Rabu, 23 November 2011

Birthday Stories

Birthday Stories
Selected and Introduced by Haruki Murakami @ 2002
Vintage Books -2006
207 Hal.
(hasil dari bookmooch - 2007)

Ulang tahun, masih gak sih jadi hari yang special untuk yang udah berumur ‘banyak’? Masih gak sih berharap dapet surprise, kado, tiup lilin dan stuff like we used to get when we were a child? Kalo sekarang, setelah gede begini, gue pribadi paling-paling hanya ‘merayakan’ ulang tahun bareng keluarga gue, plus beberapa teman-teman dekat gue. Rame-ramenya paling hanya bawa makanan kecil ke kantor.

Dan, tiap tahun, maunya nih, setiap ulang tahun, waktunya introspeksi… waktunya merenung, seperti kaya’ malem tahun baru. Tapi, yang ada satu hari itu terlewat seperti hari-hari lainnya. Seperti biasa aja.

Saat Haruki Murakami membaca cerita tentang hari ulang tahun, ia berpikir, “Ah, pasti banyak yang menulis cerita-cerita seperti ini.” Dan ia pun mempunyai ide untuk membuat kumpulan cerita tentang Hari Ulang Tahun. Ternyata… jarang ada penulis yang menulis tentang hal ini.

13 cerita pendek dalam buku ini akhirnya berhasil dikumpulkan. Hanya satu memang yang ditulis oleh Haruk Murakami sendiri. Hmmm.. gak semuanya mudah untuk dicerna, tapi ada beberapa yang menarik dan unik. Jangan bayangkan cerita yang berhubungan dengan hari ulang tahun selalu berwarna, ceria dan riang gembira. Justru, tapi ada yang bernuansa gelap dan ada rasa kecewa.

Misalnya, Timothy’s Birthday – cerita tentang orang tua yang sudah mempersiapkan makan besar untuk merayakan ulang tahun anak mereka, tapi justru si anak sendiri menolak untuk datang ke rumah orang tuanya. Atau, Angel of Mercy, Angel of Wrath – cerita tentang perempuan tua yang ulang tahunnya dilupakan oleh anaknya sendiri karena kesibukannya sebagai seorang dokter.

Atau, mau yang ‘tragis’, The Bath – kegembiraan menjelang perayaan ulang tahun, justru harus berakhir di rumah sakit, karena anak yang berulang tahun mengalami kecelekaan dan koma. The Birthday Cake – mengisahkan tentang ‘keegoisan’ seorang perempuan tua yang menolak memberi kue kepada seorang perempuan yang anaknya berulang tahun, hanya karena sudah menjadi ‘kebiasaannya’ membeli kue itu setiap hari.

Cerita lainnya yang menarik, selain tentunya Birthday Girl tulisan Murakami sendiri, adalah The Birthday Present – hadiah ‘ajaib’ seorang istri di hari ulang tahun suaminya. Dan, Forever Overhead – ini nih, membuat gue serasa ‘membeku’, diam di tempat. Cerita ini, tentang pesta ulang tahun anak laki-laki, dan yang diceritain dalam cerpen ini adalah sepanjang ‘perjalanannya’ menuju mmm… mungkin semacam papan seluncur yang tinggi banget seperti yang suka ada di amusement park atau water park. Tentang suasana party-nya, tentang orang-orang di sekitarnya. Gue membayangkan, dalam gerakan yang lambat, seorang anak laki-laki berjalan di tengah keriuhan pesta kolam, tapi gak ada suara apa-apa, selain suara si narasi cerita ini. Kehebohan hanya tampak dalam gambar, dan… endingnya… byurrrr….

Favorit gue adalah Birthday Girl dan The Birthday Cake. Yang lainnya… kalo gak gue sebutin di sini – hehehe.. berarti gue gak ‘nyambung’ dengan ceritanya.

Pesimis waktu membuka halaman pertama, apalagi, biasanya gue paling males baca buku yang udah terlalu lama ‘mengendon’ di lemari buku gue, makin ke belakang, saat gue menemukan cerita yang menarik, gue makin penasaran dengan cerpen-cerpen selanjutnya.
Read more »

Minggu, 20 November 2011

The Translator

The Translator (Sang Penerjemah)
Leila Aboulela @ 1999
Rahmani Astuti (Terj.)
GPU – Oktober 2011
227 Hal.
(Trimedia – Mal Ambasador - 2011)

Sammar, perempuan berkebangsaan Sudan yang mencari nafkah di Skotlandia, tepatnya di kota Aberdeen. Kesepian, sendiri di kota yang dingin dan muram ini. Suami Sammar, Tarig, meninggal dalam sebuah kecelakaan dan Amir, anak Sammar satu-satunya, tinggal dengan keluarga Tarig di Khartoum.

Sammar bekerja di sebuah universitas sebagai penerjemah dokumen-dokumen berbahasa Arab. Seorang professor bernama Rae, seorang peniliti Islam, kerap meminta bantuan Sammar.

Hubungan professional ini lama-lama berubah menjadi hubungan persahabatan. Sammar merasa nyaman berbicara dengan Rae, yang juga seorang duda dengan satu anak perempuan.

Dan, makin lama, hubungan ini menimbulkan perasaan lain yang lebih dari sahabat. Tapi, sayang, perbedaan keyakinan menjadi penghalang hubungan ini. Sammar mencoba mengajak Rae untuk memeluk agama Islam, tapi tampaknya Rae belum yakin untuk melangkah ke arah yang lebih jauh. Sammar sebagai seorang Muslim, merasa lebih baik ia menjauhkan diri dari Rae, daripada ‘terjerumus’ ke dalam sebuah perbuatan dosa.

Sammar kembali ke Khourtoum. Kembali menemui Amir dan tinggal bersama keluarga mendiang suaminya. Ia mencoba melupakan Rae dan mimpi-mimpinya. Bahkan ia melepaskan pekerjaannya di Aberdeen, sebuah tindakan yang dianggap bodoh oleh adik Sammar. Tampaknya, kehidupan di luar negeri dianggap sebuah hal yang mewah, sebagai sebuah suatu keberhasilan.

Bahasa dalam novel ini, begitu tenang dan menghanyutkan. Tapi buat gue ini jadi ‘jebakan batman’, saking terhanyutnya, ada kalanya gue jadi ‘ngantuk’. Makanya, rada lama gue menyelesaikan novel yang gak terlalu tebal ini. Temponya lambat. Sesuai karakter-karakter dalam buku ini yang tenang. Gak ada pembicaraan yang meledak-ledak.

Buku ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama, saat Sammar di Aberdeen, kala musim dingin. Suasana begitu muram, semuram hati Sammar. Tapi, bagian kedua, waktu Sammar udah di Khartoum, suasana jadi lebih terasa hangat. Adanya tokoh-tokoh lain, meskipun bukan tokoh utama, seperti Amir, keponakan Sammar, adik ipar Sammar, menambah ‘kehangatan’ di dalam cerita. Seolah ada variasi lain dalam hidup Sammar sendiri. Gue pun jadi lebih semangat waktu sampai di bagian kedua ini.

Tampaknya, meskipun gak terlalu ‘puas’ dengan buku Leila Aboulela pertama yang gue baca ini, gue masih pengen membaca buku-bukunya yang lain. Satu lagi, gue suka sama cover edisi Indonesia ini, warna birunya sesuai sama isi ceritanya :)

Read more »

Ciri Perancangan Kota Bandung

[No. 276]
Judul : Ciri Perancangan Kota Bandung
Penulis : Djefry W. Dana
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : I, 1990
Tebal : 143 hlm


Menceritakan kota Bandung yang saat ini berusia 101 tahun seakan tak ada habisnya, ada banyak sisi-sisi menarik dari sebuah kota yang sempat dijuluki Parijs van Java di tahun 1930-an ini. Kini julukan itu tinggal kenangan karena Bandung semakin tidak mirip dengan Paris dan dan kini sudah bermertamorfosis dari kota indah bergaya Eropa menjadi kota wisata Belanja dan kuliner yang selalu macet di setiap akhir pekan.

Sebutan bisa berubah namun ciri khas kota Bandung dengan karakter visual khas berupa bangunan-bangunan tuanya yang artistik dan memiliki nilai arsitektur tinggi tetap menjadi salah satu icon Bandung yang masih bisa kita nikmati hingga kini. Walaupun sebagian dari bangunan-bangunan tua itu sudah sudah berganti wajah namun hingga kini masih banyak bangunan-bangunan tua yang masih tegak berdiri dengan anggunnya. Bandung Heritage, sebuah paguyuban yang dibentuk untuk melestarikan bangunan-bangunan tua dan budaya Bandung mencatat ada 100 bangunan tua yang kini dijadikan cagar budaya untuk dijaga kelekstariannya.

Menurut Djefry W Dana, seorang arsitektur ITB yang mendalami bidang Perancangan Kota dalam bukunya yang terbit 11 tahun yang lampau berjudul Ciri Perancangan Kota Bandung (Gramedia, 1990) menyatakan bahwa Bandung adalah kota yang pada awalnya direncanakan dengan baik, terutama pada perwujudan ruang kota maupun bentuk-bentuk bangunan yang menarik sehingga tidak mengherankan kalau Bandung merupakan suatu ‘Intelegent City’ yang dapat dipakai sebagai laboratorium bagi para arsitek maupun perancang kota.

Dalam buku Ciri Perancangan Kota Bandung ini penulis mengajak pembacanya menikmati serta memahami maksud yang terkandung dibalik keindahan visual bangunan-bangunan tua dan topografi kota Bandung sehingga melalui buku ini pembaca diharapkan dapat menciptakan suatu pemahaman mengenai arti perancangan sebuah kota.

Dua bab pertama buku ini membahas mengenai mengenai pemahaman, fungi, penampilan wajah, dan identitas kota secara umum yang kemudian dilanjutkan dengan sejarah kota Bandung mulai dari kisah legenda Sangkuriang yang menjadi cikal bakal terbentuknya danau Bandung, asal mula terbentuknya daratan Bandung secara geologis, hingga berdirinya kota Bandung atas perintah Gubernur Jenderal Herman William Daendels pada tanggal 25 Mei 1810.

Di bab selanjutnya barulah secara berturut-turut dibahas ciri khas perancangan kota Bandung melalui penelaahan bangunan-bangunan tua yang hingga kini masih tegak berdiri. Di sini penulis antara lain membahas bangunan-bangunan tua yang sengaja dibangun lebih mundur (set back) daripada bangunan di sekitarnya agar dapat memberikan keleluasaan kepada pengamatnya untuk menikmati keindahan bangunan secara menyeluruh.Misalnya Gedung Sate, gedung Biofarma - Pasteur




Gedung Bio Farma di Jln. Pasteur




Buku ini juga membahas kekhasan bangunan-bangunan yang berada di persimpangan jalan dan sudut jalan, termasuk bangunan kembar yang befungsi sebagai penanda atau gerbang sebuah kawasan tertentu. Selain itu dibahas juga aneka perlengkapan kota seperti lampu-lampu hias, pot bunga, air mancur, patung, jam, dan monumen yang didirikan di Bandung untuk mempercantik penampilan wajah kota.




Gd. Bala Keselamatan

(persimpangan Jln Sumatera - Jawa)






Villa Isola karya Prof. CP. Schoemaker

Jl. Dr. Setiabudhi




Jalan sebagai sarana penting untuk mobilisasi penduduk kota juga dibahas dalam buku ini. Keberadaan lorong jalan dengan pohon-pohon di tiap sisinya juga tak luput dari pengamatan penulis termasuk ruang terbuka berupa taman kota yang dirancang secara serius, tidak hanya untuk menciptakan kenyamanan bagi penduduknya melainkan juga sebagai sebuah perwujudan karakter visual khas sebuah kota.

Walau kesemua bahasan dalam buku ini kental dengan nuansa arsitektur dan perencanaan kota namun penulis menyajikannya dalam kalimat-kalimat yang mudah dimengerti oleh pembaca awam sekalipun. Dengan membaca buku ini kita seakan diajak menyusuri jalan-jalan di kota Bandung sambil menikmati keberadaan bangunan-bangunan tua dengan citarasa arsitektur yang tinggi.

Keberadaan foto-foto bangunan yang tajam dengan angle yang pas juga memudahkan pembacanya untuk lebih memahami isi dari tiap bahasannya sambil menikmati keindahan visual dari bangunan, monumen, dan taman di kota Bandung sehingga apa yang mungkin selama ini luput dari pengamatan kita akan terungkap jelas di buku buku setebal 140 halaman ini.

Walau buku ini terbit 11 tahun yang lampau namun buku ini masih sangat relevan dibaca di masa kini karena hampir semua bangunan-bangunan, jalan, dan taman yang dibahas masih ada walau mungkin wajah dan lingkungan sekitarnya sudah ada yang berubah. Jika saat ini kita tidak melihat Bandung sebagai kota yang memiliki karakter visual yang menarik dan khas seperti yang dibahas dalam buku ini maka ada yang salah dalam proses perkembangaan kota ini.

Kota Bandung yang pada awalnya dirancang dan dibangun dengan konsep-konsep yang mengacu pada fungi kenyamanan sebuah kota dengan nilai estetika yang indah kini berubah menjadi kota yang semrawut. Di jam-jam sibuk dan tiap akhir pecan kemacetan terjadi di hampir seluruh ruas jalan utama. Factory outlet , mall, dan hotel-hotel tumbuh cepat bagai jamur di musim hujan sehingga merubah wajah kota menjadi tak lagi indah dan nyaman. Lalu dimana kita bisa melihat wajah kota Bandung yang indah itu? Oh, itu hanya bisa kita lihat di album foto-foto lama dan di buku-buku tentang Bandoeng Tempo Doeloe.

@htanzil

Buku langka ini saya peroleh dari TB Onlen Lawang Buku Beranda

http://facebook.com/lawangbuku.beranda

Read more »

Never Let Me Go

Rilis di tahun 2005 silam, novel Never Let Me Go karya Kazuo Ishiguro langsung mendapat banyak pujian luas dari kritikus literatur dunia. Novel ini bahkan juga berhasil masuk  dalam daftar TIME 100 Best English-Language Novel from 1923 to 2005. Sebuah pencapaian yang luar biasa tentunya bagi Kazuo Ishiguro yang mengawali debut menulisnya melalui novel A Pale View of Hills (1982). Dilatarbelakangi suatu tempat di Inggris,novel ini menyuguhkan konsep cerita mengenai manusia yang pada masa itu  memiliki seorang kloning dirinya sendiri demi tujuan kesehatan. Kloning-kloning ini dirawat dan dididik di berbagai institusi yang menyerupai sekolah hingga akhirnya mereka mencapai usia dewasa dimana kemudian mereka wajib untuk mendonorkan organ vital dalam tubuh mereka kapan saja saat pemilik mereka membutuhkannya.

Never Let Me Go sendiri memulai kisahnya dari sebuah “sekolah” bernama Hailsham pada sekitar tahun 1970-an. Hailsham merupakan sekolah asrama yang mendidik murid-murid  dalam berbagai macam hal. Mereka diajari berbagai pelajaran eksakta,budaya,maupun olahraga dengan sistem pembelajaran yang menyenangkan dari para guardian. Mereka juga mendapat fasilitas pemeriksaan kesehatan dan event-event tahunan sekolah seperti Exchange maupun Sale yang selalu membuat murid-murid gembira. Bagaimanapun juga Hailsham secara umum kurang lebih sama dengan sekolah asrama lainnya, kecuali hanya satu hal: semua murid adalah produk kloningan.

Adalah Kathy dan Ruth, dua orang siswi Hailsham yang saling bersahabat satu sama lain meski memiliki banyak perbedaan. Hubungan mereka mulai menjauh ketika kehadiran Tommy menimbulkan cinta segitiga diantara mereka bertiga. Kathy dan Tommy yang sebenarnya saling menyukai namun terlalu pemalu untuk menyatakan perasaannya akhirnya memberikan ruang bagi Ruth untuk masuk dan akhirnya berhasil memenangkan cinta Tommy.

Hubungan ketiganya  berlanjut setelah mereka keluar dari Hailsham dan tinggal di Cottage. Hubungan spesial Ruth dan Tommy masih tetap berjalan meski terkadang putus nyambung. Sementara  Kathy  cukup puas berada diantara bayang-bayangan keduanya. Selama beberapa tahun di Cottage,mereka bertiga sempat melakukan semacam petualangan ke Norfolk demi mencari manusia yang menjadi sumber kloning Ruth, meski akhirnya mereka mengalami kekecewaan. Lalu  ditahun berikutnya,Kathy pun memutuskan memberi jarak diantara Ruth dan Tommy dengan cara keluar  dari Cottage. Ia bermaksud untuk masuk pelatihan keperawatan lebih cepat meskipun ia harus menanggung resiko terpisah dari Ruth dan Tommy selama bertahun-tahun.

Era tahun 1990-an,kini ketiganya telah menginjak usia dewasa. Kathy  menjadi perawat yang sukses dan mendapat penanguhan masa donasi, sedangkan Ruth dan Tommy malah tengah bersiap menjadi pendonor setelah bekerja beberapa tahun sebagai perawat. Berbekal hak istimewa, Kathy pun memilih untuk menjadi perawat Ruth setelah donasi keduanya. Hal ini menjadi langkah awal bagi Kathy untuk memperbaiki hubungan yang sempat merenggang antara dirinya dengan Ruth dan Tommy meski ia juga tak mampu mengelak dengan rasa cintanya pada Tommy yang ikut kembali tumbuh.

Ruth sendiri tahu pada perasaan Kathy itu. Karena itulah,  belakangan ia dihinggapi penyesalan menjelang donasi ketiganya hingga ia tak kuasa meminta maaf telah memisahkan cinta Kathy dan Tommy. Ruth tahu ia tidak ingin pergi bersama dengan rasa penyesalannya pada Kathy. Maka ia pun memberi mereka berdua alamat Miss Emily, ketua guardian Hailsham. Ia berharap dengan begitu baik Kathy maupun Tommy yang akan menjalani donasi selanjutnya akan mendapat penangguhan khusus  untuk bersama selama beberapa tahun  dan juga untuk mengungkap kemisteriusan dibalik dinding Hailsham yang kokoh dan penuh kenangan.

Permasalahan utama yang  kudapati dalam alur cerita Never Let Me Go adalah bagaimana emosional para karakternya hanya bisa kutangkap samar-samar. Khususnya pada kisah cinta Kathy dan Tommy. Samar-samar pada awalnya bagaimana perasaan Kathy terhadap Tommy, apakah hanya sekedar sahabat ataukah lebih dari itu.Tak ada perasaan yang cukup kuat antara Kathy dan Tommy untuk mendukung rasa cinta itu terbentuk. Padahal toh dijelaskan diakhir cerita, tahu-tahu mereka sudah merasa saling mencintai setelah akhirnya Ruth mundur.

Kemudian juga  tak adanya motivasi hidup yang berarti dari setiap tokohnya. Mereka kelihatan seperti menerima saja apapun yang terjadi pada mereka baik itu hidup ataupun mati tanpa adanya pemberontakan. Karena itulah, ketika membaca novel ini yang kudapati hanyalah  kehidupan tiga orang karakter dari waktu ke waktu dan bagaimana ketidakberdayaan mereka menghadapi garis kemalangan yang membuat cerita ini terasa melankolis.

Never Let Me Go sebenarnya sama sekali tidak mengecewakan malah sangat bagus menurutku. Pesannya sendiri mengenai pemanfaatan waktu dalam kehidupan dengan sebaik mungkin, khususnya dengan orang-orang yang disayangi – tak peduli hidupmu singkat ataupun lama – cukup mampu dihadirkan dengan tambahan beberapa sindiran sosial dan politik. Bagiku yang baru pertama kali melahap karya penulis berkebangsaan Jepang-Inggris ini, Never Let Me Go sudah menjadi awal baru perkenalanku dengan karya Kazuo Ishiguro dan bagaimana aku menantikan karyanya yang lain untuk dibaca. :)


pic: disini
sudah diadaptasi ke dalam bentuk film  berjudul sama : Never Let Me Go (2010)yang dibintangi 
Carey Mulligan,Andrew Garfield, dan Keira Knightley

=================

Judul :Never Let Me Go
Penulis : Kazuo Ishiguro
Penerjemah:Gita Yuliani K
Penerbit:Gramedia Pustaka Utama
Terbit : @2011
ISBN :978-979-22-7493-6
Tebal : 358 hal

=================
Read more »

Selasa, 15 November 2011

9 Summers 10 Autumns

9 Summers 10 Autumns
(Dari Kota Apel ke The Big Apple)
Iwan Setyawan @ 2011
GPU – Cet. IV, Mei 2011
221 Hal.
(Swap with @myfloya)

Iwan Setyawan, seorang anak dari sebuah desa yang terletak di Batu, Malang, tepatnya di kaki Gunung Panderman. Ia adalah anak seorang supir angkot. Iwan punya dua kakak perempuan dan dua adik perempuan. Kehidupan mereka sangatlah sederhana, kalau gak mau dibilang susah ya. Menjadi anak laki-laki satu-satunya, membuat ia harus mengalah, tak pernah punya kamar tidur sendiri, karena kamar tidur yang ada diperuntukan untuk orang tua dan saudara-saudara perempuannya.

Mereka tak pernah merasakan yang namanya bermain boneka, main sepeda. Kemewahan mereka mungkin hanyalah sebuah televisi yang kerap ‘mengundang’ tetangga mereka untuk menumpang nonton di rumah mereka.

Namun demikian, keluarga sederhana ini adalah keluarga ‘pejuang’. Dengan berbagai daya upaya, orang tua mereka berhasil menyambung hidup dan membiayai pendidikan anak-anak mereka. Dan Iwan bersaudara pun, tak segan-segan untuk mencari kerja kecil-kecilan demi membantu orang tua mereka. Kesederhanaan yang mengajarkan mereka untuk bekerja keras.

Iwan pun berhasil diterima di IPB jurusan Statisik. Dari sinilah, awal mula kesuksesan seorang Iwan Setyawan. Lulus dari IPB, ia bekerja di AC Nielsen, perusahaan yang memberinya kesempatan untuk bekerja di luar negeri, tepatnya di New York City.

Bertahan selama 10 tahun, tapi, kerinduan akan kampung halamannya, terutama kehangatan berada di antara keluarga tercinta, membuat Iwan memilih berhenti dan pulang kembali ke Batu.

Novel ini disajikan dengan bahasa yang puitis dan indah. Iwan seolah bercerita kepada sosok bocah kecil berbaju putih-merah yang misterius. Penggemar Dostoevsky, yang kutipannya menghias beberapa halaman di buku ini.

"... I told my self, I will not let this happen again. I want to make her a happy mother, a very happy mother. I want to do something for my family. I love them so much."
-- hal. 210

Tampaknya bukan sebuah tema yang baru mengangkat kehidupan nyata menjadi sebuah novel. Sebut saja Laskar Pelangi (meskipun ini belum baca sih) atau Negeri 5 Menara. Seorang anak ‘kampung’ yang bersusah payah dari kecil, akhirnya mendulang sukses kala dewasa hingga keluar negeri.

Tapi, tetap saja, buku-buku seperti ini masih menarik untuk dibaca karena bentuk penyampaian yang jauh dari kesan membosankan, berlebihan atau sekedar ingin pamer ‘kesuksesan’.

Yang juga menarik perhatian, adalah cover-nya yang bersih dan simple. Berlatar warna putih, dengan dua buah apel merah yang bersanding.
Read more »

Senin, 14 November 2011

Harun dan Samudra Dongeng

  Dongeng yang metaforik mungkin adalah ungkapan yang cukup tepat untuk menggambarkan novel ini. Dipenuhi dengan aneka  kisah di negeri antah berantah, dan juga dimulai dengan statemen khas, “Pada suatu ketika, di negeri Alifbay, terdapat sebuah kota yang sedih … (hlm 11), sudah mengindikasikan bahwa buku ini adalah tentang sebuah dongeng. Pertanyaannya, akan jadi seperti bagaimana sebuah dongeng jika diceritakan atau dituliskan oleh seorang penulis sekaliber Salman Rushdie yang pernah mengegerkan dunia ini. Jawabannya adalah sebuah dongeng yang sangat kaya, kaya makna maupun kaya akan keajaiban imajinasi.

            Dikisahkan di negeri ALifbay hidup seorang tukang cerita bernama Rasyid Sang Samudra Khayal dan putranya Harun. Rashyid hidup sebagai seorang pencerita sementara Harun sangat bangga dengan ayahnya itu. Walau orang sering mengejek ayahnya sebagai tukang berkhayal dan suka omong kosong, namun Harun bangga karena ayahnya mampu membahagiakan orang dengan ceritanya. Hingga akhirnya suatu peristiwa memilukan terjadi, istri Rasyhid lari bersama pria lain karena ia tidak tahan hidup dengan seorang pengkhayal. Rashyid begitu terpukul hingga ia tidak mampu mendongeng lagi. Harun juga mengalami pukulan telak sehingga ia tidak mampu mengingat sesuatu lebih dari 11 menit.

            Harun hanya menganggap dongeng hanyalah dongeng hingga pada suatu malam ia memergoki seorang jin air bernama Jikka, yang selama ini memasok dongeng dari Samudra Arus Dongeng kepada Rasyhid. Harun pun mengikuti Jikka ke negeri sumber dongeng, yakni bulan Kahani—bulan kedua Bumi yang selama itu tidak pernah terlihat oleh mata orang awam akibat orbitnya yang berubah-ubah. Di bulan inilah terdapat Samudra Dongeng yang menjadi sumber segala dongeng di dunia.

            “…ini adalah Arus Dongeng, di mana setiap larik warna mewakili dan berisi sebuah cerita. Bagian-bagian yang berbeda dari Samudra itu berisi jenis cerita ang berbeda pula dab semua dongeng yang pernah diceritakan ataupun yang belum selesai dibuat bisa ditemukan di sini. Samudra Arus Dongeng adalah perpustakaan terbesar di seluruh jagat raya. (hlm 74)

Dan, samudra itu tengah sekarat. Raja Chupwala—negeri bayangan—yakni Khattam-Shud hendak meracuni samudra itu dengan racun sehingga mengancam dongeng-dongeng di dalamnya (dan juga di dunia).

            Dari sinilah dimulai petualangan Harun dalam menyelamatkan samudra itu. Bersama teman-teman barunya, Jikka, Tappi (burung bulbul mesin), Tukang Kebun Terapung, dan Cerewet; Harun menjadi saksi pertempuran besar antara negara Guppee dan Chup. Dia juga harus menghadapi sendiri snag raja bayangan Khattam-Sud serta menghentikan upaya peracunan samudra. Dan sekali lagi, bayangan (atau halangan) sekuat apapun pasti akan dapat dikalahkan oleh kreativitas dan imajinasi.

            Melalui Harun dan Samudra Dongeng yang sangat sederhana, ada banyak sekali pesan yang hendak diajukan oleh sang pengarang. Di balik kisah Harun yang berlayar ke negeri dongeng, Salman Rushdie mengungkapkan banyak hal besar, terutama adalah tentang pentingnya imajinasi. Samudra Dongeng yang diracun oleh mesin pembuat racun mungkin mengindikasikan sindiran sang pengarang tentang kalahnya kegiatan mendongeng terhadap televisi dan internet. Jika dulu orang tua sering mendongengkan cerita kepada anak-anaknya menjelang tidur, kini kegiatan itu telah tergantikan oleh film di TV atau membuka internet. Tanpa sadar, teknologi inilah yang meracuni dan dikhawatirkan dapat mengancam keberlangsungan dongeng itu sendiri. Melalui peperangan yang sebenarnya tidak diperlukan di bulan Kahani, pengarang mungkin juga hendak mengkritik dunia yang terlalu sibuk berperang sehingga melupakan betapa beragam dan indahnya Bumi yang mereka miliki.

            “Jika orang-orang Guppee dan Chupwala tak saling membenci”, pikirnya, “mereka mungkin akan bisa saling menemukan hal menarik. Perbedaan itu justru rahmat, seperti kata pepatah.” (hlm 129).

            Dongeng yang indah, dikisahkan dengan indah, dan juga diterjemahkan dengan luar biasa indah. Salut kepada para penerjemah dan editor yang mampu mempertahankan agar dongeng ini tetap sederhana dalam bahasa Indonesia. Permainan metafora akan menjadi lebih mengena dan tersampaikan ketika dibawakan secara sederhana, karena dalam kesederhanaan buku inilah tersimpan lapis-lapis makna yang luar biasa mendalam, sedalam Samudra Arus Dongeng itu sendiri.   



Judul               : Harun dan Samudra Dongeng
Pengarang       : Salman Rushdie
Penerjemah      : Anton Kurnia dan Atta Verrin
Editor              : Adi Toha
Pewajah isi      : Eri Ambardi
Cetakan           : 1, September 2011
Tebal               : 224
Penerbit           : Serambi Ilmu Semesta

Read more »

Kamis, 10 November 2011

What Left of Us

Judul                : What Left of Us. Sebuah Memoar
Penulis              : Richard Farrell
Penerjemah      : Mahir Pradana
Editor               : Ninus D.A
Proofreader      : Resita WF, Christian S.
Cetakan           : Pertama, 2011
Tebal                : 341 halaman
Penerbit            : Gagasmedia



            Memang, tidak ada gunanya menyesali masa lalu. Namun, terkadang, sedikit menengok ke masa lalu dapat membantu kita untuk menutup lubang yang selama ini mengerogoti jiwa dan masa depan kita. Seburuk apapun masa lalu, semua garisan takdir memiliki ujung-ujungnya sendiri, yang sering kali menyembunyikan kejutan-kejutan dalam kehidupan. Lebih dari itu semua, menengok kembali ke masa lalu dapat membantu kita untuk lebih jujur, baik kepada diri sendiri dan juga kepada orang lain. Kejujuran untuk mengakui masa lalu inilah yang sering kali menjadi langkah pertama untuk memaafkan diri sendiri dan kemudian melangkah maju menatap masa depan yang lebih baik. Sebagaimana penuturan seorang mantan pecandu narkoba bernama Richard Ferrell berikut.


            Hampir tidak ada yang tersisa dari kehidupan seorang Richard Farrell. Dalam usia 20-an tahun, ia jatuh dalam cengkeraman heroin dan valium. Istrinya memutuskan untuk menjauhinya, tidak lagi menginginkan kedua anak mereka menyaksikan ayah tercinta mereka teler karena narkoba. Sahabat-sahabatnya juga menjauhinya, bahkan ia kini punya sahabat baru, para polisi dan penegak hukum yang berusaha menangkapnya. Hari demi hari, malam demi malam, dihabiskan oleh Richie untuk menyuntikan madat laknat ke dalam pembuluh darahnya. Tidak terhitung sudah berapa banyaknya luka bekas suntikan yang menghiasi lengan dan tubuhnya. Bersama orang-orang yang juga senasib-sependeritaan, Richie semakin terjerumus dalam dunia hitam. Kriminalitas, pencurian, aksi anarkhis, perkelahian, seks bebas, dan menggelandang tak tentu arah menjadi kegiatan sehari-hari. Akhirnya, satu kejadian dramatis menyadarkan Richie, dua teman pecandunya—yang sangat akrab dengannya—tewas akibat overdosis. Sejak saat itu, Richie merasa seolah telah disentuh oleh Yang Kudus sehingga ia bertekad untuk menghentikan kebiasaan madatnya. Ia memutuskan untuk masuk ke sebuah panti rehabilitasi, Lowell Detox.

            Sayangnya, panti rehabilitasi pecandu narkoba itu juga menawarkan dunia yang kurang lebih serupa. Berkenalan dengan beberapa penghuninya, mengetahui masa lalu mereka dan apa-apa yang mereka kerjakan, malah semakin membuat Richie depresi. Bebas dari heroin, ia jatuh dalam pengaruh obat-obatan penenang seperti valium. Di panti rehab ini juga Richie mengalami berbagai pelajaran dan pengalaman berharga melalui ketidaksempurnaan dan kemalangan kehidupan teman-temannya sesama mantan pecandu. Mulai dari Mike yang sempurna-tapi-tertimpa-kemalangan-hingga-gila dan juga Marry yang mantan pekerja seks komersial. Rata-rata mereka juga sama-sama menderita depresi sehingga makin kelamlah jalur hidup Richie di panti itu. Melalui memoarnya, penulis dengan detail mengambarkan betapa suram dan gilanya keadaan di panti itu, pembaca tidak mungkin lagi mendapat untaian kalimat yang lebih tepat untuk menggambarkan kegilaan di panti rehabilitasi itu:

            “Kami semua sinting. Tidak pernah ada kedamaian di tempat ini. Selalu saja ada kegilaan-kegilaan yang terjadi, satu demi satu. Jika diibaratkan, semua orang di tempat ini adalah barang rusak. Bahkan petugasnya pun demikian.” (hlm 281)


            Pembaca memang harus bersabar membaca memoar ini, mengingat isinya lebih banyak megulas tentang kemalangan demi kemalangan yang menimpa Richie sejak ia jatuh dalam jurang narkoba. Hal ini seharusnya semakin menegaskan kepada awam tentang betapa mengerikannya dampak dari barang haram ini. Kehidupan Richie yang kacau-balau, yang penuh denganflashback memilukan, hingga ia menjadi pecandu narkoba ternyata berujung pada masa kecil dan remajanya nan kelam. Ayahnya, yang seorang mantan tentara, mendidik Richie dengan begitu keras. Atas nama kekuatan dan kejantanan, Richie dipaksa (lebih mirip disiksa) agar bisa menjadi seorang pria sejati, menjadi pemain sepak bola Amerika. Richie juga sangat muak dengan kebiasaan ayahnya yang suka memukul ibunya. Ketika memoar semakin ke tengah, semakin yakin pembaca bahwa ayah Richie ini memiliki andil utama dalam kehidupan Richie yang berantakan.

            Buku ini jujur tentang ketidaksempurnaannya. Jujur dalam arti tidak banyak hal-hal bahagia atau “pura-pura bahagia padahal tidak” di dalamnya. Ini adalah sebuah memoar yang sangat kelam tapi luar biasa jujur. Dengan gamblang, Richie menceritakan bagaimana cara mengisap madat, cara mencapai keadaan fly atau sakaw, hingga bagaimana rasanya ketika ada serat kapas yang masuk dalam peredaran darahnya. Masa lalu Richie yang kelam juga digambarkan melalui vulgarisme penceritaan hal-hal yang berkenaan dengan seksualitas—yang dalam memoar ini digambarkan dengan begitu jujur, terbuka, apa adanya karena memang demikian lah yang terjadi. Sekali lagi, ini bukan buku sastra. Buku ini adalah cermin buram dari sebuah kehidupan yang sebenarnya. Bahwa dunia itu kadang bisa menjadi tempat yang lebih keras di luar sana. Membacanya, Anda akan mampu merasakan betapa menderitanya kehidupan para pecandu itu.

            Lalu, bagaimanakah ujung dari kehidupan Richie? Mengingat keahliannya dalam menuliskan buku ini, sudah bisa ditebak bahwa Richie kini telah mampu mengatasi kecanduannya. Ketika akhirnya ia berani jujur dan mengakui apa yang sebenarnya terjadi di masa lalunya, beban dan segala depresi itu seperti terangkat dari dadanya. Ia mau mengakui bahwa hidupnya memang tidak sempurna, dan memang tidak harus selalu sempurna. Pertemuannya dengan Dokter Levine telah membuka mata Richie, bahwa masa depan itu masih ada ketika kita benar-benar mau berubah.

            “Dengarlah aku, RichardJangan lupa kata-kataku ini. Yang paling penting adalah perbuatan kita pada saat ini. (hlm 323).

            Sebuah buku yang jujur tentang ketidaksempurnaan hidup. Yang justru dari ketidaksempurnaan itulah pembaca bisa menghargai hal-hal sempurna yang selama ini ada di sekitar mereka—yang mereka anggap sebagai ketidaksempurnaan. 




Read more »

Berguru Pada Pesohor

No. 275
Judul : Berguru Pada Pesohor
Panduan Wajib Menulis Resensi Buku
Penulis : Diana AV. Sasa & Muhidin M Dahlan
Penerbit : 1# dbuku
Cetakan : I, April 2011
Tebal : 254 hlm

“Bagaimana sih menulis resensi buku itu?” Itulah pertanyaan yang sering diajukan pada saya semenjak saya menulis resensi di blog buku ini. Biasanya saya tidak memberikan jawaban berupa teori ini dan itu melainkan menjawabnya dengan, “Mulailah menulis sekarang juga, tak perlu harus begini begitu, bebaskan dirimu dari semua aturan dan teori, mulailah menulis semua yang ada dalam kepalamu ketika selesai membaca sebuah buku!”

Apakah semudah itu? Sebagai langkah awal saya rasa itulah resep yang paling mujarab untuk melenturkan otot-otot menulis kita, setelah otot-otot menulis kita lentur barulah kita belajar menulis resensi secara baik dan benar. Bagaimana caranya? Kini ada sebuah buku panduan untuk menulis resensi buku yaitu buku Berguru pada Pesohor – Panduan Wajib Menulis Resensi Buku karya Diana AV Sasa dan Muhidin M Dahlan duo pegiat buku yang sebelumnya juga pernah sama-sama menulis buku Para Penggila Buku : Seratus Catatan di Balik Buku, (I:boekoe, 2009)

Ya, buku ini memang merupakan sebuah buku panduan bagi para resensor yang ingin meresensi secara baik karena resensi yang baik bukanlah semata menulis sinopsis atau berbagi kesan membaca saja, melainkan seperti yang dikatakan penulisnya resensi adalah sebuah ‘pengadilan’ atas sebuah buku.

Melalui resensi nasib sebuah buku ditentukan takdirnya, oleh karena itu penulis resensi dituntut untuk bermata ganda ; mata seorang wisatawan dan sekaligus penyidik (Diana AV Sasa & Muhidin M Dahlan)

Buku panduan menulis resensi ini mencoba memberi panduan pada pembacanya bagaimana cara menulis resensi buku mulai dari landasan teori pengertian resensi buku, model-model resensi buku, dan bagaimana memilih buku yang akan diresensi hingga langkah-langkah praktis berisi penjelasan dan contoh penulisan resensi mulai dari membuat judul, menaklukkan paragraf pertama, mengolah tubuh resensi, membuat paragraf penutup, dan sebagainya

Dalam membahas bagian-bagian resensi tersebut terlihat penulis memberikan bobot yang sama pentingnya di semua bagian, mulai dari membuat judul hingga paragraf akhir. Saat membahas bagaimana menaklukkan paragraf pertama, penulis menekankan pentingnya paragraf pertama karena di bagian inilah kita mempertaruhkan mata dan hati pembaca, apakah akan melanjutkan membaca resensi kita atau tidak.

Setelah paragraf pertama dibuat kini bagaimana mengolah tubuh resensi yang merupakan jantung sebuah resensi . Di bagian ini diperlukan keluasan pengetahuan, kritisisme, dan kelihaian resensor dalam meresensi, selain itu kelancaran dan kefasihan peresensi dalam merangkai paragraf juga dipertaruhkan di bagian ini. Buku ini memperlihatkan bagian-bagian penting apa saja yang masuk dalam tubuh resensi seperti bahasan mengenai jenis buku, metode penulisan, tema, bagian vital buku, kisah yang menonjol, kritik, dsb.

Yang sama pentingnya dengan membuat paragraf awal dan mengolah tubuh resensi adalah bagaimana membuat paragraf akhir sebagai paragraf penutup dimana di bagian ini para resensor biasanya memberikan kesimpulan berupa kepada siapa buku yang diresensi tersebut ditujukan, kritik dan saran, atau pujian sebagai pengunci resensinya.

Kesemua bagian diatas disajikan secara terstruktur disertai contoh berupa resensi-resensi yang pernah ditulis dari para resensor mulai dari para penulis ternama di Indonesia mulai dari Tirto Adi Soerjo, Abdullah SP, Syahrir, hingga Goenawan Moehamad yang dikutip dari media cetak dari kurun waktu lebih dari 100 tahun! (1901-2010). Tak hanya media cetak, buku ini juga menyajikan contoh-contoh resensi yang bertebaran di blog-blog buku.

Setelah seluruh tahapan menulis resensi dibahas, buku ini juga memberikan tips-tips bagaimana mematangkan sebuah resensi seperti mengendapkan tulisan untuk dibaca ulang guna memeriksa tata bahasa, kesalahan ketik, hubungan antar paragraf, dll. Penulis juga menyarankan Jika resensi ditulis menggenakan computer maka sebaiknya dicetak diatas kertas dan dibaca ulang sekali lagi dengan mengeluarkan suara agar dapat diketahui kalimat-kalimat mana yang mungkin akan membuat pembaca tersendat saat membaca resensi kita.

Hal yang menarik yang mungkin tidak ada di buku-buku panduan menulis resensi adalah bagian yang mungkin menjadi akhir perjalanan dari semua resensi-resensi yang kita buat yaitu “Menerbitkan Antalologi Resensi Buku” dimana di bab ini penulis memberikan langkah-langkah praktis bagaimana jika resensi-resensi kita bisa dibukukan untuk diterbitkan.

Sebelum penulis benar-benar mengakhiri bukunya buku ini juga menyertakan daftar 40 media massa (Koran, majalah, radio, TV) yang menyediakan ruang resensi buku lengkap dengan alamat email, telepon, honor, deskripsi buku –buku tentang resensi buku, dan sebuah essai berjudul “Halaman Resensi buku di Internet” yang mengukuhkan keberadaan blog-blog buku sebagai generasi baru pembaca buku yang bersenang-senang dengan buku dengan menggosipkan dan menuliskan resensinya secara jujur dan apa adanya di blognya masing-masing. Di essainya ini penulis juga menyertakan alamat ink 50 blog buku dan website yang berisi resensi buku.

Setelah membaca habis buku ini saya berani mengambil kesimpulan bahwa hingga kini buku ini adalah buku panduan terbaik dan terlengkap untuk menulis resensi dibanding buku-buku sejenis yang pernah terbit. Contoh-contoh resensi yang diambil dari para resensor wahid dari berbagai media masa selama kurun waktu 100 tahun lebih membuat saya terkagum-kagum dengan ketekunan kedua penulis ini mengutip contoh-contoh resensi dalam buku ini

Melalui contoh-contoh yang beragam dalam rentang waktu yang demikian panjang ini kita akan menemukan resensi-resensi legendaris yang pernah dibuat antara lain “resensi pembunuh buku”di tahun 1977 yang membuat penulis buku yang diresensi ini meminta pada kepala proyek Pengadaan Buku P &K mencabut rekomendasi untuk bukunya. Lalu ada pula resensi yang menjadi polemik di dunia sastra Indonesia selama dua tahun (1960-1962), yaitu resensi-essai Abdullah SP yang membongkar skandal plagiarisme Hamka atas novel Tenggelamnya Vander Wijk, dll.

Sayangnya buku ini tak menampilkan resensi atas novel Adam dan Hawa karya Muhidin M Dahlan di harian Media Indonesia pada tahun 2005 yang dijadikan acuan bagi sebuah ormas Islam untuk mensomasi penulis novel dan Pemred Media Indonesia untuk bertobat dan meminta maaf kepada publik serta menarik novel tersebut dari peredaran dan memusnahkannya untuk menebus dosa yang dilakukannya.

Tak ada gading yang tak retak, walau buku ini telah menjadi yang terbaik dari buku-buku sejenis, buku ini tidaklah sempurna karena bahasan dalam buku ini sedikit sekali menyinggung resensi buku-buku fiksi. Hampir semua bahasan dan contoh dalam buku ini adalah resensi buku-buku non fiksi padahal ada hal-hal khusus yang perlu diperhatikan dalam meresensi buku fiksi. Andai saja ada buku ini menyertakan bab khusus yang membahas bagaimana meresensi buku-buku fiksi maka buku ini akan semakin kokoh posisinya sebagai buku panduan wajib menulis resensi buku.

Dan yang sangat disayangkan adalah status limited edition yang tertera di sampul depan buku ini sehingga buku ini tidak akan dapat kita temui di toko-toko buku umum, semoga ke depan buku ini bisa dicetak secara masal sehingga buku ini dapat dijangkau lebih luas lagi bagi para penulis-penulis resensi yang ingin membuat resensi-resensi mereka menjadi semakin baik dan berpengaruh pada dunia buku tanah air.

Terlepas dari itu saya member bintang 4 untuk buku ini, dan kini jika ada yang bertanya pada saya “Bagaimana cara menulis resensi?” , saya akan menjawab demikian.”Tulislah semua kesan-kesan yang ada di kepalamu tentang buku yang telah kaubaca, lalu belajarlah menulis resensi yang baik dari buku Berguru Pada Pesohor”

@htanzil


Untuk memperoleh buku Berguru Pada Pesohor - Panduan Wajib Menulis Resensi Buku silahkan memesannya di :
http://indonesiabuku.com/?p=9308


Read more »