Rabu, 10 Agustus 2011


Judul                            : Giganto, Primata Purba Raksasa di Jantung Borneo
Penulis                         : Koen Setyawan
Editor                           : E. Rakajat Azura
Pewajah Sampul           : Reza Alfarabi
Pewajah Isi                   : pewajahbuku@yahoo.com
Cetakan                       : 1, Agustus 2009
Penerbit                        : Edelweis
Tebal                            : 440 halaman


            Setelah mengubek-ubek mitologi di hutan-hutan Jawa di Gunung Kelud, Koen Setyawan kembali mengajak pembaca menjelajahi dan menguak misteri Hutan Larangan di rimba Kalimantan. Dalam fiksi terdahulunya, Kemamang, penulis dengan apik mengkaitkan mitologi kemamang dengan UFO dan makhluk prasejarah. Dalam Giganto, Koen dengan lebih apik lagi memadukan konsep hutan larangan dengan makhluk prasejarah yang lain, Gigantophitechus blacki. Bisa Anda bayangkan, di hutan-hutan perawan pulau Borneo masih hidup sesosok makhluk mitologis raksasa yang telah punah 100.000 tahun yang lampau? Dalam dunia ilmiah, memang dikenal konsep bahwa sesuatu yang dianggap mitos bisa jadi merupakan fakta yang belum diketahui. Beragam makhluk yang dulu dikira hanya ada dalam dunia mitos ternyata benar-benar ada.

            “Sebelum ditemukan, banyak yang menganggap gorila dan okapi hanyalah isapan jempol belaka. Mitos dan dongeng penduduk pigmy Afrika. Sekarang kita  tahu bahwa kedua binatang itu benar-benar ada … Spesies-spesies baru masih terus ditemukan. Masih banyak yang belum terpecahkan. (hlm 58).

            Erwin Danu, seorang peneliti orangutan secara tidak sengaja ikut terseret dalam permainan maut yang bermula pada satu tempat: Hutan Larangan—sebuah tapal batas yang telah disepakati antara manusia kuno dengan makhluk raksasa primitif. Sudah ratusan tahun penduduk Sekayan menjauhi hutan angker tersebut. Mereka tidak mengetahui apa yang ada di hutan larangan—dan juga tidak mau tahu—mengingat beragam mitos dan cerita seram yang melingkupinya. Namun, pantangan itu dengan berat hati terpaksa mereka langgar ketika Ruhai—salah satu anak dari Sekayan—smenghilang ke hutan itu. Penjelajahan ke dalam hutan larangan semakin tak terhindarkan ketika seorang peneliti, Chaudry Teja, datang dari Jawa dengan alasan untuk mencari rekan sejawatnya yang telah lama menghilang di hutan larangan, Dr. Komara.

            Ekspedisi pun dilakukan. Dipimpin oleh Chaudry Teja dan orang-orangnya, Erwin bersama sejumlah pemberani dari Sekayan nekat memasuki hutan larangan. Berama mereka, turut serta pula Dr. Tran, seorang ahli Gigantophitechus dari Vietnam bersama asistennya Ruth. Seiring dengan makin pekatnya kegelapan hutan larangan, Erwin menjumpai bahwa masing-masing anggota ekspedisi ternyata memiliki tujuan lain. Alih-alih sebagai sekelompok peneliti, kelompok itu lebih terlihat seperti sekelompok pemburu yang bernafsu menemukan salah satu relik hidup dari masa purba. Dan, hutan larangan benar-benar membuktikan kepada rombongan itu bahwa wilayah itu memang seharusnya dihindari oleh manusia.

            Kejadian aneh pun datang beruntun, mulai dari hilangnya beberapa anggota ekspedisi hingga serangan-serangan misterius. Puncaknya adalah ketika rombongan itu pecah dan terpencar, Erwin mendapati dirinya berpetualang bersama Tran dan Ruth menyusuri sungai dan gua prasejarah. Dari lukisan di dinding gua, Erwin dan Tran mulai memahami apa yang sebenarnya terjadi, Hutan Larangan memang benar-benar terlarang. Sebuah perjanjian kuno antara makhluk primate raksasa dengan manusia kuno. Ada batas yang jelas di antara  mereka—dunia manusia dan dunia makhluk raksasa liar. (hlm 278), dan mereka telah mengusik perjanjian kuno itu.

            Korban pun berjatuhan. Rahasia mulai terkuat, dan pertempuran besar pun tak terelakkan. Rimba Borneo yang damai seolah terkoyak oleh gema pertarungan makhluk purba dan juga peperangan antar-manusia. Ketika akhirnya ketiga belah pihak dipertemukan—Giganto, Erwin dkk, dan Chaudry Teja—maka semua rahasia mulai terkuak, awal dari pertempuran menegangkan denganending yang agak dipaksakan namun sangat memuaskan. Melalui Giganto, kita tersadarkan sejenak pada apa yang telah dilakukan oleh Homo sapiens (alias manusia modern) terhadap binatang-binatang raksasa dari masa lampau yang tengah punah. Melalui Giganto pula teriakan hutan-hutan di pulau Borneo seolah terwakilkan, bahwa tempat itu adalah secuil dari surga hutan hujan tropis yang harus dilindungi.

            Bila dibandingkan dengan Kemamang,  novel Giganto itu jauh lebih matang, baik dari segi penggarapan naskah, data-data yang disajikan, alur cerita, maupun konflik yang dihadirkan,  Meskipun masih mengusung tema “hutan”, “mitos”, dan “makhluk purba”; Giganto jauh lebih memuaskan—di samping jumlah halaman yang lebih banyak sehingga bisa lebih menikmatinya. Keunggulan utamaGiganto terletak pada kekayaan data dan penyusunan data-data ilmiahnya yang oleh penulis mampu disusun sedemikian rupa menjadi serpihan-serpihan nan manis dalam sebuah karya fiksi. Karya fiksi yang baik tidak melulu hasil dari pemikiran kreatif dari si empunya karya. Ketika penulis mampu mengembangkan fiksinya menjadi fiksi-ilmiah, maka karya itu naik satu tingkatan menjadi karya yang tidak hanya menghibur, namun juga “mendidik” serta  “memberi tahu”. Inilah yang menurut saya, merupakan salah satu bentuk pembacaan yang lengkap. Sebuah gizi bagi jiwa sekaligus makanan bagi intelektualitas.

Read more »

Sumbangan Karya Sains Hebat Abad Pertengahan (Malay version)


Judul                : Sumbangan Karya Sains Hebat Abad Pertengahan
Pengarang        : Diyan Yulianto & M.S.Rohman 
Alih Bahasa      : Noraine Abdullah
Disemak Oleh   : Dr.Mohd.Puzhi Usop
Muka Surat      : 251
ISBN               : 9675984880
Publisher          :Al-Hidayah House of Publishers Sdn Bhd )


Keterangan Buku :

           Abad pertengahan menjadi era kegemilangan umat Islam di dunia. Para ilmuan, cendekiawan, sarjana, ahli Fikah bahkan golongan penguasa di bumi Islam dengan bersungguh-sungguh “belajar” daripada alam semesta ini.
Sistem irigasi manual dan kincir air yang canggih di Andalusia, pembuatan sabun buku dan syampu pertama dalam sejarah, industri minyak wangi di Baghdad dan Kahirah, sistem tiang-tiang melengkung sebagai penyangga-penyangga di Masjid Granada, suburnya perkembangan kilang-kilang percetakan kertas di Asia Tengah dan Baghdad, berdirinya akademi kedoktoran Jundishapur serta hospital-hospital di Kahirah dan Damaskus atau penggunaan angka Arab yang menggantikan sistem angka Romawi dan masih banyak lagi, menjadi bukti bahawa Islam mampu berdiri di barisan terdepan di dalam membangunkan dan memajukan peradaban dan tamadun umat manusia.

             Membaca buku yang kaya data yang menakjubkan ini, anda pasti akan tersentak kagum sekaligus bangga menjadi seorang Muslim. Pelbagai fakta mengejutkan yang selama ini disembunyikan sejarah sehingga mengerdilkan sumbangan umat Islam dalam memajukan peradaban dan tamandun dunia disingkapkan dengan jelas di dalam buku ini.
Selepas membacanya, anda pasti akan mengetahui bahawa nun jauh di hadapan sebelum orang segenius Leonardo Da Vinci melahirkan karya-karyanya, sebelum Columbus menjejakkan kakinya di Benua Amerika, peradaban Islam telah lebih dahulu melahirkan ilmuan-ilmuan hebat dengan karya-karya hebat yang hingga kini masih dikagumi oleh seluruh ilmuan Eropah dan Amerika. 

             Temukan pelbagai fakta yang menakjubkan berkisar sumbangan Islam abad pertengahan terhadap sejarah bumi ini, yang akan membuat anda bangga adalah menjadi seorang Muslim!

Product Height :8.0000 inches
Product Width :5.7500 inches
Product Weight :0.4750 kg

Read more »

Selasa, 09 Agustus 2011

Muhammad: Lelaki Penggenggam Hujan

Muhammad: Lelaki Penggenggam Hujan

Tasaro GK

Penerbit Bentang – Cet. I, Maret 2010

546 hal.



Buku ini berkisah tentang perjalanan seorang penyair bernama Kasvha. ‘Pemindai Hujan’ demikian julukannya. Ia mencari seseorang yang namanya disebut-sebut dalam berbagai kitab suci, nama yang diramalkan akan membawa perubahan dan rahmat bagi alam semesta, menyejukan semua kaum, pembela yang teraniaya dan pemimpin semua umat. Nama yang disebut berbeda-beda tapi merujuk pada satu orang, yaitu Muhammad SAW.



Untuk mencari sosok itu, Kashva rela meninggalkan kuil yang selama ini jadi tempatnya bermukim, melarikan diri dari kejaran pasukan raja Khosrou yang ingin menghabisinya karena meyakini hal yang berbeda dari apa yang selama ini mereka percaya dan imani.



Perjalanan panjang dan melelahkan harus ia lalui. Emosi kadang menjadi tidak stabil, dalam keadaan tak sadar, Kasvha sering berhalusinasi, hingga akhirnya mengaburkan antara yang nyata dan khayalan.



Sementara itu, di belahan dunia lain, di tanah Arab, Muhammad tengah berperang, melawan orang-orang Quraisy yang masih tetap berpegang teguh pada ajaran menyembah berhala. Orang-orang Quraisy yang tak mau mengakui Muhammad sebagai nabi dan tak mau beriman pada ajaran yang dibawa Muhammad. Tak sedikit orang-orang yang menaruh dendam pada Muhammad, tapi pada akhirnya lebih banyak orang yang berpaling dari ajaran lama mereka dan memilih untuk menjadi pengikuti Muhammad.



Dicerca, dihina dan bahkan diusir dari Mekkah, tanah kelahirannya sendiri, Muhammad terus berjuang bersama para sahabat dan pengikutnya. Hijrah ke Madinah, menghimpun umat di sana. Sungguh sebuah pengorbanan yang besar. Tapi tak sedikit pun Muhammad mengeluh, tak sekalipun ia menaruh dendam pada musuh-musuhnya. Bahkan ketika mereka memohon perlindungan dan pengampunan dari Muhammad, beliau senantiasa mengabulkannya.



Mungkin baru sedikittttt sekali pengetahuan gue tentang sosok nabi Muhammad. Mungkin hanya sebatas sejarah ketika gue belajar agama di sekolah. Tapi membaca buku ini, gue bener-bener mendapatkan banyak hal baru, melihat sosok Muhammad tak hanya sebagai seorang Nabi, tapi juga sebagai seorang suami yang menenangkan hati kala istrinya cemburu, menjadi pendengar bagi sahabat-sahabatnya, pelindung para budak dan kaum lemah. Bahkan ketika dalam perjalanan menuju Mekkah, dengan pasukan perangnya, beliau masih sempat meminta salah satu sahabatnya untuk menjaga anjing yang sedang menyusui di tengah jalan, khawatir nanti anjing-anjing itu terganggu karena perjalanan mereka. Lalu bagaimana tegarnya Muhammad ketika pamannya yang selalu melindunginya, Abi Thalib, meninggal tapi masih belum bisa meninggalkan keyakinan lamanya. Bahkan orang-orang yang senantiasa melindungi dan mencintainya pun belum sanggup untuk berpaling dari berhala.



Ditulis dalam bentuk novel, membuat gue lebih ‘nyaman’ membacanya ketimbang kalau harus membaca buku ‘sejarah betulan’.



Membaca judulnya pun membuat gue ‘speechless’, ada kesan ‘magis’, sesuatu yang agung, yang gak bisa gue gambarkan dengan kata-kata. Bukan gue berlebihan, tapi memang itu yang gue rasakan. Kata-kata yang ditulis Tasaro GK begitu indah, terutama pada bagian-bagian yang menceritakan perjalanan Muhammad, serasa membaca sebuah puisi.

Read more »

Kamis, 04 Agustus 2011

The Chemical Garden #1 : Wither


Cover yang artistic, synopsis yang menarik, dan judul yang mengundang rasa penasaran menjadi satu paket komplit yang membuatku--sejak februari lalu-- menginginkan novel trilogi The Chemical  Garden: Wither karangan Lauren Destefano ini. Tapi siapa sangka,ternyata sejalan dengan keinginan untuk dapat membaca novel ini, terjemahannya malah telah terbit dibawah naungan hak cipta terjemahan Penerbit Kantera. Sangat mengesankan memang, menyadari begitu cepatnya penerbit ini bertindak. Tapi dengan begitu, aku kira hal ini sangat membantu karena pembaca Indonesia dapat  dengan lebih cepat membaca suguhan terbaru  sastra luar negeri  sehingga tidak perlu terlalu lama lagi menunggu.

Dengan mengambil setting Amerika Utara di masa depan, novel ini hadir dengan memunculkan Rhine Ellery sebagai tokoh utamanya. Gadis 16 tahun yang terjebak dalam dunia yang telah kacau balau setelah perang dunia ketiga berakhir. Dunia yang penuh dengan ilusi dan kekacauan genetik umat manusia. 

"INILAH CARA DUNIA BERAKHIR BUKAN DENGAN LEDAKAN TETAPI RINTIHAN"

Versi USA
Pada waktu itu,  manusia dihadapkan pada kemajuan teknologi  tinggi yang mampu menciptakan generasi manusia yang tangguh terhadap berbagai penyakit dan mampu bertahan dengan umur yang panjang. Generasi tangguh ini disebut generasi tua. Namun lain halnya dengan generasi tua, generasi berikutnya muncul dengan kondisi sangat lemah dan berumur pendek. laki-laki 25 tahun;perempuan 20 tahun.

Di situasi inilah Rhine terjebak. Ditengah usianya yang mencapai 16 tahun, ia dan para gadis lainnya diculik oleh para pengumpul yang akan menjual mereka kepada Tuan rumah kaya ataupun tempat prostitusi. Rhine yang Heterochromia (kelainan jumlah melanin pada irisan mata) beserta dua gadis lain, Cecily (13 tahun) dan Jenna (18 tahun) diseleksi dan akhirnya terpilih menjadi para calon pengantin Linden Ashby ,sang  tuan rumah kaya yang membeli mahal mereka bertiga.

Tidak banyak yang mampu dilakukan Rhine setelah itu untuk menolak takdir sial yang datang kepadanya. Kebencian Rhine pada Linden pun perlahan-lahan digantikan oleh rasa pasrah yang tidak berkesudahan. Ia terpaksa menerima statusnya  sebagai salah satu istri Linden dan berteman baik dengan sesama istri lainnya. Berbagai kemewahan pun menjadi imbalan yang didapatkan Rhine beserta istri lainnya di rumah Linden. Diantara kemewahan yang didapatkan Rhine itu adalah dilayani oleh Gabriel, pelayan setia yang akhirnya diam-diam menjadi teman dekatnya selama ia tinggal disana.

Kemewahan dan kenikmatan tanpa batas hari demi hari ternyata tidak menjamin kehidupan mereka senyaman kelihatannya. Rhine sadar bahwa ada sesuatu rahasia besar misterius yang sama tertutupnya dengan rumah itu. kemisteriusan yang memberinya dorongan kuat untuk keluar. Bermodalkan kenekatan, Rhine mencoba berbagai upaya untuk kabur meskipun berulang kali pula ia gagal mendapatkannya. Hingga suatu ketika Rhine menemukan jalan keluar itu. Jalan keluar dengan cara bersandiwara  demi mendapatkan kepercayaan Linden. Meskipun Rhine tahu, jika saja ia salah melangkah dan ketahuan, gerbang kematian tengah menantinya di rumah itu.

Debutan Lauren ini menurutku sukses menyajikan plot segar dalam dunia dystopian melalui  ramuan romance dan thriller yang seimbang. Tidak hanya itu saja, jalinan kata sastra-ilmiah yang tersusun pun  sangat tajam dan sarkastik. Bisa dibilang,untuk seukuran novel awal secara keseluruhan novel ini sangat memikat dengan kelebihan-kelebihan itu hingga bahkan melampaui ekspektasi tinggiku sebelumnya.

Sayangnya, ada keganjilan yang masih menjadi tanda tanya besar ketika aku mengakhiri novel ini. Yaitu disaat peristiwa pembantaian melalui penembakan pada gadis yang tidak terpilih oleh para pengumpul. Kenapa mereka harus ditembak? Bukankah mereka komoditi berharga untuk dapat mempertahankan kelangsungan generasi manusia setelahnya? Aku rasa peristiwa penembakan masal itu sangat tidak masuk akal bagiku dan  menurutku juga keluar dari ketentuan hidup yang telah dibangun sebelumnya oleh Lauren. Kemudian yang terakhir pada kurangnya eksplorasi  mendalam terhadap budaya,politik, dan ekonomi masyarakat di zaman itu sehingga tak pelak menghasilkan alur cerita yang kurang greget dan terasa mengambang dalam penyajian dunia masa depannya.
Biarpun begitu,karena  cukup besarnya porsi perhatianku pada ending dari trilogi ini,kemungkinan besar novel ini akan kutunggu sekuel lanjutannya Fever yang akan rilis februari 2012 mendatang. Aku harap lebih..lebih..baik lagi.


Ps: sejauh ini hanya Indonesia yang satu-satunya merubah cover novel Wither lho..(meski aku harap lebih baik cover yang asli) tapi cover Indonesia juga manis...salut untuk desainernya. Moga cover  sekuel selanjutnya lebih bagus lagi yaaaaa..


=================


Judul :The Chemical Garden: Wither
Penulis :Lauren Destefano
Penerjemah: Maria M Lubis
Penerbit: Kantera
Terbit : @2011
ISBN :978-602-98377-3-5
Tebal : 400 hal

=================
Read more »

Rabu, 03 Agustus 2011

Panduan Praktis Memelihara Kura-Kura Brazil - Yo Hi Kuang


[No. 265]
Judul : Panduan Praktis Memelihara Kura-Kura Brazil
Penulis : Yo Hi Kuang
Penerbit : G-media / Andi Publisher
Cetakan : 2010
Tebal : viii + 56 hlm

Jangan kaget kalau saya tiba-tiba saja mereview buku genre ini. Ada kisah tersendiri dibalik buku ini. Karenanya sebelum mereview bukunya, izinkan saya bercerita dulu tentang kura-kura Brazil saya yang bernama “Rose”

Sekitar 7 tahun yang lalu saya membelikan anak saya sepasang kura-kura Brazil kecil yang imut. Karena malam sebelumnya kami habis nonton Titanic di TV akhirnya kura-kura itu kami namakan sesuai dengan nama pasangan dalam film Titanic yaitu Rose dan Jack.

Singkat cerita, seperti dalam filmnya kura-kura Jack mati terlebih dulu, mungkin stress karena diperebutkan kesana-kemari oleh teman-teman anak saya yang waktu itu baru berusia 3 tahunan, Jack hanya bertahan sekitar 2 minggu dan setelah itu Rose harus menjalani kesehariannya dalam sebuah akuarium kecil

Tadinya kami menduga Rose pun tak akan lama bertahan, tapi rupanya ia kura2 hebat. Sama seperti di film Titanic, Rose mampu bertahan dalam usia yang panjang. 7 tahun Rose hidup dalam kesendirian, kamipun mulai bosan merawatnya sehingga tak jarang kami lupa memberi makan dan lupa menjemurnya selama berhari-hari bahkan pernah sampai seminggu lebih kami tak memberinya makan dan menjemurnya.

Akhirnya karena khawatir tak terurus kami merelakannya untuk diberikan kepada seorang teman, kebetulan dia memelihara banyak kura-kura brazil dirumahnya, saya pikir kalau si Rose dirawat dengan baik oleh seorang penggemar kura-kura brazil maka dia akan bisa hidup lebih lama lagi. Sambil mengambil si Rose teman saya juga menghadiahkan saya sebuah buku berjudul "Panduan Praktis Memelihara Kura-Kura Brazil" sebagai kenang-kenangan.

Namun ternyata harapan saya dan teman saya agar Rose bisa menikmati tempat barunya dan hidup lebih lama lagi tak terwujud. Besoknya teman saya mengirimkan kabar duka lewat sms kalau si Rose telah mati. Dugaan dia karena Rose tak mampu beradaptasi dengan lingkungan barunya dimana Rose ditempatkan di tempat terbuka bersama kura-kura Brazil lainnya.

Kaget juga mendengar berita kematian Rose, tapi tak mengapa walau si Rose sudah mati, kini saya memiliki buku praktis tentang memeliharaan kura-kura pemberian teman saya tadi. Agar tak terlalu sedih saya beranggapan si Rose kini sudah berkumpul di surga bersama Jack, dan dia telah berinkarnasi menjadi sebuah buku yang akan selamanya tinggal bersama saya.

Ulasan Buku

Buku Panduan Praktis Memelihara Kura-kura Brazil ditulis, Yo Hi Kuang, seorang pecinta dan pengamat kura-kura Brazil yang telah menekuni hobinya ini sejak kecil. Dalam kata pengantar bukunya ini disebutkan bahwa kura-kura Brazil berasal dari daerah selatan Amerika Selatan. Kalau di Indonesia dinamakan Kura-kura Brazil maka di Inggris kura-kura jenis ini disebut Red Ear Slider karena memang kura2 yg bertelinga merah ini memiliki kebiasaan meluncur dalam air sehabis berjemur.

Kura-kura Brazil kini banyak ditangkarkan dan diperdagangkan karena selain keindahan fisiknya, kura –kura ini lebih jinak dibanding kura-kura jenis lainnya sehingga menghasilkan peluang bisnis yang besar. Kabarnya ada jutaan ekor kura-kura brazil diekspor setiap tahunnya dari Amerika Serikat.

Sayangnya kura-kura Brazil ini cepat mati bahkan dalam jangka waktu tidak sampai 1 bulan (kematian prematur) . Kenyataan ini membuat kura-kura brazil terancam punah sehingga banyak aktivis lingkungan hidup menolak perdagangan kura-kura Brazil. Untuk itu Tortoise Trust lembaga yang peduli akan kelestarian kura-kura menetapkan sebuah peraturan agar kura-kura hanya dapat dijual jika disertakan petunjuk tentang hal-hal mendasar dalam pemeliharaannya. Sayangnya peraturan ini nyaris tak pernah dijalankan.

Dalam buku ini secara praktis penulis memberikan petunjuk-petunjuk praktis tentang bagaimana memeliharanya, mulai dari cara memilih kura-kura brazil, cara memelihara, sejarah kehidupan kura-kura, fisik, perkembang biakan, tempat tinggal, pencahayaan, makanan, dan penyakitnya.

Selain itu buku ini juga dilengkapi dengan tanya jawab yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang mungkin paling sering ditanyakan oleh orang-orang yang sedang atau akan memelihara kura-kura brazil. Di bagian akhir penulis menyertakan lampiran petunjuk praktis cara menetaskan telur kura-kura, dan bagaimana cara mengawetkan kura-kura yang telah mati dengan formalin.

Sebagai bonus, di akhir buku ini penulis menghadiahi halaman intermeso yang berisi keterangan tentang Hari Kura-Kura Sedunia yang jatuh pada tanggal 23 Mei dan 5 filosofi kehidupan yang dapat kita ambil dari perilaku kura-kura.

Kesemua materi diatas tersaji secara praktis dan mudah dimengerti bagi pembaca yang baru ingin memelihara kura-kura Brazil. Selain berupa teks, buku ini juga dilengkap oleh foto-foto, ilustrasi, dan tabel yang semakin memudahkan pembacanya untuk memahami buku ini.

Sebagai sebuah buku petunjuk praktis memelihara kura-kura, buku setebal 54 halaman ini sangat bermanfaat bagi mereka yang baru memulai memelihara kura-kura brazil. Saya pikir selain dijual di toko-toko buku umum buku ini bisa juga dijual bersanding dengan kura-kura Brazil di toko-toko hewan (pet shop) sehingga mereka yang membeli kura-kura Brazil dapat juga membeli buku ini sekaligus. Harga buku yang relatif murah (Rp. 14 rb) namun kaya informasi ini tentunya tak terlalu memberatkan bagi mereka yang mampu membeli kura-kura Brazil.

Selain itu sesuai dengan keinginan Turtoise Trust dengan tersedianya buku ini di toko-toko hewan, para pembeli kura-kura brazil juga dapat memperoleh petunjuk praktis bagaimana memelihara kura-kura secara baik sehingga dapat mencegah atau setidak-tidaknya mengurangi kematian prematur kura-kura Brazil.

@htanzil

Read more »

Selasa, 02 Agustus 2011

2

2
Donny Dhirgantoro
Grasindo - 2011
418 hal.

Melewati rak-rak buku di Gramedia beberapa waktu yang lalu, mau gak mau mata gue langsung melihat ke buku yang satu ini. Gimana enggak, covernya yang warna merah sanggup membuat gue berpaling. Judulnya yang singkat, membuat sanggup membuat gue penasaran. Simple – hanya angka ‘2’.

Berawal dari lahirnya seorang bayi perempuan. Bayi perempuan ini mempunyai ‘kelebihan’ yaitu tubuhnya yang besar, tak lazim untuk ukuran seorang bayi. Kedatangan bayi yang diberi nama Gusni ini disambut dengan gembira, tapi diikuti dengan sebuah kekhawatiran.

Gusni tumbuh jadi seperti anak-anak lainnya. Hanya saja tubuh besarnya yang membuatnya berbeda. Ia tetap ceria, tidak ada sedikit pun rasa minder, gemar makan, dan lincah. Bersahabat dengan dua teman yang juga ‘besar. Sampai suatu hari ia bertemu dengan anak laki-laki – saingannya ‘berebut’ onde-onde di kantin - yang memperkenalkannya pada apa arti cita-cita. Harry namanya, dan kebetulan berbadan oversized juga. Tapi kata Harry, “Orang yang besar, pasti hatinya juga besar.”

Gusni bercita-cita ingin jadi pemain bulutangkis, seperti kakaknya, Gita. Tujuannya hanya satu, yaitu ingin membuat orang tuanya senang.

Tak mudah bagi Gusni untuk mendapatkan izin dari orangtuanya untuk ikut bermain bulutangkis, kekhawatiran yang mengiringi perkembangan Gusni penyebabnya. Tapi Gusni bertekad bahwa ia mampu menaklukkan kekhawatiran itu, dan ia terus berjuang tanpa putus asa.

Di awal-awal, gue agak merasa bosan dengan humor-humor yang awalnya lucu, tapi karena berulang-ulang, terkesan jadi ‘lebay’. Tapi, di paruh kedua buku ini, ‘aura’-nya berubah, jadi lebih serius. Dan, jujur, gue jadi ikut terharu, gue berasa ikutan tegang, kaya’ nonton pertandingan bulutangkis beneran.

Yang menarik lagi… adalah resto bakmi-nya Harry… sebagai penggemar mie, gue pengen banget nyicipin bakmi yang dimasak dengan 3 resep rahasia itu. Hmmm… nyam…

Lagi, setelah 5cm yang sempat bikin ‘heboh’ itu, Donny Dhirgangtoro berusaha membangkitkan rasa nasionalisme kita.
Read more »

Senin, 01 Agustus 2011

Sebelas Patriot

Sebelas Patriot
Andrea Hirata
Penerbit Bentang – Juni 2011
125 hal.

Gue mau membuat pengakuan… bahwa inilah buku pertama Andrea Hirata yang gue baca. Gue punya sih Tetralogi Laskar Pelangi, tapi ya itu deh, bahkan Laskar Pelangi pun belum tuntas gue baca. Mumpung ada tulisan Andrea Hirata dalam versi yang pendek, jadilah gue memutuskan untuk membaca buku ini.

Berkisah tentang kenapa seorang Ikal begitu mencintai sepak bola sampai pernah ingin masuk ke dalam tim PSSI. Adalah sebuah foto buram hitam-putih yang mengusik benak Ikal. Foto seorang pria dengan piala di tangan, tapi mimik wajahnya tidak tampak gembira.

Ikal pun mencari tahu siapa sebenarnya sosok di foto itu, kenapa ibunya malah menyembunyikan foto itu ketika Ikal pertama kali melihatnya.

Maka bertanyalah Ikal pada orang-orang yang dianggapnya cukup tua di sana. Terkuaklah misteri tentang pria di foto itu. Cerita yang mengenaskan berawal ketika masa penjajahan Belanda. Sebagai penjajah, tentunya Belanda tidak mau kalah dalam segala hal, termasuk dalam olahraga. Dalam berbagai pertandingan – entah itu bulutangkis, renang, lari – setiap warga pribumi yang nyaris menang, harus ‘otomatis’ kalah menjelang garis finish.

Tapi, di cabang sepakbola, tim pribumi diperkuat oleh 3 kakak beradik yang jagoan banget. Gara-gara berhasil mengecoh tim Belanda, 3 kakak beradik itu harus rela ‘digiring’ tentara Belanda, masuk penjara dan kemudian menjalani kerja paksa. Mereka harus menerima siksaan dari tentara Belanda yang tak rela kalah dari warga pribumi.

Cerita inilah yang ‘memecut’ Ikal. Dengan sepenuh hati, ia memilih sepakbola, berlatih dengan giat, hingga terpilih untuk ikut seleksi junior PSSI di Sumatera Selatan – sampai berburu kaus bertanda tangan Luis Figo di tempat asalnya,

Semua itu dilakukan untuk membuat pria di foto itu bangga. Siapa sih beliau? Baca aja sendiri… abis nanti jadi *spoiler* :D

Tapi, yang jelas, buku ini membuat gue ingin tau lebih banyak tulisan-tulisan Andrea Hirata yang lain. Cerita-ceritanya simple aja, tapi gak gampang dilupain.
Read more »

Madre

Madre
Dee (Dewi Lestari)
Penerbit Bentang – Juni 2011
162 hal.

Dee atau Dewi Lestari, adalah salah satu penulis Indonesia yang karya-karyanya selalu gue tunggu (hhmmm… sampai sekarang gue masih bertanya-tanya, kapan lanjutan Supernova akan terbit?). Gue nyaris punya dan nyari membaca semua karya Dee – cuma Rectorverso nih yang belom punya. Dan ketika Bentang Pustaka bolak-balik nge-tweet tentang Madre, gue langsung berpikir gue harus punya buku ini.

Buku ini berisi cerita pendek dan beberapa puisi karya Dee dari tahun 2006 – 2011. Buat gue, tulisan Dee selalu ‘unik’. Liat aja kisah Madre, sebuah cerita tentang (eks) took roti tua yang terkenal dengan rotinya yang khas. Tentang seorang pemuda yang tiba-tiba ‘ketiban’ wasiat setoples biang roti. Tentang took roti tua yang ‘tergeser’ karena kehadiran toko roti lain yang lebih modern. Cerita yang sempat membuat gue tersenyum-senyum.

Dari baca cerita ini, gue jadi berasa mencium bau roti yang baru matang (ups.. ini khayalan orang lagi puasa aja kaya’nya).

Tapi sayang, gue gak terlalu menikmati semua tulisan di buku ini. Hanya Madre dan Menunggu Layang-Layang yang jadi favorit gue. Sama satu puisi - Larutan Amonia (eh,.. bener gak ya judulnya?) - yang ditulis Dee ketika mengandung anak keduanya, Atisha. Gue jadi berharap andai gue bisa menulis sesuatu untuk Mika.
Read more »

Jumat, 29 Juli 2011

Cocktail for Three

Cocktail for Three (Klub Koktail)
Sophie Kinsella as Madeleine Wickham
Nurkinanti Laraskusuma (Terj.)
GPU – Juni 2011
440 hal.

Roxanne, Maggie dan Candice, 3 sahabat yang bekerja di sebuah media di London. Tanggal 1 setiap bulannya mereka bertemu di sebuah bar, bernama Manhattan Bar. Yah, untuk sekedar refreshing. Meskipun bekerja di kantor yang sama, tidak berarti tiap hari mereka bertemu.

Roxanne, adalah penulis lepas. Gadis yang penuh percaya diri dan memiliki menjalin hubungan dengan pria yang sudah berkeluarga. Tapi, tak satu pun dari sahabatnya itu tahu siapa pria itu. Ia hanya sesekali datang ke kantor. Tugasnya jalan-jalan ke luar negeri, meliput tempat-tempat penginapan baru. Maggie, si pemimpin redaksi, satu-satunya yang sudah menikah, ambisius dan sedang stress menghadapi peran baru sebagai ibu. Candice, penulis, yang sangat lugu, baik hati dan jujur. Mudah dimanfaatkan orang karena kebaikan hatinya.

Semua berjalan dengan lancer, dan.. asyik-asyik aja gitu. Tapi, ketika di satu pertemuan rutin mereka, pertemuan terakhir sebelum Maggie cuti melahirkan, ada salah satu pramusaji yang membuat Candice tertarik, yang ternyata adalah teman sekolahnya dulu, namanya Heather.

Pertemuan itu membuka luka lama Candice, rasa bersalah terhadap keluarga Heather. Maka, si peri baik hati ini berniat untuk membalas apa yang sudah terjadi, mencoba menghapus kesalahan masa lalu yang disebabkan ayah Candice. Ia membantu Heather mendapatkan pekerjaan di Londoner dan mengajaknya tinggal bersama. Baik Roxanne dan Maggie menyayangkan sikap Candice yang terlau baik.

Lain lagi Roxanne, ia masih harus berurusan dengan pacar gelapnya yang tiba-tiba saja berubah. Lalu Maggie yang sempat mengalami baby blues.

Meskipun sama-sama berkisah tentang perempuan-perempuan di London, usia 30 tahunan ke atas, tapi karakternya beda dengan novel yang memakai nama Sophie Kinsella. Seperti Becky Bloomwood, Tokoh-tokohnya terkesan ‘konyol’. Ceritanya juga lebih ceria.

Kalo di buku ini, tokohnya lebih dewasa, permasalahan juga lebih serius. Yahhh.. ending-nya sih ketebak. Tapi, gak mengurangi rasa tertarik gue sama buku ini.

Mungkin karena gue ‘kecewa’ dengan seri terakhir Shopaholic, gue jadi lebih suka buku ini dan rasa-rasanya jadi pengen baca buku Sophie Kinsella as Madeleine Wickham yang lain. Kadang, abis baca yang ‘berat’, enak juga baca buku-buku kaya’ begini.
Read more »

Kamis, 28 Juli 2011

The Day of the Jackal

The Day of the Jackal
Frederick Forsyth @ 1971
Ranina B. Kunto (Terj.)
Penerbit Serambi – Cet. 1, Juni 2011
609 hal.

Sekelompok orang yang tergabung dalam OAS (Organisation L’Armée Secréte) ‘memutuskan’ bahwa Presiden Perancis, Charles de Gaulle, harus mati. Mereka beranggapan de Gaulle sudah berkhianat dan melenceng dari apa yang sudah diperjuangkan oleh para veteran.

Beberapa usaha pembunuhan gagal, para perencana, penggagas dan pelaksana pembunuhan itu sudah dieksekusi. Pentolan-pentolan yang masih berkeliaran beberapa ditangkap. Itu semua membuat orang-orang di OAS berhati-hati dan memilih bersembunyi disbanding berkeliaran di jalan-jalan di Perancis atau di kota mana pun.

Tapi, masih ada beberapa orang yang tetap ingin de Gaulle mati. Orang yang fanatik, seperti Rodin. Selama ini, anggota OAS sudah gagal membunuh de Gaulle, ada kebocoran di dalam organisasi mereka. Entah karena ada pengkhianat atau OAS sudah disusupi oleh mata-mata pemerintah. Oleh karena itu, ia berpikir, misi ini akan berhasil jika mereka merekrut orang luar – bukan warga negara Perancis dan bekerja secara professional alias seorang pembunuh bayaran.

Akhirnya terpilihlah seorang warga negara Inggris, dengan track record yang minim. Tapi catatan yang minim inilah yang dicari, sehingga jejaknya tak mudah tercium. Nama sandi-nya Jakal. Dengan bayaran yang menggiurkan, akhirnya tercapailah kesepakatan. Sang Jakal diberi kebebasan untuk memutuskan kapan waktu eksekusi yang tepat dan dengan cara apa.

Jakal pun memulai rangkaian operasinya. Ia bekerja sendiri, mempersiapkan semuanya dengan rinci dan teliti. Mulai dari pemesanan senjata, pembuatan identitas palsu, mencari tempat dan saat yang tepat untuk pelaksanaan pembunuhan itu.

Ia bebas berkeliaran dengan identitas palsu tanpa tercium oleh pihak kepolisian. Sampai akhirnya, pihak kepolisian mulai curiga karena ada 3 orang pentolan OAS yang bersembunyi di sebuah hotel di Roma tanpa melakukan apapun. Dengan tipu daya, akhirnya mereka berhasil menangkap dan memperoleh informasi dari bodyguard yang selalu menjaga Rodin bernama Kowalski. Kowalski ini berbadan besar, tidak banyak omong, tapi ternyata punya hati yang ‘lembut’. Dari sinilah operasi yang dilakukan Jakal mulai tercium dan membuat pihak kepolisian kalang kabut. Sementar de Gaulle sendiri enggan membesar-besarkan berita kalau keselamatannya tengah terancam.

Ditugaskanlah seorang detektif bernama Lebel untuk menyelidiki dan menangkap Jakal. Tapi dengan minimnya informasi, tekanan yang bertubi-tubi dari para atasan, penyelidikan ini berjalan dengan sangat lamban. Ditambah lagi, tampaknya pergerakan Jakal selalu selangkah lebih maju. Jakal selalu bergerak lebih cepat tepat ketika Lebel berhasil memperoleh informasi tentang keberadaan Jakal. Sebuah ‘kecerobohan’ yang disebabkan oleh pihak dalam yang dekat dengan presiden dan tak ingin dikalahkan oleh seorang detektif.

Cukup lama buat gue untuk mendapatkan ‘klik’ atau ‘feel’ dengan novel ini. Memang, harus gue akui, novel ini keren. Semua ditulis dengan begitu detail dan sistematis. Gak heran sih, kalo ternyata novel ini jadi ‘inspirasi’ atau ‘manual book’ beberapa orang untuk melakukan tindak kejahatan, seperti pembunuhan atau pemalsuan passport

Bukan novel yang membuat adrenalin gue terpacu untuk baca terus dan terus. Menjelang akhir bagian pertama, baru gue mulai bisa pelan-pelan menikmati isi novel ini. Bagian-bagian yang gue suka adalah bagiannya si Jakal. Setiap dia lagi mempersiapkan segala sesuatunya, bekerja sendiri. Misterius. Gue jadi terbayang sama Daniel Craig – si James Bond.

Eksekusi akhir novel ini berlangsung cepat. Berbeda detail yang begitu panjang di bagian awalnya. Mulai deh keliatan seperti ‘adegan’ film. Detektif yang bolak-balik kalah cepet dengan si penjahat.

Salah satu yang membuat gue betah adalah pemilihan kertas dan font-nya yang ‘bersahabat’ dengan mata. Tapi, kenapa banyak bahasa Perancis yang gak diterjemahin? Dan gue sempat berpikir, kenapa juga Jackal itu harus diterjemahin jadi Jakal, kenapa gak tetap dengan tulisan aslinya?
Read more »

The Day of the Jackal

Judul               : The Day of the Jackal
Penulis            : Frederick Forsyth
Penerjemah    : Ranina B.Kunto
Penyunting      : Adi Toha
Pemeriksa Aksara     : Dian Pranasari
Pewajah isi      : Dinar R. Nugraha
Tebal               : 609 halaman
Cetakan          : 1, Juni 2011
Penerbit          : Serambi Ilmu Semesta





Bagian satu: Anatomi Sebuah Perencanaan


Perburuan dimulai, perencanaan disiapkan, transaksi besar diatur, perbincangan dan intrik politik rahasia diadakan, dan seorang kepala negara pun terancam. Perhatian, ini hanya fiksi, namun beberapa bagian di dalamnya adalah fakta, termasuk kisah kehidupan presiden Perancis paling termasyhur, Charles de Gaule dan organisasi teroris OAS (Organisation L’Armee Secrete). Semua diawali oleh kebencian, yang menjurus pada tuduhan pengkhianatan. OAS adalah para mantan loyalis Perancis yang berjibaku di IndoChina dan ALjazair. Demi negaranya, mereka rela mengorbankan hidupnya agar Perancis bisa berjaya di Asia maupun Afrika. Namun, semuanya berbalik ketika Charles de Gaule mendukung kemerdekaan Aljazair dari Perancis. OAS merasa telah terkhianati, Dan mereka marah, sedemikian marah hingga memutuskan untuk menghabisi Charles de Gaule atas nama Perancis versi mereka.

            Seorang pembunuh dipilih, ia adalah anonim bagi kepolisian Perancis maupun OAS sendiri. Sang pembunuh adalah tukang tembak jitu, berbadan tegap, berpikiran analitis, dan luar biasa berbahaya. Nama sandinya adalah Jackal atau Jakal. Dialah yang terpilih oleh OAS untuk menghabisi presiden Perancis. Dan, ibarat anak panah, sekali terlepas maka tidak ada jalan untuk mundur. Sang Jakal menyetujui perintah itu dengan bayaran tinggi, dan ia tidak bisa dihentikan. Tidak ada data tentang dirinya. Orang hanya mengenalinya sebagai orang yang tinggi dan pirang. Si Jakal benar-benar membuat polisi—sebagaimana kata  Lebel—“meraba-raba dalam gelap!”

            Perencanaan pun dibuat, dan pembaca dipaksa untuk sedikit bersabar menghabiskan lembar demi lembar bagian pertama ini. Bagaimana tidak, sesabar di Jakal, penulis menguraikan seluruh perencanaan eksekusi rencana pembunuhan itu dengan begitu detailnya. Mulai dari pembuatan dan pemilihan senapan, pembuatan paspor dan kartu identitas palsu, jati diri sosok yang dipalsukan, sampai pemilihan sudut tembakan dan cat warna rambut serta bola mata diuraikan dengan begitu detail. Sungguh luar biasa karena pasti dibutuhkan ketelitian tingkat tinggi bak  seolah detektif untuk menulis novel sedetail ini. Perhatikan detailnya!


Bagian Dua: Anatomi Perburuan Manusia
            Serapi-rapinya rencana, upaya pembunuhan terhadap presiden Gaule pun tercium polisi Perancis. Mereka melakukan segala daya upaya yang memungkinkan demi menemukan sang Jakal. Di bawah komando deputi komisioner Claude Lebel. Tampaknya, Jakal telah menemukan lawan seimbangnya. Lebel dengan pengalamannya mampu menguraikan benang kusut yang menyelubungi si pembunuh bayaran ini. Walau semuanya masih serba meraba-raba dalam gelap, namun secarik petunjuk muncul. Dan lewat komando Lebellah maka perburuan terhadap Jakal diitensifkan. Dari sini, alur kejar mengejar mulai memanas. Pembacaan memasuki bagian aksi, dan sekali lagi, detailnya membuat pembaca geleng-geleng. Pembaca seolah diajak untuk mengikuti bagaimana Lebel dan Jakal saling kejar mengejar dan kucing-kucingan. Semuanya diuraikan dengan begitu wajar, metodis, dan sangat terencana.
           
            Di bagian dua inilah, alur dan latar belakang cerita mulai menyatu. Pembaca mulai mengerti apa dan siapa si Jakal, bagaimana latar belakang di Lebel, dan betapa rumitnya situasi dan kondisi yang dihadapi oleh para politikus Perancis. Seolah-olah penulisnya turut menghadiri rapat rutin yang dilakukan oleh para petinggi kepolisian Perancis. Perlahan tapi pasti, sang pemburu mulai diburu. Perhatikan detailnya!


Bagian Tiga : Anatomi  Pembunuhan
            Adegan pengejaran, pengengeledahan, pencegatan, hingga pemeriksaan kartu identisa mewarnai bagian akhir dari novel ini. Simak pula tips dan langkah cerdik yang digunakan sang Jakal untuk menghindar dari polisi, bagaimana ia menyembunyikan senjata, dan teknik apa saja yang ia keluarkan. Di sini, akhirnya tembakan dilepaskan dan Gaule? Yah, Anda harus membaca novel tebal ini sendiri untuk mencari jawabannya. Bagaimana nasib sang Jakal? Dan, yang lebih utama, siapakah si Jakal itu sebenarnya. Perhatikan detailnya!


Bagian Empat: Anatomi Review (Maksa :p)
Sekali lagi, perhatikan detailnya, dan Anda akan terpukau ada novel semendetail ini. Membacanya laksana mengamati detail-detail dari sebuah film aksi. Deskripsinya yang sangat vivid, alur kronologisnya yang luar biasa runtut tapi terarah, pemilihan karakter yang begitu utuh, dan latar-belakang historisnya yang serba-cocok; kita ibarat memutar sebuah sinematografi tentang upaya pembunuhan presiden Perancis di tahun 1963. Detail ini mungkin didapatkan oleh Forsyth karena ia pernah bekerja sebagai wartawan Reuters di Perancis. Perhatikan, wartawan! Pantas deskripsi tempat, waktu dan latar sejarah yang ditampilkan begitu memukau.

Begitu memukau dan mendetailnya novel ini, sejumlah peristiwa besar dunia turut diinspirasi olehnya. Pembunuhan presiden Israel, Yitzak Rabin pada tahun 1995, konon diilhami oleh novel ini mengingat si pembunuh menganggapnya sebagai semacam “buku manual”. Bahkan, metode pembuatan paspor dan kartu identitas palsu dalam novel ini pernah ditiru dan diujicobakan … dan berhasil. Sungguh, The Day of the Jackal amat sangat pantas dimasukkan dalam 100 novel kriminal terbaik sepanjang masa.

Detailnya yang mengagumkan—terutama—merupakan kelebihan paling utama  dari buku ini. Penerjemahannya juga luar biasa, membacanya jadi  tiak terasa janggal walaupun buku ini begitu kental dengan berbagai jargon-jargon Eropa Barat. Konteks dan ketegangan yang disampaikan pun mampu terbangun dengan baik. Hanya saja, membaca novel yang termasuk tebal ini memang memaksa kita untuk lebih bersabar—terutama pada bagian-bagian awal. Namun, hujan detail itu akan terbayar dengan eksekusi yang mantap di setengah bagian akhir. Benar-benar memukau.




Read more »

The Day of The Jackal - Frederick Forsyth (Lomba Resensi Buku Serambi 2011)

[No. 264]
Judul : The Day of the Jackal
Penulis : Frederick Forsyth
Penerjemah : Ranina B. Kunto
Penerbit : PT. Serambi Ilmu Semesta
Cetakan : I, Juni 2011
Tebal : 609 hlm

Tentunya kita masih ingat sekitar dua tahun yang lalu Presiden SBY dalam sebuah konferensi pers mengatakan bahwa foto dirinya dijadikan sasaran tembak oleh para teroris yang sedang berlatih. Sebenarnya ini bukanlah hal yang aneh karena para pemimpin negara di berbagai belahan dunia ini seringkali menjadi target utama pembunuhan dari para lawan politiknya.

Presiden Soekarno sendiri selama masa pemerintahannya telah tujuh kali mengalami percobaan pembunuhan, begitu juga dengan pemimpin-pemimpin negara lainnya, rekor terbanyak hingga kini dipegang oleh pemimpin Cuba, Fidel Castro dengan 638 kali usaha percobaan pembunuhan terhadapnya.

Dari sekian banyak pemimpin dunia yang mendapat ancaman pembunuhan, Charles de Gaulle, (Presiden Perancis 1958-1969) adalah salah satu Presiden yang berkali-kali lolos dari upaya pembunuhan terhdap dirinya. Yang paling terkenal adalah yang terjadi pada tgl 22 Agustus 1962 dimana ia dan istrinya ditembak ketika sedang mengendarai mobil. Rencana pembunuhan ini dikomandoi oleh Kolonel Jean-Marie-Thiry, anggota militer Prancis sekaligus pemimpin OAS (Organisation L’armee Secrete), organisasi tentara rahasia yang berniat bertujuan menjatuhkan de Gaulle karena mereka berpendapat sang Presiden telah menghianati negaranya dengan memberi kemerdekaan kepada Aljazair yang semula merupakan tanah jajahan Prancis.

Rencana tersebut gagal, walau terdapat 14 lubang tembakan di mobilnya, Charles de Gaulle dan istrinya selamat dan Kolonel Thiry diganjar hukuman mati oleh pengadilan miltier Prancis pada tahun 1963. Persitiwa inilah yang kemudian mengilhami novelis Inggris Frederick Forsyth untuk menulis novel The Day of The Jackal (1971)

Dalam novelnya ini Forsyth mengawali kisahnya saat menjelang dilaksanakannya hukuman mati bagi Kolonel Jean-Marie-Thiry. Kemudian kisah bergerak mundur sejenak ke peristiwa percobaan pembunuhan de Gaulle yang dikomandoi oleh Kolonel Thiry. Paska percobaan pembunuhan yang gagal inilah yang oleh Forsyth dijadikan pijakan awal dalam mengembangkan imajinasinya.

Kematian Kolonel Thiry selaku pimpinan OAS tak membuat putus asa anggota-anggotanya. Belajar dari kegagalan-kegagalan sebelumnya, Kolonel Rodin, salah satu petinggi OAS membuat sebuah rencana rahasia untuk mencoba kembali membunuh Presiden de Gaulle melalui jasa seorang pembunuh profesional. Untuk mencegah bocornya rencana ini maka hanya tiga petinggi OAS dan sang pembunuh bayaran yang mengetahuinya.

Seluruh rencana pembunuhan diserahkan pada si pembunuh bayaran dari Inggris dengan nama sandi “Jackal”. OAS hanya menyediakan bayaran yang diminta oleh si jackal yaitu 500 ribu dolar ( Rp. 4,5 Milyar), jumlah yang fantastis di tahun 60an. Setelah menerima uang muka dari OAS, mulailah sang Jackal melakukan berbagai persiapan mulai dari memesan senjata khusus dengan peluru berhulu ledak yang jika mengenai kepala akan menghancurkan segalanya di dalam tulang tengkorak, membuat 4 buah paspor palsu, hingga mempersiapkan perlengkapan penyamaran secara matang.

Berkat kejelian kepolisian Prancis, rencana pembunuhan terhadap Presiden de Gaulle kembali tercium, hanya saja kali ini mereka dibuat hampir mati kutu karena yang mereka ketahui hanyalah ciri-ciri fisik si pembunuh yaitu pria Inggris jangkung dengan rambut pirang, selain itu tak ada satu arsip dan data yang dimiliki pihak keamanan Prancis mengenai nama pembunuh, kapan, dimana, dan bagaimana si pembunuh professional ini akan beraksi.

Dengan nyawa Presiden sebagai taruhannya, pihak kepolisian Prancis yang dipimpin oleh Claude Lebel, detektif terbaik Prancis dan dibantu oleh kepolisian dari lima negara Eropa plus Amerika dan Afrika bertarung dengan waktu dan kecerdasan si Jackal dalam melaksanakannya tugas yang diembannya.

Kaya akan detail

Yang membuat novel ini menarik adalah bagaimana Forsyth menghadirkan detail-detail fakta dan peristiwanya. Hal ini bisa jadi keunggulan sekaligus kelemahan dimata pembacanya. Bagi yang menyukai kisah dengan plot cepat hal ini bisa jadi membosankan, terlebih jika pembaca tidak begitu menguasai materi yang dipaparkan si penulis.

Contohnya adalah soal senjata rakitan yang dipakai oleh si Jackal. Di sini penulis memaparkan secara detail mulai dari ukuran, jenis logam, alat picu, dsb yang tentunya membuat pembaca yang awam akan senjata jadi bosan, namun bagi mereka yang akrab dengan senjata mungkin hal ini merupakan bagian yang menarik.

Selain soal senjata, detail-detail soal pencurian paspor, pembuatan SIM Internasional dan paspor palsu, penyamaran si jackal, bagaimana ia mengelabui petugas keamanan dan imigrasi , cara kerja seorang detektif dalam merangkai data, dan sebagainya juga dibeberkan dalam novel ini. Selain itu penulis juga memaparkan latar belakang politik Prancis di masa pemerintahan Charles de Gaulle yang tentunya akan menambah wawasan pembacanya dalam hal situasi politik Prancis di tahun 60-an.

Kesemua itu diramu oleh Forsyth menjadi sebuah kisah triller yang menarik, walau di awal-awal agak terasa membosankan karena detail-detail diatas namun di bag-bab terakhir pembaca akan dibawa pada puncak ketegangan ketika Sang Presiden telah berada dalam bidikan senjata sang Jackal.

Di novel ini juga dikisahkan bagaimana Union Corse sebuah sindikat kejahatan yang terorganisir di Prancis yang lebih tua dan berbahaya daripada Mafia Sisilia turut membantu kepolisian Prancis untuk memburu sang Jackal. Sayangnya Forsyth kurang mengeksplorasi keterlibatan Union Corse, kalau saja peran organisasi rahasia ini diberi porsi yang lebih besar novel ini pasti akan lebih menarik lagi.

Novel yang berbahaya

Saking detailnya penulis memberikan gambaran bagaima sang Jackal mempersiapkan dirinya untuk melaksanakan perkerjaan profersionalnya, buku ini ternyata memberikan dampak yang mungkin tidak terduga oleh Forsyth sebelumnya.

Metode untuk mendapatkan paspor palsu yang secara diteil dijelaskan dalam buku ini berhasil ditiru oleh banyak orang. Metode yang akhirnya dikenal dengan istilah “Day of the Jackal Fraud” ini kemudian dianggap sebagai celah keamanan paling rentan di Inggris sehingga pemerintah Inggris akhirnya melakukan perubahan besar-besaran dalam birokrasi pengurusan dokumen.

Usaha sang Jackal untuk membunuh presiden Prancis juga mengilhami Yigal Amir, seorang militan ekstrem kanan untuk membunuh PM Israel Yithzak Rabin pada 1955. Vladimir Arutnunian yang pada tahun 2005 berencana membunuh Presiden AS George W. Bush mengaku terobsesi untuk melakukan apa yang dilakukan oleh Jackal.

Dari fakta-fakta diatas rasanya tak berlebihan kalau novel ini saya anggap sebagai novel yang memikat sekaligus berbahaya!

Sejarah Penerbitan dan Adaptasi film


The Day of The Jackal karya Frederick Forsyth ini pertama kali diterbitkan di Inggris pada 1971 oleh penerbit Huthcinson dan langsung menjadi best seller. Di tahun 1972 novel ini meraih penghargaan novel terbaik Edgar Allan Poe. Pada tahun 1990 Crime Writers' Association (Asosiasi Penulis Misteri Inggris) memasukkan The Day of The Jackal sebagai 100 Novel Kriminal terbaik sepanjang masa. 5 tahun kemudian novel ini juga masuk dalam daftar “100 Novel Misteri Terbaik Sepanjang Masa” yang dibuat oleh Mystery Writers of America (Asosiasi Penulis Kisah Misteri Amerika)

Di Indonesia sendiri novel ini setidaknya telah 2 kali diterjemahkan, di tahun 1977 The Day of The Jackal l pernah diterbitkan oleh Gramedia setelah sebelumnya muncul sebagai sebagai cerita bersambung di Koran KOMPAS. Pada thun 2004 novel ini juga diterbitkan dalam dua jilid oleh penerbit Alice Saputra Comunication dengan judul Beraksinya Sang Jakal









Edisi terjemahan terbitan thn 2004
Penerbit : Alice Saputra Communication Co. (?)











Sedangkan untuk adaptasi film, novel ini pertama kali diadaptasi ke layar lebar oleh Universal Picture pada tahun 1973 dengan Edward Fox sebagai sang Jackal. Kabarnya plot filmnya ini sangat setia pada bukunya, sesuatu yang sangat jarang terjadi pada film-film yang diadaptasi dari sebuah novel.

Pada tahun 1997 film ini dibuat remake-nya dengan perubahan plot dan kondisi era tahun 90an dengan Bruce Willis sebagai sang Jackal didampingi Richard Gere dan Sidney Poiter.

Tentang Penulis

Frederick Forsyth (73 thn) adalah penulis asal Inggris, sebelum menjadi penulis ia pernah bertugas sebagai pilot AU Inggris, dan sebagai jurnalis di Reuters dan BBC, ia juga pernah menjadi koresponden liputan [perang sipil di Nigeria.

Pada tahun 1969 ia memulai kariernya sebagai penulis buku dengan terbitnya sebuah karya non fiksi berjudul The Biafra Story (1969) . Namanya baru dikenal publik setelah ia menerbitkan novel The Day of The Jackal (1971). Selanjutnya Novel-novelnya yang bercerita seputar peperangan, intrik, politik, dan spionase lintas Negara selalu menjadi bestseller yang memukau para pembacannya di seluruh dunia. Hampir semua karya-karyanya seperti The Day of the Jackal, The Odessa File, The Dogs of War telah difilmkan dengan bintang-bintang andalan dan sukses di mana-mana.

Frederick Forsyth kini tinggal di Hertfortshire, Inggris dengan istri dan dua anak laki-lakinya, dan masih aktif menulis. Novel ke-13 yang merupakan karya terbarunya adalah The Cobra (2010) yang bercerita tentang perdagangan kokain internasional yang berpusat di Kolombia
Read more »