Jumat, 13 April 2012

The Court of the Lion

Judul   : The Court of the Lion
Penulis : Eleanor Cooney dan Daniel Altieri
Penerjemah : Fahmy Yamani
Editor  : Adi Toha
Halaman: 587 halaman
Cetakan: 1, Februari 2012
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta



            Jalinan rumit antara intrik politik, ambisi pribadi, dan keemasan peradaban Dinasty Tang; ketiga elemen inilah yang mendominasi dan kemudian membentuk sebuah kisah panjang namun menghanyutkan dalam buku tebal The Court of the Lion. Sungguh tak dinyana, dibalik tembok tebal yang mengelilingi kompleks Istana Terlarang di kota Chang an, China, tersusun sebuah upaya konspirasi yang dilakukan dengan luar  biasa halus namun begitu telak menghantam Sang Putra Langit, Tang Minghuang—kaisar legendaris China dari abad ke 8 Masehi. Zaman yang terkenal dengan kelimpahan panen dan keamanan negara itu terpaksa ternodai oleh sebuah upaya makar untuk merebut tahta, bukan melalui adu kekuatan atau perang melainkan lewat serentetan konspirasi licik yang direncanakan dan dieksekusi dengan sangat bagus sekali. Begitu halusnya makar itu sampai-sampai sang kaisar pun takluk dibuatnya.

            Bencana dimulai ketika sang putra mahkota ditemukan telah tewas karena bunuh diri di tempat tidur, yang kemudian disusul dengan permaisurinya yang sedang diasingkan. Permaisuri Wang. Kehilangan dua orang yang sangat disayangi oleh sang kaisar begitu rupa memukul telak benteng-benteng kejiwaannya, memaksanya lepas tangan dari segala urusan pemerintahan. Keadaan makin memburuk ketika Selir Wu—selir yang telah banyak memberikan anak laki-laki kepadanya—dinyatakan kesurupan dan harus dikurung demi keselamatannya sendiri. Dalam hantaman cobaan yang bertubi-tubi ini, tahta pun goyah sementara gosip dan intrik mulai menyebar di kalangan istana, membuat bingung para kasim, para pejabat menteri dan jendral di perbatasan.

            Ketika keadaan hampir tidak bisa lebih buruk lagi, kendali kerajaan berada di tangan Li Lin-fu, seorang Perdana Menteri ambisius namun juga luar biasa cerdas dan ahli strategi. Semakin lama, semakin tampak bahwa orang ini tengah berupaya meraih kekuasaan yang lebih tinggi lagi dalam lingkaran Istana Dinasty Tang. Untungnya, kasim kepercayaan kaisar, Kao Li-shin mampu merasakan adanya gelagat tidak beres. Bertahun-tahun menemani kaisar untuk melalui beragam intrik dan perseteruan telah menajamkan indra sang kasim, membuatnya mampu mengendus aroma konspirasi yang saat itu begitu samar menyelimuti istana. Sementara sang kaisar terpuruk dalam depresi luar biasa akut, Kao Li-shin bergerak cepat untuk menyelamatkan negara. Bersama seorang menteri, ia menemukan sebuah bukti aneh berupa syair dan puisi lirik yang diguratkan secara indah dalam bunga-bunga kertas yang dikirimkan ke kamar Selir Wu.

            Beragam dugaan muncul, dan seiring dengan beralurnya cerita, tampak bahwa kematian sang putra mahkota, bunuh diri Permaisuri Wang, dan kegilaan Selir Wu, ternyata diikat oleh satu benang merah yang samar-samar, sebuah kejahatan yang dilakukan dengan begitu lembut namun ampuh. Puisi lirik dalam bunga-bunga anggrek macan kertas itulah awal dari semua bencana ini. Orang pertama yang mengetahui hal ini adalah Chang  Chiu-Ling, seorang penyair sekaligus ahli kenegaraan. tapi, ketika ia hendak menyampaikan kecurigaannya kepada sang Kasim, ia terlebih dulu ditangkap dan diasingkan ke pulau tropis Hainan oleh perdana mentri Li Lin-fu. Di saat yang sama, sang perdana menteri culas mengundang An LuShan, seorang babrbar dari utara yang sengaja ia selundupkan dalam kompleks istana. Pemimpin haus darah inilah yang digunakan sebagai pion rahasia untuk--sedikit demi sedikit--menguasai tahta Chang an. Namun, kejahatan pasti akan terendus juga. Kao Li-shin dengan bergerak sendirian mampu berinteraksi dengan sang penyair, keduanya mengungkap sebuah intrik jahat yang tengah membayangi istana. Sang kasim kepercayaan harus bergerak cepat, dan hal pertama yang harus ia lakukan adalah menyadarkan sang kaisar dari depresinya yang berkepanjangan.

            Dan, cara ampuh apalagi yang bisa mengalahkan depresi kelam seorang pria selain hasrat seksual dan kehangatan cinta seorang wanita muda yang masih ranum. Dengan cerdik, Kao Li-shin mempersembahkan kepada Sang Putra Langit seorang gadis jelita dengan pribadi yang menghangatkan dan pengalaman lengkap tentang aktivitas "Awan dan Hujan". Gadis inilah yang berhasil menyadarkan sang kaisar melalui kecantikan dan erotisme dunianya.  Akhirnya, bagian pertama pun diakhiri dengan bangkitnya kembali semangat hidup sang kaisar. Inilah awal yang baik untuk menyerang balik sang musuh yang bersembunyi dengan begitu lihainya di balik tembok-tembok salah satu bangunan di kompleks istana kota Chang an.

            Sangat panjang dan detail, itulah impresi pembaca saat mengikuti kisah ini. Masing-masing bab di dalamnya ditulis dengan begitu lengkap, begitu bertele-tele, lengkap dengan berbagai metafora dan ungkapan khas kisah-kisah dari daratan China. Satu aspek lagi yang luar biasa adalah kekayaan data sejarah dan deskripsinya yang sangat mengagumkan, Kompleks istana, harem-harem, pemandian, taman-taman kota, hingga aneka bangunan kuil dideskripsikan dengan begitu “Cina”, membuat pembaca bisa membayangkan langsung dirinya terseret ke tengah-tengah kompleks istana terlarang. Penulis juga mampu membuat alur yang pelan namun menyentak-nyentak, di mana peristiwa-peristiwa yang awalnya tidak berkaitan ternyata memiliki peran dalam peristiwa-peristiwa besar setelahnya.

            Melalui novel ini, kita juga bisa mengetahui fakta bahwa di balik tembok kompleks istana yang megah dan indah tersebut ada berbagai konspirasi kotor dan darah-darah yang tertumpah demi alasan politik, di mana pembunuhan—bahkan terhadap saudara atau anak sendiri—sudah bukan menjadi hal yang luar biasa di istana hanya demi kekuasaan dan jabatan. Diceritakan juga ketika sang kaisar mempersilakan bibinya Putri Tai Ping untuk bunuh diri karena upaya makarnya yang gagal.

            “Sang Kaisar, seperti yang kamu ketahui, telah berperang sekian tahun lamanya sebagai putra mahkota melawan berbagai macam gangguan di istana,. Mandat Langit yang merupakan hak ilahi untuk memerintah sepertinya merupakan hadiah yang diberikan kepada seseorang yang paling bersedia dan mampu menumpahkan darah—biasanya kerabat terdekat orang tersebut—dan memanipulasi orang lain. (hlm 98).

            Selain itu, pembaca juga akan dibawa hanyut pada kesungguhan penulis dalam menggambarkan tokoh-tokohnya yang diceritakan dengan begitu lengkap dan utuh, mulai dari masa lalu hingga sifat dan kepandaiannya. Entah itu Li Lin-fu yang luar biasa licik, Kao Li-Shin yang begitu setia, atau Sang Istri Kesayangan,; semuanya menawarkan eksotisme dalam karakterisasi fiksi sejarah yang sangat mengagumkan. Walau ceritanya agak bertele-tele dan berkelindan kesana kemari, alur esarnya masih bia dinikmati. Empat bintang layak disematkan untuk novel yang digarap dengan sangat kaya dan mendetail ini. 

Read more »

Kamis, 12 April 2012

It's BBI Giveaway Hop Time

Halo para penimbun buku dan pecinta dunia pustaka


            Dalam rangka merayakan ulang tahun BBI yang pertama, sekumpulan  pecinta buku bersepakat ceria untuk saling berbagi buku gratisan sekaligus berkenalan antar pengguna blog. Adapun, acara yang sempat membikin heboh  komunitas pecinta buku dunia maya ini bertajuk BBI 1st Giveaway Hop, dengan penyelenggaranya berupa tiga pecinta pustaka yang sangat manis dan menawan mata, yakni Mbak FandaMaya, dan Oky. Acaranya bertajuk ....




              Untuk blog saya yang masih salah urus ini, saya akan menghadiahkan DUA BUKU gratis bagi pengunjung yang beruntung. Adapun buku pertama adalah 




  ... sebuah buku tentang betapa besar pengorbanan dan kesetiaan dua wanita di tempoe dulu, sinopsis lengkapnya bisa dilihat di sini. Adapun, buku kedua adalah Di Kaki Bukit Cibalak karya Ahmad Tohari yang informasinya bisa dilihat di sini.




         Untuk mendapatkan 2 buku gratis dari Dion yang luar-biasa-baik-banget-sampai-enek lihatnya ini, caranya cukup mudah. Cukup jawab pertanyaan berikut ini di kolom komentar:


         "Apa yang menghalangimu untuk menulis novel/ceritamu sendiri?"


Syarat untuk ikutan:
1. Senang membaca dan menimbun buku
2. Domisili di wilayah kedaulatan Republik Indonesia
3. Tidak malu disebut sebagai anggota Ordo Buntelan militan
4. Follow Twitter saya di @dion_yulianto 
5. Kalau tahu ada obralan murah buku The Name of The Rose atau Harry Potter 4, segera hubungin saya ya.




            Demikian acara ini dibuat. Selain sebagai ajang untuk menebarkan pesona dan menambah follower, acara ini sekaligus untuk mendekatkan para blogger yang juga pecinta buku murah dan gratis.  Jadi, tunggu apa lagi, silakan mendaftar dan menggunakan kesempatan yang sangat langka ini untuk menambah timbunan buku di rumah Anda
eh iya, acara bagi-bagi buku gratisan ini akan berlangsung sampai tanggal 26 April 2012, dan pengumuman pemenang akan dimuat di facebook/twitter sang pemenang pada tanggal 27 April 2012--dengan catatan kalau bukunya ada ha ha ha. Jadi, mari ditambah timbunanmu.


            Semoga keberuntungan bersama Anda, dan mari lanjutkan kebiasaan membaca dan menimbun buku .


           Jangan lupa juga untuk ikut "pesta buku gratis" di acara serupa yang diadakan secara serentak di blog-blog buku berikut:



Read more »

BBI 1st Giveaway Hop

Menyambut ulang tahun BBI yang pertama, Lemari Bukuku turut berpartisipasi dalam BBI 1st Giveaway Hop yang 'diprakarsai' oleh Fanda's Historical Fiction, Kumpulan Sinopsis dari Okeyzz dan Dear Readers sebagai host dari giveway hop ini.


Sebagai penghormatan terhadap Seno Gumira Ajidarma, Perkara Mengirim Senja mewujud dalam rangkaian lima belas cerita karya empat belas pengarang dengan berbagai latar belakang dan gaya penulisan. Cerita-cerita ini merupakan penafsirulangan karya SGA yang dikarang oleh generasi penulis yang lebih segar.

Antologi ini memantik kreasi baru tanpa kehilangan napas awalnya seperti yang tersurat dalam senja yang memerangkap dua perempuan yang tanpa sengaja terjebak cinta bercabang, perselingkuhan seorang “istri setia” yang “dipasung” suaminya, suami tak setia yang diselingkuhi istrinya, hubungan perempuan-lelaki yang rumit tapi lucu, dusta cinta yang perlahan tersingkap kedoknya, patah hati yang unyu, serta pertanyaan-pertanyaan galau tentang hakikat cinta dan percintaan. 

Persyaratannya sebagai berikut:
  • Terbuka untuk semua yang berdomisili di Indonesia.
  • Wajib mem-follow blog Lemari Bukuku lewat GFC atau subscribe email.
  • Tiap peserta dapat memasukkan entri sebanyak-banyaknya.
  • Entri yang menang akan ditentukan melalui undian menggunakan random.org.
  • Giveaway berakhir pada 26 April 2012 pk. 23:59.
  • Bila 48 jam setelah aku menghubungi pemenang, tidak ada jawaban, maka aku berhak memilih pemenang baru.
Jadi silahkan masukan entri sebanyak-banyaknya.. dan semoga sukses :) Dan jangan lupa kunjungin Blog-Blog lain yang juga ikutan BBI 1st Giveaway Hop ini.

dan... selamat ulang tahun, Bebi.... semoga tetap eksis 'kasih kado f*nta biru'

a Rafflecopter giveaway
Read more »

BBI 1 St Giveaway Hop

BBI 1 St Giveaway Hop


Dalam rangka memperingati hari ulang Tahun BBI (Blogger Buku Indonesia) yang jatuh pada hari ini ( 13 April 2012) 3 blogger buku yang tergabung dalam BBI yaitu Fanda, Oky, dan Maya mengagas Giveaway Hop. Sebagai kepedulian BBI-ers pada karya-karya lokal maka buku2 yg dijadikan giveaway adalah buku-buku karya penulis lokal.

Nah, Blog Buku Yang Kubaca juga ikut meramaikan BBI 1 St Giveaway Hop ini, dan buku yang akan dijadikan giveaway adalah sebuah buku yang sangat inspiratif yang sepertinya layak dibaca oleh kita semua yaitu buku




Apa isi buku Playing God? silahkan baca reviewnya disini

Lalu apa syarat untuk memperoleh buku ini?

1.  Terbuka untuk semua yang berdomisili di Indonesia
2.  Menjawab pertanyaan ini :

"Selama ini buku karya penulis lokal atau penulis asing (terjemahan) yang kamu baca? dan sertakan alasannya kenapa selama ini buku karya penulis lokal or penulis asing yang paling banyak dibaca" 

3.  Tiap peserta cukup menjawab satu kali saja di kolom komentar postingan ini
4.  Giveaway ini berakhir hingga tgl 26 april 2012 pkl. 23.59
5.  Pemenang giveaway akan ditentukan berdasarkan undian melalui random.org

Selain Blog ini ada lebih dari 30 blog buku yang juga mengadakan BBI 1 St Giveaway Hop. blog mana saja? silahkan pantau Agregator Blog BBI di http://blogbukuindonesia.blogspot.com/ atau di

di sini: http://hisficfanda.blogspot.com/2012/04/interview-bersama-ratih-kumala-bbi-1st.html

atau follow dan simak lini masa Twitter resmi BBI di @BBI_2011

@htanzil


Read more »

Rabu, 11 April 2012

Sunset bersama Rosie



Sunset bersama Rosie
Tere-Liye
Penerbit Mahaka – Cet. II, Desember 2011
426 hal.
(Hadiah dari temen kantor)

Tegar, seorang eksekutif muda rela meninggalkan pekerjaannya yang sudah memberinya kedudukan yang nyaman untuk menjaga anak-anak dari sahabatnya Rosie. Bukan hanya itu, ia juga rela menunda pertunangannya dengan kekasihnya, Sekar.

Rosie adalah sahabat Tegar sejak mereka masih kecil. Selama berpuluh tahun persahabatan itu, wajar aja kalo Tegar gak hanya merasa Rosie sebagai sahabat, tapi juga ingin menjadi bagian dari hidup Rosie. Tapi, sayang, saat pengen menyatakan cinta di tempat dan saat yang romantis, eh.. Tegar keduluan sama Nathan. Padahal, Tegar juga yang sudah memperkenalkan Rosie pada Nathan, tapi Tegar gak nyangka kalo Nathan malah ‘nyolong’ start.

Tegar pun akhirnya memilih menghilang dari kehidupan Rosie. Tapi, akhirnya toh Rosie dan Nathan berhasil ‘melacak’ jejak Tegar. Dan sejak itu Tegar kembali hadir dalam kehidupan Rosie dan Nathan. Bahkan Tegar pun akrab dengan keempat anak Rosie dan Nathan.

Kalau di Hafalan Shalat Delisa, Tere-Liye mengambil latar belakang peristiwa tsunami, di buku ini, peristiwa bom Bali II yang jadi benang merahnya. Saat keluarga itu sedang menikmati sunset di Jimbaran, sekaligus merayakan ulang tahun pernikahan mereka yang ke 13, saat itu pula peristiwa bom Bali II terjadi. Nathan jadi korban. Keluarga itu seketika ‘jatuh’ dan berduka. Rosie kehilangan kendali, tak kuat menahan cobaan, sementara anak-anak masih kecil butuh dukungan orang yang lebih tua. Tegar pun mengambil alih, peran sebagai orang tua. Tegar tak hanya mengasuh anak-anak, tapi juga mengurus resor milik Rosie dan Nathan. Pelan-pelan, Anggrek, Sakura, Jasmine dan Lily berhasil berdamai dengan trauma. Tegar menjadi Paman, Uncle, Om hebat dan super keren. Mereka menjadi anak-anak yang cepat ‘dewasa’ tapi tak lantas menjadi mereka ‘tua’ sebelum waktunya. Mereka tetap anak-anak yang jahil dan iseng.

Karena anak-anak ini adalah ‘saksi’ pada peristiwa Bom Bali II, mereka harus hadir saat pembacaan vonis bagi terdakwa pelaku pengeboman di Jimbaran itu. Pastinya berat banget ya buat mereka, mereka harus melihat orang yang menyebabkan mereka kehilangan ayah, terpaksa mengingat lagi kejadian yang menyakitkan. Tapi, di sini, letak ‘indah’nya cerita ini, berdamai dengan masa lalu dan berlapang dada untuk mema’afkan.

Gue sih sempat berharap ada sedikit ‘ribut’ kecil gitu antara anak-anak dengan Tegar. Entah mereka ‘nuduh’ Tegar karena sok mengambil peran orang tua. Biar rada ‘seru’ gitu. Hehehe.. Tapi emang karena mereka anak-anak baik jadinya mereka nurut banget sama Paman mereka yang super keren ini. Konflik yang rumit justru lebih difokuskan sama hubungan antara Tegar dan Sekar yang on-off, dan Tegar yang terombang-ambing apakah mengambil kesempatan kedua bersama Rosie atau kembali ke Sekar.

Meskipun buat gue Hafalan Shalat Delisa masih lebih membekas, buku ini tetap mengharu-biru dengan cerita yang indah. Semoga sih, kalo pun gue nanti baca karya-karya beliau yang lain, gak malah jadi klise ya… :)

Buku ke 5 untuk 'Name in a Book Challenge 2012' - hosted by Blog Buku Fanda
Read more »

Rabu, 04 April 2012

Anak Sejuta Bintang

Anak Sejuta Bintang

[No. 289]
Judul : Anak Sejuta Bintang
Penulis : Akmal Nasery Basral
Penerbit : Expose
Cetakan : I, Januari 2012
Tebal : 403 hlm

My rating 3 of 5 stars


Anak sejuta bintang adalah novel biografis seorang pengusaha sekaligus politikus terkenal Aburizal Bakrie karenanya tak heran ketika novel ini terbit , novel ini langsung menuai berbagai komentar baik itu komentar negatif maupun komentar positif. Yang positif mengatakan bahwa novel ini sangat berguna dan baik dijadikan dasar pengajaran anak, (NH Dini), yang negatif menilai novel ini diterbitkan dalam rangka pencitraan ‘Ical’ Aburizal Bakrie terkait rencananya untuk maju sebagai Capres 2014, bahkan sempat beredar isu  bahwa Ical pada awalnya berniat membayar milyaran rupiah pada seorang penulis terkenal untuk membuat novel ini.

Terkait dengan pemberitaan miring mengenai novel ini, penulis dan Aburizal Bakrie segera mengklarifikasikannya baik di social media maupun di blognya.  Akmal N Basral selaku penulis mengatakan dengan tegas bahwa novel ini bukanlah novel politik karena di novel ini Ical diceritakan apa adanya.

Sedangkan Aburizal Bakrie  dalam blog pribadinya menulis demikian :

Ternyata, novel “Anak Sejuta Bintang” ini jadi ramai diperbincangkan. Banyak juga yang tidak suka dan menyerang novel ini, saya, dan Akmal sebagai penulisnya. Ada yang bilang ini novel pencitraan yang sengaja saya buat untuk 2014, dan lain sebagainya. Ada juga yang bilang saya bahkan awalnya mau membayar novelis terkemuka dengan nilai miliaran. Ini kabar tidak benar.   - http://icalbakrie.com/?p=1607


Menurut penulis, dan penerbitnya novel ini memang bukan novel pesanan Ical melainkan lahir dari ide mantan sekretaris Ical yang berniat untuk memberikan kado unik berupa buku untuk ulang Tahun Ical yang ke 65. Ide ini  mendapat dukungan dari teman-teman dekat Ical dan penerbit Expose (Mizan Group). Mizan Group menjatuhkan pilihan pada Akmal Nasery Basral yang sudah bekerja sama dengan penerbit dalam menulis novel Biografis KH Ahmad Dahlan - Sang Pencerah (Mizan Pustaka, 2010) dan saat itu sedang menulis novel Presiden Prawiranegara. (Hikmah, 2010)

Novel Anak Sejuta Bintang setebal 403 halaman ini memang pada akhirnya bukan sebuah buku biografi murni melainkan sebuah kisah fiksi yang terinspirasi dari masa lalu Aburizal Bakrie, namun tidak seluruh kehidupan Ical yang menjadi dasar novel ini, penulis membatasi kisahnya hanya dengan menceritakan pengalaman masa kanak-kanak Ical, tepatnya semenjak TK hingga lulus SD (1951-1958.

Di novel ini dikisahkan bagaimana ketika Ical masih kecil, keluarga Bakrie yang kaya raya pernah mengalami kebangkrutan sampai-sampai keluarga ini harus mengontrak rumah untuk tinggal. Namun dalam kondisi seperti itu keluarga Bakrie tidak menyerah dan tetap mengajarkan hal-hal yang positif kepada anak-anaknya.
Walau telah menjadi pengusaha sukses kedua orang tua Ical tak larut dalam kesibukan mengejar materi, mereka  tetap mengutamakan komunikasi yang baik dengan anak-anaknya.

Anak laki-laki itu harus sering diajak ngobrol supaya terbiasa mengemukakan pendapat ... Kalau tidak, mereka akan terbiasa menggunakan tangan untuk menyampaikan keinginan. (Hal. 149)

Dengan pola asuh yang baik dan komunikasi yang intens antara orang tua dan anak tak heran jika Ical tumbuh menjadi anak yang baik dan berprestasi di sekolahnya, setiap tahun ia selalu menjadi juara kelas. Tak hanya pintar, Ical juga menjadi anak yang baik dan mengikuti teladan kedua orang tuanya dalam hal berbagi kepada teman-temannya. Saking baiknya Ical selalu meminjamkan kelerengnya pada teman-temannya yang kalah bermain kelereng. Sialnya teman-temannya tak pernah mengembalikan kelerengnya bahkan ketika Ical kalah ironisnya tidak seorangpun mau memberinya pinjaman kelereng. 

Kebaikan dan kepolosan Ical juga tercermin dalam kisah ketika Ical tanpa izin kedua orang tuanya memberikan anggur dan apel pemberian rekan ayahnya pada teman-temannya yang kurang mampu padahal saat itu anggur dan apel adalah makanan mewah bagi keluarga Bakrie sekalipun. 

Ical yang langganan juara kelas sejak kelas 1 hingga kelas 5 juga memiliki ambisi untuk tetap menjadi juara kelas hingga kelas 6 nanti. Mampukah Ical mempertahankan gelar juaranya? Pada akhirnya memang Ical menyadari bahwa bintang yang paling terang dalam kehidupannya bukanlah kepandaiannya atau ketika ia menjadi juara melainkan kedua orang tuanya.

“Bintang yang paling terang dalam kehidupan Ical adalah papa dan mama. Karena cahaya cinta papa dan mama sehingga Ical bisa menemukan cahaya bintang-bintang lainnya” (hlm. 399)

Novel ini juga mencerminkan keceriaan dan pengalaman-pengalaman menarik anak-anak pada umumnya, ada soal persahabatan, persaingan, bagaimana menghargai orang tua, , spirit mengejar cita-cita, dan sebagainya. Sayangnya semua hal diatas terkisahkan dengan datar-datar saja, kurang didramatisasi sehingga saya pribadi tidak begitu tergugah oleh kisah-kisah Ical kecil dalam novel ini.

Selain Ical sebenarnya ada satu tokoh yang menarik di novel ini, yaitu Raymond, anak mantan tentara KNIL yang pernah tinggal di Belanda. Raymond  dengan sombong selalu membanding-bandingkan kondisi di Belanda yang lebih baik dibanding di Indonesia. Dalam satu kesempatan dikisahkan Ical menegur kesombongan Raymond yang dianggapnya telah menghina pemainan bola Ical dan kawan-kawannya. Di luar dugaan Raymond tidak marah melainkan menjawab teguran Ical dengan rasional.

“Maaf, bukan menghina,” ujar Raymond.. “Kalian semua main bola dengan ini,” katanya sambil menunjuk kaki. “Bukan dengan ini,” katanya sambil menunjuk kepala. “Aku tidak menghina, aku bicara terus terang. Itu beda.” (hlm 292)

Sayang kehadiran Raymond ini kurang mendominasi di novel ini, padahal akan lebih menarik jika penulis terus menghadirkan tokoh Raymond yang sombong namun rasional ini sebagai tokoh antagonis sebagai penyeimbang tokoh Ical yang terkesan santun dan sangat baik sehingga novel ini akan semakin hidup dan menarik. 

Selain itu ada satu hal yang menurut saya keliru dalam novel ini yaitu ketika dikisahkan Ical dan adiknya sakit batuk, dokter mendiagnosa bahwa sakit ical dan adiknya adalah asma.

“Mungkin mereka tertular bukan dari orang tua, melainkan dari lingkungan sekitar yang ada penderita asmanya,” jawab Dokter Ghulam panjang lebar (hlm 64) 

Pendapat dokter Ghulam ini tentu saja salah, karena sesungguhnya penyakit Asma bukanlah penyakit menular melainkan penyakit keturunan. 

Wajah dan Suasana Jakarta tahun 50-an

Selain kisah masa kecil Ical, melalui novel ini juga kita dapat melihat wajah dan suasana Jakarta di tahun 50-an lengkap dengan situasi politiknya seperti tentang pemilu pertama di tahun 1955, lalu ada juga suasana perayaan 17 Agustus 1956 di Istana Negara yang dihadiri oleh Ical yang bersama teman-teman SD nya ditunjuk untuk menyanyikan lagu2 perjuangan di depan Bung Karno. Di bagian ini penulis menyertakan pidato Bung Karno yang menggelegar, walau bukan pidato aktual melainkan  telah diubah oleh penulisnya untuk kebutuhan novel ini tapi isi pidato itu tetap menghadirkan semangat dan kelihaian Bung Karno dalam berpidato. 

Satu hal yang menarik juga adalah munculnya peristiwa pencobaan pembunuhan terhadap bung Karno saat beliau menghadiri perayaan hari lahir Perguruan Cikini. Di bagian ini penulis mencoba mengisahkan peristiwa penggranatan itu dengan hidup lengkap dengan keterangan sembilan orang anak dan seorang ibu hamil yang tewas di tempat dan 100 orang korban luka berat.

Tidak hanya itu saja, penulis juga membeberkan pendapat yang berkembang beberapa waktu kemudian setelah peristiwa itu yang menyatakan bahwa motif asli pencobaan pembunuhan terhadap Bung Karno bukanlah motif politik melainkan karena … perempuan!, dimana setahun sebelum kejadian itu saat Bung Karno berkunjung ke Bima beliau mengucapkan kata-kata yang menembuat dendam orang Bima, dan  Bung Karno sempat pula menggoda wanita di sana. Fakta di pengadilan memang mengungkapkan bahwa pelaku penggranatan adalah orang Bima.

Novel best seller

Pada akhirnya dengan segala kelebihan, kekurangan, dan berbagai komentar miring tentang novel ini, novel ini telah menarik minat masyarakat Indonesia, hal ini terbukti dengan larisnya novel ini di pasaran. Penerbit Mizan di sebuah media online mengungkapkan bahwa novel ini masuk kategori best seller  dengan angka penjualan hampir 10 ribu eksemplar pada bulan pertama. Saat ini novel Anak Semua Bintang telah memasuki cetakan ke-3. Dua cetakan sebelumnya telah beredar di pasaran sebanyak 30 ribu ekslempar.

Dengan banyaknya yang membaca novel ini, terlepas apakah ini novel pencitraan atau bukan tentunya kita semua berharap semoga nilai-nilai positif yang dikisahkan dalam novel ini dapat menginspirasi pembacanya akan pentingnya pola pengasuhan anak seperti yang ditunjukkan oleh keluarga Bakrie dan nilai-nilai persahabatan sejati di dunia anak-anak yang saat ini tampaknya semakin langka ditemui terlebih pada saat kita semua telah dewasa. 

@htanzil
5/4/2012



Read more »

Selasa, 03 April 2012

Sweetly



Sweetly

Melody Violine (Terj.)
Penerbit Atria – Cet. I, November 2011
401 hal.
(Swap sama nophie)

Kenangan buruk tentang menghilangnya saudari mereka tidak pernah hilang dari benak Gretchen dan Ansel. Di masa kecil, ketika mereka bermain-main di hutan, sebuah makhluk bermata kuning yang diyakini Gretchen sebagai penyihir sudah mengambil saudari kembarnya. Sementara Ansel berusaha bersikap realistis bahwa saudarinya itu hilang di dalam hutan.

Beranjak dewasa, nama saudari yang hilang itu masih belum berani diucapkan dengan terang-terangan. Ibu dan ayah mereka meninggal dalam duka. Dan mereka berdua pun diusir dari rumah mereka oleh ibu tiri mereka.

Mobil mereka mogok dan mereka pun ‘terdampar’ di sebuah  kota kecil, Live Oak. Kota yang nyaris ditinggalkan penghuninya. Sebagian penduduknya adalah warga veteran. Salah seorang berbaik hati untuk mengantar mereka ke rumah Sophia Kelly, pemilik toko cokelat yang cantik tapi dibenci oleh penduduk Live Oak. Di rumah ini, Ansel bekerja untuk mendapatkan upah guna memperbaiki mobilnya. Tapi, satu hari… dua hari.. akhirnya mereka pun menetap. Bahkan Ansel jatuh cinta pada Sophia.

Sophia yang cantik ini menyimpan rahasia. Ia kerap dikaitkan dengan menghilangnya gadis-gadis di kota itu setiap kali Festival Cokelat diselenggarakan. Toko cokelat milik Sophia ini adalah toko cokelat turun-temurun. Sophia mewarisi toko ini dari ayahnya yang meninggal ‘tercabik-cabik’.

Gretchen berusaha menyelidiki apa terjadi di balik menghilangnya 8 gadis berusia 18 tahun itu, kenapa Sophia begitu ketakutan setiap mendapatkan kiriman sebuah cangkang, kenapa ia bersikeras mengadakan Festival Cokelat meskipun ia tahu ada penolakan dari warga Live Oak.

Kalau buku pertama, Sisters Red ‘mengadaptasi’ cerita anak-anak Gadis Kecil Bertudung Merah, kali ini Jackson Pearce mengambil latar belakang cerita Hansel and Gretel. Rumah permen yang menarik hati digantikan dengan toko cokelat.

Buat gue, cerita Sweetly lebih ‘menegangkan’. Misterinya lebih bikin penasaran, dari awal dibuat penasaran dengan nama kembaran Gretchen,  belum lagi misteri cangkang dan siapa sebenarnya Sophia? Dan ada hubungan apa antara Sophia dengan Fenris – si serigala jadi-jadian itu, belum lagi misteri adik Sophia, yang bernama Naida. Kalau di Sisters Red, Fenris berulang kali muncul, di buku ini, Fenris jadi makhluk misterius yang baru ketahuan belakangan. Dan kalau di Sisters Red banyak adegan perkelahian, di Sweetly ceritanya lebih kalem… ketegangan muncul bukan dari perburuan Fenris, tapi justru dari rahasia-rahasia yang banyak itu.

Sweetly memang sekuel dari Sisters Red, tapi kalau pun belum baca Sisters Red, gak perlu bingung atau ketinggalan cerita. Ini bukan cerita bersambung, hanya ada benang merah aja yaitu si Fenris.
Read more »

Senin, 02 April 2012

The First Day

Judul   : The First Day
Penulis: Marc Levy
Penerjemah:  
Penerbit: Bentang Pustaka





Sebenarnya suka dengan buku2 sejenis ini, semacam pencarian artefak/mitos/konsep kuno yang selama ini ditutup-tutupi oleh pihak2 tertentu. Mirip kayak Da Vinci Code gitu, tapi kalo First Day ini menyasar konsep yang jauh lebih awal, tentang bagaimana manusia pertama tercipta, apakah manusia purba itu ada, dan bagaimana kelahiran alam semesta berkaitan dengan peristiwa ini.

First Day adalah tentang Adrian dan Keira, dua peneliti andal yang saling jatuh cinta tapi dunia kademik telah memunculkan dinding padat di antara keduanya. Jika Adrian adalah seorang astronom maka Keira adalah arkeolog. Keduanya kemudian dipertemukan lagi oleh sebuah batu misterius dari Danau Turkana Afrika. Batu istimewa ini sangat istimewa, tidak dapat diiris, dipotong, atau dipecahkan dengan teknologi apapun. Setelah diteliti, batu ini juga tidak bisa ketahuan berapa usianya, pokoknya batu itu sudah ada sejak 4 juta tahun yang lampau. Sebuah peristiwa aneh pun terhjadi, ketika batu dihadapkan pada sumber berkas cahaya yang sangat terang, akan muncul titik2 seperti konstelasi bintang di angkasa. Pola dan skalanya mirip, hanya saja peta langit yang ditunjukkan oleh batu itu adalah pola langit yang dilihat dari bumi 4 juta tahun yang lalu.

Siapa yang membuat batu canggih tersebut? Apa hubungannya dengan piramida di Mesir dan China? Berdua, Adrian dan Keira pun berpacu menjelajahi pelosok Afrika, pedalaman kota-kota di Eropa, hingga ke Gunung Suci di China. Tidak menyadari bahwa ada pihak2 tertentu yang mengawasi gerak-gerik mereka. Jika kedua ilmuwan tersebut berhasil menemukan kelima batu, maka temuan itu pasti akan mengincangkan sendi-sendi peradaban manusia, mengubah pendapat tentang siapa manusia pertama dan bagaimana alam diciptakan.


Begitulah kira-kira buku bagus ini berkisah....
cuma ... buku ini tdk bisa selevel dengan Kode Da Vinci karenaaaaaaaaaaa ...isilah titik2 di bawah ini

1. Terlalu banyak romantisme, alur sangat lambat dan bertele-tele. Separuh bagian awal saja belum bisa masuk konflik, malah lebih banyak cerita ttg kehidupan Adrian dan Keira

2. Font kecil dan u/ buku setebal ini, kebayangkan berapa lama waktu yg dibutuhkan u/ membaca

3. Agak menye2 u/ sebuah buku spionase dan petualangan arkeologis. entah, mungkin karena penulis adalah orang Perancis jadinya ya gituuu ... kebanyakan bumbu-bumbu cinta dan kisah2 berbau romantisme haduuh *celupin kepala ke ember*

4. satu lagi yang bikin buku ini cuma dapat bintang 3, adalah ... BERSAMBUNG. Pas seru2nya, eh tiba2 aja buku satu habis, perasaan konfliknya belum diselesaikan eh tau2 kok udahan *remes sampulnya* dan sekuelnya The First NIght entah kapan mau diterjemahin *langsung googling cr bajakan pdf

Nah setelah dicecar, saatnya memuji
1. Buku ini detail dalam hal arkeologis, keilmuwan, dan data geografis. Penulis sangat piawai menysisipkan data dan fakta diantara cerita cinta dan persahabatan. dari sini, kita belajar konstelasi bintang2, bangunan Greenwitch, misteri Lucy dan manusia-manusia purba, temuan cakram kuno di Jerman, hingga mendaki ke gunung suci di China. Penggamabran geografisnya sungguh deskriptif, serasa piknik ke Yunani lalu ke Paris lalu ke Franfrunt lalu ke Kepulauan Andaman
2.Banyak kata2 yang maknanya mendalam, khas orang perancis yang kalo ngomong pasti metaforis, berbunga-bunga tapi maknanya dalemmmmm ...apalgi ttg cinta oh cinta wakakak
3.Saya beli dengan harga murah alias obralan 20rb, jd ya termasuk untung bangetssss

sekian! Semoga First Night segera diterjemahkan ke bahasa Indonesia
Read more »

Jumat, 30 Maret 2012

The Sweetness at the Bottom of the Pie



The Sweetness at the Bottom of the Pie
Bantam Books Mass Market Edition - 2009
373
(pinjem sama Astrid)

Flavia de Luce, gadis berusia 11 tahun. Tertarik dengan hal-hal yang berbau kimia. ‘Kelinci percobaannya’ adalah kakaknya sendiri. Flavia tinggal bersama ayahnya, Kolonel de Luce, dan dua kakak perempuannya Ophelia dan Daphne. Dunia Flavia dengan kedua kakaknya berbeda. Flavia juga sering jadi korban keisengan kakaknya. Tapi, kecerdikan Flavia lebih unggul dibanding mereka berdua. Flavia tidak mengenal sosok ibu mereka, Harriet yang sudah meninggal. Karena itu, kedua kakak Flavia sering mengejeknya.

Suatu hari, mulailah rangkain kejadian aneh di rumah mereka. Keluarga de Luce ini termasuk keluarga ‘terpandang’ di pedesaan Bishop’s Lacey. Bayangan gue nih, mereka tinggal seperti di ‘puri’. Keanehan pertama, ada seekor burung mati yang diletakkan di depan pintu dapur, ditambah lagi di paruh burung itu, ada sepucuk perangko. Dan, kemudian, ditemukan sosok mayat misterius di halaman rumah mereka. Flavia jadi orang terakhir yang melihat pria itu hidup.

Mulai deh insting Flavia ‘bekerja’. Flavia mulai merunut semua petunjuk yang ada, mencoba bermain detekfif-detektifan. Flavia bekerja sendiri, dan boleh dibilang dengan sangat teliti. Pengetahuannya tentang kimia ternyata memberi nilai tambah bagi Flavia dalam penyelidikan ini. Flavia juga pergi ke perpustakaan setempat, ke penginapan dan bahkan ke sekolah tempat ayahnya dulu belajar.

Semua menjadi satu rangkaian – kematian kepala sekolah, perangko yang hilang, mayat yang ditemukan di halaman rumah. Flavia harus bekerja keras untuk mencari bukti dan membebaskan ayahnya dari tuduhan pembunuhan.

Setting Inggris di tahun 1950, gue bisa membayangkan suasana pedesaan yang sepi. Awalnya gue gak terlalu suka dengan Flavia, rada sok tau dan mau ikut campur aja. Ada bagian-bagian yang membuat gue bosan (makanya rada lama gue menyelesaikan buku ini) Tapi, pelan-pelan, gue ikut hanyut dalam penyelidikan bersama Flavia. Rasa ingin tahu Flavia mengalahkan rasa takutnya. Ia gak takut naik ke menara di gedung sekolah demi melakukan ‘rekonstruksi’ kematian Mr. Twinning.

Thanks buat Astrid yang udah minjemin buku ini.
Read more »

3 Buku Roald Dahl


1. The Twits (Keluarga Twit)
Roald Dahl @ 1980
Quentin Blake (Ilustrasi)
Yoke Octarina (Terj.)
GPU – Cet. III, Januari 2010
104 hal.
(Obral Gramedia Plaza Semanggi – 5000 rupiah saja :D)

Berkisah tentang pasangan Mr. & Mrs. Twit dengan sosok yang mengerikan, menjijikan dan menyebalkan. Liat Mr. Twit, seluruh wajahnya berambut dan gak pernah dicuci. Sisa-sisa makanan menempel di rambut wajahnya itu. Sedangkan Mrs. Twit, juga bertubuh gemuk, selalu membawa tongkat yang selain digunakan untuk membantunya berjalan juga untuk menyakit anak-anak atau hewan yang mengganggu.

Tingkah pasangan suami istri satu sama lain juga mengerikan. Mereka sering saling ngerjain, dan saling balas membalas dengan cara yang sadis. Misalnya, spaghetti Mr. Twit dicampur dengan cacing, dan Mr. Twit membalas dengan mengikat Mrs. Twit di balon udara dan membiarkannya terbang. Mereka juga suka menyakiti binatang.

Benar-benar pasangan yang mengerikan.



2. The Enormous Crocodile (Si Buaya Raksasa)
Roald Dahl @ 1978
Quentin Blake (Ilustrasi)
Poppy Damayanti Chusfani (Terj.)
GPU – Mei 2006
64 hal.
(via inibuku.com)

Ini adalah cerita tentang seekor buaya yang ingin sekali makan anak kecil. Dia pun pamer ke teman-temannya di hutan, bahwa hari itu ia akan berpesta dengan menu anak kecil. Berbagai cara ia lakukan untuk menarik perhatian anak-anak, tapi selalu saja digagalkan oleh para penghuni hutan yang tak menyukai cara-caranya.

Dan pada akhirnya, si buaya ini juga menghilang dengan cara yang ‘mengenaskan’


3. The Giraffe and the Pelly and Me (Si Jerapah dan si Pelly dan Aku)
Roald Dahl @ 1985
Quentin Blake (Ilustrasi)
Poppy Damayanti Chusfani (Terj.)
GPU – Agustus 2006
80 hal.
(via inibuku.com)

Billy berkenalan dengan 3 ekor hewan dengan kemampuan yang menakjubkan. Si Jerapah, Si burung pelican dan si monyet. Trio ini membuka ‘usaha’ membersihkan jendela. Mereka bertiga punya peran masing-masing – si Jerapah dengan lehernya yang panjang, sanggup mencapai jendela tertinggi, sementara si Burung Pelikan menjadi ember dan si monyet yang bergerak lincah membersihkan semua jendela.

Ini buku yang paling ‘bersahabat’ di antara 3 buku Roald Dahl yang gue baca kali ini. Isinya karakter baik-baik, mereka bahkan menggagalkan sebuah usaha perampokan di rumah seorang Duke. Dan di akhir cerita, si Billy membuka kembali The Grubber, toko permen. Di sini, Mr. Willy Wonka ikut menyumbangkan permen-permennya yang ajaib

Perkenalan gue dengan Roald Dahl, berawal saat gue membaca Matilda, mungkn waktu SD. Saat itu, ya baca.. baca aja. Sedikit ngeri dengan karakter Miss Trunchbull. Tapi, saat membaca Mr. Twit, aduh ternyata, gak kalah sadis. Emang sih, apa yang berusaha diceritakan oleh Roald Dahl ada hal positifnya, seperti misalnya jangan nyakitin binatang – sama seperti yang ada di cerita Magic Finger, tapi kalo untuk diceritain ke anak kecil rasanya terlalu ‘sadis’.

Bahkan saat ada film Matilda di tv, gue ngajak Mika nonton, maunya sih gue pengen kasih tau, kalo gue suka sama bukunya dan ini juga salah satu film yang gue tonton, eh.. tapi, gak lama, Mika pun bilang, “Matiin aja, filmnya gak bagus.” Dan, gue jadi sedikit khawatir, kalo nanti Mika malah takut ke sekolah.

Tapi, terlepas dari semua itu, gue tetap suka dengan Roald Dahl, di balik karakter-karakter ajaibnya itu, cerita-ceritanya mampu menghibur gue dengan selera humor yang ajaib juga.

Tapi… sekarang, kenapa susah cari buku Roald Dahl yang satuan ya? Yang ada di Gramedia hanya yang box set. Rugi dong beli yang box set karena gue udah punya beberapa. Dan gue pengen juga nih, baca bukunya Roald Dahl yang bukan buku anak-anak.
Read more »

Kamis, 29 Maret 2012

Pecinan, Suara Hati Sang Wanita Tionghoa

Judul                : Pecinan, Suara Hati Sang Wanita Tionghoa
Penulis             : Ratna Indraswari Ibrahim
Editor              : Elis W dan  A. Elwiq Pr
Sampul            : Gobag Sodor
Tebal               : 246 halaman
Cetakan           : 1, Juli 2011
Penerbit           : Laksana (DIVA Press)



            Lely Kurniawati dan Anggraeni, dua wanita tegar yang berbeda jalan nasibnya. Jika yang satu memiliki jalan hidup yang lumayan lurus dan memudahkan, maka yang satunya lagi menjalani kehidupan dengan penuh perjuangan dan rasa sakit. Bagaimanapun, mereka berdua dipersatukan oleh hal yang sama, yakni keduanya sama-sama wanita keturunan Tionghoa yang menjadi korban tradisi dan keadaan. Seperti sudah jatuh tertimpa tangga, demikian ungkapan yang pas untuk menggambarkan perlakuan buruk yang mereka terima, bahkan untuk kasus Lely, tangga yang menimpanya itu seperti terbuat dari besi yang panas dan terus-menerus membakar kulitnya.
           
“Atik bilang, perempuan Cina yang tidak bisa melahirkan anak laki-laki tidak berharga karena tidak bisa menurunkan marga.” (hlm 237)

Bayangkan saja, bagaimana menjadi anak perempuan Tognghoa yang selalu dinomorduakan setelah anak laki-laki. Betapa perlakuan diskriminatif sudah menjadi hal yang biasa bagi Lely, ketika anak laki-laki dijemput dari sekolah dengan becak, ia harus jalan kaki. Bahkan, setelah menikahpun ia serasa tidak dianggap oleh mertua dan diremehkan oleh suami dan iparnya.  Pun, ketika meletus Gerakan 30 September 1965, kondisi keduanya menjadi semakin terpojok. Sudah dinomorduakan oleh keluarga, mereka juga harus mengalami diskriminasi ras di zaman Orde Baru, padahal baik Lely maupun Anggraeni mencintai negeri ini dengan sepenuh jiwa mereka.

            Papi, kita kan orang Indonesia. Mbah buyut , kakak Papi, dan sepupu Papi orang-orang yang berjuang untuk Indonesia. Apa yang harus ditakutkan? “ (hlm. 46)

            “Tapi biarlah aku Cina, Yang penting, aku pun turunan dari prajurit Pangeran Diponegoro,” (hlm 221)

            Ketika meletus pemberontakan PKI pada tahun 1965, yang membuat pemerintah memiliki semakin banyak alasan untuk menindas etnis Tionghoa, baik keluarga Lely maupun Anggraeni kalut, ada sejumlah kerabat yang eksodus ke luar negeri. Ketika muncul tragedi lain yang lebih memilukan pada tahun 1998, di mana terjadi banyak kasus pemerkosaan pada wanita etnis Tionghoa, kedua wanita itu juga tetap memilih untuk tinggal di Indonesia. Mereka tetap berdagang, bersekolah, dan berjuang untuk melayani suaminya.

            “Kita adalah warga negara Indonesia. Apapun yang terjadi adalah risiko kita sebagai orang Indonesia.” (hlm 102).

            Dua sahabat ini pun bertemu lagi di Malang, pada masa kini. Keduanya sudah sama-sama memiliki keluarga. Anggraeni menikah dengan orang Jawa, sementara Lely menikah dengan pria keturunan Cina; di mana masing-masing rumah tangga memberikan ceritanya sendiri. Lely kemudian meminta sahabatnya agar menuliskan buku biografi tentang dirinya, tentang seorang istri dari sebuah keluarga keturunan Cina yang mengalami manis-asamnya kehidupan. Bahkan, di zaman modern seperti saat ini, kecenderungan mengistimewakan anak laki-laki ini masih begitu mengental dan mengakar kuat di masyarakat. Suami Lely yang begitu dibangga-banggakan keluarganya sebagai putra sulung pertama ternyata tumbuh menjadi pria manja yang selalu lari ke ibunya setiap kali ada masalah. Kecenderungan ini juga yang membuatnya merasa selalu benar dan Lely selalu salah, bahkan ketika sang suami jelas-jelas memiliki WIL (wanita idaman lain). Ini ditambah dengan Lely yang tidak bisa melahirkan anak laki-laki. Sepertinya, segala jerih payahnya, pengorbanan tenaga dan hartanya, hingga kecintaannya yang tak terbagi kepada sang suami tidak bermakna apa-apa di mata suami dan ibu mertuanya.

            Anggraeni di lain pihak, juga harus menghadapi konflik dengan keluarga besarnya. Ia bersyukur mendapatkan suami yang baik dan pengertian seperti Rahman, namun sebagai wanita Cina yang seperempat Jawa, ia juga mengalami masalahnya sendiri. Tentang ibunya yang semakin cerewet, tentang anaknya yang mulai beranjak dewasa, tentang pilihan hidupnya sebagai pegawai negeri; semua itu cukup menyulitkannya juga—walaupun tidak seberat cobaan yang dihadapi Lely. Bagaimanapun, hidup memang tidak sempurna. Ada sejumlah keadaan ketika kita memang sebaiknya tidak menuntut macam-macam, tapi cukup dengan menjalaninya sebagai sesuatu yang bernilai ibadah. Misalnya saja, dalam menghadapi ibunya yang cerewet dan suka mengatur, memang inilah salah satu bentuk balas jasa kecil yang bisa kita persembahkan kepada orang tua karena tidak semua orang memiliki kesempatan yan sangat mulia ini.

            “Apabila kamu sudah kehilangan kedua orang tuamu. Kamu baru bisa tahu bagaimana senangnya meladeni mereka ketika mereka masih hidup. Serepot apapun urusan kita, luangkan waktu. (193).

            Novel Pecinan adalah novel sederhana yang berupaya mengangkat kehidupan dari kaca mata seorang wanita keturunan Tionghoa di Indonesia pada masa-masa ketika keadaan sepertinya sedang tidak berpihak kepada mereka. Kisah Lely dan Anggraeni memberikan pandangan baru tentang bagaimana sulitnya pilihan yang dihadapi oleh kaum Tionghoa pada masa-masa genting paska tahun 1965, penuh dengan tarikan antara nasionalisme dengan keselamatan diri. Terlebih dengan adanya peristiwa Mei 1998, pada masa-masa itulah nasionalisme mereka sebagai bangsa Indonesia benar-benar diuji.

 Dalam halaman-halamannya, buku ini juga menggambarkan kesetiaan seorang istri yang taat pada suaminya, terlalu taat hingga saat ia terus disiksa secara batin pun kesetiaannya sebagai istri tidak meluntur. Kita akan melihatnya dalam sosok Lely. Ketika seorang wanita sudah membulatkan tekad untuk hanya mencintai suaminya, mereka benar-benar mampu membuktikannya. Melalui Pecinan juga, akan terjawab tanya kita mengapa orang Cina gemar berdagang dan mengapa orang pribumi cenderung suka menjadi pegawai pemerintahan; semua diuraikan melalui sudut pandang dua orang wanita keturunan Tionghoa, yang walaupun sedikit subjektif namun masuk akal dan dijelaskan secara gamblang. Juga, tentang berbagai nasihat tentang rumah tangga, tentang berbisnis yang baik, tentang berbakti kepada orang tua, tentang persahabatan yang tak lekang waktu, tentang cinta yang luar biasa, dan tentang indahnya kota Malang tempo dulu. Semuanya bisa ditemukan dalam novel sederhana namun penuh makna ini. 
Read more »

Rabu, 28 Maret 2012

Character Thursday [3]

Jumpa lagi dengan Character Thursday, rules-nya masih sama: 
1. Follow blog Fanda Classiclit sebagai host, bisa lewat Google Friend Connect (GFC) atau sign up via e-mail (ada di sidebar paling kanan). Dengan follow blog ini, kalian akan selalu tahu setiap kali blog ini mengadakan Character Thursday Blog Hop. 
2. Letakkan button Character Thursday Blog Hop di posting kalian atau di sidebar blog, supaya follower kalian juga bisa menemukan blog hop ini. Kodenya bisa diambil di kotak di button. 
3. Buat posting dengan menyertakan copy-paste “Character Thursday” dan “Syarat Mengikuti” ke dalam postingmu.
 4. Isikan link (URL) posting kalian ke Linky di bawah ini. Cantumkan nama dengan format: Nama blogger @ nama blog, misalnya: Fanda @ Fanda Classiclit. 
5. Jangan lupa kunjungi blog-blog peserta lain, dan temukan tokoh-tokoh pilihan mereka. Dengan begini, wawasan kita akan bertambah juga dengan buku-buku baru yang menarik… 

Kali ini, yang tampil adalah pasangan Mr. & Mrs. Twit dari The Twits-nya Roald Dahl. Berhubung baru aja tadi pagi gue selesai baca buku ini, jadi masih 'terbayang-bayang' dua sosok yang mengerikan plus 'sadis' ini. Gak pa-palah, sekali-sekali yang tampil karakter yang 'menyebalkan'. Reviewnya akan segera tampil di blog ini.

Ini Mr. &  Mrs. Twit hasil ilustrasi dari Quentin Blake: 

Kalo yang satu ini saat The Twits dipentaskan oleh Auckland Theater Company - sama-sama mengerikan dan menjijikan :) 

Read more »