Senin, 21 Agustus 2006

Raumanen


Judul : Raumanen
Penulis : Marianne Katoppo
Penerbit : Metafor Publishing
Cetakan : 2006
Tebal : ix + 134 hlm

Jakarta tahun 60-an. Sebelum hiruk pikuk politik terjadi di negara ini, terkisah seorang gadis Menado yang cantik, rajin, dinamis, indpenden. Raumanen namanya. Nama ini berasal dari bahasa Minahasa kuno yang berarti “pemudi pemberi kuncup”. Selain cantik Raumanen adalah aktifis kampus yang dikenal sangat loyal terhadap organisasinya.

Dalam suatu kesempatan Raumanen bertemu dengan Monang, pemuda Batak flamboyan, kaya, palyboy dan doyan pesta. Seperti kebiasaan Monang yang selalu mendekati gadis-gadis cantik, demikian pula yang dia lalukan dengan Raumanen. Berawal dari pertemuan di sebuah pesta, Monang yang mudah terpesona oleh kecantikan wanita, tergerak untuk mendekati Raumanen dan berniat untuk menaklukkannya.

Pendekatan Monang membuahkan hasil, walau awalnya Manen menganggap Monang sebagai sahabatnya, lambat laun iapun mencintainya. Sebetulnya Manen menjadi mangsa yang begitu empuk bagi Monang, si perebut hati wanita. Dalam salah satu kesempatan mereka berdua menuju ke Puncak, ketika hendak pulang, tiba-tiba mobil Monang mogok di tengah hujan deras dan mengharuskan mereka berteduh di sebuah bungallow. Bisa ditebak apa yang terjadi pada mereka berdua. Manen menyesali perbuatan yang telah mereka lakukan, untungnya Monang segera menyatakan akan bertanggung jawab dan siap menjadikan Manen sebagai istrinya.

Apakah sesederhana itu kisah novel ini? Tentu saja tidak, disinilah konflik mulai timbul. Walau Monang menyatakan tanggung jaawabnya, keraguan timbul di hati Manen, apakah Monang benar-benar mencintainya atau sekedar bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya ? Usaha Monang mendekatkan dirinya pada adik-adiknya, mencarikan rumah untuk rumah tangga mereka, tak mengusir keraguannya, belum lagi rasa bersalah pada kejadian di Puncak membuat jiwanya tertekan . Aku tak tahu, pikirnya. Seharusnya aku bahagia, karena Monang sudah membuka jalan ke arah pernikahan kami. Tetapi aku tidak bahagia, cuma merasa bersalah karena kejadian di bungalow itu. Lagi pula aku takut. Takut masa depan. Haruskah aku menjadi istri Monang sekarang? Membagi hidupku dengannya, mengarahkan cita-citaku agar serasi dengan cita-citanya? Sedangkan aku tak tahu apakah ia mencintaiku. (hlm 65)

Lambat laun keraguan di hati Manen semakin menjadi, hubungannya dengan Monang tidak dilihatnya sebagai hubungan cinta, melainkan semata-mata sebagai suatu ‘tanggung jawab’ karena mereka sudah ‘terlanjur’ melakukan hubungan yang terlarang. Perasaan ini diperkuat dengan sikap Monang yang selalu berguarau secara sinis dalam setiap percakapan dengannya, alih-alih Monang merayunya, ia malah sering membesar-besarkan kekurangan-kekurangan yang dimiliki Manen.

Selain masalah dirinya dengan Monang, perbedaan suku antara mereka menjadi rintangan yang sulit ditembus. Di tahun 60-an persamaan suku dalam memilih pasangan hidup masih merupakan syarat yang mutlak. Begitupun dengan orang tua Monang Waktu itu memang Republik masih muda, mungkin saja semboyan “Bhineka Tunggal Ika” belum meresap ke hati warganya. Bagi Manen yang telah memiliki wawasan yang luas hal ini memberikan kesimpulan dalam dirinya bahwa, hampir 20 tahun sesudah revolusi, sesudah dua windu lebih penduduk Nusantara berpengalaman hidup sebagai “orang indonesia”, ternyata beban prasangka serta wasangka terhadap suku lain masih belum dapat dilepaskan dengan begitu mudah. “Orang Mana?” dan “Anak Siapa?” masih tetap jadi nada-nada pertama suatu perkenalan baru (hlm 22).

Konflik semakin memuncak ketika akhirnya Manen hamil dan Monang diperhadapkan pada pilihan yang sulit karena harus menerima pilihan orangtuanya dalam menentukan pasangan hidup baginya.

Tema yang diangkat oleh penulisnya dalam novel ini memang tema yang biasa, namun ditangan penulis Mariaenne Katopo cerita cinta ini diramu dan diceritakan dengan menarik. Di lembar-lembar pertama halaman novel ini Manen bertutur mengenai dirinya di masa kini yang kini merasa kesepian ditinggal teman-temannya dan memendam rindu pada Monang. Tentu saja hal ini akan membuat pembaca segera mengetahui bagaimana akhir dari kisah cinta mereka. Namun novel ini tetap menarik karena Manen menuturkan kisahnya sedemikain rupa sehingga pembaca akan terus menebak-nebak dimana kini Manen berada. Sebelum pembaca menyadari dan mengetahui apa yang tejadi dengan Manen dan dimana kini Manen berada, di bab selanjutnya giliran Monang yang bercerita. Sama seperti Manen, Monganpun memendam rindu yang dalam pada Manen. Padahal sudah sepuluh tahun, Raumanen. Sudah sepuluh tahun, hampir seperempat hidupku, aku terpaksa hidup terpisah darimu. (hlm 7)

Setelah melewati dua bab pertama, barulah novel ini kembali ke masa lalu penulis, saat Manen bertemu dengan Monang, namun terkadang, Manen kembali mengambil alih peran penutur dan kembali bertutur mengenai keadaannya kini dengan kalimat-kalimat yang mengundang rasa penasaran pembacanya untuk mengetahui bagaimana keadaan Manen ketika ia sedang menuturkan kisahnya dan bagaimana akhir dari kisah ini.

Selain keunikan dari gaya penulisan novel ini, novel yang ditulis dengan tuturan yang indah, halus, lembut namun tidak cengeng ini mengajak pembacanya untuk membedah makna cinta dan merubah pandangan kita tentang konsep-konsep cinta. Pergulatan batin tokoh-tokoh dalam Raumanen disajikan secara cermat, dan tabrakan-tabrakan yang terjadi akibat masalah kesukuan menjadikan novel ini sebuah saksi kondisi sosial waktu itu yang mungkin saja masih terjadi hingga kini. Novel ini semakin menarik karena dibalut dengan masalah identitas kesukuan, keindonesiaan, bahkan keimanan beserta konflik-konflik yang mengungkap batas ketegaran dan jati diri seorang perempuan terpelajar yang diperhadapkan pada kepengecutan seorang lelaki yang harus tunduk pada tradisi kesukuan.

Novel ini juga menyajikan ending yang menghentak sehingga setelah dikejutkan dengan ending ceritanya, bukan tak mungkin pembaca yang masih penasaran akan kembali membaca ulang bab-bab berjudul Raumanen dan Monang yang berisi penuturan-penuturan Manen dan Monang di masa kini untuk menemukan kalimat-kalimat tersembunyi yang awalnya tidak disadari oleh pembaca bahwa kalimat-kalimat tersebut mengarah pada ending cerita.

Ketika pertama kali novel ini diterbitkan (1977), Raumanen mengundang kontroversi karena penggambarannya yang jujur tentang hubungan lelaki dan perempuan dan tentang ketegangan antar agama dan suku – hal-hal yang saat itu masih merupakan masalah yang mungkin tabu untuk diungkapkan bagi masyarakat di Indonesia . Namun dibalik riuhnya kontroversi yang berkembang terhadap isi novel ini, novel ini memperoleh apresiasi yang sangat baik dari kalangan sastrawan, hal ini terbukti dengan diraihnya tiga hadiah sastra bergengsi baik dari dalam dan luar negeri yaitu : Pemenang Sayembara Menulis Dewan Kesenian Jakarta 1975, Hadiah yayasan Buku Utama 1978, dan Sea Write Award 1982 dimana Marianne Katoppo merupakan wanita novelis ASEAN pertama yang memenangkan hadiah tersebut.

Kini setelah karya besar ini lama dilupakan orang hampir 30 tahun lamanya, Raumanen kembali hadir dalam cover dan kemasan yang menarik oleh penerbit Metafor. Tak hanya Raumanen, Metafor juga telah menerbitkan ulang Orang-Orang Bloomington (Budi Darma), Stasiun (Putu Wijaya). Semoga dengan diterbitkannya kembali karya-karya, karya-karya monumental yang pernah mengguncang jagad sastra nasional, karya-karya tersebut akan dapat terus terbaca dari generasi ke generasi. Kita berharap Metafor memiliki nafas panjang untuk terus konsisten menerbitkan karya-karya sastra bermutu seperti yang kini telah dilakukannya.

@h_tanzil

0 komentar:

Poskan Komentar