru yang tentunya bermanfaat bagi para pendaki gunung.

Bagian ketiga buku ini yang berisi tulisan-tulisan dari teman-teman Gie di FS-UI tak kalah menariknya. Di bagian ini kita akan melihat sosok manusiawi Gie secara apa adanya. Sisi lain Gie dalam kesehariannya sebagai seorang mahasiswa terungkap di tulisan Kartini Sjahrir dan Luki Sutirsno Bekti yang secara jujur menceritakan pengalamannya berteman dekat dengan Gie.

Menurut pernagakuan Kartini, seperti anak muda pada umumnya dalam pergaulannya tak jarang Gie mengeluarkan celetukannya yang suka ‘menyerempet-nyerempet bawah puser’. Dalam tulisannya ini Kartini juga secara terbuka menceritakan perasaan hatinya dan kedekatannya dengan Gie sebelum akhirnya menikah dengan Syahrir. Bahkan di setiap surat terbukanya,, Kartini selalu memulainya dengan “Hok Gie-ku yang manis..”

Luki Sutirsno-Bekti sebagai salah satu teman wanita Gie yang juga pernah dekat dengannya mengungkapkan Gie sebagai sosok yang moralis dan humanis, selain itu Gie juga merupakan teman curhat yang baik bagi teman-teman pria maupun wanitanya. Ia juga dikenal suka membantu teman-temannya dalam mengerjakan tugas-tugas kuliah. Luki juga mengulas hubungan kakak beradik Hok-gie dan Arief Budiman yang unik.

Selain itu di bab ketiga ini ada juga tulisan teman-teman lainnya yang melihat Gie dari berbagai sudut pandang , semuanya menggambarkan bagaimana hangatnya, lekatnya, dan akrabnya pertemanan mereka dengan Hok Gie secara jujur dan apa adanya.

Di Bagian ke empat, buku ini menyuguhkan berbagai tulisan dari para penulis yang tidak mengenal Hok-Gie secara fisik namun mereka mengenalnya lewat pemikiran-pemikiran Gie melalui tulisan-tulisannya seperti Riri Reza, Nicholas Saputra, Hilmad Farid, N. Riantiarno, Stanley Adi Prasetyo, Mona Lohanda, Ben Anderson, dll.

Di bagian ini juga Arif Santoso, aktivis mahasiswa 80-an mengetengahkan catatan mengenai gerakan aktivis 1980-an yang tersulut oleh terbitnya Catatan Harian Seorang Demonstran di tahun 1978. Arif juga menceritakan secara kronologis gerakan 1980-an sehingga pembaca akan mengetahui bagaimana para aktivis 1980-an berjuang melawan rezim orde baru yang saat itu begitu intens meredam setiap gerakan mahasiswa.

Stanley Adi Prasetro dalam tulisan panjangnya di buku ini mencoba membaca pikiran HAM Soe Hok-gie. Dari tulisannya ini Stanley mengatakan bahwa Gie merupakan pejuang sejati HAM yang berpikir melebihi zamannya. Di tulisan ini akan terungkap walaupun Gie begitu membenci komunisme, namun ketika pemerintah membabat habis orang-orang PKI secara membabi buta, Gie mengutuk keras peristiwa ini.

Lalu ada juga tulisan Lona Mohanda, sejarahwan, yang mencoba menguliti skripsi Hok-gie yang pada akhirnya mengaminkan apa yang dikatakan oleh almarhum Prof Harsya W. Bachtiar yang berpendapat bahwa soe Hok-gie itu seorang kolumnis yang baik, tapi tidak sebagai sejarahwan.
Di bagian kelima yang merupakan bagian terakhir dari buku ini diketengahkan tujuh belas tulisan Gie yang tersebar di berbagai media baik tulisan mengenai pendakian gunung, hingga persoalan-persoalan politik yang terjadi pada masa itu.

Menarik memang membaca keselurahan tulisan-tulisan yang terdapat dalam buku ini. Buku yang ditulis oleh 30 orang ini memberikan gambaran yang iutuh akan sosok Gie yang sebelumnya hanya kita kenal lewat catatan hariannya atau tulisan-tulisannya saja. Karena buku ini merupakan kumpulan tulisan dari berbagai orang maka masing-masing memiliki keunikan sendiri, semuanya menarik, hanya saja di bagian ke empat dimana semuanya ditulis oleh orang-orang yang hanya mengenal Gie melalui tulisan-tulisannya maka terdapat beberapa kesamaan pandangan sehingga agak membosankan.

Selain berbagai tulisan tentang Gie, yang tak kalah menariknya adalah dimuatnya puluhan foto2 yang selama ini jarang atau mungkin belum pernah terpublikasikan. Kemasan buku ini juga tak kalah menariknya, walau bukunya besar dan gemuk namun sangat nyaman digenggam saat dibaca. Pilihan font yang besar dan lay out antara teks dan foto yang dinamis membuat buku ini sangat ramah mata dan membuat betah membacanya berlama-lama.

Dan yang pasti munculnya kembali buku tentang Gie ini setidaknya mengangkat kembali sosok pribadi yang berintegritas dan memiliki komitmen yang teguh terhadap perjuangannya, hal yang langka ditemukan di masa kini.

Di tengah bangsa kita yang tengah mengalami krisis kemanusiaan, keadilan, dan kepemimpinan, sosok Soe Hok Gie ini sangat tepat untuk diangkat kembali sehiingga generasi muda masa kini dapat belajar dari pribadi dan pemikiran Gie yang masih sangat relevan hingga kini.

Mungkinkah melalui buku ini Soe Hok-Gie sekali lagi memberi inspirasi bagi para pejuang demokrasi dan penegak keadilan bangsa ini? Ataukah buku ini hanya sekedar menjadi buku pengingat romantika perjuangan di era 60-an bagi kawan-kawan dekatnya? Jawabannya ada di tangan para pembaca buku ini.

@htanzil
Read more »

Rabu, 03 Maret 2010

The Dressmaker

The Dressmaker
Rosalie Ham @ 2000
Duffy & Snellgrove - 2000
296 Hal.

Setelah dua puluh tahun pergi, Myrtle Dunnage – atau Tilly – kembali ke rumahnya untuk merawat ibunya yang agak sedikit tidak waras. Ia kembali ke Dungatar, sebuah kota di Melbourne, Australia. Kota tempat Tilly dan ibunya dikucilkan dan jadi selalu jadi sasaran empuk para penggosip.

Kota Dungatar dihuni oleh orang-orang yang ‘eksentrik’. Ada seorang polisi – Sergeant Farrant yang modis, pasangan Pettyman – yang istrinya bernama Marrigold maniak sama ‘kebersihan’ dan masih banyak lagi.

Kedatangan Tilly kembali ke Dungatar menimbulkan banyak prasangka dan bisik-bisik. Tilly sendiri punya rahasia kelam di kota itu, rahasia yang membuat dia terpaksa pergi dari Dungatar. Tilly kecil sering menjadi korban bullying teman-teman sekolahnya. Ibunya disebut sebagai pelacur, penyihir dan lain-lain yang tak kalah buruknya.

Tilly berusaha tidak ambil pusing, tapi ia tidak mau pergi ke acara-acara kumpul-kumpulnya warga kota Dungatar. Seorang pemuda bernama Teddy McSwiney berusaha mendekati Tilly dan akhirnya bisa membuat Tilly mau pergi dengannya ke acara dansa. Tilly muncul dan membuat para perempuan terperangah dan iri dengan busana yang ia kenakan.

Sebelum kembali ke Dungatar, Tilly ‘berkeliling’ ke Paris atau Milan. Di sana, ia belajar menjahit dan merancang busana. Salah satu barang yang ia bawa ke Dungatar adalah mesin jahit merk Singer. Gara-gara ini, perempuan-perempuan Dungatar mulai mendekati Tilly dan memintanya untuk menjahitkan busana yang mewah bagi mereka semua.

Tapi, ketika Tilly mulai pelan-pelan nyaman, lagi-lagi ia harus berhadapan dengan tuduhan bahwa ia perempuan pembawa sial, pembawa kutukan buruk. Lagi-lagi ia harus berhadapan dengan ‘hantu masa lalu’nya.

Kalau dibaca lebih seksama, mungkin novel ini bagus. Tapi, karena dari awal gue udah punya ‘pikiran buruk’, makanya gue bacanya asal-asalan aja. Pengen cepet-cepet selesai. Atau mungkin karena, seinget gue, baru pertama kali gue baca buku dari penulis Australia. Bahasa Inggrisnya yang ‘beda’, yang bikin gue rada bingung bacanya.

Yang membuat gue penasaran adalah apa rahasia Tilly sampai dia harus pergi dari Dungatar. Tapi, ‘kecewa’nya gue, misteri itu sedikit banget dibahas. Kaya’nya lebih banyak membahas kehidupan sosial orang-orang di Dungatar ini daripada kehidupan pribadinya Tilly yang jadi tokoh utama buku ini. Nyaris semua tokoh punya affair. Rahasianya Tilly baru terbuka di bagian-bagian akhir novel ini. Menurut gue, novel ini suram, makanya bacanya juga jadi gak terlalu semangat.
Read more »

Minggu, 28 Februari 2010

Susanna Sees Stars

Susanna Sees Stars
Mary Hogan @ 2006
Simon & Schuster - 2006
247 Hal.

Layaknya para ABG, Susanna Barringer tergila-gila dengan segala hal yang berbau selebritis. Sebuah hal yang tidak didukung oleh orang tuanya yang rada-rada hippie. Ayah Susanna adalah seorang ilmuwan, ibunya seorang manager di sebuah pertokoan besar.

Di liburan musim panas kali ini, Susanna yakin ia akan segara menjemput impiannya. Ketika ia diterima sebagai pegawai magang di majalah Scene, Susanna yakin ini adalah awal karirnya yang cemerlang dan sebuah kesempatan untuk bertemu dengan selebritis yang selama ini hanya ia lihat di majalah.

Susanna menyiapkan dirinya dengan sesempurna mungkin, bersiap-siap dengan segala ide-ide cemerlang yang ia yakin akan membuat bos-nya, Nell Wickham, melihat potensi dirinya yang tersembunyi.

Semangat Susanna yang mengebu-gebu di awal, lama-lama luntur. Nell, si boss, hanya memerintah dia melakukan hal-hal sepele banget dan gak ada hubungannya sama kerjaan, seperti beli kopi di Starbucks, beli bunga yang harus lain-lain setiap hari, ngajak anjingnya jalan-jalan, terus, nyari eyeshadow kuning yang harus sama dengan kelopak bunga.

Kadang Susanna udah gr duluan kalo dipanggil Nell ke ruang meeting, ternyata dia hanya disuruh membeli kopi pesanan seluruh peserta meeting di Starbucks. Keinginannya untuk bertemu selebritis idolanya seolah pupus begitu saja. Bahkan, ketika ia menyebutkan nama Randall Sanders sebagai idolanya, Susanna malah jadi bahan tertawaan. Susanna butuh Plan B.

Bersama Amelia, sahabatnya, Susanna menyusun sebuah rencana. Ia harus mencari berita yang akan membuat Nell akhirnya melirik potensi dirinya.

Sekilas gue merasa buku ini mirip The Devil Wears Prada dalam versi remaja. Susanna mirip Andrea yang awalnya nyaris tidak dilirik boss-nya yang sama-sama dijuluki ‘Anna Wintour Wannabe’, sering disuruh-suruh hal yang gak jelas gak hanya oleh boss-nya, tapi juga dimanfaatkan rekan sekerjanya, tapi endingnya bisa nunjukin kalo dia juga bisa ‘berguna’. Ternyata masih ada lanjutan kisah si Susanna Barringer ini, tapi rasanya gue gak terlalu tertarik untuk membaca kisah berikutnya. Satu-satunya yang gue suka adalah covernya.
Read more »

Six Suspects

Six Suspects
Vikas Swarup @ 2008
Black Swan - 2009
575 Hal.

Jika orang biasa – katakanlah supir taksi, pengemis, atau karyawan biasa – tewas dalam kecelakaan atau terbunuh, tidak akan menjadi sebuah berita besar, karena dianggap itu adalah hal-hal yang biasa, tidak istimewa. Tapi, ketika seorang pejabat, anak pejabat, selebritis tewas karena hal yang sama, semua media akan secara besar-besaran memberitakan hal tersebut.

Demikian saat Vicky Rai tewas. Vicky Rai, anak seorang menteri yang berpengaruh di India, tewas dalam pesta yang diselenggarakan untuk merayakan bebasnya Vicky Rai dari tuduhan membunuh seorang pramusaji bar bernama Ruby Gil. Vicky Rai sendiri memang bukan orang yang ‘bersih’. Berkali-kali ia lolos dari jerat hukum berkat posisi ayahnya.

Jaganath Rai sendiri, sang menteri, kerap melakukan permainan ‘kotor’. Siapa saja yang berani-berani menghalangi jalannya, akan segera dihabisi – entah polisi, entah sesama politisi yang masih berusaha bersikap idealis.

Dalam kasus ini, ada 6 orang tersangka. Seorang jurnalis investigasi, Arun Advani, berusaha mengungkapkan kasus ini (jadi inget Mikael Blomkvist).

Keenam orang tersangka itu adalah: Mohan Kumar - mantan sekretaris Jaganath Rai; Shabnam Saxena – aktris Bollywood papan atas yang jadi ‘incaran’ Vicky Rai; Munna Mobile – seorang pencuri handphone; Larry Page – warga negara asal Amerika yang datang ke India untuk menemui ‘calon pengantin’ yang hanya ia kenal lewat surat-menyurat dan foto; Eketi – penduduk sebuah suku di pedalaman India; and the last but not least, adalah sang menteri sendiri, ayah dari Vicky Rai – Jaganath Rai.

Layaknya sebuah penyelidikan, ada tersangka, ada motive, ada penyelesaian kasus dan akhirnya ada sebuah ‘kebenaran’, begitulah pembagian bab-bab dalam buku ini. Kita diajak mengenal siapa sih sebenarnya para tersangka itu – gimana keseharian mereka, apa yang membuat mereka akhirnya ‘terhubung’ dengan Vicky Rai dan bagaimana mereka bisa ada di pesta tersebut.

Buku ini nyaris membuat gue gak tidur, males kerja (pengennya ngumpet di kamar mandi, biar bisa baca buku ini… hehehe…). Bener-bener bikin penasaran. Kalo Mikael Blomkvist berperan ‘aktif’ sepanjang buku, di buku ini, Arum Advani hanya muncul di awal dan di akhir, itupun berupa bentuk kolom yang ditulisnya di koran. Pembaca yang diajak ‘aktif’ untuk menelusuri kasus ini, menduga siapakah yang sebenarnya menembak Vicky Rai berdasarkan latar belakang dan motif-motif yang dipaparkan sepanjang buku ini. Bagian ‘The Suspects’ dan ‘The Motives’ memang mendapatkan porsi yang besar dalam buku ini.

Tapi, kerennya buku ini lagi, ketika udah sampai ‘kesimpulan’ siapa pelaku sebenarnya, tiba-tiba muncul sebuah ‘teori’ baru yang mematahkan bahwa tersangka yang ditangkap polisi bukanlah pelaku yang sebenarnya. Dan ketika kita (well.. paling nggak gue) mulai percaya dengan teori baru itu dan mulai mengangguk-anggukan kepala, sambil berkata. “Ooo… jadi dia pelakunya. Hmm.. iya juga sih…” tau-tau, ada lagi fakta baru yang menunjukkan pelaku sebenarnya. Ending-nya, gue harus menebak-nebak sendiri siapa pelaku sesungguhnya.
Read more »

Selasa, 23 Februari 2010

Lasmi (Nusya Kuswantin)

Judul : Lasmi
Penulis : Nusya Kuswantin
Penerbit : Kakilangit Kencana
Cetakan : 1, November 2009
Tebal : 232 hlm


Lasmi adalah sebuah novel suram berlatar belakang sejarah kelam Indonesia di tahun 1965. Walau sudah ada beberapa novel yang mengambil setting sejarah di masa-masa itu, novel Lasmi tetaplah menarik untuk disimak dan diapresiasi.

Kisah Lasmi diceritakan melalui tuturan Tikno, suami Lasmi yang berprofesi sebagai guru, sedangkan Lasmi sendiri di mata suaminya adalah wanita yang cerdas dan berpikiran progresif. Kegemarannya membaca buku membuat dirinya memiliki wawasan berpikir yang luas, berani melawan arus, berjuang dalam hal kesetaraan perempuan dan pria, dan memiliki cita-cita luhur untuk memajukan pendidikan dan pengatahuan warga kampungnya.

Awalnya Lasmi berjuang sendiri dengan mendirikan TK dan sekolah menjahit, namun ketika akhirnya ia mencari seorang guru jahit, ia bertemu dengan Sumaryani seorang kader Gerwani. Melalui Sumaryani lah akhirnya Lasmi ikut menjadi kader Gerwani karena di mata Lasmi Gerwani adalah organisasi perrempuan yang mempunyai cita-cita luhur seperti dirinya yaitu berjuang demi kesetaraan perempuan.
Namun siapa sangka, sebuah tragedi politik menyebabkan PKI dianggap sebuah partai yang paling bertanggung jawab terhadap Gerakan 30 September 1965. Akibatnya PKI dan organisasi bentukannya termasuk Gerwani menjadi organisasi terlarang dan harus ditumpas hingga ke akar-akarnya termasuk orang-orang yang berada di dalamnya.

Hal ini membuat Lasmi dan keluarganya berusaha menyelamatkan diri, ia hidup berpindah-pindah tempat guna menghindari kejaran masa terhadap dirinya. Hal ini terus berlangsung hingga akhirnya sebuah tragedi membuat Lasmi tersadarkan dan mengambil takdirnya sendiri, Ia membuat sebuah keputusan yang tidak terduga demi kehormatan dirinya dan demi pembelajaran bagi banyak orang atas peristiwa yang paling keji yang pernah dialamai bangsa yang berasazkan keTuhanan dan perikemanusiaan ini
Kisah kehidupan Lasmi inilah yang tertuang dalam novel ini, dimulai dari perkenalan Lasmi dengan Tikno saat Pemilihan Majelis daerah tahun 1957, pernikahannya, kelahiran anak semata wayangnya, hingga fase kehidupannya yang harus berpindah-pindah untuk menghindari kejaran masa dan berujung saat Lasmi akhirnya mengambil keputusan yang sama sekali tak terduga olehj siapapun.

Di bagian-bagian awal kita akan disuguhkan pengenalan karakter Lasmi menurut pandangan suaminya. Di bagian ini kita akan melihat karakter Lasmi yang tampak begitu maju, modern dan progresif. Pandangan kaum komunisme yang begitu menghargai kerja petani tampak dalam bagaimana cara Lasmi mendidik anak-anak didiknya yang berdoa sebelum makan, alih-alih berterima kasih pada Tuhan, ia mengajarkan agar mereka berterima kasih pada petani yang telah bekeja mengolah padi menjadi beras.Pandangan-pandangan progresif Lasmi soal kesetaraan perempuan dalam pernikahan, pendidikan anak, dll juga mewarnai sekujur novel ini.

Di novel ini juga pembaca akan disuguhkan berbagai fakta sejarah seperti konforntasi dengan Malaysia, demonsrtasi anti Indonesia di Kuala Lumpur, pembentukan angkatan kelima, hingga cuplikan Dekrit Dewan Revolusi. Dan yang mengejutkan adalah munculnya cuplikan pidato Bung Karno “Tahun Vivere Pericoloso” yang diselipkan dalam novel ini.

Secara keseluruhan saya menikmati novel ini, pandangan-pandangan kaum progeresif revolusioner yang biasanya yang baca dalam teks-teks non fiksi kini dituangkan dalam ranah fiksi sehingga terkesan lebih hidup dan membumi. Berbagai fakta sejarah baik yang tercatat maupun yang tidak tercatat di buku-buku teks seperti gosip tentang jari telunjuk Bung Karno ketika sedang berpidato atau betapa kejinya peristiwa pembantaian orang-orang PKI d bisa ditemui di novel ini. Tak hanya itu penulis juga memasukkan sedikit tradisi setempat seperti dalam hal pernikahan, kelahiran anak, dll. Walau tak banyak tapi cukuplah untuk menambah wawasan.

Yang disayangkan dalam novel ini adalah kurang tereksplorasinya karakter dan konflik batin yang dialami Lasmi, karena dituturkan melalui sudut pandang suaminya, otomatis hanya sedikit konlik batin Lasmi yang terungkap. Walau pada akhirnya ada surat panjang Lasmi untuk suaminya tapi hal ini tentunya tidaklah cukup, akan lebih menarik jika Lasmi sendiri diberi kesempatan lebih banyak untuk menuturkan kisahnya sendiri sehingga konflik batin yang dialami Lasmi akan lebih tereksplorasi dengan baik
Penulis juga tampaknya kurang sabar dalam mengembangkan kisah Lasmi ini. Ada banyak hal yang sebetulnya bisa dikembangkan lebih dalam lagi. Kisah pelariannya tampak kurang tereksplorasi dengan baik. Semua seakan terjadi selewat-selewat saja padahal jika hal ini digali lebih dalam lagi pasti akan lebih menarik.

Munculnya pidato Bung Karno yang menghabiskan berlembar-lembar halaman dalam novel ini bisa jadi bumerang, di satu pihak mungkin ada orang yang suka, namun di lain pihak bagian ini bisa jadi membosankan karena seolah terlepas dari inti cerita.

Yang menarik Novel ini juga memiliki ending yang tak terduga. Keputusan Lasmi untuk menjalani takdirnya benar-benar menyentuh nurani, dan bagaimana kelak nasib Tikno, suaminya atas keputusan yang diambil Lasmi benar-benar tidak akan terduga oleh pembacanya.

Namun sayangnya penerbit telah mengungkapkan ending kehidupan Lasmi di sinposis yang terdapat di cover belakangnya. Mungkin penerbit berpendapat bahwa endingnya justru merupakan sisi menarik yang perlu diungkapkan untuk menarik minat pembaca, tapi alangkah baiknya jika penerbit menggantinya dengan kalimat bersayap sehingga akhir kehidupan lasmi tetap misteri dan baru bisa diketahui ketika kita membaca sendiri novelnya.

Terlepas dari hal di atas novel ini bagi bagi saya sangat menarik penulis berhasil memotret situasi sosial di tahun –tahun itu dengan baik. Kisah kehidupan Lasmi berhasil menguggah kesadaran pembacanya untuk memaknai peristiwa pembantaian di tahun 65 dalam perspektif kemanusiaan. Atau seperit diungkap penulisnya di lembar terakhir novel ini, Lasmi diharapkan bisa menjadi semacam upaya kampanye anti kekerasan, semoga demi alasan apa pun kekerasan massal yang melecehkan akal sehat dan mengorbankan kenaifan warga tidak lagi terjadi di negeri ini.

@h_tanzil
Read more »

Kamis, 18 Februari 2010

The Marriage Bureau for Rich People

The Marriage Bureau for Rich People
(Biro Jodoh Khusus Kaum Elite)

Farahad Zama @ 2008
Rinurbad (Terj.)
M-Pop (Matahati), Cet. I - Januari 2010
455 Hal.

Setelah memasuki masa pensiun, untuk mengisi hari-harinya, Mr. Ali membuka sebuah biro jodoh. Dengan bayaran 500 rupee untuk setiap keanggotaan, ia akan membantu para pencari jodoh untuk menemukan pasangan bagi mereka dengan membuka iklan di koran. Ternyata, usaha itu menarik banyak peminat – tidak hanya dari kalangan masyarakat India yang beragama Hindu, tapi juga yang beragama Islam dan Kristen. Mr. Ali sendiri adalah warga India yang beragama Islam.

Karena kesibukan yang bertambah, Mr. Ali memutuskan untuk mencari seorang asisten. Ia membuka lowongan kerja di koran. Tapi, ternyata susah juga mendapatkan asisten yang cocok. Tak disangka-sangka, calon potensial justru adalah seorang gadis berkasta Brahmana yang tinggal tak jauh dari rumah Mr. Ali sendiri. Gadis itu bernama Aruna, anak pensiunan seorang guru dengan perekononomian keluarga yang tidak terlalu baik. Ia akhirnya melepas pekerjaannya sebagai pegawai di sebuah toserba karena lebih menyukai pekerjaannya di biro jodoh Mr. Ali.

Beragam orang datang ke biro jodoh Mr. Ali, dengan beragam karakter, beragam permintaan dan beragam permasalahan. Tak jarang Mr. Ali melakukan pendekatatan personal dengan memberikan nasihat demi kesuksesan klien-nya dalam menemukan jodohnya.

Tapi sayang, kadang orang-orang itu kerap lupa akan jasa Mr. Ali dan biro jodohnya. Hanya segelintir yang mengucapkan terima kasih dan mengundang Mr. Ali ke pesta pernikahan mereka ketika sudah berhasil mendapatkan jodohnya.

Kegembiraan orang-orang yang berhasil dalam perjodohan ternyata justru tak berpihak pada Aruna. Kemiskinan membuat Aruna susah dalam mencari pasangan hidupnya. Padahal, sebagai pihak perempuan, ia harus menyerahkan mas kawin untuk mempelai pria dan menyelanggarakan pesta pernikahan. Tapi, tak banyak pilihan untuk Aruna.

Seorang klien bernama Ramanujam datang bersama keluarganya untuk mencari jodoh. Kriterianya adalah gadis cantik, tinggi, putih dan tentu saja dari golongan yang sama. Ramanujam datang dari keluarga kaya, berprofesi sebagai dokter. Tapi, siapa sangka, justru ia jatuh cinta pada asisten Mr. Ali yang sederhana itu. Untuk menikah dengan Aruna, banyak tantangan dari luar, misalnya, Aruna yang akan dianggap bukan anak baik-baik karena menemukan jodohnya sendiri (bukan dari perjodohan yang diatur keluarga), lalu keluarga Ramanujam yang mungkin nantinya akan ‘menyiksa’ Aruna secara lahir dan batin karena dianggap tidak sederajat meskipun sama-sama berasal dari kasta Brahmana. Kisah cinta yang singkat ini ibarat kisah cinta Cinderella rasa India.

Mr. Ali berusaha membuka mata Ramanujam bahwa tak semuanya harus berdasarkan uang. Dan, bagian Mrs. Ali yang mendekati Aruna agar mau mengesampingkan masalah ekonominya.

Mr. Ali sendiri juga kurang beruntung dalam perjodohan anak laki-laki semata wayangnya. Rahmen, anaknya sibuk berdemonstrasi membela kaum petani yang tanahnya diambil pemerintah untuk membangun sebuah pabrik

Rumitnya soal perjodohan di India. Karena jangankan nyari pacar sendiri, kalau sepasang perempuan dan laki-laki ketahuan berduaan, bisa menimbulan gosip-gosip. Ribetnya juga urusan kasta. Ternyata, kasta yang selama ini gue tahu hanya Brahman, Ksatria, Wesya dan Sudra, masih dibagi-bagi lagi. Seperti Brahmana yang masih terbagi jadi Brahmana Niyogi atau Brahmana Waidika.

Belum lagi masalah perekonomian, kalau dari kasta yang sama tapi tingkat perekonomian beda, belum menjamin keberhasilan sebuah perjodohan. Pokoknya, cinta itu datang belakangan, yang penting keluarga, kasta, dan keuangan.

Selama ini, gue sering mendengar kalau umat Islam dan Hindu di India sering berselisih. Tapi, di dalam buku ini, kedua umat beragama itu hidup berdampingan secara damai. Malah saling membantu.

Lokasi buku ini ada di kota Vizag, India – sebuah kota pantai. Makanya seringkali Mr. Ali kepanasan, dan dibawakan minuman segar atau buah-buah segar sama Mrs. Ali. Kalau Mr. Ali udah minum, gue jadi ikutan segar.
Read more »